Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

Di berbagai negara masalah penyakit menular dan kualitas lingkungan yang berdampak terhadap kesehatan masih menjadi isu sentral yang ditangani oleh pemerintah
bersama masyarakat sebagai bagian dari misi Peningkatan Kesejahteraan Rakyatnya. Faktor lingkungan dan perilaku masih menjadi risiko utama dalam penularan dan
penyebaran penyakit menular, baik karena kualitas lingkungan, masalah sarana sanitasi dasar maupun akibat pencemaran lingkungan. Sehingga insidens dan prevalensi
penyakit menular yang berbasis lingkungan di Indonesia relatif masih sangat tinggi.
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari pembangunan nasional. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat berperan
penting dalam meningkatkan mutu dan daya saing Sumber Daya Manusia Indonesia.
Untuk mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan tersebut ditetapkanlah Visi Indonesia Sehat 2015 yang merupakan cerminan masyarakat, bangsa dan Negara
Indonesia dengan ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan yang sehat dan dengan perilaku yang sehat serta memiliki kemampuan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata diseluruh wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia. Sejalan dengan tujuan tersebut diselenggarakan upaya
pembangunan kesehatan yang berkesinambungan, baik oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota maupun oleh masyarakat termasuk
swasta.

Menurut Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi setiap orang dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita cita Bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia
Tahun 1945, maka tuntutan untuk mendapatkan pelayanan yang bermutu dan optimal menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Perubahan Paradigma Kesehatan, bahwa pembangunan kesehatan lebih diprioritaskan pada upaya pencegahan dan promosi dengan tanpa meninggalkan kegiatan kuratif dan
rehabilitatif, telah mendorong upaya dari dinas kesehatan umumnya dan dalam bidang penyehatan lingkungan permukiman serta tempat tempat umum dan industri pada
khususnya untuk lebih menggali kemampuan dan kemauan masyarakat untuk dapat meningkatkan dan memecahkan permasalahan kesehatannya sendiri.
Keadaan kesehatan lingkungan di masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah
seperti: Mobilitas dan Peningkatan jumlah penduduk, penyediaan air bersih, Pemanfaatan Jamban, pengolalaan sampah, pembuangan air limbah, penggunaan pestisida,
masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, polusi udara,air dan tanah dan banyak lagi permasalahan yang dapat menimbulkan Penyakit
Menular.
Puskesmas merupakan kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dan dapat diterima serta
terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat menggunakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat
ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan pada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat
kesehatan yang optimal tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan (Depkes, RI 2004).
Salah satu fungsi puskesmas adalah memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Pelayanan kesehatan yang
diberikan puskesmas meliputi pelayanan pengobatan, upaya pencegahan, peningkatan kesehatan dan pemulihan kesehatan (Depkes RI, 2004).

BAB 2
MAKSUD TUJUAN DAN MANFAAT

2.1

MAKSUD
Penyusunan POA Program P2M ini dapat dipergunakan sebagai acuan bagi Puskesmas beserta pihak-pihak lain yang terkait dalam pemberian pelayanan
kesehatan yang lebih mnegutamakan aspek promotif, preventif agar terwujud pelayanan kesehatan yang efektif, efesien, rasional, bermutu dan proporsional

2.2
2.2.1

TUJUAN
Umum
Meningkatnya upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif dalam mencapai menurunkan kasus penyakit menular (P2M)

2.2.2

2.3

Khusus
1.

Tersedianya alokasi anggaran operasional untuk upaya program P2M di Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu.

2.

Tersusunnya perencanaan program P2M di Puskesmas untuk penyelenggaraan upaya kesehatan di wilayah kerja.

3.

Terlaksananya kegiatan upaya program P2M di Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes/Polindes dan Posyandu dan tempat pelayanan kesehatan lainnya.

4.

Meningkatnya peran serta masyarakat dalam kegiatan upaya kesehatan promotif dan preventif dalam program P2M

MANFAAT POA
1.

Terciptanya rencana kerja yang efektif, efesien dan proporsional

2.

Adanya acuan pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif di Puskesmas dan jaringannya.

B AB 3
PROFIL PUSKESMAS
3.1 KONDISI GEOGRAFIS
Puskesmas Kasembon merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten Malang yang berbatasan dengan :
Sebelah utara

: Kabupaten Jombang

Sebelah timur

: kecamatan Ngantang

Sebelah selatan

: Kabupaten Kediri

Sebelah Barat

: Kabupaten Kediri

Luas wilayah kerja puskesmas Kasembon 2.772 ,41KM2., merupakan daerah pegunungan. Jarak tempuh desa ke puskesmas terjauh sekitar 10 KM sedangkan akses jalan semua desa
bisa dilewati kendaraan roda 2 maupun roda 4.
Luas wilayah per desa dapat dilihat pada tabel berikut ini :
NO
1
2
3
4
5
6

NAMA KELURAHAN /
DESA
Sukosari
Kasembon
Wono Agung
Pait
Bayem
Pondok Agung

LUAS
WILAYAH
(KM2)
404.24
415.56
672.86
479.72
5.886
6113
2.772.41

JUMLAH DESA
Kelurahan
Desa
0
0
0
0
0
0
0

1
1
1
1
1
1
6

JARAK KE
PUSKESMAS
(KM)
1
1
3
7
2
7

Sumber data : Data Luas Wilayah Kecamatan Kasembon tahun 2015

3.2 KONDISI DEMOGRAFIS

Jumlah penduduk di Puskesmas Kasembon tahun 2016 mencapai 65.686 jiwa.


Tabel data jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kasembon tahun 2016
NAMA
DESA/KELURAHAN
Sukosari
Kasembon
Wono Agung
Pait
Bayem
Pondok Agung

JUMLAH PENDUDUK
L
P
2.907
2.914
2.068
2434
1.892
2164
2.251
2473
2.864
3022
2.973
3140
14.955
16.178

TOTAL
2150
4917
4833
4396
5625
5865
30272

Sumber Data :Data Statistik Kec. Kasembon 2015

3.3

SARANA PELAYANAN KESEHATAN DI KECAMATAN KASEMBON

Kasembon dapat dilihat pada tabel berikut:


NO
1
5
6
7
8
9
10
11
13

JENIS SARANA YAN KES


RSU PEMERINTAH
PUSKESMAS
PUSTU
PONKESDES
PUSLING
POLINDES
APOTEK
DOKTER PRAKTEK SWASTA
POSYANDU

JUMLAH
1
1
2
3
3
3
1
1
44

KETERANGAN

Secara umum jumlah sarana pelayanan kesehatan yang berada di Kecamatan

14

RUMAH BERSALIN

TOTAL
Sumber data: Data Profil Puskesmas Kasembon tahun 2015

PETA WILAYAH PUSKESMAS KASEMBON

3.4 KETENAGAAN DI PUSKESMAS BESERTA JARINGANNYA


Untuk ketenagaan berdasarkan tingkat pendidikan di Puskesmas Kasembon beserta jaringannya dapat dilihat pada tabel berikut:

No.
1
2
3
5
6
7
8
9
10
11
12
17
18

Pendidikan
Dokter Umum
Dokter Gigi
Apoteker
S1 Keperawatan
Akper
SPK
AKL
AKZI
AKBID
SPRG
Amd Farm
Analis Kesehatan
SLTA
SLTP
J U M LAH

PN S
1
0
0
1
3
1
1
1
8
1
1
0
2
0
58

Status Kepegawaian
PTT
KONTRAK
0
0
0
1
0
0
0
0
0
6
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
2
0
1
0
0
0
0
8
17

MAGANG
1
0
0
0
1
0
0
0
2
0
1
0
0
2
10

Sumber data: Data Kepegawaian Puskesmas Kasembon tahun 2015

3.5 SARANA DAN PRASARANA PENUNJANG


Bangunan gedung puskesmas Kasembon merupakan bangunan 1 lantai yang terdiri dari ruang pelayanan , sedangkan lantai atas sebagai ruang Kepala Puskesmas dan
administrasi
NO
1.
2
3
4
5

NAMA RUANG
Lantai bawah :
Pelayanan Rawat Jalan
UGD
Loket
Apotik
Ruang baby spa

JUMLAH
4 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Kamar Bersalin
Laboratorium
Rawat inap
Pojok Gizi
Gudang Obat
Ruang Penyimpanan Vaksin
Ruang Kepala Puskesmas
Ruang Tata Usaha
Ruang Bendahara
Ruang Rapat / Aula
Mushola
Dapur
Gudang
Rumah Dinas

1 Unit
1 Unit
2 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
1 Unit
2 Unit

Dalam rangka pelaksanaan program P2M di Puskesmas beserta jaringannya dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang
laboratorium, Ambulan maupun alat kesehatan lainnya yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
No.

Jenis Sarana
Penunjang

Jumlah Sarana Penunjang


Kurang

Cukup

1.

Obat obatan

2.

Laboratorium

Alkes lainnya

Ambulan

Lebih

berupa obat-obatan /unit farmasi,

Sumber data : Data Inventaris Barang Puskesmas Kasembon

JUMLAH TENAGA KESEHATAN IBU DAN ANAK


1.

2.
3.

Bidan di Puskesmas
a). Bidan Koordinator
b). Bidan di poli P2M, dan K Bersalin
c). Bidan Magang
Bidan di Desa/ Kelurahan
Bidan Magang di desa

MITRA KERJA
1. Jumlah Kader Posyandu
a) Terlatih
b) Tidak terlatih
2. Jumlah Dukun

:
: 1 Orang
: 3 Orang
: 2 Orang
: 6 Orang
: -

:
: 220
: : -

PERALATAN
1. Pemeriksaan Ibu Hamil
2. Polindes Kit
SARANA
1. Ruang Programer P2M
2. Poli P2M
3. Poli KB
4. Pustu
5. Polindes

:2
:6
:
:
:
:
:

1 Ruangan
1 Ruangan
1 Ruangan
2 Pustu
3 Ponkesdes

3.6 CAKUPAN PROGRAM p2m TAHUN 2015


Dengan melihat indikator keberhasilan program diatas bila dibandingkan dengan target indikator keberhasilan adalah sebagai berikut

CAPAIAN PROGRAM DEMAM BERDARAH DENGUE DIBANDING TARGET


NO

1
3
4
5
6

INDIKATOR

PEMERIKSAAN JENTIK BERKALA


ANGKA BEBAS JENTIK
PENDERITA DBD DITANGANI
PENDERITA DBD DITANGANI
CAKUPAN PENYELIDIKAN
EPIDEMOLOGI
PENANGGULANGAN FOCUS DBD

TARGET
300 KK

CAPAIAN

Target s/d
DES

95%
100%
100%
100%

120
68%
100%
100%
100%

80%
95%
100%
100%
100%

100%

100%

100%

CAPAIAN PROGRAM DIARE DIBANDING TARGET


Dengan melihat indikator keberhasilan program diatas bila dibandingkan dengan target indikator keberhasilan adalah sebagai berikut :
NO

1
3
4
5
6
7

INDIKATOR

Penemuan Penderita Diare Di Puskesmas


Dan Kader
Cakupan Pelayanan Diare
Angka Penggunaan Oralit
Angka penggunaan rl
Proporsi penderita diare balita yang diberi
tablet zink
Case fataliti rate klb diare

TARGET

CAPAIAN

Target s/d
DES

413/ mil

10,13%

10,13%

100%
100%
1%
100%

100,13%
100%
82%
100%

100,13%
100%
82%
100%

< 1%

0%

0%

3.8 CAPAIAN PROGRAM MALARIA DIBANDING TARGET


Dengan melihat indikator keberhasilan program diatas bila dibandingkan dengan target indikator keberhasilan adalah sebagai berikut :

10

NO

1
3
4
5
6
7
8

INDIKATOR

TARGET

CAPAIAN

Target s/d
DES

Penderita malaria dilakukan pemeriksaan


darah
Positif malaria diobati sesuai standart ACT
Penderita malaria di follow up
Pengangkatan lumut
Penyemprotan larvasida
Spot cek
Mass fever survey

100%

0%

0%

100%
100%
100%
100%
80%
80%

0%
100%
100%
100%
100%
100%

0%
100%
100%
100%
100%
100%

8 CAPAIAN PROGRAM TBC DIBANDING TARGET


Dengan melihat indikator keberhasilan program diatas bila dibandingkan dengan target indikator keberhasilan adalah sebagai berikut :
TH.20

TH.20

TH.20

TH.20

12

13

15

16

TARGET

100%

50,9

37

12,9

33,51

5-15 %

10,3

11,6

14

19,2

>65 %

94,4

73,7

75

76,5

N
O
1

2
3

URAIAN
Proporsi suspek diperiksa
Proporsi penderita TB paru BTA
positif
diantara suspek yg diperiksa
dahaknya
Proporsi penderita TB paru BTA

11

positif
diantara seluruh penderita TB
paru tercatat
Case Detection Rate (CDR)

Case Notification ate (CNR)

6
7
8

Angka konversi
Angka kesembuan
Succes Rate

LQAS

70%

53,1

43,8

18,2

18,2

Ada
Kenaikan
5% setiap
th

51,5

43,8

108,4

100
100
100

85,7
85,7
85,7

66,7
72
72

>80 %
>85 %
>95 %
Indikator
baik

3.9 KEBUTUHAN DAN HARAPAN MASYARAKAT


Kegiatan dalam setiap UKM Puskesmas disusun oleh Kepala Puskesmas dan penanggung jawab UKM tidak hanya mengacu pada pedoman dan acuan yang sudah
ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi maupun Dinas Kesehatan Kabupaten, namun demip2mn perlu memperhatikan kebutuhan dan harapan
masyarakat terutama sasaran program. Dalam hal ini kami perlu mengadakan survey untuk mengetahui kebutuhan masyarakat.
Survey dilaksanakan menggunakan kuesioner dengan pertanyaan tertutup dan terbuka,
No
1

Pertanyaan Tertutup
Apakah Anda mengenal tentang penyakit TB Paru sangat menular

2
3

Apakah anda tau pengobatan TBC di puskesmas iti gratis


Apakah menurut anda bila ada penderita (DBD) demam berdarah dengue harus
lapor puskesmas
Apakah menurut anda perlu melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan
menguras,mengubur,menutup, untuk mencegah timbulnya demam berdarah
dengue
Apakah menurut anda bila diare harus minum oralit
Apakah menurut anda program usaha kesehatan sekolah diperlukan untuk
meningkatkan derajat bkesehatan siswa
Apakah menurut anda pasien yang menderita malaria perlu di kunjungi ulang oleh

4
6
7
8

Ya

12

Tidak

9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
1.

petugas malaria
Apakah menurut anda bila terjadi wabah harus melaporkan kepada petugas di
puskesmas
Apakah Anda membutuhkan informasi tentang penyakit HIV-AIDS
Apakah anda memahami tentang kasus keputihan / infeksi menular seksual
Apakah menurut anda di puskesmas kasembon perlu di buka poli mata dan telinga
Apakah menurut anda perlu diadakan POSYANDU LANSIA di daerah anda
Apakah menurut anda perlu di buka poli BABY SPA di puskesmas kasembon
Apakah menurut anda perlu program perawatan pada pasien gangguan jiwa
Apakah anda tau bila tindakan pasung itu bisa di pidanakan
Apakah balita Anda mendapatkan imunisasi dasar (Hepatitis B, BCG, Polio, DPT,
Campak)
Apakah anda perlu informasi tantang penyakit tipoid typoid
Taukah anda sakit influensa tidak harus minum antibiotik
Apakah anda membutuhkan pelayanan kesehatan lain selain yang tersebut di atas?.....................................
Bila ya sebutkan :
........................................................................................................................................................................

B AB 4
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

4.1 IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN


Dengan melihat uraian pada bab terdahulu nampak masih ditemukan permasalahan program P2M, hal ini dapat dilihat bila kita bandingkan hasil cakupan kegiatan
dengan indikator keberhasilan program menghasilkan berbagai kondisi yang tidak sesuai dengan target capaian,serta melihat dari harapan masyarakat sehingga dapat
diperoleh beberapa permasalahan program P2M yaitu:
A. PERMASALAHAN PROGRAM P2M

13

1. Pencapaian suspek masih rendah 75.%


2. Penemuan BTA positif masih kurang 30%
3. Angka bebas jentik < 95%
4. Pemeriksaan jentik berkala kurang dari 100 %
5. Ckupan (IR) diare tinggi yaitu 100,13 %
6. Angka penggunaan rl / dehidrasi sedang / berat masih tinggi yaitu 82 %
7. Penderita Malaria Yang Dilakukan Pemerisaan Darah 0%
8. Positif malaria diobati sesuai standart ACT

B. PENYEBAB MASALAH TBC


1. Penjaringan suspect di BP masih rendah
2. Penjaringan di Pustu, Polindes, Ponkesdes dan swasta masih kurang
3. Sputum pot yang diberikan ke suspect banyak yang tidak kembali
4. Banyak masyarakat berobat ke layanan swasta
5. Banyak masyarakat berobat ke RS swasta
C. PENYEBAB MASALAH DBD
6. Kesadaran tentang kebersihan lingkungan masih kurang
7. Belum dibentuk kader jumantik

14

8. Jadwal penmeriksaan jentik belum ditepati


9. Masyarakat masih cenderung foging daripada PSN
10. Koordinasi lintas sektor belum optimal
D. PENYEBAB MASALAH diare
11. Pengetahuan masyarakat tentang diare dan penanganan nya masih kurang
12. Masih ada masyarakat yang bab di sungai
E. PENYEBAB MASALAH malaria
13.

Kesadaran masyarakat untuk melapor bila ada kasus malaria masih kurang

14.

Belum ada koordinasi dengan pelayanan swasta

15.

Penjaringan kasus malaria belum jalan

16.

Obat malaria sesui standar ( akterapin / primaquin ) stok terbatas

4.2. PENENTUAN PRIORITAS MASALAH


Berdasarkan dari analisis penentuan permasalahan diatas maka perlu ditentukan prioritas masalah agar terwujud pelaksanaan kegiatan yang menganut prinsip efektif,
efesien, proporsional serta rasional dengan mengunakan alat analisis manajemen yaitu: MCUA (Multiple Criteria Utility Assesment) sebagai berikut:
TBC
No

Kriteria

Bobot (B)

Besarnya masalah
kesehatan

25

Keseriusan masalah

40

Masalah
3

1
Spc tbc masih
rendah (75%)
S
BS

2
Bta post ( 30% )
S

BS

75

100

120

160

15

5
Keterangan

kesehatan
Kemampuan Sumber
Daya

35

175

105

Jumlah
375
365
BS
Ranking
1
2
Keterangan:
B
: Bobot (Nilai untuk menyatukan tingkat kepentingan)
S
: Skor 1 5 ( 1 = Tdk penting, 2 = Kurang penting, 3 = Penting, 4 = Lebih penting, 5 = Sangat penting )

DBD
No

Kriteria

Bobot (B)

1
ABJ < 95%

1
2
3
Jumlah
BS

Besarnya masalah
kesehatan

25

Keseriusan masalah
kesehatan
Kemampuan Sumber
Daya

40
35

2
PEM JENTIK
BERKALA < 100%
S
BS

BS

75

125

120

120

175

175

375

420

16

Masalah
3

5
Keterangan

Ranking
2
1
Keterangan:
B
: Bobot (Nilai untuk menyatukan tingkat kepentingan)
S
: Skor 1 5 ( 1 = Tdk penting, 2 = Kurang penting, 3 = Penting, 4 = Lebih penting,5 = Sangat penting )

DIARE
No

1
2
3

Kriteria

Bobot (B)

Besarnya masalah
kesehatan

25

Keseriusan masalah
kesehatan
Kemampuan Sumber
Daya

40
35

1
IR DIARE
100,13%
S
BS

2
PENGGUNAAN RL
TINGGI 80%
S
BS

75

100

120

160

175

140

Masalah
3

5
Keterangan

Jumlah
375
400
BS
Ranking
2
1
Keterangan:
B
: Bobot (Nilai untuk menyatukan tingkat kepentingan)
S
: Skor 1 5 ( 1 = Tdk penting, 2 = Kurang penting, 3 = Penting, 4 = Lebih penting,5 = Sangat penting )

MALARIA
No

Kriteria

Besarnya masalah
kesehatan

Bobot (B)

25

1
PENEMUAN
PENDERITA 0%
S
BS

100

2
PENGOBATAN
STANDART 0%
S
BS

75

17

Masalah
3

5
Keterangan

2
3

Keseriusan masalah
kesehatan
Kemampuan Sumber
Daya

40
35

160

200

175

140

Jumlah
435
415
BS
Ranking
1
2
Keterangan:
B
: Bobot (Nilai untuk menyatukan tingkat kepentingan)
S
: Skor 1 5 ( 1 = Tdk penting, 2 = Kurang penting, 3 = Penting, 4 = Lebih penting,5 = Sangat penting )

4.3 MENCARI PENYEBAB MASALAH


Upaya pencarian akar penyebab masalah dengan mencoba menelusuri faktor penyebab yang berpengaruh terhadap masalah tersebut baik secara langsung maupun tidak
langsung dengan menggunakan alat analisis diagram tulang ikan (fish bone analizer). Beberapa faktor akar penyebab masalah tersebut dikelompokan dalam berbagai
kelompok faktor internal (sumberdaya) maupun faktor eksternal (lingkungan) yang dapat dilihat sebagai berikut:
Angka bebas jentik kurang dari 95 % :
LINGKUNGAN

MANUSIA

DANA

Kader kurang aktif

Belum ada dana untuk


jumantik

Biaya pemantauan
kurang

Ketidaktahuan masalah
yg dihadapi

18

Dukungan linsek kurang

Kesiagaan masyarakat
kurang

Angka bebas jentik


< 95%
Sistem pelaporan kurang
efektif
Belum terbentuknya
jumantik
Kurangnya koordinasi
antar petugas

Peralatan pemeriksaan
jentik kkurang memadai

MATERIAL

METODE

PEMERIKSAAN JENTIK BERKALA KURANG 100 %

MANUSIA

Petugas merangkap
tugas berat

DANA
Dana pemantauan belum
ditertipkan

LINGKUNGAN

Petugas kurang aktif


mematuhi jadwal

Kurang dukungan linsek

Geografis pegunungan

Pemeriksaan jentik berkala


kurang 100%

19

Jadwal pemantauan belum


ada

Supervisi dari pimpinan


kurang
Kurangnya leaflet ttg psn

Belum ada kader


jumantik

MATERIAL

METODE

PENCAPAIAN SUSPEC TBC KURANG 75%

DANA

Biaya transpor
pengiriman dahak
mahal

LINGKUNGAN

MANUSIA
Sebagian petugas belum terlatih
pengambilan dahak

Petugas kurang aktif


mengumpulkan dahak

Kurang dukungan linsek

Biaya perlengkapan
pengumpulan dahak
mahal

Pencapaian suspec tbc masih


rendah

20

Pemantauan pengiriman
dahak kurang adekuat
Penyuluhan ttg perawatan bayi
RT kurang maksimal

Kurangnya leaflet
dan poster tentang
penangan dahak

MATERIAL

METODE

PENEMUAN BTA POSITIF KURANG 30%

DANA

LINGKUNGAN

MANUSIA

Dukungan linsek kurang

Biaya penemuan bta positif kurang


Petugas kurang aktif
dalam penemuan kasus

Penemuan penderita positif


kurang dari

21

Terlambat melaporkan

Tempat rujukan tidak


memberikan umpan
balik

Leaflet kurang

Pot dahak kurang

Koordinasi petugas dg
kader bidan / perawat desa
kurang optimal

MATERIAL

METODE

INSUDEN RATE DIARE TINGGI


MANUSIA

DANA
Dana pemantauan
belum terperinci

Pendidikan masyarakat
kurang

LINGKUNGAN
Kurangnya
pengetahuan
masyarakat ttg phbs

kurang mendukung
linsek

Petugas kurang aktif


Banyak masyarakat bab
di sungai

IR ( insiden rate) diare tinggi

22

Leaflet ttg diare masih


kurang
Sosialisasi dan promosi ttg
diare kurang

MATERIAL

METODE

CAKUPAN DIARE DEHIDRASI SEDANG / BERAT MASIH TINGGI


DANA

MANUSIA

Dana penyuluhan kurang

Petugas kurang aktif

LINGKUNGAN
Kurangnya
pengetahuan ttg
penangan diare

Kurang dukungan
linsek

Diare dehidrasi sedang /


berat masih tinggi

Perlengkapan demo

23

Leaflet ttg Asi masih kurang


Sosialisasi dan
promosi kurang

MATERIAL

METODE

PENEMUAN PENDERITA MALARIA 0%

DANA
Dana penyuluhan kurang

MANUSIA
Petugas kurang aktif
melakukan kunjungan
ulang

LINGKUNGAN
Kurangnya
pengetahuan ttg
penangan
malaria

Kurang dukungan
linsek

Laporan masyarakat
masih kurang

Penderita malaria dilakukan


pemeriksaan darah 0%

24

Belum ada relasi di


masyarakat
Leaflet ttg malaria masih
kurang
Sosialisasi dan
promosi kurang
Belum dilakukan penaringan
ke masyarakat

MATERIAL

METODE

PENGOBATAN PENDERITA MALARIA SESUAI STANDART 0%

DANA

MANUSIA
Dana pengambilan obat
dari dinas mahal

LINGKUNGAN
Kurangnya
pengetahuan
petugas tentang
pengobatan
standart malaria

Kurang dukungan
pemerintah

PENGOBATAN MALARIA
SESUAI STANDART

25

Obat malaria hanya ada di


dinkes

Penyetokan obat
malaria untuk
puskesmas belum
ada
MATERIAL

METODE

26

4.3 PENENTUAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH


TABEL 4.3.1 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT
PENCAPAIAN SUSPEC TBC RENDAH

NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


syaiful

suharti

maria

TOTAL

1.

Penjaringan suspect di

125

2.

BP masih rendah
Penjaringan di Pustu,

16

32

18

Polindes, Ponkesdes dan


3.

swasta masih kurang


Sputum pot yang
diberikan ke suspect
banyak yang tidak

4.

kembali
Banyak masyarakat
berobat ke layanan

swasta
Banyak masyarakat
berobat ke RS swasta

TABEL 4.3.2 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT


ANGKA BEBAS JENTIK KURANG DARI 95%

NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


syaiful

suharti

maria

TOTAL

1.

Belum ada jumantik

225

2.

Masyarakat kurang peduli


dengan
lingkungan/lingkungan kurang
memenuhi syarat phbs

150

3.

Sosialisasi tentang penangan


DBD masih kurang

64

4.

Sebagian daerah masih sulit


air sehingga cenderung
menampung air

180

Kurangnya dukungan lintas


sektor

TABEL 4.3.3 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT


PEMERIKSAAN JENTIK BERKALA KURANG DARI 100%

27

NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


syaiful

suharti

maria

TOTAL

1.

Kurang Dukungan Lintas


sektor

2.

Belum adanya kader jumantik

100

3.

Petugas DBD merangkap


tugas berat

18

4.

Kurangnya leflet
pemberantasan jentikl

12

Kurangnya koordinasi lintas


sektor

80

TABEL 4.3.4 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT


INSIDEN RATE DIARE TINGGI
NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


syaiful

suharti

maria

TOTAL

1.

Dukungan lintas sektor kurang

2.

Sosialisasi diare kemasyarakat


masih kurang

100

3.

Masih ada masyarakat buang


air di sungai

120

TABEL 4.3.5 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT


DIARE DEHIDRASI SEDANG BERAT TINGGI
NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


syaiful

suharti

TOTAL

maria

1.

Kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang
penanganan diare

2.

Masih ada masyarakat buang


air di sungai

64

TABEL 4.3.3 MENENTUKAN PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DENGAN NGT


PENDERITA MALARIA DILAKUKAN PEEIKSAAN DARAH 0 %

28

NO.

PENYEBAB MASALAH I

TIM MANAJEMEN PUSK


syaiful

suharti

maria

TOTAL

1.

Kurang Dukungan Lintas


sektor

2.

Belum dilakukan penjaringan


penderita malaria di
masyarakat

100

3.

Pelayanan swasta tidak


melaporkan kasus malaria

18

4.4 MENCARI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


Setelah masalah prioritas terpilih maka tahap selanjutnya perlu dicari
alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan alat analisis sebagai berikut:
PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH DENGAN CARL
PADA KASUS ANGKA BEBAS JENTIK KURANG DARI 95%
Tabel 4.4.1
No.

PEMECAHAN MASALAH
ANGKA BEBAS JENTIK < 95%

SKOR
C

HASIL
CxAxRxL

RANKING

1.

Memanfaatkan kerja sama


dengan lintas sektor,pendidikan
,kecamatan,dan kelurahan,

288

2.

Mengadakan kegiatan
penyuluhan PSN

720

3.

Pembentukan jumantik

360

4.

Meningkatkan koordinasi lintas


program,

1470

PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH DENGAN CARL


PADA KASUS PENCAPAIAN SUSPEC TBC RENDAH
Tabel 4.4.2

29

No.

PEMECAHAN MASALAH
PENCAPAIAN SUSPEC TBC
MASIH RENDAH

SKOR
C

HASIL
CXAXRXL

RANKING

1.

Menetapkan Target Di Tiap - Unit


Pelayanan 2 suspec tiap hari

108

2.

Kerja sama dengan pelayanan


swasta untuk pengiriman dahak

256

3.

Swiping dahak di tiap2 desa

81

30

1.7 MENENTUKAN PRIORITAS PEMECAHAN MASALAH

NO.

PRIORTAS MASALAH

1.

1. Angka bebas jentik

PENYEBAB MASALAH
Belum ada jumantik

PRIORTAS MASALAH

2.

Pencapaian suspek
masih rendah 75%

RANGKING

Memanfaatkan kerja sama dengan lintas sektor,pendidikan


,kecamatan,dan kelurahan,

Pembentukan jumantik

Sosialisasi tentang penangan DBD masih


kurang

Sosialisasi pentingya PSN

Sebagian daerah masih sulit air sehingga


cenderung menampung air

Sosialisasi cara pemberantasan sarang nyamuk yang benar

Kurangnya dukungan lintas sektor

Mengadakan pertemuan lintas sektor secara lebih baik

Memanfaatkan kerja sama dengan lintas sektor,pendidikan


,kecamatan,dan kelurahan,

< 95%

NO.

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

PENYEBAB MASALAH

ALTERNATIF PEMECAHAN

RANGKING

Penjaringan suspect di BP masih


rendah

Menetapkan Target Di pelayanan bp 2 suspec tiap hari

Penjaringan suspect di pustu dan


polindes masih rendah

Menetapkan Target Di Tiap pustu dan polindes

31

KETERANGAN

KETERANGAN

NO.
3

PRIORTAS MASALAH

3Pemeriksaan

jentik

Sputum pot yang diberikan ke suspect


banyak yang tidak kembali

Kunjungan rumah ke suspec tbc

Banyak masyarakat berobat ke layanan


swasta

Koordinasi lintas sektor terkait

PENYEBAB MASALAH

ALTERNATIF PEMECAHAN

RANGKING

Dukungan Lintas sektor masih kurang

Memanfaatkan kerja sama dengan lintas sektor,pendidikan


,kecamatan,dan kelurahan,

Belum adanya kader jumantik

Pembentukan jumantik

Jadwal pemeriksaan jentik belum terbentuk

Koordinasi lintas program terkait

berkala kurang dari 100

KETERANGAN

NO.
4

PRIORTAS MASALAH

Penemuan BTA
positif masih 33,3 %

PENYEBAB MASALAH

ALTERNATIF PEMECAHAN

RANGKING

Penjaringan suspect di BP masih


rendah

Menetapkan Target Di pelayanan bp 2 suspec tiap hari

Penjaringan suspect di pustu dan


polindes masih rendah

Menetapkan Target Di Tiap pustu dan polindes

32

KETERANGAN

NO.
5

PRIORTAS MASALAH

Ckupan (IR) diare


tinggi yaitu 100,13 %

NO.
6

PRIORTAS MASALAH

Diare dehidrasi
sedang / berat masih

Sputum pot yang diberikan ke suspect


banyak yang tidak kembali

Kunjungan rumah ke suspec tbc

Banyak masyarakat berobat ke layanan


swasta

Koordinasi lintas sektor terkait

PENYEBAB MASALAH

ALTERNATIF PEMECAHAN

RANGKING

Kurangnya pengetahuan masyarakat


tentang penanganan diare

Sosialisasi penaganan diare

Masih ada masyarakat buang air di sungai

Koordinasi petugas kesling

Penyuluhan phbs

PENYEBAB MASALAH
Kurang pengetahuan tentang diare dan
penangananya

ALTERNATIF PEMECAHAN
Sosialisasi penanganan kasus diare

tinggi

33

RANGKING
1

KETERANGAN

KETERANGAN

NO.

PRIORTAS MASALAH

Penemuan penderita
malaria 0%

PENYEBAB MASALAH

ALTERNATIF PEMECAHAN

RANGKING

Kurangnyan sosialisasi penanganan dan


pelaporan kasus malaria

Sosialisasi kasus dan penanganan malaria

Meningkatkan kerjasama dengan lintas sektor

Belum dilakukan penjaringan di masyarakat

Jadwal penjarigan malaria lebih di tepati

Meningkatkan kerjasama lintas sektor

34

KETERANGAN

35