Anda di halaman 1dari 10

Hidrologi

Analisis hidrologi merupakan tahapan awal perencanaan suatu rancang bangun


dalam suatu DPS untuk memperkirakan besarnya debit banjir yang terjadi didaerah
tersebut. Tahapan awal analisis hidrologi, adalah sebagai berikut :
1. Uji Konsistensi Data
Uji konsistensi data dengan menggunakan metode RAPS (Rescaled Adjusted
Partial Sums), digunakan untuk menguji ketidakpanggahan antar data dalam stasiun
itu sendiri dengan mendeteksi pergeseran nilai rata-rata (mean). Persamaan yang
digunakan adalah sebagai berikut :
*
** S
Sk = k
Dy

k = 0,1,2, … , n

∑ (Y )
n
2
i −Y
2
Dy = i =1

( )
k
S k = ∑ Yi −Y
*

i +1

k = 1,2,3, … , n
Keterangan :
n = jumlah data hujan
Yi = data curah hujan
Y = rerata curah hujan
* **
S k , S k , D y = nilai statistik

Nilai statistik Q
**
Q = maks Sk
0 ≤k ≤ n

Nilai Statistik R (Range)


** **
R = maks S k − min S k
0 ≤k ≤n 0 ≤k ≤n

Keterangan :
Q = nilai statistik
n = jumlah data hujan

Nilai statistik Q dan R diberikan pada tabel 3.1


Tabel 3.9 Nilai Q/ n dan R/ n
Q/ n R/ n
N
90% 95% 99% 90% 95% 99%
10 1,05 1,14 1,29 1,21 1,28 1,38
20 1,10 1,22 1,42 1,34 1,43 1,60
30 1,12 1,24 1,46 1,40 1,50 1,70
40 1,13 1,26 1,50 1,42 1,53 1,74
50 1,14 1,27 1,52 1,44 1,55 1,78
100 1,17 1,29 1,55 1,50 1,62 1,86
>100 1,22 1,36 1,53 1,62 1,75 2,00
Sumber : Harto, 1993

2. Curah Hujan Rerata Daerah


Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan
air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata diseluruh daerah
yang bersangkutan, curah hujan ini disebut curah hujan wilayah.
Curah hujan daerah harus diperkirakan dari beberapa titik pengamatan curah
hujan. Ada tiga cara perhitungan curah hujan dibeberapa titik antara lain :
(1) Cara rata-rata aljabar
(2) Cara Polygon Thiessen
(3) Cara Isohyet
Cara yang dipakai dalam perencanaan ini adalah cara yang kedua yaitu cara Polygon
Thiessen. Cara ini dipandang cukup baik karena memberikan koreksi terhadap
kedalaman hujan sebagai fungsi luas daerah yang (dianggap) diwakili. Cara ini
memberikan bobot tertentu untuk setiap stasiun hujan dengan pengertian bahwa setiap
stasiun hujan dianggap mewakili hujan suatu daerah dengan luas tertentu, dan luas
tersebut merupakan faktor koreksi bagi hujan distasiun yang bersangkutan. (Sri Harto,
1993) :
Curah hujan daerah ini dapat dihitung dengan persamaan :
1
R= ( A1 R1 + A2 R2 + . . . + An Rn )
A
Keterangan :
R = Curah hujan rata-rata DAS (mm)
A = Luas total (m2)
A1,A2, . . . An = Luas daerah pengaruh pos 1, 2, . . . n (m2)
R1,R2, . . . Rn = Tinggi curah hujan pada pos penakar (mm)
3. Analisis Distribusi Frekuensi/Agihan
Dalam statistik dikenal beberapa jenis distribusi frekuensi dan masing-masing
distribusi memiliki sifat khas, sehingga setiap data hidrologi harus diuji
kesesuaiannya dengan sifat statistik masing-masing distribusi tersebut.
Jenis distribusi frekuensi yang banyak digunakan digunakan dalam hidrologi,
yaitu sebagai berikut (Soemarto,1987) :
(1) Agihan Normal,
(2) Agihan Log Normal,
(3) Agihan Log Pearson Tipe III,
(4) Agihan Gumbel.
Parameter-parameter yang digunakan dalam pemilihan jenis distribusi curah
hujan rancangan yang akan digunakan, yaitu:
a. Nilai rerata curah hujan (X )
n

__ ∑Xi
X = i =1
n
Keterangan:

X : Nilai rerata curah hujan (mm),
Xi : Data curah hujan (mm),
N : Jumlah data.

b. Standar deviasi (Sd), dengan persamaan:


2
 n __

∑ n
i =1 
Xi − X 

Sd =
n −1
c. Koefisien variasi (Cv), dengan persamaan:
S
Cv =
X
d. Koefisien kepencengan (Cs), dengan persamaan:
n 3
 __ 
n
∑
 Xi − X 

Cs = i =1  
( n − 1)( n − 2 )( n − 3 ) S 3

e. Koefisien kurtosis (Ck), dengan persamaan:


n 4
 __ 
n2
 ∑
 Xi − X 

Cs = i =1  
( n − 1)( n − 2 )( n − 3) S 4

Tabel Syarat penentuan agihan


No Agihan Syarat
1 Agihan Normal Cs=0,Ck=3
2 Agihan Log Normal Cs=3Cv
3 Agihan Gumbel Cs=1.4,Ck=5.4
4 Agihan Log Pearson Type Tidak ada syarat (seluruh nilai
III diluar ketiga agihan lainnya)
Sumber : Harto, 1993

4. Uji Kecocokan Agihan


Untuk mengetahui apakah data tersebut benar sesuai dengan jenis agihan yang
dipilih maka perlu dilakukan pengujian kecocokan data. Sebelum dilakukan
pengujian data yang telah diurutkan, digambarkan pada kertas probabilitas dengan
cara Weibull, yaitu:
m
P= . 100 %
n +1

Keterangan :
P : peluang empiris,
m : nomor urut data,
n : jumlah data.

Metode pengujian data yang digunakan adalah:


a. Uji Chi Kuadrat
Uji Chi-Kuadrat dimaksud untuk menentukan apakah persamaan distribusi
peluang yang telah dipilh dapat mewakili dari distribusi statistik sample data yang
dianalisis. Parameter Uji Chi-Kuadrat dapat dihitung dengan rumus (Soewarno,
1995) :

X2 =∑
G
( Oi − Ei )
2

i =1 Ei
Keterangan :
X2 = Parameter chi kuadrat terhitung
G = Jumlah sub kelompok
Oi = Nilai jumlah pengamatan pada sub kelompok ke-i
Ei = Jumlah nilai teoritis pada sub ke-i
b. Uji Smirvon Kolmogorov
- Urutkan data dan
tentukan besarnya peluang dari masing-masing data tersebut.
- Tentukan nilai
masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data.
- Dari kedua nilai
peluang tersebut tentukan selisih terbesarnya.
D = maksimum [P(x) – P(xi)]
- Berdasarkan tabel
nilai kritis (Smirnov Kolmogorov Test) Tentukan harga Do.

5. Distribusi Curah Hujan Rancangan


a. Distribusi normal , dengan persamaan (Soewarno, 1995) :

XT = X + K. S

Keterangan :
XT : curah hujan yang diperkirakan dengan periode ulang tertentu (mm),
X : curah hujan rerata (mm),
K : faktor frekuensi,
S : standar deviasi.

b. Distribusi Log Normal, dengan persamaan (Soewarno, 1995) :



XT = X + K. S

Keterangan :
XT : Curah hujan yang diperkirakan dengan periode ulang tertentu
(mm),

X : Curah hujan rerata (mm),
K : Faktor frekuensi,
Sd : Standar deviasi.

c. Distribusi Gumbel, dengan persamaan (Soemarto, 1987) :


1 
XT = b +   - YT
a 
1 S
=
a Sn
− S.Yn
b = X -
Sn
YT = - ln [- ln {(T-1) / T}]
Keterangan :
YT : reduced variate sebagai fungsi periode ulang T,
Yn : reduced mean, tergantung dari jumlah data n,
S : standar deviasi, tergantung dari jumlah data n,
T : periode ulang (tahun).

d. Agihan Log Pearson Type III,


Parameter statistik yang diperlukan adalah (Soemarto, 1987) :
n

_____ ∑ log Xi
log X = i =1

n
n 2
 ____ 
S= ∑  logXi − logX 
 
i =1  
n −1

n  ____ 3

Cs =
n ∑log Xi − logX 
i =1  
( n −1)( n − 2)(S) 3

Curah hujan dapat dihitung dengan persamaan :


_____
Log XT = log X + K.S

Keterangan :
_____
log X : harga rata-rata log dari curah hujan harian maksimum,
Xi : data curah hujan (mm),
n : data curah hujan (mm),

6. Curah Hujan Rancangan


Berdasarkan Distribusi Metode Rasional
2
R T  3
Rt = 24   ……………………………………………..……….... (3.26)
T  t 

Keterangan :
Rt = Curah hujan rata-rata sampai jam ke-t (mm)
R24 = Curah hujan harian maksimal dalam 24 jam (mm)
T = Periode hujan (jam)
t = Jumlah jam-jaman (jam)

7. Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu


Analisa debit banjir untuk menghitung banjir rancangan dengan periode ulang
tertentu, untuk menganalisa debit banjir ini dipergunakan HSS Nakayasu, karena
dalam penelitian terdahulu telah diuji bahwa HSS Nakayasu mempunyai
penyimpangan yang lebih kecil dibandingkan dengan hidrograf satuan sintetis yang
lain.
Waktu konsentrasi untuk L > 15 km
tg = 0,40 + 0,58 L

Waktu konsentrasi untuk L < 15 km


tg =0,21 . L0.7

Waktu satuan hujan (tr)


tr = 0,5 tg − tg

Tenggang waktu dari mulai hujan sampai puncak banjir (Tp)


Tp = tg + 0,75 tr

Waktu yang diperlukan untuk penurunan debit dari debit puncak menjadi 30% dari
debit puncak (T0.3)
T0.3 =α . tg

Rumus yang dipergunakan adalah rumusan hidrograf satuan sintetik Nakayasu :


C . A . Ro
Qp =
3.6 . ( 0.3 Tp + T0.3 )

Keterangan :
Qp = Debit puncak banjir (m3/detik)
C = Koefisien pengaliran
A = Luas DAS (m2)
Ro = Hujan satuan (mm)
Tp = Tenggang waktu dari permulaan hujan sampai puncak banjir (jam)
T0.3 = Waktu yang diperlukan oleh penurunan debit, dari debit puncak sampai
menjadi
30 % dari debit puncak (jam)

Pada waktu kurva naik


0 ≤ t ≤ Tp
2.4
 t 
Qa = Qp 
 Tp 

 

Pada waktu kurva turun


Tp ≤ t ≤ (Tp + T0.3)
t − Tp

Qt = Qmaks . 0.3 T0.3

(Tp + T0.3) ≤ t ≤ (Tp + T0.3 + 1.5 T0.3)


t − Tp + 0.5 . T0.3

Qt = Qmaks . 0.3 1.5 . T0.3

t ≥ (Tp + T0.3 + 1.5 T0.3)


 T − Tp + 1.5 T0.3 
 
 2 . T0.3 
Qt = Qmaks . 0.3  

tr
t
0.8 tr tg

lengkung naik lengkung turun

Qp
0.3 Q
0.32 Qp

Tp T0.3 1.5 T0.3

Gambar Hidrograf satuan sintetik Nakayasu

8. Koefisien Pengaliran
Koefisien pengaliran adalah suatu variabel yang didasarkan pada kondisi
daerah pengaliran dan karakteristik hujan yang jatuh pada suatu daerah.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi besarannya adalah :
a. Keadaan hujan
b. Luas dan bentuk daerah aliran
c. Kemiringan daerah aliran dan kemiringan dasar sungai
d. Daya infiltrasi dan daya perkolasi tanah
e. Kebasahan tanah
f. Suhu udara dan angin serta evaporasi yang berhubungan dengan itu
g. Letak daerah aliran terhadap arah angin
Harga koefisien berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan pada
faktor-faktor yang bersangkutan dan aliran permukaan didalam sungai, terutama
kelembaban tanah. Beberapa petunjuk untuk mendapatkan angka koefisien pengaliran
dapat dilihat pada tabel
Harga koefisien pengaliran (C) syaratnya harus < 1, tetapi dalam perhitungan
harga C dapat lebih dari 1. Hal ini disebabkan karena kesalahan pengamatan debit,
curah hujan dan base flow. Apabila harga C lebih besar dari 1 maka untuk harga
pengaliran harus diambil 0.90 (Anonim, 1991).
Qi
Ci = <1
A . Ri

Keterangan :
Ci = Koefisien pengaliran bulan tertentu
Qi = Debit sungai untuk bulan tertentu
A = Luas catchment area (km2)
Ri = Curah hujan rata-rata untuk bulan tertentu (mm)

Tabel 3.11 Penggunaan Umum Koefisien Pengaliran (C)


Type Daerah
Jenis Harga C
Aliran
Perumputan tanah pasir, datar, 2 % 0,05 – 0,10
tanah pasir, rata-rata 2 – 7 % 0,10 – 0,15
tanah pasir, curam, 7 % 0,15 – 0,20
tanah gemuk, datar, 2 % 0,13 – 0,17
tanah gemuk, rata-rata 2 – 7 % 0,18 – 0,22
tanah gemuk, curam, 7 % 0,25 – 0,35
Business daerah kota lama 0,75 – 0,95
daerah pinggiran 0,50 – 0,70
Perumahan daerah single family 0,30 – 0,50
multi unit, terpisah-pisah 0,40 – 0,60
multi unit, tertutup 0,60 – 0,75
suburban 0,25 – 0,40
daerah rumah-rumah apartemen 0,50 – 0,70
Industri daerah ringan 0,50 – 0,80
daerah berat 0,60 – 0,90
Pertamanan, kuburan 0,10 – 0,25
Tempat bermain 0,20 – 0,35
Halaman kereta api 0,20 – 0,40
Daerah yg tdk dikerjakan 0,10 – 0,30
Jalan Beraspal 0,70 – 0,95
Beton 0,80 – 0,95
Batu 0,70 – 0,85
Untuk berjalan & naik kuda 0,75 – 0,85
Atap 0,75 – 0,95
Sumber : Imam Subarkah (1980)