Anda di halaman 1dari 17

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar, lawan banyaknya seratus kali Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati Maju Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berarti Sudah itu mati Maju Bagimu negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sungguhpun dalam ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju Serbu Serang Terjang
(Sumber : Chairil Anwar, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus)

PAGI YANG CERAH

Kubuka jendela rumah Tampak halaman yang indah Bunga-bunga mekar merekah Di jalan anak-anak pergi sekolah Binar-binar mata mereka mencerah Aku menyapa ramah Mereka sambut dengan bergairah

R Zhafira Arrum Dikutip dari Kedaulatan Rakyat, 18 Mei 2003

MENYESAL
Pagiku hilang sudah melayang Hari mudaku sudah pergi Sekarang petang datang membayang Batang usiaku sudah tinggi Aku lalai di hari pagi Aku lengah di masa muda Kini hidup meracun hati Miskin ilmu, miskin harta Akh, apa guna kusesalkan Menyesalkan tua tiada berguna Hanya menambah luka sukma Kepada yang muda kuharapkan Atur barisan di pagi hari
Menuju ke arah padang bakti.

Ali Hasjmi Dikutip dari Pujangga Baru : Prosa dan Puisi, Jakarta Gunung Agung, 1983

LAYANG-LAYANG
Terbang tinggi layang-layang Ke kanan dan ke kiri bergeleng-geleng Diterpa angin kencang semakin melayang Bagaikan benda hidup yang terbang Layang-layang seperti bernyawa Bebas merdeka di angkasa Mengikuti kemauan si empunya Sampai kapan dia di udara Dan ketika sampai waktunya Layang-layang terputus dari benangnya Dia tidak dapat berbuat apa-apa Jatuh ke tanah tiada berdaya

DIK
Kecil dan imut tubuhmu Membuat aku gemas melihatmu Ingin aku selalu memelukmu Ingin aku selalu menciummu Adik janganlah menangis Kakak selalu menghiburmu Adik janganlah takut Kakak selalu menjagamu Tidurlah adikku sayang Kakak ada di sampingmu Menyanyikan lagu-lagu merdu Mengantarmu dalam mimpi indahmu

Karya : Biantoro, Tabloid Yunior, Minggu 11 Februari 2007

INDONESIAKU Indonesia tanah leluhurku Indonesia tanah yang subur Indonesiaku kaya dan makmur Hutan hijau nan luas Bahan tambang melimpah Kekayaan yang luar biasa Namun... Sungguh sangat memrihatinkan Bencana melanda negeriku Isi perut bumi keluar berupa lumpur Yang di udara jatuh ke bumi Yang di laut naik sebagai tsunami Yang di darat gunung meletus dan banjir Tanah longsor dan kecelakaan transportasi Ekonomi tersendat Aku kuatir Indonesia melarat Akankah ini pertanda kiamat Marilah kita semua bertobat.

Karya : Jalu Pamungkas, Grobogan

PAHLAWANKU

Kau pembela nusa bangsa Tanah air tercinta Namamu tinggi menjulang Walau jasadmu terbenam Dalam dekapan bumi Dalam dekapan alam Jasamu tak terbilang Tak pernah kau hitung dengan uang Terukir dalam dada setiap insan Yang tahu arti kemerdekaan Bangsamu maju karenamu Negara jaya berkatmu jua Pahlawanku, Meskipun kini kau telah tiada Harum jasadmu menebar di angkasa Menyiram tanah air tercinta

Moel, Februari 07

AKU DAN GITAR Kakakku pandai bermain gitar Padanya aku ingin belajar Perlahan ia memetik gitar Berlenggak-lenggok berputar-putar Senang hatiku mendengar nyanyiannya Merdu suara teduhkan jiwa Jika aku telah dewasa Inginku pandai bermain gitar sepertinya

Karya Kahfi (Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas Kelas 6)

PETANI

Sebelum fajar menyingsing Kau sudah memulai harimu Membawa sabit Mencangkul sawah menanam bibit Hingga matahari di tengah galah Kau masih asyik bekerja Menjelang petang Kau akhiri hari sibukmu Demi bulir padi Yang akan kau jadikan beras Kau bekerja tak kau hiraukan panas dan hujan Karena itulah dirimu

Sumber : Bahasa Indonesia 6 SD/MI

SEMBAKO
Hargamu semakin melambung Membuat orangtuaku bingung Lembar demi lembar uang Terkikis di awal bulan Hitung menghitung penghematan Pengeluaran di atas pendapatan Wajah kuyu di mata ibu Membuat aku terharu Harapan terus terbayang Menunggu harga sembako normal

== Sumber : majalah Bobo ==

KERETA API

Badanmu seperti ular Panjang dan bergemuruh Kau mengantarku sampai tujuan Melewati desa-desa Begitu cepatnya Kau lewati jalan besimu Di atas jembatan sungai di dalam ruang bawah tanah Bila aku tertidur... Suaramu membangunkanku Tut... tut... tut... Sampailah aku di tempat tujuan
Karya : Kaisar

AKU INGIN SEPERTI LAUT

Aku ingin seperti laut Laut punya riak Laut punya debur Laut punya gelombang Riak Debur Gelombang Adalah menderas dalam tubuhku Semangatku meraih cita-cita Mula-mula riak Lalu debur Selebihnya gelombang Cita-citaku bergulung-gulung

Karya : Tanti Setiawati

KAPAL UDARA
Gegar gentar suara mesin Raja udara menguasai udara Menderu gemuruh berpusing miring Bagai burung mengintai mangsa Raksasa udara melaju jauh Berbalik pula puluh menyerbu Mata bersinar Semangat berkobar Kapan zamanku menghadapi pula Raksasa dunia kepunyaan kita

AKU ANAK SEKOLAH Aku ini anak sekolah Suka menolong orang susah Kalau ada yang susah Kuajak bergembira Aku ini anak sekolah Aku bersumpah Tidak suka berbohong Tidak suka bertengkar Tidak suka membolos Aku ini anak sekolah Bajuku rapi bicaraku sopan Kalau bertemu teman Ku sapa dengan ramah
. Karya : Eviyandi Budiman

== KASIH IBU ==
Ibu Ibuku penuh kasih Ibuku sayang aku Sejak kecil aku diasuh ibu Ibu Ibuku memberi susu Ibuku memberi makan Ibuku memberi uang jajan Ibu mengusir nyamuk Yang menggigitku Ibu mengusir tikus Yang mencuri kuekui Ibu mengusir kecoa yang mengotori kamarku Ibu oh ibu Aku sayang padamu Aku cinta padamu Aku akan selalu membantu ibu

JALAN MENUJU TAMANKU


.

Jalan menuju tamanku Penuh bunga Yang harum Yang wangi Jalan menuju tamanku Bersih dan rapi Hijau menyejukkan Seperti karpet Yang selalu dicuci Jalan menuju tamanku Membuat jantungku Membuat paru paruku Tak menggerutu Karena di tamanku Udaranya tak berdebu

AKU ADALAH KUPU KUPU

Aku adalah kupu kupu Aku punya asap Warna sayapku indah Aku bisa terbang Aku bisa melayang Aku Aku Aku Aku Aku adalah kupu-kupu pergi ke taman pergi ke hutan pergi ke kebun mencari bunga

Aku adalah kupu kupu Aku suka minum madu Madu itu enak dan gurih Kubagi dengan temanku Madu... oh madu...

Karya : Eriyandi

Beri Nilai