78% menganggap dokumen ini bermanfaat (9 suara)
11K tayangan16 halaman

Penyebab dan Penanganan Nyeri Punggung Bawah

Dokumen tersebut membahas konsep dasar tentang nyeri punggung bawah (NPB), meliputi definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, komplikasi, dan penatalaksanaan NPB. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan konsep medis dasar mengenai penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatan nyeri punggung bawah.

Diunggah oleh

Winda ShifaAkinda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
78% menganggap dokumen ini bermanfaat (9 suara)
11K tayangan16 halaman

Penyebab dan Penanganan Nyeri Punggung Bawah

Dokumen tersebut membahas konsep dasar tentang nyeri punggung bawah (NPB), meliputi definisi, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, komplikasi, dan penatalaksanaan NPB. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan konsep medis dasar mengenai penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatan nyeri punggung bawah.

Diunggah oleh

Winda ShifaAkinda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS


A. Definisi
Low Back Pain (LBP) atau dalam bahasa indonesia adalah nyeri punggung
bawah (NPB) adalah suatu gejala berupa nyeri di bagian pinggang yang dapat
menjalar ke tungkai kanan atau kiri. Dapat merupakan nyeri lokal maupun
nyeri radikular atau keduanya.
Nyeri ini terasa di antara sudut iga terbawah dan lipat bokong bawah yaitu di
daerah lumbal atau lumbosakral dan sering disertai dengan penjalaran nyeri ke
arah tungkai. Nyeri yang berasal dari daerah punggung bawah dapat dirujuk ke
daerah lain atau sebaliknya nyeri yang berasal dari daerah lain dirasakan di
daerah punggung bawah (refered pain) (Muttaqien, 2013).
B. Klasifikasi
NPB disebabkan oleh berbagai kelainan atau perubahan patologik yang
mengenai berbagai macam organ atau jaringan tubuh. Oleh karena itu beberapa
ahli membuat klasifikasi yang berbeda atas dasar kelainannya atau jaringan
yang mengalami kelainan tersebut. Macnab menyusun klasifikasi NPB sebagai
berikut: (Muttaqien, 2013).
1. Viserogenik : NPB yang bersifat viserogenik disebabkan oleh adanya
proses patologik di ginjal atau visera di daerah pelvis, serta tumor
retroperitoneal.
2. Neurogenik : NPB yang bersifat neurogenik disebabkan oleh keadaan
patologik pada saraf yang dapat menyebabkan NPB.
3. Vaskulogenik : Aneurisma atau penyakit vaskular perifer dapat
menimbulkan NPB atau nyeri yang menyerupai iskialgia.
4. Psikogenik : NPB psikogenik pada umumnya disebabkan oleh ketegangan
jiwa atau kecemasan, dan depresi, atau campuran antara kecemasan dan
depresi.
5. Spondilogenik : NPB spondilogenik ini ialah suatu nyeri yang disebabkan
oleh berbagai proses patologik di kolumna vertebralis yang terdiri dari
unsur tulang (osteogenik), diskus intervertebralis (diskogenik), dan
miofasial (miogenik), dan proses patologik di artikulasio sakroiliaka.
C. Etiologi (Harsono, 2000)

1. Kongenital, misalnya Faset tropismus (asimetris), kelainan vertebra


misalnya sakralisasi, lumbalisasi, dan skoliosis serta Sindrom ligamen
transforamina yang menyempitkan ruang untuk jalannya nervus spinalis
hingga dapat menyebabkan NPB.
2. Trauma dan gangguan mekanik: Trauma dan gangguan mekanik merupakan
penyebab utama NPB. Orang yang tidak biasa melakukan pekerjaan otot
atau sudah lama tidak melakukannya dapat menderita NPB akut, atau
melakukan pekerjaan dengan sikap yang salah dalam waktu lama akan
menyebabkan NPB kronik. Trauma dapat berbentuk lumbal strain (akut atau
kronik), fraktur (korpus vertebra, prosesus tranversus), subluksasi sendi
faset (sindroma faset), atau spondilolisis dan spondilolistesis.
3. Radang (Inflamasi), misalnya Artritis Rematoid dan

Spondilitis

ankilopoetika (penyakit Marie-Strumpell)


4. Tumor (Neoplasma): Tumor menyebabkan NPB yang lebih dirasakan pada
waktu berbaring atau pada waktu malam. Dapat disebabkan oleh tumor
jinak seperti osteoma, penyakit Paget, osteoblastoma, hemangioma,
neurinoma, meningioma. Atau tumor ganas, baik primer (mieloma multipel)
maupun sekunder: (metastasis karsinoma payudara, prostat, paru tiroid
ginjal dan lain-lain).
5. Gangguan metabolik: Osteoporosis dapat disebabkan oleh kurangnya
aktivitas/imobilisasi lama, pasca menopouse, malabsorbsi/intake rendah
kalsium yang lama, hipopituitarisme, akromegali, penyakit Cushing,
hipertiroidisme/tirotoksikosis, osteogenesis imperfekta, gangguan nutrisi
misalnya kekurangan protein, defisiensi asam askorbat, idiopatik, dan lainlain. Gangguan metabolik dapat menimbulkan fraktur kompresi atau kolaps
korpus vertebra hanya karena trauma ringan. Penderita menjadi bongkok
dan pendek dengan nyeri difus di daerah pinggang.
6. Degenerasi, misalnya pada penyakit Spondylosis (spondyloarthrosis
deforman), Osteoartritis, Hernia nukleus pulposus (HNP), dan Stenosis
Spinal.
7. Kelainan pada alat-alat visera dan retroperitoneum, pada umumnya penyakit
dalam ruang panggul dirasakan di daerah sakrum, penyakit di abdomen
bagian bawah dirasakan di daerah lumbal.

8. Infeksi : Infeksi dapat dibagi ke dalam akut dan kronik. NPB yang
disebabkan infeksi akut misalnya : disebabkan oleh kuman pyogenik
(stafilokokus, streptokokus, salmonella). NPB yang disebabkan infeksi
kronik misalnya spondilitis TB (penyakit Pott), jamur, osteomielitis kronik.
9. Problem psikoneurotik : NPB karena problem psikoneuretik misalnya
disebabkan oleh histeria, depresi, atau kecemasan. NPB karena masalah
psikoneurotik adalah NPB yang tidak mempunyai dasar organik dan tidak
sesuai dengan kerusakan jaringan atau batas-batas anatomis, bila ada kaitan
NPB dengan patologi organik maka nyeri yang dirasakan tidak sesuai
dengan penemuan gangguan fisiknya.
10. Adapun faktor resiko untuk NPB antara lain adalah: usia, jenis kelamin,
obesitas, merokok, pekerjaan, faktor psikososial, dan cedera punggung
sebelumnya.
D. Patofisiologi (Harsono, 2000)
Struktur spesifik dalam system saraf terlibat dalam mengubah stimulus
menjadi sensasi nyeri. Sistem yang terlibat dalam transmisi dan persepsi nyeri
disebut sebagai system nosiseptif. Sensitifitas dari system ini dapat dipengaruhi
oleh sejumlah factor dan intensitas yang dirasakan berbeda di antara tiap
individu. Reseptor nyeri (nosiseptor) adalah ujung saraf bebas dalam kulit yang
berespon hanya pada stimulus yang kuat, yang secara potensial merusak,
dimana stimuli tersebut sifatnya bisa kimia, mekanik, ataupun termal. Kornu
dorsalis dari medulla spinalis merupakan tempat memproses sensori, dimana
agar nyeri dapat diserap secara sadar, neuron pada system assenden harus
diaktifkan.
Stimulus ini akan direspon dengan pengeluaran berbagai mediator
inflamasi yang akan menimbulkan persepsi nyeri. Mekanisme nyeri merupakan
proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan sehingga proses
penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah spasme otot,
yang selanjutnya dapat menimbulkan iskemia. Nyeri yang timbul dapat berupa
nyeri inflamasi pada jaringan dengan terlibatnya berbagai mediator inflamasi;
atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi primer pada system saraf. Iritasi
neuropatik pada serabut saraf dapat menyebabkan dua kemungkinan.

Pertama, penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus saraf yang


kaya nosiseptor dari nervinevorum yang menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri
dirasakan sepanjang serabut saraf dan bertambah dengan peregangan serabut
saraf misalnya karena pergerakan. Kemungkinan kedua, penekanan mengenai
serabut saraf. Pada kondisi ini terjadi perubahan biomolekuler dimana terjadi
akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya. Penumpukan ini menyebabkan
timbulnya mechano-hot spot yang sangat peka terhadap rangsang mekanikal
dan termal. Hal ini merupakan dasar pemeriksaan Laseque.
E. Manifestasi Klinis (Muttaqin, 2013)
1. Perubahan dalam gaya berjalan
a. Berjalan terasa kaku
b. Tidak bias memutar punggung
c. Pincang
2. Persyarafan
Ketika dites dengan cahaya dan sentuhan dengan peniti,pasien merasakan
sensasi pada kedua anggota badan,tetapi mengalami sensasi yang lebih
kuat pada daerah yang tidak dirangsang.
3. Nyeri.
a. Nyeri punggung akut maupun kronis lebih dari dua bulan.
b. Nyeri saat berjalan dengan menggunakan tumit.
c. Nyeri otot dalam.
d. Nyeri menyebar kebagian bawah belakang kaki.
e. Nyeri panas pada paha bagian belakang atau betis.
f. Nyeri pada pertengahan bokong.
g. Nyeri berat pada kaki semakin meningkat.
F. Pemeriksaan Diagnostik (Harsono, 2000)
1. Sinar X vertebra ; mungkin memperlihatkan adanya fraktur, dislokasi,
infeksi, osteoartritis atau scoliosis.
2. Computed tomografhy ( CT ) : berguna untuk mengetahui penyakit
yangmendasari seperti adanya lesi jaringan lunak tersembunyi disekitar
kolumna vertebralis dan masalah diskus intervertebralis.
3. Ultrasonography : dapat membantu mendiagnosa penyempitan kanalis
spinalis.
4. Magneting resonance imaging ( MRI ) : memungkinkan visualisasi sifat
dan lokasi patologi tulang belakang.
5. Meilogram dan discogram : untuk mengetahui diskus yang mengalami
degenerasi atau protrusi diskus.

6. Venogram efidural : Digunakan untuk mengkaji penyakit diskus lumbalis


dengan memperlihatkan adanya pergeseran vena efidural.
7. Elektromiogram (EMG) : digunakan untuk mengevaluasi penyakit serabut
syaraf tulang belakang ( Radikulopati ).
G. Komplikasi
Skoliosis merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan pada
penderita nyeri punggung bawah karena Spondilosis. Hal ini terjadi karena
pasien selalu memposisikan tubuhnya kearah yang lebih nyaman tanpa
mempedulikan sikap tubuh normal. Hal ini didukung oleh ketegangan otot
pada sisi vertebra yang sakit (Rosyadi, 2010).
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Keperawatan (Muttaqin, 2013)
Informasi dan edukasi.
a. Pada NPB akut: Imobilisasi (lamanya tergantung kasus), pengaturan
berat badan, posisi tubuh dan aktivitas, modalitas termal (terapi panas
dan dingin) masase, traksi (untuk distraksi tulang belakang), latihan :
jalan, naik sepeda, berenang (tergantung kasus), alat Bantu (antara lain
korset, tongkat)
b. NPB kronik: psikologik, modulasi nyeri (TENS, akupuntur, modalitas
termal), latihan kondisi otot, rehabilitasi vokasional, pengaturan berat
badan posisi tubuh dan aktivitas
2. Medis (Harsono, 2000)
a. Formakoterapi.
1) NPB akut: Asetamenopen, NSAID, muscle relaxant, opioid (nyeri
berat), injeksi epidural (steroid, lidokain, opioid) untuk nyeri
radikuler
2) NPB kronik : antidepresan trisiklik (amitriptilin) antikonvulsan
(gabapentin, karbamesepin, okskarbasepin, fenitoin), alpha
blocker (klonidin, prazosin), opioid (kalau sangat diperlukan)
b. Invasif non bedah
1) Blok saraf dengan anestetik lokal (radikulopati)
2) Neurolitik (alcohol 100%, fenol 30 % (nyeri neuropatik punggung
bawah yang intractable)
c. Bedah
HNP, indikasi operasi :

1) Skiatika dengan terapi konservatif selama lebih dari empat


2)
3)
4)
5)

minggu: nyeri berat/intractable / menetap / progresif.


Defisit neurologik memburuk.
Sindroma kauda.
Stenosis kanal : setelah terjadi konservatif tidak berhasil
Terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan
neurofisiologik dan radiologic.

I. Prognosis
Prognosis sangat baik, akan mengalami perbaikan nyata dari cedera
lumbal strain atau sprain. Dengan fisiotherapy dan pemberian medikamentosa
secara adekuat, 90% pasien mengalami penyembuhan dalam waktu 1 bulan.
Namun demikian nyeri pinggang strain dapat menjadi kronik bila tidak
dilakukan penglolaan secara benar termasuk perubahan perilaku yng dapat
menyebabkan strain atau sprain lumbal (Risky, 2011).

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Data fokus yang perlu dikaji:
1. Riwayat kesehatan
a. Riwayat Penyakit
1) Keluhan Utama (keluhan yang dirasakan pasien saat
dilakukan pengkajian)
2) Riwayat penyakit sekarang
a) Diskripsi gejala dan lamanya
b) Dampak gejala terhadap aktifitas harian
c) Respon terhadap pengobatan sebelumnya
d) Riwayat trauma
3) Riwayat Penyakit Sebelumnya
a) Immunosupression (supresis imun)
b) Penurunan berat badan tanpa penyebab yang
jelas (kangker)
c) Nyeri yang menetap merupakan pertimbangan
untuk kangker atau infeksi.
d) Pemberatan nyeri di kala terbaraing (tumor
instraspinal atau infeksi) atau pengurangan nyeri
(hernia nudeus pulposus / HNP)
e) Nyeri yang paling berat
(spondiloartropati

di

seronegatif:

pagi

hari

ankylosing

spondyli-tis, artristis psoriatic, spondiloartropati


reaktif, sindroma fibromialgia)
f) Nyeri pada saat duduk (HNP, kelainan faset
sendi, stenosis kanal, kelahinan otot paraspinal,
kelainan

sendi

sakroilikal,

spondilosis

spondilolisis / spondilolistesis, NPB-spesifik)


g) Adanya demam (infeksi)
h) Gangguan normal (dismenore, pasca-monopause
/andropause)
i) Keluhan visceral (referred pain)

j) Gangguan miksi
k) Saddle anesthesia
l) Kelemahan
motorik

ekstremitas

bawah

(kemungkinan lesi kauda ekwina)


m) Lokasi dan penjalaran nyeri.
2. Aktivitas dan istirahat
Gejala: Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk,
mengemudi dalam waktu lama, membutuhkan papan/matras waktu tidur,
penurunan rentang gerak dari ekstrimiter pada salah satu bagian tubuh,
tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda: Atropi otot pada bagian tubuh yang terkena, gangguan dalam
berjalan.
3. Eliminasi
Gejala: Konstribusi, mengalami kesulitan dalam defekasi, adanya
inkontenensia/retensi urine
4. Integritas Ego
Gejala: Ketakutan akan timbulnya paralysis, ansietas masalah pekerjaan,
finansial keluarga.
Tanda: Tampak cemas, defresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat
5. Neurosensori
Gejala: Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki
Tanda: Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotania, nyeri
tekan/spasme pavavertebralis, penurunan persesi nyeri (sensori)
6. Nyeri/kenyamanan
Gejala: Nyeri seperti tertusuk pisau yang akan semakin memburuk dengan
adanya batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat defekasi,
mengangkat kaki, atau fleksi pada leher, nyeri yang tidak ada hentinya atau
adanya episode nyeri yang lebih berat secara interminten; nyeri menjalar
ke kaki, bokong (lumbal) atau bahu/lengan; kaku pada leher (servikal).
Terdengar adanya suara krek saat nyeri baru timbul/saat trauma atau
merasa punggung patah, keterbatasan untuk mobilisasi/membungkuk
kedepan.
Tanda Sikap: dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena,
perubahan cara berjalan: berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang
terangkat pada bagian tubuh yang terkena, nyeri pada palpasi.
7. Keamanan
Gejala: Adanya riwayat masalah punggung yang baru saja terjadi
8. Penyuluhan dan pembelajaran

Gejala: Gaya hidup ; monoton atau hiperaktif


Pertimbangan: DRG menunjukan rata-rata perawatan:10,8 hari
Rencana pemulangan: Mungkin memerlukan batuan transportasi,
perawatan diri dan penyelesaian tugas-tugas.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien LBP:
1. Nyeri akut b/d agen injuri (fisik, kelainan muskuloskeletal dan system
syaraf vaskuler.
2. Hambatan mobilitas fisik b.d nyeri, kerusakan muskuloskeletal, kekakuan
sendi atau kontraktur.
3. Gangguan pola tidur b.d nyeri, tidak nyaman

C. Inervensi Keperawatan
N
o
1

Diagnosa

Tujuan

Keperawatan
Nyeri akut b/d agen Setelah
injuri (fisik, kelainan tindakan

Intervensi

dilakukan Manajemen nyeri


1. Lakukan
pengkajian

muskuloskeletal dan keperawatan selama


system syaraf

3 x 24 jam nyeri

Vaskuler

berkurang / hilang

Batasan

dengan kriteria :

Karakteristik

Tingkat nyeri

nyeri
secarakomprehensif
(lokasi,

karateristik,

durasi,

frekuensi,

kualitas,
presipitasi).

dan

faktor

Verbal

1. Melaporkan nyeri 2. Observasi

1. Menarik

napas

berkurang

panjang

dan

hilang
2. Frekuensi

merinti
2. Mengeluh nyeri
Motorik
1. Menyeringaikan
wajah
2. Langkah

yang

terseok-seok
3. Postur
yang
kaku/ tidak stabil
4. Gerakan
yang

berkurang
hilang
3. Lama
berkurang
4. Ekspresi
berkurang

non
dari

ketidaknyamanan.
nyeri 3. Gunakan
teknik
/

komunikasi
untuk

nyeri

terapetik
mengetahui

pengalaman nyeri klien.


4. Evaluasi
pengalaman

oral

nyeri masa lampau.


/ 5. Evaluasi bersama klien

hilang
5. Ketegangan otot
berkurang

verbal

reaksi

dan tim kesehatan lain


tentang ketidak efektifan

kontrol
nyeri
masa
hilang
lampau.
6. Dapat istirahat
terpaksa
6. Bantu klien dan keluarga
7. Skala
nyeri
Respon autonom
untuk
mencari
dan
berkurang
/
- Perubahan vital
menemukan dukungan.
menurun
7. Kontrol
lingkungan
sign
Kontrol nyeri
yang
dapat
1. Mengenal faktormempengaruhi
nyeri
faktor penyebab
(suhu
ruangan,
2. Mengenal onset
pencahayaan,
dan
nyeri
3. Jarang / tidak
kebisingan)
8. Kurangi
faktor
pernah
presipitasi nyeri.
menggunakan
9. Pilih
dan
lakukan
analgetik
penanganan
nyeri
4. Jarang / tidak
(farmokologi,
non
pernah
farmakologi
dan
melaporkan
interpersonal)
nyeri kepada tim
10. Kaji tipe dan sumber
kesehatan.
nyeri untuk menentukan
5. Nyeri terkontrol
intervensi.
Tingkat
11. Ajarkan tentang teknik
amat lambat atau

kenyamanan
Klien

melaporkan

mengurangi nyeri.
13. Evaluasi
keefektifan

kebutuhan
istirahat

non farmakologi.
12. Berikan analgetik untuk

tidur

kontrol nyeri
tercukupi
14. Tingkatkan istirahat
Melaporkan kondisi 15. Kolaborasi
dengan
fisik

dokter jika ada keluhan

baikMelaporkan

dan tindakan nyeri tidak

kondisi
baik

psikis

berhasil
16. Monitor

penerimaan

klien

tentang

manajemen nyeri.
Administrasi analgeik
1. Tentukan

lokasi,

karateristik kualitas, dan


derajat

nyeri

sebagai

pemberian obat
2. Cek riwayat alergi
3. Pilih analgenik yang
diperlukan

atau

kombinasi dari analgetik


ketika pemberian lebih
dari satu.
4. Tentukan

pilihan

analgesik

tergantung

tipe dan beratnya nyeri.


5. Monitor
vital
sign
sebelum

dan

pemberian

sesudah
analgesik

pertama kali
6. Berikan analgesik tepat
waktu

terutama

nyeri hebat.
7. Evaluasi

saat

efektifitas

analgesik
2

Hambatan mobilitas Setelah


fisik

b.d

tanda

dan

gejala (efek sampingan).


dilakukan 1. Koreksi
tingkat

nyeri, tindakan

kemampuan

mobilisasi

kerusakan

keperawatan selama

dengan sekala 0-4

muskuloskeletal,

3 x 24 jam klien

0: Klien tidak tergantung

kekakuan sendi atau mampu

mencapai

kontraktur.

mobilitas

Batasan

dengan kriteria :

karakteristik

Mobiliti level

1. Postur

tubuh 1. Klien

kaku tidak stabil.


2. Jalan
terseokseok
3. Gerak lambat
4. Membatasi
perubahan gerak
yang

mendadak

atau cepat

fisik

dapat

melakukan
mobilitas secara
bertahap dengan
tanpa merasakan

seimbang
3. Menggerakkan
otot dan sendi
4. Mampu pindah
bantuan
5. Berjalan
bantuan

bantuan
2: Klien butuh bantuan
sederhan
3 : Klien butuh bantuan
banyak
4 :Klien

sangat

tergantung

pada

pemberian pelayanan
2. Atur posisi klien
3. Bantu klien melakukan

nyeri
2. Penampilan

tempat

pada orang lain


1: Klien butuh sedikit

tanpa

perubahan gerak.
4. Observasi / kaji terus
kemampuan

motorik, keseimbangan
5. Ukur tanda-tanda vital
sebelum

tanpa

gerak

dan

sesudah

melakukan latihan.
6. Anjurkan keluarga klien
untuk

melatih

dan

memberi motivasi.
7. Kolaborasi dengan tim
kesehatan
(fisioterapi

lain
untuk

pemasangan korset)
8. Buat posisi seluruh
persendian dalam letak
anatomis dan nyaman

dengan

memberikan

penyangga pada lekukan


lekukan

sendi

pastikan

serta
posisi

punggung lurus.
3

Gangguan pola tidur Setelah


b.d

nyeri,

dilakukan Peningkatan tidur/ sleep

tidak tindakan

nyaman

keperawatan selama

Batasan

3 x 24 jam klien

karakteristik

dapat

1. Pasien menahan kebutuhan


sa-kit

aktivitas
2. Anjurkan

klien

tidur

terpenuhi

secara teratur
tidurnya 3. Jelaskan

(merintih, dengan kriteria :

me-nyeringai)
2. Pasien

enhancement
1. Kaji pola tidur / pola

tentang

pentingnya tidur yang

Tidur
a. Jumlah jam tidur

cukup selama sakit dan

terbangun
f. Tanda

tehnik peningkatan pola

terapi.
cukup
4. Monitor pola tidur dan
b. Pola tidur normal
tidak bisa tidur
catat keadaan fisik,
c. Kualitas
tidur
karena nyeri
psykososial
yang
cukup
d. Tidur
secara
mengganggu tidur
5. Diskusikan pada klien
teratur
e. Tidak
sering
dan keluarga tentang
mengungkapkan

dalam

vital

tidur
batas Manajemen lingkungan

normal
1. Batasi pengunjung
Rest
2. Jaga lingkungan dari
a. Istirahat Cukup
bising
b. Kualitas istirahat
3. Tidak melakukan
baik
tindakan keperawatan
c. Istirahat
fisik
pada saat klien tidur
cukup
d. Istirahat psikis Anxiety reduction
1. Jelaskan semua prosedur
cukup
Anxiety control
termasuk pera-saan yang
a. Tidur adekuat
mungkin dialami selama

b. Tidak

ada

manifestasi fisik
c. Tidak
ada
manifestasi

dapat memberikan rasa


aman
3. Berbicara dengan pelan

perilaku
d. Mencari
informasi

men-jalani prosedur
2. Berikan objek yang

untuk

mengurangi
cemas
e. Menggunakan
teknik
relaksasi untuk

dan tenang
4. Membina
saling percaya
5. Dengarkan

sosial

klien

dengan penuh perhatian


6. Ciptakan suasana saling
percaya
7. Dorong

mengurangi
cemas
f. Berinteraksi

hubungan

orang

mengungkapkan

tua
pera-

saan, persepsi dan cemas


secara verbal
8. Berikan peralatan
aktivitas

yang

menghibur

untuk

mengurangi ketegangan
9. Anjurkan
untuk
menggunakan
relaksasi
10. Berikan

lingkungan

yang tenang
11. Batasi pengunjung

Patofisiologi Penyimpangan KDM


Masalah musculosceletal, gangguan ginjal,
masalah pelvis, tumor
Kontraksi punggung
Tulang belakang menyerap
goncangan vertikal

teknik

Otot abdominal & thoraks


melemah
Mobilitas fisik terganggu

Terjadi perubahan struktur dengan discus susun


atas fibri fertilago dan matrik gelatinus
Fibri kartilago padat dan kurang
teratur
Penonjolan diskus/ kerusakan
sendi pusat
Menekan akar syaraf

Hambatan mobilitas fisik

Pelepasan
neurotransmitter

Jarang bergerak
Struktur melemah
Penumpukan lemak
karena tubuh kurang
gerak
Nutrisi lebih dari
kebutuhan tubuh

ketidaknyaman
aan
RAS teraktivasi
REM menurun
Gangguan
pola tidur

Transduksi,
modulasi, transmisi
Nyeri dipersepsikan
Gangguan rasa nyaman
nyeri

DAFTAR PUSTAKA
Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. 2009. Buku Ajar
Anatomi Umum. FK UNHAS
Brunner and Suddarth. 2000. Medical Surgical Nursing. Philadelphia: JB
Lippincot Company.
Harsono. 2000. Buku Ajar Neurologi Klinis. Edisi 1. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press. Judith M. Wilkinson.2007. Buku saku diagnosis
keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil NOC ed. 7.
Jakarta : EGC
Muttaqin, Arief. 2013. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem
persarafan. Jakarta : EGC
NANDA International. 2012. Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi
2012-2014. Jakarta : EGC

Risky,

Arianto.
2011.
Low
back
pain/
nyeri
pinggang.
http://freshlifegreen.blogspot.co.id/2011/02/low-back-pain-lbp-nyeripinggang.html (diakses pada 2 November 2015)

Rosyadi,

Helman. 2010. Nyeri punggung bawah/ low back pain.


http://brotherbuzz.blogspot.co.id/2010/04/nyeri-punggung-bawah-lowback-pain-itu.html (diakses pada 2 November 2015)

Anda mungkin juga menyukai