Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan tidak bisa digantikan dengan uang, dan tidak ada orang kaya dalam
menghadapi penyakit karena dalam sekejap kekayaan yang dimiliki seseorang dapat
hilang untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Begitu pula dengan resiko kecelakaan
dan kematian. Suatu peristiwa yang tidak kita harapkan namun mungkin saja terjadi
kapan saja dimana kecelakaan dapat menyebabkan merosotnya kesehatan, kecacatan,
ataupun kematian karenanya kita kehilangan pendapatan, baik sementara maupun
permanen.
Seperti menemukan air di gurun, ketika Presiden Megawati mensahkan UU No.
40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 19 Oktober 2004, banyak
pihak berharap tudingan Indonesia sebagai negara tanpa jaminan sosial akan segera
luntur dan menjawab permasalahan di atas. Perubahan bentuk bermakna perubahan
karakteristik badan penyelenggara jaminan sosial sebagai penyesuaian atas perubahan
filosofi penyelenggaraan program jaminan sosial. Perubahan karakteristik berarti
perubahan bentuk badan hukum yang mencakup pendirian, ruang lingkup kerja dan
kewenangan badan yang selanjutnya diikuti dengan perubahan struktur organisasi,
prosedur kerja dan budaya organisasi. Mulai 1 Januari 2014, program-program jaminan
kesehatan sosial yang telah diselenggarakan oleh pemerintah dialihkan kepada BPJS
Kesehatan. Kementerian kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program Jamkesmas.
Kementerian Pertahanan,TNI dan POLRI tidak lagi menyelenggarakan program
pelayanan kesehatan bagi pesertanya, kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu
berkaitan dengan kegiatan operasionalnya yang ditentukan dengan Peraturan Pemerintah.
PT Jamsostek (Persero) tidak lagi menyelenggarakan program jaminan kesehatan
pekerja.
Peraturan perundangan jaminan sosial yang efektif akan berdampak pada kepercayaan
dan dukungan publik akan transformasi badan penyelenggara. Publik hendaknya dapat
melihat dan merasakan bahwa transformasi badan penyelenggara bermanfaat bagi
peningkatan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan SJSN, sebagai salah satu pilar
untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Pembangunan dukungan publik diiringi dengan
sosialisasi yang intensif dan menjangkau segenap lapisan masyarakat. Sosialisasi
diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran pentingnya penyelenggaraan SJSN dan
penataan kembali penyelenggaraan program jaminan sosial agar sesuai dengan prinsip-
prinsip jaminan sosial yang universal, sebagaimana diatur dalam Konstitusi dan UU
SJSN.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan pembiayaan kesehatan?
2. Berasal dari mana sumber biaya kesehatan?
3. Apa arti dari era JKN?
4. Bagaimana pembiayaan kesehatan di era JKN?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui tentang pembiayaan kesehatan
2. Untuk mengetahui sumber biaya kesehatan
3. Untuk mengetahui arti dari era JKN
4. Untuk mengetahui bagaimana pembiayaan kesehatan di era JKN

1
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Pembiayaan Kesehatan


Sub system pembiayaan kesehatan merupakan salah satu bidang ilmu dari ekonomi
kesehatan (health economy). Yang dimaksud dengan biaya kesehatan adalah besarnya
dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai
upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Dari batasan ini segera terlihat bahwa biaya kesehatan dapat ditinjau dari dua sudut
yakni:
a. Penyedia Pelayanan Kesehatan
Yang dimaksud dengan biaya kesehatan dari sudut penyedia pelayanan (health
provider) adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat
menyelenggarakan upaya kesehatan. Dengan pengertian yang seperti ini tampak
bahwa kesehatan dari sudut penyedia pelayanan adalah persoalan utama pemerintah
dan atau pun pihak swasta, yakni pihak-pihak yang akan menyelenggarakan upaya
kesehatan.
b. Pemakai Jasa Pelayanan
Yang dimaksud dengan biaya kesehatan dari sudut pemakai jasa pelayanan
(health consumer) adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat
memanfaatkan jasa pelayanan. Berbeda dengan pengertian pertama, maka biaya
kesehatan di sini menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan. Dalam
batas-batas tertentu, pemerintah juga turut mempersoalkannya, yakni dalam rangka
terjaminnya pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang
membutuhkannya.
Dari batasan biaya kesehatan yang seperti ini segera dipahami bahwa pengertian biaya
kesehatan tidaklah sama antara penyedia pelayanan kesehatan (health provider) dengan
pemakai jasa pelayanan kesehatan (health consumer). Bagi penyedia pelayanan
kesehatan, pengertian biaya kesehatan lebih menunjuk pada dana yang harus disediakan
untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan. Sedangkan bagi pemakai jasa
pelayanan kesehatan, pengertian biaya kesehatan lebih menunjuk pada dana yang harus

