Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia memiliki kebutuhan dasar yaitu bernafas, manusia tidak akan
bida hidup apabila ia sudah tidak bernafas menghirup oksigen dan mengeluarkan
karbondioksida. Dalam tubuh manusia terdapat sistem pernafasan, setiap bagian
dari sistem ini memainkan peranan yang penting dalam proses pernafasan, yaitu
dimana oksigen dapat masuk kealiran darah dan karbon dioksida dapat dilepaskan.
Jalan nafas atas merupakan suatu saluran terbuka yang memungkinkan
udara atmosfer masuk melalui hidung, mulut, dan bronkus hingga ke aveoli. Jalan
nafas atas terdiri dari ; hidung, faring, laring, trakhea sampai percabangan
bronkus.
Ganguan

pernapasan

dalam

kegawatdaruratan

yang

memerlukan

pertolongan yang cepat dan tepat salah satunya adalah trauma thoraks. Kejadian
cedera dada merupakan salah satu trauma yang sering terjadi, jika tidak ditangani
dengan benar akan menyebabkan kematian kejadian trauma dada terjadi sekitar
seperempat dari jumlah kematian akibat trauma yang terjadi, serta sekitar
sepertiga dari kematian yang terjadi berbagai rumah sakit3. Beberapa cedera dada
yang dapat terjadi antara lain, tension pneumothoraks, pneumotoraks terbuka, flail
chest, hematotoraks, tamponade jantung. Kecelakaan kendaraan bermotor paling
sering menyebabkan terjadinya trauma pada toraks. Tingkat morbiditas mortalitas
akan meningkat dan menjadi penyebab kematian kedua didunia pada tahun 2020
menurut WHO (Word Health Organitation).
Apabila sistem pernafasan ini terganggu maka akan menyebabkan timbulnya
berbagai penyakit pada tubuh manusia yang berhubungan dengan sistem
pernapasan. Untuk itu kita perlu mengetahui gangguan-gangguan yang dapat
terjadi pada sistem pernapasan kita, serta dapat melakukan sesuatu atau
memberikan pertolongan kepada diri sendiri ataupun orang lain yang mengalami

gangguan pada sistem pernapasan. Karena bila kita terlambat melakukan


pertolongan akan mengakibatkan kematian. Pada makalah ini kami akan
membahas mengenai gangguan pernafasan serta penanganan cepat dan tepat yang
dapat kita lakukan dalam keadaan gawat darurat.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1
Apa yang dimaksud dengan gangguan pernapasan?
1.2.2
Bagaimana proses terjadinya gangguan pernapasan?
1.2.3
Bagaimana penanganan kegawatdaruratan pada gangguan pernapasan ?
1.3 Tujuan
1.3.1
Untuk mengetahui konsep dasar gangguan pernapasan
1.3.2
Untuk mengetahui proses terjadinya gangguan pernapasan
1.3.3
Untuk mengetahui penanganan kegawatdaruratan pada gangguan
pernapasan.
1.4 Manfaat
Dengan mempelajari makalah ini, diharapkan perawat mampu mengetahui
dan memahami mengenai gangguan pernapasan serta nantinya mampu untuk
menangani gangguan pernapasan dengan cepat dan tepat dalam kegawatdaruratan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Gangguan Pernapasan
Gangguan napas dapat disebabkan oleh banyak hal, diantaranya penyakit

dan kecelakaan. Gangguan napas bisa berakibat fatal kalau kita tidak tahu cara
menolongnya. Gangguan napas yang mungkin saja terjadi di lingkungan atau di
rumah kita adalah gangguan akibat suatu kecelakaan atau tersedak, yang dapat
menyebabkan terhentinya jantung dan paru.
Dalam gangguan pernapasan terdapat istilah sumbatan jalan nafas, dimana
sumbatan jalan nafas ini adalah terdapatnya benda asing dalam saluran pernafasan
yang mengakibatkan terganggunggya proses pertukaran gas Oksigen dengan
Karbondioksida dalam tubuh. Sumbatan jalan nafas dapat dijumpai baik di dalam
rumah sakit maupun di luar rumah sakit. Di luar rumah sakit misalnya penderita
tersedak makanan padat sehingga tersumbat jalan nafasnya, sedangkan di dalam
rumah sakit misalnya penderita tidak puasa sewaktu akan dilaksanakan
pembedahan sehingga dapat terjadi aspirasi yang dapat menyumbat jalan
nafasnya. Penyebab sumbatan jalan nafas yang sering kita jumpai adalah dasar
lidah, palatum mole, darah atau benda asing yang lain. Dasar lidah sering
menyumbat jalan nafas pada penderita koma, karena pada penderita koma otot
lidah dan leher lemas sehingga tidak mampu mengangkat dasar lidah dari dinding
belakang farings. Hal ini sering terjadi bila kepala penderita dalam posisi fleksi.
Benda asing, seperti tumpahan atau darah di jalan nafas atas yang tidak dapat
ditelan atau dibatukkan oleh penderita yang tidak sadar dapat menyumbat jalan
nafas. Penderita yang mendapat anestesi atau tidak, dapat terjadi laringospasme
dan ini biasanya terjadi oleh karena rangsangan jalan nafas atas pada penderita
stupor atau koma yang dangkal.

2.2

Proses Terjadinya Gangguan Pernapasan


Berkurangnya oksigen di dalam tubuh kita akan memberikan suatu

keadaan yang disebut hipoksia. Hipoksia ini dikenal dengan istilah sesak napas.
3

Frekuensi napas pada keadaan sesak napas lebih cepat dari pada keadaan normal.
Oleh karena itu, bila sesak napas ini berlangsung lama maka akan memberikan
kelelahan

pada

otot-otot

pernapasan.

Kelelahan

otot-otot

napas

akan

mengakibatkan terjadinya penumpukan sisa-sisa pembakaran berupa gas CO2.


Gas CO2 yang tinggi ini akan mempengaruhi susunan saraf pusat dengan
menekan pusat napas yang ada di sana. Keadaan ini dikenal dengan istilah henti
napas. Otot jantung juga membutuhkan oksigen untuk berkontraksi agar darah
dapat dipompa keluar dari jantung ke seluruh tubuh. Dengan berhentinya napas
maka oksigen tidak ada sama sekali di dalam tubuh sehingga jantung tidak dapat
berkontraksi dan akibatnya terjadi keadaan yang disebut henti jantung.

2.3

Penanganan Gangguan Pernapasan dan Gangguan Pernapasan

Penanganan gangguan ada beberapa cara antara lain sebagai berikut:


1. Penanganan Sumbatan Jalan Nafas
Korban Sadar

Korban disuruh batuk (membatukkan diri).

Berikan beberapa kali hentakan perut (Heimlich Maneuver)


1. Bungkukkan punggung korban ke depan;
2. Penolong merangkul dari belakang;
3. Posisi tangan di antara pusar dan taju pedang tulang dada (sedikit
di bawah ujung tulang dada korban);
4. Hentakkan ke arah belakang atas (45).

Untuk wanita hamil, perut gemuk, anak kecil, bayi, lansia > 60 tahun
> Lakukan hentakan dada.

Periksa, apakah sumbatan benda asing telah keluar.


4

Bila belum berhasil, kombinasikan Heimlich Maneuver dengan


Pukulan Punggung

Titik pukulan di antara kedua tulang belikat;

Dari posisi Heimlich Maneuver, satu tangan pindah ke belakang untuk


melakukan pukulan punggung dengan tumit tangan.

Korban Tidak Sadar


Bila seseorang tidak sadar dan saat memberikan nafas buatan tidak
masuk (adanya sumbatan)

Posisikan korban: Berbaring terlentang dengan kepala dimiringkan ke


sisi penolong.

Lakukan HM dengan posisi penolong mengangkang di atas korban.

Jika benda asing terlihat di dalam mulut, korek dengan jari.

Periksa apakah jalan napas masih tersumbat > inflasi 2x, masuk atau
tidak?

Jika masih ada sumbatan, kombinasikan HM dengan pukulan


punggung > saat melakukan pukulan punggung, badan korban
dimiringkan ke arah penolong.

2. Penanganan Gangguan Pernapasan pada Korban Bencana


Terdapat sistem penanganan gangguan pernapasan saat penolong menangani
korban bencana yaitu : Pre-hospital (sebelum berada di RS).
I. PRE-HOSPITAL

Pada penanganan Pre-hospital, yang dapat dilakukan oleh penolong


yaitu Primary Survey. Pertolongan ini adalah pertolongan pertama yang dapat
diberikan kepada pasien untuk mempertahankan kehidupannya hingga
ditangani di RS. Adapaun beberapa langkah dari pemeriksaan pre-hospital
yaitu : DRC-ABCDE
A. Danger
Pada tahap pertama, penolong harus memperhatikan 3A yaitu :
1. Amankan Diri
Rasional dari pengamanan diri penolong yang pertama adalah
karena ketika penolong datang ke lokasi bencana ketika masih terdapat
bencana namun memaksakan untuk menyelamatkan pasien/korban
terlebih dahulu maka hanya akan menambah jumlah korban.
Disarankan kepada penolong untuk terlebih dahulu mengamankan
dirinya. Selain mengamankan diri dengan belum melakukan tindakan
bila bencana masih terjadi, penolong juga harus melindungi dirinya
dengan APD (alat pelindung diri) yang telah disiapkan untuk
menghindari adanya kejadian sekunder saat menolong korban bencana.
2. Amankan Lingkungan
Setelah mengamankan diri, penolong juga harus memperhatikan
keamanan lingkungan. Bila bencana masih terjadi, maka keadaan
lingkungan sekitar pasien masih belum aman untuk dijangkau
penolong. Sama halnya seperti di atas, bila penolong memaksakan diri
untuk menjangkau lingkungan maka akan menimbulkan korban
tambahan yaitu dirinya sendiri. Disarankan bagi penolong untuk
memastikan bahwa tanda bencana telah usai terjadi sehingga pasien
dapat dievakuasi dan ditangani.
3. Amankan Pasien
Hal terakhir yang dilakukan penolong setelah mengamankan diri
dan lingkungan adalah mengamankan pasien itu sendiri. Pengamanan
pasien dilakukan dengan memberi tindakan sesuai dengan cidera atau
trauma yang dialami oleh pasien. Tindakan evakuasi dan penanganan
merupakan hal yang harus segera dilakukan oleh penolong.

B. Respon
Setelah melakukan 3A, segera cek respon pasien dengan 2 tahap
rangsangan yaitu :
1. Verbal
Rangsangan verbal adalah rangsangan suara atau panggilan yang
diberikan oleh penolong kepada pasien. Rangsangan ini HANYA
berupa PANGGILAN saja.
Contoh : Pak, apakah bapak mendengar saya?
2. Non Verbal
Rangsangan non verbal adalah rangsangan yang diberikan karena
pasien tidak merespon pada rangsangan verbal dengan melakukan
beberapa rangsangan pada tubuh pasien seperti :
a. Menepuk bagian tubuh pasien
Rangsangan ini dapat diberikan dengan cara menepuk-nepuk
bagian tubuh pasien yang secara kasat mata dilihat sehat tanpa
adanya luka, bengkak, maupun perdarahan.
Contoh : (sambil menempuk bahu/lengan pasien, Pak, apakah
bapak dapat mendengar saya?
b. Apabila tidak merespon, lanjutkan dengan rangsangan nyeri.
Rangsangan nyeri yang diberikan dapat berupa cubitan dan tekanan
(atau gerigi) pada daerah sternum pasien.
Cubit pasien pada bagian yang sehat. Tunggu responnya
Pada laki-laki, dapat dilakukan rangsangan nyeri dengan

mencubit putting susunya.


Pada laki-laki maupun perempuan dapat dilakukan penekanan
(gerigi) pada daerah sternum.

C. Shout for Help/Call for Help


Setelah mengecek respon pasien, segera meminta bantuan kepada tim
kesehatan lainnya (bila datang hanya sendiri atau tenaga kurang
mencukupi untuk melakukan tindakan). Permohonan pertolongan juga
dapat diajukan pada lingkungan sekitar dengan menyebutkan orang yang
akan dimintai bantuan secara spesifik.
Contoh Shout for Help : Bapak berbaju hijau dan bercelana hitam
disana, tolong segara telpon 911/ 118 untuk mendatangkan ambulans!

Contoh Call for Help : Teman-teman, di sini terdapat korban bencana


(sebutkan lokasinya dengan tepat), tolong segera datang kemari!.
Setelah melakukan tindakan awal di atas, maka dilanjutkan dengan
tindakan Primary Survey pada pasien.
D. Airway (+ Cervical Spine Control)
Pada pasien dengan keadaan gawat darurat akibat terjadinya
peristiwa apapun, hal pertama yang dilakukan adalah mengecek jalan
napas. Hal yang paling utama dilakukan ketika menemukan korban apapun
adalah mempertahankan jalan napasnya. Rasionalnya : inspirasi pasien
akan membawa O2 yang dapat memicu kerjanya sel dalam tubuh, apabila
oksigen tidak adekuat maka segera sel-sel akan mengalami kematian dan
akan meluas hingga tingkat organ.
Airway merupakan tahap

pertama

dalam

pertolongan

kegawatdaruratan, maka di sinilah leader harus dapat mengamati trauma


mulai dari kepala hingga ujung kaki.
Saat melakukan langkah airway, korban akan mengalami trauma
yang mungkin dialami saat ia mengalami kecelakaan tersebut, trauma yang
dapat terjadi di daerah kepala yaitu Fraktur Servikal (Patah tulang
belakang) dan Fraktur Basis Cranii (suatu fraktur linear yang terjadi pada
dasar tulang tengkorak yang tebal). Fraktur ini memerlukan penanganan
dan perhatian yang sangat penuh karena akan berakibat fatal bila keadaan
dan posisi pasien tidak dijaga sebaik mungkin. Adapun tanda-tanda dari
kedua fraktur di atas adalah :
1. Rinorea, keluarnya cairan serebrospinal (CSS) berupa darah
dari hidung
2. Ottorea, keluarnya cairan serebrospinal (CSS) berupa darah
dari telinga
3. Racoon Eyes, lingkaran hitam (seperti mata panda) pada mata
4. Battle Sign, tanda jejas di belakang telinga
Selain itu, bila terjadi jejas dari daerah clavikula ke kepala (daerah
clavicula ke atas) maka dapat dicurigai pasien mengalami fraktur servikal
atau fraktur basis cranii.

Apabila leader menemukan kasus korban seperti ini maka yang


harus dilakukan leader (apabila team medis dan perlengkapannya telah
datang) adalah :
Melakukan Kontrol Servikal, yaitu tindakan pengaman daerah bahu
hingga kepala untuk menyangga posisi kepala tetap pada posisinya dan
tidak berpindah-pindah. Caranya adalah : leader berada di atas kepala
pasien (pasien posisi tidur terlentang), mengambil posisi baik dan
benar (tidak goyah dan kuat), melakukan penyanggaan pada kedua
bahu pasien dengan kedua tangannya dengan kedua sisi tangan
menyangga/menempel pada kedua telinga pasien sementara lengan
leader

menyangga

kepala

pasien.

Posisi

leader

seperti

ini

dipertahankan hingga pasien berada pada tahap evakuasi.


Memasang penyangga leher. Penyangga leher dapat berupa :
- Peralatan medis seperti Neck Collar (bentuk soft dan hard)
cara memasangnya adalah : tarik garis imajiner dagu hingga ke
leher, kemudian ukur seberapa tinggi leher, atur tinggi neck collar,
pasang neck collar dari arah dada menuju leher (usahakan posisi
-

pasien tetap tanpa perubahan!!!), neck collar terpasang.


