OSCE COMPREHENSIVE PROCEDURAL & IPM & nilai lab normal

By : Yan Mardian, Prenali Dwisthi Sattwika, Pradini, Afrilia Intan, Nia Milastuti, Nastiti Hemas, Annisa Tridamayanti, Astari Anggara, M. Randy Givano, Gandhi Anandika, Rizky Admagusta
1

DAFTAR ISI
MATERI HALAMAN

IPM General Thorax Abdominal Exam Eye Exam ENT Exam Neurology Exam Leprae Exam Gynecology Exam Baby delivery ANC Gyn Exam Pap Smear Implant IUD Bedah Simple suturing Sirkumsisi Bedah tumor Emergency Neonatal Resuscitation Endotracheal tube i.v. line Kateter CPR Dressing and Bandaging EKG Advance Cardiac Life Support Others Breast exam Locomotor Genitourinary Post Stroke
2

3 4 5 9 11 16 18 21 23 27 28 30 33 36 38 43 47 48 53 56 57 58 63 68 71 72 74

PROSEDURAL  … bismillah..here we go.. IPM GENERAL : Thorax, abdomen, eye, ent, neuro, leprae
THORAX Punggung: pasien duduk Inspeksi: posisi duduk (sikap tubuh, contoh: tripod pada asma), penggunaan otot bantu pernapasan, UKK Palpasi: hangatkan tangan terlebih dahulu, palpasi nyeri tekan, palpasi pengembangan dada, fremitus taktil (ninety-nine atau satu dua tiga pake nada orang ambon)  fremitus taktil meningkat: konsolidasi paru. Perkusi: perkusi paru (normal: sonor, kalo ada konsolidasi: redup, kalo emphysema: hipersonor), perkusi pergerakan diafragma, caranya di linea midclavicularis dextra diperkusi dari atas ke bawah, sampe nemu batas sonor redup (batas paru-hepar), terus pasien disuruh tarik napas, diafragma turun, perkusi diterusin ke bawah, sampe nemu batas paru-hepar lagi. Penurunan normal 4-5 cm Auskultasi: suara paru (normal vesicular/ suara paru perifer) Dada: pasien berbaring Inspeksi: inspeksi ekspresi wajah pasien (misal nafas cuping hidung, sianosis), leher (retraksi supraklavikular), penggunaan otot bantu pernapasan, konfigurasi dada (misal dada tong pada COPD, pectus excavatum/cekung, pectus carinatum/cembung kayak burung merpati), pola pernapasan, UKK, iktus kordis Palpasi: mirip sama yang punggung + palpasi deviasi trachea + palpasi iktus cordis Perkusi: perkusi paru (dimulai dari atas klavicula sampai bawah zigzag) perkusi batas jantung: Batas jantung kiri: dari linea axillaris anterior perkusi sampe nemu sonor-timpani (paru-lambung, biasanya di SIC VIII), naek dua jari, dengan posisi jari tegak lurus terhadap costa, perkusi ke kanan sampe nemu redup (batas jantung relative, biasanya dua jari medial linea midclavicular kiri, SIC 5) pekak (batas jantung absolut) Batas jantung kanan: dari linea midclavicularis dextra, perkusi ke bawah sampai nemu batas sonorredup (paru-hepar), biasanya di SIC VI kanan, ukur dua jari ke atas, perkusi lagi dengan posisi jari tegak lurus terhadap iga,dari lateral ke medial, cari perubahan sonor ke redup (biasanya di linea sternalis kanan), dam nyari suara pekak (batas jantung absolute, biasanya di linea midstrenalis) Batas jantung atas: cari linea sternalis kiri. Dari titik teratas, lakukan perkusi sejajar iga kerah kaudal, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC II linea sternalis kiri Pinggang jantung: cari linea parasternalis kiri, perkusi di linea itu kearah kaudal, posisi jari sejajar iga, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC III. Kalo sampe di SIC II, berarti pinggang jantung menghilang, biasanya pada keadaan pembesaran atrium kiri 3

untuk mengidentifikasikan massa abdomen.Auskultasi: Auskultasi suara paru (normal vesikuler. selanjutnya lepas tangan saat pasien ekspirasi. bentuk. terdengar wheezing. umumnya 6 cm). Saat pasien ekspirasi. parallel dan lateral dari m. di SIC V linea midclavicular sinistra (s1 mitral). tapi masih normal kalo batas terabanya 1-2 cm dari batas iga bawah. massa (lokasi. Perkusi: Perkusi 13 titik (liar gambarnya di buku. perkusi hepar (lobus kanan: perkusi dari linea midclavicular dextra sampe nemu batas sonor-redup/paru-hepar. simetris. di SIC 4/5 linea strenalis kiri (s1 trikuspid). atau lebih tinggi dari dada atau schapoid/menggembung). ukuran. ukuran). dengarkan juga apakah ada bruits/murmur vascular. beri tekanan ke atas. biasanya ga keraba. perkusi dari umbilical ke atas sampe nemu perubahan suara. kemudian pasien disuruh inspirasi. dan tentukan murmur tersebut ada saat diastolic atau sistolik (contoh: murmur sistolik di mitral  stenosis mitral. rectus abdominis. umumnya 10 cm. dorong tangan kanan masuk ke dalam untuk meraba batas hati. Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri pasien. letakkan tangan kanan diatas batas kosta dan tekan ke arah spleen. specific sign: misalnya Cullen sign (blue discolorisation of periumbilical) dan grey turner sign (diskolorisasi pada area flank). normalnya 8-12 cm. Lakukan palpasi superficial untuk mengidentifikasi resistensi otot. Suara yang sama dengan suara arteri karotis  s1. sejajar. Trus lakukan deep palpation. bekas luka operasi. dokter pindah ke sisi kiri pasien. dengarkan suara click and gurgles (normal 5-35x/menit). bentuk. Caranya letakkan tangan kanan sejajar m rectus abdominis dan tangan kiri menyangga dinding lateral abdomen costa 11-12 kanan. normalnya semua timpani). pulsasi/peristaltic. pada keadaan udem pulmo atau eksudat di alveolus. nyeri tekan. lalu tekan kuadran kanan atas untuk mencoba “menangkap” ginjal dengan kedua tangan. diperkusi sebelum dan sesudah inspirasi normalnya timpani). lokasi. caranya letakkan tangan kiri pada antara SIC 10-SIC 12. dilatasi vena (missal caput medusa karena hipertensi portal). sedangkan untuk meriksa lobus kiri hepar. warna kulit. dan nyeri tekan. dan adanya masa. yang mungkin menunjukkan pancreatitis Auskultasi: Pilih satu titik di abdomen. akan terdengar ronki. konsistensi. Lanjut ke palpasi lien. murmur diastolic di mitral  insuffisiensi mitral). Palpasi: Hangatkan tangan dulu. pada bronchitis terdengar crackels) Auskultasi klasik suara jantung: Di SIC II linea parasternalis kiri (s2 pulmonal) kanan (s2 aorta). Normalnya ga keraba. pada keadaan obstruksi saluran napas bawah misalnya asma. Selanjutnya lakukan palpasi hepar. tangan kanan di kuadran kanan atas. mobilitas. minta pasien utk inspirasi  normalnya ga keraba. minta pasien utk inspirasi. Tes Ascites: 4 . Palpasi ginjal kanan dilakukan dengan meletakkan tangan kiri pada belakang diantara SIAS dengan angulus kosta. perkusi lien (di ruang traube. yakni pada garis axilaris posterior SIC 11. normalnya 4-8 cm. ABDOMINAL EXAM Inspeksi: Kontur (kontur lebih rendah. Perhatikan adanya murmur. stria (pada ibu hamil atau orang gemuk). lanjutin sampe nemu batas redup0 timpani.

Tandai daerah itu. izin/informed consent 2. prosedur. buka kelopak mata Berhenti sejenak saat di lateral dan upward gaze utk liat nystagmus  LR6(SO4)3 (Lateral rectus N VI. Psoas sign  tangakn diletakkan diatas lutut pasien. dan tangan kiri diarah sebaliknya. kacamata dilepas. Tekan dengan ketat.1. Kenaikan nyeri abdomen kuadran kanan bawah  iritasi musculus psoas karena app 6. Lakukan rotasi internal-medial pada pinggang. 2. 5. Dikatakan positif kalo suaranya berubah jadi timpani. snellen chart. visus: 1/60)  Kalau tetap nggak bisa  pada jarak 1 meter pasien  hand movement 1/360 bisa mundur sampai 6 meter (kalo Cuma bisa dijarak 1 meter. Sampaikan tujuan. 4. Tes undulasi (fluid wave): minta pasien untuk meletakkan tangannya secara longitudinal pada tengah abdomen. Superior Oblique N IV. pantulan cahaya (titik kuning) terlihat di pupil sedikit di nasal (slightly nasal to the center of pupil). visus: 1/300)  Kalau tetap nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  pakai cahaya (visus: 1/takhingga)  Untuk yang bisa baca snellen chart: Misal di visus 6/20 bisa baca 3 huruf dari 5 huruf  6/20 S2 Misal di visus 6/20 bisa baca 2 huruf dari 5 huruf Visus atasnya (misal 6/30) B2 3. Minta pasien untuk berbaring miring. kalo udah perforasi. Extraocular eye movement a. sisanya N III) N IV lihat inferomedial N VI lihat lateral c. Tentukan lokasi dan sifat nyeri. nyerinya jadi localized. continous. Letakkan tangan kanan pada sisi kiri abdomen pasien. tangan kiri tetap pada posisinya dan rasakan gelombang cairan (fluid wave) Test Appendicitis: 1. Kalau nggak ada diplopia. dan terletak di titik Mc Burney 2. minta pasien menaikkan kaki melawan tahanan. b. Tes konvergensi 5 . liat jangan dipicingkan. periksa mata kanan & kiri gentian. Obturator sign  kaki pasien dinaikkan 90 derajat. Periksa reflex kornea (corneal light reflex). Adanya kenaikan nyeri pada hypogastric menunjukkan kemungkinan iritasi musculus obturator. Bentuk huruf H Jarak duduk 1 lengan Waktu tangan di bawah. Shifting dullness: perkusi dari umbilicus ke lateral hingga ditemukan perubahan suara dari timpani ke redup. lutut fleksi 90 derajat. pakai visus jauh.  Huruf pertama nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  finger counting 1/60 bisa mundur sampai 5 meter (kalo cuma bisa dijarak 1 meter. tutup mata jangan ditekan. Rovsing sign  nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika dilakukan tekanan pada kuadran kiri bawah. Cutaneoous hyperesthesia  cubit kulit perut  hyperesthesia  inflamasi saraf subkutan EYE EXAM 1. Sentil abdomen dengan tangan kanan. Rebound Tenderness. Periksa akuitas visual (visual acquity) Kalau pakai kacamata. nyeri pada saat dilepaskan  iritasi peritoneal 3. Kemudian perkusi lagi pada titik tersebut.

opticus  Hemianopsia bitemporal (lapang pandang temporal kedua mata hilang)  lesi chasma optica  Hemianopsia homonim dextra (lapang pandang temporal mata kanan dan lapang pandang nasal mata kiri hilang)  lesi traktus opticus sinistra  Hemianopsia homonim sinistra  lesi traktus opticus dextra  Lesi quadrantika Loop of Meyer (radiation optica bagian bawah) Hemianopsia quadrantika sinistra (pie on the sky)  lesi loop of Meyer dextra b. deformitas e. suruh ngitung jari dokter  untuk ngeliat lapang pandang 4 kuadran penglihatan 5. normalnya bisa ngikutin sampai jaraknya 5-8 cm dari hidung. Bulu mata  tersusun teratur  persebaran kotinu  arah pertumbuhan (extropion: mukosa ke luar. permukaan. Conjunctiva bulbi  Warna. pola vaskularisasi. deformitas d. Trias melihat dekat: konvergensi (melihat kearah medial). lihat pakai senter  Warna. Kelopak mata: lesi kulit.  Anopsia  lesi N. terus dokter gerakkan tangan secara horizontal (dari lateral ke medial). Tes konfrontasi 2 Bagi 4 kuadran (kanan kiri atas bawah). tutup satu mata (periksa mata kanan pasien  pasien tutup mata kiri.Mata normal mengikuti gerakan objek dari pemeriksa mendekati hidung pasien. simetris. lagopthalmus (nggak bisa nutup: rusaknya N VII). pembengkakan  Sclera: warna. dokter tutup mata kanan). udah membatu hordeolum: keluar discharge kalau dipencet c. Visual eye field a. Cornea Pakai penlight boleh langsung. masa protruding. Lower conjunctiva palpebra Mata lihat ke atas. entropion: ke dalam)  tidak ada discharge  tidak ada deformitas kalazeon: obstruksi kelenjar. permukaan. Upper conjunctiva palpebra Mata lihat ke bawah. deformitas f. penipisan. darken the room a. ptosis (nggak bisa buka mata: rusaknya NIII) Alis (deformitas) Rima palpebra: simetris Arah garis palpebra b. pakai senter harus dari bawah tapi jangan terlalu jauh  Kekeruhan  Bentuk 6 . lihat pakai senter  Warna. akomodasi lensa. miosis (pupil mengecil) 4. pasien disuruh fiksasi pandangannya ke hidung dokter . nggak usah tutup mata. Periksa segmen anterior Duduk sejangkauan tangan. masa protruding. tanda inflamasi. kelopak ditekuk ke atas. Tes konfrontasi 1 Jarak 1 lengan .

Periksa segmen posterior  Jelaskan periksa opthalmoscope. Anterior chamber Antara iris dengan kornea Disenterin dari samping  Dalam/dangkal  Clearness  Darah/pus Normal: iris terang dua2nya Ada sudut iridocorneal: semakin dangkal (iris kayak bulan sabit. Sampaikan hasil a. sesuaikan fokus 7. TIO  bandingin sama tonus lidah yang dijendolin ke pipi 6. Lensa Senter arah depan bawah  kekeruhan j. 3/5 7 . Ukuran  Curve  Pola vascular  Deformitas g. reddish  Lihat cup & disc ratio C/D normalnya 3/10 Peningkatan tekanan intra ocular  serabut saraf pembentuk discus lebih sedikit  ratio meningkat  ¾. ga semua bagian iris kena sorot sinar  pada glaucoma sudut tertutup akut) h. (+)  sesuai (+) Dihitung = plus/minus pasien + plus/minus pasien  Pegang opthalmoscope dengan tangan sama  Lihat dari jarak 30 cm lalu mendekat Warna Yang kita gunakan  warna kuning Red free (hijau atau biru)  untuk lihat perdarahan Biru  untuk fluorescence Bentuk ½  untuk pupil yang kecil Garis2 kotak  ratio cup/disk Besar  biasa Yang 1 garis  lihat ketebalan  Jari telunjuk pada lensa panel. lepas kacamata  Posisi pemeriksa boleh berdiri  Minta pasien lihat jauh  Adjust lensa opthalmoscope (-)  2 (-). normal/orange. Papil N II  Letak papil di arah nasal  Batas papil: tegas/kabur  Warna pucat/yellowish orange. Iris/pupil  Warna + bentuk iris  Pupil simetris  Refleks pupil direct & indirect di-swing senternya di depan mata kanan & kiri i.

Macula Tempatnya fovea centralis. Vaskularisasi Vena lebih besar & lebih gelap Arteri : vena = 2 : 3 ENT 1. pakai garpu tala frekuensi 512 Hz a) Tes Rhine (prinsip: middle ear amplifies the sound) Diletakkan di proc. Jelaskan tujuan. prosedur. tangan buat megang otoscope sesuai dengan telinga (meriksa telinga kanan pake tangan kanan). mastoideus terus didengerin de deket telinga (+) AC > BC: normal/SNHL (-) AC < BC: CHL b) Tes Weber (masking effect) Diletakkan di glabella. ruang semi gelap 3. kuadran anteroinferior Telinga kanan arah jam 5. Otoscope Auricular ditarik ke arah superoposterior. cuma ada sel pigmen & batang. Telinga a. Yang diliat:  Canalis auditoris externus  Perdarahan  Laserasi  Serumen prop  Tanda otomikosis  newspaper-like-appearance  Membran timpani  Intact/perforasi  Cone of light. fiksasi jari di pipi pasien. Duduk face to face oblique. letaknya lebih ke arah temporal Periksa refleks foveal Pasien diminta melihat ke arah cahaya sebentar c. izin / informed consent 2. Palpasi  cari nyeri  Tragus  otitis externa  Helix. telinga kiri arah jam 7  Bulging  vaskularisasi d. adakah lateralisasi? (prinsip: no masking sound that can be heard on normal ear in CHL) Lateralisasi ke arah sakit: CHL Lateralisasi ke arah sehat: SNHL Tengah-tengah: normal c) Tes Schwabach 8 . Inspeksi telinga  UKK  Deformitas  Oedem  Discharge b. posisi memegang seperti memegang ballpoint.Peningkatan takanan intra cranial  discusnya naik  ratio turun  3/11 b. Tes pendengaran. auricula  Mastoid  otitis media c.

palpasi hanya kalo ada indikasi kanker lidah. Speculum Posisi tangan & hidung berlawanan. lanjutin ketok untuk tau ada nyeri ketok sinus  curiga sinusitis. Sebenernya ada test transiluminasi buat ngeliat sinusitis. dorong dinding lateral mulut  Membran buccal: warna & perdarahan  Gusi: warna & perdarahan  Gigi: karies  Rasio gigi gusi 2) Minta julurkan lidah  tes nervus XII 3) Minta pasien “aahh” (lidah ga dijulurin). pemeriksa harus normal BC pasien > dokter: CHL  periksa sebaliknya BC pasien = dokter: N  periksa sebaliknya BC pasien < dokter: SNHL 4. kalo palpasi musti pake glove  ga disuruh di checklist 9 .Di proc.. Jari telunjuk untuk fiksasi. kalo nyeri.  5. Inspeksi  Deformitas  Deviasi septum  Perdarahan/hematom  Rhinorrhea b. ga usah deh yee. Hidung + sinus paranasal Pakai & nyalakan lampu kepala a. tapi karena ga ada di checklist buku. ditutup waktu udah dikeluarin. palpasi sinus frontalis & maxillaries. tahan pakai spatula lidah Palatum molle & uvula terangkat  tonsilla palatina & dinding posterior faring  terlihat kalau ada eksudat 4) Ga usah palpasi lidah. e. tangan yang nggak megang speculum fiksasi kepala di belakang. Bibir  UKK b. Palpasi  Deformitas  Masa abnormal  Pencet 1 lobang idung terus minta pasien napas  apakah ada obstruksi? c. Yang diliat:  Concha nasalis media & inferior  Meatus nasi inferior  Septum lurus/deviasi/perforasi  Mukosa merah  tidak ada epistaksis  tidak ada polip (biasanya warna pucat)  tidak ada lendir berbau atau berwarna d. Speculum dibuka waktu udah di dalam rongga hidung. mastoideus. Buka mulut dengan spatula 1) Masukkan spatula (yang dimasukin ujung besarnya). Tenggorokan a.

N V (trigeminus) mastikasi ketika mengunyah rasakan otot mulut tahan dagu trus suruh buka mulut sensoris wajah: sensasi di N V1 (opthalmicus). N I (olfactorius)  bau2an tembakau. Weber. VII. N V3 (mandibularis) e. N III (occulomotor). N XI Angkat bahu. trapezius 10 .. N VII (facialis) Sensoris: 2/3 lidah untuk perasa Motoris  Tutup mata  Kernyitkan dahi UMN: bisa kernyutkan dahi (stroke) LMN: nggak bisa (Bell’s palsy)  Gembungkan pipi  Bersiul f. dokter nahan m. XII. Bahasa/language 1) Pensil + arloji  ini apa? 2) Tanpa. VI (abduscen)  ocular eye movement N III  refleks pupil (cek parasimpatis) d. dan. VI. Mini mental status examination a. GCS  Glasgow Coma Scale  E (eye:4) V (verbal: 5) M (motor:6)  kalo pasien ga sadar 2. Atensi & kalkulasi 100-7-7-7-. Cranial nerve exam Kalo cuma untuk screening: N II. IV. N IX (glossopharungeus) dan X (vagus) Gag reflex Angkat palatum (bilang “aah”) Minta menelan h. IV (trochlear). Recalling suruh nyebutin 3 objek yang tadi disebutin e. Noting  menyebutkan 3 objek c. kalau <25  disorder. atau. tetapi sebutin dengan intonasi yang datar 3) Ambil kertas. Kalo mau lengkap: a. III. N VIII (vestibulocochlear)  Rhine. Schwabach g. taruh lantai 4) Baca “pejamkan mata” dan lakukan 5) Tulis kalimat SPO 6) Salin gambar Skor maksimal 30. Orientasi 1) Person 2) Moment 3) Place Nanyanya harus sekaligus: Bapak datang sama siapa? Tadi makan apa? Sekarang lagi ditempat apa namanya? b. bila. lipat2. cengkeh. N II (optic)  snellen chart c. dll b. sampai 6x Kata dibalik: MESRA  A-R-S-E-M d. kopi.NEURO EXAM 1. N V2 (maxillaries). missal tumor lobus frontalis & stroke 3.

deltoid. Motor strength Otot yang diperiksa (screening) : M. dorsofleksi. Nyeri Pakai yang tajam atau tumpul. Muscle tone Dinilai bagus atau tidak tonus ototnya Karakteristik lesi UMN:  Spastik  weakness  Reflex fisiologis hiper (liat keterangan dibawah)  Ada reflex patologis Karakteristik lesi LMN:  Flacid  weakness  atrofi otot  Refleks fisiologis hipo  Tidak ada reflex patologis Interpretasi: 0 tidak ada refleks 1 hipo 2 normal 3 hiper tapi masih normal 4 hiper patologis. Taktil Pakai brush. triceps. lutut. medianus. ekstensi lutut. kalo salah satu tangan berputar pronasi sambil tangannya turun  pronator drift + Kalau pronator drift nya +  lesi UMN b. proc styloideus medial lateral. Neuromotoric exam a. m. Suhu Pakai air panas 40 O C dan air dingin 20 O C d. Getaran Pakai 256 Hz. plantar fleksi Otot yang diperiksa (semua) = semua otot ( ada di buku neuro motoric ) 0 : tidak ada gerakan atau tonus 1 : ada tonus 2 : ada gerakan tapi tidak bisa melawan gravitasi 3 : bisa nahan gravitasi namun tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 : bisa menahan pemeriksa tapi lemah 5 : normal. pejam mata. Movement 11 . terasa atau tidak b. epicondylus medial lateral. Pronator drift  suruh ngangkat tangan. Noleh kiri kanan. biceps. posisi supinasi. Sensoris examination a. dipukul di otot juga keluar refleksnya (kan harusnya cuma pas dipukul di tendo aja keluar refleksnya) 5. bisa menahan pemeriksa c. bandingkan kanan-kiri c. maleolus medial lateral e. XII Motoris : julurin lidah UMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sakit LMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sehat 4. dokter nahan di pipi.i. di olecranon. scm N. hitung sampe 10.

Tanda iritasi meningeal a. 2. mekar jari2nya e. cek vestibular. positif = nyeri Periksa vertigo 1. 1 tangan di dada. Babinski  dari bagian lateral plantar sampai ke bawah jempol membentuk huruf J positif = dorsofleksi jempol. tarik dari belakang. biceps. trus kaki coba dilurusin ke atas. lihat nystagmus dalam 20 menit 12 . Triceps  tangan kiri disangga tangan kiri pemeriksa. Positif kalau kaki melangkah mau jatuh. positif = menggenggam b. Tandem gait Jalan dalam 1 garis lurus. tapi kalau ada tahanan dan sakit berarti abnormal (kernig +) b. biceps brachii. Hoffman  yang dipegang jari tengah. di pukul di tendo quadriceps femoris e. Lasegue  untuk memeriksa LBP & n. cari tendo m. Achillles  kakinya bersandar pada kursi. mekar jari2nya (fanning) d. ischiadicus  kaki diluruskan lalu diangkat. disuruh menyebutkan ke atas/ bawah/ kanan/ kiri 6. Untuk BPPV Diagnosis: Dix hallpike  Kepala miring 45o  Terus tiduran dengan posisi kepala nggantung  Lihat ada nystagmus/pusing nggak. tapi dipukul di ototnya (snapping movement) d. mekar jari2nya f. Kernig sign  lutut fleksi. normalnya bisa lurus. Rossolimo pukul bantalan ibu jari.Gerakin jari . tutup mata. positif= dorsofleksi jempol. Gordon  jepit betis. kalau positif = lutut nekuk 2) kontralateral : 1 kaki diangkat difleksikan. dipukul di tendo triceps brachii c. Romberg  cek keseimbangan Matikan ocular dengan tutup mata. Schaeffer  jepit Achilles. Openheim jepit tibia susuri ke bawah ditarik . kaki yang lain ikut naik c. Biceps  tangan kanan memegang tangan kanan. Jatuh ke arah lesi. Refleks fisiologis a. diketuk dialasi jempol (positif kalo supinasi) b. kakinya rapat. positif = menggenggam c. di pukul di tendo Achilles. positif = dorsofleksi jempol. positif = plantarfleksi --> beda sendiri 8. tangan pemeriksa nahan di plantar supaya terasa gerakan dorsofleksinya kalo positif 7. Tromner  yang dipegang jari tengah. mekar jari2nya h. Pasien diminta berdiri. propiosepsi tetap. Patella  lutut dibiarkan menggantung. Refleks patologis a. Chaddock  dari maleolus lateral ke arah kelingking positif = dorsofleksi jempol. Brachioradialis  mirip kaya m. mekar jari2nya g. diketuk dari atas. positif= dorsofleksi jempol. lalu agak difleksikan. Brudzinski 1) neck : 1 tangan ngangkat kepala. diketuk dari bawah.

Treatment: Epley maneuver  lanjutan dix hallpike      Terus noleh ke sisi satunya 90o Badannya putar ikuti arah kepala Bangun Leher fleksi 20o Setelah epley pakai cervical collar  untuk mencegah perpindahan canalith lagi Sermont maneuver  Tidur miring kanan 30 detik  Duduk tegak 30 detik  Tidur miring kiri 30 detik 13 .

erythema nodusum leprosum  Lepra multibacilar : mukosa dan saraf  keluhan : nasal stuffness. Perkenalan diri 2.  Lepra paucibacilar : kulit dan neuro  keluhan : bercak hipopigmentasi. Agravating –relieving : tidak ada v. air dingin 20oC c. hoarseness. Adakah keluhan di saluran nafas?  multibacilar 3. mati rasa. Keluhan Utama : Bercak hipopigmentasi. Air hangat 40o C .Cerebellar ataxic  finger to nose PEMERIKSAAN LEPRA 1. Adakah mati rasa? iii. penebalan saraf  Stadium: TT  BT  BB  BL  LL b. Characteristic : seperti apa lesinya? iv. Onset : masa inkubasi : 2 minggu. apakah ada penebalan saraf? ii. RPS i. anestesi. RPK lingkungan : adakah anggota rumah/ lingkungan yang mengalami hal serupa? Papua. jarum pentul b. RPD : ngga terlalu ngaruh d. Alkohol spray 14 . Pulpen d. Kapas. Siapkan alat a. Anamnesis a.30 tahun ii. maluku e. Treatment : c. Informed consent 4. Location : bercaknya adanya dimana aja iii. Review system : i.

nyeri. 2 : bisa abduksi tapi ga bisa lawan tahanan .Motoris : jempol ke arah hidung. bercak. lalu ditahan. angkat kaki. tangan ventral. Pemeriksaan fisik Pasien kalau laki-laki harus membuka baju dan hanya memakai celana pendek. peroneus komunis  di lateral caput fibula . ada celah atau tidak.5 medial . N. hidung pelana . dan menginspeksi dada. tibialis : sensoris 15 . tangan. N. Tubuh minta pasien untuk meluruskan tangan ke depan.Motoris : jari kelingking abduksi.N. Areanya: jari manis setengah ke medial di telapak tangan. Suhu : dengan air panas/ dingin iii. ada/ tidak nyeri c. perut. area gluteal.Aurikularis magnus  pasien tengok kiri/ kanan diraba ada atau tidak penebalan saraf . hipopigmentasi.Sensorik: pakai pulpen di telapak tangan. ulnaris  tangan kanan dipegang dengan tangan kanan agak difleksikan. ulnaris . vi. dikatakan lagophtalmus kalau > 3mm ii. diberi tahanan ke dalam Nilai : 3: bisa melawan tahanan . Tangan  ada jari kiting atau tidak. Kepala : ada madarosis atau tidak. inspeksi plantar Lihat  ada ulkus. Nyeri : jarum pentul Bandingkan perabaan tumpul atau tajam. hipopigmentasi b. 1: tidak bisa abduksi iii.N. tibialis posterior  jongkok. peroneus komunis : motoris Dorsofleksi kaki. ada pembesaran n. atrofi tenar/ hipotenar iii. Minta pasien untu memutar. Inspeksi i. Fungsi Saraf (sensoris dan motorisnya) i. inspeksi aspek dorsal leher telinga. Sensibilitas Bandingkan antara yang ada bercak dengan yang normal (bukan kanan-kiri) i. lagophtalmus. tangan disilangkan untuk meraba di maleolus medialis d. Perabaan Saraf Yang dicari: Penebalan saraf . punggung. ada infiltrate di cuping telinga/ tidak?. jari2. N. facialis : motorik Periksa dengan memejamkan mata.Sensoris : telapak tangan 3. langsung diraba pake tangan kiri . 1. N.N. 5 lateral . aspek dorsal dari kaki. N. medianus : . atrofi kulit. auricularis magnus (menyilangi SCM) ii. lalu di beri tahanan iv. radialis : motoris Dorsofleksi palmar ( kayak orang naik motor) lalu di tahan v. Cuci tangan 6. cahaya ruangan harus cukup a.5. ii. Perabaan/ taktil : dengan kapas Jelaskan ke ibunya kalau terasa suruh bilang terasa. simetris atau tidak . N.

Pakai masker.d tab 1 8. Bimanual untuk mastiin  Ada tumor nggak di jalan lahir  Ada DKP atau nggak  Ada moulage nggak  Nentuin station 4. sekitar 8 jam 2.1.d.I s. Edukasi a. Sebulan sekali datang control - GYN Baby del. implant. lalu dites dengan pulpen. 1 bulan 1x minum) tiap 1 bulan balik lagi ke dokter. obat minum d depan dokter R/ Clofazimin 50 mg No.. Fase aktif Pembukaan 4-10. tab 1 R/ Clofazimin 300 mg No.Pasien harus mengekspos telapak kaki. papsmear. XXX s.d. tapi pengobatan 6 bulan) R/ Tab Rifampicin 600 mg No. pas di spina ischiadica 16 .5 jam 2. Pengobatan ini memang lama.1.d.1. Leopold Enganged kalau udah di station 0 atau hodge 3. gyn exam.Paucibacillar : 6 bulan (obat Rifampicin diminum depan dokter. Fase laten Pembukaan 0-3 cm. I s. IUD BABY DELIVERY Kala 1 1.d. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. Treatment . ANC. jadi harus taat minum obat b. Periksa urin 2-4 jam 3. karena penularan lewat droplet c. Vital sign Periksa tekanan darah + suhu tiap 4 jam Periksa HR tiap 0. I s. Kecepatan: 1 cm/jam Yang dicatat di partograf 1. XXX s. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. tab 1 Multibacillar : durasi treatment 12 bulan R/ Tab Rifampicin 600 mg No.d. XXX s. 7.

dagu nempel di dada. Kateter nelaton/logam m. lakukan ketika kenceng2 10. saya dokter yang akan membantu kelahiran ibu.Kala 2 1. Gunting jaringan untuk tali pusar i. Periksa perineum rigid/nggak. Cuci tangan. Meja ginekologi d. Lampu ginekologi  nyalakan c. ibu memasuki kala 2. Needle holder. tangan bisa pegangan paha. Ergometrin l. Kepala janin memperlebar outlet vagina 3-4 cm g. Sarung tangan o. dominasi fundus. satu kali 20-40 detik. needle. 3 linen steril  dipake abis pake gloves 1 di bawah buttock ibu. Anamnesis singkat  GPA  Umur kehamilan  ANC teratur? Terakhir kapan?  Ada keluhan selama kehamilan?  Ada riwayat hipertensi. 1 dipegang buat nahan perineum e. Dari partograf RM. ambil napas dalam lewat hidung. Berdiri depan vulva 6. ½ cocher (buat mecahin ketuban kalo belum pecah) f. DJJ tiap 5 menit selama 1 menit  asisten yang ngelakuin (inget: Laenec ga steril) 9. Pakai apron b. DM (makrosomia atau disproporsi kepala panggul) 2. Klem tali pusar j. Menentukan waktu untuk meneran a. Saya memerlukan kerja sama ibu agar proses kelahiran lancar.5% 4. 1 di atas perut ibu. Persiapan alat a. Anus berdilatasi & membuka e. Salam dan perkenalan Selamat sore. Oksitoksin 10 IU & syringe-nya k. simetris b. Silakan lepas bawahan & celana dalam lalu tidur di meja litotomi. Wadah bengkok q. mengejan ke arah perut sekuat mungkin 8. Fetoscope/stetoskop Laennec p. Mohon kerja sama 3. nyebabin effacement serviks. Chlorin 0. Klem lurus h. Jelaskan cara meneran Selama kenceng2. Gunting epis g. pakai sarung tangan 5. Melahirkan kepala 17 . Bagian mukosa anus muncul f. Perineum menegang d. Bloody show 7. tutup mulut. benang untuk jahit epis n. Kontraksi 3-4 kali dalam 10 menit. jarak vagina & anus  episiotomy nggak? Kalau diepis. keluarkan lewat hidung. Pasien ingin meneran c.

Pijat uterus dengan ujung jari kiri. 14. Periksa vasa di pars fetal.11. Tunggu putar paksi luar Setelah putar paksi luar  maneuver biparetal. yang gerak jari2nya aja. Massage fundus uteri Setelah plasenta keluar. lahirkan bahu anterior Ke atas. 13. 12. Tegangan/traksi tali pusar terkendali Cara periksa tali pusar udah lepas atau belum:  Kussner: tali pusar ditarik. suntik ergometrin di vastus lateral kanan agar uterus involusi (jika perlu). posisi kepala bayi lebih rendah Klem 1 4-5 cm dari bayi Klem 2 diurut 2-3 cm dari klem 1. Suntik oksitoksin ke vastus lateral kiri 20. kalo masuk-keluar tali pusat  belum lepas  Strassman: diketuk fundus uteri ibunya  kalo belum lepas. lap muka bayi. menahan perineum untuk menghindari laserasi perineum Tangan kiri tahan kepala bayi di atas supaya nggak defleksi berlebihan Begitu kepala keluar. Tangan kanan dilapisi linen. buang linen Periksa ada lilitan tali pusar atau nggak. kerasa ketukannya di tali pusat  Klein: pas ibu mengejan kalo tali pusatnya keluar.dll) Kasih tahu kondisi bayi & selamat ke ibu Tulis di rekam medis Kala 3 Manajemen Aktif 19. Kalau ada. tangan kanan megang plasenta. IMD (inisiasi menyusui dini  utk bangun hubungan bayi dengan ibu. 15. dilandasi linen steril untuk ngelap badan kecuali telapak tangan. 21. di posterior introitus vagina. kalau ada yang putus mungkin itu vasa untuk plasenta lain. 18 . kita tekan di simfisis pubis. sampai pundak Delivery bahu Ke bawah. Bersihkan kotiledon dengan kasa hidrofilik. Terus potong Klem 1 di bayi ganti klem disposable (klem tali pusat yang warna biru) Bayi letakkan pada dada ibu. 17. Periksa kotiledon di pars maternal (20-30 kotiledon). 18. imunitas. Jempol tetep di fundus agak bawah. 16. pegang kepala. trus udah selese ngejan masuk lagi  belum lepas Ciri udah lepas:  perubahan bentuk & tinggi uterus (dari globuler jadi pear & naik)  tanda ahfeld (tali pusar memanjang)  ada semburan darah mendadak Tangan kiri tekan daerah fundus dorsokranial. leher. lahirkan bahu posterior Delivery sisa badan Baringkan di atas perut ibu. diklem terus dipotong. Plasentanya ditarik ke bawah terus ke atas pake klem yang udah dipindahin ke introitus vagina Diputar pas udah mau keluar. Bapaknya bisa bantu stimulasi puting susu.

Anamnesis a. Jelaskan prosedur. Umur kehamilan (HPM terakhir) c. Penyakit yang pernah dialami (DM. terasa tidak nyaman tapi tidak berbahaya bagi ibu dan janin ibu. face. bilas. tahun +1 Perkiraan lahir 40 minggu Prosedur: 22. breech. Saya perlu meraba2. Berdiri di kanan. ada tanda2 seperti bloody show dll atau nggak? 24. Salam dan perkenalan 23. presentasi muka  dagu. Kalau udah deket2 HPL. Informed consent 26. GPA b. ANC teratur? Kapan terakhir ANC? d. bulan -3. hipertensi) f. breech precentation  sacrum Leopold baru bisa mulai 28 minggu 19 . brow). Ga pake glove. minta ibu menekuk kaki. tujuan. transvers. oblique Presentasi: chepalic (vertex. Cuci tangan: pake sabun. concaf Posisi: nentuin di kanan atau kiri Posisi yang sering  PUKI (punggung kiri) Denominator: Presentasi Vertex  UUK. edem/makin bengkak) e. dan hasil yang diharapkan Saya akan melakukan pemeriksaan pada janin ibu. Minta ibu tiduran di atas meja periksa. Minta ibu berkemih dahulu. Obat yang pernah diminum selama kehamilan g. menghadap lateral Situs/Lie: longitudinal. baju bagian perut disingkapkan & tutup bagian tubuh bawah dengan selimut.ANTENATAL CARE Jadwal rutin ANC 1-28 minggu 28-36 minggu 36-40 minggu >40 minggu 1 x/bulan 2 x/bulan 1 x/minggu >1 x/minggu Gestational age Embryonal age = 2 minggu setelah gestational age HPL dihitung dari HPM terakhir  tanggal +7. shoulder Attitude: conveks (melengkung). 28. handukan atau pake alcohol. 27. 25. Keluhan kehamilan (sakit punggung karena perut tambah besar.

30. 5 detik berhenti. 32. 5 detik itung  jumlah terus kali 4 Nentuin posisi ndengerin FHR  Kalau presentasi bokong  di atas umbilicus Kiri/kanan tergantung posisi punggung fetus  Kalau presentasi kepala  di bawah umbilicus Presentasi cephalic wajah: di dada Presentasi cephalic vertex: di punggung 39. elongated Limb: small. Mengukur fundal height berapa jari dari proc. Fetal Heart Rate FHR bisa didengar setelah 18 minggu. tekuk meteran & lihat cm-nya berapa. Lakukan deep pressure di pelvic inlet Di mana cephalic prominence? Presentasi vertex: cephalic prominence sejajar limb (small part) Presentasi wajah: cephalic prominence sejajar punggung (flat & elongated) 37. Berdiri di kanan pasien. bukan pulsasi ibu. multiple Leopold 3 33. xyphoideus/umbilicus Taruh sisi lateral jari telunjuk kiri pada bagian atas fundus uteri untuk menentukan ketinggian. telapak tangan kanan kita diletakkan pada perut lateral kiri ibu. normal 120-160 x/menit. Divergen: enganged Convergen: unenganged 38. Sambil pegang arteri ibu untuk memastikan yang didengar FHR. Pegang di bagian agak atas simfisis pubis dengan tangan kanan. Bagian fetal di fundus bulat keras kepala bulat lunak buttock kosong posisi transversa Leopold 2 31. Fundal height pakai meteran  estimasi umur gestational & berat Hitung dari simfisis pubis ke fundus tapi yang centimeter-nya dibalik biar nggak bias. Telapak tangan kiri kita diletakkan pada perut lateral kanan ibu. 5 detik berhenti. Finger di segmen bawah rahim 36. Hitung: selama 25 detik. 5 detik itung. caranya 5 detik itung. memastikan leopold 1 (bisa pula digoyangkan utk skrining udah masuk panggul apa belum) Leopold 4 34. 20 . Turunin tangan gantian kanan kiri Punggung: flat. soft. Sampai di fundus.Leopold 1 29. Dengan monoaural fetoscope. posisi ganti jadi menghadap kaki ibu 35. hard.

Identitas: nama. RPD: sudah pernah? e. Keluhan utama Cairan vagina: sejak kapan.9% ada yang motil  Kandidiasis Kental. konsistensi). Cuci tangan: sabun. terutama pada pagi hari. bau. & nyeri c. Penjelasan ke ibu a. Estimasi kelahiran f. bilas. gatal. discharge berbusa & hijau. kuantitas. dilihat pakai KOH 10 % ada pseudohifa 21 . pakai Gram ketemu clue cell Nanti di-bau-in dulu setelah lici kapas diusap ke vagina. Kapan kontrol lagi 42. Greeting & perkenalan diri 2. DJJ normal/nggak c. Pengukuran umur kehamilan d. jenis kelamin. ciri baunya amis kayak ikan. Keluhan lain DD discharge vagina  Cervicitis GO: keluar seperti nanah. RPK: ada yang punya keluhan sama? f. frekuensi. Posisi bayi b. Anamnesis ginekologis a.leukosit PMN >30  Vaginosis bakterial Gadnerella vaginalis (Gram negatif)  rangsang kuman aerob di situ  pH jadi basa (>4. vaginalis.Tinggi fundus x 8 : 7 (dalam minggu) Kalau udah enganged. Estimasi berat janin e. dan handuk 41.( tinggi fundus -12) x 155 gram 40. umur b. Catat di medical record Tambahan: <20 bulan 20-<37 bulan 37-42 bulan >42 bulan Umur gestational Fetal weight aborsi preterm aterm postterm GYN EXAM (kasus IMS) 1. leukosit PMN >30 Non GO: DGNI (-).5). terus periksa pH pakai kertas lakmus  Trikomoniasis Oleh T. karakteristik (warna. DGNI (+) seperti biji kopi di intraselular. (tinggi fundus -11) x 155 gram Kalau belum enganged. seperti susu basi. RPS 1) Status: menikah atau belum 2) Riwayat ginekologis: GPA 3) Riwayat menstruasi: siklus dan mens terakhir? 4) Pakai kontrasepsi d. dilihat pakai NaCl 0.

13. 1 yang berlubang di area vulva Melakukan kateterisasi (kalau belum berkemih). 12. 3 Lidi + kapas j. Basin Cuci tangan & menggunakan sarung tangan secara aseptik Duduk di depan area genital Membersihkan vulva Pakai peyan dengan arah meminta untuk permudah visualisasi Kasa 1: dari depan turun. 4 slide.3. 15. & berhenti Meletakkan duk steril : 1 di bawah pantat. perlu dilakukan pemeriksaan alat kelamin. kegunaan:  Dinding vagina: a) Kandidiasis  KOH b) Vaginosis bakteri  Gram  Ostium uteri eksterna: Cervicitis  Gram  Fornix posterior Trichomoniasis  langsung di bawah mikroskop karena udah ada NaCl i. Speculum graves. Tampontang/klem pean. Mangkok isi betadine/antiseptic Toilet vulva dalam f. Silakan bila ingin BAK 6. minimal siapkan 2 ukuran b. bentuk lingkaran. dari kanan medial sampai paha medial. 14. Memposisikan & menyalakan lampu 9. Lisol.5% chlorine untuk desinfeksi tingkat tinggi m. Meminta pasien buka celana dalam. Klem ovarium g. masuk anus yang terakhir. masuk & berhenti Kasa 2: pelangi 3x. 11. . masukkan 3-4 cm kemudian diputar Inspeksi vulva dan area sekitar  Mons pubis persebaran rambut  Labia majora lesi pigmentasi pembesaran glandula  Labia minora peradangan 22 10. Pakai apron. Mangkok isi NaCl 95% k. mengecek peralatan: a. Perineum di tepi meja periksa Pemeriksaan in speculo 8. tidur pada posisi lithotomy 7. 4. Tujuan  sedikit tidak nyaman tetapi tidak membahayakan 5. kalau bukan IMS Periksa IMS h. Informed consent & alasan2 Dari hasil anamnesis. Duk steril Toilet vulva luar d. untuk membersihkan e. Sarung tangan l. Air hangat c. 0.

nyeri  herpes genitalis 16. Laporkan a. putar 90o: adakah fistula. telunjuk di atas. Jari ketiga menekan ke posterior vagina lalu masuk bersama telunjuk hingga posterior fornix 27. Inspeksi a. Tangan kanan di depan vulva & tangan kiri di regio suprapubis Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari tengah & telunjuk tangan kanan Ibu diminta tarik napas 25. dasarnya bersih. atau tidak  OUE terlihat atau tidak. jari lain fleksi 26. dilatasi. jari tengah di bawah  Kalau udah masuk 2/3. kalau ada diambil  Ada tidaknya OUE Palpasi  Cysta bartholini Ulcus batas tegas. perdarahan pada dinding vagina bagian anterior posterior Kalau IMS. Pisahkan labia major dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri Jempol & jari tengah ekstensi. tepi meninggi. Vulva 23   .5% chlorine Bimanual examination 23. tumor. Unlock & remove speculum 22. dilatasi atau tidak  Warna  Perdarahan  Inflamasi  Discharge  Tanda2 carcinoma  Tanda Chadwick: cervix kebiruan karena dilatasi vena saat hamil  Adakah benang IUD 20. Pilih speculum yang tepat & screw-nya. Cerviks  Mencucu. 21. dirotasi 90%. nyeri  chancroid Multiple. Kunci & bersihkan dinding vagina & cerviks (toilet vulva dalam) 19. terus buka pelan2  Dikunci setelah sampai portio 18.Clitoris Introitus discharge. Melubrikasi tangan 24. kalau belum pernah coitus jangan speculum 17. Sedikit kendorin. dasarnya tidak bersih. Masukkan ke larutan 0. nggah usah diputar. Beri lubrikan dan masukkan  Minta pasien tarik napas  Tangan kiri di atas mons pubis dengan jempol dan telunjuk membuka labia minora  Tangan kanan memegang speculo. ada massa vesikel. Speculum tetap dipegang waktu periksa lidi kapas. jempol menahan. Dinding vagina  Licin  Perdarahan  Discharge  inflamasi  Tumor b. Berdiri. tidak nyeri  sifilis Ulcus bentuk tidak rapi.

Linen berlubang f. tangan bersarung tangan kobok2 di basin chlorine Lepas sarung tangan. 30. durasi 3 hari Trichomoniasis: metronidazol 2 gram dosis tunggal Vaginosis bakterial: metronidazol 500 mg selama 7 hari Cervicitis: GO: cefixime 400 mg single dose oral atau ceftriaxone 200mg IM Non GO: doxycicline 2 kali dosis 100 mg selama 7 hari atau tetracycline PAP SMEAR Dilakukan pada saat telah melakukan hubungan seksual <30 tahun 1 kali per tahun >30 tahun pertama-tama per tahun. ber-rugae  Tumor. Alat a. meminta pasien bangun dari meja ginekologis Matikan lampu Menyampaikan hasil Treatment:        Sifilis: IM dosis tunggal benzadil penilicillin 2.4 juta IU Cancroid: azythromycin 1 gram oral dosis tunggal (H. Meja & kursi periksa c.ducreyi. Pakai apron b. Glove e. Cerviks  Cysta  OUE  Konsistensi cerviks d. tuba fallopi. Speculum grave g. Lampu ginekologi d. 31. Adnexa (ovarium. Parametrium f. 29. Vagina  Dinding licin.5% Sebelum dilepas. ligamentum)  periksa ke arah fornix lateral  kaku atau tidak Masukkan semua alat ke larutan chlorine 0. Endocervix brush/ayre spatula h. berarti nggak usah dilanjutin. tapi kalau 3 kali berturut-turut negatif. 43. b.28. Uterus  Posisi (ante/retro)  Ukuran  Mobile ( naik turun. cuci tangan. rel kereta/ikan yang berderet) Herpes genitalis: acyclovir 5 x 200 mg selama 5-10 hari Kandidiasis: mikonazol 200 mg/hari suppositoria vaginal. 2 labelled object glass Untuk pemeriksaan 24 . 3 kali berturut-turut pada pemeriksaan sebelumnya negatif. & isi (padat/cair)  Bila berdenyut  hernia c. konsistensi. kanan kiri) e. cukup 3 tahun sekali >70 tahun jika dalam waktu 10 tahun terakhir.

obati dulu 53. jangan menyentuh sekitar 56. Larutan etanol 90% yang sudah diberi label Surat rujukan Jelaskan tujuan & prosedur Anamnesis singkat a. 47. a. Kapan follow-up: kalau udah ada hasilnya IMPLANT 25 . lepas gloves Cuci tangan dengan air mengalir Handuk 62. Cuci tangan & pakai gloves 51. berhenti. Surat rujukan ke PA 65. High risk bila <18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual. Dekontaminasi dalam larutan chlorine 0. Melepas underwear Minta pasien untuk berbaring dengan posisi litothomi Posisikan pasien & nyalakan lampu ginekologis Prosedur 50. Terlihat serviks. inspeksi area vulva perineum & meatus urethra Laporkan: lesi. 48. obati dulu 12 minggu. baru pap smear) d. Tanyakan pertama kali hubungan seks b. In speculo exam. 46. 45. masa fragil. Katakan telah selesai Post-action Management 60. masa. & kondisi abnormal lain 54. Finding & next action: nanti hasil PA bisa nunjukkan adanya gangguan pertumbuhan 64. 49. jumlah pasangan >1 hari c. diskolorasi 52. Tidak melakukan sexual intercourse & irigasi vagina dalam 3 hari terakhir Sampaikan kalau sedikit nyeri Informed consent Minta pasien a. bisa ambil endocerviks dan ectoserviks 55. Waktu ngeluarin.44.5% dan ke tempat sampah 61. bleeding. Endocervical brush putar 360o Spatula ayre putar 180o. speculum bisa dikasih air hangat tapi jangan lubrikan Kalau ada cervicitis. Duduk depan area genital Toilet vulva luar. Keluarkan spekulum 59. pakai duk berlubang Cek area genital. Tanda2 cervicitis (kalau ada. Rendam tangan berlapis gloves di larutan chlorine 0. Semua dismear endocervical brush  ratakan di slide dengan diputar spatula ayre  ratakan bagian eksoserviks di slide dengan diusap 2 kali di tempat yang berbeda 57. Fiksasi dengan dicelup alcohol 90% 58. forniks. drainasi. & dinding vagina Laporkan discharge. Matikan lampu Counseling 63.5%. Urinasi & cuci perineum sebelum pemeriksaan b. erosi.

KB penjarangan: Short term (+) implant: tidak mengganggu hubungan seksual (-) implant: gangguan hormonal tapi tidak separah oral. breast malignancy. efek samping jadi gemuk (-) kondom & diafragma: kurang manjur Long term (+) IUD: dominan progesteron  mempertebal mucuos. anomaly in heart coronary vessel. icterus. Riwayat penyakit Breast cancer? Hipertensi. minta pasien berbaring. prosedur Mekanisme kerja implant: menebalkan cervical mucous & mengganggu siklus menstruasi 4. Tujuan. tangannya yang non dominan di abduksi & ekspose bagian volar tangannya 6. bisa peradangan panggul KB penghentian: tubectomy 3. harus rajin minum. GPA? (implant nggak boleh kalau lagi hamil) d. Udah menikah? b. IUD bisa untuk 5-10 tahun & implant bisa tahan 6 tahun.1. Nyalakan lampu ginekologis Alat:  Handuk  Glove  Cocher  Kasa  Mangkok isi betadin  Linen steril berlubang  Syringe  Lidocain 1% 3-5 ml tanpa efinefrin  Scalpel + pegangan  Trocar/inserter 26 . Kapan terakhir mens? Waktu yg tepat: during menstrual period hingga 5-7 setelah menstruasi e. mata/kulit kuning? Masalah blood clot pada kaki dan paru? Kontraindikasi: suspected pregnancy. Informed consent 5. Durasi KB? g. Cuci tangan. abnormal uterus bleeding. thromboembolic. headache kronis? Severe sirosis hepar. brain vascular disease. nggak berefek hormonal (-) IUD: sensasi nggak nyaman saat coitus. Udah berhubungan seksual? Kapan terakhir berhubungan seksual? c. Salam & perkenalan diri 2. acute liver disease. Menyusui bayi <6 minggu? (implant boleh 6 minggu setelah child birth) h. Anamnesis a. estetika jelek (-) oral: murah. gangguan hormonal. infeksi hepar. tumor hepar. Vaginal bleeding? f.

Anamnesis a. 14. makanya pasang pas akhir menstruasi  Sedang menderita STD  Vaginal bleeding 27 . keluarkan plunger.5% selama 10 menit Rendam & lepas gloves Cuci tangan & isi medical record Edukasi  Jaga tetap kering lukanya selama 4 hari  Lepas bandage setelah 2 hari  Mungkin akan nyeri. Tujuan d. Lakukan hal yang sama utk tiap implant. 19. 11. 16. Di trocar ada glaur (bagian datar yang tulisannya “10”) buat nandain bevel ada di atas Ada tanda 1 & 2  Pendorong/plunger  Implant  Klem mini Kalau mau. lalu pasang linen berlubang Injeksi anestesi lokal Anestesi 1 cc di tengah. aspirasi dulu. Jarak tiap implant/silastik 15o Palpasi Remove linen Wiping dengan alcohol. 45-60o Scalpel 2 mm tegak lurus Masukkan trocar (30o) & plunger ke subcutan dengan posisi Glaur tetap di atas hingga tanda 1 (deket kita). ke mana utk lepas IUD 1. 15. 17. Identitas b. 12. 10. gambar pakai ballpoint. kapan (bulan & tahun) lepas. 18. & memar  Jangan angkat benda berat dulu  Jangan hubungan seks dalam 12 jam pertama  Coitus sebelum 3 bulan pakai kontrasepsi lain  Kontrol 5-7 hari atau lebih cepat kalau ada tanda2 infeksi  Kasih tau tipe implant. isi capsul dg implant. Salam & perkenalan diri 2. 8. 1 cc di kanan. tahan dengan plunger ketika trocar ditarik sampai tanda 2 (deket jarum).7. Indikasi  Menunda kehamilan long term  Untuk ibu menyusui  Ibu yang nggak mau KB hormonal  Risiko STD rendah  Ibu yang berhasil dengan IUD sebelumnya e. arah kipas ke atas Cuci tangan & pakai sarung tangan Preparasi area dengan betadin 3x dari sentral ke perifer. tanggal insersi. Kontraindikasi  Hamil. 1 cc di kiri Subcutan. 13. bengkak. 9. Riwayat GPA c. pasang bandages Rendam alat2 di basin berisi chlorine 0.

Lampu ginekologis Ibu diposisikan litotomi Minta ibu buka celana Nyalakan lampu ginek Cuci tangan pakai desinfektan. Glove c. Povidone iodine f. 7. 13. 11.3. 8. ga usah preparasi vulva sama masang linen lagi Pilih speculum Speculum dimasukkan ke uterus Bersihkan vagina dengan klem ovary. samarkan perdarahan Informed consent Berkemih dahulu Siapkan alat a. 6. 21. 23. Tenaculum untuk fiksasi jam 1 & 11 k. 20. cervix lunak. 14. 9. 18. Peyan d. Riwayat menstruasi Hari2 terakhir karena exclude kehamilan. 19. 16. Duk berlubang g.5% o. Kasa e. sebelumnya kobok2 di basin chlorin Masukkan lengan IUD ke dalam inserternya tanpa glove sampai IUD nekuk. Speculum h.  Discharge purulent  Keganasan ginek f. Klem ovari i. IUD set l. Gunting panjang untuk potong benang m. Klem buaya n. Handuk b. 17. 10. Basin berisi chlorin 0. 5. Sonde uteri j. diidentifikasi dari discharge cerviks atau darah di sonde Arah kelengkungan sonde bergantung pada arah uterus Tanda biru sesuai kedalaman uterus menurut sonde 28 . 4. 15. jangan dimasukkan lebih dari 5 menit Pakai sarung tangan yang baru Lakukan preparasi vulva & struktur sekitar pakai peyan & kasa betadin Tutup dengan linen steril  tapi kalo tadi linennya ga dicabut. 12. 22. gunakan glove dengan metode open Toilet vulva luar In speculo sama seperti gyn exam untuk role out kontraindikasi Periksa bimanual untuk exclude peradangan Lepas sarung tangan. melingkar dari dalam keluar 3x dengan kasa + betadin atau dengan lisol supaya nggak bercak/mengganggu visualisasi Jepit tenaculum di bibir cervix di jam 11 & 1 atau 12 saja Sondekedalaman uterus.

Ibu dipersilahkan pakai celana lagi 36. Cuci sarung tangan di basin chlorin. Edukasi  Bisa dilepas & fertile lagi  Keluar bercak selama 3 hari pertama  Tidak hubungan seksual selama 3 hari pertama  pertinggi kemungkinan cervicitis  Perubahan silklus mens setelah 3 bulan pertama  Pakai kontrasepsi lain pada 3 bulan pertama  Kontrol saat haid berikutnya  Kontrol lagi bila benang teraba  Kontrol rutin tiap 1 tahun Efek samping:  Bleeding  Leucorrhea  Nyeri dan terasa saat hubungan seks BEDAH  Simple Suturing. Sisipkan benang dengan klem buaya di fornix posterior 31. Bedah Tumor SIMPLE SUTURING  Anamnesis/riwayat medis  Umur. Tulis laporan di rekam medis 37. tandai sesuai kedalaman uterus (dilihat dari discharge cerviks atau darah di sonde) 25. di-dep dengan kasa pakai klem ovarium 33. Taruh sonde di samping inserter. lepas sarung tangan 34. pekerjaan  Onset Perawatan luka tertutup < 8 jam Perawatan luka terbuka > 8 jam  Durasi  Rasa nyeri  Pernah suntik tetanus? 1. apa yang akan dilakukan & mengapa Ini harus dijahit untuk mencegah infeksi & mempercepat penyembuhan. Inserter juga dikeluarin sebagian sambil diputar2 supaya benangnya meluntir 28.24. dari samping 29. ras. Sirkumsisi. Potong benang pakai gunting benang. 2. agak nyeri. Plunger dikeluarin 27. Masukkan dengan metode push plunger atau pull inserter 26. Matikan lampu 35. Inserter dikeluarin 30. Indikasi. Prosedur & risiko Nanti akan dijahit. Lepas tenaculum 32. jenis kelamin. tetapi akan diberi obat anestesi dulu 29 . Kalau ada perdarahan.

Pastikan air nyala 2. Sabun 3. mask 6. Posisikan pasien 5. Sikat tangan steril. Pembersih kuku 4. google. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown                   Cocher Kasa steril Comb Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis NaCl Perhidrol H2O2 Needle holder Cutting needle 4/8 Benang non absorbable 3/0 Gunting benang Klem hemostatis Kassa softratul di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine.Risiko: ada bekas luka. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Persiapan alat: Untuk hand washing 1. alkohol. Pakai baju bersih. sekalian dibuka 30 . agak sedikit nyeri 3. cap. Informed consent 4.

Siapkan sikat steril. tangan kanan bersihkan luka pakai kasa yang dipegang pakai cocher. Membuka bungkus sikat steril 9. . Buang e. Bilas d. Buka kran dengan siku b. Buang pembersih kuku 10. 11. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis Bersihkan luka dengan NaCl. dan sabun antiseptik cair c. Initial washing a. ulnar. kalau nggak ada darah. tangan Palmar. 9. Pakai sarung tangan closed method Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai povidone iodine 3x dari sental ke perifer di sekeliling luka. Pakai d. Tutup kran dengan siku 11. Bersihkan kuku f. Persiapan a. Pakai gown a. Handukan a. 10. dorsal. Masuk ke ruang operasi 12. Anestesi subcutan Ambil jaringan lemak dengan tangan kiri. Sabun taruh di sikat b. Injeksi dengan tangan kanan sudut 45o. radial. Cek air b. Tangan diangkat e. Buang handuk 13. Initial washing & liquid soap c. Tangan kiri bawa mangkok berisi NaCl. Keringkan tangan satu-satu c. Tutup/ikat 14. Transfer sikat. Bilas f.Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 8. Pakai gaun raba dalam b. Tuang NaCl. pembersih kuku. interdigiti. grojog. pegang di tampat sama d. Scrub a. kuku c. Luka di-tul-tul dengan perhidrol untuk bunuh bakteri anaerob 31 7. Ambil & bagi handuk b. Terus tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). suntikkan anestesi. Aspirasi. Raba kerah c. Scrub. 8.

12. Bersihkan lagi pakai NaCl, grojog. 13. Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting 14. Tangan kiri pegang pinset chirurgis (pegang kulit) & pinset anatomis (jemput jarum) 15. Masukkan benang ke kulit dengan posisi tegak lurus, lengan abduksi, posisi pronasi 16. Jumlah jahitan 2p, dengan p adalah panjang luka. Jarak jahitan pertama dari ujung luka = 0.25 cm Jarak tiap jahitan = 0.5 cm 17. Kalau ada perdarahan  di-dep  diklem  dijahit banting 18. Pakai sofratul, terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester, bentuk bingkai 19. Edukasi pasien (daily plan, medicamentosa, specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa), lepas jahitan 1 minggu (selain muka) atau 4-5 hari (muka)  Kenali tanda2 infeksi (gatal, keluar pus)  Tidak boleh kotor, tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral)  <5 tahun sebelumnya pernah suntik ATS  nggak usah suntik lagi, >5 tahun sebelumnya belum suntik ATS  nggak usah suntik lagi R/ Tab. As. Mef. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Amox. 500 mg No XV S q8h

SIRKUMSISI 1. Salam, perkenalan. 2. Indikasi medis a. phymosis (preputium ga bisa ditarik ke proksimal) b. paraphymosis (preputium ga bisa dibalikin setelah ditarik) c. balanitis (radang pada glans penis) d. balanopostitis (radang pada glans dan preputium/kulit kulup) e. mencegah infeksi dan penyebarannya Indikasi non-medis: agama 3. Kontraindikasi a. hipospadia (arah pipis di bawah/bagian ventral) b. epispadia (arah pipis di atas/bagian dorsal) c. chordee (penis bengkok) d. webbed penis (ada jaringan yg menghubungkan skrotum dengan bagian dorsal penis) e. mikro penis (<2,5 SD) f. hemostasis abnormality (ada gangguan pendarahan) 4. Jelasin prosedur dan informed consent (ke anak dan orang tuanya). 5. Anaknya yg mau disirkumsisi disuruh pipis dulu. 32

6. Persiapan alat korentang untuk proteksi a. handuk b. gloves untuk disinfeksi a. cocher b. kassa steril c. mangkok berisi povidon iodine d. duk steril e. klem duk anestesi a. spet berisi lidocain 2% tanpa epinephrine (kalo epi bisa nekrosis) 2 ampul b. pinset cirurgis c. pinset anatomis untuk gunting preputium d. mosquito klem e. klem lurus 3 buah f. gunting jaringan jahit a. benang cat gut 3/0 b. benang cat gut 2/0 c. jarum 4/8 d. klem vasa e. sofratul f. kasa g. plester 7. Posisikan pasien supinasi, minta buka celananya. 8. Ganti baju bersih, lepaskan aksesoris di tangan. 9. Prosedur cuci tangan aspetik. 10. Keringkan, pasang gloves. 11. Lakukan prosedur antiseptik pada pasien. Dengan menggunakan cocher, kassa + povidon iodine  bersihkan mulai dari ujung penis sampai ke pangkal – suprapubik – medial paha. 12. Tutup dengan linen steril berlubang. 13. Anastesi (block). Menembus fascia Buck.  Spet berisi lidocaine diinjeksi di bagian proksimal penis. Masukkan 90 derajat di fascia Buck.  Aspirasi. Injeksi 1 cc.  Miring 30 derajat kanan. Aspirasi lagi. Injeksi 1-2 cc.  Miring 30 derajat kiri. Aspirasi. Injeksi 1-2 cc  Ciri udah masuk fascia Buck a. sensasi menembus kertas b. kalau diangkat ikut naik c. kalau diinjeksi ga ada indurasi 14. Tunggu 1-2 menit. Tes efek anastesi dengan dicubit preputiumnya. 33

15. Pisahkan preputium dari glans.  Tangan kiri menarik preputium, tangan kanan megang kassa + povidon iodine memisahkan preputium, atau  Klem teknik: menggunakan mosquito klem. 16. Bersihkan smegma. Preputium ditarik ke belakang, bersihkan smegma dengan kassa + povidon iodine. Bersihkan dari distal ke proksimal. 17. Tandain daerah insisi: pake pinset cirurgis, 2-4 mm proksimal dari sulcus coronaries, melingkar searah jarum jam (3-4 titik cukup). 18. Klem preputium di arah jam 11 – 1 - 6  ditarik ke distal  jahit di arah jam 12 (jahitan control) jahitan di klem mosquito, lengkungan mosquito menghadap ke atas (benang 3/0) 19. Jahit frenulum diarah jam 6  figure of eight, (benang 2/0) 20. Potong preputium searah garis marking, ke arah kanan-kiri, sampai frenulumnya terpapar, potong di sepanjang sulcus coronarius (sebenernya potong kulitnya baru mukosanya). 21. Rapihkan guntingannya, lakukan bleeding control. 22. Kalau ada bleeding di depth  kalau ga bisa  klem dg klem vasa  jahit 23. Lakukan additional hecting di 10-2-4-8, jahitan seperti jahitan control (benang 3/0) 24. Dicek apakah ada bleeding 25. Pasang sofkratul mengeliling  kassa sirkular (pake plester dikit aja)  lepas duk  gamma bandage (pake kassa lalu direkatkan ke kulit dengan plester) 26. Edukasi a. Jangan basah b. Kurangi aktifitas, kurangi makanan mengandung protein c. Ganti perbannya, control 2-3 hari setelahnya d. Antibiotik (amoxicillin 500 mg s.3.d.d.1) & antinyeri (Paracetamol 500mg s.p.r.n 3.d.d.1)

BEDAH TUMOR Sepertinya nggak pake anamnesis & Px, tapi gapapa-lah biar tau…  Anamnesis/riwayat medis  Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan  Durasi  Onset  Progresi (pembesaran yang cepat + nyeri  inflamasi; pembesaran progresif  malignansi)  Rasa nyeri  Pemeriksaan fisik/lokal  Inspeksi  Lokasi  Jumlah: single, multiple  Ukuran & bentuk: spherical, ovoid pyriform, irregular  Permukaan: lobulasi (lipoma), kasar & irregular (verucca)  Tepi: tajam, round, regular/iregular  Warna  Pulsasi yang tampak Lipoma: lokasi, single/multiple, massa berbentuk discoid, permukaan lobulasi, tepi reguler, warna seperti warna kulit, tidak tampak pulsasi.

