.

……. I. V.…….2 Tantangan dan Peluang …………………………………………………….……… 2.DAFTAR ISI Sambutan ……………………………………………………………………………………………… Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………. 73 3..……….……….………………………………………………………………………………. 1.…… 4. 99 6. Gambaran Umum Kebencanaan ……………………………………………………….5 Kaidah Pelaksanaan ………………………………………………………………… II. 99 6.. 73 3.3 Kebijakan dan Strategi ………………………………………………………. Pemantauan. 79 79 79 85 91 VI. 2.……… 4. 2. 1. Permasalahan.2 Pendanaan ………………………………………………………………………………. Anggaran dan Pendanaan ………………………………………………………. Program …………………………………………………………………………………….3 Kedudukan Dokumen dan Landasan Hukum …………………………… 1. 102 VII.. Daftar Gambar …………………………………………………………………………….1 Isu dan Permasalahan ………………………………………………………. 4. Lampiran 105 105 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pendahuluan ……………………………………………………………………………………… 1.…….. Daftar Tabel …………………………………………………………………………………………. Kebijakan Penanggulangan Bencana ……………………………………….3 Risiko Bencana ………………………………………………………………………… i ii iii iv 1 2 3 3 5 6 9 9 26 31 III. 75 IV..2 Kerentanan dan Kapasitas ………………………………………………. 7.1 Pemantauan dan Evaluasi ………………………………………………………..1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1.…….. Tantangan dan Peluang …………………………………………. Evaluasi dan Pelaporan …………………………………………….1 Anggaran ………………………………………………………………………………….2 Tujuan …………………………………………………………………………………….2014 ii . 7..2 Pelaporan .1 Visi dan Misi ……………………………………………………………………….1 Ancaman (Hazard)……………………………………………………………………..4 Proses Penyusunan ………………………………………………………………….…….2 Penataan Kelembagaan …………………………………………………….

.

7.. Tabel 2..15. BNPB) ………………….16. …………………………………………………… 10 Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.6.. 40 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah ……………………….14..1... 65 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 69 Program dan fokus prioritas dalam Renas PB …………………… 93 Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB 99 Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB …………………………………………………………………………..... 55 Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi ………………………………………...10..9.. 27 Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 19902007 (BPS...DAFTAR TABEL Tabel 2. Tabel 2.... 15 Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) ………………………………………………… 18 Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 …….1.. 28 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 31 Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami .. Tabel 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .. Tabel 2..2. Tabel 2.5.1. Tabel 2. Tabel 2.8.. Tabel 2. Tabel 2.13. Tabel 7.. 2008). Tabel 2. Tabel 6.. 61 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman …………………………………………………………………….3.11..12. Tabel 2. 2007) ………………………………………………………………..2014 iii . 36 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi …………………………….. Tabel 6... Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.. 107 Tabel 2.. Tabel 2.2... 42 Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir ……………………………………. 25 Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau …………………………………………………………….4. 46 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan …………………………….... 51 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan ….. 101 Format pemantauan dan evaluasi ……………………………………... Tabel 5...1. Tabel 2. Tabel 2..

.

.. Gambar 2.... Gambar 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 ... Gambar 5.2.5... Gambar 5.....4. BNPB) ………………………………………………… Posisi munculnya siklon tropis di Indonesia (BMKG) .... Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG....Bakosurtanal. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI......3. Gambar 2..... Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI... Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG...10...7.......... Gambar 2....... Zona Bahaya Erosi di Indonesia ……………………………………....... Gambar 2... Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis …………………… Sistem Penanggulangan Bencana Indonesia ………………… Pilihan tindakan dalam manajemen risiko bencana ……… 9 11 13 14 16 17 19 20 21 22 22 23 91 93 Gambar 2.9...6.... Gambar 2..11.... Zona kerentanan gerakan tanah di Indonesia (ESDM)… Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG..... Gambar 2... PU) ……………………………………………………………………………… Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) …………… Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) . Gambar 2.8. 2007) ....DAFTAR GAMBAR Gambar 2.....12..... Gambar 2.... 2007)…………...1......2014 iv .2.... BNPB) ……………......1. 2008) …………………………………………………………………………… Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia dalam periode 1801-2006 (Puspito. Gambar 2...

.

.

.

sebuah gempabumi besar terjadi di dalam laut sebelah barat Pulau Sumatra di dekat Pulau Simeuleu. Gempabumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225. Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu. Pada tanggal 26 Desember 2004. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran hebat di banyak kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. Nusa Tenggara Barat.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II.2014 1 . Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir. meletus dan mengeluarkan sekitar 1. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165. Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah. Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak. Tahun 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa.1 LATAR BELAKANG Indonesia adalah sebuah negeri yang rawan bencana. Dalam abad yang sama. kira-kira 13.708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun. bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin. Banjir yang hampir setiap tahun menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit. Bencana yang paling mematikan pada awal abad XXI juga bermula dari Indonesia.7 juta ton abu dan material vulkanik. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia.BAB I PENDAHULUAN 1.

terkoordinasi dan menyeluruh. Indonesia memerlukan suatu rencana yang sifatnya terpadu. Rencana ini menggambarkan kondisi yang diinginkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam 5 (lima) tahun mendatang mengenai penanggulangan bencana. Demikian pula kekeringan yang semakin sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. penanganan kondisi tanggap darurat yang efisien dan upaya pemulihan yang tepat sasaran. analisis risiko bencana sampai dengan program kegiatan dan fokus prioritas yang akan diambil termasuk keterlibatan Kementerian/Lembaga dan besarnya anggaran yang dibutuhkan. perkebunan dan peternakan. selain mengancam produksi tanaman pangan juga kian mempermiskin penduduk yang mata pencahariannya tergantung pada pertanian. Penyusunan Renas PB merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Renas PB adalah sebuah dokumen resmi yang memuat data dan informasi tentang risiko bencana yang ada di Indonesia dalam kurun waktu antara 2010-1014 dan rencana pemerintah untuk mengurangi risiko-risiko tersebut melalui program-program kegiatan. Program-program kegiatan dalam Renas PB disusun berdasarkan visi misi penanggulangan bencana dan rencana tindakan yang harus diambil sesuai dengan manajemen risiko. merupakan wujud dari upaya pemerintah terkait untuk merumuskan program-program kegiatan dan fokus prioritas penanggulangan bencana. Renas PB layaknya proposal dari pemerintah memuat upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Untuk menghadapi peningkatan potensi dan kompleksitas bencana di masa depan dengan lebih baik. Rencana ini menjadi salah satu bagian kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang merupakan prioritas 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II yang disebut sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana.2014 . dimulai dari identifikasi ancaman bencana. Dalam pelaksanaannya perlu dipadukan dalam 2 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Rencana Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut Renas PB.kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah.

40 Memberikan acuan kepada kementerian dan lembaga pemerintah. maka Renas PB diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010-2014.2014 3 .2 TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20101014 adalah: 30 Mengidentifikasikan daerah berisiko tinggi dari berbagai bencana yang ada di Indonesia dan menyusun pilihan tindakan yang perlu mendapat perhatian utama. dokumen Renas PB selanjutnya menjadi arah dalam melakukan pengarusutamaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan bencana. perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas utama dalam RPJMN dan terpadukan ke dalam program-program pembangunan dalam dokumen tersebut. dan seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Indonesia agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terencana. Secara khusus.3 KEDUDUKAN DOKUMEN DAN LANDASAN HUKUM Renas PB merupakan rencana pemerintah lintas sektor yang berlaku selama lima tahun. Dengan mengacu RPJMN. Ringkasan isi Renas PB diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang memuat kebijakan dan program pembangunan serta rencana kerja Pemerintah. Untuk memastikan terlaksananya perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana. Dengan demikian. pemerintah setiap tahun akan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai penjabaran dan operasionalisasi RPJMN yang memuat kerangka regulasi. Kementerian/Lembaga pemerintah pusat akan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . terpadu. 1. berikut program kegiatan. fokus prioritas dan anggaran indikatif yang diperlukan.perencanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. terkoordinasi dan menyeluruh. 1. kerangka anggaran dan rincian program.

lembaga-lembaga swadaya masyarakat. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. dan masukan melalui berbagai media publik. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah.2014 . konsultasi publik. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. 1. Di masa yang akan datang. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6).Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang.

lembaga pemerintah. Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian. 6. 4. 2. Kementerian. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).2014 5 . Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). pemerintah daerah. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. 5. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 3.1. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014.

media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB.2014 . konsultasi publik. lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 6 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 1. Di masa yang akan datang.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. dan masukan melalui berbagai media publik. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga.

Kementerian. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 2. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 3. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga.2014 7 . Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. 5. lembaga pemerintah. 4. Kementerian.1. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 6. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). pemerintah daerah. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah.

2014 .8 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

Daerah yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1. Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif.Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra. Gambar 2. 2008). Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Euro-Asia. Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara.BAB II GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN 2.1. Jawa. sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng.2014 9 .1 Ancaman Gempabumi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan. Bali dan Nusa Tenggara. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Euro.1 ANCAMAN (HAZARD) 2. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.

207 100 > 1. Cimandiri.2 MMI VIII IX IX IX X VIII VIII Korban Jiwa (org) 250 354 213 l. Sedangkan daerah di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatra.1. 2. sesar aktif di daerah Banten. Provinsi Jawa Barat. Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini. Pulau Sulawesi. Busur Belakang Flores. menyajikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 10 . Tahun 1896 1926 1943 1994 2000 2005 2006 Magnitudo (Mw) 7. Maluku Utara. Baribis.1. Nusa Tenggara Timur. menyajikan data beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa yang besar. 7. Nusa Tenggara.7 6. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua. Tabel 2. 6. Kepulauan Maluku dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap.2 Ancaman Tsunami Gempabumi yang disebabkan oleh interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang mengakibatkan gelombang pasang dan tsunami apabila terjadi di samudera. pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. Indonesia menjadi rawan terhadap ancaman tsunami.8 7 7. Opak. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG. 5. 3. Gambar 2. Sorong. Kepulauan Maluku.terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra. 1. Lembang. pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara. Jawa Timur. Lampung Bengkulu Pulau Nias Yogyakarta dan Jawa Tengah 2. Bali. 2008) No. Palu-Koro. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra. Ransiki. Nusa Tenggara Barat.2. 4.700 Daerah Pulau Timor Sumatra Barat Yogyakarta dan Jawa Tengah Liwa.2.000 > 5. Bali.9 8. Tabel 2. pantai selatan Jawa. Jawa Tengah.

en 1969). tercatat telah terjadi 1 kejadian tsunami. Arno (1985) da Ismail (19 old an 989). Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia i dalam periode 1801-2006 (Puspito. Kem i nia u mudian data tersebut dibandingka dengan data yang dikum an mpulkan oleh Berninghause (1966. sebelum tahun 1970 tidak dilaporkan dengan baik sedangkan kejadian n k.kejadian be encana tsunam di Indonesi dalam kuru waktu anta tahun mi ia un ara 1801-2006. 9 oleh letusan h gunungapi dan 1 oleh tanah longso Sebagian besar data kejadian or. n 110 100 kejadia di antarany disebabkan oleh gempa an ya abumi. G Gambar 2. ih Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dan sel lanjutnya diperbaharu dengan da ui ata-data kejadian tsunami terkini. Berdasarkan i pengolahan data tersebut.2. tsunami yang terjadi se etelah tahun 1970 telah d diteliti dan di ilaporkan dengan lebi baik. Cox (1970).2014 11 . 2 p 2007) Data histori tsunami di Indonesia pad periode an is da ntara tahun 16 600-1998 telah dikom mpilasi dari ka atalog gempa destruktif (t a termasuk di d dalamnya tsunami) di seluruh dun oleh Utsu (1992).

Sedangkan kawah gunungapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo. antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan 2. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava. Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una tempat lokasi Gunung Colo. Bali. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi. letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4. Gunung-gunungapi aktif yang tersebar di Pulau Sumatra. kubah lava runtuh dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi. Nusa Tenggara.2. memperlihatkan sebaran gunungapi di Indonesia.000 orang.3.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan 210 korban jiwa.3 Ancaman Letusan Gunungapi Terkait dengan zona penunjaman lempeng-lempeng besar yang telah diuraikan. Jawa.951 korban jiwa di Jawa Barat. berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3. Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi dengan 129 di antaranya aktif. 2006) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban jiwa besar.2. Gambar 2. Di Teluk Tomini.2014 . Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek. letusan tahun 1930 mengakibatkan 1. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 928 mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur.000 korban jiwa. Di Jawa Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5. Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX. Berdasarkan sejarah. 12 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku merupakan sekitar 13% dari sebaran gunungapi aktif dunia.011 korban jiwa dan letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2. Soputan dan Lokon.

2007) 2. Hampir semua pulau utama di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah. Sumatra Barat (2008) dan terakhir di Situ Gintung.2. secara geologis Indonesia juga menghadapi ancaman gerakan tanah. seperti terjadi di Nias (2001) dan Bohorok Sumatra Utara (2005). Hampir setiap tahun Indonesia mengalami kejadian gerakan tanah yang mengakibatkan bencana.3.4 Ancaman Gerakan Tanah Selain ancaman gempabumi. Korban dan kerugian besar pada umumnya terjadi pada gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan atau banjir bandang. kecuali Pulau Kalimantan yang hanya memiliki dua kabupaten yang rawan. yang mengakibatkan 82 orang tewas. yakni Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur. Banten (2009). 103 orang hilang. atau yang pada umumnya dikenal sebagai tanah longsor. 179 orang luka-luka dan 250 buah rumah hancur/rusak. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. Sulawesi Tengah (2007).2014 13 .Gambar 2. tsunami dan letusan gunungapi.

kondisi kerentanan bang gunan dan in nfrastruktur. 2007). dan arah angin yang c han cukup ekstrim Kondisi m.5 Ancam Banjir man Secara geog grafis.4. dan kapasitas daerah seca ara umum. ini dapat menimbulka ancaman-ancaman y an yang bersifat hidrot meteorolog seperti banjir dan ke gis ekeringan.Gambar 2. yaitu musim pa ua anas dan mus hujan den sim ngan ciriciri perubah cuaca. kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami d k degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tana Hal ini dip ah. Daerah yan memiliki re ng elief morfolog kasar denga lereng-lere yang gi an eng terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerak tanah. Da aerah-daerah dengan risiko tingg terhadap ancaman ba gi anjir tersebar di seluruh wilayah r 14 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . suhu.4 menyajika zona 4. an kerentanan gerakan tana di Indonesi ah ia. Peta zona keren ntanan gerakan tanah di Indo n onesia (PVMBG. Di samping a h k kan itu. wilayah Indonesia t terletak di da aerah iklim tr ropis dan memiliki du musim. 2.2014 .2. perburuk lagi oleh curah hujan yang tinggi d y dan gempa y yang sering t terjadi di Indonesia. Secara umu tingkat r um risiko bencan gerakan t na tanah di Kabupatan/ /Kota di Indonesia dite entukan oleh keberadaa lajur an pegunungan Tingkat ris n. Gambar 2. siko dipengar ruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai un nsur lainnya seperti kepadatan dan kerentanan pe enduduk. tingkat ekono omi.

air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam tiga kategori: (a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia. Semarang dan Banjarmasin secara historis juga sering dilanda banjir. tanggul dan bangunan pengendali banjir Tabel 2. Beberapa kota tertentu seperti Jakarta.hilang .mengungsi 2.382 72.285 201 604.5 Jalan (km) 2001/02 150 2002/03 186 2003/04 143 2004/05 182 Total 661 185 18 388.2014 15 . begitu pula daerah aliran sungai tertentu seperti daerah aliran sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa dan daerah aliran sungai Benanain di Nusa Tenggara Timur. penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia.2. sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap.973 54. daerah pantai utara Jawa bagian barat.028 94.649 94. Dampak: 2. tetapi berubah akibat sedimentasi. dan (c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan. Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.651 57. Sulawesi Selatan dan Papua bagian selatan. Jumlah Kejadian 2.479 841 83.603 1005 206 104 180. Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama.562 568.3 Fasos/Fasum 2.927 396 126.2 Rumah Rusak 2.346 4760 36.087 972 180.240. (b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai.meninggal .901 58. tersumbat sampah serta hambatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kalimantan bagian barat dan selatan.Indonesia.640 1685 126.4 Sawah (ha) 2. Berdasarkan sumber airnya.197 6774 905.1 Korban Manusia . terutama di daerah pantai timur Sumatra bagian utara.605 3303 Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal. BNPB) Jumlah Kejadian Banjir dan Dampaknya 1.435 217 230 106 102.907 242.790 1.

2008) 2.lainnya. PU. Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada meningkatnya debit banjir.6 Ancaman Kekeringan Selain ancaman banjir. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh 16 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa Indonesia adalah kekeringan. Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG. karena jika terjadi curah hujan tinggi.2014 . Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai di bawah normal yang bersifat sementara. Bakosurtanal. baik di atmosfer maupun di permukaan tanah.2. sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir. Gambar 2.5. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran.

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Lampung. Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara. Kalimantan Tengah. Riau. dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kepulauan Bangka Belitung. Kalimantan Barat. Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia. pola pengairan.2014 17 .6. Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) Wilayah Indonesia yang rawan kekeringan meliputi beberapa kabupaten/kota di Sumatra Barat. Sumatra Selatan.6. Kekeringan membawa akibat serius pada pola tanam. Maluku Utara dan Papua. pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air di permukaan lainnya. hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kecuali di bagian paling timur.fenomena El Niño. Gambar 2. Kalimantan Selatan. Kepulauan Riau. Sulawesi Barat. memperlihatkan zona bahaya kekeringan di Indonesia. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat. Kalimantan Timur. Gambar 2. Jambi. Bengkulu.

Tabel 2. Nusa Tenggara. Sulawesi dan Papua 2006 Sumatra. Jawa. Kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam rangka membuka lahan.198 ha 18 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . baik untuk usaha pertanian.000 ha 32.000 ha 66.600. Nusa Tenggara.2014 . kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh adanya fenomena alam El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menimbulkan kekeringan. Bali. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan sosialekonomi.7 Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Terkait dengan ancaman kekeringan.3.400. Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. dan Pulau Jawa.000 ha 9. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara dan Timor 1991 Sumatra. Sulawesi. Bali. Kalimantan.000 ha 3 4 5 6 1982/1983 Kalimantan Timur 1987 Kalimantan. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat mengganggu negara-negara tetangga sehingga berpotensi menganggu hubungan kenegaraan Indonesia dengan negara-negara tetangga tersebut. Bali. 1 2 Tahun Wilayah Luas Areal Terbakar 3. Kalimantan. Sumatra. Kalimantan dan Sulawesi 1994 Sumatra dan Kalimantan 1997/1998 Sumatra. Daerah di Indonesia yang rawan kebakaran hutan dan lahan terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memiliki areal perkebunan dan pertanian dalam skala besar serta beberapa kabupaten/kota diantaranya di Sulawesi.2. Jawa.000 ha 5. Sulawesi dan Maluku 500.750. Jawa.2. Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) No.

Jawa. Dari data tersebut tampak bahwa semua pulau-pulau utama Indonesia rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan.7. Gambar 2. angin. dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia bendungan.3. Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada. Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) 2.Gambar 2. karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan di tempat lain. Proses erosi terutama dapat mengakibatkan penipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan.2014 19 . Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Bali.7. yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air.8 Ancaman Erosi Indonesia juga menghadapi ancaman erosi. es. Risiko erosi tinggi di Indonesia tersebar di Pulau Sumatra. Sementara itu Tabel 2. pengaruh gaya berat atau organisme hidup.2. memperlihatkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. menunjukkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang besar di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir.

Zona Bahaya Erosi di Indonesia 2. kompor meledak. Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku serta Papua.2.8. Padang. Bogor. Pekanbaru. Depok dan sekitarnya yang sangat padat penduduk. Sulawesi. 20 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Korsleting listrik. Bekasi. api lilin/lampu minyak yang menyambar kasur.Kalimantan. terutama pada musim kemarau. Makassar. Bandung. Tangerang. Gambar 2. Medan. Semarang.2014 . Denpasar dan kota-kota lain yang setara tingkat kepadatannya di samping kawasan industri padat penduduk yang menggunakan bahan-bahan bakar dan bahan berbahaya. Daerah-daerah di Indonesia yang perlu diwaspadai untuk ancaman ini meliputi kota-kota di DKI Jakarta. merupakan beberapa penyebab umum kebakaran pada gedung dan permukiman. Ancaman muncul akibat kecerobohan manusia dalam membangun gedung atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku.9 Ancaman Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat sering terjadi di Indonesia. Palembang. Perlu diwaspadai juga kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi seperti Surabaya.

daerah yang memiliki potensi tinggi terkena gelombang ekstrim adalah wilayah pantai utara Pulau Jawa.2. Untuk wilayah di sebelah utara khatulistiwa daerah yang berpotensi terkena gelombang ekstrim adalah Pantai Sulawesi Utara.2014 21 . Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Gelombang ekstrim adalah salah satu penyebab abrasi yang terjadi dengan cepat. Kota Medan. Gelombang ekstrim yang melanda Indonesia berada di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis.Gambar 2. Daerah-daerah yang menghadapi risiko tinggi bencana abrasi meliputi Aceh Selatan dan Kota Banda Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa. Kota Jakarta Utara. Maluku dan Irian Jaya.9. Gambar Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan. Kota Padang dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat.10 Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi Terkait perubahan iklim global. Sumatra. Indonesia semakin sering menghadapi ancaman gelombang ekstrim dan abrasi kawasan pesisir pantai. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. 2007 ) 2. Gelombang ekstrim pada umumnya ditimbulkan oleh siklon tropis. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI-BNPB.

2014 . kan bar i klon tropis di In ndonesia (BMK KG) Gamb 2. Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI-BNPB.10.10. 2007) bar i 22 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 11.2.1 menunjukk indeks zonasi abrasi di Indonesia. Posisi munculnya sik Gamb 2.11. dan Gambar 2. memp perlihatkan posisi munculn siklon tro nya opis di Indone esia.

Tingginya kecepatan angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk robohnya atap bangunan ringan. tiang listrik dan pohon-pohon.2. pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif. terutama terkait dengan meningkatnya dampak perubahan iklim global.11 Ancaman Cuaca Ekstrim Cuaca Ekstrim seperti angin puting beliung. pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis 2. memperlihatkan daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terlanda badai tropis. atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban tewas serta kerugian harta benda. baliho. kecelakaan industri. Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran.2014 23 .12.2.12 Kegagalan Teknologi Kegagalan teknologi juga sudah mulai mengancam Indonesia. Gambar 2.12. Kegagalan teknologi dapat diakibatkan oleh kesalahan desain.2. dan kawasan Indonesia bagian timur yang sangat rawan terlanda badai tropis dari arah benua Australia. topan dan badai tropis juga mulai banyak mempengaruhi Indonesia. Salah satu kegagalan teknologi yang memicu bencana alam yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Ancaman yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung yang umumnya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau ke musim hujan. Gambar 2.

mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan higienis secara memadai. Kecelakaan tambang seperti ledakan gas metana (CH4) yang terjadi di tambang batubara P. dengan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman yang menjamin keselamatan para pengguna dan mendorong perilaku berlalu-lintas yang aman dan berbudaya. antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2007.4.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Epidemi dan wabah penyakit merupakan hal yang potensial timbul di Indonesia.2.000 kendaraan dan mengakibatkan korban tewas mencapai 19. tanggal 16 Juni 2009. Beberapa kejadian Flu Burung sudah teridentifikasi di Sumatra Utara dan Barat. Selain Flu Burung. Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius dalam bentuk kematian dan terganggunya roda perekonomian.T. selain jumlah korban tewas yang sangat besar setiap tahunnya. lokasi kejadian. Jawa Tengah dan Jawa Timur. yang dalam sepuluh tahun belakangan ini jumlahnya telah melebihi jumlah korban tewas akibat Tsunami Aceh-Nias tahun 2004. Banten. 2. Perhatian khusus perlu diberikan pada keselamatan di jalan raya. Bukit Asam. Data statistik tahun 2008 dari Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya mencapai 56. perhatian serius perlu diberikan pada jumlah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi. Dalam hal kegagalan teknologi. Tabel 2. demam berdarah dan malaria.000 jiwa. Indonesia terutama juga sering mengalami kejadian diare.216 jiwa. dan korban luka-luka lebih dari 75. mengakibatkan 32 korban jiwa dan luka parah/ringan 13 orang. DKI Jakarta. jumlah penderita dan jumlah kematian yang ditimbulkannya.600 kejadian dengan melibatkan lebih dari 130. Jawa Barat. menunjukkan distribusi penderita diare saat Kejadian Luar Biasa yang dirinci berdasarkan waktu. Sumatra Barat.sampai kini belum teratasi adalah kegagalan pengeboran di Sidoarjo yang menimbulkan luapan lumpur dari perut bumi. Sawahlunto. 24 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . Kerugian material dari kejadian ini tentunya amat besar. Lampung.

tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial. 2. yang di beberapa tempat dapat berlangsung lama dan berkepanjangan. Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain.51 2.52 1.2014 25 . dan sedikit menurun di tahun 2005 dari 334 Kabupaten/Kota menjadi 326 Kabupaten/Kota. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks. kemudian meningkat kembali di tahun 2006 menjadi 330 Kabupaten/Kota.Tabel 2. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri.26 1.980 3.Kematian 100 94 128 53 127 277 46 CFR (%) 2. Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut konflik sosial. Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Provinsi 12 15 22 17 11 16 8 Jml. Pemilihan kepala daerah belakangan mulai menimbulkan konflik dan kerusuhan antara berbagai kelompok pendukung calon tertentu.60 2. banjir atau kebakaran hutan.4. yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik sosial.661 Jml.62 2. Penderita 4. Konflik sosial yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu atau lebih kejadian alam seperti letusan gunungapi. Poso.2.622 3.77 1. 1988.428 5.26 Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada periode 1968-2006 cenderung mengalami peningkatan.14 Konflik Sosial Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam etnis dengan bahasa dan budaya yang beraneka ragam pula. seperti di Ambon.051 10.789 4. Konflik sosial dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 1998 dan 2005. Puncak DBD terjadi pada tahun 1973. Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit DBD dari tahun 2002 terus meningkat sampai tahun 2004 dengan adanya KLB.314 5.

2. daerah rawan letusan gunungapi adalah daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. Hingga kini tercatat sekitar 5 juta orang yang tinggal di wilayah sekitar tubuh gunungapi (PVMBG. Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam rupa tanah yang subur untuk bercocok tanam.960 dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1. Unsur kerentanan lainnya adalah tingkat kepadatan penduduk. dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Renas PB perlu mengulas isu kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di Indonesia. termasuk kejadian-kejadian konflik yang pernah terjadi di masa lampau. mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahanpatahan/sesar aktif. Tabel 2. mata air dan pemandangan yang indah.3%.2014 .2 KERENTANAN DAN KAPASITAS Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman. masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir.640. sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut. 2007). Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh dampak situasi yang kurang menguntungkan ini. Mereka adalah warga masyarakat yang rentan karena tinggal terlalu dekat dengan sumber ancaman. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir Podes tahun 2008 adalah sebanyak 231. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik. Dengan demikian. Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di pulau-pulau di negeri ini. 26 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Begitu pula untuk ancaman-ancaman lainnya: masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi.5.segera dan seksama. penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil.

9 4. jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia. Tabel 2. diikuti oleh Pulau Sumatra. maka tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi.2 7.4 lainnya 6.6 7.6 100 2008 58. Selain itu. menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi. Bandingkan bahwa pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk Indonesia per km2 hanya 124 jiwa.3 100 1971 63.9 19.5 100 1990 60 20.5.6 6.1 4.9 7.5.2014 27 . Dengan terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan.7 7 7.3 7.1 7.2 7.6 100 Pulau 1. dan bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut.3 100 1961 65 16.2 4. dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya.4 7.9 19 4.8 17.9 5. Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau Luas Wilayah (%) Penduduk (%) 1930 68. Kalimantan 28.5 4.1 7 7.852 orang per km2 pada tahun 2008. lapangan kerja.9 Madura 2. Sumatra 24.1 7.7 3. juga menghadapi ancaman kerawanan sosial. Total 100 Sumber: diolah dari BPS Pada Tabel 2. Begitu pula dengan tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi.3 5. Pulau 30.9% dari seluruh daratan yang dimiliki Indonesia.5 7.5 3.3 21. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Sulawesi 9.3 5.3%) tinggal di Pulau Jawa dan Madura. Menumpuknya populasi penduduk di Pulau Jawa dan Madura.2 100 1980 61. terdapat konsentrasi penduduk sangat tinggi di DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10.menyajikan distribusi persentase luas dan penduduk Indonesia berdasarkan pulau. diinformasikan bahwa hampir dua per tiga penduduk Indonesia (58. yang hanya merupakan 6.5 100 1985 60.7 13. Jawa 6.

2014 .60 12. Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 1990-2007 (BPS. Data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa Indone sia saat ini memiliki 37.81 14.26 %.30 37.300 penduduk miskin.Unsur kerentanan lainnya adalah kemiskinan. Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan.00 10. jumlah penduduk miskin di perkotaan terus mengalami peningkatan dari tahun 1978-2006.10 39. sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya.60 15.00 20.30 26. Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak. 2007) 60.80 9.30 38. Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan.10 22.60 49. tercatat pada Juli 2006 mencapai 7. Tabel 2. Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi.90 38.10 13.00 50.168.50 2002 2003 2004 2005 2006 2007 28 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .20 8.90 24. pada kurun waktu yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami penurunan. sedangkan provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai 39.00 30.56 12.60 17.40 34.70 31.50 47.40 11.00 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 Tahun Kota Desa Kota+Desa 27. Namun.49 23.61 13.30 24.29 %.4 juta orang atau 20.30 25. karena diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.00 40.90 29.10 26.6.70 25. dimana secara sosial ekonomi Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan.90 17.90 32. dan sebaliknya.70 9.30 8. Kecenderungan ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi.60 12.40 37.50 25.40 37.20 14.17 35.20 17.

-. dari segi pengeluaran penduduk. sampai dengan tahun 2007 wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya.2014 29 .Data Badan Pusat Statistik tahun 2007 menyebutkan bahwa dari segi pendidikan. tingkat pendidikan. maka tingkat kerentanannya semakin rendah. Masih dibutuhkan kerja Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tergantung jenis ancaman dan masing-masing ancaman menggunakan indikator spesifik. Kerentanan fisik bersifat spesifik. sosial dan/atau ekonomi. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7. Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa kerentanan fisik.87 %. Asumsi yang digunakan adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas mengenai bencana. indikator penduduk yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi dan sebagainya. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun 2007 adalah Rp 15. indikator building code untuk gempa bumi. Angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran. terpadu dan menyeluruh. Dalam hal kapasitas menghadapi bencana. Kerentanan sosial-ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk semua jenis ancaman. Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.-.370.628. Kerentanan sosial ekonomi yang digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi. Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini setara dengan pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama. Dipandang dari segi kelembagaan kapasitas ini meningkat jauh dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan independen yang menangani bencana. Dari segi kesehatan. misalkan tsunami code untuk tsunami. produk domestik regional bruto (PDRB). pendapatan asli daerah.7 tahun. Indonesia masih terus mengembangkan diri.050. Dengan kata lain. usia harapan hidup orang Indonesia adalah 68. Dari segi ekonomi. Sementara itu. kepadatan dan jumlah penduduk. tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 91. upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. kemiskinan dan tenaga kerja. kesehatan.47 tahun. pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 624.

Universitas Andalas. Platform Nasional untuk pengurangan risiko bencana (Planas PRB). 30 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Universitas Airlangga. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Adanya kearifan lokal dalam tanggap bencana. Universitas Gadjah Mada. dijalankan oleh staf yang cukup dan kompeten. Kapasitas juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal dampak negatif bencana. budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang membangun kapasitas. Institut Teknologi Surabaya. Masyarakat seperti ini mengetahui bahaya apa yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya ini. dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi. dan forum-forum pengurangan risiko bencana serupa lainnya. Di tingkat nasional telah dibentuk Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB). pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana. Keberadaan lembaga-lembaga di tingkat masyarakat yang memiliki kegiatan kebencanaan juga berpotensi untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana. melalui gladi dan simulasi bencana. termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko. memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai. Universitas Jember.2014 . jaringan sosial dan organisasi masyarakat yang kuat. Lembaga-lembaga semacam ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Universitas Tadulako dan Universitas Syiah Kuala. mampu berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain.keras untuk mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen. Diharapkan bahwa dengan terbentuknya forum-forum tersebut akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah. Kapasitas masyarakat dapat dikatakan tinggi bila masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar keamanan bangunan. Institut Pertanian Bogor. Sejumlah Perguruan Tinggi telah memiliki pusat studi bencana atau lembaga lain yang setara seperti misalkan Institut Teknologi Bandung. dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai untuk menghadapi situasi ekstrim.

1 Risiko Gempabumi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gempabumi di Indonesia (Lampiran 2).2014 31 Sumatra Utara . rencana penanggulangan bencana gempabumi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3.2.7.3 RISIKO BENCANA 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Tenggara Bireun Gayo Lues Kota Banda Aceh Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .7. Tabel 2.

2014 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Agam Kep. Mentawai Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Solok Lima Puluh Koto Padang Pariaman Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Solok Selatan Tanah Datar Kerinci Empat Lawang Kota Pagar Alam Lahat Oku Selatan Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Kota Bengkulu Lebong Muko-muko Rejang Lebong Seluma Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut 32 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 33 .Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kota Bandung Kota Cimahi Kota Sukabumi Sukabumi Tasikmalaya Cilacap Kebumen Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Blitar Jember Kediri Lumajang Malang Pacitan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Situbondo Sumenep Trenggalek Tulungagung Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang Badung Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Kota Denpasar Tabanan Bangli Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Sumbawa Barat Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Luwu Timur Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sangihe Kepulauan Sitaro Kepulauan Talaud Kota Bitung Kota Manado Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol 34 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 35 .Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Boalemo Bone Bolango Gorontalo Gorontalo Utara Kota Gorontalo Pohuwato Buru Kota Ambon Maluku Tengah Maluku Tenggara Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kepulauan Sula Tidore Manokwari Raja Ampat Biak Numfor Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Pegunungan Bintang Sarmi Supiori Tolikara Waropen Yapen Waropen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .3.2. Tabel 2.8.2 Risiko Tsunami Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana tsunami di Indonesia (Lampiran 2).8. rencana penanggulangan bencana tsunami dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Barat Daya Aceh Selatan Aceh Singkil Kota Subulussalam Mandailing Natal Nias Nias Selatan Tapanuli Tengah Kota Sibolga Padang Pariaman Agam Pasaman Barat Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kota Padang Panjang Kota Padang Muko-Muko Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Seluma Kaur Kota Bengkulu Lampung Selatan Lampung Barat Tanggamus Kota Bandar Lampung Sumatra Utara Sumatra Barat Bengkulu Lampung 36 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 37 .Banten Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Pandeglang Serang Lebak Kota Cilegon Sukabumi Cianjur Garut Ciamis Tasikmalaya Kota Banjar Cilacap Purworejo Kebumen Wonogiri Bantul Kulonprogo Gunung Kidul Lumajang Banyuwangi Trenggalek Tulung Agung Pacitan Blitar Jembe Malang Badung Tabanan Jembrana Karangasem Klungkung Gianyar Lombok Timur Lombok Barat Sumbawa Bima Dompu Kota Bima Kupang Timur Tengah Selatan Sikka Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Ende Ngada Manggarai Manggarai Barat Flores Lembata Alor Timur Tengah Utara Belu Rote Ndau Sumba Timur Sumba Barat Paser Penajem Paser Utara Berau Kutai Kertanegara Kutai Timur Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Baru Tanah Laut Tanahbumbu Mejene Mamuju Utara Banggai Buol Donggala Poso Toli-Toli Parigimoutong Tojo Unauna Morowali Bolaang Mongondow Minahasa Minahasa Selatan Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud Buton Konawe Konawe Selatan 38 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kolaka Kolaka Utara Muna Bombana Wakatobi Sinjai Bantaeng Bulukumba Bone Jeneponto Takalar Wajo Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gorontalo Boalemo Pohuwato Bonebolango Maluku Tengah Seram Barat Seram Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Buru Halmahera Barat Tidore Kepulauan Kepulauan Sula Halmahera Timur Halmahera Utara Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Jayapura Merauke Nabire Biak Numfor Yapen Waropen Sarmi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 39 .

Tabel 2.2.9. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bener Meriah Sigli Aceh Tengah Karo Kabajahe Tapanuli Selatan Agam Pasaman Barat Solok Tanah Datar Kerinci Merangin Lahat Muara Enim Musi Rawas Rejang Lebong Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Cianjur Garut Kuningan Majalengka Sukabumi Tasikmalaya Sumatra Utara Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat 40 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3.2014 .3 Risiko Letusan Gunungapi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana letusan gunungapi di Indonesia (Lampiran 2). rencana penanggulangan bencana letusan gunungapi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.9.

2014 .Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banjarnegara Banyumas Boyolali Brebes Klaten Magelang Pemalang Purbalingga Tegal Wonosobo Sleman Banyuwangi Blitar Bondowoso Jember Kediri Lumajang Malang Mojokerto Pasuruan Probolinggo Pandeglang Serang Bangli Karang Asem Badung Bima Lombok Timur Dompu Ende Flores Timur Manggarai Manggarai Barat Ngada Sikka Kalabahi Kota Bitung Minahasa Minahasa Selatan 41 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Tabel 2.2014 .Maluku Maluku Utara Minahasa Utara Kota Tomohon Kep.4 Risiko Gerakan Tanah Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gerakan tanah di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah Bireun Gayo Lues Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Sumatra Utara 42 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .10.3. Talaud Sangihe Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Halmahera Barat Halmahera Utara Kota Ternate 2.10. rencana penanggulangan bencana gerakan tanah dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Mentawai Kota Bukit Tingggi Kota Padang Lima Puluh Koto Pasaman Solok Kerinci Empat Lawang Lahat Oku Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Lebong Rejang Lebong Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut Kota Sukabumi Kuningan Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Toba Samosir Kep.2014 43 .

Jawa Tengah Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Banjarnegara Banyumas Pekalongan Purbalingga Wonosobo Kota Batu Pacitan Pasuruan Probolinggo Sumenep Trenggalek Lebak Bangli Buleleng Jembrana Karang Asem Tabanan Bima Dompu Kota Bima Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Belu Ende Flores Timur Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Sikka Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Murung Raya Malinau Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sitaro 44 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kota Bitung Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Bone Enrekang Gowa Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Pinrang Sinjai Soppeng Tana Toraja Kolaka Utara Konawe Utara Kota Kendari Bone Bolango Gorontalo Majene Mamasa Mamuju Polewali Mandar Buru Maluku Tengah Tidore Kaimana 45 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Tabel 2.11. Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Bireun Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhoksumawe Nagan Raya Asahan Batubara Sumatra Utara 46 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3.2014 .11. rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.Papua Kota Sorong Manokwari Raja Ampat Sorong Teluk Wondama Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Paniai Pegunungan Bintang Puncak Jaya Sarmi Tolikara Yahukimo Yapen Waropen 2.5 Risiko Banjir Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia (Lampiran 2).

Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Lampung Kepulauan Bangka Belitung Dki Jakarta Jawa Barat Deli Serdang Kota Medan Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Serdang Bedagai Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Agam Pasaman Barat Kota Padang Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hulu Siak Batanghari Kota Jambi Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kota Palembang Kota Prabumulih Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Lampung Tengah Tulangbawang Belitung Belitung Timur Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bekasi Ciamis 47 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Cirebon Indramayu Karawang Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bandung Bandung Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Banyumas Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Kebumen Kendal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Tegal Kudus Pati Pekalongan Pemalang Purworejo Semarang Tegal Bantul Kulon Progo Bangkalan Banyuwangi Bojonegoro Gresik Jombang Kodya Pasuruan Kota Mojokerto Kota Surabaya Lamongan Lumajang 48 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Malang Mojokerto Pasuruan Sidoarjo Situbondo Tuban Trenggalek Kota Tangerang Serang Tangerang Klungkung Kota Denpasar Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Kota Waringin Timur Sukamara Banjar Barito Kuala 49 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Barat Papua Hulu Sei Selatan Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Bulungan Kota Tarakan Kota Manado Bone Gowa Kota Makassar Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Takalar Tana Toraja Wajo Buton Buton Utara Konawe Selatan Kota Baubau Boalemo Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Kota Sorong Sorong Sorong Selatan Asmat Boven Digoel Kota Jayapura Mappi 50 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Merauke Mimika Nabire Waropen

2.3.6 Risiko Kekeringan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kekeringan di Indonesia (Lampiran 2), rencana penanggulangan bencana kekeringan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan PROVINSI Sumatra Barat KABUPATEN/KOTA Agam Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Padang Pariaman Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Tulangbawang Way Kanan
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014 51

Riau

Jambi

Sumatra Selatan Bengkulu Lampung

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Riau

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bangka Bangka Barat Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Kota Pangkal Pinang Bintan Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara Bandung Bandung Barat Bekasi Bogor Cianjur Cirebon Garut Karawang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Majalengka Purwakarta Subang Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang

52

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur

Blora Boyolali Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Karanganyar Kebumen Kendal Klaten Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Kudus Magelang Pati Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Rembang Semarang Sragen Sukoharjo Tegal Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunungkidul Kulon Progro Bojonegoro Jombang Kediri Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Madiun
53

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Banten

Nusa Tenggara Timur

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Magetan Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sumenep Trenggalek Tuban Tulungagung Kota Cilegon Kota Tangerang Pandeglang Serang Tangerang Sumba Barat Daya Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Waringin Barat Kota Waringin Timur Hulu Sei Tengah Kota Baru Tabalong Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kutai Kartanegara Kutai Timur

54

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Maluku Utara Papua Kota Manado Kota Makassar Pangkajene Kepulauan Polewali Mandar Tidore Kota Sorong 2. Tabel 2.7 Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (Lampiran 2).13.2014 55 Sumatra Utara .3.13. rencana penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Utara Bener Meriah Bireun Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Asahan Batubara Dairi Deli Serdang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan 56 Humbang Hasundutan Karo Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Serdang Bedagai Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Lima Puluh Koto Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Sawahlunto Sijunjung Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hilir Rokan Hulu Siak Batanghari Bungo Kerinci Merangin Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Tebo Banyuasin Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 .Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau Jawa Barat Jawa Tengah Empat Lawang Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Oku Selatan Oku Timur Bengkulu Utara Muko-Muko Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tulangbawang Way Kanan Bangka Bangka Barat Bangka Selatan Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Bintan Karimun Lingga Natuna Cirebon Indramayu Karawang Kuningan Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Boyolali Demak Grobogan Jepara 57 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Karanganyar Kendal Klaten Kudus Magelang Pati Semarang Sragen Sukoharjo Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Sleman Banyuwangi Bondowoso Madiun Magetan Nganjuk Ngawi Ponorogo Situbondo Lebak Pandeglang Serang Tangerang Banten Badung Bangli Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Tabanan Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa 58 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Barito Selatan Barito Timur Barito Utara Gunung Mas Kapuas Katingan Lamandau Murung Raya Pulang Pisau Seruyan Sukamara 59 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Balangan Barito Kuala Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Hulu Sei Utara Tabalong Tapin Kutai Barat Kutai Kartanegara Malinau Nunukan Pasir Penajem Paser Utara Buol Donggala Morowali Parigi Moutong Tojo Una-Una Toli Toli Bantaeng Barru Bone Bulukumba Enrekang Gowa Jeneponto Luwu Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Selayar Sidenreng Rappang Sinjai Soppeng Takalar Tana Toraja Ajo Bombana Buton Buton Utara 60 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Kolaka Konawe Konawe Selatan Konawe Utara Muna Boalemo Bone Bolango Gorontalo Utara Pohuwato Majene Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mandar Maluku Tenggara Barat Merauke 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara KABUPATEN/KOTA Kota Sabang Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Nias Selatan Padang Sidempuan Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3. rencana penanggulangan bencana erosi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2.8 Risiko Erosi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana erosi di Indonesia (Lampiran 2).14.2014 61 .14.

2014 .Sumatra Barat Bengkulu Lampung Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 62 Toba Samosir Kota Sawahlunto Tanah Datar Bengkulu Selatan Kota Metro Bandung Bogor Ciamis Cianjur Cirebon. Garut Indramayu Kota Banjar Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Tasikmalaya Sukabumi Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang Cilacap Karanganyar Kebumen Kota Magelang Kota Surakarta Kota Tegal Magelang Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunung Kidul Kulon Progo Bangkalan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Bondowoso Kota Blitar Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Mojokerto Pacitan Pamekasan Ponorogo Probolinggo Sampang Trenggalek Kota Cilegon Kota Tangerang Lebak Karang Asem Klungkung Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Sambas 63 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kutai Timur Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Bantaeng Enrekang Gowa Jeneponto Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Tana Toraja Buton Kota Baubau Gorontalo Majene Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Halmahera Timur Tidore 64 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Sanggau Sekadau Sintang Banjar Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Tarakan.

9 Risiko Kebakaran Gedung dan Pemukiman Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran gedung dan pemukiman di Indonesia (Lampiran 2).15. Tabel 2.3.15.2014 65 Sumatra Utara Sumatra Barat .2. rencana penanggulangan bencana kebakaran gedung dan pemukiman dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Besar Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Timur Aceh Utara Lhokseumawe Pidie Simeulue Agam Asahan Dairi Deli Serdang Kota Medan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Mandailing Natal Pakphak Barat Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Lima Puluh Koto Padang Pariaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Kepulauan Riau Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Selatan Pekanbaru Danau Kerinci Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Palembang Lahat Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Timur Pagar Alam Prabumulih Bengkulu Selatan Kota Bengkulu Rejang Lebong Kota Batam Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Bandung Bekasi Bogor Cianjur Garut Karawang Kota Bandung Purwakarta Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas 66 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 67 .Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Blora Boyolali Brebes Grobogan Purwodadi Jepara Karanganyar Kendal Klaten Kota Semarang Kota Surakarta Magelang Pemalang Purbalingga Rembang Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Kota Surabaya Mojokerto Serang Tangerang Buleleng Gianyar Jembrana Karangasem Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Kota Kupang Kupang Lembata Ngada Timor Tengah Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua Landak Pontianak Barito Utara Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Murung Raya Palangka Raya Pulang Pisau Banjar Banjarmasin Hulu Sei Utara Kotabaru Tanah Laut Balikpapan Berau Kutai Kutai Barat Kutai Timur Samarinda Tarakan Minahasa Utara Kota Palu Bone Gowa Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Luwu Timur Pinrang Soppeng Tana Toraja Wajo Buton Kota Kendari Jayapura 68 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

DKI Jakarta 5. Sulawesi Selatan 2. rencana penanggulangan bencana gelombang ekstrim dan abrasi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada provinsi berikut: 1.2. Jawa Timur 12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nangroe Aceh Darussalam Riau KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bireun Kota Sabang Simeuleu Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Nusa Tenggara Barat 7. Banten 9. Sumatra Barat 4.10 Risiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Indonesia (Lampiran 2).2014 69 .3. Jawa Tengah 11. Jawa Barat 8.11 Risiko Cuaca Ekstrim Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana cuaca ekstrim di Indonesia (Lampiran 2). Daerah Istimewa Yogyakarta 10. Tabel 2. Nanggroe Aceh Darussalam 2.16.3. Nusa Tenggara Timur 6. rencana penanggulangan bencana cuaca ekstrim dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.16. Sumatra Utara 3.

Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bandung Bogor Cianjur Cirebon Semarang Cilacap Tegal Pekalongan (Kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara).2014 . Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Jember Pasuruan Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang 70 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Malaria juga masih merupakan masalah besar di Indonesia. Banten. Kalimantan Tengah. Lampung. Selain itu. AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14. Kalimantan Barat. Tersangka Pertusis 13.6%) yang endemik malaria. Gorontalo dan Provinsi Papua Barat. Tersangka DBD 9.2. Tersangka Campak 11. terkait kecelakaan transportasi darat. Diare Akut 2.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Flu Burung berpotensi terjadi di Provinsi Sumatra Utara. Sulawesi Selatan. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10.12 Kegagalan Teknologi Indonesia masih perlu mengadakan pemetaan lebih lanjut atas daerahdaerah yang memiliki industri atau instalasi kritis yang rawan terhadap kejadian kegagalan teknologi.3. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Timur. Tersangka Difteri 12. Pneumonia 5. Sumatra Barat. Jaundice Akut 8. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat.2014 71 . Tersangka Demam Dengue 4. mengingat tingginya jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi darat. Ada 424 kabupaten/kota (73. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tenggara. Tersangka Kolera Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . perlu dipetakan daerah-daerah yang terutama sangat rawan. Sulawesi Utara. Diare Berdarah 6. Tersangka Demam Tifoid 7. Bali. Demam yang tidak diketahui sebabnya 17. Jawa Barat. Tersangka Anthraks 16. Jawa Timur. Malaria Konfirmasi 3. sehingga hampir separuh (45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria. Daftar prioritas penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB): 1. Kasus gigitan hewan penular rabies 15.3. 2. DKI Jakarta.

Tersangka Meningitis/Enchepalitis 20. Nanggroe Aceh Darussalam 2. Papua 11.18. Jika menggunakan indikator sejarah konflik dan banyaknya jumlah pengungsi di wilayah. ada juga potensi konflik regional dan internasional. Klaster penyakit yang tidak diketahui 19. Kalimatan Barat 4. bila sudah sampai pada puncaknya.3. pengangguran yang meluas dan tingkat kemiskinan yang tinggi potensial melahirkan bibit-bibit konflik. Sulawesi Tengah 8. Konflik lokal seperti yang pernah merebak di beberapa tempat di tanah air masih mungkin pecah kembali. Nusa Tenggara Timur 6. Tersangka Tetanus 2. Sulawesi Tenggara 9. Maluku dan Maluku Utara 7. Begitu pula jurang yang lebar antara penduduk yang miskin dan yang kaya.2014 .14 Konflik Sosial Indonesia saat ini masih menghadapi potensi konflik. Tersangka Tetanus Neonatus 21. misalkan di wilayah-wilayah terpencil yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia. Struktur sosial yang menciptakan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan. Papua Barat 72 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Selain konflik sosial internal di tingkat masyarakat. Kalimantan Tengah 5. dapat mengobarkan konflik sosial. daerah-daerah yang rawan konflik di Indonesia terutama adalah Provinsi: 1. Sumatra Utara 3. Sulawesi Barat 10.

.

.

Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah. Isu lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana di Indonesia yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana. terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban.BAB III PERMASALAHAN. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal. rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat masih terlihat.1 ISU DAN PERMASALAHAN Salah satu isu yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal.2014 73 . Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total. UndangRencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tanggap darurat bencana seringkali berlangsung dengan agak tidak teratur. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis. termasuk obat-obatan. Tampaknya pemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim. yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah. masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana. TANTANGAN DAN PELUANG 3.

yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa. Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam seperti gempabumi. Hal lain yang tampak mencolok dari berbagai kejadian bencana adalah masih dominannya peranan pemerintah dan pihak-pihak dari luar komunitas dalam situasi darurat bencana. termasuk yang paling dominan biasanya dari angkatan bersenjata. penting untuk mengembangkan tim-tim siaga bencana di tingkat masyarakat. Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. karena masyarakatlah yang pertama-tama berhadapan dengan bencana dan dampak-dampak negatifnya. tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram. Isu lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana. belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tidak semuanya mudah dijangkau. tsunami dan letusan gunungapi. Pemberitaan media biasanya didominasi oleh kisah tim-tim reaksi cepat dari berbagai instansi pemerintah. termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi.undang No. Dalam banyak kejadian bencana terakhir di Indonesia belum terlihat adanya kiprah yang signifikan dari tim-tim siaga bencana komunitas. Diperlukan adanya upaya 74 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Jumlah korban dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana akan dapat dikurangi secara signifikan dengan adanya masyarakat dan pemerintah daerah yang tangguh dan siaga bencana. Ketangguhan dan kesiapsiagaan ini dapat dicapai melalui gladigladi dan simulasi bencana di tingkat komunitas yang dilaksanakan secara rutin dan teratur. Risiko bencana dapat dikurangi melalui program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan).2014 . dan pihak swasta.

2014 75 . Setiap terjadi bencana. yang sering terabaikan dalam situasi bencana. Semua ingin membantu. ekonomi. siapa berbuat apa belum jelas. Isu yang tidak kalah pentingnya adalah belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. politik dan kesehatan. Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah isu gender dan kelompok-kelompok marjinal. Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga yang diamanatkan Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana masih menghadapi tantangan. apa yang harus dilakukan kadang masih bingung. termasuk kelompok warga miskin. Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana.melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitianpenelitian. Program-program kebencanaan harus dirancang agar tidak menambah kerentanan kelompok-kelompok ini. Kelompok miskin dan minoritas atau marjinal juga perlu diperhatikan dalam situasi bencana. Perempuan di Indonesia masih tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan. Ketidaksetaraan gender ini akan berpengaruh pada nasib perempuan dalam situasi bencana. ilmu dan teknologi kebencanaan. 3. karena mereka ini biasanya merupakan kelompok yang paling rentan. masih sangat abu-abu. mudah bagi kita untuk mengabaikan mereka yang miskin dan terpinggirkan. karena perempuan biasanya tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mendahulukan anak-anak dan keluarganya. sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). Dalam situasi bencana dengan banyak kebutuhan yang beraneka ragam. 24 Tahun 2007 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Posisi yang tidak setara akan diperburuk oleh kebutuhan khusus perempuan dalam situasi bencana. tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan.2 TANTANGAN DAN PELUANG Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No.

Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya. “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program pembangunan di Indonesia.tentang Penanggulangan Bencana dengan fungsi merumuskan dan menetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. di pihak pemerintah sendiri masih banyak daerah yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya. upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar. Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan. efisien dan handal. sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. 76 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tantangannya saat ini adalah mensosialisasikan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan. Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan bencana. dan menyeluruh masih berusia sangat muda. Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi juga rehabilitasi dan rekonstruksi. masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik. dan mengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. apalagi BPBD di daerah-daerah. Tantangan berikutnya adalah besarnya kebutuhan pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu. Ibarat proses pendidikan di sekolah. Selain itu. Tantangan pada fase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik. terpadu. banyak komunitas yang perlu menerima gladi. peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah. efektif. simulasi dan pelatihan kebencanaan.2014 .

Dengan adanya platform dan forum-forum ini. Di tengah kebutuhan pengembangan kapasitas yang besar. Peluang pertama adalah semakin kondusifnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengurangan risiko bencana. terpadu. terutama terkait dengan kecenderungan perubahan iklim global yang dampaknya kian memburuk. Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala BNPB yang merupakan turunan Undang-undang. peluang berikutnya adalah sudah terbentuknya BNPB dan semakin banyaknya provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang membentuk BPBD.Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (build back better). anggaran dan sumber daya yang diperuntukkan untuk program-program pengurangan risiko bencana masih sangat terbatas. Peluang selanjutnya adalah semakin bertumbuhnya perhatian dunia pada isu pengurangan risiko bencana. Pembentukan badan-badan penanggulangan bencana independen di berbagai tingkat pemerintahan ini akan lebih menjamin tertanganinya isu penanggulangan bencana dan isu terkait lainnya dengan baik. Peraturan Presiden. dengan kehadiran BNPB dan BPBD. dalam perumusan program-program pengurangan risiko bencana tampaknya perlu dilaksanakan proses penyusunan prioritas yang benar. Di tingkat nasional ketertarikan berbagai pihak pada isu PRB ini terwujud dalam terbentuknya Platform Nasional PRB dan forumforum serupa di daerah. Dimulai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Selain itu. ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda pengurangan risiko bencana.2014 77 . sampai saat ini regulasi penanggulangan bencana terus-menerus disempurnakan. penanggulangan bencana akan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. Terkait dengan lingkungan kebijakan pengurangan risiko bencana yang kian mendukung. yang diikuti dengan pengesahan Peraturan-peraturan Pemerintah. penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana menjadi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . menyeluruh dan efektif-efisien. Mengingat tantangan-tantangan ini. Lepas dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Sebagian besar anggaran sampai saat ini masih lebih teralokasikan pada tanggap darurat dan pemulihan bencana.

fasilitasi pendidikan dasar maupun meningkatkan kesehatan masyarakat. sebagai contoh dalam koridor negara asia tenggara (ASEAN) dengan membentuk AHA Center dan latihan bersama penanggulangan bencana yang dikenal dengan ARDEX sebagai implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response). Bentuk-bentuk kerjasama lintas sektor baik antar pemerintah. dan tidak hanya menjadi urusan pemerintah semata. 78 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . mendukung pengurangan risiko bencana. Komitmen pelaku penanggulangan bencana untuk bersama-sama dalam penanggulangan bencana ini merupakan peluang lain. termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi. masyarakat dan lembaga usaha baik berupa upaya pengentasan kemiskinan.urusan berbagai pihak. Hal ini tentunya akan semakin memperkuat pelaksanaan pengurangan risiko bencana di Indonesia. Selain itu komitmen antar negara.2014 .

.

.

dan menyeluruh. terpadu. terpadu.1 VISI DAN MISI Visi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: “Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana” Misi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: 1. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana. BNPB Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Untuk penanganan pengungsi. 4. BNPB bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia. Lembaga dan instansi terkait. Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal.2014 79 . Basarnas dan PMI.2 PENATAAN KELEMBAGAAN Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 3. Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko. 2. BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana. efektif dan efisien. terkoordinasi dan menyeluruh.BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA 4. Kepolisian Republik Indonesia.

BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian. BPBD dibentuk di setiap provinsi dan dapat dibentuk di kabupaten/kota. BPPT. Sedangkan untuk bencana-bencana terkait aspek biologis seperti wabah. Pembentukan BPBD di 80 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian Pertanian. media massa dan pihak-pihak terkait lainnya. di daerah BPBD bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan PB dan penanganan pengungsi serta melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan PB. LAPAN. Untuk penelitianpenelitian kebencanaan dalam berbagai bidang. Untuk pengembangan sistem peringatan dini. LIPI dan perguruan-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Untuk pendidikan kebencanaan BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. Seperti juga BNPB di tingkat pusat. BNPB terutama dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi. BPBD dibentuk baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Kementerian Agama. 46/2008. Di daerah lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kementerian Kehutanan. Pembentukan BPBD mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB No. dengan Kementerian Pekerjaan Umum.bekerja sama dengan Kementerian Sosial. dan BMKG untuk bencana-bencana hidrometeorologis. Untuk bencana-bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup BNPB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu. Untuk pemetaan daerahdaerah rawan. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BMKG untuk bencana-bencana geologis. 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri No. 46/2008). selain bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga teknis. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BMKG.2014 . 3/2008) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri No. dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kementerian Riset dan Teknologi. BPPT. epidemi dan kejadian luar biasa. LIPI serta didukung juga oleh perguruan tinggi.

ada pula platform-platform atau forum PRB sektoral yang dibentuk oleh para pihak berkepentingan menurut sektor atau isu-isu tertentu. Sampai dengan akhir bulan Oktober tahun 2009. Planas PRB yang dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 20 November 2008 berupaya mewadahi semua kepentingan terkait kebencanaan serta membantu menyelaraskan berbagai kebijakan. untuk tingkat kabupaten dan kota. Bagi daerah-daerah yang belum membentuk BPBD. dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia baru 21 kabupaten/kota yang memiliki BPBD. selaras dengan tujuantujuan Kerangka Aksi Hyogo. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kegunungapian (BPPTK). yakni sebuah forum independen untuk mendorong serta memfasilitasi kerjasama antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. Di tingkat daerah juga sudah terbentuk forum-forum serupa seperti Forum Merapi. sebuah perguruan tinggi dari Yogyakarta dan beberapa lembaga donor.2014 81 . paguyuban masyarakat Pasag Merapi. daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya. Selain Planas PRB di tingkat pusat.tingkat provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda atau peraturan kepala daerah. Sementara itu. Adanya forum-forum PRB semacam ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia. program dan kegiatan PRB di tingkat pusat. Boyolali. dan lain-lain. agar dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan PRB Indonesia dan terwujudnya ketahanan dan ketangguhan bangsa terhadap bencana. Konsorsium Pendidikan Bencana. Di tingkat pusat telah dibentuk Forum Perguruan Tinggi untuk PRB. Magelang dan Sleman. Forum ini antara lain melibatkan pemerintah daerah beserta PMI di Kabupaten Klaten. dari 33 provinsi yang ada sudah 16 provinsi membentuk BPBD. di tingkat pusat dibentuk Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB). Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sebuah forum yang didirikan untuk memfasilitasi kerjasama dalam pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman. Forum Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. fungsi-fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani urusan kebencanaan. Selain badan penanggulangan bencana pemerintah.

peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan bencana lintas kementerian dan lembaga. Kementerian Pertahanan mendukung pengamanan daerahdaerah yang terkena bencana. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi. 7. 4. Kementerian Luar Negeri mendukung program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan. Kementerian Pertanian merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian. Kementerian Hukum dan HAM mendorong peningkatan dan penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan. 8. 2.2014 . saat dan pasca bencana.Secara garis besar. Kementerian Keuangan penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. 82 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana. 10. 9. 3. 6. 5. Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. 11.

serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana. dan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan.2014 83 . Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan programprogram usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan. 13. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana. Kementerian Riset dan Teknologi melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 21. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merencanakan dan mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang berdasarkan kajian risiko bencana. 16. 15. sandang. 18. Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan dan mengendalikan pengadaan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuk mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana.12. 17. tahap tanggap darurat. Kementerian Lingkungan Hidup merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif. 19. advokasi dan deteksi dini dalam pencegahan bencana terkait lingkungan hidup. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis. 20. Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan pangan. 14. dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi.

BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun panduan penanggulangan bencana. 30. 34. LIPI membantu dalam bidang pengkajian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Tentara Nasional Indonesia membantu dalam kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap darurat bencana. 26. 36. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial khususnya dari satelit. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik. BATAN membantu dalam bidang pemantauan. Basarnas mendukung BNPB dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR). pemanfaatan dan pengendalian bahaya nuklir. Bakosurtanal merencanakan dan mengendalikan pemetaan risiko bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis. 28. 27. 35. 24. Kementerian Perumahan Rakyat mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana. 29. Bapeten membantu dalam bidang pemantauan. pemanfaatan dan pengendalian bahaya akibat tenaga atom. 23. klimatologi dan geofisika. Kepolisian Republik Indonesia membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mendukung perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana. 31. 32. BPPT membantu dalam bidang pengkajian dan penerapan teknologi khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.22. BMKG membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi. BPN membantu dalam bidang penyediaan data-data pertanahan. 25.2014 . 33. 84 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

4. sesuai amanat Pasal 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. transparansi dan akuntabilitas. prioritas. koordinasi dan keterpaduan. keseimbangan. keadilan. pemberdayaan. adalah berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana. kelestarian lingkungan hidup. sementara prinsip-prinsip penanggulangan bencana mencakup prinsip cepat dan tepat. nondiskriminatif. dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. ketertiban dan kepastian hukum. kemitraan. disebutkan bahwa asas-asas pokok dalam penanggulangan bencana meliputi asas kemanusiaan. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. berdaya guna dan berhasil guna. meliputi pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. Pasal 3. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. dan non-proletisi. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. keselarasan. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. Peraturan Pemerintah No. kebersamaan. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. pemulihan kondisi dari dampak bencana. dan keserasian. Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Tanggung jawab ini.2014 85 . program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dalam pasal selanjutnya. sesuai ketentuan Pasal 6.

seperti pengadaan sistem peringatan dini letusan gunungapi akan melibatkan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi dan pemerintah daerah melalui BPBD. prosedur-prosedur tetap (protap) dan rencana-rencana penanggulangan bencana dari tingkat pusat sampai daerah. Pelaksanaan penanggulangan bencana di pusat maupun daerah akan memerlukan koordinasi dengan semua sektor dan unsur masyarakat. koordinasi dan sekaligus pelaksana kegiatan tanggap darurat. Beberapa kegiatan pengurangan risiko bencana tertentu akan memerlukan kerjasama antara berbagai instansi. Dalam situasi ini BNPB dan BPBD dapat mengatur instansi-instansi sektoral dalam operasi tanggap darurat. misalnya saja. dengan BNPB/BPBD sebagai koordinator pelaksanaannya. Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan penanggulangan bencana Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana dilaksanakan melalui penyusunan peraturan.pusat dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing. BNPB dan BPBD di tingkat daerah lebih menjalankan fungsi koordinasi dan pelaksana kegiatan pencegahan. perguruan tinggi dan LSM. Dalam situasi pasca bencana BNPB dan BPBD kembali menjalankan fungsinya dalam hal koordinasi dan pelaksana kegiatan-kegiatan pemulihan. sementara fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawab instansi-instansi sektoral tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. Dalam situasi darurat BNPB dan BPBD menjalankan fungsi komando. Sosialisasi sistem peringatan dini dan pelatihan penggunaannya akan melibatkan dinas pendidikan. Melalui langkah-langkah ini diharapkan upaya 86 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum. Pembagian peran di antara para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana juga akan menjadi hal yang diatur melalui Renas PB ini. Dalam situasi normal. Kegiatan mitigasi struktural seperti membangun tanggul penahan banjir dan jalur-jalur evakuasi. mitigasi dan kesiapsiagaan. Persiapan logistik untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang mengungsi dalam situasi darurat menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Sosial.2014 misi .

Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. Strategi ini diharapkan akan membantu mewujudkan pembangunan yang lebih tahan terhadap risiko bencana dan menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. RPJMD. dalam hal ini BNPB. BNPB akan membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Oleh karena itu. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dalam era desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat. Pemberdayaan perguruan tinggi Strategi ini bertujuan untuk memberdayakan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. Pemaduan program pengurangan risiko ke dalam rencana pembangunan Program-program pengurangan risiko bencana sedapat mungkin dipadukan ke dalam rencana pembangunan di tingkat pusat dan daerah. 3. 2. baik ke dalam RPJM. saat tanggap darurat dan saat pemulihan pasca bencana. Renstra dan Renja Kementerian/Lembaga.2014 87 .penanggulangan bencana akan memperoleh arah yang jelas dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. RKPD dan Renja Satuan Kerja Perangkat Daerah. menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas penanggulangan bencana bagi daerah. Selain itu upaya khusus juga akan dilaksanakan untuk membentuk dan meningkatkan kapasitas badan-badan penanggulangan bencana dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam menghadapi situasi pra-bencana. Dengan demikian program dan kegiatan pengurangan risiko tidak akan berdiri sendiri tetapi terpadu ke dalam program pembangunan reguler. RKP. Koordinasi dan kerjasama juga akan ditingkatkan antara instansi dan aparat pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang handal.

Mengingat Indonesia begitu luas dan memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau. melalui program-program spesifik yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dan anak. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat Selain memanfaatkan perguruan tinggi daerah. serta para penyandang cacat maupun 88 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . adalah lebih ekonomis dan efektif membangun kapasitas masyarakat. 5. terutama untuk menghadapi tanggap darurat. Program pengurangan risiko untuk kelompok dengan kebutuhan khusus Pendekatan khusus juga akan diterapkan untuk mendorong kesetaraan gender dalam program-program kebencanaan dan pengurangan risiko. adalah lebih efektif bila kapasitas penanggulangan bencana dibangun di tingkat komunitas. Bagaimanapun juga komunitas merupakan pihak yang pertama-tama berhadapan dengan risiko bencana. Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB) Dalam menghadapi bencana yang berdampak besar. sementara satuan yang bermarkas di Malang akan melayani kawasan Indonesia Timur. strategi yang dilakukan adalah membentuk Satuan Reaksi Cepat (stand-by force) untuk penanggulangan bencana. Selain itu perhatian juga akan diberikan untuk masyarakat miskin. kaum minoritas dan mereka yang terpinggirkan. 6. yang berbasis di Lanud Halim Perdana Kusuma. Di tingkat nasional ada dua SRC-PB induk yang dibentuk. satu di Jakarta. yang berbasis di Lanud Abdul Rahman Saleh.4. strategi lain yang juga akan digunakan adalah pembangunan kapasitas masyarakat di daerah rawan yang menghadapi risiko bencana yang tinggi. Untuk tujuan ini. Mengingat kapasitas tanggap darurat pemerintah yang masih terbatas. Satuan yang bermarkas di Jakarta akan melayani kawasan Indonesia Barat. kerelawanan akan didorong pada semua tataran dan lapisan masyarakat. Satuan ini memiliki anggota pilihan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian.2014 . dan satu di Malang. Keberadaan satuan ini akan meningkatkan kapasitas tanggap bencana Indonesia secara signifikan.

baik LSM lokal. Peningkatan peran LSM dan organisasi mitra pemerintah Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini. nasional maupun internasional kian berperan besar terutama pada saat tanggap darurat dan pasca bencana. Kalangan dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum pengurangan risiko bencana seperti melalui Platform Nasional PRB ataupun forum-forum serupa di tingkat daerah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).kelompok dengan kebutuhan khusus lainnya. tetapi sebaliknya mendukung ketangguhan mereka terhadap bencana. agar program-program pengurangan risiko bencana tidak meningkatkan kerentanan mereka. terutama yang bergerak dalam bidang finansial. termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas relawan. Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi. terutama untuk mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. Terkait dengan pengurangan risiko.2014 89 . pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang relawan dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. 8. 7. Terkait dengan itu. dapat berkontribusi melalui upaya-upaya pengembangan mekanisme transfer risiko seperti asuransi bencana dan perangkat-perangkat serupa lainnya. sektor swasta. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Peningkatan peran dunia usaha Kalangan dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam menggalang dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. Pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

2014 .90 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

Sis stem Penanggu ulangan Bencan Indonesia na Sistem pen nanggulangan bencana I n Indonesia ya ang saat ini tengah dibangun memiliki 5 (lima) pila berupa sub-sistem legislasi. ar perencanaa kelembaga an. terpadu. G Gambar 5. ra terkoordina dan menye asi eluruh. Visi penanggulang bencana (Bab VI) sec n gan cara jelas menyebut cita-cita unt tuk menjadik kan bangsa y yang tangguh dalam menghadap bencana. Program me n erupakan penjabaran dari visi da misi serta pilihan tind an a dakan sesuai dengan i manajemen risiko. aan. Hal ini didukun oleh 3 (tig misi yang diemban pi ng ga) yaitu memb bangun sistem penanggul langan benca untuk me ana elindungi bangsa dar ancaman bencana me ri elalui pengur rangan risiko dengan menyelengg garakan penanggulangan b bencana secar terencana.1. Sistem ini d dibangun untu menjawab permasalaha yang dihad uk b an dapi saat ini (Bab III) dan diterje emahkan ke dalam progr ram-program sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .BAB V PROGRA AM Renas PB m memuat prog gram dan fok prioritas sebagai dasa dalam kus ar membuat kegiatan penanggulangan bencana. pendana dan peng aan gembangan k kapasitas.2014 91 .

3) penelitian. atau dikenal dengan mitigasi. Apabila ketiga tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi masih ada risiko. Tindakan ini dikenal dengan pencegahan (risk avoidance). Selain program-program pengurangan risiko bencana juga terdapat program pada saat bencana dan pasca bencana. dan 7) kesiapsiagaan. Apabila suatu wilayah mempunyai risiko tinggi maka upaya pengurangan risiko dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan.2014 . 6) peringatan dini. dilakukan pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer) misalnya melalui sistem asuransi bencana. maka yang terakhir dilakukan adalah menerima risiko (risk acceptance) dan melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan.berikut : 1) penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan. pendidikan dan pelatihan. Program pada saat bencana adalah 8) program tanggap darurat dan program pasca bencana disebut 9) program rehabilitasi dan rekonstruksi. sehingga dalam pembuatan rencana aksi pengurangan risiko bencana hanya menggunakan 7 (tujuh) program tersebut. Ketujuh program di atas merupakan program yang dilakukan sebelum terjadi bencana. 92 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Apabila antara potensi bencana dengan elemen berisiko tersebut tidak dapat dipisahkan (harus bertemu) maka upaya yang dilakukan adalah pengurangan risiko (risk reduction). Pertama-tama dilakukan tindakan untuk memisahkan potensi bencana yang mengancam dengan elemen berisiko (element at risk). dan 4) peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lain dalam pengurangan risiko bencana. Bila pengurangan risiko sudah dilakukan dan masih tetap ada risiko. Kegiatan sebelum terjadi bencana/pra bencana sering disebut dengan pengurangan risiko bencana. Paradigma pengurangan risiko bencana merubah pola pikir yang responsif menjadi preventif dengan pendekatan manajemen risiko. Dengan demikian Renas PB mempunyai 9 (sembilan) program. Tindakantindakan dalam manajemen risiko di atas dijabarkan dalam program yaitu: 5) pencegahan dan mitigasi bencana. Mitigasi ini dapat dilakukan secara struktural maupun non-struktural. 2) perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu.

Prog gram dan fokus prioritas dalam Renas PB s No. Secar khusus ra setiap program memiliki fokus prioritas sebelum d dideskripsikan menjadi n kegiatan-ke egiatan yang akan dilaksan nakan oleh Ke ementerian/L Lembaga. sehingga leb terfokus.1.1 Penyusu unan peraturan perda dan pr n. 1. masyarakat maupun lem t mbaga usaha sebagai rencan aksi. Sebagai ren ncana.2. Pilihan tindakan dala manajemen risiko bencan am n na Selanjutnya agar le a ebih terarah. Gambaran prioritas ini sebagai ara ahan dalam menyusun k kegiatankegiatan ya akan dilak ang ksanakan oleh pelaku penanggulangan bencana h yang multi stakeholder. na Program da fokus priori dalam Renas PB adalah sebagai beri an itas h ikut : T Tabel 5. Renas PB menggamb P barkan progra dan fokus prioritas am dalam lima tahun men a ndatang. program m-program tersebut dideskripsik kan menjadi fokus priorit tas. Sehingga dih bih harapkan tidak terjad suatu kegia di atan dilakuka oleh lebih dari 1 (satu) instansi an ) atau ada suatu kegiatan yang tidak dilakukan oleh s y satupun instansi. Fokus p prioritas dima aksudkan untuk mem mberikan gam mbaran priori itas dari mas sing-masing p program.2014 93 . PR ROGRAM Penguatan peratu uran FOKUS PRIO ORITAS 1. Seca umum R ara Renas PB me empunyai sembilan pr rogram dan empat puluh t tujuh fokus pr rioritas. rotap Penangg gulangan Benca yang memuat ana Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Gam mbar 5.

3. serta koordinasi Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.2 1. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.3 mekanisme PB.5 1. pendidikan dan pelatihan 1. termasuk pembagian tugas.1 3.2014 .2 3.perundanganan dan kapasitas kelembagaan 1. Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Standarisasi pedoman-pedoman dan acuan penanggulangan bencana Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lembaga Pengkoordinasian penganggaran Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 94 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .8 2.6 1. Satuan Reaksi Cepat Daerah) Penguatan kapasitas manajemen PB di daerah Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) dan penyediaan relawan yang memadai Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana Pembentukan Regionalisasi Depo Logistik.2 3.7 1.3 1. kewenangan dan sumber daya.4 1.9 2.1 2.

3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan 4.1 Pemetaan risiko bencana 5. Pencegahan dan mitigasi bencana 6.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 4.2 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana 5.3 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5.6 Penerapan upaya mitigasi struktural dan nonstruktural 5.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 3. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB 5.5 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana 5.4. anak dan kelompokkelompok marjinal 5.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) 4.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan 4. Peringatan dini 3.2014 .1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 4.4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah 3.1 Pembangunan Sistem Peringatan Dini 95 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .7 Penelitian dan Pengembangan 6.2 Pengembangan forum pengurangan risiko bencana (PRB) di daerah 4.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan 4.6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 3.7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.4 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5.

layanan kesehatan. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 8.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar 7.2014 .1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur 7.5 Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui antara lain pendidikan-pelatihan.8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi real-time untuk tanggap darurat.3 Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.4 Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 8.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan 7. air bersih dan sanitasi 8.3 9. pengembangan teknologi informasi 7.2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat 7.7. sandang.3 Pembentukan Satuan-satuan Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional 7.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara 7. Kesiapsiagaan 8.4 96 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .9 Penyusunan rencana kontijensi 7. Tanggap darurat 7. hunian sementara.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan 7.2 9. Rehabilitasi dan rekonstruksi 9.1 Kaji cepat bencana 8.10 Peningkatan Penyuluhan.2 Pencarian.1 Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemulihan sarana-prasarana publik dan 9. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 9. penyelamatan dan evakuasi 8.

termasuk diantaranya penyiapan relawan penanggulangan bencana sebanyak 10. Selanjutnya program no. dan regionalisasi pelatihan penanggulangan bencana dengan pendekatan kearifan local.1. Sasaran juga mengindikasikan lokasi-lokasi yang harus diprioritaskan karena memiliki risiko tinggi terhadap suatu ancaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .5.5 9.2014 97 . Secara umum.2 sampai dengan 5. 5. dapat dilihat bahwa program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana adalah program no. Dalam 5 (lima) tahun kedepan BNPB merencanakan akan mempunyai kepanjangan tangan di daerah dengan membangun Regionalisasi Depo Logistik.000 personil.9. Pusat Pelatihan dan Pusdalops pada 12 lokasi.6 rekonstruksi rumah warga korban bencana Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui antara lain pendidikanpelatihan. Maksud regionalisasi ini adalah untuk mendukung logistik dari daerah berisiko tinggi. 5 sampai dengan 9 merupakan program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Pada program no. Fokus prioritas dengan membentuk Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) merupakan implementasi program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana. masing-masing fokus prioritas mempunyai sasaran (Lampiran 3-17) yang menggambarkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan untuk menjawab isu dan permasalahan yang dihadapi. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai Dalam Tabel 5. 1 sampai dengan 4. 5 (pencegahan dan mitigasi) sebenarnya terdapat program yang sifatnya generik ditunjukkan fokus prioritas no.

Sedangkan instansi terkait berperan sebagai instansi penunjang yang membantu instansi utama dalam mencapai sasaran.bencana. Dalam hal ini sebagian besar instansi utamanya adalah BNPB sebagai perwujudan Pasal 13 huruf b UU No. instansi utamanya adalah Kementerian PU. Hal yang paling penting dalam melaksanakan program-program Renas PB adalah kesepakatan dan keterlibatan seluruh instansi. Hal tersebut berbeda dengan instansi utama pada program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. terpadu dan menyeluruh. Lokasi-lokasi ini merupakan hasil dari analisis risiko bencana dengan mempertimbangkan bahaya. BMKG dan Bakosurtanal. 98 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Instansi utama dalam program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana terdiri dari 1 (satu) instansi. Semangat bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama dituangkan dalam penyusunan Renas PB. 24 Tahun 2007 bahwa BNPB mempunyai fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. kerentanan dan kapasitas (Bab II). dimana instansi utama bisa lebih dari 1 (satu) instansi. sehingga dalam penyusunan Renas PB masing-masing instansi mempunyai peranan penting. Sebagai contoh dalam mencapai sasaran terwujudnya peta risiko bencana banjir skala 1:50. Tiga instansi ini telah memulai dengan membuat MoU atau kesepakatan mengenai pembuatan peta risiko bencana banjir.2014 . Instansi utama merupakan instansi yang mempunyai peran utama dan mengkoordinasi instansi terkait.000 (Lampiran 8). sehingga Renas PB adalah wujud kesepakatan bersama dalam mencapai sasaran yang diinginkan dalam lima tahun ke depan. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu keterlibatan berbagai institusi (Kementerian/ Lembaga) sebagai instansi utama dan instansi terkait.

.

.

665.2014 99 .80 1. 4.000. 1.) 30.012. Atau rata-rata pertahun Rp.1 ANGGARAN Anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana ini adalah Rp. 9.475.1.008.00 24.(dua belas triliun delapan ratus sembilan puluh lima miliar dua belas juta rupiah).000. 8. 7. 6.475.855. pendidikan dan pelatihan Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB Pencegahan dan mitigasi bencana Peringatan dini Kesiapsiagaan Tanggap darurat Rehabilitasi dan rekonstruksi TOTAL 5.50 2. 6.000.(enam puluh empat triliun empat ratus tujuh delapan puluh lima miliar enam puluh juta rupiah).060.677. PROGRAM Penguatan peraturan perundanganan dan kapasitas kelembagaan Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.638.895.000. 64. 12.50 14. Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp.50 822. 3.415.00 64..BAB VI ANGGARAN DAN PENDANAAN 6. 2.60 No.16 368.06 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 6.00 7.

penguatan BPBD di 33 Provinsi dan 275 kabupaten/kota.000. Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan 3.000. 2. penguatan peran media dalam menumbuhkan 100 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 24. Program penelitian. pendidikan dan pelatihan diperlukan dana Rp 368. yang akan dipergunakan untuk kegiatan penyusunan Renas PB dan rencana penanggulangan bencana serta pengarusutamaan rencana penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota. pendidikan publik guna meningkatkan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.-. Program pencegahan dan mitigasi diperlukan dana Rp.-.638.000.Dalam program penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan diperlukan dana Rp.000.000. 6.000. pembentukan sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota dan 5 lokakarya tahunan tentang PRB berbasis komunitas.000. penyusunan peraturan pemerintah dan peraturan daerah tentang pengelolaan sumberdaya alam yang rawan di 33 provinsi. Dana ini akan digunakan untuk penyusunan pedoman tata ruang dan tata guna lahan.855.-. penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana.665.000. serta penusunan penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana.-.000. peningkatan penerapan teknologi untuk dalam penanganan 14 macam bencana (termasuk pengembangan sistem peringatan dini).000. Dana tersebut akan digunakan untuk pembentukan 1. pelatihan 4.-.160. pembentukan 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan. 30.600.500. yang akan dipergunakan diantaranya meningkatkan sumberdaya manusia dalam penanggulangan bencana berupa pelatihan terhadap staf BPBD Provinsi.100 desa siaga bencana di 33 provinsi. pembentukan 33 Pusat Studi Bencana di berbagai perguruan tinggi.000.500.000 penelitian di 33 Perguruan Tinggi di Indonesia. Program perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu diperlukan dana Rp.2014 . Program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB dengan alokasi dana Rp. pembentukan kelompokkelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan.000 guru. terbentuknya kantor regional.

007. 3.000.000.5 931.000. Tabel 6.2.0 4. penyediaan stok logistik kebutuhan dasar. Program kesiapsiagaan dengan alokasi dana Rp 7.0 1. Program peringatan dini Rp. penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.489. 14. dan sosialisasinya.000. asuransi bencana di tiap provinsi.. 2.-.budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan melatih 2. pembuatan modifikasi cuaca.677. JENIS BENCANA Gempabumi Tsunami Gunungapi Gerakan Tanah ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan. Program tanggap darurat Rp 1.dialokasikan untuk pemasangan sistem peringatan dini di provinsi yang rawan bencana.800. 1. Penggunaaan dana tersebut diantaranya adalah untuk pengkajian kerusakan dan kerugian. peningkatan peningkatan akses komunikasi di kantor pusat dan 33 provinsi.-.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan.000.diantaranya untuk pembentukan 2 SRC-PB yang berkedudukan di Malang dan Jakarta dan akan dibentuk juga 12 SRC di 12 kantor regional. Hal ini mengingat pada bencana gempa bumi pembangunan sarana dan prasara publik pada umumnya memerlukan pembangunan kembali.6 101 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .) 12. pemulihan sarana dan prasaran publik serta pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis korban bencana. pengumpulan dan evakuasi korban padsa saat terjadi bencana Pembiayaan terbesar terdapat pada program rehabilitasi dan rekonstruksi Rp.415. penyediaan kebutuhan hunian darurat. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan mobilisasi sumberdaya.000.2014 .000.500. Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB No.008.111. Dana terbesar dialokasikan untuk bencana gempa bumi.000. 4. 822.

terutama paska gempabumi di Jawa Barat bagian selatan dan Sumatra Barat sebesar Rp.000.- 6. anggaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah yang berasal dari dana APBD dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 7.5 241. 156. 102 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .000.0 650.000.(estimasi).... 32.untuk 5 (lima) tahun atau ratarata pertahun sebesar Rp. 13. dan dukungan dunia usaha serta lembaga donor. Di lain pihak.150. Banjir Kekeringan Kebakaran Hutan dan Lahan Erosi Kebakaran Gedung&Perumahan Gelombang Ekstrim & Abrasi Cuaca Ekstrim Kegagalan Teknologi Epidemi & Wabah Penyakit Konflik Sosial TOTAL 2. 14.5 312.500.5 380. anggaran rencana penanggulangan bencana akibat kegagalan teknologi dan konflik sosial adalah yang terkecil yaitu masing-masing sebesar Rp.2014 . 2.000.0 151.000. 8.atau rata-rata pertahunnya kurang dari Rp. Anggaran yang berasal dari dana APBN dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Kementerian/Lembaga untuk menjamin agar upaya penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkesinambungan.8 Apabila diklasifikasi berdasarkan jenis bencana (Tabel 6.000.-.000.. 10.000.497. Hal ini disebabkan pada program rehabilitasi dan rekontruksinya masih mengalokasikan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah pasca bencana yang belum selesai.2 474.500. maka rencana penanggulangan bencana gempabumi memiliki anggaran yang paling besar yaitu Rp.dan Rp.2 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan rencana penanggulangan bencana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).2).800.000.5 197. 11.463.5 156. 12. Begitu pula. 6. 9.000.8.5.5 23.489. 151. 12.000.000.5 210.000.

tanggap darurat dan pasca bencana. Artinya. Pemerintah Daerah. dunia usaha ataupun dari dana masyarakat sendiri. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk program-program pengurangan risiko bencana. sebagian besar sumber daya dan pembiayaan untuk kegiatan penanggulangan bencana terpadu ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Di samping pendanaan dari pemerintah. pelaksanaan program dan kegiatan dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 ini harus disesuaikan dengan nomenklatur anggaran terkait penanggulangan bencana dari Kementerian/Lembaga. Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. yang mengacu pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP). dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk kegiatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan merupakan dana tambahan (on top) terhadap anggaran Renstra Kementerian/Lembaga. sementara itu program penanggulangan bencana yang bersifat umum dibiayai melalui anggaran BNPB.2014 103 . tetapi terintegrasi ke dalam anggaran yang terkait dengan kepentingan penanggulangan bencana. Pendanaan yang berasal dari APBN mengacu pada sistem penganggaran yang diatur melalui keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. Dalam situasi tidak terjadi bencana. Artinya. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana. BNPB dan/atau BPBD sesuai tugas pokok dan fungsinya. Bantuan dana dari pihak asing. Dana penanggulangan bencana digunakan untuk tahap tidak ada bencana. dana penanggulangan bencana digunakan oleh Pemerintah. harus disampaikan atau dikirimkan secara langsung kepada BNPB. Programprogram di dalam Renas PB yang spesifik instansi dibiayai dari anggaran masing-masing instansi bersangkutan. anggaran kegiatan penanggulangan bencana juga dapat berasal dari bantuan donor. Mekanisme pendanaan yang berasal dari anggaran non-pemerintah diatur sesuai aturan masingmasing lembaga atau instansi. Dalam situasi ada potensi terjadinya bencana.

pemerintah mengalokasikan dana bantuan sosial berpola hibah yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. dan peraturan perundangan turunannya (Peraturan Menteri/Kepala Lembaga bersangkutan) dengan mengacu kepada rencana penanggulangan bencana di daerah. Kepolisian.kesiapsiagaan. Pengajuan anggaran kegiatan penanggulangan bencana dari instansi vertikal di daerah (TNI. pemerintah mengalokasikan dana siap pakai (on-call budget) yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan saat tanggap darurat.2014 . 104 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Balai/Balai Besar Kementerian/Lembaga) mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pemerintah daerah mengajukan permohonan untuk dana ini kepada pemerintah pusat melalui BNPB. Sedangkan untuk tahap pasca bencana. Untuk mengantisipasi situasi tanggap darurat. Kanwil. pembangunan sistem peringatan dini dan kegiatan mitigasi bencana.

.

.

EVALUASI DAN PELAPORAN Pemantauan (monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan rencana yang telah disusun. 60 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.Ppn/09/2002 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. 80 Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No.2/2002 dan No. Pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renas PB ini dilaksanakan dengan mengacu pada perangkat hukum berikut: 30 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan. Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan realisasi penyerapan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. 292/M.2014 105 .1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan Renas PB dan mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran pembangunan.BAB VII PEMANTAUAN. Kep. 70 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. 40 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Kep-102/Mk. 50 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. 7.

Kapasitas dan Keberlanjutan dari pelaksanaan suatu rencana program/kegiatan. Efektivitas. Pasal 6 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar “Rencana penanggulangan bencana. rapat kerja atau pertemuan dengan pelaksana kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dan kendala yang ditemui. Pemantauan pelaksanaan Renas PB dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masingmasing. Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan informasi akurat tentang pelaksanaan kegiatan. Selain untuk menemukan dan menyelesaikan kendala yang dihadapi. Selain ketiga asas tersebut. Pelaksanaan pemantauan (dan juga evaluasi) dilaksanakan dengan memperhatikan asas Efisiensi. Laporan hasil pemantauan disusun setiap enam bulan sekali (semester). Pemantauan dapat dilaksanakan antara lain melalui kunjungan kerja ke program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. Konsultasi. dan pengecekan laporan pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko yang dikaji berdasarkan rencana kerja yang tercantum dalam Renas PB.2014 .dana. yakni tingkat seberapa jauh program/kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang diharapkan. pelaksanaan pemantauan sebaiknya juga menilai aspek Konsistensi. realisasi pencapaian target keluaran (output) dan kendala yang dihadapi. yakni derajat hubungan antara barang/jasa yang dihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output). dan Kemanfaatan.. tepat lokasi dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal. yaitu kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) dapat diselesaikan tepat waktu. Keterlibatan aktif unsur luar dapat diakomodasi dalam bentuk kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh pemerintah. kinerja program serta hasil-hasil yang dicapai. Koordinasi. ditinjau secara berkala setiap 2 106 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . LSM dan kelompok profesional. kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Renas PB serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan pengurangan risiko bencana. Kegiatan pemantauan juga dapat melibatkan masyarakat (misalkan melalui Platform Nasional PRB)..

Di samping membandingkan antara target dan pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Renas PB. evaluasi juga dapat dilakukan dengan mengkaji dampak yang ditimbulkan melalui pelaksanaan Renas PB. objektif dan transparan. Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis.1. Evaluasi pelaksanaan Renas PB dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang atau jasa dan terhadap hasil (outcome) program yang dapat berupa dampak atau manfaat bagi masyarakat dan/atau pemerintah. Evaluasi berkala ini bertujuan untuk menilai hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan pengurangan risiko bencana serta efektivitas dan efisiensi program dan kegiatan tersebut. kinerja program pengurangan risiko bencana yang tercantum dalam Renas PB diukur juga berdasarkan kemanfaatan serta keberlanjutannya. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana program berikutnya. Evaluasi dilakukan berdasarkan sumber daya yang digunakan serta indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan/atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. menyeluruh. Format pemantauan dan evaluasi Sumber Pendanaan Keterangan (Tindak Lanjut) Kegiatan Alokasi Sasaran (Target) Pencapaian (Realisasi) APBN Lain-lain Selain berguna untuk memperbaiki pengelolaan program di masa yang akan datang. evaluasi juga menjamin adanya tanggung-gugat (akuntabilitas) dan membantu meningkatkan efisiensi serta efektivitas pengalokasian sumber daya dan anggaran. Tabel 7. Kedua cara ini dapat saling mendukung dalam memberikan informasi yang bermanfaat untuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana”. Pada hakikatnya evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input). keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar.2014 107 . Selain dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensinya.

Pada akhir tahun kedua dan keempat pelaksanaan Renas PB. Pada akhir tahun kelima akan diadakan sebuah evaluasi akhir menyeluruh yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan akhir yang selain berisi laporan kegiatan dan pencapaiannya juga berisi kajian atas keberhasilan/kegagalan dari semua program dan kegiatan pengurangan risiko yang telah dilaksanakan selama kurun waktu Renas PB. 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . BNPB akan mengkoordinasikan sebuah peninjauan atau evaluasi tengah program yang melibatkan semua Kementerian/Lembaga dan pihak terkait lainnya. Laporan hasil evaluasi disusun setiap satu tahun sekali. 7. Evaluasi dapat melibatkan pihak luar.kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan Renas PB.2014 . Laporan disusun setiap tahun dan satu salinan dari laporan ini dikirim kepada BNPB untuk disatukan dengan laporan tahunan tingkat nasional. Seperti pemantauan. Harapannya adalah agar semua laporan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dapat terdokumentasi dengan baik dan secara resmi dikeluarkan oleh BNPB. evaluasi pelaksanaan Renas PB juga dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing. tetapi tetap di bawah koordinasi instansi pemerintah terkait. Laporan juga akan berisi rekomendasi tindak lanjut bagi instansi/lembaga tertentu jika diperlukan.2 PELAPORAN Pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis.

.

.

dan gangguan kegiatan masyarakat. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.Lampiran 1. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. kerusakan lingkungan. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. kerusakan atau kehilangan harta. Daftar istilah dan pengertian-pengertian (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. harta benda. kegiatan pencegahan bencana. hilangnya rasa aman. sakit. kerugian harta benda dan dampak psikologis. jiwa terancam. tanggap darurat dan rehabilitasi. Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. mengungsi. pengurusan L-1 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lampiran . Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. luka. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana. perlindungan. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan bencana. pemenuhan kebutuhan dasar.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga. adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut Pemerintah. yang selanjutnya disebut Rencana L-2 Lampiran . Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. Pemerintah Pusat. yang selanjutnya disingkat RPJM. Bupati/Walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. yang selanjutnya disingkat BNPB. Rencana Pembangunan Jangka Panjang. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. kelembagaan pada wilayah pasca bencana.(9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) pengungsi. yang selanjutnya disingkat RPJP. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. penyelamatan. tegaknya hukum dan ketertiban. adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang selanjutnya disingkat BPBD. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana. sosial dan budaya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. adalah lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. serta pemulihan prasarana dan sarana publik.

yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (RenjaKL). adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode I (satu) tahun. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode I (satu) tahun. adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode1 (satu) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.(18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL). adalah dokumen perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga. atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah Lampiran L-3 .

L-4 Lampiran 2. Peta-Peta Risiko Bencana " Lampiran .

Lampiran " L-5 .

L-6

Lampiran

"

Lampiran

"
L-7

L-8

Lampiran

"

Lampiran

L-9

"

L-10

Lampiran

"

Lampiran

L-11

"

L-12

Lampiran

"

Lampiran

L-13

"

L-14 Lampiran " .

Lampiran L-15 " .

L-16 " Lampiran .

" Lampiran L-17 .

L-18 " Lampiran .

" Lampiran L-19 .

L-20 " Lampiran .

" Lampiran L-21 .

BNPB Instansi terkait: . serta koordinasi Peraturan.TNI . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk kategori program-program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .LIPI . Sasaran.1 Penyusunan peraturan. 1.Kementerian Kesehatan .2 Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.PMI Instansi utama: . Fokus Prioritas. protap Penanggulangan Bencana tersusun di tingkat pusat dan 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: . termasuk pembagian tugas. kewenangan dan sumber daya.Kementerian PU .Polri . perda dan protap Penanggulangan Bencana yang memuat mekanisme PB.BMKG . Perda.KementerianE SDM . Sandingan Program.KRT .Bakosurtanal .Basarnas .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Satuan Penguatan BPBD di 33 provinsi dan terbentuknya BPBD di 275 kabupaten/ kota. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) PROGRAM : PENGUATAN PERATURAN PERUNDANGAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN 1. NO.Kementerian Dalam Negeri 25 miliar 1.BPPT . serta 350 miliar L-22 Lampiran .BNPB Instansi terkait: .Lampiran 3.Kementerian kehutanan .

BNPB Instansi terkait: .Kementerian Perhubungan .Basarnas .LIPI .5 Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana 1.000 miliar Lampiran L-23 .BNPB 16.Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: .5 miliar Terbentuknya 12 kantor regional 30.6 Pembentukan Regionalisasi Depo 33 Pusat Studi Bencana didirikan di Perguruanperguruan Tinggi di seluruh Indonesia 16.5 miliar 1.BMKG .BPPT .Kementerian Pendidikan Nasional .Kementerian kehutanan .000 staf teknis/pelaksana BPBD provinsi dan SKPD terkait menerima pelatihan teknis PB .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Sosial .300 orang pejabat BPBD di 33 provinsi memperoleh pelatihan manajemen PB 40.PMI Instansi utama: .3 Diklat penguatan kapasitas manajemen PB di daerah tersedianya sarana pendukung sesuai standar minimum 3.Kementerian ESDM .Reaksi Cepat Daerah) 1.Kementerian PAN Instansi utama: .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .PT Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .4 Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) 200 miliar 1.Kementerian PU .

KRT .9 Pengkoordinasian penganggaran 20 Koordinasi sinkronisasi pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana 10 miliar 20 koordinasi penganggaran sektor penanggulangan 10 miliar L-24 Lampiran .Kemenko Kesra 10 miliar 1.BMKG Instansi utama: .Kemenko Kesra Instansi terkait: .Basarnas .KementerianE SDM .8 Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lemb aga 1.PMI .7 Standarisasi pedomanpedoman dan acuan penanggulangan bencana 1.BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Sosial .TNI .BSN .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana Instansi utama: .LIPI .Kementerian ESDM . Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Bulog .Logistik.Kementerian Perhubungan .BPPT .Polri 20 SNI pedoman dan acuan penanggulangan bencana Instansi utama: .Kementerian PU .BNPB Instansi terkait: .

BPPT .Bappenas Instansi terkait: .BNPB .2 Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini 3.1 Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah 2. PROGRAM : PENELITIAN. PROGRAM : PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA YANG TERPADU 2.BNPB Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri 6.Kementerian ESDM .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi utama: .16 miliar 3.Kementerian Kelautan dan Perikanan 150 miliar Iptek dikembangkan dan diaplikasikan untuk 14 ancaman utama 128 miliar Lampiran L-25 .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana 2. Renstra K/L. RPJMD.LIPI . Renstra SKPD di 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .Kementerian Pendidikan Nasional . PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 3.KNRT Instansi terkait: .1 Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana 3.Bappenas 18 miliar Instansi utama: .bencana Instansi terkait: .000 penelitian diadakan di 33 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia Instansi utama: .2 Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Tersusunnya Renas PB dan Rencana Penanggulangan Bencana di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota PRB dalam RPJM.BNPB Instansi terkait: .

BNPB Instansi terkait: .BNPB 3.BNPB .5 miliar 3.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .BNPB Instansi utama: .Depdiknas Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BMKG .Kementerian Luar Negeri .BMKG .4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah Kurikulum sekolah di tingkat pusat dan daerah mengandung muatan Penanggulangan Bencana 275 sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota menerapkan program kesiapsiagaan bencana Pelatihan 4.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 20 miliar 3..KementerianE SDM .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi utama: .Kementerian PU .Kementerian Sosial 5 miliar 5. lokakarya internasional dua tahun sekali 10 miliar L-26 Lampiran .6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 5 lokakarya tahunan PRB-BK diselenggarakan di tingkat nasional.3 Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 3.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian kehutanan .000 guru dan tokoh masyarakat di 33 provinsi Instansi utama: .

7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan Peningkatan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota akan masalah kebencanaan Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri .TNI .Basarnas .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri .KNRT .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan ..BMKG .BPPT .PMI 3.Kementerian Sosial .TNI .BPPT .Kementerian Kehutanan .Kementerian PU .Kementerian ESDM .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Basarnas .PMI 50 miliar Lampiran L-27 .Polri .Bakosurtanal .BNPB .LIPI .KRT .Dephut .LIPI .

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 4.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian PU .Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian ESDM .Kementerian ESDM .3 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana Tingkat kepatuhan terhadap peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5 miliar L-28 Lampiran .Kementerian Hukum dan HAM .Kementerian LH 5 miliar 4.BNPB Instansi terkait: .Kementerian PU .1 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam yang rawan di 33 provinsi Instansi utama: .Kejaksaan .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB .4.Kementerian Kehutanan Instansi utama: .2 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5 miliar 4.Polri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB .

Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : PENINGKATAN KAPASITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PARA PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA DALAM PRB 5.BNPB 10 miliar 33 forum pengurangan risiko bencana terbentuk Instansi utama: .Kementerian ESDM .Pedoman tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko skala 1:50.Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .6 miliar Lampiran L-29 .BMKG .000 .4 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana .Bakosurtanal .rekomendasi tata ruang berbasis risiko bencana pada provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi Instansi Utama : .Bappenas .Kementerian Kehutanan 4.1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 5.Deptan .000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan Instansi utama: .Kementerian Kehutanan .BNPB 6.2 Pengembangan forum pengurangan 2.BPN .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH 140 milyar 5.Kementerian PU .Kementerian ESDM .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: ..

Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan Terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan 74 miliar L-30 Lampiran .Kementerian Sosial .Kementerian Pendidikan Nasional .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .100 Desa siaga bencana terbentuk di 33 provinsi 110 miliar 5.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Pertanian .Kwarnas Pramuka Instansi utama: .Kementerian Negara UKM Instansi terkait: .risiko bencana (PRB) di daerah 5.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 1.Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi terkait: .3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan di 33 provinsi Instansi terkait: .Kementerian ESDM .PMI .Kementerian Kelautan dan Perikanan 5 miliar 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan 5.BMKG .

000 miliar 6. Meningkatnya kapasitas kaum perempuan.Bappenas Instansi utama: .1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur Dua SRC PB Nasional di Jakarta dan Malang mengadakan latihan rutin dan ditingkatkan kapasitasnya dalam merespons bencana Implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response) 12 Satuan Reaksi Cepat (SRC PB) Instansi utama: .BNPB 2.Kementerian Keuangan .TNI .6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) Asuransi bencana di tingkat pusat dan daerah untuk perumahan Instansi utama: .Kementerian Perumahan Rakyat .BNPB .500 miliar 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .Polri . anak dan kelompok marjinal dalam menghadapi bencana di wilayah berisiko tinggi 150 miliar PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 6.BNPB Instansi terkait: .KPDT . anak dan kelompokkelompok marjinal 6.Kementerian Pemberdayaan Perempuan Instansi terkait: .2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggapa darurat 6.Kementerian Pertanian 5.7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan..3 Pembentukan Satuan-satuan 50 miliar 120 miliar Lampiran L-31 .Kementerian Sosial .BNPB 5.Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Kementerian Sosial Instansi utama: .Kementerian PU .

PMI Instansi utama: .BNPB .5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan Tersedianya kebutuhan dasar kesehatan untuk menghadapi kedaruratan 50 miliar 6.TNI .TNI .4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar Tersedianya stok logistik kebutuhan dasar 6.Kementerian PU 300 miliar 6.Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .200 miliar L-32 Lampiran .PMI Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Basarnas .Polri .Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Sosial Instansi terkait: .BNPB .Kementerian Kesehatan Instansi terkait: .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Kesehatan .Polri .7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan Bandara dan pelabuhan di 12 provinsi yang paling rawan 1.Kementerian Sosial .Bulog Instansi utama: .6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara Tersedianya kebutuhan hunian darurat dan sementara 150 miliar 6.BNPB .Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional terbentuk di 12 kantor regional Instansi terkait: .Kementerian Perhubungan Instansi terkait: .

Kementerian Sosial .011. pengembangan TI Sistem informasi bencana real-time terbentuk di pusat dan di 33 provinsi Instansi utama: .26 miliar Lampiran L-33 .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 100 miliar 41.6.Kementerian Komunikasi dan Informasi .8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi realtime untuk emerjensi.BNPB Instansi terkait: .

Peta risiko bencana gempabumi skala 1 : 50.LIPI Instansi Terkait : .Lampiran 4.Penyuluhan. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian ESDM . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BMKG .BNPB .BMKG . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gempabumi.150 miliar 3.BPS .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : . Sandingan Program.BPPT .Bakosurtanal .Bakosurtanal .100 penelitian dan pengembangan mengenai 150 miliar L-34 Lampiran .Kementerian PU . 1.Kementerian Kesehatan . Pemetaan kawasan rawan bencana.Kementerian PU .LAPAN Instansi Utama : . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 400 miliar NO.LIPI .BNPB Instansi Terkait : . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian ESDM .LIPI Instansi Terkait : . Fokus Prioritas.BPPT .Kementerian Sosial .23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .Terpasangnya 400 strong motion accelograph yang tersebar di seluruh Indonesia Instansi Utama : .BMKG 2. Sasaran.000 . pemetaan risiko bencana. pelatihan dan gladi mekanisme pengurangan risiko bencana 1. dan pemantauan gempabumi .

Kementerian ESDM .Kementerian Sosial .BNPB Instansi Terkait : .5 miliar 2.200 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .50 gladi kesiapsiagaan terhadap gempabumi pada wilayah berisiko tinggi terhadap 85 miliar Lampiran L-35 .BPPT .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .BMKG .Kementerian ESDM .Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial 11. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN Penyusunan rencana kontijensi .LAPAN .Pembentukan national board of earthquake disaster prevention .Kementerian Dalam Negeri LIPI . Peningkatan Penyuluhan.KRT .LAPAN .BMKG .BPPT .23 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gempabumi 2. 1.BNPB Instansi Terkait : .pengurangan risiko bencana gempabumi per tahun .Kementerian Sosial .Bakosurtanal . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .LIPI .TNI/POLRI Instansi Utama : .

Polri .Kementerian Kesehatan .5 miliar 3.Kementerian Perhubungan .Kementerian Perhubungan .Bakosurtanal .Kementerian Sosial . layanan kesehatan.Basarnas 10 miliar 12.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Kesehatan .gempabumi .Polri .TNI . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4. Kaji cepat bencana 2.TNI . sandang.Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara.POLRI SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .LAPAN .Kementerian PU Instansi Terkait : .BPPT . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar L-36 Lampiran . Pencarian. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. penyelamatan dan evakuasi 3.

Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 50 miliar 4. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 8.Bappenas . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Bappenas.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri . Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar Lampiran L-37 .Kementerian Sosial .BMKG Selesainya rehabilitasi dan rekonstruksi gempabumi Jawa Barat dan Sumatra Barat .000 miliar (estimasi) 2.BNPB..Kementerian PU .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . Bappenas.Kementerian PU . .Kementerian Keuangan .Kementerian ESDM 5. .BNPB .Kementerian Sosial .

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan 3. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian PU - BNPB - Kementerian Perumahan Rakyat - Kementerian Kesehatan - Kementerian Pendidikan Nasional - Kementerian Budpar - Kementerian Agama - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU 10 miliar

4. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana

2.500 miliar

5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan, pembangunan sistem dan

20 miliar

50 miliar

L-38

Lampiran

infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BMKG TOTAL 12.489 miliar

Lampiran

L-39

Lampiran 5.
Sandingan Program, Fokus Prioritas, Sasaran, Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Tsunami.
KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 310 miliar

NO. 1.

FOKUS PRIORITAS

SASARAN

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pemetaan kawasan rawan bencana, pemetaan risiko bencana dan pemantauan tsunami

- Peta risiko
bencana tsunami skala 1 : 50.000 - Terpasangnya 25 buoy tsunami yang tersebar di seluruh Indonesia

Instansi Utama : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Terkait : - LIPI - Bakosurtanal - BPPT - Kementerian PU - BNPB Instansi Utama : Non struktural : - Kementerian ESDM Struktural : - Kementerian PU Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian Kelautan dan Perikanan - LIPI - BPPT - KRT - BNPB - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan

2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural

- 25 provinsi yang
mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami

625 miliar

L-40

Lampiran

3. Penelitian dan Pengembangan

- 100 penelitian
dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana tsunami per tahun

Instansi Utama : - KRT - LIPI - Kementerian Kelautan dan Perikanan - BMKG Instansi Terkait : - Kementerian ESDM - BPPT - Bakosurtanal - LAPAN - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : - BNPB Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Dalam Negeri - LIPI - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Bakosurtanal - LAPAN - BPPT - TNI - Polri Instansi Utama : - BNPB

50 miliar

2.

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi

- 25 rencana
kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami

50 miliar

2. Penyuluhan, pelatihan dan gladi mekanisme
Lampiran

- 100 penyuluhan
dan pelatihan pada wilayah

42.5 miliar

L-41

Kementerian Dalam Negeri .LAPAN .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan BNPB SRC-PB Instansi Utama : .Kementerian ESDM . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.BPPT .Bakosurtanal .LAPAN . penyelamatan dan evakuasi L-42 Lampiran .Polri Instansi Utama : .TNI .tanggap darurat berisiko tinggi terhadap tsunami .25 gladi kesiapsiagaan terhadap tsunami pada wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .TNI .LIPI .Terbangunnya sistem peringatan dini 25 provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami 4. PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Polri .Kementerian Dalam Negeri . Membangun system peringatan dini bencana tsunami . Kaji cepat bencana tsunami 2.Kementerian Sosial .BMKG .Basarnas 10 miliar 12.BPPT . Pencarian.BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Bakosurtanal .LIPI .KNRT Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .5 miliar 3.5 miliar 237.

Kementerian Komunikasi dan Informasi 20 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri . sanitasi : . air bersih.Kementerian Sosial Instansi utama hunian.Polri .TNI .TNI .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.PMI . layanan kesehatan.TNI .Kementerian Kesehatan .Basarnas . hunian sementara.Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan Instansi Utama : .Kementerian Perhubungan .Polri . sandang.Instansi Terkait : . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar Lampiran L-43 .Kementerian Kesehatan 3. air bersih dan sanitasi Instansi Utama sandang pangan: .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Polri .Kementerian PU Instansi utama layanan kesehatan : .Kementerian PU Instansi Terkait : .

Kementerian Keuangan .BMKG 50 miliar BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perumahan Rakyat 10 miliar 2.Kementerian PU .500 miliar L-44 Lampiran .Kementerian PU .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Keuangan .BNPB .Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BNPB .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Sosial . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 2.Kementerian Kesehatan .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 3.Bappenas.Kementerian Keuangan . .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .5.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian Kesehatan .

008. Peningkatan kapasitas rehabilitas dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.BNPB .Kementerian Kesehatan .4.5 miliar Lampiran L-45 . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .BMKG 20 miliar 50 miliar TOTAL 4.Bappenas. .Kementerian Sosial .

Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BMKG .BPPT . Pemetaan kawasan rawan bencana. Sasaran.Peta risiko bencana gunungapi skala 1 : 50.BPPT .40 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gunungapi per tahun 60 miliar L-46 Lampiran .Kementerian Kesehatan . Fokus Prioritas. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gunungapi.Kementerian Dalam Negeri . pemetaan risiko bencana. dan pemantauan gunungapi . Penelitian dan Pengembangan .BMKG .Terpasangnya instrument pemantau aktivitas gunungapi pada 70 gunungapi Instansi Utama : .Kementerian ESDM 2. 1.000 .Bakosurtanal .Kementerian ESDM .Kementerian PU . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 56 miliar NO.Lampiran 6. FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.KRT .Kementerian Sosial . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian LH Instansi Utama : . Sandingan Program.Kementerian ESDM Instansi Terkait : .LIPI .70 wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi 245 miliar 3.BNPB Instansi Utama : .LAPAN .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .

LIPI .Kementerian ESDM .BMKG .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .BMKG .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .70 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gunungapi 35 miliar Lampiran L-47 .BNPB Instansi Terkait : .- BPPT Bakosurtanal LAPAN LIPI Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal . Penyusunan rencana kontijensi .LAPAN 210 miliar 3. Pengamatan dan peringatan dini gunungapi Terbangunnya sIstem pengamatan guna menunjang sIstem peringatan dini di 70 gunungapi Instansi Utama : . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Pendidikan Nasional 2.Kementerian Dalam Negeri .TNI .BNPB . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Polri Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .

ESDM .Kementerian Dalam Negeri 37.TNI .BMKG .Kementerian Perhubungan . penyelamatan dan evakuasi 7.Kementerian Sosial . Pencarian.BPPT . Penyuluhan.LAPAN . hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri .BPPT . air bersih dan sanitasi 20 miliar L-48 Lampiran .Polri SRC-PB Instansi Utama : .5 miliar 4.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Basarnas Instansi Terkait : .TNI .5 miliar 10 miliar 3. sandang. layanan kesehatan.30 gladi kesiapsiagaan terhadap gunungapi pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan ..Bakosurtanal .TNI .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Sosial .Polri 2.LIPI .Polri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kesehatan . Kaji cepat bencana gunungapi 2.

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BMKG 10 miliar 5. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities Instansi Utama : .BNPB .Kementerian ESDM .Kementerian Keuangan .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . .Kementerian Sosial .TNI .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 4. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 50 miliar .Bappenas.Polri ..Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan - Lampiran L-49 .Kementerian PU .Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .Basarnas . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.

.Kementerian ESDM .Kementerian PU .BNPB . Pengkajian kerusakan dan kerugian . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 4. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui L-50 100 miliar 20 miliar 50 miliar Lampiran .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM 2.BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri 10 miliar 3.Bappenas .Kementerian Keuangan .BNPB .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri . .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.

Kementerian Keuangan .BMKG TOTAL 931 miliar Lampiran L-51 .pendidikanpelatihan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian ESDM .

Kementerian ESDM . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 26 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah per tahun 260 miliar 3.BMKG .Kementerian ESDM Instansi Terkait : . 1.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .Kementerian PU . Fokus Prioritas.LIPI . Penelitian dan Pengembangan - 100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gerakan tanah per tahun 50 miliar L-52 Lampiran .BNPB . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 180 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BPPT .Lampiran 7.LAPAN Instansi Utama : . Sandingan Program.LIPI Instansi Terkait : .000 Instansi Utama : .BPPT .Kementerian ESDM .Bakosurtanal . Sasaran. NO.LIPI . Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan pemetaan risiko bencana gerakan tanah Peta risiko bencana gerakan tanah skala 1 : 50.BNPB . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gerakan Tanah.Kementerian Sosial .Kementerian PU 2.Kementerian PU .BMKG Instansi terkait : .

TNI .Kementerian Kesehatan . Pemantauan gerakan tanah pada jalur jalan atau wilayah vital dan strategis - Terbangunnya sistem peringatan dini 26 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Utama : .2.Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan . PROGRAM : PERINGATAN DINI KRT BPPT Bakosurtanal LAPAN Kementerian Sosial Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Perhubungan 200 miliar 1. Penyusunan rencana kontijensi 26 rencana kontijensi pada tingkat provinsi 13 miliar Lampiran L-53 .Kementerian PU .Polri Instansi Utama : .LAPAN .BNPB .BPPT .Bakosurtanal .LIPI .KRT .BNPB 3 PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian ESDM Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Dalam Negeri . Kaji cepat bencana gerakan tanah 10 miliar L-54 Lampiran .TNI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian ESDM .LAPAN .Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .LIPI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian PU .Polri SRC-PB 43.BPPT .6 miliar 2. Penyuluhan.BPPT .Kementerian Sosial .TNI .Kementerian ESDM .BMKG .LAPAN .Kementerian Sosial . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat - - 100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 25 gladi kesiapsiagaan terhadap gerakan tanah pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 4.berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Polri Instansi Utama : .BMKG .BNPB Instansi Terkait : .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan . sandang.BNPB .Kementerian Kesehatan .2.Kementerian Perhubungan . Pencarian.Kementerian Kesehatan . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.Polri .Basarnas Instansi Terkait : . hunian sementara.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Bappenas 10 miliar 3.Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Basarnas .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui Lampiran 50 miliar L-55 . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : . layanan kesehatan. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar 5.Kementerian Sosial .TNI .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .

Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-56 Lampiran .Kementerian Keuangan .pendidikanpelatihan.Bappenas .BMKG .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan . Pengkajian kerusakan dan kerugian 10 miliar 3.Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian ESDM .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan 25 miliar 2. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian ESDM .BNPB .Kementerian PU .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.

.BMKG 150 miliar 20 miliar 50 miliar TOTAL 1. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .6 miliar Lampiran L-57 . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bappenas.111.BNPB . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Perumahan Rakyat . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian ESDM 4.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM ..Kementerian Sosial .Kementerian PU .

30 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir 1.BMKG . Penelitian dan Pengembangan .BPPT .LAPAN .Kementerian Sosial .Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . 1.Kementerian PU Instansi Terkait : .Lampiran 8. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Banjir.Kementerian PU . Sandingan Program.000 Instansi Utama : . NO.LIPI .Peta risiko bencana banjir skala 1 : 50.Kementerian Kesehatan 2.BPPT Instansi Terkait : . Sasaran. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .BMKG .500 miliar 3. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 200 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LIPI .BNPB .BPPT . Pengenalan dan penentuan risiko bencana banjir .LAPAN Instansi Utama : .Kementerian ESDM .Kementerian PU . Fokus Prioritas.Bakosurtanal Instansi Terkait: .BMKG .100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana banjir per tahun 50 miliar L-58 Lampiran .

Penyusunan rencana kontijensi ..Kementerian PU Instansi terkait: .Terbangunnya sistem peringatan dini 30 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .BMKG .Kementerian ESDM .LAPAN . Pembangunan Sistem Peringatan Dini banjir .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .KRT .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian PU .BMKG .Kementerian Kesehatan 90 miliar 2.Kementerian Sosial .Polri Instansi Utama : .Bakosurtanal .BNPB Instansi Terkait : . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kesehatan .TNI .30 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap banjir 15 miliar Lampiran L-59 .BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian Pendidikan Nasional 2. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.

Kementerian Perhubungan .100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir . Kaji cepat bencana banjir 2.Bakosurtanal .Polri . L-60 20 miliar Lampiran .Kementerian PU .Basarnas Instansi Terkait : . Penyuluhan. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian ESDM .BPPT .Polri SRC-PB Instansi Utama : .25 gladi kesiapsiagaan terhadap banjir pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .LAPAN .Kementerian Komunikasi dan Informasi . penyelamatan dan evakuasi 7.5 miliar 3.TNI .BMKG .Kementerian Sosial 42. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.TNI . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri 2.5 miliar 10 miliar 3. sandang.LIPI .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan . Pencarian.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan ..BNPB Instansi Terkait : .TNI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .

Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Bappenas.Kementerian PU 10 miliar Lampiran L-61 . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri .TNI .Basarnas .BNPB .BNPB .Kementerian PU .Kementerian PU Instansi Utama : .BMKG .hunian sementara. layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal 10 miliar 4.Kementerian Keuangan . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Terkait : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Polri . air bersih dan sanitasi Instansi Terkait : . Pengkajian kerusakan dan kerugian 50 miliar .Kementerian Perhubungan .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4. .Kementerian Kesehatan .

Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 10 miliar 50 miliar TOTAL 2.Kementerian PU .. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Kesehatan .BNPB .150 miliar L-62 Lampiran .BNPB . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .BMKG .Bappenas . .BNPB .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 75 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan 2.Bakosurtanal 10 miliar 3.Bappenas.

Kementerian PU .Bakosurtanal .BPPT .5 miliar 1.BNPB . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. NO.Kementerian PU . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5.LAPAN Instansi terkait : .BPPT .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BNPB 2. Sasaran. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana kekeringan .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .LIPI .Kementerian Sosial .24 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 240 miliar Lampiran L-63 . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kekeringan.Kementerian ESDM .Kementerian ESDM . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Sandingan Program.Lampiran 9. Fokus Prioritas.BMKG .BMKG .LIPI .Kementerian Pertanian .Peta risiko bencana kekeringan Instansi Utama : .

BMKG .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian .BNPB .LAPAN .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial ..Kementerian Kesehatan 3.LIPI .Kementerian ESDM .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .Kementerian Kesehatan .KRT .BPPT .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal 25 miliar 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.LAPAN . Penelitian dan Pengembangan .5 miliar penyuluhan L-64 Lampiran .LIPI .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 7.Kementerian ESDM . Informasi dan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Depdiknas Instansi Utama : .Bakosurtanal .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana kekeringan per tahun Instansi Utama : .

2 miliar .BPPT . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Kehutanan . sandang. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Penyusunan rencana penanggulangan kedaruratan LAPAN BPPT TNI Polri 7. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 15 miliar Lampiran L-65 .Kementerian ESDM .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : . air bersih dan sanitasi 20 miliar 2.Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Bakosurtanal .24 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap kekeringan Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . layanan kesehatan.Kementerian PU 4.BMKG .LIPI .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.LAPAN .TNI .3. hunian sementara.

Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Kementerian Perhubungan 3.Bappenas ..Kementerian Kehutanan .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BNPB .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .BNPB . .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Bappenas.Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian PU . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-66 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Bappenas .Kementerian Keuangan 30 miliar 10 miliar 2.

Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 650.Kementerian Pertanian .2 miliar Lampiran L-67 .BNPB .Kementerian Kehutanan .BMKG .Kementerian Keuangan .Kementerian LH .Kementerian LH 3. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan..Kementerian PU .Bappenas.Kementerian PU .Kementerian Kehutanan . Pemulihan saranaprasarana publik .BNPB . .Kementerian Pertanian .Kementerian PU .Kementerian Pertanian TOTAL 250 miliar 4.

Kementerian LH . Sasaran.Kementerian Pertanian .LIPI .BMKG .SPBK (sistem peringkat bahaya kebakaran) skala 1 : 50.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 50 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan. 1.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BPPT .Patroli dan pengawasan melaui udara dan darat Instansi Utama : .Peningkatan pengawasan pengelolaan lahan gambut untuk tidak dibakar . NO.BNPB .000 .Fasilitasi penyiapan lahan tanpa bakar untuk petani tradisional 100 miliar L-68 Lampiran .Kementerian Pertanian .10 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan per tahun .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan .TNI .BNPB .Lampiran 10.BMKG . Sandingan Program.LAPAN Instansi Utama : . Pemetaan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan . Fokus Prioritas.LAPAN 2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Polri Instansi Terkait : .

Penelitian dan Pengembangan .BNPB .Bakosurtanal .LIPI .Kementerian Kehutanan .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .Kementerian LH .Terbangunnya sistem peringatan dini 10 provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 30 miliar 3.Bakosurtanal .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian .Pemanfaatan material yang sering dibakar Instansi Utama : .BNPB Instansi Utama : .LIPI Instansi utama: .BMKG .Sinkronisasi upaya pencegahan dan mitigasi ancaman asap lintas bantas negara ASEAN 50 miliar 2. Pembangunan Sistem Peringatan Dini kebakaran hutan dan lahan .BPPT .BNPB 26 miliar 4.Polri Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .LAPAN .3.50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan per tahun .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .TNI . Implementasi AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Polution) .LAPAN . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. Penyusunan rencana kontijensi .LAPAN .BPPT .10 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi 5 miliar Lampiran L-69 .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.

Polri Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian LH 18.LIPI .10 gladi kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 4.Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan . dan air .Pembuatan 25 miliar L-70 Lampiran .LAPAN .BMKG .BPPT .Kementerian Kehutanan .Polri Instansi Utama : .BMKG .BNPB .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal . Operasi Pemadaman . Peningkatan Penyuluhan.LAPAN . udara.BPPT .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri .Mobilisasi sumberdaya melalui darat.Kementerian Pertanian .TNI .dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .5 miliar 2.TNI .BNPB .Kementerian Kesehatan .

Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . layanan kesehatan. Patroli.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Kementerian Pertanian . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Perhubungan . Pencarian.Basarnas . sandang.modifikasi cuaca (hujan buatan) Instansi Terkait : .Pengumpulan dan pendistrbusian bantuan 10 miliar Lampiran L-71 .Evakuasi manusia.BPPT Instansi Utama : .Dephub . dan aset-aset yang bernilai strategis 3.Polri .Kementerian PU Instansi Utama : . penyelamatan dan evakuasi .Kementerian Dalam Negeri .TNI . hewan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kehutanan 10 miliar 2.Kementerian Sosial . hunian sementara.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi .Kementerian Sosial .Polri .TNI .Kementerian Dalam Negeri .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri . Inventarisasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar 2. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Bappenas.Kementerian PU .Kementerian Sosial . .BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Pertanian .4.BNPB .Kementerian Pertanian . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-72 Lampiran .Kementerian Kesehatan .Kementerian Pertanian .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan .Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian Kehutanan .BNPB .BMKG .Kementerian PU .Kementerian LH 40 miliar 5.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .

Kementerian PU .Kementerian PU .5 miliar Lampiran L-73 .BMKG .Kementerian Kehutanan TOTAL 50 miliar 4.3.Kementerian LH .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.Kementerian Pertanian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 40 miliar 474.Kementerian Kehutanan . Pemulihan saranaprasarana publik dan reboisasi . .BNPB .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Pertanian .

Fokus Prioritas.Kementerian Kehutanan 2.Kementerian Kehutanan .Kementerian PU Instansi Terkait : . SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 40 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sandingan Program.BPPT . FOKUS PRIORITAS 1.Lampiran 11.Kementerian Pertanian . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Erosi.Kementerian LH Instansi Utama : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap erosi per tahun 230 miliar 3.LIPI .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian . Sasaran. NO. Pengenalan dan pemantauan risiko erosi Peta risiko bencana erosi Instansi Utama : .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan .Kementerian PU Instansi Terkait : . Penelitian dan Pengembangan - 15 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko erosi per tahun 15 miliar L-74 Lampiran .LAPAN .Kementerian LH Instansi Utama : .Bakosurtanal .Kementerian Pertanian .

PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian PU 3 miliar 3.Kementerian Kesehatan . penyelamatan dan evakuasi 1.Polri . Penyuluhan.Kementerian LH . Pencarian.Kementerian Dalam Negeri . layanan kesehatan.BNPB Instansi Terkait : .Kementerian ESDM 2.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : .TNI . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap erosi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri . sandang.Kementerian Pertanian .Kementerian Kesehatan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kehutanan .Basarnas Instansi Terkait : ..Kementerian Sosial . hunian sementara. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.5 miliar 2.Kementerian Perhubungan . air bersih dan sanitasi 2 miliar Lampiran L-75 .

Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .Kementerian Keuangan .Bappenas .3.BNPB . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Bappenas .Kementerian LH 30 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .BNPB .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian PU .5 miliar 2.5 miliar L-76 Lampiran .Kementerian Kehutanan .BMKG .Kementerian Kehutanan .Kementerian LH . . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .

Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 25 miliar 4. .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.Kementerian Pertanian .3.Kementerian PU .Kementerian LH . Pemulihan saranaprasarana publik - .Kementerian Pertanian .Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 380.BMKG .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .BNPB .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan .5 miliar Lampiran L-77 .

25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran gedung dan permukiman per tahun 12.Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Gedung dan Permukiman.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Bakosurtanal . Penyusunan rencana kontijensi . Fokus Prioritas.Kementerian Perumahan Rakyat . Sasaran.Peta risiko bencana kebakaran gedung dan permukiman Instansi Utama : .BPPT .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .25 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman per tahun 125 miliar 3. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Pengenalan risiko kebakaran gedung dan permukiman .Kementerian PU Instansi Terkait : .5 miliar 2.10 rencana kontijensi pada 5 miliar L-78 Lampiran . 1.BNPB 2.Kementerian PU . Penelitian dan Pengembangan .Lampiran 12. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 20 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. NO.LIPI . Sandingan Program. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian PU .

Operasi Pemadaman Instansi Utama : .Polri .Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi kebakaran gedung dan permukiman 3. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian PU . Penyuluhan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Perhubungan .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Basarnas 10 miliar 2.tingkat provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman Instansi Terkait : .BNPB Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Sosial .TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri .TNI .Kementerian Kesehatan .Basarnas .Basarnas 10 miliar Lampiran L-79 .

BNPB . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : . sandang.Bappenas.BNPB .5 miliar L-80 Lampiran .Dephub .BMKG 5 miliar 3. hunian sementara.Kementerian PU Instansi Utama : . layanan kesehatan.Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 2.TNI/POLRI .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .2.Bappenas . Pencarian. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Basarnas Instansi Terkait : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Dephub .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 30 miliar 1.Kementerian Dalam Negeri . . Pengkajian kerusakan dan kerugian - .

.Kementerian Kesehatan .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan..BNPB .Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 4.Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .5 miliar 3.Kementerian Perumahan Rakyat . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar TOTAL 312.5 miliar Lampiran L-81 .Bappenas. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian Keuangan .Kementerian Perumahan Rakyat 2.BMKG 2.Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB.Kementerian Keuangan .BNPB . .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .

LAPAN .BPPT . 1.BMKG .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko gelombang 12. NO.Kementerian LH .BMKG Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : .12 propinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim 90 miliar 3. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Gelombang Ekstrim dan Abrasi.BPPT 2.Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BPPT .LIPI . Sandingan Program. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .5 miliar L-82 Lampiran .Lampiran 13.Bakosurtanal .Kementerian PU . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .LIPI .BMKG .LAPAN Instansi Terkait : .Peta resiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Instansi Utama : . Pengenalan dan pemantauan risiko gelombang ekstrim dan abrasi . Fokus Prioritas.Bakosurtanal . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM: PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sasaran.BMKG Instansi Terkait : .

12 provinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim Instansi Utama : .Kementerian LH . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BPPT .ekstrem dan abrasi per tahun ..Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH .Kementerian LH .BNPB Instansi Terkait : . Pencarian. Pemantauan dan penyuluhan .BNPB .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gelombang ekstrem dan abrasi 3 miliar 4.LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BMKG .Bakosurtanal . penyelamatan dan evakuasi 10 miliar Lampiran L-83 .Basarnas 12 miliar 3.Bakosurtanal . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian PU .BMKG . Penyuluhan dan pelatihan .LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Utama : .LIPI .BMKG Instansi Utama : .Kementerian PU .BMKG .

sandang. Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.BMKG .BNPB . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.TNI .Kementerian Keuangan .Bappenas. .Kementerian Keuangan 20 miliar 3.Bappenas .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian PU 2.Kementerian Sosial .Kementerian PU ..Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 5.Kementerian Sosial .5 miliar L-84 Lampiran .Kementerian PU Instansi Terkait : . hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri . layanan kesehatan.Polri Instansi Terkait : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kesehatan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Perhubungan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. air bersih dan sanitasi Instansi Utama : .

Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 241.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian PU .BMKG .Bappenas .Kementerian PU .Bappenas..Kementerian Keuangan .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 2.Kementerian PU .Kementerian LH .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH 2.5 miliar Lampiran L-85 . Pemulihan sarana-prasarana publik dan reboisasi 25 miliar 4.5 miliar 3.

NO.LAPAN Instansi Terkait : .BMKG .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko cuaca ekstrim per tahun 10 miliar L-86 Lampiran . Fokus Prioritas. Pengenalan dan pemantauan risiko cuaca ekstrim .14 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim per tahun 35 miliar 3.BPPT .Kementerian Perhubungan .Bakosurtanal .Kementerian LH 2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Bakosurtanal .BNPB . 1. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU .LIPI .LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH Instansi Utama : .BMKG Instansi Terkait : . Sasaran. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Cuaca Ekstrim.BMKG .BPPT .Kementerian PU . Sandingan Program. Penelitian dan Pengembangan .Lampiran 14.Peta risiko bencana cuaca ekstrim Instansi Utama : .Kementerian PU .

BMKG .Pemantauan dan penyuluhan di 14 propinsi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . Pencarian. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Basarnas .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan . hunian sementara. layanan kesehatan.20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim 3 miliar 4. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. sandang.BMKG . Penyuluhan.Kementerian Kesehatan .Kementerian LH Instansi Utama : . Pemantauan dan Penyuluhan .BNPB .Polri Instansi Terkait : .Kementerian PU .DKP .LAPAN Instansi Terkait : .Kementerian PU 35 miliar 2.Kementerian Sosial .Kementerian PU . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. penyelamatan dan evakuasi 10 miliar 2.TNI .BNPB .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Sosial . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian LH Instansi Utama : .2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1. air bersih dan sanitasi Lampiran 10 miliar L-87 .LAPAN Instansi Terkait : .

Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BMKG .BMKG .Kementerian PU .BNPB . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian PU .Kementerian PU .Bappenas .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran 5.Kementerian Keuangan .LAPAN .BMKG .Kementerian Perhubungan 3.Kementerian LH 1.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Pemulihan saranaprasarana publik 25 miliar L-88 Lampiran .Instansi Terkait : .BPPT 30 miliar 2. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.5 miliar 3.Bappenas .5 miliar .Kementerian LH .Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BNPB .BPPT TOTAL 30 miliar 197 miliar Lampiran L-89 .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .LAPAN . .4.BMKG .

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi per tahun 7.Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri .BATAN .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perindustrian .5 miliar L-90 Lampiran .LIPI .Bapeten .BPPT .BPPT . Pengenalan dan pemantauan risiko kegagalan teknologi Peta risiko bencana kegagalan teknologi Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 10 miliar 1.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Bapeten .Kementerian PU . NO.BATAN 2.Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .Kementerian Perindustrian .Kementerian LH .Lampiran 15.LIPI . Fokus Prioritas. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Sasaran. Sandingan Program. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kegagalan Teknologi.Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .Kementerian PU .

pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BATAN Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Polri .LIPI . Penyuluhan.Bapeten .Polri . Operasi Penanganan 10 miliar Lampiran L-91 .5 miliar 3. Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Perindustrian .Bapeten Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian LH .BPPT Instansi Terkait : .3.BATAN .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi 1.LIPI .Kementerian PU .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kegagalan teknologi per tahun Instansi Utama : .BPPT .TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Basarnas . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Perindustrian 5 miliar 2.Kementerian PU .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Perindustrian .Kementerian Perhubungan .TNI .

Basarnas .BATAN .Kementerian PU .TNI .Bapeten 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Keuangan .Polri . Pencarian. layanan kesehatan.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan .Bappenas. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian Perindustrian .Kementerian PU .Kementerian PU . hunian sementara. . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan..Kementerian Perhubungan . sandang.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .LAPAN 5 miliar 3.BNPB . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai L-92 30 miliar Lampiran .

Kementerian Perindustrian .Kementerian Kesehatan .5 miliar 2. ..LIPI .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Bappenas .Bapeten 4. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.Kementerian Keuangan .Kementerian Perhubungan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 161.Kementerian Perhubungan TOTAL 2.LIPI . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BNPB .BNPB .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BATAN .Kementerian PU .Kementerian PU . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Bappenas.BPPT .LAPAN .Kementerian Keuangan .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .5 miliar Lampiran L-93 .

Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : . Sandingan Program. Penelitian dan Pengembangan . 1.Bakosurtanal . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit .Kementerian PU .Lampiran 16. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Epidemi dan Wabah Penyakit. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .LAPAN .BNPB ANGGARAN INDIKATIF 8 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Peta risiko bencana epidemi dan wabah penyakit 2.20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit per tahun 30 miliar 2.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .5 miliar L-94 Lampiran . Sasaran.Kementerian Kesehatan .BPPT . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. NO. Fokus Prioritas.Kementerian PU Instansi Utama : .5 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap epidemi 2.LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 50 miliar 3.Kementerian LH Instansi Utama : . Penyusunan rencana kontijensi .

hunian sementara. penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . layanan kesehatan.30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit .Kementerian Kesehatan 10 miliar 2.Polri . Pencarian. Penyuluhan.BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Dalam Negeri . sandang.dan wabah penyakit Instansi Terkait : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. air bersih dan sanitasi 20 miliar Lampiran L-95 .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian PU 10 miliar 2.TNI .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 3.Kementerian Sosial Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .

LAPAN .BNPB .LAPAN .Kementerian Keuangan .Kementerian Perindustrian .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bakosurtanal . .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perindustrian .LIPI .Bappenas.Kementerian PU .Kementerian Kesehatan . .5 miliar L-96 Lampiran .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .BPPT . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 2.BPPT .Kementerian Kesehatan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 20 miliar 30 miliar 210.3.Kementerian Sosial .Bakosurtanal TOTAL 30 miliar 4.BNPB .Kementerian Keuangan .LIPI .Bappenas.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.

Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Polri . Penelitian dan Pengembangan . Sandingan Program.10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko konflik sosial per tahun 5 miliar 2.Lampiran 17.5 miliar 3.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Konflik Sosial. Fokus Prioritas. Pengenalan dan pemantauan risiko konflik sosial . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar 1.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . NO.Wilayah berisiko tinggi terhadap konflik sosial per tahun 7. PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BNPB 2.5 miliar Lampiran L-97 .Kementerian Komunikasi dan Informasi . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyuluhan.LIPI .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI .Peta risiko bencana konflik sosial Instansi Utama : .Polri . Sasaran.Kementerian Komunikasi dan Informasi .TNI .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi 1.

Basarnas Instansi Utama : .Kementerian Sosial . layanan 10 miliar L-98 Lampiran .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .Basarnas Instansi Terkait : .Polri .TNI .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . sandang.Polri .terhadap konflik sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . Pencarian. PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Perhubungan . Operasi Penanganan 2.LIPI Instansi Utama : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan . hunian sementara.TNI/POLRI . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Kesehatan 10 miliar 3.TNI .Kementerian Sosial . penyelamatan dan evakuasi 5 miliar 3.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Perindustrian .

Kementerian Keuangan . .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BNPB . air bersih dan sanitasi . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .Kementerian Sosial 2.LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Polri . Pengkajian kerusakan dan kerugian .BNPB .Kementerian Sosial . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian Komunikasi dan Informasi . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui 30 miliar Lampiran L-99 .Bappenas.Kementerian Sosial .Bappenas .BNPB .Kementerian Keuangan .5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri 30 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian PU .kesehatan.TNI . .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .pendidikanpelatihan.Polri .LIPI .Kementerian Keuangan .5 miliar L-100 Lampiran .Kementerian Komunikasi dan Informasi .TNI .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 156.

Lampiran 18. Daftar singkatan Bakosurtanal Bapeten Basarnas BATAN BMKG BNPB BPBD BPN BPPT BPS BSN DBD DiBI ESDM K/L KLB KPB KRB LAPAN LIPI LSM PDB PDRB Perka Permendagri Planas PRB PMI PRB Protap PU PVMBG Lampiran Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Badan SAR Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Badan Meteorologi. Klimatologi dan Geofisika Badan Nasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Badan Pertanahan Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Badan Standarisasi Nasional Demam Berdarah Dengue Data dan Informasi Bencana Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian/Lembaga Kejadian Luar Biasa Konsorsium Pendidikan Bencana Kawasan Rawan Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Kepala Peraturan Menteri Dalam Negeri Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Pengurangan Risiko Bencana Prosedur Tetap Pekerjaan Umum Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi L-101 .

L-102 Lampiran .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful