Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Selulitis merupakan peradangan akut terutama menyerang jaringan subkutis,
biasanya didahului luka atau trauma dengan penyebab tersering Streptokokus
betahemolitikus dan Stafilokokus aureus. Sellulitis adalah peradangan pada jaringan
kulit yang mana cenderung meluas kearah samping dan ke dalam.
Selulitis sendiri mempunyai tiga karakteristik yaitu, Peradangan supuratif
sampai di jaringan subkutis, Mengenai pembuluh limfe permukaan, Plak eritematus,
batas tidak jelas dan cepat meluas.
Penyebab selulitis diantaranya adalah infeksi bakteri dan jamur, serta
disebabkan oleh penyebab lain seperti genetic, gigitan serangga dan lain lain.
Untuk menghindari terkena selulitis bias dilakukan dengan melembabkan kulit
secara teratur, Potong kuku jari tangan dan kaki secara hati-hati, Lindungi tangan dan
kaki, Rawat secara tepat infeksi kulit pada bagian superficial
1.2 Rumusan Masalah
1.

Apa pengertian selulitis ?

2.

Apa etiologi dari selulitis ?

3.

Apa saja factor factor yang memperparah selulitis ?

4.

Bagaimana patofisiologi selulitis ?

5.

Apa saja manifestasi klinis selulitis ?

6.

Bagaimana pemeriksaan selulitis ?

7.

Bagaimana penatalaksanaan selulitis ?

8.

Bagaimana pencegahan selulitis ?

9.

Apa komplikasi dari selulitis ?1.3 Tujuan Penyusunan

1.3.1 Tujuan Umum


Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang konsep dasar dan
asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnose medis selulitis.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Memahami pengertian dari penyakit selulitis
b. Memahami tentang penyebab dari penyakit selulitis.
c. Memahami dan menyebutkan tanda dan gejala dari penyakit penyakit
selulitis.
d. Memahami patofisiologi dari dari penyakit selulitis.
e. Memahami dan menjelaskan pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan
dari penyakit selulitis.
f. Memahami dan menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan
selulitis

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan jaringan
subkutan biasanya disebabkan oleh invasi bakteri melalui suatu area yang robek pada
kulit, meskipun demikian hal ini dapat terjadi tanpa bukti sisi entri dan ini biasanya
terjadi pada ekstremitas bawah (Tucker, 2008 : 633).Selulitis adalah inflamasi
supuratif yang juga melibatkan sebagian jaringan subkutan (Mansjoer, 2000 :
82).Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar kedalam bidang jaringan
(Brunner & Suddarth, 2000 : 496).Selulitis adalah penyebaran infeksi pada kulit
yang meluas hingga jaringan subkutan (Arif, 2000).
Selulitis adalah peradangan akut terutama menyerang jaringan subkutis,
biasanya didahului luka atau trauma dengan penyebab tersering Streptokokus
betahemolitikus dan Stafilokokus aureus. Sellulitis adalah peradangan pada jaringan
kulit yang mana cenderung meluas kearah samping dan ke dalam (Herry, 1996).
Jadi selulitis adalah infeksi pada lapisan kulit yang lebih dalam yang
disebabkan oleh bakteri Stapilokokus aureus, Strepkokus grup A danStreptokokus
piogenes. Dengan karakteristik sebagai berikut :
a. Peradangan supuratif sampai di jaringan subkutis
b. Mengenai pembuluh limfe permukaan
c. Plak eritematus, batas tidak jelas dan cepat meluas

Gambar 1 : Cellulitis
2.2. Klasifikasi
Selulitis dapat digolongkan menjadi:
a. Selulitis Sirkumskripta Serous Akut
Selulitis yang terbatas pada daerah tertentu yaitu satu atau dua spasia fasial, yang
tidak jelas batasnya.Infeksi bakteri mengandung serous, konsistensinya sangat lunak
dan spongius.Penamaannya berdasarkan ruang anatomi atau spasia yang terlibat.
b. Selulitis Sirkumskripta Supurartif Akut
Prosesnya hampir sama dengan selulitis sirkumskripta serous akut, hanya infeksi
bakteri tersebut juga mengandung suppurasi yang purulen. Penamaan berdasarkan
spasia yang dikenainya.Jika terbentuk eksudat yang purulen, mengindikasikan tubuh
bertendensi membatasi penyebaran infeksi dan mekanisme resistensi lokal tubuh
dalam mengontrol infeksi.
c. Selulitis Difus Akut
Dibagi lagi menjadi beberapa kelas, yaitu:
1. Ludwigs Angina

2. Selulitis yang berasal dari inframylohyoid


3. Selulitis Senators Difus Peripharingeal
4. Selulitis Fasialis Difus
5. Fascitis Necrotizing dan gambaran atypical lainnya
6. Selulitis Kronis
Selulitis kronis adalah suatu proses infeksi yang berjalan lambat karena terbatasnya
virulensi bakteri yang berasal dari fokus gigi. Biasanya terjadi pada pasien dengan
selulitis sirkumskripta yang tidak mendapatkan perawatan yang adekuat atau tanpa
drainase.
7. Selulitis Difus yang Sering Dijumpai
Selulitis difus yang paling sering dijumpai adalah Phlegmone / Angina Ludwigs.
Angina Ludwigs merupakan suatu selulitis difus yang mengenai spasia sublingual,
submental dan submandibular bilateral, kadang-kadang sampai mengenai spasia
pharingeal. Selulitis dimulai dari dasar mulut. Seringkali bilateral, tetapi bila hanya
mengenai satu sisi/ unilateral disebut Pseudophlegmon.
2.3. Etiologi
Penyebab dari selulitis menururt Isselbacher (2009 ; 634) adalah bakteri streptokokus
grup A, streptokokus piogenes dan stapilokokus aureus.
Penyakit selulitis dapat disebabakan oleh :
a. Infeksi bakteri dan jamur :
1. Disebabkan oleh Streptococcus grup A dan Staphylococcus aureus
2. Pada bayi yang terkena penyakit ini dibabkan oleh Streptococcus grup B

3. Infeksi dari jamur, Tapi Infeksi yang diakibatkan jamur termasuk jarang
Aeromonas Hydrophila.
4. S. Pneumoniae (Pneumococcus)
b. Penyebab lain :
1. Gigitan binatang, serangga, atau bahkan gigitan manusia.
2. Kulit kering
3. Eksim
4. Kulit yang terbakar atau melepuh
5. Diabetes
6. Obesitas atau kegemukan
7. Pembekakan yang kronis pada kaki
8. Penyalahgunaan obat-obat terlarang
9. Menurunnyaa daya tahan tubuh
10. Cacar air
11. Malnutrisi
12. Gagal ginjal

2.4. Faktor Resiko


a. Usia
Semakin tua usia, kefektifan sistem sirkulasi dalam menghantarkan darah berkurang
pada bagian tubuh tertentu. Sehingga abrasi kulit potensi mengalami infeksi seperti
selulitis pada bagian yang sirkulasi darahnya memprihatinkan.
b. Melemahnya Sistem Immun (Immunodeficiency)
Dengan sistem immune yang melemah maka semakin mempermudah terjadinya
infeksi. Contoh pada penderita leukemia lymphotik kronis dan infeksi HIV.
Penggunaan obat pelemah immun (bagi orang yang baru transplantasi organ) juga
mempermudah infeksi.
c. Diabetes Mellitus
Tidak hanya gula darah meningkat dalam darah namun juga mengurangi sistem
immun tubuh dan menambah resiko terinfeksi. Diabetes mengurangi sirkulasi darah
pada ekstremitas bawah dan potensial membuat luka pada kaki dan menjadi jalan
masuk bagi bakteri penginfeksi.
d. Cacar dan Ruam Saraf
Karena penyakit ini menimbulkan luka terbuka yang dapat menjadi jalan masuk
bakteri penginfeksi.
e. Pembangkakan Kronis Pada Lengan Dan Tungkai (Lymphedema)
Pembengkakan jaringan membuat kulit terbuka dan menjadi jalan masuk bagi bakteri
penginfeksi.
f. Infeksi Jamur Kronis Pada Telapak atau Jari Kaki
Infeksi jamur kaki juga dapat membuka celah kulit sehinggan menambah resiko
bakteri penginfeksi masuk

g. Penggunaan Steroid Kronik


Contohnya penggunaan corticosteroid.
h. Penyalahgunaan Obat dan Alcohol
Mengurangi sistem immun sehingga mempermudah bakteri penginfeksi berkembang.
i. Malnutrisi
Sedangkan lingkungan tropis, panas, banyak debu dan kotoran, mempermudah
timbulnya penyakit ini.
2.5. Patofisiologi
Bakteri pathogen yang menembus lapisan luar menimbulkan infeksi pada permukaan
kulit atau menimbulkan peradangan. Penyakit infeksi sering berjangkit pada orang
gemuk, rendah gizi, orang tua dan pada orang dengan diabetes mellitus yang
pengobatannya tidak adekuat.
Gambaran klinis eritema lokal pada kulit dan sistem vena serta limfatik pada ke dua
ekstremitas atas dan bawah. Pada pemeriksaan ditemukan kemerahan yang
karakteristi hangat, nyeri tekan, demam dan bakterimia.
Selulitis yang tidak berkomplikasi paling sering disebabkan olehStreptokokus grup
A, Streptokokus lain atau Staphilokokus aereus, kecuali jika luka yang terkait
berkembang bakterimia, etiologi microbial yang pasti sulit ditentukan, untuk abses
lokalisata yang mempunyai gejala sebagai lesi kultur pus atau bahan yang diaspirasi
diperlukan. Meskipun etiologi abses ini biasanya adalah stapilokokus, abses ini
kadang disebabkan oleh campuran bakteri aerob dan anaerob yang lebih kompleks.
Bau busuk dan pewarnaan gram pus menunjukkan adanya organisme campuran.
Ulkus kulit yang tidak nyeri sering terjadi. Lesi ini dangkal dan berindurasi dan dapat
mengalami infeksi. Etiologinya tidak jelas, tetapi mungkin merupakan hasil
perubahan peradangan benda asing, nekrosis dan infeksi derajat rendah

2.6. Pathway

2.7. Manifestasi Klinis


Selulitis menyebabkan kemerahan atau peradangan yang terlokalisasi. Kulit tampak
merah, bengkak, licin disertai nyeri tekan dan teraba hangat. Ruam kulit muncul
secara tiba-tiba dan memiliki batas yang tegas. Bisa disertai memar dan lepuhanlepuhan kecil.
Gejala lainnya adalah:
a. Demam
b. Menggigil
c. Sakit kepala
d. Nyeri otot
e. Tidak enak badan
Menurut Mansjoer (2000 : 82) manifestasi klinis selulitis adalah kerusakan kronik
pada kulit sistem vena dan limfatik pada kedua ekstremitas, kelainan kulit berupa
infiltrat difus subkutan, eritema lokal, nyeri yang cepat menyebar dan infitrasi ke
jaringan dibawahnya, bengkak, merah dan hangat, nyeri tekan, supurasi dan
lekositosis.
2.8. Pemeriksaan Penunjang
Tidak membutuhkan prosedur lebih lanjut untuk sampai ke tahap diagnosis yang
meliputi anamnesis, uji laboratorium, sinar x dll, dalam kasus cellulite yang belum
mengalami komplikasi yang mana kriterianya seperti :
a. Daerah penyebaran belum luas
b. Daerah yang terinfeksi tidak mengalami rasa nyeri atau sedikit nyeri

c. Tidak ada tanda-tanda systemic seperti : demam, terasa dingin, dehidrasi,


tachypnea, tachycardia,hypotensi.
d. Tidak ada factor resiko yang dapat menyebabkan penyakit bertambah parah
seperti : Umur yang sangat tua, daya tahan tubuh sangat lemah.
Jika sudah mengalami gejala seperti adanya tanda systemic, maka untuk melakukan
diagnosis membutuhkan penegakan diagnosis tersebut dengan melakukan
pemeriksaan lab seperti :
a. Complete blood count, menunjukkan kenaikan jumlah leukosit dan rata-rata
sedimentasi eritrosit. Sehingga mengindikasikan adanya infeksi bakteri.
b. BUN level
c. Creatinine level
d. Culture darah
e. Pembuangan luka
1. Immunofluorescence : Immunofluorescence adalah sebuah teknik yang dimana
dapat membantu menghasilkan diagnosa sera pasti pada kultur cellulites negative,
tapi teknik ini jarang digunakan.
2. Penggunaan MRI juga dapat membantu dalam mendiagnosa infeksi cellulites yang
parah. Mengidentifikasi pyomyositis, necrotizing fascitiis, dan infeksi selulitis dengan
atau tanpa pembentukan abses pada subkutaneus.
2.9. Penatalaksanaan Medis
Rawat inap di rumah sakit, Insisi dan drainase pada keadaan terbentuk abses.
Pemberian antibiotik seperti oksasilin atau nafsilin, obat oral dapat atau tidak
digunakan, infeksi ringan dapat diobati dengan obat oral pada pasien diluar rumah
sakit, analgesik, antipiretik. Posisi dan imobilisasi ekstremitas, bergantian kompres
lembab hangat (Long, 2006 : 670).

Pengobatan yang tepat dapat mencegah penyebaran infeksi ke darah dan organ
lainnya. Diberikan penicillin atau obat sejenis penicillin (misalnya cloxacillin). Jika
infeksinya ringan, diberikan sediaan per-oral (ditelan). Biasanya sebelum diberikan
sediaan per-oral, terlebih dahulu diberikan suntikan antibiotik jika:
a. penderita berusia lanjut
b. selulitis menyebar dengan segera ke bagian tubuh lainnya
c. demam tinggi.
Jika selulitis menyerang tungkai, sebaiknya tungkai dibiarkan dalam posisi terangkat
dan dikompres dingin untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan.
2.10. Pencegahan
Jika memiliki luka :
a. Bersihkan luka setiap hari dengan sabun dan air
b. Oleskan antibiotic
c. Tutupi luka dengan perban
d. Sering-sering mengganti perban tersebut
e. Perhatikan jika ada tanda-tanda infeksi
Jika kulit masih normal :
a. Lembabkan kulit secara teratur
b. Potong kuku jari tangan dan kaki secara hati-hati
c. Lindungi tangan dan kaki
b. Rawat secara tepat infeksi kulit pada bagian superficial

2.11. Komplikasi
a. Bakteremia
b. Nanah atau local Abscess
c. Superinfeksi oleh bakteri gram negative
d. Lymphangitis
e. Trombophlebitis
f. Sellulitis pada muka atau Facial cellulites pada anak menyebabkan meningitis
sebesar 8%.
g. Dimana dapat menyebabkan kematian jaringan (Gangrene), dan dimana harus
melakukan amputasi yang mana mempunyai resiko kematian hingga 25%.

BAB III
TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN
3.1. Pengkajian dan Anamnesa
a. Identitas
Menyerang sering pada lingkungan yang kurang bersih
b. Riwayat Penyakit
1. Keluhan utama
Pasien biasanya mengeluh nyeri pada luka, terkadang disertai demam,
menggigil dan malaise
2. Riwayat penyakit dahulu
Ditanyakan penyebab luka pada pasien dan pernahkah sebelumnya
mengidap penyakit seperti ini, adakah alergi yang dimiliki dan riwat
pemakaian obat.
3. Riwayat penyakit sekarang
Terdapat luka pada bagian tubuh tertentu dengan karakteristik berwarna
merah, terasa lembut, bengkak, hangat, terasa nyeri, kulit menegang dan
mengilap
4. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya dikeluarga pasien terdapat riwayat mengidap penyakit selulitis
atau penyekit kulit lainnya

c. Keadaan Emosi Psikologi


Pasien tampak tenang,dan emosional stabil
d. Keadaan social ekonomi
Biasanya menyerang pada social ekonomi yang sederhana
e. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum : Lemah
2. B1 : RR : Normal, batuk, flu, radang tenggorokan, infeksi
3. B2: TD : Menurun (< 120/80 mmHg), Nadi : Turun (< 90), Suhu :
Meningkat (> 37,50)
4. B3 : nyeri
5. B4 : urine pekat, proteinuri
6. B5 : nyeri telan
7. B6 : Gejala awal berupa kemerahan dan nyeri tekan yang terasa di suatu
daerah yang kecil di kulit. Kulit yang terinfeksi menjadi panas dan
bengkak, dan tampak seperti kulit jeruk yang mengelupas (peau d'orange).
Pada kulit yang terinfeksi bisa ditemukan lepuhan kecil berisi cairan
(vesikel) atau lepuhan besar berisi cairan (bula), yang bisa pecah.
3.2. Diagnosis Keperawatan
a. Nyeri akut b.d. respons inflamasi lokal saraf perifer kulit
b. Hipertermi b.d. respon inflamasi sistemik

c. Resiko tinggi terjadinya infeksi b.d adanya luka pada kulit.


d. Kerusakan integritas kulit b.d adanya lesi kemerahan

3.3. Intervensi Keperawatan


DAGNNOSA
KEPERAWATAN

NOC

Nyeri
NOC :
akut berhubung Pain Level,
an
pain control,
dengan:
comfort level
Agen
injuri
(biologi,
kimia,fisik,
psikologis),
kerusakan
jaringan

Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan
selama . Pasien
tidak mengalami
nyeri,
dengan
kriteria hasil:

DS:
Laporan
secara
verbal
DO:
Posisi untuk
menahan
nyeri
Tingkah laku
berhati-hati
Gangguan
tidur (mata
sayu,
tampak
capek, sulit
atau
gerakan
kacau,
menyeringai
)

Mampu
mengontrol
nyeri
(tahu
penyebab
nyeri, mampu
menggunakan
tehnik
nonfarmakolo
gi
untuk
mengurangi
nyeri,
mencari
bantuan)
Melaporkan
bahwa nyeri
berkurang
dengan
Menggunakan
manajemen
nyeri
Mampu
mengenali
nyeri (skala,

NIC

NIC :
Lakukan pengkajian nyeri
secara
komprehensif
termasuk
lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi, kualitas dan
faktor presipitasi
Observasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga
untuk
mencari
dan
menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang
dapat
mempengaruhi
nyeri
seperti
suhu
ruangan,
pencahayaan
dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi
nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk
menentukan
intervensi
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dalam,
relaksasi,
distraksi,
kompres hangat/ dingin
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri:
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang
nyeri
sepertipenyebab
nyeri, berapa lama nyeri
akan
berkurang
dan
antisipasi
ketidaknyamanan
dari

Terfokus
pada
diri
sendiri
Fokus
menyempit
(penurunan
persepsi
waktu,
kerusakan
proses
berpikir,
penurunan
interaksi
dengan
orang
dan
lingkungan)
Tingkah laku
distraksi,
contoh
:
jalan-jalan,
menemui
orang
lain
dan/atau
aktivitas,
aktivitas
berulangulang)
Respon
autonom
(seperti
diaphoresis,
perubahan
tekanan
darah,
perubahan
nafas, nadi
dan dilatasi
pupil)
Perubahan
autonomic
dalam tonus

intensitas,
prosedur
frekuensi dan Monitor vital sign sebelum
tanda nyeri)
dan sesudah pemberian
Menyatakan
analgesik pertama kali
rasa nyaman
setelah nyeri
berkurang
Tanda
vital
dalam
rentang
normal
Tidak
mengalami
gangguan
tidur

otot
(mungkin
dalam
rentang dari
lemah
ke
kaku)
Tingkah laku
ekspresif
(contoh
:
gelisah,
merintih,
menangis,
waspada,
iritabel,
nafas
panjang/berk
eluh kesah)
NOC:
Perubahan
dalam nafsu
makan dan Thermoregulasi
minum
Setelah
dilakukan
tindakan keperawatan
selama..pasien
menunjukkan :
Hipertermia
Suhu tubuh dalam
Berhubungan
batas normal dengan
dengan :
kreiteria hasil:
penyakit/ trauma Suhu 3637C
peningkatan
Nadi
dan
RR
metabolisme
dalam
rentang
aktivitas
yang
normal
berlebih
Tidak
ada
dehidrasi
perubahan warna
kulit dan tidak ada
DO/DS:
pusing,
kenaikan

suhu

NIC :
Monitor suhu sesering mungkin
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tekanan darah, nadi dan
RR
Monitor
penurunan
tingkat
kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik:
Kelola
Antibiotik:
..
Selimuti pasien
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat paha
dan aksila
Tingkatkan sirkulasi udara
Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor hidrasi seperti turgor

tubuh
diatas
rentang normal
serangan
atau
konvulsi (kejang)
kulit kemerahan
pertambahan RR
takikardi
Kulit
teraba
panas/ hangat

kulit,
kelembaban
mukosa)

membran

Risiko infeksi
Faktor-faktor risiko :
Prosedur Infasif
Kerusakan
jaringan
dan
peningkatan
paparan
lingkungan
Malnutrisi
Peningkatan
paparan
lingkungan
patogen
Imonusupresi
Tidak
adekuat
pertahanan
sekunder
(penurunan Hb,
Leukopenia,
penekanan respon
inflamasi)
Penyakit kronik
Imunosupresi
Malnutrisi
Pertahan primer
tidak
adekuat
(kerusakan kulit,
trauma jaringan,
gangguan
peristaltik)

NOC :
Immune Status
Knowledge
:
Infection
control
Risk control
Setelah
dilakukan
tindakan keperawatan
selama
pasien
tidak
mengalami
infeksi
dengan kriteria hasil:
Klien bebas dari
tanda dan gejala
infeksi
Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah
timbulnya infeksi
Jumlah leukosit
dalam
batas
normal
Menunjukkan
perilaku
hidup
sehat
Status
imun,
gastrointestinal,
genitourinaria
dalam
batas
normal

NIC :
Pertahankan teknik aseptif
Batasi pengunjung bila perlu
Cuci tangan setiap sebelum
dan
sesudah
tindakan
keperawatan
Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung
Ganti letak IV perifer dan
dressing
sesuai
dengan
petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik:

Monitor tanda dan gejala


infeksi sistemik dan lokal
Pertahankan teknik isolasi k/p
Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
Monitor adanya luka
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

Kerusakan
integritas kulit
berhubungan
dengan :

NIC : Pressure Management


NOC :

Tissue Integrity : Skin


and
Mucous
Membranes
Wound
Eksternal :
Healing : primer dan
Hipertermia atau sekunder
hipotermia
Setelah
dilakukan
Substansi kimia
tindakan keperawatan
Kelembaban
Faktor mekanik selama..
(misalnya : alat
yang
dapat kerusakan integritas
menimbulkan
kulit pasien teratasi
luka,tekanan,
dengan kriteria hasil:
restraint)
Immobilitas fisik
Integritas
kulit
Radiasi
yang baik bisa
Usia yang ekstri
dipertahankan
Kelembaban kulit
(sensasi,
Obat-obatan
elastisitas,
temperatur,
Internal :
hidrasi,
pigmentasi)
ada
Perubahan status Tidak
luka/lesi
pada
metabolik
kulit
Tonjolan tulang

Perfusijaringan
Defisit imunologi
baik
Berhubungan
dengan dengan Menunjukkan
pemahaman
perkembangan
dalam
proses
Perubahan
perbaikan
kulit
sensasi
dan
mencegah
Perubahan status
terjadinya sedera
nutrisi (obesitas,

Anjurkan
pasien
untuk
menggunaka
pakaian
yang
longgar
Hindari kerutan pada tempat
tidur
Jaga kebersihan kulit agar tetap
bersih dan kering
Mobilisasi pasien (ubah posisi
pasien) setiap dua jam sekali
Monitor kulit akan a
danya kemerahan
Oleskan lotion atau minyak/baby
oil pada derah yang tertekan
Monitor aktivitas dan mobilisasi
pasien
Monitor status nutrisi pasien
Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat
Kaji lingkungan dan peralatan
yang menyebabkan tekanan
Observasi
luka
:
lokasi,
dimensi,kedalaman
luka,
karakteristik,warna
cairan,
granulasi, jaringan nekrotik,
tandatanda infeksi lokal, formasi
traktus
Ajarkan pada keluarga tentang
luka dan perawatan luka
Kolaburasi ahli gizi pemberian
diae TKTP, vitamin
Cegah kontaminasi feses dan
urin
Lakukan tehnik perawatan luka
dengan steril

kekurusan)
Perubahan status
cairan
Perubahan
pigmentasi
Perubahan
sirkulasi
Perubahan turgor
(elastisitas kulit)

DO:

berulang
Mampu
melindungi kulit
dan
mempertahankan
kelembaban kulit
dan
perawatan
alami
Menunjukkan
terjadinya proses
penyembuhan
luka

Gangguan pada
bagian tubuh
Kerusakan lapisa
kulit (dermis)
Gangguan
permukaan kulit
(epidermis)

Berikan posisi yang mengurangi


tekanan pada luka

3.4. Evaluasi
1. Terjadi penurunan respons nyeri
2. Suhu tubuh dalam rentang normal dan pasien merasa nyaman.
3. Tidak terjadi infeksi.
4. Peningkatan integritas jaringan kulit

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, dkk. (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Medica
Aesculpalus FKUI
Brunner & Suddarth. (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Terjemahan
Suzanne C. Smeltzer. Edisi 8. Jakarta: EGC
Doenges (2000). Rencana asuhan keperawatan; pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC
Kurt J, Isselbacher, dkk. (2009). Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta: EGC.
Long, Barbara C. (2006). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan). Bandung: Yayasan IAPK Pajajaran Bandung
Muttaqin, Arif dan Sari, Kumala. (2012). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Integumen. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.
Novriani, Erni. 2008. Laporan Pendahuluan Selulitis. 1 Juni 2012, 11.30.