Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam


perekonomian setiap negara di dunia. Melalui perdagangan internasional maka
akan tercipta suatu hubungan ekonomi yang saling mempengaruhi antara satu
negara dengan negara lainnya. Perdagangan internasional dapat diartikan sebagai
transaksi dagang antara subyek ekonomi negara yang satu dengan subyek
ekonomi negara yang lain. Adapun subyek ekonomi yang dimaksud disini adalah
penduduk yang terdiri dari warga negara biasa, perusahaan swasta dan perusahaan
negara maupun departemen pemerintah yang dapat dilihat dari neraca
perdagangan.
Secara umum perdagangan internasional dapat dibedakan menjadi dua
yaitu ekspor dan impor. Ekspor adalah penjualan barang dan jasa yang dihasilkan
suatu negara ke negara lainnya. Sementara impor adalah arus kebalikan dari
ekspor, yaitu barang dan jasa dari luar suatu negara yang mengalir masuk ke
negara tersebut.
Banyak teori-teori ekonomi mengenai perdagangan internasional,
diantaranya: Merkantilisme mulai muncul sekitar abad 16-17. Merkantilisme
menyebutkan bahwa untuk meningkatkan kemakmuran negara yaitu dengan
meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Karenanya, campur tangan
pemerintah dalam pembatasan import dengan pemberlakuan tarif dan quota
diperlukan. Berikutnya, teori Adam Smith yang disebut dengan Teori Keunggulan
Absolut (Absolute Advantage). Teori Smith (1776) yang pertama kali
mengungkapkan tentang free trade dan mendukung invisible hand yang mengatur
mekanisme pasar. Perdagangan bebas (free trade) hanya dapat terlaksana jika
pemerintah tidak memberi batasan atau quota untuk membeli dari negara lain,
atau untuk memproduksi dan menjual ke negara lain. Sekitar abad 19, tepatnya
pada tahun 1817, David Ricardo (salah satu pendukung Smith) mengungkapkan
tentang keunggulan komparatif antar negara. Suatu negara yang memiliki

1
kelemahan absolut dalam memproduksi dua barang dibanding negara lain namun
memiliki suatu keunggulan komparatif atau relatif dalam memproduksi barang,
dimana kelemahan absolutnya berkurang, masih dapat berdagang dengan negara
lain. Abad 20, munculah teori dari ekonom Swedia, yaitu Eli Heckser dan Bertil
Ohlin, yang biasa disebut H-O Theory.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah keuntungan dan manfaat perdagangan internasional?
2. Bagaimanakah pola perdagangan internasional?
3. Apa sajakah faktor pendorong perdagangan internasional?
4. Apa sajakah teori perdagangan internasional?
5. Apa saja keuntungan melakukan perdagangan internasional?
6. Apa saja berbagai batasan dan hambatan dalam perdagangan
Internasional?
7. Bagaimanakah perluasan model Ricardian?
8. Bagaimanakan teori Heckscer-Ohlin?
9. Bagaimanakah teori yang dikemukakan oleh Leontif?
10. Bagaimana teori Product Life Cycle dalam perdagangan interasional?
11. Bagaimana Teori Perdagangan Baru?
12. Bagaimanakah peningkatan variabel produksi dan pengurangan biaya
dalam perdagangan internasional?
13. Bagaimanakah skala ekonomi, keuntungan first-mover dan pola
perdagangan?
14. Bagaimanakah implementasi new trade theory?
15. Bagaimana keuntungan kompetitif nasional: Porter’s Diamond?

2
BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Keuntungan dan Manfaat Perdagangan Internasional


Kekuatan besar Teori Smith, Ricardo dan Heckscher-Ohlin adalah bahwa
mereka sama-sama berpendapat bahwa melakukan perdagangan internasional
adalah menguntungkan. Akal sehat menyatakan bahwa beberapa negara
diuntungkan dengan adanya perdagangan internasional. Teori Smith, Ricardo dan
Heckscher-Ohlin menunjukkan kenapa suatu negeri diuntungkan untuk terlibat
dalam perdagangan internasional, untuk bisa menghasilkan produk untuk diri/
negeri sendiri. Ini adalah suatu konsep sulit untuk diserap orang-orang. Perasaan
kebangsaan yang sama dapat diamati di banyak negara-negara lain.
Bagaimanapun, Teori Smith, Ricardo, dan Heckscher-Ohlin menunjukkan bahwa
suatu ekonomi negeri boleh memperoleh jika warganegaranya membeli produk
tertentu dari negara-negara yang lainnya bisa jadi produk tersebut adalah
produksi dari dalam negari sendiri. Keuntungan muncul sebab perdagangan
internasional mengijinkan suatu negara untuk mengkhususkan pembuatan dan
ekspor produk yang dapat diproduksi lebih efisien di dalam negeri dan
mengimpor produk yang dapat diproduksi lebih efisien di negara-negara lain.
Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah:
1. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri
2. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
3. Memperluas pasar dan menambah keuntungan
4. Transfer teknologi modern

2.2 Pola Perdagangan Internasional


Teori Smith, Ricardo, dan Heckscher-Ohlin membantu ke arah menjelaskan
pola perdagangan internasional yang kita amati di dunia ekonomi. beberapa aspek
pola mudah untuk dipahami. Teori Ricardo menawarkan suatu penjelasan dalam
kaitannya dengan perdagangan internasional karena perbedaan produktivitas.

3
Teori Heckscher-Ohlin menekankan saling mempengaruhi antara proporsi di
mana faktor-faktor produksi ada di negara-negara berbeda dan proporsi dimana
mereka diperlukan untuk memproduksi barang-barang tertentu. penjelasan ini
percaya pada asumsi bahwa negara-negara mempunyai bermacam-macam
endowment berupa faktor-faktor produksi. Dari teori ini, menyatakan bahwa lebih
sedikit penjelasan kuat dunia nyata tentang pola berdagang dibanding pemikiran-
pemikiran yang muncul.
Satu tanggapan awal terhadap kegagalan Teori Heckscher-Ohlin untuk
menjelaskan pola perdagangan internasional yang diamati adalah Teori Product
Life-Cycle. Teori yang diusulkan oleh Raymon Vernon ini menyatakan bahwa
awal daur hidup produk, kebanyakan produk baru diproduksi dan diekspor dari
negeri di mana mereka telah dikembangkan. setelah produk baru diterima secara
luas atau secara internasional, maka produksi mulai ke negara-negara lain. sebagai
hasilnya, teori menyarankan, produk akhirnya bisa diekspor kembali ke negeri
dimana inovasi produk tersebut berasal.
Sekitar tahun 1980 ahli ekonomi Paul Krugman dari Massachusetts
Institute of Technology mengembangkan apa yang nantinya dikenal sebagai teori
perdagangan baru (New Trade Theory). Teori ini menekankan bahwa dalam
beberapa hal negara-negara tidak mengkhususkan produksi dan ekspor dari
produk tertentu karena mendasari perbedaan dalam faktor endowment, tetapi
karena pasar dunia industri tertentu hanya mendukung suatu jumlah terbatas
perusahaan. Dalam industri yang demikian, perusahaan yang pertama masuk pasar
dan membangun suatu keunggulan kompetitif, sesudah itu sukar untuk
menghadapi tantangan. pola perdagangan tiba pada kemampuan perusahaan di
suatu Negara yang ditentukan oleh bagaimana untuk menangkap first-mover
advantage.
Dalam teori perdagangan baru, Michael Porter dari Harvard Business
School mengembangkan suatu teori yang dikenal sebagai teori National
Competitive Advantage, dengan mencoba untuk menjelaskan mengapa negara-
negara tertentu mencapai sukses internasional dalam industri tertentu. sebagai
tambahan terhadap faktor endowment, Porter menunjukkan pentingnya faktor

4
negeri seperti permintaan domestik dan persaingan domestik dalam menjelaskan
suatu kekuatan bangsa dalam produksi dan ekspor produk tertentu.

2.3 Faktor Pendorong Perdagangan Internasional


Banyak faktor menjadi pendorong suatu negara melakukan perdagangan
internasional, diantaranya:
1. Perbedaan iklim dan sumber daya (resource) tiap negara
2. Perbedaan produktivitas
3. Adanya faktor-faktor produksi
4. Perbedaan skill
5. Adanya pionir (first mover) – berasal dari inovasi
6. Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara
7. Keinginan membuka kerjasama, hubungan politik dan dukungan dari
negara lain
8. Terjadinya era globalisasi

2.4 Teori Perdagangan dan Kebijakan Pemerintah


Walaupun semua teori setuju perdagangan internasional bermanfaat bagi
negara kurang setuju dengan kebijakan pemerintah. Jadi solusinya adalah adanya
pembatasan intervensi pemerintah karena hal tersebut dapat dikatakan sebagai
pemborosan (westing).

2.4.1 Merkantilisme
Teori perdagangan internasional pertama muncul pada abad 16 dan terus
berkembang di negara-negara Eropa, yaitu merkantilisme. Sistem ini didasarkan
pada gagasan bahwa pemerintah terlibat dalam transfer barang-barang antar
bangsa agar meningkatkan kekayaan diantara bangsa-bangsa yang terlibat.
Kekayaan didapat dengan mengumpulkan logam berharga terutama emas. Sebagai
konsekuensinya pemerintah membuat kebijakan memaksimalkan eksport dan
meminimalkan import. Untuk meminimalkan import yaitu dengan pemberlakuan
tarif dan quota sedang untuk memaksimalkan eksport diperlukan pemberian

5
subsidi. Pada periode ini daerah koloni yang ada memberikan suatu sumber daya
alam berupa bahan-bahan baku atau logam berharga. Dalam sistem perdagangan
ini negara-negara koloni dieksploitasi dan perusahaan lokal ditekan. Negara
koloni sering diminta membeli barang-barang dari negara induknya. Kelemahan
konsep merkantilisme adalah adanya keyakinan yang kurang tepat bahwa emas
atau logam berharga mempunyai nilai intrinsik, padahal emas tidak dapat
digunakan untuk produksi atau untuk dikonsumsi. Jadi bangsa yang menganut
merkantilisme, kekayaannya non produktif. Selain itu merkantilisme mengabaikan
konsep efisiensi produksi melalui spesialisasi yang mampu menekan biaya
produksi secara efektif. Teori ini ditentang oleh Adam Smith, David Hume dan
John Locke.

2.4.2 Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage)


Teori ini mendasarkan pada teori ekonomi perdagangan bebas dengan
pertumbuhan perusahaan-perusahaan swasta pada saat itu. Dalam buku The
Wealth of Nations (1776), Adam Smith menolak pendapat Merkantilisme bahwa
emas sama dengan kekayaan. Smith menyatakan bahwa negara banyak
diuntungkan oleh perdagangan bila mereka dapat memperoleh barang yang tidak
dapat diproduksi oleh pabrik dengan efisiensi yang maksimal. Konsep keunggulan
mutlak yatu negara akan memproduksi barang yang diambil dari alam atau sumer
daya yang tersedia dan yang mempunyai keunggulan tinggi. Menurut konsep ini,
dengan spesialisasi memproduksi barang yang paling efisiensi bagi suatu negara,
maka negara tersebut dapat meningkatkan kemakmurannya melalui perdagangan
internasional. Keunggulan tersebut dicapai karena bangsa tersebut mengeluarkan
ongkos paling murah untuk menghasilkan satu unit produk.
Teori tersebut didasarkan pada asumsi pokok antara lain:
1. Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja
2. Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama
3. Pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang
4. Biaya transfer diabaikan

6
2.4.3 Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage)
Dari gambaran tersebut di atas, teori Adam Smith juga mempunyai
kelemahan. Karena dalam perdagangan internasional akan terjadi keunggulan
absolut yang berbeda, dimana hanya ada satu negara yang memiliki keunggulan
absolut untuk kedua jenis produk, maka tidak akan terjadi perdagangan
internasional yang menguntungkan. Teori ini kemudian diperbaiki dan
dikembangkan lagi oleh David Ricardo dengan teori Comparative Advantagenya.
Menurut Ricardo, jika negara tidak memiliki keunggulan mutlak maka hendaknya
melihat perbandingan efisiensi antara dua produk dan menghasilkan produk yang
lebih efisien. Dalam bukunya Pricipless of Political Economy (1817), Ricardo
menyebutkan bahwa suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan
internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana
negara tersebut dapat berproduksi relatif lebih efisien serta mengimpor barang
dimana negara tersebut berproduksi relatif kurang atau tidak efektif.
Teori ini berlandaskan pada asumsi:
1. Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah
tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana
nilai barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang
dipergunakan untuk memproduksinya.
2. Perdagangan internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.
3. Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal
pemasaran
4. Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak
berpengaruh.
5. Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu, suatu
negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan
mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan
mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam
memproduksi.
Ada kalanya suatu negara dapat menghasilkan dua jenis produk dan
mempunyai keuntungan mutlak untuk kedua produk tersebut. Menurut teori

7
absolute advantage maka perdagangan tidak mungkin terjadi tetapi secara
comparative advantage perdagangan tersebut dapat terjadi. Karena yang dilihat
disini adalah keuntungan komparatif yang diperoleh oleh suatu negara
dibandingkan dengan negara lainnya.

2.5 Keuntungan dari Perdagangan


Pesan dasar dari teori keunggulan komparatif adalah produksi dunia
potensi itu adalah lebih besar dengan perdagangan bebas tak terbatas
dibandingkan dengan perdagangan terbatas. Teori Ricardo menyatakan bahwa
konsumen dalam semua negara dapat mengkonsumsi lebih jika tidak ada
pembatasan pada perdagangan. Ini terjadi bahkan di negara-negara yang
kekurangan suatu keunggulan absolut dalam produksi. Dengan kata lain, dengan
derajat tingkat lebih besar dibanding teori kenggulan absolut, teori komparatip
keuntungan menyatakan bahwa perdagangan adalah suatu positive-sum game di
mana semua negara dapat mengambil bagian keuntungan ekonomi. Teori ini
menyediakan suatu dasar pemikiran kuat untuk memberi harapan kepada mereka
yang berharap pada perdagangan bebas. Teori Ricardo ini merupakan suatu
senjata intelektual utama yang sangat kuat yang dapat digunakan bagi mereka
yang membantah untuk perdagangan bebas.

2.6 Berbagai Batasan dan Anggapan dalam Perdagangan Internasional


Kesimpulan bahwa perdagangan bebas bermanfaat secara universal
merupakan sebuah gambaran yang lebih berani dari model yang sederhana. model
sederhana kita banyak memasukkan anggapan-anggapan yang tidak nyata:
1. Kita beranggapan dunia yang sederhana yang mana hanya ada dua negara
dan dua harta benda. Di dunia nyata, ada banyak nagara dan banyak harta
benda.

2. Kita beranggapan banyak biaya transportasi antar negara.

3. Kita beranggapan banyak perbedaan pada harga dari sumber daya alam di
negara yang berbeda. Kita tidak mengatakan tentang tingkat kurs,

8
perumpamaan sederhana bahwa coklat dan beras tidak dapat ditukar satu per
satu.

4. Kita beranggapan bahwa sumber daya dapat pindah secara bebas pada
produksi satu barang ke yang lain di dalam suatu negara. Pada kenyataannya,
ini adalah tidak selalu kasus.

5. Kita telah mengasumsikan return konstan dengan skala; itulah, spesialisasi


itu dari Ghana atau Korea Selatan tidak mempunyai pengaruh pada jumlah
sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan satu ton cocoa atau beras.
Pada kenyataannya, kedua-duanya mengurangi dan meningkatkan
keuntungan untuk spesialisasi yang ada. Jumlah sumber daya memerlukan
untuk menghasilkan pengurangan atau peningkatkan tenaga sebagai bangsa
yang mengkhususkan produksi barang-barang itu.

6. Kita beranggapan bahwa setiap negara mempunyai persediaan sumber


daya tetap dan perdagangan bebas tidak mengubah efisiensi penggunaan
sumber daya sebuah negara.

7. kita sudah mengasumsikan akibat-akibat dari pedagangan distribusi


pendapatan di dalam suatu negeri.

Dengan asumsi-asumsi ini dapat disimpulkan bahwa perdagangan bebas


menguntungkan satu sama lain yang diperluas ke dunia nyata dari banyak negara-
negara, banyak barang-barang, biaya-biaya transportasi positif, nilai tukar yang
mudah berubah, sumber daya domestik tak bergerak, pengembalian tidak tetap
pada spesialisasi, dan perubahan dinamis.

2.7 Perluasan Model Ricardian


2.7.1 Sumber Daya Tak Bergerak
Pada model komparatif sederhana kita dari Ghana dan Korea Selatan kita
mengasumsikan bahwa para penghasil (para petani) dapat merubah lahan dengan
mudah dari produksi coklat sampai beras, dan vice versa. Walaupun asumsi ini

9
bisa menjga beberapa hasil pertanian, sumber daya tidak selalu cepat berubah
dengan mudah dari memproduksi satu barang ke barang yang lain.
Sumber daya tidak selalu berpindah dengan dari kegiatan ekonomi satu ke
kegiatan ekonomi yang lain. Sebuah proses menimbulkan perselisihan dan juga
penderitaan bagi manusia. Meskipun teori memprediksikan bahwa keuntungan
dari perdagangan bebas mempertimbangkan biaya-biaya dengan kesempatan
penting, ini merupakan kenyamanan yang memikul biaya. Jadi, perlawanan politik
untuk mengadopsi perdagangan bebas kalangan khusus datang dari pekerjaan-
pekerjaan yang berisiko.

2.7.2 Diminishing returns


Diminishing returns untuk spesilisasi terjadi ketika banyak unit sumber
daya dibutuhkan untuk memproduksi setiap unit tambahan/ekstra. Setiap 10 unit
sumber daya cukup untuk meningkatkan output coklat Ghana dari dari 12 ton
sampai 13 ton, 11 unit sumber daya dibutuhkan untuk menngkatkan output dari 13
sampaii 14 ton, 12 unit sumber daya untuk meningkatkan 14 sampai 15 ton, dst.
Diminishing returns menyatakan PPF cembung untuk Ghana.

G
cocoa

G'
0 Rice

Ghana’s PPF under Diminishing Returns

Figure diatas lebih realistis untuk mengasumsikan diminishing return karena dua
alasan. Pertama, tidak semua sumber daya berkualitas sama. Alasan kedua karena
diminishing return yang barangnya berbeda menggunakan sumber daya dengan
proporsi yang berbeda.

10
Diminishing return untuk spesialisasi mempengaruhi keuntungan dari
spesialisasi yang kemungkinan menjadi habis sebelum spesialisasi lengkap.
Kesimpulan dasar dari perdagangan bebas tertutup adalah keuntungan yang tetap
dijaga, meskipun karena diminishing return, keuntungan tidak bisa sama besar
dengan yang diusulkan dalam kasus return konstan.

2.7.3 Pengaruh Dinamis Dan Pertumbuhan Ekonomi


Model keuntungan komparatif sederhana mengasumsikan bahwa
perdagangan tidak merubah persediaan negara atau sebuah efisiensi dengan
menggunakan sumber daya tersebut. Asumsi statis ini tidak membuat kelonggaran
untuk perubahan dinamis yang menghasilkan kekuatan dari perdagangan. Jika kita
mengendurkan asumsi ini, jelas terlihat bahwa sebuah ekonomi terbuka untuk
perdagangan kemungkinan menyebabkan dua jens dari keuntungan dinamis.
Pertama, kekuatan perdagangan bebas menngkatkan persediaan sumber daya
milik negara seperti meningkatnya penawaran modal dan tenaga kerja dari luar
negri menjadi tersedia untuk digunakan dalam sebuah negara. Kedua, kekuatan
perdagangan bebas juga meningkatkan efisiensi bila sebuah negara menggunakan
sumber dayanya.

2.7.4 Tinjauan Samuelson


Tinjauan Samuelson melihat apa yang terjadi ketika sebuah negara kaya –
the United States- masuk ke dalam perjanjian perdagangan bebas dengn negara
miskin –China- yang dengan cepat memperbaiki produktivitasnya setelah
pengenalan kawasan perdagangan bebas.
Samuelson mencatat bahwa dia mengutamakan tentang kemampuan untuk
menghabiskan pekerjaan pelayanan lepas pantai yang secara tradisional bukan
internasional, seperti software debuging, call center jobs, accounting jobs dan
juga diagnosis medis dari MRI scans. Samuelson mengakui bahwa perdagangan
bebas menurut sejarah menguntungkan negara kaya.

11
2.7.5 Fakta hubungan antara perdagangan dan pertumbuhan
Sesuai prediksi teori standar dari keuntungan komparatif, negara yang
memilihjalan lebih terbuka menuju perdagangan internasional menikmati tingkat
pertumbuhan lebih tinggi daripada perdagangan ekonomi yang tertutup.

2.8 Teori Heckscer-Ohlin


Teori Heckscer-Ohlin memprediksi bahwa negara-negara yang akan
mengekspor barang secara intensif menggunakan faktor berlimpah secara lokal,
sambil mengimport barang secara intensif menggunakan faktor-faktor lokal yang
langka. Jadi, teori Heckscer-Ohlin mencoba menjelaskan pola dari perdagangan
internasional yang kita teliti pada ekonomi dunia.
Teori Heckscer-Ohlin mempunyai pertimbangan akal sehat. Contohnya,
Amerika serikat telah lama menjadi eksportir besar dari produk-produk pertanian,
mencerminkan negara tersebut mempunyai pertanian yang melimpah karena
tanahnya baik untuk ditanami. Sebaliknya, China unggul pada ekspor barang-
barang produksi dalam tenaga kerja intensif industri manufaktur. Ini
mencerminkan China mempunyai tenaga kerja dengan biaya rendah berlimpah. Di
Amerika serikat, yang kekurangan tenaga kerja dengan biaya rendah, telah
memilih untuk mengimpor buruh. Secara relatif, tidak mutlak, sumbangan adalah
penting; sebuah negara bisa mempunyai jumlah lahan dan tenaga kerja lebih besar
dari negara lain, tetapi menjadi relatif melimpah satu dari mereka.

2.9 Paradoks Leontief


Menggunakan teori Heckscer-Ohlin, Leontief mendalilkan bahwa sejak
modal Amerika Serikat relatif melimpah dibanding negara-negara lain, Amerika
serikat akan menjadi eksporter dari barang-barang modal intensif, dan importir
tenaga kerja intensif. Dia terkejut, bagaimanapun, dia menemukan bahwa modal
intensif ekspor US lebih sedikit daripada import US. Sejak hasil tersebut sama
sekali berbeda dengan prediksi dari teori, itu menjadi dikena sebagai paradoks
Leontief.

12
Tak ada yang cukup yakin mengapa kita meneliti paradoks Leontief. Satu
kemungkinan keterangan adalah bahwa Amerika Serikat mempunyai keuntungan
spesial dalam memproduksi produk baru atau barang-barang yang dibuat dengan
teknologi inovatif.

2.10 Teori Product Life-Cycle


Raymond Vernon pada awalnya mengemukakan teori product life-cycle di
pertengahan 1960. Teori Vernon didasarkan pada penelitian bahwa untuk
kebanyakan dari abad 20 proprsi yang sangat besar dari produk baru dunia telah
dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan US dan pertama kali dijual di pasar
US ( mis: TV, kamera instan, alat fotokopi, dll). Untuk menjelaskan ini, Vernon
berpendapat bahwa kekayaan dan ukuran pasar US memberi perusahaan-
perusahaan dorongan kekuatan untuk mengembangkan produk baru konsumen.
Sebagai tambahan, biaya tenaga kerja yang tinggi memberikan dorongan intensif
pada perusahaan US untuk mengembangkan proses inovasi penghematan biaya.
Vernon meneruskan membuktikan bahwa pada awal produk life-cycle
khusus produk baru, saat permintaan mulai tumbuh dengan cepat di US,
permintaan negara-negara maju lainnya terbatas pada kelompok-kelompok
berpendapatan tinggi. Terbatasnya permintaan awal pada negara maju lainnya
tidak membuat hal tersebut bermanfaat untuk perusahaan pada negara itu untuk
memulai memproduksi produk baru, tetapi itu mengharuskan beberapa ekspor dari
Amerika Serikat.

2.10.1 Evaluasi Teori Product Life-Cycle


Menurut sejarah, Teori Product Life-Cycle memperlihatkan sebuah
penjelasan akurat dari pola perdagangan internasional. Pertimbangan mesin
fotocopy; produk yang dikembangkan di awal 1960 oleh Xerox di US dan
awalnya dijual untuk pengguna di US. Mula-mula Xerox mengekspor mesin
fotokopi mulai Amerika Serikat, terutama ke Jepang dan negara-negara maju di
Eropa Barat. Karena permintaan mulai meningkat di negara-negara itu, Xerox
masuk menjadi usaha gabungan untuk membangun produksi di Jepang dan

13
Britania Raya. Dari waktu ke waktu banyak kompetitor masuk ke pasar.
Akhirnya, Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya (Jepang dan Britania
Raya) berubah dari pengekspor mesin fotocopy menjadi pengimpor. Evolusi pada
pola perdagangan internasional mesin fotocopy tersebut cocok dengan prediksi
dari teori dari produk life-cycle bahwa industri-industri yang dewasa keluar dari
Amerika dan masuk ke lokasi-lokasi biaya rendah. Bagaimanapun, Teori Product
Life-Cycle bukan tanpa kelemahan. Dilihat dari segi Asia dan Eropa, argumen
Vernon bahwa banyak produk baru dikembangkan dan dikenalkan di Amerika
Serikat kelihatan etnosentris.

2.11 Teori Perdagangan Baru (New Trade Theory)


Teori perdagangan baru mulai muncul pada tahun 1970an ketika sejumlah
ahli ekonomi menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk mencapai
tingkat kekuatan ekonomi mempunyai implikasi penting untuk perdagangan
internasional.
Teori perdagangan baru membuat dua poin penting: pertama, karena
pengaruhnya pada skala ekonomi, perdagangan dapat meningkatkan
keanekaragaman dari barang-barang yang tersedia untuk konsumen dan
mengurangi biaya rata-rata barang tersebut. Kedua, industri-industri itu ketika
output diperlukan untuk mencapai skala ekonomi yang menggambarkan proporsi
penting dari total permintaan dunia, pasa global barangkali hanya mampu
mendukung sejumlah kecil dari perusahaan-perusahaan.jadi perdagngan dunia
pada produk tertentu mungkin dikuasai oleh negara-negara yang mempunyai
perusahaan-perusahaan yang merupakan first mover di produksi mereka.

2.12 Meningkatkan Variasi Produk dan Mengurangi Biaya


Dalam indutri, dimana skala ekonomi adalah penting, variasi barang yang
dapar diproduksi suatu negara dan skala produksi keduanya terbatas oleh ukuran
dari pasar. Jika pasar sebuah negara adala kecil, tidak ada kemungkinan cukup
permintaan untuk penghasil mencapai skala ekonomi untuk produk-produk
tertentu. Karena itu, produk tersebut bisa diproduksi, dengan cara membatasi

14
variasi produk yang tersedia untuk konsumen. Kemungkinan lain, mereka bisa
memproduksi produk, tetapi dalam volume rendah yang biaya dan harga unitnya
lebih tinggi daripada kekuatan mereka jika skala ekonomi bisa dicapai.
Sekarang mengingat apa yang terjadi ketika perdagangan negara satu sama
lain. Pasar negara individual dikombinasikan ke dalam pasar dunia yang lebih
besar. Seperti ukuran pasar yang berkaitan dengan luas perdagangan, perusahaan-
perusahaan individual mungkin dapat mencapai skala ekonomi lebih baik. Sebuah
implikasi, menurut teori perdagangan baru, bahwa setiap negara mampu untuk
menspesialisasi dalam memproduksi produk lebih sempit pada kekurangan
perdagangan, masih dengan membeli barang-barang dari negara lain, setiap
negara dapat secara serempak meningkatkan variasi dari barang-barang yang
tersedia untuk konsumennya dan biaya yang lebih rendah dari barang-barang
tersebut – jadi perdagangan menawarkan sebuah kesempatan untuk keuntungan
bersama bahkan ketika negara-negara tidak berbeda pada sumber daya pendukung
atau teknologi mereka.

2.13 Skala Ekonomi, Keuntungan First-Mover dan Pola Perdagangan


Keuntungan first-mover adalah keuntungan ekonomis dan strategis yang
tumbuh untuk pengikut yang masuk lebih awal ke dalam sebuah industri.
Kemampuan untuk menangkap skala ekonomi lebih dulu dari pengikut
selanjutnya, dan pada prinsipnya keuntungan dari struktur biaya yang lebih
rendah, adalah sebuah keuntungan first-mover yang penting. Teori perdagangan
bebas beragumen bahwa untuk produk-produk dimana skala ekonomi adalah
penting dan menunjukkan proporsi permintaan dunia yang kuat, first mover pada
sebuah industri dapat mencapai keuntungan biaya berdasarkan skala agar
pengikut-pengikut selanjutnya hampir tidak mungkin menemukan tandingan. Jadi,
pola perdagangan yang kita teliti untuk produk yang bisa menggambarkan
keuntungan first-mover. Negara-negara bisa mendominasi eksppor dari barang-
barang tertentu karena skala ekonomi penting dalam produksi mereka dan karena
perusahaan berlokasi di negara-negara yang pertama menggambarkan skala
ekonomi, memberi mereka sebuah keuntungan first-mover.

15
2.14 Implikasi New Trade Theory
Teori perdagangan baru mempunyai implikasi penting. Teori itu
menyatakan bahwa negara-negara bisa tetap untung ketika mereka tidak berbeda
dalam sumber daya pendukung dan teknologinya. Teori tersebut juga menyatakan
bahwa suatu negara bisa mendominasi ekspor dari sebuah barang yang sederhana
karena cukup menguntungkan mempunyai satu atau lebih perusahaan pertama
untuk memproduksi barang itu.
Teori ini cukup berguna dalam menjelaskan pola-pola perdagangan. Studi
empiris nampaknya mendukung prediksi dari teori bahwa perdagangan
meningkatkan spesialisasi produksi di dala sebuah industri, menambah variasi
produk yang tersedia untuk konsumen, dan menghasilkan harga rata-rata yang
lebih rendah.
Mungkin banyak yang memperdebatkan implikasi dari teori perdagangan
baru dengan argumen bahwa teori perdagangan baru menimbulkan campur tangan
pemerintah dan kebijakan perdagangan strategis. Ahli teori perdagangan baru
menekankan keuntungan, entrepreneurship, dan inovasi dalam memberi
perusahaan keuntungan-keuntungan first-mover.

2.15 Keuntungan Kompetitif Nasional: Porter’s Diamond

Firm’s
Strategy
Structure
Rivalry

Endowment
factors Demand
condition
Related and
Supporting
industries

16
Atribut-atribut Porter’s Diamond
- Faktor endowment (pendukung) - posisi sebuah negara dalam faktor produksi
seperti tenaga kerja terlatih atau kebutuhan infrastruktur untuk bersaing dalam
industri.
- Demand Condition (kondisi permintaan) - Permintaan terhadap produk dan
jasa dalam negeri.
- Relating and Supporting Industries (pemasok) - Kehadiran pemasok dan
industri sejenis yang sangat kompetitif secara internasional.
- Firm Strategy Structure and Rivalry (Strategi, struktur dan persaingan
perusahaan) - Kondisi pemerintahan yang membentuk bagaimana perusahaan
diciptakan, diorganisasikan, diatur serta mengetahui bagaimana kondisi
persaingan domestik.
Porter beragumen bahwa perusahaan-perusahaan banyak kemungkinan
untuk sukse dalam industri atau segmen industri dimana the diamond paling
menguntungkan. Dia juga beragumen bahwa the diamond menguatkan sistem satu
sama lain. Akibat dari satu atribut bergantung pada negara lainnya. Contohnya,
Porter beragumen kondisi permintaan yang menguntungkan tidak akan
menghasilkan keuntungan kompetitif kecuali jika persaingan negara cukup
menyebabkan perusahaan merespon mereka.

2.15.1 Faktor Endownment


Faktor endowment berada di pusat H-O Theory. Sedang porter tidak
porpose apapun secara radikal, ia meneliti karakteristik faktor-faktor produksi. Ia
mengenali hirarki antar faktor, membedakan basis factor dan advanced factor. Ia
membantah jika advanced factor tersebut adalah yang penting untuk competitive
advantage. Tidak sama dengan basis factor yang secara alami diberkati, advanced
factor adalah suatu produk investasi oleh individu, perusahaan dan pemerintahan .
Seperti, investasi pemerintahan dalam pendidikan dasar dan lebih tinggi, dengan
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang umum, tingkat populasi dan
merangsang riset lanjutan (advanced) secara simultan pada institusi pendidikan
lebih tinggi, dapat meningkatkan mutu advanced factor bangsa. Hubungan antara

17
basis factor dan advanced factor adalah kompleks. basis factor dapat
menyediakan suatu keuntungan awal yang sesudah itu diperkuat dan diperluas
oleh investasi didalam advanced factor. Dan sebaliknya kerugian didalam basis
factor dapat menciptakan tekanan untuk menanam modal dalam advanced factor.

2.15.2 Kondisi Permintaan


Porter menekankan home demand berperan dalam meningkatkan mutu
competitive advantage. perusahaan paling sensitif dengan kebutuhan pelanggan
terdekat mereka. seperti, karakteristik home demand terutama penting dalam
membentuk atribut dari produk domestik dibuat dan dalam menciptakan tekanan
untuk inovasi dan mutu. porter berpendapat bahwa suatu keuntungan competitive
advantage perusahaan nasional jika konsumen domestik mereka canggih dan
menuntut, seperti konsumen memaksa perusahaan lokal untuk memiliki standard
yang tinggi untuk mutu produk dan menghasilkan model yang inovatif.

2.15.3 Yang Terkait dan Mendukung Industri


Atribut yang ketiga dari keuntungan nasional dalam suatu industri adalah
kehadiran para penyalur/pemasok atau hubungan industri yang secara
internasional kompetitif. keuntungan-keuntungan invesments dalam faktor-faktor
produksi lanjut oleh yang terkait dan pendukung industri dapat mencurah keluar
ke dalam suatu industri, dengan demikian membantunya mencapai suatu posisi
yang kompetitif dan kuat secara internasional.

2.15.4 Strategi Perusahaan, Struktur dan Persaingan


Atribut yang keempat dari manfaat kompetisi nasional dalam Model Porter
adalah strategi, struktur, dan persaingan perusahaan di dalam suatu bangsa. Porter
memenangkan perdebatan dua penting di sini. dulu, negara-negara adalah
characteristized oleh ideologi manajemen berbeda, baik bantuannya maupun
tidak membantunya untuk membangun manfaat kompetisi nasional.

18
2.15.5 Mengevaluasi Teori Porter
Porter menetapkan bahwa derajat tingkat bagi suatu bangsa mungkin untuk
mencapai sukses internasional dalam suatu industri tertentu adalah suatu fungsi
dampak faktor endowment yang dikombinasikan, kondisi-kondisi permintaan
domestik, hubungan dan dukungan industri, dan persaingan domestik. ia
membantah bahwa kehadiran dari semua empat komponen pada umumnya
diperlukan untuk Diamond ini untuk menaikkan capaian kompetisi. Porter juga
menetapkan bahwa pemerintahan dapat mempengaruhi masing-masing empat
komponen diamond itu. Faktor endowment dapat dipengaruhi oleh tunjangan,
kebijakan ke arah pasar modal, kebijakan ke arah pendidikan, dan seterusnya.
pemerintahan dapat membentuk permintaan domestik melalui standard produk
lokal atau dengan regulasi dan dengan mempengaruhi persaingan perusahaan,
seperti dengan peraturan pasar modal, mengenakan kebijakan pajak, dan hukum
yang melarang monopoli industry.
Jika porter benar, kita harapkan modelnya untuk meramalkan pola
perdagangan internasional yang kita mengamati. Negara-negara harus
mengekspor produk dari industri itu dimana semua empat komponen tidaklah
baik. Belum dilakukan pengujian empiris terhadap Teori Porter. Banyak teori
menyakinkan, tetapi hal yang sama dikatakan oleh Teori Perdagangan Baru (New
Trade Theory), Teori Keuntungan Kompetitif (Competitive Advantage), dan Teori
Heckscher-Ohlin (H-O Theory). Mungkin saja bahwa masing-masing teori ini,
melengkapi satu sama lain, menjelaskan tentang suatu pola perdagangan
internasional.

19
BAB III
KAJIAN EMPIRIS

20
BAB IV
PEMBAHASAN

Globalisasi perdagangan international memberi peluang dan tantangan


bagi perekonomian nasional, termasuk didalamnya agribisnis. Kesepakatan-
kesepakatan GATT, WTO, AFTA, AFEC dan organisasi perdagangan dunia
lainnya, satu sisi memberi peluang terhadap sektor pertanian di Indonesia, jika
agribisnis yang dilakukan memiliki daya saing, sisi lain merupakan ancaman
terhadap komoditas pertanian jika tidak memiliki daya saing.Daya saing dapat
dilihat dari keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
Argumentasi yang melatarbelakangi gagasan perdagangan bebas pada
dasarnya mengacu pada konsep keunggulan komparatif dan keuntungan yang
dapat dicapai melalui spesialisasi sesuai dengan keunggulan komparatif. Untuk
meningkatkan kebersaingan domestik subsektor hortikultura, pengamatan
terhadap perkembangan pasar internasional harus mendapat perhatian yang lebih
besar. Kontribusi nyata dari sub sektor ini hanya dapat terwujud jika komoditas
yang dikembangkan memiliki keunggulan komparatif . Berdasarkan pertimbangan
perbedaan potensi sumberdaya antar wilayah di Indonesia yang sangat beragam,
pendekatan keunggulan komparatif akan lebih relevan jika dilakukan dengan basis
regional (bukan dengan basis agregat /nasional).
Komoditas bawang merah dipandang lebih siap memasuki era pasar bebas
dibanding komoditas pangan lainnya. Karena memiliki kemandirian dan campur
tangan pemerintah terhadap harga produksi relatif kecil. Komoditas bawang
merah dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dikembangkan dalam
sistem agribisnis, karena mempunyai keterkaitan yang kuat baik ke sektor industri
hulu pertanian (up stream agriculture) maupun keterkaitan ke hilir (on farm
agriculture), yang mampu menciptakan nilai tambah produksi dan menyerap
tenaga kerja melalui aktivitas pertanian sekunder (down stream agriculture). Di
sisi yang lain, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang
memiliki fluktuasi dan sensitivitas harga yang cukup tinggi, terutama karena
perubahan permintaan dan penawaran.

21
Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) dan Nganjuk (Jawa Timur) merupakan
daerah sentra produksi bawang merah di Indonesia. yang memiliki potensi
wilayah kondusif bagi pengembangan bawang merah. Dengan keunggulan
komparatif yang dimiliki dalam hal potensi wilayah dan tenaga kerja diharapkan
mampu meningkatkan daya saing komoditas bawang merah.

Berdasarkan hasil penelitian pada studi kasus di atas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa komoditas bawang merah di Kabupaten Brebes dan Nganjuk
memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang cukup tinggi. Dalam Tabel
3 pada studi kasus di atas menunjukkan bahwa rasio biaya sumberdaya (domestik)
untuk usahatani bawang merah di Jawa Tengah dan Jawa Timur bernilai positif
dan lebih kecil dari satu (biaya oportunitasnya lebih kecil dibandingkan dengan
harga “border”). Besaran rasio ini mengindikasikan bahwa usahatani bawang
merah di kedua lokasi tersebut memiliki keunggulan komparatif. Hal ini juga
menunjukkan bahwa nilai sumberdaya domestik yang digunakan dalam proses
produksi bawang merah lebih rendah dibandingkan dengan nilai "foreign
exchange" yang diterima atau dihemat. Indikator ini secara tidak langsung
memberikan indikasi adanya peluang ekspor bawang merah, dengan asumsi
bahwa berbagai kriteria pasar internasional yang menyangkut standarisasi mutu
produk dapat dipenuhi oleh komoditas bersangkutan.
Dalam rangka mengoptimalkan potensi wilayah, hendaknya daya saing
komoditas bawang merah dapat ditingkatkan dengan peningkatan produktivitas
usahatani misalnya dengan perbaikan sistem budidaya dan penggunaan teknologi
pertanian yang lebih efisien, selain itu pengembangan komoditas bawang merah
harusnya diiringi dengan pengembangan agroindustri dan penyimpanan bawang
merah untuk bibit, karena nilai tambah yang di dapat lebih besar. Kebijakan
pemerintah efektif masih dibutuhkan oleh petani guna keberlangsungan agribisnis
misalnya: subsidi pada input tradeable vital seperti pupuk, pestisida, penghapusan
pungutan liar pada aktivitas perdagangan, pengawasan yang lebih ketat pada

22
Dinas Bea Cukai untuk menjamin terealisasinya aturan perdagangan tentang bea
masuk dan tarif impor-ekspor secara adil dan sehat.

DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga, Witono. 1997, Keunggulan Komparatif dan Intensif Ekonomi Usaha


Tani Bawang Merah, (Online),
(http://www.scribd.com/doc/17558266/Keunggulan-Komparatif-Dan-
Insentif-Ekonomi-Usahatani-Bawang-Merah)

Sebastian. 2008, Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah. (Online),


(http://ilmiahtesis.wordpress.com/2008/01/23/analisis-daya-saing-komoditas-
bawang-merah-di-kabuapaten-tinjauan-keunggulan-komparatif-dan-
keunggulan-kompetitif-di-daerah-sentra-produksi/)

Trianasari, Ely. 2009, International Trade Theory, (Online),


(http://www.scribd.com/doc/24207933/International-Trade-Theory)

23