Peralatan non medis (gawat darurat) seperti sandal jepit yang
dibungkus dengan mitella dipasang di bagian leher depan pasien
dan kardus yang telah dibentuk sesuai ukuran leher pasien.
Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan pada

pemeriksaan Airway :

Sumbatan ada dua macam yaitu


Sumbatan total sumbatan yang terjadi secara total dan menutupi jalan
napas secara keseluruhan.
Tanda-tanda korban yang tersedak antara lain korban akan kesulitan
bernapas, batuk yang tidak bersuara, tidak dapat bersuara, sianosis bahkan
tidak dapat bernapas. Selain itu juga bisa terlihat korban akan memegang
lehernya. Jika ditemukan kasus seperti ini, harus segera ditanyakan pada
korban apakah anda tersedak?, jika korban mengangguk berarti korban
mempunyai sumbatan di jalan napas. Segera lakukan teknik membebaskan

jalan napas dari sumbatan benda asing, yaitu pada orang dewasa dengan
cara:

Lakukan Heimlich maneuver pada korban sampai benda asing keluar

Jika benda terlihat, lakukan sapuan jari

Aktifkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu

Cek nadi, jika tidak teraba lakukan resusitasi jantung paru

Cara melakukan Heimlich maneuver dengan posisi korban berdiri


atau duduk adalah tangan kita, kita lingkarkan ke pinggang korban. Posisi
tangan kita berada dibawah prosesus xipoideus (PX) dan diatas umbilicus
korban. Korban kita buat sedikit roboh kedepan. Tangan kiri yang melekat
pada perut korban dikepalkan dan tangan kanan berada diatas tangan kiri

10

kita. Setelah itu tekan yang kuat pada daerah perut korban dengan cepat dari
arah dalam keatas (Proehl, 1999).
Sumbatan juga bisa terjadi pada anak dan bayi. Angka kematiannya
pun cukup tinggi yaitu sekitar 90% pada anak < 5 tahun. Sedangkan pada
bayi 65% terjadi karena adanya aspirasi cairan. Sumbatan jalan napas bisa
terjadi pada anak, karena anak cenderung mempunyai kebiasaaan untuk
memasukkan apapaun yang ada berserakan dilantai ke mulut anak seperti
makanan kecil, permen, mainan kecil dan lain sebagainya. Tanda yang bisa
dikenali, jika sumbatannya ringan pada anak, maka anak masih dapat batuk
dan bersuara, tetapi sulit bernapas. Jika terjadi sumbatan, maka korban tidak
dapat batuk dan bersuara. Jika sumbatan ringan, jangan dilakukan apapun,
biarkan korban secara fisiologis membersihkan jalan napasnya sendiri
dengan batuk (YAGD 118, 2011). Sumbatan yang berat pada anak dapat
dilakukan

penatalaksanaan

dengan Heimlich

maneuver sampai

benda

tersebut keluar. Sedangkan pada bayi yang masih sadar, bisa dilakukan back
blowssebanyak 5 kali yang diikuti dengan 5 x chest thrust berulang-ulang
sampai benda keluar atau jatuh tidak sadar. Jika bayi tidak sadar dan nadi
tidak teraba, maka lakukan resusitasi jantung paru (RJP). Dan saat
melakukan ventilasi, pastikan bendanya sudah tidak menyumbat jalan napas.
Sapuan jari tidak direkomendasikan jika benda tidak tampak pada faring
karena hal ini akan mendorong benda tersebut masuk kedalam orofaring dan
menyebabkan kerusakan pada organ tersebut (Proehl, 1999).

11

Caranya back blows dan chest thrust pada bayi adalah: bayi posisi
pronasi diatas lengan bawah tangan kanan kita. Pegang rahang bayi untuk
menopang kepala bayi dengan tangan kanan. Lakukan back blow dengan
tumit tangan kiri kita dengan kuat di antara tulang belikat korban sebanyak 5
kali. Kemudian posisi bayi dirubah ke posisi supinasi, dengan tangan kiri
menopang kepala dan leher bayi yang ditempatkan diatas paha kita. Lakukan
chest thrust dengan posisi jari setingkat dibawah nipple bayi dan jari tengah
dan manis disternum bayi untuk memberikan tekanan saat chest trust.
Dilakukan sampai benda asing keluar (Proehl, 1999).

Sumbatan Parsial sumbatan yang terjadi hanya sebagian dan hanya


menutupi sebagian dari jalan napas saja.
Pada obstruksi parsial, korban masih bisa bernapas, dam masih bisa
bersuara. Selain itu adanya sumbatan parsial juga menimbulkan berbagai
suara tergantung dengan penyebabnya. Seperti halnya suara Gurgling
yang timbul karena adanya cairan dijalan napas seperti akumulasi darah,
sekret, aspirasi lambung dan lain-lain. Hal ini biasa diatasi dengan cara
penghisapan atau disebut juga suction. Selain itu ada suara Snoring yang
timbul seperti suara mengorok yang biasanya bisa terjadi pada korban yang
tidak sadar yang menyebabkan lidah jatuh ke belakang. Suara ini juga bisa
terjadi jika korban terjadi patah tulang rahang bilateral. Hal ini bisa diatasi

12

secara manual atau dengan alat untuk menahan lidah jatuh ke belakang
(YAGD 118, 2011).
Suara-suara tambahan pada permasalahan Airway
Look, Listen, Feel atau Lihat, Dengar, Rasakan (LDR)
Letakkan telinga penolong pada mulut pasien (tanpa menyentuh),
kemudian lakukan LDR. Tindakan ini dilakukan secara bersamaan.
a. Look/Lihat

Melihat adanya

pergerakkan dada

pasien.

Normalnya pergerakkan dada adalah naik dan turun secara


bersamaan.
b. Listen/Dengar mendengar adakah suara napas tambahan pada
pasien. Suara napas tambahan yang terdengar di antaranya :
1) Gurgling, yaitu suara seperti berkumur karena terdapat cairan
pada jalan napas.
Tindakan yang dapat dilakukan bila mendengar suara gurgling
yaitu Logroll dan Finger Sweep untuk mengeluarkan dan
memuntahkan pasien.
2) Snoring, yaitu suara ngorok yang diakibatkan tersumbatnya
jalan napas bagian bawah.
Tindakan yang dapat dilakukan bila mendengar suara snoring
adalah Jaw Trust, Head Tilt-Chin Lift (Angkat Dagu Tekan
Dahi/ADTD), pemasangan OPA (Oro Pharingeal Airway), dan
NPA (Naso Pharingeal Airway).
3) Stridor, yaitu penyempitan saluran udara pada orofaring,
subglotis atau trakea.
Tindakan yang dilakukan adalah segera menghubungi dokter
(In-hospital pemasangan ETT)
c. Feel/Rasakan rasakan kuat lemahnya hembusan napas pasien.
Cara mengatasi masalah pada airway pasien adalah :
1. Finger Sweep
Finger sweep dilakukan pada saat di mulut pasien terdapat
kotoran sehingga menutupi jalan napas pasien. Finger sweep dapat
dilakukan dengan cara membuka mulut pasien tanpa merubah

13

posisi kepala pasien dan langsung membersihkan kotoran yang ada


di mulut dengan sapuan jari.
2. Jaw Trust
Jaw trust adalah membuka

mulut

pasien

dengan

menggunakan kedua tangan penolong yang berada di posisi kepala


pasien tanpa menyebabkan pergeseran pada kepala pasien. Caranya
yaitu kedua ibu jari tangan penolong menekan os. Maxilla (rahang
atas) pasien dan kedua jari tengah secara bersamaan membuka
dagu pasien. Bila terdapat kotoran maupun hal-hal yang dapat
menyumbat jalan napas pasien, segera lakukan penyapuan kotoran
dengan menggunakan telunjuk (finger sweep) hingga bersih dan
jalan napas pasien paten. Dapat dilakukan dengan teknik satu
tangan.
3. Head Tilt-Chin Lift (Angkat Dagu Tekan Dahi)
Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara menekan dahi
pasien lalu mengangkat dagunya agar bagian rongga mulut terlihat
jelas. Bila terdapat kotoran, segera lakukan finger sweep seperti
pada Jaw trust di atas.
4. Log-roll (Miring)
Bila pasien muntah, maka muntahkan pasien dengan
menghadap ke kiri. Rasionalnya adalah lambung manusia terletak
di kiri maka akan lebih memudahkan pengeluaran muntahan
dengan memiringkan ke arah lambung. Namun bila terdapat cidera
pada bagian tubuh kiri pasien, maka log-roll dapat dilakukan ke
arah kanan. Bila sudah muntah, cek kembali airway dengan jaw
trust maupun HTCL lalu bersihkan kotoran bila ada.
5. OPA (Oro Pharingeal Airway)
OPA digunakan apabila terjadi penyumbatan karena lidah
pasien jatuh ke belakang hingga menutupi jalan napas. Tindakan
ini

dilakukan

dengan

memasangkan

alat

OPA.

pemasangannya :
a. Ukur OPA dari pinggir mulut pasien hingga ke telinga

14

Cara

b. Masukkan OPA dengan posisi terbalik hingga menyentuh


bagian palatumole lalu diputar sehingga OPA terpasang sesuai
posisinya
c. OPA sudah terpasang dan pastikan Airway Clear.

6. NPA (Naso Pharingeal Airway)


NPA dipasang apabila pasien mengalami masalah pada
pemasangan OPA seperti muntah. NPA dipasang pada hidung kiri
karena lebih landai dan mudah untuk memasukkan NPA. Cara
memasangnya adalah dengan mengukur NPA dari ujung mulut
hingga ke telinga lalu memasangnya dengan perlahan sesuai posisi
sebenarnya.

7. Needle Krikotiroidotomi
Bila terjadi sumbatan penuh pada airway dan tidak dapat
dikeluarkan karena alat yang tidak memadai, dapat dilakukan
tindakan penusukan pada membran crychotiroid yang berada
membentang diantara kartilago tiroid dan krikoid
Perhatian !!!

15

1. Pada pasien yang dicurigai terkena Fraktur Basis Cranii atau


Fraktur Servikal, gunakan Jaw Trust untuk membuka Airwaynya.
2. Pada pasien yang dicurigai Fraktur Servikal dan Fraktur Basis
Cranii lakukanlah Finger Sweep terlebih dahulu jangan langsung
Jaw Trust karena apabila Jaw trust terlebih dahulu maka akan
menyebabkan kotoran masuk ke Airway dan menimbulkan
masalah sekunder.
E. Breathing (+ Ventilations)
Setelah Airway dinyatakan clear, lanjut ke pemeriksaan pernapasan
yaitu Breathing. Pada Breathing yang diperiksa adalah cepat lambatnya
pernapasan, memberikan usaha pernapasan yang adekuat, dan pemeriksaan
fisik pada thoraks.
1. Menilai cepat lambatnya pernapasan
Pada pasien dapat terjadi pernapasan frekuensi cepat (tachipnea) atau
pernapasan frekuensi lambat (bradipnea) dengan standar frekuensi
normal adalah 20 x/menit. Ketika jalan napas/airway telah dinyatakan
clear, maka selanjutnya kita menolong usaha napas pasien agar pasien
memperoleh oksigen yang adekuat serta frekuensi napasnya terjaga.
Berikut penanganan bila terjadi masalah pada Breathing :
a. Tachipnea
Bila frekuensi napas pasien > 20 x/menit, dapat dipasang oksigen
(nasal kanul, simple mask)
b. Bradipnea
Bila frekuensi napas pasien < 20 x/menit, lakukan Rescue
Breathing dengan memasangkan BVM (alat begging) atau beri
pernapasan dengan menggunakan Barier Mask.

2. Memberikan usaha pernapasan yang adekuat


a. Cara menggunakan BVM
Metode C, E, M yaitu C = ibu jari dan telunjuk melingkar
membentuk huruf C pada lingkaran BVM, E = sisa jari tengah, jari
manis, dan kelinking membentuk huruf F menyangga masker

16

BVM, M = jari-jari tangan lainnya (tangan lainnya) memompa


BVM membentuk huruf M.
Hal hal yang paerlu diperhatikan adalah :
Volume tidal pernapasan manusia adalah 500 mL
sedangkan volume BVM adalah 1500 mL sehingga untuk

memompa pernapasan cukup memompa 1/3 bagian alat.


Waktu pemompaan adalah 2 menit dengan frekuensi
pemompaan yaitu 10 12 x/menit dengan 20 24 kali
hitungan. Caranya :
Hitungan 1, 2, 3, 4, 5, tiup untuk 10 hitungan per menit
20 hitungan per 2 menit
Hitungan 1, 2, 3, 4, tiup untuk 12 hitungan per menit

24 hitungan per 2 menit.


b. Cara menggunakan Barier Mask
Pada barier mask telah terdapat sketsa wajah, tempelkan sesuai
dengan wajah pasien dan berikan pernapasan lewat mulut penolong
ke mulut pasien dengan bantuan barier mask. DILARANG!!!
Memberi pernapasan mouth to mouth karena dapat beresiko
menularkan infeksi/penyakit menular.
3. Melakukan pemeriksaan fisik Thorax
Pada thorax harus dilakukan pemeriksaan Inpeski, Auskultasi, Perkusi,
dan Palpasi karena untuk mengetahui adanya 4 gangguan Breathing
yang mengancam nyawa.
a. InspeksiMELIHAT untuk memastikan apakah ada kelainan yang
terdapat pada thoraks
b. Auskultasi MENDENGAR suara paru-paru (normal/vesikuler,
whezing/mengiik, ronchi/ngorok, menjauh bila terdapat udara
berlebih dan cairan). Dilakukan dari bagian sehat ke sakit.
c. Perkusi MENGETUK untuk menafsirkan isi di tengah rongga
dada. Dilakukan dari bagian sehat ke sakit.
d. Palpasi MENYENTUH dan MERABA untuk memastikan
apakah terdapat patahan maupun trauma lain.
Empat (4) gangguan Breathing yang dapat mengancam nyawa :

17

a. Open Pneumothorax
Open Pneumothorax adalah keadaan dimana salah satu paru-paru
mengalami luka terbuka di bagian bawah dan terdapat suara
Sucking Chest Wound (mengisap) pada luka.
Tindakan
Dengan menggunakan metode kasa 3 sisi.
3 kasa (gaas) yang diletakkan di luka bagian bawah dan ditempeli
kertas alumunium foil lalu difiksasi dengan menggunakan hipavik.
b. Tension Pneumothorax
Keadaan ini dapat terjadi bila salah satu sisi paru
mengalami jejas dan kebiruan/bengkak.

Tension pneumotoraks

(American College of Surgeons Commite on Trauma, 2005) adalah


pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang
semakin lama semakin bertambah atau progresif. Pada tension
pneumotoraks ditemukan mekanisme ventil atau udara dapat masuk
dengan mudah, tetapi tidak dapat keluar. Adapun manifestasi klinis
yang dijumpai :

Terjadi peningkatan intra toraks yang progresif, sehingga terjadi


kolaps

total

mediastinum

paru,
ke

mediastinal

kontralateral,

shift
deviasi

atau

pendorongan

trachea,

hipotensi

&respiratory distress berat.

Tanda dan gejala klinis: sesak yang bertambah berat dengan


cepat, takipneu, hipotensi, tekanan vena jugularis meningkat,
pergerakan dinding dada yang asimetris. Namun, ada ciri khas

yang yang dapat memastikan bahwa hal tersebut adalah


Tension Penumothorax yaitu terjadi Deviasi Trache (Trachea
yang bergeser ke kiri atau ke kanan). Apabila tidak terjadi
Deviasi Trachea maka yang terjadi hanyalah Pneumothorax.
I

: Deviasi trachea, bengkak dan jejas pada salah satu bagian


paru.
A : Menjauh
: Hiper sonor
P :18

Tindakan
Dapat ditangani dengan tindakan Needle Torakosintesis yaitu
menusuk ICS ke-2 mid-clavikula dengan menggunakan
Abocath nomor kecil ukuran besar yaitu 18G maka akan
terdengar suara udara yang keluar. Setelah itu, gunting ujung
handscoon dan menaruhnya pada ujung atas abocath.
c. Massive Hematothorax
Keadaan seperti ini terjadi bila ada perdarahan yang
terdapat di paru. Keadaan ini dapat dipastikan Massive apabila
perdarahan yang terjadi >1500 mL. Bila belum atau tidak dapat
dipastikan berapa perdarahannya maka dapat dikatakan sebagai
Hematothorax saja.
I
: Jejas dan bengkak
A
: Menjauh
P
: Hiposonor
P
:Tindakan
Harus segera dilakukan pemasangan WSD oleh dokter di RS.
d. Flail Chest
Adalah suatu kedaan dimana tulang iga mengalami patahan lebih
dari 2 buah sehingga menyebabkan pergerakkan dada yang tidak
bersamaan.
Selain itu gangguan pernafasan juga dapat menimbulkan penyakit antara
lain sebagai berikut :
a

Asma
Asma dikenal dengan bengek yang disebabkan oleh bronkospasme. Asma

merupakan penyempitan saluran pernapasan utama pada paru-paru yang


menimbulkan serangan sesak napas dan mengi yang berulang. Gejala penyakit ini
ditandai dengan susah untuk bernapas atau sesak napas. Penyempitan saluran
pernapasan dapat disebabkan oleh hal berikut :

Sumbatan jalan nafas yang sebagian reversibel.


Radang jalan nafas sehingga merusak sel epitel saluran nafas.

19

Reaksi yang berlebihan pada jalan nafas terhadap berbagai rangsangan,


missal reaksi alergi.

Penyakit ini tidak menular dan bersifat menurun. Kondisi lingkungan yang
udaranya tidak sehat atau telah tercemar akan memicu serangan asma. Penderita
asma diobati dengan obat-obatan yang disebut bronkodilator. Obat ini tidak
diminum atau disuntikkan ke penderita tetapi digunakan sebagai inhaler (dihirup).
b Bronkitis Kronis
Penyebab dari penyakit ini adalah peradangan kronis pada saluran udara
paru-paru biasanya disebabkan oleh rokok. Jarang sekali, infeksi akut yang
berulang menimbulkan bronkitis kronis. Pada bronkitis kronis, bronkus, saluran
udara utama menuju paru-paru, meradang, membengkak, dan menyempit akibat
iritasi oleh asap tembakau, infeksi berulang, atau paparan lama terhadap zat
polutan. Saluran udara yang meradang mulai menghasilkan dahak berlebihan,
awalnya menyebabkan batuk mengganggu di waktu lembap dan dingin, lalu
berlanjut sepanjang tahun.
Gejalanya seperti suara serak, mengi, dan sesak napas juga timbul.
Akhirnya si penderita merasa sesak napas bahkan di saat sedang istirahat. Jika
terjadi infeksi saluran napas sekunder, dahak dapat berubah warna dari bening
atau putih menjadi kuning atau hijau.
c

Faringitis
Faringitis merupakan peradangan pada faring sehingga timbul rasa nyeri

pada waktu menelan makanan atau kerongkongan terasa kering. Gangguan ini
disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dan dapat juga disebabkan terlalu
banyak merokok.
d Emfisema
Emfisema adalah jenis penyakit paru obstruktif kronik yang melibatkan
kerusakan pada kantung udara (alveoli) di paru-paru. Pada emfisema, gelembung
udara (alveolus) menjadi teregang berlebihan. Mereka juga meluruh dan menyatu
sehingga luas permukaan penyerap oksigen jadi berkurang. Alveolus tidak hanya

20

kehilangan daerah pertukaran udaranya, tapi udara juga terjebak di dalam akibat
penurunan elatisitas dinding alveolus. Akibatnya, paru-paru mengembang
berlebihan, volume udara yang masuk dan keluar paru-paru berkurang, dan lebih
sedikit oksigen yang dapat diserap ke dalam aliran darah. Akibatnya, tubuh tidak
mendapatkan oksigen yang diperlukan. Emfisema membuat penderita sulit
bernafas. Penderita mengalami batuk kronis dan sesak napas.
Sebagian besar penderita emfisema adalah para perokok berat dalam
waktu lama, walaupun kelainan bawaan langka yang disebut defisiensi alfa1antitripsin juga dapat menyebabkan emfisema. Meskipun kerusakan akibat
emfisema biasanya ireversibel (tak bisa kembali), berhenti merokok kadang dapat
memperlambat perkembangan penyakit dan memungkinkan silia untuk pulih
kembali. Silia sendiri adalah rambut-rambut kecil di permukaan lapisan saluran
udara paru-paru.
Gejala dari penyakit ini adalah sesak napas, mengi, sesak dada,
mengurangi kapasitas untuk kegiatan fisik, batuk kronis, kehilangan nafsu makan
dan berat, serta kelelahan.
Jika Anda perokok, berhenti merokok adalah cara pencegahan terbaik.
Bagi yang sudah terkena, berhenti merokok dapat mengurangi penyebaran
penyakit.
e

Pneumonia (radang paru-paru)


Peradangan dari gelembung udara mikroskopik paru-paru yaitu alveolus

dan saluran udara terkecil yaitu bronkiolus atau disebut pneumonia. Pneumonia
dapat timbul di berbagai daerah di paru-paru. Pneumonia lobar menyerang sebuah
lobus atau potongan besar paru-paru. Pneumonia lobar adalah bentuk pneumonia
yang mempengaruhi area yang luas dan terus-menerus dari lobus paru-paru.
Selain itu, ada juga yang disebut bronkopneumonia yang menyerang
seberkas jaringan di salah satu paru-paru atau keduanya.
f

Penyakit Paru-Paru Obstruktif Kronis


Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) mempunyai karakteristik

keterbatasan jalan napas yang tidak sepenuhnya reversibel. PPOK adalah kelainan
jangka panjang di mana terjadi kerusakan jaringan paru-paru secara progresif

21

dengan sesak napas yang semakin berat. PPOK terutama meliputi bronkitis kronis
dan emfisema, dua kelainan yang biasanya terjadi bersamaan.
Gejala utama dari penyakit ini sesak napas, batuk, dan produksi sputum
(riak). Sputum adalah bahan yang dikeluarkan dari paru, bronchus, dan trachea
melalui mulut. Biasanya juga disebut dengan expectoratorian.
Penyebabnya adalah udara masuk dan keluar dari paru-paru terhambat dan
kemampuan paru-paru untuk mengambil oksigen untuk memenuhi kebutuhan
normal tubuh berkurang. Sejauh ini faktor penyumbang terbesar risiko PPOK
adalah merokok.

Efusi Pleura
Cairan berlebih di dalam membran berlapis ganda yang mengelilingi paru-

paru disebut efusi pleura. Dua lapis membran yang melapisi paru-paru atau pleura
dilumasi oleh sedikit cairan yang memungkinkan paru-paru mengembang dan
berkontraksi dengan halus dalam dinding dada. Infeksi seperti pneumonia dan
tuberkulosis,

gagal

jantung,

dan

beberapa

kanker

dapat

menimbulkan

pengumpulan cairan di antara pleura. Jumlahnya bisa mencapai tiga liter yang
menekan paru-paru.

22

BAB III
PENUTUP
3.1

Simpulan
Gangguan napas dapat disebabkan oleh banyak hal, diantaranya penyakit

dan kecelakaan. Gangguan napas bisa berakibat fatal kalau kita tidak tahu cara
menolongnya. Gangguan napas yang mungkin saja terjadi di lingkungan atau di
rumah kita adalahgangguan akibat suatu kecelakaan atau tersedak, yang dapat
menyebabkan terhentinya jantung dan paru.
Berkurangnya oksigen di dalam tubuh kita akan memberikan suatu
keadaan yang disebut hipoksia. Hipoksia ini dikenal dengan istilah sesak napas.
Frekuensi napas pada keadaan sesak napas lebih cepat dari pada keadaan normal.
Oleh karena itu, bila sesak napas ini berlangsung lama maka akan memberikan
kelelahan

pada

otot-otot

pernapasan.

Kelelahan

otot-otot

napas

akan

mengakibatkan terjadinya penumpukan sisa-sisa pembakaran berupa gas CO2.


Gas CO2 yang tinggi ini akan mempengaruhi susunan saraf pusat dengan
menekan pusat napas yang ada di sana. Keadaan ini dikenal dengan istilah henti
napas.
Adapun gangguan pernapasan yang memerlukan penanganan cepat dan
tepat yaitu;
1
2
3
4
5

Sumbatan jalan nafas


Tension pneumothoraks
Open pneumothoraks
Massive hematothoraks
Flail chest

23

3.2

Saran
Kita sebagai perawat harus bisa melakukan penanganan gawat darurat

pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan dengan penanganan yang


cepat dan tepat.

24

DAFTAR PUSTAKA

Academia Edu. 2012. Tension Pneumothoraks. [Online] terdapat pada


https://www.academia.edu/5295176/TENSION_PNEUMOTHORAK
(Diakses pada tanggal 15 Februari 2015 pukul 16.00 Wita)
Proehl, J.A. 1999. Emergency Nursing Procedures. 2nd Ed. Philadelphia: W.B.
Saunder Company
PTC. 2011. Pertolongan pada trauma thoraks. [Online] terdapat pada
http://www.primarytraumacare.org/

wp-content/

uploads/

2011/

09/

PTC_INDO.pdf (Diakses pada tanggal 15 Februari 2015 pukul 15.30 Wita)


Tim YAGD 118. 2011. Buku Panduan: Basic Trauma Life Support and Basic
Cardiac Life Support. Edisi ke 4. Jakarta: Yayasan AGD 118
Universitas Surabaya. 2014. Gangguan Pneumothoraks. [Online] terdapat pada
http://library.usu.ac.id/download/fk/anastesiologi-nazaruddin.pdf

(Diakses

pada tanggal 15 Februari 2015 pukul 14.00 Wita)


Universitas

Surabaya. 2014. Trauma Thoraks dan Gangguan Penapasan.

[Online] terdapat pada


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/49437/4/Chapter%20II.pdf
(Diakses pada tanggal 15 Februari 2015 pukul 15.00 Wita)

25