Anda di halaman 1dari 6

MODEL PENELITIAN RISIKO AUDIT

MATERIALITAS

SIKAP PROFESIONALISME

PENGALAMAN AUDITOR KOMITE AUDIT PERANAN INTERNAL DALAM PERUSAHAAN

PERANAN GENDER

KODE ETIK

EFISIENSI DAN EFEKTISITAS TEKANAN KETAATAN KOMPLEKSITAS TUGAS

1.Materialitas terhadap peranan auditor Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji

informasiakuntansi, yang dilihat dari keadaanyang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap nformasi tersebut, karena adanya enghilangan atau salah saji itu. Berdasarkan pertimbangan biaya-manfaat, auditor tidak mungkin melakukan pemeriksaan atas semua transaksi yang dicerminkan dalam laporan keuangan, auditor harus menggunakan konsep materialitas dan konsep risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. Konsep materialitas berkaitan dengan seberapa salah saji yang terdapat dalam asersi dapat diterima oleh audiotr agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh besarnya salah saji tersebut. Konsep risiko audit berkaitan dengan risiko kegagalan auditor dalam mengubah pendapatnya atas laporan keuangan yang sebenarnya berisi salah saji material. Konsep materialitas berkaitan dengan seberapa besar salah saji yang terdapat dalam asersi dapat diterima oleh auditor agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh besarnya salah saji tersebut ( Massofa ). Sehingga auditor internal harus melakukan penetapan terhadap materialitas untuk memperoleh bukti yang cukup kompeten dalam pelaporan keuangan. 2.Hubungan Kompleksitas tugas terhadap peranan audit internal Kompleksitas audit didasarkan pada persepsi individu tentang kesulitan suatu tugas audit. Persepsi ini menimbulkan kemungkinan bahwa suatu tugas audit sulit bagi seseorang, namun mungkin juga mudah bagi orang lain (Restu dan Indriantoro, 2000). Lebih lanjut, Restu dan Indriantoro (2000) menyatakan bahwa kompleksitas muncul dari ambiguitas dan struktur yang lemah, baik dalam tugas-tugas utama maupun tugas-tugas lain. Pada tugas-tugas yang membingungkan(a mb igou s) dan tidak terstruktur, alternatifalternatif yang ada tidak dapat diidentifikasi, sehingga data tidak dapat diperoleh dan outputnya tidak dapat diprediksi.

Secara umum adalah benar untuk mengatakan bahwa semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang diperlukan. Secara umum juga benar untuk mengatakan bahwa semakin besar atau semakin signifikan suatu saldo akun, maka semakin besar jumlah bukti yang diperlukan. 3.Hubungan Profesionalisme audit terhadap peranan auditor internal

4.Hubungan Komite Audit dengan peranan auditor internal Efektivitas Komite Audit

Komite audit pada saat ini telah diakui keberadaannya di hampir semua perusahaan di negara maju, terutama di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada, namun hingga saat ini belum ada kesepakatan mengenai tolok ukur keberhasilan atau efektivitas komite audit. Belum terdapat hasil pembuktian secara empiris mengenai hal tersebut, namun Sommer (1991) berpandangan bahwa komite audit di banyak perusahaan masih belum melakukan tugasnya dengan baik. Menurut pendapat Sommer, banyak komite audit yang hanya sekedar melakukan tugas-tugas rutin, seperti review laporan dan seleksi auditor eksternal, dan tidak mempertanyakan secara kritis dan menganalisis secara mendalam kondisi pengendalian dan pelaksanaan tanggungjawab oleh manajemen. Penyebabnya diduga bukan saja karena banyak dari mereka tidak memiliki kompetensi dan independensi yang memadai, tetapi juga karena banyak yang belum memahami peran pokoknya (Manao, 1997).Kalbers & Fogarty (1993) telah melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komite audit. Hasil penelitian yang dimuat di Auditing A Journal of Practice & Theory berjudul Audit Committee Effectiveness : An Empirical Investigation of the Contribution of Power, antara lain mengungkapkan bahwa terdapat 3 (tiga) faktor yang dominan yang berpengaruh terhadap keberhasilan komite audit dalam menjalankan 1. 2. 3. Kualitas Kewenangan formal (kompetensi) tugasnya, dan Kerjasama personil dari komite tertulis yaitu bagi komite : audit. audit. manajemen.

Salah satu aspek yang cukup penting dalam keberhasilan komite audit dalam menjalankan tugasnya adalah masalah komunikasi. Oleh karena itu komite audit harus meningkatkan komunikasi dengan dewan Komisaris, manajemen, internal auditor dan eksternal auditor. Adanya komunikasi yang lancar antara komite audit dengan berbagai pihak tersebut dapat menunjukkan eksistensi komite audit lebih efektif dan dapat meringankan tugas komisaris dalam mengawasi jalannya perusahaan Keberadaan Komite audit akan meningkatkan efektivitas audit internal ( Kalbers and fogarty ).Komite audit berfungsi untuk membantu Dewan Komisaris dalam bidang pengawasan. Komite audit berfungsi sebagai penghubung antara pihak eksternal auditor dengan internal auditor termasuk menampung segala masalah yang menyangkut bidang akuntansi, pengawasan internal dan bidang auditing. Komite audit juga berfungsi sebagai mediator dalam berkomunikasi antara Dewan Direksi, Akuntan Publik dan Internal Auditor. Sebagai pedoman, digariskan bahwa tanggung jawab pengawasan (oversight) komite audit terbagi atas 3 (tiga) bidang utama. Bidang yang pertama adalah pelaporan keuangan (financial reporting), yang kedua adalah pengawasan dan resiko perusahaan (corporate risk and control) dan yang terakhir dari aspek corporate governance. Dalam kaitannya dengan auditing process, pada prinsipnya fungsi yang dijalankan oleh komite audit dibagi atas 3 (tiga) hal, yaitu : 1. Fungsi komite audit dalam melakukan review atas pelaksanaan audit oleh internal auditor. 2. Fungsi komite audit dalam melakukan review atas pelaksanaan audit oleh akuntan publik. 3. Fungsi komite audit dalam melakukan fungsi oversight lainnya. Berkaitan dengan hubungan kerja komite audit dengan internal auditor, komite audit diharapkan untuk melakukan :

1. Review dan konsultasi dengan manajemen atas pengangkatan penggantian maupun pemecatan Kepala Internal Audit. 2. Pengawasan untuk memastikan diterapkannya proses dan metodologi risk-based internal audit. 3. Review terhadap Internal Audit Objectives, Sumber Daya serta efektifitas maupun posisi dalam organisasi perusahaan, Rencana Audit Tahunan (RAT) termasuk koordinasi kerja dengan KAP dalam melaksanakan audit tahunan. 4. Review hasil kerja internal audit selama satu tahun secara periodik, termasuk terhadap struktur pengendalian intern. 5. Review secara periodik Internal Audit Charter serta mereview apakah SKAI telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan standar profesional yang berlaku. 6. Pemberdayaan (empowerment) fungsi internal audit dalam suatu perusahaan, terutama dalam hal menindaklanjuti temuan dan rekomendasi internal audit. 7. Pertemuan rutin dengan internal auditor setidaknya setiap triwulan.

5.Hubungan antara Pengalaman auditor dalam peranan audit internal Pengalaman yang dimaksudkan disini adalah pengalaman auditor dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan baik dari segi lamanya waktu, maupun banyaknya penugasan yang pernah dilakukan. Butt (1988) memperlihatkan dalam penelitiannya bahwa auditor yang berpengalaman akan membuat judgement yang relatif lebih baik dalam tugas-tugas profesionalnya, daripada auditor yang kurang berpengalaman. Jadi seorang auditor yang lebih berpengalaman akan lebih tinggi tingkat skeptisisme profesionalnya dibandingkan dengan auditor yang kurang berpengalaman. Berkaitan dengan skeptisisme ini, penelitian yang dilakukan Kee & Knoxs (1970) yang menggambarkan skeptisisme profesional sebagai fungsi dari disposisi etis, pengalaman dan faktor situasional. Michael K. Shaub dan Janice E. Lawrence (1996) mengindikasikan bahwa auditor yang menguasai etika situasi yang kurang lebih terkait dengan etika profesional dan kurang lebih dapat melaksanakan skeptisisme

profesionalnya. Faktor situasional merupakan faktor yang penting dalam melaksanakan skeptisisme profesional auditor. 7.Hubungan antara Risiko Audit dengan Peranan auditor internal 8.Hubungan antara