Anda di halaman 1dari 26

Acara I1

KINETIKA FERMENTASI DALAM


PRODUKSI MINUMAN VINEGAR
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI FERMENTASI

Disusun oleh:
Nama : Ivanna Carissa
NIM : 12.70.0050
Kelompok E5

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2015

1.

HASIL PENGAMATAN
2.

2.1.
3.

Kinetika Fermentasi dalam Produksi Minuman Vinegar


Hasil pengamatan kinetika fermentasi dalam produksi minuman vinegar dapat
dilihat pada Tabel 1.

4.
5.

Tabel 1. Hasil Kinetika Fermentasi dalam Produksi Minuman Vinegar


6. Ke
lo
mp
ok

7. Perl
akua
n

8.
Wa

29.
N0

41.
N24

27. E1

28. Sari
Apel
+ S.
cere
visia
e

53.
N48

65.
N72

77.
N96
87. E2

88. Sari
Apel
+ S.
cere
visia
e

89.
N0
101.
N24

10. Ratarata/
MO tiap
petak

9. MO tiap
petak
18.
1
30.
5

19.
2
31.
4

20.
3
32.
6

21.
4
33.
7

42.
7

43.
8

44.
8

45.
9

54.
1

55.
1

56.
1

66.
1

67.
5

78.
5

90.
1

11. Ratarata/
MO
tiap cc

12

22.

23.

34. 5.5

35. 2.2x107

36

46. 84.75

47.

3.39x1
08

48

57.
1

58. 13

59.

5.2x107

60

68.
5

69.
2

70. 36

71.

1.44x1
08

72

79.
1

80.
2

81.
3

82. 32.5

83.

1.3x108

84

91.
1

92.
1

93.
9

94. 10.79

95.

4.3x107

96

107.

3.17x1
08

10
1.0

102. 103. 104. 105.


8
6
9
7

106.

7
9.25

113.
N48
125.
N72
137.
N96
149.
N0

147.
E3

148.
Sari
Apel
+ S.
cere
visia
e

161.
N24
173.
N48
185.
N72
197.
N96
209.
N0

207.
E4

208.
Sari
Apel
+ S.
cere
visia
e

221.
N24
233.
N48
245.
N72
257.
N96

267.
268. 269. 270. 271.
277.
278.
279.
Kelom
Perlaku
Wa
po
an
k

114. 115.
8
3

116. 117.
5
4

118.

126. 127. 128. 129.


2
5
1
2

130.

138. 139. 140. 141.


2
2
1
3

142.

12
1.5

131.

1.29x1
08

13
1.9

143.

9.6x107

14
1.4

155.

4.4x10

167.

1.86x1
08

179.

4.69x1
08

191.

1.93x1
08

162. 163. 164. 165.


4
4
4
4

166.

174. 175. 176. 177.


1
1
1
1

178.

186. 187. 188. 189.


3
5
5
4

190.

199. 200. 201.


198.
1
2
1
5

202.

1
1

6.5

17.25

8.25
1

203.

212. 213.
6
4

214.

222. 223. 224. 225.


7
5
5
5

226.

234. 235. 236. 237.


1
1
4
4

238.

246. 247. 248. 249.


8
1
1
1

250.

258. 259. 260. 261.


2
3
3
3

262.

273.
MO
tiap petak

2.15x1
08

2.25

154.

272.
280.

119.

3.75

150.
152. 153.
151.
1
1
1
8

210. 211.
1
6

15
0.1

16
1.0

18
1.0

19
1.4

20
0.3

6x10

215.

2.9x107

21
0.1

227.

2.26x1
08

22
0.9

239.

1.14x1
08

24
1.0

251.

4.45x1
08

25
1.2

263.

1.19x1
08

26
0.5

.25

6.25

8.5

11.25

9.75
274.
281.
R
ata-rata/
MO
tiap
petak

275.
282.

atarata/
MO
tiap cc

28
O

300.
N0

298.
E5

299.
Sari
Apel
+ S.
cere
visia
e

312.
N24
324.
N48
336.
N72
348.
N96

358.
359.

360.
361.

Keterangan :

289.
1
301.
1

290.
2
302.
1

291.
3
303.
7

292.
4
304.
1

293.
305.

294.

29

306.

4.4x107

30
0.1

318.

3.54x1
08

31
1.1

330.

3.89x1
08

33
0.9

342.

2.6x108

34
1.0

354.

3.15x1
08

35
0.5

313. 314. 315. 316.


9
1
9
5

317.

325. 326. 327. 328.


1
8
9
9

329.

337. 338. 339. 340.


5
8
7
5

341.

349. 350. 351. 352.


6
8
8
7

353.

8.5

7.25

8.75

MO = mikroorganisme
OD = optical density

Berdasarkan tabel pengamatan, dapat diketahui hasil pengamatan kinetika fermentasi

dalam produk minuman vinegar yang terbuat dari jus apel Malang. Hasil pengamatan tersebut
meliputi rata-rata mikroorganisme tiap petak, rata-rata mikroorganisme tiap cc, Optical
Density (OD), pH, dan total asam. Perlakuan yang dilakukan adalah penambahan
Saccharomyces cerevisiae pada sari apel tersebut, kemudian dilakukan pengamatan pada jam
ke-0, 24, 48, 72, dan 96. Dari hasil pengamatan, diketahui semakin lama waktunya, semakin
banyak jumlah mikroorganisme tiap petaknya. Dengan demikian, rata-rata mikrorganisme
tiap petak dan rata-rata mikroorganisme tiap cc juga bertambah. Semakin lama waktunya,
nilai OD diketahui berfluktuasi karena hasilnya meningkat dan menurun. Nilai pH juga
berfluktuasi karena menurun dan meningkat. Rentang pH vinegar apel adalah 3,20-3,84,
dimana pH yang paling asam pada kelompok E5 dan pH paling tidak asam pada kelompok
E3. Sedangkan, nilai total asam memiliki rentang nilai antara 8,640 sampai 11,328 pada
kelompok E1.
362.
363.
364.

364.1.

Grafik Kinetika Fermentasi dalam Produksi Minuman Vinegar

365.

Berdasarkan hasil pengamatan di atas, dapat dibuat grafik mengenai hubungan

antar parameter, antara lain hubungan antara OD dan waktu, hubungan antara jumlah
sel dan waktu, hubungan antara jumlah sel dan pH, hubungan antara jumlah sel dan
OD, serta hubungan antara jumlah sel dengan total asam.
366.
366.1.1. Hubungan OD dan Waktu
367.

Grafik hubungan antara OD dan waktu dapat dilihat pada Grafik 1.

368.
369.Grafik 1. Grafik Hubungan antara OD dan Waktu

370.
371.

Berdasarkan grafik di atas, diketahui bahwa hubungan antara absorbansi (OD)

berfluktuasi dengan waktu. Pada kelompok E1, E3, E4, dan E5, mula-mula terjadi
peningkatan pada jam ke-0 sampai jam ke-24, menurun sampai jam ke-48, kemudian
meningkat kembali pada jam ke-72, dan akhirnya turun pada jam ke-96. Sedangkan
pada kelompok E2, terjadi peningkatan sampai jam ke-72 dan mulai menurun pada
jam ke-96. Dengan demikian, hubungan antara absorbansi dengan waktu tidak
diketahui dengan jelas.
372.
373.
374.
375.
376.
377.
378.
379.
379.1.1. Hubungan Jumlah Sel dan Waktu
380.

Grafik hubungan antara jumlah sel dan waktu dapat dilihat pada Grafik 2.

381.
382.Grafik 2. Hubungan antara Jumlah Sel dan Waktu

383.
384.

Berdasarkan grafik di atas, diketahui hubungan antara jumlah sel dan waktu

berfluktuasi. Hal ini dikarenakan terjadi peningkatan dan penurunan jumlah sel yang
tidak teratur. Pada kelompok E1, jumlah sel awalnya meningkat sampai jam ke-24,
menurun drastis pada jam ke-48, kemudian meningkat pada jam ke-72, dan akhirnya
menurun sedikit pada jam ke-96. Pada kelompok E2, jumlah sel awalnya meningkat
sampai jam ke-24, kemudian menurun perlahan sampai jam ke-96. Pada kelompok
E3, jumlah sel meningkat sampai jam ke-48, kemudian menurun drastis pada jam ke2, dan menurun kembali pada jam ke-96. Pada kelompok E4, jumlah sel meningkat
sampai jam ke-24, menurun pada jam ke-48, kemudian meningkat dan menurun
drastis pada jam ke-72 dan ke-96. Pada kelompok E5, jumlah sel meningkat drastis
pada jam ke-24 dan meningkat sedikit pada jam ke-48, kemudian menurun pada jam
ke-72, dan akhirnya meningkat kembali pada jam ke-96. Dengan demikian, hubungan
antara jumlah sel dengan waktu tidak diketahui secara jelas.
385.
386.
387.
388.
389.
390.
390.1.1. Hubungan Jumlah Sel dan pH
391.

Grafik hubungan antara jumlah sel dan pH dapat dilihat pada Grafik 3.

392.
393.Grafik 3. Hubungan antara Jumlah Sel dan pH

394.
395.

Berdasarkan grafik di atas, diketahui hubungan antara jumlah sel dengan pH.

Pada kelompok E1, nilai pH berflutuasi karena ada penurunan dan peningkatan pada
kisaran pH 3,43-3,82. Pada kelompok E2, nilai pH berfluktuasi pada kisaran pH 3,473,72. Pada kelompok E3, nilai pH berluktuasi pada kisaran pH 3,47-3,84. Pada
kelompok E4, nilai pH berfluktuasi pada kisaran pH 3,43-3,61. Dan pada kelompok
E5, nilai pH menurun dan meningkat. Oleh karena itu, hubungan antara jumlah sel
dan pH tidak diketahui secara jelas.
396.
397.
398.
399.
400.
401.
402.
403.
404.
405.
406.
407.
408.
409.
409.1.1. Hubungan Jumlah Sel dan OD
410.

Grafik hubungan antara jumlah sel dan OD dapat dilihat pada Grafik 4.

411.
412.Grafik 4. Hubungan antara Jumlah Sel dan OD

413.
414.

Berdasarkan grafik di atas, diketahui hubungan antara jumlah sel dan OD.

Pada kelompok E1, E4, dan E5, nilai OD berfluktuasi. Pada kelompok E2, nilai OD
meningkat dan menurun. Pada kelompok E3, juga terjadi hal yang sama. Dengan
demikia, hubungan antara jumlah sel dan OD tidak diketahui dengan jelas.
415.
416.
417.
418.
419.
420.
421.
422.
423.
424.
425.
426.
427.
428.
429.
430.
430.1.1. Hubungan Jumlah Sel dan Total Asam
431.

Grafik hubungan antara jumlah sel dan total asam dapat dilihat Grafik 5.

432.
433.Grafik 5. Hubungan antara Jumlah Sel dan Total Asam

434.
435.

Berdasarkan grafik di atas, diketahui hubungan antara jumlah sel dan total

asam. Pada kelompok E1, semakin tinggi jumlah sel, total asam juga meningkat. Pada
kelompok E2, semakin tinggi nilai asam, jumlah sel menurun. Pada kelompok E3, E4,
dan E5 tidak diketahui hubungannya dengan jelas. Hal ini dikarenakan nilai total
asam berfluktuasi.
436.
437.

PEMBAHASAN

438.
439.

Menurut Timotius (1982), proses fermentasi adalah proses metabolisme

menggunakan senyawa organik sebagai akseptor elektron terakhir. Berdasarkan jenis


substratnya, fermentasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fermentasi karbohidrat
dan fermentasi senyawa nitrogen organik. Menurut Winarno et al. (1980), proses
fermentasi dapat berlangsung disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme fermentasi,
dimana mikroorganisme tersebut memecah gula menjadi alkohol dan karbon dioksida.
Perbedaan substrat, jenis mikroorganisme, dan proses metabolismenya menyebabkan
hasil fermentasi juga berbeda. Bahan-bahan pangan yang mengandung sumber karbon
dan nitrogen dapat dimanfaatkan sebagai media fermentasi. Menurut Fardiaz (1992),
kondisi yang aerob membantu yeast dalam mengkonversi gula menjadi karbon
dioksida dan etil alkohol. Menurut Atlas (1984), yeast Saccharomyces banyak
digunakan dalam pembuatan minuman-minuman beralkohol dengan mengkonversi
gula menjadi alkohol.
440.

