Anda di halaman 1dari 17

Analisi kerusakan Formasi Dan Stimulasi Pada Rersevoir Rekah Alam Lapangan-X

Ricky Wicaksono*
Dr. Ir.Sudjati Rachmat DEA**
Sari
Kerusakan formasi merupakan salah satu masalah yang selalu ada dalam kegiatan pengangkatan minyak dari
reservoir ke permukaan, masalah ini menyangkut ekonomian dan operasional. Kerusakan formasi dapat
mengakibatkan penurunan tekanan sumur secara cepat, yang berakibat perolehannya turun. Kerusakan formasi
ini bisa terjadi akibat proses pemboran, komplesi dan produksi. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya
Kerusakan formasi, seperti faktor fisika, kimia biologi, hydrodinamic dan termal. Indikasi terjadinya Kerusakan
formasi adalah penurunan permeabilitas sumur yang mengakibatkan penurunan performance dari sumur.
Dilakukan Uji kandungan lapisan untuk mengetahui nilai properti reservoir seperti permeabilitas, jenis
reservoirnya, skin dan lain-lain. Dengan stimulasi di harapkan akan memperbaiki zona damage, salah satu
metode stimualsi yang di gunakan di paper ini adalah acid fracturing yang di harapkan akan memperbaiki zona
yang damage, dengan menginjeksikan asam dengan konsentrasi tertentu sehingga bereaksi dengan batuan yang
mengakibatkan naiknya permeabilitas, namum apakah stimulasi yang dilakukan pada sumur rekah alam akan
sama dengan sumur homogen biasa, dan sejauh manakan perbaikian yang bisa di hasilkan oleh stimulasi pada
sumur rekah alam.
Kata kunci : Uji Kandungan Lapisan, Kerusakan Formasi, Stimulasi dan Perolehan

Abstract
Formation damage is the one problem that always exist in the production process, the problem concerning the
economy and operational process. Formation damage can result in well pressure drop rapidly, and reduce the
recover. Formation Damage can occur due to the process of drilling, completion and production. Many factors
can cause formation damage, such factors as physical, chemical, biological, and thermal hydrodinamic.
Indication of formation damage is the decrease in permeability wells resulting in reduced performance of the
wells.
Drill stem test to determine the value of reservoir properties such as permeability, reservoir type, skin etc. With
stimulation to repair damaged zones, one stimulation methods described in this paper is acid fracturing, which is
expected to repair the damaged zone. By injecting acid that reacts with presented rocks in the area that leads to
increased permeability, however if the stimulation is performed on naturally fractured wells it will have no
effect and will be equal to ordinary homogeneous wells, and as far as whether the improvements can be
generated by the stimulation of naturally fractured wells.
Key word : Drill Stem Test, Formation Damage, Stimulation and Recovery Factor

*) Mahasiswa Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung


**) Dosen Pembimbing Program Studi Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung

Ricky Wicaksono (12206060)

I. PENDAHULUAN

Kelarutan

I.1 Latar Belakang

Dolomitisasi

Aktivitas Taktonik

Saat ini tidak hanya reservoir batu pasir atau


reservoir karbonat yang di produksikan, sudah
dimulai memproduksikan dari reservoir rekah alam
dimana beberapa tahun yang lalu zona ini tidak
terlalu menarik perhatian perusahan minyak untuk
di kembangkan. Karakter dari reservoir rekah alami
berbeda dengan reservoir pada umumnya, sering
kali dalam mengevaluasi reservoir jenis ini
mengalami kendala. Adapun kendalanya adalah
kita mengalami kesulitan dalam memprediksi,
mengevalusi dan mengkarakterisasi reservoir ini.
Penelitian-penelitian tentang hal ini dilakukan
untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam
memproduksikan.
Well testing dilakukan guna mengevaluasi
karakteristik reservoir rekah alam, dari hasil well
testing bisa di dapatkan nilai skin, merupakan
faktor kerusakan formasi sekitar lubang sumur,
yang bisa membuat sumur berkurang kemampuan
mengalirkan fluida ke permukaan, maka diperlukan
suatu teknik yang dapat meningkatkan kembali
produksi minyak dari suatu sumur minyak. Salah
satu upaya yang dilakukan ialah dengan
menggunakan teknik stimulasi sumur. Dan
stimulasi yang cocok untuk reservoir rekah alam
yang batuannya limestone adalah acid fracturing
dengan
stimulasi
ini
akan
memperbaiki
permeabilitas dan menaikan Perolehan.
II. TEORI DASAR
II.1. Reservoir rekah alam
Ketertarikan pada Reservoir rekah alami mulai
meningkat pada beberapa tahun terakhir ini, hal ini
disebabkan karena pengaruh rekah yang terdapat
pada reservoir memegang peranan penting dalam
perolehan minyak dan gas yang diproduksi,
sehingga industri yang bergerak dalam dunia migas
mulai mengadakan penelitian tentang hal ini supaya
mereka bisa mendapatkan hasil yang maksimal jika
mereka menemukan reservoir tersebut.
Pada umumnya, rekahan alami pada batuan dapat
terbentuk sebagai akibat proses dibawah ini :

Ricky Wicaksono (12206060)

Hadirnya rekahan-rekahan pada suatu batuan akan


mengakibatkan pertambahan permeabilitas yang
bukan main besarnya terhadap permeabilitas batuan
semula gambar-1. Namun, kontribusi rekahan ini
terhadap kapasitas penyimpanan fluida (storage
capacity) sangatlah kecil. Porositas sebagai hasil
rekahan ini sangat kecil artinya dibandingkan
dengan porositas primernya.
Ulasan klasik yang merupakan konsep mendasar
tentang kelakuan aliran fluida pada reservoir rekah
alami ini diberikan oleh Muskat (1937). Beliau
menuliskan bahwa "the main body of the reservoir
feeds its fluid into the highly permeable fractures,
these latter bringing the fluid directly or by a
complex interconnection into the outlet wells".
Konsep ini nantinya dikenal sebagai "Double
Porosity Concept" atau sistem porositas ganda,
sebagai akibat adanya sistim matriks dan fracture
yang berinteraksi.
Asumsi dasar tersebut, dimana matriks mengalirkan
fluida kepada rekahan-rekahan yang ada kemudian
hanya rekahanlah yang mengalirkan fluida tersebut
ke lubang sumur, tetap dipakai sebagai acuan dasar
oleh para peneliti dibidang ini untuk menerangkan
pola aliran dan sentra tekanan pada reservoir rekah
alami.
Suatu asumsi dasar yang dipakai oleh Warren dan
Root di dalam memecahkan persoalan ini yaitu,
mereka menganggap bahwa aliran dari matriks ke
rekah ada dibawah kondisi "pseudo steady state".
Begitu terjadi penurunan tekanan pada rekah
(karena fluidanya mengalir ke lubang bor), maka
dengan segera tekanan pada setiap titik pada
matriks akan turun mencapai satu tekanan rata-rata
dengan membebaskan fluidanya kepada fracture.
Warren dan Root mengindentifikasi ada dua
parameter yang mengontrol kelakuan pada sistem
porositas ganda, yaitu Storativity ratio () adalah
perbandingan antara penyimpanan fluida di
rekahan dengan penyimpanan fluida total (matriks
dan rekahan) dan interporosity flow coefficient ()
adalah
parameter
yang
menggambarkan

kemampuan suatu fluida untuk mengalir dari


matriks ke rekahan.
Apabila 1, maka m Cm 0, berarti storage
capacity pada matrix 0. Artinya semua fluida
terdapat pada fractures saja. Sekarang, makin kecil
harga , misalnya = 0.1 , berarti storage capacity
matriks adalah 9x storage capacity fracturenya.
Kalau = 0.01, maka storage capacity matriksnya
99x storage capacity fractures. Kesimpulan, makin
kecil harga maka storage capacity matriksnya
semakin besar, dan makin kecil kontribusi
fracturenya terhadap "total storage" dari sistim ini.
Apabila harga mengecil, maka k m /k f mengecil,
Misalnya = 10-3, artinya permeabilitas matriksnya
kurang lebih 1000x lebih kecil dari permeabilitas
fracture ( anggaplah dulu dr w 2 = 1 untuk contoh ini
). Jadi semakin kecil harga , makin kecil pula
harga permeabilitas matriksnya, yang juga berarti
kemampuan matriks melalukan fluida semakin
sulit. Atau minyak dari matriksnya sukar
diproduksikan
II.2. Kerusakan formasi
Kerusakan formasi didefinisikan sebagai proses
kerusakan pada formasi yang akan mengurangi
produksitivitas suatu lapisan minyak atau gas.
Terdapat beberapa alasan untuk mencegah
kerusakan formasi yaitu :

Menurunkan biaya komplesi dan produksi.


Memaksimumkan cadangan terambil dengan
menurukan drawdown dan menurunkan
masalah water dan gas coning.
Menjaga batasan atau barier permeabilitas
vertikal dari suatu formasi dengan tidak perlu
dilakukan fracturing sehingga menambah
efisiensi penyapuan vertikal dan areal untuk
primary, secondary dan tertiary recovery.
Memaksimumkan injektivity untuk operasi
injeksi ke formasi.

Penyebab utama kerusakan formasi :


1.
2.
3.
4.

Kerusakan Mekanis
Kerusakan Kimiawi
Kerusakan Biologis
Kerusakan Thermal

Ricky Wicaksono (12206060)

II.2.1. Kerusakan Mekanis


Kerusakan formasi mekanis terjadi selama operasi
pemboran overbalance, dapat dikategorikan lagi
atas 2 bagian, yaitu :

Migrasi dan trap dari serpihan-serpihan


insitu.
Plugging dari padatan luar formasi.

II.2.1.1. Migrasi serpih


Migrasi serpih terjadisebagai akibat gesekan fluida
yang mengalir dalam formasi dengan batuan
sehingga terbentuk serpihan-serpihan batuan yang
kemudian serpihan tersebut akan bergerak ke
tempat seperti pore throat dari pori batuan untuk
memblock dan mengurangi permeabilitas media
berpori tersebut. Hal ini dapat terjadi pada operasi
pemboran overbalanced dimana terjadi fluid loss
yang sangat besar di formasi dengan permeabilitas
yang tinggi.
Serpihan-serpihan batuan tersebut dapat berupa
material seperti clay, crystalline dolomita, pyrite,
anhidrit,dll. Migrasi serpihan ini juga sangat
bergantung pada wettabilitas dari batuan. Serpihan
akan mudah bermigrasi dalam fasa cairan yang
membasahi batuan.
Sebagai contoh, jika formasi adalah water-wet,
sedangkan fasa fluida yang ada adalah non wetting,
seperti gas atau minyak, fasa fluida tersebut dapat
di produksi dengan rate yang cukup tinggi tanpa
terjadinya migrasi serpihan karena serpihan batuan
tetap akan terperangkap dalam fasa air yang
immobile. Tetapi ketika saturasi fasa wetting, atau
air cukup besar, seperti saat terjadinya water
breakthrough dalam injeksi air, air akan mulai
bergerak. Pada kecepatan gerakan fasa air yang
cukup tinggi, serpihan mulai bermigrasi dan
kemudian akan mengumpul di suatu tempat dan
menyebabkan
terjadinya
pengurangan
permeabilitas. Turbulensi aliran juga akan
memudahkan terjadinya migrasi serpih.
II.2.1.2. Pluging Padatan
Padatan-padatan dalam fluida pemboran dapat
menyebabkan kerusakan formasi. Padatan seperti
weighting agent ( barite dan hematit), fluid loss

agent (bentonite dan clay), atau artificial bridging


agent untuk memperbaiki sifat fluida loss seperti
kalsium karbonat, garam, cellulosic, oil-sluble
resin, walnut hulls dan LCM jenis lainnya.
Material-material ini akan dapat dengan mudah
masuk kedalam formasi terutama dalam operasi
pemboran overbalanced. Padatan lain yang
mungkin adalah pecahan batuan formasi yang
hancur akibat proses pemboran. Walaupun padatanpadatan ini sudah berusaha di kontrol di permukaan
melalui solid control seperti desander, desilter,
namun padatan tersuspensi dengan ukuran 10
hingga 15 micron dalam diameter sangat susah
untuk di hilangkan. Padatan ini juga akan
terkumpul semakin banyak dalam lubang sumur
seiring dengan bartambah lamanya waktu lumpur
di dalam lubang.
Kerusakan formasi juga akan bertambah dengan
semakin permeabelnya batuan formasi. Plugging
padatan ini juga akan sering terjadi pada formasi
yang telah pressure depleted. Hal ini dikarenakan
plugging yang terjadi pada formasi.
II.3. Skin
Skin terbentuk di sekitar lubang sumur. Skin
merupakan daerah dari formasi yang mengalami
kerusakan maupun perbaikan. Skin berharga positif
jika daerah tersebut mengalami kerusakan dan
beharga negatif jika daerah tersebut mengalami
perbaikan atau stimulasi. Skin yang berharga
positif dapat terbentuk baik pada saat pemboran,
komplesi maupun saat produksi berlangsung.
Fenomena skin ini dapat dilihat pada Gambar-2.
Horner dan Van Everdingen telah menunjukan
hubungan penurunan tekanan (pressure drop) di
sekitar lubang sumur pada saat sumur tersebut
diproduksikan dengan laju dan waktu tertentu.
Hubungan tersebut digambarkan dengan persamaan
berikut:
pe =

4keh

ln

ke t

cf r2
w

+ 0.809........ (1)

Kemudian Van Everdingen memperhitungkan


pressure drop tambahan yang disebabkan
berkurangnya nilai permeabilitas di sekitar lubang
sumur karena adanya kegiatan pemboran, komplesi
maupun kegiatan produksi itu sendiri. Persamaan
pressure drop di atas menjadi:

Ricky Wicaksono (12206060)

pt =

4keh

ln

ke t

cf r2
w

+ 0.809 + 2S..(2)

Persamaan di atas didapat dengan mengasumsikan


permeabilitas yang nilainya berubah sebagai ka dan
permeabilitas mula-mula sebagai ke.
pt =

ps =

q ln(ra/rw)
q

2kah

2h

keka

ke ka

q ln(ra/rw)
2keh

ln(ra /rw ) (3)

Kemudian tambahan pressure drop pada


persamaan (3) di atas ditambahkan kedalam
persamaan (1), maka:
pt =

pt =

q
ket
ln
+ 0.809
2
4k e h
cf rw
q k e k a
+

ln(ra /rw )
2h k e k a
q

4keh

ln

ke t

cf r2
w

+ 0.809 +

ke

ka

1 ln r a .........(4)
w

Bila pesamaan (4) dibandingkan dengan persamaan


(2), maka didapatkan:
S=

ra
ke
1 ln
ka
rw

Skin pun mengakibatkan penurunan produksi,


maka skin pun menjadi masalah keekonomisan dari
suatu sumur.
II.4. Uji Kandungan Lapisan
Uji kandungan lapisan adalah suatu temporary
completion,yaitu pengujian produkstivitas formasi
ketika kegiatan pemboran masih berlangsung.
Pemboran di hentikan dan fluida formasi di
produksikan melalui pipa bor. Tujuan dari uji
kandungan lapisan adalah untuk mengetahui
kandungan (hidrokarbon) suatu lapisan, juga untuk
menentukan
karakteristik
reservoir
seperti
permeabilitas, skin factor dan damage ratio.
Uji kandungan lapisan biasanya dilakukan dalam 2
periode pengaliran (uji alir pertama dan kedua) dan
dua kali penutupan. Untuk mendapatkan besaran
produktivitas dan karekteristik formasi dipakai

analisa pressure build up metoda horner pada kedua


periode penutupan sumur.
II.4.1. Analisa UKL Secara Kwalitatif
Respon tekanan sebagai fungsi waktu biasanya di
rekam pada suatu plat metal. Dari rekaman tersebut
dapat di analisis secara kwalitatif hal-hal di bawah
ini:

Kejadian mekanis di dalam sumur selama UKL


berlangsung
Karakteristik reservoir yang di uji. Ini
menyangkut fluida di reservoir yang di uji.
Tindak lanjut perlu tidaknya di analisis hasil
UKL secara Kwantitatif

II.4.2. Analisa UKL secara Kwantitatif


Tujuan dari analisa UKL(kwantitatif) adalah
menentukan permeabilitas lapisan (K), skin faktor
(S), dan damage ratio (Skin). Untuk tujuan
tersebut, biasanya di gunakan metode horner pada
periode tutup pertama dan kedua apabila fluida
tidak mengalir kepermukaan, laju alir periode
pertama di perkkirakan berdasarkan persamaan :
qo =

P x 0.00097d2
Gradient fluida x 1440 x t

Laju alir pada periode alir kedua ( jika tidak


mengalir ke permukaan) dapat di perkirakan
dengan persamaan di bawah ini :
perolehan x 0.00097d2
qo =
t

II.5. Acid Fracturing


Pelaksanaannya dengan menginjeksikan pad yang
viscous (kental) untuk menghasilkan rekahan. lalu
diikuti dengan asam yang telah diberi fluid loss
control dan asam ini akan memakan permukaan
rekahan secara tidak merata (karena batuannya juga
tidak merata sifat kekerasannya) dan setelah
nantinya rekahan menutup, diharapkan saluran
akan terbentuk dari lubang-lubang yang dimakan
asam (atched) tadi yang pasti tidak akan tertutup
seluruhnya dan permukaan tidak merata inilah yang
diharapkan untuk menjadi semacam proppant
atau pengganjalnya.
Ada dua hal yang mempengaruhi berhasilnya yaitu
panjang rekahan dan konduktivitasnya. Dalam hal
acid frac ini ditentukan oleh jarak tempuh asam
yang masih hidup (live acid). Penetrasi asam ini
sangat dipengaruhi oleh fluid loss rate, lebar
rekahan, laju injeki asam, temperatur formasi,
jenis formasi, jenis asam dan jenis additivenya.
Dalam praktek digunakan laju injeksi yang tinggi
dengan tekanan yang cukup untuk merekahkan dan
mengalirkan asamnya. Hanya asam HCl yang
digunakan untuk permeabilitas medium (K > 10
md) hanya memerlukan asam sedikit dan hanya
dilakukan pengasaman di sekeliling sumurnya.
Dalam acidfrac ini, sebenarnya aliran yang
dominan di sekitar sumur adalah linier.
III. METEDOLOGI
Dalam penulisan karya tulis ini adapun metodemetode yang dilakukan terdiri dari:
1.

Dimana perolehan di dalam pipa di nyatakan dalam


satuan ft, dan t adalah lama periode alir kedua
(menit).
2.
Waktu produksi ( producting time, tp) untuk
analisis horner adalah sebagai berikut:
3.
1. Lama waktu periode alir pertama digunakan
sebagi tp dalam analisis pressure buildup pada
peride tutup pertama.
2. Tp untuk analisa pressure buildup-Horner pada
periode tutup kedua adalah waktu periode alir
pertama di tambah periode alir kedua.

Ricky Wicaksono (12206060)

4.

Melakakukan pressure transient analysis


untuk reservoir rekah alam untuk mengetahui
propeties reservoir yang akan di gunakan untuk
analisis selanjutnya
Melakukan stimulasi untuk memperbaiki area
damage sekitar lubang sumur dengan acid
fracturing.
Menentukan Inflow Performance Relationship
dari sumur terserbut dengan keadaan
mengalami kerusakan maupun stimulasi
Simulasi model reservoir rekah alam untuk
memahami parameter skin pada reservoir alam
dalam hubungannya dengan recovery factor.

VI .HASIL
IV.1. Pressure Transient Analysis
Dalam melakukan Pressure Transient Analysis di
butuhkan data properties formasi, tabel-1 dan
membutuhkan data tekanan terhadap waktu ketika
sumur di tutup. Dalam test ini kita mendapatkan
harga permeabilitas, skin factor, perubahan tekanan
akibat skin. Adapun hasil analisa dari kedua tes ini
dapat kita lihat pada Tabel-2.
Dari hasil pressure transient analysis ini
didapatkan model reservoirnya adalah dual
porosity, dengan batasan infinit, sumur vertical dan
constant wellbore storage. Dalam melakukan well
testing kita memplot rate dan tekanan, pada
dasarnya bila sumur di produksikan maka tekanan
akan turun dan ketika sumur di tutup maka tekanan
akan naik. Dalam test kali ini di gunakan satu
tekanan drowdown yang memiliki empat rate dan
dua tekanan build up, gambar-3, kemudian
membuat horner plot dengan menggunakan data
bulid up ke dua, gambar-4, sehingga di dapat
matching dalam grafik log-log plot pressure
derivative, gambar-5.
Setalah itu di dapat harga skin bernilai positif
yaitu 22.7 yang menunjukan bahwa pada sumur ini
adanya kerusakan hal ini di karenakan akibat
aktifitas pada saat pemboran. Harga permeabilitas
diperoleh sebesar 69.8 termasuk kecil harganya,
tetapi karena pada reservoir ini adalah dual
porosity maka dengan harga sebesar ini masih baik
untuk diproduksikan. Kemudian untuk harga
storativity ratio didapatkan sebesar 0.3% diartikan
bahwa storage capacity matriks adalah sekitar 333x
storage capacity rekahannya sehingga tipe
rekahannya adalah tipe A yaitu penyimpanan
reservoirnya
lebih
dominan
di
matriks
dibandingkan dengan pada rekahan. Untuk harga
interporisty flow coefficient sebesar
5.47x10-8
menunjukan bahwa kontribusi dari kemampuan
matriks dalam melewatkan fludia termasuk kecil.
Untuk harga skin ( formation damage) di dapat
sebeser 22.7, menunjukan adanya kerusakan
formasi yang cukup tinggi. Dengan Pskin 454.144
psi.
Ps = 141 . 2

qB k

1 ln (r s / r w )
kh k s

Ricky Wicaksono (12206060)

Dengan melihat persamaan di atas maka nilai


ketebalan formasi yang besar mengakibatkan nilai
pressure drop akibat skin mengecil, nilai ketebalan
formasi adalah 1017ft, maka dengan skin 22.7
didapat pressure drop hanya 454.144 psi. Dengan
menggunakan
persamaan
hawkins
untuk
mendapatkan nilai permeabilitas skin (k s ) didapat
9.7 md, dengan asumsi jari-jari skinnya adalah 10ft.
penurunan nilai permeabilitasnya cukup besar yaitu
sampai 86.6%.
IV.2. Acid Fracturing
Melakukan stimulasi berupa acid fracturing dengan
membersikan sekitar lubang sumur dari berbagai
macam kotoran yang mengakibatkan penurunan
permeabilitas, dengan di injeksikan acid di
harapkan bisa membersihkan pengotor sehingga
performance reservoir lebih baik, pada stimulasi
kali ini di lakukan beberapa tahap pertama
mengunakan brine sebanyak 10.000 galon,
kemudian menginjeksikan pad sebanyak 10.000
galon, karena temperatur formasinya diatas 3000F
maka HCl tidak bisa di gunakan, maka
menggunakan injeksi asam DGA sebanyak 10.000
galon, lalu di overflush dengan brine sebanyak
10.000 galon. Karena tekanan reservoirnya tinggi
maka dilakukan dengan pumping rate 50 bbl/menit.
Rata-rata konduktiviti pada 10 ft pertama bernilai
23271md-ft, gambar-6, atau permeabilitas daerah
stimulasi bernilai 2304 md, sehingga skinnya
bernilai -3.5.
IV.3. IPR sumur rekah alam
Untuk mengetahui kemampuan formasi untuk
mengalirkan fluida ke lubang sumur menggunakan
persamaan IPR untuk sumur rekah alam.

Qo
Pwf
Pwf
= 1 - 0.9

- 0.1
Qo max - pseudo
Pr
Pr
Dengan mengetahui rate pada saat test yaitu 1618
bbl/stb dengan tekanan 4120 psi, maka bisa
mendapatkan nilai Qmax dan dengan membuat
nilai pwf dari 0 sampai tekanan reservoir di dapat
grafik IPR untuk sumur tersebut, gambar-7. IPR
yang didapat adalah IPR sumur yang mengalamai
damage karena rate saat test memiliki nilai skin
22.7.

Setelah stimulasi di buat plot IPRnya ternyata


grafik IPR antara sebelum dan sesudah stimulasi
tidak signifikan, gambar-8, hal ini terjadi akibat
sifat permeabilitas fracture yang tidak berpengaruh
akibat adanya skin.
IV.4. Model Reservoir
Untuk dapat mengetahui tentang kelakuan produksi
sumur dari reservoir rekah alami, kita memodelkan
sumur reservoir rekah alam tersebut dengan
menggunakan simulator reservoir. Model yang
digunakan memodelkan reservoir rekah alami
dimana reservoir tersebut berbentuk silinder dan
sumur ditempatkan di tengah-tengah dari reservoir
tersebut. Dari simulator ini diharapkan bisa
mewakili kelakuan reservoir rekah alami di
lapangan ini.
IV.4.1. Deskripsi Model
Pada studi ini menggunakan model reservoir
berbentuk radial dua dimensi dan sistem koordinat
silinder (r, z). Skala blok grid model adalah
20*1*20 = 400 blok, gambar-9. Data yang
digunakan untuk membuat model ini adalah datadata dari Sumur-X dan beberapa data asumsi untuk
harga parameter rekahan. Sumur-X ini memiliki
tekanan reservoir rata-rata adalah 4745 Psia dan
temperature reservoir sebesar 321oF. Sumur-X ini
adalah reservoir rekah alam yang ada pada lapisan
Basement, zona produksinya adalah 8990 10007
ft open hole dengan diameter lubang sebesar 6-1/8
in, gambar-10.
IV.4.2.Simulasi Reservoir Rekah Alam
Dari model reservoir ini, kita bisa melihat kelakuan
dari reservoir pada lapangan-X sehingga bisa
diperkirakan tekanan reservoir, laju produksi dan
total produksi dari minyak, gas dan air serta kita
bisa memperkirakan recovery factor di masa depan.
Dari hasil simulasi diperkirakan jumlah cadangan
yang dapat di produksikan adalah sebesar 1.214
MMSTB, sehingga dengan harga IOIP sebesar 4.01
MMSTB maka harga recovery factor-nya adalah
sebesar 30.2%, sedangkan saat periode plateau rate
di dapatkan jumlah minyak yang dapat di
produksikan adalah sebesar 1.04 MMSTB selama
1215 hari sehingga recovey factor pada saat
periode plateau rate adalah sebesar 25.9%. Apabila
sumur ini kita produksikan dengan laju alir minyak
tetap yaitu sebesar 858 STB/hari

Ricky Wicaksono (12206060)

Setelah melakukan stimulasi diperkirakan jumlah


cadangan yang dapat di produksikan adalah sebesar
1.223 MMSTB, gambar-11, maka harga recovery
factor-nya naik menjadi sebesar 30.5%, sedangkan
saat periode plateau rate di dapatkan jumlah
minyak yang dapat di produksikan adalah sebesar
1.06 MMSTB selama 1233 hari sehingga recovey
factor pada saat periode plateau rate naik menjadi
sebesar 26.4%, gambar-12. Apabila sumur ini kita
produksikan dengan laju alir minyak tetap yaitu
sebesar 858 STB/hari, maka sumur diprediksikan
dapat berproduksi selama 5 tahun, dimulai sejak
Juli 2008 dan akan berakhir sekitar tahun 2013.
V. PEMBAHASAN
Untuk mengetahui penyebab nilai skin yang
bernilai sampai 22.7 pada reservoir rekah alam kita
harus meninjau dari awal kegitan pemboran sampai
kegitan produksi, tabel-3 menunjukan properti
lumpur yang di gunakan dalam proses pemboran
trayek 618" kedalaman akhir trayek 10007 ft TVD.
Karena sumur ini relatif masih baru kemungkinan
besar damage yang terjadi akibat proses pemboran,
untuk menganalisa kerusakan formasi maka
penganalisanya di tinjau dari beberapa bagian
meliputi lumpur pemboran, metoda pemborannya
dan perforasi.
V.1. Sejarah Pemboran dan Komplesi
Lumpur yang di gunakan menggunakan water base
mud KCl-Polymer. Lumpur KCl-Polymer adalah
lumpur WBM diamana digunakan additive utama
KCl sebagai penstabil shale.
Pada sumur-X ini lapisan yang mengandung clay
hanya ada di di lapisan pertengahan bukan di zone
of interest. namun kehadiran polimer mampu
meningkatkan viskositas dan menurunkan filtration
loss secara efektif. Sehingga kehadiran KCl dan
polimer mejadi optimum dalam mengurangi
pengembangan clay tanpa mempengaruhi rhelogi
dari lumpur pemboran.
Metode pemboran
menggunakan metode
overbalance drilling, yaitu tekanan hidrostatis
fluida pemboran lebih besar dari tekanan fluida
formasi, hal ini digunakan untuk mencegah kick
pada lubang bor dan membentuk mud cake pada
sisi sumur yang berguna untuk menjaga stabilitas
lubang sumur.

Pada lapisan pay zone tidak di ketemukan batuan


clay sehingga formation damage akibat clay
sweling tidak perlu di hiraukan, namun ada
masalah lost circulation pada zona interest karena
ada permeabilitas rekahan yang bernilai besar
sehingga masuknya lumpur pemboran ke dalam
rekahan.
Komplesi pada sumur-X ini menggunkan metode
overbalance
tanpa
perforasi
(open
hole
completion). Menggunakan open hole completion
karena pada batuan rekah alam permeabilitasnya
besar sehingga tanpa perforasi pun minyak dapat
mengalir.
Namun
dengan
menggunakan
overbalance completion menyebabkan terjadinya
formation damage akibat partikel dari lumpur
masuk kedalam formasi dan menyumbat rongga
yang ada di dalam formasi. Hal tersebut yang
menurut penulis yang mengakibatkan nilai skin
mencapai 22.7
V.2. Stimulasi
Dalam melakukan hydraulic fracturing. Tidak
sepenuhnya sama dengan hydraulic fracturing pada
reservoir biasa, karena pada reservoir rekah alam
sudah memiliki rekahan yang permeabilitasnya
besar maka fluida stimulasi tidak di injeksikan
sampai tekanan rekah batuan tetapi sampai tekanan
yang cukup agar fluida bisa masuk sampai jarak
yang di inginkan dan hanya memperbaiki
kerusakan pada matrix batuan.
V.3. Analisa hasil stimulasi terhadap nilai
recovery factornya
Dengan adanya skin menyebabkan IPR sumur
menurun maka dilakukan stimulasi dengan yang
akhirnya bisa membuat permeabilitas sekitar sumur
naik menjadi 2304 md atau bernilai skin -3.5
(perbaikian) maka performance sumur pun
meningkat, bisa di lihat dari nilai Rfnya. Namun
perubahan nilai RFnya tidak signifikan hanya
meningkat 9Mstb atau sekitar 0.3% nilai recovery
factornya, biaya yang di keluarkan untuk stimulasi
dengan acid fracturing dengan menggunkan jumlah
asam yang banyak di bandingkan kenaikan RF
yang kecil hanya 0.3% maka proses stimulasi tidak
ekonomis maka pada sumur-X ini tidak perlu
dilakukan stimulasi, hal ini dikarenakan skin tidak
berpengaruh pada rekahan dan hanya berpengaruh
pada matriks saja, sehingga perubahan produksi
akibat skin tidak terlalu signifikan yang berbeda
dengan reservoir yang permabilitias utamanya

Ricky Wicaksono (12206060)

adalah matriks. Karena hanya matrix yang


mengalami damage dan fluida di alirkan dari
reservoir ke lubang sumur hanya dari permeabilitas
rekahnya.
VI.KESIMPULAN
1.

2.

3.
4.

5.

Terjadi damage pada sumur-X yang


merupakan reservoir rekah alam dengan nilai
skin sebesar 22.7 , nilai tersebut cenderung
besar, dan terjadi akibat masuknya fluida
pemboran ke dalam formasi
Pada sumur-X, clay hanya ada di lapisan
pertengahan, di zone of interest tidak di
temukan clay, sehingga skin tidak terjadi
akibat clay swelling di sumur ini.
Analisis penyebab skin terjadi akibat metode
pemboran menggunakan overbalance.
Sumur tidak perlu di lakukan stimulasi karena
kenaikan recovery factor akibat stimulasi tidak
signifikan hanya 0.3%.
Skin pada reservoir rekah alam tidak terlalu
mempengaruhi performancenya, di karenakan
skin hanya berpengaruh pada matriks dan tidak
berpengaruh pada rekahan.

VII. SARAN
1.
2.

Perlu dilakukan analisa lebih lanjut


tentang formation damage pada sumur-X
Sebaiknya dilakukan pemboran dengan
motode underbalance drilling
dan
underbalance komplesi untuk mencegah
terjadinya damage akibat lost circulation
pada zona rekahan.

Daftar Simbol
q
= Laju alir gas, MMSCFD

= Viscositas gas, cp
cf
= kompresibilitas formasi, psi-1
r w = jari jari sumur, ft
ra
= jari jari skin, ft
t
= waktu, hari
k e = Permeabilitas rata rata reservoir, mD
k a = Permeabilitas skin, mD
Bo = Faktor volume formasi minyak, bbl/stb
S
= Skin
p e = Pressure drop reservoir, psi
p t = Pressure drop total, psi
p s = Pressure drop skin, psi

= Storativity ratio

= Interporosity flow coefficient

Daftar Pustaka
1. Van Everdingen, A.F. : The Skin Effect And Its
Influence On The Productive Capacity Of
Weels, Trans.AIME (1953),198,71
2. Hawkins Jr., Murray F. et al.: A Note on the
Skin Effect. Paper SPE 732-G.1956
3. Hurst, William. et al.: The Skin Effect in
Producing Wells. 1854-PA.1969
4. Civan, Faruk. : Reservoir formation damage
fundamental,modeling,
assessment
and
mitigation. Gulf Professional Publishing,
Oxford. 2007
5. Abdassah, Doddy. : Analisys Tekanan
Transient. Institut Teknologi Bandung.1998
6. Schechter, Robert : Oil Well Stimulation
Englewood Cliffs, New Jersey, 1992
7. R.F. Krueger, : An Overview of Formation
damage and well productivity in oilfield
operations ,Paper SPE 17459
8. Yasutra,
Amega:
Inflow
Performance
Relationship Pada Reservoir Rekah Alami
Bertenaga Dorong Gas Terlarut, Tesis,
Departemen
Teknik
Perminyakan-ITB,
Bandung, 2006

Ricky Wicaksono (12206060)

LAMPIRAN

Gambar-1 Skema Ilustrasi Resevoir Rekah Alam

Gambar-2 Fenomena Skin

Ricky Wicaksono (12206060)

10

Gambar-3 analisa periode test

Gambar-4 Horner Plot

Ricky Wicaksono (12206060)

11

Gambar-5 Pressure Derivatif Matching

Gambar-6 Conductivity Profile

Ricky Wicaksono (12206060)

12

IPR Sumur Rekah alam


5000
4500
4000
3500
3000
Pwf 2500
2000
1500
1000
500
0
0

2000

4000

6000

8000

10000

12000

Gambar-7 IPR Sumur Rekah Alam

IPR Sumur Rekah alam


5000
4500
4000
3500
3000
Pwf 2500

IPR skin

2000

IPR Stimulasi

1500
1000
500
0
0

2000

4000

6000

8000

10000

12000

14000

Gambar-8 IPR Sumur Rekah Alam Sesudah Stimulasi

Ricky Wicaksono (12206060)

13

Gambar-9 Model Sumur

Gambar-10 Well Diagram

Ricky Wicaksono (12206060)

14

Gambar-11 Grafik commulative oil pada sumur skin dengan sumur stimulasi

Gambar-12 Grafik Pletau rate pada sumur skin dengan sumur stimulasi

Ricky Wicaksono (12206060)

15

Tabel-1 Propertis reservior


Properti
Zona Interval
Temperatur
Tekanan
Laju Alir Minyak
Pwf
API
Spesific Grafity Gas
GOR
Temperatur Kepala Sumur
Tekanan Kepala Sumur
Tempertur Separator
Tekanan Separator
Minyak FVF (B o )
Viscositas Minyak ( o )
Kompressibilitas Minyak (C o )
Kompressibilitas Air (C w )
Kompressibilitas Batuan (C r )
Kompressibilitas Total (C t )
Radius Sumur (r w )
Ketebalan
Porositas
Sw
So

Satuan
ft
o
F
Psia
STB/D
Psia

scf/STB
o
F
Psia
o
F
Psia
RB/STB
cp
1/psi
1/Psia
1/Psia
1/Psia
ft
ft
%
%
%

Nilai
8990 -10007
321
4745
858
4290
38.6
0.805
1301
120
2500
99
190
1.682
0.2216
1.77e-05
3.98e-06
4.862e-06
1.296e-5
0.255
1017
10
70
30

Tabel-2 Hasil analisis pressure transient

Properti
Keadaan Sumur
Reservoir
Batasan
C (wellbore Storage)
Skin

bbl/psi

Nilai
Storage + Skin
Two Porosity PSS
infinite
0.00119
22.7

PSkin

psia

453.144

P*

Psia

4745.8

md

69.8
0.291%
5.47E-8

Storativity Ratio ()
Interporosity Flow Coefficient ()

Ricky Wicaksono (12206060)

Satuan

16

Tabel-3 Properties Lumpur


Lumpur : KCL Polymer, SG 1.10 1.53 (properties lumpur pada BHT 323F)
FV

PV

YP

GS

FL
pH

Sec/qt

cps

Lbs/100
sq.ft

10/10

cc/30

40-50

8-18

16-9

(5-8)/
(10-16)

<5

Ricky Wicaksono (12206060)

9-9.5

Sand
Cont

Solid
Cont

% Vol

% Vol

0.25

13-23

MBT
LGS (%)

5-10

Screen

Ppb
Eq

Mesh

10-12

160/200

17