Anda di halaman 1dari 11

Nama NPM Kelompok Kelas

: FATHIMA ASYAHIDATU ZAHRA : 1106018101 :3 : MPKT-A TEKNIK BAB I Dasar Dasar Filsafat

1. Pendahuluan Langkah awal berfilsafat yaitu berfikir mendasar, kritis dan luas. Kebenaran tertinggi sebagai solusi pemecahan masalah yang dihadapi manusia akan diperoleh dengan cara bertanya, bertanya, dan terus bertanya untuk mengungkap berbagai hal atau aspek yang diperlukan manusia. Jawaban demi jawaban dikaji ulang, diteliti, dan dianalisis lagi untuk menemukan kebenaran filsafati 2. Pengertian Filsafat dan Berfilsafat Filsafat (Bahasa Indonesia) diserap dari kata Falsafah (Bahasa Arab). Falsafah itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia. PHILOSOPHIA berasal dari dua kata, yakni Philos = suka,senang,cinta , dan Shopia = arif,bijaksana,hikmah(kebenaran yang mendalam). Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa arti philosophia antara lain adalah suka kearifan, senang kebijaksanaan, cinta kebenaran. Berfilsafat = Kegiatan mencari kebenaran, dari kebenaran untuk kebenaran, tentang segala sesuatu yang dipermasalahkan dengan berfikir secara radikal, sistematis dan universal. Filsafat = Suatu sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil berfikir secara radikal yaitu mendasar, sistematis yaitu logis dan procedural, dan universal atau dalam kata lain secara luas dan menyeluruh.
3. Ciri Pikiran Kefilsafatan

Berfikir filsafati berarti merenung yang bukan menghayal atau melamun. Merenung yang dimaksudkan adalah berkontemplasi, yaitu berfikir mendalam, kritis, dan universal dengan konsentrasi tinggi yang terfokus atau menitikberatkan pada segi usaha mengetahui sesuatu. Pemikiran filsafat bersifat sistematis. Keinginan kefilsafatan ialah pemikiran secara ketat. Cara perenungan filsafat adalah; bertanya pada diri sendiri, berdiskusi secara berkelompok. Pemikiran sifanya untuk meragukan

segala sesuatu, dan mencari jawaban terbaik dari jawaban sebelumnya. Tidak boleh ada misteri, hal tersebut dimaksudkan bahwa semua permasalahan harus terpecahkan. 4. Objek dan Lapangan Kajian Filsafat Objek ilmu pengetahuan ada dua, yaitu objek material dan objek formal. Objek material merujuk pada materi atau bahan. Objek formal adalah sudutpandang atau focus perhatian. Dalam pengelompokan ilmu yang membagi ilmu atas tiga rumpun atau kelompok, yaitu rumpun ilmu alamiah, rumpun ilmu social, dan rumpun ilmu humaniora, filsafat termasuk dalam rumpun humaniora. Humaniora adalah kelompok ilmu yang objek material dan formalnya adalah manusia. Lapangan bidang kajian filsafat diantaranya : epistemology, estetika, etika, kosmologi, logika, metodologi, ontology. 4.1 Ontologi

Berasal dari dua kata bahasa latin, Onta : ada, Logos : ilmu. Ontologi adalah bidang filsafat yang membicarakan atau membahas perihal ada atau keberadaan sesuatu

4.2

Epistemologi

Istilah lain yang popular untuk epistemology adalah filsafat ilmu pengetahuan. Epistemology membahas makna dan kebenaran. Proposisi adalah makna dari pernyataan ; berstruktur S-P. Teori kebenaran : Koherensi; benar jika saling berhubungan dengan pernyataan benar sebelumnya Korespondensi; benar jika makna yang dikandungnya sungguh merupakan halnya Empiris; kebenaran berdasar pelbagai segi pengalaman Prragmatis; apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis

4.3

Aksiologi

Aksiologi membicarakan hakikat niai yang umum atau lazim ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Fungsi aksiologi adalah menakar/ mengukur

nilai. Kattsoff (2004:324) berpendapat bahwa istilah nilai mempunyai bermacam makna yakni, mengandung nilai, merupakan nilai, mempunyai nilai, memberi nilai.
5. Metode Belajar Filsafat

Analisis = pengumpulan semua pengetahuan yang telah didapat untuk menyusun suatu pandangan universal. Sintesis = rangkuman berbagai pendapat dari sumber rujukan sehingga menjadi tulisan yang baru yang mewakili tiap pendapat.

Metode Deduktif = penarikan kesimpulan dari proposisi yang umum ke proposisi yang khusus Metode Induktif = penarikan kesimpulan dari proposisi yang khusus ke proposisi yang umum. 6. Manfaat Filsafat Jika kita berfikir secara filsafatis, kita akan memperoleh sikap berfikir yang baru untuk dapat menghasikan sesuatu yang baru. Filsafat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dipermasalahkan oleh manusia. Masalah dibagi 2 yaitu yang harus diselesaikan dan yang selalu dihadapi, masalah yang harus diselesaikan ialah masalah sehari-hari sedangkan masalah yang selalu dihadapi ialah yang berkenaan dengan hakikat manusia, alm semesta, dan tuhan Prosedur penyelsaian masalah yaitu, observasi, teliti, kaji, tentukan bukti, evaluasi. Manfaat mempelajari filsafat: Membuat orang mampu berfikir mendalam dan mendasar, serta mampu berfikir kritis dan logis Mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin Mendorong orang untuk ingin tahu sesuatu yang baru dan mendalaminya Menjadikan orang rendah hati dan sabar Membuat orang berani mengoreksi diri Membuat orang tidak apatis terhadap lingkungan sekitar Filsafat membawa kita pada pemahaman, pemahaman membawa kita pada tindakan yang lebih layak Menyinari ilmu Menjadikan orang bersikap arif bijaksana Membentuk sikap kritis dalam kehidupan sehari-hari

Bab II Pengantar Logika


1. Apakah Logika Itu?

Logika dikenal sebagai cabang filsafat, tetapi ada juga ahli yang menempatkannya sebagai cabang matematika. Jika ditempatkan sebagai cabang filsafat, logika dapat diartikan sebagai cabang dari filsafat yang mengkaji prinsip, hukum dan metode berpikir yang benar, tepat dan lurus. Dalam matematika, logika dikaji dalam kaitannya dengan upaya menyusun bahasa matematika yang formal, baku, dan jernih maknanya, serta dalam kajian tentang penyimpulan dan pembuatan pernyataan yang benar. Logika merupakan alat yang dibutuhkan dalam kajian berbagai ilmu pengetahuaan dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Secara filosofis, logika adalah kajian tentang berpikir atau penalaran yang benar.penalaran adalah proses penarikan kesimpulan berdasarkan alasan yang relevan. Logika menggunakan pemahaman tentang standar kebenaran yang diperoleh dari epistemologi yang merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat pengetahuan. Logika merupakan dasar filosofis dari matematika. Logika juga berhubungan erat dengan bahasa alamiah yang sehari-hari dipakai oleh manusia. Logika berkaitan dengan pemahaman manusia dalam kesehariannya. Sebagai kajian tentang kajian tentang kebenaran khusus, logika merupakan ilmu pengetahuan yang bertujuan menjelaskan kebenaran atau fakta tertentu. Kebenaran logis adalah satu pernyataan yang kebenarannya dijamin sejauh makna dari konstanta logisnya tetap, terlepas dari apa makna bagian lain yang menyertainya. Dalam arti kajian ciri-ciri atau bentuk umum dari putusan atau bentuk pikiran dari putusan, logika dapat dipahami sebagai kajian yang mempelajari unsur-unsur putusan dan susunannya dengan tujuan untuk memperoleh pola atau bentuk umum dari proses pembuatan putusan. Fokus kajian dari logika adalah pikiran, representasi linguistik, meskipun pikiran dan bahasa saling terkait erat. 2. Term, Definisi, dan Divisi 2.1. Term Term merupakan tanda untuk menyatakan suatu ide yang dapat diinderai sesuai dengan pakat. Secara umum term adalah tanda yang didasrkan pada kelaziman, bukan tanda alamiah. Suatu term sering kali mempunyai bermacam-macam arti. 2.2. Definisi Definisi adalah pernyataan yang menerangkan hakikat suatu hal. Definisi nominal ialah definisi yang menerangkan makna kata seperti yang dimuat dalam kamus. Definisi real

adalah definisi yang menerangkan arti hal itu sendiri. Definisi esensial menerangkan inti dari suatu hal dengan menyebutkan genus dan diferentianya. Definisi deskriptif mengemukakan segi-segi yang positif tetapi belum tentu esensial mengenai suatu hal. Definisi distingtif menunjukan properti. Definisi genetik menyebutkan asal mula atau proses terjadinya suatu hal. Definisi kausal menunjukan penyebab atau akibat dari suatu hal. Definisi aksidental tidak mengandung hal-hal yang esensial dari suatu hal. Pembuatan definisi yang memadai untuk digunakan dalam pemikiran logis harus mengikuti aturan-aturan berikut. Definisi harus lebih jelas dari yang didefinisikan. Definisi tidak boleh mengandung ide atau term dari yang didefinisikan. Definisi dan yang didefinisikan harus dapat dibolak balik. Definisi harus dinyatakan dalam kalimat positif. Dalam tulisan jenis sastra ada kekecualian dalam pembuatan definisi karena pendefinisian di situ umumnya bukan dalam rangka menjelaskan hal tertentu secara harfiah, melainkan untuk memberi kesan tertentu. 2.3. Divisi Divisi adalah uraian suatu keseluruhan ke dalam bagian-bagian berdasarkan satu kesamaan karakteristik tertentu. Penguraian dengan divisi real atau aktual dilakukan berdasarkan bagian-bagian yang ada pada objek itu sendiri. Kegiatan menambahkan elemenelemen merupakan kegiatan dari divisi logis, disebut sintesis. Ada sejumlah aturan yang harus diikuti dalam pembuatan divisi. Tidak boleh ada bagian yang terlewati. Bagian tidak boleh melebihi keseluruhan. Tidakboleh ada bagian yang meliputi bagian yang lain. Divisi harus jelas dan teratur. Jumlah bagian harus terbatas. 3. Kalimat, Pernyataan, dan Proporsi Secara umum, kalimat didefinisikan sebagai serangkaian kata yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa dalam suatu bahasa, dan dapat digunakan untuk tujuan menyatakan, menanyakan, atau memerintahkan sesuatu hal. Benar atau salahnya struktur suatu kalimat ditentukan berdasarkan kaidah atau aturan tata bahasa suatu bahasa. Pernyataan adalah kalimat yang digunakan untuk membuat suatu klaim atau menyampaikan sesuatu yang bisa benar atau salah. Kalimat yang berupa pertanyaan atau perintah berbeda dari pernyataan. Proposisi ialah makna yang diungkapkan melalui pernyataan, atau dengan kata lain arti atau interpetasi dari suatu pernyataan. Kalimat yang tidak bermakna atau tidak koheren tidak mengungkapkan proporsi apa pun. Kalimat atau pernyataan yang boleh ditafsirkan lebih dari satu makna menyebabkan kita salah dalam memahami dan menanggapinya.

Pernyataan sederhana adalah pernyataan yang hanya mengandung satu proporsi. Pernyataan kompleks adalah pernyataan yang mengandung lebih dari satu proposisi. Proporsi yang dikandung oleh suatu pernyataan juga disebut komponen logika dari pernyataan. Hubungan di antara proposisi atau pernyataan sederhana dalam pernyataan kompleks ditujukan oleh penggunaan kata hubung. Ada empat jenis pernyataan kompleks yaitu negasi, konjungsi, disjungsi, dan kondisional. Negasi dari suatu pernyataan sederhana adalah pengingkaran dari pernyataan tersebut. Suatu pernyataan kompleks yang komponen logikanya dihubungkan dengan kata dan disebut konjungsi atau kalimat konjungtif. Pernyataan kompleks yang komponen logikanya dihubungkan dengan kata atau disebut disjungsi atau pernyataan disjungtif. Pernyataan kompleks yang komponen logikanya dihubungkan dengan jika..., maka... disebut pernyataan kondisional atau hipotesis. 4. Penalaran Penalaran adalah penarikan kesimpulan berdasarkan alasan alasan yang relavan. Proses pencapaian kebenaran dimulai dari pengenalan terhadap gejala dan pembentukan ide itu sendiri. Kebenaran dapat dicapai melalui penyimpulan langsung, yaitu penyimpulan yang ditarik sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Penyimpulan langsung dilakukan melalui indera. Penyimpulan langsung memberikan pengetahuan dasar bagi manusia. Penyimpulan melalui perbandingan ide-ide adalah penyimpulan tidak langsung. Penalaran adalah penyimpulan tak langsung atau penyimpulan dengan menggunakan perantara. Deduksi adalah proses penalaran yang dengannya kita membuat suatu kesimpulan dari suatu hukum, dalil, atau prinsip yang umum kepada suatu keadaan yang khusus. Induksi adalah proses penalaran yang dengannya kita menyimpulkan hukum, dalil, atau prinsip umum dari kasus kasus khusus. Kesalahan material adalah kesalahan putusan yang digunakan sebagai pertimbangan yang seharusnya memberikan fakta atau kebenaran. Kesalahan formal ialah kesalahan yang berasal dari urutan penyimpulan yang tidak konsisten. Di dalam argumentasi terkandung term yang merupakan ungkapan verbal dari ide dan preposisi yang merupakan ungkapan verbal dari putusan. Preposisi yang dijadikan dasar dari kesimpulan disebut premis atau anteseden. Silogisme kategoris adalah argumen yang menggunakan proposisi kategoris. Silogisme hipotesis adalah argumentasi yang menggunakan proposisi hipotetis. 5. Argumen Deduktif Penalaran deduktif adalah proses perolehan kesimpulan yang terjamin validitasnya jika bukti yang tersedia benar dan penalaran yang digunakan untuk menghasilkan kesimpulan tepat. Penalaran deduktif diawali dengan generalisasi yang dianggap benar yang

menghasilkan premis-premis, lalu dari situ diturunkan kesimpulan yang koheren dengan premis-premisnya. Silogisme adalah jenis argumen yang kesimpulannya diturunkan dari dua proposisi umum yang berbentuk prosisi kategoris. Silogisme sahih jika kesimpulannya dibuat berdasarkan premis-premisnya dengan bentuk-bentuk yang tepat. Silogisme kategoris artinya berlaku untuk semua seluruh anggota kelas, atau tidak sama sekali. Silogisme tunduk kepada delapan hukum. Silogisme hanya mengandung tiga term. Term mayor atau term minor tidak boleh menjadi universal dalam kesimpulan jika dalam premis hanya bersifat partikular. Term tengah harus digunakan sebagai proposisi universal dalam premis-premis, setidak-setidaknya satu kali. Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan juga afirmatif. Tidak boleh kedua premis negatif, setidaknya salah satu harus afirmatif. Kalau salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif. Kalu salah satu premis partikular, kesimpulan harus partikular. Tidak boleh kedua premis partikular, setidaknya salah satu harus universal. Silogisme hipotetis berbeda dengan silogisme kategoris dan tunduk kepada aturan tersendiri. Dapat dikatakan bahwa premis mayor silogisme hipotetis adalah proposisi hipotetis sedagkan premis minor dan kesimpulannya adalah preposisi kategoris. Ada tiga bentuk dasar dari silogisme hipotetis, yaitu modus ponens yang mengafirmasi antisedens, modus tollens yang menolak konsekuen, dan silogisme hipotetis dengan rantai kondisional. 6. Argumen Induktif Argumen induktif dapat dipahami sebagai hipotesis yang mengandung risiko dan ketidakpastian. Ketidak pastian dalam argumen induktif muncul dalam dua area yang berhubungan, yaitu dalam premis-premis argumen dan dalam asumsi-asumsi infernsial argumen. Dalam semua argumen induktif, ada premis atau asumsi inferensial yang lemah yang mencerminkan ketidakpastian karena informasi yang ada kurang lengkap. Karakteristik semua argumen induktif adalah bahwa dalam kondisi ketidakpastian atau kurangnya informasi, kita langsung mengambil kesimpulan dengan risiko bahwa kita mengambil kesimpulan yang salah. Suatu hipotesis adalah suatu proposisi yang diterima secara tentatif. Untuk menjelaskan fakta-fakta atau bukti-bukti tertentu. Strategi untuk membangun dan mengevaluasi argumen induktif adalah menentukan apakah kesimpulan yang diambil dari premis-premis yang ada merupakan penjelasan terbaik mengapa premis-premis bukti benar. Kita dapat membedakan kapan bukti-bukti yang ada sudah cukup untuk mengambil kesimpulan dan kapan tidak, jika kita mempunyai akal sehat dan pengalaman, dan berefleksi dengan teliti.

Induksi enumeratif atau generalisasi induktif adalah proses yang menggunakan premis-premis yang menggambarkan karakteristik sampel untuk mengambil kesimpulan umum mengenai kelompok asal sampel itu. Secara umum induksi enumeratif dapat dianggap sebagai argumen dari sampel. Karena premis-premis mengandung data yang digunakan sebagai bukti dalam membuat kesimpulan, maka premis-premis ini disebut dasar induksi atau dasar bukti atau data atau bukti. Induksi enumeratif sangat berfariasi dalam hal kualitas pengumpulan dan presntasi datanya, dan dalam kekuatan kesimpulannya. Membuat kesimpulan berdasarkan sampel yang tidak representatif berarti melakukan percontoh salah yang bias. Silogisme statistikal merupakan argumen yang menggunakan generalisasi statistik tentang suatu kelompok untuk mengambil kesimpulan mengenai suatu sub atau kelompok atau anggota individual dari kelompok itu. Induksi eliminatif atau diagnostik mempunyai premis-premis yang menggambarkan suatu konfigurasi fakta atau data yang berbeda-beda, yang merupakan bukti dari kesimpulannya. Bukti-bukti dalam argumen induktif mana pun tidak pernah menjamin kesimpulannya. Tidak seperti pada penyimpulan deduktif, kemampuan membuat kesimpulan induktif yang merupakan penjelasan terbaik biasanya tergantung pada keahlian dan pengetahuan si pembicara mengenai topik yang dibahas. Bukti suatu argumen diagnostik adalah informasi dalam premis yang harus dapat dijelaskan oleh kesimpulan.dari argumen tersebut. Informasi dalam premis, di samping data diagnostik, dapat berfungsi mengeliminasi hipotesis rival. Kondisi pembatas dalam suatu argumen induktif diagnostik terdiri dari premis-premis faktual tambahan yang membatasi konteks argumen dan digunakan untuk menunjukan bagaimana bukti mengarah pada kesimpulan. Bukti dan kondisi pembatas adalah fakta atau pernyataan yang dianggap benar oleh pembicara dalam mengambil kesimpulan. Hipotesis bantuan dalam suatu argumen adalah hipotesis yang membantu menunjukan bagaimana bukti, dalam kondisi pembatas, dapat diyakini mengarah pada kesimpulan. Kondisi pembatas dan hipotesis pembantu sering kali tidak dinyatakan dan dibiarkan implisit. 7. Sesat Pikir Sesat pikir menurut logika tradisional adalah kekeliruan dalam penalaran berupa penarikan kesimpulan-kesimpulan dengan langkah-langkah yang tidak sah, yang disebabkan oleh dilanggarnya kaidah-kaidah logika. Sebetulnya tidak ada penggolongan sesat pikir yang sempurna, tetapi penggolongan dari Copi dapat digunakan sebagai pegangan untuk mengenali sesat pikir.

Dalam deduksi, penalaran ditentukan oleh bentuknya. Jika sebuah penalaran bentuknya tidak sesuai dengan bentuk deduksi yang baku, maka penalaran itu tidak sahih dan tergolong sesat pikir. Sesat pikir jenis empat term terjadi jika ada empat term yang diikutsertakan dalam silogisme padahal silogisme yang sahih hanya mempunyai tiga term. Pengertian dari term tengah yang tidak terdistribusikan adalah silogisme kategoris yang term tengahnya tidak memadai menghubungkan term mayor dan term minor. Proses ilisit adalah perubahan tidak sahih dari term mayor atau term minor. Sesat pikir terjadi jika dalam premis digunakan proposi afirmatif tetapi dalam kesimpulan digunakan proposi negatif. Sesat pikir terjadi jika dalam premis digunakan proposi negatif tetapi dalam kesimpulan digunakan proposi afirmatif. Sesat pikir dua premis negatif terjadi jika dalam silogisme kedua premis yang digunakan adalah proposi negatif. Sesat pikir mengafirmasi konsekuensi adalah pembuatan kesimpulan yang diturunkan dari pernyataan yang dihubungkan antara anteseden dan konsekuensinya tidak niscaya tetapi diperlakukan seolah-olah hubungan itu suatu keniscayaan. Sesat pikir menolak antiseden juga merupakan pembuatan kesimpulan yang diturunkan dari pernyataan yang hubungan antiseden dan konsekuensinya tidak niscaya tetapi diperlakukan seolah-olah hubungan itu suatu keniscayaan. Sesat pikir terjadi jika hubungan atau di antara dua hal diperlakukan sebagai pengingkaran oleh hal yang satu terhadap hal yang lain. 8. Kesalahan Umum Dalam Penalaran Induktif 8.1 Menilai Penalaran Induktif dengan Standar Deduktif Kesalahan-kesalahan yang dibahas merupakan ringkasan dari jenis-jenis kesalahan yang dapat terjadi dalam pengambilan kesimpulan secara induktif. Deduksi memungkinkan kita memastikan kebenaran pengetahuan kita hanya jika kita yakin akan kebenaran premispremisnya. Kita tidak perlu menolak suatu kesimpulan induktif semata-mata karena buktibuktinya tidak dapat menjamin kebenaran kesimpulan itu. Jika kita sudah berhati-hati mengevaluasi bukti-bukti dalam suatu argumen dan telah mempertimbangkan hipotesishipotesis rival yang paling mungkin, dan jika argumen itu lolos semua tes yang kita lakukan, maka kita boleh menerima kesimpulannya. Jika ada yang mengkeritik kita dengan mengatakan bahwa kita telah melakukan penalaran yang buruk, maka kritik itu sendiri sudah merupakan pemikiran yang buruk. Satu latihan yang baik agar kita tidak terjerumus ke dalam kesalahan ini adalah dengan memikirkan kembali keyakinan keyakinan yang kita miliki 8.2 Kesalahan Generalisasi 8.2.1 Generalisasi yang terburu-buru

Merupakan akibat dari perbuatan generalisasi berdasarkan bukti yang tidak cukup, tidak lengkap, atau bias. 8.2.2 Kesalahan kecelakaan Muncul ketika suatu prinsip umum salah diterapkan pada contoh atau situasi yang sebenarnya tidak termasuk dalam prinsip umum tersebut. 8.3 Kesalahan Penggunaan Bukti Secara Salah 8.3.1 8.3.2 Kesimpulan yang tidak relevan Muncul ketika orang menarik kesimpulan yang salah dari bukti yang ada Kesalahan bukti yang ditahan Terjadi ketika pembicara menarik kesimpulan yang tidak tepat dengan mengabaikan, menahan, atau meminimalkan derajat pentingnya suatu bukti yang bertentangan dengan kesimpulan. 8.4 Kesalahan Statistikal 8.4.1 Kesalahan sampel yang bias Ketika data yang digunakan untuk menarik kesimpulan statistic diambil dari sampel yang tidak representative terhadap populasi. 8.4.2 Kesalahan percontoh yang kecil Ketika pembicara menggunakan sampel yang terlalu kecil sehingga kesimpulannya tidak dapat dipercaya. 8.4.3 Kesalahan penjudi Mengabaikan kaidah probabilitas. 8.5 Kesalahan Kausal 8.5.1 8.5.2 Mengacaukan sebab dan akibat Ketika suatu hubungan kausal salah diinterpretasi Mengabaikan penyebab bersama Ketika seorang pembicara menyimpulkan bahwa x adalah penyebab y sementara sebenarnya keduanya merupakan akibat dari sebab lain 8.5.3 Kesalahan penyebab yang salah (kesalahan post hoc) Ketika kita menyimpulkan tanpa dasar yang cukup kuat, hanya karena y mengikuti x, maka x pasti penyebab y 8.5.4 Mengacaukan penyebab yang berupa necessary condition dengan sufficient condition

Ketika seorang salah menganggap atau mengacaukan sesuatu penyebab yang merupakan necessary condition dengan penyebab yang merupakan sufficient condition bagi akibatnya. 8.6 Kesalahan Analogi Terjadi ketika orang menggunakan analogi yang tidak tepat atau yang menyesatkan dalam argumennya. Analogi dapat merupakan cara pandang yang original, kreatif, dan menohok pikiran. Namun analogi tidak dapat menggantikan argumentasi langsung mengenai suatu sudut pandang.