Anda di halaman 1dari 6

PERAN SERTA MASYARAKAT

Peran serta masyarakat adalah suatu bentuk bantuan masyarakat dalam hal
pelaksanaan upaya kesehatan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitattif dalam bentuk
bantuan tenaga, dana, sarana, prasarana serta bantuan moralitas sehingga tercapai tingkat
kesehatan yang optimal.
A. Faktor yang mempengaruhi Peran Serta Masyarakat
a. Perilaku individu
Perilaku individu dipengaruhi oleh berbagai hal seperti : tingkat pengetahuan, sikap
mental, tingkat kebutuhan individu, tingkat keterikatan dalam kelompok, tingkat
kemampuan sumber daya yang ada.
1) Tingkat pengetahuan Tingkat pengetahuan seseorang mempengaruhi perilaku
individu. Makin tinggi pendidikan / pengetahuan kesehatan seseorang, makin
tinggi kesadaran untuk berperan serta. Penelitian menunjukkan bahwa ada
hubungan langsung antar tingkat pendidikan ibu dan kesehatan keluarganya.
Dalam permasalahan kesehatan, sering dijumpai bahwa persepsi masyarakat tidak
selalu sama dengan persepsi dengan persepsi pihak provider kesehatan (tenaga
kesehatan). Untuk mencapai kesepakatan atau kesamaan persepsi sehingga
tumbuh keyakinan dalam hal masalah kesehatan yang dihadapi diperlukan suatu
proses (KIM) yang mantap. Dalam proses ini diharapkan terjadi perubahan
perilaku seseorang, yang tahaptahapnya adalah :
- pengenalan (awarenes)
- peminatan (interest)
- penilaian (evaluation)
- percobaan (trial)
- penerimaan (adoption)
2) Sikap mental
Sikap mental pada hakekatnya merupakan kondisi kejiwaan, perasaan dan
keinginan (mind, feeling and mood) seseorang sehingga hal tersebut berpengaruh
pada perilaku serta pada akhinya perbuatan yang diwujudkannya
Kondisi ini didapatkan dari proses tumbuh kembang individu sejak masa
bayi/anak dan berkembang pula dari pendidikan serta pengalaman hidupnya
dalam berinteraksi dengan lingkungan/masyarakatnya. Dengan memahami sikap
mental masyarakat (norma), maka para pemberi pelayanan sebagai Prime
Mover akan dapat membentuk strategi perekayasaan manusia dan sosial.
3) Tingkat kebutuhan individu

Berkaitan dengan sistem kebutuhan yang terdapat dalam diri individu,


MASLOW mengatakan bahwa pada diri manusia terdapat sejumlah kebutuhan
dasar yang menggerakkannya untuk berperilaku. Kelima kebutuhan menurut
MASLOW tersebut terikat dalam suatu hirarki tertentu berdasarkan kuat lemahnya
MOTIVASI. Motivasi adalah penggerak batin yang mendorong seseorang dari
dalam untuk menggunakan tenaga yang ada pada dirinya sebaik mungkin demi
tercapainya sasaran. Implikasi dari uraian diatas adalah bahwa sepanjang perilaku
berperan serta yang dikehendaki dapat memenuhi kebutuhan poko anggota
masyarakat dan sejalan dengan norma dan nilai yang dianut, maka peran serta
tersebut dapat berkembang. Sebaliknya, perilaku yang lain (baru ataupun
berlawanan) tidak akan muncul dengan mudah apabila kebutuhan pokok anggota
masyarakat tersebut tidak dipenuhi.
4) Tingkat keterikatan kelompok
Suatu masyarakat terdiri dari individu/keluarga yang hidup bersama,
terorganisi dalam suatu sistem sosial atau ikatan. Sesuai dengan kepentingan dan
aspirasi anggotanya sistem sosial tersebut dapat berupa organisasi/ikatan : politik,
ekonomi, sosbud, agama, profesi, pendidikan, hukum, dll. Organisasi / institusi
bentukan dari sistem sosial tersebut bervariasi besarnya dan profil sosial
ekonominya, serta tingkatannya, mulai dari paguyuban atau bahkan kelompok
terisolir pada tingkat desa, kota dan nasional.
5) Tingkat kemampuan sumber daya perilaku individu juga diepengaruhi oleh
tersedianya sumber daya terutama sarana untuk pemenuhan kebutuhan baik yang
dimiliki olehnya maupun yang tersedia dimasyarakat
b. Perilaku masyarakat
Perilaku masyarakat dipengaruhi terutama oleh keadaan politik, ekonomi,
sosial budaya, pendidikan dan agama
1) Keadaan dan struktur politik
Sangat penting peranannya dalam mempengaruhi derajat perilaku masyarakat
yang selanjutnya akan mewujudkan peran serta masyarakat. Kestabilan dan
kesepakatan politik, perangkat-perangkat lunak juga hukum yang ada serta wadah
yang jelas merupakan hal penting dalam menunjang perwujudan kearah itu.
2) Keadaan ekonomi
Sangat penting pula pengaruhnya terhadap perwujudan peran serta
masyarakat, mengingat kemajuan yang dicapai dibidang ekonomi lebih
memungkinkan kemampuan masyarakat untuk berperan serta dalam berbagai
aspek pembangunan
3) Aspek sosial-budaya

Turut menentukan pula pengaruhnya terhadap perwujudan peran serta


masyarakat. Dalam berbagai hal masih sering dijumpai situasi dimana tata nilai
budaya masyarakat indonesia tertentu belum lagi memungkinkan terwujudnya
perilaku hidup sehat, apalagi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan
seperti yang diharapkan.
4) Aspek pendidikan

Tingkat pendidikan suatu bangsa akan mempengaruhi perilaku rakyatnya.


Makin tinggi pendidikan masyarakat makin tinggi kesadaran kesehatannya.
5) Aspek Agama
Ketentuan atau ajaran-ajaran yang berlaku dalam berbagai agama
mempengaruhi perilaku masyarakat. Agama dapat merupakan jembatan ataupun
hambatan bagi terwujudnya perilaku positif masyarakat dalam kesehatan.
B. Bentuk-Bentuk / Tingkat-Tingkat Dalam Partisipasi Masyarakat (PSM)
Mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat bukan pekerjaan
mudah. Partisipasi masyarakat memerlukan kemampuan, kesempatan dan motivasi.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dapat terjadi
dalam berbagai tingkatan, yaitu :
1) Tingkat partisipasi masyarakat karena perintah atau karena paksaan
2) Tingkat partisipasi masyarakat karena imbalan atau karena insentif
3) Tingkat partisipasi masyarakat karena identifikasi atau karena ingin meniru
4) Tingkat partisipasi masyarakat karena kesadaran
5) Tingkat partisipasi masyarakat karena tuntutan akan hak azasi dan tanggung
jawab
Tingkat partisipasi masyarakat nomor 5 biasanya muncul di negara-negara
maju yang berpaham demokrasi. Sedangkan partisipasi yang muncul di negara-negara
sedang berkembang yang pola budayanya umumnya paternalistik, tingkat partisipasi
masyarakatnya adalah nomor 1 s/d nomor 4 (terutama nomor 1 s/d 3).
Umumnya orang berpendapat bahwa partisipasi masyarakat erat kaitannya
dengan sifat gotong-royong masyarakat yang sudah membudaya, namun itu bukan
satu-satunya faktor penentu yang mempengaruhi partisipasi, akan tetapi partisipasi
masyarakat itu merupakan hal yang kompleks dan sering sulit diperhitungkan karena
terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya

C. Faktor Pendorong Partisipasi Masyarakat


Dalam upaya mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat ada beberapa
faktor yang bisa membantu atau mendorong upaya tersebut, yang antara lain adalah :
a. Faktor pendorong di masyarakat
Konsep partisipasi masyarakat sebenarnya bukan hal yang baru bagi kita di
Indonesia. Dari sejak nenek moyang kita, telah dikenal adanya semangat gotongroyong dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan di masyarakat. Semangat gotongroyong ini bertolak dari nilai-nilai budaya yang menyangkut hubungan antar
manusia. Semangat ini mendorong timbulnya partisipasi masyarakat
b. Faktor pendorong di pihak provider
Faktor pendorong terpenting yang ada di pihak provider adalah adanya
kesadaran di lingkungan provider, bahwa perilaku merupakan faktor penting dan
besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan. Kesadaran ini melandasi pemikiran
pentingnya partisipasi masyarakat. Selain itu keterbatasan sumber daya dipihak
provider juga merupakan faktor yang sangat mendorong pihak provider untuk
mengembangkan dan membina partisipasi masyarakat.
D. Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat
a. Faktor penghambat yang terdapat di masyarakat
1) Persepsi masyarakat yang sangat berbeda dengan persepsi provider tentang
masalah kesehatan yang dihadapi
2) Susunan masyarakat yang sangat heterogen dengan kondisi sosial budaya yang
3)
4)
5)
6)
7)

sangat berbeda-beda pula


Pengalaman pahit masyarakat tentang program sebelumnya
Adanya kepentingan tetap (vested interest) dari beberapa pihak dimasyarakat
Sistim pengambilan keputusan dari atas kebawah
Adanya berbagai macam kesenjangan sosial
Kemiskinan

b. Faktor penghambat yang terdapat di pihak provider


1) Terlalu mengejar target sehingga terjerumus dalam pendekatan yang tidak
partisipatif
2) Pelaporan yang tidak obyektif (ABS) hingga provider keliru mentafsirkan
situasi
3) Birokrasi yang sering memperlambat kecepatan dan ketepatan respons
pihak provider terhadap perkembangan masyarakat

4) Persepsi yang berbeda antara provider dan masyarakat


E. Keuntungan Partisipasi Masyarakat
a. Bagi masyarakat Dengan berpartisipasinya masyarakat dibidang kesehatan
maka :
1) Upaya kesehatan yang dilaksanakan benar-benar sesuai dengan masalah
yang dihadapi masyarakat, tidak hanya bertolak dari asumsi para
penyelenggara semata.
2) Upaya kesehatan bisa diterima dan terjangkau oleh masyarakat, baik
secara fisik, sosial maupun secara ekonomis. Ini karena mesyarakat
berpartisipasi dalam merumuskan masalahnya dan dalam merencanakan
pemecahannya
3) Masyarakat merasa puas, karena mempunyai andil pula dalam menilai
pelaksanaan daripada upaya kesehatan yang sudah direncanakan dan
dilaksanakan bersama.
4) Dengan berpartisipasinya masyarakat dalam proses pemecahan masalah
dibidang kesehatan akan mengembangkan kemampuan dan sikap positif
serta motivasi mereka untuk hidup sehat atas dasar swadaya.
b. Bagi pihak penyelenggara pelayanan (provider)
1) Dengan adanya partisipasi masyarakat, berarti adanya penemuan dan
pengerahan potensi masyarakat untuk pembangunan di bidang kesehatan,
dan membantu memecahkan masalah keterbatasan sumber daya yang
dimiliki pemerintah, baik sumber daya tenaga, biaya, maupun fasilitas.
2) Partisipasi masyarakat membantu upaya perluasan jangkauan pelayanan
kesehatan
3) Partisipasi masyarakat menciptakan adanya rasa ikut memiliki dan rasa
ikut bertanggung jawab dipihak masyarakat terhadap masalah dan
program kesehatan, hingga hal ini memperlancar munculnya aspirasiaspirasi dari bawah.

4) Partisipasi masyarakat dapat pula merupakan wadah dan jalur untuk


kontrol terhadap pelayanan kesehatan yang dilaksanakan pemerintah
5) Partisipasi masyarakat dibidang kesehatan dapat menjadi pintu masuk
(entry point) bagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan di bidang
lain
6) Partisipasi masyarakat merupakan mekanisme berkembangnya dialog
antara masyarakat dan pihak penyelenggaraan pelayanan (provider) dan
antara masyarakat denganmasyarakat sendiri, hingga tercipta kesamaan
berbagai

pengertian

dan

pandangan

tentang

masalah

dan

cara

pendekatannya.

Sumber :
1. Notoatmojo Soekijo, 2003 : Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsif-Prinsif Dasar. Rineka
Cipta, Jakarta
2. Erfandi, 2008: Peran Serta Masyarakat, Pro Health, for better life. htm