Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Estetika arsitektural akhir abad kesembilan-belas menyatakan bahwa
eksistensi ruang menjadi esensi dari arsitektur. Pada awal abad kedua-puluh,
beberapa tren artistik tertentu yang memahami kata-kata bijak kuno dari Timur (Lao
Tzu) bahwa massa adalah abdi dari kekosongan, akhirnya sampai pada ketetapan
akan dematerialisasi (peniadaan materi) terhadap soliditas massa. Yang tidak nyata
justru menjadi hakikatnya, dan di-nyata-kan dalam bentuk materi (Tzu, 1991: 5-6).
Meskipun dari paragraf diatas kita melihat superioritas ruang yang
didalamnya, nyata juga bahwa arsitektur pada akhirnya harus mewujud. Berbicara
soal arsitektur tidak akan terlepas dari realisasinya, dari gagasan menjadi bangunan.
Berbicara soal ideal lalu paling tepat kalau diletakkan dalam kerangka proses itu,
dan sesudahnya; dimana gagasan ideal memiliki bentuk untuk diapresiasi dan
dinilai.
Pertanyaannya sekarang, apakah gagasan ideal dalam arstitektur itu bisa
diwujudkan? Ideal sebagai kata sifat (adjective) dapat berarti: 1) Being optimal or
relating to the best option for something; 2) being perfect, having no flawss of defect;
3) Being something that exist only in the mind; conceptual, ideational; Mary W.
Shelley: Life and death appeared to me ideal bonds (Wikipedia, 2007). Dalam
pikiran, mudah merumuskan yang ideal. Dalam perjalanan mewujud, mengambil
bentuk, agar ruang esensi dari arsitektur dapat terindera, ideal kemudian selalu
terentang diantara dua polar, terjebak dalam dikotomi kepentingan-kepentingan yang
berbeda domain.

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.
2.

Mengetahui hubungan arsitek dengan klien


mengetahui permasalahan yang dihadapi seorang arsitek yang memiliki
idealisme rancangan yang tinggi terhadap sang klien

II.

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN DAN MODEL HUBUNGAN ARSITEK DENGAN


KLIEN
Hubungan antara arsitek dengan klien merupakan pembahasan klasik yang
tidak terselesaikan saat ini. Bahkan secara kritis dan teoritis masalah tersebut
dibahas oleh Anthony Antoniades dalam bukunya Poetic of Architecture.
Disebutkan tentang topik Architect vs Client pada bagian akhir buku ini.
Penjelasannya mengarahkan agar arsitek tidak serta-merta menjadi superior dengan
ide-ide desainnya tanpa memperhatikan klien. Seorang arsitek berbeda dengan
seniman yang lain, karena dibutuhkan ilmu fisik dan sosial agar dapat mewujudkan
desain yang berhasil. Ilmu fisik diharapkan mampu menjelaskan kepada klien
berbagai hal yang bersifat rasional, sedang ilmu sosial dibutuhkan untuk menjaga
hubungan dalam pemahaman kemasyarakatan.
Dalam pertimbangan lain terdapat dua kecenderungan ekstrim dari hubungan
antara arsitek dengan klien. Pertama adalah kecenderungan di mana klien lebih
superior dibanding arsitek, dan yang kedua adalah sebaliknya di mana arsitek lebih
superior terhadap klien. Kecenderungan pertama terhasilkan dari kekuatan klien
sebagai seseorang yang merasa memiliki bangunan (karya arsitektur). Arsitek
adalah orang yang bekerja kepada klien, oleh karena itu tipe ini mengharuskan
bahwa semua hasil arsitek adalah sesuatu yang berasal dari panduan klien. Segala
sesuatu mengenai bentuk ruang, efisiensinya, kecenderungan terhadap trend
arsitektur, pemilihan warna dan lain-lain berawal dari visi klien secara pribadi.
2

