Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Judul
Tinjauan Angkutan Sedimen Akibat Pemasangan CCSP Di Sekitar
Daerah Aliran Sungai Wonokromo Surabaya
B. Latar Belakang
Air adalah sumber daya alam yang sangat pokok untuk kehidupan
mahkluk di bumi khususnya manusia. Tanpa air makhluk hidup akan
mati dan tidak berdaya. Keberadaan air, dewasa ini telah semakin
menipis.
Beberapa daerah bahkan dianggap kekukarangan air
karena Meningkatnya pertambahan penduduk di kota Surabaya
setiap tahunnya terus meningkat. hal ini bisa dilihat dengan
bertambah padatnya pemukiman penduduk di wilayah kota
surabaya. Perluasaan fasilitas juga semakin di tingkatkan. hal ini
akan berimbas pada kondisi lingkungan Kota Surabaya. Perubahan
tata gunan lahan seiring berkembangnya perekonomian masyarakat
mempunyai andil besar dalam masalah lingkungan khususnya
sedimentasi pada sungai yang terus meningkat.
Semakin banyak bangunan yang di dirikan, maka semakin sempit
daerah resapan air. dengan semakin sempitnya daerah resapan air,
maka kelangsungan hidup masyarakatnya juga kan terganggu.
Hal ini yang melatarbelakngi penulisan proposal ini. penelitian ini
bertujuan agar dengan analisa data yang ada, dapat menemukan
solusi terbaik agar tingkat sedimen bisa menurun yang
berkeuntungan menambah daya tampung sungai Jagir Surabaya.
C. Rumusan Masalah
Identifikasi masalah yang muncul meliputi ;
1. Berapa m3 volume sungai yang hilang akibat pemasangan
CCSP pada Daerah Aliran Sungai Wonokromo ?
2. Apakah volume sungai setelah pemasangan CCSP dapat
memenuhi tampungan air berdasarkan debit hujan yang
sudah tercatat ?
3. Bagaimana pengaruhnya terhadap angkutan sedimen yang
terjadi pada Daerah Aliran Sungai Wonokromo ?
D. Batasan Masalah
Batasan masalah mengenai penelitan ini meliputi;
1. Lokasi studi di Daerah Aliran Sungai Wonokromo Surabaya.
2. Lokasi titik sampling dalam penelitian ini mulai dari mendekati
lokasi titik sampling dari Perum Jasa Tirta.

3. Meneliti dan membandingkan perubahan penampang


melintang sebelum dan sesudah pemasangan CCSP.
4. Menentukan volume aliran air sungai yang tersedia setelah
dipasangnya pengaman sungai di Daerah Aliran Sungai
Wonokromo.
5. Menentukan pengaruh pemasangan CCSP terhadap angkutan
sedimen yang terjadi pada Daerah Aliran Sungai Wonokromo.
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini meliputi ;
1. Mempelajari perubahan penampang melintang di Daerah
Aliran Sungai Wonokromo sebelum dan sesudah pemasangan
CCSP.
2. Mendapatkan volume aliran air sungai yan tersedia setelah
dipasangnya pengaman sungai di Daerah Aliran Sungai
Wonokromo.
3. Mendapatkan besaran sedimen yang dapat di tampung oleh
sungai Wonokromo.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat penelitian ini meliputi ;
1. Dapat mengetahui besarnya laju erosi yang terjadi pada aliran
sungai Jagir Surabaya
2. Dapat mengetahui besarnya angkutan sedimen yang terjadi
pada aliran sungai Jagir Surabaya
3. Dapat memberikan metode penanggulangan agar laju erosi
dan sedimentasi pada daerah aliran sungai Jagir Surabaya
dapat dikurangi akibat dari pengaruh tata guna lahan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

3.1 Landasan Teori


3.1.1 Sedimentologi
Sedimentologi adalah ilmu yang mempelajari sedimen atau endapan
(Wadell, 1932). Sedangkan sedimen atau endapan pada umumnya
diartikan sebagai hasil dari proses pelapukan terhadap suatu tubuh
batuan, yang kemudian mengalami erosi, tertansportasi oleh air,
angin, dll, dan pada akhirnya terendapkan atau tersedimentasikan.
Sedangkan sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material
yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu
cekungan. Sedangkan batuan sedimen adalah suatu batuan yang
terbentuk dari hasil proses sedimentasi, baik secara mekanik
maupun secara kimia dan organik.

3.1.1.1

Cairan

Ada 2 persamaan penting yang mempengaruhi aliran suatu cairan,


yakni: bilangan Reynold dan bilangan Froud. Rumus bilangan
Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:

dengan:

vs - kecepatan fluida,

L - panjang karakteristik,

- viskositas absolut fluida dinamis,

- viskositas kinematik fluida: = / ,

- kerapatan (densitas) fluida.

Apabila angka Reynold ini kecil akan terjadi aliran yang laminer,
dimana garis aliran sejajar dengan batas permukaan. Sebaliknya
bila angka Reynold besar aliran akan berubah menjadi turbulen.

Angka Reynold, pada aliran dalam tabung batas antara aliran


laminer dan turbulen ini adalah 2000. Sedangkan angka itu untuk
suatu
partikel
dalam
cairan
adalah
satu.
Angka Froud: pada hakekatnya perbandingan antara kekuatan
untuk menghentikan gerakan partikel dan gaya gravitasi

dimana:
V=kecepatan partikel

g=percepatan gravitasi

L=kedalaman channel

3.1.1.2
Hubungan Arus Searah dengan Silang Siur
Ada hubungan yang sangat signifikan antara mekanisme aliran
cairan dan struktur sedimen yang dibentuknya, terutama silang
siur (ripple). Dalam beberapa percobaan di dalam tabung aliran
searah (unidirectional flow) silang siur sudah mulai terbentuk pada
sedimen pasir setelah kecepatan kritis dilewatinya. Pasir yang
berukuran butir 0,25 0,7 mm dalam Gambar III.1 mulai
terbentuknya silang siur kemudian apabila kecepatan terus
bertambah akan berubah menjadi dune. Kalau kecepatan aliran
terus bertambah dune akan tererosi kembali dan berubah menjadi
mendatar dan selanjutnya berubah menjadi antidune.
Pengaruh hidrodinamika dapat membentuk dua jenis silang siur
dan dune yang berbeda. Pada kondisi hidrodinamika dimana mulai
terbentuk silang siur, kemudian dune sampai dengan sebagian dari
dune dirusak tererosi kembali disebut rejim alir bawah (lower flow
regim). Sedangkan mulai dari sini bila kecepatan aliran terus
bertambah disebut rejim alir atas (upper flow regim).

Flow regim
Lower flow regim (F<1):
Menghasilkan struktur sedimen
cross-lamination
cross-bed
Upper flow regim (F>1):
Akan menghasilkan silang siur, planar-antidune

Mekanisme Transportasi Sedimen


Ada dua kelompok cara mengangkut sedimen dari batuan induknya
ke tempat pengendapannya, yakni supensi (suspendedload) dan
bedload tranport. Di bawah ini diterangkan secara garis besar ke
duanya.
Suspensi
Dalam teori segala ukuran butir sedimen dapat dibawa dalam
suspensi, jika arus cukup kuat. Akan tetapi di alam, kenyataannya

hanya material halus saja yang dapat diangkut suspensi. Sifat


sedimen hasil pengendapan suspensi ini adalah mengandung
prosentase masa dasar yang tinggi sehingga butiran tampak
mengambang dalam masa dasar dan umumnya disertai
memilahan butir yang buruk. Cirilain dari jenis ini adalah butir
sedimen yang diangkut tidak pernah menyentuh dasar aliran.
Bedload transport
Berdasarkan tipe gerakan media pembawanya, sedimen dapat
dibagi menjadi:
endapan arus traksi
endapan arus pekat (density current) dan
endapan suspensi.
Arus traksi adalah arus suatu media yang membawa sedimen
didasarnya. Pada umumnya gravitasi lebih berpengaruh dari pada
yang lainya seperti angin atau pasang-surut air laut. Sedimen yang
dihasilkan oleh arus traksi ini umumnya berupa pasir yang
berstruktur silang siur, dengan sifat-sifat:
pemilahan baik
tidak mengandung masa dasar
ada perubahan besar butir mengecil ke atas (fining upward) atau ke
bawah (coarsening upward) tetapi bukan perlapisan bersusun
(graded bedding).
Di lain fihak, sistem arus pekat dihasilkan dari kombinasi antara
arus traksi dan suspensi. Sistem arus ini biasanya menghasilkan
suatu endapan campuran antara pasir, lanau, dan lempung dengan
jarang-jarang berstruktur silang-siur dan perlapisan bersusun. Arus
pekat (density) disebabkan karena perbedaan kepekatan (density)
media. Ini bisa disebabkan karena perlapisan panas, turbiditi dan
perbedaan kadar garam. Karena gravitasi, media yang lebih pekat
akan bergerak mengalir di bawah media yang lebih encer. Dalam
geologi, aliran arus pekat di dalam cairan dikenal dengan nama
turbiditi. Sedangkan arus yang sama di dalam udara dikenal
dengan nuees ardentes atau wedus gembel, suatu endapan gas
yang keluar dari gunungapi. Endapan dari suspensi pada umumnya
berbutir halus seperti lanau dan lempung yang dihembuskan angin
atau endapan lempung pelagik pada laut dalam. Selley (1988)
membuat hubungan antara proses sedimentasi dan jenis endapan
yang dihasilkan, sebagai berikut (Tabel IV.1).

Kenyataan di alam, transport dan pengendapan sedimen tidak


hanya dikuasai oleh mekanisme tertentu saja, misalnya arus traksi
saja atau arus pekat saja, tetapi lebih sering merupakan gabungan
berbagai mekanisme. Malahan dalam berbagai hal, merupakan
gabungan antara mekanik dan kimiawi. Beberapa sistem seperti itu
adalah:
sistem arus traksi dan suspensi
sistem arus turbit dan pekat
sistem suspensi dan kimiawi.
3.1.1.3 Mekanisme Gerakan Sedimen
Pada dasarnya butir-butir sedimen bergerak di dalam media
pembawa, baik berupa cairan maupun udara, dalam 3 cara yang
berbeda: menggelundung (rolling), menggeser (bouncing) dan
larutan (suspension) seperti Gambar III.2.

3.1.1.4
Gravity
Sedimen yang bergerak karena hanya pengaruh gaya gravitasi ini,
ada 3 macam sedimen :
Debris flows (umumnya mud flows)
Grain flows
Fluidized flows
Mud flows (interparticle interaction)
Ada 2 : di bawah air dan di darat
Ciri sedimen hasil mud flows:
dikuasai matrik (matrix-dominated sediment)
sortasi jelek
pejal (tak berlapis)
Grain flows (grain interaction)
Ciri sedimen hasil grain flows:
dikuasai kepingan (fragment dominated-sediment)
terpilah baik dan bebas lempung
Fluidized flows
Ciri sedimennya:
tebal, non-graded clean sand
batas atas dan bawahnya kabur
umumnya terdapat struktur piring (dish structures).
3.1.2 Sedimentasi
Sedimentasi adalah peristiwa pengendapan material batuan yang
telah diangkut oleh tenaga air atau angin tadi. Pada saat
pengikisan terjadi, air membawa batuan mengalir ke sungai,
danau, dan akhirnya sampai di laut. Pada saat kekuatan
pengangkutannya berkurang atau habis, batuan diendapkan di
daerah aliran air tadi. Karena itu pengendapan ini bisa terjadi di
sungai, danau, dan di laut.
Proses sedimentasi berlangsung perlahan dan terus menerus
selama suplai muatan sedimen yang banyak dari daratan masih
terus terjadi. Proses sedimentasi berhenti atau berubah menjadi

erosi bila suplai muatan sedimen berkurang karena pembangunan


dam atau pengalihan alur sungai.
Sedimen dapat diangkut dengan tiga cara:
Suspension: ini umumnya terjadi pada sedimen-sedimen yang
sangat kecil ukurannya (seperti lempung) sehingga mampu
diangkut oleh aliran air atau angin yang ada.
Bed load: ini terjadi pada sedimen yang relatif lebih besar (seperti
pasir, kerikil, kerakal, bongkah) sehingga gaya yang ada pada
aliran yang bergerak dapat berfungsi memindahkan pertikelpartikel yang besar di dasar. Pergerakan dari butiran pasir dimulai
pada saat kekuatan gaya aliran melebihi kekuatan inertia butiran
pasir tersebut pada saat diam. Gerakan-gerakan sedimen tersebut
bisa menggelundung, menggeser, atau bahkan bisa mendorong
sedimen yang satu dengan lainnya.
Saltation yang dalam bahasa latin artinya meloncat umumnya
terjadi pada sedimen berukuran pasir dimana aliran fluida yang
ada mampu menghisap dan mengangkut sedimen pasir sampai
akhirnya karena gaya grafitasi yang ada mampu mengembalikan
sedimen pasir tersebut ke dasar.

3.1.2.1 Jenis Jenis Sedimentasi


Jenis-jenis Sedimentasi adalah sebagai berikut :
Lithougenus Sedimen
Sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil erosi
daerah up land. Material ini dapat sampai ke dasar laut melalui
proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai dan atau
arus laut dan akan terendapkan jika energi tertrransforkan telah
melemah.
Biogeneuos Sedimen
Sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup
seperti cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan
organik yang mengalami dekomposisi.
Hidreogenous Sedimen
Sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di
dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut
dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut,
sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit,
phosphorit dan glaukonit
Cosmogerous Sedimen

Sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk ke


laut melalui jalur media udara atau angin. Sedimen jenis ini
dapat bersumber dari luar angkasa , aktifitas gunung api
atau berbagai partikel darat yang terbawa angin.
Berdasarkan
tempat dan tenaga yang mengendapkannya,
proses sedimentasi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
Sedimentasi fluvial

Sedimentasi fluvial adalah proses pengendapan materi yang


diangkut oleh air sungai dan diendapkan di sepanjang
sungai atau muara sungai. Bentang alam hasil sedimentasi
fluvial
antara
lain pulau
sungai dan
delta.
Pulau
sungai merupakan dataran yang terdapat ditengah-tengah
badan sungai. Sedangkan delta adalah bentuk hasil
endapan lumpur, tanah, pasir da dan batuan yang terdapat
di muara sungai. Pengendapan yang terjadi di sungai
disebut sedimen fluvial. Hasil pengendapan ini biasanya
berupa batu giling, batu geser, pasir, kerikil, dan lumpur
yang menutupi dasar sungai. Bahkan endapan sungai ini
sangat baik dimanfaatkan untuk bahan bangunan atau
pengaspalan jalan. Oleh karena itu tidak sedikit orang yang
bermata pencaharian mencari pasir, kerikil, atau batu hasil
endapan itu untuk dijual.
Sedimentasi aeris
Sedimen Aeolis atau Aeris, yaitu sedimen yang diendapkan
oleh tenaga angin. contohnya : tanah loss, sand dunes.

Sedimentasi pantai
Sedimen pantai
adalah material sedimen yang
diendapkan di pantai. Berdasarkan ukuran butirnya, sedimen
pantai dapat berkisar dari sedimen berukuran butir lempung

sampai gravel. Sedimentasi di suatu lingkungan pantai terjadi


karena terdapat suplai muatan sedimen yang tinggi di
lingkungan pantai tersebut. Suplai muatan sedimen yang sangat
tinggi yang menyebabkan sedimentasi itu hanya dapat berasal
dari daratan yang dibawa ke laut melalui aliran sungai.
Pembukaan lahan di daerah aliran sungai yang meningkatkan
erosi permukaan merupakan faktor utama yang meningkatkan
suplai muatan sedimen ke laut. Selain itu, sedimentasi dalam
skala yang lebih kecil dapat terjadi karena transportasi sedimen
sepanjang pantai.
Kemudian, berdasarkan pada tipe sedimennya, pantai dapat
diklasifikasikan menjadi:
1. Pantai gravel, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen
berukuran gravel (diameter butir > 2 mm).
2. Pantai pasir, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen
berukuran pasir (0,5 2 mm).
3. Pantai lumpur, bila pantai tersusun oleh endapan lumpur
(material berukuran lempung sampai lanau, diameter < 0,5
mm).
Klasifikasi
tipe-tipe
pantai
berdasarkan
pada
sedimen
penyusunnya itu juga mencerminkan tingkat energi (gelombang
dan atau arus) yang ada di lingkungan pantai tersebut. Pantai
gravel mencerminkan pantai dengan energi tinggi, sedang
pantai lumpur mencerminkan lingkungan berenergi rendah atau
sangat rendah. Pantai pasir menggambarkan kondisi energi
menengah. Di Pulau Jawa, pantai berenergi tinggi umumnya
diojumpai di kawasan pantai selatan yang menghadap ke
Samudera Hindia, sedang pantai bernergi rendah umumnya di
kawasan pantai utara yang menghadap ke Laut Jawa.
3.1.2.2 Bentuk Sedimen berdasarkan Tempat Terjadinya
Sedimentasi sungai
Pengendapan yang terjadi di sungai disebut sedimen fluvial.
Hasil pengendapan ini biasanya berupa batu giling, batu
geser, pasir, kerikil, dan lumpur yang menutupi dasar
sungai. Bahkan endapan sungai ini sangat baik
dimanfaatkan untuk bahan bangunan atau pengaspalan

jalan. Oleh karena itu tidak sedikit orang yang bermata


pencaharian mencari pasir, kerikil, atau batu hasil endapan
itu untuk dijual.
Sedimentasi Danau
Di danau juga bisa terjadi endapan batuan. Hasil endapan
ini biasanya dalam bentuk delta, lapisan batu kerikil, pasir,
dan lumpur. Proses pengendapan di danau ini disebut
sedimen limnis.
Sedimentasi Darat
guguk pasir di pantai berasal dari pasir yang terangkat ke
udara pada waktu ombak memecah di pantai landai, lalu
ditiup angin laut ke arah darat, sehingga membentuk
timbunan pasir yang tinggi. Contohnya, guguk pasir
sepanjang pantai Barat Belanda yang menjadi tanggul laut
negara itu. Di Indonesia guguk pasir yang menyerupai di
Belanda bisa ditemukan di pantai Parang Tritis Yogyakarta.
Sedimentasi Laut
Sungai yang mengalir dengan membawa berbagai jenis
batuan akhirnya bermuara di laut, sehingga di laut terjadi
proses pengendapan batuan yang paling besar. Hasil
pengendapan di laut ini disebut sedimen marin. Jenis
Sedimen Laut adalah :
Sedimen Terigen Pelagis
Hampir semua sedimen Terigen di lingkungan pelagis terdiri
atas materi-materi yang berukuran sangat kecil. Ada dua
cara materi tersebut sampai ke lingkungan pelagis. Pertama
dengan bantuan arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua
melalui gerakan es yaitu materi glasial yang dibawa oleh
bongkahan es ke laut lepas dan mencair.
Sedimen Biogenik Pelagis
Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen
biogenik terdiri atas berbagai struktur halus dan kompleks.
Kebanyakan sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan
zooplankton laut.

Sungai yang mengalir dengan membawa berbagai jenis


batuan akhirnya bermuara di laut, sehingga di laut terjadi
proses pengendapan batuan yang paling besar. Hasil
pengendapan di laut ini disebut sedimen marin.
Pengendapan di laut dapat menghasilkan:
1. Delta. Delta terjadi di muara sungai yang lautnya dangkal
dan sungainya membawa banyak bahan endapan. Bentuk
delta dapat dikelompokkan dalam 4 macam, yaitu:
- Delta lobben, bentuknya menyerupai kaki burung. Biasanya
tumbuh cepat besar, karena sungai membawa banyak
bahan endapan. Contohnya delta Missisippi.
G

Gambar 1. Delta Lobben


Delta
tumpul,
bentuknya
seperti
busur. Keadaannya cenderung tetap (tidak bertambah
besar), misalnya delta Tiger dan Nil.

Gambar 2. Delta tumpul


Delta runcing, bentuknya runcing ke atas menyerupai
kerucut. Delta ini makin lama makin sempit.

Gambar 3. Delta Runcing


Estuaria, yaitu bagian yang rendah dan luas dari mulut
sungai

Gambar 4. Estuaria
2. Endapan kapur, yang terdiri dari sisa binatang karang,
lokan, atau rangka ikan. Endapan kapur ini biasanya terjadi
di laut dangkal.
3. Endapan pasir silikon, dihasilkan dari bangkai plankton yang
berangka silikon. Endapan ini terjadi di dasar laut yang
dalam.
Batuan
endapan
yang
berasal
dari
hasil
penghancuran itu adakalanya mengalami penyatuan
kembali menjadi gumpalan besar karena terikat oleh zat
kapur atau oksida silikon. Jika yang diikatnya terdiri dari
kerikil runcing, tajam dan menghasilkan bongkahan, maka
pengendapan ini disebut breksi. Namun apabila bongkahan
itu terdiri dari batubatu bulat akan menghasilkan
konglomerat.
Sedimentasi atau pengendapan yang dilakukan
secara terus menerus dalam jangka waktu lama dapat
mengubah permukaan bumi menjadi dataran yang lebih
tinggi. Pengikisan oleh tenaga air atau mungkin angin di
daerah pegunungan mengakibatkan adanya pengendapan
di daerah yang agak rendah, sehingga lama kelamaan
berubah menjadi dataran tinggi. Misalnya Dataran Tinggi
Dieng, Dataran Tinggi Gayo.
Di daerah sekitar pantai yang lautnya dangkal
sedimentasi dapat menghasilkan dataran rendah. Sungai
yang secara terus menerus membawa bahan endapan akan
mengendap di laut sehingga menjadikan sebuah daratan.
Misalnya dataran rendah Pulau Jawa, atau pantai Timur
Sumatera merupakan daratan hasil sedimentasi.
Sedimentasi di perairan pesisir terjadi perlahan dan
berlangsung menerus selama suplai muatan sedimen yang
tinggi terus berlangsung. Perubahan laju sedimentasi dapat
terjadi bila terjadi perubahan kondisi lingkungan fisik di
daerah aliran sungai terkait. Pembukaan lahan yang
meningkatkan erosi permukaan dapat meningkatkan laju
sedimentasi.
Sebaliknya,
pembangunan
dam
atau

pengalihan
aliran
sungai
dapat
merubah
kondisi
sedimentasi menjadi kondisi erosional.
Bila sedimentasi semata-mata karena tranportasi
muatan sedimen sepanjang pantai, laju sedimentasi yang
terjadi relatif lebih lambat bila dibandingkan dengan
sedimentasi yang mendapat suplai muatan sedimen dari
daratan.
3.1.3 Transportasi Sedimen
3.1.4 Struktur Sedimen
Struktur sedimen merupakan pengertian yang sangat luas,
meliputi penampakan dari perlapisan normal termasuk
kenampakan kofigurasi perlapisan dan/atau juga modifikasi dari
perlapisan yang disebabkan proses baik selama pengendapan
berlangsung maupun setelah pengendapan berhenti. Oleh sebab
itu perlu kiranya dijelaskan dulu apakah sebenarnya yang
dimaksud dengan perlapisan (bedding) itu, sehingga selanjutnya
akan memperjelas batasan struktur sedimen.
Sebenarnya belum ada difinisi perlapisan yang memuaskan
semua fihak, walaupun sebenarnya istilah perlapisan sudah luas
sekali digunakan dalam pemerian runtunan sedimen. Difinisi
yang paling luas digunakan adalah yang diusulkan Otto (1938),
suatu perlapisan tunggal adalah satuan sedimentasi yang
diendapkan pada kondisi fisik yang tetap konstan.
3.2 Hipotesis
Alih fungsi Daerah Aliran Sungai Jagir Surabaya mempercepat
terjadinya sedimen.

BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis
penelitian survei untuk mengetahui data sedimentasi pada sungai
Wonokromo Surabaya.
3.2 Sumber Data dan Data Penelitian
3.3 Instrumen Pengumpulan Data
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pada tahap ini peneliti mengambil dan mengumpulkan data meliputi
data primer dan data sekunder.

3.5

Teknik Analisa Data

Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai Wonokromo yang


merupakan salah satu anak Sungai Brantas yang mengalir di
Kota Surabaya, berada di sepanjang Jl. Jagir Wonokromo.
Lokasi : pintu air Jagir pantai timur (Medokan Ayu)
Panjang Sungai : 5 KM
Dalam Kali Jagir, terdapat
berbagai macam sumberdaya,
diantaranya ikan air tawar, yang terkenal salah satunya ialah ikan
keting dan udang.

Analisa ini dilakukan untuk mengetahui besarnya debit aliran pada


aliran Sungai Jagir Surabaya.
3.5.1 Analisa Sedimen
Analisa sedimen ini dilakukan untuk mengetahui besarnya laju
angkutan sedimen yang terjadi di bagian hulu aliran Sungai Jagir.

3.5.2 Menentukan Tata Guna Lahan yang Sesuai


Hal ini dilakukan sebagai metode penanggulangan agar dapat
mengurangi sedimen pada aliran Sungai Jagir

DAFTAR PUSTAKA
http://exonn.blogspot.com/2009/11/penendapan.html
http://id.answers.yahoo.com/question/index?
qid=20100323002832AAc3hU8
http://earlfhamfa.wordpress.com/2009/04/26/batuan-sedimensedimentory-rocks/ http://id.wordpress.com/tag/sedimentasi/
http://jurnal-geologi.blogspot.com/2010/02/daftar-isi-sedimentologi.html