P. 1
OSCE-KOMPRE-yan-et-al-2011

OSCE-KOMPRE-yan-et-al-2011

|Views: 827|Likes:
Dipublikasikan oleh Anrih Roi M

More info:

Published by: Anrih Roi M on Mar 13, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

OSCE COMPREHENSIVE PROCEDURAL & IPM & nilai lab normal

By : Yan Mardian, Prenali Dwisthi Sattwika, Pradini, Afrilia Intan, Nia Milastuti, Nastiti Hemas, Annisa Tridamayanti, Astari Anggara, M. Randy Givano, Gandhi Anandika, Rizky Admagusta
1

DAFTAR ISI
MATERI HALAMAN

IPM General Thorax Abdominal Exam Eye Exam ENT Exam Neurology Exam Leprae Exam Gynecology Exam Baby delivery ANC Gyn Exam Pap Smear Implant IUD Bedah Simple suturing Sirkumsisi Bedah tumor Emergency Neonatal Resuscitation Endotracheal tube i.v. line Kateter CPR Dressing and Bandaging EKG Advance Cardiac Life Support Others Breast exam Locomotor Genitourinary Post Stroke
2

3 4 5 9 11 16 18 21 23 27 28 30 33 36 38 43 47 48 53 56 57 58 63 68 71 72 74

PROSEDURAL  … bismillah..here we go.. IPM GENERAL : Thorax, abdomen, eye, ent, neuro, leprae
THORAX Punggung: pasien duduk Inspeksi: posisi duduk (sikap tubuh, contoh: tripod pada asma), penggunaan otot bantu pernapasan, UKK Palpasi: hangatkan tangan terlebih dahulu, palpasi nyeri tekan, palpasi pengembangan dada, fremitus taktil (ninety-nine atau satu dua tiga pake nada orang ambon)  fremitus taktil meningkat: konsolidasi paru. Perkusi: perkusi paru (normal: sonor, kalo ada konsolidasi: redup, kalo emphysema: hipersonor), perkusi pergerakan diafragma, caranya di linea midclavicularis dextra diperkusi dari atas ke bawah, sampe nemu batas sonor redup (batas paru-hepar), terus pasien disuruh tarik napas, diafragma turun, perkusi diterusin ke bawah, sampe nemu batas paru-hepar lagi. Penurunan normal 4-5 cm Auskultasi: suara paru (normal vesicular/ suara paru perifer) Dada: pasien berbaring Inspeksi: inspeksi ekspresi wajah pasien (misal nafas cuping hidung, sianosis), leher (retraksi supraklavikular), penggunaan otot bantu pernapasan, konfigurasi dada (misal dada tong pada COPD, pectus excavatum/cekung, pectus carinatum/cembung kayak burung merpati), pola pernapasan, UKK, iktus kordis Palpasi: mirip sama yang punggung + palpasi deviasi trachea + palpasi iktus cordis Perkusi: perkusi paru (dimulai dari atas klavicula sampai bawah zigzag) perkusi batas jantung: Batas jantung kiri: dari linea axillaris anterior perkusi sampe nemu sonor-timpani (paru-lambung, biasanya di SIC VIII), naek dua jari, dengan posisi jari tegak lurus terhadap costa, perkusi ke kanan sampe nemu redup (batas jantung relative, biasanya dua jari medial linea midclavicular kiri, SIC 5) pekak (batas jantung absolut) Batas jantung kanan: dari linea midclavicularis dextra, perkusi ke bawah sampai nemu batas sonorredup (paru-hepar), biasanya di SIC VI kanan, ukur dua jari ke atas, perkusi lagi dengan posisi jari tegak lurus terhadap iga,dari lateral ke medial, cari perubahan sonor ke redup (biasanya di linea sternalis kanan), dam nyari suara pekak (batas jantung absolute, biasanya di linea midstrenalis) Batas jantung atas: cari linea sternalis kiri. Dari titik teratas, lakukan perkusi sejajar iga kerah kaudal, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC II linea sternalis kiri Pinggang jantung: cari linea parasternalis kiri, perkusi di linea itu kearah kaudal, posisi jari sejajar iga, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC III. Kalo sampe di SIC II, berarti pinggang jantung menghilang, biasanya pada keadaan pembesaran atrium kiri 3

perkusi lien (di ruang traube. diperkusi sebelum dan sesudah inspirasi normalnya timpani). dilatasi vena (missal caput medusa karena hipertensi portal). ABDOMINAL EXAM Inspeksi: Kontur (kontur lebih rendah. normalnya semua timpani). beri tekanan ke atas. pulsasi/peristaltic. lanjutin sampe nemu batas redup0 timpani. Selanjutnya lakukan palpasi hepar. selanjutnya lepas tangan saat pasien ekspirasi. Trus lakukan deep palpation. letakkan tangan kanan diatas batas kosta dan tekan ke arah spleen. dorong tangan kanan masuk ke dalam untuk meraba batas hati. simetris. yakni pada garis axilaris posterior SIC 11. pada bronchitis terdengar crackels) Auskultasi klasik suara jantung: Di SIC II linea parasternalis kiri (s2 pulmonal) kanan (s2 aorta). atau lebih tinggi dari dada atau schapoid/menggembung). rectus abdominis. massa (lokasi. dan tentukan murmur tersebut ada saat diastolic atau sistolik (contoh: murmur sistolik di mitral  stenosis mitral. caranya letakkan tangan kiri pada antara SIC 10-SIC 12. nyeri tekan. normalnya 8-12 cm. untuk mengidentifikasikan massa abdomen. Lanjut ke palpasi lien. bentuk. bekas luka operasi. warna kulit. minta pasien utk inspirasi  normalnya ga keraba. tangan kanan di kuadran kanan atas. Palpasi ginjal kanan dilakukan dengan meletakkan tangan kiri pada belakang diantara SIAS dengan angulus kosta. Normalnya ga keraba. Suara yang sama dengan suara arteri karotis  s1. Saat pasien ekspirasi. di SIC V linea midclavicular sinistra (s1 mitral). Perkusi: Perkusi 13 titik (liar gambarnya di buku. yang mungkin menunjukkan pancreatitis Auskultasi: Pilih satu titik di abdomen. biasanya ga keraba. kemudian pasien disuruh inspirasi. dengarkan juga apakah ada bruits/murmur vascular. sejajar. dokter pindah ke sisi kiri pasien. dan nyeri tekan. konsistensi. specific sign: misalnya Cullen sign (blue discolorisation of periumbilical) dan grey turner sign (diskolorisasi pada area flank). tapi masih normal kalo batas terabanya 1-2 cm dari batas iga bawah. Palpasi: Hangatkan tangan dulu. perkusi dari umbilical ke atas sampe nemu perubahan suara. normalnya 4-8 cm.Auskultasi: Auskultasi suara paru (normal vesikuler. ukuran). dan adanya masa. pada keadaan obstruksi saluran napas bawah misalnya asma. ukuran. Caranya letakkan tangan kanan sejajar m rectus abdominis dan tangan kiri menyangga dinding lateral abdomen costa 11-12 kanan. terdengar wheezing. Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri pasien. stria (pada ibu hamil atau orang gemuk). Lakukan palpasi superficial untuk mengidentifikasi resistensi otot. bentuk. murmur diastolic di mitral  insuffisiensi mitral). lokasi. sedangkan untuk meriksa lobus kiri hepar. dengarkan suara click and gurgles (normal 5-35x/menit). di SIC 4/5 linea strenalis kiri (s1 trikuspid). lalu tekan kuadran kanan atas untuk mencoba “menangkap” ginjal dengan kedua tangan. Perhatikan adanya murmur. mobilitas. pada keadaan udem pulmo atau eksudat di alveolus. minta pasien utk inspirasi. perkusi hepar (lobus kanan: perkusi dari linea midclavicular dextra sampe nemu batas sonor-redup/paru-hepar. umumnya 10 cm. Tes Ascites: 4 . parallel dan lateral dari m. akan terdengar ronki. umumnya 6 cm).

Obturator sign  kaki pasien dinaikkan 90 derajat. minta pasien menaikkan kaki melawan tahanan. periksa mata kanan & kiri gentian. Periksa akuitas visual (visual acquity) Kalau pakai kacamata. Sentil abdomen dengan tangan kanan. liat jangan dipicingkan. visus: 1/60)  Kalau tetap nggak bisa  pada jarak 1 meter pasien  hand movement 1/360 bisa mundur sampai 6 meter (kalo Cuma bisa dijarak 1 meter. Shifting dullness: perkusi dari umbilicus ke lateral hingga ditemukan perubahan suara dari timpani ke redup. Cutaneoous hyperesthesia  cubit kulit perut  hyperesthesia  inflamasi saraf subkutan EYE EXAM 1. Bentuk huruf H Jarak duduk 1 lengan Waktu tangan di bawah. nyerinya jadi localized. Psoas sign  tangakn diletakkan diatas lutut pasien. Tes konvergensi 5 . Rovsing sign  nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika dilakukan tekanan pada kuadran kiri bawah. 4. visus: 1/300)  Kalau tetap nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  pakai cahaya (visus: 1/takhingga)  Untuk yang bisa baca snellen chart: Misal di visus 6/20 bisa baca 3 huruf dari 5 huruf  6/20 S2 Misal di visus 6/20 bisa baca 2 huruf dari 5 huruf Visus atasnya (misal 6/30) B2 3. continous. lutut fleksi 90 derajat.1. dan tangan kiri diarah sebaliknya. Extraocular eye movement a. buka kelopak mata Berhenti sejenak saat di lateral dan upward gaze utk liat nystagmus  LR6(SO4)3 (Lateral rectus N VI. Superior Oblique N IV. Tekan dengan ketat. Lakukan rotasi internal-medial pada pinggang. pantulan cahaya (titik kuning) terlihat di pupil sedikit di nasal (slightly nasal to the center of pupil). pakai visus jauh. prosedur. Periksa reflex kornea (corneal light reflex). Dikatakan positif kalo suaranya berubah jadi timpani. Kemudian perkusi lagi pada titik tersebut. nyeri pada saat dilepaskan  iritasi peritoneal 3. 2. kalo udah perforasi. Rebound Tenderness. Tes undulasi (fluid wave): minta pasien untuk meletakkan tangannya secara longitudinal pada tengah abdomen. Sampaikan tujuan. izin/informed consent 2. Kalau nggak ada diplopia. sisanya N III) N IV lihat inferomedial N VI lihat lateral c. Minta pasien untuk berbaring miring. 5. kacamata dilepas. b.  Huruf pertama nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  finger counting 1/60 bisa mundur sampai 5 meter (kalo cuma bisa dijarak 1 meter. snellen chart. Adanya kenaikan nyeri pada hypogastric menunjukkan kemungkinan iritasi musculus obturator. Tentukan lokasi dan sifat nyeri. Tandai daerah itu. Letakkan tangan kanan pada sisi kiri abdomen pasien. Kenaikan nyeri abdomen kuadran kanan bawah  iritasi musculus psoas karena app 6. tutup mata jangan ditekan. tangan kiri tetap pada posisinya dan rasakan gelombang cairan (fluid wave) Test Appendicitis: 1. dan terletak di titik Mc Burney 2.

Lower conjunctiva palpebra Mata lihat ke atas. tanda inflamasi. permukaan. permukaan. normalnya bisa ngikutin sampai jaraknya 5-8 cm dari hidung. udah membatu hordeolum: keluar discharge kalau dipencet c. deformitas d. lihat pakai senter  Warna. ptosis (nggak bisa buka mata: rusaknya NIII) Alis (deformitas) Rima palpebra: simetris Arah garis palpebra b. darken the room a. lihat pakai senter  Warna. kelopak ditekuk ke atas. miosis (pupil mengecil) 4. Kelopak mata: lesi kulit. Visual eye field a. masa protruding. deformitas f.Mata normal mengikuti gerakan objek dari pemeriksa mendekati hidung pasien. terus dokter gerakkan tangan secara horizontal (dari lateral ke medial). deformitas e. pasien disuruh fiksasi pandangannya ke hidung dokter . dokter tutup mata kanan). Tes konfrontasi 1 Jarak 1 lengan . tutup satu mata (periksa mata kanan pasien  pasien tutup mata kiri. Trias melihat dekat: konvergensi (melihat kearah medial). pola vaskularisasi. Tes konfrontasi 2 Bagi 4 kuadran (kanan kiri atas bawah). Upper conjunctiva palpebra Mata lihat ke bawah. Bulu mata  tersusun teratur  persebaran kotinu  arah pertumbuhan (extropion: mukosa ke luar. Periksa segmen anterior Duduk sejangkauan tangan. Cornea Pakai penlight boleh langsung. nggak usah tutup mata. akomodasi lensa. penipisan. pembengkakan  Sclera: warna.  Anopsia  lesi N. entropion: ke dalam)  tidak ada discharge  tidak ada deformitas kalazeon: obstruksi kelenjar. suruh ngitung jari dokter  untuk ngeliat lapang pandang 4 kuadran penglihatan 5. simetris. masa protruding. pakai senter harus dari bawah tapi jangan terlalu jauh  Kekeruhan  Bentuk 6 . Conjunctiva bulbi  Warna. opticus  Hemianopsia bitemporal (lapang pandang temporal kedua mata hilang)  lesi chasma optica  Hemianopsia homonim dextra (lapang pandang temporal mata kanan dan lapang pandang nasal mata kiri hilang)  lesi traktus opticus sinistra  Hemianopsia homonim sinistra  lesi traktus opticus dextra  Lesi quadrantika Loop of Meyer (radiation optica bagian bawah) Hemianopsia quadrantika sinistra (pie on the sky)  lesi loop of Meyer dextra b. lagopthalmus (nggak bisa nutup: rusaknya N VII).

lepas kacamata  Posisi pemeriksa boleh berdiri  Minta pasien lihat jauh  Adjust lensa opthalmoscope (-)  2 (-). Anterior chamber Antara iris dengan kornea Disenterin dari samping  Dalam/dangkal  Clearness  Darah/pus Normal: iris terang dua2nya Ada sudut iridocorneal: semakin dangkal (iris kayak bulan sabit. Papil N II  Letak papil di arah nasal  Batas papil: tegas/kabur  Warna pucat/yellowish orange. (+)  sesuai (+) Dihitung = plus/minus pasien + plus/minus pasien  Pegang opthalmoscope dengan tangan sama  Lihat dari jarak 30 cm lalu mendekat Warna Yang kita gunakan  warna kuning Red free (hijau atau biru)  untuk lihat perdarahan Biru  untuk fluorescence Bentuk ½  untuk pupil yang kecil Garis2 kotak  ratio cup/disk Besar  biasa Yang 1 garis  lihat ketebalan  Jari telunjuk pada lensa panel. reddish  Lihat cup & disc ratio C/D normalnya 3/10 Peningkatan tekanan intra ocular  serabut saraf pembentuk discus lebih sedikit  ratio meningkat  ¾. ga semua bagian iris kena sorot sinar  pada glaucoma sudut tertutup akut) h. Periksa segmen posterior  Jelaskan periksa opthalmoscope. Sampaikan hasil a. normal/orange. Iris/pupil  Warna + bentuk iris  Pupil simetris  Refleks pupil direct & indirect di-swing senternya di depan mata kanan & kiri i. TIO  bandingin sama tonus lidah yang dijendolin ke pipi 6. 3/5 7 . Lensa Senter arah depan bawah  kekeruhan j. sesuaikan fokus 7. Ukuran  Curve  Pola vascular  Deformitas g.

adakah lateralisasi? (prinsip: no masking sound that can be heard on normal ear in CHL) Lateralisasi ke arah sakit: CHL Lateralisasi ke arah sehat: SNHL Tengah-tengah: normal c) Tes Schwabach 8 . Telinga a. telinga kiri arah jam 7  Bulging  vaskularisasi d. Vaskularisasi Vena lebih besar & lebih gelap Arteri : vena = 2 : 3 ENT 1. Duduk face to face oblique. prosedur. posisi memegang seperti memegang ballpoint. Yang diliat:  Canalis auditoris externus  Perdarahan  Laserasi  Serumen prop  Tanda otomikosis  newspaper-like-appearance  Membran timpani  Intact/perforasi  Cone of light. pakai garpu tala frekuensi 512 Hz a) Tes Rhine (prinsip: middle ear amplifies the sound) Diletakkan di proc. Jelaskan tujuan. auricula  Mastoid  otitis media c. tangan buat megang otoscope sesuai dengan telinga (meriksa telinga kanan pake tangan kanan). fiksasi jari di pipi pasien. Otoscope Auricular ditarik ke arah superoposterior. Palpasi  cari nyeri  Tragus  otitis externa  Helix. izin / informed consent 2. mastoideus terus didengerin de deket telinga (+) AC > BC: normal/SNHL (-) AC < BC: CHL b) Tes Weber (masking effect) Diletakkan di glabella. Macula Tempatnya fovea centralis. Inspeksi telinga  UKK  Deformitas  Oedem  Discharge b. Tes pendengaran. letaknya lebih ke arah temporal Periksa refleks foveal Pasien diminta melihat ke arah cahaya sebentar c. cuma ada sel pigmen & batang. ruang semi gelap 3.Peningkatan takanan intra cranial  discusnya naik  ratio turun  3/11 b. kuadran anteroinferior Telinga kanan arah jam 5.

lanjutin ketok untuk tau ada nyeri ketok sinus  curiga sinusitis. Speculum dibuka waktu udah di dalam rongga hidung. Inspeksi  Deformitas  Deviasi septum  Perdarahan/hematom  Rhinorrhea b.. Jari telunjuk untuk fiksasi. Speculum Posisi tangan & hidung berlawanan. dorong dinding lateral mulut  Membran buccal: warna & perdarahan  Gusi: warna & perdarahan  Gigi: karies  Rasio gigi gusi 2) Minta julurkan lidah  tes nervus XII 3) Minta pasien “aahh” (lidah ga dijulurin). e. palpasi sinus frontalis & maxillaries.Di proc. Buka mulut dengan spatula 1) Masukkan spatula (yang dimasukin ujung besarnya). tangan yang nggak megang speculum fiksasi kepala di belakang. mastoideus. Tenggorokan a. pemeriksa harus normal BC pasien > dokter: CHL  periksa sebaliknya BC pasien = dokter: N  periksa sebaliknya BC pasien < dokter: SNHL 4. tapi karena ga ada di checklist buku. ga usah deh yee. Yang diliat:  Concha nasalis media & inferior  Meatus nasi inferior  Septum lurus/deviasi/perforasi  Mukosa merah  tidak ada epistaksis  tidak ada polip (biasanya warna pucat)  tidak ada lendir berbau atau berwarna d. tahan pakai spatula lidah Palatum molle & uvula terangkat  tonsilla palatina & dinding posterior faring  terlihat kalau ada eksudat 4) Ga usah palpasi lidah. palpasi hanya kalo ada indikasi kanker lidah.  5. kalo palpasi musti pake glove  ga disuruh di checklist 9 . ditutup waktu udah dikeluarin. kalo nyeri. Bibir  UKK b. Palpasi  Deformitas  Masa abnormal  Pencet 1 lobang idung terus minta pasien napas  apakah ada obstruksi? c. Hidung + sinus paranasal Pakai & nyalakan lampu kepala a. Sebenernya ada test transiluminasi buat ngeliat sinusitis.

XII. Kalo mau lengkap: a. trapezius 10 . dll b. atau. GCS  Glasgow Coma Scale  E (eye:4) V (verbal: 5) M (motor:6)  kalo pasien ga sadar 2. III. Cranial nerve exam Kalo cuma untuk screening: N II. VII. N XI Angkat bahu. N I (olfactorius)  bau2an tembakau. N V (trigeminus) mastikasi ketika mengunyah rasakan otot mulut tahan dagu trus suruh buka mulut sensoris wajah: sensasi di N V1 (opthalmicus). Mini mental status examination a. VI (abduscen)  ocular eye movement N III  refleks pupil (cek parasimpatis) d. Bahasa/language 1) Pensil + arloji  ini apa? 2) Tanpa. Schwabach g. N IX (glossopharungeus) dan X (vagus) Gag reflex Angkat palatum (bilang “aah”) Minta menelan h. IV (trochlear). taruh lantai 4) Baca “pejamkan mata” dan lakukan 5) Tulis kalimat SPO 6) Salin gambar Skor maksimal 30. dan. N V3 (mandibularis) e. VI. IV. Recalling suruh nyebutin 3 objek yang tadi disebutin e. N II (optic)  snellen chart c. Noting  menyebutkan 3 objek c. dokter nahan m.NEURO EXAM 1. tetapi sebutin dengan intonasi yang datar 3) Ambil kertas.. N VII (facialis) Sensoris: 2/3 lidah untuk perasa Motoris  Tutup mata  Kernyitkan dahi UMN: bisa kernyutkan dahi (stroke) LMN: nggak bisa (Bell’s palsy)  Gembungkan pipi  Bersiul f. N III (occulomotor). cengkeh. N VIII (vestibulocochlear)  Rhine. Orientasi 1) Person 2) Moment 3) Place Nanyanya harus sekaligus: Bapak datang sama siapa? Tadi makan apa? Sekarang lagi ditempat apa namanya? b. bila. Atensi & kalkulasi 100-7-7-7-. sampai 6x Kata dibalik: MESRA  A-R-S-E-M d. Weber. kalau <25  disorder. lipat2. missal tumor lobus frontalis & stroke 3. N V2 (maxillaries). kopi.

biceps. epicondylus medial lateral. Suhu Pakai air panas 40 O C dan air dingin 20 O C d. posisi supinasi. Taktil Pakai brush. deltoid. m. triceps. bandingkan kanan-kiri c. Nyeri Pakai yang tajam atau tumpul. dipukul di otot juga keluar refleksnya (kan harusnya cuma pas dipukul di tendo aja keluar refleksnya) 5. Sensoris examination a. dorsofleksi. di olecranon. Muscle tone Dinilai bagus atau tidak tonus ototnya Karakteristik lesi UMN:  Spastik  weakness  Reflex fisiologis hiper (liat keterangan dibawah)  Ada reflex patologis Karakteristik lesi LMN:  Flacid  weakness  atrofi otot  Refleks fisiologis hipo  Tidak ada reflex patologis Interpretasi: 0 tidak ada refleks 1 hipo 2 normal 3 hiper tapi masih normal 4 hiper patologis. Neuromotoric exam a. Motor strength Otot yang diperiksa (screening) : M.i. maleolus medial lateral e. Getaran Pakai 256 Hz. terasa atau tidak b. Noleh kiri kanan. kalo salah satu tangan berputar pronasi sambil tangannya turun  pronator drift + Kalau pronator drift nya +  lesi UMN b. lutut. plantar fleksi Otot yang diperiksa (semua) = semua otot ( ada di buku neuro motoric ) 0 : tidak ada gerakan atau tonus 1 : ada tonus 2 : ada gerakan tapi tidak bisa melawan gravitasi 3 : bisa nahan gravitasi namun tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 : bisa menahan pemeriksa tapi lemah 5 : normal. Movement 11 . pejam mata. Pronator drift  suruh ngangkat tangan. dokter nahan di pipi. ekstensi lutut. scm N. medianus. proc styloideus medial lateral. bisa menahan pemeriksa c. XII Motoris : julurin lidah UMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sakit LMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sehat 4. hitung sampe 10.

Babinski  dari bagian lateral plantar sampai ke bawah jempol membentuk huruf J positif = dorsofleksi jempol. Brachioradialis  mirip kaya m. positif= dorsofleksi jempol. mekar jari2nya (fanning) d. cari tendo m. ischiadicus  kaki diluruskan lalu diangkat. mekar jari2nya h. mekar jari2nya f. Biceps  tangan kanan memegang tangan kanan. Tanda iritasi meningeal a. Refleks patologis a. Brudzinski 1) neck : 1 tangan ngangkat kepala. tapi kalau ada tahanan dan sakit berarti abnormal (kernig +) b. Positif kalau kaki melangkah mau jatuh. Pasien diminta berdiri. Romberg  cek keseimbangan Matikan ocular dengan tutup mata. 1 tangan di dada. Patella  lutut dibiarkan menggantung. lihat nystagmus dalam 20 menit 12 . Rossolimo pukul bantalan ibu jari. tangan pemeriksa nahan di plantar supaya terasa gerakan dorsofleksinya kalo positif 7. propiosepsi tetap. Hoffman  yang dipegang jari tengah. Jatuh ke arah lesi. Tandem gait Jalan dalam 1 garis lurus. 2. disuruh menyebutkan ke atas/ bawah/ kanan/ kiri 6. Gordon  jepit betis. di pukul di tendo quadriceps femoris e. biceps. tarik dari belakang. positif = dorsofleksi jempol. Triceps  tangan kiri disangga tangan kiri pemeriksa. kalau positif = lutut nekuk 2) kontralateral : 1 kaki diangkat difleksikan. Kernig sign  lutut fleksi. Refleks fisiologis a. Chaddock  dari maleolus lateral ke arah kelingking positif = dorsofleksi jempol. diketuk dari bawah. Openheim jepit tibia susuri ke bawah ditarik . positif = plantarfleksi --> beda sendiri 8. tutup mata. cek vestibular. positif= dorsofleksi jempol. kakinya rapat. Tromner  yang dipegang jari tengah. kaki yang lain ikut naik c. Untuk BPPV Diagnosis: Dix hallpike  Kepala miring 45o  Terus tiduran dengan posisi kepala nggantung  Lihat ada nystagmus/pusing nggak. mekar jari2nya g. positif = menggenggam c. tapi dipukul di ototnya (snapping movement) d. normalnya bisa lurus. dipukul di tendo triceps brachii c. mekar jari2nya e. positif = nyeri Periksa vertigo 1. positif = menggenggam b. di pukul di tendo Achilles. Achillles  kakinya bersandar pada kursi. lalu agak difleksikan. Lasegue  untuk memeriksa LBP & n.Gerakin jari . diketuk dialasi jempol (positif kalo supinasi) b. trus kaki coba dilurusin ke atas. Schaeffer  jepit Achilles. diketuk dari atas. biceps brachii.

Treatment: Epley maneuver  lanjutan dix hallpike      Terus noleh ke sisi satunya 90o Badannya putar ikuti arah kepala Bangun Leher fleksi 20o Setelah epley pakai cervical collar  untuk mencegah perpindahan canalith lagi Sermont maneuver  Tidur miring kanan 30 detik  Duduk tegak 30 detik  Tidur miring kiri 30 detik 13 .

Onset : masa inkubasi : 2 minggu. erythema nodusum leprosum  Lepra multibacilar : mukosa dan saraf  keluhan : nasal stuffness. RPD : ngga terlalu ngaruh d. RPS i. Characteristic : seperti apa lesinya? iv. Treatment : c. Anamnesis a. Air hangat 40o C . Review system : i. Siapkan alat a. Keluhan Utama : Bercak hipopigmentasi. Alkohol spray 14 . jarum pentul b. air dingin 20oC c. Location : bercaknya adanya dimana aja iii. Agravating –relieving : tidak ada v. Pulpen d.  Lepra paucibacilar : kulit dan neuro  keluhan : bercak hipopigmentasi. mati rasa. Kapas. Adakah keluhan di saluran nafas?  multibacilar 3.30 tahun ii. Informed consent 4.Cerebellar ataxic  finger to nose PEMERIKSAAN LEPRA 1. RPK lingkungan : adakah anggota rumah/ lingkungan yang mengalami hal serupa? Papua. Adakah mati rasa? iii. anestesi. hoarseness. apakah ada penebalan saraf? ii. penebalan saraf  Stadium: TT  BT  BB  BL  LL b. Perkenalan diri 2. maluku e.

hipopigmentasi b. aspek dorsal dari kaki. ii. nyeri.Aurikularis magnus  pasien tengok kiri/ kanan diraba ada atau tidak penebalan saraf . ada infiltrate di cuping telinga/ tidak?.5. lalu di beri tahanan iv. Nyeri : jarum pentul Bandingkan perabaan tumpul atau tajam. langsung diraba pake tangan kiri . ada/ tidak nyeri c. hipopigmentasi. area gluteal. angkat kaki. Suhu : dengan air panas/ dingin iii. Minta pasien untu memutar. atrofi kulit. 1. peroneus komunis : motoris Dorsofleksi kaki. N. tibialis : sensoris 15 . Sensibilitas Bandingkan antara yang ada bercak dengan yang normal (bukan kanan-kiri) i.5 medial . auricularis magnus (menyilangi SCM) ii. Pemeriksaan fisik Pasien kalau laki-laki harus membuka baju dan hanya memakai celana pendek. tangan disilangkan untuk meraba di maleolus medialis d. atrofi tenar/ hipotenar iii. tangan ventral. N.Sensorik: pakai pulpen di telapak tangan. medianus : . N.N. ulnaris . lagophtalmus. ada celah atau tidak. inspeksi aspek dorsal leher telinga. Perabaan/ taktil : dengan kapas Jelaskan ke ibunya kalau terasa suruh bilang terasa. ada pembesaran n. perut. 1: tidak bisa abduksi iii. tibialis posterior  jongkok. Kepala : ada madarosis atau tidak.N. Perabaan Saraf Yang dicari: Penebalan saraf . radialis : motoris Dorsofleksi palmar ( kayak orang naik motor) lalu di tahan v. simetris atau tidak . punggung. 2 : bisa abduksi tapi ga bisa lawan tahanan . facialis : motorik Periksa dengan memejamkan mata. Tangan  ada jari kiting atau tidak. peroneus komunis  di lateral caput fibula . bercak.Motoris : jempol ke arah hidung. Tubuh minta pasien untuk meluruskan tangan ke depan.Sensoris : telapak tangan 3. N. dan menginspeksi dada. 5 lateral . Inspeksi i. Areanya: jari manis setengah ke medial di telapak tangan. Fungsi Saraf (sensoris dan motorisnya) i. vi. jari2. lalu ditahan.N. N. dikatakan lagophtalmus kalau > 3mm ii. tangan. hidung pelana . ulnaris  tangan kanan dipegang dengan tangan kanan agak difleksikan. inspeksi plantar Lihat  ada ulkus. Cuci tangan 6. cahaya ruangan harus cukup a. diberi tahanan ke dalam Nilai : 3: bisa melawan tahanan .Motoris : jari kelingking abduksi. N.

tab 1 Multibacillar : durasi treatment 12 bulan R/ Tab Rifampicin 600 mg No. I s.Pasien harus mengekspos telapak kaki. pas di spina ischiadica 16 . Fase aktif Pembukaan 4-10. IUD BABY DELIVERY Kala 1 1. Pengobatan ini memang lama. ANC. Treatment .d. karena penularan lewat droplet c. Leopold Enganged kalau udah di station 0 atau hodge 3.I s. Kecepatan: 1 cm/jam Yang dicatat di partograf 1. Vital sign Periksa tekanan darah + suhu tiap 4 jam Periksa HR tiap 0. Edukasi a. 1 bulan 1x minum) tiap 1 bulan balik lagi ke dokter. Periksa urin 2-4 jam 3. Sebulan sekali datang control - GYN Baby del.5 jam 2. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. implant.d.1.d tab 1 8.d. jadi harus taat minum obat b. I s. XXX s. tapi pengobatan 6 bulan) R/ Tab Rifampicin 600 mg No.1. 7. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No.d. XXX s.. Fase laten Pembukaan 0-3 cm. XXX s. sekitar 8 jam 2. Pakai masker. lalu dites dengan pulpen. tab 1 R/ Clofazimin 300 mg No.Paucibacillar : 6 bulan (obat Rifampicin diminum depan dokter.1. Bimanual untuk mastiin  Ada tumor nggak di jalan lahir  Ada DKP atau nggak  Ada moulage nggak  Nentuin station 4. gyn exam. papsmear.d. obat minum d depan dokter R/ Clofazimin 50 mg No.

DM (makrosomia atau disproporsi kepala panggul) 2. Melahirkan kepala 17 . Jelaskan cara meneran Selama kenceng2. Oksitoksin 10 IU & syringe-nya k. pakai sarung tangan 5. Salam dan perkenalan Selamat sore. Berdiri depan vulva 6. tutup mulut. satu kali 20-40 detik. 3 linen steril  dipake abis pake gloves 1 di bawah buttock ibu. saya dokter yang akan membantu kelahiran ibu. 1 dipegang buat nahan perineum e. Pakai apron b. Bagian mukosa anus muncul f. Ergometrin l. Chlorin 0. Saya memerlukan kerja sama ibu agar proses kelahiran lancar. lakukan ketika kenceng2 10. Cuci tangan. dominasi fundus. ½ cocher (buat mecahin ketuban kalo belum pecah) f. Anus berdilatasi & membuka e. dagu nempel di dada. Mohon kerja sama 3. Bloody show 7. Klem lurus h. Meja ginekologi d. Fetoscope/stetoskop Laennec p. Perineum menegang d. Pasien ingin meneran c. Gunting jaringan untuk tali pusar i. Needle holder. ambil napas dalam lewat hidung. Wadah bengkok q. simetris b. DJJ tiap 5 menit selama 1 menit  asisten yang ngelakuin (inget: Laenec ga steril) 9. Dari partograf RM. Kateter nelaton/logam m.Kala 2 1. Anamnesis singkat  GPA  Umur kehamilan  ANC teratur? Terakhir kapan?  Ada keluhan selama kehamilan?  Ada riwayat hipertensi. needle. Menentukan waktu untuk meneran a. benang untuk jahit epis n. Lampu ginekologi  nyalakan c. Kontraksi 3-4 kali dalam 10 menit. Silakan lepas bawahan & celana dalam lalu tidur di meja litotomi. 1 di atas perut ibu. nyebabin effacement serviks. mengejan ke arah perut sekuat mungkin 8. Persiapan alat a. ibu memasuki kala 2. Gunting epis g. Klem tali pusar j. keluarkan lewat hidung. Kepala janin memperlebar outlet vagina 3-4 cm g. tangan bisa pegangan paha. Sarung tangan o. jarak vagina & anus  episiotomy nggak? Kalau diepis.5% 4. Periksa perineum rigid/nggak.

13. Bersihkan kotiledon dengan kasa hidrofilik. yang gerak jari2nya aja. Suntik oksitoksin ke vastus lateral kiri 20. Pijat uterus dengan ujung jari kiri. Periksa kotiledon di pars maternal (20-30 kotiledon). Terus potong Klem 1 di bayi ganti klem disposable (klem tali pusat yang warna biru) Bayi letakkan pada dada ibu. IMD (inisiasi menyusui dini  utk bangun hubungan bayi dengan ibu. suntik ergometrin di vastus lateral kanan agar uterus involusi (jika perlu). lap muka bayi. Periksa vasa di pars fetal. di posterior introitus vagina. menahan perineum untuk menghindari laserasi perineum Tangan kiri tahan kepala bayi di atas supaya nggak defleksi berlebihan Begitu kepala keluar. buang linen Periksa ada lilitan tali pusar atau nggak. imunitas. Tegangan/traksi tali pusar terkendali Cara periksa tali pusar udah lepas atau belum:  Kussner: tali pusar ditarik. 15. kerasa ketukannya di tali pusat  Klein: pas ibu mengejan kalo tali pusatnya keluar. Tunggu putar paksi luar Setelah putar paksi luar  maneuver biparetal. Bapaknya bisa bantu stimulasi puting susu. 18. diklem terus dipotong. posisi kepala bayi lebih rendah Klem 1 4-5 cm dari bayi Klem 2 diurut 2-3 cm dari klem 1. lahirkan bahu posterior Delivery sisa badan Baringkan di atas perut ibu. Kalau ada. Plasentanya ditarik ke bawah terus ke atas pake klem yang udah dipindahin ke introitus vagina Diputar pas udah mau keluar.11. tangan kanan megang plasenta. pegang kepala.dll) Kasih tahu kondisi bayi & selamat ke ibu Tulis di rekam medis Kala 3 Manajemen Aktif 19. 17. 16. kalau ada yang putus mungkin itu vasa untuk plasenta lain. leher. Tangan kanan dilapisi linen. 12. kita tekan di simfisis pubis. 21. Jempol tetep di fundus agak bawah. dilandasi linen steril untuk ngelap badan kecuali telapak tangan. lahirkan bahu anterior Ke atas. kalo masuk-keluar tali pusat  belum lepas  Strassman: diketuk fundus uteri ibunya  kalo belum lepas. Massage fundus uteri Setelah plasenta keluar. 14. trus udah selese ngejan masuk lagi  belum lepas Ciri udah lepas:  perubahan bentuk & tinggi uterus (dari globuler jadi pear & naik)  tanda ahfeld (tali pusar memanjang)  ada semburan darah mendadak Tangan kiri tekan daerah fundus dorsokranial. sampai pundak Delivery bahu Ke bawah. 18 .

