Anda di halaman 1dari 7

Proposal Judul Mata Kuliah Seminar

Arsitektur Tropis Pada Bangunan Kolonial


Rancangan Karsten
(Studi Kasus : PT. Djakarta Lyod)

Dosen Pembimbing :

Prof. Dr. Ing. Ir. Gagoek Hardiman


Disusun Oleh:

Sekar Nurhayuningtyas Syahfitri

21020113120014

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

PROPOSAL SEMINAR

ARSITEKTUR TROPIS PADA BANGUNAN KOLONIAL RANCANGAN


KARSTEN
(STUDI KASUS: Gedung PT. Djakarta Lyod)

ABSTRAK
Semarang adalah salah satu kota di Indonesia yang mempunyai peninggalan colonial
Belanda sangat banyak. Bangunan colonial masih berdiri hingga sekarang baik yang masih
digunakan ataupun tidak. Pada zaman colonial, arsitek yang banyak ambil andil dalam
pembangunan kota Semarang adalah Karsten. Karsten merupakan arsitek dari Belanda yang
mempunyai konsep menyatukan arsitektur tropis dengan arsitektur barat.
Karsten menerapkan konsep arsitektur tropis dalam rancanganya. Karsten sangat
memperhatikan penghawaan dan pencahayaan alami pada rancangannya. Kajian ini
dilakukan dengan metode kualitatif yang dideskripsikan untuk membahas arsitektur tropis
yang diterapkan oleh Karsten. Hasil dari kajian ini adalah penjabaran tentang konsep
arsitektur tropis yang diterapkan oleh Karsten pada bangunan studi kasus.
(Kata kunci : Karsten, Bangunan Kolonial, Arsitektur Tropis)

A. Latar Belakang
Di kota Semarang banyak sekali bangunan colonial peninggalan Belanda.
Tentunya asitektur colonial merupakan gaya arsitektur barat. Ada beberapa arsitek
yang terkenal dan banyak melakukan pembangunan di Semarang, salah satunya
adalah Karsten. Herman Thomas Karsten adalah salah satu arsitek dari Belanda yang
ikut dalam pembangunan kota Semarang pada masa kolonial. Karsten datang ke
Indonesia pada tahun 1914 dan mulai bekerja pada Macline Pont di Semarang.
Bangunan colonial karya Karsten memiliki focus terhadap pencahayaan dan
penghawaan alami. Karsten mencoba untuk menyesuaikan bangunan bergaya barat
dengan iklim tropis yang ada di Indonesia. Contoh bangunan karya Karsten yang
memfokuskan pada pencahayaan dan penghawaan alami adalah gedung
Zustermaatschappijen de Semrang atau yang sekarang menjadi kantor PT. KAI Daop
IV di jalan Thamrin.
Semakin lama, karya arsitektur Karsten semakin menampakan kepeduliannya
terhadap Indonesia. Karsten mendesain dengan mempertimbangkan iklim tropis di
Indonesia dan budaya orang Indonesia. Bangunan karya Karsten yang juga
menerapkan arsitektur tropis adalah Stoomvaart Maatschappij Nederland yang
sekarang menjadi gedung PT. Djakarta Lyod. Karsten sebagai seorang arsitek dari
Belanda merancang bangunan dengan memperhatikan iklim tropis menjadi menarik
untuk dipelajari.

B. Rumusan Masalah
Apakah gedung PT. Djakarta Lyod menerapkan konsep arsitektur tropis?
C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan :
a. Memahami prinsip arsitektur tropis yang diterapkan oleh Karsten
Manfaat :
a. Memberikan wawasan tentang arsitektur tropis
b. Memberikan pengetahuan tentang olah pikir Karsten dalam menerapkann
arsitektur tropis ada karya rancangannya.
D. Ruang Lingkup Penelitian
a. Ruang Lingkup Materi
Penjabaran teori tentang arsitektur tropis di Indonesia pada gedung PT.
Djakarta Lyod, Semarang.
b. Ruang Lingkup Obyek
Obyek penelitian difokuskan pada gedung PT. Djakarta Lyod dengan bagian
dari gedung yang masih asli bukan merupakan tambahan
c. Ruang Lingkup Lokasi
Lokasi yang digunakan untuk penelitian adalah gedung PT. Djakarta Lyod di
jalan Empu Tantular 23, Semarang Utara, Kota Semarang.

E. Metode Pembahasan
Metode pembahasan dan pencarian data dilakukan dengan metode sebagai berikur :
a. Studi Literatur
Dengan cara mencari data-data di dalam buku maupun jurnal penelitian dan
artikel dalam majalah. Buku atau jurnal bisa berupa fisik ataupun online.
b. Metode Kualitatif
Mengambil sebuah kesimpulan berdasarkan resume yang didapat dari
literature-literatur dan artikel yang menjadi sumber pustaka.

c. Penentuan Studi Kasus


Metode analisa studi kasus karya rancangan Karsten dengan tujuan
mengetahui bagaimana Karsten memasukan unsur arsitektur tropis pada karya
rancangannya.
Karya yang dijadikan studi kasus adalah :
Gedung PT. Djakarta Lyod
Pemilihan srtudi kasus bangunan ini didasarkan pada :

GedungPT. Djakarta Lyod merupakan salah satu karya Karsten


Gedung PT. Djakarta Lyod dirancang dengan menggunakan konsep
arsitektur tropis
Keterbatasan data data pada buku dan jurnal

d. Menganalisa Studi Kasus


Deskripsi Singkat
Bagian mendeskripsikan tentang nama dan lokasi bangunan karya Karsten.

Penjelasan Prinsip Arsitektur Tropis


Menjelaskan dan menganalisa prinsip arsitektur tropis yang digunakan
oleh Karsten.

F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penyusunan tugas mata kuliah seminar adalah :
BAB I

Pendahuluan
Menguraikan Latar Belakang, Tujuan dan Manfaat, Ruang Lingup
Pembahasan, Metode Pembahasan dan Sistematika Pembahasan.

BAB II

Tinjauan Pustaka
Menguraikan pembahasan tentang Karsten, arsitektur tropis secara
umum, teori arsitektur tropis, pembahasan prinsip arsitektur tropis
menurut Karsten. Mendeskripsikan data-data studi kasus.

BAB III

Metode Penelitian
Menguraikan tata cara analisa arsitektur tropis dan analisa karya
Karsten.

BAB IV

Analisa
Analisa arsitektur tropis menurut Karsten berdasarkan tinjauan
pustaka.

BAB V

Kesimpulan
Menguraikan rangkuman tentang prinsip arsitektur tropis yang
digunakan oleh Karsten pada bangunan studi kasus dan jawaban atas
rumusan masalah.

G. Alur Pikir

H. Tinjauan Pustaka
Pengertian Arsitektur Tropis
Arsitektur adalah perpaduan seni, ilmu, dan teknologi yang berkaitan dengan
bangunan dan penciptaan ruang untuk kepentingan manusia (Budihardjo, 1997)
Arsitektur tidak hanya bangunan yang merupakan wujud fisik tetapi juga ada unsur
non-fisik yang akan berdampak kepada pengguna arsitektur. Tropis adalah jenis iklim

yang ada di Indonesia. Tropis ditandai dengan sinar matahari yang melimpah, tingkat
curah hujan dan kelembapan yang tinggi. (Siahaan & Ihsan, 2007)
Arsitektur tropis adalah rancangan yang dibuat di daerah tropis dengan
mengedepankan iklim tropis sebagai suatu pertimbangan untuk membuat suatu
rancangan.
Faktor-Faktor Iklim Tropis
Ada beberapa factor iklim tropis yang berpengaruh pada karya arsitektur, yaitu (Sari,
Werdiningsih, & Pandelaki, 2005):
1. Radiasi Sinar Matahari
Radiasi sinar matahari yang mengenai dinding bangunan kemudia akan diserap
dan membuat ruangan di dalam bangunan menjadi panas. Ditambah lagi dengan
manusia yang juga menghasilkan kalor karena kegiatan metabolism tubuh.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai radiasi sinar matahari,
yaitu :
Perambatan panas pada bahan bangunan
Refleksi panas matahari terhadap bahan bangunan
Penyimpanan panas oleh bahan bangunan
Penetrasi panas oleh bahan bangunan
Radiasi sinar matahari sangat berpengaruh pada orientasi bangunan. Daerah
dengan iklim tropis lembab lintasan matahari hamper selalu berada di atas kepala
dengan arah terbit matahari dari Timur dan tenggelam di Barat.
2. Curah Hujan dan Kelembapan
Hujan tropis dapat tiba-tiba turun dengan instensitas sangat tinggi. Banyaknya
curah hujan turun mempengaruhi kelembapan udara dan temperature udara.
Semakin besar curah hujan, semakin besar kelembapan udara dan semakin
rendahnya temperature udara di dalam bangunan. Curah hujan ini mempengaruhi
bentuk atap pada bangunan.
3. Temperatur
Daerah yang paling panas adalah daerah pada garis khatulistiwa. Indonesia yang
terletak di daerah khatulistiwa mempunyai temperature udara yang panas
ditambah lagi dengan radiasi sinar matahari yang membuat temperature udara
semakin panas. Bangunan akan menerima dan melepaskan panas tersebut yang
akan berpengaruh dengan kondisi di dalam ruangan. Untuk mengatasi masalah ini
maka perlu memilih bahan bangunan yang sesuai. Selain itu bisa juga dengan
membuat taman yang dapat mengantisipas efek radiasi sinar matahari.
4. Gerakan Angin dan Udara
Pergerakan angin dipengaruhi oleh kepadatan permukaan. Semakin padat suatu
daerah maka semakin lambat pergerakan anginya dan begitu sebaliknya. Pada

bangunan pergerakan angina dan udara sangat berpengaruh terhadap peghawaan


di dalam ruangan. Ini merupakan salah satu factor yang akan menentukan
kenyaman pengguna ruangan. Pada daerah tropis, bangunan harus mempunyai
ventilasi yang besar.
5. Silau
Pada bangunan di daerah tropis lembab harus memperhatikan jangan sampai
terjadi silau karena banyaknya uap air yang menimbulkan pembiasan radiasi
matahari dan menyebabkan silau yang dipantulkan ke bangunan sekitar.

I. Daftar Pustaka

Budiharjo, E. (1997). Arsitektur sebagai Warisan Budaya. Jakarta: Djambatan.


Nas, P. J. (2009). Masa Lalu dalam Masa Kini : Arsitektur Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Sachari, A. (2007). Budaya Visual Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Sari, S. R., Werdiningsih, H., & Pandelaki, E. E. (2005). Arsitektur Tropis Bangunan
Tradisional Indonesia. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Siahaan, R. M., & Ihsan, H. (2007). rumah tropis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Sumalyo, Y. (1993). Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.