Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KUNJUNGAN INDUSTRI

PT VICTORIA CARE INDONESIA (HERBORIS) DAN PT. GALENIUM PHARMASIA

TAHUN 2017

Nama : Fatma Sari Masitha

NIM : 20140350046

A. Tujuan

1. Mahasiswa diharapkan dapat memahami proses produksi yang sesuai dengan

CPOB.

2. Mahasiswa memiliki gambaran yang jelas mengenai pekerjaan apoteker di

industri farmasi.

B. Waktu dan Tempat

- Waktu : Senin, 2 Oktober 2017

Pukul : 13.00-15.00 WIB

Tempat : PT. Victoria Care Indonesia (Herborist)

- Waktu : Selasa, 3 Oktober 2017

Pukul : 09.00 - 12.00 WIB

Tempat : PT. Galenium Pharmasia Laboratories

C. Pengalaman

Kunjungan dimulai dengan mengunjungi PT. Victoria Care Indonesia yang

beralamatkan di Kawasan Industri Candi Blok 5A Gatot Subroto, Krapyak

Ngaliyan, Semarang, kunjungan ini berlangsung pada hari Senin, 2 Oktober 2017.

PT. Victoria Care Indonesia merupakan anak perusahaan dari PT. Suka Sukses

Sejati yang berlokasi di Jakarta. Perusahaan ini merupakan badan usaha yang
berbentuk Perseroan Terbatas dan bergerak di bidang produksi kosmetik,

perlengkapan mandi dan perawatan kesehatan.Sejak berdiri pada tahun 2007 PT.

Victoria Care Indonesia telah mengantongi sertifikat Good Macufacturing Practis

(GMP) atau Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM.

Rombongan kami tiba di Pabrik pukul 12.00 dan di terima oleh Bapak Widi

selaku perwakilan perusahaan sekitar pukul 13.00. Setelah mendapat sedikit

pengarahan, kami diarahkan menuju Lab pengendalian mutu yang kemudian

dipandu oleh Mbak Safa. Laboratorium ini dibagi menjadi beberapa bagian, ada

yang bersekat/ruangan khusus dan ada yang hanya dibatasi menggunakan garis

berwarna kuning. Bagian yang pertama adalah ruang fisika, disinilah proses

pembuatan produk pertama kali dimulai yaitu proses penimbangan. Proses

penimbangan sendiri ada dua yaitu penimbangan kecil menggunakan timbangan

analitik, biasanya dilakukan untuk sampling atau percobaan pembuatan sediaan,

yang kedua adalah penimbangan besar yaitu proses penimbangan berskala

produksi, di ruang fisika hanya mengkonversikan jumlah dari bahan yang harus

ditimbang, sedangkan untuk penimbangan bahan skala produksi terdapat tempat

yang terpisah. Selain itu diruang fisika juga dilakukan pengukuran pH

menggunakan pH meter, pengukuran kekentalan/viscositas dengan viscometer

khususnya untuk sediaan lulur dan handbody.

Selanjutnya yaitu ruang kimia, disinilah semua sediaan yang diproduksi diolah

dan di uji secara kimiawi diantara uji tersebut yaitu penggunaan string hot plate

yang digunakan untuk melelehkan padatan skala kecil, alat untuk menguji

kelembaban produk pada kulit, alat untuk uji saponifikasi untuk herborist sampo

zaitun. Ruang ketiga yaitu rak standar bahan baku, sampel bahan baku yang

digunakan untuk produksi di letakkan pada temapt kusus dan disimpan dalam
rak/lemari standar bahan baku, begitu juga dengan sampel seluruh produk jadi,

fungsi dari ruangan ini adalah untuk mengontrol mutu produk apabila sewaktu-

waktu diperlukan pengujian ulang, standar bahan baku diantaranya ekstrak sabun

sere, bibit parfum, dan lain lain. Terdapat beberapa ruang lain seperti ruang uji

mikrobiologi, R&D dan ruang standar bahan kemas.

Selesai dari lab, dilanjutkan ke bagian produksi, sebelum memasuki ruang

produksi setiap orang harus mengenakan kelengkapan seperti topi, masker,

covershoes dan jaslab. Terdapat 2 lantai area industri, lantai pertama untuk proses

filling, pelabelan produk dan juga area packing serta gudang, dan lantai 2 adalah

tempat produksi skala besar. Hampir 90% proses produksi sudah otomatis

menggunakan mesin, tetapi tetap membutuhkan SDM sebagai operatornya.

Dilantai 2 terdapat 3 ruangan utama yaitu :

1. Ruang Mixing Produk Padat dan Cream

Produk yang din proses disini adalah sabun, handbody dan sampo. Untuk

sabun dapat menampung sampai dengan 500 kg bahan baku untuk sekali

produksi, waktu yang dibutuhkan untuk sekali produksi kurang lebih 4-6

jam kerja, sedangkan untuk cream kapasitasnya sampai 2 ton. Dari proses

mixing ini kemudian bahan setengah jadi akan di cetak di lantai 1.

2. Ruang Produksi Produk Halal

Perusahaan ini sudah memiiki produk yang tersertifikasi halal MUI yaitu

produk daun sirih dan minyak zaitun.

3. Ruang Produksi Cair

Kapasitas produksi mesin ini hingga 2 ton dan dapat menghasilkan sampai

20.000 botol/ 10 ml .
Dilantai 1 terdapat gudang penyimpanan bahan baku dan bahan kemas,

sistem yang digunakan adalah menggunakan rak susun dengan tinggi 12

meter, untuk peyimpanan bahan sendiri disusun berdasarkan abjad.

Dari bagian produksi kemudian dilanjutkan ke bagian pengolahan

limbah, ada dua limbah yaitu cair dan padat, limbah cair diolah sendiri oleh

perusahaan dengan IPAL, sedangkan untuk limbah padat pihak perusahaan

bekerjasama dengan pihak ketiga dari Badan Lingkungan Hidup.

Produk yang dihasilkan oleh PT. Victoria Care Indonesia antara lain :

1. Lulur Tradisional Bali

2. Nuface Masker Wajah

3. Nuface BB Cream

4. Herboris :

a. Sabun

b. Lulur

c. Parfum

d. Minyak Angin Aroma Therapy

e. Minyak Zaitun

f. Message Oil

g. Body Butter

h. Sun Block

i. After Sun Gel

j. Daun Sirih

5. Sabun Sereh

6. Victoria Parfum
7. Victoria Handcream

8. Miranda Untuk Perawatan Rambut dan Semir Rambut

9. Jahwa Cream Malam dan Cream Pagi

10. Sixsence Parfum dan Handbody

11. Forhim Parfum

12. Iria Goat's Milk

13. Bali Boat

Kunjungan selanjutnya pada hari Selasa 3 Oktober 2017 yaitu PT. Galenium

Pharmasia yang beralamat di Jl. Raya Bogor-Jakarta Km 51 No.5 Kedung

Halang, Kota Bogor. PT. Galenium Pharmasia Laboratories merupakan salah satu

perusahaan yang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang

dipadukan dengan ilmu pengetahuan, khususnya dalam disiplin ilmu penyakit

kulit (dermatologi). PT Galenium Pharmasia Laboratories telah memiliki dua

sertifikat produksi dari BPOM yaitu CPKB (Cara Pembuatan Kosmetika yang

Baik) dan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Secara umum proses atau

alur produksi mirip dengan PT Victoria Care Indonesia, hanya saja di PT

Galenium ini banyak mesin-mesin berat dengan suara yang keras sehingga disini

sangat mengedepankan K3 (Kesehalan Keselamatan Kerja). Ruangan untuk

produksi dibagi menjadi dua gedung, gedung pertama adalah tempat produksi

sediaan cream dan sediaan padat (etical produk) dan gedung kedua adalah tempat

produksi sediaan powder dan sabun padat (kosmetik produk). Beberapa produk

etical yang diproduksi oleh perusahaan ini telah masuk kedalam formularium atau

daftar obat BPJS contohnya adalah Scabimet Cream. Produk yang diproduksi PT

Galenium Pharmasia Laboratories antara lain:

1. Acne Feldin 2. Amlogal


3. Belsoap 14. Galtaren

4. Bioderm 15. Galten

5. Calacort 16. Galtopril

6. Caladine Series 17. Gamesolone

7. JF Skin Specialist 18. Glimunos

8. Cartiflex 19. Laxacod

9. Cetymin 20. Laxadilac

10. Oilum 21. Laxadine

11. Dermafoot 22. Mycorine

12. Galdom 23. Selevit

13. Galpect 24. Scabimite, dsb.

D. Analisis

Menurut PERMENKES RI Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 BAB 1

pasal 1 tentang Industri Farmasi, Industri Farmasi merupakan badan usaha yang

memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau

bahan obat. Untuk dapat membuat obat atau bahan obat, perusahaan farmasi terlebih

dulu harus memiliki izin, izin ini diajukan kepada Direktur Jenderal, hal ini sesuai

dengan PERMENKES diatas Bab 1 pasal 5. Selain itu sesuai dengan isi pasal ke 8

bawa industri farmasi juga wajib memenuhi persyaratan CPOB yang dikeluarkan oleh

BPOM.

Terdapat 9 aspek dalam CPOB 2012 yang diterapkan di perusahaan industri

farmasi, tidak semua aspek dapat saya amati selama melaksanakan kunjungan karena

terbatasnya waktu. Beberapa aspek yang dapat diamati adalah aspek Personalia,

Peralatan dan Bangunan, Sanitasi dan Higiene.


Untuk mendapatkan izin industri farmasi dalam salah satu persyaratannya

yaitu memiliki secara tetap paling sedikit 3 (tiga) orang apoteker Warga Negara

Indonesia masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan

pengawasan mutu. Dimasing-masing perusahaan yaitu PT Victoria Care dan PT

Galenium telah mempekerjakan 3 apoteker yang menduduki jabatan sebagai

penanggung jawab produksi, pemastian mutu dan managemen mutu. Hal tersebut juga

merupakan salah satu ketentuan yang tercantum dalam CPOB 2012 aspek ke dua

yaitu Personalia yang tertulis sebagai berikut:

1. Kepala bagian Produksi hendaklah seorang Apoteker yang terdaftar dan

terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman

praktis yang memadai dalam bidang pembuatan obat dan keterampilan

manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara

profesional.

2. Kepala bagian Pengawasan Mutu hendaklah seorang terkualifikasi dan

lebih diutamakan seorang Apoteker, memperoleh pelatihan yang sesuai,

memiliki pengalaman praktis yang memadai dan keterampilan manajerial

sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara profesional.

3. Kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) hendaklah seorang

Apoteker yang terdaftar dan terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang

sesuai, memiliki pengalaman praktis yang memadai dan keterampilan

manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara

profesional.

Yang paling mudah diamati saat saya berada diruang produksi adalah sebelum

masuk setiap orang harus mengenakan masker, jaslab, tutup kepala dan covershoes,

hal ini berkaitan dengan sanitasi dan higiene perorangan. Ruang lingkup sanitasi dan
higiene meliputi personil, bangunan, peralatan dan bahan. Ketentuan mengenai

sanitasi dan higiene terdapat pada CPOB 2012 aspek ke 5 poin 5.1 5.3.

Kemudian yang dapat diamati adalah peralatan dan bangunan, memasuki

rungan untuk produksi terdapat suasana yang sangat berbeda dengan ruangan

sebelumnya, dari mulai lantai, dinding, desain ruangan, cat dinding dan lain lain yang

disesuaikan dengan CPOB 2012 aspek ke 4. Untuk menghindari adanya kontaminasi

dari lingkungan, industri farmasi sangat menjaga kebersihan melalui pemilihan dan

desain ruangan seperti pembuatan lantai berlapis cat yang tidak menyerap debu

sampai dengan sistim pengolahan udara yang baik. Hal ini sesuai dengan CPOB aspek

ke 4 mengenai peralatan nomer 4.12 ; 4.15 yang tertulis sebagai berikut:

- Peralatan hendaklah ditempatkan sedemikian rupa untuk memperkecil

kemungkinan terjadinya pencemaran silang antar bahan di area yang sama.

Peralatan hendaklah dipasang sedemikian rupa untuk menghindari risiko

kekeliruan atau pencemaran.

- Air, uap dan udara bertekanan atau vakum serta saluran lain hendaklah dipasang

sedemikian rupa agar mudah diakses pada tiap tahap proses. Pipa hendaklah

diberi penandaan yang jelas untuk menunjukkan isi dan arah aliran.

E. Dokumentasi
Sesi tanya jawab dengan Bapak Rosyid selaku direktur PT. Victoria Care

Indonesia.

Foto bersama di PT Victoria Care Indonesia

F. Referensi

- CPOB BPOM RI TAHUN 2012.

- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomer

1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi.

- www.vci.co.id Website PT Victoria Care Indonesia


- www.galenium.com Website PT Galenium Pharmasia

Laboratories.