Anda di halaman 1dari 62

RINGKASAN ADPU4500

NAMA

:SAYUTI

NIM

: 014687105
SISTEMADEMINISTRASI NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BMP ADPU 4230 Edisi 1

1 Ademitarasi Negara sebagai Sistem


Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks
atau terorganisie, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau
bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan atau
keseluruhan yang kompleks atau utuh (Pamudji:1981).
Sistem adalah suatu jaringan dari prosedur-prosedur yang
berhubungan satu sama lain menurut skema atau pola yang bulat
untuk menggerakkan suatu fungsi yang utama dari suatu usaha
atau urusan (Prajudi:1973).
Administrasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan kelompok ti
bekerjasama mencapai tujuan bersama (Herbert A. Simon: 1959).
Administrasi negra dapat dirumuskan sebagai seluruh proses baik
yang dilakukan organisasi maupun perseorangan yang berkaitan
dengan penerapan atau pelaksanaan hukum dan peraturan yang
dikeluarkan oleh badan legislatif, eksekutif, serta peradilan.
2 Pengertian Negara
Negara adalah persekutuan dari keluarga dan desa guna
memperoleh hidup yang sebaik-baiknya (Aristoteles).
Negara adalah suatu persekutuan dari keluarga dengan segala
kepentingannya yang dipimpin oleh akal dari suatu kuasa yang
berdaulat (Jean Bodin).
Negara adalahorganisasi kewilayahan yang bergerak dibidang
kemasyarakatan dan kepentingan perseorangan dari segenap

kehidupan yang multidimensional untuk pengawasan


pemerintahan dengan legalitas kekuasaan tertinggi (Herman
Finer).
Pasal satu dari perjanjian tersebut berbunyi: Negara sebagai
pribadi hukum internasional harus memiliki kualifikasi sebagai
berikut:
1. Populasi permanen
2. Sebuah wilayah didefinisikan
3. Suatu pemerintah, dan
4. Kemampuan untuk masuk ke dalam hubungan dengan Negara
lain .
Syarat sebuah Negara adalah :
1. Memiliki wilayah yang pasti
2. Adanya pengakuan
3. Adanya pemerintahan dan,
4. Adanya rakyat.
3.Sistem Administrasi Negara Indonesia
Pentingnya studi administrasi Negara dikaitkan dengan kenyataan
bahwa kehidupan menjadi tak bermakna, kecuali dengan
kegiatan-kegiatan yang bersifat public. Segala hal yang
berkenaan dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang
bersifat public telah dicakup dalam pengertian administrasi
Negara, khususnya dalam mengkaji kebijaksanaan publik. Dalam
proses pembangunan sebagai konsekuensi dari pandangan bahwa
administrasi Negara merupakan motor penggerak pembangunan,
maka administrasi Negara membantu untuk meningkatkan
kemampuan administrasi. Artinya, di samping memberikan
ketrampilan dalam bidang prosedur, teknik, dan mekanik, studi
administrasi akan memberikan bekal ilmiah mengenai bagaimana

mengorganisasikan segala energi social dan melakukan evaluasi


terhadap kegiatan.
Dengan demikian, determinasi kebijaksanaan. publik, baik dalam
tahapan formulasi, implementasi, evaluasi, amupun terminasi,
selalu dikaitkan dengan aspek produktifitas, kepraktisan, kearifan,
ekonomi dan apresiasi terhadap system nilai yang berlaku.
Peranan administrasi Negara makin dibutuhkan dalam alam
globalisasi yang amat menekankan prinsip persainagn bebas.
Secara politis, peranan administrasi Negara adalah memelihara
stabilitas Negara, baik dalam pengertian keutuhan wilayah
maupun keutuhan politik. Secara ekonomi, peranan administrasi
Negara adalah menjamin adanya kemampuan ekonomi nasional
untuk menghadapi dan mengatasi persaingan global.
Administrasi Negara, dilihat dari segi Analisa Sistem :
Sistem adalah merupakan kebulatan dari bagian yang saling
bergantung.
Sistem terdiri dari gugus-gugus komponen yang bekerja
sama untuk kepentingan tujuan sebagai suatu keseluruhan
Sistem adalah kompleks unsur-unsur yang salingberinteraksi.
( Interaksi = bahwa di antara unsur-unsur tersebut saling
berhubungan )
Komponen-komponen (unsur) dlam Administrasi Negara dilihat
dari Analia Sistem :
1. Lingkungan
2. Input (dari lingkungan)
3. Konversi (pengubahan/proses pengubahan)
4. Output
5. Feed back

4. Lingkungan
Mencakup berbagai macam gejala (sosial, eonomi, politik,
budaya, hankam)
Gejala adalah masalah/bajan yang dapat digunakan oleh
pemerintah (Adm. Negara) di dalam membuat suatu
kebijaksanaan. Gejala tersebut mungkin dapat mempercepat
(membantu) atau menghambat (menghalangi) pemerintahan
(Adm Negara) di dalam membuat suatu keputusan.
Lingkungan terdiri dari :
1. Langganan ( Siapa saja yang mendapatkan pelayanan
barang dan jasa )
2. Pasar ( yang menentukan biaya dari barang dan jasa yang
akan dikomunikasikan )
3. Golongan kepentingan ( anggota masyarakat dan pejabat
pemerintah, baik yang mendukung maupun yang menolak
kebijakan pemerintah )
4. Badan badan lain yang menjadi konsumen daripada
kebijaksanaan

. 4 Kesimpulan
Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks
atau terorganisie, suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau
bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan atau
keseluruhan yang kompleks atau utuh (Pamudji:1981).
Administrasi dapat didefinisikan sebagai kegiatan kelompok ti
bekerjasama mencapai tujuan bersama (Herbert A. Simon: 1959).
Negara adalah suatu persekutuan dari keluarga dengan segala

kepentingannya yang dipimpin oleh akal dari suatu kuasa yang


berdaulat (Jean Bodin).
Administrasi negara adalah suatu studi mengenai bagaimana
bermacam-macam badan pemerintah diorganisir, diperlengkapi
dengan tenaga-tenaganya, dibiayai, digerakkan, dan dipimpin.

KEBIJAKAN PUBLIK
BMP ADPU4410 Edesi 1
1. Perumusan Kebijakan Publik
Anderson mengartikan kebijakan publik sebagai serangkaian
tindakan yang mempunyaitujuan tertentu yang diikuti dan
dilaksanakan oleh pelaku atau sekelompok pelaku
gunamemecahkan masalah tertentu. Lebih lanjut dikatakan
Anderson ada elemen-elemenpenting yang terkandung dalam
kebijakan publik antara lain mencakup:
1. Kebijakan selalu mempunyai tujuan atau berorientasi pada
tujuan tertentu.
2. Kebijakan berisi tindakan atau pola tindakan pejabat-pejabat
pemerintah.
3. Kebijakan adalah apa yang benar-benar dilakukan oleh
pemerintah, dan bukan apa
yang bermaksud akan dilakukan.
4. Kebijakan publik bersifat positif (merupakan tindakan
pemerintah mengenai suatu

masalah tertentu) dan bersifat negatif (keputusan pejabat


pemerintah untuk tidak
melakukan sesuatu).
5. Kebijakan publik (positif) selalu berdasarkan pada peraturan
perundangan tertentu yang bersifat memaksa (otoritatif).
Berdasarkan pengertian dan elemen yang terkandung dalam
kebijakan tersebut, maka
kebijakan publik dibuat adalah dalam kerangka untuk
memecahkan masalah dan untuk
mencapai tujuan serta sasaran tertentu yang diinginkan.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan juga bahwa
kebijakan publik adalah:
Kebijakan publik dibuat oleh pemerintah yang berupa tindakantindakan
pemerintah.
Kebijakan publik baik untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu itu
mempunyai tujuan tertentu.
Kebijakan publik ditujukan untuk kepentingan masyarakat.
Kebijakan publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi
orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar
yang dibuat oleh pemegang otoritas publik.Sebagai keputusan
yang mengikat publik maka kebijakan publik haruslah dibuat
olehotoritas politik, yakni mereka yang menerima mandat dari
publik atau orang banyak,umumnya melalui suatu proses

pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak.Selanjutnya,


kebijakan publik akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang
di jalankan oleh birokrasi pemerintah. Fokus utama kebijakan
publik dalam negara modern adalah pelayanan publik, yang
merupakan segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara
untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas kehidupan
orang banyak. Menyeimbangkan peran negara yang mempunyai
kewajiban menyediakan pelayan publik dengan hak
untuk menarik pajak dan retribusi; dan pada sisi lain
menyeimbangkan berbagai kelompok dalam masyarakat dengan
berbagai kepentingan serta mencapai amanat konstitusi.
Pengertian system
Para pakar yang disebutkan di atas pada dasarnya melihat
proses pembentukan kebijakan dalam perspektif sistem. Sistem
merujuk pada sejumlah karakteristik yang sama (common
characteristics). Merujuk pada teori sistem, karakteristik yang
sama itu adalah sebagai berikut:
1. Sistem memiliki struktur
2. Sistem merupakan jeneralisasi dari realitas
3. Sistem cenderung berfungsi dengan cara yang
sama . Sistem bekerja dengan melibatkan masukan dan
keluaran dengan mana berlangsung suatu proses aktifitas

dari sistem, yang kemudian menghasilkan perubahanperubahan


4. Ragam bagian dari suatu sistem memiliki fungsi-fungsi
tertentu, dan demikian pula halnya dengan adanya
hubungan-hubungan struktural, yang juga terbentuk dalam
hubungan fungsional tertentu
5. Karena adanya hubungan fungsional antar bagian-bagian
dari sistem, maka berlangsunglah aliran atau transfer atas
substansi tertentu
6. Sistem juga mempertukarkan enerji atau substansi tertentu
dengan sistem yang lebih besar
7. Adanya hubungan fungsional adalah karena adanya
kekuatan pengendali
8. Bagian-bagian akan mengarah pada taraf integrasi, dalam
arti bagian-bagian bekerja dalam situasi kebersamaan
1 Siklus kebijakan
Ada banyak keuntungan yang dapat diambil dari adanya siklus
kebijakan iniyaitu.
Siklus kebijakan menegaskan bahwa pemerintah itu
merupakan proses yang melibatkan banyak institusi dan bukan
sekedar institusi yang berdiri independen tampa korelasi dengan
pihak lain (Bridgmen & Davis 2000,hlm 24.)

Siklus untuk kebijakan merupakan suatu model yang dapat


digunakan untuk membantu mempermudah kompleksitas
kebijakan publik .Dengan modal ini akan semakin memungkinkan
para pengambil kebijakan dan masyarakat banyak memberikan
focus pada tahapan-tahapan yang dipandang perlu disamping
mengatur berbagai aspek yang diperlukan dalam setiap tahapan
siklus tersebut.
Siklus kebijakan memberikan kesempatan yang bagus untuk
secara sistimatis dan analitis melakukan kajian-kajian kebijakan
publik yang relevan dengan area yang akan
dibahas sehingga memberikan banyak kesempatan untuk belajar
dari berbagai pengalaman kebijakan yang sudah ada selama ini
termasuk plus minusnya.
Siklus kebijakan membantu membuat kebijakan dan
masyarakat banyak dalam menentukan langkah-langkah
strategis-strategis berkaitan dengan apa yang ingin dilakukan
dalam sebuah kebijakan publik .
Siklus kebijakan juga akan memberikan gambaran yang
komprehensif dan juga berbagai implikasi yang perlu dimengerti
oleh para pihak yang berkepantingan dengan kebijakan publik .
Siklus kebijakan juga dapat digunakan sebagai tolak ukur
untuk menilai efektifitas dan efesiensi sebuah kebijakan dilihat
berdasarkan masing-masing tahapan itu. Siklus kebijakan penting
untuk dipahami dan dimengerti dengan baik semakinbaik
pemahaman terhadap siklus kebijakan maka akan semakin
lengkaplah kerangka piker seseorang terhadap sebuah kebijakan

publik .Siklus kebijakan meliputi identifikasi isu, analisis


kebijakan, instrumen, kebijakan,konsultasi, koordinasi, keputusan,
implementasi, evaluasi, dan umpan balik.

2.

Implementasi kebijakan Publik

Problem Identification (Identifikasi Masa


a

Identifikasi Masalah dan Kebutuhan:

Tahap pertama dalam perumusan kebijakan sosial adalah


mengumpul-kan data mengenai permasalahan sosial yang
dialami masyarakat dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan
masyarakat yang belum terpenuhi (unmet needs).
b

Analisis Masalah dan Kebutuhan:


Tahap berikutnya adalah mengolah, memilah dan memilih data

mengenai masalah dan kebutuhan masyarakat yang selanjutnya


dianalisis dan ditransformasikan ke dalam laporan yang
terorganisasi. Informasi yang perlu diketahui antara lain: apa
penyebab masalah dan apa kebutuhan masyarakat? Dampak apa
yang mungkin timbul apabila masalah tidak dipecahkan dan
kebutuhan tidak dipenuhi? Siapa dan kelompok mana yang
terkena masalah?
c.

Penginformasian Rencana Kebijakan:

Berdasarkan laporan hasil analisis disusunlah rencana


kebijakan. Rencana ini kemudian disampaikan kepada berbagai

sub-sistem masyarakat yang terkait dengan isu-isu kebijakan


sosial untuk memperoleh masukan dan tanggapan. Rencana ini
dapat pula diajukan kepada lembaga-lembaga perwakilan rakyat
untuk dibahas dan disetujui.
d.

Perumusan Tujuan Kebijakan:

Setelah mendapat berbagai saran dari masyarakat


dilakukanlah berbagai diskusi dan pembahasan untuk
memperoleh alternatif-alternatif kebijakan. Beberapa alternatif
kemudian dianalisis kembali dan dipertajam menjadi tujuantujuan kebijakan.
e.

Pemilihan Model Kebijakan:

Pemilihan model kebijakan dilakukan terutama untuk


menentukan pendekatan, metoda dan strategi yang paling efektif
dan efisien mencapai tujuan-tujuan kebijakan. Pemilihan model ini
juga dimaksudkan untuk memperoleh basis ilmiah dan prinsipprinsip kebijakan sosial yang logis, sistematis dan dapat
dipertanggungjawabkan.
f.

Penentuan Indikator Sosial:

Agar pencapaian tujuan dan pemilihan model kebijakan dapat


terukur secara objektif, maka perlu dirumuskan indikator-indikator
sosial yang berfungsi sebagai acuan, ukuran atau standar bagi
rencana tindak dan hasil-hasil yang akan dicapai.
h.

Membangun Dukungan dan Legitimasi Publik:

Tugas pada tahap ini adalah menginformasikan kembali rencana


kebijakan yang telah disempurnakan. Selanjutnya melibatkan
berbagai pihak yang relevan dengan kebijakan, melakukan lobi,

negosiasi dan koalisi dengan berbagai kelompok-kelompok


masyarakat agar tercapai konsensus dan kesepakatan mengenai
kebijakan sosial yang akan diterapkan.
Biasanya suatu masalah sebelum masuk ke dalam agenda
kebijakan, masalah tersebut menjadi isu terlebih dahulu. Isu,
dalam hal isu kebijakan, tidak hanya mengandung
ketidaksepakatan mengenai arah tindakan aktual dan potensial,
tetapi juga mencerminkan pertentangan pandangan mengenai
sifat masalah itu sendiri. Dengan demikian, isu kebijakan
merupakan hasil dari perdebatan definisi, eksplanasi dan evaluasi
masalah.
Isu ini akan menjadi embrio awal bagi munculnya masalahmasalah publik dan bila masalah tersebut mendapat perhatian
yang memadai, maka ia akan masuk ke dalam agenda kebijakan.
Namun demikia, karena pada dasarnya masalah-masalah
kebijakan mencakup dimensi yang luas maka suatu isu tidak akan
secara otomatis bisa masuk ke agenda kebijakan. Isu-isu yang
beredar akan bersaing satu sama lain untuk mendapatkan
perhatian dari para elit politik sehingga isu yang mereka
perjuangkan dapat masuk ke agenda kebijakan.

Agenda kebijakan adalah tuntutan-tuntutan agar para


pembuat kebijakan memilih atau merasa terdorong untuk
melakukan tindakan tertentu. Dengan demikian, maka agenda
kebijakan dapat dibedakan dari tuntutan-tuntutan politik secara

umum serta dengan istila prioritas yang biasanya dimaksudkan


untuk merujuk pada susunan pokok-pokok agenda dengan
pertimbangan bahwa suatu agenda lebih penting dibandingkan
dengan agenda lain. Barbara Nelson menyatakan bahwa proses
agenda kebijakan berlangsung ketika pejabat publik belajar
mengenai masalah-masalah baru, memutuskan untuk memberi
perhatian secara personal dan memobilisasi organisasi yang
mereka miliki untuk merespon masalah tersebut. Dengan
demikian, agenda kebijakan pada dasarnya merupakan
pertarungan wacana yang terjadi dalam lembaga pemerintah.
Tidak semua masalah atau isu akan masuk ke dalam agenda
kebijaka. Isu-isu atau masalah-masalah tersebut harus
berkompetisi antara satu dengan yang lain dan akhirnya hanya
masalah-masalah tertentu saja yang akan menang dan masuk ke
dalam agenda kebijakan.

Dalam merumuskan kebijakan publik Thomas R. Dye


merumuskan model kebijakan yaitu:
1.

Model Kelembagaan;

2.

Model Elit;

3.

Model Kelompok;

4.

Model Rasional;

5.

Model Inkremental;

6.

Model Teori Permainan;

7.

Model Pilihan Publik;

8.

Model Sistem

Selain itu ada tiga model yang diusulkan Thomas R. Dye, yaitu:
1.

Model Pengamatan Terpadu;


2. Model Demokratis;

3.

Model Strategis

Di sisi lain kebijakan publik sangat berkait dengan administasi


negara ketika public actor mengkoordinasi seluruh kegiatan
berkaitan dengan tugas dalam rangka memenuhi berbagai
kebutuhan masyarakat melalui berbagai kebijakan publik/umum
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan negara. Untuk itu
diperlukan suatu administrasi yang dikenal dengan administrasi
negara. Kebutuhan masyarakat tidak seluruhnya dapat dipenuhi
oleh individu atau kelompoknya melainkan diperlukan
keterlibatan pihak lain yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri.
Pihak lain inilah yang kemudian disebut dengan administrasi
negara.
Proses dilakukan organisasi atau perorangan yang bertindak
dalam kedudukannya sebagai pejabat yang berkaitan dengan
penerapan atau pelaksanaan hukum dan peraturan yang
dikeluarkan oleh legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Administrasi
negara dalam mencapai tujuan dengan membuat program dan
melaksanakan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan dalam
bentuk kebijakan. Kebijakan menurut Lasswell dan Kaplan yang
dikutip oleh Said Zainal Abidin (Abidin, 2004: 21) adalah sarana
untuk mencapai tujuan, menyebutkan kebijakan sebagai program

yang diproyeksikan berkenaan dengan tujuan, nilai, dan praktik.


Pendapat lain tentang kebijakan menurut Heinz Eulau dan
Kenneth Prewit adalah suatu keputusan yang menuntut adanya
perilaku yang konsisten dan pengulangan bagi pembuat dan
pelaksana kebijakan.
Terkait dengan kebijakan publik, menurut Thomas R. Dye penulis
buku Understanding Public Policy, yang dikutip oleh Riant
Nugroho D (Riant, 2004:3) Kebijakan publik adalah segala sesuatu
yang dikerjakan pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan
hasil yang membuat sebuah kehidupan bersama tampil.

KEPEMIMPINAN

BMP ADPU4334
1Peran Pemimpin
Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan
hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal
dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau
gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan
dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi
hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan
membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan
dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada
lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan
dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi
pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan
yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan
berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari
proses internal

Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan


mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional
yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and
praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan
dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang
pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan
yang didasarkan pada kerendahan hati.
Membahas tentang

Seorang pemimpin yang sesuai dengan karaktenya

Kepemimpinan

Pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya


mendorong perubahan dalam organisasiny
Makalah ini membahas tentang

Bagaimanakah kepemimpinan itu

Apasajakah Ruang lingkup kepemimpinan

Bagai mana menjadi pemimpin


2.Aplikasi kepemimpinan dalam organisasi
Banyak pemimpin yang memiliki kemampuan metoda
kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di
sekolah-sekolah formal. Oleh karena itu seringkali kami dalam
berbagai kesempatan mendorong institusi formal agar
memperhatikan ketrampilan seperti ini yang kami sebut dengan
softskill atau personal skill. Dalam salah satu artikel di
economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be
Taught. Jelas dalam artikel tersebut dibahas bahwa kepemimpinan
(dalam hal ini metoda kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga
melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada
tiga hal penting dalam metoda kepemimpinan, yaitu:
Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas.Visi ini
merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan
perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas
yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian
dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan
dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than
a clear vision.

Pemimpin sejati fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan


sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran
adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun
yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tetapi untuk
melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan
atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan
dengan status dan kekuasaan semata.
Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam
berbagai aspek, baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi,
dan sebagainya.
Setiap hari senantiasi menselaraskan (recalibrating) dirinya
terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama. Melalui
solitude (keheningan), prayer (doa) dan scripture (membaca
Firman Tuhan).
Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard
yang menurut kami sangat relevan dengan situasi krisis
kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan
menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the
Ultimate Intelligence, salah satu tolok ukur kecerdasan spiritual
adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership).
Kepala Yang Melayani (Metoda Kepemimpinan) Seorang pemimpin
sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata,
tetapi juga harus memiliki serangkaian metoda kepemimpinan
agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali

pemimpin memiliki kualitas dari aspek yang pertama, yaitu


karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi
pemimpin formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak
memiliki metoda kepemimpinan yang baik.
Contoh adalah para pemimpin karismatik ataupun pemimpin yang
menjadi simbol perjuangan rakyat, seperti Corazon Aquino,
Nelson Mandela, Abdurrahman Wahid, bahkan mungkin Mahatma
Gandhi, dan masih banyak lagi menjadi pemimpin yang tidak
efektif ketika menjabat secara formal menjadi presiden. Hal ini
karena mereka tidak memiliki metoda kepemimpinan yang
diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.
Ada dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan
implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya
dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya
tetapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi
tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang
diperlukan untuk mencapai visi itu.
Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang sangat
responsive. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan,
kebutuhan, harapan dan impian dari mereka yang dipimpinnya.
Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari
setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi
organisasinya.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau


pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya (performance
coach). Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasi,
mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun
perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran,
rencana kebutuhan sumber daya, dan sebagainya), melakukan
kegiatan sehari-hari (monitoring dan pengendalian), dan
mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.
Tangan Yang Melayani (Perilaku Kepemimpinan) Pemimpin sejati
bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta
memiliki kemampuan dalam metoda kepemimpinan, tetapi dia
harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang
pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard tersebut disebutkan ada
empat perilaku seorang pemimpin, yaitu: Pemimpin tidak hanya
sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tetapi sungguhsungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan.
Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan Firman
Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan
dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuatnya.
Apakah arti kepemimpinan? Menurut sejarah, masa
kepemimpinan muncul pada abad 18. Ada beberapa pengertian
kepemimpinan, antara lain:
1.

Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam

situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk

mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum,


Weschler and Nassarik, 1961, 24).
2.

Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin

pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.


(Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
3.

Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi

aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama


(Rauch & Behling, 1984, 46)
4.

Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk

membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati


segala keinginannya.
5.

Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti

(penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan


dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan
(Jacobs & Jacques, 1990, 281).
Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi
bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses
mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam
kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain
dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau
organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti
kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan
pengikut.
Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin
adalah:

Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja


dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman
sekerja atau atasan lain dalam organisasi sebaik orang diluar
organisasi.

Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun


tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai
outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk
kesuksesan stafnya tanpa kegagalan

Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus


dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam
upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan
tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat
mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah
secara efektif.

Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang


analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi
masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan
seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan
pekerjaan lain.

Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh


karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator
(penengah)

Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan


kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus
dapat mewakili tim atau organisasinya.

Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.

Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :


1.

Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini

fungsinya sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim,


pelatih, direktur, mentor konsultasi.
2.

Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi

dan juru bicara.


3.

Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha,

penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.


Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama
berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai
pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi.
Menurut Stephen R. Covey (1997), prinsip adalah bagian dari
suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Mungkin prinsip
menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah
kompas/petunjuk yang tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan
suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung kehidupan
yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti; keselamatan,
bimbingan, sikap yang bijaksana, dan kekuatan.
Hati Yang Melayani (Karakter Kepemimpinan) Kepemimpinan yang
melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut
suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter.
Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan kemudian bergerak

ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah


pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk
menjadi pemimpin sejati dan diterima oleh rakyat yang
dipimpinnya. Kembali betapa banyak kita saksikan para pemimpin
yang mengaku wakil rakyat ataupun pejabat publik, justru tidak
memiliki integritas sama sekali, karena apa yang diucapkan dan
dijanjikan ketika kampanye dalam Pemilu tidak sama dengan
yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman di kursinya.
Paling tidak menurut Ken Blanchard dan kawan-kawan, ada
sejumlah ciri-ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin
yang memiliki hati yang melayani, yaitu: Tujuan paling utama
seorang pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang
dipimpinnya.
Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun
golongannya tetapi justru kepentingan publik yang dipimpinnya.
Entah hal ini sebuah impian yang muluk atau memang kita tidak
memiliki pemimpin seperti ini, yang jelas pemimpin yang
mengutamakan kepentingan publik amat jarang kita temui di
republik ini. Seorang pemimpin sejati justru memiliki kerinduan
untuk membangun dan mengembangkan mereka yang
dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam
kelompoknya.
Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell
berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan
seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk

membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan


sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya
manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau
masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas

TIORI ORGANISASI
BMP ADPU 4341 Edesi 2
1.Struktur Organisasi
ada enam elemen kunci yang perlu diperhatikan oleh para manajer ketika hendak
mendesain struktur, antara lain:[1]

Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi


ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.

Departementalisasi. Dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan


secara bersama-sama. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi,
dan pelanggan.

Rantai komando. Garis wewenang yang tanpa putus yang membentang dari
puncakorganisasi ke eselon paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung
jawab kepada siapa.

Rentang kendali. Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer
secara efisien dan efektif.

Sentralisasi dan Desentralisasi. Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat


pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi.
Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi.

Formalisasi. Sejauh mana pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dibakukan.

Manusia adalah mahluk social yang cinderung untuk hidup


bermasyarakat serta mengatur dan mengorganisasi kegiatannya
dalam mencapai sautu tujuan tetapi karena keterbatasan
kemampuan menyebabkan mereka tidak mampu mewujudkan
tujuan tanpa adanya kerjasama. Hal tersebut yang mendasari
manusia untuk hidup dalam berorganisasi.
2. Strategi Organisasi
Organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi
penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu struktur
atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja
kelompok.
Menurut CYRIL SOFFER:

Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi


peran tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana
pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung
lagi dalam beberapa bentuk hasil.

CIRI-CIRI ORGANISASI:

Lembaga social yang terdiri atas kumpulan orang dengan berbagai


pola interaksi yang ditetapkan.

Dikembangkan untuk mencapai tujuan

Secara sadar dikoordinasi dan dengan sengaja disusun

Instrumen social yang mempunyai batasan yang secara relatif dapat


diidentifikasi.

Dubawah ini merupakan bagan tentang perkembangan teori organisasi:

1. TEORI ORGANISASI KLASIK


Teori ini biasa disebut dengan teori tradisional atau disebut juga teori

mesin. Berkembang mulai 1800-an (abad 19). Dalam teori ini


organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan
tugas-tugasnnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk
mekanistik structural yang kaku tidak mengandung kreatifitas.

Dalam teori ini organisasi digambarkan seperti toet piano dimana


masing-masing nada mempunyai spesialisasi (do.. re.. mi.. fa..
so.. la.. si..) dimana apabila tiap nada dirangkai maka akan
tercipta lagu yang indah begitu juga dengan organisasi.
Dikatakan teori mesin karena organisasi ini menganggab manusia
bagaikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa dipasang dan
digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin.
Defisi Organisasi menurut Teori Klasik:
Organisasi merupakan struktur hubungan, kekuasaan-kejuasaan,
tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi
dan factor-faktor lain apabila orang bekerja sama.
Teori Organisasi klasik sepenuhnya menguraikan anatomi
organisasi formal. Empat unsure pokok yang selalu muncul dalam
organisasi formal:
1. Sistem kegiatan yang terkoordinasi
2. Kelompok orang
3. Kerjasama
4. Kekuasaan & Kepemimpinan

Sedangkan menurut penganut teori klasik suatu organisasi


tergantung pada empat kondisi pokok: Kekuasaan) Saling
melayani) Doktrin) Disiplin)
Sedangkan yang dijadikan tiang dasar penting dalam organisasi
formal adalah:
1. Pembagian kerja (untuk koordinasi)
2. Proses Skalar & Fungsional (proses pertumbuhan vertical dan
horizontal)
3. Struktur (hubungan antar kegiatan)
4. Rentang kendali (berapa banyak atasan bisa mengendalikan
bawahan).

Teori Klasik berkembang dalam 3 Aliran:

BIROKRASI) Dikembangkan dari Ilmu Sosiologi

ADMINISTRASI) Langsung dari praktek manajemen

memusatkan Aspek Makro sebuah organisasi.

MANAJEMEN ILMIAH) Langsung dari praktek manajemen

memusatkan Aspek Mikro sebuah organisasi.


Semua teori diatas dikembangkan sekitar tahun 1900-1950.
Pelopor teori ini kebanyakan dari sebuah negara berbentuk
kerajaan Mesir, Cina & Romawi.

ETIKA ADEMINISTRASI PEMERINTAHAN


ADPU 4533 Edisi 3
Lebih dari dua abad yang lalu, sebuah akademi di kota Dijon
Prancis mengadakan sayembara tertulis untuk menjawab
pertanyaan sederhana, apakah kemajuan dalam bidang seni dan
ilmu pengetahuan memberikan sumbnagan bagi perbaikan
moraltas manusia. Seseorang bernama Jean Jacques Rousseau
dengan lantang menjawab pertanyaan tersebut dengan Tidak
pertanyaan yang diajukan akademi Dijon ini begitu sederhana,
sebagaimana jawabannya. Namun, Implikasinya demikian luas.
Karena karya tulisnya untuk Akademi Dijon yang menentang arus
kemudian nama Rousseau bnayak disebut sebut sebagai filusuf
brilian dari eropa.
Kegalauan pikiran Rousseau mengenai relevansi moralitas bagi
kemajuan seni dan ilmu pengetahuan bisa dipahami jika kita
melihat latar belakang sejarah pada waktu itu, pada pemulaan

abad ke- 18 seni dan budaya di prancis sudah demikian maju jika
dibandingkan dengan negara lain. Sikap masyarakat tidak lagi
terbelenggu fatalisme dan ajaran ajaran dogmatis, rasionalitas
dijunjung tinggi dimana mana namun kenyataan lain begitu
kontradiktif. Louis XIV dengan congkak ingin mengukuhkan
absolutisme monarki melalui ucapannya negara adalah aku.
Sementara itu ketidakadilan pemungutan pajak tanpa begitu
mencolok kaum ningrat dibebaskan dari pajak yang begitu tinggi,
sedangkan rakyat kecil dikenai pajak begitu tinggi. Para penguasa
yang korup cenderung menghamburkan uang negara.
Dari penjelasan diatas jelas mengatakan kemjauan seni ilmu
pengetahuan, dan tekhnologi tidak dapat dijadikan cerminan
kemajuan di bidang moralitas. Itulah sebabnya rousseau
menganjurkan supaya manusia kembali ke alam yaitu bahwa
moralitas yang asli benar benar manusia itu ditemukan dalam
manusia yang masih alamiah dan harus identik dengan dirinya
sendiri. Begitupun di indonesia, persoalaan persoalaan etis
memungkinkan berbagai macam alternatif yang mengandung
konsekuensi yang berbeda. Oleh sebab itu pemahaman moral
yang mendalam sangat dibutuhkan untuk membuat pilihan
alternatif yang paling tepat, suatu pemahaman yang tidak hanya
mensyaratkan pengetahuan teoritis dan rasionalitas nilai tetapi
juga keterlibatan kognitif serta kepekaan rohani dan penglaman
empiris dalam memecahkan persoalaan persoalaan moral.

1.2 Identifikasi masalah


1. Memperbaiki penerapan etika para administrator di Indonesia.
2. Pentingnya moral dan etika dilingkup administrasi negara.
3. Etika administrasi dalam implementasinya.
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan disusunnya makalah ini diantaranya adalah
sebagai berikut:
1.
2.

untuk memenuhi tugas mata kuliah teori administrasi negara.


Sebagai calon administrator yang baik perlu kiranya
mahasiswa program studi administrasi negara mengetahui
bagaimana etika administrasi negara itu sendiri.

3.

Mengetahui sejauh mana teori teori tentang etika


administrasi diimplementasikan dalam birokrasi indonesia dalam
konteks kekinian.
TINJAUAN TEORITIS
Etika berasal dari bahasa Yunani: etos, yang artinya
kebiasaan atau watak, sedangkan moral berasal dari bahasa
Latin: mos (jamak: mores) yang artinya cara hidup atau
kebiasaan. Dari isyilah ini muncul pula istilah morale atau moril,
tetapi artinya sudah jauh sekali dari pengertian asalnya.Moril bisa
berarti semangat atau doronganbatin. Disamping itu terdapat
istilah norma yang berasal dari bahasa Latin. (norma: penyiku
atau pengukur), dalam bahasa inggris norma berarti aturan atau
kaidah. Dalam kaitannya dalam prilaku manusia, norma

digunakan sebagai pedoman atau haluan bagi perilaku yang


seharusnya dan juga untuk menakar atau menilai sebelum ia
dilakukan.
Moral merujuk kepada tingkah laku yang bersifat spontan
seperti rasa kasih, kemurahan hati, kebesaran jiwa, yang
kesemuanya tidak terdapat dalam peraturan-peraturan hukum,
sedangkan moralitas mempunyai makna yang lebih khusus
sebagai bagian dari etika. Moralitas berfokus pada hukum-hukum
dan prinsip abstrak dan bebas. Orang yang telah mengingkari
janji yang diucapkannya dapat dianggap sebagai orang yang
tidak dipercaya atau tidak etis, tetapi bukan berarti tidak
bermoral, namun menyiksa anak disebut tindakan tidak bermoral.
Secara Epistimologis etika dan moral memiliki kemiripan,
namun sejalan dengan perkembangan ilmu dan kebiasaan
dikalangan cendekiawan ada pergeseran arti. Etika cenderung
dipandang sebagai suatu cabang ilmu dalam filsapat yang
mempelajari nilai baik dan buruk manusia. Sedangkan moral
adalah hal-hal yang mendorong manusia untuk melakukan
tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma.
Etika administrasi Negara yaitu bidang pengetahuan tentang
ajaran moral dan asas kelakuan yang baik bagi para administrator
pemerintahan dalam menunaikan tugas pekerjaannya dan
melakukan tindakan jabatannya. Bidang pengetahuan ini
diharapkan memberikan berbagai asas etis, ukuran baku,

pedoman perilaku, dan kebijakan moral yang dapat diterapkan


oleh setiap petugas guna terselenggaranya pemerintahan yang
baik bagi kepentingan rakyat.
Sebagai suatu bidang studi, kedudukan etika administrasi
negara untuk sebagian termasuk dalam ilmu administrasi Negara
dan sebagian yang lain tercakup dalam lingkungan studi filsafat.
Dengan demikian etika admistrasi Negara sifatnya tidak lagi
sepenuhnya empiris seperti halnya ilmu administrasi, melainkan
bersifat normatif. Artinya etika administrasi Negara berusaha
menentukan norma mengenai apa yang seharusnya dilakukan
oleh setiap petugas dalam melaksanakan fungsinya da
memegang jabatannya.
Etika administrasi Negara karena menyangkut kehidupan
masyarakat, kesejahteraan rakyat, dan kemajuan bangsa yang
demikian penting harus berlandaskan suatu ide pokok yang luhur.
Dengan demikian, etika itu dapat melahirkan asas, standar,
pedoman, dan kebajikan moral yang luhur pula. Sebuah ide agung
dalam peradaban manusia sejak dahulu sampai sekarang yang
sangat tepat untuk menjadi landasan ideal bagi etika administrasi
Negara adalah Keadilan, dan memang inilah yang menjadi
pangkal pengkajian Etika Admnistrasi Negara, untuk mewujudkan
keadilan.
Adapun secara substantif Bidang Studi Etika Administrasi
Negara diadakan untuk mengetahui beberapa hal berikut :

Tujuan ideal administrasi

Ciri-ciri administrasi yang baik

Penyalahgunaan wewenang yang terjadi pada administrator

Perbandingan bentuk-bentuk administrasi yang baik dan


buruk
Ada 3 prinsip yang harus dipegang agar sebuah Administrasi
dapat dikatakan baik yakni:
1.Prinsip Pelayanan kepada Masyarakat
Prinsip utama prinsip demokrasi adalah asas kedaulatan
rakyat. Asas kedaulatan rakyat mensyaratkan bahwa rakyatlah
yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan
negara, dari sini dapat dipahami bahwa pemerintah ada memang
untuk memberi pelayanan kepada masyarakat.
2.Prinsip Keadilan Sosial dan Pemerataan
Prinsip ini berhubungan dengan distribusi pelayanan yang
harus sesuai, tidak pilih kasih dan relatif merata di seluruh
wilayah sebuah negara/ pemerintahan.
3.Mengusahakan Kesejahteraan Umum
Maksudnya adalah setiap pejabat pemerintah harus memiliki
komitmen dan untuk peningkatan kesejahteraan dan bukan
semata mata karena diberi amanat atau dibayar oleh negara
melainkan karena mempunyai perhatian yang tulus terhadap
kesejahteraan warga negara pada umumnya.
2. Lingkup Etika Administrasi Negara

Persoalan-persoalan etis yang dibahas dalam etika


Administrasi yang sekaligus menjadi ruang lingkup dari Etika
Administrasi itu sendiri menurut J. Alder antara lain :

Apakah ukuran-ukuran dari administrasi yang baik ?

Apakah sifat dasar dari administrasi yang jelek ?

Apakah ada bentuk/model Administrasi yang baik atau jelek?

Apakah keberhasilan administrasi ditentukan oleh tujuan


yang ingin dicapai, yaitu efisiensinya dalam melaksanakan tugas?
Dari sini dapat diketahui bahwa lingkup Etika Administrasi
Negara adalah pada penentuan nilai
dalam proses administrasiPembicaraan tentang kode etik bagi
orang-orang yang bekerja dalam tugas-tugas administrasi negara
barangkali membawa masalah tentang arti dari kode etik itu
sendiri. Mengingat bahwa kode etik biasanya dikaitkan dengan
suatu kode khusus. Kedudukan etika administrasi negara berada
diantara etika profesi dan etika politik sehingga tugas
administrasi negara tetap memerlukan perumusan kode etik yang
dapat dijadikan sebagai pedoman bertindak bagi segenap aparat
publik. Hal yang pertama-tama perlu diingat ialah bahwa kkode
etik tidak membebankan sanksi hukum atau paksaan fisik. Kode
etik dirumuskan dengan asumsi bahwa tanpa sanksi-sanksi atau
hukuman dari pihak luar, setiap orang tetap menaatinya. Jadi
dorongan untuk mematuhi perintah dan kendali untuk menjauhi
larangan dalam kode etik bukan dari sanksi fisik melainkan dari

rasa kemanusiaan, harga diri, martabat, dan nilai-nilai filosofis.


Kode etik juga merupakan hasil kesepakatan atau konvensi suatu
kelompok sosial. Kode etik adalah persetujuan bersama, yang
timbul dari diri anggota itu sendiri untuk lebih mengarahkan
perkembangan mereka, sesuai dengan nilai-nilai ideal yang
diharapkan.Dengan demikian pemakaian kode etik tidak terbatas
pada organisasi-organisasi yang personilnya memiliki keahlian
khusus. Pelaksanaan kode etik tidak terbatas padakaum profesi
karena sesungguhnya setiap jenis pekerjaan dan setiap jenjang
keputusan mengandung konsekuensi moral.
Kode etik bisa menjadi sarana untuk mendukung pencapaian
tujuan organisasi karena bagaimanapun juga organisasi hanya
akan dapat meraih sasaran-sasaran akhirnya kalau setiap
pegawai yang bekerja didalamnya memiliki aktivitas dan perilaku
yang baik.
Mengenai rumusan eksplisit kode etik yang berlaku bagi
setiap pegawai atau pejabat pemerintah, ada banyak sumber
formal. Salah satunya yang sering disebut ketentuan mengenai
Sapta Prasetya KORPRI. Keputusan Musyawarah Nasional KORPRI
yang ketiga, No. Kep-05/MUNAS/1998 tanggal 1 Juni 1998 tentang
penyempurnaan kode etik Korps Pegawai Republik Indonesia.
Seorang pegawai atau pejabat akan mengucapkan atau
menghapal sumpah jabatan dengan mudah. Namun, perenungan,
pengkhayatan, serta pengalaman dari apa yang mereka ucapkan

itu yan lebih penting. Unsur-unsur etis yang langsung


menyangkut pekerjaan sehari-hari seorang pegawai dapatdilihat
dalam Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1979 tentang Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil. Ada delapan unsur
penilaian pegawai yaittu: Kesetiaan, prestasi kerja, tanggung
jawab, ketaatan, kejujuran, kerja sama, prakarsa, kepemimpina
3.1 Etika Administrasi Dalam Praktiknya
Etika merupakan seperangkat nilai sebagai pedoman, acuan,
referensi, acuan, penuntun apa yang harus dilakukan dalam
menjalankan tugasnya, tapi juga sekaligus berfungsi sebagai
standar untuk menilai apakah sifat, perilaku, tindakan atau sepak
terjangnya dalam menjalankan tugas dinilai baik atau buruk. Oleh
karenanya, dalam etika terdapat sesuatu nilai yang dapat
memberikan penilaian bahwa sesuatu tadi dikatakan baik, atau
buruk.
Pemikiran tentang etika berlangsung pada tiga aras: (1)
filosofik, (2) sejarah, dan (3) kategorial. Pada aras filosofik, etika
dibahas sebagai bagian integral Filsafat, disamping metafisika,
Epistemologi, Estetika, dan sebangsanya. Pada aras sejarah, etika
dipelajari sebagai etika masyarakat tertentu pada zaman
tertentu, misalnya Greek and Graeco-Roman Ethics, Mediaeval
Ethics, sedangkan etika pada aras kategorial dibahas sebagai
etika profesi, etika jabatan, dan etika kerja. Sebagai bagian etika,

Etika pemerintahan terletak pada aras kategorial, sedangkan


sebagai bagian Ilmu Pemerintahan, pada arasphilosophical.
Etika menurut Bertens (1977) seperangkat nilai-nilai dan
norma-norma moral yang menjadi pegangan dari seseorang atau
suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.Sedangkan
Darwin (1999) mengartikan Etika adalah prinsip-prinsip moral
yang disepakati bersama oleh suatu kesatuan masyarakat, yang
menuntun perilaku individu dalam berhubungan dengan individu
lain masyarakat. Selanjutnya Darwin (1999) juga mengartikan
Etika Birokrasi (Administrasi Negara) adalah sebagai seperangkat
nilai yang menjadi acuan atau penuntun bagi tindakan manusia
dalam organisasi. Dengan mengacu kedua pendapat ini, maka
etika mempunyai dua fungsi, yaitu pertama sebagai pedoman,
acuan, referensi bagi administrasi negara (birokrasi publik) dalam
menjalankan tugas dan kewenangannya agar tindakannya dalam
birokrasi sebagai standar penilaian apakah sifat, perilaku, dan
tindakan birokrasi publik dinilai abik, buruk, tidak tercela, dan
terpuji. Seperangkat nilai dalam etika birokrasi yang dapat
digunakan sebagai acuan, referensi, penuntun, bagi birokrasi
publik dalam menjalan tugas dan kewenangannya antara lain,
efisiensi, membedakan milik pribadi dengan milik kantor,
impersonal, merytal system,r esponsible, accountable, dan
responsiveness.

Akuntabilitas administrasi negara dalam pengertian yang


luas melibatkan lembaga-lembaga publik (Agencies) dan birokrat
untuk mengendalikan bermacam-macam harapan yang berasal
dari dalam dan dari luar organisasinya. Strategi untuk
mengendalikan harapan-harapan dari akuntabilitas administrasi
publik tadi akan melibatkan dua faktor kritis, yaitu bagaimana
kemampuan mendefinisikan dan mengendalikan harapan-harapan
yang diselenggarakan oleh manajemen pemerintahan. Kedua
derajat kontrol keseluruhan terhadap harapan-harapan yang telah
didefiniskan para birokrat tadi.
Begitu pula dengan etos kerja dan etika administrasi negara.
Etos kerja merupakan masalah penting karena masalah ini
agaknya masih menjadi titik kelemahan dalam upaya mencapai
produktivitas pejabat publik yang tinggi. DanEtika administrasi
negara merupakan salah satu wujud kontrol terhadap administrasi
negara dalam melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok,
fungsi dan kewenangannya. Manakala administrasi negara
menginginkan sikap, tindakan dan perilakunya dikatakan baik,
maka dalam menjalankan tugas pokok, fungsi dan
kewenangannya harus menyandarkan pada etika administrasi
negara. Etika administrasi negara disamping digunakan sebagai
pedoman, acuan, referensi administrasi negara dapat pula
digunakan sebagai standar untuk menentukan sikap, perilaku,
dan kebijakannya dapat dikatakan baik atau buruk.

Akhirnya, persoalan kode etik menjadi pelengkap yang penting


dalam kajian etika administrasi. Unsur-unsur administrasi negara
bukan hanya pejabat-pejabat yang memiliki otoritas tinggi untuk
membuat keputusan strategis tetapi juga aparat-aparat teknis
yang langsung berhadapan dengan tugas-tugas yang sangat
teknis. Oleh karena itu, kode etik atau kode-kode etik administrasi
juga berlaku bagi pejabat-pejabat yang membidangi pekerjaanpekerjaan operasional, ketatausahaan, atau administrasi dalam
arti sempit.
Karena masalah etika negara merupakan standar penilaian
etika administrasi negara mengenai tindakan administrasi negara
yang menyimpang dari etika administrasi negara (mal
administrasi) dan faktor yang menyebabkan timbulnya mal
administrasi dan cara mengatasinya. Law enforcement sangat
membutuhkan adanya akuntabilitas dari birokrasi dan ma ajemen
pemerintahan sehingga penyimpangan yang akan dilakukan oleh
birokrat-birokrat dapat terlihat dan ter-akuntable dengan jelas
sehingga akan memudahakan law enforcement yang baik
pada reinventing government dalam upaya menata ulang
manajemen pemerintahan Indonesia yang sehat dan
berlandaskan pada prinsip-prinsip good governance dan
berasaskan nilai-nilai etika administrasi.
Banyak fakta yang menunjukan bahwa hasil-hasil
pembangunan itu belum dirasakan secara merata oleh seluruh

rakyat. Disamping hak-hak asasi, partisipasi rakyat, dan


keterbukaan sekarang juga menjadi isu yang dipersoalkan banyak
pihak. Tampaklah bahwa perkembangan situasi politik,sosial dan
budaya serta dinamika masyarakat tentang sistem administrasi
pemerintahan yang ideal. Akan tetapi, di atas semua itu
sesungguhnya masih dapat ditemukan dasar-dasar bagi sistem
pemerintahan yang secara umum dianggap sebagai sistem
pemerintahan yang baik. Walaupun interpretasi dan pendapat
individual mempengaruhi wujud pemerintahan yang didambakan
oleh masyarakat, namun landasan pemikiran yang disepakati oleh
sebagian besar masyarakat akan dapat dipakai sebagai pedoman.
Pada kepemerintahan yang bersih (clean good governance)
terkait denganLaw enforcement dalam menjalankan tugas, fungsi,
dan wewenang yang diberikan kepadanya, mereka tidak
melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari etika
Administrasi publik (mal administration) yang akan
mengabaikan Law Enforcement pada penataan ulang
pemerintahan di Indonesia. Sehingga pada tujuan Law
Enforcement terdapat :
1. Birokratbirokrat pemerintah dari pemerintahan, yang
ditentukan oleh kualitas sumber daya aparaturnya.
2. Perimbangan kekuasaan yang mencerminkan sistem
pemerintahan yang harus diberlakukan.

3. Kelembagaan yang dipergunakan oleh birokrat-birokrat


pemerintahan untuk mengaktualisasikan kinerjanya.
4. Kepemimpinan dalam birokrasi publik yang berahlak,
berwawasan(visionary), demokratis dan responsif terhadap
revitalisasi penataan ulang pemerintahan Indonesia (Reinventing
government).
Pembicaraan tentang kode etik bagi orang-orang yang bekerja
dalam tugas-tugas administrasi negara barangkali membawa
masalah tentang arti dari kode etik itu sendiri. Mengingat bahwa
kode etik biasanya dikaitkan dengan suatu kode khusus.
Kedudukan etika administrasi negara berada diantara etika
profesi dan etika politik sehingga tugas administrasi negara tetap
memerlukan perumusan kode etik yang dapat dijadikan sebagai
pedoman bertindak bagi segenap aparat publik. Hal yang
pertama-tama perlu diingat ialah bahwa kkode etik tidak
membebankan sanksi hukum atau paksaan fisik. Kode etik
dirumuskan dengan asumsi bahwa tanpa sanksi-sanksi atau
hukuman dari pihak luar, setiap orang tetap menaatinya. Jadi
dorongan untuk mematuhi perintah dan kendali untuk menjauhi
larangan dalam kode etik bukan dari sanksi fisik melainkan dari
rasa kemanusiaan, harga diri, martabat, dan nilai-nilai filosofis.
Kode etik juga merupakan hasil kesepakatan atau konvensi suatu
kelompok sosial. Kode etik adalah persetujuan bersama, yang
timbul dari diri anggota itu sendiri untuk lebih mengarahkan

perkembangan mereka, sesuai dengan nilai-nilai ideal yang


diharapkan.Dengan demikian pemakaian kode etik tidak terbatas
pada organisasi-organisasi yang personilnya memiliki keahlian
khusus. Pelaksanaan kode etik tidak terbatas padakaum profesi
karena sesungguhnya setiap jenis pekerjaan dan setiap jenjang
keputusan mengandung konsekuensi moral.Dari sini dapat
diketahui bahwa lingkup Etika Administrasi Negara adalah pada
penentuan nilai dalam proses administrasi.
Etika administrasi negara sangat erat berkaitan dengan etika
kehidupan berbangsa. Administrasi negara/publik tidak hanya
terbatas pada kumpulan sketsa yang digunakan untuk
membenarkan kebijakan pemerintah atau hanya terbatas pada
suatu disiplin ilmu saja - putting the ideas (Peter Senge, 1990)
tetapi lebih jauh dari itu, administrasi negara dijelaskan Wilson
(1978) sebagai suatu upaya untuk menaruh perhatian concern
terhadap pelaksanaan suatu konstitusi ketimbang upaya
membuatnya. Jadi sangat jelas bahwa dalam administrasi negara
dikenal etika administrasi negara yang tujuannya adalah untuk
menyelengarakan kegiatan administrasi negara dengan baik,
dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. Itu berarti, saat
etika administrasi negara digunakan dengan baik oleh para
penyelenggara negara (administrator) maka etika kehidupan
berbangsa pun dapat berlangsung dengan baik, sebaliknya,
apabila etika administrasi negara tidak secara benar melandasi

setiap pergerakan dalam administrasi negara maka dapat


diindikasikan begitu banyaknya masalah yang berdampak pada
kehidupan berbangsa.
Etika sebagai penentu keberhasilan atau kegagalan dalam
kehidupan berbangsa. Khususnya Etika Politik dan Pemerintah.
Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang
bersih, efisien, dan efektif; menumbuhkan suasana politik yang
demokratis yang bercirikan keterbukaan, rasa tanggung jawab,
tanggap akan aspirasi rakyat; menghargai perbedaan; jujur dalam
persaingan; ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih
benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok
orang; serta menjunjung tinggi hak asasi manusia. Etika
pemerintahan mengamanatkan agar para pejabat memiliki rasa
kepedulian tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik,
siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan
sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah
masyarakat, bangsa, dan negara.
Sebaliknya, saat etika administrasi negara tidak berjalan
sebagaimana mestinya, maka tercipta suatu ketidakseimbangan
yang berujung pada masalah-masalah kompleks yang sulit
diselesaikan di Indonesia. Karena pada saat ini, dimana
seharusnya Indonesia yang menganut sistem demokrasi dapat
lebih baik dengan perspektif dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat
ternyata harus terpuruk karena pada kenyataannya, hampir

semua pejabat politik dan pemerintah hanya memikirkan


kepentingan diri pribadi dan kelompoknya. Adanya budaya
korupsi yang telah sejak lama menodai penyelenggaraan
administrasi negara di Indonesia menunjukkan bahwa etika
administrasi negara telah sangat dilanggar oleh para
penyelenggara negara. Ketika etika untuk mengambil tindakan
yang berhubungan langsung dengan kegiatan negara dilanggar
inilah maka dapat dipastikan etika politik dan pemerintah sama
sekali tidak diperhatikan. Dengan melihat semua fakta itulah,
perlu adanya kesadaran bagi seluruh rakyat Indonesia akan
pentingnya etika administrasi negara yang mendasari baik
buruknya suatu penyelenggaraan negara, dan kemudian etika
administrasi negara tersebut sangat menentukan bagaimana
etika kehidupan berbangsa, khususnya etika politik dan
pemerintah.
Analisis etika administrasi negara sebagai sistem sensor,
praktek organisasi, praktek manajemen, praktek kepegawaian
(berkaitan dengan 8 unsur administrasi negara).
Dalam etika publik, setidaknya ada tiga perhatian (concern),
antara lain;
1. Pelayan publik yang berkualitas dan relevan.
2. Dimensi normatif dan dimensi reflektif (bagaimana bertindak)
menciptakan suatu institusi yang adil.

3. Modalitas etika, menjembatani agar norma moral bisa menjadi


tindakan nyata (sistem, prosedur, sarana yang memudahkan
tindakan etika).
Berdasarkan concern etika publik tersebut, dapat dilihat
adanya suatu sistem sensor yang menandai keberadaan etika
administrasi negara. Untuk melihat apakah pelayan publik
berkualitas dan relevan, apakah dimensi normatif dan reflektif
sudah berjalan baik dan meciptakan suatu institusi yang adil dan
apakah modalitas etika sudah menjadi tindakan nyata membuat
adanya suatu sistem sensor yang menjadi penilai bagi perhatian
publik yang ada.
8 unsur administrasi negara, yaitu; organisasi, manajemen,
komunikasi, kepegawaian, perbekalan, keuangan, ketatausahaan,
dan hubungan masyarakat merupakan unsur-unsur yang tak
dapat terlepas dari etika administrasi negara. Sistem sensor,
praktek organisasi, praktek manajemen, praktek kepegawaian
apabila dijalankan sesuai etika administrasi negara maka akann
berlangsung dengan baik dan akan jauh lebih mudah dalam
mencapai tujuan bersama. Dalam suatu organisasi yang menjadi
wadah bagi segenap kegiatan kerjasama yang biasanya dilakukan
dengan adanya kelompok-kelompok kerja yang kemudian juga
berhubungan dengan proses manajemen memperlihatkan bahwa
etika administrasi negara lah yang paling berperan. Karena
sekalipun suatu organisasi telah menetapkan peraturan beserta

sistem manajemennya akan menjadi tidak berguna ketika


ternyata etika administrasi negara tidak diperhatikan. Banyak
sudah contoh kasus yang ada di Indonesia berkaitan dengan hal
tersebut. mulai dari hal terkecil saat pembuatan KTP, karena
organisasi pemerintah tidak melangsungkan hidupnya dengan
etika, maka dengan mudah terjadi praktek pungutan liar yang
merugikan masyarakat. Hal itu juga yang kemudian membuat
penilaian tentang buruknya manajemen yang ada. Seharusnya,
dalam keberlangsungan negara, adanya komunikasi sesuai etika
dapat berlangsung dengan benar baik antara pejabat pemerintah
sebagai penyelenggara negara maupun antara rakyat dan
pemerintah agar tercipta suatu koordinasi yang kontekstual dan
berdampak positif bagi rakyat dan pemerintah. Dalam etika
administrasi negara yang dapat dikatakan harus melingkupi
semua proses penyelenggaraan negara, maka etika administrasi
negara tersebut juga terkait dengan kepegawaian, perbekalan,
keuangan, ketatausahaan, dan hubungan masyarakat. Pada
prakteknya, kepegawaian di Indonesia seringkali berjalan tidak
sesuai dengan etika yang ada. Dapat dilihat dari awal, proses
seleksi saja sudah mengindikasikan adanya kecurangan misalnya
dengan adanya kasus penyuapan untuk diterima sebagai PNS.
Kecurangan ini kemudian berdampak pada perbekalan, karena
dengan sumber daya manusia yang kurang berkualitas maka
selanjutnya akan dinilai tentang cukup atau tidaknya perbekalan

yang telah diberikan. Sama halnya dengan ketatausahaan, tanpa


etika administrasi negara, ketatausahaan akan berlangsung tidak
transparan dan merugikan masyarakat. Keuangan negara pun
rusak karena penyelenggaraan anggaran yang tidak berlandaskan
etika administrasi negara, praktek korupsi ada dimana-mana,
akuntabilitas publik pun menjadi sesuatu yang sangat
dipertanyakan keberadaannya, kalau sudah begitu maka
hubungan masyarakat pun tidak akan berjalan dengan baik.
Masyarakat sudah mengalami krisis kepercayaan terhadap
pemerintah. Penyelenggaraan negara terlihat berlangsung
dengan kacau, itu semua disebabkan karena pengabaian
terhadap etika administasi negara.
Dengan melihat kenyataan tersebut, perlu adanya kesadaran
baik dari pemerintah yang menyelenggarakan kegiatan negara,
maupun dari masyarakat yang semestinya dilayani dengan baik
oleh negara, keberadaan sistem sensor, praktek organisasi,
praktek manajemen, praktek kepegawaian tidak dapat terlepas
dari keberadaan etika administrasi negara. Ketika eksistensi etika
tersebut dipertanyakan, maka semua komponen negara pun akan
menjadi tak jelas berhaluan kemana atau kemana arah dan
tujuannya.

3.2 Karakteristik Good Governance dalam Menata Ulang


Manajemen Pemerintahan

OECD dan World Bank mensinonimkan good


governance dengan penyelenggaraan manajemen pembangunan
yang solid dan bertanggung jawab, sejalan dengan demokrasi dan
pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi
yang langka, dan pencegahan korupsi, baik secara politik maupun
administratif, menjalankan disiplin anggaran serta
penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya
aktivitas kewiraswastaan. Sedangkan UNDP mendefinisikan good
governance sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif
diantara negara, sektor swasta dan masyarakat (society).
Berdasarkan definisi tersebut UNDP kemudian

PENGEMBANGAN ORGANISASI
BMP ADPU4441 EDESI 2
Pengembangan Organisasi (PO) merupakan cara pendekatan terhadap perubahan
yang berjangka panjang dan lebih luas ruang lingkupnya dengan tujuan untuk menggerakkan
seluruh organisasi ke arah tingkat fungsional yang lebih tinggi. (Indrawijaya, 1989:203)
Makna pengembangan oraganisasi menurut beberapa ahli :
1. Dale S. Beach dalam bukunya, Personnel: The Management of People at Work
Pengembangan organisasi adalah suatu strategi pendidikan yang kompleks yang direncanakan
oleh seorang konsultan dengan menggunakan teori dan teknik-teknik ilmu perilaku terapan.
2. Herbert J. Churden dan Arthur W. Sherman, Jr. dalam buku mereka Personnel Management:
Pengembangan organisasi berarti hal-hal yang berlainan bagi berbagai ahli dalam bidang ini,
akan tetapi pada dasarnya pengembangan oganisasi merupakan suatu metode untuk memudahkan

perubahan dan pengembangan dalam orang-orang (misalnya dalam gaya, nilai, keterampilan),
dalam teknologi (misalnya dalam kesederhanaan yang lebih besar, dalam kompleksitas), dan
dalam proses dan struktur organisasi (misalnya dalam hubungan, peranan)
3. Edwin B. Flippo dalam bukunya, Personel Management:
Bennis mendefinisikan pengembangan organisasi sebagai suatu strategi pendidikan yang
kompleks yang dimaksudkan untuk mengubah
kepercayaan, sikap, nilai, dan struktur organisasi supaya semuanya itu dapat lebih baik
menyesuaikan diri dengan kecepatan luar biasa dari perubahan itu sendiri.
4. Burt Scanlan dan J. Bernard Keys dalam buku mereka, Management and Organizational
Behavior:
Pengembangan organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu usaha yang dibantu oleh managemen
puncak, untuk meningkatkan keefektifan sistem total (organisasi) melalui serangkaian campur
tangan yang merencanakan.
5. John R. Schermerhorn, Jr., James G Hunt, dan Richard N. Osborn dalam buku
mereka,Managing Organization Behavior.
Pengembangan organisasi adalah penerapan pengetahuan ilmu perilaku dalam usaha jangka
panjang untuk meningkatkan kemampuan organisasi mengatasi perubahan dalam lingkungan
eksternnya dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah interennya.
6. Harold Koontz, Cyril ODonnell, dan Heinz Weihrich dalam bukunya, Management:
Pengembangan organisasi adalah suatu rancangan atau pendekatan sistematis, tersatupadukan,
dan terencana untuk meningkatkan keefektifan perusahaan.
7. George

R.

Terry,

Ph.

D.

dalam

bukunya, Principles

of

Management:

menurut definisi formal, pengembangan organisasi mencakup usaha-usaha untuk meningkatkan


hasil dengan memperoleh yang paling baik dari para pegawai, baik secara individual meupun
sebagai anggota kelompok kerja.
8. Felix A. Nigro dan Lioyd G. Nigro dalam buku mereka, Modern Public Administration:

Pengembangan organisasi adalah suatu pendekatan yang didasarkan atas ilmu sosial terhadap
analisis masalah-masalah organisasi dan pengefektiftas perubahan yang diarahkan dengan
menggunakan konsultan0konsultan yang terlatih atau ahli-ahli dalam perusahaan.
9. Prof. Dr. Sondang P. Siagian, M.P.A dalam bukunya Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku
Administrasi:
pengembangan organisasi, sebagai teori managemen, berarti serangkaian konsep, alat dan teknik
untuk melakukan perencanaan jangka panjang dengan sorotan pada hubungan antara kelompok
kerja dan individu dikaitkan dengan perubahan-perubahan yang bersifat structural.
10. Panitia Istilah Manajemen Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen dalam Kamus
Istilah Manejemen pengembangan organisasi adalah peningkatan kemampuan organisasi untuk
mencapai tujuannya dengan memanfaatkan potensi manusia secara lebih efektif dan
mengevaluasi setiap perubahan dan mengarahkannya secara konstruktif.

Setelah memperhatikan definisi-definisi pengembangan


organisasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengembangan
organisasi itu berhubungan dengan hal penganalisisan
masalah-masalah organisasi untuk meningkatkan hasil melalui
orang-orang yang berada di dalamnya.
B. Ciri-ciri umum pengembangan organisasi
Ciri ciri umum pengembangan organisasi menurut Gary Dessler, yaitu :
1. Pengembangan organisasi adalah suatu strategi pendidikan yang dimaksudkan untuk
menimbulkan perubahan organisasi yang telah direncanakan.
2. Perubahan-perubahan organisasi yang dituntut biasanya merupakan hasil dari suatu keadaan
darurat atau masalah luar. Sering hal ini mengakibatkan pertetangan antar kelompok atau
masalah-masalah identitas organisasi.
3. Pengembangan organisasi hampir selalu bertumpu pada suatu teknik yang mengandung
pengalaman yang sebenarnya.

4. Program-program pengembangan organisasi menggunakan perantara-perantara perubahan yang


hampir selalu merupakan konsultan-konsultan dari luar.
5. Seorang perantara perubahan biasanya mempunyai suatu filsafat sosial atau sekumpulan nilai
mengenai orang-orang dalam organisasi yang sama dengan nilai-nilai teori Y McGregor.
6. Tujuan-tujuan yang dicari oleh perantara perubahan untuk mencapainya melalui pengembangan
organisasi cenderung mencerminkan orientasi teoti y ini. Misalnya ia menghendaki pemecahan
pertentangan yang lebih baik, pengertian yang lebih mendalam, dan kepemimpinan yang lebih
peka.
C. Tujuan pengembangan organisasi
Beberapa tujuan dari penembangan organisasi diantaranya:

a.

Pengembangan organisasi itu tidak hanya berhubungan dengan organisasi, akan tetapi juga
berhubungan dnegan manusia atau pegawai.

b. Dalam pengembangan organisasi terjadi perubahan organisasi.


c.

Perubahan organisasi dilaksanakan oleh orang atau pegawai.

d. Organisasi dapat berkembang apabila ada orang-orang atau pegawai-pegawai yang yang
mengembangkannya.
e.

Tujuan pengembangan organisasi adalah mengusahakan agar organisasi, melalui orang-orang


atau pegawai-pegawainya, dapat memecahkan masalah-masalah yang timbul di dalamnya.

D. Teknik-Teknik Pengembangan Organisasi


Teknik dalam pengembangan organisasi dapat dikategorikan dalam berbagai macam antara lain:
1. Latihan Kepekaan
Latihan kpekaan merupakan salah satu teknik latihan dengan maksud untuk mempertajam
kepekaan perasaan, kepekaan, respon dalam menghadapi berbagai macam masalah. Kelompok
kepekaan sendiri masih dibagi menjadi tiga yaitu: kelompok tak kenal, kelompok semi kenal,
dan kelompok kenal. Dalam kelompok tak kenal para peserta latihan berasal dari bermacam-

macam organisasi dan tidak saling mengenal. Dalam kelompok semi tak kenal peserta latihan
berasal dari organisasi yang sama, akan tetapi diantara mereka ada yang saling mengenal dan ada
yang tidalk Sedangkan dalam kelompok kenal peserta latihan berasal dari satuan yang sama dan
mereka sudah saling mengenal. Latihan ini bertujuan untuk membuat para peserta lebih sadar,
mengembangkan konsep-konsep, pencapaian kefektifan perilaku, sehingga dalam bertindak di
lingkungan nyata telah siap menyikapi dengan bijak dan sesuai nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang
berlaku.

2. Latihan Grid
Latihan ini mempunyai tujuan sebagai pendekatan instrumen terhadap latihan di dalam
laboratorium. Latihan Grid mempunyai enam tahapan diantaranya Latihan seminar di
laboratorium, Pengembangan tim, Pengembangan antarkelompok, Penentuan tujuan organisasi,
pencapaian tujuan, dan stabilisasi. Teknik ini menjadi cara yang paling diandalkan sebagai teknik
pengembangan organisasi di Amerika karena teknik ini dianggap paling membawa pengaruh
positif dibandingakan dengan teknik-teknik pengembangan organisasi lainnya.
3. Grid Manajerial
Teknik pengembangan organisasi ini dibagi menjadi enam tahap yaitu:
Tahap satu, para manajer mengikuti seminar selama 5 hari.
Tahap kedua, Pengetahuan yang diperoleh melalui tahap 1 diterapkan di lingkungan pekerjaan.
Tahap ketiga, melakukan perbaikan hubungan antarkelompok melalui pemecahan bersama
pertentanngan, masalah, dan perselisihan.
Tahap keempat, Diciptakan suatu model organisasi yang ideal sesuai yang telah disepakati
Tahap kelima, Model yang telah ditetapkan kemudian diterapkan.
Tahap keenam, penilaian terhadap keseluruhan program misalnya dengan memperbaiki
kelemahan ataupun kekurngan yang terjadi dalam lingkungan organisasi tersebut.

4. Umpan Balik Survei


Teknik ini mempunyai tujuan untuk menyelidiki unit analisis seperti depatermen, kelompok
kerja, ataupun organisasi secara keseluruhan dengan cara menggunakan daftar pertanyaan dan
mengumpanbalikkan data kepada mereka yang menghasilkan. Data yang diperoleh akan
dipergunakan untuk menganalisia masalah-masakah dan mengembangkan rencana-rencana
tindakan

khusus

untuk

memecahkan

masalah

tersebut

biasanya

mengenai

masalah

kepemimpinan, suasna organisasi, dan kepuasan.


5. Konsultasi Proses
Teknik ini bertujuan untuk membantu memecahkan masalah-masalah penting yang dihadapi oleh
organisasi modern. Peran konsultan disini untuk membantu klien agar dapat melihat,
mengetahui, dan bertindak terhadap kejadian-kejadian proses yang terjadi dalam lingkungannya.
Konsultasi proses ditujukan melalui komunikasi, peranan fungsional anggota-anggota kelompok,
pemecahan masalah kelompok, dan pengambilan keputusan. MenurutSchein, langkah-langkah
khusus yang harus diikuti oleh konsultan dalam suatu program konsultasi proses pengembangan
organisasi adalah sebagai berikut:
Prakarsai hubungan.
Tentukan hubungan.
Pilih tata cara dan metode.
Kumpulkan data dan buat suatu diagnosis.
Kurangi keterlibatan dan akhiri.
Keuntungan dari teknik ini adalah konsultasi proses ditujukan pada masalah antarpribadi dan
antarkelompok akan tetapi kerugiannya adalah para peserta tidak terlibat secara nyata.
6. Pendamaian oleh Pihak Ketiga
Teknik ini bertujuan untuk memudahkan suatu konfrontasi yang bersifat membangun dan suatu
pemecahan masalah. Seorang pendamai pihak ketiga paling tidak harus berpengetahuan cukup

tentang para peserta, masalah-masalahnya, dan faktor-faktor latar belakang dan bersifat netral
tidak memihak salah satu pihak yang bertentangan. Pihak ketiga harusnya mengadakan

ETIKA ADEMINISTRASI PEMERINTAH


BMP ADPU 4533 Edesi 3
Pengertian etika
Istilah etika berasal dari bahasa yunani kuno. Kata yunani kuno ethos dalam bentuk
tunggal mempunyai banyak arti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan,
adat, akhlak, watak, perasaan, skap, cara berfikir . dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah:
adat kebiasaan. Dan arti terahir inilah yang menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah
etika yang oleh filusuf yunani besar aristoteles (384-322 s.M.)
Dalam pengertian sempit, etika sama maknanya dengan moral, yaitu adat istiadat atau
kebiasaan. Akan tetapi, etika juga merupakan bidang studi filsafat atau ilmu tentang adat atau
kebiasaan.
Berikut beberapa pengertian yang berkaitan denagan etika:
a.

Etika: (etik) sistem dari prinsip-prinsip moral, dapat juga berupa rules of conduct, kode sosial
(sicial code), etika kehidupan. Dapat berartijuga ilmu pengetahuan tentang moral, atau cabang
filsafat

b. Ethos:

(jiwa)

karakteristik

dari

masyarakat

tertentu

atau

kebudayaan

tertentu

(community,society).
c.

Esprit: (semangat) semangat d,crops, loyalitas, dan cinta pada kesatuan, kelompok, masyarakat,
pemerintah dan lain-lain.

d. Rule :(ketentuan dan peratuaran) ketentuan-ketentuan dalam setiap pergaulan masyarakat yang
memberi pedoman atau pengawasan tentang benar dan salah

e.

Norma : merupakan standar kriteria pola, patokan yang mantap dari masyarakat atau
pemerintah.

f.

Moral : pengerian tentang benar atau salah, prinsip-prinsip yang berhubungan benar dan salah.

2.2 Pengertian pemeritah


a.

Pemerintahan dalam arti luas adalah pemerintah/ lembaga-lembaga Negara yang menjalankan
segala tugas pemerintah baik sebagai lembaga eksekutif, legislative maupun yudikatif. Dengan
segala fungsi dan kewenganya

b.

Pengertian Pemerintah Secara etimologi, pemerintah bersala dari perkataan perintah, Pamudji
( 1995 : 23 ) mengartikan kata kata tersebut sebagai berikut :

Perintah adalah perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu.

Pemerintah adalah kekuasaan memerintah sesuatu ngara ( daerah negara atau badan yang
tertinggi yang memerintah suatu negara ).

Pemerintah adalah perbuatan ( cara, hal urusan dan sebagainya ) memerintah


Perbedaan pengertian pemerintah dan pemerintahan lazimnya disebut bahwa
pemerintah adalah lembaga atau badan publik yang mempunyai fungsi untuk melakukan upaya
mencapai tujuan negara sedangkan pemerintahan dari aspek dinamikanya.

2.3 Pengertian etika pemerintahan


Sudah di jelas kan bagai mana pengertian mengenai etika dan pemerintah ataupun
pemerintahan. Jadi pengertian etika pemerintahan itu sendiri adalah Ajaran untuk berperilaku
yang baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai keutamaan yang berhubungan dengan hakikat
manusia

2.4 Pendekatan filsafat terhadap etika pemerintahan Negara


1. Filsafat Idealisme Sokrates( 470-399 sM ) bahwa kebenaran dan kebaikan nilai obyektif yang
harus dijunjung tinggi oleh semua orang.
2. Filsafat Idealisme dari Plato (namanya aslinya Aristokles, 427-347sM ). Kebenaran sejati apa
yang tergam-bar dalam ide. Pemerintahan Negara Ideal adalah komunitas etical untuk
mencapai kebajikan dan kebaikan.
a.

Filsuf Idealisme Thomas Hobbes ( 1588-1679 ) bahwa terkenal dengan Teori Perjanjian Sosial
dalam pemerintahan, Kedaulatan kekuasaan absulut dan abadi, kekuasaan itu tertinggi dibatasi
dengan UU.

b. Filsuf Idealisme John Locke ( 1632-1707 ) dengan Teori Perjanjian bahwa kebahagiaan dan
kesusilaan dihubungkan dengan peraturan yaitu : perintah Tuhan, UU Negara dan hukum
pendapat umum dengan prinsip liberty, eguality dan personality.
c.

Filsuf Reusseauu dengan teori Contract Social . Manusia mempunyai kekuasaan dan hak
secara kodrat, kekuasaan negara berasal dari negara dan negara berasal dari rakyat. Intinya
pemerintah yang berkuasa tidak monarkhi absolut.

d. Filsuf Hegel dengan metode dialektika tentang pemerintahan negara bahwa : negara penjelmaan
dari ide, rakyat ada demi negara agar ide kesusilaan, negara mempunyai hukum tertinggi
terhadap negara bagi kebahagiaan rakyat

2.5 Nilai_niali etika dalam pemerintahan


Etika pemerintahan disebut selalu berkaitan dengan nilai-nilai keutamaan yang
berhubungan dengan hak-hak dasar warga negara selaku manusia sosial (mahluk sosial). Nilainilai keutamaan yang dikembangkan dalam etika pemerintahan adalah :

1.

Penghormatan terhadap hidup manusia dan HAM lainnya.

2.

kejujuran baik terhadap diri sendiri maupun terhadap manusia lainnya (honesty).

3.

Keadilan dan kepantasan merupakan sikap yang terutama harus diperlakukan terhadap

orang lain.

4.

kekuatan moralitas, ketabahan serta berani karena benar terhadap godaan (fortitude).

5.

Kesederhanaan dan pengendalian diri (temperance).

6.

Nilai-nilai agama dan sosial budaya termasuk nilai agama agar manusia harus bertindak

secara profesionalisme dan bekerja keras.

Wujud etika dalam pemerintahan


Wujud etika pemerintahan tersebut adalah aturan-aturan ideal yang dinyatakan dalam UUD
baik yang dikatakan oleh dasar negara (pancasila) maupun dasar-dasar perjuangan negara (teks
proklamasi). Di Indonesia wujudnya adalah pembukaan UUD 1945 sekaligus pancasila sebagai
dasar negara (fundamental falsafah bangsa) dan doktrin politik bagi organisasi formil yang
mendapatkan legitimasi dan serta keabsahan hukum secara de yure maupun de facto oleh
pemerintahan RI, dimana pancasila digunakan sebagai doktrin politik organisasinya

2.7 Mewujudkan pemerintah yang baik dan sehat (Good governance)


a.

Pemerintahan yang konstitusional ( Constitutional )

b.

Pemerintahan yang legitimasi dalam proses politik dan administrasinya ( legitimate )

c.

Pemerintahan yang digerakkan sektor publik, swsata dan masyarakat ( public, private and
society sector )

d.

Pemerintahan yang digerakkan sektor publik, swsata dan masyarakat ( public, private and
society sector )

Prinsip Penegakkan Hukum,


Akuntabilitas,

Demokratis,
Responsif,
Efektif dan Efisensi,
Kepentingan Umum,
Keterbukaan,
Kepemimpinan Visoner dan
Rencana Strategis
e.

Pemerintahan yang menguatkan fungsi : kebijakan publik (Public Policy ), pelayanan


publik ( Public Service ), otonomi daerah ( Local Authonomy ), pembangunan (Development ),
pemberdayaan masyarakat ( Social Empowering ) dan privatisasi ( Privatization )

2.8 Prinsip Negara hukum dalam system penyelenggaraan pemerintahan


a.

Supremasi Hukum ( Suprmacy of Law )

b.

Persamaan dalam hukum ( Eguality before the Law)

c.

Asas Legalitas ( Due Process of Law );

d.

Pembatasan Kekasaan ;

e.

Organ-organ pemerintahan yng independen;

f.

Peradilan yang bebas dan tidak memihak;

g.

Peradilan Tata Usaha Negara(Constitutional Court );

h.

Peradilan Tata Negara;

i.

Perlindungan Hak asasi Manusia;

j.

Bersifat Demokratis ( Democratische Rechtsaats )

k.

Berfungsi sarana mewujudkan tujuan bernegara (welfare Rechtstaat)

l.

Transparansi dan Kontrol Sosial

Landasan etika pemerintahan Indonesia


a.

Falsafah Pancasila dan Konstitusi/UUD 1945 Negara RI;

b.

TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ;

c.

UU No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme;

d.

UU No. 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UU No. 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian ( LN No. 169 dan Tambahan LN No. 3090 );

e.

UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang dirubah dengan UU No. 3 Tahun
2005 dan UU No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah ;

f.

PP No. 60 tentnag Disiplin Pegawai Negeri .


2.10 Masalah Etika dalam pemerintah
Dewasa ini, banyak sekali kasus-kasus muncul berkaitan dengan penyelewengan etika
organisasi pemerintah. Salah satu contoh nyata yang masih saja dilakukan oleh individu dalam
organisasi pemerintah yaitu KKN.
Adapun definisi KKN yaitu suatu tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep
modern), yang melayani kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan
tetapi praktek korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa
harus melibatkan hubungan negara.
Praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di Indonesia tergolong cukup tinggi. Contoh
di bidang perbankan khususnya, keberadaan UU No. 10 Tahun 1998 ternyata tidak cukup ampuh
menjerat atau membuat jera para pelaku KKN. Dari data yang ada , diketahui ada beberapa kasus
yang cukup mencolok dengan nominal kerugian negara yang cukup besar.
Sebutlah kasus penyelewengan dana BLBI yang sampai saat ini sudah berlangsung
hampir 10 tahun tidak selesai. Para tersangka pelakunya masih ada yang menghirup udara bebas,

dan bahkan ada yang di vonis bebas dan masih leluasa menjalankan aktivitas bisnisnya. Yang
lebih parah lagi, terungkap juga bukti penyuapan yang melibatkan salah satu pejabat Jampidsus
beberapa waktu yang lalu.
Praktek KKN dalam organisasi pemerintah khususnya, menjadi masalah berkaitan
dengan etika organisasi pemerintah Karena ini merupakan penyelewengan dari apa yang
seharusnya dilakukan dan dimiliki oleh seorang individu dalam organisasi pemerintah, yakni
melayani rakyat dengan baik dan berusaha memberikan yang terbaik bagi rakyat. Akan tetapi,
dengan adanya peraktek KKN jelas merugikan bangsa dan negara.