Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KASUS LINGKUNGAN

TENTANG

TAMBANG DI PULAU TIMOR AKIBATKAN KERUSAKAN


LINGKUNGAN YANG PARAH

NONO HARSONO
20090610013

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2012

Tambang di Pulau Timor


Akibatkan Kerusakan
Lingkungan yang Parah
KUPANG, KOMPAS.com - Kerusakan lingkungan akibat penambangan mangan yang terjadi di
Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor, benar-benar sangat parah. Ini
dikarenakan tidak ada upaya reklamasi dari perusahaan pertambangan terkait maupun
pemerintah daerah di empat Kabupaten di Pulau Timor yakni Kabupaten Kupang, Timor Tengah
Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu.
"Tambang mangan mulai marak sejak tahun 2008 karena setelah dilakukan survei geologis
ternyata di pulau Timor ini penuh dengan mangan, sehingga pemerintah provinsi dan kabupaten
ramai-ramai menggelontorkan izin kepada perusahaan-perusahaan untuk melakukan tambang
secara besar-besaran. Yang kami lihat bahwa pertambangan mangan yang dilakukan di Timor
ternyata tidak punya satu kesiapan dalam kajian, terutama dalam penataan ruang wilayah
tambang," Kata Heribertus Naif, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
propinsi NTT, Sabtu (28/4/2012).
Lanjut Naif, pemerintah setempat hanya mengeluarkan izin tanpa melihat apakah daerah itu
layak atau tidak. Karena itu menurutnya sangat aneh gaya pertambangan di pulau Timor karena
bertabrakan dengan ruang hidup rakyat, yang mana di dalam areal pertambangan ada kebun
warga, kawasan peternakan dan air minum.
Tambahnya, sejak tahun 2008 sampai saat ini, sudah diciptakannnya ribuan lubang-lubang
dengan kedalaman di atas empat meter di wilayah Timor. Meskipun demikian, tidak ada upaya
untuk menutupi lubang-lubang tersebut.
"Siapa yang bertanggung jawab terhadap ribuan lubang tersebut? Apakah investor atau
pemerintah? Karena setahu saya sebelum perizinan itu dikeluarkan oleh pemerintah, ada satu

surat yang namanya uang jaminan reklamasi dari investor untuk menyiapkan uang jaminan
reklamasi. Tetapi pascatambang lubang tersebut tidak direklamasi sehingga muncul pertanyaan
lagi, kemanakah uang reklamasi itu?" ujar Naif.
Lanjut Naif, pemerintah harus serius menyikapi kerusakan lingkungan ini, karena Timor ini
tergolong pulau kecil yang sangat rentan terhadap industri esktraktif dengan menghitung kembali
berapa besar kawasan penyanggah dan berapa besar kawasan kelola rakyat.
"Kondisi tersebut kalau benar-benar memungkinkan memiliki iklim mikro yang baik untuk pulau
Timor atau tidak? Karena apabila pemerintah tidak mendata ini, maka Timor ini akan mengalami
iklim yang ekstrim, contohnya di tahun 2009-2011 lalu, hujan berlangsung sepanjang tahun,
karena itu kondisi seperti ini harus segera dipulihkan," kata Naif.
Untuk pulau Timor, kerusakan lingkungannya merata di empat kabupaten, tetapi yang paling
parah di dua kabupaten yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Belu. Pasalnya, di dua daerah
ini, sistem pertambangannya padat modal yang disponsori oleh pengusaha pengusaha besar,
sedangkan di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Utara hanya investor-investor kecil saja.

I.

PERMASALAHAN KASUS

Tambang mangan mulai marak sejak tahun 2008 karena setelah dilakukan survei
geologis ternyata di pulau Timor ini penuh dengan mangan, sehingga pemerintah
provinsi dan kabupaten ramai-ramai menggelontorkan izin kepada perusahaanperusahaan untuk melakukan tambang secara besar-besaran. Tetapi, pertambangan
mangan yang dilakukan di Timor ternyata tidak punya satu kesiapan dalam kajian,
terutama dalam penataan ruang wilayah tambang.
pemerintah setempat hanya mengeluarkan izin tanpa melihat apakah daerah itu
layak atau tidak. Karena itu sangat aneh gaya pertambangan di pulau Timor karena
bertabrakan dengan ruang hidup rakyat, yang mana di dalam areal pertambangan ada
kebun warga, kawasan peternakan dan air minum.
Sejak tahun 2008 sampai saat ini, sudah diciptakannnya ribuan lubang-lubang
dengan kedalaman di atas empat meter di wilayah Timor. Meskipun demikian, tidak
ada upaya untuk menutupi lubang-lubang tersebut. Sebelum perizinan itu dikeluarkan
oleh pemerintah, ada satu surat yang namanya uang jaminan reklamasi dari investor
untuk menyiapkan uang jaminan reklamasi. Tetapi pascatambang lubang tersebut
tidak direklamasi, sehingga muncul pertanyaan dimanakah uang reklamasi tersebut.
Kerusakan lingkungan akibat penambangan mangan yang terjadi di Propinsi Nusa
Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor, benar-benar sangat parah. Ini
dikarenakan tidak ada upaya reklamasi dari perusahaan pertambangan terkait maupun
pemerintah daerah di empat Kabupaten di Pulau Timor yakni Kabupaten Kupang,
Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu. Pemerintah harus serius
menyikapi kerusakan lingkungan ini, karena Timor ini tergolong pulau kecil yang
sangat rentan terhadap industri esktraktif dengan menghitung kembali berapa besar
kawasan penyanggah dan berapa besar kawasan kelola rakyat. Untuk pulau Timor,
kerusakan lingkungannya merata di empat kabupaten, tetapi yang paling parah di dua
kabupaten yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Belu. Pasalnya, di dua daerah
ini, sistem pertambangannya padat modal yang disponsori oleh pengusaha pengusaha
besar, sedangkan di Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Utara hanya investorinvestor kecil saja.
II.

LATAR BELAKANG

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan


alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan
sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang
memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak
langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika
kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak
ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis
tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya.
Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah,
dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar. Seringkali lingkungan yang
terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial
inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk
kepribadian seseorang.
Pengetahuan tentang hubungan antara jenis lingkungan sangat penting agar dapat
menanggulangi permasalahan lingkungan secara terpada dan tuntas. Dewasa ini
lingkungan hidup sedang menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia dan
masyarakat dunia umumnya.
Meningkatnya perhatian masyarakat mulai menyadari akibat-akibat yang
ditimbulkan dan kerusakan lingkungan hidup. Sebagai contoh apabila ada
penumpukan sampah dikota maka permasalahan ini diselesaikan dengan cara
mengangkut dan membuangnya ke lembah yang jauh dari pusat kota, maka hal ini
tidak memecahkan permasalahan melainkan menimbulkan permasalahan seperti
pencemaran air tanah, udara, bertambahnya jumlah lalat, tikus dan bau yang merusak,
pemandangan yang tidak mengenakan. Akibatnya menderita interaksi antara
lingkungan dan manusia yang akhirnya menderita kesehatan.
Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang
wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai akhir hidupnya. Hal ini
membutuhkan daya dukung lingkungan untuk kelangsungan hidupnya.
Masalah lingkungan hidup sebenatnya sudah ada sejak dahulu, masalah
lingkungan hidup bukanlah masalah yang hanya dimiliki atau dihadapi oleh negara-

negara maju ataupun negara-negara miskin, tapi masalah lingkungan hidup adalah
sudah merupakan masalah dunia dan masalah kita semua.
Keadaan ini ternyata menyebabkan kita betpikir bahwa pengetahuan tentang
hubungan antara jenis lingkungan ini sangat penting agar dapat menanggulangi
permasalahan lingkungan secara terpadu dan tuntas.
Masalah lingkungan hidup merupakan kenyataan yang harus dihadapi, kegiatan
pembangunan terutama di bidang industri yang banyak menimbulkan dampak negatif
merugikan masyarakat. Masalah lingkungan hidup adalah merupakan masalah yang
komplek dan harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan multidisipliner.
Industrialisasi merupakan conditio sine quanon keberhasilan pembangunan untuk
memacu laju pertumbuhan ekonomi, akan tetapi industrialisasi juga mengandung
resiko lingkungan. Oleh karena itu munculnya aktivitas industri disuatu kawasan
mengundang kritik dan sorotan masyarakat. Yang dipermasalahkan adalah dampak
negatif limbahnya yang diantisipasikan mengganggu kesehatan lingkungan.
Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan
menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam
Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda
Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya
gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias,
serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya,
merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk
muka bumi.
Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara
lain:
a. Letusan gunung berapi
b. Gempa
c. Angin topan
2. Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar


dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk
ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola
kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini.
Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan
pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan
yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan
lingkungan hidup.
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:
a. Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai
dampak adanya kawasan industri.
b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan
air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak
pengrusakan hutan.
c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.
Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung
membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:
a.Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).
b. Perburuan liar.
c. Merusak hutan bakau.
d. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.
e. Pembuangan sampah di sembarang tempat.
f. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).
g. Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.
III.

CARA PENYELESAIAN

Dari latar belakang permasalahan mengenai lingkungan tersebut, dapat kita


kaitkan dengan kasus pertambangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai
perusakan lingkungan yang diakibatkan karena ulah manusia.
Seharusnya pemerintah daerah NTT mengoptimalkan Perlindungan
pengelolaan

lingkungan

dan

hidup, sebagaimana yang dicantumkan dari Undang-

Undang Nomor 32 Tahun 2009. Yang dimaksud dengan perlindungan dan


pengelolaan lingkungan hidup menurut Undang-Undang tersebut adalah

upaya

sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan


hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup

yang meliputi

perencanaan,

pemanfaatan, pengendalian,

pemeliharaan,

pengawasan, dan penegakan hukum. Menurut Pasal 13 mengenai pengendalian, yang


merupakan pengendalian guna melindungi lingkungan hidup, antara lain:
a. Pencegahan
b. Penganggulangan
c. Pemulihan
Dalam Pasal yang sama juga dijelaskan kalau yang berwenang melakukan tindakantindakan untuk mengendalikan lingkungan adalah Pemerintah, pemerintah daerah,
dan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan,
peran, dan tanggung jawab masing-masing.
Dari Pasal 13 UU No.32 Tahun 2009 saja sudah menjelaskan bahwa pemerintah
NTT seyogyanya harus melindungi daerahnya supaya terjaga ekosistemnya. Untuk
melindungi ekosistem tersebut dalam Pasal inipun sudah dijelaskan kalau tidak hanya
pencegahan, namun berupa penanggulangan dan pemulihan. Jadi tidak ada kata
terlambat untuk memperbaiki ekosistem yang mungkin sudah terlanjur rusak akibat
penambangan yang secara legal mungkin dapat ijin tapi justru merusak keseimbangan
ekosistem tersebut. Pemerintah daerah tersebut juga wajib melakukan pemulihan
setelah apa yang telah disebabkan dari kerusakan lingkungan tersebut dengan cara,
antara lain yang tercantum dalam Pasal 54 ayat (2), antara lain melalui tahapan :
a. penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar;
b. remediasi;

c. rehabilitasi;
d. restorasi; dan/atau
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Setelah melakukan pemulihan daerah pertambangan yang sudah terlanjur rusak akibat
perizinan yang salah, maka upaya berikutnya adalah dengan diadakannya
pemeliharaan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 57 ayat (1) antara lain :
a. konservasi sumber daya alam;
b. pencadangan sumber daya alam; dan/atau
c. pelestarian fungsi atmosfer.
Terlepas dari tugas dan wewenang pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,
tetapi harus ada ke ikutsertaan peran masyarakat sebagaimana tercantum dalam Pasal
70 UU No.32 tahun 2009, antara lain :
a. Pengawasan social
b. Pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan
c. Penyampaian informasi dan/atau laporan.
Supaya pengendalian dan pengelolaan lingkungan lebih bisa diterapkan, maka dalam
pasal 76 menyebutkan bahwa ada sanksi administrasi yang akan dikenakan kepada
pihak yang menyalahi dan merusak lingkungan, antara lain :
a.
b.
c.
d.

IV.

Teguran tertulis
Paksaan pemerintah
Pembekuan izin lingkungan
Pencabutan izin lingkungan

SARAN DAN PENDAPAT


Masyarakat seharusnya menggugat perizinan yang telah ditetapkan oleh pemerintah
daerah sesuai dengan Pasal 93 mengenai gugatan administrasi ke pengadilan tata
usaha Negara. Karena selain dapat dibatalkan oleh PTUN, kepada pihak yang dirasa
merugikan juga akan dikenakan sanksi pidana sebagaimana yang ada dalam UU
No.32 Tahun 2009