Anda di halaman 1dari 28

• MATERI KEPROTOKOLAN

• DISAMPAIKAN OLEH:

• Sri Haryanti, S.Sos

• CAKUPAN MATERI

1. KEPROTOKOLAN DI INDONESIA PENGERTIAN DAN ISTILAH

2. SUBSTANSI UNDANG-UNDANG PROTOKOL: TATA TEMPAT, TATA UPACARA DAN TATA


PENGHORMATAN

3. PELANTIKAN KDH DAN WKDH

4. PROTOKOL PROFESIONAL

BAGIAN I:

KEPROTOKOLAN DI INDONESIA PENGERTIAN DAN ISTILAH

• KEPROTOKOLAN DI INDONESIA

• KEPROTOKOLAN ADALAH NORMA-NORMA ATAU ATURAN-ATURAN ATAU KEBIASAAN-


KEBIASAAN YANG DIANUT ATAU DIYAKINI DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA,
BERBANGSA, BERPEMERINTAHAN DAN BERMASYARAKAT.

• METODE KEPROTOKOLAN DI INDONESIA ADALAH UNDANG-UNDANG PROTOKOL YAITU


PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DIBIDANG “DOMAIN” KEPROTOKOLAN DAN
YANG BERKAITAN “RELATED” DENGAN KEPROTOKOLAN.

• DEFINISI PROTOKOL

• Encyclopedia Britannica 1962:

“Protocol is a body of ceremonial rules to be observed in all written or personal official


intercourse between the heads of different states or their ministers, it lays down the styles and
titles of states or their ministers and indicates the forms and customary courtesies to be
observed in all international acts”

(Protokol adalah serangkaian aturan-aturan keupacaraan dalam segala kegiatan resmi


yang diatur secara tertulis maupun dipraktekan, yang meliputi bentuk-bentuk penghormatan
terhadap negara, jabatan kepala negara atau jabatan menteri yang lazim dijumpai dalam
seluruh kegiatan antar bangsa”
• Buku:

Protokol: The complete handbook of diplomatic and social usage

(Panduan lengkap penggunaan dalam dunia diplomatik dan sosial)

“Protocol is the set of rules prescribing good manners in official life and ceremonies
involving government and nations and their representatives”

(seperangkat aturan tentang perilaku dalam tata kehidupan resmi dalam upacara yang
melibatkan pemerintah dan negara serta wakil-wakilnya)

• Protokole est le code de la politiesse internationale

(Protokol adalah suatu pedoman tata cara internasional)

• MENURUT Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1987 :

“SERANGKAIAN ATURAN DALAM ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI YANG


MELIPUTI ATURAN MENGENAI TATA TEMPAT, TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN,
SEHUBUNGAN DENGAN PENGHORMATAN KEPADA SESEORANG SESUAI DENGAN JABATAN
DAN/ATAU KEDUDUKANNYA DALAM NEGARA, PEMERINTAHAN ATAU MASYARAKAT”

• DOMAIN KEPROTOKOLAN

– UU NO. 8 TH 1987 TENTANG PROTOKOL

– PP NO. 62 TH 1990 TENTANG KETENTUAN KEPROTOKOLAN MENGENAI TATA


TEMPAT, TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN.

• RELATED KEPROTOKOLAN

– UU NO. 43 TAHUN 1999 (Tentang Pokok-pokok Kepegawaian)

– UU NO. 22 TAHUN 2003 (Tentang Pemerintah Daerah)

– UU NO. 32 TAHUN 2004 (Tentang Pemerintahan Daerah)

– PP NO. 40 (Tentang Bendera Kebangsaan RI)

43 (Tentang Penggunaan Lambang Negara RI),

44 (Tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya) TAHUN 1958

– PP NO. 21 TAHUN 1975 (Tentang Sumpah/ Janji Pegawai Negeri Sipil)


– PP NO. 24 TAHUN 2004 (Tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan
dan Anggota DPRD)

– PP NO. 6 TAHUN 2005 (Tentang Pemilihan, Pengesahan, Pengangkatan dan


Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah)

– PERPRES NO. 11 TAHUN 1959 (Tentang Pelantikan Jabatan Negeri)

– KEPPRES NO. 18 TAHUN 1972 (Tentang penggunaan pakaian)

– KETENTUAN DARI INSTITUSI/LEMBAGA RESMI

• RUANG LINGKUP PROTOKOL

– PENGHORMATAN KEDUDUKAN, KEBANGSAAN DAN PENGHORMATAN


TERHADAP JENAZAH.

– PERLAKUAN TERHADAP LAMBANG KEHORMATAN NKRI, PEJABAT NEGARA,


PEJABAT PEMERINTAH DAN TOKOH MASYARAKAT TERTENTU

– PENGATURAN KUNJUNGAN DAN UPACARA DALAM ACARA KENEGARAAN DAN


ACARA RESMI.

• PROTOKOLER

 SUATU JULUKAN YANG BERSIFAT FILOSOFI TERHADAP SESEORANG YANG MENERIMA


HAK PROTOKOLER SERTA MELAKSANAKAN KETENTUAN KEPROTOKOLAN SEBAGAIMANA
MESTINYA DAN

 JULUKAN TERHADAP SESUATU KEGIATAN YANG MENGAPLIKASIKAN KETENTUAN-


KETENTUAN KEPROTOKOLAN YANG MELIPUTI ATURAN MENGENAI TATA TEMPAT, TATA
UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN

• KEDUDUKAN PROTOKOLER

MENURUT Psl 1 (6) PP No. 24 Th 2004):

“KEDUDUKAN YANG DIBERIKAN KEPADA SESEORANG UNTUK MENDAPATKAN


PENGHORMATAN, PERLAKUAN DAN TATA TEMPAT DALAM ACARA RESMI DAN PERTEMUAN
RESMI”.

• HAK PROTOKOLER
Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003:

HAK SESEORANG UNTUK MEMPEROLEH PENGHORMATAN BERKENAAN DENGAN JABATANNYA


DALAM ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI MAUPUN DALAM MELAKSANAKAN
TUGASNYA”.

• KEPROTOKOLAN SARAT DENGAN PENGATURAN

• APA/SIAPA YANG DIATUR

– LAMBANG KEHORMATAN NKRI

– PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH, DAN TOKOH MASYARAKAT


TERTENTU.

• KENAPA HARUS DIATUR.

– TERHADAP PN, PP, TOMASTU UNTUK MENCIPTAKAN KETERTIBAN >


MEMELIHARA KEHORMATAN DIRI DAN KEDUDUKAN >>> EFEKTIF & EFISIEN,
DAN

– TERHADAP LK NKRI AGAR SELARAS DENGAN KEDUDUKANNYA SEBAGAI


LAMBANG KEDAULATAN, TANDA KEHORMATAN DAN SIMBOL-SIMBOL NEGARA

SIAPA YANG MENGATUR

– PEMIMPIN DENGAN OTORITASNYA

– PEJABAT PROTOKOL YANG KOMPETEN (PROTOKOL PROFESI DAN FUNGSI)

BAGAIMANA CARA MENGATURNYA

– TATA CARA (TERTIB, KHIDMAT, NUANSA KEAGUNGAN, TINDAKAN SESUAI


ATURAN.

– TATA KRAMA (ETIKET DALAM PENGATURAN, PELAYANAN, DAN UNGKAPAN).

– APLIKASI REGULASI (DOMAIN DAN RELATED DENGAN KEPROTOKOLAN).

• DIMANA HARUS DIATUR

• ACARA KENEGARAAN

• ACARA RESMI
• PERTEMUAN RESMI

• KUNJUNGAN (STATE VISIT, OFFICIAL VISIT DAN KUNJUNGAN KERJA).

• AUDIENSI DAN PENERIMAAN TAMU

• ACARA PERJAMUAN

BAGIAN II

SUBSTANSI UNDANG-UNDANG PROTOKOL: TATA TEMPAT, TATA UPACARA DAN TATA


PENGHORMATAN

• TATA TEMPAT
PRESEANCE / ORDER of PRECEDENCE
TATA URUTAN

ATURAN MENGENAI URUTAN TEMPAT BAGI PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH, DAN
TOKOH MASYARAKAT TERTENTU DALAM ACARA KENEGARAAN/ACARA RESMI

(Psl 1 ayat (7) PP No. 62 Th 1990)

• PEDOMAN UMUM TATA TEMPAT

• ORANG YANG BERHAK MENDAPAT TATA URUTAN PERTAMA/PALING TINGGI ADALAH


MEREKA YANG MEMPUNYAI URUTAN PALING DEPAN/MENDAHULUI.

• JIKA BERJAJAR, YANG BERADA DI SEBELAH KANAN DARI ORANG YANG MENDAPAT
URUTAN TATA TEMPAT PALING UTAMA, DIANGGAP LEBIH TINGGI/MENDAHULUI
ORANG YANG DUDUK DI SEBELAH KIRINYA.

• JIKA MENGHADAP MEJA, TEMPAT UTAMA YANG MENGHADAP KE PINTU KELUAR DAN
TEMPAT TERAKHIR ADALAH TEMPAT YANG PALING DEKAT DENGAN PINTU KELUAR.

• PADA POSISI BERJAJAR PADA GARIS YANG SAMA, TEMPAT YANG TERHORMAT ADALAH
DI TEMPAT PALING TENGAH, DAN DI TEMPAT SEBELAH KANAN LUAR, ATAU

• DENGAN RUMUS POSISI SEBELAH KANAN LEBIH TERHORMAT DARI POSISI SEBELAH KIRI.

• KLASIFIKASI PRESEANCE
PRESEANCE PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH DAN TOKOH MASYARAKAT
TERTENTU DIBAGI EMPAT KLASIFIKASI;

1. PRESEANCE NEGARA/NASIONAL

2. PRESEANCE PROVINSI

3. PRESEANCE KABUPATEN/KOTA

4. PRESEANCE PERORANGAN (ISTERI/SUAMI, MANTAN PEJABAT, WAKIL, PEJABAT


YANG MEWAKILI, TUAN RUMAH, MENTERI NEGARA, PEJABAT ASING).

PRESEANCE NEGARA
(Psl 4 (2) UU No.8 Th 1987 dan Psl 7-8 PP No. 62 Th 1990
dan penyerasian dengan Peraturan Perundang-Undangan pada masanya)

1. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA;

2. WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA;

3. MANTAN PRESIDEN & MANTAN WK PRESIDEN R.I;

4. KETUA LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA;

5. PERINTIS PERGERAKAN KEBANGSAAN / KEMERDEKAAN;

6. DUTA BESAR ASING UNTUK REPUBLIK INDONESIA;

7. MENTERI NEGARA/PEJABAT YG DIBERI KEDUDUKAN SETINGKAT MENTERI NEGARA


(PANGLIMA TNI, GUBERNUR BI, JAKSA AGUNG), WAKIL KETUA LEMBAGA NEGARA,
DUTA BESAR LBBP, KAS ANGKATAN, KAPOLRI);

8. KETUA UMUM DPP PARPOL YANG MEMILIKI WAKIL WAKIL DI LEMBAGA LEGISLATIF
PUSAT/DAERAH;

9. GUBERNUR;

10. KETUA MUDA MA, ANGGOTA LEMBAGA NEGARA, HAKIM AGUNG PADA MAHKAMAH
AGUNG, WAKIL GUBERNUR;
11. PEMILIK TANDA KEHORMATAN RI BERBENTUK BINTANG (ADIPURA, ADIPRADANA,
UTAMA, PRATAMA, NARARYA);

12. PIMPINAN LPND DAN PEJABAT ESELON I.a, DIRUT BUMN, KETUA DPRD PROVINSI;

13. KETUA UMUM MUI, KETUA PRESIDIUM KONPERENSI WGI, KETUA PERSEKUTUAN GGI,
KETUA PARISADA HINDU DHARMA, KETUA WALUBI.

14. STAF AHLI MENTERI, SEKDA PROVINSI, DAN PEJABAT SETNGKAT ESELON I.b;

15. BUPATI/WALIKOTA, KETUA DPRD KABUPATEN/KOTA.

• PENJELASAN Psl 7 PP No. 62 Th 1990

• Tata tempat disusun menurut tempat upacara.

• Urutan Menteri Negara sesuai urutan KEPPRES tentang Pembentukan Kabinet.

• Tata Tempat antar Pegawai Negeri diatur menurut senioritas dengan memberikan tata
urutan sesuai jabatan.

• Mantan Pejabat Negara/Pemerintah mendapat tempat setingkat / lebih rendah


daripada yang masih berdinas aktif, tetapi mendapat tempat pertama dalam golongan
yang setingkat lebih rendah itu.

• Isteri Pejabat Negara, Pejabat Pemerintah dan Pejabat Asing mendapat tempat
setingkat suaminya.

• Duta Besar RI setingkat Menteri Negara, tetapi diatur setelah Menteri dan Wakil Ketua
Lembaga Negara.

• PRESEANCE PROVINSI

1. GUBERNUR KDH, KETUA DPRD PROV;

2. PANG-DAM/DAN REM, DANTI KESATUAN ANGKATAN DAN POLRI, KPT, KAJATI;

3. WK GUBERNUR, WK KET DPRD PROV;

4. SEKDA PROVINSI, PEJABAT ESELON I.b/SETINGKAT, BUPATI/WALIKOTA, KETUA DPRD


KABUPATEN/KOTA;

5. WAKIL BUPATI/WAKIL WALIKOTA, WAKIL KETUA DPRD KABUPATEN/KOTA;


6. ANGGOTA DPRD PROV, ASISTEN SEKDA PROVINSI, KADIS/KABAN PROVINSI, PEJABAT
ESELON II.a/SETINGKAT, TOMASTU TINGKAT DAERAH;

7. KEPALA BIRO SETDA PROV/PEJABAT ESELON II.b/SETINGKAT.

8. KEPALA BAGIAN SETDA PROV/PEJABAT ESELON III.a

(Psl 14 ayat (2) PP No. 62 Tahun 1990, Psl 61 ayat (1) UU No. 22 Tahun 1999, Psl 3 hurup
c PP No. 24 Tahun 2004)

• PRESEANCE KAB/KOTA

1. BUPATI/WALIKOTA, KETUA DPRD KAB/KOTA;

2. DAN DIM, DANTI KES ANGK DAN POLRI, KETUA PENGADILAN NEGERI, KAJARI;

3. WK BUPATI/WK WALIKOTA, WK KETUA DPRD KABUPATEN/KOTA;

4. SEKRETARIS KAB/KOTA/SETINGKAT;

5. ANGGOTA DPRD, ASISTEN SEKDA, KADIS, KEP. BADAN KABUPATEN/KOTA, PEJABAT


ESELON II.b/SETINGKAT, TOMASTU TINGKAT DAERAH;

6. PEJABAT ESELON III.a/SETINGKAT.

(Psl 14 (2) dan Psl 8 PP No. 62 Th 1990, Psl 121 DAN 122 UU No. 32 Th 2004, dan Psl 3
hurup c PP No. 24 Tahun 2004).

• PRESEANCE KDH & WK KDH

1. PRESEANCE KDH DI DAERAHNYA UTAMA.

2. ACARA INTERNAL PEMDA DAN DPRD WAKIL KDH MENDAMPINGI KDH (Psl 4
dan Psl 7 PP No. 24 Th 2004).

3. WAKIL KDH BERHAK MENERIMA PENGHORMATAN PRESEANCE KEPALA


DAERAH, JIKA KEPALA DAERAH TIDAK HADIR. (Psl 26 (1) g UU No. 32 Tahun
2004).

4. PADA ACARA RESMI (EKSTERNAL PEMDA) YANG DISELENGGARAKAN DI


IBUKOTA PROVINSI/ KABUPATEN/KOTA, PRESEANCE WAKIL KEPALA DAERAH
BERSAMA WAKIL KETUA DPRD SETELAH PEJABAT VERTIKAL/MUSPIDA. (Pasal 3
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004).
• PRESEANCE PERORANGAN

• ISTERI/SUAMI YANG MENDAMPINGI SUAMI/ISTERI SEBAGAI PEJABAT NEGARA ATAU


PEJABAT PEMERINTAH ATAU TOMASTU DALAM ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA
RESMI MENDAPAT TEMPAT SESUAI DENGAN URUTAN TATA TEMPAT SUAMI/ISTERI.

(Penjelasan Psl 4 (2) UU No. 8 Th 1987 dan Psl 10 (1) (2) PP No. 62 Th 1990).

• PEJABAT YANG MEWAKILI.

DALAM HAL PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH ATAU TOMASTU BERHALANGAN


HADIR PADA ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI, MAKA TEMPATNYA TIDAK DIISI OLEH
PEJABAT YANG MEWAKILI. PEJABAT YANG MEWAKILI MENDAPAT TEMPAT SESUAI DENGAN
KEDUDUKAN SOSIAL DAN KEHORMATAN YANG DITERIMANYA ATAU JABATAN YANG
DIPANGKUNYA.

(Pasal 11 ayat (1) dan (2) PP No. 62 Th 1990).

• JABATAN RANGKAP

DALAM HAL PEJABAT NEGARA DAN PEJABAT PEMERINTAH MEMANGKU JABATAN LEBIH
DARI SATU YANG TIDAK SAMA TINGKATANNYA, MAKA BAGINYA BERLAKU TATA TEMPAT YANG
URUTANNYA LEBIH DAHULU. (Pasal 12 PP Nomor 62 Tahun 1990).

• MANTAN PEJABAT

MANTAN PEJABAT NEGARA/PEJABAT PEMERINTAH MENDAPAT TEMPAT SETINGKAT


LEBIH RENDAH DARI PADA YANG MASIH BERDINAS AKTIF, TETAPI MENDAPAT TEMPAT
PERTAMA DALAM GOLONGAN YANG SETINGKAT LEBIH RENDAH ITU. (Penjelasan Pasal 7 PP No.
62 Tahun 1990).

• TUAN RUMAH

• TUAN RUMAH (DAERAH DAN ACARA).

• TUAN RUMAH ADALAH GUBERNUR ATAU BUPATI/WALIKOTA YBS. (Penjelasan Pasal 9


PP Nomor 62 Tahun 1990).

• TUAN RUMAH MENDAMPINGI PEMBESAR UPACARA. (Pasal 4 ayat (4) UU Nomor 8


Tahun 1987).
• PEJABAT YANG MEMPUNYAI KEDUDUKAN LEBIH TINGGI ATAU ATASAN TUAN RUMAH
MEMPEROLEH TATA TEMPAT LANGSUNG LEBIH TINGGI DARI TUAN RUMAH. (Penjelasan
Pasal 13 ayat (2) PP Nomor 62 Tahun 1990).

• THE PROTOCOL WARNING

DALAM SUATU ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI, PEJABAT NEGARA,


PEJABAT PEMERINTAH DAN TOMASTU TIDAK MEMPEROLEH PENGHORMATAN DAN
PERLAKUAN PROTOKOL SESUAI KEDUDUKANNYA ADALAH MERUPAKAN PELANGGARAN
DENGAN TUDUHAN “PELECEHAN JABATAN”.

TATA UPACARA

“Aturan untuk melaksanakan upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi “

• ACARA KENEGARAAN

“ ACARA YANG DIATUR DAN DILAKSANAKAN SECARA TERPUSAT DIHADIRI PRESIDEN


DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN SERTA PEJABAT NEGARA DAN UNDANGAN LAINNYA”.

• ACARA RESMI

“ACARA YANG BERSIFAT RESMI YANG DIATUR DAN DILAKSANAKAN OLEH PEMERINTAH
ATAU LEMBAGA NEGARA DIHADIRI OLEH PEJABAT NEGARA DAN/ATAU PEJABAT PEMERINTAH
SERTA UNDANGAN LAINNYA”.

KARAKTERISTIK ACARA

• AUDIENCE

– ACARA KENEGARAAN ; PRESIDEN/WAKIL PRESIDEN & UNDANGAN

– ACARA RESMI ; PEJABAT NEGARA/PEMERINTAH


• KEHADIRAN UNDANGAN

– ACARA KENEGARAAN ; TIDAK DIWAKILI

– ACARA RESMI ; BOLEH DIWAKILI

• PENYELENGGARAAN

– ACARA KENEGARAAN ; TERPUSAT

– ACARA RESMI ; TIDAK TERPUSAT

• PENYELENGGARA

– ACARA KENEGARAAN ; NEGARA/PANITIA NEGARA

– ACARA RESMI ; LEMBAGA NEGARA/INST PEMERINTAH

• PAKAIAN UPACARA

– ACARA KENEGARAAN ; PAKAIAN “KEBESARAN”

– ACARA RESMI ; LENGKAP/RESMI/HARIAN/BATIK

• KETENTUAN KEPROTOKOLAN

– ACARA KENEGARAAN ; SECARA PENUH

– ACARA RESMI ; SESUAI SITUASI DAN KONDISI

• JENIS-JENIS UPACARA

• PENERIMAAN TAMU PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

• PERJALANAN PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN KE DAERAH/KE LUAR NEGERI

• PENGATURAN RAPAT/SIDANG/KONPERENSI

• PENYELENGGARAAN RESEPSI JAMUAN

• PENYELENGGARAAN UPACARA (HARI BESAR NASIONAL, CREDENTIALS LETTER, TKRI,


PIDATO KENEGARAAN, PERESMIAN PROYEK, HUT INSTANSI/ORGANISASI, PELANTIKAN,
PEMBUKAAN/PENUTUPAN SEMINAR, LOKAKARYA, KONPERENSI INTERNASIONAL, DAN
TEMU WICARA).

• PERSIAPAN UPACARA
• KELENGKAPAN UPACARA (PEJABAT, PELAKU, PETUGAS UPACARA)

• PERLENGKAPAN UPACARA (LAT LOG)

• LAMBANG KEHORMATAN NKRI

• URUTAN ACARA

• JUKLAK UPACARA

• LAY OUT UPACARA

• SEATING ARRANGEMENT

• MENENTUKAN PAKAIAN UPACARA

• PELAKSANAAN GLADI ACARA (GLADI ROUTE DAN GLADI ACARA).

• MAKSUD TUJUAN

HARI-HARI BESAR NASIONAL DIPERINGATI OLEH SELURUH LAPISAN MASYARAKAT


SEBAGAI UPAYA MENANAMKAN KESADARAN TERHADAP NILAI-NILAI SEJARAH PERJUANGAN
BANGSA, AGAR DAPAT MEMPERKUAT KEPRIBADIAN, MEMPERTEBAL RASA HARGA DIRI
BANGSA DAN KEBANGGAAN NASIONAL SERTA MEMPERKOKOH JIWA PERSATUAN DAN
KESATUAN BANGSA INDONESIA DALAM RANGKA MEWUJUDKAN DAN MEMUPUK
SEMANGAT DAN JIWA KEBANGSAAN MENUJU KETAHANAN NASIONAL YANG AMPUH.

• PENYELENGGARAAN DI DAERAH

• UPACARA PERINGATAN HARI-HARI BESAR NASIONAL DI DAERAH DILAKSANAKAN


DENGAN UPACARA BENDERA SECARA SENTRAL TINGKAT PROVINSI/KAB/KOTA,
DIPIMPIN OLEH KEPALA DAERAH SELAKU INSPEKTUR UPACARA.

• UPACARA BENDERA TINGKAT INSTANSI DIPIMPIN OLEH KEPALA INSTANSINYA.

• TATA PAKAIAN UPACARA

* PEGAWAI NEGERI/PEJABAT NEGARA WAJIB MENGGUNAKAN PAKAIAN SIPIL SESUAI


DGN KETENTUAN KEPRES NO. 18 TAHUN 1972.

(Psl 3 KEPPRES No.18 Th 1972)

* PEMAKAIAN PAKAIAN UPACARA DISESUAIKAN JENIS ACARA. (Psl 22 ayat (1) PP No.62
Th 1990).
* DALAM ACARA KENEGARAAN DIGUNAKAN PSL, PDU KEBESARAN ATAU PAKAIAN
NASIONAL YANG SESUAI DGN KEDUDUKANNYA. (Psl 22 (2) PP No. 62 Th 1990).

* DALAM ACARA RESMI DIGUNAKAN PSH ATAU SERAGAM KORPRI ATAU SERAGAM
LAINNYA YANG TELAH DITENTUKAN. (Psl 22 ayat (3) PP Nomor 62 Tahun 1990).

• JENIS PAKAIAN SIPIL


(KEPPRES NO. 18 TAHUN 1972)

PSH UNTUK BEKERJA SEHARI-HARI DAN UNTUK KEPERLUAN YANG BERSIFAT UMUM.

PSR UTK MENGHADIRI UPACARA YG BUKAN UPACARA KENEGARAAN, MENERIMA


TAMU-TAMU LUAR NEGERI, DAN DIPAKAI DIMALAM HARI.

PSL UNTUK UPACARA RESMI KENEGARAAN ATAU BEPERGIAN KE LUAR NEGERI.

PSDH UTK JAMUAN RESEPSI / MAKAN RESMI ATAU KENEGARAAN DLM MENJAMU
TAMU-TAMU NEGARA.

PSN UTK ACARA RESMI/KENEGARAAN DI

PECI NASIONAL DISAMPING HRS DIPAKAI PADA PSN DPT DIPAKAI SECARA SUKARELA
PADA SETIAP JENIS PAKAIAN SIPIL, DAN HARUS DIPAKAI JIKA ADA KETENTUAN KHUSUS UTK
MEMAKAI PECI NASIONAL.


TATA PENGHORMATAN
(Psl 1 ayat (8) PP No.62 Th 1990).

ATURAN UNTUK MELAKSANAKAN PEMBERIAN HORMAT BAGI PEJABAT NEGARA,


PEJABAT PEMERINTAH, DAN TOKOH MASYARAKAT TERTENTU DALAM ACARA KENEGARAAN
ATAU ACARA RESMI.

• TATA PENGHORMATAN

DASAR.

PERATURAN PEMERINTAH

1. NOMOR 62 TAHUN 1990 TENTANG KETENTUAN KEPROTOKOLAN.

2. NOMOR 40 TAHUN 1958 TENTANG PENGGUNAAN BENDERA KEBANGSAAN R.I.


3. NOMOR 43 TAHUN 1958 TENTANG PENGGUNAAN LAMBANG NEGARA R.I.

4. NOMOR 44 TAHUN 1958 TENTANG PENGGUNAAN LAGU KEBANGSAAN R.I.

5. PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN LAIN YANG TERKAIT.

• RUANG LINGKUP
TATA PENGHORMATAN

• PENGHORMATAN TERHADAP SESEORANG SESUAI KEDUDUKAN/JABATANNYA.

• PENGHORMATAN PRESEANCE (URUTAN), ROTATION (SUSUNAN) , DAN


TREATMENT (PERLAKUAN);

• PENGHORMATAN DENGAN MENGGUNAKAN BENDERA KEBANGSAAN


SANG MERAH PUTIH

– PENGHORMATAN TANDA KEDUDUKAN JABATAN.

– PENGHORMATAN PENGIBARAN BENDERA KEBANGSAAN

– PENGHORMATAN JENAZAH (BERKABUNG).

• PENGHORMATAN DENGAN LAGU KEBANGSAAN RI.

• PENGHORMATAN TERHADAP LAMBANG-LAMBANG KEHORMATAN NKRI.

– LAMBANG NEGARA “GARUDA PANCASILA”;

– BENDERA KEBANGSAAN REPUBLIK INDONESIA;

– GAMBAR RESMI PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN R.I.

– LAGU KEBANGSAAN REPUBLIK INDONESIA.

• DASAR PENGHORMATAN
(Psl 3 UU No. 8 Th 1987)

PN, PP, DAN TOMASTU MENDAPAT PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN SESUAI


DENGAN KEDUDUKANNYA.

PERLAKUAN YANG BERSIFAT PROTOKOL HARUS DIBERIKAN KEPADA SESEORANG


AGAR DAPAT MELAKSANAKAN TUGAS SECARA LEBIH BERHASILGUNA DAN BERDAYAGUNA.

• BENTUK PENGHORMATAN
(Penjelasan Umum UU No. 8 Th 1987)

• PENGHORMATAN “PRESEANCE” (URUTAN)

Kedudukan tertinggi, urutan pertama.

• PENGHORMATAN “ROTATION” (SUSUNAN)

– Preseance tertinggi, sambutan terakhir. Pada pengarahan urutan pertama.

– Pembesar Upacara datang paling akhir dan pulang lebih dahulu.

– Pada kapal terbang, preseance tertinggi naik paling akhir turun lebih dahulu.
Pada Kereta Api dan mobil naik dan turun lebih dahulu.

– Seseorang dengan preseance tertinggi pada kedatangan memperoleh


penyambutan dan waktu kepulangan memperoleh penghormatan
penglepasan, yang datangnya selalu dari arah sebelah kanan “RLO”

• PENGHORMATAN “PERLAKUAN” BERUPA PEMBERIAN PERLINDUNGAN, KEAMANAN,


KETERTIBAN, DUKUNGAN SARANA DAN FASILITAS.

• PENGHORMATAN MENGGUNAKAN BENDERA KEBANGSAAN

• Penghormatan tanda kedudukan jabatan pada mobil dipasang di tengah bagian


depan. (Pasal 11 PP No. 40 Tahun 1958).

– Presiden dan Wakil Presiden, 36 x 54 cm,

– Mantan Presiden dan mantan Wk Presiden, Ketua Lembaga Negara, Menteri


Negara, Jaksa Agung, ukuran 30 x 45 cm

• Penghormatan Jabatan. Presiden, Wakil Presiden dan Tamu Negara berhak


memperoleh penghormatan penyambutan dengan pengibaran Bendera Kebangsaan
dalam kunjungannya ke daerah. Anjuran dikeluarkan oleh KDH setempat. (Psl 7 ayat
(3) PP Nomor 40 Tahun 1958).

• PENGHORMATAN KEBESARAN DENGAN LAGU KEBANGSAAN


• PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN R.I. DALAM MENJALANKAN TUGAS JABATAN DALAM
ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI ATAU KUNJUNGAN KE DAERAH, BERHAK
MEMPEROLEH PENGHORMATAN “KEBESARAN” DENGAN
DIPERDENGARKAN/DINYANYIKAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA PADA SAAT
KEDATANGAN DAN KEPULANGAN. (Psl 4 ayat (1) hurup a PP No. 44 Th 1958)

• PENGHORMATAN JENAZAH

• PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH DAN TOKOH MASYARAKAT TERTENTU


MENINGGAL DUNIA, PENGHORMATAN DIBERIKAN DALAM BENTUK PENGIBARAN
SETENGAH TIANG BENDERA KEBANGSAAN SANG MERAH PUTIH SEBAGAI TANDA
BERKABUNG SELAMA WAKTU TERTENTU. (Psl 25 ayat (2) PP Nomor 62 Tahun 1990).

• WAKTU BERKABUNG

1. TUJUH HARI BAGI PRESIDEN, WK PRESIDEN, MANTAN PRESIDEN DAN WK PRESIDEN;

2. LIMA HARI BAGI KETUA LEMBAGA NEGARA;

3. TIGA HARI BAGI MENTERI NEGARA, PEJABAT YANG DIBERI KEDUDUKAN SETINGKAT
MENTERI NEGARA, WAKIL KETUA LEMBAGA NEGARA, PANGLIMA TNI, KAS
ANGKATAN DAN KAPOLRI. (Psl 25 (3) PP No. 62 Th 1990).

PADA WAKTU TERSEBUT DINYATAKAN SEBAGAI TANDA BERKABUNG NASIONAL, DAN


BENDERA KEBANGSAAN DIKIBARKAN SETENGAH TIANG DISELURUH PELOSOK TANAH AIR.
ANJURAN DIKELUARKAN OLEH PUSAT.

4. DUA HARI BAGI PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH DAN TOMASTU LAINNYA,
PENGIBARAN SETENGAH TIANG BENDERA KEBANGSAAN SELAMA DUA HARI HANYA
DI LINGKUNGAN INSTANSI MASING MASING.

(Psl 26 PP No. 62 Tahun 1990).

• PENGHORMATAN TERHADAP
LAMBANG KEHORMATAN NKRI

PENGGUNAAN LAMBANG–LAMBANG KEHORMATAN NKRI HARUS SELARAS DENGAN


KEDUDUKANNYA SEBAGAI TANDAKEHORMATAN /KEDAULATAN NKRI

• LAMBANG KEHORMATAN NEGARA ADALAH LAMBANG KEDAULATAN NEGARA


KESATUAN R.I.
• LAMBANG NEGARA “GARUDA PANCASILA”

• BENDERA KEBANGSAAN SANG MERAH PUTIH, BENDERA KEBANGSAAN, SANG MERAH


PUTIH

• GAMBAR RESMI PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

• LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA.

• LAMBANG NEGARA
(PP No. 43 Th 1958 Tgl 26 Juni 1958)

• CIRI LAMBANG NEGARA

LAMBANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA ADALAH BURUNG GARUDA DENGAN KEPALA


MENGHADAP KE KANAN, MEMILIKI BULU PADA TIAP-TIAP SAYAPNYA BERJUMLAH 17, PADA
LEHER 45, DAN PADA EKORNYA 8. PADA TUBUH BURUNG GARUDA TERDAPAT PERISAI YANG
BERISI SILA-SILA PANCASILA YAITU; BINTANG, KEPALA BANTENG, POHON BERINGIN, RANTAI
SERTA PADI DAN KAPAS. KAKI BURUNG GARUDA MENCENGKERAM PITA YANG BERTULISKAN
“BHINEKA TUNGGAL IKA” YANG MELAMBANGKAN PERSATUAN INDONESIA.

• TATA TERTIB PENGGUNAAN LAMBANG NEGARA R.I.

• PEMASANGAN DI DALAM RUANGAN BERSAMA-SAMA DENGAN GAMBAR RESMI


PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN HARUS MENDAPAT TEMPAT YANG PALING SEDIKIT
SAMA UTAMANYA.

• HARUS DIPASANG SESUAI DENGAN BESAR KECILNYA RUANGAN DAN DIBUAT DARI
BAHAN YANG TAHAN LAMA.

• PEWARNAAN LAMBANG NEGARA HARUS SESUAI PERATURAN, JIKA MEMAKAI SATU


WARNA, GUNAKAN WARNA KUNING EMAS, PERUNGGU, ATAU SAWO MATANG.

• TATA CARA PENGGUNAAN LAMBANG NEGARA R.I.

• Pemasangan Lambang Negara di gedung milik Pemerintah;

– Dipasang di dalam gedung pada tempat yang pantas dan menarik perhatian.

– Dipasang di sebelah luar hanya pada Rumjab Presiden, Wakil Presiden, Menteri,
KDH. Gedung Kabinet Presiden/PM, Kementerian, DPR, Konstituante, Dewan
Nasional, MA, Kejaksaan Agung dan Dewan Pengawas Keuangan.

(Psl 1 dan 2 PP No. 43 Th 1958).


• PEMASANGAN LAMBANG NEGARA DI DALAM GEDUNG

• DIHARUSKAN PADA KANTOR KDH, RS DPRD, RS PENGADILAN, MARKAS ANGKATAN


PERANG, KANTOR KEPOLISIAN NEGARA, KANTOR IMIGRASI, BEA CUKAI, DAN KANTOR
SYAHBANDAR SERTA DIBOLEHKAN PULA PADA KANTOR KANTOR NEGERI LAINNYA.
(Psl 3 PP No. 43 Tahun 1958).

• DAPAT DIGUNAKAN DI TEMPAT DIADAKAN PERISTIWA RESMI, PADA GAPURA DAN


BANGUNAN LAIN YANG PANTAS. (Psl 10 PP Nomor 43 Tahun 1958).

• PAKAIAN RESMI (SERAGAM, KEBESARAN), DAN MEREKA YANG MELAWAT KELUAR


NEGERI). DI PASANG PADA DADA JAS/BAJU DI SEBELAH KIRI ATAS DAN/ATAU PADA
TUTUP KEPALA DI TENGAH - TENGAH. (Psl 8. e. PP No. 43 Th 1958).

• IKHWAL BENDERA KEBANGSAAN

• PENYEBUTAN

BENDERA KEBANGSAAN SANG MERAH PUTIH, ATAU SANG MERAH PUTIH, ATAU
BENDERA KEBANGSAAN.

• Tidak boleh digunakan untuk memberi hormat dengan cara


menundukkannya kpd seseorang.

• Dikibarkan pd waktu peringatan nasional, kunjungan Presiden, Wakil


Presiden dan Tamu Negara RI, atau jika Daerah merayakan hal penting.

• UKURAN; DUA BANDING TIGA

– BENDERA LAPANGAN, 2 X 3 meter

– BENDERA RUANGAN, 1 X 1,5 meter

– BENDERA MOBIL 30 X 54 Cm BAGI PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN, SERTA


UKURAN 30 X 45 Cm BAGI PEJABAT TERTENTU.

• PENGIBARAN DAN PENURUNAN

• WAKTU PENGIBARAN SAAT MATAHARI TERBIT SAMPAI TERBENAM, DALAM HAL YANG
LUAR BISA DAPAT DIKECUALIKAN.

• PADA HARI BERKABUNG NASIONAL YANG BERSAMAAN DENGAN PERINGATAN HARI


NASIONAL, MAKA BENDERA KEBANGSAAN TETAP DIKIBARKAN SECARA PENUH. (Psl 29
PP Nomor 62Th 1990).
• Di dlm ruangan BK RI dipasang pd tiang bendera dan diletakkan di sebelah kanan
mimbar.

(Psl 20 ayat (2) PP No.62 Th 1990).

• PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

• PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN


REPUBLIK INDONESIA

• Gambar resminya sebagai Tanda Kehormatan dan Kedaulatan Negara.

• Memperoleh penghormatan dgn pengibaran BK RI dalam acara


kunjungan ke daerah. (Psl 7 ayat (3) PP No.40 Th 1958).

• Memperoleh penghormatan dgn diperdengarkan/dinyanyikan Lagu


Kebangsaan Indonesia Raya. (Psl 4 (1) PP 44 Th 1958).

• Pemasangan bersama LN RI diberi tempat sedikit sama utamanya (Psl 5


PP No.43/1958)

• LAGU KEBANGSAAN RI

Diperdengarkan/dinyanyikan untuk menghormat Presiden/Wk Presiden, Penaikan


dan penurunan BK RI yang diadakan dalam upacara untuk menghormat BK RI, menghormat
Negara Asing, serta dlm rangkaian pendidikan dan pengajaran. (Psl 4 PP No. 44/1958).

1. Diperdengarkan oleh korsik/paduan suara/ dinyanyikan bersama. (Psl


16 ayat (2) (3), Psl 21.e PP No. 62 Th 1990).

2. Pada saat Lagu Kebangsaan RI diperdengar kan, yang tidak


menyanyikan LK, posisi sikap sempurna dan memberikan
penghormatan (Psl 21. c PP No. 62 Th 1990).

3. Pada upacara pengibaran BK RI yang diiringi dengan LK RI tidak


dibenarkan menggunakan musik dari tape recorder, atau piringan. (Psl
21.d PP 62/1990).

• NATIONS RECORD

INDIKASI BANGSA YANG BESAR ADALAH MENGHARGAI KEDUDUKAN DAN JASA -


JASA SESEORANG SERTA MEMPERLAKUKAN LAMBANG - LAMBANG KEHORMATAN NKRI
SELARAS DENGAN KEDUDUKANNYA SEBAGAI TANDA KEHORMATAN DAN KEDAULATAN
NEGARA.
BAGIAN III

PELANTIKAN KDH DAN WKDH

DISKRIPSI PELANTIKAN

KDH DAN WAKIL KDH

SIAPA KDH DAN WAKIL KDH

DASAR PENYELENGGARAAN

TERMINOLOGI LINGKUP PELANTIKAN

PEJABAT YANG MELANTIK

LAY OUT

SIFAT ACARA,

TEMPAT ACARA

HAL-HAL KHUSUS

• KEPALA DAERAH
(UU No. 32 Tahun 2004)

• Setiap daerah dpp kepala pemerintahan daerah yang disebut Kepala Daerah, KDH
Provinsi disebut Gubernur, KDH Kabupaten disebut Bupati, dan KDH Kota disebut
Walikota. (Psl 24 (1) (2).

• KDH dibantu satu Wakil KDH (Psl 24 (3)

• Kedudukan Kepala Daerah sebagai Pejabat Negara (Psl 11 (1) UU 43 Th 1999) dan
selaku Kepala Pemerintahan Daerah. (Psl 24 (1) UU 32)

• Gubernur berkedudukan pula selaku Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi ybs, yang
bertanggung jawab kepada Presiden. (Psl 37 ayat (1) dan (2) UU No. 32 Th 2004)
• WAKIL KEPALA DAERAH
(UU No. 32 Tahun 2004)

• Wakil Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur, untuk Kabupaten disebut Wakil
Bupati dan untuk Kota disebut Wk Walikota. (Psl 24 (2).

• Membantu KDH dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, melaksanakan tugas


dan kewajiban pemerintahan lainnya yang diberikan Kepala Daerah. (Psl 26 ayat (1)
hurup a dan f).

• Melaksanakan tugas dan wewenang KDH jika KDH berhalangan. (Psl 26 ayat (1) hurup
g).

• Dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada KDH. (Psl 26 ayat (2)

• Kedudukan Wk Gubernur, Wk Bupati, Wakil Walikota sebagai Pejabat Negara. (Psl 11


ayat (1) UU No. 43 Th 1999).

• DASAR PENYELENGGARAAN

• RUJUKAN

– UU NO. 32 TH 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH SEBAGAIMANA TELAH


DIUBAH DENGAN PERATURAN PENGGANTI UU NO. 3 TAHUN 2005.

– UU NO. 24 TH 2004 TENTANG KEDUDUKAN PROTOKOLER DAN KEUANGAN


PIMPINAN DAN ANGGOTA DPRD.

– PP NO. 6 TH 2005 TENTANG PEMILIHAN, PENGESAHAN, PENGANGKATAN DAN


PEMBERHENTIAN KDH DAN WAKIL KDH, SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH
DENGAN PP NO. 17 TH 2005.

• PEDOMAN PENYELENGGARAAN

– SE MENTERI DALAM NEGERI TANGGAL 15 AGUSTUS 2005 NOMOR 120/2061/SJ


PERIHAL PEDOMAN TATA CARA PENGUCAPAN SUMPAH/JANJI JABATAN DAN
PELANTIKAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH, SEBAGAI
PENGGANTI KEPUTUSAN MENDAGRI NOMOR 3 TAHUN 2000.

• TERMINOLOGI LINGKUP
ACARA PELANTIKAN

1.SUMPAH IALAH PERNYATAAN YANG DIUCAPKAN RESMI DGN BERSAKSI KEPADA TUHAN YME
BAHWA APA YANG DIUCAPKANNYA ITU BENAR.
2.JANJI IALAH PERKATAAN YANG MENYATAKAN KESUDIAN HENDAK BERBUAT SESUATU ATAU
SYARAT KETENTUAN YANG HARUS DIPENUHI DENGAN PENUH TANGGUNG JAWAB.

• PELANTIKAN & SERTIJAB

• PELANTIKAN IALAH UPACARA RESMI PENGANGKATAN SESEORANG UTK MEMANGKU


JABATAN MENURUT CARA-CARA YANG DITENTUKAN;

– PENGUCAPAN SUMPAH/JANJI

– PENGAMBILAN SUMPAH/JANJI DAN PERNYATAAN PELANTIKAN

• SERTIJAB IALAH PENYERAHAN DAN PENYAMBUTAN TUGAS/PEKERJAAN DALAM


PEMERINTAHAN MENURUT CARA-CARA YANG TELAH DITENTUKAN “ OLEH INSTANSI
YANG BERWENANG “.

• PEJABAT YANG MELANTIK

• GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR SEBELUM MEMANGKU JABATANNYA DILANTIK


OLEH MENTERI DALAM NEGERI ATAS NAMA PRESIDEN.

• BUPATI DAN WAKIL BUPATI ATAU WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA SEBELUM
MEMANGKU JABATANNYA DILANTIK OLEH GUBERNUR ATAS NAMA PRESIDEN.

(Psl 111 (1) UU No. 32 Th 2004 dan Psl 102 PP No. 6 Th 2005)

• TATA TEMPAT RPI DPRD

• LATAR BELAKANG MEJA PIMPINAN DPRD DAN DEKORASI HURUP BACK DROP.

• SEATING ARRANGEMENT

– DI BELAKANG MEJA PIMPINAN DPRD, DUDUK BERSAMA MULAI DARI UJUNG


KANAN IALAH CALON WK KDH/MANTAN WK KDH, CALON KDH/MANTAN KDH,
WK KDH, KDH, MENDAGRI ATAU GUBERNUR, KETUA DPRD, DAN WAKIL-WAKIL
KETUA DPRD. DI BELAKANG PIMPINAN DPRD DUDUK SEKR DPRD.

– ANGGOTA DPRD MENEMPATI KURSI ANGGOTA

– UNDANGAN DIATUR SESUAI SIKON RUANGAN.


SIFAT ACARA DAN TEMPAT ACARA
(Psl 111 ayat (3) UU No. 32 Th 2004 dan Psl 102 ayat (1), (2) dan (3) PP No. 6 Tahun
2005)
• PELANTIKAN KDH DAN WK KDH DILAKSANAKAN DALAM RAPAT DPRD BERSIFAT
ISTIMEWA.

• TEMPAT DI GD DPRD/GEDUNG LAIN.

• PADA ACARA PELANTIKAN DILAKSANAKAN JUGA SERTIJAB, JIKA SIKON TIDAK


MEMUNGKINKAN, SERTIJAB DAPAT DITUNDA SATU MINGGU SEJAK TANGGAL
PELANTIKAN.

• PADA SERTIJAB, WAKIL KDH YANG LAMA DAN BARU DILANTIK MENDAMPINGI.

• PENYELENGGARA ACARA ADALAH DPRD, DAN PENGUNDANG KETUA DPRD.

• PEMASANGAN LAMBANG KEHORMATAN NKRI & BACK DROP

LAMBANG KEHORMATAN NKRI ADALAH SIMBUL-SIMBUL DAN LAMBANG


KEDAULATAN NEGARA TERDIRI DARI; LAMBANG NEGARA, BENDERA KEBANGSAAN,
PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN, DAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA.

a.LAMBANG NEGARA DIPASANG PADA DINDING (DIATAS) ANTARA GAMBAR RESMI


RI 1 DAN RI 2, DI BELAKANG MEJA PIMPINAN DPRD.

b. BENDERA KEBANGSAAN DIPASANG PADA TIANG BENDERA DILETAKKAN


DISEBELAH KANAN MIMBAR, TINGGI TIANG BENDERA PALING SEDIKIT SAMA
UTAMANYA DENGAN GAMBAR RESMI RI 1 DAN RI 2 (Psl 20 (2) PP No. 62 Th 1990).

c. GAMBAR RESMI RI I DAN RI II DIPASANG SEJAJAR PADA DINDING LETAKNYA


DIBAWAH BENDERA KEBANGSAAN.

d. BACK DROP (ANTARA GAMBAR RI 1 DAN RI 2

• BENDERA/LAMBANG DAERAH

• Bendera Daerah dapat dipasang pada tiang bendera, ditempatkan disebelah kiri meja
pimpinan, ukuran tinggi dan besarnya tidak boleh melebihi tinggi dan besarnya Bendera
Kebangsaan Sang Merah Putih.

• Lambang Daerah dapat dipasang nempel pada bagian muka mimbar atau di tempat lain
yang layak, ukuran dan letaknya tidak boleh melebihi Bendera Kebangsaan
• LAY OUT
PEMASANGAN LK NKRI DAN
DEKORASI BACK DROP

RAPAT PARIPURNA ISTIMEWA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

KABUPATEN ……..

PELANTIKAN BUPATI DAN WAKIL BUPATI ………

PERIODE TAHUN 2005 - 2010

…………. , 5 NOVEMBER 2005

• LAY OUT PELANTIKAN KDH DAN WAKIL KDH


DALAM FORUM RAPAT PARIPURNA ISTIMEWA DPRD
(SE MENDAGRI TGL 15-8-2005 NO. 120/2061/SJ)

• LAY OUT PELANTIKAN KDH DAN WAKIL KDH


DALAM FORUM RAPAT PARIPURNA ISTIMEWA DPRD
(SE MDN TGL 15-8-2005 NO. 120/2061/SJ

• NAME BOARD & SEATING CARDS

1. NAME BOARD DI MEJA PIMPINAN; GUBERNUR, KETUA DPRD, BUPATI, WAKIL BUPATI,
WAKIL KETUA DPRD, WAKIL KETUA DPRD, NAMA DARI CALON KDH, CALON WK KDH,
MANTAN KDH, DAN MANTAN WAKIL KDH.

2. NAME BOARD NAMA-NAMA DARI ANGGOTA DPRD.

3. PEMASANGAN SEATING CARDS DI ATAS KURSI PEJABAT DAN ISTERI PEJABAT DAN
UNDANGAN TERTENTU.

• SUSUNAN ACARA PELANTIKAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KDH


– PEMBAWA ACARA; MEMBUKA ACARA

• KATA PENGANTAR DAN PEMBUKAAN RAPAT PARIPURNA ISTIMEWA DPRD OLEH


PIMPINAN RAPAT, SELANJUTNYA MENYERAHKAN ACARA KPD PA.

– PEMBAWA ACARA; MENERIMA PENYERAHAN ACARA.

• PEMBACAAN KEPUTUSAN SAHKAT OLEH SEKRETARIS DPRD.

• PENGAMBILAN SUMPAH/JANJI JABATAN KDH DAN WAKIL KDH.

• PENANDA TANGANAN BA SUMPAH/JANJI.

• KATA-KATA PELANTIKAN.

• PEMASANGAN TANDA PANGKAT JABATAN, PENYEMATAN TANDA JABATAN SERTA


PENYERAHAN KEPUTUSAN SAHKAT KDH DAN WK KDH.

• PENANDA TANGANAN BA SERTIJAB DILANJUTKAN PENYERAHAN MEMORI


PELAKSANAAN TUGAS JABATAN.

• SAMBUTAN PEJABAT YANG MELANTIK. (MENDAGRI ATAU GUBERNUR)

• PEMBACAAN DOA.

– PEMBAWA ACARA MENYERAHKAN ACARA KEPADA PIMPINAN RAPAT

• PENUTUPAN RPI DPRD OLEH PIMPINAN RAPAT.

– PEMBAWA ACARA ; MENGUMUMKAN PENYAMPAIAN UCAPAN SELAMAT

• TATA PAKAIAN PELANTIKAN KDH DAN WAKIL KDH

• PSL DENGAN PECI NASIONAL BAGI PEJABAT YANG MELANTIK, KDH DAN WK KDH LAMA,
SERTA PIMPINAN DPRD;

• PAKAIAN SIPIL LENGKAP BAGI ANGGOTA DPRD, DAN UNDANGAN SIPIL;

• PAKAIAN DINAS UPACARA (PDU) BAGI CALON KDH DAN CALON WAKIL KDH;

• PDU-IV BAGI TNI DAN POLRI;

• PAKAIAN NASIONAL BAGI PEREMPUAN.

• TATA NASKAH SUMPAH/JANJI KEPALA DAERAH DAN WK KDH


• ISLAM DIDAHULUI DENGAN KATA-KATA “DEMI ALLAH”

• KRISTEN PROTESTAN DAN KATHOLIK DIAKHIRI DENGAN KATA-KATA “SEMOGA TUHAN


MENOLONG SAYA”

• BUDDHA DIDAHULUI “DEMI SANG HYANG ADI BUDDHA”

• HINDU DIDAHULUI DENGAN “OM ATAH PARAMAWISESA”

SAYA BERSUMPAH/BERJANJI/AKAN MEMENUHI KEWAJIBAN SAYA / SEBAGAI


GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR, BUPATI/WAKIL BUPATI, WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA /
DENGAN SEBAIK-BAIKNYA / DAN SEADIL-ADILNYA / MEMEGANG TEGUH UNDANG-UNDANG
DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 / DAN MENJALANKAN SEGALA UNDANG-
UNDANG DAN PERATURANNYA / DENGAN SELURUS-LURUSNYA/ SERTA BERBAKTI KEPADA
MASYARAKAT / NUSA DAN BANGSA.

• MEKANISME PELANTIKAN KDH DAN WAKIL KDH (UU NO.32 TH 2004)

• PASCA PILKADA DIUSULKAN DPRD (3 H) BERDASARKAN BA TAP PASCA PILKADA DARI


KPUD KPD PRES VIA MDN BAGI GUB DAN WAGUB DAN KPD MDN VIA GUB BAGI BUP
& WABUP / WAL & WK WALIKOTA UNTUK DAPAT PENGESAHAN KAT/30 H. (Psl 109)

• KDH & WK KDH SEBELUM MEMANGKU JABATAN DILANTIK DGN MENGUCAPKAN


SUMPAH/ JANJI YG DIPANDU PEJ YG MELANTIK. (Psl 110 ayat (1).

• GUB DAN WK GUB DILANTIK MDN AN PRES, BUP DAN WK BUP, WALIKOTA DAN
WAKIL WALIKOTA DILANTIK GUB AN PRES YANG DILAKSANAKAN DALAM RAPAT
PARIPURNA DPRD. TATA CARANYA DIATUR DENGAN PP. (Psl 111)

• LAIN-LAIN /KHUSUS

• RAPAT PARIPURNA ISTIMEWA (RPI) DPRD DIPIMPIN OLEH KETUA DPRD, APABILA KETUA
DPRD TIDAK DAPAT MELAKSANAKAN TUGASNYA RPI DIPIMPIN OLEH SALAH SATU
WAKIL KETUA DPRD, DAN APABILA SELURUH PIMPINAN DPRD TIDAK DAPAT
MELAKSANAKAN TUGASNYA, MAKA RPI DIPIMPIN OLEH SALAH SATU ANGGOTA DPRD
YANG TERTUA.

• APABILA DPRD TIDAK DAPAT MELAKSANAKAN RAPAT PARIPURNA DPRD YANG BERSIFAT
ISTIMEWA, PELANTIKAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH DILAKSANAKAN
OLEH MENTERI DALAM NEGERI ATAU GUBERNUR SELAKU WAKIL PEMERINTAH,
SEBAGAI PEJABAT YANG MELANTIK.

BAGIAN IV
PROTOKOL PROFESIONAL

• PROTOKOL PROFESIONAL

• MENGUASAI PENGETAHUAN, KETERAMPILAN, DAN KODE ETIK

• KOMITMEN DAN KONSISTEN

• INTEGRITAS (SIKAP MORAL YANG MEWUJUDKAN TEKAD UNTUK


MEMBERIKAN YANG TERBAIK)

• EXELLENCE SERVICE > SATISFACTION

• PEDULI (PEKA, TANGGAP, BERTINDAK)

• PERAN, TUGAS, FUNGSI PROTOKOL

• KIAT MENUJU PROTOKOL YANG PROFESIONAL

• KNOWLEDGE > SELF CONFIDENCE

• KOMUNIKASI (S R C M) > EFEKTIF

• EMOTIONAL MATURITY

– SOUL (MIND/PIKIRAN & MOOD/SUASANA HATI)

– SPIRIT DIWUJUDKAN MELALUI KEMAUAN, KEMAMPUAN (OLAH PIKIR) DAN


KESEMPATAN.

• GOOD APPEARANCE

– CARA BERDANDAN/BERHIAS

– CARA BERPAKAIAN (COCOK, SERASI, TEPAT)

– ESTETIKA MENCIPTAKAN KERAPIAN “TIDINESS” DAN CEMERLANG


“CLEANLINESS”.

• SOURCES OF VALUE

UNDANG-UNDANG PROTOKOL ADALAH METODE KEPROTOKOLAN DI INDONESIA YANG


DISEBUT

“PROTOKOL INDONESIA”
SUATU EKSPRESI MENJUNJUNG HARKAT DAN MARTABAT (HAM) SESEORANG DAN
LAMBANG KEHORMATAN NKRI DEMI MEMELIHARA KEHORMATAN, KEWIBAWAAN DAN
JABATAN ATAU KEDUDUKANNYA