2
disediakan untuk dapat memanfaatkan upaya kesehatan. Sesuai dengan terdapatnya
perbedaan pengertian yang seperti ini, tentu mudah diperkirakan bahwa besarnya dana
yang dihitung sebagai biaya kesehatan tidaklah sama antara pemakai jasa pelayanan
dengan penyedia pelayanan kesehatan. Besarnya dana bagi penyedia pelayanan lebih
menunjuk padaa seluruh biaya investasi (investment cost) serta seluruh biaya operasional
(operational cost) yang harus disediakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
Sedangkan besarnnya dana bagi pemakai jasa pelayanan lebih menunjuk pada jumlah
uang yang harus dikeluarkan (out of pocket) untuk dapat memanfaatka suatu upaya
kesehatan.

2. Sumber Biaya Kesehatan


Telah kita ketahui bersama bahwa sumber pembiayaan untuk penyediaan fasilitas-
fasilitas kesehatan melibatkan dua pihak utama yaitu pemerintah (public) dan swasta
(private). Kini masih diperdebatkan apakah kesehatan itu sebenarnya
barang public atau private mengingat bahwa fasilitas-fasilitas kesehatan yang dipegang
oleh pihak swasta (private) cenderung bersifat komersil. Di sebagian besar wilayah
Indonesia, sektor swasta mendominasi penyediaan fasilitas kesehatan, lebih dari setengah
rumah sakit yang tersedia merupakan rumah sakit swasta, dan sekitar 30-50 persen
segala bentuk pelayanan kesehatan diberikan oleh pihak swasta (satu dekade yang lalu
hanya sekitar 10 persen). Hal ini tentunya akan menjadi kendala terutama bagi
masyarakat golongan menengah ke bawah. Tingginya biaya kesehatan yang harus
dikeluarkan jika menggunakan fasilitas-fasilitas kesehatan swasta tidak sebanding
dengan kemampuan ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia yang tergolong
menengah ke bawah.
Sumber biaya kesehatan tidaklah sama antara satu negara dengan negara lain. Secara
umum sumber biaya kesehatan dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Bersumber dari anggaran pemerintah
Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan sepenuhnya
ditanggung oleh pemerintah. Pelayanannya diberikan secara cuma-cuma oleh
pemerintah sehingga sangat jarang penyelenggaraan pelayanan kesehatan disediakan
oleh pihak swasta. Untuk negara yang kondisi keuangannya belum baik, sistem ini
sulit dilaksanakan karena memerlukan dana yang sangat besar. Contohnya dana dari
pemerintah pusat, provinsi, kabupaten kota, Saham pemerintah & BBUMN, dan
premi bagi jamkesmas yang dibayarkan oleh pemerintah

