Anda di halaman 1dari 30

SOFT SYSTEMS METHODOLOGY (SSM) DALAM SISTEM

PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN

MAKALAH

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Sistem Penunjang Pengambilan Keputusan
Program Magister Teknik Sipil

Oleh

Emmie Setyorini

NIM 21010114420046

Angelica Deasy K.

NIM 21010114420056

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahamat
dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul Soft
Systems Methodology (SSM) dalam Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan. Kami juga
menyampaikan rasa terima kasih kepada Ir. M. Agung Wibowo, MM, M.Sc, Ph.D. sebagai
dosen pengajar mata kuliah Sistem Penunjang Pengambilan Keputusan pada Program Studi
Manajemen Rekayasa Infrastruktur Magister Teknik Sipil, Universitas Diponegoro
Semarang, yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan mengenai sistem penunjang pengambilan keputusan, khususnya aplikasi Soft
Systems Methodology (SSM). Penulis menyadari bahwa dalam menyusun tugas makalah
ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan pendapat, saran dan kritik
yang membangun demi penulisan di masa yang akan datang.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan bermanfaat bagi siapapun yang
membacanya dan bagi penulis sendiri. Sebelumnya penulis juga mohon maaf apabila
terdapat kesalahan yang kurang berkenan.

Semarang,

Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii
DAFTAR TABEL..................................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................1
1.1.

Latar Belakang.........................................................................................................1

1.2.

Ruang Lingkup........................................................................................................2

1.3.

Tujuan dan Manfaat.................................................................................................2

BAB II OPERASI DAN PEMELIHARAAN TPA...............................................................3


2.1.

Sampah....................................................................................................................3

2.2.

Pengelolaan Sampah................................................................................................4

2.3.

Prasarana dan sarana di TPA...................................................................................6

2.4.

Operasi dan Pemeliharaan TPA...............................................................................7

2.5.

Kondisi Eksisting TPA di Indonesia......................................................................11

2.6.

Alternatif Solusi.....................................................................................................18

BAB III PENUTUP.............................................................................................................21


3.1.

Kesimpulan............................................................................................................21

3.2.

Rekomendasi.........................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................22

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1. Tempat Pemrosesan Akhir Sampah di Indonesia................................................11

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Diagram Alir Operasional TPA.....................................................................10


Gambar 2.2. Kondisi Penutupan Sampah dengan Tanah di 10 TPA Kota Metropolitan
Indonesia.......................................................................................................13
Gambar 2.3. Kondisi Penutupan Sampah dengan Tanah di 14 TPA Kota Besar Indonesia
......................................................................................................................13
Gambar 2.4. Timbunan Sampah di TPA Blondo Kabupaten Semarang (1)......................16
Gambar 2.5. Timbunan Sampah di TPA Blondo Kabupaten Semarang (2)......................16
Gambar 2.6. Kerusakan Bak Pengolah Air Lindi di TPA Blondo Kabupaten Semarang (1)
......................................................................................................................17
Gambar 2.7. Kerusakan Bak Pengolah Air Lindi di TPA Blondo Kabupaten Semarang (2)
......................................................................................................................17
Gambar 2.8. Operasional TPA Talangagung Kepanjen Malang........................................19
Gambar 2.9. Pengolahan Air Lindi TPA Talangagung Kepanjen Malang.........................19
Gambar 2.10. Zona Pasif TPA Talangagung Kepanjen Malang..........................................20

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Jumlah penduduk khususnya di wilayah perkotaan dari tahun ke tahun cenderung

semakin meningkat. Dampak yang timbul adalah sistem infrastruktur yang ada menjadi
tidak memadi karena penyediaannya tidak sebanding dengan laju pertumbuhan penduduk.
Hasilnya kota menjadi tempat yang tidak nyaman (Kodoatie, 2005). Sistem infrastruktur
perkotaan yang ada tersebut diantaranya adalah infrastruktur persampahan. Pertambahan
penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat menimbulkan bertambahnya volume,
jenis, dan karakteristik sampah yang semakin beragam. Peningkatan laju timbulan sampah
perkotaan di Indonesia mencapai 2 4 % per tahun (Kementerian Pekerjaan Umum, 2011).
Selama ini sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa
yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Masyarakat
dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu
sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah
(Kementerian Pekerjaan Umum, 2011). Akibatnya, dengan laju timbulan sampah yang
semakin meningkat, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) semakin cepat penuh dan kapasitas
penimbunan sampah semakin kecil. Disisi lain, pengadaan TPA sampah semakin sulit.
Selain biaya investasi yang mahal, tanah yang dapat dimanfaatkan sebagai TPA juga
semakin sulit diperoleh. Masyarakat cenderung menolak apabila tempat tinggalnya
berdekatan dengan lokasi TPA karena TPA berpotensi menimbulkan berbagai
permasalahan.
Selain untuk pengadaan/investasi TPA, anggaran pengelolaan sampah perkotaan
diperlukan untuk biaya pengumpulan dan pengangkutan sampah ke TPA (terutama BBM
dan tenaga kerja), biaya pengadaan/investasi dan biaya operasi serta pemeliharaan sarana
dan prasarana persampahan, seperti truck dan alat berat. Anggaran yang diperlukan dalam
pengelolaan sampah perkotaan tersebut cukup tinggi. Akan tetapi, pembiayaan yang cukup
tinggi ini tidak diimbangi penarikan retribusi pelayanan persampahan dari masyarakat yang
masih rendah, sehingga biaya pengelolaan sampah masih menjadi beban APBD.
Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum (2011), dana yang berasal dari penarikan
retribusi pelayanan persampahan secara nasional hanya mencapai 22 %, sehingga biaya
1

pengelolaan persampahan masih menjadi beban APBD. Di sisi lain, alokasi dana APBD
untuk sektor persampahan masih sangat kecil, yaitu dibawah 5 % dari total anggaran
APBD.
Minimnya pembiayaan berdampak pada kondisi sarana dan prasarana pengelolaan
sampah yang tidak optimal baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Salah satunya adalah
TPA, dimana kondisinya 99 % dari 492 TPA yang ada di Indonesia masih dioperasikan
secara open dumping (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2013). Fakta-fakta
tersebut menunjukan bahwa pengelolaan persampahan masih belum menjadi prioritas dan
belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah dan masyarakat. Dampak yang
timbul akibat kurangnya perhatian di sektor persampahan ini adalah buruknya kualitas
pengelolaan persampahan dan terjadinya pencemaran lingkungan.
1.2.

Ruang Lingkup
Materi yang dibahas dalam makalah ini adalah tentang aplikasi soft system

methodology (SSM) dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia.


1.3.

Tujuan dan Manfaat


Pembahasan makalah ini bertujuan untuk memahami (understanding) permasalahan

dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan melalui penggunaan soft system methodology
(SSM). Dengan penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan
pemahaman yang lebih tentang soft system methodology (SSM) dalam sistem penunjang
pengambilan keputusan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.

Sampah
Pertambahan penduduk yang demikian pesat di daerah perkotaan (urban) telah

mengakibatkan meningkatnya jumlah timbulan sampah. Sampah dalam sejumlah literatur


didefinisikan sebagai semua jenis limbah berbentuk padat yang berasal dari kegiatan
manusia dan hewan, dan dibuang karena tidak bermanfaat atau tidak diinginkan lagi
kehadirannya (Tchobanoglous et al., 1993). Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor
18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari
manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Sampah yang dikelola berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 terdiri
dari:
1. sampah rumah tangga, yaitu sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam
rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik.
2. sampah sejenis sampah rumah tangga, yaitu sampah yang berasal dari kawasan
komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau
3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

fasilitas lainnya.
sampah spesifik,
sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;
sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun;
sampah yang timbul akibat bencana;
puing bongkaran bangunan;
sampah yang secara teknologi belum dapat diolah; dan/atau
sampah yang timbul secara tidak periodik.

Sampah yang boleh masuk ke TPA adalah sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah
rumah tangga, dan residu non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Limbah cair yang
berasal dari kegiatan rumah tangga, limbah B3, dan limbah medis, dilarang diurug di TPA,
sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013.
2.2.

Pengelolaan Sampah
Selama ini sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa

yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Masyarakat
dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu
sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah.
3

Pengelolaan persampahan di negara industri sering didefinisikan sebagai kontrol


terhadap timbulan sampah, mulai dari pewadahan, pengumpulan, pemindahan,
pengangkutan, proses, dan pembuangan akhir sampah, dengan prinsip-prinsip terbaik
untuk kesehatan, ekonomi, keteknikan (engineering), konservasi, estetika, lingkungan, dan
juga terhadap sikap masyarakat (Tchobanoglous et al., 1993). Menurut Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2008 pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh,
dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan
pengurangan meliputi:
1. Pembatasan timbulan sampah.
2. Pendauran ulang sampah.
3. Pemanfaatan kembali sampah.
Sedangkan kegiatan penanganan meliputi:
1. Pemilahan, dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis,
jumlah, dan/atau sifat sampah;
2. Pengumpulan, dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber
sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pengolahan sampah 3R
skala kawasan (TPS 3R), atau tempat pengolahan sampah terpadu;
3. Pengangkutan, dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat
penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah 3R terpadu
menuju ke tempat pemrosesan akhir (TPA) atau tempat pengolahan sampah terpadu
(TPST);
4. Pengolahan, dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah;
5. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil
pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Pengelolaan persarnpahan mempunyai beberapa tujuan yang sangat mendasar yang
meliputi (BPPT, 2002):
1.
2.
3.
4.

Meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat.


Melindungi sumber daya alam (air).
Melindungi fasilitas sosial ekonomi.
Menunjang pembangunan sektor strategis.
Dalam pengelolaan sampah di Indonesia, ada beberapa prinsip yang harus

diperhatikan (Kementerian Pekerjaan Umum, 2013):


1. Paradigma lama penanganan sampah secara konvensional yang bertumpu pada proses
pengumpulan,

pengangkutan

dan

pembuangan

akhir

perlu

diubah

dengan

mengedepankan terlebih dahulu proses pengurangan dan pemanfaatan sampah.

2. Pengurangan dan pemanfaatan sampah secara signifikan dapat mengurangi kebutuhan


pengelolaan sehingga sebaiknya dilakukan di semua tahap yang memungkinkan baik
sejak di sumber, TPS, Instalasi Pengolahan, dan TPA. Dengan demikian diharapkan
3.

target pengurangan sampah sebesar 20% dapat terpenuhi.


Pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak di sumbernya akan memberikan dampak

4.

positif, dalam hal ini peran serta masyarakat sangat penting.


Komposisi sampah dengan kandungan organik tinggi (60-80%) merupakan potensi

5.

sumber bahan baku kompos yang dapat melibatkan peran serta masyarakat.
Daur ulang oleh sektor informal perlu diupayakan menjadi bagian dari sistem

6.

pengelolaan sampah perkotaan.


Tempat Pemrosesan Akhir merupakan

7.

Pemanfaatan TPA sebaiknya untuk jangka panjang (minimal 10 tahun).


Insinerator merupakan pilihan teknologi terakhir untuk pengolahan sampah kota,

tahap

terakhir

penanganan

sampah.

mengingat karakteristik sampah di Indonesia yang masih mengandung organik yang


cukup tinggi, biaya investasi dan operasi serta pemeliharaan yang mahal.
2.3. Tempat Pemrosesan Akhir Sampah
Tempat pemrosesan akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap
terakhir dan diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan
sekitarnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, TPA adalah tempat untuk
memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia
dan lingkungan.
Damanhuri dan Padmi (2010) menyatakan bahwa timbunan sampah dengan volume
yang besar di lokasi tempat pemrosesan akhir sampah berpotensi menimbulkan berbagai
permasalahan bagi kehidupan dan kesehatan lingkungan, seperti:
1. Masalah estetika (keindahan) dan kenyamanan yang merupakan gangguan bagi
pandangan mata. Adanya sampah yang berserakan dan kotor, atau adanya tumpukan
sampah yang terbengkelai adalah pemandangan yang tidak disukai oleh sebagaian
besar masyarakat.
2. Sampah yang terdiri atas berbagai bahan organik dan anorganik apabila telah
terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar, merupakan sarang atau tempat
berkumpulnya berbagai binatang yang dapat menjadi vektor penyakit, seperti lalat,
tikus, kecoa, kucing, anjing liar, dan sebagainya. Juga merupakan sumber dari
berbagai organisme patogen, sehingga akumulasi sampah merupakan sumber penyakit

yang akan membahayakan kesehatan masyarakat, terutama yang bertempat tinggal


dekat dengan lokasi pembuangan sampah.
3. Sampah yang berbentuk debu atau bahan membusuk dapat mencemari udara. Bau
yang timbul akibat adanya dekomposisi materi organik dan debu yang beterbangan
akan mengganggu saluran pernafasan, serta penyakit lainnya.
4. Timbulan lindi (leachate), sebagai efek dekomposisi biologis dari sampah memiliki
potensi yang besar dalam mencemari badan air sekelilingnya, terutama air tanah di
bawahnya. Pencemaran air tanah oleh lindi merupakan masalah terberat yang mungkin
dihadapi dalam pengelolaan sampah.
5. Sampah yang kering akan mudah beterbangan dan mudah terbakar. Misalnya
tumpukan sampah kertas kering akan mudah terbakar hanya karena puntung rokok
yang masih membara. Kondisi seperti ini akan menimbulkan bahaya kebakaran.
6. Sampah yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran-saluran air buangan dan
drainase. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan bahaya banjir akibat terhambatnya
pengaliran air buangan dan air hujan.
7. Proses dekomposisi sampah melepas gas metan (CH4) yang dapat meningkatkan emisi
gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global.
Penimbunan sampah dengan cara penimbunan terbuka (open dumping), yaitu proses
penimbunan sampah di TPA tanpa melalui proses pemadatan dan penutupan secara berkala,
sudah tidak boleh dilakukan karena dapat menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan
lingkungan. Penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir
(open dumping) dilarang dilakukan sesuai pasal 29, ayat (1), huruf f. Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2008. Apabila masih ada pemerintah daerah yang menggunakan sistem
pembuangan terbuka, maka pemerintah daerah harus menutup tempat pemrosesan akhir
sampah tersebut paling lama 5 (lima) tahun terhitung sejak berlakunya Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2008.
Metode dan teknik pemrosesan akhir sampah menurut Peraturan Pemerintah Nomor
81 Tahun 2012 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013 dilakukan
dengan menggunakan:
1. Metode lahan urug terkendali (controlled landfill)
Metode Lahan Urug Terkendali adalah metode pengurugan di areal pengurugan
sampah, dengan cara dipadatkan dan ditutup dengan tanah penutup sekurangkurangnya setiap tujuh hari. Metode ini merupakan metode yang bersifat antara,
sebelum mampu menerapkan metode lahan urug saniter.
2. Metode lahan urug saniter (sanitary landfill)
6

Metode Lahan Urug Saniter adalah metode pengurugan di areal pengurugan sampah
yang disiapkan dan dioperasikan secara sistematis, dengan penyebaran dan pemadatan
sampah pada area pengurugan serta penutupan sampah setiap hari.
3. Teknologi ramah lingkungan.
Pemrosesan akhir sampah tersebut dilakukan di TPA dengan melakukan kegiatan yang
meliputi kegiatan penimbunan/pemadatan, penutupan tanah, pengolahan lindi, dan
penanganan gas.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah merupakan daerah operasional aktivitas
persampahan yang memiliki potensi sangat tinggi untuk menimbulkan gangguan terhadap
lingkungan sekitarnya baik berupa pencemaran udara, air maupun tanah. Pengalaman
selama ini juga memberikan banyak contoh mengenai berbagai masalah sosial yang timbul
sebagai akibat kehadiran TPA pada lokasi yang tidak sesuai. Untuk itu, diperlukan tempat
pemrosesan akhir sampah di lokasi tepat dengan pengelolaan yang baik sehingga tidak
menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan.

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah Soft System
Methodology (SSM). Soft Systems Methodology adalah sebuah pendekatan holistik di
dalam melihat aspek-aspek riil dan konseptual di masyarakat. Soft Systems Methodology
melihat setiap yang terjadi sebagai Human Activity System, karena serangkaian aktivitas
manusia dapat disebut sebagai sebuah sistem, yaitu setiap aktivitas-aktivitas tersebut saling
berhubungan dan membentuk suatu ikatan (Patel, Nandish V., 1995). Menurut Checkland
and Scholes (1990), SSM seperti manajer dari berbagai jenis dan tingkatan yang membantu
dalam menangani pekerjaan. SSM digunakan untuk menganalisis kondisi yang rumit dan
didiskripsikan sebagai tujuh tahap proses analisis yang menggunakan konsep human
activity dalam memahami situasi di sekitarnya untuk menentukan aksi yang perlu diambil
dalam rangka mengembangkan situasi yang ada.

Gambar 3.1. Tujuh Tahap Soft Systems Methodology Checkland

Tujuh tahap Soft Systems Methodology menurut Peter Checkland yang ditampilkan
dalam Gambar 3.1. meliputi:
1. Entering the problem situation.
2. Expressing the problem situation.
Tahap pertama dan kedua bisa dilakukan secara bersamaan untuk menghasilkan rich
picture dari situasi yang dihadapi, biasanya temuan di lapangan menunjukkan problem
situations yang tidak terstruktur dan terstruktur karenanya hal ini kita ekspresikan
semuanya. Hal ini menunjukkan kondisi nyata dari situasi yang dihadapi.
3. Formulating root definitions of relevant systems
Bagian ketiga adalah merumuskan akar definisi (root definitions) permasalahan yang ada.
Tahap ini dikenal dengan naming, and selecting relevant systems dan bisa kita
formulasikan dengan CATWOE. Akronim CATWOE digunakan untuk merumuskan root
definition secara tepat dan relevan. CATWOE adalah singkatan dari: Costumer, Actor,
Transformation, Weltanshauung/Worldview, Owner dan Environmental constraint.
Walaupun akronim disini CATWOE bukan berarti di dalam mengontrol Root Definitions
dimulai dari Costumer, tetapi langkah pertama yang dilakukan adalah Transformasi,
Worldview, Owners, baru Costumer, Actor dan Environmental constraint. Digunakannya
Transformasi sebagai langkah awal merumuskan root definitions karena setiap yang terjadi
pasti menginginkan suatu perubahan atau transformasi, misalnya transformasi dari kurang
baik menjadi baik (Transformations), kenapa hal itu musti terjadi (Weltanschauung), siapa
yang menginginkan transformasi terjadi (Owners), siapa yang mendapat keuntungan atau
malah korban dari situasi tersebut (Custumers), dan siapa yang melakukan transformasi
(Actors), serta apa saja sumber daya yang mendukungnya (Environmental constraint).
4. Building Conceptual Models of Human Activity Systems.
Berdasarkan Root Definition di atas untuk setiap elemen yang didefinisikan, maka
kemudian membangun model konseptual yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang
ideal. Angka 7 dalam tujuh tahap SSM bukan merupakan harga mati untuk membangun
model konseptual di tahapan ini. Jika sekiranya permasalahan tidak terlalu kompleks, maka
kita bisa melakukan pentahapan dibawah angka 7, atau bisa juga lebih untuk permasalahan
yang relatif kompleks.
5. Comparing the models with the real world.
Model yang telah dibangun kemudian dibandingkan dengan kondisi riil yang dihadapi.

6. Defining changes that are desirable and feasible.


Transformasi pada tahap Root Definitions memberikan pengartian tentang perubahan yang
layak terjadi, karena itu perubahan yang layak terjadi dapat diimplementasikan pada
tahapan ke 6 dari Checkland ini. Terdapat dua hal yang boleh terjadi pada tahapan ke 6,
yaitu Systemically Desirable dan Cultural Feasible.
7.

Taking action to improve the real world situation.

Tahapan ke tujuh tentu tahapan akhir dari ketujuh tahapan Checkland. Di dalam bukunya
sendiri, Checkland tidak banyak membahas tahapan ini, karena inti dari tahapan ini adalah
aksi atau tindakan yang harus dilakukan.

10

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN

Tujuh tahap Soft Systems Methodology (SSM) yang digunakan untuk memahami
permasalahan dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan adalah sebagai berikut:
1. Entering The Problem Situation
2. Expressing The Problem Situation
Permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan sistem pengelolaan sampah perkotaan
dapat dilihat pada gambar 4.1. dan 4.2 berikut.

Gambar 4.1. Paradigma Lama Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan

11

MATAHARI
PEMANASAN
PERUBAHAN
GLOBAL IKLIM
EFEK RUMAH KACA
CO2
EMISI CH4
PENURUNAN ESTETIKA
DEBU
LINGKUNGAN BAU
HUJAN

PERMUKIMAN

VEKTOR PENYAKIT RESIKO


TPAKEBAKARAN
AIR LINDI
DEKOMPOSISI
BANJIR
BOD, COD
PENCEMARAN
TANAH
SAMPAH
AIR
LINDI
PENCEMARAN BADAN AIR
BOD,
CODTANAH
PENCEMARAN AIR
SUNGAI
PARTISSELAKU PENGELOLA
PEMDA
TPA
RET
MEMBUTUHKAN
SARANA & PRASARANA PERSAMPAHAN
IPASI
MEMBUTUHKAN
RIBU
BIAYA YANG CUKUP TINGGI
MASYA
BERDASARKAN
SI
PERATURAN/HUKUM
RAKAT
SAM
PAH
KEPE
DULI
AN
TER
HAD
AP
KESE
HATA
N
LING
KUN
GAN
Gambar 4.2. Rich Picture Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan

Kementerian Pekerjaan Umum (2013) menyatakan bahwa TPA-TPA yang ada di


seluruh Indonesia, 70% (tujuh puluh persen) diantaranya sudah didesain untuk
dioperasikan sebagai controlled landfill atau sanitary landfill. Akan tetapi pada praktiknya
sebagian

besar

TPA (99%)

masih

dioperasikan

dengan

menggunakan

sistem

pembuangan/penimbunan terbuka (open dumping). TPA yang sudah dioperasikan dengan

12

menerapkan sanitary landfill dan dijadikan percontohan masih sangat terbatas, antara lain
seperti TPA di Yogyakarta (Kartamantul), Denpasar (Sarbagita), dan Gorontalo.
Kondisi pengoperasian sebagian besar TPA di Indonesia yaitu pada sel sampah,
sampah tidak dipadatkan secara teratur, lapisan sampah jarang bahkan tidak ditutup secara
rutin dengan alasan sulit dan mahalnya tanah penutup. Selain itu, banyak TPA yang baru
dibangun atau direhabilitasi namun karena tidak dikelola dengan semestinya, fasilitas yang
sudah terbangun tersebut rusak kembali. Sementara pada operasional pengendalian air lindi
yang umumnya menggunakan sistem kolam stabilisasi, sering kali saluran tersumbat dan
terjadi kerusakan pada pipa koleksi sehingga menyebabkan air lindi tergenang di sekitar
TPA. Proses pengolahan juga belum memenuhi persyaratan, tidak ada operator yang
memonitor, membiarkan instalasi lindi jalan apa adanya tanpa kontrol, tidak ada
pengawasan terhadap kualitas effluent, kurang atau tidak ada perhatian dari pengelola TPA
karena kemungkinan dianggap mahal. Selain itu, ada landfill yang punya instalasi
pengolah lindi namun baru dijalankan bila ada kunjungan.
Pada sarana pengendalian gas landfill, masih banyak TPA di Indonesia yang tidak
memperhatikan masalah ini sehingga menciptakan resiko kebakaran yang cukup tinggi.
Umumnya pengendalian gas hanya dengan sistem venting untuk menurunkan resiko
kebakaran, hanya sedikit TPA yang sudah memanfaatkannya secara sederhana seperti yang
dilakukan oleh Kabupaten Malang dan Kota Kendari. Pengendalian gas dengan flaring dan
pemanfaatannya baru ada di beberapa kota melalui proyek Clean Development Mechanism
(CDM). TPA kota-kota tersebut adalah TPA Sumur Batu Kota Bekasi, TPST Sarbagita
Denpasar, TPA Sukowinatan Kota Palembang, TPA Tamangapa Kota Makassar, dan TPA
Bantar Gebang Kota Bekasi/DKI Jakarta (Kementerian PU, 2013).
Selain data dari Kementerian Pekerjaan Umum, kondisi TPA di Indonesia juga dapat
dilihat dari hasil studi Indonesia Solid Waste Association (InSWA) yang melakukan studi
dokumen Adipura tahun 2011 2012 terhadap 24 TPA di Indonesia dengan perincian, 10
TPA untuk kategori kota metropolitan dan 14 TPA untuk kategori kota besar. Kota
metropolitan adalah kota yang populasi penduduknya lebih dari 1.000.000 jiwa, sedangkan
kota besar adalah kota yang populasi penduduknya 500.001 - 1.000.000 jiwa. InSWA
mengkaji kondisi penutupan sampah dengan tanah di TPA masing-masing kota, yaitu
seberapa sering sampah ditutup dengan tanah (frekuensi penutupan sampah). Hasil studi
InSWA tersebut bisa dilihat pada gambar berikut (Gambar 2.2. dan Gambar 2.3.).

13

40%

10%
Dilakukan dua minggu sekali

Dilakukan sebulan hingga setahun sekali

Dilakukan seminggu sekali

50%
Sumber : InSWA, 2013

Gambar 2.1. Kondisi Penutupan Sampah dengan Tanah di 10 TPA Kota Metropolitan
Indonesia

7%

7%
14%

14%
Dilakukan lebih dari setahun atau tidak ada penutupan sama sekali

Dilakukan sebulan hingga setahun sekali

Dilakukan dua minggu sekali

Dilakukan seminggu sekali

Dilakukan setiap tiga hari sekali

57%

Sumber : InSWA, 2013

Gambar 2.2. Kondisi Penutupan Sampah dengan Tanah di 14 TPA Kota Besar Indonesia
Dari Gambar 2.2. dan Gambar 2.3. tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir di
seluruh kota metropolitan dan besar, operasional TPA tidak dilakukan sesuai dengan
14

metode pembuangan sampah yang benar. Penanganan sampah di TPA masih mengalami
minimnya penataan lahan, ketersediaan peralatan berat, dan biaya operasional untuk
mengakhiri sistem pembuangan terbuka. Menurut InSWA (2013), kendala utama mengapa
daerah belum mampu menerapkan sanitary landfill adalah karena mahalnya tanah penutup,
terutama bagi daerah yang tidak memiliki bukit atau gunung seperti di Kalimantan dan
Sumatera bagian Timur.
Kajian lain yang dapat menggambarkan tentang kondisi TPA di Indonesia adalah
Kajian Kebijakan Sanitary Landfill di Indonesia Tahun 2013 yang dilakukan oleh Asisten
Deputi Telematika dan Utilitas, Kedeputian Bidang Koordinasi Infrastruktur dan
Pengembangan Wilayah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik
Indonesia. Dalam kajian tersebut diperoleh data 99% TPA di Indonesia masih open
dumping. Baru 70% TPA yang didesain secara controlled landfill/sanitary landfill dari
492 TPA di seluruh Kab/Kota di Indonesia. Penyebab TPA belum dapat menerapkan
sistem sanitary landfill, digolongkan dalam 5 aspek, yaitu:
1. Aspek hukum/peraturan, penegakan hukum/peraturan masih lemah dan masih
diperlukan adanya peraturan pendukung.
2. Aspek kelembagaan, struktur organisasi kelembagaan belum jelas dan masih
rendahnya sumber daya manusia pengelola persampahan.
3. Aspek teknis dan operasional, lahan TPA sangat terbatas, timbulan sampah yang
semakin tinggi tidak diimbangi dengan kualitas pengelolaan sampah, belum adanya
standar operasional dan prosedur pengelolaan sampah, dan sulit serta mahalnya tanah
penutup TPA.
4. Aspek pembiayaan, alokasi anggaran bidang persampahan masih sangat kecil (< 5%),
retribusi sampah masih sangat rendah, dan masih sangat tergantung pada APBD.
5. Aspek peran serta masyarakat/swasta, kesadaran masyarakat dan investasi swasta
masih rendah.
Sedangkan rekomendasi yang dapat diterapkan guna mendukung percepatan
penerapan sanitary landfill, meliputi:
1. Aspek hukum/peraturan, penguatan penegakan hukum/peraturan dan membuat
peraturan pendukung yang dibutuhkan.
2. Aspek kelembagaan, membuat struktur organisasi kelembagaan yang jelas dan
peningkatan kualitas SDM pengelola persampahan.

15

3. Aspek teknis dan operasional, menutup TPA open dumping, penanganan sampah di
sumbernya, menggalakan 3R (Reduce, Reuse, and Recycle), membuat SOP dan
masterplan persampahan, mengupayakan penerapan alternatif penutup pengganti
tanah.
4. Aspek pembiayaan, menambah alokasi dana pengelolaan sampah, membuat kajian
sumber pembiayaan lain, dan membuat standar retribusi sampah.
5. Aspek peran serta masyarakat/swasta, mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dan
pemerintah memberi dukungan terhadap usaha pengolahan sampah.
Berdasarkan kajian tersebut dapat diketahui bahwa teknik dan operasional TPA
menjadi salah satu aspek yang menentukan kondisi TPA. Operasional dan pemeliharaan
TPA yang tidak dilakukan dengan semestinya, baik karena keterbatasan biaya maupun
sumber daya manusia pengelolanya, menyebabkan TPA tidak berfungsi sebagaimana
mestinya. Sampah yang seharusnya diproses dan diisolasi secara aman agar tidak
menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya dengan metode controlled
landfill/sanitary landfill, justru dibuang/ditimbun begitu saja secara terbuka (open
dumping).
Salah satu contoh TPA yang telah didesain sebagai TPA dengan metode controlled
landfill adalah TPA Blondo, Kabupaten Semarang. TPA Blondo pada awalnya didesain
untuk memroses sampah dengan metode controlled landfill, yang telah dilengkapi dengan
unit pengolah lindi, pipa gas, dan sumur pantau. Selain itu, TPA Blondo juga dilengkapi
dengan alat berat, berupa 1 unit excavator dan 1 unit track loader. Pada tahap operasional
pelaksanaan TPA, sampah tidak ditutup dengan tanah secara teratur sehingga terjadi
penumpukan sampah terbuka seperti terlihat dalam Gambar 2.4. dan 2.5. Pengelola TPA,
yaitu Dinas Pekerjaan Umum, tidak menutup sampah dengan tanah secara teratur
dikarenakan keterbatasan dana operasional dan pemeliharaan TPA yang dialokasikan
pemerintah daerah dan juga karena daya tampung zona aktif TPA yang sudah tidak mampu
lagi menampung sampah (overload).
Operasional dan pemeliharaan TPA yang tidak dilakukan dengan baik, selain
menyebabkan TPA menjadi lahan open dumping, juga telah menimbulkan dampak negatif
lainnya seperti: sampah longsor, kerusakan pipa-pipa saluran air lindi, bak-bak pengolah
air lindi tidak berfungsi optimal karena rusak dan lingkungan TPA menjadi kumuh.
Kerusakan bak pengolah air lindi dapat dilihat pada Gambar 2.6. dan 2.7. berikut ini.

16

Sumber: DPU Kabupaten Semarang, 2014

Gambar 2.3. Timbunan Sampah di TPA Blondo Kabupaten Semarang


7.1.

Alternatif Solusi
Berdasarkan data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan hasil beberapa kajian/studi

yang telah dilakukan di TPA-TPA yang ada di Indonesia, dapat diketahui bahwa sebagian
besar TPA yang ada di Indonesia masih dioperasikan menggunakan metode open dumping
dan belum mampu menerapkan metode operasional controlled/sanitary landfill. Sehingga
TPA yang ada belum bisa berfungsi optimal dalam mengisolasi sampah agar aman bagi
manusia dan lingkungan sekitar.
Persoalan atau kendala yang menyebabkan pemerintah daerah ataupun sektor swasta
sebagai pengelola belum dapat mengoperasikan TPA dengan sistem controlled/sanitary
landfill, terdiri dari berbagai aspek. Salah satunya adalah aspek teknis dan pembiayaan
operasional dan pemeliharaan TPA. Solusi yang direkomendasikan untuk dapat diterapkan
(implementable) dan diterima (acceptable) terutama bagi pengelola sampah guna
mendukung percepatan penerapan operasional dan pemeliharaan TPA yang baik adalah:
1. Menutup/merehabilitasi TPA open dumping,
2. Penanganan sampah pada sumbernya dan menggalakan 3R (Reduce, Reuse, and

Recycle) untuk mengurangi beban biaya operasional dan pemeliharaan,


3. Membuat SOP dan masterplan persampahan,

17

4. Mengupayakan penerapan alternatif penutup pengganti tanah, misalnya mengganti

media tanah ke material non tanah yang lebih murah dan lebih mudah diperoleh,
menggunakan plastik degradable (mudah terurai),
5. Menambah alokasi dana operasi dan pemeliharaan,
6. Membuat kajian sumber pembiayaan lain, dan
7. Membuat standar retribusi sampah.

Gambar 2.8. dan Gambar 2.9. adalah contoh TPA yang telah menerapkan operasional
dan pemeliharaan yang baik. Tempat pemrosesan akhir sampah tersebut adalah TPA
Talangagung Kepanjen Malang. Sampah dituang di zona aktif, diratakan, dipadatkan dan
ditutup tanah, sedangkan air lindi diproses lebih lanjut sehingga tidak mengganggu
lingkungan sekitar. Lingkungan TPA Talangagung sangat nyaman, asri dan hijau. Bekas
penimbunan sampah yang telah ditutup tanah akhir, yang disebut zona pasif dibuat menjadi
taman yang menambah keindahan TPA, seperti terlihat pada Gambar 2.10 berikut. TPA ini
menjadi tempat wisata edukasi, khususnya edukasi tentang pengelolaan sampah yang baik.

1. Formulating Root Definitions Of Relevant Systems


CATWOE

URAIAN

Customer

Masyarakat

Actor

Pemerintah dan masyarakat

Transformation

Perubahan pengelolaan sampah dari end of pipe menjadi waste


minimization (3R) dan open dumping landfill menjadi
sustainable sanitary landfill

Weltanschauung/
worldview

Pengurangan sampah yang dibuang ke TPA untuk mengurangi


emisi gas rumah kaca, pemanasan global, dan perubahan iklim

Owner

Pemerintah

Environment
constraint

Pembiayaan, kelembagaan, peraturan/hukum, teknik dan


teknologi, dan partisipasi masyarakat

2. Building Conceptual Models Of Relevant Systems

Pembatasan (reduce):

mengupayakan agar sampah yang dihasilkan sesedikit

mungkin.

18

Guna-ulang

memanfaatkan sampah tersebut secara langsung


Daur-ulang (recycle): residu atau sampah yang tersisa atau tidak dapat

(reuse):

bila

sampah

akhirnya

terbentuk,

maka

upayakan

dimanfaatkan secara langsung, kemudian diproses atau diolah untuk dapat

dimanfaatkan, baik sebagai bahan baku maupun sebagai sumber energi.


Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan

jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.


Pengolahan: dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah.
Pemrosesan akhir sampah: dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu
hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman, dilakukan antara
lain dengan sanitary/controlled landfill.

3R
GUNAKAN
KEMBALI
(REUSE)

PARADIGMA
BARU
KURANGI
(REDUCE)
SAMPAH

DAUR
ULANG
(RECYCLE)

SISA
PENGANGKUTAN
TPA TERPADU

19

Aspek Teknis
Operasional

Aspek
Peraturan

Aspek
Kelembagaan
Pengelolaan
Persampahan

Aspek Peran
Serta
Masyarakat

Aspek
Pembiayaan

3. Comparing The Models With The Real World


Penegakan aturan masih lemah (membuang sampah sembarangan masih dibiarkan

tanpa sanksi tegas, open dumping masih beroperasi tidak ada sanksi).
Sebagian besar pengelola sampah perkotaan masih berupa unit kerja bagian dari
dinas pekerjaan umum dengan otoritas terbatas dan belum ada pemisahan antara

regulator dan operator.


SDM pengelola sampah perkotaan masih terbatas, baik kuantitas maupun

kualitasnya.
Kesadaran, kepedulian dan partisipasi masyarakat masih kurang.
Pemrosesan akhir sampah 99 % dari 492 TPA yang ada di Indonesia masih
dioperasikan

dengan

menggunakan

sistem

open

dumping

(Kementerian

Koordinator Bidang Perekonomian, 2013).


Cakupan pelayanan pengelolaan sampah baru 56% (BPS, 2006)
Salah satu penyebab sebagian besar TPA masih dioperasikan secara open dumping
dan rendahnya cakupan pelayanan persampahan adalah faktor pembiayaan yang
sangat terbatas. Dana yang berasal dari penarikan retribusi pelayanan persampahan
masih sangat rendah, secara nasional hanya mencapai 22 %, sehingga biaya
pengelolaan persampahan masih menjadi beban APBD. Di sisi lain, alokasi dana

20

APBD untuk sektor persampahan masih sangat kecil, yaitu dibawah 5 % dari total

anggaran APBD (Kementerian Pekerjaan Umum, 2011).


Program pengurangan sampah melalui 3R (reduce, reuse, recycle) belum dapat
dilaksanakan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil kajian yang dilakukan
oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada tahun 2013, yaitu
pengurangan sampah baru mencapai 0,8 %.
4.

4. Defining Changes That Are Desirable And Feasible


penguatan penegakan hukum/peraturan dan membuat peraturan pendukung yang

dibutuhkan.
membuat struktur organisasi kelembagaan yang jelas (terdapat pemisahan antara

regulator dan operator) dan peningkatan kualitas SDM pengelola persampahan.


menutup TPA open dumping, penanganan sampah di sumbernya, menggalakan 3R

(Reduce, Reuse, and Recycle), membuat SOP dan masterplan persampahan.


meningkatkan alokasi dana untuk sektor persampahan.
mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dan pemerintah memberi dukungan

terhadap usaha pengolahan sampah.


Perubahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah:
o Melakukan pemilahan sampah di sumber.
o Melakukan pengolahan sampah dengan konsep 3R.
o Berkewajiban membayar retribusi sampah.
o Mematuhi aturan pembuangan sampah yang ditetapkan.
o Turut menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya.
o Berperan aktif dalam sosialisasi pengelolaan sampah lingkungan.

5. Taking Action To Improve The Real World Situation


Pemerintah mulai melaksanakan program-program untuk memperbaiki kinerja
pengelolaan persampahan perkotaan dengan melibatkan peran serta/partisipasi
masyarakat, seperti:
21

Program pengurangan timbulan sampah dengan 3R;


Program pembangunan dan rehabilitasi TPA untuk mewujudkan TPA yang

berwawasan lingkungan;
Pendirian dan pembinaan bank sampah di masyarakat sebagai sarana pengurangan
volume sampah dan sosialisasi serta edukasi masyarakat tentang pentingnya
kebersihan dan kesehatan lingkungan.

22

BAB V
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa tempat pemrosesan
akhir (TPA) sampah di Indonesia yang telah didesain menggunakan metode
controlled/sanitary landfill mencapai 70%, akan tetapi pada praktiknya kondisi 99%
TPA yang ada di Indonesia masih open dumping. TPA open dumping seharusnya sudah
ditutup atau direhabilitasi menjadi controlled/sanitary landfill sesuai amanat UndangUndang Nomor 18 Tahun 2008. Penerapan controlled/sanitary landfill di Indonesia masih
belum bisa sepenuhnya dilaksanakan karena terkendala berbagai masalah, salah satunya
keterbatasan pembiayaan dan teknik operasional & pemeliharaan TPA.
3.2. Rekomendasi
Solusi yang direkomendasikan untuk dapat diterapkan (implementable) dan diterima
(acceptable) terutama bagi pengelola sampah guna mendukung percepatan penerapan
operasional dan pemeliharaan TPA yang baik adalah:
1. Menutup/merehabilitasi TPA open dumping,
2. Penanganan sampah pada sumbernya dan menggalakan 3R (Reduce, Reuse, and

Recycle) untuk mengurangi beban biaya operasional dan pemeliharaan,


3. Membuat SOP dan masterplan persampahan,
4. Mengupayakan penerapan alternatif penutup pengganti tanah, misalnya mengganti
media tanah ke material non tanah yang lebih murah dan lebih mudah diperoleh,
menggunakan plastik degradable (mudah terurai),
5. Menambah alokasi dana operasi dan pemeliharaan,
6. Membuat kajian sumber pembiayaan lain, dan
7. Membuat standar retribusi sampah.

23

DAFTAR PUSTAKA

BPPT, 2002. Model Pengelolaan Persampahan Perkotaan. Deputi Pengkajian Kebijakan


Teknologi. Jakarta.
Damanhuri, E., 2004. Diktat Kuliah Pengelolaan Sampah TL-3150. Teknik Lingkungan
ITB, Edisi Semester I 2004/2005. Bandung.
Damanhuri, E., Padmi, T., 2010. Diktat Kuliah Pengelolaan Sampah TL-3104. Teknik
Lingkungan ITB, Edisi Semester I 2010/2011. Bandung.
InSWA, 2013. Empat Bulan Lagi Batas Akhir Penutupan TPA Open Dumping. Siaran Pers:
Diskusi Media, 11 Januari 2013. Indonesia Solid Waste Association. Jakarta.
www.inswa.or.id.
InSWA, 2013. Mei, TPA Open Dumping Harus Ditutup. Indonesia Solid Waste Newsletter,
Edisi 2, Maret 2013. Indonesia Solid Waste Association. Jakarta. www.inswa.or.id.
InSWA, 2013. Potret Nyata TPA di Indonesia. Indonesia Solid Waste Newsletter, Edisi 2,
Maret 2013. Indonesia Solid Waste Association. Jakarta. www.inswa.or.id.
InSWA, 2013. TPA Menurut Undang-Undang. Indonesia Solid Waste Newsletter, Edisi 2,
Maret 2013. Indonesia Solid Waste Association. Jakarta. www.inswa.or.id.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2013. Kajian Kebijakan Sanitary
Landfill di Indonesia Tahun 2013. Asisten Deputi Telematika dan Utilitas,
Kedeputian Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah. Jakarta.
Kementerian Pekerjaan Umum, 2011. Materi I Bidang Sampah, Diseminasi dan
Sosialisasi Keteknikan Bidang PLP. Direktorat Pengembangan Penyehatan
Lingkungan Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan
Umum. Jakarta.
Kementerian Pekerjaan Umum, 2013. Buku Informasi Statistik 2013. Pusat Pengolahan
Data, Sekretariat Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum. Jakarta.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2010 tentang
Pedoman Pengelolaan Sampah.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2006 tentang
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor: 03/PRT/M/2013 tentang
Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan dalam Penanganan Sampah
Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

24

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan


Sistem Penyediaan Air Minum.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan
Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Tchobanoglous, G., Theisen, H., Vigil, S., 1993. Integrated Solid Waste Management
Engineering Principles and Management Issues. McGraw-Hill, Inc. New York.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
--------------, 2012. TPA Talangagung. praswilkotpraswilkot.blogspot.com/2012/06/tpatalangagung.html.
--------------, 2012. TPA Talangagung sebagai Wisata Edukasi di Kepanjen, Kabupaten
Malang.
http://praswil13.wordpress.com/2012/06/14/tpa-talangagung-sebagaiwisata-edukasi-di-kepanjen-kabupaten-malang/

25