Anda di halaman 1dari 12

MATERI PERSIAPAN TES PETUGAS HAJI

1. Peraturan Dasar Penyelenggaraan Haji, adalah Undang-Undang


Nomor 13 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan haji
2. Tujuan Penyelenggaraan Ibadah haji adalah untuk memberikan
pembinaan, pelayanan dan perlindungan kepada jamaah haji
3. Kebijakan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Haji, adalah
penyelenggaraan ibadah haji berdasarkan azas keadilan(berpegang
pada kebenaran, tidak berat sebelah atau tidak berpihak dan tidak
sewenang-wenang
dalam
penyelenggaraan
haji), azas
profesionalitas (harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan
keahlian
para
penyelenggaranya) dan
berdasarkan azas
akuntabilitas dengan prinsip nilaba(penyelenggaraan harus dilakukan
dengan terbuka/transparan dan dapat dipertanggung-jawabkan secara
etik dan hokum dengan prinsip tidak mencari keuntungan).
4. Standar
Minimal
Pelayanan, adalah
seluruh
jamaah
haji
diberangkatkan ketanah suci, mendapatkan pemondokan, diwukufkan di
arafah dan dikembalikan lagi ketanah air.
5. Talimulhajj, adalahperaturan tentang perhajian yang dikeluarkan oleh
Kementerian Haji Arab Saudi sebagai instansi pemerintah yang
berwenang mengatur penyelenggaraan haji di Arab Saudi.
6. Istithaah dan macamnya, istithaah adalah mampu melaksanakan
ibadah haji, ditinjau dari jasmani (tidak sulit melakukan ibadah, tidak
lumpuh, tidak sakit yang lama sembuh),rohani (memahami manasik
haji, berakal sehat dan memiliki kesiapan mental untuk ibadah dengan
perjalanan jauh),Ekonomi (mampu membayar BPIH, memiliki biaya
hidup keluarga yang ditinggalkan/bagi petugas istithaah ekonominya
adalah memenuhi persyaratan dan aman pada waktu melaksanakan haji
dan aman bagi keluarga dan harta benda yang ditinggalkan selama
laksanakan tugas), Keamanan ( aman dalam perjalanan dan aman bagi
keluarga dan harta benda yang ditinggalkan)
7. Kebijakan Pelayanan Haji, adalah jamaah haji mendapatkan manasik
haji, diberangkatkan ke tanah suci, mendapatkan pemondokan,
diwukufkan di arafah dan dipulangkan ke tempat asalnya.

8. Pembinaan Haji adalah serangkaian kegiatan yang meliputi


penyuluhan dan bimbingan bagi jamaah haji, petugas haji, PIHK, PPIU
dan lembaga atau ormas yang terkait dengan haji dan umrah.
9. Pembinaan haji dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, baik
dilakukan secara perorangan ataupun dengan membentuk kelompok
bimbingan.
10.
Pembimbing ibadah haji adalah orang yang menguasai
pengetahuan manasik haji dan atau yang telah mengikuti orientasi
pembimbing haji yang diselenggarakan oleh Dirjen Penyelenggara haji
dan umrah dan ditugaskan untuk membimbing jamaah.
11.
Bimbingan haji oleh pemerintah, ditingkat KUA Kecamatan 7
kali dalam bentuk bimbingan kelompok dan ditingkat Kabupaten 3 kali
dalam bentuk bimbingan missal.
12.
Ketua regu adalah petugas yang dipilih oleh jamaah untuk
memimpin 10 jamaah. Ketua Rombongan adalah petugas yang dipilih
oleh jamaah untuk memimpin 4 regu dan ditetapkan dengan surat
keputusan oleh Kakanwil Kemenag atas rekomendari Kakankemenag
Kabupaten.
13.
KBIH adalah lembaga sosial keagamaan yang mendapat ijin
Kementerian Agama untuk melaksanakan bimbingan terhadap jamaah
haji. Tugasnya melaksanakan
bimbingan
haji
bukan
sebagai
penyelenggara haji. Fungsinya sebagai mitra pemerintah.
14.
Tujuan pembinaan jemaah haji adalah mewujudkanjemaah
haji yang mandiri yaitu jamaah yang dapat melaksanakan seluruh
rangkaian ibadah hajinya secara mandiri tanpa ketergantungan kepada
perorangan maupun kelompok, setelah mendapatkan bimbingan paket
kecamatan dan kabupaten dan atau KBIH.
15.
Petugas Haji Indonesia adalah petugas yang diangkat oleh
Menteri Agama yang bertanggung-jawab melaksanakan tugas dan
fungsi pelayanan kepada jamaah haji baik sebagai petugas yang
menyertai jamaah (Petugas kloter) yaitu (TPHI, TPIHI, TKHI, TPHD dan
TKHD) atau Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yaitu (Pusat,
Arab Saudi dan Embarkasi)

16.
Petugas Haji meliputi TPHI adalah petugas yang menyertai
jamaah dalam bidang administrasi dan manajerial sebagai ketua kloter.
Sedangkan TPIHI dalam bidang bimbingan ibadah haji. TKHI dalam
bidang pelayanan kesehatan baik dokter atau perawat. PPIH adalah
Panitia Penyelenggara Haji yang bertanggung-jawab dalam memberikan
pelayanan perhajian di Pusat, Arab Saudi dan Embarkasi.
17.
Pelatihan Petugas Haji, dilaksanakan di Embarkasi bagi
petugas kolter dan di pusat Jakarta bagi PPIH Arab Saudi (non kloter).
18.
Lama masa tugas, 41 hari untuk petugas kloter, 76 hari untuk
PPIH Arab Saudi Daker Jeddah dan Madinah, 66 hari untuk Daker
Makkah. Di Embarkasi lama operasional penerbagan adalah 30 hari
pemberangkatan dan 30 hari pemulangan melalui 13 embarkasi.
19.

Biaya Petugas Haji dianggarkan dari biaya dana APBN.

INFORMASI WAWASAN PENYELENGGARAAN HAJI DI TANAH


SUCI
1. Wizarat al-Hajji, adalah Kementerian haji yaitu lembaga resmi Negara
yang bertanggung-jawab dalam bidang perhajian.
2. Muassasah, instansi swasta non pemerintah yang melayani jamaah
haji. Muassasah Thawwafah bi al-Makkah (penyedia akomodasi jamaah
selama di Makkah), Muassasah Adilla bi al-Madinah (layanan akomodasi
jamaah selama di Madinah)
3. Naqabah, merupakan asosiasi yang mengawasi perusahaan resmi
angkutan jamaah haji, Naqabah adalah asosiasi transportasi haji yang
bertanggung-jawab atas peningkatan pelayanan angkutan jamaah haji
dan para peziaraha masjid Nabawi.
4. Majmuah, adalah petugas yang berada di madinah yang melayani
atau memberikan pelayanan kepada jamaah haji saat berada di
madinah. (Majmuah adalah badan/asosiasi yang bertugas menyiapkan
sarana akomodasi pemondokan jamaah haji selama di Madinah)
ISTILAH DALAM IBADAH HAJI
1. Baitullah, adalah bangunan Kabah yang disebut juga sebagai
Baitullah atau rumah Allah.

2. Babus Salam, Nama salah satu pintu masuk ke Masjidil Haram.


3. Bier Ali, Merupakan tempat Miqat (mulai memakai ihram). Terletak
sekitar 12 kilometer dari kota Madinah.
4. Binatang Hadyu, Binatang ternak yang disenbelih untuk Dam dan
untuk kurban saat hari raya Idul Adha.
5. Dam, Denda bagi mereka yang melakukan pelanggaran ketentuan saat
menunaikan Ibadah Haji atau Umrah
6. Fidyah, Denda yang dikenakan pada umat Muslim yang melakukan
pelanggaraan saat ibadah. Dengan cara : Berpuasa, Memberi makan
fakir miskin atau Menyembelih binatang kurban
7. Green Dome, Merupakan Kubah Hijau yang terletak di area Masjid
Nabawi. Di bawah Kubah Hijau ini terletak makam Nabi SAW.
8. Gua Hira, Gua tempat Nabi Muhammad s.a.w menerima wahyu
pertama (Surat Al-Alaq, ayat 1-5). Gua ini terletak di Bukit/Jabal
Nur.Sekitar 5 km di utara kota Mekah.
9. Haji Ifrad, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dahulu
kemudian Ibadah Umroh, dan diselingi Tahallul.
10.
Haji Qiran, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji
dan Ibadah Umroh pada waktu bersamaan, tanpa diselingi Tahallul.
11.
Haji Tamattu, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah
Umroh dahulu kemudian Ibadah Haji, dan diselingi Tahallul.
12.
Niat Haji, adalah dengan mengucapkanLabbaikallahumma
hajjan atau Nawaitul-hajja wa ahramtu bihi lillahi taala.
13.
Hijir Ismail, Salah satu bagian dari Kabah. Hijir Ismail ini
berbentuk setengah lingkaran, merupakan makam Nabi Ismail AS. dan
juga Siti Hajar (ibunda Nabi Ismail AS).
14.
Ifrad, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dahulu
kemudian Ibadah Umroh, dan diselingi Tahallul.

