Anda di halaman 1dari 10

4

PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Berdirinya Lembaga Penjamin Simpanan


Pada tahun 1997 , likuidasi 16 bank yang diikuti dengan krisis
moneter dan perbankan pada tahun 1998 telah mengakibatkan tingkat
kepercayaan masyarakat pada sistem perbankan di Indonesia menurun,
sehingga terjadi penarikan dana masyarakat dari sistem perbankan (bank
runs). Kemudian pemerintah memberikan jaminan atas seluruh kewajiban
pembayaran bank, termasuk simpanan masyarakat (Blanket Guarantee)
Sejak 1998 hingga Februari 2004 program penjaminan pemerintah
dilaksanakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pada
27 Februari 2004, pelaksanaan program penjaminan Pemerintah dialihkan
ke Menteri Keuangan. Kemudian pada tanggal 27 Pebruari 2004 Menteri
Keuangan membentuk Unit Pelaksana Penjaminan Pemerintah (UP3).
Pada tanggal 22 September 2004, Presiden Republik Indonesia
mengesahkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tentang
Lembaga Penjamin Simpanan. Pada tanggal 22 September 2005, dan sejak
tanggal tersebut LPS resmi beroperasi secara efektif.

2.2. Pengertian dan Tujuan Lembaga Penjamin Simpanan


Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah suatu lembaga
independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah perbankan di
Indonesia. Badan ini dibentuk berdasarkan Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan yang
ditetapkan pada 22 September 2004. Undang-undang ini mulai berlaku
efektif 12 bulan sejak diundangkan sehingga pendirian dan operasional
LPS dimulai pada 22 September 2005. Setiap bank yang melakukan
5

kegiatan usaha di wilayah Republik Indonesia wajib menjadi peserta


penjaminan LPS.
Tujuan berdirinya suatu LPS : bukan hanya untuk
menjamin/melindungi penyimpan kecil saja, tetapi lebih kepada untuk
mendorong perbankan agar tetap menjalankan fungsinya sebagai lembaga
intermediasi bagi masyarakat.

2.3. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Lembaga Penjamin Simpanan


• Fungsi (Pasal 4 UU No. 24 Tahun 2004)
Fungsi LPS adalah:
a. Menjamin simpanan nasabah penyimpan
b. Turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem
perbankan sesuai dengan kewenangannya.
• Tugas
Dalam hal menjamin simpanan nasabah, LPS mempunyai
tugas:
a. Merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan
penjaminan simpanan
b. Melaksanakan penjaminan simpanan
Dalam hal turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem
perbankan sesuai dengan kewenangannya, LPS mempunyai
tugas:
a. Merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka
turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan
b. Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan
kebijakan penyelesaian Bank Gagal (bank resolution)
yang tidak berdampak sistemik
6

c. Melaksanakan penanganan Bank Gagal yang


berdampak sistemik

• Wewenang
a. Menetapkan dan memungut premi penjaminan
b. Menetapkan dan memungut kontribusi pada saat bank
pertama kali menjadi peserta
c. Melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS
d. Mandapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan
bank, laporan keuangan bank, dan laporan hasil
pemeriksaan bank sepanjang tidak melanggar
kerahasiaan bank
e. Melakukan rekonsiliasi, verifikasi, dan konfirmasi atas
data yang dimaksud dalam huruf d di atas
f. Menetapkan syarat, tata cara dan penentuan
pembayaran klaim
g. Menunjuk, menguasakan, dan menugaskan pihak lain
untuk bertindak bagi kepentingan atas nama LPS guna
melaksanakan sebagian tugas tertentu
h. Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat
tentang penjaminan simpanan
i. Manjatuhkan sanksi administratif.

2.4. Organisasi LPS


LPS dipimpin oleh Dewan Komisioner dan Kepala eksekutif yang
beranggotakan 6 orang yaitu: 1 orang dari Departemen Keuangan yang
7

ditunjuk oleh menteri keuangan, 1 orang dari lembaga pengawas


perbankan yang ditunjuk oleh pimpinan lembaga tersebut, 1 orang dari
Bank Indonesia yang ditunjuk oleh pimpinan Bank Indonesia dan 3 orang
dari perbankan profesional yang diusulkan oleh Menteri Keuangan kepada
Presiden, dengan masa jabatan selama 5 (lima) tahun.

2.5. Modal LPS


Modal awal LPS sekurang-kurangnya Rp4.000.000.000,00 (empat
miliar rupiah) dan sebesar-besarnya Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar
rupiah), merupakan aset negara yang dipisahkan, berasal dari premi yang
dibayarkan oleh bank peserta penjaminan sebesar 0,1% dari rata-rata saldo
bulanan total simpanan setiap periode.

2.6. Penjaminan Simpanan Nasabah Bank


• Kepesertaan
Setiap bank yang melakukan kegiatan usaha di Indonesia,
tidak termasuk Bank Kredit Desa.

• Simpanan Yang Dijamin


LPS menjamin simpanan nasabah bank yang berbentuk
giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu. Berdasarkan Perpu No.
3 tahun 2008 mengenai perubahan atas Undang-Undang
Nomor 24 tahun 2004 tentang LPS, nilai simpanan yang
dijamin diubah menjadi Rp2.000.000.000,00 (dua miliar).
8

• Premi
Premi penjaminan yang dimaksud adalah untuk:
a. Pembayaran periode 1 Januari sampai dengan 30
Juni
b. Pembayaran periode 1 Juli sampai dengan 31
Desember

• Pembayaran Klaim Penjaminan


LPS wajib membayar klaim penjaminan kepada nasabah
penyimpan dari bank yang dicabut izin usahanya. LPS mulai
membayar simpanan yang layak dibayar selambat-lambatnya
dalam waktu lima hari kerja sejak verifikasi dimulai. LPS
mengumumkan tanggal dimulainya pengajuan klaim
penjaminan pada sekurang-kurangnya 2 surat kabar harian
yang berperedaran luas. Jangka waktu pengajuan klaim
penjaminan oleh nasabah penyimpan kepada LPS adalah 5
tahun sejak izin usaha tersebut dicabut.
Pembayaran klaim penjaminan dilakukan dengan mata
uang rupiah. Klaim penjaminan dari simpanan mata uang asing
dibayarkan dalam bentuk ekuivalen rupiah berdasarkan kurs
tengah Bank Indonesia.
Klaim penjaminan dinyatakan tidak layak dibayar jika:
a. Data simpanan nasabah yang dimaksud tidak
tercatat pada bank
b. Nasabah penyimpan merupakan pihak yang
diuntungkan secara tidak wajar
c. Nasabah penyimpan merupakan pihak yang
menyebabkan keadaan bank menjadi tidak sehat.
9

2.7. Penyelesaian dan Penanganan Bank Gagal


a. Penyelamatan bank gagal yang tidak berdampak sistemik
LPS menetapkan untuk melakukan penyelamatan terhadap
bank gagal yang tidak berdampak sistemik apabila:
1. Perkiraan biaya penyelamatan secara signifikan lebih
rendah dari perkiraan biaya tidak melakukan penyelamatan
bank yang dimaksud
2. Setelah diselamatkan, bank menunjukkan prospek usaha
yang baik
3. Ada pernyataan dari RUPS bank yang sekurang-kurangnya
memuat kesediaan untuk:
• Menyerahkan hak dan wewenang RUPS kepada
LPS
• Tidak menuntut LPS atau pihak yang ditunjuk
LPS apabila proses penyelamatan tidak berhasil,
sepanjang LPS atau pihak yang ditunjuk LPS
melakukan tugasnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan
4. Bank menyerahkan kepada LPS sokumen mengenai:
• penggunaan fasilitas pendanaan dari Bank
Indonesia
• data keuangan nasabah debitur
• struktur permodalan dan susunan pemegang saham
3 tahun terakhir
• informasi lainnya yang terkait dengan aset,
kewajiban termasuk permodalan bank, yang
dibutuhkan oleh LPS.
10

Setelah RUPS menyerahkan hak dan wewenang kepada LPS,


LPS dapat melakukan tindakan berikut:
• menguasai, mengelola, dan melakukan tindakan
kepemilikan atas aset hak milik yang menjadi hak
dan/atau kewajiban bank
• melakukan penyertaan modal sementara
• menjual atau mengalihkan aset bank tanpa persetujuan
nasabah debitur dan/atau kewajiban bank tanpa
persetujuan nasabah kreditur
• mengalihkan manajemen bank kepada pihak lain
• melakukan merger atau konsolidasi dengan pihak lain
• melakukan pengalihan kepemilikan bank
• meninjau ulang, mambatalkan, mengakhiri, mengubah
kontrak bank yang mengikat bank dengan pihak ketiga
yang menurut LPS merugikan bank.
Seluruh biaya penyelamatan yang dikeluarkan LPS menjadi
penyertaan modal sementara LPS pada bank.

b. Penyelamatan bank gagal yang tidak berdampak sistemik


yang tidak diselamatkan
LPS memutuskan untuk tidak melanjutkan proses
penyelamatan bank, maka LPS meminta pencabutan izin usaha
bank yang dimaksud sesuai dengan peraturan perundang-
undangan
LPS melaksanakan pembayaran klaim penjaminan kepada
nasabah penyimpan bank yang dicabut izin usahanya.
11

c. Penanganan bank gagal yang berdambak sistemik dengan


penyetoran modal oleh pemegang saham
Penanganan bank gagal yang berdampak sistemik
dilakukan oleh LPS dengan mengikutsertakan pemegang saham
(open bank assistance). Penanganan bank gagal di sini hanya
dapat dilakukan apabila:
1. pemegang saham bank gagal telah menyetor modal
sekurang-kurangnya 20% dari perkiraan biaya
penanganan
2. ada pernyataan dari RUPS bank sekurang-
kurangnya memuat kesediaan untuk:
• menyerahkan kepada LPS hak dan
wewenang RUPS
• menyerahkan kepada LPS kepengurusan
bank
• tidak menuntut LPS atau pihak yang
ditunjuk LPS apabila proses penyelamatan
tidak berhasil, sepanjang LPS atau pihak
yang ditunjuk LPS melakukan tugasnya
sesuai dengan peraturan perundang-
undangan

3. Bank menyerahkan kepada RUPS dokumen


mengenai:
• penggunaan fasilitas pendanaan dari Bank
Indonesia
• data keuangan nasabah debitur
12

• struktur permodalan dan susunan pemegang


saham 3 tahun terakhir
• informasi lainnya yang terkait dengan aset,
kewajiban dan permodalan bank yang
dibutuhkan LPS.

d. Penanganan bank gagal yang berdambak sistemik tanpa


penyetoran modal oleh pemegang saham
Terhitung sejak LPS menetapkan untuk melakukan
penyelamatan bank gagal tanpa mengikutsertakan pemegang
saham, maka berdasarkan UU No. 24 Tahun 2004, pasal 40:
• LPS mengambil alih segala hak dan wewenang
RUPS, kepemilikan, kepengurusan dan / atau
kepentingn lain pada bank yang dimaksud
• Pemegang saham dan pengurus bank tidak dapat
menuntut LPS ata pihak yang ditunuk LPS dalam
hal penanganan tidak berhasil sepanjang LPS atau
pihak yang ditunjuk LPS melakukan tugasnya
sesuai dengan peraturan perundang-undangan
Setelah LPS mengambil alih segala hak dan wewenang
RUPS, kepemilikan, kepengurusan dan kepentingan lain pada bank
yang dimaksud, LPS dapat melakukan tindakan:
• menguasai, mengelola, dan melakukan tindakan
kepemilikan atas aset hak milik yang menjadi hak
dan/atau kewajiban bank
• melakukan penyertaan modal sementara
13

• menjual atau mengalihkan aset bank tanpa persetujuan


nasabah debitur dan/atau kewajiban bank tanpa
persetujuan nasabah kreditur
• mengalihkan manajemen bank kepada pihak lain
• melakukan merger atau konsolidasi dengan pihak lain
• melakukan pengalihan kepemilikan bank
• meninjau ulang, mambatalkan, mengakhiri, mengubah
kontrak bank yang mengikat bank dengan pihak ketiga
yang menurut LPS merugikan bank.
Seluruh biaya penanganan bank gagal yang dikeluarkan
oleh LPS menjadi penyertaan modal sementara LPS kepada bank