10

441.

Menurut Gaman & Sherrington (1994), yeast Saccharomyces cerevisiae dapat

memetabolisme karbohidrat menjadi alkohol dan gas karbon dioksida, dimana proses
ini disebut dengan fermentasi alkohol. Fermentasi alkohol berlangsung pada kondisi
anaerob, dimana tidak terdapat oksigen. Enzim pada yeast yang berperan dalam
proses fermentasi gula menjadi etanol dan karbon dioksida adalah enzim zymase.
Meskipun fermentasi dilakukan tanpa oksigen sama sekali, pemecahan gula oleh
yeast dapat lebih sempurna dengan keberadaan oksigen (Winarno et al., 1980).
Kondisi lingkungan yang terdapat oksigen disebut kondisi aerob. Menurut Rahman
(1992), reaksi fermentasi dapat digambarkan sebagai berikut.
442.
C6H12O6 (karbohidrat) 2 C2H5OH (alkohol) + 2 CO2 (karbon dioksida)
443.
444.

Menurut Arpah (1993), beberapa faktor yang mempengaruhi fermentasi,

antara lain pH, oksigen, suhu, sumber nutrisi, dan jenis yeast yang digunakan. Proses
fermentasi terdiri dari dua tahapan, yaitu fermentasi utama dan fermentasi lanjutan.
Pada fermentasi utama, terjadi perubahan gula menjadi alkohol, karbon dioksida, dan
kalori oleh yeast. Sedangkan, pada fermentasi lanjutan, terjadi proses peragian dengan
menggunakan sisa ekstrak, tingkat kejenuhan oksigen meningkat, dan produk yang
dihasilkan lebih jernih. Menurut Fardiaz (1992), kisaran Aw pada yeast sedikit berbeda
karena dipengaruhi oleh pH, ketersediaan oksigen, suhu, nutrisi substrat, dan
keberadaan senyawa penghambat. Sedangkan, suhu optimal bagi pertumbuhan khamir
adalah 25-300C dan suhu maksimal adalah 37-470C
445.
446.

Cider berasal dari proses fermentasi alkohol oleh yeast/khamir dan merupakan

minuman beralkohol. Menurut Ranganna (1978), cider adalah minuman berkadar


alkohol rendah yang berasal dari sari buah atau bahan lainnya yang mengandung pati
dengan atau tanpa penambahan gula oleh khamir. Menurut Noguiera et al. (2008),
proses fermentasi cider dapat terkontrol dengan mengurangi biomassa di dalamnya,
melalui proses penyaringan. Selain itu, proses penyaringan juga dapat menurunkan
jumlah kematian sel yeast. Menurut Dolge et al. (2012), cider adalah minuman
fermentasi yang terbuat dari jus apel. Dalam pembuatan cider, ada dua macam metode
yang dapat dilakukan. Metode pertama dapat disebut juga dengan metode tradisional,

11

dimana tidak terdapat penambahan gula dan CO2, dan cider berasal dari pengepresan
apel cider. Cider yang dihasilkan dari metode ini dapat disebut dengan natural cider.
Sedangkan, metode kedua dengan menggunakan jus konsentrat apel atau apel segar
dan ditambah dengan gula dan CO2, serta dilakukan adanya proses stabilisasi.
Cider yang dihasilkan dari metode ini disebut sparkling cider. Menurut Realita &
Debby (2010), sari apel akan terfermentasi saat gula pada apel diubah menjadi etil
alkohol dan karbon dioksida oleh yeast. Dalam pembuatan cider, terdapat dua
tahapan. Tahapan pertama, ragi mengubah gula menjadi alkohol. Dan tahapan kedua,
bakteri asam laktat mengubah asam malat menjadi karbon dioksida.
447.
448.

Pada praktikum ini, cider yang akan dibuat adalah natural cider yang tanpa

penambahan gula. Menurut Realita & Debby (2010), prinsip pembuatan cider adalah
sama, dimana semua jenis buah yang mengandung gula dalam jumlah yang cukup
dapat digunakan untuk membuat cider. Namun, varietas apel dapat mempengaruhi
kualitas cider yang dihasilkan. Dalam kulit apel, terdapat banyak senyawa yang
berkontribusi terhadap rasa sari apel, sehingga dalam pembuatan cider tidak perlu
dikupas kulitnya. Menurut Ferreira et al. (2006), kandungan gula dalam buah apel
dapat digunakan oleh yeast untuk proses fermentasi. Adapun beberapa faktor yang
menentukan keberhasilan dalam proses fermentasi, antara lain konsentrasi gula, suhu,
konsentrasi O2, dan jenis yeast.
449.
450.

Menurut Dolge et al. (2012), jenis dan konsentrasi komponen aromatik pada

cider yang berperan dalam aroma cider itu sendiri. Aroma dari cider berasal dari buah
apel, dimana varietas apel, komponen senyawa yang dihasilkan oleh yeast, dan
komponen senyawa yang dihasilkan pada proses ageing berpengaruh. Komponenkomponen aromatik tersebut adalah ester, alkohol, asam lemak, aldehid, keton,
terpene, dan lactone. Fermentasi alkohol menghasilkan etanol dan gliserol sebagai
produk utamanya, kemudian ester. Ester yang dimaksud adalah etil asetat. Apel juga
mengandung polifenol yang berperan dalam kualitas sensori cider. Kandungan
polifenol dipengaruhi oleh varietas apel, iklim, tingkat kematangan, penyimpanan,
dan pengolahan.
451.
452.

Yeast yang digunakan dalam pembuatan cider ini adalah Saccharomyces

cerevisiae. Menurut Volk & Wheeler (1993), Saccharomyces cerevisiae sudah sering

12

digunakan dalam pembuatan minuman. Saccharomyces cerevisiae ini tergolong


khamir murni, dimana dapat berkembangbiak secara seksual dengan membentuk
askospora. Menurut Rahman (1992), Saccharomyces cerevisiae juga dapat
menfermentasi glukosa dalam buah dan hasil pemecahan pati menjadi alkohol dan
karbon

dioksida.

Tingkat

kekeruhan

substrat

menunjukkan

aktivitas

dari

Saccharomyces cerevisiae. Pada proses fermentasi alkohol, terjadi perubahan pada


bahan yang banyak mengandung pati karena terdapat proses sakarifikasi pati oleh
enzim amilase dan dilanjutkan fermentasi alkohol oleh khamir. Cider yang berasal
dari fermentasi sari buah apel mengandung alkohol sekitar 6,5-8%. Menurut Sharma
& Caralli (1998), fermentasi alkohol adalah proses dekomposisi heksosa menjadi
etanol dan karbon dioksida pada kondisi anaerobik. Yeast yang memfermentasi gula
menghasilkan larutan dengan kandungan alkohol sebesar 10-15%. Minuman
beralkohol tinggi dapat membunuh yeast di dalamnya. Menurut Galaction et
al. (2010), semakin tinggi kandungan etanol yang dihasilkan, jumlah substrat akan
semakin menurun. Hal ini mempengaruhi pertumbuhan yeast, sehingga jumlah yeast
akan berkurang seiring menipisnya substrat. Menurut Okpokwasili (2005), ada
hubungan antara kecepatan pertumbuhan spesifik () dengan konsentrasi substrat,
yaitu kecepatan pertumbuhan akan maksimum saat konsentrasi substrat tinggi.
453.
454.

Menurut Wang et al. (2004), jenis gula mempengaruhi proses fermentasi

alkohol. Jus apel mengandung gula, yaitu fruktosa, glukosa, dan sukrosa, dimana
kandungan fruktosa tertinggi dalam jus apel 70%. Penambahan Saccharomyces
cerevisiae dalam pembuatan cider bertujuan untuk mempercepat katalisis dan
menyempurnakan konversi gula menjadi lakohol tanpa menyebabkan pembentukan
off-flavor. Namun, kandungan frukstosa tinggi dapat menimbulkan konsentrasi residu
menjadi tinggi dan akan menimbulkan off-taste pada produk akhir. Hal tersebut dapat
terjadi karena Saccharomyces lebih menyukai glukosa (glucophilic), sehingga proses
pemecahan frukstosa berjalan lambat.
455.
456.

Menurut Canbas et al. (2007), temperatur dapat mempengaruhi kinetika

pertumbuhan sel Saccharomyces cerevisiae. Saccharomyces cerevisiae dapat hidup


lebih pada suhu 250C dibandingkan suhu 180C. Selain itu, semakin tinggi suhu,
semakin cepat pertumbuhan dan pengkonversian sumber karbon yang berlangsung.

13

Namun, peningkatan suhu hanya sampai pada suhu 270C, sehingga suhu di atas 270C
akan menyebabkan pertumbuhan sel yeast tidak baik.
457.
458.

Dalam penghitungan jumlah sel, ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu

secara langsung dan tidak langsung. Penghitungan jumlah sel secara langsung dapat
dilakukan dengan haemocytometer dan mikroskop (Pigeau et al., 2007). Menurut
Chen & Chiang (2011), haemocytometer adalah alat untuk menghitung sel pada
konsentrasi rendah secara cepat. Alat ini diletakkan di atas spesimen pentas (tempat
objek) dan digunakan untuk menghitung jumlah suspensi sel. Seiring berjalannya
waktu fermentasi, jumlah sel akan semakin meningkat dan pada titik tertentu
mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan telah mencapai tingkat
maksimal (fase stationer). Sedangkan, metode penentuan jumlah sel secara tidak
langsung dapat dilakukan dengan mengukur tingkat kekeruhan larutan menggunakan
spektrofotometer. Menurut Fardiaz (1992), hukum Lambert-Beer dapat membantu
dalam menentukan intensitas cahaya yang ditransmisikan dan diabsorbansi oleh suatu
larutan. Rasio intensitas yang diteruskan (I) dengan intensitas cahaya mula-mula (I 0)
disebut dengan persen transmitansi (%T). Nilai %T akan menurun seiring dengan
tingkat kekeruhan suatu suspensi. Hal ini dapat dijabarkan dengan rumus, antara lain
sebagai berikut.
459.

A = log (I0/It) = log(I0/It) = log T = abc

460.
461.

Hal pertama yang dilakukan dalam pembuatan cider adalah sebanyak 250 ml

sari apel Malang dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan disterilisasikan selama 30


menit. Menurut Potter & Hotchkiss (1995), sterilisasi bertujuan untuk membunuh
mikroba yang tidak diinginkan dalam sari apel. Setelah itu, sari apel ditambah dengan
30 ml biakan yeast secara aseptis. Menurut Hadieoetomo (1993), teknik aseptis dapat
mencegah pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan, sehingga pertumbuhan yang
terjadi adalah mikroba yang dipindahkan saja. Dengan kata lain, mencegah adanya
kontaminasi pada sari apel. Kemudian, dilakukan penginkubasian selama 5 hari pada
suhu ruang (25-300C) dengan perlakuan shaker (penggoyangan). Menurut Winarno et
al. (1984), perlakuan shaker bertujuan untuk meningkatkan laju alir udara agar laju
alir O2 tidak terhambat. Pertumbuhan yeast akan optimal dengan adanya O2. Menurut

14

Said (1987), perlakukan shaker juga dapat berperan sebagai agitasi, sehingga suspensi
sel mikroba dan medium nutrien menjadi homogen. Selama proses inkubasi,
dilakukan pengambilan sampel sebanyak 30 ml secara aseptis setiap 24 jamnya. Hal
ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan sel yeast. Pengujian dilakukan
dengan mengukur OD, menggunakan haemocytometer, mengukur pH dan total asam.

462.

463.Gambar 1. Pembuatan Sari Buah Apel

464.
465.

Menurut Hadioetomo (1993), haemocytometer adalah ruang hitung yang

terdiri dari petak-petak kecil yang dapat digunakan untuk menghitung jumlah sel di
bawah mikroskop. Pada umumnya, alat ini digunakan untuk menghitung jumlah sel
berukuran besar, seperti sel darah merah, dan sel dengan densitas >104 sel/ml.
Menurut Chen & Chiang (2011), haemocytometer terdiri dari dua ruang hitung
dengan kedalaman tertentu, dimana terdapat kotak-kotak berukutan mikroskopik yang
tergoren pada permukaan kaca di masing ruangan. Setiap 4x4 kotak dibatasi dengan 3
garis, sehingga dalam satu kotak terdiri dari 16 kotak kecil. Kotak-kotak tersebut
dapat membantu dalam menghitung jumlah sel dan volume spesifik cairan. Pengujian
sampel dengan haemocytometer dilakukan pada N0, N24, N48, N72, dan N96.
466.

15

467.

468.Gambar 2. Hasil Haemocytometer kelompok E5

469.

Pengujian sampel yang kedua adalah uji total asam yang juga dilakukan pada

N0, N24, N48, N72, dan N96. Pengujian ini dilakukan dengan metode titrasi. Sebanyak 10
ml sampel dititrasi dengan larutan NaOH 0,1N, dimana sampel telah ditambah
indikator PP sesaat sebelum dititrasi. Titik akhir titrasi adalah ketika warna sampel
berubah menjadi coklat tua, seperti teh. Adapun rumus yang digunakan dalam
penentuan total asam, antara lain sebagai berikut.
470.

Total Asam =

ml NaOH x Normalitas NaOH x 192


10 ml sampel

471.
472.Gambar 3. Hasil Titrasi Cider

473.
474.

Pengujian sampel yang ketiga adalah pengukuran pH pada N0, N24, N48, N72,

dan N96 dengan menggunakan pHmeter. Sampel yang digunakan dalam pengukuran
pH adalah sebanyak 10 ml. Selain itu, dilakukan penentuan OD dengan alat
spektrofotometer pada panjang gelombang 660 nm. Pengujian ini juga dilakukan pada

16

N0, N24, N48, N72, dan N96. Menurut Jomdecha & Prateepasen (2006), OD (Optical
Density) kultur yeast adalah penentuan jumlah sel yeast yang terdapat pada larutan
sampel. Nilai OD menunjukkan banyaknya sinar yang dapat diteruskan oleh kultur
cair. Menurut Ewing (1985), spektrofotometer adalah seperangkat alat untuk
menentukan penyerapan radiasi oleh larutan. Absorbansi merupakan nilai konstan dari
intensitas penyerapan yang dipengaruhi oleh konsentrasi, tebal media, dan intensitas
penyinaran (Wilford, 1987). Sedangkan menurut Fox (1991), absorbansi dipengaruhi
oleh konsentrasi dan kejernihan larutan, sehingga semakin keruh dan pekat suatu
larutan, nilai absorbansi semakin tinggi.
475.
476.

Hasil pengamatan menunjukkan semakin banyak jumlah sel, nilai OD semakin

tinggi. Hal ini sesuai dengan teori Pelezar & Chan (1976), dimana semakin banyak
massa sel dalam suatu suspensi, sinar yang tersebar akan semakin banyak. Dengan
demikian, nilai OD berbanding lurus dengan jumlah sel. Menurut Jomdecha &
Prateepasen (2006), pertumbuhan sel yeast mulanya berjalan lambat karena sel
beradaptasi pada lingkungan media yang baru. Kemudian, volume sel akan membesar
dan metabolisme meningkat, tetapi poliferasi sel berlangsung lambat. Dalam siklus
pertumbuhan mikroorganisme, fase ini disebut dengan fase lag. Setelah fase lag
tercapai, pertumbuhan sel semakin cepat karena sel telah beradaptasi dan substrat
makanan dapat cepat masuk ke dalam sel. Oleh sebab itu, pertumbuhan sel yeast
meningkat. Fase ini disebut dengan fase eksponensial. Hasil pengamatan
menunjukkan nilai OD tertinggi sebesar 1,907 pada kelompok E2 dan nilai OD
terendah sebesar 0,1714 pada kelompok E5.
477.
478.

Menurut Wang et al. (2004), pengukuran nilai asbsorbansi berdasarkan tingkat

kekeruhan larutan, dimana tingkat kekeruhan ini mempengaruhi jumlah cahaya yang
dapat melewati larutan tersebut. Pertumbuhan yeast yang meningkat menyebabkan
cider semakin keruh. Semakin besar nilai absorbansi (OD) menunjukkan jumlah sel
yeast semakin banyak. Namun, pada hasil yang diperoleh, terjadi fluktuasi dimana
semakin tinggi jumlah, sebagian nilai OD meningkat dan ada yang menurun.
Kesalahan ini dapat terjadi karena pembersihan kuvet yang kurang bersih, kesalahan
penempatan kuvet, ada gelembung udara pada larutan, ketidaksesuaian panjang
gelombang dengan yang tertera di alat, serta penyiapan larutan sampel dan larutan
blanko kurang sempurna. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan pembacaan

17

spektrofotometer menjadi kurang tepat. Hal ini sesuai dengan teori Pomeranz &
Meloan (1994). Adapun penyebab lainnya, yaitu suspensi tidak homogen, dimana sel
yeast mengendap di dasar tabung, sehingga yang terukur pada spektrofotometer dan
haemocytometer hanya sedikit.
479.
480.

Menurut Fardiaz (1992), pertumbuhan mikroorganisme dimulai pada fase lag,

kemudian fase logaritmik. Pada fase logaritmik, pertumbuhan sel sangat cepat.
Setelah itu, pertumbuhan menurun pada fase pertumbuhan diperlambat. Kemudian,
sel berada pada fase stasioner, dimana jumlah sel yang hidup kurang lebih sama
dengan jumlah sel yang mati. Dan terakhir adalah fase kematian, dimana terjadi
penurunan

jumlah

sel

secara

drastis.

Berikut

grafik

dari

pertumbuhan

mikroorganisme.

481.
482.
483.

Berdasarkan hasil pengamatan, semakin lama waktu akan menghasilkan

jumlah sel yang semakin banyak. Hal ini sesuai dengan teori Shafaghat et al. (2009),
dimana pertumbuhan Saccharomycesd cerevisiae menunjukkan semakin lama proses
fermentasi, konsentrasi sel semakin tinggi dan pada fase stasioner konsentrasi sel
mulai menurun. Pada kelompok E1, jumlah sel awalnya meningkat sampai jam ke-24,
menurun drastis pada jam ke-48, kemudian meningkat pada jam ke-72, dan akhirnya
menurun sedikit pada jam ke-96. Pada kelompok E2, jumlah sel awalnya meningkat
sampai jam ke-24, kemudian menurun perlahan sampai jam ke-96. Pada kelompok
E3, jumlah sel meningkat sampai jam ke-48, kemudian menurun drastis pada jam ke2, dan menurun kembali pada jam ke-96. Pada kelompok E4, jumlah sel meningkat
sampai jam ke-24, menurun pada jam ke-48, kemudian meningkat dan menurun
drastis pada jam ke-72 dan ke-96. Pada kelompok E5, jumlah sel meningkat drastis
pada jam ke-24 dan meningkat sedikit pada jam ke-48, kemudian menurun pada jam

18

ke-72, dan akhirnya meningkat kembali pada jam ke-96. Pada kelompok E5, grafik
pertumbuhan sel hampir mirip dengan grafik pertumbuhan mikroorganisme yang
seharusnya.
484.
485.

Jumlah sel tertinggi dihasilkan oleh kelompok E4 yaitu 145 pada jam ke-72.

Dan jumlah sel terendah dihasilkan oleh kelompok E1 dan E4 yaitu 4 pada jam ke-0.
Secara keseluruhan, jumlah sel tertinggi semua kelompok diperoleh pada jam ke-48.
Hal ini sesuai dengan teori Triwahyuni et al. (2012), dimana yeast mengalami
percepatan pertumbuhan pada jam ke-24 sampai 48. Dan fase eksponensial
yeast terjadi setelah jam ke-48. Selama percepatan pertumbuhan, yeast akan
membutuhkan sumber gula yang banyak untuk pertumbuhannya. Dan saat jumlah
gula semakin sedikit, yeast akan kehilangan kemampuan untuk fermentasi karena
penurunan energi seluler secara cepat. Jika energi berkurang, sel akan berhenti
bertumbuh dan produksi alkohol menurun. Proses fermentasi setelah melewati jam
ke-48, sel berada pada fase stasioner, dimana terjadi penurunan jumlah sel akibat
ketersediaan gula mulai menurun. Selain itu, sel yeast mulai mengalami kematian.
Adapula beberapa kelompok yang kurang sesuai jumlah selnya. Hal ini dapat
disebabkan oleh ketidatelitian praktikan dalam menghitung jumlah sel.
486.
487.

Menurut Damtew (2012), semakin lama waktu fermentasi, nilai absorbansinya

juga akan semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan hasil secara keseluruhan, dimana
seiring bertambahnya waktu, nilai OD semakin meningkat. Hal ini juga sesuai dengan
teori Jamdecha & Prateepasen (2006), dimana semakin lama waktu inkubasi, sel yeast
yang bertunas atau membelah diri juga semakin banyak. Semakin banyak jumlah sel,
nilai OD semakin tinggi. Namun, ada saat dimana jumlah sel mengalami penurunan,
sehingga nilai OD juga menurun. Hal ini dapat disebabkan oleh perlakuan shaker
yang kurang sempurna. Menurut Rahman (1992), kecepatan shaker harus diatur agar
gerakannya membuat media bergolak, sehingga terjadi aerasi. Jika shaker tidak
berjalan baik, terjadi penghambatan dalam laju transfer udara. Hal ini mengakibatkan
pertumbuhan Saccharomyces cerevisiae kurang optimal. Ketidaksesuaian hasil
tersebut dapat disebabkan oleh tidak adanya perlakuan pengadukan pada sampel
sebelum diuji, sehingga banyak sel yang mengendap dan tidak terambil.
488.

19

489.

Menurut Galaction et al. (2010), perubahan gula menjadi alkohol dan CO2

melibatkan organisme fermentatif selama proses fermentasi berlangsung. Jumlah


alkohol yang semakin meningkat, maka substrat yang tersedia semakin menurun. Hal
ini akan mempengaruhi pertumbuhan sel yeast, dimana jumlah sel akan berkurang
seiring dengan menipisnya jumlah substrat. Menurut Triwahyuni et al. (2012), yeast
mengalami percepatan pertumbuhan pada jam ke-24 dan jam ke-48, dimana pH juga
semakin meningkat akibat produksi alkohol. Dan pada jam ke-96, jumlah sel yeast
menurun karena jumlah substrat mulai menipis. Pada titik tertentu, alkohol yang
dihasilkan semakin tinggi dan dapat membunuh yeast. Hal ini kurang sesuai dengan
hasil, dimana penurunan dan peningkatan jumlah sel tiap kelompok tidak menentu
seiring meningkatnya pH. Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan oleh kesalahan
praktikan dalam mengukur pH, dimana angka yang terbaca oleh praktikan pada
pHmeter belum menunjukkan hasil yang sesungguhnya.
490.
491.

Menurut Galaction et al. (2010), seiring berjalannya proses fermentasi, total

asam akan semakin rendah akibat alkohol yang dihasilkan. Nilai pH yang tinggi
menghasilkan total asam yang renah. Ketika total asam terlalu rendah, terjadi
penurunan jumlah sel karena substrat yang digunakan oleh yeast berkurang sedikit
demi sedikit. Berdasarkan hasil pengamatan, terjadi peningkatan dan penurunan
jumlah sel yang tidak menentu seiring meningkatnya total asam. Kesalahan ini dapat
disebabkan oleh praktikan yang melakukan titrasi berbeda tiap pengujian, sehingga
persepsi warna coklat tua yang menandakan titik akhir titrasi berbeda-beda.
492.
493.
494.
495.
496.

KESIMPULAN

497.

Sebelum titrasi

Berdasarkan jenis substratnya, fermentasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fermentasi
karbohidrat dan fermentasi senyawa nitrogen organik.
Proses fermentasi dapat berlangsung disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme
fermentasi, dimana mikroorganisme tersebut memecah gula menjadi alkohol dan karbon
dioksida.

20

Saccharomyces cerevisiae dapat memetabolisme karbohidrat menjadi alkohol dan gas

karbon dioksida, proses ini disebut dengan fermentasi alkohol.


Beberapa faktor yang mempengaruhi fermentasi, antara lain ph, oksigen, suhu, sumber

nutrisi, dan jenis yeast yang digunakan.


Cider berasal dari proses fermentasi alkohol oleh yeast/khamir dan merupakan minuman

beralkohol.
Berdasarkan metode pembuatan cider, cider dibedakan menjadi dua, yaitu natural

cider dan sparkling cider.


Sterilisasi bertujuan untuk membunuh mikroba yang tidak diinginkan dalam sari apel.
Perlakuan shaker bertujuan untuk meningkatkan laju alir udara agar laju alir O2 tidak

terhambat.
Penentuan jumlah sel dilakukan menggunakan alat haemocytometer.
Pertumbuhan mikroorganisme terdiri dari fase lag, fase log, fase stasioner, dan fase

kematian.
Yeast mengalami percepatan pertumbuhan pada jam ke-24 sampai 48.
Yeast mengalami fase stasioner pada jam ke-48.
Pertumbuhan yeast yang meningkat menyebabkan cider semakin keruh.
Peningkatan nilai OD menunjukkan semakin banyak jumlah sel.
Peningkatan ph menunjukkan kadar alkohol semakin tinggi.
Ketika total asam terlalu rendah, jumlah sel mengalami penurunan.
Kandungan alkohol yang dihasilkan yeast dapat membunuh yeast.
498.
499.

Semarang, 10 Juli 2015

Asisten

dosen:
500.

-Bernardus

Daniel
501.

Ivanna Carissa

-Metta

Meliani
502.

12.70.0050

-Chaterine

Meilani
503.

DAFTAR PUSTAKA

504.
505. Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
506.
507. Atlas, R. M. ( 1984 ). Microbiology Fundamental and Applications. Mac Millard
Publishing Company. New York.
508.

21

509. Canbas, Ahmet; Aysun Sener and M.Umit Unal. (2007). The Effect of Fermentation
Temperature on the Growth Kinetics of Wine Yeast Species. Turk J Agric for 31, 349354.
510.
511. Chen, Y. W. and Chiang, P. J. (2011). Automatic Cell Counting for Hemocytometers
through Image Processing. World Academy of Science, Engineering and Technology 58.
512.
513. Damtew, W; S.A. Emire; A.B. Aber. (2012). Evaluation of Growth Kinetics and
Biomass Yield Efficiency of Industrial Yeast Strains. Scholars Research Library.
Ethiopia.
514.
515. Dolge, R. R.; Z. Kruma; and D. Karklina. (2012). Aroma Composition and Polyphenol
Content of Ciders Available in Latvian Market. World Academy of Science,
Engineering and Technology 67.
516.
517. Ewing, G.W. (1985).Instrumental Methods of Chemical Analysis. Mc Growhill Book
Company. USA
518.
519. Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan I. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
520.
521. Ferreira et al. (2006). The Effect of Copper and High Sugar Concentration on Growth
Fermentation Efficiency and Volatile Acidity Production of Different Commercial Wine
Yeast Strains. Australian Journal of Grape and Wine Research. South Africa.
522.
523. Fox, P. F. (1991). Food Enzymologi Vol 1. Elsevier Applied Sciences. London.
524.
525. Galaction, Anca-Irina; Anca-Marcela Lupasteanu and Dan Cascaval. (2010). Kinetic
Studies on Alcoholic Fermentation Under Substrate Inhibition Conditions Using a
Bioreactor with Stirred Bed of Immobilized Yeast Cells. The open Systems Biology
Journal,3,9-20.
526.
527. Gaman, P. M. & K. B. Sherrington. (1994). Ilmu Pangan. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
528.
529. Hadioetomo, R. S. (1993). Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT Gramedia Pustaka.
Jakarta.
530.
531. Jomdecha, C. and Prateepasen, A. (2006). The Research of Low-Ultrasonic Energy
Affects to Yeast Growth in Fermentation Process. Asia-Pacific Conference on NDT, 5 th
10th Nov 2006, Auckland, New Zealand.
532.
533. Nogueira, A; J.M.Le Quere; P.Gestin; A.Michel; G.Wosiacki and J.F.Drilleau. (2008).
Slow Fermentation in French Cider Processing due to Partial Biomass Reduction.
J.Inst.Brew.114(2),102-110.
534.
535. Okpokwasili, G. C. & C.O. Nweke. (2005). Microbial Growth and Substrate Utilization
Kinetics. African Journal of Biotechnology. Nigeria.
536.
537. Pelezar, Michael J. & Chan. E.C.S. (1976). Turbidimetric Measurement of Plant Cell
Culture Growth. Massachussets : MIT.

22

571.

538.
539. Pigeau et al. (2007). Concentration Effect of Riesling Icewine Juice on Yeast
Performance and Wine Acidity. Journal of Applied Microbiology. Canada.
540.
541. Pomeranz,Y. & C. E. Meloan. (1994). Food Analysis Theory and Practice. John Wiley
and Sons, Inc. New York.
542.
543. Potter. N.N. & Hotchkiss.J.H. (1995). Food Science 5th.Chapman &Hall.inc. NewYork.
544.
545. Rahman, A. (1992). Teknologi Fermentasi. Penerbit Arcan. Jakarta.
546.
547. Ranganna. (1978). Analysis of Fruit and Vegetable Product. The AVI Publ. Co. Inc.
548.
549. Realita, Tita dan M. Sumanti, Debby. 2010. Teknologi Fermentasi. Penerbit : Widya
Padjajaran. Bandung.
550.
551. Said, E. G. (1987). Bioindustri: Penerapan Teknologi Fermentasi. PT. Mediyatama
Sarana Perkasa. Jakarta.
552.
553. Shafaghat et al. (2009). Growth Kinetics and Ethanol Productivity of Saccharomyces
cerevisiae PTCC 24860 on Various Carbon Sources. World Applied Sciences Journal.
Iran.
554.
555. Sharma, J.L. & S. Caralli. (1998). A Dictionary of Food & Nutritions. CBS Publishers
& Distributors. New Delhi.
556. Timotius, K. H. (1982). Mikrobiologi Dasar. Universitas Kristen Satya Wacana.
Salatiga.
557.
558. Triwahyuni, E.; N. Ariani; H. Hendarsyah; T. Idiyanti. (2012). The Effect Of Dry Yeast
Saccharomyces cereviceae Concentration On Fermentation Process For Bioethanol
Production From Palm Oil Empty Fruit Bunches. Proceeding of ICSEEA 31 34.
559.
560. Volk, W.A. & M.F. Wheeler. (1993). Mikrobiologi Dasar Edisi Kelima Jilid 1.
Erlangga. Jakarta.
561.
562. Wang, D.; Y. Xu; J. Hu; and G. Zhao. (2004). Fermentation Kinetics of Different
Sugars by Apple Wine Yeast Saccharomyces cerevisiae. Journal of the Institute of
Brewing 110(4), 340346.
563.
564. Wilford, L. D. R. (1987). Chemistry for First Examinations. Blackie. London.
565. Winarno, F. G.; S. Fardiaz & D. Fardiaz. (1980). Pengantar Teknologi Pangan. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
566.
567. Winarno, F. G.; S. Fardiaz & D. Fardiaz. (1984). Pengantar Teknologi Pangan. PT.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
568.
569.
570.
LAMPIRAN
572.

23

572.1. Perhitungan
Perhitungan Kelompok E1
573.
Rumus:
574.
Perhitungan rata-rata/ MO tiap cc
ratarata jumlah MO tiap petak
Jumlah sel/cc=
575.
Volume petak
576.
577.
578.
579.
580.
581.
582.
583.
584.
585.
586.

587.

N48

588.

589.

N96

590.
591.

Volume petak = 0,05 mm x 0,05 mm x 0,1 mm


= 0,00025 mm3
= 0,00000025 cc
= 2,5 x 10-7 cc
Perhitungan total asam
ml NaOH Normalitas NaOH 192
Total Asam =
10 ml sampel
Perhitungan Rata-rata / MO tiap cc
5,5
Jumlah sel/cc=
=2,2 107
7
N0
2,5 10
N24

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

N72

13
7
=5,2 10
7
2,5 10

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

84,75
8
=3,39 10
7
2,5 10

36
8
=1,44 10
7
2,5 10

32,5
=1,3 108
7
2,5 10

592.

Perhitungan Total Asam


4,5 0,1 192
=8,64
N0
Total Asam =
mg/ml
10

593.

N24

Total Asam =

594.

N48

4,5 0,1 192


=8,64
Total Asam =
10

595.

N72

Total Asam =

596.

N96

Total Asam =

4,8 0,1 192


=9,216
mg/ml
10

4,7 0,1 192


=9,024
10

5,9 0,1 192


=11,328
10

597.
Perhitungan Kelompok E2

mg/ml

mg/ml

mg/ml

24

598.
599.

Perhitungan Rata-rata / MO tiap cc


10,75
Jumlah sel/cc=
=4,3 107
7
N0
2,5 10

600.

N24

601.

N48

602.

603.

N96

604.
605.

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

N72

53,75
=2,15 108
7
2,5 10

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

79,25
=3,17 10 8
7
2,5 10

32,25
8
=1,29 10
7
2,5 10

24
7
=9,6 10
7
2,5 10

606.

Perhitungan Total Asam


5,1 0,1 192
=9,792
N0
Total Asam =
mg/ml
10

607.

N24

Total Asam =

4,7 0,1 192


=9,024
mg/ml
10

608.

N48

Total Asam =

5 0,1 192
=9,6
mg/ml
10

609.

N72

Total Asam =

4,6 0,1 192


=8,832
mg/ml
10

610.

N96

Total Asam =

5,4 0,1 192


=10,368
mg/ml
10

611.
Perhitungan Kelompok E3
612.
Perhitungan Rata-rata / MO tiap cc
11
Jumlah sel/cc=
=4,4 107
7
613.
N0
2,5 10
614.

615.

N48

616.

617.

N96

618.

N24

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

N72

117,25
=4,69 108
7
2,5 10

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

46,5
=1,86 10 8
7
2,5 10

48,25
=1,93 108
7
2,5 10

15
=2,88 108
7
2,5 10

25

619.
620.

Perhitungan Total Asam


4,9 0,1 192
=9,408
N0
Total Asam =
mg/ml
10

621.

N24

Total Asam =

4,4 0,1192
=8,448
mg/ml
10

622.

N48

Total Asam =

4,7 0,1 192


=9,024
10

mg/ml

623.

N72

4,7 0,1 192


=9,024
Total Asam =
10

mg/ml

624.

N96

Total Asam =

4,6 0,1 192


=8,83
mg/ml
10

625.
Perhitungan Kelompok E4
626.
Perhitungan Rata-rata / MO tiap cc
7,25
7
Jumlah sel/cc=
=2,9 10
7
627.
N0
2,5 10
628.

629.

N48

630.

631.

N96

632.
633.

N24

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

N72

28,5
=1,14 108
7
2,5 10

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

56,5
=2,26 10 8
7
2,5 10

111,25
=4,45 108
7
2,5 10

29,75
=1,19 108
7
2,5 10

634.

Perhitungan Total Asam


4,8 0,1 192
=9,216
N0
Total Asam =
mg/ml
10

635.

N24

Total Asam =

4,7 0,1 192


=9,024
mg/ml
10

636.

N48

Total Asam =

4,8 0,1 192


=9,216
mg/ml
10

637.

N72

Total Asam =

4,9 0,1 192


=9,408
mg/ml
10

638.

N96

639.
640.

4,7 0,1 192


=9,024
Total Asam =
10

mg/ml

26

Perhitungan Kelompok E5
641.
Perhitungan Rata-rata / MO tiap cc
11
Jumlah sel/cc=
=4,4 107
7
642.
N0
2,5 10
643.

644.

N24

N48

645.

646.

Jumlah sel/cc=

N72

N96

647.
648.

Jumlah sel/cc=

97,25
8
=3,89 10
7
2,5 10

Jumlah sel/cc=

Jumlah sel/cc=

88,5
=3,54 108
7
2,5 10

65
8
=2,6 10
7
2,5 10

78,75
8
=3,15 10
7
2,5 10

649.

Perhitungan Total Asam


5 0,1 192
=9,6
N0
Total Asam =
mg/ml
10

650.

N24

Total Asam =

651.

N48

4,8 0,1 192


=9,216
Total Asam =
mg/ml
10

652.

N72

Total Asam =

653.

N96

Total Asam =

655.

4,6 0,1 192


=8,832
mg/ml
10

4,5 0,1 192


=8,640
mg/ml
10

654.
654.1.
654.2.

4,8 0,1 192


=9,216
mg/ml
10

Jurnal (Abstrak)
Laporan Sementara