3
b. Bersumber dari anggaran masyarakat
Dapat berasal dari individual ataupun perusahaan. Sistem ini mengharapkan
agar masyarakat (swasta) berperan aktif secara mandiri dalam penyelenggaraan
maupun pemanfaatannya. Hal ini memberikan dampak adanya pelayanan-pelayanan
kesehatan yang dilakukan oleh pihak swasta, dengan fasilitas dan penggunaan alat-
alat berteknologi tinggi disertai peningkatan biaya pemanfaatan atau penggunaannya
oleh pihak pemakai jasa layanan kesehatan tersebut. Contohnya CSR atau Corporate
Social Reponsibility) dan pengeluaran rumah tangga baik yang dibayarkan tunai atau
melalui sistem asuransi.
c. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri
Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya untuk penatalaksanaan penyakit-
penyakit tertentu cukup sering diperoleh dari bantuan biaya pihak lain, misalnya oleh
organisasi sosial ataupun pemerintah negara lain. Misalnya bantuan dana dari luar
negeri untuk penanganan HIV dan virus H5N1 yang diberikan oleh WHO kepada
negara-negara berkembang (termasuk Indonesia).
d. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat
Sistem ini banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia karena dapat
mengakomodasi kelemahan-kelemahan yang timbul pada sumber pembiayaan
kesehatan sebelumnya. Tingginya biaya kesehatan yang dibutuhkan ditanggung
sebagian oleh pemerintah dengan menyediakan layanan kesehatan bersubsidi. Sistem
ini juga menuntut peran serta masyarakat dalam memenuhi biaya kesehatan yang
dibutuhkan dengan mengeluarkan biaya tambahan.
Dengan ikut sertanya masyarakat menyelenggarakan pelayanan kesehatan, maka
ditemukan pelayanan kesehatan swasta. Selanjutnya dengan diikutsertakannya
masyarakat membiayai pemanfaatan pelayanan kesehatan, maka pelayanan kesehatan
tidaklah cuma-cuma. Masyarakat diharuskan membayar pelayanan kesehatan yang
dimanfaatkannya. Sekalipun pada saat ini makin banyak saja negara yang
mengikutsertakan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, namun tidak ditemukan
satu negara pun yang pemerintah sepenuhnya tidak ikut serta. Pada negara yang
peranan swastanya sangat dominan pun peranan pemerintah tetap ditemukan. Paling
tidak dalam membiayai upaya kesehatan masyarakat, dan ataupun membiayai
pelayanan kedokteran yang menyangkut kepentingan masyarakat yang kurang mampu.

3. Era JKN ( Jaminan Kesehatan Nasional )

4
a. Pengertian JKN
JKN merupakan program pelayanan kesehatan terbaru yang merupakan
kepanjangan dari Jaminan Kesehatan Nasional yang sistemnya menggunakan sistem
asuransi. Artinya, seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian
kecil uangnya untuk jaminan kesehatan di masa depan. Bagaimana dengan rakyat
miskin? Tidak perlu khawatir, semua rakyat miskin atau PBI (Penerima Bantuan
Iuran) ditanggung kesehatannya oleh pemerintah. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi
rakyat miskin untuk memeriksakan penyakitnya ke fasilitas kesehatan.
Sementara BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
BPJS ini adalah perusahaan asuransi yang kita kenal sebelumnya sebagai PT Askes.
Begitupun juga BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek
(Jaminan Sosial Tenaga Kerja).
Antara JKN dan BPJS tentu berbeda. JKN merupakan nama programnya,
sedangkan BPJS merupakan badan penyelenggaranya yang kinerjanya nanti diawasi
oleh DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional).
Sesuai Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN), dengan adanya JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan
dijamin kesehatannya. Dan juga kepesertaanya bersifat wajib tidak terkecuali juga
masyarakat tidak mampu karena metode pembiayaan kesehatan individu yang
ditanggung pemerintah.
Program JKN dan BPJS Kesehatan merupakan sebuah proyek dalam bidang
kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kesehatan.
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi
kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory). Dimana dalam hal ini adalah juga
berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan
kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh
Pemerintah.
b. Tujuan JKN
Tujuan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah agar semua
penduduk terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak, dalam rangka :
Memberikan kemudahan dan akses pelayanan kesehatan kepada peserta di
seluruh jaringan fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial.

5
Mendorong peningkatan pelayanan kesehatan kepada peserta secara menyeluruh,
terstandar, dengan sistem pengelolaan yang terkendali mutu dan biaya.
Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel.
c. Manfaat JKN
Ada 2 (dua) manfaat Jaminan Kesehatan, yakni berupa pelayanan kesehatan
dan Manfaat non medis meliputi akomodasi dan ambulans. Ambulans hanya
diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang
ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.
Pelayanan yang diberikan bersifat paripurna (preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif) tidak dipengaruhi oleh besarnya biaya premi bagi peserta. Promotif dan
preventif yang diberikan dalam konteks upaya kesehatan perorangan (personal care).
Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan:
Penyuluhan kesehatan perorangan, yang meliputi paling sedikit penyuluhan
mengenai pengelolaan faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Imunisasi dasar, meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri Pertusis
Tetanus dan HepatitisB (DPTHB), Polio, dan Campak.
Keluarga berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi, dan
tubektomi bekerja sama dengan lembaga yang membidangi keluarga berencana.
Vaksin untuk imunisasi dasar dan alat kontrasepsi dasar disediakan oleh
Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah.
Skrining kesehatan, diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi
risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.
Meskipun manfaat yang dijamin dalam JKN bersifat komprehensif namun
masih ada yang dibatasi, yaitu kaca mata, alat bantu dengar (hearing aid), alat bantu
gerak (tongkat penyangga, kursi roda dan korset).

4. Pembiayaan Kesehatan di Era JKN


Pengertian biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan / atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan
oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat (Azrul A, 1996). Dari defenisi di
atas, ada dua pihak yang terlibat yakni penyelenggara pelayanan kesehatan (provider)
dan pemakai jasa pelayanan kesehatan. Bagi penyelenggara, terkait besarnya dana untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan yang berupa dana investasi serta dana operasional,
sedangkan bagi pemakai jasa layanan berhubungan dengan besarnya dana yang
dikeluarkan untuk dapat memanfaatkan suatu upaya kesehatan.

6
Pembiayaan kesehatan suatu negara mempertimbangkan adanya sektor swasta selain
pemerintah sebagai penyelenggaraan layanan kesehatan. Total biaya dari sisi pemerintah
dihitung dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh pemerintah (expence) untuk
penyelenggaraan pelayanan kesehatan, bukan berdasarkan besarnya dana yang
dikeluarkan oleh pemakai jasa (income pemerintah). Jadi total biaya kesehatan adalah
penjumlahan biaya dari sektor pemerintah dengan besarnya dana yang dikeluarkan
pemakai jasa pelayanan untuk sektor swasta. Secara umum biaya kesehatan dibedakan
atas biaya pelayanan kedokteran dan biaya pelayanan kesehatan masyarakat. Biaya
pelayanan kedokteran adalah biaya untuk menyelenggarakan atau memanfaatkan
pelayanan kedokteran dengan tujuan utama lebih ke arah pengobatan dan pemulihan
(aspek kuratif-rehabilitatif) dengan sumber dana dari sektor pemerintah maupun swasta.
Sementara biaya pelayanan kesehatan masyarakat adalah biaya untuk menyelenggarakan
dan/atau memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat dengan tujuan utama lebih ke
arah peningkatan kesehatan dan pencegahan (aspek preventif-promotif) dengan sumber
dana terutama dari sektor pemerintah. Sumber pembiayaan dari pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah (propinsi dan kabupaten/kota) berasal dari pajak (umum dan
penjualan), deficit financial (pinjaman luar negeri) serta asuransi sosial. Sedang
pembiayaan dari sector swasta bersumber dari perusahaan, asuransi kesehatan swasta,
sumbangan sosial, pengeluaran rumah tangga serta communan self help. Setidaknya ada
empat skema pengembangan jaminan kesehatan yakni :
1. Jaminan kesehatan penerima bantuan iuran (PBI) dalam SJSN;
2. Pengembangan Jaminan Kesehatan (JK) non PBI sebagai bagian dari Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN);
3. Pengembangan jaminan kesehatan berbasis sukarela seperti asuransi kesehatan
komersial atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) sukarela;
4. Pengembangan jaminan kesehatan sektor informal seperti jaminan kesehatan
mikro/microfinancing (dana sehat) dan dana sosial masyarakat.

Dari pengalaman diberbagai negara, ada tiga model sistem pembiayaan kesehatan
bagi rakyatnya yang diberlakukan secara nasional yakni
Model asuransi kesehatan sosial (Social Health Insurance), berkembang di
beberapa Negara Eropa sejak Jerman dibawah Bismarck pada tahun 1882 kemudian
ke Negara-negara Asia lainnya yakni Philipina, Korea, Taiwan. Kelebihan sistem ini
memungkinkan cakupan 100 persen penduduk dan relatif rendahnya peningkatan
biaya pelayanan kesehatan.

7
Model asuransi kesehatan komersial (Commercial / Private Health Insurance),
berkembang di AS. Sistem ini gagal mencapai cakupan 100% penduduk sehingga
Bank Dunia merekomendasikan pengembangan model Regulated Health Insurance.
Amerika Serikat adalah negara dengan pengeluaran untuk kesehatannya paling tinggi
(13,7% GNP) pada tahun 1997 sementara Jepang hanya 7% GNP tetapi derajat
kesehatan lebih tinggi Jepang. Indikator umur harapan hidup didapatkan untuk laki-
laki 73,8 tahun dan wanita 79,7 tahun di Amerika Serikat sedang di Jepang umur
harapan hidup laki-laki 77,6 tahun dan wanita 84,3 tahun.
Model NHS (National Health Services), Dirintis pemerintah Inggris sejak usai
perang dunia kedua. Model ini juga membuka peluang cakupan 100% penduduk,
namun pembiayaan kesehatan yang dijamin melalui anggaran pemerintah akan
menjadi beban yang berat.

Jaminan kesehatan sebagai amanah UU SJSN sebagai solusi untuk mengatasi masalah
pembiayaan kesehatan yang semakin meningkat. Pengembangan jaminan untuk
meniadakan hambatan pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama
kelompok miskin dan rentan. Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada
peningkatan pendanaan kesehatan untuk mendukung pembangunan kesehatan.
Peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan menyulitkan akses sebagian besar
masyarakat dalam memenuhi layanan kesehatan. Banyak faktor penyebab
meningkatkannya pembiayaan kesehatan seperti penggunaan teknologi kesehatan yang
semakin canggih, inflasi, pola penyakit kronik dan degeneratif, dan sebagainya
sementara kemampuan penyediaan dana pemerintah maupun masyarakat sangat terbatas.
Arah pencapaian kepesertaan semesta (Universal Coverage) Jaminan Kesehatan pada
akhir 2014 telah ditetapkan menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJMN). Pada RPJMN yang ditetapkan tahun 2010 itu pemerintah telah membuat
kebijakan pembiayaan kesehatan terkait target Universal Coverage 2014 ketika 100
persen penduduk terjamin. Salah satu elemen target Universal Coverage, yaitu Jampersal
(Jaminan Kesehatan Persalinan). Meski penerapan UU No 40 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) masih belum maksimal diimplementasikan, target tersebut perlu
didukung sebagai political will pemerintah dalam menjamin pemenuhan kesehatan
masyarakat. Realitas yang ada, baru sekitar 50 persen penduduk yang terjamin asuransi
kesehatan atau skema jaminan kesehatan lainnya dan sebagian besar (sekitar 75 persen)
dijamin melalui anggaran pemerintah bagi warga miskin.

8
Anggaran kesehatan Indonesia relatif sangat kecil yakni hanya 1.7 persen dari total
belanja pemerintah, baik melalui APBN maupun APBD (Propinsi dan Kabupaten Kota).
Padahal UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan mengatur besaran anggaran kesehatan
pusat adalah 5 persen dari APBN di luar gaji, sedangkan APBD Propinsi dan Kab/Kota
10 persen di luar gaji, dengan peruntukannya 2/3 untuk pelayanan publik. Meski terlihat
kecil, justru ditemukan masih ada sisa anggaran yang tidak terserap di kementrian
kesehatan.

9
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sub system pembiayaan kesehatan merupakan salah satu bidang ilmu dari ekonomi
kesehatan (health economy). biaya kesehatan adalah besarnya dana yang harus
disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan
yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. Dari batasan ini
segera terlihat bahwa biaya kesehatan dapat ditinjau dari dua sudut yakni : penyedia
pelayanan kesehatan dan pemakai jasa kesehatan. Biaya kesehatan berasal dari berbagai
sumber, yakni dari pemerintah, masyarakat, dan dari luar negeri. Untuk mencapai
pembiayaan kesehatan yang baik haruslah memenuhi syarat-syarat pokok pembiayaan
kesehatan. Jaminan kesehatan sebagai amanah UU SJSN sebagai solusi untuk mengatasi
masalah pembiayaan kesehatan yang semakin meningkat. Pengembangan jaminan untuk
meniadakan hambatan pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama
kelompok miskin dan rentan. Solusi masalah pembiayaan kesehatan mengarah pada
peningkatan pendanaan kesehatan untuk mendukung pembangunan kesehatan.
Saran
Berdasarkan pembahasan pada makalah ini penulis memberikan saran agar UU SJSN
memang dapat menjadi acuan agar semua masyarakat bisa memiiki jaminan sosial, sehingga
kesejahteraan sosial dapat terwujud.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://dokumen.tips/documents/paper-sistem-pembiayaan-kesehatan.html

http://dinkes.sulselprov.go.id/berita-pembiayaan-kesehatan.html#ixzz4OCD4h4dh
http://prismawindaa8.blogspot.co.id/2015/10/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

11