Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIPOSPADIA


i.KONSEP PENYAKIT HIPOSPADIA
1.PENGERTIAN
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra
externa terletak dipermukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari
tempatnya yang normal (ujung glans penis).
Menurut referensi lain HIPOSPADIA adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang
uretra yang terletak dibagian bawah dekat pangkal penis.
Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terletak dipenis bagian
bawah,bukan diujung penis. Hipospadia merupakan kelainan kelamin bawaan
sejak lahir. Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain,misalnya pada
scrotum dapat berupa undescensus testis, disgenesis testis dan hidrokele. Pada
penis berupa propenil scrotum,mikrophallus dan torsi penile,sedangkan kelainan
ginjal dan ureter berupa fused kidnev,malrotasi renal,duplex dan refluk ureter.
2.ETIOLOGI
Penyebab sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui
penyebab pasti dari hipospadia. Namun ada beberapa faktor yang oleh para ahli
dianggap paling berpengaruh antara lain:
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormon yang dimaksud disini adalah hormon androgen yang mengatur
organogenesis kelamin(pria).Atau bisa juga karena reseptor hormon
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormone androgennya sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi
apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu
efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone
androgen tidak mencukupi dan akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena
mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga
ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.
Mekanisme genetik yang tepat mungkin rumit dan variabel. Penelitian lain
adalah turunan autosomal resesif dengan manifestasi tidak
lengkap.Kelainan kromosom ditemukan secara sporadis pada pasien
dengan hipospadia.
3. Prematuritas
Peningkatan insiden hipospadia ditemukan diantara bayi yang lahir dari
ibu dengan terapi estrogen selama kehamilan. Prematuritas juga lebih
sering dikaitkan dengan hipospdia.
4. Lingkungan

Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan


zat yang bersifat teratogenetik yang dapat mengakibatkan mutasi.

3. KLASIFIKASI
Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus :
1) Tipe sederhana/ Tipe anterior
Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini meatus terletak
pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak
memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau
meatotomi.
2) Tipe penil/ Tipe Middle
Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan penescrotal. Pada tipe ini, meatus
terletak antara glands penis dan scrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu
tidak adanya kulit prepusium bagian ventral,sehingga penis terlihat melengkung kebawah
atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini,diperlukan intervensi tindakan bedah
secara bertahap,mengingat kulit dibagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada
bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan
bedah selanjutnya.
3) Tipe Posterior
Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan
penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida,meatus uretra terbuka lebar dan
umumnya testis tidak turun. Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak
meatus uretra yaitu tipe glandular, distal penile,penile,penoskrotal,scrotal dan perineal.
Semakin ke proksinal letak meatus,semakin berat kelainan yang diderita dan semakin rendah
frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di distal dimana meatus terletak diujung batang
penis atau di glands penis. Sisanya 10 % terletak lebih proksimal yaitu ditengah batang
penis,skrotum atau perineum. Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi
korde, Brown membagi hipospadia dalam 3 bagian:
Hipospadia anterior : tipe glanular, subkoronal, dan penis
distal.
Hipospadia Medius : midshaft, dan penis proksimal
Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal
4. Manifestasi Klinis
a. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal dibgian bawah penis yang
menyerupai meatus uretra eksternus.
b. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis,menumpuk dibagian punggung penis.
c. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga
ke glands penis,teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
d. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum
tidak ada
e. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glands penis.
f. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
g. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun kekantung skrotum)

h. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.

Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan
tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu
jaringan fibrosa yangmenyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis.
Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika
dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu
hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee.

5. Patofisiologi
Hypospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero. Terjadi karena
adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke 10 sampai minggu ke
14. Gangguan ini terjadi apabila uretra jatuh menyatu ke midline dan meatus terbuka pada
permukaan ventral dari penis. Propusium bagian ventral kecil dan
tampak seperti kap atau menutup.
Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka
pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan
yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga akhirnya di
perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi
dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral
menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis
Hipospadia terjadi dari pengembangan tidak lengkap uretra dalam rahim. Penyebab pasti
cacat diperkirakan terkait dengan pengaruh lingkungan dan hormonal genetik (Sugar,1995).
Perpindahan dari meatus uretra biasanya tidak mengganggu kontinensia kemih. Namun,
stenosis pembukaan dapat terjadi, yang akan menimbulkan obstruksi parsial outflowing urin.
Hal ini dapat mengakibatkan ISK atau hidronefrosis (Kumor, 1992). Selanjutnya, penempatan
ventral pembukaan urethral bisa mengganggu kesuburan pada pria dewasa, jika dibiarkan
tidak terkoreksi (Jean Weiler Ashwill, 1997).
6. Komplikasi
1. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis
kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu)
2. Infertility
3. Resiko hernia inguinalis
4. Gangguan psikologis dan psikososial
5. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa.
Komplikasi paska operasi yang terjadi :
1. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi,juga
terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut
tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi.

2. Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari
anastomosis.
3. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang
atau pembentukan batu saat pubertas.
4. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter
untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang
dapat diterima adalah 5-10 %.
5. Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, dimana
tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di
ventral penis walaupun sangat jarang
6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis
meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.
7. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang
Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan pemeriksaan tambahan
untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan berikut untuk
mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada ginjal sebagai komplikasi maupun kelainan
bawaan yang menyertai hipospadia:
1. Rontgen
2. USG sistem kemih kelamin.
3. BNO-IV
6. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya
stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.
7. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang
Pemeriksaan diagnostik berupa pemeriksaan fisik. Jarang dilakukan pemeriksaan
tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi dapat dilakukan pemeriksaan berikut
untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada ginjal sebagai komplikasi maupun
kelainan bawaan yang menyertai hipospadia:
1. Rontgen
2. USG sistem kemih kelamin.
3. BNO-IVP
8. Penatalaksanaan Medis
Untuk penatalaksanaan hipospadia pada bayi dan anak biasanya dilakukan dengan prosedur
pembedahan. Tujuaan utama pembedahan ini adalah untuk merekontruksi penis menjadi lurus
dengan meatus uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga pancaran kencing
arahnya kedepan. Keberhasilan pembedahan atau operasi dipengaruhi oleh tipe hipospadia
dan besar penis. Semakin kecil penis dan semakin ke proksimal tipe hipospadia semakin
sukar tehnik dan keberhasilan operasi.
Dikenal banyak tehnik operasi hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1) Operasi pelepasan chordee dan tunneling
Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari muara
uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi
meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi
buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum.
2) Operasi uretroplasty.
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian
ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi.

Tujuan pembedahan :
1) Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi sosial
2) Perbaikan untuk kosmetik pada penis.
Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq- Chaula, Teknik Horton dan
Devine.
1) Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap:
a. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel
pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus
masih pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian
dorsal dan kulit penis
b. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak. Dibuat
insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit
dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium
dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan
setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang.
2. Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan
penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih
ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis
dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Mengingat pentingnya preputium
untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan
dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadia.
II. ASUHAN KEPERAWATAN PADA HIPOSPADIA
A. Pengkajian
1. Identitas
Usia : ditemukan saat lahir
Jenis kelamin : hipospadia merupakan anomaly uretra yang paling sering terjadi pada
laki-laki dengan angka kemunculan 1:250 dari kelahiran hidup.
(Brough, 2007: 130)
2. Keluhan Utama
3. Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau didasar penis,
penis melengkung kebawah, penis tampak seperti berkerudung karena adanya kelainan pada
kulit dengan penis, jika berkemih anak harus duduk.(Muslihatum,2010:163).
4. Riwayat Kesehatan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang kencing yang tidak pada
tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui dengan pasti penyebabnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang melengkung kebawah
adanya lubang kencing tidak pada tempatnya sejak lahir.
Riwayat Kongenital
1) Penyebab yang jelas belum diketahui.
2) Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik.
3) Lingkungan polutan teratogenik. (Muscari, 2005:357)
5. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran:

Hipospadia terjadi karena adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu
ke-10 sampai minggu ke-14. (Markum,1991: 257)
6. Activity Daily Life
1. Nutrisi : Tidak ada gangguan
2. Eliminasi : anak laki-laki dengan hipospadia akan mengalami kesukaran dalam
mengarahkan aliran urinnya, bergantung pada keparahan anomali, penderita mungkin perlu
mengeluarkan urin dalam posisi duduk. Konstriksi lubang abnormal menyebabkan obstruksi
urin parsial dan disertai oleh peningkatan insiden ISK. (Brough, 2007: 130)
3. Hygiene Personal : Dibantu oleh perawat dan keluarga
4. Istirahat dan Tidur: Tidak ada gangguan
7. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem kardiovaskuler: Tidak ditemukan kelainan
b. Sistem neurologi: Tidak ditemukan kelainan
c. Sistem pernapasan: Tidak ditemukan kelainan
d. Sistem integument: Tidak ditemukan kelainan
e. Sistem muskuloskletaL: Tidak ditemukan kelainan
f. Sistem Perkemihan:
- Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal.
- Kaji fungsi perkemihan
- Dysuria setelah operasi
g. Sistem Reproduksi
- Adanya lekukan pada ujung penis
- Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
- Terbukanya uretra pada ventral
- Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, drinage.
(Nursalam, 2008: 164)
B. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi kelainan letak meatus uretra
b. Palpasi adanya distensi kandung kemih
C. Pemeriksaan Diagnostik
a. Darah lengkap, urine lengkap
b. Uretroskopi
8. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi :
1) Cemas b/d krisis situasional
2) Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, kebutuhan pengobatan b/d keterbatasan
kognitif
Pasca Bedah
1) Resiko Infeksi b/d tindakan invasif
2) Nyeri akut b/d cidera fisik akibat pembedahan
3)Kecemasan orang tua b/d penampilan penis anak setelah pembedahan
Rencana Asuhan Keperawatan
Pre Operasi
No Diagnosa Keperawatan

Tujuan (NOC)

Intervensi (NIC)

1.

Cemas b/d krisis situasional


Definisi :
Perasaan gelisah yang tak jelas
dari ketidaknyamanan atau
ketakutan yang disertai respon
autonom (sumner tidak spesifik
atau tidak diketahui oleh
individu); perasaan keprihatinan
disebabkan dari antisipasi
terhadap bahaya. Sinyal ini
merupakan peringatan adanya
ancaman yang akan datang dan
memungkinkan individu untuk
mengambil langkah untuk
menyetujui terhadap tindakan
Ditandai dengan
Gelisah
Insomnia
Resah
Ketakutan
sedih
Fokus pada diri
Kekhawatiran
Cemas

NOC :
Anxiety control
Coping
Impulse control
Kriteria Hasil :
Klien mampu
mengidentifikasi
dan
mengungkapkan
gejala cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan
dan menunjukkan
tehnik untuk
mengontol cemas
Vital sign dalam
batas normal
Postur tubuh,
ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

NIC :
Anxiety Reduction
(penurunan
kecemasan)
Gunakan pendekatan
yang menenangkan
Nyatakan dengan
jelas harapan terhadap
pelaku
pasien
Jelaskan semua
prosedur dan apa yang
dirasakan
selama prosedur
Pahami prespektif
pasien terhdap situasi
stres
Temani pasien untuk
memberikan
keamanan dan
mengurangi takut
Berikan informasi
faktual mengenai
diagnosis, tindakan
prognosis
Dorong keluarga
untuk menemani anak
Lakukan back / neck
rub
Dengarkan dengan
penuh perhatian
Identifikasi tingkat
kecemasan Bantu
pasien mengenal
situasi yang
menimbulkan
kecemasan
Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
Instruksikan pasien

menggunakan teknik
relaksasi
Barikan obat untuk
mengurangi kecema

Kurangnya pengetahuan tentang


kondisi prognosis kebutuhan
pengobatan b/d keterbatasan
kognitif
Definisi: tidak adanya atau
kurang nya informasi kognitif
sehubungan dengan topik
spesifik.
Batasan karakteristik.
Menferbalisasikan ada nya
masalah ketidak akuratan
mengikuti instruksi prilaku tidak
sesuai atau faktor yang
berhubungan : keterbatasan
kognitif, interpretasi terhadap
informasi yang salah, kurangan
nya keinginan mencari
informasi, tidak mengetahui
sumber-sumber informasi.