Anamnesis a.ANTENATAL CARE Jadwal rutin ANC 1-28 minggu 28-36 minggu 36-40 minggu >40 minggu 1 x/bulan 2 x/bulan 1 x/minggu >1 x/minggu Gestational age Embryonal age = 2 minggu setelah gestational age HPL dihitung dari HPM terakhir  tanggal +7. Berdiri di kanan. transvers. menghadap lateral Situs/Lie: longitudinal. dan hasil yang diharapkan Saya akan melakukan pemeriksaan pada janin ibu. Salam dan perkenalan 23. tahun +1 Perkiraan lahir 40 minggu Prosedur: 22. bilas. edem/makin bengkak) e. minta ibu menekuk kaki. tujuan. Umur kehamilan (HPM terakhir) c. hipertensi) f. baju bagian perut disingkapkan & tutup bagian tubuh bawah dengan selimut. Keluhan kehamilan (sakit punggung karena perut tambah besar. Ga pake glove. breech. Minta ibu tiduran di atas meja periksa. brow). presentasi muka  dagu. Informed consent 26. 28. Jelaskan prosedur. Penyakit yang pernah dialami (DM. handukan atau pake alcohol. Kalau udah deket2 HPL. ANC teratur? Kapan terakhir ANC? d. terasa tidak nyaman tapi tidak berbahaya bagi ibu dan janin ibu. oblique Presentasi: chepalic (vertex. 27. shoulder Attitude: conveks (melengkung). concaf Posisi: nentuin di kanan atau kiri Posisi yang sering  PUKI (punggung kiri) Denominator: Presentasi Vertex  UUK. Saya perlu meraba2. ada tanda2 seperti bloody show dll atau nggak? 24. Minta ibu berkemih dahulu. bulan -3. 25. face. Obat yang pernah diminum selama kehamilan g. breech precentation  sacrum Leopold baru bisa mulai 28 minggu 19 . GPA b. Cuci tangan: pake sabun.

memastikan leopold 1 (bisa pula digoyangkan utk skrining udah masuk panggul apa belum) Leopold 4 34. 5 detik berhenti. telapak tangan kanan kita diletakkan pada perut lateral kiri ibu. Sampai di fundus. tekuk meteran & lihat cm-nya berapa. xyphoideus/umbilicus Taruh sisi lateral jari telunjuk kiri pada bagian atas fundus uteri untuk menentukan ketinggian. posisi ganti jadi menghadap kaki ibu 35. Divergen: enganged Convergen: unenganged 38. Sambil pegang arteri ibu untuk memastikan yang didengar FHR. 32. 5 detik berhenti. Fetal Heart Rate FHR bisa didengar setelah 18 minggu. Fundal height pakai meteran  estimasi umur gestational & berat Hitung dari simfisis pubis ke fundus tapi yang centimeter-nya dibalik biar nggak bias. elongated Limb: small. 30. Telapak tangan kiri kita diletakkan pada perut lateral kanan ibu. bukan pulsasi ibu. Turunin tangan gantian kanan kiri Punggung: flat. soft.Leopold 1 29. 20 . normal 120-160 x/menit. Finger di segmen bawah rahim 36. hard. Lakukan deep pressure di pelvic inlet Di mana cephalic prominence? Presentasi vertex: cephalic prominence sejajar limb (small part) Presentasi wajah: cephalic prominence sejajar punggung (flat & elongated) 37. caranya 5 detik itung. Bagian fetal di fundus bulat keras kepala bulat lunak buttock kosong posisi transversa Leopold 2 31. Hitung: selama 25 detik. Berdiri di kanan pasien. Dengan monoaural fetoscope. Mengukur fundal height berapa jari dari proc. Pegang di bagian agak atas simfisis pubis dengan tangan kanan. 5 detik itung. 5 detik itung  jumlah terus kali 4 Nentuin posisi ndengerin FHR  Kalau presentasi bokong  di atas umbilicus Kiri/kanan tergantung posisi punggung fetus  Kalau presentasi kepala  di bawah umbilicus Presentasi cephalic wajah: di dada Presentasi cephalic vertex: di punggung 39. multiple Leopold 3 33.

leukosit PMN >30  Vaginosis bakterial Gadnerella vaginalis (Gram negatif)  rangsang kuman aerob di situ  pH jadi basa (>4. terus periksa pH pakai kertas lakmus  Trikomoniasis Oleh T. RPD: sudah pernah? e. Estimasi kelahiran f. jenis kelamin. Cuci tangan: sabun. dilihat pakai KOH 10 % ada pseudohifa 21 . Kapan kontrol lagi 42. frekuensi. gatal.9% ada yang motil  Kandidiasis Kental. Catat di medical record Tambahan: <20 bulan 20-<37 bulan 37-42 bulan >42 bulan Umur gestational Fetal weight aborsi preterm aterm postterm GYN EXAM (kasus IMS) 1. RPS 1) Status: menikah atau belum 2) Riwayat ginekologis: GPA 3) Riwayat menstruasi: siklus dan mens terakhir? 4) Pakai kontrasepsi d. Identitas: nama. vaginalis. Estimasi berat janin e. leukosit PMN >30 Non GO: DGNI (-). kuantitas.( tinggi fundus -12) x 155 gram 40. terutama pada pagi hari. Keluhan lain DD discharge vagina  Cervicitis GO: keluar seperti nanah. DGNI (+) seperti biji kopi di intraselular. umur b. dilihat pakai NaCl 0. karakteristik (warna. Anamnesis ginekologis a. DJJ normal/nggak c. seperti susu basi. discharge berbusa & hijau. Keluhan utama Cairan vagina: sejak kapan. bilas. RPK: ada yang punya keluhan sama? f.5). pakai Gram ketemu clue cell Nanti di-bau-in dulu setelah lici kapas diusap ke vagina. Pengukuran umur kehamilan d. bau. & nyeri c. ciri baunya amis kayak ikan. (tinggi fundus -11) x 155 gram Kalau belum enganged. Posisi bayi b. konsistensi). Greeting & perkenalan diri 2. Penjelasan ke ibu a.Tinggi fundus x 8 : 7 (dalam minggu) Kalau udah enganged. dan handuk 41.

Mangkok isi betadine/antiseptic Toilet vulva dalam f. kalau bukan IMS Periksa IMS h. Air hangat c. untuk membersihkan e. minimal siapkan 2 ukuran b. perlu dilakukan pemeriksaan alat kelamin. bentuk lingkaran. Pakai apron. masukkan 3-4 cm kemudian diputar Inspeksi vulva dan area sekitar  Mons pubis persebaran rambut  Labia majora lesi pigmentasi pembesaran glandula  Labia minora peradangan 22 10. tidur pada posisi lithotomy 7. Duk steril Toilet vulva luar d. 11. Informed consent & alasan2 Dari hasil anamnesis. & berhenti Meletakkan duk steril : 1 di bawah pantat.5% chlorine untuk desinfeksi tingkat tinggi m. Tujuan  sedikit tidak nyaman tetapi tidak membahayakan 5. 13. Silakan bila ingin BAK 6. 14. . 4. Mangkok isi NaCl 95% k. masuk & berhenti Kasa 2: pelangi 3x. Klem ovarium g. 3 Lidi + kapas j. masuk anus yang terakhir. Sarung tangan l. Meminta pasien buka celana dalam. 1 yang berlubang di area vulva Melakukan kateterisasi (kalau belum berkemih). Lisol. 15. 0. kegunaan:  Dinding vagina: a) Kandidiasis  KOH b) Vaginosis bakteri  Gram  Ostium uteri eksterna: Cervicitis  Gram  Fornix posterior Trichomoniasis  langsung di bawah mikroskop karena udah ada NaCl i. 4 slide. Memposisikan & menyalakan lampu 9. Basin Cuci tangan & menggunakan sarung tangan secara aseptik Duduk di depan area genital Membersihkan vulva Pakai peyan dengan arah meminta untuk permudah visualisasi Kasa 1: dari depan turun. dari kanan medial sampai paha medial. Speculum graves. Perineum di tepi meja periksa Pemeriksaan in speculo 8. Tampontang/klem pean. mengecek peralatan: a.3. 12.

Inspeksi a. Dinding vagina  Licin  Perdarahan  Discharge  inflamasi  Tumor b. putar 90o: adakah fistula. Beri lubrikan dan masukkan  Minta pasien tarik napas  Tangan kiri di atas mons pubis dengan jempol dan telunjuk membuka labia minora  Tangan kanan memegang speculo. Tangan kanan di depan vulva & tangan kiri di regio suprapubis Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari tengah & telunjuk tangan kanan Ibu diminta tarik napas 25. Speculum tetap dipegang waktu periksa lidi kapas. Berdiri. Laporkan a. tumor. ada massa vesikel. dasarnya tidak bersih. terus buka pelan2  Dikunci setelah sampai portio 18. dilatasi. Kunci & bersihkan dinding vagina & cerviks (toilet vulva dalam) 19. jari lain fleksi 26. Vulva 23   . kalau belum pernah coitus jangan speculum 17.Clitoris Introitus discharge. Sedikit kendorin. dilatasi atau tidak  Warna  Perdarahan  Inflamasi  Discharge  Tanda2 carcinoma  Tanda Chadwick: cervix kebiruan karena dilatasi vena saat hamil  Adakah benang IUD 20. jari tengah di bawah  Kalau udah masuk 2/3. dirotasi 90%. tepi meninggi. kalau ada diambil  Ada tidaknya OUE Palpasi  Cysta bartholini Ulcus batas tegas.5% chlorine Bimanual examination 23. tidak nyeri  sifilis Ulcus bentuk tidak rapi. Pisahkan labia major dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri Jempol & jari tengah ekstensi. Jari ketiga menekan ke posterior vagina lalu masuk bersama telunjuk hingga posterior fornix 27. atau tidak  OUE terlihat atau tidak. 21. dasarnya bersih. Unlock & remove speculum 22. Pilih speculum yang tepat & screw-nya. Cerviks  Mencucu. Masukkan ke larutan 0. nggah usah diputar. telunjuk di atas. nyeri  herpes genitalis 16. jempol menahan. nyeri  chancroid Multiple. perdarahan pada dinding vagina bagian anterior posterior Kalau IMS. Melubrikasi tangan 24.

Uterus  Posisi (ante/retro)  Ukuran  Mobile ( naik turun. 30. 43. cuci tangan.4 juta IU Cancroid: azythromycin 1 gram oral dosis tunggal (H. meminta pasien bangun dari meja ginekologis Matikan lampu Menyampaikan hasil Treatment:        Sifilis: IM dosis tunggal benzadil penilicillin 2. tuba fallopi. durasi 3 hari Trichomoniasis: metronidazol 2 gram dosis tunggal Vaginosis bakterial: metronidazol 500 mg selama 7 hari Cervicitis: GO: cefixime 400 mg single dose oral atau ceftriaxone 200mg IM Non GO: doxycicline 2 kali dosis 100 mg selama 7 hari atau tetracycline PAP SMEAR Dilakukan pada saat telah melakukan hubungan seksual <30 tahun 1 kali per tahun >30 tahun pertama-tama per tahun. rel kereta/ikan yang berderet) Herpes genitalis: acyclovir 5 x 200 mg selama 5-10 hari Kandidiasis: mikonazol 200 mg/hari suppositoria vaginal. Speculum grave g. kanan kiri) e.5% Sebelum dilepas. berarti nggak usah dilanjutin. Vagina  Dinding licin. & isi (padat/cair)  Bila berdenyut  hernia c. Alat a. Meja & kursi periksa c. 2 labelled object glass Untuk pemeriksaan 24 . Parametrium f. Endocervix brush/ayre spatula h. 3 kali berturut-turut pada pemeriksaan sebelumnya negatif. Lampu ginekologi d.ducreyi. 29. ber-rugae  Tumor. cukup 3 tahun sekali >70 tahun jika dalam waktu 10 tahun terakhir. tapi kalau 3 kali berturut-turut negatif. 31. b. tangan bersarung tangan kobok2 di basin chlorine Lepas sarung tangan.28. Cerviks  Cysta  OUE  Konsistensi cerviks d. konsistensi. Glove e. Pakai apron b. Adnexa (ovarium. Linen berlubang f. ligamentum)  periksa ke arah fornix lateral  kaku atau tidak Masukkan semua alat ke larutan chlorine 0.

forniks. bleeding. masa. Urinasi & cuci perineum sebelum pemeriksaan b. Terlihat serviks. masa fragil. Keluarkan spekulum 59. & kondisi abnormal lain 54. bisa ambil endocerviks dan ectoserviks 55. Waktu ngeluarin. Cuci tangan & pakai gloves 51. 46. obati dulu 53. erosi. High risk bila <18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual. pakai duk berlubang Cek area genital. Tidak melakukan sexual intercourse & irigasi vagina dalam 3 hari terakhir Sampaikan kalau sedikit nyeri Informed consent Minta pasien a. speculum bisa dikasih air hangat tapi jangan lubrikan Kalau ada cervicitis. Larutan etanol 90% yang sudah diberi label Surat rujukan Jelaskan tujuan & prosedur Anamnesis singkat a. 45. In speculo exam. 48. inspeksi area vulva perineum & meatus urethra Laporkan: lesi. diskolorasi 52.5%. 49. & dinding vagina Laporkan discharge. Katakan telah selesai Post-action Management 60. Semua dismear endocervical brush  ratakan di slide dengan diputar spatula ayre  ratakan bagian eksoserviks di slide dengan diusap 2 kali di tempat yang berbeda 57. Tanda2 cervicitis (kalau ada. berhenti. baru pap smear) d.5% dan ke tempat sampah 61. Melepas underwear Minta pasien untuk berbaring dengan posisi litothomi Posisikan pasien & nyalakan lampu ginekologis Prosedur 50. lepas gloves Cuci tangan dengan air mengalir Handuk 62. obati dulu 12 minggu. Duduk depan area genital Toilet vulva luar. Dekontaminasi dalam larutan chlorine 0. Finding & next action: nanti hasil PA bisa nunjukkan adanya gangguan pertumbuhan 64. jumlah pasangan >1 hari c.44. Endocervical brush putar 360o Spatula ayre putar 180o. a. Kapan follow-up: kalau udah ada hasilnya IMPLANT 25 . Tanyakan pertama kali hubungan seks b. Surat rujukan ke PA 65. drainasi. Fiksasi dengan dicelup alcohol 90% 58. 47. jangan menyentuh sekitar 56. Rendam tangan berlapis gloves di larutan chlorine 0. Matikan lampu Counseling 63.

Udah menikah? b. KB penjarangan: Short term (+) implant: tidak mengganggu hubungan seksual (-) implant: gangguan hormonal tapi tidak separah oral. Durasi KB? g. estetika jelek (-) oral: murah. icterus. Cuci tangan. Kapan terakhir mens? Waktu yg tepat: during menstrual period hingga 5-7 setelah menstruasi e. Tujuan.1. Anamnesis a. nggak berefek hormonal (-) IUD: sensasi nggak nyaman saat coitus. tumor hepar. anomaly in heart coronary vessel. thromboembolic. gangguan hormonal. efek samping jadi gemuk (-) kondom & diafragma: kurang manjur Long term (+) IUD: dominan progesteron  mempertebal mucuos. abnormal uterus bleeding. infeksi hepar. Riwayat penyakit Breast cancer? Hipertensi. Informed consent 5. tangannya yang non dominan di abduksi & ekspose bagian volar tangannya 6. Menyusui bayi <6 minggu? (implant boleh 6 minggu setelah child birth) h. Nyalakan lampu ginekologis Alat:  Handuk  Glove  Cocher  Kasa  Mangkok isi betadin  Linen steril berlubang  Syringe  Lidocain 1% 3-5 ml tanpa efinefrin  Scalpel + pegangan  Trocar/inserter 26 . acute liver disease. Vaginal bleeding? f. brain vascular disease. prosedur Mekanisme kerja implant: menebalkan cervical mucous & mengganggu siklus menstruasi 4. GPA? (implant nggak boleh kalau lagi hamil) d. headache kronis? Severe sirosis hepar. Udah berhubungan seksual? Kapan terakhir berhubungan seksual? c. IUD bisa untuk 5-10 tahun & implant bisa tahan 6 tahun. minta pasien berbaring. Salam & perkenalan diri 2. bisa peradangan panggul KB penghentian: tubectomy 3. breast malignancy. harus rajin minum. mata/kulit kuning? Masalah blood clot pada kaki dan paru? Kontraindikasi: suspected pregnancy.

9. Kontraindikasi  Hamil. & memar  Jangan angkat benda berat dulu  Jangan hubungan seks dalam 12 jam pertama  Coitus sebelum 3 bulan pakai kontrasepsi lain  Kontrol 5-7 hari atau lebih cepat kalau ada tanda2 infeksi  Kasih tau tipe implant. 17. Lakukan hal yang sama utk tiap implant. arah kipas ke atas Cuci tangan & pakai sarung tangan Preparasi area dengan betadin 3x dari sentral ke perifer. gambar pakai ballpoint. 1 cc di kiri Subcutan. 1 cc di kanan. 13. tahan dengan plunger ketika trocar ditarik sampai tanda 2 (deket jarum). 19. 14. isi capsul dg implant. 12. Identitas b. Salam & perkenalan diri 2. 18. 11. Indikasi  Menunda kehamilan long term  Untuk ibu menyusui  Ibu yang nggak mau KB hormonal  Risiko STD rendah  Ibu yang berhasil dengan IUD sebelumnya e. 10.7. Riwayat GPA c. pasang bandages Rendam alat2 di basin berisi chlorine 0. ke mana utk lepas IUD 1. 15. makanya pasang pas akhir menstruasi  Sedang menderita STD  Vaginal bleeding 27 . Jarak tiap implant/silastik 15o Palpasi Remove linen Wiping dengan alcohol. Tujuan d. aspirasi dulu. lalu pasang linen berlubang Injeksi anestesi lokal Anestesi 1 cc di tengah. Di trocar ada glaur (bagian datar yang tulisannya “10”) buat nandain bevel ada di atas Ada tanda 1 & 2  Pendorong/plunger  Implant  Klem mini Kalau mau.5% selama 10 menit Rendam & lepas gloves Cuci tangan & isi medical record Edukasi  Jaga tetap kering lukanya selama 4 hari  Lepas bandage setelah 2 hari  Mungkin akan nyeri. 8. kapan (bulan & tahun) lepas. 16. tanggal insersi. Anamnesis a. bengkak. 45-60o Scalpel 2 mm tegak lurus Masukkan trocar (30o) & plunger ke subcutan dengan posisi Glaur tetap di atas hingga tanda 1 (deket kita). keluarkan plunger.

10. 11. Basin berisi chlorin 0. Sonde uteri j. Glove c. Tenaculum untuk fiksasi jam 1 & 11 k. Speculum h. 21. 9. Handuk b. 17. 5. 13. 16.3. 18. jangan dimasukkan lebih dari 5 menit Pakai sarung tangan yang baru Lakukan preparasi vulva & struktur sekitar pakai peyan & kasa betadin Tutup dengan linen steril  tapi kalo tadi linennya ga dicabut. Kasa e. 20. Lampu ginekologis Ibu diposisikan litotomi Minta ibu buka celana Nyalakan lampu ginek Cuci tangan pakai desinfektan. IUD set l. samarkan perdarahan Informed consent Berkemih dahulu Siapkan alat a. Duk berlubang g. 19. 8. Gunting panjang untuk potong benang m. gunakan glove dengan metode open Toilet vulva luar In speculo sama seperti gyn exam untuk role out kontraindikasi Periksa bimanual untuk exclude peradangan Lepas sarung tangan. 23.  Discharge purulent  Keganasan ginek f. Peyan d. 7. ga usah preparasi vulva sama masang linen lagi Pilih speculum Speculum dimasukkan ke uterus Bersihkan vagina dengan klem ovary. 15. Riwayat menstruasi Hari2 terakhir karena exclude kehamilan. 12. 4. cervix lunak. sebelumnya kobok2 di basin chlorin Masukkan lengan IUD ke dalam inserternya tanpa glove sampai IUD nekuk. 14. Klem buaya n.5% o. Povidone iodine f. 6. Klem ovari i. melingkar dari dalam keluar 3x dengan kasa + betadin atau dengan lisol supaya nggak bercak/mengganggu visualisasi Jepit tenaculum di bibir cervix di jam 11 & 1 atau 12 saja Sondekedalaman uterus. 22. diidentifikasi dari discharge cerviks atau darah di sonde Arah kelengkungan sonde bergantung pada arah uterus Tanda biru sesuai kedalaman uterus menurut sonde 28 .

Edukasi  Bisa dilepas & fertile lagi  Keluar bercak selama 3 hari pertama  Tidak hubungan seksual selama 3 hari pertama  pertinggi kemungkinan cervicitis  Perubahan silklus mens setelah 3 bulan pertama  Pakai kontrasepsi lain pada 3 bulan pertama  Kontrol saat haid berikutnya  Kontrol lagi bila benang teraba  Kontrol rutin tiap 1 tahun Efek samping:  Bleeding  Leucorrhea  Nyeri dan terasa saat hubungan seks BEDAH  Simple Suturing. Inserter dikeluarin 30. Potong benang pakai gunting benang. dari samping 29. Kalau ada perdarahan. ras. Sisipkan benang dengan klem buaya di fornix posterior 31. di-dep dengan kasa pakai klem ovarium 33. lepas sarung tangan 34. Tulis laporan di rekam medis 37. Bedah Tumor SIMPLE SUTURING  Anamnesis/riwayat medis  Umur. Lepas tenaculum 32. jenis kelamin. Plunger dikeluarin 27. tetapi akan diberi obat anestesi dulu 29 . agak nyeri. Sirkumsisi.24. Taruh sonde di samping inserter. pekerjaan  Onset Perawatan luka tertutup < 8 jam Perawatan luka terbuka > 8 jam  Durasi  Rasa nyeri  Pernah suntik tetanus? 1. Masukkan dengan metode push plunger atau pull inserter 26. Prosedur & risiko Nanti akan dijahit. Ibu dipersilahkan pakai celana lagi 36. Matikan lampu 35. Indikasi. Inserter juga dikeluarin sebagian sambil diputar2 supaya benangnya meluntir 28. Cuci sarung tangan di basin chlorin. tandai sesuai kedalaman uterus (dilihat dari discharge cerviks atau darah di sonde) 25. apa yang akan dilakukan & mengapa Ini harus dijahit untuk mencegah infeksi & mempercepat penyembuhan. 2.

mask 6. alkohol. Pastikan air nyala 2. Sikat tangan steril. Sabun 3.Risiko: ada bekas luka. Pakai baju bersih. cap. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown                   Cocher Kasa steril Comb Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis NaCl Perhidrol H2O2 Needle holder Cutting needle 4/8 Benang non absorbable 3/0 Gunting benang Klem hemostatis Kassa softratul di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Informed consent 4. Posisikan pasien 5. Pembersih kuku 4. sekalian dibuka 30 . google. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Persiapan alat: Untuk hand washing 1. agak sedikit nyeri 3.

Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis Bersihkan luka dengan NaCl. . Tutup kran dengan siku 11. Tangan diangkat e. Siapkan sikat steril. Buang handuk 13. Anestesi subcutan Ambil jaringan lemak dengan tangan kiri. pembersih kuku. 11. Luka di-tul-tul dengan perhidrol untuk bunuh bakteri anaerob 31 7. Injeksi dengan tangan kanan sudut 45o. Masuk ke ruang operasi 12. kalau nggak ada darah. Raba kerah c. Pakai sarung tangan closed method Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai povidone iodine 3x dari sental ke perifer di sekeliling luka. Cek air b. Buang e. Sabun taruh di sikat b. 10. Aspirasi. Tuang NaCl. Pakai gown a. Buka kran dengan siku b. pegang di tampat sama d. Handukan a. Pakai gaun raba dalam b. Bilas f. 8. grojog. kuku c. tangan Palmar. Tutup/ikat 14. Ambil & bagi handuk b. dorsal. Terus tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). Buang pembersih kuku 10. Scrub. Keringkan tangan satu-satu c. ulnar. suntikkan anestesi. dan sabun antiseptik cair c. Bilas d. radial. Initial washing a. Persiapan a. tangan kanan bersihkan luka pakai kasa yang dipegang pakai cocher. Pakai d. Transfer sikat. Tangan kiri bawa mangkok berisi NaCl. Initial washing & liquid soap c.Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 8. 9. Bersihkan kuku f. interdigiti. Scrub a. Membuka bungkus sikat steril 9.

12. Bersihkan lagi pakai NaCl, grojog. 13. Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting 14. Tangan kiri pegang pinset chirurgis (pegang kulit) & pinset anatomis (jemput jarum) 15. Masukkan benang ke kulit dengan posisi tegak lurus, lengan abduksi, posisi pronasi 16. Jumlah jahitan 2p, dengan p adalah panjang luka. Jarak jahitan pertama dari ujung luka = 0.25 cm Jarak tiap jahitan = 0.5 cm 17. Kalau ada perdarahan  di-dep  diklem  dijahit banting 18. Pakai sofratul, terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester, bentuk bingkai 19. Edukasi pasien (daily plan, medicamentosa, specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa), lepas jahitan 1 minggu (selain muka) atau 4-5 hari (muka)  Kenali tanda2 infeksi (gatal, keluar pus)  Tidak boleh kotor, tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral)  <5 tahun sebelumnya pernah suntik ATS  nggak usah suntik lagi, >5 tahun sebelumnya belum suntik ATS  nggak usah suntik lagi R/ Tab. As. Mef. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Amox. 500 mg No XV S q8h

SIRKUMSISI 1. Salam, perkenalan. 2. Indikasi medis a. phymosis (preputium ga bisa ditarik ke proksimal) b. paraphymosis (preputium ga bisa dibalikin setelah ditarik) c. balanitis (radang pada glans penis) d. balanopostitis (radang pada glans dan preputium/kulit kulup) e. mencegah infeksi dan penyebarannya Indikasi non-medis: agama 3. Kontraindikasi a. hipospadia (arah pipis di bawah/bagian ventral) b. epispadia (arah pipis di atas/bagian dorsal) c. chordee (penis bengkok) d. webbed penis (ada jaringan yg menghubungkan skrotum dengan bagian dorsal penis) e. mikro penis (<2,5 SD) f. hemostasis abnormality (ada gangguan pendarahan) 4. Jelasin prosedur dan informed consent (ke anak dan orang tuanya). 5. Anaknya yg mau disirkumsisi disuruh pipis dulu. 32

6. Persiapan alat korentang untuk proteksi a. handuk b. gloves untuk disinfeksi a. cocher b. kassa steril c. mangkok berisi povidon iodine d. duk steril e. klem duk anestesi a. spet berisi lidocain 2% tanpa epinephrine (kalo epi bisa nekrosis) 2 ampul b. pinset cirurgis c. pinset anatomis untuk gunting preputium d. mosquito klem e. klem lurus 3 buah f. gunting jaringan jahit a. benang cat gut 3/0 b. benang cat gut 2/0 c. jarum 4/8 d. klem vasa e. sofratul f. kasa g. plester 7. Posisikan pasien supinasi, minta buka celananya. 8. Ganti baju bersih, lepaskan aksesoris di tangan. 9. Prosedur cuci tangan aspetik. 10. Keringkan, pasang gloves. 11. Lakukan prosedur antiseptik pada pasien. Dengan menggunakan cocher, kassa + povidon iodine  bersihkan mulai dari ujung penis sampai ke pangkal – suprapubik – medial paha. 12. Tutup dengan linen steril berlubang. 13. Anastesi (block). Menembus fascia Buck.  Spet berisi lidocaine diinjeksi di bagian proksimal penis. Masukkan 90 derajat di fascia Buck.  Aspirasi. Injeksi 1 cc.  Miring 30 derajat kanan. Aspirasi lagi. Injeksi 1-2 cc.  Miring 30 derajat kiri. Aspirasi. Injeksi 1-2 cc  Ciri udah masuk fascia Buck a. sensasi menembus kertas b. kalau diangkat ikut naik c. kalau diinjeksi ga ada indurasi 14. Tunggu 1-2 menit. Tes efek anastesi dengan dicubit preputiumnya. 33

15. Pisahkan preputium dari glans.  Tangan kiri menarik preputium, tangan kanan megang kassa + povidon iodine memisahkan preputium, atau  Klem teknik: menggunakan mosquito klem. 16. Bersihkan smegma. Preputium ditarik ke belakang, bersihkan smegma dengan kassa + povidon iodine. Bersihkan dari distal ke proksimal. 17. Tandain daerah insisi: pake pinset cirurgis, 2-4 mm proksimal dari sulcus coronaries, melingkar searah jarum jam (3-4 titik cukup). 18. Klem preputium di arah jam 11 – 1 - 6  ditarik ke distal  jahit di arah jam 12 (jahitan control) jahitan di klem mosquito, lengkungan mosquito menghadap ke atas (benang 3/0) 19. Jahit frenulum diarah jam 6  figure of eight, (benang 2/0) 20. Potong preputium searah garis marking, ke arah kanan-kiri, sampai frenulumnya terpapar, potong di sepanjang sulcus coronarius (sebenernya potong kulitnya baru mukosanya). 21. Rapihkan guntingannya, lakukan bleeding control. 22. Kalau ada bleeding di depth  kalau ga bisa  klem dg klem vasa  jahit 23. Lakukan additional hecting di 10-2-4-8, jahitan seperti jahitan control (benang 3/0) 24. Dicek apakah ada bleeding 25. Pasang sofkratul mengeliling  kassa sirkular (pake plester dikit aja)  lepas duk  gamma bandage (pake kassa lalu direkatkan ke kulit dengan plester) 26. Edukasi a. Jangan basah b. Kurangi aktifitas, kurangi makanan mengandung protein c. Ganti perbannya, control 2-3 hari setelahnya d. Antibiotik (amoxicillin 500 mg s.3.d.d.1) & antinyeri (Paracetamol 500mg s.p.r.n 3.d.d.1)

BEDAH TUMOR Sepertinya nggak pake anamnesis & Px, tapi gapapa-lah biar tau…  Anamnesis/riwayat medis  Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan  Durasi  Onset  Progresi (pembesaran yang cepat + nyeri  inflamasi; pembesaran progresif  malignansi)  Rasa nyeri  Pemeriksaan fisik/lokal  Inspeksi  Lokasi  Jumlah: single, multiple  Ukuran & bentuk: spherical, ovoid pyriform, irregular  Permukaan: lobulasi (lipoma), kasar & irregular (verucca)  Tepi: tajam, round, regular/iregular  Warna  Pulsasi yang tampak Lipoma: lokasi, single/multiple, massa berbentuk discoid, permukaan lobulasi, tepi reguler, warna seperti warna kulit, tidak tampak pulsasi.

34

Prosedur & risiko Akan dibuat irisan. batas tegas. Risiko: ada bekas luka. lalu dijahit. ada yang bentuk bunga kol. pak/bu. agak sedikit nyeri 22. Informed consent 23. Posisikan pasien 24. Palpasi  Temperatur/suhu  Rasa nyeri  Konfirmasi lokasi. ini namanya lipoma/verucca. 20.  Indikasi: efek tekanan. bentuk. tidak ada fluktuasi. ukuran. & umumnya tidak nyeri. mobile. single/multiple. benjolan diambil. tidak tampak pulsasi.. apa yang akan dilakukan & mengapa  Ada benjolan. Verucca: teraba kenyal pada kulit atau keras pada telapak tangan/kaki. kosmetik  Akan dilakukan pengangkatan tumor 21. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown            Cocher Kasa steril Comb Alkohol Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis Surgical blade ukuran 10 35 . permukaan. diameter 1-10 mm. Verucca: lokasi. dan umumnya tidak nyeri. masa akan tampak lebih jelas. berwarna merah atau coklat. papula terkadang ada celah pada permukaannya. Pakai baju bersih 25. Indikasi. & tepinya  Konsistensi: soft/lunak (lipoma)  Fluktuasi  Transluminasi  Adanya pulsasi  Mobilitas dari benjolan Lipoma: berlobus & semikistik. Pada pencubitan kulit. berbatas tegas.

pembersih kuku. Pembersih kuku 8. dan sabun antiseptik cair f. Persiapan alat: Untuk hand washing 5. Initial washing g. Kalau taplaknya nempel sama benda lain. Sabun 7. Tangan diangkat k. sekalian dibuka Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 15. Sabun taruh di sikat 36 . Buang pembersih kuku 17. Membuka bungkus sikat steril 16. Pastikan air nyala 6. Bersihkan kuku l. Cek air e. Initial washing & liquid soap i.. Sikat tangan steril. Persiapan d. Kalau ada bagian meja yang kebuka. Scrub g. biarin aja.         Scalpel/handle ukuran 3 atau 4 Tissue retraktor Gunting lengkung Klem mosquito Forsep jaringan (Allis) Needle holder Round & cutting needle Catgut 3/0 & benang nilon Gunting benang di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Siapkan sikat steril. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Pastikan taplak oke. Buka kran dengan siku h. minta ganti taplak aja. Geser meja pake kaki. Bilas j. alkohol.

Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis 29. Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai alkohol 3x dari sental ke perifer. Tangan kiri megang pegangan blade. muterin si elips 28. tangan kanan megang clamp. pegang di tampat sama j. Raba kerah g. Pisau nomer 10. Aksis irisan sesuai garis kulit 31. tangan Palmar. radial. ke 4 arah. tunggu kering. Kalau ada perdarahan. Insisi linier sedikit lebih kecil dari diameter tumor (lipoma) atau 3:1 untuk hindari ear dog (verucca). interdigiti. Anestesi infiltrasi Lipoma: irisan linier  anestesi intracutan. Pakai gaun raba dalam f. Ikuti garis Langer 6. Buang k. Tutup kran dengan siku 18. Pasang scalpel. Transfer sikat. ulnar. Terus povidone iodine 3x. Ambil & bagi handuk e. 2. ligasi (yang klemnya dibanting) 9. megang kulit verucca pakai pinset chirurgis 5. sampai indurasi. 15-30 derajat. Masuk ke ruang operasi 19. Scrub. Keringkan tangan satu-satu f. Pakai sarung tangan closed method 26. terus yang bagian atas diputar)  lipoma only 30. dorsal. Pasang benang terserap/catgut pada jarum round 37 . Pakai h. Tangan kanan insisi. 15-30 derajat. tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). Tekan dg kassa buat ngurangi darah habis insisi 8. 2 jari kiri fiksasi kulit 7. ke 4 arah Verucca: irisan 3:1  anestesi intracutan. Pegang pisau seperti pegang pensil 4.h. Pakai gown e. sampai indurasi. Angkat tumor  Lipoma sampai kapsul diambil pake Allis 33. Bilas l. 27. Masukin retraktor (pertama satu arah. Diseksi (lipoma only)  Diseksi tumpul: klem mosquito  Diseksi tajam: gunting jaringan yang lengkung  Telusuri kapsul lipoma Klo veruca  diseksi tajam: pake blade 32. Tutup/ikat 21. scalpel nomer 3 atau 4 3. Buang handuk 20. Irisan kulit 1. Handukan d. kuku i. pake clamp/needle holder.

Amox. Spesimen masuk larutan fiksasi. Pakai sofratul. bentuk bingkai 38. Mef. Edukasi pasien (daily plan. keluar pus)  Tidak boleh kotor. kalau masih  hemostatic clamp dibanting  ligasi dengan benang terserap 3/0 35. Perdarahan di-deb pakai kassa yang dipegang pakai cocher. 500 mg No XV S q8h Kesimpulan: Lipoma only -insisi linier -pakai tissue retractor -diseksi tumpul/tajam Verruca only -insisi 3 : 1 -under cutting 38 . Jahit subcutan  lipoma only. terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester.34. Klo veruca kalo dalem baru jait subkutan. tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral) R/ Tab. lampirkan form pengiriman (lipoma only) Masukkan alat ke air chlorine 0. under cutting palai scalpel/gunting  verucca only 37. As. Lepas tissue retractor.5 % & cuci tangan 39. Jahit cutan Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting Lipoma  dari ujung ke ujung Verruca  dari tengah Kalau ada dog ear. terus jahit pakai benang terserap dengan jarum round 36. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. lepas jahitan 1 minggu  Kenali tanda2 infeksi (gatal. medicamentosa. specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa).

Peralatan a. Linen bersih. anemia. Defib NEONATAL RESUSCITATION 1. pakai glove. Suction devise 39 . Informed consent 4. Kateter. Intrapartum: PROM (>18 jam sebelum kala 2). Antisipasi faktor risiko a.EMERGENCY Neores. Perkenalan diri 2. infeksi b. Antepartum: diabetes. kering. Peralatan: radiant warmer/table warmer. Persiapkan 1 lagi personel ahli 5. placenta previa. hipertensi (pregnancy/kronis). 1 untuk nerima bayi 8. 7. EKG. 6. Personal protection/general precaution Cuci tangan. iv line. DresBand. prolonged labour (>24 jam). lembut. CPR. dibantu dengan alat. dinyalain. IUGR 3. 1 untuk alas. chorioamnionitis c. & hangat minimal 3 buah: 1 shoulder roll. prolonged kala 2 (>2 jam). ET. Fetal: fetal distress.

Posisikan kepala bayi & buka airway Suction mulut dulu baru hidung. Kalau hidung dulu di-suction  ada reflex nafas  cairan yang di mulut bayi nanti malah ikut kehisap. keringkan)  asses warna Kalau ada yang tidak  initial step 14. 1  bayi cukup bulan 2) ET dengan diameter 2. At term kah? 11. napas. Syringe insulin untuk injeksi epinephrine e. 3.5. 16. Bag. 0  bayi kurang bulan Ukuran no.5 mm BB 2000-3000 kg atau usia 34-38 minggu 4 mm BB >3000 kg atau usia >38 minggu Rumus kedalaman pemasukan ET = BB anak dalam kg + 6 cm 3) Stylet d. Keringkan Stimulasi (gosok punggung sekalian ambil linen yang buat ngeringin. Hangatkan 15. Bernapas/menangis kah? 13. Nyalakan oksigen 5 L/menit PROSEDUR Tanyakan 10. tepuk telapak kaki) Reposisi 17. Beri O2 bila perlu 40 . Peralatan intubasi 1) Laryngoscope dengan extra set baterai & lampu Blade Muller. 10F. 12 F. lurus Ukuran no. Stetoskop 9. & mask 1) Bag 2) Mask 3) Sumber oksigen 5 L/menit 100% c. 3.01-0.5 mm BB <1000 kg atau usia <28 minggu 3 mm BB 1000-2000 kg atau usia 28-34 minggu 3. airway. valve. 0. 4 mm 2. 00  bayi sangat kurang bulan Ukuran no. 8F. Jam g.5.03 ml/kgBB epinephrine lewat vena umbilicalis f. Bebas mekonium kah? 12. Tonus otot baik kah?  Bebas mekonium: Kalau umur gestasi. & tonus otot baik  taruh di table warmer  routine care (warm.1) bulb syringe 2) mechanical suction 3) suction catheter 5F. 14 F Pilih yang nomor 12 F atau 14 F untuk mekonium b.