Kecenderungan kedua adalah superioritas arsitek terhadap klien. Dapat


terjadi dari dua hal, yaitu tingginya pengalaman dan ilmu seorang arsitek, atau
bahkan juga karena pengalaman dan ilmunya yang amat rendah. Seorang arsitek
yang memang memiliki ilmu dan pengalaman tinggi akan berupaya mengarahkan
desainnya agar menghasilkan karya yang dapat meningkatkan taraf kehidupan klien.
Sebaliknya seorang arsitek yang memiliki ilmu dan pengalaman rendah juga
biasanya merasa tidak mau diatur oleh klien, dan tipe ini sering menghasilkan
kegagalan dalam proses berarsitektur. Dalam kata lain, proses ini menghasilkan
putusnya hubungan antara arsitek dengan klien. Jika hubungan berlanjut, yang
terhasilkan adalah proses arsitektural monoton dari sekedar perintah klien sebagai
pemberi tugas dan arsitek sebagai orang yang bekerja padanya.
Terlepas dari polemik hubungan ini, bangunan-bangunan tetap bermunculan
di segenap sudut kota. Entah bangunan tersebut dapat disebut sebagai arsitektur
atau hanya pantas disebut sebagai bangunan saja. Sebuah bangunan hanyalah
tampilan dari kompisisi struktur dan konstruksi bahan, sedangkan karya arsitektur
adalah bangunan dengan nilai-nilai yang sarat estetika, makna, simbol, seni dan
budaya masyarakat. Seringkali terjadi sebuah bangunan diberi sedikit bau nilai
estetis dari trend gaya arsitektur yang sedang berlangsung pada suatu masa.
Namun hasilnya tetap dapat diapresiasi oleh masyarakat dari segi kualitas
arsitekturalnya. Masyarakat dapat menilai bangunan ruko yang berjajar-jajar
monoton dengan karya unik sebuah gedung pusat perbelanjaan.
Terkadang perwujudan bangunan dan karya arsitektur bernilai rendah ini juga
diluar keinginan arsitek atas ketidak-mampuannya menghadapi superioritas klien.
Tetapi ada pula yang terjadi saat klien menginginkan karya yang berkualitas tapi
arsitek tidak mampu mewujudkannya atas kerendahan pengetahuannya terhadap
perkembangan arsitektur. Bisa jadi seorang arsitek tidak mampu berpikir lebih
rasional, kurang mau membaca perkembangan dinamisasi bentuk dari karya-karya
arsitektur yang sudah ada baik dari buku, majalah maupun karya terbangun secara
nyata. Bisa jadi seorang arsitek hanya menjalankan rutinitasnya dalam mendesain
dari pengetahuan awal yang didapatnya saat belajar arsitektur, padahal di sisi lain
dunia arsitektur berkembang demikian pesat, baik dari segi teoritis, estetika bentuk
maupun kecanggihan teknologi dan bahan.
3

Selanjutnya adalah kemampuannya mengeluarkan kembali berbagai ilmu dan


pengalaman

yang

dipelajarinya

terhadap

klien.

Strategi

dan

kepandaian

berkomunikasi sangat vital bagi arsitek untuk meyakinkan klien terhadap desaindesain yang dihasilkannya. Bagaimanapun, seorang arsitek memiliki lebih banyak
pengetahuan arsitektural dibandingkan dengan klien. Keinginan klien adalah data
yang perlu diserap dan diolah secara empiris dalam penelitian arsitektur baik secara
informal (untuk negara berkembang biasanya memang secara informal) maupun
secara formal. Hasil dari penelitian tersebut adalah bahan yang cukup signifikan bagi
arsitek untuk meyakinkan klien terhadap kualitas desain yang dibuatnya.

2. TINJAUAN KASUSl :
ARSITEK YANG MEMILIKI IDEALISME YANG TINGGI
Benar, arsitek selalu adalah leading consultant. Tapi arsitektur tidak pernah
lahir dari tangan seorang arsitek sendiri saja. Dia selalu merupakan produk dari
sekumpulan orang; pemberi tugas atau klien, arsitek, konsultan dari berbagai disiplin
lain struktur, mekanikal elektrikal, lansekap, special lighting, dan sebagainya,
kontraktor mulai dari jajaran supervisor hingga tukang dan kuli angkut, supplier
berbagai material, dan masih banyak lagi. Di dalam proses menjadinya, akan
bertemu berbagai macam kepentingan. Masing-masing memiliki gagasan ideal, yang
tidak selalu sejalan satu sama lain. Masing-masing bertujuan agar gagasan ini
terwujud. Apabila arsitektur yang terwujud adalah realisasi dari semua yang ideal itu,
maka kondisi yang terjadi tentulah utopis. Namun, ketidakseimbangan kepentingan
didalamnya akan membuat pihak lain atau bahkan arsitekturnya sakit. Gagasan
siapa lalu yang lebih ideal? Yang lebih lantang berbicara?
Baru-baru ini, The Massachusetts Institute of Technology menurut star
architect, Frank Gehry, berkaitan dengan kegagalan desain di Stata Center.
Bangunan yang selesai konstruksinya pada musim semi 2004 ini terus menerus
mengalami bocor, masalah dengan drainase, dan masalah dengan tonjolan-tonjolan
pada dinding luarnya. Dikatakan bahwa salju dan es yang terkumpul pada kotakkotak jendela dan area lain di atap berjatuhan dan membahayakan pengguna.

Selain itu, salju dan es yang jatuh juga menutup emergency exit dan mengakibatkan
kerusakan.
Pihak kontraktor, Beacon Skanska Construction Co., mengatakan, Gehry
tidak mengindahkan peringatan-peringatan dari mereka bahwa ada banyak
kelemahan dalam desainnya. This is not a construction issue, never has been, kata
Paul Hewins, executive vice president dan area general manager dari Skansa USA.
Hingga kini, pihak Gehry Partners belum memberi tanggapan atas tuntutan tersebut.
Le Corbusier, arsitek visioner yang dipilih oleh Time sebagai 1 dari 100 tokoh
yang berpengaruh di abad 20 tidak luput dari pergulatan serupa. Gagasan nya
mengenai kota ideal, pada akhirnya mengundang banyak sekali kritik dan kegagalan
yang fatal. Dalam bukunya Urbanisme, Le corbusier menyatakan
Modern town planning comes to birth with a new architecture. By the
immense step in evolution, so brutal and so overwhelming, we burn our
bridges and break with the past.
Dia benar-benar mempercayai gagasannya. Tak ada lagi jalan-jalan dan sisi
jalan yang meriah, tak ada lagi public square yang hiruk pikuk, tak ada lagi
lingkungan tinggal yang berantakan. Manusia akan tinggal dalam bangunanbangunan tinggi yang higienis, yang secara keseluruhan merupakan elemen dalam
tata kota taman yang sangat teratur. Kota rasional ini akan terbagi dan terpisahkan
dalam zona-zona untuk bekerja, tinggal, dan hiburan. Lebih jauh lagi, semua harus
dikerjakan dalam skala besar; bangunan-bangunan besar, ruang-ruang terbuka
besar, dan jalan-jalan kota yang juga besar.
Kenyataannya, dimanapun gagasan itu diterapkan di Chandhigarh oleh Le
Corbusier atau di Brasilia oleh pengikut-pengikutnya gagasan itu menuai
kegagalan. Le Corbusier menyebut kota idealnya La Ville Radieuse atau Kota yang
Bercahaya. Di Amerika Serikat, Kota yang Bercahaya ini mengambil bentuk skemaskema pembaruan kota raksasa dan proyek-proyek perumahan yang sangat kaku,
yang benar-benar merusak jaringan kota. Saat ini, mega proyek semacam itu mulai
dipreteli, superblok disisipi rumah-rumah deret yang langsung bersinggungan
dengan sisi jalan, berbagai aktivitas disuperimposisikan, bukan dipisahkan, ke dalam
5

kehidupan kota. Area residensial dihidupkan kembali, baik yang lama maupun yang
baru. Kota-kota akhirnya belajar bahwa mempertahankan sejarah ternyata jauh lebih
masuk akal dibanding memulai semuanya dari nol. Sebuah pelajaran mahal, yang
diwariskan oleh Le Corbusier

III.

KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN
Komunikasi yang terjadi antara arsitek dengan klien bukanlah proses yang
berprinsip siapa dihargai siapa, tetapi sebuah proses untuk memecahkan masalah
secara bersama-sama, antara seorang profesional (arsitek) dan seseorang yang
memiliki data terhadap kebutuhan dan keinginanya terhadap karya arsitektur (klien).
Beberapa star architect memang mampu memesona kliennya dengan cara
membahasakan gagasannya seolah itu adalah seni abstrak yang brilian. Bahkan jika
ternyata kliennya tidak mengerti apa yang dibicarakannya, mereka akan menelan
gagasan ideal si arsitek, terpukau dan terbuai oleh visi besarnya, atau oleh
kemampuannya berbicara.

2. SARAN
Bekerja dengan arsitek yang kuat membutuhkan sparing partners yang juga
kuat, agar dalam proses menjadinya, sebuah gagasan ideal benar-benar dimasak
dengan takaran yang pas. Arsitek bukan superman. Gagasan ideal yang tidak
melalui proses benturan yang terus-menerus akan menjadi arsitektur yang utopis,
yang harus dibayar mahal kemudian. Arsitektur yang berkelanjutan adalah arsitektur
yang berhasil dicintai. Untuk itu, ia harus menyentuh banyak orang, bekerja untuk
banyak pihak, tidak hanya untuk mimpi si arsitek.

DAFTAR PUSTAKA
6

Armand, A. 2008. Gagasan Ideal dalam Arsitektur.


http://arsitektur.net/doctorwho/wp-content/uploads/2008_vol_02_0102_Arsitektur-Ideal.pdf [Diakses 3 Juni 2014]
Tribinuka, T. 2011. Hubungan Antara Arsitek Dengan Klien.
http://archiholic99danoes.blogspot.com/2011/10/hubungan-antara-arsitekdengan-klien.html [Diakses 28 Mei 2014].

HUBUNGAN ARSITEK DENGAN KLIEN


ETIKA PROFESI

Dosen Mata Kuliah:


Hary Wahjono, Ir, MSA.

Oleh:
Agung Laksono
052-12-005

JURUSAN ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
2014
8