Anda di halaman 1dari 6

9

PERADABAN RENNAISANS DAN PEMIKIRAN POLITIK


MACHIAVELLI (1467-1527) (BAB 4)

Zaman Renaisans (abad XIV-XVI) adalah salah satu abad keemasan dalam
sejarah peredaban barat. Zaman ini merupakan fase transisi yang menjembatani
zaman kegelapan dengan zaman pencerahan. Zaman ini juga merupakan
kebangkitan kembali minat yang besar dan mendalam terhadap kekayaan warisan
Yunani dan Romawi kuno dalam berbagai aspek.
Zaman Renaisans dianggap sebagai starting point perkembangan
peradaban Eropa. Karena pada zaman ini tercapai prestasi gemilang dalam bidang
seni, filsafat, sains, politik, dll. Kemudian bangkitnya kembali minat terhadap
kekayaan warisan Yunani dan Romawi kuno serta bangkitnya humanism sekuler
yang menggeser orientasi berpikir teosentrik menjadi antroposentris.
Terjadinya pemberontakan terhadap gereja mengakibatkan kebebasan
intelektual dan agama membuat manusia lebih kreatif dalam bidang keilmuan,
filsafat dan seni, mengurangi keterikatan manusia dari belenggu sejarah dan
mitologi anti kemanusiaan abad pertengahan, serta memunculkan wawasan baru
dalam hubungan antara negara dengan agama dan moralitas.
Perkembangan kapitalisme dan merkantilisme dikawasan Italia dan
Mediterania merupakan unsur penting bagi perkembangan munculnya zaman
Renaisans. Perang Salib juga mempunyai andil cukup berarti dalam lahirnya
zaman ini. Tidak seperti pereng pada umumnya, Perang Salib memberikan
dampak positif terhadap peradaban dunia Barat. Kegemilangan peradaban Islam
menular terhadap bangsa-bangsa di Eropa .
Kelahiran zaman Renaisans juga dikondisikan oleh pertikaian antara
agama Kristen dan ilmu pengetahuan. Pelopor ilmu pengetahuan modern dan
cendikiawan melawan dogma-dogma gereja dengan penelitian empiris dan
metode

induktif

mengungkapkan

teori-teori

paradigmatik

yang

secara

fundamental bertentangan dengan pandangan kitab suci dan doktrin gereja. Gereja
menggunakan pengadilan inkuisisi untuk menghadapi para kaum cendikiawan dan

10

pelopor ilmu pengetahuan itu. Bukan dengan adu argumentasi melainkan caracara koersif, kekerasan, dan kekejaman. Namun akhirnya perjuangan mereka
berhasil dengan rasionalisme, empirisme ilmu dan humanism mengalahkan
dogma dan doktrin gereja.
Kemenangan ilmu pengetahuan membuat agama menjauh dari filsafat dan
ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini diwarisi terhadap cendikiwan-cendikiawan
yang muncul setelah zaman Renaisans. Salah satunya Charles Darwin dengan
Teori Evolusinya yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama dan doktrin
gereja.
Nurholis Madjid menulis bahwa pada abad yang sama dengan Renaisans
dalam dunia Islam terjadi pula perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Teori-teori pengetahuan empiris dan filsafat Ibnu Chaldun, Ibnu Sina dan Ibnu
Rusyd berkembang dan mengalami penolakan. Berbeda dengan dunia Barat,
Kekerasan penguasa terhadap kaum cendikiawan tetap ada namun dalam
intensitas relative kecil jika dibandingkan dengan kekerasan dan kekejaman
ikuisisi gereja terhadap kaum cendikiawan.
A. Renaisans Italia
Gerakan Renaisans Italia pada awalnya tumbuh di kota Florence dan
Milan. Rennaisans Italia inilah yang melahirkan Leonardo Da Vinci, Michael
Angelo, dan Niccolo Machiavelli. Menurut Bertrand Russel gerakan
Rennaisans bukan merupakan prestasi besar tetapi telah memberikan akar-akar
kebesaran abad XVII atau zaman pencerahan.
Menurut Russel Renaisans bukan merupakan gerekan popular, hanya
merupakan gerakan segelintir sarjana dan artis yang didukung kaum patrol
liberal. Menurutnya pula pada zaman ini terdapat kemerosotan moral, aturan
atau nilai yang tidak dihormati, penguasa negara kejam, Tidak ada rasa
percaya antara rekan sejawat. Dikalangan gereja uskup dan kepausan
melakukan korupsi yang akut dan tidak dihukum selayaknya. Masa Renaisans
Italia juga dihantui oleh adanya serangan dari pihak Turki Usmani (Ottoman
Empire). Russel pula berpendapat bahwa ada dampak positif lain dari zaman
ini di Italia yaitu sadarnya para ilmuwan dan sarjana akan pentingnya

11

memahami keanekaragaman pandangan. Zaman ini juga menyaksikan


lahirnya tradisi penulisan historiografi modern, ditemukannya mesin-mesin
cetak contohnya dapat mempercepat proses perkembangan berbagai disiplin
ilmu pengetahuan.
B. Kebangkitan Neo-Platonisme dan Kebangkitan Humanis Sekular
Menurut Caplestone, yang menarik pada Platonis zaman Renaisans adalah
gagasan keagamaan Plato dan Naturalisme Aristoteles. Ada kesan seolah-olah
kaum Platonis anti terhadap Aristoteles yang tidak dilawan. Mereka
menganggap bahwa dunia humanistic Renaisans akan lebih berguna secara
praktis bila ia mau menyerap doktrin tentang manusia sebagai mikrokosmos
dan manusia sebagai ontological bond antara material dan spiritual.
Ditinjau dari sejarah, gerakan Renaisans Italia merupakan suatu
pemutusan hubungan total dengan masa lampau dan titik kulminasi periode
sejarah yang mengakhiri abad pertengahan. Menurut Coates dan White,
Renaisans Italia adlah bagian dari suatu proses transformasi historis yang lebih
besar. Salah satunya adalah budaya Renaisans, dimana terdapat keyakinan
bahwa agama tidak memberikan cara pemecahan mendasar terhadap
pemecahan masalah-masalah manusia. Coates dan White juga berpendapat
bahwa pada abad XV muncul optimisme baru dan rasa cinta yang sangat
terhadap kehidupan. Mulai muncul agama jenis baru yang melihat agama
sebagai objek penghormatan, bahkan pengabdian. Manusia adalah mahluk
paling beruntung dan paling patut dikagumi karena ia diciptakan sesuai
dengan gambaran Tuhan. Tuhan memberikan posisi mulia pada manusia
melalui penghormatan-Nya terhadap Adam. Manusia bebas menciptakan
dirinya sesuai dengan kehendak hatinya. Ia bebas membentuk dirinya dengan
bentuk apapun yang dia mau.
C. Kebebasan Intelektual dan Agama
Abad Renaisans memunculkan toleransi agama, revolusi intelektual dan
kebebasan berpikir. Meskipun, kontrol terhadap kebebasan intelektual masih
tetap ada, contohnya sensor gereja terhadap publikasi buku-buku. Sebelum
dicetak buku harus melewati sensor dulu dari dewan resmi. Bahkan buku yang

12

sudah beredar pun dapat ditarik kembali dan dibakar di depan umum,
sedangkan bagi penerbit lisensinya akan dicabut dan penulis serta distributor
akan dipenjara bahkan diasingkan. Menariknya meskipun dilarang, buku-buku
tetap beredar dan dicetak secara sembunyi-sembunyi dan bahkan diedarkan
dan diperjual belikan sampai ke luar negeri seperti Inggris dan Belanda.
Kebebasan intelektual dan agama dipelopori oleh Voltaire, gagasannya
adalah bila manusia ingin bebas dari kurungan maka mereka harus melawan
segala bentuk dominasi serta pengaruh agama Kristen dan gereja. Voltaire
menyerang semua agama wahyu terutama Katolik, ia menilai bahwa Katolik
adalah bentuk terburuk dari semua agama wahyu. Agama menurutnya
hanyalah logika tanpa penalaran, trauma terhadap sikap gereja yang menindas
kaum inkar, murtad, kaum pemikir bebas serta perang-perang yang
ditimbulkan oleh agama di Eropa membuat agama di mata Voltaire sangat
menjijikan.
Meskipun demikian Voltaire bukanlah seorang Atheis, ia percaya bahwa
atheisme itu buruk dan bisa mendatangkan kekacauan moral serta kerusakan
tatanan sosial. Dia seorang deis, deis percaya kepada agama alam, dan percaya
kepada Tuhan hanya sebagai pencipta alam semesta. Voltaire mengatakan
Saya akan selalu yakin bahwa sebuah jam membuktikan keberadaan seorang
pembuat jam, dan alam semesta membuktikan keberadaan Tuhan.
D. Pemikiran Politik Machiavelli
Machiavelli adalah anak zaman Renaisans. Ia lahir tahun 1467 dan
dibesarkan di kota Florence Italia. Ayah Machiabelli, Bernardo Machiavelli
adalah seorang ahli hokum dan berasal dari keluarga bangsawan dan
pengagum sejarah masa-masa klasik Yunani dan Romawi. Machiavelli pada
umur 12 tahun, belajar ilmu-ilmu kemanusiaan di bawah asuhan Paulo
Ronsiglione. Pada umur 14 tahun Machiavelli mampu menulis karangan
dalam bahasa Latin dengan mengikuti metode humanis standar yakni meniru
gaya-gaya penulisan klasik. Ia belajar di Universitas Florence, ia mempelajari
kajian-kajian klasik dari Marcello Adriani. Kemudian pada usia 25 tahun dia
menyaksikan perjuangan Girolamo Savonarola, seorang politikus moralis

13

yang membela kaum miskin dan melawan kaum kaya. Dalam karir politiknya
Machiavelli pernah menjabat sebagai diplomat, karena kecerdasan dan
kepiawannya dalam berdiplomasi, ia dikirim ke berbagai negara tetangga
untuk

melaksanakan

tugas

diplomatik

yang

secara

tidak

langsung

memperkaya pengalaman kenegaraannya.


Terjadi peristiwa Vitelli pada saat usia Machiavelli 28 tahun. Vitelli adalah
nama pemimpin tentara bayaran yang disewa untuk menaklukan Pisa, namun
menghentikan aksinya karena orang-orang Pisa membayar lebih besar
daripada pemerintah Florence. Peristiwa ini membuka mata Machiavelli
bahwa Italia harus mempunyai angkatan perang sendiri yang tangguh dan
loyal dan berjuang mati-matian demi Italia, karena bagaimanapun tentara
bayaran tidak bisa dipenjara. Machiavelli pun menyadari bahwa manisfestasi
fisik kekuasaan politk negara tidak lain adalah kekuatan militer yang tangguh.
E. The Prince and The Discourses
Setelah diberhentikan dari jabatan politik oleh penguasa Lorenzo de
Medici, Machavelli memulai hidupnya sebagai seorang pemikir dan menarik
diri dari peraturan politik nasional Italia. Machiavelli mengekspresikan
pemikiran dan pengalaman politik dalam bentuk tulisan, ia juga dipengaruhi
oleh kondisi ekonomi dan politik serta situasi politik negaranya terutama
kemunculan gerakan-gerakan sentrifugal untuk membentuk negara bangsa.
Pada masa inilah lahir karya-karyanya seperti History of Flrence, Art of War
dan yang paling monumental adalah The Prince and The Discourses. Karya
Machiavelli itu membuatnya dikenal sebagai seorang ilmuwan politik
Renaisans. Ada yang beranggapan bahwa karya tersebut ditulis untuk menarik
perhatian penguasa Lorenzo de Medici. Ia ingin menunjukan bahwa dirinya
taat dan loyal kepada kekuasaan de Medici, bukan seorang pemberontak.
Ditegaskannya pula bahwa dirinya berharga , maka sebuah kerugian jika tidak
dimanfaatkan oleh penguasa.
Buku The Prince berisi 26 bab berisi pemikiran Machiavelli mengenai
berbagai persoalan macam kerajaan dan cara menggerakannya, sebab-sebab
kerajaan Darius yang ditaklukan tidak memberontak terhadap penggantinya

14

setelah kematiannya, perebutan wilayah baru dengan kekuatan senjata, dll.


Membaca buku ini saat ini menimbulkan kekaguman, karena teori-teori politik
kekuasaan yang diungkapkan Machiavelli dalam karyanya itu tetap relevan
dengan konteks politik kekuasaan yang dihadapinya saat ini.