Anda di halaman 1dari 78

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM PAKAR PENGANALIS LAPORAN KEUANGAN BERDASARKAN NILAI RASIO KEUANGAN

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Jurusan Manajemen Informatika Program Studi Komputerisasi Akuntansi Jenjang Studi S1

Oleh : ROBBY LIGSCA SIREGAR 0102910565

Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Nusantara Jakarta 1996

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM PAKAR PENGANALIS LAPORAN KEUANGAN BERDASARKAN NILAI RASIO KEUANGAN

Oleh

Robby Ligsca Siregar 0102910565

Disetujui,

Pembimbing 1.

Pembimbing 2,

Ir, H, Imam Djajono, MM.

Nelly, SKom, MM.

Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer Bina Nusantara Jakarta 1996

ABSTRAK JUDUL : Analisis dan perancangan sistem pakar penganalis laporan keuangan berdasarkan nilai rasio keuangan PENYUSUN : Robby Ligsca Siregar - 0102910565

PEMBIMBING 1. Ir, H, IMAM DJAJONO, MM. 2. NELLY, SKom, MM.

Kegiatan analisis laporan keuangan yang memiliki arti strategis bagi kelanjutan hidup perusahaan merupakan suatu kegiatan yang rumit dan kompleks. Para pelaku dari kegiatan ini dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas dalam bidang manajemen keuangan dan bisnis untuk dapat menghasilkan keputusan yang dapat menjadikan kinerja dan keadaan perusahaan menjadi lebih baik lagi. Keberadaan para pakar analisis keuangan hanya tersedia sedikit dan bila ada mahal harganya. Peranan teknologi informatika untuk mengemulasikan keahlian dalam analisis keuangan berdasarkan nilai rasio keuangan menjadi salah satu alternatif yang dapat menyebarluaskan tersedianya ahli dalam analisis keuangan. Teknologi yang digunakan adalah metodologi pembangunan dan pengembangan perangkat lunak sistem pakar.

iv + 58 halaman; 21 gambar; 7 tabel; 13 halaman lampiran. Kata kunci : sistem pakar, analisis, nilai rasio keuangan. KATA PENGANTAR

Puji semesta alam hanya bagi Allah SWT karena dengan rahmat dan ijin-Nya, maka skripsi ini, yang dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan jenjang studi strata satu pada Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) Bina Nusantara, dapat penulis kerjakan dan selesai pada waktunya. Bahwa banyak kekurangan dan jauh dari sempurna ada pada tulisan ini, penulis telah menyadarinya, oleh sebab itu bimbingan, saran dan kritik yang membangun penulis harapkan untuk menyempurnakannya. Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, penulis sampaikan kepada banyaknya pihak yang telah membantu dalam penyelelesaian skripsi ini, utamanya kepada :

1. Ibu Ir. Th. Widia S, MM., Ketua Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Bina Nusantara, Jakarta. 2. Bapak Ir. H. Imam Djajono, MM dan Ibu Nelly, SKom, MM, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan banyak bantuan dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini. 3. Bapak Imam Satria Yudha, B.Acc., MBA, praktisi dan pengamat ekonomi yang telah memberikan waktu dan tenaga untuk mengarahkan materi dan teknik analisis rasio keuangan hingga dapat direpresentasikan pada prototipe perangkat lunak sistem pakar ini. 4. Dosen dan pengajar STMIK Bina Nusantara yang telah memberikan pelajaran dan bimbingan selama masa perkuliahan. 5. Orangtua dan keluarga yang memberikan motivasi dan semangat hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

6. Rekan-rekan dan para sahabat yang banyak memberikan bantuan teknis dan moril. 7. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu.

Akhir kalam, penulis mengharapkan, bahwa apa yang ada dalam skripsi ini dapat bermanfaat di kemudian hari sebagai bahan kepustakaan ataupun hal lainnya yang membangun.

Jakarta, 17 Desember 1996 Penulis,

Robby Ligsca Siregar

DAFTAR ISI

BAB 1 - PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1.2 Ruang Lingkup. 1.3 Tujuan dan Manfaat. 1.4 Metodologi Penelitian 1.5 Sistematika Penulisan.

1 1 2 3 4 5

BAB 2 - LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Laporan Keuangan. 2.2 Analisis Laporan Keuangan. 2.3 Teknologi Sistem Informasi Dan Aplikasinya. 2.4 Konsep Sistem Pakar.

7 7 9 12 18

BAB 3 - PERANCANGAN SISTEM PAKAR 3.1 Analisis Rasio Keuangan Dalam Sistem Pakar. 3.2 Pengelompokan Ukuran Rasio. 3.3 Rancangan Perangkat Lunak.

28 28 29 36

BAB 4 - IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR 4.1 Implementasi. 4.2 Mekanisme Kerja Perangkat Lunak

56 56 57

BAB 5 - KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan. 5.2 Saran.

60 60 61

DAFTAR PUSTAKA RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN

ii

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang. Laporan keuangan, dalam kehidupan masyarakat dunia usaha, merupakan status dan gambaran dari keadaan perusahaan yang mengeluarkannya. Nilai-nilai beserta atribut yang ditampilkan dalam sebuah laporan keuangan dapat disebut sebagai hasil dari kinerja perusahaan yang telah direncanakan, dijalankan dan dievaluasi sejak perusahaan tersebut berdiri. Tujuan akhir dari adanya laporan keuangan bagi manajemen perusahaan itu sendiri adalah untuk menentukan langkah dan kebijaksanaan perusahaan di masa mendatang baik yang bersifat temporer, yaitu untuk mengendalikan situasi yang kurang menguntungkan bagi perusahaan, atau untuk hal-hal yang bersifat jangka panjang yang akan banyak merubah struktur perusahaan tersebut. Laporan keuangan juga dapat dikatakan sebagai sebuah fakta bagi pihak-pihak yang berkepentingan atas sebuah perusahaan tetapi berada di luar lingkungan manajemen perusahaan itu, seperti (calon) investor, pemerintah, asosiasi profesional serta pihak lainnya. Dalam operasionalnya, sebuah laporan keuangan dikeluarkan oleh departemen akuntansi tetapi untuk penentuan kebijaksanaan perusahaan, maka laporan tersebut merupakan bahan utama bagi manajer atau direktur keuangan dalam membuat rencana, usulan atau keputusan strategis yang akan diambil dan dijalankan. Sebuah keputusan atau kebijaksanaan yang dihasilkan akan selalu dibuat untuk menjadikan keadaan perusahaan bertambah baik dan solid, dengan adanya sasaran seperti ini, maka seorang direktur atau manajer keuangan memiliki tanggung jawab yang amat besar atas kelangsungan hidup perusahaan. 1

2 Jika dihubungkan dengan tugas direktur atau manajer keuangan yang membuat suatu keputusan yang bersifat strategis dan berpengaruh banyak pada struktur perusahaan, maka analisis sebuah laporan keuangan merupakan pekerjaan yang cukup sulit, kesalahan dalam interpretasi ataupun perhitungan dapat menyebabkan suatu langkah mundur bagi hidup perusahaan. Walaupun laporan keuangan hanya sebagai salah satu bahan dalam pengambilan keputusan, disamping pengalaman, intuisi, pertimbangan sepihak dan tingkat penilaian atas kondisi yang sedang terjadi yang dimiliki oleh seorang direktur atau manajer keuangan, tetapi justru bahan inilah yang paling esensial dalam meramu sebuah keputusan dikarenakan alasan-alasan seperti yang disebutkan sebelumnya.

1.2 Ruang Lingkup. Batasan tulisan ini adalah mengenai pembuatan prototipe perangkat lunak yang menjadi alat bantu dalam melakukan analisis laporan keuangan. Secara spesifik, perangkat lunak yang dibuat merupakan sebuah perangkat lunak sistem pakar penganalis laporan keuangan berdasarkan nilai rasio keuangan, yaitu sebuah perangkat lunak yang menghasilkan nilai ukuran perusahaan dilihat dari beberapa sudut pandang yang didasari dari teori-teori perhitungan rasio keuangan. Dari nilai-nilai yang diukur itu lalu ditambahkan dengan beberapa prosedur tanya jawab terhadap pengguna sebagai langkah analisis dan diagnosis, maka sistem akan memberikan saran untuk melakukan suatu langkah kebijakan manajemen keuangan perusahaan melalui sebuah pendekatan analisis rasio keuangan tersebut. Teori-teori rasio keuangan yang digunakan sebagai referensi perhitungan, pengukuran dan penilaian pada perangkat lunak sistem pakar yang akan dibuat

3 dikelompokan menjadi tiga bagian utama, yaitu ukuran kinerja, ukuran efisiensi operasi dan ukuran kebijakan keuangan. Selain itu, bentuk laporan keuangan yang menjadi objek analisis adalah merupakan laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan bidang usaha selain jasa atau dengan kata lain, perusahaan yang memiliki produk secara fisik, seperti perusahaan manufaktur atau dagang.

1.3 Tujuan dan Manfaat. Tujuan utama dari tulisan ini adalah untuk menghasilkan sebuah perangkat lunak sistem pakar yang dapat memberikan bantuan dalam melakukan pekerjaan analisis untuk menghasilkan sebuah kebijakan atau keputusan manajerial berdasarkan perhitungan teori-teori rasio keuangan atas laporan keuangan dasar. Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari adanya tulisan ini, antara lain : - Meningkatnya fungsi dan fleksibilitas komputer sebagai hasil teknologi informatika dalam kegiatan pengambilan keputusan strategis perusahaan pada bidang manajemen keuangan. - Memberikan kemudahan bagi pihak manajemen perusahaan, khususnya direktur atau manajer keuangan untuk merencanakan dan merumuskan suatu langkah manajemen berupa kebijakan keuangan baik yang bersifat antisipasif ataupun projektif yang didasari atas pengolahan dan analisis data laporan keuangan perusahaan. - Adanya usaha-usaha pengembangan perangkat lunak aplikasi yang berorientasi pada kebutuhan manajemen perusahaan dan memiliki fungsi yang membantu penggunanya dalam melakukan pengambilan keputusan serta cocok untuk corak dunia usaha di Indonesia.

4 - Sebagai education tool yang dapat menambah wawasan analisis laporan keuangan bagi para pengambil keputusan bidang keuangan baru.

1.4 Metodologi Penelitian. Secara umum, metodologi penelitian yang digunakan dalam pembuatan tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : - Penelitian Pustaka. Penelitian model ini dilakukan dengan cara mendapatkan daftar pustaka yang berhubungan dengan tema tulisan, seperti literatur mengenai manajemen keuangan, teori-teori rasio keuangan dan manajemen pengolahan data laporan keuangan serta pustaka-pustaka mengenai sistem informasi dan kecerdasan buatan. Untuk teknis pemrograman yang berhubungan dengan pembuatan sistem pakar, penulis juga mendapatkan pustaka-pustaka yang membahas mengenai hal-hal tersebut. - Penelitian Lapangan. Pada bentuk penelitian ini, kegiatan yang banyak dilakukan penulis adalah mengumpulkan data aktual mengenai laporan keuangan yang telah diterbitkan oleh berbagai macam perusahaan dan mengklasifikasikannya menurut besar dan jenis kegiatan perusahaan tersebut. Kebanyakan data yang diperoleh penulis bersumber dari Badan Pusat Statistik, surat kabar dan majalah ekonomi keuangan serta beberapa data berasal dari prospektus penawaran saham. - Penelitian Laboratorium.

5 Perancangan, pembuatan, implementasi dan evalusai perangkat lunak sistem pakar dilakukan pada metodologi penelitian ini dan dikerjakan setelah kedua metodologi penelitian yang disebutkan sebelumnya selesai dilaksanakan.

1.5 Sistematika Penulisan. - BAB 1 - PENDAHULUAN. Menjelaskan mengenai latar belakang, batasan, tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dari pembuatan tulisan serta menerangkan metoda-metoda penelitian yang digunakan dalam pembuatannya. - BAB 2 - LANDASAN TEORI. Memperlihatkan teori-teori yang menjadi dasar dari objek tulisan, yaitu berisi teori-teori manajemen keuangan sebagai muatan utamanya. Secara mendalam, teori yang dibahas adalah mengenai konsep penilaian sebuah perusahaan didasari dari hasil analisis laporan keuangan secara rasio keuangan. Bahasan mengenai teori-teori yang mendukung pada pembuatan perangkat lunak aplikasi sistem pakar juga dipaparkan pada bab ini. - BAB 3 - PERANCANGAN SISTEM PAKAR. Isi bab ini berkisar pada bagaimana sebuah perangkat lunak sistem pakar penganalis laporan keuangan dapat dibangun berdasarkan hubungannya dengan teori-teori manajemen keuangan yang telah dibahas sebelumnya. - BAB 4 - IMPLEMENTASI DAN EVALUASI SISTEM PAKAR. Memaparkan konsep pengunaan perangkat lunak sistem pakar yang telah dirancang dan dibuat serta menjelaskan hal-hal dan metoda apa saja yang harus dilakukan untuk mendapatkan kemampuan maksimal dari perangkat lunak

6 tersebut dalam fungsinya sebagai alat bantu analisis laporan keuangan berdasarkan rasio keuangan. - BAB 5 - KESIMPULAN DAN SARAN. Menguraikan kesimpulan hasil penelitian dan membuat prediksi mengenai kemungkinan timbulnya masalah baru yang berpeluang besar terjadi serta saran untuk melakukan langkah penyempurnaan dan pengembangan hasil penelitian yang bertema seperti apa yang ditulis dalam skripsi ini.

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Laporan Keuangan. Seperti sebuah buku laporan prestasi sekolah bagi seorang murid atau sebuah transkip nilai akademik bagi seorang mahasiswa, sebuah laporan keuangan juga dapat dikatakan memiliki fungsi sebagai laporan prestasi historis bagi sebuah perusahaan. Hal ini tepat jika merujuk seperti pada apa yang didefinisikan oleh Weston dan Copeland (1995, p24), bahwa laporan keuangan merupakan pelaporan prestasi historis dari sebuah perusahaan dan memberikan dasar bersama dengan analisis bisnis dan ekonomi untuk membuat projeksi dan peramalan bagi masa depan perusahaan yang mengeluarkannya. Laporan keuangan harus dibuat menurut aturan-aturan yang telah disepakati oleh berbagai macam pihak yang terkait dalam penerbitan laporan keuangan, seperti asosiasi profesional, birokrasi pemerintah, institusi pendidikan dan badan lainnya. Keharusan ini dipertimbangkan sebagai bahasa untuk mencapai konsistensi dan komparabilitas dari sebuah laporan keuangan dimana walaupun setiap perusahaan memiliki beragam cara untuk mengolah data akuntansi dan keuangannya tapi penyajian nilai akhir atas laporan keuangan yang diterbitkan harus dapat dimengerti oleh semua individu atau institusi yang memiliki kepentingan di dalamnya. Dengan adanya bahasa yang sama dalam membaca sebuah laporan keuangan, maka diharapkan bahwa perhitungan nilai-nilai ekonomis untuk mengukur projeksi atau perkiraan kinerjanya di masa mendatang terhadap sebuah perusahaan adalah sama bagi semua pihak, dengan asumsi bahwa pengunaan pertimbangan yang subjektif dari pihak-pihak terkait telah diminimalkan (Weston dan Copeland, 1995). 7

8 Laporan keuangan diklasifikasikan menjadi dua, yaitu laporan keuangan dasar dan laporan keuangan turunan (perluasan). Laporan keuangan dasar terdiri dari Laporan Rugi Laba, Neraca dan Laporan Arus Kas sedangkan laporan keuangan turunan di antaranya adalah seperti Laporan Rekonsiliasi Laba Bersih.

2.1.1 Laporan Rugi Laba. Weston dan Copeland (1995) serta Munawir (1992) mendefinisikan Laporan Rugi Laba sebagai bentuk laporan yang mengukur arus dari pendapatan dan beban (biaya) selama masa periode (akuntansi) tertentu yang biasanya berlangsung satu tahun. Nilai akhir yang dideskripsikan pada laporan ini merupakan sebuah nilai yang menunjukan apakah sebuah perusahaan mendapatkan laba atau mengalami kerugian pada periode akuntansi seperti yang disebutkan pada kepala laporan.

2.1.2 Neraca. Neraca adalah sebuah laporan keuangan yang menjabarkan struktur hak-hak dan kewajiban sebuah perusahaan sampai saat dimana laporan tersebut dikeluarkan (Weston et al., 1995). Dalam definisi akuntansi, neraca akan selalu merujuk pada nilai yang berimbang antara hak dengan kewajiban oleh karena itu bentuk neraca merupakan sebuah laporan dua kolom dimana sisi kiri mengungkapkan rincian hak atau aktiva dan sisi kanan merincikan kewajiban atau bagaimana aktiva diperoleh perusahaan. Tidak jauh dari definisi tersebut, Munawir (1992, p13), menyebut neraca sebagai laporan sistematis mengenai aktiva, hutang dan kewajiban dari suatu perusahaan pada saat tertentu.

9 2.1.3 Laporan Arus Kas. Pada dua bentuk laporan keuangan dasar sebelumnya, yaitu Laporan Rugi Laba dan Neraca, keduanya tidak mengungkapkan bagaimana perubahan nilai kas perusahaan dapat terjadi. Untuk itu, dalam standar konvensi akuntansi dewasa ini, arus kas perusahaan untuk satu periode akuntansi yang telah berakhir harus dilaporkan dan dikelompokan sebagai laporan keuangan dasar dibawah judul Laporan Arus Kas (Weston et al., 1995).

2.2 Analisis Laporan Keuangan. Tindakan manajemen dalam mengelola bisinis perusahaan selalu melibatkan banyak unsur dan hal yang dinamis, hal ini mengakibatkan pengadaan data terbaru dalam lingkungan bisnis dan tindakan pengambilan keputusan menjadi prosedur yang dilakukan dengan frekuensi tinggi. Merujuk pada kondisi perusahaan yang dicerminkan dari laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan, biasanya seorang pengambil keputusan bidang keuangan akan lebih mempertimbangkan dan memfokuskan hal-hal yang prospektif bagi perusahaan untuk dilihat dan dinilai. Bila hal tersebut akan menjadikan perusahaan lebih baik dan dengan menggarisbawahi bahwa perusahaan mampu untuk melakukannya secara finansial, maka sebuah usulan kemungkinan besar akan diungkapkan sebagai sebuah target dan rencana kerja perusahaan. Dalam melihat dan menilai hal-hal prospektif seperti yang disebutkan di atas, diperlukan kemampuan analisis yang baik dari seorang pengambil keputusan. Walau secara teoritis seseorang dapat mencapai kemampuan yang sama dalam melakukan analisis laporan keuangan tetapi pada hakekatnya banyak hal yang dapat membedakan

10 apakah individu tersebut merupakan seorang yang ahli atau bukan, misalnya dengan melihat seberapa banyak waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menghasilkan sebuah keputusan atau dengan melihat pada tingkat kompleksitas data yang dijadikan bahan analisis oleh seseorang. Dan yang faktor paling menentukan untuk membentuk keahlian seseorang biasanya lebih banyak pada kayanya pengalaman dan pendidikan yang menambah wawasan orang tersebut sehingga saat melakukan suatu analisis keuangan, seseorang dapat melihat lebih banyak instrumen analisis dibandingkan orang lain.

2.2.1 Konsep Analisis Laporan Keuangan. Hal utama yang harus diperhatikan dalam analisis laporan keuangan adalah penentuan tujuan analisis, yaitu hal-hal apa saja yang ingin dicapai dengan adanya analisis laporan keuangan. Setelah adanya penetapan tujuan analisis ini, maka langkah selanjutnya adalah membuat serangkaian atau seperangkat prosedur analisis yang dapat mengarahkan hasil analisis pada tujuan analisis dengan menggunakan instrumen yang tersedia dan hasil yang didapat adalah berupa sebuah kebijakan atau keputusan level atas yang bersifat manajerial. Konsep di atas dapat dijabarkan dalam sebuah contoh kasus seperti berikut ini. Bila seorang pengambil keputusan bidang keuangan menetapkan tujuan analisis laporan keuangan untuk menentukan seberapa besar modal eksternal dibutuhkan untuk mendapatkan kenaikan laba operasi periode akuntansi mendatang sebesar x persen, maka dia tidak akan menggunakan seluruh instrumen analisis yang dia ketahui melainkan hanya pada instrumen yang ada hubungannya dengan pengadaan modal eksternal dan peramalan rugi laba peridode mendatang berikut analisis keadaan lingkungan bisnis dan ekonomi yang berlaku pada saat dia melakukan analisis.

11

2.2.2 Analisis Berdasarkan Rasio Keuangan. Analisis berdasarkan rasio keuangan merupakan sebuah mekanisme analisis dan perhitungan rasio untuk mendapatkan suatu nilai ukuran tertentu yang nantinya akan diterjemahkan sebagai nilai perusahaan dan nilai rasio ini didapat dari pengungkapan nilai yang tersaji pada laporan keuangan dasar. Dari hasil atau nilai yang telah diterjemahkan ini, maka seorang pengambil keputusan bidang keuangan dapat menyusun strategi manajemen keuangan bagi perusahaannya (Munawir, 1992). Harus diingat, bahwa sebelum melakukan perhitungan rasio keuangan, penentuan sebuah standar perbandingan diadakan terlebih dahulu, karena sesungguhnya, perhitungan rasio keuangan sendiri akan efektif bila terdapat data serupa dari perusahaan lain dengan kelas yang sama untuk dijadikan perbandingan. Ini berarti, bahwa rasio keuangan berlaku efektif bila diadakan perbandingan bagi dua perusahaan atau lebih. Hal tersebut terjadi karena didasari oleh anggapan, bahwa beberapa kekuatan ekonomi dan bisnis mendasar akan memaksa seluruh perusahaan yang berada dalam jenis industri yang sama untuk menjalankan perilaku yang serupa (Weston et al., 1995, p236) Selain itu, standar yang digunakan juga harus mencakup pada kelas perusahaan yang sejenis dengan atau tanpa mengabaikan besar kecilnya perusahaan yang bersangkutan. Ini dilakukan untuk menghindari kerancuan perbandingan yang disebabkan tidak adanya kesamaan pada kemampuan produksi, akses pasar, kompleksitas organisasi dan mekanisme operasional perusahaan tersebut. Maksud dari hal ini dapat diibaratkan dalam perbandingan dua buah mobil, bahwa jika ingin melihat siapa yang paling unggul, maka sebuah sedan 2.000 cc harus diperbandingkan dengan sedan 2.000 cc dari merek lain bukan dengan sebuah truk yang ber-cc 5.000.

12 Setelah memaparkan pengertian-pengertian dasar mengenai laporan keuangan dengan konsep analisisnya, maka berikut ini penulis akan memberikan beberapa konsep dasar seputar keberadaan teknologi sistem informasi sehingga diharapkan pembaca dapat mengerti korelasi antara analisis laporan keuangan dengan perangkat lunak sistem pakar.

2.3 Teknologi Sistem Informasi Dan Aplikasinya. Penyediaan informasi atau data baik untuk kebutuhan pengolahan informasi lanjutan atau untuk keperluan analisis suatu masalah memerlukan suatu mekanisme yang memadai supaya pengadaan informasi yang dilakukan dapat memenuhi kriteria minimal yang dibutuhkan untuk melakukan proses pengolahan informasi tersebut. Mekanisme yang dirancang dan dibuat ini nantinya akan mendukung dan menjadi bagian yang terintegrasi dalam proses operasional secara keseluruhan dari sebuah sistem dan disebut sebagai information system. Ada banyak definisi dari apa yang disebut sistem informasi tetapi secara keseluruhan, semuanya mengacu pada definisi bentuk kegiatan yang melakukan pengadaan dan pengolahan informasi yang terdapat pada sebuah sistem dan informasi yang dihasilkan untuk selanjutnya akan memberikan kontribursi pada terjadinya pengambilan keputusan yang bersifat manajerial ataupun operasional. Begitu perlunya perencanaan dan pelaksanaan sistem informasi dibuat sebaik mungkin, hal ini dikarenakan pentingnya mekanisme tersebut bagi kelangsungan strategi sistem agar tujuan yang ingin dicapai dari sebuah sistem induk (organisasi) dapat terpenuhi. Kelumpuhan atau tidak efektifnya sistem informasi pada sebuah sistem induk akan memberikan konsekwensi yang negatif bagi sistem, di antaranya adalah tidak

13 sinkronnya pelaksanaan fungsi-fungsi lain di dalam sistem dikarenakan kebutuhan informasi yang tidak atau kurang terpenuhi sedangkan informasi itu menjadi dasar bagi pelaksanaan suatu pekerjaan yang merupakan jalan untuk melakukan pencapaian tujuan organisasi. Sistem informasi sendiri memiliki komponen-komponen yang menjadi elemen pembentuknya, seperti yang didefinisikan oleh Burch dan Grudnitski (1986, pp37-40) serta Mulyadi (1993), elemen tersebut adalah masukan, keluaran, model, teknologi, basis data dan pengendalian. Bangunan sistem informasi yang terdiri dari enam hal ini yang akan menjadi kekuatan utama dari proses sistem informasi dalam sebuah organisasi.

2.3.1 Sistem Pembantu Pengambilan Keputusan. Salah satu implementasi dari sistem informasi dengan menggunakan peralatan teknologi informatika adalah sistem pembantu pengambilan keputusan (decision support system-DSS) yang dalam perwujudan aktualnya adalah berupa perangkat lunak aplikasi terintegrasi dimana para pengambil keputusan dapat berinteraksi langsung di dalamnya. Perluasan kinerja sistem informasi, yang awalnya hanya berupa pengadaan informasi bagi keperluan operasional sistem ini, merupakan suatu hasil dari usaha-usaha para praktisi di bidang teknologi informatika untuk memperbaiki metoda komunikasi yang efektif dan efisien dalam sebuah sistem (organisasi). Dengan kapasitas sebagai pembantu (proses) pengambilan keputusan, maka sebuah perangkat lunak diharapkan memberikan andil yang berarti dalam memperlancar dan mempermudah kegiatan pengambilan keputusan di antaranya dengan cara pembuatan antarmuka pengguna dimana seseorang dapat selalu melihat informasi

14 terakhir yang menjadi bahan pembuatan keputusan atau membantu dalam proses pengawasan operasional dan lainnya. Karena sampai saat ini tidak ada konsensus mengenai apa yang dimaksud dengan decision support system, maka ada kesepakatan non formal dalam hal tersebut, bahwa sebuah objek (perangkat lunak) dikriteriakan sebagai DSS dikarenakan memiliki karakteristik dan kemampuan sebagai berikut seperti apa yang didefinisikan oleh Turban (1993, p88) : - Adanya kemampuan untuk melibatkan pertimbangan perasaan dengan pengolahan informasi pada sebuah situasi tidak terstruktur hingga dapat diambil satu atau beberapa keputusan yang bersifat manajerial. - Mendukung pada bentuk kerja keseluruhan level manajerial, dari eksekutif hingga manajer operasional dan dari kerja individual hingga kelompok. - Mendukung pada proses pengambilan keputusan yang berkaitan secara acak maupun secara berurutan dan dapat mengantisipasi berbagai model

pengambilan keputusan. - Mudah untuk digunakan dan dikembangkan menurut kebutuhan manajerial. - Bersifat adanya dominasi manusia terhadap mesin (komputer). - Memiliki karakter untuk lebih mementingkan tercapainya tujuan pekerjaan (efektifitas) dibandingkan efisiensi. - Memiliki kemampuan untuk melakukan pemodelan pengambilan keputusan.

2.3.2 Kecerdasan Buatan. Penelitian dan percobaan mula-mula mengenai adanya kemungkinan untuk membuat mesin supaya dapat berperilaku seperti manusia telah dimulai sejak dekade 50-

15 an, di antaranya diawali oleh seorang ahli matematika berkebangsaan Inggris bernama Alan Turing yang mengadakan percobaan dengan sebutan Imitation Game, dimana tujuan percobaan ini adalah untuk mengukur seberapa jauh seseorang dapat membedakan apakah ia sedang berkomunikasi dengan sebuah mesin (komputer) atau seorang manusia (Luger dan Stubblefield, 1993, pp10-13). Sejak saat itulah muncul bidang baru yang menjadi bagian tersendiri dalam bidang teknologi informatika yang dinamakan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Ketertarikan para peneliti pada bidang baru ini bukan tanpa sebab. Ide awal sesungguhnya bersumber pada pengkajian bahwa komputer sebagai alat bantu dapat lebih sempurna dalam melakukan beberapa pekerjaan yang spesifik dibandingkan manusia, misalnya pada kecepatan kalkulasi, presisi ketelitian dan tingginya tingkat konsentrasi dalam melakukan tugas-tugas yang diberikan. Hal ini menimbulkan pemikiran, bahwa bila ditambahkan beberapa kemampuan lainnya, maka sebuah mesin (komputer) dapat pula menjadi alat bantu pemecahan masalah yang dapat dipercaya dan diandalkan. Rich dan Knight (1991, p3) memberikan catatan mengenai definisi kecerdasan buatan, bahwa tidak ada istilah yang cukup tepat untuk memberikan penjelasan mengenai kecerdasan buatan dikarenakan kompleksitas bidang ini yang menyangkut dengan banyak bidang ilmu pengetahuan tetapi dengan pendekatan lain mereka menyebut kecerdasan buatan sebagai usaha-usaha bagaimana membuat mesin (komputer) dapat berpikir sama baiknya seperti yang dapat dilakukan oleh manusia.

2.3.3 Sistem Pakar.

16 Sistem pakar merupakan salah satu bentuk aplikasi yang dihasilkan dari penelitian di bidang kecerdasan buatan. Fenomena dari pemikiran bahwa mesin dapat dibuat berperilaku seperti manusia banyak melandasi perkembangan sub bidang ini. Dalam bukunya yang berjudul Artificial Intelligence, structures and strategies for complex problem solving, Luger dan Stubblefield (1993) mendefinisikan sistem pakar sebagai usaha-usaha pendayagunaan komputer untuk membantu pelaksanaan pemecahan masalah yang spesifik dalam bidang tertentu dengan cara mengadaptasi kemampuan seseorang yang dianggap ahli pada bidang tersebut ke dalam sebuah sistem. Sebuah perangkat lunak sistem pakar memiliki beberapa karakter khusus yang membedakannya dari model perangkat lunak lain. Karakter tersebut mencakup pada bentuk-bentuk fungsi yang membuat sistem pakar dapat bekerja sebagai alat bantu analisis dan diagnosis, di antaranya adalah adanya fungsi pemrosesan simbolik, fungsi pustaka pengetahuan yang spesifik atas suatu bidang permasalahan dan fungsi pencarian jawaban atas suatu masalah yang diberikan menurut aturan-aturan tertentu.

2.3.4 Emulasi Keahlian Sebagai Kebutuhan. Mengapa sebuah keahlian dibutuhkan dan mengapa spesialisasi sebuah bidang ilmu pengetahuan memerlukan waktu yang lama dalam pembentukannya? Pertanyaan seperti ini akan mengawali sebuah diskusi panjang mengenai masalah sumber daya manusia beserta ornamen yang berhubungan di dalamnya. Keinginan manusia untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntutnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi metoda pendidikan yang dapat menghasilkan individu-individu yang mandiri agar menjadi pionir dalam bidang-bidang tertentu yang spesifik. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan tenaga-tenaga terlatih dan

17 terdidik yang profesional untuk melakukan riset dan penelitian pada bidang-bidang yang ditekuni oleh individu tersebut. Tapi pada prakteknya, jumlah kebutuhan tenaga itu berbanding terbalik dengan jumlah yang tersedia. Ini dapat diartikan bahwa walaupun telah banyak orang yang masuk dalam proses sistem pembentukan keahlian, misalnya dengan masuk pada intitusi pendidikan tinggi, akan tetapi sedikit sekali yang mampu melewati saringan alami untuk dapat disebut sebagai seorang ahli. Saringan alami di sini antara lain berupa bentuk kegiatan nyata pasca sistem pembentukan keahlian yang dapat berarti dunia kerja pada profesi dan bidang ilmu pengetahuan yang ditekuni seseorang. Dengan perkembangan teknologi informatika yang telah cukup maju, kebutuhan mendesak dalam pengadaan tenaga ahli atau pakar pada suatu bidang yang spesifik dapat ditutupi dengan cara mengemulasikan keahlian seseorang dalam sebuah perangkat lunak aplikasi dan hasilnya biasa disebut sebagai perangkat lunak sistem pakar. Dengan perangkat lunak aplikasi ini, maka diharapkan bahwa kekurangan atau ketiadaan akan seorang ahli dalam suatu bidang pengetahuan akan dapat digantikan dengan cara berinterkasi dengan komputer dimana perangkat lunak yang dijalankan oleh komputer tersebut akan melakukan emulasi prosedur perlakuan seorang ahli terhadap sebuah masalah pada bidang tertentu.

2.4 Konsep Sistem Pakar. Pembangunan sebuah sistem pakar tidak jauh berbeda jauh dengan pembuatan perangkat lunak aplikasi lainnya, hanya saja ada hal-hal yang menjadi tahapan dan komponen dasar yang terdapat pada pembuatan sebuah perangkat lunak sistem pakar tapi tidak dimiliki pada pembuatan perangkat lunak aplikasi lainnya.

18 2.4.1 Tahapan Dan Komponen. Tahapan dalam pembuatan sistem pakar terdiri dari lima bagian, yaitu : - Identifikasi. Menentukan jangkauan permasalahan yang akan dikaji dan dimuat sebagai tema sistem pakar. Jangkauan permasalahan harus spesifik sifatnya, ini berarti ruang masalah yang dijadikan objek analisis dan diagnosis oleh sistem pakar harus sekecil mungkin tapi memiliki tingkat kedalaman yang cukup tinggi. Dalam tahap ini, seorang ahli sudah dapat berperan untuk memberikan batasbatas lingkungan masalah kepada sistem tapi hanya dalam bentuk konsep saja. - Konseptualisasi. Perancangan mekanisme pengendalian dalam hubungannya dengan penurunan keahlian kepada sistem ada dalam tahap ini. - Formalisasi. Bentuk konsep dari keahlian yang diberikan kepada sistem dikonversikan ke dalam format yang formal dengan menghubungkan seluruh unsur yang harus diadakan dan pembuat sistem memilih alat pembangunan sistem pakar yang sesuai untuk memulai pembangunan sistem. - Implementasi. Pembuat sistem mulai menterjemahkan rancangan formal ke dalam bahasa komputer hingga membentuk sebuah perangkat lunak aplikasi sistem pakar. - Pengujian. Pengujian dilakukan untuk memberikan masukan sejauh mana sistem pakar yang dibuat dapat bekerja dengan efektif.

19 Sedangkan komponen dasar yang membentuk sebuah sistem pakar, adalah antarmuka pengguna (user interface) sebagai media komunikasi interaktif antara pengguna dengan sistem, mesin kesimpulan (inference engine) sebagai naluri dari sistem dan basis pengetahuan (knowledge base) sebagai otak dari sistem pakar. Hubungan ketiga komponen tersebut dijelaskan seperti berikut ini.

2.4.1.1 Antarmuka Pengguna (User Interface). Antarmuka pengguna pada sistem pakar berfungsi sama seperti pada sistem aplikasi lainnya, yaitu sebagai saluran atau media komunikasi antara seorang pengguna dengan sistem melalui sebuah peralatan perantara yang memungkinkan adanya perlakuan interaktif dari pengguna kepada sistem. Dalam sebuah perangkat lunak sistem pakar, komunikasi merupakan hal esensial untuk mendapatkan suatu penyelesaian masalah, karena respon dari pengguna akan menjadi panduan bagi sistem untuk menentukan ruas masalah dan bagaimana langkah penyelesaian yang dapat diambil. Kualitas dari sebuah antarmuka (interface), pada sebuah sistem, jika dilihat dari sudut pengguna, ditentukan oleh bagaimana seseorang dapat melihat dan merasakan serta mengerti apa yang diinginkan oleh sistem saat ber-komunikasi (Turban, 1993) sehingga perlakuan yang pasti untuk dikerjakan dapat diketahui oleh pengguna tersebut.

2.4.1.2 Mesin Kesimpulan (Inference Engine). Mesin kesimpulan, merupakan komponen yang bersifat pengendali respon, atau pada manusia dapat disamakan dengan panca indera. Komponen ini mengumpulkan, mengklasifikasikan dan membuat penalaran atas suatu kejadian yang dalam sistem pakar adalah berupa respon pengguna. Model penalaran ini, setelah dicocokan dengan

20 pengetahuan yang dimiliki, maka sebuah sistem pakar akan dapat berusaha memberikan suatu alternatif penyelesaian yang terbaik yang mungkin dapat diberikan kepada pengguna.

2.4.1.3 Basis Pengetahuan (Knowledge Base). Elemen atau komponen terpenting dan terbesar serta menjadi kekuatan utama dari sebuah perancangan sistem pakar adalah bagian basis pengetahuan dan pada bagian ini pula nilai-nilai respon dari sebuah sistem pakar ditempatkan. Umumnya, sebuah perangkat lunak sistem pakar mendapatkan basis data pengetahuan dari seseorang yang disebut sebagai pakar. Kemampuan pakar tersebut dipindahkan melalui sebuah prosedur yang melibatkan pihak pembuat sistem dengan ahli yang akan memberikan ilmu-nya kepada komputer.

Gambar berikut ini merupakan ilustrasi dari hubungan antara ketiga komponen utama pembentuk sistem pakar yang telah diterangkan sebelumnya.
User

F a k ta - fa k ta k e ja d i a n

K n o w le d g e B a s e

U s e r In te r fa c e

F a s ilit a s P e n e ra ng a n

K n o w le d g e E n g in e e r P e r o le h a n p e n g e ta h u a n

Aksiyang d ir e k o m e n d a s ik a n

In f e r e n c e E n g in e E x p e rt

R u a n g k e r ja

P e n y a r in g a n P e n g e ta h u a n

L in g k u n g a n K o n s u lta s i

L in g k u n g a n P e m b a n g u n a n

Gambar 1 - Hubungan komponen pembangunan sistem pakar.

21

Ada sebuah kekurangan yang amat menonjol dari setiap pembangunan sebuah sistem pakar sampai saat ini, yaitu adanya ketidakmampuan mesin untuk dapat belajar dari apa yang sudah ada. Dengan terdapatnya kekurangan ini, maka pengetahuan yang telah ditransfer dalam bentuk coding sebuah program harus selalu diperbarui agar terdapat penambahan kemampuan analisis dan diagnosis pada saat sistem pakar tersebut dalam menjalankan fungsinya mengemulasikan metodologi dan performa seorang ahli dalam memberikan solusi suatu masalah.

2.4.2 Representasi Pengetahuan (Knowledge Representation). Saat membangun sebuah sistem pakar, seorang pembuat sistem, untuk selanjutnya disebut pemrogram, harus dapat memetakan kemampuan seorang pakar yang dikumpulkan ke dalam basis pengetahuan menjadi deretan prosedur yang akan memberikan solusi bagi suatu masalah yang telah ditetapkan. Langkah pemrogram dalam memetakan pengetahuan ini dinamakan sebagai knowledge representation (Luger et al., pp352-355). Fungsi sesungguhnya dari representasi pengetahuan adalah untuk mewakili atau melambangkan setiap aturan dengan hal-hal terkait di dalamnya, yang bersumber dari seorang pakar, agar dapat diterjemahkan oleh pembuat sistem pakar ke dalam bentuk yang dapat didokumentasikan secara bahasa pemrograman pada sistem komputer. Representasi pengetahuan juga akan menjelaskan bagaimana model penalaran dilakukan oleh sistem untuk membangun opini atau anggapan yang dapat dijelaskan. Model ini terdiri dari dua macam, yaitu penalaran menuju jawaban solusi (forward rules) dan penalaran menuju pencarian sebab (backward rules).

22 Ada beberapa metoda yang dugunakan untuk merepresentasikan pengetahuan pada pembangunan sebuah sistem pakar, Mylopoulos dan Levesque (Luger et al., p353) membaginya ke dalam empat kategori skema, yaitu : - Logikal. Metoda ini menggunakan pengekspresian dalam format logika formal pada reperesntasi pengetahuannya. - Prosedural. Representasi pengetahuan dibuat sebagai sebuah kesatuan instruksi dalam menggambarkan pemberian solusi optimal pada suatu masalah. - Jaringan. Representasi pengetahuan dibagi-bagi ke dalam sub-sub representasi yang disebut sebagai simpul (node) dimana satu dengan lainnya saling berhubungan hingga membentuk suatu jaringan yang lengkap pada suatu bidang permasalahan. - Terstruktur. Perluasan dari metoda skema jaringan, dimana pada setiap simpul, sistem dapat menganalisis sub masalah secara lebih kompleks sehingga representasi pengetahuannya dapat menjadi besar sekali.

2.4.3 Konsep Heuristik. Heuristik merupakan istilah di dalam bidang kecerdasan buatan yang menjelaskan bagaimana dan dengan cara apa sebuah sistem pada komputer berusaha memberikan solusi terbaiknya untuk memecahkan sebuah masalah yang ada. Fungsi heuristik inilah yang menjadi tulang punggung dari mekanisme kerja sistem pakar karena dengan

23 adanya metoda pencarian jawaban yang tepat, maka sebuah sistem pakar dapat memberikan sebuah solusi optimal atas suatu permasalahan. Mekanisme sesungguhnya dari heuristik adalah melakukan bentuk pencarian sehingga seakan-akan sistem melakukan penalaran yang paling efisien dengan melihat nilai-nilai pertimbangan yang paling menguntungkan yang mungkin dapat dicapai. Sebagai contoh kasus, dalam permainan tic-tac-toe, sistem tidak mencari seluruh solusi kemenangan melalui pendeteksian semua kemungkinan tetapi cukup mencari kemenangan dengan melihat baris kotak permainan dimana terdapat dua logam yang bergandengan. Atau dalam permainan catur, sistem tidak selalu berkonsentrasi pada cara menjatuhkan raja lawan tetapi dapat pula dengan cara memakan buah perwira atau bidak terlebih dahulu. Bila dianalogikan secara sederhana, dengan merujuk pada pendapat Rich dan Knight (1991), heuristik dapat digambarkan sebagai cara menulis surat yang efisien dalam penggunaan kata-kata tanpa kehilangan maksud dan tujuan penulisan surat tersebut. Heuristik pada kecerdasan buatan akan selalu dikaitkan dengan teknik pencarian (pernyataan akhir) kepada simbol penyelesaian masalah. Simbol ini berupa nilai solusi optimal yang paling mungkin dapat diberikan oleh sebuah sistem pakar, sebagaimana manusia yang mencari jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana, berdasarkan aturan-aturan dan pengetahuan tertentu. Dalam kecerdasan buatan, konsep pencarian dibagi menjadi dua model dasar, yaitu pencarian melebar (breadth-first search) dan pencarian ke dalam (depth-first search). Penjelasan dari dua model pencarian ini adalah sebagai berikut. - Breadth-first Search.

24 Model ini melakukan pencarian jawaban pemecahan masalah dengan cara memproses simbol-simbol yang sederajat terlebih dahulu baru kemudian menuju pada tingkatan yang lebih dalam. - Depth-first Search. Pencarian jawaban pada model ini dilakukan dengan cara memproses sebuah simbol hingga menuju pada turunannya (akar) yang terakhir, setelah selesai baru kemudian kembali ke awal untuk memproses simbol berikutnya.

Turban (1993, p463), memberikan komentarnya mengenai perbandingan dua bentuk dasar pencarian ini, bahwa depth-first search akan memberikan jaminan akan adanya jawaban dari sebuah ruas permasalahan yang diberikan akan tetapi membutuhkan proses yang lebih panjang dan lama dibandingkan model breadth-first search. Alasan atas hal ini adalah dikarenakan depth-first search lebih menitikberatkan pada bagaimana memaksimalkan pengetahuan atas suatu bidang permasalahan hingga sampai pada yang paling terkecil sedangkan model breadth-first search lebih berorientasi pada ruas yang dapat dicapai dari sebuah bidang pengetahuan yang dijadikan topik dalam sistem pakar. Gambar 2 dan Gambar 3 berikut ini, merupakan ilustrasi dari mekanisme dua model dasar bentuk pencarian yang telah dikemukakan sebelumnya.

25

S im p u l A k a r 1

7 S im p u l P e r n y a ta a n

10

Gambar 2 - Ilustrasi Breadth-first Search.


S im p u l A k a r 1

11

12

14

10

13 S i m p u l P e rn y a t a a n

15

16

Gambar 3 - Ilustrasi Depth-first Search.

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM PAKAR

3.1 Analisis Laporan Keuangan Dalam Sistem Pakar. Konsep kecerdasan buatan, termasuk sistem pakar sebagai salah satu bagian di dalamnya, telah membuat filosofi di bidang teknologi informatika semakin berkembang, yaitu dari konsep komputer sebagai alat bantu pemrosesan data hingga menjadi alat bantu diagnosis dan analisis pada bidang ilmu yang spesifik. Implementasi sistem pakar juga telah berkembang sedemikian rupa hingga merambah pada pekerjaan diagnosis yang amat khusus, misalnya menentukan apakah sebuah polis layak untuk diterbitkan pada kasus-kasus sulit yang langka (asuransiNippon Life), mendeteksi adanya penyimpangan Letter of Credit dengan dokumen yang menyertainya dan merekomendasikan tindakan yang harus diambil (perbankan-Bank of America), membantu pemantauan daftar rekening yang bebas digunakan oleh para pialang saham tanpa otorisasi terlebih dahulu (pialang saham-Bear, Strearns & Co), membantu pengambilan keputusan mengenai otorisasi pinjaman pemegang kartu kredit dikaitkan dengan batas pinjaman normal (penyelanggara kartu kredit-American Express) dan aplikasi-aplikasi lainnya yang telah digunakan selama ini. Dalam manajemen keuangan, implementasi sistem pakar dapat dibuat untuk melakukan berbagai analisis, salah satu di antaranya adalah membantu manajemen dalam mengerjakan analisis laporan keuangan untuk menentukan kebijakan atau tindakan manajerial yang harus diambil.

3.2 Pengelompokan Ukuran Rasio. 26

27 Sebelum menerangkan bagaimana perancangan perangkat lunak sistem pakar penganalis laporan keuangan berdasarkan nilai rasio keuangan ini dilakukan, maka penulis akan menjabarkan terlebih dahulu bagaimana analisis rasio keuangan akan disatukan ke dalam sistem pakar. Analisis rasio keuangan dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu ukuran kinerja (performance), ukuran efisiensi operasi (operating efficiency) dan ukuran kebijakan keuangan (financial policy), dimana masing-masing kelompok memiliki tujuan pengukuran tersendiri yang sesungguhnya berkaitan satu dengan lainnya jika dilihat dari sebuah hubungan keuangan. Pengelompokan pertama, yaitu rasio yang mengukur kinerja, mencerminkan keputusan-keputusan strategis, operasi dan pembiayaan dari perusahaan. Kelompok ini masih dibagi menjadi tiga sub kelompok analisis, yaitu rasio profitabilitas, rasio pertumbuhan dan ukuran penilaian. Rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen berkenaan dengan hasil pemgembalian atas penjualan dan investasi. Rasio pertumbuhan mengukur kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi ekonomisnya dalam pertumbuhan perekonomian dimana dia beroperasi. Yang terakhir, ukuran penilaian, mengukur kemampuan manajemen untuk mencapai nilai-nilai pasar yang melebihi nilai pengeluaran kas. Seluruh pengelompokan rasio ini memiliki lagi fungsi-fungsi turunannya yang secara khusus mengukur hal-hal yang spesifik dari apa yang ada pada sebuah laporan keuangan. Pengelompokan rasio yang kedua, merupakan kumpulan perhitungan rasio yang mengukur sejauh mana perusahaan dapat melakukan efisiensi terhadap operasinya dan yang terakhir, merupakan kelompok besar rasio yang mengukur hal-hal yang berhubungan dengan kekuatan perusahaan dalam likuiditasnya yang dihubungkan dengan kebijakan keuangan yang dilakukan perusahaan. Untuk lebih

28 lengkapnya, Tabel 1 berikut ini menyajikan pengelompokan pengunaan rasio dalam analisis keuangan secara terstruktur. Tabel 1 - Pengelompokan pengukuran dalam analisis rasio keuangan.
Kinerja Rasio Probabilitas NOI/Penjualan NOI/T otal Aktiva NOI/T otal Modal NI/Penjualan NI/Ekuitas (ROI) Perubahan NOI/Perubahan Total Modal Perubahan NI/Perubahan Ekuitas Rasio Pertumbuhan Penjualan NOI Laba Bersih Laba per Saham Dividen per Saham Ukuran Penilaian Efisiensi Operasi Manajemen Aktiva dan Invetasi Harga/Laba Nilai Pasar Ekuitas/Nilai Buku Ekuitas HPP/Persediaan Periode Penagihan Rata-rata Penjualan/Aktiva Tetap Penjualan/T otal Modal Penjualan/T otal Aktiva Perubahan Total Modal/T otal Modal Manajemen Beban Marjin Kotor Beban Pemasaran/Penjualan Biaya Tenaga Kerja/Penjualan T ingkat Pertumbuhan Karyawan Beban Pensiun per Karyawan Beban Pengembangan/Penjualan Kebijakan Kuangan Rasio Leverage T otal Aktiva/Nilai Buku Ekuitas IBD/T otal Modal EBIT /Beban Bunga EBIT +Beban 'Lease'/Beban T etap IBD/Dana dari Operasi Rasio Likuiditas Rasio Lancar Rasio Cepat Kenaikan Laba Ditahan+Penyusutan/Investasi NOI = Laba Operasi Bersih; NI = Laba Bersih; EBIT = Laba sebelum Bunga dan Pajak; IBD = Hutang berbeban Bunga.

Dengan adanya pembagian atau pengelompokan ini, maka dalam rancangan sistem pakar yang dibuat, penulis akan memasukan mekanisme perhitungan rasio berdasarkan kelompoknya dan menyimpan nilai-nilainya sebagai bahan analisis dan diagnosis yang akan dilakukan oleh sistem pakar.

29 Berikut ini penjelasan tujuan dan satuan ukuran dari masing-masing pengukuran rasio seperti yang tersusun pada Tabel 1. Tanda * menunjuk pada satuan ukuran persentase, ** menunjuk pada satuan perbandingan (kali) dan tanda *** merupakan penunjuk pada satuan lainnya yang dapat berupa nilai uang atau hari.

- NOI/Penjualan*, merupakan rasio paling utama yang biasa digunakan dalam menentukan nilai sebuah perusahaan dan bertujuan mengukur arus kas sebelum pengurangan beban bunga dan pajak penghasilan. - NOI/Total Aktiva*, disebut juga Return on Investment (ROI) tujuannya mengukur penggunaan total sumber daya oleh perusahaan. - NOI/Total Modal*, mengukur penggunaan total modal ekonomis yang digunakan oleh perusahaan. - NI/Penjualan*, disebut juga sebagai marjin laba atas penjualan (Profit margin on Sales) dan rasio ini mengukur kekuatan meraih laba dalam penjualannya. - NI/Ekuitas*, disebut juga Return on Equity (ROE), mengukur pengembalian nilai buku kepada pemodal (pemilik perusahaan). - Perubahan NOI/Perubahan Total Modal*, rasio inkrementasl dari

NOI/Total Modal. - Perubahan NI/Perubahan Ekuitas*, rasio inkremental dari NI/Ekuitas. - Penjualan*, NOI*, Laba Bersih*, Laba per Saham* dan Dividen per Saham*, bukan merupakan perhitungan rasio tetapi berupa nilai tingkat pertumbuhan atau penurunan (inkremental/dekremental) antara nilai periode sekarang dengan yang sebelumnya. Perhitungan ini didapat dengan cara

30 mengurangi nilai pos periode sekarang dengan yang sebelumnya dan hasilnya dibagi dengan nilai periode sebelumnya. - Harga Pasar per Saham/Laba per Saham**, disebut juga sebagai Price Earnings Ratio, nilai rasio ini mencerminkan tinggi tingkat pertumbuhan perusahaan. - Harga Pasar per Saham/Nilai Buku Ekuitas**, mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai perusahaan yang terus tumbuh. - HPP/Persediaan**, rasio ini mengukur percepatan perputaran persediaan. - Periode Penagihan Rata-rata***, mengukur seberapa cepat pengembalian piutang dapat diterima, rasio ini didapat dengan cara membagi nilai penjualan tahunan dengan 365 untuk menentukan penjualan harian rata-rata lalu hasilnya menjadi pembagi terhadap nilai piutang yang nantinya akan menghasilkan nilai dalam satuan waktu (hari). - Penjualan/Aktiva Tetap**, mengukur perputaran aktiva tetap. - Penjualan/Total Modal**, mengukur perputaran total aktiva dan

mencerminkan sejauh mana perusahaan melakukan efisiensi terhadap aktivanya. - Penjualan/Total Aktiva**, mengukur perputaran total modal. - Perubahan Total Modal/Total Modal*, rasio ini mengukur tingkat pertumbuhan atau penurunan penggunaan modal bagi aktivitas perusahaan. - Marjin Laba Kotor*, disebut juga sebagai Gross Profit Margin, rasio yang mengukur tinggi rendahnya tingkat pengendalian biaya manufaktur pada perusahaan.

31 - Beban Pemasaran/Penjualan*, sama dengan marjin laba kotor tetapi dilihat dari sudut beban-beban pemasaran. - Biaya Tenaga Kerja/Penjualan*, disebut juga Labor Cost Ratio, sama dengan marjin laba kotor tetapi dilihat dari beban-beban tenaga kerja. - Tingkat Pertumbuhan Karyawan*, mencerminkan tingkat pertumbuhan operasi perusahaan dimana semakin tinggi nilainya makin tinggi pula pertumbuhan operasinya walaupun belum tentu dimpulkan bahwa operasi perusahaan sudah cukup efisien. - Beban Pengembangan/Penjualan*, nilai rasio ini mewakili seberapa besar intensitas perusahaan dalam melakukan inovasi produk. Rasio ini harus melihat jenis industri yang digeluti perusahaan, karena untuk beberapa bidang manufaktur, riset dan pengembangan merupakan hal penting yang mendapat porsi pembiayaan cukup besar, misalnya industri otomotif dan pesawat terbang. - Total Aktiva/Nilai Buku Ekuitas**, disebut sebagai faktor leverage dimana tujuannya mengukur seberapa besar investasi ekuitas pemegang saham diperbesar oleh penggunaan hutang dalam membiayai total modal perusahaan dan merupakan rasio kunci dalam menganalisis ROE. - IBD/Total Modal*, disebut juga sebagai rasio hutang berbeban bunga (Interest-bearing Debt Ratio) berfungsi untuk mengukur porsi pembiayaan modal dengan hutang yang didapat dari luar perusahaan. Bagi sebagian analis, besar nilai IBD harus ditentukan menurut nilai pasarnya tetapi sebagian menganggap cukup dengan nilai buku saja, penulis memilih pendapat kedua dengan anggapan bahwa sifat subjektif dari manajemen perusahaan

32 memberikan pertimbangan pengungkapan nilai-nilai yang ada pada laporan keuangan yang diterbitkan cukup layak setelah diperiksa oleh auditor. - EBIT/Beban Bunga**, rasio ini mengukur seberapa besar laba perusahaan dapat turun tanpa kehilangan kemampuan perusahaan untuk membayar bunga kewajibannya, rasio dibut juga dengan nama rasio penutupan bunga (Interest Coverage Ratio). - EBIT+Beban Lease / Beban Tetap**, hampir sama dengan rasio penutupan bunga tapi nilai EBIT dijumlahkan lagi dengan total biaya sewa (lease), rasio ini disebut rasio penutupan beban tetap (Fixed Charge Ratio). - IBD/Dana dari Operasi**, rasio ini merupakan perhitungan baru yang muncul dikarenakan adanya penekanan pada kewajiban untuk melampirkan laporan arus kas sebagai laporan keuangan dasar. Rasio ini akan mengukur berapa lama kewajiban berbeban bunga dapat dilunasi dari laba yang dihasilkan operasi perusahaan. - Rasio Lancar**, rasio ini paling sering digunakan untuk analisis bagi pihak kreditur jangka pendek karena fungsinya yang mengukur kemampuan sebuah perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. - Rasio Cepat**, merupakan perluasan dari rasio lancar, dimana dalam rasio ini, persediaan yang dianggap sebagai aktiva tidak likuid pada saat likuidasi, tidak diperhitungkan. - Kenaikan Laba Ditahan+Penyusutan / Investasi*, mengukur berapa besar arus kas yang tersedia untuk membiayai investasi.

3.3 Rancangan Perangkat Lunak.

33 Pembangunan sebuah perangkat lunak sistem pakar agak berlainan seperti umumnya pembuatan perangkat lunak aplikasi lainnya, hal ini disebabkan adanya mekanisme yang membutuhkan kaidah-kaidah tidak lazim yang terlibat dalam sebuah pembangunan perangkat lunak aplikasi umumnya. Kaidah tersebut diadakan untuk menjadikan sistem berfungsi seperti yang diharapkan, yaitu mampu membuat sebuah pemecahan atau solusi optimal atas permasalahan yang diberikan penggunanya sebagaimana seorang ahli yang profesional melayani kliennya. Berikut ini deskripsi umum dari prototipe perangkat lunak sistem pakar yang dibuat penulis.

3.3.1 Rancangan Antarmuka Pengguna. Dalam melakukan perancangan antarmuka pengguna dan pembuatan coding perangkat lunak sistem pakar ini, penulis menggunakan bahasa pemrograman generasi ke empat dengan translator yang dipakai adalah Microsoft Visual BASIC versi 4 yang berjalan pada sistem operasi Microsoft Windows 95. Seperti umumnya perangkat lunak yang berjalan dalam sistem operasi Windows 95, sistem pakar akan ini memiliki kerja yang bersifat event-driven dan diakses dengan cara menyediakan menu utama pada menubar dan submenu pada setiap menu utama. Menu utama dikelompokan menjadi lima bagian, yaitu : - Pilihan, menyediakan menu yang bersifat opsional dan memiliki fungsi utilitas. - Konfigurasi, merupakan tempat memasukan data awal yang harus ada. - Analisis, menu ini melakukan fungsi utama dari perangkat lunak sistem pakar. - Jendela, tempat mengatur jendela yang sedang dibuka.

34 - Bantuan, berfungsi sebagai buku panduan yang terintegrasi dengan perangkat lunak.

Dengan adanya pengelompokan menu menurut fungsinya, maka seorang pengguna yang baru sama sekali dalam mencoba sistem pakar ini akan merasa mudah untuk mencobanya dan dengan diterapkannya antarmuka berbasiskan grafis (GUIGraphical User Interface), maka pengguna diharapkan dapat menyimpulkan suatu bentuk interaksi yang dapat dilakukan pada sistem, ini dikarenakan kelebihan sistem berbasiskan grafik yang dapat menampilkan simbol pada layar terminal (komputer) yang cenderung lebih mudah untuk diterjemahkan oleh seorang pengguna dibandingkan antarmuka berbasiskan teks yang menggambarkan suatu pekerjaan dengan rangkaian kata-kata. Gambar-gambar berikut ini merupakan sebagian rancangan user interface dari prototipe perangkat lunak sistem pakar yang dibuat penulis.

35

Gambar 4 - Rancangan Main User Interface.

Gambar 5 - Rancangan dialog jenis usaha perusahaan.

36

Gambar 6 - Rancangan dialog data perusahaan.

Gambar 7 - Rancangan dialog pengisian data laporan keuangan.

37

Gambar 8 - Rancangan dialog pengisian data rasio standar industri.

3.3.2 Rancangan Basis Data Sistem Pakar. Data laporan keuangan dan rasio standar industri pada prototipe sistem pakar yang dibuat ini disimpan dalam sebuah berkas basis data (database file). Ini direncanakan untuk memudahkan pekerjaan analisis di kemudian hari sehingga seorang pengguna tidak perlu melakukan proses tanya jawab dalam memasukan data laporan keuangan dan rasio standar industri bila ia ingin melakukan analisis laporan keuangan berdasarkan nilai rasio keuangan tersebut. Untuk data perusahaan dan jenis bidang usaha perusahaan juga diperlakukan sebagaimana halnya data laporan keuangan dan rasio standar industri, dengan demikian, berkas basis data akan dapat bertambah besar kapasitasnya.

38 Manipulasi data yang dapat diberlakukan oleh prototipe sistem pakar untuk mengatur data yang telah disebutkan adalah menambah, merubah dan menghapus yang dilakukan melalui kegiatan interaksi dengan sistem melalui antarmuka pengguna (user interface) seperti terlihat pada gambar-gambar sebelumnya. Untuk lebih jelasnya mengenai struktur berkas basis data yang dirancang pada prototipe sistem pakar ini, maka berikut ini merupakan daftar table dan field pada berkas basis data yang diberi nama Berkas Basis Data IFSA. Tabel 2 - Struktur basis data tabel Jenis Usaha. Name Type Kode Text Nama Text Keterangan Memo Flag Yes/No Nama tabel : Jenis Usaha PrimaryKey Fields Fungsi :1 : Kode, Ascending : Menyimpan data segemen bidang usaha perusahaan Size 10 50 1

Tabel 3 - Struktur basis data tabel Tabel Perusahaan. Name Type Kode Text Nama Text Bidang Text Tahun Berdiri Date/Time Status Number (Byte) Flag Text Nama tabel : Tabel Perusahaan PrimaryKey Fields Fungsi :1 : Kode, Ascending : Menyimpan nama dan atribut perusahaan

Size 10 35 10 8 1 50

Tabel 4 - Struktur basis data tabel Tabel Laporan Keuangan.

39 Name Kode Perusahaan Periode Pendapatan Harga Pokok Penjualan Beban Pejualan Pendapatan Lain Beban Lain Beban Bunga Beban Pajak Laba Bersih Kas Piutang Persediaan Beban Dibayar Dimuka Total Aktiva Lancar Properti Akumulasi Penyusutan Aktiva Lainnya Total Aktiva Tetap Hutang Jangka Panjang Dibayar Wesel Bayar Hutang Kewajiban Harus Dibayar Total Kewajiban Lancar Hutang Jangka Panjang Kewajiban Lainnya Pajak Ditangguhkan Total Kewajiban Modal Saham Saham Perbendaharaan Laba Ditahan Penyesuaian Kurs Total Ekuitas Total Balance Nilai Pasar per Saham Nilai Buku per Saham Laba per Saham Deviden per Saham Nilai Pasar Ekuitas Beban Riset Produk Flag Nama tabel : Tabel Laporan Keuangan PrimaryKey :2 Type Text Text Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Currency Yes/No Size 10 4 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 1

40 Fields : Kode Perusahaan, Ascending Periode, Ascending Fungsi : Menyimpan data laporan keuangan per perusahaan dan periode

41 Tabel 5 - Struktur basis data tabel Tabel Standar Industri. Name Type Kode Jenis Usaha Text Periode Text NOI/Penjualan Number (Byte) NOI/Total Aktiva Number (Byte) NOI/Total Modal Number (Byte) NI/Penjualan Number (Byte) NI/Ekuitas (ROE) Number (Byte) Delta NOI/Delta Total Modal Number (Byte) Delta NI/Delta Ekuitas Number (Byte) Penjualan Number (Byte) NOI Number (Byte) Laba Bersih Number (Byte) Laba per Saham Number (Byte) Deviden per Saham Number (Byte) Harga/Laba Number (Byte) Nilai Psr Ekuit./Nilai Buku Ekuit. Number (Byte) HPP/Persediaan Number (Byte) Periode Penagihan Number (Byte) Penjualan/Aktiva Tetap Number (Byte) Penjualan/Total Modal Number (Byte) Penjualan/Total Aktiva Number (Byte) Delta Total Modal/Total Modal Number (Byte) Laba Kotor/Penjualan Number (Byte) Bbn Pemasaran & Adm/Penjualan Number (Byte) Beban Riset/Penjualan Number (Byte) Total Aktiva/Nilai Buku Ekuitas Number (Byte)

Size 10 4 1 1 1 1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

Tabel 5 (lanjutan) - Struktur basis data tabel Tabel Standar Industri. Name Type Size IBD/Total Modal Number (Byte) 4 EBIT/Beban Bunga Number (Byte) 4 Rasio Lancar Number (Byte) 4 Rasio Cepat Number (Byte) 4 Flag Yes/No 1 Nama tabel : Tabel Standar Industri PrimaryKey Fields :2 : Kode Jenis Usaha, Ascending Periode, Ascending

42 Fungsi : Menyimpan data rasio industri per bidang usaha dan periode

Tabel 6 - Struktur basis data tabel Tabel Basis Pengetahuan - Aturan. Name Type Size Kode Aturan Number (Long) 4 Pertanyaan Text 255 Respon Number (Long) 4 Analisis Number (Long) 4 Flag Yes/No 1 Nama tabel : Tabel Basis Pengetahuan - Aturan PrimaryKey Fields Fungsi :1 : Kode Aturan, Ascending : Menyimpan data basis aturan dan pertanyaan (manual)

43 Tabel 7 - Struktur basis data tabel Tabel Basis Pengetahuan - Respon. Name Type Size Kode Respon Number (Long) 4 Arah Aturan Number (Long) 4 Jawaban Text 255 Solusi Memo Flag Yes/No 1 Nama tabel : Tabel Basis Pengetahuan - Respon PrimaryKey Fields Fungsi :1 : Kode Respon, Ascending : Menyimpan data simbol respon dan pernyataan akhir (manual)

3.3.3 Rancangan Sistem Pakar. Rancangan logika sistem pakar didapat dari proses perolehan pengetahuan (knowledge acquisition), yaitu sebuah prosedur dalam pembangunan sistem pakar, dimana seorang pembuat sistem melakukan representasi dari keahlian yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat dijabarkan dan dibuatkan suatu aritmatika dan logika secara terkomputerisasi. Gambar-gambar pada halaman Lampiran merupakan beberapa decision tree yang mengilustrasikan representasi pengetahuan yang telah dilakukan oleh penulis. Seperti diketahui bahwa pola utama dari sistem pakar adalah mengatur perilaku aturan yang akan dihubungkan dengan simbol-simbol pernyataan. Dalam pembuatan prototipe sistem pakar ini, penulis telah merancang suatu mekanisme pengendalian basis aturan yang tidak dimiliki oleh Visual BASIC dengan mengemulasikan kemampuan translator pemrograman sistem pakar VP Expert. Model dari rancangan logika ini, dapat digambarkan seperti berikut ini.

44

A tu ra n A w a l
A tu r a n = 1 A tu r a n = A m b il A tu r a n ( R e s p o n ) R e s p o n = A m b ilR e s p o n ( A tu r a n )

T a b e l A tu r a n

" K e y P r e s s in g E v e n t " P e m r o s e s a n s im b o l- s im b o l b a s is p e n g e ta h u a n d a n p e n g a tu r a n h e u r is tik

T abel R espon

A tu ra n = N a m a F u n g s iR a s io

T e r ja w a b = tru e

F u n g s i K a lk u la s i R a s io

P e r n y a t a a n A k h ir

Gambar 9, Rancangan mekanisme sistem pakar.

Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut : - Langkah awal adalah meng-assign Aturan sebagai variabel pengendali perilaku aturan dengan kode awal. - Nilai Aturan akan memicu pengaksesan daftar kemungkinan jawaban dari perilaku aturan yang terdapat pada tabel Tabel Basis Pengetahuan - Aturan dimana field Respon menjadi acuan pembuka tabel Tabel Basis Pengetahuan - Respon, yaitu pada field Kode Respon. Kesemua langkah ini secara implementasi pemrograman dikumpulkan pada fungsi yang bernama AmbilRespon() (lihat Lampiran 6) dengan variabel parameter pengarahnya (driver parameter variable) adalah Aturan (a = AmbilRespon(Aturan)) dan nilai baliknya akan ditampung ke dalam variabel Respon sebagai variabel pengendali respon dan bertipe long integer. Dari langkah ini, maka sistem akan

45 mendapatkan definisi (simbol-simbol pernyataan) kemungkinan jawaban dari aturan yang telah diarahkan. - Daftar record respon merupakan suatu daftar kemungkinan jawaban yang dapat dipilih oleh pengguna sistem dan ini dapat berarti suatu langkah perilaku aturan berikutnya atau dapat juga berarti suatu pernyataan akhir (goal state). Untuk membedakan hal ini, maka penulis memberikan pengendalian pada field Arah Aturan pada tabel Tabel Basis Pengetahuan - Respon, yaitu bila nilai field ini adalah 0, maka respon yang terjadi merupakan suatu pernyataan akhir dan selain itu merupakan suatu langkah pengendalian perilaku aturan yang baru. Semua langkah ini terkumpul pada fungsi yang diberi nama AmbilAturan() (lihat Lampiran 4) dimana fungsi ini memiliki parameter Respon dan nilai balik yang dihasilkan adalah Aturan bertipe long integer. - Karena selain melakukan tanya jawab, sistem juga melakukan perbandingan rasio (ingat, bahwa analisis rasio keuangan akan efektif bila digunakan sebuah perbandingan) terhadap rasio standar industri, maka untuk mendapatkan nilai dan perilaku aturan yang dipicu oleh hasil perbandingan rasio tersebut, penulis membuatkan masing-masing fungsi perhitungan setiap rasio yang nantinya akan memberikan nilai balik kepada nilai Aturan (lihat Lampiran 4-6). Setiap fungsi ini di dalamnya akan mengakses tabel yang berisi data laporan keuangan dan data rasio industri dan dari kalkulasi ini, maka fungsi akan menghasilkan nilai berupa variabel bertipe long integer. Untuk membedakan, bahwa aturan yang harus dijalankan merupakan suatu analsis perbandingan rasio dan bukan merupakan suatu pertanyaan, maka, penulis telah merancang pengendalian hal ini, yaitu terdapat pada isi dari field Respon pada tabel Tabel Basis

46 Pengetahuan - Aturan, dimana bila nilai ini berisi 0, maka perilaku aturan selanjutnya adalah sebuah analisis perbandingan rasio dan bukan merupakan suatu pertanyaan. Field Analisis akan memicu pemanggilan fungsi analisis perbandingan rasio (lihat Lampiran 4-6) dan hasilnya disimpan pada variabel Aturan. - Bila sebuah nilai pernyataan akhir ditemukan, dimana ini terjadi bila nilai field Arah Aturan pada Tabel Basis Pengetahuan - Respon adalah 0, maka variabel flag pengendali mekanisme perulangan sistem pakar, Terjawab, akan di-set menjadi true. Nilai true dari Terjawab akan memicu tampilnya jendela yang memuat hasil analisis yaitu isi dari field Solusi pada tabel Tabel Basis Pengetahuan - Respon.

Gambar 9 (halaman 51) beserta penjelasannya merupakan penerangan bagaimana basis aturan, mesin kesimpulan dan pola heuristik dibentuk pada prototipe sistem pakar penganalis laporan keuangan ini dan sekaligus menjadi implementasi dari teori hubungan komponen pembangunan sistem pakar yang diilustrasikan pada Gambar 1 sebelumnya (halaman 22). Untuk basis pengetahuan, sistem mendapatkannya dari proses perolehan pengetahuan yang penjabarannya berupa nilai-nilai pada field Pertanyaan pada tabel Basis Pengetahuan - Aturan dan field Jawaban serta field Solusi pada tabel Basis Pengetahuan - Respon dan kesemuanya diisikan melalui pemetaan secara manual dengan menggunakan perangkat lunak database Microsoft Access. Model penalaran yang diimplementasikan untuk dikenakan pada pola heuristik prototipe ini adalah berupa model penalaran menuju solusi yang secara

47 pengilustrasiannya tidak dapat terlihat secara coding dikarenakan basis pengetahuan ditempatkan pada sebuah database file, tapi bila disimak dari hasil representasi pengetahuan yang terdapat pada decision tree hal ini dapat terlihat jelas. Karena alat pembangunan sistem yang penulis gunakan merupakan suatu bahasa pemrograman yang memiliki pola event-driven, maka ada perbedaan yang cukup mencolok bila dibandingkan alat pembangunaan yang khusus untuk merancang sistem pakar, seperti VP Expert atau Prolog. Hal yang amat berbeda ini dapat dilihat dari penerapan peletakan simbol-simbol pernyataan dan pola pengaturan yang secara jelas harus dideklarasikan pada Prolog dan VP Expert tetapi tidak didapati pada Visual BASIC. Tapi karena kelebihan fasilitas yang ada pada Visual BASIC, maka tahapan deklarasi ini dapat digantikan dengan cara menggantikan peletakannya pada sebuah berkas basis data atau variabel global dan penulis memilih alternatif pertama dengan pertimbangan bila semakin leluasa basis pengetahuan (dan aturannya) dapat dirubah maka semakin mudah pengguna dapat menambah kemampuan analisis dan diagnosis prototipe sistem pakar penganalis laporan keuangan ini. Selain hal tersebut, pada Prolog dan VP Expert, translator mengeksekusi coding dengan cara mengolah daftar basis pengetahuan dalam sebuah perulangan (yang tidak terlihat oleh pemrogram) hingga ditemukannya sebuah simbol pernyataan akhir tetapi pada Visual BASIC dengan kelebihan even-driven-nya, maka proses perulangan ini tidak perlu dibuat karena adanya pengaturan eksekusi program menurut aksi pengguna terhadap layar melalui penekanan keyboard atau mouse clicking. Oleh karena itu, penulis meletakan algoritma pengendalian perilaku Aturan pada key-pressing event (Gambar 9). Dengan merujuk pada materi yang dijadikan tema dalam prototipe sistem pakar ini, maka penulis menekankan perolehan pengetahuan yang mendalam mengenai

48 analisis laporan keuangan berdasarkan nilai rasio keuangan, dengan ini berarti model pencarian yang melandasi perancangan prototipe adalah konsep pencarian solusi yang mengandalkan pada kedalaman kemampuan seorang pakar sehingga reperesentasi pengetahuan yang dijalankan menghasilkan suatu pola pemetaan pengetahuan yang hasilnya adalah struktur tabel Tabel Basis Pengetahuan - Aturan dan Tabel Basis Pengetahuan - Respon, selain hal tersebut, pertimbangan penulis lainnya, adalah kriteria konsep analisis laporan keuangan yang memiliki prosedur untuk menganalisis setiap perbandingan nilai rasio secara penurunan. Pada bab selanjutnya, penulis akan mengulas, bagaimana hasil rancangan prototipe sistem pakar ini diimplementasikan.

BAB 4 IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR

4.1 Implementasi. Prototipe perangkat lunak sistem pakar ini sebenarnya belum dibuat untuk bidang jenis usaha secara menyeluruh melainkan hanya pada perusahaan kelompok manufaktur dan perdagangan, hal ini dikarenakan adanya perbedaan mencolok dari perusahaan yang memproduksi jasa pada laporan keuangannya sehingga bila seorang pengguna ingin memasukan data laporan keuangan dari perusahaan jenis ini akan mengalami kesulitan untuk menempatkan beberapa pos laporan keuangan ke dalam basis data sistem pakar. Sampai saat sistem telah siap diimplementasikan, penulis belum menemukan suatu aturan baku yang berasal dari standar konvensi akuntansi Indonesia yang ada menyebutkan bahwa Laporan Arus Kas merupakan suatu bentuk laporan keuangan dasar yang harus diterbitkan dan diberitakan kepada publik. Hal ini menjadi halangan penulis untuk mengadakan prosedur knowledge aquisition dan merancang mekanisme interaksi yang memungkinkan sistem menganalisis bentuk laporan keuangan dasar tersebut. Ketiadaan standar ini akan lebih menyempitkan pengetahuan yang didapat oleh sistem dikarenakan kemampuan analisis yang seharusnya ada telah dibatasi oleh ruas domain, dalam hal ini adalah model analisis rasio keuangan, yang model penggunaannya secara aktual tidak mengadakan fakta-fakta atau kejadian analisis laporan keuangan pada Laporan Arus Kas tersebut. Analisis rasio keuangan, pada prakteknya merupakan sebuah perangkat kerja analisis yang harus digabungkan dengan perangkat analisis lainnya untuk dapat menghasilkan sebuah kebijakan bidang keuangan yang benar-benar layak untuk diambil. 49

50 Banyaknya unsur pertimbangan dari si pengambil keputusan membuat prosedur ini akan mengalami hal-hal yang lebih bersifat subjektif bila tidak mengabaikan semua yang melatarbelakangi kepentingan dan tujuan analisis laporan keuangan. Dengan merujuk kembali pada apa yang didefinisikan sebagai sebuah perangkat decision support system, maka prototipe perangkat lunak sistem pakar penganalis laporan keuangan ini memang diciptakan untuk menjadi alat bantu sehingga hasil yang didapat bukan merupakan suatu jawaban absolut bagi seseorang yang menggunakannya.

4.2 Mekanisme Kerja Perangkat Lunak. Karena hal utama yang menjadi bahan analisis dari sistem pakar yang dirancang adalah laporan keuangan, maka sistem harus dibuat untuk menerima seluruh data laporan keuangan yang dibutuhkan sebagai langkah pertama yang harus dilakukan oleh pengguna. Dari langkah ini, pengguna harus mengisi nilai-nilai rasio standar industri menurut tahu dan jenis bidang usaha. Dengan dimasukannya nilai-nilai tersebut, sistem telah dapat memulai analisisnya, yaitu dengan menghitung dan menyimpan nilai-nilai rasio keuangan yang berasal dari laporan keuangan yang telah diisikan oleh pengguna. Yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini adalah, sistem harus mencegah aktivitas analisis bila pengguna tidak memberikan data rasio standar industri, mengingat bahwa analisis rasio keuangan hanya efektif bila ada laporan keuangan lainnya sebagai pembanding atau sebuah nilai standar rasio pada bidang industri tertentu. Data perusahaan dan jenis atau bidang usaha perusahaan harus dikonfigurasikan terlebih dahulu sebelum memulai semua kegiatan, jadi menu pengisian data laporan keuangan dan analisis laporan keuangan tidak akan aktif bila sistem tidak pernah mendapat data perusahaan dan jenis usaha perusahaan yang akan dianalisis.

51 Setelah semua prosedur dasar dilakukan, maka pengguna dapat menjalankan menu analisis sistem pakar, dimana menu ini akan melakukan perhitungan rasio dan hasilnya akan diperbandingkan dengan nilai rasio standar industri yang telah dimasukan. Setelah itu konfirmasi analisis harus dilakukan untuk memulai prosedur tersebut yang isinya merupakan sebuah prosedur tanya jawab antara pengguna dengan sistem pakar. Pembentukan daftar interaksi antara penguna dengan sistem pakar, yang berupa daftar pertanyaan, dibuat setelah sistem mengadakan perhitungan rasio keuangan dan diperbandingkan dengan nilai rasio standar industri. Nilai-nilai yang diperbandingkan akan membangkitkan komponen prosedur analisis sistem, misalnya bila hasil analisis pos rasio margin profit yang lebih rendah dibandingkan rasio standar industri dan rasio asset turnover yang juga lebih rendah, maka keadaan ini akan memicu daftar pertanyaan mengenai rasio Return on Equity. Dari serangkaian pertanyaan yang akan dijawab oleh pengguna, maka sistem akan membentuk opini sampai pada batasan optimalnya, yaitu berupa saran atau komentar untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk perawatan berkas basis data, penulis telah menyiapkan dua buah fungsi yang diletakan pada menu Pilihan, yang pertama adalah untuk melakukan indexing yang akan berfungsi untuk mempercepat akses data dan yang kedua adalah untuk melakukan backup berkas basis data. Dengan penjabaran mekanisme perangkat lunak di atas, maka Gambar 10 berikut ini adalah skema mekanisme sistem pakar dalam bentuk ilustrasi.

52

B id a n g U s a h a

P e ru s a h a a n

L a p o ra n K e u a n g a n

R a s io In d u s tr i

T a h a p a n K o n f ig u r a s i T a h a p a n A n a lis is

B a s is P e n g e ta h u a n

P ro s e s A n a lis is "P a k a r"

B a s is A tu r a n

H a s il A n a l is i s " P a k a r "

Gambar 10, Implementasi rancangan mekanisme sistem pakar.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan. Walaupun analisis rasio keuangan merupakan suatu alat yang berguna dalam melakukan penilaian pada sebuah perusahaan yang dilihat dari laporan keuangan yang dikeluarkannya, namun metoda ini tidak terhindar dari berbagai keterbatasan dan harus digunakan secara hati-hati dan bijaksana. Rasio yang disusun dari data akuntansi ini dapat merupakan sebuah manipulasi penafsiran yang berbeda tapi masih berada pada metoda standar konvensi akuntansi dari pihak yang melakukannya. Sebagai kasus, dua buah perusahaan mungkin menggunakan model yang berbeda dalam melakukan penilaian terhadap persediannya dan ini akan berpengaruh pada laba yang didapat, baik lebih tinggi maupun kurang atau berjumlah material maupun tidak. Keadaan ini akan dapat menimbulkan tidak efektifnya penggunaan standar rasio perbandingan bahkan bila perusahaan yang dinilai saat itu menggunakan periode akuntansi yang tidak normal dan produktivitas operasionalnya amat dipengaruhi oleh kegiatan musiman, maka akan terlihat jelas sekali mengapa analisis rasio keuangan menjadi hal yang amat subjektif. Untuk menutupi masalah ini, hal yang paling mungkin dapat dilakukan agar subjektifitas yang ada dapat berkurang adalah dengan cara merekonsiliasi atas berbagai bentuk perbedaan pokok yang terjadi dalam pengolahan dan penyajian data laporan keuangan. Lebih lanjut, keberadaan hasil rasio keuangan belum tentu mencerminkan hal yang sebenarnya terjadi, hal ini dapat dicontohkan bila sebuah perusahaan memiliki nilai-nilai yang superior pada rasio keuangannya, dapat saja merupakan hasil sebuah perhitungan dan penyajian laporan keuangan yang tidak normal dan konsisten, keadaan ini harus 53

54 ditanggulangi dengan cara mendapatkan dan mengembangkan informasi selalu dari pihak pertama mengenai kegiatan operasi dan manajemen perusahaan yang dianalisis untuk menguji nilai rasio keuangan yang ada. Secara keseluruhan, faktor-faktor kemampuan analisis yang diemulasikan pada prototipe perangkat lunak sistem pakar ini belum cukup untuk menanggulangi hal-hal yang disebutkan sebelumnya dikarenakan kompleksitasnya nilai-nilai pertimbangan yang dapat dilakukan oleh seorang analis keuangan yang ahli adalah amat banyak sedangkan kesediaan waktu yang terbatas merupakan halangan terbesar untuk melakukan penyempurnaannya akan tetapi sebagai sebuah pemenuhan kebutuhan alat bantu analisis dan education tool bagi pihak internal sebuah perusahaan, penulis menganggapnya sebagai suatu hal yang sudah cukup memenuhi syarat.

5.2 Saran. Dengan mempertimbangkan hal-hal yang berkenaan dengan kebutuhan instrumen analisis dan perkembangan serta perubahan dinamis dari kegiatan analisis laporan keuangan secara menyeluruh, maka ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk dapat menyempurnakan protipe perangkat lunak sistem pakar ini di masa mendatang, antara lain : - Instrumen analisis yang bersifat ekonomi mikro dan makro yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan sistem pakar bisa ditambahkan, misalnya dengan memasukan faktor analisis hubungan kegiatan perdagangan bebas dengan pola indutri dan distribusi suatu produk atau jasa dari suatu perusahaan hingga pengaruhnya dapat terjadi pada laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan tersebut. Instrumen ini dapat saling terkait dengan

55 model demografis dan keuntungan komparatif yang dimiliki suatu negara dalam perdagangan bebasnya. - Model pengembangan analisis rasio keuangan lebih lanjut dapat ditambahkan dengan memperhatikan model rasio yang sudah ada, misalnya dengan memasukan model rasio keuangan yang dikembangkan dan digunakan oleh konglomerasi Du Pont atau analis Edward Altman. - Pemisahan jenis bidang usaha dapat ditingkatkan hingga menyentuh pada kelompok usaha yang memproduksi jasa seperti bank, lembaga keuangan non bank, yayasan pendidikan, asuransi atau lainnya dengan memperhatikan keberadaan faktor-faktor analisis rasio non produksi. - Satu atau beberapa alat bantu grafik sebagai pemandu analisis di luar kinerja analisis yang dapat dilakukan oleh sistem pakar dapat ditambahkan untuk menggambarkan tren inkremental dan dekremental nilai rasio yang nantinya akan diperbandingkan dengan rasio standar industri menurut aturan beberapa periode, misalnya untuk 5 tahunan atau 10 tahunan.

Secara garis besar, untuk dapat menjadikan protipe perangkat lunak sistem pakar penganalis laporan keuangan berdasarkan nilai rasio keuangan ini bisa diaplikasikan secara umum, efektif dan komersil masih diperlukan beberapa langkah lebih lanjut, seperti melewati prosedur pemeriksaan kualitas user interface, relevansi dan integrasi antara fungsi perangkat lunak dengan ruas masalah yang dijadikan topik sistem pakar dan nilai utilitas dari perangkat lunak ini sendiri.

56

DAFTAR PUSTAKA

Burch, John dan Gary Grudnitski. 1986. Information System Theory and Practice 4th Edition. John Willey and Sons, New York. Luger, George F dan William A. Stubblefield. 1993. Artificial Intelligence: Structures and strategies for complex problem solving. The Benjamin/Cumming Pub. Com. Inc., California. Martin, James. 1990. Information Engineering, Book III - Design and Construction. Prentice-Hall Inc., New Jersey. Mulyadi. 1993. Sistem Akuntansi Edisi 3. STIE YKPN, Yogyakarta. Munawir, Slamet. 1992. Analisis Laporan Keuangan. Liberty, Yogyakarta. Rich, Elaine dan Kevin Knight. 1991. Artificial Intelligence 2nd Edition. McGraw-Hill, New York. Turban, Efraim. 1993. Decision Support and Expert System: Management Support System 3rd Edition. Macmillan, New York. Weston, J. Fred dan Thomas E. Copeland. 1995. Manajemen Keuangan Edisi 9. Bina Rupa Aksara, Jakarta.

RIWAYAT HIDUP

Nama NIM Alamat Kelahiran Agama Telepon Pendidikan

: : : : : : :

Robby Ligsca Siregar 0102910565 Jl. H. Mochtar Raya-84, 03/06, Jakarta 15156. Sumedang, 2 November 1972. Islam 021 584 9329 - SD Hang Tuah IV, Jakarta - 1985. - SMPN 19, Jakarta - 1988. - SMAN 70, Jakarta - 1991. - STMIK Bina Nusantara, Jakarta - sekarang.

Pekerjaan Lain-lain

: :

Geosys Intipiranti, 1995-Sekarang. Ketua Himpunan Mahasiwa Jurusan Komputerisasi Akuntansi, STMIK Bina Nusantara 1993-1994.

R a s i o N O I/ P e n j u a l a n L e b i h k e c i l / a b n o rm a l N o rm a l P ro s e d u r P e n j u a la n B a ik T id a k B a ik A n=3 L e b i h b e s a r /s u p e r i o r

K o n tro l P e n j u a l a n B a ik T id a k B a ik A n=2

A n=2

A n=8

A n=19

Gambar L1, Decision Tree Analisis NOI per Penjualan (An=1)

Keterangan :
An=2 : Analisis NOI per Aktiva An=3 : Analisis NOI per Modal An=8 : Analisis pertumbuhan penjualan An=19 : Analisis Penjualan per Aktiva

Lampiran - 1

R a s io N O I/T o ta l A k tiv a L e b ih k e c i l /a b n o rm a l N o rm a l A n=3 A n=8 L e b ih b e s a r/s u p e ri o r

A n=4

Gambar L2, Decision Tree Analisis NOI per Total Aktiva (An=2)

An=3 : Analisis NOI per Modal An=4 : Analisis NI per Penjualan An=8 : Analisis pertumbuhan penjualan

Lampiran - 2

L e b ih k e c i l /b e s a r a ta u a b n o r m a l / s u p e ri o r T in g k a t In fl a s i < P e rtu m b u h a n Y a A k s e s k e le m b a g a k e u a n g a n M udah T id a k M u d a h m e n d a p a t k re d i t Y a

R a s io N O I/T o ta l M o d a l N o rm a l

A n=8

T id a k

A n=15

A n=13

T id a k

A n=8

A n=21

Gambar L3, Decision Tree Analisis NOI per Total Modal (An=3)

An=8 : Analisis Pertumbuhan Penjualan An=13 : Analisis Harga Pasar Saham per Laba Saham An=15 : Analisis HPP per Persediaan An=21 : Analisis Marjin Kotor

Lampiran - 3

L e b ih k e c i l /b e s a r a ta u a b n o r m a l /s u p e ri o r I n d u s t ri P a d a t M o d a l Y a

R a s i o N I/ T o t a l M o d a l N o rm a l

A n=5 T id a k

A n=18

A n=5

Gambar L4, Decision Tree Analisis NI per Penjualan (An=4)

An=18 : Analisis Penjualan per Total Modal An=5 : Analisis NI per Ekuitas

Lampiran - 4

S edang E k spans i U saha L e b ih k e c i l /a b n o rm a l N o rm a l S edang E ks pansi U saha Y a T id a k A n=8 A n=12 L e b ih b e s a r/s u p e ri o r

A n=9 Y a

B e re n c a n a E k s p a n s i T id a k

P enam bahan M odal Y a T id a k

A n=8

A n=21 Y a

D i v e rs i fi k a s i U s a h a T id a k

A n=12

A n=8

Gambar L5, Decision Tree Analisis NI per Ekuitas (An=5)

An=8 An=9

: Analisis Pertumbuhan Penjualan : Analisis Pertumbuhan NOI

An=12 : Analisis Pertumbuhan Dividen Saham An=13 : Analisis Dividen Saham An=21 : Analisis Marjin Kotor

Lampiran - 5

L e b ih k e c i l /b e s a r a ta u a b n o r m a l /s u p e ri o r

R a s i o D e l t a N O I / D e l ta T o t a l M o d a l N o rm a l

A n=17

A n=7

Gambar L6, Decision Tree Analisis Delta NOI per Delta Total Modal (An=6)

An=7

: Analisis Delta NI per Delta Ekuitas

An=17 : Analisis Penjualan per Aktiva Tetap

Lampiran - 6

R a s i o D e l t a N I/ D e l t a E k u i t a s L e b ih k e c i l /b e s a r a ta u a b n o r m a l /s u p e ri o r P e m b e l i a n s a h a m tre s u ri Y a N ila i s a h a m > n ila i p a s a r Y a T id a k A n=21 T id a k N o rm a l

A n=8

A n=13

A n=14

Gambar L7, Decision Tree Analisis Delta NI per Delta Ekuitas (An=7)

An=8

: Analisis Pertumbuhan Penjualan

An=13 : Analisis Harga Pasar Saham per Laba Saham An=14 : Analisis Nilai Pasar Ekuitas per Nilai Buku Ekuitas An=21 : Analisis Marjin Kotor

Lampiran - 7

C a k u p a n d i s t ri b u s i L e b ih k e c il/b e s a r a ta u a b n o rm a l /s u p e rio r C a k u p a n d i s tr i b u s i Lokal P ro s e s d i s tri b u s i Langsung L e w a t P e r a n ta r a P e ra n ta ra le b ih d a ri 1 p i h a k Y a T id a k Langs ung A n=22 A n=16 A n=16 P ro s e s d is trib u s i L e w a t P e ra n ta r a P e ra n ta ra l e b ih d a ri 1 p i h a k Y a T id a k Y a A n ta r re g i o n a l T id a k D i s t ri b u s i t e rp u s a t Y a A n=16 T id a k R e g io n a l N o rm a l

A n=22

A n=22

A n=16

A n=22

A n=16

Gambar L8, Decision Tree Analisis Marjin Kotor (An=21)

An=16 : Analisis Periode Penagihan Rata-rata An=22 : Analisis Beban Pemasaran per Penjualan

Lampiran - 8

Algoritma program, implementasi dari Gambar 9 :


Private Sub Picture1_KeyPress(KeyAscii As Integer) Dim a As Byte If Not CekKunciAngka(KeyAscii) Then KeyAscii = 0 'Cek penekanan tombol keyboard apakah termasuk kunci angka ("0"-"9") If KeyAscii > 0 Then If Respon > 0 Then 'Jika respon bukan 0 maka respon berupa aturan lanjutan atau goal (terjawab=true) Set tRS = "Select * from " & tblRespon & " where Kode=" & Str(Respon) & " order by Respon ASC" 'Buka tabel jawaban tRS.MoveLast a = tRS.RecordCount 'Hitung jumlah kemungkinan jawaban yang tersedia tRS.MoveFirst Picture1.Print "(R) : " For a = 0 To tRS.RecordCount - 1 'Tampilkan kemungkinan jawaban Picture1.Print Trim(Str(a)); ". "; tRS!Jawaban.Value; ; Next Picture1.Print 'Cek penekanan kunci angka apakah sesuai dengan jumlah pilihan jawaban If Asc(KeyAscii) <= Chr(a) Then tRS.AbsolutePosition = Val(Asc(KeyAscii)) 'Set posisi rekord sesuai pilihan user 'Validasi penekanan kunci jawaban If tRS!Respon.Value = 0 Then 'Bila nilai field 'Respon' adalah 0 maka hasil respon adalah sebuah solusi/saran/komentar Terjawab = True 'Set flag var untuk menampilkan hasil analisis Picture1.Print "(S)" Picture1.Print AmbilSolusi(tRS!Solusi.Value) Else 'Bila nilai field 'Respon' selain 0 maka ada langkah selanjutnya untuk analisis Aturan = AmbilAturan(Respon) 'Lakukan analisis berikutnya End If Else 'Jika respon 0 maka program harus menghitung nilai dari rasio keuangan dan meng-'generate' aturan Analisis = AmbilRespon(Aturan) Select Case Analisis 'Daftar perhitungan rasio dan pengaturan perilaku aturan berdasarkan hasil rasio Case 1 Aturan = AnalisisNOIperPenjualan() Case 2 Aturan = AnalisisNOIperAktiva() Case 3 Aturan = AnalisisNOIperModal() Case 4 Aturan = AnalisisNIperPenjualan() Case 5 Aturan = AnalisisNIperEkuitas() Case 6 Aturan = AnalisisDltNOIperDltModal()

Lampiran - 9

Case 7 Aturan = AnalisisDltNIperDltEkuitas() Case 8 Aturan = AnalisisPertumPenjualan() Case 9 Aturan = AnalisisPertumNOI() Case 10 Aturan = AnalisisPertumNI() Case 11 Aturan = AnalisisPertumNS() Case 12 Aturan = AnalisisPertumDividen() Case 13 Aturan = AnalisisHargaperLabaSaham() Case 14 Aturan = AnalisisPasarperBukuEkuitas() Case 15 Aturan = AnalisisHPPperPersediaan() Case 16 Aturan = AnalisisPenagihan() Case 17 Aturan = AnalisisPenjualanperAktivaTetap() Case 18 Aturan = AnalisisPenjualanperModal() Case 19 Aturan = AnalisisPenjualanperAktiva() Case 20 Aturan = AnalisisDltModalperModal() Case 21 Aturan = AnalisisMarjinKotor() Case 22 Aturan = AnalisisPemasaranperPenjualan() Case 23 Aturan = AnalisisKerjaperPenjualan() Case 24 Aturan = AnalisisTumbuhKaryawan() Case 25 Aturan = AnalisisPensiun() Case 26 Aturan = AnalisisPengembangan() Case 27 Aturan = AnalisisAktivaperBukuEkuitas() Case 28 Aturan = AnalisisIBDperModal() Case 29 Aturan = AnalisisEBITperBunga() Case 30 Aturan = AnalisisEBITplusLeaseperTetap() Case 31

Lampiran - 10

Aturan = AnalisisIBDperOperasi() Case 32 Aturan = AnalisisLancar() Case 33 Aturan = AnalisisCepat() Case 34 Aturan = AnalisisNaikLbDitahanplusSusutperInvetasi() End Select End If End If If Terjawab Then 'Jika respon menghasilkan solusi DetilAnalisisForm.Show 1 'Tampilkan jendela hasil analisis Unload Me Else Respon = AmbilRespon(Aturan) 'Lanjutkan analisis dengan menjalankan perilaku aturan yang baru End If End Sub

Lampiran - 11

Gambar L9, Rancangan dialog data retrieval analisis sistem pakar

Gambar L10, Rancangan dialog analisis sistem pakar

Lampiran - 12

Gambar L11, Rancangan dialog hasil analisis sistem pakar

Lampiran - 13