Anda di halaman 1dari 14

Ê Ê

   



‘ Ê  
Air bersih merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk memenuhi standar
kehidupan manusia secara sehat. Ketersediaan air yang terjangkau dan berkelanjutan
menjadi bagian terpenting bagi setiap individu baik yang tinggal di perkotaan maupun di
perdesaan. Salah satu sumber energi yang terpenting di dunia ini adalah air. Ketersediaan
air yang cukup secara kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sangat penting untuk
kelangsungan hidup manusia. Untuk itu diperlukan suatu instalasi pengolahan air (IPA)
guna menunjang kelancaran distribusi air pada masyarakat. Pemilihan unit operasi dan
proses pada IPA harus disesuaikan dengan kondisi air baku yang digunakan.
Partikel yang tersuspensi dalam air dapat berupa partikel bebas dan koloid dengan
ukuran yang sangat kecil yaitu 10-7 mm Ȃ 10-1 mm. karena dimensinya ini maka partikel
tidak dapat diendapkan secara langsung. Untuk mempercepat pengendapan pada sistem
pengolahan air maka dilakukan proses koagulasi dan flokulasi. Koagulasi dan flokulasi
merupakan bagian dari pengolahan air bersih. Koagulasi-flokulasi merupakan dua proses
yang terangkai menjadi kesatuan proses yang tak terpisahkan.

‘G  
Gujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui prinsip kerja proses
koagulasi dan flokulasi. Selain itu juga dapat mengetahui kriteria desain dan perhitungan
dalam perencanaan pembuatan unit koagulasi dan flokulasi.

c
Ê Ê



‘ î   
Koagulasi adalah proses destabilisasi koloid dan partikel-partikel yang tersuspensi
di dalam air baku karena adanya pencampuran yang merata dengan senyawa kimia
tertentu (koagulan) melalui pengadukan cepat. Secara umum koagulasi merupakan proses
kimia dimana ion-ion yang muatannya berlawanan dengan muatan koloid dimasukkan ke
dalam air, sehingga meniadakan kestabilan koloid. Jadi koagulasi adalah proses
pembentukkan koloid yang stabil menjadi koloid yang tidak stabil dan membentuk flok-
flok dari gabungan koloid yang berbeda muatan.
Pada prinsipnya ada dua aspek yang penting dalam proses ini yaitu pembubuhan
bahan kimia (koagulan) dan pengadukan. Pada proses koagulasi, koagulan dibubuhkan ke
dalam air baku kemudian dilakukan pengadukan selama beberapa saat dalam suatu
koagulator. Dari pencampuran ini akan terjadi destabilisasi koloid dan partikel tersuspensi
oleh koagulan. Secara umum proses koagulasi berfungsi untuk :
1.‘ Mengurangi kekeruhan akibat adanya partikel koloid anorganik maupun organik di
dalam air.
2.‘ Mengurangi warna yang diakibatkan oleh partikel koloid di dalamair.
3.‘ Mengurangi bakteri-bakteri patogen dalam partikel koloid, algae, dan organisme
plankton lain.
4.‘ Mengurangi rasa dan bau yang diakibatkan oleh partikel koloid dalam air.
Ada tiga faktor yang mempegaruhi keberhasilan proses koagulasi yaitu:
1.‘ Jenis koagulan yang dipakai
2.‘ Dosis pembubuhan koagulan
3.‘ Proses pengadukan



‘ î   
Pemilihan koagulan sangat penting untuk menetapkan kriteria desain dari sistem
pengadukan, serta sistem flokulasi yang efektif. Jenis koagulan yang biasanya digunakan
adalah koagulan garam logam dan koagulan polimer kationik. Contoh koagulan garam

0
logam diantaranya adalah:
y‘ Alumunium sulfat atau tawas (Al3(SO4)2.14H2O)
y‘ Deri klorida (DeCl3)
y‘ Dero klorida (DeCl2)
y‘ Deri sulfat (De2(SO4)3)
Koagulan yang umum digunakan adalah alumunium sulfat atau tawas. Sedangkan
contoh koagulan polimer atau sintetis adalah:
y‘ Poli Alumunium Klorida (PAC)
y‘ Sitosan
y‘ ÿ 
Koagulan polimer yang umumnya digunakan adalah PAC. Perbedaan dari kedua
jenis koagulan diatas adalah pada tingkat hidrolisa dalam air. Koagulan garam logam
mengalami hidrolisa ketika dicampurkan ke dalam air sedangkan koagulan polimer tidak.
Pembentukan unsur hidrolisis tersebut terjadi pada periode yang sangat singkat
yaitu kurang dari 1 detik. Reaksi hidrolisis menghasilkan senyawa hidrokompleks seperti
Al(OH)2+, De(H2O)33+, dan De(OH)2+. Setelah terbentuk, produk tersebut langsung
teradsorbsi ke dalam partikel koloid serta menyebabkan destabilisasi muatan listrik pada
koloid tersebut. Hal ini mengakibatkan polimerisasi dari reaksi hidrolisis. Oleh sebab itu,
pada pembubuhan koagulan yang berupa garam logam, proses pengadukan cepat (


 ) sangat penting, karena :
1.‘ Hidrolisis dan polimerisasi adalah reaksi yang sangat cepat
2.‘ Suplai koagulan dan kondisi pH yang merata sangat penting untuk pembentukan
unsur hidrolisis
3.‘ Adsorpsi koagulan ke dalam partikel koloid berlangsung cepat.
4.‘ Apabila pengadukan lambat, maka reaksi koloid dengan koagulan tidak akan
sempurna.
Sedangkan pada penggunaan koagulan polimer, pengadukan cepat tidak terlalu
kritis karena reaksi hidrolitik tidak terjadi dan adsorpsi koloid terjadi lebih lambat karena
ukuran fisik polimer yang lebih besar. Waktu pengadukan sekitar 2-5 detik.
Koagulan sebagai bahan kimia yang ditambahkan ke dalam air tentunya memiliki

Ñ
beberapa sifat atau kriteria tertentu, yaitu :
1.‘ Kation trivalen (+3)
Koloid bermuatan negatif, oleh sebab itu dibutuhkan suatu kation untuk menetralisir
muatan ini. Kation trivalen merupakan kation yang paling efektif.
2.‘ Non toksik
3.‘ Gidak terlarut pada batasan pH netral
Pada penggunaan alumunium sulfat sebagai koagulan, air baku harus memiliki
alkalinitas yang memadai untuk bereaksi dengan alumunium sulfat menghasilkan flok
hidroksida. Umumnya, pada rentang pH dimana proses koagulasi terjadi alkalinitas yang
terdapat dalam bentuk ion bikarbonat. Reaksi kimia sederhana pada pembentukan flok
adalah sebagai berikut :

Al2(SO4)3 . 14 H2O + 3 Ca(HCO3)2  2 Al(OH)3 + 3 CaSO4 + 14 H2O + 6 CO2

Apabila air baku tidak mengandung alkalinitas yang memadai, maka harus
dilakukan penambahan alkalinitas. Umumnya alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida
diperoleh dengan cara menambahkan kalsium hikdrosida, sehingga persamaan reaksi
koagulasinya menjadi sebagai berikut :

Al2(SO4)3 . 14 H2O + 3 Ca(OH)2  2 Al(OH)3 + 3 CaSO4 + 14 H2O

Sebagian besar air baku memiliki alkalinitas yang memadai sehingga tidak
diperlukan penambahan bahan kimia lain selain alumunium sulfat. Rentang pH optimum
untuk alum adalah 4.5 sampai dengan 8.0, karena alumunium hidroksida relatif tidak larut
pada rentang tersebut. Daktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi antara lain :
1.‘ Intensitas pengadukan
2.‘ Gradien kecepatan
3.‘ Karakteristik koagulan, dosis, dan konsentrasi
4.‘ Karakteristik air baku, kekeruhan, alkalinitas, pH, dan suhu
Pendekatan rasional untuk mengevaluasi pengadukan dan mendesain bak tempat

è
pengadukan dilakukan telah dikembangkan oleh G.R. Camp (1955). Derajat pengadukan
merupakan didasarkan pada daya () yang diberikan ke dalam air, dalam hal ini
diukur oleh gradien kecepatan. Laju tabrakan partikel proporsional terhadap gradien
kecepatan ini, sehingga gradien tersebut harus mencukupi untuk menghasilkan laju
tabrakan partikel yang diinginkan.


 ‘  î   
Dosis koagulan berbeda-beda tergantung dari jenis koagulan yang dibubuhkan,
temperatur air, serta kualitas air yang diolah. Penentuan dosis koagulan dapat dilakukan
melalui penelitian laboratorium dengan metode 
 . Prosedur 
  pada prinsipnya
merupakan proses pengolahan air skala kecil.
Dosis optimum dari hasil percobaan ini digunakan sebagai acuan dalam
pembubuhan koagulan dalam pengolahan air. Umumnya dosis optimal yang diperoleh dari
hasil jar test menggambarkan dosis yang perlu diterapkan dalam operasional instalasi
pengolahan air minum. Namun, untuk skala operasional akan terjadi penyimpangan,
karena umumnya dosis yang perlu dimasukkan lebih banyak dari dosis hasil jar test.
Perbedaan ini disebabkan karena ketidakefisienan dalam pengadukan cepat
(Darmasetiawan, 2004).


 ‘    
Unit koagulasi merupakan suatu unit dengan pengadukan cepat dimana
pengadukan cepat (koagulasi) dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1.‘ Koagulasi Hidrolis
Pada prinsinya pengadukan secara hidrolis ini menggunakan efek gravitasi,
sehingga terjadi besaran tinggi terjun untuk pengadukan cepat (koagulasi) dan 
 
(kehilangan tekanan) atau beda tinggi permukaan pada proses pembentukan flok pada unit
flokulasi. Dalam koagulasi hidrolis ini didesain untuk dua jenis aliran, yaitu aliran terbuka
yang mudah dalam pengoperasian dan pemeliharaannya serta aliran bertekanan dalam
pipa (  dan  , 1984:92)
Rumus yang dipergunakan untuk perhitungan pada koagulasi hidrolis adalah
sebagai berikut :

å
G=Ë

(1)

Dimana P untuk koagulasi hidrolis menggunakan rumus :


P =    (2)
Sehingga rumus untuk gradien kecepatan pada koagulasi hidrolis adalah sebagai berikut :

 
G =Ë


Keterangan :
G = gradien kecepatan (/detik)
P = daya yang diberikan (kg m2/detik3)
ɏ = densitas cairan (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (m/dtk2)
hL = headloss (m)
Q = debit (m3/dtk)
Ɋ viskositas cairan (kg/m.detik)
V = volume (m3)
2.‘ Koagulasi Mekanis
Pengadukan dengan cara mekanik adalah pengadukan yang memindahkan energi
mekanik untuk pengadukkan. Pengadukkan ini dilakukan dengan menggunakan 6
.
Rumus yang dipergunakan untuk perhitungan pada koagulasi mekanis adalah sebagai
berikut :

G=Ë

(1)

P =  


(2)

Sehingga rumus untuk gradien kecepatan pada koagulasi hidrolis adalah sebagaiberikut :



G =Ë

Dimana :
G = gradien kecepatan (/detik)
P = daya yang diberikan (kg m2/detik3)

*
Cd = koefisien 

ɏ = densitas cairan (kg/m3)
A = luas pengaduk (m2)
v = kecepatan aliran (m/detik)
g = percepatan gravitasi (m/dtk2)
hL = headloss (m)
Q = debit (m3/dtk)
Ɋ viskositas cairan (kg/m.detik)
V = volume (m3)


 ‘ î   
Kriteria desain dari unit koagulasi adalah sebagai berikut :
G = 750/detik Ȃ 1000/detik
Gd = < 60 dtk 
Head loss = > 30 cm
GG value = 104 Ȃ 106
(Sumber :   1992)

Gabel 1. Waktu detensi dan Gradien Kecepatan untuk Bak Pengaduk Cepat
Unit Kriteria
Pengaduk Cepat
y‘ Gipe hidrolis :
y‘terjunan
y‘saluran bersekat
y‘dalam instalasi pengolahan air
bersekat
mekanis:
y‘blade, padle
y‘flotasi

ë
y‘ waktu pengadukan (detik) 1-5
y‘ nilai G/ detik >750


 ‘    î   
Dimensi unit koagulasi (pengaduk cepat) dapat ditentukan dengan rumus:
1.‘ Gipe hidrolis dengan jenis pengaduk statis

Dimana :
   
  Ñ 
      
   
â      
    
       
     
  
  
 
 Ac  
      
       
   0  0*
      
     
    
   ë c
       0 
  ! Ñ
       
  
"  
    

A
#  $$   
%   $   
Ñ

2.‘ Gipe hidrolis dengan jenis pengaduk mekanis

‘
 &
'   
 
  
( (
)   
      )*
     
     + c( , å(
%   $   
Ñ

  ‘ D   
Dlokulasi adalah proses penggabungan inti flok sehingga menjadi flok berukuran
lebih besar. Proses fokulasi hanya dapat berlangsung bila ada pengadukan. Secara garis
besar pembentukan flok terbagi dalam empat tahap yaitu :
1.‘ Gahap destabilisasi partikel koloid
2.‘ Gahap pembentukan mikroflok
3.‘ Gahap penggabungan mikroflok
4.‘ Gahap pembentukan makroflok
Gahap 1 dan 2 terjadi pada proses koagulasi sedangkan tahap 3 dan 4 terjadi pada proses
flokulasi.
Daktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam desain unit flokulasi :
y‘ Kualitas air baku dan karakteristik flokulasi
y‘ Kualitas tujuan dari proses pengolahan
y‘ m
 tersedia dan variasi debit instalasi


 
‘    
Dlokulasi adalah tahap pengadukan lambat yang mengikuti unit pengaduk cepat.
Gujuan dari proses ini adalah untuk mempercepat laju tumbukan partikel, hal ini
menyebabkan aglomerasi dari partikel koloid terdestabilisasi secara elektrolitik kepada
ukuran yang terendapkan dan tersaring. Gerdapat beberapa kategori sistem pengadukan
untuk melakukan flokulasi ini, yaitu :
1.‘ Pengaduk Mekanis
Pengadukan mekanis merupakan satu metode yang umum digunakan untuk
pengadukan lambat. Pengaduk (disebut juga flokulator) mekanis yang sering
digunakan dalam pengadukan lambat adalah tipe paddle yang dimodifikasi hingga
membentuk roda (paddle wheel), baik dengan posisi horizontal maupun vertikal.
2.‘ Pengadukan Hidrolis
Jenis pengadukan hidrolis yang digunakan pengadukan lambat berbeda dengan
pengadukan cepat. Pada pengadukan lambat, energi hidrolik yang diharapkan cukup
kecil dengan tujuan menghasilkan gerakan air yang mendorong kontak antara
partikel tanpa menyebabkan pecahnya gabungan partikel yang terbentuk. Jenis
aliran yang sering digunakan sebagai pengadukan lambat adalah baffle channel.

   ‘ î   

            !


 ! -
  c , c      
.  c( , c( 
  
.  cå , Ñ   
  
Kriteria perencanaan untuk unit flokulasi (pengaduk lambat) dapat dilihat pada
Gabel 2 (SNI 6774:2008, Gata cara perencanaan unit paket instalasi pengolahan air)

c
Gabel 2. Kriteria perencanaan unit flokulasi (pengaduk lambat)
Dlokulator mekanis
Dlokulator Sumbu Sumbu Dlokulator
Kriteria umum hidrolis horizontal dgn vertikal Clarifier
pedal dengan bilah
G (1/dt) 60 - 5 60-10 70-10 100-10
waktu tinggal (mnt) 30-45 30-40 20-40 20-100
tahap flokulasi (buah) 6 - 10 6-Mar 2-4 1
bukaan kecepatan kecepatan kecepatan
pengendalian energy pintu/sekat putaran putaran aliran air
maksimal kecepatan aliran (m/dt) 0,9 0,9 1,8-2,7 1,5-0,5
luas pedal : luas bak % -- 5-20 0,1-0,2 -
kecepatan perputaran sumbu
(rpm) -- 1-5 8-25 -
tinggi (m) 2-4

   ‘    D   


Dimensi unit flokulasi (pengaduk lambat) dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
1.‘ Gipe hidrolis dengan jenis pengaduk statis


dimana:
Q = kapasitas pengolahan (m3/detik)
p = panjang bak(m)
l = lebar bak (m)
d = tinggi (m)
td = waktu tinggal (detik)
G = gradien, G (detik-1)
Hf = kehilangan tekanan pada pinstalasi pengolahan air dan perlengkapannya
(m kolom air)
µ = viskositas kinematik air (m/detik)
g = gravitasi (9,81 m/detik2)

cc
2.‘ Gipe hidrolis dengan jenis pengaduk mekanis


dimana:
P = tenaga yang diperlukan (g.cm/det.)
n = putaran (rpm)
gc = faktor konversi Newton
D = diamater impeller (cm)
k = konstanta experimen (1.0 Ȃ 5.0)
ɏ = masa jenis air (g/cm3)

    î!" # $


Persamaan matematis yang dipergunakan untuk menghitung gradien kecepatan ini
sama dengan perhitungan yang telah diberikan pada unit koagulasi, yaitu :



!
f

dimana :
G = Gradien kecepatan (dtk-1)
ɏ = Massa jenis air (kg/m3)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
hL = Headloss karena friksi, turbulensi, dll (m)
µ = Viskositas absolut air (kg/m-dtk)
G = Waktu detensi (dtk)

  î  G  G # $


Kehilangan tekanan total sepanjang saluran horizontal baffle channel ini
diperoleh dengan menjumlah kehilangan tekanan pada saat saluran lurus dan pada
belokan.
5 5  5

c0
Dimana
a.‘ Hb adalah kehilangan tekanan pada belokan yang disebabkan oleh belokan sebesar
180°. Persamaan untuk menghitung besarnya kehilangan tekan ini adalah sebagai
berikut :
"
#
Ö 

dimana :
Hb = Kehilangan tekan di belokan (m)
k = Koefisien gesek, diperoleh secara empiris
Vb = Kecepatan aliran pada belokan (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
b.‘ HL adalah kehilangan tekanan pada saat aliran lurus. Kehilangan tekanan ini terjadi
pada saluran terbuka sehingga perhitungannya didasarkan pada persamaan Manning :
%  
"$   ' (  ) (
&
(
& "  * 
Ö ( +
'



dimana :
HL = Kehilangan tekan pada saat lurus (m)
n = Koefisien Manning, saluran terbuat dari beton n = 0.013
VL = Kecepatan alirang pada saluran lurus (m/s)
L = Panjang saluran (m)
R = Jari-jari basah (m)
= A/P
A = Luas basah (m2)
P = Keliling basah (m)


Ê Ê
G

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:

1.‘ Koagulasi adalah proses destabilisasi koloid dan partikel-partikel yang tersuspensi di
dalam air baku karena adanya pencampuran yang merata dengan senyawa kimia
tertentu (koagulan) melalui pengadukan cepat.
2.‘ Ada tiga faktor yang mempegaruhi keberhasilan proses koagulasi yaitu jenis koagulan
yang dipakai, dosis pembubuhan koagulan, dan proses pengadukan.
3.‘ Kriteria desain dari unit koagulasi adalah sebagai berikut :
G = 750/detik Ȃ 1000/detik
Gd = < 60 dtk 
Head loss = > 30 cm
GG value = 104 Ȃ 106
4.‘ Dlokulasi adalah proses penggabungan inti flok sehingga menjadi flok berukuran lebih
besar. Proses fokulasi hanya dapat berlangsung bila ada pengadukan.
5.‘ Dlokulasi adalah tahap pengadukan lambat yang mengikuti unit pengaduk cepat.
Gujuan dari proses ini adalah untuk mempercepat laju tumbukan partikel, hal ini
menyebabkan aglomerasi dari partikel koloid terdestabilisasi secara elektrolitik
kepada ukuran yang terendapkan dan tersaring.

6.‘ Kriteria desain dari unit flokulasi hidrolis adalah sebagai berikut ;
G = 10 Ȃ 100 /detik   
GG = 10.000 Ȃ 100.000 



Gd = 15 Ȃ 30 menit 