3 pegang mask. Warna kulit  Ada mekonium: 21. Pilih bag dan hubungkan dengan sumber oksigen yang mampu menghantarkan 90-100% c. Posisi 1) Kepala bayi slightly extended 2) Posisi peresusitasi pada posisi kepala bayi 3) Pegang mask dengan tangan kiri dan bag dengan tangan kanan 4) Rim mask mengcover dagu. Kalau warna cyanosis (only)  free flow O2 selama 30 detik Evaluation setelah 30 detik free flow O2 a. Setelah initial care. g. Kalau HR < 100x or apnea VTP a.. hitung dalam 6 detik terus dikaliin 10 20.. Lakukan selama 30 detik. Respirasi/menangis? 19. Kalau vocal cord udah kelihatan  insert ET yang dihubungkan dengan suction devise tertentu e.. selimuti bayi) Hasil evaluasi  Kalau ada yang jelek: 25.. dan hidung. Bila bayi vigorous  initial step  gunakan bulb syringe 12 F atau 14 F suction catheter utk mulut & hidung 24. dan irama PPV Laju 40-60 kali/menit. two. Pilih device & instrumen b. Lanjutkan ke initial step (suction mulut & hidung pake bub syringe) g. Bila tidak vigorous a. Tekan bag f. three. Frekuensi.. good muscle tone 22. Apply suction saat ET ditarik f. 2. tetapi tidak mata Tutup dagu. Bila ada meconium pada cairan amnion. Gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut b. Detak jantung. Tepat waktu Evaluasi setelah 30 detik ventilasi 41 . bayi vigorous/tidak? Vigorous: strong respiration effort. HR. jari 4 & 5 angkat dagu Tahan rim mask e. Respirasi b. warna 23.Evaluasi Dari awal sampai evaluasi: 30 detik 18. kalau semua bagus  observational care (perawatan tali pusar. baru hidung Jari 1. three. two. katakan breath. HR > 100 bpm. Warna kulit 26. Test bag & mask d.. Kalau vocal cord nggak kelihatan  gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut & pharynx posterior sehingga glottis dapat divisualisasi* d. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. tekanan. breath. Evaluasi: respirasi. jadi cuma 20x ventilasi. mulut. Insert laryngoscope c.

Posisi resusitator Yang ventilasi di kranial bayi. mask d. Cara melakukan prosedur Tekan dengan 2 jempol atau dengan jari telunjuk + jari tengah d. Kalau lagi-lagi HR masih < 60x/menit  kasih epinephrine (bisa diulangi sampai 3x) terus lanjut chest compression + VTP Evaluation setelah 30 detik epinephrine + kompresi dada + VTP a. Tentukan lokasi & lakukan kompresi dada 1/3 lower part processus xiphoideus.5 detik kompresi dada & 0. Ratio. Warna kulit 28. Respirasi b. Warna kulit 27. Bag. Persiapan alat a. e. Tepat waktu Evaluation setelah 30 detik kompresi dada + VTP a. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. breathing/crying. Kalau udah oke (HR>100x/menit. frekuensi Kompresi dada : ventilasi = 3 : 1 (90 kompresi dada & 30 ventilasi dalam 1 menit) 1 siklus 2 detik (1. Bila setelah dievaluasi lagi: HR <60x/menit  chest compression + VTP a. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. selimutin) ENDOTRACHEAL INTUBATION Indikasi pemasangan ET:  Menjaga patensi jalan napas  Mengurangi risiko terjadinya aspirasi  Melakukan suction trachea  Melakukan pemberian oksigen konsentrasi tinggi  Melakukan administrasi obat tertentu  Memelihara pengembangan paru yang adekuat (volum tidal adekuat 10-15 ml/kgBB/menit  10-12 kali/menit) Kontraindikasi:  Trauma maxillofacial 1. valve. One and two and three and breath. Respirasi b. yang chest compression menghadap bayi b. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Warna kulit 29. perawatan tali pusar. kedalaman 1/3 dinding anteroposterior c. Spray alkohol c.5 detik ventilasi) Lakukan selama 30 detik. pink)  post-resuscitation care (gradually diminish VTP. jadi cuma 15 siklus..a. Gloves b. Respirasi b. Oksigen 10-12 L/menit konsentrasi 100% 42 .

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. 9.

10. 11.

12.

13. 14. 15.

e. ET sesuai ukuran kelingking, biasanya adult male ukuran 8  sediain 3 ET : ukuran 7.5, 8, 8.5, adult female ukuran 7  6.5, 7, 7.5 cek balon & konektor, dikembangkan lalu dikempiskan lagi dikasih lubrikan water soluble, taruh di kanan pasien f. Spet 10 ml, dicoba ke ET g. Laryngoscope ukuran 3, satukan blade & handle, coba nyala atau nggak Machintos, bengkok  diletakin ujungnya di vallecula glossoepiglotica Muller, lurus  di bawah epiglottis  biasanya pada neonatus h. Stylet i. Suction j. Stetoskop k. Plester l. Oropharyngal airway Pakai glove Posisi di kranial pasien Periksa ada tidaknya cedera cervical Trias: penurunan kesadaran, multiple trauma, dan jejas di atas clavicula krepitasi di bagian leher belakang, otorrhea/rhinorrhea, jatuh lebih dari 2x ketinggian badan Triple maneuver, kalau ada cedera servikal pasang collar neck, jaw thrust Cross finger: jempol kiri menekan mandibula dari dalam, jari telunjuk menekan palatum durum Corpus alienum  finger swab Cairan  suction Pre-oksigenasi dengan bag-valve-mask 10-12 L/menit; 10-12 kali/menit  selama 2-3 menit atau hingga saturasi 95 % Jempol & jari telunjuk pegang mask Jari tengah, manis, & kelingking pegang mandibula Kalau ada refleks muntah  hentikan ventilasi, suction, dan segera pasang ET Reposisi kepala sniffing position (agak ekstensi) Pasang laryngoscope a. Pertahankan pembukaan mulut dari luar dengan tangan kanan b. Pegang laryngoscope dengan tangan kiri, masukkan dari sisi kanan tanpa menekan gigi c. Susuri sampai pangkal lidah dari sebelah kanan, digeser ke kiri d. Sampai ketemu epiglottis, masukin ke vallecula, sampai nemu vocal cord e. Masukkan ET hingga mencapai ukuran 20-22 Male 23 cm, perempuan 21 cm dari mulut, lihat garisnya ET ntar terletak antara pertengahan laryng sampai bifurcatio carina Lakukan nomer 10 dalam 15-30 detik atau tahan napas. Kalau tidak cukup, segera ulangi, oksigenasi terlebih dahulu Inflasi balon dengan syringe berisi udara 10-20 ml Overinflate  nekrosis Terlalu lemah  naik turun Amati pengembangan paru dengan bagging, minta asisten oksigenasi, terus kita auskultasi Apeks, basis  vesicular Epigastrium  nggak kedengaran, kalau ada suara berarti salah masuk Periksa kanan & kiri Fiksasi ET dengan plester mirip gamma di tulang2 keras, ke arah dekat ventilator berada Pasang OPA (mayo/goudel), jadi ET nggak kegigit kalau pasien tiba2 sadar Sambungkan ke ventilator untuk maintain volum tidal 10-15 ml/kgBB/menit

IV LINE 43

. 1. Indikasi, anatomi, prosedur teknik Indikasi:  Memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian  Mengganti cairan yang hilang, menghindari dehidrasi  Memasukkan obat (sebagian besar berupa antibiotik)  Memperbaiki atau mencegah terjadinya gangguan cairan dan elektrolit tubuh Karena langsung masuk aliran darah bisa nyebabin:  Masuknya organisme penyebab infeksi  Masuknya benda asing (udara  emboli)  Alat & cairan bisa bikin iritasi Kontraindikasi:  Lokasi yang lebih distal dari lokasi penyuntikan sebelumnya  Sklerosis/pengerasan vena  Infiltrate site atau phlebotic vessels  Memar, nyeri, infeksi  Percabangan vena  Lokasi katup vena  DVT, penyakit katup vena Tujuan utama resusitasi pada pasien kritis (kurang perfusi jaringan  metabolisme anaerob & asidosis laktat): mengembalikan perfusi jaringan/oksigenasi selular & mempertahankan fungsi organ tubuh melalui resusitasi cairan. 2. Informed consent  Prosedur & risiko  Permisi Selamat siang, Pak/Bu. Saya dokter jaga. Saya akan melakukan pemasangan infus di lengan ibu. Infus ini dipasang untuk mengganti cairan tubuh ibu yang hilang. Apakah ibu bersedia?  Posisikan pasien  Bebaskan lokasi penyuntikan, pilih, & periksa lokasi penyuntikan Cuci tangan 6 step pakai alkohol 3. Persiapan alat Antiseptik: agen untuk menghilangkan mikroflora di kulit  alkohol & yodium Disinfektan: agen untuk menghilangkan mikroflora di benda mati  Over the needle catheter  vasa superficialis (+) kanulasi vasa hanya dalam 1 langkah sederhana (-) ujung kateter cenderung mudah rusak, merusak endotel vaskular  phlebitis & trombosis Ukuran kateter (merknya abbocath): 16 abu2 muda bedah mayor & trauma 18 ijo transfusi darah, produk darah, & obat-obat kental 44

20 pink pasien dewasa 22 biru anak & orang tua 24 neonatus 26 abu2 tua  Jenis cairan: 1) Kristaloid Dapat menembus membran semipermeabel & berubah jadi kristal. 25% tetap di ruang interstisial, 75% ekstravasasi ke ruang interstitium. (+) murah & mudah diperoleh (-) bisa edema, volum harus ditambah supaya ekuivalen dgn koloid a. Cairan hipotonik: dekstrosa 5%, NS 0.5% b. Cairan isotonik RL: syok hemoragik, meminimalkan asidosis 0,9% saline: acute brain injury & syok hemoragik c. Cairan hipertonik, buat penelitian NS 3%, 6%, 7.5% 2) Koloid a. Koloid protein (+) dibutuhkan lebih sedikit (-) mahal, tidak memulihkan rongga interstisial, bisa anafilaksi  Albumin serum (5% & 25%)  Solusi gelatin (plasmagel, haemacell, gellifundol) b. Koloid nonprotein (+) mahal, tapi masih lebih murah daripada albumin (-) koagulopati, anafilkasi, gangguan fungsi ginjal berupa cedera tubular  Starches  Dekstran 40%, 70% 3) Darah Biasanya dalam bentuk paket RBC. Biar aman: 1-2 unit darah O-Rh negatif >1-2 unit: dihangatkan dulu 4) Komponen darah Whole blood, labile blood component, & bahan medik turunan dari plasma. D5W : glukosa RL : Na, Cl, laktase D5W/RL: glukosa, Na, Cl, laktase 0,9% NaCl, 6% HES, 5% albumin, 25% albumin: Na, Cl Peralatan:  Sarung tangan bersih  Cairan infus/plabot 500 ml  Infus set  Penyangga infus  Alas yang terbuat dari plastik  Bengkok 45

 Pasang torniquet 10-20 cm dari vena yang akan disuntik  Bersihkan dengan alkohol arah melingkar keluar. minta pasien genggam & buka genggaman bergantian. tanpa/sedikit cabang  Superficial  Bukan di area fleksi  Tdk rapuh Sterilisasi: mencegah masuknya organisme  phlebitis.  Gantung ke penyangga infus  Isi drip chamber sampai ½  Buka regulator. Teknis a. Botol di tangan kiri & lebih rendah dari spike. paling distal dari jantung  Vena lurus. Pungsi vena dengan benar  Buka tutup abbocath  Stabilkan vena dg meregangkan kulit. turunkan sudut kanula dg kulit Dorong kanula perlahan Dorong bagian nilon jarum sambil menarik bagian jarum stainless perlahan  flashback nampak di sepanjang shaft kanula 46 . lebih rendah dari jantung Urut ekstremitas dari distal ke proksimal. tunggu 30 detik. sepsis  Identifikasi vena. bakteremia. Identifikasi lokasi vena + periksa lokasi penyuntikan  Tangan non dominan  Bagian distal. tusuk dg jarum IV bevel menghadap ke atas.  Tusuk lubang outflow dengan spike. jangan dipalpasi lagi b. tutup regulator  Buka outflow botol infus. periksa spike & tabung. Persiapan  Letakkan lembaran alas di bawah tangan pasien  Keluarkan perangkat infus dari wadah. dari samping vena masukkan kanula dg sudut 15-300  Tunggu flashback ke ruang flashback jarum  Posisikan alat. Tourniquet  Kapas direndam alkohol  Pinset chirurgis  Jarum infus steril (abbocath)  Kassa dalam wadah steril  Plester. terus digantung  Cuci tangan  Pakai sarung tangan bersih a. atur pemutar agar cairan infus mengisi pipa infus & tidak ada gelembung udara  Tutup regulator. posisikan menghadap atas. gunting  Wadah tempat benda tajam 4. & tepuk ringan di atas vena.

layu) Vox cholerica (suara parau) -1 umur 50-60 tahun -2 umur >60 tahun Rumus kebutuhan cairan = skor/15 x 10% x kgBB x 1 liter Skor <3 & syok (-)  oral Skor >3 & syok (+)  intravena 47 . Secure iv line  Tutup luka dg kassa dibentuk butterfly/Gama bandage d. Maintain aseptic procedure 5. koma Tekanan darah sistolik <60 mmHg Sianosis Facies cholerica (pucat. maintenance: 20 tpm  Buang benda tajam ke dalam wadah  Lepas sarung tangan  Cuci tangan  Catat prosedur di rekam medis d. stupor. sayu. bengkak sekitar infus Skor dehidrasi menurut Daldiyono 1 Kesadaran apatis Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Frekuensi nadi >120 x/menit Frekuensi napas >30 x/menit Ekstremitas dingin Rasa haus/muntah Turgor kulit menurun Washer woman’s hand 2 Kesadaran somnolen. Cari asisten 7. Universal precaution 6. kemerahan. Adjust the fluid flow  Atur aliran cairan. Postprocedure management & edukasi  Jangan banyak gerak tangan yang diinfus  Jangan ditarik2  Jaga tetap kering & bersih  Ditaruh lebih tinggi  Bilang kalau mau abis & kalau ada hematom.Mampatkan vena yang dekat dg ujung kanula dg memberi tekanan langsung sebelum menarik keluar jarum bagian nilon  menghindari hilangnya darah  Pasang kanula pada botol infus  Lepas tourniquet  Biarkan cairan mengalir dg membuka regulator (digrojog) c.

5 jam masukkan 1. karena bapak tidak bisa mengeluarkan urin. Prosedur ini memang tidak nyaman.5 jam masukkan 1. pakai kristaloid 3x. kami akan memasangkan selang ke dalam alat kelamin bapak. hipotensi. 48 .Anuria itu kalau <50 cc dalam 12 jam Transfusion 15 dpm  drop factor 4 Drip chamber terdiri dari 2 bilik dengan filter. Informed concent  Prosedur & risiko Pagi pak. kalo diperkusi redup)  Irigasi kandung kemih  Mengukur volume urin output  Mengambil sampel pemeriksaan urin  Memasukkan obat/kontras radiografi Kontraindikasi:  Perdarahan meatal  Hematoma perineal/saddle sign mungkin ruptur uretra  Floating prostat Komplikasi: UTI 2.5x 1. Kami berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengurangi rasa tidak nyaman. setelah 1 jam nggak ada perbaikan  10-20 cc/kgBB/jam koloid Maintenance Dewasa 50 cc/kgBB/24 jam Anak 10 kg I 100cc/kgBB/24 jam 10 kg II 50 cc/kgBB/24 jam 10 kg III 20 cc/kgBB/24 jam Tpm = jmlh cairan/(jam x drop factor) KATETER 1. anatomi relevan. tapi demi kebaikan bapak. Indikasi. Lakukan kalau Hb <7 Makro dpm 20 dpm  3 Mikro dpm 60 dpm  1 Shock Hemorrhagic Hilang x ml. oliguri)  20-30 cc/kgBB/jam kristaloid. prosedur Indikasi:  Men-drain retensi urin (pasien mau kencing tapi ga bisa.5x Shock Apapun Shock (takikardi. 2 jam pertama 0.

tiduran & pakai selimut. Prosedur persiapan  Korentang  Taplak hijau Steril yang ada bungkus  Sarung tangan  Foley kateter  Syringe tanpa jarum untuk lubrikan  Syringe berjarum untuk balloning  Syringe tanpa jarum untuk spulling  Urine bag Steril yang tidak ada bungkus  Duk berlubang  Handuk  Mangkok isi betadin  Mangkok isi aquades  Kasa steril  Peyan  Pinset anatomis Nonsteril  Plester  Gunting  Jel anestesi KY (lubrikan larut air) Nonsteril dekat pasien  kidney bowl 49 .  Permisi  Posisikan pasien 3.Kalau bapak bersedia. silakan lepas pakaian bagian bawah & celana dalam.

ulangi prosedur Pasang kassa yang ada betadin di ujung glans penis nutupin kateter juga. Catat volumenya. Kalau udah masuk. Kateter diganti setelah 2 minggu. pastikan nggak merucut. Fiksasi kateter di paha bagian atas. Pak N***: fiksasi penis Pak T******: nggak usah difiksasi Buang yang kotor2. karena obstruksi atau kontraktilitas ↓ 4. Masukkan kateter gently Pertama. terus disambung. Gel taruh di tangan antara jempol & jari. cuci tangan aseptik Pakai handuk Pakai sarung tangan steril Ambil peyan. saya akan masukkan gel untuk melicinkan” Terus masukin gel. ditekan terus ditampung di bengkok. ambil kassa. urine bag keluar lewat lubang duk steril. Lepas duk steril. ♀ pegang labium major Pembersihan vulva dari rima pudendi metode pelangi 3x Yang terakhir lewat rima pudendi sampai ke anus. Kalau nggak urin keluar. masukkan perlahan dg tekanan lembut sambil minta pasien ambil napas dalam untuk relaksasi otot sphincter. Fungsi utama kandung kemih: storage & voiding Uretra pria panjang 17-25 cm. Kateter dileletin ke gel. Teknis a. buka plastik dalam kateter ♂ pegang penis arah tegak lurus tubuh pasien. celupin ke betadin. Buka gloves. Plester. atur posisi penis paralel thd tubuh. diameter 8 mm Retensi urin karena: ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan urin. diameter 8-9 mm Uretra wanita panjang 4-8 cm. Tarik sedikit. fiksasi urin bag ke meja. Urin bag ditutup dg cara ditekan. Balloning pakai syringe isi air (5-10 ml). terus tutup OUE pake tangan biar gel nggak keluar c. Waktu di urethra pars membranaceae. Lubrikan dengan anestesi Isi syringe dengan anestesi lokal KY 10-15 ml ke uretra (♂) atau oleskan lubrikan pada kateter (♀) “Pak. kalo lebih besar bisa nyebabin spasme kandung kemih & kebocoran urin. Pompa balon kateter dg volum sesuai & pasang urine bag. masukin air 10 ml spulling kelubang kateter tempat keluarnya urin Keruh  udah masuk ke vesica urinaria tapi bila jernih atau keluar di sekitar OUE  belum masuk.33 mm = 1 French = 1 Charriere). ada aliran urin. Kalau ada urin. 50 .Kateter Foley (0. balon 5 ml tergantung ukuran. pakai 16 F. Preparasi aseptik Mencuci tangan dg sabun & air mengalir. lalu bersihkan Bersihkan 3x central (OUE) ke perifer sampe scrotum Tutup dengan duk b.

Breathing. Nggak ada napas  rescue breathing 2x dalam 5 detik 23. jangan ditarik. cuci tangan. evaluasi setiap 1 menit. bahu vertikal di atas dada pasien. 17. lingkungan 18. pake bahan serap (kalo cervical trauma) 21. Reasses Look. C (+) napas buatan 12 kali/menit  B (-). Pasien datang 51 . Prof behavior CPR 16. Respon Verbal  shout Fisik  shake Pain  glabella. lengan lurus. Kedalaman 4-5 cm. Berhenti kalau a. Cek pulsasi di carotis. C (+) recovery position  B (-). letakkan tangan posisi terkunci di sternum pasien. d. Safety diri. C (-) Berlutut di kanan pasien. Komunikasi & relationship 7. biarkan recoil sempurna. gatal 6. Mohon berikan ruang agar pasien bisa benapas dengan lega. Saya akan mencoba menolong pasien ini. kecepatan 100 kali/menit. listen. 24. feel 25. cek jangan lebih dari 10 menit Look  pergerakan dada Listen  suara napas pada mulut pasien Feel  hembusan napas di pipi penolong 22. 1 menit ada 3 siklus. frekuensi 30 : 2.Cuci tangan. sebelah adam’s apple  B (+). Telpon 118 20. jangan banyak bergerak. 5. miringkan pasien (kalo ga cervical trauma). Postposedure & education  Tirah baring. FBAO (foreign body airways obstruction) yang visible & removable Ada cairan. lepas sarung tangan. Perkenalkan diri Bapak/Ibu. Airway a.  Urinary bag diganti kalau mau penuh  Kateter diganti setelah 2 minggu  Kenali tanda2 alergi terhadap silikon yang dipakai: nyeri. korban. Secure urethral catheter properly e. manubrium 19. jatuhkan berat badan. Maintain aseptic procedure Buang sampah. saya mahasiswa kedokteran. Pastikan trauma cervical ada atau nggak Nggak  head tilt & chin lift Ada  jaw trust b.

Telpon 118 lagi 27. kassa. Environmental hazard c. plester 8. badan dibalikkan dalam 1 baris. move 10.5 cm lengan 5 cm tangan 5. denyut nadi inervasi  sensasi taktil Move ROM (range of motion) 4. Ambulance datang d. betadin. Terlalu kencang? Evaluasi look. Salam. 5. Recovery position Tangan kanan ke atas. Lakukan pemeriksaan Look daerah luka  luka terbuka. Jelaskan tujuan dressing & bandaging Dressing: nutup luka. pinset chirurgis) 15 cm perut/dada 10 cm kepala/kaki 7. perkenalan diri. buka baju Pasien tiduran Colok dengan listrik Bersihkan semua elektroda dengan alkohol & area tubuh dgn gel Tempatkan elektroda sesuai posisi  Lead prekordial C4 merah SIC 5 linea midclavicula 52 . 3. Dressing & Bandaging 1. menyerap eksudat. Pilih bandage yang sesuai & siapin alat (mangkok. mempercepat proses penyembuhan. First aid Bersihkan area sekitar luka dengan betadin 6. atau control 3 hari lagi  Kasih analgesik & antibiotik EKG Prosedur: 1. 4. Aliri luka dengan NaCl. Edukasi  Jaga kering & bersih  Jangan banyak gerak  Kassa diganti tiap 12 jam sekali. infeksi Feel vaskularisasi  suhu. kassa. Bandaging 9. kaki kiri ke kanan.b. & bina hubungan baik dengan pasien 2. meringankan rasa sakit Bandaging: mensupport dressing & body part 3. 6. Greeting & self introducing Lepas perhiasan. Tutup softratul. tangan kiri ke pipi. ambil corpus alienum dengan pinset chirurgis 7. feel. WPK. 2. Capek 26.

Usia d. 12. Identitas b. Gender c. C1 kuning SIC 4 linea strenalis kanan C2 hijau SIC 4 linea strenalis kiri C3 coklat antara c2 & c4 C6 hitam SIC 5 linea midaxilla C5 ungu antara c4 & c6  Lead extremitas Merah tangan kanan Kuning tangan kiri Hijau kaki kiri Hitam kaki kanan Kabel dikoneksikan ke elektroda Periksa kertas untuk rekaman Tekan on. 10. sensitivitas 10 mm/mVolt Pilih menu komplit Perhatikan gelombang pada ekg Segera catat pada kertas ekg a. 13. QRS tetap sempit Otot atrium normal mampu menghantar impuls 60-75 a) Takikardi 150 – 250 (frekuensinya) b) Flutter 250 – 350 saw tooth pada lead II & III c) Fibrilasi > 350 no true P wave 53 . aVF positif 2) Atrial Masih ada P wave. Irregular 6 kotak besar ada berapa siklus QRS x 50 2. Supraventricular 1) Sinus Pacemaker NSA normal 60 . 11.7.100 P diikuti QRS di semua sandapan dan kebalikannya Salah satu/lebih P wave di II. III. tidak semua P diikuti QRS. 9. 8. Regular  300/jumlah kotak besar jarak 2 gelombang QRS Kalau 2 R berjarak: ≤ 2 kotak besar supraventricular takikardi >2 – 3 kotak besar sinus takikardi 3 – 5 kotak besar normal > 5 kotak besar bradikardi b. pilih menu Kecepatan 25 mm/second. Irama a. Frekuensi a. 14. & waktu pengambilan Bersihkan badan pasien & alatnya dari gel Interpretasi: 1. tanggal. Hari.

3) Junctional Pacemaker NAV normal 40 – 60 P inverted pada lead II. LAD (+) I. no true QRS complex 3. aVL (-) aVF. RAD (-) I. III aVL paling tinggi lead II minimal R=S  lead II negatif b. aVL (+) aVF.(-30) Lead II –  terletak antara -30 sampai -90  LAD a. aVF 1) Atas P sebelum QRS. Ventrikuler Otot atrium normal mampu menghantar impuls 30-45 Tidak ada P wave QRS lebar>0. 60 – 90 Lead I +. aVF + normal aVL +  antara lead I & II. Zona transisi Daerah di mana resultan R dan S = 0 (defleksi negative jadi positif) Normalnya di antara v3/v4. antara lead II & aVF. segmen PR pendek 2) Tengah P ketutup QRS 3) Bawah P inverted setelah QRS Pacemaker berkas his 20 – 40 b.12 s atau > 3 kotak kecil karena depolarisasi lewat sel otot ventrikel 1) takikardi jarak QRS masih sama >40 2) fibrilasi fine and course. avF – Lead II +  antara I dan aVL. Durasi 54 . Posisi Normal (-30) – (+110) <-30 LAD >+110 RAD Lead I +. III R pada lead III lebih tinggi dari aVF 4. 0 . prinsip: lihat rotation Menggeser ke arah v6  clock wise rotation Menggeser ke arah v1  counter clock wise 5. 0 – 60 aVL. III.

12 s 1) WPW Tidak melewati berkas konduksi  QRS > 0.10 second Lebar & bertakik (notch & broad) P mitral. RBBB. II Memendek < 0. lebar dan tinggi <2. Morfologi a. normal < 0.12 Ada gelombang delta 2) LGL Melewati berkas konduksi QRS < 0. normalnya berbentuk piramid tidak simetris. Interval PR 0. hipertrofi atrium kanan b.22 s (3 – 5. v2 Gelombang s diperlama 0. Kompleks QRS menunjukkan depolarisasi ventrikel memanjang pada LBBB.5 mm atau <0. v6 3) LBBB Telinga kelinci (slurred R) di v5. normalnya simetris.12-0.25 detik di v5. seperti tenda. simetris)  hiperkalemia 2) Strain pattern T inverted tidak simetris 55 . hipertrofi atrium kiri Tinggi (peak P) P pulmonal.a. Segmen ST menunjukkan repolarisasi ventrikel 1) Elevasi > 2mm di leads precordial >1 mm di lead ekstremitas minimal dua lead yang berdekatan  STEMI 2) Depresi strain pattern (+T inverted asimetris) v5-6  hipertrofi ventrikel kiri v1-2  hipertrofi ventrikel kanan ischemia: + T inverted simetris e.25 detik) c. Interval QRS. v6 S melebar di v1. Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium. irama ventricular c. Gelombang T Repolarisasi ventrikel. sekecil apapun disebut Q patologis biasa terjadi pada old infarct d. Interval qt Memendek hipercalcemia Memanjang hipocalcemia 6.12s Memanjang pada 1) Irama ventrikular 2) RBBB Gelombang rsR’ (seperti huruf M) di v1. Q patologis > 1/3 R atau pada R< 5 kotak kecil. defleksi positif pada lead II 1) Tenting (peaked T wave.12 Tidak ada gelombang delta 3) Irama junctional atas b.5 kotak kecil) Memanjang > 0.22 s pada AV blok derajat I. v2 (>0. bagian depan lebih lebar dari belakang.

v2 3) T inverted simetris  ischemia Gelombang U Gelombang repolarisasi ventrikel yang terlambat Seperti P. RAD 4. P notch & broad Durasi memanjang karena lewat otot b. coronaria dextra juga ke sana  periksa v1’ 2’ 3’ Aritmia  baca yang utk defib aja 56 . Strain pattern st depressed & T inverted di v5. II. Ventrikel kiri v5. aVL anterior extensive Lead II. lebih landai. peak P: tinggi P wave ≥ 2.5 mm pada lead inferior (II. AMI ST elevasi precordial v1 – v6 anterior v1 – v4 anteroseptal v3 – v5 anteroapical v4 – v6 anterolateral v1 – v6. S persisten di v5 & v6 2. aVF inferior  curiga yang kanan Karena A. Kanan  RAH P pulmonal. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. I. v2 3.f. v6 Ventrikel kanan v1. aVF) Durasi tetap 2. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 3. III. R wave > S wave di v1 3. Kiri  LAH P mitral. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 2. Hipertrofi atrium a. v6 Kanan  RVH 1. Hipertrofi ventrikel Kiri  LVH 1. tinggi < 50 % T wave Interpretasi dalam penyakit 1. LAD 4.

Derajat 2 Tidak setiap impuls atrial melewati AV node P waves : QRS  >1 : 1 1) Mobitz type I/Wenckebach block Mirip derajat 1 Pemanjangan interval PR progresif. Derajat 1 Setiap impuls atrial mengaktivasi ventrikel Interval PR memanjang b. Derajat 3 Disosiasi AV Atrium 60-100 Ventrikel 30-45 Kompleks QRS lebar P wave & QRS complex frekuensi reguler 57 .4. AV Block a. tiba2 P wave tidak diikuti kompleks QRS 2) Mobitz type II Mirip derajat 3 Pemanjangan interval PR tidak progresif c.

ADVANCED CARDIAC LIFE SUPPORT Henti fungsi jantung secara mendadak dan tiba-tiba 58 .

b. d. Kalo dapet VT pulseless atau VF. Jangan lupa telfon ambulan lagi 8. and feel 6. yaitu warna merah dan putih. Shout for help  telfon 118 5. Leadnya ada 2. pain  cek respon nyeri di glabella. Kalo dapet VT. lalu cek kembali nafas dan pulse di a. 9. Pada pasien henti jantung respon negatif. fisik  diguncangkan (shake). 7. listen. Pastikan tidak ada tanda trauma cervical. dibahasnya per irama ya. Verbal  dipanggil namanya (shout). Pasang IV dan ET. Nah untuk memudahkan ceklist. Jika ambulan sudah datang. pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairannya atau pake benda-benda yang menyerap jika pasiennya ada trauma cervical. c. jejas diatas clavicula. dan penurunan kesadaran. Pulse ada tapi nafas ga ada berikan nafas mouth to mouth setiap 5-6 detik sekali. Manuver open airway: jika tidak ada trauma cervical dengan head tilt chin lift.. carotis communis selama 10 detik. sternum. VT yang shockable adalah VT yang pulseless. pasien. seperti kain. serta O2. 2. Cek airway: a. dan Non-Shockable (PEA dan asystole). persiapan shock 59 . Perkenalkan diri terlebih dahulu 2. Clean airway: untuk benda asing yang visible dan removable pake crossed-finger dan finger swab. Response: Cek respon dengan verbal. 4. dan lingkungan 3.Gambaran EKG:     VT pulseless VF (Ventricular Fibrilation) PEA (Pulseless electrical activity) Asystole Ceklist ACLS: Pasien ditemukan tidak sadar di pinggir jalan 1. Look. Safety: safety untuk diri sendiri.. lalu cek nadi setiap 2 menit. cek pulse dulu. dan pain. fisik. Kalo obstruksi oleh cairan. Kalo VF gausah di cek pulsenya. Dicurigai trauma cervical jika: multipel trauma. Kalau dari monitor ternyata iramanya shockable: 1. kalo ada trauma dengan jaw thrust. Pulse dan nafas ga ada  RJP (30:2) selama 2 menit kira-kira 3-5 siklus dengan kedalaman 4-5 cm dengan recoil sempurna. lunula kuku. krepitasi di leher. Kalo nafas dengan laju normal  recovery position Kalo henti nafas atau terengah-engah  dikasih bantu nafas 2x selama 5 detik. Berdasarkan irama. penanganan henti jantung dibagi dua yaitu: Shockable (VT pulseless dan VF). segera siapkan monitor pada mesin defibrilator untuk cek irama.

15. Langsung RJP 5 siklus. RJP 2 menit lagi trus masukkin obatnya sulfas atropin 1 mg. Setelah kasih shock. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya non-shockable:     Tidak perlu ngasih shock Pas siklus pertama langsung kasih obat dan pasang ET Urutan obatnya: epi – sulfas atropin 1 mg – epi – sulfas 1 mg – epi Sulfas atropin boleh dipakai 3x (diulangnya 2x) 60 . 2. nafas dengan ambu bag setiap 6-8 detik sekali. Pada saat masang ET. tetap lakukan RJP 5 siklus. atau malah jadi non-shockable.5 mg/kgbb (misal ambil aja 1 mg) – epinefrin – lidocaine 0. Tetap shockable. kembali charge defib. Kalau ET sudah terpasang siklus RJP sama breathing jadi jalan sendiri-sendiri seperti yang dijelaskan di shockable tadi. RJP 5 siklus saja tanpa Shock. Berikan shock. Cek irama 5. Selama nunggu defibnya dicharge. 9. pasang ET dan IV line untuk ngasih obat. ada yang lepas atau ngga. Sambil nunggu tetap RJP 5 siklus. Kalo masih shockable kembali ke siklus awal (charge defib. baru cek monitor. Kompresi jadi 200x dalam 2 menit. Kalo ET sudah terpasang. Masih non-shockable. dan yang lain pada ictus cordis. siklus kompresi dan breathing berubah. 6. cek lead dulu. lanjut urutan shockable. 11. Obat yang dimasukkin epinefrin 1 mg iv. tetap shockable. Obat yang dimasukkin sekarang ganti jadi amiodarone 300 mg iv. Nah yang diurutan ini yang tetap shockable dulu ya. Kalo dapet asistol. dengan paddle satu pada sternum .5 mg/kgbb iv – epinefrin – kosong – epinefrin Epinefrin harus diseling Amiodarone hanya boleh dikasih 2x (jadi diulang Cuma 1x) Lidocaine dikasih 3x (diulang 2x) Kalau sampe 30 menit hasil tetap sama  stop tindakan dan didoakan saja     Nah kalo dari irama didapatkan non-shockable: 1. 3. Obat yang dimasukkin  epinephrine 1 mg iv 12. RJP 2 menit. Charge defib pada 200 J jika bifasik. Cek irama lagi. trus lanjut RJP 5 siklus 10. Kemungkinan monitor bisa ada 3: iramanya jadi sinus. 5.3. Kasih shock. 13. RJP dihentikan sementara. Kalo ternyata masih terpasang dan semuanya beneran non-shockable. 4. dan 360 J jika monofasik. dll). Kalo PEA ga usah dicek leadnya.. 7. Langsung pasang ET dan IV. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya tetap shockable terus:  Urutan obat yang dimasukkin: epinefrin – amiodarone 300mg – epinefrin – amiodarone 150 mg – epinefrin – lidocaine 1-1. 4. 14. Kalau ga tau spesifikasi mesin defibnya diset pada 200J saja. 8.

dari shockable trus jadi non-shockable. Maka siklusnya menjadi:    langkah shockable siklus pertama (RJP-shock-RJP 5 siklus-cek irama) karna jadi non-shockable. Tambahan: 1. 10 menit irama tetap PEA dan asistole berturut-turut. 61 . refleks pupil hilang c. Tapi tetep inget ya masing2 obat boleh diulang berapa kali    Trus misal iramanya udah berubah jadi sinus:      tetap monitoring airway dan ventilasi kasih O2 monitoring kalo ada muntah monitor VS Tetap ACLS (RJP and breath sampe ada nadi dan nafas). maka ikut langkah non-shockable siklus pertama (RJP sajapasang ET dan IV-kasih epinefrin 1mg-cek irama) abis cek irama. Cek irama c. Kecapean: 30 menit dan sudah yakin betul semua tapi tetap no respon d. dikonfirmasi dengan pupil midriasis total. trus misal jadi non-shockable lagi karna tadi udah dikasih epinefrin sekarang ganti jadi sulfas lagi. Tujuan tidak tercapai: pasien mati. shockable lagi maka ikut langkah shockable siklus KETIGA (inget! epinefrin kan harus diseling). Kasih shock b. shockable lagi. Jadi yang dilakukan adalah RJP 2 menit sambil charge defib – shock – kasih obat amiodarone 300mg – RJP 2 menit – cek irama. trus jdi nonshockable lagi. Stop tindakan secara keseluruhan saat: a. yaitu kasih epinefrin. jadi misal abis ngasih sulfas tapi jadi shockable ya yang dikasih epinefrin.  Kalo dapet irama asistole. Tujuan tercapai: irama jadi sinus b. Intinya sih setiap siklus itu epinefrin harus diseling. jangan lupa cek leadnya ada yang lepas atau ngga 10 menit tetap asistole/PEA  stop tindakan dan berdoa Trus kalo iramanya misalnya iramanya beruba-ubah shockable non-shockable gimana? nah contohnya pas cek irama. abis cek lagi. maka ikut langkah non-shockable yang ketiga. Stop kompresi saat: a. iramanya jadi non-shockable. Pasang ET 2.

cairan. bentuk. post stroke BREAST EXAM 1. Permukaan kulit: warna. misal DCIS c. Karakteristik: ukuran. Peradangan/perlukaan sekitar payudara e. Riwayat laktasi h. locomotor. Kontur payudara: ada benjolan? Lekukan/dimpling? Pendataran/flattening? d. 7. Pemakaian kontrasepsi RPD a. discharge. Riwayat kanker. penebalan kulit & pori2 menonjol Warna merah: infeksi & karsinoma payudara yang terinflamasi Penebalan kulit & pori2 menonjol: karsinoma b.genitourinary. Hubungan dengan siklus mens Mens tambah nyeri  cysta Mens tambah kencang  fisiologis f. ulcus. Keluhan lain: nyeri. Status reproduksi (GPA) g. ulcus Discharge.OTHERS  Breast. perkenalan 2. Perkembangan benjolan c. Benjolan di tempat lain RPK Ibu pernah kena kanker payudara 1 sisi: sebelum menopause  risiko 3x. 8. 6. Jelaskan prosedur & informed consent Posisikan pasien  duduk Cuci tangan dengan alcohol & pakai glove Ibu diminta buka baju sampai pinggang Inspeksi Minta pasien duduk  Minta pasien meletakkan kedua tangan di kedua sisi Laporkan a. arah. 5. Riwayat FAM b. setelah  4x 4. setelah  2x Ibu pernah kena kanker payudara 2 sisi: sebelum menopause  risiko 9x. retraksi d. Ukuran & simetrisitas payudara Kanker lebih besar c. Salam. Sejak kapan b. & deviasi: kanker 62 . Keluhan utama 3. Anamnesis RPS a.

usia muda. ke arah jam 12. ada discharge  Lengan diminta di letakkan di belakang kepala  melihat lekukan/retraksi yang tidak terlihat supaya bagian bawah terexpose (pada yang payudaranya besar) Lengan bertumpu dipanggung supaya payudara mengkontraksikan M. dimpling di payudara. Condong ke depan kalau perlu untuk payudara yang besar. tengah. & manis Palsasi dengan bentuk melingkar Spokes of wheel Mulai dari central. pori2 membesar. & axilla. axilla kanan diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa Waktu tangan pasien adduksi rapat serong ke depan. tangan di sisi Kalau payudara besar. tangan pemeriksa periksa axilla  Palpasi payudara Pasien diminta tiduran Kalau payudaya kecil. Periksa putting Inspeksi: retraksi. fisura. Palpasi  Pemeriksaan limfonodi Tangan kanan pasien dipegang dengan tangan kanan. sisik Untuk pemeriksaan discharge. tanya pasien mau periksa sendiri atau kita lakukan Cara 1  tekan putting dari atas & bawah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas glandula mamae Cara 2 “tunjuk” puting 11. terus ke arah jam 1. tangan di belakang kepala & bahu disangga bantal Palpasi dengan bantalan jari telunjuk. Pelaporan Gambar payudara. jarak satu jari Mulai lateral kranial terus ke medial Circular obat nyamuk 10. gitu terus sampai semua terpalpasi Tekanan keras di sentral.Kemarahan pada puting FAM: benjolan. terus badannya digoyang 9. payudara dibagi jadi 4 kuadran  Diameter  Batas: tegak/nggak  Mobile  Nyeri  Konsistensi 63  . clavicula. balik ke sentral lewat jalur yang sama. pectoralis  dimpling bisa lebih terlihat. tidak nyeri Kanker: arah putting brubah. agak ringan di perifer Vertical grid Garis vertical dari clavivula ke lipatan inframama Dibagi 9 dari garis midstrenal ke linea axillaris posterior (hingga ujung ekor payudara).

Deformitas 64 . Memberitahukan jari yang digunakan (bantalan jari 2. kista)/tefiksasi (kanker) Breast Self Examination 1. tangan di belakang kepala. mobile (FAM. Toe off d. Pengenalan kanker payudara  Insidensi tinggi  Stadium dini bisa diketahui dengan BSE (+) deteksi dini (-) keseringan (missal sebulan beberapa kali)  penurunan sensitivitas 3.4). saat mandi. Nontrauma: RPS. batas (tegas  FAM. Berdarah c. RPD. Bisa saat tiduran Disangga bantal Pakai 3 jari Pola memutar Rekomendasikan vertical grid 6. perubahan pada papilla mamae. kista. bentuk.3. 3. Dilakukan 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Dimpling. 4. RPK Pemeriksaan umum: Vital sign Pemeriksaan gait yang dilaporin: a. 2. sedang. kalau udah menopause  tanggal yang sama tiap bulan 4. Bisa saat berdiri. konsistensi. kaki  posisi tidur Look a. Greeting & introduction Tujuan pemeriksaan Anamnesis: Trauma: 5W + 1 H. tergantung area lemak) 5. Pendahuluan & perkenalan diri pada pasien 2. 5. Keras: kanker Elastis: kista Jumlah Nilai karakteristik: lokasi. Heel strike b. ringan. nggak  payudara). Mid-stance c. seberapa keras tekanan (sirkular. Pemeriksaan khusus Masalah di Tangan  posisi pasien duduk. sambil sabunan. berat. Swing phase 6. ukuran. di depan cermin 7. Perhatikan bila ada perubahan 8. pendataran  catat dan lapor ke dokter Locomotor Exam 1. nyeri (kista). Luka terbuka b.

dorsofleksi. melewati lutut b. Inervasi: taktil c. pronasi. pulsasi b. eversi Length  kalo masalah di kaki Bandingkan kanan-kiri a. endorotasi (tengkurap. tapi nggak bisa tahan tekanan 4 bisa nahan gravitasi. palmarfleksi. 8. Appearance: dari umbilicus sampai malleolus medial c. 10. betis putar ke dalam). abduksi. Siku Fleksi. endorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke depan & bawah) b. ekstensi (sambil tengkurap). eksorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke belakang). 11. Wrist Ulnar deviasi. Krepitasi Move Dengan goniometer a. Simetrisitas Feel a. supinasi (lengan atas fiksasi di badan. adduksi. WPK. jempol RCTI oke) d.7. ekstensi c. adduksi. ekstensi (posisi supinasi) g. sedikit bisa tahan tekanan 5 bisa nahan gravitasi & tekanan Circumference bandingkan atas (kanan-kiri) & bawah (kanan-kiri) luka Pertimbangkan penunjang  x-ray Penutup GENITOURINARY EXAMINATION 1. Pergelangan Plantarfleksi. d. Gelang paha Abduksi. Vaskularisasi: suhu. Anatomical: dari trochanter mayor sampai malleolus lateral Muscle power test 0 tidak ada gerakan 1 ada tonus 2 tidak bisa menahan gravitasi 3 bisa nahan gravitasi. 9. True: dari SIAS sampai malleolus medial. ekstensi. eksorotasi (tengkurap. Memperkenalkan diri 65 . radial deviasi. Lutut Fleksi. betis putar ke luar) f. fleksi. dorsofleksi. inversi. Gelang bahu Fleksi. Jari pakai goniometer khusus e.

2. Inspeksi penis a. hidrocele. Tumor f. hipospadia. d. ambilnya di fossa navicularis 8. Hidrocele Testis disinarin dari bawah pakai senter. 3. c. atrofi? b. dipalpasi kanan & kiri simetris. Tanda2 inflamasi d. ada corong kertas ditaruh di atas Hidrocele di tunica vaginalis Tumor kurang merah 66 . atrofi e. 4. UKK (masa. kayak kawat Varicocele? d. Oedem b. Dilatasi vena c. Glans penis. inflamasi. epispadia. hipoplasia. Simetris: hipoplasi. Batang d. ada cysta? c. Testis. warna) c. nyeri) Kandung kemih 7. informed consent. anak diminta buka celana Mencuci tangan pakai sarung tangan Jelaskan mau periksa CVA Palpasi suprasimfisis (massa. 5. tumor. Angulus inguinalis externus 9. udah sunat? Palpasi penis a. Vas deferens. Urethral meaturs e. Scrotum Posisi pasien berdiri Inspeksi a. & femoral diperiksa pakai lubrikan 10. Ke epididimis. Persebaran rambut b. Jelaskan indikasi Minta persetujuan pasien. Daerah inguinal (barangkali belum turun). urethral discharge Specimen ambil pakai lidi + kapas yang dicelup di normal saline. b. suprapubik. Funiculus spermaticus e. balloteman. 6. Normalnya kiri lebih rendah Palpasi a. Diurut/milking Buka meatus urethra: phimosis/paraphimosis Glans  lihat meatus urethra.

. nungging 13. sebelum mulai diinget dulu kalo pada post stroke exam itu ada sisi N (normal) dan S (sakit) iya ga c? aku (titi: red) cuma ngarang kepanjangannya .. sedangkan kalo perdarahan.. Digital Rectal exam  untuk meriksa feses. masukin pake lubrikan. sedangkan mobilisasi merupakan salah satu bagian dari rehabilitasi Kapan program mobilisasi dimulai : Stroke iskemi sekitar 2 – 3 hari (sedini mungkin). jari tengah aja. Saya dokter …. fleksi pergelangan tangan dan pronasi serta adduksi jari  Ekstrimitas bawah (ekstensi semua) Retraksi panggul.Hidrocele lebih merah (+) berpendar 11. nanti kita akan melakukan beberapa gerakan latihan. Rehabilitasi dimulai sejak pasien dikonsulkan ke dokter. nah kebanyakan itu hemiplegic tipe dan pasien dalam kondisi spastic. walopun osce ga keluar tapi ada kemungkinan keluar pas kompre. ekstensi lutut. tanda2nya :  Ekstrimitas atas (fleksi semua) Endotorsi lengan atas. Jelaskan hasil pemeriksaan POST STROKE REHABILITATION Aaa modul silat ini tidak di eksklusi sama sekali. ekstensi ankle. Hernia Masukkan jari telunjuk ke canalis inguinalis. plantarfleksi dan inverse telapak kaki Kita mulai check list nya :  Selalu SALAM DAN PERKENALKAN DIRI “Selamat pagi pak. Oleh karena di check list dan yang kita pelajari kmaren Cuma check list 4 jadi inisial position yang dilakuin itu cukup yang supine aja o Supine position 67 . tempatkan jari di sulvus prostat. meriksa reflex bubocavernosa (penis diangkat.. say akan membantu bapak untuk latihan dan bergerak pagi ini. Perlu dipahami dulu kalo dalam penangan pasien post stroke ada yang namanya program rehabilitasi dan mobilisasi. tunggu perdarahannya selesai dulu baru dimulai (sekitar 2 minggu) Sedangkan program rehabilitasi dimulai sekitar 3 minggu pada stroke iskemi. fleksi siku. normal kayak biji kenari). meriksa prostat (ukuran. eksorotasi paha. Ada 3 macam inisial position : supine. berbaring pada sisi N dan berbaring pada sisi S. Posisi pasien. spingter ani kontraksi). saya minta kerja samanya ya pak mengikuti instruksi dari saya”  minta pasien untuk rileks  Inisial position  antispastik Pada fase ini kita memposisikan pasien berlawanan dari posisi yang di atas itu dan kalo udah d posisikan begini latihan harus segera dimulai < 2 jam soalnya pasien merasa ga nyaman di posisiin begini. gitu katanya huhuhu jadi kita pelajari aja. minta pasien mengejan (valsava maneuver) Indirect kena ujung jari Direct kena samping jari Femoral annulus femoralis 12.

Tujuannya supaya kaki N ini bisa membawa kaki S ketepi bed untuk duduk. sebelum didudukin. fleksi lutut dan panggul dan endorotasiin paha. Lengan d angkat 90-100 drajat terhadap sumbu tubuh. Sangga juga menggunakan bantal d bawah panggul dan telapak kaki o Berbaring di sisi N Pertahankan posisi antispastik dengan menopangkan bantal di bawah sisi S. kita tahan dulu sekitar 10 detik baru ditarik lagi trus di reposisi. bapak bertumpu dulu pada bahu. ekstensi pergelangan tangan dan siku lalu di supinasiin. Mimandahkan benda Pada tahap ini kita berdiri di sisi S pasien. secara aktif dan pasif. dimulai dari ekstrimitas atas dan dari ekstrimitas yang kecil dan distal dulu. Waktu pasien bertumpu disiku. pelan – pelan aja. Pelan-pelan saja y pak. Biarkan pasien bertumpu pada bahu. posisi kaki kaya meluk guling. siku baru pergelangan tangan” Setelah itu tangan kita tarik perlahan. jadi pelan2 dimulai dari bahu. siku dan pergelangan tangannya. Kita abduksiin jari. trus tangan bapak yang sehat menggapai tangan yang sakit dan berguling ke sisi yang sakit ya pak. tangan satunya di pergelangan tsngan. “bapak saya minta untuk mengambil pulpen ini dengan tangan N bapak ya. nanti saya akan menekuk lutut bapak terlebih dahulu. punggung baru pinggang. o Berbaring di sisi S Mirip dengan yang di atas hanya saja sekarang sisi S di bawah. lalu di bawa ke sisi N trus dibalikin lagi ke saya” Jangan lupa untuk memegang sisi S nya itu biar ga jatuh Latihan o Keseimbangan duduk 68 . Ekstrimitas bawah dimulai dengan mendorsofleksiin telapak kaki trus di eversi. tapi dari sumbernya angkatan 2005 katanya waktu osce itu yang dipakai secara aktif dan segmental.    Pada fase ini kita memposisikan pasien dalam keadaan antispastik. d bikin latiahn weight bearing to elbow caranya pasien di tarik – tarik sambil numpu di siku sebanyak 10x baru didudukin. Fungsinya untuk menstimulasi sisi S pasien menyanga berat tubuhnya. tangannya bertumpu pada meja disisi sampingnya. kita mulai ya pak” o Fleksikan kaki N pasien o Minta pasien menggapai tangan S nya o Minta pasien berguling secara perlahan ke sisi S o Bantu dengan membantu memutar ekstrimitas bawah Duduk dan bertumpu pada siku Setelah pasien berbaring pada sisi S secara aktif. jangan lupa menyangga sisi S dengan bantal Rolling ke sisi S Sebenernya ada dua cara. Setelah itu kita kasih aba-aba : “bapak. nanti bapak saya minta berusaha duduk sendiri dengan menggeser kakinya ke bawah dan tangan yang sehat nanti akan saya bantu menariknya. o Berikan petunjuka pada pasien “bapak sekarang kita akan latihan berguling ya pak. kaki N pasien kaya diselipin gitu dari belakang ke bawah kaki S. Jaga hal ini dengan member sanggahan bantal di bawah bahu. Kalo instruktur ku dulu. eksorotasiin lengan. mulai dari bahu tus punggung dan pinggang. sekarang kita akan latihan duduk ya pak. Meminta pasien mengambil benda dengan tangan N.

Selesaiiiiiiii ... Trus bapak gerakin tanggannya ke atas kepala trus turun ya pak.  Posisi istirahat “Pak sekarang kita berlatih posisi istirahat ya pak” Disini kita memposisikan kaki S pasien di atas kaki N nya. JANGAN LUPA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PASIEN :D Selamat osce teman – teman semuaaaa !! Smoga kita diberikan gelombang yang terbaik … smangat !! 69 . yang S di atas N. latihan hari ini sudah selesai. sekarang bapak silakan tiduran lagi ya. Diulang 10 kali” o Bahu “nah sekarang ke kanan sama ke kiri ya pak” o Bertumpu pada lengan “Pak nanti saya akan member tahanan pada bahu bapak.caranya seperti tadi saat mau duduk. Posisi tangan bebas  Baring lagi Setelah posisi istirahat. nanti bapak pertahankan posisi bapak supaya tidak terjatuh ya pak” o Lengan “bapak sekarang kita akan latihan tangan ya pak. trus bapak pertahanin ya supaya ga jatuh” Trus kita tekan2 gitu bahunya satu2. Nanti bapak silakan memegang tangannya yang S dengan tangan N nya trus jari-jarinya disilangain tapi jempol tangan S nya berdiri keluar. Saya akan menggerak-gerakkan tubuuh bapak kedepan belakang dan ke samping. kakinya digerakin dan pelan-pelan aja pak” Ada yang bilang kita cuma menahan bagian belakang siku S pasie tapi ada juga yang bilang kita juga memegang tangan N pasien mirip kaya waktu duduk tadi. kita akan berlatih keseimbangan tubuh.. tangan yang lain jaga2 di belakang siku supaya ga jatuh. trus di baringin lagi : “ baik bapak. Kalo katanya buku 2005 kaya cewek kemayu itu. lalu kaki pasien dipelintir lagi.“Bapak.

Hemoragik Meningitis 154 150 156 157 93 96 97 185 117 119 Cough TBC Pneumonia COPD Diarrhea Diare Chest Pain ACS GERD Sore Throat 70 .DAFTAR ISI MATERI HALAMAN Belum ada 180 182 183 101 103 105 104 106 75 77 74 80 189 Fatigue Anemia Insomnia Gangguan Tidur (Cemas & Depresi) OCD Panik Red Eye Konjungtivitis Glaukoma Akut Keratitis Uveitis Retinopathy Fever Typhoid DHF Malaria Otitis Media Akut Headache TTH Migrain Cluster Headache Tumor HT Stroke .

Faringitis 130 169 87 89 91 82 84 86 190 187 122 122 163 107 110 115 114 180 Indigestion Gastritis Abdominal Pain (RLQ) Appendicitis PID KET Abdominal Pain (RUQ) Hepatitis Sirosis Hepar Kolesistitis Constipation IBS Konstipasi Pruritis Dermatitis Kontak Alergi Dizziness BPPV Meniere Weight Loss Diabetes Mellitus Dyspnea Asma CHF Sindrom Nefrotik Pneumothorax Insomnia Cemas Depresi Backache HNP UTI 144 140 160 Joint Pain RA . Gout . OA 71 .

Ekstremitas Bilang ke pasien pemeriksaan udah selesai. keratitis. without jaundice UTI. Riwayat sosial 8. psikologis. PID. retinopathy 72 . Red eye: conjunctivitis. Abdomen : inspeksi. lemah/kuat. Meningitis. uveitis. Fatigue: anemia. pneumonia. RUQ: hepatitis. kolesistitis. Tx medikamentosa dan non medikamentosa Edukasi secara umum: Seimbangkan gizi. kolestitis. RPK. HCC 3. travelling 5. Treatment  apa obatnya. Profil pasien: Rokok. lingkungan. pola pernapasan abnormal.IPM GENERAL. sirosis hepar. Alergi 4. sirosis. glaucoma akut (sudut tertutup). kalo regular. keganasan 5. Aggravating. gizi. Lokasi. Thorax : inspeksi. RPS: Onset. Parafrase Bilang ke pasien. Umur. Review system gejala yang belum di-explore 7. TB/BB 2. palpasi. isi nadi 3. KU 2. normal ce: thoracoabdominal. Respiration rate  frekuensim regularitas. Suhu  berapa suhunya. perkusi. Alamat. Characteristics. Olahraga. udah reda/belum 3. Tekanan Darah  pake bel. PID. KET. dimana diukurnya (axilla. sebuah ringkasan. thypoid. RLQ: app. perkusi. kondisi umum (lemes. Enyahkan rokok. Pekerjaan Anamnesis 1. Abdominal Pain. palpasi 5. cuci tangan Kasih tau dx klinis Rencana tindakan: Px penunjang. Relieving. jari ke dua. Kepala/leher 3. DHF. Yang dilaporkan: regular. RPD: Pernah sakit spt ini? Medikasi yg dikonsumsi. Teratur berolahraga Keluhan: 1. Nadi  pertama pegang dua tangan. rectal atau oral) Pemeriksaan badan: 1. Abdominal Pain. OMA infeksi lain 2. pucat. Hindari stress. chyene stokes dkk) 4. ukuran manset. semoga membantu 13 … OUTLINE SECARA UMUM: Identitas: Nama. pola pernapasan (normal co: abdomino-thorakal. Fever: with jaundice: hepatitis. Yang dilaporkan: berapa BPnya. posisi duduk ato tidur 2. auskultasi. UTI 4. Awasi tekanan darah. auskultasi 4. ditangan mana diukurnya. Makan 6. palpatoar dulu. terus bilang mau meriksa apa  cuci tangan Pemeriksaan fisik: Kesan Umum: tingkat kesadaran. frekuensi. tiga ama empat. baru auskultoar. meriksanya pake satu tangan aja. Durasi. Malaria. dll) Vital sign: 1.

Pruritus: ikterus. asma. meniere 11. itu yang kami bahas ya ceman-cemaan. keganasan. Indigestion: GERD. DHF Keterangan : yang di bold. Dyspnea: asma. Insomnia: anxiety. Sorethroat: pharyngitis. Backache: HNP. migraine. cikungunya. ACS. sindrom nefrotik. Chest pain: ACS. CHF. 18. CHF. Konstipasi: thypoid. gout. Joint pain: OA. DM. stenosis spinalis.6. gastritis 7. Dizziness: BPPV. BPPV. pneumonia lobus bawah 9. tonsilitis 14. anaphylactic 13. IBS diare 19. alergi. Weight Loss: TB. sindrom nefrotik 20. tumor. meningitis 8. Stroke pendarahan. IBS-konstipasi 15. TB. RA. LBP non spesifik. meningitis 16. Cough: pneumonia. meniere. pneumothorax. Headache: TTH. Diare: diare. DKA 10. depresi 17. anorexia 12. UTI. migraine. hipertensi. peningkatan TIK. thypoid. UTI. Vomiting: diare. cluster. pharyngitis viral. 73 .

4 c dan temperatur axila>37.gelisah. e. Fever 1. Lokasi : c. Malaria : KU : Demam Anamnesis :  RPS a.    Relieving :pernah terinfeksi malaria belum?(untuk vivax) :- RPD RPK Riwayat perjalanan : pernah berpergian ke daerah endemis malaria seperti purworejo. jika parah dapat menyebabkan jaundic   Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Malaria. DHF. kulonprogo. DHF. Kondisi umum : lemah. Olahraga: b. perut sebah. kadang memegang kepala. Faringitis bakterial. Pola makan  Review system : keluhan lain : nyeri kepala. 2. cikungunya Pemeriksaan fisik : 1. vivax & ovale: (tertiana) demam tiap 48 jam malariae(quartana) demam tiap 4 hari Trias malaria : menggigil  panas tinggi berkeringat Trias ini mulai ketika eritrosit pecah. Diet : c.FEVER Definisi : ketika temperatur oral > 37. Tanyakan pernah digigit nyamuk ga?  Lifestyle : a. kronik (>2minggu) : Thypoid 1.5 derajat celcius. Agravating : aktivitas fisik f. menggigil. 74 . nyeri otot dan sendi. Meningitis. papua. sakit kepala. lesu. Akut (< 1minggu) : malaria. Durasi : 24 jam d. Karakteristik : falciparum  demam tidak menentu bisa demam 36 atau 48 jam.5 c dan rektal lebih rendah 0. Onset : < 1minggu b.

Typhoid Fever: Seorang pasien datang dengan keluhan demam. Rajin minum obatkarena parasit.  hepatomegaly dpt terlihat jika kurus. splenomegaly Palpasi  nyeri kuadran kanan atas dan hepatomegaly. Leher : palpasi limfonodi DBN Thorax depan: screening auskultasiDBN Jantung : auskultasi di ictus cordis. HR dan RR meningkat. lemah Anamnesis :  RPS Onset : > 7 hari (kronis) 75 . Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi  hepatomegaly. sore saja.hari 1-2 : 10 mg/kgBB/ hari sehari 4 tablet/hari.a) 2.2. kuning malariaberat  balik ke dokter 2. Vital sign : demam. buang air ga lancar. HCT turun (normal ce 40-50.perut sebah. Vivax(eritrosit membesar) b. sakit kepala mual.d. sudah ke puskesmas tp ga membaik. co 45-55). Primaquin : 15mg/ hari (1 tablet) Falciparum Edukasi: 1. falsiparum (ada cincin di tepi) Tipis  menentukan jumlah parasit. Kepala : lihat konjungtiva  bisa anemia dan sklera ikterik (pada falsiparum). Apusan darah : Tebal  jenis dari parasit : a. hari ke-3: 5mg/kgBB/hari sehari 2 tablet/ hari.  DBN 3. Kalau penurunan kesadaran cerebral malaria balik ke dokter Shock. sejak 6 hari. Extermitas : palpasi  akral dingin Pemeriksaan penunjang CBC HB turun (normal co 13-16. ce 12-14). eosinofilia (normal 0-3). : cq3 + pq1 (dosis dan pembagian s. nafsu makan turun. KU : Demam. RPD -. leukosit normal. Terapi: Vivax : Cq3 + Pq14 (Chloroquin + Primaquin) Chloroquin : . BP normal. gagal napas . memperburuk:aktivitas berat. RPK -.

Lokasi Durasi

: :

Karakteristik : Step ladder pattern (pagi sampai siang suhu turun, sore suhu tinggi) Agravating : Saat aktivitas Relieving : Treatment : Paracetamol tapi ga sembuh     RPD RPK ::-

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: ga spesifik b. Diet : Suka jajan? Cuci tangan ga sebelumnya? Air yg diminum mateng ga? c. Pola makan : Ga teratur d. Lingkungan : Masalah sanitasi

Review system : nyeri kepala, nyeri otot & sendi, konstipasi, perut sebah.

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Thypoid, DHF, Malaria

Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah dan demam Vital sign : temperatur tinggi, bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1 derajat C tidak

diikuti peningkatan nadi 10x) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi  rose spot (bercak merah di perut), hepatomegali (kurus)  bisa muncul konstipasi (biasanya pada dewasa) atau  batas hepar membesar (hepatosplenomegali)  nyeri kuadran kanan atas, hepatomegali

diare(biasanya pada anak) Perkusi Palpasi

Kepala : Sklera ikterik (kalau udah parah) Lidah kotor, tengahnya pucat, tepi hiperemis, tremor Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: DBN. screening  auskultasi aja. Extermitas : DBN Pemeriksaan penunjang a. Kultur (gold standar)  ditemukan mokroorganisme bakteri penyebab (S. Typhi)

76

b. Widal test  S. Typhi positif jika titer O > 1/320 (semakin gede penyebut = semakin positif) c. CBC  pada infeksi bakteri: neutrofil akan meningkat., shift to the right kronis, shift to the left akut. Pada infeksi virus: limfositosis dan leukopenia. Infeksi parasit: eosinofilia. Pada typhoid : leukopenia (<4.000 sel/mm 2), (normal:150.000-400.000 sel/mm2). Terapi Ciprofloxacin 500 mg  dosis: 15 mg/kg BB/hari. R/ Tab. Cipro 500 mg No. X S. 2.d.d. Tab 1 p.c. Paracetamol 500mg R/ Tab. Paracetamol 500 mg No. X S. p.r.n. 3.d.d. Tab 1. p.c. limfositosis, trombositopenia

Edukasi Bed rest 2 minggu Makan yg lembut dan higienis Cuci tangan sebelum makan Minum air matang Hindari rokok

3. Dengue Hemorrhagic Fever KU : Demam Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : < 1 minggu (mis : 5 hari yang lalu) :: 2 – 7 hari

Karakteristik : demam tinggi lebih dari 39 , pola bifasik => hari 1 – 3 demam, 3 – 4 turun, 4 – 7 demam lagi Agravating : kurang minum Relieving : -

77

Gejala berdasarkan derajat : DHF derajat 1 : demam, artalgia,mialgia, torniquet + DHFderajat 2 : perdarahan spontan DHF derajat 3 : mulai muncul tanda syok DHF derajat 4 : tanda syok berat (nadi& blood pressure tdk terdeteksi)    

RPD RPK

:: ada orang di sekitar yangsakit serupa dan mondok di RS

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: b. Diet : c. Pola makan : -

Review system : nyeri kepala, nyeri retroorbital, artalgia, mialgia, petekia, efusi pleura (sesak), asites (perut menggendut), perdarahan (krn trombosit turun), epistaksis, muntah darah (krn perdarahan pada vena2 esofagus), perdarahan gusi, perdarahan lambung, melena (kalo perdarahan dari GIT atas), hepatomegali, haus, gelisah, tanda2 syok

Tx sebelumnya : daun sirih untuk mimisannya

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : DHF, Demam Dengue (beda dgn dhf : tanpa ada hemoragik ; tanpa

trombositopeni ; tanpa hemokonsentrasi), cikungunya (demam lebih singkat, ada torniquet + dan peteki tapi tidak ada manifestasi perdarahan lain, artalgia dan mialgia prominen) Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah, pusing, tidak enak badan Vital sign Rumple leed : demam >39, HR naik, RRnaik, tanda2 syok : positif bila ada > 20 peteki per inchi kuadrat

Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala :  peteki  dbn  hepatomegali, asites  hepatomegali, asites

konjungtiva anemis ; perdarahan gusi ; mimisan

Leher : palpasi limfonodi dbn Thorax :

78

perkusi dari sonor jadi redup Jantung : auskultasi DBN Extermitas : palpasi  akral dingin .Efusi pleura -> ada konsolidasi maka dari itu fremitus taktil meningkat .d. leukopenia Liver function test : AST / SGOT naik (normalnya cewe < 23 cowo < 30) NS 1 test Radiologi (kalo curiga efusi pleura -> posisi LLD) Terapi R/ Tab Parasetamol 500 mg No. trs 6. trs 6. adaruam makulopapular Pemeriksaan penunjang CBC trombositopenia. Hct naik > 20 %.n 3.trs 3 mL/kg BB/ jam Edukasi Banyak minum Bed rest Manifestasi syok atau perdarahan-> segera ke dokter Cek trombosit tiap hari Kontrol ke dokterhari ke – 4 79 .r.d.p. Tab 1 (derajat 1 dan 2 cukup parasetamol dan rawat jalan) Kalo trombosit di bawah 100rb harus mondok -> kasih infus kristaloid Kalo sudah ada tanda2 syok pake prinsip tx syok (derajat 3&4) Kristaloid 20 mL/kg BB dlm 1 jam -> improve maka kurangi dosis kristaloid jadi 10.trs 3 mL/kg BB -> Kalo tidak improve di tes Hct nya Hct -> meningkat -> ganti kristaloid pake koloid (dextran 40) 10 mL/kg dlm 1 jam) Hct -> turun -> ganti kristaloid pake blood transfusion 10mL / kg / jam Kalo udah improve ganti lagi jadi kristaloid tapi kurangi dosis kristaloid jadi 10. XV S.

Lokasi i. Durasi : ≤ 8 minggu : nyeri di belakang telinga (retroauricular) : < 8 minggu Karakteristik : nyeri di retroauricular. Otomycosis (gatal. Parafrase ke pasien e. OMK (SNHL. Review system : keluhan lain : ada penurunan pendengaran ga?(tipe CHL). demam?keluar cairan dr telinga (discharge)? Sekret mukopurulen? d. kalu ga tertutup akan berlanjut jd Otitis Media Kronis (tulinya SNHL) a. Tahap-tahap: 1. Fase resolusi/ penyembuhan => normalnya membrane timpani akan tertutup kembali. Olahraga: b. Onset h. Fase presupurasi => tanda2 hiperemi muncul pada membran timpani 3. pendengaran berkurang. KU : telinga terasa penuh.4. Pola makan: c. Pemeriksaan fisik : 80 . karakteristik lain tergantung dr fase2nya k. Diet : c. nyeri. akibatnya tekanan dalam cavum timpani jd negative sehingga membran terdorong ke dalam 2. keluhan demam sudah menghilang 5. Treatment : RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya RPK : Lifestyle : a. Otitis media akut Definisi: peradangan pada cavum timpani (telinga tengah) dalam kurun waktu ≤ 8 minggu. keluar cairan (discharge). Agravating : l.    Relieving : - m. Anamnesis :  RPS g. Perforasi => kalau membrane timpani udah [each. Fase tubercatar => obstruksi dari tuba eustachii. durasi >8 minggu). j. Fase supuratif => terjadi membrane bulging. membrane terdorong keluar gara2 cairan yang terbentuk di cavum timpani 4. demam b. Sebutkan DD : Otitis eksterna diffuse (nyeri di tragus). newspaper like-appearance di canalis acusticus eksternus) f.

Decongestan  pseudoefedrin (jika perlu) 10. Vital sign : fever. Weber lateralisasi kea rah telinga yg sakit.mastoideus Otoskop ditemukan membrane timpani yg abnormalitas tergantung dr fase2nya Tes pendengaran garputala 512 Hz.5. Edukasi  Minum obat teratur  Jangan membersihkan telinga sendiri (dg cotton bud) 81 . Analgesic  paracetamol c.n Throat : mencari kemungkinan faringitis sbg underlying disease Kepala & leher : limfadenopathy (-) 8. Terapi a. Kesan umum : demam.b.n  ditemukan discharge (pd fase perforasi) 7. telinga terasa penuh 6. Pemeriksaan penunjang 9. nyeri.b. Antibiotik  amoxicycillin sistemik ato tetes telinga b. Rinne (-). Schwabach BC pasien > BC dokter CHL Nose : d. yg lain d. Pemeriksaan fisik : Ear : Inspeksi Palpasi  nyeri di proc.

cirinya influensa-like syndrome . mual. Tiba2 tadi pagi mata kuning. 23% sirosis jadi liver failure lalu jadi kematian. . 5-10% jadi HCC. Pernah mentato. Olahraga:b. Mual muntah d. muncul ikterik. Athralgia 82 . BAK seperti air teh. Lokasi Durasi : nyeri kuadran kanan atas : Karakteristik : Demam sejak seminggu yang lalu. imunisasi hep b RPK : tanyakan orang tua dan istri apakah pernah mengalami hal yg sama? Hep b (vertical transmission & sexual transmission). 30% jadi sirosis. A) inkubasi 15-50 hari (rata2 30 hari). perut terasa penuh. Hep b tanyakan pernah menerima transfusi darah. lemas. meriang.Fase ikterik  1-4 minggu. Diet : Hep Amakan tidak higienis c.Sembuh 1% hep A jadi hepatitis fulminan HepB Langsung jadi kronik.ABDOMINAL PAIN. sebah.  Pekerja medis atau bukan (B) Hep A Melewati fase akut yang terdiri dari: . Aktifitas seksual (hep B) e. demam. BAK air teh akibat direct bilirubin meningkat. Pola makan : jajan sebarangan (hep A) d. BAB pucat. tindik (B) f.Fase prodormal 2-3 minggu. suntik. Nafsu makan menurun e. hep a (fecal-oral transmission) Riwayat perjalanan : Treatment awal: obat warung tidak membaik Lifestyle : a. Agravating : Beraktifitas berat Relieving:      RPD : Tidak pernah sakit serupa (hep A). RUQ: Nyeri Kuadran Kanan Atas Hepatitis KU : Nyeri Kuadran kanan atas. BAB: pucat b. BAK: air teh c. dan kuning Anamnesis :  RPS Onset : Onset demam1 minggu yang lalu. (hep B inkubasi 15-180 hari). Review system : keluhan lain : a. (hep.

Cholecystitis Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sclera ikterik Leher : palpasi limfonodiga ada limfadenopati Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi  dbn Pemeriksaan penunjang a. GGT : meningkat 83 . hep B. lemah Vital sign : febris.pusing. takikardi.Parafrase ke pasien Sebutkan DD Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak tidak enak badan.5 RANGE NORMAL= SGOT/SGPT : 3 – 35 Iu/L c. Liver Function Test: SGOT/SGPT > 1. serologi: hep AIgM anti HAV Tes serologi hep B: b. ALP : meningkat (norml 30 – 35 Iu/L) d. RR naik  jika kurus terlihat hepatomegali  dbn  hepatomegali  hepatomegali : hep A.

dikasih tau penyebarannya gimana. Hep B: Pasangan. Olahraga: b. berasa mbesesek/sebah.d tab I f. Hep A = curcumin Paracetamol HP Pro no XXVIII Sb. jarum suntik. antivirus (lamivudine.     RPK : Riwayat perjalanan :Treatment sebelumnya: obat warung Lifestyle : a.. Diet : c. Edukasi g. Terdapat penurunan nafsu makan 84 ..d.Tidak ada kencing manis. Hep B= imunomodulator (INF-a). Riwayat penyakit jantung (akibat gagal jantung kanan). Dulu sering minum jamu-jamuan. obat kuat. dikatakan hepatitis B. lama h. adefovir) Sirosis Hepatis KU : Perut membesar. mata kuning Anamnesis :  RPS : 3 bulan ini : kuadaran kanan atas : 3 bulan Onset Lokasi Durasi Karakteristik : Perjalanan penyakit: pipis seperti teh Agravating : beraktivitas berat Relieving: RPD : 10 tahun yang lalu pernah bilang sakit kuning. Pola makan d. dikasih obat dan sembuh. Merokok  Review system a.Terapi e. Hep A: Bed rest. bilang ke pasien nanti sembuh sendiri . makanan dijaga.

kulit kening. fluid wave utkperiksa ascites Kepala : sclera ikterik Leher : kuning Thorax depan: screening spider naevi. ascites +  splenomegali. kanker Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat lemas. caput medusa. clubbing finger. Albumin <<. kuku Muchcre/leukonychia (garis-garis putih horizontal yang dipisahkan oleh warna normal kuku akibat hipoalbuminemia) Pemeriksaan penunjang i. hepatitis B/C. Ginekomastia e. CBC albumin dan globulin. Karna kuning. BAK air teh Parafrase ke pasien Sebutkan DD : sirosis. Kriteria Subandiri: Dikatakan + sirosis jika terdapat 5 dari 7:       Varises esofagus Hematemesis/Melena Caput medusa Ascites Splenomegali Spider naevi punggung  Palmar eritem (karena hormonal) eritem di sisi ulnar dan radial (akibat hormonal)  UKK pada dada. tanya gatal-gatal atau tidak c. palpasi perkusi dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palmar eritem. hepatomegali (teraba bernodul). dan tampak agak sesak nafas Vital sign : dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  spider naevi.splenomegali. dan d. ginekomasti.perut. globulin >> 85 . Tanya BAK dan BAB! BAB pucat. hepatomegali dan ascites pada orang kurus Auskultasi Perkusi Palpasi  dbn  hepatomegali.b.

bisa menjalar ke kanan atas skapula (Boa’s sign). Serologi: Hbs Ag. makan lunak Cholecysitis KU : Nyeri kuadran kanan atas abdomen Anamnesis :  RPS Onset : Lokasi : Epigastrium atau kuadran kanan atas. Pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. anti Hbc k. ALT. hepatitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : 86 . ALP dan GGT naik. Forty.AST naik.j. Fat. marker HCC: AFP Terapi Bed Rest Roboransia Edukasi Istirahat cukup.muscular guarding (defans muskular) Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Cholelitiasis. Olahraga : b. gizi cukup. LFT bilirubin direct. muntah. Durasi : ±60 menit Karakteristik : Agravating : makanan berlemak (memicu kontraksi kantung empedu) Relieving: Faktor risiko : 4F  Female. sirosis hepatis. Fertile     RPD : pernah cholelitiasis RPK : Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Diet : suka makan makanan berlemak c.

Vital sign : temparatur maningkat (demam)     Murphy’s sign (ditekan di kuadran kanan atas. Edukasi 1. pasien akan berhenti tarik napas).5 g/8 jam 3xsehari Rujuk spesialis bedah digestif diminta tarik nafas. setelah 4-6 jam migrasi ke kuadran kanan bawah abdomen Durasi : <24 jam (kalau>24 jam perforasi) 87 .bisa juga ditemukan ada batu. pasien Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sklera  ikterik Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang USG  ada penebalan dinding vesica fellea. RLQ Apendisitis Akut KU : Nyeri kuadran kanan bawah abdomen Anamnesis :  RPS Onset Lokasi : akut : awalnya di periumbilikal. Terapi Analgesik : Petidine (morfin) Antibiotik : cefuroxime 1. kelihatan cairan peri cholecystic. Hindari rokok ABDOMINAL PAIN. Hindari makanan berlemak 2. tekan.

Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  88 . yg meningkatkan tekanan intra abdomen. Vital sign : mungking suhu meningkat (demam) subfebril (37. intermittent (difus). : appendicial mass Rebound tenderness (nyeri tekan lepas) Rovsing’s Sign : sebelah kiri ditekan.5-38. lemah : App akut. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat nyeri. Olahraga : b. Diet dan pola makan : kurang serat  Review system  keluhan lain : anoreksia. PID (dispareuni. dull. :- Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.Karakteristik : walanya colicky pain. ga migrasi. nyeri difus. Agravating : batuk. kalo udah ke kanan bawah continuous pain (bisa ditunjuk). pasien diminta mengangkat paha menahan tahanan)  nyeri di kanan bawah Obturator Sign : gerakkan kaki pasien ke dalam sehingga lutut keluar  nyeri di hipogastrik kanan (kuadran kanan atas).5) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Superfisial Deep  dbn  dbn  dbn  : muskular guarding (peritonitis). pada perut bag bawah). pas idiangkat sebelah kanan sakit) Psoas Sign : tangan dilatakkan di lutut kanan pasien. aktivitas berat. Relieving: Faktor risiko :     RPD RPK : penyakit cacing dan infeksi diGI yg menyebabkan hiperplasia limfoid.

    RPD : menstruasi ga teratur. difus. aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. Urinalisis  eksklud kehamilan Terapi Analgesik : paracetamol Metronidazol Edukasi 1. pemakaian pembalut wanita. Olahraga : b.gangren. CBC  Leukositosis.Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang l. Diet dan pola makan : 89 . Makan makanan berserat (buah dan sayur) Pelvic Inflamatory Disease (PID) KU : Nyeri abdomen bawah Anamnesis :  RPS Onset : sejak 1 bulan Lokasi : perut bagian bawah (difus) Durasi : sudah 1 bulan Karakteristik : nyeri tumpul.netrofil > 95% kalo m. USG appendix terlihat membesar n. di perut kanan bawah. Agravating : celana dalam ketat. RPK : DM pada ibu Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. keputihan yg kadang-kadang baunya amis. Appendicogram udah pasti app. untuk mencari stadium app. perforasi) o. (suppurative.

d. Antibiotik : R/ Tab. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As. Jangan melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu dekat 4. Jangan memakai panty liner 90 . Pemeriksaan penunjang Vaginal swab. muntah. Review system  keluhan lain : mual. KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan.tab 1 p.d.p. 2. Lepas IUD 3. vaginal swab.Mefenamat 500 mg No. Edukasi 1. IUD Parafrase ke pasien Sebutkan DD : PID .n 3. memegang perut bagian bawah. kaku. USG.d. 11. tab 1 p. Jangan melakukan irirgasi vagina 2.d.c. dispareuni (patognomonis).r. Tetrasiklin 100 mg No. Vital sign : mungkin demam Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Tenderness bimanual  ada nyeri goyang uteri. IX. adneksa teraba. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi    Pemeriksaan Gyn : pake spekulum inspeksi. S.c. XXVIII S. Apendisitis.

di perut bawah kanan/kiri. Diet dan pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. Olahraga : b. memegang perut bagian bawah. PID . Apendisitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. colicky.Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) KU : Nyeri abdomen bawah kiri atau bawah tetapi unilateral Anamnesis : RPS Onset : akut Lokasi : perut bagian bawah kiri atau kanan tetapi unilateral Durasi : akut Karakteristik : nyeri tumpul. Vital sign : mungkin demam  dbn  dbn  dbn  dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Pemeriksaan Gyn : pake spekulum Cadwig’ Sign (tampak kebiruanpada portio cervix uteri) bimanual  ukuran uterus teraba membesar Kepala : Leher : palpasi limfonodi 91 . difus. Agravating : aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD : KET. Status menstruasi : telat datang bulan RPD RPK   : :Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.

tab 1 p. IX.p.r.c.Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang: USG. Rujuk ke Sp.d.Mefenamat 500 mg No.OG 92 . S. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As.d.n 3.

HR dan BP normal Thorax : I : retraksi dinding dada (+/-) Pa : Fremitus taktil : menurun (oleh karena kaverna) meningkat pada apex (oleh karena infiltrat) Pe : Apex : Redup Kavitasi : hipersonor Efusi pleura : redup-pekak 93 . bronchitis akut. sel giant dengan atau tanpa nekrosis kaseosa. CHF. penurunan berat badan. PPOK.BATUK DD : TB. asma TB Penyakit yang ditandai oleh adanya pembentukan granuloma spesifik yang terdiri atas tuberkel epiteloid. subfebril.5). Pharyngitis. RR. kakexia. keringat malam hari Px : Keadaan Umum : Lemas. ganti – ganti pasangan. penurunan nafsu makan dengan atau tanpa rasa nyeri dada terutama pada saat batuk A : peningkatan tekanan intraabdomen R:T : Sudah minum obat batuk tapi batuk ga sembuh-sembuh RPD : Batuk yang tidak sembuh – sembuh Riwayat vaksin BCG (-) Riwayat AIDS (+) RPK : Keluarga atau orang terdekat ada yang menderita TB/HIV/AIDS Lifestyle : Kurang gizi. tinggal di daerah tidak bersih Review System : sariawan. penurunan berat badan >10% dalam 6 minggu VS : subfebril (<38. pneumonia. Ax : KU : Batuk purulent RPS : O:L:D : akut ≤ 3 minggu Kronis ≥ 8 minggu C : batuk purulen dan berdarah disertai keringat pada malam hari.

pagi. sewaktu Foto Thorax AP dan L : bercak kavitasi (hiperlusen).A : Ronki basah pada Apex Suara napas bronchial Ekspirasi diperpanjang Egofoni : suara napas tinggi Kepala dan Leher : Konjungtiva anemic Limfadenopathy Deviasi trachea Px penunjang : Sputum BTA : min. limfositosis.2 dari 3 sputum sewaktu. LED ↑ Tes tuberculin : indurasi > 10 mm Tx : Kategori 1 ▪ TB Paru Baru BTA (+) ▪ TB Paru BTA (-). neutrofilia. Ro 2RHZ (+) sakit ringan  Ekstra Paru Ringan 4R3H3 Anak : 2 RHZ+4RH Mulai tahun 2008 pengobatan pasien tuberkulosis untuk pasien dewasa diberikan dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) : 1) Kategori 1 a) Pasien baru TB paru BTA positif b) Pasien TB baru BTA negatif foto toraks positif c) Pasien TB ekstra paru 94 . infiltrate dan konsolidasi (apex)  radiopaq. Ro (+) sakit berat ▪ TB ekstra paru berat 2RHZE 4R3H3 Kategori 2  Penderita Kambuh  Gagal  Lalai 2RHZES/RHZE 5R3H3E3 Kategori 3  TB Paru Baru BTA (-). limfadenopati hilus Darah rutin : leukositosis. anemia ringan (Hb>10).

d Tab IV ………………………fase intensif untuk 1 minggu kontrol R/ Tab 2 KDT no XLVIII S 3 kali 1 minggu Tab IV …………… fase lanjutan untuk 1 bulan kontrol Tapi kalo takut pasiennya lupa2 gitu.54 kg 2 tab 4KDT + 500 mg S 3 tab 4KDT + 750 mg S Selama 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 95 Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab E 3 tab 2KDT + 3 tab E Berat Badan . XXVIII S 1. Dosis panduan OAT KDT Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Tahap Lanjutan seminggu 3 kali selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Nah ribet ya? Iya .Tabel 2..d. trus resepnya jadi begini : R/ Tab 2KDT no. XII S 3 kali 1 minggu Tab IV 2) Kategori 2 Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya : a) Pasien kambuh b) Pasien gagal c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat Tabel 3. Dosis panduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30 .37 kg 38 . jadi kalo mau disamain aja 1 minggu kontrol. jadi itu misalnya BB 60 : R/ Tab 4KDT no.

jadi riwayat pneumoni sebelumnya bisa aja (-) Riwayat Mondok di RS (+/-) Riwayat penggunaan ventilator (+/-) Riwayat DM. R: T : Udah minum obat batuk.d. 5 dan 6    Minta bantuan keluarga atau pihak lain untuk mengingatkan pengobatan Hentikan rokok dan paparan polusi  pakai masker Nutrisi kaya kalori. reda trus muncul lagi RPD : penyakit ini akut.55 . imunodefisiensi RPK : Lingkungan : pneumonia bisa terjadi di orang yang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk. Bromhexin Hcl 20mg/5ml 60 ml lag I S p.n Tab I pc R/ Syr. protein dan vitamin Pneumonia Ax : KU : batuk RPS : O : akut L:D : < 3 minggu C : batuk pada pneumoni itu berdahak bisa ada darahnya (tapi jarang). kalo asma dan jantung kan pada saat aktivitas.r. X S p. PPOK. infeksi viral.70 kg ≥ 71 kg Simptomatik : 4 tab 4KDT + 1000 mg S 5 tab 4KDT + 1000 mg S 4 tab 4KDT 5 tab 3KDT 4 tab 2KDT + 4 tab E 5 tab 2KDT + 5 tab E R/ tab paracetamol 500 mg no.n 3. padat begitu deh pokoknya Lifestyle : merokok 96 .d 5 ml pc Edukasi :   Minum obat setiap hari sampai habis Kontrol tiap 1-2 minggu pada tahap intensif dan tiap bulan pada tahap lanjutan  periksa ulang BTA bulan ke 2. A : Kadang disertai sesak napas saat istirahat.r.

tapi lingkungan benernya ga terlalu pengaruh juga sih Lifestyle : merokok sudah sejak lama Review System : pasien juga bisa mengeluhkan demam. sesak napas terutama saat tiduran dan beraktivitas. atopi (-) 97 . pasien tampak lemah VS : RR ↑.Review System : demam (+/-). penurunan nafsu makan Px : Keadaan umum : bisa terjadi penurunan berat badan. T ↑ Thorax : I : retraksi dinding dada saat bernapas Pa : fremitus taktil ↑ .d. riwayat alergi. minum air yang cukup PPOK Ax : RPS : O : kronik / kronik eksaserbasi akut L:D : > 3 bulan dalam 2 tahun terakhir C : batuk purulent disertai sesak napas A : rokok. kalo udah berat bisa muncul waktu istirahat R : istirahat T : obat batuk hitam tapi ga ngaruh RPD : ada riwayat penyakit yang serupa trus ilang trus muncul lagi RPK : Lingkungan : padat pemukiman. keterlambatan pengembangan paru Pe : Redup (konsolidasi) A : Suara bronchial. Ronki basah (+). ……………… selama 7 hari Edukasi: istirahat.d. aktivitas. pleural friction rub (+) egophoni Kepala dan Leher : dbn Abd : di auskultasi aja  dbn Ekstr : dbn Px Tambahan : Ro Thorax : infiltrate Kultur sputum Darah rutin : Leukositosis Tx : Mukolitik (jangan ekspektoran) PCT Antibiotic  penisilin G 6 juta IU/hari Amoksisilin 500 mg S 3.

posisi tripod.R dan vaksin influenza serta pemberian SABA Pemberian LABA Glukokortikoid saat eksaserbasi 98 . krikoid dan inc.7 and 30% FEV1 <50% predicted IV : sangat parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.suprasternal saat eksp < 4cm. pakai otot bantu pernapasan Abd : hepatomegali (pada kasus parah) Ekst : jari tabuh.Px : Keadaan umum : pasien tampak lemah dan kurus. tampak adanya kesulitan bernapas VS : T. mengi saat ekspirasi Kepala dan Leher : konjungtiva anemi. pemanjangan ekspirasi. tanda kor pulmo. perpesaran ventrikel kanan (+/-) A : bronchial. HR dan RR ↑ Thorax : I : bentuk dada sepeti tong. jarak kart.7 dan FEV1 80% predicted II : sedang Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. bibir cyanotic. pengembangan paru ↓ Pe : hipersonor. retraksi dinding dada Pa : fremitus taktil ↓. JVP ↑.7 and FEV1 <30% predicted or FEV1 <50% predicted dengan gagal napas atau tanda gagal jantung kanan Menurunkan F. nasal flare. kalo PO2 rendah PCO2 tinggi. edema tungkai (pada kasus parah) Px tambahan : spirometri  toleransi terhadap bronkodilator FEV1 < 12 % FEV1/FVC < 70% CXR  hiperlusent (air trapping) AGD : pO2 dan PCO2  PO2 dan PCO2 normal dan tidak ada cyanosis tapi pasien sesak  pink puffer.7 and 50% FEV1 <80% predicted III : parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. penggunaan otot bantu pernapasan. pasien tidak sesak tapi cyanotic  blue bloater Terapi : Derajat keparahan COPD I : ringan Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.

hentikan rokok 99 . vitamin dan sayuran antioksidan. blue bloater  kor pulmonar Edukasi : makanan rendah garam dan protein.Longterm O2 therapy Penanganan serangan akut : SABA + antikolinergik + glukokortikoid (prednisolon 40 mg PO selama 14 hari) + O2 2-3 L/men Komplikasi : pink puffer  gagal napas.

glaucoma akut Apabila diberikan anestesi mata (ex: proparacaine) nyeri berkurang  keratitis Riwayat relaps  Iritis.dll)  Iritis Penggunaan obat steroid mata prolonged (biasany pd uveitis. bakteri. alergi. neuropathy)  Glaukoma sekunder RPK keluarga ada yang sakit serupa? Glaukoma biasanya menurun ke anaknya (6%) lingkungan ada yang kena? LS RS1 Nyeri kepala. ada discharge  konjunctivitis Nyeri. iritis. Glaukoma akut Memakai contact lens  Konjunctivitis kontak lens Alergi obat tetes mata  Konjunctivitis alergi Penyakit autoimun (Crohn disease. pusing. Keratitis (SKDI 2).Sarcoidosis. Ankylosis Spondylitis. konjunctivitis RS2 ada keluhan lain? Konjunctivitis Iritis Glaukoma sudut tertutup Keratitis Onset gradual gradual 100 mendadak gradual . iritis. Keratitis Sudden onset : Glaukoma akut. Glaukoma akut (SKDI 3A). visus menurun  keratitis. chlamydial) . glaucoma akut Photopobia  Iritis. foreign body L D C Tidak nyeri dan tidak photopobia . muntah  Glaukoma akut Mata berair. minus ? Cahaya terang makin nyeri  keratitis. runny nose  Konjunctivitis alergi Mata gatal  Iritis. Iritis (SKDI 3A) Ax RPS O Gradual onset : Konjunctivitis (viral. Keratitis (Glaukoma kadang2) A R T Other RPD Tanyakan pake contact lens ga.Mata Merah Konjunctivitis (SKDI 4).

disebabkan oleh beberapa kausa. Konjunctivitis viral  discharge watery. positive fluorescence staining Conjunctival injection IOP Kornea Diffuse (dari perifer ke central) normal Jernih Siliar (dari central ke perifer) < Normal > Jernih Episklera Kadang2 siliar normal Berkabut / beruap (sperti melihat jendela beruap) Reflek pupil normal Konstriksi sedikit Reaksi pupil minimal ato (-) normal Bilateralitas sering Kadang-kadang Kadang-kadang Biasanya unilateral Konjunctivitis Konjunctivitis = inflamasi konjunctiva. biasanya karna penyebaran virus ISPA sangat mudah menular ke mata satunya klo salah satu terkena. conjunctival injectionnya lebih difus (hmpir susah dibedakan dengan siliar). ada prbhn reflek kornea. dapat ditemukan folikel limfoid di tarsal. ada sensasi benda asing Photopobia Discharge Pupil signifikan normal ++ konstriksi +/Semi dilatasi & fixed + None to mild Normal atau konstriksi Siliar (dari central ke perifer) N +++ Opacification. dapat diklasifikasikan sbb : Konjunctivitis alergi  biasanya gatal dan penderita pny riwayat alergi. sering diikuti mual muntah Sedikit menurun Severe. atau minor menurun Moderate-severe & gatal menurun cepat Very severe.Relaps - Sering kambuh Kadang ada riwayat sblmnya - Visus Nyeri normal Tidak ada. discharge purulen bkin belek jadi klo bangun tidur susah buka mata 101 . Konjunctiva bakteri  discharge lebih purulen karna yg menginfeksi biasanya bakteri pyogenik.

terdapat folikel limfoid di tarsal.05% 1 gtt q2h prn (ga bole lbh dari 5 dd) 102 . tekanan darah. respirasi  normal 3.dimulai dari limbus(perifer) ke arah central (konjunctival injection) Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO Segmen posterior Normal Jernih. Jernih. 2. BB/TB.1. Ada discharge. kesadaran  mata merah. discharge bisa mukopurulen ato purulen Tanda vital Suhu. atau Gentamycin 0. pada konjunctivitis bakteri tampak crust menempel di bulu mata.. dalam Normal Jernih Normal Normal Normal Normal 4. Terapi Tindakan : ----- Farmakoterapi Konjinctivitis bakteri Cloramphenicol 0. nadi.. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Ada crust/belek (konjunctivitis bakteri).5% atau naphazoline 0. Merah. Pemeriksaan penunjang Swab bakteri kultur 5.5% tetes mata (Erlamycetin) 3-4x sehari 2 tetes.3% Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis viral Livostin 1gtt 4dd  antihistamin Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis alergi antazoline 0. Keadaan umum Keadaan umum. gizi.

Edukasi Istirahat Sebenarnya klo konjunctivitis dibiarin jg sembuh sendiri.I S. Bumbum SIP 5566/2009 Alamat praktek/rumah Jalan Kesehatan no 53 Yogyakarta Yogyakarta. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Menyempit.4.d. bagian perifer seperti berkabut hitam Normal 103 . I S. Prognosis dr.d.os. 7. respirasi 3. nadi. mual muntah.n. tapi kalo diberi obat sembuhnya lebih cepat. deficit visual.2 gtt.d.6. kesadaran  mata merah.d.p. penglihatan kabur seerti melihat ‘halo’ di sekitar objek 1. tekanan darah. nyeri kepala ipsilateral. BB/TB. gizi.3.os.1gtt. nyeri kepala hebat 2.r. Keadaan umum Keadaan umum. Tanda vital Suhu.od R/ Tube Insto No.od Pro: Nama : Alda Umur : 17 tahun Glakukoma akut Keluhan umum : nyeri periorbital. 20/12/09 R/ Tube Erlamycetin No.

diikuti 500 mg PO Timolol ophthalmic 0. 6. BB/TB. Tanda vital Suhu. 7.5% 1 gtt bid di mata yg sakit Paracetamol utk mengurangi nyeri Antiemetic apabila muntah2. gizi. Keadaan umum Keadaan umum. tekanan darah. Edukasi Prognosis Baik asal Mx nya cepat Iritis Keluhan umum : nyeri. deficit visual. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Normal Normal 104 . photopobia. synechiae Jernih. kesadaran 2. respirasi 3.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. nadi. Terapi Tindakan Farmakoterapi : Pasien disupinasikan supaya menurunkan IOP : Acetazolamide (Diamox) 500 mg iv. dangkal Tidak reaktif dan dlm keadaan middilated Normal N+ (>21 mmHg apabila diukur dgn tonometer) Normal Normal Siliary injection 5. Pemeriksaan penunjang Bisa edema. penglihatan kabur 1.

respirasi 3. Keadaan umum Keadaan umum. 7. corneal disease 1.Steroid utk mngurangi inflamasi Prednisolone 1% 1 gtt q1-6h 6. penurunan imunologis. pupil sedikit miosis Bisa opasitas (katarak) bisa tidak.Cyclopegic  memblok saraf sphincter pupil dan m. kesadaran 2.. Terapi Tindakan Farmakoterapi : : .. BB/TB. Pemeriksaan penunjang Reaktif . nadi.tp ga spesifik buat uveitis Bisa mencetus glaucoma sekunder klo udah parah Normal Normal Siliary injection 5.ciliaris Cyclopentolate 0. Pemeriksaan mata Visual acuity Visus turun 105 . gizi. Tanda vital Suhu. trauma. bisa smpe hypophion Reflek pupil Lensa TIO 4.5-2% 1gtt 3dd . Edukasi Prognosis Keratitis Anamnesis : riwayat kontak lens. tekanan darah.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Bisa edema. synechiae Aquous humor apabila disinari sperti flare Ditemukan WBC di kamera okuli ant.

Edukasi Prognosis Tambahan: Retinopathy diabetika atau hipertensi  ciri ada neurovaskularisasi rapuh  pecah  pendarahan  iskemia  cotton woll spot  bisa ablasio retina. Pemeriksaan penunjang Normal Normal Edema eyelid atas. 106 . ada discharge mukopurulen kadang2 Normal Siliary injection Ada ulserasi.Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. 7. Terapi Tindakan Farmakoterapi Rujuk aja…soalnya level SKDI 2 : : 6. posterior synechiae Normal Normal Normal 5.

tiap serangan biasanya hanya sebentar. CHF. Metabolic asidosis  hiperventilasi & kussmaul 6. epiglotitis akut 3.asthma. Cardiovascular = ACS 2. mitral regurgutaion 2. Lokasi p. Severe chronic anemia  tisssue anoxia  sesak napas 4. Psikologis: pasien cemas sesak napas + batuk kronik + sputum + rekuren + merokok  lung suffocation kalau asthma. Respirasi lain Inhaled foreign body Upper airway obstruction Pneumothorax Atelectasis 4. beberapa lama 1. Respiratory: PPOK . Onset o. Psikogenik disorder= anxiety (heieprventilasi)   Sudden onset dulu pernah Insidious onset. mitral stenosis. tanya durasinya udh berapa lama. kecuali bila asmanya sudah parah 107 . Anamnesis :  RPS n. Anafilaktik akut 5. Durasi : beberapa menit yang lalu. tentukan derajat aktivitas ketika sesak napas Asthma g.DYSPNEA Sensasi sulit untuk bernapas Kausa  Sudden onset dulu nggak pernah 1. Severe respiratory infection: pneumoni. PPOK 3. KU : sesak napas h. kronis dan berulang : sesak napas di dada : beberapa menit.

alergi. intercosta Asma berat  dada tong Penurunan pengembangan dada yang simetris Mengi dapat terdengar tanpa bantuan stetoskop Palpasi Perkusi Auskultasi  fremitus taktil ↓  hipersonor vesicular. memiliki hewan peliharaan. batuk berdahak disertai sesak napas seperti diikat. Relieving: menghindari allergen. asma. Vital sign : RR ↑. stress. pekerjaan. tidak ada demam dan pilek i.      Treatment : penggunaan antihistamin/obat-obatan untuk alergi RPD : riwayat alergi. perubahan suhu (malam hari). makanan. musim. pakai otot bantu pernapasan. c. j. atopi Riwayat perjalanan : hilang timbul Lingkungan : berdebu. ventilasi kurang baik Lifestyle : a. sesak napas seperti diikat. kelelahan. mukosa bibir tampak pucat-cyanosis Leher : palpasi limfonodi dbn 108 . sulit untuk berbicara r. Olahraga : Diet : Pola makan : -  Review system  gatal/atopi pada kulit. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi  penggunaan otot2 bantu pernapasan Retraksi dinding dada terutama supraclavicular. oksigen. kesuliatan bernapas 13. riwayat penggunaan obat-obatan asma spt kortikosteroid. BP & T normal 14. nebulizer dll RPK : keluarga ada riwayat sesak napas. Kondisi umum : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. takikardi. Agravating : terpapar alergen. Karakteristik : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. obat-obatan. SCM. infeksi. debu. wheezing Kepala : Nasal flaring. musim semi. b. faktor stres (misal mendekati ujian) s. Parafrase ke pasien Pemeriksaan fisik : 12.q. antihistamin t.

Spirometri dinamis FEV1 ≥12% (>200 ml) setelah administrasi bronchodilator Perbaikan (Perak Expiratory Flow) PEF ≥ 20% pre-bronchodilator 16.Abdomen: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : atopi (+/-) 15. Skin prick test b. Moderate persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi 109 . Mild intermittent SABA 3-4 x/hari Belum perlu controller b.Terapi Serangan akut : oksigen 4-6l/men + Reliever (nebulasi) a. CBC eosinofilia. Mild persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi c. Pemeriksaan penunjang a. IgE spesifik dan total c.

mengganggu aktivitas Sesak napas semakin memberat Tidur lebih nyaman dengan bantal tinggi Gagal jantung kiri: 110 .d.n 3.r. Hindari allergen CHF a.d puff II 17. Anamnesis :  RPS 1) Onset 2) Lokasi 3) Durasi    : beberapa bulan yang lalu. KU : sesak napas b. Severe persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi Satu/lebih dari teophylin sustained release atau leukotrien modofier controller  untuk asma persistent Anti inflamasi steroid Inhalasi  budesonide 200 mikrogram 2x / hari Oral  methyl prednisolone 4mg Long Acting Beta Agonist (LABA) Salmeterol 100 mikrogram inhalasi Formoterol 24 mikrogram inhalasi reliever  pada eksaserbasi asma akut  bronchodilator Short Acting Beta Agonist (SABA)  salbutamol 4mg oral / 200 mikrogram inhalasi R/ tubulinhaler salbutamol lag I S p. Edukasi 1.d. progresif dan kronis : dada : > 8 minggu 4) Karakteristik : Merasa mudah lelah.

dengan atau tanpa edema tungkai dan sesak napas saat berbaring 2. tanda gagal jantung lain seperti palpitasi. Kondisi umum : lemah. belum ada perbaikan     RPD : hipertensi RPK : orang tua hipertensi Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. stenosis mitral Gagal jantung kanan:  lanjutan gagal jantung kiri. Vital sign : nadi ↑. b. c. efusi pleura. Parafrase ke pasien d. diberi obat. berkeringat.  Olahraga : tidak suka Merokok Pola makan : tinggi lemak Review system  keluhan lain : edema tungkai. hepatomegali c.  Sistolik: infarct ventrikel kiri. hipertensi. atau stenosis katup aorta  nggak bisa pompa saat sistolik) Diastol: insufisiensi aorta. pucat. Pemeriksaan fisik : 1. regurgitasi mitral. cor pulmolae 5) Agravating : aktivitas 6) Relieving: istirahat 7) Treatment : berobat ke dokter. sesak napas terutama malam (pnd). respirasi ↑ 3. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: o Inspeksi Ictus cordis kuat o Palpasi Ictus cordis berpindah bergeser ke atas  hipertrofi ventrikel kanan bergeser ke bawah  hipertrofi ventrikel kiri Fremitus meningkat  karena ada cairan Kulit dingin dan lembab (keringat) o Perkusi Cardiomegali 111 .

asites  pada gagal jantung kanan o Auskultasi Thrill Murmur RBB  karena peningkatan cairan di paru S3 gallop  seperti suara kuda S3 gallop gagal jantung kiri  apex S3 gallop gagal jantung kanan  ujung sternum Kepala : gerakan cuping hidung gerakan otot bantu pernafasan  retrakasi otot SCM. pitting edema. berkeringat Kriteria Framingham CHF bila memenuhi 2 major atau 1 mayor + 2 minor Kriteria major 1. Edem ekstremitas 5. Tachicardia 2. Edem paru akut 4. Cardiomegali 2. Dispnea d’effort 3. Ortopnea/PND 3. Efusi pleura 4. intercostal JVP meningkat  terlihat saat pasien berbaring 45 derajat Leher : dbn Abdomen: o Inspeksi: lingkar perut meningkat karena ascites o Palpasi Fluid wave  ascites Hepatomegali (RHF) o Perkusi Hepar teraba Nyeri tekan kuadran kanan atas o Auskultasi Extermitas : bengkak. RBB (+) 5. Hepatomegali 112 . ↑JVP 6. Refluks hepatojugular Kriteria minor 1.Hepatomegali.

v6 Kanan  RVH 5. Echocardiography Fraksi ejeksi <40% 5. R/ Tab. Batasi aktivitas fisik 113 .d. tab I p. RAD 8.c. Edukasi 1. EKG Kiri  LVH 5. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 7.d.c. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 6. Batasi asupan Na 2. tab I p. CXR Cardiomegali: Karena hipertrofi otot jantung Karena dilatasi akibat penumpukan darah c.d. Captopril 12.4. Terapi R/ Tab.5 mg No XXX S 3. LAD 8. Aksigenasi 3. Pemeriksaan penunjang a. v2 b. Beta blocker  pada post MI 6. Furosemid 20 mg No XXX S 3. R wave > S wave di v1 7. Strain pattern st depressed & T inverted di v1.d. S persisten di v5 & v6 6.

dan akhirnya akan paru akan kempis. nadi lemah  tekanan arteri menurun + syok ”Trias beck”  Tx: pungsi pericard. Setiap kali inspirasi. Look (gerakan napas tertinggal). apalagi kalo begerak Tx: bagian yang keluar-masuk ditahan. volume makin meningkat  tension. udara dari paru juga akan berduyun-duyun ke lubang. 114 . Sehingga setiap ada napas. sehingga menimbulkan sucking chest sound. RR meningkat) Treatment: “digembosi”  pake jarum atau pisau. Melalui lubang tersebut udara luar masuk ke rongga pleura. dengan mitela atau miring ke bagian yang sakit plus painkiller Tamponade cordis Jantung kayak di tampon (ciri: suara jantung melemah)  venous return menurun  JVP meningkat  yang dipompa dikit  stroke volume menurun. Tx definitive: WSD Flail Chest Terjadi pada fraktur kosta yang segmental (2 tempat atau lebih). sehingga akan menekan paru-paru.Pneumothorax: OPEN PNEUMOTHORAX Pneumothorax terbuka terjadi akibat terbentuknya lubang di dinding dada yang diameternya lebih dari 2/3 trachea. Akibat patah  nyeri. dan berurutan  daerah yang fraktur lepas dari kesatuan  jadi kuwalik-walik  pada saat inspirasi malah kesedot kedalam. multiple. namun pada saat ekspirasi. JVP meningkat Tension  nekan paru-paru kontralateralnya juga  distress napas yang hebat (sesek. tidak semua masuk lagi ke paru-paru. pada saat ekspirasi jadi kedesak ke luar  gerakan paradoksal dinding dada. dicoblos di linea midclavicular SIC 2. dan kiri) TENSION PNEUMOTHORAX Pneumothorax tension terjadi bila lesi dinding dada (pleura parietalis)/pleura visceralis bersifat ventil atau katup. Tension nekan mediastinum  yang ngaruh cuma vena cava  kegencet  venous return menurun syok. udara akan masuk ke rongga pleura. Assess: Listen (sucking chest sound). Feel (perkusi: hipersonor) Tx definitive:WSD (Water Seal Drainage)  “ditutup” lubangnya Tx emergency: tutup lubang di dada dengan menggunakan kain/plastic yang diplester di 3 sisi (atas. kanan. Pada saat ekspirasi.

Kesan umum : gelisah. 2 hari yang lalu jadi seluruh tubuh : 2 minggu x. labium mayor. riwayat sakit pinggang dan kencing warna merah (ada glomerulonefritis sebelumnya). Pemeriksaan fisik : 18. Treatment :  RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya. berat badan bertambah tapi merasa lemes y. tidak nyeri dan tidak terasa panas kencingnya. kenaikan serum lipid trigliserid. Durasi : 2 minggu : pagi hari di wajah (kelopak mata. Onset v. BAK terganggu => frekuensi meningkat. Diabetes Mellitus   RPK : riwayat kencing manis (DM). Diet : protein berlebih (telur) c. ascites ato ga? (SN ada ascites).5 gr/hari).). ).Sindrom nefrotik Definisi: kumpulan gejala dimana terjadi proteinuria (>3. pitting udem (karena udemnya interstitial jd saat dipencet ga balik lg) m. Karakteristik : saat bangun tidur mata terasa tebal semakin siang semakin berkurang bengkak di matanya tapi di kaki makin bengkak. Olahraga: b. Relieving aa. KU : Bengkak-bengkak l.manifesnya semakin parah z. keluar dikit2. warna keruh). sesak napas 115 . Pola makan:  Review system : keluhan lain : ada sesak napas ga? (untuk eksklusi CHF: kl ada. BAK dan BAB terganggu ga (kl SN. nafsu makan berkurang. Glomerulonefritis (cratinin clearance berkurang) o. Anamnesis :  RPS u. tidur pake bantal. Lokasi w. bibir). dll. Sebutkan DD : CHF. k. hipertensi Lifestyle : a. (<3 gr/ml). sesak napasnya paroksismal dyspneu. Agravating : kalo diet banyak protein (telur). hipoalbuminemia. scrotum.oedem anasarka (nonpitting) di jaringan yang longgar (kelopak mata. Parafrase ke pasien n.

Bed rest.d.8 – 1 gr/kg BB) c.Prednisone untuk mengatasi peradangan Prednisone 1 mg/kg BB/hari (BB sebelum udem) Sediaan yg ada 1 tablet = 5 mg.Furosemide untuk mengatasi udem Tab.b. no fever. Bed rest b. . Pemeriksaan penunjang a. Darah  ada dislipidemia. Pemeriksaan fisik : Thorax : . diminum pagi dan malam (pagi lebih banyak drpd malam) . Urinalisis (sampel urin berasal dari urin tampung 24 jam)  proteinuria (>3. diet rendah garam dan tinggi protein 2. Captopril 12. creatinine clearance normal (untuk membedakan dengan GN) b. hipoalbumin <3 gr/mL 22.d tab I .Terapi a.Vital sign : BP naik.2.19.5 gr/hari). Diet rendah garam dan tinggi protein (0.d tab I 23.5 mg s.hipertensi ato DM  ACE inhibibor Tab. 20.batas jantung normal (tidak ada cardiomegaly) Abdomen : ditemukan efusi pleura kl parah Inspeksi Auskultasi  ada ascites (perut membesar) d.1. Diberitahu efek samping obat bisa menyebabkan imunosupresan dan “moon face” 116 . Edukasi 1. Berdasar etiologi : .d.n Perkusi  shifting dullness (tanda ascites) Palpasi  float wave (tanda ascites) Kepala : muka udem (terutama mata dan bibir) Ekstremitas : pitting udem serta ga ada nyeri 21. Furosemide 80 mg s.

berkeringat. megang dada : ACS. c. Anamnesis :  RPS bb. muntah c. Pemeriksaan fisik : 24. b. ada kolateral obstruksi total a. Karakteristik : 1) 2) 3) 4) Nyeri khas. Kondisi umum : cemas. Agravating : aktivitas fisik gg. Lokasi dd. atau dicengkeram Radiasi ke rahang. seperti tertindih. lengan kiri bisa sampai ke ulnar Timbul saat istirahat >20 menit. hipertensi  RPD : Belum pernah nyeri seperti ini Riwayat hipertensi.  Olahraga : jarang berolahraga Merokok Pola makan : makan makanan berlemak Review system  keluhan lain : keringat dingin. rokok. Durasi : akut. Sebutkan DD e. Relieving: Pada stable angina mereda dengan istirahat & nitroglycerin hh. Faktor risiko : dislipidemia. Parafrase ke pasien d. nyeri dada b. beberapa menit yang lalu : nyeri dada menjalar sampai lengan kiri & rahang kiri : > 20 menit ee.CHEST PAIN: ACS Unstable NSTEMI STEMI obstruksi parsial obstruksi total. obesitas DM. tidak bisa dihilangkan dengan istirahat atau pemberian nitroglyserin ff. leher. diremas. burning. KU : sesak napas. mual. DM    RPK : orang tua pernah mengidap penyakit jantung Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. gelisah. Onset cc. GERD 117 .

Clopidogrel f. pertahankan saturasi O2>90% c. Terapi Berikan MONACO a. Pemeriksaan penunjang a. unstable Lihat pambahasan EKG. Nitrogliserin SL d. Morphin IV jika nyeri tidak berkurang dengan nitroglycerin b. 10 menit pertama  EKG 12 lead  bedakan STEMI. ST elevasi dan Q patologis (STEMI) ST elevasi kalau naik > 2mm di lead precordial atau naik > 1mm di lead extremitas pada minimal 2 lead berurutan Manifes Q patologis (>1/3 R’ atau kalau R < 5 kotak maka sekecil apapun disebut Q patologis) Depresi ST (NSTEMI) b. Periksa cardiac enzyme CK-MB. Aspirin 160-325 mg e. troponin I c. Foto Thorax (liat ukuran jantung) 28. NSTEMI.. takikardi  dbn  dbn dbn dbn 26.Vital sign : hipertensi.25. Pertimbangkan reperfusi 118 . Oksigen 4L/mnt.Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Kepala : dbn Leher : palpasi limfonodi dbn Abdomen: screening  dbn Extermitas : Inspeksi  Ektermitas pucat palpasi  Ekstermitas dingin dan berkeringat 27.

kambuhan. faktor hormonal (mis : 119    . . RPK : Profil pasien : . Aspirin 80 mg no XXVIII S. opiat.Onset : akut .obatan tertentu (antikolinergik. Aspirin tiap hari GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) Anamnesis   KU : Nyeri dada yang seperti terbakar RPS : .Edukasi 1.Fibrinolitik  door to needle 30 detik PCI kalau ada kontraindikasi fibrinolitik  door to ballon 90 detik R/ Tab.Treatment : RPD : GERD biasanya kambuh . p.kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan). Stop merokok 3. mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah. Keluhan nyeri ini umumnya timbul setelah makan.Aggravating : tidur setelah makan .d.n. Turunkan berat badan 2. Nitrogliserin 0.r.amati ada tidaknya faktor resiko → memiliki hiatus hernia. Tab. 1.Location : epigastrium atau retrosternal bagian bawah .Characteristics : nyeri seperti tebakar. beta adrenergic. menggunakan obat .n. p. saat serangan) Stable angina pectoris:   aspirin dimunum saat serangan & biasa nitroglycerin saat serangan 29. Aktivitas fisik aerobik 4.3 mg No VII S. theofilin.Duration : beberapa menit . IV (dikunyah. sublingual (saat serangan) R/ Tab.d.Relieving : . Management lipid 5.r. kadang . dll). Odinofagi (nyeri saat menelan makanan) juga bisa muncul bila sudah terjadi ulserasi esophagus berat.

Prokinetik  Metoclopramide : 3 x 10 mg → harus dengan kombinasi bersama Antagonis reseptor H2 atau PPI.Meninggikan kepala saat tidur .  Domperidone : 3 x 10 . soft drink. Esofagografi dengan barium → pada pasien dengan hiatus hernia atau stenosis esophagus.20 mg / hari → menurunkan gejala karena meningkatkan tonus sfingter dan mempercepat pengosongan lambung sehingga esophagus tidak lama terpapar asam .Hindari makan sebelum tidur 120  . peppermint .Antasid : 4 x sehari . . Review system Pemeriksaan Fisik :      Kondisi umum : tampak memegangi ulu hati Vital sign :dbn Kepala leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Pemeriksaan Penunjang :   Standar baku : endoskopi saluran cerna bagian atas → akan ditemukan mucosal break pada esophagus. Tata Laksana :  Medikamentosa : Pilihan terapi medikamentosa yang dapat digunakan antara lain : . konsumsi alkohol . peningkatan progesterone karena kehamilan). namun tidak untuk penyembuhan lesi.PPI : pada kasus yang berat  Lansoprazole : 2 x 30 mg  Pantoprazole : 2 x 40 mg  Rabeprazole : 2 x 10 mg  Esomeprazole : 2 x 40 mg Modifikasi gaya hidup : .  Cisapride : 3 x 10 .20 mg / hari → selain menurunkan gejala juga bisa sekaligus menyembuhkan lesi di esophagus.Sukralfat : Alumunium Hidroksida + Sukrosa Oktasulfat .Antagonis reseptor H2  Simetidin : 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg  Ranitidin : 4 x 150 mg  Famotidin : 2 x 20 mg  Nizatidin : 2 x 150 mg . coklat .

etc) 121 . beta adrenergik. kopi dan minuman bersoda karena dapat menstimulasi asam Hindari obat . peppermint.- Berhenti merokok dan alkohol karena dapat menurunkan tonus sfingter esophagus Kurangi konsumsi lemak dan jumlah makanan yang dikonsumsi karena bisa menyebabkan distensi lambung Turunkan berat badan untuk menurunkan tekanan intra abdomen Hindari makan coklat.obatan yang menurunkan tonus sfingter esophagus (kolinergik.

menierre. kehamilan usia muda.PUSING/DIZZINESS Sensasi tidak seimbang oleh adanya gangguan satu atau lebih organ yang menjaga keseimbangan. tumor Labyrinth : labyrinthitis. antikonvulsan Penyakit lain : anemia. betul-betul nampak berputar atau anda merasa seperti sedang bergerak? Pertimbangkan vertigo 122 . Pusing Vertigo Unsteadiness PseudoVertigo Lightheadedness Giddiness Oleh karena itu perlu dilakukan kategorisasi symptom menjadi salah satu kategori diatas :  Vertigo : sensasi berputar baik secara subjektif (pasien) atau objektif (sekitar). Apakah anda merasa akan pingsan? Gejala demikian mungkin merupakan prasinkop 2. transquilliser. Apakah objek dalam pandangan anda. presinkop sensation Giddiness : sensasi tidak spesifik Atau mengklasifikasikannya menjadi dengan atau tanpa vertigo : Dengan vertigo :  Perifer o o  Sentral o o Tanpa vertigo :   Infeksi viral akut seperti pada gaster atau usus Hipotensi postural : biasanya terjadi pada wanita usia muda. insufisiensi vertebrobasilar Cerebellum : degenerasi. muntah. seperti perabotan atau lukisan dinding. pucat dan berkeringat    Unsteadiness : sensasi tidak seimbang atau perasaan akan jatuh Lightheadedness : faint (blur). fistula N VIII : akustik neuroma. neuronitis vestibular Tanyakan adanya perasaan berikut : 1. biasanya disertai mual. diabetic autonomic neuropathy. kardiak (stenosis aorta dan pulmunal dll) Batang otak : infark. BPPV. penggunaan obat antihipertensif    Hipoglikemik : disertai gejala berkeringat dan lapar Penggunaan obat-obat : antihipertensif.

vertigo sentral atau perifer. Gejala ini kadang-kadang disebut sebagai pusing psikofisik. Terjadinya gejala pada posisi berdiri kemungkinan disebabkan oleh hipotensi postural. fistula perilimfatik TIA. Mual dan muntah menunjukkan penyakit pada sistem vestibular atau batang otak.jam BPPV. Diagnosis pasti jarang berhasil ditegakkan. Hari Neuronitis migraine Minggu Characteristic : Berputar psikogenik verstibular. akustika. 3. Apakah samar-samar kepala anda terasa ringan? Bisa menunjukkan berbagai masalah mulai dari hiperventilasi sampai nyeri kepala tipe tegang. Apakah yang mencetuskan gejala? Jika gerakan kepala menimbulkan gejala. kemungkinan disebabkan oleh penyakit vestibular. Anamnesis KU : kepala terasa pusing dengan sensasi berputar RPS : Onset : Lokasi : Durasi : Duration of episode Sangat singkat Suggested diagnosis Vestibular neuronitis (late).murni. yang bisa disebabkan oleh kelainan perifer pada telinga dalam atau nervus kranial VIII. 6. Apakah diikuti dengan sakit kepala  desak ruang oleh peningkatan TIK  neuroma akustika VERTIGO Klasifikasikan apakah disebabkan oleh obat. fistula perilimfatik post trauma. 4. neuroma 123 . Adakah gejala penyerta? Adanya tinitus dan ketulian merupakan tanda kelainan telinga dalam. meniere disease (late) Beberapa detik – menit Beberapa menit – jam Berjam. stroke. atau kelainan sentral pada batang otak. migraine. fistula perilimfatik Meniere. 5. Diplopia merupakan tanda penyakit pada batang otak.

tidak hilang saat mata terfokus pada objek. hilang dalam beberapa hari’ tidak berubah arah saat 124 Vertigo Central Murni vertical. migraine Immunosuppression (e. stress) Changes in ear pressure. Ménière’s disease. antihipertensi. migraine. immunosuppressive medications. barbiturate. head trauma. diuretic. excessive straining. perilymphatic fistula Spontaneous episodes (i. horizontal atau torsional. BPPV. Perilymphatic fistula Herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis .. hilang saat mata focus pada suatu objek.. kokain. quinine Provoking factor Perubahan posisi kepala Suggested diagnosis Acute labyrinthitis. cerebrovascular disease (stroke or TIA). aminoglikosidm antikonvulsan. hilang dalam hitungan minggu – bulan.g. salisilat.Aggravating : induksi obat seperti alcohol. cerebellopontine angle tumor. nitrogliseride. multiple sclerosis Recent upper respiratory viral illness Stress Psychiatric or psychological causes. antidepresan.e. advanced age. loud noises Relieving : Therapy : Keluhan Penyerta : Untuk membedakannya. multiple sclerosis. perhatikan tabel di bawah ini : Kenampakan Nystagmus Vertigo Perifer Kombinasi horizontal dan torsional. no consistent provoking factors) Acute vestibular neuronitis.

herpes zoster oticus Cerebellopontine angle tumor. perilymphatic 125 Parah Sering Jarang Lama ( 20 detik ) Bervariasi Jarang Sering Cepat ( 2 detik ) . salisilat. acute middle ear disease (e.napas atas (+/-) Gangguan pendengaran (+/-) Riwayat pengobatan dengan obat-obatan toksik seperti aminoglikodisa. tinnitus Symptom neurologis lain Latensi nystagmus setelah maneuver RPD : Riwayat Trauma (+/-). multiple sclerosis (especially findings not explained by single neurologic lesion) Acoustic neuroma. vomite Hearing loss.focus kea rah lain Imbalance Ringan – sedang. bahkan berdiri Nausea. otitis media. migraine Ménière’s disease. Diving (+/-) Riwayat infeksi sal.g. Facial weakness Focal neurologic findings herpes zoster oticus) Acoustic neuroma. Headache Hearing loss cerebrovascular disease. sulit hingga tidak mampu berjalan. furosemid RPK : vertigo (+/-) Riwayat Perjalanan : Lifestyle : (-) Review System : Symptom Aural fullness Ear or mastoid pain Suggested diagnosis Acoustic neuroma. masih mampu berjalan Parah.. Ménière’s disease Acoustic neuroma.

gidddiness Pemeriksaan fisik Kondisi umum : Pasien tampak agak lemas dan berkeringat. disequilibrium. kepala dan leher. acoustic neuroma. otosclerosis. yaitu pemeriksaan pada system saraf. presinkop. acoustic neuroma. Ménière’s disease DD : Vertigo. Imbalance cholesteatoma. photophobia Tinnitus involving anterior inferior cerebellar artery. caranya dengan :  Hennebert’ sign merupakan vertigo/nystagmus yang terjadi akibat penekanan pada tragus dan Meatus akustikus eksterna telinga yang mengalami defek. RR (N). herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis (usually moderate). curiga hiptensi postural Ada tiga focus penting dalam pemeriksaan fisik pasien vertigo.  Kepala dan leher (ENT) Membran timpani : rupture (+/-) . dengan atau tanpa pucat VS : Pulse (N). T (N). 126 . BP (N). cendrung curiga ke sentral. transient ischemic attack or stroke Nystagmus Phonophobia. cerebellopontine angle tumor (usually severe) Peripheral or central vertigo Migraine Acute labyrinthitis. vesikel (+/-) Fistula perilimfatika (+). serta system kardiovaskular.  System saraf Maneuver Dix Hallpike Test Maneuver Dix Hallpike yang positif diikuti anamnesis riwayat vertigo dan / atau nystagmus yang positif dapat digunakan untuk menegakkan hasil diagnosis yang positif untuk vertigo perifer et causa BPPV.fistula. Kalau negative. Bila BP rendah.

 Valsava mauver memberikan tanda adanya fistula melalui peningkatan tekanan pada tuba eustachii dan telinga dalam. kardiovaskuler Singkirkan dd. Pemeriksaan penunjang Lab : kadar elektrolit. CBC (complete blood count) dan pemeriksaan fungsi thyroid. Ada gangguan neurologis fokal. tentukan diagnosis Lakukan MRI bila : (1). (2). tuli saraf (kerusakan n. Untuk menyingkirkan kecurigaan infeksi bacterial atau neoplasma. gangguan fungsi otonom)  Penurunan tekanan darah sistolik hingga 20mmHg atau lebih atau kenaikan denyut lebih atau sama dengan 10x/menit. Tes Audiometri : membantu diagnosis vertigo akibat penyakit Meniere. Vertigo sentral Pertimbangkan tes laboratorium atau radiologis (bila diperlukan) Rujuk bila masih ragu atau menemukan hal yang memerlukan rujukan setelah diperiksa Terapi  Infeksi viral self-limited : obat simptomatik + cairan 127 . (3). apakah sentral atau perifer Pemeriksaan : Sistem saraf. psikosis dl) Pasien datang dengan pusing Curiga Vertigo Ya Memakai obat – obatan yang dapat menginduksi vertigo Ya Tidak Hentikan pengobatan Tidak Periksa untuk leghtheadedness. Rujukan Diagnosis penyebab masih belum jelas/meragukan. factor resiko penyakit kardiovaskular. Ditemukan kondisi lain yang membutuhkan perujukan setelah pemeriksaan dilakukan (vertigo sentral. glukosa. Kepala dan Leher.VIII)  System kardiovaskular Hipotensi orthostatic (dehidrasi. Ada factor resiko penyakit kardiovaskular. Garpu tala : Tuli konduktif (kerusakan telinga tengah). Radiologis : Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk beberapa keadaan seperti:     Adanya symptom neurological. disequilibrium atau pre-syncope Anamnesis : Tentukan penyebab vertigo. progressive unilateral hearing loss dan berbagai symptom vertigo sentral lainnya.

instabilitas dan SNHL.d. sensasi penhu akibat hidrops endolimph. tinnitus. stress tinggi Review system : Px : pemeriksaan fisik : dbn Manuver Dix Hallpike Tx : Manuver Epley. terdapat periode freedom 128 . VI S 2.d Tab I    Neuronitis vestibular : simptomatik Hipotensif ortostatic/hipoglikemic state : penghitungan ulang dosis obat Meniere : diet rendah garam dan diuretic ringan R/ Tab Betahistin 8 mg no. Simptomatik (vestibular sedative): R/ Tab prochlorperazine mg 5 no. antikonvulsan BPPV : edukasi : menggerakkan kepala secara lebih perlahan atau dengan menggunakan collar neck untuk mencegah pergerakan spine yang berlebihan dan mendadak Tambahan : BPPV Ax : O : mendadak berkaitan dengan perubahan posisi kepala.X S 3. MENIERRE DISEASE Ax : RPS : O : Mendadak dalam hitungan menit D : berjam-jam C : pusing disertai mual.d Tab I   Psikiatrik : sedative.d. pucat. terutama malam hari D : Transien bberapa detik C : Rekuren terkait perbahan posisi kepala terus selama berminggu – bulan lalau sembuh spontan A : perubahan posisi R : Sembuh secara spontan RPD : serangan yang sama (+) RPK : Lifestyle : bantal relaif tinggi.

x  Tanda peningkatan TIK 129 . vi.v. tinnitus.A:R : spontaneous T:RPD : Gangguan pendengaran RPK : Lifestyle : Review system : rasa penuh di telinga. pada fase lanjut dapat diikuti kerusakan pada n. diuretic NEUROMA AKUSTIKA Ax : RPS : O : perlahan-lahan D : berjam-jam C : diawali dengan gangguan pendengaran SNHL dan gangguan keseimbangan A : pagi hari saat terjadi peningkatan TIK R: T: RPD : RPK : Lifestyle : Review System :  Gangguan pendengaran. ix. tinnitus. antihistamin(cinnarizine) Prophilaksis : diet rendah garam (1g/d). SNHL Tx : serangan akut  bed rest.

komplikasi berupa glomerulonephritis akut dan demam rematik akut jarang terjadi sebagai komplikasi akibat agen ini. acute glomerulonephritis dan toxic shock syndrome. terutama group A β-hemolyticus streptococci (GABHS). o M pneumoniae yang sering menyerang kalangan dewasa muda dan gejalanya berupa nyeri kepala. dan biasanya terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi (pada negara dengan empat musim). Berikut adalah ulasan singkat mengenai pharyngitis: Definisi: Infeksi atau iritasi pada pharynx atau tonsil Epidemiologi: Pharyngitis bacterial akibat Strepyococcus pyogenes biasanya menyerang anak yang berumur 4-7 tahun. o Arcanobacterium (Corynebacterium) haemolyticus yang sering terjadi pada orang dewasa muda dan sangat mirip dengan infeksi GABHS. G. Komplikasi tersebut tidak jarang menyebabkan mortalitas bagi penderitanya. secara klinis mirip dengan M pneumoniae. dan gejala pada saluran respirasi bawah o C pneumoniae. namun pharyngitis yang disebabkan oleh bakteri. Pharyngitis biasanya mendahului 130 . sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter karena komplikasinya yang berat. Komplikasi yang dapat timbul diantaranya adalah acute rheumatic fever. yang dibahas pada diagnosis banding ini Group C. Walaupun sebagian besar pharyngitis disebabkan oleh virus. Etiologi: Kausa penyakit pharyngitis dapat dibagi menjadi:  Bacterial pharyngitis o o Group A beta-hemolytic streptococci. rheumatic heart disease. misalnya Streptococcus pyogenes. termasuk scarlatiniform rash. and F streptococci yang secara klinis sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Namun. pharyngitis.SORE THROAT Pharyngitis termasuk salah satu dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi salah satu top ten leading disease/morbiditas pada sebagian besar puskesmas di Indonesia. Pasien biasanya mengeluhkan batuk.

infeksi paru-patu 1-3 minggu sebelumnya.
o

Neisseria gonorrhoeae adalah agen kausa yang jarang pada pharyngitis bakterial. Anamnesis yang baik dan teliti sangat perlu dilakukan karena infeksi ini terjadi biasanya karena kontak orogenital. Pharyngitis ini juga biasanya terkait dengan infeksi sistemik yang parah.

o

Corynebacterium diphtheriae yang memiliki tanda khas foul-smelling gray-white pharyngeal membrane sehingga menimbulkan obstruksi jalan napas.

Viral pharyngitis
o

Adenovirus: Patognomonis infeksi adenovirus adalah munculnya konjungtivitis yang terkait pharyngitis (pharyngoconjunctival fever). Adenovirus adalah etiologi utama pharyngitis pada anak berumur kurang dari tiga tahun.

o

Herpes simplex: tandanya adalah terbentuknya lesi vesikular (herpangina), biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.

o

Coxsackieviruses A and B: Infeksi ini mirip dengan infeksi herpes simplex. Jika vesikelnya bewarna keputihan dan berbentuk noduler, dikenal dengan lymphonodular pharyngitis. Coxsackievirus A16 dapat menyebabkan hand-foot-and-mouth disease, yakni munculnya ulkus oropharynx berukuran 4-8 mm dan vesikel di tangan dan kaki, dan biasanya juga muncul di bokong. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dalam aktu satu minggu.

o

Epstein-Barr virus (EBV): secara klinis dikenal sebagai infectious mononucleosis, yang sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Exudative pharyngitis lebih prominent. Karakteristik pembedanya adalah adenopathy retrocervical atau generalisata, serta hepatosplenomegaly.

o

CMV: Tanda klinis CMV mirip dengan of infectious mononucleosis. Namun pasien cenderung pada kelompok umur yang lebih tua, aktif secara seksual, serta derajat demam dan malaise lebih parah.

o

HIV-1: hal ini terkait dengan edema pharyngeal edema dan erythema, biasanya ulkus aphthous,dan jarang terdapat eksudat. Demam, myalgia, dan lymphadenopathy juga biasanya ditemukan.

Kausa lain pharyngitis, misalnya udara kering, allergy/postnasal drip, chemical injury, gastroesophageal reflux disease (GERD), merokok, neoplasia, dan akibat pemasangan intubasi endotracheal.

Patofisiologi dan patogenesis: Bakteri atau virus pathogen menginvasi mukosa pharynx, menyebabkan respon inflamasi local. Virusvirus yang lain, misalnya rhinovirus dan coronavirus, dapat mengakibatkan iritasi poada mukosa pharynx secara sekunder akibat sekresi nasal. Infeksi Streptococcal disertai dengan karakteristik

131

berupa invasi local dan pelepasan toksin ekstraselular dan protease. Fragmen protein M pada serotype tertentu GABHS diketahui sama dengan antigen myocardial sarcolemma, sehingga terkait dengan demam rematik akut dan kerusakan pada katup jantung (penyakit jantung rematik). Deposisi kompoleks antibody-antigen pada glomerulus ginjal pada akhirnya juga dapat menyebabkan glomerulonephritis akut.

Apa hal yang perlu diperhatikan dari ANAMNESIS pada diagnosis banding ini? Identitas pasien: Tanyakan nama, umur, alamat, dan pekerjaan pasien. Selain untuk membina hubungan yang baik dengan pasien, umur juga dapat digunakan sebagai skrining awal penentuan diagnosis banding. Contohnya: pharyngitis karena GABHS biasanya terjadi pada anak berumur 4-7 tahun. Sedangkan pharyngitis viral karena adenovirus biasanya menyerang anak-anak yang berumur kurang dari tiga tahun. Pharyngitis yang disebabkan oleh CMV biasanya menyerang orang-orang yang berumur dewasa.

Keluhan Utama: Nyeri menelan (nyeri tenggorok) dan demam tinggi

Riwayat Penyakit Sekarang:  Onset dan durasi: Hal ini penting untuk ditanyakan pada pasien. Sebab pada negara dengan empat musim, biasanya pharyngitis karena GABHS terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi. Onset yang tibatiba biasanya mendakan pharyngitis disebabkan oleh GABHS. Selain itu, durasi juga penting untuk membedakan penyakit akut atau kronis.  Karakteristik/pola: Tanyakan mengenai karakteristik dan pola demam. Pharyngitis karena bakteri biasanya memiliki ciri-ciri demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius). Pola demam ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis demam yang lain, misalnya step ladder pattern pada thypoid, demam yang bersifat paroksismal (kambuh-kambuhan) pada malaria, atau demam pola pelana pada Dengue Hemorrhagic Fever.  Faktor yang meringankan dan memperberat keluhan  Medikasi yang sudah diberikan/dikonsumsi.

132

Riwayat Penyakit Dahulu: Tanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau tidak. Tanyakan pula mengenai riwayat alergi obat, karena treatment farmakologis pada pharyngitis karena bakteri adalah dengan pemberian antibiotik, sehingga penting untuk diketahui riwayat alergi terhadap antibiotic tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga, Lingkungan dan Travelling: Hal ini penting untuk ditanyakan karena sifat dari pharyngitis yang merupakan salah satu communicable disease. Sehingga patut dicurigai adanya penularan dari keluarga, lingkungan sekitar atau riwayat berpergian ke daerah endemis. Apabila pasien tersebut pernah berkontak dengan orang yang didiagnosis dengan infeksi GABHS atau penderita penyakit jantung rematik, maka perlu dicurigai pasien tersebut terserang pharyngitis yang disebabkan oleh etiologi GABHS.

Profil Pasien: Tanyakan mengenai pola makan, dan pola olahraga pasien, karena hal tersebut berkaitan dengan status imun dari pasien

Review System: Penting untuk dieksplor mengenai review system untuk menegakkan diagnosis banding dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:.

Tanyakan apakah keluhan disertai batuk dan rhinorrhea (hidung meler). Pharyngitis karena GABHS tidak disertai dengan batuk dan rhinorrhea. Pharyngitis yang disertai dengan gejala demikian adalah faringitis yang disebabkan oleh etiologi virus.

Tanyakan apakah keluhan disertai dengan nyeri kepala, sebab nyeri kepala berkaitan dengan infeksi GABHS

Tanyakan juga apakah pasien mengalami mual dan muntah, sebab hal itu mendukung kearah diagnosis infeksi GABHS, walaupun pada faringitis tipe yang lain juga mungkin dijumpai gejala mual dan muntah.

Tanyakan apakan ada benjolan-benjolan di sekitar leher bagian depan atau belakang. Lymphadenopathy cervicalis anterior adalah patognomonis sign untuk untuk pharyngitis oleh GABHS. Sedangkan, adenopathy retrocervical merupakan tanda khas untuk pharyngitis oleh karena Epstein-Barr virus (EBV).

Tanyakan apakah ada masalah di genital, sebab hal tersebut berguna untuk mengetahui kemungkinan gonococcal pharyngitis.

133

 Adanya kesulitan bernapas dan stridor dapat mengindikasikan kemungkinan epiglottitis akut. Demam febril (suhu > 38 derajat Celcius) biasanya mengindikasikan infeksi GABHS. Tanyakan mengenai bercak-bercak dimukosa mulut (oral trush) dan myalgia. nose. berdasarkan penelitian terbaru.  Head. and throat (HEENT): o o o o Conjunctivitis biasanya berkaitan dengan infeksi adenovirus. demam. mungkin harus dicurigai sebagai pharyngitis karena GABHS. adanya gejala konstitusinal (malaise) dan respirasi (batuk). yang terdiri atas:     Fever Anterior cervical lymphadenopathy Tonsillar exudate Absence of cough Infeksi GABHS dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki skor 0-1.  Tanyakan juga mengenai kemungkinan influenza. Scleral icterus dapat ditemukan pada infectious mononucleosis. biasanya tidak terdapat demam atau ada demam namun subfebril. denyut nadi. Kriteria tersebut terdiri atas empat poin. therefore. Hydration status: Oral intake usually is compromised because of odynophagia. Meski demikian. ears. Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN FISIK pada diagnosis banding ini?  Patensi jalan napas harus selalu terlebih dahulu dinilai. laju respirasi dan suhu/temperature. Tonsillopharyngeal/palatal petechiae dapat ditemukan pada infeksi GABHS dan infectious 134 . Pada pharyngitis viral. Terdapat kriteria centor. sebab hal tersebut menandakan status immunocompromised pasien (misalnya karena penyakit HIV/AIDS). sedangkan pada pasien yang memiliki skor 4. eyes. kira-kira hanya separuh dari pasien yang memiliki gejala-gejala tersebut yang benar-benar terinfeksi oleh GABHS. Rhinorrhea biasanya berkaitan dengan etiologi viral. untuk menilai keadaan emergensi. various degrees of dehydration result. yang biasa digunakan untuk mendiagnosis pharingitis akut bakterial karena GABHS. ada tidaknya demam hendaknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk membedakan etiologi virus atau bakteri. Walaupun demikian.  Vital sign: Tekanan darah. tidak ada tanda spesifik respirasi yang terlokalisasi. yakni onset yang tiba-tiba.

terutama bila gejala tersebut disertai dengan batuk nonproduktif. dan infeksi herpesvirus .  Abdomen: Hepatosplenomegaly dapat ditemukan pada infeksi mononucleosis .  Lymphadenopathy: Nodus cervicalis anterior yang nyeri biasanya menandakan infeksi streptococcus. Dengan demikian.  Cardiovascular: Murmur jantung harus diperiksa untuk memonitor apakah ada penyakit jantung rematik sebagai komplikasi pharyngitis karena GABHS.mononucleosis. pneumoniae or C pneumoniae. A haemolyticus.  Kulit o o Sandpapery scarlatiniform rash dapat ditemukan pada infeksi GABHS. adenovirus. C pneumoniae. eksudat tidak dapat dijadikan dasar pembeda kausa viral atau bakterial o Oropharyngeal vesicular lesions biasanya ditemukan pada coxsackievirus dan herpesvirus. Maculopapular rashes biasanya ditemukan pada infeksi viral atau infectious mononucleosis Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN PENUNJANG pada diagnosis banding ini? Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis pharyngitis akut etiologi GABHS adalah:  GABHS rapid antigen detection test 135 . Sedangkan adenopathy generalisata biasanya berkaitan dengan infectious mononucleosis atau sindrom lymphoglandular akut pada infeksi HIV. Vesikel konkomitan ditangan dan kaki biasanya berkaitan dengan infeksi coxsackievirus (handfoot-and-mouth disease). infeksi mononucleosis terutama pada M pneumoniae.  Pulmonary: Pharyngitis disertai infeksi saluran pernapasan bawah lebih konsisten ditemukan pada agen infeksi M. o Eksudat tonsillopharyngeal dapat ditemukan pada infeksi streptococcal.

Walaupun lebih murah dibandingkan dengan rapid antigen detection test. o Prosedur untuk melakukan usap tenggorok adalah dengan mengambil sampel eksudat dari pharynx bagian posterior dan kedua tonsil dengan menggunakan lidi kapas. o Hanya pasien dengan yang secara klinis mendukung kecurigaan infeksi GABHS yang dilakukan tes ini. o Orang dewasa yang memiliki hasil test antigen yang negative tidak memerlukan follow-up berupa kultur. Jangan menaruh sampel eksudat pada medium liquid. 136 .  Throat culture (kultur apusan tenggorokan) o Pemerikasaan ini merupakan gold standard untuk diagnosis infeksi GABHS (90-99% sensitive).Rapid antigen detection test for group A beta-hemolytic streptococci. bila tes dilakukan secara tepat. kultur ini sebaiknya tidak digunakan pada unit gawat darurat. intubasi jika diperlukan. o Penggunaan “GABHS rapid antigen detection test” dapat menurunkan penggunaan antibiotic yang tidak perlu pada pasien anak-anak. namun sensitivitasnya bervariasi. karena insidensi infeksi GABHS jarang terjadi pada usia dewasa. Anak-anak dengan hasil tes antigen negative sebaiknya dilakukan follow –up berupa kultur. Bagaimana prinsip TATALAKSANA pasien dengan diagnosis banding ini?  Nilai dan amankan jalan napas. Sehingga administrasi antibiotik dengan segera tidak krusial jika pasien dapat dengan mudah dihubungi untuk follow-up hasil kultur. o Metode ini adalah metode yang dipilih untuk mendiagnosis infeksi GABHS pada fasilitas dimana sulit untuk dilakukan follow-up hasil kultur. karena sulitnya untuk melakukan follow-up hasil kultur. o Pasien dapat ditunda pengobatannya sampai 9 hari setelah onset demam untuk mencegah demam rematik akut. Pasien yang memiliki skor Centor 0-1 sebaiknya langsung diberi medikasi simptomatik tanpa dilakukan testing terlebih dahulu o Antigen pada test ini adalah specific.

Tujuan terapi dari pengobatan pharyngitis GABHS adalah untuk meredakan demam dan nyeri tenggorokan (simptomatik) dan untuk terapi antimikroba. o Orang-orang yang berinteraksi dengan pasien positif GABHS harus diberi treatment antibiotik tanpa dilakukan tes terlebih dahulu jika mereka memiliki gejala yang terkait dengan infeksi GABHS. sebaiknya pemberian antibiotik menunggu hasil rapid antigen test atau kultur. dan biasanya gejalanya hilang dalam 3-4 hari. karena pharyngitis yang parah akan membatasi intake oral. mengingat semakin meningkatnya resistensi antibiotic o Lakukan rapid antigen detection test jika dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis suspek infeksi GABHS.  Investigasi infeksi GABHS jika secara klinis disuspek. Terapi antibiotik Berikut adalah pedoman pemilihan personal-drug (p-drug) antibiotik untuk eradikasi GABHS: 137 . Gunakan algoritma dibawah ini: o Secara umum. terapi anti mikroba dengan antibiotic lebih ditujukan untuk mencegah sekuel penyakit kearah demam rematik akut (acute rheumatic fever). o Pasien yang memenuhi keempat kriteria Centor langsung memulai terapi antibiotic tanpa dilakukan tes antigen atau kultur sebelumnya. atau abses oropharyngeal. Evaluasi tanda-tanda toksisitas.  Medikasi atau treatment farmakologis: Pada dasarnya pharyngitis GABHS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. Pemberian antibiotik ini efektif jika diberikan dalam waktu 9 hari setelah onset. jangan berikan antibiotik pada pasien sebelum hasil kultur atau rapid antigen detection test menunjukkan hasil yang positif. o Jika secara klinis meragukan.  Evaluasi status hidrasi. epiglottitis. Tes ini biasanya ttidak dilakukan pada pasien yang memilik skor Centor 0-1.

r.n maks 4gr/hari Anak 10mg/kgBB tiap 4-6 jam p. anak: 250 mg bid/tid selama 10 hari Namun. makan yang cukup dan bergizi. Terapi symptomatis analgetik/antipiretik Berikut adalah pedoman pemilihan personal drug untuk analgetik/antipiretik: Kesimpulan Personal-drug untuk terapi antinyeri dan penurun panas Acetaminophen/Paracetamol PO Dewasa 500-100mg tiap 4-6 jam p. karena ketersedian penicillin V di Indonesia terbatas. maka biasanya digunakan amoxicillin dengan dosis: dewasa: 500 mg PO bid selama 10 hari.r.Kesimpulan: Grup Beta-lactam Macrolide Oral cephalosporin Efficacy +++ ++ ++ Safety ± + ± availability ± ± ± Cost +++ ± ± Maka dari itu dipilihlah golongan beta-lactam. 138 . pediatric:50 mg/kg/d PO divided bid selama 10 hari.n maks 60mg/kgBB/hari  Treatment non farmakologis / advice untuk pasien: istirahat. Selanjutnya dipilih obat dari golongan beta-lactam: Kesimpulan: Nama Obat Penicillin V Penicillin G Ampicillin Amoxicillin Efficacy ++ +++ + + Safety ± ± ± availability ± ± ± ± Cost +++ +++ +++ +++ Kesimpulan Personal-drug untuk antibiotik Penicillin V 250mg qid atau 500mg bid selama 10 hari.

o rheumatic heart diseases  merupakan manifestasi kronik dari ARF pada katup jantung. edema. mastoiditis. Terapi profilaksis dengan benzathine penicilline pada ARF dapat mencegah timbulnya rheumatic heart diseases. cervical lymphadenitis. Administrasi antibiotik yang tepat setelah munculnya manifestasi pharyngitis dapat mencegah timbulnya komplikasi ini. erythema marginatum. subcutaneous nodule. peritonsillar abscess. o poststreptococcal glomerulonephritis  biasanya terjadi 1-3 minggu setelah episode pharyngitis. Manifestasi mayor dari ARF:carditis. Manifestasinya antara lain hematuria. antara lain o komplikasi lokal: retropharyngeal abscess. dan hipertensi. chorea. otitis media. polyarthritis. periksa adanya kemungkinan komplikasi dari infeksi SGABH.  Monitoring dan evaluasi: Jika dirasa perlu melakukan monitoring. o acute rheumatoid fever  dapat terjadi 2-4 minggu setelah episode pharyngitis. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang tepat pada saat episode pharyngitis. sinusitis.memakai masker selama gejala berlangsung. 139 . minum obat sesuai dosis.

140 . infeksi HSV. abses intrarenal dan perinephric c. RPD Adanya riwayat pemasangan kateter urin. dengue fever. Anamnesis RPS a. kejang dan penurunan kesadaran sebagai tanda penyerta. sering kencing. serta nyeri perut bagian bawah. leptospirosis. dll. muntah. Di ISK juga tidak ditemui jaundice kayak di malaria atau hepatitis. Aggrevating : kayaknya panas terus deh ya f.. Sedangkan pada meningitis dijumpai adanya kaku kuduk. Terus demamnya itu biasanya polanya terus-terusan gitu. sedangkan pada penyakit lain seperti thypoid fever. rubella. Relieving : diminumin antipyretik turun kok demamnya. Keluhan lain : ISK bagian bawah : disertai rasa nyeri atau terbakar pada saat kencing. susah menahan kencing. Kondisi urin yang berbau juga manjadi tanda pada ISK. e.varicella. Kalau pada dengue fever yang menjadi dengue hemorrhagic fever. Karakteristik : pada ISK tidak dijumpai adanya rash. cystitis (vesica urinaria) ISK atas → acute pyelonephritis. d. ga berpola kayak di thypoid yang tinggi pada malam hari. gusi berdarah.BACKACHE: INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) 1. susah kencing.. ISK bagian atas : disertai mual. dan rasa sakit pada costovertebra. Onset : akut b. ISK bawah → urethritis (urethra). dibagi secara anatomis jadinya gini. tanpa jaundice 2. Kalau lokasi infeksinya. prostatits. g. Bisa hanya beberapa jam sampai berhari-hari. KU : demam mendadak. Durasi : bervariasi tergantung dari letak infeksinya di saluran kemih sebelah mana. dll. terdapat adanya pendarahan seperti epistaksis. Lokasi : demamnya seluruh tubuh.

Tanyakan kebersihan diri. Kalo pasiennya rekuren terus ISKnya coba tanyain ada ortunya yang kayak gitu juga ga. Ada riwayat penyakit ginjal ga? Lingkungan Keadaan sanitasi. imunosupresi. suka cuci tangan ga? Cari kecurigaan DM (salah satu risk factor ISK) 3. menopause.- Riwayat DM. kehamilan. Pemeriksaan fisik a. obstruksi saluran kemih. malformasi saluran kemih merupakan beberapa risk factors ISK. Ternyata ada faktor genetik juga loh. - Adanya infeksi pendahulu seperti pharyngitis. Sehingga kita harus wasapada juga jangan kecolongan DHFnya! Adanya orang lain di keluarga atau daerah sekitar yang mengalami hal serupa? → adanya kemungkinan dengue fever Habis travelling ke lingkungan endemik malaria ga? Life style Cara membilas regio perineal setelah buang air → kebiasaan membilas dari belakang (anus) ke depan (introitus vagina) meningkatkan risiko ISK. kondisi rumah tinggal seperti selokan. dll → waspadai kemungkinan meningitis. terus yang banyak asam urat kayak gitu2. Tanyakan sering makan di luar ga? Gimana kebersihannya? → untuk exclude thypoid dan hepatitis A. Makanan-makanan yang sering bikin batu pada saluran kemih: sering kurang minum. batu pada saluran kemih. OMA. Keadaan umum : lemes soalya kan kadang pakai mual muntah. tempat menyimpan air. 141 . RPK Adanya riwayat sexual intercourse terutama bila pasangannya menderita uretritis gonokokal atau chlamydial. dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat hidup nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue fever. terus pasien tampak kesakitan (kan nyeri tuh perut bawahnya).

luka. Pyelonephritis akut : generalized muscle tenderness ketika angulus costovertebra dipalpasi dalam. Thorax f. mari kita periksa abdomen Inspeksi: lihat ada pembesaran organ ga. biasanya didapatkan bakteri dalam jumlah besar (>105/ml) pada urin aliran tengah. Brudzinski’s sign perlu dilakukan bila ada kecurigaan meningitis. dll Auskultasi: Perkusi: lihat ada pembesaran hepar ga (hepatitis kan suka ada tu) Palpasi: abdominal tenderness. 4. Leher : pembesaran limfonodi. karena daerah suprapubic biasanya juga ada tenderness. Bila didapatkan bakteri dalam urin <10 5 dan pyuria (misalnya WBC >20/mm3) maka hasilnya tetap signifikan terdapat infeksi. d. Pemeriksaan Penunjang a. Adanya bakteri pada 142 . Vital sign : Tekanan darah. harus dilakukan pemeriksaan bakteri menggunakan 2 spesimen urin aliran tengah. Pada pasien ISK asimptomatis. Uretritis : biasanya sulit dibedakan dengan cystitis. Pada pasien ISK simptomatis. dan didapatkan >105/ml dari masing-masing spesimen. c. Pemeriksaan GCS dan tanda-tanda meningeal seperti Kernig’s sign. Abdomen : Nah kalau DD udah menyempit ke arah-arah ISK gitu.. Suhu tubuh tinggi. Untuk yang iSK atas suka nyeri di angulus costovertebra Ektremitas dan neuro Pemeriksaan Rumple Leed dilakukan bila ada kecurigaan dengue fever. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Cystitis : tenderness pada daerah suprapubic.b. Bakteri Urin Pemeriksaan jumlah dan tipe bakteri dalam urin merupakan prosedur diagnosis yang penting. Kepala dan leher Mata : pastikan ga ada sklera ikterik Mulut : pastikan bukan thypoid yang ada lidah kotor itu. e.

calculi. 5. Faktor predisposisi infeksi seperti obstruksi dan calculi harus diidentifikasi dan dikoreksi. kultur darah bila keadaan sitemik buruk.o (selama 3 hari untuk wanita dan 7 hari untuk pria). b. Prostatitis: ciprofloxacin 500mg/12 jam p. Darah → darah rutin. Urinalisis → terutama nitrit atau leukosit leukosit. atau hematuria yang tidak sakit.penggunaan instrumen. c. Evaluasi urologik Penggunaan cystoscopy dan IV pyelography hanya digunakan dalam kasus-kasus tertentu seperti wanita dengan infeksi berulang. Infeksi berulang juga harus dikkasifikasikan. sering urinasi (jangan menahan urin). Memperbanyak intake cairan. f. Rekurensi >2 minggu setelah terapi dihentikan biasanya menunjukkan adanya reinfeksi oleh strain baru atau strain sebelumnya. e. 143 . urea dan elektrolit. Pengecualian untuk evaluasi urologik ini adalah pria muda dengan cystitis yang disebabkan aktivitas seksual.o atau Trimethoprim 100mg/12 jam p. b. h. dan pyelonephritis berulang. Pyelonephritis akut : cefuroxime 1.v lalu secara oral selama 7 hari. apakah strain bakterinya sama atau berbeda dengan sebelumnya.o selama 4 minggu. d. Kultur urin dan tes sensitivitas antimkrobial harus dilakukan kecuali pada wanita dengan cystitis akut akomplikata. atau yang mengidap AIDS. e.5gr/8 jam i. riwayat infeksi saat anak0anak. d. Pada pasien dengan infeksi berulang. Terapi dan edukasi a. yang paling umum digunakan adalah USG. Farmakoterapi Cystitis: Trimethoprim-Sulfamethoxazole 160/800mg/12 jam p. c. Pemeriksaan bakteri secara mikroskopis dapat dilakukan menggunakan pengecatan Gram. adanya strain yang resisten terhadap antibiotik harus dicurigai. g. Sembuhnya gejala klinis tidak selalu mengindikasikan hilangnya koloni bakteri. riwayat hospitalisasi dalam waktu dekat. yang tidak disirkumsisi.aspirasi suprapubic atau didapatkan >102 bakteri/ml urin dari kateter mengindikasikan adanya bakteri. Setiap course treatmen harus diklasifikasikan apakah gagal atau sembuh. Alternatif: cefalexin 1gr/12 jam. Wanita atau pria dengan infeksi akut disertai tanda dan gejala adanya obstruksi atau calculi harus segera diberikan evaluasi urologik.

Lokasi : di punggung bagian bawah tentu saja. KU : low back pain 7. Jadi menurut European Guideline untuk MXx LBP ada pembagian onset LBP: Akut Sub akut Kronis Rekuren <6 minggu 6-12 minggu >12 minggu new episode setelah “symptomp-free periode” dalam waktu 6 bulan.ischiadicus) j. terus pas nyabut telonya kan pake mengejan tu. belakang paha. susah pakai celana sendiri). 144 . i.o atau doxycycline 100mg dua kali sehari p. sampai ke betis dan ankle → sebabnya: iritasi n. Durasi : bisa macem2. kalo udah degenerasi discus intervertebralisnya. bisa kejadian deh HNP). Nah kelemahan tersebut tergantung dari letak lesinya di setinggi vertebra berapa. Tanyakan juga ya habis ngapain pasiennya ko bisa LBP gini (misal petani panen telo. HNP 6.tapi biasanya berminggu2 yaa k. Anamnesis RPS h..- Urethritis akut: pada infeksi chlamydial diberikan azithromycin 1gr single dose p. Sering juga disertai sciatica (nyerinya menjalar ke pantat. Onset : akut progresif. tapiii bukan eksaserbasi yang kronis. Karakteristik : nyerinya kan progresif kalau ga diobati. Pasien juga biasanya mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak bawah (misal jadi susah jalan.o selama 7 hari.

m. bersin. Relieving : minum analgesik seperti NSAID.. cauda equina syndrome. makanya kalau ada RED FLAGS di bawah ini.paru →waspada keganasan dan metastasis! Cerita sejenak. Aggrevating : tambah sakit kalau ada peningkatan tekanan intraabdomen → batuk. dll) gitchu. mengejan (makannya si pasien suka “takut” kalau BAB). n. Sebenernya nih LBP itu kebanyakan NON SPESIFIK (95%) alias BUKAN disebabin karena kondisi patologis (seperti infeksi. stenosis spinalis. Berikut ini adalah red flags tersebut: Umur <20 tahun atau >50 tahun Onset akut pada org tua Nyeri konstan atau progresif Nyeri malem2 Tambah nyeri saat supine Kaku pagi hari 145 . osteoporosis. Keluhan lain : Bisa jadi ada gangguan pada BAK dan BAB nya. tumor.. Tanya apakah ada penurunan BB? Riwayat keganasan di tempat lain esp.20 l.. ankylosing spondylitis. ketawa. Syarat dari LBP non spesifik ini adalah tidak ada red flags di bawah ini! Nah.. harus dicurigai adanya kondisi patologis pada low back. inflamasi. Dengan kata lain kita harus periksa dengan teliti sebab si LBP ini apa.

- Demam. keringat malam. Tumor 5. psikosomatis RPD riwayat keganasan di tempat tersebut? Riwayat keganasan di tempat lain (paru. Metabolik: osteoporosis 6. strain-sprain otot or ligamen. sama kisah tentara itu). 4. osteoarthritis. soalnya paparan tekanan di backpain bisa bikin LBP (kayak kisah si petani mbedhol telo itu. Life style Pola makan? Apakah kalsium cukup? (curiga osteoporosis) 146 . abdomen)? Dulu pernah kayak gini ga? Riwayat trauma di situ? Diobati apa? Pemakaian obat2an imunosupresi. Inflamasi: RA. Trauma : fraktur yang bikin kompresi di lumbal. 2. ankylosing spondylitis. HNP. Degeneratif: spondilosis. HIV? RPK Ada yang kayak gini ga? Lingkungan Pekerjaan apa?? Penting ditanyakan. 3. BB turun Riwayat malignansi Nyeri dada belakang Bilateral or alternating symptomp Gangguan neurologis Gangguan BAB BAK Claudicatio kaki (spinal stenosis) Sedang infeksi atau riwayat infeksi Imunosupresi Massa di abdomen Terus sebab-sebab LBP tu ada macem-macem ya: 1.

Tes Lasegue: pasien bobokan. Cara: maleolus externa pasien ditempelin ke lutut. bekas trauma. terus pasien disuruh ngejan → ntar timbul sciatica (berarti kemungkinan besar ada stenosis spinalis yang njepit sarafnya tuh). sering metas ke vertebra. Palpasi: ada yg menonjol ga di vertebra? Nyeri ga? Apakah ada tanda-tanda inflamasi? Pemeriksaan neuromotor: power Neurosensori : suhu. Cara: lipat tungkai ke arah dalam (endorotasi) pada sendi panggul sambil adduksikan. tb ga? l. vibrasi. suhu.kayak Alm.- Penurunan BB? (curiga keganasan or metas) Merokok? (curiga kanker paru. Tapi bisa naik HR & RR nya kalau dia cemas. Keadaan umum : kesakitan. Kalo pada HNP hasilnya negatif (-). Tes Patrick: ini untuk cari tahu apakah nyerinya disebabin karenya ada kelainan di sendi panggul. Tes kontra Patric: fungsi sam dengan di atas.. Tes Nafzinger: kita teken v. Vital sign : Tekanan darah. propriosepsi. taktil. b. susah jalan. Sehari-hari kalau kerja posenya gimana? 8. i. tajam-tumpul. Thorax : screening ada keganasan ga. j. lalu angkat → kalo pasien kesakitan berarti ada sciatica.jugularis interna pasien (kanan kiri). Reflex fisiologis: patella. terus kita pegang ankle pasien sambil megang lututnya juga. 147 .. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Chrisye). d. h. Neuro : Inspeksi : coba lihat di vertebranya gimana (deformitas ga. achilles Reflex patologis: babinski Tes spesifik LBP : a. Pemeriksaan fisik g. Tes valsava: pasien disuruh nahan napas terus mengejan → positif kalau ada nyeri radikular. c. e. Lihat gait exam! Postur tubuh gimana. Kepala dan leher Mulut : adakah oral ulcer? (curiga HIV) Abdomen : screening penting apakah ada pembesaran organ! k. dll).

metilprednisolon Pakai korset dulu Ajari posisi yang bener untuk duduk. 10. Pemeriksaan Penunjang Foto rontgen (AP. jalan. Terapi dan edukasi Rujuk : harus bedah (ex laminectomy). Diskografi. 148 . Vitamin B. kerja.9. L. Bedrest post oprasi: 2-3 minggu. Fisioterapi. oblik) Elektroneuromiografi (ENMG) Mielografi. berdiri.

Ptosis e. mual. Disertai dengan aura: fotofobia. TTH : a. muntah KU : nyeri kepala Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : sesuai dengan durasi : TTH  tengkuk/leher. Lakrimasi unilateral g. Nyeri berdenyut. Migraine: a. Kebanyakan pada wanita. Terdiri atas 3 macam: 1. tidak pernah mengalami nyeri kepala hilang selama sakit b. Rhinorrhea f. Cluster: a. durasi 4-72 jam b. fonofobia c. aggravating berupa aktivitas yg melibatkan pergerakan otot leher/stress 2. kepala seperti diikat c. Kebanyakan pada laki2. cluster  alcohol Relieving : istirahat 149 . durasi bervariasi 30 menit. Aggravating: alcohol 3. Nyeri kepala tajam seperti ditusuk c.HEADACHE Headache Primer Definisi: sakit kepala yg terjadi bukan karena causa lainnya. migraine  unilateral. Disertai injeksi konjungtiva d. Nyeri retroorbital h. d. cluster  retroorbital : sesuai onset Karakteristik : liat atas Agravating : migraine  noise/light.7 hari. nyeri langsung hebat tp durasi singkat (15 -180 menit) b.

fotofobia dan fonofobia (migraine). nyeri kepala sekunder Pemeriksaan fisik : Kesan umum : tampak nyeri kepala Vital sign : d. sumatriptan (5-H1 antagonis) d.b. Pola makan: Review system : ada trauma/tidak.Treatment : obat sakit kepala    RPD : dulu pernah merasa sakit yang sama RPK : yang punya riwayat keluarga dengan keluhan yang sama  migraine Lifestyle : a. Migraine  cavergot (vasokonstriktor). amitriptilin. diazepam. cluster. ada kelemahan anggota gerak/tidak  negative pada nyeri kepala primer. Cluster  hindari alkohol HEADACHE SEKUNDER Hipertensi KU : sakit kepala. Parafrase ke pasien Sebutkan DD : TTH. Olahraga: tergantung pasien b. Migraine  hindari faktor aggravating g. TTH  bed rest f. migraine. deficit neurologis. Cluster  paracetamol Edukasi e. TTH  paracetamol. c.n Pemeriksaan fisik : Px neurologis: Pemeriksaan penunjang CT scan: utk exclude nyeri kepala sekunder Terapi b. Diet : c. kadang ada nyeri tengkuk Anamnesis :  RPS 150 .

b. Pekerjaan? Stresful?  Review system : keluhan lain : a. Penurunan kesadaran → stroke hemoragik Parafrase ke pasien Sebutkan DD : 151 . cemas. stroke. DM. berkunang-kunang. MI. pas siang hari. tanyakan sudah diobati apa  RPD : riwayat HT (tanyakan terkontrol atau tidak? Obatnya apa?). Diet : garam-garaman dan lemak tinggi ga? Alkohol > 1 ons/hari? c. angina. Olahraga:b. Merokok ga? d. DM Lifestyle : a. sulit tidur. Agravating : waktu tekanan darah naik lebih tinggi dari biasanya. TIA o Ginjal: CRF o PAD c. telinga berdengung. depresi) Relieving: stressor hilang. HF o Otak: stroke. picuan faktor psikologis (stress. Riwayat trauma sebelum ini (mungkin ada pendarahan intrakranial)?   RPK : tanyakan orang tua apakah ada yang HT. Mual muntah → mungkin ada peningkatan ICP (suspek pendarahan atau tumor) d. Pada hipertensi kadang disertai epistaksis. bisa localized di tengkuk : bervariasi. Demam → infeksi (waspada infeksi intrakranial) e. Komplikasi lanjut dari hipertensi o Mata: penurunan visus karena retinopathy hypertension o Jantung: LVH. stroke. penyakit ginjal dan hepar. penyakit jantung. Kaku kuduk dan demam → meningitis f. penyakit jantung. parah sering terjadi saat pagi hari tapi terus membaik seiring berjalannya hari itu Karakteristik : rasa terikat kayak diikat pakai headband (kayak TTH) Apakah didahului “tanda2” sebelum sakit kepala (maksudnya aura)? → migrain.Onset Lokasi Durasi : sejak kapan? → biasanya HT udah sering gitu : di mana sakitnya? → bisa generalized.

abnormal aorta pulsation (palpasi epigastik). RR. hyperaldosteron. o TTH o Tumor otak o Migrain o Trauma o Infeksi o Stress psikosomatis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak kesakitan. pheocromocytoma.renalis.jugularis interna. 2 lengan Pemeriksaan fisik : Thorax : Inspeksi Palpasi  jika kurus terlihat hepatomegali  ictus cordis (bergeser ke atas pada LVH)  S3 dan S4 terdengar. bruits pada auskultasi Kepala : periksa visus bila ada penurunan tajam penglihatan. suhu biasanya normal Notes: pemeriksaan BP harus 2x (dengan jarak 5 menit). pembesaran ren. DM. bising Perkusi  kardiomegali Auskultasi Abdomen : ascites (pada SN). vasa kaku. exudat keras) Leher : pembesaran v.o HT primer (95%) atau sekunder (5%). penyakit jantung) perlu pemeriksaan lebih lanjut. penyakit tiroid. periksa segmen posterior dengan ophtalmoscope (retinopathy hypertension: pendarahan bentuk flame. HR. Kalau sekunder (kausa: penyakit ginjal. pembesaran tiroid Extermitas : edema 152 . pegang kepala atau tengkuk Vital sign : BP naik. sleep apnea. stenosis a. hypercorticol. obat2an. 2 posisi (duduk dan bobo).

Pemeriksaan penunjang h. EKG: LVH. infark CBC: glukosa. renal disease? l. kreatinin. j. lipid. CT kalau ada penurunan kesadaran suspek stroke Manajemen 153 . enzim jantung. Urinalisis: apakah ada DM. elektrolit k. serum urea. Rontgen dada: kardiomegali i.

Karakteristik: kadang disertai muntah (karena ICP meningkat) e. KU : sakit kepala 2. Location: tergantung lokasi tumor c. Durasi: sakit kepala semakin memberat seiring berjalannya waktu d. keluhan lain: 154 .Edukasi Tumor otak 1. Aggrevating: waktu f. Onset: kronis bisa bertahun-tahun b. Anamnesis : RPS a. tiduran RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? Infeksi? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: progresif Life style: penurunan BB Review system. Relieving: dikasih analgesik.

3.cranialis Neuromotor: stabilitas. trauma. ataxia. motion. Pemeriksaan fisik a. tajam tumpul. Mual muntah.Terus ada juga gangguan nervus cranialis (diplopia. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 4. suhu. posture. abses 2. hidrosefalus akut. kejang. HR turun. Partial thromboplastin time (PTT) 5. Kontrol nyeri (analgesik) agitasi (propofol). Protrombin time (PT) 4. Imaging → CT scan untuk exclude pendarahan. Kondisi umum: kesakitan. Monitor ICP 3. Analisa Gas Darah 5. Darah rutin 6. vibrasi. power Neurosensori: taktil. Vital sign : BP naik. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Tinggikan kepala 30-45 derajat Maintain osmolaritas serum Avoid hipotensi. RR (iregular periksa pola napas untuk tahu letak lesi) → cushing’s triad. BB/TB c. suhu normal d. sama paresis ekstremitas. Bleeding time 10. menggigil. Fungsi hepar 9. Elektrolit 8. demam. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. bisa juga dateng pas udah LOC b. gang memori dll tergantung letak lesi). 155 . Troponin 7. Pemeriksaan penunjang 1. Gangguan BAB dan BAK jangan lupa ditanyakan.

Vital sign : BP biasanya tinggi. diet tinggi lemak dan garam. muntah. bisa juga dateng pas udah LOC b. Kondisi umum: sangat sangat super kesakitan. disertai kaku kuduk e. stres Review system. karena sakit banget biasanya langsung ke dokter atau RS b. 3. lack of exercise. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Durasi: sakit bgt terus d. Kadang pakai kejang juga. dan meningeal symptom sehingga harus bedakan dengan meningitis infeksi (ada demam pada yg infeksi) yaa.. RR juga. Anamnesis : RPS a.. KU : sakit kepala banget. Ada kaku kuduk.- Maintain normocarbia (PaCO2 35-40 mmHg) Maintain euvolemia (normal saline atau albumin) Stroke hemoragik yang subarachnoid hemorrhage 1. fotofobia. Relieving: kayaknya ga ada RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: dadakan Life style: rokok. sama paresis ekstremitas. Karakteristik: sakit kepala terberat. obese. keluhan lain: Biasanya terus diikuti penurunan kesadaran kalau ICP meningkat terus. kalau parah: penurunan kesadaran 2.cranialis 156 . Location: generalized c. HR. Onset: mendadak. Terus ada juga gangguan nervus cranialis. Aggrevating: buruk terus-terusan f. suhu normal (untuk exclude meningitis) c. Pemeriksaan fisik a.

Fungsi hepar 8. kaku kuduk. motion.. pertahankan <120 Meningitis 1. Bleeding time 9. Partial thromboplastin time (PTT) 4. Elektrolit 7. disertai demam 2. sub akut (viral. Onset: akut <48 jam (biasanya bakteri). Relieving: tiduran RPD 157 . suhu. Pemeriksaan penunjang 1. Troponin 6. kronis. Analisa Gas Darah 5. vibrasi. Imaging → CT scan 2. Protrombin time (PT) 3. dll). Aggrevating: f.. non infeksius) b. mual muntah. tajam tumpul. 4.tapi kebanyakan sih akut kalo meningitis d. KU : sakit kepala. Darah rutin 5. parasit. Location: generalized c. nimodipine mg 60 setiap 4 jam kalau SBP>140. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis Pemeriksaan spesifik: Kernig dan Brudzinski + mengindikasikan meningismus dari SAH ini.. fotofobia e. sub akut. posture. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Jaga BP jangan tinggi2. Durasi: akut. Karakteristik: sakit kepala. Anamnesis : RPS a. power Neurosensori: taktil.- Neuromotor: stabilitas. kronis (fungal. 30 mg kalau SBP 120-140.

somnolent. f. Pemeriksaan fisik e. lemah. suhu. power Neurosensori: taktil. sclera. vibrasi. coma Hallucination Cranial nerve palsy Hemiplegia. Kondisi umum: kesakitan.Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet. motion. vertigo 3. penurunan kesadaran bisa terjadi. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. keluhan lain: Abnormal skin color Mual muntah Kejang Penurunan kesadaran Delirium. BB/TB g. posture. Vital sign : BP turun/N. suhu meningkat h. HR naik/N.cranialis Neuromotor: stabilitas. papiledema Leher: limfadenopati THT: infeksi awal i. Antikoagulan)? Infeksi sebelum ini? Riwayat opnam? Riwayat tindakan medis (sepsis)? Riwayat imunisasi? RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Riwayat perjalanan: progresif Life style: travelling? Review system. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 158 . RR naik/N. Kepala: trauma Eyes: konjunctiva. tajam tumpul. hemiparesthesia Ataxia Dizziness.

Koagulasi d. urinalisis e. Pemeriksaan penunjang a. CSF: glukosa. wbc. Urea dan elektrolit plasma b.- Spesifik: kernig. berikan AB sesuai bakteri yang ditemukan Analgetika Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang Bila gelisah: berikan sedatif Bila ada udem otak: beri steroid 159 . protein. brudzinski 1-4 4. kultur bakteri 5. Glukosa darah c. Terapi       Antibiotika intravena. sesegera mungkin (30 menit awal). pilih broad spectrum Setelah hasil kultur ada.

DM. kronik (lama) C : GA : serangan sangat sering pada malam hari disertai pembentukan tofi. tofi juga bisa muncul di telinga RA : pergelangan tangan. alcohol. diurut-urut T : GA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi OA :OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RPD : GA : riwayat asam urat tinggi. kaku pada pagi hari < 30’. soalnya kan dia autoimun. trauma. arthritis di sendi tangan. pangkal ibu jari kaki bagian dalam. perdarahan. keterbatasan gerak dan krepitasi A : GA : penggunaan diuretic. suhu dingin (pagi hari). trauma R : GA : obat antiinflamasi RA : obat antiinflamasi OA :konsumsi OAI atau obat antinyeri. gangguan ginjal RA :riwayat penyakit autoimun OA : riwayat trauma (+/-) RPK : pada RA riwayat penyakit keluarga sangat penting. pergelangan kaki. obesitas. perlu juga ditanyain karena f. PIP. OA Ax : KU : Nyeri pada persendian RPS : O : GA : dewasa 30-50 th RA : dewasa 30-50 th OA : usia tua terutama di atas 50 tahun L : GA : metatarsofalang I (podagra). istirahat. degenerative. perubahan radiologis OA :nyeri pada saat aktivitas.r nya bisa genetic juga 160 . RA. metatarsofalang / metacarpofalang  simetris OA :sendi penyangga tubuh terutama lutut dan panggul. nodul rheumatoid (+). arthritis pada 3 daerah dan simetris. dehidrasi RA : aktivitas OA : aktivitas berat.NYERI SENDI Dd : GA. makanan tinggi purin. RF (+). tapi kalo GA sama OA. DIP D : GA : 1 tahun atau lebih tergantung penanganan RA : kronis bergantung penanganan OA :progresif. HT. bersifat intermiten dan ada fase interkritikal RA : min 4 dari 7 : kaku pagi hari > 1 jam.

atau 1100mg pd diet tinggi purin Mikroskopik tofi  tampak ada Kristal asam urat 161 . RF < 1: 40 pada OA atau > 1: 40 pada RA Kadar asam urat serum > 7 mg% pada wanita atau > 8 mg% pada pria Kadar asam urat urin 24 jam sebanyak 800 mg/hari. poliartikuler RA : sendi teraba hangat dan bengkak Kepala dan leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Px tambahan : X-ray : GA : erosi diluar kapsul sendi dengan joint space masih utuh RA : penyempitan ruang sendi disertai erosi dan pembengkakan jar. ekstrimitas hangat. namun terjadi gangguan berjalan akibat deformitas dan nyeri pada sendinya. bengkak terutama pada kapsul sendi. eritem. pembengkakan sendi. pada GA ditemukan tofi dan juga dapat terjadi kerusakan ginjal  gangguan ekskresi asam urat Px : Keadaan umum : pasien secara umum tampak sehat (atau demam pada RA dan gout yang aktif). leukositosis. kalo OA dan GA (). pada RA : anemia.lunak OA :penyempitan celah sendi. bisa atau tanpa rasa hangat pada sendi GA : tofi (+). bird like face dll. kaya kalo misalnya buruh pabrik gitu yang melakukan aktivitas fisik berulang-ulang  Faktor risiko OA Lifestyle : GA : makanan tinggi purin RA : OA :sedentary sehingga mengakibatkan obesitas. osteofit. VS : T ↑ pada RA Lokomotor exam : (untuk pemeriksaannya lihat bagian lokomotor exam) Temuan : OA : krepitasi. kurangnya olah raga Review system : RA biasanya diikuti demam.Lingkungan : pekerjaan pasien perlu ditanya. trombosit ↑ Leukosist sendi : pada OA peningkatan Leukosit sendi di bawah 2000/mm3 sedangkan pada RA > 2000/mm3. hangat. sklerpsis subkondral Lab : Darah Rutin :↑ LED.

d. sulfalazine 500 mg/hari OA : R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d tab II (3 hari) R/ tab colchicines 0. kurangi aktivitas sendi.d.d tab I ( 4 hari) R/ Tab prednisone 20 mg no VII S 1.d tab I Intercritical : Kolkisin 0.6 mg no VI S 1.d tab I DMARD  klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari.6-1. koreksi postur.berat OA :dukungan psikososial. Ulang asampai asam urat < 6mg/dl Diet rendah purin RA : R/tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.6 mg no IV S.d.d.d.d tab I Edukasi : GA :kurangi makanan tinggi asam urat dan diuretic kuat (thiazide dan furosemid) RA : fisioterapi. turunkan BB 162 .d.d.d tab I …………………………….Tx : GA : Serangan akut : (selama 2 minggu. tetap d gerakkan namun kurangi akt.2 mg/hari R/ tab Allopurinol 300 mg no VII s.1.1. jadi d itter 2x) R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV atau yang 25 mg 3x1 hari S 2.d tab I R/ tab Colchicines 0.

dan lemak) dan reseptor insulin yang kayak pasangan key-lock. Anamnesis KU DM tipe 1 Salah satu dari : Polydipsia. letargik) DAN random plasma glucose (gula darah sewaktu) >200 mg/dl (11. DM gestational: teriagnosis pertama kali saat hamil. genital thrush. BB turun.o mmol/L) or Two-hour plasma glucose (2hPG) >200 mg/dl (11. Penderitanya jadi insulin dependent. polyuria. weight loss. DM tipe 2: disebabin karena ada resistensi insulin ataupun adanya disfungsi dari si sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. Jadi di tubuh kita itu ada si insulin (berfungsi dalam up take glukosa ke dalam sel hepar. Kalau pada orang sehat.1 mmol/L) Kalau kriteria menurut ADA. dia jumlahnya pas tapi karatan key-lock nya sehingga ga bisa kebuka deh pintunya (glukosa ga bisa di-up take gityuu). infeksi. polydypsia. Kalau DM tipe 2. jumlah keduanya pas sama banyak. b. p=pancreatic disease dll. visual blurring. Kriteria diagnosis dari DM (WHO) adalah : Munculnya simotomp-simptomp hiperglikemia (polyuria.5% Di sini yang dibahas yang DM tipe 1 dan 2 aja ya. sebelum hamil dia normal aja. otot. ketoasidosis DM tipe 2 Sering asimptomatis. DM tipe 1: disebabin kekurangan insulin gara-gara ada destruksi sel-sel beta pankreas. c.1 mmol/L) or Fasting plasma glucose (FPG)/ gula darah puasa (tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam) sebesar >126 mg/dl (7. d. DM banyak macamnya: a. Disebabkan karena growth hormone kluar banyak banget padahal dia kerjanya berlawanan dengan insulin.WEIGHT LOSS: DIABETES MELITUS Preface DM merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya atau menurunnya efek dari insulin endogen. 2010 : bisa salah satu kriteria di atas DAN HbA1c > 6. Sebab lain: obat-obatan (kortikosteroid jangka panjang). Tapi biasanya datang pas udah ada komplikasi 163 . Nah kalo orang DM tipe 1. dia kekurangan key (si insulinnya).

insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Relieving Keluhan lain -Tadi udah banyak disebutin di KU. dewasa jarang karena biasanya udah keburu mati duluan sebelum jadi dewasa. Infeksi (pneumonia. sepsis). uti. GE. bisa di mata. metabolik synd. ginjal. obat (koakain). gangguan genitourinari. vasa. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P . hipertensi. dll)? -Tanyakan RF dari resistensi insulin: obese. terus ada metabolik syndrome (central obese. hiperglikemi. luka ga sembuh2. gastroparesis. glaukoma -Tanyakan komplikasi apa aja yang pernah muncul (dari mata. otak Durasi Kronis progresif Tergantung keparahan (lihat tabel pemeriksaan tambahan yaa) Karakteristik Biasanya genetis gitu. katarak. tanyakan riwayat tumbuh kembangnya! KMS nya gimana? Imunisasi gimana? Riwayat persalinan gmn? → eksklusi gangguan tumbuh kembang. hamil.CVD) (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. Biasanya obese.GIT: diare. vasa. saraf. infark. jantung. dislipidemia). glaukoma RPD -Dulu pernah kayak gini? Udah pernah dikasih apa? -Karena pasien mostly anak2. gastroparesis. hamil. . cvd. sisanya jadi gejala penyerta hehe) Onset Lokasi Usia muda <30 tahun Usia lebih tua >30 tahun Macem-macem. GE. infeksi kronis baik 164 -Tadi udah banyak disebutin di KU. nefropati) atau makrovaskular (CAD. PAD. terus seringnya pada anak-anak. Itu merupakan beberapa RF terjadinya resistensi insulin yang menimbulkan DM tipe 2. infeksi. obat (koakain). sepsis). otak)? Ada gangguan di situ ga (gimana penglihatannya. Penampakannya tuh juga kurus-kurus. uti.Sisanya jadi gejala penyerta hehe (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. Infeksi (pneumonia. saraf tepi. infeksi. infark. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Aggrevating Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. tp biasanya yang BB turun) mikrovaskular (retinopati. jantung. katarak. obat TB. gangguan genitourinari. neuropati. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P -GIT: diare.

sindrom nefrotik).saat intrauteri ataupun postnatal. shortness breath. lnn. ASI. shortness breath. lnn. Mual muntah. tenderness. hipotensi. acromegaly. mukosa kering. kurus Biasanya normal. letargik) DM tipe 2 Obese. massa. mukosa kering. kistik fibrosis. polikistik ovari. Abdomen Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. luka. dll. tenderness. (exclude dehidrasi. Obese. Lihat apakah ada komplikasi pada jantung? Cardiovascular disease seperti CHF. sindrom nefrotik). RPK Life style Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan. Tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. lemah BP bisa tinggi. Biasanya normal. Olahraga? Stress? Pemeriksaan KU Vital sign DM tipe 1 Lemah. BBLR. infeksi. 165 Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. RR usually in normal limit. Mual muntah. letargik) BB/TB Kepala Wasting Apakah ada : Mata cowong. HR variatif tergantung ada komplikasi makrovaskular ga. infeksi. walau bisa aja sih ga obese. gagal ginjal. tinggi. ASI. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. (exclude dehidrasi. . edema periorbital. tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. tachypnea pola Kussmaul. hipotensi. Olahraga? Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan (banyak kolesterol. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. Tanda DKA: kussmaul. Leher Lnn ada infeksi ga? Bisa saja si anaknya pake infeksi segala. Tanda DKA: kussmaul. werner’s. Thorax Kelainan di jantung dan paru dilihat. massa. Apakah ada : Mata cowong. tachypnea pola Kussmaul. edema periorbital. cushing’s. luka. kehamilan.

a. dan cara pengobatan. terus 2 minggu males). komplikasi yang mungkin terjadi.brachialis. joging.8mmol/L 5. Modifikasi EXERCISE Lakukan olahraga minimal 5x/seminggu @min. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor) Peripheral artery disease: raba pulsasi a. a. bukan minggu ini rajin. ex. a.8-11. progressive (porsi latian bertambah). interval (pelaan. memodifikasi gaya hidup.9 mmol/L (100-125 mg/dl) 7. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor). ulkus. Femoralis.brachialis. renang).30 menit. Bandingkan sama atau gak.dosalis pedis. Femoralis.1 mmol/L (140-199 mg/dL) >7 mmol/L (126 mg/dl) >11. Olahraga harus yang continous (berkelanjutan. pengobatan yang harus dilakukan. a.1 mmol/L hyperglycemia DM Insulin untuk kontrol Insulin untuk survive 166 (200 mg/dL) . a. Peripheral artery disease: raba pulsasi a.dosalis pedis.6-6. terus cepet).6 mmol/L (100 mg/dl) 2-h-PG <7. rhytmic (kontraksi-relaksasi bergantian. ulkus. Inspeksi: ada luka. Panah 1: progresif Panah 2: bisa reversible ke stage sebelumnya FPG: fasting plasma glucose (minimal 8 jam) 2hPG: tes toleransi glukosa Treatmen dan edukasi Treatmen dan edukasi Tujuan: menjaga kadar glukosa mendekati normal serta mencegah hipoglikemi. terus lebih cepat.tibialis.tibialis.Ekstremitas Inspeksi: ada luka. Harus jelaskan kepada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya. Bandingkan sama atau gak. a. Pemeriksaan Lab. endurance (melatih Tipe diabetes Normal glucose tolerance Pre-diabetes IFG atau IGT Ga butuh insulin Tipe 1 Tipe 2 Other Gestational Time (years) FPG <5.

Jenis makanan: fat <30%. tapi dia bisa progresi jadi butuh obat-obatan dulu. (lihat di daftar obat). Na <6 gr/dl tapi kalau hipertensi <3 gr/dl. 3. DM TIPE 2 pertama-tama kita modifikasi life style dulu. insulin detemir.25 gr/hari. Ada 6 tipe: (1) Ultra-fast acting: injeksi saat mau makan atau tepat setelah makan. nah kalau semakin buruk dia bisa sampe butuh insulin. gula maks. Macam-macam insulin Insulin subkutan. b.120% (Ideal BW) or BMI 25-30  20 calories/Kg BW/day Obese: >120 % (ideal BW) or BMI >30 20 - OBAT a. KH<50-60%.5 – 25  30 calories/KgBW/day Underweight: <90% (Ideal BW) or BMI < 18. Ideal body weight: NUTRITION and DIET Men (<160 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs ( >160 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Women (<150 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs (>150 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Normoweight: 90-110% (Ideal BW) or BMI 18. insulin graline. (2) Soluble insulin: injeksi 15-30 menit sebelum makan. 167 . Tapi yang banyak dipakai tu si nsulin subkutan (100 U/mL). Modifikasi DIET 1.5  40 calories/Kg BW/day Overweight: 110 . Max HR: JANGAN LEBIH DARI 80%(220-usia) supaya tidak heart attack. 2. protein 15-20%. Jadwal makan: 6x sehari tapi porsi dikiitt2. (3) Intermediate acting (4) Long-acting (5) Long-acting analogue (6) Pre-mixed insulin Rejimen insulin subkutan: (1) Rejimen BD : 2x1 premixed insulin untuk DM tipe 2 atau tipe 1 dengan life style reguler. DM TIPE 1 butuh insulin terus tentunya. diinjeksikan secara subkutan. Jumlah makanan: jangan banyak-banyak porsinya sekali makan.ketahanan).

XIV S. Monitoring : 1.d.d. Untuk DM tipe 2. Setelah 8 minggu periksa HbA1c.5% atau <6. harus kasih insulin. Untuk DM tipe 2. 168 . Di awal-awal haru rajin bikin diary tentang kadar gulanya (finger stick). post AMI.(2) Rejimen QDS : sebelum makan (ultra-fast atau solubel )DAN sebelum tidur (intermediate acting atau long-acting analogue). XIV S. 2.d. Metformin mg 500 No.d.2. Glibenclamide mg 2. DM tipe 2 dimulai dengan R/ Tab. Tab I Kalau masih ga mempan lagi. (3) 1x1 sebelum tidur dengan insulin intermediet atau long-acting. VII S.2. Metformin mg 500 No.1. Obat-obatnya Umumnya. Tab I Metformin digunakan untuk yang BMI >25 Kalau BMI <25 R/ Tab.d. Normalnya <7.5 No.5% pada yang ada penyakit arteri ex.d. Tab I R/ Tab.

seperti kolelitiasis. Riwayat penggunaan NSAID’s disangkal. Fisiologi dan Patofisiologi: Fisiologi sekresi asam lambung oleh sel parietal: 169 . Dokter Fau kemudian merencanakan pemeriksaan endoscopy. dan stool antigenic test. Setelah melihat hasil pemeriksaan. 2. meskipun dalam kuantitas dan frekuensi yang jarang. Nyeri tersebut akan hilang setelah mbak Gastricia makan.INDIGESTION Dyspepsia/Ulkus Peptikum Skenario Seorang wanita. Akhir-akhir ini keluhan tersebut bahkan disertai muntah darah. bloating.Dari anamnesis diketahui bahwa mbak Tina adalah seorang perokok dan juga mengonsumsi alkohol. Dyspepsia terbagi menjadi 2 jenis: 1. dan dapat dimasukkan sebagai variasi gejala termasuk early satiety. pankreatitis. ulkus peptikum. Diagnosis: Dyspepsia organik berupa ulkus duodenal akibat infeksi agen H. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya epigastric tenderness. berusia 25 tahun datang ke Anda dengan keluhan nyeri perut dan sebah di perut bagian atas yang telah berlangsung 4 minggu. Dokter Fau memutuskan untuk melakukan eradikasi agen penyebab penyakit dengan tiga macam obat sekaligus. berpusat di abdomen bagian atas. nausea dan/atau rasa penuh pada abdomen atas. pylori Definisi Dyspepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang berulang atau kronis. serta feses bewarna hitam. dsb. Functional Dyspepsia: dyspepsia yang tidak ditemukan penyakit yang mendasarinya sesudah dilakukan pemeriksaan. Organic Dyspepsia: dyspepsia yang didasari suatu penyakit yang diperkirakan menjadi sebab gejala tersebut. yang bukan nyeri. bernama mbak Gastricia. C-13 Urea Breath Test. Rasa tidak nyaman didefinisikan sebagai perasaan negatif yang bersifat subjektif.

maka sel epitel gaster yang mengelilingi tempat kerusakan tersebut akan bermigrasi ke tempat yang rusak tersebut  membutuhkan aliran darah yang baik. intracellular tight junction.Patofisiologi: Faktor defensive: a. dan adanya epithelial cell ionic transporter yang menjaga pH intracellular Restitution  jika barier preepithelial rusak. Preepithel Mucus-bicarbonate layers: barier physicochemical  form a pH gradient ranging from 1-2 at the gastric luminal surface and reaching 6-7 along the epithelial cell surfaces. Diproduksi oleh sel epithel Surface active phospholipid Epithelial Cellular resistance: memproduksi mucus dan bikarbonat. dan beberapa growth factor b. Growth Factor and Prostaglandin 170 .

Konsumsi alkohol.Fungsi prostaglandin: Meregulasi produksi bikarbonat dan mucus Menghambat sekresi sel parietal Untuk memaintain mucosal blood flow dan epithelial cell restitution c. altered gastric emptying. bikarbonat. pylori H. kopi. pylori  bakteri gram negative tahan asam  dapat merusak lapisan mukosa dengan cara memproduksi urease  membentuk CO2 dan ammonia yang toxic terhadap mukosa. cokelat. Subepithelial  blood flow Faktor aggressive a. surface active phospholipid dan proliferasi sel epithel Merokok  menurunkan aliran darah mukosa. menurunkan produksi bikarbonat di proksimal duodenal. menginduce pembentukan noxious mucosal free radical. bile salt b. Faktor internal: HCl  mengaktivasi pepsinogen menjadi pepsin dan merusak mukosa . dan meningkakan resiko untuk infeksi mikrorganisme H. makanan berlemak  rangsangan sekresi asam lambung 171 . Faktor eksternal: NSAID  menghambat COX  sintesis prostaglandin dihambat  peningkatan sekresi HCl dan penurunan sekresi musin.

Serta pola makan yang teratur. mengurangi berat badan. kopi. cokelat. dapat diberi saran sederhana. berikan juga saran untuk menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. pylori..Treatment: Pada beberapa pasien. Terapi yang sebaiknya ditawarkan pada pasien yaitu terapi empiris full-dose PPI selama 1 bulan. dan berhenti merokok. pylori. Selain itu. serta meneruskan konsumsi antasida/alginate jika sudah mengkonsumsinya terlebih dulu. dan makanan yang berlemak. serta tes dan terapi untuk infeksi H. Diperlukan waktu washout 2 minggu setelah periode penggunaan PPI untuk melakukan tes infeksi H. seperti alkohol. 5-6 kali makan dengan porsi kecil perrhari Terapi empiris untuk dyspepsia yaitu dengan terapi PPI (proton pump inhibitor) atau tes dan terapi untuk infeksi H. pylori dengan breath test atau stool antigen test. Guideline treatment untuk pelayanan medis dyspepsia adalah: 172 . seperti saran untuk makan makanan yang sehat.

Keterangan: 173 .

Make an inventory of effective group according to criteria Beberapa grup obat yang rasional digunakan: 174 . pylori (if any) 3. treat H. Specify the therapeutic objective reduce acid production. Define the diagnosis dyspepsia/peptic ulcer 2.Keterangan: Steps in choosing P-drug: 1.

c. tab. R/ Tab Guarposid no. 2. cokelat. I a.d.c.d.2.Kesimpulan: TERAPI NON-MEDIS  Mengatur pola makan (makan porsi kecil.d. 175 . XIV s. I a.2.c. kopi. lima sampai enam kali sehari) dan jenis makanan yang dikonsumsi.  Menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia.  Stop penggunaan NSAID (jika memungkinkan) TERAPI MEDIS Amoxicillin-Clarithromycin-omeprazole Write prescription: R/ Tab. XIV s. tab. rokok. a.d. R/ Cap Amoxicillin 500 mg no XVIII s. seperti mengonsumsi alkohol. dan makanan yang berlemak. memperbanyak sayur dan buah. Omeprazole 20 mg no.d.d. tab II.

Greeting. agama. karena interpretasinya bisa beda ntar). suku / bangsa. status perkawinan. pekerjaan. 176 . 2. 4. pendidikan. Jenis coping dan cara menghadapi masalah. Keluhan lain yang ada dan detailnya (pola tidurnya bagaimana.  Apabila pasien merupakan pasien dewasa (> 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) :  item keluhan utama secara detail (keparahan. durasi.  Menanyakan apakah gejala terjadi didahului oleh kejadian luar biasa (misalnya : perceraian. Persilakan pasien duduk di kursi yang disediakan. Anamnesis Tanyakan identitas pasien . Prosedur Pemeriksaan : 1. Pengobatan yang sudah diberikan. etc). etc). tidak lulus ujian. etc. nama. umur.INSOMNIA MENTAL MINOR Keluhan logis tapi tidak realistis : gangguan mental minor. progress. Keluhan tidak logis dan tidak realistis : gangguan mental mayor. Situasi yang membuat kondisi jadi lebih buruk atau baik. alamat. 3. frekuensi. jenis kelamin.     RPD RPK : apakah ada keluarga yang sakit serupa? gejalanya mirip? bagaimana gejalanya? sekalian tanyakan juga . Building interpersonal relationship : memperkenalkan diri. etc).

 Lalu golongkan menjadi : a. stres. batuk kronis + kecemasan. keluarga utuh / cerai. Ex. Ex. tidak ada keluhan mental (ex. Batuk. lingkungan. urticaria. b. diare). Hypochondriasis → pokoknya dia merasa sakit! Ex. Keluhan fisik ganda (FG) : FM + keluhan emosional. udah sampe shopping doctor gitu. kebutaan. Luka kecelakaan + kecanduan alkohol. apakah anak angkat / tiri. meninggalnya saat pasien usia berapa?). Keluhan psikosomatis : psikosomatis tuh cuma istilah lho. dia gak lulus SMA terus tiba-tiba lumpuh ga bisa gerak.    Eating disorders Sexual dysfunction Psychological or behavioral factors associated with disorders or diseases classified elswhere. apakah orang tua sudah meninggal (kalau sudah. Psychogenic pain disorder → nyeri terus. “ini saya mesti kanker ini dok. ga konsen sama kuliah dll). dll. life style. Body dismorphic disorder → merasa gemuk banget padahal BMI nya undeweight. pilek. Menurut ICD-10. jumlah saudara. c.silsilah keluarga. kelompok yang termasuk 177 . Neurodermatitis. perut saya ini kayak ada ularnya!”. Kalo pas pilek meler gitu terus disertai bete. Jadi dia tuh ada keluhan fisik dan mental yang SALING MEMPENGARUHI! psikosomatis : Somatoform Somatisasi → banyak kompalinnya dr ujung rambut sampe ujung kaki. pola hubungan keluarga. tapi belum tentu berkaitan antar keduanya. Ex. Keluhkan fisik murni (FM) : bener-bener keluhan fisik saja. Conversion disorder → ada stressor mental tapi terus dikonversi jadi keluhan fisik. Tapi di modul psikosomatis dikatakan bahwa yang FM ini jarang banget! Biasanya pasti disertai mental emosional (ex. Biasanya konversinya ke keluhan neurologis seperti paralisis. Anamnesis system. bukan diagnosis (ingat!). sulung / bungsu.

sex. Keluhan mental-emosional : emang cuma masalah kejiwaan (pikiran.  Apabila pasien merupakan pasien anak dan remaja (< 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) pada anak atau pengantarnya : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. 178 . baik di keluarga. RPK.RPD. alkohol. kerja. telanjang depan umum.  Tanyakan adanya keluhan mental-emosional dan status perkembangan anak → harus  Lanjutkan ke pertanyaan aktif nomor 3 (pertanyaan aktif yang dimaksud disini sama dengan yang ditanyakan pada dewasa) bila didapatkan golongan FG. perasaan). Ada tidaknya gangguan fungsi sosial . dll). Ada ridaknya gejala mental emosional (sedih. lemes  Lanjutkan ke pertanyaan aktif bila dari penggolongan keluhan didapatkan golongan FG. PS atau ME (sama dengan pada dewasa di atas). PS. 5. FG. ME. lingkungan → sama dengan dewasa  Golongkan apakah keluhan termasuk dalam FM. pekerjaan. Ada tidaknya pemakaian rokok. sekolah. maupun masyarakat. mudah tersinggung. life style.d. karena interpretasinya bisa beda ntar). cemas : gelisah. misalnya : banyak pikiran 3. Nb. psikotik : ngomong sendiri. Apakah terjadi selama >3 bulan atau >1x / bulan 2. apabila dari penggolongan ternyata yang ditemukan adalah FM (fisik murni) maka tidak ditanyakan lagi pertanyaan aktif dan diagnosis yang dibuat merupakan diagnosis gangguan fisik (untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema alur pemeriksaan mental minor di buku skill lab). dll 4. Ada tidaknya peristiwa pemicu keluhan. napza 6. ME. PS. Menurunnya semangat belajar.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) . Pertanyaan aktif antara lain : 1. ga tenang depresi : murung. cemas.

179 . Pemeriksaan psikiatrik Nilai kesadaran penderita. menilai bentuk isi dan progresi pikiran. 7. 10. merencanakan pemeriksaan lanjutan. sekolah.5. 8. menilai citra diri. menilai hubungan jiwa (mudah atau sukar). Gangguan fungsi ex. DD dan Diagnosis Menerangkan dan menilai data anamnesis dan pemeriksaan. tegang. menilai perhatian (mudah / sukar / dicantum). etc yang relevan aja. baik di keluarga. curiga. menilai kesan penampilan penderita. sex. etc). kerja. menilai keadaan jiwa (sedih. pemeriksaan neurologis. Rokok. sosial . psiko tes . hiperaktif. menilai roman muka (tegang. napza 6. pucat. maupun masyarakat. Pemeriksaan khusus menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. pemeriksaan fisik diagnostik. gelisah. Pemeriksaan fisik : vital sign. misalnya. etc). mempertimbangkan perlu tidaknya konsultasi lanjutan. nilai sikap dan tingkah laku pasien (apakah normal. menganalisis diagnosis banding dan menyimpulkan diagnosis menurut PPDGJ. dll (males ngapa2in lah pokoke). alkohol. 9. Dari hasil anamnesis tersebut maka pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa bila ada : FG atau PS atau ME + >1 kriteria di bawah ini : >3 bulan atau >1x/bulan Ada faktor pemicu Penurunan semangat belajar. etc). Terapi dan tindak lanjut Mengusulkan rencana terapi dan rehabilitasi. pekerjaan.

besok telat osce. Apakah Anda idur di kesempatan lain? (misal bobok siang. terus susah bobo lagi → DEPRESI Sehingga setelah itu perlu kita tanyakan nih: mulai bisa bobo jam berapa? Terus bangunnya jam berapa → kita jadi tahu tuh lama dia bobo cukup apa gak (kan ada depresi yang tiduurr terus. Aktivitas di siang hari gimana? (terganggu atau tidak. Kalau DEPRESI dia juga terganggu : biasanya karena dia mikirin masalahnya terus. Kalau emang udah mengkerucut ko kira-kira ini depresi. gek-gek ngono?” (“duh jangan-jangan nek aku ga bisa bobo skarang. jadinya juga ganggu keseharian.. 180 . ga usah gali mengenai permasalahan dia dulu (mau dia putus kek. Kata dr.dll”) → mencemaskan sesuatu. Di tahap ini kita masih gali SIMPTOMP SUSAH TIDUR INI DULU. sibuk dengan pikiran dan perasaan bersalah gitu. sesek. Dia mikirin apa sih (GALI!). Kehidupan sehari-hari gimana? Kalau CEMAS ya terganggu : biasanya dia ga konsen gara2 khawatiran. harus identifikasi adakah KEINGINAN SUICIDE? Solusi yang telah dilakukan? Misal curhat sama temen. nangis. atau pas di kelas jadi ketiduran terus). dll. maksud pertanyaan ini adalah kita bisa lihat apakah ada gangguan fungsi hidup dia). Bagaimana perasaan setelah itu? Kalo dia bilang lebih enakan→ jadikan terapi! Adakah KELUHAN LAIN? Lemes harus dibedakan apakah sebab fisik (dengan bobok langsung seger lagi) atau psikis (dengan bobok ga seger lagi). Mahar perlu ditanyakan juga mengenai APA YANG DIRASAKAN sebelum bisa tidur atau saat kebangun tengah malam. besok mau OSCE kek. ada juga yang meleeek terus). Apakah ada pikiran “gek-gek ngene. dll. itu ntar aja galinya).GANGGUAN TIDUR KU : susah tidur RPS Sulit tidurnya gimana sih? Sulit masuk tidur (alias mau merem ko susah) → CEMAS Tengah malem suka kebangun.

DEPRESI Sering kebangun terus susah bobok lagi. gimana kalo pas di kantor kerjaannya? Hobinya apa? Masih interest ga melakukannya? Makan teratur ga? DD a. Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. RPK Kalau di rumah sama siapa bu? Mereka tau ga ibu kayak gini? Terus tanggapan mereka gimana? Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. Apa yang terbayang oleh pasien? (ingin bunuh diri lah?). Kalu parah sampe bisa berpikir untuk suicede! b. kagetan. negetif. nulis diary dll). Pokoknya harus nyambung sama keluhanya! Tadi udah disebutin. Sesek. ga konsen. Gangguan nafsu makan.hari terganggu ga? Misal. Terapi dan edukasi 181 . ga konsen sama kerjaan. kringetan tangannya. sensi. minderan/ga pede. kayak kehidupan sehari. seks. bad dream. CEMAS Susah masuk tidur. ada fase seneng ga? Kapan kah itu (bisa untuk treatment)? Tegang (gelisah. Life style dan lingkungan Ga usah ditanya terlalu banyak2 kalau ga sesuai sama simptompnya.Sedih digali kenapa sedihnnya? Gimana sedihnya → sampe pengen nangis ga? Menurun pas apa? (curhat. sesek) tanyakan udah berapa lama? Pernafasan gimana? Mimpi buruk kah? Sakit di tempat lain ga? Sering pipis kah? Haid gimana? Jadi mudah tersinggung ga? Kagetan? Konsentrasi? Tangan kringeten? Yang memperberat dan memperingan? RPD Dulu pernah kayak gini gak? Terus diobati apa? Riwayat penyakit kronis? Soalnya penyakit kronis kan bisa sampe bikin depresi dan malah memperburuk sakit fisiknya. Kehidupan sehari-hari ga bergairah. Moodnya sediiiihh. Gangguan fungsi hidup. gemetar. debar-debar.

penurunan konsentrasi. XiV S. XiV S.1. I o.1. R/ Tab. apa yang bapak lakukan? Kalau misalnya bapak menunda keinginan untuk ngecek pintu itu. RPS Dengan bolak-balik kayak gitu. - Kalau DEPRESI Diberikan anidepressan kalau >2 minggu simptompnya disertai 4 atau lebih gejala ini: lelah. tenang saja! (biar pasien ga tambah depresi atau cemas). guilty. ngecek pintu terus udah dikunci belom. Imipramin mg 25 no. gangguan bobo. Sebenernya saat bapak mengunci itu. loss apetite. apa yang bapak lakukan? Adakah pikiran ttg hal lain yang berulang? (misal dia cuci tangan terus) apakah bapak enjoy dengan ritual tersebut? 182 . DIazepam mg 5 no.d. gimana rasanya? Muncul kecemasan ga? Kalau udah ngecek gimana rasanya? Apakah pikiran ‘belum dikunci’ itu timbul berulang? Sebenrnya bapak sadar ga kalau pikiran itu sebenernya ga realistis? Sampai bikin jengkel? Selama ini gimana cara ngatasinya? Apakah menolong? Kalau merasa ga terselesaikan.n OCD (penyakit obsesif kompulsif) KU : melakukan kegiatan berulang2 tanpa bisa menghentikan ex. gimana kerjaan di kantor bapak? (cari tahu gangguan terhadap fungsi hidup).d Tab. bapak udah TAHU belum kalau pintu udah dikunci? Kalau saat tidak yakin. agitasi. I o. pikiran mau mati.d.d Tab.n - Kalau CEMAS Lakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bikin rileks R/ Tab.- Kita bilang bahwa penyakit ini banyak terjadi tapi bisa disembuhkan kok.

mual.RPD RPK Di keluarga ada yang kaya gini juga ga? Gimana keluarga di rumah menanggapinya? Membantu ga? dulu pernah kaya gini ga? Gimana terapinya? Berkurang ga? Terapi dan edukasi Kalau dia ga parah.d. XXI S. 1 PANIK KU: 1 atau lebih gejala: nyeri dada. nyeri dada. pusing) Membaik saat apa? Memburuk saat apa? Terapi dan edukasi diam saat serangan. terapi perilaku saja. jangan fokus ke keluhan saat serangan. pusing. pikirkan bahwa ini akan segera berlalu! Kalau serangan sering atau berat 183 . sampe ganggu macem2: R/ Tab. nafas pendek RPS RPD RPK Di keluarga ada yang kayak gini? Ada yang sakit jantung? Gimana respon keluarga terhadap yang anda alami? Dulu pernah sakit jantung ga? Pernah diterapi apa? Dulu pernah kaya gini juga? Membaik ga? Saat apa munculnya? Berapa lama? (biasanya sih cepet dateng. atur nafas. 3.d Tab. Parah. cepet ilang) Apa yang dirasakan saat itu? (taakuutt bgt gitu) Keluhan lain apa? (palipitasi. tercekik. Clomipramin mg 25 no.

1.d.d.n (alias malam hari) - Kalau serangan jarang dan terbatas R/ Tab.5 no VII S.- R/ Tab.1.Lorazepam mg 0.d Tab.I 184 . Imipramin mg 25 no VII S.d Tab.I o.

Olahraga : b.DIARE Diare Diare : BAB> 3x/hari dengan konsistensi fesesyang cair dan encer. Agravating : aktifitas berat. thypoid. Treatment :tidak membaik dengan pengobatan  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan : kemaren makan sembarangan di tempat lain  Lifestyle : a.Persisten : 14 hari. Akut : < 2 minggu. p. Kondisi umum : sangat lemah. Vital sign : mungkin demam 32. Relieving: oo. berlendir. Durasi : 2 hari ll. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  kemungkinan dpt terjadi borborigmi (peristaltik terlihat) Auskultasi  hiper peristaltik Perkusi  hipertimpani Palpasi  cubit perutturgor kulit Kepala : Leher : palpasi limfonodidbn Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi mungkin akral dingin 33. Karakteristik : BAB 6-8 kali/hari. CBC count 185 . Kolera air cucian beras Disentrilendir dan darah (shigella) Amoebiasislendir dan berbuih Giardiasisberlemak dan persisten>2 minggu mm. KU : mencret. Anamnesis :  RPS ii. Parafrase ke pasien s. Pemeriksaan fisik : 30. kurang minum nn. BAK. bisa ada darah. t. sakit perut. masih mau minum ga? r. Lokasi : kk. 31. Diet dan pola makan : makan yang tidak bersih  Review system  keluhan lain : demam. Onset : sejak 2 hari yang lalu jj. diare q. Sebutkan DD : diare. Pemeriksaan penunjang a.

4.tab 1. giardiasis R/ Tab. Oralit diminum segera setelah dibuat 3.c.tab 1 p. Metronidazole 500 mg No. X S.d.d Tab 1. tab 2 p.d.3. Metronidazole 250 mg no x s. Tetrasiklin 500mg no.oralit 200 No. Ampicilin 500 mg no XXIV s.Berikan oralit  R/ sach.d.c 4. X. S. amoebiasis  R/ Tab. Jika keadaan memburuk harap kembali 186 . Makan dijaga higienitasnya 5.XII S.b. Oralit diminum setelah BAB segera 4.n campurkan dgn 200 ml air diminum segera setelah buang air besar . Fecal exam : liat keadaan fisik ada darah/telur cacing/ 34. Terapi .c 3.p. disentri R/ tab.d.p.d.c 35. Edukasi 1.d.Antibiotik : 1. Minum air putih banyak 2.d.p. Suruh jaga higienitas dengan cuci tangan 6.r. kolera R/ Tab. 3. 4. 2.

Kondisi umum : gatal-gatal pada kaki 37.DKI. uu. skuama.PRURITUS Dermatitis Kontak Alergi Seorang pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada ke dua punggung kakinya setelah memakai sendal yang baru yang terjadi 3 hari yang lalu. Durasi : 3 hari ss. Onset : 3 hari qq. screening  auskultasi aja DBN Abdomen : Inspeksi  DBN Auskultasi  DBN Perkusi  DBN Palpasi  DBN 187 . Diet : c. semakin diperparah ketika pasien berjalan ke pasar dan membaik saat istirahat dirumah. Karakteristik : mengikuti alur dari sendal jepit tt. Olahraga: ga spesifik b. skuama. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering.  Kepala : Sklera DBN  Leher : palpasi limfonodiDBN  Thorax depan: DBN. u. Pola makan : d. Anamnesis :  RPS pp. KU : gatal – gatal pada kedua punggung kaki. vesikel atau bula. papulovesikel. Agravating : Saat pasien berjalan menggunakan sendal tersebut. papulovesikel. Pemeriksaan fisik :  Extermitas : terlihat UKK berupa bercak eritematosa dan dapat diawali dengan bercak eritematosa. likenifikasi & fisur tidak jelas. vesikel atau bula. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. Vital sign :normal 38. likenifikasi & fisur tidak jelas. Pemeriksaan fisik : 36. Sebutkan DD : DKA. dermatitis atopi x. Parafrase ke pasien w. Relieving : istrhat dirumah  Treatment :  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan :  Lifestyle : a. Lingkungan :-i  Review system : dapat diawali dengan bercak eritematosa. Lokasi : ke 2 punggung kaki rr. v.

Mencegah terjadinya ruam d. Membersihkan bagian yang teriritasi c. Terapi 41.39. Mejauhkan alergen secepat mungkin b. Edukasi a.Patch test untuk test alergi . Bila ada efek samping serius.Jika dibutuhkan dapat dilakukan pemeriksaan kultur jamur untuk meng’exclude ttg tinea 40.Pemeriksaan penunjang . CTM: jangan dikonsumsi ketika mengendarai kendaraan bermotor 188 . hentikan treatment atau ganti obat lain f. Treatment dapat dihentikan bila dermatitis kontak alergi pasien telah sembuh e. daerah kulit yang diobati tidak boleh diperban atau ditutup g.

missal IBS. dan defek anatomis..muntah. Typhoid (SKDI 4). kesulitan dalam BAB (mengejan > 25% bowel movement atau konsistensi feses keras. Sering pada orang tua. Ca colon yang mulai muncul manifes konstipasi 189 .Perdarahan (hematochezia). Akut membutuhkan tindakan emergency.biasanya karna fungsional. Ileus (SKDI 3B) Ax RPS O L D Onset cepat : Ileus (harus segera ditangani) Kronis > 3 bulan. .Konstipasi Konstipasi adalah pergerakan colon yang tidak frekuen (defekasi < 3x per minggu).riwayat Ca pada eluarga. Penyebab konstipasi antara lain sebagai berikut Conditions Associated with Constipation Structural ganglion blockers vinca alkaloids Muscle colon • neoplasm • stricture • volvulus anorectal • inflammation • prolapse • rectocele • fissure Systemic myotonic dystrophy dermatomyositis amyloidosis systemic sclerosis Neurologic electrolyte abnormalities thyroid disease diabetes mellitus panhypopituitarism Addison's disease pheochromocytoma uremia porphyria Medications central nervous system • Parkinson's disease • multiple sclerosis • ischemia • tumor • spinal cord lesions autonomic neuropathy sacral nerve damage (trauma.penurunan berat badan. tumor) enteric nervous system • Hirschsprung's disease • scleroderma • amyloidosis Functional analgesics anticholinergics antidepressants antipsychotics cation-containing agents anticonvulsants normal transit slow transit pelvic floor dyssynergia DD : Irritable Bowel Syndromes (SKDI 3A). Tidak memerlukan emergency. ex : Ileus. abnormalitas motilitas.terutama karena diet yang buruk. kurang exercise. . Tapi hati2 kalo menemukan red flags seperti : .. .

Abdominal bloating atau distensi subjektif Derajat keparahan IBS dapat dilihat di bawah ini : Derajat keparahan IBS Ringan Gejala klinis Persentase penderita Nyeri berterusan Gangguan Psikososial 70% 0 0 190 25% ++ + + 5% + +++ +++ Kaitan dengan gangguan fisiologi sal cerna +++ Sedang Berat . antipsikosis. anticonvulsant.Mucorrhea . Hypothyroid dan hyperparatyroid  dpt mnyebabkan konstipasi Pada saat mendekati ovulasi. suplemen besi dapat memperparah konstipasi. atau konsistensi fese keras dan kecil2. pada orang tua  curigai Ca colon Riwayat penggunaan narkotika. dan kadang ada rasa tidak lampias saat defekasi MInum obat narkotik.Perubahan pasase feses (straining dan atau urgency) . whole grains) dpt melunakkan feses RPK LS RS1 RS2 Konstipasi + hematochezia (BAB trdpt darah merah segar)  hati2 curiga Ca Colorectal ada keluhan lain? Irritable Bowel Syndromes (IBS-C) IBS adalah kumpulan gejala penyakit digesti fungsional yang diarakteristikkan dengan adanya nyeri perut dan perubahan motilitas usus. serta tidak ditemukan adanya pathology pada pasien (pemeriksaan fisik dalam batas normal) Ada criteria Roma III (2006) untuk diagnosis IBS adalah nyeri abdomen rekuren atau ketidaknyamanan at least 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir dan berubungan dengan 2 atau lebih gejala berikut ini : . kesulitan dalam mengejan. sayur. dan antidepresan  dapat menyebabkan konstipasi keluarga ada yang sakit serupa? Ada riwayat Ca ga? Defekasi < 3x seminggu. antidepresan.Onset berhubungan dengan perubahan konsistensi feses Gejala pendukung : .Berkurang nyeri setelah defekasi . hormone progesterone dan estrogen tinggi  dapat nyebabin konstipasi Diet serat tinggi (buah2an.C A RPD R T Other Hati2 kalo Lebih dari 2 tahun.Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB .

kadang diselingi atau berubah menjadi gejala diare atau bisa jg konstipasi terus tnpa ada gejala diare.Minum air putih yang cukup . 4.Nyeri abdomen bersifat difus tanpa radiasi nyeri. tekanan darah.a. . sex disfunction A = pada saat stress R = defekasi dapat meringankan nyeri abdomennya T= Others = wanita lebih sering 3x terkena IBS dibanding pria. 191 . Inflamasi. .Perasaan bloating .Jenis penanganan Dokter Keluarga/primer Spesialistik Sub spesialistik Ada 4 pola IBS  IBS-D (diare predominant). kadang ada gangguan cemas Tanda vital Suhu. 3.Konstipasi. 6. IBS-C (constipation predominant). gizi.a.Berhubungan dengan dyspepsia. atau infeksi Hemoocult test Untuk mengeksklusi GI bleeding Terapi Farmakoterapi : Tegaserod 6 mg PO 2dd ac selama 4-6 minggu atau Lubiprostone 24 mcg PO 2dd dc Edukasi . IBS-M (mixed diarrhea and constipation).Adanya mucorrhea kadang2 ditemukan di feses . 5. Keadaan umum Keadaan umum. BB/TB.Diet kaya serat .k Pemeriksaan penunjang CBC Untuk screening DD anemia. dan IBS-A (alternating diarrhea and constipation). Lakukan dan pikirkan hal lain untuk menghindari stress. respirasi  normal Pemeriksaan fisik Kepala & leher t. 1.a. Okasi nyeri paling sering biasanya di abdomen kuadran bawah . nadi. 4. kesadaran  secara umum tampak sehat. heartburn. 7. Sering pada wanita D = > 3 bulan C = gejala2nya : .k Abdomen Kadang2 terdapat nyeri sigmoid Ektremitas t.k Thorax t. Anamnesis O = at least 3 hari perbulan dalam 3 bulan terakhir.Nasehatin pasien supaya jgn stress. dyspareunia.Untuk sementara hindari kafein Prognosis Baik 2.

gejala yang timbul apabila typhoid tidak diberi tx / dibiarkan adalah sbg berikut : Week 1 Incubation Systemic Stepladder fever pattern or insidious onset fever Acute high fever Chills Rigors Anorexia Diaphoresis Neurologic Malaise Insomnia Confusion/delirium Psychosis Catatonia Frontal headache (usually mild) Pulmonary Mild cough Bronchitic cough Rales Pneumonia Cardiovascular Dicrotic pulse Rare Common Common Common Common Rare (lobar) Rare Common (basal) Almost all Almost all Very common Commond Very common Very rare Very rare Very common Common Typhoid state (common) Very commona Very rareb Almost allc Uncommon Almost all Very common Very common Recovery phase or death (15% of untreated cases) 10%-20% relapse. carriers) Week 2 Week 3 Week 4 Post 192 . long-term neurologic sequelae (extremely rare).typhii Secara umum.Typhoid Typhoid  infeksi enteric disebabkan S. 3%-4% chronic carriers. gallbladder cancer (RR=167.

3. 2. nadi. kesadaran Tanda vital Suhu.typhi) L= D = 7-14 hari . Keadaan umum Keadaan umum. Anamnesis O = Muncul gejala konstipasi pada saat minggu pertama (hari 7-14 hari setelah terinfeksi S. BB/TB. konstipasi. Biasanya pada minggu 2 manifes GI nya diare (pea soup) C = Classic presentation : demam.. namun jarang. nyeri abdomen difus. 4. respirasi  pada week 2 kadang2 ditemukan dicrotic pulse (double beat dengan nadi ke2nya lebih emah dari nadi pertama) Pemeriksaan fisik  bisa diliat lebih detail di table atas ya temuan klinis per weeknya. Very common usually trace Rare Common Common Common Rare Rare Rare 1. malaise. gizi.Myocarditis Thrombophlebitis Gastrointestinal Constipation Diarrhea Bloating with tympany Diffuse mild abdominal pain Gastrointestinal hemorrhage intestinal perforation Hepatosplenomegaly Jaundice Urogenital Urinary retention Hematuria Renal pain Dermatologic Rose spots Rare Very rare Very common Rare Very common (84%) 30 Very common Common Common (pea soup) Very rare. tekanan darah. 5. Pemeriksaan penunjang 193 . dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah itu.

. .0 gram p.o 2x1 7-14 hari Ofloxacin 800 mg p. 8. cefixime) Ciprofloxacin 0.6.o 1x1 7-14 hari Ceftriaxone 50-60 mg/kg im/iv 2x1 7-14 hari Cefixime 20 mg/kg p. Week 3  urine Most :  Leukopenia  Hb & platelet turun/normal  Hiponatremia.Istirahat yang cukup. jangan banyak beraktifitas dulu untuk sementara.. Week 2  stool 3. 7. Tes widal TIDAK DIREKOMENDASIKAN karena spesifisitas & sensitivitas rendah Terapi Farmakoterapi : Dianjurkan fluoroquinolone (ciprofloxacin..Makan yang lunak2 dulu seperti bubur .5-1. cephalosporin (ceftriaxone. ofloxacin). Week 1  kultur darah/bone marrow 2. kemudian kondisi dapat membaik dalam 4-5 hari.Banyak minum dan jaga keseimbangan ion dan elektrolit Prognosis Setelah diberi obat. gejala mulai berkurang stlh 2 hari. 1. ELISA IgG & IgM 3. 194 .. Deteksi antigen O dan H 2. hipokalemia  Transaminase naik Tes serologis. Gold std : isolasi & kultur Salmonella typhi dari spesimen Spesimen : 1.o 1x1 7-14 hari Chloramphenicol TIDAK DIANJURKAN karena resiko anemia aplastik dan relaps Edukasi .

2-5.06) IU/l μg/l <10 <0. Hepar:  5.6-6. 1. CBC:       Normal Pada Wanita Laki-laki/wanita 4.4-1 4-6 25-35 0-8 0-15 60-70 20-45 3-7/Ivy <200 <150 >40 >50 <150 42 37 32 31 80-240 53-128 42-98 1. Infeksi:     3. SGPT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  SGOT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  LDH (dikatakan hepatitis apabila meningkat >5x)  ALP (dikatakan hepatitis apabila meningkat <3x)  GGT (dikatakan hepatitis apabila menurun) Cardiac:  CKMB (peningkatan >5% dikatakan ada kelainan)  Troponin I (iskemik >0. infark >0.NILAI NORMAL PEMERIKSAAN LAB No . menurun) mg/dl 8-20 g/dl 195 3.1 .01. Ginjal:  Blood Urea Nitrogen (BUN) (pada gangguan ginjal.01 6.5-3 Jenis Pemeriksaan Satuan juta/mm3 ribu/mm3 ribu/mcl g/dl % % % % % % mm/jam detik detik menit mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl IU/l IU/l IU/l IU/l g/dl Laki-laki 4.4 4-10 200-400 14-18 40-58 12-16 37-43 50-70 1-3 0.2 RBC WBC Trombosit HB HCT HItung Jenis:  Neutrofil  Eosinofil  Basofil  Monosit  Limfosit LED PPT APTT Bleeding Time Kolesterol Total Trigliserid HDL LDL 2. Lipid:     4.8-5.

2011). semoga osce kita sukses! (mardian et. menurun)  Kreatinin darah (pada kelainan ginjal. GNK..5 Merah (pendarahan pada UTI/obat) 1. hehehe. al. Analisa Gas Darah:  pH  HCO3 PCO2  PO2 8.03 (-)   Berat Jenis Protein (>3 pada GNS. Sindrom Nefrotik) Eritrosit ((+) pada GNA. kalau ada salah. meningkat) 7.5# #Impaired Fasting Glucose= Kadar Gula Darah Puasa 110-126#  Gula Darah Puasa  Post Prandial 2 jam  Gula Darah Sewaktu  HBA1c 9.45 24-28 35-45 75-100 mg/dl mg/dl mg/dl % <110 <140 <200 <6 6-6.5-0.003-1.3 0. 196 . dan infark ginjal) Leukosit ((+) pada pyelonefritis akut dan nefritis) Yeast Cast g/day (-) (-) (-) (-) Sekian teman-teman. ISK. HBA1c >6. Diabetes Melitus: #Kriteria DM= Gula darah puasa >126.. Post Prandial 2 jam >200.Albumin (pada gangguan ginjal. kami mohon maaf yah.35-7.9 mEq/l mmHg mmHg 7. Urinalysis:  pH  Warna      mg/dl 0.6-1.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->