Anda di halaman 1dari 12

SEJARAH PERKEMBANGAN BIOLOGI SEL DAN MOLEKULER

Sejak dulu telah dikemukakan bahwa hewan maupun tumbuh-tumbuhan tersusun atas
unsur-unsur yang selalu terulang dalam tubuh mahluk hidup. Pendapat ini kemudian
berkembang dengan ditemukannya alat-alat optik yang sangat membantu perkembangan
penelitian-penilitian biologi sel. Akhirnya, dengan melalui penelitian-penelitian lebih lanjut
dapat disimpulkan bahwa sel merupakan struktur dasar dan unit fungsional dari mahluk
hidup.
Penelitian-penelitian lebih lanjut mendapatkan bahwa sel itu tersusun atas unsur-unsur
yang sama dengan unsur-unsur anorganik dalam alam, bahkan dikemukakan pula proses-
proses kimia yang terjadi dalam mahluk hidup yang paling sederhana sampai mahluk yang
peling sempurna pada dasarnya adalah sama.
Biologi sel dulu juga dinamakan “sitologi” yaitu cabang biologi yang baru diakui
sebagai cabang disiplin ilmu sejak akhir abad XIX, walaupun penelitian-penelitian mengenai
hal ini telah dilakukan orang beberapa abad sebelumnya.
Ahli filsafat kuno terutama Aristoteles dan Paracelsus pada zaman pembaharuan telah
sampai pada suatu kesimpulan bahwa “hewan dan tumbuh-tumbuhan walaupun nampaknya
sangat rumit terdiri atas beberapa unsur yang selalu terulang dalam tiap tubuh makhluk
hidup”.
Jadi mereka telah berpendapat bahwa hewan atau tumbuh-tumbuhan tersusun atas
beberapa bagian, unsur-unsur atau elemen-elemen yang terulang dan elemen ini bergabung
membentuk bangunan atau struktur tertentu dari makhluk hidup seperti membentuk daun,
akar pada tanaman, atau membentuk segmen atau organ pada hewan.
Beberapa abad kemudian, setelah ditemukan lensa pembesar mulailah penggunaan alat-
alat optik yang kemudian berkembang menjadi mikroskop yang akhirnya semakin sempurna.
Dengan menggunakan alat-alat optik ini penelitian terhadap elemen-elemen atau bagian-
bagian makhluk hidup makin meningkat.
Penemuan dan kajian awal tentang sel memperoleh kemajuan sejalan dengan penemuan
dan penyempurnaan mikroskop pada abad ketujuh belas. Mikroskop yang pertama kali
digunakan oleh para saintis Renaisans adalah mikroskop cahaya (light-microscope). Cahaya-
tampak dilewatkan melalui spesimen dan kemudian menembus lensa kaca. Lensa ini
merefraksi (membelokkan) cahaya sedemikian rupa sehingga bayangan spesimen diperbesar
sedemikian rupa sehingga bayangan spesimen diperbesar sewaktu bayangan itu
diproyeksikan ke mata kita.
Robert Hooke, seorang saintis Inggris, pertama kali menerangkan dan menamakan sel
pada tahun 1665, ketika ia meneliti suatu irisan dari gabus (kulit batang dari pohon oak
dengan menggunakan mikroskop yang memiliki perbesaran 30 kali). Walaupun meyakini
bahwa kotak kecil, atau “sel”, yang ia lihat hanya dimiliki oleh potongan gabus tersebut,
Hooke tidak pernah menyadari betapa penting penemuannya.
Walaupun demikian, geografi sel sebagian besar belum dipetakan hingga beberapa
dasawarsa lalu. Sebagian besar struktur subseluler, atau organel, terlalu kecil untuk diuraikan
oleh mikroskop cahaya.
Penyelidikan yang sama dilakukan pula oleh Grew dan Malphigi pada tanaman yang
berbeda-beda dan ternyata ditemukan pula ruang-ruang yang dibatasi oleh dinding selulose
dan kemudian dinamakan vesikula atau utrikula.
Tahun 1674, penerusnya seorang saintis Belanda Anthony van Leeuwenhoek
menemukan organisme yang sekarang kita kenal sebagai organisem bersel tunggal. Dengan
menggunakan butiran-butiran pasir yang telah ia ubah menjadi kaca pembesar berkekuatan
300 kali, Leeuwenhoek menemukan suatu dunia mikroba di dalam tetesan-tetesan air kolam
dan juga meneliti sel-sel darah dan sel sperma hewan. Dengan menggunakan mikroskop yang
masih sangat sederhana Leeuwenhoek dapat meneliti sel-sel yang bebas dan melihat adanya
bangunan di tengah sel yang sekarang dikenal sebagai inti sel. Anthony van Leeuwenhoek
melakukan banyak pengamatan terhadap benda-benda dan jasad-jasad renik dan
menunjukkan pertama kali pada dunia ada "kehidupan di dunia lain" yang belum pernah
dilihat oleh manusia. Karyanya menjadi dasar bagi cabang biologi yang penting saat ini:
mikrobiologi.
Setelah penelitian-penelitian tersebut di atas, untuk waktu yang cukup lama yaitu lebih
dari satu abad, penelitian tentang sel ini terhenti sehingga perkembangan pengetahuan tentang
sel juga masih sangat terbatas.
Pada abad XIX barulah dimulai penelitian tentang sel terutama tentang isi sel. Pada
tahun 1829, Hertwig mengajukan suatu teori yang disebut teori protoplasma yang
menyatakan bahwa sel merupakan kumpulan substansi hidup yang disebut protoplasma yang
di dalamnya mengandung inti (nukleus) dan bagian luarnya dibatasi oleh dinding sel.
Kemudian tahun 1831 Brown mengemukakan bahwa inti sel merupakan komponen
dasar dan tetap dari sel. Dalam inti sel ini juga dikenal adanya protoplasma sehingga untuk
membedakan protoplasma dalam sel dan protoplasma dalam inti digunakan istilah yang
berbeda, yaitu sitoplasma untuk protoplasma dalam sel dan karioplasma untuk protoplasma
dalam inti.
Pada tahun 1839, hampir dua abad setelah penemuan Hooke dan Leeuwenhoek, sel
akhirnya diakui sebagai unit kehidupan yang terdapat di mana saja oleh Matthias Schleiden
(ahli Botani) dan Theodor Schwann (ahli zoologi) dari Jerman. Dalam kasus klasik tentang
penalaran induktif—pencapaian suatu kesimpulan umum berdasarkan pengamatan-
pengamatan khusus—ini. Kesimpulan umum ini dikenal dengan nama teori sel. Dalam teori
ini dikatakan bahwa “semua makhluk hidup tersusun atas atau terdiri dari sel-sel”. Jadi semua
makhluk hidup sebenarnya merupakan kumpulan dari sel-sel atau sel merupakan elemen
dasar dari makhluk hidup. Kemampuan sel untuk membelah diri menghasilkan sel-sel yang
baru adalah dasar bagi semua reproduksi dan bagi pertumbuhan dan perbaikan organisme-
organisme multiseluler, termasuk manusia. Teori sel ini merupakan teori yang sangat
mendasar dalam pengembangan biologi sel sehingga akhirnya Schwann diakui sebagai
“Bapak” dari sitologi modern.
Sejak dikemukakannya teori sel ini kemudian penelitian-penelitian di bidang biologi sel
bertambah meningkat dan banyak ditemukan berbagai penemuan di bidang biologi sel
maupun di bidang ilmu lain yang berkaitan erat dengan biologi sel.
Berdasarkan jumlah sel yang menyusun tubuh makhluk hidup maka Haeckel membagi
dunia hewan menjadi dua kelompok besar yaitu: Protozoa (mempunyai sel tunggal) dan
Metazoa (mempunyai sel banyak).
Tahun 1858, Albert Kolliker mengemukakan suatu teori di bidang embriologi yang
menyatakan bahwa spermatozoa dan ovum merupakan unsur histologis yang merupakan asal
dari makhluk hidup baru. Virchow pada tahun 1858 mengemukakan bahwa sel selalu berasal
dari sel lain (omnis cellula e cellula) yang berarti bahwa sel mempunyai kemampuan untuk
berkembang biak/membelah. Pada tahun yang sama Virchow juga mengemukakan bahwa
proses patologis yang terjadi pada makhluk hidup sebenarnya terjadi pada makhluk hidup
sebenarnya terjadi dalam sel-sel atau jaringan.
Tahun 1875, Hertwig mengemukakan tentang hakekat dari konsepsi yang menyatakan
bahwa pada waktu konsepsi/pembuahan terjadi peleburan antara inti sel telur dan
spermatozoon.
Penemuan-penemuan penting lainnya dalam bidang biologi sel banyak dikemukakan
oleh para ahli diantaranya penelitian tentang pembelahan sel banyak dikemukakan oleh para
ahli diantaranya penelitian tentang pembelahan sel oleh Fleming pada hewan dan
Strassburger pada tanaman, sampai terungkapnya proses kariokinesis oleh Schleiden
tahun1878 dan penemuan kromosom oleh Waldeyer tahun 1890.
Biologi sel telah mengalami kemajuan pesat pada tahun 1950-an dengan pengenalan
mikroskop elektron. Sebagai pengganti cahaya-tampak, mikroskop elektron (electron
microsope) memfokuskan berkas elektron melalui spesimen. Daya urai dihubungkan terbalik
dengan panjang-gelombang radiasi yang digunakan mikroskop, dan berkas elektron memiliki
panajang gelombang yang jauh lebih pendek dari panjang-gelombang cahaya-tampak.
Mikroskop modern secara teoretis dapat mencapai resolusi (penguraian) kira-kira 0,1
nanometer (nm), tetapi dalam prakteknya batas untuk struktur biologis umumnya hanya kira-
kira 2 nm—masih merupakan peningkatan ratusan kali lipat dari mikroskop cahaya. Para ahli
biologi menggunakan istilah ultrastruktur sel untuk mengacu pada anatomi sel yang diuraikan
oleh mikroskop elektron.
Penelitian-penelitian dalam bidang biologi sel berkembang terus sehingga akhir
berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut dapat dicapai kesimpulan-kesimpulan yang penting
diantaranya:
• Setiap sel terbentuk atau berasal dari pembelahan sel yang sudah ada.
• Terdapat kesamaan yang mendasar dalam hal komposisi kimia dan aktivitas metabolisme.
• Fungsi makhluk hidup secara keseluruhan ditentukan oleh aktivitas dan interaksi dari unit-
unit sel yang ada.
Berikut ini gambar sel tumbuhan :
Dan gambar sel hewan :

Perkembangan biologi sel yang pesat ini dipengaruhi oleh perkembangan ilmu-ilmu
lain, tetapi membawa pengaruh pula terhadap perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Ilmu-ilmu
yang secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan biologi sel ini diantaranya genetika,
fisiologi, dan biokimia.

Perkembangan Biologi Sel dan Genetika

Dengan adanya penemuan Virchow tentang “omnis cellula e cellula” pada tahun 1858,
ini berarti bahwa sel mempunyai kemampuan untuk berkembang biak atau membelah
dengan menghasilkan sel baru yang mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Jadi jelas
bahwa ada faktor-faktor yang diturunkan oleh sel induk kepada sel anaknya/ keturunannya.
Menurut Wilson, sifat menurun akan muncul sebagai konsekuensi adanya kontinuitas
genetik dari sel melalui pembelahan.
Tahun 1883, Weissman menyatakan bahwa pemindahan faktor menurun dari satu
generasi ke generasi berikutnya karena adanya “germ plasm” yang terdapat dalam sel
kelamin.
Dengan ditemukannya hakekat konsepsi oleh Hertwig pada tahun 1875 maka
penelitian tentang faktor-faktor yang menurun makin berkembang. Tahun 1879, H. Fold dan
Strassburger mengemukakan teori bahwa inti sel memegang peran penting dalam proses
pengalihan faktor-faktor yang diturunkan. Kemudian Roux menemukan adanya benang-
benang dalam inti sel yang disebut benang-benang kromatin yang mengandung faktor-faktor
yang menurun.benang–benang kromatin inilah yang menurut Waldeyer mengandung
kromosom yang kemudian oleh Weissmann dikatakan mengandung unit-unit tertentu yang
mengandung faktor-faktor yang diturunkan.
Asal kejadian genetika modern dimulai dari taman sebuah biara, di mana seorang
biarawan bernama Gregor Mendel mencatat sebuah mekanisme penurunan sifat partikulat.
Mendel menemukan prinsip dasar hereditas dengan membudidayakan kacang ercis dalam
suatu percobaan yang terencana dan teliti. Mendel mungkin memilih untuk bekerja
menggunakan kacang ercis karena kacang ercis memiliki banyak varietas. Sebagai contoh,
ada varietas yang mempunyai bunga ungu, sementara varietas yang lain ternyata mempunyai
bunga putih. Ahli genetika menggunakan istilah karakter untuk menjelaskan sifat yang dapat
diturunkan, seperti warna bunga, yang terdapat pada individu. Setiap varian dari suatu
karakter, seperti warna bunga ungu dan putih pada bunga, dinamakan sifat (trait).
Penggunaan kacang ercis juga membuat Mendel dapat melakukan kontrol yang ketat
berkenaan dengan tanaman mana saja yang dapat saling dikawinkan. Organ kelamin dari
tanaman kacang ercis terdapat pada bunganya dan setiap bunga kacang ercis mempunyai
sekaligus organ kelamin jantan dan betina—masing-masing stamen (benang sari) dan karpel
(putik). Biasanya tanaman ini berfertilisasi sendiri; butir-butir polen (serbuk sari) lepas dari
stamen dan jatuh di karpel dari bunga yang sama, dan sperma dari polem membuahi ovum di
karpel. Untuk mendapatkan penyerbukan silang (fertilisasi di antara tanaman-tanaman yang
berbeda), Mendel memindahkan stamen yang belum matang dari sebuah tanaman sebelum
stamen-stamen tersebut menghasilkan polen dan selanjutnya menaburkan butir-butir polen
dari tanaman lain ke atas bunga yang telah “dikebiri” tersebut. Setiap zigot yang dihasilkan
kemudian akan berkembang menjadi embrio tanaman yang disimpan di dalam biji (kacang).
Terlepas ia memastikan memilih untuk membiarkan penyerbukan sendiri atau melakukan
penyerbukan silang buatan, Mendel selalu dapat mengetahui dengan pasti asal-usul (induk)
biji yang baru.
Mendel memilih untuk menelusuri hanya karakter-karakter yang bervariasi dengan
pendekatan apakah karakter tersebut “ada atau tidak ada” dan bukan dengan apakah karakter
tersebut “lebih banyak atau lebih sedikit”. Sebagai contoh, tanaman Mendel mempunyai
bunga yang ungu saja atau putih saja; tidak ada karakter antara pada kedua varietas tersebut.
Seandainya Mendel ternyata memfokuskan penelitiannya pada karakter-karakter yang terus
berubah-ubah pada individu—contohnya berat biji—Mendel tidak akan pernah menemukan
sifat partikulat pada penurunan sifat.
Mendel juga memastikan bahwa dia memulai percobaannya dengan varietas galur
murni (true-breeding), yang berarti ketika tanaman menyerbuk sendiri, semua keturunannya
akan mempunyai varietas yang sama. Contohnya, suatu tanaman dengan bunga ungu adalah
perkawinan galur murni jika biji dihasilkan melalui penyerbukan sendiri menghasilkan
tanaman yang juga mempunyai bunga ungu.
Dalam sebuah percobaan pengembangbiakan yang biasa dilakukan, Mendel biasanya
akan melakukan penyerbukan silang terhadap dua varietas ercis galur murni yang kontras—
contohnya tanaman berbunga ungu dan tanaman berbunga putih. Perkawinan, atau
penyilangan dua varietas ini disebut hibridisasi. Contoh yang dijelaskan di sini lebih spesifik
yaitu penyilangan monohibrid, istilah untuk penyilangan yang menelusuri penurunan sifat
sebuah karakter pada kasus ini adalah warna bunga. Induk galur murni disebut generasi P
(dari kata parental), dan keturunan hibridnya adalah generasi F1 (dari kata filial keturunan
pertama). Membiarkan hibrid F1 ini melakukan penyerbukan sendiri menghasilkan generasi
F2 (filial kedua). Mendel biasanya mengikuti sifat-sifat bawaan paling sedikit untuk tiga
generasi P, F1, dan F2. Seandainya saja Mendel menghentikan percobaannya pada generasi
F1, pola dasar penurunan sifat bisa saja menipunya. Analisis kuantitatif Mendel pada
tanaman F2 inilah yang terutama mengungkapkan dua prinsip dasar hereditas yang sekarang
dikenal dengan hukum segregasi dan hukum pemilahan bebas. Hukum dasar tentang
genetika telah dikemukakan oleh Gregor Mendel pada tahun 1865, tetapi perubahan-
perubahan yang terjadi dalam sel belum dapat dijelaskan atau belum banyak diketahui.
Para ahli sitologi berhasil mempelajari proses mitosis pada tahun 1875 dan proses
meiosis pada tahun 1890-an. Kemudian di sekitar tahun 1900-an, sitologi dan genetika
bersatu pada saat ahli-ahli biologi mulai melihat kesamaan antara perilaku kromosom dan
perilaku faktor-faktor Mendel. Sebagai contoh, kromosom dan gen kedua-duanya hadir
dalam bentuk pasangan di dalam sel diploid. Kromosom-kromosom homolog berpisah dan
alel-alel bersegregasi selama meiosis, dan fertilisasi (pembuahan) memulihkan kembali
kondisi berpasangan ini baik untuk kromosom maupun untuk gen. Pada abad XX setelah
biologi sel berkembang dengan pesat barulah mekanisme distribusi faktor-faktor yang
menurun ini dapat dijelaskan, yaitu berdasarkan pada penelitian-penelitian Correns,
Tschermack dan De Vries pada tahun 1901. Sekitar tahun 1902, Walter S. Sutton, Theodor
Boveri, dan yang lain-lainnya secara terpisah memperhatikan kesamaan-kesamaan tersebut
dan akhirnya suatu teori kromosom mengenai penurunan sifat mulai terbentuk. Menurut teori
tersebut, gen-gen “Mendel” mempunyai lokus-lokus khusus pada kromosom, dan
kromosomlah yang mengalami segregasi dan pemilahan independen.
Thomas Hunt Morgan, seorang ahli embriologi pada Columbia University adalah
orang pertama yang menghubungkan suatu gen tertentu dengan kromosom khusus, di awal
abad kedua puluh. Meskipun pada awalnya Morgan meragukan Mendelisme dan teori
kromosom, eksperimen-eksperimen awalnya memberikan bukti yang meyakinkan bahwa
kromosom memang merupakan lokasi dari faktor sifat keturunan Mendel.
Kemudian dapat pula dijelaskan bagaimana terjadinya proses pembelahan meiosis
dimana dalam sel kelamin hanya terdapat kromosom yang bersifat haploid.
Penelitian-penelitian di bidang genetika berkembang terus sejalan dengan
perkembangan yang terjadi dalam biologi sel dan kemudian muncul ilmu baru yang dikenal
sebagai sitogenetika. Perkembangan sitogenetika ini kemudian sejalan pula dengan
perkembangan biokimia sehingga akhirnya muncul ilmu baru yang mempelajari tentang
genetika ditingkat molekul yang dinamakan genetika molekuler.
Perkembangan biologi sel dan molekuler semakin pesat dengan ditemukannya materi
genetik oleh F Miescher pada awal abad ke19. Dengan menggunakan mikroskop sederhana,
F Miescher telah menemukan adanya bahan aktif di dalam nucleus dan disebut sebagai
nuclein. Akan tetapi peneliti ini belum bisa menetapkan apakah nuclein ini kromosom
ataukah DNA. Gagasan bahwa gen terletak di dalam kromosom baru dikemukakan oleh
W.Sutton pada tahun 1903 dan gagasan ini mendapat dukungan secara eksperimental oleh
T.H.Morgan pada tahun 1910. Pada tahun 1922 Morgan melakukan pemetaan gen dan
melakukan analisis menyeluruh mengenai posisi relatif lebih dari 2000 gen pada keempat
kromosom Drosophila melanogaster.
Pada tahun 1953, James Watson and Francis Crick telah berhasil menemukan model
struktur DNA. Publikasi dari model double heliks DNA ini disusun berdasarkan penemuan:
1. Penemuan struktur asam nukleat dari Pauling & Corey
2. Pola difraksi DNA (Single-crystal X-ray analysis) dari Wilkins & Franklin
3. Pola perbandingan jumlah A-T, G-C (1:1) dari Chargaff atau dikenal sebagai Hukum
Ekivalen Chargaff:
· Jumlah purin sama dengan pirimidin
· Banyaknya adenin sama dengan timin, juga jumlah glisin sama dengan sitosin
Dengan menggunakan model-model molekuler yang terbuat dari kawat, Watson dan
Crick mulai membuat model terskala dari suatu heliks ganda yang sesuai dengan hasil
pengukuran sinar-X dan dengan apa yang kemudian dikenal tentang kimia DNA. Setelah
gagal membuat model yang memuaskan yang menempatkan rantai gula-fosfat di bagian
dalam molekul, Watson mencoba menempatkan rantai-rantai ini di bagian luar dan memaksa
basa-basa nitrogen meliuk-liuk menuju bagian dalam heliks ganda. Bayangkan heliks ganda
ini sebagai tangga tali yang mempunyai anak tangga yang kaku, dengan tangga terpuntir
membentuk spiral. Tali-tali di sampingnya equivalen dengan tulang belakang gula-fosfat,
dan anak tangganya mewakili pasangan basa nitrogen. Data sinar-X Franklin
mengindikasikan bahwa heliks membentuk satu putaran penuh setiap 3,4 nm panjang heliks.
Karena basa-basa tersebut tertumpuk hanya dengan jarak pemisah 0,34 nm, maka akan
terdapat 10 lapis pasangan basa, atau anak tangga pada tangga, untuk setiap putaran heliks.
Pengaturan ini menarik karena basa-basa nitrogen yang relatif hidrofobik ditempatkan di
bagian dalam molekul sehingga jauh dari medium air di sekelilingnya.
Basa-basa dari nitrogen dari heliks ganda ini berpasangan dalam kombinasi yang
spesifik: adenin (A) dengan Timin (T), dan guanin (G) dengan sitosin (C). Watson dan Crick
menemukan unsur penting DNA ini terutama dengan proses trial and error. Pada awalnya,
Watson membayangkan basa-basa tersebut berpasangan dengan basa sejenis (like-with-like,
sejenis-dengan-sejenis)—sebagai contoh, A dengan A dan C dengan C. Tetapi model ini
tidak sesuai dengan data sinar-X, yang menunjukkan bahwa heliks ganda tersebut
mempunyai diameter yang seragam. Mengapa persyaratan ini tidak sesuai dengan konsep
pasangan basa sejenis-dengan-sejenis? Adenin dan guanin adalah purin, basa nitrogen
dengan dua cincin organik. Sebaliknya, sitosin dan timin adalah anggota famili basa nitrogen
yang dikenal sebagai pirimidin, yang mempunyai satu cincin tunggal. Oleh karena itu, purin
(A dan G) kurang lebih dua kali lebih lebar daripada pirimidin (C dan T). Pasangan purin-
purin terlalu lebar, sedangkan pasangan pirimidin-pirimidin terlalu sempit untuk heliks
ganda yang diameternya 2 nm. Jalan keluarnya adalah selalu memasangkan satu purin
dengan satu pirimidin.
Watson dan Crick beralasan bahwa pasti ada kekhususan tambahan lain mengenai
pemasangan yang ditentukan oleh struktur basa-basa itu. Setiap basa memiliki gugus-gugus
samping kimiawi yang dapat membentuk ikatan hidrogen dengan pasangannya yang sesuai:
Adenin dapat membentuk dua ikatan hidrogen dengan timin dan hanya dengan timin; Guanin
membentuk tiga ikatan dengan sitosin dan hanya dengan sitosin. Notasi pendeknya, A
berpasangan dengan T, dan G berpasangan dengan C.
Model Watson-Crick ini menjelaskan aturan-aturan Chargaff. Di mana saja satu untai
molekul DNA memiliki sebuah A, untaian pasangannya pasti mempunyai sebuah T. Dan
sebuah G pada satu untai selalu berpasangan dengan sebuah C pada untai komplementernya.
Oleh karena itu, pada DNA dari setiap organisme, banyaknya adenin sama dengan
banyaknya timin, dan banyaknya guanin sama dengan banyaknya sitosin. Meskipun aturan
pemasangan basa menentukan kombinasi basa nitrogen yang membentuk “anak tangga” dari
heliks ganda, aturan ini tidak membatasi urutan nukleotida di sepanjang masing-masing untai
DNA. Jadi, urutan linear dari keempat basa ini dapat diubah-ubah dengan cara yang tidak
terhingga banyaknya, dan setiap gen mempunyai urutan yang unik, atau urutan basa.
Pada bulan April 1953, Watson dan Crick menyentak kalangan ilmiah sedunia dengan
satu artikel singkat setebal satu halaman di jurnal Inggris Nature. Artikel tersebut
melaporkan model molekuler mereka untuk DNA: heliks ganda, yang sejak itu menjadi
simbol bologi molekuler. Keindahan model tersebut adalah strukturnya menunjukkan
mekanisme dasar replikasi DNA.

Perkembangan Biologi Sel dan Fisiologi

Pada mulanya penelitian tentang sel hanya dilakukan pada sel-sel mati yang diwarnai
untuk melihat bagian-bagian sel yang ada. Baru pada taun 1899 perhatian para ahli beralih
untuk mempelajari sel-sel hidup tentang gerakan-gerakan yang terjadi dalam sel seperti
gerak amoeboid, siklosis, gerakan cilia, gerakan flagella bahkan gerak kontraksi sel-sel otot
dapat diamati pada tingkat seluler. Pada akhir abad XIX, Overton mengemukakan teori
tentang membran sel yaitu bahwa membran sel merupakan selaput tipis yang terdiri dari
bahan lipoid. Michaelis kemudian membuat model membran sel untuk mempelajari aliran
substansi atau bahan-bahan melewati membran sel. Dengan penemuan ini, berkembang
pewarnaan sel pada sel yang masih hidup dengan memanfaatkan pengetahuan tentang sifat
membran sel dalam hal permeabilitasnya.
Tahun 1909, Harrison dapat menunjukkan bahwa sel-sel saraf pada embrio dapat
bertumbuh dan berkembang secara invitro. Dengan penemuan ini muncullah era baru dalam
penelitian bidang biologi sel yaitu dengan berkembangnya kultur sel atau kultur jaringan.
Dengan berkembangnya kultur sel/jaringan maka berkembang pula penelitian dalam
biologi sel, baik tentang struktur sel maupun fungsi sel serta bagian-bagiannya.
Perkembangan penelitian di bidang biologi sel ini juga didukung oleh penemuan-penemuan
di bidang ilmu fisika terutama dengan diketemukannya mikroskop elektron dan juga oleh
penemuan-penemuan dalam hal pewarnaan sel hidup.
Penemuan-penemuan baru di bidang fisiologi sel ini antara lain ialah ditemukannya
struktur/susunan membran sel, sifat-sifat membran sel, transportasi aktif melalui membran
sel, reaksi sel terhadap rangsang/perubahan lingkungan, dasar mekanisme perangsangan dan
kontraksi, nutrisi sel, pertumbuhan sel, sekresi sel dan aktivitas sel lainnya.
Perkembangan Biologi sel dan Biokimia

Perpaduan antara biologi sel dan biokimia sekarang dikenal sebagai sitokimia yang
sebenarnya merupakan perpaduan metode ilmiah antara biologi sel dan kimia, biokimia dan
fisiko-kimia.
Penelitian biokimia yang dilakukan Fisher dan Hofmeister pada tahun 1902
mendapatkan bahwa molekul protein mengandung asam amino yang terkait dalam ikatan
peptid. Miescher (1869) dan Kossel (1891) dalam peelitiannya berhasil mengisolasi asam
nukleus yang diduga memegang peranan penting pada sintese protein dan dalam proses
pembelahan sel.
Penemuan lain yang berdasarkan pemikiran biologis ialah penemuan Ostwald yang
melahirkan konsep tentang aktivitas enzim atau aktivitas katalitik dari enzim yaitu bahwa
enzim adalah satu kesatuan molekul yang digunakan oleh sel untuk berbagai macam
transformasi energi yang diperlukan dalam memelihara aktivitas kehidupan suatu sel.
Wieland (1903) dan Wargburg (1908) menyelidiki proses-proses terjadinya oksidasi
dalam sel dan kemudian Altmann juga menemukan hubungan antara mitokondria dan proses
oksidasi dalam sel. Batelli dan Stern (1912) dan kemudian Wargburg (1913) menyelidiki dan
mengemukakan bahwa enzim-enzim pernapasan terdapat dalam beberapa partikel dalam
sitoplasma. Mekanisme tentang oksidasi dalam sel ini kemudian dapat dijelaskan dan
disempurnakan oleh Kellin (1934).
Pada tahun 1934 Bensley dan Hoerr dapat melakukan isolasi mitokondria dari dalam
sel sehingga memungkinkan perkembangan penelitian lebih lanjut.
Akhirnya Claude dan Hogeboom berdasarkan penelitian-penelitiannya menyimpulkan
bahwa mitikondria merupakan pusat terjadinya oksidasi dalam sel.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang makin pesat terutama tentang teknik radioaktif,
elektron mikroskopis dan lain-lain menyebabkan perkembangan yang pesat dalam
penelitian-penelitian sitokimia dengan didapatkannya cara isolasi mitokondria, kloroplas,
nukleus, kompleks golgi, partikel-partikel mitotik dan komponen lain dalam sel.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Sejarah Biologi Sel dan Molekular,


Available at : http://www.ilmupedia.com/akademik/biologi/ 609-sejarah-biologi-sel-
dan-molekuler.html
Opened at : 24 Desember 2009

Campbell, Neil, A, dkk, 2002, Biologi edisi V jilid I, Penerbit Erlangga, Jakarta

Juwono dan Achmad Zulfa Juniarto, 2000, Biologi Sel, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta