Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014

.

……….……………………………………………………………………………….2014 ii .2 Kerentanan dan Kapasitas ……………………………………………….…….3 Risiko Bencana ………………………………………………………………………… i ii iii iv 1 2 3 3 5 6 9 9 26 31 III. Permasalahan.4 Proses Penyusunan …………………………………………………………………. 1. Pemantauan. 7.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1. 2. Daftar Gambar ……………………………………………………………………………...2 Pendanaan ……………………………………………………………………………….1 Isu dan Permasalahan ………………………………………………………..2 Pelaporan . Program …………………………………………………………………………………….……… 4.2 Tantangan dan Peluang …………………………………………………….2 Tujuan …………………………………………………………………………………….5 Kaidah Pelaksanaan ………………………………………………………………… II..…….. 99 6.. Tantangan dan Peluang ………………………………………….…… 4. 99 6. 7. 1.DAFTAR ISI Sambutan ……………………………………………………………………………………………… Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………. 4. 102 VII.2 Penataan Kelembagaan …………………………………………………….3 Kedudukan Dokumen dan Landasan Hukum …………………………… 1.……. Daftar Tabel …………………………………………………………………………………………. Evaluasi dan Pelaporan …………………………………………….……. 75 IV..1 Pemantauan dan Evaluasi ………………………………………………………. 73 3... Pendahuluan ……………………………………………………………………………………… 1. V. Anggaran dan Pendanaan ……………………………………………………….……… 2.1 Visi dan Misi ……………………………………………………………………….………. Lampiran 105 105 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kebijakan Penanggulangan Bencana ……………………………………….1 Anggaran ………………………………………………………………………………….……. 73 3. Gambaran Umum Kebencanaan ……………………………………………………….1 Ancaman (Hazard)…………………………………………………………………….3 Kebijakan dan Strategi ………………………………………………………. 79 79 79 85 91 VI. 2. I.

.

…………………………………………………… 10 Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.. Tabel 2. Tabel 2.12.. Tabel 2.2..1..DAFTAR TABEL Tabel 2. Tabel 2.. 55 Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi ……………………………………….4.. Tabel 2..1.. 2007) ………………………………………………………………. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.. 28 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 31 Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami . Tabel 2... 25 Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau …………………………………………………………….7.. Tabel 7. Tabel 6.. 42 Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir ……………………………………... Tabel 2. 15 Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) ………………………………………………… 18 Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 …….. Tabel 2...3...1... Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 ... 51 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan ….14. Tabel 5. 40 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah ………………………. Tabel 6.9.. 61 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman ……………………………………………………………………. 107 Tabel 2.16.1. Tabel 2. Tabel 2.15..... BNPB) …………………......6.. 65 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi …………………………… 69 Program dan fokus prioritas dalam Renas PB …………………… 93 Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB 99 Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB ………………………………………………………………………….5. Tabel 2.2014 iii .. 101 Format pemantauan dan evaluasi ……………………………………. Tabel 2... 36 Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi ……………………………. 46 Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan …………………………….11. 2008). 27 Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 19902007 (BPS. Tabel 2...13..10. Tabel 2..2...8.

.

.. PU) ……………………………………………………………………………… Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) …………… Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) ..2.. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis …………………… Sistem Penanggulangan Bencana Indonesia ………………… Pilihan tindakan dalam manajemen risiko bencana ……… 9 11 13 14 16 17 19 20 21 22 22 23 91 93 Gambar 2... Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI. BNPB) …………….. BNPB) ………………………………………………… Posisi munculnya siklon tropis di Indonesia (BMKG) .2. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG............ Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .8...... Gambar 2...... Gambar 2..... Gambar 2... Gambar 2.3..4...... 2007)…………...1..1..7. Gambar 2. Zona kerentanan gerakan tanah di Indonesia (ESDM)… Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG.. Gambar 2..... Zona Bahaya Erosi di Indonesia …………………………………….5. Gambar 5...... Gambar 2....... 2007) .........6.11... Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI.......Bakosurtanal.. Gambar 2.10........ Gambar 2...12.....2014 iv .9.. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG......... Gambar 2....DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Gambar 5.. 2008) …………………………………………………………………………… Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia dalam periode 1801-2006 (Puspito.

.

.

.

Nusa Tenggara Barat. Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah menjadi tempat terjadinya dua letusan gunungapi terbesar di dunia. Selain bencana-bencana berskala besar yang pernah tercatat dalam sejarah. bumi tidak menerima cukup panas dan terjadi gelombang hawa dingin.BAB I PENDAHULUAN 1. Banjir yang hampir setiap tahun menimpa Jakarta dan wilayah sekitarnya. Sebagian dari material vulkanik ini membentuk lapisan di atmosfir yang memantulkan balik sinar matahari ke atmosfir.000 jiwa di sebelas negara dan menimbulkan kehancuran hebat di banyak kawasan pesisir di negara-negara yang terkena. Gempabumi ini memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 225. Tahun 1815 Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa. Bencana yang paling mematikan pada awal abad XXI juga bermula dari Indonesia.000 kali kekuatan ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima dalam Perang Dunia II.708 korban jiwa dan nilai kerusakan yang ditimbulkannya mencapai lebih dari Rp 48 triliun. Karena sinar matahari yang memasuki atmosfir berkurang banyak. Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Gelombang hawa dingin membuat tahun 1816 menjadi “tahun yang tidak memiliki musim panas” dan menyebabkan gagal panen di banyak tempat serta kelaparan yang meluas. Indonesia juga tidak lepas dari bencana besar yang terjadi hampir setiap tahun yang menimbulkan kerugian tidak sedikit.7 juta ton abu dan material vulkanik. Pada tanggal 26 Desember 2004. Sepanjang abad XX hanya sedikit bencana yang menimbulkan korban jiwa masif seperti itu. meletus dan mengeluarkan sekitar 1. Di Indonesia sendiri gempabumi dan tsunami mengakibatkan sekitar 165. kira-kira 13.2014 1 .1 LATAR BELAKANG Indonesia adalah sebuah negeri yang rawan bencana. sebuah gempabumi besar terjadi di dalam laut sebelah barat Pulau Sumatra di dekat Pulau Simeuleu. Dalam abad yang sama. Erupsi Krakatau diperkirakan memiliki kekuatan setara 200 megaton TNT. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

dimulai dari identifikasi ancaman bencana. penanganan kondisi tanggap darurat yang efisien dan upaya pemulihan yang tepat sasaran. terkoordinasi dan menyeluruh. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana yang selanjutnya disebut Renas PB.kota-kota di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo dan beberapa daerah lain di Indonesia menimbulkan kerugian material dan non-material senilai triliunan rupiah. Untuk menghadapi peningkatan potensi dan kompleksitas bencana di masa depan dengan lebih baik. perkebunan dan peternakan.2014 . merupakan wujud dari upaya pemerintah terkait untuk merumuskan program-program kegiatan dan fokus prioritas penanggulangan bencana. Rencana ini menggambarkan kondisi yang diinginkan oleh pemerintah Republik Indonesia dalam 5 (lima) tahun mendatang mengenai penanggulangan bencana. Indonesia memerlukan suatu rencana yang sifatnya terpadu. Program-program kegiatan dalam Renas PB disusun berdasarkan visi misi penanggulangan bencana dan rencana tindakan yang harus diambil sesuai dengan manajemen risiko. Renas PB adalah sebuah dokumen resmi yang memuat data dan informasi tentang risiko bencana yang ada di Indonesia dalam kurun waktu antara 2010-1014 dan rencana pemerintah untuk mengurangi risiko-risiko tersebut melalui program-program kegiatan. Rencana ini menjadi salah satu bagian kesiapsiagaan penanggulangan bencana yang merupakan prioritas 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II yang disebut sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. Dalam pelaksanaannya perlu dipadukan dalam 2 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Demikian pula kekeringan yang semakin sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia. selain mengancam produksi tanaman pangan juga kian mempermiskin penduduk yang mata pencahariannya tergantung pada pertanian. Renas PB layaknya proposal dari pemerintah memuat upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Penyusunan Renas PB merupakan pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. analisis risiko bencana sampai dengan program kegiatan dan fokus prioritas yang akan diambil termasuk keterlibatan Kementerian/Lembaga dan besarnya anggaran yang dibutuhkan.

kerangka anggaran dan rincian program. dokumen Renas PB selanjutnya menjadi arah dalam melakukan pengarusutamaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan bencana. terpadu. 1. maka Renas PB diintegrasikan ke dalam RPJMN 2010-2014. berikut program kegiatan.2014 3 . pemerintah setiap tahun akan menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) sebagai penjabaran dan operasionalisasi RPJMN yang memuat kerangka regulasi.3 KEDUDUKAN DOKUMEN DAN LANDASAN HUKUM Renas PB merupakan rencana pemerintah lintas sektor yang berlaku selama lima tahun. fokus prioritas dan anggaran indikatif yang diperlukan. 40 Memberikan acuan kepada kementerian dan lembaga pemerintah. terkoordinasi dan menyeluruh. perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana menjadi salah satu prioritas utama dalam RPJMN dan terpadukan ke dalam program-program pembangunan dalam dokumen tersebut. 1. Ringkasan isi Renas PB diintegrasikan ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang memuat kebijakan dan program pembangunan serta rencana kerja Pemerintah. Secara khusus. dan seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Indonesia agar dapat melaksanakan penanggulangan bencana secara terencana. Kementerian/Lembaga pemerintah pusat akan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .perencanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. Untuk memastikan terlaksananya perencanaan dan tindakan penanggulangan bencana. Dengan demikian.2 TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20101014 adalah: 30 Mengidentifikasikan daerah berisiko tinggi dari berbagai bencana yang ada di Indonesia dan menyusun pilihan tindakan yang perlu mendapat perhatian utama. Dengan mengacu RPJMN.

Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku. Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang.2014 . Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 4 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. konsultasi publik. baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. 1. lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Di masa yang akan datang. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. dan masukan melalui berbagai media publik.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. lembaga pemerintah.1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. 3. Kementerian. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 5. Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah. 2. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). 6.2014 5 . Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 4. pemerintah daerah. Kementerian.

dan masukan melalui berbagai media publik. Kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan melalui konsultasi teknis. Renas PB merupakan perencanaan berjangka waktu 5 (lima) tahun.2014 . Di masa yang akan datang.Penasihat dipilih berdasarkan jabatannya dalam Kementerian/Lembaga terkait serta kepakaran dan/atau keterlibatan dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. Beberapa Kelompok Teknis dilibatkan dalam pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana. 1. Pelaksanaannya dilakukan melalui lokakarya perencanaan. organisasi-organisasi profesi dan pihak swasta. Kaidah-kaidah pelaksanaan Renas PB adalah sebagai berikut: 6 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . seperti yang telah banyak dilakukan di banyak negara lain. proses penyusunan seperti ini diharapkan akan terus berkembang. lembaga-lembaga swadaya masyarakat.5 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 merupakan wujud dari komitmen pemerintah dalam bidang penanggulangan bencana yang dituangkan dalam Peraturan Kepala (Perka) Badan Nasional Penanggulangan Bencana. terutama tim yang beranggotakan pakar dari perguruan tinggi. dan dapat ditinjau secara berkala setiap 2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana (Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (5) dan (6). baik yang berasal dari pihak swasta maupun kalangan akademisi. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) dan merupakan pedoman bagi daerah dalam menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB Daerah) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah). Renas PB merupakan pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian/Lembaga. konsultasi publik. media serta publik yang lebih luas telah dilibatkan dalam memberikan masukan dalam penyusunan Renas PB. Para pemangku kepentingan yang meliputi asosiasi-asosiasi pemerintah daerah. sehingga akan diperoleh suatu pedoman pengkajian ancaman dan kerentanan serta penilaian risiko bencana yang baku.

Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Kementerian.1. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2010-2012 dan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Kementerian dan lembaga pemerintah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 dengan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga yang berkaitan dengan isu kebencanaan. 6. Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional berkewajiban untuk melakukan pemantauan terhadap penjabaran Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 20102014 ke dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. lembaga pemerintah. Kementerian. 4. 2. pemerintah daerah. Pemerintah daerah berkewajiban menjamin konsistensi antara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010-2014 dengan Rencana Penanggulangan Bencana serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Pemerintah daerah berkewajiban menyusun Rencana Penanggulangan Bencana Daerah.2014 7 . 5. lembaga pemerintah berkewajiban menyusun rencana strategis yang berperspektif pengurangan risiko bencana sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dengan berpedoman pada Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. serta masyarakat termasuk dunia usaha mengacu Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. 3. yang akan menjadi pedoman dalam menyusun Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan memperhatikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .8 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

Gambar 2.1. Tektonik dan sebaran sesar aktif di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.1 Ancaman Gempabumi Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan. Daerah rawan gempabumi di Indonesia tersebar pada daerah yang terletak dekat zona penunjaman maupun sesar aktif. sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng. Bali dan Nusa Tenggara.BAB II GAMBARAN UMUM KEBENCANAAN 2.Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempabumi dan rangkaian gunungapi aktif sepanjang Pulau Sumatra.1. Penunjaman lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dengan lempeng Euro. belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara. Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur.1 ANCAMAN (HAZARD) 2.2014 9 . Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Euro-Asia. Jawa. 2008). Daerah yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Tabel 2.700 Daerah Pulau Timor Sumatra Barat Yogyakarta dan Jawa Tengah Liwa.1. Opak. Ransiki. Kepulauan Maluku dan sistem sesar aktif lainnya yang belum terungkap. Palu-Koro. Sorong. Lampung Bengkulu Pulau Nias Yogyakarta dan Jawa Tengah 2. Bali. Beberapa sesar aktif yang telah dikenal di Indonesia antara lain adalah Sesar Sumatra. 3. 7.2014 10 . Kepulauan Maluku. pantai selatan Bali dan Nusa Tenggara. 6. Pulau Sulawesi. Busur Belakang Flores. Indonesia menjadi rawan terhadap ancaman tsunami. Gambar 2.1. pantai utara dan timur Sulawesi dan pantai utara Papua. Nusa Tenggara. 2. Nusa Tenggara Barat.000 > 5.2 Ancaman Tsunami Gempabumi yang disebabkan oleh interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan deformasi dasar laut yang mengakibatkan gelombang pasang dan tsunami apabila terjadi di samudera. Baribis. Tabel 2.9 8. Kepulauan Maluku dan Pulau Papua. Daerah Istimewa Yogyakarta. Jawa Tengah. 2008) No.2 MMI VIII IX IX IX X VIII VIII Korban Jiwa (org) 250 354 213 l. menyajikan data beberapa kejadian gempabumi di Indonesia dengan jumlah korban jiwa yang besar. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini.207 100 > 1. sesar aktif di daerah Banten. Maluku Utara.8 7 7. Korban jiwa signifikan beberapa kejadian gempabumi di Indonesia (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi/PVMBG.7 6. menyajikan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .terletak dekat zona penunjaman adalah pantai barat Sumatra. pantai selatan Jawa. 1. 5. Nusa Tenggara Timur.2. Sedangkan daerah di Indonesia yang terletak dekat dengan zona sesar aktif adalah daerah sepanjang Bukit Barisan di Pulau Sumatra. Tahun 1896 1926 1943 1994 2000 2005 2006 Magnitudo (Mw) 7. Jawa Timur. Bali.2. 4. Lembang. Cimandiri. Provinsi Jawa Barat.

2014 11 . G Gambar 2.kejadian be encana tsunam di Indonesi dalam kuru waktu anta tahun mi ia un ara 1801-2006. n 110 100 kejadia di antarany disebabkan oleh gempa an ya abumi. 9 oleh letusan h gunungapi dan 1 oleh tanah longso Sebagian besar data kejadian or. Kem i nia u mudian data tersebut dibandingka dengan data yang dikum an mpulkan oleh Berninghause (1966. Berdasarkan i pengolahan data tersebut. en 1969). dan sel lanjutnya diperbaharu dengan da ui ata-data kejadian tsunami terkini.2. ih Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tercatat telah terjadi 1 kejadian tsunami. tsunami yang terjadi se etelah tahun 1970 telah d diteliti dan di ilaporkan dengan lebi baik. Peta kejadian bencana tsunami di Indonesia i dalam periode 1801-2006 (Puspito. Cox (1970). 2 p 2007) Data histori tsunami di Indonesia pad periode an is da ntara tahun 16 600-1998 telah dikom mpilasi dari ka atalog gempa destruktif (t a termasuk di d dalamnya tsunami) di seluruh dun oleh Utsu (1992). sebelum tahun 1970 tidak dilaporkan dengan baik sedangkan kejadian n k. Arno (1985) da Ismail (19 old an 989).

kubah lava runtuh dan menghasilkan awan panas yang melanda daerah sekitar Gunung Merapi.3.2. Di Jawa Timur letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 mengakibatkan 5. Soputan dan Lokon.951 korban jiwa di Jawa Barat. berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG.2. Sedangkan kawah gunungapi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kawah Gunung Ijen dan Dempo. letusan tahun 1930 mengakibatkan 1. 12 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Gambar 2. Jawa. Berdasarkan sejarah.2014 . 2006) ada beberapa kejadian letusan lain yang menimbulkan korban jiwa besar.000 orang. Nusa Tenggara. Dalam beberapa tahun ke depan potensi risiko bencana gunungapi yang perlu mendapat perhatian ada 70 gunungapi diantaranya adalah Gunung Merapi. antara lain letusan Gunung Kie Besi di Maluku Utara pada tahun 1760 yang menewaskan 2. Sulawesi Tengah pada tahun 1983 terjadi letusan dahsyat Gunung Colo yang mengakibatkan hancurnya sumbat lava serta membumihanguskan sekitar 2/3 wilayah Pulau Una-Una tempat lokasi Gunung Colo.369 orang korban jiwa dan letusan tahun 1972 menewaskan lebih dari 3. letusan Gunung Galunggung tahun 1822 yang menewaskan 4. Di Teluk Tomini. Sedangkan di wilayah Yogyakarta letusan Gunung Merapi tahun 928 mengakibatkan Kerajaan Mataram hancur. Bali. Gunung Merapi di Yogyakarta mempunyai perulangan letusan cukup pendek. Indonesia memiliki lebih dari 500 gunungapi dengan 129 di antaranya aktif.000 korban jiwa.011 korban jiwa dan letusan Gunung Papandayan tahun 1772 yang menewaskan 2. Sulawesi Utara dan Kepulauan Maluku merupakan sekitar 13% dari sebaran gunungapi aktif dunia. memperlihatkan sebaran gunungapi di Indonesia. Gunung-gunungapi aktif yang tersebar di Pulau Sumatra. Letusan tersebut memiliki pola yang sama yaitu pertumbuhan kubah lava.190 korban jiwa dan letusan tahun 1966 dengan 210 korban jiwa.3 Ancaman Letusan Gunungapi Terkait dengan zona penunjaman lempeng-lempeng besar yang telah diuraikan. Selain letusan-letusan besar seperti letusan gunung Tambora yang menewaskan lebih dari 92 ribu jiwa dan Krakatau lebih dari 36 ribu orang pada abad XIX.

tsunami dan letusan gunungapi. 179 orang luka-luka dan 250 buah rumah hancur/rusak. Sulawesi Tengah (2007). Korban dan kerugian besar pada umumnya terjadi pada gerakan tanah jenis aliran bahan rombakan atau banjir bandang. kecuali Pulau Kalimantan yang hanya memiliki dua kabupaten yang rawan. Sebaran gunungapi di Indonesia (PVMBG. atau yang pada umumnya dikenal sebagai tanah longsor. Sumatra Barat (2008) dan terakhir di Situ Gintung. 103 orang hilang. Banten (2009).Gambar 2. 2007) 2. yang mengakibatkan 82 orang tewas.2014 13 .3. secara geologis Indonesia juga menghadapi ancaman gerakan tanah.4 Ancaman Gerakan Tanah Selain ancaman gempabumi. seperti terjadi di Nias (2001) dan Bohorok Sumatra Utara (2005). Hampir semua pulau utama di Indonesia memiliki beberapa kabupaten dan kota yang rawan pergerakan tanah. Hampir setiap tahun Indonesia mengalami kejadian gerakan tanah yang mengakibatkan bencana.2. yakni Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah dan Kabupaten Malinau di Kalimantan Timur. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

dan kapasitas daerah seca ara umum. Peta zona keren ntanan gerakan tanah di Indo n onesia (PVMBG. Gambar 2. kondisi kerentanan bang gunan dan in nfrastruktur.2. perburuk lagi oleh curah hujan yang tinggi d y dan gempa y yang sering t terjadi di Indonesia. kondisi batuan yang tidak kompak dan mudah mengalami d k degradasi umumnya lebih mudah untuk terjadi gerakan tana Hal ini dip ah. 2007). tingkat ekono omi. Secara umu tingkat r um risiko bencan gerakan t na tanah di Kabupatan/ /Kota di Indonesia dite entukan oleh keberadaa lajur an pegunungan Tingkat ris n. an kerentanan gerakan tana di Indonesi ah ia. Da aerah-daerah dengan risiko tingg terhadap ancaman ba gi anjir tersebar di seluruh wilayah r 14 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4. Di samping a h k kan itu. dan arah angin yang c han cukup ekstrim Kondisi m.5 Ancam Banjir man Secara geog grafis. yaitu musim pa ua anas dan mus hujan den sim ngan ciriciri perubah cuaca.4 menyajika zona 4.Gambar 2. 2.2014 . ini dapat menimbulka ancaman-ancaman y an yang bersifat hidrot meteorolog seperti banjir dan ke gis ekeringan. Daerah yan memiliki re ng elief morfolog kasar denga lereng-lere yang gi an eng terjal secara umum lebih rawan untuk terjadi gerak tanah. suhu. wilayah Indonesia t terletak di da aerah iklim tr ropis dan memiliki du musim. siko dipengar ruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai un nsur lainnya seperti kepadatan dan kerentanan pe enduduk.

Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama.197 6774 905.3 Fasos/Fasum 2. Dampak: 2.973 54.1 Korban Manusia .285 201 604. (b) Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai. daerah pantai utara Jawa bagian barat.240. air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam tiga kategori: (a) Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.087 972 180.435 217 230 106 102.382 72.907 242. terutama di daerah pantai timur Sumatra bagian utara.562 568. Kejadian Banjir dan Dampaknya (DiBI.640 1685 126.346 4760 36. Kalimantan bagian barat dan selatan. Sulawesi Selatan dan Papua bagian selatan.Indonesia. Jumlah Kejadian 2.2. tersumbat sampah serta hambatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .5 Jalan (km) 2001/02 150 2002/03 186 2003/04 143 2004/05 182 Total 661 185 18 388. Beberapa kota tertentu seperti Jakarta.649 94.479 841 83. sehingga sistem pengaliran air yang terdiri dari sungai dan anak sungai alamiah serta sistem saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap.2014 15 . Berdasarkan sumber airnya. Semarang dan Banjarmasin secara historis juga sering dilanda banjir.927 396 126. penyempitan sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia.2 Rumah Rusak 2. dan (c) Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan. begitu pula daerah aliran sungai tertentu seperti daerah aliran sungai Bengawan Solo di Pulau Jawa dan daerah aliran sungai Benanain di Nusa Tenggara Timur.603 1005 206 104 180.mengungsi 2.901 58.790 1.605 3303 Pada umumnya banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal. BNPB) Jumlah Kejadian Banjir dan Dampaknya 1.028 94.meninggal . tetapi berubah akibat sedimentasi.651 57. tanggul dan bangunan pengendali banjir Tabel 2.4 Sawah (ha) 2.hilang .

baik di atmosfer maupun di permukaan tanah.5.lainnya.2014 . karena jika terjadi curah hujan tinggi. sebagian besar air akan menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk ke dalam sistem pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir. PU. 2008) 2. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfer dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh 16 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai di bawah normal yang bersifat sementara. Gambar 2. Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada meningkatnya debit banjir. ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa Indonesia adalah kekeringan.2. Daerah bahaya banjir di Indonesia (BMKG. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam sistem aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran. Bakosurtanal.6 Ancaman Kekeringan Selain ancaman banjir.

6. Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia. Gambar 2. Bengkulu. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kalimantan Selatan. Lampung. Sulawesi Utara. memperlihatkan zona bahaya kekeringan di Indonesia. pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air di permukaan lainnya. Zona bahaya kekeringan di Indonesia (BMKG) Wilayah Indonesia yang rawan kekeringan meliputi beberapa kabupaten/kota di Sumatra Barat. Riau. Kalimantan Barat.6. dan beberapa kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jambi. Kepulauan Riau.2014 17 .fenomena El Niño. Sumatra Selatan. Kepulauan Bangka Belitung. Gambar 2. Kalimantan Timur. Sulawesi Selatan. Maluku Utara dan Papua. Sulawesi Barat. hampir seluruh kabupaten/kota di Pulau Jawa kecuali di bagian paling timur. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat. pola pengairan. Kekeringan membawa akibat serius pada pola tanam. Kalimantan Tengah.

000 ha 3 4 5 6 1982/1983 Kalimantan Timur 1987 Kalimantan. Kalimantan. Kalimantan.750. Jawa. Jawa.2. Sulawesi dan Papua 2006 Sumatra. Kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan Besar di Indonesia (Kementerian Kehutanan) No. baik untuk usaha pertanian. Sulawesi dan Maluku 500. Bali.000 ha 5.600. Bali. Nusa Tenggara. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan sosialekonomi. Sumatra.3. Indonesia juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.000 ha 32.400. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara dan Timor 1991 Sumatra. dan Pulau Jawa. Tabel 2. kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh adanya fenomena alam El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang menimbulkan kekeringan.000 ha 9. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat mengganggu negara-negara tetangga sehingga berpotensi menganggu hubungan kenegaraan Indonesia dengan negara-negara tetangga tersebut. Bali. Jawa.2. Kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia dalam rangka membuka lahan.7 Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan Terkait dengan ancaman kekeringan. 1 2 Tahun Wilayah Luas Areal Terbakar 3.2014 . Daerah di Indonesia yang rawan kebakaran hutan dan lahan terutama di Pulau Sumatra dan Kalimantan yang memiliki areal perkebunan dan pertanian dalam skala besar serta beberapa kabupaten/kota diantaranya di Sulawesi.000 ha 66. Sulawesi.198 ha 18 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Nusa Tenggara. Kalimantan dan Sulawesi 1994 Sumatra dan Kalimantan 1997/1998 Sumatra.

Dari data tersebut tampak bahwa semua pulau-pulau utama Indonesia rawan terhadap kebakaran hutan dan lahan. pengaruh gaya berat atau organisme hidup. Zona tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (BMKG) 2. Jawa. memperlihatkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Bali.2014 19 . Gambar 2. Proses erosi terutama dapat mengakibatkan penipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan. es. yaitu perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh kekuatan air.7.8 Ancaman Erosi Indonesia juga menghadapi ancaman erosi.2. Risiko erosi tinggi di Indonesia tersebar di Pulau Sumatra. karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan di tempat lain. Sementara itu Tabel 2. Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada.3. menunjukkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang besar di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir.Gambar 2. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .7. angin. dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia bendungan.

Daerah-daerah di Indonesia yang perlu diwaspadai untuk ancaman ini meliputi kota-kota di DKI Jakarta. Depok dan sekitarnya yang sangat padat penduduk.Kalimantan. Bogor. Zona Bahaya Erosi di Indonesia 2. Pekanbaru. Perlu diwaspadai juga kota-kota besar yang memiliki jumlah penduduk sangat tinggi seperti Surabaya.2.2014 . 20 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .8. merupakan beberapa penyebab umum kebakaran pada gedung dan permukiman. Sulawesi. Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku serta Papua. Makassar. Medan. Bandung. Gambar 2. Ancaman muncul akibat kecerobohan manusia dalam membangun gedung atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan bangunan yang berlaku. Denpasar dan kota-kota lain yang setara tingkat kepadatannya di samping kawasan industri padat penduduk yang menggunakan bahan-bahan bakar dan bahan berbahaya. terutama pada musim kemarau. Korsleting listrik. Tangerang. kompor meledak. Bekasi. Palembang.9 Ancaman Kebakaran Gedung dan Pemukiman Kebakaran gedung dan permukiman penduduk sangat sering terjadi di Indonesia. api lilin/lampu minyak yang menyambar kasur. Semarang. Padang.

2007 ) 2. Kabupaten Rembang di Jawa Tengah. Indonesia semakin sering menghadapi ancaman gelombang ekstrim dan abrasi kawasan pesisir pantai. Kota Jakarta Utara.9.Gambar 2.2.10 Ancaman Gelombang Ekstrim dan Abrasi Terkait perubahan iklim global. Daerah-daerah yang menghadapi risiko tinggi bencana abrasi meliputi Aceh Selatan dan Kota Banda Aceh di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gambar Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kota Padang dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat. Kota Medan. Maluku dan Irian Jaya. Gelombang ekstrim pada umumnya ditimbulkan oleh siklon tropis. Sumatra. Gelombang ekstrim adalah salah satu penyebab abrasi yang terjadi dengan cepat. Untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa. Peta Kejadian Kebakaran Gedung dan Pemukiman di Indonesia (DiBI-BNPB. Gelombang ekstrim yang melanda Indonesia berada di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan posisi siklon tropis. Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan. Untuk wilayah di sebelah utara khatulistiwa daerah yang berpotensi terkena gelombang ekstrim adalah Pantai Sulawesi Utara. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.2014 21 . daerah yang memiliki potensi tinggi terkena gelombang ekstrim adalah wilayah pantai utara Pulau Jawa.

1 menunjukk indeks zonasi abrasi di Indonesia.10. Posisi munculnya sik Gamb 2. dan Gambar 2. kan bar i klon tropis di In ndonesia (BMK KG) Gamb 2.2. Indeks zonasi abrasi di Indonesia (DiBI-BNPB.10. memp perlihatkan posisi munculn siklon tro nya opis di Indone esia. 2007) bar i 22 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 11.11.2014 .

Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran. tiang listrik dan pohon-pohon. Salah satu kegagalan teknologi yang memicu bencana alam yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2. atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban tewas serta kerugian harta benda. pencemaran bahan kimia berbahaya atau bahan radioaktif. topan dan badai tropis juga mulai banyak mempengaruhi Indonesia. memperlihatkan daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terlanda badai tropis. dan kawasan Indonesia bagian timur yang sangat rawan terlanda badai tropis dari arah benua Australia. baliho.11 Ancaman Cuaca Ekstrim Cuaca Ekstrim seperti angin puting beliung. Ancaman yang paling sering terjadi adalah angin puting beliung yang umumnya terjadi pada musim pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau ke musim hujan. Gambar 2. Tingginya kecepatan angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk robohnya atap bangunan ringan.2. Kegagalan teknologi dapat diakibatkan oleh kesalahan desain. Wilayah Berpotensi Terlanda Badai Tropis 2.12 Kegagalan Teknologi Kegagalan teknologi juga sudah mulai mengancam Indonesia. pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi.2014 23 .12. Gambar 2. kecelakaan industri.2.12. terutama terkait dengan meningkatnya dampak perubahan iklim global.

Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain Flu Burung.4. Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius dalam bentuk kematian dan terganggunya roda perekonomian. demam berdarah dan malaria. mengakibatkan 32 korban jiwa dan luka parah/ringan 13 orang. mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan higienis secara memadai. dengan menciptakan kondisi jalan yang lebih aman yang menjamin keselamatan para pengguna dan mendorong perilaku berlalu-lintas yang aman dan berbudaya.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Epidemi dan wabah penyakit merupakan hal yang potensial timbul di Indonesia. tanggal 16 Juni 2009. Lampung.sampai kini belum teratasi adalah kegagalan pengeboran di Sidoarjo yang menimbulkan luapan lumpur dari perut bumi. Kecelakaan tambang seperti ledakan gas metana (CH4) yang terjadi di tambang batubara P. 2. Indonesia terutama juga sering mengalami kejadian diare.2014 . Dalam hal kegagalan teknologi.000 kendaraan dan mengakibatkan korban tewas mencapai 19. Bukit Asam. Jawa Barat.600 kejadian dengan melibatkan lebih dari 130. Sumatra Barat. selain jumlah korban tewas yang sangat besar setiap tahunnya.T.216 jiwa. menunjukkan distribusi penderita diare saat Kejadian Luar Biasa yang dirinci berdasarkan waktu. Sawahlunto.000 jiwa. yang dalam sepuluh tahun belakangan ini jumlahnya telah melebihi jumlah korban tewas akibat Tsunami Aceh-Nias tahun 2004. perhatian serius perlu diberikan pada jumlah korban jiwa dan kerugian yang sangat besar yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi. Banten. lokasi kejadian. dan korban luka-luka lebih dari 75. Data statistik tahun 2008 dari Kementerian Perhubungan melaporkan bahwa kecelakaan lalu lintas pada tahun sebelumnya mencapai 56. DKI Jakarta. Kerugian material dari kejadian ini tentunya amat besar. Tabel 2. Beberapa kejadian Flu Burung sudah teridentifikasi di Sumatra Utara dan Barat. 24 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . jumlah penderita dan jumlah kematian yang ditimbulkannya.2. antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2007. Perhatian khusus perlu diberikan pada keselamatan di jalan raya.

yang di beberapa tempat dapat berlangsung lama dan berkepanjangan. yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik sosial. 2. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks. kemudian meningkat kembali di tahun 2006 menjadi 330 Kabupaten/Kota.622 3.Tabel 2. Konflik sosial dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Distribusi Penderita Diare saat KLB tahun 2001-2007 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Provinsi 12 15 22 17 11 16 8 Jml.51 2. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri. Konflik sosial yang diakibatkan oleh ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu atau lebih kejadian alam seperti letusan gunungapi.2014 25 . Kalimantan Barat dan beberapa tempat lain.60 2.314 5. banjir atau kebakaran hutan.980 3.77 1. Penderita 4. Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyulut konflik sosial.Kematian 100 94 128 53 127 277 46 CFR (%) 2. Pemilihan kepala daerah belakangan mulai menimbulkan konflik dan kerusuhan antara berbagai kelompok pendukung calon tertentu.661 Jml. 1998 dan 2005. Poso. Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit DBD dari tahun 2002 terus meningkat sampai tahun 2004 dengan adanya KLB.52 1.2.4. seperti di Ambon.26 1. 1988. Puncak DBD terjadi pada tahun 1973. dan sedikit menurun di tahun 2005 dari 334 Kabupaten/Kota menjadi 326 Kabupaten/Kota.14 Konflik Sosial Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam etnis dengan bahasa dan budaya yang beraneka ragam pula. tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial.62 2.789 4.428 5.051 10.26 Jumlah Kabupaten/Kota terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada periode 1968-2006 cenderung mengalami peningkatan.

Hingga kini tercatat sekitar 5 juta orang yang tinggal di wilayah sekitar tubuh gunungapi (PVMBG. 2007).640.2 KERENTANAN DAN KAPASITAS Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman. 26 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam rupa tanah yang subur untuk bercocok tanam. Salah satu masalah yang dihadapi Indonesia adalah tidak meratanya penyebaran penduduk di pulau-pulau di negeri ini. mata air dan pemandangan yang indah.960 dengan laju pertumbuhan penduduk antara tahun 2000-2005 tercatat sebesar 1.2014 .segera dan seksama. masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir. Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh dampak situasi yang kurang menguntungkan ini. penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil.3%. termasuk kejadian-kejadian konflik yang pernah terjadi di masa lampau. Unsur kerentanan lainnya adalah tingkat kepadatan penduduk. 2. sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut. mereka yang rentan terhadap gempabumi adalah yang tinggal di dekat patahanpatahan/sesar aktif.5. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data terakhir Podes tahun 2008 adalah sebanyak 231. dimana Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi. Mereka adalah warga masyarakat yang rentan karena tinggal terlalu dekat dengan sumber ancaman. Tabel 2. Begitu pula untuk ancaman-ancaman lainnya: masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi. Dengan demikian. daerah rawan letusan gunungapi adalah daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunungapi. Renas PB perlu mengulas isu kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di Indonesia.

dengan 7 jiwa untuk Provinsi Papua dan 8 jiwa untuk Provinsi Papua Barat yang paling jarang penduduknya.1 4. menimbulkan kerentanan karena Pulau Jawa selain memiliki banyak ancaman alam termasuk gempabumi dan letusan gunungapi. diikuti oleh Pulau Sumatra. Sumatra 24. Bandingkan bahwa pada saat yang sama rata-rata kepadatan penduduk Indonesia per km2 hanya 124 jiwa. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan berpotensi meningkatkan kerawanan sosial di Indonesia. juga menghadapi ancaman kerawanan sosial.3 100 1971 63. Kalimantan 28.5 4.2 7.3%) tinggal di Pulau Jawa dan Madura.menyajikan distribusi persentase luas dan penduduk Indonesia berdasarkan pulau. maka tingkat kerawanan sosial akan menjadi lebih tinggi.6 7.9 5.5. Distribusi Persentase Luas dan Penduduk Indonesia berdasarkan Pulau Luas Wilayah (%) Penduduk (%) 1930 68.5 100 1985 60. Selain itu.5 3.7 7 7. Tabel 2. Menumpuknya populasi penduduk di Pulau Jawa dan Madura.3 5. Total 100 Sumber: diolah dari BPS Pada Tabel 2.9 4. Begitu pula dengan tingkat pertambahan penduduk yang relatif tinggi.852 orang per km2 pada tahun 2008.3 21.9 Madura 2. dan bercampurnya masyarakat multi etnis dan budaya di pulau-pulau utama tersebut.7 13. terdapat konsentrasi penduduk sangat tinggi di DKI Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk 10. yang hanya merupakan 6.4 7.4 lainnya 6. lapangan kerja.1 7.8 17.3 100 1961 65 16.2 4.5 100 1990 60 20.1 7 7.6 100 2008 58. diinformasikan bahwa hampir dua per tiga penduduk Indonesia (58. Pulau 30.5.5 7.6 100 Pulau 1.3 7.3 5.6 6.9 19 4. Dengan terbatasnya daya dukung sumberdaya dan lingkungan.7 3.9 7. Jawa 6.9% dari seluruh daratan yang dimiliki Indonesia.9 19.2 100 1980 61.2 7.2014 27 .1 7. Sulawesi 9.

49 23.70 25.10 13.40 37.10 26. sehingga memperbesar angka kemiskinan di perkotaan.60 49.40 11.70 9.40 34.Unsur kerentanan lainnya adalah kemiskinan.30 24.50 25.56 12.2014 .90 24.50 47.60 12.61 13. dan sebaliknya.00 40. sedangkan provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar adalah Provinsi Papua yang mencapai 39.90 32. Sebaran Penduduk Miskin di Desa dan Kota tahun 1990-2007 (BPS. Banyak warga desa yang tidak memiliki keahlian datang ke kota besar untuk mencari pekerjaan.00 20.10 39.6. Tabel 2.10 22.60 15.00 30. tercatat pada Juli 2006 mencapai 7.80 9. pada kurun waktu yang sama perkembangan jumlah penduduk miskin di pedesaan mengalami penurunan. Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah orang miskin terbanyak. jumlah penduduk miskin di perkotaan terus mengalami peningkatan dari tahun 1978-2006.30 8.40 37.20 14.60 12.90 17.20 8.4 juta orang atau 20.81 14.00 50. dimana secara sosial ekonomi Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan.300 penduduk miskin. 2007) 60.90 38.168.00 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 Tahun Kota Desa Kota+Desa 27.00 10. Wilayah yang mempunyai banyak penduduk miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya.30 37.30 26.90 29.60 17.29 %.30 25.20 17. Namun. Jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah pedesaan Indonesia lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan.50 2002 2003 2004 2005 2006 2007 28 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .30 38. Kecenderungan ini tentunya perlu ditangani dengan baik karena kemiskinan di perkotaan dapat berinteraksi dengan tingginya tingkat ancaman di kawasan perkotaan dan menimbulkan risiko bencana yang tinggi. Keadaan ini disebabkan oleh semakin tingginya tingkat urbanisasi. Data BPS tahun 2007 menyebutkan bahwa Indone sia saat ini memiliki 37.17 35.70 31.26 %. karena diasumsikan tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.

pengeluaran per kapita riil disesuaikan untuk tahun 2007 adalah sebesar Rp 624.-. dari segi pengeluaran penduduk. Lama pendidikan sekitar tujuh setengah tahun ini setara dengan pendidikan tingkat sekolah lanjutan pertama.050. Asumsi yang digunakan adalah bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan suatu komunitas mengenai bencana. Dari segi kesehatan. Sementara itu.7 tahun.370. upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. kesehatan. tingkat pendidikan. Dengan kata lain. Angka kematian bayi pada tahun 2005 adalah sebesar 32 kematian per 1000 kelahiran. Dalam hal kapasitas menghadapi bencana. Indonesia masih terus mengembangkan diri. indikator building code untuk gempa bumi. Masih dibutuhkan kerja Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . pendapatan asli daerah. Dari segi ekonomi.Data Badan Pusat Statistik tahun 2007 menyebutkan bahwa dari segi pendidikan. sedangkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia adalah 7. Kerentanan sosial ekonomi yang digunakan dalam menghitung indeks kerentanan dalam Renas PB antara lain menggunakan indikator laju pertumbuhan ekonomi. misalkan tsunami code untuk tsunami.87 %. Kerentanan wilayah dan penduduk terhadap ancaman dapat berupa kerentanan fisik. tingkat melek huruf orang dewasa di Indonesia pada tahun 2007 adalah sebesar 91. tergantung jenis ancaman dan masing-masing ancaman menggunakan indikator spesifik. indikator penduduk yang tinggal di kawasan rawan bahaya (KRB) untuk ancaman letusan gunungapi dan sebagainya. usia harapan hidup orang Indonesia adalah 68. sosial dan/atau ekonomi. Kerentanan fisik bersifat spesifik. Dipandang dari segi kelembagaan kapasitas ini meningkat jauh dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mengamanatkan dibentuknya badan independen yang menangani bencana. produk domestik regional bruto (PDRB).628. kemiskinan dan tenaga kerja.-. Dengan berdirinya BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. terpadu dan menyeluruh. sampai dengan tahun 2007 wajib belajar sembilan tahun belum tercapai sepenuhnya. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia tahun 2007 adalah Rp 15.2014 29 . Kerentanan sosial-ekonomi bersifat generik dan berlaku untuk semua jenis ancaman. maka tingkat kerentanannya semakin rendah. kepadatan dan jumlah penduduk.47 tahun.

termasuk mengambil langkah nyata untuk mengurangi risiko. Lembaga-lembaga semacam ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. budaya gotong-royong dan solidaritas juga merupakan unsur yang membangun kapasitas. Keberadaan lembaga-lembaga di tingkat masyarakat yang memiliki kegiatan kebencanaan juga berpotensi untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam penanggulangan bencana. memiliki sumber daya dan alokasi anggaran yang memadai. Universitas Andalas. dan forum-forum pengurangan risiko bencana serupa lainnya. Di tingkat nasional telah dibentuk Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB). dan memiliki simpanan aset atau sumber daya memadai untuk menghadapi situasi ekstrim. Platform Nasional untuk pengurangan risiko bencana (Planas PRB). Universitas Airlangga. pengembangan sistem peringatan dini berbasis komunitas dan kelompok-kelompok siaga bencana. dijalankan oleh staf yang cukup dan kompeten. Universitas Tadulako dan Universitas Syiah Kuala. dan didukung dengan kebijakan penanggulangan bencana yang bermutu tinggi. Institut Pertanian Bogor. Sejumlah Perguruan Tinggi telah memiliki pusat studi bencana atau lembaga lain yang setara seperti misalkan Institut Teknologi Bandung. Institut Teknologi Surabaya. Universitas Jember. Kapasitas juga dilihat dari potensi masyarakat dalam menangkal dampak negatif bencana. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Adanya kearifan lokal dalam tanggap bencana. 30 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Diharapkan bahwa dengan terbentuknya forum-forum tersebut akan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah. Kapasitas masyarakat dapat dikatakan tinggi bila masyarakat mampu membangun rumah dan permukiman yang memenuhi standar keamanan bangunan.2014 . Masyarakat seperti ini mengetahui bahaya apa yang mengancam mereka dan bagaimana cara mengurangi risiko bahaya-bahaya ini. Universitas Gadjah Mada. melalui gladi dan simulasi bencana.keras untuk mewujudkan instansi penanggulangan bencana yang independen. jaringan sosial dan organisasi masyarakat yang kuat. mampu berkoordinasi dengan baik dengan instansi-instansi lain.

rencana penanggulangan bencana gempabumi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.3 RISIKO BENCANA 2.2014 31 Sumatra Utara . Tabel 2.1 Risiko Gempabumi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gempabumi di Indonesia (Lampiran 2).7. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Tenggara Bireun Gayo Lues Kota Banda Aceh Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Samosir Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2.3.7.

Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Agam Kep. Mentawai Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Kota Pariaman Kota Solok Lima Puluh Koto Padang Pariaman Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Solok Selatan Tanah Datar Kerinci Empat Lawang Kota Pagar Alam Lahat Oku Selatan Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Kota Bengkulu Lebong Muko-muko Rejang Lebong Seluma Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Selatan Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut 32 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Kota Bandung Kota Cimahi Kota Sukabumi Sukabumi Tasikmalaya Cilacap Kebumen Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Blitar Jember Kediri Lumajang Malang Pacitan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Situbondo Sumenep Trenggalek Tulungagung Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang Badung Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Kota Denpasar Tabanan Bangli Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 33 .

Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Sumbawa Barat Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Luwu Timur Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sangihe Kepulauan Sitaro Kepulauan Talaud Kota Bitung Kota Manado Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol 34 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Boalemo Bone Bolango Gorontalo Gorontalo Utara Kota Gorontalo Pohuwato Buru Kota Ambon Maluku Tengah Maluku Tenggara Seram Bagian Barat Seram Bagian Timur Kepulauan Sula Tidore Manokwari Raja Ampat Biak Numfor Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Pegunungan Bintang Sarmi Supiori Tolikara Waropen Yapen Waropen Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 35 .

2 Risiko Tsunami Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana tsunami di Indonesia (Lampiran 2). Sebaran Zona Risiko Tinggi Tsunami PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Barat Daya Aceh Selatan Aceh Singkil Kota Subulussalam Mandailing Natal Nias Nias Selatan Tapanuli Tengah Kota Sibolga Padang Pariaman Agam Pasaman Barat Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kota Padang Panjang Kota Padang Muko-Muko Bengkulu Selatan Bengkulu Utara Seluma Kaur Kota Bengkulu Lampung Selatan Lampung Barat Tanggamus Kota Bandar Lampung Sumatra Utara Sumatra Barat Bengkulu Lampung 36 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3. rencana penanggulangan bencana tsunami dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.8.8. Tabel 2.2.2014 .

Banten Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Pandeglang Serang Lebak Kota Cilegon Sukabumi Cianjur Garut Ciamis Tasikmalaya Kota Banjar Cilacap Purworejo Kebumen Wonogiri Bantul Kulonprogo Gunung Kidul Lumajang Banyuwangi Trenggalek Tulung Agung Pacitan Blitar Jembe Malang Badung Tabanan Jembrana Karangasem Klungkung Gianyar Lombok Timur Lombok Barat Sumbawa Bima Dompu Kota Bima Kupang Timur Tengah Selatan Sikka Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 37 .

Kalimantan Timur Kalimantan Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Ende Ngada Manggarai Manggarai Barat Flores Lembata Alor Timur Tengah Utara Belu Rote Ndau Sumba Timur Sumba Barat Paser Penajem Paser Utara Berau Kutai Kertanegara Kutai Timur Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Baru Tanah Laut Tanahbumbu Mejene Mamuju Utara Banggai Buol Donggala Poso Toli-Toli Parigimoutong Tojo Unauna Morowali Bolaang Mongondow Minahasa Minahasa Selatan Kepulauan Sangihe Kepulauan Talaud Buton Konawe Konawe Selatan 38 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 39 .Sulawesi Selatan Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kolaka Kolaka Utara Muna Bombana Wakatobi Sinjai Bantaeng Bulukumba Bone Jeneponto Takalar Wajo Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gorontalo Boalemo Pohuwato Bonebolango Maluku Tengah Seram Barat Seram Timur Maluku Tenggara Maluku Tenggara Barat Buru Halmahera Barat Tidore Kepulauan Kepulauan Sula Halmahera Timur Halmahera Utara Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Jayapura Merauke Nabire Biak Numfor Yapen Waropen Sarmi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Tabel 2.3.9. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gunungapi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bener Meriah Sigli Aceh Tengah Karo Kabajahe Tapanuli Selatan Agam Pasaman Barat Solok Tanah Datar Kerinci Merangin Lahat Muara Enim Musi Rawas Rejang Lebong Lampung Barat Lampung Selatan Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Cianjur Garut Kuningan Majalengka Sukabumi Tasikmalaya Sumatra Utara Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat 40 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .3 Risiko Letusan Gunungapi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana letusan gunungapi di Indonesia (Lampiran 2).2.9.2014 . rencana penanggulangan bencana letusan gunungapi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banjarnegara Banyumas Boyolali Brebes Klaten Magelang Pemalang Purbalingga Tegal Wonosobo Sleman Banyuwangi Blitar Bondowoso Jember Kediri Lumajang Malang Mojokerto Pasuruan Probolinggo Pandeglang Serang Bangli Karang Asem Badung Bima Lombok Timur Dompu Ende Flores Timur Manggarai Manggarai Barat Ngada Sikka Kalabahi Kota Bitung Minahasa Minahasa Selatan 41 Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Sulawesi Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

rencana penanggulangan bencana gerakan tanah dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Talaud Sangihe Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Halmahera Barat Halmahera Utara Kota Ternate 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gerakan Tanah PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Bener Meriah Bireun Gayo Lues Kota Sabang Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Sibolga Sumatra Utara 42 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4 Risiko Gerakan Tanah Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gerakan tanah di Indonesia (Lampiran 2).10. Tabel 2.10.2014 .3.Maluku Maluku Utara Minahasa Utara Kota Tomohon Kep.

Sumatra Barat Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Jawa Barat Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Utara Toba Samosir Kep.Mentawai Kota Bukit Tingggi Kota Padang Lima Puluh Koto Pasaman Solok Kerinci Empat Lawang Lahat Oku Selatan Bengkulu Utara Kaur Kepahiang Lebong Rejang Lebong Kota Bandar Lampung Lampung Barat Lampung Utara Tanggamus Bandung Bandung Barat Bogor Ciamis Cianjur Garut Kota Sukabumi Kuningan Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 43 .

2014 .Jawa Tengah Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Sulawesi Utara Banjarnegara Banyumas Pekalongan Purbalingga Wonosobo Kota Batu Pacitan Pasuruan Probolinggo Sumenep Trenggalek Lebak Bangli Buleleng Jembrana Karang Asem Tabanan Bima Dompu Kota Bima Lombok Barat Lombok Timur Sumbawa Belu Ende Flores Timur Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Sikka Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Murung Raya Malinau Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow Utara Kepulauan Sitaro 44 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kota Bitung Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Utara Banggai Banggai Kepulauan Buol Donggala Kota Palu Morowali Parigi Moutong Poso Tojo Una-Una Toli Toli Bone Enrekang Gowa Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Pinrang Sinjai Soppeng Tana Toraja Kolaka Utara Konawe Utara Kota Kendari Bone Bolango Gorontalo Majene Mamasa Mamuju Polewali Mandar Buru Maluku Tengah Tidore Kaimana 45 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Papua Kota Sorong Manokwari Raja Ampat Sorong Teluk Wondama Jaya Wijaya Jayapura Keerom Kota Jayapura Nabire Paniai Pegunungan Bintang Puncak Jaya Sarmi Tolikara Yahukimo Yapen Waropen 2.2014 . rencana penanggulangan bencana banjir dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.11.3. Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Banjir PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Timur Aceh Utara Bireun Kota Banda Aceh Kota Langsa Kota Lhoksumawe Nagan Raya Asahan Batubara Sumatra Utara 46 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .5 Risiko Banjir Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana banjir di Indonesia (Lampiran 2).11.

2014 .Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Lampung Kepulauan Bangka Belitung Dki Jakarta Jawa Barat Deli Serdang Kota Medan Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Serdang Bedagai Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Agam Pasaman Barat Kota Padang Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hulu Siak Batanghari Kota Jambi Muaro Jambi Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Kota Palembang Kota Prabumulih Lahat Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Komering Ilir Lampung Tengah Tulangbawang Belitung Belitung Timur Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bekasi Ciamis 47 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Cirebon Indramayu Karawang Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bandung Bandung Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Banyumas Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Kebumen Kendal Kota Pekalongan Kota Semarang Kota Tegal Kudus Pati Pekalongan Pemalang Purworejo Semarang Tegal Bantul Kulon Progo Bangkalan Banyuwangi Bojonegoro Gresik Jombang Kodya Pasuruan Kota Mojokerto Kota Surabaya Lamongan Lumajang 48 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Malang Mojokerto Pasuruan Sidoarjo Situbondo Tuban Trenggalek Kota Tangerang Serang Tangerang Klungkung Kota Denpasar Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Singkawang Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Kota Waringin Timur Sukamara Banjar Barito Kuala 49 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Barat Papua Hulu Sei Selatan Kota Banjar Baru Kota Banjarmasin Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Bulungan Kota Tarakan Kota Manado Bone Gowa Kota Makassar Kota Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Sidenreng Rappang Soppeng Takalar Tana Toraja Wajo Buton Buton Utara Konawe Selatan Kota Baubau Boalemo Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Barat Seram Bagian Barat Kota Sorong Sorong Sorong Selatan Asmat Boven Digoel Kota Jayapura Mappi 50 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Merauke Mimika Nabire Waropen

2.3.6 Risiko Kekeringan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kekeringan di Indonesia (Lampiran 2), rencana penanggulangan bencana kekeringan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.12.
Tabel 2.12. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kekeringan PROVINSI Sumatra Barat KABUPATEN/KOTA Agam Kota Bukit Tinggi Kota Padang Kota Pariaman Kota Payakumbuh Padang Pariaman Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tanggamus Tulangbawang Way Kanan
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014 51

Riau

Jambi

Sumatra Selatan Bengkulu Lampung

Kepulauan Bangka Belitung

Kepulauan Riau

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Bangka Bangka Barat Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Kota Pangkal Pinang Bintan Karimun Kota Batam Kota Tanjung Pinang Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur, Kota Jakarta Utara Bandung Bandung Barat Bekasi Bogor Cianjur Cirebon Garut Karawang Kota Bandung Kota Banjar Kota Bekasi Kota Bogor Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Depok Kota Sukabumi Kota Tasikmalaya Majalengka Purwakarta Subang Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang

52

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur

Blora Boyolali Brebes Cilacap Demak Grobogan Jepara Karanganyar Kebumen Kendal Klaten Kota Magelang Kota Pekalongan Kota Salatiga Kota Semarang Kota Surakarta Kota Tegal Kudus Magelang Pati Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Rembang Semarang Sragen Sukoharjo Tegal Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunungkidul Kulon Progro Bojonegoro Jombang Kediri Kota Kediri Kota Madiun Kota Malang Madiun
53

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

Banten

Nusa Tenggara Timur

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

Kalimantan Timur

Magetan Nganjuk Ngawi Pacitan Pamekasan Pasuruan Ponorogo Probolinggo Sumenep Trenggalek Tuban Tulungagung Kota Cilegon Kota Tangerang Pandeglang Serang Tangerang Sumba Barat Daya Belu Ende Kupang Manggarai Barat Negekeo Ngada Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Ketapang Kota Pontianak Kota Waringin Barat Kota Waringin Timur Hulu Sei Tengah Kota Baru Tabalong Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Samarinda Kota Tarakan Kutai Kartanegara Kutai Timur

54

Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 - 2014

rencana penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.7 Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Indonesia (Lampiran 2).Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Maluku Utara Papua Kota Manado Kota Makassar Pangkajene Kepulauan Polewali Mandar Tidore Kota Sorong 2.13.13. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Hutan dan Lahan PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Barat Daya Aceh Besar Aceh Jaya Aceh Selatan Aceh Singkil Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Utara Bener Meriah Bireun Nagan Raya Pidie Pidie Jaya Simeuleu Asahan Batubara Dairi Deli Serdang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.3.2014 55 Sumatra Utara .

2014 .Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan 56 Humbang Hasundutan Karo Labuhan Batu Langkat Mandailing Natal Nias Nias Selatan Padang Sidempuan Pakpak Bharat Serdang Bedagai Simalungun Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Lima Puluh Koto Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Sawahlunto Sijunjung Bengkalis Indragiri Hilir Indragiri Hulu Kampar Kuantan Singingi Pekan Baru Pelalawan Rokan Hilir Rokan Hulu Siak Batanghari Bungo Kerinci Merangin Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Tanjung Jabung Timur Tebo Banyuasin Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Bengkulu Lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau Jawa Barat Jawa Tengah Empat Lawang Lahat Muara Enim Musi Banyuasin Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Oku Selatan Oku Timur Bengkulu Utara Muko-Muko Lampung Selatan Lampung Tengah Lampung Timur Lampung Utara Tulangbawang Way Kanan Bangka Bangka Barat Bangka Selatan Bangka Tengah Belitung Belitung Timur Bintan Karimun Lingga Natuna Cirebon Indramayu Karawang Kuningan Majalengka Purwakarta Subang Sumedang Boyolali Demak Grobogan Jepara 57 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Karanganyar Kendal Klaten Kudus Magelang Pati Semarang Sragen Sukoharjo Wonogiri Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Sleman Banyuwangi Bondowoso Madiun Magetan Nganjuk Ngawi Ponorogo Situbondo Lebak Pandeglang Serang Tangerang Banten Badung Bangli Buleleng Gianyar Jembrana Karang Asem Klungkung Tabanan Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa 58 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kupang Lembata Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Barito Selatan Barito Timur Barito Utara Gunung Mas Kapuas Katingan Lamandau Murung Raya Pulang Pisau Seruyan Sukamara 59 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

2014 .Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Balangan Barito Kuala Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Hulu Sei Utara Tabalong Tapin Kutai Barat Kutai Kartanegara Malinau Nunukan Pasir Penajem Paser Utara Buol Donggala Morowali Parigi Moutong Tojo Una-Una Toli Toli Bantaeng Barru Bone Bulukumba Enrekang Gowa Jeneponto Luwu Luwu Utara Maros Pangkajene Kepulauan Pinrang Selayar Sidenreng Rappang Sinjai Soppeng Takalar Tana Toraja Ajo Bombana Buton Buton Utara 60 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

3.14.2014 61 .14. rencana penanggulangan bencana erosi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Sebaran Zona Risiko Tinggi Erosi PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam Sumatra Utara KABUPATEN/KOTA Kota Sabang Dairi Humbang Hasundutan Karo Kota Binjai Kota Medan Kota Pematang Siantar Kota Sibolga Nias Selatan Padang Sidempuan Tapanuli Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tabel 2.Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Papua Kolaka Konawe Konawe Selatan Konawe Utara Muna Boalemo Bone Bolango Gorontalo Utara Pohuwato Majene Mamasa Mamuju Mamuju Utara Polewali Mandar Maluku Tenggara Barat Merauke 2.8 Risiko Erosi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana erosi di Indonesia (Lampiran 2).

Sumatra Barat Bengkulu Lampung Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 62 Toba Samosir Kota Sawahlunto Tanah Datar Bengkulu Selatan Kota Metro Bandung Bogor Ciamis Cianjur Cirebon. Garut Indramayu Kota Banjar Kota Bekasi Kota Cimahi Kota Cirebon Kota Tasikmalaya Sukabumi Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas Batang Cilacap Karanganyar Kebumen Kota Magelang Kota Surakarta Kota Tegal Magelang Pekalongan Pemalang Purbalingga Purworejo Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Gunung Kidul Kulon Progo Bangkalan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Bondowoso Kota Blitar Kota Pasuruan Kota Madiun Kota Mojokerto Pacitan Pamekasan Ponorogo Probolinggo Sampang Trenggalek Kota Cilegon Kota Tangerang Lebak Karang Asem Klungkung Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Tengah Sumbawa Barat Alor Belu Ende Flores Timur Kota Kupang Kupang Manggarai Manggarai Barat Negekeo Ngada Rote Ndao Sikka Sumba Barat Sumba Tengah Sumba Timur Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara Bengkayang Sambas 63 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

2014 . Kutai Timur Kota Tomohon Kotamobagu Minahasa Minahasa Selatan Minahasa Tenggara Bantaeng Enrekang Gowa Jeneponto Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Tana Toraja Buton Kota Baubau Gorontalo Majene Polewali Mandar Maluku Tengah Maluku Tenggara Halmahera Timur Tidore 64 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Sanggau Sekadau Sintang Banjar Hulu Sei Selatan Hulu Sei Tengah Tanah Laut Kota Balikpapan Kota Bontang Kota Tarakan.

9 Risiko Kebakaran Gedung dan Pemukiman Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana kebakaran gedung dan pemukiman di Indonesia (Lampiran 2).2. rencana penanggulangan bencana kebakaran gedung dan pemukiman dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2.15. Sebaran Zona Risiko Tinggi Kebakaran Gedung dan Permukiman PROVINSI Nanggroe Aceh Darussalam KABUPATEN/KOTA Aceh Barat Aceh Besar Aceh Singkil Aceh Tengah Aceh Timur Aceh Utara Lhokseumawe Pidie Simeulue Agam Asahan Dairi Deli Serdang Kota Medan Kota Sibolga Kota Tanjung Balai Labuhan Batu Mandailing Natal Pakphak Barat Tapanuli Tengah Tapanuli Utara Toba Samosir Dharmasraya Kota Bukittinggi Kota Padang Kota Padang Panjang Lima Puluh Koto Padang Pariaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .15.2014 65 Sumatra Utara Sumatra Barat .3.

Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Kepulauan Riau Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Pasaman Pasaman Barat Pesisir Selatan Solok Selatan Pekanbaru Danau Kerinci Muaro Jambi Sarolangun Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Palembang Lahat Musi Rawas Ogan Ilir Ogan Komering Ilir Ogan Komering Ulu Timur Pagar Alam Prabumulih Bengkulu Selatan Kota Bengkulu Rejang Lebong Kota Batam Jakarta Barat Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Utara Bandung Bekasi Bogor Cianjur Garut Karawang Kota Bandung Purwakarta Sukabumi Sumedang Tasikmalaya Banjarnegara Banyumas 66 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Blora Boyolali Brebes Grobogan Purwodadi Jepara Karanganyar Kendal Klaten Kota Semarang Kota Surakarta Magelang Pemalang Purbalingga Rembang Semarang Temanggung Wonogiri Wonosobo Kota Surabaya Mojokerto Serang Tangerang Buleleng Gianyar Jembrana Karangasem Bima Dompu Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Mataram Sumbawa Kota Kupang Kupang Lembata Ngada Timor Tengah Utara Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 67 .

Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Papua Landak Pontianak Barito Utara Katingan Kotawaringin Barat Kotawaringin Timur Murung Raya Palangka Raya Pulang Pisau Banjar Banjarmasin Hulu Sei Utara Kotabaru Tanah Laut Balikpapan Berau Kutai Kutai Barat Kutai Timur Samarinda Tarakan Minahasa Utara Kota Palu Bone Gowa Kota Makassar Kota Pare-pare Luwu Luwu Timur Pinrang Soppeng Tana Toraja Wajo Buton Kota Kendari Jayapura 68 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 .

Nusa Tenggara Timur 6.2014 69 . Jawa Barat 8. Nanggroe Aceh Darussalam 2. Nusa Tenggara Barat 7. Sumatra Utara 3. DKI Jakarta 5.3.16. Jawa Timur 12. Jawa Tengah 11. Sebaran Zona Risiko Tinggi Gempabumi PROVINSI Nangroe Aceh Darussalam Riau KABUPATEN/KOTA Aceh Besar Bireun Kota Sabang Simeuleu Indragiri Hilir Pekan Baru Pelalawan Siak Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Daerah Istimewa Yogyakarta 10. rencana penanggulangan bencana gelombang ekstrim dan abrasi dalam lima tahun mendatang diarahkan pada provinsi berikut: 1.2. Tabel 2.11 Risiko Cuaca Ekstrim Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana cuaca ekstrim di Indonesia (Lampiran 2).16. Sulawesi Selatan 2. Banten 9.10 Risiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Berdasarkan sebaran zona risiko tinggi yang dispasialkan dalam indeks risiko bencana gelombang ekstrim dan abrasi di Indonesia (Lampiran 2).3. Sumatra Barat 4. rencana penanggulangan bencana cuaca ekstrim dalam lima tahun mendatang diarahkan pada wilayah seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Bantul Gunung Kidul Kulon Progo Banyuwangi Jember Pasuruan Kota Cilegon Lebak Pandeglang Serang Tangerang 70 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Dki Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bungo Kota Jambi Tanjung Jabung Barat Banyuasin Kota Lubuk Linggau Bengkulu Utara Kota Bandar Lampung Kota Metro Lampung Selatan Kota Jakarta Barat Kota Jakarta Pusat Kota Jakarta Selatan Kota Jakarta Timur Kota Jakarta Utara Bandung Bogor Cianjur Cirebon Semarang Cilacap Tegal Pekalongan (Kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara).2014 .

AFP (Lumpuh Layuh Mendadak) 14. Tersangka Campak 11. Nusa Tenggara Barat.3. Kasus gigitan hewan penular rabies 15. Jawa Barat. Banten. Jawa Tengah. Sulawesi Tenggara.3. Tersangka Anthraks 16. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. sehingga hampir separuh (45%) penduduk Indonesia berisiko tertular Malaria. Selain itu.13 Epidemi dan Wabah Penyakit Flu Burung berpotensi terjadi di Provinsi Sumatra Utara. Demam yang tidak diketahui sebabnya 17. Daftar prioritas penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB): 1.2014 71 .12 Kegagalan Teknologi Indonesia masih perlu mengadakan pemetaan lebih lanjut atas daerahdaerah yang memiliki industri atau instalasi kritis yang rawan terhadap kejadian kegagalan teknologi. Diare Berdarah 6. Jaundice Akut 8. Tersangka Demam Tifoid 7. Tersangka Kolera Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Lampung. Gorontalo dan Provinsi Papua Barat. Bali. Tersangka Difteri 12. Kalimantan Selatan. terkait kecelakaan transportasi darat. Tersangka Pertusis 13. Pneumonia 5. Sumatra Barat. Tersangka Flu Burung pada Manusia 10. Tersangka Demam Dengue 4. 2.2. Ada 424 kabupaten/kota (73. Tersangka DBD 9. perlu dipetakan daerah-daerah yang terutama sangat rawan. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Tengah. Jawa Timur. Malaria juga masih merupakan masalah besar di Indonesia. Sulawesi Tengah. mengingat tingginya jumlah korban jiwa yang ditimbulkan oleh kecelakaan transportasi darat. Sulawesi Utara. Diare Akut 2. Kalimantan Barat.6%) yang endemik malaria. Sulawesi Selatan. Malaria Konfirmasi 3.

bila sudah sampai pada puncaknya. Klaster penyakit yang tidak diketahui 19. Nusa Tenggara Timur 6. Maluku dan Maluku Utara 7.18. Tersangka Tetanus 2. Jika menggunakan indikator sejarah konflik dan banyaknya jumlah pengungsi di wilayah. Papua Barat 72 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Papua 11. pengangguran yang meluas dan tingkat kemiskinan yang tinggi potensial melahirkan bibit-bibit konflik. daerah-daerah yang rawan konflik di Indonesia terutama adalah Provinsi: 1. Tersangka Meningitis/Enchepalitis 20. Kalimantan Tengah 5. Sulawesi Tengah 8. Sumatra Utara 3. Selain konflik sosial internal di tingkat masyarakat. Konflik lokal seperti yang pernah merebak di beberapa tempat di tanah air masih mungkin pecah kembali. Tersangka Tetanus Neonatus 21. Struktur sosial yang menciptakan ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan. misalkan di wilayah-wilayah terpencil yang terletak di perbatasan antara Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia. Kalimatan Barat 4. dapat mengobarkan konflik sosial. Nanggroe Aceh Darussalam 2. Sulawesi Barat 10. Begitu pula jurang yang lebar antara penduduk yang miskin dan yang kaya.2014 .3.14 Konflik Sosial Indonesia saat ini masih menghadapi potensi konflik. Sulawesi Tenggara 9. ada juga potensi konflik regional dan internasional.

.

.

Kinerja yang belum optimal seperti belum terpadu dan menyeluruhnya koordinasi dan kerjasama dalam menghadapi situasi tanggap darurat masih terlihat. rusak berat dan rusak ringan kerap kali ada beberapa versi yang saling berbeda satu sama lain. yang dibutuhkan untuk upaya pemulihan kesehatan warga yang menjadi korban. Tanggap darurat bencana seringkali berlangsung dengan agak tidak teratur.BAB III PERMASALAHAN. Tampaknya pemahaman dan kesadaran bahwa risiko bencana dapat dikurangi melalui intervensi-intervensi pembangunan masih minim. termasuk obat-obatan. terutama dalam hal pengerahan tenaga pencarian dan penyelamatan serta dalam koordinasi pengumpulan dan penyaluran bantuan bagi para korban. Upaya pemulihan pasca bencana juga belum maksimal. masyarakat dan para pemangku kepentingan terkait di Indonesia belum siap dalam menghadapi bencana sehingga mengakibatkan tingginya jumlah korban jiwa maupun kerugian material yang ditimbulkan oleh bencana. Perbedaan data dalam hal jumlah korban terluka dan jenis luka yang dialami korban akan mempersulit alokasi tenaga medis dan perlengkapan medis.1 ISU DAN PERMASALAHAN Salah satu isu yang dihadapi dalam bidang penanggulangan bencana adalah kinerja yang masih belum optimal. UndangRencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah. Isu lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah orientasi kelembagaan penanggulangan bencana di Indonesia yang pada umumnya masih lebih terarah pada penanganan kedaruratan dan belum pada aspek pencegahan serta pengurangan risiko bencana.2014 73 . Begitu pula dengan perbedaan data dalam hal rumah. TANTANGAN DAN PELUANG 3. Data tentang jumlah korban meninggal dan mereka yang luka-luka serta jumlah rumah yang hancur total. fasilitas dan infrastruktur publik yang rusak akan menghambat penghitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi yang selanjutnya akan memperlambat pemulihan seluruh aspek kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Dalam banyak kejadian bencana terakhir di Indonesia belum terlihat adanya kiprah yang signifikan dari tim-tim siaga bencana komunitas. Diperlukan adanya upaya 74 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . tsunami dan letusan gunungapi. Informasi semacam ini sangat dibutuhkan terutama di daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa. Risiko bencana dapat dikurangi melalui program-program pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko serta penataan ruang yang berdasarkan pemetaan dan pengkajian risiko bencana. Pemberitaan media biasanya didominasi oleh kisah tim-tim reaksi cepat dari berbagai instansi pemerintah. untuk menyusun upaya-upaya pengurangan risiko yang berdasarkan ilmu pengetahuan. belum memiliki data dan informasi terinci tentang ancaman yang mereka hadapi berikut tingkat intensitasnya yang disusun berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini. termasuk yang paling dominan biasanya dari angkatan bersenjata. Banyak daerah yang menghadapi ancaman alam seperti gempabumi. karena masyarakatlah yang pertama-tama berhadapan dengan bencana dan dampak-dampak negatifnya.2014 . penting untuk mengembangkan tim-tim siaga bencana di tingkat masyarakat. Jumlah korban dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana akan dapat dikurangi secara signifikan dengan adanya masyarakat dan pemerintah daerah yang tangguh dan siaga bencana. termasuk pemanfaatan sistem-sistem peringatan dini yang berbasis teknologi. Ketangguhan dan kesiapsiagaan ini dapat dicapai melalui gladigladi dan simulasi bencana di tingkat komunitas yang dilaksanakan secara rutin dan teratur. Mengingat Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang tidak semuanya mudah dijangkau. Hal lain yang tampak mencolok dari berbagai kejadian bencana adalah masih dominannya peranan pemerintah dan pihak-pihak dari luar komunitas dalam situasi darurat bencana. tetapi dalam pelaksanaannya masih sedikit program-program pengurangan risiko bencana yang terencana dan terprogram.undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana memang telah merubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif (terpusat pada tanggap darurat dan pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan). Isu lain yang masih dihadapi adalah kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengurangi risiko bencana. dan pihak swasta.

apa yang harus dilakukan kadang masih bingung. Posisi yang tidak setara akan diperburuk oleh kebutuhan khusus perempuan dalam situasi bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebagai lembaga yang diamanatkan Undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana masih menghadapi tantangan. termasuk kelompok warga miskin. ilmu dan teknologi kebencanaan. Hal seperti ini perlu dibuat suatu rencana penanggulangan bencana yang melibatkan berbagai pelaku penanggulangan bencana. karena mereka ini biasanya merupakan kelompok yang paling rentan. politik dan kesehatan.2 TANTANGAN DAN PELUANG Perubahan paradigma penanggulangan bencana dari responsif ke preventif berupa pengurangan risiko bencana yang terkandung dalam Undang-undang No. Perempuan di Indonesia masih tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan. Setiap terjadi bencana. Dalam situasi bencana dengan banyak kebutuhan yang beraneka ragam. mudah bagi kita untuk mengabaikan mereka yang miskin dan terpinggirkan. tetapi kadang kala tidak tahu apa yang dilakukan. siapa berbuat apa belum jelas. Program-program kebencanaan harus dirancang agar tidak menambah kerentanan kelompok-kelompok ini. Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah isu gender dan kelompok-kelompok marjinal. masih sangat abu-abu. Kelompok miskin dan minoritas atau marjinal juga perlu diperhatikan dalam situasi bencana. ekonomi. Isu yang tidak kalah pentingnya adalah belum adanya perencanaan penanggulangan bencana yang komprehensif. sehingga terjadi tumpang tindih produk yang berbeda satu dengan yang lain yang malah membingungkan pengguna (pemerintah daerah). karena perempuan biasanya tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mendahulukan anak-anak dan keluarganya. Ketidaksetaraan gender ini akan berpengaruh pada nasib perempuan dalam situasi bencana. 24 Tahun 2007 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pada beberapa kegiatan malah dilakukan oleh beberapa instansi. Semua ingin membantu. yang sering terabaikan dalam situasi bencana.2014 75 . 3. Apalagi pada saat sebelum terjadi bencana.melibatkan perguruan tinggi untuk mengembangkan penelitianpenelitian.

dan mendorong koordinasi dan kerjasama antar pihak yang baik. Penanganan kejadian bencana bukan hanya pada fase tanggap darurat saja tetapi juga rehabilitasi dan rekonstruksi. dan mengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. “Roh pengurangan risiko bencana” perlu terus didorong agar merasuki para pembuat kebijakan dan semua kebijakan serta program pembangunan di Indonesia. masih banyak aparat pemerintah yang perlu diberi pendidikan dan pelatihan kebencanaan agar dapat melaksanakan pembangunan yang berperspektif pengurangan risiko dan menyelenggarakan tanggap serta pemulihan bencana dengan baik. simulasi dan pelatihan kebencanaan. diharapkan akan terbangun mekanisme penanggulangan bencana yang terpadu. terpadu. banyak komunitas yang perlu menerima gladi. Dengan pemaduan pengurangan risiko bencana ke dalam program-program pembangunan. efektif. Dengan jumlah penduduk yang besar dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bahaya. Selain itu. 76 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 . sedangkan penanganan kejadian bencana merupakan ujiannya. peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur tetap (protap) kebencanaan sampai ke tingkat pemerintahan yang paling rendah. Tantangan berikutnya adalah besarnya kebutuhan pengembangan kapasitas dalam penanggulangan bencana. apalagi BPBD di daerah-daerah. Banyak tim siaga bencana komunitas yang perlu dibentuk dan diberi sumber daya yang memadai. di pihak pemerintah sendiri masih banyak daerah yang perlu ditingkatkan dalam hal kelembagaan penanggulangan bencana dan kelengkapannya. Tantangannya saat ini adalah mensosialisasikan paradigma baru tersebut agar menjelma menjadi kebijakan. dan menyeluruh masih berusia sangat muda. Ibarat proses pendidikan di sekolah.tentang Penanggulangan Bencana dengan fungsi merumuskan dan menetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta efektif dan efisien. Tantangan pada fase tanggap darurat adalah lambatnya penanganan dan belum terkoordinasi dengan baik pelaku penanggulangan bencana. upaya pengurangan risiko bencana pada tahap pra bencana hanyalah proses belajar. efisien dan handal. Penanganan kejadian bencana sendiri merupakan tolok ukur keberhasilan penanggulangan bencana.

dalam perumusan program-program pengurangan risiko bencana tampaknya perlu dilaksanakan proses penyusunan prioritas yang benar. terpadu. Di tingkat nasional ketertarikan berbagai pihak pada isu PRB ini terwujud dalam terbentuknya Platform Nasional PRB dan forumforum serupa di daerah. Peraturan Presiden. yang diikuti dengan pengesahan Peraturan-peraturan Pemerintah. dengan kehadiran BNPB dan BPBD. sampai saat ini regulasi penanggulangan bencana terus-menerus disempurnakan. Selain itu. Dengan adanya platform dan forum-forum ini. Lepas dari besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Peraturan Menteri dan Peraturan Kepala BNPB yang merupakan turunan Undang-undang. Di tengah kebutuhan pengembangan kapasitas yang besar. menyeluruh dan efektif-efisien. Mengingat tantangan-tantangan ini. peluang berikutnya adalah sudah terbentuknya BNPB dan semakin banyaknya provinsi-provinsi dan kabupaten/kota yang membentuk BPBD.2014 77 . penanggulangan bencana akan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah. Peluang pertama adalah semakin kondusifnya lingkungan kebijakan yang mendukung pengurangan risiko bencana. penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana menjadi Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Pembentukan badan-badan penanggulangan bencana independen di berbagai tingkat pemerintahan ini akan lebih menjamin tertanganinya isu penanggulangan bencana dan isu terkait lainnya dengan baik.Sedang tantangan pada rehabilitasi dan rekonstruksi adalah belum dilibatkannya kearifan lokal dan prinsip membangun kembali lebih baik (build back better). terutama terkait dengan kecenderungan perubahan iklim global yang dampaknya kian memburuk. Sebagian besar anggaran sampai saat ini masih lebih teralokasikan pada tanggap darurat dan pemulihan bencana. ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong agenda pengurangan risiko bencana. anggaran dan sumber daya yang diperuntukkan untuk program-program pengurangan risiko bencana masih sangat terbatas. Dimulai dengan lahirnya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Peluang selanjutnya adalah semakin bertumbuhnya perhatian dunia pada isu pengurangan risiko bencana. Terkait dengan lingkungan kebijakan pengurangan risiko bencana yang kian mendukung.

dan tidak hanya menjadi urusan pemerintah semata.2014 . masyarakat dan lembaga usaha baik berupa upaya pengentasan kemiskinan. Komitmen pelaku penanggulangan bencana untuk bersama-sama dalam penanggulangan bencana ini merupakan peluang lain. Hal ini tentunya akan semakin memperkuat pelaksanaan pengurangan risiko bencana di Indonesia. termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi. fasilitasi pendidikan dasar maupun meningkatkan kesehatan masyarakat. 78 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sebagai contoh dalam koridor negara asia tenggara (ASEAN) dengan membentuk AHA Center dan latihan bersama penanggulangan bencana yang dikenal dengan ARDEX sebagai implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response).urusan berbagai pihak. Selain itu komitmen antar negara. Bentuk-bentuk kerjasama lintas sektor baik antar pemerintah. mendukung pengurangan risiko bencana.

.

.

efektif dan efisien. lembaga utama yang khusus menangani penanggulangan bencana di tingkat nasional adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). terpadu.BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA 4. BNPB bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia.2 PENATAAN KELEMBAGAAN Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.2014 79 .1 VISI DAN MISI Visi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: “Ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana” Misi Penanggulangan Bencana Indonesia adalah: 1. 2. BNPB Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Lembaga dan instansi terkait. terpadu. Untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana. 3. 4. Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko. terkoordinasi dan menyeluruh. serta melakukan pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. Lembaga ini bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana. Untuk penanganan pengungsi. Kepolisian Republik Indonesia. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana BNPB tidak bekerja sendiri tetapi bekerja sama dengan Kementerian. Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal. BNPB merupakan Lembaga Pemerintah non-Kementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri. dan menyeluruh. Basarnas dan PMI.

Kementerian Kelautan dan Perikanan dan BMKG. 46/2008). Kementerian Agama. LAPAN. dan BMKG untuk bencana-bencana hidrometeorologis. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan BMKG untuk bencana-bencana geologis. Untuk bencana-bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup BNPB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Sedangkan untuk bencana-bencana terkait aspek biologis seperti wabah. Pembentukan BPBD mengacu pada Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Perka BNPB No. BNPB bekerja sama dengan Bakosurtanal dan Kementerian/Lembaga yang secara khusus menangani ancaman tertentu. selain bekerja sama dengan Kementerian dan Lembaga teknis. 46 tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Permendagri No. dan didukung oleh instansi yang terkait dengan penelitian seperti Kementerian Riset dan Teknologi. Pembentukan BPBD di 80 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .bekerja sama dengan Kementerian Sosial. di daerah BPBD bertugas untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan PB dan penanganan pengungsi serta melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan PB. Berdasarkan Pasal 2 Permendagri No. BPPT. epidemi dan kejadian luar biasa. Untuk penelitianpenelitian kebencanaan dalam berbagai bidang. media massa dan pihak-pihak terkait lainnya. Untuk pendidikan kebencanaan BNPB bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional. Untuk pemetaan daerahdaerah rawan.2014 . BPPT. Seperti juga BNPB di tingkat pusat. BNPB bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian. BPBD dibentuk baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Kementerian Pertanian. Kementerian Kehutanan. 3/2008) dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Di daerah lembaga khusus yang menangani penanggulangan bencana adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 46/2008. Untuk pengembangan sistem peringatan dini. BNPB terutama dibantu oleh Kementerian Riset dan Teknologi. LIPI dan perguruan-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. LIPI serta didukung juga oleh perguruan tinggi. dengan Kementerian Pekerjaan Umum. BPBD dibentuk di setiap provinsi dan dapat dibentuk di kabupaten/kota.

Di tingkat pusat telah dibentuk Forum Perguruan Tinggi untuk PRB. daya dukung lingkungan dan sosial-budaya masyarakatnya.2014 81 . sebuah forum yang didirikan untuk memfasilitasi kerjasama dalam pengelolaan Gunung Merapi secara menyeluruh pada aspek ancaman. ada pula platform-platform atau forum PRB sektoral yang dibentuk oleh para pihak berkepentingan menurut sektor atau isu-isu tertentu. dari hampir 500 kabupaten/kota yang ada di Indonesia baru 21 kabupaten/kota yang memiliki BPBD. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . yakni sebuah forum independen untuk mendorong serta memfasilitasi kerjasama antar pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia. selaras dengan tujuantujuan Kerangka Aksi Hyogo. fungsi-fungsi penanggulangan bencana dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani urusan kebencanaan. program dan kegiatan PRB di tingkat pusat. Di tingkat daerah juga sudah terbentuk forum-forum serupa seperti Forum Merapi. Planas PRB yang dideklarasikan di Jakarta pada tanggal 20 November 2008 berupaya mewadahi semua kepentingan terkait kebencanaan serta membantu menyelaraskan berbagai kebijakan. Selain Planas PRB di tingkat pusat. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknik Kegunungapian (BPPTK). sebuah perguruan tinggi dari Yogyakarta dan beberapa lembaga donor. Konsorsium Pendidikan Bencana. agar dapat mendukung tercapainya tujuan-tujuan PRB Indonesia dan terwujudnya ketahanan dan ketangguhan bangsa terhadap bencana. Forum Mitigasi Bencana Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Bagi daerah-daerah yang belum membentuk BPBD. Selain badan penanggulangan bencana pemerintah. Sementara itu. Sampai dengan akhir bulan Oktober tahun 2009. dan lain-lain. Magelang dan Sleman. untuk tingkat kabupaten dan kota. dari 33 provinsi yang ada sudah 16 provinsi membentuk BPBD. Boyolali. Adanya forum-forum PRB semacam ini diharapkan akan meningkatkan kualitas penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah di seluruh Indonesia.tingkat provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan Perda atau peraturan kepala daerah. paguyuban masyarakat Pasag Merapi. di tingkat pusat dibentuk Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB). Forum ini antara lain melibatkan pemerintah daerah beserta PMI di Kabupaten Klaten.

2014 . 7. Kementerian Perhubungan merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi. 9. 3. 2. Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai. 5. Kementerian Pertahanan mendukung pengamanan daerahdaerah yang terkena bencana.Secara garis besar. Kementerian Luar Negeri mendukung program-program dan kegiatan penanggulangan bencana yang berkaitan dengan mitra internasional. saat dan pasca bencana. Kementerian Pertanian merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian. baik pada saat tanggap darurat maupun pasca bencana. 6. Kementerian Hukum dan HAM mendorong peningkatan dan penyelarasan perangkat-perangkat hukum terkait kebencanaan. 82 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 4. 8. 10. Kementerian Keuangan penyiapan anggaran biaya kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra. Kementerian Kehutanan merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan. peran dan fungsi Kementerian dan Lembaga Pemerintah di tingkat pusat adalah sebagai berikut: 1. 11. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengkoordinasikan program-program dan kegiatan penanggulangan bencana lintas kementerian dan lembaga. Kementerian Dalam Negeri mengendalikan kegiatan pembinaan pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanggulangan bencana.

dan kebutuhan dasar lainnya untuk para pengungsi. Kementerian Kesehatan merencanakan pelayanan kesehatan dan medik termasuk obat-obatan dan tenaga medis/paramedis.2014 83 . sandang. Kementerian Sosial merencanakan kebutuhan pangan. Kementerian Pendidikan Nasional merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemuliah sarana-prasarana pendidikan. 13. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana. tahap tanggap darurat. 19. Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan programprogram usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan. serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana. dan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. 15.12. 16. penyiapan lokasi dan jalur evakuasi dan kebutuhan pemulihan sarana dan prasarana publik. 20. Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana. 14. advokasi dan deteksi dini dalam pencegahan bencana terkait lingkungan hidup. 21. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal merencanakan dan mengendalikan program-program pembangunan di daerah tertinggal yang berdasarkan kajian risiko bencana. Kementerian Riset dan Teknologi melakukan kajian dan penelitian sebagai bahan untuk merencanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi tidak terjadi bencana. 18. 17. Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan dan mengendalikan pengadaan fasilitas dan sarana komunikasi darurat untuk mendukung tanggap darurat bencana dan pemulihan pasca bencana. Kementerian Lingkungan Hidup merencanakan dan mengendalikan upaya yang bersifat preventif.

klimatologi dan geofisika. 33. 26. BPS membantu dalam bidang penyiapan data-data statistik. Basarnas mendukung BNPB dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR). 32. BSN membantu dalam bidang standarisasi pedoman-pedoman maupun panduan penanggulangan bencana. Bapeten membantu dalam bidang pemantauan. LIPI membantu dalam bidang pengkajian ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. Kepolisian Republik Indonesia membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi. Kementerian Perumahan Rakyat mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga-warga yang menjadi korban bencana. 35. 27. 34. 31. BMKG membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi. 28. 25. 24.22. BPPT membantu dalam bidang pengkajian dan penerapan teknologi khususnya teknologi yang berkaitan dengan penanggulangan bencana. 84 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Tentara Nasional Indonesia membantu dalam kegiatan pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya tanggap darurat bencana. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mendukung perencanaan program-program pembangunan yang peka risiko bencana. BPN membantu dalam bidang penyediaan data-data pertanahan. pemanfaatan dan pengendalian bahaya akibat tenaga atom. 29. BATAN membantu dalam bidang pemantauan. 36.2014 . pemanfaatan dan pengendalian bahaya nuklir. 30. LAPAN membantu dalam bidang penyediaan informasi dan data spasial khususnya dari satelit. Bakosurtanal merencanakan dan mengendalikan pemetaan risiko bencana bekerja sama dengan kementerian/lembaga teknis. 23.

pemulihan kondisi dari dampak bencana. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai. dan pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana. pemberdayaan. sementara prinsip-prinsip penanggulangan bencana mencakup prinsip cepat dan tepat. meliputi pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan. program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana di tingkat Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . keseimbangan.2014 85 . Peraturan Pemerintah No. Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. dan keserasian. Dalam pasal selanjutnya. Dalam situasi normal atau dalam situasi tidak terdapat bencana. sesuai amanat Pasal 2 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Pasal 3. prioritas. berdaya guna dan berhasil guna. disebutkan bahwa asas-asas pokok dalam penanggulangan bencana meliputi asas kemanusiaan. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum. nondiskriminatif. Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. keadilan.3 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. perlindungan masyarakat dari dampak bencana. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai. Tanggung jawab ini. koordinasi dan keterpaduan. transparansi dan akuntabilitas. kebersamaan. kelestarian lingkungan hidup. dan ilmu pengetahuan dan teknologi. keselarasan. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007. dan non-proletisi. sesuai ketentuan Pasal 6. kemitraan.4. ketertiban dan kepastian hukum. adalah berlandaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

misalnya saja. Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana Penguatan kerangka regulasi penanggulangan bencana dilaksanakan melalui penyusunan peraturan. Dalam situasi ini BNPB dan BPBD dapat mengatur instansi-instansi sektoral dalam operasi tanggap darurat. mitigasi dan kesiapsiagaan. Melalui langkah-langkah ini diharapkan upaya 86 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Strategi yang ditempuh untuk mewujudkan visi dan penanggulangan bencana Indonesia adalah sebagai berikut: 1. Pembagian peran di antara para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana juga akan menjadi hal yang diatur melalui Renas PB ini. dengan BNPB/BPBD sebagai koordinator pelaksanaannya.pusat dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangan masing-masing. Dalam situasi normal. koordinasi dan sekaligus pelaksana kegiatan tanggap darurat. BNPB dan BPBD di tingkat daerah lebih menjalankan fungsi koordinasi dan pelaksana kegiatan pencegahan. Sosialisasi sistem peringatan dini dan pelatihan penggunaannya akan melibatkan dinas pendidikan. Kegiatan mitigasi struktural seperti membangun tanggul penahan banjir dan jalur-jalur evakuasi. seperti pengadaan sistem peringatan dini letusan gunungapi akan melibatkan Kementerian ESDM melalui Badan Geologi dan pemerintah daerah melalui BPBD. Persiapan logistik untuk mencukupi kebutuhan penduduk yang mengungsi dalam situasi darurat menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Sosial. Dalam situasi darurat BNPB dan BPBD menjalankan fungsi komando.2014 misi . sementara fungsi-fungsi yang menjadi tanggung jawab instansi-instansi sektoral tetap dilaksanakan oleh sektor masing-masing. menjadi tanggung jawab Kementerian Pekerjaan Umum. Pelaksanaan penanggulangan bencana di pusat maupun daerah akan memerlukan koordinasi dengan semua sektor dan unsur masyarakat. perguruan tinggi dan LSM. Dalam situasi pasca bencana BNPB dan BPBD kembali menjalankan fungsinya dalam hal koordinasi dan pelaksana kegiatan-kegiatan pemulihan. prosedur-prosedur tetap (protap) dan rencana-rencana penanggulangan bencana dari tingkat pusat sampai daerah. Beberapa kegiatan pengurangan risiko bencana tertentu akan memerlukan kerjasama antara berbagai instansi.

2014 87 . Pemaduan program pengurangan risiko ke dalam rencana pembangunan Program-program pengurangan risiko bencana sedapat mungkin dipadukan ke dalam rencana pembangunan di tingkat pusat dan daerah. dalam hal ini BNPB. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . RKPD dan Renja Satuan Kerja Perangkat Daerah. Renstra dan Renja Kementerian/Lembaga. Perguruan tinggi diharapkan turut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. saat tanggap darurat dan saat pemulihan pasca bencana. baik ke dalam RPJM. Oleh karena itu. RKP. Strategi ini diharapkan akan membantu mewujudkan pembangunan yang lebih tahan terhadap risiko bencana dan menciptakan masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Dengan demikian program dan kegiatan pengurangan risiko tidak akan berdiri sendiri tetapi terpadu ke dalam program pembangunan reguler. Dalam era desentralisasi ini tidak mungkin pemerintah pusat. 2.penanggulangan bencana akan memperoleh arah yang jelas dan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. 3. Selain itu upaya khusus juga akan dilaksanakan untuk membentuk dan meningkatkan kapasitas badan-badan penanggulangan bencana dan instansi terkait di pusat dan daerah dalam menghadapi situasi pra-bencana. menyelenggarakan semua kegiatan dan program pengembangan kapasitas penanggulangan bencana bagi daerah. BNPB akan membangun kemitraan dengan perguruan tinggi di tingkat pusat dan daerah dalam bekerja sama meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. Pemberdayaan perguruan tinggi Strategi ini bertujuan untuk memberdayakan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dan mengembangkan pengetahuan serta teknologi kebencanaan di tingkat pusat dan daerah. RPJMD. Koordinasi dan kerjasama juga akan ditingkatkan antara instansi dan aparat pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan penanggulangan bencana yang handal.

5. Mengingat kapasitas tanggap darurat pemerintah yang masih terbatas. strategi yang dilakukan adalah membentuk Satuan Reaksi Cepat (stand-by force) untuk penanggulangan bencana.4. serta para penyandang cacat maupun 88 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . adalah lebih efektif bila kapasitas penanggulangan bencana dibangun di tingkat komunitas. Mengingat Indonesia begitu luas dan memiliki penduduk yang tersebar di ribuan pulau. satu di Jakarta. Satuan yang bermarkas di Jakarta akan melayani kawasan Indonesia Barat. Bagaimanapun juga komunitas merupakan pihak yang pertama-tama berhadapan dengan risiko bencana. Program pengurangan risiko untuk kelompok dengan kebutuhan khusus Pendekatan khusus juga akan diterapkan untuk mendorong kesetaraan gender dalam program-program kebencanaan dan pengurangan risiko. 6. melalui program-program spesifik yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dan anak. Satuan ini memiliki anggota pilihan yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat Selain memanfaatkan perguruan tinggi daerah. Untuk tujuan ini. Di tingkat nasional ada dua SRC-PB induk yang dibentuk. yang berbasis di Lanud Halim Perdana Kusuma. terutama untuk menghadapi tanggap darurat. yang berbasis di Lanud Abdul Rahman Saleh. sementara satuan yang bermarkas di Malang akan melayani kawasan Indonesia Timur. dan satu di Malang. kaum minoritas dan mereka yang terpinggirkan. kerelawanan akan didorong pada semua tataran dan lapisan masyarakat.2014 . strategi lain yang juga akan digunakan adalah pembangunan kapasitas masyarakat di daerah rawan yang menghadapi risiko bencana yang tinggi. Selain itu perhatian juga akan diberikan untuk masyarakat miskin. Keberadaan satuan ini akan meningkatkan kapasitas tanggap bencana Indonesia secara signifikan. Pembentukan Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRCPB) Dalam menghadapi bencana yang berdampak besar. adalah lebih ekonomis dan efektif membangun kapasitas masyarakat.

7. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . dapat berkontribusi melalui upaya-upaya pengembangan mekanisme transfer risiko seperti asuransi bencana dan perangkat-perangkat serupa lainnya. terutama yang bergerak dalam bidang finansial. sektor swasta. terutama untuk mendorong upaya pengurangan risiko dan kesiapsiagaan di tingkat masyarakat. Terkait dengan pengurangan risiko.kelompok dengan kebutuhan khusus lainnya. pemerintah juga akan membangun kerjasama yang lebih besar dengan LSM dan organisasi-organisasi masyarakat dalam menggalang relawan dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kalangan dunia usaha juga dapat berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana melalui keterlibatan aktif dalam forum-forum pengurangan risiko bencana seperti melalui Platform Nasional PRB ataupun forum-forum serupa di tingkat daerah. 8. Peningkatan peran LSM dan organisasi mitra pemerintah Dalam banyak kejadian bencana belakangan ini. termasuk melalui penyelenggaraan pelatihan-pelatihan dan peningkatan kapasitas relawan. Peningkatan peran dunia usaha Kalangan dunia usaha diharapkan dapat berkontribusi lebih besar lagi dalam menggalang dan mendorong kerelawanan dalam penanggulangan bencana. agar program-program pengurangan risiko bencana tidak meningkatkan kerentanan mereka. Pemerintah akan bekerja sama lebih erat dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan organisasi mitra lainnya dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana. baik LSM lokal. Terkait dengan itu. Peran lembaga-lembaga ini akan lebih ditingkatkan lagi.2014 89 . nasional maupun internasional kian berperan besar terutama pada saat tanggap darurat dan pasca bencana. tetapi sebaliknya mendukung ketangguhan mereka terhadap bencana.

2014 .90 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .

.

.

BAB V PROGRA AM Renas PB m memuat prog gram dan fok prioritas sebagai dasa dalam kus ar membuat kegiatan penanggulangan bencana. G Gambar 5. Sis stem Penanggu ulangan Bencan Indonesia na Sistem pen nanggulangan bencana I n Indonesia ya ang saat ini tengah dibangun memiliki 5 (lima) pila berupa sub-sistem legislasi. ar perencanaa kelembaga an. Hal ini didukun oleh 3 (tig misi yang diemban pi ng ga) yaitu memb bangun sistem penanggul langan benca untuk me ana elindungi bangsa dar ancaman bencana me ri elalui pengur rangan risiko dengan menyelengg garakan penanggulangan b bencana secar terencana. Visi penanggulang bencana (Bab VI) sec n gan cara jelas menyebut cita-cita unt tuk menjadik kan bangsa y yang tangguh dalam menghadap bencana. aan. Sistem ini d dibangun untu menjawab permasalaha yang dihad uk b an dapi saat ini (Bab III) dan diterje emahkan ke dalam progr ram-program sebagai Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .1. terpadu. Program me n erupakan penjabaran dari visi da misi serta pilihan tind an a dakan sesuai dengan i manajemen risiko. ra terkoordina dan menye asi eluruh.2014 91 . pendana dan peng aan gembangan k kapasitas.

atau dikenal dengan mitigasi. Program pada saat bencana adalah 8) program tanggap darurat dan program pasca bencana disebut 9) program rehabilitasi dan rekonstruksi.2014 . 3) penelitian. Dengan demikian Renas PB mempunyai 9 (sembilan) program. Bila pengurangan risiko sudah dilakukan dan masih tetap ada risiko. Mitigasi ini dapat dilakukan secara struktural maupun non-struktural.berikut : 1) penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan. pendidikan dan pelatihan. 2) perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu. Paradigma pengurangan risiko bencana merubah pola pikir yang responsif menjadi preventif dengan pendekatan manajemen risiko. Kegiatan sebelum terjadi bencana/pra bencana sering disebut dengan pengurangan risiko bencana. dilakukan pengalihan risiko ke pihak lain (risk transfer) misalnya melalui sistem asuransi bencana. Selain program-program pengurangan risiko bencana juga terdapat program pada saat bencana dan pasca bencana. sehingga dalam pembuatan rencana aksi pengurangan risiko bencana hanya menggunakan 7 (tujuh) program tersebut. Apabila antara potensi bencana dengan elemen berisiko tersebut tidak dapat dipisahkan (harus bertemu) maka upaya yang dilakukan adalah pengurangan risiko (risk reduction). dan 4) peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lain dalam pengurangan risiko bencana. 92 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . maka yang terakhir dilakukan adalah menerima risiko (risk acceptance) dan melakukan upaya-upaya kesiapsiagaan. dan 7) kesiapsiagaan. Tindakan ini dikenal dengan pencegahan (risk avoidance). 6) peringatan dini. Pertama-tama dilakukan tindakan untuk memisahkan potensi bencana yang mengancam dengan elemen berisiko (element at risk). Apabila ketiga tindakan tersebut sudah dilakukan tetapi masih ada risiko. Apabila suatu wilayah mempunyai risiko tinggi maka upaya pengurangan risiko dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan. Tindakantindakan dalam manajemen risiko di atas dijabarkan dalam program yaitu: 5) pencegahan dan mitigasi bencana. Ketujuh program di atas merupakan program yang dilakukan sebelum terjadi bencana.

masyarakat maupun lem t mbaga usaha sebagai rencan aksi.Gam mbar 5. Sehingga dih bih harapkan tidak terjad suatu kegia di atan dilakuka oleh lebih dari 1 (satu) instansi an ) atau ada suatu kegiatan yang tidak dilakukan oleh s y satupun instansi.1. Renas PB menggamb P barkan progra dan fokus prioritas am dalam lima tahun men a ndatang. Prog gram dan fokus prioritas dalam Renas PB s No.1 Penyusu unan peraturan perda dan pr n. Sebagai ren ncana.2014 93 . Gambaran prioritas ini sebagai ara ahan dalam menyusun k kegiatankegiatan ya akan dilak ang ksanakan oleh pelaku penanggulangan bencana h yang multi stakeholder. Pilihan tindakan dala manajemen risiko bencan am n na Selanjutnya agar le a ebih terarah. sehingga leb terfokus. na Program da fokus priori dalam Renas PB adalah sebagai beri an itas h ikut : T Tabel 5. program m-program tersebut dideskripsik kan menjadi fokus priorit tas. Fokus p prioritas dima aksudkan untuk mem mberikan gam mbaran priori itas dari mas sing-masing p program. Seca umum R ara Renas PB me empunyai sembilan pr rogram dan empat puluh t tujuh fokus pr rioritas.2. 1. PR ROGRAM Penguatan peratu uran FOKUS PRIO ORITAS 1. rotap Penangg gulangan Benca yang memuat ana Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Secar khusus ra setiap program memiliki fokus prioritas sebelum d dideskripsikan menjadi n kegiatan-ke egiatan yang akan dilaksan nakan oleh Ke ementerian/L Lembaga.

2014 . serta koordinasi Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.6 1. Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Standarisasi pedoman-pedoman dan acuan penanggulangan bencana Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lembaga Pengkoordinasian penganggaran Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 94 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .7 1.2 1. Satuan Reaksi Cepat Daerah) Penguatan kapasitas manajemen PB di daerah Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) dan penyediaan relawan yang memadai Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana Pembentukan Regionalisasi Depo Logistik.5 1.8 2. pendidikan dan pelatihan 1. termasuk pembagian tugas.2 3. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.2 3. kewenangan dan sumber daya.1 3.3 mekanisme PB. 3.1 2.perundanganan dan kapasitas kelembagaan 1.9 2.4 1.3 1.

2014 .1 Pembangunan Sistem Peringatan Dini 95 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .4. Pencegahan dan mitigasi bencana 6.5 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana 5.4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah 3.7 Penelitian dan Pengembangan 6.5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 3.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) 4.1 Pemetaan risiko bencana 5.3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan 4.3 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5.4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 4. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB 5.1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 4.7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.4 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5.2 Pengembangan forum pengurangan risiko bencana (PRB) di daerah 4.5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan 4.7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan 4.6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 3. Peringatan dini 3.2 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana 5.6 Penerapan upaya mitigasi struktural dan nonstruktural 5. anak dan kelompokkelompok marjinal 5.

4 96 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi real-time untuk tanggap darurat.1 Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Pemulihan sarana-prasarana publik dan 9.2 Pencarian. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 8.1 Kaji cepat bencana 8.2 9.2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggap darurat 7. air bersih dan sanitasi 8.3 Pembentukan Satuan-satuan Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional 7.10 Peningkatan Penyuluhan. Kesiapsiagaan 8.3 Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 9.7.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan 7.1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur 7. Tanggap darurat 7. Rehabilitasi dan rekonstruksi 9. sandang. layanan kesehatan.3 9.2014 .5 Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui antara lain pendidikan-pelatihan.7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan 7. hunian sementara. penyelamatan dan evakuasi 8.4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar 7.6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara 7.4 Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 8.9 Penyusunan rencana kontijensi 7. pengembangan teknologi informasi 7.

Dalam 5 (lima) tahun kedepan BNPB merencanakan akan mempunyai kepanjangan tangan di daerah dengan membangun Regionalisasi Depo Logistik. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai Dalam Tabel 5. Secara umum. masing-masing fokus prioritas mempunyai sasaran (Lampiran 3-17) yang menggambarkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun ke depan untuk menjawab isu dan permasalahan yang dihadapi. 5. 5 sampai dengan 9 merupakan program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana. Fokus prioritas dengan membentuk Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) merupakan implementasi program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu II dalam kesiapsiagaan penanggulangan bencana. dapat dilihat bahwa program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana adalah program no.1.5 9. Pada program no. Pusat Pelatihan dan Pusdalops pada 12 lokasi.6 rekonstruksi rumah warga korban bencana Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui antara lain pendidikanpelatihan.9.2014 97 . dan regionalisasi pelatihan penanggulangan bencana dengan pendekatan kearifan local. Selanjutnya program no. Maksud regionalisasi ini adalah untuk mendukung logistik dari daerah berisiko tinggi.5. termasuk diantaranya penyiapan relawan penanggulangan bencana sebanyak 10.2 sampai dengan 5. 5 (pencegahan dan mitigasi) sebenarnya terdapat program yang sifatnya generik ditunjukkan fokus prioritas no.000 personil. Sasaran juga mengindikasikan lokasi-lokasi yang harus diprioritaskan karena memiliki risiko tinggi terhadap suatu ancaman Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 1 sampai dengan 4.

sehingga dalam penyusunan Renas PB masing-masing instansi mempunyai peranan penting. kerentanan dan kapasitas (Bab II).bencana. Hal tersebut berbeda dengan instansi utama pada program yang dikategorikan spesifik mengikuti karakteristik bencana.000 (Lampiran 8). Dalam hal ini sebagian besar instansi utamanya adalah BNPB sebagai perwujudan Pasal 13 huruf b UU No. Sedangkan instansi terkait berperan sebagai instansi penunjang yang membantu instansi utama dalam mencapai sasaran. Sebagai contoh dalam mencapai sasaran terwujudnya peta risiko bencana banjir skala 1:50. instansi utamanya adalah Kementerian PU. BMKG dan Bakosurtanal. Instansi utama dalam program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana terdiri dari 1 (satu) instansi. 98 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Instansi utama merupakan instansi yang mempunyai peran utama dan mengkoordinasi instansi terkait. 24 Tahun 2007 bahwa BNPB mempunyai fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana. sehingga Renas PB adalah wujud kesepakatan bersama dalam mencapai sasaran yang diinginkan dalam lima tahun ke depan. Lokasi-lokasi ini merupakan hasil dari analisis risiko bencana dengan mempertimbangkan bahaya. dimana instansi utama bisa lebih dari 1 (satu) instansi. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu keterlibatan berbagai institusi (Kementerian/ Lembaga) sebagai instansi utama dan instansi terkait. Semangat bahwa penanggulangan bencana adalah urusan bersama dituangkan dalam penyusunan Renas PB. Hal yang paling penting dalam melaksanakan program-program Renas PB adalah kesepakatan dan keterlibatan seluruh instansi. terpadu dan menyeluruh. Tiga instansi ini telah memulai dengan membuat MoU atau kesepakatan mengenai pembuatan peta risiko bencana banjir.2014 .

.

.

415.1 ANGGARAN Anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana ini adalah Rp.50 14.2014 99 . 7..000. pendidikan dan pelatihan Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB Pencegahan dan mitigasi bencana Peringatan dini Kesiapsiagaan Tanggap darurat Rehabilitasi dan rekonstruksi TOTAL 5. 12. Tabel 6.000.60 No.50 822.1.16 368.638.895.475. 6.(dua belas triliun delapan ratus sembilan puluh lima miliar dua belas juta rupiah). 9.00 7. 6. 3.008. Atau rata-rata pertahun Rp.060. 2. 1.(enam puluh empat triliun empat ratus tujuh delapan puluh lima miliar enam puluh juta rupiah).012.677. 64.BAB VI ANGGARAN DAN PENDANAAN 6.00 64.) 30.000.855.06 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 8. Besarnya Anggaran Indikatif tiap Program dalam Renas PB ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp. 4.475.50 2. PROGRAM Penguatan peraturan perundanganan dan kapasitas kelembagaan Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu Penelitian.80 1.665.00 24.000.

638. Program perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu diperlukan dana Rp. yang akan dipergunakan untuk kegiatan penyusunan Renas PB dan rencana penanggulangan bencana serta pengarusutamaan rencana penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.855. 2.000 guru. penguatan peran media dalam menumbuhkan 100 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Dana ini akan dialokasikan untuk pembiayaan 3. penguatan BPBD di 33 Provinsi dan 275 kabupaten/kota.000. Dana ini akan digunakan untuk penyusunan pedoman tata ruang dan tata guna lahan. penyusunan peraturan pemerintah dan peraturan daerah tentang pengelolaan sumberdaya alam yang rawan di 33 provinsi.2014 .000. peningkatan penerapan teknologi untuk dalam penanganan 14 macam bencana (termasuk pengembangan sistem peringatan dini). penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana. Program pencegahan dan mitigasi diperlukan dana Rp.-.-.665. Program penelitian.-.000.000.500.160.600. pembentukan 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan. pembentukan kelompokkelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan. pendidikan dan pelatihan diperlukan dana Rp 368. pelatihan 4.000.000 penelitian di 33 Perguruan Tinggi di Indonesia.000. 30.000. pembentukan 33 Pusat Studi Bencana di berbagai perguruan tinggi.000. Dana tersebut akan digunakan untuk pembentukan 1. 24. pendidikan publik guna meningkatkan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota.100 desa siaga bencana di 33 provinsi.000. pembentukan sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota dan 5 lokakarya tahunan tentang PRB berbasis komunitas. serta penusunan penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana.-. 6.000.000.500.-. terbentuknya kantor regional.Dalam program penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan diperlukan dana Rp. Program peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam PRB dengan alokasi dana Rp. yang akan dipergunakan diantaranya meningkatkan sumberdaya manusia dalam penanggulangan bencana berupa pelatihan terhadap staf BPBD Provinsi.

000.800. asuransi bencana di tiap provinsi. penyediaan kebutuhan hunian darurat.000. Program tanggap darurat Rp 1.000. pengumpulan dan evakuasi korban padsa saat terjadi bencana Pembiayaan terbesar terdapat pada program rehabilitasi dan rekonstruksi Rp. dan sosialisasinya.2014 .111.000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan. pemulihan sarana dan prasaran publik serta pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis korban bencana. Hal ini mengingat pada bencana gempa bumi pembangunan sarana dan prasara publik pada umumnya memerlukan pembangunan kembali. Tabel 6.5 931. penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.dialokasikan untuk pemasangan sistem peringatan dini di provinsi yang rawan bencana..-. 2.489. 14. JENIS BENCANA Gempabumi Tsunami Gunungapi Gerakan Tanah ANGGARAN INDIKATIF (Miliar Rp.000.diantaranya untuk pembentukan 2 SRC-PB yang berkedudukan di Malang dan Jakarta dan akan dibentuk juga 12 SRC di 12 kantor regional.2.007. 822.-. 4.000.000.500. penyediaan stok logistik kebutuhan dasar. peningkatan peningkatan akses komunikasi di kantor pusat dan 33 provinsi.0 1. Dana terbesar dialokasikan untuk bencana gempa bumi.000. 3. pembuatan modifikasi cuaca. Penggunaaan dana tersebut diantaranya adalah untuk pengkajian kerusakan dan kerugian.6 101 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Program peringatan dini Rp. Program kesiapsiagaan dengan alokasi dana Rp 7.000.008. peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan.0 4.415.) 12. Dana tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan mobilisasi sumberdaya. 1.677. Besarnya anggaran indikatif tiap jenis bencana dalam Renas PB No.budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat dengan melatih 2.

14. 11.5 23.000.500.8.500.000. 12.5 312.. anggaran rencana penanggulangan bencana akibat kegagalan teknologi dan konflik sosial adalah yang terkecil yaitu masing-masing sebesar Rp.463. 13.000. 102 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 7.000. 9.- 6.dan Rp. Anggaran yang berasal dari dana APBN dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Kementerian/Lembaga untuk menjamin agar upaya penanggulangan bencana dapat berjalan secara berkesinambungan. 32.150.000.2 PENDANAAN Sumber pendanaan untuk pelaksanaan rencana penanggulangan bencana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).-.2 474. Hal ini disebabkan pada program rehabilitasi dan rekontruksinya masih mengalokasikan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah pasca bencana yang belum selesai. maka rencana penanggulangan bencana gempabumi memiliki anggaran yang paling besar yaitu Rp. 6.5.5 380.2014 . 12.489.untuk 5 (lima) tahun atau ratarata pertahun sebesar Rp.000. 2.000.000.(estimasi).atau rata-rata pertahunnya kurang dari Rp. Begitu pula.000.0 650.5 210.000. 156. anggaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah yang berasal dari dana APBD dialokasikan secara rutin setiap tahun melalui anggaran setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah.800. terutama paska gempabumi di Jawa Barat bagian selatan dan Sumatra Barat sebesar Rp.5 197. 151.5 156..8 Apabila diklasifikasi berdasarkan jenis bencana (Tabel 6. 10.000.0 151.497.000.2).5 241. dan dukungan dunia usaha serta lembaga donor...000. Di lain pihak. Banjir Kekeringan Kebakaran Hutan dan Lahan Erosi Kebakaran Gedung&Perumahan Gelombang Ekstrim & Abrasi Cuaca Ekstrim Kegagalan Teknologi Epidemi & Wabah Penyakit Konflik Sosial TOTAL 2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 8.

BNPB dan/atau BPBD sesuai tugas pokok dan fungsinya. dana penanggulangan bencana digunakan oleh Pemerintah. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk kegiatan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . sebagian besar sumber daya dan pembiayaan untuk kegiatan penanggulangan bencana terpadu ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah yang dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja negara.2014 103 . pelaksanaan program dan kegiatan dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014 ini harus disesuaikan dengan nomenklatur anggaran terkait penanggulangan bencana dari Kementerian/Lembaga. Dalam situasi ada potensi terjadinya bencana. Pemerintah Daerah. sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana. tanggap darurat dan pasca bencana. anggaran kegiatan penanggulangan bencana juga dapat berasal dari bantuan donor. Dana penanggulangan bencana digunakan untuk tahap tidak ada bencana. Di samping pendanaan dari pemerintah. Dalam situasi tidak terjadi bencana. Pendanaan yang berasal dari APBN mengacu pada sistem penganggaran yang diatur melalui keputusan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan. dana penanggulangan bencana dialokasikan untuk program-program pengurangan risiko bencana. Programprogram di dalam Renas PB yang spesifik instansi dibiayai dari anggaran masing-masing instansi bersangkutan. Artinya. Mekanisme pendanaan yang berasal dari anggaran non-pemerintah diatur sesuai aturan masingmasing lembaga atau instansi.Anggaran untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan merupakan dana tambahan (on top) terhadap anggaran Renstra Kementerian/Lembaga. sementara itu program penanggulangan bencana yang bersifat umum dibiayai melalui anggaran BNPB. Bantuan dana dari pihak asing. tetapi terintegrasi ke dalam anggaran yang terkait dengan kepentingan penanggulangan bencana. Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana. dunia usaha ataupun dari dana masyarakat sendiri. yang mengacu pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP). harus disampaikan atau dikirimkan secara langsung kepada BNPB. Artinya.

Kepolisian. Balai/Balai Besar Kementerian/Lembaga) mengikuti ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. pembangunan sistem peringatan dini dan kegiatan mitigasi bencana. Untuk mengantisipasi situasi tanggap darurat.2014 . Sedangkan untuk tahap pasca bencana. Pemerintah daerah mengajukan permohonan untuk dana ini kepada pemerintah pusat melalui BNPB. Pengajuan anggaran kegiatan penanggulangan bencana dari instansi vertikal di daerah (TNI. dan peraturan perundangan turunannya (Peraturan Menteri/Kepala Lembaga bersangkutan) dengan mengacu kepada rencana penanggulangan bencana di daerah. pemerintah mengalokasikan dana bantuan sosial berpola hibah yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah. pemerintah mengalokasikan dana siap pakai (on-call budget) yang harus selalu tersedia untuk kebutuhan saat tanggap darurat. 104 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. Kanwil.kesiapsiagaan.

.

.

1 PEMANTAUAN DAN EVALUASI Pemantauan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan Renas PB dan mengidentifikasi serta mengantisipasi permasalahan yang timbul agar dapat diambil tindakan sedini mungkin.2/2002 dan No. 50 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah Serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan realisasi penyerapan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . 80 Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas No. Kep. Kep-102/Mk. Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan dan sasaran pembangunan. 7.2014 105 . 292/M. 40 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.BAB VII PEMANTAUAN. Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pemantauan dan evaluasi program dan kegiatan yang tercantum di dalam Renas PB ini dilaksanakan dengan mengacu pada perangkat hukum berikut: 30 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan.Ppn/09/2002 tentang Sistem Pemantauan dan Pelaporan Pelaksanaan Proyek Pembangunan. 70 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. EVALUASI DAN PELAPORAN Pemantauan (monitoring) dan evaluasi bertujuan untuk mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan rencana yang telah disusun. 60 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.

yaitu kondisi yang diharapkan akan dicapai bila keluaran (output) dapat diselesaikan tepat waktu. dan pengecekan laporan pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko yang dikaji berdasarkan rencana kerja yang tercantum dalam Renas PB. Pemantauan harus dilakukan secara berkala untuk mendapatkan informasi akurat tentang pelaksanaan kegiatan. pelaksanaan pemantauan sebaiknya juga menilai aspek Konsistensi. Pasal 6 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana mengamanatkan agar “Rencana penanggulangan bencana.2014 . Laporan hasil pemantauan disusun setiap enam bulan sekali (semester). realisasi pencapaian target keluaran (output) dan kendala yang dihadapi. Efektivitas.dana.. Pelaksanaan pemantauan (dan juga evaluasi) dilaksanakan dengan memperhatikan asas Efisiensi. Pemantauan pelaksanaan Renas PB dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masingmasing. Konsultasi. LSM dan kelompok profesional. Keterlibatan aktif unsur luar dapat diakomodasi dalam bentuk kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh pemerintah. Koordinasi. kegiatan ini juga berguna untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan Renas PB serta mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatankegiatan pengurangan risiko bencana. rapat kerja atau pertemuan dengan pelaksana kegiatan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan dan kendala yang ditemui. ditinjau secara berkala setiap 2 106 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 . Selain ketiga asas tersebut. Kapasitas dan Keberlanjutan dari pelaksanaan suatu rencana program/kegiatan. Kegiatan pemantauan juga dapat melibatkan masyarakat (misalkan melalui Platform Nasional PRB). yakni derajat hubungan antara barang/jasa yang dihasilkan melalui suatu program/kegiatan dan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan barang/jasa tersebut yang diukur dengan biaya per unit keluaran (output). tepat lokasi dan tepat sasaran serta berfungsi dengan optimal. Pemantauan dapat dilaksanakan antara lain melalui kunjungan kerja ke program-program dan kegiatan pengurangan risiko bencana. dan Kemanfaatan.. yakni tingkat seberapa jauh program/kegiatan mencapai hasil dan manfaat yang diharapkan. Selain untuk menemukan dan menyelesaikan kendala yang dihadapi. kinerja program serta hasil-hasil yang dicapai.

keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar. Evaluasi berkala ini bertujuan untuk menilai hasil yang dicapai melalui pelaksanaan program dan kegiatan pengurangan risiko bencana serta efektivitas dan efisiensi program dan kegiatan tersebut. Selain dinilai berdasarkan efektivitas dan efisiensinya. kinerja program pengurangan risiko bencana yang tercantum dalam Renas PB diukur juga berdasarkan kemanfaatan serta keberlanjutannya. objektif dan transparan. Di samping membandingkan antara target dan pencapaian indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Renas PB. Pada hakikatnya evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input).(dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana”. Kedua cara ini dapat saling mendukung dalam memberikan informasi yang bermanfaat untuk Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2014 107 . Evaluasi dilakukan berdasarkan sumber daya yang digunakan serta indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan/atau indikator dan sasaran kinerja hasil untuk program. Tabel 7. evaluasi juga dapat dilakukan dengan mengkaji dampak yang ditimbulkan melalui pelaksanaan Renas PB. evaluasi juga menjamin adanya tanggung-gugat (akuntabilitas) dan membantu meningkatkan efisiensi serta efektivitas pengalokasian sumber daya dan anggaran. Kegiatan ini dilaksanakan secara sistematis.1. menyeluruh. Evaluasi pelaksanaan Renas PB dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan yang dapat berupa barang atau jasa dan terhadap hasil (outcome) program yang dapat berupa dampak atau manfaat bagi masyarakat dan/atau pemerintah. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana program berikutnya. Format pemantauan dan evaluasi Sumber Pendanaan Keterangan (Tindak Lanjut) Kegiatan Alokasi Sasaran (Target) Pencapaian (Realisasi) APBN Lain-lain Selain berguna untuk memperbaiki pengelolaan program di masa yang akan datang.

kepentingan perencanaan dan pengendalian pelaksanaan Renas PB. Pada akhir tahun kedua dan keempat pelaksanaan Renas PB.2014 . Seperti pemantauan. Laporan juga akan berisi rekomendasi tindak lanjut bagi instansi/lembaga tertentu jika diperlukan. Evaluasi dapat melibatkan pihak luar. BNPB akan mengkoordinasikan sebuah peninjauan atau evaluasi tengah program yang melibatkan semua Kementerian/Lembaga dan pihak terkait lainnya. evaluasi pelaksanaan Renas PB juga dilaksanakan oleh Pimpinan Kementerian/Lembaga sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing. Harapannya adalah agar semua laporan mengenai penanggulangan bencana di Indonesia dapat terdokumentasi dengan baik dan secara resmi dikeluarkan oleh BNPB. 7. Laporan hasil evaluasi disusun setiap satu tahun sekali. tetapi tetap di bawah koordinasi instansi pemerintah terkait. Laporan disusun setiap tahun dan satu salinan dari laporan ini dikirim kepada BNPB untuk disatukan dengan laporan tahunan tingkat nasional. Pada akhir tahun kelima akan diadakan sebuah evaluasi akhir menyeluruh yang hasilnya akan dituangkan dalam sebuah laporan akhir yang selain berisi laporan kegiatan dan pencapaiannya juga berisi kajian atas keberhasilan/kegagalan dari semua program dan kegiatan pengurangan risiko yang telah dilaksanakan selama kurun waktu Renas PB. 108 Rencana Nasional Penanggulangan Bencana |2010 .2 PELAPORAN Pelaksanaan program dan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana harus dilaporkan dalam sebuah laporan tertulis.

.

.

Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana. Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna. kerugian harta benda dan dampak psikologis. Daftar istilah dan pengertian-pengertian (1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan bencana. luka. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. dan gangguan kegiatan masyarakat. harta benda. tanggap darurat dan rehabilitasi.Lampiran 1. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. jiwa terancam. sakit. hilangnya rasa aman. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang mengurangi risiko timbulnya bencana. kerusakan lingkungan. kerusakan atau kehilangan harta. baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. pemenuhan kebutuhan dasar. kegiatan pencegahan bencana. yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban. pengurusan L-1 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Lampiran . perlindungan. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. mengungsi.

adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana L-2 Lampiran . Pemerintah Pusat. kelembagaan pada wilayah pasca bencana. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kementerian/Lembaga. tegaknya hukum dan ketertiban. yang selanjutnya disebut Pemerintah. adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah. adalah lembaga pemerintah non-departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.(9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) pengungsi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana. Rencana Pembangunan Jangka Panjang. sosial dan budaya. Bupati/Walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah. yang selanjutnya disingkat BPBD. yang selanjutnya disingkat RPJM. serta pemulihan prasarana dan sarana publik. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disingkat RPJP. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian. penyelamatan. yang selanjutnya disingkat BNPB. dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana.

adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode I (satu) tahun. atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah Lampiran L-3 . Rencana Pembangunan Tahunan Nasional. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. adalah dokumen perencanaan kementerian/lembaga untuk periode 5 (lima) tahun. adalah dokumen perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 1 (satu) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode1 (satu) tahun.(18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL). Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (RenjaKL). Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP). yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode I (satu) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah.

L-4 Lampiran 2. Peta-Peta Risiko Bencana " Lampiran .

Lampiran " L-5 .

L-6

Lampiran

"

Lampiran

"
L-7

L-8

Lampiran

"

Lampiran

L-9

"

L-10

Lampiran

"

Lampiran

L-11

"

L-12

Lampiran

"

Lampiran

L-13

"

L-14 Lampiran " .

Lampiran L-15 " .

L-16 " Lampiran .

" Lampiran L-17 .

L-18 " Lampiran .

" Lampiran L-19 .

L-20 " Lampiran .

" Lampiran L-21 .

KRT .Bakosurtanal .Kementerian Kelautan dan Perikanan . Fokus Prioritas.BMKG . protap Penanggulangan Bencana tersusun di tingkat pusat dan 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: . perda dan protap Penanggulangan Bencana yang memuat mekanisme PB.PMI Instansi utama: .1 Penyusunan peraturan.Kementerian Kesehatan .BPPT . 1.BNPB Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .Polri .KementerianE SDM . serta 350 miliar L-22 Lampiran . NO.Kementerian Dalam Negeri 25 miliar 1.Lampiran 3. Satuan Penguatan BPBD di 33 provinsi dan terbentuknya BPBD di 275 kabupaten/ kota.Kementerian kehutanan . Sasaran. kewenangan dan sumber daya. termasuk pembagian tugas.Basarnas .TNI . serta koordinasi Peraturan. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk kategori program-program yang sifatnya generik/umum berlaku pada semua jenis bencana.2 Pembentukan dan penguatan BPBD dan kelengkapannya (Pusdalops.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian PU . Perda.LIPI . Sandingan Program. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) PROGRAM : PENGUATAN PERATURAN PERUNDANGAN DAN KAPASITAS KELEMBAGAAN 1.

BNPB Instansi terkait: .Kementerian kehutanan .5 Pemberdayaan Perguruan Tinggi untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana 1.BNPB 16.4 Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan Bencana (teknis PB) 200 miliar 1.000 miliar Lampiran L-23 .Reaksi Cepat Daerah) 1.Kementerian ESDM .5 miliar Terbentuknya 12 kantor regional 30.Kementerian PU .6 Pembentukan Regionalisasi Depo 33 Pusat Studi Bencana didirikan di Perguruanperguruan Tinggi di seluruh Indonesia 16.BPPT .3 Diklat penguatan kapasitas manajemen PB di daerah tersedianya sarana pendukung sesuai standar minimum 3.5 miliar 1.Kementerian Sosial .Kementerian PAN Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .000 staf teknis/pelaksana BPBD provinsi dan SKPD terkait menerima pelatihan teknis PB .Basarnas .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Perhubungan .300 orang pejabat BPBD di 33 provinsi memperoleh pelatihan manajemen PB 40.BMKG .Kementerian Pendidikan Nasional .PT Instansi utama: .PMI Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .LIPI .

Kementerian Perhubungan .Polri 20 SNI pedoman dan acuan penanggulangan bencana Instansi utama: .Kemenko Kesra Instansi terkait: .Kementerian PU .7 Standarisasi pedomanpedoman dan acuan penanggulangan bencana 1.Kemenko Kesra 10 miliar 1.BMKG Instansi utama: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .PMI .BPPT .KementerianE SDM .KRT .Bulog .LIPI .Kementerian Sosial . Pusat Pelatihan dan Pusdalops dalam rangka pengembangan sarana-prasarana dan optimalisasi sumber daya Penanggulangan Bencana Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .Logistik.Kementerian Kesehatan .Basarnas .BMKG .BSN .9 Pengkoordinasian penganggaran 20 Koordinasi sinkronisasi pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana 10 miliar 20 koordinasi penganggaran sektor penanggulangan 10 miliar L-24 Lampiran .TNI .8 Pengkoordinasian perencanaan dan penyusunan kebijakan serta sinkronisasi pelaksanaan kebijakan pada tingkat lintas kementerian/lemb aga 1.BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana Instansi utama: .Kementerian ESDM .

2 Pengarusutamaan rencana Penanggulangan Bencana ke dalam rencana pembangunan Tersusunnya Renas PB dan Rencana Penanggulangan Bencana di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota PRB dalam RPJM.BNPB .KNRT Instansi terkait: .BNPB Instansi terkait: .2 Peningkatan pemanfaatan dan penerapan iptek (melalui penelitian terapan) untuk Penanggulangan Bencana termasuk untuk peringatan dini 3.bencana Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri 6.000 penelitian diadakan di 33 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia Instansi utama: .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi utama: . PROGRAM : PERENCANAAN PENANGGULANGAN BENCANA YANG TERPADU 2. PROGRAM : PENELITIAN.Kementerian ESDM . Renstra K/L. RPJMD.1 Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penanggulangan bencana 3.16 miliar 3.BPPT . Renstra SKPD di 33 provinsi dan 275 kabupaten/ kota Instansi utama: .BNPB Instansi terkait: .LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan 150 miliar Iptek dikembangkan dan diaplikasikan untuk 14 ancaman utama 128 miliar Lampiran L-25 .Bappenas 18 miliar Instansi utama: .1 Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana di pusat dan fasilitasi penyusunan RPB di daerah 2.Kementerian Pendidikan Nasional .BNPB dan seluruh K/L yang terlibat dalam penanggulang an bencana 2. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN 3.Bappenas Instansi terkait: .

6 Berbagi informasi dan pembelajaran antar daerah dan dengan negara lain 5 lokakarya tahunan PRB-BK diselenggarakan di tingkat nasional.BNPB Instansi utama: .KementerianE SDM .BMKG .BNPB . lokakarya internasional dua tahun sekali 10 miliar L-26 Lampiran .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .Kementerian PU .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Luar Negeri .000 guru dan tokoh masyarakat di 33 provinsi Instansi utama: .5 miliar 3.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi terkait: .3 Pemaduan unsur pengetahuan Penanggulangan Bencana pada kurikulum sekolah 3.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .4 Implementasi program kesiapsiagaan bencana di sekolah Kurikulum sekolah di tingkat pusat dan daerah mengandung muatan Penanggulangan Bencana 275 sekolah siaga bencana di 275 kabupaten/kota menerapkan program kesiapsiagaan bencana Pelatihan 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Sosial 5 miliar 5..BMKG .BNPB 3.Depdiknas Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .5 Peningkatan kapasitas sumber daya untuk pendidikan kebencanaan 20 miliar 3.BNPB Instansi utama: .Kementerian kehutanan .

Dephut .TNI .Basarnas .PMI 3.KNRT .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri .PMI 50 miliar Lampiran L-27 .BPPT .Kementerian ESDM .KRT .LIPI .7 Pendidikan publik melalui diseminasi informasi terkait kebencanaan Peningkatan pemahaman masyarakat di 33 provinsi dan 275 kabupaten/kota akan masalah kebencanaan Instansi utama: .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .BNPB ..Bakosurtanal .Kementerian PU .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BPPT .Kementerian Kehutanan .Polri .BMKG .TNI .LIPI .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial .Basarnas .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .

Polri .Kejaksaan .Kementerian PU .Kementerian ESDM .Kementerian LH 5 miliar 4.2 Penyusunan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan risiko bencana 5 miliar 4.BNPB Instansi terkait: .BNPB .3 Pemantauan dan evaluasi peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana Tingkat kepatuhan terhadap peraturan terkait pengelolaan lingkungan hidup/sumber daya alam yang berwawasan risiko bencana 5 miliar L-28 Lampiran .4.Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian ESDM .Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian Kehutanan Instansi utama: .Kementerian Hukum dan HAM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BNPB .Kementerian PU . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 4.Kementerian Kelautan dan Perikanan .1 Penyusunan kebijakan pengendalian atas penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang berpotensi menimbulkan bencana Tersusunnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah tentang pengelolaan Sumber Daya Alam yang rawan di 33 provinsi Instansi utama: .

Kementerian ESDM .Kementerian Kehutanan 4.Kementerian PU . PROGRAM : PENINGKATAN KAPASITAS DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PARA PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA DALAM PRB 5.BNPB 6.Deptan .4 Penetapan tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko bencana .BPN .rekomendasi tata ruang berbasis risiko bencana pada provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi Instansi Utama : .Pedoman tata ruang dan tata guna lahan berbasis risiko skala 1:50.Kementerian Kelautan dan Perikanan .2 Pengembangan forum pengurangan 2.Kementerian ESDM .BNPB 10 miliar 33 forum pengurangan risiko bencana terbentuk Instansi utama: ..Kementerian Dalam Negeri .6 miliar Lampiran L-29 .BMKG .Kementerian LH 140 milyar 5.Kementerian Kehutanan .000 .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi terkait: .Bappenas .Bakosurtanal .Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .000 wartawan di pusat dan di 33 provinsi menerima pelatihan Instansi utama: .1 Penguatan peran media dalam menumbuhkan budaya kesiapsiagaan untuk mendorong partisipasi masyarakat 5.Kementerian Dalam Negeri .

3 Peningkatan partisipasi relawan dan para pemangku kepentingan di 33 provinsi Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BMKG .Kementerian Sosial .4 Pengembangan program PRB berbasis masyarakat 1.BNPB Instansi terkait: .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kwarnas Pramuka Instansi utama: .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi terkait: .Kementerian Komunikasi dan Informasi Instansi utama: .5 Diversifikasi pendapatan untuk masyarakat dan jaring pengaman sosial di wilayah rawan Terbentuknya kelompok-kelompok usaha kecil warga rentan di 12 provinsi paling rawan 74 miliar L-30 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .PMI .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .Kementerian Pendidikan Nasional .Kementerian Negara UKM Instansi terkait: .100 Desa siaga bencana terbentuk di 33 provinsi 110 miliar 5.Kementerian Sosial .Kementerian Pertanian .Kementerian Kelautan dan Perikanan 5 miliar 12 forum relawan penanggulangan bencana terbentuk di 12 provinsi paling rawan 5.risiko bencana (PRB) di daerah 5.

BNPB 5.Kementerian Sosial Instansi utama: .Bappenas Instansi utama: .BNPB .7 Pengurangan risiko dan kesiapsiagaan spesifik untuk kaum perempuan.6 Pembentukan mekanisme pendanaan risiko bencana (asuransi bencana) Asuransi bencana di tingkat pusat dan daerah untuk perumahan Instansi utama: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .Kementerian Sosial .TNI .2 Kerjasama internasional dalam peningkatan kesiapsiagaan dan tanggapa darurat 6.Kementerian Keuangan .BNPB 2.Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Pemberdayaan Perempuan Instansi terkait: .KPDT ..3 Pembentukan Satuan-satuan 50 miliar 120 miliar Lampiran L-31 .BNPB Instansi terkait: .Kementerian PU .Polri .BNPB Instansi terkait: .1 Penguatan SRC PB Nasional di wilayah Barat dan Timur Dua SRC PB Nasional di Jakarta dan Malang mengadakan latihan rutin dan ditingkatkan kapasitasnya dalam merespons bencana Implementasi AADMER (ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response) 12 Satuan Reaksi Cepat (SRC PB) Instansi utama: .000 miliar 6. anak dan kelompokkelompok marjinal 6. anak dan kelompok marjinal dalam menghadapi bencana di wilayah berisiko tinggi 150 miliar PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 6.500 miliar 5.Kementerian Pertanian 5. Meningkatnya kapasitas kaum perempuan.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .

Polri .7 Peningkatan aksesibilitas bandara dan pelabuhan laut di daerah rawan agar memenuhi standar kedaruratan Bandara dan pelabuhan di 12 provinsi yang paling rawan 1.5 Penyediaan kebutuhan dasar kesehatan Tersedianya kebutuhan dasar kesehatan untuk menghadapi kedaruratan 50 miliar 6.BNPB .Kementerian Sosial Instansi terkait: .Kementerian Sosial .BNPB .Bulog Instansi utama: .Reaksi Cepat (SRC) di tingkat kantor regional terbentuk di 12 kantor regional Instansi terkait: .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 300 miliar 6.Kementerian Kesehatan .6 Penyediaan kebutuhan hunian darurat dan sementara Tersedianya kebutuhan hunian darurat dan sementara 150 miliar 6.Polri .200 miliar L-32 Lampiran .Basarnas .TNI .PMI Instansi utama: .4 Penyediaan dan penyiapan barang pasokan kebutuhan dasar Tersedianya stok logistik kebutuhan dasar 6.TNI .Kementerian Kesehatan Instansi terkait: .Kementerian PU .BNPB .Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Dalam Negeri Instansi utama: .BNPB .Kementerian Perhubungan Instansi terkait: .PMI Instansi utama: .

8 Peningkatan akses komunikasi dan pengadaan data dan informasi realtime untuk emerjensi.Kementerian Sosial .6.011.Kementerian Dalam Negeri TOTAL 100 miliar 41.BNPB Instansi terkait: .Kementerian Komunikasi dan Informasi . pengembangan TI Sistem informasi bencana real-time terbentuk di pusat dan di 33 provinsi Instansi utama: .26 miliar Lampiran L-33 .

Pemetaan kawasan rawan bencana.Kementerian Kesehatan .BNPB .LIPI Instansi Terkait : . Sasaran. Penelitian dan Pengembangan .BMKG . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.BPS . pemetaan risiko bencana.Kementerian Sosial .LIPI Instansi Terkait : . dan pemantauan gempabumi .BMKG . Sandingan Program.BPPT .BMKG 2.Bakosurtanal .Bakosurtanal . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Terpasangnya 400 strong motion accelograph yang tersebar di seluruh Indonesia Instansi Utama : .LIPI . 1.Peta risiko bencana gempabumi skala 1 : 50.Kementerian PU .BPPT .Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Penyuluhan.BNPB Instansi Terkait : . Fokus Prioritas. pelatihan dan gladi mekanisme pengurangan risiko bencana 1.LAPAN Instansi Utama : .Kementerian PU .000 .150 miliar 3.100 penelitian dan pengembangan mengenai 150 miliar L-34 Lampiran .Kementerian ESDM .Lampiran 4. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gempabumi.Kementerian ESDM .23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 400 miliar NO.

Kementerian Sosial 11.BMKG . Peningkatan Penyuluhan. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN Penyusunan rencana kontijensi .LAPAN .BNPB Instansi Terkait : . 1.Kementerian ESDM .Bakosurtanal .5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .Kementerian ESDM .LAPAN .pengurangan risiko bencana gempabumi per tahun .BMKG .Kementerian Dalam Negeri LIPI .Kementerian ESDM .LIPI .BNPB Instansi Terkait : .50 gladi kesiapsiagaan terhadap gempabumi pada wilayah berisiko tinggi terhadap 85 miliar Lampiran L-35 .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .KRT .BPPT .BPPT .Pembentukan national board of earthquake disaster prevention .TNI/POLRI Instansi Utama : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .23 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gempabumi 2.200 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gempabumi .Bakosurtanal .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .

Basarnas Instansi Terkait : . sandang.Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Kesehatan . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.TNI .Kementerian Dalam Negeri . Pencarian.Kementerian Kesehatan .gempabumi .Kementerian PU Instansi Utama : . Kaji cepat bencana 2.Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal .POLRI SRC-PB Instansi Utama : .TNI . penyelamatan dan evakuasi 3.Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial . hunian sementara.BPPT .Kementerian PU Instansi Utama : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri .Kementerian PU Instansi Terkait : . layanan kesehatan.Polri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .5 miliar 3.LAPAN .TNI . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar L-36 Lampiran .Basarnas 10 miliar 12.

Kementerian ESDM 5.BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .000 miliar (estimasi) 2.Kementerian Perhubungan .BMKG Selesainya rehabilitasi dan rekonstruksi gempabumi Jawa Barat dan Sumatra Barat .Bappenas.Bappenas . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Kesehatan .. Bappenas.Kementerian PU . .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian PU 50 miliar 4.BNPB.Kementerian Dalam Negeri . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 8.Kementerian Sosial . Identifikasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar Lampiran L-37 . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Sosial . .

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan 3. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian PU - BNPB - Kementerian Perumahan Rakyat - Kementerian Kesehatan - Kementerian Pendidikan Nasional - Kementerian Budpar - Kementerian Agama - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BNPB - Bappenas, - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Keuangan - Kementerian PU 10 miliar

4. Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana

2.500 miliar

5. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan, pembangunan sistem dan

20 miliar

50 miliar

L-38

Lampiran

infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai

- Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - BMKG TOTAL 12.489 miliar

Lampiran

L-39

Lampiran 5.
Sandingan Program, Fokus Prioritas, Sasaran, Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Tsunami.
KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 310 miliar

NO. 1.

FOKUS PRIORITAS

SASARAN

PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Pemetaan kawasan rawan bencana, pemetaan risiko bencana dan pemantauan tsunami

- Peta risiko
bencana tsunami skala 1 : 50.000 - Terpasangnya 25 buoy tsunami yang tersebar di seluruh Indonesia

Instansi Utama : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Terkait : - LIPI - Bakosurtanal - BPPT - Kementerian PU - BNPB Instansi Utama : Non struktural : - Kementerian ESDM Struktural : - Kementerian PU Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian Kelautan dan Perikanan - LIPI - BPPT - KRT - BNPB - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan

2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural

- 25 provinsi yang
mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami

625 miliar

L-40

Lampiran

3. Penelitian dan Pengembangan

- 100 penelitian
dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana tsunami per tahun

Instansi Utama : - KRT - LIPI - Kementerian Kelautan dan Perikanan - BMKG Instansi Terkait : - Kementerian ESDM - BPPT - Bakosurtanal - LAPAN - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Kementerian Dalam Negeri - Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : - BNPB Instansi Terkait : - BMKG - Kementerian ESDM - Kementerian Dalam Negeri - LIPI - Kementerian Sosial - Kementerian Kesehatan - Bakosurtanal - LAPAN - BPPT - TNI - Polri Instansi Utama : - BNPB

50 miliar

2.

PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. Penyusunan rencana kontijensi

- 25 rencana
kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami

50 miliar

2. Penyuluhan, pelatihan dan gladi mekanisme
Lampiran

- 100 penyuluhan
dan pelatihan pada wilayah

42.5 miliar

L-41

Kementerian Dalam Negeri .tanggap darurat berisiko tinggi terhadap tsunami .KNRT Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan BNPB SRC-PB Instansi Utama : .BPPT .Bakosurtanal . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian Dalam Negeri .LIPI .TNI .5 miliar 237.Kementerian Sosial . Pencarian.Polri Instansi Utama : .LAPAN .BPPT .Kementerian Kesehatan .Bakosurtanal . Membangun system peringatan dini bencana tsunami . Kaji cepat bencana tsunami 2.BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian ESDM .BMKG .TNI . penyelamatan dan evakuasi L-42 Lampiran .Kementerian ESDM .5 miliar 3.LAPAN . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.LIPI .Basarnas 10 miliar 12.Polri .Terbangunnya sistem peringatan dini 25 provinsi berisiko tinggi terhadap tsunami 4.25 gladi kesiapsiagaan terhadap tsunami pada wilayah berisiko tinggi terhadap tsunami Instansi Terkait : .

Kementerian Dalam Negeri .Polri . layanan kesehatan.TNI . air bersih. sandang. air bersih dan sanitasi Instansi Utama sandang pangan: .Kementerian Kesehatan . sanitasi : .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Basarnas . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar Lampiran L-43 .TNI .Kementerian Perhubungan Instansi Utama : .TNI .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan 3.Kementerian Komunikasi dan Informasi 20 miliar 4.Polri .PMI .Kementerian PU Instansi utama layanan kesehatan : .Polri .Kementerian Sosial Instansi utama hunian.Kementerian Perhubungan . hunian sementara.

PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU . Pengkajian kerusakan dan kerugian . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 3.Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .5.Kementerian Sosial .BNPB . .Kementerian PU .500 miliar L-44 Lampiran .Kementerian Keuangan . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 2.BMKG 50 miliar BNPB .Kementerian PU .Kementerian Perumahan Rakyat 10 miliar 2.Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian Keuangan .Bappenas.BNPB .

BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .BMKG 20 miliar 50 miliar TOTAL 4.5 miliar Lampiran L-45 .Kementerian Sosial .008. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .4. .Kementerian Keuangan .Bappenas. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5. Peningkatan kapasitas rehabilitas dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.

BMKG .Kementerian ESDM .KRT .Kementerian ESDM 2. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Fokus Prioritas.Kementerian ESDM Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gunungapi.BPPT .BNPB Instansi Utama : .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .40 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gunungapi per tahun 60 miliar L-46 Lampiran .Kementerian PU . Sasaran.Terpasangnya instrument pemantau aktivitas gunungapi pada 70 gunungapi Instansi Utama : .Lampiran 6. pemetaan risiko bencana. dan pemantauan gunungapi . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal . FOKUS PRIORITAS SASARAN PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian LH Instansi Utama : .000 . KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 56 miliar NO. Pemetaan kawasan rawan bencana.Kementerian Kesehatan . Sandingan Program. 1.BPPT .70 wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi 245 miliar 3.Kementerian Sosial .LIPI .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Peta risiko bencana gunungapi skala 1 : 50.BMKG .LAPAN .

BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Pendidikan Nasional 2.BMKG .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Polri Instansi Utama : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Bakosurtanal .Kementerian Kesehatan .70 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap gunungapi 35 miliar Lampiran L-47 .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian ESDM .BMKG . Pengamatan dan peringatan dini gunungapi Terbangunnya sIstem pengamatan guna menunjang sIstem peringatan dini di 70 gunungapi Instansi Utama : .TNI . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Sosial . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.- BPPT Bakosurtanal LAPAN LIPI Kementerian Kesehatan .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .LAPAN 210 miliar 3.BNPB .LIPI .

Kaji cepat bencana gunungapi 2.LIPI .Kementerian Kesehatan .30 gladi kesiapsiagaan terhadap gunungapi pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi Instansi Utama : ..5 miliar 10 miliar 3.BPPT .Kementerian Kesehatan .LAPAN .Basarnas Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Kementerian Dalam Negeri 37. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .ESDM .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . sandang.Kementerian Perhubungan . Pencarian.Polri 2.Polri SRC-PB Instansi Utama : . layanan kesehatan. hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri .BMKG .5 miliar 4.Kementerian PU Instansi Utama : .Polri . air bersih dan sanitasi 20 miliar L-48 Lampiran .TNI .TNI . Penyuluhan.30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gunungapi . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . penyelamatan dan evakuasi 7. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.TNI .Kementerian Sosial .BPPT .

Polri .Kementerian PU Instansi Terkait : . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.BNPB .. Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai 50 miliar .Kementerian PU 4.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas .Kementerian PU .TNI .Basarnas .Kementerian Perhubungan .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan - Lampiran L-49 . .Kementerian ESDM . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .BMKG 10 miliar 5.Kementerian Sosial .Kementerian Keuangan .

Bappenas .Kementerian ESDM 2.Kementerian ESDM . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.Bappenas .Bappenas.BNPB .Kementerian Kesehatan .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian Dalam Negeri 10 miliar 3..Kementerian ESDM .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui L-50 100 miliar 20 miliar 50 miliar Lampiran . Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar 4. Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .BNPB .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Keuangan .BMKG TOTAL 931 miliar Lampiran L-51 .pendidikanpelatihan.Kementerian ESDM .

Kementerian ESDM .BNPB . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 180 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LAPAN Instansi Utama : .BMKG .000 Instansi Utama : .LIPI .Kementerian PU . NO.Bakosurtanal .Kementerian PU .Kementerian Sosial .Lampiran 7.Kementerian ESDM .LIPI . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 26 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah per tahun 260 miliar 3. Sandingan Program.Kementerian ESDM Instansi Terkait : .BMKG Instansi terkait : . Fokus Prioritas.BNPB . Sasaran. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Gerakan Tanah.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Pemetaan zona kerentanan gerakan tanah dan pemetaan risiko bencana gerakan tanah Peta risiko bencana gerakan tanah skala 1 : 50.BPPT . 1.BPPT . Penelitian dan Pengembangan - 100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana gerakan tanah per tahun 50 miliar L-52 Lampiran .Kementerian PU 2.LIPI Instansi Terkait : .

Kementerian Sosial . Pemantauan gerakan tanah pada jalur jalan atau wilayah vital dan strategis - Terbangunnya sistem peringatan dini 26 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Utama : .KRT .TNI .BNPB .BPPT .Bakosurtanal . Penyusunan rencana kontijensi 26 rencana kontijensi pada tingkat provinsi 13 miliar Lampiran L-53 .Polri Instansi Utama : .BNPB 3 PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.LAPAN .Kementerian ESDM Instansi Terkait : .LIPI .2.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Dalam Negeri .BMKG . PROGRAM : PERINGATAN DINI KRT BPPT Bakosurtanal LAPAN Kementerian Sosial Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri Kementerian Pendidikan Nasional Kementerian Perhubungan 200 miliar 1.Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .

BPPT . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat - - 100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 25 gladi kesiapsiagaan terhadap gerakan tanah pada wilayah berisiko tinggi terhadap gerakan tanah 4.Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Kesehatan .LAPAN .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .LIPI .Polri SRC-PB 43.Kementerian Kesehatan .Polri Instansi Utama : .LAPAN .Kementerian Dalam Negeri .LIPI .Kementerian PU .Kementerian Sosial .BMKG .berisiko tinggi terhadap gerakan tanah Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .BPPT .Kementerian ESDM .6 miliar 2.Kementerian ESDM .BMKG .Bakosurtanal .BNPB Instansi Terkait : .TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Kaji cepat bencana gerakan tanah 10 miliar L-54 Lampiran . Penyuluhan.TNI .

Kementerian Dalam Negeri . hunian sementara. Pencarian.Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 10 miliar 5.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Basarnas .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Polri . air bersih dan sanitasi 20 miliar 4.Kementerian PU Instansi Terkait : .Bappenas 10 miliar 3.BNPB . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Polri .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU . layanan kesehatan.Kementerian PU Instansi Utama : . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui Lampiran 50 miliar L-55 .2.Kementerian Dalam Negeri .TNI .Kementerian Perhubungan .TNI . sandang.Basarnas Instansi Terkait : .

Bappenas .Kementerian Kesehatan . Rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas dan infrastruktur publik di daerah pasca bencana yang belum selesai .Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian PU .Kementerian Keuangan 25 miliar 2.BNPB .pendidikanpelatihan.Bappenas .BNPB .BMKG .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian ESDM . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-56 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial . Pengkajian kerusakan dan kerugian 10 miliar 3.Kementerian ESDM .

Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 5.6 miliar Lampiran L-57 . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Kementerian Kesehatan .Kementerian ESDM .Kementerian Sosial .BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BMKG 150 miliar 20 miliar 50 miliar TOTAL 1.Kementerian Sosial .Kementerian Perumahan Rakyat .Bappenas. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 6.Kementerian PU .Kementerian ESDM 4..BNPB .111.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . .

500 miliar 3.BNPB .BMKG .LAPAN Instansi Utama : . NO.Peta risiko bencana banjir skala 1 : 50.Lampiran 8.BMKG . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Pengenalan dan penentuan risiko bencana banjir .100 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana banjir per tahun 50 miliar L-58 Lampiran .LAPAN .Bakosurtanal Instansi Terkait: .Kementerian PU .Kementerian PU .BMKG .BPPT .BPPT .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian ESDM .000 Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 200 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. 1.LIPI . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Kesehatan 2.BPPT Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Bakosurtanal . Fokus Prioritas.Kementerian Kesehatan Instansi Utama : .LIPI .30 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap banjir 1. Sasaran. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Banjir. Sandingan Program.

Kementerian Sosial .BNPB Instansi Terkait : .BMKG .Kementerian Kesehatan 90 miliar 2.Kementerian Kelautan dan Perikanan .BPPT .Kementerian Pendidikan Nasional 2.. PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Bakosurtanal .LIPI .KRT .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.TNI .Kementerian ESDM .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi terkait: .Kementerian Kesehatan .Polri Instansi Utama : .Kementerian PU . Pembangunan Sistem Peringatan Dini banjir .LIPI .30 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap banjir 15 miliar Lampiran L-59 .LAPAN . Penyusunan rencana kontijensi .BNPB .Terbangunnya sistem peringatan dini 30 provinsi provinsi berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .

Kementerian Kesehatan . sandang.TNI .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Polri SRC-PB Instansi Utama : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .LIPI .Kementerian Sosial 42.LAPAN .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .BNPB Instansi Terkait : .25 gladi kesiapsiagaan terhadap banjir pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir Instansi Utama : .Kementerian Sosial . penyelamatan dan evakuasi 7. L-60 20 miliar Lampiran . Pencarian. Kaji cepat bencana banjir 2.TNI .Polri .BMKG .5 miliar 10 miliar 3.Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Kementerian PU . Penyuluhan.5 miliar 3.Kementerian Sosial . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Polri 2.Kementerian Dalam Negeri .100 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap banjir .TNI .BPPT .Kementerian ESDM .Bakosurtanal .. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.Bappenas .Kementerian Dalam Negeri . .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU 10 miliar Lampiran L-61 . air bersih dan sanitasi Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .hunian sementara.Polri .Kementerian Keuangan .Bakosurtanal 10 miliar 4.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .TNI .Kementerian PU Instansi Terkait : . Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 5.Kementerian Perhubungan .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.BNPB . Pengkajian kerusakan dan kerugian 50 miliar .BMKG . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Basarnas .Kementerian PU .

BNPB .Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian Sosial . Pemulihan saranaprasarana publik dan rekonstruksi rumah warga korban bencana 75 miliar 4.. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 10 miliar 50 miliar TOTAL 2.Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal 10 miliar 3.Kementerian Kesehatan .150 miliar L-62 Lampiran . . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 5.Kementerian Sosial .BMKG .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian Kesehatan 2.Kementerian PU . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .

Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian PU .BPPT .24 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 240 miliar Lampiran L-63 .BPPT .LAPAN Instansi terkait : .Kementerian PU .BMKG .BNPB . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .5 miliar 1.Kementerian ESDM . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kekeringan.Kementerian ESDM . Sandingan Program. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana kekeringan .Kementerian Sosial .BNPB 2.Bakosurtanal .Lampiran 9.LIPI . NO.Peta risiko bencana kekeringan Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan Instansi Utama : . Fokus Prioritas.BMKG .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian .LIPI . Sasaran.

Kementerian Kesehatan 3.Bakosurtanal . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Sosial .Kementerian ESDM .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana kekeringan per tahun Instansi Utama : .LIPI .BMKG Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan .BNPB . Informasi dan .Kementerian Pertanian ..Kementerian Kesehatan .Depdiknas Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .KRT .BPPT .BMKG .Kementerian Kehutanan .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kekeringan 7.Bakosurtanal 25 miliar 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.LIPI .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .LAPAN .5 miliar penyuluhan L-64 Lampiran .Kementerian ESDM .Kementerian Pertanian .Kementerian Sosial .LAPAN .Kementerian Sosial .

Kementerian PU 4.LIPI . Penyusunan rencana penanggulangan kedaruratan LAPAN BPPT TNI Polri 7.BMKG .Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian Perhubungan . layanan kesehatan. Pemulihan darurat sarana-prasarana vital dan utilities 15 miliar Lampiran L-65 . sandang. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.2 miliar .BPPT .3.LAPAN . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Kesehatan . air bersih dan sanitasi 20 miliar 2. hunian sementara.Kementerian ESDM . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Dalam Negeri .24 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap kekeringan Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .BNPB .Polri Instansi Utama : .

Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan 30 miliar 10 miliar 2.Kementerian Sosial .Kementerian Pertanian Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas.Kementerian Pertanian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 5.Kementerian PU .Bappenas .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan ..BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-66 Lampiran . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Dalam Negeri . .BMKG .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Bappenas .Kementerian Sosial .BNPB .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan 3.Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Kementerian Kesehatan .

Kementerian LH .Kementerian Pertanian .2 miliar Lampiran L-67 .Kementerian LH 3. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 650. . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.BMKG .Kementerian PU .Kementerian Kehutanan . Pemulihan saranaprasarana publik .BNPB .Kementerian Kehutanan ..Kementerian PU .Bappenas.Kementerian Pertanian TOTAL 250 miliar 4.Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .BNPB .

Fokus Prioritas. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan.BNPB .LAPAN Instansi Utama : .LIPI .Kementerian Pertanian . Sandingan Program. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .Kementerian Pertanian . NO.LAPAN 2.10 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan per tahun .BMKG .BNPB . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 50 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. 1. Pemetaan dan pemantauan kebakaran hutan dan lahan . Sasaran.BPPT .BMKG .Peningkatan pengawasan pengelolaan lahan gambut untuk tidak dibakar .SPBK (sistem peringkat bahaya kebakaran) skala 1 : 50.Polri Instansi Terkait : .Kementerian PU .000 .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Patroli dan pengawasan melaui udara dan darat Instansi Utama : .Kementerian LH .TNI .Fasilitasi penyiapan lahan tanpa bakar untuk petani tradisional 100 miliar L-68 Lampiran .Lampiran 10.Kementerian Kehutanan .

Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal .Bakosurtanal . Implementasi AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Polution) . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian LH .Sinkronisasi upaya pencegahan dan mitigasi ancaman asap lintas bantas negara ASEAN 50 miliar 2.Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan . Penelitian dan Pengembangan .BNPB .LIPI Instansi utama: .Kementerian Pertanian .10 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi 5 miliar Lampiran L-69 .Polri Instansi Utama : .Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .LIPI .BPPT .Kementerian Luar Negeri Instansi terkait: .3.BNPB Instansi Utama : .50 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan per tahun .BPPT .BNPB 26 miliar 4.LAPAN .Kementerian Pertanian .Terbangunnya sistem peringatan dini 10 provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 30 miliar 3. Penyusunan rencana kontijensi .Pemanfaatan material yang sering dibakar Instansi Utama : . PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.LAPAN .LAPAN . Pembangunan Sistem Peringatan Dini kebakaran hutan dan lahan .TNI .BMKG .

Kementerian Kehutanan .Kementerian Kesehatan .dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan Instansi Terkait : .Bakosurtanal .Pembuatan 25 miliar L-70 Lampiran .Kementerian LH 18.TNI .50 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan .BNPB .BMKG .TNI . udara. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .5 miliar 2.Polri Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.10 gladi kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan 4.Kementerian Kehutanan .Kementerian Dalam Negeri .BPPT . Peningkatan Penyuluhan.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .LIPI . Operasi Pemadaman .Kementerian Pertanian . dan air .BPPT .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .BMKG .BNPB .Kementerian Perhubungan .LAPAN .LAPAN .Mobilisasi sumberdaya melalui darat.Polri Instansi Utama : .

Pengumpulan dan pendistrbusian bantuan 10 miliar Lampiran L-71 . hunian sementara.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .Kementerian Kehutanan Instansi Terkait : .Basarnas . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Pertanian . dan aset-aset yang bernilai strategis 3. hewan.BPPT Instansi Utama : .Kementerian Kehutanan 10 miliar 2.Kementerian PU .Evakuasi manusia.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI . layanan kesehatan.TNI . penyelamatan dan evakuasi .modifikasi cuaca (hujan buatan) Instansi Terkait : . Patroli.Kementerian Perhubungan .Dephub .Polri . sandang. air bersih dan sanitasi .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan . Pencarian.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Polri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .

Kementerian Kehutanan .Kementerian Sosial .4. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas .Kementerian PU .Kementerian Pertanian .BMKG .Kementerian Kehutanan .Bappenas. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 10 miliar L-72 Lampiran .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH 40 miliar 5.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Bappenas .BNPB .Kementerian Kehutanan .Kementerian Keuangan . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .BNPB .BNPB .Kementerian Pertanian . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Kesehatan . Inventarisasi dan verifikasi kerusakan dan kerugian 10 miliar 2.

Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian LH .BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Keuangan .3.Kementerian Kehutanan TOTAL 50 miliar 4.BNPB .Kementerian Kehutanan .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 40 miliar 474.Bappenas. . Pemulihan saranaprasarana publik dan reboisasi .5 miliar Lampiran L-73 .

Bakosurtanal . SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 40 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Penelitian dan Pengembangan - 15 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko erosi per tahun 15 miliar L-74 Lampiran . Sasaran.Kementerian PU Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural - 23 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap erosi per tahun 230 miliar 3.Kementerian Pertanian .Kementerian LH Instansi Utama : .LAPAN . Sandingan Program. NO.LIPI .Kementerian LH Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Pertanian . Fokus Prioritas.BPPT .Kementerian Kehutanan .Bakosurtanal .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Kehutanan .Kementerian Pertanian . FOKUS PRIORITAS 1. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Erosi.Lampiran 11.Kementerian Kehutanan 2. Pengenalan dan pemantauan risiko erosi Peta risiko bencana erosi Instansi Utama : .

Penyuluhan.Kementerian Perhubungan .Kementerian LH Instansi Utama : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1. penyelamatan dan evakuasi 1.Kementerian Pertanian .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian PU 3 miliar 3. sandang.Kementerian Kesehatan .. layanan kesehatan.Kementerian LH .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .5 miliar 2. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat 20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap erosi Instansi Utama : .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . hunian sementara.Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . Pencarian.Kementerian Kesehatan .Kementerian Kehutanan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian ESDM 2.Polri .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi 2 miliar Lampiran L-75 .Kementerian Sosial .TNI .

Pengkajian kerusakan dan kerugian 1.BMKG .Bappenas .Kementerian PU .Bappenas.Kementerian Keuangan . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Dalam Negeri . . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .3.BNPB .5 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Kementerian Keuangan .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .5 miliar L-76 Lampiran .Kementerian LH 30 miliar 4.Bappenas .Kementerian Kehutanan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .BNPB .Kementerian PU .Kementerian LH .BNPB .Kementerian Pertanian .Kementerian Kehutanan . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.Kementerian Kehutanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Pertanian .

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 380.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Pertanian .Kementerian Pertanian .Bappenas. .Kementerian Dalam Negeri .BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .3.Kementerian PU . Pemulihan saranaprasarana publik - .BMKG .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 25 miliar 4.Kementerian Keuangan .Kementerian LH .5 miliar Lampiran L-77 .Kementerian Kehutanan .Kementerian Kehutanan .

Lampiran 12. NO.5 miliar 2.LIPI .Kementerian LH Instansi Utama : . Penyusunan rencana kontijensi .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : . Pengenalan risiko kebakaran gedung dan permukiman . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 20 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sasaran.Kementerian Perumahan Rakyat .Peta risiko bencana kebakaran gedung dan permukiman Instansi Utama : .BNPB 2. Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .BPPT . Sandingan Program. Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Bencana Kebakaran Gedung dan Permukiman. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Fokus Prioritas.Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Terkait : .Bakosurtanal . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian PU .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kebakaran gedung dan permukiman per tahun 12.25 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman per tahun 125 miliar 3.10 rencana kontijensi pada 5 miliar L-78 Lampiran .Kementerian PU . 1.

Kementerian Perhubungan .Polri .Kementerian Dalam Negeri .BNPB Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . Penyuluhan.Polri .Kementerian Sosial .TNI .Kementerian Sosial .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi kebakaran gedung dan permukiman 3.Basarnas .Kementerian Kesehatan .tingkat provinsi berisiko tinggi dan intensitasnya tinggi terhadap kebakaran gedung dan permukiman Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Perhubungan .TNI .Kementerian Perumahan Rakyat Instansi Utama : . Operasi Pemadaman Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Basarnas 10 miliar Lampiran L-79 . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .Basarnas 10 miliar 2.Kementerian Kesehatan .TNI .Kementerian PU . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.

Kementerian PU 2.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .Bappenas. Pencarian. sandang. Pengkajian kerusakan dan kerugian - .BNPB .Dephub .Kementerian PU .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .TNI/POLRI .Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. hunian sementara. air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.2.5 miliar L-80 Lampiran .Bappenas .Kementerian Sosial . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 30 miliar 1.Kementerian PU . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .Dephub .Kementerian Keuangan . layanan kesehatan.BMKG 5 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan .

Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 4. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Sosial .Kementerian PU .Kementerian Perumahan Rakyat . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi . .BNPB .5 miliar 3.Kementerian Perumahan Rakyat 2.Bappenas..Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri .BNPB .5 miliar Lampiran L-81 .BNPB.Kementerian Keuangan .Kementerian Perumahan Rakyat .Kementerian PU .Bappenas .BMKG 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar TOTAL 312. .

Peta resiko Gelombang Ekstrim dan Abrasi Instansi Utama : .BMKG . Fokus Prioritas.Lampiran 13.LAPAN .BPPT 2. Sandingan Program. Sasaran.Kementerian PU .Kementerian PU .LIPI .BPPT .25 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko gelombang 12.BPPT .BMKG Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .LAPAN Instansi Terkait : . Penelitian dan Pengembangan . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Gelombang Ekstrim dan Abrasi. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM: PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.12 propinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim 90 miliar 3.BMKG . 1. NO.Kementerian LH .LIPI .Kementerian Kelautan dan Perikanan .BMKG Instansi Utama : .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : . Pengenalan dan pemantauan risiko gelombang ekstrim dan abrasi .Bakosurtanal .Bakosurtanal .5 miliar L-82 Lampiran .

Kementerian PU .12 provinsi yang berpotensi tinggi terhadap abrasi dan gelombang ekstrim Instansi Utama : .Kementerian LH .BMKG .BMKG ..ekstrem dan abrasi per tahun .20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap gelombang ekstrem dan abrasi 3 miliar 4.Bakosurtanal .Kementerian Kelautan dan Perikanan 2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Kementerian LH . Pemantauan dan penyuluhan .LAPAN Instansi Terkait : .BMKG Instansi Utama : .LIPI .Kementerian PU .BPPT . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.BMKG .Bakosurtanal .Basarnas 12 miliar 3. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH .Kementerian Kelautan dan Perikanan Instansi Utama : .LIPI . Pencarian.Kementerian Kelautan dan Perikanan . Penyuluhan dan pelatihan . penyelamatan dan evakuasi 10 miliar Lampiran L-83 .BNPB .BNPB Instansi Terkait : .

Kementerian Keuangan .. hunian sementara.Kementerian Keuangan 20 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU Instansi Terkait : .Kementerian Sosial . air bersih dan sanitasi Instansi Utama : . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 5.Kementerian Kelautan dan Perikanan .5 miliar L-84 Lampiran .BNPB .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 2. sandang.BNPB .Polri Instansi Terkait : .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan . Pengkajian kerusakan dan kerugian 1. PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1. .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas .TNI .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kesehatan . layanan kesehatan.BMKG .

Kementerian PU .5 miliar 3. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian LH .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH 2.BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 241. Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi .5 miliar Lampiran L-85 .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian LH .Kementerian PU .BMKG . Pemulihan sarana-prasarana publik dan reboisasi 25 miliar 4.Kementerian Keuangan .Kementerian Keuangan .Bappenas..Kementerian Dalam Negeri . .Bappenas .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Kelautan dan Perikanan .Kementerian Kelautan dan Perikanan TOTAL 2.

Bakosurtanal .Lampiran 14.Kementerian LH 2.Kementerian LH Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1. Sandingan Program. NO.Kementerian LH Instansi Utama : .LAPAN Instansi Terkait : .BMKG .Kementerian PU .LAPAN Instansi Terkait : .Peta risiko bencana cuaca ekstrim Instansi Utama : .BMKG .Kementerian PU .Kementerian PU .Bakosurtanal .14 provinsi yang mempunyai wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim per tahun 35 miliar 3.BNPB . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .LIPI .BMKG Instansi Terkait : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Cuaca Ekstrim.Kementerian Dalam Negeri . 1.20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko cuaca ekstrim per tahun 10 miliar L-86 Lampiran .LIPI . Pengenalan dan pemantauan risiko cuaca ekstrim .BPPT . Fokus Prioritas.Kementerian Perhubungan . Penelitian dan Pengembangan .BPPT . Sasaran.

pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .BNPB . air bersih dan sanitasi Lampiran 10 miliar L-87 .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .LAPAN Instansi Terkait : . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. Pencarian.Pemantauan dan penyuluhan di 14 propinsi Instansi Utama : .BMKG .Kementerian LH Instansi Utama : . Penyuluhan.DKP .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU . sandang. Pemantauan dan Penyuluhan .LAPAN Instansi Terkait : . layanan kesehatan.20 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap cuaca ekstrim 3 miliar 4. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.BMKG .Kementerian LH Instansi Utama : .TNI . hunian sementara.Kementerian Sosial .Kementerian Kesehatan .2 PROGRAM : PERINGATAN DINI 1.Basarnas .Kementerian PU Instansi Utama : .Polri Instansi Terkait : .Kementerian PU . penyelamatan dan evakuasi 10 miliar 2. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU 35 miliar 2.

pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran 5.BMKG .BPPT 30 miliar 2.Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Keuangan . Pemulihan saranaprasarana publik 25 miliar L-88 Lampiran .Kementerian PU .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian LH 1.Bappenas .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.BMKG .Instansi Terkait : .BNPB .Kementerian Keuangan .Bappenas .Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian PU .Kementerian PU .Kementerian Perhubungan 3.BNPB . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pengkajian kerusakan dan kerugian .LAPAN .Kementerian LH .5 miliar .Kementerian LH .BNPB . Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi 2.5 miliar 3.

4. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .BPPT TOTAL 30 miliar 197 miliar Lampiran L-89 . .Kementerian PU .BNPB . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri .BMKG .Kementerian Keuangan .LAPAN .Bappenas.

Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : .Kementerian LH .Kementerian Dalam Negeri .5 miliar L-90 Lampiran . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.LIPI . Fokus Prioritas.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Kegagalan Teknologi.Kementerian Dalam Negeri .Lampiran 15. NO.Kementerian Perindustrian .BATAN .LIPI .Kementerian Perindustrian . Pengenalan dan pemantauan risiko kegagalan teknologi Peta risiko bencana kegagalan teknologi Instansi Utama : .BPPT . Sandingan Program.Bapeten .Kementerian PU . Sasaran.Bakosurtanal .Kementerian Perhubungan Instansi Terkait : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 10 miliar 1.Bapeten .BPPT .BATAN 2.Kementerian PU .Wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi per tahun 7. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural .

Kementerian PU . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Polri .Kementerian LH .Bapeten .Basarnas .Kementerian Perindustrian 5 miliar 2.10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap kegagalan teknologi 1.Kementerian Perhubungan .TNI .Kementerian Perindustrian .Bapeten Instansi Utama : . Penyuluhan.Kementerian Dalam Negeri .3.LIPI .Polri .BATAN .BPPT Instansi Terkait : .BNPB Instansi Terkait : . PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko kegagalan teknologi per tahun Instansi Utama : .TNI . Operasi Penanganan 10 miliar Lampiran L-91 .Kementerian PU .5 miliar 3.Kementerian Perindustrian . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.LIPI .BATAN Instansi Utama : .BPPT . Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Sosial .Kementerian Perhubungan .

Basarnas Instansi Terkait : . hunian sementara.Bappenas.Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian PU .Bapeten 2.Kementerian Perhubungan . Pencarian.BATAN .Kementerian Dalam Negeri .. sandang.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Polri .Kementerian Perhubungan .BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai L-92 30 miliar Lampiran . air bersih dan sanitasi 10 miliar 4.Kementerian PU . . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Kementerian Dalam Negeri . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .Kementerian PU .LAPAN 5 miliar 3. Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. layanan kesehatan.TNI .Kementerian Kesehatan .Basarnas .Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perindustrian .

Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.5 miliar 2.LIPI .. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan.Bappenas.Kementerian Keuangan .BPPT .BNPB .BNPB .Kementerian Dalam Negeri . .Kementerian Perhubungan TOTAL 2. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 30 miliar 161.Kementerian PU .LAPAN .Kementerian Dalam Negeri . Pengkajian kerusakan dan kerugian .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perhubungan .Kementerian Sosial .BATAN .Bapeten 4.BNPB .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .Kementerian Perindustrian .Bappenas .Kementerian PU .BPPT .5 miliar Lampiran L-93 .LIPI .Kementerian PU . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.

Kementerian LH Instansi Utama : .Bakosurtanal . 1. FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L Instansi Utama : . Penyusunan rencana kontijensi .Peta risiko bencana epidemi dan wabah penyakit 2.Kementerian Kesehatan .Kementerian Dalam Negeri . Fokus Prioritas. NO.Kementerian Pendidikan Nasional Instansi Utama : .5 rencana kontijensi pada tingkat provinsi berisiko tinggi terhadap epidemi 2. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian PU . Sasaran.Kementerian Dalam Negeri .LIPI .20 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit per tahun 30 miliar 2.LAPAN .BPPT .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Kementerian PU Instansi Utama : .Wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 50 miliar 3. Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Epidemi dan Wabah Penyakit. Pengenalan dan pemantauan risiko bencana epidemi dan wabah penyakit .5 miliar L-94 Lampiran . Sandingan Program. Penelitian dan Pengembangan .Lampiran 16.Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .Kementerian Kesehatan Instansi Terkait : .BNPB ANGGARAN INDIKATIF 8 miliar PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.

TNI . Penyuluhan.Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1. hunian sementara.Kementerian Dalam Negeri . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan.Kementerian Sosial .Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri . penyelamatan dan evakuasi Instansi Utama : .BNPB Instansi Terkait : .5 gladi kesiapsiagaan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit 3.dan wabah penyakit Instansi Terkait : . layanan kesehatan.Kementerian Kesehatan 10 miliar 2.Polri .Kementerian Kesehatan .30 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi terhadap epidemi dan wabah penyakit .Kementerian Perhubungan .Basarnas Instansi Terkait : . pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat .Kementerian Kesehatan .Kementerian Sosial Instansi Utama : .Kementerian PU Instansi Utama : . Pencarian.Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi 20 miliar Lampiran L-95 .Kementerian PU 10 miliar 2. sandang.

Bakosurtanal TOTAL 30 miliar 4. pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 20 miliar 30 miliar 210.Bappenas. . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan. Pemulihan kesehatan dan kondisi psikologis 2.Kementerian Sosial .LAPAN .Kementerian Perhubungan .Kementerian PU .Kementerian Perindustrian .Kementerian Kesehatan .3.5 miliar L-96 Lampiran .BNPB .Kementerian Kesehatan .Kementerian PU .BNPB .BPPT .Kementerian Keuangan .Kementerian Kesehatan .LAPAN .LIPI . PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Keuangan .LIPI .Kementerian Perhubungan .Kementerian Dalam Negeri .Bappenas.BPPT .Kementerian Perindustrian .Kementerian Dalam Negeri .Bakosurtanal . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai . Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui pendidikanpelatihan. .

Polri .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Lampiran 17. Penelitian dan Pengembangan .Kementerian Sosial Instansi Terkait : . Penerapan upaya mitigasi struktural dan non-struktural . Keterlibatan K/L dan Anggaran Indikatif untuk Konflik Sosial.BNPB 2. PROGRAM : KESIAPSIAGAAN 1.Kementerian Sosial Instansi Terkait : . PROGRAM : PENCEGAHAN DAN MITIGASI BENCANA 1.Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : . FOKUS PRIORITAS SASARAN KETERLIBATAN K/L ANGGARAN INDIKATIF (RUPIAH) 5 miliar 1.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .Wilayah berisiko tinggi terhadap konflik sosial per tahun 7.Polri .5 miliar Lampiran L-97 .5 miliar 3.LIPI . NO.TNI .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .10 penyuluhan dan pelatihan pada wilayah berisiko tinggi 1. Sasaran. Pengenalan dan pemantauan risiko konflik sosial . Fokus Prioritas. pelatihan dan gladi mekanisme tanggap darurat . Penyuluhan.Peta risiko bencana konflik sosial Instansi Utama : . Sandingan Program.Kementerian Dalam Negeri Instansi Utama : .10 penelitian dan pengembangan mengenai pengurangan risiko konflik sosial per tahun 5 miliar 2.TNI .

Polri .TNI/POLRI . penyelamatan dan evakuasi 5 miliar 3.Kementerian Dalam Negeri Instansi Terkait : .terhadap konflik sosial Instansi Terkait : . Pemenuhan kebutuhan dasar pangan. Pencarian.Kementerian Sosial .LIPI Instansi Utama : .Kementerian Sosial . sandang.Kementerian PU . Operasi Penanganan 2.Polri .TNI . PROGRAM : TANGGAP DARURAT 1.Kementerian Perhubungan .Kementerian Kesehatan 10 miliar 3.Basarnas Instansi Terkait : .Kementerian Sosial Instansi Terkait : .Kementerian Dalam Negeri .Kementerian Perindustrian .Kementerian Kesehatan . layanan 10 miliar L-98 Lampiran .Kementerian Sosial .Kementerian PU Instansi Utama : .Kementerian Dalam Negeri .TNI . hunian sementara.Kementerian Perhubungan .Basarnas Instansi Utama : .

PROGRAM : REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI 1.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .Polri . .LIPI .Kementerian PU .BNPB .Kementerian Komunikasi dan Informasi .Bappenas. Pemulihan saranaprasarana publik 50 miliar 3.Kementerian Perhubungan .TNI .5 miliar 2. Peningkatan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi melalui 30 miliar Lampiran L-99 . .Kementerian Kesehatan .Kementerian Keuangan .Kementerian Sosial 2.BNPB .Kementerian PU . Peningkatan kapasitas tanggap darurat melalui pendidikanpelatihan.Bappenas . Pengkajian kerusakan dan kerugian .BNPB . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai 4.kesehatan.BNPB .Bappenas.Kementerian Dalam Negeri . air bersih dan sanitasi .Kementerian PU .Kementerian Keuangan .Kementerian Dalam Negeri 30 miliar 4.Kementerian Sosial .Kementerian Dalam Negeri .

Kementerian Komunikasi dan Informasi .Kementerian Dalam Negeri TOTAL 156.Polri .Kementerian Keuangan .LIPI . pembangunan sistem dan infrastruktur serta penyediaan anggaran yang memadai .TNI .5 miliar L-100 Lampiran .pendidikanpelatihan.

Lampiran 18. Daftar singkatan Bakosurtanal Bapeten Basarnas BATAN BMKG BNPB BPBD BPN BPPT BPS BSN DBD DiBI ESDM K/L KLB KPB KRB LAPAN LIPI LSM PDB PDRB Perka Permendagri Planas PRB PMI PRB Protap PU PVMBG Lampiran Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Badan SAR Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Badan Meteorologi. Klimatologi dan Geofisika Badan Nasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Badan Pertanahan Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Badan Standarisasi Nasional Demam Berdarah Dengue Data dan Informasi Bencana Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian/Lembaga Kejadian Luar Biasa Konsorsium Pendidikan Bencana Kawasan Rawan Bencana Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lembaga Swadaya Masyarakat Produk Domestik Bruto Produk Domestik Regional Bruto Peraturan Kepala Peraturan Menteri Dalam Negeri Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana Palang Merah Indonesia Pengurangan Risiko Bencana Prosedur Tetap Pekerjaan Umum Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi L-101 .

L-102 Lampiran .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful