Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

TERHADAP ARTIKEL KARYA BANDUNG MAWARDI


DI JAWA POS

Oleh:
Toni Fradana 080401080106

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
JANUARI 2010
BAB I

PENDAHULUAN

1. Batasan-batasan menurut beberapa pakar

Dalam bukunya yang berjudul “Common Error in Language Learning” H.V.


George mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-
bentuk tuturan yang tidak diinginkan (unwanted form) khususnya suatu bentuk
tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa.
Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang
menyimpang dari kaidah bahasa baku. Hal ini sesuai dengan pendapat Albert
Valdman yang mengatakan bahwa yang pertama-tama harus dipikirkan sebelum
mengadakan pembahasan tentang berbagai pendekatan dan analisis kesalahan
berbahasa adalah menetapkan standar penyimpangan atau kesalahan. Sebagian
besar guru bahasa Indonesia menggunakan kriteria ragam bahasa baku sebagai
standar penyimpangan.

Pengertian kesalahan berbahasa dibahas juga oleh S. Piet Corder dalam


bukunya yang berjudul Introducing Applied Linguistics. Dikemukakan oleh Corder
bahwa yang dimaksud dengan kesalahan berbahasa adalah pelanggaran terhadap
kode berbahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga
merupakan tanda kurang sempurnanya pengetahuan dan penguasaan terhadap
kode. Si pembelajar bahasa belum menginternalisasikan kaidah bahasa (kedua)
yang dipelajarinya. Dikatakan oleh Corder bahwa baik penutur asli maupun bukan
penutur asli sama-sama mempunyai kemugkinan berbuat kesalahan berbahasa.
Berdasarkan berbagai pendapat tentang pengertian kesalahan berbahasa yang
telah disebutkan di atas, dapatlah dikemukakan bahwa kesalahan berbahasa
Indonesia adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan berbagai unit kebahasaan yang
meliputi kata, kalimat, paragraf, yang menyimpang dari sistem kaidah bahasa
Indonesia baku, serta pemakaian ejaan dan tanda baca yang menyimpang dari
sistem ejaan dan tanda baca yang telah ditetapkan sebagaimana dinyatakan dalam
buku Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Adapun sistem kaidah bahasa
Indonesia yang digunakan sebagai standar acuan atau kriteria untuk menentukan
suatu bentuk tuturan salah atau tidak adalah sistem kaidah bahasa baku. Kodifikasi
kaidah bahasa baku dapat kita lihat dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia. Karakteristik bahasa baku antara lain adalah sebagai berikut.

2. Latar Belakang
Bahasa merupakan alat yang efektif untuk dijadikan sebagai sarana
pemersatu bangsa yang sangat heterogen seperti Indonesia pada khususnya.
Dalam umurnya yang masih terbilang muda, bahasa Indonesia
mengalami banyak perkembangan walaupun tidak terlalu pesat. Pengaruh
budaya dan gesekan dengan berbagai bahasa lain-baik daerah maupun
asing-ikut memberikan warna tersendiri dalam perjalanannya. Selain itu,
faktor trial and error juga turut mempengaruhi dalam proses pembentukan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Belajar dari kesalahan demi
kesalahan dalam bahasa sementara ini memang masih menjadi primadona
dalam merumuskan setiap konsep dalam pengembangan bahasa. Tapi ada
saatnya, primadona ini harus diganti dengan trial and right. Ya, mencoba lalu
benar, dan bukannya salah. Kenapa? Tentu saja hal ini jauh lebih efektif baik
dari segi waktu, biaya, dan lain sebagainya. Untuk dapat mewujudkannya,
terlebih dahulu yang harus dibenahi adalah persepsi. Adagium trial and error
sudah terlanjur mendarah daging sehingga setiap percobaan selalu
memberikan toleransi kesalahan yang terlalu tinggi. Atau bahkan tidak sedikit
percobaan yang malah disengaja untuk salah, salah, dan salah karena
kepentingan dan tujuan tertentu. Persepsi yang harus dibenahi adalah bahwa
tidak harus setiap mencoba selalu salah dan salah. Di samping itu yang perlu
dirubah lagi adalah prosedur kerja. Dalam konsep trial and error asumsi yang
dibangun adalah bahwa setiap percobaan wajar salah atau bahkan memang
harus salah, sehingga tidak ada perencanaan sistematis dan jangka panjang
yang memungkinkan untuk meminimalisir kesalahan sampai mendekati titik
nol.
Tapi bagaimanapun juga tetap tidak dapat dipungkiri bahwa belajar dari
kesalahan apalagi sampai tingkat analisis memberikan kontribusi yang sangat
besar dalam proses penyempurnaan bahasa. Oleh karenanya, setidaknya
sampai saat ini, model analisis kesalahan bahasa dapat menjadi jalan pintas
terpendek untuk memperbaiki kualitas bahasa.

2. Tujuan
Secara umum, penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Analisis kesalahan Bahasa yang dibimbing oleh bapak Edi Susilo sebagai.
Penelitian ini dapat dijadikan sarana belajar yang efektif sebagai bahan
evaluasi terhadap proses pembelajaran bahasa. Selain itu dapat juga dijadikan
sebagai dasar pertimbangan dalam perumusan konsep perbaikan.
BAB II
PEMBAHASAN

MENGGUNAKAN METODE ELIS

2.1 Pengumpulan Data

Kelezatan Cerpen, Cerpen menjadi menu lezat, Wajah dan sapa menggoda, Cerpen
yang jadi godaan minta perhatian, Hormat dan nilai, Kepungan tanya, Laku
kreatif,Tak, Prosaik, Bincang, Cafe, Milis, Gairah atau gerah, Jadi, Nelangsa,
Olahan, tanya, sajian, Beda, Pada, Cecapan, Haru yang ungu, Naif, Pedih, pedih
perempuan,Cerpen-cerpen itupun ingin menyapa pembaca, Resah cinta,
Melenakan, cerpen adalah juru bicara.

2.2 Klasifikasi Data

2.2.1 Berdasarkan Sistematis dan Tidaknya.

a. Mistake:
-
b. Error:
(1) Cerpen adalah juru bicara, (2) Kelezatan Cerpen(3), Cerpen menjadi menu lezat,
(4) Wajah dan sapa menggoda, (5) Cerpen yang jadi godaan minta perhatian, (6)
Hormat dan nilai, (7) Kepungan tanya, (8) Laku kreatif , (9) Tak, (10) Prosaik, (11)
Bincang, (12) Cafe, (13) Milis, (14) Gairah atau gerah, (15) Jadi, (16) Nelangsa, (17)
Olahan, (18) Beda, (19) Pada, (20) Cecapan, (21) Haru yang ungu, (22) Naif, (23)
Pedih, (24) Pedih perempuan, (25) Cerpen-cerpen itupun ingin menyapa pembaca,
(26) Resah cinta, (27) Melenakan, (28) Sajian, (29) tanya, (30).

2.2.2 Tingkat kebahasaan.

a. Morfologi:
(1) Tanya , (2) Hormat dan nilai, (3) Prosaik, (4)Bincang, (5) Cafe, (6) Milis, (7)
Gairah atau gerah, (8) Jadi, (9) Olahan, (10) Beda, (11) pada, (12) Naif, (13)
Pedih,(14) Sajian, (15) laku kreatif,

b. Semantik :
(1) Kelezatan Cerpen, (2) Cerpen menjadi menu lezat, (3) Wajah dan sapa
menggoda, (4) Cerpen yang jadi godaan minta perhatian, (5) Kepungan tanya, (6)
Nelangsa, (7) Cecapan, (8) Haru yang ungu, (9) Cerpen-cerpen itupun ingin
menyapa pembaca, (10) Resah cinta, (11) Melenakan, (12) cerpen adalah juru
bicara.

c. Sintaksis:
(1) Pedih perempuan.

d. Fonologi:
(1) Tak.

2.2.3 Sumber Kesalahan.

a. Interlingual:
(1) Cafe, (2) Milis, (3) Tak.

b. Intralingual:
(1) Tanya, (2) Hormat dan nilai, (3) Laku kreatif, (4) Prosaik, (5)Bincang, (6) Gairah
atau gerah, (7) Jadi, (8) Olahan, (9) Beda, (10) pada, (11) Naif, (12) Pedih, (13)
Kelezatan Cerpen, (14) Cerpen menjadi menu lezat, (15) Wajah dan sapa
menggoda, (16) Cerpen yang jadi godaan minta perhatian, (17) Kepungan tanya,
(18) Nelangsa, (19) Cecapan, (20) Haru yang ungu, (21) Cerpen-cerpen itupun ingin
menyapa pembaca, (22) Resah cinta, (23) Melenakan, (24) Pedih perempuan,(25)
cerita mungkin, (26) Sajian, (27) cerpen adalah juru bicara.

2.2.4 Wujud atau Bentuk

a. Pengurangan:
(1) Tanya, (2) Hormat dan nilai, (3) Tak, (4) Bincang, (5) Gairah atau gerah, (6)
Olahan, (7) sajian, (8) Beda, (9) pada, (10) Naif, (11) Pedih, (12) Pedih perempuan.

b. Penambahan:
(1) Laku kreatif, (2) Haru yang ungu.

c. Penggantian:
(1) Cafe, (2) Milis, (3) Prosaik, (4) Kelezatan Cerpen, (5) Cerpen menjadi menu
lezat, (6) Wajah dan sapa menggoda, (7) Cerpen yang jadi godaan minta perhatian,
(8) Kepungan tanya, (9) Nelangsa, (10) Cecapan, (11) Cerpen-cerpen itupun ingin
menyapa pembaca, (12) Resah cinta, (13) Melenakan, (14) Cerpen adalah juru
bicara.

d. Urutan:
-

2.3 Pembahasan.

 Kalimat “Kelezatan cerpen” bila dikaji secara baku dalam artikel yang resmi,
tentu saja tidak baku. Pada kata kelezatan, seharusnya tidak dikombinasikan
dengan cerpen. Kelezatan umumnya dipakai untuk menyatakan “enak atau
nikmat” yang digunakan untuk mengapresiasi suatu makanan/yang dapat
dimakan. Sedangkan cerpen bukanlah makanan. Lebih tepatnya lagi, kalau
kelezatan disini diubah menjadi keindahan. Kesalahan ada pada error, ada
pada tataran semantik, karena ketidak sesuaian makna kalimat ini. Pada
sumber kesalahan ada pada tataran intralingual dan bentuk kesalahan ada
pada tataran penggantian kata keindahan dengan kelezatan.
 Ketiga adalah kalimat “cerpen menjadi menu lezat”. Hampir sama dengan
kalimat “kelezatan cerpen”, karena ketidak sesuaian dengan makna yang
akan ditunjukkan.

 pada kalimat “cerpen-cerpen pun tak jemu jadi menu di lembaran-lembaran


kebudayaan koran dengan wajah dan sapa menggoda” dan kalimat “Cerpen
yang jadi godaan minta perhatian”. seolah mendedikasikan kalau cerpen
adalah seorang manusia. Karena pada kata “wajah dan sapa menggoda”
adalah sifat yang seharusnya dimiliki oleh manusia.Kesalahan sistematis atau
tidaknya ada pada tataran error, kekeliruan penulis yang tidak menguasai
kaidah berbahasa, sedangkan pada tingkat kebahasaan ada pada tataran
semantik, yakni pada makna kalimat yang seolah seperti manusia. Sumber
kesalahan ada pada tingkat intralingual dan pada wujud dan bentuk ada pada
penggantian.

 Hormat dan nilai seharusnya mendapatkan imbuhan peN-an. Pada hormat


seharusnya menjadi penghormatan dan nilai menjadi penilaian. Keduanya
menunjukkan makna proses, cara atau pemberian hormat dan nilai.
Kesalahan pada sistematis tidaknya, ada pada tingkatan error. Pada tingkat
kebahasaan ada pada morfologi. Sumber kesalahan ada pada tataran
intralingual dan pengurangan pada wujud atau bentuk kesalahan.

