Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PERAWATAN INFUS

Rawat Inap Anak


Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang

Disusun Oleh:

Nama :

Marina Lestari

NIM :

PO.71.20.1.13.081

Ketua Ruangan Instalasi Rawat Inap Anak : Mery Martuty S.Kep

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia


Politeknik Kesehatan Palembang
Jurusan Keperawatan
Tahun Akademik 2014 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita hanturkan Kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita
berbagai macam nikmat terutama nikmat sehat dan sempat sehingga alhamdulillah saya
dapat menyelesaikan makalah mengenai Perawatan Infus ini dapat diselesaikan dengan
apa adanya dan tepat pada waktunya. Apabila didalam
kekeliruan, oleh sebab itu saya

makalah ini masih terdapat

mengharapkan keritikan dan saran dari Bapak/Ibu

pembimbing dan Teman-Teman agar saya memiliki bahan untuk merefisi makalah ini.
Semoga makalah yang saya tulis ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi
teman-teman mahasiswa keperawatan dan semoga bisa menjadi bahan referensi untuk
pembelajaran kita bersama.

Palembang, Februari
2015

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....

DAFTAR ISI ...

BAB I PENDAHULUAN ...

A. Latar Belakang ..........................

B. Rumusan masalah ....

C. Tujuan Makalah ...

BAB II PEMBAHASAN ................

A. Pengertian Pemberian cairan parenteral ....................

B. Tujuan pemasangan infus .................

C. Prinsip pemasangan infus ....................................

D. komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus ................

E. Jenis Cairan Infus ...........................................

F. Pengertian Monitoring Infus Intrevena .................

10

G. Cara Mengatasi Macet pada Infus ..............

12

BAB III PENUTUP ...............................................

15

A. Kesimpulan ..................................................

15

B. Saran ...............................................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA .

16

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Pemasangan infus merupakan prosedur invasif dan merupakan tindakan yang

sering dilakukan di rumah sakit. Pemberian cairan parenteral merupakan tindakan


memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan
perangkat infus. Tindakan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit
serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian makanan. Infus merupakan tindakan
yang dilakukan pasien dengan cara memasukan cairan melalui intra vena dengan bantuan
infus set, dengan tujuan memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit, sebagai tindakan
pengobatan dan pemberian nutrisi parenteral. Namun, hal ini tinggi resiko terjadinya
infeksi yang akan menambah tingginya biaya perawatan dan waktu perawatan. Tindakan
pemasangan infus akan berkualitas apabila dalam pelaksanaannya selalu mengacu pada
standar yang telah ditetapkan, sehingga kejadian infeksi atau berbagai permasalahan akibat
pemasangan infus dapat dikurangi, bahkan tidak terjadi (Priharjo, 2008).
Pemasangan infus digunakan untuk mengobati berbagai kondisi penderita disemua
lingkungan perawatan di rumah sakit dan merupakan salah satu terapi utama. Sebanyak
60% pasien yang dilakukan rawat inap mendapatkan terapi cairan infus. Sistem terapi ini
memungkinkan terapi berefek langsung, lebihh cepat, lebih efektif, dapat dilakukan secara
kontinue dan penderita pun merasa lebih nyaman jika dibandingkan dengan cara lainnya.
Tetapi karena terapi ini diberikan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama
tentunya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi dari pemasangan infus,
salah satunya adalah flebitis (Hinlay, 2006).

B. Rumusan Masalah
Apa pegertian dari pemberian cairan parenteral ?
Apa Tujuan Pemasangan infus?
Bagaimana Prinsip pemasangan infus?
Bagaimana komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus?
Apa saja Jenis Cairan Infus?
Apa Pengertian Monitoring Infus Intrevena ?
Bagaimana Cara Mengatasi Macet pada Infus ?

C.

Tujuan Makalah
Makalah ini bertujuan agar pembaca dapat mengetahui informasi mengenai
perawatan infus. Sehingga dapat menambah wawasan yang lebih.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemberian cairan parenteral


Pemberian cairan parenteral merupakan tindakan memasukkan cairan melalui
intravena yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan
pengobatan dan pemberian makanan. Infus merupakan tindakan yang dilakukan pasien
dengan cara memasukan cairan melalui intra vena dengan bantuan infus set, dengan tujuan
memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit, sebagai tindakan pengobatan dan pemberian
nutrisi parenteral.
Pemberian cairan intravena adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh ke
dalam pembuluh vena untuk memperbaiki atau mencegah gangguan cairan dan elektrolit,
darah, maupun nutrisi (Perry & Potter, 2006). Pemberian cairan intravena disesuaikan
dengan kondisi kehilangan cairan pada klien, seberapa besar cairan tubuh yang hilang.
Pemberian cairan intravena merupakan salah satu tindakan invasif yang dilakukan oleh
perawat.
B. Tujuan pemasangan infus

Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang menganung air, elektrolit,


vitamin, protein lemak, dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat
melalui oral

Memperbaiki keseimbangan asam basa

Memperbaiki volume komponen-komponen darah

Memberikan jalan masuk untuk pemberian obat-obatan kedalam tubuh

Memonitor tekan Vena Central (CVP)

Memberikan nutrisi pada saat system pencernaan di istirahatkan.

Indikasi

Keadaan emergency (misal pada tindakan RJP), yang memungkinkan pemberian


obat langsung ke dalam Intra Vena

Untuk memberikan respon yang cepat terhadap pemberian obat .

Pasien yang mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus-menerus melalui
Intra vena

Pasien yang mendapatkan tranfusi darah

Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi


besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika
terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)

Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi
Kontraindikasi

C.

Daerah yang memiliki tanda-tanda infeksi, infiltrasi atau thrombosis


Daerah yang berwarna merah, kenyal, bengkak dan hangat saat disentuh
Vena di bawah infiltrasi vena sebelumnya atau di bawah area flebitis
Vena yang sklerotik atau bertrombus
Lengan dengan pirai arteriovena atau fistula
Lengan yang mengalami edema, infeksi, bekuan darah, atau kerusakan kulit
Lengan pada sisi yang mengalami mastektomi (aliran balik vena terganggu)
Lengan yang mengalami luka bakar (Asta Qauliyah,2006)

Prinsip pemasangan infus

Prinsip pemasangan infus pada pediatric (anak)

Karena vena klien sangat rapuh, hindari tempat-tempat yang mudah digerakkan
atau digeser dan gunakan alat pelindung sesuai kebutuhan (pasang spalk kalau
perlu)

Vena-vena kulit kepala sangat mudah pecah dan memerlukan perlindungan agar
tidak mudah mengalami infiltrasi (biasanya digunakan untuk neonatus dan bayi)

Selalu memilih tempat penusukan yang akan menimbulkan pembatasan yang


minimal

Prinsip pemasangan infuse pada lansia

Pada klien lansia, sedapat mungkin gunakan kateter/jarum dengan ukuran paling
kecil (24-26). Ukuran kecil mengurangi trauma pada vena dan memungkinkan
aliran darah lebih lancar sehingga hemodilusi cairan intravena atau obat-obatan
akan meningkat.

Kestabilan vena menjadi hilang dan vena akan bergeser dari jarum (jaringan
subkutan lansia hilang). Untuk menstabilkan vena, pasang traksi pada kulit di
bawah tempat insersi

Penggunaan sudut 5 15 saat memasukkan jarum akan sangat bermanfaat karena


vena lansia lebih superficial

Pada lansia yang memiliki kulit yang rapuh, cegah terjadinya perobekan kulit
dengan meminimalkan jumlah pemakaian plester.

D. komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus:

Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya


pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang

tepat saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada pembuluh darah.
Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh

darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.


Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus

yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.


Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat

masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.
Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus:
Rasa perih/sakit
Reaksi alergi

E. Jenis Cairan Infus:


1.Cairan hipotonik.
Adalah cairan infuse yang osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum
(konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan

menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar
ke jaringan sekitarnya sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada
keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam
terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan
ketoasidosis diabetik. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
2. Cairan Isotonik.
Adalah cairan infuse yang osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati
serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.
Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga
tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan),
khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan
Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
3. Cairan hipertonik.
Adalah cairan infus yang osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum,
sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.
Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema
(bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%,
NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk
darah (darah), dan albumin.
KA-EN 1B
Indikasi:

Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus

emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam)


Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya

300-500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak


Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam

KA-EN MG3
Indikasi :

Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit
dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan

asupan oral terbatas


Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam)
Mensuplai kalium 20 mEq/L
Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L

KA-EN 4B
Indikasi:

Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun
Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko

hipokalemia
Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik

Otsu-NS
Indikasi:

Untuk resusitasi
Kehilangan Na> Cl, misal diare
Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum,

insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)


Otsu-RL
Indikasi :
Resusitasi
Suplai ion bikarbonat
Asidosis metabolik
AMIPAREN
Indikasi:

Stres metabolik berat


Luka bakar
Infeksi berat
Kwasiokor
Pasca operasi
Total Parenteral Nutrition
Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit

AMINOVEL-600
Indikasi:

Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI


Penderita GI yang dipuasakan
Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)
Stres metabolik sedang
Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)

PAN-AMIN G
Indikasi:

Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan


Nutrisi dini pasca operasi
Tifoid

F. Pengertian Monitoring Infus Intrevena


Monitoring Infus intravena adalah pemantauan perawat untuk mencatat hasil dari
data pasien sebelum maupun setelah melakukan tindakan perawatan infus. pemantauan
berkadar tingkat tinggi dilakukan agar dapat membuat pengukuran melalui waktu yang
menunjukkan pergerakan ke arah tujuan atau menjauh dari itu. Monitoring akan
memberikan informasi tentang status dan kecenderungan bahwa pengukuran dan evaluasi
yang diselesaikan berulang dari waktu ke waktu, pemantauan umumnya dilakukan untuk
tujuan tertentu, untuk memeriksa terhadap proses berikut objek atau untuk mengevaluasi
kondisi atau kemajuan menuju tujuan hasil manajemen atas efek tindakan dari beberapa
jenis antara lain tindakan untuk mempertahankan manajemen yang sedang berjalan.

Pengaturan tetesan infus

Monitoring merupakan tangung jawab perawat dan meliputi laju arus infus sambil
memastikan kebetahan dan keselamatan pasien/klien. Laju arus infus ditetapkan menurut
perintah dokter, dokter mungkin telah menentukan jumlah infus dalam 8 atau 24 jam. Laju
infus dihitung berdasarkan jumlah tetes larutan per menit. Dibawah ini disertakan rumus
yang dapat digunakan untuk menentukan laju arus infus :
Jumlah tetes per menit =
Tetesan infus diatur sesuai pogram pengobatan, tidak boleh teralu cepat atau terlalu
lambat. Ada dua metode yang digunakan untuk menghitung jumlah tetesan, yakni :
Jumlah mililiter/jam.jumlah tetesan dihitung dengan mebandingkan voleme cairan yang
harus diberikan ( ml ) dengan lamanya pemberian ( jam ).
Contoh : 3000 ml cairan RL. Harus diberikan dalam 24 jam. Dengan demikian jumlah
tetesan =
= 125ml/jam
Tetesan/menit. Jumlah tetesan dihitung dengan mengalikan jumlah cairan yang
dibutuhkan (ml) dengan faktor tetes, kemudian membaginya dengan lama pemberian
(menit). Faktor tetes detentukan berdasarkan alat yang digunakan.
Rumusan pemberian cairan:
Contoh:seorang klien datang dengan keluhan mual dan muntah yang terus
menerus. dari pengkajian itu di temukan tanda-tanda dehidrasi sedang. Berdasarkan
pemeriksaan, klien harus mendapatkan terapi cairan intervena. Dokter menginstruksikan

pemberian 3 kolf RL dalam 24 jam.Dengan demikian jumlah tetesan infus/menit untuk


klien tersebut adalah :
Tetes/menit =
= 20,8 tetes/menit
= 21 tetes/ menit
Faktor tetes, atau jumlah tetes per milimeter, ditentukan oleh ukuran bukan pada
peralatan infus. Faktor tetes yang lebih banyak di pergunakan adalah 15 tetes/ml, 20
tetes/ml, 60 tetes/ml.

Pemeliharaan laju infus

o Banyak faktor yang mengubah laju arus infus intravena :


o Ketinggian letak botol larutan infus di banding posisi pasien

Tekanan darah pasien/klien, dan

Posisi pasien sendiri dapat mempengaruhi.


Perawat perlu terus menerus mengecek infus dalam selang waktu yan teratur.

Pemeliharaan laju infus penting karena implikasinya yang berkaitan dengan keseimbangan
cairan tubuh pasien. Arus infus yang terlalu lambat dapat menyebabkan terjadinya deficit
(kekurangan) karena masukan tidak dapat mengiimbangi pengeluaran, atau memperlambat
pemulihan keseimbangan.

Perawatan Selama Pemasagan Infus Intravena

o Perhatikan pasien selama perasat dijalankan


o kecepatan tetesan harus diobservasi dengan ketat untuk memastikan kecepatan jumlah
cairan yang diinfuskan. Tinggi kantong infus juga akan mempengaruhi tetesan karena
gravitasi meningkatkan kecepatan aliran.
o Daerah tusukkan infus harus dipantau untuk memastikan tidak adanya tanda-tanda
infeksi dan kanula harus tetap berada pada tempatnya dan tidak tersumbat
o Kanula harus dibilas secara teratur, setiap selesai pemberian obat IV.
o Bagi pasien yang masih kekurangan cairan maka diharuskan untuk menggantikan
cairan infus yang sudah kosong dengan cairan yang baru.
o Jika selang infus terjadi penyumbatan atau kerusakan maka harus segera diganti.
o Perhatikan keadaan penderita selama dipasang infus bila terjadi reaksi tersebut infus
o
o
o
o

dihentikan dahulu dan laporkan pada dokter


Jangan sampai ada udara masuk kedalam pembuluh udara
Bekerja selalu dan ingat dasar-dasar aseptik dan aterilitet
Catatlah macam cairan dan banyaknya tetesan permenit
Denyut nadi dan tensi darah harus dikontrol selama perasat dijalankan

G. Cara Mengatasi Macet pada Infus


Perlu diingat salah satu sifat air adalah Air mengalir pada tempat yang tinggi menuju
tempat yang lebih rendah. Jika kita berpegang pada prinsip ini maka kemacetan infus bisa
terhindari. Tetapi banyak faktor yang menyebabkan kemacetan pada infus.

Dibutuhkan perbedaan tekanan untuk membuat infus tetap mengalir.


Jika ada masalah yang muncul karena sebab ini yang harus kita obserfasi adalah:

1. Posisi tangan atau aliran terbawah memang harus jauh lebih rendah dari tempat
flabot infus yang digantung.
2. Observasi standart infus
3. Jika darah ikut mengalir itu sudah jelas kalau ada perbedaan tekanan yang sudah
tidak stabil. Kalau sudah begini coba tinggikan standart kembali, atur posisi tangan
agak lebih rendah lagi. Apa lagi dengan pasien yang memakai infus paralel.
4. Jika darah tidak ikut naik tetapi infus macet, ingat lagi prinsip tekanan. Lalu
observasi apakah pasiennya oedim (bengkak) atau tidak
5. Jenis cairan infus itu beragam. Antara jumlah(per cc) ataupun tingkat kepekatanya.
Semakin kecil cc cairan yang digantung jelas mengurangi massa tekanan. Semakin
pekat cairan akan lebih sulit untuk turun misalnya pemasangan tranfusi darah atau
albumin. Sehingga, Jangan lupa atur tetesan lebih cepat sedikit daripada cairan
biasanya (seperti RL atau NaCl).

Aliran terjadi bila tidak ada sumbatan. Jangan lupa perhatikan ini.

1. Perhatikan antara dari ujung flabot sampai lengan tertancapnya infus, pastikan
tidak ada sumbatan.
2. Sebelum infus set di tancapkan pada flabot, di infus set itu ada 2 lubang perhatikan,
lubang itu benar-benar lancar atau tersumbat.

3. Tinjau ulang ,Tidak ada salahnya kita liat posisi aboket pasien,bisa saja aboket
kelipat (nekuk), mentok pada percabangan vena. Kita bisa menarik posisi aboket
sedikit atau membenahi posisi lengan agar aboket tidak kelipat.
4. Jika ada bekas darah yang mengalir di selang infus, pasti lah ada sumbatan pada
selang. Jika parah ganti aja selangnya. Jika bisa keluarkan gumpalan darahnya.
Ingat, sekedar memanusiawikan manusia, kalo tidak emergency jangan di sepool
5. Jika selang tidak terjadi sumbatan, tetapi masih macet , Lihat aboketnya mungkin
sumbatan ada dalam aboket. Dengan cara Injeksikan cairan (misal pakai aqua
steril) bila aliran mengalir ke atas, pastilah aboket dan daerah bawah yang
tersumbat, kalau udah begini, bersihkan saja aboketnya. Kalau parah, terpaksa
ganti aboket.
6. Lihat lengan pasien, mungkin sumbatan ada pada lengan pasien (pada venanya).
Urut lengan pasien perlahan, senyaman mungkin. Observasi tingkat respon pasien
terhadap kesakitan. Diharapkan setelah di urut sumbatan bisa terpecah menjadi
molekul yang bisa ikut mengalir. Jika masih macet, Pastikan bengkak atau tidak.
Jika bengkak berarti cairan infus tidak masuk vena. Segera hentikan infus agar
tidak memperparah keadan pasien.
7. Evaluasi fiksasi atau penguncian infus, mungkin plester atau fiksasi lainya terlalu
kuat sehingga menekan aliran infus, kalau sudah begini, tinggal longgarkan saja
fiksasinya.

Mensiasati infus macet yang lainya adalah:

1. Segera ganti dengan cairan salin normal seperti Nacl sebelum dan setelah tranfusi
darah atau komponen darah yang lainya.
2. Oplos obat-obatan injeksi tingkat kepekatan tinggi dengn cairan salin normal atau
aquasterill.
3. Percepatlah aliran infus sesaat setelah melakukan injeksi intra vena untuk
mengurangi endapan-endapan obat-obat tersebut (karena beberapa obat tertentu
bersifat mengendap, atau mengkristal seperti jenis anti biotik dan obat-obatan
syaraf seperti piracetam).setelah itu atur kembali kesetabilan tetesan infus.

4. Jika infus macet, klem/ kunci aliran infus, putar-putar atau pilin-pilin selang infus,
pencet karetan penyambung infus, urut lengan pasien dengan lembut,bila terpasang
kolf darah tranfusi, jangan lupa goyang-goyangkan

kolf(mungkin saja

mengendap), lalu tekan pangkal kolf darah pastikan tidak ada sumbatan disitu,
setelah itu buka kunci infus lakukan los klem. Tujuanya agar tekakan aliran yang
dihasilkan lebih tinggi. Dengan harapan bila ada sumbatan atau lekukan dapat
teratasi dengan renjatan aliran tinggi tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Pemberian cairan intravena adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh ke


dalam pembuluh vena untuk memperbaiki atau mencegah gangguan cairan dan elektrolit,
darah, maupun nutrisi . Monitoring pemantauan perawat untuk mencatat hasil dari data
pasien sebelum maupun setelah melakukan tindakan perawatan. Jika infus macet bisa
diobservasi perbedaan tekanan untuk membuat infus tetap mengalir, Aliran terjadi bila
tidak ada sumbatan serta mensiasati dengan cara lain.

B. Saran
Semoga makalah ini biasa membantu mahasiswa serta pembaca

untuk

menambah pengetahuan mengenai pemberian cairan parenteral khususnya infus, merawat


infus serta memonitoring infus tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Arifianto.2006.Pemberian Cairan Infus Intravena (Intravenous Fluids).


Kusyati, Eni. dkk. 2006. Keterampilan dan Prosedur laboratorium. Jakarta. EGC.
http://www.sehatgroup.web.id/?p=20.admin..
Potter,

Patricia

A. Buku

ajar

Fundamental

Keperawatn

konsep,

proses,

dan praktik/praticia A. Potter, Anne Griffin Perry ; alih bahasa, Renata komalasari.
Penerbit Jakarta : EGC, 2005
Wahit Iqbal Mubarak. Buku ajar Kebutuhan Dasar Manusia : teori & aplikasi dalam
praktik. Penerbit, Jakarta : EGC
Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Saku Keterampilan Dan Prosedur Dasar. Edisi5. Jakarta:
EGC
Smith-Temple, jean, dkk.(2010). Buku saku prosedur klinis keperawatan edisi 5. Jakarta:
EGC.