Anda di halaman 1dari 20

AKUNTANSI, DAN AUDIT LINGKUNGAN

(guna memenuhi tugas mata kuliah Seminar Akuntansi)

Oleh:
Kelompok 2
1.
2.
3.
4.
5.

Intan Permata D.
Rizki Sekarsari S.P.
Labitsta Untsa A.
Surya Sukmawan S.
Elok Dwi S.

110810301116
120810301120
140810301242
140810301245
140810301248

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur yang dalam kami ucapkan kehadirat Allah SWT.,karena berkat
rahmat-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan. Dalam makalah ini, kami membahas mengenai Akuntansi dan Audit
Lingkungan. Makalah ini dibuat sebagai bahan perkuliahan Seminar Akuntansi.
Dalam proses penyusunan makalah ini, tentunya penulis mendapatkan
bimbingan, arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu rasa terima kasih yang dalam kami
ucapkan kepada Dr. Muhammad Miqdad, SE,MM,CA,Ak.. selaku Dosen Pengampu Mata
Kuliah Seminar Akuntansi. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada teman- teman
dan penulis literatur sumber yang telah kami gunakan untuk membantu kesempurnaan
penulisan makalah ini.
Kami berharap, semoga informasi yang ada dalam makalah ini dapat berguna
bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Dalam penulisan makalah
ini, kami telah berusaha dengan segenap kemampuan. Tetapi kami menyadari bahwa
masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan
kami, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Demikian makalah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin

Jember, 27 Oktober 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG
Dalam dunia yang modern ini banyak akan permasalahan yang dihadapi
setiap pribadi atau organisasi, salah satu dari permasalahan tersebut adalah
lingkungan hidup, Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi bagian dalam
kehidupan manusia, bahkan saat ini masalah lingkungan telah menjadi isu global
dan penting untuk dibicarakan karena menyangkut kepentingan seluruh umat
manusia
Salah satu isu utama yang mendapat perhatian besar masyarakat dunia
adalah pencemaran lingkungan hidup oleh perusahaan industri. Pengusaha
industri dituntut untuk merubah sistem manajemen lingkungan agar sesuai dengan

konsep pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Audit


lingkungan merupakan alat untuk memverifikasi secara obyektif upaya
manajemen lingkungan dan dapat membantu mencari langkah-langkah perbaikan
untuk meningkatkan kinerja lingkungan, berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan.
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kemajuan yang
sangat pesat dalam bidang industri, teknologi, dan perdagangan bebas
internasional, hal tersebut menuntut adanya penggunaan secara intensif sumber
daya manusia dan sumber daya alam. Permintaan pemenuhan akan perluasan
sumber daya alam dalam pembangunan nasional perlu direncanakan dengan
matang. Pemerintah Indonesia sejak era Orde Baru telah mengantisipasi hal
tersebut melalui kebijaksanaan pengolahan lingkungan hidup, yaitu menetapkan
suatu keputusan mengenai penerapan dan pelaksanaan audit lingkungan dengan
dikeluarkannya surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP42/MENLH/11/1994 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan.
Audit lingkungan sendiri merupakan salah satu upaya proaktif perusahaan untuk
perlindungan lingkungan yang akan membantu meningkatkan kinerja operasional
perusahaan terhadap lingkungan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan citra
positif perusahaan.
Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan yang melatar
belakangi audit lingkungan sebagai dasar evaluasi. Yaitu evaluasi kinerja
perusahaan terhadap lingkungan disekitarnya, dengan demikian perusahaan akan
dinilai positif dari lembaga yang bersangkutan.

1.2

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis dapat menulis rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan audit lingkungan ?
2. Apa saja prinsip-prinsip dasar audit lingkungan?
3. Apa tujuan dan fungsi audit lingkungan?
4. Apa manfaat adanya audit lingkungan?
5. Apa saja ruang lingkup audit lingkungan?
6. Apa saja jenis-jenis audit lingkungan?
7. Bagaimana tahapan pelaksanaan audit lingkungan?
8. Bagaimana aktivitas pra dan setelah audit lingkungan?
9. Apa saja strategi pendekatan audit lingkungan?

1.3

TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui definisi dari audit lingkungan

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mengetahui prinsip-prinsip dasar audit lingkungan


Mengetahui tujuan dan fungsi audit lingkungan
Mengetahui manfaat yang diperoleh dengan adanya audit lingkungan
Mengetahui ruang lingkup audit lingkungan
Mengetahui jenis-jenis audit lingkungan
Mengetahui tahapan pelaksanaan audit lingkungan
Mengetahui aktivitas pra dan setelah audit lingkungan
Mengetahui strategi-strategi pendekatan yang digunakan dalam audit
lingkungan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

PENGERTIAN AUDIT LINGKUNGAN


Audit lingkungan merupakan instrumen berharga untuk memverifikasi dan
membantu penyempurnaan kinerja lingkungan. Awalnya, audit lingkungan bukan
merupakan pemerikasaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundangundangan, melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk
mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat
dilakukan upaya-upaya pencegahannya. Sekarang, Audit lingkungan menjadi
kewajiban, karena limbah berbahaya dan beracun tidak hanya dari industri besar,
tetapi juga bisa dari limbah industri kecil dan menengah.
Audit perlu dilakukan secara berkala, untuk menentukan apakah sistem
yang dilaksanakan sudah sesuai dengan pengaturan yang direncanakan dan telah
dijalankan dan dipelihara secara benar, yang pelaksanaannya tergantung dari
pentingnya masalah lingkungan bagi kegiatan perusahaan dan hasil audit
sebelumnya.
Pengertian audit lingkungan sangat luas, dibawah ini adalah berbagai
pengertian dari audit lingkungan :
Berdasarkan Kep.Men.LHNo. 42 Tahun 1994, Audit Lingkungan adalah
suatu alat manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik,
terdokumentasi, periodik dan obyektif tentang bagaimana suatu kinerja
organisasi sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan menfasilitasi
kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak
lingkungan dan pengkajian pemanfaatan kebijakan usaha atau kegiatan
terhadap peraturan perundang undangan tentang pengelolaan lingkungan.

Berdasarkan UU No. 23 tahun 1997: Suatu proses evaluasi yang dilakukan


penanggungjawab usaha dan atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan
terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan atau kebijaksanaan dan standar
yang ditetapkan oleh penangungjawab usaha atau kegiatan yang
bersangkutan.

Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 3


Tahun 2013 tentang Audit Lingkungan Hidup, Audit lingkungan hidup adalah
evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung jawab Usaha
dan/atau Kegiatan terhadap persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah.

Menurut Wiku Adisasmito, Audit Lingkungan merupakansuatu instrumen


untuk menguji penaatan suatu kegiatan rumah sakit terhadap peraturan
perundang undangan dan peraturan lingkungan, standar, dan baku mutu
lingkungan. Audit lingkungan juga merupakan suatu instrumen untuk

mendapatkan informasi sejauh mana potensi permasalahan ketidaktaatan


(non-compliance) yang ada pada suatu rumah sakit.

Menurut Amin Widjaja Tunggal, Audit Lingkungan adalah proses


menentukan apakah semua tingkat atau tingkat yang dipilih dari suatu
organisasi menaati persyaratan peraturan dan kebijakan serta standar internal,
terbukti merupakan suatu komponen yang berkekuatan dari program
manajememn lingkungan.

Audit lingkungan adalah alat pemeriksaan komprehensif dalam sistem


manajemen lingkungan. Audit lingkungan merupakan satu alat untuk
memverifikasi secara objektif upaya manajemen lingkungan dan dapat
membantu mencari langkah-langkah perbaikan guna meningkatkan
performasi lingkungan, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Menurut United States Environmental Protection Agency (US EPA), Audit


Lingkungan adalah suatu pemeriksaan yang sistematis, terdokumentasi secara
periodik dan objektif berdasarkan aturan yang ada terhadap fasilitas operasi
dan praktek yang berkaitan dengan pentaatan kebutuhan lingkungan.

Dari banyaknya definisi diatas dapat diambil intisarinya yaitu adalah :


1. Audit lingkungan merupakan alat manajemen, akan tetapi dapat juga
digunakan sebagai alat dari badan pengatur dan setiap kelompok yang
berhubungan dalam menilai kinerja lingkungan.
2. Audit lingkungan harus sistematis (bukan semarangan), didokumentasikan,
berkala (bukan hanya sekali), dan obyektif (tidak menutupi kesalahan).
3. Audit lingkungan meningkatkan kinerja / performa.
4. Tujuan audit lingkungan adalah memberi kontribusi untuk mengamankan
lingkungan.
5. Audit lingkungan merupakan bagian dari sistem manajemen.
6. Audit lingkungan berhubungan dengan menilai kebijakan perusahaan yang
berkaitan dengan persyaratan peraturan, akan tetapi juga dengan standar yang
sesuai menurut pandangan manajemen.
Dasar hukum pelaksanaan audit lingkungan di Indonesia adalah UU RI
Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan KEPMEN LH
Nomor KEP-42 MENLH/11/1994 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit
Lingkungan ISO 14001 adalah standar lingkungan terhadap organisasi yang
dinilai. Ini menentukan persyaratan untuk EMS, yang menyediakan kerangka
kerja bagi suatu organisasi untuk mengendalikan dampak lingkungan dari
kegiatan, produk dan jasa. Standar lain untuk isu-isu lingkungan hidup adalah ISO
1OOO.
Dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulkan bahwa audit
lingkungan merupakan proses menentukan apakah seluruh atau tingkat yang

terpilih dari suatu organisasi menaati persyaratan peraturan dan kebanyakan serta
prosedur intern.
2.2

PRINSIP DASAR AUDIT LINGKUNGAN


Sebenarnya prinsip dalam audit lingkungan tergantung pelaksana atau
auditor masing masing, akan tetapi disini terdapat prinsip yang mendasar yaitu
adalah :
1. Karakteristik
Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut :
a) Metodotogi yang komprehensif;
Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci.
Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif
dan prosedur yang telah ditentukan, untuk menjamin pengumpulan data dan
informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi
tersebut.
Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat
menerapkan teknik-teknik yang tepat. Audit lingkungan harus berpedoman
kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur
pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan.
b) Konsep pembuktian dan pengujian;
Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan
pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan. Tim
audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya
melalui pemeriksaan lapangan secara langsung.
c) Pengukuran dan standar yang sesuai;
Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus
sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. Audit
lingkungan tidak akan berarti kecuali hasil kinerja usaha atau kegiatan dapat
dibandingkandengan standar yang digunakan
d) Laporan tertulis.
Laporan harus mernuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang
serta dokumentasi terhadap proses produksi. Seluruh data dan hasil temuan
harus disajikan dengan letas dan akurat, serta dilandasi dengan bukti yang
sahib dan terdokumentasi.
2. Kunci keberhasilan
Berikut merupakan kunci keberhasilan audit lingkungan :
a) Dukungan pihak pimpinan
Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad
pimpinan usaha atau kegiatan. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat
menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak
efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan.

Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal
yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.
b) Keikutsertaan semua pihak
Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan
kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang
bersangkutan, mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi
semua aspek dan pelaksanaan tugassecara luas.
c) Kemandirian dan obyektifitas auditor
Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan
usaha atau kegiatan yang diaudit. Apabila tidak,maka obyektifitas dan
kredibilitas akan diragukan. Pada umumnya, kemandirian auditor diartikan
bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan
yang diaudit.
d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit
Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan
dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan.
2.3

TUJUAN DAN FUNGSI AUDIT LINGKUNGAN


Tujuan audit lingkungan sangatlah luas, tergantung sudut pandang yang
kita lihat. Dibawah ini adalah pendapat para ahli terhadap tujuan audit
lingkungan :
Menurut Grant Ledgerwood, Elizabeth Street, dan Riki Therivel, bahwa audit
lingkungan mempunyai 3 tujuan yang luas, yaitu :
1. Ketaatan terhadap peraturan.
2. Bantuan untuk akuisisi dan penjualan aktiva.
3. Pengembangan korporat terhadap misi penghijauan.

Menurut Dadang Purnama (1995) :


Tujuan akhir suatu audit lingkungan adalah peningkatan performance atau
kinerja suatu usaha atau kegiatan terutama akibat peningkatan pengelolaan
lingkungan yang dilakukan.

Sedangkan untuk fungsi dari audit lingkungan menurut Keputusan Menteri


Lingkungan Hidup No. 42 Tahun 1994 disebutkan diantaranya adalah :
1. Upaya peningkatan penataan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan
perundang-undangan lingkungan, misalnya : standar emisi udara, limbah cair,
penanganan limbah dan standar operasi lainnya.
2. Dokumentasi suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi,
prosedur pengelolahan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana
tanggap darurat, pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada
proses dan peraturan.
3. Jaminan untuk menghindari perusakan atau kecenderungan perusakan
lingkungan.

4.

5.
6.

Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang


tercantum dalam dokumen AMDAL, yang berguna dalam penyempurnaan
proses amdal.
Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan
bahan, minimalisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang.
Upaya untuk meningatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu
dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan
lingkungan, misalnya pembangunan yang berkelanjutan, proses daur ulang
dan efisiensi penggunaan sumber daya.

2.4
MANFAAT AUDIT LINGKUNGAN
Pelaksanaan audit lingkungan memiliki manfaat sebagai berikut :
a. Memastikan dan mengkonfirmasi ditaatinya persyaratan peraturan
perundangundangan lingkungan hidup;
b. Menentukan tingkat kinerja pengelolaan lingkungan hidup;
c. Membuktikan tanggungjawab dan komitmen manajemen terhadap
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
d. Memastikan resiko lingkungan telah dikelola dan dikendalikan dengan baik;
e. Mengidentifikasi peluang penghematan sumberdaya dan biaya,
perbaikan/peningkatan kinerja proses, mencegah kehilangan/kerugian (loss
prevention) dan peningkatan efi siensi;
f. Menyediakan informasi yang objektif dan mandiri yang dibutuhkan oleh
pihakpihak yang berkepentingan.
2.5

RUANG LINGKUP AUDIT LINGKUNGAN


Ruang lingkup audit lingkungan sangat luas tergantung pada kebutuhan
usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Audit Lingkungan perlu disusun
sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi-informasi mengenai :
1.
Sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan dan kerusakan lingkungan
ditempat usaha atau kegiatan tersebut, pengelolaan dan pemantauan yang
dilakukan, serta usaha lingkungan yang terkait.
2.
Perubahan lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai
waktu terakhir pelaksanaan audit..
3.
Penggunaan input dan sumber daya alam, proses bahan dasar, bahan jadi,
dan limbah termasuk limbah B3.
4.
Identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia, B3 serta potensi
kerusakan yang mungkin yang mungkin terjadi.
5.
Kajian resiko lingkungan.
6.
Sistem control manajemen, rute pengangkutan bahan dan pembuangan
limbah, termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan
kecelakaan.
7.
Efektifitas alat pengendalian pencemaran.
8.
Catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan penaatan terhadap peraturan
perundang-undangan termasuk stndar dan baku mutu lingkungan.

9.
10.
11.
12.
13.
14.

Penaatan terhadap hasil rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan


Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan).
Perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat.
Rencana minimisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan.
Penggunaan energi,air dan sumber daya lainnya.
Program daur ulang ( peningkatan product life cycle)
Peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan.

2.6
JENIS- JENIS AUDIT LINGKUNGAN
Jenis-jenis audit lingkungan antara lain:
1. Audit Penataan Lingkungan (Environmental Compliance Audit)
Audit ini dimaksudkan untuk meneliti sejauh mana suatu usaha atau
kegiatan (atau organisasi) mentaati Undang-undang lingkungan, peraturan,
perijinan, komitmen perusahaan terhadap lingkungan, terhadap persetujuan dan
dokumentasi lainnya.
Audit Penataan memiliki sifat :

Menilai ketaatan terhadap peraturan, standar dan pedoman yang ada.


Meninjau persyaratan perizinan dan pelaporan.
Melihat pembatasan pada pembuangan limbah udara, air dan padatan.
Menilai keterbatasan peraturan dalam pengoperasian, pemantauan dan
pelaporan sendiri atas pelanggaran yang dilakukan perusahaan.
Sangat mengarah pada semua hal yang berkaitan dengan pentaatan.
Dapat dilakukan oleh petugas (kelompok/perusahaan) setempat.

2. Audit Manajemen Lingkungan (Environmental Management Audit)


Audit ini dimaksudkan untuk menyediakan informasi sejauh mana
manajemen lingkungan telah dikakukan, sehingga dapat digunakan oleh suatu
usaha atau kegiatan itu sendiri untuk menilai dan memperbaiki kinerja
lingkungannya.

Audit jenis ini mempunyai sifat :


Menilai kefektifan sistem manajemen internal, kebijakan perusahaan dan
resiko yang berkaitan dengan manajemen bahan.
Menilai keadaan umum dari peralatan, bahan bangunan dan tempat
penyimpangan.
Mencari bukti/ kenyataan tentang kebenaran dan kinerja proses produksi.
Menilai kualitas pengoperasian dan tata laksana operasi.
Menilai keadaan catatan/ laporan tentang emisi, tumpahan, keluaran, dan
penanganan limbah.
Menilai tempat pembuangan secara rinci.
Meninjau pelanggaran atau pertentangan dengan petugas setempat atau
dengan masyarakat

3. Audit Fasilitas Teknis (Technical Fasilities Audit)


Merupakan audit yang memfokuskan pengkajian terhadap pengoperasian
seluruh fasilitas produksi dan fasilitas pelengkap termasuk didalamnya adalah
fasilitas pengelolahan limbah.
4.

Audit AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)


Audit ini memfokuskan pada kajian tindak lanjut suatu proses AMDAL,
apakah seluruh pernyataan dan rekomendasi dalam studi AMDAL (RKL/RPL)
dilaksanakan dengan benar.
5. Audit Jaminan Kerusakan Lingkungan,
Merupakan suatu audit yang disyaratkan oleh badan pemberi bantuan
keuangan (kredit) untuk mendapat jaminan bahwa suatu usaha atau kegiatan
tersebut tidak akan merusak lingkungan.
6. Audit Pemasaran Ditinjau dari Aspek Lingkungan (Environmental
Marketing Audit),
Dimaksudkan untuk suatu promosi pasar bagi produk dari satu usaha atau
kegiatan, sehingga konsumen atau masyarakat tertarik untuk menggunakan
produk tersebut ataupun menanamkan investasi pada usaha atau kegiatan tersebut.
7. Audit hemat energi (energy minimisation audit)
Audit ini berfokus pada Melacak pola pemakaian tenaga listrik, gas dan
bahan bakar minyak dan mencoba untuk mengkuantifikasikan serta
meminimalkan penggunaannya.
8. Audit minimisasi limbah (waste minimisation audit)
Audit ini dimaksudkan untuk mengurangi jumlah timbunan dan produksi
buangan limbah yang dihasilkan akibat adanya proses produksi satu atau beberapa
produk dari suatu usaha atau kegiatan (atau organisasi).

Jenis audit ini mempunyai sifat :


Mengurangi jumlah timbunan dan produksi buangan limbah.
Menggunakan analisis kualitas daan kuantitatif yang rinci terhadap praktek
pembelian, proses produksi dan timbunan limbah.
Mencari tindakan alternatif pengurangan produksi, dan pendaur ulangan
limbah.

9. Audit Lingkungan Menyeluruh (Comprehensive Environmental Audit),


Audit lingkungan menyeluruh merupakan pelaksanakan audit yang
mencakup seluruh audit diatas.

Untuk dapat memilih jenis-jenis audit lingkungan, perlu diketahui jenis


kegiatan perusahaan yang akan diaudit. Ada dua kelompok perusahaan yang dapat

diaudit, yaitu perusahaan yang terlibat dalam proses transformasi, baik informasi
maupun jasa dan perusahaan penghasil barang (industri).

Audit Lingkungan pada perusahaan dapat dikelompokkan menjadi :


a. Audit Manajemen,
yaitu audit lingkungan yang dilaksanakan sebagai bagian dari
pengelolaan dan kinerja lingkungan sebuah fasilitas industri. Audit
manajemen dilaksanakan untuk menyediakan informasi yang dapat digunakan
oleh suatu usaha atau kegiatan itu sendiri untuk memperbaiki kinerja
lingkungannya. Program ini merupakan bagian sukarela internal yang
dilakukan sebagai kegiatan perbaikan dan untuk mencapai perbaikan yang
berkelanjutan.
b. Audit Transaksi,
yaitu audit lingkungan yang dilaksanakan sebagai suatu persyaratan
dalam transaksi usaha dan bisnis. Audit transaksi banyak dilaksanakan sebagai
suatu persyaratan usaha yang harus dipenuhi untuk tujuan tertentu, misalnya
perjanjian asuransi, bursa saham, prasyarat pengembangan perusahaan dan
penghentian sementara. Proses audit ini biasanya bersifat eksternal yang
dilaksanakan oleh pihak ketiga yang tidak terlibat langsung dengan kegiatan
operasi perusahaan yang diaudit dengan mengatasnamakan pihak lain. Tujuan
audit ini adalah untuk mengidentifikasikan tanggung jawab dan jaminan atas
lingkungan yang ada sekarang dan untuk masa mendatang sehingga pihak lain
tersebut dapat membuat suatu keputusan yang lebih pasti dalam transaksi
usaha yang akan dilakukannya terhadap perusahaan yang diaudit.
2.7

TAHAPAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN


Dalam pembentukan tim audit di Indonesia sampai saat ini belum ada
suatu pembukuan mengenai syarat dan kriteria suatu tim auditor. Demikian pula
dalam praktek pelaksanaan di dunia internasional. Penanggung jawab kegiatan
biasanya akan memilih suatu tim yang sudah memiliki pengalaman yang cukup
banyak dan hal tersebut biasanya mendapat referensi dari asosiasi auditor
internasional. Kualifikasi seorang auditor ditentukan oleh kemampuan
profesionalisme orang tersebut dan kemampuannya untuk mengkaji permasalahan
bagi usaha atau kegiatan yang akan diaudit.
Kemampuan yang dimiliki oleh tim auditor diantaranya meliputi
pengetahuan tentang:
1. Proses, prosedur, dan teknis audit.
2. Karakteristik dan analisa tentang sistem manajemen.
3. Peraturan perundangan-undangan dan kebijaksanaan lingkungan.
4. Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan, kesehatan dan keselamatan
kerja.
5. Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit.

6. Potensi dampak lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko


bahaya.
Auditor lingkungan harus terlatih secara professional untuk menjamin
ketepatan, konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit. Audit harus
mengikuti kode etik auditor yang ada. Oleh karenanya, auditor juga perlu
mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang
dibutuhkan dalam audit, meliputi :
1.
2.
3.
4.

Kemampuan berkomunikasi.
Kemampuan perencanaan dan penjadwalan kerja.
Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan.
Kemampuan untuk menulis laporan audit.

Berdasarkan Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup RI No. KEP42/MENHL/11/94 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan
terdapat beberapa tahapan-tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai
berikut :
1.

Pendahuluan
Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang
dilaksanakan, jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor.
2.

Pra-audit
Kegiatan pra-audit merupakan bagian penting dalam prosedur audit
lingkungan. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan
pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. Informasi yang diperlukan pada
tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas dilapangan, status hukum,
struktur organisasi, dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. Aktifitas
pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit, penentuan tim auditor, dan
pendanaan pelaksanaan kegiatan audit.. Pada saat ini, tujuan dan ruang lingkup
audit. Harus telah disepakati.
3.

Audit (Kegiatan lapangan)


a. Pertemuan Pendahuluan
Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah
mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk
mengkaji tujuan audit, tata Laksana, dan jadwal kegiatan audit.
b. Pemeriksaan Lapangan
Pemeriksaan dilapangan dilaksanakan setelah pertemuan
pendahuluan. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan
usaha yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang
memerlukan perhatian secara khusus. Dengan melaksanakan
pemeriksaan lapangan, tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait
erat dengan kegiatan audit. Namun Belum teridentifikasi dalam
perencanaan. Fase ini disebut juga tour pengenalan fasilitas teknis.

c.

Pengumpulan data
Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit. Lingkungan
akan mencakup dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau
kegiatan, catatan dan pengamatan tin auditor, hasil sampling dan
pemantauan, foto-foto, rencana, diagram, kertas kerja dan hal-hal lain
yang berkaitan. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik
atau mudah ditelusuri kembali. Tujuan utama pengumpulan data adalah
untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian hasil temuan audit
lingkungan.
Penyelenggaraan interview terhadap orang yang dianggap
mengetahui proses operasi ditiap bagian merupakan suatu langkah yang
umum digunakan pada pengumpulan data ini.

d. Pengujian (verifikasi)
Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang
disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Dokumentasi
yang dihasilkan oleh tim auditor haurs menunjang semua pernyataan,
atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor.
Dalam menguji hasil temuan audit., tim auditor harus menjamin
bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah.
Oleh karena itu tata Laksana harus menentukan tingkat pengujian data
yang dibutuhkan, atau harus ditentukan oleh tim auditor.
Verifikasi ditentukan untuk seluruh informasi yang diperoleh
melalui data check, interview untuk cross checking denngan seluruh level
pekerja, dan sampling verifikasi lapangan.

4.

e.

Evaluasi Hasil Temuan


Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan dan tata
laksana yang telah disetuji untuk menjamin bahwa semua isu/masalah
telah dikaji. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga
hasil temuan telah ditunjang oleh data dan uji secara tepat.

f.

Pertemuan Akhir
Setelah penelitian lapangan selesai, tim auditor haurs
memaparkan hasil temuan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi.
Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum tersedia.
Tim auditor harus mengkaji hasil temuannya secara garis besar dan
menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. Seluruh dokementasi
selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha
atau kegiatan.

Pasca audit/Pelaporan Audit


Merupakan tahap akhir dari kegiatan audit, yang terdiri dari kegiatan
penyusunan dan penyelesaian laporan audit, distribusi laporan audit, dan
pendokumentasian rekaman audit.

2.8

AKTIVITAS PRA DAN SETELAH AUDIT LINGKUNGAN

2.8.1

Aktivitas pra audit lingkungan


Proses audit lingkungan dimulai dengan sejumlah aktivitas sebelum audit
ditempat aktual terjadi. Aktivitas-aktivitas tersebut yaitu pemilihan fasilitas yang
diaudit, jadwal dari fasilitas yang diaudit, pemilihan tim audit, pengembangan dari
suatu rencana audit, mendefinisikan ruang lingkup audit, pemilihan topik yang
prioritas untuk dimasukkan, memodivikasi program audit dan mengalokasi
sumber daya tim audit.
Audit ditempat aktual secara tipikal terdapat 5 langkah dasar, yaitu:
1.

Memahami sistem dan prosedur manajemen internal


Pemahaman auditor biasanya dikumpulkan dari berbagai sumber,
misalnya diskusi staff, kesioner, kunjungan pabrik dan dalam kasus tertentu,
suatu pengujian verifikasi terbatas dilakukan untuk membantu
mengkonfirmasikan pemahaman awal auditor. Auditor biasanya mencatat
pemahamannya dalam suatu bagan arus, uraian naratif atau gabungan dari
keduanya agar dapat mempunyai suatu deskripsi yang tertulis. Tujuan dasar
dalam langkah ini untuk memahami berbagai cara memperhatikan lingkungan
yang dikelola. Dalam kelanyakan organisasi, banyak aspek dari sistem
manajemen lingkungan internal tidak didokumentasikan secara tertulis.
Namun sistem manajemen yang terpilih dapat didokumentasikan dalam detail
yang cukup untuk memberikan suatu pemahaman dan prosedur-prosedur
dasar rencana.

2.

Menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan


Auditor mencari indikator- indikator seperti tanggungjawab yang
secara jelas didefinisikan, suatu sistem otorisasi yang memadai, kesadaran
dan kapabilitas personil, dokumentasi dan pencatatan, serta verifikasi internal.
Jika disain manajemen lingkungan internal dinilai sehat (yaitu hasil yang
diterima tercapai, apabila sistem berfungsi seperti yang didisain), maka
langkah audit berikutnya dapat memfokuskan pada efektifitas yaitu disain
diimplementasikan, dan sejauhmana system dalam kenyataan telah
dilaksanakan seperti yang dikehendaki. Namun, apabila disain dari sistem
intrenal tidak cukup sehat untuk memastikan hasil yang dikehendaki, langkah
audit berikutnya harus memfokuskan pada hasil lingkungan daripada sistem
manajemen internal.

3.

Menyimpulkan bukti audit


Kelemahan-kelemahan yang dicurigai dalam sistem manajemen
dikonfirmasi dalam tahap ini, sistem yang tampak sehat diuji untuk
membuktikan bahwa sistem tersebut berfungsi sesuai dengan yang
direncanakan dan digunakan secara konsisten. Bukti audit dapat dikumpulkan
melalui penyelidikan (seperti kuesioner formal dan kuesioner tidak formal),
pengamatan dan pengujian (seperti menelusuri kembali data, memverifikasi
jejal kertas). Tim audit harus mengidentifikasi dan kemudian memverifikasi
aktivitas tersebut dalam proses manajemen lingkungan yang dapat

memberikan pandangan secara mendalam mengenai fungsi sistem secara


keseluruhan. Bukti audit dapat berupa dalam bentuk fisik, dokumen atau
keadaan.
4.

Menilai temuan audit


Pengamatan audit dan temuan dinilai, tujuannya dapat dimengerti dan
mengintegrasikan temuan-temuan dan observasi dari setiap anggota tim,
kemudian menentukan disposisi akhir temuan dan observasi akan dimasukkan
ke dalam laporan audit yang formal atau hanya membawa pada perhatian dari
manajemen fasilitas. Temuan audit dan observasi dapat diorganisasikan untuk
menentuka temuan yang umum, dapat mempunyai signifikasi yang lebih
besar daripada bila dipandang secara individual. Dalam menilai temuan audit,
anggota tim khususnya pemimpin tim, menentukan apakah bukti audit yang
dimiliki cukup untuk mendukung temuan audit.

5.

Melaporkan temuan audit


Proses pelaporan audit lingkungan sering dimulai dengan diskusi yang
tidak formal antara auditor dan koordinator lingkungan fasilitas ketika
penyimpanan diketahui. Temuan lebih jauh akan diklarifikasi ketika audit
sedang berlangsung dan kemudian dilaporkan kepada manajemen fasilitas
selama penyelesaian audit atau konferensi penutupan. Selama pertemuan, tim
audit mengkomunikasikan semua temuan dan pengamatan yang diketahui
selama audit dan menunjukkan item-item mana yang akan muncul dalam
laporan audit yang formal. Tujuan pengunaan laporan audit mencakup
memberikan informasi kepada manajemen, memprakarsai tindakan korektif,
dan menyediakan dokumentasi audit. Laporan audit memberikan kaitan yang
cukup untuk seluruh penelaahan yang dilakukan sehinggam kerangka kerja
manajemen yang ada dapat menentukan apa, apabila ada, tindakan-tindakan
yang diperlukan.

2.8.2

Aktivitas setelah audit lingkungan (post environmental audit


activities)
Proses audit tidak hanya berakhir pada simpulan dari audit ditempat.
Pemimpin tim audit menyiapkan suatu laporan sementara mengenai temuan dan
observasi dalam dua minggu dari audit ditempat. Laporan sementara ini dapat
ditelaah oleh manajemen fasilitas, dan lain-lain sebelum suatu laporan akhir
diterbitkan.
Ketika laporan akhir disiapkan, proses perencanaan tindakan biasanya
dimulai. Proses mencangkup menentukan lokasi yang potensial, menyiapkan
rekomendasi, memberikan tanggung jawab untuk tindakan korektif dan
menetapkan jadwal. Langkah terakhir dalam proses audit secara keseluruhan
dimulai dengan tindak lanjut terhadap rencana tindakan untuk memastikan bahwa
seluruh kekurangan dalam kenyataannya telah diperbaiki.

2.9

STRATEGI PENDEKATAN AUDIT LINGKUNGAN

Strategi untuk melaksanakan sebuah audit lingkungan sangat mirip dengan


strategi untuk melaksanakan audit biasa dengan pengecualian bahwa unsur
strategi adalah unik bagi bidang lingkungan. Unsur-unsur pendekatan strategi
meliputi:
1. Tujuan: tujuan harus dinyatakan dengan jelas apakah audit ini ditujukan
untuk menentukan kesesuaian, memeriksa operasi, ketepatan, menentukan
biaya, membentuk kewajiban potensial, dan lain-lain.
2. Karyawan: berdasarkan tujuan diatas, kualifikasi tim audit harus ditentukan.
Hal ini meliputi auditor, insinyur, ilmuwan dan ahli hukum.
3. Bantuan non-audit: suatu penjelasan tentang bantuan non-audit yang akan
dibutuhkan. Hal ini meliputi staf organisasi non-audit dan staf organisasi
konsultan teknik, hukum, dan sains dari luar organisasi.
4. Lingkup audit: lingkup audit yaitu bagian dari organisasi yang akan diaudit.
5. Dokumentasi: informasi mengenai peraturan dan UU pemerintah, standar
lingkungan pemerintah dan industri, serta teknologi yang terbaik bagi operasi
dan bagi aspek lingkungan yang berhubungan dengan organisasi harus
dikumpulkan.
6. Rencana: rencana harus dibuat untuk audit. Rencana tersebut hendaknya
meliputi: interaksi dari berbagai disiplin, tingkat eksplorasi ilmiah yang akan
diperlukan, metodologi yang akan digunakan untuk mengestimasi biaya,
teknik kontrol audit yang akan digunakan, dan progam evaluasi resiko.
7. Program audit: hendaknya terdapat rencana untuk melakukan survei
pendahuluan dan hasil program audit.
8. Penjadwalan: segmen audit harus memiliki skedul mengenai kebutuhan dan
urutan waktu.
9. Unsur waktu: identifikasi dari unsur waktu. Berapa lama waktu yang
dibutuhkan dan rencana kontijensi apa yang harus dipertimbangkan dalam
kondisi yang dapat diidentifikasi secara khusus?
10. Fasilitas dan peralatan: fasilitas dan peralatan yang akan dbutuhkan untuk
audit harus diidentifikasi seperti indikasi sumber yang direncanakan dan
estimasi biaya.
11. Estimasi biaya: berdasarkan hal diatas, perhitungan pendanaan yang akan
dibutuhkan dan petunjuk tentang potensi sumber dana tersebut dalam jumlah
dan pertambahan bertahap. Pengembangan rencana kontinjensi untuk
kemungkinan masalah baik secara temporer maupun dalam total. Masalah
dapat berdampak pada unsur strategi diatas.

12. Kriteria: kriteria atau materialitas, ketepatan sampling, dan unsur kualitatif
audit lainnya harus dibuat.
13. Temuan potensial: antisipasi pengungkapan potensial audit dan rencana untuk
implementasi temuan audit. Hal ini melibatkan komitmen dari manajemen
puncak dan pengakuan oleh segmen manajemen organisasi bahwa tindakan
perbaikan dibutuhkan.
14. Rencana untuk penelaahan: rencana untuk penelaahan oleh klien, ahli hukum
ahli teknik dan sains, dan oleh manajemen harus dibuat. Metode untuk
penyelesaian perbedaan harus dibuat dan disetujui.
15. Laporan: format laporan harus dibuat. Rencana juga harus dibuat untuk
membuat gambaran kasar dari isi laporan, segera setelah survei pendahuluan
selesai.
16. Distribusi laporan: distribusi laporan audit harus dibuat dan disetujui oleh ahli
audit dan hukum serta manajemen senior.
17. Media: hubungan dengan perwakilan media harus direncanakan. Harus ada
seorang juru bicara yang ditunjuk dan ada pemberitahuan yang cukup kepada
semua pihak. Pertimbangkan sensitivitas dari temuan-temuan potensial.
Kembangkan rencana dengan bantuan hukum mengenai aspek-aspek seperti
hubungan media, isi kertas kerja, hubungan pemerintah, dan keamanan
internal. Membuat ketentuan dengan bantuan hukum untuk kertas kerja yang
sangat deskriptif dan lengkap yang mendukung upaya audit untuk melindungi
organisasi jika terdapat masalah hukum dan/ atau peraturan.
18. Klien yang keras kepala: kembangkan rencana untuk merespon klien yang
keras kepala. Dalam hal ini, pastikan bahwa manajemen puncak memberikan
dukungan penuh atas upaya audit dalam hal timbulnya masalah pada klien.
Masing masing bidang diatas harus memiliki rencana cadangan yang
akan dilaksanakan jika rencana aslinya terancam bahaya dan harus banyak diubah.
Direktur audit adalah pihak yang biasa dihubungi dan koordinator dari operasi
audit eksternal dan hendaknya jika sumber lain diperlukan, melakukan
perencanaan dengan auditor eksternal atau para ahli sesuai dengan bidang
keahlian mereka dalamrencana strategis.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Secara ringkas audit lingkungan adalah sistim evaluasi yang dilakukan
secara sistematis dan obyektif terhadap pengelolaan dampak yang ada maupun
dampak yang potensial dari kegiatan suatu organisasi atas lingkungan. Apa yang
dievaluasi biasanya termasuk pengelolaan lingkungan dari organisasi itu,
pentaatan terhadap peraturan dalam pengelolaan lingkungan seperti emisi ke
udara, pembuangan ke air, pengelolaan limbahnya, sistim dokumentasi,
pelaporan, indikator kinerja, sistem tanggap darurat dan lain sebagainya. Dalam
melaksanakan audit lingkungan ada beberapa unsur dalam strategi pendekatan
audit lingkungan yang harus diperhatikan oleh auditor. Selain itu, pelaksanaan
audit lingkungan memiliki tujuan, fungsi, dan manfaat baik bagi perusahaan
maupun lingkungan. Dengan melakukan audit lingkungan berarti perusahaan
memiliki tanggungjawab sosial untuk turut menjaga kelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
http://auditlingkungan.blogspot.com/
http://bud1ww.blogspot.com/2011/05/audit-lingkungan.html
http://enengsolihat.wordpress.com/2012/05/24/audit-lingkungan/
http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/2232318-audit-lingkunganefektif-tingkatkan-kinerja/#ixzz2vRhcnSAT
http://oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=1833
http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-dan-pengertianaudit.html
http://tricahyaayu.wordpress.com/2013/04/18/audit-lingkungan/