[KRISIS EKONOMI PADA MASA MAKALA AKHIR PEMERINTAHAN ORDE H BARU] SEJARA XII.

ILMU ALAM 1 , SMA NEGERI 1 KARIMUN H
DISUSUN OLEH : 1. BENNY KURNIAWAN 2. STEVEN

. Hal ini ditunjukkan dengan terjadinya proses melemahnya daya saing perekonomian nasional. Pada tahun itu tercatat utang luar negeri Indonesia mecapai 137 milliar dollar AS. KKN merajalela sehingga sangat rugi. termasuk kelemahan dalam hal pengawasan sistem keuangan. Utang swasta sebesar 63% dan BUMN / pemerintah sebesar 37%. yang diakibatkan oleh lemahnya kinerja dunia usaha swasta dan lembaga perbankan.rupiah stabil dan dapat diterka. Krisis ekonomi di Indonesia diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD. pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 0% dan berakibat pada iklim bisnis yang semakin lesu. Selain itu. peningkatan upah/gaji yang tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas kerja.KRISIS EKONOMI PADA MASA AKHIR PEMERINTAHAN ORDE BARU Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto. antara lain tingkat GNP pada tahun 1997 mencapai USD 1200 dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 % dan inflasi di bawah 3 %. Fakta menunjukkan bahwa pada saat orde baru belum mampu menghadapi krisis global tersebut. dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. krisis moneter melanda Asia tenggara sejak Juli 1996 mempunyai pengaruh paling besar dalam perekonomian Indonesia. Akan tetapi pada pertengahan 1997. inflasi ditahan sekitar 5%-10%. Ketika nilai rupiah semakin melemah. dan bermunculannya praktek monopoli dan oligopoli. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat. ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita $70 menjadi lebih dari $1. Pada pemerintahan orde baru banyak menemui keberhasilan dalam pembangunan ekonomi.000 pada 1996.

pada 15 September 1998. Akan tetapi . pemerintah menglikuidasikan beberapa bank serta membantu bank-bank yang bermasalah ( misalnya mengeluarkan kredit likuiditas bank Indonesia / KLBI ). pemerintah Indonesia membuat kebijakan uang ketat dan suku bunga bank tinggi. Di pasar uang.088 dollar/kapita tahun 1997. krisis moneter telah mempengaruhi aktivitas ekonomi yang lain.75 persen pada awal krisis). menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998. ekspor migas anjlok sekitar 34.Pendapatan per kapita yang mencapai 1. Selama periode Januari-Juni 1998.12 poin. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 trilyun pada awal Juli 1998. Pada akhir tahun 1997. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah. Memasuki tahun anggaran 1998-1999 .339 pada awal krisis 1 Juli 1997. dari 467. pemerintah membekukan 7 bank yang bermasalah. hal ini menyebabkan pemerintah harus menanggung beban yang sangat besar yang dapat menurunkan kepercayaan dunia Internasional kepada Indonesia. menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak.1 persen dibandingkan periode sama 1997. dinaikkannya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70. Hal ini bisa dilihat pada kegiatan perusahaan yang terhambat akibat utang luar negeri sehingga pemutusan hubungan kerja terus meningkat. Pada awal tahun 1998. Selain itu. persedian sembako dipasaran juga semakin menipis sehingga harga-harga barang naik yang . Perbankan mengalami negative spread dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil. Akibatnya krisis moneter tidak teratasi dan pada April. Di pasar modal.36 persen. sementara ekspor non-migas hanya tumbuh 5. 292.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.87 persen dan 14. dan dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tak segera membaik.8 persen dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) menjadi 60 persen pada Juli 1998 (dari masing-masing 10.

Oleh karena itu. Penyimpangan Pasal 33 UUD 1945 Pemerintah Orde Baru bertujuan menjadikan Negara Republik Indonesia sebagai Negara Industri tetapi tidak mempertimbangkan kondisi riil masyarakat.menyebabkan biaya hidup semakin tinggi ( inflasi ). . maka kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia semakin menipis. untuk semua dibawah pimpinan anggota masyarakat. meluncur dengan cepat ke level sekitar Rp 17. Pedagang luar negeri juga tidak percaya terhadap importer Indonesia yang dianggap tidak mampu membayar.44 milyar dollar AS. sekitar 72. dan dibeberapa daerah di Pulau Jawa. Dari total utang luar negeri per Maret 1998 yang mencapai 138 milyar dollar AS. faktor yang menyebabkan krisis ekonomi. 2.5 milyar dollar AS adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek. Sementara pada saat itu cadangan devisa tinggal sekitar 14. Secara garis besar.Karena banyaknya utang luar negeri ini. Dalam pasal 33 UUD 1945 tercantum bahwa dasar demokrasi ekonomi.000/dollar AS pada 22 Januari 1998. produksi dikerjakan oleh semua. antara lain : 1. di mana sekitar 20 milyar dollar AS akan jatuh tempo dalam tahun 1998. Utang luar negeri Indonesia Utang luar negeri Indonesia bukan berarti sepenuhnya utang Negara tetapi sebagian merupakan utang swasta . Hampir semua Negara tidak mau menerima letter of credit ( L/C ) dari Indonesia.850/dollar AS pada tahun 1997. Hal ini mempengaruhi kondisi sosial masyarakat dimana kelaparan dan kekurangan makanan melanda masyarakat seperti yang terjadi di Papua. Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp 4. NTB.

7. 2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh Negara. 6. 3. Jika tidak . dan diwarnai dengan korupsi dan kolusi. Oleh karena itu. peranan pemerintah pusat sangat menentukan dalam berbagai kehidupan masyarakat. system ekonomi yang berkembang pada masa pemerintahan Orde Baru adalah sistem ekonomi kapitalis yang dikuasai oleh para konglomerat dengan berbagai bentuk monopoli. 4. Sebaliknya. 5. Akibat dari krisis ekonomi antara lain : 1.perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan. 3. Kesulitan keuangan Negara Menghancurkan keuangan Nasional Penggangguran meningkat Daya beli dan kualitas hidup masyarakat semakin menurun Kelaparan dan kekurangan pangan Bunga perusahaan yang bangkrut ( perusahaan skala kecil hingga konglomerat ) Jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan yang meningkat . tampuk produksi akan jatuh ketangan orangorang yang berkuasa sehingga rakyat ditindas. oligopoly. Pola Pemerintahan Sentralistis Pola pemerintahan sentralistis pada masa Orde Baru bersifat sentral dimana semua bidang kehidupan berbangsa dan bernegara diatur secara sentral dari pusat pemerintahan (Jakarta ). Akan tetapi hal ini menimbulkan ketidakpuasan pemerintah dan rakyat didaerah terhadap pemerintah pusat.

Untuk mengatasi kesulitan moneter. Pemerintah meminta bantuan IMF dan ditanda tanganinya 50 butir kesepakatan ( Letter of Intert / LoI ) dengan IMF 25 Januari 1999 .