Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM

KAITAN ANTARA STRUKTUR DAN FUNGSI


JARINGAN

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.

Bowo Prakoso
Lutvi Widyastuti
Triajeng Nur Amalia
Lanna Murpi Pertiwi

(13304244019)
(13304244020)
(13304244021)
(13304244010)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebuah sistem jaringan pada tumbuhan mengandung satu atau lebih jaringan. Satu unit
sistem jaringan tersebut akan tersusun menjadi sebuah unit yang memiliki suatu fungsi.
Setiap organ pada tumbuhan terdiri atas tiga sistem jaringan, yaitu sistem jaringan
epidermis (jaringan pelindung), system jaringan pembuluh, dan sistem jaringan dasar.
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan pada struktur dan jaringan
tumbuhan. Pengamatan difokuskan pada salah satu jaringan agar
mudah melakukan pengamatan. Dan yang menjadi focus pengamatan
kami adalah jaringan epidermis yang merupakan jaringan terluar organ
tumbuhan. Sehingga mudah dalam membuat preparatnya. Pengamatan
ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara sruktur dan fungsi
jaringan pada tumbuhan terutama pada jaringan epidermis dan
derivatnya berupa trikoma dan stomata.
B. Tujuan
1. Mengetahui struktur-struktur spesifik (morfologi dan atau anatomis) pada individu
yang hidup pada lingkungan tertentu.
2. Mengetahui adany ahubungan struktur-struktur spesifik tersebut dengan
kegunaan/fungsi tertentu bagi organisme yang bersangkutan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Epidermis merupakan lapisan sel terluar pada daun. Daun bunga, buah dan biji, serta
pada batang dan akar sebelum tumbuhan mengalami penebalan sekunder. Meskipun dari segi
ontogeni seragam, dari segi morfologi maupun fungsi sel epidermis tidak seragam. Fungsi
epidermis adalah melindungi bagian dalam organ tumbuhan terhadap penguapan, erusakankerusakan mekanik, perubahan temperatur dan sebagainya. Selain sel epidermis biasa,
terdapat sel epidermis yang telah berkembang menjadi sel rambut, sel penutup pada stomata,
serta sel lain.
Stoma (jamak: stomata merupakan celah dalam epidermis yang dibatasi oleh dua sel
epidermis yang khusus, yakni sel penutup. Dengan mengubah bentuknya sel penutup
mengatur pelebaran dan penyempitan celah. Sel mengelilingi stoma dapat berbentuk sama
atau berbeda dengan sel epidermis lainya. Sel yang berbeda bentuk itu dinamakan sel
tetangga, yang kadang-kadang berbeda juga isinya. Sel tetangga berperan dalam perubahn
osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah.
Stomata terdapat pada semua bagian tumbuhan di atas tanah, tetapi paling banyak
ditemukan pada daun. Jumlah stomata beragam pada daun tumbuhan yang sama dan juga
pada daerah daun yang sama. Pada daun, stomata ditemukan di kedua permuakaan daun atau
pada satu muka saja, biasanya pada permukaan bawah. Sel penutup dapat terletak sama tinggi
dengan sel epidermis lainya, atau dapat lebih tinggi atau lebih rendah dari permukaan daun.
Stomata berasal dari bahasa Yunani yaitu stoma yang berarti lubang atau porus.
Stomata adalah lubang kecil berbentuk lonjong yang dikelilingi oleh dua sel epidermis khusus
yang disebut sel penjaga (Guard Cell). Sel penjaga adalah selsel epidermis yang telah
mengalami perubahan bentuk dan fungsi yang dapat mengatur besarnya lubanglubang yang
berada diantaranya

(Haryanti dan Tetrinica, 2009).

