Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Pada masa ini seluruh negara di dunia berlomba-lomba untuk membangun negaranya sendiri, pembangunan tersebut tidak lepas dari pembangunan di dunia bisnis yang mengakibatkan persaingan semakin ketat. Hal ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan dan gejolak-gejolak pada pelaku pasar baik produsen dan konsumen. Permasalahan yang paling mendasar adalah masalah kelangkaan, jadi manusia tidak bisa memproduksi seluruh barang dan jasa yang diinginkan karena jumlah sumber dayanya yang terbatas. Sehingga dibutuhkan suatu ilmu yang dapat menjembatani semua permasalahan yang timbul yaitu, ilmu ekonomi. Ilmu ini mempelajari bagaimana masyarakat mengelola sumber daya yang langka tersebut serta menganalisis beragam kekuatan dan kecenderungan yang mempengaruhi perekonomian secara menyeluruh tak terkecuali mengenai masalah penawaran. Penawaran dan permintaan adalah dua hal berhubungan yang membuat ekonomi pasar bekerja dengan baik. Keduanya menentukan harga-harga di dalam ekonomi pasar, serta bagaimana harga-harga dapat mengalokasikan sumber-sumber daya yang langka dalam ekonomi pasar tersebut. Penawaran adalah adalah jumlah barang yang rela dan mampu dijual oleh penjual. Selama ini dimensi ekonomi dalam perencanaan, manajemen dan evaluasi pelayanan kesehatan jarang atau sedikit sekali mendapat perhatian. Perubahan mendasar terjadi selama dua dekade terakhir, yaitu ketika sektor kesehatan menghadapi kenyataan bahwa sumber daya yang tersedia (khususnya dana) semakin hari jumlahnya semakin jauh dari mencukupi. Keterbatasan sumberdaya tersebut mendorong masuknya disiplin ilmu ekonomi dalam perencanaan, manajemen dan evaluasi sektor kesehatan. Ilmu ekonomi sendiri pada dasarnya adalah ilmu tentang pilihan, yaitu pilihan tentang komoditi apa yang perlu diproduksi (kebutuhan manusia), bagaimana memproduksinya, bagaimana distribusinya, dan bagaimana konsumsinya serta berapa besar manfaatnya, yaitu dalam rangka keterbatasan sumberdaya. Ekonomi kesehatan juga menyangkut pertanyaanpertanyaan tersebut, yaitu : (1) pelayanan kesehatan apa yang perlu diproduksi, (2) berapa besar biaya produksinya, (3) bagaimana mobilitasi dana kesehatan (siapa yang membayar dan berapa besar), (4) bagaimana utilisasi pelayanan kesehatan (siapa yang menggunakan dan berapa banyak) dan (5) berapa besar manfaat (benefit) investasi pelayanan kesehatan tersebut. (Ascobat Gani, 1994) 1

Makalah ini khusus menyoroti aspek produksi atau penawaran (supply) pelayanan kesehatan. Oleh karena sektor kesehatan mempunyai ciri khusus yang menonjol, banyak asumsi-asumsi yang lazim dipergunakan dalam telaah ekonomi tidak berlaku untuk sektor kesehatan. Oleh sebab itu, akan dibahas tentang definisi supply dalam pelayanan kesehatan, faktor yang mempengaruhinya, elastisitas supply dalam pelayanan kesehatan, dan cara menghitung supply maksimum dalam pelayanan kesehatan yang merupakan inti pokok makalah ini.

I.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan supply dalam pelayanan kesehatan? 2. Apa saja faktor yang mempengaruhi supply dalam pelayanan kesehatan? 3. Bagaimana bentuk kurva dan elastisitas supply dalam pelayanan kesehatan? 4. Bagaimana cara menghitung supply maksimum dalam pelayanan kesehatan?

I.3 Tujuan 1. Mengerti dan memahami pengertian supply dalam pelayanan kesehatan. 2. Mengerti dan memahami faktor yang mempengaruhi supply dalam pelayanan kesehatan. 3. Mengerti dan memahami bentuk kurva dan elastisitas supply dalam pelayanan kesehatan. 4. Mengerti dan memahami cara menghitung supply maksimum dalam pelayanan kesehatan

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Supply dalam Pelayanan Kesehatan II.1.1 Definisi Supply Supply (penawaran) adalah kuantitas sebuah produk yang akan dan mampu ditawarkan oleh produsen ke pasar pada harga dan waktu tertentu (Dwidjo Susilo). Menurut Wilton H. Spencer dalam bukunya Contemporary Economics, Penawaran adalah sebuah hubungan, yang menunjukkan berbagai macam jumlah sesuai itu barang yang dapat disediakan oleh para penjual untuk dijual dengan berbagai macam harga alternatif, selama periode waktu tertentu, ceteris paribus. Hukum penawaran menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat harga sesuatu barang, makin banyak barang tersebut yang ditawarkan seorang pengusaha (penjual), dan sebaliknya makin rendah harga sesuatu barang makin sedikit jumlah barang yang ditawarkan oleh pengusaha (penjual). Supply adalah jumlah penawaran yang ditawarkan produsen dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu. Hal mendasar dalam supply baik itu pada produk barang ataupun jasa adalah fungsi produksi yang meliputi input (6M, 2T, 1I) dan proses. Fungsi produksi menggambarkan hubungan antara output pada barang ataupun jasa tersebut dengan sumber daya (input) yang digunakan untuk memproduksinya. II.1.2 Definisi Supply Maksimum Supply maksimum adalah jumlah maksimum/ kemampuan maksimum/ kapasitas maksimum barang atau jasa yang dapat dihasilkan dalam periode tertentu. Perhitungan terhadap banyaknya barang yang akan ditawarkan atau

Supply didasarkan pada kemampuan organisasi dalam mengelola resources untuk melakukan proses produksi. Organisasi ataupun produsen harus dapat mengkaitkan resources dari suatu input, proses, dan menjadikannya sebuah produk (output). II.1.3 Pelayanan Kesehatan Aplikasi ilmu ekonomi pada sektor kesehatan perlu memperhatikan sifat atau ciri khusus sektor pelayanan kesehatan. Sifat atau ciri khusus tersebut, seperti akan diuraikan berikut ini, menyebabkan asumsi-asumsi tertentu dalam ilmu ekonomi tidak berlaku atau tidak seluruhnya berlaku apabila diaplikasikan untuk sektor

pelayanan kesehatan. Ciri khusus tersebut adalah sebagai berikut (Ascobat Gani,1994) : 1. Kejadian penyakit tidak terduga Berbeda dengan pengetahuan orang tentang kebutuhannya akan berbagai komoditi ekonomi seperti makanan, pakaian, rumah, dan lain-lain, umumnya orang tidak banyak bisa menduga tentang penyakit apa yang akan dialaminya di masa yang akan datang. Oleh. sebab itu juga tidak diketahui secara pasti pelayanan kesehatan apa yang ia butuhkan. Adanya ketidakpastian (uncertainty) ini berarti seseorang menghadapi suatu risiko (risk) akan sakit dan oleh karenanya juga risiko harus mengeluarkan biaya pengobatan. Kesadaran akan adanya risiko inilah yang mendorong orang untuk mau secara bersama-sama menanggungnya, yaitu dalam suatu bentuk asuransi. 2. Consumer ignorance Ciri yang sangat khusus adalah besarnya ketergantungan konsumer pada penyedia (provider) pelayanan kesehatan. Ini disebabkan karena umumnya konsumer tersebut tidak tahu banyak tentang jenis pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukannya. Providerlah (profesional) yang menentukan jenis dan volume pelayanan yang perlu dikonsumsi (jadi juga dibayar) oleh konsumer. Seringkali keputusan profesional tersebut sama sekali lepas dari pertimbangan biaya dan kemampuan membayar si pasien. 3. Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak Para politisi dan pakar ilmu sosial termasuk ekonom dan profesional kesehatan berpendapat bahwa makan, pakaian, tempat tinggal dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar manusia yang harus senantiasa diusahakan untuk dipenuhi, terlepas dari kemampuan seseorang untuk membayarnya. Ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan sering sekali dilakukan atas dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan membayar (demand). Ini menyebabkan issu pemerataan (equity) sangat menonjol dalam penyediaan pelayanan kesehatan. Kebijaksanaan dan program untuk menyesuaikan tarif pelayanan kesehatan seperti sekarang ramai dilakukan, senantiasa mempertimbangkan implikasinya terhadap issu equity tersebut. Misalnya, dalam pentarifan RS berkembang pemikiran perlunya cross subsidy untuk pemerataan. Demikian pula, kebijaksanaan subsidi adalah dalam rangka menjamin hak tersebut, yaitu bagi penduduk yang tidak mampu 4

4. Eksternalitas Ciri khusus lainnya adalah efek eksternal yang ada dalam penggunaan pelayanan kesehatan. Seperti diketahui, efek ekstemal adalah dampak (positif atau negatif) yang dialami orang lain sebagai akibat perbuatan seseorang. Sebagai misal, immunisasi yang dilakukan seseorang untuk mencegah penyakit menular juga akan memberi manfaat kepada masyarakat banyak. Bahkan manfaat yang diterima orang banyak tersebut secara kumulatif jauh lebih besar dibandingkan dengan biaya untuk immunisasi individu bersangkutan. Dalam ekonomi dikatakan bahwa social marginal benefit yang diperoleh dari immunisasi jauh lebih besar dari pada private marginal benefit bagi individu tersebut. Itulah sebabnya, menurut perhitungan ekonomi, pemerintah perlu menjamin agar program-program semacam immunisasi betul-betul dapat terlaksana, oleh karena bisa terjadi keadaan demand seseorang (dalam arti kemauan membayar) tidak tinggi dibandingkan dengan demand untuk pelayanan kuratif yang tidak mempunyai efek eksternal. Memang efek eksternal tersebut bervariasi antar berbagai jenis pelayanan kesehatan. Pelayanan yang tergolong pencegahan umumnya

mempunyai eksternalitas besar, sehingga digolongkan sebagai "komoditi masyarakat" atau public good. Sedangkan pelayanan kuratif, lebih-lebih pelayanan yang bertujuan kosmetika, eksternalitasnya umumnya kecil. Pelayanan ini sering disebut sebagai private good. Ada pendapat yang mengatakan bahawa pelayanan kesehatan yang bersifat public good seyogyanya mendapat subsidi atau bahkan disediakan oleh pemerintah secara gratis. Sebaliknya pelayanan kesehatan yang tergolong sebagai private good hendaknya dibayar atau dibiayai sendiri oleh penggunaannya atau oleh pihak swasta. 5. Motif non-profit Walaupun dalam praktek ada industri kesehatan yang memperoleh untung, seperti misalnya rumah sakit tertentu milik swasta, secara ideal memperoleh untung maksimum (profit maximization) bukanlah tujuan utama pelayanan kesehatan. Pendapat umum yang secara tradisional dianut adalah "orang tidak layak mengambil keuntungan dari penyakit orang lain". Memang umumnya pelayanan kesehatan pada mulanya diselenggarakan dengan motif sosial, misalnya dalam bentuk Yayasan. Namun sekarang ini terjadi perubahan orientasi, terutama setelah pemilik modal dan dunia bisnis melihat sector kesehatan sebagai peluang investasi yang menguntungkan. 5

6. Padat karya Otomatisasi ternyata tidak membuat pelayanan kesehatan semakin bebas dari input tenaga manusia. Kecenderungan spesialisasi dan superspesialisasi

menyebabkan komponen tenaga dalam pelayanan kesehatan semakin besar, seperti misalnya pelayanan RS. Analisis biaya RS misalnya menunjukkan bahwa komponen tenaga tersebut bisa mencapai antara 40-60% dari keseluruhan biaya. Ini berarti bahwa sektor kesehatan adalah sektor yang bersifat padat karya. 7. Mix outputs Ciri lain adalahbanyaknya ragam "komoditi" yang dihasilkan dari berbagai program kesehatan. Yang dikonsumsi oleh pasien adalah satu paket pelayanan: sejumlah pemeriksaan diagnosis, perawatan, terapi dan nasihat kesehatan. Paket tersebut bervariasi antar individu dan sangat tergantung pada jenis penyakit. Keadaan ini menyebabkan analisis demand terhadap pelayanan kesehatan menjadi kompleks. Di samping pelayanan kesehatan, upaya kesehatan bisa juga menghasilkan output lain, yaitu hasil penelitian serta pendidikan dan latihan tenaga kesehatan. 8. Upaya kesehatan sebagai konsumsi dan investasi Dalam jangka pendek, upaya kesehatan terlihat sebagai sektor yang konsumptif, tidak memberikan return on investment secara jelas. Oleh sebab itu, sering kali sektor kesehatan ada pada urutan bawah dalam skala prioritas pembangunan, terutama kalau titik berat pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Namun kalau orientasi pembangunan pada akhirnya adalah pembangunan manusia, maka pembangunan sektor kesehatan sesungguhnya adalah suatu investasi, paling tidak untuk jangka panjang. Untuk jangka pendek pun, kalau penduduk employed di usaha produktif, pembangunan kesehatan jelas memberikan return on investment yang dapat diukur. 9. Restriksi berkompetisi Ciri khusus selanjutnya adalah pembatasan praktek kompetisi. Ini menyebabkan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan tidak bisa sesempurna mekanisme pasar untuk komoditi lain. Dalam mekanisme pasar (intervensi pemerintah kecil), wujud kompetisi adalah kegiatan pemasaran (promosi, iklan, dll.). Dalam sektor kesehatan tidak pernah terdengar adanya promosi discount atau bonus atau "banting harga" dalam pelayanan kesehatan

II.1.4 Supply dalam Pelayanan Kesehatan Supply dalam pelayanan kesehatan adalah penyediaan pelayanan kesehatan yang disampaikan kepada individu oleh kombinasi tenaga pelayanan kesehatan (seperti dokter, perawat, teknisi, dan para asistennya) dan fasilitas (seperti rumah sakit, klinik rawat jalan, dan laboratorium klinis). Fungsi supply (produksi) menggambarkan hubungan antara output yang berupa pelayanan kesehatan yang berkualitas dan sumber daya (resources) yang digunakan untuk memproduksinya.

II.2 Faktor yang Mempengaruhi Supply dalam pelayanan kesehatan Supply pelayanan kesehatan merupakan derivate (turunan) dari supply pada umumnya. Dengan demikian supply pelayanan kesehatan juga merupakan fungsi produksi dimana yang mempengaruhi supply adalah faktor internal organisasi. Faktor yang mempengaruhi supply dalam pelayanan kesehatan antara lain 6M, 2T, 1I yang dapat dijabarkan sebagai berikut : a. Man : dokter, dokter spesialis, bidan, perawat, skm, farmasis, tenaga administrasi, dan lain sebagainya. b. c. Money : biaya operasional, biaya investasi dan biaya lain-lain. Material : berhubungan dengan logistik pelayanan kesehatan, misalnya obat, suntik, bahan makanan, dan lain sebagainya. d. e. Method : SOP rumah sakit, Standart Pelayanan Minimal (SPM), dll. Machine : peralatan laboratorium, peralatan unit penunjang, incenerator, dll

f. Market : wilayah kerja pelayanan kesehatan, segmentasi pasar, masyarakat sasaran yang dibidik berdasarkan proses STP (segmenting, targeting dan posisioning) g. Teknologi : kecanggihan dan kemutakhiran teknologi yang digunakan misalnya finger print, dan lain sebagainya. h. Time : waktu yang digunakan untuk pelayanan, unit pelayanan. i. Informasi : melalui internet, pamflet dan leaflet. Dari seluruh faktor produksi yang mempengaruhi supply dalam pelayanan kesehatan, tidak semuanya berperan dominan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas pada pasien. Untuk mengetahui faktor dominan di antara 6M, 2T, 1I, berikut ini akan dipaparkan contoh supply pada pelayanan keperawatan. Jika input adalah pelayanan keperawatan tiap pasien, maka yang termasuk dalam input dapat berupa jumlah dan tipe perawat dalam unit keperawatan. Hubungan antara pelayanan keperawatan pada tiap pasien dengan tipe perawat dapat ditampilkan dalam fungsi berikut ini: 7

Qnpc = f (RNs, LPNs, ADs, UN) Keterangan : Qnpc RNs = Quantity of nursing patient care (kuantitas pelayanan keperawatan pasien) = Registered Nurse (Perawat yang terdaftar)

LPNs = Licensed Practical Nurse (Perawat yang telah terlisensi/tersertifikasi) ADs UN = Nursing Aides (pembantu perawat) = The type of nursing unit (Unit atau tipe perawatan)

Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa dalam pelayanan keperawatan RNs (perawat yang mahir, sudah memiliki surat ijin praktek, sudah bisa mandiri sebagai perawat panggilan), AD (pembantu perawat) dan LPN (perawat praktek yang masih harus dinaungi oleh institusi), ketiga faktor di atas (RNs, LPNs, Ads) terkategori dalam man, sedangkan UN terkategori dalam machine. Dari kesimpulan di atas dapat dirumuskan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi supply pelayanan kesehatan adalah man dan machine : a. Man Pelayanan kesehatan merupakan bisnis jasa, jadi man yang memberi pelayanan (man sebagai pemberi jasa). Man pada pelayanan kesehatan memiliki kompetensi secara khusus. Kompetensi ini meliputi keterampilan, kemampuan yang disertai kewenangan yang dilindungi undang-undang. b. Machine Machine dalam pelayanan kesehatan dapat berupa fasilitas ataupun sarana khusus untuk pelaksanaan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan, seperti dental chair, X-ray, tempat tidur rumah sakit, dan lain-lain.

Dalam mencapai efisiensi dari supply dalam pelayanan kesehatan, kombinasi input yang tepat sangat diperlukan. Contohnya pada pelayanan keperawatan di atas, satu orang LPNs tidak dapat menggantikan satu orang RNs. RNs mungkin memiliki keahlian yang lebih sebagai hasil dari pelatihan tambahan mereka. Oleh karena itu, LPNs mungkin dapat menggantikan sebagian pekerjaan dari RNs, namun tidak bisa semuanya. Kombinasi antara berbagai jenis tenaga kesehatan sangat penting untuk ditentukan dengan tepat oleh para pengambil keputusan, karena dapat meminimalkan biaya penyediaan keperawatan. 8

Dari seluruh penjelasan di atas dapat disimpulkan rumus fungsi faktor yang mempengaruhi supply dalam pelayanan kesehatan adalah :

Qsmc = f (Man, Machine I 4M, 2T, 1I) Meskipun faktor dominan yang mempengarui supply dalam pelayanan kesehatan adalah Man dan Machine saja, namun faktor lainnya tidak boleh dihilangkan. Karena bila salah satu faktor produksi lain tidak ada, maka output dari suppy pelayanan kesehatan tersebut akan menjadi produk cacat atau pelayanan kepada pasien tidak maksimal.

II.3 Elastisitas Supply dalam pelayanan kesehatan Elastisitas adalah ukuran respons jumlah permintaan atau jumlah penawaran terhadap perubahan salah satu penentunya. Elastisitas penawaran/supply (Es) yaitu presentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan akibat terjadinya perubahan harga itu sendiri. Penawaran suatu barang dikatakan elastis apabila jumlah yang ditawarkan berubah banyak jika harganya berubah. Dalam pelayanan kesehatan, supply dipengaruhi oleh faktor produksi dari provider. Faktor dominan yang paling berpengaruh dalam supply pelayanan kesehatan adalah man dan machine. Contoh di poli gigi, penawaran pelayanan kesehatan gigi sangat ditentukan oleh faktor produksi seperti dokter gigi dan dental chair. Suatu saat harga yang ditawarkan di pelayanan kesehatan di poli gigi naik, maka kenaikan harga tersebut tidak mempengaruhi kuantitas jumlah pasien yang dapat diperiksa di poli gigi. Hal ini dikarenakan jumlah man dan machine berupa dokter gigi dan dental chair terbatas, sehingga meskipun biaya periksa per pasien naik, maka dokter gigi tetap tidak bisa memaksakan untuk melayani lebih banyak pasien dari supply maksimumnya. Selain itu, provider pelayanan kesehatan tidak mungkin menambah jumlah dokter gigi dan dental chair dalam jangka waktu pendek. Dari penjelasan contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kurva elastisitas supply pelayanan kesehatan adalah inelastis. Sebab perubahan harga tidak mempengaruhi

perubahan kuantitas pelayanan yang ditawarkan.

Q Gambar 2.1 Kurva Inelastis pada Supply Pelayanan Kesehatan

II.4 Cara Menghitung Supply Maksimum Pelayanan Kesehatan Perhitungan penawaran maksimum atau supply maksimum terhadap banyaknya barang yang ditawarkan didasarkan pada kemampuan organisasi dalam mengelola resources untuk melakukan proses produksi. Organisasi atau produsen harus dapat mengkaitkan resources dari suatu input, proses dan menjadikannya output (produk). Input di dalamnya berupa resources meliputi man, material, machine, menthod, money, market, time, technique, serta information. Semua hal tersebut nantinya akan membantu dalam proses produksi yang akan menghasilkan suatu produk yang akan ditawarkan pada konsumen. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh produsen dalam menentukan supply maksimum, diantaranya yang harus dilakukan untuk menghitung supply maksimum yaitu : 1. Identifikasi resources yang ada. 2. Tentukan jenis resources yang paling dominan (resources yang lain dianggap sudah terpenuhi). 3. Tentukan jumlah waktu yang tersedia. 4. Identifikasi kebutuhan waktu untuk satu kali proses produksi (termasuk waktu pelayanan). 5. Perhitungan supply maksimum dengan rumus : = Jumlah waktu yang tersedia x jumlah barang yang dihasilkan dalam 1x produksi Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk satu kali produksi

10

Dalam bidang kesehatan, cara menghitung supply maksimum dapat diterapkan dalam 3 jenis pelayanan, antara lain rawat jalan, penunjang medis, dan rawat inap, sebagai berikut :

1. Rawat jalan (pelayanan poli gigi) Di Puskesmas Oro-Oro Ombo Madiun, lama pelayanan poli gigi rata-rata 40 menit per pasien dengan jumlah dentist chair sebanyak dua unit. Jam buka layanan mulai pukul 08.00 sampai 13.00, (5 jam) maka perhitungan supply maksimum adalah sebagai berikut: a. Identifikasi sumber daya Sumber daya yang dibutuhkan dalam pelayanan poli gigi Puskesmas Oro-Oro Ombo Madiun antara lain : Man Material Machine Market Technologi Time Information : 2 dokter gigi umum dan 1 staff administrasi : obat-obatan, bahan penambal gigi, kapas, dan lainnya : 2 set dentist chair : Seluruh masyarakat di wilayah kerja puskesmas : Orthodental tool : 5 jam per hari selama 24 hari kerja dalam 1 bulan : Poster berisi informasi identitas dokter gigi, waktu pelayanan, jam buka poli b. Identifikasi sumber daya yang paling dominan dalam pemberian pelayanan Sumber daya yang paling dominan dalam pemberian pelayanan untuk pasien adalah unit dentist chair dan jumlah dokter gigi yang tersedia. Sedangkan sumberdaya lain diasumsikan telah tersedia. Dentist chair merupakan alat utama dalam pelayanan di poli gigi. Sedangkan dokter gigi memiliki peran dominan untuk melakukan pemeriksaan kepada pasien. c. Identifikasi waktu yang tersedia dalam 1 periode Jam buka puskesmas perhari adalah 5 jam x 24 hari (hari aktif dalam 1 bulan) = 120 jam d. Identifikasi waktu untuk 1 kali pelayanan 1 kali pelayanan membutuhkan waktu 40 menit e. Menghitung supply maksimum

11

per bulan Keterangan : Perhatikan pada jumlah alat dan nakes. Misalnya ada 2 dokter gigi, namun hanya memiliki 1 set dentist chair, maka jumlah alat dan nakes tetap dihitung 1. Atau sebaliknya ada 2 set dentist chair, namun hanya ada 1 dokter gigi, maka jumlah alat dan nakes juga tetap dihitung 1. Baru apabila dokter gigi dan dentist chair masing-masing ada 2, maka jumlah alat dan nakes baru dihitung 2.

Jadi jumlah maksimum pasien yang dapat diperiksa oleh Poli gigi Puskesmas OroOro Ombo Madiun adalah 180 pasien per bulan.

2. Penunjang Medis (Radiologi) a. Identifikasi sumber daya Sumber daya yang dibutuhkan dalam pelayanan radiologi antara lain : Man Material Machine Market Time Information : 1 orang radiolog dan 1 staff administrasi : baju ronsen, negatif : 1 unit X-Ray Machine : Masyarakat umum : 8 jam per hari selama 20 hari kerja dalam 1 bulan : Poster berisi informasi penggunaan baju khusus ronsen, waktu pelayanan, jam buka poli b. Identifikasi sumber daya yang paling dominan dalam pemberian pelayanan Sumber daya yang paling dominan dalam pemberian pelayanan untuk pasien adalah unit X-Ray Machine dan radiolog tersedia. Sedangkan sumberdaya lain diasumsikan telah tersedia. X-Ray Machine merupakan alat utama dalam pelayanan di radiologi. Sedangkan radiolog juga memiliki peran dominan sebagai tenaga ahli yang bertugas untuk mengoperasikan alat. c. Identifikasi waktu yang tersedia dalam 1 periode Jam buka poli perhari adalah 8 jam perhari x 20 hari (hari aktif dalam 1 bulan) = 160 jam d. Identifikasi waktu untuk 1 kali pelayanan 1 kali pelayanan membutuhkan waktu 30 menit

12

e. Menghitung supply maksimum

per bulan

Keterangan : Perhatikan pada jumlah alat dan nakes. Perhitungannya sama seperti pada rawat jalan. Man dan machine keduanya harus ada dan jumlahnya sama.

Jadi jumlah maksimum pasien yang dapat diperiksa oleh pelayanan radiologi adalah 320 pasien per bulan.

3. Rawat Inap a. Identifikasi sumber daya Sumber daya yang dibutuhkan dalam pelayanan rawat inap puskesmas antara lain: Man Material Machine Market Time Information : 2 dokter umum dan 4 perawat : obat, infus, selimut, seprei, oksigen, dan lainnya : tempat tidur (20) : Seluruh masyarakat di wilayah kerja puskesmas : 24 jam per hari dalam 1 bulan : Poster berisi informasi jam besuk

b. Identifikasi sumber daya yang paling dominan dalam pemberian pelayanan Sumber daya yang paling dominan dalam pemberian pelayanan rawat inap untuk pasien adalah jumlah tempat tidur. Sedangkan sumberdaya lain diasumsikan telah tersedia. c. Identifikasi waktu yang tersedia dalam 1 tahun 24 jam x 365 = 8760 jam d. Identifikasi waktu untuk 1 kali pelayanan Rata-rata lama perawatan seorang pasien (AvLOS) di rawat inap adalah 6 hari e. Menghitung supply maksimum Penghitungan supply maksimum rawat inap terdapat dua jenis, antara lain : 1) Supply maksimum menurut jumlah hari rawat

= 365 hari x 20 13

= 7300 hari Jadi jumlah maksimum hari rawat yang dapat dihasilkan oleh 20 tempat tidur, dengan asumsi setiap hari tempat tidur tersebut tidak pernah kosong adalah 7300 hari

2) Supply maksimum menurut jumlah pasien yang dirawat

pasien per tahun Jadi jumlah maksimum pasien yang dapat dirawat dengan adanya 20 tempat tidur dan rata-rata lama perawatan 6 hari adalah 1216 pasien per tahun.

14

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan 1. Supply adalah fungsi produksi yang meliputi input (6M, 2T, 1I) dan proses. 2. Supply maksimum adalah jumlah maksimum/ kemampuan maksimum/ kapasitas maksimum barang atau jasa yang dapat dihasilkan dalam periode tertentu. 3. Supply dalam pelayanan kesehatan adalah penyediaan pelayanan kesehatan yang disampaikan kepada individu oleh kombinasi tenaga pelayanan kesehatan dan fasilitas. 4. Supply dalam pelayanan kesehatan merupakan derivate (turunan) dari supply. 5. Faktor yang mempengaruhi supply dalam pelayanan kesehatan adalah man, machine, money, material, methode, machiene, market, technology, time, dan information. 6. Faktor dominan yang mempengaruhi supply dalam pelayanan kesehatan adalah man dan machine. 7. Kurva supply dalam pelayanan kesehatan cenderung inelastis. 8. Cara pengukuran supply maksimum dalam bidang kesehatan dapat diterapkan pada rawat jalan, penunjang medis, dan rawat inap.

III.2 Saran Makalah tentang supply pelayanan kesehatan ini sebaiknya direvisi sesuai dengan perkembangan ilmu ekonomi, sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya tentang supply, elastisitas, dan supply maksimum dalam pelayanan kesehatan.

15

DAFTAR PUSTAKA

Trisnantoro, Laksono.2006. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam Manajemen Rumah Sakit. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta Buku Kumpulan Materi Kuliah Ekonomi Kesehatan tahun 2006 Makalah Dasar Ilmu Ekonomi Supply tahun 2010 Makalah Ekonomi Kesehatan Review Supply tahun 2011 Makalah Ekonomi Kesehatan Supply Pelayanan Kesehatan Dan Perhitungan Supply Maksimum Di Bidang Pelayanan Kesehatan tahun 2010 http://www.scribd.com/doc/19469081/Pengantar-Ilmu-Ekonomi-Dalam-KesehatanMasyarakat diakses tanggal 26 September 2011; pukul 13.20 http://www.cbo.gov/ftpdocs/99xx/doc9924/Chapter5.9.1.shtml diakses tanggal 11 Oktober 2011 ; pukul 10.20 http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/08_AspekEkoPelayananKes90.pdf/08_AspekEkoPelay ananKes90.pdf diakses tanggal 11 Oktober 2011 ; pukul 10.30

16