 Kalimat “kepungan tanya” mengandung makna banyak tanya yang berkelilingi


untuk mencapai sesuatu hal dan pada kalimat ini seharusnya bukan
menggunakan kata “mengepung”, namun “menimbulkan”, sehingga menjadi
“menimbulkan banyak tanya”
Dalam sastra dan pemaknaan lain, boleh saja menggunakan bentuk kalimat
ini, mungkin lebih mengefisiensikan kalimat. Kesalahan ada pada tataran
error, sedangkan pada tingkat kebahasaan pada kajian semantik karena
makna yang ditimbulkan akan ambigu dan seolah yang mengepung adalah
hidup.
Pada sumber kesalahan ada pada tataran intralingual, yakni kesalahan pada
bahasa itu sendiri karena kurangnya menguasai kaidah-kaidah berbahasa.
Kesalahan pada bentuk atau wujudnya, pada penggantian, kata menimbulkan
menjadi mengepung.

 Selain itu, kata “tanya” seharusnya mendapat imbuhan peN- an. Bentuk kata
dasar yang diawali fonem /t/ tidak menimbulkan penghilangan fonem tersebut
hingga bentuk dasar tetap dan menjadi /pertanyaan/. Kesalahan pada tataran
error dan pada tingkat kebahasaan pada morfologi dan sumber kesalahan
pada intralingual dna menurut wujud dan bentuknya pada penghilangan.

 Kalimat “laku kreatif” menimbulkan kesan yang berlebih, saat laku dan kreatif
di satukan. Kreatif memiliki makna memiliki daya cipta, atau hasil pemikiran.
Rasanya kurang tepat bila disandingkan dengan kata laku. Ada beberapa
bentuk yang mungkin bisa dipakai, pertama dengan menghilangkan kata
“laku” dan menembahkan kata “kreatif” menjadi “kreatifitas”. Sehingga kalimat
pada artikel akan berbunyi demikian:
“prolog ini jadi pengesahan untuk memerkarakan cerpen sebagai realisasi
kreatifitas yang hidup dalam...”
Kedua bentuk “laku” diubah menjadi “kelakuan” dengan menghilangkan kata
“kreatif”.
Kesalahan berdasar pada sistematis dan tidaknya, ada pada tataran error,
sedangkan pada tingkat kebahasaan ada pada tataran morfologi. Sumber
kesalahan ada pada tingkatan intralingual dan berdasar wujud dan bentuk
ada pada tataran pengurangan.

 Kata “tak’ sering digunakan dalam kalimat yang formal. Entah pada artikel,
makalah dan pada tuturan.kesan yang ditimbulkan bahwa penggantian “tidak”
menjadi “tak” seolah sudah baku. Kesalahan berdasarkan sistematis dan
tidaknya, ada pada tataran error. Tingkat kebahasaan merupakan kesalahan
fonologi dan sumber kesalahan ada pada intralingual, yakni kurang
menguasainya penulis pada kaidah kebahasaan. Pada kesalahan wujud atau
bentuk ada pada tataran pengurangan kata “tidak” menjadi “tak”.

 Pada kata prosaik ada dua kemungkinan. Pertama adalah prosais yang
berarti bersifat prosa dan kedua adalah prosaik (prosaic) yang berasal dari
kosa kata bahasa Inggris yang berarti membosankan atau menjenuhkan.
Kalimat yang ada pun memungkin kan dua artian ini benar, yakni:
“ketika lohika hidup, imaji publik, atau peristiwa-peristiwa rutin sudah begitu
prosaik...”
Bila pembenarannya pada kata “prosais”, kesalahan ada pada tingkat error,
bila di lihat dari sistematis dan tidaknya. Pada tataran morfologi bila ditilik dari
segi kebahasaannya dan intralingual bila dilihat dari segi sumber
kesalahannya. Pada tataran wujud atau bentuk, ada pada tataran
penggantian.
Bila yang dimaksudkan penulis adalah prosaic, maka harus dijadikan prosaic
(huruf miring/italic) dengan pemaknaan membosankan, menjenuhkan.
Kesalahan pada sistematis dan tidaknya, di error sedangkan dilihat dari segi
tingkat kebahasaannya, pada tataran morfologi, mempertahankan
keasliannya. Sumber kesalahan pada tataran interlingual, yakni kontak antara
dua bahasa. Dilihat dari wujud atau bentuknya, pada tataran penggantian
fonem/c/ menjadi /k/.

 Bincang sama dengan kalimat tanpa imbuhan ada kesalahan di atas. Sama
juga dengan kata “jadi” dan “beda”. Kesalahan berdasarkan sistematis dan
tidaknya pada tataran error dengan kesalahan pada tingkat kebahasaan
morfologi. Sumber kesalahan pada tataran intralingual, kesalahan pada
penulis sendiri yang tidak menguasai kaidah kebahasaan. Sedangkan dari
wujud atau bentuk kesalahan pada tataran pengurangan. Masing-masing ber-
pada kata “bincang” dan “beda”, meN- pada kata “jadi”.

 Sering kali pada kata “kafe”, atau “kopi” dalam kalimat foto kopi menggunakan
bentuk asalnya atau aslnya, seperti Cafe atau Copy. Kalau dalam situasainya
benar, bukanlah masalah, namun pada artikel ini, kata Cafe tidak digaris
miring atau menggunakan kata serapan dari bahasa asing itu sendiri, Kafe.
Sama halnya dengan kata Copy, biasanya di tulis dengan Foto Copy, dengan
pembenaran Photo Copy atau Foto Kopi.

 Milis adalah bahasa pemograman atau bahasa elektronika (berhubungan


dengan internet), seharusnya dicetak miring karena kata itu masih bersifat
asing. Kesalahan berdasarkan sistematis dan tidaknya, pada tataran error,
sedangkan pada tingkat kebahasaan pada tataran morfologi.
Sumber kesalahan ada pada tataran interlingual, kontak dua bahasa,
sedangkan menurut bentuk atau wujud kesalahan pada penggantian dengan
tidak dicetak miringnya kata asing itu.

 Kesalahan pada kata “gairah dan gerah” sama, yakni tidak adanya
afiks(imbuhan) yang melengkapi. Afiks yang dimaksud adalah afiks meN-an.
Diaman seharusnya untuk membentuk kalimat “cerpen memang terus ada
dengan tegangan-tegangan untuk gairah atau gerah” dengan seharusnya
“cerpen memang terus ada dengan tegangan-tegangan untuk menggairahkan
atau menggerahkan”.
Kesalahan pada tataran sistematis dan tidaknya adalah secara error.
Sedangakan tingkat kebahasaan pada morfologi. Sumber kesalahan di
intralingual sedangkan secara wujud dan bentuk pada pengurangan.

 “...jadi representasi optimisme cerpen mutakhir untuk tak terus nelangsa”


dengan nelangsa yang seharusnya diganti dengan kata terabaikan atau
terpinggirkan. karena kata nelangsa mencerminkan sikap atau keadaan
benda hidup/bernyawa. Arti nelangsa disini adalah sedih, sementara yang
mungkin paling cocok digunakan dalam situasi ini adalah terabaikan atau
terpinggirkan.
Kesalahan pada tataran sistematis dan tidaknya pada error, yang merupakan
kesalahan dari penulis sendiri dengann tidak menguasai kaidah berbahasa,
sedangkan pada tataran kebahasaan pada tingkatan semantik.
Sumber kesalahan terletak pada intralingual, kesalahan karena kurangnya
menguasai kaidah berbahasa sedangkan pada tingkatan wujud atau bentuk
pada penggantian, ketidaksesuaian makna yang ditulis.

 Kata “olahan” dan “sajian” sama kesalahannya, sma sama mengalamai


pengurangan imbuhan peN-. Dimana seharusnya kata yang kesalahan
kebahasaannya terletak pada morfologi ini menjadi pengolahan dan
penyajian.
Sumber kesalahannya ada pada tingkat intralingual dan berdasarkan
sistematis dan tidaknya di tataran error.
Kata “pada” seharusnya mendapatkan imbuhan ke-, karena menunjukkan
“pada”. Kesalahan ada pada tataran morfologi, bila ditilik dari segi
kebehasaannya, sedangkan berdasarkan sistematis dan tidaknya. Sumber
kesalahan ada pada tataran intralingual dan pada wujud dan bentuk di
pengurangan.

 Cecap mengandung pengertian:


“menjilat dan mengecap makanan untuk mengetahui rasanya. Merasai dan
menikmati” sedangkan bentuk kata “cecapan” tidak ada. Hanyalah mencecap
dan cecap.
Kesalahan menurut sistematis dan tidaknya ada pada tataran error,
sedangkan pada tingkat kebahasaan ada pada tataran morfologi dan
semantik.
Sumber kesalahan ada di intralingual sedangkan wujud dan bentuknya ada di
penambahan atau pengurangan yang seharusnya seperti itu.

 Haru yang ungu digunakan dengan menekankan kata aslinya, Haru. Dengan
penekanan ini untuk menimbulkan kesan yang lebih. Namun tak seharusnya
ada kata tambahan “yang ungu”. Pertama tidak ada warna haru berwarna
“ungu”, artinyapun cenderung tidak ada. Kedua, artinya bisa dikatakan kesan.
Kesalahan pada tataran kebeahasaannya terletak pada semantik, tentang
makna dan tingkat sistematis tidaknya pasa error. Sumber kesalahan pada
intralingual dan bedasarkan wujud dan bentuknya pada tingkat penembahan.

 Kata “naif” seharusnya menjadi kenaifan yang berarti “keadaan naif” dan kata
Pedih yang seharusnya “kepedihan”. Kesalahan ada pada tataran error,
morfologi, intralingual dan melihat kesalahannya dengan mengurangi
imbuhan ke-an, maka berdasarkan wujud dan bentuknya adalah
pengurangan.

 Pedih perempuan sama dengan yang diulas di sebelumnya, seharusnya


mendapat imbuhan pe-an dan di tambah dengan kata “seorang” sehingga
menjadi kepedihan seorang perempuan.
Kesalahan ada pada tataran error dan sintaksis berdasarkan tingkat
kebahasaan. Sumber keslaahan ada pada tingkatan intralingual dan menurut
bentuk atau bentuk pada pengurangan sehingga tidak begitu sesuai.

 “Cerpen-cerpen itupun ingin menyapa pembaca” menunjukkan seolah cerpen


adalah seorang manusia atau benda hidup. Seharusnya tidak berlebih dan
hanya menggunakan cerpen yang indah, bagus dsb.
Kesalahan yang ada pada tataran sistematis dan tidaknya berdasarkan
kalimat itu adalah error, sedangkan berdasarkan tingkat kebahasaan pada
semantik. Sumber kesalahan pada intralingual dan pada tingkat wujud dan
bentuknya pada tataran penggantian.

 Resah cinta mendedikasikan kalau cinta adalah benda hidup yang


mempunyai perasaan dan bisa merasakan. Resah seharusnya mendapatkan
imbuhan ke-an yang berarti “menderita resah/gelisah”.
Resah cinta bisa diganti dengan kegelisahan. Kesalahan pada tataran
sistematis dan tidaknya pada error, sedangkan tingkatan kebahasaan pada
tingkat morfologi. Sumber kesalahan masih sama dengan “kasus”
pengurangan imbuhan lain, yakni intralingual.

 Melenakan pada kalimat “kefasihan itu ada tapi terkadang melenakan karena
kurang mengurusi kelezatan untuk pengekalan reflektif”. Maknanya tidak
terlalu jelas dan terkesan menggunakan bahasa yang tidak semua orang
mengerti (kalangan tertentu).
Dari kata dasar “lena”, tidak ada kata “melenakan”, mungkin bisa diartikan
membosankan, bila di lihat dari kalimat yang menyertainya.
Kesalahan ada pada tingkatan error, intralingual dan penembahan.
Sedangkan pada tingkat kebahasaan ada pada tataran semantik.

 Cerpen adalah juru bicara maksudnya bahwa adalah cerpen merupakan


bentuk inspirasi. Hal ini tidak sesuai dan seharusnya ditulis dengan cerpen
sebagai sarana mengungkapkan pikiran, perasaan. Kesalahan ada pada
tataran semantik, berdasarkan sumber kesalahan ada pada tataran
intralingual, wujud dan bentuk adalah penggantian. Sedangkan menurut
sistematis dan tidaknya pada error.

2.4 Klarifikasi

Kelezatan Cerpen => keindahan cerpen


Cerpen menjadi menu lezat => cerpen menjadi pilihan yang baik
Wajah dan sapa menggoda => keindahan cerpen
Cerpen yang jadi godaan minta perhatian => cerpen yang menarik
Hormat dan nilai => penghormatan dan penilaian
Kepungan tanya => banyak pertanyaan/menimbulkan banyak pertanyaan.
Tanya => pertanyaan.
Laku kreatif => kelakuan atau kreatifitas.
Tak => tidak
Prosaik => prosais atau prosaic.
Bincang => berbincang.
Cafe => kafe atau Cafe
Milis => milis
Gairah atau gerah => menggairahkan atau menggerahkan
Jadi => menjadi
Nelangsa => terabaikan atau terpinggirkan
Olahan => pengolahan
Sajian=> penyajian
Beda => berbeda
Pada => kepada
Cecapan => cecap/mencecap atau menikmati.
Haru yang ungu => terharu
Naif => kenaifan.
Pedih => kepedihan.
pedih perempuan => kepedihan seorang perempuan.
Cerpen-cerpen itupun ingin menyapa pembaca => cerpen yang indah/ pantas
dibaca.
Resah cinta => keresahan cinta dan kegelisahan.
Melenakan => membosankan.
Cerpen adalah juru bicara => cerpen adalah bentuk inspirasi.

2.5 Evaluasi

Artikel yang ditulis oleh Bandung Mawardi, peneliti Kabut Institut Solo, kurang
memperhatikan asas bahasa yang baku dan tidak. Dimana Bandung Mawardi
bahasanya “terkontaminasi” dengan gaya bahasa sastra. Ada beberapa hal yang
membuktikan misalnya bagaimana keindahan diungkapkan dengan “kelezatan”,
gaya bahasa yang membutuhkan tafsiran lain, dsb.
Banyak juga kata yang menunjukkan ia seorang akademisi yang
membutuhkan “kamus” untuk menerjemahkan beberapa kata yang jarang kita
dengar.
Selain itu, mungkin juga terpengaruh dengan gaya bahasa non baku pada
sastra, banyak kata yang tidak baku dalam artikel ini terutama juga yng sering
digunakan dalam penulisasn karya / sastra.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Beberapa kesimpulan bisa diambil dari menganalis artikel dari Jawa Pos ini,
tentu saja dari beberapa kesalahan yang saya temukan.
Lebih banyak kesalahan berdasarkan tingkat sistematis dan tidaknya, 100%
atau 29 data pada jenis error, yakni kesalahan karena ketidak menguasainya
terhadap kaidah berbahasa. Sedangkan pada jenis mistake yang pada
pengertiannya adalah semata-mata karena kekeliruan, tidak ada.
Kesalahan ditingkat kebahasaan lebih banyak pada tataran morfologi, yakni
15 data dari 30 data. Ditingkat kedua adalah kesalahan pada tataran semantik,
yakni urusan makna, ada 13 data dari 30 data. 2 data ada di tingkat sintaksis dan
sisanya (1 data) ada di tataran fonologi.
Pada sumber kesalahan, 3 data merupakan interlingual dan lainnya adalah
intralingual. Berdasarkan wujud atau bentuk, 12 data ada pada kesalahan
pengurangan, penambahan hanya ada 2 data dan 14 lainnya ada pada penggantian.
Sementara pada urutan tidak ada.

3.2 Saran

3.2.1 Saran kepada penulis.

Dalam situasi resmi, pemaknaan ganda dan mungkin juga pemaknaan yang
sulita akn timbul apabila menggunakan bahasa yang sulit atau yang berbau sastra.
Pada artikel ini, tidak banyak kata-kata kiasan dan gaya bahasa khas sastra yang
digunakan, mungkin karena penulis berasal dari kalangan pecinta sastra dan dalam
artikel ulasan sastra (cerpen).
Untuk situasi resmi, lebih baik menyesuaikan dengan situasi dan
menggunakan bahasa yang baku. Bahasa tidak baku yang digunakan
pengarangpun banyak, dengan menggunakan bahasa dengan baik (penggunaan
bahasa baku yang benar) mungkin akan membuat artikel ini bernilai lebih dijadikan
referensi.

3.2.2 Saran kepada Pengguna bahasa

Menggunakana bahasa Indonesia baku memanglah sangat penting, selain


memang akan lebih mudah digunakan, dalam situasi formal, makna yang
ditimbulkan akan sesuai dengan yang diinginkan.
Penggunaan bahasa baku sangatlah penting untuk melestarikan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, namun melihat dari artikel itu juga tidak membetasi
ruang untuk berekspresi lewat karya-karya tentunya dnegan melihat konteks yang
ada.
Kolom pengamatan

N Data Sistemati Tingkatan Sumber Wujud dan klarifikasi


o Kesalahan s atau kebahasaa kesalahan bentuk
tidaknya n
1 Memerkaraka Error Morfologi Intralingua Penguranga memperkaraka
n l n n
2 Kelezatan Error Semantik Intralingua Penggantian Keindahan
Cerpen l cerpen
3 Cerpen Error Semantik Intralingua Penggantian Cerpen
menjadi menu l menjadi pilihan
lezat yang baik
4 Wajah dan Error Semantik Intralingua Penggantian Keindahan
sapa l cerpen
menggoda
5 Cerpen yang Error Semantik Intralingua Penggantian Cerpen yang
jadi godaan l menarik
dan minta
perhatian
6 Hormat dan Error Morfologi Intralingua Penguranga Penghormatan
nilai l n dan penilaian
7 Kepungan Error Semantik Intralingua Penggantian Banyak
tanya l pertanyaan
8 Tanya Error Morfologi Intralingua Penguranga Pertanyaan
l n
9 Laku kreatif Error Morfologi Intralingua Penambaha Kelakuan atau
l n kreatifitas
10 Tak Error Fonologi Interlingua Penguranga Tidak
l n
11 Prosaik Error Morfologi Intralingua Penggantian Prosais atau
l Prosaic
12 Bincang Error Morfologi Intralingua Penguranga berbincang
l n
13 Cafe Error Morfologi Interlingua Penggantian Cafe atau kafe
l
14 Milis Error Morfologi Interlingua Penggantian Milis
l
15 Gairah atau Error Morfologi Intralingua Penguranga Menggairahkan
gerah l n
16 Jadi Error Morfologi Intralingua Penguranga Menjadi
l n
17 Nelangsa Error Semantik Intralingua Penggantian Terabaikan
l
18 Olahan Error Semantik Intralingua Penguranga Pengolahan
l n
19 Sajian Error Morfologi Intralingua Penguranga Penyajian
l n
20 Beda Error Morfologi Intralingua Penguranga Berbeda
l n
21 Pada Error Morfologi Intralingua Penguranga Kepada
l n
22 Cecapan Error Morfologi Intralingua Penggantian Cecap
l
23 Haru yang Error Semantik Intralingua Penembaha Menikmati
Ungu l n
24 Naif Error Morfologi Intralingua Penguranga Kenaifan
l n
25 Pedih Error Morfologi Intralingua Penguranga Kepedihan
l n
26 Pedih Error Sintaksis Intralingua Penguranga Kepedihan
perempuan l n seorang
perempuan
27 Cerpen-cerpen Error Semantik Intralingua Penggantian Cerpen yang
itupun ingin l pantas dibaca
menyapa
pembaca
28 Resah cinta Error Semantik Intralingua Penggantian Kegelisahan
l
29 Melenakan Error Semantik Intralingua Penggantian Membosankan
l
30 Cerpen adalah Error Semantik Intralingua Penggantian Cerpen adalah
jurubicara l bentuk
inspirasi