Anda di halaman 1dari 114

LAPORAN PELAKSANAAN MAGANG

DI PT. PERTAMINA EP FUNGSI MATINDOK GAS DEVELOPMENT PROJECT


IDENTIFIKASI PENERAPAN CONTRACTOR SAFETY MANAGEMENT
SYSTEM (CSMS) DI PT. PERTAMINA EP FUNGSI MATINDOK GAS
DEVELOPMENT PROJECT
TANGGAL 2 FEBRUARI s.d. 15 MARET TAHUN 2016

Disusun Oleh:
REZZA CATUR KURNIAWAN
NIM. 101211132086

Telah disahkan dan diterima dengan baik oleh:


Pembimbing Departemen,

Jakarta,

Maret 2016

Jakarta,

Maret 2016

Surabaya,

Maret 2016

Meirina Ernawati, drh., M.Kes.


NIP. 196205121993032001

Pembimbing di PT. Pertamina EP Fungsi MGDP,

Bukhori, S.KM., M.KKK.


NP. 19011105

Mengetahui
Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja,

Dr. Noeroel Widajati, S.KM., M.Sc.


NIP. 197208122005012001

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan syukur kehadirat Allah Swt atas segala berkah, rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan pelaksanaa magang di
Pertamina EP dengan judul Penerapan Contractor Safety Management System Tahap
Prakualifikasi di Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project. Dalam
laporan magang ini dijabarkan bagaimana kegiatan magang ini dilakukan secara umum dan
khusus berdasarkan topik yang diangkat oleh penulis yaitu Penerapan Contractor Safety
Management System Tahap Prakualifikasi di Pertamina EP Fungsi Matindok Gas
Development Project.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada ibu Meirina Ernawati, drh., M.Kes selaku dosen pembimbing
departemen dan segenap Bagian HSE Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development
Project yang telah memberikan arahan, bimbingan serta saran terkait dengan pelaksanaan
kegiatan magang hingga terwujudnya laporan ini. Terimakasih dan penghargaan penulis
sampaikan pula kepada semua pihak yang turut membantu terselesaikannya kegiatan magang
ini.
Penulis sadar bahwa tiada sesuatu yang sempurna di dunia ini, begitu pun laporan
pelaksanaan magang yang dibuat oleh penulis, baik dalam hal isi maupun penulisannya.
Kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan dan
kesempurnaan penulisan laporan pelaksanaan kegiatan yang selanjutnya.

Jakarta, 7 Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB 1

BAB 2

i
ii
iii
iv
vi
vii

PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
1.2
Tujuan
1.2.1
Tujuan Umum
1.2.2
Tujuan Khusus
1.3
Manfaat
1.3.1
Manfaat bagi Mahasiswa
1.3.2
Manfaat bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga
1.3.3
Manfaat bagi PT. Pertamina EP

1
1
4
4
4
4
4

TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
serta Lingkungan
2.2
Contractor Safety Management System (CSMS)

6
6
8

2.2.1

2.3
2.4
2.5

BAB 3

Sasaran Contractor Safety Management System


(CSMS)
2.2.2
Tujuan serta Pertimbangan Contractor Safety
Management System (CSMS)
2.2.3
Tahapan Contractor Safety Management System
(CSMS)
Dasar
Hukum
Pelaksanaan
Contractor
Safety
Management Systems CSMS menurut International
Labour Organization (ILO)
Dasar
Hukum
Pelaksanaan
Contractor
Safety
Management Systems CSMS Menurut OHSAS
18001:2007
Dasar
Hukum
Pelaksanaan
Contractor
Safety
Management Systems CSMS Menurut Peraturan
Pemerintah No. 50 Tahun 2012

4
5

METODE KEGIATAN MAGANG


3.1
Lokasi dan Waktu Magang
3.1.1
Lokasi Magang
3.1.2
Waktu Magang
3.2
Metode Pelaksanaan Kegiatan
3.2.1
Rincian Kegiatan Magang
3.2.2
Metode Pelaksanaan Kegiatan Magang
3.3
Teknik Pengumpulan Data

8
8
9
13
14
15
16
16
16
16
16
16
17
18

BAB 4

Hasil Kegiatan Magang


4.1
Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1
Sejarah Perusahaan
4.1.2
Visi, Misi dan Nilai Dasar Perusahaan
4.1.3
Lokasi Perusahaan
4.2
4.3
4.4

BAB 5

BAB 6

Proses Produksi di PT. Pertamina EP Fungsi Matindok


Gas Development Project
Sitem Manajemen Health Safety Security and
Environment (HSSE) PT. Pertamina EP Fungsi Matindok
Gas Development Project
Identifikasi Pengendalian Kontraktor atau Pihak Ketiga di
PT. Pertamina EP. Fungsi Matindok Gas Development
Project

19
19
19
22
23
24
26
28

PEMBAHASAN
Penerapan Pengendalian Kontraktor atau Pihak Ketiga PT.
Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project
Identifikasi Prosedur Pengendalian Kontraktor Tahapan
Perencanaan PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas
Development Project

34

PENUTUP
6.1
Kesimpulan
6.2
Saran

69
69

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

34
36

70
71

DAFTAR TABEL
Nomor
3.1
4.1
4.2
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8
5.9
5.10
5.11
5.12
5.13

Judul Tabel
Jadwal Kegiatan Magang
Matriks Penilaian Resiko
Penilaian SMHSE Kontraktor
Perbandingan Pengendalian Kontraktor PT. Pertamina
EP dengan Prosedur CSMS
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT.
GATRAMAS INTERNUSA
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT.
GUNANUSA UTAMA FABRICATORS
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. IKPT
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT.
PETROFAC
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. RAGA
PERKASA EKAGUNA
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. PUNJ
LLOYD INDONESIA
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. WIJAYA
KARYA
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. TECHNIP
INDONESIA
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. SULUH
ARDHI ENGINEERING
Laporan Hasil Pra-Kualifikasi PT. JGC INDONESIA
Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualfikasi PT.
REKAYASA INDUSTRI
Perbandingan Hasil Akhir Pra-Kualifikasi

Halaman
16
29
33
35
39
41
44
46
48
51
53
55
57
60
62
65

DAFTAR GAMBAR
No
4.1
4.2
5.1
5.2

Judul Gambar
Proses Produksi Gas di Fungsi Matindok Gas Development
Project
Tahapan Pelaksanaan Sistem Manajemen HSSE
Form Job Safety Analysis (JSA) PT. Pertamina EP
Contoh Form Job Safety Analysis (JSA) yang digunakan oleh
kontraktor/sub-kontraktor di Fungsi Matindok Gas Development
Project

Halaman
26
27
37
38

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala upaya atau pemikiran yang
ditujukan untuk melindungi tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaan, menjamin
keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja dan menjamin sumber-sumber
produksi dipelihara dan digunakan secara aman dan efisien sesuai prosedur. Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan kepentingan dari pengusaha, pekerja dan
pemerintah di seluruh dunia. Keselamatan kerja merupakan keselamatan yang berkaitan
dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan-bahan dan proses pengolahannya, landasan
tempat kerja dan lingkungannya serta cara melakukan kerja (Sumamur, 2009).
Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja telah mengatur
terkait perlindungan keselamatan kerja. Dalam undang-undang tersebut telah ditetapkan
mengenai kewajiban pengusaha, kewajiban dan hak tenaga kerja serta syarat-syarat
keselamatan kerja yang herus dipenuhi oleh organisasi atau perusahaan. Sedangkan
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) diatur di dalam Peraturan
Pemerintah No. 50 Tahun 2012.
Undang-undang No. 13 Tahun 2003 telah mengatur terkait perlindungan terhadap
tenaga kerja, dalam pasal 86 menyebutkan bahwa setiap organisasi wajib menerapkan
upaya keselamatan dan kesehatan kerja untuk melindungi tenaga kerja. Pada pasal 87
menyebutkan bahwa setiap organisasi berkewajiban melaksanakan Sistem Manajemen
K3 yang terintegrasi dengan manajemen organisasi lainnya.
Pemerintah juga mengatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
No. 08 Tahun 2010 tentang APD, pada pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa setiap

pengusaha bertanggung jawab menjamin keselamatan setiap orang yang berada di tempat
kerjanya, baik pekerja perusahaan itu sendiri, kontraktor, tamu atau pihak lainnya. Hal
tersebut menunjukkan bahwa yang bertanggung jawab atas keselamatan setiap orang di
tempat kerja adalah pengelola. Oleh sebab itu pengelola juga bertanggung jawab
menjamin keselamatan tenaga kerja termasuk jaminan kecelakaan kerja bila terjadi.
Kerjasama dengan kontraktor sebagai mitra kerja yang akan bekerja di lingkungan
kerja perusahaan harus dinilai terlebih dahulu kesiapaannya untuk melaksanakan
pekerjaan secara menyeluruh terutama masalah yang berhubungan dengan K3. Komitmen
K3 di sebuah kontraktor merupakan sesuatu yang sangat penting dalam penilaian karena
akan mempengaruhi budaya keselamatan kerja di tempat kerja.
PT. Pertamina EP merupakan perusahaan eksplorasi dan produksi di bidang minyak
dan gas bumi khususnya mempunyai peranan penting yang besar dalam tercapainya
keselamatan dan kesehatan kerja di wilayah kerja yang dimiliki PT. Pertamina EP. PT.
Pertamina EP melaksanakan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi di sektor hulu
dengan kegiatan pertambangan tersebut sehingga memiliki potensi bahaya dan risiko
yang cukup tinggi untuk para pekerja di wilayah kerja PT. Pertamina EP.
Potensi bahaya dan risiko yang cukup tinggi dapat diminimalkan atau dikendalikan
dengan perhatian yang besar terhadap pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja di
lingkungan kerja tersebut. Dalam implementasi mengenai Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT. Pertamina EP juga merupakan persyaratan untuk
pihak klien yang ingin menjadi mitra kerja (main contractor) yang dimasukkan dalam
prosedural Contractor Safety Management System yang dimiliki PT. Pertamina EP.
Contractor Safety Management System (CSMS) merupakan dokumen standart yang
dibutuhkan baik bagi kontraktor sebagai pemberi kerja maupun dari sisi mitra kerja
sebagai penyedia tenaga kerja. Tujuan dari dokumen standart yaitu agar sistem bisa

berjalan dan angka kecelakaan kerja bisa diturunkan. Dokumen standart terkait
Contractor Safety Management System (CSMS) dibuat oleh Badan Pelaksana Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) dalam buku Pedoman Tata Kerja Nomor
Kpts- 13/BP00000/2006-S8 tentang Pengelolaan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan
Lindungan Lingkungan Kontraktor.
Dalam implementasinya kontraktor selalu berupaya untuk menyelesaikan
pekerjaannya dengan cepat karena adanya terget pekerjaan yang harus dicapai.
Penyelesaian pekerjaan dengan cepat ini seringkali mengabaikan keselamatan dan
kesehatan tenaga kerja, jika keselamatan diabaikan maka peluang untuk terjadinya
kecelakaan bisa meningkat. Contractor Safety Management System (CSMS) sebagai
sistem pengelolaan aspek keselamatan dan kesehatan kerja untuk kontraktor yang
memiliki tujuan untuk mengurangi angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja,
meningkatkan profit perusahaan dan membangun citra positif dari perusahaan. Dengan
cara menyeleksi para mitra kerja agar mitra kerja tidak hanya memikirkan masalah harga,
kemampuan teknis, reputasi dan kemampuan apa saja yang diperlukan, akan tetapi juga
memikirkan terkait keselamatan dan kesehatan kerja yang juga harus diperhatikan bahkan
diutamakan.
Contractor Safety Management System (CSMS) terdapat beberapa tahapan
diantaranya tahap penilaian risiko, tahap pra-kualifikasi, tahap seleksi, tahap aktifitas
awal pekerjaan, tahap pekerjaan berlangsung dan tahap evaluasi akhir. Pada tahap prakualifikasi merupakan langkah untuk menilai seberapa jauh Keselamatan, Kesehatan
Kerja dan Lindungan Lingkungan Kontraktor diterapkan di perusahaan sehingga dari
hasil prakualifikasi dapat dilakukan tinjauan ulang serta perbaikan dan peningkatan.
Sehingga berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis mengambil judul

Penerapan Contractor Safety Management System (CSMS) tahap Prakualifikasi di


PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project.

Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari kegiatan magang adalah untuk mengetahui tahap pra-kualifikasi
Contarctor Safety Management System dan mengetahui hasil penilaian berdasarkan
BP Migas KPTS-13/BP00000/2006-S8 di PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas
Development Project.
1.2.2 Tujuan Khusus
a

Mengidentifikasi tahapan penilaian risiko di PT. Pertamina EP Fungsi Matindok


Gas Development Project.

Mengidentifikasi tahapan pra-kualifikasi di PT. Pertamina EP Fungsi Matindok


Gas Development Project.

Mengidentifikasi tahapan seleksi di PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas


Development Project.

Manfaat
1.3.1 Manfaat bagi mahasiswa
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta wawasan kepada mahasiswa
dalam penerapan Contarctor Safety Management System tahap pra-kualifikasi di
Perusahaan serta meningkatkan kompetensi mahasiswa di dunia kerja.
1.3.2 Manfaat bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
Sebagia upaya link and match antara dunia akademis dan dunia kerja dalam
mempercepat kerjasama antara PT. Pertamina EP dengan Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Airlangga serta menambah kepustakaan mengenai


penerapan Contarctor Safety Management System.
1.3.3 Manfaat bagi PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project
Memberikan masukan sebagai bahan untuk mengevaluasi terhadap penerapan tahap
pra-kualifikasi Contarctor Safety Management System yang sudah ada serta
memberikan masukan agar perusahaan mencapai nilai yang maksimal.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan


Sistem merupakan kumpulan elemen yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu
sama lainnya dalam melakukan kegiatan bersama untuk tercapainya suatu tujuan.
Sedangkan manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan,
seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian atau pengawasan
yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya (Saiful Nur Arif dan
Iskandar Zulkarnain, 2008).
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (SMK3L)
merupakan bagian dari sistem manajemen organisasi yang digunakan untuk
mengembangkan dan menerapkan kebijakan K3 dan mengelola risiko (OHSAS
18001:2007). Tujuan dari SMK3L menurut Rudi Suardi (2005:3) adalah:
1. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggitingguinya.
2. Sebagai upaya untuk mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan
kerja, memelihara dan meningkatkan kesehatan tenaga kerja serta meningkatkan
efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson, SMK3L yang efektif terdiri dari
lima hal sebagai berikut:
1. Tanggung jawab dan komitmen perusahaan.
Inti dari SMK3L adalah komitmen dari sebuah perusahaan dan usaha K3L yang
komprehensif. Usaha dari perusahaan ini sebaiknya dicerminkan dari tindakan-

tindakan manajerial dan dikoordinasikan mulai dari tingkat manajemen yang


paling tinggi (top manager). Fokus pendekatan yang sistematis terhadap
keselamatan kerja adalah adanya kerjasama terus menerus dari para pekerja,
manajer dan yang lainnya.
2. Kebijakan dan disiplin K3L.
Merancang kebijakan dan peraturan mengenai K3L dan juga menegakkan
hukum bagi pelaku pelanggaran merupakan komponen penting dalam rangka
menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat. Dukungan yang sering
terhadap perlunya perilaku kerja yang aman dan memberikan umpan balik
terhadap praktik K3L yang positif juga sangat penting dalam meningkatkan
keselamatan para pekerja
3. Komunikasi dan pelatihan K3L.
Sebagai tambahan dalam pelatihan K3L perlu dilakukannya komunikasi secara
terus menerus untuk membangun kesadaran akan pentingnya K3L di lingkungan
kerja. Bentuk komunikasi untuk membangun K3L di lingkungan kerja antara
lain mengubah poster keselamatan kerja dan mengupdate papan bulletin terkait
K3L.
4. Inspeksi dan penyelidikan kecelakaan kerja.
Inspeksi tempat kerja sebaiknya dilakukan secara berkala dan rutin oleh komite
K3L atau koordinator K3L. Penyelidikan juga harus dilakukan ketika terjadi
kecelakaan kerja.
5. Evaluasi perusahaan
Evaluasi perusahaan harus mengawasi dan mengevaluasi usaha K3Lnya dengan
melakukan audit secara berkala. Hal ini ditujukan untuk menganalisis serta
mengukur kemajuan dalam manajemen K3L di perusahaan.

2.2 CSMS (Contractor safety Management Systems)


Menurut BP Migas dalam Pedoman Tata Kerja Nomor: Kpts- 13/BP00000/2006-S8
tentang Pengelolaan Keselamatann, Kesehatan Kerja dan Lindungan Kontraktor,
Contractor safety Management Systems (CSMS) adalah sebuah sistem kontrol terhadap
aspek pengelolaan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) bagi Kontraktor
yang bekerja di seluruh daerah operasi kontraktor KKS (Kontrak Kerja Sama). Dalam
pedoman tata kerja tersebut menjelaskan mengenai sasaran, tujuan serta pertimbangan
dan tahapan dalam Contractor safety Management Systems (CSMS).
2.2.1

Sasaran Contractor safety Management Systems (CSMS)


Adapun yang menjadi sasaran Contractor safety Management Systems (CSMS)
adalah:
1. Meningkatkan kinerja Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan
(K3L) di lingkungan kerja oleh perusahaan/klien dan kontraktor dengan
pengelolaan sistem manajemen K3LL yang efektif.
2. Membantu kontraktor dalam pengelolaan program-program K3L yang
konsisten sesuai dengan harapan dari perusahaan/klien.
3. Memfasilitasi

kesenjangan

antara

kontraktor,

sub-kontraktor

dan

kontraktor lain yang bekerja di area perusahaan/klien.


2.2.2

Tujuan serta Pertimbangan Contractor safety Management Systems (CSMS)


Tujuan dibuatnya Contractor safety Management Systems (CSMS) adalah
mencegah terjadinya kecelakaan sehingga dapat melindungi manusia khususnya
tenaga kerja dari risiko kecelakaan, asset perusahaan, dampak pencemaran
lingkungan, serta nama baik perusahaan yang dapat jatuh akibat terjadinya

kecelakaan. Adapun pertimbangan Manajemen BP Migas mengembangkan K3L


Kontraktor adalah sebagai berikut:
1. Perlu adanya keseragaman pedoman pengelolaan K3LL kontraktro untuk
seluruh kontraktor KKS.
2. Menjamin operasi pengelolaan minyak dan gas berjalan dengan aman
untuk mendukung tercapainya target produksi yang telah ditetapkan.
3. Menigkatkan kemampuan kontraktor lokal dalam menghadapi persaingan
global.
4. Menjamin keselamat dan kesehatan kerja para kontraktor.
5. Mencegah terjadinya kerugian material, peralatan dan kerusakan
lingkungan.
6. Menjaga citra perusahaan.
2.2.3

Tahapan Contractor safety Management Systems (CSMS)


Program Contractor safety Management Systems (CSMS) akan memberikan
jaminan operasional yang unggul yang dikelompokkan menjadi enam tahapan,
yaitu:
1. Penilaian Risiko
Tujuan dilakukan penilaian risiko adalah untuk menjelaskan dan menilai
risiko K3L yang berkaitan dengan pekerjaan yang di kontrakkan.
2. Pra-Kualifikasi
Pra-kualifikasi adalah suatu prosedur untuk meneliti kualifikasi kontarktor
dalam hal K3L.
3. Seleksi

Seleksi adalah kegiatan untuk memilih dan menentukan salah satu dari
kontraktor yang memenuhi persyaratan K3L yang diminta disamping
persyaratan administrasi, teknis dan komersil.
4. Kegiatan Pra Pekerjaan
Tahap pekerjaan sedang berjalan adalah tahap untuk menjamin agar
pekerjaan dilakukan sesuai dengan rencan. Selama pra-pekerjaan, semua
aspek yang ada hubungannya dengan penilaian risiko kontrak dan aspek
K3L lainnya harus dikomunikasikan sehingga dapat dipahami oleh semua
pihak sebelum pelaksanaan kontrak dimulai. Yang termasuk dalam
kegiatan ini adalah rapat awal, pemeriksaan dan audit, orientasi lokasi
kerja, pelatihan K3L dan rapat K3L.
a. Rapat Awal
Rapat awal dipimpin oleh pemrakarsa pekerjaan segera setelah
persetujuan kontrak dan sebelum pelaksanaan pekerjaan. Rapat awal
dilakukan untuk mengenal lokasi kerja, fasilitas, personil yang
berhubungan dengan pekerjaan dan informasi kerja lainnya.
b. Pemeriksaan dan Audit
Perwakilan departemen pemrakarsa, dengan bantuan staff bagian K3LL
yang ditunjuk (jika diperlukan) melakukan pemeriksaan dan audit,
dengan menggunakan prosedur audit awal pekerjaan yang telah
tersedia.
c. Pelatihan K3L
Kontraktor bertanggung jawab atas pelatihan dan persiapan pekerjanya
untuk menghadapi semua potensi bahaya dan maslaah lain yang
berkaitan dengan pekerjaan. Kontarktor KKS bertanggungjawab untuk

memeriksa apakah pelatihan telah dilakukan dan didokumentasikan


dengan baik. Metode untuk memastikan pemahaman terhadap bahanbahan pelatihan, dapat dilakukan melalui pengujian tertulis atau lisan,
demonstrasi, evaluasi pekerjaan. Pelatihan dan persiapan lanjutan dapat
dilakukan jika hasilnya tidak memuaskan.
d. Rapat K3L
Topik yang perlu dibahas selama kegiatan rapat K3L adalah diskusi
rencana kerja, peninjauan semua bahaya yang potensial, masalah K3L
dan memeriksa kerja lainnya. Rapat awal ini harus diikuti oelh semua
pihak yang terlibat di dalam pekerjaan, termasuk personil kontraktor
berkompeten dan para sub-kontraktornya.
5. Pekerjaan sedang Berjalan
Tahap pekerjaan sedang berjalan adalah tahap untuk menjamin agar
pekerjaan dilakukan sesuai dengan rencana. Beberapa kegiatan dasar
dalam tahap ini antara lain:
a. Rapat awal lokal,
b. Mobilisasi staff dan perlengkapan kontraktor,
c. Finalisasi rencana K3LL, dan
d. Mengadakan audit mobilisasi.
Selama pekerjaan sedang berjalan, kontarktor KKS dan kontraktor
menjamin bahwa masing-masing pihak melaksanakan metode operasi
yang sesuai dengan rencana K3LL yang telah disetujui. Pada tahap inilah
implementasi dari rencana K3LL kontraktor secara formal dimulai. Selama
tahap awal pekerjaan berjalan, semua personil utama yang ditugaskan
untuk pekerjaan tersebut harus menghadiri program orientasi K3LL yang

digunakan

untuk

mengkomunikasikan

rencana

K3LL.

Pertemuan

pelaporan kemajuan pekerjaan akan digunakan sebagai metode formal


untuk

menyempurnakan

implementasi

K3LL,

bersamaan

dengan

pengecekan lapangan yang secara rutin oleh personil kontraktor KKS.


6. Evaluasi Akhir
Tahap evaluasi akhir adalah tahap untuk mengevaluasi kinerja kontraktor
dan sebagai umpan balik kepada tim manajemen terkait. Hasil evaluasi
akan disimpan di data bank dan menjadi bahan pertimbangan apakah
kontraktor tersebut layak untuk pekerjaan yang akan datang. Setelah
selang waktu tertentu, data bank akan memiliki sejumlah nama kontraktor
yang baik dan memenuhi syarat sehingga proses pra-kualifikasi dan
pemilihan kemudian akan berjalan lebih mudah.
Tujuan dari evaluasi akhir adalah untuk melakukan evaluasi bersama
terhadap pelaksanaan kegiatan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan
Lindungan Lingkungan Kontraktor dan Kontarktor KKS sebagai bahan
umpan balik kepada kontraktor dan kontraktor KKS dalam pekerjaan
mendatang.
Menurut Du Pont (1991) terdapat 10 elemen dasar yang baik dalam
program keselamatan kontraktor. Program elemen dasar tersebut lalu
dikembangkan dalam hubungannya dengan laporan Bussines 1970
Roundtable yang telah diperbarui pada tahun 1991, diantaranya:
a. Mengetahui sejarah keselamatan kontraktor,
b. Mengembangkan

tujuan

keselamatan

demi

kontraktor,
c. Mengevaluasi deprtemen keamanan kontraktor,

keamanan

kinerja

d. Mendefinisikan keamanan sebagai bagian integral dari tanggung jawab


pengawas kontraktor,
e. Menyediakan personil terlatih untuk mengelola dan mengikuti kegiatan
keselamatan kontraktor,
f. Menggunakan sistem ijin kerja untuk kegiatan yang berpotensi
berbahaya (api, masuk ruang tertutup, lockout),
g. Melakukan audit keselamatan aktivitas kerja kontraktor, memelihara
dan menganalisis statistik keamanan kontraktor,
h. Melakukan investigasi insiden pada kontraktor dan insiden serius untuk
mencegah kejadian terulang kembali,
i. Menerbitkan dan menyebarluaskan hasil penyidikan ke seluruh
organisasi, dan
j. Mewajibkan kontraktor untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Menetapkan dan menyebarluaskan kebijakan keselamatan dan
prosedur keselamatan,
2) Melakukan program pelatihan keselamatan bagi karyawan,
3) Audit mengenai kesesuaian pada aturan, praktek dan prosedur, serta
peraturan pemerintah dan praktek industri yang diterima,
4) Laporan kejadian cedera dalam waktu 24 jam, dan
5) Melakukan investigasi terhadap cedera dan kecelakaan berat.

2.3 Dasar Hukum Pelaksanaan Contractor safety Management Systems (CSMS) menurut
International Labour Organization (ILO)
Dalam dokumen guideline on Occupational Safety Management System, pada BAB
Perencanaan dan Implementasi yaitu pada nomor 14 mengenai kontrak tentang

penyusunan dan perawatan perencanaan prosedur persyaratan K3 bagi kontraktor dan


para pekerjanya. Prosedur perencanaan untuk kontraktor dalam bekerja di site, harus
memenuhi beberapa ketentuan diantaranya:
1. Melakukan evaluasi K3 dalam kontraktor,
2. Mengkomunikasikan pencegahan dan pengendalian bahaya dengan kontraktor,
3. Perencanaan dalam pelaporan cidera akibat kerja, gangguan kesehatan, penyakit
dan insiden selama kontraktor bekerja,
4. Menyediakan lingkungan kerja yang aman, serta pelatihan dan pengenalan
lingkungan kepada kontraktor,
5. Memantau performa K3 dari aktivitas kontraktor secara teratur di tempat kerja,
dan
6. Memastikan bahwa prosedur dan perencanaan K3 di tempat kerja diikuti oleh
kontarktor.

2.4 Dasar Hukum Pelaksanaan Contractor safety Management Systems (CSMS) menurut
OHSAS 18001:2007
Menurut OHSAS 18001:2007 pada klausul 4.4.6 tentang Pengendalian Operasional
menjelaskan bahwa setiap organisasi harus mengidentifikasi kegiatan operasi dan
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan bahaya-bahaya yang teridentifikasi, dimana
kendali pengukuran perlu dilakukan untuk mengendalikan risiko-risiko. Untuk kegiatan
operasi dan kegiatan-kegiatan

yang berkaitan dengan bahaya yang teridentifikasi

tersebut, setiap organisasi harus menerapkan dan memelihara beberapa aspek,


diantaranya:

1. Kendali-kendali operasional, sesuai keperluan organisasi dan aktivitasaktivitasnya; organisasi harus mengintegrasikan kendali-kendali operasionalnya
ke dalam sistem manajemen K3 secara keseluruhan.
2. Pengendalian terkait pembelian material, peralatan dan jasa.
3. Pengendalian terkait para kontraktor dan tamu-tamu lain ke tempat kerja.
4. Mendokumentasikan

prosedur-prosedur, mencakup

situasi-situasi

dimana

ketiadaannya dapat menyebabkan penyimpangan-penyimpangan dari kebijakan


dan tujuan K3.
5. Kriteria-kriteria opersasi yang telah ditetapkan dimana ketiadaannya dapat
menyebabkan penyimpangan-penyimpangan dari kebijakan dan tujuan K3.
Dari beberapa poin diatas, seperti yang disebutkan pada poin ketiga, yaitu
organisasi harus menerapkan dan memelihara pengendalian terkait para kontraktor dan
tamu-tamu lain yang berada di tempat kerja. Poin ketiga tersebut yang menjadikan dasar
hukum dari penerapan pengendalian kontraktor.

2.5 Dasar Hukum Pelaksanaan Contractor safety Management Systems (CSMS) menurut
Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012
Pada Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 pasal 11 ayat 1 menjelaskan bahwa
dalam melaksanakan rencana K3 harus melakukan kegiatan dalam pemenuhan
persyaratan K3. Selain itu, pada pasal 11 ayat 2 huruf a menjelaskan mengenai tindakan
pengendalian meliputi pengendalian terhadap kegiatan produk barang dan jasa yang dapat
menimbulkan risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja sekurang-kurangnya mencakup
pengendalian terhadap bahan, peralatan, lingkungan kerja, cara kerja, sifat pekerjaan dan
proses kerja.

Pada Pemerintah No. 50 Tahun 2012 dalam lampiran 1 juga menjelaskan bahwa
perusahaan yang akan menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan
lain harus menjamin bahwa perusahaan lain tersebut memenuhi persyaratan K3.
Verifikasi terhadap persyaratan K3 tersebut dilakukan oleh personal yang kompeten dan
berwenang serta mempunyai tanggung jawab yang jelas. Kegiatan tersebut merupakan
persyaratan minimal dalam kegiatan perencanaan K3.

BAB 3
METODE KEGIATAN MAGANG

3.1 Lokasi dan Waktu Magang


3.1.1

Lokasi Magang
Kegiatan magang dilakukan di bagian HSSE PT. Pertamina EP Fungsi Matindok
Gas Development Project, jalan Dr. Satrio No. 164, Jakarta Selatan, Jakarta.

3.1.2

Waktu Magang
Kegiatan berada dalam bimbingan Departemen Disiplin HSSE yang dilaksanakan
kurang lebih enam minggu dimulai tanggal 2 Februari 15 Maret 2016. Jam kerja
selama kegiatan magang adalah pukul 07.00 16.00 WIB. Waktu kerja yang
berlaku selama menjadi peserta magang di Departemen Disiplin HSSE adalah hari
Senin sampai hari Jumat.

3.2 Metode Pelaksanaan Magang


3.2.1

Rimcian Kegiatan Magang


Jadwal dan Kegiatan Magang ada sebagai berikut:
Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Magang
No

Kegiatan

Februari
II II IV
I

1.

Pengenalan PT. Pertamina


EP Fungsi Matindok Gas

2.
3.

Development Project.
Studi literature.
Observasi perusahaan yang
berhubungan dengan
Keselamatan dan Kesehatan

4.

Kerja.
Pengenalan pelaksanaan dan

Maret
II III IV

menyusun Management
Systemn terkait kegiatan
pengendalian kontraktor di
5.

perusahaan.
Pengumpulan data di PT.
Pertamina EP Fungsi
Matindok Gas Development
Project yang meliputi
observasi atau pengamatan

6.

di lapangan.
Konsultasi kepada

7.

pembimbing.
Supervisi Dosen

8.

Pembimbing.
Penulisan Laporan Kerja
Praktik.

3.2.2

Metode Pelaksanaan Kegiatan Magang


Metode pelaksanaan magang yang dilakukan di PT. Pertamina EP Fungsi
Matindok Gas Development Project, Jakarta Selatan, meliputi:
1. Diskusi, yaitu pertemuan kecil membahas permasalahan terkait SMHSSE,
khususnya terkait pengendalian kontraktor.
2. Studi literature untuk memperoleh teori dan dasar hukum yang berkaitan dengan
pengendalian kontraktor.

3.3 Teknik Pengumpulan Data


1. Pengumpulan Data Primer :

a. Wawancara mengenai implementasi SMHSSE di PT. Pertamina EP Fungsi


Matindok Gas Development Project, baik secara umum ataupun khusus terkait
dengan upaya pengendalian kontraktor.
b. Diskusi dengan pembimbing dan orang yang paham mengenai SMHSSE baik
secara umum maupun khusus terkait dengan upaya pengendalian kontraktor.
2. Data Sekunder:
Pengumpulan data di dapat dari pihak-pihak terkait dengan HSSE, khususnya
mengenai Contractor Safety Management System di PT. Pertamina EP Fungsi
Matindok Gas Development Project.

BAB 4
HASIL KEGIATAN MAGANG

4.1 Gambaran Umum Perusahaan


4.1.1 Sejarah Perusahaan
Di Indonesia sendiri, pemboran sumur minyak pertama dilakukan oleh Belanda
pada tahun 1871 di daerah Cirebon. Namun demikian, sumur produksi pertama
adalah sumur Telaga Said di wilayah Sumatera Utara yang dibor pada tahun 1883
yang disusul dengan pendirian Royal Dutch Company di Pangkalan Brandan pada
1885. Sejak era itu, kegiatan ekspolitasi minyak di Indonesia dimulai.
Setelah diproduksikannya sumur Telaga Said, maka kegiatan industri perminyakan
di tanah air terus berkembang. Penemuan demi penemuan terus bermunculan.
Sampai dengan era 1950an, penemuan sumber minyak baru banyak ditemukan di
wilayah Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, dan Kalimantan Timur.
Pada masa ini Indonesia masih dibawah pendudukan Belanda yang dilanjutkan
dengan pendudukan Jepang.
Ketika pecah Perang Asia Timur Raya produksi minyak mengalami gangguan. Pada
masa pendudukan Jepang usaha yang dilakukan hanyalah merehabilitasi lapangan
dan sumur yang rusak akibat bumi hangus atau pemboman lalu pada masa perang
kemerdekaan produksi minyak terhenti.
Namun ketika perang usai dan bangsa ini mulai menjalankan pemerintahan yang
teratur, seluruh lapangan minyak dan gas bumi yang ditinggalkan oleh Belanda dan
Jepang dikelola oleh negara.

Untuk mengelola aset perminyakan tersebut, pemerintah mendirikan sebuah


perusahaan minyak nasional pada 10 Desember 1957 dengan nama PT Perusahaan
Minyak Nasional, disingkat PERMINA. Perusahaan itu lalu bergabung dengan
PERTAMIN menjadi PERTAMINA pada 1968. Untuk memperkokoh perusahaan
yang masih muda ini, Pemerintah menerbitkan UU No. 8 pada 1971, yang
menempatkan PERTAMINA sebagai perusahaan minyak dan gas bumi milik
negara. Berdasarkan UU ini, semua perusahaan minyak yang hendak menjalankan
usaha di Indonesia wajib bekerja sama dengan PERTAMINA. Karena itu
PERTAMINA memainkan peran ganda yakni sebagai regulator bagi mitra yang
menjalin kerja sama melalui mekanisme Kontrak Kerja Sama (KKS) di wilayah
kerja (WK) PERTAMINA. Sementara di sisi lain PERTAMINA juga bertindak
sebagai operator karena juga menggarap sendiri sebagian wilayah kerjanya.
Sejalan dengan dinamika industri migas di dalam negeri, Pemerintah menerbitkan
Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi No. 22 tahun 2001. Sebagai konsekuensi
penerapan UU tersebut, Pertamina beralih bentuk menjadi PT Pertamina (Persero)
dan melepaskan peran gandanya. Peran regulator diserahkan ke lembaga
pemerintah sedangkan Pertamina hanya memegang satu peran sebagai operator
murni.
Peran regulator di sektor hulu selanjutnya dijalankan oleh BPMIGAS yang
dibentuk pada tahun 2002. Sedangkan peran regulator di sektor hilir dijalankan oleh
BPH MIGAS yang dibentuk dua tahun setelahnya pada 2004.
Di sektor hulu, Pertamina membentuk sejumlah anak perusahaan sebagai entitas
bisnis yang merupakan kepanjangan tangan dalam pengelolaan kegiatan eksplorasi
dan eksploitasi minyak, gas, dan panas bumi, pengelolaan transportasi pipa migas,

jasa pemboran, dan pengelolaan portofolio di sektor hulu. Ini merupakan wujud
implementasi amanat UU No.22 tahun 2001 yang mewajibkan PT Pertamina
(Persero) untuk mendirikan anak perusahaan guna mengelola usaha hulunya
sebagai konsekuensi pemisahan usaha hulu dengan hilir.
Atas dasar itulah PT Pertamina EP didirikan pada 13 September 2005. Sejalan
dengan pembentukan PT Pertamina EP maka pada tanggal 17 September 2005, PT
Pertamina (Persero) telah melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama
(KKS) dengan BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) yang berlaku surut sejak 17
September 2003 atas seluruh Wilayah Kuasa Pertambangan Migas yang
dilimpahkan melalui perundangan yang berlaku. Sebagian besar wilayah PT
Pertamina (Persero) tersebut dipisahkan menjadi Wilayah Kerja (WK) PT
Pertamina EP. Pada saat bersamaan, PT Pertamina EP juga melaksanakan
penandatanganan KKS dengan BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) yang berlaku
sejak 17 September 2005.
Dengan demikian WK PT Pertamina EP adalah WK yang dahulu dikelola oleh PT
Pertamina (Persero) sendiri dan WK yang dikelola PT Pertamina (Persero) melalui
TAC (Technical Assistance Contract) dan JOB EOR (Joint Operating Body
Enhanced Oil Recovery).
Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 113,613.90 kilometer persegi merupakan
limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa Pertambangan Migas PT
PERTAMINA (PERSERO). Pola pengelolaan usaha WK seluas itu dilakukan
dengan cara dioperasikan sendiri (own operation) dan kerja sama dalam bentuk
kemitraan, yakni 4 proyek pengembangan migas, 7 area unitisasi dan 39 area
kontrak kerjasama kemitraan terdiri dari 24 kontrak Technical Assistant Contract

(TAC), 15 kontrak Kerja Sama Operasi (KSO). Jika dilihat dari rentang
geografinya, Pertamina EP beroperasi hampir di seluruh wilayah Indonesia, dari
Sabang sampai Merauke.
WK Pertamina EP terbagi ke dalam lima asset. Operasi kelima asset terbagi ke
dalam 19 Field, yakni Rantau, Pangkalan Susu, Lirik, Jambi, dan Ramba di Asset 1,
Prabumulih, Pendopo, Limau dan Adera di Asset2 , Subang, Jatibarang dan Tambun
di Asset 3, Cepu dan Poleng di Asset 4 serta Sangatta, Bunyu, Tanjung,
Sangasanga, Tarakan dan Papua di Asset 5.
4.1.2 Visi, Misi dan Nilai Dasar Perusahaan
Sebagai perusahaan besar milik Negara PT. Pertamina EP memiliki visi dan misi.
Visi PT. Pertamina EP yaitu menjadi perusahaan eksplorasi dan produksi minyak
dan gas bumi kelas dunia. Adapun misinya yaitu melaksanakan pengusahaan sektor
hulu minyak dan gas dengan penekanan pada aspek komersial dan operasi yang
baik serta tumbuh dan berkembang bersama lingkungan hidup.
Dalam mencapai visi dan misi tersebut PT. Pertamina EP memiliki tata nilai yang
diterapkan, yaitu:
1. Clean (Bersih)
Dikelola

secara

profesional,

menghindari

benturan

kepentingan,

tidak

menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan integritas. Berpedoman


pada asas-asas tata kelola korporasi yang baik.
2. Competitive (Kompetitif)
Mempu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong
pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai
kinerja.

3. Confident (Percaya Diri)


Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam
reformasi BUMN dan membangun kebanggan bangsa.
4. Customer Focused (Fokus pada Pelanggan)

Beorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk memberikan


pelayanan terbaik kepada pelanggan.
5. Commercial (Komersial)

Menciptakan nilai tambah dengan orintasi komersial, mengambil keputusan


berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang sehat.
6. Capable (Bekemampuan)

Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang profesional dan memiliki talenta dan
penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam membangun kemmapuan riset dan
pengembangan.
4.1.3

Lokasi Perusahaan
Kantor pusat Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project, berlokasi
di jalan Dr. Satrio No. 164, Jakarta Selatan, Jakarta. Batasan-batasan kantor pusat
PT. Pertamina EP,yaitu:

1. Utara :

Jalan Dr. Satrio

2. Barat :

Gedung Sampoerna Strategic

3. Selatan

4. Timur :

Lahan parkir dan warung

Rumah Sakit Siloam

Lokasi project Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project, Berada di


Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Secara administratif
daerah-daerah yang berbatasan dengan project tersebut adalah sebagai berikut:
1. Utara

Kecamatan Simpang Raya

2. Barat

Kecamatan Batui Selatan

3. Selatan

Laut Malaka

4. Timur

Kecamatan Kintom

PT. Pertamina EP yang terletak di Jakarta berlokasi di jalan Dr. Satrio No. 164,
Jakarta Selatan, PT. Pertamina EP ini memiliki beberapa pola pengusahaan yang
lain adalah dengan model pengelolaan melalui proyek-proyek yang diantaranya
yaitu Pondok Makmur Development Project di Jawa Barat, Paku Gajah
Development Project di Sumatera Selatan, Jawa Gas Development Project di Jawa
Tengah dan Matindok Gas Development Project di Sulawesi Tengah.

4.2 Proses Produksi di Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project


PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project adalah salah satu
perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha di sektor hulu bidang minyak dan gas
bumi, meliputi eksplorasi dan eksploitasi. Secara umum, proses produksi gas bumi di
Matindok Gas Development Project terdapat 2 unit proses yaitu Unit Block Station dan
Unit Proses atau GPF (Gas Processing Facility). Pada unit pertama yaitu Unit Block
Station, dimana gas dari sumur produksi dialirkan ke separation unit yang akan
memisahkan kondensat, air dan gas yang dibantu menggunakan separator gas, di dalam
separator gas kondensat dan air terpisah dari gas, kondensat dan air akan mengalir dari
bagian bawah separator sedangkan gas akan mengalir dari bagian atasnya. Dari hasil
separator gas bagian bawah tersebut air yang dihasilkan akan diberikan treatment dan
akan diinjeksi ke sumur sedangkan kondensat yang dihasilkan akan distabilkan lalu di
tampung dan di jual ke CPP Senoro (bukan penjualan utama). Sedangkan separator gas
bagian atas yang mengalirkan gas dibagi menjadi dua high pressure dan low pressure.
Gas yang memiliki tekanan rendah akan disalurkan langsung ke Acid Gas Removal Unit,

sedangkan gas yang memiliki tekanan tinggi akan disalurkan terlebih dahulu ke booster
compressor, di dalam booster compresssor gas yang memiliki tekanan tinggi akan
dinaikkan tekanannya lagi menjadi 900.
Proses kedua yaitu Unit Proses atau GPF (Gas Processing Facility), dalam proses
ini gas yang dari booster cmopressor selanjutnya dikirim ke Acid Gas Removal Unit
bersama gas yang bertekanan rendah. Di dalam Acid Gas Removal Unit akan dilakukan
pembuangan atau penyerapan karbondioksida, penyerapan gas CO dan HS di dalam
absorber dan melepaskannya lagi di dalam menara stripper atau column, sehingga
diperoleh sweet gas dengan kandungan CO dan HS yang rendah. Namun dari proses
Acid Gas Removal Unit tidak hanya menghasilkan sweet gas, Acid Gas Removal Unit
juga menghasilkan acid gas, low pressure fuel gas dan sweet gas. Acid Gas Removal Unit
yang menghasilkan acid gas akan disalurkan ke dalam Sulfur Recovery Unit. Sulfur
Recovery Unit akan menghilangkan kandungan HS dari gas bumi dengan proses
produksi sulfur hanya sebagai hasil dari proses lanjutan yang harus dilakukan. Acid Gas
Removal Unit yang menghasilkan low pressure fuel gas akan dimasukkan ke dalam
tangki penampung bahan bakar (fuel) gas sebagai bahan bakar dari proses produksi. Acid
Gas Removal Unit yang menghasilkan sweet gas akan disalurkan ke dalam Dehydration
Unit. Di dalam Dehydration Unit akan mengeringkan gas, untuk menyempurnakan
pengurangan air yang terikat di dalam gas. Hasil dari Dehydration Unit adalah gas yang
sudah memenuhi syarat untuk di kirim ke konsumen. Setalah gas keluar dari unit
dehidrasi, gas masuk ke unit Dew Point Control Unit. Dew Point Control Unit akan
menjaga agar cairan tidak timbul selama pengiriman gas akibat turunnya temperatur
udara. Gas yang yang sudah memenuhi syarat sebagian kecil disalurkan ke dalam tangki
penampung bahan bakar (fuel) gas dan sebagian besarnya di dijual kepada konsumen.

Gambar 4.1 Proses produksi Gas di Fungsi Matindok Gas Development Project
4.3 Sistemn Manajemen Health Safety Security and Environment (HSSE) PT. Pertamina
EP Fungsi Matindok Gas Development Project
Dalam menjalankan proses produksinya, PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas
Development Project berpedoman pada peraturan dan persyaratan yang berlaku. Untuk
mendukung hal tersebut, maka PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development
Project menerapkan Sistem Manajemen Health Safety Security and Environment (HSSE).
Pedoman HSSE tersebut dirumuskan dan dijalankan dengan mengacu pada beberapa
Standar Internasional, diantaranya Standar ISO 14001 tentang Sistem Manajemen
Lingkungan, Standar OHSAS 18001 tentang Sistem Manajemen K3, Standar ISO 9001
tentang Sistem Manajemen Mutu, ISRS-7 (International Sustainability Rating System),
NFPA, OSHA, OGP, NORSOK, Standar SNI ISO 28000:2009 tentang Spesifikasi Sistem
Manajemen Pengaman pada Rantai Pasokan, Standar ISO 31000 tentang Manajemen
Risiko, ASME (American Society of Mechanical Engineer), ASTM (American Society of

Testing Material), ANSI (American National Standard Institute) dan API (American
Petroleum Institute).
Sistem Manajemen Health Safety Security and Environment (HSSE) PT. Pertamina
EP merupakan sistem yang bersifat dinamis, yang penerapannya dipimpin oleh pemimpin
tertinggi (Direktur) dan melibatkan seluruh karyawan PT. Pertamina EP. Penerapan
Sistem Manajemen Health Safety Security and Environment (HSSE) ini berbasis pada
kehendak Top Management yang didukung oleh seluruh karyawan untuk melakukan
peningkatan dan perbaikan yang terus menerus (continuous improvement) dalam siklus
berkesinambungan dan fleksibel, sehingga dapat tercapai suatu Kinerja HSSE sesuai
dengan Visi, Misi dan Tata Nilai Unggulan yang diharapkan. Model siklus atau tahapan
SMHSSE dapat berbentuk seperti:

Gambar 4.2 Tahapan Pelaksanaan Sistem Manajemen HSSE


Sistem Manajemen Health Safety Security and Environment (HSSE) PT. Pertamina
EP terdiri dari 8 elemen yang saling berkaitan. Elemen Health Safety Security and
Environment (HSSE) PT. Pertamina EP tersebut, yaitu:
1. Kepemimpinan dan Komitmen

2. Kebijakan, Tujuan, Sasaran dan Program HSSE


3. Organisasi, Tanggung Jawab, Sumberdaya, Pemenuhan Peraturan atau Standard
4. Manajemen Pengendalian Bahaya dan Risiko
5. Pengendalian Operasioanl dan Pemeliharaan
6. Monitoring Pelaksanaan dan Pelaporan
7. Audit SMHSSE
8. Tinjauan Manajemen

4.4 Identifikasi Pemngendalian Kontraktor atau Pihak Ketiga di PT. Pertamina EP


Fungsi Matindok Gas Development Project
Untuk dapat melakukan pengendalian terhadap operasional, maka perusahaan harus
mengidentifikasi operasi dan kegiatan yang berkaitan dengan faktor bahaya di tempat
kerja termasuk salah satunya untuk melakukan pengendalian terhadap kontraktor di
tempat kerja perusahaan. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan oleh PT.
Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project melakukan pengendalian
operasi terhadap segala kegiatan yang berada di wilayah kerja perusahaan. Berdasarkan
identifikasi dari data primer berupa wawancara serta data sekunder dari dokumen yang
ada, pengendalian kontraktor yang dilakukan oleh PT. Pertamina EP Fungsi Matindok
Gas Development Project adalah sebagai berikut:
1. Penilaian Risiko
Penilaian risiko merupakan langkah awal PT. Pertamina EP untuk mengkaji dan
menentukan sejauh mana tingkat risiko pekerjaan yang akan dikontrakkan. Semua
pekerjaan yang akan dikontrakkan oleh PT. Pertamina EP harus dikategorikan dalam
salah satu tingkat risiko, yaitu Rendah (R), Sedang (S) atau Tinggi (T). Kategori ini
akan menentukan langkah penerapan SMHSE Kontraktor selanjutnya. Di dalam

penilaian risiko harus mencakup pertimbangan-pertimbangan seperti lokasi kerja,


material yang digunakan, peralatan utama yang digunakan, kontraktor lain dalam
waktu dan tempat bersamaan dan lingkungan sosial di sekitar lokasi kerja.
Risiko yang dinilai dapat digolongkan rendah, sedang atau tinggi sesuai dengan Acuan
Penilaian Risiko yang telah ditetapkan oleh PT. Pertamina EP yang diatur dalam TKI
(Tata Kerja Individu) Penilaian Risiko Pekerjaan yang Dikontrakkan No. C017/A3/EP8000/2014-S0.

Tabel 4.1 Matriks Penilaian Risiko

2. Pra-Kualifikasi

Pra-Kualifikasi merupakan langkah untuk menjaring kontraktor potensial yang


memiliki sistem HSE dan mengimplementasikan sistemnya secara konsisten. Semua
kontraktor yang mengikuti pra-kualifikasi diharapkan mampu mengatur, mengontrol
dan mengendalikan semua aspek HSE dalam pekerjaan.
Tidak semua pekerjaan membutuhkan proses pra-kualifikasi. Terdapat beberapa
ketentuan kontraktor tidak diwajibkan mengikuti proses pra-kualifikasi, diantaranya
yaitu:
a. Pekerjaan yang digolongkan dalam risiko rendah.
b. Pekerjaan yang digolongkan dalam risiko sedang.
c. Kontraktor yang telah melewati pra-kualifikasi sebelumnya atau kontraktor yang
mendapatkan evaluasi akhir dengan predikat Good, Verry Good atau Excellent dan
disetujui oleh Direksi Pekerjaan dalam 6 bulan terakhir.
d. Telah mendapatkan Sertifikat Lulus pra-kualifikasi HSE.
Adapun langkah-langkah pada tahap Pra-Kualifikasi adalah sebagai berikut:
a

Kontraktor yang telah lolos pra-kualifikasi sebelumnya tidak diharuskan mengikuti


proses pra-kualifikasi lagi, kecuali jika komposisi Sumber Daya Manusia berubah.

Kontraktor atau mitra kerja PT. Pertamina EP yang belum pernah mengkikuti prakualifikasi atau baru, diharuskan mengisi daftar kuesioner sebagai persyaratan ikut
serta tahap pra-kualifikasi.

Untuk pekerjaan yang beresiko tinggi maka pra-kualifikasi dilakukan oleh Tim
Evaluasi (Tim Tender yang terdiri dari wakil Fungsi terkait) yang ditunjuk.

Tim Evaluasi menilai hasil keuseioner SMK3 Kontraktor sesuai Kriteria Evaluasi
Pra-Kualifikasi PT. Pertamina EP dan melakukan klarifikasi melalui kegiatan
inspeksi dan audit.

Jika tidak ada satupun kontraktor yang lolos tahap pra-kualifikasi, sedangkan
pekerjaan harus tetap dilaksanakan maka ditempuh langkah penerimaan bersyarat.
Pada kondisi seperti ini, persyaratan-persyaratan khusus harus diterapkan tanpa
mengurangi unsur HSE, tindakan pengawasan yang ketat untuk risiko relatif harus
dikenakan pada kontraktor.

Kontraktor yang lolos bersyarat sesuai kondisi yang dapat diterima, kemudian
dimasukkan dalam calon peserta lelang.

Formulir pelaksanaan pra-kualifikasi HSE calon Kontraktor dapat disebarkan ke


kantor kontraktor dalam bentuk salinan atau format elektronik. Jawaban terhadap
dokumen pra-kualifikasi HSE Kontraktor akan dievaluasi berdasarkan Kriteria
Evaluasi Pra-kualifikasi Perusahaan, dimana nilai minimum yang dapat diterima agar
kontraktor dapat lulus tahap pra-kualifikasi HSE Kontraktor adalah 56. Sedangkan
kontraktor yang tidak lulus pada tahap pra-kualifikasi akan diberikan hasil penilaian
dan saran untuk perbaikan yang disalurkan melalui Panitia Pengadaan.
3. Seleksi
Seleksi merupakan proses menilai apakah HSE Plan dan kriteria evaluasi penawaran
telah dipenuhi serta untuk memilih pemenang lelang. Seleksi HSE Plan ini merupakan
bagian dari evaluasi teknis. HSE Plan merupakan salah satu kriteria wajib pada proses
seleksi kontraktor dalam proses pengadaan dengan kategori risiko tinggi. Perencana
pekerjaan wajib mempersiapkan kerangka HSE Plan dan kriteria penilaiaannya. HSE
Plan meliputi:
a. Bagian 1 Komitmen Manajemen
b. Bagian 2 HSE Performance Incicator
c. Bagian 3 Organisasi HSE
d. Bagian 4 Risk Assessment

e. Bagian 5 Program Pengendalian Risiko


f. Bagian 6 Journey Management Plan
g. Bagian 7 Emergency Response Plan
h. Bagian 8 Investigasi Insiden
i. Bagian 9 Pengelolaan Aspek HSE Subkontraktor
j. Bagian 10 Inspeksi dan Audit HSE
Setelah proses seleksi diselesaikan, hasil seleksi dan rekomendasi HSE untuk yang ada
akan disatukan ke dalam dokumen penawaran dan harus disetujui oleh perencana
pekerjaan yang selanjutnya diteruskan ke panitia pengadaan untuk persetujuan
penetapan pemenang oleh pejabat yang berwenang. Setelah penunjukan pemenang
dilakukan dilanjutkan dengan rapat gabungan untuk mengintegrasikan HSE Plan
Kontraktor dan SMHSE Perusahaan (Gap Closure). Selanjutnya Kontraktor membuat
pernyataan resmi di atas materai untuk melaksanakan HSE Plan sesuai dengan yang
telah disepakati dalam Gap Closure. HSE Plan yang telah disepakati juga menjadi
lampiran dalam kontrak.
4. Aktivitas Awal Pekerjaan
Pemeriksaan aktivitas awal pekerjaan merupakan tahap dimana semua aspek yang
tertuang dalam HSE Plan dan aspek-aspek HSE lainnya dikomunikasikan, dipahami,
disepakati dan dipastikan untuk siap diterapkan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Pengawas pekerjaan memimpin pelaksanaan aktivitas awal pekerjaan tersebut, dalam
aktivitas awal pekerjaan terdiri dari dua langkah yaitu:
a. Pra mobilisasi, yaitu semua aspek yang mempunyai relevansi dengan penilaian
risiko kontrak dan aspek HSE lainnya dikomunikasikan agar dipahami oleh semua
pihak sebelum pelaksanaan kontrak dimulai. Dalam ruang lingkup kegiatankegiatannya adalah rapat awal, pemeriksaan dan orientasi lapangan.

b. Mobilisasi, yaitu penjaminan perusahaan dan kontraktor menetapkan metode


operasi yang sesuai dengan aspek HSE dan HSE Plan harus dikomunikasikan ke
semua pekerja terkait dan kontraktor pelaksana. Dalam ruang lingkup kegiatan
dasarnya adalah rapat awal mobilisasi, mobilisasi staf, peralatan dan perlengkapan
kontraktor serta mengadakan inspeksi mobilisasi.
5. Pemeriksaan Pekerjaan Berlangsung
Pemeriksaan saat pekerjaan berlangsung, yaitu tahap dimana mempraktikkan aspek
HSE daat pekerjaan berlangsung diperiksa, diinspeksi dan dievaluasi oleh pengawas
pekerjaan secara rutin. Dalam tahap pemeriksaan pekerjaan berlangsung merupakan
penjaminan agar pekerjaan yang dilaksanakan tersebut dilakukan sesuai dengan HSE
Plan yang disetujui dan kebutuhan HSE lainnya yang ditemukan selama pekerjaan
berlangsung.
6. Evaluasi Akhir Pekerjaan
Evaluasi akhir pekerjaan merupakan fase untuk mengevaluasi seluruh implementasi
aspek HSE selama pekerjaan berlangsung. Hasil evaluasi akan dikomunikasikan dan
ditandatangani oleh wakil perusahaan dan kontraktor dan juga digunakan sebagai
pertimbangan untuk pemilihan kontraktor pada proyek-proyek mendatang dan
penghargaan lainnya. Evaluasi akhir akan menghasilkan kriteria dan nilai sebagai
berikut:
Tabel 4.2 Penilaian SMHSE Kontraktor
Kriteria
Excellence
Very Good
Good
Average

Nilai
96 100
86 95
76 85
56 75

Hasil evaluasi SMHSE bagi kontraktor dengan nilai Excellemt, Very Good dan Good
dapat mengikuti lelang tanpa tahapan pra-kualifikasi SMHSE Kontraktor. Bagi

kontraktor dengan nilai Average dan Poor maka sertifikat pra-kualifikasi SMHSE
Kontraktornya dinyatakan tidak berlaku dan diwajibkan untuk mengikuti proses prakualifikasi kembali apabila ingin mengikuti proses pengadaan.
BAB 5
PEMBAHASAN

5.1 Penerapan Pengendalian Kontraktor atau Pihak Ketiga PT. Pertamina EP Fungsi
Matindok Gas Development Project
PT. Pertamina

EP Fungsi

Matindok

Gas

Development

Project

dalam

mengidentifikasi aktivitas yang berkaitan dengan proses konstruksi dan aspek lingkungan
serta K3 yang telah diidentifikasi sesuai dengan kebijakan, sasaran dan target Sistem
Manajemen Health Safety Security and Environment. Dalam melakukan aktivitas
tersebut, agar sesuai dengan kondisi yang ditentukan, maka PT. Pertamina EP
menetapkan:
a. Prosedur terdokumentasi untuk mengatasi situasi ketiadaan prosedur yang dapat
membawa perubahan kebijakan, sasaran dan target Sistem Manajemen Health
Safety Security and Environment.
b. Kriteria operasi prosedur.
c. Prosedur yang berkaitan dengan proses operasi dan aspek lingkungan dan K3
yang dapat diidentifikasi dari barang dan jasa yang digunakan oleh PT.
Pertamina EP dan menglkomunikasikan prosedur maupun persyaratan yang
relevan bagi supplier dan sub-kontraktor.
Berdasarkan Sistem Manajemen Health Safety Security and Environment (HSSE)
PT. Pertamina EP, yang memiliki tanggung jawab dalam melakukan pengendalian
kontraktor adalah Departemen Pengadaan. Departemen Pengadaan melakukan kerjasama

dengan bagian terkait, memilih dan menunjuk pihak kontraktor/sub-kontraktor yang


diperlukan. Departemen Pengadaan juga mempunyai tanggung jawab dalam penyusunan
daftar supplier dan sub-kontraktor terseleksi serta bertanggung jawab atas tersedianya
Lembar Data Keselamatan Bahan/Material Berbahaya atau sering disebut Material Safety
Data Sheets (MSDS).
Berdasarkan identifikasi yang telah dilakukan, PT. Pertamina EP telah melakukan
prosedur pengendalian kontraktor. Pengendalian kontraktor yang telah dilakukan apabila
dibandingkan dengan prosedur Contractor Safety Management System (CSMS) telah
sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh BPMIGAS dalam Pedoman Tata Kerja No.
Kpts-13/BP00000/2006-S8 tentang Pengelolaan Keselamatan, Kesehatan dan Lindungan
Lingkungan Kontraktor. Berikut perbandingan prosedur pengendalian kontraktor yang
dilakukan oleh PT. Pertamina EP dengan prosedur Contractor Safety Management
System (CSMS):
Tabel 5.1 Perbandingan Pengendalian Kontraktor PT. Pertamina EP dengan Prosedur
CSMS
Pengendalian Kontraktor di PT.
Pertamina EP.
Penilaian Resiko
Pra-Kualifikasi
Seleksi
Aktivitas Awal Pekerjaan
Pemeriksaan Pekerjaan Berlangsung
Evaluasi Akhir Pekerjaan

Prosedur
Contractor
Safety
Management System (CSMS)
Penilaian Resiko
Pra-Kualifikasi
Seleksi
Aktivitas Awal Pekerjaan
Pemeriksaan Pekerjaan Berlangsung
Evaluasi Akhir Pekerjaan

Berdasarkan tabel 5.1, dapat diketahui bahwa tahapan dari Contractor Safety
Management System (CSMS) yang ada di PT. Pertamina EP telah sesuai dengan prosedur
Contractor Safety Management System (CSMS) yang ditetapkan oleh BPMIGAS. PT.
Pertamina EP telah melakukan sepenuhnya tahapan pengendalian kontraktor yang ada di
dalam prosedur Contractor Safety Management System (CSMS). Pelaksanaan tahapan

Contractor Safety Management System (CSMS) mulai dari Penilaian Risiko sampai
Evaluasi Akhir sudah sepenuhnya diterapkan.

5.2 Identifikasi Prosedur Pengendalian Kontraktor Tahapan Perencanaan PT.


Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project
Berikut merupakan penjelasan rinci untuk setiap tahapan yang ada di dalam
prosedur Contractor Safety Management System (CSMS):
1. Penilaian Risiko
Penilaian risiko merupakan tahap awal yang harus dilakukan untuk mengetahui tingkat
risiko pekerjaan dengan menentukan kategori risiko pekerjaan tersebut dari rendah,
sedang hingga tinggi. Kategori risiko digunakan untuk menentukan perlu atau
tidaknya langkah-langkah SMK3 selanjutnya.
PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project mewajibkan peserta
bidder (calon kontraktor) untuk membuat matriks penilaian risiko serta bahaya dari
pekerjaan. Hal ini salah satu upaya mengembangkan program-program K3 untuk
melindungi semua pekerja. Bidder (calon kontraktor) yang telah membuat matriks
penilaian resiko harus berkonsultasi dengan unit K3 untuk menentukan penilaian
risiko pada kontraktor/sub-kontraktor untuk pekerjaan kontinyu, dan nantinya akan
diberikan masukan oleh PT. Pertamina EP apakah telah sesuai atau tidak. Penilaian
Risiko mengikuti Job Safety Analysis (JSA) yang dibuat oleh PT. Pertamina EP.
Sedangkan pada pekerjaan proyek, sebelum melakukan pekerjaan harus membuat Job
Safety Analysis (JSA) terlebih dahulu. Job Safety Analysis (JSA) ini nantinya akan
diserahkan kepada pengawas pekerjaan proyek dari PT. Pertamina EP Fungsi
Matindok Gas Development Project. Job Safety Analysis (JSA) ini dibuat untuk setiap
tahapan pekerjaan yang akan dilakukan.

Gambar. 5.1 Form Job Safety Analysis (JSA) PT. Pertamina EP

Berdasarkan data sekunder dan wawancara dengan pengawas PT. Pertamina EP Fungsi
Matindok Gas Development Project, kepatuhan dalam pembuatan Job Safety Analysis
(JSA) dari tiap kontraktor/sub-kontraktor untuk setiap pekerjaan sudah baik. Namun
penggunaan Form Job Safety Analysis yang digunakan Fungsi Matindok Gas
Development Project tidak mengacu terhadap Form Job Safety Analysis yang dibuat
oleh PT. Pertamina EP karena kurangnya komponen yang diperlukan dalam Form Job
Safety Analysis, sehingga dalam Form Job Safety Analysis yang ada di Matindok Gas
Development Project lebih kompleks. Berikut Form Job Safety Analysis (JSA) yang
digunakan oleh kontraktor/sub-kontraktor:

Gambar 5.2 contoh Form Job Safety Analysis (JSA) yang digunakan oleh
kontraktor/sub-kontraktor di Fungsi Matindok Gas Development Project

2. Pra-Kualifikasi
Pra-kualifikasi merupakan langkah yang penting untuk menyaring kontraktor yang
berkompeten. Menurut Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 pada Lampiran II
poin A kriteria 5.1.3 menyebutkan bahwa penanggung jawab kontrak harus
berkonsultasi dengan pihak K3 perusahaan sebelum meberikan keputusan atau
sebelum memilih kontraktor yang akan diberi pekerjaan. Hal ini dilakukan untuk
menetapkan persyaratan K3 yang dicantumkan dalam pra-kualifikasi.
Berdasarkan data sekunder dan wawancara yang dilakukan, untuk tahap awal dalam
mendapatkan mitra kerja untuk pekerjaan proyek dengan batasan waktu tertentu
adalah PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project mengundang

beberapa calon kontraktor/sub-kontraktor untuk mengikuti tender. PT. Pertamina EP


Fungsi Matindok Gas Development Project mengajukan persyaratan yang diperlukan
untuk melakukan pekerjaan proyek. Formulir tender diisi oleh kontraktor/subkontraktor yang disediakan oleh penanggung jawab kontrak di PT. Pertamina EP.
Tender yang dilakukan oleh PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development
Project diikuti sembilan kontraktor. Sembilan kontraktor ini mengikuti proses prakualifikasi yang ditentukan oleh PT. Pertamina EP. Berikut adalah hasil evaluasi prakualifikasi Contractor Safety Management System (CSMS).
a. Konsorsium PT. GATRAMAS INTERNUSA dan PT. GUNANUSA
Tabel 5.2 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. GATRAMAS INTERNUSA

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

x1

x 1/6

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

4
24

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

Sub
Total

Fakt
or

Total

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

4
x 1/7

x 1/3

32

x 1/5

6,4

x1

x1

x1

28

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

0
12

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN
Subtotal
TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

10

45,4

Sub
Total

Fakt
or

Total

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
45,4. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan tidak lulus tahap pra-kualifikasi
karena total nilai kurang dari 56.

Tabel 5.3 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. GUNANUSA UTAMA


FABRICATORS

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

12

x1

12

12

x1

12

x 1/6

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

Subtotal

48

Sub
Total

Fakt
or

Total

ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

8
x 1/7

6,87

x 1/3

40

x 1/5

x1

x1

ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK

48

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

8
24

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT
Subtotal

ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10

Subtotal

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

0
66,8
7

TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
66,87. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan lulus tahap pra-kualifikasi karena
total nilai lebih dari 56.

b. Konsorsium PT. IKPT dan PT. PETROFAC


Tabel 5.4 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. IKPT

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI
Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

x1

12

Sub
Total

ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

8
32

Subtotal

Fakt
or

Total

x 1/6

5,33

x 1/7

x 1/3

5,33

ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK


ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

0
28

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

8
16

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

Sub
Total

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
0

ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

20

x 1/5

x1

x1

x1

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

Total

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Fakt
or

10

Subtotal

48,6
7

TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
48,67. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan tidak lulus tahap pra-kualifikasi
karena total nilai kurang dari 56.

Tabel 5.5 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. PETROFAC

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

12

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

Subtotal

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

x 1/6

4,67

x 1/7

6,86

x 1/3

ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,


SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

8
28

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

8
48

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA

12

Sub
Total

ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
0

ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

16

x 1/5

3,20

10

x1

10

x1

x1

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

Total

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Fakt
or

10

Subtotal

59,7
2

TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
59,72. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan tidak lulus tahap pra-kualifikasi
karena total nilai kurang dari 56.

c. Konsorsium PT. KHARISMA HYDRO dan PT. FERROSTAL


Konsorsium PT. Kharisma Hydro dan PT. Ferrostal, tidak ada data HSE. Sehingga
konsorsium PT. Kharisma Hydro dan PT. Ferrostal di diskualifikasi.

d. Konsorsium PT. RAGA PERKASA EKAGUNA dan PT. PUNJ LLOYD


INDONESIA
Tabel 5.6 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. RAGA PERKASA
EKAGUNA

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

x1

x 1/6

5,33

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

8
32

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

Subtotal

Sub
Total

Fakt
or

Total

40

x 1/7

7,71

x 1/3

6,67

24

x 1/5

4,80

x1

x1

x1

TOTAL (SECT 1-SECT 4)


ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

8
20

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10

Subtotal
TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

53,5
1

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
53,51. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.

13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan tidak lulus tahap pra-kualifikasi
karena total nilai kurang dari 56.

Tabel 5.7 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. PUNJ LLOYD INDONESIA

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

x1

x 1/6

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

8
24

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

Sub
Total

Fakt
or

Total

12

8
x 1/7

5,71

x 1/3

5,33

28

x 1/5

5,60

x1

x1

x1

40

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

8
16

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10

Subtotal
TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

51,6
5

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
51,65. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan tidak lulus tahap pra-kualifikasi
karena total nilai kurang dari 56.

e. Konsorsium PT. WIJAYA KARYA dan PT. TECHNIP


Tabel 5.8 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. WIJAYA KARYA

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

12

x1

12

x 1/6

5,3

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

4
32

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

Sub
Total

Fakt
or

Total

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

12
x 1/7

9,7

x 1/3

9,3

44

x 1/5

8,8

x1

x1

x1

68

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

8
28

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10

Subtotal
TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

62,1

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
62,1. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan lulus tahap pra-kualifikasi karena
total nilai lebih dari 56.

Tabel 5.9 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. TECHNIP INDONESIA

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

12

x1

12

12

x1

12

x 1/6

8,7

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

8
52

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

Sub
Total

Fakt
or

Total

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

8
x 1/7

x 1/3

12

48

x 1/5

9,6

10

x1

10

x1

x1

56

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

12
36

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10

Subtotal
TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

80,3

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
80,3. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan lulus tahap pra-kualifikasi karena
total nilai lebih dari 56.

f. Konsorsium PT. SULUH ARDHI ENGINEERING dan PT. JGC INDONESIA


Tabel 5.10 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualifikasi PT. SULUH ARDHI
ENGINEERING

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

x1

x 1/6

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK

24

Sub
Total

Fakt
or

Total

ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

0
x 1/7

x 1/3

2,67

16

x 1/5

3,2

x1

x1

28

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

4
8

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10

Subtotal

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

7
44,8
7

TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
44,87. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan tidak lulus tahap pra-kualifikasi
karena total nilai kurang dari 56.
Tabel 5.11 Laporan Hasil Pra-Kualifikasi PT. JGC INDONESIA

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

x1

x 1/6

6,33

12

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

Subtotal

38

Sub
Total

Fakt
or

Total

ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

8
x 1/7

7,43

x 1/3

9,33

32

x 1/5

6,4

10

x1

10

x1

ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK

52

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

8
28

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT
Subtotal

ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10

Subtotal

Sub
Total

Fakt
or

Total

x1

3
63,4
9

TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
63,49. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan tidak lulus tahap pra-kualifikasi
karena total nilai kurang dari 56.

g. PT. KRAKATAU ENGINEERING


PT. Krakatau Engineering melampirkan sertifikat CSMS tahun 2010, sehingga
perlu diklarifikasi dengan melampirkan atau menunjukkan sertifikat CSMS.

h. PT. REKAYASA INDUSTRI


Tabel 5.12 Laporan Hasil Evaluasi Pra-Kualfikasi PT. REKAYASA INDUSTRI

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI
Subtotal

Sub
Total

Fakt
or

Total

12

x1

12

x1

12

Sub
Total

ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12

Fakt
or

Total

x 1/6

8,7

x 1/7

8,57

x 1/3

ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,


SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI

52

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

8
60

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12

8
24

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

12

Sub
Total

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12

Subtotal
0

ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

40

x 1/5

x1

x1

x1

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

Total

10

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

Fakt
or

10

Subtotal

68,2
7

TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)

LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

Berdasarkan tabel 5.2, total nilai yang didapatkan dari hasil pra-kualifikasi adalah
68,27. Berdasarkan standar batas minimum penilaian BP Migas Kpts No.
13/BP00000/2006-S8

mengenai

Contractor

Safety

Management

System,

perusahaan dapat lulus tahap pra-kualifikasi karena total nilai yang didapatkan
lebih dari 56. Sehingga dalam hal ini perusahaan lulus tahap pra-kualifikasi karena
total nilai lebih dari 56.

i. PT. TRIPATRA
PT. Tripatra, tidak ada data HSE. Sehingga PT. Tripatra di diskualifikasi.

Berdasarkan data yang di dapat diatas, maka dapat disimpulkan perbandingan dari
hasil akhir pra-kualifikasi, bahwa:
Tabel 5.13 Perbandingan Hasil Akhir Pra-Kualifikasi
No.
1.

2.

Bidder atau Calon Kontraktor


Konsorsium PT. GATRAMAS INTERNUSA dan PT.
GUNANUSA
PT. GATRAMAS INTERNUSA
PT. GUNANUSA
Konsorsium PT. IKPT dan PT. PETROFAC

48,67
59,72

3.

PT. IKPT
PT. PETROFAC
Konsorsium PT. KHARISMA HYDRO dan PT. FERROSTAL
PT. KHARISMA HYDRO
PT. FERROSTAL
Konsorsium PT. RAGA PERKASA EKAGUNA dan PT. PUNJ
LLOYD INDONESIA
PT. RAGA PERKASA EKAGUNA
PT. PUNJ LLOYD INDONESIA
Konsorsium PT. WIJAYA KARYA dan PT. TECHNIP

0
0

4.

5.

6.

7.

PT. WIJAYA KARYA


PT. TECHNIP
Konsorsium PT. SULUH ARDHI ENGINEERING dan PT.
JGC INDONESIA
PT. SULUH ARDHI ENGINEERING
PT. JGC INDONESIA
PT. KRAKATAU ENGINEERING

8.

PT. REKAYASA INDUSTRI

9.

PT. TRIPATRA

Total Skor Pra-Kualifikasi

45,4
66,87

53,51
51,65

62,1
80,3

44,87
63,49
*) klarifikasi
68,27
0

Dari Tabel 5.13 dapat dilihat bahwa hasil akhir pra-kualifikasi yang memenuhi nilai
minimal terdapat 2 bidder, yaitu TP. Konsorsium Wijaya Karya dan PT. Technip serta
PT. Rekayasa Industri. Maka 2 bidder tersebut yang dapat mengikuti tahap

selanjutnya. Hal tersebut telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh
BPMIGAS dalam Pedoman Tata Kerja No. Kpts-13/BP00000/2006-S8 tentang
Pengelolaan Keselamatan, Kesehatan dan Lindungan Lingkungan Kontraktor.

3. Seleksi
Dalam pelaksanaan tahap seleksi PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas
Development Project telah menyeleksi calon rekan kerja (kontraktor). Dalam tahap
seleksi ini PT. Pertamina Fungsi Matindok Gas Development Project memperhatikan
dari berbagai aspek yang dinilai, diantaranya:
a. Administrasi
b. Paket B (Pengelolaan Proyek)
c. Paket C (Teknis)
Dari hasil seleksi tersebut didapat pemenang bidder adalah Konsorsium Wijaya Karya
dan PT. Technip. Seleksi tersebut telah sesuai dengan mengacu pada pedoman
BPMIGAS.

4. Pemeriksaan Awal Pekerjaan


Dalam pelaksanaan pemeriksaan awal pekerjaan PT. Pertamina EP Fungsi Matindok
Gas Development Project telah melakukan kick of meeting antara pihak PT. Pertamina
EP Fungsi Matindok Gas Development Project dengan pihak kontraktor yaitu
Konsorsium PT. Wijaya Karya dan PT. Technip untuk menyampaikan keinginan pada
proyek karena dalam hal ini PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development
Project sebagai pemilik pekerjaan. Hal tersebut telah sesuai dengan Peraturan
Pemerintah No. 11 Tahun 1979 pasal 2 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian
dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi.

5. Pekerjaan Berlangsung
Dalam pelaksanaan tahap pekerjaan berlangsung PT. Pertamina EP Fungsi Matindok
Gas Development Project yang sebagai pemilik pekerjaan telah melakukan audit K3,
berupa:
a

Inspeksi Health Safety Environment yang meliputi kebersihan tempat kerja, alat
pelindung diri, pencegahan dan perlindungan kebakaran, tanda-tanda, sinyal dan
tanda peringatan, komunikasi bahaya, bahan berbahaya, peralatan tangan dan
listrik, keamanan elektrikal, welding cutting and grinding, gas bertekanan, tempat
tertutup, tangga, perancah atau penahan, penggalian, peralatan angkut, cranes dan
hoist, pembukaan dinding serta sistem komunikasi.

Program Kerja Health Safety Environment yang meliputi pertemuan safety, inspeksi
HSE, promosi HSE, komunikasi supervisor pekerja,

latihan situasi darurat,

pelaporan kecelakaan, insiden dan invesitigasi insiden serta SMHSE SubKontraktor.


Dari hasil audit tersebut PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project
nantinya akan melaporkan segala bentuk kinerja pegawai rekan kerja kepada pemilik
perusahaan rekanan tersebut agar rekanan kerja dapat melakukan perbaikan pada
setiap kekurangan yang ditemukan, hal tersebut telah sesuai dengan Peraturan
Pemerintah No. 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan
Pengolahan Minyak dan Gas Bumi.

6. Evaluasi Akhir

Dalam pelaksanaan evaluasi akhir PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas


Development Project masih belum dilaksanakan karena masih tahap kontruksi.

BAB 6
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project telah melakukan
kegiatan pengendalian kontraktor hingga tahap Pekerjaan Berlangsung, untuk penilaian
akhir belum dilakukan. Pengendalian Kontraktor yang dilakukan oleh pihak PT.
Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project talah sesuai dengan prosedur
Contractos Safety Management System yang ditetapkan oleh BPMIGAS dalam Pedoman
Tata Kerja No. Kpts-13/BP00000/2006-S8 tentang Pengelolaan Keselamatan, Kesehatan
dan Lindungan Lingkungan Kontraktor.

6.2 Saran
Sebaiknya PT. Pertamina EP Fungsi Matindok Gas Development Project,
khususnya disiplin Health Safety Security and Environment memberikan masukan
terhadap Health Safety Security and Environment pusat terkait komponen dan pengisian
di Form Job Safety Analysis agar nantinya arsip atau data dalam perusahaan tidak
berbeda dan dapat dipahami oleh semua.

DAFTAR PUSTAKA
Anonym, 2007. OHSAS 18001:2007 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Persyaratan.
Boediono, S. dan Jusuf. M.S. 2005. Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
BPMIGAS. 2006. Pedoman Tata Kerja BPMIGAS. No. Kpts 13/BP00000/2006-S8 tentang
Pengelolaan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan Kontraktor.
Depnakertrans R.I., 2009. Undang-undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja :
Himpunan Peraturan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Jakarta: Ditjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan
Falenshina, Nizhenifa, 2012. Implementasi Contractor Safety Management System (CSMS)
Terhadap Kontraktor Project TA Unit CD III PT Pertamina RU III Palembang.
Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
HSSE. 2014. Pedoman Sistem Manajemen HSE Kontraktor. No. A-002/A3/EP8000/2014-S0.
Jakarta; PT. Pertamina EP
HSSE. 2014. Tata Kerja Organisasi. Prakualifikasi SMHSE Kontraktor. No. B011/A3/EP8000/2014-S0. Revisi 1. Jakarta; PT. Pertamina EP
HSSE. 2014. Tata Kerja Individu. Penilaiaan Prakualifikasi SMHSE Kontraktor. No. C018/A3/EP8000/2014-S0. Revisi 1. Jakarta; PT. Pertamina EP
HSSE. 2014. Tata Kerja Individu. Pelaksanaan Inspeksi dan Evaluasi HSE Kontraktor. No.
C-020/A3/EP8000/2014-S0. Revisi 1. Jakarta; PT. Pertamina EP
HSSE. 2015. Pedoman Sistem Manajemen HSSE. No. A-001/A3/EP8000/2015-S0. Revisi 2.
Jakarta; PT. Pertamina EP
Mathis, Robert L dan John H. Jackson. 2002. Manajemen SDM (Buku 2). Jakarta; Salemba
Empat
Peraturan Pemerintah No 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja
Ramli, Soehatman. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja OHSAS 18001.
Jakarta; Dian Rakyat
Sumamur, P.K, 2009. Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PT. Toko Gunung
Agung. Cetakan XII

LAMPIRAN 1

Gambar 1. Pedoman Sistem Manajemen HSSE PT. Pertamina EP


LAMPIRAN 2

Gambar 2. Pedoman Sistem Manajemen HSE Kontraktor PT. Pertamina EP

LAMPIRAN 3

CONTOH JENIS KONTRAK YANG UMUM DAN TINGKAT RISIKONYA


(hanya untuk referensi)

No.

Jenis Pekerjaan

Pekerjaan pemboran dan yang terkait: pekerjaan lumpur, penyemenan,


logging, well velocity survey.
1. Sack cutting, Bulk Storage & Handling Services

2. Cementing Material & Services

3. Downhole Drilling Tools

4. Casing Cutting & Fishing Tools

5. Casing & Tubing Handling Tools & Services

6. Drilling and completion Fluid material and engineering services

7. Downhole DST

8. Directional Drilling & Downhole Survey

9. Rig positioning and hazard survey agreement

10. Drilling data aquisition and mud logging services

11. Drilling rig contract

T*

12. Drilling, workover specialist services

13. Coring services

Pekerjaan Panas: pengelasan, hot tapping, pemotongan, sand blasting di


daerah process plant , Storage & Loading, Utilities.
1. Welding dan Pekerjaan jasa fitting pipa

Keseluruha
n Tingkat
Risiko
Relatif

Pekerjaan well services dan work-over


1. Pekerjaan workover subsea wellhead

2. Pekerjaan jasa dan peralatan completion

Jasa Transportasi (air, laut dan udara)


1. Pekerjaan workover subsea wellhead

2. Pekerjaan jasa dan peralatan completion

3. Kontrak sewa kendaraan Field

4. Kontrak/sewa peralatan berat

5. Kontrak/sewa angkutan berat

T*

6. Perjanjian sewa helikopter

T*

7. Perjanjian sewa pesawat

T*

8. Kelengkapan vesel/tug boat/anchor handling tug supply

9. Kelengkapan kru kapal (termasuk jasa operasi dan


pemeliharaan)

10. Temporary Local Moving

Pekerjaan Fabrikasi dan Konstruksi


1. Pekerjaan sipil dan pembersihan lahan-jalan, jembatan
termasuk jasa pemeliharaan/perbaikan dan modifikasi

2. Jasa pemeliharaan umum dan penerangan saat konstruksi

3. Penyewaan dan overhaul genset

4. Pekerjaan jasa untuk menara telekomunikasi

5. Pekerjaan jasa perancah

Perbaikan dan Pemeliharaan Peralatan Mekanikal, Elektrikal dan


Instrumentasi
1. Kontrak insulasi
2. Pemeliharaan AC, Pemanas air dan peralatan elktrikal lainnya
3. P/F, Ships, FPSO refurbishmenrt and repair

1. Chemical cleaning contract (Field)

2. Chemical cleaning contract (Perkantoran)

Jasa Penyelaman Laut, Water Blasting


1. Jasa ROV

2. Inspeksi struktur bawah air

3. Jasa penyelaman

Pengetesan, Inspeksi dan Resertifikasi


2. Surface readout electronic pressure gauges

T
T (S)

3. Jasa dan peralatan surface well test

4. Jasa NDT (Radigrafi, PWHT, dsb)

5. Pengetesan dan isertifikasi peralatan

6. Survey IR dan proteksi katodik

Kontrak Engineering Procurement and Construction (EPC)


1. Engineering, Procurement, Construction and Installation (EPCI)
2. Perbaikan/Pembangunan rumah/camp (tergantung dari
besarnya camp)

T (S)

Pembersihan Bejana Tekan dan Separator

1. Jasa monitoring H2S

T*
T atau S

Teknis dan administrasi penunjang: engineering, kajian lingkungan,


konsultasi teknis, pelatihan, penyediaan tenaga kerja
1. Jasa analisa subsurface

2. Kursus Pelatihan (di perkantoran)

3. Kursus Pelatihan (di Lapangan)

Pelayanan Katering
1. Pelayanan katering (on shore)

2. Pelayanan katering (off shore)

Pemeliharaan Jalur Pipa, Perbaikan Kebocoran Pipa


1. Kontrak pigging

2. Subsea flowline flushing

Pekerjaan Pelayanan Umum yang Tidak Berlokasi di Lapangan atau Unit


Proses : Perbaikan Perumahan, Jasa Fotokopi, Perbaikan Peralatan
Perkantoran, dsb
1. Seismic reprocessing services

2. Wellsite geological services Field

3. Reservoir fluids analysis services

4. Penyewaan dan servis peralatan Komputer

5. Penyewaan dan servis peralatan Mesin Fotokopi

6. Penyewaan dan servis peralatan PABX

7. Servis dan penyewaan peralatan terminal satelit

8. Cleaning services untuk perkantoran

9. Perjanjian penyewaan dan servis peralatan Unix Machine

10. Jasa agen pengiriman barang umum

11. Penyewaan dan servis peralatan jaringan

12. Penyewaan dan servis peralatan radiao digital

13. Perjanjian jasa travel

14. Jasa pembersihan karpet


15. Perjanjian sewa kantor

16. Perjanjian sewa perumahan

17. Kontrak pemeliharaan perumahan

18. Perjajian jasa kurir

19. Jasa pengiriman kargo

20. Sewa Furniture

21. Jasa landskap


O

S (R)

T (S)

Survey Seismik
1. Pekerjaan survey geoteknik

2. Pekerjaan geofisik Route survey

3. Seismic aquisition

Jasa dan Sewa Gudang


1. Fasilitas gudang Batam dan jasa pendukungnya

2. Jasa penyewaan fasilitas kamp

3. Jasa penyimpanan peralatan

Unit Proses outsourcing


1. Fasilitas proses (plant)

2. Jasa penyewaan heat exchanger

Kontrol Hama
1. Perjanjian servis kontrol hama

Penanganan Limbah
1. Jasa penanganan limbah

Catatan :
T* = Resiko sangat tinggi

LAMPIRAN 4

Gambar 3. Tata Kerja Organisasi Pra-Kualifikasi SMHSE Kontraktor


LAMPIRAN 5

Gambar 4. Tata Kerja Individu Penilaian Pra-Kualifikasi SMHSE Kontraktor

LAMPIRAN 6
Kriteria Sistem Evaluasi Manajemen HSE Kontraktor
Check List Sistem Rating Pra Kualifikasi

Tanggal

Kontraktor

PERTAMINA EP, yang selanjutnya disebut sebagai Perusahaan, melakukan perbaikan terus
menerus terhadap keselamatan, kesehatan dan lingkungan tempat kerjanya untuk
kepentingan para pekerja, kontraktor dan penduduk sekitar. Hanya kontraktor yang
memiliki kepemimpinan dan sistem manajemen yang menghasilkan kinerja keselamatan,
kesehatan kerja dan lindungan lingkungan (HSE) yang baik yang akan diikutsertakan ke
dalam daftar kontraktor lulus pra kualifikasi. Harap formulir pra kualifikasi ini dilengkapi
dan dikembalikan sesuai dengan instruksinya jika anda ingin dimasukkan ke dalam daftar
kontraktor lulus pra kualifikasi tersebut.

Untuk dipertimbangkan sebagai kontraktor yang memenuhi syarat untuk melaksanakan


perkerjaan tertentu bagi Perusahaan, anda harus memenuhi kriteria penerimaan
minimum yang ditetapkan oleh Perusahaan.

Perusahaan mengharapkan bahwa Anda :


-

Memiliki dokumentasi Program HSE mengikuti syarat pokok Perusahaan bagi


pekerjaan yang dilakukan
Memiliki program untuk memenuhi persyaratan HSE
Menyetujui bahwa semua subkontraktor yang digunakan akan memenuhi
persyaratan tersebut di atas

Harap mengembalikan formulir yang telah diisi kepada :

Jika diperlukan bantuan dalam mengisi formulir ini harap menghubungi :

Perusahaan memiliki hak untuk memeriksa dan mewawancarai setiap pegawai


penting Anda mengikuti Audit Pra kualifikasi HSE yang terdapat dalam STK
Perusahaan. Segala keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan akan berakibat
penolakan / diskualifikasi terhadap perusahaan Anda sebagai kontraktor yang lulus
pra kualifikasi HSE Perusahaan

Harap mengembalikan formulir ini dilengkapi dengan lampiran pendukung ke alamat


di atas sebelum :

Tanggal

Jam

KETERANGAN UMUM
1. Nama Perusahaan :
Alamat :

Telepon / Fax :
2. Pejabat
Pimpinan

Nama

Lama Bekerja di
Perusahaan

Wakil
Pimpinan
3. Berapa tahun organisasi Anda berusaha dengan nama Perusahaan
yang sekarang?

4. A. Nama Perusahaan Induk

Kota

Negara

Kode Pos

Anak Perusahaan :

B. Nama Perusahaan Prinsipal

Kota

Negara

Kode Pos

5. Dibawah Manajemen Sekarang sejak (tanggal)


6. Kontak untuk keterangan asuransi
Jabatan
Telepon

Fax

7. Penanggung Asuransi
Nama
Jenis Asuransi

Telepon

8. Apakah Anda menjamin sendiri kompensasi asuransi untuk karyawan

Ya

Tidak

9. Kontak untuk permintaan penawaran


Jabatan
Telepon

Fax

10. Formulir Pra kualifikasi diisi dan ditandatangani oleh

Nama :

*) Formulir ini harus diisi dan diketahui oleh Pimpinan


Perusahaan yang berwenang

Tanda tangan

Jabatan

Telepon

ORGANISASI

Fax

11. Bentuk Usaha

Firma

Perseroan Terbatas

Lain-lain

12. Uraikan jenis pekerjaan lain dalam kelompok jasa yang biasa Anda
lakukan yang Anda
subkontakkan kepada pihak lain :

RIWAYAT PEKERJAAN PERUSAHAAN


13. Pekerjaan-pekerjaan besar yang sedang dikerjakan (pakai kertas
tambahan bila perlu)
Pelanggan /
Jenis
Kontak
Nilai (Rp)
Telepon
Lokasi
Pekerjaan
Pelanggan

14. Pekerjaan besar yang diselesaikan dalam 3 tahun terakhir


Pelanggan /
Jenis
Kontak
Nilai (Rp)
Lokasi
Pekerjaan
Pelanggan

Telepon

15. Apakah Perusahaan Anda sedang menghadapi masalah, klaim atau


tuntutan yang belum
tuntas?
Jika Ya, harap lampirkan rincian

Tidak

16. Apakah Anda sedang (atau pernah) mengalami pailit atau

Ya

perombakan organisasi karena


tuntutan hukum
Jika Ya, harap lampirkan rincian

Ya

Tidak

Nama Perusahaan
Nama Pekerjaan

Elemen 1 : Kepemimpinan dan Komitmen


1.1. Komitmen HSE melalui kepemimpinan
a)

Bagaimana para senior manajer terlibat secara pribadi dalam


manajemen HSE? Lampirkan bukti

b)

Memberikan bukti komitmen pada semua tingkat organisasi ?


Lampirkan bukti

c)

Bagaimana Anda mempromosikan budaya yang positif terhadap


masalah masalah HSE? Lampirkan bukti

Elemen 2 : Tujuan Kebijakan HSE dan Strategi


2.1. Kebijakan dan Dokumen HSE
a)

Apakah perusahaan mempunyai dokumen kebijakan HSE ?


Ya
Tidak
Jika Ya, lampirkan.

b)

Siapa yang memikul tanggung jawab keseluruhan dan tanggung


jawab akhir dari HSE dalam organisasi Anda? Lampirkan bagan
organisasi

c)

Siapa orang yang paling senior dalam organisasi yang bertanggung


jawab terhadap kebijakan HSE yang sedang dijalankan pada daerah
kewenangan dan lokasi di mana karyawannya bekerja ? Lampirkan
bagan organisasi

2.2. Tersedianya Pernyataan Kebijakan HSE bagi Karyawan


a)

Jelaskan secara rinci metoda-metoda yang Anda gunakan sebagai


sumber pernyataan kebijakan HSE kepada semua karyawan Anda.

b)

Pengaturan apa yang Anda punyai untuk memberitahu karyawan


mengenai perubahan kebijakan HSE ? Lampirkan bukti/prosedur

Elemen 3 : Organisasi, Sumber Daya, Standar dan Dokumentasi


3.1. Organisasi Komitmen dan Komunikasi
a)

Bagaimana keterlibatan manajemen dalam aktivitas-aktivitas HSE,

penetapan tujuan dan pemantauan ?


Lampirkan bukti

b)

Apakah Anda punya organisasi HSE ? Ada


Tidak.
Kalau ada, tunjukkan bagan organisasi dan uraian tanggung jawab.

c)

Bagaimana struktur perusahaan Anda dibuat untuk mengelola dan


mengkomunikasikan HSE secara efektif ?
Lampirkan bagan organisasi

d)

Ketentuan apa yang dibuat perusahaan Anda untuk rapat-rapat


komunikasi HSE ?
Lampirkan bukti/prosedur

3.2. Kemampuan dan Pelatihan Manajer/Pengawas/Petugas Senior


Lapangan/Penasihat HSE
Apakah para manajer dan pengawas di semua tingkat yang akan
merencanakan,
memantau,
memperkirakan
dan
melaksanakan
pekerjaan sudah menerima pelatihan formal HSE sesuai tanggung jawab
mereka dalam kaitannya dengan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan
persyaratan-persyaratan HSE ?
Sudah
Belum
Jika sudah, berikan rincian. Jika pelatihan diberikan in-house, jelaskan
materi dan lamanya kursus.

3.3. Kemampuan dan Pelatihan HSE Umum


a)

Pengaturan apa yang telah dibuat perusahaan Anda untuk


memastikan bahwa karyawan mempunyai pengetahuan tentang HSE
dasar dalam industri, dan untuk menjaga agar pengetahuan tersebut
selalu up to date ? Lampirkan bukti/prosedur

b)

Pengaturan apa yang telah dibuat perusahaan Anda untuk


memastikan bahwa karyawan, termasuk subkontraktor, juga
memahami kebijakan dan tata cara HSE Anda ? Lampirkan
bukti/prosedur

c)

Pengaturan apa yang telah dibuat perusahaan Anda untuk


memastikan bahwa karyawan dan karyawan subkontraktor yang
baru telah diberi instruksi dan menerima informasi mengenai bahaya
spesifik yang timbul dari sifat pekerjaan ? Pelatihan apa yang telah
Anda berikan untuk memastikan bahwa semua karyawan
mengetahui
semua
persyaratan-persyaratan
perusahaan
?
Lampirkan bukti/prosedur

d)

Pengaturan apa yang telah dibuat perusahaan Anda untuk


memastikan bahwa pengetahuan HSE karyawan yang sekarang
selalu up to date ? Jika pelatihan dilakukan in-house berikan rincian
materi pelatihan. Lampirkan bukti/prosedur

3.4. Pelatihan Khusus


a)

Bagaimana Anda telah mengidentifikasi lokasi di dalam operasi Anda


di mana pelatihan khusus diperlukan untuk menghadapi bahaya
yang mungkin terjadi ? Berikan daftar dan rincian dari pelatihan
yang diberikan.
Lamprikan bukti

b)

Jika suatu pekerjaan khusus melibatkan radioaktif, pembuangan


asbes, bahan kimia atau bahaya kesehatan kerja lainnya, bagaimana
bahaya tersebut diidentifikasi, dinilai dan diatasi ?
Lampirkan bukti/prosedur

3.5. Karyawan yang mempunyai Kemampuan HSE Pelatihan


Tambahan
Apakah perusahaan Anda mempekerjakan staf yang memiliki kualifikasi
HSE yang ditujukan untuk memberikan pelatihan yang lebih dari sekadar
persyaratan dasar ?
Ya
Tidak
Format kualifikasi keselamatan mana yang dipunyai oleh staf Anda ?
Jelaskan. Lampirkan bukti

3.6. Penilaian mengenai kesesuaian subkontraktor / Perusahaan Lain


a)

Bagaimana Anda menilai :


Kemampuan HSE
Catatan HSE subkontraktor dan perusahaan-perusahaan yang Anda
kontrak ? Lampirkan prosedur

b)

Di mana Anda menjelaskan standar yang Anda tuntut agar dipenuhi


oleh kontraktor Anda ? Lampirkan bukti

c)

Bagaimana Anda memastikan standar-standar di bawah ini telah


dipenuhi dan diperiksa ?
Pelatihan keselamatan bagi karyawan yang bekerja.
Proses penerimaan karyawan yang akan bekerja untuk proyek
Anda.
Karyawan memahami komitmen, kebijakan, tujuan dan standar
perusahaan.
Rencana berhubungan dengan subkontraktor ? kalau ada ?
Lampirkan bukti/prosedur

a)

Tolong disediakan nama-nama subkontraktor utama, pada saat ini,


kalau diketahui.

3.7. Standar
a) Apakah Anda memiliki Standard HSE ? Lampirkan bukti
b) Bagaimana cara Anda memastikan bahwa standar HSE tersebut
dilaksanakan ? Lampirkan bukti/prosedur

c)

Bagaimana Anda mengetahui standar-standar industri dan aturan


baru HSE yang mungkin berlaku bagi aktivitas Anda ?
Lampirkan bukti/prosedur

d) Adakah struktur menyeluruh untuk membuat, memperbarui dan


menyebarkan standar HSE ?
Lampirkan bukti/prosedur

Elemen 4 : PENANGANAN BAHAYA DAN DAMPAK


4.1. Penanganan Bahaya dan Pengaruh
Teknik apa yang Anda gunakan dalam perusahaan Anda untuk
mengidentifikasi, menilai, mengawasi dan mengurangi bahaya dan
dampak ?

Lampirkan bukti/prosedur

4.2. Paparan terhadap Pekerja


Sistem apa yang ada untuk memantau paparan pekerja Anda terhadap
bahan kimia atau unsur-unsur fisik ?
Lampirkan bukti/prosedur

4.3. Penanganan Bahaya yang Potensial


Bagaimana pekerja Anda memberitahu pekerja mengenai bahaya yang
mungkin timbul seperti bahan kimia, kebisingan, radiasi dsb. dalam
pekerjaan mereka ?
Lampirkan bukti/prosedur

4.4. Alat Pelindung Diri (Personal Protective Equipment)


a) Pengaturan apa yang dipunyai perusahaan Anda untuk pengadaan
dan pemberian protective equipment dan pakaian kerja, baik yang
standar maupun yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan khusus ?
Lampirkan bukti/prosedur

b) Apakah Anda menyediakan Alat Pelindung Diri / Personnel Protective


Equipment (APD/PPE) yang sesuai untuk karyawan Anda ? Berikan
daftar APD/PPE untuk lingkup kerja ini.

c)

Apakah Anda memberikan pelatihan mengenai cara menggunakan


APD/PPE ? Jelaskan materi pelatihan dan setiap tindak lanjutnya.
Lampirkan bukti/prosedur

d) Apakah Anda mempunyai program untuk memastikan bahwa


APD/PPE digunakan dan dijaga ? Lampirkan bukti/prosedur

4.5. Penanganan Limbah (Waste Management)


a) Sistem apa yang ada untuk identifikasi, klasifikasi, pengurangan dan
penanganan limbah ? Lampirkan bukti/prosedur

b) Apakah sistim tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang


berlaku ?

c)

Berikan jumlah kecelakaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan


dalam jumlah yang melebihi USD$ 1,000,000 untuk 24 bulan
terakhir. Lampirkan copy laporan yang dikirim ke pemerintah.

d) Apakah Anda mempunyai prosedur untuk pembuangan limbah ?


Ya
Tidak
Lampirkan bukti/prosedur

e) Apakah sistim tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang


berlaku ?

f)

Apakah Anda mempunyai prosedur untuk melaporkan tumpahan


minyak dan / atau bahan berbahaya lainnya ?
Ya
Tidak
Lampirkan bukti/prosedur

g) Apakah Anda mempunyai prosedur untuk pembersihan tumpahan


minyak dan / atau bahan berbahaya lainnya ?
Ya
Tidak

Lampirkan bukti/prosedur

h) Berikan rincian mengenai peralatan Anda yang berkaitan dengan


masalah lingkungan.

i)

Siapa orang yang berwenang untuk mengkoordinasikan masalah


lingkungan dan bagaimana dengan pengalamannya ?
Lampirkan bukti

4.6. Kesehatan Industri (Industrial Hygiene)


a) Apakah Anda mempunyai program kesehatan industri ?
Ya
Tidak
Kalau ada, apa saja yang termasuk di dalamnya ?
Lampirkan bukti/prosedur

b) Apakah Anda mempunyai penilaian risiko, atau usaha serupa, untuk


mengidentifikasi bahaya di tempat kerja ? Jelaskan proses ini.
Lampirkan bukti/prosedur

c)

Jika Anda mendatangkan bahan / zat berbahaya ke tempat kerja,


jelaskan proses yang akan Anda gunakan untuk mendokumentasikan
dan mengawasinya. Lampirkan bukti/prosedur

4.7. Obat-obatan dan Minuman Keras


Apakah Anda mempunyai kebijakan mengenai obat-obatan dan minuman
keras dalam organisasi Anda ? Kalau demikian, apakah itu termasuk
dalam ujian penerimaan karyawan dan pengujian acak ? Lampirkan
bukti/prosedur

Elemen 5 : PERENCANAAN DAN PROSEDUR


5.1. Buku panduan HSE dan Operasi
Apakah Anda mempunyai buku panduan HSE perusahaan atau buku
panduan Operasi yang sesuai dengan aturan-aturan HSE yang dijelaskan
secara rinci dalam cara kerja HSE dan aturan keselamatan yang disahkan
oleh perusahaan seperti yang menyangkut perancah (scaffolding) alat
pengangkat, alat-alat berat, bejana tekan atau penggalian ?
Ya
Tidak
Jika jawabannya Ya, lampirkan copy dari dokumen pendukung.
Bagaimana Anda memastikan bahwa cara kerja dan prosedur yang
digunakan oleh karyawan di lapangan konsisten dengan tujuan dan
pengaturan kebijakan HSE Anda ? Lampirkan bukti/prosedur

5.2. Pengawasan dan Perawatan Peralatan


Bagaimana Anda memastikan bahwa stasiun produksi dan peralatan
yang digunakan di wilayah kerja Anda, lokasi, atau pada lokasi lain oleh
karyawan Anda, didaftarkan, disertifikasi sesuai tuntutan peraturan,
diinspeksi, diawasi dan dirawat dengan benar dan dalam kondisi kerja
yang baik ? Lampirkan bukti/prosedur

5.3. Penanganan dan Perawatan Keselamatan Transportasi


Pengaturan apa yang dipunyai perusahaan Anda untuk pencegahan

kecelakaan kendaraan ? Lampirkan bukti/prosedur

Elemen 6 : PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN KINERJA


6.1. Manajemen HSE dan pemantauan Kinerja dalam Aktivitas Kerja
a) Pengaturan apa yang dipunyai perusahaan Anda untuk pengawasan
dan pemantauan kinerja HSE? Lampirkan bukti/prosedur

b) Kriteria kinerja seperti apa yang digunakan dalam perusahaan Anda;


berikan contoh

c)

Pengaturan
apa
yang
dipunyai
perusahaan
Anda
untuk
menyampaikan setiap hasil dan temuan dari pengawasan dan
pemantauannya kepada :
i) Manajemen pusat Anda ?
ii) Karyawan lapangan ?
Lampirkan bukti/prosedur

d) Pernahkan perusahaan Anda menerima penghargaan untuk prestasi


kinerja HSE? Lampirkan bukti
Sudah
Belum

6.2. Program Keselamatan


a) Apakah Anda menyelenggarakan safety meeting di tempat Anda
sendiri ? Lampirkan bukti
Ya
Tidak Jelaskan frekuensi, peserta dan topiknya.

b)

Apakah Anda mengorganisasikan kampanye untuk menstimulasi


cara kerja yang aman ?
Ya
Tidak
Kalau iya, berikan rincian

6.3. Insiden /Kejadian berbahaya, Tuntutan Perbaikan, dan


Pemberitahuan Larangan yang bersifat Hukum
Pernahkan perusahaan Anda mengalami keharusan perbaikan atau
pemberitahuan larangan dalam hal insiden/kejadian berbahaya yang
bersifat hukum oleh badan nasional yang relevan, badan yang berwenang
dalam HSE, atau otoritas penegak hukum lainnya atau diperkarakan di
bawah undang-undang HSE selama lima tahun terakhir ini ?
Pernah
Tidak
Jika jawaban Anda Pernah, berikan rinciannya.

6.4. Catatan Kinerja HSE


a) Apakah Anda menyimpan catatan mengenai insiden dan kinerja HSE
Anda untuk lima tahun terakhir ?
Ya
Tidak
Jika Ya, berikan yang berikut ini :
Jumlah korban
Lost Time Injuries
Kasus kehilanganHari Kerja
Kasus Tindakan Medis
Restricted Work Day Cases
Fatal Accident Rate
Lost Time Injury Frequency
Total Recordable Incident Rate for each year

Sertakan definisi perusahaan Anda mengenai istilah-istilah di atas


dalam lembaran terpisah.

b) Bagaimana kinerja kesehatan didokumentasikan ?


Lampirkan bukti/prosedur

c)

Bagaimana kinerja lingkungan didokumentasikan ?


Lampirkan bukti/prosedur

d) Setiap berapa lama kinerja HSE Anda ditinjau ? oleh siapa ?


Lampirkan bukti/prosedur

6.5. Investigasi dan Pelaporan


a) Apakah Anda mempunyai prosedur untuk investigasi, pelaporan, dan
tindak lanjut insiden, kejadian berbahaya atau penyakit di tempat
kerja ?
Ya
Tidak
Kalau Ya lampirkan.

b) Bagimana temuan setelah investigasi, atau insiden yang relevan


yang terjadi di tempat lain, dikomunikasikan kepada karyawan
Anda ? Lampirkan bukti/prosedur

c)

Apakah pelajaran keselamatan dari Kecelakaan yang hampir terjadi


(near miss) dilaporkan ?
Ya
Tidak
Lampirkan bukti/prosedur

d) Sediakan salinan dari laporan investigasi untuk 12 bulan terakhir.


Elemen 7 : AUDIT DAN KAJI ULANG
a) Apakah Anda mempunyai kebijakan tertulis mengenai audit HSE
Ya
Lampirkan bukti

Tidak

b) Bagaimana kebijakan tersebut menjelaskan standar audit, termasuk


audit mengenai tindakan yang tidak aman dan kualifikasi untuk
auditor ? Lampirkan bukti/prosedur

c)

Apakah Rencana HSE perusahaan Anda menyertakan jadwal audit ?


Ya
Tidak
Bidang auditing mana yang dicakup ? Lampirkan bukti/prosedur

d) Bagaimana efektifitas auditing diperiksa dan bagaimana manajemen


melaporkan dan
bukti/prosedur

menindaklanjuti

hasil

audit

Lampirkan

Elemen 8 : PROSEDUR TANGGAP DARURAT (EMERGENCY RESPONSE


PROCEDURE)
Apakah Anda mempunyai rencana tanggap darurat ?
Ya

Tidak
Apakah Anda mempunyai Organisasi Keadaan Darurat ?
Ya Tidak
Berikan daftar prosedur dan organisasi keadaan darurat.
Jelaskan bagaimana kesiapan darurat dijaga dan bagaimana struktur
komando dalam keadaan darurat.

Elemen 9 : MANAJEMEN HSE - CIRI TAMBAHAN

a) Jelaskan sifat dan sejauh mana partisipasi perusahaan Anda dalam


organisasi yang relevan dengan
pemerintahan. Lampirkan bukti

industri,

perdagangan,

dan

b) Apakah perusahaan Anda mempunyai ciri atau aturan HSE lain yang
tidak dicantumkan di dalam tanggapan Anda terhadap kuesioner.
Lampirkan

LAMPIRAN 7
Kriteria Penilaian Pra kualifikasi
Sistem Manajemen HSE Kontraktor
A
B
C
Elemen 1 : Kepemimpinan dan Komitmen

Komitmen HSE melalui kepemimpinan: Butir 1 (1)


Tidak
ada
komitmen dari
Manajemen
Senior

Disiplin
HSE
diberikan
pada
tingkat
manajer
tidak
langsung
melibatkan
Manajemen senior

Bukti
manajemen
senior yang aktif
terlibat
didalam
kegiatan HSE

Bukti suatu kebiasaan


positif
HSE
dari
manajemen senior dan
pada semua tingkat

Elemen 2 : Tujuan-tujuan Kebijakan dan Strategi


Adanya kebijaksanaan HSE : Butir 2(1) dan 2(2)
Secara tertulis Ada HSE tetapi
tidak
ada belum
Kebijakan HSE terdistribusi
secara meluas

Kebijakan HSE yang


merupakan
tanggung
jawab
terhadap
HSE
dibuat
dalam
bahasa
yang
mudah
untuk
dipahami,
tetapi
tidak
didistribusikan
secara luas

Peraturan dengan tugas


dan tanggung jawab
yang
jelas;
didistribusikan kepada
semua karyawan; dan
bisa dilihat di papan
pengumuman.

Elemen 3 : Organisasi, Tanggung jawab, Sumber Daya, Standar dan


Dokumentasi
Program-program rapat dan musyawarah HSE : Butir 3 (1)
Tidak
ada
keterlibatan
atau komitmen
dari
manajemen
terhadap
kegiatan HSE

Keterlibatan dan
komitmen
dari
manajemen
terhadap
HSE
hanya pada waktu
tertentu, seperti
pada
saat
pertemuan/ rapat
HSE

Keterlibatan
dan
komitmen
umum
manajemen
terhadap
HSE.
Pertemuan
HSE
dilakukan
secara
teratur pada tingkat
manajemen
dan
Penyelia/pengawas

Keterlibatan
dan
komitmen
umum
manajemen
terhadap
HSE.
Karyawan
ditugaskan
secara
bergiliran
untuk
membahas topik HSE
dalam rapat

Pelatihan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan untuk staf:


Butir 3(2)
Tidak
ada Ada Pelatihan HSE Ada pelatihan HSE Pelatihan
HSE
pelatihan HSE tetapi
tidak dan
dilaksanakan dilaksanakan
untuk
dilaksanakan
tetapi
hanya semua karyawan yang

C
D
terbatas pada staf berhubungan
dengan
tertentu.
pekerjaan tersebut.

Orientasi karyawan dan program pelatihan : Butir 3(3)(a) - (d)


Tidak
program
formal

ada Program
formal
dibuat
untuk
meningkatkan
pengetahuan
karyawan
mengenai
HSE.
Instruksi-instruksi
lisan
mengenai
prosedur
perusahaan
hanya
diberikan
kepada sebagian
karyawan. Bukubuku
panduan
hanya
diberikan
pada
karyawan
baru tetapi tidak
pada
saat
orientasi
pekerjaan.

Karyawan
diberi
buku panduan dan
acuan,
penyelia/pengawas
menjelaskan
dan
mendemonstrasika
n pekerjaan para
karyawan baru

Program formal dibuat


untuk
meningkatkan
pengetahuan karyawan
mengenai
HSE.
Karyawan diberi buku
panduan dan acuan,
penyelia/pengawas
menjelaskan
dan
mendemonstrasikan
pekerjaan
pada
karyawan
baru.
Sebagai
tambahan
diatas, akan ditindak
lanjuti dengan kegiatan
observasi
terhadap
karyawan baru.
Penyelia/pengawas
telah
menjelaskan
kepada
mereka
mengenai praktik yang
aman dan tugas-tugas
darurat

Pelatihan khusus : Butir 3(4) (a) dan (b) dan 3(5)


Tidak
ada Pelatihan
dasar Pelatihan
HSE
pelatihan HSE HSE di lapangan dilakukan
pada
jarang dilakukan
kegiatan
tertentu
saja, tidak untuk
kegiatan rutin.

Pelatihan khusus HSE


telah
dibuat
dan
dilaksanakan
secara
teratur.
Dilakukan
pelatihan ulang secara
periodik

Subkontraktor: Butir 3(6) (a) - (c)


Tidak
ada
program
evaluasi/penila
ian untuk sub
kontraktor.

Dibuat
program
penilaian
/
evaluasi
yang
standar
bagi
subkontraktor,
yang
hanya
mencakup
wilayah tertentu
saja

Program penilaian
dan standar bagi
sub
kontraktor
telah dibuat dan
dilaksanakan

Program evaluasi dan


standar
bagi
subkontraktor
dibuat
dan
diterapkan.
Jaminan
terhadap
kesesuaian di tempat
kerja.

Standar Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan : Butir 3(7)


(a) - (d)

B
C
Tidak
ada Ada standar dasar Kontraktor memiliki
standar HSE
HSE
peraturan standar
HSE yang meliputi
seluruh
kegiatan
operasi berbahaya

D
Kontraktor
memiliki
sistim
untuk
menspesifikasi,
memantau kesesuaian
dan
memperbaharui
standar

Elemen 4: Penanganan Bahaya dan Dampak


Penilaian Bahaya dan Dampak: Butir 4(1)
Sistim
HSE
milik
Kontraktor
tidak
menyertakan
penilaian
evaluasi
bahaya
dan
dampak

Sistim HSE milik


Kontraktor
mengacu
pada
kebutuhan untuk
menilai
bahaya
dan
dampak
tetapi
tidak
mempunyai
struktur
yang
lengkap
untuk
dilaksanakan

Sistim HSE milik


Kontraktor meliputi
metode
untuk
mengevaluasi
bahaya
dan
dampak utama

Sistim
HSE
milik
Kontraktor mempunyai
metode yang lengkap
untuk
mengevaluasi
semua
bahaya
dan
dampak
HSE
dan
menerapkan
pada
seluruh
dokumen
kontrak

Pemaparan terhadap karyawan: Butir 4(2)


Kontraktor
tidak
secara
aktif
memberitahu
karyawan
untuk
memantau
paparannya

Kontraktor
memberitahu
pekerja mengenai
bahaya
besar
(major
hazard)
yang
mungkin
mengancam
namun demikian
Kontraktor hanya
melakukan
pemantauan
secara acak

Kontraktor
mempunyai metode
yang tepat untuk
memantau paparan
bahaya besar

Kontraktor mempunyai
seperangkat
metode
untuk
memonitor
paparan
bahaya
yang
bisa
diperkirakan
(berhubungan dengan
metode
evaluasi
bahaya
dan
dampaknya)
dan
menulis semua itu di
dalam kontrak

Potensi Bahaya (bahaya kimia, fisika, dan biologi seperti suara bising, radiasi,
uap, asap, suhu yang terlalu tinggi, dll.): Butir 4(3)
Kontraktor
tidak membuat
ketentuan
khusus untuk
memberitahu
pekerja
mengenai
sifat-sifat
bahaya
yang
potensial

Kontraktor
menyediakan
informasi
bagi
pekerja di tempat
kerja
mengenai
sifat-sifat bahaya
yang
potensial
tapi
tidak
ada
tindak lanjut

Kontraktor
memberikan
informasi
kepada
karyawan
pada
awal
keterlibatannya di
lapangan

Kontraktor menyimpan
data base mengenai
sifat-sifat
bahaya
potensial
yang
ada
didalam kontrak dan
mempunyai
metode
pendistribusian
informasi secara formal
kepada
semua
karyawan dan melatih

D
karyawannya
menangani
tersebut.

dalam
hal

Alat Pelindung Diri (Personal Protective Equipment): Butir 4(4)


PPE
disediakan,
tapi tidak ada
prosedur untuk
menilai
kebutuhan
individu.

Secara
formal
persyaratan PPE
diperiksa,
tapi
hanya
sedikit
usaha
untuk
meyakinkan
penggunaan yang
benar.

Secara formal PPE


diperiksa dengan
pemeriksaan spot
dalam penggunaan.

Memiliki prosedur untuk


memeriksa persyaratan
PPE,
memonitor
pemakaian
dan
penggantian
sesuai
kebutuhan.
Stock
inventory
dimonitor,
dijaga
pada
tingkat
diatas
kebutuhan.
Pelatihan penggunaan
disediakan
bila
dibutuhkan.

Kontraktor
mempunyai
prosedur
pembuangan
limbah
sesuai
dengan kategorinya
tapi tidak membuat
peraturan
untuk
meminimalisasi
dampak lingkungan

Kontraktor mempunyai
suatu sistim yang tepat
untuk
mengelola
limbah
(termasuk
identifikasi,
minimalisasi
dan
klasifikasi), yang secara
aktif
berusaha
mengurangi
dampak
lingkungan

Pengelolaan Limbah: Butir 4(5)


Kontraktor
tidak
mempunyai
metode yang
tepat
untuk
mengelola
limbah

Kontraktor
mempunyai
prosedur
umum
mengenai
pengelolaan
limbah

Kesehatan Lingkungan Industri Butir 4 (6)


Tidak
ada Ada
peraturan
peraturan
dasar tetapi tidak
mengenai
dilaksanakan
kesehatan
lingkungan
industri

Ada peraturan dan


mengetahui bahaya
tetapi
tidak
ditindaklanjuti

Ada peraturan yang


mengatur pelaksanaan
untuk
meminimalkan
pengaruh
kesehatan
manusia
dengan
memberikan
tempat
kerja yang sehat

Alkohol dan Obat-obatan dan Minuman Keras Butir 4 (7)


Tidak
ada
peraturan
tertulis
mengenai
alkohol
dan
obat terlarang

Ada
peraturan
mengenai alkohol
dan
obat
terlarang
tetapi
tidak
banyak
didistribusikan

Peraturan
mengenai
alkohol
dan obat terlarang
termasuk juga yang
mengatur tanggung
jawab dan risiko,
dan didistribusikan

Peraturan
obat
terlarang dengan jelas
mengatur
mengenai
tanggung jawab, risiko,
dan
hukuman
didistribusikan kepada
semua karyawan; dan

C
secara luas

D
bisa dilihat di papan
pengumuman

Elemen 5:Perencanaan dan Prosedur


Panduan HSE dan operasi : Butir 5(1) (a) dan (b)
Tidak
ada Mempunyai
prosedur
/ Prosedur/manual
manual HSE
dasar HSE

Kontraktor
mempunyai
prosedur/
manual
HSE yang tertulis
mencakup
semua
operasi
yang
membahayakan

Kontraktor mempunyai
prosedur
yang
mencakup
semua
tindakan
pencegahan
/manual
HSE,
persyaratan
rencana HSE dengan
sistim updating dan
penyebaran
kepada
karyawan

Pengawasan dan Perawatan Peralatan : Butir 5(2)


Tidak
ada
program untuk
mengidentifika
si
atau
mengevaluasi
bahaya
dan
kondisi
peralatan

Rencana
tergantung pada
sumber
luar,
seperti
perusahaan
inspeksi.
Pengawasan
pemeriksaan dari
peralatan
diserahkan
kepada pekerja di
lapangan.

Memiliki
program
tertulis
pedoman
pengawasan,
tanggung
jawab,
frekwensi
dan
tindak lanjut.

Tambahan
dari
C,
inspeksi
berkala
dilakukan
oleh
manajemen atas atau
oleh tim spesialis.

Penanganan Keselamatan Transportasi Darat: Butir 5(3)


Tidak
ada
perhatian
khusus
terhadap
keselamatan
transportasi
darat sebagai
wilayah
kegiatan yang
berbahaya

Pentingnya
keselamatan
transportasi darat
diakui
tetapi
diserahkan
kepada manajer /
penyelia
/
pengawas bisnis
inti
untuk
melaksanakan
secara individual

Kontraktor
mempunyai
strategi
pengelolaan umum
dengan
beberapa
prosedur
yang
membahas bagianbagian
dari
keselamatan
transportasi darat

Kontraktor mempunyai
strategi yang lengkap
dan
seperangkat
perencanaan
dan
prosedur
meliputi
kendaraan,
pengendara,
dan
pengelolaan operasi

Elemen 6: Penerapan dan Pemantauan Kinerja


Pengelolaan dan pemantauan kinerja dari aktivitas kerja : Butir 6(1) dan 6(3)

B
Tidak
ada Melakukan
sistim
untuk pemantauan
memantau
kinerja HSE di
kinerja HSE
beberapa wilayah

C
Kontraktor
mempunyai suatu
sistim
untuk
memantau kinerja
HSE pada area-area
penting

D
Kontraktor mempunyai
sistim
pemantauan
kinerja yang lengkap
dengan umpan balik
kepada pemberi kerja
untuk perbaikan dan
telah
menerima
penghargaan
atas
prestasinya

Program Keselamatan Kerja Butir 6 (2) (a) -(b)


Tidak
Program
Formal

ada Pertemuan/rapat
yang rutin membahas
keselamatan kerja
hanya
untuk
operasi tertentu.

Pertemuan
membahas
keselamatan kerja
dilakukan
berdasarkan jadwal
rapat yang rutin
oleh
penyelia/pengawas
atau
perwakilan
dari
bagian
keselamatan kerja.

Rapat
mengenai
keselamatan
kerja
dilakukan secara rutin
dan
topik
yang
dibicarakan
adalah
mengenai
karyawan
dan dilakukan secara
bergantian

Pemberitahuan kecelakaan, kejadian bahaya, perkembangan persyaratan dan


larangan : Butir 6(3)
Terdapat lebih
dari
satu
kejadian
kecelakaan
serius
dalam
lima
tahun
terakhir

Satu
kejadian
kecelakaan serius
pada lima tahun
terakhir

Kejadian
hanya Tidak
ada
kejadian
berhubungan
dalam
lima
tahun
dengan kecelakaan Terakhir
kecil

Catatan kinerja HSE (Perbandingan rata-rata kecelakaan tahun terakhir dengan


rata-rata kecelakaan kontraktor tiga tahun sebelumnya) Butir 6(4) (a) - (d)
Kontraktor
Rasio kecelakaan Rasio
kecelakaan
memberikan
tidak berubah
menunjukkan
informasi yang
sedikit perbaikan
tidak memadai
untuk
keperluan
pembuatan
rasio
kecelakaan

Rasio
kecelakaan
menunjukkan perbaikan
yang tetap lebih dari
20% setahun

Investigasi dan Laporan Kecelakaan: Butir 6(5) (a) - (d)


Temuan

Temuan

Temuan

Seperti

pada

A
penyelidikan
kecelakaan
pada
umumnya
tidak
dikomunikasik
an

B
dikomunikasikan
secara
terbatas
kepada
personil
kunci
/
utama
melalui
memo
internal
perusahaan atau
media
yang serupa

C
dikomunikasikan
kepada
seluruh
karyawan
melalui
papan
pengumuman

D
ditambah
dengan
keterangan
implikasi
terinci untuk keperluan
peningkatan
kinerja
HSE

Elemen 7: Audit dan Kaji Ulang


Audit: Butir 7 (a) - (d)
Proses
audit
hanya sekilas
tidak
tercantum
secara
eksplisit dalam
dokumen HSE

Dokumen
HSE
Kontraktor
menyertakan
acuan mengenai
audit
tanpa
rincian
khusus
mengenai
penjadwalan dan
ruang lingkup

Dokumen
HSE
Kontraktor
menyertakan
rincian
mengenai
pelaksanaan audit
sesuai
dengan
jadwal
/
ruang
lingkup
untuk
tempat-tempat
yang penting

Seperti dalam C tetapi


diarahkan
pada
peranan manajemen di
dalam kegiatan audit
dan tindak lanjut atas
temuan-temuannya

Elemen 8: Prosedur Tanggap Darurat


Prosedur tanggap darurat
Tidak
ada Hanya
respon darurat dasar
yang tertulis

prosedur Prosedur
darurat
untuk
skenario
utama
dibuat
secara
tertulis,
misalnya
kebakaran/ledakan,
H2S,
evakuasi,
penyebaran racun
atau bahan-bahan
yang
mudah
terbakar. Tidak ada
persyaratan
yang
dilakukan
untuk
frekuensi latihan.

Prosedur
keadaan
darurat ditulis untuk
skenario
utama,
misalnya
kebakaran,
ledakan, H2S, evakuasi,
menyebarnya
racun
atau bahan-bahan yang
mudah terbakar dan
penyakit yang darurat.
Prosedur ditulis dalam
manual
prosedur
darurat
yang
didistribusikan
secara
luas. Frekuensi latihan
telah ditentukan.

Elemen 9: Manajemen HSE ciri tambahan


Keanggotaan Asosiasi : Butir 9(a) dan 9(b)
Bukan anggota Kontraktor
Kontraktor minimal Kontraktor
adalah
asosiasi
minimal menjadi menjadi
anggota peserta
aktif
dari

B
C
anggota satu
satu asosiasi HSE
asosiasi
yang
tidak menonjolkan
HSE

D
minimal satu asosiasi
HSE

LAMPIRAN 8

Laporan Hasil Evaluasi Pra kualifikasi


Sistem Manajemen HSE Kontraktor

Perusahaan

___________________

Alamat

__________________________

Tanggal

____________________________

Kontrak Keselamatan Kontraktor

_____________________

Telepon

_______________________________

Lingkari nomor yang paling baik mewakili evaluasi ini berdasarkan kriteria tujuan rating yang terlampir.

ELEMEN 1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN

12
x1

Subtotal
ELEMEN 2 TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Sub Fakto
Total
Total
r

12
x1

Subtotal
ELEMEN 3 ORGANISASI, TANGGUNG JAWAB,
SUMBERDAYA, STANDAR DAN DOKUMENTASI
ELEMEN 3 ITEM 3 (1)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (2)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (3) (A) (D)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (4) (A) AND (B) AND 3 (5)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (6) (A) (C)

12

ELEMEN 3 ITEM 3 (7) (A) (C)

12
x
1/6

Subtotal
ELEMEN 4 PENANGANAN BAHAYA DAN
DAMPAK
ELEMEN 4 ITEM 4 (1)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (2)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (3)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (4)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (5)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (6)

12

ELEMEN 4 ITEM 4 (7)

12

Sub Fakto
Total
Total
r
x
1/7

Subtotal
TOTAL (SECT 1-SECT 4)
ELEMEN 5 PERENCANAAN DAN PROSEDUR
ELEMEN 5 ITEM 5 (1) (A) AND (B)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (2)

12

ELEMEN 5 ITEM 5 (3)

12
x
1/3

SUBTOTAL
ELEMEN 6 PEMANTAUAN IMPLEMENTASI DAN
KINERJA
ELEMEN 6 ITEM 6 (1) AND 6 (3)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (A) (B)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (4)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (5) (A) (D)

12

ELEMEN 6 ITEM 6 (6) (A) (D)

12
x
1/5

Subtotal
ELEMEN 7 AUDIT DAN PENINJAUAN

10
x1

Subtotal
ELEMEN 8 PROSEDUR TANGGAP DARURAT

8
x1

Subtotal
ELEMEN 9 MANAJEMEN HSE CIRI TAMBAHAN

10
x1

Subtotal
TOTAL RATING (SECT 1 SECT 9)
LULUS / LULUS BERSYARAT / TIDAK LULUS

ALASAN & REKOMENDASI


ALASAN
1
2
3
4
5

REKOMENDASI

PENERIMAAN BERSYARAT
1
2
3
4
5

Panitia Pengadaan
Ketua
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

LAMPIRAN 9

Sekretaris
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

Anggota
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

Anggota
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

TABEL EVALUASI PRA KUALIFIKASI SMHSE KONTRAKTOR

Perusahaan

___________________

Alamat

__________________________

Tanggal

____________________________

Kontrak Keselamatan Kontraktor

_____________________

Telepon

_______________________________

N
o
1

Elemen
Elemen 1 :
Kepemimpinan
dan Komitmen
Elemen 2 :
Tujuan-tujuan
Kebijakan dan
Strategi
Elemen 3 :
Organisasi,
Tanggung
jawab, Sumber
Daya, Standar
dan
Dokumentasi
Elemen 4:
Penanganan
Bahaya dan
Dampak

Elemen 5:
Perencanaan
dan Prosedur

Elemen 6:
Penerapan dan
Pemantauan
Kinerja

Elemen 7: Audit
dan Kaji Ulang

Hasil Verifikasi

Hal Positif

Kesenjangan (Gap)

Nila
i

Elemen 8:
Prosedur
Tanggap
Darurat
Elemen 9:
Manajemen
HSE ciri
tambahan

Panitia Pengadaan
Ketua
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

Sekretaris
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

Anggota
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

Anggota
Tanggal

Nama Jelas
Anggota
Tanggal

Nama Jelas

LAMPIRAN 10

Gambar 5. Tata Kerja Individu Pelaksanaan Inspeksi dan Evaluasi HSE Kontraktor

LAMPIRAN 12

LAPORAN EVALUASI AKHIR

Nama Kontraktor

: _______________________________________________

Alamat

: _______________________________________________

Nomor Kontrak

: _______________________________________________

Jenis Pekerjaan

: _______________________________________________

Tingkat Risiko

: _______________________________________________

Jumlah Pekerja

: _______________________________________________

Periode Kontrak

: _______________________________________________

Lokasi Pekerjaan

: _______________________________________________

Tanggal Evaluasi

: _______________________________________________

User

: _______________________________________________

Wakil Kontraktor

Nama/Tanggal

Wakil Perusahaan

Nama/Tanggal

Instruksi Kerja
1.

Tuliskan nilai yang diberikan pada masing-masing pokok bahasan dalam daftar periksa inspeksi HSE
dan program HSE terakhir
2.
Tuliskan pada kolom Komentar, jika terdapat hal-hal yang perlu menjadi perhatian.
3.
Tuliskan data-data kinerja HSE pada tabel Kinerja HSE berdasarkan laporan Kontraktor
4.
Lakukan perhitungan frekuensi dan severity rate
5.
Konversi frekuensi rate menjadi nilai sesuai dengan tabel nilai
6.
Apabila terdapat kecelakaan yang menyebabkan hari hilang maka nilai kinerja HSE menjadi 0
7.
Masukkan total nilai Inspeksi HSE, Program HSE dan Kinerja HSE pada tabel
8. Nilai maksimal dari nilai elemen inspeksi HSE dan program HSE disesuaikan dengan jumlah elemen
yang sesuai (tidak N/A) dan yang ditambahkan sebelumnya dalam daftar periksa Inspeksi dan
Program HSE
9.
Lakukan perhitungan berdasarkan bobot masing-masing elemen
10.
Konversikan nilai akhir menjadi poor, average, good, very good atau excelent
11. Lampirkan formulir E-03/C/EP5000/2009-S0 Temuan Inspeksi dan Audit HSE Kontraktor dan
laporan dari Kontraktor sebagai berikut :

Analisa Kinerja HSE

Penambahan identifikasi bahaya-bahaya baru yang ditemukan

Permasalahan aspek HSE.

Laporan kecelakaan, penyakit akibat kerja, pencemaran, kerusakan aset dan kejadiankejadian lain.

Pelatihan yang diadakan / dilakukan (jika ada).


12.
Isi lembar ini sesuai dengan keterangan yang diminta
13.
Tuliskan tanggal, nama, jabatan dan bubuhkan tandatangan pelaksana inspeksi dan audit HSE pada
formulir

EVALUASI AKHIR
REKAPITULASI DAFTAR PERIKSA INSPEKSI KESELAMATAN KERJA

No.

POKOK BAHASAN

1.

Kebersihan

2.

Alat Perlindungan Perorangan

3.

Pencegahan Kebakaran dan Perlindungan Kebakaran

4.

Tanda, Isyarat dan Penghalang

5.

Komunikasi hal-hal berbahaya

6.

Bahan-bahan berbahaya

7.

Perkakas Tangan dan Perkakas Mesin

8.

Keselamatan Listrik

9.

Pengelasan, Pemotongan dan Pengasahan

10.

Gas bertekanan

11.

Memasuki ruangTerbatas

12.

Tangga

13.

Perancah

14.

Penggalian

15.

Perlengkapan angkut

16.

Crane dan pesawat angkat

17.

Pembukaan Dinding

18.

Lain-lain
TOTAL NILAI

PENILAIAN

KOMENTAR

REKAPITULASI DAFTAR PERIKSA PROGRAM KESELAMATAN KERJA

No.

POKOK BAHASAN

PENILAIAN

1.

Rapat Keselamatan Kerja

2.

Inspeksi Keselamatan Kerja

3.

Promosi Keselamatan Kerja

4.

Komunikasi Keselamatan Kerja Supervisor /Pekerja

5.

Latihan-Latihan keadaan darurat

6.

Peyelidikan/Pelaporan Kecelakaan

7.

Lain-lain

KOMENTAR

TOTAL NILAI

KINERJA HSE

No.

KRITERIA

1.

Jumlah Manhours

2.

Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas

3.

Jumlah Pelanggaran

HASIL

KETERANGAN
Jumlah tenaga kerja x jam kerja

Ketentuan K3

Jumlah Kecelakaan Kerja

4.

a.

Ringan

b.

Sedang

c.

Berat

d.

Fatal

Jumlah kejadian ( 2 + 3 + 4 )
Hari Hilang (lost time)
Jumlah kejadian x 1.000.000
5.

Rate Kecelakaan Kerja (FR)

Jumlah Manhours
Hari Hilang x 1.000.000

Severity Rate (SR)


6.

Nilai x Faktor Risiko *

Jumlah Manhours
Lihat tabel di bawah

Tabel Nilai :
Nilai
Rate Kecelakaan
Kerja

100

90

80

70

60

50

40

30

20

10

10

Keterangan :
*) Faktor pekerjaan Risiko Tinggi = 1; Risiko Sedang = 0.8; Risiko Rendah = 0.6
Kecelakaan yang menyebabkan fatal / lost time, maka nilai kinerja Keselamatan Kerja sama dengan 0 ( nol )

No.

ELEMEN

NILAI

(%)

Bobot

1.

Inspeksi HSE ( Mak. 170 )

0.3

2.

Program HSE ( Mak. 60 )

0.2

3.

Kinerja HSE ( Mak. 100 )

0.5
NILAI AKHIR

Hasil Penilaian Akhir :

Poor / Average / Good / Very Good / Excellence

Wakil Kontraktor:

Wakil Perusahaan:

Nama

: ___________________________

Nama

: ___________________________

Jabatan

: ___________________________

Jabatan

: ___________________________

Tanggal

: ___________________________

Tanggal

: ___________________________

Keterangan :

Nilai AKhir

Excellence 96 - 100
Very Good 86 - 95
Good

76 - 85

Average

56 - 75

Poor

00 55

Lampirkan :
1. Formulir E-03/C-003/EP5000/2009-S0 Temuan Inspeksi dan Audit HSE Kontraktor
2. Laporan dari Kontraktor sebagai berikut :

Analisa Kinerja HSE


Penambahan identifikasi bahaya-bahaya baru yang ditemukan
Permasalahan aspek HSE.
Laporan kecelakaan, penyakit akibat kerja, pencemaran, kerusakan
aset dan kejadian-kejadian lain.
Pelatihan yang diadakan / dilakukan (jika ada)