NOC:
Knowledge: disease proses
Knowledge: health
behavior
Kateria hasil:
1.Pasien dan keluarga
menyatakan pemahaman
tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program
pengobatan.
2.pasien dan keluarga
mampu melaksanakan
prosedur yang di jelaskan
secara benar.
3.pasien dan keluarga
menjelaskan kembali apa
yang dijelaskan perawat
atau tim kesehatan lainnya.

NIC:
Teaching: disease
proses
1.Berikan penilaian
tentang tingkat
pengetahuan pasien
tentang proses
penyakit yang
spesifik.
2. jelaskan
patofisiologi dari
penyakit dan
bagaimana hal ini
berhubungan dengan
anatomi dan fisiologi
dengan cara yang
tepat.
3. gambarkan tanda
dan gejala yang
muncul pada penyakit
dengan cara yang
tepat.
4. Gambarkan proses
penyakit dengan cara
yang tepat.
5. sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi dengan cara
yang tepat.
6.hindari harapan
yang kosong.
7.sediakan bagi
keluarga informasi
tentang kemaluan
pasien dengan cara
yang tepat.
8 disklusikan
perubahan gaya hidup
yang mungkin
diperluakn untuk
mencegah komplikasi
imasa yang akan
datang atau proses
pengcontrolan

penyakit.

Post Operasi
N
O
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko Infeksi b/d tindakan
invasive.
Definisi : Peningkatan
resiko masuknya organisme
patogen.
Faktor-faktor resiko :
- Prosedur Infasif
- Ketidakcukupan pengetahuan
untuk menghindari paparan
patogen
- Trauma
- Kerusakan jaringan dan
peningkatan paparan lingkungan
- Ruptur membran amnion
- Agen farmasi (imunosupresan)
- Malnutrisi
- Peningkatan paparan
lingkungan patogen
- Imonusupresi
- Ketidakadekuatan imun buatan
- Tidak adekuat pertahanan
sekunder (penurunan
HB,leukopenia)
penekanan respon
inflamasi)
- Tidak adekuat pertahanan
tubuh primer (kulit tidak
utuh, trauma jaringan,penurunan
kerja silia,cairan tubuh statis,
perubahan sekresi pH,
perubahan

TUJUAN
NOC :
Anxiety control
Coping
Impulse control
Kriteria Hasil :
Klien mampu
mengidentifikasi dan
mengungkapkan
gejala cemas
Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan tehnik
untuk mengontol
cemas
Vital sign dalam
batas normal
Postur tubuh,
ekspresi wajah,
bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

INTERVENSI
NIC :
Infection
Control(Kontrol
infeksi)
Bersihkan
lingkungan
setelah dipakai pasien
lain
Pertahankan teknik
isolasi
Batasi pengunjung
bila perlu
Instruksikan pada
pengunjung untuk
mencuci tangan saat
berkunjung dan
setelah berkunjung
meninggalkan pasien.
Gunakan sabun
antimikrobia untuk
cuci tangan
Cuci tangan setiap
sebelum dan sesudah
tindakan kperawtan
Gunakan baju,
sarung tangan sebagai
alat pelindung
Pertahankan
lingkungan aseptik
selama pemasangan
alat

Ganti letak IV
perifer dan line
central dan dressing
sesuai dengan
petunjuk umum
Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
Tingktkan intake
nutrisi
Berikan terapi
antibiotik
bila perlu.

peristaltik)
- Penyakit kronik

Resiko infeksi b/d


Tindakan invansife
Definisi : peningkatan resiko
masuknya organisme patogen
Faktor-faktor resiko:
- prosedur invansif
- Ketidakcukupan
pengetahuan untuk
menghindari paparan
patogen
- Trauma
- Perusakan jaringan dan
peningkatan paparan
lingkungan
- Ruptur menbran amnion
- Agent farmasi
- Malnutrisi
- Peningkatan paparan
lingkungan patogen
- Imunosupresi
- Ketidak adekuatan
imunbuatan
-

NOC :
-Imun status
-knowledge: infection
control
-Risk control
Kriteria hasil:
-Klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi.
-Mendeskripsikan proses
penularan penyakit, faktor
yang mempengaruhi
penularan serta
penatalaksanaannya.
-Menujukkan kemampuan
untuk mencegah timbulnya
infeksi.
-Jumlah leukosit dalam
batas normal.
-Menunjukkan perilaku
hidup sehat.

NIC: