Anda di halaman 1dari 71
UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN KOLELITIASIS DI RUANG

UNIVERSITAS INDONESIA

ANALISIS PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA PASIEN KOLELITIASIS DI RUANG BEDAH LANTAI 5 RSPAD GATOT SOEBROTO

KARYA ILMIAH AKHIR NERS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners

SANDRA AMELIA, S. Kep

0706271166

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS DEPOK JULI 2013

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ilmiah akhir ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar

Nama

NPM

Tanda Tangan

Tanggal

Analisis praktik

: Sandra Amelia, S.Kep

: 0706271166

:

:

ii

Tanda Tangan Tanggal Analisis praktik : Sandra Amelia, S.Kep : 0706271166 : : ii 5 Juli

5

Juli 2013

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

HALAMAN PENGESAHAN

Karya ilmiah akhir ini diajuka n oleh :

Nama

: Sandra Amelia, S. Kep

NPM

: 0706271166

Program Studi

: Ilmu Keperawatan

: Analisis Praktik Klinik Keperawata n Bedah lantai 5 RSPAD Gatot Soebrot o DEWAN PENGUJI
: Analisis Praktik Klinik Keperawata n
Bedah lantai 5 RSPAD Gatot Soebrot o
DEWAN PENGUJI
: Kuntarti, Skp , M. Biomed
(
)
: Ns. Merri Sil aban., S.Kep
(
)

Judul Karya Ilmiah Akhir

Kesehatan

Masyarakat Perkotaan pada Pasien K olelitiasis Di ruang

Telah berhasil dipertahanka n di hadapan Dewan Penguji dan diteri ma sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners Sarjana Ilmu Keperawatan pada Program Studi S1 Reguler, Fa kultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indon esia

Pembimbing

Penguji

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal

: 5 Juli 2013

Analisis praktik

iii

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat, dan hidayah- Nya, saya dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir Ners. Karya ilmiah akhir Ners ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners Sarjana Keperawatan. Saya menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan karya ilmiah akhir Ners ini, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan karya ilmiah akhir Ners ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:

Ibu Dr. Mustikasari, S.Kp, MARS selaku pembimbing akademik;
Ibu Dr. Mustikasari, S.Kp, MARS selaku pembimbing akademik;

1) Ibu Dewi Irawaty, MA, PhD selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia; 2) Ibu Kuntarti, S.Kp, M. Biomed, selaku Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan dan dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan arahan dan masukan berharga dalam penyusunan karya ilmiah akhir Ners ini;; 3) Bapak Masfuri, S.Kp, MN selaku dosen pembimbing PKKMP yang telah banyak membantu dalam memberikan arahan dan masukan berharga selama praktik PKKMP dan penyusunan karya ilmiah akhir Ners ini;

4)

5) Keluarga yang selalu memberikan do’a dan support selama praktik profesi dan

penyusunan karya ilmiah akhir Ners ini; Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan karya ilmiah akhir Ners ini.

6)

Akhir kata, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga karya ilmiah akhir Ners ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu.

Depok,5 Juli 2013

Penulis

Analisis praktik

iv

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Sandra Amelia, S.Kep

NPM : 0706271166

Program Studi : Ners

Fakultas

: Fakultas Ilmu Keperawatan Dibuat di: Depok Pada Tanggal: 5 Juli 2013 Yang menyatakan
: Fakultas Ilmu Keperawatan
Dibuat di: Depok
Pada Tanggal: 5 Juli 2013
Yang menyatakan
Dibuat di: Depok Pada Tanggal: 5 Juli 2013 Yang menyatakan (Sandra Amelia, S. Kep) Jenis Karya

(Sandra Amelia, S. Kep)

Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir Ners

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

“Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis di ruang Bedah lantai 5 RSPAD Gatot Soebroto”

berserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/ formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Analisis praktik

v

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

ABSTRAK

Nama

Program Studi : Ners

Judul

: Sandra Amelia

: “Analisis Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan pada Pasien Kolelitiasis Di ruang Bedah lantai 5 RSPAD Gatot Soebroto”

Kolelitiasis Di ruang Bedah lantai 5 RSPAD Gatot Soebroto” Gaya hidup masyarakat perkotaan dalam mengkonsumsi makanan

Gaya hidup masyarakat perkotaan dalam mengkonsumsi makanan cepat saji yang cenderung tinggi lemak dan kolesterol merupakan faktor risiko terjadinya kolelitiasis. Karya ilmiah akhir ini menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien pascabedah laparoskopik kolesistektomi. Perawat berperan penting dalam memberikan edukasi diet rendah lemak pada pasien kolelitiasis. Diet rendah lemak membatasi asupan kolesterol, sehingga tidak terjadi hipersaturasi cairan empedu yang akan memicu terbentuknya batu empedu kembali setelah pengangkatan kandung empedu. Peningkatan pemahaman pasien sebagai hasil edukasi diet rendah lemak yang diberikan, penting untuk mengubah perilaku pasien setelah pulang dari rumah sakit. Penggunaan media yang lebih bervariasi dalam edukasi harus menjadi discharge planning untuk klien.

Kata kunci:

edukasi diet rendah lemak, kolelitiasis, laparoskopik kolesistektomi

Analisis praktik

vi

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

ABSTRACT

Name

: Sandra Amelia

 

Study Program

: Nursing

Title

:

“Analysis

Clinical

Practice

of

Urban

Community

Health

with

Cholelithiasis Patients in surgical’s room fl.5 RSPAD Gatot Soebroto”

Patients in surgical’s room fl.5 RSPAD Gatot Soebroto” Urban lifestyle in consumpting fast food which contains

Urban lifestyle in consumpting fast food which contains high fat and cholesterol is a risk factor for cholelithiasis. This papers describe the implementation of nursing care to post laparoscopic cholecystectomy surgery patients. Nurses give an important role in educating low-fat dietary in patients with cholelithiasis. Low-fat diet can decrease intake of cholesterol, so hipersaturasion of bile that would lead to the formation of gallstones come back after gall bladder removal will not happened. Improved understanding of the patient as a result of a given low-fat diet education is important to change the behavior of patients after discharge from the hospital. A more varied of media use in education should be a discharge planning for clients.

Keywords:

cholelithiasis, low-fat diet education, laparoscopic cholecystectomy,

Analisis praktik

vii

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
KARYA ILMIAH
ABSTRAK
ABSTRACT
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
x
xi
1. PENDAHULUAN
1
1.1
Latar Belakang
Perumusan Masalah
1
1.2
3
1.3
Tujuan Penulisan
4
a. Tujuan Umum
4
b. Tujuan Khusus
4
1.4
Manfaat Penulisan
5
a. Bagi Peneliti
5
b. Bagi Tenaga kesehatan
5
c. Bagi Masyarakat
5
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
5
e. Bagi Pendidikan Keperawatan
5
2. TINJAUAN PUSTAKA
6
2.1
Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
.
6
2.2
Pengertian Kolelitiasis
7
2.3
Anatomi dan Fisiologi Kandung Empedu
7
a. Anatomi Kandung Empedu
7
b. Fisiologi Kandung Empedu
8
2.4
Etiologi Kolelitiasis
Tipe Batu Empedu
9
2.5
10
a. Batu Kolesterol
10
b. Batu Pigmen
11
2.6
Patogenesis
12

2.7 Epidemiologi

14

2.8 Manifestasi Klinik

14

2.9 Komplikasi

15

2.10 Pencegahan dan Penanganan Kolelitiasis

15

2.11Pemeriksaan Diagnostik

17

2.12Proses Keperawatan

18

Analisis praktik

viii

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

3.

LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

23

3.1 Pengkajian

23

3.2 Analisa Data

29

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan

32

3.4Implementasi dan Evaluasi

37

4. ANALISIS SITUASI

40

4.1

Profil Lahan Praktik

a. Sejarah terbentuknya RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad

40

b. Profil Keperawatan RSPAD Gatot Soebroto

40

4.2 4.3 Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep terkait KKMP dan Konsep Kasus Terkait Analisis salah
4.2
4.3
Analisis Masalah Keperawatan dengan Konsep terkait KKMP dan
Konsep Kasus Terkait
Analisis salah satu intervensi dengan konsep dan penelitian terkait
41
44
4.4
Alternatif pemecahan yang dapat dilakukan
46
5. PENUTUP
48
5.1
Kesimpulan
48
5.2
Saran
49
a. Bagi
Penulis
49
b. Bagi Masyarakat
49
c. Bagi Instasi Rumah Sakit
49
DAFTAR REFERENSI
DAFTAR TABEL
LAMPIRAN
50

Analisis praktik

ix

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1

Perbedaan Batu Kolesterol, Batu Pigmen Hitam, dan Batu

Pigmen cokelat

12

Tabel 4.1

Hasil Laboratorium

27

Tabel 4.2

Analisa Data

29

Tabel 4.1 Hasil Laboratorium 27 Tabel 4.2 Analisa Data 29 Analisis praktik x , Sandra Amelia,

Analisis praktik

x

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Satuan Acara Pembelajaran (SAP) Diet Rendah Lemak

Lampiran 2

Leaflet Diet Rendah Lemak

(SAP) Diet Rendah Lemak Lampiran 2 Leaflet Diet Rendah Lemak Analisis praktik xi , Sandra Amelia,

Analisis praktik

xi

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di daerah perkotaan dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota-kota besar. Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat yang pesat ini membuat masyarakat saling berlomba-lomba untuk bersaing dalam meningkatkan taraf hidupnya. Padatnya masyarakat perkotaan menyebabkan masyarakat harus bisa beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan yang ada. Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan menjadi salah satu yang menentukan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil Riskesdas tahun 2007 yang menyebutkan bahwa derajat kesehatan masyarakat yang masih belum optimal pada hakikatnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan genetika (Jaji, 2012).

masyarakat, pelayanan kesehatan dan genetika (Jaji, 2012). Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan membuat

Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan membuat masyarakat mengubah perilaku dan gaya hidup mereka. Salah satu perubahan perilaku dan gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat adalah terkait kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, berlemak, dan berkolesterol. Makanan yang berlemak dan berkolesterol dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit jantung koroner dan kolelitiasis. Kolelitiasis atau dikenal sebagai penyakit batu empedu merupakan penyakit yang di dalamnya terdapat batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau pada kedua-duanya. Mowat (1987) dalam Gustawan (2007) mengatakan kolelitiasis adalah material atau kristal tidak berbentuk yang terbentuk dalam kandung empedu. Komposisi dari batu empedu merupakan campuran dari kolesterol, pigmen empedu, kalsium dan matriks inorganik (Gustawan, 2007).

Kandung empedu merupakan sebuah kantung yang terletak di bawah hati yang mengonsentrasikan dan menyimpan empedu sampai dilepaskan ke dalam usus. Fungsi dari empedu sendiri sebagai ekskretorik seperti ekskresi bilirubin dan sebagai pembantu proses pencernaan melalui emulsifikasi lemak oleh garam-garam empedu (Smeltzer dan Bare, 2002). Selain membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak, empedu juga berperan dalam membantu metabolisme dan pembuangan limbah dari tubuh, seperti pembuangan hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan

Analisis praktik

1

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

2

kolesterol. Garam empedu membantu proses penyerapan dengan cara meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak, dan vitamin yang larut dalam lemak.

Faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena kolelitiasis adalah usia, jenis kelamin, berat badan dan makanan. Orang dengan usia lebih dari 40 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang yang usia lebih muda. Angka prevalensi orang dewasa lebih tinggi di negara Amerika latin (20-40%) dan rendah di negara Asia (3-4%) (Robbin, 2007). Di Amerika Serikat, terhitung lebih dari 20 juta orang Amerika dengan batu empedu dan dari hasil otopsi menunjukkan angka kejadian batu empedu paling sedikit 20% pada wanita dan 8% pada laki-laki di atas umur empat puluhan (Beckingham, 2001). Orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) tinggi, mempunyai risiko lebih tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Orang yang memiliki IMT tinggi, cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi di dalam tubuh membuat kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi. Hal ini dikarenakan kolesterol merupakan bagian dari lemak, jika kadar kolesterol yang terdapat dalam cairan empedu tinggi maka cairan empedu dapat mengendap dan lama kelamaan menjadi batu atau biasa disebut hipersaturasi cairan empedu.

menjadi batu atau biasa disebut hipersaturasi cairan empedu. Kasus kolelitiasis di Indonesia sama dengan kasus

Kasus kolelitiasis di Indonesia sama dengan kasus kolelitiasis di Afrika yang jumlahnya tidak banyak dibandingkan dengan kasus kolelitiasis di Eropa dan Amerika Utara. Akan tetapi, dengan kebiasaan makan (peningkatan asupan kalori, kolesterol tinggi/lemak) dan perubahan gaya hidup masyarakat, terutama peningkatan konsumsi lemak dan gula yang terus menerus akan meningkatkan angka kejadian kasus kolelitiasis baik di Afrika maupun di Indonesia. Hal ini terlihat dari admisi masuk pasien yang dianalisis Bremner pada sebuah rumah sakit di Afrika yang mendapatkan prevalensi peningkatan enam kali lipat rumah sakit melakukan kolesistektomi dari tahun 1956 1-2/100.000 sampai tahun 1969 12/100.000. Perubahan ini disebabkan oleh cepatnya urbanisasi populasi dan dikaitkan dengan perubahan diet khusunya peningkatan konsumsi lemak. Selain itu, berdasarkan laporan dari benua Afrika, Ethiopia, 46 pasien mengalami kolesistektomi pada kasus kolelitiasis dan kolesistitis dalam waktu 5 tahun. Hal ini menunjukkan rata- rata pasien berjumlah sembilan pertahunnya (Rahman, 2005)

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

3

Dari kenyataan di atas perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi makanan pada masyarakat menjadi faktor dominan untuk meningkatkan kasus kolelitiasis. Hal ini sesuai dengan teori Bloom (1986) dalam Notoatmodjo (2007) yang menyatakan ada empat (4) faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan pada manusia yaitu genetik (hereditas), lingkungan, pelayanan kesehatan dan perilaku (gaya hidup). Faktor perilaku ini banyak terlihat dari gaya hidup masyarakat yang sering mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati; keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu (Smeltzer dan Bare, 2002). Penelitian di masyarakat Barat mengungkapkan komposisi utama batu empedu adalah kolesterol, sedangkan penelitian di Jakarta pada 51 pasien didapatkan batu pigmen pada 73% pasien dan batu kolesterol pada 27% pasien (Lesmana, 2006).

pasien dan batu kolesterol pada 27% pasien (Lesmana, 2006). Berdasarkan beberapa penelitian di atas, perilaku diet

Berdasarkan beberapa penelitian di atas, perilaku diet rendah lemak sangat penting untuk dilakukan dalam mengatasi terjadinya batu empedu baik sebagai pencegahan pada masyarakat yang belum terkena kolelitiasis maupun pada pasien pasca pembedahan kolelitiasis. Selain itu, butuhnya peningkatan kesadaran dari masyarakat untuk mengubah gaya hidupnya. Begitu juga kesadaran dari penyedia layanan kesehatan, khususnya perawat dalam memberikan edukasi pada masyarakat untuk meminimalkan angka kejadian kolelitiasis dengan memberikan intervensi yang tepat untuk mencegah peningkatan kasus kolelitiasis.

1.2 Perumusan masalah Cepatnya urbanisasi populasi masyarakat dari desa ke perkotaan membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan yang ada. Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan membuat mayarakat mengubah perilaku dan gaya hidup mereka. Salah satu perubahan perilaku dan gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat adalah terkait kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, berlemak, dan berkolesterol. Makanan berlemak dan berkolesterol merupakan salah satu faktor risiko

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

4

yang menyebabkan batu empedu. Kasus kolelitiasis yang meningkat pada masyarakat di Indonesia dan Afrika dilaporkan karena kebiasaan makan (peningkatan asupan kalori, kolesterol tinggi/lemak) dan perubahan gaya hidup. Di RSPAD Gatot Soebroto, rata-rata pasien yang mengalami kolelitiasis dan dirawat dilantai 5 bedah dari bulan Februari sampai Juni berjumlah empat orang. Tingginya kasus kolelitiasis dapat meningkatkan pasien mengalami kolesistektomi, jika pasien mengalami kolesistektomi maka masyarakat dan pelayanan kesehatan harus waspada terhadap tanda-tanda khas yang muncul seperti nyeri dan kolik bilier, ikterus, dan perubahan warna feses dan urin. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian khusus masyarakat dan pelayanan kesehatan khususnya mengenai perilaku diet rendah lemak untuk mengatasi terjadinya batu empedu baik sebagai pencegahan pada masyarakat yang belum terkena kolelitiasis maupun pada pasien pasca pembedahan kolelitiasis. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk memberikan edukasi diet rendah lemak kepada keluarga dan pasien dengan kolelitiasis.

Tujuan umum Tujuan khusus Tujuan khusus pembuatan karya ilmiah Ners ini adalah : 1. Memberikan
Tujuan umum
Tujuan khusus
Tujuan khusus pembuatan karya ilmiah Ners ini adalah :
1.
Memberikan gambaran tentang kasus kolelitiasis
2.
Menjelaskan kondisi klien dan dikaitkan dengan teori KKMP (Keperawatan
Kesehatan Masyarakat Perkotaan)
3.
Menjelaskan konsep masalah terkait kondisi klien
4.
Menjelaskan asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien
5.
Menganalisis masalah keperawatan yang muncul berdasarkan konsep KKMP

1.3 Tujuan penulisan

a.

Penulisan ini dibuat untuk memberikan gambaran pemberian asuhan keperawatan klien pasca bedah laparoskopik kolesistektomi.

b.

6.

Menganalisis salah satu intervensi dengan konsep dan penelitian terkait

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

5

1.4 Manfaat penulisan

a.

Peneliti Karya ilmiah akhir Ners ini diharapkan dapat meningkatkan dan memperluas pengetahuan peneliti tentang kolelitiasis serta meningkatkan kemampuan peneliti dalam memberikan asuhan keperawatan dan mengaplikasikan langsung pada lahan praktik.

b.

c.

d.

e.

Tenaga kesehatan Karya ilmiah akhir Ners ini diharapkan dapat memberikan informasi tepat guna untuk tenaga kesehatan dalam meminimalkan dan mendiagnosis kolelitiasis serta memberikan penanganan yang optimal.

kolelitiasis serta memberikan penanganan yang optimal. Masyarakat Karya ilmiah akhir Ners ini diharapkan dapat

Masyarakat Karya ilmiah akhir Ners ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pencegahan terhadap kolelitiasis sehingga meningkatkan kualitas hidup masyarakat lebih baik.

Peneliti selanjutnya Karya ilmiah akhir Ners ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien kolelitiasis sehingga peneliti selanjutnya dapat membuat penelitian terkait agar pencegahan dan penanganan pada kolelitiasis lebih optimal.

Pendidikan keperawatan Karya ilmiah akhir Ners ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait kolelitiasis dan sebagai sumber bacaan untuk meningkatkan pengetahuan.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar KKMP Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di daerah perkotaan dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota-kota besar. Cepatnya urbanisasi populasi masyarakat dari desa ke perkotaan membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan yang ada. Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan menjadi salah satu yang menentukan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil Riskesdas tahun 2007 yang menyebutkan bahwa derajat kesehatan masyarakat yang masih belum optimal pada hakikatnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan genetika. Kalangan ilmuwan umumnya berpendapat bahwa determinan utama dari derajat kesehatan masyarakat tersebut, selain kondisi lingkungan, adalah perilaku masyarakat (Jaji, 2012). Oleh karena itu, untuk mengurangi perilaku masyarakat yang kurang sehat diperlukan informasi kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan mayarakat. Menurut teori Snehandu B. Kar (1983) dalam Jaji (2012), yang mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak bahwa perilaku tersebut dapat diubah dengan : a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behavior intention), b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support), c. Ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessibility of information), d. Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy) dan e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation).

untuk bertindak atau tidak bertindak ( action situation). Informasi kesehatan dalam bentuk promotif dan preventif

Informasi kesehatan dalam bentuk promotif dan preventif diberikan oleh tenaga kesehatan, khususnya perawat. Dalam hal ini perawat berfungsi sebagai perawat edukasi. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang memberikan asuhan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit secara komprehensif Bio- psiko-sosio-spiritual dengan didasarkan pada ilmu keperawatan. Peran perawat kesehatan pada masyarakat adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat seoptimal mungkin melalui praktik komunitas, dilakukan melalui peningkatan kesehatan (promotif) dan

Analisis praktik

6

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

7

pencegahan penyakit (preventif) di semua tingkat pencegahan (levels of prevention). Orientasi praktik perawat tidak hanya kepada masyarakat sakit saja tetapi juga kepada masyarakat sehat, dimana perawat dapat mengajarkan kepada masyarakat yang sakit bagaimana cara mengatasi sakit dan mencegah keparahan dan menjadi sehat, dan bagi masyarakat yang sehat bagaimana menjaga kesehatan dan meningkatkan kesehatannya (Jaji, 2012). Asuhan keperawatan yang komprehensif melibatkan peran aktif dari masyarakat. Peran aktif dari masyarakat bersama tim kesehatan diharapkan dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada di masyarakat.

dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Informasi yang diberikan oleh seorang perawat sebagai upaya

Informasi yang diberikan oleh seorang perawat sebagai upaya promotif dan preventif tentang perilaku atau gaya hidup yang sehat, cara memelihara dan meningkatkan kesehatan, mengatasi sakit dan mencegah keparahan merupakan cara untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya.

2.2 Pengertian Kolelitiasis Kolelitiasis atau dikenal sebagai penyakit batu empedu merupakan penyakit yang di dalamnya terdapat batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau pada kedua-duanya. Mowat (1987) dalam Gustawan (2007) mengatakan kolelitiasis adalah material atau kristal tidak berbentuk yang terbentuk dalam kandung empedu.

2.3 Anatomi dan Fisiologi Kandung Empedu a. Anatomi Kandung Empedu Kandung empedu (vesika felea), yang merupakan organ berbentuk seperti buah pir, berongga dan menyerupai kantong dengan panjang 7,5 hingga 10 cm, terletak dalam suatu cekungan yang dangkal pada permukaan inferior hati oleh jaringan ikat yang longgar. Dinding kandung empedu terutama tersusun dari otot polos. Kandung empedu dihubungkan dengan duktus koledokus lewat duktus sistikus (Smeltzer dan Bare, 2002). Kandung empedu memiliki bagian berupa fundus, korpus, dan kolum. Fundus berbentuk bulat, berujung buntu pada kandung empedu sedikit memanjang di atas tepi hati. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah bagian sempit dari kandung empedu yang terletak antara korpus dan duktus sistika.

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

8

Empedu yang disekresikan dari hati akan disimpan sementara waktu dalam kandung empedu. Saluran empedu terkecil yang disebut kanalikulus terletak diantara lobulus hati. Kanalikulus menerima hasil sekresi dari hepatosit dan membawanya ke saluran empedu yang lebih besar yang akhirnya akan membentuk duktus hepatikus. Duktus hepatikus dari hati dan duktus sistikus dari kandung empedu bergabung untuk membentuk duktus koledokus (common bile duct) yang akan mengosongkan isinya ke dalam intestinum. Aliran empedu ke dalam intestinum dikendalikan oleh sfingter oddi yang terletak pada tempat sambungan (junction) dimana duktus koledokus memasuki duodenum (Smeltzer dan Bare, 2002).

koledokus memasuki duodenum (Smeltzer dan Bare, 2002). b. Fisiologi Kandung Empedu Kandung empedu berfungsi
koledokus memasuki duodenum (Smeltzer dan Bare, 2002). b. Fisiologi Kandung Empedu Kandung empedu berfungsi
koledokus memasuki duodenum (Smeltzer dan Bare, 2002). b. Fisiologi Kandung Empedu Kandung empedu berfungsi

b. Fisiologi Kandung Empedu Kandung empedu berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu. Kapasitas kandung empedu adalah 30-50ml empedu. Empedu yang ada di hati akan dikeluarkan di antara saat-saat makan, ketika sfingter Oddi tertutup, empedu yang diproduksi oleh hepatosit akan memasuki kandung empedu. Selama penyimpanan, sebagian besar air dalam empedu diserap melalui dinding kandung empedu sehingga empedu dalam kandung empedu lebih pekat lima hingga sepuluh kali dari konsentrasi saat disekresikan pertama kalinya oleh hati. Ketika makanan masuk ke dalam duodenum akan terjadi kontraksi kandung empedu dan relaksasi sfingter Oddi yang memungkinkan empedu mengalir masuk ke dalam intestinum. Respon ini diantarai oleh sekresi hormon kolesistokinin- pankreozimin (CCK-PZ) dari dinding usus (Smeltzer dan Bare, 2002).

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

9

Empedu memiliki fungsi sebagai ekskretorik seperti ekskresi bilirubin dan sebagai pembantu proses pencernaan melalui emulsifikasi lemak oleh garam-garam empedu (Smeltzer dan Bare, 2002). Selain membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak, empedu juga berperan dalam membantu metabolisme dan pembuangan limbah dari tubuh, seperti pembuangan hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol. Garam empedu membantu proses penyerapan dengan cara meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak, dan vitamin yang larut dalam lemak.

kolesterol, lemak, dan vitamin yang larut dalam lemak. 2.4 Etiologi Kolelitiasis Penyebab dan faktor resiko

2.4 Etiologi Kolelitiasis Penyebab dan faktor resiko terjadinya batu empedu masih belum diketahui secara pasti. Kumar et al (2000) dalam Gustawan (2007) mendapatkan penyebab batu kandung empedu adalah idiopatik, penyakit hemolitik, dan penyakit spesifik non-hemolitik. Schweizer et al (2000) dalam Gustawan (2007) mengatakan anak yang mendapat nutrisi parenteral total yang lama, setelah menjalani operasi by pass kardiopulmonal, reseksi usus, kegemukan dan anak perempuan yang mengkonsumsi kontrasepsi hormonal mempunyai resiko untuk menderita kolelitiasis.

Pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal, pembentukan batu empedu terjadi karena adanya peningkatan saturasi kolesterol bilier (Smeltzer dan Bare, 2002). Kegemukan merupakan faktor yang signifikan untuk terjadinya batu kandung empedu. Pada keadaan ini hepar memproduksi kolesterol yang berlebih, kemudian dialirkan ke kandung empedu sehingga konsentrasinya dalam kandung empedu menjadi sangat jenuh. Keadaan ini merupakan faktor predisposisi terbentuknya batu (Gustawan, 2007). Orang dengan usia lebih dari 40 tahun lebih cenderung untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang yang usia lebih muda. Hal ini terjadi akibat bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sintesis asam empedu (Smeltzer dan Bare, 2002). Selain itu adanya proses aging, yaitu suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo dan Martono, 1994). Angka prevalensi orang dewasa lebih tinggi di negara Amerika latin (20-40%) dan rendah di negara Asia (3-4%) (Robbin, 2007). Di Amerika Serikat, terhitung lebih dari 20 juta orang Amerika dengan batu empedu dan dari hasil otopsi menunjukkan angka kejadian batu empedu

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

10

paling sedikit 20% pada wanita dan 8% pada laki-laki di atas umur empat puluhan. (Beckingham, 2001).

Berdasarkan jenis batu yang terbentuk, faktor yang mempengaruhi terbentuknya batu berbeda-beda. Kondisi-kondisi yang menjadi faktor predisposisi terbentuknya batu pigmen adalah penyakit hemolitik yang kronik, pemberian nutrisi parenteral total, kolestasis kronik dan sirosis dan pemberian obat (cefriaxone). Sedangkan faktor predisposisi terbentuknya batu pigmen coklat adalah adanya infestasi parasit seperti Ascharis lumbricoides. Untuk batu kolesterol, faktor resiko terjadinya batu kolesterol adalah kegemukan, reseksi ileum, penyakit Chorn’s ileal dan fibrosis kistik (Heubi (2001) dalam Gustawan (2007)).

dan fibrosis kistik (Heubi (2001) dalam Gustawan (2007)). Jadi dari beberapa sumber di atas penyebab dan

Jadi dari beberapa sumber di atas penyebab dan faktor resiko terjadinya batu pada kandung empedu (kolelitiasis) adalah penyakit hemolitik dan penyakit spesifik non- hemolitik, anak yang mendapat nutrisi parenteral total dalam waktu yang lama, wanita dengan usia lebih dari 40 tahun dan menggunakan kontrasepsi hormonal, kegemukan, dan makanan berlemak.

2.5 Tipe Batu Empedu Ada dua tipe utama batu empedu yaitu batu yang terutama tersusun dari pigmen dan batu

terutama yang tersusun dari kolesterol (Smeltzer dan Bare, 2002). Komposisi dari batu empedu merupakan campuran dari kolesterol, pigmen empedu, kalsium dan matriks inorganik (Gustawan, 2007).

a)

Batu kolesterol Batu kolesterol mengandung lebih dari 50% kolesterol dari seluruh beratnya, sisanya terdiri dari protein dan garam kalsium. Batu kolesterol sering mengandung kristal kolesterol dan musin glikoprotein. Kristal kolesterol yang murni biasanya agak lunak dan adanya protein menyebabkan konsistensi batu empedu menjadi lebih keras (Gustawan, 2007). Batu kolesterol terjadi karena konsentrasi kolesterol di dalam cairan empedu tinggi. Ini akibat dari kolesterol di dalam darah cukup tinggi. Jika kolesterol dalam kandung empedu tinggi, pengendapan akan terjadi dan lama kelamaan menjadi batu. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

11

empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati; keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu (Smeltzer dan Bare, 2002).

b)

Batu Pigmen Batu pigmen merupakan campuran dari garam kalsium yang tidak larut, terdiri dari kalsium bilirubinat, kalsium fosfat, dan kalsium karbonat. Kolesterol terdapat dalam batu pigmen dalam jumlah yang kecil yaitu 10% dalam batu pigmen hitam dan 10- 30% dalam batu pigmen coklat. Batu pigmen dibedakan menjadi dua yaitu batu pigmen hitam dan batu pigmen coklat, keduanya mengandung garam kalsium dari bilirubin. Batu pigmen hitam mengandung polimer dari bilirubin dengan musin glikoprotein dalam jumlah besar, sedangkan batu pigmen coklat mengandung garam kalsium dengan sejumlah protein dan kolesterol yang bervariasi. Batu pigmen hitam umumnya dijumpai pada pasien sirosis atau penyakit hemolitik kronik seperti thalasemia dan anemia sel sikle. Batu pigmen coklat sering dihubungkan dengan kejadian infeksi (Gustawan, 2007). Batu pigmen akan terbentuk bila pigmen tak- terkonyugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu (Smeltzer dan Bare, 2002).

sehingga terjadi batu (Smeltzer dan Bare, 2002). Analisis praktik Universitas Indonesia , Sandra Amelia, FIK

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

12

12 Sumber: (Gustawan, 2007) 2.6 Patogenesis Patogenesis terbentuknya batu kolesterol diawali adanya pengendapan
Sumber: (Gustawan, 2007)
Sumber: (Gustawan, 2007)

2.6 Patogenesis Patogenesis terbentuknya batu kolesterol diawali adanya pengendapan kolesterol yang membentuk kristal kolesterol. Batu kolesterol terbentuk ketika konsentrasi kolesterol dalam saluran empedu melebihi kemampuan empedu untuk mengikatnya dalam suatu pelarut, kemudian terbentuk kristal yang selanjutnya membentuk batu. Pembentukan batu kolesterol melibatkan tiga proses yang panjang yaitu pembentukan empedu yang sangat jenuh (supersaturasi), pembentukan kristal kolesterol dan agregasi serta proses pertumbuhan batu. Proses supersaturasi terjadi akibat peningkatan sekresi kolesterol, penurunan sekresi garam empedu atau keduanya (Gustawan, 2007).

Patogenesis batu pigmen melibatkan infeksi saluran empedu, stasis empedu, malnutrisi,

dan faktor diet. Kelebihan aktivitas enzim -glucuronidase bakteri dan manusia (endogen) memegang peran kunci dalam patogenesis batu pigmen pada pasien dinegara Timur. Hidrolisis bilirubin oleh enzim tersebut akan membentuk bilirubin tak

terkonjugasi yang akan mengendap sebagaicalcium bilirubinate. enzim -glucuronidase bakteri berasal kuman E.coli dan kuman lainnya di saluran empedu. Enzim ini dapat dihambat glucarolactone yang kadarnya meningkat pada pasien dengan diet rendah protein dan rendah lemak (Lesmana, 2006).

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

13

Patogenesis batu pigmen hitam banyak dijumpai pada pasien-pasien sirosis, penyakit hemolitik seperti thalasemia dan anemia sel sikle. Batu pigmen hitam terjadi akibat melimpahnya bilirubin tak terkonyugasi dalam cairan empedu. Peningkatan ini disebabkan karena peningkatan sekresi bilirubin akibat hemolisis, proses konjugasi bilirubin yang tidak sempurna (penyakit sirosis hati) dan proses dekonjugasi. Bilirubin tak terkonjugasi ini kemudian membentuk kompleks dengan ion kalsium bebas membentuk kalsium bilirubinat yang mempunyai sifat sangat tidak larut. Proses adifikasi yang tidak sempurna menyebabkan peningkatan pH, dan keadaan ini merangsang pembentukan garam kalsium. Kalsium bilirubinat yang terbentuk terikat dengan musin tertahan di kandung empedu. Hal ini sebagai awal proses terbentuknya batu (Gustawan,

Hal ini sebagai awal proses terbentuknya batu (Gustawan, 2007). Patogenesis batu pigmen coklat umumnya terbentuk

2007).

Patogenesis batu pigmen coklat umumnya terbentuk dalam duktus biliaris yang terinfeksi. Batu pigmen coklat mengandung lebih banyak kolesterol dibanding batu pigmen hitam, karena terbentuknya batu mengandung empedu dan kolesterol yang sangat jenuh. Garam asam lemak merupakan komponen penting dalam batu pigmen coklat. Palmitat dan stearat yang merupakan komponen utama garam tersebut tidak dijumpai bebas dalam empedu normal, dan biasanya diproduksi oleh bakteri. Kondisi stasis dan infeksi memudahkan pembentukan batu pigmen coklat (Gustawan, 2007). Dalam keadaan infeksi kronis dan stasis empedu dalam saluran empedu, bakteri memproduksi enzim -glucuronidase yang kemudian memecah bilirubin glukoronida menjadi bilirubin tak terkonjugasi. Bakteri juga memproduksi phospholipase A-1 dan enzim hidrolase garam empedu. Phospholipase A-1 mengubah lesitin menjadi asam lemak jenuh dan enzim hidrolase garam empedu mengubah garam empedu menjadi asam empedu bebas. Produk-produk tersebut kemudian mengadakan ikatan dengan kalsium membentuk suatu garam kalsium. Garam kalsium bilirubinat, garam kalsium dari asam lemak (palmitat dan stearat) dan kolesterol membentuk suatu batu lunak. Bakteri berperan dalam proses adhesi dari pigmen bilirubin (Gustawan, 2007)

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

14

2.7 Epidemiologi Kasus kolelitiasis di Indonesia sama dengan kasus kolelitiasis di Afrika yang jumlahnya tidak banyak dibandingkan dengan kasus kolelitiasis di Eropa dan Amerika Utara. Berdasarkan hasil studi Universitas Illoin di Nigeria mendapatkan total pasien yang mengalami kolesistektomi karena peradangan pada penyakit kandung empedu selama lima tahun (1997-2001) sejumlah 46 pasien, dari total tersebut didapatkan rata-rata pasien yang mengalami penyakit pada kandung empedu sebanyak sembilan pasien setiap tahunnya. Hal ini terlihat juga dari admisi masuk pasien yang dianalisis Bremner pada sebuah rumah sakit di Afrika yang mendapatkan prevalensi peningkatan enam kali lipat rumah sakit melakukan kolesistektomi dari tahun 1956 1-2/100.000 sampai tahun 1969 12/100.000 (Rahman, 2005)

2.8

1-2/100.000 sampai tahun 1969 12/100.000 (Rahman, 2005) 2.8 Manifestasi Klinis Manifestasi klinik pada pasien

Manifestasi Klinis Manifestasi klinik pada pasien kolelitiasis sangat bervariasi, ada yang mengalami gejala asimptomatik dan gejala simptomatik. Pasien kolelitiasis dapat mengalami dua jenis gejala: gejala yang disebabkan oleh penyakit kandung empedu itu sendiri dan gejala yang terjadi akibat obstruksi pada jalan perlintasan empedu oleh batu empedu. Gejalanya bisa bersifat akut atau kronis. Gangguan epigastrium, seperti rasa penuh, distensi abdomen dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen dapat terjadi. Gangguan ini dapat terjadi bila individu mengkonsumsi makanan yang berlemak atau yang digoreng (Smeltzer dan Bare, 2002)

Gejala yang mungkin timbul pada pasien kolelitiasis adalah nyeri dan kolik bilier, ikterus, perubahan warna urin dan feses dan defisiensi vitamin. Pada pasien yang mengalami nyeri dan kolik bilier disebabkan karena adanya obstruksi pada duktus sistikus yang tersumbat oleh batu empedu sehingga terjadi distensi dan menimbulkan infeksi. Kolik bilier tersebut disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan atas, pasien akan mengalami mual dan muntah dalam beberapa jam sesudah mengkonsumsi makanan dalam posi besar. Gejala kedua yang dijumpai pada pasien kolelitiasis ialah ikterus yang biasanya terjadi pada obstruksi duktus koledokus. Salah satu gejala khas dari obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum yaitu penyerapan empedu oleh darah yang membuat kulit dan membran mukosa berwarna kuning sehingga terasa gatal-gatal di kulit. Gejala selanjutnya terlihat dari warna urin yang berwarna sangat gelap dan feses yang tampak kelabu dan pekat. Kemudian gejala terakhir terjadinya

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

15

defisiensi vitamin atau terganggunya proses penyerapan vitamin A, D, E dan K karena obstruksi aliran empedu, contohnya defisiensi vitamin K dapat menghambat proses pembekuan darah yang normal. (Smeltzer dan Bare, 2002)

2.9 Komplikasi Komplikasi yang umum dijumpai adalah kolesistisis, kolangitis, hidrops dan emfiema. Kolesistisis merupakan peradangan pada kandung empedu, dimana terdapat obstruksi atau sumbatan pada leher kandung empedu atau saluran kandung empedu, yang menyebakan infeksi dan peradangan pada kandung empedu. Kolangitis adalah peradangan pada saluran empedu yang terjadi karena adanya infeksi yang menyebar akibat obstruksi pada saluran empedu. Hidrops merupakan obstruksi kronik dari kandung empedu yang biasa terjadi di duktus sistikus sehingga kandung empedu tidak dapat diisi lagi oleh empedu. Emfiema adalah kandung empedu yang berisi nanah. Komplikasi pada pasien yang mengalami emfiema membutuhkan penanganan segera karena dapat mengancam jiwa (Sjamsuhidajat (2005) dan Schwartz (2000)).

mengancam jiwa (Sjamsuhidajat (2005) dan Schwartz (2000)). 2.10 Pencegahan dan Penanganan Kolelitiasis Pencegahan

2.10 Pencegahan dan Penanganan Kolelitiasis Pencegahan kolelitiasis dapat di mulai dari masyarakat yang sehat yang memiliki faktor risiko untuk terkena kolelitiasis sebagai upaya untuk mencegah peningkatan kasus kolelitiasis pada masyarakat dengan cara tindakan promotif dan preventif. Tindakan promotif yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengajak masyarakat untuk hidup sehat, menjaga pola makan, dan perilaku atau gaya hidup yang sehat. Sedangkan tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisir faktor risiko penyebab kolelitiasis, seperti menurunkan makanan yang berlemak dan berkolesterol, meningkatkan makan sayur dan buah, olahraga teratur dan perbanyak minum air putih.

Pada pasien yang sudah didiagnosa mengalami kolelitiasis dapat dilakukan tindakan dengan cara bedah maupun non-bedah. Penanganan secara bedah adalah dengan cara kolesistektomi. Sedangkan penanganan secara non-bedah adalah dengan cara melarutkan batu empedu menggunakan MTBE, ERCP, dan ESWL.

Kolesistektomi merupakan prosedur pembedahan yang dilakukan pada sebagian besar kasus kolesistitis akut dan kronis. Jenis kolesistektomi laparoskopik adalah teknik pembedahan invasif minimal di dalam rongga abdomen dengan menggunakan

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

16

pneumoperitoneum sistim endokamera dan instrumen khusus melalui layar monitor tanpa melihat dan menyentuh langsung kandung empedunya. Keuntungan dari kolesistektomi laparoskopik adalah meminimalkan rasa nyeri, mempercepat proses pemulihan, masa rawat yang pendek dan meminimalkan luka parut (Lesmana, 2006).

Penanganan kolelitiasis non-bedah dengan cara melarutkan batu empedu yaitu suatu metode melarutkan batu empedu dengan menginfuskan suatu bahan pelarut (monooktanion atau metil tertier butil eter [MTBE] ) ke dalam kandung empedu. Pelarut tersebut dapat diinfuskan melalui jalur berikut ini: melalui selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung ke dalam kandung empedu; melalui selang atau drain yang dimasukkan melalui saluran T-Tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan; melalui endoskop ERCP; atau kateter bilier transnasal. Pengangkatan non-bedah digunakan untuk mengeluarkan batu yang belum terangkat pada saat kolesistektomi atau yang terjepit dalam duktus koledokus (Smeltzer dan Bare, 2002). ERCP (Endoscopi Retrograde Cholangi Pancreatography) terapeutik dengan melakukan sfingterektomi endoskopik untuk mengeluarkan batu saluran empedu tanpa operasi, pertama kali dilakukan tahun 1974. Batu di dalam saluran empedu dikeluarkan dengan basket kawat atau balon-ekstraksi melalui muara yang sudah besar tersebut menuju lumen duodenum sehingga batu dapat keluar bersama tinja atau dikeluarkan melalui mulut bersama skopnya (Lesmana, 2006). ESWL (Extracorporeal Shock-Wave Lithoripsy) merupakan prosedur non-invasif yang menggunakan gelombang kejut berulang (repeated shock waves) yang diarahkan kepada batu empedu di dalam kandung empedu atau duktus koledokus dengan maksud untuk memecah batu tersebut menjadi sebuah fragmen. Gelombang kejut dihasilkan dalam media cairan oleh percikan listrik, yaitu piezoelektrik, atau oleh muatan elektromagnetik (Smeltzer dan Bare, 2002).

atau oleh muatan elektromagnetik (Smeltzer dan Bare, 2002). Setelah penanganan bedah maupun non-bedah dilakukan, maka

Setelah penanganan bedah maupun non-bedah dilakukan, maka selanjutnya dilakukan perawatan paliatif yang fungsinya untuk mencegah komplikasi penyakit yang lain, mencegah atau mengurangi rasa nyeri dan keluhan lain, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Perawatan tersebuit bisa dilakukan dengan salah satu cara yaitu memerhatikan asupan makanan dengan intake rendah lemak dan kolesterol.

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

17

2.11 Pemeriksaan Diagnostik (Smeltzer dan Bare, 2002) Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada pasien kolelitiasis adalah

a.

b.

c.

d.

e.

f.

Pemeriksaan Sinar-X Abdomen, dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan akan penyakit kandung empedu dan untuk menyingkirkan penyebab gejala yang lain. Namun, hanya 15-20% batu empedu yang mengalami cukup kalsifikasi untuk dapat tampak melalui pemeriksaan sinar-x.

Ultrasonografi, pemeriksaan USG telah menggantikan pemeriksaan kolesistografi oral karena dapat dilakukan secara cepat dan akurat, dan dapat dilakukan pada penderita disfungsi hati dan ikterus. Pemeriksaan USG dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus koledokus yang mengalami dilatasi.

empedu atau duktus koledokus yang mengalami dilatasi. Pemeriksaan pencitraan Radionuklida atau koleskintografi.

Pemeriksaan pencitraan Radionuklida atau koleskintografi. Koleskintografi menggunakan preparat radioaktif yang disuntikkan secara intravena. Preparat ini kemudian diambil oleh hepatosit dan dengan cepat diekskresikan ke dalam sistem bilier. Selanjutnya dilakukan pemindaian saluran empedu untuk mendapatkan gambar kandung empedu dan percabangan bilier.

ERCP (Endoscopic Retrograde CholangioPancreatography), pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat-optik yang fleksibel ke dalam esofagus hingga mencapai duodenum pars desendens. Sebuah kanul dimasukkan ke dalam duktus koledokus serta duktus pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut untuk memungkinkan visualisasi serta evaluasi percabangan bilier. ERCP juga memungkinkan visualisasi langsung struktur bilier dan memudahkan akses ke dalam duktus koledokus bagian distal untuk mengambil empedu.

Kolangiografi Transhepatik Perkutan, pemeriksaan dengan cara menyuntikkan bahan kontras langsung ke dalam percabangan bilier. Karena konsentrasi bahan kontras yang disuntikkan itu relatif besar, maka semua komponen pada sistem bilier (duktus hepatikus, duktus koledokus, duktus sistikus dan kandung empedu) dapat dilihat garis bentuknya dengan jelas.

MRCP (Magnetic Resonance Cholangiopancreatography), merupakan teknik pencitraan dengan gema magnet tanpa menggunakan zat kontras, instrumen, dan

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

18

radiasi ion. Pada MRCP saluran empedu akan terlihat sebagai struktur yang terang

karena mempunyai intensitas sinyal tinggi, sedangkan batu saluran empedu akan

terlihat sebagai intensitas sinyal rendah yang dikrelilingi empedu dengan intensitas

sinyal tinngi, sehingga metode ini cocok untuk mendiagnosis batu saluran empedu.

(Lesmana, 2006).

2. 12 Proses Keperawatan a. Pengkajian

wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik.
wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik.

mengobservasi warna kulit dan sklera klien apakah mengalami ikterik atau tidak.

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang

sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi

dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Lyer et al (1996) dalam Setiadi (2012)).

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan tiga metode, yaitu

Pada saat pengkajian pada klien kolelitiasis, tenaga kesehatan khususnya perawat

dapat menanyakan keluhan utama klien seperti apakah ada rasa sakit pada bagian

abdomen kanan dan perubahan warna urin dan feses, riwayat penyakit dahulu,

kebiasaan makan dan gaya hidup klien seperti apakah klien senang mengkonsumsi

makanan berlemak dan berkolesterol, untuk klien wanita dapat ditanyakan apakah

klien menggunakan kontrasepsi hormonal atau tidak. Selain itu, perawat dapat

Pada klien yang akan menjalani pembedahan penyakit kandung empedu

(kolesistektomi), anamnesis dan pemeriksaan harus difokuskan pada persoalan yang

paling penting bagi klien serta bagi tim kesehatan yang akan menangani perawatan

klien selama dan sesudah pembedahan. Pengkajian harus difokuskan kepada status

pernapasan klien. Jika operasi yang direncanakan berupa pembedahan tradisional,

insisi abdomen yang diperlukan selama pembedahan dapat mempengaruhi gerakan

penuh pernapasan. Riwayat merokok atau masalah pernapasan sebelumnya perlu

diperhatikan. Respirasi dangkal, batuk persisten atau tidak efektif, dan adanya suara

napas tambahan juga harus dicatat. Status nutrisi dievaluasi melalui anamnesis

riwayat diet, pemeriksaan umum dan pemantauan hasil-hasil laboratorium yang

didapat sebelumnya. (Smeltzer dan Bare, 2002)

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

19

b. Diagnosa Keperawatan NANDA menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu, keluarga, dan masyarakat tentang masalah kesehatan, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat ( Setiadi, 2012).

Carpenito (2000) menyebutkan ada lima tipe diagnosa, yaitu aktual, risiko, kemungkinan, sehat dan sindrom. Diagnosa keperawatan aktual menyajikan keadaan yang secara klinis telah divalidasi melalui batasan karakteristik mayor yang dapat diidentifikasi. Diagnosa keperawatan risiko menjelaskan masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi. Masalah dapat timbul pada seseorang atau kelompok yang rentan dan ditunjang dengan faktor risiko yang memberikan kontribusi pada peningkatan kerentanan. Menurut NANDA, diagnosa keperawatan risiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga, atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama. Diagnosa keperawatan kemungkinan menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah keperawatan kemungkinan. Pada keadaan ini masalah dan faktor pendukung belum ada tetapi sudah ada faktor yang dapat menimbulkan masalah. Diagnosa keperawatan Wellness (Sejahtera) atau sehat adalah keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga, dan atau masyarakat dalam transisi dari tingkat sejahtera tertentu ke tingkat sejahtera yang lebih tinggi yang menunjukkan terjadinya peningkatan fungsi kesehatan menjadi fungsi yang positif. Diagnosa keperawatan sindrom adalah diagnosa yang terdiri dari kelompok diagnosa aktual dan risiko tinggi yang diperkirakan akan muncul karena suatu kejadian atau situasi tertentu. (Setiadi, 2012)

karena suatu kejadian atau situasi tertentu. (Setiadi, 2012) Diagnosa Keperawatan yang biasa muncul pada klien

Diagnosa Keperawatan yang biasa muncul pada klien kolelitiasis dan mengalami pembedahan adalah: 1. Nyeri dan gangguan rasa nyaman berhubungan dengan insisi bedah; 2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan insisi bedah abdomen (jika akan dilakukan bedah kolesistektomi tradisional); 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan drainase bilier sesudah dilakukan tindakan bedah (jika dipasang T-tube karena batu berada dalam duktus koledokus); 4. Gangguan nutrisi berhubungan dengan sekresi getah empedu yang tidak adekuat; 5. Kurang

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

20

pengetahuan tentang kegiatan merawat diri sendiri setelah pulang dari rumah sakit (Smeltzer dan Bare, 2002).

c.

Perencanaan dan Intervensi keperawatan Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan sebagai pedoman untuk mengarahkan tindakan keperawatan dalam usaha membantu, meringankan, memecahkan masalah atau untuk memenuhi kebutuhan klien. Proses perencanaan keperawatan meliputi penetapan tujuan perawatan, penetapan kriteria hasil, pemilihan intervensi yang tepat, dan rasionalisasi dari intervensi dan mendokumentasikan rencana perawatan (Setiadi, 2012).

dan mendokumentasikan rencana perawatan (Setiadi, 2012). Intervensi keperawatan adalah suatu tindakan langsung kepada

Intervensi keperawatan adalah suatu tindakan langsung kepada klien yang dilaksanakan oleh perawat, yang ditujukan kepada kegiatan yang berhubungan dengan promosi, mempertahankan kesehatan klien (Setiadi, 2012). Tujuan utama dari pemberian intervensi keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan di atas adalah peredaan rasa nyeri, tidak adanya komplikasi pernapasan, kulit yang utuh dan drainase bilier yang normal, perbaikan asupan nutrisi, pemahaman yang baik klien terhadap kegiatan rutin untuk merawat diri sendiri dan tidak adanya komplikasi (Smeltzer dan Bare, 2002).

Intervensi keperawatan dapat diberikan secara mandiri dan kolaborasi. Pada diagnosa keperawatan Nyeri, perawat dapat memberikan intervensi secara mandiri dengan memonitoring tanda-tanda vital, mengajarkan teknik relaksasi tarik nafas dalam dan distraksi, serta kolaborasi dalam pemberian analgetik. Pada diagnosa keperawatan gangguan pertukaran gas, klien yang mengalami pembedahan saluran bilier cenderung mengalami komplikasi paru seperti pada semua klien dengan insisi abdomen bagian atas. Klien harus diingatkan untuk menarik napas dalam setiap jam agar paru-paru dapat berkembang penuh dan terjadinya ateletaksis dapat dicegah. Membantu dan memotivasi klien untuk ambulasi dini dapat mencegah komplikasi paru disamping komplikasi lain, seperti tromboflebitis (Smeltzer dan Bare, 2002). Pada diagnosa keperawatan gangguan integritas kulit, perawat dapat meningkatkan perawatan kulit dan drainase bilier klien. Perawat dapat melakukan observasi akan adanya tanda-tanda infeksi, kebocoran empedu ke dalam rongga peritoneal dan obstruksi drainase bilier. Pada diagnosa keperawatan gangguan nutrisi, diet klien dapat berupa diet rendah

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

21

lemak tinggi karbohidrat dan protein yang diberikan segera sesudah pembedahan. Pembatasan lemak biasanya akan dicabut setelah 4 hingga 6 minggu kemudian ketika saluran empedu telah cukup melebar untuk menampung volume getah empedu yang sebelumnya disimpan oleh kandung empedu dan ketika ampula Vater telah berfungsi secara efektif. Hal ini dikarenakan ketika klien mengkonsumsi lemak, getah empedu dalam jumlah yang adekuat akan dilepas ke dalam saluran cerna untuk mengemulsikan lemak tersebut dan memungkinkan pencernaan (Smeltzer dan Bare, 2002). Pada diagnosa keperawatan kurang pengetahuan, klien diberikan edukasi melalui pendidikan kesehatan. Edukasi yang diberikan dapat berupa pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak, diet atau nutrisi apa saja yang baik untuk klien, dan gejala atau tanda-tanda apa saja yang harus dilaporkan klien dan keluarga seperti adanya rasa nyeri, ikterus, feses berwarna pucat, urin berwarna pekat dan tanda-tanda inflamasi atau infeksi.

urin berwarna pekat dan tanda-tanda inflamasi atau infeksi. Intervensi keperawatan dengan memberikan pendidikan

Intervensi keperawatan dengan memberikan pendidikan kesehatan diet rendah lemak penting untuk segera diberikan kepada klien pasca pembedahan kolesistektomi dan atau terpasang T-tube. Hal ini dikarenakan makanan berlemak yang mengandung kolesterol dapat meningkatkan kadar kolesterol di dalam cairan empedu. Kadar kolesterol yang tinggi di dalam cairan empedu dapat membuat hipersaturasi cairan empedu yang lama kelamaan menjadi batu empedu.

d. Evaluasi Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan yang disesuaikan dengan kriteria hasil pada tahap perencanaan (Setiadi, 2012).

Evaluasi dari intervensi keperawatan yang diberikan adalah: 1. klien melaporkan pengurangan rasa nyeri dengan memfiksasi luka insisi pada abdomen untuk mengurangi nyeri, menghindari jenis-jenis makanan yang menyebabkan nyeri, dan menggunakan analgesik sesuai terapi yang diberikan; 2. Klien memperlihatkan fungsi pernapasan yang sesuai dengan dapat melakukan gerakan pernapasan secara penuh dengan inspirasi dalam dan ekspirasi, batuk efektif dengan menggunakan bantal untuk

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

22

menfiksasi luka insisi pada abdomen, menggunakan preparat analgesik pascaoperatif seperti yang diresepkan dan melakukan latihan seperti yang dianjurkan (misalnya membalik tubuh, berjalan); 3. Integritas kulit di sekitar tempat drainase bilier tampak normal dengan bebas dari gejala panas, nyeri abdomen, perubahan pada tanda-tanda vital atau adanya getah empedu di sekitar kateter drainase, menunjukkan atau melaporkan pengurangan drainase empedu secara bertahap, warna urin dan feses kembali normal, memperlihatkan penanganan kateter yang benar, mengenali tanda- tanda dan gejala obstruksi bilier yang perlu dicatat dan dilaporkan dan kadar bilirubin serum dalam batas-batas normal; 4. Intoleransi makanan berkurang dengan klien mempertahankan asupan makanan yang adekuat dan menghindari jenis makanan yang menyebabkan gangguan gastrointestinal, melaporkan penurunan frekuensi gejala mual, muntah, diare, flatulensi dan gangguan rasa nyaman abdomen atau tidak adanya semua gejala tersebut; 5. Klien bebas dari komplikasi dengan tanda-tanda vital dalam batas normal (tekanan darah, denyut nadi, frekuensi dan pola pernapasan, serta suhu tubuh), melaporkan tidak adanya perdarahan dari traktus gastrointestinal atau T-tube dan tidak adanya bukti perdarahan dalam feses,dan melaporkan pemulihan selera makan dan tidak adanya bukti muntah, distensi abdomen serta rasa nyeri. (Smeltzer dan Bare, 2002)

distensi abdomen serta rasa nyeri. (Smeltzer dan Bare, 2002) Analisis praktik Universitas Indonesia , Sandra Amelia,

Analisis praktik

Universitas Indonesia

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Pengkajian

a)

b)

c)

Data Umum Ny. S usia 65 tahun masuk ke RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 23 April 2013 dengan diagnosa medis Cholelitiasis Simptomatik. Pada saat pengkajian tanggal 10 Mei 2013, klien mengatakan kalau saat ini rasa kembung yang dirasakan sudah berkurang, badan masih terasa lemas, dan nyeri pada luka operasi. Klien juga mengeluhkan kalau dirinya susah untuk BAB dan pagi ini BAB lembek.

kalau dirinya susah untuk BAB dan pagi ini BAB lembek. Alasan masuk ke rumah sakit Klien

Alasan masuk ke rumah sakit Klien mengatakan kalau dirinya datang ke rumah sakit karena sakit batu kandung empedu dan mau dilakukan operasi. Klien mengaku batu kandung empedu yang dialaminya sejak tahun 2008. Klien sering merasakan sakit pada perut sebelah kanan atas. Jika rasa sakit muncul, klien mengatakan hanya tidur dan beristirahat. Klien mengetahui dan disarankan dari tahun 2008 untuk melakukan operasi sebagai cara penanganan terhadap kandung empedu yang dialaminya. Tetapi saat itu klien takut untuk menjalani operasi. Sehingga setiap kali nyeri timbul, klien hanya menahan dan beristirahat. Nyeri yang dirasakan klien makin hari makin terasa sakit hingga mengganggu aktivitas klien. Sehingga keluarga memutuskan untuk membawa klien ke rumah sakit untuk dilakukan operasi.

Riwayat penyakit sebelumnya Klien mengatakan menggunakan KB suntik lebih dari lima tahun. Klien memilki riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 sejak tahun 2003 dan tidak terkontrol. Klien juga pernah melakukan operasi laparoskopik cholesistectomy pada tanggal 29 April 2013 dengan terpasang dua drain pada abdomen sebelah kanan dan epigastrium. Keluarga klien mengatakan 5 hari setelah operasi, drain yang ada di perut bagian kanan lepas dengan sendirinya. Beberapa hari kemudian, perut klien semakin besar. Perawat melakukan pengukuran dan pemeriksaan acites dengan ukuran lingkar abdomen klien sampai 87 cm. Klien direncanakan dilakukan operasi laparotomi eksplorasi dengan

23

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

24

pemasangan T-Tube drainage. Operasi laparatomi eksplorasi dan pemasangan T-Tube dilakukan pada tanggal 7 Mei 2013.

d) Pengkajian dengan Pendekatan Sistem Tubuh Pengkajian pada klien mulai dilakukan dari tanggal 10 Mei 2013, adapun hasil yang didapatkan selama pengkajian dan selama klien di rawat adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas / Istirahat Klien mengatakan kalau dirinya adalah seorang ibu rumah tangga yang membuka usaha catering di rumah. Sehari-hari klien dibantu oleh tetangga dan anak-anaknya untuk menjalankan catering. Klien membuka usaha catering karena beliau memiliki hobi memasak berbagai macam kue dan masakan lainnya selain untuk membantu perekonomian keluarga.

masakan lainnya selain untuk membantu perekonomian keluarga. Kegiatan klien selama di rumah sakit menjadi sangat terbatas

Kegiatan klien selama di rumah sakit menjadi sangat terbatas karena klien terpasang T-Tube pada abdomen sebelah kanan dan drain pada abdomen sebelah kiri (drain pada abdomen sebelah kiri dilepas pada tanggal 13 Mei 2013). Klien terlihat takut ketika menggerakkan badannya miring ke kanan dan ke kiri dan hanya miring jika klien sudah merasa sangat pegal. Klien mengatakan dirinya masih bisa menjalankan ibadah sholat lima waktu di atas tempat tidur. Klien mengaku bisa beristirahat dengan cukup dan pulas pada malam hari. Klien tidur pada malam hari pada pukul 21.00-05.00 WIB dan tidur siang pada pukul 14.00- 15.30 WIB.

Berdasarkan hasil pengamatan, keadaan umum klien terlihat baik dengan kesadaran compos mentis. Klien terlihat hanya berbaring di tempat tidur seharian. Terkadang klien terlihat berbincang-bincang dengan anak dan pasien lain yang ada di sebelahnya. Rentang pergerakan klien baik tidak ada tremor dan deformitas, massa/tonus otot baik dengan kekuatan otot 5555

5555 . 5555 5555
5555 .
5555
5555

Klien mulai dianjurkan untuk mobilisasi duduk di tempat tidur dan menggunakan kursi roda pada tanggal 14 Mei 2013.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

25

2.

Sirkulasi Klien mengaku tidak memiliki riwayat hipertensi tetapi hasil pemeriksaan pengukuran tekanan darah selama tiga hari (7 – 10 Mei 2013) menunjukkan nilai tekanan darah klien berkisar 140-160 / 90-100 mmHg, nadi 100x/menit, dan suhu 37 ° c. Klien mendapatkan medikasi captopril 25 mg. Klien tidak memiliki masalah jantung. Bunyi jantung pada BJ 1 dan 2 terdengar normal, tidak terdengar murmur dan gallop. Warna kulit kien pink kemerahan, tidak ada tanda sianosis pada bibir, pengisian kapiler < 3 detik, konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik.

3. 4.
3.
4.

Eliminasi Klien terpasang folley catheter dengan warna urin kuning jernih produksi 300 cc. klien tidak mengeluhkan nyeri saat BAK. Klien mengatakan pasca operasi yang kedua (laparotomi eksplorasi) BAB terasa sulit. BAB terakhir pagi ini dengan karakter feses lembek berwarna kuning. Riwayat hemoroid tidak ada. Klien tidak mengalami diare dan tidak terjadi perdarahan saat BAB.

Pada tanggal 13 Mei 2013 folley chateter klien dilepas. BAB pada tanggal 16 Mei 2013 berwarna putih seperti dempul. Pada tanggal 17 Mei 2013 klien mengatakan BAB nya sudah berwarna kuning seperti biasanya.

Makanan / cairan Saat ini (tanggal 10 Mei 2013) klien terpasang Nasogastric Tube (NGT) dengan diet DM 1700 kkal/hari. Pada tanggal 11 Mei 2013 NGT klien dilepas dan klien mendapatkan terapi diet lunak DM 1700 kkal/hari.

Klien menceritakan kebiasaan makan klien sebelum sakit yang gemar mengkonsumsi goreng-gorengan, makanan berlemak, dan bersantan. Makanan bersantan yang paling klien sukai adalah soto Bandung. Hal ini yang mungkin menjadi faktor pencentus dari penyakit kolelitiasis yang dialami oleh klien. Klien mengaku berat badan ketika masuk ke rumah sakit adalah 49 kg. Pada saat penimbangan berat badan klien pada tanggal 16 Mei 2013 berat badan klien 44,5 kg dengan tinggi badan 159 cm. Dari berat badan dan tinggi badan klien sekarang didapatkan IMT klien adalah 17,6.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

26

Klien mandiri untuk makan dan minum. Klien mengatakan tidak mengalami kehilangan selera makan, makan-makanan yang disediakan di rumah sakit selalu dihabiskan. Klien tidak mengeluhkan adanya mual muntah selama makan. Klien juga tidak memiliki riwayat alergi atau intoleransi makanan dan masalah / kesulitan mengunyah dan menelan.

5.

Hygiene Penampilan umum dan cara berpakaian klien terlihat bersih, bau badan tidak ada, kondisi kulit kepala terlihat berminyak dan terdapat pediculus humanicus pada rambut klien. Klien sudah secara mandiri untuk BAK ke kamar mandi sejak tanggal 14 Mei 2013. Setiap kali klien ditawarkan untuk mandi klien selalu mengatakan mandinya satu kali saja di pagi hari karena takut T-Tube yang masih terpasang terlepas. Ketika mandi klien dibantu oleh anaknya untuk di lap menggunakan handuk kecil. Klien belum berani untuk mandi di kamar mandi. Pada tanggal 15 Mei 2013 klien dibantu untuk keramas ke kamar mandi dengan menggunakan kursi roda.

Neurosensori Klien mengatakan tidak ada rasa pusing dan ingin pingsan, tidak ada rasa kesemutan / kebas / kelemahan pada bagian ekstremitas, dan tidak memiliki riwayat stroke. Ukuran atau reaksi pupil klien isokor 2/2. Saat ini klien menggunakan kacamata untuk membaca. Klien tidak mengalami masalah dalam pendengaran. Status mental klien baik dengan kesadaran compos mentis, orientasi klien baik terhadap waktu dan ruang, dan memori klien baik saat ini maupun yang lalu juga baik. Klien kooperatif selama berinteraksi.

Nyeri / ketidaknyamanan Pada tanggal 10 Mei 2013 klien masih mengeluhkan nyeri pada daerah luka operasi. Klien terlihat takut dan berhati-hati serta menjaga daerah luka ketika ingin bergerak dan miring ke kanan atau ke kiri. Klien terlihat mengerutkan muka dan mengeluarkan ekspresi menahan sakit saat nyeri timbul. Skala nyeri 4-5. Klien mendapatkan terapi medikasi ketorolac 3 mg drip dimasukkan ke dalam cairan infus ringer laktat untuk menghilangkan nyeri klien.

6.
6.

7.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

27

8. Pernapasan Klien mengatakan tidak memiliki riwayat tuberkulosis (TBC) dan tidak merokok. Berdasarkan hasil observasi, klien tidak menggunakan alat bantu pernafasan dan penggunaan otot-otot aksesori pernafasan. Saat dilakukan pemeriksaan fisik, frekuensi pernafasan klien 20x/menit dengan bunyi nafas vesikuler pada kedua lapang paru dan kedua dada tampak simetris. Klien terlihat tenang saat bernafas.

9. Keamanan Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi dan cedera kecelakaan. Klien juga mengatakan tidak
9.
Keamanan
Klien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi dan cedera kecelakaan. Klien juga
mengatakan tidak memiliki masalah pada bagian sendi dan punggung. Klien
memiliki riwayat menggunakan kacamata sebagai alat bantu untuk membaca.
Fungsi pendengaran klien masih baik. Berdasarkan hasil pengamatan, klien
beresiko terlepas drainnya saat klien tidur atau beraktivitas. Integritas kulit klien
baik namun pada bagian luka operasi terlihat luka bekas jahitan operasi.
e)
Pemeriksaan penunjang
Tabel 3.1 Hasil Laboratorium
Jenis
HASIL
Nilai Rujukan
Pemeriksaan
7-5-2013
8-5-2013
9-5-2013
13-5-2013
23-5-2013
Kimia Klinik
Glukosa Darah
249
517
274
186
169
< 140 mg/dL
(sewaktu)
HASIL
Jenis Pemeriksaan
Nilai Rujukan
7-5-2013
9-5-2013
13-5-‘13
14-5-‘13
16-5-‘13
Hematologi
Hemoglobin
10,3
9,2
8,5
-
9,1
12-16 g/dL
Hematokrit
31
26
26
-
27
37 – 47 %
Eritrosit
3,5
2,9
2,9
-
3,1
4,3 – 6,0 juta/µL
Leukosit
20900
15800
9420
-
10300
4.800–10.800 juta/µL
Trombosit
432000
490000
626000
-
671000
150000-400000/ µL
MCV
87
87
89
-
87
80-96 fL

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

28

MCH MCHC Kimia klinik Albumin SGOT (AST) SGPT (ALT) Ureum Kreatinin Natrium (Na) Kalium (K)
MCH
MCHC
Kimia klinik
Albumin
SGOT (AST)
SGPT (ALT)
Ureum
Kreatinin
Natrium (Na)
Kalium (K)
Klorida (Cl)
Bilirubin Total
Bilirubin Direk
Bilirubin indirek
Fosfatase alkali
(ALP)
ᵞ-GT
Protein Total
Globulin
29
29
29
-
30
27-32 pg
34
34
33
-
34
32-36 g/dL
-
2,6
2,8
3,0
-
3,5-5,0 g/dL
11
-
-
19
-
< 35 U/L
15
-
-
15
-
< 40 U/L
64
43
-
- -
20-50 mg/dL
1,6
1,8
-
- -
0,5-1,5 mg/dL
132
129
135
- -
135-147 mmol/L
4,0
4,0
3,5
- -
3,5-5,0 mmol/L
100
99
100
- -
95-105 mmol/L
- -
-
0,49
-
< 1,5 mg/dL
- -
-
0,26
-
< 0,3 mg/dL
- -
-
0,23
-
<
1,1mg/dL
- -
-
118
-
<
98 U/L
- -
-
56
-
5-36 U/L
- -
-
7,1
-
6 - 8,5 g/dL
- -
-
4,1
-
2,5 – 3,5 g/dL

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

29

3.2 Analisis Data

Berdasarkan hasil pengkajian di atas didapatkan masalah keperawatan sebagai berikut:

Tabel 3.2 Analisa Data

DATA MASALAH KEPERAWATAN DS: Nyeri akut Klien mengeluhkan nyeri pada daerah luka operasi DO: Klien
DATA
MASALAH KEPERAWATAN
DS:
Nyeri akut
Klien mengeluhkan nyeri pada daerah
luka operasi
DO:
Klien terlihat takut dan berhati-hati serta
menjaga daerah luka ketika ingin
bergerak dan miring ke kanan atau ke
kiri
Klien terlihat mengerutkan muka dan
mengeluarkan ekspresi menahan sakit
saat nyeri timbul
Klien mengatakan skala nyeri 4-5
Hasil TTV tanggal 10 Mei 2013
TD= 160/100 mmHg, Nadi 100x /menit,
RR= 20x/menit, suhu= 36,4ͦc
DS:
Ketidakstabilan glukosa darah
Klien mengatakan memiliki riwayat DM
yang tidak terkontrol dari tahun 2003
Klien mengatakan tidak pernah
menggunakan insulin di rumah
DO:
Klien mengalami penurunan berat badan
dari pertama kali masuk RS, dari 49 kg
menjadi 44,5 kg.
Hasil GDS klien pada tanggal 7-9 Mei
2013 adalah 249 mg/dL, 517 mg/dL,
dan 274 mg/dL
Klien mendapatkan terapi insulin 3x4
unit
DS:
Defisit perawatan diri: mandi
Klien mengatakan hanya mau mandi
satu kali saja di pagi hari karena takut
T-Tube yang masih terpasang terlepas
Klien mengatakan belum berani untuk
mandi di kamar mandi
DO:

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

30

Klien dibantu oleh anaknya ketika mandi dengan cara dilap menggunakan handuk kecil Kondisi kulit kepala
Klien dibantu oleh anaknya ketika
mandi dengan cara dilap menggunakan
handuk kecil
Kondisi kulit kepala klien terlihat
berminyak dan terdapat pediculus
humanicus pada rambut klien
Klien terlihat menggaruk-garuk
kepalanya
DS: -
Risiko Infeksi
DO:
Klien pasca operasi laparatomi
eksplorasi
Klien terpasang folley catheter
Klien terpasang T-Tube pada abdomen
sebelah kanan dan drain pada abdomen
sebelah kiri
Klien terpasang infus pada tangan
sebelah kanan
Klien terpasang NGT
DS: -
Risiko Perdarahan
DO:
Klien post-op Laparatomi Eksplorasi
Klien terpasang drain dan T-tube
Trombosit klien 490000 / µL
Klien tidak tampak anemis
DS:
Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari
Klien tidak mengatakan adanya mual
kebutuhan tubuh
dan muntah saat ini tetapi terkadang
suka merasa mual
Klien merasa berat badannya menurun
DO:
Klien memiliki riwayat DM dari ahun
2003 yang tidak terkontrol
Klien mengalami penurunan berat badan
dari 49 kg (23 April) menjadi 44,5 kg
(16 Mei)
IMT 17,6 kg/m²

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

31

Klien mendapatkan terapi insulin 3x 4 unit DS: Defisiensi Pengetahuan Klien mengatakan tidak tahu tentang
Klien mendapatkan terapi insulin 3x 4
unit
DS:
Defisiensi Pengetahuan
Klien mengatakan tidak tahu tentang
diet rendah lemak dan pentingnya diet
rendah lemak untuk dirinya
Klien mengatakan ingin tahu tentang
informasi diet rendah lemak
DO:
Diagnosa medis klien kolelitiasis
simptommatik
Klien post-op laparoskopik
kolesistektomi
Klien terpasang T-tube
DS:
Kesiapan meningkatkan pengetahuan
Klien mengatakan sudah paham tentang
diet rendah lemak, pentingnya diet
rendah lemak untuk dirinya, dan
makanan apa saja yang berlemak
DO:
Klien butuh untuk pengingatan kembali
tentang diet rendah lemak

Berdasarkan analisa data di atas, diagnosa keperawatan prioritas yang diambil adalah defisiensi pengetahuan terkait diet rendah lemak berhubungan dengan kondisi klien post- op laparaskopi kolesistektomi dan terpasang T-tube.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

32

3.3 Rencana Asuhan Keperawatan a). Defisiensi Pengetahuan Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5x24 jam klien dan keluarga menunjukkan tanda-tanda:

Memperlihatkan pengetahuan tentang diet yang dilakukan yaitu tentang diet rendah lemak Klien dan keluarga mengetahui tentang definisi diet rendah lemak Klien mengetahui pentingnya diet rendah lemak untuk dirinya Klien dan keluarga mengetahui makanan apa saja yang mengandung lemak dan bagaimana strategi untuk mengubah kebiasaan diet Klien memperlihatkan kemampuan untuk mengurangi asupan lemak sesuai terapi yang diberikan Intervensi Keperawatan Mandiri:

terapi yang diberikan Intervensi Keperawatan Mandiri: Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien tentang Diet

Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien tentang Diet Rendah Lemak Menciptakan lingkungan yang kondusif selama pemberian pendidikan kesehatan Memberikan penyuluhan sesuai dengan tingkat pemahaman klien Menggunakan media yang sesuai untuk kondisi klien Mengulangi informasi bila diperlukan Memotivasi klien untuk mulai menerapkan diet rendah lemak Mempersiapkan klien untuk secara benar mengikuti program diet Kolaborasi:

Rujuk ke ahli gizi dalam pemberian dan penentuan komposisi diet yang sesuai dengan kondisi klien

b). Nyeri Akut Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam klien menunjukkan tanda-tanda:

Klien dapat menjelaskan tingkat dan karakteristik nyeri dengan skala 0-10 Klien dapat menyampaikan teknik penatalaksanaan nyeri yang tanpa menimbulkan efek samping

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

33

Klien dapat melakukan teknik relaksasi tarik napas dalam dengan baik dan benar Klien mampu memenuhi kebutuhan aktivitas harian secara mandiri dengan bertahap Klien mampu mengugkapkan rasa nyaman dan berkurangnya nyeri dengan skala 0-1 Intervensi Keperawatan Mandiri:

nyeri dengan skala 0-1 Intervensi Keperawatan Mandiri: Mengidentifikasi karakteristik nyeri: lokasi, intensitas,

Mengidentifikasi karakteristik nyeri: lokasi, intensitas, frekuensi, kualitas, durasi, dan penjalaran Meminta klien menggambarkan tingkat nyeri yang dirasakan dengan skala 1-10 Memonitor nyeri yang dirasakan klien secara berkala baik pada saat istirahat maupun beraktivitas Menjelaskan dan melatih cara mengatasi nyeri secara nonfarmakologis, yaitu melalui teknik distraksi dan relaksasi napas dalam Menganjurkan klien menggunakan teknik distraksi dan tarik napas dalam saat nyeri timbul Kolaborasi:

Berkolaborasi dengan dokter dalam penatalaksaan nyeri akut yaitu dalam pemberian analgetik

c). Risiko Infeksi Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 7x24 jam klien menunjukkan tanda-tanda:

Terbebas dari tanda-tanda infeksi seperti peningkatan suhu di atas 37,5 ͦ c, kemerahan pada bagian luka, dan adanya discharge atau pus pada bagian luka Menyampaikan tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai Mempertahankan jumlah sel darah putih dalam rentang normal Mendemonstrasikan cara mempertahankan hygiene: mencuci tangan, perawatan mulut, dan perawatan perineal

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

34

Intervensi Keperawatan Mandiri:

Mengobservasi tanda dan gejala infeksi seperti peningkatan suhu, kemerahan, dan adanya discharge Mencatat dan menganalisis nilai laboratorium (leukosit, serum protein, albumin dan kultur Memonitor perubahan warna kulit, kelembaban tekstur, dan turgor kulit Menganjurkan klien untuk meningkatkan asupan cairan Selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah berinteraksi dengan klien Menganjurkan dan memotivasi klien untuk selalu menjaga personal hygiene Kolaborasi:

klien untuk selalu menjaga personal hygiene Kolaborasi: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik yang

Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik yang sesuai Awasi pemeriksaan laboratorium seperti leukosit, serum protein, albumin dan kultur

d). Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 7x24 jam klien menunjukkan tanda-tanda:

Klien selalu menghabiskan satu porsi makan yang diberikan rumah sakit pada pagi, siang, dan malam harinya Klien tidak mengalami penurunan berat badan Adanya penambahan berat badan dengan target IMT 18,0 kg/m² Intervensi Keperawatan Mandiri:

Mengobservasi asupan makan klien setiap hari Motivasi klien untuk intake adekuat sesuai terapi yang diberikan Awasi tanda-tanda terjadinya anoreksia, mual, muntah dan kemungkinan hubungan dengan diet yang harus dilakukan oleh klien Motivasi klien untuk istirahat yang sering Motivasi klien untuk melakukan oral hygiene Kolaborasi:

Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian antiemetik sesuai indikasi Rujuk ke ahli gizi dalam pemberian dan penentuan komposisi diet yang sesuai dengan kondisi klien

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

35

Awasi pemeriksaan laboratorium seperti BUN, protein serum, dan albumin

e). Risiko Perdarahan Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam klien menunjukkan tanda-tanda:

Mempertahankan homeostasis dengan tanpa perdarahan Menunjukkan perilaku penurunan risiko perdarahan dengan menjaga daerah yang terpasang drain dan tidak memegang daerah tersebut sehingga drain tidak tercabut atau terlepas Intervensi Keperawatan Mandiri:

Awasi Hb / Ht dan faktor pembekuan
Awasi Hb / Ht dan faktor pembekuan

Kaji adanya tanda-tanda dan gejala perdarahan seperti rembesan pada balutan luka Observasi drain yang terpasang pada klien. Catat produksi darah yang tertampung pada drain Observasi tanda-tanda vital Catat perubahan mental/tingkat kesadaran klien Kolaborasi:

f). Ketidakstabilan glukosa darah Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5x24 jam klien menunjukkan tanda-tanda:

Memperlihatkan kadar glukosa darah stabil (<140mg/dL) Mematuhi regimen yang diprogramkan untuk pemantauan glukosa darah Mematuhi rekomendasi diet dan latihan fisik Intervensi Keperawatan Mandiri:

Pantau tanda dan gejala hiperglikemia (misal glukosa serum >300mg/dL, sakit kepala, penglihatan kabur, mual, muntah, pliuria, polidipsi, polifagi, kelemahan, letargi, hipotensi, takikardia, pernapasan kusmaul) Mempersiapkan klien untuk mengikuti dengan benar program diet Berikan informasi kepada klien mengenai diabetes

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

36

Beri informasi mengenai penerapan diet dan latihan fisikuntuk mencapai keseimbangan kadar glukosa Beri informasi mengenai obat-obatan yang digunakan untuk mengendalikan diabetes Kolaborasi:

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian insulin Rujuk ke ahli gizi dalam pemberian dan penentuan komposisi diet yang sesuai dengan kondisi klien

Klien termotivasi untuk selalu menjaga personal hygiennya Kulit kepala dan rambut terlihat bersih Tidak sering
Klien termotivasi untuk selalu menjaga personal hygiennya
Kulit kepala dan rambut terlihat bersih
Tidak sering menggaruk-garuk kepalanya
Intervensi Keperawatan
Mandiri:

g). Defisit Perawatan Diri: Mandi Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5x24 jam klien menunjukkan tanda-tanda:

Memotivasi klien untuk mandi sehari 2 kali Mengobservasi tingkat kemandirian klien untuk mandi Membantu dan mendorong klien untuk melakukan personal hygiene seperti cuci rambut Membantu klien mandi sebagian atau sepenuhnya dan membantu klien jika mengalami kesulitan Mempertahankan privasi klien

h). Kesiapan meningkatkan pengetahuan Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam klien dan keluarga menunjukkan tanda-tanda:

Mengidentifikasi kebutuhan informasi tambahan mengenai diet rendah lemak Memperlihatkan peningkatan pengetahuan tentang diet yang dilakukan yaitu tentang diet rendah lemak Klien dan keluarga sudah paham tentang definisi diet rendah lemak Klien dan keluarga mengerti akan pentingnya diet rendah lemak untuk klien

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

37

Klien dan keluarga bisa menyebutkan dan mengidentifikasi makanan apa saja yang mengandung lemak dan bagaimana strategi untuk mengubah kebiasaan diet Klien dan keluarga mengetahui diat atau nutrisi apa saja yang baik untuk klien Klien dan keluarga dapat membuat menu harian yang sesuai dengan terapi yang diberikan Intervensi Keperawatan Mandiri:

terapi yang diberikan Intervensi Keperawatan Mandiri: Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien tentang Diet

Memberikan pendidikan kesehatan kepada klien tentang Diet Rendah Lemak dan nutrisi yang baik untuk klien Menciptakan lingkungan yang kondusif selama pemberian pendidikan kesehatan Memberikan penyuluhan sesuai dengan tingkat pemahaman klien Menggunakan media yang sesuai untuk kondisi klien Mengulangi informasi bila diperlukan Memotivasi klien dan keluarga untuk mulai bersama-sama mengawasi dan mengikuti program diet yang diberikan

3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Implementasi yang diberikan kepada klien berdasarkan prioritas masalah yang diangkat adalah intervensi keperawatan dengan pemberian informasi melalui pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak. Intervensi yang pertama diberikan pada tanggal 11 Mei 2013 pada pukul 13.10 WIB. Peserta yang mengikuti ada dua orang yaitu klien dan anaknya. Materi yang diberikan saat itu adalah mengenai informasi tentang definisi diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak untu klien, dan makanan apa saja yang mengandung lemak. Metode yang digunakan adalah diskusi dan tanya jawab. Waktu yang diperlukan saat intervensi berlangsung adalah sekitar 10 menit.

Evaluasi keperawatan dari intervensi pendidikan kesehatan tentang Diet Rendah Lemak yang pertama berdasarkan data subjektif adalah klien mengetahui tentang definisi diet rendah lemak yaitu mengurangi makanan yang mengandung lemak, pentingnya diet rendah lemak untuk dirinya untuk mencegah timbulnya batu empedu kembali, dan makanan yang mengandung lemak seperti konsumsi daging ayam dengan kulitnya (ayam boiler), daging kambing, daging sapi dan kornet. Berdasarkan data objektif, selama

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

38

kegiatan pendidikan kesehatan berlangsung klien terlihat tidak terlalu fokus terhadap materi yang diberikan. Hal ini terjadi karena kondisi klien yang masih terpasang drain dan T-tube sehingga klien terlihat menjaga area yang terpasang dan terlihat berhati-hati ketika bergerak. Selain itu, lingkungan yang ramai di dekat tempat tidur klien yang membuat konsentrasi klien tidak optimal. Analisis dari intervensi dan masalah keperawatan yang diambil adalah kurang optimalnya pendidikan kesehatan yang diberikan oleh klien sehingga defisiensi pengetahuan klien teratasi sebagian. Rencana tindakan keperawatan yang akan diberikan adalah menciptakan lingkungan yang kondusif selama pemberian pendidikan kesehatan selanjutnya, menggunakan media yang sesuai untuk kondisi klien, mengulangi informasi bila diperlukan, memberikan penyuluhan selanjutnya sesuai dengan tingkat pemahaman klien, memotivasi klien untuk mulai menerapkan diet rendah lemak dan mempersiapkan klien untuk secara benar mengikuti program diet yang akan diberikan selanjutnya.

mengikuti program diet yang akan diberikan selanjutnya. Implementasi kedua diberikan pada tanggal 25 Mei 2013

Implementasi kedua diberikan pada tanggal 25 Mei 2013 sebagai discharge planning dan pengingat kembali tentang diet rendah lemak karena klien akan direncanakan pulang esok hari. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan kontrak 20 menit dan dilaksanakan pada pukul 12.00 WIB. Peserta yang mengikuti ada empat orang yaitu klien, anak klien, dan dua orang sanak famili klien yang sedang menjenguk klien. Materi yang diberikan saat itu adalah mereview kembali informasi tentang definisi diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak untuk klien, makanan apa saja yang mengandung lemak, nutrisi yang baik untuk klien dan pembuatan menu harian yang dilakukan oleh klien dan keluarga. Media yang digunakan berupa leaflet dan lembar balik dengan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab.

Evaluasi keperawatan dari intervensi pendidikan kesehatan tentang Diet Rendah Lemak yang kedua berdasarkan data subjektif adalah klien mengatakan sudah paham dan mengerti tentang definisi diet rendah lemak yaitu membatasi dan mengurangi makanan yang mengandung lemak dalam makanan sehari-hari bukan tidak mengkonsumsinya sama sekali, pentingnya diet rendah lemak untuk dirinya untuk mencegah terjadinya batu empedu kembali karena pasca operasi pengangkatan kandung empedu, makanan yang mengandung lemak seperti makanan yang mengandung santan, daging ayam khususnya ayam boiler, daging kambing, daging atau ikan yang diawetkan seperti kornet, sosis, sarden dan ikan asin. Selain itu, klien menambahkan makanan yang tidak baik untuk

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

39

dirinya adalah makanan yang mengandung gas seperti ubi, kol, durian, makanan yang pedas, dan minuman bersoda. Evaluasi objektif selama pemberian pendidikan kesehatan adalah peserta (klien, anak klien, dua orang sanak famili klien yang sedang menjenguk klien) terlihat antusias dan memerhatikan selama kegiatan berlangsung. Selain itu, klien dan keluarga aktif bertanya jika ada penjelasan yang kurang jelas, klien beserta anaknya mampu mendemonstrasikan pembuatan menu harian yang baik untuk diberikan kepada klien.

menu harian yang baik untuk diberikan kepada klien. Analisis praktik , Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB IV ANALISIS SITUASI

4.1 Profil lahan praktik

a.

Sejarah terbentuknya RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad merupakan rumah sakit rujukan tentara pusat. Dahulu RSPAD Gatot Soebroto ditkesad merupakan rumah sakit tentara Belanda yang dikenal dengan groot militare hospital welterveden. Pada tanggal 8 maret 1942 RSPAD Gatot Soebroto menjadi rumah sakit militer angkatan darat Jepang dengan nama rikugun byoin. Sejak kemerdekan 17 agustus 1945 dikuasai oleh tentara KNIL dan namanya diubah menjadi militaire geneeskundige dienst yang dikenal dengan nama "leger hospital Batavia".

b.
b.

Pada tanggal 26 Juli 1950 diserahkan kepada Djawatan Kesehatan Angkatan Darat menjadi rumah sakit tentara pusat. Moment bersejarah ini selanjutnya diperingati sebagai hari jadi RSPAD Gatot Soebroto. Untuk mengingat jasa- jasa Letnan Jenderal Gatot Soebroto dalam memberikan kebanggaan dan upaya peningkatan kesejahteraan prajurit angkatan darat maka dipakailah nama Gatot Soebroto dibelakang nama Rumah Sakiit Angkatan Darat ini.

Profil Keperawatan RSPAD Gatot Soebroto RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad memiliki Visi menjadi rumah sakit berstandar Internasional, rujukan utama dan rumah sakit pendidikan serta merupakan kebanggaan prajurit dan masyarakat. Adapun Misi RSPAD Gatot Soebroto adalah: 1. Menyelenggarakan fungsi perumahsakitan tingkat pusat dan rujukan tertinggi bagi rumah sakit TNI AD dalam rangka mendukung tugas pokok TNI AD; 2. Menyelenggarakan dukungan pelayanan kesehatan yang bermutu secara menyeluruh untuk prajurit PNS TNI AD serta masyarakat; 3. Mengembangkan keilmuan secara berkesinambungan; 4. Meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan melalui pendidikan berkelanjutan; 5. Memberikan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran dan penelitian bagi tenaga kesehatan.

Analisis praktik

40

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

41

RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad bertugas pokok menyelenggarakan pelayanan perumahsakitan tertinggi di jajaran TNI AD, melalui upaya-upaya pelayanan kesehatan kuratif dan rehabilitatif yang terpadu dengan pelaksanaan kegiatan kesehatan promotif dan preventif dalam rangka mendukung tugas pokok Ditkesad.

Pelayanan Keperawatan RSPAD Gatot Soebroto adalah pelayanan yang profesional dean komprehensif dengan caring yang berdasarkan etika profesi. Adapun tujuan keperawatan RSPAD Gatot Soebroto adalah: 1. Memberikan pelayanan keperawatan secara komprehensif dengan pendekatan caring ditunjukkan kepada pasien dan keluarganya dengan berpedoman kepada etika profesi; 2. Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk mendukung profesionalisme keperawatan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan kepada riset keperawatan; 3. Mengembangkan image positif profesionalisme keperawatan di lingkungan keperawatan dan bermitra dengan profesi lain; 4. Melaksanakan fungsi pendidikan dan penelitian keperawatan.

Melaksanakan fungsi pendidikan dan penelitian keperawatan. 4.2 Analisis masalah keperawatan dengan konsep terkait KKMP

4.2 Analisis masalah keperawatan dengan konsep terkait KKMP dan konsep kasus terkait Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di daerah perkotaan dipengaruhi oleh banyaknya masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke kota-kota besar. Cepatnya urbanisasi populasi masyarakat dari desa ke perkotaan membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan yang ada. Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan menjadi salah satu yang menentukan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri. Adaptasi masyarakat terhadap kondisi dan lingkungan membuat masyarakat mengubah perilaku dan gaya hidup mereka. Salah satu perubahan perilaku dan gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat yaitu terkait kebiasaan dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, berlemak, dan berkolesterol. Makanan yang berlemak dan berkolesterol dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti penyakit jantung koroner dan kolelitiasis.

Berdasarkan hasil pengkajian pasien, Ny. S berusia 65 tahun didiagnosis medis mengalami kolelitiasis simptomatik. Klien memiliki riwayat menggunakan KB

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

42

suntik lebih dari lima tahun, gemar makan gorengan, dan soto bersantan. Hal ini sesuai dengan faktor risiko dan etiologi dari kolelitiasis, yaitu Usia lebih dari 40 tahun, wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal, dan kebiasaan makan makanan berlemak dan berkolesterol.

Usia Ny. S yang sudah 65 tahun menjadi salah satu faktor terjadinya batu empedu. Hal ini terjadi karena pertambahan usia dapat mengakibatkan bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sintesis asam empedu (Smeltzer dan Bare, 2002). Selain itu adanya proses aging, yaitu suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo dan Martono, 1994). Riwayat klien menggunakan kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan saturasi kolesterol bilier (Smeltzer dan Bare, 2002). Makanan berlemak dan berkolesterol menjadi sumber pencetus utama untuk terjadinya kolelitiasis pada klien. Kolesterol merupakan bagian dari lemak, jika kadar kolesterol yang terdapat dalam cairan empedu tinggi maka cairan empedu dapat mengendap dan lama kelamaan menjadi batu atau biasa disebut hipersaturasi cairan empedu. Hal ini terjadi karena fungsi cairan empedu sebagai pembantu proses pencernaan melalui emulsifikasi lemak oleh garam-garam empedu tidak optimal karena kadar kolesterol yang tinggi (Smeltzer dan Bare,

2002).
2002).

Berdasarkan uraian di atas, Ny. S beresiko untuk terjadinya batu kolesterol. Batu kolesterol terbentuk ketika konsentrasi kolesterol dalam saluran empedu melebihi kemampuan empedu untuk mengikatnya dalam suatu pelarut, kemudian terbentuk kristal yang selanjutnya membentuk batu. Pembentukan batu kolesterol melibatkan tiga proses yang panjang yaitu pembentukan empedu yang sangat jenuh (supersaturasi), pembentukan kristal kolesterol dan agregasi serta proses pertumbuhan batu. Proses supersaturasi terjadi akibat peningkatan sekresi kolesterol, penurunan sekresi garam empedu atau keduanya (Gustawan, 2007). Batu kolesterol terjadi karena konsentrasi kolesterol di dalam cairan empedu tinggi. Ini akibat dari kolesterol di dalam darah cukup tinggi. Jika kolesterol dalam kandung empedu tinggi, pengendapan akan terjadi dan lama kelamaan

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

43

menjadi batu. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu (Smeltzer dan Bare,

2002).

Iritan yang menyebabkan peradangan ini yang menimbulkan rasa nyeri dan kolik bilier klien. Hal ini terjadi karena saat kandung empedu melakukan kontraksi, cairan empedu tidak dapat keluar akibat tersumbatnya saluran oleh batu empedu. Ketika kandung empedu dalam keadaan distensi, bagian fundus dari kandung empedu menyentuh dinding abdomen sebelah kanan. Sentuhan ini yang mengakibatkan nyeri tekan yang khas pada abdomen kuadran kanan atas (Smeltzer dan Bare, 2002).

pada abdomen kuadran kanan atas (Smeltzer dan Bare, 2002). Pemasangan drainase bilier atau T-Tube pada klien

Pemasangan drainase bilier atau T-Tube pada klien berfungsi untuk menggantikan sementara fungsi dari kandung empedu . Selama pemasangan T- Tube , saluran empedu (Duktus sistikus, duktus hepatikus, dan duktus koledokus) melakukan adapatasi dengan cara melebarkan saluran untuk mengaliri dan menampung volume getah empedu yang sebelumnya disimpan oleh kandung empedu (Smeltzer dan Bare, 2002).

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya hipersaturasi cairan empedu diperlukannya perbaikan status nutrisi klien dengan cara diet rendah lemak. Diet rendah lemak ini akan terlaksana jika klien mengetahui dengan benar informasi tentang diet rendah lemak itu sendiri. Informasi tersebut dapat diberikan dengan pendidikan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan, khususnya perawat. Dalam hal ini perawat berfungsi sebagai perawat edukasi. Edukasi yang diberikan kepada klien diharapkan dapat mengatasi masalah keperawatan defisiensi pengetahuan klien dan potensial kesiapan meningkatkan pengetahuan klien. Hal ini merupakan cara untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran klien dalam meningkatkan derajat kesehatannya.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

44

4.3 Analisis salah satu intervensi dengan konsep dan penelitian terkait Pendidikan kesehatan dan penerapan diet rendah lemak atau pembatasan asupan lemak merupakan salah satu intervensi keperawatan yang diberikan kepada pasien yang mengalami kolelitiasis. Hal ini dilakukan karena kolesterol merupakan bagian dari lemak dan menjadi faktor dominan dalam pembentukan batu empedu. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien kolelitiasis terjadi peningkatan sekresi kolesterol oleh hati dan penurunan sintesis asam empedu. Pada keadaan ini dapat mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap, dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu (Smeltzer dan Bare, 2002). Penelitian di masyarakat Barat mengungkapkan komposisi utama batu empedu adalah kolesterol, sedangkan penelitian di jakarta pada 51 pasien didapatkan batu pigmen pada 73% pasien dan batu kolesterol pada 27% pasien (Lesmana, 2006). Kadar kolesterol yang tinggi dalam cairan empedu akan membuat cairan empedu mengendap dan menjadi batu. Cairan empedu yang berfungsi sebagai pembantu proses penyerapan lemak dengan cara emulsifikasi lemak tidak berfungsi secara optimal karena kadar kolesterol yang tinggi.

secara optimal karena kadar kolesterol yang tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi dapat dipengaruhi oleh perilaku

Kadar kolesterol yang tinggi dapat dipengaruhi oleh perilaku atau gaya hidup seseorang dengan kebiasaan makan makanan yang berlemak. Berdasarkan penelitian di benua Afrika khususnya Nigeria didapatkan peningkatan kasus kolelitiasis yang terjadi pada masyarakat perkotaan Nigeria karena adanya perubahan kebiasaan makan (peningkatan asupan kalori, kolesterol tinggi/lemak) dan perubahan gaya hidup. Perubahan ini disebabkan oleh cepatnya urbanisasi populasi dan dikaitkan dengan perubahan diet khususnya peningkatan konsumsi lemak. Laporan dari benua Afrika, Ethiopia, 46 pasien mengalami kolesistektomi pada kasus kolelitiasis dan kolesistitis dalam waktu 5 tahun. Hal ini menunjukkan rata-rata pasien berjumlah sembilan pertahunnya (Rahman, 2005).

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

45

Berdasarkan Riskesdas tahun 2007 yang menyebutkan bahwa derajat kesehatan masyarakat yang masih belum optimal pada hakikatnya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan kesehatan dan genetika. Kalangan ilmuwan umumnya berpendapat bahwa determinan utama dari derajat kesehatan masyarakat tersebut, selain kondisi lingkungan, adalah perilaku masyarakat (Jaji, 2012). Perilaku masyarakat yang kurang sehat dapat dikurangi dengan cara pemberian informasi kesehatan. Menurut teori Snehandu B. Kar (1983) dalam Jaji (2012), perilaku kesehatan yang kurang sehat dapat diubah dengan : a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatannya (behavior intention), b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support), c. Ada atau tidaknya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessibility of information), d. Otonomi pribadi yang bersangkutan dalam hal mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy) dan e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situation). Informasi kesehatan dapat diberikan oleh seorang perawat dengan memberikan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan yang dapat diberikan oleh perawat dengan pasien kolelitiasis adalah terkait nutrisi, yaitu diet rendah lemak. Pendidikan kesehatan yang diberikan ini dapat mengatasi masalah keperawatan defisiensi pengetahuan klien.

mengatasi masalah keperawatan defisiensi pengetahuan klien. Pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak diberikan

Pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak diberikan kepada klien pada tanggal 11 Mei 2013. Klien diberikan informasi tentang apa yang dimaksud dengan diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak pada pasien kolelitiasis, dan makanan apa saja yang mengandung lemak. Hasil dari pendidikan kesehatan yang diberikan pada saat itu, menggambarkan klien belum paham dan mengerti apa yang dimaksud dengan diet rendah lemak dan pentingnya diet rendah lemak untuk klien. Tetapi klien dapat menyebutkan makanan apa saja yang mengandung lemak.

Pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak diberikan kembali kepada klien satu hari sebelum klien pulang, pada tanggal 25 Mei 2013, sebagai discharge planning. Masalah keperawatan yang diangkat adalah potensial kesiapan meningkatkan pengetahuan. Masalah keperawatan potensial kesiapan meningkatkan pengetahuan diangkat karena sebelumnya klien telah diberikan

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

46

.

pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan peserta empat orang, yaitu klien, anak klien, dan dua kerabat klien yang sedang menjenguk. Selama proses pemberian pendidikan kesehatan, peserta terlihat antusias terutama kerabat klien yang serius dalam menyimak setiap materi yang diberikan. Hasil dari pendidikan kesehatan didapatkan klien sudah mengerti dan paham tentang apa yang dimaksud dengan diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak untuk klien, makanan apa saja yang mengandung lemak, diet atau nutrisi apa saja yang baik untuk klien dan pembuatan menu harian yang dilakukan oleh klien dan keluarga.

menu harian yang dilakukan oleh klien dan keluarga. Informasi yang diberikan melalui pendidikan kesehatan ini

Informasi yang diberikan melalui pendidikan kesehatan ini diharapkan dapat membantu klien memelihara dan meningkatkan kesehatan, mengatasi sakit dan mencegah keparahan, serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran klien dalam meningkatkan derajat kesehatannya.

Masalah yang ditemui saat pemberian implementasi adalah lingkungan dan kondisi klien yang kurang kondusif untuk diberikan pendidikan kesehatan. Lingkungan dan kondisi klien ini menyebabkan konsentrasi klien tidak optimal dalam menerima materi yang disampaikan. Selain itu, banyaknya pengunjung yang datang membesuk klien yang membuat review materi tidak optimal.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

47

4.4

Alternatif pemecahan yang dapat dilakukan Intervensi yang diberikan pada klien kolelitiasis tentang diet rendah lemak dapat diberikan kepada klien sebagai bentuk pendidikan kesehatan dan discharge planning. Informasi ini diharapkan dapat membantu klien dalam mengubah perilaku dan gaya hidupnya ke arah lebih sehat sebagai salah satu upaya meningkatkan derajat kesehatan klien. Perubahan perilaku ini dapat dilakukan jika ada niat dari klien untuk meningkatkan kesehatan dirinya, dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat dalam mengawasi perilaku dan gaya hidup klien sehari-hari, ada atau tidaknya sumber informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan yang diperlukan oleh klien dan otonomi klien dalam mengambil tindakan atau keputusan terkait kesehatannya. Selain itu, pentingnya kontinuitas pengulangan materi sebagai pengingat untuk klien terhadap materi yang telah disampaikan.

untuk klien terhadap materi yang telah disampaikan. Analisis praktik , Sandra Amelia, FIK UI, 2013 Universitas

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan Pada kasus kolelitiasis yang dialami oleh klien dapat disimpulkan bahwa penyebab kolelitiasis klien adalah usia klien yang berumur 65 tahun, riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal, dan kebiasaan makan klien yang sering mengkonsumsi makanan berlemak dan bersantan.

yang sering mengkonsumsi makanan berlemak dan bersantan. Dari hasil data penyebab kolelitiasis yang dialami klien,

Dari hasil data penyebab kolelitiasis yang dialami klien, batu empedu yang mungkin dialami klien adalah batu kolesterol. Batu kolesterol yang terbentuk terjadi ketika konsentrasi kolesterol dalam saluran empedu melebihi kemampuan empedu untuk mengikatnya dalam suatu pelarut, kemudian terbentuk kristal yang selanjutnya membentuk batu. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan sekresi kolesterol oleh hati dan penurunan sintesis asam empedu yang dapat mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap, dan membentuk batu. Cairan empedu yang berfungsi sebagai pembantu proses penyerapan lemak dengan cara emulsifikasi lemak tidak berfungsi secara optimal karena kadar kolesterol yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukannya informasi kepada klien tentang diet rendah lemak untuk mencegah terjadinya hipersaturasi cairan empedu kembali pasca pembedahan.

Berdasarkan hasil pengkajian, klien belum tahu tentang apa yang dimaksud dengan diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak untuk dirinya, dan makanan apa saja yang mengandung lemak. Oleh karena itu, masalah keperawatan yang muncul pada klien adalah defisiensi pengetahuan. Klien diberikan pendidikan kesehatan terkait diet rendah lemak.

Evaluasi keperawatan setelah diberikan intervensi pendidikan kesehatan tentang diet rendah lemak adalah klien mengerti, paham, dan dapat menyebutkan tentang diet rendah lemak, pentingnya diet rendah lemak untuk dirinya, makanan apa saja yang mengandung lemak, diet atau nutrisi apa saja yang baik untuk klien dan pembuatan menu harian yang dilakukan oleh klien dan keluarga.

Analisis praktik

48

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

49

Masalah yang ditemui saat pemberian implementasi adalah lingkungan dan kondisi klien yang kurang kondusif untuk diberikan pendidikan kesehatan. Lingkungan dan kondisi klien ini menyebabkan konsentrasi klien tidak optimal dalam menerima materi yang disampaikan. Oleh karena itu, pentingnya kontinuitas pengulangan materi sebagai pengingat untuk klien terhadap materi yang telah disampaikan.

5.2 Saran

a. Bagi Penulis 1. dalam pemberian asuhan keperawatan 2. b. Bagi Masyarakat 1. Meningkatkan pengetahuan
a. Bagi Penulis
1.
dalam pemberian asuhan keperawatan
2.
b. Bagi Masyarakat
1.
Meningkatkan pengetahuan dengan mencari informasi terkait faktor resiko
dan etiologi dari kolelitiasis
2.
Merubah perilaku dan gaya hidup ke arah lebih sehat untuk meningkat
derajat kesehatan
c. Bagi Instansi Rumah Sakit
1. Meningkatkan pemahaman dan berfikir kritis dalam menangani kasus
kolelitiasis
2. Mampu memberikan asuhan keperawatan yang terbaik untuk pasien
kolelitiasis
3. Memberikan media yang lebih bervariasi dalam pemberian edukasi

Meningkatkan pengetahuan tentang kolelitiasis untuk meningkatkan kualitas

Mengembangkan metode dan inovasi terhadap intervensi yang diberikan dalam mengatasi masalah keperawatan yang ada.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

DAFTAR REFERENSI

Beckingham, I.J. (2001). ABC Of Diseases Of Liver, Pancreas, And Biliary System Gallstone

Disease. Dalam: British Medical Journal V. 322, 13 Januari 2001.

http://www.pubmedcentral.articlerender.artid diakses pada tanggal 20 Juni 2013

Gustawan, I.W., K. Nomor Aryasa, dkk. (2007). Kolelitiasis pada anak dalam Maj kedokt

dkk. (2007). Kolelitiasis pada anak dalam Maj kedokt Indon, volum:57, Nomor: 10, Oktober 2007.

Indon, volum:57, Nomor: 10, Oktober 2007.

http://www.indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/download/543/661

diakses pada tanggal 19 Juni 2013

Jaji,. (2012) . Makalah Peran perawat komunitas dalam peningkatan derajat kesehatan

masyarakat menuju MDGs 2015. PSIK-FK Unsri tahun 2012.

http://www.pustaka.ut.ac.id/fisip201232.pdf diakses pada tanggal 28 Juni 2013

Lesmana, Laurentinus A. (2006). Penyakit Batu Empedu dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam

Jilid I Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia.

Notoatmodjo, Soekijo. (2011). Promosi kesehatan dan Ilmu Perilaku, teori dan aplikasi.

Jakarta: Rineka cipta.

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/102/jtptunimus-gdl-kholilatul-5079-3-bab2.pdf

diakses pada 26 Juni 2013

Rahman, Ganiyu A. (2005). Cholelitiasis and Cholecystitis: Changing Prevalence in an African

Community. Journal of the National Medical Association 97.11 (Nov 2005):1534-8.

http://www.scholar.google.com/scholar?q=cholelithiasis+dan+cholecystitis+rahman+ganiyu

+2005&um=1&ie=UTF-8&Ir&cites=-8772717938376248698 diakses pada tanggal 25 Juni

2013

Robbin, dkk. (2007). Buku Ajar Patologi. Edisi 7 Volume 2. Jakarta: Penerbit buku kedokteran

EGC.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

Schwartz, dkk. (2000). Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit buku kedokteran

EGC http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34994/3/chapter%20II.pdf

diakses pada tanggal 10 Mei 2013

Setiadi,. (2012). Konsep dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan; Teori dan Praktik.

Yogyakarta: Graha Ilmu

Sjamsuhidayat, R, de jong W. (2005). Buku Ajar I,mu Bedah, Edisi 2. Jakarta: Penerbit buku

Buku Ajar I,mu Bedah, Edisi 2 . Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC

kedokteran EGC

http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34994/3/chapter%20II.pdf diakses

pada tanggal 10 Mei 2013

Smeltzer, S. & Bare, B. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner&Suddarth

Edisi 8 volume 2. (Waluyo, A., Kariasa, M., Julia, Kuncara, A., & Asih, Y., Penerjemah).

Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC

http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34994/3/chapter%20II.pdf diakses pada tanggal 10 Mei 2013

Darmojo, Boedhi dan Hadi Martono. (1994). http://www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24269/4/chapter%20II.pdf diakses pada tanggal 28 Juni 2013

http://www.rspadgatsu.com/profile diakses pada tanggal 1juli 2013

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Universitas Indonesia

SA TUAN ACARA PENYULUHAN

DIET NUTRISI RENDAH LEMAK BAGI PASIEN PO ST OP PENGA NGKATAN KANDUNG EMPEDU

DI RUAN G RAWAT INAP BEDAH LANTAI V RSPA D GATOT SOEBROTO JAKARTA OLEH: SANDRA
DI RUAN G RAWAT INAP BEDAH LANTAI V
RSPA D GATOT SOEBROTO JAKARTA
OLEH:
SANDRA AMELIA
NPM. 0706271166

FAK ULTAS ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA

2013

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

Pokok Bahasan

Sub Pokok Bahasan

:

:

Asuhan Keperawatan Pasien Post op pengangkatan kandung empedu

Diet nutrisi rendah lemak

Sasaran

:

Klien Ny. S dan Keluarga Klien di Ruang Rawat Inap Bedah 5 RSPAD Gatot Soebroto Jakarta

: Kamis, 23/5/2013 : 10.00 s/d 10.20 WIB (20 menit) : Ruang Rawat Inap Bedah
:
Kamis, 23/5/2013
:
10.00 s/d 10.20 WIB (20 menit)
:
Ruang Rawat Inap Bedah 5 RSPAD Gatot Soebroto Jakarta

Hari/tanggal

Waktu

Tempat

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) Setelah diberikan penjelasan selama 10 menit tentang diet nutrisi rendah lemak pada klien post op pengangkatan kandung empedu, diharapkan klien dapat memahami akan pentingnya diet rendah lemak post op pengangkatan kandung empedu dan menerapkannya di rumah setelah pulang dari rumah sakit.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Setelah diberikan penjelasan tentang pentingnya diet rendah lemak post op pengangkatan kandung empedu, klien mampu:

1. Menyebutkan definisi diet rendah lemak

2. Memahami pentingnya diet rendah lemak post op pengangkatan kandung empedu

3. Menyebutkan makanan yang mengandung lemak

4. Menyebutkan diet nutrisi yang baik untuk klien post op pengangkatan kandung empedu ketika berada di rumah

5. Menyusun menu harian selama tiga hari untuk klien

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

III.

MATERI PENYULUHAN

1. Definisi diet rendah lemak

2. Pentingnya diet rendah lemak post op pengangkatan kandung empedu

3. Makanan yang mengandung lemak

4. Diet nutrisi untuk klien post op pengangkatan kandung empedu

5. Rencana menu harian selama satu minggu untuk klien

IV. METODE PENYULUHAN 1. Ceramah 2. Diskusi 3. Tanya jawab V. MEDIA 1. Leaflet 2.
IV.
METODE PENYULUHAN
1.
Ceramah
2.
Diskusi
3.
Tanya jawab
V.
MEDIA
1.
Leaflet
2.
Lembar menu harian selama satu minggu
VI.
BAGAN RENCANA KEGIATAN PENYULUHAN
No.
Tahapan & Waktu
Kegiatan Mahasiswa
Kegiatan Klien
1.
Pembukaan
- Memberi salam
-
Menjawab salam
- Menanyakan kondisi hari ini
-
Memperhatikan dan
(5 menit)
- Menjelaskan tujuan, kontrak waktu
mendengarkan
dan materi yang akan diberikan
-
Menjawab
2.
Kegiatan
- Menjelaskan definisi diet rendah
- Memperhatikan dan
lemak
mendengarkan
(10 menit)

- Menjelaskan pentingnya diet

rendah lemak post op

pengangkatan kandung empedu

- Menjelaskan makanan yang

mengandung lemak

- Memperhatikan dan

mendengarkan

- Memperhatikan dan

mendengarkan

- Menjelaskan diet nutrisi untuk klien post op pengangkatan kandung empedu

- Memberikan contoh menu harian untuk klien selama satu minggu

- Membantu klien dalam menyusun contoh menu dalam tiga hari ke depan

- Memperhatikan dan mendengarkan

- Memperhatikan dan mendengarkan

- Ikut mendemonstrasikan

3. Penutup - Mengevaluasi subjektif dan objektif - Menjawab - Menyimpulkan bersama-sama - (5 menit)
3.
Penutup
- Mengevaluasi subjektif dan objektif
-
Menjawab
- Menyimpulkan bersama-sama
-
(5 menit)
- Mengucapkan salam penutup
Memperhatikan dan
mendengarkan
-
Menjawab salam
VII.
DAFTAR EVALUASI HASIL PENYULUHAN
No.
No. TIK
Kegiatan Mahasiswa
Kegiatan Klien
1.
1
Sebutkan definisi diet
rendah lemak
-
Memperhatikan penjelasan yang diberikan
oleh mahasiswa
-
Memahami definisi diet rendah lemak dengan
baik yaitu kegiatan membatasi nutrisi berupa
lemak
2.
2
-
Fungsi empedu yaitu membantu dalam proses
pencernaan dan penyerapan lemak

Sebutkan pentingnya diet rendah lemak post op pengangkatan kandung empedu

- Cairan empedu mengandung sejumlah besar kolesterol yang biasanya tetap berbentuk cairan.

- Jika cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa menjadi tidak larut dan membentuk endapan di luar empedu

- Jika ada endapan maka akan terjadi sumbatan dan penyempitan di dalam saluran empedu

- Sumbatan pada saluran empedu bisa menumbuhkan bakteri dan mengakibatkan infeksi

- Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya

3. 3 Sebutkan makanan yang mengandung lemak - Makanan yang mengandung lemak, seperti: Daging Ayam
3. 3
Sebutkan makanan yang
mengandung lemak
-
Makanan yang mengandung lemak,
seperti:
Daging Ayam boiler
Daging kambing
Daging sapi
Daging/ikan yang diawetkan (kornet,
sosis, sarden, ikan asin)
Keju
Mayones
4. 4
Sebutkan diet nutrisi yang
baik untuk klien dengan
post op pengangkatan
kandung empedu
Bahan makanan yang tidak boleh diberikan
adalah:
-
Makanan yang mengandung lemak, seperti:

Daging kambing Daging sapi Daging/ikan yang diawetkan (kornet, sosis, sarden, ikan asin) Keju Mayones

- Makanan yang mengandung gas, seperti:

Ubi

Kacang merah

Kol

Sawi

Lobak

Durian

Nangka , dan

ketimun

- Bumbu yang merangsang, seperti cabe,

bawang, merica, asam cuka dan jahe

- Minuman yang mengandung soda dan alkohol

Bahan makanan yang baik diberikan adalah

bahan makanan yang mengandung karbohidrat

tanpa lemak
tanpa lemak

(8 th Ed). (Waluyo, A., Kariasa, M., Julia, Kuncara, A., & Asih, Y., Penerjemah). Philadelphia:

Lippincott-Raven Publisher.

tinggi dan mudah dicerna. Seperti bubur, telur

yang direbus, tahu, tempe, madu, daging sapi

VIII.

SUMBER

Potter and Perry. (2005). Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Ed. 4. Volume II. Jakarta: EGC.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2002). Brunner & Suddarth’s textbook of medical-surgical nursing vol.2.

Ins.Gizi RSCM & AsDI. (2007) Buku Penuntun Diet Dewasa, hal. 131-136. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama hal. 131-136.

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Apa Itu Diet rendah lemak?

Diet rendah lemak adalah kegiatan membatasi nutrisi berupa lemak dalam makanan sehari-hari

Pentingnya diet rendah lemak

Post op pengangkatan kandung

empedu. Fungsi Empedu sebagai zat

untuk membantu proses pencernaan

dan penyerapan lemak

Cairan empedu mengandung sejumlah

kolesterol yang biasanya tetap

berbentuk cairan. Jika cairan empedu

menjadi jenuh karena kolesterol, maka

kolesterol bisa menjadi tidak larut dan

membentuk endapan

Jika ada endapan maka akan terjadi

sumbatan dan penyempitan di dalam

saluran empedu

Sumbatan pada saluran empedu bisa

menumbuhkan bakteri dan

mengakibatkan infeksi

Bakteri bisa menyebar melalui aliran

darah dan menyebabkan infeksi di

bagian tubuh lainnya

Keju

darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya Keju Mayonaise Diet Nutrisi yang Baik untuk klien

Mayonaise

menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya Keju Mayonaise Diet Nutrisi yang Baik untuk klien post op

Diet Nutrisi yang Baik untuk klien post op pengangkatan kandung empedu

Bahan makanan yang baik diberikan adalah bahan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi dan mudah dicerna. Seperti bubur, telur yang direbus, tahu, tempe, madu, dan daging sapi tanpa lemak. Bahan makanan yang tidak boleh diberikan adalah:

Makanan yang mengandung lemak Daging yang mengandung lemak Daging / ikan yang diawetkan (kornet, sosis,
Makanan yang mengandung
lemak
Daging yang mengandung lemak
Daging / ikan yang diawetkan (kornet,
sosis, sarden, ikan asin)
lemak Daging / ikan yang diawetkan (kornet, sosis, sarden, ikan asin) Analisis praktik , Sandra Amelia,

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Diet Nutrisi Contoh menu makan harian pasien post op pengangkatan kandung empedu Sarapan Pagi Roti
Diet Nutrisi
Contoh menu makan harian pasien post
op pengangkatan kandung empedu
Sarapan
Pagi
Roti Bakar isi madu
Telur ceplok (dengan sedikit
minyak) atau telor rebus
Susu skim
Makan
Siang
Nasi/tim
Sayur bening bayam
Tempe bacem
Pepaya
Makan
sore/malam
Nasi/tim
Pepes ikan
Cah tahu/ oyong
pisang
Mahasiswa Profesi Keperawatan
Fakultas Ilmu Keperawatan
SEMOGA BERMANFAAT
Universitas Indonesia
2013
Analisis praktik
,
Sandra Amelia, FIK UI, 2013

- Makanan yang mengandung lemak, seperti:

Daging kambing

Daging sapi yang berlemak

Daging/ikan yang diawetkan

Keju

Mayonaise

- Makanan yang mengandung gas, seperti:

Ubi

Kacang merah

Kol

Sawi lobak

Durian

Nangka

- Bumbu yang merangsang, seperti cabe, bawang, merica, asam cuka, dan jahe

- Minuman yang bersoda dan beralkohol

Analisis praktik , Sandra Amelia, FIK UI, 2013

Analisis praktik

, Sandra Amelia, FIK UI, 2013