Stomata umumnya terdapat di permukaan atas dan bawah daun. Stomata pada
beberapa spesies tanaman hanya terdapat pada daun bagian bawah daun atau bagian atas saja.
Berdasarkan fungsinya stomata paling banyak terdapat pada bagian bawah daun, hal tersebut
dikarenakan pada bagian atas daun lebih berfungsi untuk proses fotosntesis, banyak stomata
yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas pada tumbuhan, sedangkan sel penjaga
berfungsi untuk mengatur, membuka dan menutupnya stomata (Kartasaputra, 1998).
Stomata tumbuhan pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup
saat hari gelap. Membuka dan menutupnya stomata dipengaruhi oleh kandungan air dan ion
kalium di dalam sel penjaga. Ketika sel penjaga memiliki banyak ion kalium, air dari sel

tetangga akan masuk ke dalam sel penjaga secara osmosis. Akibatnya, dinding sel penjaga
yang berhadapan dengan celah stomata akan tertarik ke belakang, sehingga stomata menjadi
terbuka. Sebaliknya, ketika ion kalium keluar dari sel penjaga, air dari sel penjaga akan
berpindah secara osmosis ke sel tetangga. Akibatnya, sel tetangga mengembang dan
mendorong sel penjaga ke arah celah sehingga stomata menutup (Fahn, 1991).
Haryani dan Tetrinica (2009), menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi membuka dan menutupnya stomata yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor
eksternal yaitu intensitas cahaya matahari, konsentrasi CO2 dan hormon asam absisat (ABA).
Cahaya matahari merangsang sel penutup menyerap ion K+ dan air, sehingga stomata
membuka pada pagi hari. Konsentrasi CO2 yang rendah di dalam daun juga dapat
menyebabkan stomata membuka. Faktor internal yaitu jam biologis memicu serapan ion pada
pagi hari sehingga stomata membuka, sedangkan malam hari terjadi pembebasan ion yang
menyebabkan stomata akan menutup.
Menurut Kartasaputra (1998), stomata berkembang dari sel protoderma. Sel induk
membagi diri menjadi dua sel yang terdiferensiasi yaitu dua sel penjaga. Pada mulanya sel
tersebut kecil dan bentuknya tidak menentu, tetapi selanjutnya berkembang melebar dan
bentuknya khas. Selama perkembangan, lamela tengah diantara dua sel penjaga
menggembung dan bentuknya seperti lensa sejenak sebelum bagian tersebut berpisah menjadi
aperture.
Stomata dan klorofil merupakan komponen biologi yang sangat menentukan sintesis
awal senyawa organik yang digunakan untuk prosesproses fisiologis sepanjang daur hidup
tanaman. Selain itu, stomata dapat digunakan sebagai salah satu ciri genetika untuk seleksi,
karena berhubungan dengan tingkat produksi dan ketahanan terhadap cekaman kekeringan
(Fahn, 1991).
Stomata pada kondisi cekaman kekeringan akan menutup sebagai upaya untuk
menahan laju transpirasi. Senyawa yang banyak berperan dalam membuka dan menutupnya
stomata adalah Asam Absisat (ABA). ABA merupakan senyawa yang berperan sebagai sinyal
adanya cekaman kekeringan sehingga stomata segera menutup. Beberapa tanaman beradaptasi
terhadap cekaman kekeringan dengan cara mengurangi ukuran stomata dan jumlah stomata.
Mekanisme membuka dan menutup stomata pada tanaman yang toleran terhadap cekaman
kekeringan sangat efektif, sehingga jaringan tanaman dapat menghindari kehilangan air
melalui penguapan (Champbell et al., 2003).
Salah satu penelitian tentang hubungan antara kerapatan stomata dengan ketahanan
kekeringan pada tanaman yaitu oleh Lestari (2005), kalus tanaman padi somaklon

Gajahmungkur, Towuti dan IR 64 yang diinduksi mutasi menggunakan irradiasi sinar Gamma
dengan dosis radiasi 0,5 krad, 0,7 krad dan 1 krad,

mendapatkan hasil somaklon

Gajahmungkur, Towuti dan IR 64 yang dianggap tahan kekeringan, pada umumnya


mempunyai kerapatan stomata lebih rendah dibanding tanaman induknya.
Rambut atau trikoma bersel satu atau bersel banyakdibentuk dari sel epidermis.
Struktur yang lebih besar dan padat seperti kutil dan duri (seperti duri mawar) yang tersusun
dari jaringan epidermis disebut emergens.
Kegunaan trikoma dalam taksonomi cukup dikenal. Kadang-kadang famili tertentu
dapat dikenal dengan mudah dari macam rambutnya.
Trikoma dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Trikoma yang tidak menghasilkan sekret
a. Rambut bersel satu atau bersel banyak dan tidak pipih. Misalnya pada Lauraceae,
Moraceae, Triticum, Pelargonium, dan Gossypium. Pada Gossypium, serat kapas cm.
b. Rambut sisik yang memipih dan bersel banyak, ditemukan tanpa tangkai (sessil) pada
daun durian (Durio zibethinus) atau bertangkai pada Olea.
c. Rambut bercabang, bersel banyak. Bentuknya dapat seperti bintang, mislnya ranbut di
bagian bawah daun waru (Hibiscus) atau seperti tempat lilin pada Verbascum.
d. Rambut akar merupakan pemanjangan sel epidermisdalam bidang yang tegak lurus
permukaan akar. Sel berbentuk bulat panjang, mencapai panjang 80-1500 m
dengan garis tengah 5-17 m . Rambut akar memiliki vakuola besardan biasanya
berdinding tipis.
2. Trikoma sekresi (yang mengasilkan sekret) atau kelenjar
Trikoma sekresi dapat bersel satu, bersel banyak atau berupa sisik. Trikoma bersel
banyak yang sederhana terdiri dari tangkai dengan kepala bersel satu atau bersel banyak.
Trikoma seperti itu terdapat misalnya padadaun tembakau.
Trikoma kelenjar menghasilkan sekret yang kental dan lengket, dan yang biasana
terdiri dari tangkaidan kepala bersel banyak dinamakan koleter. Trikoma seperti itu ditemukan
berkelompok pada tnas muda, dan sekret yang dihasilkanya menjaga tunas dari kekeringan.
Jenis trikoma kelenjar lain adalah kelenjar cerna yang terdapat pada tumbuhan pemakan
serangga Nepenthes.

Trikoma lain yang juga terspesialisai adalah rambut gatal pada Urtica. Trikoma
terdiri dari sel-sel panjang yang memiliki dasar yang lebar membengkak sedangkan bagian
atasnya sempit dan runcing. Dinding bagian ujung yang runcing mengandung silika,
sedangkan bagian tepat di bawahnya mengandung kalsium. Bila rambut tersentuh ujung
runcing yang membulat itu akan patah di daerah batas; sisanya beruujung runcing dengan
mudaah menembus kulit orang yang menyentuh tumbuhan tersebut. Di saat itulah kandungan
rambut (histaimin dan asetilkolin) masuk ke kulit, menimbulkan rasa gatal.
Rambut sekresi bersel satu dan bersel banyak yang menghasilkan nektar terdapat
pada unga atau di bagian lain di luar bunga. Beberapa di antaranya tidak berkutikula, dan
nektar disekresikan secara berdifusi. Pada rambut lain, sel memiliki kutikula. Dalam hal itu
dinding terluar dari sel kepala rambut ysng bersangkutan perlahan-lahan membengkak dan
meluas sehingga terbentuk lapisan lendirmenyerupai kubah di bawah kutikula. Lapisan
tersebut terus meluas dan dengan demikian menekan lapisan bagian daam daridinding luar ke
arah lumen sel yang hampir seluruhnya rusak. Akhirnya kutikula pecah dan zat lendir tempat
terkumpulnya nektar terbawa ke permukaan organ, misalya pada Hibiscus dan Abutilon.
( Estiti B Hidayat, 1995)

BAB III

MATERI (ALAT DAN BAHAN) DAN METODE


A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan yaitu:
1. Silet
2. Mika
3. Gelas benda dan penutupnya
Bahan yang digunakan yaitu:
1. Daun sirih merah
2. Daun begonia
3. Daun durian
4. Lem perekat
5. Air
B. Cara Kerja

Pengamatan Trikoma pada Daun Durian

Mengkikir bagian bawah daun durian yang berwarna kuning keemasan

Meletakkan hasil kikiran bagian bawah daun durian tersebut pada gelas benda
dan meneteskan air secukupnya, kemudian tutup preparat dengan penutup
gelas benda

Mengamati di bawah mikroskop dan memperhatikan bentuk-bentuk trikoma


yang ada dalam preparat tersebut

Pengamatan pada Daun Begonia

Membuat irisan melintang pada tangkai daun begonia

Mengamatinya di bawah mikroskop dan memperhatikan jenis trikoma yang


ada di dalamnya

Pengamatan pada bagian atas dan bawah daun sirih merah

Mengolesi mika dengan lem perekat dan menempelkanya pada bagian atas
dan bagian bawah daun siri

Setelah lem kering, mengambil perlahan mika yang sudah ditempel dan
mengamatinya di bawah mikroskop

Mengamatinya di bawah mikroskop dan memperhatikan stomata-stomata


yang ada pada kedua preparat tersebut

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tabel Pengamatan
No

Nama Daun

Gambar

Keterangan

Daun Durian

Perbesaran:
100x
Jumlah:

Daun Begonia

Perbesaran:
100x
Jumlah

Daun sirih

Perbesaran:

bagian atas

100x
Jumlah:

Daun sirih

Perbesaran:

bagian bawah

100x
Jumlah:

B. Pembahasan

Pada praktikum Kaitan antara Struktur dan Fungsi Jaringan kami memfokuskan
pengamatan kami terhadap jaringan terluar pada tumbuhan yatu jaringan epidermis.
Epidermis ini mempunyai derivat atau dalam perkembangannya mengalami deferensiasi
menjadi beberapa sel dengan fungsi khusus.Derivat dari epidermis yang dapat kami temukan

dalam praktikum kali ini adalah trikoma dan stomata. Berikut ini adalah pembahasan dari
masing-masing daun yang kami amati.
1)Daun Durian
Pada pengamatan dengan daun durian kami membuat preparat dari lapisan bawah
daun durian yang berwarna kuning keemasan. Setelah kami amati di bawah mikroskop
dengan perbesaran 100x, kami menemukan dua buah trikoma yang berbeda bentuk, tetapi
tidak bertangkai atau sessil. Bisa diketahui jika trikoma tersebut merupakan trikoma non
glanduler yang bersel banyak, karena trikoma tersebut tidak mengeluarkan sekret dan
jumlahnya banyak. Trikoma yang pertama bentuknya druse, sedangkan trikoma yang kedua
bentuknya seperti bintang. Menurut Estiti B. Hidayat (1995) Jenis trikoma pertama yang,
termasuk trikoma rambut sisik, dan trikoma yang kedua termasuk trikoma rambut bercabang.
2)Daun Begonia
Pada daun Begonia, kami membuat preparat melintang dari tangkai daunya. Setelah
kami amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x, kami menemukan trikoma yang
bertangkai, yang tangkainya sendiri melekat pada jaringan epidermis dan bentuknya seperti
serabut-serabut panjang yang tidak beraturan (berbentuk pita).
Trikomata pada tumbuhan durian dan begonia mempunyai bentuk yang berbeda
karena pada dasarnnya kedua tanaman ini mempunyai jenis yang berbeda dan trikomata
mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda pula. Tumbuhan begonia cenderung tumbuhan
herbasius atau cenderung kejenis basah yang mempunyai trikomata berbentuk pita, karena
daun begonia yang berbentuk lebar dan sangat cocok jika mempunyai trikoma berbentuk pita
karena memudahkan dalam penguapan. Jika begonia mempunyai trikoma berbentuk druse
maka tanaman akan mengalami kesulitan dalam proses penguapanya dan akan mengalami
pembusukan pada daunnya. Sedangkan durian cenderung nonherbasius karena merupakan
tanaman terestrial atau hidup di darat dan menjulang tinggi. Pada durian mempunyai trikoma
berbentuk druse karena bentuk ini akan menutup daun lebih besar sehingga mengurangi
pennguapan, apabila durian mempunyai bentuk trikoma berbentuk pita maka penguapan pada
durian akan semakin besar dan durian akan kekurangan air lebih banyak.
3)Daun sirih merah
Yang kami amati pada daun sirih merah adalah epidermis bagian atas dan bagian
bawah. Yang kami temukan pada epidermis bagian atas daun sirih merah adalah stomata yang
letaknya antara stomata satu dengan stomata yang lain berjauhan, sedangkan stomata yang

terdapat pada epidermis bagian bawah daun sirih merah letaknya saling berdekatan sehingga
jumlah stomata bagian bawah lebih banyak daripada bagian atas.
Menurut Kartasaputra (1998) stomata umumnya terdapat di permukaan atas dan
bawah daun. Stomata pada beberapa spesies tanaman hanya terdapat pada daun bagian bawah
daun atau bagian atas saja. Berdasarkan fungsinya stomata paling banyak terdapat pada
bagian bawah daun, hal tersebut dikarenakan pada bagian atas daun lebih berfungsi untuk
proses fotosntesis, banyak stomata yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas pada
tumbuhan, sedangkan sel penjaga berfungsi untuk mengatur, membuka dan menutupnya
stomata. Struktur stomata yang berbeda ini, juga berkaitan dengan habitat tanaman sirih
merah. Menurut Sudewo (2010) Tanaman sirih merah tergolong langka karena tidak tumbuh
subur di daerah yang panas. Sementara itu, di tempat berhawa dingin sirih merah dapat
tumbuh subur. Sehingga stomata lebih banyak ditemukan di epidermis bagian bawah daun
yang terlindungi dari panas, karena fungsi stomata yaitu mengurangi penguapan dan
merupakan jalan masuknya CO2 dari udara.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dari pengamatan yang telah kami lakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa jaringan
epidermis pada beberapa daun, memiliki ciri spesifik dilihat dari mofologis maupun
anatominya. Ciri spesifik yang dapat dilihat dari segi morfologisnya adalah jaringan
epidermis ini umumnya tebal. Pada beberapa daun, jaringan ini akan terasa kasar bila
disentuh, atau bahkan terlihat ada rambut-rambut halusnya. Sedangkan ciri spesifik yang
dapat dilihat dari segi anatomisnya adalah pada jaringan epidermis tersebut ditemukan adanya
stomata dan trikoma sebagai derivat dari jaringan epidermis yang mengalami perkembangan.
Ciri spesifik tersebut sesuai dengan tempat hidupnya masing-masing dan berkaitan dengan
fungsi dari jaringan epidermis itu sendiri, yaitu sebagai pelindung jaringan di bawahnya
terhadap penguapan, kerusakan mekanik-mekanik, perubahan temperatur dan sebagainya.
B. Saran
Dalam observasi yang telah kami lakukan, kami sadar pastinya masih banyak cela dan
kekurangan. Agar praktikan dapat memperoleh hasil observasi yang lebih baik lagi, ada
beberapa saran yang kami anjurkan antara lain:
1. Praktikan lebih jeli dalam mencari dan memilih organ yang sederhana dan mudah
diamati.
2. Praktikan lebih teliti dalam mengamati sasaran pengamatan.
3. Praktikan lebih cermat dan teliti selama proses observasi (penelitian), serta lebih rajin
dalam mencari kajian pustaka mengenai individu yang sedang diamati.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell,et al .2003. Biology Jilid I. Jakarta: Erlangga
Fahn, A.1991. Anatomi Tumbuhan Berbiji Penerjemah Ahmad Soediarto. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: FMIPA ITB

Paidi. 2012. Petunjuk Praktikum Biologi Umum. Yogyakarta: FMIPA UNY


Ratnawati, dkk. 2011. Petunjuk praktikum Anatomi dan Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta:
FMIPA UNY
Sudewo, Bambang. 2010. Basmi Penyakit dengan Sirih Merah. Jakarta: Agromedia Pustaka

LAMPIRAN
No

Nama Daun

Gambar

Keterangan

Daun Durian

Perbesaran:
100x
Jumlah:

Daun Begonia

Perbesaran:
100x
Jumlah

Daun sirih

Perbesaran:

bagian atas

100x
Jumlah:

Daun sirih

Perbesaran:

bagian bawah

100x
Jumlah: