Anda di halaman 1dari 132

Doktrin Pertahanan Negara

ISBN 978-979-8878-01-5

Hak Cipta © 2007 Departemen Pertahanan Republik Indonesia


Cetakan Pertama, Desember 2007
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak atau mengutip
sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun
tanpa izin tertulis dari Departemen Pertahanan Republik Indonesia

Diterbitkan Oleh :
Departemen Pertahanan Republik Indonesia
Jln. Merdeka Barat No. 13-14 Jakarta
Phone/Fax : (021)-3828055 Fax-3810954
Website : www.dephan.go.id
E-mail : webstrahan@dephan.go.id
DEPARTEMEN PERTAHANAN
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERTAHANAN


NOMOR : Per/23/M/XII/2007

TENTANG

DOKTRIN PERTAHANAN NEGARA


REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PERTAHANAN,

Menimbang : a. bahwa pertahanan negara sebagai salah


satu fungsi pemerintahan negara bertujuan
untuk menjaga kedaulatan negara,
keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan keselamatan
segenap bangsa dari segala bentuk
ancaman dan gangguan baik yang berasal
dari luar maupun yang timbul di dalam
negeri;

b. bahwa dalam penyelenggaraan


pertahanan negara memerlukan suatu
tuntutan dan pedoman berupa Doktrin
Pertahanan Negara yang berisi ajaran dan
prinsip-prinsip fundamental yang diyakini
kebenarannya;
c. bahwa perkembangan yang terjadi dalam
penyelenggaraan pertahanan negara
menyebabkan Doktrin Pertahanan
Keamanan Negara Republik Indonesia
yang ditetapkan pada tanggal 5 Oktober
1991 sudah tidak sesuai lagi untuk dijadikan
doktrin dasar dan oleh karenanya perlu
disusun suatu Doktrin Pertahanan Negara
yang baru;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan


sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b,
dan c, perlu menetapkan Peraturan Menteri
Pertahanan tentang Pengesahan Doktrin
Pertahanan Negara.

Mengingat : 1. Pasal 30 Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945.

2. Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2002


tentang Pertahanan Negara.

3. Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004


tentang Tentara Nasional Indonesia.

4. Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan


Nomor : Kep/17/X/1991 tanggal 5
Oktober 1991 tentang Doktrin Pertahanan
Keamanan Nasional Republik Indonesia.

5. Peraturan Menteri Pertahanan RI Nomor


: Per/01/M/VIII/2005, tanggal 25 Agustus
2005 tentang Susunan Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Pertahanan.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERTAHANAN


TENTANG DOKTRIN PERTAHANAN
NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Pasal 1

Mengesahkan Doktrin Pertahanan Negara Republik Indonesia


sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Pertahanan ini
untuk digunakan sebagai doktrin dasar dalam penyelenggaraan
pertahanan negara.

Pasal 2

Doktrin Pertahanan Negara Republik Indonesia sebagaimana


terlampir dalam Peraturan Menteri Pertahanan ini wajib difahami,
dihayati, dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat dalam
penyelenggaraan pertahanan negara.

Pasal 3

Dengan berlakunya Peraturan Menteri Pertahanan ini, maka


Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan Nomor:Kep/17/
X/1991 tanggal 5 Oktober 1991 tentang Doktrin Pertahanan
Keamanan Negara Republik Indonesia dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 4

Peraturan Menteri Pertahanan ini mulai berlaku pada tanggal


ditetap­kan.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 28 Desember 2007

MENTERI PERTAHANAN,

JUWONO SUDARSONO
KATA PENGANTAR

Persatuan dan Kesatuan bangsa merupakan faktor


penentu dalam menjaga dan mengawal Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) yang harus selalu dibangun,
dipupuk dan digelorakan. Semangat pantang menyerah
Bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah telah menanamkan
rasa percaya diri dan keyakinan akan kekuatan sendiri untuk
menyelenggarakan keberlangsungan NKRI. Indonesia
dengan karakteristik geografi sebagai negara kepulauan
dan terletak pada posisi silang dengan segala kandungan
kekayaan sumber daya, wajib dilindungi dan dipertahankan.
Kondisi Indonesia tersebut di satu sisi merupakan kekuatan
yang patut dimanfaatkan dan didayagunakan sebesar-
besarnya bagi kemakmuran rakyat. Tetapi di sisi lain juga
mengisyaratkan suatu tantangan yang besar bagi pengelolaan
dan pengamanannya yang berimplikasi terhadap pentingnya
pembangunan dan pengelolaan sistem pertahanan negara.
Dengan kondisi tersebut, maka negara memerlukan
pendekatan pertahanan yang komprehensif dalam
menghadapi setiap ancaman dengan memadukan seluruh
kekuatan bangsa, baik kekuatan militer maupun nirmiliter.
Keterpaduan kekuatan militer dan nirmiliter merupakan
pengejawantahan sistem pertahanan yang dianut bangsa
Indonesia, yakni sistem pertahanan yang bersifat semesta.
Upaya pertahanan negara merupakan tanggung
jawab dan kehormatan setiap warga negara Indonesia dan
diselenggarakan oleh pemerintah secara terus menerus. Agar
penyelenggaraan fungsi pertahanan negara terlaksana secara
efektif sesuai dengan nilai – nilai ke-Indonesiaan sebagai
negara demokrasi yang merdeka, diperlukan suatu prinsip
penuntun yakni Doktrin Pertahanan Negara.
Perkembangan yang terjadi dan berimplikasi terhadap
penyelenggaraan pertahanan negara menyebabkan Doktrin
Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia yang
ditetapkan pada tanggal 5 Oktober 1991 sudah tidak sesuai
lagi untuk dijadikan doktrin dasar. Oleh karena itu perlu disusun
suatu Doktrin Pertahanan Negara yang baru guna menyikapi
perkembangan yang ada.
Doktrin Pertahanan Negara ditetapkan sebagai
pengejawatahan tekad, prinsip dan kehendak untuk
menyelenggarakan pertahanan negara. Doktrin Pertahanan
Negara mewujudkan kerangka landasan yang harus dipahami
dan dipedomani oleh semua pihak yang terkait sesuai
tugas dan fungsi masing-masing. Dalam rangka itu, Doktrin
Pertahanan Negara selanjutnya menjadi salah satu perangkat
utama dalam mengembangkan kebijakan dan strategi, serta
postur pertahanan negara.
Dengan terbitnya Doktrin Pertahanan Negara ini,
segenap aparat penyelenggara pemerintahan RI khususnya
penyelenggara pertahanan negara maupun seluruh rakyat
Indonesia hendaknya dapat menghayati dan mempedomani
isinya sehingga tampak dalam pola pikir, pola sikap dan pola
tindak dalam menjamin tegaknya NKRI yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945.
Saya selaku pimpinan Departemen Pertahanan
Republik Indonesia menyampaikan rasa syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa, atas terbitnya Doktrin Pertahanan
Negara sesuai rencana. Tidak lupa saya menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak
yang telah berperanserta dalam penyiapan Doktrin Pertahanan
Negara. Saya yakin, peran serta tersebut merupakan dharma
bhakti bagi Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa
memberikan rahmat dan hidayah Nya kepada seluruh
Bangsa Indonesia.

Jakarta, 28 Desember 2007


Menteri Pertahanan

Juwono Sudarsono
LATAR BELAKANG......................................................................1

HAKIKAT, KEDUDUKAN, DAN LANDASAN.................................4

Hakikat Doktrin Pertahanan Negara............................................. 4


Kedudukan dan Stratifikasi Doktrin Pertahanan Negara................. 5
Kedudukan Doktrin................................................................. 5
Stratifikasi Doktrin.................................................................. 5
Landasan Doktrin Pertahanan Negara.......................................... 7
Landasan Idiil......................................................................... 7
Landasan Konstitusional.......................................................... 7
Landasan Yuridis.................................................................... 9
Landasan Sejarah................................................................. 11
Landasan Visional................................................................. 13
Landasan Konseptual............................................................ 14

PERJUANGAN BANGSA INDONESIA........................................15

Jati Diri Bangsa........................................................................ 15


Hakikat Perjuangan Bangsa...................................................... 16
Cita-Cita Bangsa Indonesia....................................................... 16
Tujuan Nasional....................................................................... 16
Kepentingan Nasional............................................................... 17

HAKIKAT ANCAMAN................................................................19

Penilaian Ancaman................................................................... 19
Penggolongan Ancaman........................................................... 22

i
Ancaman Militer.................................................................... 22
Ancaman Nirmiliter............................................................... 28

KONSEPSI PERTAHANAN NEGARA..........................................37

Hakikat Pertahanan Negara...................................................... 37


Tujuan dan Kepentingan Pertahanan Negara.............................. 38
Fungsi Pertahanan Negara........................................................ 40
Pandangan tentang Damai dan Perang...................................... 44
Spektrum Konflik dan Pelibatan Unsur Pertahanan.................. 46
Penyelenggaraan Perdamaian................................................... 48
Asas-asas Damai.................................................................. 49
Penyelenggaraan Peperangan................................................... 51
Asas-asas Perang.................................................................. 55
Pusat Kekuatan Pertahanan Negara........................................... 59
Sumber Daya Manusia.......................................................... 60
Manajemen Sumber Daya Pertahanan....................................... 68

PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA..........................71

Sistem Pertahanan Negara........................................................ 71


Pertahanan Militer................................................................ 74
Pertahanan Nirmiliter............................................................ 76
Strategi Pertahanan Negara...................................................... 80
Penangkalan............................................................................ 83
Instrumen Politik.................................................................. 86
Instrumen Ekonomi.............................................................. 88
Instrumen Psikologi.............................................................. 89
Instrumen Teknologi............................................................. 90
Instrumen Militer.................................................................. 91

ii
Mengatasi Ancaman Militer....................................................... 93
Menghadapi Ancaman Agresi................................................. 93
Menghadapi Ancaman Militer yang Bukan Agresi..................... 94
Menghadapi Ancaman Nirmiliter melalui Peran Lintas
Lembaga.............................................................................. 95
Mewujudkan Perdamaian Dunia dan Stabilitas Regional.............. 97
Perang Rakyat Semesta............................................................ 99

PEMBINAAN KEMAMPUAN PERTAHANAN NEGARA...............102

Pokok-Pokok Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara......... 102


Postur Pertahanan Negara...................................................... 103
Postur Pertahanan Militer.................................................... 104
Postur Pertahanan Nirmiliter................................................ 106
Intelijen Pertahanan Negara................................................ 108
Logistik Pertahanan............................................................ 109
Wewenang Pembinaan........................................................... 109
Presiden............................................................................. 109
Menteri Pertahanan............................................................ 111
Menteri/Kepala LPND.......................................................... 113
Panglima TNI..................................................................... 114

P E N U T U P..........................................................................115

Perlakuan.............................................................................. 115
Petunjuk Akhir....................................................................... 115

iii
LATAR BELAKANG

Negara Kesatuan Re-


publik Indonesia (NKRI) dipro-
klamasikan pada tanggal 17
Agustus 1945. NKRI terbentuk
melalui hasil perjuangan gigih dan
pantang menyerah dari seluruh
rakyat Indonesia untuk menjadi
bangsa yang merdeka, bersatu,
dan berdaulat. Keberhasilan merebut kemerdekaan dengan mengusir
penjajah yang persenjataannya jauh lebih modern telah mengangkat
derajat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang heroik, disegani, dan
diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Keberhasilan tersebut
juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari sedikit bangsa
di dunia yang kemerdekaannya bukan pemberian dari suatu bangsa
atau hadiah dari bangsa lain, melainkan sungguh-sungguh dari hasil
perjuangan seluruh warga bangsa Indonesia yang di ridhoi oleh Tuhan
Yang Maha Esa.

Dengan menyadari keragaman suku bangsa, agama, ras, dan


antargolongan, bangsa Indonesia bersepakat untuk bersatu dalam wadah
NKRI dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika (‘Berbeda-beda Tetapi
Tetap Satu’). Kesepakatan untuk berbangsa satu, bangsa Indonesia;
bertanah air satu, tanah air Indonesia; dan berbahasa satu, bahasa
Indonesia, harus terus dipertahankan dan dikawal sepanjang waktu.

1
Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan faktor penentu dalam
menjaga dan mengawal NKRI yang harus selalu dibangun, dipupuk, dan
digelorakan. Semangat pantang menyerah dalam mengusir penjajah telah
menanamkan rasa percaya diri dan keyakinan akan kekuatan sendiri untuk
menyelenggarakan pertahanan negara dalam membela, menegakkan, dan
mempertahankan keberlangsungan NKRI. Indonesia dengan karakteristik
geografi yang terdiri atas gugusan Kepulauan Nusantara, yang terletak
di posisi silang dengan aneka ragam sumber daya alam dan demografi
yang majemuk wajib dilindungi dan dipertahankan. Kondisi Indonesia
tersebut di satu sisi mengandung kekuatan besar untuk didayagunakan
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, tetapi di sisi lain juga
mengisyaratkan suatu tantangan yang besar bagi pengelolaan dan

2
pengamanannya yang berimplikasi terhadap diperlukannya pembangunan
dan pengelolaan sistem pertahanan negara yang handal.

Negara memerlukan pendekatan pertahanan yang komprehensif


dalam menghadapi setiap ancaman dengan memadukan seluruh kekuatan
bangsa, baik kekuatan militer maupun nirmiliter. Keterpaduan kekuatan
militer dan nirmiliter merupakan pengejawantahan sistem pertahanan
yang dianut bangsa Indonesia, yakni sistem pertahanan yang bersifat
semesta.

Upaya pertahanan negara merupakan tanggung jawab dan


kehormatan setiap warga negara Indonesia yang diselenggarakan
melalui fungsi pemerintah. Agar penyelenggaraan fungsi pertahanan
negara terlaksana secara efektif sesuai dengan nilai-nilai keindonesiaan
sebagai negara demokrasi yang merdeka, berdaulat, dan berdasarkan
hukum, diperlukan suatu doktrin untuk menuntun setiap unsur yang
terlibat. Atas dasar itu, Doktrin Pertahanan Negara ditetapkan sebagai
pengejawantahan tekad, prinsip, dan kehendak untuk menyelenggarakan
pertahanan negara. Doktrin Pertahanan Negara selanjutnya dijadikan
sebagai salah satu perangkat utama dalam mengembangkan kebijakan
dan strategi pertahanan negara.

3
HAKIKAT, KEDUDUKAN, DAN LANDASAN

Hakikat Doktrin Pertahanan Negara

Doktrin pertahanan pada hakikatnya adalah suatu ajaran


tentang prinsip-prinsip fundamental pertahanan negara yang diyakini
kebenarannya, digali dari nilai-nilai perjuangan bangsa dan pengalaman
masa lalu untuk dijadikan pelajaran dalam mengembangkan konsep
pertahanan sesuai dengan tuntutan tugas pertahanan dalam dinamika
perubahan, serta dikemas dalam bingkai kepentingan nasional. Doktrin
Pertahanan Negara tidak bersifat dogmatis, tetapi penerapannya
disesuaikan dengan perkembangan kepentingan nasional.

Doktrin Pertahanan Negara memiliki arti penting, yakni sebagai


penuntun dalam pengelolaan sistem dan penyelenggaraan pertahanan
negara. Pada tataran strategis, Doktrin Pertahanan Negara berfungsi untuk
mewujudkan sistem pertahanan yang bersifat semesta, baik pada masa
damai maupun pada keadaan perang. Dalam kerangka penyelenggaraan
pertahanan negara, esensi Doktrin Pertahanan Negara adalah acuan
bagi setiap penyelenggara pertahanan dalam menyinergikan pertahanan
militer dan pertahanan nirmiliter secara terpadu, terarah, dan berlanjut
sebagai satu kesatuan pertahanan.

Pada masa damai, Doktrin Pertahanan Negara digunakan sebagai


penuntun dan pedoman bagi penyelenggara pertahanan negara dalam
menyiapkan kekuatan dan pertahanan dalam kerangka kekuatan
untuk daya tangkal yang mampu mencegah setiap hakikat ancaman
serta kesiapsiagaan dalam meniadakan ancaman, baik yang berasal
dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Pada keadaan perang,

4
Doktrin Pertahanan Negara memberikan tuntutan dan pedoman dalam
mendayagunakan segenap kekuatan nasional dalam upaya pertahanan
guna menyelamatkan negara dan bangsa dari ancaman yang dihadapi.

Kedudukan dan Stratifikasi Doktrin Pertahanan Negara

Kedudukan Doktrin

Doktrin Pertahanan Negara berada pada tingkatan strategis


berskala nasional dalam mengelola sistem pertahanan negara. Dalam
mengembangkan kebijakan dan strategi pertahanan negara, Doktrin
Pertahanan Negara berkedudukan sebagai instrumen dasar dalam
mengembangkan seluruh doktrin yang berhubungan dengan pertahanan
negara.

Stratifikasi Doktrin

Dalam pengelolaan sistem dan penyelenggaraan pertahanan


negara terdapat sejumlah doktrin dengan level dan penggunaannya
masing-masing, tetapi satu dengan yang lainnya berada dalam suatu
kesatuan yang membentuk strata doktrin. Stratifikasi doktrin terdiri atas
doktrin dasar, doktrin induk, dan doktrin pelaksanaan.

Doktrin Pertahanan Negara berada pada tingkatan sebagai doktrin


dasar bagi semua doktrin yang berhubungan dengan pertahanan, serta
berlaku secara nasional. Tugas dan tanggung jawab penyusunan Doktrin
Pertahanan Negara berada dalam lingkup fungsi dan kewenangan
Departemen Pertahanan. Sebagai doktrin dasar, Doktrin Pertahanan
Negara memberikan tuntunan bagi seluruh doktrin dalam lingkup
pertahanan negara. Doktrin induk adalah Doktrin Pertahanan Militer

5
dan Doktrin Pertahanan Nirmiliter. Doktrin Pertahanan Militer dijabarkan
oleh TNI menjadi Doktrin Tri Dharma Eka Karma atau disingkat Doktrin
Tridek. Doktrin Pertahanan Militer berlaku bagi TNI dan komponen
penggandanya. Doktrin-doktrin yang bersifat kematraan berinduk pada
Doktrin Pertahanan Militer.

Doktrin Pertahanan Nirmiliter merupakan bagian dari Doktrin


Pertahanan Negara, yang penjabarannya disesuaikan dengan kompleksitas
fungsi-fungsi nirmiliter serta tuntutan kebutuhan. Wewenang penyusunan
Doktrin Pertahanan Nirmiliter berada pada salah satu fungsi Departemen
Pertahanan yang membidangi pertahanan nirmiliter.

Doktrin pelaksanaan dibedakan atas doktrin pelaksanaan pada


lingkup pertahanan militer dan doktrin pelaksanaan pada lingkup
pertahanan nirmiliter. Doktrin pelaksanaan pada lingkup pertahanan
militer merupakan doktrin-doktrin pada tingkat matra. Doktrin matra
terdiri atas doktrin pertahanan militer matra darat, yakni Doktrin Kartika
Eka Paksi, doktrin pertahanan militer matra laut, yakni Doktrin Eka
Sasana Jaya, serta doktrin pertahanan militer matra udara, yakni Doktrin
Swa Bhuwana Pakça.

Doktrin Pertahanan Nirmiliter dapat dijabarkan ke dalam


doktrin-doktrin pelaksanaan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini
setiap fungsi pemerintahan di luar bidang pertahanan dapat membuat
doktrin pelaksanaan sesuai dengan bidangnya yang menginduk pada
Doktrin Pertahanan Nirmiliter, serta pelaksanaannya di bawah supervisi
Departemen Pertahanan.

6
Landasan Doktrin Pertahanan Negara
Sebagai prinsip fundamental yang diyakini kebenarannya serta
penuntun dalam penyelenggaraan pertahanan negara, Doktrin Pertahanan
dikembangkan dari nilai-nilai bangsa Indonesia yang bersifat mengikat.

Landasan Idiil

Pancasila merupakan dasar, falsafah, dan ideologi negara, yang


berisi nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Sebagai nilai moral dan etika kebangsaan,
pengamalan Pancasila harus diwujudkan dalam pola pikir, pola sikap dan
pola tindak setiap warga negara Indonesia untuk mengabdikan dirinya
dalam penyelenggaraan pertahanan negara sesuai dengan kedudukan
dan fungsinya masing-masing.  Nilai-nilai tersebut meliputi keselarasan,
keserasian, keseimbangan, persatuan dan kesatuan, kerakyatan,
kekeluargaan, dan kebersamaan. Nilai-nilai Pancasila telah teruji dan
diyakini kebenarannya sebagai pemersatu bangsa dalam membangun
dan menata kehidupan berbangsa serta bernegara yang lebih baik dan
berdaya saing.

Landasan Konstitusional

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 (UUD


1945) adalah sumber dari segala sumber hukum. UUD 1945 memberikan
landasan serta arah dalam pengembangan sistem serta penyelenggaraan
pertahanan negara. Substansi pertahanan negara yang terangkum dalam
Pembukaan dan Pasal-pasal UUD 1945 di antaranya adalah pandangan
bangsa Indonesia dalam melihat diri dan lingkungannya, tujuan negara,
sistem pertahanan negara, serta keterlibatan warga negara. UUD

7
1945 merefleksikan sikap bangsa Indonesia yang menentang segala
bentuk penjajahan. Bangsa Indonesia akan senantiasa berjuang untuk
mencegah dan mengatasi usaha-usaha pihak tertentu yang mengarah
pada penindasan dan penjajahan. Penjajahan bagi bangsa Indonesia
merupakan tindakan keji yang tidak berperikemanusiaan serta
bertentangan dengan nilai-nilai keadilan.

Pertahanan negara tidak dapat dipisahkan dari kemerdekaan


yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan
Indonesia bukan merupakan hadiah, melainkan diperoleh dari hasil
perjuangan pergerakan bangsa Indonesia melalui pengorbanan jiwa dan
raga. Oleh karena itu, bangsa Indonesia menempatkan kemerdekaan
sebagai kehormatan bangsa yang harus tetap dijaga dan dipertahankan
sepanjang masa. Kemerdekaan selain sebagai hasil perjuangan fisik, juga
merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang menghendaki bangsa
Indonesia berkehidupan kebangsaan yang bebas dan merdeka.

Selanjutnya, UUD 1945 menetapkan sistem pertahanan negara


yang menempatkan rakyat sebagai pemeran yang vital, bahwa pertahanan
negara dilaksanakan dengan Sistem Pertahanan dan Keamanan
Rakyat Semesta. Makna yang terkandung dalam Sistem Pertahanan
dan Keamanan Rakyat Semesta adalah bahwa rakyat adalah yang
utama dan dalam kesemestaan, baik dalam semangat maupun dalam
mendayagunakan segenap kekuatan dan sumber daya nasional, untuk
kepentingan pertahanan dalam membela eksistensi NKRI. Keikutsertaan
rakyat dalam sistem pertahanan negara pada dasarnya perwujudan dari
hak dan kewajiban setiap warga negara untuk ikut serta dalam usaha-
usaha pertahanan negara. Keikutsertaan warga negara dalam pertahanan
negara adalah wujud kehormatan warga negara untuk merefleksikan

8
haknya. Keikutsertaan warga
negara dalam upaya pertahanan
negara dapat secara langsung, yakni
menjadi prajurit sukarela Tentara
Nasional Indonesia (TNI), tetapi
dapat juga secara tidak langsung,
yakni dalam profesinya masing-
masing yang memberikan kontribusi terhadap pertahanan negara, atau
menjadi prajurit wajib. Terkait dengan kewajiban warga negara dalam
upaya pertahanan negara, hal mendasar adalah bahwa negara dapat
mewajibkan warga negara untuk ikut dalam upaya pertahanan negara.
Mewajibkan warga negara untuk ikut dalam upaya pertahanan negara
adalah konteks yang konstitusional sebagai konsekuensi menjadi warga
negara dari suatu negara yang berdaulat. Namun, mewajibkan warga
negara dalam upaya pertahanan negara harus didukung oleh perangkat
perundang-undangan sebagai pelaksanaan dari UUD 1945.

Landasan Yuridis

Landasan yuridis Doktrin Pertahanan Negara adalah UU RI Nomor


3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. UU tersebut mengatur,
antara lain, penyelenggaraan pertahanan negara, pengelolaan sistem
pertahanan negara, dan pembinaan kemampuan pertahanan negara.

Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi


kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap
bangsa dari segala bentuk ancaman. Pertahanan negara diselenggarakan
dan dipersiapkan secara dini oleh pemerintah melalui usaha membangun
dan membina kemampuan daya tangkal bangsa dan negara yang

9
pengejawantahannya melalui sistem pertahanan negara.

Sistem Pertahanan Negara adalah sistem pertahanan yang


bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan
sumber daya nasional lainnya, yang dipersiapkan pemerintah secara dini
dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk
menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan
bangsa dari segala ancaman. Sistem Pertahanan Negara dikembangkan
untuk menghadapi segala bentuk ancaman yang dinilai membahayakan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap
bangsa, baik yang berasal dari luar negeri maupun yang timbul di dalam
negeri, baik ancaman militer maupun ancaman nirmiliter.

