Anda di halaman 1dari 97

Milik Departemen P dan K

Tidak Diperdagangkan

MANIKMAYA

Alih Aksara dan Alih Bahasa

SRI SUMARSIH

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA
INDONESIA DAERAH
JAKARTA - 1981
MANIKMOYO I

I. PUPUH DHANDHANGGULO

01. Konon Mas Ngabei Ronggo di Penambangan yang mengepalai para abdi dalem
Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, telah berhasil menyusun kisah tentang
kedatangan agama Islam di Pulau Jawa.
Ceritera ini dimulai dari Sis Yanas Nurcahyo, adalah keturunan Nabi Adam
sampai dengan Sunan Giri.
02. Kisah yang disusunnya bersumber dari kitab suci Al Qur’an, tentang tonasube
(ilmu tasawuf). Ceritera itu diuraikan dalam bentuk ijina’ dan kias, menunjukkan
sifat : Maha Tunggal, Maha Pengasih dan Penyayang, Pemurah dan Pengampun
Tuhan seru sekalian alam.
03. Ceritera itu ditulis pada hari Sabtu Kliwon tanggal empat belas bulan
Jumadillawal tahun Ehe, wuku Warigalit, dalam masa kelima, dalam jangka
windu, Windu Adi. Diberi sasmito sandi (Jawa: Sengkalan) Sirno Ening Sworo
Tunggal. Jelasnya tahun 1740.
04. Demikianlah ceritera itu didahului dengan ucapan Bismiilahir rohman anirohiem.
Puji pujian itu berasal dari kitab Barubutun, kitab Barubu Laut, dan kitab
Barungala. Pertama (kidam) yang perlu diperhatikan urut urutan (tanayul) doa
dan kitab kitab itu jangan sampai terbalik balik, disertai lafal Illaha Illalloh
Muhammad Rasullullah.
05. Sebelum bumi dan langit diciptakan maka keadaan alam semesta masih hampa.
Dialam yang kosong itu yang ada hanyalah sekumpulan roh. Kepada sekumpulan
roh itu disodorkan janji janji untuk menempuh jalan yang baik. Setelah mendapat
perjanjian sebagian diantara roh roh itu lalu ada yang menjadi Nur (malaikat).
Kemudian Tuhan memerintahkan kepada para malaikat tadi untuk bersujud
kepada-Nya. Malaikat lalu menyembah lima kali kepada Yang Maha Esa.
06. Sejak itulah terjadi kebiasaan malaikat menyembah kepada Tuhan. Mereka
menjalankan sujud itu dengan pengertian dan mengindahkan ketentuan dan dalil.
Dalam menjalankan sujud itu mereka menjaga kebersihan lahir dan batin. Dalam
menjalankan sujud itu mereka menjaga kebersihan lahir dan batin. Dalam
menjalankan sujud jangan sampai terpengaruh soal soal yang kotor baik
jasmaniah maupun rohaniah.
Suatu ketika para malaikat habis menjalankan sujud dengan khusuknya, mereka
lalu menelentang. Dengan kesaktiannya pada waktu menelentang itu keluarlah
asap yang membubung tinggi. Dan asap akhirnya terjadilah langit ketujuh tingkat
dengan isinya.
07. Langit ketujuh tingkat beserta isinya itu menunjukkan ruang lingkup kekuasaan
Tuhan. Disinilah merupakan tempat yang terjaga kesuciannya dan tempat
tersimpannya wahyu wahyu Illahi. Ketujuh langit ini lalu menjadi terang dengan
adanya matahari, bintang, dan bulan. Disinilah bertempat tinggal para malaikat,
jin, bidadari. Mereka adalah umat Tuhan Yang Maha Agung disana pula terletak
neraka.
08. Setelah ketujuh langit selesai terbentuk malaikat lalu melakukan sujud lagi
dengan posisi tengkurap. Saat itu lalu terbentuk bumi sebanyak tujuh buah
lengkap dengan isinya. Dari sikap tengkurap itu malaikat lalu tidur dengan posisi
miring. Saat itu terjadilah lembah, jurang, tebing, karang. Sesudah itu malaikat
lalu duduk. Sikap ini nengakibatkan terjadinya gunung gunung.

1
09. Waktu duduk, malaikat itu mengeluarkan keringat. Dan kerigat inilah yang
menjadikan asal mula adanya samudera, mata air, sungai sungai besar, serta
telaga. Semua merupakan sumber dan air hujan.
Kemudian kotoran badan (daki) menjadi penghuni bumi yang terbagi atas
binatang darat dan binatang air. Termasuk binatang darat yaitu binatang bangsa
burung, binatang melata, serta binatang merayap.
10. Kejap kejap mata malaikat menjadikan asal mulanya ada siang dan malam,
guruh, kilat. Saat perjanjian dan kejapnya malaikat masih rahasia Tuhan Yang
Maha Esa.
11. Alam arwah itu membutuhkan jangka waktu 70.000 tahun Dalam jangka waktu
itu terkumpullah unsur unsur sehingga memungkinkan perubahan sifat keadaan.
Dikala itu Tuhan memfirmankan tentang adanya / lahirnya bumi dan langit
lengkap dengan aneka macam isinya. Hal itu menurut Al Qur‘an teijadi dalam
waktu 6 hari.
12. Begitulah kisah terjadinya tujuh buah langit dan tujuh buah bumi beserta isinya.
Panjang lingkar keliling langit itu diceriterakan bila diukur dengan kecepatan
burung terbang baru akan selesai dalam jangka waktu 1.000 tahun.
13. Salah satu diantara 7 buah langit itu lingkar kelilingnya cukup ditempuh dengan
kecepatan terbang burung yang tanpa berhenti selama 500 tahun.
Ruang keagungan dan kemegahan Tuhan dapat dilbaratkan sebagai sorga indah
yang berkotak kotak bagaikan kotak rumah lebah. Masing masing sorga indah itu
luasnya tak dapat dikatakan. Masing masing dijaga oleh bidadari.
14. Bidadari itu mempunyai empat jenis warna pokok yaitu hitam, putih, merah, dan
kuning. Warna pokok yang satu terhadap yang lain saling baur membaur. Yang
warna hitam agak keputihan, yang putih agak kemerah merahan bercampur
kuning, yang merah agak hitam dan putih serta kuning, yang kuning agak
kemerah merahan, putih, hitam, dan merah.
15. Para bidadari itu mempunyai wajah yang cemerlang seolah olah masing masing
memaimerkan keunggulan sinarnya Lemparan pandangannya bagai meluncurnya
siraut (pisau tajam) jatuh. Kelihatan serba pantas tiada setitikpun kejelekannya.
Tingkah lakunya aneka ragam lemah gemulai. Telah menjadi kebiasaan gerak
gerik bidadari itu serba menarik membuat para pria menjadi terpesona.
16. Dan berjuta juta dan puluhan ribu bidadari itu masing masing cantik molek
wajahnya para bidadari itu pantas jadi idaman istri para manusia yang mendapat
anugrah Tuhan masuk kesorga.
17. Masing masing kotak sorga itu ujudnya berbeda beda. Ada kelompok kotak yang
berujud mutiara semua. Kelompok kotak mutiara ini memancarkan sinar cerah.
Dilain tempat terdapat kelompok kotak sorga intan. Pada kelompok ini terdapat
tanaman yang batang, daun, serta pucuknya semuanya serba intan. Memancarkan
sinar yang seperti intan habis digosok.
18. Didalam surga keadaannya serba menarik. Dimana mana terdapat permata mulia.
Ada jamrut, mirah, nila widuri, ratna cempaka, beralaskan emas murni berseling
seling perak memancarkan sinar aneka warna. Sinar sinar itu seolah olah
memamerkan seni serinya masing masing.
19. Sungguh mengasyikkan pemandangan disana sini terdapat sinar cemerlang Tiada
bedanya keadaan siang dan malam didalam surga. Nikmat nian hidup didalam
surga. Keadaan seperti itu, baka langgeng tiada habisnya. Tak ada tolok banding
keindahan surga dibumi ini.
20. Rapal Laa ilaha illalloh dan Mohainmad dan wa rosuuluh itu tertulis dalam kitab
suci. Kitab suci itu tersimpan didalam makful yaitu tempat yang terjaga untuk

2
menyimpan ayat ayat suci. Lokil makful itu tidak dapat dibayangkan sampai
berapa luas tinggi dan dalamya
21. Tentang ujud Tuhan Yang Maha Esa itu tak dapat digambarkan. Hanya dapat
dikatakan lengkap penuh sempurna serba maha. Apa yang difirmankan terjadi.
Dan firman itu tidak pernah tidak ditepati. Sifatnya baka, tidak bertambah pun
pula tidak menyusut sesuai dengan sajaratil muntoha.
22. Pohon sajaratil muntoha besar batangnya lipat tujuh kali besarnya bumi. Daunnya
bermacam macam ada kuning, merah, biru, dhadhu (warna pembauran antara
merah dan kuning), campuran ungu dan kuning, ungu, hijau, hitam, dan putih.
Semua daun itu memancarkan sinar merah bagaikan mutu manikam yang semua
memancarkan keindahan cahaya. Aneka warna daun itu mengkiaskan sifat tabiat
masing masing manusia.
23. Apabila daun itu layu, ini mengkiaskan manusia jatuh sakit. Apabila daun
menjadi kering mengkiaskan manusia telah tua. Bila daun gugur mengkiaskan
manusia meninggal, badan rohaniah meninggalkan badan jasmaniah. Arwahmya
diterima oleh malaikat Ngijrail yang menjaga dibawahnya lalu dilihat dan
dipertimbangkan amalnya.
24. Kalau sudah dipertimbangkan segala amal perbuatannya, bagi yang banyak amal
solehnya ditempatkan oleh malaikat Ngijrail di lohkil mahful. Mengenai
meninggalnya manusia itu ada yang meninggal dalam usia tua, usia muda, masih
bayi, dan meninggal sebelum dilahirkan (abortus). Semua itu diatur oleh
kekuasaan Tuhan. Tentang giliran kematian itu diatur oleh kebijaksanaan Tuhan,
digambarkan sebagai bunyi irama gamelan yang indah.
25. Irama gamelan yang indah membuat gembira bagi siapa pun yang mendengarkan
mengakibatkan badan menjadi segar, dan menghilangkan rasa lesu, bagaikan rasa
nikmatnya wanita yang dirayu oleh pria.
Jumlah malaikat yang mempunyai tugas sendiri sendiri itu amat banyak, berjuta
juta bahkan wendran.(1 endran = 10.000.000).
26. Yang dijadikan utusan Tuhan malaikat Jabarail, Mingkail, Ngisrofil, dan Ngijrail
Malaikat ditugaskan mengepalai para malaikat tersebut. Jajil itu bertempat
tinggal disorga. Ia mendapat kepercayaan Tuhan sebagai wakil-Nya.
27. Tujuh bumi dan tujuh langit terjadi berpasang pasangan. Tujuh bumi dan tujuh
langit itu keadaannya bagaikan kembar. Keadaan atas dan bawah dari tujuh langit
dan tujuh bumi itu sama, begitu juga jarak antaranya dan susunannya Masing
masing bumi itu disangga oleh malaikat yang berujud ular naga. Ular naga itu
panjangnya sama dengan jarak ujung bumi sebelah timur hingga ujung bumi
sebelah barat.
28. Naga itu menyangga bumi dari ujung timur menyusur sampai keujung barat
kemudian muncul dan permukaan bumi melambung, melengkung akhirnya
kembali keujung bumi sebelah timur akibatnya kepala dan ujung ekornya
bertemu. Ular naga itu seolah olah kepalanya memangsa ekornya sendiri.
29. Konon naga itu disangga oleh lembu yang dinamakan lembu Gumarang. Lembu
Gumarang ini mempunyai 1.000 tanduk dan 1.000 telinga. Jarak antara telinga
yang satu dengan telinga yang lain sama dengan jaraknya ujung timur dan ujung
barat. Lembu ini berdiri diatas batu pualam (kumoloso) yang luasnya sama
dengan luas bumi. Batu pualam itu disangga oleh ikan Nun. Ikan Nun itu
disangga oleh lautan. Ikan Nun memangsa sesama ikan.
30. Ikan kecil yang menjadi mangsanya berdatangan sendiri seolah olah sudah
menjadi takdir Tuhan.

3
31. Bentuk permukaan bumi itu ada bermacam macam, ada yang itu mengeluarkan
air sehingga terjadilah mata air, sungai, dan sungai besar Kesemuanya itu kena
cahaya matahan kelihatan amat indah. Bintang bintang bertebaran diangkasa
32. Disamping bintang bintang yang bertebaran itu, terdapat pelangi berbentuk
lengkung yang ujung pangkalnya dikaki langit seolah olah kepala rusa sedang
minum air laut (bentuk pelangi yang melengkung itu digambarkan seperti rusa
yang sedang minum). Diangkasa yang luas itu.terdapat juga kilat yang saling
bermunculan.
33. Mengenai jenis binatang : ada binatang hutan, binatang yang hidup dijurang
jurang, binatang yang hidup ditebing tebing, binatang yang hidup didalam air.
Semua binatang itu ujud dan keadaannya bermacam macam. Karena tak
terhingga banyak dan ragamnya maka orang tak mampu menuliskan.
34. Alkisah Tuhan Yang Maha Esa menciptakan seekor burung yang besar lagi
panjang, warnanya hijau. Burung itu amat tinggi. Makanan burung itu telah
tersedia, buah buahan yang terdapat didunia. Tumbuh tumbuhan didunia itu
bermacam macam. Yang dimakan burung itu tidak hanya buah buahan yang
besar saja tetapi kecil sebesar biji sawi pun dimakan juga. Sesudah semua
tumbuh tumbuhan itu habis dipatuk maka matilah burung itu.
35. Kemudian Tuhan berfirman kepada Ngijrail agar memasuki mutiara hijau yang
sebesar biji sawi. Ngijrail tidak sanggup alasannya bagaimana. Ia dapat masuk,
sebab mutiara itu tidak berpintu lagi pula sangat kecil, jauh lebih kecil dari
badannya. Sedang bila ia sedang merentang sayapnya saja ruang diluar langit
dapat terpenuhi.
36. Malaikat Ngijrail menukik dari langit sampai dibumi masih bersifat malaikat.
Untuk dapat melandas kebumi tidak dapat. bila tidak merubah keadaan dirinya
yang mirip dengan perujudan yang ada dibumi. Apalagi bagaimana hamba dapat
masuk kedalam mutiara yang sebesar biji sawi itu. Jawab Tuhan hanya
menekankan agar Ngijrail menjalani apa firman-Nya.
37. Karena takut dan patuh menjalani firman Tuhan akhirnya Ngijrail melaksanakan
apa firrnan Tuhan itu. Ia masuk kedalamnya. Ternyata didalamnya amat luas.
Ngijrail segera membentangkan sayapnya, kemudian terbang berkeliling. Namun
ia tak dapat mencapai dinding mutiara itu. Ia lalu melambung keatas, ternyata
tidak juga mencapai tepi bagian atasnya. Ngijrail amat menyesal. Karena
kepayahan berterbangan itu ia mengurangi kecepatannya. Akhirnya ia berhenti
untuk bersujud menyatakan tobat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

4
II. PUPUH ASMORODONO

01. Tuhan Yang Maha Esa menanyakan kepada Ngijrail, apa yang nampak
didepannya. Jawab Ngijrail bahwa segera ia melihat seekor burung berwarna
hijau tua sinarnya cemerlang.
02. Warna hijau itu bercampur kuning, biru dan putih. Tuhan berfirman kepada
Ngijrail disuruh segera masuk kedalam perut burung hijau itu.
03. Malaikat Ngijrail segera masuk kedalam perut burung hijau itu. Perut burung itu
amat luasnya andaikata ia terbang sejauh jauhnya tak mungkin mencapai sisi
tepinya.
04. Malaikat Ngijrail dalam hati mengagumi Maha Kuasanya Tuhan yang tak dapat
dibayangkan sampai dimana luas dan puncak kekuasaan-Nya. Keanehannya ia
bertempat tinggal dalam sebuah rumah raksasa yang terletak didalam perut
burung.
05. Malaikat Ngijrail bersujud dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Ia menghiba hiba
minta belas kasihan kepada Tuhan. Tuhan berfirman malaikat Ngijrail disuruh
masuk kedalam rumah yang terletak didalam perut burung hijau itu. Malaikat
Ngijrail mengindahkan perintah Tuhan tersebut.
06. Tetapi ia tak mampu mendekati. Ia pingsan, tubuhnya lemah tak berdaya. Ia
menyerah kepada segala maksud Tuhan. Tuhan seru sekalian alam berfirman
kepada malaikat Ngijrail itu semua tidak menjadi persoalan, kamu tidak bersalah.
07. Didalam rumah raksasa yang berwarna hijau yang terletak didalam burung
tersebut malaikat Ngijrail bertanya kepada Illahi, “suara apakah itu gerangan.”
08. Tuhan Yang Maha Esa memberi jawaban, “itu adalah suara insan kamil (manusia
sejati).” Malaikat Ngijrail menyambung pertanyaannya, “di manakah letak insan
kamil itu.”. Tuhan Yang Maha Esa memberikan jawaban, “ia tidak berada diluar
ataupun didalam, tidak dibawah pun dan pula tidak diatasjauh jaraknya tak
terhingga.
09. Namun terletak amat dekat dengan kau tetapi tidak bersinggungan dengan
dirimu. Malaikat Ngijrail bertanya, sebelum alam semesta langit dan bumi
ketujuh ini tercipta dimanakah insan kamil itu berada.
10. Tuhan Maha Suci berfirman kepada malaikat Ngijrail, sebelum segala sesuatu
tercipta (kablasehi la akada) tak dapat dibayangkan bagaimana keadaan alam ini,
Alam semesta bersifat hampa tanpa isi.
11. Tuhan Yang Maha Kuasa lalu menciptakan bumi dan langit. Sekali berfirman
terjadilah apa yang beliau kehendaki. Malaikat Ngijrail bertanya kepada Tuhan
Semesta Alam, dimanakah tempat insan kamil (manusia sempurna).
12. Kira kira dala waktu 1.000 tahun malaikat Ngijrail masuk kedalam mutiara, maka
Tuhan Yang Maha Esa menghendaki menciptakan Jin untuk penghuni bumi.
13. Jin itu mempunyai laskar beratus ratus ribu berpasang pasangan pria dan wanita.
Para Jin itu beranak cucu turun temurun. Ujud raja Jin beserta laskarnya itu tidak
menyerupai manusia melainkan bersifat roh halus. Ia berasal dan sari api.
14. Semua Jin itu tabiatnya suka durhaka. Mereka mengingkari tentang segala
kekuasaan Tuhan, tak sudi bertaqwa kepada Tuhan. Selama para Jin itu
menghuni bumi dalam waktu puluhan ribu tahun mereka membiasakan hidup
serba mewah.
15. Oleh karena itu mereka lalu mendapat murka Tuhan dan dilenyapkan dari bumi
dengan cara disambar petir sehingga punah beserta anak cucunya Kemudian
Tuhan Yang Maha Esa berhajad hendak menciptakan penghuni bumi lagi Umat
baru yang diciptakan itu diberi nama Ibnu Jan, berasal juga dan sari api.

5
16. Pengikut Ibnu Jan ada beratus ratus ribu, bersuami istri, beranak cucu turun
temurun, sifatnya masih roh halus. Ibnu Jan amat berwibawa Keadaan
kerajaannya aman sejahtera. Segala sesuatu yang diinginkan lekas ada.
17. Adat kebiasaannya suka menjalankan perbuatan durhaka, malas bekerja, berbuat
sekehendak hatinya, mengingkari segala sifat kebesaran Tuhan. Mereka
mendiami bumi sampai 80.000 tahun, kemudian mendapat murka Tuhan.
18. Akibat dari pada murka ini negaranya menjadi rusak. Ibnu Jan beserta
pengikutnya meninggal dilanda air. Sesudah itu yang menjadi raja adalah
malaikat Ngijrail yang telah lama mengalami hidup mulia, tempat tinggalnya
disorga.
19. Malaikat Ngijrail sebagai pimpinan para malaikat ingin mengetahui keadaan
bawah langit. Dengan diantar 700.000 malaikat ia turun kebumi, sampailah ia
dibawah langit yang pertama
20. Malaikat Ngijail bertakwa dihadapan Tuhan hingga 1.000 tahun. Sesudah itu ia
minta Izin kepada Tuhan Yang Maha Esa ingin mengetahui keadaan dibawah
langit maka ia diiringi oleh penganutnya yang berjumlah ratusan nbu itu turun
kebumi. Kisah sebelumnya malaikat Ngijrail itu bertempat tinggal disorga.
21. Genap 1.000 tahun malaikat Ngijrail menempati sebuah bumi ia beserta
pengikutnya pindah kebumi yang lain. Selanjutnya ia pindah kebumi yang lain
lagi. Begitulah sampai ketujuh bumi pernah didiami. Masin masing bumi itu
didiami selama 1.000 tahun. Maka samapai meliputi bertempat tinggal ditujuh
bumi makan waktu 7.000 tahun. Masing masing pasangan bumi dan langit
menyambut baik kedatangan Ngijrail beserta pengikutnya.
22. Begitu Ngijrail sampai dibumi hatinya amat tertarik keadaan dibumi sehingga
keadaan disorga terlupakan. Ia pergi mengelilingi bumi melihat lihat hutan rimba.
belantara, gunung gunung dengan lereng serta tebingnya, dan laut samudera.
23. Ia amat terpesona kepada tingkah dan gerak gerik binatang rimba. Mereka
berkejar kejaran. Disamping itu ia masih ingat juga bersujud kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
24. Ngijrajil suka memperhatikan saat terbenamnya matahari, sinar bulan purnama
dan bintang bertaburan yang gemerlapan diangkasa raya. Kesukaan Ngijrail
beserta pengikutnya mengembara mengelilingi bumi dari arah timur sampai barat
telah didatangi semua tak ada yang ketinggalan.
25. Sekali peristiwa dalam bepergian mengembara itu diantara pengikutnya ada yang
mengingatkan Ngijrail, bahwa telah lama kami sekalian meninggalkan sorga,
menetap dibumi, jangan jangan dimarahi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
26. Ngijrail menerima baik peringatan dari penganutnya itu. Ia berterima kasih atas
peringatan itu. Ia benjanji bila lama perjalanan mereka telah 7.000 tahun akan
kembali kesorga.
27. Para malaikat yang jumlahnya 700.000 itu sependapat dengan kehendak dari
Ngijrail itu. Mereka patuh mengikuti perintah Ngijrail sampai dimana pun juga.
Alkisah Tuhan Yang Maha Esa menghendaki terciptanya manusia pertarna
(Adam).
28. Tuhan memerintahkan kepada malaikat Jabarail mengambil tujuh jenis tanah
sebagai bahan untuk menciptakan adanya Adam.
Malaikat Jabarail segera turun kebumi. Pada saat ia menukik kebumi itu bumi
bertanya.
29. Pertanyaannya itu mengapa malaikat Jabarail mengambil tujuh macam tanah
sebagai bahan menciptakan Adam. Bumi tidak rela jika sebagian dari padanya

6
diambil untuk dijadikan bahan Adam, karena ia tahu bahwa nantinya Adam akan
menerima murka Tuhan Yang Maha Esa.
30. Jabarail sangat tidak menduga bahwa bumi tidak mau diperlakukan sebagaimana
difirmankan Tuhan Yang Maha Esa. Ia segera kembali menghadap Tuhan
menyatakan bahwa bumi tidak dapat menerima atas perlakuan itu. Bila dipaksa
juga bumi akan melawan.
31. Tuhan Yang Maha Esa beralih memerintahkan kepada Mikail untuk mengambil
tujuh macam tanah. Mikail mengindahkan perintah Tuhan itu. Segera ia turun
kebumi. Sebelum Mikail mengambil tujuh macam tanah itu, oleh bumi
kepadanya lebih dahulu disodori pertanyaan apa maksud kedatangannya itu.
32. Lalu dikatakan bila Mikail mau mengarnbil sebagian dari padanya ia amat tidak
rela. Kalau toh dipaksa maka ia menjatuhkan laknat. Keadaan ini menjadikan
Mikail tidak berani menjalankan tugasnya. Ia kembali kehadapan Tuhan
melaporkan bahwa bumi amat tidak rela jika sebagian dari padanya diambil
meskipun pengambilan itu atas perintah Tuhan Yang Maha Esa.
33. Tuhan Yang Maha Esa segera berfirman kepada Ngisrafil memerintahkan agar
segera ia kebumi mengambil tanah. Ngisrafil mengindahkan perintah Tuhan,
segera ia turun kebumi. Sebelum ia melaksanakan perintah. Tuhan Yang Maha
Esa itu, bumi telah mendahului berkata seperti apa yang pernah ia katakan
kepada Mikail dahulu.
34. Ngisrafil segera kembali menghadap Tuhan, disana ia melaporkan bahwa bumi
tidak rela jika sebagian dari padanya diambli oleh Ngisrafil. Maka Tuhan beralih
memerintahkan kepada Ngijroil.

III. PUPUH PANGKUR

01. Tuhan memerintahkan kepada Ngijroil agar turun kebumi mengambil tujuh tanah
(jenis tanah) berwarna merah, biru, hijau, dan merah jambu agak ungu
(kapuranta), dadu (warna coklat bercampur kuning contoh gambar pegunungan
dipeta), hitam, dan putih. Ngijroil segera berangkat, tak lama kemudian
sampailah dibumi.
02. Sebelum Ngijroil mengatakan apa maksud kedatangannya, bumi telah
mendahului bertanya, apa maksudmu hendak mengambil sebagian dari padaku,
aku sungguh tidak merelakan. Apabila anda memaksanya aku akan mengutuk
anda. Maka segera kembalilah.”
03. Sahut Ngijroil, apa katamu hai bumi aku sekedar menjalani firman Tuhan.
Bagaimana akan menyanggahnya. Andaikata kamu meronta ronta sekalipun aku
sanggup menguasaimu. Segala kekuasaan ada padaku. Bumi tinggal diam saja.
04. Malaikat Ngijroil segera mengambil tujuh jenis tanah dibawa terbang
membubung diangkasa. Serta Ngijroil sampai dihadapan Tuhan. Tuhan lalu
berfirman, “tiadakah kamu dikutuk oleh bumi tatkala mengambil tanah.”
05. Malaikat Ngijroil berdatang sembah kepada Tuhan bahwa bumi melemparkan
banyak kutukan kepadanya, tetapi tidak dihiraukannya. Terus saja Ngijroil
membawa tujuh jenis tanah bumi. Ternyata bumi tidak angkat bicara.
06. Selanjutnya Tuhan Yang Maha Esa menetapkan bahwa Ngijraii nantinya
dipercayakan mengambil arwah semua dikelak kemudian hari apabila mereka
meninggal dunia.

7
07. Lagi pula ia dipercayai mengepalai semua malaikat yang menjaga daun daun
sajaratil muntoha di lokil makful. Jumlah malaekat itu berjuta juta. Itu semua
menjadi anak buah Ngijrail. Mereka semua tergolong rnalaikat pengatur maut.
08. Tujuh macam tanah itu yang semula berwarna putih, merah, kapuranta, biru,
ungu, hijau, dan kuning lalu diremas menjadi satu. Tanah yang semula ada yang
kasar, sedang dan halus Setelah dicampur dan dilumat lalu berubah bentuknya
menjadi menyerupai lumpur.
09. Lumpur itu mengandung berbagai unsur yaitu ada unsur angin, unsur api, unsur
bumi, unsur air, dan unsur roh Muhammad. Segala umat Tuhan dikuasai oleh roh
Muhammad.
10. Tuhan Yang Maha Esa memberikan nasihat kepada Ngijroil bahwa manusia itu
ditakdirkan didunia dalam keadaan berlain lainan, namun mereka dihadapan
Tuhan serta di lokil mahful sama wewenangnya, meskipun diantara mereka itu
jasmaniahnya ada yang ditakdirkan buruk dan pula yang ditakdirkan baik.
11. Orang bangsawan maupun kebanyakan, orang miskin maupun kaya, cerdik
maupun bodoh, tinggi maupun rendah kedudukannya pria maupun wanita,
mereka itu juga sama dihadapan Tuhan.
Kemudian adonan yang ujudnya menyerupai lumpur tersebut lalu dibentuk
sedemikian rupa sehingga ninyerupai bentuk tubuh manusia. Jangka untuk
membentuk tubuh ini membutuhkan waktu 40 tahun.
12. Ketika adonan lumpur itu selesai dibentuk menjadi tubuh manusia bertepatan
pada hari Jum’at. Tubuh manusia ini berwajah sangat tampan. Tinggi badannya
mencapai 60 hasta. Kemudian Tuhan memerintahkan kepada malaikat Ngijroil
agar memanggang tubuh itu.
13. Adapun tempat pemanggangan itu didesa Jolokang yaitu antara Mekah dan tanah
Nglaib. Malaikat Ngijroil mengindahkan perintah Tuhan itu. Penugasan Tuhan
terhadap malaikat Ngijroil ini dibantu oleh malaikat Jabarail, Mingkail, dan
Ngisrafil. Tubuh itu mereka bawa kebumi, terus diletakkan di Polongkang serta
dijaganya.
14. Tubuh itu mereka jemur ditengah terik matahari.
Alkisah malaikat Ijajil demi mendengar bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah
menciptakan tujuh Adam yang saat itu sedang dijemur lalu berkata dalam hati
15. Jika demikian Tuhan akan menciptakan bentuk umat lain disorga yang nantinya
akan menggeser kerajaannya. Dan yang diangkat menjadi raja tentunya Adam.
Malaikat Ijajil beserta pengikutnya lalu meninjau bentuk tapel Adam didesa
Tolongkang yang terletak diantara Mekah dan Nglaib.
16. Malaikat Ijajil telah menyaksikan keadaan tapel Adam yang sangat bagus serta
tiada bandingnya dari seluruh isi bumi itu. Ia terus masuk kedalam tapel Adam.
Sampai didalam malaikat Ijajil sempat mengelilingi kesegenap tapel Adam
tersebut.
17. Setelah tubuh itu rata dikeilingi tahulah malaikat Ijajil akan kehebatan isi tubuh
tapel Adam itu. Ijajil melihat bahwa didalam perut tapel Adam tersebut terdapat
sebuah bangunan berbentuk rumah megah. Bangunan itu sangat indah bagikan
indahnya bunga tanjung. Oleh Ijajil bangunan itu didekati dan ia berlutut disitu,
tetapi pada waktu akan masuk ternyata rumah megah itu tidak berhasil dimasuki.
18. Oleh karena itu Ijajil lalu keluar dari tubuh tapel Adam tersebut. Ketika telah tiba
diluar Ijajil lalu menceniterakan peristiwa yang baru dialami itu kepada
pengikutnya yaitu 700.000 malaikat. Dikatakan pula kepada para pengikutnya
bahwa sebagai raja yang pertama kali, dia belum pemah menyaksikan keadaan
yang seperti itu.

8
19. Isi badan tapel Adam memiliki sifat sifat yang serba lebih dari yang lain. Padanya
memiliki sifat sifat dan sifat besar sampai dengan sifat sekecil kecilnya.
Kemegahannya bagaikan kemegahan tujuh langit, yang menggambarkan
keagungan Tuhan. Kemegahan itu sama halnya dengan keagungan lokil mahful
(tempat yang indah dan terjaga, tempat penyimpanan ayat ayat wahyu Tuhan).
20. Isi tujuh buah langit yang berujud bintang bintang yang bertebaran, matahari, dan
bulan merata memenuhi angkasa. Lagi pula disana terdapat neraka. Itu semua
digambarkan sebagat rumah megah yang tiada berpintu tidak dapat dimasukkinya
bahkan sebelum sampai didekat bangunan itu badan terasa lunglai tiada berdaya.
21. Jika dipaksakan untuk masuk, bahkan badan merasa semakin lemah. Pada hemat
saya (Ijajil) itulah dikarenakan kesaktian Illahi. Karena kesaktian itu aku tak
mampu mendekatinya. Ijajil lalu minta pendapat para pengikutnya.
22. “Seandainya Tuhan memerintahkan menyembah kepada Adam apakah kalian
mau mengindahkan perintah itu?”
Mendengar pertanyaan itu maka para malaikat pengikut Ijajil yang jumlahnya
700.000 itu menjawab serentak, “Bagaimana kami akan tidak mau menjalaninya,
padahal itu memang sudah kuwajiban dari umat Tuhan”.
23. Mau tidak mau perintah Tuhan itu harus dijalankan. Kata Ijajil, “Bagiku perintah
itu tidak akan saya jalankan. Meskipun Tuhan memerintahkan dengan sangat
namun tetap tidak akan saya kerjakan, sebab menurut hematku perbuatan
semacam itu akan menurunkan martabatku.
24. Saya ini terjadi dari api. Oleh karena itu jika dipaksa menghormat kepada sari
bumi tidak akan mungkin mau. Padahal bumi itu hanyalah tempat tumbuhnya
bermacam macam tumbuh tumbuhan, tempat tertampungnya bau busuk, anyir
dan kotoran. Kesemuanya itu menjadi pengotor bumi beaka. Hal itulah yang
menjadikan aku tidak mau menghormat Adam, andaikata dimarahi sekalipun aku
tetap tidak mau melakukan.”
25. Alkisah Tuhan Yang Maha Esa berkenan memerintahkan kepada keempat
malaikat yaitu Jabarail, Mikail, Ngisrofil dan Ngijroil agar membawakan nyawa
Adam turun kebumi, dan nyawa itu diletakkan diatastalam emas.
26. Keempat malaikat tersebut lalu segera berangkat. Begitu sampai di Longkangan
nyawa yang mereka bawa itu langsung diletakkan dekat hidung tapel Adam.
Berkat kekuasaan Tuhan maka tapel Adam itulalu dapat bergerak.
27. Selanjutnya para malaikat tersebut bermaksud akan memasukkan nyawa tadi
pada tubuh Adam. Ketika tubuh Adam akan diangkat oleh malaikat ternyata
terasa terlalu berat. Oleh karena itu tubuh Adam lalu diangkat oleh dua malaikat,
anehnya tubuh Adam itu terasa semakin bertambah berat sehingga mereka tidak
berhasil mengangkatnya.
28. Tubuh tapel Adam yang sangat berat itu keadaan bagian dalamnya sangat sempit.
Ketika nyawa tadi dipaksa dimasukkan kedalamnya ternyata tidak dapat. Nyawa
berkehendak masuk lewat lubang hidung. Pada waktu nyawa itu baru menempel
lubang hidung, tapel Adam itu lalu bersin.
29. Akibat dari bersin itu bagian bagian tubuh tapel Adam terlepas, kepala, bahu,
telapak tangan, siku, pantat, lutut, dan telapak kaki lepas dari tubuh tapel Adam.
Tuhan Yang Maha Esa lalu memerintahkan kepada keempat malaikat untuk
memasang / memulihkan kembali tubuh yang terpisah itu tadi.
30. Bagian tubuh yang lepas porak poranda itu segera dikumpulkan oleh malaikat,
kemudian dipasang lagi sehingga pulih kembaliseperti sediakala. Tuhan Yang
Maha Esa mengajarkan kepada Adam setelah pulih akibat dari bersinnya iti untuk
mengucapkan Alhamdulillah.

9
31. pm.
32. Tuhan Yang Maha Kuasa memerintahkan kepada Adam agar mengucap Iyya ka
na’budu waiyya ka nasta’in. Saat itu tubuh Adam telah menjadi kuat, lengkap
dengan ruas ruasnya.
33. Udara keluar dan masuk melalui hidung, ini dikatakan pernafasan. Dengan
bernafas itu terjadilah hidup. Adam lalu dinobatkan menjadi Nabi bergelar Nabi
Adam. Padanya ada segala kekuasaan sejak yang besar sampai dengan kekuasaan
yang terkecil. Nabi Adam dihadap semua malaikat. Tempat mereka menghadap
ada yang disebelah kanan, disebelah kiri, didepan, dan dibelakang.
34. Para malaikat terlalu sayang dan hormat kepada Nabi Adam. Mereka
mengucapkan tabarakallahu yang artinya Nabi Adam sangat berguna, dan mereka
pandang sebagai Nur Muhammad. Tuhan memerintahkan kepada para malaikat
agar mereka menganggapnya sebagai Nur Muhammad.
35. Ia aku jadikan manusia pertama yang menjadi nenek moyang para manusia
seterusnya. Tentang rohnya adalah roh Muhammad yang kedudukannya sebagai
pengejawantahan Tuhan Yang Maha Esa.
36. Tuhan Yang Maha Esa memerintahkan kepada Jabarail agar mengambil pakaian
yang serba gemerlapan. Jabarail segera berangkat. Tak lama kemudian Jabarail
segera kembali membawa pakaian yang serba cemerlang. Pakaian tersebut segera
dikenakan kepada tapel Adam.
37. Makutho (pakaian pada kepala sebagai tanda kehormatan) serba keemasan
sehingga nampak indah. Dan makutho ini terpancarlah cahaya cemerlang.
Dikenakan juga bebadhong (pakaian yang dipakai sebãgai penguat letaknya
makutho) yang bertahtakan mutiara mutu manikam, ulur ulur (pakaian semacam
pita emas yang dikalungkan pada leher memanjang sampai didepan perut)
bergelang kelat bahu (sejenis gelang yang diterapkan pada lengan atas), anting
anting yang dihiasi dengan mutu manikam, dan baju keemasan.
38. Semua pakaian itu nampak gemerlapan. Ia menggunakan juga kampuh (semacam
kain yang dibuat sampai empat kali lipat panjang kain biasa, berbentuk seperti
kain biasa) yang bersulamkan emas sehingga kelihatan sangat indah.
Mengenakan pula alas kaki (selop) yang dihiasi dengan warna yang indah molek
(her bumi her wewehan).
Keindahan serta keagungan pakaian kebesaran itu tak dapat terkatakan. Begitulah
keindahan pakaian yang dikenakan pada tapel Adam.
39. Semua pakaian yang dikenakan pada tapel Adam itu tiada yang menyamai
indahnya, baik mengenal jenis macamnya maupun mutunya.

10
IV. PUPUH SINOM

01. Tuhan Yang Maha Esa memerintahkan kepada keempat malaikat agar
mengumpulkan semua malaikat yang bertempat tinggal diatas tujuh bumi dan
tujuh langit untuk mengantar Nabi Adam kesorga.
02. Setibanya disorga nan indah Nabi Adam dipersilakan duduk ditempat yang penuh
dengan perhiasan ratna mutu manikam, cahayanya amat cemerlang. Macam
macam mutu manikam itu : ada intan, jamrud, biduri, mirah, semua mutu
manikam ini memancarkan cahaya sinar gemerlapan. Tak dapat dikatakan lagi
keindahan pakaian yang dikenakan pada tapel Adam itu yang sinarnya memenuhi
ruang tujuh langit.
03. Tuhan Yang Maha Esa bersabda kepada para malaikat. Mereka diperintahkan
agar mau bersujud kepada Nabi Adam. Dialah yang aku kuasakan sebagai wali-
Ku, mengatur segala sesuatu yang ada didalam sorga. Adam berkedudukan
sebagai nabi. Para malaikat lalu bersujud kepada Adam.
04. Para malaikat itu amat patuhnya, mereka terus bersujud kepada Nabi Adam.
Demikianlah mereka telah menjalani takwa selama 100 tahun. Hanya malaikat
Ijajil saja yang tak mau melaksanakan perintah Tuhan itu. Memang sikap ingkar
ini telah diniatkan sejak waktu yang lampau. Ijajil menolak keharusan tunduk
kepada Nabi Adam. Malaikat Ijajil lalu mendapat murka serta kutuk Tuhan
YangMaha Esa.
05. Selanjutnya Ngijajil lau berubah ujud. Ia memiliki bentuk yang serba jelek.
Mukanya reot, mata melotot bila melihat matanya berkedip kedip, sudut matanya
serong. Kepalanya mengecil menjadi sebesar canthing. Dahinya lebar.
Pundaknya mengempis. Daun telinganya kecil, lehernya besar dan panjang.
06. Dadanya sempit, perut buncit, pantat menonjol, rambut tumbuhnya jarang lagi
pula warnanya merah. Jenggotnya tebal, dagunya runcing. Pangkal lengannya
kurus kering, jarinya sebesar pisang tanduk, kakinya sebesar buah betung.
Tubuhnya pendek lagi kecil. Bi!a berjalan jalannya membungkuk serta serong
dan reyot.
07. Kemudian Tuhan berfirman kepada Ijajil bahwa perubahan ujud itu hendaknya
diderita seumur hidup dan turun teniurun karena ía telah berdosa, yaitu tidak mau
menjalani perintah Tuhan Yang Maha Esa. Lagi pula ia ditakdirkan bahwa kelak
dihari kiamat akan masuk neraka jahanam. Ia bermaksud akan menyanggah
perintah Tuhan itu namun akhirnya ia terpaksa menyerah. Sejak itu ia lalu
berjanji bahwa untuk selanjutnya akan mengganggu keturunan Adam.
08. Ijajil memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diizinkan mencari teman
masuk neraka. Tuhan Yang Maha Esa mengizinkan permohonan Ijajil itu, tetapi
dengan syarat hanya mereka yang ingkar kepadanya saja yang boleh diganggu.
Sedang mereka yang bertakwa kepada-Nya Ijajil sama sekaii tidak diperkenankan
mengganggu. Disamping itu Tuhan memenintahkan bahwa Ijajil tidak
diperkenankan bertempattinggal bersama manusia.
09. Untuk Ijajil disediakan tempat tinggal didalam jurang, didalam lumpur yang sulit
didatangi, atau didalam kayu kayuan dan perbatuan. Semua anak cucu Ijajil
adalah kafir, mereka digolongkan iblis laknat. Ijajil lalu diasihgkan mereka
digolongkan iblis laknat. Ijajil lalu diasingkan dibawah gunung yang terletak
didalam neraka.
10. Disana ia tetap menjadi raja, tentaranya adalah para setan (bekasakan). Para
malaikat yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa merasa sangat jijik
melihat Ijajil setelah mendapat kutuk dari Tuhan itu. Sebab saat itu Ijajil telah

11
berubah ujud menjadi sangat buruk yang tiada bandingnya, dan perubahan ujud
mi akan diikuti anak keturunannya.
11. a. Para malaikat yang semula menjadi anak buah Ijajil. tidak digolongkan kafir.
Mereka ini selalu bersujud. kepada Tuhan menyatakan rasa syukur. Dalam
jangka waktu 1.000 tahun kemudian para malaikat bekas pengikut Ijajil ini
baru diperkenankan berkumpul dengan para malaikat yaitu golongan malaikat
yang tetap bersujud kepada Tuhan.
Kepada bekas pengikut Ijajil ini masing masing lalu diberi tugas.
b. Secara bergiliran para malaikat datang menghadap Nabi Adam. Sebenarnya
didalam hati Nabi Adam merasa tidak senang karena yang datang menghadap
itu bukan sesama manusia.
12. Untunglah tidak lama kemudian Nabi Adam mendapat anugerah Tuhan. Tiba tiba
beliau menyaksikan bahwa dari tulang rusuknya yang terakhir pada lambung
sebelah kiri muncul seorang wanita yang sangat cantik. Wanita yang baru saja
muncul ini terus duduk disamping Nabi Adam. Seketika itu Nabi Adam lalu
timbul nafsu birahinya.
13. Wanita itu bernama Ibu Hawa kecantikan Ibu Hawa melebihi kecantikan para
bidadari yang berada disorga, cahaya kulitnya kuning bagaikan warna emas
diumpan (digosok). Seketika itu juga Nabi Adam mengulurkan tangan untuk
menjamah wanita, tersebut, akan tetapi dihalangi oleh Jabarail.
14. Jabarail mengatakan bahwa saat itu Ibu Hawa belum resmi menjadi istrinya
sehingga haram untuk dijamah. Jabarail menyarankan agar Ibu Hawa itu dinikah
dahulu. Mendengar saran dari Ijajil itu Nabi Adam lalu menarik tangannya
kembali. Maka malaikat Jabarail lalu ditunjuk menjadi kaum dalam
pernikahannya, selanjutnya malaikat Jabarail lalu membimbing akad nikah antara
Nabi Adam dan Ibu Hawa.
15. Setelah pernikahan itu berlangsung Tuhan lalu berfirman yang isinya
mengangkat Nabi Adam menjadi raja disorga. Tuhan lalu merestui apa yang
menjadi maksud dan tujuan Nabi Adam. Nabi Adam dn Ibu Hawa hanya dikenai
satu pantangan yaitu tidak dilzinkan mengambil buah kuldi. Dan lagi
diperingatkan bahwa mereka harus tahu bahwa Ijajil selalu akan menjalankan
tipu muslihat dan godaan.
a. Nabi Adam dan Ibu Hawa menerima baik nasehat Tuhan itu. Selang 1.000
tahun kemudian Ijajil mendengar berita bahwa Nabi Adam telah meniiliki
seorang istri namanya Ibu Hawa. Saat itu Ijajil masih dipenjarakan dibawah
gunung.
16. Ijajil sangat tidak senang setelah mengetahui bahwa Nabi Adam telah dinobatkan
menjadi raja disorga. Ia segera berangkat menuju sorga. Ijajil bermaksud akan
masuk sorga tetapi tidak dapat karena tidak ada pintu yang dibuka. Pada saat itu
hanya ada sebuah pintu tertutup yang dikunci lagi pula dijaga oleh seekor burung
merak.
17. Burung merak itu bertengger diataspintu yang dijaganya. Kepalanya terkulai
keluar sedang ekomya beracla didalam sorga. Melihat itu Ijajil tak kehabisan
akal. Ia lalu merubah ujudnya menjadi ulat tahun dan menjalar didepan burung
merak tadi. Ulat itu segera dipatuk oleh merak itu kemudian ditelan sehingga
masuk didalam perutnya.
18. Setelah sekian lama Ijajil berada didalam perutnya maka merak penjaga pintu
sorga itu merasa akan berhajad besar. Ketika burung merak itu selesai berhajad,
Ijajil ikut serta keluar terbawa bersama sama keluarnya tinja. Dibelakang pintu
pertama dari sorga itu terdapat ruang lapis yang lebih dalam tetapi pintu

12
masuknya tertutup dan dikunci. Ijajil ingin masuk kedalam sorga ruang sebelah
dalam itu. Ia pergi mengelilingi dinding sorga itu tetapi disana tidak terdapat
pintu yang terbuka. Yang dijumpai hanya sebuah pintu tertutup yang dijaga oleh
seekor naga. Kepala naga itu terkulai diataspintu, lidahnya menjulur keluar
berpijar meliuk liuk kesana kemari.
19. Taring naga itu mencuat dan rahangnya, keluar dari mulut. Taring itu sebesar
gading gajah, mengeluarkan air berbisa bercucuran bagaikan hujan lebat. Sedang
matanya membeliak bersinar bagaikan sinar matahari pada tengah hari.
Menghadapi naga yang demikian itu Ijajil merasa ketakutan, Ia tidak berani
mendekatinya. Maka Ijajil lalu mengucapkan manteranya, adapun khasiat dari
mantera ini dapat menghilang dari pandangan.
20. Sesudah itu Ijajil lalu merayap mendekati lubang mulut naga. Ia lalu
menghembus hembus mulut naga itu sambil memberikan manteranya. Tidak
lama kemudian ular naga itu merasa mengantuk lalu tertidur. Kesempatan ini
digunakan oleh Ijajil untuk masuk kedalam mulut naga tersebut selanjutnya lalu
masuk kedalam perut. Beberapa lama kemudian naga itu merasa akan berhajad
besar.
21. Naga itu jadi berhajat besar. Bersama itu Ijajil ikut serta terbuang keluar. Setelah
tiba diluar perut naga, Ijajil lalu menampakkan diri lagi dan saat itu ia menyamar
sebagai malaikat penjaga sorga.
Diluar dinding sorga ia berkaparan sambil merintih menghiba hiba. Rintihan
tangis ini membuat terkejut para bidadari penghuni sorga.
22. Mereka menjadi keheran heran, karena didalam sorga itu pantang terdengar
tangis Dalam hati para bidadari timbul pertanyaan siapakah gerangan yang
menangis itu. Para bidadari yang berdekatan dengan arah sumber tangis itu lalu
melongok ingin melihatnya. Sementara itu Ibu Hawa pun tertanik juga ingin
melihatnya.
23. Setelah berjumpa dengan yang menangis, Ibu Hawa lalu bertanya malaikat
apakah dia dan kenapa menangis hingga berguling guling. Maka jawab yang
sedang menangis itu bahwa ia telah mendengar berita bahwa Nabi Adam dan ibu
Hawa diasingkan dari sorga serta dikeluarkan dari istana Tuhan, Pada waktu
berkata itu malaikat Ijajil sambil terisak isak meangis.
24. Dikatakan bahwa ia sangat menaruh iba kepada Nabi Adam yang telah mendapat
kutuk Tuhan tersebut, karena Ibu Hawa dituduh menyeleweng, dengan malaikat.
Padahal apa yang dituduhkan itu tidak sesuai dengan martabat Ibu Hawa.
Selanjutnya Ijajil yang menjadi pengadu itu menyatakan bahwa dirinya sangat iba
dan belas kasihan kepada Ibu Hawa.
25. Disamping itu pengadu itu mengatakan pula bahwa telah tensiar pula jika Ibu
Hawa itu terjadi dari tulang rusuk yang terakhir pada lambung sebelah kiri Nabi
Adam. Mendengar cerita pengadu yang demikian itu hati Ibu Hawa merasa
sangat terhina. Karena tidak sempat berpikir panjang maka berita itu semula terus
dipercaya begitu saja. Tetapi akhirnya Ibu Hawa lalu menanyakan tentang
kesungguhan cenita itu.
26. Pengadu yang sebenarnya adalah samaran dari Ijajil itu lalu bersumpah apabila
ceriteranya itu tidak benar. mudah mudahan ia mendapat siksa Tuhan. Kemudian
pengadu itu mengatakan bahwa sebenarnya Ia tergolong malaikat juga. Sumpah
pengadu yang demikian itu membuat Ibu Hawa mempercayai ceritera tersebut
karena dianggap tak mungkin pengadu itu mengingkari.
27. Dengan terisak isak sambil menghapus air mata yang mengalir bercucuran
pengadu itu selanjutnya menyatakan bahwa karena begitu sayangnya ia kepada

13
Ibu Hawa maka Ibu Hawa lalu disuruh mengikuti sarannya. Ibu Hawa disarankan
rnakan buah kuldi. Dikatakan bahwa tindakan itu adalah sebagai sarat untuk
menjamin mempertahankan nama baiknya dihadapan Nabi Adam. Dengan
demikian Nabi Adam dan Ibu Hawa akan terhindar dari kedurhakaan.
28. Ibu Hawa menyatakan bahwa saran yang dikemukakan itu adalah larangan
Tuhan. Bagaimana ia akan melaksanakan saran itu, karena harus makan buah
kuldi. Apalagi Ibu Hawa belum pernah melihat sendiri bagaimana ujud buah
kuldi itu. Sambil menghapus air mata dan terisak isak malaikat pengadu itu
menasehatkan meskipun itu larangan tapi demi sarat untuk menghindari kutuk
Tuhan maka hal itu boleh saja dilakukan.
29. Selanjutnya Ibu Hawa minta kepastian apakah sarannya itu memang betul.
Malaikat pengadu itu lalu melanjutkan pembicaraannya. Sambil bersumpah ia
mengatakan dengan sungguh sungguh bahwa sarannya itu adalah benar. Rupanya
hasutan ini dapat mengenai sasaran dengan tepat sehingga Ibu Hawa lalu berubah
keyakinan. Ibu Hawa lalu timbul keinginannya untuk memakan buah kuldi.
Karena tidak tahu dimana buah kuldi itu. Ibu Hawa lalu bertanya kepada malaikat
pengadu tersebut
30. Dengan diantar oleh malaikat pengadu itu Ibu Hawa terus berangkat. Sampai
disana malaikat pengadu lalu menunjukkan pohon kuldi yang dimaksud. Demi
melihat akan buah kuldi Ibu Hawa segera bangkitlah seleranya ingin
memakannya.
31. Pada waktu berada dibawah pohon kuldi Ibu Hawa terus menengadah keatas. Ia
lalu meraih kemudian memtik dua biji buah kuldi. Buah kuldi itu tatkala masih
berada dipohon, tingginya sama dengan tubuh Ibu Hawa. Dengan demikian pada
waktu akan memetik, ubun ubun Ibu Hawa dapat tersentuh buah kuldi itu.
Selanjutnya buah kuldi yang telah dipetik itu lalu dimakan satu buah.
32. Bagi Ibu Hawa buah kuldi itu terasa sangat enak rasanya. Pada waktu buah kuldi
itu telah ditelan dan telah berjalan sampai didada, maka tiba tiba Ibu Hawa jatuh
pingsan. Setelah siuman pada bagian dadanya terdapat dua tonjolan daging
montok yang kemudian dinamakan buah dada. Bentuk buah dada itu amat indah.
Akhirnya ibu Hawa menyadali bahwa perbuatannya yang baru saja dilakukan itu
adalah haram. Oleh karena itu lalu dicari sarana untuk menyucikan, rohaniah dan
jasmaniahnya.
Sejak saat itulah laiu terjadi ketentuan wudhu dan bersuci sebelum mengerjakan
sholat.
33. Adapun mulai terjadinya pelanggaran terhadap larangan Tuhan itu dimulai sejak
Ibu Hawa menengadah keatas untuk melihat buah kuldi. Oleh karena itulah pada
waktu berwudhu muka dibasuh tiga kali. Disamping itu tangan juga harus dicuci
sebab tangan ini pernah dipakai untuk memetik buah kuldi. Adapun asal
mulanya ubun ubun diusap tiga kali pada waktu wudhu, karena ubun ubun Ibu
Hawa itu pernah tersentuh buah kuldi.
34. Telinga diusap tiga kali karena telinga itu pernah dipergunakan untuk menerima
hasutan untuk makan buah kuldi dari iblis, musibat yang menyamar sebagai
malaikat sedang menangis. Kaki dibasuh tiga kali karena dalam usaha
mengambil buah kuldi maka kaki itulah yang dipergunakan berjalan menuju
pohon kuldi. Demikianlah asal mulanya mengapa bagian bagian tersébut dibasuh
dulu sebelum menjalankan sholat.
35. Peristiwa peristiwa lain yang berhubungan dengan akibat masuknya buah kuldi
kedalam tubuh adalah sebagai berikut. Karena kecapaian tubuh lalu
mengeluarkan keringat padahal tubuh itu pernah kemasukan buah kuldi sehingga

14
badan perlu disucikan (jinabad) Wanita dewasa tiap bulan mengalami haid
mengeluarkan darah yang asal mulanya dari buah kuldi. Sehabis haid seorang
wanita wajib jinabad. Air susu juga berasal dari buah kuldi oleh karena itu
sehabis membeii air tetek wajib bagiwanita itu membersihkan teteknya.
Nabi Adam selalu mengagungkan nama Tuhan, memberikan : zakat fitrah, dan
menjalankan ibadah puasa.
36. Ibu Hawa setelah makan sebutir buah kuldi itu lalu pulang sambil membawa
buah kuldi yang satunya dan akan diberikan kepada Nabi Adam. Sedang Ijajil
yang selama itu selalu menyamar sebagai makhluk yang selalu menangis, tiba
tiba lalu berubah memperlihatkan bentuk aslinya sepeninggal Ibu Hawa.
Selanjutnya Ijajil lalu kembali kegunung dasar.
37. Ibu Hawa setelah tiba dihadapan Nabi Adam lalu menyerahkan buah kuldi yang
satu itu. Seketika itu Nabi Adam lalu memperingatkan dengan pertanyaan apakah
ibu Hawa telah lupa akan larangan Tuhan pada beberapa waktu yang lalu.
Sehingga berani mengambil buah kuldi.
38. Ibu Hawa menjawab, bahwa ia tidak melupakan firrnanTuhan itu. Ibu Hawa lalu
menceriterakan tentang adanya malaikat yang datang menangis nangis, karena
sayangnya kepada Nabi Adam dan ibu Hawa. Malaikat itu menyeyogyakan agar
Nabi Adam dan Ibu Hawa mau makan buah kuldi, untuk menghindari murka
Tuhan.
39. Pada waktu menyampaikan pernyataan itu, malaikat pengadu berkata dengan
sungguh sungguh sambil menambah berbagai keterangan yang diukuti dengan
bersumpah. Dalam menguraikan hal tersebut, malaikat pengadu menyatakan rela
dirinya mendapat siksaan Tuhan, apabila pernyataan itu tidak benar. Ia
menambahkan penjelasan bahwa ia sendiri telah makan sebuah untuk penangkal
murka Tuhan .
40. Nabi Adam menerima baik permintaan Ibu Hawa itu. Ia lalu minta agar buah
kuldi diserahkan. Nabi Adam lalu memakannya dan dirasakannya buah itu sangat
nikmat. Pada waktu buah itu telah ditelan dan kira kira baru sampai pada bagian
leher tiba tiba Nabi jatuh pingsan.
41. Sejak itu terjadilah benjolan pada lehernya yang kemudian benjolan itu
dinamakan jakun (kolomenjing). Sedang air buah kuldi itu berubah menjadi air
mani. Tidak antara lama Nabi Adam lalu siuman, saat itu Nabi Adam dan Ibu.
Hawa lalu mendapat murka Tuhan akibatnya pakaian yang mereka kenakan
hilang dari tubuhnya.

V. PUPUH MASKUMAMBANG

01. Keadaan Nabi Adam dan Ibu Hawa sangat mengibakan sebab sudah tidak
berbusana lagi, sehingga tingkah mereka serba malu malu. Kemana saja mereka
pergi jalannya selalu mengungsut.
02. Bila terkena terik sinar matahari tidak ada tempat berteduh bagi mereka, lagi pula
tidak ada daun untuk penutup auratnya.
03. Pohon pohonan selalu mencaci maki kepada Adam dan Hawa. Nabi Adam dan
Ibu Hawa tidak diperkenankan mendekatinya karena telah menjadi orang
durhaka.
04. Pohon pohonan itu mengatakan bahwa Nabi Adam dan ibu Hawa terlihat. Dosa
karena menuruti hasutan iblis. Oleh karena itu akibat buruknya biarlah
ditanggung sendiri, jangan sampai melibatkan orang lain.

15
05. Pohon pohonan itu melarang Nabi Adam dan Ibu Hawa mendekatnya karena
dikhawatirkan jika akan menularkan dosanya. Karena tak ada yang mau didekati
maka keduanya lalu pergi dengan cara mengingsut ingsut.
06. Rupanya lalu ada sebatang pohon yang menaruh iba kepada Nabi Adam dan Ibu
Hawa namanya pohon Ajir. Pohon ini memperbolehkan Nabi Adam dan Ibu
Hawa untuk memetik daunnya.
07. Nabi Adam dan Ibu Hawa lalu mendekat kepada pohon ajir itu. Keduanya terus
memetik daun dan pohon itu kemudian dipergunakan untuk menutup auratnya
yaitu antara pusat sampai lutut.
08. Sejak dipetik itu maka daun daun yang lain dan pohon ajir itu lalu menggulung,
selanjutnya pohon ajir itu lalu dinamakan pohon cemara.
09. Ada lagi pohon kayu lain yang menaruh belas kasihan kepada Nabi Adam dan
Ibu Hawa karena pohon ini menyaksikan sendiri bahwa kemana pun mereka
berjalan selalu tidak mendapat tempat untuk berteduh.
10. Pohon itu namanya pohon garu, ia memanggil manggil Adam dan Hawa
menyuruh berlindung dibawah rindangnya daun kayu yang amat lebat itu.
11. Anehnya pada saat Nabi Adam dan Ibu Hawa tiba didekatnya tiba tiba daun
pohon itu menjadi musna sedang batangnya menjadi mengecil.
12. Tuhan Yang Maha Suci memerintahkan Jabarail agar membawa Nabi Adam dan
Ibu Hawa turun kebumi.
13. Penurunan Nabi Adam dan Ibu Hawa kebumi itu disertai kayu naga merak, kayu
gatu, dan kayu ajir
14. Oleh malaikat Jabarail Nabi Adam diturunkan dipuncak gunung Srandil sedang
Ibu Hawa diturunkan ditanah Siyem di Merak Naga ditengah hutan belantara.
15. Pohon pohon kayu yang diikut sertakan turun kebumi itu lalu ditempatkan
digunung gunung. Nabi Adam menjadi sangat bertaubat kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
16. Gunung Srandil disebut juga tanah Selan. Kelak kemudian hari tanah Selan
menjadi sebuah negeri yang diberi nama negeri Srandil Selang Selan.
17. Siang dan malam Nabi Adam selalu menangis memikirkan perpisahannya dengan
istrinya yaitu Ibu Hawa yang saat itu tidak diketahui dengan pasti dimana ia
berada.
18. Air mata Nabi Adam yang jatuh bercucuran bagaikan jatuhnya air hujan kebumi
itu lalu berubah ujud menjadi, mirah (Intan yang berwarna merah), maka
diseluruh tanah Selan lalu berserakan yang letaknya tersebar.
19. Mirah mirah itu kelihatan amat indah. Pada waktu Nabi Adam melihat keangkasa
maka ketujuh buah langit nampak dengan jelas.
20. Langit itu sama sekali tidak kelihatan sebagai langit melainkan sebagai lohkil
mahful pada sajaratul mustoha.
21. Pada surat takdir Adam yang tertera dalam kitab yang tersimpan di lohkil mahful
telah disebut nasib Nabi Adam. Disitu disebutkan bahwa Adam akan mengalami
luka nestapa, kesukaran, keprihatinan, dan kemudian sampai juga
kebahagiaannya.
22. Disitu tercatat juga segala kejadian sejak sebelum dilahirkan sampai dengan
meninggalnya dan kehidupan seseorang. Dan tertera juga tentang suka dukanya.
23. Nabi Adam lalu bersujud ditanah. Untuk mendapatkan belas kasihan dari Tuhan
ia berdoa mengucapkan ikrar Tuhan Maha Belas Kasihan.
24. Bunyi dari pada doa itu begini : Sala.mnna ampusana wain lam tagfir, lana patar
kamna, lalakumana minalki, sirin paning. Doa itu kiranya artinya begini.

16
25. Ya Tuhan hamba sendirilah yang telah berbuat khilaf, hamba mohon belas
kasihan dari paduka, Tuhan. Apa bila kami tidak Tuhan karuniai ampun niscaya
hamba akan celakâ.
26. Hamba mohon belas kasihan dari paduka Tuhan. Pada saat Nabi Adam amat
tekun bersujud, berdoa karena mendapat murka dari Tuhan itu, yang berakibatkan
baginya diturunkan kebumi.
27. Peristiwa itu terjadi pada tanggal tiga bulan Muharam. Sejak itu, siang dan
malam Nabi Adam bersujud, berdoa mohon ampun.
28. Alkisah telah 100 tahun Nabi Adam berada dipuncak gunung Srandil tanah Selan.
Suatu ketika tepatnya pada saat fajar Nabi Adam sedang melakukan sholat dua
rokaat kemudian salam.
29. Bersamaan waktu itu Tuhan Yang Maha Esa berfirman kepada malaikat Jabarail
untuk memberikan ampun kepada Nabi Adam. Disamping itu malaikat Jabarail
diperintahkan mencari Ibu Hawa sampai ketemu.
30. Tersebutlah keadaan Ibu Hawa ditanah Siyam. Disana ia sangat menderita siang
malam ia kerjanya hanya menagis. Air matanya yang bercucuran itu berjatuhan
dibumi, dan berubah menjadi mirah.
31. Jabarail diperintahkan oleh Tuhan menjumpai Ibu Hawa untuk memberikan
ampun. Kepada Ibu Hawa Jabarail memberitahukan bahwa Nabi Adam berada di
Mekah
32. Kemudian malaikat Jabarail lalu mengantar Ibu Hawa ke Mekah. Pada masa itu
keadaan bumi masih utuh, belum terpisah pisah oleh laut.
33. Dari timur sampai barat tidak terdapat laut karena semuanya masih berujud
daratan. Peristiwa bumi terpisah pisah oleh laut terjadi pada jaman Nabi Nuh.
Pada waktu itu terjadi gempa hebat sehingga mengakibatkan tanah terendam air.
34. Sejak adanya gempa itu bumi lalu terpisah pisah menjadi pulau pulau. Karena
kodrat Illahi pulau pulau itu ada yang luas dan ada pula yang kecil.
35. Alkisah Nabi Adam dan Ibu Hawa masing masing telah satu tahun lamanya
menempuh perjalanan menuju Mekah.
36. Keduanya bertemu dipadang Tarwiyah dikaki gunung Arfat. Pertemuan ini
membuat mereka bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keduanya lalu
berpelukan sambil menangis.
37. Setelah Nabi Adam dan Ibu Hawa berhasil dikaki gunung Arfat maka malaikat
Jabarail meninggalkan mereka

VI. PUPUH MEGATRUH

01. Nabi Adam dan Ibu Hawa menjelajahi tanah Arab bertamasya. Perjalanannya
diteruskan kebarat daya, sampai di Negeri Rum lalu keutara sampai dibukit
Barjah.
02. Dari Barjah diteruskan ke Kasnia Malebar. Sampai disini keduanya lalu berhenti.
Berkat rahmat Tuhan disini mereka menemukan sebuah batu besar yang
berongga, mirip dengan sebuah gua.
03. Pada bagian dalam dari batu itu terdapat alat alat yang diperlukan dalam
kebutuhan hidup. Didalam rongga itu keadaannya sangat indah, berpetak petak
halus bagaikan pernah diketam lubang batu itu berpintu.
04. Pinta batu itu berbentuk sekeping batu pula. Bagian atas dan bagian bawah pintu
itu seperti ada engselnya sehingga pintu itu mudah untuk membuka dan

17
menutupnya. Disebelah kiri dan kanan pintu itu terdapat air mengalit yang
berasal dari sebuah kolam yang terletak dibarat pintu tadi.
05. Adapun batu gua itu letaknya ditepi sungai yang airnya jernih, didataran pasir
yang luas ditengah tengah hutan Dihutan itu terdapat pohon pohon besar yang
dihuni binatang rimba. Disitulah Nabi Adam dan Ibu Hawa istirahat.
06. Sebagai insan yang takwa kepada Nabi (Maha Zul) Nabi Adam dan Ibu Hawa
lalu menjalankan kewajiban sembahyang. Pada saat Nabi Adam sedang bersujud
itu tiba tiba mendekatlah malaikat Jabarail. Kedatangannya adalah atas perintah
Illahi yaitu untuk menyerahkan kembali pakaian kebesarannya semasa menjadi
raja disorga.
07. Pakaian kebesaran itu dalam keadaan lengkap, tak ada yang berkurang, dan
semuanya masih utuh, ujudnya ada makuta, badhong, anting anting, kelat bau,
binggel, kampuh, seluar, dan baju kebesaran.
08. Tidak ketinggalan pula diserahkan kepada Ibu Hawa pakaian keputrian yang juga
dalam keadaan lengkap, Jabarail lalu menyampaikan firman Tuhan yaitu
mengangkat Nabi Adam menjadi raja.
09. Bersamaan itu juga disampaikan anugerah dari Tuhan berupa tanda bukti sebagai
raja. Barang ini kelak akan diwariskan kepada anak cucu Nabi Adam yang
beruntung diangkat menjadi raja.
10. Adapun tanda bukti kebesaran sebagai raja itu berupa sepuluh buah kitab.
Dipesankan hendaknya isi dari kitab kitab itu disebar luaskan kepada anak cucu,
para pegawai, serta para hamba sahaya. Dan lagi diamanatkan agar mereka tiap
tiap bulan melakukan puasa selama tiga hari yaitu pada akhir bulan.
11. Nabi Adam sangat mengindahkan amanat Tuhan yang disampaikan oleh malaikat
Jabarail itu. Selesai menyampaikan amanat dari Tuhan tersebut maka malaikat
Jabarail lalu meninggalkan tempat itu.
12. Dikisahkan bahwa sesudah itu Nabi Adam tiap tahun berputerakan sepasang
bayi, yaitu seorang laki laki dan seorang lagi perempuan.
13. Setelah putranya genap empat puluh pasang Nabi Adam ini berkehendak
mengawinkan putra putrinya secara selang seling dengan tujuan yang kurang baik
wajahnya biar mendapat pasangan yang baik. Maksud Nabi Adam mi ternyata
bertentangan dengan kehendak Ibu Hawa.
14. Ibu Hawa berkehendak bahwa putra yang berwajah baik dikawinkan dengan yang
baik pula, sedang yang buruk dengan yang buruk pula. Antara Nabi Adam dan
Ibu Hawa sama sama teguh mempertahankan pendapatnya.
15. Untuk mempertahankan pendapatnya Ibu Hawa menggunakan dalih bahwa hanya
dia sendirilah yang membina dan mengasiuh putra putranya pada waktu masih
bayi. Nabi Adam tak pernah membantu pekerjaan Ibu Hawa itu.
16. Nabi Adam menanggapi ucapan Ihu Hawa tersebut dengan kata kata yang enak
didengar. Beliau mengutarakan suatu cerita untuk menentukan sikap apakah
diantara dia berdua yang pantas menerima karunia Tuhan. Ibu Hawa meminta
hendaknya jangan menyangkal uraian ceriteranya Beginilah centera dari Nabi
Adam itu :
a. Diceriterakan bahwa keduanya telah mengeluarkan rahsa (darah) kama yang
kemudian lalu dimasukkan kedalam suatu tempat yang disebut cupu manik
Astogino Cupu itu lalu disimpan dengan balk. Kemudian Tuhan lalu menemui
mereka yang sedang berselisih paham itu.
17. Setelah penyimpanan itu genap sembilan bulan maka cupu manik tersebut lalu
dibuka. Ternyata yang berasal dari Nabi Adam telah membentuk seorang orok
tetapi hanya terdiri dari tulang dan otot saja.

18
18. Orok tadi berkelamin laki laki. Sedang yang berasal dari Ibu Hawa tidak menjadi
orok melainkan masih berujud onggokan darah.
Pada saat itu juga menghembuslah angin sepoi sepoi. Hanya sampai sekianlah
perwujudan rahnat Tuhan.
19. Karena hembusan angin yang sepoi sepoi itu maka karunia Tuhan untuk Adam
lalu menjadi lengkap ujudnya. Karunia Tuhan untuk Adam tersebut telah ada
kulit, daging, dan otot darahnya sebingga terjadilah orok yang tampan rupawan.
Selanjutnya orok itu lalu diberi nama Baginda Sis. Sedang karunia Tuhan untuk
Hawa tetap saja keadaannya.
20. Selanjutnya bertiuplah angin yang kian lama makin deras. Sesudah itu lalu datang
suara yang tidak diketahul asal dan ujudnya suara itu menggema kesegala arah.
21. Tentang sumber suara itu juga tidak menetap tempatnya, dan saat datangnya pada
waktu lepas tengah malam. Adakalanya suara itu kedengaran jauh. Suara tersebut
disebut Rijalolah, merupakan suara gaib, dan tidak dapat disaksikan dengan
indera. Cupu bekas tempat menaruh rahsa kama tersebut akhirnya hilang terbawa
angin.
22. Setelah cupu itu menghilang lalu datanglah seekor naga, dinamakan naga
Jatingarang, sebenarnya naga itu berasal dari kotoran cupu manik Astagina yang
telah menghilang itu. Kemana saja Rijalolah itu pergi, naga itu selalu mengejar
akan memangsanya.
23. Untuk menghindari agar tidak dapat ditangkap oleh naga Jatingarang maka
Rijalolah menggunakan perisai cupu manik bekas tempat terciptanya Baginda
Sis. Cupu tersebut adalah yang semula telah hilang terbawa angin. Cupu manik
yang selalu dipergunakan sebagai perisai oleh Rijalolah, itu juga selalu dihembus
oleh topan badai dan akhirnya cupu manik itu terjatuh dibumi. Setelah sampai
dibumi cupu itu lalu berubah menjadi orang laki laki dan perempuan.
24. Yang laki laki keadaan tubuhnya besar lagi tinggi. Tingginya hampir setinggi
langit. Apabila ia melewati samudera meskipun ditempat yang terdalam maka
hanya sampai dipergelangan saja bagian kakinya yang terendam.
25. Lelaki yang sangat tinggi itu bernama Nunukkenangon. Ia kemudian menjadi raja
besar dinegeri Jabarin, letaknya dikaki langit. Bala perjurit raja Nunukkenangon
adalah anak cucunya, yang badan mereka sebesar gunung.
26. Mereka itu pada umumnya berumur panjang hingga mencapai umur 4.000 tahun.
Kelak kemudian hari mereka ini menjadi musuh nabi. Raja Nunukkenangon
menjadi raja hingga akhir hayatnya. Setelah raja Nunukkenangon ini meninggal
maka jenazahnya oleh malaikat Jabarail lalu dikalungi gunung yang telah
berlubang.
27. + 28. Ibu Hawa melihat tanda karunia Tuhan miliknya telah hilang tak berbekas
karena dihembus angin. Kejadian ini membuat ia lalu menyerah dan mengikuti
apa kehendak Nabi Adam yaitu menjodohkan putra putrinya secara berseling
seling. Sampai sekian berakhirlah cerita Nabi Adam kepada Ibu Hawa.
Lama kelamaan Nabi Sis menjadi dewasa. Wajahnya tampan, cerah cahayanya
seperti bulan purnama.
28. Warna kulitnya kuning. Pandangan matanya jernih dan terang pikirannya cerdik
cendekia.
29. Pada suatu ketika ayahanda Nabi Sis berkata kepadanya memerintahkan agar
Nabi Sis mohon benih dari sorga mulia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nabi Sis
mengindahkan perintah ayahnya itu. Ia lalu pergi kegunung untuk bersujud.
30. Dalam sujudnya itu dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
permohonannya dikabulkan. Kemudian Jabarail memerintahkan kepada bidadari

19
agar membawa benih yang diletakkan diatas talam emas berhiaskan mutu
manikam.
31. Ada bermacam macam biji yang ditaruh diatas talam emas tersebut. Malaikat
Jabarail menyampaikan salam kedatangannya kepada Nabi Sis. Nabi Sis lalu
menyambut salam Jabarail itu. Kemudian Jabarail memberikan sebutir buah.
32. Selanjutnya malaikat Jabarail mengajak pulang Nabi Sis karena ia ingin bertemu
dengan ayah Nabi Sis. Mereka lalu berangkat.
33. Setelah tiba ditempat yang dituju malaikat Jabarail lalu memberi salam kepada
Nabi Adam. Sesudah itu Nabi Adam lalu mempersilakan duduk kepada malaikat
Jabarail.
34. Malaikat Jabarail lalu menyatakan bahwa kedatangannya adalah atas perintah
Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menyerahkan biji kepada Nabi Sis. Disamping
itu pada kesempatan itu pula malaikat Jabarail juga menyerahkan bidadari agar
dijadikan istri Nabi Sis. Menghadapi peristiwa ini Nabi Adam lalu mengambil
sikap tangannya untuk memegang kepala kemudian bersujud kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa.
35. Nabi Sis pun lalu mengikuti jejak ayahnya. Ia menyatakan terima kasihnya
kepada Tuhan yang telah berkenan memberi anugerah kepadanya.
Bidadari itu lalu segera dinikahkan dengan Nabi Sis. Sedang yang bertindak
sebagai kaum adalah malaikat Jabarail. Sejak itu bidadari yang cantik molek itu
telah diserahkan sepenuhnya dari Tuhan kepada Nabi Sis.
36. Mengenai kerukunan perkawinan Nabi Sis dengan bidadari itu tidak diceriterakan
lebih lanjut. Sekali penistiwa Tuhan memerintahkan Jabarail untuk
menganugerahkan besi dan baja dengan pengharapan kedua benda itu setelah
dicampur akan menjadi senjata. Dengan senjata tersebut maka apa yang mereka
inginkan akan terkabul.
37. Malaikat Jabarail lalu mengajarkan kepada Nabi Adam tentang bagaimana
caranya menjadi pandai besi. Kemudian malailkat Jabarail menyerahkan segala
alat alat untuk menjadi pandai besi. Nabi Adam lalu mulai menggunakan
kecakapannya Sebagai pandai besi.

VII. PUPUH DURMO

01. Nabi Adam telah menjadi pandai besi. Para putranya membantu melayani beliau.
Dalam melakukan pekerjaan itu malaikat Jabarail bertindak sebagai pelatihnya.
Api yang dipergunakan dalam pekerjaan itu diambilkan api dari neraka oleh
malaikat Jabarail. Sedang sebagai pelengkap persiapan air diambilkan air dari
tujuh buah laut.
02. Pada waktu belum biasa mereka tidak tahan mendekat api yang berasal dari
neraka itu, sebab api itu sangat panas. Masing masing anak cucu Adam lalu
diberi tugas tertentu. Ada yang bertugas sebagai tukang membesarkan api, ada
yang bertugas sebagai tukang membuat benda benda tajam (panjak), dan ada lagi
yang bertugas mengikir dan menggerinda besi. Sehingga besi itu dapat menjadi
senjata tajam yang diinginkan.
03. Hasil dari pekerjaan itu ada yang menjadi sabit panjang (kudhi), cangkul, sabit,
pangot, pisau, sejenis pisau (seking), parang, kampak, gobang, beliung, pahat,
penguthik. Sedang peralatan orang bersawah berupa besi bajak, cangkul, linggis
(sula), dan wangkil. Setelah semua pekerjaan itu dapat dilakukan oleh anak cucu
Adam maka malaikat Jabarail lalu pergi.

20
04. Anak cucu Nabi Adam lalu melakukan pertanian. Diantaranya ada yang
menanam padi huma (padi gogo), ada lagi yang menanam padi sawah. Selain itu
mereka juga menanam bermacam macam tanaman yang bijinya berasal dari
sorga. Setelah semua biji yang berasal dari sorga tersebut telah ditebarkan lalu
tumbuhlah bermacam macam tanaman. Diantaranya ada yang menjadi tanaman
yang hidup menjalar ditanah (polo kesimpar), dan ada pula yang menjadi pohon
pohonan yang tidak berumur panjang serta buahnya berada diatas(polo
gumantung).
05. Dimana saja semua biji itu dapat tumbuh, dengan baik. Putra Nabi Adam telah
lengkap menjadi delapan puluh orang, mereka terdiri dan laki laki serta
perempuan dan berpasangan. Mereka ini semuanya telah beranak. Selanjutnya
mereka lalu diseyogyakan memilih tempat untuk keluarganya sesuai dengan
keinginan masing masing.
06. Sejak itu ditanah tanah yang jauh sekalipun telah dihuni oleh anak cucu Nabi
Adam. Disana mereka membuat rumah lengkap dengan halamannya, serta
mengadakan sawah ladang untuk ditanami benih. Mereka lalu membentuk
pedukuhan itu makin bertambah banyak sehingga perlu membentuk pedukuhan
baru.
07. Karena makin bertambahnya desa desa baru., Maka Nabi Adam lalu membentuk
sebuah negeri, yaitu negeri Kusnia Malebari. Alkisah, sekali peristiwa Ijajil yang
beristana didasar gunung ingin mempersembahkan putrinya. Putri Ijajil ini
sedang menginjak usia remaja. Wajahnya cantik jelita.
08. Untuk mencapai tujuannya itu, Ijajil menampakkan diri sebagai orang tua
bangka. Ia berpakaian secara pendeta gunung. Pakaiannya serba hijau, kelihatan
amat indah. Ia membawa tongkat ajimat. Pada tongkat itu terdapat senjata tajam,
kecil, serta mengandung kesaktian (cis).
09. Ijajil lau memerintahkan kepada putrinya agar segera berbusana dan menghias
diri karena akan dipersembahkan kepada putra Nabi Adam. Dinasihatkan oleh
malaikat Ijajil agar ia pandai membawakan diri. Sesudah itu lalu berangkatlah
malaikat Ijajil mengantar putri remajanya.
10. Dalam waktu sekejap mata saja malaikat Ijajil beserta anaknya telah sampai
dihadapan Nabi Adam. Ijajil segera memberi salam. Salam Ijajil itu disambut
dengan salam juga oleh Nabi Adam. Kemudian Nabi Adam lalu mempersilahkan
Ijajil agar duduk didekatnya.
11. Setelah keduanya duduk bersama diatas kursi kebesaran. Ijajil lalu bersembah
kepada Nabi Adam. Selanjutnya ia lalu mengutarakan maksud kedatangannya
yaitu untuk menyerahkan putri remajanya agar diperistri oleh Sis yaitu putra Nabi
Adam.
12. Saat itu Nabi Adam telah tahu apa kehendak Illahi berdasarkan pendidikan
agama (amanat tabliq). Diketahui bahwa Sis yang kelak menjadi wakil Tuhan
akan mempunyai keturunan yang memiliki mantera mantera jahat.
13. Putri haul yang indah itu telah dipertemukan dengan Sis. Setelah putrinya
dinikah, Ijajil lalu minta diri kepada Nabi Adam akan kembali ketempatnya yaitu
didasar gunung.
14. Kehidupan perkawinan Sis dengan kedua istrinya yaitu putri Ijajil dan bidadari
boleh dikatakan saling berkasihan. Kedua istri Sis ini lalu hamil.
15. Setelah genap usia kehamilan maka keduanya lalu melahirkan pada saat pagi hari
bersamaan dengan terbitnya matahari, putranya lalu dinamakan Yanas. Sedang
putri Ijajil melahirkan pada waktu petang hari bersamaan dengan tenggelamnya
matahari, putranya tidak berujud bayi melainkan berujud cahaya.

21
16. Nabi Adam sangat gembira atas kelahiran kedua cucunya itu. Cucu yang kedua
itu diberi nama Nurcahyo. Yanas lahir diantara waktu malam dan siang hari
sedang Nurcahyo lahir pada waktu antara siang dan malam hari. Kedua cucunya
itu sangat dikasih sayangi.
17. Kedua cucu tersebut diasuh oleh kakeknya hingga dewasa. Mengenai diasuhnya
kedua orang cucu itu diceriterakan dalam kitab Ayul Lilin. Pada saat itu Nabi
Adam menjalani puasa lima kali.
18. Nabi Adam bertakhta menjadi raja dinegeri Malebari hingga 700 tahun,
Kemudian digantikan oleh anak, cucu, cicit, dan canggah. Dalam jangka waktu
7.000 tahun. Anak cucu Nabi Adam telah berkembang biak hingga banyak sekali
jumlahnya.
19. Tersebutlah dalam ceritera bahwa salah seorang putra Nabi Adam ada yang
ingkar terhadap peraturan ayahandanya yaitu Abil, yang berwajah tampan. Abil
telah membunuh Kabil yang juga putra Nabi Adam tetapi wajahnya jelek Setelah
Kabil terbunuh maka lalu istrinya diambil oleh Abil. Perbuatan Abil ini karena
hasutan Ijajil.
20. Abil membunuh Kabil dengan cara memukul dengan batu pada bagian kepalanya
hingga pecah. Karena perbuatannya itu maka Abil lalu mendapat hukuman
Tuhan, ia lalu dihimpit bumi. Kemudian ada lagi dua pasang putra Nabi Adam
yang karena hasutan Ijajil lalu melarikan diri dari lingkungan keluarga Nabi
Adam.
21. Mereka yang melarikan diri ini lalu menyembah kepada berhala. Selanjutnya ada
putra putra Nabi Adam yang lain, yang mengikui perbuatan dua pasang putra
yang lain tersebut.
Dengan demikian anak cucu Nabi Adam lalu merata ketanah tanah yang
terbentang dari timur sampai barat. Mereka lalu bergolong golong dan
mendirikan kerajaan.
22. Suatu ketika Tuhan memerintahkan malaikat Jabarail untuk menyebarkan
bermacam macam batu mutiara yang selanjutnya oleh anak cucu Nabi Adam batu
mutiara itu lalu dijadikan perhiasan. Penyebaran itu dibuat merata ditanah tanah
dari ufuk timur sampai ufuk barat.
23. Disamping itu disebarkan pula bahan baku untuk dijadikan emas, besi, dan perak.
Bahan bahan baku itu ada yang dijatuhkan digunung gunung, ada yang
dijatuhkan disungai sungai, dan ada lagi yang dijatuhkan dilaut laut. Masing
masing negeri mendapat bagian bahan baku yang disebarkan itu.
24. Suatu ketika Nabi Adam memanggil kedua orang cucunya yaltu Yanas dan
Nurcahyo. Mereka diperintahikan naik sorga untuk menggambar keadaan disana
lengkap dengan isinya.
25. Keduanya diberitahu bahwa untuk kesorga itu jalan yang harus ditempuh adalah
melewati sungai Nil dari arah muara terus menyusur kehulu. Dihulu sungai itulah
terletak sorga Kedua cucu Nabi Adam itu menyambut baik petunjuk Nabi Adam
tersebut. Mereka lalu berangkat, Begitu tiba disungai Nil mereka lalu menyusur
kearah hulu.
26. Akhirnya perjalanan mereka sampai dipersimpangan sungai Nil. Disini terdapat
dua cabang sungai, yang satu kearah kiri sedang yang satunya lagi kearah kanan
Cabang yang kiri alirannya berasal dan neraka sedang yang kanan alirannya
berasal dari sorga. Kedua cucu Nabi Adam tersebut berhenti dipersimpangan
sungai ini. Kemudian Nurcahyo meminta kepada Yanas agar bersedia menunggu
ditempat itu.

22
27. Tetapi usul Nurcahyo ini tidak dapat diterima oleh Yanas. Akhirnya Nurcahyo
lalu menyarankan bahwa ia akan menuju arah hulu lewat cabãng sungai yang
kekiri, sedang Yanas akan pergi kehulu lewat cabang sungai yang kekanan.
Yanas menyetujui saran Nurcahyo tersebut. Selanjutnya Yanas lalu
mengemukakan pesan bahwa siapa saja diantara mereka berdua yang lebih dulu
tiba kembali agar menunggu dipersimpangan sungai tersebut, jangan sampai
meninggalkan.
28. Nurcahyo menyetujui pesan kakaknya itu. Sesudah itu mereka lalu berangkat
sesuai dengan rencana yang telah diatur berdua.
Tersebutlah kisah perjalanan Nurcahyo, sejak berpisah dengan Yanas. Ia terus
bergerak kearah hulu lewat cabang sungai yang kekiri. Dalam hati ia merasa
heran kenapa semaikin kehulu airnya semakin terasa panas. kemudian ia melihat
sebuah gunung yang tinggi dan besarnya seolah olah menyentuh langit.
29. Puncak dari gunung itu merupakan tutup neraka. Dan puncak gunung yang sangat
besar itu keluarlah asap dan asap itu kemudian mengembun ditutup neraka.
Embun tadi akhirnya mengalir melingkari gunung menjadi sungai.
Sekarang Nurcahyo haru tahu mengapa air itu makin kehulu makin bertambah
panas karena menjadi kelanjutan dan tutup neraka diujung sungai Nil.
30. Air itu sangat panas, lebih panas dari air mendidih, serta mengeluarkan asap.
Gunung yang sudah diceriterakan itu. bernama Selap. Disitu terdapat perbatuan
yang amat keras sekeras baja. Karena kerasnya batuan itu tidak dapat pecah
walaupun dipijit dengan apapun. Puncak gunung itu selalu kelihatan membara.
31. Air itu melewati tempat dibawah neraka. Itulah sebabnya keadaannya sangat
panas. Nurcahyo merasa bahwa dirinya tak tahan menderita panas itu sehingga ia
lalu mematung dan tak dapat berkata sepatah pun.
32. Diceriterakan bahwa Ijajil menjadi maharaja membawahi para raja yang
berjumlah tujuh juta orang raja, gelarnya Dhatu Muntha. Pada saat Ijajil melihat
cucunya dalam keadaan kepayahan ia lalu memanggil dari atas.
33. Dalam kata kata panggilannya itu Ijajil memberitahu kepada Nurcahyo bahwa ia
adalah kakeknya yang sedang mengharapkan kedatangannya. Nurcahyo demi
mendengar suara itu lalu memandang kepuncak gunung. Ia melihat bahwa yang
memanggil itu adalah seorang kakek yang berada dipuncak gunung.
34. Nurcahyo lalu menanyakan siapakah dia yang berada dipuncak gunung didalam
api membara itu. Kemudian Nurcahyo menyatakan bahwa dirinya tidak mampu
mendatangi puncak gunung tersebut. Karena pernyataan Nurcahyo itu maka Ijajil
lalu menjulurkan tongkatnya yang dapat memanjang menyentuh bumi.
35. Nurcahyo segera menyambut tongkat yang dijulurkan itu. Ijajil segera menarik
kembali tongkat itu sehingga dalam waktu sekejap saja Nurcahyo telah berada
didepan kakeknya.
36. Ijajil menyambut kedatangan cucunya sambil memberi salam. Sesudah itu lalu
memberi tahu bahwa ia adalah kakeknya yaitu ayahnya ibu Nurcahyo. Dan
diceriterakan pula bahwa dia menjadi raja yang istananya terletak didasar
gunung.
37. Ijajil telah mengerti bahwa Nurcahyo dan Yanas ditugaskan oleh kakeknya (Nabi
Adam) untuk menggambar suasana sorga.
Pada waktu sampai dipersimpangan sungai Nil mereka menjadi bimbang, dan
kemudian tejadi perselisihan pendapat..
38. Akhirnya mereka lalu bersepakat yaitu Nurcahyo akan menempuh jalan lewat
cabang sungai yang kekiri sedang Yanas lewat cabang sungai yang kekanan.
Kemudian Ijajil memberitahukan kepada Nurcahyo bahwa jalan yang ia tempuh

23
itu sesat, yang betul adalah jalan yang ditempuh Yanas. Dengan demikian
Nurcahyo tak mungkin dapat sampai sorga.
39. Demi mendengar pernyataan kakeknya itu Nurcahyo menjadi sangat menyesal
dan susah hatinya. Ia lalu menundukkan kepalanya sambil menahan keluarnya air
mata. Ijajil pada waktu melihat cucunya bersusah hati itu lalu menghibur.
40. Dikatakan bahwa Nurcahyo tidak perlu bersusah hati sebab ia akan
mendampingnya Dan dijanjikan bahwa Nurcahyo akan diberi pelajaran mantera
mantera yang berasal dari anugerah Tuhan.
41. Ijajil menceriterakan bahwa dirinya telah dicipta lebih dahulu sebelum Tuhan
mencipta bumi dan langit. Karena Nurcahyo telah menangkap apa yang diuraikan
oleh kakeknya itu maka ia lalu menyatakan bahwa dirinya tidak akan
menyanggah kehendaknya. Sesudah itu Nurcahyo lalu diberi pelajaran segala
macam ilmu kesaktian Berkat kecerdasannya maka Nurcahyo dapat menguasai
pelajaran yang diberikan oleh kakeknya itu.
42. Karena pelajaran yang diberikan oleh kakeknya itu maka ia mampu terbang,
dapat menghilang berganti rupa, dapat masuk kedalam bumi, dapat masuk
kedalam air tanpa basah, dapat masuk api membara tanpa merasa panas, pendek
kata segala kesukaran dapat diatasi.
43. Selanjutnya Ijajil lalu membuat gambaran sorga. Dalam waktu sebentar gambar
itu telah jadi dan hasilnya tepat dengan keadaan sorga yang sebenarnya,
sedikitpun tak ada selisihnya.
Hal mi bisa terjadi karena Ijajil pernah menjadi raja disorga. Ijajil lalu
menyerahkan keadaan gambar disorga itu kepada Nurcahyo.
44. Kemudian Ijajil memerintahkan Nurcahyo agar pulang menghadap kakeknya
(Nabi Adam). Dikatakan bahwa gambar itu tidak berbeda dengan gambar yang
dibuat oleh Yanas.
45. Kepada Nurcahyo dipesankan agar apabila bertemu dengan kakaknya supaya
mengatakan bahwa gambar itu adalah anugerah Tuhan. Diberitahukan pula
bahwa Nurcahyo akan tiba lebih dahulu dipersimpangan sungai Nil, Tetapi
Nurcahyo diminta menunggu kakaknya disitu agar dapat bersama sama
menghadap Nabi Adam. Nurcahyo mengindahkan segala nasehat Ijajil tersebut.
Ia lalu bersujud. Dalam waktu singkat Nurcahyo telah tiba dipersimpangan
sungai Nil.
46. Tersebutlah perjalanan Yanas yang menuju hulu sungai Nil dengan mengambil
jalan cabang sungai yang kekanan.
Waktu itu telah tiba disorga ia terus menggambar suasana disorga.
47. Yanas bertempat tinggal diatas dinding jalal sambil memohon pertolongan Tuhan
dan mengucapkan rapal yang berbunyi Laillahaillalloh rasululloh. Setelah
pekerjaan menggambar itu selesai Yanas lalu keluar dari sorga.
48. Begitu Yanas keluar dari sorga maka ia telah berada dihulu sungai Nil kembali
Selanjutnya ia lalu bergerak kearah hilir dan akhirnya sampailah ia
dipersimpangan sungai Nil Disitu Yanas tidak melihat adiknya, tetapi ia dapat
dengan jelas mendengar suara dan seseorang yang pada pokoknya memberi
salam atas kedatangannya serta menyatakan telah lama menunggu.
49. Yanas langsung dapat memastikan bahwa suara itu ialah suara adiknya,
Nurcahyo, Yanas lalu menanyakan mengapa Nurcahyo tidak terlihat. Tiba tiba
Nurcahyo lalu menampakkan diri dihadapan Yanas.
50. Seketika itu Nurcahyo lalu dipeluk Yanas. Kemudian. Yanas menanyakan
mengapa ia dapat menghilang, dan kemudian dapat menampakkan diri lagi.

24
Nurcahyo lalu menerangkan bahwa ia baru saja bertemu dengan Tuhan Yang
Maha Esa.
51. Lebih lanjut Nurcahyo menerangkan bahwa dalam pertemuannya dengan Tuhan
itu ia dianugerahi kesaktian : sehingga ia dapat menghilang, dapat menampakkan
diri kembali, dapat terbang diangkasa, dapat masuk kedalam bumi, dapat masuk
dalam air tanpa basah, tahan masuk kedalam api membara tanpa merasakan
panas.
52. Yanas menanggapi ceritera adiknya dengan pernyataan rasa bersukur. Kemudian
Yanas menanyakan apakah Nurcahyo berhasil juga mendapatkan gambar
keadaan sorga, Nurcahyo menjawab bahwa atas karunia Tuhan maka ia berhasil
mendapatkan gambaran keadaan disorga.
53. Selanjutnya Nurcahyo lalu ganti bertanya kepada kakaknya apakah dia juga tela
mendapatkan gambaran keadaan disorga Yanas menjawab bahwa ia telah
berhasil sampai disorga serta telah mendapatkan keadaan gambar disana.
54. Kemudian Yanas lalu mengajak adiknya agar mereka berdua bersama sama
menghadap kakeknya (Nabi Adam) yang selama itu pasti telah menanti nanti
kedatangan mereka. Untuk mempercepat perjalanan menghadap kakaknya itu
maka Nurcahyo lalu menawarkan apabila kakaknya bersedia maka ia akan
dibawa terbang.
55. Yanas tidak berkebeatan atas tawaran adiknya itu sehingga Nurcahyo lalu terbang
sambil membawa kakaknya. Dalam waktu yang pendek mereka telah sampai
dihadapan Nabi Adam.

VIII. PUPUH PUCUNG.

01. Yanas dan Nurcahyo bersama sama berdatang sembah kepada kakeknya. Sedang
Nabi Adam terus memeluk kedua cucunya itu sambil mengusap usap kepalanya.
02. Pada waktu memeluk kedua cucunya itu Nabi Adam sambil mengucapkan salam
atas kedatangannya. Kedua orang cucu itu lalu mengucapkan terima kasih yang
sebesar besarnya atas sambutan kakeknya itu.
03. + 04. Kemudian Yanas dan Nurcahyo lalu dipersilahkan duduk didepan Nabi
Adam, serta disaksikan oleh anak keturunan Nabi Adam yang lain.
04. pm.
05. Selanjutnya Nabi Adam lalu menanyakan tentang hasilperjalanannya pada wãktu
mereka ditugaskan menggambar keadaan disorga. Mereka menjawab bahwa
berkat doa restu Nabi Adam maka selamatlah perjalanannya serta berhasil
menyelesaikan tugasnya.
06. Kernudian Yanas menceriterakan tentang sikap mereka pada waktu tiba
dipersimpangan sungai Nil yang akhinya Nurcahyo pergi kehulu menempuh
cabang yang kekiri sedang ia sendiri menempuh cabang yang kekanan.
07. Temyata perjalanan mereka selamat tanpa mengalami halangan satu pun. Mereka
berdua sampai disorga. Masing masing disana menggambar apa saja yang terlihat
dengan lengkap.
08. Yanas menyatakan pula bahwa Nurcahyo setelah sampai dihulu terus sampai
disorga, Dan disana Nurcahyo dianugerahi Tuhan gambar keadaan disorga.
09. pm.
10. Saat itu anak keturunan Nabi Adam yang hadir lalu dipersilakan mengamati
gambar sorga tersebut. Mereka lalu duduk memenuhi tempat itu dengan posisi
melingkar sehingga mengelilingi gambar sorga tersebut.

25
11. Kedua buah gambar itu dibuka lebar lebar. Keduanya diamati betul betul dari
bawah Sampai diatasmengenai bentuk dan coraknya. Ternyata gambar itu banyak
kemiripannya.
12. Pada waktu mengamati gambar surgar milik Janas, mereka melihat adanya sinar
memancar amat cemenlang dari gambar tersebut. Mereka lalu duduk melingkar
mengelilingi gambar tersebut.
13. Dalam gambar itu terbayang rasa kemegahan, keagungan (dinding jalal) Tuhan
Yang Maha Esa. Dinding jalal itu dapat dihayati dari nikmatnya kata kata mutiara
yang berbunyi Laa Illahaa Ilalah Mohammadar Rosulullah.
14. Karena menghayati susunan kata mutiara itu, maka Nabi Adam dan anak cucunya
selain mengagungkan asma Tuhan Robbil Alamin.
15. Kemudian Nabi Adani berkata kepada putranya yaitu Sis. Beliau menyatakan
bahwa gambar yang diserahkan diperoleh dari Nurcahyo, yaitu putra Sis dari
perkawnannya dengan putri dari Ijajil atau Tamimasar Raja digunung dasar.
16. Gambar surga itu hanya minip dengan gambar hasil jenih payah yang dicapai
oleh Yanas putra Sis, atas perkawinannya dengan bidadari. Kekurangan
mengenai tidak lengkapnya gambar surga dari Nurcahyo (cucu Ijajil) yaitu dari
gambar Nurcahyo, tanpa memancarkan sinar gaib dan tanpa kata mutiara,
penyanjung kemegahan, keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
17. Dikatakan bahwa Ijajil memiliki mantera mantera yang berakibat pemilik
mantera itu mampu menghilang, dapat menampakkan diri lagi, dapat terbang
diangkasa, dapat menyelam dalam air tanpa basah, tidak hangus terkena api,
dapat masuk kedalam bumi sehingga mampu menimbulkan gempa. Pokoknya
semua kepandaian Ijajil telah diajarkan kepada Nurcahyo.
18. Selanjutnya Nabi Adam memberitahukah kepada Sis (putranya), menurut
pengamatan mata hatinya, terhadap langkah langkah yang ditempuh
keyakinannya sendini, antara Nurcahyo dan Yanas sampai dengan terwaris
kepada anak cucu, cicit dan seterusnya, kedua belah pihak akan selalu
bermusuhan, berlawanan, baik langkah maupun pola berfikirnya.
19. Antara Nurcahyo dan Yanas, meskipun sama sama putra Sis, namun sampai
dengan keturunannya, telah ditakdirkan kedua belah pihak akan selalu terjadi
selisih pendapat, saling bermusuhan. Nurcahyo putra Sis atas pernikahannya
dengan anak Ijajil, dalam upaya menggambar surga mengambil langkah kekiri.
Yanas putra Sis atas perkawinannya dengan bidadari, mengenai upaya untuk
tujuan yang sama, mengambil langkah jalan kekanan. Maka dalam usahanya
selalu bertolak belakang. Hanya dalam suasana surga sejati anugerah Illahi,
dengan penghayatan perasaan jujur kedua belah pihak dapat menikrnati Surga
tersebut. Wallahu Alam bi sawab.
20. Keturunan Nurcahyo yang keenam kelak akan menduduki takhta Kahyangan
Jonggring Saloko. Dialah yang nanitinya akan menentukan nasib (kodrat)
manusia dibumi sebagai Wakil dari Sang Hyang Widi serta bergelar Betara Guru.
21. Adapun Nurcahyo sampai keturunannya yang kelima menjalani alam perjanjian,
mereka tergolong petugas kaum petunjuk.
22. Oleh karena itu Nabi Adam lalu menasehatkan kepada Sis agar merelakan
perpisahan antara Nurcahyo dengan saudara saudaranya.
23. Nasihat itu dijawab oleh Nabi Sis bahwa mengenai hal tersebut ia menyerahkan
kepada takdir Hyang Widi. Ia menyetujui nasehat ayahandanya. Kemudian Nabi
Adam memberitahu kepada cucunya yaitu Nurcahyo.
24. Oleh kakeknya Nurcahyo disuruh beijalan kearah timur. Ditempat yang ditunjuk
itu terdapat wilayah yang masih kosong, letaknya tidak jauh dari tanah Yam.

26
Disanalah ia akan melanjutkan penyelesaian gambar yang telah dianugerahkan
Hyang Widi kepadanya.
25. Nurcahyo diminta mematuhi kehendak Hyang Widi untuk melengkapi gambar
sorga miliknya, sebab pada gambar itu belum ada lapal yang isinya
mengagungkan asma Allah sebagaimana halnya gambar milik Yanas, Nabi Adam
memberitahu pula bahwa kelak ditempatnya yang baru itu segaa kehendaknya
akan terkabul.
26. Nurchyo terus mengambil gambar miliknya. Sesudah itu ia bersujud kepada
kakeknya kemudian ayah bundanya. Dengan Yanas ia berpelukan cukup lama.
27. Sesudah itu Nurcahyo lalu pergi. Dalam waktu singkat ia telah sampai digunung
dasar. Saat itu ia sangat bersedih hati karena harus berpisah dengan ayah bunda
dan saudaranya.
28. Setelah Nurcahyo pergi Nabi Adam masih duduk diatassinggasana emasnya yang
bernama Padmasana, singgasana ini adalah anugerah Tuhan waktu disorga.
29. Singgasana ini dihias dengan batu mulia yang menyinarkan cahaya gemerlapan
sehingga menrangi segala arah. Cahaya Padmasana ini dapat mengimbangi
cahaya matahari.
30. Diatas Padmasana itu Nabi Adam lalu mengajarkan isi dan sepuluh buah kitab
miliknya kepada para putranya. Selanjutnya pada tiap tiap hari isi dari sepuluh
kitab tersebut diajarkan kepada anak cucunya sehingga lama kelamaan isi kitab
itu telah mereka kuasai.
31. Kemudian isi dari sepuluh buah kitab itu lalu disebar luaskan. Nabi Sis diberi
lima puluh kitab oleh Tuhan.
32. Sesudah Nabi Sis menerima lima puluh buah kitab itu Nabi Adam bermaksud
akan turun takhta. Putra yang ditunjuk menjadi penggantinya yaitu Kayumutu.
Sedang Nabi Sis lalu mendalami agama.
33. Tentang cenitera mengenai yang mengambil jalan kekanan yaitu Yanas,
pemahamannya diserahkan kepada para santri.
34. Konon ceniteranya mengenai yang mengambil jalan lewat jalan kekiri yaitu
Nurcahyo, dalam peijalanannya telah bentemu dengan kakeknya yaitu Ijajil yang
bergelar Prabu Tamimasar.
35. Nurcahyo lalu bersujud pada kaki kakeknya sambil menangis. Ia meratap
menghiba hiba.
36. Melihat cucunya yang sedang susah itu Prabu Tamimasar lalu menghibur,
Nurcahyo diberitahu bahwa sudah lazim bagi orang yang ingin hidup harus
terlebih dahulu memulai dengan keprihatinan. Begitulah menurut pendapat
kakeknya.
37. Selanjutnya Nurcahyo disarankan agar mentaati amanat kakeknya yaitu Nabi
Adam. Jika amanat itu dilaksanakan mudah mudahan kelak mendapat
kebahagiaan sebagai karunia dari Tuhan.
38. Prabu Tamimasar lalu mengajak Nurcahyo ke Lulmat lebih dahulu. Lulmat
adalah tempat air penghidup. Disitulah Nurcahyo akan dimandikan agar tidak
mengalami kematian.
39. Kemudian berangkatlah keduanya. Dalam waktu sekejap mata saja mereka telah
tiba diLulmat. Nurcahyo akan dimandikan dengan air yang mengakibatkan kebal
akan mati.
40. Tatkala sampai di Lulmat itu Ijajil terperanjat. Melihat bahwa penjaga Lulmat,
yaitu sumber air kebal mati itu, ternyata adalah para malaikat bekas anak
buahnya. Ia lalu berkata kepada cucunya.

27
41. Ia merasa malu kepada para malaikat yang tunggu disitu. sebab mereka itu adalah
anak buahnya semasa ia menjadi raja disorga.
42. Oleh karena itu Nurcahyo diperintahkan datang sendiri ke Lulmat itu. Ijajil
menunjukkan bahwa air yang harus dipakai untuk mandi itu adalah air yang
berwarna berkilau kilauan seperti sinar matahari.
43. Ijajil hanya bersedia mengawasi dari tempat ia berdiri itu saja. Nurcahyo pun lalu
berjalan sendirian menuju tempat air penghidup. Kedatangan Nurcahyo ditempat
air penghidupan itu dilihat oleh para malaikat yang tunggu.
44. Mereka melihat adanya perwujudan bercahaya ditepi air yang dijaganya. Para
malaikat itu lalu mendekati. Akan tetapi pada waktu akan dipegang tiba tiba
perwujudan itu lalu menghindar.
45. Para malaikat lalu menanyakan kepada perwujudan yang bercahya itu apa
perlunya mandi ditepi Lulmat tersebut, pada hal perwujudan itu hanya berupa
cahaya. Para malaikat itu menduga bahwa perwujudan itu bukan bintang, bukan
daru, tetapi adalah cahaya manusia belaka.
46. Tetapi andaikata perwujudan itu cahaya manusia manakah perlengkapannya yang
disebut Nur Muhammad yang mempunyai sinar cerah. Para malaikat itu lalu
bertanya siapakah sebenarnya dia.
47. Nurcahyo lalu memberi jawaban bahwa kedatangannya adalah untuk mandi.
Jawaban itu membuat para malaikat tersebut lalu menyerang Nurcahyo sehingga
terpentallah ia.
48. Pada waktu terpental itu Nurcahyo lalu melepas api yang kemudian mengenai
para rnalaikat, dan dengan mudah para malaikat itu terkena api.
49. Dengan suara lantang para malaikat yang tunggu itu menanyakan siapakah nama
dia yang bersikap terlalu berani itu. Pertanyaan itu terus dijawab bahwa dia
bernama Nurcahyo.
50. Kemudian Nurcahyo lalu melepas panahnya sehingga timbullah awan gelap.
Tindakan ini ia lakukan dengan maksud agr para malaikat itu tidak mengetahui
tatkala Nurcahyo sedang mandi.
51. Para malaikat yang menunggu Lulmat mengatakan bahwa Nurcahyo sedang
memperlihatkan kesaktiannya. Meskipun Nurcahyo dapat menunjukkan
kesaktiannya tetapi para malaikat itu yakin bahwa Nurcahyo tidak berhasil mandi
disitu.
52. Pada waktu para malaikat itu sedang mengepung Nurcahyo hendak
menangkapnya. Tiba tiba muncullah Ijajil yang kemudian membawa pergi
cucunya.
53. Para malaikat yang sedang mengepung Nurcahyo itu tak tahu kemana
menghilangnya Nurcahyo. Dengan demikian mereka tidak berhasil menangkap
Nurcahyo. Mereka lalu pergi kesana kemari untuk mencarinya. Para malaikat
tersebut lalu mengakui akan kesaktian Ijajil.
54. Dengan susah payah para malaikat itu mencari tetapi tidak berhasil menemukan
dimana tempat Nurcahyo yang sakti itu berada.
55. Sementara itu Ijajil telah berhasil memandikan cucunya dengan air penghidupan,
dan peristiwa itu tidak diketahui oleh para malaikat.
56. Sehabis memandikan cucunya Ijajil terus pulang sambil membawa air
penghidupan yang diletakkan dalam cupu manik.
Air penghidupan itu disediakan untuk keturunannya yang keempat (canggah).
57. Canggah Ijajil inilah yang kelak akan menyatakan diri sebagai Tuhan. Ia akan
mampu mengatur kodrat dan menguasai dunia kecil (alam sahir). Ia akan
mengatur keadaan dengan seluas luasnya.

28
58. Keraton canggah Ijajil ini suasananya dibentuk seperti keadaan disorga. Hal ini
sesuai dengan gambar yang pernah diserahkan kepada Nabi Adam. Diharapkan
keraton itu kelak dapat diwariskan kepada anak cucunya.
59. Istana yang dibentuk mirip dengan keadaan sorga itu diberi nama Jonggring
seloko. Sedang canggah Ijajil tenebut bergeler Betara Guru (Gurunadi).
60. Selanjutnya Nurcahyo lalu dipersilakan berangkat kearah timur yaitu menuju
ketempat yang masih kosong. Sebelum berangkat terlebih dulu Nurcahyo
menyembah kakeknya.

IX. PUPUH JURUDEMUNG

01. Dalam waktu sekejap mata saja Nurcahyo telah sampai ditempat yang dituju. Ia
lalu masuk kedalam alam Akadiyat. Disana bumi dan langit tidak kelihatan.
Suasananya tidak terang, tetapi tidak gelap.
02. Dialam Akadiyat itu tidak diketahui arah tempat, tidak diketahui arah selatan,
timur, utara, barat, bawah, dan atas. Keadaan itu terjadi setelah ia (Nurcahyo)
mengheningkan ciptanya. Waktu itu ia berada didalam lingkup kekuasaan
Hyang Widi. Ia bergelar Prasaguntung.
03. Disitu ia berkumpul dengan para roh yang sesat jalan, mereka itu termasuk juga
umat Tuhan. Tanpa sebab ia menjadi menyala. Nurcahyo segera
mengheningkan cipta dengan sikap menghentikan kerja panca inderanya,
sesudah itu ia melihat cahaya Illahi yaitu sebagai cahaya mutiara merah, kuning
dan biru.
04. Nyalanya memenuhi alam semesta. Nurcahyo menempati ruang hampa itu
sampai seribu tahun. Sesudah itu Nurcahyo berputra diberi nama Nuroso.
Nurcahyo berkata kepada putranya yaitu Nuroso.
05. Nuroso diperintahkan agar bertapa mencari wahyu raja. Nuroso mengindahkan
perintah itu lalu bertapa diwilayah lingkup kekuasaan Yang Widi.
06. Setelah genap seribu tahun Nuroso bertapa ia lalu melihat cahaya Rosullulloh.
Selanjutnya Nuroso lalu berputrakan dua orang semuanya laki laki. Kedua
orang itu wajahnya mirip. Yang Tua bernama Sang Hyang Wenang sedang
yang bungsu bernama Sang Hyang Wening.
07. Nuroso memerintahkan kepada Sang Hyang Wenang untuk melanjutkan idam
idaman ayahnya dengan jalan bertapa juga. Nuroso berjanji kepada Sang Hyang
Wenang bahwa selama menjalani tapa ia akan dijaga dan dilindungi. Kemudian
gambar sorga lalu diserahkan. Selanjutnya Sang Hyang Wenang lalu menjalani
tapa, tetapi pada waktu baru mendapat seratus tahun ia telah menghentikan
tapanya.
08. Kemudian Sang Hyang Wenang menyuruh adiknya yaitu Sang Hyang Wening
agar melanjutkan tapanya. Dalam melanjutkan tapanya itu adiknya (Sang
Hyang Wening) disuruh ganti nama Sang Hyang Wenang. Sang Hyang
Wenang (nama baru dan Sang Hyang Wening) lalu menerima penyerahan
gambar sorga dari kakaknya kemudian melanjutkan tapa hingga genap seribu
tahun.
09. Sang Hyang Wenang yang asli lalu berganti nama Dipoyono karena ia tidak
suka menjadi badan halus. Ia menginginkan menjadi badan jasmaniah.
Nantinya ia akan mengasuh manusia manusia kekasih dewa.
10. Ia tidak menampakkan diri sebagai roh halus (dewa) tetapi menyamar sebagai
manusia yang nantinya berganti nama Semar Apabila telah cukup waktunya

29
mengasuh para kekasih dewa kemudian ia kembali menjadi badan halus lagi ke
Kedewataan Sang Hyang Wenang.
11. Kepada semua manusia yang dikasihi Tuhan diizinkan menjalani kuwajiban
sebagai raja. Diceriterakan bahwa Sang Hyang Wenang (nama baru dari Sang
Hyang Wening) telah selesai melanjutkan tapa sehingga genap seribu tahun,
kemudian ia berkumpul dengan ayah andanya yaitu Nuroso.
12. Hyang Wenang berputra seorang laki laki yang rupawan diberi nama Sang
Hyang Wasesa. Sang Hyang Wenang memerintahkan kepada Sang Hyang
Wasesa agar berusaha mengumpulkan para nenek moyangnya.
13. Untuk itu Sang Hyang Wasesa diperintahkan bertapa lamanya seribu tahun dan
dalam keadaan berujud roh halus. Hyang Wasesa lalu mengindahkan perintah
ayahandanya itu yaitu Sang Hyang Wenang. Setelah menerima gambar sorga
Hyang Wasesa lalu mulai tapanya, tempatnya didalam lingkup kekuasaan Yang
Agung.
14. Setelah genap seribu tahun tapanya lalu datanglah leluhurnya yaitu Maharaja
Tamimasar dari gunung dasarl). Kedatangan maharaja Tamimasar itu diantar
oleh bala tentaranya yang berujud jin sebanyak tujuh juta.
15. Maharaja Tamimasar memberitahukan kepada Sang Hyang Wasesa bahwa
kedatangannya diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menyerahkan
anugerah. Augerah itu diberikan karena Sang Hyang Wasesa bermaksud
mengumpulkan roh dan para nenek moyangnya.
16. Setelah tapanya itu selesai dijalankan maka tak lama kemudian para roh nenek
moyangnya berhasil dapat terkumpul. Pada saat itu Sang Hyang Wasesa lalu
mendapat pahala yang berupa kekuasaan Yang Mulia da diberi kekuasaan disisi
Tuhan.
17. Hyang Wasesa dipercaya menguasai kaum roh tersebut. Oleh kanena itu raja
Tamimasar lalu menyogyakan Hyang Wasesa berganti nama Sang Hyang
Wisesaning Tunggal.
18. Karena tehah berhasil menguasai Yang Tunggal (roh roh) maka raja Tamimasar
lalu menyerahkan anugerah dari Yang Agung berujud air penghidupan 2. Air
tersebut dimasukkan didalam suatu tempat (cupu) yang bernama cupu
Astagina. Semua umat yang mempunyai kehendak dan keinginan bila
meninggal dapat dihidupkan kembali dçngan jalan memercikkan air tersebut
kepada umat yang mati itu.
19. Dan siapa saja yang telah minum air itu tak akan dapat meninggal, ia akan
hidup seterusnya. Apabila. ada yang menderita sakit hingga meninggal dunia
bila diperciki air penghidupan itu akan menjadi sehat kembali.
20. Dikatakan bahwa air itu tak akan ada habisnya. Hyang Wisesa diminta
mewariskan air tersebut kepada keturunannya. Bethara Guru lalu
memerintalikan agar Hyang Wisesa melanjutkan tapanya.
21. Hyang Wisesa Tunggal lalu mengambil sikap bersidekap. Pada keadaan begitu
Hyang Suksma akan melindungi. Begitulah amanat Hyang Suksma kepada
Hyang Wisesa.
22. Hyang Wisesa mengindahkan amanat tersebut. Sementara itu raja Tamimasar
telah menghilang bersama sama pengikutnya. Sedang Hyang Wisesa kembali
bertapa dengan melepas segala panca inderanya, sukmanya diarahkan
kehadapan Yang Agung.
23. Perhatiannya mulai dipusatkan kesana. Tiba tiba terdengar suara gemuruh,
bagaikan suara guruh dari segala arah yang jumlahnya berpuluh puluh ribu.

30
Sesudah itu lalu terlihat ada sebuah permata sebesar telur yang berwarna putih
cemerlang.
24. Cemerlangnya permata itu tak menjadi pudar tatkala berada diantariksa. Benda
itu lalu ditangkap. Kemudian permata itu lalu berubah menjadi tiga macam
yaitu menjadi bumi dan langit dengan segala isinya, dan yang ketiga menjadi
cahaya.
25. Yang berupa cahaya lalu menjadi citra berkuasa yaitu Hyang Guru atau
Manikmoyo, dan Manikmoyo adalah pengejawantahan Hyang Wisesa. Oleh
Hyang Wisesa, oleh karena itu segala sesuatu yang dikerjakan dan diciptakan
oleh Manikrnoyo adalah atas nama Hyang Wisesa.
26. Selanjutnya Hyang Wisesa mengatakan bahwa ia memberikan kepercayaan
penuh akan segala pengaturan yang terjadi dibumi dan dilangit.

X. PUPUH GURISO

01. Tersebutlah Manikmoyo bertanya kepada Hyang Wisesa mengenai


keadaannya, “Ya Pukulun Dewa Yang Maha Kuasa. Mengapa wajah hamba ini
sangat jelek tak ada kebagusannya sedikitpun. Warna hamba yang hitam pekat
bagaikan wedelan ini apakah maksudnya? Pertanyaan itu dijawab oleh Hyang
Wisesa agar Manikmoyo menerima saja nasibnya
02. Disarankan agar Manikmoyo jangan kecewa hati. Hyang Wisesa segera
memegang gambar pemberian kakekndanya yaitu Nurcahyo. Oleh Hyang
Wisesa gambar itu lalu diciptakan menjadi permata yang sangat rnulia Benda
itu diserahkan oleh Hyang Wisesa kepada Manikmoyo. Nama benda itu Retno
Dumilah artinya permata mulia.
03. Permata itu tidak ada yang menyaimai mutu kebaikkannya. Apabila permata itu
dimanterai maka apa yang diminta oleh pemilik benda itu akan terkabul. Retno
Dumilah tersebut lalu diletakkan diatasubun ubun Manikmoyo. Adapun warna
hitam yang menyerupai wedelan itu merupakan perlambang kelanggengan
(baka) dan kekuasaan yang ada pada Manikmoyo, sama halnya sifat langgeng
yang ada pada Manikmoyo, sama halnya sifat langgeng yang ada pada bulan
dan mata hari.
04. Manik noyo dengan rendah hati dan rasa gembira menerima baik sifat langgeng
sebagai sifat matahari dan bulan itu. Manikmoyo bersujud kepada Hyang
Wisesa sebagai tanda menyambut baik atas sabdanya itu. Warna hitam menjadi
petunjuk peringatan bahwa segala yang ada dapat berubah menjadi tidak ada
sedang yang salah dapat berubah menjadi benar.
05. Dan yang benar dapat berubah menjadi salah. Hati pemberani dapat berubah
menjadi penakut, hal yang pasti dapat berubah menjadi samar samar. Sang
Hyang Wisesa menyarankan agar Manikmoyo berganti nama Bethara Semar
yang menguasai segala kejadian dibumi. Bethara Semar (Manikmoyo) lalu
diberi pendidikan tentang menguasai dan mengatur semua kejadian dibumi.
06. Kemudian Hyang Wisesa lalu pergi menghilang sementara itu Hyang Guru
(Manikmoyo) lalu tinggal seorang diri. Dalam hati Hyang Guru merenung
mengenai sempitnya bumi dan langit. Oleh karena itu bumi dan langit lalu
dipisahkan. Jarak antara bumi dan langit tak dapat diukur sejauh mana
antaranya.

31
07. Bumi selalu menangis sedang langit merasa sangat haru meihat bumi terapung
apung ditengah tengah samodra. Jika tertiup dari timur kebarat arahnya, yang
dari barat ketimur, dan jika ada angin berembus dari lain arah.
08. Bila bumi dihembus angin dari selatan dia lalu bergeser keUtara. Bila angin
bersama sama datang dari segala arah maka bumi bergetar ditengah. Bumi
selalu terayun ayun ditengah tengah samodra. Melihat itu langit merasa amat
iba. Kemudian disusul angin dari arah atas bumi.
09. Bersamaan dengan saat itu mengembus pula angin dari bawah keatas. Kilatpun
berseleweran diangkasa. Lingkup angin yang dan bumi seluas separoh bumi.
Bumi selalu terombang ambing, laut bagaikan digoncang, airnya berdeburan.
10. Gerakan air laut yang berdeburan itu mengakibatkan air laut menjadi masin
rasanya. Dengan perubahan air laut menjadi masin itu bumi merasa amat
gembira. Disamping itu terjadilah suara yang dahyat mengerikan, cahaya gaib
yang terjadi diangkasa (tejo) tidak berjalan. Keadaan siang dan malam tak ada
bedanya. Sang Hyang Guru berkata kepada tejo dan cahaya agar mau menerima
penugasan yang diberikan oleh Hyang Maha Esa.
11. Tugas yang diberikan ialah untuk menerangi dunia dengan cara bergantian. Si
cahaya akan berturut turut bertambah besar. Bila sudah lima belas kali
menerangi bumi penuh sempurnalah besamya. Apabila sudah tiga puluh hari
sudah sempurnalah tugasnya dan berhenti dalam air untuk selanjutnya
menyambung tugas berikutnya.
12. Adapun matahari mempunyai tugas berjalan menyinari bumi pada waktu siang
hari. Sedang pada waktu malam bersembunyi didalam bumi. Hyang Guru lalu
menciptakan sembilan dewa dan para bidadari, wajahnya bermacam macam.
13. Mereka itu menjadi penghuni diatasbumi dan diangkasa. Masing masing
mempunyai tugas sendini sendiri. Begitu pula yang mengatur segala sesuatu
dibumi adalah para dewa dan bidadari juga. Yang berkedudukan diarah timur
bernama Yang Maha Dewa, Maha Dewa memuliakan hari pasaran Legi.
14. Hari pasaran Legi dewa pujaannya adalah Maha Dewa. Lambang kotanya
perak. Lambang burungnya burung kuntul. Lambang lautnya laut santan.
Lambang huruf ha na ca ra ka. Yang duduk didunia kedewaan Bethara Sambu.
Sagnyana kota tembaga.
15. Lambang laut, laut darah. Lambang burung, burung elang. Hari Pahing,
lambangnya huruf da ta sa wa la. Dewa yang ada disebelah barat Hyang
Kamajaya namanya dengan istrinya Dewi Ratih. Lambang kotanya kota emas,
lambang laut berair madu. Lambangnya burung, burung Kepodhang.
16. Hari pasaran Pon. Lambang hurufnya pa dha ja ya nya. Dewa yang berada
disebelah utara bernama Hyang Wisnu dengan istri Sri. Lambang kotanya kota
besi. Lambang lautnya laut mia. Lambang burungnya burung gagak.
17. Hari pasaran Wage. Dewa yang ada ditengah tengah dunia bernama Bethara
Bayu, pendampingnya bernama Bethari Sunthi. Hari pasaran Kliwon. Lambang
kotanya, kota perunggu. Lambang burung, burung gagak. Pantai wedang (air
panas) Lambang hurufnya ada sepuluh buah wa le pa nya ma ma i la pa.
18. Ada disebelah timur Emprit Anjala menjaga huruf pelengkap rangkaian sesaji.
Dewa pujaannya ada disebelah tenggara, bernama Hyang Kuwera. Lambang
hurufnya ha ra sa nya. Yang ada dibarat daya bernama Maha Yekti, ada dibarat
daya Bethara Siwa.
19. Para dewa berjumlah delapan ditambah Dewa Sang Hyang Bayu jumlahnya
jadi sembilan. Pada waktu itu pulau Jawa kadaannya goyah terobang ambing
oleh air samodra. Yang Guru Nata lalu tegak berdiri diangkasa.

32
20. Yang Guru Nata terus melecit keatas. Terjadilah langit bersapsap tujuh lapis.
Yang Guru memandang kebawah. Nampak bumi tebal berlapis lapis. Lapis
yang pertama dijaga oleh Begawan Kusiko.
21. Begawan Kusiko berputra tiga. Yang sulung berujud Kowangan. Kedua
berujud garangan. Yang bungsu berujud ular. Ketiganya hidup didalam bumi.
Begawan Kusiko bersebutan juga Yang Dherampalan. Apabila terlengah dari
pengawasan ayahnya bagian tubuh ular digerogoti oleh kowangan dan garangan
22. Sekali peristiwa pada waktu garangan dan kowangan akan menggerogoti ular
diketahui oleh Yang Dherampalan. Ia sangat marah. Dua anaknya diusir.pergi.
Kepergian garangan dan kowangan meninggalkan kata kata pengutuk. Kata
kutukan itu menyatakan bahwa diriya ular itu akan menjadi mangsanya. .
23. Betul, akhirnya ular menjadi mangsanya kowangan dan garangan. Alkisah
lapisan bumi yang keenam dijaga oleh Yang Manikoro. Sedang bumi yang
ketujuh dijaga oleh Yang Ontoboga.
24. Semua dewa penjaga ketujuh lapisan bumi itu dikepalai oleh Sang Hyang
Ontoboga. Semua dibawah perintahnya. Isi bumi dan isi laut semuanya
dibawah kekuasaan Hyang Antaboga.
25. Sekali peristiwa Yang Guru Nata amat memikirkan pulau Jawa yang selalu
goyah, terombang ambing oleh gelombang samudera. Amat iba hatinya. Segera
Yang Guru Nata turun di Pulau Jawa. Pulau Jawa yang selalu tak tetap
letaknya, akan dibuat kokoh kuat dan tetap letaknya. Ia berdiri tegak
menghadap kebarat, mengheningkan cipta, menciptakan adanya gunung. Maka
terjadilah dipantai sebelah barat sebuah gunung yang amat besar lagi tinggi.
Gunung itu diberi nama Gunung Jamurdipa, tetapi dalam keadaan miring, pada
bagian timur sangat terangkat keatas.
26. Ujung pulau Jawa disebelah timur hampir hampir menyentuh langit, Yang Guru
sangat kecewa melihat kejadian itu. Yang Guru segera mengumpulkan para
dewa, memusyawarahkan tentang nasib pulau Jawa. Para dewa lalu melaporkan
hasil penelitiannya.
27. Adapun penyebab pulau Jawa menjadi miring itu, karena disebelah barat
terdapat sebuah gunung yang sangat besar lagi tinggi, letaknya ditepi pantai.
Yang Guru lalu memerintah agar gunung itu dibongkar.
28. Yang Guru memerintahkan kepada para dewa tersebut agar separo dari gunung
tersebut diangkat untuk diletakkan diujung sebelah thnur. Para dewa
mengindahkan perintah tersebut. Mereka berangkat beramai ramai, laki laki
perempuan, menjalankan perintah yang diberikan oleh Yang Guru Nata.

33
XI. PUPUH GAMBUH

01. Tersebutlah ada seorang dewa yang oleh Hyang Guru diperintahkan tinggal
ditempatnya, tidak ikut para dewa yang lain. Dewa itu bemama Empu Ramadi.
Ia mendapat tugas membuat alat senjata yang tangguh serta istimewa.
02. Kemudian ada seorang dewa lagi yang tak ikut serta para dewa yang lain, Ia
bernama Dremojo. Saat itu ia sedang khidmat menantikan kelahiran putranya.
Akhirnya lahirlah putra yang dinantikan itu yaitu lahir pria yang anggun serta
tampan parasnya.
03. Putra yang baru lahir itu diberi nama Caturkenaka. Oleh ramandanya kemudian
Caturkenaka diperintahkan agar bertapa. Dalam tapanya itu, dinasehatkan oleh
ramandanya agar mohon kepada Dewa Maha Tunggal untuk dikaruniai seorang
putra yang tampan perwira.
04. Nasehat ramanda itu diindahkan oleh Caturkenaka. Akhirnya permohonannya
dikãbulkan, ia mendapat anugerah seorang putra yang bagus wajahnya, cerah
kecerdasannya, halus perasaan hatinya, diberi nama Kanekaputra.
05. Pada suatu hari ayahandanya menyerahkan sebuah pusaka yang diberi nama
Retno Dumilah. Pusaka itu amat keramat Kanekaputra diberi banyak ilmu oleh
ayahandanya. Kemudian ia dinasehatkan kembali ketempat kakeknya, dipusat
samodera.
06. Disana ia tekun bertapa ia menyerahkan segala jiwa raganya kepada Hyang
Widi Tunggal. Bila ia merasa haus, lapar dan mengantuk, cukup mencium
pusaka mustika saja. Dengan mencium pusaka mustika itu, lapar, dahaga dan
kantuknya hilang.
07. Kasiyat dan pengaruh lain dari pusaka itu, meskipun terendam air, ia tidak akan
basah, bila masuk dalam api yang meruah membara sepanas api neraka, ia tak
akan hangus.
08. Alkisah para dewa telah tiba dikaki gunung Jamurdipa. Para dewa
memperbincangkan bagaimana mereka akan menyelesaikan tugas dari Yang
Guru Nata itu. Hyang Bromo sanggup menjadi salang.
09. Pembongkaran gunung Jamurdipa dimulai Hyang Wisnu memusatkan
perhatian, mengumpulkan segala kekuatan sambil mengatakan dalam hati
mantera yang dimiliki (tiwikrama) Tubuhnya menjadi besar dan tinggi, lebih
besar dan lebih tinggi dari gunung Jamurdipa yang hampir menyentuh langit
itu.
10. Oleh Hyang Wisnu, gunung Jamurdipa dipotong separohnya, ditaruh
diatassalang, sedang pembungkusnya Yang Endra.
11. Yang Bayu dijadikan alat pemukul yang tidak lekang dan luntur. Pemikulnya
ialah para dewa. Pada saat mulai mengangkat potongan gunung Jamurdipa itu,
menggelegarlah suara guruh sebagai tanda penghormatan.
12. Bethara Suryo memancarkan sinar cerah, Ia mengamati para dewa yang
mengangkut potongan gunung tersebut. Para dewa pengangkut itu ditimpa sinar
matahari yang terik. Mereka letih kehausan.
13. Mereka melihat air yang keluar dari lubang pada lambung gunung Akibat
minum air dari lambung gunung tersebut para dewa jadi mati tak ada yang
hidup seorang jua.
14. Yang Guru ikut minum air tersebut tetapi tatkala baru sampai ditenggorokan
lalu dimuntahkan kembali. Ia menyatakan bahwa air itu beracun amat keras.
Selanjutnya akibat dari minum air itu pada bagian leher tempat tenggorokan
Yang Guru lalu berbelang putih.

34
15. Maka Yang Guru lalu disebut juga Yang Nilokontho, artinya memiliki cacat
tubuh belang pada leher. Sebenarnya air yang diminum oleh para dewa itu
bukan air biasa melainkan air bisa yang sangat ampuh.
16. Adapun nama air racun tersebut ialah Calakutha. Sementara itu Hyang Wisesa
turun dipuncak gunung, kedatangannya sambil membawa cupu Astagina.
Didalarn cupu itu terdapat air penghidupan Cupu tersebut lalu diletakkan
diataspuncak gunung. Bau dari air penghidupan itu semerbak harum, terbawa
angin kesegala tempat.
17. Bau itu mempengaruhi badan sehingga terasa segar Yang Pramesthi Guru
berkata dalam hati, kiranya air inilah yang disebut tirta Marta Kamandhalu
Berkatalah Yang Wisesa kepada Yang Pramesthi, membenarkan apa yang
dipikirkan olehnya.
18. Air itu adalah air yng disebut Tirta Marta Kamandhalu. Khasiatnya dapat
menghidupkan kembali semua manusia yang mati, yang belum penuh takdir
hidupnya.
19. Semua makhluk yang memiliki kehendak dan keinginan bila minum air
tersebut akan kebal dari segala bisa dan kebal dari segala sakit.
20. Selain itu ada lagi sejenis tumbuh tumbuhan warna batangnya hitam, bercabang
cabang, yang berkhasiat sebagai obat penghidupan. Nama tumbuh tumbuhan ini
Sambilata. Disitulah jin, setan dan para roh bertempat tinggal.
21. Raseksa dan riaseksi dan manusia yang mati, bila ditaruh Sambilata diatasnya,
mereka akan hidup kembali. Batang sambilata dapat menjadi alat penghidup
umat dibumi yang meninggal
22. Begitu juga semua binatang air, binatang yang hidup dalam lubang ditebing
tebing, yang sudah mati, bila bagian dari pohon sambilata ditaruh diatasnya,
maka hidup kembalilah semua itu.
23. Para Dewa dan Dewi tak dapat mati, hidup langgeng, karena mereka telah
minum air penghidupan itu.
24. Hyang Guru pun segera menyambut cupu Astagina, meneguk air dari
dalamnya. Maka tubuhnya menjadi segar karena telah kemasukan rasa manis
nan harum. Nyata nyata rasa itu raja dari segala rasa.
25. Cupu manik Astagina lalu dibawa oleh Hyang Guru. Hati Hyang Pramesthi
amat gembira. Setibanya ditempat para dewa yang telah meninggal itu, lalu
dibukalah cupu itu.
26. Diatas bibir para dewa yang telah meninggal itu lalu ditetesi dengan air dari
dalam cupu tersebut. Seketika pan Dewa dan Dewi itu lalu hidup kembali,
mereka bergerak bangun, kemudian melanjutkan tugas masing masing.
27. Mereka bertugas memindahkan sebagian dari gunung Jamurdipa keujung
bagian timur pulau Jawa. Dalam perjalanan itu terjadi berulang kali keguguran
dari bagian gunung yang diusung tersebut. Kemudian dari guguran guguran itu
lalu teijadilah gunung baru.
28. Ada runtuhan sebesar buah kemiri, runtuhan ini kemudian. menjadi sebuah
gunung di Banten. Ada lagi runtuhan sebesar telur yang kemudian menjadi
gunung Pajajaran. Gunung ini besar lagi tinggi, kelihatan dari jauh.
29. Pada waktu meneruskan perjalanan ketimur sampai dekat Cirebon runtuh lagi
sebesar buah kemiri yang kermuian menjadi gunung Careme. Kemudian
beberapa kali berguguran lagi, menjadi gunung gunung didaerah Cirebon.
30. Para Dewa berjalan terus. Sampai didekat Tegal runtuh lagi sebesar gendi yang
kemudian menjadi gunung tertinggi dan terbesar dari gunung gunung yang
sudah ada.

35
31. Kaki gunung itu disebelah utara meliputi Daerah Tingkat dua Tegal, disebelah
selatan meliputi Kabupaten Banyumas Gunung itu dinamai Gunung Slamet.
Gunung disampingnya dinamai gunung Pragota.
32. Runtuh lagi dua kali maing masing sebesar kepalan tangan. Jatuhnya
berdekatan, menjadi dua buah gunung yang mirip, diberi nama gunung Sundara
dan gunung Sumbing. Para Dewa lalu melepaskan lelah di Kedu.
33. Para Dewa mengeluarkan banyak keringat, mengakibatkan wilayah Kedu
menjadi murah air sampai kini. Para Dewa makin merasa letih. Mereka
merasakan bahwa dalam mengangkut beban itu terasa makin berat.
34. Untuk melampaui diatas dapur tempat memasak besi untuk dijadikan alat
senjata (prapen) milik Empu Ramadi, tenaga para Dewa makin banyak
terkuras, hingga mereka amat kelesuan. Adapun tempat Empu Ramadi
mengerjakan pandai besi ada diudara.
35. Empu Ramadi menggunakan embusan api dengan kidung, sedang tempat untuk
menempa besi menggunakan lutut, untuk memanasi besi tidak menggunakan
bara api, melainkan cukup dipandangi dengan pandangan mata yang panasnya
tak kalah dibanding dengan api yang sedang membara. Air ludah dipakai
sebagai sepuh.
36. Besi yang dijadikan bahan untuk membuat senjata senjata itu, dari besi pilihan.
dinamai besi Bangka Mahanibu. Prapen Empu Ramadi telah menghasilkan
banyak senjata pusaka yang memiki kesaktian. Semua itu menjadi senjata para
Dewa.
37. Senjata senjata pusaka itu adalah panah Cakra, panah Kunta tulup, busur
dengan ratusan ribu anak panahnya, dengan segala bentuknya, parang dan
popor.
38. Demi para Dewa mengetahui bahwa Yang Ramadi tidak ikut serta mengerjakan
pemindahan sebagian dari gunung Jamurdipa, mereka datang bersama sama
mengerumuni Empu Ramadi.
39. Mereka menghujani pertanyaan atas anjuran siapa hingga melalaikan tugas
tidak ikut serta memindahkan bahagian dari gunung Yamurdipa itu.
40. Dianggapnya Empu Ramadi hanya mementingkan kebutuhan sendiri,
menghadapi api yang membara, menggerinda, mengikir menempa besi, tanpa
menghiraukan tugas bersama. Padahal dengan sepenuh tenaga para Dewa telah
mengerjakan pemindahan gunung Jamurdipa, sedang Empu Ramadi enak enak
ditempatnya. Keadaan ini membuat para Dewa panas hatinya.
41. Hyang Condro berkata dengan lantang : sebaiknya Empu Ramadi dikenakan
hukuman berat. Kemudian Bethara Bayu menyambung pembicaraan itu : tak
perlu banyak pikir, dikeroyok saja cukuplah.
42. Semua alat pekeijaannya dirampas, pemiliknya diikat tangannya. Yang Condro
melangkah maju, menuju didepan Empu Ramadi. Ia mengatakan siapa yang
berani menghasut untuk mogok kerja.
43. Mogok kerja untuk bersama sama memindahkan bahagian Gunung Jamurdipa.
Mengapa Empu Ramadi enak enak bekerja untuk kepentingan pribadi dirumah,
Empu Ramadi lalu balik bertanya : apakah kalian tidak tahu bahwa banyak
tugas yang harus diselesaikan.
44. Para Dewa yang berdatangan itu lalu dipersilakan mengamati Yang Cokro dan
Yang Citragotra tak sabar lagi, segera menyerang. Empu Ramadi dilawan
bertiga. Yang Tembuni ikut membantu penyerangan. Ternyata Empu Ramadi
betul betul kuat dan tangguh.

36
45. Bahu Empu Ramadi ditarik kekiri, ditarik kekanan sambil digelut. Keringatnya
keluar dengan membawa rasa panas Serasa panasnya air mendidih,
menggelembung gelembung bagaikan minyak mendidih.
46. Ramadi segera meloncat Dewa Dewa yang merenggut bahu Empu Ramadi
berpelantingan. Ada yang jatuh tertelungkup, ada yang jatuh tertelentang ada
yang jatuh miring. Keempat Dewa lari tunggang langgang.
47. Sakri datang dengan amat marah. Empu Ramadi dihantam. Ia membalas
menyerang, keduanya saling menarik, saling mengangkat, saling menendang,
kelihatan sama kuat. Sakri dilempar jatuh ditempat yang jauh.
48. Dalam keadaan bersempoyongan, Sakri ditangkap lagi. Ia kehabisan tenaga,
badannya lemah bagaikan kapuk. Melihat gelagat itu, Bethara Bayu membantu
menyerang. Empu Ramadi ditangkap pada pinggangnya, diangkat tinggi tinggi
lalu dilempar jauh.
49. Setelah jatuh Empu Ramadi balas menyerang. Bethara Bayu dapat dipegang
ikat pinggangnya, lalu diangkat tinggi tinggi akhirnya dilemparkan, jatuh
ditempat yang jauh. Setelah terjatuh ditanah, ia lalu mengumpulkan kekuatan
dan membalas menyerang. Keduanya menganibil cara berkelahi yang lain.
Mereka lalu bergulat. Lama kelamaan Bethara Bayu kehabisan tenaga.
50. Bayu ditekankan kebumi. Ia tertancap kebumi sampai lututnya. Kini ia tak
dapat bergerak lagi, dia dihujani tinju. Tiba tiba Yang Bromo datang untuk
membantu, ia terus merebut Bethara Bayu.
51. Sambil merebut itu, Yang Bromo berkata dengan kasar : Si Empu Ramadi yang
hanya seorang diri itu, tidak mungkin akan mengalahkan para Dewa yang
sekian banyak. Dengan cara dikeroyok Ramadi pasti hancur. Empu Ramadi
mendengar kata kata kasar dari Yang Bromo..

XII. PUPUH DURMO

01. Demi mengerti bahwa akan dikeroyok Empu Ramadi lalu mengambil panah. Ia
berseru kepada para dewa agar segera maju, mereka akan disambut dengan
anak panah yang dilepaskan.
02. Ramadi yakin para Dewa akan hancur lebur bagaikan air. Dia menyatakan
bahwa ia membuat aneka warna senjata itu bukan dari kehendak sendiri,
melainkan demi untuk mengindahkan perintah Hyang Pramesthi. Bila sudah
selesai dikerjakan, senjata senjata itu akan diperuntukkan para Dewa.
03. Dijanjikan oleh Hyang Pramesthi, apabila telah selesai seluruhnya, ia akan
dikaruniai air penghidupan untuk diminum Khasiat dari air tersebut, dapat
menjadikan awet inuda, kebal terhadap sakit dan kematian.
04. Begitu para Dewa mengetahul bahwa.Empu Ramadi bekerja itu atas penugasan
dari Yang Pramesthi, maka mereka menghentikan perkelaiannya, mereka lalu
kembali menjalankan tugasnya.
05. Pada saat itu gugurlah dua gumpalan masing masing sebesar kepal tangan.
Benda itu terjatuh diatasdapur perapian sehingga menutup tungku Empu
Ramadi. Kemudian benda itu lalu berubah bentuk menjadi dua buah gunung
yang berdekatan letaknya.
06. Gunung yang disebelah selatan diberi nama gunung Merapi, sedang yang
terletak disebelah utara dinamai Merbabu. Gunung Merapi selalu mengeluarkan
asap dan berapi. Empu Ramadi amat menyesali atas rusaknya dapur perapian

37
beserta tungkunya itu.. Segera ia lalu menciptakan dapur perapian lengkap
dengan tungkunya yang baru.
07. Empu Rarnadi sesudah itu memusatkan cipta dan perasaan, memanjatkan doa
agar dianugerahi seorang putra laki laki. Disamping itu ia mengharap kepada
Hyang Wasesa agar dikaruniai pamor, baja dan tembaga. Ternyata semua
permohonannya terkabul. Putranya lalu diberi nama Bromo Dhedhali.
08. Oleh ayahnya, Bromo Dhedhali telah diajarkan kecakapan sebagai pandai besi
diangkasa. Lututnya digunakan sebagai landasan untuk menempa besi. Untuk
alat penjepit memegang besi berpijar ia menggunakan jari jari tangan. Alat
untuk membuat besi ia menggunakan kepalan tangannya. Untuk mengembus
membesarkan api digunakan embusan hidung.
09. Konon sesudah dewasa Empu Bromo Dhedhali beranak seorang laki laki, diberi
nama Onggojali. Selanjutnya Onggojali beranak seorang laki laki diberi nama
Abusaka. Abusaka kemudian menjadi penganut Nabi Muhammad, beragama
Islam. Ia pergi ke pulau Jawa, menyebar luaskan agama Islam.
10. Abusaka inilah yang menciptakan hauf Jawa, yang dapat berubah ubah
suaranya dipengaruhi oleh tanda tanda saksi. Abusaka mempunyai banyak
ilmu dan kepandaian, tabiatnya pemurah.
11. Tersebutlah perjalanan Dewa yang terus ketimur. Kemudian ada lagi sebagian
tanah yang runtuh yang selanjutnya berubah menjadi gunung lalu diberi nama
gunung Lawu. Runtuh lagi sebesar biji kacang yang kemudian menjadi gunung
Wilis.
12. Tiba di Kediri, sisa gunung Jamurdipa itu dipecah pecah dilempar keutara,
ketimur. yang dibuang keutara menjadi gunung Muria dan gunung Bancak.
13. Ada yang nenjadi gunung Sokarini, gunung Dhulanan. Ke timur gunung Kelud.
Puncaknya digunung Semeru, gunung tertinggi dan besar. Para Dewa lalu
menghadap Yang Pramesthi.
14. Sang Hyang Jagad Nata mengumpulkan semua Dewa anak buahnya. Hyang
Jagad Nata menyatakan pendapatnya ingin membangun sebuah sorga indah.
Para Dewa diperintahkan mengumpulkan kayu yang bercahaya, aneka batu dan
tanah.
15. Maksud Yang Guru membangun balai itu untuk melengkapi sebagai
kembarannya Balearas. Balai baru itu disebut Balai Marcukundha. Seperti
halnya Allah menciptakan surga, Yang Guru membangun Surgaloka.
16. Allah menciptakan neraka Yang Pramesthi mengadakan kawah Candradimuka.
Wahelul neraka diimbangi lumpur panas (endhut Blegedaba). Allah menitahkan
Sirotol mustakin, Yang Guru mengadakan titian yang peka gerak (wot ogal
agil).
17. Kayu Sajarotul Muntaha, imbangannya pohon Dewa Daru dengan bunganya
Wijayakusuma. Daunnya bersinar dengan aneka warna cahaya.
18. Allah mengadakan para malaekat, Yang Guru mengimbangj mengadakan
Bethara. Allah menciptakan bidadari sebanyak seratus ribu. Yang Guru
mengadakan bidadari sebanyak sakethi (seratus ribu) lebih satu yaitu Dewi
Ratih.
19. Sang Hyang Guru ingin mempersunting seorang Bethari bernama Uma. Bethari
Uma mempunyai tiga saudara dua diantaranya berujud denawa. Mereka itu
adalah Sindubondo, Wuluculung.
20. Sedang adiknya yang nomer tiga bernama Lembu Andini. Lembu Andini
menjadi kendaraan Yang Pramesthi, Dengan demikian Bethari Uma dengan
adik adiknya berjumlah empat orang. Pada mulanya Bethari adalah Dewa laki

38
laki. Kemaluan Bethara Uma direnggut oleh Hyang Pramesthi sampai putus
selanjutnya dilempar keantariksa.
21. Diangkasa kemaluan Bethara Uma berubah ujud menjadi putaran angin yang
kuat (cleret tahun). Bila lepas dari pengawasan orang, cleret tahun itu menjulur
memanjang ditepi langit sampai dibumi mengadakan topan badai disertai hujan.
Cleret tahun itu menerjang pohon pohonan dan rumah. Segala yang diterjang
jadi roboh.
22. Konon Bethara Uma setelah dicabut kemaluannya, oleh Hyang Pramesthi
disabdakan menjadi seorang Bethari yang cantik molek. Tiada seorang Dewi
yang menandingi kecantikan Bethari Uma. Karena cantik jelitanya itu, Dewi
Uma dipersunting oleh yang Guru Nata sebagai permaisuri Raja Dewa.
23. Bangunan sorga telah selesai dibangun. Bentuknya amat megah. Para Dewa
serta para Bidadari berkumpul dibalai Mercukunda.
24. Dibalai Mercukunda itu para Dewa mengadakan pesta bujana bersuka ria,
bemacam ragam ulah tingkahnya. Akhirnya dibagi bagikan mereka minum tirta
Kamandalu.
25. Alkisah dalam pestanya itu Hyang Pramesthi mengamati sungguh sungguh citra
Bethari Uma.
26. Dia amat terpesona, bangkit nafsu birahinya, hingga mengeluarkan air kama
(air mani), menjelma menjadi seorang raksasa sakti, bersifat siluman (jin). Pada
saat pesta bojana berjalan, Wuluculung melihat para Dewa minum tirta marta
Kamandalu, ia ingin juga minum. Dia turun dari antariksa menyelinap ditengah
tengah para Dewa. Karena asyiknya para Dewa tidak mengetahui. Segera ia
mengambil air itu dan meneguknya. Peristiwa itu diketahui oleh Bethara
Candra.
27. Secara berbisik Hyang Candra melapor kepada Bethara Wisnu bahwa selain
para Dewa, ada seorang raksasa yang mengelabui mata, berhasil ikut minum air
marta Kamandalu. Ia berkeyakinan, bila ini dibiarkan terjadi, raksasa itu tak
mungkin dikalahkan karena ia kebal terhadap mati. Bethara Wisnu segera
membidikkan panah Candradeksana.
28. Lepasnya anak panah mengenai sasaran, tepat pada lehernya dan kepalanya
terlepas dari tubuhnya. Untung air Kamandalu belum sampai merasuk sampai
ketubuh. Maka hanya kepala saja yang masih hidup, badannya lalu mati,
berubah jadi lesung (alat penumbuk padi).
29. Kepala Wuluculung melejit terbang kelangit. Karena dendamnya, pada segala
kesempatan ia mengganggu bulan atau matahari. Ada kalanya matahari atau
bulan ditelan, terjadilah gerhana matahari atau gerhana bulan. Untuk menolong
bulan atau matahari, orang banyak memukul mukul lesung yang berirama.
30. Sekali peristiwa Yang Guru duduk berduaan dengan permaisuri Bethari Uma.
Sambil merayu Yang Guru menasehatkan kepada Bethari Uma bahwa wajib
setiap ikatan suami isteri memiliki keturunan sebagai penerus hayat.
31. Lengan Bethari Uma dipegang sambil dirayu, mencurahkan kata kata penyalur
rasa. Sang Bethari bertangguh belum bersedia menjalani sanggana, karena
merasa belum memiliki ilmu wanita sejati.
32. Yang Guru memuja muja keayuan Dewi Uma. Diumpamakan Jelita Bethari
bagaikan jelitanya intan, ratna, intan mulia.
Yang Guru sangat menanti limpahan kasih mesra asmara dari Sang Bethani.

39
XIII. PUPUH MIJIL

01. Hari Sang Bethari jadi agak ketakutan. Sikapnya meronta ronta dipembaringan.
Betapapun tangkisan oleh Bethari namun perkasaan tak dapat dihindari.
Kekuatan pria lebih unggul dari kekuatan wanita. Sanggama telah terjadi.
02. Kama pria telah menyembul dari sasana. Ketika terjadinya rasa mulia, dan
raksa kamani akan menyasar diraksa wadi. Bethari Uma mengelak sehingga
raksa kama dari Yang Pramesthi tidak mengenai sasaran.
03. Kama Hyang Guru jatuh dilaut, terjadilah suara menggelegar, terjadilah gara
gara alam. Gelombang laut berdeburan, berpengaruh sampai di Surgaloka.
04. Balai Marcukunda bergoncang Yang Guru minta laporan dari para Dewa, apa
penyebab gara gara alam yang sangat dahsyat itu. Para Dewa segera
memberikan laporan kepada Hyang Pramesthi.
05. Para Dewa menyatakan telah mengadakan pengamatan namun tidak dapat
menemukan. Yang Pratiwi menyatakan bahwa tiada seorang Dewa pun yang
dapat menebak apa penyebab gara gara itu.
06. Maka Yang Jagad Nata sendirilah bermaksud akan menyelidiki penyebab
adanya gara gara alam. Akhirnya dapat diketahul, penyebabnya adalah Sang
Kamasalah.
07. Yang Pramesthi Guru lalu memerintahkan kepada para Dewa membunuh Sang
Kamasalah. Barang siapa tak mau berusaha membunuh tak akan diakui sebagai
putra Raja Dewa.
08. Para Dewa menjunjung tinggi perintah Hyang Pramesthi. Mereka berangkat
bersama sama turun kebumi. Tiba disamudera tempat Kamasalah diam, para
Dewa menghujani anak panah.
09. Karena dihujani anak panah itu, Kamasalah yang semula masih bayi orok, cepat
menjadi besar. Semua senjata yang mengenai tubuh bayi menambah kekuatan
dan kesaktian, Cakradaksana memperkuat muka. Limpung memperkuat sumsun
tulang bahu. Gada memperkuat punggung. Bayi Kamasalah dapat duduk.
10. Para Dewa melihat bayi itu tidak musnah amat heran hatinya Hyang Bromo
melontarkan kata kata penghinaan kepada para Dewa : mengapa kalian
mengaku sakti. Ternyata tak mampu memusnahkan si bayi.
11. Para Bethara berlari lari tak mampu menghancurkan si Kamasalah. Bethara
Bromo segera memegang senjata alugana. Namun dalam perkelahian ini
Bethara Bromo pun tak dapat unggul. Ia lari tunggang langgang dikejar
Kamasalah.
12. Semua Dewa lari kehadapan Hyang Guru Nata mengadukan halnya Para
Bethara telah tiba dihadapan Hyang Guru Nata. Maka tegur Hyang Pramesthi :
mengapa Dewa sekalian berlari larian.
13. Mereka berdatang sembah. kepada Raja Dewa, mengatakan bahwa Kamasalah
adalah raksasa yang besar, dahsyat lagi sangat sakti. Karenanya mereka tak
mampu mengalahkan dan terus lari.
14. Dalam berhadap hadapan, Kamasalah selalu menantang garang sambil
menggeram geram, hingga para Dewa takut melihatnya.
Ia selalu menanyakan siapa ayahnya. Hyang Guru mendengar ceritera Dewa
Dewa itu tertawa kecil, lalu bertanya dimanakah tempat raksasa tersebut.
15. Pada saat Hyang Pramesthi menerima laporan para Dewa, diluar gaduh riuh
Dewa Dewa yang lain berlari larian naik balai Marcukunda.

40
16. Kamasalah telah tiba didepan Hyang Pramesthi rambutnya ikal mengijuk
terurai sampai diketiak. Gigi taringnya panjang runcing. Matanya bersinar,
seperti sinarnya matahari. Mukanya berkulit kasar sekasar batu karang.
17. Lubang hidungnya menyerupai sepasang lubang gua. Ia berjanggut dan
berkumis tebal. Dadanya ditumbuhi rambut panjang. Dipunggungnya tumbuh
rambut tebal merata. Bila ditempuh angin suaranya gemeresak seperti suara
hujan bersama sama badai.
18. Didepan Hyang Pramesthi, Kamasalah menanyakan siapa ayahnya. Suaranya
besar mengguntur. Yang Guru Nata mengatakan dialah yang menguasai segala
makhluk hidup dibumi.
19. Mendengar pemyataan itu Kamasalah bertanya lebih lanjut : bila nyata nyata
menguasai semua makhluk, tentu tahu siapa ayahnya.
20. Hyang Pramesthi sanggup memberitahukan siapa ayah Kamasalah, asal dia
sanggup tunduk kepada semua kehendak Hyang Pramesthi. Karnasalah
menyanggupi.
21. Hyang Guru menandaskan, yang dirnaksud tunduk akan segala kehendak, ialah
mau menjalani segala perintah, meskipun bagaimana juga penderitaannya
walau sampai mati sekalipun.

XIV. PUPUH PANGKUR

01. Hyang Pramesthi memberitahu, bila ingin mengerti siapa ayahnya, Kamasalah
harus mau bersujud dihadapannya. Kamasalah menyanggupi tetapi ia minta
janji, bila tak dapat menunjukkan Hyang Pramesthi harus mau menjadi
mangsanya.
02. Hyang Guru Nata mengabulkan permintaan Kamasalah, bila tidak dapat
menunjukkan dia mau dimakan. Kamasalah berlutut dan bersujud.
03. Yang Jagad Nata cepat menarik rambut Kamasalah, putus dua helai rambutnya,
Kamasalah melihat keatas, menampakkan giginya. Kemudian dicabut dua buah
taringnya, bibiinya disobek.
04. Bisa yang ada dalam taring dikeluarkan, ditaruh didalam Wadah air
Kamandanu. Taring itu berubah bentuk jadi senjata limpung, dinamai limpung
Jenggala. Dua pusaka itu masing masing beratnya tujuh kwintal. Dua helai
rambut yang putus itu berubah menjadi batu hitam.
05. Hyang Guru berkata kepada Kamasalah, ia diberi nama Sang Hyang Kala.
Kamasalah menerima baik pemberian nama itu. Hyang Guru sedikit marah
kepada Bethari Uma. Sebaliknya Bethari Uma juga agak marah kepada Hyang
Pramesthi. Tengkar mulut terjadi.
06. Uma ditangkap dan diangkat dalam kedudukan kaki diatas kepala dibawah.
Bethari Uma memekik sambil menangis, air matanya bercucuran, berjatuhan
bagaikan hujan. Dewi Uma berubah wajahnya, jadi raksasa wanita. Ia berganti
nama Bethari Durga. Bethari Durga dan Bethara Kala diperintahkan oleh
Hyang Pramesthi keluar dari Jonggring Saloka.
07. Keduanya diperintahkan menduduki Nusa Kambangan sebagai tempat
tinggalnya hidup damai disana. Karena menaruh marah, sekali peristiwa Hyang
Guru, menyuruh putranya yaitu Bethara Bromo dan Bethara Wisnu
memusnahkan Bethari Durga dan Bethara Kala yang dipandang sebagai
pengotor bumi. Jangan ketinggalan Lembuculung beserta pengikutnya diikut
sertakan.

41
08. Para Bethara yang mendapat tugas mengindahkan perintah itu. Mereka
menyembah lalu berangkat ketempat raksasa bertempat tinggal. Ampat puluh
orang raksasa berhasil dapat ditumpas.
09. Tinggal seorang raksasa yang menyerah. Ia bernama Puthut Jataka. Dia
mengambil jalan hidup baru sebagai pendeta, bertapa digunung Gohkarna.
Setelah selesai tugasnya, Bethara Bromo dan Bethara Wisnu kembali ke
Kahyangan melaporkan keberhasilan menjalani tugasnya.
10. Pada suatu ketika Yang Guru melihat ditengah samodra terdapat sinar
cemerlang, lalu bertanya kepada para Dewa : sinar apakah itu gerangan. Para
Dewa tak dapat memberi keterangan.
11. Hyang Pramesthi segera menyuruh kepada Bethara Temburu, mengamati apa
yang terjadi sehubungan dengan cahaya yang terdapat ditengah samodra
tersebut. Yang Temburu mengindahkan perintah. Ia berangkat menuju
kesamodera yang ditunjuk.
12. Disana Bethara Temburu melihat seorang yang sedang menjalani bertapa. Ia
kembali menghadap Hyang Pramesthi. Tiba dihadapan Yang Guru ia
memberitahukan bahwa disamudera itu terdapat seorang yang sedang bertapa.
13. Yang Temburu menyatakan, bahwa orang pertapa itu meskipun terendam
dalam air, badannya tiada basah. Maka Hyang Pramesthi segera memerintahkan
kepada para Dewa agar mengusik petapa yang sedang tekun menjalani tapanya
itu. Beramai ramai para Bethara dan Bidadari menuju ketempat pertapa sakti
itu.
14. Perjalanannya berining iring menuju kesamudera yang bercahaya tersebut.
Disana ia melihat Sang Tapa duduk hening, membisu, membatu.
15. Meskipun telah lama para Dewa ada didepan Sang Tapa, namun sepatah
katapun tiada mendapat tegur sapa. Mereka menganggap pertapa itu bersikap
angkuh. gumam mereka : adat kebiasaan, dimana pun ada tamu datang, pasti
pemilik rumah menyampaikan tegur sapa. Lebih mulia lagi bila menyajikan
kapur sirih.
16. Para Bethara mengumpat sikap angkuh dari Sang Tapa. Mereka merasa sangat
dihina. Bethara Siwali menyatakan bahwa ia diperintahkan oleh Hyang Jagad
Nata datang ditempat Sang Tapa.
17. Kedatangannya disuruh memintakan obat mujarab untuk permaisuni Yang
Guru Nata yang sedang dalam keadaan gering. Namun Sang Tapa tak
menjawab sepatah kata pun. Ia dicubit pipi dan mulutnya dari kanan dan dan
kiri. Benganti ganti para Dewa mengajak bicara, namun tak muncul kata
sepatah jua.
18. Kemudian Hyang Bromo marah. Ia mencaci maki, Puthut Jantaka tak mau
menerima perlakuan baik dari para Dewa. Para Dewa mengumpat bahwa
Puthut Jantaka menempati wilayah kekuasaan Hyang Pramesthi tanpa seizin,
untuk tempat bertapa. Mereka memperingatkan. bahwa tak akan diridoi. Dia
menjadi pertapa liar.
19. Hyang Sambu datang sambil menjinjing gendi penuh air. Sang Tapa diguyur
dengan air gendi itu, tetapi tubuhmya tidak basah, Hyang Candra marah juga. Ia
memegang tongkat Sang Tapa dipukulnya berkali kali, namun Sang Tapa tetap
membatu, tak ada selembar bulu roma pun yang lepas dan kulitnya.
20. Bethara Bayu datang menyerang, Puthut Jantaka ditangkap, diangkat tinggi
tinggi, diempaskan diatas batu karang. Batu karang batu karang tempat Puthut
Jantaka diempaskan, pecah berantakan menjadi tujuh bagian, Sang Tapa tetap
tak terusik. Hyang Bromo melafalkan mantera keramat. Lalu datanglah nyala

42
api yang amat besar dan tinggi bagaikan membakar langit. Namun api tak
mampu membasmi Sang Tapa.
21. Perkiraan para Dewa, pasti Sang Kanekaputra hangus musnah ditelan api. Api
lama kelamaan mereda. Terus mereda, akhirnya padamlah api yang mengganas
itu. Setelah api padam seluruhnya, nampaklah Sang Tapa rnasih utuh dalam
keadaan tepekur. Sang tapa bertambah cemerlang cahaya, sebagai emas yang
habis digosok.
22. Para Dewa mengangkat senjata. Ada yang memegang senjata Cakra, senjata
Kunta, peralu, panah piling, nenggala, tombak, gada, trisula diarahkan ketubuh
Sang Tapa namun tiada yang mengenai tubuh Sang Tapa.
23. Para Bethara menderita malu karena tak berhasil mengganggu tapa Puthut
Jantaka. Mereka kembali menghadap Hyang Pramesthi, melaporkan bahwa
tugas yang diberikan oleh Hyang Guru tidak berhasil. Sang Tapa sungguh sakti.
24. Mereka berkesal hati. Banyak akal usaha untuk menggagalkan tapanya Sang
Pertapa, tetapi tetap teguh tak tergoyahkan sikap Sang Tapa. Kemudian Hyang
Pramesthi sendiri berhasrat akan menggagalkan pendirian dan tujuan Sang
Tapa. Segera berangkatlah Hyang Pramesthi.
25. Tak terceriterakan bagaimana perjalanan Hyang Guru Nata. Sekejap mata, telah
tiba didepan Sang Tapa. Hyang Guru menanyakan : apa yang menjadi tujuan
bertapa itu. Diminta agar Sang Tapa suka mengatakan. Bila menghendaki
kawin, Hyang Guru akan mengabulkan.
26. Dikatakan oleh Hyang Jagad Nata bahwa padanya memiliki banyak putri
remaja yang cantik jelita. Lagi pula mereka rajin rajin bekerja Sang Tapa
dipersilakan mengamati dan memilih menurut kepuasan seleranya. Sang Tapa
tetap tak melepaskan tapanya. Yang Guru menyambung penibicaraannya.
27. Dia mengutarakan tebakan kehendak dari Sang Tapa yaitu ingin menyamai
kedudukan serta kekuasaan Yang Jagad Nata. Oleh Hyang Pramesthi : tak
mungkin maksud itu dapat terkabulkan sebab memang asal kedudukkannya
berlainan.
28. Yang Guru Nata menyatakan meskipun Hyang Kaneka Putra bertapa sampai
seribu tahun sekalipun tak akan mungkin menyamai wibawanya. Meskipun ia
tak perlu bertapa. Telah ditakdirkan menjadi raja dari sernua Dewa.
29. Tiada yang melebihi tuanya selain teja dan cahaya wening. Ada lagi yang lebih
tua ialah Sang Hyang Wening Wasesa. Sang Kaneka Putra tertawa terbahak
bahak. Ia menyatakan bahwa semua hal yang diceniterakan itu, ia telah tahu.
30. Sang Kaneka Putra memberikan salam kepada.Hyang Pramesthi. Dia telah
mengetahui juga bahwa yang berhadapan muka adalah Yang Pramesthi
Guru,yang berkuasa atas segala Dewa. Kalau hanya tahu mengenai Hyang
Wening Wasesa saja, masih belum sempurna wibawanya.
31. Hyang Kaneka Putra katakan masih kurang sempurna wibawanya bila masih
senang berbuat salah, tak mengerti bahwa perbuatan itu keliru. Salah pikiran
dan salah perbuatan akan mendapat hukuman dari Hyang Wening Wasesa.
32. Hyang Kanekaputra mengajukan beberapa pertanyaan menjajaki pengertian
Hyang Jagad Nata. Sewaktu alam semesta masih bersifat alam hampa, belum
ada isi apa yang ada lebih dahulu. Dijawab : hanya suara gaib, yaitu suarajati
dari Hyang Wisesa. Itu suatu bukti telah adanya kekuasaan.
33. Siapa yang berkuasa itu. Yang Praimesthi tak dapat memberikan uraian
selanjutnya. Diminta oleh Hang Pramesthi mau, menjelaskannya. Ia berkakak
kepadanya

43
34. Hyang Kaneka diminta oleh Hyang Pramesthi, suka diajak ke Inderaloka,
dipercayakan menguasai dan mengatur para Dewa sebagai, imbangan dan
kekuasaan Hyang Pramesthi. Hyang Giri Nata memerintahkan agar patuh dan
tunduk kepada Hyang Kanekaputra.
35. Para Dewa mengindahkan perintah Hyang Pramesthi itu. Hyang Kaneka
menyambung penjelasan : apa yang terjadi dialam semesta ini serba
berpasangan. Maka maksud Hyang Wasesa memberikan kedudukan guna
mengimbangi kedudukan Hyang Giri Nata.
36. Seperti halnya yang terjadi, atas berpasangan dengan bawah, utara dan selatan,
barat dan timur, laut dengan daratan, api dengan air, gelap dengan terang, siang
dengan malam, matahari dengan bulan, bintang tak mempunyai pasangan.
37. Laki laki dan perempuan, ayah dengan ibu, kakek dengan nenek, paman dengan
bibi, cantik dengan buruk, uwak tiada pasangannya.
a. Telah menjadi takdir Hyang Wasesa Wening, Sang Kanekaputra menjadi
pendamping kekuasaan dari Hyang Guru Nata. Sang Kanekaputra lalu diajak
naik ke Surgalaya. Hyang Kaneka mengindahkan.
38. Perjalanan Hyang Guru Nata diikuti Sang Kaneka tak dikisahkan. Keduanya
telah sampai di Balai Marcukunda. Disana Hyang Pramesthi sangat
memperhatikan mengapa tangan Sang Kaneka selalu menggenggam.
39. Bertanyalah Hyang Pramesthi kepada Hyang Kaneka, mengapa tangan anda
selalu tergenggam. Tak pernah terurai. Dijawab oleh Yang Kaneka, bahwa
didalam genggamannya terdapat Retna Dumilah, Retna Dumilah adalah raja
dari segala mutu manikam.
40. Keramat dan kesaktian dari Retna Dumilah dapat merubah keadaan, kebal dari
lapar dan kantuk, kebal dari basahnya air, kebal dari panasnya api. Hyang
Pramesthi mengharap penyerahan pusaka Retna Dumilah, ia ingin mengetahui.
41. Hyang Kaneka memberitahukan bahwa Retna Dunulah sakti dan tajam. Ia tak
dapat ditangkap. Bila dipegang mudah dapat lolos, atau menghancurkan tangan.
Hyang Pramesthi minta segera diserahkannya Retna Dumilah.
42. Sang Kanekaputra segera mengabulkan permintaan Hyang Pramesthi, Retna
Dumilah segera diserahkan diikuti peringatan agar bersikap hati hati. Retna
Dumilah akan dilempar keatas : diminta Yang Guru supaya menyambut dengan
kedua belah tangannya.
43. Dari atas Retna Dumilah meluncur kebawah, lalu disambut Hyang Pramesthi
dengan kedua belah tangannya, tetapi dapat lolos dari tangkapan.
Lepas dari tangan Hyang Pramesthi, dapat ditangkap Yang Sambu, tetapi Retna
Dumilah yang ditaruh dalam astagina itu terlepas juga. Berturut turut
bergantian para Dewa menyambut Astagina/Cupu Astagina tetapi selalu dapat
lolos lepas.
44. Yang Kamajaya menyambut tetapi segera lolos. Yang Wisnu segera
menangkap tetapi lepas juga. Sang Hyang Bayu menangkap juga lepas. Hyang
Bayu menangkap dari bawah, lolos, diterima Hyang Bromo lepas lagi.
45. Berturut turut oleh Yang Citragatra, Hyang Kuwera, Emprit Anjala, tak ada
yang berhasil menangkapnya, terus saja lepas sampai dibawah bumi.
46. Sang Hyanq Pratiwi menangkap dari bawah tetapi lepas juga lolos kebawah
sampai bumi kedua. Begawan Kusika cepat menangkap dari bawah tetapi tak
dapat dikuasai sampailah kebumi ketiga. Sang Hyang Gagang Aking
menangkap dari bawah lepas juga terus kebumi keempat.

44
47. Yang Cindula tampil menerima dari bawah, terlepas. Segera ditangkap Hyang
Dherampalan dari bawa, namun lolos juga, terus menerobos sampai bumi
keenam.
48. Diterima Yang Manikara namun lolos juga sampai bumi ketujuh. Hyang
Antaboga menangkap mulutnya menganga.
Retna Dumilah masuk kemulut Antaboga, mulutnya berbau harum. Cupu
berjalan kedalam perut terus keekor.
49. Setiba diekor cupu membuka dan bersuara menggelegar, seperti suara benda
berat jatuh didalam air. Hyang Antaboga menutup mulutnya.
50. Tertidurlah Hyang Antaboga. Alkisah sehilangnya Retno Dumilah, Hyang
Pramesthi berkata kepada Hyang Kanekaputra
51. Menanyakan selanjutnya bagaimanakah kehendak anda setelah hilangnya
Cupumanik Astagina yang berisi Retno Dumilah. Dijawab ia akan mengadu
kepada Sang Hyang Wenang dan akan dicari walaupun sampai bumi ketujuh.
Hyang Pramesthi diajak serta Hyang Pramesthi menyanggupi.
52. Hyang Guru Nata menyatakan lebih lanjut: sia sia jika kembali sebelum
menemukan benda yang hilang itu. Hyang Pramesthi bersedia mengikuti usaha
pencarian Cupumanik sampai terdapat. Para Dewa diperintahkan ikut serta
semua.
53. Perjalanan mereka sangat cepat tiba dibumi kesatu. Yang Pratiwi
menyeyogyakan terus saja bumi kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam
akhirnya sampai kebumi ketujuh Para Dewa pengikut tetap mengikuti jejak
Hyang Guru dan Hyang Kanekaputra.
54. Setiba dibumi ketujuh Yang Kaneka bertemu dengan Hyang Antaboga sedang
tidur. Yang Antaboga segera dibangunkan. Dengan agak terkejut ia bangun
55. Serta sesudah bangun Hyang Kaneka menyatakan kedatangan para Dewa ini
diperuitahkan oleh Hyang Pramesthi menyampaikan kehendak Hyang Wasesa
minta nyawa Antaboga. Ia sendiri juga berkepentingan diperintahkan mencari
pusaka untuk Hyang Pramesthi yang bernama Retno Dumilah.
56. Hyang Kaneka menanyakan: adalah kiranya Hyang Antaboga tahu. Jika anda
dapat menemukan, akan diberi karunia yang tinggi nilainya. Ia akan diangkat
mengepalai Dewa Dewa yang ada dibumi ketujuh.
57. Yang Antaboga berkata dalam hati: ingin mencoba Dewa ( kesaktian). Maka
dijawabnya: memang betul Retno Dumilab berada disitu.
58. Dinyatakan Retno Dumilaii yang berada didalam cupu manik Astagina telah
bersenyawa dengan dia, tak dapat dipisahkan. Karena itu bila diminta, harus
bersama sama dengan tubuhnya. Karena ia sendiri tak mampu datang sendiri di
Surgaloka, maka ia minta diangkut oleh para Dewa.
59. Yang Kanekaputra berkata dengan marah, menyatakan bahwa semua katanya
itu tidak nyata. Mana mungkin para Dewa mengangkat tubuh Antaboga yang
seberat bumi itu. Yang Kaneka minta agar Antaboga berjalan sendiri.
60. Antaboga tiada menjawab: ia melingkarkan badannya, terus tidur. Tidur pulas
seperti meninggal. Tetapi denyut dan pernafasan masih berjalan terus. Ia telah
mengenyampingkan rasa, karsa, serta rasa takut.
61. Yang Kanekaputra bertanya mengapa ia pura pura tidur. Yang Wisnu tahu apa
sebenarnya yang dikerjakan oleh Antaboga itu. Itu hanyalah cemooh belaka,
sebaiknya dipaksa saja.
62. Yang Kaneka merasa dihina, panas hatinya. Lalu menyerahkan kepada para
Dewa datang mengeroyok sambil berkata perkelahian yang akan terjadi mudah
diatasi, umpama mentimun melawan durian.

45
XV. SINOM

01. Yang Kaneka mengingatkan kepada para Dewa : Jangan tinggal diam. Mereka
diajak memasuki perut Antaboga, karena tak dapat diangkut. Karena besar dan
panjangnya, dikatakan: tubuh Antaboga yang melingkar itu dikatakan
melingkar bumi dengan sempurna.
02. Lubang hidungnya ada sembilan puluh buah. Masing masing panjangnya dua
bulan perjalanan. Keajaiban takdir tak dapat diduga. Tingkah laku para Dewa
didalam perut lalu lalang.
03. Mereka menyusur sepanjang tubuh ntaboga, mengamati dengan teliti kalau
kalau Retno Dumilah disembunyikan dalam tubuh, tetapi tiada terdapat. Para
Dewa menjadi amat marah. Mereka bemaksud hendak membunuh Sang
Antaboga.
04. Karena banyaknya yang ada didalam tubuh Antaboga, maka rongga tubuh
Yang Antaboga jadi penuh sesak. Mereka tak dapat bergerak bebas bahkan
sering terjadi kesalah pahaman antara mereka. Yang Temburu berselisih
dengan Yang Kuwera. Bethara Condro datang melerai. Tetapi lebih dahulu
Bethara Temburu telah terpental
05. Yang Condro berteriak teriak mengatakan ditempat itu. Retno Dumilah
tersembunyi. Para Dewa membantu mencarinya.
Yang Antaboga menggeliat geliatkan tubuhnya. Para Dewa yang ada dalam
perut Antaboga terbalik balik. Yang Temburu dan Yamadipati berteriak teriak
kesakitan. Dalam keributan itu Yamadipati memijit mijit bulatan kemaluan
Temburu, sambil menyerukan : ini dia Cupumanik Astagina. Yang Temburu
hanya membelalak kesakitan. Bethara Wisnu mengumpat para Dewa karena
berbuat tolol, dapat dipermainkan oleh Antaboga. Para Dewa merasa malu.
06. Yang Kanekaputra menghina, kalian tak ada yang memiliki kesaktian. Yang
Kaneka menasihatkan agar tubuh Antaboga diangkat bersama sama ke
Inderaloka. Cara mengangkutnya seperti ketika para Dewa mengangkut gunung
Jamurdipa.
07. Hyang Bromo dijadikan salang. Yang Endra dijadikan tali. Bethara Bayu
dijadikan kayu pemikul. Yang Wisnu yang memikul. Tubuh Antaboga telah
diletakkan diatas salang, kemudian diangkat bersama. Jalannya amat laju.
08. pm.
09. Perjalanannya melewati angkasa. Pada saat dipikul itu tubuh Antaboga
berangsur angsur mengecil. Kian lama makin mengecil, sampai akhirnya tidak
nampak, hilang dari pemandangan. Yang Kanekaputra menjadi sangat marah.
10. Ia merasa dipermainkan oleh Antaboga, merasa dibuat malu. Dia betul betul
malu. Hal tersebut akan dilaporkan kepada Hyang Pramesthi, akan dilaporkan
kejelekan kejelekan yang diperlakukan oleh Antaboga. Perjalanan Yang
Kaneka amat cepat. Sebentar saja sampailah ia didepan Yang Jagad Nata.
11. Baru saja Yang Kaneka akan melaporkan kejelekan kejelekan Antaboga,
ternyata yang akan dilaporkan itu telah menghadap Hyang Pramesthi,
kepalanya dijadikan tempat duduk. Dengan menunjuk kepada Yang Antaboga,
Yang Kanekaputra mencaci maki.
12. Dikatakan bahwa terlalu berani Antaboga menghina dan membuat susah
kepada para Dewa. Mungkin dia berperasaan tiada orang sakti kecuali Yang
Antaboga. Yang Pramesthi meredakan kemarahan Yang Kaneka, menyatakan

46
bahwa Antaboga telah mengakui kesalahannya didepan Hyang Guru Nata.
Maka kesalahan Antaboga itu dimintakan maaf oleh Hyang Pramesthi kepada
Hyang Kanekaputra serta para Dewa.
13. Yang Kaneka menghentikan kemarahannya, Hyang Jagad Nata lalu
memerintahkan kepada Antaboga, untuk lekas lekas mengeluarkan Retno
Dumilah. Antaboga lalu menyerahkan Cupu manik kepada Hyang Pramesthi
bagaimanapun juga Hyang Jagad Nata membuka cupu itu, tiada juga dapat
terbuka.
14. Cupu lalu diserahkan kepada Yang Kanekaputra, untuk dibukanya. Yang
Kanekaputera berusaha membuka dengan segala akal dan kekuatannya, nanun
Cupu tiada juga terbuka. Sesudah jelas ia tak dapat membuka Cupu tersebut,
lalu diserahkan kepada Bethara Wisnu untuk dibuka.
15. Berganti ganti para Dewa berusaba membuka Cupu manik dengan segala akal
dan upaya, namun tiada juga dapat terbuka. Hyang Pramesthi lalu bertanya
kepada Yang Kaneka : bagaimana usaha selanjutnya.
16. Jawabnya: karena Cupu itu ada pemiliknya maka diserahkan saja kepada
Antaboga, biar dia yang membukanya. Tentu ia dapat : Hyang Pramesthi lalu
memerintahkan kepada Antaboga membuka Cupu manik. Antaboga menjawab
: bahwa ia sekedar sebagai pemilik saja. Dapat dan tidaknya membuka cupu itu
dia tak dapat memastikan.
17. Hyang Pramesthi diam sejenak memusatkan segala perhatiannya, mohon
kepada Hyang Wasesa Tunggal restu dapat membuka Cupu manik. Cupu
ditarik diatas telapak tangan lalu diempaskan kebawah, Cupu hancur lebur tidak
kelihatan. Semusnah Cupu itu, tedapatlah seorang anak kecil perempuan, indah
jelita wajahnya. Besar dan usianya biasa orang mengatakan usia baginda putra.
18. Bersamaan dengan hancur leburnya Cupu manik, terjadilah sinar indah merata
diseluruh Balai Marcukunda. Oleh Hyang Pramesthi anak perempuan itu diberi
nama Dewi Trisnawati. Sehari hari Dewi Tisnawati selalu :bermain di Balai
Marcukunda atau Balai Marakata.
19. Lama kelamaan Dewi Tisnawati menginjak usia remaja., Wajahnya kelihatan
tambah cantik molek, mengimbangi wajah Uma dan Ratih. Sinar wajahnya,
cerah cemerlang bagaikan sinar bulan purnama. Siang dan malam wajah
Tisnawati selalu terbayang dirongga mata Yang Jagad Nata. Dewi Tisnawati
dijadikan dayang dayang agar selalu berdampingan dengan Hyang Jagad Nata.
20. Usia Dyah Tisnawati mencapai empat belas tahun. Hyang Jagad Nata amat
tertarik akan wajah sang Ayu Tisnawati sehingga lupa kepada Dewi Uma.
Setiap saat Dewi Tisnawati selalu mengganggu lubuk kalbunya,
membangkitkan rasa asmara. Hyang Guru bermaksud meperistri Kusuma
Trisnawati.
21. Kata kata yang ditujukan kepada Sang Ayu selalu manis semanis madu. Puji
sanjung selalu ditujukan kepada tubuh Sang Rupawan dari ujung rambut
sampai ujung kaki. Dyah Trisnawati menyambut dengan rasa terima kasih
sebesar besarnya atas puji sanjung buat dirinya itu.
22. Bila dengan sungguh sungguh Hyang Pramesthi menghendaki atas dirinya,
Dyah Trisnawati mengajukan tiga sarat permohonan. Hyang Jagad Nata
menyanggupi persyaratan apapun yang akan disodorkan. Sang Ayu segera
menyatakan persyaratan tersebut. Yaitu : pertama, sandang busana yang tak
pernah usang, kedua : jenis makanan yang bila sekali makan, selamanya tak
akan merasa lapar, ketiga : mohon tabuh tabuhan sembarangan tetapi selalu
mengasyikkan suara rasanya.

47
23. Hyang Pramesthi menyanggupi itu semua. Ia menyuruh Byang Citragatra,
memanggil karma maninya yang berganti ujud menjadi Kalagumarang, yang
dipercayakan mengasuh putera Yang Guru Nata, bernama Yang Kala,
menempat di Nusakambangan.
24. Yang Citragatra telah berangkat ke Nusakambangan. Perjalanannya amat laju,
dalam waktu singkat telah bertemu dengan Yang Kala. Kepada Yang
Kalagumarang telah disampaikan pesan Hyang Pramesthi minta
kedatanganYang Kala dengan diantar oleh Kalagumarang. Akhirnya
berangkatlah keduanya mengikuti Yang Citragatra menuju ke Balai Marcukuda
atau Balai Marakata
25. Setibanya didepan Hyang Pramesthi Guru, Kalagumarang segera berlutut dan
bersujud, kepada Hyang Guru Nata. Hyang Jagad Nata menerangkan bahwa
kepentingan memanggil Kalagumarang itu, akan ditugaskan mengusahakan
mencari pakaian yang tak akan mengalami usang. Kedua mencari makanan
yang sekali dimakan tak akan megalami lapar seterusnya Ketiga mengadakan
tabuhan, asal tabuhan yang suaranya mengasyikkan.
26. ila usaha ini dapat berhasil, namanya akan jadi termashur Kalagumarang
menyanggupi sebagaimana perintah Hyang Pramesthi. Ia minta diri dan segera
berangkat.
27. Sampai diluar Marcu Marakata bertemu dengan para Dewa. Karena dimata para
Dewa diketahui bahwa Kalagumarang itu adalah mani kotor dari Hyang
Pramesthi maka ia sangat dihina Ada yang menghantam, ada yang menendang,
ada pula yang meludahi. Pakaiannya disobek sobek. Para Dewa mengutuk
semoga dalam perujalanan Kalagumarang berubah ujud menjadi marga satwa
dan tak dapat kembali.
28. Bersamaan dengan kutukan itu datanglah deru suara diangkasa yang dahyat.
Serta tahu bahwa Kalagumarang diperintah oleh Hyang Pramesthi mencari tiga
syarat permintaas DyahTisnawati. Bethara Wisnu turun ke Marcapada
menciptakan sebuah negeri dan diberi nama Mendhangkamulan.
29. Sebagai rajanya bergelar Baginda Mangukuhan Permaisurinya bernama
Darmonastiti lalu diciptakan lagi manusia laki laki dan perempuan beratus ratus
sebagai hamba sahaya Raja Mangukuhan.
30. Yang diangkat sebagai Patih, adiknya sendiri bernama Jaka Puring. Sejak itu
berganti alam ke Dewaan menjadi alam manusiawi. Negeri Medhangkamulan
menjadi negeri yang makmur sejahtera. Lama berdirinya hingga seribu tahun.
31. Mulai saat itu dibumi terdapat makhluk berujud insan dan roh halus, yaitu jin,
roh halus yang memuliki sifat baik dan roh halus jahat yang disebut
berkasakan. Roh halus wanita disebut peri prayangan Kerajaan
Medhangkamulan itu kerajaan insani yang mula mula. Bethara Wisnu lalu
menjelma kepada Sri Mangukuhan .
32. Sungguh indah istana kerajaan Mendhangkamulan. Alam sekitar negeri masih
berujud hutan rimba belantara. Mengulangi kisah perjalanan Kalagumarang
yang mendapat tugas dari Hyang Pramesti, sampailah ia ditanah Banjaransari.
Dia melihat tubuh gemulai dari Dewi Sri yang sedang menikmati mandi
seorang dir ditaman pemandian. Kalagumarang tak mampu menahan gejolak
nafsu asmaranya.
33. Betapa ngerinya Dewi Sri melihat wajah Kalagumauang yang menakutkan itu.
Cepat cepat Dewi Sri lari menuju ketempat Sang Wisnu berada. Karena tergesa
gesa lari Pakaian Dewi Sri tertinggal ditaman tidak dihiraukan. Tiba dihadapan

48
Sang Wisnu, Dewi Sri segera bersujud. Hyang Wisnu minta agar Dewi Sri
menceriterakan apa yang baru saja dialarni.
34. Dewi Sri mulai mengisahkan pengalaman waktu sedang mandi ditaman
Banjaransari. Pada saat sedang asyiknya. Dewi Sri mandi ditaman pemandian,
tiba tiba seorang raksasa berwajah mengerikan datang mendekati degan maksud
jahat. Maka dengan tanpa berpikir panjang ia lari, dalam keadaan busana tidak
sempuma, karena dikejar oleh rakasa itu. Tengah diceritakan raksasa tersebut
telah datang seraya bertanya. Siapa pemilik rumah itu
35. Dengan penuh rasa ketakutan ia tiba didepan Sang Wisnumurti. Mukanya pucat
pasi, tubuhnya lemah tak berdaya.Tak lama antaranya disusul kedatangan
Kalagumarang, sambil menanyakan siapa memiliki istri yang cantik jelita yang
mandi d taman pemandian itu tadi. Sang Wisnu menjawab dialah suaminya.
36. Kalagumarang mengatakan ini merampas hak istrinya. Sang Wisnu menyatakan
tidak berkeberatan asal yang bersangkutan suka menanggapi, bila tidak jangan
berani memaksa Kalagumarang minta agar SangWisnumurti mau menanyakan
keinginan tersebut.
37. Yang Wisnu lalu rnemanggil Dewi Sri, Setelah menghadap bertanyalah Yang
Wisnu, maukah Dewi Sri diperistri oleh Kalagumarang. Bila mau menerima
permintaan tersebut, Dewi Sri akan berbahagia karena bersuami pria yang
ditakuti orang. Dia adalah putraSang Hyang Jagad Nata
38. Dewi Sri rnenoak. kehendak Kalagumarang. Dia pantang menyerahkan dirinya.
Bila dipaksa lebih baik ia mati dikalang tanah. Betara Wisnu menyampaikan
pernyataan dari Dewi Sri bahwa ia tak mau menerima kehendak Kalagumarang.
39. Yang Kala mengatakan, telah menjadi kebiasaan, seorang wanita yang diminta
menerima akan perkawinan dari seorang pria, meski dalam halrnya mau, tetapi
pada pengutaraannya pura pura tidak mau. Sang Wisnu lalu memberi isyarat
agar istrinya lari menuju kenegeri Mendhangkamulan Disana dinasehatkan
supaya merasuk kebadan permaisuri Baginda.
40. Dewi Sri mengindahkan petuah Sang Wisnu. Bethara Wisnu melenyapkan diri
dari pemandangan. Kalagumarang menjadi amat marah. Kemaaa saja Dewi Sri
lari, selalu saja dikejar oleh Kalagumarang. Hampir saja Dewi Sri dapat
tertangkap. Bethara Wisnu tahu akan hal itu. Segera mengambil panah
dibidikkan kepada Kalagumarang.
41. Selepasnya anak panah itu berubah menjadi akar rotan, lalu mengikat tubuh
Kalagumarang, akhirnya jatuh bergelimpangan. Dalam berlari lari itu Dewi Sri
mencaci maki, dikatakannya bertabiat seperti babi rusa. Berubahlahujud
Kalagumarang bertubuh sebagai babi hutan
42. Ia tak dapat berdiri sepeti manusia melainkan berdiri dan berjalan seperti
binatang berkaki empat. Dia ingin membuktikan melihat kedalam air, ingin
tahu bagaimana bentuknya sekarang. Ternyata badannya berubah menjadi
babihutan. Ia meratap didalam hati. Meskipun telah berubah menjadi babi
hutan, ia tak akan melepaskan maksudnya.
43. Dewi Sri tetap dalam pengejaran babi hutan. Tiba di Mendhangkamulan, Dewi
Sri lalu merasuk kepada tubuh permaisuri Baginda. Baginda Mangukuhan,
yaitu Dewi Dermanastiti. Pada saat itu Kalagurnarang tak tahu lagi dimana
Dewi Sri berada.
44. Dia mencari kemana mana, meonat loncat untuk melampaui pematang tetapi
tidak berhasil. Bethara Wisnu segera mengambil.bambu runcing, selalu siap
ditangannya. Tatkala Kalagumarang melompat pematang. Bambu runcing

49
Bethara Wisnu tepat diarahkan keperutnya. Menyemburlah darah dari perut
Gumarang yang terkena bambu runcing Sang Wisnu.
45. Darah yang menyernbur itu berubah menjadi aneka serangga, hama tanaman
sawah. Ada hama wereng, barmacam macam belalang. Tubuh Gumarang
menjadi hama menthek, perusak tanaman tanaman padi yang sedang turun buah
menghijau
46. Bethara Wisnu lalu merasuk pada tubuh Baginda Mangukuhan. Beliau Raja
Jawa yang pertama kali. Alkisah Sang Hyang Guru telah mendengar berita
bahwa utusannya telah berubah perujudannya. Sang Hyang Guru tidak
rnenaruh sabar hati lagi.
47. Kusuma Tisnawati dihujani banyak ciuman. Kelihatan gerak geriknya gejala
gejolak nafsu sanggama. Kusuma Tisnawati menyampaikan kata kata pereda
nafsu asmara kepada Hyang Guru Nata. Diharap kesabaran dari Hyang Jagad
Nata menanti sampai datang utusan yang ditugaskan mencari tiga persaratan.
48. Hyang Pramesthi sangat mengharap tanggapan kasih mesra dari Dewi
Tisnawati. Bertubi tubi Sang Dyah itu diciumi. Dyah Tisnawati mengingatkan
ia akan mati dalam ambinan. Hyang Pramesthi bila ia tak dapat menahan
nafsunya. KataDewi Tisnawati betul betul terjadi.
49. Melihat kejadian itu, Hyang Pramesthi jadi sadar diri menyesali perbuatannya.
Ia lalu memanggil Yang Kanecaputra, diperintahkan membawa jenazah Dewi
Tisnawati ke Marcapada, dinegeri Mendhangkamulan didalam hutan
Krendhawahana.
50. Hutan yang akan dijadikan tempat mengebumikan diperintahkan menebangi.
Batang batang tebangan itu disuruh keringkan oleh Sang Hyang Surya,
selanjutnya Hyang Bromo ditugaskan untuk membakar. Setelah cukup
mengetahul perintah Hyang Pramesthi segera berangkat kehutan
Krendhawahana, ditempat yang direncanakan untuk mengebumilkan.
51. Hutan telah ditebangi. Ditempat itu dibuat lubang lahat. Termpat kuburan. Ken
Tisnawati diberi berpagar dengan kisi kisinya. Setelah cukup lama jenazah
Dewi Tisnawäti dikebumikan, ditanah tepat arah kepala keluarlah kelapa,
didekat telapak tangan keluar pisang.
52. Dan gigi tumbuh jagung, dari rambut tumbuh padi, dan bulu mata tumbuh
palawija dari kaki tumbuh pala kependem (tanaman umbi umbian yang
terpendam didalam tanah.
53. Sesudah dari tubuh Tisnawati yang terpendam didalam tanah, turnbuh
bermacam rnacam tanaman pertanian, Hyang Kanekaputra lalu datang
menemui Raja Mangukuhan, menyerahkan tumbuh tumbuhan yang tumbuh
dimakam Tisnawati, dengan anjuran bila buahnya telah tua supaya diperbanyak
penanamannya. Ki Buyut dan Ki Tuwa menjadi petani. Ki Pancakut menjadi
pemuka Raden Jaka Puring menjadi Patih
54. Tumbuh tumbuhan yang berasal dari tubuh Dewi Sri telah tumbuh tinggi. Dewa
yang mengikuti Hyang Kaneka, dan menanti sebelah timur laut bernama Emprit
Anjala, sampai sekian lama Hyang Kaneka tak memberi berita. Dalam hati ia
berpikir : kemanakah gerangan kanda Kanekaputra, maka telah cukup lama
tidak meninjau.
55. Dia lalu terbang tinggi. Diantaniksa ia mengamati kebawah nampak sebuah
negeri. Negeri itu adalah negeri Mendhangkamulan. Disana tumbuh bermacam
macam tumbuh tumbuhan pertanian yang telah cukup tua buahnya. Dari
angkasa baunya mernbangkitkan selera Emprit Anjala segera terbang menukik.

50
56. Sampai dibawah, melihat aneka tumbuh tumbuhan, hatinya sangat tertarik.
Namun pada saat itu Yang Kaneka telah tiada. Emprit Anjala lalu kembali naik
ke Kahyangan. Emprit Peking dan Gelatik pengikut Emprit Anjala
ditinggalkannya. Roh Dewi Sri telah bersama sama Roh Tisnawati merasuk
ketubuh permaisuri Baginda Mangukuhan Dyah Dremanastiti.
57. Alkisah burung Gelatik dan Emprit Peking telaih turun, makan buah padi
dengan lahapnya. Petani mengetahui itu lalu menghalau, dilempari dengan
batu. Burung burung itu beterbangan lalu hinggap dipohon pohon disekitarnya.
Dimana terdapat kelengahan si petani mereka turun lagi makan bulir bulir padi.
58. Ki Cakut melaporkan kerusakan hasil padi karena dimakan oleh burung burung
kecil kepada Jaka Puring. Segera JakaPuring datang mernbantu menghalau
burung burung kecil. Dilemparinya dengan batu, tiada yang terkena. Mereka
beterbangan hinggap dipohon pohonan.

XVI. DHANDHANGGULA

01. Berulang kali burung burung itu bila dilempari, mereka beterbangan lalu
hinggap bertampung dipohon. Pohon itu dinamai oleh Jaka Puning pohon
nanggung berarti bangunan tempat menunggu. Bila dilempari mereka terbang
lalu hinggap dipohon enau, menanti kelengahan petani, kemudian menyerang
kembali buah padi.
02. Kalau masih juga menjadi tempat penampungan burung burung hama padi.
Jaka Puring memerintahkan agar bunga enau itu diraut, dipancung. Batang enau
masih menjadi tempat penampungan burung burung emprit dan gelatik. Maka
petuah Jaka Puring itu diaksanakan serta mayang enau dipancung, keluar
cairan, lalu dicicip, rasanya manis sekali. Ki Tuwa segera memotong bambu
pada sesisi ruas. Ruas yang lain tidak terpotong. Air yang terus menerus dari
mayang enau ditampung didalam tabung bambu.
03. Air mayang yang tertampung dalam tabung itu dibiarkan semalam didalani
tabung. Air itu dinamai air nira. Tabung nira itu dibuka sumbatnya, lalu
diserahkan kepada Jaka Puring. Bau niranya semerbak membangkitkan selera
Jaka Puring menyatakan supaya nira tersebut dipersembahkan kepada Baginda.
04. Jaka Puring kembali keistana dengan membawa nira untuk dipersembahkan
kepada Baginda. Jaka Puring berdatang sembah, menyatakan bahwa yang
diserahkan Baginda itu adalah hasil sadapan dari mayang batang nibun dalam
wilayah kerajaan Baginda Mangukuhan.
05. Tabung nira segera diterima Baginda, sumbat tabung itu lalu dibuka. Bau nira
tersebut semerbak menyengat hidung. Raja Mangukuhan berkata kepada Yang
Kaneka, mempersilahkan membawa minuman dari nira ke Kahyangan untuk
Hyang Pramesthi. Yang Kaneka telah menerimanya, lalu berangkatlah.
Perjalanannya amat cepat bagaikan kilat.
06. Dalam sekejap mata telah tiba dihadapan Hyang Pramesthi. Hyang Jagad Nata
menyambut dengan salam kedatangan. Ia menanyakan maksud kedatangannya.
Yang Kanekaputra mengatakan, bahwa dipersilakan menyampaikan minuman
nira yang ditaruh didalam tabung oleh Sri Mangukuhan dari negeri
Mendhangkamulan.
07. Hyang Guru Nata mengharap penyerahan dari Yang Kaneka. Setelah ditenima
Yang Kaneka dimintai tolong, membuka tabung tersebut. Pada waktu
membuka sumbat, ada yang memercik dibibir Yang Kaneka, percikan itu dijilat

51
jilatnya, terasa sangat manis. Ia memberitahukan hal itu kepada Yang
Pramesthi, bahwa rasanya sangat manis. Hati Yang Pramesthi agak masgul. Ia
berkata : janganlah bertingkah seperti anak kecil.
08. Yang Kaneka berubahlah bentuk tubuhnya. Semula bagus kemudian menjadi
jelek. Bibirnya tebal, gigi tidak rapi, perut buncit pantatnya menonjol
kebelakang. Bila berbicara tersendat sendat. Ia sangat terkejut akan perubahan
itu. Ia mengambil sebuah cermin. Serta melihat bayangan tubuhnya didalam
cermin amat sedih hatinya. Kemudian mengadu kepada Hyang Pramesthi.
09. Dikatakannya bahwa perubahan tubuh tidak dapat berubah kembali. Itu sudah
menjadi takdir Hyang Wasesa. Yang Kaneka diberi ganti nama Yang Narada,
artinya terdapat ada agak cacat
10. Konon kisahnya, sesudah Dewi Tisnawati jadi dekat pergaulannya denga
Hyang Pramesthi, Dewi Uma merasa dikesampingkan. Ia lalu merasuki kepada
batang padi. Selanjutnya buah padi menjadi makanan para Raja. Dalam hati
Dewi Uma iri terhadap kecantikan Dewi Tisnawati.
11. Adapun Dewi Tisnawati setelah meninggal rohnya merasuk kebatang rumput
gajah. Prasukan itu bermaksud agar buahnya nantinya menjadi makanan para
bangsawan. Tetapi malang baginya, hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Rumput gajah hanya jadi makanan gajah, kendaraan para Raja.
12. Alkisah Puthut Jantaka rnempunyai banyak anak, dalam aneka ujud. Yang
sulung berujud tikus, dinamai tikus Jinada, warnanya putih besarnya sebesar
anjing. Ia merajai segala tikus. Anak yang kedua berujud babi hutan dinamai
Tembalung, merajai semua jenis babi.
13. Hamba sahayanya beratus ratus ribu ekor babi. Anak selanjutnya berujud kera
dinamakan Kuthila. Laskarnya beratus ratus ribu juga. Adik Kuthila berbentuk
kerbau dinamakan Mahesa Danu. Adiknyalagi berujud banteng laki laki dan
perempuan. Adik adiknya lagi ada berujud kijang, ada berujud rusa dinamai
Kirandhil ada bulus dan kura kura.
14. Semuanya kurus kering, disebabkan kurang makan. Siang malam mereka
meratap dan menangis kelaparan, suara tangisnya hiruk pikuk mengadu kepada
ayahnya. Melihat keadaan itu Puthut Jantaka amat iba hatinya. Anak anaknya
dikumpulkan, lalu diberi nasehat. Didalam hutan yang sesepi itu memang
sangat miskin adanya makanan.
15. Diluar hutan ada sebuah negeri yang amat makmur. Hasil makanan tumpah
ruah. diseyogyakan kepada anak anaknya supaya mereka mengungsi kesana
guna menyambung hayat. Mintalah belas kasihan dari hamba sahaya dinegeri
Mendhangkamulan itu.
16. Dengan suara serentak para satwa, itu menyambut gembira nasihat ayahnya itu.
Ia berpesan jangan sekali kali berbuat curang. Makan hasil tanam yang ada
tanpa seijin mereka itu tidak benar. Mintalah belas kasihan dari mereka.
Nasihat dari Puthut Jantaka itu akan diindahkan oleh anak anaknya. Maka
berangkatlah mereka menuju negeri Mendhangkamulan.
17. Keberangkatannya disertai hujan lebat serta topan badai. Mereka berjalan
berkejar kejaran, amat cepat, secepat kilat. Tiba dinegeri Mendhangkamulan,
tepat waktu tengah malam. Penduduk negeri telah sama sama tidur nyenyak.
Telah menjadi watak dari raksasa dan saat yang sedang kelaparan, bila melihat
makanan mereka melahap dengan rakus.
18. Tingkah para rakaasa seenaknya saja, renggut sana, renggut sini, berguling
guling, merusakkan tanam tanaman. Datangnya tikus dan kera serentak masuk
kenegeri Mendhangkamulan, suaranya bagaikan angin kencang dimusim

52
ketujuh. Udara dalam keadaan mendung kelam. Maka penduduk negeri tidur
dengan pulas.
19. Hanya Ki Tuwa yang terbangun, terkejut mendengar suara menderu deru. Ia
segera keluar rumah, membawa. pelita dan parang ditangannya kanan kiri.
Betapa terkejutnya Ki Tuwa ada babi datang menyerang.
20. Ki Tuwa menghindar kekiri sambil mengayunkan parangnya tepat mengenai
kepala babi hutan, namun tak mampu melukai bahkan parang Ki Tuwa patah.
Dia berteriak teriak minta tolong. Orang orang tetangganya terbangun. Mereka
bangkit menuju tempat datangnya teriak, siap dengan penyuluh dan senjatanya.
Jaka Puring, Ki Buyut, Ki Cakut dan Ki Paniron datang membantu. Ada yang
membawa canggah, rantai, geranggang (bambu runcing), cula, tornbak. Karena
banyaknya penyuluh, terangnya bagaikan siang hari.
21. Semua binatang menyerang dengan garangnya. Orang orang
Mendhangkamulan banyak yang menderita luka karena serangan binatang. Ada
yang roboh diserang babi hutan. Binatang itu dilawan dengan senjata tetapi tak
terluka. Orang orang Mendhangkamulan lari ketakutan.
22. Ki Buyut berkata kepada Dyan Jaka Puring, mengajak mengunduri perlawanan,
melapor kepada kakanda Baginda. Sungguh bukan tolok bandingnya, kesaktian
lawan berpuluh puluh bahkan beratus ratus anggota pasukan menderita luka.
Tak mampu pasukan Mendhangkamulan mengimbangi serangan lawan.
Akhirnya pasukan Jaka Puring mundur.
23. Perjalanan mundur pasukan Mendhangkamulan telah sampai diistana. Jaka
Puring berdatang sembah kepada Baginda. Ia menyerahkan diri kepada Raja
karena tak mampu menghancurkan lawan yang berujud aneka satwa segala
tanaman yang ditanam disawah dalam wilayah kerajaan Baginda rusak musnah
diserang tiga pasukan dari tiga jenis binatang. Satu pasukan berupa raksasa
bertubuh perkasa.
24. Sepasukan lagi berujud babi hutan. Moncongnya runcing. Bulu badannya
jarang berdiri tegak. Ekornya hanya kecil pendek, jumlahnya lebih kurang tiga
ratus. Sepasukan terakhir bentuknya mirip tubuh manusia, ekornya panjang.
Warna bulu badannya kelabu. Tingkah lakunya cekatan. Jumlahnya beratus
ratus, nampak mengerikan.
25. Satu pasukan dengan dua ribu anggota pasukan. Mereka dipilih prajurit yang
tangguh serta lincah, Mereka berpakaian seragam putih. Semua memiliki
keberanian yang tinggi.
26. Baginda Mangukuhan rnemberikan isyarat kepada Jaka Puring menyiagakan
pasukan lengkap dengan persenjataannya untuk bertempur. Semua pria yang
memiliki tubuh yang kuat diwajibkan membela keselamatan negara dari
serangan hama tanaman. .
27. Jaka Puring mengindahkan perintah Baginda. Isyarat perang sudah
dikumandangkan Raja Mangukuhan diikuti para Panglima bergerak bersama
sama anggota pasukan menyerang musuh yang bersifat aneka satwa dan
raksasa. Derap langkahnya menyerupai alunan gelombang samudera.
Gemerincingnya alat senjata dan derap langkah tak dapat digambarkan
dahsyatnya.
28. Suara tanda serangan yang diikuti gerak terjang sorak sorai pasukan bertalu
talu, bagaikan suara runtuhnya gunung. Lawan yang berujud aneka satwa dan
raksasa menjadi ganas dan garang. Kalian menyerang pasukan dari negeri
Mendhangkamulan. Meski seperti dihujani dengan senjata tajam, namun tak

53
ada yang mampu melukai tubuh lawan. Banyak anggota pasukan Baginda
Mangukuhan yang menderita luka dari amukan lawan.
29. Ada yang menderita uka akibat gigitan kera, ada yang menderita patah kaki,
ada yang terluka dari pagutan tikus, tetapi para pendenita tersebut belum
sampai menemui ajalnya. Mereka mengeluh kesakitan, mengerang memilukan.
Baginda Mangukuhan memberi isyarat mundur.
30. Babi hutan dan kera terus mengejar. Pasukan Mendhangkamulan mundumya
lalu lalang, masuk kedalam negeri. Tiba diistana Baginda Mangukuhan
mengadakan sidang istimewa dengan para pemegang pimpinan negara.
31. Akhirnya Jaka Puring ditunjuk oleh Baginda menemui penasihat kerajaan ialah
Ki Andong Dhadhapan di Medhang Agung dan Ki Gadhing Pangukir, minta
petunjuk sehubungan dirusaknya tanaman dilingkup wilayah kerajaan, oleh
aneka satwa dan raksasa. Dipesan setibanya di Medhang Agung Jaka Puring
menyampaikan salam mesra dari Baginda. Selanjutnya menceriterakan medan
laga. Aneka satwa dan raksasa itu memiliki kesaktian tinggi, tiada pusaka yang
bertuah dapat melukai mereka, hingga pasukan Mendhangkamulan yang
menjaga keselamatan negara tak berhasil menumpasnya, bahkan terpaksa
mundur ketakutan. Pasukan Baginda banyak menderita luka dari serangan
lawan.
32. Jaka Puring menangkap sabda Baginda dengan Khidmat. Sesudah sempurna
sabda Baginda diberikan berangkatiah ia. Dalam perjalanan selalu ia merasa
sedih dan haru. Perjalanannya diperepat agar lekas sampai di Mendhang
Agung.
33. Tiba disana kedapatan Ki Andong Dhadbapan sedang berbincang bincang
santai dengan Ki Gadhing Pangukir. Putra Ki Andong Dhadhapan yang
bernama. Sangkan Turunan ikut menemani. Sedang asyiknya berbincang
bincang, datanglah Jaka Puring. Ia menyampaikan salam, disambut dengan
salam juga. Jaka Puring dipersilahkan duduk. Setelah duduk sejenak Jaka
Puring menyampaikan salam rindu dan salam takzim dari Baginda. Kedua
penasehat tersebut menyambut hangat salam dari Baginda. Dia merasa bangga
atas tanggapan yang akrab dari Baginda. Sangkan Turunan pun menyambut
salam kedatangan Jaka Puring.
34. Seterusnya Jaka Puring menyampaikan khabar dari Baginda bahwa semua
tanaman sawah ladang dalam lingkup wilayah kerajaan Mendhangkamulan
dirusak oleh aneka satwa dan raksasa. Hama hama itu amat sakti, tak dapat
pasukan Baginda memusnahkannya. Bahkan banyak hamba sahya dari
Mendhangkamulan mendapat luka dari serangan mereka.
35. Sehubungan dengan itu, Baginda minta pertolongan bantuan dan petunjuk
untuk memusnahkan hama tersebut. Hama yang berujud raksasa dan hama yang
berbadan sebagai manusia, berkepala badak, hitam warnanya. Binatang ini
sangat sakti, kebal akan senjata tajam.
36. Ada lagi kawanan tikus yang banyaknya tak terhitung. Ekornya mencuat dapat
dia pergunakan sebagai tongkat penopang tubuh. Kawanan binatang ini amat
rakus. Karena jumlahnya amat besar maka amat cepat kerusakan tanaman dapat
dibuatnya. Itulah sebabnya cepat cepat Jaka Puring diperintahkan menghadap
penasehat dan tetua kerajaan. Baginda amat sangat menanti turun tangan dari
para tetua. Baginda sangat menyayangkan nasib penderitaan petani penjamin
persediaan makan negara.
37. Ki Andong Dhadhapan menerima laporan Jaka Puring dengan tenang dan
penuh kesabaran. Ia memberitahukan bahwa sebelum Jaka Puring datang Ki

54
Andong Dhadhapan dan Ki Gading Pangukir telah mengerti akan kejadian itu.
Keduanya telah siap membantu memusnahkan malapetaka Negara
Mendhangkamulan. Putra Ki Andong Dhadhapan bemama. Sangkan Turunan
dipanggilnya. Setibanya lalu disuruh oleh pamannya Ki Gading Pangukir
mengantar Jaka Puring pergi ke Babadan, tempat tinggal Ki Gading Pangukir.
38. Setelah mencakup pengertian segala pesan Ki Gading Pangukir, berangkatlah
keduanya. Mereka berjalan sangat laju. Dalarn waktu singkat telah tiba di
Babadan, Keduanya disuruh panggil Wayungyang dari Condromowo. Di
Babadan setelah bertemu dengan dua orang penganut Ki Gading Pangukir,
segera menyampaikan panggilan untuk kalian.
39. Wayungyang memiliki tubuh / bentuk tubuh Kakkong. Bahunya brojol seperti
bentuk leher botol. Perutnya buncit (besar), leher pendek, telinga tegak, selalu
mengeluarkan kopok (cairan busuk yang keluar dari telinga), dahinya lebar
menonjol kedepan. Hidungnya kecil mungil, Kulitnya mukanya kasar seperti
kulit limau sambal. Berkuncung panjang.
40. Condromowo bertubuh pendek kecil, Tinggi badan kakkong, lehernya panjang,
kepalanya kecil. Kemana saja ia pergi selalu mernbawa sabit diselipkan
diantara ikat piggang. Tak pernah dihunus dari punggung, bila tidak penting.
kalau habis diasah, dipertajam dengan cara diules uleskan diatas kuncung.
41. Setelah jelas ciri ciri tubuh dua orang penganut Ki Gading Pengukir,
diberitahukan oleh Ki Andong Dhadhapan diperintahkan berangkat. Sebagai
bukti bahwa keduanya sungguh sungguh menjalankan Ki Anidor Dhadhapan
dan. Ki Gading Pangukir, ia dierboehkan membawa talumpak (tombak
bertangkai pendek) yang biasa dipergunakan sebagai tongkat (ciri bentuk
tombak / talumpak) tidak diberitahukan.
42. Namun dinyatakan oleh Ki Andong Dhadhapan bahwa tangkai dan sarung
talumpak masing masing mempunyai tuah wibawa. Jaka Puring dan Sangkan
berangkat. Dikatakan bahwa Baginda sangat menanti kedatangannya kembali.
43. Jaka Puring dan Sangkan Turunan lalu minta doa restu, selanjutnya minta diri.
Ki Andong Dhadhapan berpesan : bila menghadapi bahaya, disuruhnya Jaka
Puring melepas sarung talempak diletakkan berdiri tegak didepannya. Kepada
Sangkan Turunan diberikan seruas bambu. Bila menghadapi mara bahaya
dinasihatkan segera memukul tabung itu. Dengan segera ia akan datang.
44. Jaka Puring dan Sangkan Turunan mengindahkan segala petunjuk, lalu
berangkat. Perjalanan mereka sangat laju. Dalam waktu singkat telah tiba
kembali di Negara Mendhangkamulan. Segera mereka masuk kedalam istana,
menghadap Baginda. Pada saat itu Baginda sedang duduk duduk diberanda
istana.
45. Serta melihat kedatangan Jaka Puring dan Sangkan Turunan, Baginda segera
menjemput. Diajaklah keduanya masuk kedalam istana. Sesudah sejenak
duduk, Jaka Puring berdatang sembah, menyampaikan hasil yang
ditugaskannya menemui Ki Andong Dhadhapan. Ia menghadapkan kedua orang
yang oleh Ki Andong Dhadhapan dipercayakan membantu memusnahkan hama
yang menyerang tanaman di Mendhangkamulan.
46. Menilik bentuk tubuhnya, Baginda menyayangkan kedua orang itu dapat
berhasil menumpas semua satwa hama. Kedua tamu kepercayaan itu segera
diberi jamuan minuman dan air putih. Wayungyang dan Condromowo lalu
melahap jamuan Baginda. Selesai minum Baginda memberi perintah
pengumpulan pasukan.

55
47. Pasukan telah siaga lengkap dengan persenjataannya. Baginda lalu datang
menyaksikan pasukan yang telah siaga itu. Segenap pasukan kelihatan gembira
seolah olah, menanti segera diberangkatkan. Tak lama kemudian lawan yang
terdiri aneka satwa datang menyerang. Disambut dengan perlawanan yang
Sengit oleh pasukan dari Mendhangkamulan.
48. Sorak sorai datang bertalu talu dari kedua belah pihak Babi hutan mengamuk
sejadi jadinya. Ia kebal oleh senjata tajam, berkali kali kena ujung tombak,
tetapi tiada juga terluka. Pada saat itu Ki Wayungyang dan Condromowo
sedang minum air kelapa muda.
49. Sri Ratu Dremanastiti melihat pasukan Mendhangkamulan menderita
kerusakan, sedang Ki Wayungyang dan Condromowo sedang minum air kelapa
muda.
50. Sri Ratu Dremanastiti melihat pasukan Mendhangkamulan menderita
kerusakan, sedang Ki Wayungyang dan Condromowo masih belum kelihatan
memberi bantuan, maka beliau sangat marah. Dicarinya ketempat Wayungyang
minum. Serta melihat kedatangan Sri Ratu. Wayungyang menyambut penuh
kesopanan.
51. Sri Ratu yang bersikap marah itu mengata ngatai Wayungyang. Sangat mencela
ia main mabuk mabukan saja, sedang kawan kawan banyak menderita luka.
Dikatakan tak seimbang susah payah Baginda mencari bantuan dari kalian,
ternyata ditengah medan laga kalian hanya main mabuk mabukan. Ditekankan
bila memang tidak sanggup membantu, disuruh kembali, katakanlah Sri Ratu
yang memenintahkan kembali.

XVII. PANGKUR

01. Akibat caci maki dari Sri Ratu, Wayungyang dan Condromowo menangis
menyesali perbuatannya yang telah terjadi. Keduanya bersujud lalu berangkat
menyusul Baginda. Tiba dimedan laga Wayungyang dan Condromowo amat
kasthan melihat kerusakan pasukan Mendhangkamulan.
02. Dari kepala sampai merata keseluruh tubuh disiram dengan air leri (air, yang
habis dipakai mencuci beras yang akan ditanak). Kakinya dilumas dengan
bahan pelumas (Jawa: dilulur).
03. Akibatnya warnanya menjadi kelabu dari kepala sampai sepanjang punggung
dan ekor berbelang putih. Begitu juga dari perut, leher dan moncong. Dia beri
sebutan Belang Wayungyang.
04. Kucing Condromowo mengambil air kelapa muda, disiramkan dari kepala
merata sampai keseluruh tubuh. Badannya lalu dilumas dengan bahan pelumas.
Warnanya menjacli hitam pekat. Dari kepala sampai kesepanjang punggung,
perut, ekor dan mulut berwarna putih. Dia dijuluki Kucing Condromowo.
05. Belang Wayungyang dan Kucing Condromowo lalu diperintahkan segera
membantu perlawanan. Belang Wayungyang lincah lagi cekatan memburu,
babi hutan dengan sebutan Tembalung. Tembalung dikejar keijar, tak dibeni
kesempatan istirahat.
06. Babi hutan dapat ditangkap, digigit sampai mati. Datang lagi babi hutan yang
lain, membantu serangan, tetapi mendapat perlawanan serangan ganas dari
muka dan dari belakang. Akhirnya babi hutan itu pun mampus juga. Datang
menyusul bantuan banyak babi hutan, tetapi semuanya dapat dimusnahkan oleh
Belang Wayungyang.

56
07. Diantaranya ada yang baru saja datang terus diserang sampai menemui ajalnya.
Bangkai babi hutan bertimbun timbun. Tembalung melihat anak pasukannya
banyak yang menemui ajalnya, ia amat marah. Ia bermaksud membela sampai
titik darah penghabisan.
08. Belang Wayungyang mengganggu lagi dengan segenap kemampuannya. Tiba
tiba Tembalung dapat ditangkap moncongnya, digigit kuat kuat akhirnya
matilah dia.
09. Tembalung beserta anggota pasukan dapat dimusnahkan oleh Belang
Wayungyang. Pasukan kera serentak bersama membantu menyerang dari segala
arah. Tetapi sungguh Belang Wayungyang sangat sakti lagi tangguh ia
membalas serangan kesegala arah. Kepala pasukan kera akhirnya dapat
dibunuh.
10. Anggota pasukan kera menjadi kacau balau, ibarat anak ayam kehilangan
induknya. Tata pasukan menjadi tidak karuan. Ada diantaranya yang memanjat
diatas batang pohon, kena salak Belang Walungyang saja telah jatuh ketanah,
menemui ajalnya.
11. Pasukan tikus mendapat perlawanan dari kucing. Meskipun jumlah pasukan
tikus amat banyak, namun dapat dilawan dengan mudah oleh Condromowo.
Segala gerak geriknya dapat diimbangi. Akhimya kepala pasukan tikus dapat
ditangkap dan dibunuh. Anak buahnya dikejar kejar sampai dimanapun juga,
banyak ditangkap dan dibunuh. Sisanya lari tunggang langgang mengungsi
ketempat lain.
12. Pasukan tikus pun dengan mudah dapat dihancur leburkan oleh Condromowo.
Maka riuh rendah sorak sorai prajurit Mendhangkamulan mendapat
kemenangan atas pasukan aneka satwa yang menjadi hama, perusak segala
tanaman hamba sahaya Mendhangkamulan setelah selesai penumpasan aneka
satwa yang menjadi hama tanaman petani Mendhangkamulan, disawah itu juga
semua pasukan Baginda dikumpulkan, termauk juga Belang Wayungyang dan
Condrornowo
13. Baginda memanggil Jaka Puring ditanyakan : apakah nama ciri bentuk tombak
yang oleh Gading Pangudkir dipersembahkan kepada Baginda. Jawab oleh
Jaka Puring bahwa Gading Pangukir tidak memberikan nama tombak tersebut.
Hal ini diserahkan kepada Baginda.
14. Karena Ki Gading Pangukir sendiri tidak memberi nama tombak tersebut, maka
Bagindalah yang memberi nama. Tombak itu dinamai Kyai Pecaksohang
Deder, amat indah dibuat seperti bambu gading. Penyerahan tombak tersebut
dijadikan lambang keakraban kekeluargaan terhadap Baginda. Terasa berat
tombak itu bila diagkatnya.
15. Batang tombak dibuat berwarna gading putih kekunang kuningan,
melambangkan jejaka yang belum pernah mengkhayalkan nafsu sahwat.
16. Alkisah, sekali peristiwa Puthut Jantaka sedang duduk termangu mangu,
datanglah dua orang anaknya berujud lembu dan kerbau. Yang tua bernarna
Kalamurti, adiknya bernama Kalasrenggi. Keduanya izin dari ayahnya, pergi
menyaksikan nasib saudara saudaranya.
17. Sepanjang berita mereka mendengar bahwa saudara saudaranya telah punah
terbunuh oleh psukan dari kerajaan Mendhangkamulan. Bila khabar itu nyata,
mereka akan menuntut balas atas kematian saudara saudarnya itu Ayahnya
mengizinkan, tetapi kalian haris waspada.
18. Karena niat terburu nafsu, keduanya tidak memperhatikan peringatan ayahnya.
Dalam perjalanannya mereka penuh rasa dendam kesumat. Mendengar salak

57
anjing keduanya bertambah marah. Batu batu yang terdapat menghalang
melintang diangkat tinggi tinggi lalu dihempaskan keperbatuan.
Hancur lebur batu batu itu. Kekuatan Kalamurti amat dahsyat, seolah olah
semua tulang belulangnya terdiri dari besi.
19. Batang batang pohon yang terdapat dikiri kanan jalan, dicabuti. Hatinya amat
panas, membara. Konon perjalanan Kalamurti dan Kalasrenggi nyaris tiba
disawah tempat saudara saudaranya bertempur melawan pasukan
Mendhakaimulan.
20. Pada saat Baginda dihadap hamba sahaya, datanglah seorang penggawa
melaporkan bahwa ada dua ekor binatang yang besar lagi tinggi datang.
Binatang itu adalah kerbau dan lembu bertanduk panjang mengerikan. Baginda
lalu memberi perintah kepada Belang Wayungyang dan Condromowo siap
menyerangnya. Keduanya menyambut perintah Baginda dengan ikhlas lagi
gembira.
21. Setelah mendapat perintah Belang Wayungyang bersama Condromowo
menyerang. Kalamurti dan Kalasrenggi melawan, Wayungyang dapat diserang
dengan tanduk, terpental jauh, datang menyerang kembali, tetapi dapat
disambut dengan tanduk, diayunkan keatas jatuh kebumi, berulang kali
dipermainkan seperti bola, jatuh kebumi terus diinjak.
22. Wayungyang dan Condromowo tak ada kesempatan untuk melawan selalu
menjadi permainan oleh Kalamurti, hingga tidak mempunyai tenaga lagi, letih
lesu.
23. Melihat nasib Belang Walungyang itu. Condromowo meloncat rnerebut
Wayungyang dibawa lari. Keduanya lalu mandi dengan air kelapa muda,
badannya digosok dengan daun buluh.
24. Sesudah mandi dengan leri itu tubuh Wayungyang jadi segar kembali.
Kekuatannya pulih kembali. Demulkian juga setelah Condromowo
memandikan dengan air kelapa muda tubuhnya menjadi pulih kuat.
25. Setelah itu tubuh mereka digosok dengan daun bambu pugag (batang pokoknya
telah ditebang). Bulu badannya dikibas kibaskan. Bulu Wayungyang
berguguran, berubah menjadi anjing yang banyak jumlahnya, berwarna belang,
ada yang berbelang hitam, putih, lurik. Dan bulu kucing yang rontok berubah
menjadi kucing yang beratus ratus banyaknya.
26. Semuanya mengatur sebuah pasukan, bergerak menuju tempat Kalamurti dan
Kalasrenggi. Lembu dan kerbau itu mengarnuk. Menanduk, menginjak injak,
menerjang tetapi tak mampu mengakibatkan luka dan cedera.
27. Serentak bergeraknya pasukan anjing dan kucing kelihatan seperti merayapnya
beratur ratus ribu semut merah yang mulutnya beracun sedang mendaki gunung
tetapi Jaka Puring cepat mengambil seutas tabung, lalu dipukul pukulnya.
28. Sangkan Turunan mendengar lengking suara, ia merasa terpanggil, segera
berjalan menuju tempat Jaka Puring. Jaka Puring memberi salam
kedatangannya. Sangkan Turunan bersujud didepannya.

58
XVIII. ASMARADANA

01. Melihat bentuk tubuh nan tampan dan wajah Sangkan Turunan Baginda tertarik
hatinya. Baginda pun berkata dengan lembut menyampaikan permintaan
bantuan guna menaklukkan musuh kerajaan.
02. Sangkan Turunan menerima perintah Baginda dengan ikhlas gembira serta
penuh kesanggupan.
03. Ia menyatakan segala jiwa raganya akan dipersembahkan untuk keselamatan
negara. Baginda berkenan mendengar kesanggupan Sangkan Turunan.
04. Sangkan Turunan berangkat menuju medan laga. Pada saat akan memulai
perlawanan kemaluannya diusap usap. Dakar (kemaluannya) mengeluarkan
akar sepanjang tujuh hasta, besarnya tiga jari. Bentuknya lurus halus bagaikan
diraut.
05. Orang kuno menamakan benda itu akar dawa. Sekarang orang menamakan
rotan wuruk. Rotan wuruk memiliki khasiat dapat mempengaruhi kuda jafi
penurut.
06. Kedua orang pemuda telah siaga berternpur. Rotan wuruk telah siap
ditangannya. Terhadap benda itu orang kagum melihatnya. Bila tegak berdiri
nampak sebagai teja. Bila teretak melengkung kelihatan seperti pelangi.
07. Kalau bergerak cepat gemerlapan seperti kilat. Apabila diayunkan kesana
kemari nampak sebagai kilat sambung menyambung. Kalamurti melihat dua
orang pemuda berdiri tegap, segera menyerang dengan ganas dan garang.
Sedikit pun tidak ada rasa takut.
08. Kalasrenggi ikut juga menyerang. Dalam serangan itu Kalamurti kena terpukul
dengan rotan wuruk kepalanya. Kalasrenggi menyusul menyerang, juga kena
pukul kepalanya. Keduanya jatuh tak bemafas lagi.
09. Belang Wayungyang dan Condromowo cekatan mengangkut Kalamurti dan
Kalasrenggi, diikat erat erat dengan tambang enau atau nibung, pada
pergelangan tangannya.
10. Puthut Jantaka, seorang biku yang tajam penglihatannya, mengerti bahwa
semua anaknya telah punah oleh pasukan Mendhangkamulan hatinya amat
sedih. Ia mengaduh kepada Dewa, tak sanggup hidup lagi didunia tanpa anak
seorang pun.
11. Dia merasa sia sia hidupnya, Puthut Jantaka berjalan tiada menentu arah
tujuannya. Hatinya merana. Sepanjang perjalanan ia mengumpat akan nasib
hidupnya. Perjalanan Ki Puthut Jantaka tiba disebuah batu raksasa terletak
ditengah hutan.
12. Besar batu itu sepuluh pemeluk orang. Oleh biku sakti itu batu diangkat tinggi
tinggi lalu diempaskan mengenai kepalanya. Batu telah hancur lebur
menimbulkan suara gemuruh mengerikan.
13. Karena kemarahannya seolah olah tubuh Puthut Jantaka lipat kali tambah besar.
Mukanya kelihatan kasar seperti batu karang. Matanya bersinar tajam bagaikan
matahari kembar. Taring memanjang. Lubang hidung nampak seperti pintu gua
berdampingan. Jambang kiri kanan bertemu menimbulkan pandangan yang
sadis.
14. Bulu dada tumbuh subur memenuhi dada, perut, sampai kepaha. Bulu jari jari
kakinya panjang panjang. Puthut Jantaka kelihatan dahsyat, seperti dahsyatnya
raksasa penjaga pintu masuk surga, Cingkara Bala Upeta.

59
15. Lama lama sampailah Puthut Jantaka didekat Raja Mendhangkamulan. Hamba
sahaya Raja Mangukuhan semuanya takut, lari cerai berai. Melihat itu Jaka
Puring pergi menyambut dengan membawa tombak.
16. Begitu juga Raja Mangukuhan diikuti para kepala pasukan. Belang
Wayungyang dan Condromowo mengawalnya. Jaka Puring telah siaga, sarung
tombaknya berbentuk naga, mengeluarkan banyak ular.
17. Ular sebesar batang kelapa berkeliaran kesana sini sambil menyebar bisa.
Lidahnya menjulur keluar menyerupai trisula. Kelihatan seperti Yang
Antaboga, mengerikan hati.
18. Puthut Jantaka melampiaskan kemarahannya, tingkah lakunya leluasa
menakutkan. Rambutnya yang tebal mengurai, bergerak meruak ruak ditiup
angin. Pasukan Mendhang sangat ketakutan. Ki Tuwa hatinya berdebar debar
menghadapi Puthut Jantaka.
19. Sama halnya dengan Ki Buyut, ia juga amat ketakutan. Badannya menggigjl
mukanya puat lesi. Semua pasukan Mendhang yang didatangi Puthut, lari cerai
berai krtakutan.
20. Mereka minta perlindungan Sang Raja. Baginda mengheningkan cipta, minta
bantuan dari Dewa. Bethara Wisnu datang merasuk ketubuh Raja Mangukuhan.
Puthut Jantaka yang datang melampiaskan amarahnya itu disambut dengan
pandangan tajam oleh Baginda. Puthut Jantaka tak kuasa. menahan pandangan
dari Raja Mangukuhan. Ia lari ketakutan.
21. Raja Mangukuhan datang mengejar, diikuti oleh segala pasukannya. Konon
Puthut Jantaka bersembunyi, membenamkan diri didalam pasir. Kemudian tak
dapat tertangkap.
22. Laskar Mendhang menyebar diluar hutan mencari Puthut Jantaka, namun tiada
terdapat. Tunjung Randhi terkepung oleh pasukan Mendhangkamujan, akhirnya
dapat tertangkap.
23. Karena Puthut Jantaka tak dapat dicari, maka Baginda bermaksud ingin
kembali keistana. Setelah keturunan Puthut Jantaka dapat dipunahkan, Ki Tuwa
senang hatinya. Ia mencaci maki tindakan Puthut Jantaka dinyatakan
tindakannya seperti orang gila. .
24. Ki Tuwa berlaga sebagai orang pemberani, jalannya lenggang kangkung. Ia
katakan bahwaPuthut Jantaka lari terbirit birit takut dikejar olehnya. Dikatakan
Puthut telah lari masuk hutan, bersembunyi didalam goa.
25. Sombongnya bukan main, ia katakan bila sudah memuncak maralmya,
jangankan hanya seorang semacam Puthut Jantaka, bahkan sampai dua orang
seperti Puthut Jantaka, Ki Tuwa takkan mundur selangkah.
26. Buyut mencemooh kesombongan Ki Tuwa, berlagak sebagai pemberani.
Ejekannya : sekali saja bettemu pasti dia akan menggigil dan menyerah.
Sangkal Ki Tuwa : itu kan baru sekali, kalau sudah dua tiga kali takutnya akan
hilang. Menghadapi raksasa saja ia tak takut, apalagi hanya menghadapi Puthut
seorang diri mengapa menjadi takut. Andaikata ada seribu Puthut Jantaka
sekalipun ia tak akan takut. Begitu congkak kata Ki Tuwa.
27. Jalan Ki Tuwa amat santai. Melihat orang orang yang dipasang disawah ia
bersikap angkuh. Ki Tuwa tak tahu bahwa orang orangan itu ada isinya. Orang
orangan ditarik tarik dan terus ditarik sepanjang pematang. Puthut Jantaka
terlepas dari orang orangan. Ki Cakut mengetahui peristiwa itu, sangat
ketakutan.
28. Ki Tuwa diminta mau berpaling melihat kebelakang. Dijawab oleh Ki Tuwa
sambil agak masgul. Ia memperingatkan jangan main main mengganggu orang

60
yang sedang enak berjalan. Ki Buyut melanjutkan kata peningatan tahu rasalah
nanti Ki Tuwa menoleh kebelakang.
29. Bukan main takut Ki Tuwa melihat Puthut Jantaka telah ada dibelakangnya.
Wajahnya jadi pucat pasi, tak berdaya. Pasukan Mendhang ramai
mengkhabarkan bahwa Ki Tua si congkak itu telah mati disumbar Puthut
Jantaka.
30. Berita itu telah sampai dimengerti oleh Baginda Mendhangkamulan. Raja
Mangukuhan pergi kembali menuji ketempat Puthut Jantaka berada. Serta
Baginda datang kembali, Puthut Jantaka berada serta Baginda datang kembali,
Puthut Jantaka jadi cemas hatinya. Berdiri tegak pun ia tak mampu, apalagi
berlari. Ia duduk saja ditempat. Baginda telah tiba, Ki Tua dapat direbutnya.
31. Tubuh Ki Tua diangkut bersama. Puthut Jantaka duduk mengujur ditanah.
Baginda datang menghampiri Puthut Jantaka. Ia dicaci maki, dia telah berbuat
angkuh, mempertunjukkan keberanian didepan umum.
32. Itu brakibat Ki Tua tak sadarkan diri karena ketakutan yang tak terhingga.
Puthut Jantaka bersikap honnat lagi takut kepada Baginda, sampai tak berani
menatap muka Baginda. Ia menyatakan sama sekali tak ada maksud berontak
melawan Raja. Dia tetap patuh, bersedia mennjalani segala perintahnya,
bersikap sebagai sahaya.
33. Suatu bukti kenyataan, dia tidak mau lari. Sebaliknya ia menyambut hormat
kepada Raja. Karena itu berjanji selanjutnya akan patuh setia kepada Baginda.
Baginda menghargai sikap baik dan Puthut Jantaka.
34. Puthut Jantaka tetap diakui sebagai seorang hamba sahaya yang baik budi,
bersikap setia terhadap Baginda. Dia diberi tempat di Lamongan, dipercayai
menjaga semua lumbung padi agar tiada menderita kerusakan ataupun
berkurang.
35. Bila terdapat para anak cucu Puthut Jantaka yang berani mengganggu, merusak
keselamatan lumbung, ia dibeni wewenang mengetrapkan pidana terhadap
mereka. Dimana pun anak cucu berbuat curang, baik ditempat penumbukkan,
diluar dapur, dihalaman, ditempat tempat tersembunyi, dijalan raya maupun
ditempat sampah. Puthut Jantaka diserahi wewenang untuk membereskan. Ia
menyanggupi.
36. Baginda mengingatkan kepada hamba sahaya diharap tertib hati hati dalam hal
merawat beras. Bagi wanita yang sedang menanak nasi, jangan membiarkan
nasi berceceran diatastungku. Bila sedang menumbuk padi jangan dibiarkan
beras berceceran dilesung.
37. Bila kebetulan mencuci beras, jangan sampai beras bertebaran, dimana mana.
Jika sedang angi, jangan sampai diiyan, terdapat nasi berceceran. Kecermatan
itu mendatangkan keuntungan. Maka ditekankan: berhati hati dan tertiblah soal
perawatan beras maupun padi.
38. Kurang tertib dan hati hatinya perawatan beras dan padi akan berakibat
mengganasnya hama padi. Ular sawah akan mengganas, menjelajah merusak
tanaman padi. Ia hidup aman ditengah tengah tanaman padi.
39. Setelah mengelilingi sawah sampai merata, ular sawah tidur melingkar
dipematang, akhirnya mati. Kejadian itu diketahui oleh Baginda. Beliau sangat
heran mengapa didalam lumbung terdapat walungsungan ular (kulit ular yang
mengelupas dari tubuhnya)
40. Saat sesudah matinya ular sawah, ditempat dekat bangkai kelihatan terdapat
seorang wanita berparas cantik, secantik wajah bidadari, berseri bagaikan
bulan. Seolah olah terpisah dari kawan kawannya.

61
XIX. DHANDHANGGULO

01. Wanita itu masih dalam usia remaja. Tubuhnya memiliki ketinggian yang
memadai. Berpakaian serba lengkap. Berjamang (tambahan hiasan pada
kalung) berbentuk bunga jagung. Mengenakan mahkota nan indah,
mengenakan penghias telinga berbentuk kuswaraga. Ia mengenakan kain secara
belum sempuma sebagaimana orang dewa memakai kain (pinjungan). Kain
yang dikenakan berasal dari kain sutera dengan hiasan aneka warna, bersubang
emas. Senyum yang tersembul dari bibir sungguh manis.
02. Gelang yang dikenakan dibuat daripada emas, berukit ukir. Subangnya
berbentuk bapang, dihiasi dengan intan berselang seling mirah, menambah
sinar keayuan. Baginda Mangukuhan tertegun, terpesona melihatnya. Betul
betul indah paras sang Remaja.
03. Oleh Baginda remaja itu dihampiri seraya menyampaikan tegur sapa penuh
sopan, dengan kata kata yang manis. Baginda menghimbau agar mau diajak
bersama masuk keistana. Sang Kusuma Ayu menjawab sambil menyembah
dengan hormatnya.
04. Ajakan Baginda disambut baik, puteri remaja itu tiada keberatan. Ia
menandaskan: bila Baginda sungguh sungguh memengingini atas dirinya dia
memajukan persaratan, agar Raja bersedia sore dan pagi bercengkerama
kesawah.
05. Habis menuturkan kata kata itu, putri. remaja musna dari pemandangan.
Baginda amat menyesal atas peristiwa itu. Karena kecewanya Baginda
mengajak hamba sahayanya kembali keistana. Setibanya diistana para hamba
sahaya diperkenankan kembali kerumah niasing masing. Sesudah itu kerajaan
Mendhangkamulan menjadi aman sentausa. Sangkan Turunan diizinkan
kembali ke Medhang Agung.
06. Tak ketinggalan, Belang Wayungyang, Condromowo serta semua anak buah
yang terjadi dari bulu, pada saat bertempur dimedan perang, ikut serta
semuanya. Alkisah, Bethara Wisnu serta isteri Dewi Sri lalu kembali ke
Kahyangan.
07. Akhirnya kerajaan Mendhang lenyap. Penghuni seisi kerajaan menjadi roh
halus. Kerajaan Mendhangkamulan mengalami kejayaan sampai seribu
limaratus tahun.
08. Sekali peristiwa HyangGuru Nata bertakhta diatas singgasana, dihadap oleh
para putranya. Dari yang tertua Bethara Sambu lalu Bromo, Maha Dewa
terakhir Yang Wisnu. Bethara Bromo berputra Bremani. Bremani berputra Tri
Trustha. Tri Trustha berputrakan Parikena.
09. Parikena berputra Manumanasa. Bethara Bromo duduk dibelakang Hyang
Pramesthi Guru. Duduk dihadapan Hyang Jagad Nata adalah Yang Narada.
Berturut turut kebelakang : Yang Endra, Yang Bayu, Yang Candra, Hyang
Penyarikan, kemudian Yang Temburu.
10. Hyang Giri Nata, mernpersoalkan mengenai Dipoyono yang selalu
mengganggu para Dewa. Mengganggu tata tertib. Membandel, tak suka
rnengindahkan perintah dan petunjuk para Dewa. Ia suka mandi mandi dikawah
Candradimuka, yang ditakuti dan disegani. Diperintahkan Yang Narada mau
memberi peningatan. Yang Narada tak sanggup memberi peringatan, karena itu
atas kehendak Sang Hyang Wenang.

62
11. Begitu pula si Dupara, bersikap angkuh, sombong, merasa ialah yang terpandai.
Tabiatnya suka dusta, tidak mengindahkan ketertiban. Bethara Narada
menyarankan agar Dipoyono dan Dupara diturunkan saja kebumi.
12. Sebaiknya dipisahkan dari Kahyangan dan dilepas kedudukannya sebagai
Dewa, jadikanlah sebagai manusia biasa. Tentang ini Yang Narada
menghimbau agar Bethara Kamajaya merayu supaya rela turun kemarcapada,
mengasuh Manumanasa.
13. Dialah nantinya yang mengadakan keturunan sebagai raja dipulau Jawa. Telah
tiba saatnya dia turun kemacapada. Mengenai Dupara, Yang Narada
menyarankan agar Yang Wisnu yang mengerjakan. Tempat yang layak untuk
Dupara sebaiknya diturunkan ke Atas Angin dinegeri seberang. Disana ia
ditugaskan mengajarkan tentang beberapa ilmu.
14. Hyang Pramesthi sangat menyetujui pendapat Yang Narada. Pendapat Yang
Narada didukung sepenuhnya oleh Hyang Giri Nata. Pertemuan dipandang
telah paripurna, lalu diperintahkan bubaran. Yang Wisnu telah ditemui dan
diberi tugas oleh Hyang Pramesthi.
15. Dupara telah ditemui oleh Yang Wisnu. Dia diberi penjelasan, bahwa atas
perintah dan Yang Pramesthi, akan diturunkan kemarcapada ditanah Atas
Angin. Disana ia diberi tugas menyempurnakan ilmu para brahmana yang
kurang sempurna ilmunya.
16. Dupara tak dapat berbuat lain kecuali sedia menjalani kehendak Hyang
Pramesthi itu. Yang Wisnu segera menurunnkan Dupara ke Atas Angin. Selesai
menyelesaikan tugas Yang Wisnu kembali ke Balai Marakata. Adapun Yang
Narada menuju ke Kahyangan Cakra Kembang menemui Yang Kamajaya.
17. Disana Bethara Narada menyampaikan penintah dari Hyaig Pramesthi, yaitu
Yang Kamajaya ditugaskan dapat merayu Dipoyono untuk bersedia diturunkan
dimarcapada mengasuh Manumanasa. Dialah nantinya yang berketurunan
menjadi raja. Bila ia memajukan permintaan apapun supaya dikabulkan.
18. Hyang Narada mengatakan, bila selesai menjalankan tugas itu, nantinya
dijanjikan Dewi Ratih akan dianugerahkan kepada Yang Kamajaya sebagai
istri, untuk balas jasanya. Setelah selesai menyampaikan perintah Yang Narada
kembali ke Kahyangan Suduk Pengudal udal. Yang Kamajaya pergi menemui
Dipoyono.
19. Dikatakannya bahwa Hyang Pramesthi telah menugaskan padanya bertemu
muka, memusyawarahkan mengenai persetujuan dari Dipoyono untuk sedia
diturunkan dimarcapada mengasuh Manumanasa seketurunannya.
20. Dinyatakan : dialah yang nantinya akan berketurunan sebagai raja raja.
Dipoyono tak keberatan menerima kuwajiban itu, tetapi ia memajukan
persaratan. Persaratan yang diminta ialah : Hyang Pramesthi harus sanggup
mengabulkan dan mengadakan apa yang diinginkan dan diminta oleh mereka
yang diasuhnya.
21. Bila keinginan tidak diizinkan, pemiintaan tidak diadakan maka ia akan naik ke
Suralaya. Suralaya akan diporak perandakan. Hal itu disanggupi oleh Hyang
Kamajaya. Tetapi Kamajaya memberi saran supaya Dipoyono rela memiliki
wajah dan tubuh tidak baik, dan menjadi manusia biasa, tidak sebagai Dewa.
22. Dipoyono menyatakan tidak berkeberatan Dipoyono minta diciptakan sesosok
tubuh yang jelek, selanjutnya ia akan merasuk ketubuh itu. Kamajaya lalu
mengambil dhalung (periuk yang dibuat dan tembaga), dimanterai untuk
dijadikan bentuk sosok tubuh manusia. Sosok tubuh manusia telah tercipta,
segera Dipoyono merasuk tubuh ciptaan tersebut, yang jelek ujudnya.

63
23. Dipoyono lalu mengambil nama Semar, karena baik bentuk tubuh dan sifat
keadaannya samar samar. Lagak ucapan dan suaranya pun berubah. Melihat
segala perubahan yang tenjadi pada diri Dipoyono ke Semar itu, Yang
Kamajaya tertawa geli. Ia menyetujui perubahan tersebut.
24. Semar minta dua orang teman, kepada Kamajaya, mereka membapa padanya.
Keduanya dapat dijadikan kawan mengasuh. Kamajaya lalu mengambil
kreweng (pecahan periuk) dan solet (alat pengaduk nasi tani) selanjutnya diberi
mantera Kreweng berubah ujud menjadi orang, diberi nama Nala Gareng.
Sedang solet berubah menjadi manusia diberi nama Dawala.
25. Dawala disebut juga Petruk, Kanthong Bolong. Yang Kamajaya dapat
memenuhi permintaan Ki Semar. Dua orang itu diserahkan dan diterima oleh
Semar. Setelah itu Yang Kamajaya kembali ke Kahyangan.
26. Di Kahyangan Yang Kamajaya bertemu dengan Manumanasa. Yang Kamajaya
menyatakan telah diperintah Hyang Pramesthi, menyampaikan berita perintah
Hyang Pramesthi, turun ke marcapada. Dia disuruh nantinya meneruskan
keturunan Yang Wenang menjadi raja raja di Jawa. Bagi dia diberikan
pengasuh turun ternurun, bernama Semar.
27. Manumanasa dapat menerima tunjukkan Yang Prarnesthi, lalu diturunkan ke
marcapada, dipuncak gunung Cipto Renggo atau Sapto Arga, didataran yang
luas. Ditumbuhi banyak batang kelapa, banyak terdapat mata air. Disana
terdapat banyak pemandangan yang mengasyikkan. Yang Kamajaya sesudah
berbincang bincang lalu kembali ke Suralaya.
28. Sepergi Hyang Kamajaya kembali, Manumasa lalu bersemadi. Dalam
semadinya ia mendapat ilham: mengatakan bahwa ia dapat menurunkan raja
raja bila memilki istri. Maka berkatalah Manumasa kepada Sernar mengenai
ilham itu. Ia meminta agar Semar rnau mencarikan putri sebagai istrinya. Semar
menyanggupi.
29. Ia pergi kehutan, berusaha rnenghubungi Dewa, minta dikaruniai seorang
wanita yang cantik, yang nantinya akan dijadikan istri Manumanasa. Dewa lalu
menurunkan seorang bidadari yang cantik molek. Tetapi bidadari itu merasuk
tubuh seekor singa, tiba didepan Semar.
30. Semar terperanjat, lari tunggang langgang menuju tempat Manumanasa.
Dikatakan dikaki gunung Sapta Arga ada seekor harimau, mengejar ngejar dia.
Diharapkan Manumanasa suka mengangkat panah untuk dibidikkan kepada
harimau tersebut. Tepat mengenai tubuh harimau, hilang musnah badan singa,
datanglah seorang bidadari cantik rupawan.
31. Bidadari itu pergi menghampiri Manumanasa. Ia segera disambut dibawa
ketempat tinggalnya. Disana keduanya mengikuti gejolak ulah asmara.
Akhirnya dianugerahi seorang anak laki laki yang anggun tampan, diberi nama
Bambang Sekutrem. Kemudian bidadari itu kembali ke Keinderaan.
32. Tinggallah Sekutrem bersama ayahnya yaitu Manumanasa, dan diasuh oleh
Semar dengan anak anaknya, Setelah dewasa Sekutrem minta izin ayahnya
akan mengembara menjelajah hutan hutan. Maharsi Manumanasa mengizinkan.
Semar dengan anak anaknya diperintah mengawal. Untuk tiga orang itu yang
bertindak sebagai pengawal dan penghibur adalah Semar, Nala Gareng, dan
Petruk patuh mengikuti Sakutrem mencari wahyu raja
33. Dalam pengenbaraan mencari wahyu itu datanglah Yang Kamajaya menemui
Bambang Sakutrem, menyampaikan wahyu. Oleh Hyang Pramesthi diserahkan
wahyu raja yang menguasai seluruh Jawa dan Blambangan sampai Banten,
Bali, Madura dan Palembang dengan pusat kerajaan di Pulau Jawa.

64
34. Setelah itu Hyang Kamajaya lalu kembali menghadap Hyang Pramesthi,
melaporkan bahwa perintahnya telah selesai dikerjakan. Hyang Pramesthi
segera memberi perintah kepada Yang Narada serta diikuti para Dewa, turun ke
marcapada menciptakan para manusia.

XX. PANGKUR

01. Para Dewa lalu turun ke marcapada. Masing masing menciptakan empat puluh
pasangan pria dan wanita. Ada yang cantik, tampan, buruk.
02. Ada yang ditempatkan digunung gunung sebagai Maharsi serta penganut yang
bertingkat tingkat kecakapan dan ilmunya. Ada puthut, cantrik, manguyu, serta
endang (wanita kerabat pandita). Ada lagi yang ditempat tinggalkan didesa desa
sebagai petani. Mereka mengambil benih benih dari Mendhangkamulan.
03. Jangka masa pada waktu itu disebut Jaman Tirta. Pada jaman itu manusia hidup
sealam dengan para roh halus. Antara manusia dan roh halus saling dapat
berhubungan perasaan. Mereka yang telah meninggal, rohnya masih dapat
bebubungan rasa dan karsa dengan yang masih hidup.
04. Orang dibumi dapat berhubungan rasa dengan penghuni di Surgaloka. Begitu
pula sebaliknya. Hubungan rasa karsa itu dapat diadakan dengan jalan
bersemadi, penghening panca indera, melepaskan segala perasaan dari jasmani.
05. Pada Jaman Tirta manusia makan sekali sebulan. Manusia tahan hidup dalam
jangka seribu tahun. Dari Jaman Tirta disambung Jaman Dupara. Pada jaman
itu manusia tahan tiidup sampai lima ratus tahun. Manusia makan setengah
bulan sekali. Sampai saat itu pandangan perasaan manusia peka dan tajam.
06. Sekali peristiwa Sakutrem dianugeralii penganut yaitu Puthut, Jejanggan,
Cantrik, manguyu dan endang. Sakutrem gembira hatinya. Ia lalu kembali
menghadap ayahnya.
07. Sampai ditempat ayabnya bertapa Sakutrem melapor kepada ayahnya, bahwa ia
telah dianugerahioleh Hyang Kaniajaya, bersifat : Puthut, Jejanggan, Cantrik,
Manguyu dan endang.
08. Sang Maharsi Manumanasa gembira hatinya, mendengar laporan dan putranya
itu. Sekutrem bertanya kepada ayahnya kepada siapa ia minta jodoh wanita
yang layak menjadi istrinya.
09. Dijawab oleh ayahnya mintalah petunjuk kepada Semar. Ikutilah segala
nasihatnya. Sekutrem diajaknya masuk hutan, disertai dua orang anak Ki
Semar.
10. Ditengah hutan itu Semar bersçmadi mengheningkan panca indera, memintakan
kepadaDewa, wanita yang pantas menjadi pendamping dan manusia
kesayangan dan asuhannya, yalta Sekutrem. Yang Kamajaya mengabulkan
permintaan tersebut. Diturunkan bidadari dalam perujudan ular besar. Tiba
didepan Semar, ular itu menyerang Semar dengan garang. Semar amat terkejut.
Ia lari mendekati Bambang Sekutrem.
11. Dia mengadu bahwa ada ular besar datang menyerang pada saat ia bersemadil.
Semar minta agar ular itu dilepasi panah. Ular itu tepat terkena anak panah
Bambang Sekutrem, matilah ia. Dalam sekejap mata bangkai ular itu hilang
musnah, datanglah seorang bidadari yang molek rupawan.
12. Bidadari itu datang menghampiri Bambang Sekutrem. Bidadari itu
menyerahkan diri, bersedia memenuhi segala kehendak pria pujaannya.

65
Bambang Sekutrem pulang kembali dengan membawa bidadari karunia Dewa.
Kepergiannya diikuti oleh Ki Semar dengan anak anaknya.
13. Oleh Manumanasa, anaknya: Sakutrem dengan bidadari menantunya
ditempatkan dibangunan yang terletak disisi padepokannya. Kemauan
Sakutrem mendapat seorang anak laki laki, yang tampan wajahnya. Oleh
kakeknya diberi nama Bambang Sakri. Setelah Sakri menjelang dewasa,
Bidadari meninggalkan Sekutrem, kembali ke Inderaloka.
14. Bambang Sakri bertempat tinggal bersama ayahnya, dalam asuhan Semar
dengan anak anaknya. Setelah dewasa Bambang Sakri menghimbau kepada
ayahnya untuk dicarikan seorang wanita, untuk dijadikan istri. Ayahnya lalu
menyuruh agar mencari diantara anak putri remaja dari para Resi, Pandita,
Pertapa, siapakah diantara mereka yang menjadi pilihannya.
15. Bambang Sakri tak dapat menerima anjuran ayahnya itu. Sakutrem tetap pada
pendiriannya, Sakri disuruh mencari sendiri. Akhirnya Sakri meminta diri
kepada ayahnya, pergi masuk hutan disertai Ki Semar, Nala Gareng dan Petruk.
16. Perjalanan Sakri naik gunung, tunun gunung, masuk jurang naik jurang,
menyuruk nyuruk hutan belukar, bagaikan tingkah ayam jalang ditengah hutan.
Malam hari melupakan tidur, siang hari tak menghiraukan makan.
17. Alkisah kerajaan Tabela Suket rajanya bergelar Raja Partawijaya, seorang raja
Agung yang disegani negeri negeri tetangganya. Negeri itu sedang diserang
mala petaka wabah penyakit. Banyak hamba sahaya yang terserang. Diserang
pagi sore meninggal, diserang petang paginya meninggal. Baginda Partawijaya
amat bersedih hati mengenang penderitaan rakyatnya.
17a. Baginda mempunyai seorang anak putri bernama Ratna Widawati,
wajahnya cantik jelita. Pada suatu malam ditengah sedang tidur, ia
bermimpi bertemu dengan seorang pria jejaka nan tampan rupawan
ditengah hutan. Pria itu bernama Bambang Sakri.
17b. Setelah mimpinya itu dikabarkan kepada ayahanda Baginda. Diterangkan
pula dalam mimpinya telah terjadi ulah asmara main sanggama dengan
pria yang terdapat dalam mimpi tersebut. Putri Widawati dengan sangat
mendesak kepada Baginda agar pemuda itu dicari.
17c. Ditambahkan penjelasan lagi, bahwa dengan dapat ditemukannya
Bambang Sakri dibawa masuk keistana, malapetaka yang meraja lela
didalam negeri akan musnah. Menanggapi uraian Ratna Widawati
seluruhnya, Raja Partawija terbangkit hasratnya untuk mencari. Segera
Baginda mengambil panah rantai emas, lalu terbang tinggi mengelilingi
angkasa. Tiba tiba kelihatan olehnya ditengah tengah rimba raya ada teja
(nut) Teja itu lalu dihampiri. Ternyata setelah didekati cahaya itu lalu
lenyap.
18. Bekas tempat menghilangnya cahaya terdapat Seorang ksatriya yang bagus
wajahnya, dihadapannya duduk tiga orang sahaya kesayangannya. Baginda
tergopoh gopoh menukik, terbang menuju satriya yang sedang duduk itu.
18a. Baginda menegur dengan kata kata sopan dan suara lemah lembut. Sang
Raja menyatakan : mengapa kalian berada ditengah hutan belantara.
Apa maksudnya, siapa namanya, serta dan mana asalnya.
19. Jawabnya : bahwa ia tidak mempunyai keinginan barang sesuatu kecuali
mencari jalan kearah mati. Baginda menaruh rasa sangat sayang. Kasihan orang
setampan itu meninggal sia sia ditengah hutan. Baginda memberitahukan
bahwa beliau adalah raja negeri Tabela Suket.

66
20. Sebutannya Sri Partawijaya, banyak negara tetangga yang berlindung dibawah
naungan negeri Tabela Suket. Baginda mengutarakan bahwa beliau mempunyai
putri yang cantik molek parasnya, bernama Ratna Widawati. Pada suatu tengah
malam dalam keadaan tidur nyenyak, tiba tiba ia bermimpi bertemu dengan.
seorang satriya nan bagus. Diminta dengan sangat, ayahnya sudi mencarinya. Ia
menyatakan dalam mimpinya itu telah teijadi ulah asmara.
21. Menurut ciri ciri yang diterangkan semuanya ada pada anda. Oleh sebab itu
dengan rendah hati Baginda mengharap agar Bambang Sakri sudi datang
melihat dinegeri Tabela Suket. Apabila nantinya Ratna Widawati tidak
menghendaki, Raja Partawijaya sanggup mengantar kembali ketengah rimba
ditempat semula. Bambang Sakri tetap pada pendiriannya, yaitu hanya
menginginkan mati.
22. Raja Tabela Suket tahu maksud sebenarnya yang terkandung dalam hati
Bambang Sakri yaitu ingin uji coba kesaktian. Karena itu segala permintaan
yang disertai rendah hati dan kata kata lemah lembut tiada diindahkan oleh
Banibang Sakri. Maka terjadilah adu kecakapan dan kesaktian. Kata kata
jawaban dari Bambang Sakri dirasa bagaikan membakar telinga.
23. Bambang Sakni akan diterkam, Sakri menghindar hingga tangkapan tak
mengenai sasaran. Raja Partawijaya kena tendang lalu terjatuh. Belum sempat
berdiri telah ditangkap dan dilempar sampai jauh. Sakri melempar Raja
Partawijaya dengan ringan, andaikan melempar selembar kapuk. Raja
Partawijaya merasa bahwa kecakapan serta kesaktiannya ada dibawah lawan:
Maka Baginda lalu rnembidikkan senjata rantai emasnya.
24. Setibanya diatas istana, Raja Tabela Suket terbang menukik, mendarat didepan
istana. Kemudian keempatnya dibawa masuk keistana. Didalam istana ikatan
senjata rantai emas dilepas.
24a. Pada waktu Raja Partawijaya masuk istana putri Baginda Ratna Widawati
sedang duduk duduk dilantai. Segera ia dipanggil, Ratna Widawati
menghadap ayahanda, sambil bersujud.
24b. Baginda menunjukkan kepada putrinya sambil bersabda : inilali putriku
yang telah kukabarkan itu. Apabila tidak disukainya, maka Raja
Partawijaya akan mengantar kembali ketempat semula. Serta Sakri melihat
wajah Retno Widawati hatinya sangat terpesona. Sakri amat berterima
kasih atas kerelaan Baginda rnenyerahkan putrinya.
24c. Sri Baginda memerintahkan supaya membawa Reno Widawati masuk ke
kamar peraduan. Apa yang terjadi pada malam itu tiada dikisahkan. Pagi
harinya Baginda mengadakan pertemuaa di balai Agung.
24d. Dalam pertemuan itu Baginda rnengumumkan bahwa Bambang Sakri
diangkat sebagai Raja Muda yang nantinya akan dinobatkan diatas takhta
menggantikan ayah mertuanya. Pengangkatan itu dikumandangkan ke
negara negara tetangga.
Payung tanda Raja Muda dikembangkan. Keajaiban alam dari
mengembangkannya payung itu, wabah yang melanda kerajaan Tebela Suket
hilang musnah. Yang menderita sakit cepat menjadi sembuh.
25. Tersebutlah ceritera di Atas Angin, ada Pendita yang terkenal amat banyak
ilmu dan kesaktiannya, Banyak para raja yang berguru tentang kekebalan dan
kesaktian, apalagi ulah keprajuritan. Pendita itu bernama Dupara.
26. Pandita Dupara tahu bahwa di Jawa ada seorang Pandeta termashur, bertempat
tinggal di Ciptorenggo. Pendeta itu bernama Manumanasa. Ia tak mau berguru
kepadanya. Oleh sebab itu Pandita Dupara rnasgul hati.

67
27. Pandita Dupara menghasut para raja agar bersama sama menyerang pandita
dipulau Jawa yang bernama Manumanasa karena tak mau tunduk berguru
kepada Pandita Dupara di Atas Angin.
28. Pandita Dupara mendirikan perguruan yang mengajarkan ilmu kekebalan serta
kesaktian. Para raja yang telah berguru kepada Pandita Dupara, mendukung
kehendak. gurunya. Para raja segera menyiapkan pasukan lengkap dengan
persenjataannya. Pada hematnya tak akan mendapat kesukaran menyerang
Jawa.
29. Jalannya pasukan berbondong bondong. Sekeliling gunung Cipto Renggo telah
dikepung ketat.
30. Sang Maharsi Manumanasa tahu bahwa tempat pertapaannya telah siap dijaga
untuk diserang, lalu memanggil putranya Sekutrem. Putranya diberi tahu bahwa
pertapaannya Cipto Renggo terancam bahaya, dari serangan Pandita Dupara
beserta pengikutnya Raja raja dari Atas Angin.
31. Bambang Sakutrem mengindahkan segala perintah dan petunjuk ayahandanya.
Ia menyiapkan diri dengan pasukan Cantrik, Puthut, Manguyu serta Jejanggan.
Setelah siap semuanya, Sukutrem minta doa restu untuk memimpin
pasukannya, dibawa turun kekaki gunung Disana kelihatan bahwa tempatnya
telah terkepung musuh yang siap dengan senjata ditangan masing masing.
32. Bambang Sakutrem lalu berdiri tegak, mengheningkan cipta memusatkan
pancaindera, mohon bantuari dari Dewa dalam serangan perlawananya terhadap
musuh. Maka turunlah hujan batu disegenap penjuru medan pertemputan.
Hancur leburlah pasukan lawan terkena serangan hujan batu. Tak ada seorang
pun yang dapat lolos dari serangan hujan batu.
33. Kemudian berturut turut datang menyerang banjir besar dan topan badai.
Akhirnya Dupara dan segenap pengikutnya hanyut dilanda banjir dan terpental
diembus topan badai sampai dinegeri masing masing, tiada seorang pun yang
ketinggalan.
34. Tersebutlah kisah ceritera mengenai Raja Tebela Suket yang sedang tertarik
perhatiannya terhadap Sang Maharsi di Cipto Renggo, termashur sangat tekun
menjalani tapanya. Baginda menetapkan pendiriannya, untuk pergi berguru.
Segera Baginda terbang menuju Cipto Renggo.
35. Dalam perjalanan Baginda mengalami kebingungan. Tak tahu arah mana yang
harus ditempuh. Baginda lalu menukik kebawah, tepat dipertapaan Sang
Dupana. Begawan Dupara kebetulan sedang duduk duduk. Melihat
kedatangnnya seseorang lalu disambut tegur sapa.
36. Baginda menyatakan bahwa ia adalah Raja Tebela Suket bergelar Partawijaya.
Maksudnya hendak menuju pertapaan Cipto Renggo dipulau Jawa. Sayang
ditengah perjalanan Baginda menderita kebingungan. Maksud dan tujuan
Baginda ingin berguru kepada Sang Begawan Cipto Renggo. Baginda minta
petunjuk jalan arah mana yang harus diternpuh, menuju pertapaan Cipto
Renggo itu.
37. Karena kebingungannya Baginda datang minta pertolongan. Atas kekhilafan
tersebut, Baginda dengan rendah hati meminta maaf. Sang Begawan
mempersilakan berhenti sejenak.
38. Ia memerintah kepada para sekabat menyiapkan jamuan buat Baginda. Dengan
sengaja Begawan Dupara mementaskan mukjijat keajaiban Hidangan telah
tersajikan pindang kambing yang telah disajikan diatas piring besar, piring
sajian, dapat tegak kembali dan lari lari. Lalu diganti dengan pindang ayam
jantan, juga dapat berdiri lagi sambil berkokok kokok.

68
39. Melihat peristiwa itu Baginda Tebela Suket tercengang cengang, memuji
keajaiban yang terjadi dipertapaan Dupara. Maka terlontarlah kata kata hinaan
ditujukan ke Cipta Rengga. Dikatakan mana ada keajaiban seperti yang terjadi
itu terdapat di Cipto Rengga. Apalagi disana, adalah daerah pegunungan.
Mustahil dapat mengimbangi di Atas Angin.
40. Baginda Tebela Sukt, lalu beralih. pandangan, tidak jadi berguru di Cipto
Rengga, melainkan akan berguru kepada Begawan Dupara. Tempat Begawan
Dupara, Raja Partawijaya diberi macam macam ilmu kejayaan dan kesaktian.
41. Sesudah mengetahui betul betul Raja Partawijaya berguru lahir maupun batin
kepada Begawan Dupara, maka Dupara lalu memerintahkan Sri Partawijaya
menemui Sang Manumanasa, diminta baginya mau rnenyerah tunduk kepada
Begawan Dupara. Bila tidak mau, Raja Partawijaya diizinkan membunuhnya.
Dia dipandang mengganggu tegak berdirinya pertapaan Dupara.
42. Setelah perintah dan petunjuk diterima, berangkatlah Sri Partawijaya menuju
Cipto Rengga. Beralih ceritera tentang Bambang Sekutrem. Sehabis menumpas
musuh, bermaksud mencari putranya Bambang Sakri.
43. Bambang Sakri minta kawin. Oleh ramanda : Sekutrem, diizinkan mencari
sendiri putri yang diidamkan. Sakri minta restu dari ayahnya, pergi masuk
hutan. Sekutrem mencari ditengah hutan. Ditengah hutan Sekutrem bertemu
dengan Raja Partawijaya
44. Raja Partawijaya berkakak kepada Sekutrem, Sekutrem beradik kepada Raja
Partawijaya. Raja Partawijaya menanyakan, adakah penganggapan sebagai
saudara tua itu dapat diterima oleh Sekutrem. Dijawab setuju oleh Sekutrem.
Partawijaya mengharap semoga keakraban bersaudara itu lestari sampai akhir
hayat.

XXI. MEGATRUH

01. Diulang lagi pertanyaan Raja Tebela Suket Apakah sungguh sungguh Sekutrem
mau mengulurkan tangan ajakan itu. Dijawab Lahir batin Sekutrem dapat
menerimanya.
02. Perjanjian telah mengikat keduanya. Partawijaya mengutarakan maksud atas
penintah Pandita Dupara, datang ke Cipto Rengga, minta agar Maharsi
Manumanasa mau menyerah kepada Pandita Dupara.
03. Dalam hal ini Sekutrem tidak menyetujui sebab itu adalah ayahanda. Namun
Partawijaya sudah terlanjur menyanggupi. Sebab itu ia tak dapat merubah
kesanggupan Kalau demikian tak usah datang digunung cukup disini saja. Toh
nanti digunung Cipto Renggo tetap akan berhadapan dengani Sekutrem.
04. Raja Partawijaya siap siap, ía menyingsingkan lengan baju, Sekutrem akan
diserangnya. Raja Tebela Suket dikatakan gerak geriknya menakutkan seperti
raksasa. Seketika itu juga Sri Partawijaya berubah sifat menjadi raksasa,
berambut tebal ikal. Ia pun menyesal, menangis sejadi jadinya. Tingkah
lakunya menggaruk garuk tanah dengan menggunakan tangannya.
05. alu dikatakan oleh Sekutrem tingkah laku Partawya menyerupai babi hutan.
Berubah lagi tubuh Tebela Suket menjadi babi hutan.
06. Melihat perubahan bentuk badan yang kedua kalinya, ia sangat takjub. Ia
merasa malu. Baginda Partawijaya menyatakan sangat bertaubat kepada
Sakutrern. Dia mengharap tubuhnya dapat diubah kembali seperti semula.
6a. Diharap dengan sangat belas kasihanmu dari Sang Sekutrem agar mau

69
merubah wajah yang sekarang, kembali rnenjadi wajah manusia. Tidak
bermoncong. Raja Partawijaya berpendapat tiada orang lain yang mampu
memulihkan kembali berwajah manusia keculi Sang Sekutrem.
07. Sekutrem menaruh sangat kasihan terhadap Raja Partawijaya, setelah berwajah
babi hutan. Atas manteranya yang diucapkan, wajah Raja Partawijaya berubah
menjadi wajah manusia kembali seperti semula. Baginda sangat berterima
kasih.
08. Sekutrem menceriterakan kisah perjalanannya. Sebenarnya Ia adalah putra dari
Maharsi Manumanasa. Ia terpaksa rneninggaikan ayahandanya, karena mencari
putranya bernama Bambang Sakri : Ia telah lama meninggalkan pedhepokan.
09. Raja Partawijaya berganti mengkisahkan. Sejak putrinya bernama Retno
Widowati bermimpi sampai dengan Bambang Sakri diangkat sebagai Raja
Muda dinegeri Tebela Suket, dengan gelar Prabu Anom.
10. Baginda Partawijaya menyatakan : kanda tak usah mencari, menyusul ke
Tebela Suket. Raja Partawijaya sendiri akan menjalankan penyerahan
rnenantunya Bambang Sakri, putra Sang Sekutrem juga diikut sertakan putrinya
sendiri : Retno Widowati sebagai menantu Resi Sekutrem.
11. Pertemuan akrab diawali dengan kehangatan telah berakhir. Raja Partawijaya
minta diri dan minta restu dan Sang Sekutrem. Baginda terbang menuju
negerinya. Baginda singgah menemui Begawan Dupara di Atas Angin.
12. Beliau mengisahkan apa yang dialami oleh Raja. Meski dalam kekecewaan
Dupara tak dapat berbuat sesuatu pun. Raja Partawijaya kemudian minta diri
kepada Pandita Dupara, selanjutnya kembali kenegeri Tebela Suket.
13. Tiba diistana, setelah istirahat sejenak Baginda memanggil putrinya : istri Prabu
Anom. Baginda menceriterakan segala pengalamannya dalam perjalanan.
Sesudah itu Baginda memerintah putrinya supaya siap siap, ia beserta suaminya
akan diantar mengunjungi mertuanya, yaitu Sang Sekutrem putra Maharsi di
Cipto Renggo.
14. Baginda sendiri bermaksud mengantarkan putra menantunya berdua kebukit
Cipto Renggo. Raja Partawijaya memberi perintah mengatur pasukan guna
mengantar Prabu Anom. Pasukan telah siap. Baginda memberi isyarat
berangkat.
15. Baginda sendiri ikut serta mengantar ke Cipto Renggo. Setelah siap
berangkatlah keluarga istana Trebela Suket. Perjalanannya melalui angkasa.
16. Perjalanannya laju sebentar kemudian tibalah di Cipto Renggo. Disana
dijemput oleh Sekutrem, kemudian bersama sama menghadap Sang Maharsi
Manumanasa.
17. Maharsi Manumanasa menyambut dengan hormat kedatangan Raja Trebela
Suket. Baginda diajak duduk bersama. Cucunya berdua duduk bersujud kepada
kakeknya. Sang Maharsi memerintahkan menghidangkan jamuan untuk
Bagind. Setelah bersujud Sekutrem dan putranya, meninggalkan Maharsi.
18. Raja Pantawijaya minta menetap sementara dipadepokan, untuk mendapatkan
didikan ilmu kecakapan dan kesaktian. Baginda telah menerima banyak ilmu
dan kecakapan. Ilmu mengenai asal mula dan tujuan kehidupan telah juga
diajarkan.
19. Setelah cukup mendapat ilmu Baginda memohon izin serta pertimbangan Sang
Maharsi untuk rnenobatkan Sakri sebagai Raja dinegeri Trebela Suket.
20. Baginda Partawijaya selanjutnya akan tekun berguru. kepada Sang Yogi
Manumanasa digunung Cipto Renggo. Mendengar pernyataan Partawijaya itu

70
Pandita Manumanasa tersenyum, merasa disanjung sanjung. Sang Yogi.
menyatakan terima kasih.
21. Pandita Manumanasa berkata kepada Raja Partawijaya, minta agar Sakri tetap
bertempat tinggal di Jawa. Adapun buat Baginda sendiri dipersilakan kembali
kenegerinya Tebela Suket. Diharap menyebarluaskan ilmunya.
22. Raja Partawijaya akhirnya menerima baik petunjuk Sang Manumanasa.
Baginda menyerahkan Sakri beserta istri Ratna Widowati untuk mendapatkan
bimbingan dan petunjuk
23. Baginda lalu minta diri kepada keluarga Cipto Renggo, kembali beserta
penggawalnya ke Tebela Suket. Sakri dan Retno Widowati hidup damai aman
sentausa membina kerumah tanggaan.

XXII. PUCUNG

01. Hidup Sakri dengan istrinya selalu rukun. Segala persoalan dipecahkan
senantiasa dengan musyawarah. Mereka berdua dapat menikmati suasana di
Cipto Renggo.
02. Alam Cipto Renggo sungguh mengasikkan. Pohon pohonan berbuah tiada
keputusan. Sampai sampai banyak beruntuhan tiada diurusi. Bunga bungaan
pun beraneka warna.
03. Putri Widowati kerap kali turun kesawah melihat lihat adanya tanam tanaman
yang diusahakan oleh : Cantrik, Manguyu, Phuthut, Jajanggan.
04. Peninjauannya disawah Ratna Widawati selalu diantar oleh Sakri. Sampai
petang baru mereka pulang. Kemudian dari perkawinan Sakri dan Retno
Widowati itu dikaruniai seorang putra.
05. Wajahnya anggun. Ayah bundanya sangat cinta kasih sayang. Putranya diberi
nama Polosoro. Lama lama sampailah Polosoro mencapai usia dewasa.
06. Sekali peristiwa Manumanasa didatangi dua orang Dewa yaitu Yang Sambu
dan Yang Kamajaya..
07. Kedatangan kedua Dewa itu menyampaikan panggilan bagi Maharsi
Manumanasa, Sekutrem, Sakri dan Retno Widowati agar pindah ke Inderaloka.
08. Pandita Manumanasa beserta putra, cucu dan menantu Retno Widowati
mengindahkan panggilan Dewa.
09. Manumanasa mencurahkan kepercayaan penuh kepada Semar untuk membina
cicitnya Polosoro. Buruk baik terletak ditangan Semar.
10. Sesudah cukup meninggalkan pesan kepada Semar, keempatnya berangkat naik
ke Inderaloka.
11. Polosoro tinggal seorang diri di Cipto Renggo. Ayah bunda dan kakeknya telah
tiada. Ia jadi tidak tahan menetap di Cipto Renggo. Dia mengajak Semar dan
anak anaknya turun dari gunung, masuk hutan.
12. Dalam perjalanan ia menemukan sebuah bekas batang jati yang telah ditebang.
Dan tunggak jati itu, tumbuh batang batang baru. Dia menentukan pendapat,
tempat itu akan dijadikan tempat bertapa.
13. Ki Semar dan anak anaknya menjaga diluar dholog (batang jati yang masih
kecil) yang tumbuh dan tunggak jati tersebut.
14. Tersebut dalam ceritera, Dewi Durgandini, putri Raja Mardewa, menderita
penyakit, badannya berbau amis. Ia sangat malu.

71
15. Bersama sama pembantu setianya, Dewi Durgandini meninggalkan istana
secara diam diam pada tengah malam. Hidupnya mengembara dalam keadaan
merana.
16. Perjalanannya terhalang oleh sungai besar, didekat pantai lama nian Dewi
Durgandini menunggu ditepi sungai itu. Lama lama kelihatan hanyut sebuah
perahu kosong lengkap dengan pengayuhnya. Perahu itu dikait, lalu
diambilnya.
17. Dewi Durgandini disertai embannya naik keatas perahu. Durgandini memegang
tongkat pengemudi, emban yang memegang kayuh.
18. Keduanya menjalankan perahu hilir mudik siang malam tidak tidur. Jika ada
orang terhalang dalam perjalanan, dipersilakan naik perahu tanpa dipungut
biaya.
19. Begitulah pekerjaan Durgandini tiap hari, memberi pertolongan kepada siapa
pun yang terhalang perjalanannya. Pada malam harinya mereka berhenti sambil
tafakur, mohon ampun kepada Dewa Maha Tunggal semoga penyakitnya dapat
sembuh.
20. Bila ternyata penyakitnya tak dapat sembuh, ia rela mati ditelan air sungal. Dan
penyakitnya itu Dewi Durgandini merasa sangat menderita.
21. Alkisah, Polosoro telah lama menjalani tapa diatas tunggak jati. Kemudian
turunlah dari Inderaloka Hyang Pramesthi Guru bersama Hyang Narada.
Kedatangan mereka berujud burung pipit jantan betina. Mereka memasang
sarang diataskepala Sang Tapa.
22. Rambut Polosoro penuh dengan bahan baku sarang burung pipit beterbangan
disekitar sarangnya. Dengan mengintip intip Semar berusaha menangkap
sepasang burung pipit itu.
23. Pada waktu Semar menangkap burung itu, terperanjatlah Polosoro, merasa
kepalanya dipegang dan rambutnya ditarik. Polosoro bertanya kepada Semar,
mengapa ia berbuat begitu.
24. Semar menceriterakan adanya burung pipit yang bersarang diatas kepala
Polosoro serta akan ditangkap, sepasang burung tersebut terbang dan hinggap
dipohon kesambi.
25. Palasana menghentikan tapanya ia mengambil panah. Kedua burung itu
dibidiknya. Sebelum anak panah itu dilepaskan sepasang burung itu telah
terbang pergi. Berulang kali setiap Polosoro rnembidikkan panah, sebelum anak
panah dilepaskan, burung itu telah terbang pergi ketempat lain. Hati Polosoro
jadi penasaran. Kemana saja burung itu terbang, selalu diikuti.
26. Lama lama pengejarannya terhalang oleh sungai. Silugangga si Burung pipit
masih nampak hinggap disehuah pohon diseberang sungai.
27. Polosoro mondar mandir mencari perahu yang mau menolong menyeberangi
sungai Gangga. Tiba tiba Polosoro melihat sebuah perahu segera dipanggil,
pengemudinya diminta tolong mengantarkan diseberang sungai.
28. Pengemudi menyanggupi Polosoro serta pengikutnya naik diatas perahu. Diatas
perahu itu Polosoro mencium bau busuk. Ia bertanya bau apakah yang
dirasakan itu.
29. Durgandini menyatakan bau busuk itu ditimbulkan oleh penyakit yang
mengendap pada tubuhnya. Dewa memberi isa rat bahwa untuk rnenghilangkan
bau busuknya ia harus rela menjadi pengemudi perahu memberi pertolongan
menyeberangkan siapa pun yang membutuhkan, nantinya akan hilanglah bau
busuk yang terdapat pada tubuhnya.

72
30. Polosoro bersedia usaha menolong menghilangkan penyakit Dewi Durgandini.
Durgandini dimandikan tiga kali sambil membaca mantera.
31. Kemudian hilanglah bau busuk yang selama itu mengendap pada tubuh
Durgandini. Ia pun berubah wajalmya menjadi cantik molek. Cahayanya
bagaikan sinar bulan purnama. Bau badannya berubah menjadi harum
semerbak. Polosoro tercengang dan kagum melihat perubahan itu.
32. Dalam perahu tersebut Dewi Durgandini menjadi juru mudi, duduk didepan.
Emban sebagai tukang dayung. Polosoro dan pengikutnya duduk ditengah
tengah perahu.
33. Polosoro mengamati gerak gerik Dewi Durgandini. Hatinya sungguh terpesona.
Tiba ditengah sungai, datanglah air pasang. Perahu menjadi miring
kedudukannya, akhirnya terbalik.
34. Sebelum tenggelam Putri Durgandini dapat dikait oleh Polosoro, diangkut
dibawa menepi. Pada waktu mengangkut ketepi air kama (main) dari Polosoro
jatuh dan hanyut diair.
35. Emban ditangkap Ki Semar dibawa menepi. Setiba diseberang sungai kalian
beristirahat dibawah batang kesambi, sambil mencari dua burung pipit yang
mereka buru. Namun burung pipit telah tiada.
36. Konon bau busuk yang mengendap pada tubuh Dewi Durgandini larut hanyut
diair lalu diperebutkan oleh ikan ikan sungai dan ikan laut.
37. Menjadi mangsa: badher, uceng, udang, palung, kepiting. Kama yang jatuh
diair, menjadi perebutan lima ekor ikan.
38. Dibawah batang kesambi itu Dewi Durgandini bersujud kepada Polosoro.
Karena sangat sedih ia menderita sakit aneh itu, ia mengeluarkan sumpah janji.
39. Sumpah janji itu berbunyi : Barang siapa dapat rnenyembuhkan penyakitnya,
bila seorang wanita akan dijadikan sahabat. Bila seorang pria ia akan
menyerahkan diri, sedia menjadi abdi setia, sanggup menjalani perintahnya,
meski selama hidup sekalipun.
40. Mendengar janji ucapan Durgandini itu, Polosoro bangga sekali. Ia tegak
berdiri memandang kearah sekitarnya. Dia dapat melihat pemandangan yang
amat luas. Terdampar dataran luas apalagi subur tanahnya.
41. Keindahan pandangan disitu sukar mendapat tolok bandingnya. Disebelah
selatan disebelah utara terdapat samudera.
42. Polosoro berdoa agar sifat hutan rimba itu berubah, menjadi tempat yang dapat
didiami manusia. Juga ia menciptakan sebuah negeri yang elok.
43. Terkabuilah apa yang diminta oleh Polosoro. Hutannya berubah menjadi negeri
serta istana dengan bangunan sangat megah. Tiada bangunan istana semegah
negara dan istana yang diciptakan oleh Polosoro. Benda benda kebesaran
kerajaan lengkap sempuma.
44. Dalam negeri itu banyak terdapat ragam bunga bungaan. Rumah rumah
dibangun berdekatan semua berpagar batu bata.
45. Bangunan Balai Pagelaran bangunan disekitar alun alu sangat menarik. Dapat
dimisalkan Balai Jonggring Salaka diturunkan ke Marcapada.
46. Sesudah istana sempurna diciptakan, Polosoro mengajak Dewi Durgandini dan
Semar beserta anaknya menyaksikan keadaan bangun bangunan istana. Ki
Semar dan anak anaknya melihat lihat bangunan bangunan diluar. Dewi
Durgandini dipersilakan melihat lihat kamar didalam istana.
47. Tiba diruang peraduan Dewi Durgandini dipersilakan menikmati keindahan
bangunan, sambil melepaskan lelah. Pada saat melihat lihat keindahan ruang
peraduan itu, Polosoro sempat mengamati bentuk tubuh Dewi Durgandini.

73
Terbangkitlah nafsu birahinya. Dalam kesempatan itu Polosoro dan Dewi
Durgandini menggunakan ulah asmara, main sanggama.
48. Selewatnya saat itu Polosoro pergi keluar menemui Kyai Semar.
Kepada Ki Semar dia minta pertimbangan.
49. Apakah gerangan nama yang pantas diberikan untuk negeri yang habis saja
diciptakan yang memiliki istana indah, didepan terdapat laut dan pelabuhan
yang besar, dibagian belakang terdapat pegunungan yang indah
pemandangannya.
50. Ki Semar menjawab minta tangguh sebab lebih dahulu akan mencari orang
sebagai saksi pemberian nama. Ki Semar pergi ketepi Sungal Silugangga.
51. Terdapat disana empat orang laki laki dan seorang wanita. Ki Semar datang
menemui kelima orang tersebut.
52. Kelima orang itu menyambut kedatangan Kiai Semar. Mereka menanyakan
mengapa seorang diri datang ditepi sungai Gangga.
53. Kyai Semar memberitahukan namanya. Ia rnenerangkan berasal dari desa
Manatahu sebaliknya Semar bertanya apa maksud kalian berkumpul ditepi
sungai Silugangga.
54. Jawabnya : mereka berasal dari dalam air. Mereka adalah anak anak dan
binatang air. Kedatangan mereka ditepi sungai, mencari pertolongan orang
yang mampu memberi nama bagi mereka.
55. Apabila Kyai Semar yang mampu memberi nama mereka masing masing akan
mengabdi kepadanya. Akan bersedia sehidup semati.
56. Mereka akan mengikuti kembali kerumahnya didesa Manatahu sebagai hamba
sahayanya. Kyai Semar rnenyanggupi. Lima orang tersebut diminta agar
mengikuti kedesa Manatahu, disana mereka akan diberi nama.
57. Tak lama kemudian tibalah kembali Kiai Semar didepan Sang Polosoro, diikuti
oleh lima orang. Polosoro menegur siapakah lima orang pengikut itu, nampak
gagah perkasa lagi cakap cekatan sikapnya.
58. Diterangkan oleh Kiai Semar, kelima orang diantaranya seorang wanita ini
berasal dari dalam tirta. Mereka adalah keturunan dari ikan, juga mina tirta.
59. Mereka muncul kedarat untuk mencari keterangan, siapakah gerangan yang
mampu memberi nama yang layak bagi mereka. Bila berhasil mereka akan
mengabdi kepadanya.
60. Polosoro rnenyanggupi pemintaan mereka. Mereka telah puas atas pemberian
nama bagi kalian. Selanjutnya merekapun mengabdi kepada Sang Polosoro.

XXIII. SINOM.

01. Kelima orang itu menyampaikan terima kasih sedalam dalamnya. Sang
Begawan minta diceriterakan siapa yang menurunkan kalian. Maka masing
masing memberikan keterangannya. Yang tertua menyatakan ibunya adalah
ikan badher.
02. Orang yang kedua menyatakan ibunya adalah seekor ikan palung. Adiknya lagi
ibuny adalah seekor ikan uceng. Sesudah itu menyatakan bahwa ibunya, adalah
ikan hiu, yang terakhir menyatakan bahwa ibunya adalah seekor kepiting.
Menurut ceritera para ibunya trjadinya mereka : itu pada mulanya ada seorang
putri yang rnengendarai sebuah perahu. Pada waktu perahu itu sampai ditengah
tengah sungai datanglah airbah. Perahunya menjadi terbalik. Dalam perahu itu

74
ada seorang penunipang lelaki. Pada kecelakaan itu melompat ia. Air kamanya
jatuh kedalam air.
03. Kama itu bercampur dengan bau busuk, lalu menjadi perebutan ikan ikan ibu
masing masing, sehingga air kama itu habis dimakannya. Sampai sekian
ceritera itu disampaikan, Polosoro terasa didalam hati. Ia pun segera
menyatakan bahwa sesungguhnya mereka itu adalah putra dan putri dari Sang
Begawan.
04. Oleh sebab tu oleh Polosoro diminta agar mereka bersujud kepadanya. Setelah
mereka masing masing bersujud, Sang Begawan berkata kepada kalian. Mereka
lalu diberi nama masing masing. Anak dari seekor badher diberi nama
Rupakencoko. Anak dari seekor palung diberi nama Bimokenco.
05. Putra dari seekor uceng diberi nama Kencoko. Anak dari seekor hiu diberi
nama Rojomolo. Anak dari seekor kepiting diberi nama Swagandini. Begawan
Polosoro memberikan nama negara yang baru saja diciptakan : Negara Astina.
06. Rupokenco, Bimokenco, Kencoko, Rojomolo bersama sama menyampaikan
hormat dan terima kasih atas pemberian nama itu demikian juga Swargandini,
Mereka sangat. memuji pemberian nama negara itu. Negara Astina
07. Pada tengah mereka berbincang bincang itu datanglah seorang putra raja
Maldewa yang bernama Durgandono. Ia duduk menghadap Sang Polosoro
dengan hormat lagi khidmat. Melihat kedatangan Durgandono itu, sebelum ia
mengatakan sesuatu lebih dahulu telah dirangkul oleh Durgandini seraya
menangis
08. Dewi Durgandini merangkul adiknya : Durgandono itu sambil meneriakkan
nama adiknya. Melihat peristiwa itu bertanyalah Polosoro kepada istrinya:
mengapa. ia merangkul seorang tamu itu sambil menangis. Dijawab oleh Dewi
Durgandini bahwa tamu itu adalah adiknya bernama Durgandono putra dari
Raja Maldewa.
09. Polosoro lalu memberikan salam kedatangan Durgandono. Ia menanyakan apa
maksudnya datang dinegeri Astina. Durgandono bersujud kepada Polosoro lalu
mengutarakan apa maksud kedatangannya. Ia mencari kakak perempuannya
yang telah pergi meninggalkan istana Maldewa tidak dengan sepengetahuan
ayahandanya. Kepergian kakaknya itu terjadi pada malam hari.
10. Para prajurit serta hamba sahaya dinegeri Maldewa telah disebar kesegala arah
untuk mencari kakaknya Dewi Durgandini namun tiada juga berhasil. Kini
ternyata didapati ada di Negeri Astina. Maka Durgandono menanyakan
bagaimana awal mulanya. Polosoro memulai ceriteranya. Paaa waktu yang
telah silam, Durgandini mengalami pekerjaan sebagai juru mudi perahu
disungal Silugangga. Pada waktu itu ia menderita sakit. Tubuhnya berbau
busuk (amis).
11. Polosoro memberikan pengobatan kepada Dewi Durgandini. Penyakit Dewi
Dirgandini berhasil dapat disembuhkan. Bahkan wajahnya berubah menjadi
cantik jelita. Akhirnya Dewi Durgandini dipersunting menjadi istrinya. Pada
waktu itu Durgandini telah dalam keadaan hamil. Tibalah saatnya Durgandini
melahirkan seorang putra. Putra itu berwajah tampan lalu disambut oleh
Begawan Polosoro.
12. Putra itu segera dimandikan sesudah itu diambil dengan kain. yang dipakainya.
Polosoro berkata kepada Durgandono ia diserahi dan menjaga tempat itu
bersama kakak perempuannya Durgandini. Begitu pula kepada Rupokenco
beserta akik adiknya.

75
13. Ia bermaksud akan pergi masuk hutan putranya ikut dlibawa pergi. Dia
berusaha agar jangan sarnpai ada orang yang menyusul. Kyai Semar dan anak
anaknya ikut mengantarkan. Anak bayi itu oleh Polosoro diberi nama: Birowo.
Pada usia dewasa ia bernama Abiyoso.
14. Polosoro melanjutkan bertapa ditengah hutan. Sekali peristiwa Polosoro
dipanggil oleh Sang Yang Jagad Pratingkah naik ke Inderaloka ía berpesan
kepada Semar : ia diharap sudi mengasuh anak tersebut sampai dewasa.
Sesudah itu Polosoro meninggalkan Marcapada menuju Suralaya.
15. Polosoro berpesan kepadaSemar, jangan sampai memberitahukan mengenai hal
kepergiannya itu. Dia tetap akan membantu dari surga. Semar mengindahkan
segala amanat dari Polosoro itu.
16. Tersebut dalam cenitera Durgandono yang diserahi menempati serta menjaga
istana karena telah lama meninggalkan ayahnya Raja Maldewa. Durgandono
ingin menengok ayahnya. Kepergiannya diikuti oleh Durgandini, Bimokenco,
Kencoko, Rojomolo. Sedang saudara tertua yaitu Rupokenco diserahi menjaga
negeri.
17. Tersebutlah dalam ceritera Negeri Maldewa. Pada waktu itu didatangi oleh
pasukan musuh. Bersamaan dengan itu datanglah Durgandono bersama sama
kakak perempuannya Durgandini
18. Durgandini diantar oleh Bimokenco, Kencoko, Rojomolo. Tiba dihadapan Raja
Maldewa, Durgandini segera bersujud seraya menangis. Selanjutnya datang
pula Durgandono berbakti kepada ayahnya.
19. Raja Maldewa bertanya kepada Durgandono, dimanakah kakak putrinya
Durgandini diketemukan. Lagi pula ditanyakan siapakah seorang putri remaja
yang datang bersama sama itu. Durgandono lalu menceriterakan kisah lolosnya
kakak wanitanya. Ia telah sampai ditepi sungai.
20. Atas petunjuk Dewa ia menjadi pengemudi perahu disungai itu. Akhirnya
kakaknya diperistrikan oleh Pandita Polosoro. Polosoro lalu menciptakan
sebuah istana yang diberi nama Astinapura. Kini kakaknya telah berputra
seorang anak priya dan diberi nama Birowo.
21. Setelah Dewi Durgandini bersalin, Polosoro berkata Durgandono : Ia
menyerahkan kakak perempuannya. Sedang putranya yang masih bayi itu
dititipkan kepada Kyai Semar untuk dibinanya. Sesudah itu Polosoro lalu
hilang musnah. Begitulah ceniteranya. Adapun mereka yang ikut serta ini
adalah : Bimakenco, Kencoko, dan Rojomolo.
22. Sedang yang tertua Rupokenco dipercayakan menjaga keselamatan Istana
Astina. Raja Maldewa menyambut salam kedatangan kepada mereka yang baru
datang. Ketiganyan menyambut gembira atas pemberian salam kedatangannya.
Sehabis makan bersama itu dipersilakan makan bersama. Baginda Maldewa
bersama sama masuk keistana.
23. Tersebutlah dalam ceritera, dalam asuhan Kyai Semar Abiyoso cepat menjadi
besar ia telah tahu akan arti ibu. Bertanyalah ia kepada Semar siapa dan dimana
ibunya. Semar tidak memberikan jawaban atas pernyataan itu. Hanya mengenai
ibunya ia dapat memberikan jawaban bahwa ibunya ada dinegeri Maldewa. Ia
adalah putri Raja Maldewa bernama Durgandini
24. Abiyoso minta kepada Kyai Semar agar disusulka ibunya kenegeri Maldewa
Semar minta bertangguh. Abiyoso tidak puas akan penangguhan Kyai Semar
itu. Ia menangis sejadi jadinya. Abiyoso mencaci maki kepada Kyai Semar.
25. Akhirnya Abiyoso didukung dan disusulkan kepada ibunya kenegeri Maldewa.
Tak lama kemudian tibalah mereka dinegeri Maldewa. Abiyoso diantarkan

76
masuk dari pintu belakang dan ia dilepaskan sendirian. Kyai Semar berpesan
bila nanti bertemu dengan anak yang mengaku juga ibunya, maka Semar
menasehatkan supaya melawannya. Mengenai ia sendiri akan menanti tinggal
ditempat itu.
26. Alkisah mengenai Begawan Sentanu yang telah ditinggalkan mati istrinya, ia
bertempat tinggal disebuah gunung, Istri begawan Sentanu meninggalkan
seorang anak laki laki yang tampan rupawan, namanya Sentani. Sekali
peristiwa putra Begawan Sentanu itu menanyakan ibunya. Pada saat itu Sentanu
telah mendengar berita bahwa Durgandini putra Raja Maldewa habis bersalin
seorang putra.
27. Begawan Sentanu lalu membawa anaknya terbang menuju negeri Maldewa.
Setibanya dinegeri Maldewa segera masuk kedalam istana. Sentanu menunjuk
kepada Dewi Durgandini sambil menyatakan dialah ibunya. Dia menyuruh
mendekatinya. Bila ditanyai siapakah dia itu disuruh menjawab bahwa ia adaah
putra dari Polosoro yang telah lama meninggalkan dirinya masuk kedalam
hutan.
28. Begawan Sentanu sanggup mengawasi dari jauh ditempat ia terbang. Pada
waktu lari menuju Dewi Durgandini bersamaan pula Birowo berusaha
mendapatkannya. Setelah tiba didepan Durgandini kedua orang anak itu
ditanyai siapa namanya dan darimana asalnya. Kedua anak itu mengaku bahwa
ia anak dari Polosoro. Dewi Durgandini berdiri dalam kebingungan.
29. Dewi Durgandini ragu ragu dalam menentukan, manakah sesungguhnya
anaknya sendiri itu. Kedua orang anak itu akhirnya berkelahi memperebutkan
ibunya. Keduanya saling menyerang, hantam menghantam tolak menolak.
30. Dan atas Sentanu mengetahui akan kejadian itu. Demikian juga Polosoro dan
Kahyangan mengetaui pula hal yang sama Polosoro segera turun ke Marcapada
dan menangkap Begawan Sentanu. Polosoro mengucap jangan ikut ikutan
campur tangan melibatkan diri dalam perkelahian anak melawan anak.
Sentanu dalam keadaan tak berkutik.
31. Ia mengucapkan telah bertaubat dan minta belas kasihan agar perbuatannya itu
dapat diberi ampun. Ia mengakui telah berbuat salah. Sentanu lalu mengajak
pulang kembali Sentani ketempatnya.
32. Polosoro segera datang mendekati istrinya. Dewi Durgandini menyambut serta
bersujud. Polosoro lalu menemui mertuanya ialah Raja Maldewa. Ia menitipkan
putranya Birowo kepada Raja Maldewa. Raja Maldewa menyanggupi. Oleh
Polosoro dinyatakan bahwa putranya telah disediakan sebuah negeri ialah
negeri Astina.
33. Polosoro lalu pergi meninggalkan Maldewa menuju ke Suralaya. Syahdan Raja
Maldewa menasehatkan rnengangkat putranya menjadi raja di Astinapura.
Pengangkatan itu agar disaksikan oleh Dewi Durgandini sendiri. Maka
keberangicatannya diantar oleh Raja Maldewa. Keberangkatannya mengendarai
kereta kerajaan.
34. Akhirnya tiba di Negeni Astina. Lalu diatur menurut tata tertib sebagaimana
kebiasaan pada saat diadakan pertemuan agung kerajaan. Raja duduk
diatassinggasana, dihadap oleh para para Menteri serta Maha Patih Baginda
Maldewa lalu angkat bicara.
35. Pembicaraannya bersifat pengumuman ditujukan kepada mereka yang hadir
dalam pertemuan agung, mengenai penobatan Prabu Abiyoso sebagai Raja di
Astinapura sebagai pejabat pendamping adalah para cucu cucunda yaitu yang

77
tertua Rupokenco beserta adik adiknya yaitu BimokencO, Kencoko dan
Rojomolo.
36. Sesudah paripuna ada acara penobatan Raja di Astina itu. Baginda Maldewa
kembali pulang kenegerinya. Dewi Durgandini tinggal di Negeri Astina
bersama putranya tinggal juga di Negeri Astina bersama putranya. Tinggal juga
di Negeri Astina Patih dari Maladewa bernama Yudonegoro diangkat sebagai
Patih untuk Negeri Astina.

XXIV. ASMARADANA

01. Polosoro yang telah berada di Kainderan mendengar berita bahwa puteranya
Abiyoso telah dinobatkan sebagai Raja di Negeri Astina. Sedang putranya itu
masih belum berpemaisuri.
02. Maka turunlah Begawan Polosoro dari Keinderaan membawa seorang bidadari
cantik benama Dewi Satari. Tiba diistana Astina terdapat Raja Abiyoso sedang
duduk duduk bersama saudara saudara.
03. Saudara Saudara itu adalah : Rupokenco, Bimokenco, Kencoko, dan Rojomolo.
Ibunya duduk tidak jauh dari mereka. Serta melihat kedatangan Begawan
Palasaara mereka lalu turun dari tempat duduknya menghormat kedatangan
ayahanda. Polosoro dipersilahkan duduk.
04. Dewi Durgandini menyambut dan bersujud lalu berturut turut bersujud:
Baginda Raja Abiyoso, Rupokenco, Bimakenco, Kencoko.
05. Terakhir Rojomolo bersujud kepada Sang Begawan Polosoro. Setelah Dewi
Durgandini, diikuti para putranya, Raja Abiyoso, Rupokenco, Bimokenco,
Kencoko dan Rojomolo selesai bersujud, berbicaralah Begawan Polosoro
menyatakan maksud kedatangannya yaitu menyerahkan seorang Bidadari yang
cantik rupawan, sebagai permaisuri Baginda.
06. Sang Begawan memberi perintah kepada Dewi Durgandini agar menerima
Dewi Satari sebagai putra menantu. Sesudaah selesai memberi perintah kepada
Dewi Durgandini, lalu berkata kepada putranya, Raja Abiyoso, bersifat amanat.
07. Isi amanat Raja Abiyoso diminta mengangkat Bimokenco. Sebagai Raja
dinegeri Mandura. Kencoko sebagai Raja Mandaraka dan Rojomolo menjadi
Raja diseberang.
08. Bagi Rupokenco dinasihatkan supaya tetap tinggal di Negeni Astina, sebagai
penghubung negara negara Mandura, Mandaraka, Wiratha.
09. Semua negara itu berlindung kepada negeri Astina. Raja Abiyoso
mengindahkan semua yang diamanatkan oleh Begawan Polosoro, Para putra :
tersebut menduduki negara masing masing sesuai dengan amanat Begawan
Polosoro.
10. Begawan Polosoro telah menciptakan negara negara : Mandura lengkap dengan
perlengkapannya. Memiliki alun alun yang luas. Juga telah menciptakan negara
Mandaraka siap dengan istananya lengkap dengan segala alat alatnya.
11. Rajamala diperintahkan oleh ayahanda mendirikan negeri sendiri diseberang.
Memiliki pasukan yang lengkap sempuma. Setelah itu selesai dikerjakan
semua, maka Polosoro lalu meninggalkan tempat itu.
12. Polosoro pergi kembahi ke Kahyangan. Oleh para putranya : Dewi Durgandini
diminta untuk tetap tinggal di Astina bersama sama raja Abiyoso. Tetapi oleh
Begawan Abiyoso tidak diizinkan karena sudah saatnya dia harus

78
meninggalkan Marcapada menuju ke Suralaya. Para putra tak dapat
menahannya.
13. Begawan Polosoro beserta Dewi Durgandini telah meningalkan Marcapada ke
Suralaya. Tinggallah Raja Abiyoso dengan permaisurinya Dewi Satari.
14. Alkisah Yang Jagad Nata beserta Dewi Uma turun dari Suralaya kenegeri
Astina. Yang Jagad Nata lalu merasuk ketubuh raja Abiyoso. Sedang Dewi
Uma merasuk kepada Dewi Satari. Maka antara Abiyoso dengan Dewi Satari
bangkitlah nafsu birahinya.
15. Abiyoso sangat terpesona kepada Dewi Satari demikian pula sebaiknya. Lalu
terjadilah ulah asmara antara Abiyoso dengan Dewi Satari.
16. Setelah terjadi peristiwa itu Yang Giri Nata serta Dewi Uma lalu bersama sama
kembali ke Kahyangan. Sesudah itu hamillah Dewi Satari. Setelah cukup
jangka waktunya, Dewi Satari melahirkan seorang bayi dalam keadaan
terbungkus.
17. Bayi bungkus itu diambil serta bungkusnya dilepaskan. Terdapat tiga bayi yang
lekat menjadi satu. Bayi yang lekat itu lalu dipisahkan, menjadi tiga orang bayi
semuanya laki laki berwajah tampan. Hanya sayangnya masing masing
mempunyai cacad tubuh.
18. Yang tertua diberi nama Dhesthoroto kedua matanya buta. Putra yang kedua
diberi nama Pandhu Dewonoto mempunyai cacad tubuh tengeng (lehernya
tidak berdiri tegak). Wajahnya sangat tampan.
19. Yang terakhir diberi nama Yomowiduro. Kakinya timpang. Setelah ketiganya
mencapai usia dewasa. Bidadari Satari kembalilah ke Suralaya.
20. Tersebutlah dalam ceritera, raja dinegeri Mandura dan Mandaraka masing
masing telah berputra. Raja Mandura mempunyai seorang anak putri yang
cantik rupawan diberi nama Kunthibujo.
21. Sekali peristiwa baginda raja Mandura, memanggil seorang pendeta dari
gunung Sudomomanik. Pendeta itu dipercayakan mendidik dan memberi
pelajaran. Ilmu yang diberikan disebut ilmu Rosomulyo. Ilmu itu diberikan
untuk memelihara keturunan yang memiliki wahyu raja. Tetapi untuk
memelihara ilmu itu ada pantangannya yaitu apabila mandi harus dalam
keadaan berbusana.
22. Setelah Dewi Kunthibujo dapat menguasai ilmu itu, Sang Pendeta lalu kembali
kegunung Sudomomanik. Sekali peristiwa Dewi Kunthibujo ingin mandi. Ia
pergi ketempat pemandian.
23. Pada waktu Dewi Kunthibujo mandi itu, merendamkan tubuhnya tanpa
berbusana. Ia lupa akan pesan dari gurunya. Syahdan Sang Hyang Surya yang
sedang bertugas menyinari Macapada, melihat akan mandi Dewi Kunthibujo
itu. Ia sangat tertarik. Air kamanya terlepas dan mengenai Dewi Kunthibujo itu.
24. Sehabis mandi Dewi Kunthibujo segera mengenakan pakaian kemudian pergi
kembali keistana, setelah peristiwa itu tejadi, maka hamillah Dewi Kunthibujo,
tetapi kejadian itu tidak disadari. Tiga bulan sesudahnya terjadilah perubahan
bentuk tubuh pada diri Dewi Kunthibujo. Hal itu diketahul oleh Baginda Raja
Mandura.
25. Raja Mandura bertanya kepada putrinya : siapakah seorang pria yang pernah
berhubungan dengannya. Raja Mandura merasa ditipu oleh putrinya. Maka raja
itu amat marah. Dipaksakan agar putrinya menceriterakan keadaan yang telah
terjadi apa adanya. Tetapi perintah ramandanya itu ditolak. Selanjutnya dengan
gurunya ia belum pernah berhubungan dengan seorang pria.

79
26. Ia hanya dapat menceriterakan bahwa sebagai wanita pewaris wahyu raja ia
diberikan ilmu yang bernama Rosomulyo. Pantangan dari ilmu itu, siapa pun
yang memiliki ilmu Resomulyo, bila sedang mandi dan merendamkan
tubuhnya kedalam air, tak diperbolehkan tanpa busana.
27. Tetapi pada suatu ketika ia terlupa mandi tidak mengenakan pakaian selembar
pun. Ia merendamkan diri didalam air cahaya sang Surya mengenai tubuhnya.
Sesudah itu ia merasa ada perubahan didalam tubuhnya. Raja Mandura segera
memanggil Pendeta digunung Sudomomanik.
28. Kemudian datanglah sang Pendeta menghadap raja Mandura. Kepada Pendeta
Sudomomanik Baginda bertanya agak marah, mengenial Dewi Kunthibujo
yang dididiknya, telah hamil tanpa hubungan dengan pria.
29. Raja Mandura menyatakan bahwa baginya merasa menderita sangat malu.
Beliau lalu memerintahkan sang guru agar berusaha melahirkan sang bayi dari
kandungan, tanpa melalui jalan pelahiran yang wajar.
30. Sang Pendeta menyanggupi, ia membacakan sembilan kali manteranya.
Kehamilan sang Dewi berubah cepat seperti kandungan dalam usia sembilan
bulan.
31. Sang Pendeta segera mengambil tangkai sirih dipergunakan untuk mengkilik
kilik, memancing keluarnya bayi lewat telinga. Berhasillah bayi keluar dari
kandungan melewati telinga sebelah kiri. Anak bayi lalu diambil, dimasukkan
didalam kendaga emas, selanjutnya dibuang kesungai Sulugangga.
32. Sang Dyah kembali menjadi perawan. Sesudah itu. Sang Pendita kembali ke
gunung Sudomomanik. Sesudah kejadian itu lewat, Baginda mengadakan
sayembara : barang siapa yang diingini oleh Dewi Kunthi, akan diambil
menantu oleh San Raja.
33. Sayembara pilihan itu diadkan dialun alun. Para putra pegawai istana dan putra
Adipati berdatangan dialun alun.
34. Sang Putri duduk dipanggung. Mereka yang ingin menunjukkan
ketampanannya berduyund uyun pergi datang, namun tiada seorang pun yang
mengena dihati Dewi Kunthi.
35. Sayembara itu tidak saja diikuti oleh para putra didalam negeri, bahkan para
raja dari negeri seberang pun banyak juga yang datang. Banyak para raja yang
mendirikan bangunan berderet deret dialun alun.
36. Alkisah tiga orang putra dari raja Astina telah berusia dewasa.
Dua orang diantara tak dapat mengikuti sayembara, yaitu Dhesthoroto dan
Yomowiduro. Sedang putra yang kedua ialah Pandhudewonoto berjuang
memperluas wilayah. Pandhu Dewonoto adalah putra yang terbagus dan
tercakap.
37. Kepergian kenegeri seberang diikuti oleh Semar dan anak anaknya. Dalam
usaha perluasan pengaruh wilayah kerajaan tak ada negara negara yang mampu
mengimbangi kecakapan serta kesaktian Sang Pandhu.
38. Kembalinya Pandhu Dewonoto kenegerinya, membawa tanda takluk berupa
harta benda dan putri. Semua perolehan itu diserahkan kepada ayahanda Raja
Astina. Kemudian oleh ayahanda semua putri tanda takluk itu lalu diserahkan
kembali kepada putranya.
39. Putri putri itu dibawa masuk kedalam istana oleh Pandu. Mula mula dibawa
masuk ketempatnya kakaknya yang tertua. Dipersilakan Dhesthoroto
mengambil yang diingini. Putri boyongan itu semuanya cantik cantik.

80
40. Dhesthoroto menerima baik tawaran dari adiknya. Karena tak dapat melihatnya
maka diharap, putri putri itu disiapkan didepannya. Dhesthoroto meraba raba
wajah para putri seorang demi seorang.
41. Dhesthoroto menentukan pilihannya kepada seorang putri dan Plosojenar,
bernama Dewi Gendari. Pada hematnya putri itu nantinya akan dapat
melahirkan banyak anak, maka pilihan dijatuhkan kepadanya. Pandu Dewonoto
menyatakan tidak keberatan, menyerahkan pilihan kakaknya itu.
42. Pandhu Dewonoto pergi menuju ketempatnya. Dewi Gendari, ditinggalkan.
Sepergi Pandhu Dewonoto hatinya sangat sakit sebab tak dapat menolak
perintah Pandhu Dewonoto. Dalam ketidak puasannya. Dewi Gendari
melontarkan kata kata kutukan untuk waktu waktu selanjutnya keturunan Dewi
Gendari dan Pandhu Dewonoto tak mungkhi terjadi kesesuaian pendapat,
selamanya akan bermusuhan.
43. Dewi Gendari mengkiaskan pergaulan keturunan mereka seperti anjing dengan
kucing. Setibanya ditempat Pandhu Dewonoto bertemu dengan adiknya ialah
Yomowiduro. Pandhu Dewonoto lalu menitipkan para putri boyongan.
44. Ia juga menawarkan kepada Yomowiduro, bila ada putri yang dikehendaki,
dipersilahkan memungutnya. Ia ingin pergi lagi kenegeri Mandura, ingin
mengikuti sayembara pilih. Adiknya menyetujui.
45. Keberangkatan Pandhu diantaroleh Semar serta anak.nya. Konon khabamya
Putra Raja Mandaraka ikut juga dalam perlombaan sayembara. Putra raja
Mandaraka itu bernama Norosoma.
46. Perjalanan Norosoma telah sampai dinegeri Mandura bersama sama dengan
raja raja dan negeri lain. Mereka mengambil tempat duduk masing masing, ada
yang duduk disebelah selatan ada pula yang duduk disebelah utara ringin
kembar. Dewi Kunthi mengamati dari atas panggung.
47. Diantara para peserta sayembara pilih itu. Norosomalah yang dipandang oleh
Dewi Kunthi berkenan dihati. Raja raja peserta sayembara merasa kecewa
hatinya. Maka sayembara pilih dinyatakan selesai. Para raja pulang kembali
kepemondokan masing masing.
48. Norosoma kembali ketempat pemondokannya juga. Ditengah jalan bertemu
dengan Pandhu Dewonoto. Ia bertanya apa maksud kepergiannya itu. Adakah
ingin mengikuti sayembana, dinyatakan sayembara telah usai. Maka
kepergiannya akan sia sia. Norosoma menyatakan bahwa pilihannya jatuh pada
dirinya. Pada waktu itu Semar istirahat duduk diatas tunggak. Ia menasihatkan
supaya tidak mau mengindahkan anjuran itu.

XXV. DURMO

01. Kyai Semar memperingatkan, akan sia sia perbuatannya. Dinyatakan mereka
telah bersusah payah, menempuh perjalanan dari Astina sampai Mandura, kalau
tak dapat ikut serta dalam perlombaan sayembara, malu bila menjadi tutur kata
buruk orang banyak. Sebaiknya teruskan saja maksudnya.
02. Pandhu Dewonoto mengucapkan berterima kasih atas anjuran kakaknya
Norosoma. Tetapi Pandhu Dewonoto pendiriannya : ingin mengikuti
sayembara. Norosoma merasa tidak senang hatinya. Ia merasa bahwa Pandhu
bersikap berani terhadapnya.
03. Norosoma bertanya : kalau demikian Pandhu telah berani menentang
pendapatnya. Pandhu menjawab: terhadap saat kebenaran ia berani menentang.

81
04. Ia menyatakan bahwa kepergiannya khusus untuk memenuhi sayembara Raja
Mandura. Karenanya maksud tersebut tak dapat dirintangi. Dan perselisihan
pendapat antar keduanya, terjadilah perlawanan.
05. Ikat pinggang Pandhu dapat ditangkap, ia dilempar jauh jauh. Ia telah datang
kembali, dan dapat menangkap Norosoma, kakaknya. Norosoma dibanting lalu
dilemparkan, jatuh terbalik balik.
06. Norosoma merasa kerepotan dalam menghadapi Pandhu itu. Ia segera
melafalkan mantera pujaannya, bernama Condhobirowo. Dari dadanya
keluarlah beribu ribu raksasa.
07. Para raksasa itu mempertunjukkan ulah tingkah aneka ragam berjungkir balik,
membeliakkan mata, mempertunjukkan sikap mengerikan. Raksasa itu telah
tiba didepan Pandhu Dewonoto. Pandhu tetap tenang, tidak bergerak.
08. Segala gerak gerik Condhobirowo dibiarkan saja. Oleh karena tidak dihiraukan
semua tingah lakunya, Condobirowo merasa tidak berhasil membangkitkan
nafsu amarah Sang Pandhu. Condhobirowo menjadi tak berdaya, lemah lunglai,
merasa tak mampu menghadapi kesaktian Pandhu Dewonoto Norosoma berkata
: kalau begitu halnya maka Condobirowo disuruh masuk kembali kedalam
perut.
09. Mereka mengindahkan perintah Norosoma masuk kedalam perut. Pandhu
Dewonoto segera menggunakan daya saktinya bernama Guwowijaya, dengan
mengusap usap dada sambil membaca mantera.
10. Pandhu mampu mengeluarkan topan badai. Pada saat badai mengamuk, Pandhu
berkata dalam hati, menyuruh badai menyerang dan mempermainkan
Norosoma diudara.
11. Terjadilah angin taufan melanda diri Norosoma diudara, seperti apa yang
dikehendaki oleh Pandhu Dewonoto. Norosoma dipermainkan oleh angin,
seperti halnya angin rnempermainkan baling baling. Norosoma mengeluh
berkepanjangan.
12. Dia menyampaikan rasa bertaubat kepada Pandhu Dewonoto dan minta maaf
sedalam dalamnya. Sebagai tanda bertaubat, bila Sang Pandhu menghendaki,
adiknya bernarma Dewi Madrim akan diserahkan.
13. Kegiatan angin Guwawijaya dihentikan. Pandhu Dewonoto menanggapi apa
kata Norosoma, ia minta agar Norosoma menghadirkan adik Norosoma
didepannya. Dia ingin tahu bagaimana raut muka dan perangainya.
14. Dengan kekuatan angin Guwowijoyo Norosoma diantar sampai keistana
Mondoroko bertemu dengan ayahanda dan Dewi Madrim, adiknya. Belum
sampai berbincang bincang secara leluasa, Dewi Madrim telah digandeng dan
dibawa secepat kilat kedepan Pandhu.
15. Sekejap mata Norosoma dan Dewi Madrim telah tiba didepan Sang Pandhu.
Norosoma berkata dan menyerahkan Madrirn, adik perempuannya.
16. Dewi Madrim lalu dimasukkan kedalam cupu manik Astagina oleh Pandhu
Dewonoto. Norosoma lalu mengajak Pandhu kenegeri Manduro. Berangkatlah
semuanya.
17. Dalam waktu dekat Norosoma telah tiba dibangunan panggung mengantarkan
Pandhu Dewonoto, seorang satria yang bagus lagi cakap. Melihat seorang tamu
jejaka tampan yang baru menampakkan diri itu hati Dewi Kunthi jadi gelisali
resah dirundung asmara.
18. Dewi Kunthi amat tertarik akan wajah Pandhu Dewonoto. Raja Mandura tahu
akan perubahan perasaan putrinya. Dewi Kunthi diajak ayahanda masuk

82
kedalam istana. Pandhu Dewonoto, dipanggil masuk bertemu dengan Dewi
Kunthi.
19. Didalam istana Dyan Pandhu diizinkan masuk bersama dalam ruang peraduan.
Kedua insan yang berlainan jenis itu telah menikmati malam mulia. Pagi
harinya Dewi Kunthi dan Pandhu dipanggil menghadap Raja Manduro.
20. Pandhu duduk bersujud dihadapan Baginda Mandura, lalu disusul Dewi Kunthi
berbuat sama. Sesudah itu Raja Mandura lalu keluar dari istana menuju
kepagelaran.
21. Dipagelaran Baginda bertemu dengan Norosoma. Para raja dan negeri lain telah
mendengar berita bahwa Dewi Kunthi sudah dipersunting oleh Pandhu, maka
timbullah rasa iri hati, kemudian diikuti rasa marah.
22. Untuk melampiaskan kemarahannya maka mereka mengamuk dipagelaran.
Mereka membuat gaduh, beramai ramai memukul tanda kesiap siagaan perang:
gendang, tambur dan gung.
Radyan Pandhu lalu mengusap usap dada. sambil membaca mentera.
23. Lalu bertiuplah badai Guwowijaya, dimanterai supaya melelanda Raja raja dari
negeri lain serta semua pasukannya. Mereka diembus angin terlempar sampai
kenegeri masing masing.
24. Seolah olah angin itu menjalani perintah Pandhu Dewonoto menyerang raja
raja dari luar negeri serta pasukannya. Tak ada seorang pun yang ketinggalan.
Mereka telah tiba ditempat masing masing. Akhirnya badai menjadi reda.
25. Sesudah tiada negeri yang memusuhi negeri Mandura, Pandhu dan Norosoma
pergi meninggalkan negeri Mandura. Sebetulnya mereka berdua masih terjailin
hubungan saudara. Pandhu berkakak kepada Norosoma.
26. Tiba diluar kota mereka mengambil persimpangan jalan masing masing.
Norosoma mengambil jalan kearah negeri Mondoroko, Pandhu mengambil
jalan kearah Astina. Berpisahlah jalan keduanya tidak diceniterakan bagaimana
perjalanan mereka. Telah tibalah Pandhu Dewonoto di Negeri Astina.
27. Ia segera menghadap ayahanda. Dia menyatakan bahwa telah mengikuti
sayembara yang diadakan oleh Baginda Raja Mandura. Pandhu telah berhasil
membawa Kunthi, Putri dari Raja Mandura.
28. Dewi Kunthi yang semula dimasukkan kedalam cupu Astagina lalu
dikeluarkan. Ia segera bersujud kepada Raja Astina lalu duduk bersimpuh
dihadapan Raja.
29. Baginda Abiyoso bersabda kepada putranya : Pandhu Dewonoto,
memerintahkan agar ia mau menduduki takhta kerajaan Astina. Raja Abiyoso
bermaksud mau meninggalkan takhta, untuk bertapa digunung Rotawu. Ia ingin
mengenyampingkan keduniawian.
30. Pandhu Dewonoto menyambut baik amanat ayahanda. Ia ingin menitipkan
minyak Tolo yang disimpan dalam Cupu ratna. Diharap cupu itu dibawa
ketempat ayahanda Abiyoso bertapa. Kelak bila telah memiliki seorang putra
pria diharap Cupu itu diberikan kepada cucunya.
31. Khasiat dan minyak Tala bila dilumaskan ketubuh, mengakibatkan orang
menjadi kebal akan segala senjata. Semua putra laki laki dari Pandhu nantinya
dilumas dengan air Tala
32. Setelah Pandhu Dewonoto menduduki takhta Cupu Ratna berisi minyak Tala
diserahkan ayahandanya. Dalam acara penobatan Abiyoso mengumumkan, dari
kehendaknya sendiri yang diangkat sebagai Raja di Astina, adalah putranya
Pandhu.

83
33. Sesudah dinobatkan. pandu bergelar Pandhu Dewonoto. Dia dipercayakan
menggantikan kedudukan sebagai Raji Astina. Rupokenco menyetujui atas
penobatan untuk adiknya sebagai raja di Astina.
34. Sehabis pelaksanaan penobatan, Rupokenco mengumumkan pertemuan telah
paripurna dan rapat dibubarkan. Baginda Pandhu lalu masuk kedalam istana.

XXVI. KINANTHI

01. Didalam istana Sang Abiyoso memberikan amanat petunjuk kepada putranya,
supaya baik baik mengemudi haluan negara. Dinasihatkan supaya kasih sayang
kepada hamba sahay.
02. Sang Abiyoso mendoakan mudah mudahan Negeni Astina tetap dianugerahi
selamat sejahtera. Ia sendhi bertapa digunung, Sang tapa menjalani wadat.
03. Tiba digunung Rotawu Sang Abiyoso menekun. tapanya. Puncak gunung
Rotawu tempat Abiyoso bertapa itu, merupakan daerah yang subur, banyak
terdapat mata air Pohon pohonan tumbuh rindang. Disekitar pertapaanya
tumbuh pohon manis jangan.
04. Dewi Kunthi permaisuni Raja Pandhu dan Dewi Madrim istri kedua, semua
telah hamil.
05. Dewi Gendari yang telah diperisteri oleh kakaknya yaitu Sang Dhesthoroto
telah berputrakan seratus orang.. Yang tertua bernam Kurupati. Adiknya
bernama Dursasana. Adik adik kelanjutannya tidak lagi diceriterakan seorang
demi seorang.
06. Dikisahkan permaisuri Dewi Kunthi telah hamil Sesudah sempuma usia
hamilnya, lahirlah seorang bayi pria keluar dari ubun ubun. Putera Baginda
yang baru lahir itu diberi nama Puntodewo.
07. Berikutnya lahirlah pula seorang bayi laki laki yang keluar dari lambung. Bayi
itu kedua belah ibu jarinya tumbuh kuku raksasa, disebut kuku Ponconoko, dia
diberi nama Brotoseno. Sesudah dewa merniliki tubuh, kekar gagah perkasa.
08. Dewi Kunthi melahirkan lagi seorang bayi laki laki : lahir sebagai biasa bayi
lahir. Bayi itu berwajah bagus, diberi nama Bambang Janawi atau Wijanarko.
Sesudah dewasa ia bertubuh langsing, mempunyai pandangan tenang lagi
tajam. Warna kulitnya kunings ayu. Matanya bersinar seperti bintang timur.
09. Dan Dewi Madrim Pandhu berputra dua orang anak laki laki kembar. Dua
orang bayi itu seorang lahir lewat betis kiri seorang lagi lahir lewat betis kanan.
Malang bagi Dewi Madrim. Sesudah melahirkan dua orang bayi kembar itu, dia
meninggal. Bayi yang pertama diberi nama Nakulo, yang kedua diberi nama
Sadewo.
10. Baginda Astina sangat cinta kasih sayang kepada semuua puteranya. Sekali
peristiwa Raja Pandhu ditimpa sakit keras Baginda merasa maut telah nyaris
datang. Sang Pandhu mengharap kedatangan Dhesthoroto kakanda.
11. Berkatalah Baginda Raja kepada kakanda, rasa rasanya maut hampir tiba. Maka
Baginda menitipkan negeri Astina, sebab semua para putra masih kecil. Nanti
bila putranya telah dewasa harap negeri Astina diserahkan kepada para
putranya, dalam pengamatan Kunthi.
12. Menurut pandangannya sebagai pengganti dipercayakan kepada putra yang
tertua ialah Puntodewo. Adapun adik adiknya berkedudukan sebagai Pangeran.
13. Dhesthoroto sanggup menepati amanat adiknya itu. Sehabis meninggalkan
amanat Baginda mangkatlah.

84
14. Didalam istana penuh ratap tangis para hamba sahaya menyiapkan segala
pelengkap acara pembakaran jenazah. Kayu bakar dan minyak telah tersedia
cukup. Sebelum jenazah dibakar, terlebih dahulu dihias dengan harum
haruman.
15. Upacara pernbakaran jenazah dimulai, pelengkap saji sajian telah lengkap
tersedia. Dalam saat pembakaran jenazah, mantera mantera dilafalkan sebagai
doa semoga arwahnya diterima disisi Hyang Maha Esa. Selesai upacara
pembakaran sisa pembakaran jenazah dikumpulkan, diambil, dimasukkan
kedalam cupu.
16. Abu sisa pembakaran jenazah yang telah dimasukkan kedalam cupu itu dibawa
ketempat khusus digunung, sebagai tempat penyimpan abu semacam itu. Abu
Jenazah Raja Pandhu diantar oleh iringan hamba sahaya Kerajaan Astina
menuju kepuncak gunung Cipto Renggo. Disanalah abu didalam cupu
disemayamkan
17. BerdaSarkan amanat Baginda Pandhu pejabat Raja di Astina untuk sementara
adalah Dhesthoroto. Sekali penstiwa Dhesthoroto mengadakan rapat kerajaan.
Para putra ikut hadir dalam rapat tersebut. Mereka hadir dengan mengenakan
pakaian keperjuritan.
18. Duduk terdepan dihadapan Raja adalah Sengkuni lalu disambung para putra
Baginda dan para Pegawal Kerajaan. Banyak hamba sahaya yang ingin
menyaksikan adanya rapat kerajaan tersebut.
19. Raja Dhesthoroto minta Sengkuni datang mendekat. Sengkuni diperintah
mengumumkan secara resmi atas dasar wasiat almarhum Baginda Raja Pandhu
Dewonoto pejabat sementara dinegen Astina, dengan syarat setelah para putra
Pandhu akil balik agar dipindah alih. Pengmuman itu ditujukan kepada segenap
pejabat dan pegawai Kerajaan Astina, pun juga untuk diketahui diluar Kerajaan
Astina.
20. Segala amanat almarhum Baginda Pandhu telah diumumkan oleh Sengkuni
kepada para pejabat dan putra serta hamba sahaya kerajaan. Para pejabat
menyambut setuju tiada yang menyangkal.
21. Kepada Sengkuni diperintahkan agar Kunthi beserta anak anaknya dikeluarkan
dari istana. Oleh Sengkuni mereka ditempatkan ditengah hutan, ditempat yang
pernah sebagai pertapaan Sakri.
22. Perintah tambahan, Dhursosono dipercayakan memimpin pasukakan guna
mengasingkan Kunthi dengan putra putranya.
23. Mereka yang mendapat tugas lalu masuk kedalam menemui Dewi Kunthi,
menguraikan apa perintah baginda Desthorotho. Dewi Kunthi amat takut.
24. Putra putranya dikumpulkan. Harya Brotoseno yang terdapat. Dewi Kunthi
serta empat orang putra ditangkap masuk ketengah hutan yang telah ditunjuk.
Dewi Madrim tidak ikut serta karena telah mangkat lebih dahulu.
25. Tempat pengasingan itu disebut Sendhang Surukan. Tempat tersebut selalu
diawasi dengan ketat secara bergilir. Perintah Raja Dhesthoroto selesai
dikerjakan, Sengkuni dan Dhursosono pun kembali keistana.
26. Disebutkan dalam ceritera sesudah selesai jalannya rapat kerajaan, Baginda
Dhesthoroto masuk keistana dengan diikuti adik adiknya dengan susah payah
mencari Brotoseno yang lolos dari penggerebegan.
27. Akhirnya Brotoseno dengan pengepungan para Korawa berhasil dapat
ditangkap. Beramai ramai para Korawa mengikat lalu memasukkan Brotoseno
dalam alat perangkap. yang disebut: beronjong, kemudian dimasukkan
ketengah samudera yang dalam.

85
28. Tersebut dalam ceritera, Antaboga: penghuni didalam samudera tersebut
memiliki seorang anak wanita, sedang dalam usia remaja. Ia berwajah rupawan,
diberi nama Nogogini.
29. Pada suatu malam dalam keadaan tidur Nogogini berimimpi, telah melayani
ulah asmara dengan seorang pria, satria yang bagus gagah perkasa. Mimpinya
itu diceriterakan kepada ayahnya. Dia minta kepada ayahnya untuk mencari.
Antaboga mencari apa yang diinginkan oleh putrinya keseluruh samudra. Dia
mengenakan pakaian ke Dewaan.
30. Kemudian Brotoseno terdapat. Dia dalam keadaan payah, hampir meninggal,
namun nafasnya menunjukkan masih ada tanda tanda hidup. Antaboga
memberikan pertolongan.
31. Brotoseno dikeluarkan dari dalam beronjong, dilepas tali pengikatnya. Sesudah
sadar ingatannya, Ia melihiat ada serorang Dewa. Dewa Antaboga memberitahu
kepada Brotoseno bahwa ia adalah Dewa penguasa samudera, bernama
Antaboga.
32. Dia mempunyai seorang anak perempuan bernama Dewi Nogogini. Anaknya
itu menceriterakan bahwa pada suatu malam bermimpi telah bertemu dengan
seorang satria bagus gagah perkasa. Dia menceriterakan dalam mimpi itu telah
menjalankan sanggama dengan satria yang diceriterakan itu. Brotoseno
diajaknya pulang.
33. Perjalanan Hyang Antaboga diikuti oleh Brotoseno telah tiba kembali dipusat
samudera. Brotoseno telah diketemukan dengan Dewi Nogogini. Dia diizinkan
bertempat tinggal bersama dengan putrinya. Lama kelamaan Dewi Nogogini
hamil.
34. Sesudah lama tinggal disamudera. Brotoseno ingat akan nasib ibunya yaitu
Dewi Kunthi. Ia membayangkan penderitaan ibunya dengan empat orang
putranya diasingkan ditengah hutan belantara ketat penjagaannya.
35. Brotoseno minta izin mertuanya, ingin menengok ibu dan adik adiknya dalam
pengasingan Hyang Antaboga mengizinkan, bahkan mengantarkan sendiri
dalam perjalanan. Perjalanannya melewati sumur jalatunda sampai didarat.
36. Setibanya didarat Hyang Antaboga kembali ketempatuya. Brotoseno
melanjutkan perjalanannya menuju tempat pengasingan. Dengan susah payah
serta segala tipu daya, berhasil menemui ibunda serta adik adiknya di Sendhang
Surukan.
37. Pada suatu ketika Raja Dhesthoroto memanggil Kurupati : Putra tertua, dia
diperintahkan pergi menghadap kakekanda Begawan Abiyoso dipertapaan
gunung Rotawu. Maksud perintah itu, mohon minyak Tolo, peninggalan
pamannya Pandhu Dewonoto, dititipkan kepada Begawan Abiyoso. Sesudah
jelas ia menangkap perintah kakekanda, berangkatlah Kurupati diiringi oleh
adik adiknya
38. Perjalanan mereka tiba dipertapaan Rotawu lalu masing masing bersujud
kepada kakeknya. Kurupati menyampaikan pesan dari ayahnya untuk
kakeknya, yaitu disuruh meminta air Tolo. Bila kakeknya memberikan akan
dibawa kembali ke Astina pada waktu itu juga. Ayahnya Raja Dhesthoroto
mengatakan kepadanya, minyak Tala tersebut titipan dari pamannya Pandhu
Dewonoto.
39. pm.
40. Begawan Abiyoso menyatakan bahwa ia tidak menyimpan benda itu. Kurupati
tidak percaya akan pernyataan kakeknya, bahkan sampat mengata ngatai,

86
bahwa Abiyoso kakeknya berdusta tidak jujur, tidak pantas sebagai seorang
Pandita berbuat demikian.
41. Kurupati, tetap mendakwa bahwa Abiyoso kakeknya menyimpan minyak Tala
itu Napsu amarah tak dapat dikendalikan. Kakeknya yang sudah lanjut usianya
diperlakukan sekehendak hatinya. Ia didorong dorong hingga jatuh berjungkil
balik. Kopyah yang ada diatas kepala direbut. Cupu tempat menyimpan minyak
Tolo terlempar jatuh. Minyak Tolo yang ada didalamnya dapati diketahui oleh
para Korawa.
42. Cupu segera dirampas oleh Kurupati. Sedang kopyah penutup kepala Sang
Begawan dilempar jauh ketempat kakeknya. Sambil melempar kopyah itu,
Kurupati menyerahkan terimalah ii kopyah pendusta, si tua bangka..
43. Sesudah itu Kurupati serta adik adiknya pergi meninggalkan Sang Begawan
kembali keistana. Tiba diistana mereka, Cupu segera diserahkan kepada
ramanda Raja Dhesthoroto. Kurupati menceriterakan bagaimana cara perebutan
cupu itu. Sampai hati mereka rnemperlakukan kakeknya yang telah tua renta. Ia
menyatakan kakeknya seorang Pandita pendusta. Kakeknya mengaku tidak tahu
menahu tentang Minyak Tala
44. Kakeknya ditarik tarik tangannya, dibawa lari kencang. Raja Dhesthoroto
menenma minyak Tolo sambil tertawa, mentertawakan pei laku putra putranya
terhadap kakeknya Raja Dhesthoroto menasihatkan kepad para putranya, mandi
dan berlangir didua tempat pertemuan dua sungai. Dikatakan bila kulit seluruh
tubuh telah betul betul bersih, maka minyak Tolo dapat sungguh sungguh
masuk kedalam kulit, akibatnya kesaktian kalian akan lebih sempurna.
45. Dhesthoroto menjelaskan, pengaruh minyak Tolo akan mendatangkan
kesaktian kepada pemakai minyak tersebut. Diharapkan supaya dia serta adik
adiknya dapat memanfaatkan minyak Tolo itu. Kurupati segera menguppulkan
adik adiknya.

XXVII. PANGKUR

01. Dikhabarkan Begawan Abiyoso pertapa di Rotawu, sepergi cucunya Kurupati,


menderita gering. Geringnya itu akibat sebagal seorang tua bangka dibawa lari,
diperlakukan sekehendak cucu cucunya yang’rnasih muda belia.
02. Dewi Kunthi beserta putra putranya berangkat dari Sendhang Surukan menuju
ke Rotawu ketempat Sang Tapa. Tiba di Rottawu Dewi Kunthi segera bersujud
kepada Sang Tapa, lalu diikuti oleh Puntodewo, berikutnya Arjuno, kemudian
Nakulo dan Sadewo.
03. Brotoseno tak dapat bersujud tanpa berkata sepatah pun, kakeknya dijunjung
tinggi tinggi sambil tegak berdiri. Kernudian perlahan lahan kakeknya
didudukkan kembali. Begitulah cara Brotoseno memberi sembah sujud.
04. Sang Abiyoso menyampaikan terima kasih atas kunjunganme mereka.
Kemudian menceriterakan kedatangan Kurupati dengan adik adiknya. Sikapnya
tidak sopan, Atas perintah Dhesthoroto ayahnya, Ia minta minyak Tolo,
peninggalan Pandhu. Karena mereka dirasa tidak berhak mewarisi, maka tidak
diberikan.
Dinyatakan dia tidak tahu menahu.
05. Kurupati dan adik adiknya meraba raba keseluruh tubuh tiada terdapat Dengan
keras Sang Abiyoso didorong dorong dari depan. Abiyoso jatuh terlentang.

87
06. Kopiyahnya terjatuh, cupu tempat menyimpan minyak Tolo terpental, lalu
diambil oleh Kurupati dibawa kenegeri Astina, Sang Abiyoso menyatakan
peristiwa tersebut baharu saja terjadi. Maka diminta Brotoseno mengejar untuk
meminta kembali, diberitahukan kalianlah yang berhak mewarisi.
07. Sang Abiyoso memperingatkan jangan sampai cupu jatuh ketangan
Dhesthoroto. Alkisah Kurupati dan adik adiknya telah mencari tempat
pertemuan dua buah sungai. Disitulah mereka sah melakukan mandi, jadi bukan
sembarang air sungai. Lagi pula mereka mandi harus hingga betul betul bersih.
08. Kelima orang cucu Abiyoso, Pandhu mengindahkan perintah kakeknya.
Sebelum berangkat Abiyoso telah menjelaskan peri laku yang harus dijalankan.
Brotoseno didepan Dhesthoroto harus menyamar sebagai Kurupati, baik
tingkah laku maupun suaranya juga menyamar sebagai Dursosono.
09. Abiyoso mengingatkan bahwa Dhesthoroto itu buta, maka tak mungkin dia
mengetahuinya. Abiyoso berpesan dengan sungguh sungguh agar jangan
sampai dapat dirangkul, itu berbahaya. Setelah cukup diberi pesan pesan
penting, berangkatlah kelima orang cucunya itu. Perjalanannya diantar oleh
Kyai Semar serta anak anaknya.
10. Perjalanan masuk istana masuk pintu belakang. Akhirnya sampailah dihadapan
Dhesthoroto. Brotoseno bertingkah laku dan bersuara menyamar Kurupati. Ia
melaporkan bahwa telah mandi dan berlangir ditempat sesuai dengan petunjuk
Raja Dhesthoroto.
11. Pada saat Brotoseno berdatang sembah kepada Raja Dhesthoroto itu,
Puntodewo, Arjuno, Nakulo, Sadewo, Semar dan anak anaknya, menyamar
mengadakan suara mirip dengan suara para Korawa. Suaranya riuh gaduh,
seolah olah suara datang orang banyak. Raja Dhesthoroto menanyakan apakah
kalian telah selesai mandi, Brotoseno menjawab sudah.
12. Minyal Tolo lalu diserahkan Brotoseno yang pada waktu itu menyamar sebagai
Kurupati menyambut cupu. Dia memberi tahu bahwa penerima cupu bukan
Kurupati, melainkan Brotoseno.
13. Meskipun merasa bahwa tertipu, namun Raja Dhesthoroto berkata dengan nada
pura pura. Baginda menyatakan hal itu bahkan kebetulan sekali, sehab baginda
telah sangat rindu kepada para putra Pandhu adiknya. Kalian telah lama
terpisahkan. Dan sebab sangat rindunya Raja Dhesthoroto menyatakan ingin
merangkul tubuh Brotoseno untuk melampiaskan rindunya, Brotoseno lalu
mengambi batu besar, setinggi tubuhnya, diletakkan didepan Dhesthoroto
14. Sesudah itu ia rnundur selangkah serta berkata kepada uwaknya,
mempersilakan merangkulnya. Dhesthoroto melangkah maju dengan maksud
ingin merangkul Brotoseno. Namun Brotoseno telah mundur beberapa langkah.
Akibatnya Brotoseno tak berhasil dapat dirangkul, yang dapat dirangkul adalah
batu besar setinggi Brotoseno. Karena terkena rangkul dan Dhesthoroto yang
sedang mengenakan kesaktiannya itu, maka batu tersebut menjadi hancur lebur.
15. Brotoseno tercengang melihatnya. Ia mengagumi kesaktian uwaknya.
Brotoseno melontarkan kata kata pendeta. Dia mengatakan bahwa uwaknya
tidak saja buta mata kepalanya, bahkan mata hatinya pun buta peka. Dikatakan
uwaknya tak tahu berbuat kebajikan, tak rnau mensyukuri nikmat yang
diberikan lain orang.
16. Brotoseno beserta saudaranya lalu minta diri meninggalkan Negeri Astina
menuju kegunung Rotawu. Setibanya didepan kakeknya Brotosenon
menyerahkan cupu tempat menyimpan minyak Tolo. Sang Abiyoso menerima.

88
Ia memerintah cucu cucunya cepat cepat mandi. Setelah selesai mandi, diharap
mereka segera kembali, selanjutnya tubuh mereka dilumas dengan minyakTolo.
17. Puntodewop beserta adik adiknya mengindahkan semua petunjuk dari
kakeknya. Sehabis mandi mereka cepat cepat kembali. Dipertapaan tubuh
mereka masing masing dilumas dengan minyak Toto. Minyak Tolo telah
digunakan tinggal tempat penyimpannya saja. Para putra Pandhu behasil
memiliki kekebalan dari semua senjata.
18. Alkisah para Korawa sebanyak seratus orang telah mengindahkan petunjuki
petunjuk ramanda Raja DhesthOroto, yaitu mandi bersih bersih, dimana tempat
bertemunya sungai dengan laut. Sesudah itu mereka pergi kembali masuk
keistana.
19. Diistana para Korawa sebanyak seratus orang, bertemu dengan ayahanda.
Kurupati meberitahukan bahwa para putra telah selesai mensucikan diri.
Mereka mengharap segera tubunya dilumas dengan minyak Tolo.
20. Dhesthoroto menyatakan penyesalaannya terhadap kejadian yang telah
menimpa atas dirinya. Diceriterakan sepergi para Korawa menyucikan diri
mandi ditempat dengan laut, datanglah Brotoseno diiringi Semar beserta anak
anaknya. Kedatangan mereka membuat suara aneka warna, dibuat mirip dengan
suara. BimoSeno datang mendekat menyamar tingkah dan suara Kurupati.
Dhesthoroto menyatakan kena perangkap tipu daya. Minyak Tolo telah
diserahkan kepada Bimoseno yang menyamar sebagai Kurupati. Dia penyamar
Kurupati menyatakan bahwa para Korawa telah selesai menyucikan diri, maka
cupu tempat menyimpan minyak Tolo diminta. Tanpa ragu ragu cupu
diserahkan.
21. Dhesthoroto mengatakan bahwa dia tak dapat mengamati wajah mereka yang
dapat diperhatikan hanyalah suara. Karena tipu daya mereka, maka cupu telah
diserahkan Bimoseno.
22. Dhesthoroto menceriterakan tentang tipu daya balasan. Ia menyatakan seolah
olah tidak terdapat rasa kemasgulan, bahkan menyatakan rasa rindu kepada
para putra Pandhu yang sekian lama berpisah. Ingin dia merangkul Bimoseno.
tetapi keinginan ini tidak tercapai, bahkan menderita malu. yang dapat
dirangkul bukannya Brotoseno, melainkan batu besar setinggi tubuh Brotoseno.
Batu hacur menjadi pasir.
23. Kurupati serta adik adiknya, disuruh mengejar para putra Pandhu, merebut
kembali cupu yang telah lepas dari tangan ayahnya. Berangkatlah para Korawa
dibawah pimpinan Sengkuni, mengejar para Pendhawa, Barisan Kurawa telah
hampir tiba dipertapaan Begawan Abiyoso. Brotoseno melihat gelagat
pertapaan Rotawu akan diserang lawan. Segera ia menyiapkan diri untuk
melawan.
24. Brotoseno lalu turun kelambung gunung menghadapi lawan. Nakulo dan
Sadewo pun turun dari gunung tempat Begawan Abiyoso bertapa.
Kepergiannya diikuti oleh Kyai Semar. Mereka telah tiba dikaki gunung.
Brotoseno telah berlaadapan dengan Kurupati. Keduanya telah saling
menantang, Saling mencela. Akhirnya terjadilah perkelahian hebat.
25. Kurupati terlengah, dapat ditinju dengan keras, kena pada pelipisnya. Ia jatuh
terkapar, segera diangkut mundur. Dhursosono datang membantu. Ia terlengah
dapat ditangkap disekap erat erat, selanjutnya dilemparkan jauh jauh, jatuh
bagaikan diempaskan ditanah. Dia tak sadarkan diri.

89
26. Para Korawa yang lain datang.rnengeroyok. Namun tak mendatangkan rasa
ketakutan bagi Brotoseno. Korawa yang datang mengeroyok, seorang demi
seorang ditangkap dan dilempar. Tiada seorang pun dapat meloloskan diri.
27. Haryo Sengkuni menyaksikan rusaknya pasukan Korawa akibat amukan
Brotoseno. Ia amat iba hatinya, lalu minta belas kasihan dari Brotoseno, agar
mau meredakan amarahnya. Sengkuni menunjukkan korban dari amukan,
bergelimpangan disana sini sambil merintih mengeluh kesakitan.
28. Sengkuni menyatakan orang berbuat dosa, para putra yang menanggung
akibatnya. Sengkuni mengakui dipihaknyalah sesungguhnya sumber kerusuhan.
Oleh karena itu ia memintakan ampun untuk segenap pasukannya. Dia berjanji
akan menarik mundur pasukannya.
29. Mendengan kata pengiba iba dari Sengkuni, menjadi redalah kemarahan
Brotoseno. Cupu diserahkan kepada Sengkuni. Sengkuni rnenerima penyerahan
cupu tempat menyimpan minyak Tolo.
30. Tutup cupu dibukanya, ternyata isinya telah habis. Sengkuni mengambil sisa
minyak seadanya, dioleskan pada tubuhnya. Cupu lalu diisi dengan air.
Kemudian Sengkuni menarik mundur pasukannya. Mereka yang menderita
kesakitan diangkut dengan tandu.
31. Pasukan Astina yang ditarik mundur itu perjalanannya telah tiba dinegerinya.
Sengkuni lalu masuk kedalam istana. Ia melaporkan bahwa pengejaran para
Pandawa berhasil dapat dikejar, tetapi perlawanan pun terjadilah. Cupu dapat
dirappas, sayang keadaan sudali kosong. lsinya telah dipakai oleh para
Pandawa.
32. Cupu kosong lalu diserahkan kepada Raja Dhesthoroto. Baginda amat
menyesal lagi marah. Cupu diempaskan ketanah, Cupu pun jadi hancur. Hati
Dhesthoroto bingung tak menentu. Para Korawa dinasehatkan kembali.
33. Ceritera beralih mengenai para Pandawa. Sesudah Brotoseno berhasil
memundurkan Korawa, ia beserta saudaranya kembali menghadap kakeknya.
Tiba dipertapaan Brotoseno memberikan laporan kepada Sang Begawan, hasil
penunaian tugas dari kakeknya Begawan Abiyoso puas hatmya.
34. Istirahat sejenak, Sang Abiyoso berkata kepada cucunya ia mengutarakan
pendapat, kalau keadaan seperti yang mereka alami itu berjalan berlarut larut,
bagaimana hasil kajian nanti. Ia menasihatkan agar berani membuka rimba
yang terletak disebelah barat dari tempat pertapaan Sang Begawan. Rimba itu
disebut hutan Martani.
35. Para Pandawa menyanggupi perintah kakeknya, mereka lalu berangkat menuju
tempat hutan Martani. Kyai Semar dan Dewi Kunthi tak ketinggalan. Mereka
lalu membangun tempat istirahat ditepi sungai didekat pantai.
36. Sesudah tempat peristirahatan selesai dibangun, pekerjaan membuka hutan
dimulai siang hari sehabis menngerjakan membuka imba, ditempat itulah
mereka beristirahat. Malam hari mereka tidur ditempat itu pula. Apa yang
dimakan, adalah umbi umbian yang didapat dari hutan itu. .
37. Sepanjang ceritera, terdaptlah ceritera tentang Negeri Prnggadani dan Rajanya
bergelar Raja Arimba. Saudaranya ada empat orang. Adikk Raja Arimba,
seorang wanita, langsing bentuk tubuhnya, cantik paras mukanya Putri itu
bernaaa Arimbi.
38. Adik laki laki Arimba tiga orang. Adik Arimbi bernama Brojodento, adik
Brojodento bernarna Brojolamatan, yang terakhir Brojumustika.
39. Konon Raja Arimba mengumumkan sayembara. Isi sayembara barang siapa
dapat megalahkan kesaktiannya, adiknya, Dewi Arimbi akan diserahkan kepada

90
pemenng. Bila tak ada yang mampu mengalahkan. Arimbi dilarang kawin.
Rasa berat hatinya sama berat dengan bila dimadu.
40. Dewi Arimbi amat bersedih hati. Siang malam berdoa kepada Dewa agar
mendapat karunia suami. Hyang Pramesthi memerintah Bethara Narada turun
kemarcapada membawa berita yang harus disampaikan kepada Dewi Arimbi.
Hyang Narada memberi tahu bahwa calon suami Dewi Arimbi adalah seorang
pria bernama Werkudara. Diharap sabar menanti pertemuan itu akan terjadi
didalam hutan Martani.
41. Werkudoro sedang membuka hutan yang nantinya akan dijadikan kota.
Dijelaskan saudara tua dari Brotoseno ialah Puntodewo. Berturut turut adiknya
yartu Janawi, Nakulo Sadewo. Sesudah lengkap, Hyang Narada memberikan
penjelasan, segera kembali ke Kahyangan.
42. Sepergi Hyang Narada, adik adik Arimbi bernama Brojodento, Brojokalpo dan
Brojomusthi dikumpulkan
43. Setelah berkumpul, mereka diberitahu bahwa Hyang Narada telah menjelaskan
bahwa calon suaminya seorang satria gagah perkasa bernama Brotoseno. Dia
sedang membuka hutan Martani. Pembantu tugas itu adalah empat orang
saudaranya. Penjelasan selanjutnya ia diwajbkan membantu Dewi Arimbi,
minta pendapat dari adik adiknya..
44. Adik adik Arimbi mendukung bila kakaknya bermaksud ingin membantu
pekerijaan Brotoseno. Dewi Arimbi minta pendapat tentang pemberitahuan
kepada kakaknya Raja Arimba. Adik adiknya merasa tidak perlu memberi tahu
kepada kakanda Raja Prmggodani. Menurut hematnya sayembara yang
diadakan Raja Arimba merugikan pihak lain, tak perlu dipatuhi.
45. Secara diam diam mereka meninggalkan Negeri Pringgadani. Konon mereka
yang membuka hutan Martani itu sedih hatinya. Kalau berhasil menebangi
batang didepan, pohon pohon dibelakangnya pulih kemball dengan subur.
Mereka berhenti dibawah pohon beringin sambil mengenang hasil kerja yang
sangat mengecewakan itu.
46. Tersebutlah dalam ceritera, kedatangan empat orang raksasa, seorang
diantaranya seorang raksasa perempuan, mereka berhenti didekat kelompok
putra Pandhu. Puntodewo menanyakan dari manakah asalnya, apa pula
maksudnya. Puntodewo menilal raksasa wanita itu cantik cakap,
sayangwajahnya berujud wajah raksasa.
47. Dewi Arimbi menjelaskan mereka berasal dari negeri Pringgadani Rajanya
ialah saudara tertuanya bernama Arimba. Kedatangan kalian memenuhi
petunjuk Dewa supaya membantu Brotoseno. Dewa mentakdirkan Brotoseno
itulah calon suami.
48. Dewa menyatakan dalam perkawinan dengan Brotoseno nanti akan mendapat
anugerah seorang putera yang sakti perkasa. Puntodewo menyerahkan
keputusan pendapat dan Brotoseno sendiri mengenai setuju atau tidak.
49. Brotoseno menjawab tak mungkin jadi seorang manusia pria kawin dengan
seorang raksasa wanita. Ucapan Brotoseno itu bertujuan agar Dewi Arimbi
mengurungkan keinginan. Ternyata kejadian hasil sebaliknya.
50. Brotoseno mengajukan persaratan yang perlu mendapat tanggapan,
pertimbangan dan kesanggupan Brotosen bersedia memperistri kepada Dewi
Arimbi apabila sanggup dan dapat membersihkan semua batang yang tumbuh
dalam rimba Pringgadani dalam waktu tiga hari.
51. Dewi Arimbi menyanggupi. Adik adiknya dimintai bantuannya dengan
sungguh sungguh. Mereka mencabuti batang batang kayu dari udara. Dalam

91
jangka waktu tidak lama, hutan Martani telah merupakan tumpukan batang
kayu. Arimbi mendatangkan topan badai bersamaan dengan marak api. Batang
batang kayu terbakar api lalu dilanda topan. Seketika itu juga hutan Martani
jadi bersih. Tiada sepotohg kayu pun ketinggalan.
52. Syahdan Hyang Pramesthi menyuruh Yang Narada turun ke Marcapada
membawa Kalimasada untuk kelima bersaudara. Sebagai pemegang adalah
Puntodewo
53. Selain itu Hyang Pramesthi menganugerahkan juga gada raksasa pusaka untuk
Brotoseno. Sesudah bersih, hutan Martani dari pohon pohon pengganggu
pembangunan sebuah kota, maka Dewi Arimbi datang bersujud kepada
Puntodewo.
54. Ia menagih janji yang telah diberikan kepadanya. Puntodewo melanjutkan
tuntutan janji yang telah diberikan kepada Arimbi. Puntodewo menjelaskan :
tidak. baik : orang mengingkar janji. Brotôseno mendengus dengus dan
menarik nafas panjang, tanda tak puas rasa hatinya.

XXVIII. DURMA

01. Hyang Narada datang kembali. Dia menyampaikan kata kata dan lagi ciri khas
dari Yang Narada bila memulai pembicaraan. Genjong waru doyong :
janganlah Brotoseno bersedih hati, Hyang Jagad Nata memerintah membantu
apa yang menjadi kerepotan Arimbi.
02. Selain itu Yang Narada ditugaskan menyerahkan Kitab Kalimasada sebagai
benda pusaka bagi para Pandawa, hendaknya dipelihara baik baik. Puntodewo
sebagai putra pandu tertua dipercayakan menyimpan pusaka Kalimasada. Dia
dinobaatkan menjadi Raja.
03. Sesudah dinobatkan, disarankan memakai gelar RajaYudhistira. Negara yang
sedang dibangun, karena semula berujud hutan belantara bernama hutan
Martani, diseyogyakan diben nama Negeri Amarta. Hyang Pramestlu
mentakdirkan Dewi Arimbi jadi isteri Brotoseno.
04. Negeri Amarta selanjutnya akan jadi negara yang berwibawa, berpengaruh
besar kepada negara negara lain. Janaka diangkat sebagi satria mengatur
kekuatan dan Prajurit Negeri Amarta. Nakulo dan Sadewo dipercayakan
menjaga keselamatan Negeri.
05. Yang Narada lalu memanggil Dewi Arimbi. Ia dimanterai untuk diubah
sifatnya menjadi manusia biasa. Karena bentuk badan aslinya memadai maka ia
menjadi seorang putri cantik sempurna.
06. Oleh karena tugas yang diberikan dan Hyang Giri Nata selesai dikerjakan,
maka Yang Narada pergi meninggalkan Negeri Amarta menuju Suralaya.
Pertemuan disudahi.
07. Brotoseno kembali keternpatnya membawa Dewi Arimbi. Ditempat itu Arimbi
dimiminta menyiapkan diri menenima ulah asmara yang lain sifat kedaannya
dengan biasa terjadi. Dijelaskan pada saat ulah asmara yang ia jalankan tak
akan terdapat cumbu rayu, melainkan akan terjadi adegan adegan uji coba
kesaktian. Dewi Animbi mengalami diempaskan dan diinjak dibumi, hingga
berakibat bumi lekuk, diempaskan perbatuan, kebatang kayu yang besar.
Terakhir Dewi Arimbi diempaskan kebetis kiri dan kanan.
08. Namun segala penderitaan itu dirasa sebagai garam gulai, bumbu yang
menambah nikmatnya tidur Pagi dan sehabis bangun tidur. Dewi Arimbi

92
bangun dari tidurnya. Ia duduk badannya merasa letih lesu. Sehabis mandi,
badannya merasa segar, kekuatan pulih kembali.
09. Sekali peristiwa Arimbil menemui Brotoseno minta izin ingin mengunjungi
kakaknya Raja Pringgadani. Ia sudah lama tidak bertemu, rasa rindu
mengendap dilubuk kalbu. Apalagi pada saat berpisah tidak memberi khabar
kepadanya. Ia membayangkan kakaknya itu tentu bersusah payah mencari.
10. Brotoseno mengizinkaa permintaan dari Arimbi, bahkan ia sanggup mengantar,
dalam perjalanan. Brotoseno menentukan langkah sebaiknya. Arimbi
dipersilahkan mengambil jalan lewat udara, sedang ia sendiri akan menempuh
jalan didarat. Brotoseno yakin bahwa sampainya ditempat yang dituju akan
bersamaan waktunya. Arimbi menerima baik petunjuk dari Brotoseno. Ia
menghadap kakanda Baginda Puntodewo minta izin dan restu akan
meninggakan istana pergi melepaskan rindu terhadap kakanda Baginda Raja
Pringgadani.
11. Sri Yudhistira mengizinkan dan merestui keberangkat Dewi Arimbi bersama
Brotoseno Semar serta anak anaknya diperintahkan mengiringi perjalanan
Brotoseno. Keberangkatan Brotoseno siap membawa gada raksasanya.
Perjalanan mereka disertai angin ribut.
12. Arimbi telah berangkat lebih dahulu bersama sama tiga orang adik laki lakinya,
ialah Brojodento, Brojomusthi dan Brojokalpo. Mereka menghendaki tiba lebih
dahulu dari Brotoseno, dinegeri Pringgoani, Setibanya di Negeri Pringgodani
mereka langsung menghadap Raja Arimba.
13. tas kedatangan wanita ayu yang turun dari angikasa itu. Raja Arimba sangat
tertegun. Arimba bertanya : Bidadari apakah yang baru saja datang itu. Arimbi
bersujud, sesudah itu ia menyatakan bahwa dia adalah Arimbi, adiknya Dew
Arimbi menceriterakan segala pengalaman dan langkah yang telah dijalankan.
Sebelumnya ia telah minta maaf lebih dahulu karena menjalankan segala
sesuatu tanpa sepengetahuan Raja Arimba.
14. Raja Arimba jadi amat marah. Baginda merasa tidak dihargai sebagai saudara
tua. Kecuali itu merasa dikesampingkan tidak dimintai pertimbangan untuk
menentukan sutu langkah yang akan diambil.
15. Dengan suara sentak lantang, Raja Arimba menanyakan dimana suami Arimbi
berada. Dijawab oleh Arimbi masih ada dalam perjalanan. Ia menjelaskan
bahwa jalan yang ditempuh berlainan. Dia menempuh jalan diudara sedang
Brotoseno menempuh jalan didarat.
16. Raja Arimba memerintahkan adik adiknya dengan suara lantang, memasang
pelana dipunggung gajah peliharaan Baginda.
Raja Arrimba bemaksud melampiaskan kemarahannya, menyerang Brotoseno.
Dia menggunakan kendaraan gajah itu sebab dia memiliki kesaktian bila
pengendaranya mati dalam medan laga dapat hidup kembali karena dilompati
tubuhnya.
17. Setelah gajah tersebut siap dengan membawa segala persenjataan, Baginda naik
diataspunggung gajah, kemudian berangkatlah. Jalannya gajah dipercepat.
18. Tak lama kemudian bertemulah Raja Arimba dengan seorang yang bertubuh
gagah perkasa. Dia berkata dalam hati, kiranya Brotoseno sesuai dengan yang
telah diceritakan adiknya itu. Arimba segera menegur siapa namanya.
Brotoseno melancarkan pertanyaan balik siapa nama raksasa itu berani
menghentikan perjalanannya.
19. Arimba memberi jawaban terhadap pertanyaan balik dari Brotoseno. Ia
menyatakan bahwa dia adalah Raja Negeri Pringgadani bernama Raja Arimba,

93
kakak dari Arimbi ia pun mengutarakan namanya. Arimba menyatakan : bila
betul Brotoseno itu suami Arimbi adiknya, dia diajak adu kesaktian sebagai uji
coba.
20. Tantangan Arimba diterima oleh Brotoseno. Brotoseno berkali kali dipukul
dengan bindi, namun tidak dirasakan. Dalam kelengahan, Brotoseno dapat
mrebut gada dari Raja Arimba.
21. Arimba mendapat serangan balasan dari Brotoseno, menggunakan bindi yang
lepas dari tangannya, mengenai tubuhnya Arimba jatuh dari punggung gajah
yang dikendarai, tak sadarkan diri. Melihat kejadian itu gajah kendaraan cepat
cepat melompati tubuh majikannya.
22. Arimba jadi sadar dan segar kembah. Segera ia naik diataspunggung gajah lagi.
Ia melancarkan serangan balasan. Brotoseno menjadi semakin marah ia
mengambil bindi sendiri pemberian dari Dewa. Keduanya saling menyerang.
23. Lama kelamaan Arimba lengah, terkena. pukulan bindi dari Brotoseno. Raja
Arimba dan gajahnya remuk redam. Brotoseno melanjutkan prjalanannya
menuju istana Pringgodani. Berita gugumya Raja Arimba melawan Brotoseno
tersebut, telah sampai diistana Pringgodani. Dewi Arimbi menyongsong
kedatangan Brotoseno.
24. Tiba diistana Brotoseno disambut oleh Arimbi, selanjutnya dipersilahkan duduk
bersama Adik adiknya Brojodento, Brojomusti dan Brojokalpo datang
menghadap.
25. Dalam bercakap cakap Brotoseno menceriterakan perlawanannya dengan Raja
Arimba. Atas persetujuan adik adiknya, untuk sementara sebagai Raja
Pringgodani ialah Dewi Arimbi didampmgi adik adiknya. Kelak bila Arimbi
mempunyal putra laki laki, dialah penerus penjabat Raja di Negen Pringgodani.
26. Setelah beberapa lama Brotoseno ada di Istana Pringgodani, ia minta kerelaan
hati Dewi Arimbi serta adik adiknya, pergi menjenguk Puntodewo : kakaknya
beserta adik adiknya yang ditinggalkan di Wonomarta yang baru saja dibuka.
Dia mengkhawatirkan keselamatan saudara saudaranya tersebut.
27. Arimbi tidak keberatan meluluskan pemintaan suaminya Brotoseno lalu
berangkat. Perlanannya tak mendapat kesukaran. Dalam waktu singkat telah
sampai dihutan Martani. Hutan Martani dengan jarak luas tiga hari perjalanan
itu telah berhasil dibuka dan dijadikan negeri bernama Negeri Amarta.
28. Di Negeri Amarta Brotoseno bertemu dengan ibunda Dewi Kunthi sedang
ditemui kakanda Sri Yudhistira serta adik adiknya. Perkembangan
pembangunan Negeri Amarta amat cepat. Dari hasil pembukaan hutan Martani,
penuh pohon yang ditumbangkan porak peranda, cepat jadi bersih. Akhinnya
cepat dibangun istana lengkap dengan perlengkapannya. Ada alun alun cukup
luas, bangunan bangunan tempat kediaman para pangeran serta pegawai negeri.
29. Terletak dikanan kiri dan belakang istana dibangun rumah Pangeran
Werkudoro mendiami bangunan yang ada diistana, disebut Ki Pangeran
Pamenang (Tunggal Pamenang) Janawi menempati bangunan dikiri istana
dinamai Pangeran Madukoro.
30. Nakula dan Sadewo ditempatkan di Kepangeranan Sawojajar prajurit juga telah
disediakan tempat masing masing banyak pendatang dari luar negeri, ingin
menetap dinegeri karena tertarik oleh kemakmuran dan kesuburan Negara
Amarta.
31. Karena kesuburan tanah di Amarta, segaia benih yang ditanam dengan baik.
Ditempat tempat sisa pembakaran, tanah dapat berbuah lebat. Tanaman padi

94
berbuah memuaskan. Buah buahan masak ranum diatas. Berjatuhan sendiri.
Negeri Amarta aman sejahtera.
32. Tercenitera Janaka berguru kepada seorang Pandita di Selamaya, bernama Kapi
Jembawan. Pendita ini amat tajam pengamatan hatinya. Tahu akan peristiwa
peristiwa jauh sebelum datang. Pendeta tersebut adalah pegawai dari Raja
Ramawija.
33. Konon ceriteranya, Ramawijaya sesudah menghancurka Negeri Alengka, lalu
meninggalkan kerajaan, ia bertapa para hamba sahaya hanyak yang mengikuti.
34. Pendita Kapi Jembawan mempunyai seorang anak wanita bemama Jembawati.
Akhirnya Endang Jembawati dipersaudarakan dengan Janaka. Sang Pandita
sangat kasih sayang kepada Arjuna. Banyak kesaktian serta kecakapan telah
diajarkan kepada Janawi.
35. Konon Noroyono ingin juga berguru kepada Kapi Jembawan.. Ia datang
dipertapaan Selapralaya diikuti adik perempuannya bernama Brotojoyo.
Brotojoyo adalah seorang wanita yang meniiiki wajah cantik jelita.
36. Karena ketajaman rnataliatinya, Pendeta Jembawan tahu bahwa nantinya
Noroyono akan mendapat wahyu kesaktian dari Bethara Wisnu Murti.
Pengertian itu disimpan dalam hati Pandita Jembawan.
37. Pendita Jembawan menenima baik kedatangan Noroyono dengan adiknya,
Dewi Brotojoyo Noroyono dipersilakan bertempat bersama dengan Arjuno
adiknya. Sang Pandita menyatakan bahwa Janawi diisi pengetahuan kecakapan
dalam hal ini keperjunitan.
38. Sekali penstiwa, sehabis waktu pelajaran Dyah Jembowati mengantarkan
santapan untuk Noroyono dan Arjuno. Sesudah santapan diterima oleh Janoko,
Jembowati pergi kembali.
39. Setelah melihat wajah Jembowati, pada saat sekembalinya ditempat. Noroyono
tak tahan mengekang rindu asmaranya. Karena menahan rindunya itu
Noroyono jadi lemah lunglai seolah olah tak sadarkan diri. Noroyono setiap
waktu terbayang wajah Endang Jembowati mutiara pertapaan Selopraloyo.
40. Pada suatu kesempatan Noroyono mengajak saling membantu Arjuno adalah
putra Pandhu Dewonoto, pamannya, suami dari bibi Kunthi, diminta bantuan
memudahkan jalan untuk mempersunting Endang Jembowati yang sudah
dipersaudarakan dia.
41. Sebaiknya Noroyono sanggup mempermudah jalan usaha Arjuno untuk
mempersunting adiknya Brotojoyo untuk jadi istrinya. Menanggapi ajakan
Noroyono itu Arjuno menyampaikan senyum penuh arti.
42. Sebaiknya sejak kedatangannya di Selopraloyo. Arjuno telah menaruh
perhatian besar terhadapnya, tetapi disimpan dalam hati rapat rapat. Maka
persetujuan yang dinyatakan bersedia, asal tidak mengingkari janji. Jawab
Noroyono : jangan khawatir itu pasti.
43. Pandita Jembawan telah membau gejolak perasaan Noroyono itu. Dia
mengizinkan pergaulan anak wanitanya dengan Noroyono dengan Jembowati
dikukuhkan dengan ikatan perkawinan. Sesudah dalam perkawinan. Pandita
memberi wejangan mengenai dasar dasar kerukunan dan dasar dasar usaha
keselamatan hidup.
44. Brotojoyo telah disetujui pertunangannya dengan Arjuno. Seorang putra lalu
minta izin, meanjutkan tujuan, yaitu melaksanaknakan bertapa. Sang Pandita
merestui

95
XXIX. SINOM

01. Tersebutlah dalam ceritera, Arjuno menyuruh Brotojoyo masuk kedalam


cincin. Kemudian berangkat menuju ketengah rimba, diikuti Kyai Semar
beserta anak anaknya Disana Arjuno melaksanakan bertapa. Ia berganti nama:
Dewa Asmara.
02. Beralih ceritera mengenai Raja Yudistira yang sudah lama menduduki
singasana Negeri Amarta, Baginda amat bersedih hati, karena belum mendapat
seorang wanita yan pantas menjadi permaisunya.
03. Hyang Narada turun ke Negeri Amarta, mendekati Raja Yudhistira. Yang
Narada memberi nasehat : Janganah bersedih hati. Dewa telah mentakdirkan
seorang wanita yang layak menjadi permaisurinya. Raja Negeri Capaka,
mempunyai anak wanita bernama Durpadi. Dia putri rupawan calon permaisuri
Baginda. Wanita juga bernama Srikandhi. Adik berikutnya yang laki laki
bemaina Trustho Jumeno.
04. Putra sulung yaitu kakak Durpadi pria bernama Gondomono. Dia berbadan
gagah perkasa. Gondomono seorang satria sakti. Sukar dicari tolak bandingnya.
Pada suatu ketika Gondomono mengadakan sayembara. Isi sayembara : barang
siapa dapat menundukkan kesaktiannya, akan diserahi adiknya.

96