Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL PRAKTIKUM

MATA KULIAH PILIHAN POLIMER


HIDROLISIS PATI KULIT SINGKONG DENGAN
KATALISATOR HCl UNTUK PEMBUATAN PEREKAT

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pilihan Polimer 2015


Disusun Oleh :

1. Avrillia Ika Swastikadewi


2. Muhammad Firdaus
3. Irwan Syafrudin

(21030112060054)
(21030112060063)
(21030112060086)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


PROGRAM DIPLOMA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

PROPOSAL PRAKTIKUM
MATA KULIAH PILIHAN POLIMER

I.

JUDUL PROPOSAL
HIDROLISIS PATI KULIT SINGKONG DENGAN KATALISATOR
HCl UNTUK PEMBUATAN PEREKAT

II.

LATAR BELAKANG MASALAH


Presentase jumlah limbah kulit bagian luar yang ada dalam sebesar
0,5-2% dari berat total singkong segar dan limbah kulit bagian dalam
sebesar 8-15% dari berat singkong (Hikmiyati dan Yanie, 2008). Pati
dan selulosa komponen karbohidrat dalam kulit singkong yang sangat
potensial untuk dimanfaatkan. (Setiawan, 2006).
Salah satu cara yang dapat digunakan adalah menghidrolisa pati
tersebut menjadi dekstrin. Dekstrin banyak digunakan sebagai bahan
perekat untuk karton, kertas, perekat etiket pada gelas, perekat amplop
dan perangko. Disamping itu digunakan sebagai bahan pengemulsi,
bahan campuran tinta percetakan, pengental zat pewarna tekstil, bahan
pengental cat dan pembuatan korek api atau untuk keperluan binatu.
Pada umumnya, semua pati, yang merupakan salah satu jenis
karbohidrat dari golongan polisakarida, dapat di hidrolisa menjadi
senyawa karbohidrat yang memiliki susunan molekul yang lebih
sederhana. Hasil akhir dari hidrolisa pati tersebut adalah suatu
monosakarida yaitu glukosa monosakarida.
Pati, dengan satuan polimer (n) sekitar 200, akan terurai lebih
dahulu menjadi dekstrin (n=23), lalu kemudian terurai lebih lanjut
menjadi glukosa.
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian adalah melakukan
proses hidrolisa pati kulit singkong menjadi dekstrin yang di jadikan
sebagai bahan perekat. Proses hidrolisa di lakukan dengan bantuan
asam, yaitu asam klorida (HCl) sebagai katalisator untuk mempercepat
reaksi. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah menghidrolisa pati
tersebut menjadi dekstrin. Dekstrin banyak digunakan sebagai bahan

perekat untuk karton, kertas, perekat etiket pada gelas, perekat amplop
dan perangko. Disamping itu digunakan sebagai bahan pengemulsi,
bahan campuran tinta percetakan, pengental zat pewarna tekstil, bahan
pengental cat dan pembuatan korek api atau untuk keperluan binatu.
Pada umumnya, semua pati, yang merupakan salah satu jenis
karbohidrat dari golongan polisakarida, dapat di hidrolisa menjadi
senyawa karbohidrat yang memiliki susunan molekul yang lebih
sederhana. Hasil akhir dari hidrolisa pati tersebut adalah suatu
monosakarida yaitu glukosa monosakarida.
Pati, dengan satuan polimer (n) sekitar 200, akan terurai lebih
dahulu menjadi dekstrin (n=23), lalu kemudian terurai lebih lanjut
menjadi glukosa.
Dengan demikian umbi talas yang memiliki kandungan pati yang
cukup tinggi akan dapat di hidrolisa menjadi dekstrin, sebagai bahan
alternatif lain dari jagung dan ketela pohon yang umum di gunakan
dalam industri pembuatan dekstrin.
Dalam penelitian ini, ruang lingkup penelitian adalah melakukan
proses hidrolisa pati kulit singkong menjadi dekstri yang di jadikan
sebagai bahan perekat. Proses hidrolisa di lakukan dengan bantuan
asam, yaitu asam klorida (HCl) sebagai katalisator untuk mempercepat
reaksi.

III.

RUMUSAN MASALAH
a. Mengetahui bagaimana cara memanfaatkan limbah kulit singkong
untuk pembuatan perekat.
b. Mengetahui bagaimana memanfaatkan dan meningkatkan nilai
ekonomis dari bahan baku yaitu kulit singkong.
c. Mengetahui perbandingan dari variable percobaan yang akan
digunakan dan membandingkan dengan produk yang sudah ada di
pasaran.
d. Mengetahui bagaimana hasil dari uji yang dilakukan terhadap
produk.

IV.

TUJUAN
a. Memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti Praktikum Mata
Kuliah Pilihan Polimer.
b. Untuk membuat perekat dengan memanfaatkan bahan baku yang
jumlahnya banyak dan mudah didapatkan sehingga dapat
mengurangi jumlah sampah.
c. Agar bisa memanfaatkan kulit singkong, sehingga memiliki daya
jual yang tinggi.

V.

TINJAUAN PUSTAKA
V.1 Limbah Kulit Singkong
Pemberdayaan limbah singkong, dalam mengolah menjadi
keripik kulit singkong, merupakan salah satu bentuk untuk
mengatasi limbah kulit singkong. Jika selama ini kita telah
mengetahui bahwa umbi singkong merupakan sumber energi yang
kaya karbohidrat, demikian juga dengan daun singkong yang telah
dimanfaatkan sebagai bahan makanan kita karena mengandung
protein dan zat besi. Lalu bagaimana dengan kulit singkong?
Bagian dari kulit singkong (bukan kulit ari) sering kali disepelekan
dan dianggap sebagai limbah dari tanaman singkong, padahal kulit
singkong ini juga masih memiliki kandungan karbohidrat yang
tinggi. Kulit singkong ini termasuk dalam kategori sampah
organik, karena sampah ini dapat terdegradasi (membusuk atau
hancur) secara alami.

Kandungan dalam Kulit Singkong

V.2 Pati
Pati merupakan senyawa polisakarida yang terdiri dari
monosakarida yang berikatan melalui ikatan oksigen. Pati
merupakan zat tepung dari karbohidrat dengan suatu polimer
senyawa glukosa yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu
amilosa dan amilopektin. Polimer linier dari D-glukosa membentuk
amilosa dengan ikatan (a )-1,4-glukosa. Sedangkan polimer
amilopektin adalah terbentuk dari ikatan (a )-1,4-glukosida dan
membentuk cabang pada ikatan (a )-1,6-glukosida.

Gambar 1. Struktur Amilosa

Pati dan juga produk turunannya merupakan bahan yang


multiguna dan banyak digunakan pada berbagai industri antara lain
pada minuman danconfectionary, makanan yang diproses, kertas,
makanan ternak, farmasi dan bahan kimia serta industri non pangan
seperti tekstil, detergent, kemasan dan sebagainya.
V.3 Desktrin
Dekstrin adalah produk hidrolisa zat pati, berbentuk zat
amorf berwarna putih sampau kekuning-kuningan (SNI, 1989).

Desktrin merupakan produk degradasi pati sebagai hasil hidrolisis


tidak sempurna pati dengan katalis asam atau enzim pada kondisi
yang dikontrol. Dekstrin umumnya berbentuk bubuk dan berwarna
putih sampau kuning keputihan.
Pada prinsipnya membuat dekstrin adalah memotong rantai
panjang pati dengan katalis asam atau enzim menjadi molekulmolekul yang berantai lebih pendek dengan jumlah untuk glukosa
dibawah sepuluh. Dalam proses ini molekul-molekul pati mulamula pecah menjadi unit-unit rantai glukosa yang lebih pendek
yang disebut dekstrin. Dekstrin ini dipecah menjadi glukosa, tetapi
banyak sisa cabang pada amilopektin tertinggal dan disebut
dekstrin.
Pembuatan desktrin dapat dilakukan dengan tiga maca
proses yaitu proses konversi basah dengan katalis asam, proses
konversi basah dengan enzim serta proses konversi kering. Proses
konversi basah dengan katalis asam dilakukan dengan cara
memanasakan bubur pati dalam larutan asam secara perlahanlahan, sampai derajat konversi yang diinginkan tercapai. Kemudian
yang dihasilkan dinetralisasi dan segra dikerinngkan pada rol panas
atau spary dryer.
Proses konversi basah dengan enzim dilakukan dengan
menggunakan

enzim

-amilase

pada

larutan

pati

untuk

menghidrolisis pati menjadi molekul-molekul pati dengan berat


molekul yang lebih rendah. Di industri, pembuatan dekstrin dengan
cara konversi basah dengan menggunakan enzim dilakukan dengan
meningkatkan

suhu

secara

perlahan-lahan

serta

dengan

menambahkan enzim secara periodik dalam jumlah sedikit.


Sedangkan pembuatan dekstrin dengan cara konversi kering dapat
dilakukan dengan memanaskan pati secara kering (menyangrai)
pada suhu 79-190C sealama 3-24 jam. Selama pemanasan
biasanya ditambahkan pula sejumlah kecil katalis asam seperti
HCl.

V.4 Perekat
Perekat pati dan dextrin adalah bahan yang ready stock,
murah meriah, dan mudah aplikasinya dalam dispersi air. Perekat
tersebut dipertimbangkan sebagai kelas perekat yang sangat murah
untuk packaging. Formulasi perekat pati dan dekstrin dapat dengan
mudah diaplikasikan dalam kondisi panas atau dingin. Secara
umum perekaat tersebut disajikan untuk end user dalam bentuk
bubuk dan kemudian dicampur dengan air dalam penggunaannya,
relatif berwujud sangat pasta. Perekat pati dan dextri matang atau
curing dengan cara hilangnya kandungan air. Karena perekat
tersebut curing dengan struktur termosetting, maka mempunyai
sifat ketahanan panas yang baik. Kelebihan lain karena laju curing
yang sangat lambat sehingga ada kelonggaran waktu kerja.
Kekurangannya meliputi ketahahan terhadap kelembaban yang
rendah dan mudah untuk pertumbuhan bakteri.
Walaupun perekat pati dan dextrin telah digunakan sejak
lama ada beberapa alasan mengapa perekat alami tersebut secara
keseluruhan dapat diganti dengan oerekat sintetis. Berikut ini
adalah daftar kelebihan yang menjamin perekat tersebut akan
selalu mengisi pasar salah satu jenis perekat.

Tersedia (ready stock) dengan baik dan murah harganya

Kualitasnya stabil

Adhesi ke selulosa dan substrat lain sangat baik

Tidak larut dalam lemak dan minyak

Tidak beracun dan biodegradable

Tahan panas
Pati dan dextrin (dextrin adalah pati yang diproses lebih

lanjut) merupakan polimer karbohidrat, dan secara mendasar


berasal dari bahan yang sama. Secara alami, pati adalah polimer,
polisakarida, berasala dari biji, akar, dak daun suatu tanaman.
Hanya sedikit tanaman yang menghasilkan pati dalam kuantittas

yang secara ekonomis terpenuhi .tanama tersebut adalah jagung,


gandum, beras, kentang, ketela pohon, dan sagu. Kualitas pati yang
baik akan menghasilkan perekat yang baik juga. Pati tersusun atas
dua molekul amilase dan amilopektin. Amilose mengandung rantai
helical yang sangat panjang, dan amilopektin mempunyai struktur
bercabang. Pati tidak selalu mempunyai komposisi yang seragam.
Struktur molekulnya dan rasio amilase/amilopektin bervariasi
sesuai dengan asal tanamannya. Oleh karena itu, karakter prosesing
dan sifat akhirnya akan bervariasi. Metode yang sangat penting
untuk membedakan antara pati-pati tersebut adalah dengan
mengetahui berat molekul fraksi amilsae dan rasio amilase
terhadap amilopektin. Amilopektin dapat bekerja didalam air
dingin, tetapi amilase tidak dapat. Amilase dapat larut dalam alkali
yang sangat kuat, dimasak dengan formaldehida, atau dengan
dimasak dalam air pada suhu 150-1600C dalam tekanan tertentu
pendinginan dan netralisasi amilase akan membentuk jelly pada
konsentrasi diatas 2% dan akan presipitasi pada konsentrasi
dibawah 2%. Fraksi amilase tidak pernah benar-benar larut dalam
air dan pada saat tertentu akan membentuk kristal agregate dengan
ikatan hidrogen, proses tersebut dinamakan retrogradation atau
setback. Retrogradation yang menyebabkan viskositas tidak stabil
dalam type perekat tertentu yang berbasis pati.
VI.

METODE YANG DIGUNAKAN


6.1 Alat dan Bahan yang digunakan
Alat yang digunakan :

Bejana Kecil
Bejana Besar
Pisau
Tampah
Penumbuk
Ayakan

Cawan Porselin
Pipet
Sendok
Botol Semprot
Buret
Klem Statif
Erlenmeyer
Hot Plate
Gelas Beaker
Pendingin Balik
Labu Leher Tiga
Gelas Ukur
Selang
Tutup Kayu
Panci
Kulkas
Neraca Digital

Bahan yang digunakan :

Aquades

Asam klorida

Trietanolamin

Kulit singkong

Kasein

6.2 . Variabel yang diamati

a. Daya rekat lem dan uji organoleptic produk

b. Perbandingan variabel bahan yang digunakan

c. Perbandingan hasil yang digunakan dengan variable

kontrol

6.3. Cara Kerja

6.3.1

Pembuatan Pati dari Kulit Singkong

Kulit Singkong dijemur untuk menghilangkan kadar air

didalamnya. Sebelum dilakukan penjemuran sebelumnya dicuci bersih


terlebih dahulu untuk menghilangkan pengotornya. Setelah itu dilakukan
penjemuran yang dilakukan dengan menjemur kulit singkong dibawah
sinar matahari selama 4 hari. Hasil pengeringan dari kulit singkong itu
selanjutnya di tumbuk dan di ayak sehingga menghasilkan pati kulit
singkong.

Diagram proses pembuatan pati:

Limbah kulit singkong

Pencucian

Penjemuran

Penumbukan

Pengayakan

Pati

6.3.2

Pembuatan Dekstrin

Dalam Pembuatan Dekstrin disini menggunakan Proses

konversi basah dengan katalis asam. Katalis yang digunakan disini yaitu
HCl. Pati Kulit Singkong ditambahkan HCl 1 N 15 ml dalam Gelas Beaker.
Lalu dihidrolisis dengan suhu 110C dalam waktu 10 menit. Hasil dari
hidrolisis
ini yaitu dekstrin.
Hidrolisis

HCl 1 N 15 ml

Dekstrin

Pati

Diagram proses pembuatan dekstrin kulit singkong:

6.3.3

Pembuatan Lem dari Desktrin

Selanjutnya kasein yang ditambahkan dengan dekstrin hasil

hidrolisis, air dingin, dan trietanolamin, kemudian diaduk hingga


membentuk pasta. Campuran tersebut ditambahkan kembali dengan air dan
dipanaskan pada suhu 60C kemudian diaduk hingga campuran homogen.

Diagram proses pembuatan lem:


Dekstrin
Kasein
Diaduk

Trietanolamin

Air dingin (15C)

Air

Pasta

Pemanasan (60C)

Perekat (Lem)

VII.

RANCANGAN PERCOBAAN

7.1 Variabel yang digunakan :

1. 10 gram dekstrin, 10 gram kasein, dan ml trietanolamin.

2. 15 gram dekstrin, 15 gram kasein, dan ml trietanolamin.

2. 20 gram dekstrin, 20 gram kasein, dan ml trietanolamin.

3. 25 gram dekstrin, 25 gram kasein, dan ml trietanolamin.

4. 30 gram dekstrin, 30 gram kasein, dan ml trietanolamin

7.2 Pengamatan yang dilakukan :

a. Uji Organoleptik

b. Uji Daya Rekat

VIII. RENCANA KEGIATAN


a. Waktu pelaksanaan

Praktikum dilaksanakan pada bulan Oktober 2015 pada semester


5

b. Lokasi Pelaksanaan

Praktikum Mata Kuliah Pilihan Polimer akan dilaksanakan di :

Laboratorium PSD III Teknik Kimia Universitas Diponegoro

IX.

RENCANA ANGGARAN
1.

Biaya praktikum

= Rp. 300.000,00

2.

Pembuatan laporan

3.

Lain lain

= Rp.

= Rp.

X.

50.000,00
50.000,00

= Rp. 400.000,00

ORGANISASI PENELITIAN

Praktikum Mata Kuliah Pilihan Polimer akan dilaksanakan

oleh mahasiswa Program Studi Diploma III Teknik Kimia Universitas


Diponegoro Semarang, yaitu sebagai berikut:

1. Avrillia Ika Swastikadewi


2. Muhammad Firdaus
3. Irwan Syafrudin

(21030112060054)
(21030112060063)
(21030112060086)

Demikian usulan kegiatan ini dibuat agar dapat disetujui

dan dapat dilaksanakan dengan sebaik baiknya.

Semarang, 3 September 2015


Praktikan I

Praktikan III

Praktikan II

Irwan Syafrudin

Avrillia Ika S

Muhammad Firdaus

21030113060054

21030113060063

21030113060086

Dosen Pembimbing

Mengetahui,
Ketua

Laboratorium

Ir. Wahyuningsih, M.Si


M.Si
NIP. 195403181986032001
195403181986032001

Ir. Wahyuningsih,
NIP.