Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia terletak pada pertemuan lempeng-lempeng geologi, dengan aktivitas
kegempaan dan gunung berapi yang tinggi. Sepanjang pulau Jawa terdapat deretan gunung
berapi yang masih aktif. Keadaan geografi Indonesia yang rawan gempa, mengharuskan
perlakuan khusus untuk bangunan yang akan dibangun. Bangunan harus bisa memberikan
respon atas keadaan geografi di Indonesia. Ada ketentuan yang harus diperhatikan untuk faktor
keamanan. Stuktur dan Konstruksi yang benar menentukan kekuatan bangunan.
Zaman nenek moyang kita dahulu, sudah memperhatikan keadaan Indonesia yang
rawan gempa. Rumah-rumah tradisional dirancang sedemikian rupa agar tetap kokoh walaupun
terkena gempa. Bencana gempa yang menyebabkan rusaknya fasilitas umum dan bangunan
pribadi, menimbulkan desain-desain bangunan baru yang tahan gempa. Desain-desain ini lahir
dari hasil mempelajari kembali rumah tradisional. Bangunan yang dibangun harus bisa
melindungi penghuninya.
1.1.1 Pengertian Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di
permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang
menciptakan gelombang seismik. Gempa bumi bisa disebabkan karena
bergesernya lempengan bumi atau meletusnya gunung berapi. Gempa bumi
dibedakan menjadi dua, yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik. Gempa
tektonik adalah gempa yang disebabkan karena bergesernya lempenganlempengan tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan. Lempengan
yang bergerak menghasilkan tekanan. Semakin lama tekanan itu kian membesar
dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat
ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan
terjadi.Gempa vulkanik akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi
sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan
menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa
bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut.
1.1.2 Pengertian Bangunan Tahan Gempa
Membangun bangunan yang dapat menahan beban gempa adalah tidak
ekonomis. Oleh karena itu prioritas utama dalam membangun bangunan tahan
gempa adalah terciptanya suatu bangunan yang dapat mencegah terjadinya
korban, serta memperkecil kerugian harta benda.

Dari hal tersebut pengertian bangunan tahan gempa adalah:

Bila terjadi gempa ringan, bangunan tidak boleh mengalami kerusakan


baik pada komponen non-struktural maupun pada komponen
strukturalnya.

Bila terjadi gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada


komponen non-strukturalnya akan tetapi komponen struktural tidak boleh
rusak.

Bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan baik


pada komponen non-struktural maupun komponen strukturalnya, akan
tetapi jiwa penghuni bangunan tetap selamat, artinya sebelum bangunan
runtuh masih cukup waktu bagi penghuni bangunan untuk keluar.
Sumber : (In'am,
2011)
1.2 Perumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Apa prinsip dasar bangunan tahan gempa?


Apa persyaratan bangunan tahan gempa?
Apa saja struktur dan konstruksi bangunan tahan gempa?
Apa saja contoh bangunan tahan gempa?

1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.

Mengetahui prinsip dasar bangunan tahan gempa.


Mengetahui syarat-syarat bangunan tahan gempa
Mengetahui struktur dan konstruksi bangunan tahan gempa
Mengetahui contoh-contoh bangunan tahan gempa

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Prinsip Dasar Bangunan Tahan Gempa


Prinsip- prinsip yang dipakai dalam perencanaan bangunan tahan gempa :
1. Pondasi :

Gambar 1. Desain Pondasi yang Digabungkan


Membangun pondasi memang sederhana, tapi pondasi yang kuat memerlukan
pengetahuan yang cukup. Sehingga fondasi bangunan yang baik haruslah kokoh dalam
menyokong beban dan tahan terhadap perubahan termasuk getaran. Penempatan fondasi
juga perlu diperhatikan kondisi batuan dasarnya.Pada dasarnya fondasi yang baik adalah
seimbang atau simetris. Dan untuk pondasi yang berdekatan harus dipisah, untuk
mencegah terjadinya keruntuhan local (Local Shear).

2. Desain Kolom

Gambar 2. Desain Gedung dengan Kolom Menerus


Kolom harus menggunakan kolom menerus (ukuran yang mengerucut/ semakin mengecil
dari lantai ke lantai). Dan untuk meningkatkan kemampuan bangunan terhadap gaya lateral
akibat gempa, pada bangunan tinggi (high rise building) acapkali unsur vertikal struktur
menggunakan gabungan antara kolom dengan dinding geser (shear wall).
3. Denah Bangunan

Gambar 3. Denah Bangunan yang Dibuat Terpisah

Bentuk Denah bangunan sebaiknya sederhana, simetris, dan dipisahkan (pemisahan


struktur). Untuk menghindari adanya dilatasi (perputaran atau pergerakan) bangunan saat
gempa. Namun dilatasi ini pun menimbulkan masalah pada bangunan yaitu :
Dua atau beberapa gedung yang dilatasi akan mempunyai waktu getar alami yang
berbeda, sehingga akan menyebabkan benturan antar gedung,

Ketidak efektifan dalam pemasangan interior, seperti : plafond, keramik, dll

Perlunya konstruksi khusus (balok korbel).


Konstruksi Balok Korbel untuk dilatasi struktur adalah sebagai berikut.

Gambar 4. Konstruksi Balok Korbel


4. Bahan bangunan harus seringan mungkin

Gambar 5. Konstruksi Bangunan dengan Kayu

Berat bahan bangunan adalah sebanding dengan beban inersia gempa. Sebagai contoh
penutup atap genteng menghasilkan beban gempa horisontal sebesar tiga kali beban
gempa yang dihasilkan oleh penutup atap seng. Sama halnya dengan pasangan dinding
bata menghasiIkan beban gempa sebesar 15 kali beban gempa yang dihasilkan oleh
dinding kayu.
5. Struktur Atap
Jika tidak terdapat batang pengaku (bracing) pada struktur atap yang menahan beban
gempa dalam arah horizontal, maka keruntuhan akan terjadi seperti, diperlihatkan pada
gambar berikut:

Gambar 6. Konstruksi Bangunan dengan Pengaku (Bracing)

6. Konsep Desain Kapasitas (Capasity Design)


Konsep Desain Kapasitas adalah dengan meningkatkan daktalitas elemen- elemen struktur
dan perlindungan elemen- elemen struktur lain yang diharapkan dapat berperilaku elastik.
Salah satunya adalah dengan konsep strong column weak beam. Dengan metode ini, bila
suatu saat terjadi goncangan yang besar akibat gempa, kolom bangunan di desain akan
tetap bertahan, sehingga orang- orang yang berada dalam Gedung masing mempunyai
waktu untuk menyelamatka diri sebelum Bangunan roboh seketika. Banyak cara yang bisa
dilakukan untuk mendesain kolom yang kuat antara lain :
Pengaturan jarak antar sengkang,

Peningkatan mutu beton, dan

Perbesaran penampang.

Serta untuk struktur bangunan dengan baja, bisa dimodifkasi sambungan hubungan
antara balok dengan kolom. Berikut ini adalah ilustrasi pembentukan sendi plastis dalam
perencanaan bangunan tahan gempa.

Gambar 7. Konstruksi Bangunan dengan Capasity Design


Tiap Negara mempunyai desain sendiri dalam merencanakan tingkat daktilitas untuk
keamanan bangunan yang mereka bangun, hal ini tergantung dari letak geologi negara
masing- masing. Misalnya Jepang yang menerapkan tingkat daktilitas 1. Dengan desain ini,
bangunan di desain benar- benar kaku (full elastic).
Sumber: (Riza, 2011)
2.2 Persyaratan Bangunan Tahan Gempa
Persyaratan agar bangunan termasuk dalam kategori bangunan tahan gempa,
menurut Kementrian PU-Badan Penelitian dan Pengembangan Permukiman adalah
sebagai berikut:
1. Bangunan harus terletak di atas tanah yang stabil (kering, padat dan merata kekerasannya).
Karena getaran akibat yang bersumber dari pusat gempa akan diteruskan ke permukaan tanah
oleh partikel-partikel tanah tersebut. Semakin keras dan padat, partikel tanah akan mengalami
gerak yang semakin kecil, sehingga getaran pada permukaan tanah juga akan semakin kecil.
2. Denah bangunan sebaiknya sederhana , simetris, atau seragam.

Apabila terpaksa harus membuat bangunan dengan bentuk denah U, T, L, dll yang tidak
simetris, maka bisa dilakukan pemisahan struktur (dilatasi) seperti pada gambar berikut:

Penempatan dinding-dinding penyekat dan lubang-lubang pintu/jendela diusahakan


sedapat mungkin simetris terhadap sumbu-sumbu denah bangunan, seperti contoh:

Bidang-bidang dinding sebaiknya membentuk kotak-kotak tertutup, seperti contoh:

Atap sedapat mungkin dibuat yang ringan:

3. Pondasi:

Pondasi harus diletakkan di atas tanah keras, bila kondisi tanah kurang baik maka harus
dilakukan perbaikan tanah terlebih dahulu. Sebaiknya pondasi terletak lebih dari 45 cm dari
tanah asli:

10

Pondasi sebaiknya dibuat menerus keliling bangunan tanpa terputus. Pondasi dindingdinding penyekat juga dibuat menerus. Pondasi-pondasi setempat perlu diikat kuat satu
sama lain dengan memakai balok pengikat (sloof) sepanjang pondasi tersebut.

Sedangkan Pondasi, sloof dan kolom praktis harus saling terikat antar satu dengan yang
lainnya.

4. Pada setiap luasan dinding 12 m2 , harus dipasang kolom, bisa menggunakan bahan kayu,
beton bertulang, baja, plester ataupun bambu.

11

5. Harus dipasang balok keliling yang diikat kaku dengan kolom


6. Keseluruhan kerangka bangunan harus terikat dengan kokoh dan kaku
7. Gunakan kayu kering sebagai konstruksi kuda-kuda, pilih bahan atap yang seringan
mungkin, dan ikat kaku dengan konstruksi kuda-kuda.
8. Bahan dinding pilih yang seringan mungkin, papan, papan berserat, papan lapis, bilik, ikat
bahan dinding dengan kolom.
9. Bila bahan dinding menggunakan pasangan bata/batako, bahan tidak patah dan berbunyi
nyaring jika diadukan. Pada setiap jarak vertikal 30 cm, pasangan diberi angker yang
dijangkarkan ke kolom, panjang angker 50 cm, diameter 6mm.
10. Perhatikan bahan spesi/adukan, setiap jenis tras, pasir, atau semen, mempunyai sifat
khusus. Sebaiknya perbandingan campuran mengikuti standar yang ada.
11. Bangunan tahan gempa memiliki komponen-komponen yang terikat antara satu dengan
yang lainnya, baik antara komponen struktural maupun non struktural.

12

Sumber: (FAIZAH, 2010)


2.3 Struktur dan Konstruksi Bangunan Tahan Gempa
KSLL atau Konstruksi Sarang Laba-Laba adalah suatu teknologi inovasi pondasi ramah
gempa yang bentuknya menyerupai sarang laba-laba dan telah teruji menyelamatkan ratusan
bangunan dibeberapa daerah Indonesia. Konstruksi Sarang Laba-Laba sendiri dibuat dengan
perhitungan dan ketelitian yang berarti, dimana tentunya selalu ada antisipasi-antisipasi pada
saat membangun konstruksi ini. Dan dengan konsep KSLL ini terbukti ampuh menahan beban
ketika diterjang gempa bumi yang berskala cukup besar yang seperti terjadi di Aceh beberapa
tahun silam.
KSLL merupakan suatu substruktur yang termasuk kedalam jenis pondasi dangkal namun
mampu menahan beban vertikal yang cukup besar. Hal ini dikarenakan pondasi KSLL terdiri
dari pelat tipis yang diperkaku dengan rib-rib tipis dan tinggi yang saling berhubungan
membentuk segitiga-segitiga yang diisi dengan perbaikan tanah sehingga menjadi satu
kesatuan komposit konstruksi beton bertulang dan tanah yang kokoh atau kuat, kaku dan
mampu menyebarkan semua gaya secara merata ke tanah pemikul sehingga mampu
mengantisipasi adanya resiko terjadinya Settlement (penurunan), serta mampu menerima gaya
lateral akibat gempa.
Selain itu, KSLL memiliki kekuatan lebih baik dengan penggunaan bahan bangunan yang
hemat dibandingkan dengan pondasi rakit, mampu memperkecil penurunan bangunan karena
dapat membagi rata kekuatan pada seluruh pondasi dan mampu membuat tanah menjadi
bagian dari struktur pondasi. Tanah yang digunakan pada KSLL ini dapat diambil dari berbagai
jenis tanah, asalkan tanah tersebut dapat dipadatkan. KSLL terdiri dari 85% tanah dan 15%
beton bertulang, sehingga KSLL dikatakan ekonomis dalam pembuatannya.
Pengisian tanah pada ruang-ruang KSLL sendiri terinspirasi oleh kerang yang tetap utuh
setelah dilindas oleh ban mobil karena kerang tersebut terisi oleh tanah. Sementara itu, bagian
dari KSLL yang menyerupai sarang laba-laba adalah susunan tulang KSLL. Tulangan-tulang

13

tersebut disusun melingkar dengan kolom sebagai pusatnya sehingga saat dilihat dari atas
seperti sebuah sarang laba-laba.
Berikut penerapan struktur dan pondasi sarang laba-laba pada sebuah bangunan gedung:
Tahap Perencanaan : struktur gedung didesain hingga diketahui gaya kolom yang harus
dipikul pondasi. Selanjutnya dilakukan perhitungan settlement sebagai kinerja struktur
agar dapat diantisipasi. Dengan gaya yang bekerja, pondasi KSLL didesain supaya
didapat dimensi pelat, jarak dan tebal rib, serta detail penulangannya.

Tahap Pelaksanaan : dilakukan pekerjaan persiapan yang bertujuan menghasilkan


permukaan tanah dengan elevasi yang sudah direncanakan. Kemudian dilakukan
pembetonan rib yang dapat dilaksanakan dengan metode cor di tempat (in situ) atau
pracetak.

Tahap Finishing : setelah rib terpasang, rongga antara rib diisi dengan tanah timbunan
dan pasir, lalu dipadatkan dan pelat beton dicor di atasnya, sehingga dihasilkan pondasi
KSLL.

Urutan Pelaksanaan KSLL pondasi ramah gempa.

(Sumber Gambar: KSLL, diedit oleh achsanbjn.blogspot.com)


Sistem KSLL kini dapat dan telah diimplementasikan dengan berbagai jenis fungsi dan
kondisi bangunan sebagai berikut:
14

Konstruksi pondasi bangunan bertingkat 2-10 lantai

Konstruksi landasan pesawat udara/runway, apron, taxyway dan Hanggar

Konstruksi pondasi Gudang kelas I

Konstruksi pondasi Container yard/terminal peti kemas

Konstruksi pondasi menara transmisi tegangan tinggi

Konstruksi pondasi menara/tugu, menara air

Konstruksi pondasi kolam renang

Konstruksi pondasi tangki-tangki minyak

Konstruksi Jalan Raya Kelas I

Konstruksi pondasi jembatan

Konstruksi lantai/pondasi open storage.

Untuk melihat bangunan atau konstruksi mana dan apa saja yang telah dibuat dengan
menggunakan KSLL di daerah rawan gempa dan daerah yang memiliki tanah lunak,
baik insfrastuktur pemerintah maupun swasta di seluruh wilayah indonesia. anda bisa
cek secara lengkap di katama.co.id, Oh iya KSLL sendiri juga telah lolos uji weight
deflectometer (HWD) dan falling weight deflectometer (FWD) lokasi di Bandara Juwata
Tarakan, oleh Scott Wilson Sdn Bhd, perusahaan publik yang bergerak dibidang teknik
dan konstruksi asal Malaysia. dan mereka sangat kagum dengan inovasi KSLL.
Sumber: (In'am, 2011)
2.4 Contoh Bangunan Tahan Gempa
Tahun 2006 terjadi gempa di Yogyakarta yang menghancurkan kota dan daerah
sekitarnya. Salah satu daerah di Kabupaten Sleman terdapat semua pemukiman dengan rumah
anti gempa. Rumah ini berbentuk seperti Iglo, rumah khas suku Eskimo. Pembangunan
permukiman ini dibantu oleh LSM WANGO (World Association of Non-Governmental
Organization) dan DFTW (Domes for the World Foundation).
15

Sumber Gambar : (Anonim, konsep rumah tahan


gempa, 2011)

Sumber Gambar : (Rurin,


2014)
Sistem Steel Braced-Frame mampu mendisipasi atau menyalurkan energi melalui jalurjalur bingkai baja yang menempel pada kerangka atau dinding eksterior bangunan. Rengka baja
ini dirancang untuk bisa bergoyang ke atas dan ke bawah saat serangan gempa terjadi. Sistem
struktur tahan gempa Steel Braced-Frame ini, terdiri dari beberapa bagian dan komponen:
pondasi baja pada bagian bawah struktur, sekering baja, dan tendon (urat baja) yang terdiri
dari kawat-kawat baja pilihan. Urat baja ini, terletak di bagian tengah bingkai baja, dan didesain
untuk bisa berlaku elastic ketika gedung sedang bergyang akibat gempa. Namun, ketika
guncangan gempa berakhir, urat baja yang terbuat dari material baja berkekuatan tinggi ini akan
menyesuaikan kepada panjangnya semula, dan menarik gedung untuk kembali pada posisi
awal.

16

Di bagian bawah struktur Steel BracedFrame, terdapat sekering (fuses) baja yang
akan menjaga gedung dari kerusakan akibat
guncangan gempa. Sekering ini berfungsi untuk
melenturkan, membuang induksi energy sari
gempa, dan memperkecil kerusakan, serta
membatasi kerusakan bangunan hanya pada
area tertentu. Sekring ini, dari segi fungsi
seperti sekering listrik dan bisa diganti dnegan
mudah jika terjadi kerusakan. Ide dari struktur
ini adalah untuk mengkonsentrasikan kerusakan pada
sekering yang dapat diganti.
Sumber Gambar : (Anonim, konsep rumah tahan
gempa, 2011)
Bangunan Apple Towers di Sendai, Jepang juga salah satu bangunan tahan gempa.
Struktur bangunannya menggunakan Seismic Bearing (bantalan karet). Bantalan karet
digunakan untuk menopang struktur. Jika terjadi gempa, bantalan karet akan bergerak ke kiri
dan ke kanan. Aplikasi bantalan ini digunakan untuk melindungi gempa bumi dibuat dari
kombinasi lempengan karet alam dan lempeng baja yang dapat mengurangi daya reaksi hingga
70%, karena secara alami karet alam memiliki sifat fleksibilitas dan menyerap energi. Bantalan
tersebut dipasang disetiap kolom yaitu diantara pondasi dan bangunan. Karet alam berfungsi
untuk mengurangi getaran akibat gempa bumi sedangkan lempeng baja digunakan untuk
menambah kekakuan bantalan karet sehingga penurunan bangunan saat bertumpu diatas
bantalan karet tidak besar. Pada dasarnya cara perlindungan bangunan oleh bantalan karet
tahan gempa dicapai melalui pengurangan getaran gempa bumi kearah horizontal dan
Sumber Gambar
: (Anonim,
tahan gempa
memungkinkan bangunan
untuk begerak
bebas struktur
saat berlangusung
gempasteel
bumi tanpa tertahan
braced-frame,
2011)
oleh pondasi.
Sumber : (Anonim, Japanese Earthquake Resistance and Seismic Isolation
Technologies, Save Structures from Damage, 2011)

17

Gambar : Apple Towers Sendai

Gambar : Struktur Apple

Tidak hanya bangunan Gambar


modern : Seismic
atau
Bearing
bangunan denga sistem struktur modern yang bisa
bertahan saat gempa. Bangunan tradisional yang
ada di Indonesia juga banyak yang bisa bertahan
dari gempa. Rumah tradisional suku Nias,
Sumatera Utara yaitu Omo Hada bisa bertahan dari
gempa tahun 2010 di Nias. Konstruksi rumah ini
didominasi kayu. Untuk menyatukan antarbagian,
dipakailah pasak dan bukan paku. Rumah Omo
Hada tidak ada jendelanya. Atapnya oval dan
pengganti jendela hanya dibuat model teralis.
Sumber Gambar : (choirul,
2012)

18

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Indonesia yang terletak pada pertemuan lempeng-lempeng geologi, dengan aktivitas
kegempaan dan gunung berapi yang tinggi memerlukan desain bangunan yang berbeda
dengan negara lain. Bangunan di Indonesia didesain dengan mempertimbangkan keadaan
tersebut. Nenek moyang kita dahulu sudah mengantisipasi keadaan Indonesia ini. Rumah
tradisional yang dibuat dari kayu dan bambu. Bahan ini dipilih karena ringan. Sesuai dengan
prinsip dasar bangunan tahan gempa. Struktur kayu atau bambu dibuat rigid. Saat ini, dimana
teknologi sudah canggih, bangunan tidak lagi memakai kayu dan bambu sebagai bahan
bangunan. Beton menjadi pilihan utama untuk pembangunan. Struktur dan konstruksi yang
digunakan tentu saja berbeda dengan memperhatikan prinsip-prinsip dasar bahan bangunan
tahan gempa. Bangunan dengan struktur dan pengerjaan konstruksi yang benar akan menjadi
tempat berlindung yang baik.

19

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2011, 7 31). Japanese Earthquake Resistance and Seismic Isolation


Technologies, Save Structures from Damage. Retrieved 4 13, 2015, from
Kahimyang: http://kahimyang.info/kauswagan/sci-tech/415/japanese-earthquakeresistance-and-seismic-isolation-technologies-save-structures-from-damage
Anonim. (2011, 3 17). konsep rumah tahan gempa. Retrieved 4 12, 2015, from
carirumah: http://carirumah.net/artikel/detil/24/konsep-rumah-tahan-gempa
Anonim. (2011, 3 6). struktur tahan gempa steel braced-frame. Retrieved 4 12,
2015, from blogspot: http://iptekims.blogspot.com/2011/03/struktur-tahan-gempasteel-braced-frame.html
Anonim. (2011, 5 27). TEKNOLOGI RUMAH ANTI GEMPA. Retrieved 4 13, 2015, from
wordpress: https://hiasanrumah.wordpress.com/tag/rumah-tahan-gempa/

20

choirul, i. (2012, 11 1). Empat Rumah Adat Indonesia yang Tahan Gempa. Retrieved
4 12, 2015, from sidomi: http://sidomi.com/139686/inilah-empat-rumah-adatindonesia-yang-tahan-gempa/
FAIZAH, R. (2010). Persyaratan Bangunan Tahan Gempa. Retrieved April 12, 2015,
from Natural Disaster and Earthquake Engineering:
http://blog.umy.ac.id/restufaizah/persyaratan-bangunan-tahan-gempa
In'am, M. A. (2011). Konstruksi "Ramah Gempa" Sarang Laba-laba (KSLL). Retrieved
April 12, 2015, from KONSTRUKSI RAMAH GEMPA, INOVASI PENYELAMAT JIWA:
http://achsanbjn.blogspot.com/2014/12/konstruksi-ramah-gempa-inovasi.html
Riza, M. M. (2011). Perencanaan Bangunan Tahan Gempa. Retrieved April 12, 2015,
from Jasa Perencanaan Struktur:
http://www.perencanaanstruktur.com/2010/07/perencanaan-bangunan-tahangempa.html
Rurin. (2014, 8 11). urbanindo. Retrieved 4 12, 2015, from blog:
http://blog.urbanindo.com/2014/08/konstruksi-rumah-tahan-gempa/
zeniad. (2009, 2 2). Retrieved 4 12, 2015, from wordpress:
https://zeniad.wordpress.com/2009/02/02/bangunan-tahan-gempa/

21