15.
Ihram, Ihram ialah berniat untuk memulai mengerjakan Ibadah
Haji atau Umroh, dengan mengucapkan lafazh niat (tidak hanya dalam
hati)
16.
Idh-thiba adalah sunah dalam mengenakan pakaian ihram saat
thawaf dengan membuka ihramnya dibagian bahu sebelah kanan saja
dan menyelempangkan kain ihramnya dibahu kiri.
17.
Raml adalah lari-lari kecil saat sa diantara dua pilar hijau bagi
laki-laki yang mampu melaksanakannya.
18.
Jumrah, jamanya Jamarat yaitu tempat pelemparan, yang yang
didirikan untuk memperingati saat Nabi Ibrahim digoda oleh setan agar
tidak melaksanakan perintah Allah SWT.
19.
Kiswah, Penutup Kabah. Pada Kiswah dihiasi tulisan ayat suci
Al Quan yang disulam.
20.
Lafazh Niat Haji, Labbaik Allahumma Hajjan. Lafazh Niat
Umrah, Labaik Allahumma Umratan
21.
Tabdilun-niyah (merubah niat), yaitu bagi jamaah yang haji
tamattu (dalam ihram umrah) bila tidak selesai umrahnya sebelum
wukuf karena udzur syarI maka diperbolehkan berubah niat dari umrah
menjadi haji.
22.
Mabit, Bermalam beberapa hari atau berhenti sejenak untuk
mempersiapkan pelaksanaan melontar jumroh. Mabit dilakukan di
Muzdalifah dan Mina.
23.
Miqat, Miqat adalah tempat atau waktu untuk memulai berniat
ihram. Miqat Makani, Miqat berdasarkan peta atau batas geografis.
Yaitu Bir
Ali (bagi
penduduk
Madinah
dan
yang
melewatinya), Juhfah (penduduk Syam), Qarnul Manazil(penduduk
Najad), Yalamlam (penduduk Yaman) dan Zatu Irqin(penduduk Iraq).
24.
Miqat Makani adalah ketentuan tempat bagi seseorang yang
hendak mengawali melaksanakan haji atau umrah dalam memulai niat
haji atau umrah
25.
Miqat Zamani adalah ketentuan waktu untuk melaksanakan
ibadah haji.

26.
Multazam, adalah dinding yang terletak diantara Hajar Aswad
dan pintu Kabah. Merupakan tempat yang sanqat dianjurkan untuk
berdoa (Insya Allah doa yang diminta akan dikabulkan oleh Allah SWT)
27.
Waktu wykuf di Arafah, adalah mulai tergelincir matahari
tanggal 9 dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah.
28.
Nafar Awal, Disebut Nafar Awal, jika jamaah meninggalkan Mina
pada tgl 12 Zulhijah. Disebuat Nafar Awal krn jamaah lebih dulu
meninggalkan Mina,utk kembali ke Mekah dan hanya melontar jumroh 3
hari.Total kerikil yang dilontar jamaah Nafal Awal adalah 49 butir. Nafar
Tsani, Disebut Nafar Tsani atau Nafar Akhir jika jamaah melontar jumroh
selama 4 hari (tgl : 10,11,12 dan 13 Zulhijah).Sehingga jumlah batu yang
dilontar 70 kerikil.Jamaah baru meninggalkan Mina tgl 13 Zulhijah.
29.
Qiran, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dan
Ibadah Umroh pada waktu bersamaan, tanpa diselingi Tahallul.
30.
Rukun Haji, Rukun Haji adalah kegiatan yang harus dilakukan
dalam Ibadah Haji.Jika tidak dikerjakan maka Hajinya tidak syah.
31.
Rukun Haji ada 6 yaitu Ihram (niat), wukuf di arafah, Thawaf
Ifadhah, SaI, Tahallul (bercukur) dan Tertib sesuai tuntunan manasik.
32.
Wajib Haji, ada 6 yaitu Ihram haji dari miqat, Mabit di Muzdalifah,
Mabit di Mina, Melontar Jumrah, Menghindari yang dilarang saat ihram
dan Thawaf wada saat hendak meninggalkan Makkah.
33.
Sai. Berjalan kaki atau lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Bukit
Marwah. Dengan total 7 kali.
34.
Sunat Haji, Merupakan Sunat (tidak wajib) pada Ibadah Haji.
Sunat Umrah, Merupakan sunat (tidak wajib) pada Ibadah Umrah.
35.
Tahallul, adalah mencukur seluruh rambut atau memotong
sedikit rambut. Dengan tahalul berarti sudah bebas dari laranganlarangan saat ihram ibadah Haji atau Umroh.
36.
Talang Emas, Merupakan Talang Emas (Mizhab) yang terdapat
pada Kabah. Posisi Talang Emas ini terletak di atas Hijir Ismail.

37.
Talbiyah, Bacaan Talbiyah : Labbaik Allahumma labbaik, labbaik
laa Syariika laka labbaik, innal hamda wan nimata laka wal mulk laa
syariika lak.
38.
Raudhah adalah suatu tempat didalam masjid Nabawi(letaknya
ditandai dengan tiang-tiang putih) yang letaknya berada diantara rumah
Aisyah (sekarang makam Nabi SAW)sampai mimbar. Rasul bersabda :
antara rumahku dengan mimbarku adalah raudhah taman diantara
taman-taman surga.
39.
Rukun Kabah, dari Hajar aswad yaitu rukun hajar aswad, rukun
Iraqi, rukun Syami kemudian rukun Yamani.
40.
Doa antara pilar hijau yaitu rabbigh-fir warham wafu wa
takarram wataja-waz amma talam innaka talamu ma-laa nalam innaka
antallahul aazzul-akram ya Allah ampunilah, sayangilah, maafkanlah,
bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang engkau ketahui dari
dosa kami, sesungguhnya Engkau Maha mengetahui apa-apa yang
kami tidak mengetahuinya, sesungguhnya Engkau Ya Allah Maha Tinggi
dan Maha Mulia.
41.
Hukum mabit di Mina, Iman Maliki, imam hambali dan imam
SyafiI berpendapat bahwa mabit dimina hukumnya wajib.
42.
Tempat mabit di Mina adalah seluruh wilayah Mina termasuk
haratullisan dan daerah yang termasuk dalam batas perluasan hukum
mabit (Mina Jadid)Fatwa ulama Muhammad bin Shalih al Atsimin dan
Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
43.
Hukum Shalat Arbain dan Pelaksanaannya, Selama di
Madinah jamaah haji melaksanakan shalat arbain yaitu 40 waktu shalat,
hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dari shahabat Anas bin Malik
mengenai shalat arbain sanadnya shahih : Barang sipa shalat di masjid
ku 40 shalat tanpa terputus maka dia ditetapkan terbebas dari neraka
dari adzab dan dari sifat kemunafikan. Maksud hadits ini
sebagai Targhib dorongan untuk memperbanyak ibadah di masjid
Nabawi.

PERINTAH HAJI DAN UMRAH DALAM AL-QURAN

Allah SWT berfirman :


Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam
Ibrahim, barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah
dia, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,
yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke
Baitullah, barangsiapa
mengingkari
(kewajiban
haji),
maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari
semesta alam. (QS. Ali Imran ayat 97). Perintah untuk melaksanakan
ibadah haji, bagi yang mampu terdapat pada Surat Ali Imran ayat
97tersebut.
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat
berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah
sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah Kami perintahkan
kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang
yang thawaf, yang itikaf, yang ruku dan yang sujud. (QS. Al Baqarah
ayat 125)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri
ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan
kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan
hari kemudian. Allah berfirman: Dan kepada orang yang kafirpun aku
beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa
neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. Al Baqarah ayat
126)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar
Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): Ya Tuhan Kami terimalah
daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah ayat 127)
Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh
kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang
tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara
dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (QS. Al Baqarah ayat 128)

(Sumber : https://muhamadfaqihhusni.wordpress.com/2014/02/05/kebija
kan-pemerintah-dan-wawasan-informasi-haji/ )

MATERI 2
Berdasarkan hadits-hadits serta data historis yang telah dibahas, kita
dapat merumuskan jawaban terhadap masalah pokok kita: di manakah
miqat makani jemaah haji Indonesia? Pertama, jika kita
berkesempatan
untuk
mampu berada di
Dzulhulaifah,
Juhfah,
Qarnulmanazil atau Yalamlam, tempat-tempat itulah miqat makani kita
sesuai dengan hadits. Kedua, jika kita tidak mampu datang ke salah
satu dari empat tempat tersebut (sebab paspor coklat jemaah haji
Indonesia hanya berlaku untuk Makkah-Madinah-Jeddah), tempat mana
saja boleh kita jadikan sebagai miqat makani, asalkan lokasinya di luar
Tanah Haram dan menyediakan fasilitas untuk persiapan berihram.

Bagi jemaah haji Gelombang Pertama yang ke Madinah dahulu sebelum


ke Makkah, miqat makani mereka sudah tentu Dzulhulaifah, tempat
miqat Rasulullah s.a.w. ketika beliau menunaikan haji. Nama
Dzulhulaifah
tidak
dipakai
lagi,
sebab
tempat
itu
kini
bernama Bir(Abyar) Ali, sebagaimana nama Sunda Kalapa dan Batavia
(Betawi) sekarang berubah menjadi Jakarta. Para jemaah haji mandi,
memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian ihram pada
pondokan masing-masing di Madinah. Kendaraan akan mampir di Bir

Ali (Dzulhulaifah) kira-kira setengah jam, agar jemaah haji menunaikan


shalat sunnah ihram. Di Bir Ali, ketika kendaraan mulai bergerak ke arah
Makkah, jemaah haji memulai umrah dengan mengucapkan Labbaik
Allahumma
`Umrah.
Bagi jemaah haji Gelombang Kedua yang langsung ke Makkah, miqat
makani mereka yang paling ideal sampai saat ini adalah Bandar Udara
Raja Abdul Aziz, yang populer dengan singkatan KAA Airport (King
Abdul Aziz Airport)

MATERI 3

Jemaah haji berhak memperoleh pembinaan, pelayanan


perlindungan dalam menjalankan ibadah haji, yang meliputi :

dan

a. Pembinaan manasik haji dan / atau materi lainnya, baik di tanah air, di
perjalanan maupun di Arab Saudi.
b. Pelayanan akomodasi, konsumsi, transportasi dan pelayanan
kesehatan yang memadai, baik di tanah air, selama di perjalanan
maupun di Arab Saudi.
c. Perlindungan sebagai Warga Negara Indonesia.
d. Penggunaan paspor haji dan dokumen lainnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan ibadah haji, dan
e. Pemberian kenyamanan transportasi dan pemondokan selama di
tanah air, di Arab Saudi dan saat kepulangan ke tanah air.
2. Kewajiban Pemerintah
Pemerintah berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan dan
perlindungan dengan menyediakan layanan administrasi, bimbingan
ibadah haji, akomodasi, transportasi, pelayanan kesehatan, keamanan
dan hal-hal lain yang diperlukan oleh jemaah haji.

C. Pengorganisasian
Penyelengaraan Ibadah Haji (PIH) meliputi unsur kebijakan,
pelaksanaan dan pengawasan. Kebijakan dan pelaksanaan dalam
penyelenggaraan ibadah haji merupakan tugas nasional dan menjadi
tanggung jawab pemerintah. Dan dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawab tersebut, menteri mengkoordinasikannya dan/atau
bekerja sama dengan masyarakat, departemen / instansi terkait, dan
pemerintah kerajaan Arab Saudi. Setelah itu, yang melaksanakan PIH
ini adalah pemerintah dengan masyarakat. Dalam rangka pelaksanaan
PIH ini pemerintah membentuk satuan kerja dibawah menteri yang
kemudian akan diawasi oleh KPIH.
Penyelenggaraan ibadah haji dikoordinasi oleh :
a. Menteri di tingkat pusat
b. Gubernur di tingkat provinsi
c. Bupati / wali kota di tingkat kabupaten / kota, dan
d. Kepala perwakilan Republik Indonesia untuk kerajaan Arab Saudi.
1. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji
Menteri membentuk Panitia Penyelenggara Ibadah Haji di tingkat pusat,
di daerah yang memiliki embarkasi, dan di Arab Saudi. Dalam rangka
penyelenggaraan Ibadah Haji, Menteri menunjuk petugas yang
menyertai Jemaah Haji, yang terdiri atas :
a) Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI)
b) Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TIPHI), dan
c) Tim Kesehatan Haji Indonesia.
Selain itu, Gubernur atau Bupati / Wali Kota juga berhak mengangkat
petugas yang menyertai jemaah haji, yang terdiri atas :
a) Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD), dan

b) Tim Kesehatan Haji Daerah (TKHD).


Adapun biaya operasional Panitia Penyelenggara Ibadah Haji dan
petugas operasional pusat dan daerah dibebankan pada APBN dan
APBD, bukan dari BPIH.
2. Komisi Pengawas Haji Indonesia
KPHI terdiri atas 9 (sembilan) orang anggota, yaitu unsur masyarakat 6
(enam) orang dan unsur pemerintah 3 (tiga) orang. 6 unsur masyarakat
ini terdiri atas unsur Majelis Ulama Indonesia, organisasi masyarakat
Islam, dan tokoh masyarakat Islam. Sedangkan unsur Pemerintah dapat
ditunjuk dari departemen / instansi yang berkaitan dengan
Penyelenggaraan Ibadah Haji.