Sistem Pertahanan Semesta dalam menghadapi ancaman militer


menempatkan TNI sebagai Komponen Utama serta segenap sumber
daya nasional lainnya sebagai Komponen Cadangan dan Komponen
Pendukung. Sumber daya nasional yang wujudnya berupa sumber daya
manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), dan sumber daya buatan
(SDB), nilai-nilai, dan teknologi dapat didayagunakan untuk meningkatkan
kemampuan pertahanan negara. Sistem Pertahanan Negara dalam
menghadapi ancaman nirmiliter menempatkan lembaga pemerintah di
luar bidang pertahanan sebagai unsur utama, sesuai dengan bentuk
dan sifat ancaman yang dihadapi dengan didukung oleh unsur‑unsur
lain dari kekuatan bangsa.
Selanjutnya, dalam menghadapi
bentuk dan sifat ancaman nirmiliter
di luar wewenang ins-tansi
pertahanan, penanggulangannya
dikoordinasikan oleh pimpinan
instansi sesuai dengan bidangnya.

10
Landasan Sejarah

Perjuangan bangsa Indonesia dalam


merebut kemerdekaan dari penjajah, serta upaya
mempertahankan dan mengisi kemerdekaan
dengan pembangunan nasional, sarat dengan
nilai-nilai heroik, patriotik, dan nasionalisme yang
menjadi ciri dan kekhasan bangsa Indonesia.
Nilai-nilai tersebut telah lama teraktualisasi dalam
kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari dalam
wujud persaudaraan, gotong-royong, keuletan, ketangguhan, percaya
kepada kekuatan sendiri, tidak kenal menyerah,  keyakinan meraih
kemenangan, serta rela berkorban demi kebenaran dan keadilan.
Perjuangan mewujudkan negara yang merdeka, bersatu,
dan berdaulat adalah perjuangan panjang yang pantang berhenti
serta pantang menyerah. Sejak zaman Sriwijaya berlanjut sampai
Majapahit, nilai-nilai kesatuan dan persatuan, kebangsaan, patriotisme,
dan heroik telah tertanam dan berkembang menjadi jati diri. Jati diri
tersebut kemudian menjadi pendorong untuk menyatukan usaha dan
perjuangan dalam melawan
Kemerdekaan tidak menyudahi penjajah, dari Zaman Kerajaan
soal-soal, kemerdekaan malah
membangun soal-soal, tetapi ke- Mataram, Kebangkitan Nasional
merdekaan juga memberi jalan
untuk memecahkan soal soal itu. 1908, Sumpah Pemuda 1928,
Hanya ketidak kemerdekaanlah yang sampai dengan puncaknya yang
tidak memberi jalan untuk me-
mecahkan soal-soal. Rumah kita mengantarkan bangsa Indonesia
dikepung, rumah kita dihancurkan.
Bersatulah Bhinneka Tunggal Ika. berhasil memproklamasikan ke-
Kalau mau dipersatukan, tentulah
bersatu pula. (Pidat o Presiden Soe- merdekaannya pada tanggal 17
karno, t anggal 17-8-1948 Agustus 1945.

11
Indonesia menghadapi
Bahwa Negara Indonesia tidak tjukup ujian yang berat, baik dari luar
dipertahankan oleh tentara sadja, maupun dari dalam negeri.
maka perlu sekali mengadakan kerdja
sama jang seerat-eratnja dengan
Dalam usianya yang sangat
golongan serta badan-badan di luar muda, Indonesia menghadapi
tentara. (Panglima Besar S udir man ancaman yang dahsyat berupa
pada Konf er ensi T ent ar a Keamanan
kekuatan militer Belanda
Rakyat di Mar kas T KR Y ogyakar t a, 12
N ovember 1945) yang ingin menjajah kembali
Indonesia serta rongrongan
dari dalam negeri yang dilakukan oleh pihak-pihak yang ingin memisahkan
diri dari NKRI. Berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia
diberi kekuatan dan keyakinan untuk menyatukan usaha dalam semangat
persatuan dan kesatuan yang mampu mengusir penjajah serta mengatasi
ancaman dalam negeri. Proklamasi 17 Agustus 1945 menorehkan
kemenangan sehingga menjadi lambang keberhasilan perjuangan seluruh
rakyat Indonesia yang sepakat untuk mempertahankan kebhinnekaan
dalam wadah NKRI. Hal ini membuktikan bahwa jika bangsa Indonesia
bersatu padu, tujuan bersama akan dapat diraih. Sebaliknya, apabila
bercerai-berai, bangsa Indonesia akan mudah dihancurkan.

Keberhasilan Indonesia mempertahankan kemerdekaan dan


keutuhan NKRI telah dibuktikan kepada dunia melalui perjuangan dan
perlawanan pantang menyerah serta diselenggarakan secara bahu-
membahu oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan seluruh rakyat
Indonesia, baik melalui perlawanan secara militer maupun nirmiliter.
Kerja sama yang terpadu antara TNI dan rakyat tersebut ditanamkan
oleh Panglima Besar Sudirman beserta seluruh kekuatan TNI dalam
berjuang bahu-membahu dengan rakyat untuk melawan penjajah.

12
Kebersamaan TNI dan rakyat selama perjuangan tersebut telah
mengilhami kemanunggalan TNI-rakyat yang dapat diaplikasikan dalam
berbagai konteks bagi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Kemanunggalan TNI-rakyat yang lahir dari pengalaman sejarah
tersebut merupakan inti kekuatan pertahanan Indonesia yang tetap relevan
dan tidak lekang oleh perubahan. Sistem pertahanan yang modern tidak
akan ada artinya manakala TNI tidak bersama rakyat. Penolakan atau
pengingkaran akan kemanunggalan TNI-rakyat adalah pengkhianatan
akan sejarah bangsa sendiri, yakni sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Atas dasar itulah, menjadi kewajiban setiap anak bangsa untuk selalu
waspada terhadap setiap usaha yang ingin memecah dan memisahkan
TNI dari rakyat, baik usaha pihak luar maupun usaha pembusukan dari
dalam yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Hancurnya
kemanunggalan TNI-rakyat dan dipisahkannya TNI dari rakyat pada
akhirnya akan menghancurkan NKRI.

Landasan Visional

Wawasan Nusantara merupakan cara pandang bangsa Indonesia


tentang diri dan lingkungannya
sebagai satu kesatuan yang utuh. Kemerdekaan jang telah dimiliki dan
Wawasan Nusantara adalah dipertahankan djangan sekali-sekali
dilepaskan dan diserahkan kepada
geopolitik Indonesia di mana wilayah siapa pun jang akan mendjadjah dan
Indonesia tersusun dari gugusan menindas kita. (A manat Panglima Besar
S udir man, disampaikan dalam Pidat o di
Kepulauan Nusantara beserta Yogyakar t a pada t anggal 22 J uli 19 47 ,
segenap isinya sebagai suatu sehar i sesudah Count er Command
dikeluar kan).
kesatuan wadah serta sarana untuk
membangun dan menata dirinya

13
menjadi bangsa yang berdaya saing tinggi dalam dinamika lingkungan
strategis. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai suatu kesatuan
pertahanan mengandung arti bahwa setiap ancaman terhadap sebagian
wilayah Indonesia pada hakikatnya merupakan ancaman terhadap
kedaulatan nasional yang harus dihadapi bersama dengan mengerahkan
segenap daya dan kemampuan.

Landasan Konseptual

Ketahanan Nasional merupakan geostrategi Indonesia sebagai


implementasi dari konsep geopolitik Wawasan Nusantara, dalam
mewujudkan daya tangkal nasional serta mempengaruhi ketahanan
regional dan supraregional. Ketahanan Nasional pada hakikatnya berisi
keuletan dan ketangguhan bangsa dan negara dalam menghadapi setiap
ancaman dengan memberdayakan faktor ideologi, politik, ekonomi,
militer, sosial budaya, agama, serta informasi, dan teknologi. Faktor-
faktor tersebut merupakan kekuatan nasional yang harus dipersiapkan
dan dibangun sehingga menghasilkan suatu kondisi yang dinamis dan
kondusif dalam mewujudkan daya tangkal bangsa.

14
PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

Bangsa Indonesia terlahir melalui kancah perjuangan yang


panjang. Perjuangan tersebut membentuk karakter dan jati diri bangsa
yang mewujud dalam semangat persatuan dan kesatuan dalam wadah
NKRI. Nilai-nilai dasar tersebut mengilhami cita-cita bangsa, tujuan
nasional, serta kepentingan nasional bangsa Indonesia.

Tekad dan semangat bangsa Indonesia untuk berdiri sejajar


dengan bangsa-bangsa lain yang merdeka dan berdaulat telah mendasari
perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan
Indonesia, dengan cucuran darah serta pengorbanan jiwa raga bangsa
Indonesia.

Jati Diri Bangsa


Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terbentuk bukan
karena kesamaan ras, agama, suku, dan golongan, melainkan karena
kesamaan tekad dan kehendak untuk bersatu dalam wadah NKRI yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kesamaan tekad dan kehendak
tersebut merupakan daya rekat segenap warga bangsa yang mewujud
dalam nilai-nilai persatuan dan kesatuan, kesetiakawanan sosial,
kekeluargaan, gotong-royong, dan rasa cinta tanah air.

Jati diri bangsa Indonesia terejawantahkan dalam semboyan


Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna berbeda-beda tetapi satu jua.
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi semangat persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia yang wajib digelorakan oleh setiap generasi.

15
Hakikat Perjuangan Bangsa
Perjuangan bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan segala
upaya untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Upaya tersebut dilaksanakan melalui pendayagunaan seluruh


sumber daya nasional secara terpadu sesuai dengan peran serta fungsi
masing-masing yang dilandasi tekad dan semangat cinta tanah air dalam
bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Cita-Cita Bangsa Indonesia

Cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam


UUD 1945 adalah bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan
makmur. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah mengukuhkan bangsa
Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, dan berdaulat dalam
wadah NKRI. Tugas generasi bangsa Indonesia adalah melindungi dan
mempertahankan cita-cita yang sudah dicapai serta melanjutkannya
dengan melaksanakan pembangunan nasional secara berkesinambungan
untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan berdaya saing.

Tujuan Nasional
Tujuan nasional bangsa Indonesia adalah membentuk peme-
rintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial.

16
Kepentingan Nasional
Kepentingan nasional Indonesia adalah tetap tegaknya NKRI
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta terjaminnya kelancaran dan
keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan guna mewujudkan
tujuan pembangunan dan tujuan nasional.

Kepentingan nasional diwujudkan dengan memperhatikan tiga


kaidah pokok, yaitu (1) tata kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara
Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945; (2) upaya pencapaian
tujuan nasional dilaksanakan melalui pembangunan nasional yang
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan berketahanan nasional
berdasarkan Wawasan Nusantara; (3) sarana yang digunakan adalah
seluruh potensi dan kekuatan nasional yang didayagunakan secara
menyeluruh dan terpadu.

Tetap tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945


merupakan kepentingan nasional Indonesia yang bersifat permanen,
berlaku sepanjang masa.  Makna kepentingan nasional yang bersifat
permanen tersebut adalah melindungi kedaulatan negara dan
mempertahankan keutuhan wilayah NKRI dengan tidak membiarkan
setiap jengkal tanah air dikuasai atau diceraiberaikan oleh pihak mana
pun.

Keamanan nasional yang


stabil merupakan prakondisi bagi
terselenggaranya kelancaran pelak-
sanaan pembangunan nasional yang
berkelanjutan guna mewujudkan
tujuan pembangunan dan tujuan

17
nasional. Dalam kerangka itu, keamanan nasional merupakan kepentingan
nasional yang sifatnya dinamis. Keamanan nasional dipengaruhi oleh
dinamika perubahan lingkungan strategis serta faktor-faktor dari dalam
negeri, di antaranya pembangunan ekonomi, pendidikan, kesejahteraan
masyarakat, dinamika politik, serta interaksi antar masyarakat.

18
HAKIKAT ANCAMAN

Ancaman pada hakikatnya adalah setiap usaha dan kegiatan, baik


yang berasal dari luar negeri atau bersifat lintas negara maupun yang
timbul di dalam negeri, yang dinilai membahayakan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Dalam
Doktrin Pertahanan Negara, terminologi ancaman mencakup setiap
ancaman termasuk gangguan yang dapat membahayakan kedaulatan
negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa atau yang
bersifat penghambat atau penghalang terhadap kepentingan nasional.

Identifikasi tentang ancaman merupakan faktor utama yang


menjadi dasar dalam penyusunan desain Sistem Pertahanan Negara.
Upaya pertahanan negara diselenggarakan untuk mencegah dan
mengatasi setiap ancaman, baik yang bersifat aktual maupun yang
potensial, baik yang berasal dari luar maupun yang timbul di dalam
negeri. Setiap bentuk ancaman memiliki karakteristik serta tingkat risiko
yang berbeda yang mempengaruhi pola penanganannya. Identifikasi
terhadap ancaman diselenggarakan dengan menganalisis perkembangan
lingkungan strategis sebagai faktor luar yang berpengaruh, baik langsung
maupun tidak langsung terhadap kepentingan nasional yang berwujud
peluang, tantangan, dan hakikat ancaman, serta kondisi dalam negeri
yang dapat berkembang dan berakumulasi menjadi ancaman.

Penilaian Ancaman
Dalam penyelenggaraan pertahanan negara, hal yang mendasar
adalah penilaian tentang ancaman yang didasari oleh kemampuan untuk

19
memahami, mengidentifikasi, dan menganalisis ancaman. Penilaian
tentang ada atau tidaknya ancaman dari negara lain ditentukan oleh
sejumlah faktor dominan yang meliputi faktor eksternal dan faktor
internal. Faktor eksternal berkaitan dengan aktor atau pelaku yang
meliputi niat, tujuan, indikasi, serta besarnya kekuatan dan kemampuan,
sedangkan faktor internal merupakan faktor-faktor yang memfasilitasi
atau memberikan ruang terjadinya ancaman, baik yang bersifat statis
maupun dinamis.

Penilaian tentang faktor eksternal terkait dengan geopolitik dan


geostrategi Indonesia yang terkait dengan posisi silang Indonesia.
Implikasi dari posisi silang Indonesia yakni antara Benua Asia dan
Australia serta antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, menempatkan
Indonesia dikelilingi oleh sejumlah negara yang memiliki perbedaan latar
belakang budaya dan filosofi, pandangan dan paham politik, serta tingkat
kemajuan. Beberapa di antaranya adalah negara maju yang menjadi
kekuatan utama dunia. Negara-negara tersebut memiliki kekuatan
militer dan ekonomi yang jauh lebih kuat daripada kekuatan yang dimiliki
Indonesia. Di sisi lain, juga terdapat negara-negara yang tingkat ekonomi
dan kemajuannya setara dan ada pula yang berada di bawah kekuatan
Indonesia. Interaksi antarnegara dengan kondisi dan tingkat kemampuan
yang berbeda-beda tidak dapat dimungkiri sering menimbulkan implikasi
yang berdimensi politik, ekonomi, dan pertahanan. Dalam skala tertentu,
implikasi tersebut dapat berpotensi menjadi suatu ancaman.

Penilaian ancaman juga mencermati faktor-faktor internal baik


yang bersifat statis maupun yang bersifat dinamis. Faktor yang bersifat
statis meliputi karakteristik dan kondisi geografi sebagai negara kepulauan
yang luas dan terbuka dengan garis pantai yang panjang serta banyaknya

20
pulau-pulau kecil terluar yang tidak berpenghuni, kondisi dan komposisi
demografi yang sangat beragam, serta sumber daya alam yang bernilai
strategis. Sebaliknya, faktor internal yang bersifat dinamis mencakup
faktor-faktor yang berkembang menjadi sumber-sumber terjadinya
suatu ancaman atau konflik. Faktor dinamis diantaranya berupa paham-
paham yang mengancam nilai-nilai kebangsaan, persaingan politik yang
mengarah kepada penguatan identitas lokal, primordialisme, benturan nilai
akibat kemajemukan masyarakat, termasuk ancaman yang diakibatkan
oleh peredaran narkoba.

Dengan mencermati konteks strategis global, kepentingan


negara-negara maju yang menonjol dalam beberapa dekade yang akan
datang adalah mencapai keunggulan yang maksimal dalam globalisasi
dan perdagangan bebas. Kondisi tersebut akan mendorong terjadinya
persaingan antarnegara, baik di kalangan negara maju, antara negara maju
dan negara berkembang, maupun antarnegara berkembang. Bersamaan
dengan itu, dalam menggerakkan roda perekonomian dan industri negara-
negara maju akan selalu bergantung pada kebutuhan energi dan sumber
daya alam sehingga kelak dapat mendorong persaingan antarnegara di
masa mendatang. Di satu sisi, negara-negara maju memiliki keunggulan di
bidang teknologi, modal dan sumber daya manusia yang berkemampuan
tinggi, tetapi memiliki keterbatasan dalam hal sumber energi dan sumber
daya alam untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri. Di sisi lain,
negara-negara berkembang memiliki kemampuan di bidang sumber daya
energi dan sumber daya alam, namun memiliki keterbatasan dalam hal
kemampuan teknologi, modal dan sumber daya manusia. Paradoks antara
kelangkaan sumber daya alam dan peningkatan kebutuhan yang besar
berpotensi mendorong konflik antarnegara di masa datang. Semakin

21
rendah daya tangkal suatu negara, akan semakin tinggi kemungkinan
potensi ancaman untuk berkembang menjadi ancaman nyata.

Pada tataran internal, distribusi hak-hak politik dan kesejahteraan


serta penegakan hukum yang buruk dapat menjadi faktor pendorong
terciptanya ketidakstabilan yang kemudian berkembang menjadi
ancaman. Kondisi tersebut menjadi fenomena global sehingga mendorong
berkembangnya kejahatan baik lintas negara dan bentuk-bentuk gangguan
keamanan yang timbul di dalam negeri.

Penggolongan Ancaman
Ancaman dapat digolongkan ke dalam jenis, sumber, dan aktor.
Berdasarkan jenisnya, ancaman pertahanan negara digolongkan dalam
ancaman militer dan ancaman nirmiliter. Jika dilihat dari sumbernya,
ancaman yang dihadapi Indonesia dapat berasal dari luar Indonesia atau
kejahatan lintas negara, baik yang dilakukan oleh aktor negara maupun
aktor yang bukan negara, serta ancaman yang timbul di dalam negeri.
Ancaman tersebut secara sistematis mengancam atau diperkirakan dapat
mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan
bangsa.

Ancaman Militer

Ancaman militer memiliki karakteristik serta spektrum yang


dapat mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan
keselamatan bangsa, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Karakteristik ancaman militer tersebut berimplikasi terhadap kebutuhan
akan kesiapsiagaan kekuatan pertahanan baik dalam kapasitas sebagai

22
kekuatan penangkal maupun kekuatan pertahanan untuk kebutuhan
responsif.

Ancaman militer memiliki beberapa karakter. Ancaman militer


dapat berupa jenis ancaman yang sifatnya terorganisasi dengan
menggunakan kekuatan bersenjata yang dinilai mempunyai kemampuan
yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara,
dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman militer dapat pula berupa
jenis ancaman yang dilakukan oleh militer suatu negara atau ancaman
bersenjata yang datangnya dari gerakan kekuatan bersenjata yang dinilai
mengancam atau membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah
negara, dan keselamatan segenap bangsa.

Dari batasan tentang ancaman seperti diuraikan di atas, ancaman


yang dikategorikan sebagai ancaman militer yang dapat membahayakan
kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dapat
berupa agresi atau invasi, pelanggaran wilayah, spionase, sabotase,
aksi teror bersenjata, pemberontakan bersenjata, ancaman keamanan
laut atau udara, serta perang saudara atau yang sering disebut konflik
komunal.

Agresi atau invasi merupakan bentuk ancaman militer yang


dilakukan oleh suatu negara dengan penggunaan kekuatan bersenjata
yang mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan
segenap bangsa. Agresi militer atau invasi suatu negara ditempatkan pada
tingkat paling tinggi dalam susunan kategorisasi ancaman pertahanan
negara. Penempatan ancaman agresi pada tingkat yang paling tinggi
adalah berdasarkan tingkat risiko yang ditimbulkan oleh ancaman
tersebut, yakni dapat memorakporandakan struktur dan eksistensi
kedaulatan, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan bangsa. Agresi

23
militer atau invasi dari suatu negara bahkan dapat menghancurkan secara
total suatu negara.

Selain agresi militer atau invasi, terdapat pula bentuk ancaman


militer yang tingkat risikonya dapat merugikan eksistensi dan
kepentingan nasional. Ancaman militer tersebut adalah bombardemen
senjata, blokade sebagian atau seluruh wilayah Indonesia, atau serangan
unsur angkatan bersenjata negara lain. Keberadaan atau tindakan unsur
kekuatan bersenjata asing dalam wilayah NKRI yang bertentangan
dengan ketentuan atau perjanjian yang disepakati, tindakan suatu
negara yang membantu negara yang hendak menyerang Indonesia,
tindakan unsur tentara negara lain yang melakukan kekerasan di wilayah
Indonesia, atau pengiriman kelompok bersenjata atau tentara bayaran
untuk melakukan tindak kekerasan di wilayah NKRI merupakan ancaman
yang dikategorikan sebagai agresi.

Wilayah yang sangat luas dan berada pada posisi silang berpotensi
bagi terjadinya pelanggaran wilayah oleh negara lain. Pelanggaran
wilayah yang secara sengaja dan sistematis dilakukan oleh negara
lain merupakan bentuk ancaman militer yang mengancam kedaulatan
negara Indonesia. Bentuk ancaman tersebut dapat terjadi setiap waktu
secara cepat sehingga memerlukan mekanisme pengambilan putusan
yang khusus pada tingkat nasional untuk mengatur pengerahan dan
penggunaan kekuatan pertahanan yang dilibatkan.

Pemberontakan bersenjata melawan pemerintah Indonesia


yang sah merupakan bentuk ancaman militer yang dapat merongrong
kewibawaan negara dan jalannya roda pemerintahan Indonesia. Dalam
sejarah perjalanan bangsa, Indonesia pernah mengalami sejumlah aksi
pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh gerakan radikal, seperti

24
Darul Islam (DI) dan Tentara
Islam Indonesia (TII), Kahar
Muzakar, serta G-30-S/PKI.
Sejumlah aksi pemberon-
takan bersenjata tersebut
tidak hanya mengancam
pemerintahan yang sah,
tetapi juga mengancam tegaknya NKRI yang berlandaskan Pancasila dan
UUD 1945.

Dalam beberapa dekade terakhir, pemberontakan bersenjata


telah berkembang dalam bentuk gerakan separatisme yang pola
perkembangannya seperti api dalam sekam. Gerakan radikal di masa
lalu serta sisa-sisa G-30-S/PKI berhasil melakukan regenerasi dan
berubah bentuk ke dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dengan
memanfaatkan dinamika Reformasi untuk masuk ke segala lini dan
elemen nasional. Kecenderungan tersebut memerlukan kecermatan
dengan membangun kewaspadaan nasional dari seluruh komponen
bangsa Indonesia untuk mewaspadai perkembangannya.

Indonesia memiliki sejumlah objek vital nasional dan instalasi


strategis yang rawan terhadap aksi sabotase sehingga harus dilindungi.
Aksi-aksi sabotase tersebut didukung oleh adanya kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak lawan
untuk merancang ancaman sehingga memiliki intensitas yang lebih tinggi
dan kompleks. Fungsi pertahanan negara ditujukan untuk memberikan
perlindungan, di antaranya, terhadap objek vital nasional dan instalasi
strategis dari setiap kemungkinan aksi sabotase. Hal ini dilakukan dengan
menggelar kekuatan pertahanan serta mempertinggi kewaspadaan yang

25
didukung oleh teknologi yang mampu mendeteksi dan mencegah secara
dini setiap kemungkinan ancaman.

Pada abad modern, kegiatan spionase dilakukan oleh agen-agen


rahasia dalam mencari dan mendapatkan rahasia pertahanan negara
lain. Kegiatan spionase dilakukan secara tertutup dengan menggunakan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sehingga tidak
mudah dideteksi. Kegiatan tersebut merupakan bentuk ancaman militer
yang memerlukan penanganan secara khusus dengan pendekatan
kontraspionase untuk melindungi kepentingan pertahanan dari kebocoran
yang akan dimanfaatkan oleh pihak lawan.

Aksi teror bersenjata merupakan bentuk kegiatan terorisme yang


mengancam keselamatan bangsa dengan menebarkan rasa ketakutan
yang mendalam serta menimbulkan korban tanpa mengenal rasa
perikemanusiaan. Sasaran aksi teror bersenjata dapat menimpa siapa
saja sehingga sulit diprediksi dan ditangani dengan cara-cara biasa.
Perkembangan aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh teroris pada
dekade terakhir meningkat cukup pesat dengan mengikuti perkembangan
politik, lingkungan strategis, dan iptek.

Sejak terorisme internasional berkembang menjadi ancaman


global, aksi teror bersenjata yang berskala lokal ikut pula mengadopsi
pola dan metode terorisme internasional atau bahkan berkolaborasi
dengan jaringan-jaringan teroris internasional yang ada. Sejumlah aksi
teror yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan adanya
hubungan dengan jaringan teroris internasional, terutama jaringan
teroris yang beroperasi di wilayah Asia Tenggara. Kondisi masyarakat
dengan latar belakang pendidikan dan kemampuan ekonomi rendah
menjadi incaran para tokoh teroris untuk memperluas jaringan dengan

26
membangun kader-kader baru.

Guna menjamin dan melindungi keselamatan bangsa dari


ancaman terorisme, terutama aksi teror bersenjata, fungsi pertahanan
militer melalui unsur-unsur intelijen, unsur-unsur Komando Kewilayahan,
berkewajiban untuk meningkatkan kewaspadaan dengan mengefektifkan
fungsi deteksi dan cegah dini. Dalam hal penanggulangan aksi teror
bersenjata yang dilakukan teroris, kesiapan dan kemampuan pasukan
khusus antiteror yang dimiliki oleh TNI harus terus ditingkatkan dan
dikembangkan, dan penggunaannya sesuai keputusan politik dan
peraturan perundang-undangan.

Gangguan keamanan di laut dan udara merupakan bentuk ancaman


militer yang mengganggu stabilitas keamanan wilayah yurisdiksi nasional
Indonesia. Kondisi geografi Indonesia dengan wilayah perairan serta
wilayah udara Indonesia yang terbentang pada pelintasan transportasi
dunia yang padat, baik transportasi maritim maupun dirgantara,
berimplikasi terhadap tingginya potensi gangguan ancaman keamanan
laut dan udara.

Bentuk-bentuk gangguan keamanan di laut dan udara yang memiliki


tingkat risiko membahayakan kepentingan nasional dan kehormatan
bangsa meliputi pembajakan atau perompakan, penyelundupan senjata,
amunisi, dan bahan peledak atau bahan lain yang dapat membahayakan
keselamatan bangsa, penangkapan ikan secara ilegal, atau pencurian
kekayaan di laut, termasuk pencemaran lingkungan. Konflik komunal
pada dasarnya merupakan gangguan keamanan dalam negeri yang
terjadi antarkelompok masyarakat, yang dalam skala besar dapat
membahayakan keselamatan bangsa.

27
Ancaman Nirmiliter

Ancaman nirmiliter pada hakikatnya ancaman yang menggunakan


faktor-faktor nirmiliter yang dinilai mempunyai kemampuan yang
membahayakan atau berimplikasi mengancam kedaulatan negara,
keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman
nirmiliter dapat berdimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, informasi,
dan teknologi serta berdimensi keselamatan umum. Ancaman nirmiliter
memiliki karakteristik yang berbeda dengan ancaman militer, tidak bersifat
fisik, serta bentuknya tidak kelihatan seperti ancaman militer, namun dapat
berkembang atau berakumulasi menjadi ancaman terhadap kedaulatan
negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan bangsa. Ancaman
nirmiliter dapat pula terjadi secara bersamaan dengan ancaman militer,
sehingga memerlukan kecermatan baik dalam mengidentifikasi maupun
dalam penanganannya.

Sejak keruntuhan Uni Soviet, sistem politik internasional


mengalami perubahan, dan paham komunis semakin tidak populer lagi.
Namun, bagi Indonesia yang pernah menjadi basis perjuangan kekuatan
komunis ancaman ideologi komunis masih tetap merupakan bahaya laten
yang harus diperhitungkan. Bangsa Indonesia telah berketetapan bahwa
ideologi negara adalah Pancasila. Sementara itu, ancaman terhadap
ideologi negara masih tetap berpotensi cukup tinggi; ini terbukti dari
adanya pihak-pihak yang ingin menghidupkan kembali Piagam Jakarta
atau berusaha untuk menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi lain.
Ancaman terhadap ideologi negara juga dapat berbentuk tindakan anarkis
yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikalisme dengan berlindung
di balik selimut keagamaan atau golongan politik fundamental. Ancaman
berbasis ideologi dapat pula bersumber dari luar dalam bentuk penetrasi

28
nilai-nilai kebebasan (liberalisme) yang tidak sesuai dengan nilai-nilai
budaya bangsa Indonesia. Nilai-nilai individualisme dan materialisme dari
luar cenderung mengancam nilai-nilai kebangsaan yang sudah berakar
dalam masyarakat. Ancaman berbasis ideologi ini dapat menjadi pemicu
proses disintegrasi di dalam masyarakat Indonesia yang bersifat pluralis
dalam agama, suku, dan adat-istiadat. Selain itu, ancaman berbasis
ideologi dapat pula timbul dari dalam negeri, antara lain yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok metamorfosis sisa-sisa G-30-S/PKI, kelompok
radikal di masa lalu atau yang telah melebur ke dalam elemen-elemen
masyarakat.

Dalam perspektif pertahanan negara, politik merupakan instrumen


yang utama, bahkan dalam teori politik yang paling tua tentang perang
dari Clausewitz yang masih tetap relevan menyebutkan bahwa perang
merupakan kelanjutan dari politik dengan cara lain. Dari pengalaman
membuktikan bahwa ancaman politik dapat menumbangkan suatu rezim
pemerintahan, bahkan dapat menghancurkan suatu negara secara total.

Ancaman berdimensi politik dapat menggunakan berbagai macam


aspek sebagai kendaraan untuk menyerang suatu negara, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Ancaman berdimensi politik dapat
bersumber dari luar negeri dan dapat pula bersumber dari dalam.
Ancaman berdimensi politik yang berasal dari luar dapat dilakukan oleh
aktor negara dan aktor yang non-negara dengan menggunakan isu-isu
global sebagai kendaraan untuk menyerang atau menekan Indonesia.
Pelaksanaan penegakan HAM, demokratisasi, penanganan lingkungan
hidup, serta penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan akuntabel
selalu menjadi komoditas politik bagi masyarakat internasional untuk
mengintervensi suatu negara, dan hal ini dirasakan pula oleh Indonesia.

29
Dari dalam negeri, pertumbuhan instrumen politik mencerminkan
kadar pertumbuhan demokrasi suatu negara. Iklim politik yang
berkembang secara sehat menggambarkan suksesnya proses demokrasi.
Bagi Indonesia, faktor politik menjadi penentu kelanjutan sistem
pemerintahan. Dalam sejarah Indonesia, pemerintahan negara sering
mengalami pasang-surut yang diakibatkan oleh gejolak politik yang sulit
dikendalikan. Ancaman yang berdimensi politik yang bersumber dari
dalam negeri dapat berupa penggunaan kekuatan berupa mobilisasi
massa untuk menumbangkan suatu pemerintahan yang berkuasa, atau
dapat pula dalam bentuk menggalang kekuatan politik untuk melemahkan
kekuasaan pemerintah. Ancaman separatisme merupakan bentuk
ancaman politik yang timbul di dalam negeri. Sebagai bentuk ancaman
politik, separatisme dapat menempuh pola perjuangan politik (tanpa
senjata) dan perjuangan bersenjata. Pola perjuangan tidak bersenjata
sering ditempuh untuk menarik simpati masyarakat internasional
dan karena itu sulit dihadapi dengan menggunakan instrumen militer,
sementara ancaman separatisme dengan bersenjata tidak jarang sulit
dihadapi sebagai akibat dari politisasi penanganan yang dilakukan
pemerintah dengan menggunakan pendekatan operasi militer. Hal ini
membuktikan bahwa ancaman berdimensi politik memiliki tingkat risiko
yang besar yang mengancam kedaulatan, keutuhan, dan keselamatan
bangsa.

Faktor ekonomi selain merupakan kekuatan, juga menjadi


instrumen yang dimanfaatkan oleh suatu negara untuk mengancam
negara lain. Dalam kehidupan negara, ekonomi merupakan salah satu
faktor yang vital di samping politik dan militer. Oleh karena itu, ekonomi
menjadi salah satu faktor stabilitas suatu negara. Ekonomi juga menjadi
alat penentu posisi tawar negara dalam hubungan antarnegara atau

30
pergaulan internasional. Negara dengan kondisi perekonomian yang
lemah sering berada dalam posisi tawar yang rendah dalam berhubungan
dengan negara lain yang posisi ekonominya lebih kuat. Negara yang
ekonominya kuat biasanya diikuti pula dengan politik dan militer yang
kuat.

Dalam konteks ancaman, ekonomi memiliki potensi untuk menjadi


ancaman yang menghancurkan suatu negara. Sejarah membuktikan
bahwa banyak negara atau kerajaan yang hancur karena ancaman
berdimensi ekonomi. Indonesia bahkan pernah mengalami ancaman
berdimensi ekonomi pada tahun 1998 ketika inflasi sangat tinggi dan nilai
tukar mata uang rupiah sangat tertekan oleh dolar Amerika sehingga
menimbulkan guncangan keamanan yang besar di dalam negeri yang
memaksa Presiden Soeharto berhenti dari jabatannya sebagai presiden.

Ancaman berdimensi ekonomi dapat berasal dari dalam dan dari


luar. Ancaman berdimensi ekonomi dari dalam Indonesia memiliki bentuk,
antara lain, sistem ekonomi yang belum ditetapkan secara jelas yang
berdampak konstruksi ekonomi yang dibangun menjadi tidak jelas pula.
Sistem Ekonomi Pancasila yang pernah dinyatakan di masa lalu ternyata
wujudnya tidak jelas. Negara-negara lain memiliki sistem ekonomi yang
jelas. Negara-negara sosialis menganut sistem ekonomi campuran dengan
porsi kebebasan pasar kecil dan porsi peran pemerintah besar.

Amerika Serikat menganut pula sistem ekonomi campuran


dengan porsi peran pemerintah kecil dan porsi kebebasan pasar besar.
Pendapatan per kapita masyarakat yang sangat rendah merupakan bentuk
ancaman berdimensi ekonomi yang berakibat terhadap kemiskinan yang
berpengaruh langsung terhadap pendidikan dan kesehatan. Distribusi
pendapatan yang tidak merata telah mengakibatkan ketimpangan yang

31
besar yakni kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin menjadi
semakin lebar. Kondisi ini berpengaruh terhadap kondisi ketidakstabilan
keamanan nasional.

Sarana dan prasarana transportasi yang buruk juga menyebabkan


distribusi ekonomi belum menyentuh daerah-daerah terpencil dan
pulau-pulau kecil terluar. Di samping itu, kesenjangan ekonomi yang
makin tinggi yang menimpa penduduk di daerah-daerah perbatasan,
serta ketimpangan dalam distribusi kepemilikan kekayaan sumber
daya alam antardaerah berpotensi mengakibatkan terjadinya konflik
antardaerah yang mengganggu kohesi nasional. Korupsi, kolusi, dan
nepotisme masih menjadi persoalan utama yang dihadapi Indonesia dan
merupakan bentuk ancaman berdimensi ekonomi yang mengakibatkan
pemborosan keuangan yang sangat tinggi dan berakibat terhadap
kelesuan pembangunan dalam jangka panjang. Demikian pula inflasi dan
pengangguran merupakan persoalan yang saling mempengaruhi, yang
menyulitkan dalam melakukan pemilihan prioritas, yakni menurunkan
inflasi dengan risiko naiknya angka pengangguran atau menurunkan
pengangguran dengan risiko inflasi naik.

Ancaman berdimensi ekonomi yang bersumber dari luar terdiri atas


beberapa bentuk. Tingkat ketergantungan Indonesia terhadap pihak asing
dalam hal modal melalui pinjaman luar negeri berakibat terhadap utang
negara yang sangat besar. Daya saing Indonesia yang sangat rendah
berakibat posisi tawar Indonesia di fora internasional menjadi rendah
pula. Di samping itu, globalisasi dalam berbagai bidang, termasuk pasar
bebas, semakin dekat pelaksanaannya, sementara kesiapan Indonesia
masih prematur. Indikator kinerja ekonomi Indonesia pada tingkat dunia
berada pada tingkat yang rendah yang berdampak terhadap besarnya
potensi krisis ekonomi di waktu-waktu mendatang. Dan yang sering

32
digunakan pihak luar untuk menekan Indonesia di antaranya pembatasan
kuota, pembatasan atau restriksi, embargo sebagian atau seluruhnya,
dan blokade ekonomi.

Sumber-sumber ekonomi nasional yang bernilai strategis atau


yang menyangkut hajat hidup orang pada kenyataannya banyak yang
dikuasai pihak asing. Dalam hal ini, penguasaan sumber-sumber ekonomi
seperti sumber daya energi dan pertambangan oleh pemodal yang hanya
berorientasi keuntungan, apalagi oleh pihak asing, merupakan wujud
ancaman nyata yang berdimensi ekonomi.

Dalam interaksi antarbangsa dan antarmasyarakat, terdapat


sejumlah implikasi yang berdimensi sosial budaya yang bersifat positif,
sekaligus bersifat negatif, dan dalam skala tertentu dapat berkembang
menjadi ancaman. Ancaman yang berdimensi sosial budaya dapat berasal
dari dalam dan dari luar Indonesia. Ancaman dari dalam didorong oleh
faktor-faktor kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan
(4K). Bentuk-bentuk ancaman seperti separatisme, terorisme, dan
infiltrasi melalui budaya dan nilai-nilai sosial kerap dilakukan oleh pihak
tertentu untuk mengancam keutuhan dan eksistensi NKRI. Selain itu,
bentuk-bentuk kekerasan yang melekat dan berurat berakar, serta
bencana akibat perbuatan manusia banyak didorong oleh faktor 4K.
Watak kekerasan yang melekat dan berurat berakar berkembang seperti
api dalam sekam di kalangan masyarakat yang menjadi pendorong
konflik bernuansa SARA atau konflik vertikal antara pemerintah pusat dan
daerah. Watak kekerasan itu pula yang mendorong tindakan kejahatan,
termasuk perusakan lingkungan dan bencana buatan manusia.

Ancaman dari luar berupa penetrasi nilai-nilai budaya dari luar


negeri yang sulit dibendung mempengaruhi tata nilai sampai pada tingkat

33
lokal. Kemajuan teknologi informasi mengakibatkan dunia menjadi desa
global, tempat interaksi antarmasyarakat terjadi secara langsung. Yang
terjadi tidak hanya transfer informasi, tetapi juga transformasi dan
sublimasi nilai-nilai luar secara serta-merta dan sulit dikontrol. Akibatnya,
terjadi benturan peradaban, sehingga lambat-laun nilai-nilai persatuan
dan kesatuan bangsa semakin terdesak oleh nilai-nilai individualisme.
Diakui bahwa nilai-nilai luar tidak semuanya negatif banyak pula nilai
positif yang memberikan efek kemajuan untuk diterapkan. Nilai-nilai luar
yang positif antara lain kedisiplinan, keuletan bekerja dan belajar, serta
pemanfaatan waktu untuk hal-hal yang produktif sehingga masyarakatnya
menjadi sejahtera. Nilai-nilai positif tersebut patut diadopsi dan
diterapkan dalam membangun masyarakat Indonesia. Dimensi sosial
budaya yang menjadi ancaman yang melemahkan bangsa Indonesia
di antaranya peredaran narkotik dan obat-obatan terlarang yang
mengancam generasi muda Indonesia. Di samping itu, peredaran media
pornografi serta perdagangan wanita, selain mengancam moral, juga
menjadi media penyebaran virus HIV/AIDS. Penetrasi nilai-nilai budaya
dari luar negeri yang sulit dibendung sering kali menyebabkan terjadinya
benturan peradaban yang mengancam nilai-nilai lokal di Indonesia.

Dalam perspektif pertahanan negara, kemajuan Iptek di satu sisi


memberikan nilai positif bagi umat manusia, namun di sisi lain sering
dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melaksanakan tindakan
kejahatan seperti kejahatan cyber, kejahatan perbankan, penyadapan,
dan pembajakan hak cipta. Sebalik-nya, hak untuk mendapatkan transfer
teknologi, peng-hargaan atas hasil karya Iptek, serta perlindungan hak-
hak intelektual belum tampak kemajuannya. Kondisi tersebut tanpa
disadari menjadi penghambat pertumbuhan kreativitas dan inovasi
masyarakat Indonesia yang lambat-laun berimplikasi berkembangnya

34
mentalitas masyarakat untuk lebih
menghargai produk-produk asing daripada
produk anak bangsa sendiri. Hal ini dapat
terlihat dari membanjirnya produk-produk
asing di Indonesia, sementara produk
Iptek hasil dalam negeri kurang diminati.
Dikaitkan dengan era perdagangan bebas
yang akan berlangsung dalam waktu
dekat, sinyalemen ini berpotensi menjadi
ancaman yang cukup serius.

Keselamatan umum merupakan salah satu faktor yang berdimensi


pertahanan yakni berkaitan langsung dengan keselamatan bangsa.
Keselamatan umum memiliki dimensi yang luas, mencakupi antara
lain bencana alam, bencana buatan manusia, narkotik dan obat-obatan
terlarang, keamanan transportasi, bencana kelaparan, dan wabah
penyakit.

Secara geografis Indonesia berada pada kawasan yang rawan


terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung
berapi, dan banjir. Bencana alam juga dapat mengancam keselamatan
transportasi, bencana kelaparan, dan wabah penyakit. Bencana yang
disebabkan oleh ulah manusia justru jauh lebih serius mengancam
keselamatan umum, antara lain perusakan lingkungan akibat pembalakan
hutan secara liar, peredaran narkotik dan obat-obatan terlarang, dan
pembuangan limbah industri. Bencana alam yang terjadi selama ini lebih
banyak disebabkan oleh ulah manusia, antara lain bencana banjir, bencana
tanah longsor, bencana kekeringan, dan bencana kebakaran hutan.

Di samping itu, salah satu faktor yang mengancam keselamatan

35
umum adalah kecelakaan
transportasi. Kecelakaan
transportasi disebabkan
oleh berbagai faktor,
seperti masalah teknik,
kelalaian manusia dan
faktor alam, serta masih
lemahnya kinerja aparat
dalam penegakkan hu-
kum dan peraturan perundang-undangan.

Globalisasi menghadirkan pengaruh positif dan pengaruh negatif


secara bersamaan. Sisi positif dari globalisasi adalah berlangsungnya
transformasi nilai dari bangsa-bangsa yang maju, seperti nilai kedisiplinan
dalam bekerja dan belajar, keuletan dalam bekerja, pemanfaatan waktu
untuk kegiatan yang produktif, penerapan manajemen modern, serta
penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan transparan.
Globalisasi juga mempunyai sisi negatif, di antaranya pergaulan
bebas, semakin terkikisnya nilai-nilai kekeluargaan dan gotong-
royong, menguatnya nilai-nilai individualisme, terutama yang melanda
masyarakat pedesaan, serta penerapan nilai-nilai kebebasan yang tidak
berbasis budaya Indonesia, termasuk tumbuhnya ajaran–ajaran sesat
yang berusaha mempengaruhi masyarakat.

36
KONSEPSI PERTAHANAN NEGARA

Hakikat Pertahanan Negara

   Pertahanan negara pada hakikatnya merupakan segala upaya


pertahanan yang bersifat semesta, yang penyelenggaraannya didasarkan
pada kesadaran akan hak dan kewajiban seluruh warga negara serta
keyakinan akan kekuatan sendiri untuk mempertahankan kelangsungan
hidup bangsa dan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Kesemestaan mengandung makna pelibatan seluruh rakyat dan segenap
sumber daya nasional, sarana dan prasarana nasional, serta seluruh
wilayah negara sebagai satu kesatuan pertahanan yang utuh dan
menyeluruh.

Upaya pertahanan yang bersifat semesta adalah model yang


dikembangkan sebagai pilihan yang paling tepat bagi pertahanan
Indonesia yang diselenggarakan dengan
keyakinan pada kekuatan sendiri serta Sekarang tibalah saatnya kita
berdasarkan atas hak dan kewajiban benar-benar mengambil nasib
warga negara dalam usaha pertahanan bangsa dengan nasib tanah air
di dalam tangan kita sendiri.
negara. Meskipun Indonesia telah
Hanya bangsa yang berani
mencapai tingkat kemajuan yang mengambil nasib dalam tangan
cukup tinggi nantinya, model tersebut sendiri, akan dapat berdiri
tetap menjadi pilihan strategis untuk sendiri dengan kuatnya.
(Pidato Presiden Soekarno,
dikembangkan, dengan menempatkan
t anggal 17 A gust us 194 5 ).
warga negara sebagai subjek pertahanan

37
negara sesuai dengan perannya masing-masing.
Sistem Pertahanan Negara yang bersifat semesta bercirikan
kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan.   Ciri kerakyatan
mengandung makna bahwa orientasi pertahanan diabdikan oleh dan untuk
kepentingan seluruh rakyat. Ciri kesemestaan mengandung makna bahwa
seluruh sumber daya nasional didayagunakan bagi upaya pertahanan.   
Sedangkan ciri kewilayahan mengandung makna bahwa gelar kekuatan
pertahanan dilaksanakan secara menyebar di seluruh wilayah NKRI,
sesuai dengan kondisi geografi sebagai negara kepulauan.

Tujuan dan Kepentingan Pertahanan Negara


Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi
kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap
bangsa dari segala bentuk ancaman. Ancaman terhadap sebagian
wilayah merupakan ancaman terhadap seluruh wilayah NKRI dan menjadi
tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.

Penyelenggaraan pertahanan negara harus didudukkan pada


tiga aspek fundamental yang menjadi tujuan pertahanan negara,
yakni mencakupi aspek kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI,
dan keselamatan serta kehormatan bangsa. Tujuan dan kepentingan
pertahanan negara dalam menjaga kedaulatan negara tidak sekadar
bersifat fisik, yakni kedaulatan teritorial yang berhubungan dengan
batas negara. Fungsi pertahanan juga untuk menjaga sistem ideologi
negara dan sistem politik negara. Dalam menjaga sistem ideologi
negara, upaya pertahanan negara diarahkan untuk mengawal dan
mengamankan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara. Setiap
usaha untuk mengganti ideologi Pancasila akan berhadapan dengan

38
instrumen pertahanan negara yang setiap saat siap sedia untuk membela
dan mempertahankannya.

Dalam menjaga sistem politik negara, upaya pertahanan negara


diarahkan untuk mendukung terwujudnya pemerintahan negara yang
stabil, demokratis, bersih, dan akuntabel, sebagai prasyarat yang
memungkinkan terselenggaranya pembangunan nasional dengan baik
dan efektif. Bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang
demokratis. Nilai-nilai demokratis tersebut terangkum dalam semboyan
Bhinneka Tunggal Ika, yaitu bangsa Indonesia yang bernegara dalam
wadah NKRI yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, hukum, hak
asasi manusia, dan lingkungan hidup, dan bukan berdasarkan atas suku,
agama, ras, dan antargolongan.

Tujuan dan kepentingan pertahanan negara juga diarahkan untuk


menjaga keutuhan NKRI. Pelaksanaannya didasarkan pada pandangan
bangsa Indonesia yang menempatkan NKRI sebagai keputusan final yang
harus tetap dipelihara dan dipertahankan. Setiap usaha pemisahan diri
atau yang bertujuan mengubah dan memecah-belah NKRI merupakan
ancaman terhadap keutuhan wilayah NKRI dan menjadi ancaman yang
berdimensi pertahanan. Separatisme merupakan bentuk ancaman
pertahanan yang mengancam keutuhan wilayah NKRI, sehingga menjadi
ancaman pertahanan yang utama. Pengalaman Indonesia menunjukkan
bahwa usaha separatisme dilakukan dalam dua pola gerakan, yakni
gerakan separatisme tidak bersenjata yang dikategorikan sebagai
ancaman nirmiliter dan gerakan separatisme bersenjata yang menjadi
ancaman militer.
Selanjutnya, tujuan dan kepentingan pertahanan negara dalam
menjamin keselamatan bangsa merupakan hal fundamental dalam

39
penyelenggaraan fungsi pertahanan negara untuk melindungi warga dari
segala bentuk ancaman. Menjamin keselamatan bangsa mencakupi upaya-
upaya pertahanan negara dalam menghadapi setiap ancaman baik dari
luar maupun dalam negeri. Dimensi keselamatan bangsa juga mencakupi
kewajiban untuk melaksanakan penanggulangan dampak bencana alam
dan kerusuhan sosial, mengatasi tindakan terorisme serta menegakkan
keamanan di laut dan udara Indonesia, termasuk dari kejahatan lintas
negara.

Fungsi Pertahanan Negara


Pertahanan negara berfungsi untuk mewujudkan satu kesatuan
pertahanan yang mampu melindungi kedaulatan negara, keutuhan
wilayah, serta keselamatan bangsa dari setiap ancaman, baik yang
datang dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Upaya mewujudkan
dan mempertahankan seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan
pertahanan diselenggarakan dalam fungsi penangkalan, penindakan,
dan pemulihan.

Fungsi penangkalan merupakan perwujudan usaha pertahanan


dari seluruh kekuatan nasional yang memiliki efek psikologis untuk
mencegah dan meniadakan setiap ancaman, baik dari luar maupun yang
timbul di dalam negeri, terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah NKRI,
dan keselamatan segenap bangsa. Karakter penangkalan adalah tidak
bersifat pasif, tetapi aktif melakukan upaya pertahanan melalui usaha
membangun dan membina kemampuan dan daya tangkal negara, baik
secara militer maupun nirmiliter. Fungsi penangkalan dilaksanakan dengan
strategi penangkalan yang bertumpu pada instrumen penangkalan
berupa instrumen politik, ekonomi, psikologi, sosial budaya, teknologi,
dan militer.

40
Dalam kerangka penangkalan, instrumen politik menyelenggarakan
pembangunan sistem politik yang sehat dan kuat serta usaha-usaha
diplomasi sebagai lini terdepan pertahanan negara untuk mencegah dan
meniadakan setiap potensi ancaman yang dapat mengancam kedaulatan
negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa. Instrumen ekonomi
menyelenggarakan pembangunan ekonomi dengan sistem ekonomi
yang jelas untuk mencapai pertumbuhan yang sehat dan cukup tinggi
bagi terwujudnya pencapaian tujuan nasional yakni masyarakat yang
sejahtera, berkeadilan, dan berdaya saing pada lingkup regional dan
global.

Instrumen psikologis yang diemban oleh semua komponen


bangsa, baik lembaga pemerintah maupun nonpemerintah, mewujudkan
upaya penangkalan melalui usaha memperkuat persatuan dan kesatuan
bangsa serta menumbuhkembangkan nasionalisme, patriotisme, dan
heroisme bangsa di segala bidang. Instrumen sosial menyelenggarakan
pembangunan dan pendayagunaan sistem nilai serta segenap pranata
sosial dalam mewujudkan kehidupan dan interaksi sosial yang harmonis
serta saling menghargai. Instrumen teknologi menyelenggarakan usaha
untuk memadukan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mewujudkan
industri nasional yang kuat serta industri pertahanan dalam negeri yang
berdaya saing. Instrumen militer, yakni TNI, sebagai Komponen Utama
pertahanan negara menyelenggarakan usaha-usaha membangun dan
membina kekuatan dan kemampuan dengan mengembangkan strategi
militer yang memiliki efek daya tangkal yang tinggi serta profesional
dalam melaksanakan setiap tugas operasi, baik OMP maupun OMSP.

Fungsi penindakan merupakan keterpaduan usaha pertahanan dari


seluruh kekuatan nasional, baik secara militer maupun secara nirmiliter,

41
untuk menghadapi dan mengatasi segala bentuk ancaman, baik dari
luar maupun yang timbul di dalam negeri, yang mengancam kedaulatan,
keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa. Fungsi penindakan
dilaksanakan dengan usaha pengerahan dan penggunaan kekuatan
pertahanan dalam sistem pertahanan semesta untuk melakukan tindakan
preemptive, penanggulangan, atau perlawanan yang pelaksanaannya
disesuaikan dengan jenis ancaman serta tingkat risiko yang ditimbulkan.

Fungsi penindakan dalam menghadapi ancaman militer


menempatkan TNI sebagai kekuatan utama pertahanan didukung oleh
seluruh kekuatan nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dalam susunan Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam
menghadapi ancaman militer yang berasal dari luar, penyelenggaraan
fungsi penindakan disesuaikan dengan bentuk ancaman untuk
menentukan jenis tindakan yang diambil serta kekuatan pertahanan
yang digunakan. Ancaman militer berupa agresi atau invasi dihadapi
dengan pendekatan perang, dan bagi Indonesia penyelenggaraan perang
dilaksanakan secara total dalam wujud perang semesta.

Fungsi penindakan dalam menghadapi ancaman nirmiliter


menempatkan lembaga pemerintah sebagai unsur utama sesuai dengan
bentuk dan sifat ancaman yang dihadapi, didukung oleh unsur-unsur
lain dari kekuatan bangsa. Penindakan terhadap ancaman nirmiliter
dilakukan dengan pendekatan fungsional oleh lembaga pemerintah di
luar bidang pertahanan berdasarkan jenis dan sifat ancaman. Fungsi
penindakan diwujudkan dalam bentuk langkah-langkah penyelamatan
dengan mengerahkan segala kemampuan bangsa.

Bentuk-bentuk penindakan terhadap ancaman yang bersumber


dari dalam negeri disesuaikan dengan jenis ancaman dan tingkat risiko

42
yang ditimbulkan, serta dilakukan dengan memperhatikan nilai-nilai
hukum yang berlaku dalam negara demokrasi.

Tindakan preemptive merupakan bentuk penindakan yang


dilakukan terhadap pihak lawan atau terhadap ancaman, baik yang
bersifat militer maupun nirmiliter, yang nyata-nyata akan menyerang
Indonesia. Tindakan preemptive dilaksanakan melalui pengerahan
kekuatan pertahanan untuk mendahului pihak lawan yang sedang
dalam persiapan untuk menyerang Indonesia. Tindakan preemptive
dilaksanakan di wilayah pihak lawan atau di dalam perjalanan sebelum
memasuki wilayah Indonesia. Tindakan preemptive juga diterapkan
dalam menghadapi ancaman nirmiliter yang pelaksanaannya disesuaikan
dengan jenis dan sifat ancaman.

Tindakan perlawanan merupakan bentuk penindakan terhadap


pihak lawan yang sedang menyerang Indonesia atau telah menguasai
sebagai atau seluruh wilayah Indonesia dengan cara mengerahkan
seluruh kekuatan negara, baik secara militer maupun nirmiliter. Tindakan
perlawanan diselenggarakan dengan sistem pertahanan dan keamanan
rakyat semesta melalui pengerahan kekuatan pertahanan yang berintikan
TNI didukung oleh segenap kekuatan bangsa dalam susunan Komponen
Cadangan dan Komponen Pendukung.

Fungsi pemulihan memiliki cakupan ke dalam dan ke luar. Dalam


lingkup ke dalam, fungsi pemulihan merupakan keterpaduan usaha
pertahanan negara yang dilaksanakan secara nirmiliter dan militer untuk
mengembalikan kondisi keamanan negara yang telah terganggu akibat
kekacauan keamanan karena perang, pemberontakan atau serangan
separatis, konflik vertikal atau konflik horizontal, huru-hara, serangan
teroris, atau bencana alam atau akibat ancaman nirmiliter. TNI bersama

43
dengan instansi pemerintah lainnya serta masyarakat melaksanakan fungsi
pemulihan sebagai wujud pertahanan semesta yang utuh. Dalam lingkup
ke luar, fungsi pemulihan diwujudkan melalui pelibatan unsur kekuatan
pertahanan dalam mengambil bagian mewujudkan perdamaian dunia dan
stabilitas regional. Secara militer, hal ini diwujudkan antara lain dalam
bentuk pengiriman pasukan penjaga perdamaian atau pengamat penjaga
perdamaian. Secara nirmiliter hal ini diwujudkan dalam keikutsertaan
dalam berbagai usaha, antara lain melalui keanggotaan PBB dan
organisasi regional, serta dalam memfasilitasi usaha-usaha internasional
untuk mewujudkan perdamaian dunia dan stabilitas regional.

Pandangan tentang Damai dan Perang


Setiap negara memiliki pandangan masing-masing terhadap damai
dan perang. Damai dan perang adalah dua kondisi yang saling mengikuti
dalam usaha suatu negara memperjuangkan kepentingan nasionalnya.
Tidak ada perang yang abadi, demikian juga tidak ada damai yang abadi.
Perang menentukan hidup dan mati serta jatuh-bangunnya suatu negara,
sehingga harus dipahami dan dipelajari segala seluk-beluknya.

Damai adalah suatu kondisi ketika kehidupan masyarakat serta


roda pemerintahan dan pembangunan nasional berjalan secara normal.
Damai tidak berarti tanpa konflik atau sengketa. Dalam kondisi damai,
dapat saja terdapat gangguan-gangguan keamanan, namun dalam
tingkatan intensitas rendah. Kondisi damai tidak terjadi dengan sendirinya
tanpa suatu usaha. Kondisi damai adalah hasil usaha.

Pandangan bangsa Indonesia tentang damai dan perang


adalah bangsa Indonesia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan
dan kedaulatan. Perang merupakan jalan terakhir apabila usaha-

44
usaha diplomasi mengalami jalan buntu serta dilaksanakan dalam
rangka melawan kekuatan negara lain yang secara nyata mengancam
kemerdekaan, kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan
keselamatan bangsa Indonesia.

Penyelenggaraan pertahanan negara pada dasarnya tidak


ditujukan untuk perang, tetapi untuk mewujudkan perdamaian, menjamin
keutuhan NKRI, mengamankan kepentingan nasional, serta menjamin
terlaksananya pembangunan nasional. Perang terjadi akibat kegagalan
upaya pertahanan. Untuk mewujudkan perdamaian, negara harus
membangun kekuatan serta memelihara kesiapsiagaan yang memiliki
efek penangkalan yang disegani pihak lawan. Indonesia menganut prinsip
Si Vis Pacem Para Bellum, yakni untuk memelihara kondisi damai, negara
membangun kemampuan pertahanan yang kuat yang berdaya tangkal
tinggi.

Daya tangkal bangsa dan negara bersandar pada sistem


pertahanan semesta yang diselenggarakan melalui pertahanan militer dan
pertahanan nirmiliter. Fungsi pertahanan militer diemban oleh TNI untuk
melaksanakan OMP dan OMSP. OMP merupakan bentuk pengerahan dan
penggunaan kekuatan TNI untuk melawan kekuatan militer negara lain
yang melaksanakan agresi terhadap Indonesia, termasuk dalam konflik
bersenjata dengan negara lain. Pelaksanaan OMP berdasarkan keputusan
politik oleh Presiden dengan menyatakan perang melawan negara lain
yang menyerang atau mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah
NKRI, dan keselamatan bangsa. OMSP merupakan bentuk penggunaan
kekuatan TNI untuk kepentingan pertahanan negara dan dalam rangka
mendukung kepentingan nasional, baik untuk mengatasi ancaman militer
maupun dalam membantu fungsi pemerintahan dalam menghadapi
ancaman nirmiliter, termasuk dalam tugas perdamaian dunia.

45
Inti pertahanan nirmiliter adalah pemberdayaan sumber daya
nasional yang meliputi fungsi kekuatan pertahanan nirmiliter dalam
kerangka menghadapi ancaman militer, yakni dalam wujud Komponen
Cadangan dan Komponen Pendukung, serta dalam kerangka pertahanan
sipil untuk menghadapi ancaman nirmiliter sesuai dengan lingkup fungsi
dan kewenangan instansi pemerintah di luar bidang pertahanan.

Spektrum Konflik dan Pelibatan Unsur Pertahanan

Dalam hubungan antarnegara selalu terjadi kondisi pasang-surut


yang berkembang dalam suatu spektrum di antara kondisi damai dan
perang. Konflik merupakan kondisi terganggunya hubungan antarnegara
yang berkembang dalam spektrum paling rendah hingga perang
terbuka.

GAMBAR 1
SPEKTRUM KONFLIK DAN PELIBATAN
UNSUR PERTAHANAN
DAMAI

KONFLIK INTENSITAS KONFLIK


RENDAH INTENSITAS
TINGGI
D D
A A
TERTIB SIPIL R R
U U P
R R E
A A R
T T A
N
S M G
I I
P L
I I
L T
E
R

1 PELIBATAN FUNGSI PERTAHANAN MILITER PERANG


2 PELIBATAN FUNGSI PERTAHANAN NIRMILITER

46
Pemahaman terhadap spektrum konflik menjadi dasar dalam
pencegahan konflik, pengelolaan konflik, pelibatan kekuatan pertahanan,
termasuk keikutsertaan dalam tugas-tugas perdamaian dunia dan
bantuan kemanusiaan, serta bantuan kemampuan pertahanan negara
pada departemen atau otoritas sipil lainnya. Pelibatan fungsi pertahanan
militer dan fungsi pertahanan nirmiliter diselenggarakan sejak kondisi
keamanan nasional dalam keadaan damai hingga perang. Dalam
kondisi damai, pelibatan fungsi pertahanan militer ditekankan pada
efektivitas penangkalan, yakni untuk mencegah setiap ancaman, baik
dari luar maupun yang timbul di dalam negeri. Dalam keadaan damai dan
dalam rentangan kondisi keamanan nasional dengan spektrum konflik
intensitas rendah fungsi pertahanan militer, yakni TNI, dilibatkan untuk
menyelenggarakan OMSP untuk menangani ancaman atau tugas yang
diembankan kepada TNI yang pelaksanaannya berdasarkan keputusan
politik pemerintah. Dalam spektrum konflik ketika kondisi keamanan
suatu berada pada level yang kritis dan pemerintah memberlakukan
keadaan darurat seperti darurat sipil, darurat militer, atau keadaan
perang, pelibatan fungsi pertahanan militer semakin besar.

Dalam keadaan darurat militer dan keadaan perang, di samping


menjalankan fungsi pertahanan negara, sesuai dengan keputusan politik
dan peraturan perundang-undangan, TNI dapat mengambil alih fungsi-
fungsi pemerintahan di wilayah tempat diberlakukannya keadaan darurat
militer atau keadaan perang.

Seperti halnya pada pelibatan fungsi pertahanan militer, fungsi


pertahanan nirmiliter dilibatkan baik pada masa damai maupun pada
keadaan perang. Dalam masa damai, pelibatan fungsi pertahanan
nirmiliter diselenggarakan secara fungsional, yang penekanannya

47
pada pendekatan pembangunan nasional yang berefek kesejahteraan
dan penangkalan. Pada kondisi keamanan nasional dengan spektrum
konflik intensitas rendah, fungsi pertahanan nirmiliter, yakni unsur-unsur
pemerintahan di luar bidang pertahanan, dilibatkan secara maksimal
sampai pada kondisi darurat sipil. Pada darurat militer dan keadaan
perang, pelibatan fungsi pertahanan nirmiliter disesuaikan dengan kondisi
dan tingkat risiko yang dihadapi berdasarkan hak-hak masyarakat sipil
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Penyelenggaraan Perdamaian
Penyelenggaraan perdamaian bertujuan untuk menciptakan kondisi
yang aman, harmonis, dan tenteram, baik dalam sistem global maupun
nasional. Dalam sistem global, Indonesia berinteraksi dengan negara-
negara lain, baik dengan sesama kawasan maupun di luar kawasan,
sehingga akan saling membutuhkan satu sama lain. Dalam hal ini,
penyelenggaraan perdamaian bertujuan untuk menciptakan hubungan
yang aman dan harmonis dengan memandang negara lain bukan sebagai
ancaman dan sebaliknya negara lain tidak memandang Indonesia sebagai
ancaman. Setiap pertikaian dengan negara lain diselesaikan dengan
mengedepankan usaha-usaha damai. Perwujudan perdamaian ditempuh
melalui peningkatan kerja sama bilateral, regional, dan internasional
dengan mengembangkan prinsip saling percaya, mengedepankan
diplomasi, serta melakukan upaya-upaya penanganan dan penyelesaian
konflik lainnya. Indonesia sebagai negara yang cinta damai akan selalu
tampil dalam setiap usaha bagi terwujudnya perdamaian dunia, baik
secara politik maupun melalui pelibatan kekuatan pertahanan dalam
tugas-tugas perdamaian dunia dan regional.

48
Penyelenggaraan perdamaian juga berefek ke dalam, yakni dalam
rangka stabilitas nasional bagi terwujudnya tata tenteram kerta raharja di
seluruh wilayah Indonesia. Dalam membangun stabilitas nasional, setiap
konflik dalam negeri, baik vertikal maupun horizontal, diselesaikan dengan
cara-cara yang bermartabat dan berperikemanusiaan melalui pendekatan
hukum, kesejahteraan, keadilan, dan dialogis dalam membangun kohesi
nasional serta persatuan dan kesatuan bangsa. Keputusan menggunakan
kekuatan pertahanan dalam mengatasi isu-isu keamanan dalam negeri
didasarkan atas pertimbangan yang saksama terhadap perkembangan
situasi serta ditempuh melalui keputusan politik.

Asas-asas Damai

Komitmen bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan perdamaian


adalah hidup berdampingan dengan bangsa lain secara damai, dengan
berpedoman pada delapan asas perdamaian. Ke-delapan asas tersebut
adalah tujuan, waspada, kekenyalan, kekuatan, kolektif, kelanggengan,
transparansi, dan prioritas.

Asas Tujuan

Tujuan penyelenggaraan perdamaian pada hakikatnya tetap


tegaknya kemerdekaan, kedaulatan negara, keutuhan wilayah,
keselamatan dan kesejahteraan rakyat, serta pengamanan kepentingan
nasional seiring dengan perjalanan waktu dan dinamika lingkungan
strategis.

49
Asas Waspada

Waspada terhadap setiap kemungkinan perubahan situasi dan


pendadakan strategis, tidak ada yang abadi selain kepentingan.

Asas Kekenyalan

Damai bukan berarti tidak perang. Mewujudkan perdamaian


terkadang harus melalui penggunaan kekuatan fisik untuk tujuan perang.
Kalau ingin damai, negara harus bersiap untuk perang.

Asas Kekuatan

Damai dapat diwujudkan atau dipertahankan apabila memiliki


kekuatan dan kemampuan yang memadai. Pembinaan kekuatan
dan kemampuan harus selalu dikembangkan guna meningkatkan
kesiapsiagaan.

Asas Kolektif

 Damai merupakan kebutuhan bersama dan dalam mewujudkannya


melibatkan semua pihak, bukan untuk satu golongan atau satu pihak.
Upaya mewujudkan perdamaian merupakan integrasi baik secara militer
maupun nirmiliter.

Asas Keberlanjutan

Damai tidak akan terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan


hasil upaya bersama yang berkesinambungan. Upaya mewujudkan
kondisi damai dilaksanakan sepanjang waktu dan tidak boleh terhenti.

50
Asas Transparansi

Setiap upaya untuk mewujudkan kondisi damai harus


mengedepankan prinsip saling percaya. Prinsip transparansi dalam
rangka mewujudkan rasa saling percaya juga dikembangkan dalam
pembangunan dan penggunaan kekuatan pertahanan.

Asas Prioritas

Pada hakikatnya setiap usaha untuk mewujudkan kondisi damai


yang sejati sebagai dasar kepentingan bersama diletakkan pada prinsip
cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan.

Penyelenggaraan Peperangan
Perang diselenggarakan untuk membela kemerdekaan dan
kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah negara, serta
melindungi keselamatan segenap bangsa. Perang bagi bangsa Indonesia
adalah perang semesta yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia
dan segenap kekuatan nasional. Pernyataan perang dengan bangsa
lain dilakukan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR). Demikian pula dalam mengakhiri perang atau membuat
perdamaian, pernyataan dilakukan oleh Presiden melalui pernyataan
politik secara resmi.

Hal mendasar yang harus menjadi pegangan dalam pelaksanaan


peperangan: keyakinan akan kekuatan sendiri, tidak mengenal menyerah
dan tidak akan menyerahkan diri atau menyerahkan wilayah Indonesia
kepada pihak lawan, keyakinan akan kemenangan, dan perlawanan tidak
akan berhenti sebelum mencapai kemenangan. Perang diselenggarakan

51
dengan strategi pertahanan berlapis dan mendalam dengan
mendayagunakan seluruh kekuatan dan kemampuan nasional ke dalam
konsep Perang Rakyat Semesta. Keberhasilan Perang Rakyat Semesta
ditentukan oleh kemanunggalan TNI-Rakyat. Karena itu, pembangunan
pertahanan dan gelar kekuatan berdimensi kewilayahan (teritorial) dan
diselenggarakan dengan tujuan untuk membangun dan memelihara
kemanunggalan TNI-Rakyat bagi terwujudnya daya tangkal bangsa.

Penyelenggaraan peperangan pada hakikatnya penataan sistem


pertahanan yang mencakupi penyiapan kekuatan, penyiapan wilayah
negara sebagai medan pertahanan, penyiapan logistik pertahanan,
pelaksanaan peperangan, dan pemulihan terhadap dampak kerusakan
akibat peperangan. Perang di masa depan akan semakin kompleks,
mengandalkan keunggulan teknologi, presisi, dan penguasaan ruang.
Oleh karena itu, penataan sistem pertahanan tersebut harus disesuaikan
dengan perkembangan sifat atau karakteristik peperangan di masa
depan.

Penyiapan kekuatan diselenggarakan oleh pemerintah sejak dini


dan berkesinambungan melalui pembangunan sumber daya nasional
untuk menjadi kekuatan pertahanan. Kekuatan pertahanan tersebut
diorganisasikan ke dalam Komponen Utama, yakni TNI, serta Komponen
Cadangan dan Komponen Pendukung, yakni warga negara, sumber
daya alam dan buatan, serta sarana dan prasarana nasional. Penyiapan
kekuatan juga mencakupi penggelaran kekuatan yang pelaksanaannya
berdasarkan pertimbangan hakikat ancaman yang dihadapi.

Penyiapan wilayah negara sebagai medan pertahanan


diselenggarakan berdasarkan perkiraan strategis tentang kemungkinan
ancaman yang dihadapi dan diproyeksikan dalam tiga lapis medan

52
pertahanan, yakni medan pertahanan penyanggah, medan pertahanan
utama, dan daerah perlawanan. Medan pertahanan penyanggah
merupakan lapis terdepan, yakni medan pertahanan yang berada di
luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan wilayah udara di atasnya. Medan
pertahanan utama merupakan lapis inti dari medan pertahanan mulai
dari Zona Ekonomi Eksklusif sampai dengan laut teritorial, dasar laut,
daratan serta wilayah udara di atasnya, yang menjadi mandala perang.
Daerah-daerah perlawanan merupakan lapis ketiga yang berada pada
wilayah-wilayah belakang di luar mandala perang, termasuk wilayah
perairan Nusantara dan wilayah udara di atasnya yang dibangun dan
dipersiapkan sebagai daerah pangkal perlawanan untuk memelihara
kesinambungan perlawanan.

Penyiapan wilayah negara sebagai medan pertahanan pada


dasarnya merupakan fungsi pertahanan nirmiliter yang diselenggarakan
secara terpadu, terkoordinasi, dan lintas departemen/lembaga.
Perwujudannya melalui penataan ruang nasional, di dalamnya penataan
ruang kawasan pertahanan.

Penyiapan logistik pertahanan diselenggarakan secara dini dan


terpadu dengan pembangunan nasional untuk tujuan kesejahteraan.
Penyiapan logistik pertahanan merupakan hal yang fundamental dalam
mendukung penyelenggaraan peperangan. Penyiapan logistik pertahanan
merupakan bagian dari pembangunan pertahanan nirmiliter yang
diselenggarakan secara terpadu, terkoordinasi, dan lintas departemen/
lembaga. Perwujudannya melalui pembangunan ekonomi yang kuat
dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta industri nasional yang
berdaya saing dan mandiri, yang pada gilirannya akan dapat mewujudkan
kemandirian sarana pertahanan serta pusat-pusat logistik yang tersebar
di tiap wilayah.

53
Pelaksanaan peperangan diseleng-
garakan dengan strategi pertahanan
berlapis dan mendalam yang memancarkan
penangkalan yang kuat serta kemampuan
untuk mengatasi ancaman manakala meng-
hadapi ancaman nyata. Strategi penangkalan
dikembangkan dengan menyinergikan kemampuan nasional dari aspek
politik, ekonomi, psikologi, teknologi, sosial budaya, dan militer yang
berefek penolakan dan pembalasan sekaligus. Pelaksanaan peperangan
ditentukan pula oleh gelar kekuatan pertahanan yang disesuaikan
dengan hakikat ancaman dengan mengutamakan kesiapsiagaan dan
mobilitas yang tinggi. Gelar kekuatan TNI dikembangkan secara fleksibel
bagi terwujudnya Tri Matra Terpadu sekaligus keterpaduan dengan
pertahanan nirmiliter.

Perang selalu menimbulkan dampak kerusakan yang hebat,


baik secara psikis maupun secara fisik, sehingga fungsi pertahanan
negara pascaperang adalah memulihkan kembali kondisi negara
melalui rehabilitasi terhadap dampak kerusakan yang ditimbulkan
oleh peperangan. Rehabilitasi merupakan fungsi pemerintah yang
pelaksanaannya secara lintas departemen dan instansi, melibatkan fungsi
pertahanan nirmiliter sesuai dengan fungsinya masing-masing, dibantu
oleh fungsi pertahanan militer. Upaya pemulihan secara psikis diarahkan
pada tata nilai, yakni menata kembali nilai-nilai kebangsaan dan nilai
sosial serta memulihkan kondisi psikologis masyarakat yang terkena
dampak peperangan. Bersamaan dengan upaya pemulihan secara psikis,
diselenggarakan upaya pemulihan secara fisik. Upaya pemulihan secara
fisik diarahkan pada rekonstruksi lingkungan yang mengalami kerusakan
selama berlangsungnya peperangan.

54
Asas-asas Perang

Komitmen bangsa Indonesia untuk hidup berdampingan secara


damai dengan bangsa lain tidak hanya bergantung pada bangsa Indonesia
semata. Negara lain juga mempunyai kewajiban untuk bersama-sama
mewujudkan saling percaya yang didudukkan di atas rasa saling percaya
dan saling menghormati hak kedaulatan masing-masing negara. Jika
upaya perdamaian mengalami jalan buntu dan perang tidak dapat
dihindari, penyelenggaraan suatu peperangan berpedoman pada asas-
asas perang yang ditetapkan berikut ini.

Asas perang mempunyai kegunaan sebagai pedoman untuk


menuntun tindakan dalam penyelenggaraan peperangan. Asas perang
pada hakikatnya adalah kebenaran fundamental yang berlaku dalam
penyelenggaraan perang dan mempunyai pengaruh tetap terhadap
kesudahan dari suatu perang atau persengketaan bersenjata.

Asas perang bukan merupakan hukum atau peraturan yang


kepatuhannya bersifat kaku. Meskipun asas perang bukan merupakan
hukum atau peraturan, apabila diabaikan, akan menuai risiko yang
memberikan keuntungan bagi pihak lawan/musuh. Asas perang pada
dasarnya bersifat universal. Namun, pengalaman sejarah perjuangan
bangsa Indonesia dalam perang melawan penjajah, perang revolusi untuk
mempertahankan kemerdekaan,
serta usaha pertahanan dalam
menjaga proses pembangunan
nasional dan hasil-hasilnya
memberikan pelajaran untuk
memperluas asas universal tersebut,
seperti tertuang berikut ini.

55
Asas Tujuan

Tujuan harus tetap dipegang teguh. Penyelenggaraan pertahanan


negara dilaksanakan untuk mencapai tujuan, yakni menegakkan
kemerdekaan dan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah NKRI,
serta menjamin keselamatan segenap bangsa dari setiap ancaman.

Asas Mobilitas

Kemampuan mobilitas diwujudkan dalam keleluasaan bertindak,


responsif, serta ketanggapsegeraan dalam mengembangkan strategi
pertahanan negara serta keleluasaan dalam mendayagunakan segenap
sumber daya nasional untuk menjadi kekuatan pertahanan, baik
pertahanan militer maupun pertahanan nirmiliter.

Asas Pemusatan

Kunci utama untuk memenangi perang terletak pada sumber daya


manusia yang diperlengkapi dengan sistem senjata baik sistem senjata,
yang bersifat fisik, maupun tata nilai, yang didukung oleh manajemen yang
andal dalam mendinamisasi segenap usaha pertahanan secara berdaya
dan berhasil guna. Pemusatan kekuatan dilakukan untuk menghasilkan
daya tangkal yang maksimal serta dalam menghadapi dan merespons
setiap ancaman nyata, baik ancaman militer maupun nirmiliter.

Asas Keamanan

Asas keamanan menempatkan keamanan pada porsi yang


cukup tinggi dalam setiap kegiatan, informasi, alat utama dan sistem
persenjataan, serta personel agar tujuan pertahanan negara dapat
terlaksana dan mencapai keberhasilan yang optimal.

56
Asas Kedalaman

Asas kedalaman diwujudkan dalam pola penggelaran kekuatan


militer secara berlapis serta pendayagunaan kekuatan nirmiliter secara
efektif, saling menyokong, dan memperkuat satu sama lain, sehingga
penyelenggaraan perang dapat mencapai sasaran dan berlangsung
secara berkelanjutan.

Asas Keunggulan Moril

    Menyadari bahwa faktor keunggulan moril merupakan salah satu


kunci keberhasilan tugas, maka setiap perjuangan atau usaha pertahanan
negara didasari motivasi yang kuat, semangat juang pantang menyerah,
manajemen yang sehat dan berdaya dukung, serta kepemimpinan yang
berwibawa dan berkemampuan.

Asas Informasi

  Perang di masa datang mengandalkan keunggulan informasi dan


teknologi. Keunggulan informasi diperoleh melalui usaha mengembangkan
kemampuan dalam menganalisis setiap perkembangan lingkungan
strategis serta situasi dalam negeri sehingga terwujud keunggulan
informasi secara akurat dan berlanjut.

Asas Kesemestaan

Kesemestaan diwujudkan dalam keikutsertaan seluruh rakyat


dalam perannya masing-masing, baik melalui pertahanan militer maupun
pertahanan nirmiliter, serta pemberdayaan segenap sumber daya
nasional secara maksimal dalam usaha pertahanan negara. Kesemestaan

57
mengandung makna totalitas bangsa Indonesia dalam menyelenggarakan
perang dan dalam menyelenggarakan pertahanan negara dalam arti luas
untuk mengamankan eksistensi bangsa dan negara serta kepentingan
nasional.

Asas Pendadakan

Tindakan pendadakan diwujudkan melalui persiapan dan


kesiapsiagaan yang dilaksanakan dengan mempertimbangkan faktor
waktu, tempat, dan sasaran. Persiapan dan kesiapsiagaan mencegah
pendadakan dari pihak lawan/musuh sekaligus juga dapat menjadi
pendadakan terhadap lawan/musuh sebelum didahului.

Asas Kesatuan Komando

Kesatuan komando adalah hal yang mutlak dalam suatu


peperangan. Perang terikat pada satu tujuan, ruang dan waktu, serta
pembagian/pemisahan dalam sasaran, sehingga diperlukan pengendalian,
baik terpusat maupun desentralisasi, dalam pelaksanaannya.

Asas Perlawanan Secara Berlanjut

Perang harus dapat diselesaikan secepat mungkin untuk


menghindarkan rakyat dari penderitaan yang besar dan berkepanjangan.
Namun, apabila perang tidak diselesaikan secara singkat, perjuangan
melalui perlawanan yang gigih dan menentukan harus dapat dijaga
keberlanjutannya sampai mencapai tujuan.

58
Asas Tidak Kenal Menyerah

Prinsip dasar bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman


atau lawan yang lebih besar sekalipun adalah semangat dan motivasi
untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan dalam usaha perang adalah
memenangi perang. Sumber daya dapat saja terbatas, tetapi perjuangan
tidak boleh terhenti, yang didasari oleh semangat pantang menyerah.

Asas Keutuhan dan Kesatuan Ideologi dan Politik

Pelaksanaan perang harus didasari oleh keutuhan dan kesatuan


ideologi dan politik. Keanekaragaman ideologi dan politik hanya akan
membawa perpecahan, dan perpecahan selalu berujung kehancuran.
Keutuhan dan kesatuan ideologi dan politik harus didasarkan pada
Pancasila dan UUD 1945 yang telah diyakini kebenarannya dan telah
teruji sepanjang waktu.

Asas Kekenyalan dalam Pikiran dan Tindakan

Situasi selalu berkembang sesuai dengan ruang dan waktu,


maka perlu daya dan kreasi untuk bertindak secara kenyal. Kekenyalan
diperlukan untuk mampu merespons setiap perubahan situasi yang
terjadi dalam dinamika operasi sehingga mampu melaksanakan tugas
secara berhasil.

Pusat Kekuatan Pertahanan Negara


Penyelenggaraan pertahanan negara bertumpu pada kekuatan
dan kemampuan sumber daya manusia, yakni rakyat Indonesia, baik
militer maupun nirmiliter, didukung oleh sistem senjata dan manajemen

59
pertahanan yang handal. Keterpaduan ketiga unsur tersebut menghasilkan
pertahanan negara yang berdaya tangkal tinggi.

Sumber Daya Manusia

Inti kekuatan pertahanan negara terletak pada unsur sumber daya


manusia. Sumber daya manusia adalah faktor determinan kemampuan
pertahanan negara. Indikator sumber daya manusia pertahanan sebagai
inti kekuatan pertahanan terletak pada kualitas intelektual, mental, dan
fisik yang tercermin dalam kondisi yang tanggap, tanggon, dan trengginas.
Untuk mencapai kekuatan pertahanan negara yang andal, kekuatan
militer dan kekuatan nirmiliter harus manunggal dan menguasai sendi-
sendi pertahanan negara.

GAMBAR 2
SDM SEBAGAI PUSAT KEKUATAN PERTAHANAN

Tanggap
(Konseptual) Tanggon
(Moral dan Moril)
* Konsep/Prinsip damai &
Perang * Kepemimpinan
* Doktrin an * Manajemen
* Implementasi Pemikiran * Motivasi
Konseptual

Trengginas
(Fisik)
* Jumlah & kualitas
kekuatan
* Sistem senjata
* Kinerja Kolektif
* Kesiapsiagaan
* Dukungan Sumda

60
Tanggap

Tanggap berarti berdaya tangkap dan penalaran yang tinggi


yang menempatkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai hal yang
fundamental dalam membangun pertahanan. Tanggap merupakan faktor
yang berhubungan dengan kecakapan dalam mengerahkan segenap
indra sehingga secara cepat mengetahui, mencerna dan memahami
gejala yang terjadi. Sumber daya manusia yang tanggap tidak sekedar
diukur dari pribadinya, tetapi menyangkut kemampuan kesatuan yang
berhubungan dengan aspek intelektual yang ditentukan oleh kemampuan
berpikir konseptual, penguasaan akan prinsip damai dan prinsip perang,
serta penguasaan doktrin. Tanggap atau tidaknya sumber daya manusia
ditentukan oleh faktor konseptual yang mencakupi penguasaan akan
konsep dan prinsip penyelenggaraan perang dan perdamaian, doktrin,
serta bagaimana mengimplementasikan pemikiran konseptual tersebut
dalam pola sikap dan pola tindak.

Penguasaan Konsep tentang Prinsip Damai dan Perang

Perang adalah jalan terakhir setelah upaya-upaya diplomasi


menemui jalan buntu. Pertahanan negara disusun dengan strategi
berlapis dan, bila belum berhasil, perang rakyat semesta dalam bentuk
perang gerilya diselenggarakan secara berlanjut sampai dapat mengusir
musuh dari bumi pertiwi.

Penguasaan Doktrin

Doktrin pertahanan menuntun penyelenggaraan pertahanan


negara tentang apa yang harus dipertahankan dan dengan apa

61
mempertahankannya. Doktrin digali dari nilai-nilai perjuangan bangsa
serta dari pengalaman dalam menyelenggarakan usaha-usaha pertahanan,
baik keberhasilan maupun kegagalan, untuk dijadikan pelajaran berharga
dalam mengembangkan konsep-konsep pertahanan selanjutnya. Atas
dasar itu, doktrin harus dipahami, dikembangkan, dan dipedomani.

Implementasi Pemikiran Konseptual

Konsepsi pertahanan negara pada hakikatnya merupakan


hasil pemikiran konseptual dan strategis. Pemikiran konseptual selalu
mengembangkan konsepsi pertahanan negara untuk menjawab tantangan
masa mendatang. Pemikiran konseptual tersebut akan melahirkan
pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan baru dan maju yang
mendorong pengembangan kemampuan pertahanan yang diperlukan
dalam menghadapi kecenderungan perkembangan lingkungan dan
perkembangan zaman. Pemikiran atau gagasan baru dan maju sangat
penting dalam mengembangkan strategi dan kebijakan pertahanan yang
efektif. Pemikiran konseptual mengedepankan sejumlah kemampuan
fundamental pertahanan yang saling berhubungan dan terintegrasi serta
tidak berdiri sendiri. Kemampuan fundamental tersebut meliputi komando,
informasi, persiapan untuk mencegah pendadakan, pengerahan kekuatan,
daya tahan, dan daya dukung.

Komando berhubungan dengan kewenangan atau otoritas, yang


dalam hal ini ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Komando adalah
alat kepemimpinan untuk mencapai tujuan. Komando memerlukan
sarana yang jelas dan responsif untuk mengarahkan, mengkoordinasi,
dan mengontrol kekuatan pertahanan. Informasi adalah hal vital dalam
penyelenggaraan fungsi pertahanan. Informasi merupakan bahan penting

62
suatu Komando. Unsur-unsur penting dalam informasi suatu komando
adalah akurasi, kecepatan, ketepatan, sumber, dan proses.

Persiapan merupakan tahapan yang fundamental untuk mencegah


pendadakan dari pihak lawan. Persiapan kekuatan pertahanan merupakan
fase yang menentukan dalam gelar kekuatan. Persiapan menyangkut
kegiatan untuk merumuskan kebutuhan, sumber daya, memproses,
hingga mencapai kesiapsiagaan.

Pengerahan kekuatan diselenggarakan dalam ruang dan waktu


yang tepat dengan didasari oleh kejelasan tujuan, sasaran, dan tugas yang
diemban. Pengerahan kekuatan menuntut persiapan dan kesiapsiagaan.

Daya tahan meliputi sarana untuk mempertahankan semangat


dan menjaga kesinambungan kemampuan pertahanan dalam menjamin
kelangsungan penyelenggaraan suatu operasi. Tugas pertahanan baik
yang berbentuk perang maupun tugas-tugas pertahanan lainnya,
memerlukan daya tahan yang tinggi. Kekalahan sering terjadi karena
ketidakmampuan memelihara daya tahan. Perang biasanya berlangsung
lama serta menguras energi, semangat, dan sumber daya, sehingga
diperlukan upaya membangun daya tahan yang handal.

Daya dukung meliputi ketersediaan sumber daya guna memelihara


kekuatan untuk mendukung penyelenggaraan pertahanan sampai
tujuan tercapai. Daya dukung sumber daya tidak akan terwujud dengan
sendirinya sehingga penyiapan sumber daya nasional dilaksanakan secara
dini melalui sistem pertahanan negara.

Tanggon

Tanggon berarti dapat diandalkan, ulet, dan tahan uji. Tanggon

63
merupakan faktor yang berhubungan dengan aspek moral sebagai
penentu karakter kesatuan. Tanggon ditentukan oleh moral dan moril
yang terkait langsung dengan semangat tempur, motivasi, kepemimpinan,
dan manajemen.

Motivasi menentukan keberhasilan pelaksanaan tugas, yang


menyangkut hasrat yang timbul atas dasar rasa memiliki, tanggung jawab
dan komitmen akan tujuan bersama. Motivasi adalah hal yang sensitif
sehingga perlu dibangun, dipelihara, dan dipertahankan. Membangun
motivasi membutuhkan sarana, yakni kepemimpinan dan manajemen.
Awal tumbuhnya motivasi adalah kepercayaan pengikut akan apa yang
menjadi tujuan serta kepemimpinan dan manajemen yang mengantarnya
menuju tujuan. Produk motivasi adalah iman dan takwa, jiwa korsa,
kebersamaan, dan kinerja.

Kepemimpinan adalah unsur vital untuk membangun, memelihara,


dan mempertahankan moril. Kepemimpinan berada di segala tingkatan,
dari satuan terkecil sampai yang paling tinggi. Semua pemimpin
harus mengakui bahwa keberhasilan atau kegagalan bergantung pada
keseriusan dan kesungguhan dalam menjalankan tanggung jawab
kepemimpinannya. Kepemimpinan adalah proyeksi dari kepribadian
dan karakter untuk membawa
bawahannya melakukan
apa yang baik dan benar
untuk organisasi, bukan apa
yang baik bagi pemimpin.
Potensi kepemimpinan dapat
dikembangkan melalui pen-
didikan, latihan, dan penugasan

64
yang terancang dan tertata. Kepemimpinan diawali dari disiplin pribadi
sang pemimpin dan merupakan proses yang berkelanjutan dalam
kehidupan sehari-hari. Pemimpin mempromosikan kepada bawahannya
keputusan yang akurat dan tindakan yang menentukan, memberikan
contoh dan nasehat, mendorong dan membangkitkan semangat,
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berkembang, serta
mampu mengukur kemampuan dan batas kemampuan bawahan.

Manajemen adalah pengelolaan sumber daya, yang meliputi


sumber daya manusia, sarana, dan prasarana. Manajemen merupakan
elemen penting bagi tumbuhnya moril. Tanpa manajemen sumber
daya yang baik disertai dukungan administrasi yang memadai, niscaya
pembangunan moril akan sia-sia. Manajemen merupakan atribut
komando, yang menyangkut pemberdayaan sumber daya yang sebaik-
baiknya. Dalam pertahanan, manajemen menjalankan dua peran penting,
yakni aspek ekonomis dari usaha pertahanan serta kesinambungan
usaha pertahanan. Ukuran manajemen yang baik adalah kecakapan atau
kemampuan untuk mencapai keseimbangan yang sehat, bukan karena
surplusnya sumber daya, bukan pula karena keterbatasan sumber daya.

Trengginas

Trengginas memiliki makna ketang-


kasan dalam bertindak, yang merupakan
kemampuan kesatuan yang berhubungan
dengan aspek penampilan yang meman-
carkan kekuatan dan kesiapsiagaan
kesatuan. Trengginas mencakupi kekuatan,
baik secara kuantitas maupun kualitas.

65
Jumlah dan kualitas kekuatan berkaitan dengan SDM; inti
kekuatan pertahanan negara adalah sumber daya manusia pertahanan,
yang secara kuantitas mencukupi kebutuhan pertahanan dan secara
kualitas berkemampuan dan berdaya tahan. SDM pertahanan adalah
unsur yang hidup dinamis, dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan.
SDM berhubungan dengan faktor kesejahteraan dan keadilan sebagai
kebutuhan yang mendasar. SDM sensitif terhadap perubahan ekonomi,
sosial, dan politik sehingga memerlukan penanganan secara komprehensif.
Selain dengan kekuatan, manusia perlu ditopang dengan penguasaan
sistem senjata.

Kinerja Kolektif dapat dicapai melalui pemahaman yang


komprehensif akan doktrin, strategi, konsep-konsep pertahanan
tentang damai dan perang sehingga mencapai kemahiran dalam
mengaplikasikannya ke dalam latihan dan pelaksanaan tugas sehari-
hari. Kinerja kolektif menjadi tanggung jawab pemimpin kesatuan.
Keberhasilan usaha pertahanan sangat ditentukan oleh kinerja kolektif
yang perwujudannya ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Pemimpin
harus mempunyai kemahiran dalam mengembangkan organisasi yang
dipimpinnya. Kinerja kolektif juga harus didukung oleh sarana yang cukup
berupa sumber daya yang siap didayagunakan.

Kesiapsiagaan sebagai faktor trengginas diukur dari tingkat


kesiapsiagaan dari kekuatan pertahanan sebagai hal yang mendasar
dalam usaha pertahanan. Kesiapsiagaan kekuatan pertahanan akan
mencegah pendadakan dari pihak lain, yang memungkinkan keleluasaan
dalam mengembangkan strategi. Perang tidak dapat diperkirakan secara
pasti kapan terjadinya dan kapan berakhirnya, sehingga memerlukan
kepastian dukungan sumber daya dalam jangka panjang.

66
Sosok SDM pertahanan
yang tanggap, tanggon, dan
trengginas menghasilkan
kinerja pertahanan secara
utuh, sebagai kunci menuju
sukses dalam berperang dan
memenangi perang. Untuk
mencapainya, diperlukan
suatu usaha yang dirancang
sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan lingkungan
strategis dan teknologi.

Sistem Senjata dimaksudkan sebagai seluruh kekuatan dan


kemampuan nasional, baik yang bersifat fisik maupun yang tidak
berbentuk fisik, yang diberdayakan bagi  kepentingan pertahanan negara.
Sistem senjata yang bersifat fisik adalah alat utama sistem senjata
(Alutsista) dan peralatan yang memiliki efek penangkal yang tinggi yang
disegani lawan. Kebutuhan untuk memperlengkapi diri dengan sistem
senjata yang berefek daya tangkal perlu ditopang oleh bidang industri
pertahanan yang kuat untuk memproduksi alat utama sistem senjata
yang disegani lawan. Kemandirian di bidang pertahanan harus dibangun
dengan memberdayakan sebesar-besarnya kemampuan bangsa dan
dijaga keberlangsungannya. Sistem senjata yang bersifat fisik mengikuti
perkembangan pada bidang militer.

Sistem senjata juga berupa sistem dan tata nilai yang diwujudkan
dalam semangat patriotisme, nasionalisme, kepemimpinan nasional,
manajemen nasional, diplomasi, psikologi, informasi, sosial budaya, serta
kekuatan ekonomi. Sistem dan tata nilai tersebut merupakan kekuatan

67
bangsa melalui peran serta
negara dalam memerankan
fungsi bela negara. Esensi untuk
memperlengkapi diri dengan
sistem senjata dengan sistem
dan tata nilai diletakkan pada
komitmen Bhinneka Tunggal
Ika yang mengejawantah dalam
semangat bela negara.    

Manajemen Sumber Daya Pertahanan

Penyelenggaraan pertahanan negara sangat bergantung pada


dukungan sumber daya nasional yang dapat ditransformasikan menjadi
sumber daya pertahanan. Esensi manajemen sumber daya pertahanan
adalah pengelolaan sumber daya pertahanan pada masa damai dan
dalam keadaan perang.

Manajemen sumber daya pertahanan sangat kompleks,


mencakupi perencanaan, pengorganisasian, penggunaan, pengawasan,
dan pengkomunikasian segenap sumber daya pertahanan, dari tingkat
kebijakan sampai dengan tingkat operasional. Prinsip fundamental dalam
penyelenggaraan manajemen sumber daya pertahanan adalah efektivitas
pendayagunaan sumber daya untuk mencapai tujuan. Dalam manajemen
sumber daya pertahanan, faktor efisiensi hendaknya tidak menghambat
pencapaian tujuan pertahanan. Kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
dan penggunaan sumber daya harus dilakukan secara profesional melalui
kalkulasi yang cermat dan didukung oleh pengawasan dan komunikasi
yang efektif.

68
Efektivitas penyelenggaraan manajemen sumber daya pertahanan
ditentukan oleh organisasi dan kepemimpinan yang kenyal dan profesional.
Organisasi pertahanan memiliki karakteristik yang kenyal, yakni mampu
beradaptasi dengan dan mewadahi setiap perubahan, tanpa melakukan
perubahan yang radikal. Sifat profesional ditunjukkan oleh pengawakan
organisasi oleh tenaga manusia dengan tingkat kecakapan yang tinggi
yang didukung oleh sistem rekrutmen yang sangat selektif serta suasana
lingkungan kerja yang dinamis. Dalam kerangka itu, organisasi markas-
markas besar termasuk Departemen Pertahanan harus ramping dan padat
teknologi, bukan padat manusia. Tingkat markas besar tidak menganut
sistem kerucut, tetapi lebih mengutamakan pendekatan fungsi yang
berbasis kinerja. Organisasi pada tingkat operasional sampai dengan
kesatuan tingkat lapangan yang terdepan dari pertahanan militer disusun
dengan sistem kerucut, terutama untuk matra darat dan berdasarkan

69
fungsi Alutsista untuk matra laut dan udara.

Organisasi untuk pertahanan nirmiliter, yakni Komponen Cadangan,


disesuaikan dengan sifatnya sebagai komponen untuk memperkuat dan
memperbesar Komponen Utama, yakni TNI. Susunan dan pembinaan
Komponen Cadangan disesuaikan dengan organisasi dan pembinaan TNI
yang terdiri atas matra darat, laut, dan udara dengan kekhasan masing-
masing. Pengorganisasian Komponen Pendukung berdasarkan pada
pengelompokan atau suku komponen pendukung untuk memudahkan
pembinaannya dan berada dalam lingkup kewenangan instansi pemerintah
di luar bidang pertahanan. Pembinaan Komponen Pendukung disesuaikan
dengan garis kebijakan pembangunan nasional yang pelaksanaannya
dipadukan dengan kepentingan pertahanan.

70
PENYELENGGARAAN PERTAHANAN NEGARA

Pertahanan negara diselenggarakan melalui usaha membangun


dan membina kekuatan pertahanan yang menghasilkan daya tangkal
bangsa serta kemampuan mengatasi dan menanggulangi setiap ancaman.
Pertahanan diselenggarakan oleh pemerintah secara dini dengan sistem
pertahanan negara serta strategi pertahanan negara.

Sistem Pertahanan Negara


Pertahanan Negara Indonesia diselenggarakan dalam suatu Sistem
Pertahanan Semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah,
serta segenap sumber daya nasional yang dipersiapkan secara dini oleh
pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan
berlanjut. Sistem Pertahanan Semesta memadukan pertahanan militer
dan pertahanan nirmiliter yang saling menyokong dalam menegakkan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap
bangsa dari segala ancaman. Sistem Pertahanan Semesta dipersiapkan
secara dini oleh pemerintah melalui usaha membangun kekuatan dan
kemampuan pertahanan yang kuat dan disegani baik kawan maupun
calon lawan. Dipersiapkan secara dini berarti Sistem Pertahanan Semesta
dibangun secara terus-menerus sejak masa damai sampai masa perang.

Pada masa damai, Sistem Pertahanan Semesta dibangun untuk


menghasilkan daya tangkal yang tangguh dengan menutup setiap
ruang kelemahan yang dapat menjadi titik lemah. Pembangunan Sistem
Pertahanan Semesta pada masa damai dilaksanakan dalam kerangka
pembangunan nasional yang tertuang dalam program pemerintah yang
berlaku secara nasional.

71
Pada masa perang atau pada kondisi negara menghadapi
ancaman nyata, pemerintah mendayagunakan Sistem Pertahanan Negara
sesuai dengan hakikat ancaman atau tantangan yang dihadapi. Sistem
Pertahanan Negara dalam menghadapi ancaman militer memadukan
pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter dalam susunan Komponen
Utama Pertahanan, yaitu TNI, serta Komponen Cadangan dan Komponen
Pendukung yang terdiri atas warga negara, sumber daya alam, sumber
daya buatan, serta sarana dan prasarana nasional. Komponen Cadangan
dibentuk dari sumber daya nasional yang dipersiapkan untuk dikerahkan
melalui mobilisasi guna memperbesar dan memperkuat kekuatan dan
kemampuan TNI. Mobilisasi merupakan tindakan politik dari pemerintah
melalui pernyataan Presiden untuk mengerahkan dan menggunakan
secara serentak sumber daya nasional serta sarana dan prasarana
nasional sebagai kekuatan pertahanan. Komponen Pendukung adalah
sumber daya nasional selain Komponen Utama dan Komponen Cadangan
yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan
Komponen Utama dan Komponen Cadangan. Komponen Pendukung
dikelompokkan dalam lima suku komponen pendukung, yakni Garda
Bangsa, tenaga ahli sesuai dengan profesi dan bidang keahliannya,
warga negara lainnya, industri nasional, sarana dan prasarana, serta
sumber daya buatan dan sumber daya alam yang dapat digunakan untuk
kepentingan pertahanan.

Garda Bangsa adalah salah satu unsur utama dalam Komponen


Pendukung, yang terdiri atas warga negara yang memiliki kecakapan dan
keterampilan khusus, jiwa juang, kedisiplinan, serta berada dalam satu
garis komando yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan untuk membantu
tugas-tugas pertahanan pada saat negara membutuhkan Komponen
Pendukung. Unsur-unsur Garda Bangsa berasal dari unsur Kepolisian

72
Negara, Satuan Polisi Pamong Praja yang dimiliki Pemerintah Daerah
(Pemda), unsur Perlindungan Masyarakat (Linmas) yang dikoordinir oleh
Pemda, Resimen Mahasiswa yang pembinaannya di bawah perguruan
tinggi, Alumni Resimen Mahasiswa, serta organisasi kepemudaan. Posisi
Polisi Negara ditempatkan dalam Komponen Pendukung didasarkan
pada statusnya sebagai alat negara yang lingkup fungsi dan pendekatan
dalam pelaksanaan fungsinya berbeda dengan tentara. Polisi Negara
adalah warga negara yang memiliki kualifikasi dan keterampilan tinggi
seperti tentara, namun status dan perlakuannya sebagai masyarakat sipil
sehingga tidak dapat secara serta-merta ditransfer sebagai Komponen
Utama. Untuk menjadi Komponen Utama, Polisi Negara terlebih dahulu
menanggalkan status kepolisiannya, dan selanjutnya mengikuti tahapan
rekrutmen sesuai dengan mekanisme untuk menjadi calon prajurit TNI.
Dalam Sistem Pertahanan Semesta, posisi yang paling tepat bagi Polisi
adalah berada dalam Komponen Pendukung dan, karena keterampilannya,
ditempatkan dalam suku Garda Bangsa. Visualisasi komponen pertahanan
negara tampak dalam gambar berikut ini.

73
GAMBAR 3
KOMPONEN PERTAHANAN NEGARA

TNI
KOMPONEN
UTAMA
- Warga Negara
- SDA
KOMPONEN - SDB
CADANGAN - Sar/Pras
Nas

KOMPONEN PENDUKUNG

5 4

SDA, SDB & TA/Profesi : Garda Bangsa


Sar / Pras  Doktor  Polisi
 Paramedis  Polisi PP
Industri  Montir  Linmas
Nasional  Ahli Kimia  Satpam
WN  dll  Menwa
lainnya  Organisasi Kepemudaan
 dll

Pertahanan Militer

Pertahanan militer bertumpu pada TNI sebagai Komponen Utama


yang didukung oleh Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung
yang dipersiapkan dan dikembangkan untuk menghadapi ancaman
militer. Tentara Nasional Indonesia mendinamisasi pertahanan militer
sebagai lapis utama pertahanan negara untuk melaksanakan OMP dan
OMSP. Pertahanan militer dalam melaksanakan OMP didasarkan atas
keputusan politik melalui pengerahan kekuatan oleh Presiden. Dalam
melaksanakan OMP, TNI mengembangkan strategi militer sesuai dengan
hakikat ancaman yang dihadapi dengan memperhatikan kondisi geografi
Indonesia serta sumber daya pertahanan yang tersedia. OMP yang
diselenggarakan TNI dikemas dalam keterpaduan tiga matra (Tri Matra

74
Terpadu). Dalam menyelenggarakan OMP, TNI menggunakan segenap
komponen pertahanan negara yang terdiri atas Komponen Cadangan
dan Komponen Pendukung. Dalam kerangka pertahanan militer, TNI
menyelenggarakan perencanaan strategi dan operasi militer, membina
profesionalisme organisasi dan kekuatan TNI, serta memelihara
kesiapsiagaan operasional.

Gelar kekuatan TNI merupakan bagian vital dari upaya pertahanan


militer, yang pelaksanaannya didasarkan pada pertahanan sebagai fungsi
pemerintahan negara yang tidak diotonomikan. Dalam rangka itu, TNI
digelar di seluruh wilayah Indonesia secara kenyal berdasarkan strategi
pertahanan. Gelar kekuatan TNI di daerah tidak berdasarkan struktur dan
gelar instansi pemerintah, tetapi didasarkan pada strategi pertahanan
dan strategi militer untuk kepentingan penangkalan dan pelaksanaan
operasi militer. Oleh karena itu, kekuatan TNI yang digelar di daerah
bukan merupakan kekuatan organik daerah yang bersangkutan.

Dalam gelar kekuatan TNI tidak mengenal kekuatan organik


dan kekuatan non-organik. Kekuatan TNI adalah organik di seluruh
wilayah Indonesia, bukan pada suatu daerah berdasarkan batas wilayah
administratif sebagaimana ditentukan dalam Otonomi Daerah. Gelar
kekuatan TNI dilaksanakan
oleh TNI pada masa
damai dan pada keadaan
perang. Gelar kekuatan TNI
diselenggarakan berdasarkan
strategi pertahanan negara
dan kekenyalan pelaksanaan
strategi militer. Gelar kekuatan

75
TNI pada masa damai ditujukan untuk mewujudkan daya tangkal
pertahanan, diproyeksikan ke dalam gelar secara Tri Matra Terpadu.
Pertahanan negara adalah fungsi pemerintahan yang tidak diotonomikan.
Maka, wilayah gelar kekuatan TNI adalah seluruh wilayah Indonesia.

Penggunaan Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung


disesuaikan dengan bobot ancaman yang dihadapi, dengan memegang
teguh prinsip-prinsip pembatasan penggunaan masyarakat sipil.
Komponen Cadangan disiapkan guna memperbesar dan memperkuat
Komponen Utama. Status Komponen Cadangan berubah menjadi
kombatan setelah dimobilisasi, dan statusnya sebagai kombatan berakhir
melalui demobilisasi.

Komponen Pendukung dengan unsur-unsur yang terdiri atas


warga negara, sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana
dan prasarana nasional didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan
Komponen Utama dan Komponen Cadangan. Pendayagunaan Komponen
Pendukung tersebut dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung
tergantung kondisi, urgensi kebutuhan, serta fungsi hakiki unsur
Komponen Pendukung yang bersangkutan. Komponen Pendukung yang
tidak dimobilisasikan menjadi kombatan. Status dan perlakuannya diatur
berdasarkan ketentuan mengenai hak-hak sipil.

Pertahanan Nirmiliter

Pertahanan nirmiliter adalah peran serta rakyat dan segenap


sumber daya nasional dalam pertahanan negara, baik sebagai
Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung yang dipersiapkan
untuk menghadapi ancaman militer maupun sebagai fungsi pertahanan

76
sipil dalam menghadapi ancaman
Bahwa Negara Indonesia tidak
nirmiliter. Fungsi pertahanan
cukup dipertahankan oleh tentara
nirmiliter yang diwujudkan saja, maka perlu sekali mengadakan
dalam Komponen Cadangan dan kerjasama yang seerat-eratnya
dengan golongan serta badan-badan
Komponen Pendukung merupakan
di luar tentara. (A manat Pangsar
pelaksanaan dari Undang-Undang diucapkan dihadapan Konf er ensi
Nomor 3 Tahun 2002 tentang T ent ar a Keamanan Rakyat pada
Pertahanan Negara Pasal 7 Ayat t anggal 12 N opember 1945 dan
ber t empat di MT - T KR Yogyakar t a)
(2) dalam menghadapi ancaman
militer.

Fungsi pertahanan sipil dalam menghadapi ancaman nirmiliter


sebagaimana dimaksud UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan
Negara Pasal 7 Ayat (3) terdiri atas fungsi untuk penanganan bencana
alam, operasi kemanusiaan, sosial budaya, ekonomi, psikologi pertahanan
yang berkaitan dengan kesadaran bela negara, dan pengembangan
teknologi. Fungsi-fungsi tersebut merupakan tanggung jawab instansi
pemerintah di luar bidang pertahanan sesuai dengan jenis dan sifat
ancaman yang dihadapi.

Dalam menghadapi ancaman nirmiliter, pengorganisasian


pertahanan nirmiliter disusun ke dalam pertahanan sipil untuk mencegah
dan menghadapi ancaman yang berdimensi ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya, dan teknologi. Dalam kerangka menghadapi ancaman yang
berdimensi keselamatan umum, bentuk pertahanan sipil dilaksanakan
melalui fungsi-fungsi keamanan, antara lain penanggulangan dampak
bencana alam dan bencana yang ditimbulkan manusia, operasi
kemanusiaan, SAR, wabah penyakit dan kelaparan, gangguan pada
pembangkit tenaga listrik dan transportasi, serta aksi pemogokan.

77
Pengorganisasian pertahanan sipil dalam kerangka pertahanan nirmiliter
berbeda dengan struktur sistem pertahanan negara dalam menghadapi
ancaman militer. Pertahanan sipil sebagai bentuk pertahanan nirmiliter
bersifat fungsional dan berada dalam lingkup kewenangan instansi
pemerintah di luar bidang pertahanan (Gambar 4).
GAMBAR 4
Gambar 4

P E R T AHANAN S E ME S T A

HAN MIL HAN NIR MIL


(T N I ) (S U M DA N A S )

K U AT NIR MIL HAN S IP IL


OMP OMS P
1. Atasi separatis . Komp. cad
2. Atasi pemberontak . Komp. duk . Kam Publik
3. Atasi terorisme . Penanganan
4. Pam perbatasan Bencana Alam
5. Pam obvitstrat . Ops Kemanusiaan
6. Pam penerb/pelayaran . Bantuan Sosial
. Ekonomi
7. Pam Presiden/Wapres
. Psikologi Han
8. Bantu pem. binpotnas
. Teknologi
9. Bantu Pemda
10. Bantu Polri
11. Bantu pam tamu neg.
12. Disaster relief
13. Tugas SAR
14. Tugas perdamaian dunia

Inti pertahanan nirmiliter adalah pertahanan melalui usaha tanpa


menggunakan kekuatan senjata dengan pemberdayaan faktor-faktor
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan teknologi. Keterlibatan
warga negara dalam pertahanan nirmiliter diwujudkan melalui profesi,
pengetahuan dan keahlian, serta kecerdasan dalam pembangunan
nasional dan dalam penyelenggaraan pertahanan negara, baik langsung

78
maupun tidak langsung, untuk mencapai kesejahteraan masyarakat
yang berkeadilan, sehingga merupakan daya tangkal bangsa. Dalam
penyelenggaraan fungsi pemerintahan, pertahanan nirmiliter berada
dalam lingkup fungsi departemen/lembaga pemerintah non departemen
(LPND) melalui penyelenggaraan pembangunan nasional yang dirancang
dengan mengintegrasikan kepentingan kesejahteraan dan kepentingan
pertahanan.    Unsur utama dalam pertahanan nirmiliter adalah
unsur pemerintah dan nonpemerintah dalam fungsi dan kapasitasnya
memberdayakan sumber daya nasional.

Pertahanan nirmiliter tidak terbatas pada perwujudan daya tangkal


bangsa melalui pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat yang
berkeadilan. Dalam kondisi negara menghadapi agresi atau invasi dari
negara lain yang mengancam NKRI, fungsi pertahanan nirmiliter berperan
dalam upaya pertahanan sesuai dengan lingkup fungsinya masing-masing
dalam Sistem Pertahanan Semesta. Pertahanan nirmiliter tampil untuk
mendinamisasi segenap potensi dan kekuatan nasional untuk memperkuat
upaya pertahanan secara militer. Pertahanan nirmiliter dalam hal ini
melaksanakan langkah-langkah nirmiliter untuk memberikan tekanan
politik melalui upaya diplomasi, diperkuat oleh pendinamisasian kekuatan
ekonomi, keuangan dan moneter, sosial, psikologi, serta teknologi dan
informasi untuk menggagalkan niat lawan. Langkah-langkah nirmiliter
dikerahkan sebagai bentuk perlawanan pantang menyerah dalam
mempertahankan kelangsungan bangsa dan negara.

Kerangka perang rakyat semesta diwujudkan dalam Perang gerilya


dengan perlawanan bersenjata dan perlawanan tidak bersenjata sebagai
satu kesatuan perjuangan. Perang gerilya dengan perlawanan fisik
bersenjata dilaksanakan oleh pertahanan militer sebagai inti kekuatan

79
dan diselenggarakan dalam unit-unit perlawanan dalam satuan kecil
dan terbesar untuk menguras kekuatan lawan sampai akhirnya dapat
melancarkan serangan yang menentukan untuk menghancurkan dan
mengusir lawan dari bumi Indonesia. Perlawanan tidak bersenjata adalah
bentuk perlawanan yang dilaksanakan dengan mendayagunakan faktor-
faktor diplomasi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama, teknologi, dan
informasi.

Strategi Pertahanan Negara


Strategi pertahanan adalah hal yang sangat vital yang menentukan
keberhasilan upaya pertahanan negara. Strategi pertahanan tidak statis,
tetapi selalu dinamis mengikuti perkembangan sifat dan karakteristik
perang serta revolusi pada bidang militer secara global. Perang pada
Abad XXI memiliki sifat dan karakteristik yang jauh berbeda dengan
perang pada abad sebelumnya. Perang pada Abad XXI adalah perang
yang sifatnya semakin kompleks yang melibatkan faktor-faktor nirmiliter
dan militer. Penghancuran suatu negara tidak selalu dengan perang fisik
dengan iring-iringan konvoi kekuatan militer, tetapi dapat pula dengan
melemahkan kekuatan ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya.
Perang yang berbasis nirmiliter lebih mengemuka dibandingkan dengan
perang yang berbasis kekuatan militer. Persaingan antarnegara di era
globalisasi akan jauh lebih ketat. Setiap negara akan berlomba untuk lebih
unggul dan mengembangkan hegemoni atas negara lain. Perang yang
berdimensi nirmiliter jauh lebih berbahaya karena mandala perangnya
bersifat maya, tidak kelihatan, tidak bersifat fisik, sehingga tidak mudah
untuk dideteksi dan sering kali terlambat untuk diantisipasi.

Perang pada Abad XXI mengandalkan keunggulan teknologi

80
persenjataan, profesionalisme prajurit, dan manajemen yang modern.
Perang di masa mendatang yang berbasis kekuatan militer akan lebih
banyak mempertontonkan kecanggihan persenjataan dengan akurasi
tinggi dan penguasaan ruang untuk melumpuhkan kekuatan strategis suatu
negara serta mobilisasi logistik yang sangat tinggi. Perang antarnegara
dengan pola “satu-lawan-satu” akan semakin ditinggalkan dan beralih
kepada pola kekuatan multinasional atau kekuatan sekutu melawan suatu
negara yang kekuatannya lebih kecil. Karena itu, penyusunan strategi
pertahanan harus secara cermat dan cerdas mengikuti perkembangan
lingkungan strategis dan revolusi di bidang militer sehingga secara tepat
dapat mempersiapkan alokasi sumber daya nasional yang didayagunakan
menjadi kekuatan pertahanan. Strategi pertahanan negara berada pada
tataran politis, berbeda dengan strategi militer yang berada pada tataran
operasional militer. Strategi pertahanan negara berhubungan erat dengan
politik pertahanan negara yang bertujuan untuk mempertahankan
kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI serta menjamin
keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman, baik dari luar
maupun yang timbul di dalam negeri.

Untuk mewujudkan tujuan pertahanan, strategi pertahanan


dirancang dalam kerangka politik Indonesia yang bebas aktif disesuaikan
dengan karakteristik geografi, demografi, serta kondisi sosial Indonesia
yang berada dalam posisi silang yang menjadi pelintasan dunia. Efektivitas
strategi pertahanan ditentukan oleh desain postur pertahanan yang
memadukan pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter sebagai satu
kesatuan pertahanan yang saling memperkuat dan saling menyokong.

Dalam kerangka defensif aktif, pertahanan Indonesia yang berefek


keluar tidak agresif dan tidak ekspansif sejauh kedaulatan negara,

81
keutuhan wilayah, serta keselamatan segenap bangsa serta kepentingan
nasional tidak terancam. Pertahanan dengan sifat defensif aktif menjadi
dasar untuk tidak terikat atau ikut serta dalam suatu pakta pertahanan
dengan negara lain.

Politik pertahanan yang defensif aktif tersebut mendasari


pengelolaan pertahanan dengan strategi pertahanan berlapis yang
bertumpu pada kemampuan sendiri dari bangsa Indonesia tanpa
menggantungkan pertahanan negara pada negara lain. Atas dasar sikap
dan pandangan tersebut, strategi pertahanan berlapis merupakan pilihan
strategi yang tepat yang memadukan lapis pertahanan militer dan lapis
pertahanan nirmiliter sebagai satu kesatuan pertahanan yang saling
menyokong dalam menangkal dan menghadapi setiap bentuk ancaman.
Lapis pertahanan militer yang berintikan TNI merupakan kekuatan
utama pertahanan negara serta diperkuat oleh Komponen Cadangan
dan Komponen Pendukung sebagai kekuatan pertahanan negara
yang dibangun dan dipersiapkan dalam menangkal dan menghadapi
ancaman militer. Lapis pertahanan nirmiliter dibangun dan dipersiapkan
dalam menangkal dan menghadapi ancaman nirmiliter. Berdasarkan
sifat dan jenis ancaman nirmiliter, susunan lapis pertahanan nirmiliter
menggambarkan fungsi-fungsi keamanan publik serta fungsi-fungsi
yang merespons dampak bencana, operasi kemanusiaan, fungsi sosial,
ekonomi, psikologi, dan teknologi.

Strategi pertahanan berlapis dengan sifat defensif aktif


dikembangkan sedemikian rupa guna mencapai fleksibilitas yang tinggi
dalam mencegah dan meniadakan setiap ancaman serta menghindari
pendadakan oleh pihak lawan. Strategi pertahanan berlapis pada
hakikatnya pertahanan total yang diselenggarakan dengan pusat

82
kekuatan melalui dukungan rakyat dengan memadukan komponen
pertahanan militer dan nirmiliter baik dalam penangkalan maupun dalam
mengatasi ancaman. Konsep pertahanan negara disusun secara fleksibel
dan aktif sehingga apabila terdapat usaha atau niat negara lain yang ingin
menyerang Indonesia, sistem pertahanan negara mampu mengambil
inisiatif untuk melakukan langkah-langkah atau tindakan sebelum lawan
menyerang Indonesia.

Konsepsi pertahanan negara dengan strategi pertahanan berlapis


dikembangkan dalam kerangka untuk menjawab tuntutan kebutuhan
pertahanan dalam menghadapi tantangan dan dinamika lingkungan
strategis yang berimplikasi pada spektrum ancaman terhadap eksistensi
negara. Kerangka strategis pertahanan berlapis tersebut disusun dalam
tiga kerangka utama strategi pertahanan, yakni penangkalan, menghadapi
dan mengatasi ancaman militer, serta menghadapi dan menanggulangi
ancaman nirmiliter yang berimplikasi terhadap eksistensi NKRI serta
dalam keikutsertaan bangsa Indonesia untuk mewujudkan perdamaian
dan ketertiban dunia.

Penangkalan
Penangkalan adalah substansi yang paling fundamental dari
strategi pertahanan. Strategi pertahanan modern tidak sekadar
bagaimana upaya pertahanan negara menghancurkan musuh, tetapi
bagaimana menciptakan kondisi yang mempengaruhi calon lawan
mengurungkan niatnya untuk menyerang. Upaya penangkalan diarahkan
untuk semaksimal mungkin membangun kesan bagi calon lawan bahwa
menyerang Indonesia akan berujung pada kegagalan dan kehancuran
memalukan.

83
Sebagai bangsa yang tidak berada dalam suatu sekutu pertahanan
dengan negara lain, kemampuan penangkalan Indonesia menjadi
tumpuan dalam mempertahankan diri di tengah dinamika lingkungan
strategis. Penangkalan Indonesia dibangun dalam strategi pertahanan
berlapis yang memadukan lapis pertahanan militer dan lapis pertahanan
nirmiliter sebagai satu kesatuan pertahanan. Lapis pertahanan militer
mengandalkan kekuatan senjata yakni Alutsista yang andal dengan
prajurit yang terampil dan profesional untuk melaksanakan OMP dan
OMSP. Sedangkan lapis pertahanan nirmiliter mengandalkan kemampuan
dan usaha pertahanan tidak bersenjata dengan mendayagunakan faktor-
faktor ideologi, diplomasi dan politik, ekonomi, psikologi, sosial budaya,
dan teknologi.

Penangkalan dibangun untuk mewujudkan kesiapsiagaan segenap


kekuatan dan kemampuan yang menampilkan efek penangkalan ke luar
dan ke dalam. Efek penangkalan ke luar diarahkan untuk mengembangkan
kekuatan dan kemampuan pertahanan yang disegani minimal di tingkat
regional, yakni di kawasan Asia Tenggara dan kawasan yang mengitari
Indonesia. Penangkalan yang berefek ke dalam adalah membangun
kemampuan pertahanan untuk menghasilkan daya penangkal bagi
setiap potensi ancaman yang bersumber dari dalam negeri sekaligus
memberikan efek ganda dalam mendorong percepatan pembangunan
nasional mencapai tingkat kemajuan yang cukup tinggi.

Konsep penangkalan yang dibangun dan dikembangkan untuk


mencegah setiap bentuk ancaman adalah penangkalan dengan cara
penolakan sekaligus penangkalan dengan cara pembalasan.

Penangkalan dengan cara penolakan mengandalkan kekuatan


pertahanan militer dengan keunggulan Alutsista yang dimiliki serta

84
dukungan pertahanan nirmiliter yang membuat pihak-pihak yang berniat
mengancam Indonesia, baik aktor negara maupun aktor bukan negara,
merasa gentar dan membatalkan niatnya. Penangkalan secara penolakan
diwujudkan ke dalam postur pertahanan militer yang dibangun sampai
pada tingkat kekuatan, kemampuan, dan gelar kekuatan yang mampu
mengawal dan mengamankan wilayah NKRI dari ancaman militer lawan
yang bersifat konvensional. Untuk mewujudkan penangkalan secara
penolakan, postur pertahanan militer berbasis kemampuan Alutsista
yang modern dengan ukuran kekuatan jauh di atas kemampuan kolektif
yang dimiliki oleh negara-negara di sekeliling.

Penangkalan secara penolakan dalam tingkatan tertentu,


khususnya menghadapi ancaman agresi, merupakan pertahanan berbasis
Alutsista yang ideal yang berkonsekuensi memerlukan pengalokasian
anggaran pertahanan yang sangat besar. Upaya untuk membangun
kekuatan pertahanan dengan standar penolakan akan mengorbankan
sektor-sektor pembangunan nasional di luar bidang pertahanan, sehingga
model ini sangat sulit diwujudkan tanpa diikuti dengan pertumbuhan dan
kesejahteraan yang cukup tinggi.

Penangkalan dengan cara pembalasan adalah konsep penangkalan


yang mengandalkan kemampuan balas yang hebat yang timbul dari
perlawanan rakyat tanpa mengenal menyerah. Penangkalan dengan
pendekatan pembalasan adalah pilihan strategi bagi negara yang tidak
memiliki kekuatan senjata nuklir atau yang tidak memiliki keunggulan
kekuatan militer konvensional.

Konsep penangkalan dengan pendekatan pembalasan sangat


efektif untuk menghadapi ancaman agresi atau invasi militer dari negara
yang kekuatan militernya lebih kuat. Konsep penangkalan dengan

85
pembalasan dikembangkan untuk mampu menyelenggarakan perang
berlarut dengan keunggulan pada perlawanan gerilya yang efektif untuk
menguras kekuatan lawan yang unggul teknologi persenjataan sehingga
membuatnya frustrasi dan pada akhirnya tidak mampu lagi melanjutkan
tindakannya. Indonesia di masa perjuangan merebut kemerdekaan
berhasil menggunakan strategi penangkalan dengan pola pembalasan
dengan memadukan perlawanan secara bersenjata dan perlawanan
tanpa senjata dengan taktik perang gerilya dan pada saat menentukan
melakukan aksi balas yang dahsyat memaksa penjajah menelan
kekalahan.

Untuk mewujudkan penangkalan yang efektif dan andal,


pembangunan nasional menjadi kunci keberhasilan yang harus didorong
bersama. Langkah-langkah strategis untuk mewujudkan penangkalan
harus ditempuh dengan cakupan pembangunan SDM berkualitas, sehat,
cerdas, dan berdaya saing pengelolaan SDM dan SDB secara tetap
dalam suatu manajemen nasional yang sehat, serta pembangunan dan
penataan sarana dan prasarana nasional untuk membuka akses secara
luas di seluruh wilayah Indonesia.

Strategi penangkalan Indonesia menyinergikan instrumen politik,


ekonomi, psikologi, teknologi, dan militer.

Instrumen Politik

Politik merupakan salah satu instrumen utama yang menopang


suatu bangsa di samping instrumen lainnya seperti ekonomi, sosial budaya,
teknologi, dan militer. Dalam konteks pertahanan negara, instrumen
politik merupakan kekuatan nasional yang efektif untuk menyelesaikan
bentuk-bentuk konflik. Kekuatan politik terletak pada kemampuan

86
diplomasi untuk memperjuangkan kepentingan nasional, termasuk untuk
membangun kepercayaan dalam kerangka mencegah konflik antarnegara.
Kemampuan diplomasi bersandar pada kualitas dan integritas pengemban
fungsi diplomasi. Di samping itu, kemampuan diplomasi ditentukan oleh
reputasi dan kredibilitas pemerintah dalam mengelola pemerintahan
negara. Upaya diplomasi akan efektif apabila didukung oleh instrumen
ekonomi dan militer yang memadai dan berkemampuan tinggi sehingga
menghasilkan posisi tawar yang tinggi. Pertahanan militer merupakan
kekuatan yang efektif untuk memperkuat upaya diplomasi yang dilakukan
oleh fungsi pertahanan nirmiliter. Pertahanan militer pada akhirnya menjadi
kekuatan negara yang disiapkan untuk dikerahkan guna melakukan
tahapan lanjutan dari upaya pertahanan apabila diplomasi mengalami
jalan buntu.

Pertahanan Indonesia yang diselenggarakan dengan bersandar


pada kekuatan sendiri adalah semangat untuk mengandalkan
penyelenggaraan pertahanan negara pada kekuatan nasional
sebagai modal dasar untuk diberdayakan semaksimal mungkin tanpa
menggantungkan diri kepada negara lain. Namun, hal itu tidak berarti
menutup kemungkinan bekerja sama dengan negara lain. Meskipun
tidak melibatkan diri dalam suatu pakta pertahanan, Indonesia dengan
kemampuan diplomasi tetap menggalang komunikasi dengan negara-
negara lain yang memberikan efek penangkalan dengan mengembangkan
pola jaringan laba-laba yang terintegrasi pada tingkat nasional, regional
dan supra regional. Pada tingkat nasional, hal itu dikembangkan dalam
wujud jaringan terpadu ketahanan nasional di tingkat pusat dan daerah,
di perkotaan dan pedesaan, serta wilayah perbatasan dan daerah
terpencil, termasuk pulau-pulau kecil terdepan. Di tingkat regional,
hal itu berupa jaringan kerja sama dengan negara-negara di kawasan

87
Asia Tenggara (ASEAN), yakni Masyarakat Ekonomi ASEAN, Masyarakat
Budaya ASEAN, serta Masyarakat Keamanan ASEAN, untuk membangun
kohesi sesama anggota kawasan yang mampu mereduksi potensi konflik
serta bersama-sama mencegah potensi ancaman dari luar kawasan.
Di tingkat supraregional, dilakukan pemberdayaan ASEAN plus Enam,
Forum Regional ASEAN (ARF), Organisasi Negara-negara Non-Blok,
serta PBB untuk mempromosikan konsep-konsep penyelesaian damai
sebagai modalitas untuk mencegah konflik serta mewujudkan dunia yang
damai.

Instrumen Ekonomi

Ekonomi merupakan hal mendasar yang menyangkut kelangsungan


hidup suatu bangsa. Instrumen ekonomi mencakupi sumber daya alam,
sumber daya buatan, moneter, fiskal, dan perdagangan. Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi akan memberikan kontribusi penting bagi
stabilitas nasional. Ekonomi yang sehat dan stabil akan memungkinkan
pembangunan pertahanan berjalan dengan baik. Indonesia dengan
kekayaan sumber daya alam yang dimiliki perlu dikelola dengan
baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang
berkeadilan. Masyarakat Indonesia yang sejahtera akan memiliki
kebanggaan untuk menjadi bangsa Indonesia. Tumbuhnya nasionalisme
untuk rela berkorban bagi bangsa dan negara bermula dari kebanggaan
menjadi bangsa Indonesia. Dalam strategi pertahanan defensif aktif,
sektor ekonomi harus mengambil peran konkret, melalui pembangunan
sektor ekonomi yang sehat sehingga mencapai tingkat pertumbuhan
yang cukup tinggi. Kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan
negara-negara lain dibangun secara mutualistik, dengan memanfaatkan
sektor-sektor ekonomi unggulan yang memiliki posisi tawar tinggi

88
sehingga dapat digunakan dalam menerapkan strategi defensif aktif.
Indonesia harus dapat bertahan dalam menghadapi tekanan ekonomi
negara lain. Dalam kondisi Indonesia dikenai restriksi, embargo, atau
sanksi ekonomi dalam skala besar berupa blokade ekonomi, Indonesia
harus dapat mengatasinya dengan kemampuan ekonomi sendiri. Oleh
karena itu aspek ekonomi harus dibangun pada tingkat yang cukup tinggi
untuk menghindari risiko ekonomi yang berimplikasi pada pertahanan.
Dalam konteks defensif aktif, ekonomi harus menjadi instrumen penekan
terhadap negara lain yang mengancam Indonesia. Sumber daya alam
yang menjadi andalan dan menjadi ketergantungan negara-negara
industri perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk mempertinggi posisi tawar
Indonesia, baik dalam hubungan bilateral maupun hubungan yang lebih
luas. Dalam era globalisasi, ekonomi dan perdagangan menjadi faktor
utama. Dalam hal ini, Indonesia perlu menempatkan diri sebagai pemain,
tidak sekedar hanya menjadi pasar dari produk-produk negara lain.

Instrumen Psikologi

Dalam perang modern, aspek psikologis merupakan salah satu


faktor penting yang dikembangkan dalam menyusun strategi pertahanan.
Aspek psikologis sebagai instrumen penangkalan dikembangkan
melalui pembangunan nasional untuk memperkuat persatuan dan
kesatuan bangsa serta menumbuhkan nasionalisme, patriotisme, dan
militansi bangsa Indonesia untuk mencintai dan membela NKRI. Untuk
menumbuhkan rasa kebangsaan dan percaya diri bangsa sebagai
faktor psikologis yang berdimensi penangkalan, pemerintah perlu
menghidupkan kembali upaya-upaya untuk menanamkan nilai-nilai
nasionalisme dan patriotisme dengan menggunakan media massa dan
alat-alat komunikasi massa seperti film, tayangan televisi, surat kabar, dan

89
buku-buku pelajaran. Film-film perjuangan dapat menjadi media untuk
mengomunikasikan kepada generasi muda tentang pahit-getirnya usaha
untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam hal
ini, pemerintah dapat memfasilitasi pembuatan film-film dokumenter dan
mengikutsertakan pengusaha-pengusaha dalam negeri untuk ikut terlibat
dalam pembuatannya dan mempromosikannya kepada masyarakat.

Instrumen Teknologi

Ciri pertahanan modern adalah pertahanan berbasis teknologi


sesuai perkembangan dalam bidang militer (Revolution in Military
Affairs - RMA). Instrumen teknologi mencakupi dimensi Alutsista, sistem
informasi, serta industri yang mendukung pertahanan.

Secara global, revolusi di bidang


militer berkembang sangat pesat dan
mempengaruhi konsepsi pertahanan
di bidang doktrin, strategi pertahanan,
serta postur dan kebijakan pertahanan
setiap negara. Substansi RMA yang
paling menonjol adalah di bidang teknologi. Dalam strategi penangkalan,
teknologi memegang peranan penting. Ketergantungan pada negara
lain di bidang teknologi akan berdampak terhadap daya tangkal bangsa.
Sebaliknya, kemandirian dalam bidang teknologi, terutama teknologi
militer, berefek terhadap peningkatan daya tangkal bangsa. Dalam
rangka mewujudkan penangkalan di bidang teknologi, sektor pertahanan
negara mendorong usaha-usaha untuk tumbuh dan berkembangnya
industri pertahanan yang kuat dan berdaya saing. Industri pertahanan
dikembangkan untuk mampu memproduksi Alutsista dan alat peralatan

90
kebutuhan sektor pertahanan secara berkesinambungan. Untuk
mewujudkan kemandirian pertahanan di bidang teknologi, khususnya
industri pertahanan, kemampuan SDM Indonesia akan didorong dan
diberi ruang sebesar-besarnya untuk mengembangkan karya-karyanya.

Instrumen Militer

TNI merupakan instrumen utama kekuatan nasional dalam rangka


mendukung kepentingan nasional bersama-sama dengan instrumen
lainnya.  Kekuatan militer digunakan sebagai langkah terakhir apabila
cara-cara nirmiliter gagal untuk melindungi kepentingan nasional.

Penggunaan kekuatan militer sebagai jalan terakhir merupakan


filosofi bahwa perang merupakan kelanjutan dari politik dengan cara
lain.    Upaya diplomasi akan mencapai hasil yang maksimal apabila
didukung oleh kekuatan militer. Pada tataran politis, dukungan kekuatan
militer terhadap upaya diplomasi ditentukan oleh kondisi instrumen militer
yang dibangun dalam postur pertahanan negara yang kuat dan berdaya
tangkal tinggi yang mencakupi prajurit yang profesional, Alutsista yang
andal dan sebanyak mungkin diproduksi sendiri, manajemen pertahanan
yang efektif, serta kepemimpinan
militer yang kuat dan disegani.
Pada tataran strategis, dukungan
militer terhadap upaya diplomasi
diwujudkan dalam pamer
kekuatan militer, kesiapsiagaan
kekuatan militer yang prima,
serta hubungan TNI-rakyat yang
harmonis dan bersinergi.

91
Dalam pola defensif aktif, kekuatan militer harus dibangun untuk
mempunyai kemampuan yang berdaya tangkal memadai sehingga
disegani oleh negara lain. Pembangunan kemampuan militer tersebut
dilakukan selain atas dasar pertimbangan kemampuan ekonomi negara,
juga analisis risiko kemungkinan ancaman terhadap NKRI.

Susunan kekuatan pertahanan militer meliputi TNI Angkatan Darat,


TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara, didukung oleh Komponen
Cadangan dan Komponen Pendukung. Pertahanan militer dikembangkan
dalam keterpaduan Tri Matra, yakni matra darat, matra laut dan matra
udara, tanpa meninggalkan ciri khas matra, baik dalam operasi gabungan
maupun operasi khas matra masing-masing.

Penggunaan kekuatan TNI, baik dalam rangka menghadapi


ancaman maupun dalam hal membantu fungsi pemerintahan di luar
fungsi pertahanan, diselenggarakan dalam pola operasi militer.

Dalam menghadapi ancaman militer yang berakibat langsung


terhadap kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, TNI menyelenggarakan
operasi militer untuk perang (OMP). Pelaksanaannya melalui keputusan
politik yang tertuang dalam pengerahan kekuatan TNI oleh Presiden.
Bentuk-bentuk ancaman yang dihadapi dengan pola OMP mencakupi
agresi militer dari negara lain atau jenis ancaman militer lainnya yang
secara langsung mengancam kedaulatan negara dan keutuhan wilayah,
seperti pelanggaran wilayah dan pemberontakan bersenjata. Sedangkan
ancaman militer yang bentuknya bukan agresi militer dan tingkat
risikonya diperkirakan tidak berpengaruh langsung terhadap kedaulatan
negara dan keutuhan wilayah dihadapi dengan OMSP. Bentuk-bentuk
ancaman militer dimaksud termasuk kegiatan spionase, sabotase, aksi
teror bersenjata oleh jaringan terorisme, ancaman keamanan di laut dan

92
udara, penangkapan ikan secara ilegal, dan konflik komunal.

Tugas-tugas perbantuan TNI melalui pelibatan kekuatan TNI dalam


fungsi instansi pemerintah di luar fungsi pertahanan, termasuk tugas
perdamaian dunia, diselenggarakan dalam pola OMSP. Pelaksanaannya
atas permintaan dari pihak yang memerlukan bantuan. Khusus untuk
tugas perdamaian dunia, pelibatan kekuatan TNI dilaksanakan atas
keputusan politik pemerintah serta berada di bawah mandat PBB, atau
atas kesepakatan regional yang bersifat mengikat untuk tugas perdamaian
di kawasan.

Mengatasi Ancaman Militer

Lingkungan strategis yang sangat dinamis menyebabkan kondisi


global dan regional yang tidak menentu. Kondisi ketidakpastian tersebut
juga mengakibatkan hakikat ancaman menjadi semakin kompleks dan sulit
diprediksi. Dinamika lingkungan strategis yang tidak menentu tersebut
menuntut pertahanan negara untuk dipersiapkan dalam menghadapi
kemungkinan yang berubah secara tiba-tiba sehingga tidak terdadak
oleh ancaman yang berkembang cepat.

Menghadapi Ancaman Agresi

Dengan kondisi ketidakpastian, perkiraan ancaman dalam beberapa


waktu mendatang sulit diprediksi. Atas dasar itu, pertahanan negara harus
dipersiapkan untuk menghadapi kondisi terburuk atau perkembangan
yang berlangsung secara tiba-tiba, termasuk untuk menghadapi ancaman
agresi atau ancaman militer lain yang bersifat aktual. Strategi pertahanan
dalam menghadapi ancaman aktual disesuaikan dengan jenis ancaman
dan besarnya risiko yang dihadapi.

93
Dalam menghadapi ancaman militer yang berbentuk agresi, strategi
pertahanan yang dipersiapkan adalah strategi pertahanan berlapis dalam
kerangka perang total dengan menempatkan pertahanan militer sebagai
inti kekuatan. Hal itu dilaksanakan dengan OMP melalui pengerahan
dan pendayagunaan segenap kekuatan nasional yang mengintegrasikan
kekuatan bersenjata dan perlawanan rakyat secara terpadu dan saling
menyokong.

Perang di masa datang adalah


perang yang mengandalkan keunggulan
teknologi, kecanggihan Alutsista dengan
presisi tinggi, serta penguasaan ruang
sebagai medan laga yang jauh lebih
efektif. Menghadapi ancaman militer
yang berbentuk agresi dalam konteks perang masa datang menuntut
penguasaan ruang dan waktu serta pendayagunaan sumber daya nasional
secara efektif yang dilandasi oleh persatuan dan kesatuan dengan
semangat pantang menyerah untuk membela NKRI. Fungsi pertahanan
militer harus tetap memelihara keutuhan organisasi sehingga perlawanan
tetap dapat dikendalikan dan diorganisasikan. Fungsi pertahanan
nirmiliter pun harus mampu memberikan dukungan bagi kelanjutan
usaha pertahanan menghadapi ancaman nyata.

Menghadapi Ancaman Militer yang Bukan Agresi

Ancaman militer tidak selalu dihadapi dengan kekuatan pertahanan


penuh melalui OMP. Ancaman militer yang bukan agresi mempunyai skala
yang lebih terbatas serta aktor-aktor yang tidak selalu harus dihadapi
dengan pengerahan kekuatan secara total. Untuk itu, strategi pertahanan

94
untuk menghadapinya diselenggarakan melalui OMSP dan penerapan
pertahanan berlapis yang disesuaikan dengan skala ancaman.

Dalam menghadapi ancaman militer yang bukan agresi, pertahanan


yang dimiliki, baik militer maupun yang bersifat nirmiliter, harus dapat
memainkan strategi untuk secepat-cepatnya menuntaskannya, sehingga
tidak berdampak terhadap aspek-aspek kehidupan secara meluas. Strategi
pertahanan dengan pendekatan militer dan nirmiliter dikembangkan secara
efektif untuk menekan risiko sampai sekecil-kecilnya dan memperbesar
hasil yang dicapai.

Menghadapi Ancaman Nirmiliter melalui Peran Lintas Lembaga

Menghadapi ancaman nirmiliter yang berimplikasi melemahkan


kekuatan bangsa merupakan fungsi lembaga pemerintah di luar
bidang pertahanan. Departemen Pertahanan selaku pengemban fungsi
pemerintah di bidang pertahanan berfungsi dalam memberikan “koridor”
untuk dapat disinkronkan dengan penyelenggaraan pertahanan negara
dengan pendekatan pertahanan militer. Sebagaimana ancaman yang
berdimensi nirmiliter, pada skala atau eskalasi tertentu dia berimplikasi
mengganggu eksistensi dan kepentingan nasional, penanganannya
dilakukan melalui pola yang berbeda dengan pendekatan penanganan
ancaman militer.

Sistem pertahanan negara dalam menghadapi kondisi ketika negara


menghadapi ancaman aktual berupa ancaman nirmiliter menempatkan
lapis pertahanan nirmiliter sebagai unsur utama. Lapis pertahanan
nirmiliter yang menjadi unsur utama diperankan oleh departemen/LPND
yang fungsinya terkait langsung atau paling dominan dengan ancaman
nirmiliter yang dihadapi.

95
Pertahanan nirmiliter dalam menghadapi ancaman nirmiliter
diwujudkan dalam peran dan lingkup fungsi departemen/LPND di luar
bidang pertahanan melalui penyelenggaraan pembangunan nasional
sesuai dengan bidangnya masing-masing. Secara konseptual, penanganan
isu-isu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan
menjadi fokus dari strategi pertahanan nirmiliter. Langkah-langkah
strategis ditempuh melalui pendidikan, kesehatan, penegakan hukum,
dan keteladanan kepemimpinan yang pelaksanaannya diselaraskan
dengan pembangunan di bidang ekonomi dan sektor pembangunan
lainnya seperti politik, ideologi, dan militer. Pendidikan tidak sekadar
untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi harus dapat
menanamkan hal fundamental, yakni wawasan kebangsaan, rasa cinta
tanah air, nasionalisme, dan patriotisme, maka pendidikan harus dikelola
secara profesional dengan orientasi membangun manusia Indonesia
yang berkualitas dan berdaya saing untuk menghadapi tantangan di
era globalisasi. Sektor kesehatan menjalankan fungsi layanan publik
untuk mengatasi permasalahan di bidang kesehatan bagi pembentukan
masyarakat Indonesia yang berkualitas dengan memberikan porsi yang
cukup besar bagi masyarakat yang tingkat ekonominya rendah. Penegakan
hukum adalah hal yang vital dalam mengatasi ancaman nirmiliter,
melalui pembenahan kinerja aparat penegak hukum serta distribusi
keadilan tanpa diskriminasi. Penegakan hukum juga ditekankan pada
penanganan penyebaran narkoba dan penyebaran virus HIV/AIDS serta
penanganan kasus-kasus kejahatan dengan seadil-adilnya tanpa pandang
bulu. Di atas semuanya, kepemimpinan yang diteladankan menjadi kunci
bagi terlaksananya strategi mengatasi isu-isu yang berdimensi sosial.
Kepemimpinan yang diteladankan harus dapat ditegakkan ditingkat
nasional (eksekutif, legislatif, dan kekuasaan peradilan), di tingkat

96
partai politik serta organisasi kemasyarakatan, ilmuwan, dan agama.
Selanjutnya, kepemimpinan yang diteladankan mendinamisasi penguatan
karakter dan identitas bangsa Indonesia dengan mengelola keberagaman
masyarakat Indonesia dalam suku bangsa, bahasa, dan budaya sehingga
menjadi kekuatan pemersatu bangsa dalam menggerakkan roda
pembangunan nasional, sekaligus kekuatan yang mencegah nilai-nilai
luar yang merugikan.

Dengan mengingat pada skala tertentu penanganan ancaman


nirmiliter memerlukan bantuan fungsi lain di luar unsur utama yang
menanganinya dalam kerangka pertahanan berlapis, lapis pertahanan
militer dapat menyokong lapis pertahanan nirmiliter, yang pelaksanaannya
dalam wujud bantuan dan disesuaikan dengan jenis dan sifat ancaman
nirmiliter. Keterlibatan fungsi pertahanan militer dalam menghadapi
ancaman nirmiliter bersifat tidak langsung dan lebih mengedepankan
fungsi penangkalan. Namun, dalam skala tertentu, pertahanan militer
dapat terlibat dalam wujud yang lebih konkret atas dasar keputusan
politik pemerintah atau atas permintaan dari unsur utama nirmiliter yang
membutuhkannya, misalnya dalam mengatasi wabah penyakit yang
meluas serta dalam mengatasi dampak bencana alam atau pencarian
dan pertolongan (SAR).

Mewujudkan Perdamaian Dunia dan Stabilitas Regional

Pencapaian sasaran pertahanan dalam mewujudkan perdamaian


dunia dan stabilitas regional adalah bagian dari misi pertahanan negara
yang sepanjang waktu diperjuangkan Indonesia sebagai bagian dari
masyarakat internasional yang berada dalam pengaruh global dan
regional. Perwujudan perdamaian dunia dan stabilitas regional merupakan

97
kepentingan nasional yang harus diperjuangkan dan ditegakkan. Dalam
konteks tersebut, kerja sama pertahanan akan dikembangkan sebagai
salah satu instrumen dalam mewujudkan rasa saling percaya di antara
bangsa-bangsa di dunia melalui bidang pertahanan. Sejalan dengan itu,
diplomasi pertahanan akan lebih diefektifkan melalui langkah-langkah
yang lebih konkret dan bermartabat.

Kerja sama pertahanan dilaksanakan dalam lingkup kerja sama


bilateral, regional, dan internasional. Pada lingkup internasional, kerja
sama pertahanan diwujudkan melalui keikutsertaan dalam usaha-usaha
pertahanan melalui tugas perdamaian dunia di bawah bendera PBB,
antara lain, melalui kontingen pemelihara perdamaian dunia atau sebagai
peninjau perdamaian dunia di berbagai negara. Untuk menjamin kesiapan
pasukan yang akan mengemban misi perdamaian, keberadaan Pusat Misi
Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI adalah sangat vital sehingga perlu
diberdayakan secara profesional.

Pada lingkup regional, kerja sama pertahanan diarahkan bagi


terwujudnya kawasan regional yang stabil melalui upaya bersama
antarnegara di kawasan. Prioritas kerja sama pertahanan adalah dengan
negara-negara di Kawasan Asia Tenggara untuk menciptakan kawasan
regional yang stabil.
Indonesia juga mengembangkan kerja sama pertahanan secara
bilateral dengan negara-negara di luar Kawasan Asia Tenggara yang
berbatasan dengan Indonesia serta negara-negara besar yang memiliki
pengaruh penting bagi kawasan, termasuk mempengaruhi kepentingan
nasional Indonesia. Kerja sama pertahanan tersebut ditujukan selain untuk
membangun rasa saling percaya dan dalam rangka perdamaian dunia,
juga untuk pembangunan kemampuan pertahanan seperti pengadaan

98
Alutsista, transfer teknologi, dan peningkatan SDM, baik prajurit TNI
maupun unsur nirmiliter.

Perang Rakyat Semesta


Perang Rakyat Semesta pada
hakikatnya perang total seluruh rakyat
Indonesia dengan mengerahkan
segenap kekuatan dan sumber
daya nasional untuk menegakkan
kedaulatan negara, keutuhan wilayah,
dan keselamatan bangsa dari bangsa
lain yang mengancam atau menduduki wilayah NKRI. Perang Rakyat
Semesta bersifat kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan.

Kerakyatan diwujudkan melalui keikutsertaan seluruh rakyat


Indonesia sesuai dengan peran, kemampuan, profesi, dan keahliannya
sebagai manifestasi hak dan kewajiban setiap warga negara dalam bela
negara. Kesemestaan diwujudkan melalui pengerahan seluruh kekuatan
dan sumber daya nasional Indonesia untuk dapat dimobilisasi guna
kepentingan menghadapi bentuk ancaman, baik dari luar maupun dalam
negeri. Kewilayahan diwujudkan dalam pendayagunaan seluruh wilayah
negara sebagai ruang juang dalam mengembangkan strategi pertahanan
guna mencapai tujuan.

Perang Rakyat Semesta diselenggarakan berdasarkan tatanan


unsur kekuatan, perwujudan usaha, dan sarana perjuangan. Tatanan
segenap unsur kekuatan diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu,
dan terarah di bawah kesatuan komando dan strategi sehingga
merupakan satu totalitas perjuangan. Perwujudan usaha secara total

99
mencakupi perlawanan bersenjata yang berintikan TNI, didukung oleh
perlawanan tidak bersenjata yang berintikan unsur pertahanan nirmiliter
dalam kesatuan kesemestaan, untuk menghadapi setiap kekuatan
asing yang menyerang dan menduduki sebagian atau seluruh wilayah
Indonesia. Sarana perjuangan bangsa bertumpu pada kekuatan rakyat
yang dipersenjatai secara fisik dengan kemampuan bela negara yang
tinggi serta secara psikis dengan ideologi Pancasila.

