Anda di halaman 1dari 13

BAB I

DASAR TEORI
Oklusi berasal dari kata occlusion, yang terdiri dari dua
kata yakni oc yang berarti ke atas (up) dan clusion yang berarti
menutup

(closing).

Jadi

occlusion

adalah

closing

up

atau

menutup ke atas. Dengan demikian pengertian oklusi adalah


berkontaknya gigi geligi rahang atas dengan permukaan gigi
geligi rahang bawah pada saat kedua rahang tersebut menutup.
Pada tahun 1907, Angle menyimpulkan pandangannya bahwa
oklusi merupakan dasar pengetahuan ortodonti. Bentuk tonjol
gigi, mahkota, akar gigi, dan struktur jaringan pengikat gigi
disusun sedemikian rupa untuk tujuan utama yaitu oklusi. Angle
mendefinisikan oklusi sebagai hubungan normal dari dataran
miring permukaan oklusal gigi geligi atas bawah apabila rahang
atas dan rahang bawah menutup. Aspek yang pertama dalam
statis yang mengarah kepada bentuk, susunan dan artikulasi gigi
geligi pada dan diantara lengkung gigi, dan hubungan antara gigi
geligi dengan jaringan penyangga. Aspek yang kedua adalah
dinamis yang mengarah kepada fungsi sitem stomatognatik yang
terdiri dari gigi geligi, jaringan peyangga, sendi temporomandibul
dan sistem neuromuskulardan nutrisi.
KONSEP DASAR OKLUSI
1.1 Oklusi seimbang
Oklusi dikatakan baik dan benar apabila hubungan kontak antara geligi
pada rahang atas dan rahang bawah memberikan tekanan yang seimbang
pada kedua sisi rahang, baik dalam keadaan sentrik maupun eksentrik.
Oklusi normal jika susunan gigi di dalam lengkung gigi teratur dengan
baik: gigi dengan kontak proksimal: hubungan seimbang antara gigi dan
1

tulang rahang terhadap kranium dan muskular disekitarnya, kurva spee


normal ketika gigi berada dalam kontak oklusal, terdapat maksimal
interdigitas dan minimal overbite dan overjet, cusp mesio-bukal molar 1
maksila berada di groove mesio bukal molar 1 mandibula dan cusp distobukal molar 1 maksila berada di embrassure antara molar 1 dan 2
mandibula dan seluruh jaringan periodontal secara harmonis dengan
kepala dan wajah. Perubahan terhadap oklusi normal terjadi pada kondisi
kehilangan gigi, destruksi substansi gigi, migrasi gigi dan sebagai
akibatnya adalah maloklusi.
1.1.1

Oklusi morfologik
Oklusi dikatakan baik dan benar dinilai melalui hubungan natara
geligi pada rahang bawah dan rahang atas pada saat gigi tersebut
berkontak. Serta menitik beratkan pada morfologi gigi.

1.1.2

Oklusi dinamik
Efektifitas fungsional tak dapat ditentukan oleh hubungan
hirroglyphics (cusp, ridge, dan groove) saja tetapi ada keserasian
antara komponen yang berperan dalam proses terjadinya kontak
antara geligi tersebut. Komponen tersebut adalah gigi geligi dan
jaringan pendukungan; otot mastikasi, sistem neuro muskular, dan
sendi temporo mandibula.

1.2 Oklusi Gigi Geligi


Oklusi ideal dapat diperoleh apabila bentuk hirroglyphics (cusp, ridge,
dan groove) gigi geligi ideal, tetapi hal ini akan sulit dicapai sebab dalam
proses pemakainnya seringkali gigi geligi tersebut telah mengalami
berbagai perubahan. Berbagai macam perubahan yang dapat terjadi
adalah atrisi dan abrasi.
1.3 Oklusi sentrik
Posisi kontak maksimal dari gigi geligi waktu mandibula dalam keadaan
sentrik, yaitu kedua kondisi berada dalam posisi bilateral simetris di
dalam fossanya. Sentris atau tidaknya posisi mandibula ini sangat
ditentukan oleh panduan yang diberikan oleh kontak antara gigi pada saat

pertama berkontak. Keadaan ini akan berubah bila terdapat gigi supraposisi ataupun overhanging restoration
1.4 Oklusi statik
Oklusi statik yaitu hubungan cusp fungsional gigi geligi posterior
(premolar) berada pada posisi cusp to marginal dan cusp fungsional pada
posisi cusp to fossa. Sedangkan pada hubungan gigi anteror dapat
ditentukan jarak gigit (overjet) dan tinggi gigit (overbite) dalam satuan
milimeter
1.5 Oklusi dinamik
Oklusi dinamik timbul akibat gerakan mandibula ke lateral, ke depan
(anterior) dan ke belakang (posterior). Oklusi yang terjadi pada
pergerakan mandibula ini sering disebut dengan artikulasi. Kontak gigigeligi karena gerakan mandibula dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Intercuspal contact position (ICP), adalah kontak maksimal
antara gigi geligi dengan antagonisnya.
2. Retruded contact position (RCP), adalah kontak maksimal
antara gigi-geligi pada saat mandibula bergerik lebih ke
posterior dari ICP, Namun rahang bawah masih mampu
bergerak secara terbatas ke lateral.
3. Protrusif contact position (PCP), adalah kontak gigi-geligi pada
saat rahang bawah digerakkan ke anterior
4. Working side contact position (WSCP), adalah kontak gigigeligi pada saat rahang bawah digerakkan ke lateral.
Pola oklusi juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Bilateral balanced occlusion, bila gigi-geligi posterior pada sisi
kerja dan sisi keseimbangan ,keduanya dalam keadaan kontak
2. Unilateral balanced occlusion, bila gigi-geligi posterior pada
sisi kerja dan sisi keseimbangan tidak kontak
3. Mutually balanced occlusion, dijumpai kontak ringan/tidak
kontak pada gigi geligi anterior, sedang pada gigi posterior
tidak kontak.
1.6 Hubungan mandibula terhadap maksila

Relasi sentrik merupakan hubungan mandibula terhadap maksila, yang


menunjukkan posisi mandibula terletak 1-2 mm lebih ke belakang dari
oklusi sentris (mandibula terletak paling posterior dari maksila) atau
kondil terletak paling distal dari fossa glenoid, tetapi masih
dimungkinkan adanya gerakan dalam arah lateral
1.7 Jarak inter-oklusal
Jarak inter oklusal yaitu jarak antara oklusal premolar rahang atas dan
rahang bawah dalam keadaan istirahat, rileks dan posisi tegak lurus. Pada
keadaan ini otot otot pengunyahan dalam keadaan istirahat, hal ini
menunjukkan otot-otot kelompok elevator dan depresor tonus dan
kontraksinya dalam keadaan seimbang dan kondil dalam keadaan netral .

Gambar normal oklusi


BAB II
HASIL PERCOBAAN

1. Pemeriksaan Oklusi Sentrik

RELASI GIGI

NOMOR GIGI

Rahang Atas

27

26

Rahang Bawah

37

36

25
35,3
6

24
34,3
5

14
44,45

15
45,4
6

16

17

46

47

2. Pemeriksaan Relasi Sentrik


RELASI MANDIBULA TERHADAP
MAKSILA
OKLUSI SENTRIK
RELASI SENTRIK

Overjet (mm)
2
3

3. Pemeriksaan Physiological Rest Position


RELASI MANDIBULA TERHADAP
MAKSILA
Physiological Rest Position

Free way space (mm)


3

4. Pemeriksaan Oklusi Sentrik


RELASI GIGI ANTERIOR
OVERJET
OVER BITE
Cups to marginal ridge
Cups to fossa

14
44
14
44

15
45
15
45

16
46
16
46

Jarak (mm)
2
3
17 24
47 34
17 24
47 34

25
35
25
35

26
36
26
36

27
37
27
37

5. Pemeriksaan Oklusai Dinamik

Tipe Oklusi Dinamik pada orang coba:


V
Bilateral Balanced Occlusion
Unilateral Balanced Occlusion
Muttually Protected Occlusion
Tidak dapat didefinisikan
6. Pemeriksaan Oklusi Ideal
NO
1
2
3
4

INDIKATOR
Saat melakukan oklusi sentris, apakah hubungan
kedua rahang stabil
Saat melakukan oklusi sentrik, apakah mengalami
hambatan
Saat melakukan pergerakan relasi sentris ke oklusi
sentris, apakah mengalami hambatan
Saat melakukan pergerakan mandibula ke anterior,

Ya

Tidak

V
V
V
V
5

5
6
7

apakah mengalami hambatan


Apakah ada kontak prematur pada saat Intercuspal
Contact Position (ICP)
Apakah ada kontak prematus pada saat Retruded
Contact Position (RCP)
Apakah ada kontak prematur pada saat Protrusif
Contact Position (PCP)

V
V
V

Jika ada kontak prematur, catat pada tabel berikut:


NO
1

Relasi Gigi
ICP

RCP

PCP

Gigi yang mengalami kontak prematur


17
47
24
34

Kesimpulan: Oklusi Gigi normal

7. PEMERIKSAAN GERAKAN MANDIBULA


NO
1

KEGIATAN
Gerakan Mandibula MembukaMenutup mulut

Gerakan Mandibula Ke Arah


Antero-Posterior

Pemeriksaan Gerakan

HASIL PENGAMATAN
Tidak sakit, mandibula seperti
tertahan
Condyl sakit sebelah kanan pada saat
bergerak anterior
Tidak sakit
6

4
5

Mandibula Ke Arah Lateral


Koordinasi Gerakan Mandibula
Gerakan Mandibula:
a. Saat menunduk

Simetris
Tidak sakit

b. Saat menengadah

Tidak sakit

c. Saat tidur terlentang

Tidak sakit

d. Saat tidur miring ke


samping
e. Saat duduk istirahat

Tidak sakit
Tidak sakit

BAB III
PEMBAHASAN

PEMERIKSAAN OKLUSI STATIK

Merupakan hubungan gigi geligi rahang atas (RA) dan rahang bawah
(RB) dalam keadaan tertutup atau hubungan daerah kunyah gigi-gelig dalam
keadaan tidak berfungsi (statik). Sehingga pada orang coba didapatkan kontak
gigi gigi posterior cusp to marginal ridge dan cusp to fossa yang berbeda,
alasan perbedaan ini adalah karena perbedaan lengkung gigi antara kedua
orang coba.
Selain itu arah erupsi gigi geligi permanen orang coba yang berbeda
juga menyebabkan cusp to marginal dan cusp to fossa antara rahang atas dan
rahang bawah berbeda. Pada gigi posterior yang mengalami erupsi yang tidak
sempurna misalnya rotasi ataupun mengalami angulasi, hal ini mempengaruhi
oklusi statik pada orang tersebut dan dapat dikatakan terjadi maloklusi, dalam
penangananya kelainan erupsi gigi yang mempengaruhi oklusi gigi geligi ini
segera ditindak lanjuti dalam perawatan ortodontik agar orang tersebut mampu
melakukan oklusi sempurna dan melakukan fungsional sendi temporo
mandibula dengan sempurna.

PEMERIKSAAN OKLUSI SENTRIK


Oklusi sentrik adalah posisi kontak maksimal dari gigi geligi pada
waktu mandibula dalam keadaan sentrik, yaitu kedua kondisi berada dalam
posisi bilateral simetris di dalam fossanya. Pada pemeriksaan didapatkan tidak
semua gigi berkontak tepat dengan antagonisnya melainkan ia berkontak
dengan antagonis ggigi tetangga (contoh premolar 1 RA tidak berkontak
dengan premolar 1 RB, Melainkan premolar 1 RB berkontak dengan Caninus
RA) Hal ini disebabkan karna bentuk lengkung gigi, ukuran gigi serta kelainan
erupsi pada gigi tersebut.
PEMERIKSAAN OVERBITE DAN OVERJETT
Pada pemeriksaan overbite dan overjet pada orang coba membuktikan
bahwa pertumbuhan lengkung gigi seseorang sangatlah berbeda. Sesuai pada

teori bahwa pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi (tulang


mandibula) selalu melakukan remodeling sampai akhir usia, dan lengkung gigi
ini juga yang mempengaruhi erupsi gigi geligi seseorang. Pada orang coba
pertama ditemukan jarak oklusi diukur secara horisontal (overjet) yang cukup
kecil dan ditemukan overbite yang juga tidak terlalu besar, dalam pengukuran
ini kita juga dapat menentukan ukran overbite dan overjet yang seberapa jauh
untuk dilakukan perawatan gigi agar tidak terjadi maloklusi.
Pada dasarnya oklusi yang baik adalah Insisiv medial rahang atas
menutupi insisiv medial rahang bawah namun pada batas yang telah
ditentukan. Seseorang yang tidak memiliki ukuran overbite dan overjet dia
akan kesulitan dalam mengucapkan beberapa huruf ataupun kalimat karena
suara akan terpantul oleh gigi geligi yang menutup rapat saat oklusi.

PEMERIKSAAN OKLUSI IDEAL


Hubungan fungsional yang mencakup prinsip dan karakteristik ideal
yang harus dimiliki suatu keadaan oklusi. Atau keadaan beroklusinya setiap
gigi, kecuali insisivus sentral bawah dan molar tiga atas, beroklusi dengan dua
gigi di lengkung antagonisnya dan didasarkan pada bentuk gigi yang tidak
mengalami keausan. Pada orang coba dilakukan pengamatan yang
mendapatkan hasil bahwa kontak gigi geligi dengan antagonisnya sangat
normal bahkan pertuman antar gigi geligi posterior sanagt sempurna dimana
cusp to fossa yang mampu menutup sempurna sehingga memungkinkan
makanan terkunyah secara lembut, dan pada gigi geligi orang coba tidak
didapatkan atrisi, abrasi ataupun erosi sehingga tidak ada gigi geligi yang
tidak berkontak dengan gigi geligi antagonisnya secara abnormal.
PEMERIKSAAN RELASI SENTRIK
Relasi sentrik merupakan hubungan mandibula terhadap maksila. Yang
menunjukkan posisi mandibula terletak 1-2 mm lebih ke belakang dari oklusi

sentris dimana mandibula terletak paling posterior dari maksila atau kondil
terletak paling distal dari fossa glenoid, tetapi masih adanya gerakan ke arah
lateral.
Pada hasil pengamatan yang didapatkan yaitu jarak gigit pada relasi
sentrik didaptak jarak gigi yang sangat kecil sekali karena orang coba susah
untuk menggerakan mandibulanya kearah posterior, namun pada saat
digerakkan kearah posterior mandibula masih bisa digerakkan ke arah lateral
namun sangat sedikit sekali dan susah untuk menggerakkannya.

PEMERIKSAAN PSHYOLOGICAL REST POSITION


Physiological rest position merupakan kondisi dimana rahang atas dan
rahang bawah relaksasi sehingga tidak adanya kontak antara gigi geligi rahang
atas dan rahang bawah. Pada pemeriksaan ini bertujuan untuk menunjukkan
bahwa ketika otot-otot pengunyahan berelaksasi maka gigi geligi rahang atas
dan rahang bawah tidak berkontak sama sekali dan posisi kondilus pada
temporo mandibular joint juga pada posisi netral dan terletak tepaat pada fossa
glenoidanya.

PEMERIKSAAN OKLUSI DINAMIK


Pada hasil percobaan yang dilakukan didapatkan hasil yang berbeda
pada orangcoba pertama didapatkan oklusi dinamik berupa Bilateral Balanced
Occlusion yang mana pada gigi geligi posteriornya pada sisi kerja dan sisi
keseimbangannya, keduanya dalam keadaan kontak.

10

Kemudian pada orang coba kedua didapatkan mutually balanced


occlusion yang mana dijumpai kontak ringan pada gigi geligi anteriornya,
sedangkan pada gigi posterior tidak berkontak.
Perbedaan ini juga disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan
lengkung gigi yang berbeda serta erupsi gigi yang berbeda pula. Pada
pemeriksaan ini kita mampu mengetahui perbedaan tumbuh kembang
lengkung gigi serta erupsi gigi pada seseorang yang dapat menyebabkan
perbedaan profil wajah dan bahkan cara menguyah serta berbicara.

BAB IV
KESIMPULAN

11

Oklusi adalah perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada maksila


dan mandibula, yang terjadi selama pergerakan mandibula dan berakhir
dengan kontak penuh dari gigi geligi pada kedua rahang. Oklusi terjadi karena
adanya interaksi antara dental system, skeletal system dan muscular system
Oklusi pada masing-masing individu tidaklah sama. Faktor-faktor yang
1.
2.
3.
4.
5.
6.

mempengaruhi oklusi gigi manusia antara lain:


Variasi genetik
Perkembangan gigi-geligi secara acak
Adanya gigi-gigi supernumerary
Otot-otot dan jaringan sekitar rongga mulut
Kebiasaan
Trauma

DAFTAR PUSTAKA
Rostiana T.Penuntun Kuliah Ortodonsi I:Oklusi,Maloklusi, dan Etiologi
Maloklusi.Medan;Bagian ortodonsia FKG USU,1997
Novarida Z.Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada mahasiswa
Fakultas

Kedokteran

Gigi

Universitas

Sumatera

Utara

(Skripsi).Medan;Universitas Sumatera Utara:2007


Mokhtar M.Dasar pertumbuhan dan perkembangan.In:Mokhtar M.Dasardasar

ortodonti:Pertumbuhan

dan

perkembangan

Kraniodentofasial.Edisi Kedua.Medan : Bina Insani Pustaka.2002

12

Margo A,Krisnawati dan Ismaniati NA.Evaluasi lebar antar caninus dan


antar molar pada perawatan kasus maloklusi dengan pencabutan
premolar pertama.Majalah Kedokteran Gigi 2006

13