Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN COMPARTMENT SYNDROME RUANG POLI ORTHOPEDI


RSD dr. SOEBANDI

disusun guna memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Ners


Stase Keperawatan Medikal Bedah

oleh
Ahmad Naufal Alfarisi, S.Kep
NIM 102311101040

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015

1. Definisi
Sindrom kompartemen adalah suatu keadaan dimana timbul gejala yang
disebabkan oleh peningkatan tekanan intertitial di dalam ruang osteofascial yang
kemudian akan mengakibatkan menurunnya perfusi dan oksigenasi jaringan.
Kompartemen sendiri adalah ruangan yang berisi otot, saraf, dan pembuluh darah
yang dilindungi oleh fascia dan tulang serta otot-otot.

Gambar 1. Rangka
Secara anatomi sebagian besar kompartemen terletak di anggota gerak yaitu:
1. Lengan atas (kompartemen anterior dan posterior)
2. Lengan bawah (kompartemen anterior, lateral, dan posterior)
3. Tungkai atas (kompartemen anterior, medial, dan kompartemen
posterior)
4. Tungkai bawah (kompartemen anterior, lateral, posterior superfisial,
posterior profundus)

Menurut Sugeng Krismawanto tahun 2015 dalam tesis tekanan intra


kompartemen anterior tungkai bawah sebelum dan sesudah exercise Kejadian
sindroma kompartemen akibat latihan atau aktivitas berlebihan (Exertional
Compartment Syndrome) yang biasa terjadi pada tungkai bawah, di Indonesia
belum pernah dilaporkan. Ini bisa disebabkan memang tidak pernah terjadi atau
sistem pendataan yang kurang baik. Pengukuran tekanan intrakompartemen
anterior tungkai bawah pada siswa calon bintara Polri di SPN Pontianak, sebanyak
63 siswa didapatkan tekanan intrakompartemen sebelum exercise rata-rata 7,3
mmHg dan setekah exercise dengan Ian selama 20 merit didapatkan tekanan ratarata 10,9 mmHg pada 1 menit setelah selesai lari, dan tekanan rata-rata 8,0 mmHg
5 menit setelah selesai lari. Peningkatan tekanan tersebut masih di bawah 15
mmHg yang merupakan batas tekanan sebelum exercise pada orang yang
potensial terjadi exertional compartment syndrome kraals sesuai kriteria dari
Pedowitz. Dengan demikian dapat diperldrakan bahwa orang Indonesia memiliki
batas anibang yang cukup tinggi untuk terjadinya sindroma kompartemen yang
disebabkan oleh latihan atau aktivitas berlebihan.

Gambar 1. Arterior Compartemen


Bila tidak ada perbaikan yang terjadi, siapkan untuk alat bantu dengan
pemantauan tekanan jaringan, suatu cara untuk mengukur tekanan fascia (tekanan
fasia yang normal adalah 0 sampai 30 mmHg dan apabila tekanan ini mendekati
30 mmHg kapiler dan arteri akan menutup menyebabkan sumbatan). Pada
keadaan normal kompartemen tungkai bawah mempunyai tekanan 10 mmHg.
Hasil percobaan memberikan kesan bahwa nekrose otot yang signifikan mungkin
terjadi pada penderita dengan aliran darah normal jika tekanan intrakompartmen
naik lebih dari 30 mmHg selama lebih dari 8 jam. Percobaan pada binatang,

tekana 40 mmHg selama 14 jam tidak memberikan konduksi saraf, tetapi tekanan
50 mmHg menghentikan konduksi saraf dalam waktu kurang dari 7 jam.
Rorabeck menunjukkan bahwa durasi penurunan tekanan adalah signifikan saraf
permanen tetapi selama 12 jam atau lebih menyebabkan perubahan neurologis
permanen. Penelitian lebih lanjut pada sukarelawan menunjukkan variasi yang
signifikan

pada

toleransi

terhadap

tekanan.

Oncet

terjadinya

tekanan

intrakompartmen maksimal rata-rata 12 jam pasca trauma.


Tabel 1. Letak dan Isi Kompartemen
Letak
Lengan

Kompartemen
Anterior

Atas

Isi
M. Biceps brachii, M. Coracobrachialis, M.
Brachialis;
A. Brachialis;
N. Musculocutaneus
Struktur yang Menembus Kompartemen : N.
Musculocutaneus, N. Medius, M. Ulnaris, A.

Posterior

Lengan

Anterior

Bawah

Brachialis, V. Basilica
M. Triceps brachii;
A. Profunda brachii, A. Collateralis ulnaris;
N. Radialis
Struktur yang Menembus Kompartemen : N.
Radialis dan N. Ulnaris
M. Pronator teres, M. Flexor carpi radialis, M.
Palmaris longus, M. Flexor carpi ulnaris, M.
Flexor digitorum superficialis, M. Flexor
pollicis longus, M. Flexor digitorum profundus,
M. Pronator quadratus;
A. Ulnaris, A. Radialis;

Lateral

N. Medianus
M. Brachioradialis, m. Flexor carpi radialis

Posterior

longus;
A. Radialis, a. Brachialis;
N. Radialis
M. Extensor carpi radialis brevis, M. Extensor
digitorum, M. Extensor digiti minimi, M.

Extensor carpi ulnaris, M. Anconeus, M.


Supinator, M. Abductor pollicis longus, M.
Extensor pollicis brevis, M. Extensor pollicis

Tungkai

Anterior

longus, M. Extensor indicis;


Arteriae interoseus anterior dan posterior;
Ramus profundus nervi radialis
M. Sartorius, M. Iliacus, M. Psoas, M.

Medial

Pectineus, M. Quadriceps femoris;


A. Femoralis;
N. femoralis
M. Gracilis, M. Adductor longus, M. Adductor

Atas

brevis, M. Adductor magnus, M. Obturatorius

Tungkai

Posterior

externus;
A. profunda femoris, A. Obturatoria;
N. obturatorius
M. Biceps femoris, M. Semitendinosus, M.

Anterior

Semimembranosus, M. Adductor magnus;


Cabang-cabang a. Profunda femoris
Septume intermuskululare, M. Tibialis anterior,

Bawah

M. Extensor digitorum longus, M. Peroneus


tertius, M. Extensor hallucis longus, M.

Lateral
Posterior
Superfisial
Posterior
Profundus

2. Etiologi

Extensor digitorum brevis;


A. Tibialis anterior;
N. Peroneus profundus
M. Peroneus longus, M. Peroneus brevis;
Cabang-cabang dari a. Peronea;
N. peroneus superficialis
M. Gastrocnemius, M. Plantaris, M. Soleus;
A. Tibialis posterior;
N. Tibialis
Septum intermuskulare posterior
M. Popliteus, M. Flexor digitorum longus, M.
Flexor hallucis longus, M. Tibialis posterior;
A. Tibialis posterior;
N. Tibialis
Fasia kruralis posterior

Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal


yang kemudian memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:
a. Penurunan volume kompartemenKondisi ini disebabkan oleh:
1) Penutupan defek fascia
2) Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas
b. Peningkatan tekanan eksternal
1) Balutan yang terlalu
2) Berbaring di atas lengan
c. Peningkatan tekanan pada struktur kompartemen. Beberapa hal yang bisa
menyebabkan kondisi ini antara lain:
1) Pendarahan atau Trauma vaskuler
2) Peningkatan permeabilitas kapiler
3) Penggunaan otot yang berlebihan
4) Luka bakar
5) Operasi
6) Gigitan ular
7) Obstruksi vena
Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah
cedera, dimana 45% kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi
dianggota gerak bawah.
3. Patofisiologi
Patofisiologi sindrom kompartemen melibatkan hemostasis jaringan local
normal yang menyebabkan peningkatan tekanan jaringan, penurunan aliran darah
kapiler, dan nekrosis jaringan lokal yang disebabkan hipoksia. Waktu iskemik:
nervus < 4 jam, otot < 4 jam beberapa mengatakan sampai 6 jam. Peningkatan
tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam ruang yang tertutup.
Peningkatan tekanan secara terus menerus menyebabkan tekanan arteriolar
intramuskuler bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi darah yang akan
masuk ke kapiler sehingga menyebabkan kebocoran ke dalam kompartemen, yang
diikuti oleh meningkatnya tekanan dalam kompartemen. Penekanan terhadap saraf
perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Setelah itu, aliran darah
melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran oksigen juga akan
terhenti, Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). Jika hal ini terus berlanjut,

maka terjadi iskemia otot dannervus, yang akan menyebabkan kerusakan


ireversibel komponen tersebut.
Terdapat tiga teori yang menyebabkan hipoksia pada kompartemen sindrom antara
lain:
a. Spasme arteri akibat peningkatan tekanan kompartemen
b. Theory Of Critical Closing Pressure
Hal ini disebabkam oleh diameter pembuluh darah yang kecil dan tekanan
mural arteriol yang tinggi. Tekanan transmural secara signifikan berbeda
(tekanan arteriol-tekanan jaringan), ini dibutuhkan untuk memelihara
patensi aliran darah. Bila tekanan tekanan jaringan meningkat atau tekanan
arteriol menurun maka tidak ada lagi perbedaan tekanan. Kondisi seperti
ini dinamakan dengan tercapainya critical closing pressure. Akibat
selanjutnya adalah arteriol akan tertutup.
c. Tipisnya Dinding Vena
Karena dinding vena itu tipis, maka ketika tekanan jaringan melebihi
tekanan vena maka ia akan kolaps. Akan tetapi bila kemudian darah
mengalir secara kontinyu dari kapiler maka, tekanan vena akan meningkat
lagi melebihi tekanan jaringan sehingga drainase vena terbentuk kembali.
McQueen dan Court-Brown berpendapat bahwa perbedaan tekanan
diastolic dan tekanan kompartemen yang kurang dari 30 mmHg
mempunyai korelasi klinis dengan sindrom kompartemen.
4. Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang terjadi pada syndrome kompartemen dikenal dengan 5 P
yaitu:
a. Pain (nyeri) : nyeri yang hebat saat peregangan pasif pada otot otot yang
terkena, ketika ada trauma langsung. Nyeri merupakan gejala dini yang
paling penting. Terutama jika munculnya nyeri tidak sebanding dengan
keadaan klinik (pada anak-anak tampak semakin gelisah atau
memerlukan analgesia lebih banyak dari biasanya). Otot yang tegang
pada kompartemen merupakan gejala yang spesifik dan sering. Nyeri
yang dalam dan biasanya tidak bisa diungkapkan.

b.
c.
d.
e.

Pallor (pucat), diakibatkan oleh menurunnya perfusi ke daereah tersebut.


Pulselesness (berkurang atau hilangnya denyut nadi )
Parestesia (rasa kesemutan)
Paralysis merupakan tanda lambat akibat menurunnya sensasi saraf
yang berlanjut dengan hilangnya fungsi bagian yang terkena kompartemen
sindrom.

5. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
a. Comprehensive metabolic panel (CMP)
Sekelompok

tes

darah

yang

memberikan

gambaran

keseluruhan

keseimbangan kimia tubuh dan metabolisme. Metabolisme mengacu pada


semua proses fisik dan kimia dalam tubuh yang menggunakan energi.
b. Complete blood cell count (CBC)
Pemeriksaan komponen darah secara lengkap yakni kadar : Hemoglobin,
Hematokrit, Leukosit (White Blood Cell / WBC), Trombosit (platelet),
Eritrosit (Red Blood Cell / RBC), Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC),
Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR), Hitung
JenisLeukosit (Diff Count), Platelet Disribution Width (PDW), Red
CellDistribution Width (RDW).
c. Amylase and lipase assessment.
d. Prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT)
e.
f.
g.
h.

bila pasien diberi heparin.


Cardiac marker test (tes penanda jantung).
Urinalisis and urine drug screen.
Pengukuran level serum laktat.
Arterial blood gas (ABG): cara cepat untuk mengukur deficit pH, laktat

dan basa.
i. Kreatinin fosfokinase dan urin myoglobin
j. Serum myoglobin
k. Toksikologi urin : dapat membantu menentukan penyebab, tetapi tidak
membantu dalam menentukan terapi pasiennya.
l. Urin awal : bila ditemukan myoglobin pada urin, hal ini dapat mengarah ke
diagnosis rhabdomyolisis.
Imaging :

a. Rontgen : pada ekstremitas yang terkena.


b. USG: USG membantu untuk mengevaluasi aliran arteri dalam
memvisualisasi Deep Vein Thrombosis (DVT).

6. Prosedur pengukuran tekanan kompartemen


a. Pengukuran tekanan kompartemen

Gambar 3. Alat Pengukur Tekanan Kompartemen


a. Teknik Wick kateter.
Wick kateter dan sarung plastiknya dihubungkan ke transducer dan
recorder. Kateter dan tabungnya diisi oleh three-way yang dihubungkan
dengan transducer. Sangat perlu untuk memastikan bahwa tidak ada
gelembung udara dalam sistem tersebut karena memberi hasil yang
rendah atau mengaburkan pengukuran. Ujung kateter harus dapat
menghentikan suatu meniskus air sehingga dapat dipastikan dan
diketahui bahwa dalam jaringan tersebut dilewati suatu trocar besar,
kemudian jarumnya ditarik dan kateter dibalut ke kulit.
7. Penatalaksanaan
Tujuan dari penanganan sindrom kompartemen adalah mengurangi defisit
fungsi neurologis dengan lebih dulu mengembalikan aliran darah lokal, melalui
bedah dekompresi. Walaupun fasciotomi disepakati sebagai terapi yang terbaik,
namun beberapa hal, seperti timing masih diperdebatkan. Semua ahli bedah setuju
bahwa adanya disfungsi neuromuskular adalah indikasi mutlak untuk melakukan
fasciotomi.
a. Terapi non bedah

Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk
dugaan sementara. Berbagai bentuk terapi ini meliputi:
1) Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian
kompartemen yang minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan
aliran darah dan akan lebih memperberat iskemi.
2) Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan
pembalut kontriksi dilepas.
3) Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat
perkembangan sindroma kompartemen.
4) Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produkd arah.
5) Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakain anmanitol
dapat mengurangi tekanan kompartemen. Manitol mereduksi edema
seluler, dengan memproduksi kembali energi seluler yang normal dan
mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari radikal bebas.

b. Terapi Bedah
Fasciotomi dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai > 30
mmHg. Tujuan dilakukan tindakan ini adalah menurunkan tekanan
dengan memperbaiki perfusi otot. Jika tekanannya < 30 mm Hg maka
tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan diperiksa lagi pada jam-jam
berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi terus dilakukan
hingga fase berbahaya terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera
lakukan fasciotomi. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi
adalah 6 jam. Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi
tunggal dan insisi ganda. Insisi ganda pada tungkai bawah paling sering
digunakan karena lebih aman dan lebih efektif, sedangkan insisi tunggal
membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan vena
peroneal. Pada tungkai bawah, fasiotomi dapat berarti membuka ke empat
kompartemen, kalau perlu dengan mengeksisi satu segmen fibula. Luka
harus dibiarkan terbuka, kalau terdapat nekrosis otot, dapat dilakukan
debridemen, kalau jaringan sehat, luka dapat di jahit (tanpa regangan), atau
dilakukan pencangkokan kulit.

Terapi untuk sindrom kompartemen biasanya adalah operasi. Insisi


panjang dibuat pada fascia untuk menghilangkan tekanan yang meningkat
di dalamnya. Luka tersebut dibiarkan terbuka (ditutup dengan pembalut
steril) dan ditutup pada operasi kedua, biasanya 5 hari kemudian. kalau
terdapat nekrosis otot, dapat dilakukan debridemen, kalau jaringan sehat,
luka dapat di jahit (tanpa regangan), atau skin graft mungkin diperlukan
untuk menutup luka ini.

8. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat trauma permanen yang mengenai otot dan syaraf
yang dapat mengurangi fungsinya. Apabila sindrom kompartemen lebih dari 8 jam
dapat mengakibatkan nekrosis dari syaraf dan otot dalam kompartemen. Syaraf
dapat beregenerasi sedangkan otot tidak sehingga jika terjadi infark tidak dapat
pulih kembali dan digantikan dengan jaringan fibrosa yang tidak elastis yaitu
kontraktur iskemik volkmann, yaitu kelanjutan dari sindrom kompartemen akut
yang tidak mendapat terapi selama lebih dari beberapa minggu atau bulan.
Kontraktur Volkmann adalah deformitas pada tangan, jari, dan pergelangan
tangan karena adanya trauma. Sedangkan komplikasi sistemik yang dapat timbul
dari sindroma kompartemen dapat meliputi gagal ginjal, sepsis dan acute
respiratory distress syndrome ( ARDS ) yang fatal jika terjadi sepsis kegagalan
organ secara multi sistem.
9. Pencegahan
Pencegahan kompartemen sindrom yaitu dicegah dengan mengontrol
edema, yang dapat dicapai dengan meninggikan ekstremitas yang cedera setinggi
jantung dan memberikan kompres es setelah cedera sesuai resep. Bila telah terjadi
sindrom kompartemen, balutan yang ketat harus dilonggarkan.
10. Prognosis
Sindroma kompartemen akut cenderung memiliki hasil akhir yang jelek,
toleransi otot untuk terjadinya iskemia adalah 4 jam. Kerusakan irreversible

terjadi bila lebih dari 8 jam. Jika diagnosa terlambat dapat menyebabkan trauma
syaraf dan hilangnya fungsi otot. Walaupun fasciotomi dilakukan dengan cepat
dan awal, hampir 20% pasien mengalami deficit motorik dan sensorik yang
persisten.

1. Pengkajian
1) Data pasien
2) Keluhan utama
3) Riwayat kesehatan sekarang
4) Riwayat kesehatan masa lalu
5) Pengkajian psikososial kultural dan spiritual
1) Status psikologi dan perkembangan
2) Sosial ekonomi
3) Budaya
4) Spiritual

6) Riwayat Keperawatan
Keluhan Pada pasien Bedah orthopedi yang paling sering adalah nyeri,
akibat dari cidera, fraktur, spasme otot atau cidera muskuluskeletal.
7) Riwayat Penyakit Sekarang
Memantau keadaan umum pasien dan masalah-masalah yang timbul
berkaitan denga jenis gangguan muskuloskeletal.
8) Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pasien pernah mengalami gangguan muskuloskeletal atau pernah
melakukan bedah orthopedi sebelumnya, penyakit seperti hipertensi dan
lain sebagainya.
9) Riwayat penyakit keluarga
Apakah anggota keluarga ada yang pernah melakukan bedah orthopedi.
10) Pemeriksaan Fisik
1) Look: oedam, warna kulit, pus, balutan, bandingkan dengan yang
normal
2) Feel : palpasi apa ada tanda terdeness, krepitasi, deformitas
3) Move: pada pemeriksaan move, periksalah bagian tubuh yang normal
terlebih dahulu, selain untuk mendapatkan kooperasi dari penderita,
juga untuk mengetahui gerakan normal penderita.
a. Apabila ada fraktur, tentunya akan terdapat gerakan yang
abnormal didaerah fraktur (kecuali fraktur incomplete).
b. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat gerakan dari tiap arah
pergerakan, mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dengan ukuran
metric. Pencatatan ini penting untuk mengetahui apakah ada
gangguan gerak.
c. Kekakuan sendi disebut ankylosis dan hal ini dapat disebabkan
oleh factor intraarticuler atau ekstraarticuler.
d. Pergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif (apabila
penderita sendiri yang menggerakan karena disuruh oleh
pemeriksa) dan gerak pasif (bila pemeriksa yang menggerakan).
e. Pada pemeriksaan selain penderita duduk atau berbaring, juga
perlu dilihat waktu berdiri dan berjalan. Pada pemeriksaan jalan,
perlu dinilai untuk mengetahui apakah adanya pincang atau tidak.
Pincang

dapat

disebabkan

oleh

discrepancy atau fixed deformity.

karena

instability, nyeri,

NO
1.

DIAGNOSA
Nyeri berhubungan dengan
fraktur, masalah ortopedi,
pembengkakan
atau
inflamasi.
Definisi :
sensori
yang
tidak
menyenangkan
dan
pengalaman
emosional
yang muncul secara aktual
atau potensial kerusakan
jaringan
atau
menggambarkan
adanya
kerusakan (asosiasi studi
nyeri
internasional):
serangan mendadak atau
pelan intensitasnya dari
ringan sampai berat yang
dapat diantisipasi dengan
akhir yang dapat diprediksi
dan dengan durasi kurang
dari 6 bulan

2.

Hambatan mobilitas fisik


berhubungan dengan rasa
nyeri pada luka gangguan
mobilitas fisik

TUJUAN
NOC :
- Pain level
- Pain control
- Comfort level
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam nyeri teratasi dengan
kriteria hasil:
a) Mampu
mengontrol
nyeri
(tahu
penyebab nyeri, mampu menggunakan
teknik
nonfarmakologi
untuk
mengurangi nyeri, mencari bantuan)
b) Melaporkan bahwa nyeri berkurang
dengan menggunakan manajemen nyeri
c) Mampu mengenali
nyeri
(skala,
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri
berkurang
e) Tanda vital dalam rentang normal
f) Tidak mengalami gangguan tidur

NOC :
Joint Movement : Active
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3x24 jam gangguan mobilitas fisik
teratasi dengan kriteria hasil:
a.
Klien meningkat dalam
Definisi:
aktivitas fisik
Keterbatasan
dalam b.
Mengerti
tujuan
dari
kebebasan untuk pergerakan
peningkatan mobilitas

NIC :
Pain Managem
1. Lakukan
komprehen
karakterist
dan faktor
2. Observasi
ketidaknya
3. Bantu p
mencari d
4. Kontrol
mempenga
ruangan, p
5. Kurangi fa
6. Kaji tipe
menentuka
7. Ajarkan
farmakolog
distraksi, k
8. Berikan an
...
9. Tingkatkan
10. Berikan in
penyebab
berkurang
ketidaknya
11. Monitor v
pemberian
NIC
Exercise thera
1. Monitori
latihan d
latihan
2. Konsulta
tentang r
kebutuha
3. Bantu

fisik tertentu pada bagian c.


Memverbalisasikan
tubuh atau satu atau lebih
perasaan dalam meningkatkan kekuatan
ekstremitas
dan kemampuan berpindah
d.
Memperagakan
penggunaan alat bantu untuk mobilisasi
(walker)

4.
5.
6.
7.
8.
9.

3.

tongkat
cedera
Ajarkan
lain tenta
Kaji
k
mobilisas
Latih
kebutuha
kemampu
Damping
mobilisas
ADLs
Berikan
memerlu
Ajarkan
posisi
diperluka

Gangguan perfusi jaringan NOC


NIC
berhubungan
dengan Status Sirkulasi
Perawatan Sir
peningkatan
tekanan Perfusi Jaringan Perifer
1. Kaji sec
intertesial
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
perifer (
selama 2x24 jam pasien menunjukkan
refill, wa
peningkatan perfusi jaringan dengan kriteria
2. Evaluasi
Definisi:
penurunan hasil:
3. Inpseksi
pemberian oksigen dalam a) Tanda-tanda vital dalam batas normal 4. Elevasi a
kegagalan memberi makan
(TD 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt,
lebih t
o
jaringan pada tingkat kapiler
RR: 16-20x/mnt, S: 36-37,5 C).
meningka
b) warna kulit tidak pucat,
5. Ubah po
c) peningkatan kekuatan dan fungsi otot
sekali
d) suhu kulit hangat,
6. Dorong l
e) nilai laboratorium dalam batas normal
7. Dorong p
(Hb: 12-16 gr/dL (wanita), 14-18
8. Kolabora
gr/dL (pria), Hmt: 33-38% (anak), 40ant ikoag
48% (pria dewasa), 37-43% (wanita
9. Monitor
dewasa)
Mon
dan R
Mon
Mon
10. Monitor
kulit

Cemas berhubungan
dengan kurangnya
pengetahuan tentang
penyakitnya
Definisi: perasaan gelisah
yang tak jelas dari ket
idaknyamanan
atau
kekuatan yang disertai
respon autonomy (sumber
tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu),
perasaan
keprihatinan
disebabkan dari antisipasi
terhadap bahaya.

NOC :
NIC :
Kontrol kecemasan
Anxiety Redu
Koping
1. Gunakan
Setelah dilakukan asuhan selama 1x24 jam 2. Nyatakan
klien kecemasan teratasi dgn
terhadap
kriteria hasil:
3. Jelaskan
a) Klien mampu mengidentifikasi dan
dirasakan
mengungkapkan gejala cemas
4. Temani
b) Mengidentifikasi, mengungkapkan dan
keamana
menunjukkan tehnik untuk mengontol 5. Berikan
cemas
diagnosis
c) Vital sign dalam batas normal
6. Libatkan
d) Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa
klien
tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan
7. Instruksik
berkurangnya kecemasan
menggun
8. Dengarka
9. Identifika
10. Bantu p
menimbu
11. Dorong
perasaan,
12. Kelola pe

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. E. 2002. Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk


perencanaan dan pendokumentasian pasien. Ed. 3. Jakarta: EGC
Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine M.2006. Pathofisiologi Konsep Klinis
Proses Penyakit, Jakarta: EGC
Smeltzer, S. C. 2001. Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & Suddart.
Ed. 8. Jakarta: EGC
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.