Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Indonesia adalah negara megabiodiversity yang kaya akan tanaman obat, dan

sangat potensial untuk dikembangkan, namun belum dikelolah secara maksimal.


Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30.000 jenis tumbuhan dari total
40.000 jenis tumbuhan di dunia, 940 jenis di antaranya merupakan tanaman
berkhasiat obat (jumlah ini merupakan 90% dari jumlah tumbuhan obat di Asia).
Berdasarkan hasil penelitian, dari sekian banyak jenis tanaman obat, baru 2022% yang dibudidayakan menjadi produk tanaman herbal. Hal ini dikarenakan
tanaman herbal merupakan tanaman organik yang dapat digunakan sebagai obat
tradisional tanpa menggunakan campuran bahan kimia. Di sisi lain tanaman tersebut
dapat diperoleh dengan mudah, dapat diolah secara tradisional, dan harganya relatif
terjangkau. Maka dari itu konsumsi obat-obat tradisional sangat marak hingga
sekarang dan menjadi salah satu aset tradisi negara yang dapat bertahan hingga
sekarang.
Salah satu obat tradisional yang banyak dikonsumsi adalah dalam bentuk
jamu, di mana jamu merupakan warisan nenek moyang yang dipercaya dapat
mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kelebihan dari pengobatan
dengan menggunakan ramuan tumbuhan tradisional tersebut adalah efek samping
yang ditimbulkan relatif kecil. Kelemahannya berupa efek farmakologisnya rendah,
bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum
dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme.
1

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, muncullah


berbagai perusahaan yang memproduksi obat-obatan tradisional sacara moderen
dengan mempertimbangkan keamanan, kestabilan, dan efektivitas obat tersebut. PT.
Sido Muncul yang merupakan industri berskala besar yang bergerak dalam bidang
herbal dengan cara mengolah hasil-hasil pertanian menjadi berbagai obat tradisional.
Pemanfaatan obat tradisional pada umumnya lebih diutamakan sebagai upaya
menjaga kesehatan maupun pengobatan.
Pengertian obat tradisional berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
007 tahun 2012 menyebutkan bahwa : Obat tradisional adalah bahan atau ramuan
bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian
(galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang
berlaku di masyarakat.
Obat tradisional itu sendiri sebenarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.6

I.2

Tujuan PKL Industri Farmasi


Untuk memberikan wawasan luas tentang implementasi pembuatan obat

tradisional yang sesuai dengan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang
Baik) serta peran dan tanggungjawab tenaga farmasi (Apoteker dan Tenaga Tehnik
Kefarmasian) di Pabrik Obat Tradisional sehingga mahasiswa lebih dapat
mempersiapkan kompetensinya.

BAB II
GAMBARAN UMUM OBAT TRADISIONAL

II.1

Definisi Obat Tradisional


Pengertian obat tradisional berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

007 tahun 2012 menyebutkan bahwa : Obat tradisional adalah bahan atau ramuan
bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian
(galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang
berlaku di masyarakat.

II.2

Persyaratan Obat Tradisional


Persyaratan Obat tradisional meliputi :

a.

Menggunakan bahan yang memenuhi persyaratan keamanan dan


mutu;

b.

Dibuat dengan menerapkan CPOTB;

c.

Memenuhi persyaratan Farmakope Herbal Indonesia atau persyaratan


lain yang diakui;

d.

Berkhasiat yang dibuktikan secara empiris, turun temurun, dan/atau


secara ilmiah; dan

e.

Penandaan berisi informasi yang objektif, lengkap, dan tidak


menyesatkan.
Obat tradisional dilarang mengandung :

a.

Etil alkohol lebih dari 1%, kecuali dalam bentuk sediaan tingtur yang
pemakaiannya dengan pengenceran;

b.

Bahan kimia obat yang merupakan hasil isolasi atau sintetik berkhasiat obat;

c.

Narkotika atau psikotropika; dan/atau

d.

Bahan lain yang berdasarkan pertimbangan kesehatan dan/atau berdasarkan


penelitian membahayakan kesehatan.

II.3

Klasifikasi Obat Tradisional


Obat tradisional dapat diklasifikasikan menjadi tiga , yaitu jamu, obat herbal

terstandar dan fitofarmaka. Jamu adalah obat yang disediakan secara tradisional,
misalnya dalam bentuk serbuk, seduhan, pil dan cairan yang berisi seluruh bahan
tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional.
Pada umumnya jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur
yang terbuat dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukupnya banyak berkisar
antara 5-10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak perlu membutuhkan pembuktian
ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Pembuktian empiris
sendiri berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang
teramati oleh indera yang berdasarkan realita dan dapat diterima dengan akal sehat.
Obat ekstrak bahan alam adalah obat tradisional yang disediakan dari ekstrak atau
penyaringan bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang maupun mineral.
Sedangkan fitofarmaka merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang
dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah
terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinis yang merupakan
uji khasiat atau kegunaan dari obat itu sendiri pada manusia.
Tabel Perbedaan Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka

II.4

CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik)

II.4.1 KETENTUAN UMUM


Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh
aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional, yang bertujuan untuk menjamin
agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku.
A.

Landasan Umum

1.

Obat tradisional diperlukan masyarakat untuk memelihara kesehatan, untuk


mengobati gangguan kesehatan dan untuk memulihkan kesehatan.

2.

Untuk mencapai tujuan pada butir 1 perlu dilakukan langkah-langkah agar obat
tradisional yang dihasilkan senantiasa aman, bermanfaat dan bermutu.

3.

Keamanan dan mutu obat tradisional tergantung pada bahan baku, bangunan,
prosedur dan pelaksanaan proses pembuatan, peralatan yang digunakan,

pengemas termasuk bahannya serta personalia yang terlibat dalam pembuatan


obat tradisional.
4.

CPOTB merupakan cara pembuatan obat tradisional yang diikuti dengan


pengawasan menyeluruh, dan bertujuan untuk menyediakan obat tradisional
yang senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku.

B.

Definisi
Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan:

1.

Bahan baku : ialah simplisia, sediaan galenik, bahan tambahan atau bahan
lainnya, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah
maupun yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat
tradisional, walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat didalam
produk ruahan.

2.

Bahan pengemas : ialah semua bahan yang digunakan untuk pengemasan


produk ruahan untuk menghasilkan produk jadi.

3.

Produk antara : ialah bahan atau campuran bahan yang masih memerlukan
satu pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan.

4.

Produk ruahan : ialah bahan atau campuran bahan yang telah selesai diolah
yang masih memerlukan tahap pengemasan untuk menjadi produk jadi.

5.

Produk jadi : ialah produk yang telah melalui sepuluh tahap proses pembuatan
obat tradisional

6.

Pembuatan : ialah seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi pengadaan bahan


(termasuk penyiapan bahan baku), pengolahan, penemasan, pengawasan mutu
sampai diperoleh produk jadi yang siap untuk didistribusikan.

7.

Pengolahan : ialah seluruh rangkaian kegiatan mulai dari penimbangan bahan


baku sampai dengan dihasilkannya produk ruahan.

8.

Pengemasan : ialah kegiatan mewadahi, membungkus, memberi etiket dan


atau kegiatan lain yang dilakukan terhadap produk ruahan untuk menghasilkan
produk jadi.

9.

Pengawasan : ialah semua upaya pemeriksaan dan mutu pengujian yang


dilakukan selama pembuatan obat tradisional untuk menjamin agar obat
tradisional yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan.

10.

Sanitasi : ialah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya


kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan.

11.

Dokumentasi : ialah catatan tertulis tentang formula, prosedur, perintah dan


catatan tertulis lainnya yang berhubungan dengan pembuatan obat tradisional.

12.

Validasi : ialah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap
bahan, perlengkapan, prosedur, kegiatan yang digunakan dalam pembuatan
obat tradisional senantiasa mancapai hasil yang diinginkan.

13.

lnspeksi diri : ialah kegiatan yang dilakukan untuk menilai semua aspek,
mulai dari pengadaan bahan sampai dengan pengemasan dan penetapan
tindakan perbaikan yang dilakukan oleh semua aparat industri obat tradisional
sehingga seluruh aspek pembuatan obat tradisional dalam obat tradisional
tersebut selalu memenuhi CPOTB.

II.4.2 PERSONALIA

A.

Persyaratan Umum
Karyawan yang melaksanakan kegiatan pembuatan obat tradisional harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1.

Sehat fisik dan mental.

2.

Memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan sesuai dengan


tugasnya.

3.

Mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan cara


pembuatan obat tradisional yang baik.

B.

Penanggung Jawab Teknis

1.

Penanggung jawab teknis harus seorang apoteker warga negara Indonesia.

2.

Penanggung jawab teknis harus diberi wewenang dan sarana yang cukup untuk
melaksanakan tugasnya.

3.

Penanggung jawab teknis ikut bertanggung jawab terhadap :


a. Penyiapan prosedur pembuatan dan pengawasan pelaksanaan proses
pembuatan.
b. Kebenaran bahan, alat dan prosedur pembuatan.
c. Kebersihan pabrik.
d. Keamanan dan mutu obat tradisional.

4.

Penanggung jawab teknis dapat menunjuk Pembantu Penanggung Jawab


Teknis sesuai dengan tugas yang diberikan dan bertanggung jawab kepada
Penanggung Jawab Teknis.

C.

Latihan

10

Agar tujuan CPOTB dapat tercapai seluruh karyawan harus diberi pengetahuan
dan latihan tentang CPOTB sesuai dengan tugas masing masing.

Il.4.3 BANGUNAN
A.

Bangunan

1.

Bangunan industri harus didirikan dilokasi yang terhindar dari pencemaran dan
tidak mencemari lingkungan.

2.

Bangunan industri harus memenuhi persyaratan hygiene dan sanitasi.

3.

Bangunan industri harus memiliki ruang-ruang pembuatan yang rancang


bangun dan luasnya sesuai dengan bentuk, sifat dan jumlah obat tradisional
yang dibuat, jenis dan jumlah peralatan yang digunakan, jumlah karyawan
yang bekerja serta fungsi ruangan.

B.

Ruangan

1.

Penataan ruangan-ruangan pembuatan, termasuk ruangan penyimpanan harus


sesuai dengan urutan proses pembuatan, sehingga tidak menimbulkan lalulintas
kerja yang simpang siur dan tidak menimbulkan terjadinya pencemaran silang.

2.

Dinding, lantai dan langit-langit setiap ruangan pembuatan, termasuk ruangan


penyimpanan harus rata, bebas dari keretakan dan mudah dibersihkan.

3.

Dinding setinggi sekurang-kurangnya 150 cm dan lantai setiap ruangan


pembuatan termasuk ruangan penyimpanan harus kedap air. Dinding ruangan
pembuatan selain kedap air harus licin.

11

4.

Ruangan pembuatan dan ruangan penunjang seperti ruang administrasi dan


jamban harus bersih, tidak mengganggu dan tidak mencemari proses
pembuatan.

5.

Penyimpangan dari ketentuan pada butir 2 dan butir 3 harus memperoleh izin
tertulis dari Direktur Jenderal atau Kepala Kantor Wilayah.

II.4.4 PERALATAN
A.

Persyaratan Umum
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat tradisional harus :

Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi keamanan dan mutu obat
tradisional.

2.

Mempunyai rancang bangun yang tepat sehingga dapat menjamin keamanan,


mutu, dan keseragaman obat tradisional dari batch ke batch.

3.

Mempunyai ukuran dan kapasitas produksi yang sesuai dengan jumlah


produksi dan luas ruangan.

4.

Diletakkan ditempat yang sesuai, sehingga dalam penggunaannya tidak


mencemari obat tradisional yang dibuat dan mudah dibersihkan.

B.

Jenis Peralatan
Jenis peralatan harus sesuai dengan bentuk obat tradisional yang dibuat.

C.

Persyaratan Peralatan

12

1.

Alat/mesin pengering harus mampu mengeringkan bahan baku atau produk


antara sehingga kadar airnya tidak memungkinkan pertumbuhan kapang,
khamir dan jasad renik lainnya.

2.

Alat/mesin pembuat serbuk harus mampu menghaluskan bahan baku atau


produk antara menjadi serbuk dengan derajat halus yang dikehendaki sejumlah
minimum 90% dari jumlah bahan, yang dihaluskan.

3.

Alat/mesin pengayak harus mampu membantu tercapainya derajat halus yang


dimaksud dalam butir (2).

4.

Alat/mesin pengisian serbuk harus mampu mengisikan serbuk kedalam wadah,


sehingga perbedaan bobot serbuk tiap wadah terdapat bobot rata-rata 10 isi
wadah tidak lebih dari 8%.

5.

Alat/mesin penyari harus mampu menyari zat berkhasiat yang diperlukan


sehingga kegunaan, keamanan dan kestabilan lebih baik dari bentuk yang telah
digunakan berdasarkan pengalaman.

6.

Alat/mesin pengisi cairan harus mampu mengisikan cairan kedalam wadah


sehingga perbedaan volume cairan setiap wadah terhadap volume rata-rata 10
isi wadah tidak lebih dari 5 %.

7.

Alat/mesin pengisi salep harus mampu mengisikan masa salep kedalam wadah
sehingga perbedaan bobot salep tiap wadah terhadap bobot rata-rata 10 isi
wadah tidak lebih dari 5%.

8.

Alat/mesin pembuat pil harus mampu membuat pil yang bulat dan memenuhi
persyaratan keseragaman bobot.

13

9.

Alat/mesin pembuat tablet harus mampu membuat tablet yang memenuhi


persyaratan Farmakope Indonesia.

D.

Peralatan Laboratorium

1.

lndustri obat tradisional sekurang-kurangnya harus memiliki :


a. Timbangan gram dan miligram.
b. Mikroskop dengan perlengkapannya.
c. Alat gelas sesuai dengan keperluan.
d. Lampu spiritus.
e. Disamping peralatan tersebut, perlu dilengkapi :
(1) Bahan kimia dan larutan pereaksi sesuai dengan keperluan
(2) Buku-buku persyaratan yaitu:
Materia Medika Indonesia, Farmakope Indonesia, Ekstra Farmakope Indonesia
edisi terakhir dan buku-buku lain yang ditetapkan oleh Menteri kesehatan.

2.

Selain peralatan yang dimaksud dalam butir (1) harus dilengkapi dengan
peralatan laboratorium yang :
a. Sesuai dengan Persyaratan pengujian setiap bentuk obat tradisional yang
dibuat,
b. Sesuai dengan prosedur pengujian yang perlu dilakukan.

II.4.5 SANITASI DAN HYGIENE


Pada setiap aspek pembuatan obat tradisional harus dilakukan upaya untuk
menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan. Upaya
tersebut harus dilakukan terhadap personalia, bangunan, peralatan, bahan, proses

14

pembuatan, pengemas dan setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran
produk.

II.4.6 PENGOLAHAN DAN PENGEMASAN


Pengolahan dan pengemasan harus dilaksanakan dengan mengikuti cara yang
telah ditetapkan oleh industri sehingga dapat menjamin produk yang dihasilkan
senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku.
A.

Bahan Baku Dan Bahan Pengemas

1.

Setiap bahan baku dan bahan pengemas yang digunakan untuk pembuatan
harus memenuhi persyaratan yang berlaku.

2.

Pemeriksaan dan pengujian secara berkala harus dilakukan terhadap bahan


baku dan bahan pengemas dalam persediaan, untuk memberikan keyakinan
bahwa penyimpanan, wadah dan bahannya dalam kondisi yang baik.

B.

Validasi Proses

1.

Sebelum suatu prosedur pengolahan diterapkan, harus dilakukan uji coba.


Uji coba dilakukan untuk membuktikan bahwa prosedur tersebut cocok untuk
pelaksanaan pengolahan bahan dengan peralatan yang telah ditentukan
sehingga menghasilkan produk yang senantiasa memenuhi persyaratan yang
belaku.

2.

Perbahan proses. peralatan atau bahan harus dilakukan tindakan Validasi ulang,
untuk menjamin bahwa perubahan tersebut tetap menghasilkan produk yang
memenuhi persyaratan yang berlaku.

C.

Pencemaran

15

1.

Pencemaran fisik, kimiawi atau jasad renik terhadap obat tradisional yang
dapat merugikan kesehatan atau mempengaruhi mutu suatu produk dilarang.

2.

Pencemaran oleh khamir, kapang dan atau kaman nonpatogen terhadap obat
tradisional meskipun sifat dan tingkatannya tidak berpengaruh langsung pada
kesehatan harus dicegah sekecil mungkin sampai dengan persyaratan batas
yang berlaku. Besar kecilnya pencemaran menunjukkan derajat keberhasilan
CPOTB di lndustri.

D.

Nomor Kode Produksi


Sistem penandaan pada Nomor kode Produksi harus dapat memastikan
diketahuinya bulan, batch yang keberapa dalam bulan tersebut serta tahun dan
jumlah pembuatan pada masing-masing batch. Dengan diketahuinya asal usul
produk jadi tersebut akan mempermudah tindak lanjut pengawasannya.

E.

Penimbangan Dan Penyerahan

1.

Sebelum dilakukan penimbangan atau pengukuran harus dipastikan ketepatan


timbangan dan ukuran serta kebenaran bahan yang akan ditimbang.

2.

Penimbangan, perhitungan, dan penyerahan bahan baku bahan pengemas,


produk antara dan produk ruahan harus dicatat.

F.

Pengolahan

1.

Semua peralatan dan bahan yang digunakan dalam pengolahan, kondisi


ruangan pengolahan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum
dalam prosedur sehingga tidak terjadi kekeliruan dan pencemaran.

2.

Harus dihindari terjadinya pencemaran silang antara produk, yang diakibatkan


oleh pengolahan beberapa produk dalam waktu yang sama dan berurutan.

16

3.

Karyawan termasuk pakaian yang digunakan harus bersih.

4.

Terhadap kegiatan pengolahan yang memerlukan kondisi tertentu, harus


dilakukan pengawasan yang seksama, misalnya pengaturan suhu, pengaturan
tekanan uap, pengaturan waktu dan atau pengaturan kelembaban.

5.

Pengawasan dalam proses harus dilakukan untuk mencegah hal-hal yang


menyebabkan kerugian setelah menjadi produk jadi.

G.

Pengemasan
Sebelum dilakukan pengemasan harus dapat dipastikan kebenaran identitas,
keutuhan serta mutu produk ruahan dan pengemasan.

H.

Penyimpanan

1.

Bahan baku, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi,
harus disimpan secara teratur dan rapi untuk mencegah resiko tercemar dan
atau terjadinya saling mencemari satu sama lain, serta untuk memudahkan
pemeriksaan, pengambilan dan pemeliharaannya.

2.

Bahan yang disimpan harus diketahui identitas, kondisi, jumlah, mutu dan cara
penyimpanannya.

3.

Pengeluaran

bahan

yang

disimpan

harus

dilaksanakan

dengan

cara

mendahulukan bahan yang disimpan lebih awal (First in, First out)

II.4.7 PENGAWASAN MUTU


1.

Pengawasan mutu harus dilakukan agar obat tradisional yang dibuat senantiasa
memenuhi persyaratan yang berlaku.

17

2.

Pengawasan mutu harus dilakukan terhadap bahan baku, bahan pengemas,


proses pembuatan, produk ruahan dan produk jadi. Produk jadi yang berada
dalam industri maupun di peredaran secara berkala harus dipantau.

II.4.8 INSPEKSI DIRI


1.

lnspeksi diri secara berkala harus dilakukan agar seluruh rangkaian pembuatan
selalu memenuhi CPOTB.

2.

Kelemahan-kelemahan yang terjadi pada pembuatan harus diperbaiki.

18

BAB III
GAMBARAN UMUM PT. SIDO MUNCUL
III.1

Latar Belakang Berdirinya PT.Sido Muncul


Berawal dari keinginan pasangan suami istri Siem Thiam Hie yang lahir pada

tanggal 28 Januari 1897 dan wafat 12 April 1976 bersama istrinya Ibu Rakhmat
Sulistio yang terlahir pada tanggal 13 Agustus 1897 dengan nama Go Djing Nio dan
wafat 14 Februari 1983, memulai usaha pertamanya dengan membuka usaha
Melkrey, yaitu usaha pemerahan susu yang besar di Ambarawa.
Pada tahun 1928, terjadi perang Malese yang melanda dunia. Akibat perang
ini, usaha Melkrey yang mereka rintis terpaksa gulung tikar dan mengharuskan
mereka pindah ke Solo, pada 1930. Tanpa menyerah, pasangan ini kemudian
memulai usaha toko roti dengan nama Roti Muncul. Lima tahun kemudian, berbekal
kemahiran Ibu Rakhmat Sulistio (Go Djing Nio) dalam mengolah jamu dan rempahrempah, pasangan ini memutuskan untuk membuka usaha jamu di Yogyakarta.
Tahun 1941, mereka memformulasikan Jamu Tolak Angin yang saat itu
menggunakan nama Jamu Tujuh Angin. Ketika perang kolonial Belanda yang kedua
di tahun 1949, mereka mengungsi ke Semarang dan mendirikan usaha jamu dengan
nama Sido Muncul, yang artinya impian yang terwujud. Di Jalan Mlaten
Trenggulun No. 104 itulah, usaha jamu rumahan dimulai dengan dibantu oleh tiga
orang karyawan.
Banyaknya permintaan terhadap kemasan jamu yang lebih praktis,
mendorong beliau memproduksi jamu Tolak Angin dalam bentuk serbuk. Produk ini
mendapat tempat di hati masyarakat sekitar dan permintaannya pun terus meningkat.

19

Pada tahun 1970, dibentuk persekutuan komanditer dengan nama CV Industri


Jamu & Farmasi Sido Muncul. Kemudian pada 1975, bentuk usaha industri jamu pun
berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Industri Jamu dan Farmasi
Sido Muncul, dimana seluruh usaha dan aset dari CV Industri Jamu dan Farmasi Sido
Muncul digabungkan, dan dilanjutkan oleh perseroan terbatas ini.
Dalam perkembangannya, pabrik yang terletak di Jl.Mlaten Trenggulun
ternyata tidak mampu lagi memenuhi kapasitas produksi yang semakin besar. Oleh
sebab permintaan pasar yang semakin tinggi , membuat generasi kedua dari pendiri
PT Sido Muncul Desy Sulistio, memutuskan untuk memindahkan pabrik ke
Lingkungan Industri Kecil di Jalan Kaligawe Semarang pada tahun 1984.
Kemudian dimulailah pembangunan pabrik yang dilengkapi dengan fasilitas
modern, hingga dapat berkembang pesat seperti saat ini, dan menjadi pelopor
perusahaan jamu dengan standar farmasi.
Demi mengantisipasi kemajuan masa mendatang, Sido Muncul merasa perlu
untuk membangun pabrik yang lebih besar dan modern, maka pada tahun 1997
diadakan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baru di Klepu, Ungaran, oleh
Sri Sultan Hamengkubuwono X dan disaksikan Direktur Jenderal Pengawasan Obat
dan Makanan saat itu.
Pabrik baru yang berlokasi di Klepu, kecamatan Bergas, Ungaran dengan luas
sekitar 30 hektar tersebut diresmikan oleh Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan
Sosial Republik Indonesia, pada 11 November 2000. Saat peresmian pabrik, Sido
Muncul menerima dua sertifikat sekaligus, yaitu Cara Pembuatan Obat Tradisional
yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Sertifikat inilah

20

yang menjadikan Sido Muncul sebagai satu-satunya pabrik jamu berstandar farmasi.
Lokasi pabrik sendiri terdiri dari bangunan pabrik seluas sekitar 8 hektar dan sisanya
menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik.
Sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak 1951, Sido Muncul yang kini
merupakan perusahaan herbal bertaraf modern senantiasa berupaya untuk
memberikan produk-produk yang baik dan menyehatkan bagi seluruh konsumennya,
dan dengan demikian memberikan nilai positif bagi masyarakat.
Seiring waktu berjalan Sido Muncul mulai mengembangkan bisnisnya yang
awalnya hanya berkonsentrasi di bidang jamu (herbal), maka pada tahun 2004 Sido
Muncul membuat divisi baru yaitu Divisi Food.
Produk pertama yang dibuat adalah minuman energi Kuku Bima Energi
dengan rasa original. Kemudian produk berikutnya adalah permen yaitu Permen
Tolak Angin, Permen Jahe Wangi dan Permen Kunyit Asam. Disusul dengan
minuman kesehatan seperti Sido Muncul VitaminC-1000, Kuku Bima Kopi Ginseng,
Kopi Jahe Sido Muncul. Susu Jahe, Alang Sari Plus, Colla Mill. Untuk minuman
energi Kuku Bima Energi Sido Muncul mengeluarkan beberapa varian rasa yaitu
rasa Anggur, Jambu, Jeruk, Nanas, Kopi, Mangga, Susu Soda serta Kuku Bima
Energi Plus Vitamin C.
Produk-produk yang telah di produksi sampai saat ini oleh Sido Muncul ada
lebih dari 250 jenis produk dengan produk unggulan Tolak Angin, Kuku Bima
Energi, Alang Sari Plus, Kopi Jahe Sido Muncul, Kuku Bima Kopi Ginseng, Susu
Jahe, Jamu Komplit dan Kunyit Asam.

21

Kini, produk-produk Sido Muncul telah berhasil di ekspor ke beberapa negara


Asia Tenggara (Malaysia, Singapore, Brunei dan lain-lain), Australia, Korea, Nigeria,
Algeria, Hong Kong, USA, Saudi Arabia, Mongolia dan Rusia. Saat ini perseroan
juga tengah melakukan penjajakan dengan distributor dan perusahaan asal Thailand,
Vietnam dan Jepang.
Tepat tanggal 18 November 2013, Sido Muncul yang memiliki 109 distributor
di seluruh Indonesia kembali melakukan perubahan. Perusahaan keluarga ini memilih
naik kelas menjadi perusahaan terbuka dengan tujuan agar perusahaan ini langgeng
dan dipercaya oleh masyarakat. Saat ini PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul,
Tbk. telah menjadi Pabrik Jamu terbesar di Indonesia dan masih akan terus
berkembang dan kini tercatat dengan Kode saham dari Perseroan SIDO di Bursa
Efek Indonesia.

III.2

Struktur Organisasi PT. Sido Muncul

22

III.3

Visi dan Misi PT. Sido Muncul


Visi:
Menjadi perusahaan obat herbal, makanan minuman kesehatan dan
pengolahan bahan baku herbal yang dapat memberikan manfaat bagi
masyarakat dan lingkungan.
Misi:
a. Mengembangkan produk-produk berbahan baku herbal yang rasional,
aman dan jujur berdasarkan penelitian.
b. Mengembangkan penelitian obat-obat herbal secara berkesinambungan.

23

c. Membantu dan mendorong pemerintah, institusi pendidikan, dunia


kedokteran agar lebih berperan dalam penelitian dan pengembangan obat
dan pengobatan herbal.
d. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membina
kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami, dan
pengobatan secara naturopathy.
e. Melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) yang intensif.
f. Mengelola perusahaan yang berorientasi ramah lingkungan.
g. Menjadi perusahaan obat herbal yang mendunia.

III.4

Fasilitas Pabrik dan Laboratorium PT. Sido Muncul


Saat ini PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk didukung lebih dari

3000 karyawan dengan tingkat pendidikan bervariasi dan ditempatkan sesuai dengan
keahlian, kemampuan dan kapasitasnya masing-masing. Sebagai pendukung
perusahaan ini juga memiliki tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti biologi,
ekonomi, farmasi, pertanian, hukum, teknologi pangan, teknik kimia, teknik elektro,
dan lain-lain.
Untuk mengembangkan kemampuan, pada waktu-waktu tertentu kepada
karyawan diberikan kesempatan mengikuti pelatihan, kursus, maupun seminar.
Untuk mendukung pengembangan perusahaan juga merekrut tenaga konsultan yang
ahli di bidangnya.

24

Laboratorium yang tersedia yaitu laboratoium instrumentasi, laboratorium


farmakologi, laboratorium farmakognosi, laboratorium mikrobiologi, laboratorium
stabilitas, laboratorium kimia dan laboratorium formulasi.

III.5

Pengolahan Limbah
Sebagai perusahaan yang bahan bakunya tanaman, PT. Sido Muncul tidak

ingin kehadirannya menghasilkan limbah yang dapat merusak alam, sehingga


berupaya untuk melestarikan aneka tanaman obat yang ada di Indonesia. Perseroan
mempunyai nilai-nilai yang terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan dan
sangat percaya bahwa kemajuan perusahaan juga ditentukan oleh hal tersebut.
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lngkungan, PT. SdoMuncul telah
melakukan uapaya untuk menangani limbah cair.
Untuk menangani limbah cair, di lokasi pabrik dipasang instalasi pengolahan
air limbah sehingga air limbah dapat diolah menjadi air yang bisa digunakan untuk
menyirami tanaman.
Sedangkan limbah padat dari buangan sisa ekstraksi akan diolah menjadi
pupuk organik, yang bisa digunakan untuk memupuk tanaman. Dengan upaya
penanganan limbah tersebut, diharapkan PT. SidoMuncul menjadi perusahaan yang
ramah lingkungan, dan lokasi seputar pabrik menjadi asri karena tanaman tumbuh
subur.

25

III.6

Produk PT. Sido Muncul

a. Beverage & Confectionery (Minuman & Permen): Kopi Jahe Sido Muncul,
Kopi Jahe Sido Muncul RG, Kuku Bima Kopi Jahe, Kuku Bima Kopi EnerG, Permen Tolak Angin, Permen Kunyit Asam, dan Permen Jahe Wangi.
b. Energy Drink (Minuman Energi): Colla Mill, Kuku Bima Ener-G! Vitamin C,
Kuku Bima Ener-G Botol, dan Kuku Bima Ener-G.
c. Healthy Drink (Minuman Kesehatan): Susu Jahe Sido Muncul, Sido Muncul
C 1000, ESTE-EMJE, Beras Kencur, dan Premium Produk.
d. Herbal Medicine (Obat Herbal): Anak Sehat, Jamu (Kuku Bima, Kuku Bima
Ginseng, Kuku Bima TL Ginseng Plus Kuda Laut, Kuku Bima TL Plus
Tribulus, Bancar Darah, Batuk, Bersalin, Cabe Puyang, Encok, Galian Delima
Putih, Galian Montok, Galian Parem, Galian Putri, Galian Sepet Wangi,
Galian Singset, Gatal, Gemuk Sehat, Hamil Muda, Hamil Tua, Jampi Usus,
Jerawat, Kencing Batu, Klingsir, Lancar Seni, Mejen, Nifas, Param Tahun,
PaTani, Pegal Linu, Pegal Linu Ginseng, Pewangi Bulan, Pria Perkasa, Raga
Prima, Sakit Pinggang, Resikda, Sakit Perut, Sariawan, Sari Turas, Sariawan
Usus, Sawanan, Segar Bugar, Sehat Pria, Sekalor, Sehat Wanita, Selesma,
Selokarang Sekalor, Sesak Napas, Tambah Darah, Tensi/Darah Tinggi, Tujuh
Angin, Ulu Hati, Wasir), Jamu Komplit (Jamu Kuku Bima Komplit, Jamu
Pegel Linu Komplit, Jamu Tolak Angin Komplit, Jamu Komplit Sehat Wanita,
Jamu Komplit Sehat Pria, Jamu Komplit Sakit Pinggang), Tolak Angin (Tolak
Angin Anak, Tolak Angin Flu, Tolak Angin Cair, Tolak Angin Serbuk, Tolak
Angin Tablet).
e. Supplement & Others: Sido Muncul Herbal (Sari Kulit Manggis, Sari Daun
Pepaya, Sari Daun Sirsak, Sari Kunyit).

26

BAB IV
PEMBAHASAN

27

Kegiatan PKL Industri rombongan mahasiswa STIFA dimulai pada pukul


09.00 pagi, di mana mahasiswa menuju langsung ke PT. Sido Muncul Semarang.
Perjalanan yang singkat membawa rombongan tiba di PT. Sido Muncul, dan
langsung diterima oleh Staf di ruangan PT. Sido Muncul Pupuk Nusantara.
Pada kunjungan yang dilakukan, mahasiswa diberikan beberapa penjelasan
seputar PT. Sido Muncul Pupuk Nusantara oleh staf, yaitu tentang Cara Pembuatan
pupuk organik, meliputi proses filling (pengisian) dan packaging (pengemasan).
Selanjutnya rombongan dibawa menuju ke gudang penyimpanan limbah yang
selanjutnya akan di proses melalui cara fermentasi sebagai bahan baku pembuatan
pupuk organik.
Rombongan dibawa menuju ke gedung Research & Development Quality
Control, untuk melihat gudang penyimpanan simplisia dan gudang penyimpanan
bahan baku non simplisia. Gudang tersebut telah memenuhi persyaratan yang
tercantum dalam CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) di mana
penataan ruangan penyimpanan sesuai urutan proses pembuatan; dinding, lantai dan
langit-langit rata, bebas dari keretakan, mudah dibersihkan, kedap air dan licin.
Selain itu rak-rak tempat bahan baku diletakkan diberi ampalan, agar bahan baku
tidak langsung menyentuh lantai. Dalam gudang penyimpanan simplisia terdapat
kurang lebih 160 macam simplisia yang didatangkan langsung dari daerah Jawa
Tengah dan sekitarnya. Dari hasil wawancara, bahan baku pembuatan produk jamu di
PT. Sido Muncul ini 80 % masih dieksplorasi dari alam (misal dari hutan) dan 20 %
dari hasil budidaya (ditanam). Bahan baku yang diterima adalah dalam bentuk kering
(simplisia) kecuali untuk produk minuman seperti jahe. Karena 80 % masih

28

dieksplorasi dari alam dan standarisasinya kurang maka setiap bahan baku yang
masuk ke PT. Sido Muncul harus dicek kualitasnya oleh tim Quality Control (QC)
terlebih dahulu yang meliputi kebenaran bahan, kebersihan bahan dari bakteri
patogen, dan keadaan bahan dalam bentuk kering dengan kadar air minimal 10 %.
Setelah itu bahan baku tersebut diberi label, untuk label berwarna merah berarti
bahan baku tersebut ditolak, dan tidak dimasukkan ke dalam gudang penyimpanan,
untuk label berwarna kuning berarti bahan baku tersebut harus masuk ke ruang
karantina, untuk uji selanjutnya apakah layak atau tidak untuk dijadikan sebagai
bahan baku, dan label berwarna hijau berarti bahan baku tersebut lulus uji, dan siap
menuju proses selanjutnya dan masuk ke dalam gudang penyimpanan. Bahan baku
yang lulus uji tersebut, selanjutnya diberi label ED (Expired Date) dan kartu stock.
Bahan bakunya antara lain kunyit, jahe, temu lawak. kayu manis, lengkuas, pasak
bumi, cengkeh, dan lain sebagainya. Sedangkan gudang penyimpanan non simplisia
berisi bahan baku dalam bentuk jadi seperti susu, madu, gula dan bahan-bahan
lainnya yang bukan merupakan tanaman kering (simplisia).
PT Sido Muncul memiliki beberapa laboratorium yang meliputi laboratorium
formulasi (merupakan laboratorium yang digunakan untuk mengembangkan resep
empiris dan inovasi oleh team Research & Development), laboratorium produksi
(merupakan laboratorium yang digunakan untuk trail produksi kecil, menguji dan
mengantisipasi resep yang dibuat apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang ada),
laboratorium mikrobiologi (merupakan laboratorium yang dibunakan untuk menguji
apakah ada cemaran bakteri pada bahan baku atau produk jadi), laboratorium
instrumentasi (merupakan laboratorium yang digunakan untuk tempat penyimpanan
berbagai alat, seperti alat HPLC (High Pressure Liquid Chromatography), yang

29

digunakan untuk mengetahui ada tidaknya logam, jamur, pestisida, pada produk
jadi), laboratorium kimia (merupakan laboratorium yang digunakan untuk meneliti
kandungan zat aktif dari bahan baku) , laboratorium uji stabilitas (merupakan
laboratorium tempat mengetahui kestabilan produk dan menetapkan serta mengetahui
tanggal kadaluarsa dari produk), laboratorium hewan (merupakan laboratorium
tempat hewan uji), ruang ritens sampel (merupakan ruangan yang digunakan untuk
menyimpan sampel produk per nomor batch yang sudah beredar).
Rombongan kemudian menuju ke ruangan untuk filling dan packaging
produk minuman Anak Sehat; ruangan pembuatan, filling dan packaging produk
Tolak Angin, dan ruangan packaging untuk produk Kuku Bima. Seluruh proses
produksi dijalankan berdasarkan Standard Operation Procedure (SOP) dan sesuai
dengan CPOTB ( Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik ). Selain itu produkproduk Sido Muncul juga telah lulus uji toksisitas hingga uji khasiat sehingga
terjamin kualitasnya.
Proses produksi jamu di PT. Sido Muncul ini yang pertama adalah
penerimaan bahan baku, bahan baku yang datang segera dicek oleh tim QC (Quality
Control), setelah terbukti memenuhi standar penerimaan dan standar penggunaan
kemudian bahan baku dimasukkan ke dalam gudang penyimpanan bahan baku.
Bahan baku yang akan dipakai diambil dari gudang penyimpanan bahan baku
kemudian disortasi, setelah disortasi kemudian bahan baku dicuci, dikeringkan,
digiling, baru kemudian dicampur (mixing). Dalam proses pencampuran bahan ini
kami tidak diperkenankan untuk melihatnya karena merupakan rahasia perusahaan.
Sesudah proses pencampuran selesai kemudian hasilnya dialirkan melalui pipa-pipa
untuk dilakukan proses pengemasan primer (packaging primer) menggunakan mesin

30

dua line dan delapan line. Kemudian masuk ke proses pengemasan sekunder
(packaging sekunder), di sini produk yang sudah jadi dicek kembali dengan cara uji
sampel. Setelah selesai proses pengemasan sekunder kemudian produk siap untuk
didistribusikan.
Rombongan kemudian menuju ke lokasi Agrowisata. PT Sido Muncul
memiliki lokasi agrowisata seluas 1,5 hektar. Lahan agrowisata tersebut berisikan
berbagai jenis tanaman obat yang ada di Indonesia dan berbagai binatang seperti
harimau, kuda poni, babi hutan, buaya, rusa, ular, burung merak, dan monyet.
Keberadaan Agrowisata PT. Sido Muncul bertujuan untuk mengoleksi tanaman obat,
terutama diprioritaskan pada tanaman tanaman langka atau yang hampir punah.
Rombongan kemudian menuju ke aula yang berada di kawasan agrowisata
untuk melakukan diskusi seputar PT. Sido Muncul. Adapun hasil diskusi yang
diperoleh, yaitu pertama cara penyortiran bahan baku dilakukan secara manual oleh
karyawan dan semua proses penyortiran diawasi oleh tim Quality Control (QC),
kedua banyaknya sampel yang diperiksa oleh tim QC tergantung dari unit mana yang
diteliti, khusus untuk sampel yang diambil dari bahan baku menggunakan rumus

n + 1, dimana n adalah jumlah sampel, dan ketiga pekerja di PT. Sido Muncul
berasal dari berbagai kalangan mulai dari lulusan SMP, SMA, dan berbagai disiplin
ilmu, diantaranya lulusan kimia, hukum, biologi, teknik mesin, komunikasi, dan lainlain dengan syarat memiliki loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan. Khusus untuk
karyawan yang ditempatkan di laboratorium harus lulusan minimal D3. PT. Sido
Muncul sendiri diawali dari 3 karyawan dan sekarang menjadi 3000 karyawan.

31

Saat ini PT. SidoMuncul didukung lebih dari 2000 karyawan dengan tingkat
pendidikan bervariasi dan ditempatkan sesuai dengan keahlian, kemampuan dan
kapasitasnya masing-masing. Sebagai pendukung, Sido Muncul juga memilki tenaga
ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti biologi, ekonomi, farmasi, pertanian, hukum,
teknologi pangan, teknik kimia, teknik elektro, dan lain-lain.
Untuk mengembangkan kemampuan, pada waktu-waktu tertentu kepada
karyawan diberikan kesempatan mengikuti pelatihan, kursus, maupun seminar.
Untuk mendukung pengembangan, PT. Sido Muncul juga merekrut konsultan yang
ahli di bidangnya, misalnya : apoteker, dokter umum, dokter gigi dan spesialis.
Disamping itu, PT. Sido Muncul juga memberikan kesempatan bagi
masyarakat umum untuk datang berkunjung dan melihat secara langsung proses
produksi yang dilakukan, dengan harapan dapat membuka mata masyarakat
mengenai jamu jamu produksi Sido Muncul yang telah memenuhi standar CPOTB
(Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) dan aman serta berkhasiat untuk
dikonsumsi.
PT. Sido Muncul memiliki beberapa anak perusahaan misalnya PT. Muncul
Mekar bertugas pada bagian marketing, PT. Muncul Putra Offsite bertugas pada
bagian kemasan, PT. Muncul Armada Raya bertugas pada bagian distribusi, dan PT
Nutrend International, sebagai perusahaan yang mendistribusikan produk-produk dari
perusahaan induknya PT Sido Muncul.
Modal yang digunakan oleh perusahaan jamu herbal ini berasal dari modal
sendiri karena perusahaan ini adalah perusahaan keluarga yang benar-benar dirintis
mulai dari nol. Adapun dampak lingkungan yang diberikan PT. Sido Muncul yang

32

meliputi dampak fisik dan sosial. Untuk dampak fisiknya diantaranya adalah
pemanfaatan limbah, limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi didaur ulang
kembali, sedangkan limbah padatnya di daur ulang, dijual maupun dimusnahkan.
Untuk menanggulangi krisis energi perusahaan ini membuat biodiesel mnggunakan
minyak jelantah. Sedangkan limbah cair yang sudah netral digunakan untuk mengairi
sawah petani dan juga ditampung untuk menanggulangi devisit air. Untuk dampak
sosialnya PT. Sido Muncul berusaha untuk ikut mensejahterakan masyarakat sekitar
dengan cara merekrutnya menjadi karyawan, memberikan beasiswa, program mudik
gratis bagi karyawan, pembangunan sekolah, dan lain sebagainya.
Beberapa produk unggulan dari PT. Sido Muncul antara lain Tolak Angin dan
Kuku Bima Ener-G . Tolak Angin kini lebih difokuskan pada segmen menengah atas,
setelah sebelumnya sukses membidik segmen bawah. Hingga kini market
share Tolak Angin di kelas obat cair mendominasi hingga 70%. Penjualan Tolak
Angin mencapai 3 juta sachet per bulan, lebih tinggi dibanding rata-rata penjualan
pada tahun 2008 sekitar 2,5 juta sachet per bualan. Variasi Produk dari Tolak Angin
sendiri antara lain adalah Tolak Angin Flu dan Permen Tolak Angin. Diharapkan dari
adanya variasi produk ini akan meningkatkan penjualan produk unggulan dari PT.
Sido Muncul ini.
BAB V
PENUTUP

V.1

Kesimpulan

33

Kunjungan PKL Industri STIFA Pelita mas Palu di PT Sido Muncul. sangat
membantu dalam menambah wawasan mahasiswa/i di bidang ilmu kefarmasian
khususnya mengenai obat tradisional, mulai dari pengolahan bahan baku sampai
pada pengemasan produk jadi. Selain itu untuk memberitahukan kepada mahasiswa
bahwa kegiatan yang berlangsung di PT Sido Muncul telah sesuai dengan
persyaratan yang tercantum dalam CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang
Baik) yang meliputi penyimpanan dan pengolaha bahan baku, Filling dan Packaging
produk, bangunan, peralatan, laboratorium serta pengawasan dari tim Quality
Control (QC). PT Sido Muncul tidak hanya memproduksi jamu saja, melainkan juga
memproduksi obat herbal terstandar seperti Tolak Angin.

V.2

Saran
Agar lebih dikenalkan secara spesifik proses produksi obat herbal seperti

tolak angin, sehingga mahasiswa lebih memahami bagaimana cara pembuatan obat
herbal berstandar. Juga diharapkan kedepannya agar PT sido Muncul bisa
mengembangkan produk yang berklasifikasi fitofarmaka.

V.3

Hambatan dan Kendala


Adapun selama melakukan kunjungan di PT. SidoMuncul kendala atau

hambatan yang dialami adalah fisik yang mulai menurun dari peserta PKL Industri
STIFA PM Palu dikarenakan faktor perjalanan yang jauh dan melelahkan.

34

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim.2015.Penuntun PKL Industri Kosmetik dan Obat Tradisional.STIFA


PM: PALU

35

2. Rahmatika Varid.2015.Sido Muncul (online)


https://rahmatikavarid.wordpress.com/tag/sido-muncul/.Diakses 18 Februari
2015
3. Anonim.2015.Sejarah

Visi

Misi

Produk

Sido

www.sidomuncul.com. Diakses 18 Februari 2015


4. Anonim.2013.Laporan KKL PT Sido Muncul

Muncul.
di

(online)http://

Semarang.

(online)

http://blog.umy.ac.id/kantongajaib/2013/01/16/laporan-kkl-pt-sido-muncul-disemarang/. Diakses 18 Februari 2015


5. Anonim.2015.Persyaratan Obat Tradisional. (Online)
http://bpmpt.jabarprov.go.id/assets/data/arsip/Kepmenkes_661-MENKES-SKVII1994_PERSYARATAN_OBAT_TRADISIONAL.pdf
6.

Puspitasari, Endri.2010.Proses Pengolahan Jamu dan Sistem Sanitasi di PT.


Sido Muncul. (Online) http://eprints.uns.ac.id/10118/1/193821011201108571.pdf

7. Anonim.2012. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 007


Tahun 2012 Tentang Registrasi Obat Tradisional. (Online)
http://binfar.kemkes.go.id/?wpdmact=process&did=MTUuaG90bGluaw==
8.

Anonim.2013.Annual Report SidoMuncul. (online)


http://sidomuncul.com/uploads/Annual_Report
%20SidoMuncul_2013_Final.pdf#page=33&zoom+80,-336,624

36

LAMPIRAN 1

37

Ta
mpak Depan PT. Sido Muncul

38

LAMPIRAN 2

Ruang Produksi

39

Ruang Filling Produk Tolak Angin

LAMPIRAN 3

40

Ruang Packaging Wadah Primer

Ruang Packaging Wadah Sekunder

Ruang Packaging Wadah Tersier

41

LAMPIRAN 4

42

Ruang Pembuatan Wadah Primer Produk Tolak Angin

43

LAMPIRAN 5

Pengolahan Limbah

44

LAMPIRAN 6

Produk Sido Muncul

45

Produk Tolak Angin

Jamu anak sehat sido muncul

46

LAMPIRAN 7

47

Foto bersama di depan aula PT. Sido Muncul