Anda di halaman 1dari 32

BAB III

ALTERNATIF PERANCANGAN

Pengolahan air limbah dengan bantuan peralatan biasanya dilakukan pada Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL). Di dalam IPAL biasanya proses pengolahan
dikelompokkan sebagai pengolahan pertama (primary treatment), pengolahan kedua
(secondary treatment), dan pengolahan lanjutan (tertiary treatment) (Nasir, 2009).
Terdapat berbagai jenis unit-unit pengolahan, baik di pengolahan pertama, pengolahan
kedua, maupun pengolahan lanjutan, yang dapat menghasilkan berbagai alternatif
pemilihan unit dalam perancangan IPAL. Berbagai unit yang biasa digunakan pada
perancangan IPAL dijabarkan sebagai berikut
3.1. Pengolahan Tingkat Satu (Primary Treatment)
Pengolahan tingkat satu merupakan operasi awal pada bangunan pengolahan air
buangan yang bekerja secara fisis. Tahapan yang termasuk dalam pengolahan tingkat satu
adalah screening, reduksi padatan kasar (comminution, maceration, dan screenings
grinding), tangki aliran rata-rata, mixing dan flokulasi, grit removal, sedimentasi, highrate clarification, accelerated gravity separation, flotasi, transfer oksigen, aerasi, serta
penguapan dan pemecahan senyawa Volatile Organic Compounds.

Gam
bar 3.1 Diagram Alir Unit Operasi Fisis pada Bangunan Pengolahan Air Buangan

3.1.1.

Screening
Unit operasi pertama pada bangunan pengolahan air buangan adalah sreening.

Screen merupakan rangkaian kisi-kisi besiumumnya berukuran seragamyang


digunakan untuk menahan padatan dalam influen air buangan yang akan masuk pada
bangunan pengolahan. Prinsip utama screening ialah menghilangkan material kasar dari
aliran yang dapat mengakibatkan: (1) kerusakan alat pada proses selanjutnya; (2)
mengurangi ketahanan dan keefektifan keseluruhan proses; dan (3) kontaminasi jalan
air. Screen material halus (fine screens) terkadang digunakan dalam bangunan atau
disertai dengan screen material kasar (coarse screens) sebagai penyisih terbesar
padatan, yang dibutuhkan untuk: (1) melindungi bangunan pengolahan; dan (2)
mengeliminasi material yang dapat menghalangi proses pemanfaatan kembali biosolids.
Semua

aspek

dalam

sreening,

transportasi,

dan

pembuangan

harus

dipertimbangkan dalam mengaplikasikan peralatan screening, termasuk: (1) tingkat


penyisihan screening karena dapat berpengaruh pada hilir proses; (2) kesehatan dan
keselamatan pekerja terhadap penyisihan kandungan oganisme patogenik dan serangan
serangga; (3) bau; (4) keperluan untuk perawatan, transportasi, dan pembuangan, serta
penyisihan organik dan kandungan air lainnya; dan (5) alternatif metode pembuangan.

3.1.2.

Grit Removal
Grit Chamber adalah bak untuk menangkap pasir agar tidak ikut terbawa proses,

sebab pasir tak dapat dihancurkan secara proses biologis. Fungsi umum dari grit
chamber, yaitu:
a. Melindungi peralatan dari penggerusan dan efek dari penggunaan peralatan
yang tidak benar.
b. Mengurangi pembentukan endapan tebal dalam pipa saluran, saluran serta pipa
penyalur.
c. Mengurangi frekuensi pembersihan digester yang dikarenakan oleh akumulasi
pasir atau kerikil halus yang terlalu banyak.

3.1.3.

Comminutors
Comminutors biasanya digunakan pada bangunan pengolahan air buangan skala

kecil, kurang dari 0,2 m3/s (5 Mgal/d). Comminutors dipasang pada terusan aliran air
buangan untuk menyaring dan mencacah material yang berukuran 6 hingga 20 mm
(0,25 0,77 in) tanpa menyisihkannya dari aliran. Comminutor tipikal menggunakan
sebuah stationary horizontal screen untuk menangkap aliran, dan sebuah rotating atau
oscillating arm yang memiliki cutting teeth yang dilengkapi dengan penyaring. Cutting
teeth dan shear bars dapat memotong material kasar. Material kecil yang telah melalui
proses penyaringan akan terbawa hingga ke hilir aliran. Ikatan material akan terkumpul
di bangunan akhir pengolahan.

3.1.4.

Tangki Aliran Rata-rata (Flow Equalization)


Tangki aliran rata-rata berfungsi meningkatkan homogenitas kualitas air limbah

dan membuat debit alirannya berada dalam aliran rata-ratanya dengan tujuan untuk
menghindari masalah-masalah operasi yang mungkin timbul akibat fluktuasi kualitas
dan debit air limbah sehingga menciptakan kondisi optimum untuk proses-proses
selanjutnya dan dengan demikian efisiensi proses pengolahan selanjutnya akan
meningkat. Tangki aliran rata-rata (flow equalization) berfungsi meredam variasi debit
hingga mencapai atau mendekati debit konstan. Aplikasi pada bangunan pengolahan air
buangan, yaitu in-line (seluruh aliran melalui tangki perataan) atau off-line (hanya
aliran yang melebihi debit konstan yang harus melalui tangki perataan). Di samping
itu, penggunaan unit ekualisasi dapat mereduksi ukuran unit pengolahan selanjutnya
(Pretty, 2005).
Keuntungan penggunaan tangki aliran rata-rata di dalam pengolahan air limbah
adalah :
1. Meningkatkan efektifitas pengolahan biologi karena shock loading dapat
diminimalisasi melalui pengenceran material yang bersifat toksik dan
stabilisasi pH.
2. Peningkatan konsistensi solid loading sehingga kualitas effluen dan
performansi thickening dari clarifier (bak sedimentasi II) meningkat.
3. Untuk menyediakan feeding kontinu terhadap sistem pengolahan biologi di
waktu-waktu dimana proses produksi industri tidak berjalan.
4. Meningkatkan kinerja filtrasi dan siklus backwash yang teratur.

5. Meningkatkan kontrol umpan dan keandalan proses dalam pengolahan kimia.


Kerugian dari penggunaan tangki aliran rata-rata adalah :
1. Membutuhkan luas area yang relatif luas.
2. Tangki aliran rata-rata mungkin perlu ditutup untuk mengontrol bau yang
mungkin ditimbulkan.
3. Membutuhkan biaya operasi dan pemeliharaan tambahan.
4. Meningkatkan biaya kapital yang dibutuhkan.
Perletakan unit ekualisasi dapat dilakukan secara in-line maupun off-line seperti
yang dapat dilihat pada Gambar 3.2

TAR in-line :

Fluktua
si

TAR
pompa

Ratarata

TAR off-line :
Fluktua
si

debit
minimum

TAR

Ratarata

pompa

Gambar 3.2 Perletakan Unit Ekualisasi


Pada perletakan tangki aliran rata-rata dengan sistem in-line, semua aliran air
limbah melalui tangki aliran rata-rata. Perletakan ini dapat digunakan untuk
memperoleh konsentrasi air limbah yang lebih homogen dengan laju aliran konstan.
Sedangkan untuk perletakan dengan sistem off-line, hanya sebagian aliran yang terbatas
masuk ke dalam bak ekualisasi. Keunggulan dari penerapan sistem ini adalah
kebutuhan pompa dapat diminimalisasi namun homogenitas air buangannya lebih
rendah.
3.1.5.

Bak Pengendap Pertama (Primary Sedimentation)

Bak Pengendap Pertama bertujuan untuk menghilangkan zat padat yang


tersuspensi partikel tertentu, seperti padatan limbah kertas dan pulp atau domestik, akan
menggumpal pada saat partikel tersebut menuju dasar tangki sedimentasi, sehingga
mempengaruhi laju pengendapan. Ini dikenal dengan pengendapan flocculant. Partikel
seperti pasir, abu dan batubara tidak menggumpal, ini dikenal dengan nama
pengendapan discrete. Terdapat berbagai jenis tangki sedimentasi, tetapi pada
umumnya padatan dikeluarkan dari dasar tangki secara mekanis. Fungsi bak pengendap
ini adalah mengurangi kandungan suspended solid dalam air buangan (antara 50%65%) dan menurunkan BOD (25%-40%) yang berlangsung secara fisis tanpa
pembubuh zat kimia. Lumpur endapan dialirkan ke thickener sedang filtrat dialirkan ke
pengolahan berikutnya.

3.2. Pengolahan Tingkat Dua (Secondary Treatment)


Setelah melalui unit unit pengolahan primer, air limbah selanjutnya menuju unit
pengolahan secara biologi yang merupakan unit pengolahan yang memanfaatkan aktivitas
mikroorganisme yang berada dalam air limbah untuk mereduksi materi materi organik
terlarut menjadi material tersuspensi sehingga dapat dipisahkan melalui proses
pengendapan. Tujuan dari unit pengolahan tingkat dua adalah menghilangkan polutan
senyawa organik yang terlarut dan suspended solid. 3 contoh proses pengolahan biologi
untuk pengolahan tingkat dua, yaitu:
1. Completely Mixed Activated Sludge
2. Aerated Lagoon
3. Kontak Stabilisasi
3.2.1.

Completely Mixed Activated Sludge (CMAS)


Completely Mixed Activated Sludge adalah proses modifikasi lumpur aktif

konvensional dimana dihasilkan mikroorganisme yang aktif (lumpur aktif) yang akan
menstabilisasi air buangan secara aerobik di dalam suatu reaktor, yang mengalami
pengadukan merata ke seluruh bak secara kontinyu. CMAS dapat mengurangi
terjadinya shock loading yang diakibatkan oleh senyawa toksik dan beban organik yang
berlebihan. Keunggulan yang lain dari CMAS adalah dapat mengurangi terjadinya
shock loading yang disebabkan oleh senyawa-senyawa toksik dan memberikan
pengukuran dalam hal bentuk geometri yang tepat. Bila rasio antara substrat dengan
mikroorganisme terlalu kecil akan dapat mendorong berkembangnya organisme

filamentous . Asimilasi organisme filamentous merupakan salah satu penyebab bulking


sludge sehingga lumpur sulit diendapkan.

Bangunan pengolahan lumpur aktif ini

juga dapat dibuat dengan struktur beton untuk ukuran yang cukup besar atau dengan
menggunakan plat baja untuk ukuran dengan kapasitas kecil.
Cocok untuk limbah dengan konsentrasi organik yang tinggi, misalnya limbah
industri. Jumlah mikroorganisme dipelihara agar konstan agar air limbah yang datang
teraduk sempurna dengan seluruh reaktor sehingga mikroorganisme dan limbah
tercampur. Bioflok dan cairan kemudian dipisahkan pada Bak Pengendap II.
Proses pengolahan biologis pada dasarnya ada 3 macam yaitu proses lumpur aktif
(Activated - Sludge Process), proses saringan pasir (Trickling Filter), dan proses kolam
Aerasi (Aerated Pond/Lagoon). Proses lumpur aktif merupakan proses pengolahan
biologis

dengan

menggunakan

lumpur

aktif

yang

berupa

campuran

dari

mikroorganisme dan zat padat yang disebut bio solid. Dalam lumpur yang diaktifkan
dimasukkan oksigen secara mekanis atau difusi udara dalam aerator/reaktor. Lumpur
aktif ini berguna untuk menguraikan zat organik yang terkandung dalam air buangan
secara biokimia dalam keadaan aerobik menjadi gas CO2, NH3, H2O, dan sel-sel baru.
Zat organik dalam air buangan diuraikan oleh mikroorganisme dan dirubah bentuknya
menjadi flok sebagai bahan pertumbuhan sel dan sumber energi. Aerasi dilakukan
selama waktu tertentu agar kondisi aerobiknya tetap terjaga dan akan membentuk
bioflok yang berupa lumpur aktif.

Aktivated - sludge ini dibandingkan proses

pengolahan biologi lainnya umumnya menghasilkan efisiensi yang cukup besar dalam
pengurangan zat organik sekitar 85 95% disamping tidak menghasilkan bau. Selain
itu juga dengan menggunakan activated - sludge dapat menerima beban konsentrasi air
buangan yang lebih besar dibandingkan proses biologi lainnya.
Pengolahan dengan menggunakan activated - sludge

menggunakan

mikroorganisme untuk menguraikan zat organik yang terdapat dalam air buangan.
Mikroorganisme yang terflokulasi dicasmpur dengan air buangan sambil diaerasi yang
kemudian diendapkan untuk memisahkan mikroorganisme/lumpur aktif dari buangan
yang telah diolah. Proses lumpur aktif ini pertama kali diperkenalkan oleh Arden dan
Lockett (1914). Hingga sekarang banyak modifikasi yang telah dilakukan, akan tetapi
hanya ada 3 variasi dasar yaitu :
Sistem konvensional, dimana absorpsi, flokulasi, dan sintesa seluruhnya
dicapai dalam satu langkah proses.

High rate activated - sludge, yang dapat menampung beban organik paling

besar.
Extended aeration, dimana sel-sel yang disintesa mengalami oksidasi sendiri
(auto oksidasi), sehingga dapat memperkecil pemisahan solid yang dibuang.

3.2.2.

Aerated Lagoon
Lagoon adalah suatu unit operasi yang berbentuk kolam yang cukup luas dimana

didalamnya air limbah atau wastewater diproses secara biologi baik dengan proses
aerobik maupun anaerobik. Dalam proses ini air limbah yang banyak mengandung
senyawa oraganik didegradasikan oleh mikroorganisme yang terdapat dalam kolam
sehingga menjadi senyawa anorganik yang akhirnya mengendap didasar kolam dan
membentuk lumpur atau sludge. Lumpur atau sludge ini dapat digunakan kembali
(reuse) setelah diproses dan kalau ini terjadi maka disebut aerated lagoon dengan proses
solids recycle dan proses ini hampir mirip dengan proses activated sludge yang
domidifikasi. Karena dalam unit aerated lagoon ini terjadi proses aerob maka
diperlukan udara yang cukup banyak yang terlarut dalam air limbah. Untuk memenuhi
kebutuhan ini terdapat aerator yang terdapat pada permukaan air limbah. Hanya saja
kualitas efluen yang dihasilkan masih cukup rendahdan penyisihan bahan organik
terlarut akan berlngsung cukup baik jika waktu detensinya cukup panjang.
Terdapat dua jenis dasar dari kolam aerasi, yaitu :
1. Kolam aerobik, yang dirancang dengan level daya (level power) cukup tinggi
untuk mempertahankan semua padatan (solid) dalam kolam tetap tersuspensi
dan juga untuk membagikan oksigen terlarut diseluruh volume cairan.
2. Kolam fakultatif, yang dirancang dengan level daya hanya cukup untuk
mempertahankan oksigen terlarut di seluruh volume cairan. Dalam hal ini,
sebagian besar padatan (solid) dalam kolam tidak dipertahankan dalam keadaan
tersuspensi, tetapi mengendap pada dasar kolam yang dalam hal ini padatan
tersebut didekomposisikan secara anaerobik.
Kolam Aerobik biasanya dirancang untuk beroperasi pada rasio F/M yang tinggi
atau waktu detensi lumpur yang pendek (sistem kecepatan tinggi). Sistem ini mencapai
stabilisasi organik yang kecil karena lebih menekankan konversi material organik
terlarut menjadi material organik seluler. Dilain pihak, kolam fakultatif dirancang untuk
waktu detensi lumpur yang lebih lama (sistem kecepatan rendah) dan stabilisasi
organik.
Barnhart (1972) dan Grady&Lim (1980) merinci keuntungan dalam penggunaan
kolam aerasi, yaitu:

1. Mudah dalam operasi dan pemeliharaan.


2. Ekualisasi air limbah.
3. Suatu kapasitas yang tinggi dalam pemborosan panas bilamana dibutuhkan.
Sedangkan kelemahan aerated lagoon menurut Banhart, yaitu:
1. Kebutuhan lahan yang besar.
2. Kesulitan untuk modifikasi proses.
3. Konsentrasi padatan tersuspensi effluen tinggi.
4. Sensitifitas proses terhadap variasi suhu udara ambien.
Karena semua padatan (solid) dipertahankan dalam keadaan tersuspensi, waktu
detensi dalam kolam aerobik yang diperlukan untuk pemisahan BOD terlarut akan lebih
kecil daripada waktu detensi yang diperlukan untuk kolam fakultatif (Kormanik, 1972 ;
Grady&Lim, 1980). Akan tetapi kebutuhan energi untuk pengadukan dalam kolam
aerobik akan jauh lebih besar daripada kebutuhan daya dalam kolam fakultatif. Lebih
lanjut karena semua padatan tetap tertahan dalam suspensi, efluen dari suatu kolam
aerobik akan mempunyai konsentrasi padatan yang jauh lebih tinggi daripada efluen
dari kolam fakultatif, sehingga dibutuhkan suatu tahap pemisahan padatan-cairan
setelah proses aerobik, jika ingin mencapai efluen kualitas yang baik. Kolam aerobik
sesungguhnya adalah suatu sistem lumpur aktif tanpa resirkulasi.

3.2.3.

Kontak Stabilisasi
Kontak stabilisasi merupakan salah satu modifikasi dari proses Activated Sludge

yang memanfaatkan mekanisme adsorpsi cepat dari bahan organik terlarut maupun
partikulatnya, serta menggunakan pengoksidasian secara lambat atas bahan-bahan
organik tersebut oleh biomassa. Proses adsorpsi dan oksidasi dilakukan secara terpisah
pada tangki yang berbeda.
Pada kontak stabilisasi underflow dari clarifier akan dialirkan ke tangki stabilisasi
terlebih dahulu sebelum bercampur dengan raw waste yang akan masuk tangki kontak.
Waktu aerasi di tangki kontak relatif singkat (0,5-2 jam) sehingga proses tergantung
kepada kemampuan mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik dengan cepat
untuk menghasilkan kualitas efluen yang baik. Setelah dari tangki kontak air limbah
akan masuk clarifier untuk diendapkan lumpurnya. Lumpur yang diendapkan akan
dikembalikan/dialirkan kembali ke tangki stabilisasi dimana terjadi proses aerasi yang
cukup lama untuk menjaga MCRT (mean cell residence time) atau umur lumpur dengan
range 3-15 hari.
Pada kontak stabilisasi rasio resirkulasi hanya 40-70% dari influen oleh karena itu
volume reaktor yang dibutuhkan untuk reaerasi lebih kecil untuk waktu detensi yang

sama. Akibatnya, walaupun kontak stabilisasi menggunakan dua reaktor, total volume
reaktor biasanya lebih kecil dari proses lumpur aktif konvensional dengan MCRT yang
sama.
Penguraian senyawa organik yang cepat pada tangki kontak disebabkan karena
mekanisme storage/metabolisme di tangki stabilisasi yang menghasilkan produk yang
dinamakan storage products. Saat di tangki stabilisasi, mikroorganisme tidak menerima
suplai makanan sehingga selama masa stabilisasi mikroorganisme akan mengalami
kekurangan makanan. Akibatnya, sludge yang sudah distabilisasi akan memiliki
kapasitas yang besar untuk memakan substrat (storage products) pada tangki kontak
dan dapat menguraikan senyawa organik dengan cepat dalam bentuk partikulat, koloid
dan terlarut.
Di kontak stabilisasi proses aerasi terjadi pada dua tahap di dua tangki, yaitu:
1. Tangki kontak, dimana senyawa organik dari air limbah influen kontak dengan
biomassa. Waktu tinggal dalam tangki lebih singkat dan ditujukan untuk
peralihan substrat dari air limbah ke permukaan biomassa.
2. Tangki stabilisasi, dimana lumpur yang sudah diendapkan di clarifier secara
terpisah akan distabilisasi sebelum bercampur dengan air limbah influen yang
akan masuk tangki kontak.
Kelebihan proses kontak stabilisasi adalah:
Keseluruhan volume tangki yang dibutuhkan pada proses kontak stabilisasi
lebih kecil daripada proses lumpur aktif konvensional (1/21/3 volume proses

lumpur aktif konvensional) (Ramalho, 1977).


Proses kontak stabilisasi tahan terhadap penambahan debit pengolahan secara
tiba-tiba (shock loading) dan kehadiran zat toksik dalam air limbah (Weston,

1961; Mitchell, 1970).


Untuk jenis limbah dan debit pengolahan yang sama, beban organik yang dapat
diterima proses ini lebih besar daripada yang diterima pada proses lumpur aktif

konvensional dan juga efisiensinya lebih tinggi (Boon, 1969).


Masalah bulking sludge pada lumpur, tidak ditemui di proses kontak stabilisasi

(Jones, 1979).
Sedangkan kelemahan dari reaktor ini yaitu (Reynolds, 1982):
Diperlukan studi pilot scale untuk mengetahui kelayakan aplikasi proses ini
untuk air limbah yang akan diolah, sebab pada beberapa jenis limbah, waktu
sorpsi tidak mencukupi.
3.3. Pengolahan Tingkat Tiga (Tertiary Treatment)

Sludge yang dihasilkan IPAL dapat berasal terutama dari bak pengendap pertama
dan clarifier. Sumber lainnya yaitu proses presipitasi, nitrifikasi, denitrifikasi, screening,
dan filtrasi jika IPAL memiliki fasilitas tersebut. Sludge yang dihasilkan akan mengalami
proses resirkulasi ke pengolahan tingkat kedua selama beberapa kali sebelum dibuang
menuju sluge treatment plant.
Karakteristik sludge yang dihasilkan mengandung volume air dalam jumlah yang
besar. Sedangkan solid yang tergantung berupa solid organik dan inorganik. Sludge terbagi
menjadi 2 jenis, yaitu sludge primer dan sludge sekunder. Sludge primer berasal dari solid
yang diendapkan di bak pengendap pertama sedangkan solid sludge mengandung padatan
kimia dan biologis yang dihasilkan selama proses berlangsung. Spesific gravity dari
padatan inorganik adalah 22,5 dan padatan organik adalah 1,21,3 (Qasim, 1985).
Proses pengolahan sludge meliputi proses pengentalan (thickening), stabilisasi
(stabilization atau digestion), pengeringan (dewatering), dan pembuangan (disposal).
3.3.1.

Sludge Thickening
Merupakan proses yang bertujuan meningkatkan konsentrasi lumpur dengan

mengurangi bagian liquidnya agar volumenya berkurang. Proses yang berlangsung


dalam thickening biasanya secara fisik, yaitu pengendapan, gravitasi, flotasi,
sentrifugasi dan gravity belt.
Volume harus dikurangi berdasarkan pertimbangan :
Kebutuhan kapasitas tangki dan peralatan
Kebutuhan zat kimia pada conditioning

Panas pada digester dan bahan bakar untuk heat drying dan atau insinerasi atau
keduanya.

Thickening digunakan di hampir seluruh unit pengolahan air buangan, baik pada
bak pengendap I, sludge digestion atau pada unit pengolahan lumpur yang terpisah.
Apabila unit pengolahannya terpisah, biasanya air efluen diresirkulasi ke dalam unit
pengolahan air buangan.
3.3.1.1. Gravity Thickener
Fungsi dari bangunan ini adalah untuk meningkatkan kandungan solid dengan
cara memisahkan sebagian cairan yang terdapat dalam lumpur. Lumpur mempunyai
kadar air yang besar, untuk mengurangi kadar air dilakukan dengan pengentalan

lumpur kemudian dikeringkan. Lumpur yang akan diolah berasal dari bak
pengendap I dan bak pengendap II. Keunggulannya yaitu :

Sering digunakan untuk memekatkan lumpur yang berasal dari BP I dan


dari trickling filter. Untuk instalasi relatif kecil diperoleh hasil yg

memuaskan dimana konsentrasi sludge berkisar antara 46 %


Cocok untuk memekatkan lumpur air buangan domestik yang memiliki
kadar BOD dan SS yang tinggi.

Pada prinsipnya sama dengan bak pengendap yang berfungsi untuk


meningkatkan kandungan solid lumpur dengan memisahkan cairan. Tingkat
pemekatan bervariasi dari 2 sampai 5 kali dari konsentrasi solid pada lumpur pada
influen. Maksimum konsentrasi solid yang dicapai < 10 % ( Qasim, 1985 ).
3.3.1.2. Flotation Thickener
Ada 3 jenis flotation yang digunakan, yaitu : Dissolved Air Flotation (DAF),
Vacuum flotation dan Dispersed Air Flotation. DAF adalah yang paling umum
digunakan. DAF biasanya digunakan untuk pemisahan lumpur dari proses lumpur
aktif ( activated sludge ) dan lumpur dari proses kimia.
Pemisahan padatan dilakukan dengan mendifusikan gelembung-gelembung
udara halus ke dalam lumpur buangan sehingga padatan lumpur akan melekat pada
gelembung udara tersebut dan mengapung ke permukaan untuk kemudian
disisihkan.
Beban solid yang lebih besar dapat ditangani dengan flotation thickener
dibanding dengan cara gravity karena adanya pemisahan solid dengan cepat.
Primary tank effluent atau plant effluent diperlukan sebagai sumber air yang
mengandung udara dibanding flotation tank, kecuali jika ada penambahan zat kimia
karena kemungkinan pencemaran udara bertekanan dengan solid. Penggunaan
polimer efektif untuk penambahan solid recovery pada lumpur (85 99%) dan
mengurangi beban pencemaran.
3.3.1.3. Centrifugal Thickener
Digunakan baik untuk meningkatkan kandungan solid dalam lumpur maupun
untuk memisahkan cairan dari lumpur dengan cara pengendapan partikel-partikel
lumpur yang dipengaruhi gaya sentrifugal.
Pada kondisi normal, thickening dapat dilakukan tanpa penambahan polimer.
Biaya tenaga/power dan pemeliharaan centrfugal thickening ini cukup mahal

sehingga biasanya digunakan untuk kapasitas yang besar, yaitu 5 mgal/day atau 0.2
m3/detik.
Ada 2 tipe thickening dengan cara sentrifugasi, yaitu :
1. Solid bowl, terdiri dari mangkuk panjang yang disususn secara horisontal
dan diletakkan pada ujung. Lumpur dimasukkan terus menerus dengan
konsentrasi solid di sekelilingnya. Kincir dengan kecepatan berbeda
menggerakkan kumpulan lumpur ke tempat penambahan konsentrasi solid.
2. Imperforate basket centrifuges, liquid pada lumpur dimasukkan ke spinning
bowl vertikal. Solid berakumulasi pada dinding mangkuk dan terjadi
dekantasi sentrat. Ketika mesin solid-holding diaktifkan (sekitar 60 85%
dari kedalaman maksimum), mangkuk akan berkurang kecepatannya dan
diletakkan alat untuk membantu mengikis akumulasi solid.
3.3.1.4. Rotary Drum Thickener
Terdiri dari sistem kondisi buangan activated sludge ( termasuk sistem
penambahan polimer ) dan saringan yang berputar berbentuk silinder. Polimer
dicampur dan diaduk bersama dengan lumpur pada conditioning drum. Range
thickening 3 4% untuk buangan activated sludge. Keuntungan dari rotary drum
thickening adalah pemeliharaan sedikit, energi yang dibutuhkan sedikit dan
space/area untuk peralatannya sedikit.
3.3.2.
Digestion
3.3.2.1.
Anaerobic Digester
Anaerob digester adalah proses stabilisasi dalam kondisi anaerob dimana yang
bertugas adalah mikroorganisme anaerob dimana proses stabil ini akan
menghasilkan methan dan CO2. Secara operasional relatif lebih murah.
Keunggulannya adalah :
Dapat menghasilkan produk yang bergunan berupa biogas (terutama CH4)

yang dapat digunakan sebagai sumber energi


Dapat menghasilkan residu biomassa yang rendah

Mikroorganisme yang berfungsi menstabilkan lumpur adalah mikroorganisme


anaerob maupun yang fakultatif. Proses stabilisasi ini menghasilkan karbondioksida
dan metan. Anaerobic digestion merupakan proses biokimia yang kompleks dimana

mikroorganisme fakutatif dan anaerob secara simultan berasimilasi dan


mendegradasi material organik.
3.3.2.2.

Aerobic Digester

Proses yang terjadi mirip dengan proses lumpur aktif. Pada saat suplai substrat
menurun, maka mikroorganisme akan mulai mengkonsumsi protoplasma untuk
memenuhi kebutuhan energi untuk aktivitas dalam sel (fase endogenous), dimana
jaringan sel dioksidasi secara aerob menjadi karbondioksida, air dan amonia. Hanya
sekitar 70 80% jaringan sel yang dapat dioksidasi sehingga sisanya merupakan
komponen inert dan material organik yang tidak dapat didegradasi. Apabila lumpur
dari bak pengendap I dan II didigested secara aerobik maka akan terjadi oksidasi
material organik pada lumpur primer dan oksidasi endogenous pada jaringan sel.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam desain aerobic digestion adalah
temperatur, penyisihan solid, kebutuhan energi untuk pengadukan, volume tangki,
kebutuhan oksigen dan proses operasinya. Sedangkan beberapa kelemahan dari
aerobic digestion adalah biaya investasinya cukup mahal dan memerlukan energi
yang intensif.
3.3.2.3.

Lime Stabilization

Stabilisasi lumpur secara aerob maupun anaerob memerlukan tangki dengan


kapasitas besar. Jika pengurangan investasi menjadi tujuan utama dan kemampuan
lumpur dapat diturunkan dengan penambahan bahan kimia, dimana penambahan
tersebut tidak mengubah jumlah material organik biodegradabelnya tetapi akan
mempengaruhi aktivitas bactericidalnya. Bahan kimia yang umum digunakan adalah
kapur Ca(OH)2 karena murah dan alkalinitasnya tinggi.
Prosesnya dengan pembubuhan kapur ke dalam lumpur sampai pHnya diatas
12 sehingga menciptakan kondisi yang tidak kondusif bagi pertumbuhan
mikroorganisme. Akibatnya lumpur tidak membusuk, membuat bau atau
membahayakan kesehatan.
Metode: Pre treatment dan post treatment.
Pre treatment, tujuan mempertahankan pH lumpur diatas 12 selama 2 jam
untuk menghancurkan patogen dan menjaga cukupnya sisa alkalinitas agar

pH tidak drop dibawah 11 selama beberapa hari.


Post treatment, menggunakan quicklime, CaO, yang reaksi eksotermalnya
dengan air mencapai 50oC. Kelebihan dibandingkan dengan pre treatment

adalah digunakannya CaO yang tidak perlu tambahan air, tidak ada
perlakuan khusus terhadap dewatering dan permasalahan yang minimal.

3.3.3.
Dewarering
3.3.3.1.
Sludge Drying Bed
Sludge drying bed memiliki proses kerja yaitu lumpur endapan yang telah
diendapkan pada sludge digester dikeringkan pada bidang pengering lumpur (Sludge
Drying Bed) yang berupa saringan pasir. Lumpur yang dialirkan kemudian pasir
tersebut akan mengalami proses pengeringan. Keuntungan pemakaian disebabkan
karena :
Biaya pembuatan relatif murah
Mudah dalam pengoperasian, tidak memerlukan perhatian khusus setiap waktu

3.3.3.2.

Filter Belt Press

Belt filter press (BFP) merupakan salah satu unit yang digunakan di dalam
proses sludge dewatering. Pada prinsipnya, proses yang berlangsung di dalam BFP
adalah memeras cake (lumpur dengan konsentrasi padatan yang tinggi) di atas belt
(sabuk berjalan) sehingga air yang masih terkandung di dalam cake dapat keluar dan
lumpur menjadi kering.

Beberapa alternatif pengolahan air buangan yang dipilih penulis sehubungan dengan
beban pengolahan yang harus diolah agar dapat menghasilkan efluen yang sesuai dengan
baku mutu air limbah yang ditentukan, adalah sebagai berikut :

Air yang sudah diolah


Sludge

Gambar 3.3 Alternatif Pemilihan Unit Pengolahan


Alternatif yang penulis pilih hanya berbeda di unit pengolahan pada secondary
treatment. Dari ketiga alternatif unit pengolahan air limbah pada secondary treatment, yaitu
Completely Mixed Activated Sludge (CMAS), Aerated Lagoon, dan Kontak Stabilisasi,
dilakukan rekapituasi parameter teknis dalam Tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1 Rekapituasi Parameter untuk Pemilihan Alternatif
Parameter
Efisiensi
pengolahan BOD
Kebutuhan lahan
Operasi &
pemeliharaan

CMAS
90-95%

Aerated Lagoon
90%

Kontak Stabilisasi
85-95%

Relatif kecil
Rumit

Besar
Sederhana

Relatif kecil
Rumit

Biaya operasional
Kebutuhan Energi
Kualitas Efluen
Bau

Mahal
Tinggi
Baik
Kurang Bau

Murah
Tinggi
Cukup baik
Bau

Mahal
Tinggi
Baik
Bau

Sumber: Metcalf (2003), Barnhart (1972), Qasi ), Arceivala (1973)

Berdasarkan parameter-parameter yang tercantum pada tabel 3.1, maka pengolahan


yang dipilih pada secondary treatment yaitu dengan menggunakan Completely Mixed
Activated Sludge (CMAS). Hal ini disebabkan karena efisiensi penurunan BOD dengan
menggunakan CMAS lebih tinggi dibanding dua alternatif lainnya yaitu sebesar 90-95%.
Aerated lagoon menjadi pilihan terakhir penulis dalam mengolah limbah karena
membutuhkan lahan yang besar, yang menyebabkan biaya konstruksi, termasuk biaya
pembebasan lahannya, menjadi lebih mahal dibandingkan dua alternatif lainnya. Walaupun
pengoperasian dan pemiliharaannya lebih sederhana, dan biayanya juga lebih murah, kualitas
efluentnya paling rendah dibandingkan CMAS dan kontak stabilisasi. Hal tersebut dapat
dilihat dari efisiensi pengolahan BOD paling rendah diantara 3 alternatif tersebut, dan
effluent yang dihasilkan berbau.
Dari ketiga alternatif yang ditawarkan penulis, CMAS dan kontak stabilisasi memiliki
poin yang sama di beberapa parameter, yaitu kebutuhan lahan, operasi dan pemeliharaan, dan
kualitas efluen. Namun pada kontak stabilisasi memiliki kemungkinan untuk menimbulkan
bau, sedangkan pada CMAS tidak terdapat kemungkinan tersebut, sehingga CMAS dipilih
sebagai alternative terbaik menurut penulis.

BAB IV
RANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Pada Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah yang dilakukan oleh penulis,
berdasarkan dasar perencanaan dan analisis pemilihan alternatif unit pengolahan yang
telah dilakukan, maka pengolahan yang akan digunakan adalah pengolahan dengan
menggunakan sistem Completely Mixed Activated Sludge pada pengolahan tingkat dua.
Pilihan ini dibuat berdasarkan analisis yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Unitunit yang digunakan pada sistem Completely Mixed Activated Sludge adalah:
1. Pengolahan Tingkat Pertama :
Bars screen, bak pengendap pertama tangki dan tangki aliran rata-rata
2. Pengolahan Tingkat kedua:
Tangki aerasi dan clarifier (bak pengendap kedua).
3. Desinfeksi:
Klorinasi.
4. Pengolahan Lumpur:
Sludge thickener dan sludge drying bed.

Gambar 4.1 Skema Unit Pengolahan Terpilih

Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai unit pengolahan terpilih


4.1. Pengolahan Tingkat Satu (Primary Treatment)
4.1.1.
Bar Screen
Bar screen adalah rangkaian kisi-kisi besi yang berguna untuk menyaring bendabenda kasar/yang misalnya kertas, plastik, atau potongan kayu terapung untuk
menyisihkan atau menyaring material-material kasar yang dapat mengganggu jalannya
proses pengolahan air buangan. Digunakan untuk melindungi pompa, valve, perpipaan
dari kerusakan/clogging. Screen adalah sebuah alat yang memiliki lobang-lobang.
Umumnya memiliki ukuran yang seragam. Screening terdiri atas batang pararel,balok
atau kawat, kisi/jeruji, mata lobang, atau plat yang penuh lobang dan lobang tersebut
dapat berbentuk lingkaran atau persegi panjang.
Berdasarkan cara pembersihannya, screening dibagi dua yaitu: manual (bars
screen) dan mekanis (drum dan barminutor). Cara pembersihan manual digunakan bagi
air buangan dengan volume sampah kasar relatif kecil, sementara cara mekanis
digunakan bagi air buangan dengan volume sampah kasar relatif besar. Untuk air
buangan domestik dalam tugas ini, digunakan cara manual, yaitu dengan menggunakan
bars screen. Umumnya bar screen terbuat dari batangan besi/baja yang dipasang miring
ke suatu kerangka yang melintang saluran. Ditempatkan dengan kemiringan 30-45
dari horisontal (Met Calf, 1979). Tebal batang biasanya 5-15mm dengan jarak antar
batang 25-50mm yang diatur sehingga tinja lolos.

Bar screen dedesain dengan

perencanan pada aliran puncak (Qasim,1975) dan pembersihan dilakukan manual.


Kehilangan tekanan dihitung berdasar persamaan Kirscmer (Parker, 1978)
h w / b hv sin

hv

Vs

2g
Tabel 4.1 Harga

No

Bentuk Penampang batang

Persegi

2,42

Persegi dgn sisi depan lingkaran

1,83

Bulat/ lingkaran

1,79

Persegi dgn sisi depan dan belakang 1,67


lingkaran

No

Bentuk Penampang batang

Bulat telur

0,76

dimana:
h = Kehilangan tekanan, m
= Faktor bentuk dari batang
w = Lebar batang, m
b = Jarak antar batang, m
= Sudut kemiringan kisi

hv = Velocity head, m/dt


Vs = Kecepatan melalui bar
screen, m/dt
g = Kecepatan gravitasi, m/dt2

terhadap saluran

4.1.2.

Bak Pengendap Pertama (Primary Sedimentation)


Bak Pengendap, digunakan terutama untuk mengendapkan partikel padat organik

yang tersuspensi yang dapat mengendap. Bak pengendap pertama mampu memisahkan
(50 70%) TSS dan (30 40%) BOD5. Ada tiga tipe bak pengendap, yaitu horizontal
flow, solid contact, dan inclined surface. Pada bak tipe pertama, kecepatan gradien
yang mendominasi adalah arah horizontal.
Bentuk bak yang biasa digunakan adalah rectangular, circular, dan square. Pada
umumnya untuk pemakaian sedimentasi pertama dipakai bentuk persegi panjang karena
partikel partikel (umumnya berupa partikel diskrit dan memiliki beragam ukuran dan
berat jenis) yang ada dalam air limbah akan mempunyai waktu perjalanan yang lebih
lama sehingga memperkecil adanya aliran pendek, memperkecil headloss antara inlet
dan outlet, konsumsi energi yang relatif kecil.
Sedangkan bentuk circular biasanya digunakan untuk pengendapan setelah proses
biologi. Untuk tipe solid contact, prinsipnya adalah terjadi kontak antara padatan yang
ada di dalam air limbah dengan suspended sludge yang ada di dasar bak pengendap,
sehingga terjadi aglomerasi. Keuntungan pemakaian tipe ini adalah adanya
pengurangan waktu detensi dan adanya perbaikan bentuk hidrolis dibandingkan bila
menggunakan bak pengendap horizontal flow, namun dari segi ekonomi lebih mahal.

Sedang untuk tipe inclined surface, bak pengendap dipasangi lempengan plate
atau tube settler. Keuntungan pemakaian tipe ini adalah memperbesar luas permukaan
yang ada dan dapat mengurangi ukuran luas bak pengendap. Untuk air limbah yang
mengandung minyak dan lemak cukup tinggi pemakaian bak pengendap dengan air
flotation perlu dipertimbangkan. Udara yang didifusikan ke dalam air limbah akan
membentuk gelembung gelembung udara halus yang akan mengapungkan minyak
dan lemak yang terlekat pada gelembung udara. Sedangkan partikel tersuspensi akan
mengendap secara gravitasi dan mengendap di dasar bak. Pada air limbah domestik
kandungan minyak dan lemak relatif kecil (10 % dari kandungan organik yang ada
dalam air limbah) sehingga tidak diperlukan peralatan air flotation.
Pada perencanaan ini digunakan bak pengendap dengan aliran horizontal
berbentuk persegi panjang. Hal ini bertujuan agar partikel yang ada dalam air limbah
akan mempunyai waktu perjalanan yang lebih lama sehingga memperkecil adanya
aliran pendek, memperkecil headloss antara inlet dan outlet, konsumsi energi yang
relatif kecil.
Prinsip pemisahan partikel tersuspensi dalam cairan tergantung pada besarnya
spesifik gravity partikel tersebut.

Jika cairan yang mengandung tersuspensi

ditempatkan pada temapt yang tenang, maka partikel tersuspensi dengan spesifik
gravity lebih besar dari cairan akan terendapkan, sedang yang memilki spsifik gravity
yang lebih kecil dari cairan akan terapung.
Beban permukaan dan waktu detensi adalah faktor-faktor yang penting dalam
menentukan dimensi bak pengendap.

Besarnya beban permukaan diterapkan

berdasarekan karakteristik air buangan , konsentrasi partikel yang diendapkan, dan jenis
suspensi yang akan dipisahkan

Perhitungan dimensi bak pengendap didasari atas persamaan-persamaan berikut :

Vo

Q
A

t d 24

Q
V

dimana
Vo = Overflow rate (m3/m2.hari)
Q

= Debit air buangan rata-rata (m3/hari)

A =

Luas permukaan bak (m2)

td

Waktu detensi (jam)

4.1.3.

Tangki Aliran Rata-rata (Flow Equalization)


Bak ekualisasi berfungsi untuk menyeragamkan debit aliran buangan yang

berfluktuasi pada kondisi puncak dan minimum. Pertimbangan menggunakan bak


ekualisasi dalam sistem ini ialah meningkatkan kinerja pengolahan biologi karena akan
mengurangi efek shock loading serta akan menstabilkan pH (abfertiawan, 2008).
Sistem bak ekualisasi yang akan digunakan ialah In-Line Equalization .
Bak pengumpul berfungsi untuk menampung air buangan dari comminutor yang
kemudian akan dialirkan ke bak pengendap pertama. Lamanya air buangan di dalam
bak pengumpul tidak boleh lebih dari 2 jam ( Metcalf & Eddy, 2003 ) agar tidak terjadi
pengendapan dan dekomposisi air buangan. Taraf muka air maksimum pada bak
pengumpul ini harus berada di bawah aliran masuk ke dalamnya agar tidak terjadi
aliran balik.
Sedangkan pemompaan berfungsi untuk menaikkan air limbah dari ketinggian
yang lebih rendah menuju ketinggian yang direncanakan dimana air limbah dapat
mengalir secara gravitasi dalam proses pengolahan selanjutnya dari ketinggian tersebut.
Upaya ini dinilai akan mengurangi biaya operasi karena sistem pengaliran selanjutnya
tidak membutuhkan pemompaan.
Jenis pompa yang dipilih adalah jenis submersible pump. Jenis pompa ini dipilih
karena memberikan beberapa keuntungan antara lain :

Menghemat tempat di permukaan tanah.

Tidak mempunyai masalah dengan tinggi hisap.

Tidak menimbulkan kebisingan karena pompa terendam di dalam air.

Lebih ekonomis dalam hal biaya perawatan.


Pompa ditempatkan di dasar bak ekualisasi dan memompakan air limbah melalui

pipa kolom yang sekaligus berfungsi sebagai penggantung pompa. Selain itu kontruksi
pompa dibuat agar bisa dinaikkan dan diturunkan untuk pemeriksaan rutin.
Kriteria Disain
Kriteria disain untuk bak pengumpul dapat dilihat pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Kriteria Desain Tangki Aliran Rata-rata
Satu

Parameter

Simbol

Nilai

Slope
Kedalaman

3:1

an
-

1,5-2

minimum

( Sumber : Metcalf & Eddy, 2003 )


Data Perencanaan
Data Perencanaan yang digunakan dapat digunakan pada Tabel 4.3
Tabel 4.3 Data Perencanaan Tangki Aliran Rata-rata
Simb

Parameter
Slope
Kedalaman
minimum

ol
S
D

Nilai

Satu

3:1

an
-

1,5

( Sumber : Metcalf & Eddy, 2003 )


4.2. Pengolahan Tingkat Dua (Secondary Treatment)
4.2.1.
Completely Mixed Activated Sludge (CMAS)
Completely Mixed Activated Sludge (CMAS) adalah proses modifikasi lumpur
aktif konvensional yang menggunakan mikroorganisme yang aktif (lumpur aktif) untuk
menstabilisasi air limbah secara aerobik di dalam suatu reaktor, yang mengalami
pengadukan merata ke seluruh bak secara kontinyu.
Air limbah terlebih dahulu harus melalui bak pengendap pertama sebelum
memasuki tangki aerasi. Influen dari bak pengendap pertama ini dimasukkan ke dalam
suatu inlet sehingga beban pengolahan dapat tersebar merata ke seluruh tangki aerasi.

Akibat isi tangki yang tercampur sempurna maka beban organik, kebutuhan oksigen,
dan konsentrasi substrat seragam didalam tangki aerasi. Dengan cara ini diharapkan
rasio antara substrat dan mikroorganisme cukup sehingga memungkinkan terjadinya
adsorbsi material organik terlarut dalam biomassa dengan cepat. Efisiensi pada unit ini
dapat mencapai 85%-95% (Qasim,1985).
Proses selanjutnya pada CMAS adalah proses dekomposisi materi biodegradable
secara aerob. Waktu detensi hidrolis dalam bak aerasi yang

direncanakan harus

menucukupi untuk terjadinya dekomposisi aerob yaitu sekitar 4 sampai 36 jam dan
biasanya 4 sampai 8 jam untuk air limbah domestik (Reynold, 1982). Perlu
diperhatikan agar reactor CMAS tercampur secara sempurna dan perlu dilakukan
pemilihan titik influen - efluen untuk mencegah short circuiting air limbah yang belum
diolah atau sebagian terolah. Bentuk reaktor biasanya berupa persegi, persegi panjang
atau lingkaran bulat. Peralatan yang digunakan untuk aerasi adalah mekanikal aerator
karena menghasilkan pengadukan yang lebih baik. Aliran resirkulasi yang biasa
digunakan sebesar 35-100% dari aliran influen.
Air buangan yang mengandung bahan organik yang tinggi bila diaerasi dalam
jangka waktu tertentu, kandungan bahan organiknya akan menurun hingga mencapai
konsentrasi yang cukup rendah. Disamping itu, dihasilkan juga gumpalan massa yang
bila dibiarkan mengendap akan menghasilkan effluent yang cukup jernih. Gumpalan
massa yang disebut lumpur aktif ini merupakan kumpulan mikroorganisme yang
mampu menguraikan bahan organik menjadi CO2 + H2O + gas lainnya secara aerobik.
Kumpulan mikroorganisme itu terdiri dari bakteri, protozoa, dan jamur. Diantara
kumpulan mikroorganisme tersebut, bakteri mempunyai peranan penting karena
sifatnya yang reaktif terhadap penguraian bahan organik.
Proses-proses yang terjadi pada penurunan kandungan bahan organik air limbah
dalam unit lumpur aktif adalah :
Stabilisasi, penguraian materi organik dalam metabolisme mikroorganisme.
Mineralisasi, oksidasi sebagian materi organik menjadi senyawa sederhana

seperti CO2.
Asimilasi, sebagian materi organik diubah menjadi sel baru
Respirasi endogen, pemakaian sebagian massa sel mikroorganisme oleh
dirinya sendiri.

Keempat proses tersebut berlangsung dalam satu kesatuan dalam tanki aerasi
selama waktu kontak.

Beberapa parameter operasi yang perlu diperhatikan dalam proses lumpur aktif
adalah :
Karakteristik pengurangan BOD untuk operasi
Terdiri dari 2 tahapan yaitu :
1. BOD tersuspensi, koloidal, dan yang terlarut mengalami penguraian dengan
cepat.
2. Nitrogen berubah menjadi nitrit dan nitrat dalam proses penguraian yang
berjalan lambat.

Mekanisme pengurangan BOD :


o Pengurangan bahan organik tersuspensi dengan cara terperangkap di dalam
flok-flok massa lumpur. Kecepatan proses tergantung pada mekanisme
pembentukan flok yang banyak dipengaruhi oleh proses pencampuran dan
pengadukan yang terjadi.
o Penghilangan zat yang berbentuk koloid dengan absorpsi oleh flok-flok massa
lumpur.
o Dengan cara penyerapan (biosorption) zat organik oleh mikroorganisme.
Ketiga mekanisme pengurangan BOD tersebut berlangsung serentak pada saat
terjadinya kontak antara lumpur dan air buangan. Bahan tersuspensi dan koloid
akan terurai menjadi bentuk molekul yang lebih kecil, sehingga dapat digunakan

dalam pembentukan sel-sel baru oleh mikroorganisme.


Kebutuhan oksigen untuk berbagai tingkat pembebanan
Selama proses penurunan BOD, oksigen digunakan untuk menyediakan energi
bagi sintesa dan perawatan sel. Oksigen yang dibutuhkan dapat diperkirakan
sebagai berikut :
lb O2 / hari
= a lb BOD5 / hari + b lb MLVSS
a : dihitung (diestimasi) dari kemiringan (slope), merupakan kebutuhan O 2
untuk menguraikan BOD.
b

: adalah konsumsi oksigen untuk mengoksidasi sebagian biosolid, diperoleh


secara grafis.

lb O2 yg
dipakai / lb
lumpur hari

a
b
lb BOD yang hilang / lb lumpur hari

Produksi lumpur endapan

Dengan mengetahui lumpur yang dihasilkan dapat direncanakan fasiliats


pengolahan lumpur. Banyaknya lumpur yang diproduksi dapat dihitung

berdasarkan persamaan berikut :


S
= a Lr b Sa
S
: produksi lumpur yang merupakan net growth (lb VSS / hari)
a
: fraksi BOD yang diubah menjadi sel baru
Lr
: lb BOD yang dihilangkan / hari
b
: fraksi laju respirasi endogenous / hari
Sa
: lb VSS rata-rata di dalam tangki aerator
Nutrisi yang diperlukan
Pada pengolahan air buangan industri, jumlah minimum Nitrogen adalah 4 lb N /
100 lb BOD yang dihilangkan. Angka tersebut ekuivalen dengan perbandingan
BOD : N : P = 60 : 3 : 1. Perbandingan angka ini tidak merupakan harga mutlak,
tetapi ditunjukkan oleh persentase distribusi Nitrogen dan Phospor dalam sel,

umur sel, dan kondisi lingkungannya.


Pengalihan oksigen (transfer oksigen)
Persamaan yang digunakan pada pengalihan oksigen, jika konsentrasi oksigen
dalam cairan konstan.
N
= KL A (CS CL)
N
: banyaknya oksigen yang dipindahkan per unit waktu (lb O2 / hari)
KL
: koefisien liquid film (lb O2 / hari (ft)2) (unit AC)
A
: luas permukaan transfer (ft)2
CS
: konsentrasi jenuh oksigen (mg / l)
CL
: konsentrasi oksigen pada fasa cair sebelum terjadinya transfer

oksigen (mg/l).
Pemisahan bio solid dari larutan.
Pentingnya pemisahan ini mengingat apabila biosolid tidak dipisahkan dan
kembali ke ruang aerasi akan menyebabkan lumpur aktif tidak berfungsi dengan
baik atau dapat menghasilkan persentase pemisahan buangan organik yang kecil.
Tabel 4.4 Karakteristik Operasional dari Proses Activated Sludge

Process
Modificati
on

Convention
al
Complete
mix

Flow model

Plug-flow

Continousflow
stirred-tank

Aeration
system
Diffusedair,
mechanic
al
aerators
Diffusedair,

BOD
removal
Efficiency,
%

85-95

85-95

Remarks
Use for lowstrength domestic
wastes. Process is
susceptible to
shock loads
Use for general
application.

Process
Modificati
on

Step-feed

Modified
aeration

Contact
stabilizatio
n

Flow model

Aeration
system

reactors

mechanic
al
aerators

Plug-flow

Diffusedair

Plug-flow

Diffusedair

Plug-flow

Diffusedair,
mechanic
al
aerators

BOD
removal
Efficiency,
%

85-95

Process is resistant
to shock loads, but
is susceptible to
filamentous
growths
Use for general
application for a
wide range of
wastes

60-75

Use for
intermediate
degree of treatment
where cell tissue in
the effluent is not
objectionable

80-90

Use for the


expansion of
existing systems
and package plants

Extended
aeration

Plug-flow

Diffusedair,
mechanic
al
aerators

High-rate
aeration

Continousflow
stirred-tank
reactors

Mechani
cal
aerators

75-90

Kraus
process

Plug-flow

Diffusedair

85-95

Continousflow
stirred-tank
reactors in

Mechani
cal
aerators
(sparger

High-purity
oxygen

Remarks

75-95

85-95

Use for small


communities,
package plants,and
where nitrified
element is
required. Process is
flexible
Use for general
application with
turbine aerators to
transfer oxygen
and control floc
size
Use for lownitrogen, high
strength wastes
Use for general
application with
high strength
wastes and where

Process
Modificati
on

Oxidation
ditch

Flow model

Aeration
system

BOD
removal
Efficiency,
%

Remarks

series

turbines)

limited space is
available at site.
Process is resistant
to slug loads

Plug-flow

Mechani
cal
aerators
(horizont
al axis
type)

Use for small


communities or
where large area of
land is available.
Process is flexible

75-95

Sequencing
batch
reactor

Intermittent
-flow
stirred-tank
reactors

Diffusedair

85-95

Deep shaft
reactor

Plug-flow

Diffusedair

85-95

Singlestage
nitrification

Continousflow
stirred-tank
reactors or
plug-flow

Mechani
cal
aerators,
diffusedair

85-95

Separate
stage
nitrification

Continousflow
stirred-tank
reactors or
plug flow

Mechani
cal
aerators,
diffusedair

85-95

Use for small


communities or
where land area is
limited. Process is
flexible and can
remove nitrogen
and phosphorus
Use for general
application with
high-strength
wastes. Process is
resistant to slug
loads
Use for general
application for
nitrogen control
where inhibitory
industrial wastes
are not present
Use for upgrading
existing systems,
where nitrogen
standards are
stringent, or where
inhibitory
industrial wastes
are present and can
be removed in
earlier stages

Selain melalui pengolahan kedua ini, supernatan harus melalui bak pengendap
kedua (clarifier) yang sekaligus berperan sebagai salah satu pendukung terjadinya
resirkulasi lumpur mikroorganisme. Pada perencanaan ini, digunakan tangki aerasi
dengan bentuk persegi panjang dan dilengkapi dengan mekanikal aerator yang berada
di permukaan tangki. Hal ini direncanakan untuk mencapai pengadukan sempurna.
4.2.2.

Bak Pengendap Kedua


Bak pengendap kedua (clarifier) mempunyai fungsi yang penting dalam

meningkatkan pengolahan air limbah yaitu berfungsi untuk memisahkan mixed liquor
suspended solid dari air limbah yang berasal dari pengolahan biologi dan untuk
mengentalkan lumpur yang diresirkulasi. Lumpur yang mengendap pada dasar bak
pengendap II, sebagian dipompakan ke tangki aerasi yang kemudian akan diaerasi
kembali.
Pemisahan bioflok ini merupakan tahap terakhir untuk memperoleh efluen yang
stabil dan telah terendapkan dengan baik yang mengandung BOD5 dan TSS yang
rendah, karena itu unit clarifier merupakan unit pengolahan yang penting dalam proses
pengolahan secaraa biologis. Bentuk yang dipilih adalah circular tank karena operasi
dan pemeliharaan peralatan pada saat bekerja menyisihkan lumpur, relatif sederhana.
Efluen supernatan dari clarifier yang mengandung BOD5 dan TSS dalam
konsentasi yang kecil ini kemudian dialirkan ke unit disinfeksi sebelum dialirkan ke
badan air penerima.
Kriteria desain untuk bak pengendapan kedua dapat dilihat dalam Tabel 4.5
berikut.
Tabel 4.5 Kriteria Desain Bak Pengendap II
Parameter
Overflow rate
Solid loading

Satuan
m3/m2.ha
ri
kg/m2.ha
ri

Besaran
8-16
15-20

Radius

10-40

Kedalaman bak

3,5-6,0

Sumber
Metcalf & Eddy,
2003
Qasim, 1985
Metcalf & Eddy,
2003
Metcalf & Eddy,
2003

4.3. Pengolahan Tingkat Tiga (Tertiary Treatment)


Pengolahan tingkat tiga yang dipilih adalah desinfeksi dengan menggunakan klorin.
Klorin merupakan desinfektan yang umum untuk digunakan dalam mengolah air limbah.
Klorin memiliki beberapa keunggulan seperti konsentrasi yang dibutuhkan rendah, murah,
mudah didapatkan dalam jumlah yang besar, dan bersifat non toksik pada konsentrasi yang
rendah. Sedangkan kelemahan dari klorin adalah terbentuknya asam klorid (HCl) dan
senyawa organik yang berpotensi karsinogenik.
Klorin yang digunakan dapat berbentuk gas atau sebagai hipoklorit. Kemampuan
desinfeksi dari klorin sangat baik karena klorin memiliki daya oksidasi yang kuat.
Penentuan jenis klorin yang akan digunakan tergantung dari ukuran fasilitaspengolahan,
tujuan yang ingin dicapai, dan faktor ekonomi dan keamanan. Efisiensi dari desinfeksi
tergantung dari beberapa faktor seperti waktu kontak, dosis klorin, temperature, pH,
karakteristik air limbah dan jenis dan jumlah mikroorganisme.
Klorin diberikan dalam bentuk kaporit (Ca(OCl)2) berupa bubuk putih yang
mengandung 70% klorin. Kaporit yang diberikan dalam bentuk larutan setelah dicampur
dengan air pelarut.
4.4. Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Proses dasar di dalam pengolahan lumpur menurut Davis dan David, 1991adalah
thickening, stabilisasi, conditioning, dewatering, serta reduksi volume. Thickening
digunakan untuk meningkatkan kandungan solids di dalam lumpur dengan menyisihkan
fase liquidnya.

Sedangkan proses

stabilisasi lumpur adalah untuk mereduksi

mikroorganisme patogen dan menghilangkan bau. Proses ini banyak diterapkan untuk
lumpur biologi atau bila lumpur akan diaplikasikan ke tanah. Proses conditioning
dilakukan untuk memperbaiki karakteristik dewatering lumpur. Dewatering bertujuan
untuk menurunkan kandungan air dari lumpur.
Menurut Qasim, 1985, gravity thickening dapat digunakan untuk meningkatkan
kandungan solid di dalam lumpur yang berasal dari bak pengendap pertama, trickling
filter dan proses lumpur aktif. Gravity thickening cocok untuk diterapkan pada instalasi
berukuran kecil-sedang, dengan kemampuan pengentalan yang memuaskan. Menurut
Metcalf, 2003, anaerobic digester merupakan dekomposisi materi organik dan non-

organik tanpa kehadiran oksigen. Aplikasi anaerobic digester dapat dilihat pada instalasi
pengolahan air limbah domestik maupun industri.
Menurut Qasim, 1985, drying bed dan drying lagoon cocok diterapkan untuk
pengolahan lumpur dalam kuantitas kecil apabila tersedia lahan yang cukup luas. Bila
lahan tidak tersedia digunakan dewatering mekanik : centrifuge, vaccum filter, filter press,
dan belt filter. Unit pengolahan lumpur yang digunakan adalah gravity thickener yang
dilanjutkan unit anaerobic digester sebagai unit stabilisasi lumpur, dengan sludge drying
bed untuk dewatering lumpur.
4.4.1.

Gravity Thickener
Bentuk geometri pada gravity thickener hampir sama dengan bentuk geometri

yang dipergunakan pada clarifier. Solids yang masuk ke dalam thickener akan terbagi
dalam tiga zona yaitu zona clear water, zona sedimentasi, dan zona thickening. Pada
zona thickening terjadi sludge blanket dimana massa lumpur tertekan oleh massa yang
diatasnya yang akan terus bertambah.
Untuk desain gravity thickener direncanakan untuk membangun dua buah unit.
Supernatan dari gravity thickener diresirkulasikan ke tangki aerasi dalam proses
CMAS. Sedangkan thickened sludge-nya akan distabilisasi lebih lanjut ke dalam unit
anaerobic digester.
Unit ini biasanya berbentuk tangsi circular. Bak terbagi atas 3 zona, yaitu zona
supernatan, zona pengendapan dan zona thickening. Inlet berada di tengah-tengah
tangki sehingga memberikan kemungkinan bagi pengendapan lumpur yang kompak.
Lumpur keluar dari dasar tangki untuk diolah lebih lanjut. Supernatan dari bagian
thickening biasanya dikembalikan ke bak pengumpul ( lift station ) atau kembali lagi ke
awal instalasi pengolahan ( Metcalf and Eddy, 1991 ).
Dalam pengoperasiannya, sebuah sludge blanket diletakkan didasar thickener
untuk mempertahankan konsentrasi lumpur. Variabel operasi terdiri dari sludge volume
ratio, yaitu volume yang ada pada sludge blanket dibagi dengan volume thickened
sludge perhari (antara 0,5 20). Kedalaman sludge blanket antara 2 8 ft (0,6 2,4
meter)
Kriteria desain gravity thickener didasarkan pada luas minimum permukaan
berdasarkan beban solid, kedalaman thickener dan kemiringan lantai.
Tabel 4.6 Kriteria Perencanaan Gravity Thickener
N

Parameter

Simbo

Satuan

Besaran

Acuan

o
1
.
2
.
3
.
4
.
5
.
6
.
7
.
8
.

4.4.2.

l
Surface loading
rate

m3/m2 hari

10 30

Kadar solid

7 11.6

Slope dasar

Derajat

10 30

Kedalaman
minimum

Waktu detensi

Td

Hari

0.5 3

Surface loading

kg/m2 hari

60 100

Solid loading

kg/m2 hari

90 144

Hydraulic
loading

m3/m2 hari

24 33

Qasim,
1985
Metcalf &
Eddy, 1991
Qasim.
1985
Qasim,
1985
Metcalf &
Eddy, 1991
Metcalf &
Eddy, 1991
Qasim,
1985
Qasim,
1985

Sludge Drying Bed


Sludge drying bed merupakan salah satu fasilitas pengeringan lumpur (sludge

dewatering) yang cukup banyak digunakan. Biasanya sludge drying bed digunakan
untuk lumpur yang berasal dari digester (Metcalf, 2003). Keuntungan dengan
menggunakan sludge drying bed adalah biaya investasi yang kecil, tidak memerlukan
perhatian khusus dalam pengoperasiannya dan konsentrasi solild yang tinggi pada
lumpurnya.
Pada pengoperasiannya lumpur diletakkan di atas bed dengan ketebalan lapisan
lumpur (200 300)mm lalu dibiarkan mengering. Sebagian air yang terkandung di
dalam lumpur akan mengalir melalui pori pori bed dan sebagian lagi akan menguap.
Untuk menampung air yang mengalir ke bawah ini dibuat susatu sistem drainase lateral
dengan menggunakan pipa berpori (berlubang). Lumpur yang telah mengering pada
bagian atas bed disisihkan dan dapat dibuang ke landfill ataupun dapat juga digunakan
sebagai soil conditioner.
Tabel 4.7 Kriteria Desain Sludge Drying Bed
Parameter
Periode
pengeringa
n
Kelembaba
b lumpur
effluen

Simbol

Besaran

Satuan

Sumber

td

10-15

Hari

Qasim

60-70

Qasim

Kandungan
solid
lumpur
effluen
Solid
capture
Koefisien
keseragam
an
Ketebalan
bed

30-40

Qasim

90-100

Qasim

<4

200-450

Metcalf&Edd
y
Mm

Metcalf&Edd
y