OSCE COMPREHENSIVE PROCEDURAL & IPM & nilai lab normal

By : Yan Mardian, Prenali Dwisthi Sattwika, Pradini, Afrilia Intan, Nia Milastuti, Nastiti Hemas, Annisa Tridamayanti, Astari Anggara, M. Randy Givano, Gandhi Anandika, Rizky Admagusta
1

DAFTAR ISI
MATERI HALAMAN

IPM General Thorax Abdominal Exam Eye Exam ENT Exam Neurology Exam Leprae Exam Gynecology Exam Baby delivery ANC Gyn Exam Pap Smear Implant IUD Bedah Simple suturing Sirkumsisi Bedah tumor Emergency Neonatal Resuscitation Endotracheal tube i.v. line Kateter CPR Dressing and Bandaging EKG Advance Cardiac Life Support Others Breast exam Locomotor Genitourinary Post Stroke
2

3 4 5 9 11 16 18 21 23 27 28 30 33 36 38 43 47 48 53 56 57 58 63 68 71 72 74

PROSEDURAL  … bismillah..here we go.. IPM GENERAL : Thorax, abdomen, eye, ent, neuro, leprae
THORAX Punggung: pasien duduk Inspeksi: posisi duduk (sikap tubuh, contoh: tripod pada asma), penggunaan otot bantu pernapasan, UKK Palpasi: hangatkan tangan terlebih dahulu, palpasi nyeri tekan, palpasi pengembangan dada, fremitus taktil (ninety-nine atau satu dua tiga pake nada orang ambon)  fremitus taktil meningkat: konsolidasi paru. Perkusi: perkusi paru (normal: sonor, kalo ada konsolidasi: redup, kalo emphysema: hipersonor), perkusi pergerakan diafragma, caranya di linea midclavicularis dextra diperkusi dari atas ke bawah, sampe nemu batas sonor redup (batas paru-hepar), terus pasien disuruh tarik napas, diafragma turun, perkusi diterusin ke bawah, sampe nemu batas paru-hepar lagi. Penurunan normal 4-5 cm Auskultasi: suara paru (normal vesicular/ suara paru perifer) Dada: pasien berbaring Inspeksi: inspeksi ekspresi wajah pasien (misal nafas cuping hidung, sianosis), leher (retraksi supraklavikular), penggunaan otot bantu pernapasan, konfigurasi dada (misal dada tong pada COPD, pectus excavatum/cekung, pectus carinatum/cembung kayak burung merpati), pola pernapasan, UKK, iktus kordis Palpasi: mirip sama yang punggung + palpasi deviasi trachea + palpasi iktus cordis Perkusi: perkusi paru (dimulai dari atas klavicula sampai bawah zigzag) perkusi batas jantung: Batas jantung kiri: dari linea axillaris anterior perkusi sampe nemu sonor-timpani (paru-lambung, biasanya di SIC VIII), naek dua jari, dengan posisi jari tegak lurus terhadap costa, perkusi ke kanan sampe nemu redup (batas jantung relative, biasanya dua jari medial linea midclavicular kiri, SIC 5) pekak (batas jantung absolut) Batas jantung kanan: dari linea midclavicularis dextra, perkusi ke bawah sampai nemu batas sonorredup (paru-hepar), biasanya di SIC VI kanan, ukur dua jari ke atas, perkusi lagi dengan posisi jari tegak lurus terhadap iga,dari lateral ke medial, cari perubahan sonor ke redup (biasanya di linea sternalis kanan), dam nyari suara pekak (batas jantung absolute, biasanya di linea midstrenalis) Batas jantung atas: cari linea sternalis kiri. Dari titik teratas, lakukan perkusi sejajar iga kerah kaudal, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC II linea sternalis kiri Pinggang jantung: cari linea parasternalis kiri, perkusi di linea itu kearah kaudal, posisi jari sejajar iga, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC III. Kalo sampe di SIC II, berarti pinggang jantung menghilang, biasanya pada keadaan pembesaran atrium kiri 3

lanjutin sampe nemu batas redup0 timpani. Lanjut ke palpasi lien. Saat pasien ekspirasi. stria (pada ibu hamil atau orang gemuk). lalu tekan kuadran kanan atas untuk mencoba “menangkap” ginjal dengan kedua tangan. perkusi hepar (lobus kanan: perkusi dari linea midclavicular dextra sampe nemu batas sonor-redup/paru-hepar. minta pasien utk inspirasi. sedangkan untuk meriksa lobus kiri hepar. konsistensi. letakkan tangan kanan diatas batas kosta dan tekan ke arah spleen. nyeri tekan. di SIC 4/5 linea strenalis kiri (s1 trikuspid). parallel dan lateral dari m. Selanjutnya lakukan palpasi hepar. dokter pindah ke sisi kiri pasien. rectus abdominis. bentuk. Normalnya ga keraba. Perkusi: Perkusi 13 titik (liar gambarnya di buku. sejajar. yang mungkin menunjukkan pancreatitis Auskultasi: Pilih satu titik di abdomen. Palpasi ginjal kanan dilakukan dengan meletakkan tangan kiri pada belakang diantara SIAS dengan angulus kosta. di SIC V linea midclavicular sinistra (s1 mitral). normalnya 8-12 cm. ukuran). pulsasi/peristaltic. pada keadaan udem pulmo atau eksudat di alveolus. yakni pada garis axilaris posterior SIC 11. diperkusi sebelum dan sesudah inspirasi normalnya timpani). minta pasien utk inspirasi  normalnya ga keraba. perkusi lien (di ruang traube. Suara yang sama dengan suara arteri karotis  s1. Trus lakukan deep palpation. bentuk. perkusi dari umbilical ke atas sampe nemu perubahan suara. dilatasi vena (missal caput medusa karena hipertensi portal). atau lebih tinggi dari dada atau schapoid/menggembung). Tes Ascites: 4 . Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri pasien. Palpasi: Hangatkan tangan dulu. terdengar wheezing. dorong tangan kanan masuk ke dalam untuk meraba batas hati. normalnya semua timpani). caranya letakkan tangan kiri pada antara SIC 10-SIC 12. Lakukan palpasi superficial untuk mengidentifikasi resistensi otot. ABDOMINAL EXAM Inspeksi: Kontur (kontur lebih rendah. selanjutnya lepas tangan saat pasien ekspirasi. tapi masih normal kalo batas terabanya 1-2 cm dari batas iga bawah. beri tekanan ke atas. akan terdengar ronki. Caranya letakkan tangan kanan sejajar m rectus abdominis dan tangan kiri menyangga dinding lateral abdomen costa 11-12 kanan. Perhatikan adanya murmur. kemudian pasien disuruh inspirasi. lokasi. biasanya ga keraba. normalnya 4-8 cm. dan tentukan murmur tersebut ada saat diastolic atau sistolik (contoh: murmur sistolik di mitral  stenosis mitral. ukuran. pada keadaan obstruksi saluran napas bawah misalnya asma.Auskultasi: Auskultasi suara paru (normal vesikuler. simetris. umumnya 10 cm. dengarkan juga apakah ada bruits/murmur vascular. massa (lokasi. mobilitas. umumnya 6 cm). murmur diastolic di mitral  insuffisiensi mitral). bekas luka operasi. specific sign: misalnya Cullen sign (blue discolorisation of periumbilical) dan grey turner sign (diskolorisasi pada area flank). dan adanya masa. tangan kanan di kuadran kanan atas. pada bronchitis terdengar crackels) Auskultasi klasik suara jantung: Di SIC II linea parasternalis kiri (s2 pulmonal) kanan (s2 aorta). dengarkan suara click and gurgles (normal 5-35x/menit). untuk mengidentifikasikan massa abdomen. dan nyeri tekan. warna kulit.

Psoas sign  tangakn diletakkan diatas lutut pasien. Periksa akuitas visual (visual acquity) Kalau pakai kacamata. Adanya kenaikan nyeri pada hypogastric menunjukkan kemungkinan iritasi musculus obturator. pakai visus jauh. Cutaneoous hyperesthesia  cubit kulit perut  hyperesthesia  inflamasi saraf subkutan EYE EXAM 1. dan terletak di titik Mc Burney 2. pantulan cahaya (titik kuning) terlihat di pupil sedikit di nasal (slightly nasal to the center of pupil). Kalau nggak ada diplopia. 4. Kenaikan nyeri abdomen kuadran kanan bawah  iritasi musculus psoas karena app 6. continous. kalo udah perforasi. Sentil abdomen dengan tangan kanan. snellen chart. Extraocular eye movement a. 5. periksa mata kanan & kiri gentian. prosedur. izin/informed consent 2. dan tangan kiri diarah sebaliknya. Obturator sign  kaki pasien dinaikkan 90 derajat. b.1. tutup mata jangan ditekan.  Huruf pertama nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  finger counting 1/60 bisa mundur sampai 5 meter (kalo cuma bisa dijarak 1 meter. Sampaikan tujuan. visus: 1/300)  Kalau tetap nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  pakai cahaya (visus: 1/takhingga)  Untuk yang bisa baca snellen chart: Misal di visus 6/20 bisa baca 3 huruf dari 5 huruf  6/20 S2 Misal di visus 6/20 bisa baca 2 huruf dari 5 huruf Visus atasnya (misal 6/30) B2 3. Bentuk huruf H Jarak duduk 1 lengan Waktu tangan di bawah. Lakukan rotasi internal-medial pada pinggang. Tes undulasi (fluid wave): minta pasien untuk meletakkan tangannya secara longitudinal pada tengah abdomen. Superior Oblique N IV. kacamata dilepas. buka kelopak mata Berhenti sejenak saat di lateral dan upward gaze utk liat nystagmus  LR6(SO4)3 (Lateral rectus N VI. Kemudian perkusi lagi pada titik tersebut. Rovsing sign  nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika dilakukan tekanan pada kuadran kiri bawah. visus: 1/60)  Kalau tetap nggak bisa  pada jarak 1 meter pasien  hand movement 1/360 bisa mundur sampai 6 meter (kalo Cuma bisa dijarak 1 meter. Shifting dullness: perkusi dari umbilicus ke lateral hingga ditemukan perubahan suara dari timpani ke redup. Tekan dengan ketat. Tandai daerah itu. liat jangan dipicingkan. Tes konvergensi 5 . Minta pasien untuk berbaring miring. sisanya N III) N IV lihat inferomedial N VI lihat lateral c. nyerinya jadi localized. Tentukan lokasi dan sifat nyeri. lutut fleksi 90 derajat. Periksa reflex kornea (corneal light reflex). tangan kiri tetap pada posisinya dan rasakan gelombang cairan (fluid wave) Test Appendicitis: 1. Dikatakan positif kalo suaranya berubah jadi timpani. Letakkan tangan kanan pada sisi kiri abdomen pasien. minta pasien menaikkan kaki melawan tahanan. Rebound Tenderness. 2. nyeri pada saat dilepaskan  iritasi peritoneal 3.

pasien disuruh fiksasi pandangannya ke hidung dokter . permukaan. simetris. suruh ngitung jari dokter  untuk ngeliat lapang pandang 4 kuadran penglihatan 5. tutup satu mata (periksa mata kanan pasien  pasien tutup mata kiri. darken the room a. Conjunctiva bulbi  Warna. penipisan. Bulu mata  tersusun teratur  persebaran kotinu  arah pertumbuhan (extropion: mukosa ke luar. Visual eye field a. nggak usah tutup mata. deformitas f. Lower conjunctiva palpebra Mata lihat ke atas. Upper conjunctiva palpebra Mata lihat ke bawah. masa protruding.  Anopsia  lesi N. pembengkakan  Sclera: warna. entropion: ke dalam)  tidak ada discharge  tidak ada deformitas kalazeon: obstruksi kelenjar. permukaan.Mata normal mengikuti gerakan objek dari pemeriksa mendekati hidung pasien. Kelopak mata: lesi kulit. masa protruding. Tes konfrontasi 2 Bagi 4 kuadran (kanan kiri atas bawah). Cornea Pakai penlight boleh langsung. opticus  Hemianopsia bitemporal (lapang pandang temporal kedua mata hilang)  lesi chasma optica  Hemianopsia homonim dextra (lapang pandang temporal mata kanan dan lapang pandang nasal mata kiri hilang)  lesi traktus opticus sinistra  Hemianopsia homonim sinistra  lesi traktus opticus dextra  Lesi quadrantika Loop of Meyer (radiation optica bagian bawah) Hemianopsia quadrantika sinistra (pie on the sky)  lesi loop of Meyer dextra b. Periksa segmen anterior Duduk sejangkauan tangan. kelopak ditekuk ke atas. lihat pakai senter  Warna. lagopthalmus (nggak bisa nutup: rusaknya N VII). ptosis (nggak bisa buka mata: rusaknya NIII) Alis (deformitas) Rima palpebra: simetris Arah garis palpebra b. pakai senter harus dari bawah tapi jangan terlalu jauh  Kekeruhan  Bentuk 6 . pola vaskularisasi. Tes konfrontasi 1 Jarak 1 lengan . Trias melihat dekat: konvergensi (melihat kearah medial). akomodasi lensa. miosis (pupil mengecil) 4. terus dokter gerakkan tangan secara horizontal (dari lateral ke medial). deformitas d. tanda inflamasi. dokter tutup mata kanan). lihat pakai senter  Warna. deformitas e. normalnya bisa ngikutin sampai jaraknya 5-8 cm dari hidung. udah membatu hordeolum: keluar discharge kalau dipencet c.

Sampaikan hasil a. (+)  sesuai (+) Dihitung = plus/minus pasien + plus/minus pasien  Pegang opthalmoscope dengan tangan sama  Lihat dari jarak 30 cm lalu mendekat Warna Yang kita gunakan  warna kuning Red free (hijau atau biru)  untuk lihat perdarahan Biru  untuk fluorescence Bentuk ½  untuk pupil yang kecil Garis2 kotak  ratio cup/disk Besar  biasa Yang 1 garis  lihat ketebalan  Jari telunjuk pada lensa panel. reddish  Lihat cup & disc ratio C/D normalnya 3/10 Peningkatan tekanan intra ocular  serabut saraf pembentuk discus lebih sedikit  ratio meningkat  ¾. ga semua bagian iris kena sorot sinar  pada glaucoma sudut tertutup akut) h. Iris/pupil  Warna + bentuk iris  Pupil simetris  Refleks pupil direct & indirect di-swing senternya di depan mata kanan & kiri i. normal/orange. Periksa segmen posterior  Jelaskan periksa opthalmoscope. Anterior chamber Antara iris dengan kornea Disenterin dari samping  Dalam/dangkal  Clearness  Darah/pus Normal: iris terang dua2nya Ada sudut iridocorneal: semakin dangkal (iris kayak bulan sabit. lepas kacamata  Posisi pemeriksa boleh berdiri  Minta pasien lihat jauh  Adjust lensa opthalmoscope (-)  2 (-). Papil N II  Letak papil di arah nasal  Batas papil: tegas/kabur  Warna pucat/yellowish orange. Ukuran  Curve  Pola vascular  Deformitas g. TIO  bandingin sama tonus lidah yang dijendolin ke pipi 6. 3/5 7 . Lensa Senter arah depan bawah  kekeruhan j. sesuaikan fokus 7.

Vaskularisasi Vena lebih besar & lebih gelap Arteri : vena = 2 : 3 ENT 1. adakah lateralisasi? (prinsip: no masking sound that can be heard on normal ear in CHL) Lateralisasi ke arah sakit: CHL Lateralisasi ke arah sehat: SNHL Tengah-tengah: normal c) Tes Schwabach 8 . cuma ada sel pigmen & batang. posisi memegang seperti memegang ballpoint. telinga kiri arah jam 7  Bulging  vaskularisasi d. Telinga a. Duduk face to face oblique. izin / informed consent 2. kuadran anteroinferior Telinga kanan arah jam 5. prosedur. letaknya lebih ke arah temporal Periksa refleks foveal Pasien diminta melihat ke arah cahaya sebentar c. Palpasi  cari nyeri  Tragus  otitis externa  Helix. Inspeksi telinga  UKK  Deformitas  Oedem  Discharge b. tangan buat megang otoscope sesuai dengan telinga (meriksa telinga kanan pake tangan kanan).Peningkatan takanan intra cranial  discusnya naik  ratio turun  3/11 b. mastoideus terus didengerin de deket telinga (+) AC > BC: normal/SNHL (-) AC < BC: CHL b) Tes Weber (masking effect) Diletakkan di glabella. pakai garpu tala frekuensi 512 Hz a) Tes Rhine (prinsip: middle ear amplifies the sound) Diletakkan di proc. Tes pendengaran. Jelaskan tujuan. Yang diliat:  Canalis auditoris externus  Perdarahan  Laserasi  Serumen prop  Tanda otomikosis  newspaper-like-appearance  Membran timpani  Intact/perforasi  Cone of light. ruang semi gelap 3. Macula Tempatnya fovea centralis. auricula  Mastoid  otitis media c. Otoscope Auricular ditarik ke arah superoposterior. fiksasi jari di pipi pasien.

Tenggorokan a. mastoideus. palpasi hanya kalo ada indikasi kanker lidah.. Inspeksi  Deformitas  Deviasi septum  Perdarahan/hematom  Rhinorrhea b. Sebenernya ada test transiluminasi buat ngeliat sinusitis. Jari telunjuk untuk fiksasi. tapi karena ga ada di checklist buku. Palpasi  Deformitas  Masa abnormal  Pencet 1 lobang idung terus minta pasien napas  apakah ada obstruksi? c.Di proc. Yang diliat:  Concha nasalis media & inferior  Meatus nasi inferior  Septum lurus/deviasi/perforasi  Mukosa merah  tidak ada epistaksis  tidak ada polip (biasanya warna pucat)  tidak ada lendir berbau atau berwarna d. Speculum dibuka waktu udah di dalam rongga hidung. tangan yang nggak megang speculum fiksasi kepala di belakang. Buka mulut dengan spatula 1) Masukkan spatula (yang dimasukin ujung besarnya). ga usah deh yee. Bibir  UKK b. Speculum Posisi tangan & hidung berlawanan. kalo palpasi musti pake glove  ga disuruh di checklist 9 . lanjutin ketok untuk tau ada nyeri ketok sinus  curiga sinusitis. dorong dinding lateral mulut  Membran buccal: warna & perdarahan  Gusi: warna & perdarahan  Gigi: karies  Rasio gigi gusi 2) Minta julurkan lidah  tes nervus XII 3) Minta pasien “aahh” (lidah ga dijulurin). tahan pakai spatula lidah Palatum molle & uvula terangkat  tonsilla palatina & dinding posterior faring  terlihat kalau ada eksudat 4) Ga usah palpasi lidah. pemeriksa harus normal BC pasien > dokter: CHL  periksa sebaliknya BC pasien = dokter: N  periksa sebaliknya BC pasien < dokter: SNHL 4. palpasi sinus frontalis & maxillaries. kalo nyeri.  5. ditutup waktu udah dikeluarin. Hidung + sinus paranasal Pakai & nyalakan lampu kepala a. e.

N VIII (vestibulocochlear)  Rhine. dll b. dokter nahan m. Bahasa/language 1) Pensil + arloji  ini apa? 2) Tanpa. Cranial nerve exam Kalo cuma untuk screening: N II. VI. Kalo mau lengkap: a. Orientasi 1) Person 2) Moment 3) Place Nanyanya harus sekaligus: Bapak datang sama siapa? Tadi makan apa? Sekarang lagi ditempat apa namanya? b. kalau <25  disorder. III. atau. N V (trigeminus) mastikasi ketika mengunyah rasakan otot mulut tahan dagu trus suruh buka mulut sensoris wajah: sensasi di N V1 (opthalmicus). bila. taruh lantai 4) Baca “pejamkan mata” dan lakukan 5) Tulis kalimat SPO 6) Salin gambar Skor maksimal 30. N XI Angkat bahu. dan. tetapi sebutin dengan intonasi yang datar 3) Ambil kertas. N I (olfactorius)  bau2an tembakau. Atensi & kalkulasi 100-7-7-7-. VI (abduscen)  ocular eye movement N III  refleks pupil (cek parasimpatis) d. Recalling suruh nyebutin 3 objek yang tadi disebutin e.. Weber. N IX (glossopharungeus) dan X (vagus) Gag reflex Angkat palatum (bilang “aah”) Minta menelan h. N V2 (maxillaries). XII.NEURO EXAM 1. Mini mental status examination a. VII. missal tumor lobus frontalis & stroke 3. Schwabach g. N V3 (mandibularis) e. N III (occulomotor). trapezius 10 . IV (trochlear). kopi. sampai 6x Kata dibalik: MESRA  A-R-S-E-M d. cengkeh. Noting  menyebutkan 3 objek c. lipat2. IV. N II (optic)  snellen chart c. GCS  Glasgow Coma Scale  E (eye:4) V (verbal: 5) M (motor:6)  kalo pasien ga sadar 2. N VII (facialis) Sensoris: 2/3 lidah untuk perasa Motoris  Tutup mata  Kernyitkan dahi UMN: bisa kernyutkan dahi (stroke) LMN: nggak bisa (Bell’s palsy)  Gembungkan pipi  Bersiul f.

epicondylus medial lateral. pejam mata. Noleh kiri kanan. lutut. hitung sampe 10. Taktil Pakai brush. maleolus medial lateral e. Motor strength Otot yang diperiksa (screening) : M. Nyeri Pakai yang tajam atau tumpul. proc styloideus medial lateral. medianus. XII Motoris : julurin lidah UMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sakit LMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sehat 4. Neuromotoric exam a. Sensoris examination a. bandingkan kanan-kiri c. triceps. Movement 11 . Getaran Pakai 256 Hz. terasa atau tidak b. deltoid.i. dorsofleksi. dokter nahan di pipi. m. Muscle tone Dinilai bagus atau tidak tonus ototnya Karakteristik lesi UMN:  Spastik  weakness  Reflex fisiologis hiper (liat keterangan dibawah)  Ada reflex patologis Karakteristik lesi LMN:  Flacid  weakness  atrofi otot  Refleks fisiologis hipo  Tidak ada reflex patologis Interpretasi: 0 tidak ada refleks 1 hipo 2 normal 3 hiper tapi masih normal 4 hiper patologis. plantar fleksi Otot yang diperiksa (semua) = semua otot ( ada di buku neuro motoric ) 0 : tidak ada gerakan atau tonus 1 : ada tonus 2 : ada gerakan tapi tidak bisa melawan gravitasi 3 : bisa nahan gravitasi namun tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 : bisa menahan pemeriksa tapi lemah 5 : normal. di olecranon. Pronator drift  suruh ngangkat tangan. posisi supinasi. biceps. Suhu Pakai air panas 40 O C dan air dingin 20 O C d. scm N. ekstensi lutut. kalo salah satu tangan berputar pronasi sambil tangannya turun  pronator drift + Kalau pronator drift nya +  lesi UMN b. dipukul di otot juga keluar refleksnya (kan harusnya cuma pas dipukul di tendo aja keluar refleksnya) 5. bisa menahan pemeriksa c.

Gordon  jepit betis. lihat nystagmus dalam 20 menit 12 . kakinya rapat. Biceps  tangan kanan memegang tangan kanan. Brachioradialis  mirip kaya m. positif = menggenggam b. Patella  lutut dibiarkan menggantung. mekar jari2nya (fanning) d. Babinski  dari bagian lateral plantar sampai ke bawah jempol membentuk huruf J positif = dorsofleksi jempol. Kernig sign  lutut fleksi. positif= dorsofleksi jempol. diketuk dari atas. Lasegue  untuk memeriksa LBP & n. ischiadicus  kaki diluruskan lalu diangkat. 2. Untuk BPPV Diagnosis: Dix hallpike  Kepala miring 45o  Terus tiduran dengan posisi kepala nggantung  Lihat ada nystagmus/pusing nggak. tapi kalau ada tahanan dan sakit berarti abnormal (kernig +) b. Refleks patologis a. cari tendo m. biceps. Openheim jepit tibia susuri ke bawah ditarik . cek vestibular. diketuk dari bawah. positif = plantarfleksi --> beda sendiri 8. Schaeffer  jepit Achilles. di pukul di tendo Achilles. mekar jari2nya h. Positif kalau kaki melangkah mau jatuh. Tromner  yang dipegang jari tengah. positif= dorsofleksi jempol. biceps brachii. diketuk dialasi jempol (positif kalo supinasi) b.Gerakin jari . Brudzinski 1) neck : 1 tangan ngangkat kepala. tarik dari belakang. Jatuh ke arah lesi. normalnya bisa lurus. kaki yang lain ikut naik c. dipukul di tendo triceps brachii c. Romberg  cek keseimbangan Matikan ocular dengan tutup mata. mekar jari2nya g. Triceps  tangan kiri disangga tangan kiri pemeriksa. tangan pemeriksa nahan di plantar supaya terasa gerakan dorsofleksinya kalo positif 7. disuruh menyebutkan ke atas/ bawah/ kanan/ kiri 6. Hoffman  yang dipegang jari tengah. positif = menggenggam c. Tanda iritasi meningeal a. positif = dorsofleksi jempol. Pasien diminta berdiri. Achillles  kakinya bersandar pada kursi. Chaddock  dari maleolus lateral ke arah kelingking positif = dorsofleksi jempol. trus kaki coba dilurusin ke atas. kalau positif = lutut nekuk 2) kontralateral : 1 kaki diangkat difleksikan. tapi dipukul di ototnya (snapping movement) d. 1 tangan di dada. lalu agak difleksikan. propiosepsi tetap. tutup mata. Tandem gait Jalan dalam 1 garis lurus. Rossolimo pukul bantalan ibu jari. mekar jari2nya f. mekar jari2nya e. Refleks fisiologis a. di pukul di tendo quadriceps femoris e. positif = nyeri Periksa vertigo 1.

Treatment: Epley maneuver  lanjutan dix hallpike      Terus noleh ke sisi satunya 90o Badannya putar ikuti arah kepala Bangun Leher fleksi 20o Setelah epley pakai cervical collar  untuk mencegah perpindahan canalith lagi Sermont maneuver  Tidur miring kanan 30 detik  Duduk tegak 30 detik  Tidur miring kiri 30 detik 13 .

mati rasa. Agravating –relieving : tidak ada v. Perkenalan diri 2. RPS i. Review system : i. Pulpen d. Adakah mati rasa? iii. apakah ada penebalan saraf? ii. air dingin 20oC c. jarum pentul b. Location : bercaknya adanya dimana aja iii. Adakah keluhan di saluran nafas?  multibacilar 3. Alkohol spray 14 . erythema nodusum leprosum  Lepra multibacilar : mukosa dan saraf  keluhan : nasal stuffness. Siapkan alat a. Onset : masa inkubasi : 2 minggu. anestesi. maluku e.Cerebellar ataxic  finger to nose PEMERIKSAAN LEPRA 1. Informed consent 4. Air hangat 40o C .  Lepra paucibacilar : kulit dan neuro  keluhan : bercak hipopigmentasi. Keluhan Utama : Bercak hipopigmentasi. RPD : ngga terlalu ngaruh d. Kapas. Treatment : c.30 tahun ii. Anamnesis a. Characteristic : seperti apa lesinya? iv. hoarseness. RPK lingkungan : adakah anggota rumah/ lingkungan yang mengalami hal serupa? Papua. penebalan saraf  Stadium: TT  BT  BB  BL  LL b.

Sensorik: pakai pulpen di telapak tangan. hidung pelana . Perabaan/ taktil : dengan kapas Jelaskan ke ibunya kalau terasa suruh bilang terasa. Minta pasien untu memutar. atrofi tenar/ hipotenar iii. Areanya: jari manis setengah ke medial di telapak tangan. Kepala : ada madarosis atau tidak. Cuci tangan 6.N. tangan disilangkan untuk meraba di maleolus medialis d. lalu ditahan. peroneus komunis  di lateral caput fibula . N. lagophtalmus. 5 lateral . vi.Motoris : jari kelingking abduksi. N.Aurikularis magnus  pasien tengok kiri/ kanan diraba ada atau tidak penebalan saraf . Sensibilitas Bandingkan antara yang ada bercak dengan yang normal (bukan kanan-kiri) i. ada infiltrate di cuping telinga/ tidak?. 1. 1: tidak bisa abduksi iii. aspek dorsal dari kaki. perut.N. tangan ventral. lalu di beri tahanan iv.Sensoris : telapak tangan 3. 2 : bisa abduksi tapi ga bisa lawan tahanan . ulnaris  tangan kanan dipegang dengan tangan kanan agak difleksikan. area gluteal. radialis : motoris Dorsofleksi palmar ( kayak orang naik motor) lalu di tahan v. angkat kaki. ulnaris . N. auricularis magnus (menyilangi SCM) ii. Nyeri : jarum pentul Bandingkan perabaan tumpul atau tajam. peroneus komunis : motoris Dorsofleksi kaki. nyeri. diberi tahanan ke dalam Nilai : 3: bisa melawan tahanan . ii. Pemeriksaan fisik Pasien kalau laki-laki harus membuka baju dan hanya memakai celana pendek. medianus : . tibialis : sensoris 15 . jari2. simetris atau tidak . punggung. N. Inspeksi i. hipopigmentasi. cahaya ruangan harus cukup a. facialis : motorik Periksa dengan memejamkan mata. hipopigmentasi b. bercak.5 medial . Suhu : dengan air panas/ dingin iii. atrofi kulit.Motoris : jempol ke arah hidung. tibialis posterior  jongkok. dikatakan lagophtalmus kalau > 3mm ii.N. tangan. ada pembesaran n. Fungsi Saraf (sensoris dan motorisnya) i. langsung diraba pake tangan kiri . Tangan  ada jari kiting atau tidak. Tubuh minta pasien untuk meluruskan tangan ke depan. N. inspeksi plantar Lihat  ada ulkus.5. N. inspeksi aspek dorsal leher telinga. Perabaan Saraf Yang dicari: Penebalan saraf . dan menginspeksi dada. ada celah atau tidak. ada/ tidak nyeri c.

sekitar 8 jam 2.d. IUD BABY DELIVERY Kala 1 1. Pakai masker. tab 1 R/ Clofazimin 300 mg No. Treatment . XXX s.d. obat minum d depan dokter R/ Clofazimin 50 mg No. pas di spina ischiadica 16 . XXX s.d. Bimanual untuk mastiin  Ada tumor nggak di jalan lahir  Ada DKP atau nggak  Ada moulage nggak  Nentuin station 4. papsmear. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No.1. jadi harus taat minum obat b. Kecepatan: 1 cm/jam Yang dicatat di partograf 1. 7.I s. Fase aktif Pembukaan 4-10. Pengobatan ini memang lama.. gyn exam. ANC. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No.Paucibacillar : 6 bulan (obat Rifampicin diminum depan dokter. Periksa urin 2-4 jam 3.Pasien harus mengekspos telapak kaki. I s. tapi pengobatan 6 bulan) R/ Tab Rifampicin 600 mg No. lalu dites dengan pulpen. Edukasi a. Sebulan sekali datang control - GYN Baby del. tab 1 Multibacillar : durasi treatment 12 bulan R/ Tab Rifampicin 600 mg No.d. Leopold Enganged kalau udah di station 0 atau hodge 3. 1 bulan 1x minum) tiap 1 bulan balik lagi ke dokter. Vital sign Periksa tekanan darah + suhu tiap 4 jam Periksa HR tiap 0. implant.5 jam 2. XXX s. karena penularan lewat droplet c. I s.1.d tab 1 8.d. Fase laten Pembukaan 0-3 cm.1.

Salam dan perkenalan Selamat sore. ibu memasuki kala 2. Klem lurus h. Melahirkan kepala 17 . tangan bisa pegangan paha. Fetoscope/stetoskop Laennec p.5% 4. tutup mulut. lakukan ketika kenceng2 10. Berdiri depan vulva 6. simetris b. Menentukan waktu untuk meneran a. Sarung tangan o. saya dokter yang akan membantu kelahiran ibu. nyebabin effacement serviks. ½ cocher (buat mecahin ketuban kalo belum pecah) f. Pakai apron b. ambil napas dalam lewat hidung. dagu nempel di dada. Chlorin 0. Anus berdilatasi & membuka e. Gunting epis g. Periksa perineum rigid/nggak. Silakan lepas bawahan & celana dalam lalu tidur di meja litotomi. DJJ tiap 5 menit selama 1 menit  asisten yang ngelakuin (inget: Laenec ga steril) 9. mengejan ke arah perut sekuat mungkin 8. Meja ginekologi d. Anamnesis singkat  GPA  Umur kehamilan  ANC teratur? Terakhir kapan?  Ada keluhan selama kehamilan?  Ada riwayat hipertensi. Ergometrin l. Saya memerlukan kerja sama ibu agar proses kelahiran lancar. Pasien ingin meneran c. Oksitoksin 10 IU & syringe-nya k.Kala 2 1. Gunting jaringan untuk tali pusar i. Mohon kerja sama 3. jarak vagina & anus  episiotomy nggak? Kalau diepis. dominasi fundus. Jelaskan cara meneran Selama kenceng2. Kateter nelaton/logam m. Lampu ginekologi  nyalakan c. Perineum menegang d. Klem tali pusar j. DM (makrosomia atau disproporsi kepala panggul) 2. 1 dipegang buat nahan perineum e. needle. Cuci tangan. Dari partograf RM. 1 di atas perut ibu. 3 linen steril  dipake abis pake gloves 1 di bawah buttock ibu. Persiapan alat a. Kontraksi 3-4 kali dalam 10 menit. Bloody show 7. Bagian mukosa anus muncul f. Needle holder. pakai sarung tangan 5. keluarkan lewat hidung. Kepala janin memperlebar outlet vagina 3-4 cm g. satu kali 20-40 detik. Wadah bengkok q. benang untuk jahit epis n.

18 . yang gerak jari2nya aja. 14. lahirkan bahu anterior Ke atas. kalo masuk-keluar tali pusat  belum lepas  Strassman: diketuk fundus uteri ibunya  kalo belum lepas. kalau ada yang putus mungkin itu vasa untuk plasenta lain. leher. Bersihkan kotiledon dengan kasa hidrofilik. Tangan kanan dilapisi linen. 17. Pijat uterus dengan ujung jari kiri. Massage fundus uteri Setelah plasenta keluar. kita tekan di simfisis pubis. imunitas. menahan perineum untuk menghindari laserasi perineum Tangan kiri tahan kepala bayi di atas supaya nggak defleksi berlebihan Begitu kepala keluar. tangan kanan megang plasenta. Periksa kotiledon di pars maternal (20-30 kotiledon). 21. Bapaknya bisa bantu stimulasi puting susu. buang linen Periksa ada lilitan tali pusar atau nggak. pegang kepala. Terus potong Klem 1 di bayi ganti klem disposable (klem tali pusat yang warna biru) Bayi letakkan pada dada ibu. lap muka bayi. 13. Tunggu putar paksi luar Setelah putar paksi luar  maneuver biparetal. 16. suntik ergometrin di vastus lateral kanan agar uterus involusi (jika perlu).dll) Kasih tahu kondisi bayi & selamat ke ibu Tulis di rekam medis Kala 3 Manajemen Aktif 19. posisi kepala bayi lebih rendah Klem 1 4-5 cm dari bayi Klem 2 diurut 2-3 cm dari klem 1. Kalau ada. 12. dilandasi linen steril untuk ngelap badan kecuali telapak tangan. lahirkan bahu posterior Delivery sisa badan Baringkan di atas perut ibu. Periksa vasa di pars fetal. di posterior introitus vagina. Suntik oksitoksin ke vastus lateral kiri 20.11. 15. 18. sampai pundak Delivery bahu Ke bawah. Tegangan/traksi tali pusar terkendali Cara periksa tali pusar udah lepas atau belum:  Kussner: tali pusar ditarik. Plasentanya ditarik ke bawah terus ke atas pake klem yang udah dipindahin ke introitus vagina Diputar pas udah mau keluar. trus udah selese ngejan masuk lagi  belum lepas Ciri udah lepas:  perubahan bentuk & tinggi uterus (dari globuler jadi pear & naik)  tanda ahfeld (tali pusar memanjang)  ada semburan darah mendadak Tangan kiri tekan daerah fundus dorsokranial. kerasa ketukannya di tali pusat  Klein: pas ibu mengejan kalo tali pusatnya keluar. Jempol tetep di fundus agak bawah. diklem terus dipotong. IMD (inisiasi menyusui dini  utk bangun hubungan bayi dengan ibu.

breech. Kalau udah deket2 HPL. baju bagian perut disingkapkan & tutup bagian tubuh bawah dengan selimut. dan hasil yang diharapkan Saya akan melakukan pemeriksaan pada janin ibu. minta ibu menekuk kaki. transvers. menghadap lateral Situs/Lie: longitudinal. bulan -3. Jelaskan prosedur. 27. Berdiri di kanan. presentasi muka  dagu. Umur kehamilan (HPM terakhir) c. tujuan. 25. Anamnesis a. Informed consent 26. Penyakit yang pernah dialami (DM. breech precentation  sacrum Leopold baru bisa mulai 28 minggu 19 . hipertensi) f. Salam dan perkenalan 23. brow). Minta ibu tiduran di atas meja periksa. ANC teratur? Kapan terakhir ANC? d. edem/makin bengkak) e. Ga pake glove.ANTENATAL CARE Jadwal rutin ANC 1-28 minggu 28-36 minggu 36-40 minggu >40 minggu 1 x/bulan 2 x/bulan 1 x/minggu >1 x/minggu Gestational age Embryonal age = 2 minggu setelah gestational age HPL dihitung dari HPM terakhir  tanggal +7. Obat yang pernah diminum selama kehamilan g. GPA b. tahun +1 Perkiraan lahir 40 minggu Prosedur: 22. concaf Posisi: nentuin di kanan atau kiri Posisi yang sering  PUKI (punggung kiri) Denominator: Presentasi Vertex  UUK. ada tanda2 seperti bloody show dll atau nggak? 24. bilas. terasa tidak nyaman tapi tidak berbahaya bagi ibu dan janin ibu. handukan atau pake alcohol. Cuci tangan: pake sabun. Minta ibu berkemih dahulu. Keluhan kehamilan (sakit punggung karena perut tambah besar. oblique Presentasi: chepalic (vertex. 28. shoulder Attitude: conveks (melengkung). Saya perlu meraba2. face.

caranya 5 detik itung. Fundal height pakai meteran  estimasi umur gestational & berat Hitung dari simfisis pubis ke fundus tapi yang centimeter-nya dibalik biar nggak bias. Hitung: selama 25 detik. Sampai di fundus. 5 detik berhenti. bukan pulsasi ibu. 32. soft. Lakukan deep pressure di pelvic inlet Di mana cephalic prominence? Presentasi vertex: cephalic prominence sejajar limb (small part) Presentasi wajah: cephalic prominence sejajar punggung (flat & elongated) 37. posisi ganti jadi menghadap kaki ibu 35. 20 .Leopold 1 29. Fetal Heart Rate FHR bisa didengar setelah 18 minggu. Telapak tangan kiri kita diletakkan pada perut lateral kanan ibu. Divergen: enganged Convergen: unenganged 38. Sambil pegang arteri ibu untuk memastikan yang didengar FHR. hard. 5 detik itung  jumlah terus kali 4 Nentuin posisi ndengerin FHR  Kalau presentasi bokong  di atas umbilicus Kiri/kanan tergantung posisi punggung fetus  Kalau presentasi kepala  di bawah umbilicus Presentasi cephalic wajah: di dada Presentasi cephalic vertex: di punggung 39. telapak tangan kanan kita diletakkan pada perut lateral kiri ibu. memastikan leopold 1 (bisa pula digoyangkan utk skrining udah masuk panggul apa belum) Leopold 4 34. tekuk meteran & lihat cm-nya berapa. Mengukur fundal height berapa jari dari proc. Pegang di bagian agak atas simfisis pubis dengan tangan kanan. Turunin tangan gantian kanan kiri Punggung: flat. Berdiri di kanan pasien. normal 120-160 x/menit. 30. multiple Leopold 3 33. 5 detik berhenti. xyphoideus/umbilicus Taruh sisi lateral jari telunjuk kiri pada bagian atas fundus uteri untuk menentukan ketinggian. Finger di segmen bawah rahim 36. Bagian fetal di fundus bulat keras kepala bulat lunak buttock kosong posisi transversa Leopold 2 31. 5 detik itung. elongated Limb: small. Dengan monoaural fetoscope.

konsistensi). dilihat pakai KOH 10 % ada pseudohifa 21 . RPK: ada yang punya keluhan sama? f.5).Tinggi fundus x 8 : 7 (dalam minggu) Kalau udah enganged. bilas. Penjelasan ke ibu a. ciri baunya amis kayak ikan. jenis kelamin. discharge berbusa & hijau. Cuci tangan: sabun. seperti susu basi. terus periksa pH pakai kertas lakmus  Trikomoniasis Oleh T. Greeting & perkenalan diri 2.( tinggi fundus -12) x 155 gram 40. umur b. terutama pada pagi hari. vaginalis. Anamnesis ginekologis a. (tinggi fundus -11) x 155 gram Kalau belum enganged. Pengukuran umur kehamilan d. pakai Gram ketemu clue cell Nanti di-bau-in dulu setelah lici kapas diusap ke vagina.leukosit PMN >30  Vaginosis bakterial Gadnerella vaginalis (Gram negatif)  rangsang kuman aerob di situ  pH jadi basa (>4. RPD: sudah pernah? e. Keluhan lain DD discharge vagina  Cervicitis GO: keluar seperti nanah. Keluhan utama Cairan vagina: sejak kapan. Estimasi kelahiran f. Estimasi berat janin e. karakteristik (warna. frekuensi. bau. leukosit PMN >30 Non GO: DGNI (-). DJJ normal/nggak c. Kapan kontrol lagi 42. DGNI (+) seperti biji kopi di intraselular. gatal. dilihat pakai NaCl 0. kuantitas. & nyeri c. Identitas: nama. Catat di medical record Tambahan: <20 bulan 20-<37 bulan 37-42 bulan >42 bulan Umur gestational Fetal weight aborsi preterm aterm postterm GYN EXAM (kasus IMS) 1. dan handuk 41. RPS 1) Status: menikah atau belum 2) Riwayat ginekologis: GPA 3) Riwayat menstruasi: siklus dan mens terakhir? 4) Pakai kontrasepsi d.9% ada yang motil  Kandidiasis Kental. Posisi bayi b.

Basin Cuci tangan & menggunakan sarung tangan secara aseptik Duduk di depan area genital Membersihkan vulva Pakai peyan dengan arah meminta untuk permudah visualisasi Kasa 1: dari depan turun. Mangkok isi betadine/antiseptic Toilet vulva dalam f. 3 Lidi + kapas j. Meminta pasien buka celana dalam. masuk anus yang terakhir. dari kanan medial sampai paha medial. kegunaan:  Dinding vagina: a) Kandidiasis  KOH b) Vaginosis bakteri  Gram  Ostium uteri eksterna: Cervicitis  Gram  Fornix posterior Trichomoniasis  langsung di bawah mikroskop karena udah ada NaCl i. untuk membersihkan e. Duk steril Toilet vulva luar d. Mangkok isi NaCl 95% k. 12. 0. Informed consent & alasan2 Dari hasil anamnesis. Memposisikan & menyalakan lampu 9. 4. masukkan 3-4 cm kemudian diputar Inspeksi vulva dan area sekitar  Mons pubis persebaran rambut  Labia majora lesi pigmentasi pembesaran glandula  Labia minora peradangan 22 10. Tampontang/klem pean. Lisol. Perineum di tepi meja periksa Pemeriksaan in speculo 8. & berhenti Meletakkan duk steril : 1 di bawah pantat.5% chlorine untuk desinfeksi tingkat tinggi m. kalau bukan IMS Periksa IMS h. Tujuan  sedikit tidak nyaman tetapi tidak membahayakan 5. masuk & berhenti Kasa 2: pelangi 3x. mengecek peralatan: a. Klem ovarium g. 15. 4 slide. bentuk lingkaran. . Sarung tangan l. 1 yang berlubang di area vulva Melakukan kateterisasi (kalau belum berkemih). Pakai apron. Silakan bila ingin BAK 6. minimal siapkan 2 ukuran b.3. 11. Speculum graves. 14. Air hangat c. 13. tidur pada posisi lithotomy 7. perlu dilakukan pemeriksaan alat kelamin.

21. Unlock & remove speculum 22. Tangan kanan di depan vulva & tangan kiri di regio suprapubis Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari tengah & telunjuk tangan kanan Ibu diminta tarik napas 25. Berdiri. jempol menahan. Pilih speculum yang tepat & screw-nya. Sedikit kendorin. nyeri  chancroid Multiple. terus buka pelan2  Dikunci setelah sampai portio 18. tepi meninggi. nggah usah diputar. Beri lubrikan dan masukkan  Minta pasien tarik napas  Tangan kiri di atas mons pubis dengan jempol dan telunjuk membuka labia minora  Tangan kanan memegang speculo. telunjuk di atas. dasarnya tidak bersih. dilatasi atau tidak  Warna  Perdarahan  Inflamasi  Discharge  Tanda2 carcinoma  Tanda Chadwick: cervix kebiruan karena dilatasi vena saat hamil  Adakah benang IUD 20. Laporkan a. atau tidak  OUE terlihat atau tidak. Inspeksi a. Speculum tetap dipegang waktu periksa lidi kapas. dilatasi. Cerviks  Mencucu. kalau belum pernah coitus jangan speculum 17. jari tengah di bawah  Kalau udah masuk 2/3. Masukkan ke larutan 0. tidak nyeri  sifilis Ulcus bentuk tidak rapi. Kunci & bersihkan dinding vagina & cerviks (toilet vulva dalam) 19. jari lain fleksi 26. Pisahkan labia major dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri Jempol & jari tengah ekstensi. ada massa vesikel. Vulva 23   . tumor. perdarahan pada dinding vagina bagian anterior posterior Kalau IMS.5% chlorine Bimanual examination 23. dirotasi 90%. Jari ketiga menekan ke posterior vagina lalu masuk bersama telunjuk hingga posterior fornix 27.Clitoris Introitus discharge. Melubrikasi tangan 24. Dinding vagina  Licin  Perdarahan  Discharge  inflamasi  Tumor b. kalau ada diambil  Ada tidaknya OUE Palpasi  Cysta bartholini Ulcus batas tegas. nyeri  herpes genitalis 16. putar 90o: adakah fistula. dasarnya bersih.

Pakai apron b. tapi kalau 3 kali berturut-turut negatif. 2 labelled object glass Untuk pemeriksaan 24 . Vagina  Dinding licin. meminta pasien bangun dari meja ginekologis Matikan lampu Menyampaikan hasil Treatment:        Sifilis: IM dosis tunggal benzadil penilicillin 2. & isi (padat/cair)  Bila berdenyut  hernia c. Uterus  Posisi (ante/retro)  Ukuran  Mobile ( naik turun. durasi 3 hari Trichomoniasis: metronidazol 2 gram dosis tunggal Vaginosis bakterial: metronidazol 500 mg selama 7 hari Cervicitis: GO: cefixime 400 mg single dose oral atau ceftriaxone 200mg IM Non GO: doxycicline 2 kali dosis 100 mg selama 7 hari atau tetracycline PAP SMEAR Dilakukan pada saat telah melakukan hubungan seksual <30 tahun 1 kali per tahun >30 tahun pertama-tama per tahun. berarti nggak usah dilanjutin. b. 30. tuba fallopi. 31.5% Sebelum dilepas. konsistensi. Alat a. Speculum grave g.ducreyi. rel kereta/ikan yang berderet) Herpes genitalis: acyclovir 5 x 200 mg selama 5-10 hari Kandidiasis: mikonazol 200 mg/hari suppositoria vaginal. Adnexa (ovarium. Lampu ginekologi d. 29. Parametrium f. kanan kiri) e. Cerviks  Cysta  OUE  Konsistensi cerviks d. 3 kali berturut-turut pada pemeriksaan sebelumnya negatif. Meja & kursi periksa c. ligamentum)  periksa ke arah fornix lateral  kaku atau tidak Masukkan semua alat ke larutan chlorine 0.28. 43. Glove e. Linen berlubang f. tangan bersarung tangan kobok2 di basin chlorine Lepas sarung tangan. cuci tangan. Endocervix brush/ayre spatula h.4 juta IU Cancroid: azythromycin 1 gram oral dosis tunggal (H. cukup 3 tahun sekali >70 tahun jika dalam waktu 10 tahun terakhir. ber-rugae  Tumor.

5% dan ke tempat sampah 61. Duduk depan area genital Toilet vulva luar. Kapan follow-up: kalau udah ada hasilnya IMPLANT 25 . berhenti. Tanda2 cervicitis (kalau ada. Urinasi & cuci perineum sebelum pemeriksaan b. 49. baru pap smear) d. Surat rujukan ke PA 65. Katakan telah selesai Post-action Management 60. jumlah pasangan >1 hari c. lepas gloves Cuci tangan dengan air mengalir Handuk 62. Larutan etanol 90% yang sudah diberi label Surat rujukan Jelaskan tujuan & prosedur Anamnesis singkat a. & dinding vagina Laporkan discharge. forniks. erosi. Waktu ngeluarin.44. jangan menyentuh sekitar 56. Semua dismear endocervical brush  ratakan di slide dengan diputar spatula ayre  ratakan bagian eksoserviks di slide dengan diusap 2 kali di tempat yang berbeda 57. pakai duk berlubang Cek area genital. Melepas underwear Minta pasien untuk berbaring dengan posisi litothomi Posisikan pasien & nyalakan lampu ginekologis Prosedur 50. & kondisi abnormal lain 54. High risk bila <18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual. bisa ambil endocerviks dan ectoserviks 55. masa fragil. Cuci tangan & pakai gloves 51. inspeksi area vulva perineum & meatus urethra Laporkan: lesi. speculum bisa dikasih air hangat tapi jangan lubrikan Kalau ada cervicitis. Rendam tangan berlapis gloves di larutan chlorine 0. obati dulu 12 minggu. 46. 47.5%. Fiksasi dengan dicelup alcohol 90% 58. Terlihat serviks. Endocervical brush putar 360o Spatula ayre putar 180o. diskolorasi 52. obati dulu 53. Dekontaminasi dalam larutan chlorine 0. Tidak melakukan sexual intercourse & irigasi vagina dalam 3 hari terakhir Sampaikan kalau sedikit nyeri Informed consent Minta pasien a. Tanyakan pertama kali hubungan seks b. Keluarkan spekulum 59. masa. Finding & next action: nanti hasil PA bisa nunjukkan adanya gangguan pertumbuhan 64. drainasi. Matikan lampu Counseling 63. 48. 45. bleeding. In speculo exam. a.

KB penjarangan: Short term (+) implant: tidak mengganggu hubungan seksual (-) implant: gangguan hormonal tapi tidak separah oral. efek samping jadi gemuk (-) kondom & diafragma: kurang manjur Long term (+) IUD: dominan progesteron  mempertebal mucuos. Riwayat penyakit Breast cancer? Hipertensi. brain vascular disease. bisa peradangan panggul KB penghentian: tubectomy 3. Tujuan. Cuci tangan. anomaly in heart coronary vessel. Nyalakan lampu ginekologis Alat:  Handuk  Glove  Cocher  Kasa  Mangkok isi betadin  Linen steril berlubang  Syringe  Lidocain 1% 3-5 ml tanpa efinefrin  Scalpel + pegangan  Trocar/inserter 26 . Menyusui bayi <6 minggu? (implant boleh 6 minggu setelah child birth) h. Salam & perkenalan diri 2. infeksi hepar. tangannya yang non dominan di abduksi & ekspose bagian volar tangannya 6. GPA? (implant nggak boleh kalau lagi hamil) d. breast malignancy. nggak berefek hormonal (-) IUD: sensasi nggak nyaman saat coitus. mata/kulit kuning? Masalah blood clot pada kaki dan paru? Kontraindikasi: suspected pregnancy. gangguan hormonal. minta pasien berbaring.1. Informed consent 5. Anamnesis a. prosedur Mekanisme kerja implant: menebalkan cervical mucous & mengganggu siklus menstruasi 4. icterus. Kapan terakhir mens? Waktu yg tepat: during menstrual period hingga 5-7 setelah menstruasi e. abnormal uterus bleeding. Vaginal bleeding? f. tumor hepar. Udah menikah? b. headache kronis? Severe sirosis hepar. IUD bisa untuk 5-10 tahun & implant bisa tahan 6 tahun. acute liver disease. Udah berhubungan seksual? Kapan terakhir berhubungan seksual? c. harus rajin minum. Durasi KB? g. estetika jelek (-) oral: murah. thromboembolic.

Kontraindikasi  Hamil.7. makanya pasang pas akhir menstruasi  Sedang menderita STD  Vaginal bleeding 27 . kapan (bulan & tahun) lepas. arah kipas ke atas Cuci tangan & pakai sarung tangan Preparasi area dengan betadin 3x dari sentral ke perifer. Salam & perkenalan diri 2. keluarkan plunger. ke mana utk lepas IUD 1. aspirasi dulu. Riwayat GPA c. 19. 13. isi capsul dg implant. Jarak tiap implant/silastik 15o Palpasi Remove linen Wiping dengan alcohol. pasang bandages Rendam alat2 di basin berisi chlorine 0. Lakukan hal yang sama utk tiap implant. Tujuan d. lalu pasang linen berlubang Injeksi anestesi lokal Anestesi 1 cc di tengah. Di trocar ada glaur (bagian datar yang tulisannya “10”) buat nandain bevel ada di atas Ada tanda 1 & 2  Pendorong/plunger  Implant  Klem mini Kalau mau. 12. tanggal insersi. Anamnesis a. & memar  Jangan angkat benda berat dulu  Jangan hubungan seks dalam 12 jam pertama  Coitus sebelum 3 bulan pakai kontrasepsi lain  Kontrol 5-7 hari atau lebih cepat kalau ada tanda2 infeksi  Kasih tau tipe implant. tahan dengan plunger ketika trocar ditarik sampai tanda 2 (deket jarum). 10. 18.5% selama 10 menit Rendam & lepas gloves Cuci tangan & isi medical record Edukasi  Jaga tetap kering lukanya selama 4 hari  Lepas bandage setelah 2 hari  Mungkin akan nyeri. Identitas b. 11. 9. gambar pakai ballpoint. bengkak. 45-60o Scalpel 2 mm tegak lurus Masukkan trocar (30o) & plunger ke subcutan dengan posisi Glaur tetap di atas hingga tanda 1 (deket kita). 16. 8. 15. 1 cc di kanan. Indikasi  Menunda kehamilan long term  Untuk ibu menyusui  Ibu yang nggak mau KB hormonal  Risiko STD rendah  Ibu yang berhasil dengan IUD sebelumnya e. 14. 1 cc di kiri Subcutan. 17.

Povidone iodine f. 5. cervix lunak. 18. 17. 13. Duk berlubang g. Handuk b. 10. jangan dimasukkan lebih dari 5 menit Pakai sarung tangan yang baru Lakukan preparasi vulva & struktur sekitar pakai peyan & kasa betadin Tutup dengan linen steril  tapi kalo tadi linennya ga dicabut. 8. 12. gunakan glove dengan metode open Toilet vulva luar In speculo sama seperti gyn exam untuk role out kontraindikasi Periksa bimanual untuk exclude peradangan Lepas sarung tangan. 19. diidentifikasi dari discharge cerviks atau darah di sonde Arah kelengkungan sonde bergantung pada arah uterus Tanda biru sesuai kedalaman uterus menurut sonde 28 . 16.3. Lampu ginekologis Ibu diposisikan litotomi Minta ibu buka celana Nyalakan lampu ginek Cuci tangan pakai desinfektan. 22. 7. 6. ga usah preparasi vulva sama masang linen lagi Pilih speculum Speculum dimasukkan ke uterus Bersihkan vagina dengan klem ovary. 11. 20. sebelumnya kobok2 di basin chlorin Masukkan lengan IUD ke dalam inserternya tanpa glove sampai IUD nekuk. Klem ovari i. 9. Riwayat menstruasi Hari2 terakhir karena exclude kehamilan. Speculum h. Kasa e. Sonde uteri j. 4. 21. Peyan d. Glove c. IUD set l. Gunting panjang untuk potong benang m. 23.5% o. Tenaculum untuk fiksasi jam 1 & 11 k. 14. melingkar dari dalam keluar 3x dengan kasa + betadin atau dengan lisol supaya nggak bercak/mengganggu visualisasi Jepit tenaculum di bibir cervix di jam 11 & 1 atau 12 saja Sondekedalaman uterus. Klem buaya n. 15. samarkan perdarahan Informed consent Berkemih dahulu Siapkan alat a.  Discharge purulent  Keganasan ginek f. Basin berisi chlorin 0.

lepas sarung tangan 34. tetapi akan diberi obat anestesi dulu 29 . ras. Sirkumsisi. Plunger dikeluarin 27. Taruh sonde di samping inserter. agak nyeri. Indikasi. Matikan lampu 35. pekerjaan  Onset Perawatan luka tertutup < 8 jam Perawatan luka terbuka > 8 jam  Durasi  Rasa nyeri  Pernah suntik tetanus? 1. jenis kelamin. Potong benang pakai gunting benang. apa yang akan dilakukan & mengapa Ini harus dijahit untuk mencegah infeksi & mempercepat penyembuhan. Inserter juga dikeluarin sebagian sambil diputar2 supaya benangnya meluntir 28. Sisipkan benang dengan klem buaya di fornix posterior 31. tandai sesuai kedalaman uterus (dilihat dari discharge cerviks atau darah di sonde) 25. Edukasi  Bisa dilepas & fertile lagi  Keluar bercak selama 3 hari pertama  Tidak hubungan seksual selama 3 hari pertama  pertinggi kemungkinan cervicitis  Perubahan silklus mens setelah 3 bulan pertama  Pakai kontrasepsi lain pada 3 bulan pertama  Kontrol saat haid berikutnya  Kontrol lagi bila benang teraba  Kontrol rutin tiap 1 tahun Efek samping:  Bleeding  Leucorrhea  Nyeri dan terasa saat hubungan seks BEDAH  Simple Suturing.24. di-dep dengan kasa pakai klem ovarium 33. Tulis laporan di rekam medis 37. Prosedur & risiko Nanti akan dijahit. Kalau ada perdarahan. dari samping 29. Inserter dikeluarin 30. Lepas tenaculum 32. 2. Bedah Tumor SIMPLE SUTURING  Anamnesis/riwayat medis  Umur. Cuci sarung tangan di basin chlorin. Ibu dipersilahkan pakai celana lagi 36. Masukkan dengan metode push plunger atau pull inserter 26.

mask 6.Risiko: ada bekas luka. Posisikan pasien 5. agak sedikit nyeri 3. alkohol. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown                   Cocher Kasa steril Comb Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis NaCl Perhidrol H2O2 Needle holder Cutting needle 4/8 Benang non absorbable 3/0 Gunting benang Klem hemostatis Kassa softratul di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. sekalian dibuka 30 . Pembersih kuku 4. Pakai baju bersih. Sikat tangan steril. google. cap. Informed consent 4. Pastikan air nyala 2. Sabun 3. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Persiapan alat: Untuk hand washing 1.

Transfer sikat. Masuk ke ruang operasi 12. Terus tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). ulnar. Initial washing a. Membuka bungkus sikat steril 9. Buka kran dengan siku b. dan sabun antiseptik cair c. Buang handuk 13. 11. Persiapan a. Pakai sarung tangan closed method Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai povidone iodine 3x dari sental ke perifer di sekeliling luka. dorsal. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis Bersihkan luka dengan NaCl. suntikkan anestesi. Bilas d. Raba kerah c. . Cek air b. Bersihkan kuku f. Siapkan sikat steril. 8. Sabun taruh di sikat b. Initial washing & liquid soap c. kalau nggak ada darah. Keringkan tangan satu-satu c. Buang e. kuku c. Tangan kiri bawa mangkok berisi NaCl. 9. Tangan diangkat e. tangan Palmar. Tuang NaCl. grojog. pembersih kuku. interdigiti. Ambil & bagi handuk b. Tutup/ikat 14. Aspirasi. Scrub a. Anestesi subcutan Ambil jaringan lemak dengan tangan kiri. Bilas f. Pakai gaun raba dalam b. Injeksi dengan tangan kanan sudut 45o.Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 8. Luka di-tul-tul dengan perhidrol untuk bunuh bakteri anaerob 31 7. radial. Handukan a. tangan kanan bersihkan luka pakai kasa yang dipegang pakai cocher. Pakai d. 10. Tutup kran dengan siku 11. Scrub. pegang di tampat sama d. Pakai gown a. Buang pembersih kuku 10.

12. Bersihkan lagi pakai NaCl, grojog. 13. Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting 14. Tangan kiri pegang pinset chirurgis (pegang kulit) & pinset anatomis (jemput jarum) 15. Masukkan benang ke kulit dengan posisi tegak lurus, lengan abduksi, posisi pronasi 16. Jumlah jahitan 2p, dengan p adalah panjang luka. Jarak jahitan pertama dari ujung luka = 0.25 cm Jarak tiap jahitan = 0.5 cm 17. Kalau ada perdarahan  di-dep  diklem  dijahit banting 18. Pakai sofratul, terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester, bentuk bingkai 19. Edukasi pasien (daily plan, medicamentosa, specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa), lepas jahitan 1 minggu (selain muka) atau 4-5 hari (muka)  Kenali tanda2 infeksi (gatal, keluar pus)  Tidak boleh kotor, tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral)  <5 tahun sebelumnya pernah suntik ATS  nggak usah suntik lagi, >5 tahun sebelumnya belum suntik ATS  nggak usah suntik lagi R/ Tab. As. Mef. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Amox. 500 mg No XV S q8h

SIRKUMSISI 1. Salam, perkenalan. 2. Indikasi medis a. phymosis (preputium ga bisa ditarik ke proksimal) b. paraphymosis (preputium ga bisa dibalikin setelah ditarik) c. balanitis (radang pada glans penis) d. balanopostitis (radang pada glans dan preputium/kulit kulup) e. mencegah infeksi dan penyebarannya Indikasi non-medis: agama 3. Kontraindikasi a. hipospadia (arah pipis di bawah/bagian ventral) b. epispadia (arah pipis di atas/bagian dorsal) c. chordee (penis bengkok) d. webbed penis (ada jaringan yg menghubungkan skrotum dengan bagian dorsal penis) e. mikro penis (<2,5 SD) f. hemostasis abnormality (ada gangguan pendarahan) 4. Jelasin prosedur dan informed consent (ke anak dan orang tuanya). 5. Anaknya yg mau disirkumsisi disuruh pipis dulu. 32

6. Persiapan alat korentang untuk proteksi a. handuk b. gloves untuk disinfeksi a. cocher b. kassa steril c. mangkok berisi povidon iodine d. duk steril e. klem duk anestesi a. spet berisi lidocain 2% tanpa epinephrine (kalo epi bisa nekrosis) 2 ampul b. pinset cirurgis c. pinset anatomis untuk gunting preputium d. mosquito klem e. klem lurus 3 buah f. gunting jaringan jahit a. benang cat gut 3/0 b. benang cat gut 2/0 c. jarum 4/8 d. klem vasa e. sofratul f. kasa g. plester 7. Posisikan pasien supinasi, minta buka celananya. 8. Ganti baju bersih, lepaskan aksesoris di tangan. 9. Prosedur cuci tangan aspetik. 10. Keringkan, pasang gloves. 11. Lakukan prosedur antiseptik pada pasien. Dengan menggunakan cocher, kassa + povidon iodine  bersihkan mulai dari ujung penis sampai ke pangkal – suprapubik – medial paha. 12. Tutup dengan linen steril berlubang. 13. Anastesi (block). Menembus fascia Buck.  Spet berisi lidocaine diinjeksi di bagian proksimal penis. Masukkan 90 derajat di fascia Buck.  Aspirasi. Injeksi 1 cc.  Miring 30 derajat kanan. Aspirasi lagi. Injeksi 1-2 cc.  Miring 30 derajat kiri. Aspirasi. Injeksi 1-2 cc  Ciri udah masuk fascia Buck a. sensasi menembus kertas b. kalau diangkat ikut naik c. kalau diinjeksi ga ada indurasi 14. Tunggu 1-2 menit. Tes efek anastesi dengan dicubit preputiumnya. 33

15. Pisahkan preputium dari glans.  Tangan kiri menarik preputium, tangan kanan megang kassa + povidon iodine memisahkan preputium, atau  Klem teknik: menggunakan mosquito klem. 16. Bersihkan smegma. Preputium ditarik ke belakang, bersihkan smegma dengan kassa + povidon iodine. Bersihkan dari distal ke proksimal. 17. Tandain daerah insisi: pake pinset cirurgis, 2-4 mm proksimal dari sulcus coronaries, melingkar searah jarum jam (3-4 titik cukup). 18. Klem preputium di arah jam 11 – 1 - 6  ditarik ke distal  jahit di arah jam 12 (jahitan control) jahitan di klem mosquito, lengkungan mosquito menghadap ke atas (benang 3/0) 19. Jahit frenulum diarah jam 6  figure of eight, (benang 2/0) 20. Potong preputium searah garis marking, ke arah kanan-kiri, sampai frenulumnya terpapar, potong di sepanjang sulcus coronarius (sebenernya potong kulitnya baru mukosanya). 21. Rapihkan guntingannya, lakukan bleeding control. 22. Kalau ada bleeding di depth  kalau ga bisa  klem dg klem vasa  jahit 23. Lakukan additional hecting di 10-2-4-8, jahitan seperti jahitan control (benang 3/0) 24. Dicek apakah ada bleeding 25. Pasang sofkratul mengeliling  kassa sirkular (pake plester dikit aja)  lepas duk  gamma bandage (pake kassa lalu direkatkan ke kulit dengan plester) 26. Edukasi a. Jangan basah b. Kurangi aktifitas, kurangi makanan mengandung protein c. Ganti perbannya, control 2-3 hari setelahnya d. Antibiotik (amoxicillin 500 mg s.3.d.d.1) & antinyeri (Paracetamol 500mg s.p.r.n 3.d.d.1)

BEDAH TUMOR Sepertinya nggak pake anamnesis & Px, tapi gapapa-lah biar tau…  Anamnesis/riwayat medis  Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan  Durasi  Onset  Progresi (pembesaran yang cepat + nyeri  inflamasi; pembesaran progresif  malignansi)  Rasa nyeri  Pemeriksaan fisik/lokal  Inspeksi  Lokasi  Jumlah: single, multiple  Ukuran & bentuk: spherical, ovoid pyriform, irregular  Permukaan: lobulasi (lipoma), kasar & irregular (verucca)  Tepi: tajam, round, regular/iregular  Warna  Pulsasi yang tampak Lipoma: lokasi, single/multiple, massa berbentuk discoid, permukaan lobulasi, tepi reguler, warna seperti warna kulit, tidak tampak pulsasi.

34

benjolan diambil. berbatas tegas. Posisikan pasien 24. apa yang akan dilakukan & mengapa  Ada benjolan. Prosedur & risiko Akan dibuat irisan. tidak tampak pulsasi. pak/bu. Indikasi. dan umumnya tidak nyeri. Pakai baju bersih 25. & umumnya tidak nyeri. tidak ada fluktuasi. 20. berwarna merah atau coklat. diameter 1-10 mm.  Indikasi: efek tekanan. Palpasi  Temperatur/suhu  Rasa nyeri  Konfirmasi lokasi. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown            Cocher Kasa steril Comb Alkohol Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis Surgical blade ukuran 10 35 . permukaan. Risiko: ada bekas luka. ini namanya lipoma/verucca. ukuran. single/multiple. & tepinya  Konsistensi: soft/lunak (lipoma)  Fluktuasi  Transluminasi  Adanya pulsasi  Mobilitas dari benjolan Lipoma: berlobus & semikistik. bentuk. Informed consent 23. masa akan tampak lebih jelas. Verucca: lokasi. mobile. agak sedikit nyeri 22. Pada pencubitan kulit. kosmetik  Akan dilakukan pengangkatan tumor 21. ada yang bentuk bunga kol. Verucca: teraba kenyal pada kulit atau keras pada telapak tangan/kaki.. batas tegas. papula terkadang ada celah pada permukaannya. lalu dijahit.

Buka kran dengan siku h. pembersih kuku. Persiapan d. Scrub g. sekalian dibuka Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 15. Bersihkan kuku l. Siapkan sikat steril. Kalau ada bagian meja yang kebuka. Initial washing & liquid soap i. Sabun 7. alkohol. Bilas j. minta ganti taplak aja. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Pastikan taplak oke. Initial washing g. Geser meja pake kaki.         Scalpel/handle ukuran 3 atau 4 Tissue retraktor Gunting lengkung Klem mosquito Forsep jaringan (Allis) Needle holder Round & cutting needle Catgut 3/0 & benang nilon Gunting benang di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Sabun taruh di sikat 36 . Sikat tangan steril. Kalau taplaknya nempel sama benda lain. Cek air e. Persiapan alat: Untuk hand washing 5. Buang pembersih kuku 17. Tangan diangkat k. Membuka bungkus sikat steril 16. Pembersih kuku 8. dan sabun antiseptik cair f. Pastikan air nyala 6.. biarin aja.

Pasang benang terserap/catgut pada jarum round 37 . Pisau nomer 10. Masukin retraktor (pertama satu arah. sampai indurasi. 2 jari kiri fiksasi kulit 7. pegang di tampat sama j. pake clamp/needle holder. Raba kerah g. Pakai h. Scrub. ulnar. Pakai sarung tangan closed method 26. Irisan kulit 1. Handukan d. 2. tangan kanan megang clamp. scalpel nomer 3 atau 4 3. interdigiti. Pegang pisau seperti pegang pensil 4. Tekan dg kassa buat ngurangi darah habis insisi 8. Tangan kiri megang pegangan blade. Masuk ke ruang operasi 19. Anestesi infiltrasi Lipoma: irisan linier  anestesi intracutan. Transfer sikat. Pakai gaun raba dalam f. Bilas l. Kalau ada perdarahan. kuku i. tangan Palmar. terus yang bagian atas diputar)  lipoma only 30. muterin si elips 28. Terus povidone iodine 3x. tunggu kering. Diseksi (lipoma only)  Diseksi tumpul: klem mosquito  Diseksi tajam: gunting jaringan yang lengkung  Telusuri kapsul lipoma Klo veruca  diseksi tajam: pake blade 32. ke 4 arah. ke 4 arah Verucca: irisan 3:1  anestesi intracutan. Tutup/ikat 21. ligasi (yang klemnya dibanting) 9. Tangan kanan insisi. 15-30 derajat. Pakai gown e. Tutup kran dengan siku 18. sampai indurasi. radial. Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai alkohol 3x dari sental ke perifer. Ikuti garis Langer 6. Angkat tumor  Lipoma sampai kapsul diambil pake Allis 33. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis 29. megang kulit verucca pakai pinset chirurgis 5. Insisi linier sedikit lebih kecil dari diameter tumor (lipoma) atau 3:1 untuk hindari ear dog (verucca). Buang handuk 20. Ambil & bagi handuk e. Keringkan tangan satu-satu f. dorsal. Aksis irisan sesuai garis kulit 31. 15-30 derajat. Pasang scalpel. Buang k. tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). 27.h.

terus jahit pakai benang terserap dengan jarum round 36. Amox. As. Jahit cutan Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting Lipoma  dari ujung ke ujung Verruca  dari tengah Kalau ada dog ear. terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester. specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa). medicamentosa. under cutting palai scalpel/gunting  verucca only 37. lampirkan form pengiriman (lipoma only) Masukkan alat ke air chlorine 0. Klo veruca kalo dalem baru jait subkutan. tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral) R/ Tab. Edukasi pasien (daily plan. kalau masih  hemostatic clamp dibanting  ligasi dengan benang terserap 3/0 35. lepas jahitan 1 minggu  Kenali tanda2 infeksi (gatal. Perdarahan di-deb pakai kassa yang dipegang pakai cocher. Jahit subcutan  lipoma only. Spesimen masuk larutan fiksasi. bentuk bingkai 38. 500 mg No XV S q8h Kesimpulan: Lipoma only -insisi linier -pakai tissue retractor -diseksi tumpul/tajam Verruca only -insisi 3 : 1 -under cutting 38 . 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Pakai sofratul. keluar pus)  Tidak boleh kotor.34. Lepas tissue retractor.5 % & cuci tangan 39. Mef.

prolonged labour (>24 jam). iv line. dibantu dengan alat. Informed consent 4. pakai glove. Kateter. placenta previa. Defib NEONATAL RESUSCITATION 1. chorioamnionitis c. EKG. dinyalain. 7. Personal protection/general precaution Cuci tangan. Persiapkan 1 lagi personel ahli 5. Fetal: fetal distress. anemia. Linen bersih. Intrapartum: PROM (>18 jam sebelum kala 2). IUGR 3. hipertensi (pregnancy/kronis). Antepartum: diabetes. Peralatan: radiant warmer/table warmer. Perkenalan diri 2. DresBand. 1 untuk nerima bayi 8. infeksi b. Suction devise 39 . 6. & hangat minimal 3 buah: 1 shoulder roll. ET. lembut.EMERGENCY Neores. Antisipasi faktor risiko a. kering. prolonged kala 2 (>2 jam). CPR. Peralatan a. 1 untuk alas.

8F. tepuk telapak kaki) Reposisi 17. Keringkan Stimulasi (gosok punggung sekalian ambil linen yang buat ngeringin. 0  bayi kurang bulan Ukuran no. valve. Kalau hidung dulu di-suction  ada reflex nafas  cairan yang di mulut bayi nanti malah ikut kehisap. 3. Posisikan kepala bayi & buka airway Suction mulut dulu baru hidung. 4 mm 2. keringkan)  asses warna Kalau ada yang tidak  initial step 14. lurus Ukuran no. Hangatkan 15. Beri O2 bila perlu 40 . Bag. & mask 1) Bag 2) Mask 3) Sumber oksigen 5 L/menit 100% c. Nyalakan oksigen 5 L/menit PROSEDUR Tanyakan 10. napas. 00  bayi sangat kurang bulan Ukuran no. Stetoskop 9. Jam g.03 ml/kgBB epinephrine lewat vena umbilicalis f. 0. 10F.5 mm BB <1000 kg atau usia <28 minggu 3 mm BB 1000-2000 kg atau usia 28-34 minggu 3. At term kah? 11. airway.5. 16. 1  bayi cukup bulan 2) ET dengan diameter 2. Peralatan intubasi 1) Laryngoscope dengan extra set baterai & lampu Blade Muller. & tonus otot baik  taruh di table warmer  routine care (warm. Bernapas/menangis kah? 13. Bebas mekonium kah? 12. 3.5.1) bulb syringe 2) mechanical suction 3) suction catheter 5F.5 mm BB 2000-3000 kg atau usia 34-38 minggu 4 mm BB >3000 kg atau usia >38 minggu Rumus kedalaman pemasukan ET = BB anak dalam kg + 6 cm 3) Stylet d. Tonus otot baik kah?  Bebas mekonium: Kalau umur gestasi. Syringe insulin untuk injeksi epinephrine e. 14 F Pilih yang nomor 12 F atau 14 F untuk mekonium b.01-0. 12 F.

two. Respirasi/menangis? 19. Kalau vocal cord nggak kelihatan  gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut & pharynx posterior sehingga glottis dapat divisualisasi* d. Pilih bag dan hubungkan dengan sumber oksigen yang mampu menghantarkan 90-100% c. dan hidung. warna 23. Bila ada meconium pada cairan amnion. Frekuensi.Evaluasi Dari awal sampai evaluasi: 30 detik 18. Kalau HR < 100x or apnea VTP a. kalau semua bagus  observational care (perawatan tali pusar. selimuti bayi) Hasil evaluasi  Kalau ada yang jelek: 25. three. katakan breath. jari 4 & 5 angkat dagu Tahan rim mask e. Bila bayi vigorous  initial step  gunakan bulb syringe 12 F atau 14 F suction catheter utk mulut & hidung 24. Test bag & mask d.. Lakukan selama 30 detik. HR > 100 bpm. Kalau warna cyanosis (only)  free flow O2 selama 30 detik Evaluation setelah 30 detik free flow O2 a. breath. Posisi 1) Kepala bayi slightly extended 2) Posisi peresusitasi pada posisi kepala bayi 3) Pegang mask dengan tangan kiri dan bag dengan tangan kanan 4) Rim mask mengcover dagu. Kalau vocal cord udah kelihatan  insert ET yang dihubungkan dengan suction devise tertentu e. Respirasi b. 3 pegang mask. good muscle tone 22. Lanjutkan ke initial step (suction mulut & hidung pake bub syringe) g.. tekanan. Detak jantung. Bila tidak vigorous a. Tekan bag f. g. jadi cuma 20x ventilasi. Setelah initial care. mulut. HR. three. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Warna kulit  Ada mekonium: 21. bayi vigorous/tidak? Vigorous: strong respiration effort. Tepat waktu Evaluasi setelah 30 detik ventilasi 41 . Pilih device & instrumen b. Warna kulit 26. Evaluasi: respirasi.. Insert laryngoscope c.. 2. two. Apply suction saat ET ditarik f. baru hidung Jari 1... dan irama PPV Laju 40-60 kali/menit. tetapi tidak mata Tutup dagu. Gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut b. hitung dalam 6 detik terus dikaliin 10 20.

Persiapan alat a. kedalaman 1/3 dinding anteroposterior c. Warna kulit 27. Bag. pink)  post-resuscitation care (gradually diminish VTP. e. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Warna kulit 28. Kalau lagi-lagi HR masih < 60x/menit  kasih epinephrine (bisa diulangi sampai 3x) terus lanjut chest compression + VTP Evaluation setelah 30 detik epinephrine + kompresi dada + VTP a. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c.a. yang chest compression menghadap bayi b. Respirasi b. selimutin) ENDOTRACHEAL INTUBATION Indikasi pemasangan ET:  Menjaga patensi jalan napas  Mengurangi risiko terjadinya aspirasi  Melakukan suction trachea  Melakukan pemberian oksigen konsentrasi tinggi  Melakukan administrasi obat tertentu  Memelihara pengembangan paru yang adekuat (volum tidal adekuat 10-15 ml/kgBB/menit  10-12 kali/menit) Kontraindikasi:  Trauma maxillofacial 1. Oksigen 10-12 L/menit konsentrasi 100% 42 . valve. Kalau udah oke (HR>100x/menit.. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Spray alkohol c. Respirasi b. Bila setelah dievaluasi lagi: HR <60x/menit  chest compression + VTP a. Tentukan lokasi & lakukan kompresi dada 1/3 lower part processus xiphoideus. jadi cuma 15 siklus. perawatan tali pusar. Ratio. Tepat waktu Evaluation setelah 30 detik kompresi dada + VTP a. Warna kulit 29. Gloves b. breathing/crying. frekuensi Kompresi dada : ventilasi = 3 : 1 (90 kompresi dada & 30 ventilasi dalam 1 menit) 1 siklus 2 detik (1. One and two and three and breath. mask d. Respirasi b. Posisi resusitator Yang ventilasi di kranial bayi.5 detik ventilasi) Lakukan selama 30 detik. Cara melakukan prosedur Tekan dengan 2 jempol atau dengan jari telunjuk + jari tengah d.5 detik kompresi dada & 0.

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. 9.

10. 11.

12.

13. 14. 15.

e. ET sesuai ukuran kelingking, biasanya adult male ukuran 8  sediain 3 ET : ukuran 7.5, 8, 8.5, adult female ukuran 7  6.5, 7, 7.5 cek balon & konektor, dikembangkan lalu dikempiskan lagi dikasih lubrikan water soluble, taruh di kanan pasien f. Spet 10 ml, dicoba ke ET g. Laryngoscope ukuran 3, satukan blade & handle, coba nyala atau nggak Machintos, bengkok  diletakin ujungnya di vallecula glossoepiglotica Muller, lurus  di bawah epiglottis  biasanya pada neonatus h. Stylet i. Suction j. Stetoskop k. Plester l. Oropharyngal airway Pakai glove Posisi di kranial pasien Periksa ada tidaknya cedera cervical Trias: penurunan kesadaran, multiple trauma, dan jejas di atas clavicula krepitasi di bagian leher belakang, otorrhea/rhinorrhea, jatuh lebih dari 2x ketinggian badan Triple maneuver, kalau ada cedera servikal pasang collar neck, jaw thrust Cross finger: jempol kiri menekan mandibula dari dalam, jari telunjuk menekan palatum durum Corpus alienum  finger swab Cairan  suction Pre-oksigenasi dengan bag-valve-mask 10-12 L/menit; 10-12 kali/menit  selama 2-3 menit atau hingga saturasi 95 % Jempol & jari telunjuk pegang mask Jari tengah, manis, & kelingking pegang mandibula Kalau ada refleks muntah  hentikan ventilasi, suction, dan segera pasang ET Reposisi kepala sniffing position (agak ekstensi) Pasang laryngoscope a. Pertahankan pembukaan mulut dari luar dengan tangan kanan b. Pegang laryngoscope dengan tangan kiri, masukkan dari sisi kanan tanpa menekan gigi c. Susuri sampai pangkal lidah dari sebelah kanan, digeser ke kiri d. Sampai ketemu epiglottis, masukin ke vallecula, sampai nemu vocal cord e. Masukkan ET hingga mencapai ukuran 20-22 Male 23 cm, perempuan 21 cm dari mulut, lihat garisnya ET ntar terletak antara pertengahan laryng sampai bifurcatio carina Lakukan nomer 10 dalam 15-30 detik atau tahan napas. Kalau tidak cukup, segera ulangi, oksigenasi terlebih dahulu Inflasi balon dengan syringe berisi udara 10-20 ml Overinflate  nekrosis Terlalu lemah  naik turun Amati pengembangan paru dengan bagging, minta asisten oksigenasi, terus kita auskultasi Apeks, basis  vesicular Epigastrium  nggak kedengaran, kalau ada suara berarti salah masuk Periksa kanan & kiri Fiksasi ET dengan plester mirip gamma di tulang2 keras, ke arah dekat ventilator berada Pasang OPA (mayo/goudel), jadi ET nggak kegigit kalau pasien tiba2 sadar Sambungkan ke ventilator untuk maintain volum tidal 10-15 ml/kgBB/menit

IV LINE 43

. 1. Indikasi, anatomi, prosedur teknik Indikasi:  Memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian  Mengganti cairan yang hilang, menghindari dehidrasi  Memasukkan obat (sebagian besar berupa antibiotik)  Memperbaiki atau mencegah terjadinya gangguan cairan dan elektrolit tubuh Karena langsung masuk aliran darah bisa nyebabin:  Masuknya organisme penyebab infeksi  Masuknya benda asing (udara  emboli)  Alat & cairan bisa bikin iritasi Kontraindikasi:  Lokasi yang lebih distal dari lokasi penyuntikan sebelumnya  Sklerosis/pengerasan vena  Infiltrate site atau phlebotic vessels  Memar, nyeri, infeksi  Percabangan vena  Lokasi katup vena  DVT, penyakit katup vena Tujuan utama resusitasi pada pasien kritis (kurang perfusi jaringan  metabolisme anaerob & asidosis laktat): mengembalikan perfusi jaringan/oksigenasi selular & mempertahankan fungsi organ tubuh melalui resusitasi cairan. 2. Informed consent  Prosedur & risiko  Permisi Selamat siang, Pak/Bu. Saya dokter jaga. Saya akan melakukan pemasangan infus di lengan ibu. Infus ini dipasang untuk mengganti cairan tubuh ibu yang hilang. Apakah ibu bersedia?  Posisikan pasien  Bebaskan lokasi penyuntikan, pilih, & periksa lokasi penyuntikan Cuci tangan 6 step pakai alkohol 3. Persiapan alat Antiseptik: agen untuk menghilangkan mikroflora di kulit  alkohol & yodium Disinfektan: agen untuk menghilangkan mikroflora di benda mati  Over the needle catheter  vasa superficialis (+) kanulasi vasa hanya dalam 1 langkah sederhana (-) ujung kateter cenderung mudah rusak, merusak endotel vaskular  phlebitis & trombosis Ukuran kateter (merknya abbocath): 16 abu2 muda bedah mayor & trauma 18 ijo transfusi darah, produk darah, & obat-obat kental 44

20 pink pasien dewasa 22 biru anak & orang tua 24 neonatus 26 abu2 tua  Jenis cairan: 1) Kristaloid Dapat menembus membran semipermeabel & berubah jadi kristal. 25% tetap di ruang interstisial, 75% ekstravasasi ke ruang interstitium. (+) murah & mudah diperoleh (-) bisa edema, volum harus ditambah supaya ekuivalen dgn koloid a. Cairan hipotonik: dekstrosa 5%, NS 0.5% b. Cairan isotonik RL: syok hemoragik, meminimalkan asidosis 0,9% saline: acute brain injury & syok hemoragik c. Cairan hipertonik, buat penelitian NS 3%, 6%, 7.5% 2) Koloid a. Koloid protein (+) dibutuhkan lebih sedikit (-) mahal, tidak memulihkan rongga interstisial, bisa anafilaksi  Albumin serum (5% & 25%)  Solusi gelatin (plasmagel, haemacell, gellifundol) b. Koloid nonprotein (+) mahal, tapi masih lebih murah daripada albumin (-) koagulopati, anafilkasi, gangguan fungsi ginjal berupa cedera tubular  Starches  Dekstran 40%, 70% 3) Darah Biasanya dalam bentuk paket RBC. Biar aman: 1-2 unit darah O-Rh negatif >1-2 unit: dihangatkan dulu 4) Komponen darah Whole blood, labile blood component, & bahan medik turunan dari plasma. D5W : glukosa RL : Na, Cl, laktase D5W/RL: glukosa, Na, Cl, laktase 0,9% NaCl, 6% HES, 5% albumin, 25% albumin: Na, Cl Peralatan:  Sarung tangan bersih  Cairan infus/plabot 500 ml  Infus set  Penyangga infus  Alas yang terbuat dari plastik  Bengkok 45

Teknis a.  Gantung ke penyangga infus  Isi drip chamber sampai ½  Buka regulator. tanpa/sedikit cabang  Superficial  Bukan di area fleksi  Tdk rapuh Sterilisasi: mencegah masuknya organisme  phlebitis. minta pasien genggam & buka genggaman bergantian. sepsis  Identifikasi vena. turunkan sudut kanula dg kulit Dorong kanula perlahan Dorong bagian nilon jarum sambil menarik bagian jarum stainless perlahan  flashback nampak di sepanjang shaft kanula 46 . gunting  Wadah tempat benda tajam 4.  Tusuk lubang outflow dengan spike. bakteremia. periksa spike & tabung. Identifikasi lokasi vena + periksa lokasi penyuntikan  Tangan non dominan  Bagian distal. Pungsi vena dengan benar  Buka tutup abbocath  Stabilkan vena dg meregangkan kulit. tutup regulator  Buka outflow botol infus.  Pasang torniquet 10-20 cm dari vena yang akan disuntik  Bersihkan dengan alkohol arah melingkar keluar. terus digantung  Cuci tangan  Pakai sarung tangan bersih a. posisikan menghadap atas. tunggu 30 detik. & tepuk ringan di atas vena. paling distal dari jantung  Vena lurus. atur pemutar agar cairan infus mengisi pipa infus & tidak ada gelembung udara  Tutup regulator. Persiapan  Letakkan lembaran alas di bawah tangan pasien  Keluarkan perangkat infus dari wadah. dari samping vena masukkan kanula dg sudut 15-300  Tunggu flashback ke ruang flashback jarum  Posisikan alat. jangan dipalpasi lagi b. Tourniquet  Kapas direndam alkohol  Pinset chirurgis  Jarum infus steril (abbocath)  Kassa dalam wadah steril  Plester. lebih rendah dari jantung Urut ekstremitas dari distal ke proksimal. tusuk dg jarum IV bevel menghadap ke atas. Botol di tangan kiri & lebih rendah dari spike.

stupor. Secure iv line  Tutup luka dg kassa dibentuk butterfly/Gama bandage d. kemerahan. Universal precaution 6. koma Tekanan darah sistolik <60 mmHg Sianosis Facies cholerica (pucat. maintenance: 20 tpm  Buang benda tajam ke dalam wadah  Lepas sarung tangan  Cuci tangan  Catat prosedur di rekam medis d.Mampatkan vena yang dekat dg ujung kanula dg memberi tekanan langsung sebelum menarik keluar jarum bagian nilon  menghindari hilangnya darah  Pasang kanula pada botol infus  Lepas tourniquet  Biarkan cairan mengalir dg membuka regulator (digrojog) c. bengkak sekitar infus Skor dehidrasi menurut Daldiyono 1 Kesadaran apatis Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Frekuensi nadi >120 x/menit Frekuensi napas >30 x/menit Ekstremitas dingin Rasa haus/muntah Turgor kulit menurun Washer woman’s hand 2 Kesadaran somnolen. layu) Vox cholerica (suara parau) -1 umur 50-60 tahun -2 umur >60 tahun Rumus kebutuhan cairan = skor/15 x 10% x kgBB x 1 liter Skor <3 & syok (-)  oral Skor >3 & syok (+)  intravena 47 . sayu. Adjust the fluid flow  Atur aliran cairan. Postprocedure management & edukasi  Jangan banyak gerak tangan yang diinfus  Jangan ditarik2  Jaga tetap kering & bersih  Ditaruh lebih tinggi  Bilang kalau mau abis & kalau ada hematom. Cari asisten 7. Maintain aseptic procedure 5.

kami akan memasangkan selang ke dalam alat kelamin bapak. oliguri)  20-30 cc/kgBB/jam kristaloid. Lakukan kalau Hb <7 Makro dpm 20 dpm  3 Mikro dpm 60 dpm  1 Shock Hemorrhagic Hilang x ml.5x Shock Apapun Shock (takikardi.5 jam masukkan 1. tapi demi kebaikan bapak. 48 .Anuria itu kalau <50 cc dalam 12 jam Transfusion 15 dpm  drop factor 4 Drip chamber terdiri dari 2 bilik dengan filter. hipotensi. Informed concent  Prosedur & risiko Pagi pak.5 jam masukkan 1.5x 1. pakai kristaloid 3x. karena bapak tidak bisa mengeluarkan urin. prosedur Indikasi:  Men-drain retensi urin (pasien mau kencing tapi ga bisa. Kami berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengurangi rasa tidak nyaman. setelah 1 jam nggak ada perbaikan  10-20 cc/kgBB/jam koloid Maintenance Dewasa 50 cc/kgBB/24 jam Anak 10 kg I 100cc/kgBB/24 jam 10 kg II 50 cc/kgBB/24 jam 10 kg III 20 cc/kgBB/24 jam Tpm = jmlh cairan/(jam x drop factor) KATETER 1. kalo diperkusi redup)  Irigasi kandung kemih  Mengukur volume urin output  Mengambil sampel pemeriksaan urin  Memasukkan obat/kontras radiografi Kontraindikasi:  Perdarahan meatal  Hematoma perineal/saddle sign mungkin ruptur uretra  Floating prostat Komplikasi: UTI 2. anatomi relevan. Indikasi. Prosedur ini memang tidak nyaman. 2 jam pertama 0.

tiduran & pakai selimut. Prosedur persiapan  Korentang  Taplak hijau Steril yang ada bungkus  Sarung tangan  Foley kateter  Syringe tanpa jarum untuk lubrikan  Syringe berjarum untuk balloning  Syringe tanpa jarum untuk spulling  Urine bag Steril yang tidak ada bungkus  Duk berlubang  Handuk  Mangkok isi betadin  Mangkok isi aquades  Kasa steril  Peyan  Pinset anatomis Nonsteril  Plester  Gunting  Jel anestesi KY (lubrikan larut air) Nonsteril dekat pasien  kidney bowl 49 .  Permisi  Posisikan pasien 3. silakan lepas pakaian bagian bawah & celana dalam.Kalau bapak bersedia.

33 mm = 1 French = 1 Charriere). Lepas duk steril. fiksasi urin bag ke meja.Kateter Foley (0. Pompa balon kateter dg volum sesuai & pasang urine bag. pakai 16 F. masukin air 10 ml spulling kelubang kateter tempat keluarnya urin Keruh  udah masuk ke vesica urinaria tapi bila jernih atau keluar di sekitar OUE  belum masuk. diameter 8-9 mm Uretra wanita panjang 4-8 cm. Masukkan kateter gently Pertama. Gel taruh di tangan antara jempol & jari. Kateter diganti setelah 2 minggu. buka plastik dalam kateter ♂ pegang penis arah tegak lurus tubuh pasien. Teknis a. terus disambung. celupin ke betadin. cuci tangan aseptik Pakai handuk Pakai sarung tangan steril Ambil peyan. terus tutup OUE pake tangan biar gel nggak keluar c. atur posisi penis paralel thd tubuh. Lubrikan dengan anestesi Isi syringe dengan anestesi lokal KY 10-15 ml ke uretra (♂) atau oleskan lubrikan pada kateter (♀) “Pak. Kalau ada urin. balon 5 ml tergantung ukuran. diameter 8 mm Retensi urin karena: ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan urin. masukkan perlahan dg tekanan lembut sambil minta pasien ambil napas dalam untuk relaksasi otot sphincter. karena obstruksi atau kontraktilitas ↓ 4. Buka gloves. Kateter dileletin ke gel. Balloning pakai syringe isi air (5-10 ml). Fiksasi kateter di paha bagian atas. ulangi prosedur Pasang kassa yang ada betadin di ujung glans penis nutupin kateter juga. saya akan masukkan gel untuk melicinkan” Terus masukin gel. Kalau nggak urin keluar. Pak N***: fiksasi penis Pak T******: nggak usah difiksasi Buang yang kotor2. kalo lebih besar bisa nyebabin spasme kandung kemih & kebocoran urin. ditekan terus ditampung di bengkok. ♀ pegang labium major Pembersihan vulva dari rima pudendi metode pelangi 3x Yang terakhir lewat rima pudendi sampai ke anus. 50 . lalu bersihkan Bersihkan 3x central (OUE) ke perifer sampe scrotum Tutup dengan duk b. Waktu di urethra pars membranaceae. Urin bag ditutup dg cara ditekan. ada aliran urin. urine bag keluar lewat lubang duk steril. ambil kassa. Tarik sedikit. pastikan nggak merucut. Fungsi utama kandung kemih: storage & voiding Uretra pria panjang 17-25 cm. Catat volumenya. Kalau udah masuk. Preparasi aseptik Mencuci tangan dg sabun & air mengalir. Plester.

FBAO (foreign body airways obstruction) yang visible & removable Ada cairan. Mohon berikan ruang agar pasien bisa benapas dengan lega. Telpon 118 20. letakkan tangan posisi terkunci di sternum pasien.  Urinary bag diganti kalau mau penuh  Kateter diganti setelah 2 minggu  Kenali tanda2 alergi terhadap silikon yang dipakai: nyeri. cek jangan lebih dari 10 menit Look  pergerakan dada Listen  suara napas pada mulut pasien Feel  hembusan napas di pipi penolong 22. Airway a. C (+) recovery position  B (-). kecepatan 100 kali/menit. Berhenti kalau a. korban. d. Perkenalkan diri Bapak/Ibu. jatuhkan berat badan. C (-) Berlutut di kanan pasien. Pastikan trauma cervical ada atau nggak Nggak  head tilt & chin lift Ada  jaw trust b. Reasses Look. bahu vertikal di atas dada pasien. saya mahasiswa kedokteran. biarkan recoil sempurna. pake bahan serap (kalo cervical trauma) 21. cuci tangan. lepas sarung tangan. Cek pulsasi di carotis. feel 25. Saya akan mencoba menolong pasien ini. listen. Maintain aseptic procedure Buang sampah. jangan banyak bergerak. gatal 6. Komunikasi & relationship 7. lingkungan 18. miringkan pasien (kalo ga cervical trauma). 17. 1 menit ada 3 siklus. C (+) napas buatan 12 kali/menit  B (-). Pasien datang 51 . jangan ditarik. Nggak ada napas  rescue breathing 2x dalam 5 detik 23. Kedalaman 4-5 cm. 24. lengan lurus. Secure urethral catheter properly e. manubrium 19. sebelah adam’s apple  B (+). Prof behavior CPR 16. Safety diri. 5.Cuci tangan. frekuensi 30 : 2. Postposedure & education  Tirah baring. Breathing. evaluasi setiap 1 menit. Respon Verbal  shout Fisik  shake Pain  glabella.

Bandaging 9. 4. kassa. Jelaskan tujuan dressing & bandaging Dressing: nutup luka. Lakukan pemeriksaan Look daerah luka  luka terbuka.5 cm lengan 5 cm tangan 5. atau control 3 hari lagi  Kasih analgesik & antibiotik EKG Prosedur: 1. 5. 3.b. pinset chirurgis) 15 cm perut/dada 10 cm kepala/kaki 7. Pilih bandage yang sesuai & siapin alat (mangkok. Terlalu kencang? Evaluasi look. perkenalan diri. Salam. betadin. 6. Capek 26. plester 8. 2. badan dibalikkan dalam 1 baris. tangan kiri ke pipi. mempercepat proses penyembuhan. Recovery position Tangan kanan ke atas. meringankan rasa sakit Bandaging: mensupport dressing & body part 3. WPK. Telpon 118 lagi 27. Environmental hazard c. Tutup softratul. Edukasi  Jaga kering & bersih  Jangan banyak gerak  Kassa diganti tiap 12 jam sekali. & bina hubungan baik dengan pasien 2. infeksi Feel vaskularisasi  suhu. Ambulance datang d. kassa. buka baju Pasien tiduran Colok dengan listrik Bersihkan semua elektroda dengan alkohol & area tubuh dgn gel Tempatkan elektroda sesuai posisi  Lead prekordial C4 merah SIC 5 linea midclavicula 52 . Aliri luka dengan NaCl. kaki kiri ke kanan. feel. Dressing & Bandaging 1. menyerap eksudat. Greeting & self introducing Lepas perhiasan. denyut nadi inervasi  sensasi taktil Move ROM (range of motion) 4. move 10. First aid Bersihkan area sekitar luka dengan betadin 6. ambil corpus alienum dengan pinset chirurgis 7.

QRS tetap sempit Otot atrium normal mampu menghantar impuls 60-75 a) Takikardi 150 – 250 (frekuensinya) b) Flutter 250 – 350 saw tooth pada lead II & III c) Fibrilasi > 350 no true P wave 53 . tidak semua P diikuti QRS. 9. 8. Usia d. C1 kuning SIC 4 linea strenalis kanan C2 hijau SIC 4 linea strenalis kiri C3 coklat antara c2 & c4 C6 hitam SIC 5 linea midaxilla C5 ungu antara c4 & c6  Lead extremitas Merah tangan kanan Kuning tangan kiri Hijau kaki kiri Hitam kaki kanan Kabel dikoneksikan ke elektroda Periksa kertas untuk rekaman Tekan on. Supraventricular 1) Sinus Pacemaker NSA normal 60 . Irregular 6 kotak besar ada berapa siklus QRS x 50 2. Regular  300/jumlah kotak besar jarak 2 gelombang QRS Kalau 2 R berjarak: ≤ 2 kotak besar supraventricular takikardi >2 – 3 kotak besar sinus takikardi 3 – 5 kotak besar normal > 5 kotak besar bradikardi b. Gender c. 10. Irama a. 11.100 P diikuti QRS di semua sandapan dan kebalikannya Salah satu/lebih P wave di II. Identitas b. Frekuensi a. III. Hari. pilih menu Kecepatan 25 mm/second. aVF positif 2) Atrial Masih ada P wave. & waktu pengambilan Bersihkan badan pasien & alatnya dari gel Interpretasi: 1. 14. sensitivitas 10 mm/mVolt Pilih menu komplit Perhatikan gelombang pada ekg Segera catat pada kertas ekg a. 13. 12. tanggal.7.

60 – 90 Lead I +. Zona transisi Daerah di mana resultan R dan S = 0 (defleksi negative jadi positif) Normalnya di antara v3/v4. III aVL paling tinggi lead II minimal R=S  lead II negatif b. Durasi 54 . III. Ventrikuler Otot atrium normal mampu menghantar impuls 30-45 Tidak ada P wave QRS lebar>0. RAD (-) I. 0 . III R pada lead III lebih tinggi dari aVF 4. avF – Lead II +  antara I dan aVL. 0 – 60 aVL. aVF 1) Atas P sebelum QRS. antara lead II & aVF. no true QRS complex 3. segmen PR pendek 2) Tengah P ketutup QRS 3) Bawah P inverted setelah QRS Pacemaker berkas his 20 – 40 b. aVF + normal aVL +  antara lead I & II.12 s atau > 3 kotak kecil karena depolarisasi lewat sel otot ventrikel 1) takikardi jarak QRS masih sama >40 2) fibrilasi fine and course.(-30) Lead II –  terletak antara -30 sampai -90  LAD a. LAD (+) I.3) Junctional Pacemaker NAV normal 40 – 60 P inverted pada lead II. aVL (+) aVF. aVL (-) aVF. prinsip: lihat rotation Menggeser ke arah v6  clock wise rotation Menggeser ke arah v1  counter clock wise 5. Posisi Normal (-30) – (+110) <-30 LAD >+110 RAD Lead I +.

Segmen ST menunjukkan repolarisasi ventrikel 1) Elevasi > 2mm di leads precordial >1 mm di lead ekstremitas minimal dua lead yang berdekatan  STEMI 2) Depresi strain pattern (+T inverted asimetris) v5-6  hipertrofi ventrikel kiri v1-2  hipertrofi ventrikel kanan ischemia: + T inverted simetris e. v2 Gelombang s diperlama 0.12s Memanjang pada 1) Irama ventrikular 2) RBBB Gelombang rsR’ (seperti huruf M) di v1. II Memendek < 0. hipertrofi atrium kiri Tinggi (peak P) P pulmonal. lebar dan tinggi <2. bagian depan lebih lebar dari belakang. irama ventricular c. seperti tenda.25 detik di v5.12 Tidak ada gelombang delta 3) Irama junctional atas b. sekecil apapun disebut Q patologis biasa terjadi pada old infarct d. Interval qt Memendek hipercalcemia Memanjang hipocalcemia 6. v2 (>0.12 s 1) WPW Tidak melewati berkas konduksi  QRS > 0. v6 3) LBBB Telinga kelinci (slurred R) di v5.5 kotak kecil) Memanjang > 0. Interval QRS. normalnya berbentuk piramid tidak simetris. defleksi positif pada lead II 1) Tenting (peaked T wave.22 s (3 – 5. RBBB.5 mm atau <0. normal < 0.12-0. simetris)  hiperkalemia 2) Strain pattern T inverted tidak simetris 55 .a.25 detik) c. normalnya simetris. Q patologis > 1/3 R atau pada R< 5 kotak kecil. Morfologi a. hipertrofi atrium kanan b. Kompleks QRS menunjukkan depolarisasi ventrikel memanjang pada LBBB. Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium.22 s pada AV blok derajat I.10 second Lebar & bertakik (notch & broad) P mitral. Interval PR 0.12 Ada gelombang delta 2) LGL Melewati berkas konduksi QRS < 0. Gelombang T Repolarisasi ventrikel. v6 S melebar di v1.

S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 3. peak P: tinggi P wave ≥ 2. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 2. coronaria dextra juga ke sana  periksa v1’ 2’ 3’ Aritmia  baca yang utk defib aja 56 . RAD 4. Hipertrofi atrium a. Ventrikel kiri v5. lebih landai. v2 3. v6 Kanan  RVH 1. aVL anterior extensive Lead II. S persisten di v5 & v6 2. aVF inferior  curiga yang kanan Karena A. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. aVF) Durasi tetap 2. P notch & broad Durasi memanjang karena lewat otot b. Kanan  RAH P pulmonal.f. v6 Ventrikel kanan v1. Kiri  LAH P mitral. AMI ST elevasi precordial v1 – v6 anterior v1 – v4 anteroseptal v3 – v5 anteroapical v4 – v6 anterolateral v1 – v6. Hipertrofi ventrikel Kiri  LVH 1. tinggi < 50 % T wave Interpretasi dalam penyakit 1. LAD 4. III. I. R wave > S wave di v1 3. v2 3) T inverted simetris  ischemia Gelombang U Gelombang repolarisasi ventrikel yang terlambat Seperti P.5 mm pada lead inferior (II. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. II.

tiba2 P wave tidak diikuti kompleks QRS 2) Mobitz type II Mirip derajat 3 Pemanjangan interval PR tidak progresif c. Derajat 2 Tidak setiap impuls atrial melewati AV node P waves : QRS  >1 : 1 1) Mobitz type I/Wenckebach block Mirip derajat 1 Pemanjangan interval PR progresif. AV Block a. Derajat 3 Disosiasi AV Atrium 60-100 Ventrikel 30-45 Kompleks QRS lebar P wave & QRS complex frekuensi reguler 57 . Derajat 1 Setiap impuls atrial mengaktivasi ventrikel Interval PR memanjang b.4.

ADVANCED CARDIAC LIFE SUPPORT Henti fungsi jantung secara mendadak dan tiba-tiba 58 .

Dicurigai trauma cervical jika: multipel trauma. serta O2.Gambaran EKG:     VT pulseless VF (Ventricular Fibrilation) PEA (Pulseless electrical activity) Asystole Ceklist ACLS: Pasien ditemukan tidak sadar di pinggir jalan 1. Leadnya ada 2. lunula kuku. persiapan shock 59 . fisik. dan pain. Look. Berdasarkan irama. Kalo VF gausah di cek pulsenya. listen. kalo ada trauma dengan jaw thrust. krepitasi di leher. 4. dan lingkungan 3. cek pulse dulu. Clean airway: untuk benda asing yang visible dan removable pake crossed-finger dan finger swab. Manuver open airway: jika tidak ada trauma cervical dengan head tilt chin lift. Nah untuk memudahkan ceklist. Pulse ada tapi nafas ga ada berikan nafas mouth to mouth setiap 5-6 detik sekali. Kalo obstruksi oleh cairan. Shout for help  telfon 118 5. 2. dan penurunan kesadaran. b. yaitu warna merah dan putih. lalu cek nadi setiap 2 menit. Jangan lupa telfon ambulan lagi 8. dan Non-Shockable (PEA dan asystole). Verbal  dipanggil namanya (shout). jejas diatas clavicula. Kalau dari monitor ternyata iramanya shockable: 1. c. pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairannya atau pake benda-benda yang menyerap jika pasiennya ada trauma cervical. segera siapkan monitor pada mesin defibrilator untuk cek irama. lalu cek kembali nafas dan pulse di a. carotis communis selama 10 detik. sternum. Safety: safety untuk diri sendiri. Kalo nafas dengan laju normal  recovery position Kalo henti nafas atau terengah-engah  dikasih bantu nafas 2x selama 5 detik. Pada pasien henti jantung respon negatif. Cek airway: a. fisik  diguncangkan (shake).. pasien. Kalo dapet VT. Pasang IV dan ET. Jika ambulan sudah datang. 9. penanganan henti jantung dibagi dua yaitu: Shockable (VT pulseless dan VF). pain  cek respon nyeri di glabella. VT yang shockable adalah VT yang pulseless. Response: Cek respon dengan verbal. Perkenalkan diri terlebih dahulu 2.. Pulse dan nafas ga ada  RJP (30:2) selama 2 menit kira-kira 3-5 siklus dengan kedalaman 4-5 cm dengan recoil sempurna. 7. d. dibahasnya per irama ya. Pastikan tidak ada tanda trauma cervical. Kalo dapet VT pulseless atau VF. seperti kain. and feel 6.

Obat yang dimasukkin epinefrin 1 mg iv. 4. Obat yang dimasukkin sekarang ganti jadi amiodarone 300 mg iv. RJP 2 menit lagi trus masukkin obatnya sulfas atropin 1 mg. 8. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya non-shockable:     Tidak perlu ngasih shock Pas siklus pertama langsung kasih obat dan pasang ET Urutan obatnya: epi – sulfas atropin 1 mg – epi – sulfas 1 mg – epi Sulfas atropin boleh dipakai 3x (diulangnya 2x) 60 . trus lanjut RJP 5 siklus 10. Langsung RJP 5 siklus. Kalo ET sudah terpasang. siklus kompresi dan breathing berubah. 15.3. lanjut urutan shockable. Langsung pasang ET dan IV. Kalau ga tau spesifikasi mesin defibnya diset pada 200J saja. Kalo dapet asistol. Kalo PEA ga usah dicek leadnya. Setelah kasih shock. RJP 5 siklus saja tanpa Shock. 13. kembali charge defib. Kalau ET sudah terpasang siklus RJP sama breathing jadi jalan sendiri-sendiri seperti yang dijelaskan di shockable tadi. 2. Masih non-shockable.. Selama nunggu defibnya dicharge. Sambil nunggu tetap RJP 5 siklus. Cek irama lagi. Berikan shock. 4. dll). Kompresi jadi 200x dalam 2 menit. 11. Kemungkinan monitor bisa ada 3: iramanya jadi sinus. dan yang lain pada ictus cordis. Tetap shockable. nafas dengan ambu bag setiap 6-8 detik sekali. tetap lakukan RJP 5 siklus. Obat yang dimasukkin  epinephrine 1 mg iv 12. 3. Nah yang diurutan ini yang tetap shockable dulu ya. Charge defib pada 200 J jika bifasik. Kalo ternyata masih terpasang dan semuanya beneran non-shockable.5 mg/kgbb iv – epinefrin – kosong – epinefrin Epinefrin harus diseling Amiodarone hanya boleh dikasih 2x (jadi diulang Cuma 1x) Lidocaine dikasih 3x (diulang 2x) Kalau sampe 30 menit hasil tetap sama  stop tindakan dan didoakan saja     Nah kalo dari irama didapatkan non-shockable: 1. tetap shockable. 5. dan 360 J jika monofasik. Kasih shock. ada yang lepas atau ngga. pasang ET dan IV line untuk ngasih obat. Pada saat masang ET. Kalo masih shockable kembali ke siklus awal (charge defib. 14. RJP 2 menit. dengan paddle satu pada sternum . cek lead dulu. Cek irama 5. 6.5 mg/kgbb (misal ambil aja 1 mg) – epinefrin – lidocaine 0. baru cek monitor. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya tetap shockable terus:  Urutan obat yang dimasukkin: epinefrin – amiodarone 300mg – epinefrin – amiodarone 150 mg – epinefrin – lidocaine 1-1. 7. 9. RJP dihentikan sementara. atau malah jadi non-shockable.

yaitu kasih epinefrin. Tapi tetep inget ya masing2 obat boleh diulang berapa kali    Trus misal iramanya udah berubah jadi sinus:      tetap monitoring airway dan ventilasi kasih O2 monitoring kalo ada muntah monitor VS Tetap ACLS (RJP and breath sampe ada nadi dan nafas). dikonfirmasi dengan pupil midriasis total. Tujuan tidak tercapai: pasien mati. Jadi yang dilakukan adalah RJP 2 menit sambil charge defib – shock – kasih obat amiodarone 300mg – RJP 2 menit – cek irama. refleks pupil hilang c.  Kalo dapet irama asistole. abis cek lagi. Cek irama c. 10 menit irama tetap PEA dan asistole berturut-turut. Tujuan tercapai: irama jadi sinus b. maka ikut langkah non-shockable siklus pertama (RJP sajapasang ET dan IV-kasih epinefrin 1mg-cek irama) abis cek irama. Kasih shock b. Tambahan: 1. iramanya jadi non-shockable. jadi misal abis ngasih sulfas tapi jadi shockable ya yang dikasih epinefrin. Stop kompresi saat: a. maka ikut langkah non-shockable yang ketiga. Kecapean: 30 menit dan sudah yakin betul semua tapi tetap no respon d. jangan lupa cek leadnya ada yang lepas atau ngga 10 menit tetap asistole/PEA  stop tindakan dan berdoa Trus kalo iramanya misalnya iramanya beruba-ubah shockable non-shockable gimana? nah contohnya pas cek irama. trus jdi nonshockable lagi. Maka siklusnya menjadi:    langkah shockable siklus pertama (RJP-shock-RJP 5 siklus-cek irama) karna jadi non-shockable. trus misal jadi non-shockable lagi karna tadi udah dikasih epinefrin sekarang ganti jadi sulfas lagi. Pasang ET 2. 61 . Stop tindakan secara keseluruhan saat: a. dari shockable trus jadi non-shockable. shockable lagi. Intinya sih setiap siklus itu epinefrin harus diseling. shockable lagi maka ikut langkah shockable siklus KETIGA (inget! epinefrin kan harus diseling).

Kontur payudara: ada benjolan? Lekukan/dimpling? Pendataran/flattening? d. ulcus Discharge. bentuk. Peradangan/perlukaan sekitar payudara e. Jelaskan prosedur & informed consent Posisikan pasien  duduk Cuci tangan dengan alcohol & pakai glove Ibu diminta buka baju sampai pinggang Inspeksi Minta pasien duduk  Minta pasien meletakkan kedua tangan di kedua sisi Laporkan a. penebalan kulit & pori2 menonjol Warna merah: infeksi & karsinoma payudara yang terinflamasi Penebalan kulit & pori2 menonjol: karsinoma b. post stroke BREAST EXAM 1. setelah  2x Ibu pernah kena kanker payudara 2 sisi: sebelum menopause  risiko 9x. Karakteristik: ukuran. Hubungan dengan siklus mens Mens tambah nyeri  cysta Mens tambah kencang  fisiologis f. discharge. Perkembangan benjolan c. Benjolan di tempat lain RPK Ibu pernah kena kanker payudara 1 sisi: sebelum menopause  risiko 3x. Riwayat kanker.genitourinary. Anamnesis RPS a. perkenalan 2. 6. Keluhan lain: nyeri. 7. retraksi d. & deviasi: kanker 62 . Permukaan kulit: warna. Keluhan utama 3. Ukuran & simetrisitas payudara Kanker lebih besar c. setelah  4x 4. Status reproduksi (GPA) g. 8. misal DCIS c. Riwayat laktasi h. Pemakaian kontrasepsi RPD a. cairan. Sejak kapan b. 5.OTHERS  Breast. arah. Salam. ulcus. Riwayat FAM b. locomotor.

agak ringan di perifer Vertical grid Garis vertical dari clavivula ke lipatan inframama Dibagi 9 dari garis midstrenal ke linea axillaris posterior (hingga ujung ekor payudara). fisura. sisik Untuk pemeriksaan discharge. Periksa putting Inspeksi: retraksi. ke arah jam 12. terus ke arah jam 1. Palpasi  Pemeriksaan limfonodi Tangan kanan pasien dipegang dengan tangan kanan. Pelaporan Gambar payudara. tidak nyeri Kanker: arah putting brubah. clavicula. dimpling di payudara. payudara dibagi jadi 4 kuadran  Diameter  Batas: tegak/nggak  Mobile  Nyeri  Konsistensi 63  . & axilla. tangan di sisi Kalau payudara besar. tanya pasien mau periksa sendiri atau kita lakukan Cara 1  tekan putting dari atas & bawah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas glandula mamae Cara 2 “tunjuk” puting 11. & manis Palsasi dengan bentuk melingkar Spokes of wheel Mulai dari central. gitu terus sampai semua terpalpasi Tekanan keras di sentral. tengah. axilla kanan diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa Waktu tangan pasien adduksi rapat serong ke depan. jarak satu jari Mulai lateral kranial terus ke medial Circular obat nyamuk 10. usia muda. tangan pemeriksa periksa axilla  Palpasi payudara Pasien diminta tiduran Kalau payudaya kecil.Kemarahan pada puting FAM: benjolan. terus badannya digoyang 9. tangan di belakang kepala & bahu disangga bantal Palpasi dengan bantalan jari telunjuk. pori2 membesar. Condong ke depan kalau perlu untuk payudara yang besar. ada discharge  Lengan diminta di letakkan di belakang kepala  melihat lekukan/retraksi yang tidak terlihat supaya bagian bawah terexpose (pada yang payudaranya besar) Lengan bertumpu dipanggung supaya payudara mengkontraksikan M. balik ke sentral lewat jalur yang sama. pectoralis  dimpling bisa lebih terlihat.

Greeting & introduction Tujuan pemeriksaan Anamnesis: Trauma: 5W + 1 H. Perhatikan bila ada perubahan 8. kalau udah menopause  tanggal yang sama tiap bulan 4. Mid-stance c. Keras: kanker Elastis: kista Jumlah Nilai karakteristik: lokasi. batas (tegas  FAM. sedang. 5. ringan. Pendahuluan & perkenalan diri pada pasien 2. Berdarah c. Toe off d. RPD. Dimpling. kista. Luka terbuka b. di depan cermin 7. saat mandi. tangan di belakang kepala. nyeri (kista). pendataran  catat dan lapor ke dokter Locomotor Exam 1. konsistensi. Swing phase 6. Deformitas 64 . kista)/tefiksasi (kanker) Breast Self Examination 1. nggak  payudara). Pemeriksaan khusus Masalah di Tangan  posisi pasien duduk. Memberitahukan jari yang digunakan (bantalan jari 2. Bisa saat berdiri.4). mobile (FAM. RPK Pemeriksaan umum: Vital sign Pemeriksaan gait yang dilaporin: a. tergantung area lemak) 5. 2. Dilakukan 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. seberapa keras tekanan (sirkular. Heel strike b. bentuk. kaki  posisi tidur Look a.3. ukuran. berat. Nontrauma: RPS. 4. 3. Bisa saat tiduran Disangga bantal Pakai 3 jari Pola memutar Rekomendasikan vertical grid 6. perubahan pada papilla mamae. sambil sabunan. Pengenalan kanker payudara  Insidensi tinggi  Stadium dini bisa diketahui dengan BSE (+) deteksi dini (-) keseringan (missal sebulan beberapa kali)  penurunan sensitivitas 3.

adduksi. fleksi. pulsasi b. 8. inversi.7. Inervasi: taktil c. endorotasi (tengkurap. sedikit bisa tahan tekanan 5 bisa nahan gravitasi & tekanan Circumference bandingkan atas (kanan-kiri) & bawah (kanan-kiri) luka Pertimbangkan penunjang  x-ray Penutup GENITOURINARY EXAMINATION 1. d. jempol RCTI oke) d. ekstensi. ekstensi (sambil tengkurap). Simetrisitas Feel a. 9. abduksi. adduksi. dorsofleksi. Vaskularisasi: suhu. Memperkenalkan diri 65 . True: dari SIAS sampai malleolus medial. betis putar ke luar) f. Pergelangan Plantarfleksi. Anatomical: dari trochanter mayor sampai malleolus lateral Muscle power test 0 tidak ada gerakan 1 ada tonus 2 tidak bisa menahan gravitasi 3 bisa nahan gravitasi. Lutut Fleksi. Appearance: dari umbilicus sampai malleolus medial c. Wrist Ulnar deviasi. Gelang bahu Fleksi. 10. palmarfleksi. 11. betis putar ke dalam). eversi Length  kalo masalah di kaki Bandingkan kanan-kiri a. Gelang paha Abduksi. ekstensi c. radial deviasi. eksorotasi (tengkurap. melewati lutut b. ekstensi (posisi supinasi) g. pronasi. Jari pakai goniometer khusus e. Siku Fleksi. supinasi (lengan atas fiksasi di badan. tapi nggak bisa tahan tekanan 4 bisa nahan gravitasi. Krepitasi Move Dengan goniometer a. eksorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke belakang). endorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke depan & bawah) b. dorsofleksi. WPK.

Jelaskan indikasi Minta persetujuan pasien. tumor. b. 6. atrofi e. UKK (masa. ambilnya di fossa navicularis 8. Simetris: hipoplasi. inflamasi. 5. suprapubik. Testis. Scrotum Posisi pasien berdiri Inspeksi a. Persebaran rambut b. dipalpasi kanan & kiri simetris. Batang d. Inspeksi penis a. & femoral diperiksa pakai lubrikan 10. Urethral meaturs e. 3. d. Dilatasi vena c. Hidrocele Testis disinarin dari bawah pakai senter. Oedem b. nyeri) Kandung kemih 7. hidrocele. Funiculus spermaticus e. urethral discharge Specimen ambil pakai lidi + kapas yang dicelup di normal saline.2. balloteman. epispadia. 4. ada cysta? c. ada corong kertas ditaruh di atas Hidrocele di tunica vaginalis Tumor kurang merah 66 . udah sunat? Palpasi penis a. Angulus inguinalis externus 9. Tumor f. kayak kawat Varicocele? d. Ke epididimis. c. informed consent. hipoplasia. warna) c. Normalnya kiri lebih rendah Palpasi a. hipospadia. Vas deferens. Diurut/milking Buka meatus urethra: phimosis/paraphimosis Glans  lihat meatus urethra. Daerah inguinal (barangkali belum turun). anak diminta buka celana Mencuci tangan pakai sarung tangan Jelaskan mau periksa CVA Palpasi suprasimfisis (massa. atrofi? b. Glans penis. Tanda2 inflamasi d.

jari tengah aja. berbaring pada sisi N dan berbaring pada sisi S. Jelaskan hasil pemeriksaan POST STROKE REHABILITATION Aaa modul silat ini tidak di eksklusi sama sekali. Hernia Masukkan jari telunjuk ke canalis inguinalis. gitu katanya huhuhu jadi kita pelajari aja. Ada 3 macam inisial position : supine. ekstensi lutut. tempatkan jari di sulvus prostat. minta pasien mengejan (valsava maneuver) Indirect kena ujung jari Direct kena samping jari Femoral annulus femoralis 12. nungging 13. spingter ani kontraksi). tanda2nya :  Ekstrimitas atas (fleksi semua) Endotorsi lengan atas. walopun osce ga keluar tapi ada kemungkinan keluar pas kompre. plantarfleksi dan inverse telapak kaki Kita mulai check list nya :  Selalu SALAM DAN PERKENALKAN DIRI “Selamat pagi pak. fleksi siku... say akan membantu bapak untuk latihan dan bergerak pagi ini. Digital Rectal exam  untuk meriksa feses. Rehabilitasi dimulai sejak pasien dikonsulkan ke dokter.. eksorotasi paha.. sebelum mulai diinget dulu kalo pada post stroke exam itu ada sisi N (normal) dan S (sakit) iya ga c? aku (titi: red) cuma ngarang kepanjangannya . Oleh karena di check list dan yang kita pelajari kmaren Cuma check list 4 jadi inisial position yang dilakuin itu cukup yang supine aja o Supine position 67 . Posisi pasien. sedangkan kalo perdarahan. saya minta kerja samanya ya pak mengikuti instruksi dari saya”  minta pasien untuk rileks  Inisial position  antispastik Pada fase ini kita memposisikan pasien berlawanan dari posisi yang di atas itu dan kalo udah d posisikan begini latihan harus segera dimulai < 2 jam soalnya pasien merasa ga nyaman di posisiin begini. Saya dokter …. meriksa reflex bubocavernosa (penis diangkat. masukin pake lubrikan. ekstensi ankle. tunggu perdarahannya selesai dulu baru dimulai (sekitar 2 minggu) Sedangkan program rehabilitasi dimulai sekitar 3 minggu pada stroke iskemi. fleksi pergelangan tangan dan pronasi serta adduksi jari  Ekstrimitas bawah (ekstensi semua) Retraksi panggul. sedangkan mobilisasi merupakan salah satu bagian dari rehabilitasi Kapan program mobilisasi dimulai : Stroke iskemi sekitar 2 – 3 hari (sedini mungkin). normal kayak biji kenari).Hidrocele lebih merah (+) berpendar 11. nanti kita akan melakukan beberapa gerakan latihan. meriksa prostat (ukuran. Perlu dipahami dulu kalo dalam penangan pasien post stroke ada yang namanya program rehabilitasi dan mobilisasi. nah kebanyakan itu hemiplegic tipe dan pasien dalam kondisi spastic.

Setelah itu kita kasih aba-aba : “bapak. trus tangan bapak yang sehat menggapai tangan yang sakit dan berguling ke sisi yang sakit ya pak. tapi dari sumbernya angkatan 2005 katanya waktu osce itu yang dipakai secara aktif dan segmental. Jaga hal ini dengan member sanggahan bantal di bawah bahu. sebelum didudukin. siku dan pergelangan tangannya. dimulai dari ekstrimitas atas dan dari ekstrimitas yang kecil dan distal dulu. bapak bertumpu dulu pada bahu. Biarkan pasien bertumpu pada bahu. eksorotasiin lengan. Ekstrimitas bawah dimulai dengan mendorsofleksiin telapak kaki trus di eversi. o Berbaring di sisi S Mirip dengan yang di atas hanya saja sekarang sisi S di bawah. d bikin latiahn weight bearing to elbow caranya pasien di tarik – tarik sambil numpu di siku sebanyak 10x baru didudukin. sekarang kita akan latihan duduk ya pak. Sangga juga menggunakan bantal d bawah panggul dan telapak kaki o Berbaring di sisi N Pertahankan posisi antispastik dengan menopangkan bantal di bawah sisi S. Lengan d angkat 90-100 drajat terhadap sumbu tubuh. o Berikan petunjuka pada pasien “bapak sekarang kita akan latihan berguling ya pak. kita mulai ya pak” o Fleksikan kaki N pasien o Minta pasien menggapai tangan S nya o Minta pasien berguling secara perlahan ke sisi S o Bantu dengan membantu memutar ekstrimitas bawah Duduk dan bertumpu pada siku Setelah pasien berbaring pada sisi S secara aktif. Tujuannya supaya kaki N ini bisa membawa kaki S ketepi bed untuk duduk.    Pada fase ini kita memposisikan pasien dalam keadaan antispastik. Waktu pasien bertumpu disiku. Mimandahkan benda Pada tahap ini kita berdiri di sisi S pasien. fleksi lutut dan panggul dan endorotasiin paha. ekstensi pergelangan tangan dan siku lalu di supinasiin. lalu di bawa ke sisi N trus dibalikin lagi ke saya” Jangan lupa untuk memegang sisi S nya itu biar ga jatuh Latihan o Keseimbangan duduk 68 . “bapak saya minta untuk mengambil pulpen ini dengan tangan N bapak ya. nanti saya akan menekuk lutut bapak terlebih dahulu. punggung baru pinggang. mulai dari bahu tus punggung dan pinggang. kaki N pasien kaya diselipin gitu dari belakang ke bawah kaki S. jangan lupa menyangga sisi S dengan bantal Rolling ke sisi S Sebenernya ada dua cara. Kita abduksiin jari. secara aktif dan pasif. kita tahan dulu sekitar 10 detik baru ditarik lagi trus di reposisi. jadi pelan2 dimulai dari bahu. Fungsinya untuk menstimulasi sisi S pasien menyanga berat tubuhnya. Meminta pasien mengambil benda dengan tangan N. pelan – pelan aja. siku baru pergelangan tangan” Setelah itu tangan kita tarik perlahan. Pelan-pelan saja y pak. Kalo instruktur ku dulu. posisi kaki kaya meluk guling. nanti bapak saya minta berusaha duduk sendiri dengan menggeser kakinya ke bawah dan tangan yang sehat nanti akan saya bantu menariknya. tangan satunya di pergelangan tsngan. tangannya bertumpu pada meja disisi sampingnya.

Posisi tangan bebas  Baring lagi Setelah posisi istirahat.  Posisi istirahat “Pak sekarang kita berlatih posisi istirahat ya pak” Disini kita memposisikan kaki S pasien di atas kaki N nya. yang S di atas N. trus bapak pertahanin ya supaya ga jatuh” Trus kita tekan2 gitu bahunya satu2. Selesaiiiiiiii . Kalo katanya buku 2005 kaya cewek kemayu itu. lalu kaki pasien dipelintir lagi.“Bapak.. JANGAN LUPA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PASIEN :D Selamat osce teman – teman semuaaaa !! Smoga kita diberikan gelombang yang terbaik … smangat !! 69 . Nanti bapak silakan memegang tangannya yang S dengan tangan N nya trus jari-jarinya disilangain tapi jempol tangan S nya berdiri keluar. Diulang 10 kali” o Bahu “nah sekarang ke kanan sama ke kiri ya pak” o Bertumpu pada lengan “Pak nanti saya akan member tahanan pada bahu bapak. trus di baringin lagi : “ baik bapak. sekarang bapak silakan tiduran lagi ya. nanti bapak pertahankan posisi bapak supaya tidak terjatuh ya pak” o Lengan “bapak sekarang kita akan latihan tangan ya pak. kakinya digerakin dan pelan-pelan aja pak” Ada yang bilang kita cuma menahan bagian belakang siku S pasie tapi ada juga yang bilang kita juga memegang tangan N pasien mirip kaya waktu duduk tadi.caranya seperti tadi saat mau duduk. latihan hari ini sudah selesai... Trus bapak gerakin tanggannya ke atas kepala trus turun ya pak. tangan yang lain jaga2 di belakang siku supaya ga jatuh. Saya akan menggerak-gerakkan tubuuh bapak kedepan belakang dan ke samping. kita akan berlatih keseimbangan tubuh.

DAFTAR ISI MATERI HALAMAN Belum ada 180 182 183 101 103 105 104 106 75 77 74 80 189 Fatigue Anemia Insomnia Gangguan Tidur (Cemas & Depresi) OCD Panik Red Eye Konjungtivitis Glaukoma Akut Keratitis Uveitis Retinopathy Fever Typhoid DHF Malaria Otitis Media Akut Headache TTH Migrain Cluster Headache Tumor HT Stroke .Hemoragik Meningitis 154 150 156 157 93 96 97 185 117 119 Cough TBC Pneumonia COPD Diarrhea Diare Chest Pain ACS GERD Sore Throat 70 .

Faringitis 130 169 87 89 91 82 84 86 190 187 122 122 163 107 110 115 114 180 Indigestion Gastritis Abdominal Pain (RLQ) Appendicitis PID KET Abdominal Pain (RUQ) Hepatitis Sirosis Hepar Kolesistitis Constipation IBS Konstipasi Pruritis Dermatitis Kontak Alergi Dizziness BPPV Meniere Weight Loss Diabetes Mellitus Dyspnea Asma CHF Sindrom Nefrotik Pneumothorax Insomnia Cemas Depresi Backache HNP UTI 144 140 160 Joint Pain RA . OA 71 . Gout .

pola pernapasan abnormal. Profil pasien: Rokok. Kepala/leher 3. Yang dilaporkan: regular. cuci tangan Kasih tau dx klinis Rencana tindakan: Px penunjang. normal ce: thoracoabdominal. kolesistitis. Fever: with jaundice: hepatitis. travelling 5. kolestitis. RPK. Makan 6. Enyahkan rokok. Characteristics. Ekstremitas Bilang ke pasien pemeriksaan udah selesai. glaucoma akut (sudut tertutup). ditangan mana diukurnya. Nadi  pertama pegang dua tangan. ukuran manset. Suhu  berapa suhunya. palpasi. Review system gejala yang belum di-explore 7. Relieving. pucat. udah reda/belum 3. Yang dilaporkan: berapa BPnya. Hindari stress. Treatment  apa obatnya. Aggravating. Parafrase Bilang ke pasien. Pekerjaan Anamnesis 1. thypoid. perkusi. lingkungan. RLQ: app. kondisi umum (lemes. isi nadi 3. sirosis hepar. PID. auskultasi 4. kalo regular. UTI 4. Abdominal Pain. RPS: Onset. lemah/kuat. gizi. Teratur berolahraga Keluhan: 1. retinopathy 72 . Alergi 4. Malaria. Abdominal Pain. posisi duduk ato tidur 2. KET. palpasi 5. dll) Vital sign: 1. terus bilang mau meriksa apa  cuci tangan Pemeriksaan fisik: Kesan Umum: tingkat kesadaran. chyene stokes dkk) 4. dimana diukurnya (axilla. palpatoar dulu. meriksanya pake satu tangan aja. KU 2. without jaundice UTI. HCC 3. Olahraga. Durasi. pola pernapasan (normal co: abdomino-thorakal. jari ke dua. pneumonia. uveitis. sebuah ringkasan. Meningitis. keratitis. tiga ama empat. Abdomen : inspeksi. Lokasi. perkusi. Riwayat sosial 8. keganasan 5. OMA infeksi lain 2. sirosis. auskultasi. semoga membantu 13 … OUTLINE SECARA UMUM: Identitas: Nama. RUQ: hepatitis. frekuensi. Fatigue: anemia. baru auskultoar. Respiration rate  frekuensim regularitas. Umur. DHF. Awasi tekanan darah. Red eye: conjunctivitis. Tx medikamentosa dan non medikamentosa Edukasi secara umum: Seimbangkan gizi. TB/BB 2. Tekanan Darah  pake bel.IPM GENERAL. Thorax : inspeksi. RPD: Pernah sakit spt ini? Medikasi yg dikonsumsi. PID. psikologis. rectal atau oral) Pemeriksaan badan: 1. Alamat.

sindrom nefrotik. cikungunya. gastritis 7. 73 . IBS-konstipasi 15. migraine. meniere. Diare: diare. Vomiting: diare. asma. Pruritus: ikterus. sindrom nefrotik 20. tumor. hipertensi.6. 18. Dyspnea: asma. pharyngitis viral. anorexia 12. stenosis spinalis. Dizziness: BPPV. meningitis 16. Indigestion: GERD. ACS. Chest pain: ACS. keganasan. thypoid. LBP non spesifik. pneumothorax. anaphylactic 13. UTI. UTI. Insomnia: anxiety. DKA 10. tonsilitis 14. Backache: HNP. gout. RA. Konstipasi: thypoid. Joint pain: OA. meningitis 8. Cough: pneumonia. pneumonia lobus bawah 9. Stroke pendarahan. itu yang kami bahas ya ceman-cemaan. TB. cluster. Sorethroat: pharyngitis. peningkatan TIK. migraine. IBS diare 19. Headache: TTH. DM. CHF. Weight Loss: TB. meniere 11. CHF. DHF Keterangan : yang di bold. depresi 17. alergi. BPPV.

5 derajat celcius. DHF. Olahraga: b. nyeri otot dan sendi. jika parah dapat menyebabkan jaundic   Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Malaria. Faringitis bakterial. kulonprogo. Diet : c. Akut (< 1minggu) : malaria. kronik (>2minggu) : Thypoid 1. Onset : < 1minggu b. Kondisi umum : lemah. papua. DHF. lesu. 74 . Fever 1. Pola makan  Review system : keluhan lain : nyeri kepala. Meningitis. Agravating : aktivitas fisik f. Tanyakan pernah digigit nyamuk ga?  Lifestyle : a. kadang memegang kepala. cikungunya Pemeriksaan fisik : 1. Malaria : KU : Demam Anamnesis :  RPS a. e. 2. Karakteristik : falciparum  demam tidak menentu bisa demam 36 atau 48 jam.    Relieving :pernah terinfeksi malaria belum?(untuk vivax) :- RPD RPK Riwayat perjalanan : pernah berpergian ke daerah endemis malaria seperti purworejo.gelisah. perut sebah. menggigil.4 c dan temperatur axila>37. Lokasi : c. vivax & ovale: (tertiana) demam tiap 48 jam malariae(quartana) demam tiap 4 hari Trias malaria : menggigil  panas tinggi berkeringat Trias ini mulai ketika eritrosit pecah. sakit kepala. Durasi : 24 jam d.5 c dan rektal lebih rendah 0.FEVER Definisi : ketika temperatur oral > 37.

falsiparum (ada cincin di tepi) Tipis  menentukan jumlah parasit. memperburuk:aktivitas berat. HCT turun (normal ce 40-50. Apusan darah : Tebal  jenis dari parasit : a. KU : Demam. Kalau penurunan kesadaran cerebral malaria balik ke dokter Shock. Vital sign : demam.perut sebah. kuning malariaberat  balik ke dokter 2. co 45-55). BP normal. sore saja.  hepatomegaly dpt terlihat jika kurus. leukosit normal. Terapi: Vivax : Cq3 + Pq14 (Chloroquin + Primaquin) Chloroquin : . buang air ga lancar. hari ke-3: 5mg/kgBB/hari sehari 2 tablet/ hari.d. sejak 6 hari. : cq3 + pq1 (dosis dan pembagian s.  DBN 3. eosinofilia (normal 0-3). Primaquin : 15mg/ hari (1 tablet) Falciparum Edukasi: 1. sakit kepala mual. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi  hepatomegaly. ce 12-14). Vivax(eritrosit membesar) b. Typhoid Fever: Seorang pasien datang dengan keluhan demam.2. lemah Anamnesis :  RPS Onset : > 7 hari (kronis) 75 . RPD -. gagal napas . Extermitas : palpasi  akral dingin Pemeriksaan penunjang CBC HB turun (normal co 13-16. RPK -.hari 1-2 : 10 mg/kgBB/ hari sehari 4 tablet/hari. Kepala : lihat konjungtiva  bisa anemia dan sklera ikterik (pada falsiparum).a) 2. nafsu makan turun. Rajin minum obatkarena parasit. sudah ke puskesmas tp ga membaik. Leher : palpasi limfonodi DBN Thorax depan: screening auskultasiDBN Jantung : auskultasi di ictus cordis. splenomegaly Palpasi  nyeri kuadran kanan atas dan hepatomegaly. HR dan RR meningkat.

Lokasi Durasi

: :

Karakteristik : Step ladder pattern (pagi sampai siang suhu turun, sore suhu tinggi) Agravating : Saat aktivitas Relieving : Treatment : Paracetamol tapi ga sembuh     RPD RPK ::-

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: ga spesifik b. Diet : Suka jajan? Cuci tangan ga sebelumnya? Air yg diminum mateng ga? c. Pola makan : Ga teratur d. Lingkungan : Masalah sanitasi

Review system : nyeri kepala, nyeri otot & sendi, konstipasi, perut sebah.

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Thypoid, DHF, Malaria

Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah dan demam Vital sign : temperatur tinggi, bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1 derajat C tidak

diikuti peningkatan nadi 10x) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi  rose spot (bercak merah di perut), hepatomegali (kurus)  bisa muncul konstipasi (biasanya pada dewasa) atau  batas hepar membesar (hepatosplenomegali)  nyeri kuadran kanan atas, hepatomegali

diare(biasanya pada anak) Perkusi Palpasi

Kepala : Sklera ikterik (kalau udah parah) Lidah kotor, tengahnya pucat, tepi hiperemis, tremor Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: DBN. screening  auskultasi aja. Extermitas : DBN Pemeriksaan penunjang a. Kultur (gold standar)  ditemukan mokroorganisme bakteri penyebab (S. Typhi)

76

b. Widal test  S. Typhi positif jika titer O > 1/320 (semakin gede penyebut = semakin positif) c. CBC  pada infeksi bakteri: neutrofil akan meningkat., shift to the right kronis, shift to the left akut. Pada infeksi virus: limfositosis dan leukopenia. Infeksi parasit: eosinofilia. Pada typhoid : leukopenia (<4.000 sel/mm 2), (normal:150.000-400.000 sel/mm2). Terapi Ciprofloxacin 500 mg  dosis: 15 mg/kg BB/hari. R/ Tab. Cipro 500 mg No. X S. 2.d.d. Tab 1 p.c. Paracetamol 500mg R/ Tab. Paracetamol 500 mg No. X S. p.r.n. 3.d.d. Tab 1. p.c. limfositosis, trombositopenia

Edukasi Bed rest 2 minggu Makan yg lembut dan higienis Cuci tangan sebelum makan Minum air matang Hindari rokok

3. Dengue Hemorrhagic Fever KU : Demam Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : < 1 minggu (mis : 5 hari yang lalu) :: 2 – 7 hari

Karakteristik : demam tinggi lebih dari 39 , pola bifasik => hari 1 – 3 demam, 3 – 4 turun, 4 – 7 demam lagi Agravating : kurang minum Relieving : -

77

Gejala berdasarkan derajat : DHF derajat 1 : demam, artalgia,mialgia, torniquet + DHFderajat 2 : perdarahan spontan DHF derajat 3 : mulai muncul tanda syok DHF derajat 4 : tanda syok berat (nadi& blood pressure tdk terdeteksi)    

RPD RPK

:: ada orang di sekitar yangsakit serupa dan mondok di RS

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: b. Diet : c. Pola makan : -

Review system : nyeri kepala, nyeri retroorbital, artalgia, mialgia, petekia, efusi pleura (sesak), asites (perut menggendut), perdarahan (krn trombosit turun), epistaksis, muntah darah (krn perdarahan pada vena2 esofagus), perdarahan gusi, perdarahan lambung, melena (kalo perdarahan dari GIT atas), hepatomegali, haus, gelisah, tanda2 syok

Tx sebelumnya : daun sirih untuk mimisannya

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : DHF, Demam Dengue (beda dgn dhf : tanpa ada hemoragik ; tanpa

trombositopeni ; tanpa hemokonsentrasi), cikungunya (demam lebih singkat, ada torniquet + dan peteki tapi tidak ada manifestasi perdarahan lain, artalgia dan mialgia prominen) Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah, pusing, tidak enak badan Vital sign Rumple leed : demam >39, HR naik, RRnaik, tanda2 syok : positif bila ada > 20 peteki per inchi kuadrat

Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala :  peteki  dbn  hepatomegali, asites  hepatomegali, asites

konjungtiva anemis ; perdarahan gusi ; mimisan

Leher : palpasi limfonodi dbn Thorax :

78

XV S. Hct naik > 20 %.d.d.trs 3 mL/kg BB -> Kalo tidak improve di tes Hct nya Hct -> meningkat -> ganti kristaloid pake koloid (dextran 40) 10 mL/kg dlm 1 jam) Hct -> turun -> ganti kristaloid pake blood transfusion 10mL / kg / jam Kalo udah improve ganti lagi jadi kristaloid tapi kurangi dosis kristaloid jadi 10.p. adaruam makulopapular Pemeriksaan penunjang CBC trombositopenia.r. perkusi dari sonor jadi redup Jantung : auskultasi DBN Extermitas : palpasi  akral dingin . trs 6. Tab 1 (derajat 1 dan 2 cukup parasetamol dan rawat jalan) Kalo trombosit di bawah 100rb harus mondok -> kasih infus kristaloid Kalo sudah ada tanda2 syok pake prinsip tx syok (derajat 3&4) Kristaloid 20 mL/kg BB dlm 1 jam -> improve maka kurangi dosis kristaloid jadi 10. trs 6.n 3.Efusi pleura -> ada konsolidasi maka dari itu fremitus taktil meningkat .trs 3 mL/kg BB/ jam Edukasi Banyak minum Bed rest Manifestasi syok atau perdarahan-> segera ke dokter Cek trombosit tiap hari Kontrol ke dokterhari ke – 4 79 . leukopenia Liver function test : AST / SGOT naik (normalnya cewe < 23 cowo < 30) NS 1 test Radiologi (kalo curiga efusi pleura -> posisi LLD) Terapi R/ Tab Parasetamol 500 mg No.

newspaper like-appearance di canalis acusticus eksternus) f. Pemeriksaan fisik : 80 . Otomycosis (gatal. kalu ga tertutup akan berlanjut jd Otitis Media Kronis (tulinya SNHL) a. pendengaran berkurang. Lokasi i. Diet : c. Agravating : l. Otitis media akut Definisi: peradangan pada cavum timpani (telinga tengah) dalam kurun waktu ≤ 8 minggu. OMK (SNHL. Pola makan: c. Sebutkan DD : Otitis eksterna diffuse (nyeri di tragus). demam b. Tahap-tahap: 1. Fase supuratif => terjadi membrane bulging. durasi >8 minggu). akibatnya tekanan dalam cavum timpani jd negative sehingga membran terdorong ke dalam 2.4. Fase tubercatar => obstruksi dari tuba eustachii. nyeri. membrane terdorong keluar gara2 cairan yang terbentuk di cavum timpani 4. Onset h. Parafrase ke pasien e. Olahraga: b. Perforasi => kalau membrane timpani udah [each. j. Treatment : RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya RPK : Lifestyle : a. Review system : keluhan lain : ada penurunan pendengaran ga?(tipe CHL). KU : telinga terasa penuh. Fase resolusi/ penyembuhan => normalnya membrane timpani akan tertutup kembali. demam?keluar cairan dr telinga (discharge)? Sekret mukopurulen? d. karakteristik lain tergantung dr fase2nya k. keluhan demam sudah menghilang 5. Anamnesis :  RPS g. Fase presupurasi => tanda2 hiperemi muncul pada membran timpani 3.    Relieving : - m. keluar cairan (discharge). Durasi : ≤ 8 minggu : nyeri di belakang telinga (retroauricular) : < 8 minggu Karakteristik : nyeri di retroauricular.

Kesan umum : demam. Decongestan  pseudoefedrin (jika perlu) 10. Analgesic  paracetamol c. Weber lateralisasi kea rah telinga yg sakit. telinga terasa penuh 6.n  ditemukan discharge (pd fase perforasi) 7. Pemeriksaan penunjang 9. Schwabach BC pasien > BC dokter CHL Nose : d. Terapi a.b. Pemeriksaan fisik : Ear : Inspeksi Palpasi  nyeri di proc. Edukasi  Minum obat teratur  Jangan membersihkan telinga sendiri (dg cotton bud) 81 . Vital sign : fever. Antibiotik  amoxicycillin sistemik ato tetes telinga b.mastoideus Otoskop ditemukan membrane timpani yg abnormalitas tergantung dr fase2nya Tes pendengaran garputala 512 Hz. Rinne (-).5.n Throat : mencari kemungkinan faringitis sbg underlying disease Kepala & leher : limfadenopathy (-) 8.b. yg lain d. nyeri.

suntik. Nafsu makan menurun e. BAK: air teh c. RUQ: Nyeri Kuadran Kanan Atas Hepatitis KU : Nyeri Kuadran kanan atas. Diet : Hep Amakan tidak higienis c. Agravating : Beraktifitas berat Relieving:      RPD : Tidak pernah sakit serupa (hep A). Athralgia 82 . Pernah mentato. hep a (fecal-oral transmission) Riwayat perjalanan : Treatment awal: obat warung tidak membaik Lifestyle : a. meriang. mual. BAK seperti air teh. demam. 30% jadi sirosis.Sembuh 1% hep A jadi hepatitis fulminan HepB Langsung jadi kronik. sebah. 23% sirosis jadi liver failure lalu jadi kematian. muncul ikterik.Fase prodormal 2-3 minggu. Aktifitas seksual (hep B) e. Olahraga:b. . Review system : keluhan lain : a. Mual muntah d. A) inkubasi 15-50 hari (rata2 30 hari). (hep. lemas.ABDOMINAL PAIN. imunisasi hep b RPK : tanyakan orang tua dan istri apakah pernah mengalami hal yg sama? Hep b (vertical transmission & sexual transmission). tindik (B) f. (hep B inkubasi 15-180 hari). Hep b tanyakan pernah menerima transfusi darah. Pola makan : jajan sebarangan (hep A) d.Fase ikterik  1-4 minggu. perut terasa penuh. dan kuning Anamnesis :  RPS Onset : Onset demam1 minggu yang lalu. Tiba2 tadi pagi mata kuning. BAB: pucat b.  Pekerja medis atau bukan (B) Hep A Melewati fase akut yang terdiri dari: . cirinya influensa-like syndrome . BAK air teh akibat direct bilirubin meningkat. Lokasi Durasi : nyeri kuadran kanan atas : Karakteristik : Demam sejak seminggu yang lalu. BAB pucat. 5-10% jadi HCC.

ALP : meningkat (norml 30 – 35 Iu/L) d. takikardi. hep B.5 RANGE NORMAL= SGOT/SGPT : 3 – 35 Iu/L c. RR naik  jika kurus terlihat hepatomegali  dbn  hepatomegali  hepatomegali : hep A. lemah Vital sign : febris.pusing. Liver Function Test: SGOT/SGPT > 1. Cholecystitis Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sclera ikterik Leher : palpasi limfonodiga ada limfadenopati Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi  dbn Pemeriksaan penunjang a. serologi: hep AIgM anti HAV Tes serologi hep B: b. GGT : meningkat 83 .Parafrase ke pasien Sebutkan DD Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak tidak enak badan.

Pola makan d.d. Merokok  Review system a. Riwayat penyakit jantung (akibat gagal jantung kanan). Hep A = curcumin Paracetamol HP Pro no XXVIII Sb. Edukasi g. lama h. obat kuat. Olahraga: b. makanan dijaga. antivirus (lamivudine. Hep B= imunomodulator (INF-a).. Hep B: Pasangan.     RPK : Riwayat perjalanan :Treatment sebelumnya: obat warung Lifestyle : a.. Hep A: Bed rest. dikatakan hepatitis B. Terdapat penurunan nafsu makan 84 . dikasih obat dan sembuh.d tab I f. mata kuning Anamnesis :  RPS : 3 bulan ini : kuadaran kanan atas : 3 bulan Onset Lokasi Durasi Karakteristik : Perjalanan penyakit: pipis seperti teh Agravating : beraktivitas berat Relieving: RPD : 10 tahun yang lalu pernah bilang sakit kuning.Tidak ada kencing manis.Terapi e. bilang ke pasien nanti sembuh sendiri . Diet : c. jarum suntik. Dulu sering minum jamu-jamuan. adefovir) Sirosis Hepatis KU : Perut membesar. dikasih tau penyebarannya gimana. berasa mbesesek/sebah.

b. dan d. dan tampak agak sesak nafas Vital sign : dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  spider naevi. clubbing finger.perut. CBC albumin dan globulin. Ginekomastia e. Albumin <<. Tanya BAK dan BAB! BAB pucat. kuku Muchcre/leukonychia (garis-garis putih horizontal yang dipisahkan oleh warna normal kuku akibat hipoalbuminemia) Pemeriksaan penunjang i. globulin >> 85 .splenomegali. ascites +  splenomegali. tanya gatal-gatal atau tidak c. BAK air teh Parafrase ke pasien Sebutkan DD : sirosis. caput medusa. kulit kening. hepatomegali (teraba bernodul). Kriteria Subandiri: Dikatakan + sirosis jika terdapat 5 dari 7:       Varises esofagus Hematemesis/Melena Caput medusa Ascites Splenomegali Spider naevi punggung  Palmar eritem (karena hormonal) eritem di sisi ulnar dan radial (akibat hormonal)  UKK pada dada. hepatitis B/C. palpasi perkusi dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palmar eritem. fluid wave utkperiksa ascites Kepala : sclera ikterik Leher : kuning Thorax depan: screening spider naevi. Karna kuning. kanker Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat lemas. ginekomasti. hepatomegali dan ascites pada orang kurus Auskultasi Perkusi Palpasi  dbn  hepatomegali.

ALP dan GGT naik. Diet : suka makan makanan berlemak c. LFT bilirubin direct. Serologi: Hbs Ag. Forty. Durasi : ±60 menit Karakteristik : Agravating : makanan berlemak (memicu kontraksi kantung empedu) Relieving: Faktor risiko : 4F  Female. Pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. hepatitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : 86 . anti Hbc k. Fertile     RPD : pernah cholelitiasis RPK : Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. gizi cukup. Olahraga : b. sirosis hepatis.AST naik. muntah. ALT. makan lunak Cholecysitis KU : Nyeri kuadran kanan atas abdomen Anamnesis :  RPS Onset : Lokasi : Epigastrium atau kuadran kanan atas. marker HCC: AFP Terapi Bed Rest Roboransia Edukasi Istirahat cukup. bisa menjalar ke kanan atas skapula (Boa’s sign).j.muscular guarding (defans muskular) Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Cholelitiasis. Fat.

pasien akan berhenti tarik napas). RLQ Apendisitis Akut KU : Nyeri kuadran kanan bawah abdomen Anamnesis :  RPS Onset Lokasi : akut : awalnya di periumbilikal. pasien Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sklera  ikterik Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang USG  ada penebalan dinding vesica fellea. Hindari makanan berlemak 2. setelah 4-6 jam migrasi ke kuadran kanan bawah abdomen Durasi : <24 jam (kalau>24 jam perforasi) 87 . Terapi Analgesik : Petidine (morfin) Antibiotik : cefuroxime 1. Hindari rokok ABDOMINAL PAIN. kelihatan cairan peri cholecystic. tekan.Vital sign : temparatur maningkat (demam)     Murphy’s sign (ditekan di kuadran kanan atas.bisa juga ditemukan ada batu.5 g/8 jam 3xsehari Rujuk spesialis bedah digestif diminta tarik nafas. Edukasi 1.

kalo udah ke kanan bawah continuous pain (bisa ditunjuk).5) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Superfisial Deep  dbn  dbn  dbn  : muskular guarding (peritonitis). Vital sign : mungking suhu meningkat (demam) subfebril (37. : appendicial mass Rebound tenderness (nyeri tekan lepas) Rovsing’s Sign : sebelah kiri ditekan. aktivitas berat. dull. nyeri difus. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat nyeri.Karakteristik : walanya colicky pain. pasien diminta mengangkat paha menahan tahanan)  nyeri di kanan bawah Obturator Sign : gerakkan kaki pasien ke dalam sehingga lutut keluar  nyeri di hipogastrik kanan (kuadran kanan atas).5-38. pada perut bag bawah). ga migrasi. Olahraga : b. Agravating : batuk. Diet dan pola makan : kurang serat  Review system  keluhan lain : anoreksia. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  88 . intermittent (difus). lemah : App akut. :- Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. PID (dispareuni. yg meningkatkan tekanan intra abdomen. Relieving: Faktor risiko :     RPD RPK : penyakit cacing dan infeksi diGI yg menyebabkan hiperplasia limfoid. pas idiangkat sebelah kanan sakit) Psoas Sign : tangan dilatakkan di lutut kanan pasien.

pemakaian pembalut wanita.Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang l. Urinalisis  eksklud kehamilan Terapi Analgesik : paracetamol Metronidazol Edukasi 1. Olahraga : b. USG appendix terlihat membesar n. keputihan yg kadang-kadang baunya amis. Appendicogram udah pasti app.gangren. RPK : DM pada ibu Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Diet dan pola makan : 89 .     RPD : menstruasi ga teratur. Makan makanan berserat (buah dan sayur) Pelvic Inflamatory Disease (PID) KU : Nyeri abdomen bawah Anamnesis :  RPS Onset : sejak 1 bulan Lokasi : perut bagian bawah (difus) Durasi : sudah 1 bulan Karakteristik : nyeri tumpul. untuk mencari stadium app. difus. aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. di perut kanan bawah. Agravating : celana dalam ketat. (suppurative.netrofil > 95% kalo m. perforasi) o. CBC  Leukositosis.

tab 1 p. vaginal swab.d. Apendisitis. USG. dispareuni (patognomonis). IUD Parafrase ke pasien Sebutkan DD : PID . Jangan melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu dekat 4.tab 1 p. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As. Edukasi 1. kaku. memegang perut bagian bawah.p.c. XXVIII S. Jangan melakukan irirgasi vagina 2. S. Lepas IUD 3. Pemeriksaan penunjang Vaginal swab.d.Mefenamat 500 mg No. 2. KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. Tetrasiklin 100 mg No. adneksa teraba. 11. Antibiotik : R/ Tab. IX.d.c.r. muntah. Jangan memakai panty liner 90 . Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi    Pemeriksaan Gyn : pake spekulum inspeksi.n 3. Review system  keluhan lain : mual.d. Vital sign : mungkin demam Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Tenderness bimanual  ada nyeri goyang uteri.

Vital sign : mungkin demam  dbn  dbn  dbn  dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Pemeriksaan Gyn : pake spekulum Cadwig’ Sign (tampak kebiruanpada portio cervix uteri) bimanual  ukuran uterus teraba membesar Kepala : Leher : palpasi limfonodi 91 .Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) KU : Nyeri abdomen bawah kiri atau bawah tetapi unilateral Anamnesis : RPS Onset : akut Lokasi : perut bagian bawah kiri atau kanan tetapi unilateral Durasi : akut Karakteristik : nyeri tumpul. Status menstruasi : telat datang bulan RPD RPK   : :Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. colicky. Agravating : aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. Olahraga : b.di perut bawah kanan/kiri. memegang perut bagian bawah. Diet dan pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD : KET. difus. PID . Apendisitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan.

Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As. IX. tab 1 p. S.d.c.n 3. Rujuk ke Sp.p.OG 92 .r.d.Mefenamat 500 mg No.Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang: USG.

penurunan berat badan >10% dalam 6 minggu VS : subfebril (<38. tinggal di daerah tidak bersih Review System : sariawan. Pharyngitis. HR dan BP normal Thorax : I : retraksi dinding dada (+/-) Pa : Fremitus taktil : menurun (oleh karena kaverna) meningkat pada apex (oleh karena infiltrat) Pe : Apex : Redup Kavitasi : hipersonor Efusi pleura : redup-pekak 93 .BATUK DD : TB. CHF. sel giant dengan atau tanpa nekrosis kaseosa. PPOK. subfebril. asma TB Penyakit yang ditandai oleh adanya pembentukan granuloma spesifik yang terdiri atas tuberkel epiteloid. penurunan berat badan.5). ganti – ganti pasangan. pneumonia. penurunan nafsu makan dengan atau tanpa rasa nyeri dada terutama pada saat batuk A : peningkatan tekanan intraabdomen R:T : Sudah minum obat batuk tapi batuk ga sembuh-sembuh RPD : Batuk yang tidak sembuh – sembuh Riwayat vaksin BCG (-) Riwayat AIDS (+) RPK : Keluarga atau orang terdekat ada yang menderita TB/HIV/AIDS Lifestyle : Kurang gizi. kakexia. Ax : KU : Batuk purulent RPS : O:L:D : akut ≤ 3 minggu Kronis ≥ 8 minggu C : batuk purulen dan berdarah disertai keringat pada malam hari. RR. keringat malam hari Px : Keadaan Umum : Lemas. bronchitis akut.

pagi.A : Ronki basah pada Apex Suara napas bronchial Ekspirasi diperpanjang Egofoni : suara napas tinggi Kepala dan Leher : Konjungtiva anemic Limfadenopathy Deviasi trachea Px penunjang : Sputum BTA : min. limfadenopati hilus Darah rutin : leukositosis. sewaktu Foto Thorax AP dan L : bercak kavitasi (hiperlusen). Ro (+) sakit berat ▪ TB ekstra paru berat 2RHZE 4R3H3 Kategori 2  Penderita Kambuh  Gagal  Lalai 2RHZES/RHZE 5R3H3E3 Kategori 3  TB Paru Baru BTA (-). neutrofilia. limfositosis. LED ↑ Tes tuberculin : indurasi > 10 mm Tx : Kategori 1 ▪ TB Paru Baru BTA (+) ▪ TB Paru BTA (-).2 dari 3 sputum sewaktu. Ro 2RHZ (+) sakit ringan  Ekstra Paru Ringan 4R3H3 Anak : 2 RHZ+4RH Mulai tahun 2008 pengobatan pasien tuberkulosis untuk pasien dewasa diberikan dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) : 1) Kategori 1 a) Pasien baru TB paru BTA positif b) Pasien TB baru BTA negatif foto toraks positif c) Pasien TB ekstra paru 94 . infiltrate dan konsolidasi (apex)  radiopaq. anemia ringan (Hb>10).

XXVIII S 1.54 kg 2 tab 4KDT + 500 mg S 3 tab 4KDT + 750 mg S Selama 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 95 Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab E 3 tab 2KDT + 3 tab E Berat Badan ..d Tab IV ………………………fase intensif untuk 1 minggu kontrol R/ Tab 2 KDT no XLVIII S 3 kali 1 minggu Tab IV …………… fase lanjutan untuk 1 bulan kontrol Tapi kalo takut pasiennya lupa2 gitu.Tabel 2. trus resepnya jadi begini : R/ Tab 2KDT no.37 kg 38 . jadi itu misalnya BB 60 : R/ Tab 4KDT no. Dosis panduan OAT KDT Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Tahap Lanjutan seminggu 3 kali selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Nah ribet ya? Iya .d. XII S 3 kali 1 minggu Tab IV 2) Kategori 2 Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya : a) Pasien kambuh b) Pasien gagal c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat Tabel 3. jadi kalo mau disamain aja 1 minggu kontrol. Dosis panduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30 .

X S p. padat begitu deh pokoknya Lifestyle : merokok 96 . A : Kadang disertai sesak napas saat istirahat.n Tab I pc R/ Syr. kalo asma dan jantung kan pada saat aktivitas. reda trus muncul lagi RPD : penyakit ini akut. Bromhexin Hcl 20mg/5ml 60 ml lag I S p. protein dan vitamin Pneumonia Ax : KU : batuk RPS : O : akut L:D : < 3 minggu C : batuk pada pneumoni itu berdahak bisa ada darahnya (tapi jarang).55 .d.d 5 ml pc Edukasi :   Minum obat setiap hari sampai habis Kontrol tiap 1-2 minggu pada tahap intensif dan tiap bulan pada tahap lanjutan  periksa ulang BTA bulan ke 2. R: T : Udah minum obat batuk.70 kg ≥ 71 kg Simptomatik : 4 tab 4KDT + 1000 mg S 5 tab 4KDT + 1000 mg S 4 tab 4KDT 5 tab 3KDT 4 tab 2KDT + 4 tab E 5 tab 2KDT + 5 tab E R/ tab paracetamol 500 mg no.r. 5 dan 6    Minta bantuan keluarga atau pihak lain untuk mengingatkan pengobatan Hentikan rokok dan paparan polusi  pakai masker Nutrisi kaya kalori.n 3. infeksi viral.r. PPOK. imunodefisiensi RPK : Lingkungan : pneumonia bisa terjadi di orang yang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk. jadi riwayat pneumoni sebelumnya bisa aja (-) Riwayat Mondok di RS (+/-) Riwayat penggunaan ventilator (+/-) Riwayat DM.

riwayat alergi.d. aktivitas. Ronki basah (+).d. minum air yang cukup PPOK Ax : RPS : O : kronik / kronik eksaserbasi akut L:D : > 3 bulan dalam 2 tahun terakhir C : batuk purulent disertai sesak napas A : rokok. kalo udah berat bisa muncul waktu istirahat R : istirahat T : obat batuk hitam tapi ga ngaruh RPD : ada riwayat penyakit yang serupa trus ilang trus muncul lagi RPK : Lingkungan : padat pemukiman.Review System : demam (+/-). atopi (-) 97 . keterlambatan pengembangan paru Pe : Redup (konsolidasi) A : Suara bronchial. T ↑ Thorax : I : retraksi dinding dada saat bernapas Pa : fremitus taktil ↑ . penurunan nafsu makan Px : Keadaan umum : bisa terjadi penurunan berat badan. pleural friction rub (+) egophoni Kepala dan Leher : dbn Abd : di auskultasi aja  dbn Ekstr : dbn Px Tambahan : Ro Thorax : infiltrate Kultur sputum Darah rutin : Leukositosis Tx : Mukolitik (jangan ekspektoran) PCT Antibiotic  penisilin G 6 juta IU/hari Amoksisilin 500 mg S 3. pasien tampak lemah VS : RR ↑. sesak napas terutama saat tiduran dan beraktivitas. ……………… selama 7 hari Edukasi: istirahat. tapi lingkungan benernya ga terlalu pengaruh juga sih Lifestyle : merokok sudah sejak lama Review System : pasien juga bisa mengeluhkan demam.

mengi saat ekspirasi Kepala dan Leher : konjungtiva anemi.7 and 30% FEV1 <50% predicted IV : sangat parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.R dan vaksin influenza serta pemberian SABA Pemberian LABA Glukokortikoid saat eksaserbasi 98 . krikoid dan inc. pakai otot bantu pernapasan Abd : hepatomegali (pada kasus parah) Ekst : jari tabuh. tampak adanya kesulitan bernapas VS : T.7 and FEV1 <30% predicted or FEV1 <50% predicted dengan gagal napas atau tanda gagal jantung kanan Menurunkan F. bibir cyanotic.7 and 50% FEV1 <80% predicted III : parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. nasal flare. HR dan RR ↑ Thorax : I : bentuk dada sepeti tong. pengembangan paru ↓ Pe : hipersonor. posisi tripod.7 dan FEV1 80% predicted II : sedang Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. retraksi dinding dada Pa : fremitus taktil ↓.suprasternal saat eksp < 4cm.Px : Keadaan umum : pasien tampak lemah dan kurus. JVP ↑. tanda kor pulmo. edema tungkai (pada kasus parah) Px tambahan : spirometri  toleransi terhadap bronkodilator FEV1 < 12 % FEV1/FVC < 70% CXR  hiperlusent (air trapping) AGD : pO2 dan PCO2  PO2 dan PCO2 normal dan tidak ada cyanosis tapi pasien sesak  pink puffer. penggunaan otot bantu pernapasan. pasien tidak sesak tapi cyanotic  blue bloater Terapi : Derajat keparahan COPD I : ringan Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. perpesaran ventrikel kanan (+/-) A : bronchial. jarak kart. pemanjangan ekspirasi. kalo PO2 rendah PCO2 tinggi.

blue bloater  kor pulmonar Edukasi : makanan rendah garam dan protein.Longterm O2 therapy Penanganan serangan akut : SABA + antikolinergik + glukokortikoid (prednisolon 40 mg PO selama 14 hari) + O2 2-3 L/men Komplikasi : pink puffer  gagal napas. hentikan rokok 99 . vitamin dan sayuran antioksidan.

Iritis (SKDI 3A) Ax RPS O Gradual onset : Konjunctivitis (viral. Glaukoma akut (SKDI 3A). muntah  Glaukoma akut Mata berair. foreign body L D C Tidak nyeri dan tidak photopobia .dll)  Iritis Penggunaan obat steroid mata prolonged (biasany pd uveitis. konjunctivitis RS2 ada keluhan lain? Konjunctivitis Iritis Glaukoma sudut tertutup Keratitis Onset gradual gradual 100 mendadak gradual . glaucoma akut Photopobia  Iritis. Glaukoma akut Memakai contact lens  Konjunctivitis kontak lens Alergi obat tetes mata  Konjunctivitis alergi Penyakit autoimun (Crohn disease.Mata Merah Konjunctivitis (SKDI 4). alergi. visus menurun  keratitis. iritis. Keratitis Sudden onset : Glaukoma akut. Keratitis (Glaukoma kadang2) A R T Other RPD Tanyakan pake contact lens ga. runny nose  Konjunctivitis alergi Mata gatal  Iritis. neuropathy)  Glaukoma sekunder RPK keluarga ada yang sakit serupa? Glaukoma biasanya menurun ke anaknya (6%) lingkungan ada yang kena? LS RS1 Nyeri kepala. ada discharge  konjunctivitis Nyeri. pusing. chlamydial) . glaucoma akut Apabila diberikan anestesi mata (ex: proparacaine) nyeri berkurang  keratitis Riwayat relaps  Iritis. minus ? Cahaya terang makin nyeri  keratitis.Sarcoidosis. Keratitis (SKDI 2). iritis. bakteri. Ankylosis Spondylitis.

Relaps - Sering kambuh Kadang ada riwayat sblmnya - Visus Nyeri normal Tidak ada. Konjunctivitis viral  discharge watery. dapat ditemukan folikel limfoid di tarsal. dapat diklasifikasikan sbb : Konjunctivitis alergi  biasanya gatal dan penderita pny riwayat alergi. positive fluorescence staining Conjunctival injection IOP Kornea Diffuse (dari perifer ke central) normal Jernih Siliar (dari central ke perifer) < Normal > Jernih Episklera Kadang2 siliar normal Berkabut / beruap (sperti melihat jendela beruap) Reflek pupil normal Konstriksi sedikit Reaksi pupil minimal ato (-) normal Bilateralitas sering Kadang-kadang Kadang-kadang Biasanya unilateral Konjunctivitis Konjunctivitis = inflamasi konjunctiva. sering diikuti mual muntah Sedikit menurun Severe. conjunctival injectionnya lebih difus (hmpir susah dibedakan dengan siliar). biasanya karna penyebaran virus ISPA sangat mudah menular ke mata satunya klo salah satu terkena. Konjunctiva bakteri  discharge lebih purulen karna yg menginfeksi biasanya bakteri pyogenik. disebabkan oleh beberapa kausa. ada prbhn reflek kornea. atau minor menurun Moderate-severe & gatal menurun cepat Very severe. discharge purulen bkin belek jadi klo bangun tidur susah buka mata 101 . ada sensasi benda asing Photopobia Discharge Pupil signifikan normal ++ konstriksi +/Semi dilatasi & fixed + None to mild Normal atau konstriksi Siliar (dari central ke perifer) N +++ Opacification.

atau Gentamycin 0. respirasi  normal 3.dimulai dari limbus(perifer) ke arah central (konjunctival injection) Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO Segmen posterior Normal Jernih. dalam Normal Jernih Normal Normal Normal Normal 4. Merah.. nadi. pada konjunctivitis bakteri tampak crust menempel di bulu mata.1. tekanan darah. terdapat folikel limfoid di tarsal. Ada discharge. Keadaan umum Keadaan umum. discharge bisa mukopurulen ato purulen Tanda vital Suhu. kesadaran  mata merah. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Ada crust/belek (konjunctivitis bakteri). gizi. BB/TB. Jernih. Terapi Tindakan : ----- Farmakoterapi Konjinctivitis bakteri Cloramphenicol 0..05% 1 gtt q2h prn (ga bole lbh dari 5 dd) 102 .5% atau naphazoline 0.3% Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis viral Livostin 1gtt 4dd  antihistamin Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis alergi antazoline 0.5% tetes mata (Erlamycetin) 3-4x sehari 2 tetes. 2. Pemeriksaan penunjang Swab bakteri kultur 5.

1gtt.3. tapi kalo diberi obat sembuhnya lebih cepat.os. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Menyempit. gizi. penglihatan kabur seerti melihat ‘halo’ di sekitar objek 1.d.r. Keadaan umum Keadaan umum. Prognosis dr. Tanda vital Suhu.od Pro: Nama : Alda Umur : 17 tahun Glakukoma akut Keluhan umum : nyeri periorbital.os.6. BB/TB. nadi.d.p. tekanan darah. respirasi 3. Bumbum SIP 5566/2009 Alamat praktek/rumah Jalan Kesehatan no 53 Yogyakarta Yogyakarta.d.n. 7. kesadaran  mata merah. mual muntah.od R/ Tube Insto No.I S. nyeri kepala hebat 2.4. bagian perifer seperti berkabut hitam Normal 103 . deficit visual. I S. Edukasi Istirahat Sebenarnya klo konjunctivitis dibiarin jg sembuh sendiri. 20/12/09 R/ Tube Erlamycetin No.d.2 gtt. nyeri kepala ipsilateral.

BB/TB. dangkal Tidak reaktif dan dlm keadaan middilated Normal N+ (>21 mmHg apabila diukur dgn tonometer) Normal Normal Siliary injection 5. kesadaran 2. 6. photopobia. penglihatan kabur 1. gizi. respirasi 3. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Normal Normal 104 . Tanda vital Suhu.5% 1 gtt bid di mata yg sakit Paracetamol utk mengurangi nyeri Antiemetic apabila muntah2. Pemeriksaan penunjang Bisa edema. nadi.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. 7. tekanan darah. Keadaan umum Keadaan umum. synechiae Jernih. diikuti 500 mg PO Timolol ophthalmic 0. Terapi Tindakan Farmakoterapi : Pasien disupinasikan supaya menurunkan IOP : Acetazolamide (Diamox) 500 mg iv. deficit visual. Edukasi Prognosis Baik asal Mx nya cepat Iritis Keluhan umum : nyeri.

pupil sedikit miosis Bisa opasitas (katarak) bisa tidak. respirasi 3. gizi.5-2% 1gtt 3dd .tp ga spesifik buat uveitis Bisa mencetus glaucoma sekunder klo udah parah Normal Normal Siliary injection 5.Cyclopegic  memblok saraf sphincter pupil dan m. Terapi Tindakan Farmakoterapi : : . kesadaran 2. Pemeriksaan penunjang Reaktif . Edukasi Prognosis Keratitis Anamnesis : riwayat kontak lens. corneal disease 1.ciliaris Cyclopentolate 0.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Bisa edema.. trauma.Steroid utk mngurangi inflamasi Prednisolone 1% 1 gtt q1-6h 6. BB/TB.. tekanan darah. Pemeriksaan mata Visual acuity Visus turun 105 . Keadaan umum Keadaan umum. nadi. synechiae Aquous humor apabila disinari sperti flare Ditemukan WBC di kamera okuli ant. bisa smpe hypophion Reflek pupil Lensa TIO 4. 7. penurunan imunologis. Tanda vital Suhu.

Terapi Tindakan Farmakoterapi Rujuk aja…soalnya level SKDI 2 : : 6.Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. Edukasi Prognosis Tambahan: Retinopathy diabetika atau hipertensi  ciri ada neurovaskularisasi rapuh  pecah  pendarahan  iskemia  cotton woll spot  bisa ablasio retina. posterior synechiae Normal Normal Normal 5. 7. 106 . ada discharge mukopurulen kadang2 Normal Siliary injection Ada ulserasi. Pemeriksaan penunjang Normal Normal Edema eyelid atas.

Metabolic asidosis  hiperventilasi & kussmaul 6. tiap serangan biasanya hanya sebentar. Respiratory: PPOK . mitral stenosis.DYSPNEA Sensasi sulit untuk bernapas Kausa  Sudden onset dulu nggak pernah 1. kecuali bila asmanya sudah parah 107 . Cardiovascular = ACS 2. tentukan derajat aktivitas ketika sesak napas Asthma g. epiglotitis akut 3. kronis dan berulang : sesak napas di dada : beberapa menit. tanya durasinya udh berapa lama. Durasi : beberapa menit yang lalu. Onset o. mitral regurgutaion 2. Respirasi lain Inhaled foreign body Upper airway obstruction Pneumothorax Atelectasis 4. Severe respiratory infection: pneumoni. Psikogenik disorder= anxiety (heieprventilasi)   Sudden onset dulu pernah Insidious onset.asthma. Severe chronic anemia  tisssue anoxia  sesak napas 4. Psikologis: pasien cemas sesak napas + batuk kronik + sputum + rekuren + merokok  lung suffocation kalau asthma. Anafilaktik akut 5. CHF. KU : sesak napas h. PPOK 3. beberapa lama 1. Anamnesis :  RPS n. Lokasi p.

Kondisi umum : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. intercosta Asma berat  dada tong Penurunan pengembangan dada yang simetris Mengi dapat terdengar tanpa bantuan stetoskop Palpasi Perkusi Auskultasi  fremitus taktil ↓  hipersonor vesicular. tidak ada demam dan pilek i.      Treatment : penggunaan antihistamin/obat-obatan untuk alergi RPD : riwayat alergi. Karakteristik : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. sesak napas seperti diikat. debu.q. obat-obatan. perubahan suhu (malam hari). sulit untuk berbicara r. Parafrase ke pasien Pemeriksaan fisik : 12. stress. batuk berdahak disertai sesak napas seperti diikat. b. oksigen. asma. faktor stres (misal mendekati ujian) s. atopi Riwayat perjalanan : hilang timbul Lingkungan : berdebu. kelelahan. pakai otot bantu pernapasan. mukosa bibir tampak pucat-cyanosis Leher : palpasi limfonodi dbn 108 . antihistamin t. musim semi. Vital sign : RR ↑. pekerjaan. memiliki hewan peliharaan. riwayat penggunaan obat-obatan asma spt kortikosteroid. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi  penggunaan otot2 bantu pernapasan Retraksi dinding dada terutama supraclavicular. c. ventilasi kurang baik Lifestyle : a. Relieving: menghindari allergen. alergi. kesuliatan bernapas 13. makanan. wheezing Kepala : Nasal flaring. nebulizer dll RPK : keluarga ada riwayat sesak napas. infeksi. musim. SCM. j. Olahraga : Diet : Pola makan : -  Review system  gatal/atopi pada kulit. BP & T normal 14. takikardi. Agravating : terpapar alergen.

Terapi Serangan akut : oksigen 4-6l/men + Reliever (nebulasi) a.Abdomen: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : atopi (+/-) 15. CBC eosinofilia. Moderate persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi 109 . Skin prick test b. Spirometri dinamis FEV1 ≥12% (>200 ml) setelah administrasi bronchodilator Perbaikan (Perak Expiratory Flow) PEF ≥ 20% pre-bronchodilator 16. Pemeriksaan penunjang a. Mild persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi c. IgE spesifik dan total c. Mild intermittent SABA 3-4 x/hari Belum perlu controller b.

progresif dan kronis : dada : > 8 minggu 4) Karakteristik : Merasa mudah lelah. KU : sesak napas b. Anamnesis :  RPS 1) Onset 2) Lokasi 3) Durasi    : beberapa bulan yang lalu. mengganggu aktivitas Sesak napas semakin memberat Tidur lebih nyaman dengan bantal tinggi Gagal jantung kiri: 110 . Hindari allergen CHF a.d. Severe persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi Satu/lebih dari teophylin sustained release atau leukotrien modofier controller  untuk asma persistent Anti inflamasi steroid Inhalasi  budesonide 200 mikrogram 2x / hari Oral  methyl prednisolone 4mg Long Acting Beta Agonist (LABA) Salmeterol 100 mikrogram inhalasi Formoterol 24 mikrogram inhalasi reliever  pada eksaserbasi asma akut  bronchodilator Short Acting Beta Agonist (SABA)  salbutamol 4mg oral / 200 mikrogram inhalasi R/ tubulinhaler salbutamol lag I S p.d.d puff II 17. Edukasi 1.n 3.r.

Kondisi umum : lemah. hipertensi. Parafrase ke pasien d. belum ada perbaikan     RPD : hipertensi RPK : orang tua hipertensi Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. cor pulmolae 5) Agravating : aktivitas 6) Relieving: istirahat 7) Treatment : berobat ke dokter. c. efusi pleura. regurgitasi mitral. pucat. b. hepatomegali c.  Olahraga : tidak suka Merokok Pola makan : tinggi lemak Review system  keluhan lain : edema tungkai. atau stenosis katup aorta  nggak bisa pompa saat sistolik) Diastol: insufisiensi aorta. sesak napas terutama malam (pnd). Pemeriksaan fisik : 1. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: o Inspeksi Ictus cordis kuat o Palpasi Ictus cordis berpindah bergeser ke atas  hipertrofi ventrikel kanan bergeser ke bawah  hipertrofi ventrikel kiri Fremitus meningkat  karena ada cairan Kulit dingin dan lembab (keringat) o Perkusi Cardiomegali 111 . berkeringat. stenosis mitral Gagal jantung kanan:  lanjutan gagal jantung kiri.  Sistolik: infarct ventrikel kiri. tanda gagal jantung lain seperti palpitasi. respirasi ↑ 3. dengan atau tanpa edema tungkai dan sesak napas saat berbaring 2. diberi obat. Vital sign : nadi ↑.

Edem paru akut 4. Edem ekstremitas 5. Tachicardia 2.Hepatomegali. Refluks hepatojugular Kriteria minor 1. asites  pada gagal jantung kanan o Auskultasi Thrill Murmur RBB  karena peningkatan cairan di paru S3 gallop  seperti suara kuda S3 gallop gagal jantung kiri  apex S3 gallop gagal jantung kanan  ujung sternum Kepala : gerakan cuping hidung gerakan otot bantu pernafasan  retrakasi otot SCM. Cardiomegali 2. Hepatomegali 112 . RBB (+) 5. Dispnea d’effort 3. Ortopnea/PND 3. intercostal JVP meningkat  terlihat saat pasien berbaring 45 derajat Leher : dbn Abdomen: o Inspeksi: lingkar perut meningkat karena ascites o Palpasi Fluid wave  ascites Hepatomegali (RHF) o Perkusi Hepar teraba Nyeri tekan kuadran kanan atas o Auskultasi Extermitas : bengkak. berkeringat Kriteria Framingham CHF bila memenuhi 2 major atau 1 mayor + 2 minor Kriteria major 1. pitting edema. Efusi pleura 4. ↑JVP 6.

c. R/ Tab.d. Captopril 12. LAD 8. Edukasi 1. Aksigenasi 3. tab I p.5 mg No XXX S 3. RAD 8. R wave > S wave di v1 7. EKG Kiri  LVH 5. Batasi aktivitas fisik 113 .d. tab I p. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. v6 Kanan  RVH 5. Batasi asupan Na 2. Terapi R/ Tab.d. Furosemid 20 mg No XXX S 3. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 6. Echocardiography Fraksi ejeksi <40% 5.d. Beta blocker  pada post MI 6. S persisten di v5 & v6 6.4. v2 b. Pemeriksaan penunjang a. Strain pattern st depressed & T inverted di v1.c. CXR Cardiomegali: Karena hipertrofi otot jantung Karena dilatasi akibat penumpukan darah c. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 7.

dan berurutan  daerah yang fraktur lepas dari kesatuan  jadi kuwalik-walik  pada saat inspirasi malah kesedot kedalam. Tension nekan mediastinum  yang ngaruh cuma vena cava  kegencet  venous return menurun syok. Assess: Listen (sucking chest sound). volume makin meningkat  tension. 114 . Sehingga setiap ada napas. dengan mitela atau miring ke bagian yang sakit plus painkiller Tamponade cordis Jantung kayak di tampon (ciri: suara jantung melemah)  venous return menurun  JVP meningkat  yang dipompa dikit  stroke volume menurun. kanan. udara dari paru juga akan berduyun-duyun ke lubang. Akibat patah  nyeri. dan kiri) TENSION PNEUMOTHORAX Pneumothorax tension terjadi bila lesi dinding dada (pleura parietalis)/pleura visceralis bersifat ventil atau katup. sehingga akan menekan paru-paru. RR meningkat) Treatment: “digembosi”  pake jarum atau pisau. Feel (perkusi: hipersonor) Tx definitive:WSD (Water Seal Drainage)  “ditutup” lubangnya Tx emergency: tutup lubang di dada dengan menggunakan kain/plastic yang diplester di 3 sisi (atas. dicoblos di linea midclavicular SIC 2. nadi lemah  tekanan arteri menurun + syok ”Trias beck”  Tx: pungsi pericard. JVP meningkat Tension  nekan paru-paru kontralateralnya juga  distress napas yang hebat (sesek. namun pada saat ekspirasi. tidak semua masuk lagi ke paru-paru. apalagi kalo begerak Tx: bagian yang keluar-masuk ditahan. Setiap kali inspirasi. udara akan masuk ke rongga pleura. Pada saat ekspirasi. Tx definitive: WSD Flail Chest Terjadi pada fraktur kosta yang segmental (2 tempat atau lebih). dan akhirnya akan paru akan kempis.Pneumothorax: OPEN PNEUMOTHORAX Pneumothorax terbuka terjadi akibat terbentuknya lubang di dinding dada yang diameternya lebih dari 2/3 trachea. Look (gerakan napas tertinggal). sehingga menimbulkan sucking chest sound. multiple. Melalui lubang tersebut udara luar masuk ke rongga pleura. pada saat ekspirasi jadi kedesak ke luar  gerakan paradoksal dinding dada.

Olahraga: b. keluar dikit2. riwayat sakit pinggang dan kencing warna merah (ada glomerulonefritis sebelumnya). scrotum. sesak napasnya paroksismal dyspneu. tidur pake bantal. pitting udem (karena udemnya interstitial jd saat dipencet ga balik lg) m. labium mayor. Parafrase ke pasien n. k. ). 2 hari yang lalu jadi seluruh tubuh : 2 minggu x.oedem anasarka (nonpitting) di jaringan yang longgar (kelopak mata. kenaikan serum lipid trigliserid. hipertensi Lifestyle : a. Pola makan:  Review system : keluhan lain : ada sesak napas ga? (untuk eksklusi CHF: kl ada. Pemeriksaan fisik : 18. Karakteristik : saat bangun tidur mata terasa tebal semakin siang semakin berkurang bengkak di matanya tapi di kaki makin bengkak. (<3 gr/ml). Anamnesis :  RPS u. bibir). dll.Sindrom nefrotik Definisi: kumpulan gejala dimana terjadi proteinuria (>3. nafsu makan berkurang.5 gr/hari). berat badan bertambah tapi merasa lemes y. Diabetes Mellitus   RPK : riwayat kencing manis (DM). BAK dan BAB terganggu ga (kl SN. Onset v. warna keruh). Lokasi w.). ascites ato ga? (SN ada ascites).manifesnya semakin parah z. BAK terganggu => frekuensi meningkat. Kesan umum : gelisah. tidak nyeri dan tidak terasa panas kencingnya. Diet : protein berlebih (telur) c. Glomerulonefritis (cratinin clearance berkurang) o. sesak napas 115 . Durasi : 2 minggu : pagi hari di wajah (kelopak mata. Agravating : kalo diet banyak protein (telur). Treatment :  RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya. KU : Bengkak-bengkak l. Relieving aa. hipoalbuminemia. Sebutkan DD : CHF.

Vital sign : BP naik. 20. Urinalisis (sampel urin berasal dari urin tampung 24 jam)  proteinuria (>3.d. Edukasi 1.d tab I .5 gr/hari).b. Darah  ada dislipidemia.5 mg s. hipoalbumin <3 gr/mL 22. no fever. diet rendah garam dan tinggi protein 2. Pemeriksaan fisik : Thorax : . . Bed rest.2.hipertensi ato DM  ACE inhibibor Tab.Terapi a.1.19. Diet rendah garam dan tinggi protein (0.d tab I 23.n Perkusi  shifting dullness (tanda ascites) Palpasi  float wave (tanda ascites) Kepala : muka udem (terutama mata dan bibir) Ekstremitas : pitting udem serta ga ada nyeri 21. Captopril 12. Diberitahu efek samping obat bisa menyebabkan imunosupresan dan “moon face” 116 . Bed rest b.8 – 1 gr/kg BB) c.batas jantung normal (tidak ada cardiomegaly) Abdomen : ditemukan efusi pleura kl parah Inspeksi Auskultasi  ada ascites (perut membesar) d. diminum pagi dan malam (pagi lebih banyak drpd malam) .Prednisone untuk mengatasi peradangan Prednisone 1 mg/kg BB/hari (BB sebelum udem) Sediaan yg ada 1 tablet = 5 mg. Berdasar etiologi : .Furosemide untuk mengatasi udem Tab. creatinine clearance normal (untuk membedakan dengan GN) b. Furosemide 80 mg s.d. Pemeriksaan penunjang a.

Pemeriksaan fisik : 24. burning. leher. Lokasi dd. beberapa menit yang lalu : nyeri dada menjalar sampai lengan kiri & rahang kiri : > 20 menit ee.CHEST PAIN: ACS Unstable NSTEMI STEMI obstruksi parsial obstruksi total. nyeri dada b. gelisah. Sebutkan DD e. KU : sesak napas.  Olahraga : jarang berolahraga Merokok Pola makan : makan makanan berlemak Review system  keluhan lain : keringat dingin. berkeringat. megang dada : ACS. Parafrase ke pasien d. c. obesitas DM. Relieving: Pada stable angina mereda dengan istirahat & nitroglycerin hh. diremas. Agravating : aktivitas fisik gg. Anamnesis :  RPS bb. hipertensi  RPD : Belum pernah nyeri seperti ini Riwayat hipertensi. mual. GERD 117 . ada kolateral obstruksi total a. Karakteristik : 1) 2) 3) 4) Nyeri khas. muntah c. Onset cc. rokok. DM    RPK : orang tua pernah mengidap penyakit jantung Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Kondisi umum : cemas. Faktor risiko : dislipidemia. Durasi : akut. lengan kiri bisa sampai ke ulnar Timbul saat istirahat >20 menit. seperti tertindih. atau dicengkeram Radiasi ke rahang. b. tidak bisa dihilangkan dengan istirahat atau pemberian nitroglyserin ff.

10 menit pertama  EKG 12 lead  bedakan STEMI. Oksigen 4L/mnt. ST elevasi dan Q patologis (STEMI) ST elevasi kalau naik > 2mm di lead precordial atau naik > 1mm di lead extremitas pada minimal 2 lead berurutan Manifes Q patologis (>1/3 R’ atau kalau R < 5 kotak maka sekecil apapun disebut Q patologis) Depresi ST (NSTEMI) b. Morphin IV jika nyeri tidak berkurang dengan nitroglycerin b. Nitrogliserin SL d. Pertimbangkan reperfusi 118 .25. Clopidogrel f. troponin I c.Vital sign : hipertensi. takikardi  dbn  dbn dbn dbn 26. unstable Lihat pambahasan EKG. Terapi Berikan MONACO a.. Periksa cardiac enzyme CK-MB. Foto Thorax (liat ukuran jantung) 28.Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Kepala : dbn Leher : palpasi limfonodi dbn Abdomen: screening  dbn Extermitas : Inspeksi  Ektermitas pucat palpasi  Ekstermitas dingin dan berkeringat 27. NSTEMI. Pemeriksaan penunjang a. pertahankan saturasi O2>90% c. Aspirin 160-325 mg e.

p.Treatment : RPD : GERD biasanya kambuh .Location : epigastrium atau retrosternal bagian bawah .Onset : akut .kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan). menggunakan obat . Keluhan nyeri ini umumnya timbul setelah makan. faktor hormonal (mis : 119    .Edukasi 1.kambuhan.n.n.obatan tertentu (antikolinergik. Turunkan berat badan 2. RPK : Profil pasien : . theofilin. Nitrogliserin 0. p. IV (dikunyah.Duration : beberapa menit .Characteristics : nyeri seperti tebakar. Aspirin tiap hari GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) Anamnesis   KU : Nyeri dada yang seperti terbakar RPS : .Fibrinolitik  door to needle 30 detik PCI kalau ada kontraindikasi fibrinolitik  door to ballon 90 detik R/ Tab. 1.d. opiat. mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah. Odinofagi (nyeri saat menelan makanan) juga bisa muncul bila sudah terjadi ulserasi esophagus berat.Aggravating : tidur setelah makan . Stop merokok 3. Aspirin 80 mg no XXVIII S.r. beta adrenergic. dll).Relieving : . saat serangan) Stable angina pectoris:   aspirin dimunum saat serangan & biasa nitroglycerin saat serangan 29. .amati ada tidaknya faktor resiko → memiliki hiatus hernia. kadang . Management lipid 5. sublingual (saat serangan) R/ Tab. Aktivitas fisik aerobik 4.r. Tab.3 mg No VII S.d.

Hindari makan sebelum tidur 120  . .  Cisapride : 3 x 10 . peppermint . konsumsi alkohol .PPI : pada kasus yang berat  Lansoprazole : 2 x 30 mg  Pantoprazole : 2 x 40 mg  Rabeprazole : 2 x 10 mg  Esomeprazole : 2 x 40 mg Modifikasi gaya hidup : . peningkatan progesterone karena kehamilan).Meninggikan kepala saat tidur . Review system Pemeriksaan Fisik :      Kondisi umum : tampak memegangi ulu hati Vital sign :dbn Kepala leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Pemeriksaan Penunjang :   Standar baku : endoskopi saluran cerna bagian atas → akan ditemukan mucosal break pada esophagus.Sukralfat : Alumunium Hidroksida + Sukrosa Oktasulfat .20 mg / hari → menurunkan gejala karena meningkatkan tonus sfingter dan mempercepat pengosongan lambung sehingga esophagus tidak lama terpapar asam .20 mg / hari → selain menurunkan gejala juga bisa sekaligus menyembuhkan lesi di esophagus. soft drink.Antasid : 4 x sehari .  Domperidone : 3 x 10 . namun tidak untuk penyembuhan lesi.Prokinetik  Metoclopramide : 3 x 10 mg → harus dengan kombinasi bersama Antagonis reseptor H2 atau PPI. coklat . Esofagografi dengan barium → pada pasien dengan hiatus hernia atau stenosis esophagus.Antagonis reseptor H2  Simetidin : 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg  Ranitidin : 4 x 150 mg  Famotidin : 2 x 20 mg  Nizatidin : 2 x 150 mg . Tata Laksana :  Medikamentosa : Pilihan terapi medikamentosa yang dapat digunakan antara lain : .

obatan yang menurunkan tonus sfingter esophagus (kolinergik. peppermint. etc) 121 . beta adrenergik.- Berhenti merokok dan alkohol karena dapat menurunkan tonus sfingter esophagus Kurangi konsumsi lemak dan jumlah makanan yang dikonsumsi karena bisa menyebabkan distensi lambung Turunkan berat badan untuk menurunkan tekanan intra abdomen Hindari makan coklat. kopi dan minuman bersoda karena dapat menstimulasi asam Hindari obat .

kardiak (stenosis aorta dan pulmunal dll) Batang otak : infark. diabetic autonomic neuropathy. Apakah anda merasa akan pingsan? Gejala demikian mungkin merupakan prasinkop 2. kehamilan usia muda. menierre. muntah. pucat dan berkeringat    Unsteadiness : sensasi tidak seimbang atau perasaan akan jatuh Lightheadedness : faint (blur). seperti perabotan atau lukisan dinding. presinkop sensation Giddiness : sensasi tidak spesifik Atau mengklasifikasikannya menjadi dengan atau tanpa vertigo : Dengan vertigo :  Perifer o o  Sentral o o Tanpa vertigo :   Infeksi viral akut seperti pada gaster atau usus Hipotensi postural : biasanya terjadi pada wanita usia muda. neuronitis vestibular Tanyakan adanya perasaan berikut : 1. biasanya disertai mual. fistula N VIII : akustik neuroma. transquilliser. insufisiensi vertebrobasilar Cerebellum : degenerasi. Apakah objek dalam pandangan anda. tumor Labyrinth : labyrinthitis.PUSING/DIZZINESS Sensasi tidak seimbang oleh adanya gangguan satu atau lebih organ yang menjaga keseimbangan. BPPV. antikonvulsan Penyakit lain : anemia. penggunaan obat antihipertensif    Hipoglikemik : disertai gejala berkeringat dan lapar Penggunaan obat-obat : antihipertensif. Pusing Vertigo Unsteadiness PseudoVertigo Lightheadedness Giddiness Oleh karena itu perlu dilakukan kategorisasi symptom menjadi salah satu kategori diatas :  Vertigo : sensasi berputar baik secara subjektif (pasien) atau objektif (sekitar). betul-betul nampak berputar atau anda merasa seperti sedang bergerak? Pertimbangkan vertigo 122 .

Mual dan muntah menunjukkan penyakit pada sistem vestibular atau batang otak. yang bisa disebabkan oleh kelainan perifer pada telinga dalam atau nervus kranial VIII. 6. 3. Apakah diikuti dengan sakit kepala  desak ruang oleh peningkatan TIK  neuroma akustika VERTIGO Klasifikasikan apakah disebabkan oleh obat. Diplopia merupakan tanda penyakit pada batang otak. Anamnesis KU : kepala terasa pusing dengan sensasi berputar RPS : Onset : Lokasi : Durasi : Duration of episode Sangat singkat Suggested diagnosis Vestibular neuronitis (late). 4. Apakah yang mencetuskan gejala? Jika gerakan kepala menimbulkan gejala. migraine. fistula perilimfatik TIA. kemungkinan disebabkan oleh penyakit vestibular. Diagnosis pasti jarang berhasil ditegakkan. Terjadinya gejala pada posisi berdiri kemungkinan disebabkan oleh hipotensi postural. Hari Neuronitis migraine Minggu Characteristic : Berputar psikogenik verstibular. 5. Adakah gejala penyerta? Adanya tinitus dan ketulian merupakan tanda kelainan telinga dalam. atau kelainan sentral pada batang otak. neuroma 123 . fistula perilimfatik post trauma. akustika.murni. vertigo sentral atau perifer. Apakah samar-samar kepala anda terasa ringan? Bisa menunjukkan berbagai masalah mulai dari hiperventilasi sampai nyeri kepala tipe tegang.jam BPPV. stroke. Gejala ini kadang-kadang disebut sebagai pusing psikofisik. meniere disease (late) Beberapa detik – menit Beberapa menit – jam Berjam. fistula perilimfatik Meniere.

hilang dalam beberapa hari’ tidak berubah arah saat 124 Vertigo Central Murni vertical. kokain. excessive straining. Ménière’s disease. nitrogliseride. head trauma. barbiturate. perilymphatic fistula Spontaneous episodes (i. horizontal atau torsional. loud noises Relieving : Therapy : Keluhan Penyerta : Untuk membedakannya. aminoglikosidm antikonvulsan. multiple sclerosis Recent upper respiratory viral illness Stress Psychiatric or psychological causes. BPPV. antidepresan. antihipertensi. no consistent provoking factors) Acute vestibular neuronitis. salisilat. cerebrovascular disease (stroke or TIA). migraine Immunosuppression (e. quinine Provoking factor Perubahan posisi kepala Suggested diagnosis Acute labyrinthitis..Aggravating : induksi obat seperti alcohol. perhatikan tabel di bawah ini : Kenampakan Nystagmus Vertigo Perifer Kombinasi horizontal dan torsional. tidak hilang saat mata terfokus pada objek. migraine. immunosuppressive medications. hilang dalam hitungan minggu – bulan. diuretic..g. advanced age. Perilymphatic fistula Herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis .e. hilang saat mata focus pada suatu objek. stress) Changes in ear pressure. multiple sclerosis. cerebellopontine angle tumor.

Ménière’s disease Acoustic neuroma. herpes zoster oticus Cerebellopontine angle tumor. Facial weakness Focal neurologic findings herpes zoster oticus) Acoustic neuroma. multiple sclerosis (especially findings not explained by single neurologic lesion) Acoustic neuroma. Headache Hearing loss cerebrovascular disease. acute middle ear disease (e. masih mampu berjalan Parah.. tinnitus Symptom neurologis lain Latensi nystagmus setelah maneuver RPD : Riwayat Trauma (+/-).focus kea rah lain Imbalance Ringan – sedang.napas atas (+/-) Gangguan pendengaran (+/-) Riwayat pengobatan dengan obat-obatan toksik seperti aminoglikodisa. vomite Hearing loss.g. salisilat. furosemid RPK : vertigo (+/-) Riwayat Perjalanan : Lifestyle : (-) Review System : Symptom Aural fullness Ear or mastoid pain Suggested diagnosis Acoustic neuroma. Diving (+/-) Riwayat infeksi sal. bahkan berdiri Nausea. sulit hingga tidak mampu berjalan. perilymphatic 125 Parah Sering Jarang Lama ( 20 detik ) Bervariasi Jarang Sering Cepat ( 2 detik ) . otitis media. migraine Ménière’s disease.

T (N). kepala dan leher. transient ischemic attack or stroke Nystagmus Phonophobia. otosclerosis. RR (N). Kalau negative. presinkop. serta system kardiovaskular. Ménière’s disease DD : Vertigo. 126 . Bila BP rendah. Imbalance cholesteatoma. cerebellopontine angle tumor (usually severe) Peripheral or central vertigo Migraine Acute labyrinthitis.  System saraf Maneuver Dix Hallpike Test Maneuver Dix Hallpike yang positif diikuti anamnesis riwayat vertigo dan / atau nystagmus yang positif dapat digunakan untuk menegakkan hasil diagnosis yang positif untuk vertigo perifer et causa BPPV. BP (N). disequilibrium. herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis (usually moderate). dengan atau tanpa pucat VS : Pulse (N). caranya dengan :  Hennebert’ sign merupakan vertigo/nystagmus yang terjadi akibat penekanan pada tragus dan Meatus akustikus eksterna telinga yang mengalami defek. acoustic neuroma.fistula. gidddiness Pemeriksaan fisik Kondisi umum : Pasien tampak agak lemas dan berkeringat. photophobia Tinnitus involving anterior inferior cerebellar artery. vesikel (+/-) Fistula perilimfatika (+). yaitu pemeriksaan pada system saraf. curiga hiptensi postural Ada tiga focus penting dalam pemeriksaan fisik pasien vertigo.  Kepala dan leher (ENT) Membran timpani : rupture (+/-) . acoustic neuroma. cendrung curiga ke sentral.

CBC (complete blood count) dan pemeriksaan fungsi thyroid. apakah sentral atau perifer Pemeriksaan : Sistem saraf. Garpu tala : Tuli konduktif (kerusakan telinga tengah). Tes Audiometri : membantu diagnosis vertigo akibat penyakit Meniere. (2). Ditemukan kondisi lain yang membutuhkan perujukan setelah pemeriksaan dilakukan (vertigo sentral. Untuk menyingkirkan kecurigaan infeksi bacterial atau neoplasma. Rujukan Diagnosis penyebab masih belum jelas/meragukan. Ada gangguan neurologis fokal. Radiologis : Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk beberapa keadaan seperti:     Adanya symptom neurological. Pemeriksaan penunjang Lab : kadar elektrolit. psikosis dl) Pasien datang dengan pusing Curiga Vertigo Ya Memakai obat – obatan yang dapat menginduksi vertigo Ya Tidak Hentikan pengobatan Tidak Periksa untuk leghtheadedness. disequilibrium atau pre-syncope Anamnesis : Tentukan penyebab vertigo. Vertigo sentral Pertimbangkan tes laboratorium atau radiologis (bila diperlukan) Rujuk bila masih ragu atau menemukan hal yang memerlukan rujukan setelah diperiksa Terapi  Infeksi viral self-limited : obat simptomatik + cairan 127 . Ada factor resiko penyakit kardiovaskular. kardiovaskuler Singkirkan dd. tentukan diagnosis Lakukan MRI bila : (1). factor resiko penyakit kardiovaskular. glukosa. (3). tuli saraf (kerusakan n. Valsava mauver memberikan tanda adanya fistula melalui peningkatan tekanan pada tuba eustachii dan telinga dalam.VIII)  System kardiovaskular Hipotensi orthostatic (dehidrasi. Kepala dan Leher. gangguan fungsi otonom)  Penurunan tekanan darah sistolik hingga 20mmHg atau lebih atau kenaikan denyut lebih atau sama dengan 10x/menit. progressive unilateral hearing loss dan berbagai symptom vertigo sentral lainnya.

pucat.d. VI S 2. Simptomatik (vestibular sedative): R/ Tab prochlorperazine mg 5 no. MENIERRE DISEASE Ax : RPS : O : Mendadak dalam hitungan menit D : berjam-jam C : pusing disertai mual. stress tinggi Review system : Px : pemeriksaan fisik : dbn Manuver Dix Hallpike Tx : Manuver Epley. terutama malam hari D : Transien bberapa detik C : Rekuren terkait perbahan posisi kepala terus selama berminggu – bulan lalau sembuh spontan A : perubahan posisi R : Sembuh secara spontan RPD : serangan yang sama (+) RPK : Lifestyle : bantal relaif tinggi. tinnitus. antikonvulsan BPPV : edukasi : menggerakkan kepala secara lebih perlahan atau dengan menggunakan collar neck untuk mencegah pergerakan spine yang berlebihan dan mendadak Tambahan : BPPV Ax : O : mendadak berkaitan dengan perubahan posisi kepala.X S 3.d Tab I    Neuronitis vestibular : simptomatik Hipotensif ortostatic/hipoglikemic state : penghitungan ulang dosis obat Meniere : diet rendah garam dan diuretic ringan R/ Tab Betahistin 8 mg no.d. sensasi penhu akibat hidrops endolimph.d Tab I   Psikiatrik : sedative. terdapat periode freedom 128 . instabilitas dan SNHL.

tinnitus. antihistamin(cinnarizine) Prophilaksis : diet rendah garam (1g/d).v. x  Tanda peningkatan TIK 129 . diuretic NEUROMA AKUSTIKA Ax : RPS : O : perlahan-lahan D : berjam-jam C : diawali dengan gangguan pendengaran SNHL dan gangguan keseimbangan A : pagi hari saat terjadi peningkatan TIK R: T: RPD : RPK : Lifestyle : Review System :  Gangguan pendengaran. ix. tinnitus. SNHL Tx : serangan akut  bed rest.A:R : spontaneous T:RPD : Gangguan pendengaran RPK : Lifestyle : Review system : rasa penuh di telinga. vi. pada fase lanjut dapat diikuti kerusakan pada n.

Pharyngitis biasanya mendahului 130 . Namun. termasuk scarlatiniform rash. namun pharyngitis yang disebabkan oleh bakteri. o M pneumoniae yang sering menyerang kalangan dewasa muda dan gejalanya berupa nyeri kepala. secara klinis mirip dengan M pneumoniae. yang dibahas pada diagnosis banding ini Group C. Komplikasi yang dapat timbul diantaranya adalah acute rheumatic fever. acute glomerulonephritis dan toxic shock syndrome. Berikut adalah ulasan singkat mengenai pharyngitis: Definisi: Infeksi atau iritasi pada pharynx atau tonsil Epidemiologi: Pharyngitis bacterial akibat Strepyococcus pyogenes biasanya menyerang anak yang berumur 4-7 tahun. misalnya Streptococcus pyogenes. dan biasanya terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi (pada negara dengan empat musim). rheumatic heart disease.SORE THROAT Pharyngitis termasuk salah satu dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi salah satu top ten leading disease/morbiditas pada sebagian besar puskesmas di Indonesia. G. dan gejala pada saluran respirasi bawah o C pneumoniae. sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter karena komplikasinya yang berat. pharyngitis. terutama group A β-hemolyticus streptococci (GABHS). Komplikasi tersebut tidak jarang menyebabkan mortalitas bagi penderitanya. and F streptococci yang secara klinis sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Walaupun sebagian besar pharyngitis disebabkan oleh virus. o Arcanobacterium (Corynebacterium) haemolyticus yang sering terjadi pada orang dewasa muda dan sangat mirip dengan infeksi GABHS. komplikasi berupa glomerulonephritis akut dan demam rematik akut jarang terjadi sebagai komplikasi akibat agen ini. Pasien biasanya mengeluhkan batuk. Etiologi: Kausa penyakit pharyngitis dapat dibagi menjadi:  Bacterial pharyngitis o o Group A beta-hemolytic streptococci.

infeksi paru-patu 1-3 minggu sebelumnya.
o

Neisseria gonorrhoeae adalah agen kausa yang jarang pada pharyngitis bakterial. Anamnesis yang baik dan teliti sangat perlu dilakukan karena infeksi ini terjadi biasanya karena kontak orogenital. Pharyngitis ini juga biasanya terkait dengan infeksi sistemik yang parah.

o

Corynebacterium diphtheriae yang memiliki tanda khas foul-smelling gray-white pharyngeal membrane sehingga menimbulkan obstruksi jalan napas.

Viral pharyngitis
o

Adenovirus: Patognomonis infeksi adenovirus adalah munculnya konjungtivitis yang terkait pharyngitis (pharyngoconjunctival fever). Adenovirus adalah etiologi utama pharyngitis pada anak berumur kurang dari tiga tahun.

o

Herpes simplex: tandanya adalah terbentuknya lesi vesikular (herpangina), biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.

o

Coxsackieviruses A and B: Infeksi ini mirip dengan infeksi herpes simplex. Jika vesikelnya bewarna keputihan dan berbentuk noduler, dikenal dengan lymphonodular pharyngitis. Coxsackievirus A16 dapat menyebabkan hand-foot-and-mouth disease, yakni munculnya ulkus oropharynx berukuran 4-8 mm dan vesikel di tangan dan kaki, dan biasanya juga muncul di bokong. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dalam aktu satu minggu.

o

Epstein-Barr virus (EBV): secara klinis dikenal sebagai infectious mononucleosis, yang sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Exudative pharyngitis lebih prominent. Karakteristik pembedanya adalah adenopathy retrocervical atau generalisata, serta hepatosplenomegaly.

o

CMV: Tanda klinis CMV mirip dengan of infectious mononucleosis. Namun pasien cenderung pada kelompok umur yang lebih tua, aktif secara seksual, serta derajat demam dan malaise lebih parah.

o

HIV-1: hal ini terkait dengan edema pharyngeal edema dan erythema, biasanya ulkus aphthous,dan jarang terdapat eksudat. Demam, myalgia, dan lymphadenopathy juga biasanya ditemukan.

Kausa lain pharyngitis, misalnya udara kering, allergy/postnasal drip, chemical injury, gastroesophageal reflux disease (GERD), merokok, neoplasia, dan akibat pemasangan intubasi endotracheal.

Patofisiologi dan patogenesis: Bakteri atau virus pathogen menginvasi mukosa pharynx, menyebabkan respon inflamasi local. Virusvirus yang lain, misalnya rhinovirus dan coronavirus, dapat mengakibatkan iritasi poada mukosa pharynx secara sekunder akibat sekresi nasal. Infeksi Streptococcal disertai dengan karakteristik

131

berupa invasi local dan pelepasan toksin ekstraselular dan protease. Fragmen protein M pada serotype tertentu GABHS diketahui sama dengan antigen myocardial sarcolemma, sehingga terkait dengan demam rematik akut dan kerusakan pada katup jantung (penyakit jantung rematik). Deposisi kompoleks antibody-antigen pada glomerulus ginjal pada akhirnya juga dapat menyebabkan glomerulonephritis akut.

Apa hal yang perlu diperhatikan dari ANAMNESIS pada diagnosis banding ini? Identitas pasien: Tanyakan nama, umur, alamat, dan pekerjaan pasien. Selain untuk membina hubungan yang baik dengan pasien, umur juga dapat digunakan sebagai skrining awal penentuan diagnosis banding. Contohnya: pharyngitis karena GABHS biasanya terjadi pada anak berumur 4-7 tahun. Sedangkan pharyngitis viral karena adenovirus biasanya menyerang anak-anak yang berumur kurang dari tiga tahun. Pharyngitis yang disebabkan oleh CMV biasanya menyerang orang-orang yang berumur dewasa.

Keluhan Utama: Nyeri menelan (nyeri tenggorok) dan demam tinggi

Riwayat Penyakit Sekarang:  Onset dan durasi: Hal ini penting untuk ditanyakan pada pasien. Sebab pada negara dengan empat musim, biasanya pharyngitis karena GABHS terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi. Onset yang tibatiba biasanya mendakan pharyngitis disebabkan oleh GABHS. Selain itu, durasi juga penting untuk membedakan penyakit akut atau kronis.  Karakteristik/pola: Tanyakan mengenai karakteristik dan pola demam. Pharyngitis karena bakteri biasanya memiliki ciri-ciri demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius). Pola demam ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis demam yang lain, misalnya step ladder pattern pada thypoid, demam yang bersifat paroksismal (kambuh-kambuhan) pada malaria, atau demam pola pelana pada Dengue Hemorrhagic Fever.  Faktor yang meringankan dan memperberat keluhan  Medikasi yang sudah diberikan/dikonsumsi.

132

Riwayat Penyakit Dahulu: Tanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau tidak. Tanyakan pula mengenai riwayat alergi obat, karena treatment farmakologis pada pharyngitis karena bakteri adalah dengan pemberian antibiotik, sehingga penting untuk diketahui riwayat alergi terhadap antibiotic tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga, Lingkungan dan Travelling: Hal ini penting untuk ditanyakan karena sifat dari pharyngitis yang merupakan salah satu communicable disease. Sehingga patut dicurigai adanya penularan dari keluarga, lingkungan sekitar atau riwayat berpergian ke daerah endemis. Apabila pasien tersebut pernah berkontak dengan orang yang didiagnosis dengan infeksi GABHS atau penderita penyakit jantung rematik, maka perlu dicurigai pasien tersebut terserang pharyngitis yang disebabkan oleh etiologi GABHS.

Profil Pasien: Tanyakan mengenai pola makan, dan pola olahraga pasien, karena hal tersebut berkaitan dengan status imun dari pasien

Review System: Penting untuk dieksplor mengenai review system untuk menegakkan diagnosis banding dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:.

Tanyakan apakah keluhan disertai batuk dan rhinorrhea (hidung meler). Pharyngitis karena GABHS tidak disertai dengan batuk dan rhinorrhea. Pharyngitis yang disertai dengan gejala demikian adalah faringitis yang disebabkan oleh etiologi virus.

Tanyakan apakah keluhan disertai dengan nyeri kepala, sebab nyeri kepala berkaitan dengan infeksi GABHS

Tanyakan juga apakah pasien mengalami mual dan muntah, sebab hal itu mendukung kearah diagnosis infeksi GABHS, walaupun pada faringitis tipe yang lain juga mungkin dijumpai gejala mual dan muntah.

Tanyakan apakan ada benjolan-benjolan di sekitar leher bagian depan atau belakang. Lymphadenopathy cervicalis anterior adalah patognomonis sign untuk untuk pharyngitis oleh GABHS. Sedangkan, adenopathy retrocervical merupakan tanda khas untuk pharyngitis oleh karena Epstein-Barr virus (EBV).

Tanyakan apakah ada masalah di genital, sebab hal tersebut berguna untuk mengetahui kemungkinan gonococcal pharyngitis.

133

ears. therefore. mungkin harus dicurigai sebagai pharyngitis karena GABHS. denyut nadi. Walaupun demikian. Scleral icterus dapat ditemukan pada infectious mononucleosis. ada tidaknya demam hendaknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk membedakan etiologi virus atau bakteri. and throat (HEENT): o o o o Conjunctivitis biasanya berkaitan dengan infeksi adenovirus. sedangkan pada pasien yang memiliki skor 4. berdasarkan penelitian terbaru. Rhinorrhea biasanya berkaitan dengan etiologi viral. Terdapat kriteria centor. Pada pharyngitis viral. untuk menilai keadaan emergensi. Demam febril (suhu > 38 derajat Celcius) biasanya mengindikasikan infeksi GABHS.  Vital sign: Tekanan darah. yang terdiri atas:     Fever Anterior cervical lymphadenopathy Tonsillar exudate Absence of cough Infeksi GABHS dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki skor 0-1. tidak ada tanda spesifik respirasi yang terlokalisasi. Meski demikian.  Tanyakan juga mengenai kemungkinan influenza.  Head. kira-kira hanya separuh dari pasien yang memiliki gejala-gejala tersebut yang benar-benar terinfeksi oleh GABHS. demam. adanya gejala konstitusinal (malaise) dan respirasi (batuk). eyes. laju respirasi dan suhu/temperature. Kriteria tersebut terdiri atas empat poin. biasanya tidak terdapat demam atau ada demam namun subfebril. Tonsillopharyngeal/palatal petechiae dapat ditemukan pada infeksi GABHS dan infectious 134 . sebab hal tersebut menandakan status immunocompromised pasien (misalnya karena penyakit HIV/AIDS). Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN FISIK pada diagnosis banding ini?  Patensi jalan napas harus selalu terlebih dahulu dinilai.  Adanya kesulitan bernapas dan stridor dapat mengindikasikan kemungkinan epiglottitis akut. Tanyakan mengenai bercak-bercak dimukosa mulut (oral trush) dan myalgia. Hydration status: Oral intake usually is compromised because of odynophagia. various degrees of dehydration result. yakni onset yang tiba-tiba. nose. yang biasa digunakan untuk mendiagnosis pharingitis akut bakterial karena GABHS.

Vesikel konkomitan ditangan dan kaki biasanya berkaitan dengan infeksi coxsackievirus (handfoot-and-mouth disease). Sedangkan adenopathy generalisata biasanya berkaitan dengan infectious mononucleosis atau sindrom lymphoglandular akut pada infeksi HIV. eksudat tidak dapat dijadikan dasar pembeda kausa viral atau bakterial o Oropharyngeal vesicular lesions biasanya ditemukan pada coxsackievirus dan herpesvirus. infeksi mononucleosis terutama pada M pneumoniae.  Kulit o o Sandpapery scarlatiniform rash dapat ditemukan pada infeksi GABHS. terutama bila gejala tersebut disertai dengan batuk nonproduktif. o Eksudat tonsillopharyngeal dapat ditemukan pada infeksi streptococcal.  Lymphadenopathy: Nodus cervicalis anterior yang nyeri biasanya menandakan infeksi streptococcus.mononucleosis. A haemolyticus.  Cardiovascular: Murmur jantung harus diperiksa untuk memonitor apakah ada penyakit jantung rematik sebagai komplikasi pharyngitis karena GABHS. dan infeksi herpesvirus . adenovirus. C pneumoniae.  Pulmonary: Pharyngitis disertai infeksi saluran pernapasan bawah lebih konsisten ditemukan pada agen infeksi M. pneumoniae or C pneumoniae. Maculopapular rashes biasanya ditemukan pada infeksi viral atau infectious mononucleosis Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN PENUNJANG pada diagnosis banding ini? Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis pharyngitis akut etiologi GABHS adalah:  GABHS rapid antigen detection test 135 . Dengan demikian.  Abdomen: Hepatosplenomegaly dapat ditemukan pada infeksi mononucleosis .

Pasien yang memiliki skor Centor 0-1 sebaiknya langsung diberi medikasi simptomatik tanpa dilakukan testing terlebih dahulu o Antigen pada test ini adalah specific. karena sulitnya untuk melakukan follow-up hasil kultur. o Metode ini adalah metode yang dipilih untuk mendiagnosis infeksi GABHS pada fasilitas dimana sulit untuk dilakukan follow-up hasil kultur. intubasi jika diperlukan. Bagaimana prinsip TATALAKSANA pasien dengan diagnosis banding ini?  Nilai dan amankan jalan napas.  Throat culture (kultur apusan tenggorokan) o Pemerikasaan ini merupakan gold standard untuk diagnosis infeksi GABHS (90-99% sensitive). 136 .Rapid antigen detection test for group A beta-hemolytic streptococci. Jangan menaruh sampel eksudat pada medium liquid. Sehingga administrasi antibiotik dengan segera tidak krusial jika pasien dapat dengan mudah dihubungi untuk follow-up hasil kultur. o Penggunaan “GABHS rapid antigen detection test” dapat menurunkan penggunaan antibiotic yang tidak perlu pada pasien anak-anak. bila tes dilakukan secara tepat. o Pasien dapat ditunda pengobatannya sampai 9 hari setelah onset demam untuk mencegah demam rematik akut. o Orang dewasa yang memiliki hasil test antigen yang negative tidak memerlukan follow-up berupa kultur. namun sensitivitasnya bervariasi. Anak-anak dengan hasil tes antigen negative sebaiknya dilakukan follow –up berupa kultur. o Hanya pasien dengan yang secara klinis mendukung kecurigaan infeksi GABHS yang dilakukan tes ini. Walaupun lebih murah dibandingkan dengan rapid antigen detection test. kultur ini sebaiknya tidak digunakan pada unit gawat darurat. karena insidensi infeksi GABHS jarang terjadi pada usia dewasa. o Prosedur untuk melakukan usap tenggorok adalah dengan mengambil sampel eksudat dari pharynx bagian posterior dan kedua tonsil dengan menggunakan lidi kapas.

Pemberian antibiotik ini efektif jika diberikan dalam waktu 9 hari setelah onset. o Pasien yang memenuhi keempat kriteria Centor langsung memulai terapi antibiotic tanpa dilakukan tes antigen atau kultur sebelumnya. Gunakan algoritma dibawah ini: o Secara umum. Terapi antibiotik Berikut adalah pedoman pemilihan personal-drug (p-drug) antibiotik untuk eradikasi GABHS: 137 .  Evaluasi status hidrasi. o Orang-orang yang berinteraksi dengan pasien positif GABHS harus diberi treatment antibiotik tanpa dilakukan tes terlebih dahulu jika mereka memiliki gejala yang terkait dengan infeksi GABHS. Evaluasi tanda-tanda toksisitas. o Jika secara klinis meragukan. karena pharyngitis yang parah akan membatasi intake oral.  Medikasi atau treatment farmakologis: Pada dasarnya pharyngitis GABHS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. terapi anti mikroba dengan antibiotic lebih ditujukan untuk mencegah sekuel penyakit kearah demam rematik akut (acute rheumatic fever).  Investigasi infeksi GABHS jika secara klinis disuspek. Tes ini biasanya ttidak dilakukan pada pasien yang memilik skor Centor 0-1. sebaiknya pemberian antibiotik menunggu hasil rapid antigen test atau kultur. mengingat semakin meningkatnya resistensi antibiotic o Lakukan rapid antigen detection test jika dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis suspek infeksi GABHS. Tujuan terapi dari pengobatan pharyngitis GABHS adalah untuk meredakan demam dan nyeri tenggorokan (simptomatik) dan untuk terapi antimikroba. dan biasanya gejalanya hilang dalam 3-4 hari. epiglottitis. atau abses oropharyngeal. jangan berikan antibiotik pada pasien sebelum hasil kultur atau rapid antigen detection test menunjukkan hasil yang positif.

Selanjutnya dipilih obat dari golongan beta-lactam: Kesimpulan: Nama Obat Penicillin V Penicillin G Ampicillin Amoxicillin Efficacy ++ +++ + + Safety ± ± ± availability ± ± ± ± Cost +++ +++ +++ +++ Kesimpulan Personal-drug untuk antibiotik Penicillin V 250mg qid atau 500mg bid selama 10 hari. Terapi symptomatis analgetik/antipiretik Berikut adalah pedoman pemilihan personal drug untuk analgetik/antipiretik: Kesimpulan Personal-drug untuk terapi antinyeri dan penurun panas Acetaminophen/Paracetamol PO Dewasa 500-100mg tiap 4-6 jam p. pediatric:50 mg/kg/d PO divided bid selama 10 hari. 138 . makan yang cukup dan bergizi.r. maka biasanya digunakan amoxicillin dengan dosis: dewasa: 500 mg PO bid selama 10 hari.n maks 60mg/kgBB/hari  Treatment non farmakologis / advice untuk pasien: istirahat.Kesimpulan: Grup Beta-lactam Macrolide Oral cephalosporin Efficacy +++ ++ ++ Safety ± + ± availability ± ± ± Cost +++ ± ± Maka dari itu dipilihlah golongan beta-lactam.r. anak: 250 mg bid/tid selama 10 hari Namun.n maks 4gr/hari Anak 10mg/kgBB tiap 4-6 jam p. karena ketersedian penicillin V di Indonesia terbatas.

o rheumatic heart diseases  merupakan manifestasi kronik dari ARF pada katup jantung. periksa adanya kemungkinan komplikasi dari infeksi SGABH. chorea. peritonsillar abscess. subcutaneous nodule. 139 . otitis media. sinusitis. Manifestasinya antara lain hematuria.  Monitoring dan evaluasi: Jika dirasa perlu melakukan monitoring. edema.memakai masker selama gejala berlangsung. mastoiditis. erythema marginatum. o poststreptococcal glomerulonephritis  biasanya terjadi 1-3 minggu setelah episode pharyngitis. o acute rheumatoid fever  dapat terjadi 2-4 minggu setelah episode pharyngitis. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang tepat pada saat episode pharyngitis. Terapi profilaksis dengan benzathine penicilline pada ARF dapat mencegah timbulnya rheumatic heart diseases. Manifestasi mayor dari ARF:carditis. cervical lymphadenitis. polyarthritis. Administrasi antibiotik yang tepat setelah munculnya manifestasi pharyngitis dapat mencegah timbulnya komplikasi ini. minum obat sesuai dosis. dan hipertensi. antara lain o komplikasi lokal: retropharyngeal abscess.

dll. e. Kalau pada dengue fever yang menjadi dengue hemorrhagic fever. Relieving : diminumin antipyretik turun kok demamnya. RPD Adanya riwayat pemasangan kateter urin. Di ISK juga tidak ditemui jaundice kayak di malaria atau hepatitis. cystitis (vesica urinaria) ISK atas → acute pyelonephritis. Kondisi urin yang berbau juga manjadi tanda pada ISK. ISK bagian atas : disertai mual. g. ISK bawah → urethritis (urethra). Lokasi : demamnya seluruh tubuh. sering kencing. terdapat adanya pendarahan seperti epistaksis. ga berpola kayak di thypoid yang tinggi pada malam hari. rubella. 140 . Keluhan lain : ISK bagian bawah : disertai rasa nyeri atau terbakar pada saat kencing. Terus demamnya itu biasanya polanya terus-terusan gitu. tanpa jaundice 2. Sedangkan pada meningitis dijumpai adanya kaku kuduk.BACKACHE: INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) 1. serta nyeri perut bagian bawah. prostatits. Kalau lokasi infeksinya. Karakteristik : pada ISK tidak dijumpai adanya rash. abses intrarenal dan perinephric c. dll. dengue fever. Bisa hanya beberapa jam sampai berhari-hari. d.varicella. Onset : akut b.. Aggrevating : kayaknya panas terus deh ya f. leptospirosis. sedangkan pada penyakit lain seperti thypoid fever.. Anamnesis RPS a. Durasi : bervariasi tergantung dari letak infeksinya di saluran kemih sebelah mana. dibagi secara anatomis jadinya gini. susah kencing. dan rasa sakit pada costovertebra. gusi berdarah. KU : demam mendadak. susah menahan kencing. muntah. infeksi HSV. kejang dan penurunan kesadaran sebagai tanda penyerta.

suka cuci tangan ga? Cari kecurigaan DM (salah satu risk factor ISK) 3. Sehingga kita harus wasapada juga jangan kecolongan DHFnya! Adanya orang lain di keluarga atau daerah sekitar yang mengalami hal serupa? → adanya kemungkinan dengue fever Habis travelling ke lingkungan endemik malaria ga? Life style Cara membilas regio perineal setelah buang air → kebiasaan membilas dari belakang (anus) ke depan (introitus vagina) meningkatkan risiko ISK. Tanyakan kebersihan diri. Tanyakan sering makan di luar ga? Gimana kebersihannya? → untuk exclude thypoid dan hepatitis A. Keadaan umum : lemes soalya kan kadang pakai mual muntah. terus yang banyak asam urat kayak gitu2. imunosupresi. RPK Adanya riwayat sexual intercourse terutama bila pasangannya menderita uretritis gonokokal atau chlamydial. menopause. batu pada saluran kemih. Makanan-makanan yang sering bikin batu pada saluran kemih: sering kurang minum. tempat menyimpan air. malformasi saluran kemih merupakan beberapa risk factors ISK. dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat hidup nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue fever. Ada riwayat penyakit ginjal ga? Lingkungan Keadaan sanitasi. Ternyata ada faktor genetik juga loh. 141 . OMA. kondisi rumah tinggal seperti selokan. Kalo pasiennya rekuren terus ISKnya coba tanyain ada ortunya yang kayak gitu juga ga. dll → waspadai kemungkinan meningitis. - Adanya infeksi pendahulu seperti pharyngitis. Pemeriksaan fisik a.- Riwayat DM. kehamilan. obstruksi saluran kemih. terus pasien tampak kesakitan (kan nyeri tuh perut bawahnya).

Kepala dan leher Mata : pastikan ga ada sklera ikterik Mulut : pastikan bukan thypoid yang ada lidah kotor itu. dan didapatkan >105/ml dari masing-masing spesimen. Adanya bakteri pada 142 . e. Suhu tubuh tinggi. Pemeriksaan GCS dan tanda-tanda meningeal seperti Kernig’s sign. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Bila didapatkan bakteri dalam urin <10 5 dan pyuria (misalnya WBC >20/mm3) maka hasilnya tetap signifikan terdapat infeksi. luka. c. Pyelonephritis akut : generalized muscle tenderness ketika angulus costovertebra dipalpasi dalam. Pemeriksaan Penunjang a. dll Auskultasi: Perkusi: lihat ada pembesaran hepar ga (hepatitis kan suka ada tu) Palpasi: abdominal tenderness. Thorax f. 4. Pada pasien ISK simptomatis. Cystitis : tenderness pada daerah suprapubic. harus dilakukan pemeriksaan bakteri menggunakan 2 spesimen urin aliran tengah. Vital sign : Tekanan darah. Untuk yang iSK atas suka nyeri di angulus costovertebra Ektremitas dan neuro Pemeriksaan Rumple Leed dilakukan bila ada kecurigaan dengue fever.b. karena daerah suprapubic biasanya juga ada tenderness. d. Leher : pembesaran limfonodi.. Bakteri Urin Pemeriksaan jumlah dan tipe bakteri dalam urin merupakan prosedur diagnosis yang penting. Brudzinski’s sign perlu dilakukan bila ada kecurigaan meningitis. biasanya didapatkan bakteri dalam jumlah besar (>105/ml) pada urin aliran tengah. mari kita periksa abdomen Inspeksi: lihat ada pembesaran organ ga. Pada pasien ISK asimptomatis. Uretritis : biasanya sulit dibedakan dengan cystitis. Abdomen : Nah kalau DD udah menyempit ke arah-arah ISK gitu.

g. atau yang mengidap AIDS.penggunaan instrumen. Urinalisis → terutama nitrit atau leukosit leukosit. c. adanya strain yang resisten terhadap antibiotik harus dicurigai. yang tidak disirkumsisi. Terapi dan edukasi a. Alternatif: cefalexin 1gr/12 jam. kultur darah bila keadaan sitemik buruk. apakah strain bakterinya sama atau berbeda dengan sebelumnya. Darah → darah rutin. Pengecualian untuk evaluasi urologik ini adalah pria muda dengan cystitis yang disebabkan aktivitas seksual.o selama 4 minggu. Faktor predisposisi infeksi seperti obstruksi dan calculi harus diidentifikasi dan dikoreksi. calculi.o (selama 3 hari untuk wanita dan 7 hari untuk pria).o atau Trimethoprim 100mg/12 jam p. yang paling umum digunakan adalah USG. Infeksi berulang juga harus dikkasifikasikan. f. Pemeriksaan bakteri secara mikroskopis dapat dilakukan menggunakan pengecatan Gram. Kultur urin dan tes sensitivitas antimkrobial harus dilakukan kecuali pada wanita dengan cystitis akut akomplikata. Pada pasien dengan infeksi berulang.v lalu secara oral selama 7 hari.aspirasi suprapubic atau didapatkan >102 bakteri/ml urin dari kateter mengindikasikan adanya bakteri. riwayat infeksi saat anak0anak. Prostatitis: ciprofloxacin 500mg/12 jam p. sering urinasi (jangan menahan urin). 5. 143 .5gr/8 jam i. Memperbanyak intake cairan. e. dan pyelonephritis berulang. Evaluasi urologik Penggunaan cystoscopy dan IV pyelography hanya digunakan dalam kasus-kasus tertentu seperti wanita dengan infeksi berulang. b. h. c. atau hematuria yang tidak sakit. Pyelonephritis akut : cefuroxime 1. urea dan elektrolit. Farmakoterapi Cystitis: Trimethoprim-Sulfamethoxazole 160/800mg/12 jam p. Wanita atau pria dengan infeksi akut disertai tanda dan gejala adanya obstruksi atau calculi harus segera diberikan evaluasi urologik. d. Rekurensi >2 minggu setelah terapi dihentikan biasanya menunjukkan adanya reinfeksi oleh strain baru atau strain sebelumnya. d. e. b. riwayat hospitalisasi dalam waktu dekat. Sembuhnya gejala klinis tidak selalu mengindikasikan hilangnya koloni bakteri. Setiap course treatmen harus diklasifikasikan apakah gagal atau sembuh.

sampai ke betis dan ankle → sebabnya: iritasi n. tapiii bukan eksaserbasi yang kronis.o selama 7 hari. i. Pasien juga biasanya mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak bawah (misal jadi susah jalan.tapi biasanya berminggu2 yaa k. bisa kejadian deh HNP). Anamnesis RPS h. Nah kelemahan tersebut tergantung dari letak lesinya di setinggi vertebra berapa.o atau doxycycline 100mg dua kali sehari p. kalo udah degenerasi discus intervertebralisnya. 144 . Tanyakan juga ya habis ngapain pasiennya ko bisa LBP gini (misal petani panen telo. terus pas nyabut telonya kan pake mengejan tu. Sering juga disertai sciatica (nyerinya menjalar ke pantat. susah pakai celana sendiri). belakang paha. HNP 6.- Urethritis akut: pada infeksi chlamydial diberikan azithromycin 1gr single dose p. KU : low back pain 7. Jadi menurut European Guideline untuk MXx LBP ada pembagian onset LBP: Akut Sub akut Kronis Rekuren <6 minggu 6-12 minggu >12 minggu new episode setelah “symptomp-free periode” dalam waktu 6 bulan.ischiadicus) j. Durasi : bisa macem2. Karakteristik : nyerinya kan progresif kalau ga diobati. Onset : akut progresif.. Lokasi : di punggung bagian bawah tentu saja.

bersin. tumor. osteoporosis. n. makanya kalau ada RED FLAGS di bawah ini. Dengan kata lain kita harus periksa dengan teliti sebab si LBP ini apa.. stenosis spinalis.paru →waspada keganasan dan metastasis! Cerita sejenak.. Tanya apakah ada penurunan BB? Riwayat keganasan di tempat lain esp. Syarat dari LBP non spesifik ini adalah tidak ada red flags di bawah ini! Nah. inflamasi. Relieving : minum analgesik seperti NSAID. Berikut ini adalah red flags tersebut: Umur <20 tahun atau >50 tahun Onset akut pada org tua Nyeri konstan atau progresif Nyeri malem2 Tambah nyeri saat supine Kaku pagi hari 145 . ankylosing spondylitis. Aggrevating : tambah sakit kalau ada peningkatan tekanan intraabdomen → batuk.. Sebenernya nih LBP itu kebanyakan NON SPESIFIK (95%) alias BUKAN disebabin karena kondisi patologis (seperti infeksi. cauda equina syndrome. ketawa. harus dicurigai adanya kondisi patologis pada low back. dll) gitchu. Keluhan lain : Bisa jadi ada gangguan pada BAK dan BAB nya. m.20 l.. mengejan (makannya si pasien suka “takut” kalau BAB).

HNP. Tumor 5. Degeneratif: spondilosis. Metabolik: osteoporosis 6. strain-sprain otot or ligamen. 4. ankylosing spondylitis. sama kisah tentara itu). soalnya paparan tekanan di backpain bisa bikin LBP (kayak kisah si petani mbedhol telo itu. Inflamasi: RA. 2. Trauma : fraktur yang bikin kompresi di lumbal. keringat malam. osteoarthritis. psikosomatis RPD riwayat keganasan di tempat tersebut? Riwayat keganasan di tempat lain (paru.- Demam. Life style Pola makan? Apakah kalsium cukup? (curiga osteoporosis) 146 . BB turun Riwayat malignansi Nyeri dada belakang Bilateral or alternating symptomp Gangguan neurologis Gangguan BAB BAK Claudicatio kaki (spinal stenosis) Sedang infeksi atau riwayat infeksi Imunosupresi Massa di abdomen Terus sebab-sebab LBP tu ada macem-macem ya: 1. abdomen)? Dulu pernah kayak gini ga? Riwayat trauma di situ? Diobati apa? Pemakaian obat2an imunosupresi. HIV? RPK Ada yang kayak gini ga? Lingkungan Pekerjaan apa?? Penting ditanyakan. 3.

tajam-tumpul. Tes kontra Patric: fungsi sam dengan di atas. taktil... Reflex fisiologis: patella. susah jalan. Thorax : screening ada keganasan ga. Tes Patrick: ini untuk cari tahu apakah nyerinya disebabin karenya ada kelainan di sendi panggul. lalu angkat → kalo pasien kesakitan berarti ada sciatica. Tes Nafzinger: kita teken v. j. dll). Neuro : Inspeksi : coba lihat di vertebranya gimana (deformitas ga. sering metas ke vertebra. c.jugularis interna pasien (kanan kiri). Pemeriksaan fisik g. Palpasi: ada yg menonjol ga di vertebra? Nyeri ga? Apakah ada tanda-tanda inflamasi? Pemeriksaan neuromotor: power Neurosensori : suhu. achilles Reflex patologis: babinski Tes spesifik LBP : a. e. terus kita pegang ankle pasien sambil megang lututnya juga. d. Chrisye). suhu. Kepala dan leher Mulut : adakah oral ulcer? (curiga HIV) Abdomen : screening penting apakah ada pembesaran organ! k. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Sehari-hari kalau kerja posenya gimana? 8. Tes Lasegue: pasien bobokan. Cara: maleolus externa pasien ditempelin ke lutut. vibrasi. Cara: lipat tungkai ke arah dalam (endorotasi) pada sendi panggul sambil adduksikan. propriosepsi. i.- Penurunan BB? (curiga keganasan or metas) Merokok? (curiga kanker paru. Tes valsava: pasien disuruh nahan napas terus mengejan → positif kalau ada nyeri radikular. Keadaan umum : kesakitan. bekas trauma. 147 . Lihat gait exam! Postur tubuh gimana. tb ga? l. Tapi bisa naik HR & RR nya kalau dia cemas. terus pasien disuruh ngejan → ntar timbul sciatica (berarti kemungkinan besar ada stenosis spinalis yang njepit sarafnya tuh). Vital sign : Tekanan darah. b. Kalo pada HNP hasilnya negatif (-). h.kayak Alm.

148 . Diskografi. L. Bedrest post oprasi: 2-3 minggu.9. berdiri. Pemeriksaan Penunjang Foto rontgen (AP. metilprednisolon Pakai korset dulu Ajari posisi yang bener untuk duduk. Vitamin B. kerja. Terapi dan edukasi Rujuk : harus bedah (ex laminectomy). oblik) Elektroneuromiografi (ENMG) Mielografi. jalan. 10. Fisioterapi.

tidak pernah mengalami nyeri kepala hilang selama sakit b. Disertai injeksi konjungtiva d. kepala seperti diikat c. cluster  alcohol Relieving : istirahat 149 . Rhinorrhea f. fonofobia c. muntah KU : nyeri kepala Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : sesuai dengan durasi : TTH  tengkuk/leher. Nyeri berdenyut. Nyeri retroorbital h. TTH : a. Disertai dengan aura: fotofobia.HEADACHE Headache Primer Definisi: sakit kepala yg terjadi bukan karena causa lainnya. Kebanyakan pada wanita. Kebanyakan pada laki2. Nyeri kepala tajam seperti ditusuk c.7 hari. Cluster: a. mual. Lakrimasi unilateral g. d. Terdiri atas 3 macam: 1. nyeri langsung hebat tp durasi singkat (15 -180 menit) b. cluster  retroorbital : sesuai onset Karakteristik : liat atas Agravating : migraine  noise/light. Aggravating: alcohol 3. Migraine: a. durasi 4-72 jam b. durasi bervariasi 30 menit. migraine  unilateral. Ptosis e. aggravating berupa aktivitas yg melibatkan pergerakan otot leher/stress 2.

Diet : c.Treatment : obat sakit kepala    RPD : dulu pernah merasa sakit yang sama RPK : yang punya riwayat keluarga dengan keluhan yang sama  migraine Lifestyle : a. nyeri kepala sekunder Pemeriksaan fisik : Kesan umum : tampak nyeri kepala Vital sign : d.b. ada kelemahan anggota gerak/tidak  negative pada nyeri kepala primer. kadang ada nyeri tengkuk Anamnesis :  RPS 150 . migraine. TTH  paracetamol. deficit neurologis. Pola makan: Review system : ada trauma/tidak. Migraine  cavergot (vasokonstriktor). diazepam. cluster. sumatriptan (5-H1 antagonis) d.n Pemeriksaan fisik : Px neurologis: Pemeriksaan penunjang CT scan: utk exclude nyeri kepala sekunder Terapi b. Olahraga: tergantung pasien b. TTH  bed rest f. c. Migraine  hindari faktor aggravating g. Cluster  paracetamol Edukasi e. amitriptilin. fotofobia dan fonofobia (migraine). Cluster  hindari alkohol HEADACHE SEKUNDER Hipertensi KU : sakit kepala. Parafrase ke pasien Sebutkan DD : TTH.

Pekerjaan? Stresful?  Review system : keluhan lain : a. Komplikasi lanjut dari hipertensi o Mata: penurunan visus karena retinopathy hypertension o Jantung: LVH. Penurunan kesadaran → stroke hemoragik Parafrase ke pasien Sebutkan DD : 151 . DM Lifestyle : a. stroke. telinga berdengung. MI. berkunang-kunang. Mual muntah → mungkin ada peningkatan ICP (suspek pendarahan atau tumor) d. TIA o Ginjal: CRF o PAD c. Diet : garam-garaman dan lemak tinggi ga? Alkohol > 1 ons/hari? c. b. cemas. Olahraga:b. Demam → infeksi (waspada infeksi intrakranial) e. Merokok ga? d. stroke. pas siang hari. penyakit jantung. Pada hipertensi kadang disertai epistaksis. depresi) Relieving: stressor hilang. parah sering terjadi saat pagi hari tapi terus membaik seiring berjalannya hari itu Karakteristik : rasa terikat kayak diikat pakai headband (kayak TTH) Apakah didahului “tanda2” sebelum sakit kepala (maksudnya aura)? → migrain. penyakit ginjal dan hepar. penyakit jantung. angina. DM. Riwayat trauma sebelum ini (mungkin ada pendarahan intrakranial)?   RPK : tanyakan orang tua apakah ada yang HT. tanyakan sudah diobati apa  RPD : riwayat HT (tanyakan terkontrol atau tidak? Obatnya apa?).Onset Lokasi Durasi : sejak kapan? → biasanya HT udah sering gitu : di mana sakitnya? → bisa generalized. sulit tidur. picuan faktor psikologis (stress. HF o Otak: stroke. Kaku kuduk dan demam → meningitis f. Agravating : waktu tekanan darah naik lebih tinggi dari biasanya. bisa localized di tengkuk : bervariasi.

bruits pada auskultasi Kepala : periksa visus bila ada penurunan tajam penglihatan. pembesaran ren. vasa kaku. 2 posisi (duduk dan bobo). o TTH o Tumor otak o Migrain o Trauma o Infeksi o Stress psikosomatis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak kesakitan. penyakit tiroid. RR. Kalau sekunder (kausa: penyakit ginjal. pheocromocytoma. abnormal aorta pulsation (palpasi epigastik). obat2an. hypercorticol. pegang kepala atau tengkuk Vital sign : BP naik. hyperaldosteron. 2 lengan Pemeriksaan fisik : Thorax : Inspeksi Palpasi  jika kurus terlihat hepatomegali  ictus cordis (bergeser ke atas pada LVH)  S3 dan S4 terdengar. sleep apnea.jugularis interna. exudat keras) Leher : pembesaran v. stenosis a. suhu biasanya normal Notes: pemeriksaan BP harus 2x (dengan jarak 5 menit).renalis. penyakit jantung) perlu pemeriksaan lebih lanjut. periksa segmen posterior dengan ophtalmoscope (retinopathy hypertension: pendarahan bentuk flame.o HT primer (95%) atau sekunder (5%). DM. bising Perkusi  kardiomegali Auskultasi Abdomen : ascites (pada SN). pembesaran tiroid Extermitas : edema 152 . HR.

j. elektrolit k. EKG: LVH. serum urea. kreatinin. lipid. renal disease? l. CT kalau ada penurunan kesadaran suspek stroke Manajemen 153 . enzim jantung. Urinalisis: apakah ada DM.Pemeriksaan penunjang h. infark CBC: glukosa. Rontgen dada: kardiomegali i.

Karakteristik: kadang disertai muntah (karena ICP meningkat) e. Anamnesis : RPS a. keluhan lain: 154 . KU : sakit kepala 2. Onset: kronis bisa bertahun-tahun b. Durasi: sakit kepala semakin memberat seiring berjalannya waktu d. Location: tergantung lokasi tumor c.Edukasi Tumor otak 1. tiduran RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? Infeksi? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: progresif Life style: penurunan BB Review system. Aggrevating: waktu f. Relieving: dikasih analgesik.

Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. hidrosefalus akut. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 4. Kondisi umum: kesakitan. Analisa Gas Darah 5. Imaging → CT scan untuk exclude pendarahan. Protrombin time (PT) 4. suhu normal d. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Tinggikan kepala 30-45 derajat Maintain osmolaritas serum Avoid hipotensi. suhu. Kontrol nyeri (analgesik) agitasi (propofol). tajam tumpul. Fungsi hepar 9. Bleeding time 10. Mual muntah. Pemeriksaan fisik a. HR turun.Terus ada juga gangguan nervus cranialis (diplopia. Elektrolit 8. posture. kejang. Darah rutin 6. 3. sama paresis ekstremitas. Vital sign : BP naik. Pemeriksaan penunjang 1. vibrasi. power Neurosensori: taktil. BB/TB c. abses 2. demam. motion. bisa juga dateng pas udah LOC b. Troponin 7. menggigil. Monitor ICP 3. Gangguan BAB dan BAK jangan lupa ditanyakan. trauma. RR (iregular periksa pola napas untuk tahu letak lesi) → cushing’s triad. Partial thromboplastin time (PTT) 5. ataxia. gang memori dll tergantung letak lesi).cranialis Neuromotor: stabilitas. 155 .

stres Review system. disertai kaku kuduk e. Kadang pakai kejang juga. HR.cranialis 156 . KU : sakit kepala banget. Anamnesis : RPS a. diet tinggi lemak dan garam. Onset: mendadak. Pemeriksaan fisik a. obese. karena sakit banget biasanya langsung ke dokter atau RS b. Terus ada juga gangguan nervus cranialis. muntah. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Location: generalized c. lack of exercise..- Maintain normocarbia (PaCO2 35-40 mmHg) Maintain euvolemia (normal saline atau albumin) Stroke hemoragik yang subarachnoid hemorrhage 1. suhu normal (untuk exclude meningitis) c. keluhan lain: Biasanya terus diikuti penurunan kesadaran kalau ICP meningkat terus. 3. Aggrevating: buruk terus-terusan f. kalau parah: penurunan kesadaran 2. dan meningeal symptom sehingga harus bedakan dengan meningitis infeksi (ada demam pada yg infeksi) yaa. bisa juga dateng pas udah LOC b. Durasi: sakit bgt terus d. fotofobia. Vital sign : BP biasanya tinggi. Karakteristik: sakit kepala terberat. RR juga. Kondisi umum: sangat sangat super kesakitan. sama paresis ekstremitas.. Relieving: kayaknya ga ada RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: dadakan Life style: rokok. Ada kaku kuduk.

posture. suhu. vibrasi.. 4. Onset: akut <48 jam (biasanya bakteri). Imaging → CT scan 2. KU : sakit kepala.. nimodipine mg 60 setiap 4 jam kalau SBP>140. Durasi: akut. Protrombin time (PT) 3. kaku kuduk. 30 mg kalau SBP 120-140. dll). Fungsi hepar 8. Anamnesis : RPS a. sub akut. Location: generalized c. parasit. kronis (fungal. kronis. Partial thromboplastin time (PTT) 4. sub akut (viral. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Jaga BP jangan tinggi2. motion. Darah rutin 5. Elektrolit 7. disertai demam 2. mual muntah.. Analisa Gas Darah 5. Pemeriksaan penunjang 1. Relieving: tiduran RPD 157 .- Neuromotor: stabilitas. Karakteristik: sakit kepala. non infeksius) b. tajam tumpul. pertahankan <120 Meningitis 1.tapi kebanyakan sih akut kalo meningitis d. Bleeding time 9. Troponin 6. fotofobia e. Aggrevating: f. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis Pemeriksaan spesifik: Kernig dan Brudzinski + mengindikasikan meningismus dari SAH ini. power Neurosensori: taktil.

somnolent. Vital sign : BP turun/N. Pemeriksaan fisik e. hemiparesthesia Ataxia Dizziness. coma Hallucination Cranial nerve palsy Hemiplegia. penurunan kesadaran bisa terjadi. lemah. Kondisi umum: kesakitan. f. suhu. power Neurosensori: taktil. posture. HR naik/N.cranialis Neuromotor: stabilitas. suhu meningkat h.Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet. papiledema Leher: limfadenopati THT: infeksi awal i. RR naik/N. tajam tumpul. Kepala: trauma Eyes: konjunctiva. vibrasi. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 158 . Antikoagulan)? Infeksi sebelum ini? Riwayat opnam? Riwayat tindakan medis (sepsis)? Riwayat imunisasi? RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Riwayat perjalanan: progresif Life style: travelling? Review system. BB/TB g. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. sclera. vertigo 3. keluhan lain: Abnormal skin color Mual muntah Kejang Penurunan kesadaran Delirium. motion.

kultur bakteri 5. pilih broad spectrum Setelah hasil kultur ada. brudzinski 1-4 4. berikan AB sesuai bakteri yang ditemukan Analgetika Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang Bila gelisah: berikan sedatif Bila ada udem otak: beri steroid 159 . CSF: glukosa. Glukosa darah c. wbc. Urea dan elektrolit plasma b. Koagulasi d.- Spesifik: kernig. Terapi       Antibiotika intravena. sesegera mungkin (30 menit awal). urinalisis e. protein. Pemeriksaan penunjang a.

kronik (lama) C : GA : serangan sangat sering pada malam hari disertai pembentukan tofi. soalnya kan dia autoimun. perdarahan. istirahat. bersifat intermiten dan ada fase interkritikal RA : min 4 dari 7 : kaku pagi hari > 1 jam. DIP D : GA : 1 tahun atau lebih tergantung penanganan RA : kronis bergantung penanganan OA :progresif. keterbatasan gerak dan krepitasi A : GA : penggunaan diuretic. perlu juga ditanyain karena f. diurut-urut T : GA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi OA :OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RPD : GA : riwayat asam urat tinggi. dehidrasi RA : aktivitas OA : aktivitas berat. RA. arthritis pada 3 daerah dan simetris. DM. RF (+). pangkal ibu jari kaki bagian dalam. obesitas. perubahan radiologis OA :nyeri pada saat aktivitas. HT. alcohol. metatarsofalang / metacarpofalang  simetris OA :sendi penyangga tubuh terutama lutut dan panggul. tapi kalo GA sama OA. PIP. tofi juga bisa muncul di telinga RA : pergelangan tangan. gangguan ginjal RA :riwayat penyakit autoimun OA : riwayat trauma (+/-) RPK : pada RA riwayat penyakit keluarga sangat penting. kaku pada pagi hari < 30’. pergelangan kaki. makanan tinggi purin. trauma R : GA : obat antiinflamasi RA : obat antiinflamasi OA :konsumsi OAI atau obat antinyeri. OA Ax : KU : Nyeri pada persendian RPS : O : GA : dewasa 30-50 th RA : dewasa 30-50 th OA : usia tua terutama di atas 50 tahun L : GA : metatarsofalang I (podagra). degenerative. trauma. nodul rheumatoid (+).NYERI SENDI Dd : GA. arthritis di sendi tangan. suhu dingin (pagi hari).r nya bisa genetic juga 160 .

poliartikuler RA : sendi teraba hangat dan bengkak Kepala dan leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Px tambahan : X-ray : GA : erosi diluar kapsul sendi dengan joint space masih utuh RA : penyempitan ruang sendi disertai erosi dan pembengkakan jar. pada GA ditemukan tofi dan juga dapat terjadi kerusakan ginjal  gangguan ekskresi asam urat Px : Keadaan umum : pasien secara umum tampak sehat (atau demam pada RA dan gout yang aktif).lunak OA :penyempitan celah sendi. sklerpsis subkondral Lab : Darah Rutin :↑ LED. pembengkakan sendi. eritem. leukositosis. ekstrimitas hangat. kurangnya olah raga Review system : RA biasanya diikuti demam. kaya kalo misalnya buruh pabrik gitu yang melakukan aktivitas fisik berulang-ulang  Faktor risiko OA Lifestyle : GA : makanan tinggi purin RA : OA :sedentary sehingga mengakibatkan obesitas. kalo OA dan GA ().Lingkungan : pekerjaan pasien perlu ditanya. osteofit. RF < 1: 40 pada OA atau > 1: 40 pada RA Kadar asam urat serum > 7 mg% pada wanita atau > 8 mg% pada pria Kadar asam urat urin 24 jam sebanyak 800 mg/hari. pada RA : anemia. bengkak terutama pada kapsul sendi. trombosit ↑ Leukosist sendi : pada OA peningkatan Leukosit sendi di bawah 2000/mm3 sedangkan pada RA > 2000/mm3. bisa atau tanpa rasa hangat pada sendi GA : tofi (+). namun terjadi gangguan berjalan akibat deformitas dan nyeri pada sendinya. VS : T ↑ pada RA Lokomotor exam : (untuk pemeriksaannya lihat bagian lokomotor exam) Temuan : OA : krepitasi. atau 1100mg pd diet tinggi purin Mikroskopik tofi  tampak ada Kristal asam urat 161 . bird like face dll. hangat.

d tab I DMARD  klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari.d tab I ( 4 hari) R/ Tab prednisone 20 mg no VII S 1.1.6-1.berat OA :dukungan psikososial.d.d tab I …………………………….6 mg no IV S.d tab I Edukasi : GA :kurangi makanan tinggi asam urat dan diuretic kuat (thiazide dan furosemid) RA : fisioterapi. jadi d itter 2x) R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV atau yang 25 mg 3x1 hari S 2.d.1.Tx : GA : Serangan akut : (selama 2 minggu.6 mg no VI S 1. tetap d gerakkan namun kurangi akt.d. sulfalazine 500 mg/hari OA : R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.2 mg/hari R/ tab Allopurinol 300 mg no VII s.d.d.d tab I R/ tab Colchicines 0. kurangi aktivitas sendi.d tab II (3 hari) R/ tab colchicines 0. koreksi postur. turunkan BB 162 .d tab I Intercritical : Kolkisin 0. Ulang asampai asam urat < 6mg/dl Diet rendah purin RA : R/tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d.d.

DM tipe 1: disebabin kekurangan insulin gara-gara ada destruksi sel-sel beta pankreas. letargik) DAN random plasma glucose (gula darah sewaktu) >200 mg/dl (11. c. 2010 : bisa salah satu kriteria di atas DAN HbA1c > 6. Penderitanya jadi insulin dependent. Jadi di tubuh kita itu ada si insulin (berfungsi dalam up take glukosa ke dalam sel hepar.1 mmol/L) or Fasting plasma glucose (FPG)/ gula darah puasa (tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam) sebesar >126 mg/dl (7.5% Di sini yang dibahas yang DM tipe 1 dan 2 aja ya. dia kekurangan key (si insulinnya). visual blurring. polydypsia.o mmol/L) or Two-hour plasma glucose (2hPG) >200 mg/dl (11. DM tipe 2: disebabin karena ada resistensi insulin ataupun adanya disfungsi dari si sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. p=pancreatic disease dll. weight loss. dia jumlahnya pas tapi karatan key-lock nya sehingga ga bisa kebuka deh pintunya (glukosa ga bisa di-up take gityuu). b. Kriteria diagnosis dari DM (WHO) adalah : Munculnya simotomp-simptomp hiperglikemia (polyuria. Disebabkan karena growth hormone kluar banyak banget padahal dia kerjanya berlawanan dengan insulin. Kalau DM tipe 2.WEIGHT LOSS: DIABETES MELITUS Preface DM merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya atau menurunnya efek dari insulin endogen. otot. dan lemak) dan reseptor insulin yang kayak pasangan key-lock. infeksi. jumlah keduanya pas sama banyak. DM banyak macamnya: a.1 mmol/L) Kalau kriteria menurut ADA. Kalau pada orang sehat. d. Tapi biasanya datang pas udah ada komplikasi 163 . BB turun. Sebab lain: obat-obatan (kortikosteroid jangka panjang). DM gestational: teriagnosis pertama kali saat hamil. ketoasidosis DM tipe 2 Sering asimptomatis. genital thrush. Nah kalo orang DM tipe 1. sebelum hamil dia normal aja. polyuria. Anamnesis KU DM tipe 1 Salah satu dari : Polydipsia.

sepsis). gangguan genitourinari. gastroparesis.CVD) (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. terus seringnya pada anak-anak. gastroparesis. hamil. gangguan genitourinari. uti. infeksi.GIT: diare. tp biasanya yang BB turun) mikrovaskular (retinopati. PAD. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Aggrevating Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. ginjal. hiperglikemi. cvd. glaukoma -Tanyakan komplikasi apa aja yang pernah muncul (dari mata. hipertensi. infark. Penampakannya tuh juga kurus-kurus. otak)? Ada gangguan di situ ga (gimana penglihatannya. saraf tepi. hamil. luka ga sembuh2. sisanya jadi gejala penyerta hehe) Onset Lokasi Usia muda <30 tahun Usia lebih tua >30 tahun Macem-macem. dll)? -Tanyakan RF dari resistensi insulin: obese. sepsis). obat TB. infeksi. Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. katarak. Infeksi (pneumonia. Infeksi (pneumonia. bisa di mata. . vasa. uti. nefropati) atau makrovaskular (CAD. GE. obat (koakain). Biasanya obese. jantung. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P . jantung. dislipidemia).Sisanya jadi gejala penyerta hehe (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. metabolik synd. tanyakan riwayat tumbuh kembangnya! KMS nya gimana? Imunisasi gimana? Riwayat persalinan gmn? → eksklusi gangguan tumbuh kembang. glaukoma RPD -Dulu pernah kayak gini? Udah pernah dikasih apa? -Karena pasien mostly anak2. katarak. obat (koakain). infeksi kronis baik 164 -Tadi udah banyak disebutin di KU. Itu merupakan beberapa RF terjadinya resistensi insulin yang menimbulkan DM tipe 2. dewasa jarang karena biasanya udah keburu mati duluan sebelum jadi dewasa. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Relieving Keluhan lain -Tadi udah banyak disebutin di KU. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P -GIT: diare. terus ada metabolik syndrome (central obese. vasa. neuropati. saraf. infark. otak Durasi Kronis progresif Tergantung keparahan (lihat tabel pemeriksaan tambahan yaa) Karakteristik Biasanya genetis gitu. GE.

Tanda DKA: kussmaul. werner’s. Olahraga? Stress? Pemeriksaan KU Vital sign DM tipe 1 Lemah. 165 Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. Tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. shortness breath. tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. infeksi. massa. Lihat apakah ada komplikasi pada jantung? Cardiovascular disease seperti CHF. lnn. (exclude dehidrasi. kurus Biasanya normal. ASI. HR variatif tergantung ada komplikasi makrovaskular ga. mukosa kering. kehamilan. gagal ginjal. walau bisa aja sih ga obese. lnn. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. . tachypnea pola Kussmaul. Apakah ada : Mata cowong. Obese. (exclude dehidrasi. polikistik ovari. RR usually in normal limit. sindrom nefrotik). tachypnea pola Kussmaul. massa. RPK Life style Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan. BBLR.saat intrauteri ataupun postnatal. Biasanya normal. hipotensi. ASI. kistik fibrosis. shortness breath. luka. lemah BP bisa tinggi. tenderness. mukosa kering. Mual muntah. acromegaly. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. dll. Thorax Kelainan di jantung dan paru dilihat. Olahraga? Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan (banyak kolesterol. letargik) DM tipe 2 Obese. sindrom nefrotik). infeksi. hipotensi. edema periorbital. Tanda DKA: kussmaul. Mual muntah. tinggi. edema periorbital. letargik) BB/TB Kepala Wasting Apakah ada : Mata cowong. luka. Abdomen Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. tenderness. Leher Lnn ada infeksi ga? Bisa saja si anaknya pake infeksi segala. cushing’s.

dan cara pengobatan. Modifikasi EXERCISE Lakukan olahraga minimal 5x/seminggu @min. a. ex. komplikasi yang mungkin terjadi.brachialis.9 mmol/L (100-125 mg/dl) 7. interval (pelaan. memodifikasi gaya hidup. a. Inspeksi: ada luka. a.6 mmol/L (100 mg/dl) 2-h-PG <7.tibialis. ulkus. Panah 1: progresif Panah 2: bisa reversible ke stage sebelumnya FPG: fasting plasma glucose (minimal 8 jam) 2hPG: tes toleransi glukosa Treatmen dan edukasi Treatmen dan edukasi Tujuan: menjaga kadar glukosa mendekati normal serta mencegah hipoglikemi. bukan minggu ini rajin.1 mmol/L (140-199 mg/dL) >7 mmol/L (126 mg/dl) >11. a. terus cepet). pengobatan yang harus dilakukan. terus 2 minggu males). ulkus. Olahraga harus yang continous (berkelanjutan.dosalis pedis.brachialis. Femoralis. Harus jelaskan kepada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya. a. Bandingkan sama atau gak. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor) Peripheral artery disease: raba pulsasi a. terus lebih cepat. Peripheral artery disease: raba pulsasi a. renang). Bandingkan sama atau gak. Femoralis.Ekstremitas Inspeksi: ada luka. endurance (melatih Tipe diabetes Normal glucose tolerance Pre-diabetes IFG atau IGT Ga butuh insulin Tipe 1 Tipe 2 Other Gestational Time (years) FPG <5. a.1 mmol/L hyperglycemia DM Insulin untuk kontrol Insulin untuk survive 166 (200 mg/dL) . Pemeriksaan Lab.6-6.30 menit. joging. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor).dosalis pedis.8mmol/L 5.tibialis. rhytmic (kontraksi-relaksasi bergantian.8-11. progressive (porsi latian bertambah).

Jadwal makan: 6x sehari tapi porsi dikiitt2.120% (Ideal BW) or BMI 25-30  20 calories/Kg BW/day Obese: >120 % (ideal BW) or BMI >30 20 - OBAT a. diinjeksikan secara subkutan.5  40 calories/Kg BW/day Overweight: 110 . insulin graline. KH<50-60%. Macam-macam insulin Insulin subkutan. 3. tapi dia bisa progresi jadi butuh obat-obatan dulu. DM TIPE 2 pertama-tama kita modifikasi life style dulu. Tapi yang banyak dipakai tu si nsulin subkutan (100 U/mL). Jumlah makanan: jangan banyak-banyak porsinya sekali makan. (lihat di daftar obat). Max HR: JANGAN LEBIH DARI 80%(220-usia) supaya tidak heart attack. 167 . DM TIPE 1 butuh insulin terus tentunya. (3) Intermediate acting (4) Long-acting (5) Long-acting analogue (6) Pre-mixed insulin Rejimen insulin subkutan: (1) Rejimen BD : 2x1 premixed insulin untuk DM tipe 2 atau tipe 1 dengan life style reguler. b. 2.5 – 25  30 calories/KgBW/day Underweight: <90% (Ideal BW) or BMI < 18. gula maks. nah kalau semakin buruk dia bisa sampe butuh insulin. insulin detemir.ketahanan). Jenis makanan: fat <30%. protein 15-20%. (2) Soluble insulin: injeksi 15-30 menit sebelum makan. Ada 6 tipe: (1) Ultra-fast acting: injeksi saat mau makan atau tepat setelah makan. Modifikasi DIET 1.25 gr/hari. Na <6 gr/dl tapi kalau hipertensi <3 gr/dl. Ideal body weight: NUTRITION and DIET Men (<160 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs ( >160 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Women (<150 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs (>150 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Normoweight: 90-110% (Ideal BW) or BMI 18.

d. Metformin mg 500 No.d.5 No.2.d. harus kasih insulin. post AMI. Obat-obatnya Umumnya.(2) Rejimen QDS : sebelum makan (ultra-fast atau solubel )DAN sebelum tidur (intermediate acting atau long-acting analogue). Di awal-awal haru rajin bikin diary tentang kadar gulanya (finger stick). Monitoring : 1.5% atau <6. (3) 1x1 sebelum tidur dengan insulin intermediet atau long-acting. XIV S.d.5% pada yang ada penyakit arteri ex. 2. 168 .d. Normalnya <7. XIV S. Tab I R/ Tab. Tab I Metformin digunakan untuk yang BMI >25 Kalau BMI <25 R/ Tab.2. Glibenclamide mg 2.d. VII S. Tab I Kalau masih ga mempan lagi. Untuk DM tipe 2. DM tipe 2 dimulai dengan R/ Tab. Setelah 8 minggu periksa HbA1c.1. Metformin mg 500 No. Untuk DM tipe 2.

Dokter Fau kemudian merencanakan pemeriksaan endoscopy. Nyeri tersebut akan hilang setelah mbak Gastricia makan. Rasa tidak nyaman didefinisikan sebagai perasaan negatif yang bersifat subjektif. berpusat di abdomen bagian atas. Setelah melihat hasil pemeriksaan. Dyspepsia terbagi menjadi 2 jenis: 1. Akhir-akhir ini keluhan tersebut bahkan disertai muntah darah. dsb. dan stool antigenic test. berusia 25 tahun datang ke Anda dengan keluhan nyeri perut dan sebah di perut bagian atas yang telah berlangsung 4 minggu. ulkus peptikum. meskipun dalam kuantitas dan frekuensi yang jarang. Dokter Fau memutuskan untuk melakukan eradikasi agen penyebab penyakit dengan tiga macam obat sekaligus. Riwayat penggunaan NSAID’s disangkal. nausea dan/atau rasa penuh pada abdomen atas. bloating. C-13 Urea Breath Test. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya epigastric tenderness. pylori Definisi Dyspepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang berulang atau kronis. bernama mbak Gastricia. Diagnosis: Dyspepsia organik berupa ulkus duodenal akibat infeksi agen H. Functional Dyspepsia: dyspepsia yang tidak ditemukan penyakit yang mendasarinya sesudah dilakukan pemeriksaan. yang bukan nyeri. pankreatitis.INDIGESTION Dyspepsia/Ulkus Peptikum Skenario Seorang wanita. dan dapat dimasukkan sebagai variasi gejala termasuk early satiety.Dari anamnesis diketahui bahwa mbak Tina adalah seorang perokok dan juga mengonsumsi alkohol. 2. seperti kolelitiasis. Fisiologi dan Patofisiologi: Fisiologi sekresi asam lambung oleh sel parietal: 169 . serta feses bewarna hitam. Organic Dyspepsia: dyspepsia yang didasari suatu penyakit yang diperkirakan menjadi sebab gejala tersebut.

maka sel epitel gaster yang mengelilingi tempat kerusakan tersebut akan bermigrasi ke tempat yang rusak tersebut  membutuhkan aliran darah yang baik. Preepithel Mucus-bicarbonate layers: barier physicochemical  form a pH gradient ranging from 1-2 at the gastric luminal surface and reaching 6-7 along the epithelial cell surfaces. intracellular tight junction. dan adanya epithelial cell ionic transporter yang menjaga pH intracellular Restitution  jika barier preepithelial rusak. dan beberapa growth factor b.Patofisiologi: Faktor defensive: a. Diproduksi oleh sel epithel Surface active phospholipid Epithelial Cellular resistance: memproduksi mucus dan bikarbonat. Growth Factor and Prostaglandin 170 .

bile salt b.Fungsi prostaglandin: Meregulasi produksi bikarbonat dan mucus Menghambat sekresi sel parietal Untuk memaintain mucosal blood flow dan epithelial cell restitution c. cokelat. Faktor internal: HCl  mengaktivasi pepsinogen menjadi pepsin dan merusak mukosa . menginduce pembentukan noxious mucosal free radical. makanan berlemak  rangsangan sekresi asam lambung 171 . Faktor eksternal: NSAID  menghambat COX  sintesis prostaglandin dihambat  peningkatan sekresi HCl dan penurunan sekresi musin. altered gastric emptying. dan meningkakan resiko untuk infeksi mikrorganisme H. Konsumsi alkohol. surface active phospholipid dan proliferasi sel epithel Merokok  menurunkan aliran darah mukosa. pylori H. bikarbonat. pylori  bakteri gram negative tahan asam  dapat merusak lapisan mukosa dengan cara memproduksi urease  membentuk CO2 dan ammonia yang toxic terhadap mukosa. menurunkan produksi bikarbonat di proksimal duodenal. Subepithelial  blood flow Faktor aggressive a. kopi.

pylori dengan breath test atau stool antigen test. kopi. serta meneruskan konsumsi antasida/alginate jika sudah mengkonsumsinya terlebih dulu. Guideline treatment untuk pelayanan medis dyspepsia adalah: 172 . 5-6 kali makan dengan porsi kecil perrhari Terapi empiris untuk dyspepsia yaitu dengan terapi PPI (proton pump inhibitor) atau tes dan terapi untuk infeksi H. Terapi yang sebaiknya ditawarkan pada pasien yaitu terapi empiris full-dose PPI selama 1 bulan.. Serta pola makan yang teratur. pylori. mengurangi berat badan. pylori. dapat diberi saran sederhana. Diperlukan waktu washout 2 minggu setelah periode penggunaan PPI untuk melakukan tes infeksi H. berikan juga saran untuk menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. serta tes dan terapi untuk infeksi H. Selain itu. cokelat. seperti alkohol. dan berhenti merokok. seperti saran untuk makan makanan yang sehat.Treatment: Pada beberapa pasien. dan makanan yang berlemak.

Keterangan: 173 .

Define the diagnosis dyspepsia/peptic ulcer 2. treat H. Specify the therapeutic objective reduce acid production. Make an inventory of effective group according to criteria Beberapa grup obat yang rasional digunakan: 174 . pylori (if any) 3.Keterangan: Steps in choosing P-drug: 1.

 Menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. 2. I a.d. memperbanyak sayur dan buah. dan makanan yang berlemak.d. seperti mengonsumsi alkohol. tab II. Omeprazole 20 mg no. kopi.c. rokok.d. XIV s. 175 .2. tab. a.d.d.d. XIV s. tab.  Stop penggunaan NSAID (jika memungkinkan) TERAPI MEDIS Amoxicillin-Clarithromycin-omeprazole Write prescription: R/ Tab.2.c. lima sampai enam kali sehari) dan jenis makanan yang dikonsumsi. I a. R/ Tab Guarposid no. R/ Cap Amoxicillin 500 mg no XVIII s.c.Kesimpulan: TERAPI NON-MEDIS  Mengatur pola makan (makan porsi kecil. cokelat.

 Apabila pasien merupakan pasien dewasa (> 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. jenis kelamin. suku / bangsa. etc. Anamnesis Tanyakan identitas pasien . durasi. etc). pendidikan. frekuensi. Keluhan tidak logis dan tidak realistis : gangguan mental mayor. Building interpersonal relationship : memperkenalkan diri. Situasi yang membuat kondisi jadi lebih buruk atau baik. agama. 176 . Prosedur Pemeriksaan : 1. etc). status perkawinan. Keluhan lain yang ada dan detailnya (pola tidurnya bagaimana. progress. nama.     RPD RPK : apakah ada keluarga yang sakit serupa? gejalanya mirip? bagaimana gejalanya? sekalian tanyakan juga . 3. karena interpretasinya bisa beda ntar).  Menanyakan apakah gejala terjadi didahului oleh kejadian luar biasa (misalnya : perceraian.INSOMNIA MENTAL MINOR Keluhan logis tapi tidak realistis : gangguan mental minor. Pengobatan yang sudah diberikan. Jenis coping dan cara menghadapi masalah. tidak lulus ujian. Persilakan pasien duduk di kursi yang disediakan. 2. alamat. Greeting.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) :  item keluhan utama secara detail (keparahan. 4. etc). umur. pekerjaan.

bukan diagnosis (ingat!). pola hubungan keluarga. Ex. tidak ada keluhan mental (ex. kelompok yang termasuk 177 . Keluhan fisik ganda (FG) : FM + keluhan emosional. Kalo pas pilek meler gitu terus disertai bete. b. Neurodermatitis. pilek. apakah anak angkat / tiri. Jadi dia tuh ada keluhan fisik dan mental yang SALING MEMPENGARUHI! psikosomatis : Somatoform Somatisasi → banyak kompalinnya dr ujung rambut sampe ujung kaki. tapi belum tentu berkaitan antar keduanya. udah sampe shopping doctor gitu. urticaria. Body dismorphic disorder → merasa gemuk banget padahal BMI nya undeweight. Menurut ICD-10. Ex. Batuk. ga konsen sama kuliah dll). sulung / bungsu. Luka kecelakaan + kecanduan alkohol. dia gak lulus SMA terus tiba-tiba lumpuh ga bisa gerak. apakah orang tua sudah meninggal (kalau sudah. diare). kebutaan. batuk kronis + kecemasan. jumlah saudara. life style.    Eating disorders Sexual dysfunction Psychological or behavioral factors associated with disorders or diseases classified elswhere. Keluhkan fisik murni (FM) : bener-bener keluhan fisik saja. perut saya ini kayak ada ularnya!”. lingkungan. Conversion disorder → ada stressor mental tapi terus dikonversi jadi keluhan fisik. Biasanya konversinya ke keluhan neurologis seperti paralisis. Keluhan psikosomatis : psikosomatis tuh cuma istilah lho.silsilah keluarga. Tapi di modul psikosomatis dikatakan bahwa yang FM ini jarang banget! Biasanya pasti disertai mental emosional (ex. c. meninggalnya saat pasien usia berapa?). Ex. Psychogenic pain disorder → nyeri terus. dll.  Lalu golongkan menjadi : a. “ini saya mesti kanker ini dok. Anamnesis system. Hypochondriasis → pokoknya dia merasa sakit! Ex. stres. keluarga utuh / cerai.

d. 5. Apakah terjadi selama >3 bulan atau >1x / bulan 2. sex. RPK. dll). alkohol. sekolah. lemes  Lanjutkan ke pertanyaan aktif bila dari penggolongan keluhan didapatkan golongan FG. FG. Ada tidaknya pemakaian rokok. kerja. apabila dari penggolongan ternyata yang ditemukan adalah FM (fisik murni) maka tidak ditanyakan lagi pertanyaan aktif dan diagnosis yang dibuat merupakan diagnosis gangguan fisik (untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema alur pemeriksaan mental minor di buku skill lab). Menurunnya semangat belajar.  Tanyakan adanya keluhan mental-emosional dan status perkembangan anak → harus  Lanjutkan ke pertanyaan aktif nomor 3 (pertanyaan aktif yang dimaksud disini sama dengan yang ditanyakan pada dewasa) bila didapatkan golongan FG. ga tenang depresi : murung. ME.  Apabila pasien merupakan pasien anak dan remaja (< 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) pada anak atau pengantarnya : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. Pertanyaan aktif antara lain : 1. Keluhan mental-emosional : emang cuma masalah kejiwaan (pikiran. PS atau ME (sama dengan pada dewasa di atas). cemas : gelisah. Ada ridaknya gejala mental emosional (sedih. perasaan). dll 4. life style. pekerjaan. karena interpretasinya bisa beda ntar). Nb.RPD. maupun masyarakat. ME. telanjang depan umum.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) . cemas. psikotik : ngomong sendiri. Ada tidaknya gangguan fungsi sosial . PS. napza 6. lingkungan → sama dengan dewasa  Golongkan apakah keluhan termasuk dalam FM. misalnya : banyak pikiran 3. 178 . Ada tidaknya peristiwa pemicu keluhan. PS. mudah tersinggung. baik di keluarga.

menilai hubungan jiwa (mudah atau sukar). 9. menilai perhatian (mudah / sukar / dicantum). Rokok. nilai sikap dan tingkah laku pasien (apakah normal. pemeriksaan fisik diagnostik. menilai kesan penampilan penderita. Dari hasil anamnesis tersebut maka pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa bila ada : FG atau PS atau ME + >1 kriteria di bawah ini : >3 bulan atau >1x/bulan Ada faktor pemicu Penurunan semangat belajar. kerja. Gangguan fungsi ex. curiga. napza 6. Pemeriksaan fisik : vital sign. gelisah. alkohol. sosial . sex. misalnya. menganalisis diagnosis banding dan menyimpulkan diagnosis menurut PPDGJ. menilai bentuk isi dan progresi pikiran. DD dan Diagnosis Menerangkan dan menilai data anamnesis dan pemeriksaan. etc). pemeriksaan neurologis. psiko tes . etc yang relevan aja. etc). maupun masyarakat. 10. tegang.5. Pemeriksaan khusus menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. menilai roman muka (tegang. etc). sekolah. pekerjaan. menilai citra diri. baik di keluarga. hiperaktif. 7. dll (males ngapa2in lah pokoke). 179 . menilai keadaan jiwa (sedih. mempertimbangkan perlu tidaknya konsultasi lanjutan. Terapi dan tindak lanjut Mengusulkan rencana terapi dan rehabilitasi. pucat. 8. merencanakan pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan psikiatrik Nilai kesadaran penderita.

jadinya juga ganggu keseharian. ga usah gali mengenai permasalahan dia dulu (mau dia putus kek. Bagaimana perasaan setelah itu? Kalo dia bilang lebih enakan→ jadikan terapi! Adakah KELUHAN LAIN? Lemes harus dibedakan apakah sebab fisik (dengan bobok langsung seger lagi) atau psikis (dengan bobok ga seger lagi). besok mau OSCE kek. Kehidupan sehari-hari gimana? Kalau CEMAS ya terganggu : biasanya dia ga konsen gara2 khawatiran.dll”) → mencemaskan sesuatu. Kalau DEPRESI dia juga terganggu : biasanya karena dia mikirin masalahnya terus. 180 . nangis. dll. Dia mikirin apa sih (GALI!). Di tahap ini kita masih gali SIMPTOMP SUSAH TIDUR INI DULU. terus susah bobo lagi → DEPRESI Sehingga setelah itu perlu kita tanyakan nih: mulai bisa bobo jam berapa? Terus bangunnya jam berapa → kita jadi tahu tuh lama dia bobo cukup apa gak (kan ada depresi yang tiduurr terus. dll. itu ntar aja galinya). besok telat osce. atau pas di kelas jadi ketiduran terus). Kalau emang udah mengkerucut ko kira-kira ini depresi. Kata dr. Apakah Anda idur di kesempatan lain? (misal bobok siang. sesek. harus identifikasi adakah KEINGINAN SUICIDE? Solusi yang telah dilakukan? Misal curhat sama temen.. sibuk dengan pikiran dan perasaan bersalah gitu. maksud pertanyaan ini adalah kita bisa lihat apakah ada gangguan fungsi hidup dia). gek-gek ngono?” (“duh jangan-jangan nek aku ga bisa bobo skarang.GANGGUAN TIDUR KU : susah tidur RPS Sulit tidurnya gimana sih? Sulit masuk tidur (alias mau merem ko susah) → CEMAS Tengah malem suka kebangun. ada juga yang meleeek terus). Apakah ada pikiran “gek-gek ngene. Mahar perlu ditanyakan juga mengenai APA YANG DIRASAKAN sebelum bisa tidur atau saat kebangun tengah malam. Aktivitas di siang hari gimana? (terganggu atau tidak.

kringetan tangannya. negetif. Pokoknya harus nyambung sama keluhanya! Tadi udah disebutin.hari terganggu ga? Misal. kayak kehidupan sehari. bad dream. gimana kalo pas di kantor kerjaannya? Hobinya apa? Masih interest ga melakukannya? Makan teratur ga? DD a. Kehidupan sehari-hari ga bergairah. kagetan. CEMAS Susah masuk tidur. Apa yang terbayang oleh pasien? (ingin bunuh diri lah?). sensi. DEPRESI Sering kebangun terus susah bobok lagi. gemetar. nulis diary dll). RPK Kalau di rumah sama siapa bu? Mereka tau ga ibu kayak gini? Terus tanggapan mereka gimana? Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. Sesek. ga konsen. Moodnya sediiiihh. sesek) tanyakan udah berapa lama? Pernafasan gimana? Mimpi buruk kah? Sakit di tempat lain ga? Sering pipis kah? Haid gimana? Jadi mudah tersinggung ga? Kagetan? Konsentrasi? Tangan kringeten? Yang memperberat dan memperingan? RPD Dulu pernah kayak gini gak? Terus diobati apa? Riwayat penyakit kronis? Soalnya penyakit kronis kan bisa sampe bikin depresi dan malah memperburuk sakit fisiknya. ga konsen sama kerjaan. Gangguan nafsu makan.Sedih digali kenapa sedihnnya? Gimana sedihnya → sampe pengen nangis ga? Menurun pas apa? (curhat. Life style dan lingkungan Ga usah ditanya terlalu banyak2 kalau ga sesuai sama simptompnya. Terapi dan edukasi 181 . ada fase seneng ga? Kapan kah itu (bisa untuk treatment)? Tegang (gelisah. Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. debar-debar. seks. Kalu parah sampe bisa berpikir untuk suicede! b. minderan/ga pede. Gangguan fungsi hidup.

XiV S. loss apetite. apa yang bapak lakukan? Kalau misalnya bapak menunda keinginan untuk ngecek pintu itu. R/ Tab. DIazepam mg 5 no.d Tab. Imipramin mg 25 no. I o. gimana kerjaan di kantor bapak? (cari tahu gangguan terhadap fungsi hidup). ngecek pintu terus udah dikunci belom.n - Kalau CEMAS Lakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bikin rileks R/ Tab.n OCD (penyakit obsesif kompulsif) KU : melakukan kegiatan berulang2 tanpa bisa menghentikan ex. - Kalau DEPRESI Diberikan anidepressan kalau >2 minggu simptompnya disertai 4 atau lebih gejala ini: lelah.- Kita bilang bahwa penyakit ini banyak terjadi tapi bisa disembuhkan kok.1. gimana rasanya? Muncul kecemasan ga? Kalau udah ngecek gimana rasanya? Apakah pikiran ‘belum dikunci’ itu timbul berulang? Sebenrnya bapak sadar ga kalau pikiran itu sebenernya ga realistis? Sampai bikin jengkel? Selama ini gimana cara ngatasinya? Apakah menolong? Kalau merasa ga terselesaikan. XiV S. gangguan bobo. penurunan konsentrasi.d.d Tab. RPS Dengan bolak-balik kayak gitu. I o. guilty.d. pikiran mau mati. Sebenernya saat bapak mengunci itu. bapak udah TAHU belum kalau pintu udah dikunci? Kalau saat tidak yakin. apa yang bapak lakukan? Adakah pikiran ttg hal lain yang berulang? (misal dia cuci tangan terus) apakah bapak enjoy dengan ritual tersebut? 182 .1. tenang saja! (biar pasien ga tambah depresi atau cemas). agitasi.

sampe ganggu macem2: R/ Tab. pusing. mual. jangan fokus ke keluhan saat serangan.d Tab. tercekik. Parah. atur nafas. pusing) Membaik saat apa? Memburuk saat apa? Terapi dan edukasi diam saat serangan. terapi perilaku saja. nyeri dada.d. pikirkan bahwa ini akan segera berlalu! Kalau serangan sering atau berat 183 . cepet ilang) Apa yang dirasakan saat itu? (taakuutt bgt gitu) Keluhan lain apa? (palipitasi.RPD RPK Di keluarga ada yang kaya gini juga ga? Gimana keluarga di rumah menanggapinya? Membantu ga? dulu pernah kaya gini ga? Gimana terapinya? Berkurang ga? Terapi dan edukasi Kalau dia ga parah. 3. 1 PANIK KU: 1 atau lebih gejala: nyeri dada. nafas pendek RPS RPD RPK Di keluarga ada yang kayak gini? Ada yang sakit jantung? Gimana respon keluarga terhadap yang anda alami? Dulu pernah sakit jantung ga? Pernah diterapi apa? Dulu pernah kaya gini juga? Membaik ga? Saat apa munculnya? Berapa lama? (biasanya sih cepet dateng. XXI S. Clomipramin mg 25 no.

1. Imipramin mg 25 no VII S.d.I 184 .- R/ Tab.5 no VII S.n (alias malam hari) - Kalau serangan jarang dan terbatas R/ Tab.I o.1.d.Lorazepam mg 0.d Tab.d Tab.

Persisten : 14 hari. t. thypoid. sakit perut. Anamnesis :  RPS ii. CBC count 185 . Olahraga : b. bisa ada darah. Treatment :tidak membaik dengan pengobatan  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan : kemaren makan sembarangan di tempat lain  Lifestyle : a. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  kemungkinan dpt terjadi borborigmi (peristaltik terlihat) Auskultasi  hiper peristaltik Perkusi  hipertimpani Palpasi  cubit perutturgor kulit Kepala : Leher : palpasi limfonodidbn Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi mungkin akral dingin 33. p. 31. Parafrase ke pasien s. Sebutkan DD : diare. KU : mencret. masih mau minum ga? r. Kolera air cucian beras Disentrilendir dan darah (shigella) Amoebiasislendir dan berbuih Giardiasisberlemak dan persisten>2 minggu mm. Vital sign : mungkin demam 32.DIARE Diare Diare : BAB> 3x/hari dengan konsistensi fesesyang cair dan encer. Relieving: oo. Agravating : aktifitas berat. Karakteristik : BAB 6-8 kali/hari. berlendir. kurang minum nn. Lokasi : kk. Diet dan pola makan : makan yang tidak bersih  Review system  keluhan lain : demam. Onset : sejak 2 hari yang lalu jj. BAK. Durasi : 2 hari ll. Kondisi umum : sangat lemah. Pemeriksaan fisik : 30. diare q. Akut : < 2 minggu. Pemeriksaan penunjang a.

amoebiasis  R/ Tab.d.oralit 200 No. Oralit diminum segera setelah dibuat 3.p.d.r.p.d. X.tab 1 p.d.XII S. Jika keadaan memburuk harap kembali 186 .d.d. tab 2 p. Suruh jaga higienitas dengan cuci tangan 6.c 35. Fecal exam : liat keadaan fisik ada darah/telur cacing/ 34.tab 1. Oralit diminum setelah BAB segera 4. giardiasis R/ Tab. Ampicilin 500 mg no XXIV s.c 3. Terapi .Berikan oralit  R/ sach.d. 4.b. disentri R/ tab.c.Antibiotik : 1.3.p. Metronidazole 250 mg no x s. 2. Tetrasiklin 500mg no. X S.c 4. Edukasi 1. 4. kolera R/ Tab.n campurkan dgn 200 ml air diminum segera setelah buang air besar . S. Makan dijaga higienitasnya 5. 3. Minum air putih banyak 2.d Tab 1. Metronidazole 500 mg No.

papulovesikel. v. Agravating : Saat pasien berjalan menggunakan sendal tersebut.PRURITUS Dermatitis Kontak Alergi Seorang pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada ke dua punggung kakinya setelah memakai sendal yang baru yang terjadi 3 hari yang lalu. dermatitis atopi x. Karakteristik : mengikuti alur dari sendal jepit tt. vesikel atau bula. likenifikasi & fisur tidak jelas. semakin diperparah ketika pasien berjalan ke pasar dan membaik saat istirahat dirumah. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. Olahraga: ga spesifik b. skuama. Relieving : istrhat dirumah  Treatment :  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan :  Lifestyle : a. Anamnesis :  RPS pp. Sebutkan DD : DKA.Kondisi umum : gatal-gatal pada kaki 37. uu. Pemeriksaan fisik :  Extermitas : terlihat UKK berupa bercak eritematosa dan dapat diawali dengan bercak eritematosa. Onset : 3 hari qq. KU : gatal – gatal pada kedua punggung kaki. vesikel atau bula. Diet : c. Lokasi : ke 2 punggung kaki rr. likenifikasi & fisur tidak jelas. Lingkungan :-i  Review system : dapat diawali dengan bercak eritematosa. Vital sign :normal 38. papulovesikel.DKI. Pemeriksaan fisik : 36. u. skuama. Parafrase ke pasien w.  Kepala : Sklera DBN  Leher : palpasi limfonodiDBN  Thorax depan: DBN. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. Durasi : 3 hari ss. Pola makan : d. screening  auskultasi aja DBN Abdomen : Inspeksi  DBN Auskultasi  DBN Perkusi  DBN Palpasi  DBN 187 .

Bila ada efek samping serius. Mejauhkan alergen secepat mungkin b. daerah kulit yang diobati tidak boleh diperban atau ditutup g.Jika dibutuhkan dapat dilakukan pemeriksaan kultur jamur untuk meng’exclude ttg tinea 40. Treatment dapat dihentikan bila dermatitis kontak alergi pasien telah sembuh e. Edukasi a. Terapi 41. Mencegah terjadinya ruam d. CTM: jangan dikonsumsi ketika mengendarai kendaraan bermotor 188 .Patch test untuk test alergi .Pemeriksaan penunjang .39. hentikan treatment atau ganti obat lain f. Membersihkan bagian yang teriritasi c.

missal IBS. . kesulitan dalam BAB (mengejan > 25% bowel movement atau konsistensi feses keras.Perdarahan (hematochezia).terutama karena diet yang buruk. . ex : Ileus. Ca colon yang mulai muncul manifes konstipasi 189 . Akut membutuhkan tindakan emergency. Tidak memerlukan emergency. tumor) enteric nervous system • Hirschsprung's disease • scleroderma • amyloidosis Functional analgesics anticholinergics antidepressants antipsychotics cation-containing agents anticonvulsants normal transit slow transit pelvic floor dyssynergia DD : Irritable Bowel Syndromes (SKDI 3A). dan defek anatomis. Sering pada orang tua. Typhoid (SKDI 4). abnormalitas motilitas. Tapi hati2 kalo menemukan red flags seperti : . kurang exercise.Konstipasi Konstipasi adalah pergerakan colon yang tidak frekuen (defekasi < 3x per minggu).riwayat Ca pada eluarga.muntah..biasanya karna fungsional. Ileus (SKDI 3B) Ax RPS O L D Onset cepat : Ileus (harus segera ditangani) Kronis > 3 bulan. Penyebab konstipasi antara lain sebagai berikut Conditions Associated with Constipation Structural ganglion blockers vinca alkaloids Muscle colon • neoplasm • stricture • volvulus anorectal • inflammation • prolapse • rectocele • fissure Systemic myotonic dystrophy dermatomyositis amyloidosis systemic sclerosis Neurologic electrolyte abnormalities thyroid disease diabetes mellitus panhypopituitarism Addison's disease pheochromocytoma uremia porphyria Medications central nervous system • Parkinson's disease • multiple sclerosis • ischemia • tumor • spinal cord lesions autonomic neuropathy sacral nerve damage (trauma. ..penurunan berat badan.

hormone progesterone dan estrogen tinggi  dapat nyebabin konstipasi Diet serat tinggi (buah2an.Berkurang nyeri setelah defekasi . whole grains) dpt melunakkan feses RPK LS RS1 RS2 Konstipasi + hematochezia (BAB trdpt darah merah segar)  hati2 curiga Ca Colorectal ada keluhan lain? Irritable Bowel Syndromes (IBS-C) IBS adalah kumpulan gejala penyakit digesti fungsional yang diarakteristikkan dengan adanya nyeri perut dan perubahan motilitas usus.Perubahan pasase feses (straining dan atau urgency) .Abdominal bloating atau distensi subjektif Derajat keparahan IBS dapat dilihat di bawah ini : Derajat keparahan IBS Ringan Gejala klinis Persentase penderita Nyeri berterusan Gangguan Psikososial 70% 0 0 190 25% ++ + + 5% + +++ +++ Kaitan dengan gangguan fisiologi sal cerna +++ Sedang Berat . dan antidepresan  dapat menyebabkan konstipasi keluarga ada yang sakit serupa? Ada riwayat Ca ga? Defekasi < 3x seminggu. anticonvulsant. kesulitan dalam mengejan. dan kadang ada rasa tidak lampias saat defekasi MInum obat narkotik.C A RPD R T Other Hati2 kalo Lebih dari 2 tahun.Onset berhubungan dengan perubahan konsistensi feses Gejala pendukung : .Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB . antipsikosis. suplemen besi dapat memperparah konstipasi. Hypothyroid dan hyperparatyroid  dpt mnyebabkan konstipasi Pada saat mendekati ovulasi. antidepresan. pada orang tua  curigai Ca colon Riwayat penggunaan narkotika. atau konsistensi fese keras dan kecil2.Mucorrhea . serta tidak ditemukan adanya pathology pada pasien (pemeriksaan fisik dalam batas normal) Ada criteria Roma III (2006) untuk diagnosis IBS adalah nyeri abdomen rekuren atau ketidaknyamanan at least 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir dan berubungan dengan 2 atau lebih gejala berikut ini : . sayur.

nadi. kadang ada gangguan cemas Tanda vital Suhu. 5. . atau infeksi Hemoocult test Untuk mengeksklusi GI bleeding Terapi Farmakoterapi : Tegaserod 6 mg PO 2dd ac selama 4-6 minggu atau Lubiprostone 24 mcg PO 2dd dc Edukasi . 6. gizi.Diet kaya serat . dan IBS-A (alternating diarrhea and constipation). Anamnesis O = at least 3 hari perbulan dalam 3 bulan terakhir.Untuk sementara hindari kafein Prognosis Baik 2. IBS-C (constipation predominant).Konstipasi.Nasehatin pasien supaya jgn stress. tekanan darah. 4. 4. Okasi nyeri paling sering biasanya di abdomen kuadran bawah .k Pemeriksaan penunjang CBC Untuk screening DD anemia.Nyeri abdomen bersifat difus tanpa radiasi nyeri.Jenis penanganan Dokter Keluarga/primer Spesialistik Sub spesialistik Ada 4 pola IBS  IBS-D (diare predominant). 1.a. 191 . respirasi  normal Pemeriksaan fisik Kepala & leher t. Lakukan dan pikirkan hal lain untuk menghindari stress. kesadaran  secara umum tampak sehat.k Thorax t. kadang diselingi atau berubah menjadi gejala diare atau bisa jg konstipasi terus tnpa ada gejala diare.a. BB/TB. 7. Keadaan umum Keadaan umum.Berhubungan dengan dyspepsia.k Abdomen Kadang2 terdapat nyeri sigmoid Ektremitas t. Inflamasi.Adanya mucorrhea kadang2 ditemukan di feses . sex disfunction A = pada saat stress R = defekasi dapat meringankan nyeri abdomennya T= Others = wanita lebih sering 3x terkena IBS dibanding pria. Sering pada wanita D = > 3 bulan C = gejala2nya : .Minum air putih yang cukup . . 3.Perasaan bloating . dyspareunia.a. IBS-M (mixed diarrhea and constipation). heartburn.

typhii Secara umum. 3%-4% chronic carriers. gallbladder cancer (RR=167. gejala yang timbul apabila typhoid tidak diberi tx / dibiarkan adalah sbg berikut : Week 1 Incubation Systemic Stepladder fever pattern or insidious onset fever Acute high fever Chills Rigors Anorexia Diaphoresis Neurologic Malaise Insomnia Confusion/delirium Psychosis Catatonia Frontal headache (usually mild) Pulmonary Mild cough Bronchitic cough Rales Pneumonia Cardiovascular Dicrotic pulse Rare Common Common Common Common Rare (lobar) Rare Common (basal) Almost all Almost all Very common Commond Very common Very rare Very rare Very common Common Typhoid state (common) Very commona Very rareb Almost allc Uncommon Almost all Very common Very common Recovery phase or death (15% of untreated cases) 10%-20% relapse.Typhoid Typhoid  infeksi enteric disebabkan S. long-term neurologic sequelae (extremely rare). carriers) Week 2 Week 3 Week 4 Post 192 .

BB/TB. nadi. malaise. Pemeriksaan penunjang 193 .typhi) L= D = 7-14 hari . tekanan darah. respirasi  pada week 2 kadang2 ditemukan dicrotic pulse (double beat dengan nadi ke2nya lebih emah dari nadi pertama) Pemeriksaan fisik  bisa diliat lebih detail di table atas ya temuan klinis per weeknya. gizi. Anamnesis O = Muncul gejala konstipasi pada saat minggu pertama (hari 7-14 hari setelah terinfeksi S. kesadaran Tanda vital Suhu. Biasanya pada minggu 2 manifes GI nya diare (pea soup) C = Classic presentation : demam.. 5. 3. konstipasi. Keadaan umum Keadaan umum. namun jarang. dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah itu. 4. nyeri abdomen difus.Myocarditis Thrombophlebitis Gastrointestinal Constipation Diarrhea Bloating with tympany Diffuse mild abdominal pain Gastrointestinal hemorrhage intestinal perforation Hepatosplenomegaly Jaundice Urogenital Urinary retention Hematuria Renal pain Dermatologic Rose spots Rare Very rare Very common Rare Very common (84%) 30 Very common Common Common (pea soup) Very rare. 2. Very common usually trace Rare Common Common Common Rare Rare Rare 1.

. cefixime) Ciprofloxacin 0. 8.o 2x1 7-14 hari Ofloxacin 800 mg p. cephalosporin (ceftriaxone.6. Week 1  kultur darah/bone marrow 2. 7.5-1.o 1x1 7-14 hari Chloramphenicol TIDAK DIANJURKAN karena resiko anemia aplastik dan relaps Edukasi .Banyak minum dan jaga keseimbangan ion dan elektrolit Prognosis Setelah diberi obat. hipokalemia  Transaminase naik Tes serologis. Deteksi antigen O dan H 2. 1. Tes widal TIDAK DIREKOMENDASIKAN karena spesifisitas & sensitivitas rendah Terapi Farmakoterapi : Dianjurkan fluoroquinolone (ciprofloxacin.Istirahat yang cukup. Gold std : isolasi & kultur Salmonella typhi dari spesimen Spesimen : 1. kemudian kondisi dapat membaik dalam 4-5 hari.. 194 .o 1x1 7-14 hari Ceftriaxone 50-60 mg/kg im/iv 2x1 7-14 hari Cefixime 20 mg/kg p.. gejala mulai berkurang stlh 2 hari. Week 2  stool 3. ofloxacin).. jangan banyak beraktifitas dulu untuk sementara..0 gram p. Week 3  urine Most :  Leukopenia  Hb & platelet turun/normal  Hiponatremia. ELISA IgG & IgM 3.Makan yang lunak2 dulu seperti bubur .

01 6. Lipid:     4. SGPT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  SGOT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  LDH (dikatakan hepatitis apabila meningkat >5x)  ALP (dikatakan hepatitis apabila meningkat <3x)  GGT (dikatakan hepatitis apabila menurun) Cardiac:  CKMB (peningkatan >5% dikatakan ada kelainan)  Troponin I (iskemik >0. infark >0.01. Hepar:  5.8-5.6-6.5-3 Jenis Pemeriksaan Satuan juta/mm3 ribu/mm3 ribu/mcl g/dl % % % % % % mm/jam detik detik menit mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl IU/l IU/l IU/l IU/l g/dl Laki-laki 4. Ginjal:  Blood Urea Nitrogen (BUN) (pada gangguan ginjal.06) IU/l μg/l <10 <0. menurun) mg/dl 8-20 g/dl 195 3. Infeksi:     3. CBC:       Normal Pada Wanita Laki-laki/wanita 4.2-5.4 4-10 200-400 14-18 40-58 12-16 37-43 50-70 1-3 0.1 .4-1 4-6 25-35 0-8 0-15 60-70 20-45 3-7/Ivy <200 <150 >40 >50 <150 42 37 32 31 80-240 53-128 42-98 1.2 RBC WBC Trombosit HB HCT HItung Jenis:  Neutrofil  Eosinofil  Basofil  Monosit  Limfosit LED PPT APTT Bleeding Time Kolesterol Total Trigliserid HDL LDL 2. 1.NILAI NORMAL PEMERIKSAAN LAB No .

Albumin (pada gangguan ginjal.35-7.3 0. meningkat) 7.. kalau ada salah.9 mEq/l mmHg mmHg 7.003-1. dan infark ginjal) Leukosit ((+) pada pyelonefritis akut dan nefritis) Yeast Cast g/day (-) (-) (-) (-) Sekian teman-teman. Analisa Gas Darah:  pH  HCO3 PCO2  PO2 8. menurun)  Kreatinin darah (pada kelainan ginjal. Diabetes Melitus: #Kriteria DM= Gula darah puasa >126. semoga osce kita sukses! (mardian et.6-1. 196 . GNK.. Sindrom Nefrotik) Eritrosit ((+) pada GNA.5# #Impaired Fasting Glucose= Kadar Gula Darah Puasa 110-126#  Gula Darah Puasa  Post Prandial 2 jam  Gula Darah Sewaktu  HBA1c 9. Urinalysis:  pH  Warna      mg/dl 0. Post Prandial 2 jam >200.5 Merah (pendarahan pada UTI/obat) 1.5-0. al. HBA1c >6. kami mohon maaf yah.03 (-)   Berat Jenis Protein (>3 pada GNS.45 24-28 35-45 75-100 mg/dl mg/dl mg/dl % <110 <140 <200 <6 6-6. 2011). ISK. hehehe.