RANGKUMAN

Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung - 1983
Kombinasi Pembebanan Pembebanan Tetap Pembebanan Sementara Pembebanan Khusus

:M+H :M+H+A M+H+G :M+H+G M+H+A+K M+H+G+K

dengan, M H A G K

= Beban Mati, DL (Dead Load) = Beban Hidup, LL (Live Load) = Beban Angin, WL (Wind Load) = Beban Hidup, E (Earthquake) = Beban Khusus

Beban Khusus, beban akibat selisih suhu, pengangkatan dan pemasangan, penurunan pondasi, susut, gaya rem dari keran, gaya sentrifugal, getaran mesin. Perencanaan komponen struktural gedung direncanakan dengan kekuatan batas (ULS), maka beban tersebut perlu dikalikan dengan faktor beban. Pada peninjauan beban kerja pada tanah dan pondasi, perhitungan Daya Dukung Tanah (DDT) izin dapat dinaikkan (lihat tabel). Jenis Tanah Pondasi Keras Sedang Lunak Amat Lunak Pembebanan Tetap DDT izin (kg/cm2) ≥ 5,0 2,0 – 5,0 0,5 – 2,0 0,0 - 0,5 Pembebanan Sementara kenaikan DDT izin (%) 50 30 0 - 30 0 * Catatan 1 kg/cm2 = 98,0665 kPa (kN/m2) Faktor keamanan (SF ≥ 1,5) tinjauan terhadap guling, gelincir dll. Beban Mati, berat sendiri bahan bangunan komponen gedung BAHAN BANGUNAN Baja Batu Alam Batu belah, batu bulat, batu gunung (berat tumpuk)
Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt, 2007

7.850 2.600 1.500

kg/m3 kg/m3 kg/m3

hal. 1 dari 9

000 11. Bata merah : .setengah batu Dinding pasangan batako : Berlubang : .200 2.450 1.400 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 kg/m3 21 17 14 450 250 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 200 120 300 200 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt. koral (kering udara sampai lembap.400 1.tebal dinding 15 cm . per cm tebal : .250 2.600 1. koral (kering udara sampai lembap) Tanah.satu batu . 2007 hal.850 1. batu belat. lempung dan lanau (basah) Tanah hitam KOMPONEN GEDUNG Adukan.200 2. lempung dan lanau (kering udara sampai lembap) Tanah.tebal dinding 10 cm 700 1. 2 dari 9 .700 2. per cm tebal Dinding Pas.200 1.450 7.tebal dinding 10 cm (HB 10) Tanpa lubang . termasuk bahan-bahan mineral tambahan.dari semen . batu gunung Pasangan batu cetak Pasangan batu karang Pasir (kering udara sampai lembap) Pasir (jenuh air) Pasir kerikil.700 2.tebal dinding 20 cm (HB 20) .Batu karang (berat tumpuk) Batu pecah Besi tuang Beton (1) Beton bertulang (2) Kayu (Kelas I) (3) Kerikil.800 1. semen merah atau tras Aspal.000 1.650 1. tanpa diayak) Pasangan bata merah Pasangan batu belah.dari kapur.

teraso dan beton. pabrik atau bengkel.semen asbes (eternit dan bahan lain sejenis). 2007 hal. Beban Hidup pada lantai gedung. alat dan mesin harus ditentukan tersendiri. terdiri dari : . d. per cm tebal Semen asbes gelombang (tebal 5 mm) 11 kg/m2 10 24 kg/m2 kg/m2 40 kg/m2 50 kg/m2 7 kg/m2 11 10 40 kg/m2 kg/m2 kg/m2 Catatan : (1) Nilai ini tidak berlaku untuk beton pengisi (2) Untuk beton getar. Lantai dan tangga rumah sederhana dan gudang-gudang tidak penting yang bukan untuk toko. beton mampat dan beton padat lain sejenis.kaca. untuk jenis kayu tertentu lihat Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia. BEBAN HIDUP PADA LANTAI GEDUNG a. dengan tebal 3 – 4 mm Lantai kayu sederhana dengan balok kayu. b. 3 dari 9 . toko. Lantai sekolah. kecuali yang disebut dalam b. (3) Nilai ini adalah nilai rata-rata. tanpa langitlangit dengan bentang maksimum 5 m dan untuk beban hidup maksimum 200 kg/m2 Penggantung langit-langit (dari kayu).s minimum 0. sudah termasuk perlengkapan ruang sesuai dengan kegunaan dan juga dinding pemisah ringan (q ≤ 100 kg/m'). tanpa adukan. dengan tebal maksimum 4 mm . Lantai dan tangga rumah tinggal. e. dengan bentang maksimum 5 m dan jarak s. kantor. beton kejut. Lantai ruang olah raga Lantai ruang dansa 200 125 250 400 500 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt. restoran.hotel.8 m Penutup atap genting dengan reng dan usuk/kaso per m2 bidang atap Penutup atap sirap dengan reng dan usuk/kaso per m2 bidang atap Penutup atap seng gelombang (BWG 24) tanpa gordeng Penutup lantai dari ubin semen portland.Langit-langit dan dinding (termasuk rusuk-rusuknya.k. asrama dan rumah sakit. Beban berat dari lemari arsip. toserba. tanpa penggantung langit-langit atau pengaku). berat sendirinya harus ditentukan sendiri. c. ruang kuliah.

4 dari 9 . 800 400 300 kg/m2 kg/m2 kg/m2 m Balkon-balkon yang menjorok bebas keluar harus direncanakan terhadap beban hidup dari lantai ruang yang berbatasan.untuk lantai tingkat lainnya 400 kg/m2 g. e.f. e. perpustakaan. ruang rapat.gereja. 500 300 500 250 400 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 kg/m2 l. d. bioskop dan panggung penonton Panggung penonton dengan tempat duduk tidak tetap atau untuk penonton yang berdiri. dengan minimum * Catatan 100 kg/m2 = 0. harus diambil yang menentukan (terbesar) dari: ● Beban terbagi rata air hujan Wah = 40 . gudang. f dan g. Lantai dan balkon dalam dari ruang-ruang untuk pertemuan yang lain dari pada yang disebut dalam a s/d e. ruang pagelaran. f dan g. harus diambil minimum sebesar 100 kg/m2 bidang datar. bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam d. derajat ( jika α > 50o dapat diabaikan). bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam c. ruang arsip. Wah atau 20 kg/m2) ● Beban terpusat berasal dari seorang pekerja atau seorang pemadam kebakaran dengan peralatannya sebesar minimum 100 kg.8 α dengan. toko besi.untuk lantai bawah .980665 kN/m2 Beban Hidup pada atap gedung. dengan minimum Lantai gedung parkir bertingkat: . bengkel. j. k. Tangga. ruang alat-alat dan ruang mesin. h. Wah = beban air hujan. Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt. Atap dan/atau bagian atap yang tidak dapat dicapai dan dibebani oleh orang. yang dapat dicapai dan dibebani oleh orang. Balok tepi atau gordeng tepi dari atap yang tidak cukup ditunjang oleh dinding atau penunjang lainnya dan pada kantilever harus ditinjau kemungkinan adanya beban hidup terpusat sebesar minimum 200 kg. i. α = sudut kemiringan atap. Tangga. beban hidup merata tersebut dapat dikalikan dengan koefisien reduksi. Lantai ruang pelengkap dari yang disebut dalam c.0. seperti masjid. toko buku. Reduksi Beban Hidup pada perencanaan balok induk dan portal (beban vertikal/gravitasi). Lantai untuk: pabrik. 2007 hal. untuk memperhitungkan peluang terjadinya nilai beban hidup yang berubah-ubah. harus direncanakan terhadap beban hidup yang ditentukan tersendiri. kg/m2 (min. Beban Hidup Horizontal perlu ditinjau akibat gaya desak orang yang nilainya berkisar 5% s/d 10% dari beban hidup vertikal (gravitasi).

80 0. asrama.90 0. ruang dansa.50 0. bioskop. gereja. hotel.30 Peninjauan Beban Gravitasi Peninjauan Beban Gempa Reduksi Beban Hidup pada perencanaan elemen vertikal struktur (kolom. lantai ruang yang memikul beban berat tertentu yang bersifat tetap. ruang arsip INDUSTRI Pabrik. ruang pagelaran PERKANTORAN Kantor. ruang arsip. perdagangan. 5 dari 9 . pasar PENYIMPANAN Gudang.75 0. perpustakaan. industri. 2007 hal. gedung parkir GANG DAN TANGGA .0 0. kantor .30 0. ruang kuliah PERTEMUAN UMUM Masjid. rumah sakit PENDIDIKAN Sekolah.50 0. KOEFISIEN REDUKSI BEBAN HIDUP Koefisien Reduksi beban Hidup Penggunaan Gedung PERUMAHAN/HUNIAN Rumah tinggal. tempat kendaraan 0. Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt. Kecuali untuk kegunaan lantai bangunan: lantai gudang. toserba. seperti alat dan mesin.90 0.80 0.50 0.perumahan/hunian . restoran. Beban Hidup pada lantai yang menumpu di atas tanah harus turut ditinjau. dapat dikalikan dengan faktor reduksi.pendidikan. diambil penuh tanpa dikalikan koefisien reduksi.pertemuan umum.50 1.80 0. Pada perencanaan pondasi.Reduksi Beban Hidup pada perencanaan balok induk dan portal (beban horisontal/gempa dan angin).90 0.50 0. perpustakaan dan ruang penyimpanan sejenis.60 0. bengkel TEMPAT KENDARAAN Garasi. penyimpanan.90 0.80 0.75 0.90 0. bank PERDAGANGAN Toko. dapat dikalikan dengan faktor reduksi. dinding dan pondasi).30 0.75 0.

Tekanan tiup tersebut diatas dapat direduksi sebesar 0. menganggap adanya tekanan positif (pressure) dan tekanan negatif/isapan (suction) bekerja tegak lurus bidang yang ditinjau.6⋅h dengan. 2 ● di laut dan tepi laut sampai sejauh 5 km dari pantai. m/det (ditentukan instansi terkait) ● Struktur cerobong.8 0. 6 dari 9 .9 0. Koefisien Angin diambil sesuai bentuk gedung (untuk α lain gunakan interpolasi) ● Gedung tertutup Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt.5 0. Tekanan Tiup: 2 ● daerah jauh dari tepi laut.6 0. 1. diambil minimum 25 kg/m . V = kecepatan angin. kg/m2 h = tinggi total cerobong. qwind = tekanan tiup. m.7 0.5 jika dapat dijamin gedung terlindung efektif dari suatu arah tertentu oleh gedung/bangunan lain. ditentukan dengan rumus pendekatan q wind = 42.0 1.5 0.KOEFISIEN REDUKSI BEBAN HIDUP KUMULATIF Jumlah lantai yang dipikul (n) 1 2 3 4 5 6 7 n≥8 Koefisien reduksi yang dikalikan kepada beban hidup kumulatif 1.0 0. diambil minimum 40 kg/m atau diambil dari rumus pendekatan V2 (kg/m2) p= 16 dengan.4 Beban Angin. 2007 hal.

● ● Dinding vertikal Atap segitiga dengan sudut kemiringan α ● Atap lengkung dengan sudut pangkal (ke titik puncak) β ● Atap segitiga majemuk 2. 7 dari 9 . Gedung terbuka sebelah Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt. 2007 hal.

3. Atap tanpa dinding 4. 2007 hal. 8 dari 9 . Dinding yang berdiri bebas Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt.

Struktur rangka ruang dengan penampang lintang segitiga sama sisi (dibelakang angin) 7. koefisien angin dapat diambil nilainya dari bentuk yang hampir serupa. 9 dari 9 . Rangkuman PPIUG 1983 – Suyono Nt. Cerobong dengan penampang lingkaran 6. 2007 hal.5. Gedung dan bangunan dengan bentuk lain. Struktur rangka (lattice structure) ● Struktur rangka bidang ● Struktur rangka ruang dengan penampang lintang persegi ● ● Struktur rangka ruang dengan penampang lintang segitiga sama sisi (dipihak angin).