Anda di halaman 1dari 2

CH CH etuna Nama umum Asetilena Nama sistematis Etuna Rumus kimia C2H2 Massa molar 26.

.0373 g/mol Massa jenis 1.09670 kg/m3 (gas) Temperatur autosulutan 305 C Ambang ledakan 2.582% Temperatur maksimum pembakaran 3300 C Titik lebur -84 C Titik didih -80.8 C

Asetilena (Nama sistematis: etuna) adalah suatu hidrokarbon yang tergolong kepada alkuna, dengan rumus C2H2. Asetilena merupakan alkuna yang paling sederhana, karena hanya terdiri dari dua atom karbon dan dua atom hidrogen. Pada asetilena, kedua karbon terikat melalui ikatan rangkap tiga, dan masing-masing atom karbon memiliki hibridisasi orbital sp untuk ikatan sigma. Hal ini menyebabkan keempat atom pada asetilena terletak pada satu garis lurus, dengan sudut C-C-H sebesar 180. Asetilen (C2H2) adalah gas yang tidak berwarna, mudah terbakar, dengan bau mirip bawang putih. Asetilen adalah gas sintetis yang diproduksi dari reaksi Kalsium Karbid dengan air, dan disimpan dalam silinder yang berisi cairan Aseton. Dari semua gugus alkuna, hanya asetilena ( etuna ) yang mempunyai nilai ekonomis penting. Asetilena merupakan gas terkompresi yang digunakan sebagai bahan bakar dan disimpan dalam keadaan cair. Ketika katup dibuka dan tekanan dilepaskan sebagian cairan berubah menjadi gas. Gas ini kemudian digunakan dengan perangkat yang terhubung ke suatu silinder. Karena asetilena disimpan sebagai cairan, silinder tersebut hanya akan bekerja dengan baik jika tangki digunakan dalam posisi tegak. Menggunakan atau menyimpan tangki dalam posisi yang lain bisa sangat berbahaya. Asetilena ditemukan oleh Edmund Davy pada 1836, yang menyebutnya karburet baru dari hidrogen. Nama asetilena diberikan oleh kimiawan Perancis Marcellin Berthelot, pada 1860. Pada 1812, sebuah ledakan asetilena membutakan fisikawan Gustaf Daln, yang kemudian di tahun yang sama memperoleh hadiah Nobel di bidang fisika. Pembuatan Bahan utama pembuatan asetilena adalah kalsium karbonat dan batubara. Kalsium karbonat diubah terlebih dahulu menjadi kalsium oksida dan batubara diubah menjadi arang, dan keduanya direaksikan menjadi kalsium karbida dan karbon monoksida, CaO + 3C CaC2 + CO

Kalsium karbida (atau kalsium asetilida) kemudian direaksikan dengan air dengan berbagai metode, menghasilkan asetilena dan kalsium hidroksida. Reaksi ini ditemukan oleh Friedrich Wohler di 1862. CaC2 + 2H2O Ca(OH)2 + C2H2 Sintesis kalsium karbida memerlukan temperatur yang amat tinggi, ~2000 derajat Celsius, sehingga reaksi tersebut dilakukan di dalam sebuah tungku bunga api listrik. Reaksi ini merupakan bagian penting dari revolusi di bidang kimia pada akhir 1800-an, dengan adanya proyek tenaga hidroelektrik di Air Terjun Niagara. Asetilena juga dapat dihasilkan dengan reaksi pembakaran parsial metana dengan oksigen atau dengan reaksi cracking dari hidrokarbon yang lebih besar. Berthelot dapat membuat asetilena dari metanol, etanol, etilena, atau eter, dengan cara melewatkan gas atau uap dari salah satu zat tersebut melalui tabung merah panas. Berthelot juga menemukan asetilena dapat dibuat dengan cara memberikan kejutan listrik terhadap gas-gas sianogen dan hidrogen. Ia juga dapat membuat asetilena dengan mereaksikan hidrogen murni dan karbon secara langsung dengan menggunakan tegangan listrik.

Created 07-04-2009 by Jacobus Djohan S. : http://e-smak3.net/resource/article/140-alkuna

http://www.c-f-c.com/specgas_products/acetylene.htm : CFC StarTec LLC