Dipersenjatai secara psikis diwujudkan dalam usaha menanamkan


kecintaan kepada tanah air dan NKRI, menumbuhkembangkan kesadaran
berbangsa dan bernegara, persatuan dan kesatuan bangsa dalam
semboyan Bhinneka Tunggal Ika, dan kesadaran dan tanggung jawab akan
hak dan kewajiban dalam usaha pembelaan negara, serta melengkapi
diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pengejawantahan
dari sistem senjata sosial.

Dipersenjatai secara fisik diwujudkan ke dalam pemberian bekal


keterampilan fisik, baik melalui wadah prajurit TNI maupun sebagai
rakyat terlatih yang dipersiapkan untuk menjadi Komponen Cadangan,
yang didukung oleh pengetahuan dan keterampilan menggunakan
peralatan dan persenjataan militer serta menguasai taktik dan strategi
bertempur sebagai pengejawantahan sistem senjata teknologi. Dalam
menghadapi Perang Rakyat Semesta dalam bentuk perang berlarut,
terdapat lima hal yang harus dibangun dan dijaga, yakni yang terkait
dengan sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem teknologi,
dan sistem pertahanan. Sistem politik harus tetap diarahkan untuk
menjaga dan memelihara Pancasila sebagai dasar falsafah seluruh
bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, serta dijadikan sebagai dasar perjuangan. Sistem politik juga

100
menjamin keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan
perjuangan sampai perjuangan membuahkan kemenangan. Dalam
mewujudkan sistem politik tersebut, revitalisasi nilai-nilai Pancasila harus
menjadi prioritas utama untuk dilaksanakan secara berlanjut. Sistem
ekonomi Indonesia harus mampu menopang kesinambungan perjuangan
dengan membangun struktur ekonomi yang kuat, mandiri, dan berdaya
saing serta didukung oleh sistem distribusi yang menjangkau seluruh
wilayah Nusantara.

Sistem sosial budaya Indonesia harus memacu kehidupan


masyarakat yang kompetitif dan produktif, yang dilandasi oleh nilai dan
semangat juang, disiplin yang tinggi, dan kerja keras untuk mengejar
kemajuan sehingga pada gilirannya akan menghadirkan masyarakat
Indonesia yang tangguh dan berdaya saing. Bersamaan dengan sistem
yang lain, sistem teknologi dibangun untuk memacu pertumbuhan industri
nasional untuk mewujudkan kemandirian dengan menghasilkan produk-
produk dalam negeri, baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
maupun kebutuhan pertahanan. Selanjutnya sistem, pertahanan
dibangun dan dikembangkan untuk dapat menjaga dan mempertahankan
kemerdekaan dan kedaulatan negara serta keutuhan wilayah NKRI.
Sistem pertahanan diperankan oleh TNI yang tangguh dan profesional,
didukung oleh seluruh rakyat dalam sistem pertahanan semesta yang
berdaya tangkal tinggi serta menjamin stabilitas keamanan nasional yang
memungkinkan terselenggaranya pembangunan nasional.

101
PEMBINAAN KEMAMPUAN PERTAHANAN NEGARA

Pokok-Pokok Pembinaan Kemampuan Pertahanan Negara


Penyelenggaraan pembinaan kekuatan dan kemampuan
pertahanan negara dilaksanakan sesuai dengan kebijakan
penyelenggaraan pertahanan negara dan tetap berpedoman pada
ketentuan pokok penyelenggaraan pertahanan negara. Pembinaan
kekuatan dan kemampuan pertahanan negara mencakupi pertahanan
militer dan pertahanan nirmiliter. Tingkat kebijakan dijabarkan dalam
pokok-pokok pembinaan kekuatan dan kemampuan dalam tataran
kewenangan pembinaan.

Pemerintah bertanggung jawab dan berkewajiban mewujudkan


kekuatan dan kemampuan pertahanan yang tangguh dan berdaya tangkal
tinggi melalui pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan
negara. Pelaksanaannya dilakukan secara dini dan berlanjut serta
ditujukan untuk terselenggaranya sistem pertahanan negara.

Pembinaan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara meliputi


pembinaan sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya
buatan, sarana dan prasarana, teknologi dan industri pertahanan, serta
sistem tata nilai untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara.
Pendayagunaan sumber daya alam dan buatan harus memperhatikan
prinsip-prinsip berkelanjutan, keragaman, dan kelestarian lingkungan
hidup.

Wilayah Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pembinaan


kemampuan pertahanan negara dengan memperhatikan hak masyarakat.
Wilayah yang digunakan sebagai instalasi militer dan daerah latihan militer

102
yang strategis disiapkan oleh pemerintah. Dalam mendukung kepentingan
penyelenggaraan pertahanan negara, penataan ruang yang dilakukan
untuk tujuan kesejahteraan diintegrasikan dengan tujuan pertahanan.
Oleh karena itu, penataan ruang kawasan pertahanan berada dalam
sistem penataan ruang nasional dan dijamin kepastian hukumnya.

Selanjutnya, pembangunan di daerah harus memperhatikan


kepentingan pertahanan dan pembinaan kemampuan pertahanan
dan dilaksanakan melalui koordinasi antar lembaga. Perencanaan
pembangunan sarana dan prasarana vital nasional dan di daerah
mengakomodinasi kepentingan pertahanan negara untuk tujuan jangka
panjang.

Postur Pertahanan Negara


Postur pertahanan negara merupakan wujud penampilan kekuatan
pertahanan negara yang mencerminkan kekuatan, kemampuan, dan gelar
kekuatan pertahanan negara. Postur pertahanan negara mengintegrasikan
kekuatan, kemampuan, dan gelar kekuatan pertahanan militer serta
kekuatan, kemampuan, dan penyebaran pertahanan nirmiliter sebagai
satu kesatuan pertahanan negara yang utuh dan terpadu.

Postur pertahanan negara dibangun dan dipersiapkan secara


dini oleh pemerintah. Pembangunan postur pertahanan militer menjadi
kewenangan dan tanggung jawab Menteri Pertahanan. Pembangunan
postur pertahanan nirmiliter menjadi tanggung jawab pemerintah melalui
koordinasi antara menteri/kepala LPND dan Menteri Pertahanan.

Pembangunan Postur Pertahanan Negara sangat tergantung pada


anggaran pertahanan negara yang dialokasikan pemerintah, namun tidak

103
berarti bahwa postur pertahanan dibangun atas dasar alokasi anggaran.
Penyusunan Postur Pertahanan Negara bersifat jangka panjang dan
didasarkan atas visi negara di tengah-tengah persaingan global. Dalam
konteks ini Postur Pertahanan Negara disusun untuk memenuhi kebutuhan
pertahanan negara dalam 20 tahun ke depan yakni sampai tahun 2029.
Oleh karena itu, dalam kerangka penyusunan anggaran pertahanan harus
mengacu pada perencanaan pembangunan pertahanan jangka panjang,
sehingga kesinambungan pembangunan kekuatan dapat terjaga dan
terpelihara. Dalam kondisi dimana anggaran pertahanan negara tidak
mampu mendukung kebutuhan pembangunan pertahanan sebagaimana
tertuang dalam perencanaan jangka panjang tentang postur pertahanan,
perlu disusun skenario yang tepat agar kepentingan pertahanan tidak
dikorbankan.

Postur Pertahanan Militer

Postur pertahanan militer dibangun berdasarkan tiga kaidah


utama, yakni faktor ancaman, standar penangkalan, dan organisasi.
Rancang bangun postur pertahanan militer serta pembangunannya
didasarkan pada perkembangan ancaman yang dihadapi. Dalam
kerangka itu, pembangunan kapabilitas pertahanan adalah berdasarkan
perkiraan ancaman, baik yang potensial maupun ancaman nyata, dalam
kurun waktu tertentu. Selanjutnya, postur pertahanan militer yang telah
dirancang tersebut dibangun untuk mencapai standar penangkalan.
Standar penangkalan adalah ukuran kemampuan suatu tentara yang
harus dicapai oleh Tentara Nasional Indonesia dalam mengawal NKRI.
Ukuran kemampuan tersebut mencakupi kekuatan prajurit (personel)
dan Alutsista serta profesionalitas prajurit dan dukungan anggaran, yang
tercermin dalam gelar kekuatan yang mewujudkan efek penangkalan

104
yang disegani. Pembangunan postur TNI harus diakselerasi untuk sampai
pada pencapaian standar penangkalan dimaksud. Implikasi dari TNI
sebagai komponen utama pertahanan negara, pembangunan postur TNI
menjadi prioritas dalam pembangunan pertahanan negara.

Dalam rangka pembinaan postur pertahanan militer, maka


pembinaan TNI ditempatkan dalam kerangka TNI sebagai alat negara di
bidang pertahanan yang menjalankan tugas negara atas dasar kebijakan
dan keputusan politik pemerintah untuk menjaga dan melindungi
kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, serta keselamatan bangsa.
TNI sebagai alat negara bertugas untuk kepentingan negara dan di atas
kepentingan daerah, suku, agama, ras, dan golongan.

Dalam kerangka itu, pembinaan TNI diarahkan untuk mewujudkan


profesionalitas prajurit, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi
secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin
kesejahteraannya yang layak oleh negara dan pemerintah sehingga
dapat mengonsentrasikan diri pada misi dan tugas yang diembannya,
serta TNI yang mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip
demokrasi, tunduk pada pemerintah yang sah, dan menghargai hak asasi
manusia serta ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang
diratifikasi Indonesia sehingga menjadi kekuatan yang disegani minimal
pada lingkup kawasan Asia Tenggara dan kawasan yang mengitari wilayah
NKRI.

Pembinaan pertahanan militer juga menyentuh organisasi


untuk mewujudkan kinerja organisasi yang efektif. Dalam rangka itu,
penataan organisasi pada tingkat Departemen Pertahanan diarahkan
pada terselenggaranya manajemen pemerintahan di bidang pertahanan
yang berkualitas dan efektif dengan kinerja yang tinggi. Organisasi TNI

105
diarahkan untuk mewujudkan TNI yang profesional, berdaya tangkal,
dan disegani.

Postur Pertahanan Nirmiliter

Postur pertahanan nirmiliter merupakan refleksi dari hasil


pembangunan seluruh sumber daya nasional. Unsur-unsur pertahanan
nirmiliter berada dalam lingkup wewenang dan tanggung jawab setiap
instansi pemerintah di luar Departemen Pertahanan. Oleh karena itu,
pembangunan postur pertahanan nirmiliter menjadi tanggung jawab
seluruh departemen/LPND yang pelaksanaannya tertuang dalam
pembangunan sektor masing-masing. Pelaksanaannya dikoordinasikan
oleh Menteri Pertahanan.

Komponen Cadangan dan Pendukung merupakan elemen kekuatan


pertahanan nirmiliter yang dibentuk dan disiapkan sejak dini berupa
pemberdayaan potensi sumber daya nasional (SDM, SDA, SDB, serta
sarana dan prasarana nasional) menjadi kekuatan pertahanan yang dapat
memperbesar dan memperkuat
Komponen Utama. Pada kondisi
tertentu, kedua komponen
tersebut dapat dikerahkan untuk
menghadapi ancaman nirmiliter,
khususnya untuk penanggula-
ngan bencana dan operasi
kemanusiaan lainnya.

Kekuatan Komponen Cadangan dibangun dengan pendekatan


yang realistis, yaitu dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran
pemerintah. Kemampuan Komponen Cadangan dibentuk sesuai dengan
kebutuhan tiap-tiap matra.

106
Dalam kerangka mewujudkan pertahanan yang mandiri,
pembangunan industri pertahanan strategis merupakan kunci menuju
sukses. Terwujudnya industri pertahanan strategis akan memiliki efek
penangkalan yang tinggi, serta menjamin keberlanjutan pemenuhan
kebutuhan Alutsista dan kebutuhan pertahanan dalam arti luas.
Pembangunan industri pertahanan strategis berada dalam lingkup fungsi
pertahanan nirmiliter, oleh karena itu menjadi tanggung jawab para
Menteri/Kepala LPND serta sektor swasta untuk menggerakkannya. Dalam
mewujudkan pembangunan industri pertahanan strategis, Departemen
Pertahanan dan TNI bekerjasama dengan para pimpinan Departemen
dan instansi pemerintah serta pihak swasta, termasuk dalam menyusun
dan melaksanakan perencanaan strategis pengelolaan sumber daya
nasional untuk kepentingan pertahanan.

Gelar Komponen Cadangan bersifat lokal atau kedaerahan,


yaitu dibentuk, dibina, dan ditempatkan di mana potensi sumber daya
nasional tersebut berada. Pada masa, Komponen Cadangan damai tidak
mempunyai dampak kekuatan militer, tetapi pada saat dimobilisasi dan
diproyeksikan ke daerah pertempuran dapat memperbesar kekuatan
TNI. Komponen Pendukung dibangun untuk melipatgandakan kekuatan
pertahanan dalam melaksanakan perlindungan dan penyelamatan
terhadap rakyat sesuai dengan profesinya.

Pembinaan pertahanan nirmiliter dalam kerangka menghadapi


ancaman nirmiliter diselenggarakan untuk menyiapkan dan
mengembangkan fungsi pertahanan sipil yang diselaraskan dengan
penyelenggaraan pembangunan nasional. Dalam rangka itu, setiap
departemen berkewajiban menyusun kebijakan dan strategi di bidangnya
masing-masing yang berefek pertahanan sipil. Pembinaan pertahanan

107
nirmiliter untuk mengemban fungsi pertahanan sipil mencakupi
pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas secara utuh dan
menyeluruh untuk memiliki daya saing di era globalisasi, serta membina
segenap sumber daya nasional berupa sumber daya alam, sumber
daya buatan, sarana dan prasarana, serta teknologi untuk mewujudkan
Indonesia yang aman, bersatu, dan berkesejahteraan.

Intelijen Pertahanan Negara

Intelijen pertahanan negara merupakan elemen vital dalam


pertahanan negara untuk mendapatkan dan mengolah informasi.
Intelijen adalah lapis yang menentukan pertahanan negara dengan fungsi
memberikan dukungan informasi intelijen sejak kondisi damai, pada
spektrum keamanan nasional dalam konflik intensitas rendah, sampai
keadaan perang. Instrumen intelijen terdiri atas intelijen pertahanan
militer dan intelijen lainnya untuk pertahanan nirmiliter sesuai dengan
fungsinya masing-masing. Fungsi intelijen tidak saja untuk memberikan
dukungan informasi tentang lawan, tetapi juga memberikan perlindungan
dari usaha-usaha intelijen pihak lawan.

Sesuai dengan perkembangan di bidang teknologi dan militer,


kualifikasi intelijen yang diperlukan ke depan mencakupi intelijen berbasis
manusia (human intelligence), intelijen citra, intelijen perhubungan dan
pengukuran (measurement and signal intelligence), intelijen komunikasi,
intelijen telemetri, intelijen elektronik, dan intelijen terbuka. Untuk dapat
bersaing dalam kecenderungan perang ke depan, kemampuan intelijen
dibangun untuk dapat menyelenggarakan perang berbasis jaringan
(network centric warfare).

108
Logistik Pertahanan

Logistik pertahanan memberikan efek dukungan yang bernilai vital


dalam penyelenggaraan pertahanan negara. Logistik tidak memenangi
perang, tetapi tidak ada perang yang dapat dimenangkan tanpa logistik.
Oleh karena itu, pemerintah mempersiapkan logistik pertahanan secara
cepat dan tepat serta menjamin ketersediaannya bagi keberlangsungan
usaha pertahanan negara. Pokok-pokok penyelenggaraan logistik
pertahanan negara sebagai berikut.

Pertama, dalam pembinaan logistik pertahanan negara, satuan-satuan


operasional sejauh mungkin dihindarkan dari urusan administrasi.

Kedua, sistem dukungan logistik dalam rangka menjamin keberlangsungan


usaha pertahanan negara disusun dalam logistik strategis pada lingkup
nasional serta logistik wilayah.

Ketiga, gelar logistik berbasis kewilayahan ditujukan untuk menjamin


keberlangsungan usaha pertahanan negara.

Wewenang Pembinaan

Presiden

Pada tingkat politik, Presiden selaku Kepala Negara memiliki


wewenang dalam mengelola sistem pertahanan negara. Wewenang
pengelolaan sistem pertahanan negara diwujudkan dalam penetapan
kebijakan umum pertahanan negara. Dalam menetapkan kebijakan
umum pertahanan negara, Presiden dibantu oleh Menteri Pertahanan dan
Dewan Keamanan Nasional atau Dewan Pertahanan Nasional atau dewan

109
mana pun yang menurut undang-undang berfungsi untuk membantu
Presiden di bidang pertahanan negara.

Kebijakan pertahanan negara mencakupi pembangunan,


pemeliharaan, dan pengembangan kekuatan pertahanan negara
pelaksanaannya, secara terpadu dan terarah bagi segenap komponen
pertahanan negara baik pertahanan militer maupun pertahanan nirmiliter.
Kebijakan umum pertahanan negara menjadi acuan bagi perencanaan,
penyelenggaraan, dan pengawasan sistem pertahanan negara.

Presiden selaku pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI yang


terdiri atas TNI AD, TNI AL, dan TNI AU berwenang mengangkat dan
memberhentikan Panglima TNI serta para Kepala Staf Angkatan. Dalam
penyelenggaraan peperangan dan perdamaian, Presiden membuat
perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan
DPR.

Dalam kondisi negara menghadapi bahaya secara nasional atau


ancaman yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah
NKRI, dan keselamatan bangsa, Presiden menetapkan keadaan bahaya
berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dalam menghadapi keadaan
bahaya, Presiden mengerahkan kekuatan TNI untuk menyelenggarakan
operasi militer dan memobilisasi kekuatan nasional untuk menjadi
Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung. Dalam hal menghadapi
ancaman agresi atau ancaman bersenjata yang membahayakan eksistensi
negara dan memerlukan pengerahan kekuatan melalui mobilisasi,
Presiden melakukan pengerahan kekuatan TNI dan mobilisasi kekuatan
nasional untuk menjadi kekuatan pertahanan negara.

110
Menteri Pertahanan

Menteri Pertahanan adalah pembantu Presiden dan representasi


pemerintah yang menjadi penanggung jawab politik di bidang pertahanan
negara. Selain sebagai pembantu Presiden, Menteri Pertahanan memiliki
kewenangan dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan pertahanan
serta mengkoordinasikan penyelenggaraan pertahanan negara dengan
semua instansi pemerintah.

Sebagai pembantu Presiden, Menteri Pertahanan memiliki


kewenangan untuk membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan
umum pertahanan negara. Perumusan kebijakan umum pertahanan
negara mencakupi penyiapan ketetapan kebijakan Presiden yang memuat
arah pembangunan kekuatan pertahanan negara serta pemeliharaan
dan pengembangan kekuatan pertahanan negara yang memadukan
pertahanan militer dan pertahanan nirmiliter. Kebijakan umum pertahanan
negara juga termasuk untuk tujuan pengerahan kekuatan pertahanan
negara untuk menghadapi ancaman agresi atau keadaan darurat yang
menjadi bahaya nasional.

Menteri Pertahanan selaku pemimpin departemen yang membidangi


pertahanan negara merupakan triumvirat yang melaksanakan tugas
kepresidenan bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri
Dalam Negeri dalam hal Presiden dan Wakil Presiden berhalangan tetap.
Dengan posisinya sebagai triumvirat tersebut, Menteri Pertahanan
merupakan salah satu dari tiga posisi vital yang dijamin keberadaannya
dalam susunan kabinet yang dibentuk oleh setiap Presiden.

Penyelenggaraan pertahanan negara dalam pengelolaan sistem


pertahanan dan sumber daya nasional maka Menteri Pertahanan

111
menetapkan kebijakan di bidang penyelenggaraan pertahanan negara
berdasarkan kebijakan umum pertahanan negara yang ditetapkan
Presiden. Dalam rangka menciptakan saling percaya dengan negara-
negara lain serta meniadakan potensi konflik, kebijakan pertahanan yang
ditetapkan Menteri Pertahanan perlu disebarluaskan kepada masyarakat
umum, baik domestik maupun internasional dalam bentuk Buku Putih
Pertahanan.

Dalam pengelolaan sistem pertahanan negara, Menteri Pertahanan


menetapkan kebijakan pertahanan di bidang penganggaran, pengadaan,
perekrutan, pengelolaan sumber daya nasional, serta pembinaan
teknologi dan industri pertahanan. Khusus tentang perekrutan sumber
daya nasional untuk Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung,
Menteri Pertahanan melaksanakan kerja sama dengan menteri/kepala
LPND di luar bidang pertahanan untuk penentuan alokasi, publikasi, dan
pemanggilan.

Dalam pengelolaan komponen pertahanan negara, Menteri


Pertahanan merumuskan kebijakan umum penggunaan komponen
pertahanan negara. Perumusan kebijakan umum dimaksud mencakupi
penyiapan ketetapan kebijakan yang menyangkut tujuan penggunaan
Komponen Utama, Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung.

Dalam meningkatkan hubungan dengan bidang lain di luar bidang


pertahanan serta hubungan internasional, Menteri Pertahanan menetapkan
kebijakan pertahanan negara untuk kerja sama dengan departemen/
LPND bagi kepentingan pertahanan negara serta menetapkan kebijakan
kerja sama, di bidang pertahanan bilateral, regional, dan internasional.

Dalam menyusun dan melaksanakan perencanaan strategis

112
pengelolaan sumber daya nasional untuk kepentingan pertahanan,
Menteri Pertahanan bekerja sama dengan pemimpin departemen dan
instansi pemerintah lainnya sesuai dengan lingkup kewenangannya.

Menteri/Kepala LPND

Menteri dan kepala lembaga nondepartemen adalah pembantu


Presiden dan representasi pemerintah yang berwenang menetapkan
kebijakan yang berhubungan dengan kepentingan pertahanan di
bidangnya masing-masing. Menteri dan kepala lembaga nondepartemen
bertanggung jawab membina dan meningkatkan sumber daya nasional
untuk kebutuhan kesejahteraan dalam mendukung kepentingan
pertahanan negara.

Dalam menghadapi ancaman nirmiliter di bidangnya, Menteri


dan kepala lembaga nondepartemen menyusun kebijakan dan
strategi pertahanan nirmiliter di bidangnya masing-masing dan
mengkoordinasikannya dengan Menteri Pertahanan. Menteri dan kepala
lembaga non departemen menyiapkan sumber daya nasional untuk
kebutuhan Komponen Cadangan dan Pendukung. Menteri/Kepala LPND
ikut serta dalam mendukung pembinaan sumber daya nasional untuk
kepentingan pertahanan negara. Menteri/kepala LPND dalam menyusun
rencana pembangunan di bidangnya masing-masing mengakomodasi
kepentingan pertahanan negara untuk tujuan jangka panjang.

Pembinaan sumber daya alam, sumber daya buatan, serta sarana


dan prasarana yang dilakukan oleh departemen/LPND diselenggarakan
dengan memperhatikan kepentingan pertahanan.

113
Panglima TNI

Panglima TNI menyelenggarakan perencanaan strategi dan


operasi militer, baik untuk tujuan OMP maupun OMSP. Untuk memelihara
kesiapsiagaan operasional, Panglima TNI mengkoordinasikan pelaksanaan
pembinaan profesi dan pembinaan kekuatan pertahanan militer yang
dilakukan oleh tiap Kepala Staf Angkatan.

Dalam menghadapi ancaman militer, Panglima TNI menggunakan


segenap komponen pertahanan serta menyelenggarakan operasi militer
yang disesuaikan dengan jenis ancaman militer yang dihadapi. Panglima
TNI merumuskan dan menetapkan Doktrin Pertahanan Militer dan
mengembangkan Strategi Pertahanan Militer dengan mengacu pada
Doktrin Pertahanan Negara dan Strategi Pertahanan Negara.

114
PENUTUP

Perlakuan
Doktrin Pertahanan Negara Republik Indonesia merupakan
landasan doktriner penyelenggaraan pertahanan negara yang harus
dipahami dan dipedomani oleh semua pihak yang terlibat sesuai dengan
tugas dan fungsinya masing-masing. Doktrin Pertahanan Negara
merupakan dasar dalam mengembangkan Strategi Pertahanan Negara,
pembangunan Postur Pertahanan Negara, dan penyusunan Kebijakan
Pertahanan Negara.

Petunjuk Akhir
Penghayatan dan pengamalan akan isi Doktrin Pertahanan
Negara harus tampak dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak para
penyelenggara pertahanan negara, serta segenap pihak yang terlibat
dalam penyelenggaraan pertahanan negara, dalam menjamin tegaknya
NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Doktrin Pertahanan Negara berlaku secara nasional untuk


dipedomani oleh Lembaga Pemerintah, Legislatif, Yudikatif, dan seluruh
rakyat Indonesia.

115
Doktrin ini juga berisi pesan bahwa pertahanan Indonesia
dipersiapkan dan diselenggarakan dengan sungguh-sungguh untuk
membela kehormatan bangsa dan kepentingan nasional Indonesia.


Jakarta, 28 Desember 2007

Menteri Pertahanan

Juwono Sudarsono

116