Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur atas segala rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa
sehingga makalah kami yang berjudul “Pengolahan Limbah Cair Industri Susu” dapat selesai
dengan baik. Tak lupa pula kami juga mengirimkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi
Besar Muhammad Sallallahualaihiwasallam yang telah memberikan teladan dan penerang bagi
umat yang dalam ketidaktahuan.
Makalah ini dibuat sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Limbah Cair Domestik.
Makalah ini disusun berdasarakan literatur dari berbagai sumber seperti buku dan artikel-artikel
penelitian terkait limbah cair indsutri.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekeliruan disana
sini, oleh karena itu penulis sangat memharapkan kritik dan saran konstruktif dari pembaca demi
kesempurnaan makalah kami di kemudian hari.
Akhirnya, penulis mengucapkan banyak terima kasih dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca sekalian khususnya dalam bidang ilmu kesehatan lingkungan.
Wassalam.

Makassar 23 maret 2011

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan yang memanfaatkan sumber daya alam namun mengabaikan masalah
lingkungan dapat dipastikan akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan
komponennya. Hal tersebut pada akhirnya dalam jangka panjang akan menyebabkan
menurunnya fungsi ekosistem secara keseluruhan. Oleh karena itu pembangunan harus
dilaksanakan secara bijaksana dengan menerapkan dasar-dasar ekologi dan berwawasan
lingkungan sehingga pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Dalam rangka menghindari terjadinya kerusakan lingkungan yang lebih luas/parah
yang diakibatkan oleh limbah industri bila tidak diolah terlebih dahulu, maka dalam hal
ini pemerintah telah mengeluarkan suatu kebijaksanaan yang tertuang dalam UU No. 23
Tahun 1997, tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup pada Bab
V pasal 16, ayat 1 menyatakan bahwa “ Setiap pananggung jawab usaha dan atau
kegiatan wajib melakukan pengolahan limbah hasil atau kegiatan”.
Industri susu juga tidak luput dari masalah limbah yang dihasilkan. Limbah cair
industri susu mempunyai karakteristik khas yaitu kerentanannya terhadap bakteri
pengurai sehingga sangat mudah terjadi pembusukan dan dapat membahayakan
lingkungan di sekitar industri jika tidak diolah terlebih dahulu.
Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas maka perlu dicari alternative pemecahan
terhadap kemungkinan pencemaran yang dihasilkan dari limbah cair industri susu.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini ialah:
a. Apa saja limbah yang dihasilkan dari proses produksi industri susu
b. Bagaimana karakteristik Limbah cair industri susu ?
c. Bagaimana pengolahan limbah cair yang digunakan dalam industri susu ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini ialah:
a. Mengetahui limbah cair yang dihasilkan dari proses produksi industri susu
b. Mengetahui karakteristik limbah cair susu.
c. Mengetahui pengolahan limbah cair yang digunakan pada industri susu
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Limbah Cair


Secara umum dapat dikemukakan bahwa limbah cair adalah cairan buangan yang
berasal dari rumah tangga dan industri serta tempat-tempat umum lainnya dan
mengandung bahan atau zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta
mengganggu kelestarian lingkungan hidup

2.2 Karakteristik Limbah Cair Industri Susu


Karakteristik limbah cair industri susu tidak jauh berbeda dengan limbah cari industri
makanan. Tetapi limbah cair yang berasal dari industri susu mempunyai karakteristik
khas yaitu kerentanannya terhadap bakteri pengurai sehingga mudah terjadi pembusukan.
Karakter air limbah industri susu mengandung kadar organik yang cukup tinggi tetapi
mudah terurai. Kadar BOD pada air limbah susu + 4000 mg/L dan COD + 2000 mg/L.
Perbandingan BOD dan COD setiap pabrik bervariasi namun secara umum adalah 1.75:1.
Sedangkan kadar padatan tersuspensi (TSS) air limbah susu adalah + 800 mg/L.
Karakteristik limbah cair industri susu terbagi atas:
 Karakter Fisik
1. Total padatan (1.210-11.990 mg/l)
2. Padatan tersuspensi volatil (TSV) = 200-1.840 mg/l
3. Padatan tersuspensi (TSS) = 270-1.980 mg/l.
 Karakteristik Kimia
1. pH = 4,2 – 9,5
2. Amonia (1-76 mg/l)
3. Nitrogen organik (9-250 mg/l)
4. Alkalinitas (0-1.080 mg/l)
 Karakteristik Biologis
Kandungan kadar organik seperti vitamin dan mineral yang tinggi
2.3 Proses Produksi Industri Susu
Proses pembuatan susu pada setiap industri sangat bervariasi tergantung dari jenis
produk yang dihasilkan. Secara garis besar proses produksi pengolahan susu terdiri dari
kegiatan penerimaan dan penyimpanan bahan baku, penyiapan bahan baku, proses
produksi, pengemasan dan penyimpanan. Untuk menjamin kualitas produk dari pengaruh
zat-zat pengotor, proses pengolahan susu dilakukan dengan sistem tertutup (close system)
yang dikontrol/dioperasikan dari ruangan khusus.
Tahapan produksi susu sebagai berikut:
a. Pengujian mutu
Uji mutu adalah kegiatan pertama yang dilakukan sebelum susu diproses.
Pengujian bertujuan untuk memeriksa kualitas bahan baku meliputi rasa,
kandungan bakteri dan komposisi protein dan lemak. Setelah susu dinyatakan
memenuhi kualitas yang disyaratkan, proses selanjutnya adalah penyaringan.
b. Penyaringan (penjernihan)
Proses penyaringan susu bertujuan memisahkan benda-benda pengotor susu yang
terbawa saat proses pemerahan. Penyaringan juga bertujuan untuk menghilangkan
sebagian leukosit dan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan susu selama
penyimpanan. Limbah yang dihasilkan berasal dari tumpahan bahan baku.
c. Pasteurisasi
Dari tangki penampungan, susu dipasteurisasi dengan cara dipanaskan untuk
membunuh bakteri pathogen. Teknis pasteurisasi dapat dilakukan melalui 2 (dua)
cara yaitu High Temperature Short Time (HTST) yaitu pasteurisasi dilakukan pada
suhu tinggi dengan waktu yang sangat pendek dan pasteurisasi yang dilakukan
pada suhu rendah dengan waktu yang cukup lama.
d. Evaporasi
Evaporasi dilakukan untuk mengurangi kandungan air dengan failing film yang
terdapat pada alat evaporasi, sehingga penguapan dapat dilakukan dengan tepat
dan waktu kontak dengan media pemanas singkat. Alat pemanas yang digunakan
adalah steam yang bekerja pada tekanan vakum, agar penguapan air dalam susu
dapat berlangsung pada temperatur yang tidak terlalu tinggi sehingga tidak
merusak susu.
e. Pencampuran
Dari tangki penyimpanan susu dipanaskan sebelum dialirkan ke tangki pencampur
yang berisi bahan-bahan tambahan seperti protein, mineral, vitamin dan lain-lain.
Tujuan pemanasan adalah menurunkan viskositas susu sehingga mempermudah
proses pencampuran. Limbah yang dihasilkan berasal dari tumpahan bahan baku
dan bahan pendukung seperti protein, mineral, vitamin, dsb.
f. Homogenisasi
Homogenisasi adalah perlakuan mekanik (mechanical treatment) pada butiran
lemak dalam susu dengan tekanan tinggi melalui sebuah lubang kecil.
Homogenisasi bertujuan untuk menyeragamkan ukuran globula-globula lemak
susu menjadi rata-rata 2 mikron, menggunakan sistem High Presure Pump (HPP)
yang melewati sebuah lubang kecil dengan alat homogenizer.
g. Pengeringan
Susu yang telah dihomogenisasi dipanaskan dalam preheater pada suhu 70oC -
80oC. Setelah itu, dialirkan kedalam pompa bertekanan tinggi dan disemprotkan
kedalam dryer melalui nozzle. Hasil dari proses ini adalah susu bubuk siap kemas.
h. Finishing dan Pengemasan
Pada proses ini inti bubuk susu yang dihasilkan kemudian dicampurkan dengan
bahan lain sesuai dengan formula yang diinginkan. Selanjutnya susu tersebtu
masuk dalam tahap pengemasan (dalam kaleng atau aluminium foil)
menggunakan mesin filling hooper.
Sumber utama air limbah pada proses pembuatan susu sebagian besar berasal dari
produk yang hilang yang ikut selama proses pencucian dan dihasilkan dari tumpahan/
kebocoran selama proses produksi. Produk yang hilang selama proses produksi
diperkirakan mencapai 0.1%-3%. Kehilangan produk juga disebabkan oleh manajemen
house keeping dan sistem operasional yang kurang baik terjadi saat pemindahan pipa
saluran produksi, mesin evaporasi, proses pengisian dan sisa bahan baku yang rusak.
Pada proses klarifikasi/penyaringan dihasilkan limbah padatan yang mengandung zat
tersuspensi dan bahan organik yang tinggi.
Air limbah yang cukup besar juga dihasilkan dari air pendingin dan kondensat.
Namun penanganan air buangan pendingin tersebut biasanya dapat diatasi dengan
melakukan recycle melalui sistem tertutup sehingga dapat digunakan kembali.
Volume air limbah yang dihasilkan setiap pabrik susu sangat bervariasi. Namun di
beberapa negara maju tingkat efisiensi sudah cukup baik, volume air limbah yang
dihasilkan dari pabrik susu dasar adalah 3.9 ltr/kg produk susu dan untuk pabrik susu
terpadu adalah 11.2 ltr/ kg produk. Untuk Indonesia rata-rata volume yang dihasilkan dari
sebuah pabrik susu adalah 2 ltr/kg produk susu.
Berikut tabel yang memperlihatkan limbah yang dihasilkan dari proses produksi susu
2.4 Pengolahan Limbah Cair Industri Susu

Berdasarkan karakteristik limbah cair industri susu, proses pengolahan limbah yang
dilakukan adalah dengan mengkombinasikan proses fisika, kimia dan biologi. Proses fisika
meliputi : proses equalisasi, sedimentasi, filtarsi, flotasi dan penyaringan. Proses kimia
meliputi : koagulasi dan flokulasi, sedangkan proses bilogi meliputi : proses anaerob dan
proses aerasi lumpur aktif.

Gambar 1. Bagan Alir Proses Pengolahan Limbah Cair Industri Susu

Proses sesungguhnya pengolahan limbah cair industri susu dengan peralatan


proses hasil instalasi yang disajikan pada gambar 2 dilakuakn dengan tahapan-tahapan
sebagai berikut:

Tahap 1. Proses equalisasi

Proses equalisasi atau proses penyeragaman, yaitu proses pendahuluan yang akan sangat
membantu terhadap proses aerasi anaerob. Equalisasi bukan merupakan suatu proses pengoiahan
tetapi merupakan suatu cara / teknik untuk meningkatkan efektivitas dari proses pengolahan
selanjutnya. Keluaran dari bak equalisasi adalah adalah parameter operasional bagi unit
pengolahan sellanjutnya seperti flow, level/derajat kandungan polutant, temperatur, padatan, dsb.
Kegunaan dari equalisasi adalah :
1. Membagi dan meratakan volume pasokan (influent) untuk masuk pada proses treatment.
2. Meratakan variabel & fluktuasi dari beban organik untuk menghindari shock loading pada
sistem pengolahan biologi
3. Meratakan pH untuk meminimalkan kebutuhan chemical pada proses netralisasi.
4. Meratakan kandungan padatan (SS, koloidal,dsb) untuk meminimalkan kebutuhan chemical
pada proses koagulasi dan flokulasi.Sehingga dilihat dari fungsinya tersebut, unit bak
equalisasi sebaiknya dilengkapi dengan mixer, atau secara sederhana konstruksi/peletakan
dari pipa inlet dan outlet diatur sedemikian rupa sehingga menimbulkan efek turbulensi!
mixing.Idealnya pengeluaran (discharge) dari equalisasi dijaga konstan selama periode 24
jam, biasanya dengan cara pemompaan maupun cara cara lain yang memungkinkan.

Tahap 2. Poses aerasi anaerob

Poses aerasi anaerob, yaitu proses yang bertujuan untuk menurunkan bahan-bahan
organik terlarut dan senyawa organik lainnya dengan bantuan bakteri anaerob.

Tahap 3. Proses aerasi

Proses aerasi, bertujuan untuk menurunkan bahan-bahan organik dan senyawa organik
lainnya dengan cara memasukkan oksigen secara terus-menerus.

Tahap 4. Proses sedimentasi pertama

Proses sedimentasi pertama, proses untuk mengendapkan lumur yang dihasilkan pada
proses aerasi.

Tahap 5. Proses koagulasi-flokulasi

Proses koagulasi-flokulasi, yaitu proses penambahan dosis koagulan dan dilanjutkan


dengan proses pengadukan untuk membentuk flok.

Tahap 6. Proses sedimentasi kedua

Proses sedimentasi kedua, yaitu proses pengendapan terhadap flok yang terbentuk pada
proses 5
Tahap 7. Proses flotasi

Proses flotasi, yaitu proses pengapungan untuk meningkatkan laju pemindahan partikel-
partikel tersuspensi yang ada.

Tahap 8. Proses sedimentasi ketiga

Proses sedimentasi ketiga, yaitu proses pengendapan partikel ringan.

Tahap 9. Proses penyeringan dengan pasir

Proses penyeringan dengan pasir, untuk menyaring partikel halus.

Tahap 10. Proses penyeringan dengan arang aktif

Proses penyeringan dengan arang aktif, untuk menyerap bahan-bahan kimia yang tersisa.

Gambar 2. Instalasi Peralatan Proses Pengolahan Limbah Cair Industri Susu

Ket :

1. Bak penampungan Limbah cair 9. Bak sedimentasi


2. Bak equalisasi 10. Bak penampung
3. Bak aerasi aerob 11. Bak flotasi
4. Bak aerasi lumpur aktif 12. Bak pengendapan partikel ringan
5. Bak sedimentasi 13. Bak penyaringan dengan pasir
6. Bak koagulan encer 14. Bak penyaringan dengan arang aktif
7. Bak koagulasi 15. Bak stabilisator
8. Bak flokulasi

Dengan proses pengolahan yang dipilih, diperoleh hasil pengolahan air memenuhi kualitas
baku mutu air buangan golongan III, sehingga air hasil pengolahan aman jika dibuang ke
lingkungan.

2.5 Studi Kasus Pengolahan limbah cair


a. Sistem pengolahan limbah cair Di PT. Ultra Jaya

Susu merupakan produk makanan bergizi yang diproduksi oleh PT. Ultra Jaya.
Pengolahan susu tidak lepas dari hasil buangan proses produksi yaitu limbah cair buangan
industri. Limbah cair hasil buangan harus diolah dengan benar sesuai dengan baku mutu limbah
cair agar limbah yang dihasilkan dan dibuang ke badan air penerima tidak berbahaya.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) PT Ultra Jaya dianggap sudah over kapasitas
sejak November 2009. Akibat over-capacity, pengolahan limbah menjadi tidak optimal, sehingga
menimbulkan bau busuk. perusahaan itu hanya memiliki satu IPAL berkapasitas 700 meter
kubik. Ke depan, kata dia,  PT Ultra Jaya disebutkan akan memiliki IPAL baru dengan kapasitas
4.000 meter kubik. IPAL dengan kapasitas lebih besar itu belum bisa digunakan. Saat ujicoba ke-
5 pada 19 Mei 2010, terjadi keretakan dan kebocoran dinding bak aerasi, akibat gempa bumi di
Kabupaten Sukabumi. IPAL baru tersebut harus diperbaiki, sementara tetap dipergunakan IPAL
lama.
Salah seorang warga Kampung Bunisari RT 01/06 Desa Gadobangkong, Kecamatan
Ngamprah tempat PT Ultra Jaya, mempertanyakan kualitas air kompensasi yang diberikan ke
warga selama ini. ketika air itu dipanaskan dalam panci, meninggalkan bekas kerak berwarna
kuning. Bahkan, jika diusapkan ke pakaian, menimbulkan bekas noda berwarna kuning.
Bagi masyarakat yang cukup mampu mereka tidak memkonsumsi air tersebut, sedangkan
bagi masyarakat yang kurang mampu tetap mengkonsumsi air tersebut segbagai air minum dan
untuk kebutuhan sehari-hari lainnya.
Pengecekan air kompensasi yang diberikan PT Ultra Jaya ke warga sekitar, dengan alat
tes elektrolit. Hasilnya, air yang berwarna hitam pekat itu diketahui penuh dengan kandungan
kalsium, zat besi, serta zat lainnya yang membahayakan tubuh.

b. Komentar mengenai sistem pengolahan limbah cair PT Ultra Jaya


PT Ultra Jaya telah melakukan pengolahan limbah cair produksi susu, tetapi pada
pengolahnnya masih diperoleh adanya bau yang merupakan parameter fisik dari suatu
pengolahan limbah. Penelitian oleh pihak terkait diperoleh informasi bahwa IPAL yang
digunakan kapasitasnya berlebih dari limbah yang dihasilkan oleh industri tersebut. Selain itu,
dapat dsimpulkan masih kurangnya pengolahan limbah untuk proses fisik meliputi equalisasi,
equalisasi, sedimentasi, filtarsi, flotasi dan penyaringan. Terutama pada proses pendahuluan
yaitu equalisasi atau penyeragaman yang bermanfaat untuk Meratakan variabel & fluktuasi dari
beban organik untuk menghindari shock loading pada sistem pengolahan biologi.
Hasil wawancara terhadap masyarakat sekitar tempat produksi PT Ultra Jaya juga
ditemukan bahwa kulaitas yang kurang baik terhadap air kompensasi yang diberikan pada
masyarakat sekitar untuk dikonsumsi. ketika air itu dipanaskan dalam panci, meninggalkan bekas
kerak berwarna kuning. Bahkan, jika diusapkan ke pakaian, menimbulkan bekas noda berwarna
kuning. Dari hasil pengolahan terhadap air limbah yang dibuang ke perairan diketahui penuh
dengan kandungan kalsium, zat besi, serta zat lainnya yang membahayakan tubuh. Hal ini
mengindikasikan kurangnya pengolahan limbah cair dari segi proses kimianya. Proses kimia
pengolahan limbah cair meliputi koagulasi dan flokulasi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

a. Limbah cair industri susu mempunyai karakteristik khas yaitu kerentanannya terhadap
bakteri pengurai sehingga sangat mudah terjadi pembusukan dan dapat membahayakan
lingkungan di sekitar industri jika tidak diolah terlebih dahulu.
b. Karakteristik limbah cair industri susu terbagi atas:
 Karakter Fisik
1. Total padatan (1.210-11.990 mg/l)
2. Padatan tersuspensi volatil (TSV) = 200-1.840 mg/l
3. Padatan tersuspensi (TSS) = 270-1.980 mg/l.
 Karakteristik Kimia
1. pH = 4,2 – 9,5
2. Amonia (1-76 mg/l)
3. Nitrogen organik (9-250 mg/l)
4. Alkalinitas (0-1.080 mg/l)
 Karakteristik Biologis
Kandungan kadar organik seperti vitamin dan mineral yang tinggi
c. Sumber utama air limbah pada proses pembuatan susu sebagian besar berasal dari produk
yang hilang yang ikut selama proses pencucian dan dihasilkan dari tumpahan/ kebocoran
selama proses produksi. Air limbah yang cukup besar juga dihasilkan dari air pendingin
dan kondensat.
d. Proses pengolahan limbah yang dilakukan adalah dengan mengkombinasikan proses
fisika, kimia dan biologi. Proses fisika meliputi : proses equalisasi, sedimentasi, filtarsi,
flotasi dan penyaringan. Proses kimia meliputi : koagulasi dan flokulasi, sedangkan
proses bilogi meliputi : proses anaerob dan proses aerasi lumpur aktif. Dengan proses
pengolahan yang dipilih, diperoleh hasil pengolahan air memenuhi kualitas baku mutu air
buangan golongan III
e. Studi kasus PT Ultra Jaya, dperoleh bahwa walaupun memerapkan system pengolahan
limbah cair tetapi pelaksanaanya masih kurang optimal utamanya pada proses pengolahan
limbah secara fisik dan kimia karena masih adanya bau dari IPAL dan adanya kandungan
zat-zat kimia yang terkandung pada air yang dikonsumsi masyarakat setempat yang dapat
membahayakan kesehatan.
3.2 Saran
a. Sistem pengolahan limbah cair yang sudah dilaksanakan oleh perusahaan selama ini
diharapkan agar selalu dipertahankan dan dilakukan peningkatan terhadap pemantauan
kualitas limbah cair secara rutin, dan Instalasi Pengolahan AirLimbah ( IPAL ) harus
melakukan pengendalian agar tidak terjadi bau yang keluar dari proses pengolahan
limbah cair
b. Instalasi pengolahan limbah yang digunakan juga harus diperhitungkan dengan jumlah
limbah yang dihasilkan sehingga tidak terjadi over kapasitas yang mengurangi
optimalisasi pengolahan limbah cair.
c. Meningkatkan pengawasan dari pihak pemerintah terhadap limbah-limbah yang
dikeluarkan oleh industry-industri sehingga mengurangi tingkat keterpaparan masyarakat
setempat dari bahaya yang ditimbulkan oleh industry tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. IPAL Pabrik Ultrajaya Over Kapasitas. Diakses tanggal 20 Maret 2011.
http://hileud.com/hileudnews?
title=IPAL+Pabrik+Ultra+Jaya+Over+Kapasitas&id=279186

Lestari, Euis Ashter. 2003. Audit Energy Pada Pengolahan Susu Cair menjadi susu Bubuk Di
PT. Ultrindo Intijaya Jakarta. Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor ; Bogor

Rahayu, Suparni Setyowati . 2009. Equalisasi Pada Pengolahan Limbah Cair. Diakses tanggal
21 Maret 2011. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/limbah-
industri/equalisasi-pada-pengolahan-limbah-cair/

Sarudji, Didik. 2006. Kesehatan Lingkungan. Media Ilmu ; Jakarta

Wagini, Karyono, Agus Setia Budi. 2002. Pengolahan Limbah Cair Industri Susu. Pusat
Lingkungan Hidup Universitas Gajah Madah ; Yogyakarta