Anda di halaman 1dari 27

RESUME

DISTRIBUTED GENERATION PROTECTION


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Distribusi Tenaga Listrik

Disusun oleh:

Ilham Arinugraha
Iyus
Kyky Try Rejeky
M.Manhalul L
Moch. Rifqi P.W
Mochamad Zein Z.A
Mochammad Iqbal N.I

(121364018)
(121364019)
(121364020)
(121364021)
(121364022)
(121364023)
(121364024)

D4 TEKNIK OTOMASI INDUSTRI


DEPARTEMEN ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

I. PENDAHULUAN
DG didefinisikan sebagai pembangkitan listrik skala kecil yang dihubungkan pada suatu
utilitas. Pada aplikasinya fasilitas pembangkitan diletakkan berdekatan dengan beban (pada titik
penggunaan energy diproduksi). Koneksinya dapat dilakukan pada sisi jaringan distribusi atupun
pada sisi pengukuran beban pelanggan. Umumnya pelanggan menggunakan output dari DG
dengan surplus yang dikirim dari sistem distribusi. Jika pelanggan membutuhkan beban lebih
besar dari daya yang disupply DG maka akan diambil daya dari sistem distribusi.
DG sudah diterapkan di sistem pembangkitan di Amerika Utara untuk beberapa alasan
diantaranya: sebagai alternative pembangunan sistem pembangkitan yang besar, keterpaksaan
pembangunan jalur transmisi baru dan permintaan yang tinggi akan daya yang handal. DG
semakin menarik karena dapat menghasilkan inovasi baru dengan biaya yang ekonomis sehingga
dapat merubah perekonomian dan lingkungan peraturan liberal pada perdagangan listrik.
Pengamatan public akan perubahan iklim yang tidak menentu mengakibatkan tingginya
peminat pada energy terbarukan dan penggunaan bahan bakar yang murah secara efisien. Selain
itu ada juga peminat terhadap perkembangan sistem yang mengkombinasikan antara panas
dengan listrik yang lebih dikenal sebagai Combine Heat and Power (CHP). Perkembangan
sistem yang menggunakan energy terbarukan menjadikan pemanfaatan DG menjadi suatu sistem
hybrid yang terdiri dari beberapa generator yang dibangun pada suatu MicroGrid yang
ditunjukkan pada Gambar 1.

Konsep MicroGrid ini menggabungkan beban dengan pengoperasian micro-sources


sebagai sistem tunggal dengan potensi penghasil energy serta panas secara bersamaan. Mayoritas
micro-sources harus berdasarkan elektronika daya (inverter) untuk menghasilkan fleksibilitas
yang dibutuhkan pada operasi yang tidak aman sebagai suatu sistem agregat tunggal. Microgrid
akan cocok diintegrasikan dengan sumber energy terbarukan dengan grid sesuai dengan
kebutuhannya dalam sistem yang membutuhkan kehandalan yang tinggi.
Pembangkitan yang diinginkan adalah yang dapat melakukan proteksi terhadap hubung
singkat dan kondisi-kondisi yang tidak normal yang dapat merusak generator. Kondisi abnormal
yang mungkin terjadi diantaranya over-excitation, ketidak-seimbangan arus, frekuensi abnormal,
stress akibat automatic breaker reclosing.
Penggunaan DG pada skala besar memerlukan penanganan yang sama dengan semua
generator yang terhubung dengan

sistem transmisi yang membutuhkan (detail impact

assessments), studi mengenai proteksi, dll. Sistem dengan daya kecil dibawah 5MW biasanya
dihubungkan dengan sub-transmisi dan sistem distribusi dan terintegrasi dengan sistem proteksi
utilitas. Selai itu DG juga menghasilkan dua perspektif pada kebutuhan proteksi yaitu pemilik
pembangkitan serta utilitasnya.
Distributed Generation (DG) atau pembangkit terdistribusi merupakan gabungan dari
pemanfaatan sumber energy fosil dan non fosil. DG menghaslkan daya listrik yang berbedabeda, karena pembangkit ini disesuaikan dengan potensi yang ada di wilayah disekitarnya.
Dekatnya pembangkit dengan pusat beban menyebabkan efisiensi pada distribusi, jaringan
transmisi, biaya operasional dan sedikitnya losses yang terjadi.
Distributed Generation (DG) adalah pembangkit listrik yang secara langsung
dihubungkan dengan jaringan distribusi atau secara langsung terhubung dengan beban. DG ini
tidak terpusat pada satu tempat saja seperti halnya power plant-power plant yang besar
melainkan dapat didistribusikan sepanjang saluran distribusi sesuai dengan potensi yang dimiliki
tiap daerah. Interkoneksi distributed generation ke dalam jaringan distribusi memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap peningkatan kualitas jaringan distribusi tenaga listrik yang meliputi :
aliran daya, perbaikan profil tegangan, peningkatan kehandalan, dan penurunan rugi daya.
Sebagian besar jaringan distribusi tenaga listrik dirancang sedemikian rupa sehingga aliran daya
mengalir dalam satu arah. Penerapan distributed generation memberikan sumber energy listrik
tambahan pada suatu jaringan distribusi tenaga listrik.

II. PRINSIP KERJA MICROGRID


Cara kerja sistem microgrid sangat tergantung dari bentukbeban atau fluktuasi pemakaian
energi (load profile) yang mana selama 24 jam distribusi beban tidak merata untuk setiap
waktunya. Load profile ini sangat dipengaruhi oleh homogenitas atau faktor kebersamaan
dimana pembangkit tersebut dioperasikan.
Penggabungan pembangkit listrik dalam microgrid, secara garis besar ditunjukkan seperti
pada Gambar 2. Komponen utama dari PLT Hibrid antara lain sub sistem PLTS, sub sitem
PLTB, sub sistem PLTD, sub sistem penyimpanan energy (storage) yang berupa battery bank,
dan sub sistem kontrol yang berupa Hybrid Power Conditioner (HPC). Pada PLT Hibrid,
kedudukan HPC sangat penting karena berfungsi sebagai pusat kendali. HPC pada umumnya
tersusun dari:

Bi-directional inverter, merupakan inverter dua arah yaitu merubah tegangan DC dari
baterai menjadi tegangan AC atau sebaliknya dari keluaran generator ke sistem DC untuk
pengisian energi ke baterai (charge battery).

Solar Charge Conditioner berfungsi untuk mengatur pengisian baterai dari input PVArray agar baterai terkontrol pengisiannya sehingga tidak akan terjadi over charge
maupun over discharge.

Managemen energi difungsikan sebagai tujuan utama dari sistem hibrid dimana aliran
beban akan selalu dikontrol dari ketiga sumber energi. Jika sumber Genset harus
beroperasi maka beban yang dipikul oleh genset harus dioptimalkan pada posisi min 70%
dari kapasitas diesel agar tercapai efisiensi pemakaian bahan bakar sesuai kurva Specific
Fuel Consumption (SFC) diesel-generator. Semua aliran energy akan dimonitor dan
dikontrol untuk dapat mencapai titik efisiensi secara sistem dalam pemakaian BBM.
Tanpa Management Energi maka PLTH layaknya hanya berfungsi sebagai switch over
atau backup sistem yang tidak akan memperbaiki SFC PLTD

Gbr. 2 Skema Susuna Mikrogrid


Pada umumnya microgrid bekerja sesuai urutan sebagai berikut:
a) Pada kodisi beban rendah (sesuai dengan settingnya, misal <50% beban puncaknya),
selama kondisi baterai masih penuh beban disuplai 100% dari baterai, PLTS dan PLTB,
sehingga diesel tidak perlu beroperasi. Ketiga jenis sumber energi tersebut bekerja secara
paralel dalam mensuplai energi listrik ke beban. Aliran daya pada kondisi beban rendah
diperlihatkan pada Gambar 3.a. Apabila beban mencapai 50% seperti di atas tetapi baterai
masih mencukupi, maka diesel tidak akan beroperasi dan beban disuplai oleh baterai
melalui inverter yang akan merubah tegangan DC ke tegangan AC.
b) Jika beban naik sampai diatas 50% beban puncak dan kondisi baterai sudah berada pada
level bawah yang disyaratkan, diesel mulai beroperasi untuk mensuplai beban dan
sebagian mengisi baterai sampai beban yang disyaratkan diesel mencapai 70-80%
kapasitasnya. Pada kondisi ini inverter bekerja sebagai charger (merubah tegangan AC
dari generator menjadi tegangan DC) untuk mengisi baterai (fungsi bi-directional
Inverter). Aliran daya seperti terlihat pada Gambar 3.b. dapat terjadi selama kapasitas
beban yang aktif pada saat itu lebih kecil dari kapasitas diesel generator.

c) Pada kondisi beban puncak, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.c, seluruh sub sistem
pembangkit peroperasi bersama-sama untuk menuju paralel sistem dan ini terjadi apabila
kapasitas terpasang diesel atau inverter tidak mampu sampai beban puncak. Jika kapasitas
genset cukup untuk mensuplai beban puncak, maka inverter tidak akan beroperasi paralel
dengan genset. Apabila baterai sudah mulai penuh energinya maka secara otomatis genset
akan mati dan beban disupali dari baterai melalui inverter.

Gbr.3 Aliran daya microgrid pada kondisi berbagai beban


Semua proses kinerja tersebut di atas diatur oleh sistem control power management yang
terdapat pada HPC. Proses kontrol ini bukan sekedar mengaktifkan dan menonaktifkan diesel
tetapi yang utama adalah pengaturan energi agar pemakain BBM diesel menjadi efisien, bukan
hanya sekedar paralel sistem dan atau switch over ke diesel atau inverter.
Produksi listrik microgrid selain bisa langsung disalurkan pada beban, bisa juga
dimasukkan pada jaringan listrik PLN. Berdasarkan hasil analisis mulai dari sumber energyenergi terbarukan skala kecil, pembangkit hibrid sampai dengan beban maka dapat dibuat single
line diagram dari sistem microgrid seperti pada Gambar 4. Ada dua jaringan dalam sistem, yaitu
jaringan DC yang digunakan untuk koneksi dengan pembangkit PLTS, PLTB dan baterai,
sedangkan jaringan AC digunakan untuk PLTD serta beban yang membutuhkan daya listrik.
Untuk koneksi dari jaringan AC dan jaringan DC digunakan inverter.

Gbr.4 Sistem Microgrid


Dari gambar 4 terlihat bahwa ada 2 aliran utama, yaitu aliran daya dari sumber
energi/pembangkit listrik ke beban dan aliran informasi dari sistem kontrol ke peralatan individu.
Semua peralatan sistem kerjanya diatur oleh sistem kontrol sehingga dapat meningkatkan
keandalan sistem serta dapat lebih mengoptimalkan penggunaan sumber energy terbarukan.

III. TEKNOLOGI DG YANG DAPAT DIKEMBANGKAN DI INDONESIA


Beberapa jenis teknologi DG yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah mikrohidro,
bahan bakar nabati, biomassa, energi angin, tenaga surya, energi hybrid (angin dan surya),
pasang surut, dan panas bumi.

3.1 Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro


Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah pembangkit listrik skala kecil
yang menggunakan energi air sebagai penggeraknya, misalnya saluran irigasi, sungai atau air
terjun dengan cara memanfaatkan tinggi terjunnya (head) dan jumlah debit airnya. Kondisi air
yang bisa dimanfaatkan sebagai sebagai sumberdaya penghasil listrik memiliki kapasitas aliran
maupun ketinggian tertentu. Semakin besar kapasisitas aliran maupun ketinggiannya maka
semakin besar energi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Pembangkit
tenaga mikrohidro bekerja dengan cara memanfaatkan semaksimal mungkin energi potensial air.
Energi ini secara perlahan diubah menjadi energi kinetik saat melalui nosel yang ditembakkan
untuk memutar sudu- sudu turbin. Energi mekanis dari putaran turbin akhirnya diubah menjadi
energy listrik melalui putaran generator. Karena besar tenaga air yang tersedia dari suatu sumber
air bergantung pada tinggi jatuh dan debit air, maka total energi yang tersedia dari suatu reservoir
air merupakan energi potensial air.

3.2 Teknologi Bahan Bakar Nabati


Biofuel adalah bahan bakar yang diproduksi dari sumber-sumber hayati, disebut juga
BBN. Secara umum biofuel dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis bahan bakar, yaitu
biodiesel, bioethanol, dan biooil. Pengelompokan ini dapat dikatakan merujuk pada jenis-jenis
BBM konvensional dari sumber energi tak terbarukan yang ingin digantikan dengan biofuel.
Biodiesel dimaksudkan sebagai pengganti solar (high-speed diesel) dan minyak diesel industri
(industrial diesel-oil). Bioethanol yaitu etanol yang dihasilkan dari biomassa dimaksudkan
sebagai bahan bakar pengganti bensin. Sedangkan biooil dapat dimanfaatkan sebagai bahan
bakar pengganti minyak tanah dan minyak bakar (marine fuel-oil).
Mengingat adanya keragaman bahan baku (sisi hulu) dan keragaman bentuk akhir bahan
bakar serta segmentasi penggunaannya, bagian terpenting yang harus dilakukan dalam studi
kelayakan teknis bahan bakar nabati adalah screening rute produksi. Dalam melakukan

identifikasi dan screening rute produksi, kajian dilakukan dari mulai tahapan penanaman,
pengolahan bahan baku, pemroduksian, penggunaan, hingga dampaknya terhadap lingkungan.
Tujuan dari screening ini adalah memilih rute produksi yang paling layak secara teknoekonomis. Identifikasi dan screening rute produksi untuk oil processing plant dan biodiesel plant
lebih ditekankan pada upaya untuk menyusun rute konversi produksi bahan bakar hayati
khususnya pure plant oil dan biodiesel. Biodiesel adalah suatu sumber daya yang dapat
diperbaharui berasal dari minyak nabati, penggunaanya untuk menggantikan solar dari minyak
bumi yang merupakan bahan bakar yang dominan untuk mesin diesel. Pertumbuhan penggunaan
biodiesel tumbuh dengan cepat terutama dalam bidang transportasi. Disamping itu biodisel dapat
juga digunakan sebagai bahan bakar untuk generator. Manfaat utama dari biodiesel adalah
mengurangi emisi udara yang berbahaya bagi lingkungan dalam pengoperasian pembangkit
energi listrik.

Keuntungan dan kerugian pembangkit listrik yang mengunakan minyak nabati antara lain :
a. Keuntungan:
1. Ketersediaan bahan baku memadai seperti: kelapa sawit, jarak, singkong,jagung, dan tebu
untuk bioethanol dan biodiesel.
2. Bisa diandalkan sebagai pengganti solar dan bensin.
b. Kekurangan:
1. Jalur konversi yang panjang untuk menghasilkan energi listrik.
2. Membutuhkan Tenaga Ahli untuk proses konversi dari bahan baku menjadi biodiesel dan
bioethanol.
3. Sebahagian besar bahan bakunya berasal dari bahan pangan.
4. Meningkatkan beban lingkungan karena adanya perkebunan mono kultur sehingga dapat
mengurangi produktifitas tanah dan mengganggu keseimbangan ekosistem.

3.3 Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa


Biomassa adalah sebutan yang diberikan untuk material yang tersisa dari tanaman atau hewan
seperti kayu dari hutan, material sisa pertanian serta Iimbah organik manusia dan hewan. Energi
yang terkandung dalam biomassa berasal dari matahari. Melalui fotosintesis, karbondioksida di

udara di transformasi menjadi molekul karbon lain (misalnya gula dan selulosa) dalam
tumbuhan. Energi kimia yang tersimpan dalam dalam tanaman dan hewan (akibat memakan
tumbuhan atau hewan lain) atau dalam kotorannya dikenal dengan nama bio-energi. Ketika
biomassa dibakar, energi akan terlepas, umumnya dalam bentuk panas. Karbon pada biomassa
bereaksi dengan oksigen di udara sehingga membentuk karbondioksida. Apabila dibakar
sempurna, jumlah karbondioksida yang dihasilkan akan sama dengan jumlah yang diserap dari
udara ketika tanaman tersebut tumbuh. Oleh karena itu kecepatan regenerasi biomassa
merupakan salah satu hal terpenting yang menentukan layak tidaknya untuk dimanfaatkan.
Secara umum keuntungan dan kerugian pembangkit listrik biomasa yaitu :
a. Keuntungan :
1. Sumber energi yang murah dan memanfaatkan limbah tanaman seperti kayu dari hutan,
material sisa pertanian serta Iimbah organik manusia dan hewan.
2. Dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti batubara.
b. Kerugian :
1. Lokasi ketersediaan biomasa tersebar sehingga susah dilakukan pengumpulan dalam
jumlah yang banyak.
2. Kontiniutas ketersediaan biomasa tidak terjamin.

3.4 Pembangkit Listrik Tenaga Surya


Energi matahari merupakan sumber energi penting sejak dahulu kala, dimulai cara
memanfaatkan yang primitif sampai teknologi photovoltaic. Matahari melepas 95% energinya
sebagai cahaya yang bisa dilihat dan sebaian lagi sebagai yang tidak terlihat seperti sinar infrared dan ultra-violet. Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai potensi energi surya yang
cukup besar. Berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia,
radiasi surya di Indonesia dapat diklasifikasikan berturut-turut sebagai berikut: untuk kawasan
barat dan timur Indonesia dengan distribusi penyinaran di Kawasan Barat Indonesia (KBI)
sekitar 4,5 kWh/m2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 10% dan di Kawasan Timur Indonesia
(KTI) sekitar 5,1 kWh/m 2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Dengan demikian, potensi
energi surya rata-rata Indonesia sekitar 4,8 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%
Kelebihan dan kekurangan dari penggunaan energi panas matahari antara lain :

a. Kelebihan :
1. Energi panas matahari merupakan energi yang tersedia hampir diseluruh bagian
permukaan bumi dan tidak habis (renewable energy).
2. Penggunaan energi panas matahari tidak menghasilkan polutan dan emisi yang berbahaya
baik bagi manusia maupun lingkungan.
b. Kerugian :
1. Sistem pemanas air dan pembangkit listrik tenaga surya tidak efektif digunakan pada
daerah memiliki cuaca berawan untuk waktu yang lama.
2. Pada musim dingin, pipa-pipa pada sistem pemanas ini akan pecah karena air di
dalamnya membeku.
3. Membutuhkan lahan yang sangat luas yang seharusnya digunakan untuk pertanian,
perumahan, dan kegiatan ekonomi lainya. Hal ini karena rapat energi matahari sangat
rendah.
4. Sistem hanya bisa digunakan pada saat matahari bersinar dan tidak bisa digunakan ketika
malam hari atau pada saat cuaca berawan.

3.5 Pembangkit Listrik Tenaga Angin


Pembangkit Listrik Tenaga Angin mengkonversikan energi angin menjadi energi listrik
dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Cara kerjanya cukup sederhana, energi
angin yang memutar turbin angin, diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibagian
belakang turbin angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Energi Listrik ini biasanya
akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Energi kinetik dari angin ditangkap
melalui turbin angin (kincir angin) yang diubah menjadi energi mekanis dan selanjutnya
dikonversikan menjadi energi listrik melalui generator listrik.
Kelebihan dan kekurangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin antara lain:
a. Kelebihan :
1. Teknologi yang ramah Lingkungan (environmental friendly) dan tidak rumit.
2. Mudah dalam pengoperasianya dan tidak memerlukan perawatan khusus.
b. Kekurangan :
1. Butuh biaya yang cukup besar untuk investasi awal.
2. Lokasinya tertentu, didaerah yang kecepatan angin cukup untuk memutar baling-baling.

3. Kecepatan angin yang fluktuatif tergantung pada musim.

3.6 Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut


Gerakan naik dan turun air laut yang luas menunjukkan adanya sumber tenaga yang tidak
terbatas. Jika beberapa bagian dari tenaga yang besar sekali ini dialihkan ke tenaga listrik, tentu
akan menjadi sumber penting bagi tenaga air. Gambaran utama siklus air pasang adalah
perbedaan naiknya permukaan air pada waktu air pasang dan pada waktu air surut. Jika
perbedaan tinggi ini dimanfaatkan guna mengoperasikan turbin, tenaga air pasang itu dapat
dialihkan pada tenaga listrik. Pada dasarnya, hal ini tidak terlalu sukar karena air pada waktu
pasang, berada pada tingkatan yang tinggi dan dapat disalurkan ke dalam kolam untuk disimpan
pada tingkatan tinggi di situ. Air tersebut juga dapat dialirkan kembali ke laut waktu air surut
melalui turbin-turbin, yang berarti memproduksi tenaga. Karena tingkatan permukaan air di
kolam tinggi dan permukaan laut rendah, terdapatlah perbedaan perbandingan tinggi air, yang
dapat digunakan untuk menggerakkan turbin-turbin.

3.7 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi


Energi panas bumi adalah energi yang dihasilkan oleh tekanan panas bumi. Energi ini dapat
digunakan untuk menghasilkan listrik, sebagai salah satu bentuk dari energi terbarukan. Air
panas alam bila bercampur dengan udara karena terjadi fraktur atau retakan maka selain air panas
akan keluar juga uap panas (steam). Air panas dan steam inilah yang kemudian dimanfaatkan
sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Agar panas bumi (geothermal) tersebut bisa
dikonversi menjadi energi listrik tentu diperlukan pembangkit (power plants). Pembangkit yang
digunakan untuk mengonversi fluida geothermal menjadi tenaga listrik secara umum mempunyai
komponen yang sama dengan power plants lain yang bukan berbasis geothermal, yaitu terdiri
dari generator, turbin sebagai penggerak generator, heat exchanger, chiller, pompa, dan
sebagainya.

IV TIPE PROTEKSI
Standar untuk integrasi DG dengan sistem distribusi memerlukan hal sebagai berikut:
Tidak menyebabkan overvoltage atau kehilangan utilitas koordinasi relay
Pemutusan ketika tidak lagi beroperasi secara paralel dengan utilitas (81 O / U, 27, 59)

Tidak memberi energi pada utilitas saat utilitas melepas energi.


Tidak ada penciptaan islands yang tidak disengaja
Gunakan Kelas Utilitas" relay
Tidak menyebabkan harmonisa yang tidak diinginkan.
Tidak menyebabkan hilangnya sinkronisasi (tidak ada flicker, objek)
Tidak menyebabkan overvoltage

Tipe Proteksi

Generator

Interkoneksi

Kebutuhan
Pengguna Proteksi

4.1 Interkoneksi
Proteksi DG terdiri dari PCC dan trafo interkoneksi. Tujuan dari proteksi interkoneksi ini
adalah untuk melindungi jaringan listrik dari unit DG pada saat pengoperasian paralel antara DG
dengan jaringan listrik. Persyaratan proteksi interkoneksi biasanya terbentuk oleh peralatan dan
termasuk berikut diantaranya:
1. Memutus

generator ketika mendeteksi kondisi islanding ( tidak ada lagi

pengoperasian paralel dangan peralatan).


2. Melindungi

peralatan dari kerusakan yang disebabkan oleh DG ( arus gangguan,

transien tegangan lebih,dll).


3. Melindungi DG dari kerusakan yang disebabkan oleh peralatan (recloser otomatis,dll).

Secara garis besar, interkoneksi pada DG terbagi atas tiga komponen, yaitu

Sumber Energi Utama (Prime Energy Source)


Hal ini menunjuk pada teknologi DG sebagai sumber energi seperti energi surya, angin,

mikrohidro, pasang surut dan biomassa. Setiap teknologi DG memiliki karakter yang berbedabeda dala menghasilkan energi, misalnya tipikal energi yang dihasilkan oleh PV dan fuel cell

berupa direct current atau wind turbin yang tipikal energinya berupa energi mekanis (dihasilkan
dari putaran pada turbin).

Gambar 5 Interkoneksi DG

Power Converter
Power converter dalam interkoneksi, berfungsi untuk mengubah energi dari sumber energi

utama (prime energy resources) menjadi energi dengan level frekuensi tertentu (50Hz - 60Hz).
Secara garis besar, ada 3 kategori powerconverter yang digunakan dalam interkoneksi, yaitu :
1. Generator sinkron
2. Generator induksi
3. Static power converter
Generator sinkron dan generator induksi mengkonversi putaran energi mekanis ke dalam
tenaga listrik dan sering disebut dengan routing power converter. Static power converter (biasa
dikenal dengan inverter) tersusun atas solid-device seperti transistor. Pada inverter, transistor
mengkonversi energi dari sumber menjadi energi dengan frekuensi 50-60Hz dengan switching
(switch on- off). Teknologi DG yang dijual di pasaran, kebanyakan telah diintegrasikan dengan
power converter masing-masing. Misalnya fuel cell yang telah diintegrasikan dengan inverter.
Power converter memiliki efek yang besar terhadap DG pada sistem distribusi. Oleh sebab itu
dibutuhkan peralatan interkoneksi untuk menjamin keamanan dan kestabilan operasi. Generator
sinkron, generator induksi dan inverter memberikan respon yang sangat berbeda terhadap variasi
kondisi dari sistem tenaga.
Sistem Interface dan peralatan proteksi

Peralatan ini ditempatkan sebagai penghubung antara terminal output dari power
converter dan jaringan primer. Komponen interkoneksi ini biasanya terdiri

atas step-up

transformer, metering kadang ditambahkan controller dan relay proteksi. Dalam komponen ini
terkadang terdapat communication link untuk mengontrol kondisi pada sistem.

4.2 Generator
Proteksi generator dipasang pada sisi generator pada PCC dan melindungi DG dari
kesalahan internal dan kondisi pengoperasian yang abnormal. Setiap generator akan memiliki
cara proteksi tersendiri untuk memproteksi alat dan diposisikan pada terminal generator. Proteksi
terfokus untuk mengatasi pendeteksian hubung singkat internal pada generator dan kondisi
pengoperasian yang abnormal (rugi medan, daya balik, eksitasi lebih, dan arus yang tidak
seimbang).
4.3 Peralatan yang Membutuhkan Proteksi
Banyak utilitas yang akan membutuhkan pemasangan DG untuk menyesuiakan diri pada
area tertentu. Peralatan yang menyediakan persyaratan yang detail pada area berikut ini:

Konfigurasi lilitan pada trafo interkoneksi

Persyaratan umum dari relay interkoneksi berkelas umum

Persyaratan CT dan VT

Persyaratan proteksi fungsional (81 O/U,27 dan 59)

Pengaturan pada beberapa bagian interkoneksi

Kecepatan operasi

V. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROTEKSI DG

5.1 Jenis DG
Generator dapat diklasifikasikan menjadi generator tradisional dan non-tradisional.
Contoh dari generator tradisional diantaranya adalah Turbin kecepatan rendah, Turbin
reciprocating, Mesin diesel, dan Turbin Mikro. Sedangkan generator non-tradisional diantaranya
Electrochemical, Storage Batteries, dan Renewable Devices. Kebanyakan generator nontradisional seperti fuel cell dan PV menggunakan inverter sebagai interface (antarmuka)
sedangkan generator tradisional biasanya terhubung secara langsung dengan grid.

5.2 Pengaruh dari Elektronika Daya


Inverter daya dapat mengkonversikan berbagai macam sumber energy seperti Frekuensi
variable (angin), frekuensi tinggi (turbin), dan energy langsung (PV & fuel cell). Inverter
berbasis DG berkapasitas kecil yakni 1kW hingga beberapa Mega-watt. Generator tidak
memungkinkan untuk terhubung secara langsung dengan energy terbarukan sehingga
membutuhkan inverter sebagai interfacenya.
Inverter diklasifikasikan menjadi 2 yakni line-comutated (berbasis thyristor) dan selfcomutated (berbasis IGBT atau MOSFET). Inverter yang digunakan secara komersial adalah
self-comutated inverter dan dapat diklasifikasikan sebagai VSI atau CSI yakni metode
pengaktifan atau pensakelaran berdasarkan tegangan ataupun arus namun yang sering digunakan
adalah VSI. Inverter sebagai pengubah daya elektronik dapat digunakan untuk mengendalikan
daya reaktif dan permasalahan power quality seperti deviasi tegangan, Total Harmonic Distortion
(THD) dan flickering. Inverter memiliki kemampuan untuk memonitoring tegangan serta
frekuensi pada terminal output sehingga memudahkan kita untuk mendeteksi dan mengendalikan
sistem yang keluar dari range tegangan yang ditentukan. Dibutuhkan ketelitian untuk mendeteksi
keseimbangan beban dan tegangan serta frekuensi yang mungkin akan bernilai sangat kecil
bahkan tidak terdeteksi pada saat utilitas sudah tidak aktif lagi. Pada kondisi normal DG
beroperasi pada daya dan power factor yang konstan sehingga mustahil jika keseimbangan tidak
terganggu pada saat kehilangan utilitas dan terputusnya hubungan antara sistem dengan jaringan.
Inverter hanya dapat menyuplai arus beban kurang dari 2 kali pada saat adanya
kegagalan, sehingga invereter berbasis DG tidak mungkin mempengaruhi proteksi utilitas yang
ada berkenaan dengan kegagalan arus (arus bocor). Kemungkinan akan islanding dan gangguan
yang berkaitan dengan putusnya koneksi pada invereter berbasis DG lebih kecil dibandingkan
dengan generator sinkron berbasis DG. Pada suatu studi IEA Task 5 ditemukan sangat kecilnya
kemungkinan terputusnya koneksi. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa bahaya dari kejut
listrik akibat terputusnya koneksi pada sistem PV pada kondisi terburuk baik bagi operator
maupun konsumen tidak meningkatkan bahaya yang terjadi.

5.3 Interkoneksi transformator


Pemilihan trafo memiliki peran penting pada koneksi DG dengan peralatan. Semua
koneksi memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu untuk dipertimbangkan oleh peralatan

dan pemilik DG. Tipe koneksi pentanahan diklasifikasikan: pentanahan solid, tidak ditanahkan
atau ditanahkan melalui impedansi pentanahan. Lima koneksi trafo banyak digunakan untuk
interkoneksi DG dengan sistem peralatan. Pemilihan koneksi akan mempengaruhi besar dari
tegangan lebih diikuti gangguan satu fasa dan juga besar arus gangguan yang disuplai dari gardu.

VI. ISU PROTEKSI PADA DG


6.1 Arus Hubung Singkat
Hubungan antara relay, re-closer, fuse dan peralatan over-current lainnya harus
didasarkan pada arus gangguan nominal yang diperbolehkan. Arus gangguan akan tergantung
pada koneksi trafo

DR. DG yang di hubungkan melalui rangkaian elektronika daya tidak

menghasilkan pengaruh yang besar pada arus hubung singkat dari jaringan sehingga dapat
diabaikan dalam aspek proteksi.
Proteksi mungkin akan gagal mendeteksi gangguan arus jika:

Ganguan adalah fasa-ground dan interkoneksi DG tidak menyediakan atau memberikan


sumber arus pentanahan utama

DG adalah fasa tunggal yang terhubung ke un-faulted fasa.

6.2 Islanding
Islanding adalah kondisi ketika DG tidak lagi beroperasi secara paralel dengan sistem utilitas
dan dapat terjadi sebagai hasil dari bebrapa kondisi berikut:

Gangguan yang dideteksi oleh utilitas, dan yang menyebabkan membukanya perangkat
disconnect tapi yang tidak terdeteksi dari peralatan proteksi DG

Terkadang opening atau kebocoran dari suplai utilitas normal menyebabkan kerusakan
komponen atau peralatan.

Utility switching dari sistem distribusi dan beban-beban.

Disconnect disengaja untuk melayani baik disebuah titik pada utilitas atau pada service
intrance (pintu masuk layanan)

Human error atau kerusakan berbahaya

Gangguan alam

Setelah mendeteksi dari autonomous microgrid (terputus dengan aman dari utilitas), sebuah
strategi control baru diaktifkan untuk mengelola keduanya baik untuk operasi dan proteksi dari

microgrid. Setelah island telah ditetapkan, proses auto recloser dapat terjadi penyambungan
kembali pada island untuk utilitas utama (main utility). Setelah island berhasil reclosed dan
tersambung dengan grid, strategi control harus dikembalikan ke model strategi grid connected
untuk mengelola operasi dan proteksi. Pengoperasian peralatan proteksi perlu memberikan reaksi
yang berbeda ketika beroperasi secara parallel dengan utilitas dan juga ketika beroperasi sebagai
sebuah stand-island tersendiri sebagai arus gangguan akan mengubah secara drastic antara mode
terhubung dan mode isolasi serta dampak skema proteksi yang didasarkan pada short-circuit
sensing. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam skema proteksi DG antara lain:

Numerical relays menggunakan pengaturn grup alternative untuk operasi island.

Praktek/pedoman Dasar komunikasi proteksi untuk skema perlindungan adaftif yang


dapat disesuaikan dengan kedua model dari opersai

Proteksi under-voltage yang dapat memberikan waktu delay proteksi jika proteksi
over-current konpensional tidak bisa beroperasi.

Sinkronisasi system island

Pemutus utilitas atau rangkaian recloser cenderung menyambung kembali island


untuk system utilitas yang lebih besar ketika keluar dari fasa.

masalah yang terpenting dalam operasi island adalah sistem telah terputus ketika DG beroperasi
dalam mode operasi paralel normal bahkan ketika terhubung dengan utilitas, dalam keadaan ini
perangkat osilasi tidak dibiarkan dioperasikan, microgrid terhubung ke sistem utilitas.Pada
kondisi yang tidak tepat disebut dengan unintended islanding, perhatian utama dalam
unintentional islanding adalah

Keselamatan pekerja saluran bertegangan dapat terancam dengan sumber DG


menyuplai sistem setelah sumber utama telah terbuka dan terlepas.

Keselamatan masyarakat dibahayakan dengan ketidakmampuan utility untuk


memutus daya saluran dibawahnya.

Tegangan dan frekuensi yang disediakan untuk pelanggan lain yang terhubung
dengan

islanding

adalah

diluar

kendali

utility,

tetapi

utility

masih

bertanggungjawab pada pelanggan tersebut (masalah pertanggungjawaban


apabila kualitas daya berdampak pada rusaknya peralatan pelanggan)

Sistem perlindungan pada island seperti tidak terkoordinasi, disebabkan perubahan

yang cepat pada ketersediaan arus hubung singkat.

Sistem islanding mungkin dibumikan secara tidak mencukupi dengan intekoneksi


DG.

6.3 Teknik Mendeteksi Islanding


Ruang lingkup deteksi islanding mencakup ruang lingkup yang besar dalam penelitian
dan pembelajaran. Sesi berikut mendiskusikan tentang beberapa teknik terkini yang digunakan
dalam deteksi islanding.

A Skema Berbasis Komunikasi


Metode tidak ditentukan selama inverter secara umum dikendalikan oleh the
utility atau terjadi komunikasi antara inverter dan the utility yang berdampak sebuah
inverter padam ketika diperlukan. Beberapa metode berbasis komunikasi termasuk :
Transfer Trip, Impedance Insertion, Power Line Signalling (Carrier Communications)
and Supervisor Control and Data Acquisition.

B. Deteksi Pasif
Metode pasif untuk mendeteksi sebuah kondisi islanding pada dasarnya mengamati
parameter parameter yang telah dipilih seperti tegangan dan frekuensi dan/atau
karakteristiknya dan menyebabkan inverter menangkap perubahan daya ketika ada
peralihan dari kondisi normal. Berikut adalah contoh metode deteksi pasif :

Over / Under Voltage

Over / Under Frequency

Lompatan fasa tegangan

Deteksi harmonisa tegangan

Deteksi harmonisa arus

C. Deteksi Aktif
Metode aktif untuk mendeteksi sebuah kondisi islanding memperkenalkan perubahan
yang disengaja atau gangguan untuk saluran yang terhubung dan kemudian mengamati

tanggapan untuk menentukan apakah jaringan utility dengan frekuensi stabil, tegangan
dan impedansinya masih terhubung. Apabila kekhawatiran kecil mampu berdampak pada
parameter sambungan beban dalam syarat yang telah ditentukan, saluran aktif
menyebabkan inverter untuk menangkap perubahan daya. Berikut yang termasuk metode
aktif:

Pengukuran impedansi

Deteksi impedansi pada frekuensi tertentu

Slip-mode Frequency Shift

Bias frekuensi

Sandia Frequency Shift

Sandia Voltage Shift

Lompatan frekuensi

D. Zona Non-Deteksi
Evaluasi teknik deteksi selesai melalui identifikasi dari zona non-deteksi dimana
islanding tak disengaja mungkin terjadi. Semua skema anti-islanding memiliki beberapa
keterbatasan seperti: Harga penerapan tinggi, membutuhkan koordinasi antara
pembangkit dan the utility, rentan salah mendeteksi islanding (tripping gangguan),
kemungkinan tidak mendeteksi islanding pada kondisi tertentu, dan kemungkinan
penurunan dari kualitas daya utility dan stabilitas tegangan dan frekuensi.

6.4. Pengurangan Jangkauan dari Relay Impedansi


Proses masuknya DG berdampak perhitungan zona ditetapkan terlebih dahulu dibuat
untuk relay impedansi. Tegangan berubah dengan adanya penambahan DG yang berdampak
pada impedansi yang terlihat pada relay. Perubahan pada impedansi membuat meningkatnya
jarak kesalahan. Hasilnya kesalahan harus lebih dekat dengan relay untuk pengoperasiannya
dalam zona jarak yang sesungguhnya. Area aktif dari relay olehkarenanya dipendekkan dalam
arti jangkauannya dikurangi.

6.5. Aliran Daya Balik


Skema pengaman standar memanfaatkan relay arus lebih secara langsung. Penyulang

radial tradisional diatur menanggung aliran daya hanya satu arah. Penambahan DG menghasilkan
aliran daya balik yang tidak diingikan pada model sistem pengaman asli.

6.6. Tampang Tegangan


Sumber DG berdampak pada tampang tegangan disepanjang saluran distribusi yang
mungkin mengakibatkan pelanggaran batas tegangan dan menyebabkan bertambahnya tekanan
tegangan untuk peralatan. DG dapat menyediakan peran tegangan yang bermanfaat pada beban
tinggi atau jaringan lemah dengan memperhatikan kualitas daya lokal. DG dapat mempengaruhi
sebuah trafo dengan merubah beban pada trafo yang mungkin tidak mengizinkan tegangan
masuk untuk diatur dengan benar.

6.7. Menutup Kembali secara Otomatis


Untuk mengamankan operasi yang benar dari proses reclosing otomatis, dan untuk mencegah
reclosure rusak, unit DG harus diputus dengan bersih sebelum proses reclosure. Ketika sebuah
unit DG berlanjut dijalankan setelah sebuah kesalahan, dua masalah mungkin timbul ketika the
utility dihubungkan kembali (reclosure otomatis) setelah gangguan singkat.
1. Kesalahan mungkin tidak dibersihkan sejak busur disulang dari unit DG, oleh karena
itu reclosure berkelanjutan mungkin tidak berhasil.
2. Pada bagian yang ditanahkan dari jaringan, frekuensi mungkin berubah
menyangkut ketidakseimbangan daya aktif. Reclosure akan menyatukan dua sistem
operasi asinkron.

6.8. Ferro-Resonansi
Ferro-resonansi dapat terjadi dan merusak peralatan atau trafo pelanggan. Sejak fuse pada
jaringan tiga fasa tidak memicu bersamaan ini mungkin terjadi akibat trafo terhubung hanya
melalui dua fasa pada waktu singkat. Kapasitansi kabel seri dengan induktansi trafo yang dapat
menyebabkan tegangan dan arus tinggi ketika kondisi resonansi.

6.9. Grounding
Sebuah DG transformator terhubung dengan lilitan primer trafo yang tidak dikebumikan,
yang bertujuan untuk keperluan analisis terhadap peralatan (insulator, lightning arrester, breakers

etc) dalam mengatasi kondisi over voltage yang terjadi pada gangguan antara penghantar line
dan ground. Sebuah unit DG terhubung melalui pembumian pada trafo delta-wye (atau
terhubung wye tanpa pembumian), gangguan pembumian pada penghantar line diakibatkan oleh
arus yang mengalir melalui dua aliran line-ground.

6.10. Safety
Penambahan DR pada feeder akan menyebabkan kerusakan di dalam peralatan.
Pengoperasian proteksi peralatan yang tidak tepat dapat menyebabkan kondisi (unsafe) pada
peralatan. Pada tipe dan ukuran tertentu dari DR trafo yang terhubung delta, feedback di dalam
fasa yang berada dalam kondisi gangguan over voltage dapat disebabkan oleh kerusakan pada
peralatan pelanggan atau utilitas peralatan. Kerusakan ini akan mengakibatkan kedua
penggunaan peralatan dan pengoperasian di daerah pelanggan menjadi tidak aman (unsafe).

VII. DG IMPACT ASSESSMENT


7.1 Impact Studies
Studi ini dapat menentukan peringanan strategi dalam meningkatkan keamanan
(proteksi) berdasarkan pada pembatasan penetrasi. Hilangnya koordinasi antar sistem, tumpulnya
sensitifitas deteksi gangguan, gangguan fuse, aliran dua arah dan over voltage, perlu dilakukan
studi kembali sesuai dengan urutan-urutannya, sehingga sampai pada maksud dari pembatas
penetrasi dari DG pada suatu keadaan sistem distribusi.
Loss of Coordination Study
Sensitivity Study
Nuisance Fuse Blowing Study
Impact Studies
Bi-directionality Study

Overvoltage Study
Islanding Mode Study

7.2 Simulation Stadies


Salah satu alat-alat listrik yang tersedia untuk penilaian dampak adalah CYMTCC dan
Paket perangkat lunak CYMDIST. Sambungan transformator juga harus dimasukkan dalam
model. Studi simulasi dilakukan oleh Natural Resources Canada - CETC menunjukkan bahwa:

Penambahan unit DG dalam hasil pengumpan dalam mengurangi kontribusi sumber


untuk kesalahan hilir dari DG sementara meningkatkan arus gangguan itu sendiri

Efek ini akan lebih parah untuk unit DG mengendalikan tegangan terminal seperti
langsung digabungkan unit sinkron

Efek ini hampir diabaikan untuk elektronik ditambah unit DG bertindak sebagai sumber
arus konstan

Pengaruh penambahan unit DG untuk pengumpan distribusi dapat menghasilkan zona


buta untuk perangkat perlindungan atau kesalahan koordinasi antara dua (atau lebih)
perangkat pelindung dan harus dipelajari dengan hati-hati

VIII. METODE DAN APLIKASI PROTEKSI INTERKONEKSI

Metode dan Aplikasi Proteksi Interkoneksi

Sasaran
Proteksi

Fungsi
Proteksi

Multi Fungsi
Digital Relay

Skema
Proteksi
Sederhana

Skema
Proteksi
Lanjutan

8.1 Sasaran Proteksi


Strategi proteksi untuk mengintegrasikan DG bertujuan untuk menghasilkan biaya yang
terkecil dengan meminimalkan dampak bagi sistem yang sudah ada. Salah satu caranya adalah

dengan menggunakan relay digital multifungsi yang mengkombinasikan beberapa fungsi relay
kedalam satu paket relay.
8.2 Fungsi Proteksi
Berikut ini adalah fungsi perlindungan yang biasanya digunakan untuk daya Kecil (10kW
atau kurang) aplikasi DG:

8.3 Multi fungsi Digital Relay


Multi-fungsi relay digital modern memiliki banyak fungsi dan fitur yang sangat cocok
untuk masalah proteksi interkoneksi. Salah satu manfaat dari penggunaan relay modern meliputi:
diagnostik diri, kemampuan komunikasi, dan monitoring gelombang (oscillographic).
Implementasi penggunakan relay digital multi-fungsional untuk proteksi interkoneksi
ditunjukkan pada Gambar 8.

8.4 Skema Proteksi Sederhana


Contoh dari skema proteksi sederhana ditunjukkan pada Gambar 9. Bagianbagaian [27, 59, 81U / O] digunakan untuk mendeteksi gangguan dasar yang akan memutus DG
dari sistem. Sistem harus kembali ke kondisi stabil (normal) sebelum sistem memulai lagi untuk
operasi secara paralel.

8.5 Skema Proteksi Lanjutan


Fungsi proteksi lanjutan yang ditambahkan pada skema proteksi sederhana adalah untuk
meningkatkan elemen proteksi sehingga dapat meningkatkan deteksi arus berbahaya saat
beroperasi secara paralel . Komponen tambahan yang meningkatkan kompleksitas sistem
ditunjukan pada gambar 10. Proteksi arus lebih untuk kondisi kegagalan sistem dan
ketidakseimbangan tegangan dan arus [51C atau 51V, 67, 46] dan proteksi tegangan lebih
[59N/G, 27n dan 47] adalah elemen yang ditambahkan untuk meningkatkan proteksi. Time over-

current dengan voltage controller atau voltage restained control memungkin untuk lebih selektif
dalam membedakan arus gangguan dari beban lebih ketika tingkat arus gangguan arus pada
sistem, dimana tin dan tingkat beban lebih berdekatan, dikarenakan oleh perbandingan ratio yang
sulit diatur. Penambahan ketidakseimbangan arus akan membantu dalam mencegah
ketidakseimbangan

arus

dari

kerusakan

interkoneksi

peralatan.

Penambahan

fungsi

ketidakseimbangan tegangan akan menambah protek terhadap tingginya impedansi pembumian.


Penambahan 59N dan 27n berfungsi pada sisi yang tinggi dari transformator Delta-Wye untuk
mendeteksi kesalahan untuk fasa ke kesalahan pembumian. Penambahan perangkat overpower
[32] untuk interkoneksi,memberikan kemampuan untuk dapat mengendalikan masukan atau
keluaran daya listrik selama operasi normal. Perangkat synch-cek [25] hanya dapat menutup
open breaker saat tegangan, frekuensi dan sudut fasa antara sistem listrik berada dalam batasbatas tertentu dalam suatu diferensial (turunan).