34

papula terkadang ada celah pada permukaannya. Prosedur & risiko Akan dibuat irisan.. benjolan diambil. single/multiple. bentuk. Verucca: teraba kenyal pada kulit atau keras pada telapak tangan/kaki. dan umumnya tidak nyeri. masa akan tampak lebih jelas. Informed consent 23. Verucca: lokasi. tidak tampak pulsasi. batas tegas. ada yang bentuk bunga kol. ini namanya lipoma/verucca. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown            Cocher Kasa steril Comb Alkohol Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis Surgical blade ukuran 10 35 . Risiko: ada bekas luka. pak/bu. & tepinya  Konsistensi: soft/lunak (lipoma)  Fluktuasi  Transluminasi  Adanya pulsasi  Mobilitas dari benjolan Lipoma: berlobus & semikistik. permukaan. Indikasi.  Indikasi: efek tekanan. apa yang akan dilakukan & mengapa  Ada benjolan. & umumnya tidak nyeri. agak sedikit nyeri 22. berwarna merah atau coklat. ukuran. diameter 1-10 mm. tidak ada fluktuasi. berbatas tegas. Posisikan pasien 24. kosmetik  Akan dilakukan pengangkatan tumor 21. Pakai baju bersih 25. Palpasi  Temperatur/suhu  Rasa nyeri  Konfirmasi lokasi. mobile. 20. Pada pencubitan kulit. lalu dijahit.

Bilas j. Persiapan d.. Pembersih kuku 8. Pastikan air nyala 6. Scrub g. Buang pembersih kuku 17. Sabun taruh di sikat 36 . Buka kran dengan siku h. alkohol. Persiapan alat: Untuk hand washing 5. pembersih kuku. Initial washing & liquid soap i. Kalau ada bagian meja yang kebuka.         Scalpel/handle ukuran 3 atau 4 Tissue retraktor Gunting lengkung Klem mosquito Forsep jaringan (Allis) Needle holder Round & cutting needle Catgut 3/0 & benang nilon Gunting benang di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. sekalian dibuka Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 15. Membuka bungkus sikat steril 16. dan sabun antiseptik cair f. Kalau taplaknya nempel sama benda lain. Siapkan sikat steril. biarin aja. Cek air e. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Pastikan taplak oke. minta ganti taplak aja. Sabun 7. Initial washing g. Tangan diangkat k. Geser meja pake kaki. Bersihkan kuku l. Sikat tangan steril.

Masukin retraktor (pertama satu arah. Transfer sikat. 2. interdigiti. Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai alkohol 3x dari sental ke perifer. kuku i. Buang handuk 20. ke 4 arah. ke 4 arah Verucca: irisan 3:1  anestesi intracutan. Ambil & bagi handuk e. pegang di tampat sama j. megang kulit verucca pakai pinset chirurgis 5. Insisi linier sedikit lebih kecil dari diameter tumor (lipoma) atau 3:1 untuk hindari ear dog (verucca).h. sampai indurasi. tangan kanan megang clamp. Pakai gaun raba dalam f. tunggu kering. Aksis irisan sesuai garis kulit 31. 2 jari kiri fiksasi kulit 7. 27. Masuk ke ruang operasi 19. tangan Palmar. Tutup/ikat 21. Pegang pisau seperti pegang pensil 4. Tekan dg kassa buat ngurangi darah habis insisi 8. sampai indurasi. Buang k. ulnar. Pakai sarung tangan closed method 26. Keringkan tangan satu-satu f. Pasang benang terserap/catgut pada jarum round 37 . Anestesi infiltrasi Lipoma: irisan linier  anestesi intracutan. Handukan d. Irisan kulit 1. Pisau nomer 10. Diseksi (lipoma only)  Diseksi tumpul: klem mosquito  Diseksi tajam: gunting jaringan yang lengkung  Telusuri kapsul lipoma Klo veruca  diseksi tajam: pake blade 32. pake clamp/needle holder. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis 29. Tangan kiri megang pegangan blade. tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). dorsal. Scrub. ligasi (yang klemnya dibanting) 9. 15-30 derajat. Ikuti garis Langer 6. Pakai gown e. Pakai h. radial. 15-30 derajat. muterin si elips 28. Pasang scalpel. terus yang bagian atas diputar)  lipoma only 30. Raba kerah g. Bilas l. Tangan kanan insisi. Terus povidone iodine 3x. Kalau ada perdarahan. scalpel nomer 3 atau 4 3. Tutup kran dengan siku 18. Angkat tumor  Lipoma sampai kapsul diambil pake Allis 33.

Pakai sofratul. Jahit subcutan  lipoma only. terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester. As. lepas jahitan 1 minggu  Kenali tanda2 infeksi (gatal.5 % & cuci tangan 39. Mef. Jahit cutan Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting Lipoma  dari ujung ke ujung Verruca  dari tengah Kalau ada dog ear. Perdarahan di-deb pakai kassa yang dipegang pakai cocher. lampirkan form pengiriman (lipoma only) Masukkan alat ke air chlorine 0. keluar pus)  Tidak boleh kotor. under cutting palai scalpel/gunting  verucca only 37. specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa). terus jahit pakai benang terserap dengan jarum round 36. Klo veruca kalo dalem baru jait subkutan. Amox. Lepas tissue retractor.34. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. medicamentosa. Spesimen masuk larutan fiksasi. tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral) R/ Tab. 500 mg No XV S q8h Kesimpulan: Lipoma only -insisi linier -pakai tissue retractor -diseksi tumpul/tajam Verruca only -insisi 3 : 1 -under cutting 38 . kalau masih  hemostatic clamp dibanting  ligasi dengan benang terserap 3/0 35. Edukasi pasien (daily plan. bentuk bingkai 38.

infeksi b. EKG. Antepartum: diabetes. IUGR 3.EMERGENCY Neores. CPR. dinyalain. Informed consent 4. 1 untuk nerima bayi 8. lembut. Kateter. dibantu dengan alat. chorioamnionitis c. Defib NEONATAL RESUSCITATION 1. 7. placenta previa. Perkenalan diri 2. prolonged labour (>24 jam). Antisipasi faktor risiko a. DresBand. 6. Peralatan: radiant warmer/table warmer. Linen bersih. Suction devise 39 . 1 untuk alas. Fetal: fetal distress. Persiapkan 1 lagi personel ahli 5. & hangat minimal 3 buah: 1 shoulder roll. Intrapartum: PROM (>18 jam sebelum kala 2). iv line. Personal protection/general precaution Cuci tangan. anemia. ET. prolonged kala 2 (>2 jam). kering. hipertensi (pregnancy/kronis). Peralatan a. pakai glove.

Stetoskop 9. Posisikan kepala bayi & buka airway Suction mulut dulu baru hidung. airway.5 mm BB <1000 kg atau usia <28 minggu 3 mm BB 1000-2000 kg atau usia 28-34 minggu 3.5 mm BB 2000-3000 kg atau usia 34-38 minggu 4 mm BB >3000 kg atau usia >38 minggu Rumus kedalaman pemasukan ET = BB anak dalam kg + 6 cm 3) Stylet d. Tonus otot baik kah?  Bebas mekonium: Kalau umur gestasi. 0. 3. keringkan)  asses warna Kalau ada yang tidak  initial step 14. Bebas mekonium kah? 12. 3. At term kah? 11. & tonus otot baik  taruh di table warmer  routine care (warm.1) bulb syringe 2) mechanical suction 3) suction catheter 5F.5. 4 mm 2. Peralatan intubasi 1) Laryngoscope dengan extra set baterai & lampu Blade Muller. 10F. 1  bayi cukup bulan 2) ET dengan diameter 2. 14 F Pilih yang nomor 12 F atau 14 F untuk mekonium b.01-0. Kalau hidung dulu di-suction  ada reflex nafas  cairan yang di mulut bayi nanti malah ikut kehisap. lurus Ukuran no. Jam g. 12 F. Beri O2 bila perlu 40 . 00  bayi sangat kurang bulan Ukuran no. valve. Syringe insulin untuk injeksi epinephrine e. tepuk telapak kaki) Reposisi 17. 16.5. 8F. Nyalakan oksigen 5 L/menit PROSEDUR Tanyakan 10. Keringkan Stimulasi (gosok punggung sekalian ambil linen yang buat ngeringin. & mask 1) Bag 2) Mask 3) Sumber oksigen 5 L/menit 100% c. Bernapas/menangis kah? 13. Hangatkan 15.03 ml/kgBB epinephrine lewat vena umbilicalis f. 0  bayi kurang bulan Ukuran no. Bag. napas.

HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Detak jantung. Apply suction saat ET ditarik f. Warna kulit  Ada mekonium: 21. three. Bila bayi vigorous  initial step  gunakan bulb syringe 12 F atau 14 F suction catheter utk mulut & hidung 24. selimuti bayi) Hasil evaluasi  Kalau ada yang jelek: 25. HR > 100 bpm. 3 pegang mask. Kalau vocal cord nggak kelihatan  gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut & pharynx posterior sehingga glottis dapat divisualisasi* d. Bila tidak vigorous a. g. Bila ada meconium pada cairan amnion. warna 23. 2. jari 4 & 5 angkat dagu Tahan rim mask e.. Posisi 1) Kepala bayi slightly extended 2) Posisi peresusitasi pada posisi kepala bayi 3) Pegang mask dengan tangan kiri dan bag dengan tangan kanan 4) Rim mask mengcover dagu. Kalau HR < 100x or apnea VTP a. dan irama PPV Laju 40-60 kali/menit.. two. good muscle tone 22.. hitung dalam 6 detik terus dikaliin 10 20. Test bag & mask d. Pilih device & instrumen b. Lakukan selama 30 detik. jadi cuma 20x ventilasi.. mulut. Respirasi/menangis? 19. Warna kulit 26. baru hidung Jari 1. breath. tetapi tidak mata Tutup dagu. Tekan bag f. three.. two. Evaluasi: respirasi. Respirasi b. kalau semua bagus  observational care (perawatan tali pusar. Kalau warna cyanosis (only)  free flow O2 selama 30 detik Evaluation setelah 30 detik free flow O2 a. Pilih bag dan hubungkan dengan sumber oksigen yang mampu menghantarkan 90-100% c. Gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut b. Kalau vocal cord udah kelihatan  insert ET yang dihubungkan dengan suction devise tertentu e. Insert laryngoscope c. HR. Tepat waktu Evaluasi setelah 30 detik ventilasi 41 . dan hidung.Evaluasi Dari awal sampai evaluasi: 30 detik 18.. bayi vigorous/tidak? Vigorous: strong respiration effort. Frekuensi. Lanjutkan ke initial step (suction mulut & hidung pake bub syringe) g. tekanan. Setelah initial care. katakan breath.

HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. pink)  post-resuscitation care (gradually diminish VTP. selimutin) ENDOTRACHEAL INTUBATION Indikasi pemasangan ET:  Menjaga patensi jalan napas  Mengurangi risiko terjadinya aspirasi  Melakukan suction trachea  Melakukan pemberian oksigen konsentrasi tinggi  Melakukan administrasi obat tertentu  Memelihara pengembangan paru yang adekuat (volum tidal adekuat 10-15 ml/kgBB/menit  10-12 kali/menit) Kontraindikasi:  Trauma maxillofacial 1. Posisi resusitator Yang ventilasi di kranial bayi. Persiapan alat a.5 detik kompresi dada & 0.5 detik ventilasi) Lakukan selama 30 detik. One and two and three and breath. mask d.. Gloves b. Cara melakukan prosedur Tekan dengan 2 jempol atau dengan jari telunjuk + jari tengah d. Spray alkohol c. perawatan tali pusar. Respirasi b. Respirasi b. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Warna kulit 27. valve. e. Oksigen 10-12 L/menit konsentrasi 100% 42 . jadi cuma 15 siklus. kedalaman 1/3 dinding anteroposterior c. Warna kulit 28.a. yang chest compression menghadap bayi b. Tentukan lokasi & lakukan kompresi dada 1/3 lower part processus xiphoideus. Respirasi b. frekuensi Kompresi dada : ventilasi = 3 : 1 (90 kompresi dada & 30 ventilasi dalam 1 menit) 1 siklus 2 detik (1. Warna kulit 29. Bila setelah dievaluasi lagi: HR <60x/menit  chest compression + VTP a. Kalau udah oke (HR>100x/menit. Tepat waktu Evaluation setelah 30 detik kompresi dada + VTP a. Ratio. Bag. Kalau lagi-lagi HR masih < 60x/menit  kasih epinephrine (bisa diulangi sampai 3x) terus lanjut chest compression + VTP Evaluation setelah 30 detik epinephrine + kompresi dada + VTP a. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. breathing/crying.

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. 9.

10. 11.

12.

13. 14. 15.

e. ET sesuai ukuran kelingking, biasanya adult male ukuran 8  sediain 3 ET : ukuran 7.5, 8, 8.5, adult female ukuran 7  6.5, 7, 7.5 cek balon & konektor, dikembangkan lalu dikempiskan lagi dikasih lubrikan water soluble, taruh di kanan pasien f. Spet 10 ml, dicoba ke ET g. Laryngoscope ukuran 3, satukan blade & handle, coba nyala atau nggak Machintos, bengkok  diletakin ujungnya di vallecula glossoepiglotica Muller, lurus  di bawah epiglottis  biasanya pada neonatus h. Stylet i. Suction j. Stetoskop k. Plester l. Oropharyngal airway Pakai glove Posisi di kranial pasien Periksa ada tidaknya cedera cervical Trias: penurunan kesadaran, multiple trauma, dan jejas di atas clavicula krepitasi di bagian leher belakang, otorrhea/rhinorrhea, jatuh lebih dari 2x ketinggian badan Triple maneuver, kalau ada cedera servikal pasang collar neck, jaw thrust Cross finger: jempol kiri menekan mandibula dari dalam, jari telunjuk menekan palatum durum Corpus alienum  finger swab Cairan  suction Pre-oksigenasi dengan bag-valve-mask 10-12 L/menit; 10-12 kali/menit  selama 2-3 menit atau hingga saturasi 95 % Jempol & jari telunjuk pegang mask Jari tengah, manis, & kelingking pegang mandibula Kalau ada refleks muntah  hentikan ventilasi, suction, dan segera pasang ET Reposisi kepala sniffing position (agak ekstensi) Pasang laryngoscope a. Pertahankan pembukaan mulut dari luar dengan tangan kanan b. Pegang laryngoscope dengan tangan kiri, masukkan dari sisi kanan tanpa menekan gigi c. Susuri sampai pangkal lidah dari sebelah kanan, digeser ke kiri d. Sampai ketemu epiglottis, masukin ke vallecula, sampai nemu vocal cord e. Masukkan ET hingga mencapai ukuran 20-22 Male 23 cm, perempuan 21 cm dari mulut, lihat garisnya ET ntar terletak antara pertengahan laryng sampai bifurcatio carina Lakukan nomer 10 dalam 15-30 detik atau tahan napas. Kalau tidak cukup, segera ulangi, oksigenasi terlebih dahulu Inflasi balon dengan syringe berisi udara 10-20 ml Overinflate  nekrosis Terlalu lemah  naik turun Amati pengembangan paru dengan bagging, minta asisten oksigenasi, terus kita auskultasi Apeks, basis  vesicular Epigastrium  nggak kedengaran, kalau ada suara berarti salah masuk Periksa kanan & kiri Fiksasi ET dengan plester mirip gamma di tulang2 keras, ke arah dekat ventilator berada Pasang OPA (mayo/goudel), jadi ET nggak kegigit kalau pasien tiba2 sadar Sambungkan ke ventilator untuk maintain volum tidal 10-15 ml/kgBB/menit

IV LINE 43

. 1. Indikasi, anatomi, prosedur teknik Indikasi:  Memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian  Mengganti cairan yang hilang, menghindari dehidrasi  Memasukkan obat (sebagian besar berupa antibiotik)  Memperbaiki atau mencegah terjadinya gangguan cairan dan elektrolit tubuh Karena langsung masuk aliran darah bisa nyebabin:  Masuknya organisme penyebab infeksi  Masuknya benda asing (udara  emboli)  Alat & cairan bisa bikin iritasi Kontraindikasi:  Lokasi yang lebih distal dari lokasi penyuntikan sebelumnya  Sklerosis/pengerasan vena  Infiltrate site atau phlebotic vessels  Memar, nyeri, infeksi  Percabangan vena  Lokasi katup vena  DVT, penyakit katup vena Tujuan utama resusitasi pada pasien kritis (kurang perfusi jaringan  metabolisme anaerob & asidosis laktat): mengembalikan perfusi jaringan/oksigenasi selular & mempertahankan fungsi organ tubuh melalui resusitasi cairan. 2. Informed consent  Prosedur & risiko  Permisi Selamat siang, Pak/Bu. Saya dokter jaga. Saya akan melakukan pemasangan infus di lengan ibu. Infus ini dipasang untuk mengganti cairan tubuh ibu yang hilang. Apakah ibu bersedia?  Posisikan pasien  Bebaskan lokasi penyuntikan, pilih, & periksa lokasi penyuntikan Cuci tangan 6 step pakai alkohol 3. Persiapan alat Antiseptik: agen untuk menghilangkan mikroflora di kulit  alkohol & yodium Disinfektan: agen untuk menghilangkan mikroflora di benda mati  Over the needle catheter  vasa superficialis (+) kanulasi vasa hanya dalam 1 langkah sederhana (-) ujung kateter cenderung mudah rusak, merusak endotel vaskular  phlebitis & trombosis Ukuran kateter (merknya abbocath): 16 abu2 muda bedah mayor & trauma 18 ijo transfusi darah, produk darah, & obat-obat kental 44

20 pink pasien dewasa 22 biru anak & orang tua 24 neonatus 26 abu2 tua  Jenis cairan: 1) Kristaloid Dapat menembus membran semipermeabel & berubah jadi kristal. 25% tetap di ruang interstisial, 75% ekstravasasi ke ruang interstitium. (+) murah & mudah diperoleh (-) bisa edema, volum harus ditambah supaya ekuivalen dgn koloid a. Cairan hipotonik: dekstrosa 5%, NS 0.5% b. Cairan isotonik RL: syok hemoragik, meminimalkan asidosis 0,9% saline: acute brain injury & syok hemoragik c. Cairan hipertonik, buat penelitian NS 3%, 6%, 7.5% 2) Koloid a. Koloid protein (+) dibutuhkan lebih sedikit (-) mahal, tidak memulihkan rongga interstisial, bisa anafilaksi  Albumin serum (5% & 25%)  Solusi gelatin (plasmagel, haemacell, gellifundol) b. Koloid nonprotein (+) mahal, tapi masih lebih murah daripada albumin (-) koagulopati, anafilkasi, gangguan fungsi ginjal berupa cedera tubular  Starches  Dekstran 40%, 70% 3) Darah Biasanya dalam bentuk paket RBC. Biar aman: 1-2 unit darah O-Rh negatif >1-2 unit: dihangatkan dulu 4) Komponen darah Whole blood, labile blood component, & bahan medik turunan dari plasma. D5W : glukosa RL : Na, Cl, laktase D5W/RL: glukosa, Na, Cl, laktase 0,9% NaCl, 6% HES, 5% albumin, 25% albumin: Na, Cl Peralatan:  Sarung tangan bersih  Cairan infus/plabot 500 ml  Infus set  Penyangga infus  Alas yang terbuat dari plastik  Bengkok 45

tutup regulator  Buka outflow botol infus. jangan dipalpasi lagi b. gunting  Wadah tempat benda tajam 4. dari samping vena masukkan kanula dg sudut 15-300  Tunggu flashback ke ruang flashback jarum  Posisikan alat. atur pemutar agar cairan infus mengisi pipa infus & tidak ada gelembung udara  Tutup regulator. posisikan menghadap atas. sepsis  Identifikasi vena. tusuk dg jarum IV bevel menghadap ke atas. minta pasien genggam & buka genggaman bergantian. terus digantung  Cuci tangan  Pakai sarung tangan bersih a. turunkan sudut kanula dg kulit Dorong kanula perlahan Dorong bagian nilon jarum sambil menarik bagian jarum stainless perlahan  flashback nampak di sepanjang shaft kanula 46 .  Gantung ke penyangga infus  Isi drip chamber sampai ½  Buka regulator.  Tusuk lubang outflow dengan spike. paling distal dari jantung  Vena lurus. & tepuk ringan di atas vena. Teknis a. lebih rendah dari jantung Urut ekstremitas dari distal ke proksimal.  Pasang torniquet 10-20 cm dari vena yang akan disuntik  Bersihkan dengan alkohol arah melingkar keluar. Persiapan  Letakkan lembaran alas di bawah tangan pasien  Keluarkan perangkat infus dari wadah. Tourniquet  Kapas direndam alkohol  Pinset chirurgis  Jarum infus steril (abbocath)  Kassa dalam wadah steril  Plester. Pungsi vena dengan benar  Buka tutup abbocath  Stabilkan vena dg meregangkan kulit. bakteremia. tunggu 30 detik. Identifikasi lokasi vena + periksa lokasi penyuntikan  Tangan non dominan  Bagian distal. periksa spike & tabung. tanpa/sedikit cabang  Superficial  Bukan di area fleksi  Tdk rapuh Sterilisasi: mencegah masuknya organisme  phlebitis. Botol di tangan kiri & lebih rendah dari spike.

Secure iv line  Tutup luka dg kassa dibentuk butterfly/Gama bandage d. Maintain aseptic procedure 5. Cari asisten 7. stupor. koma Tekanan darah sistolik <60 mmHg Sianosis Facies cholerica (pucat. bengkak sekitar infus Skor dehidrasi menurut Daldiyono 1 Kesadaran apatis Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Frekuensi nadi >120 x/menit Frekuensi napas >30 x/menit Ekstremitas dingin Rasa haus/muntah Turgor kulit menurun Washer woman’s hand 2 Kesadaran somnolen. Adjust the fluid flow  Atur aliran cairan. Universal precaution 6. Postprocedure management & edukasi  Jangan banyak gerak tangan yang diinfus  Jangan ditarik2  Jaga tetap kering & bersih  Ditaruh lebih tinggi  Bilang kalau mau abis & kalau ada hematom. maintenance: 20 tpm  Buang benda tajam ke dalam wadah  Lepas sarung tangan  Cuci tangan  Catat prosedur di rekam medis d. layu) Vox cholerica (suara parau) -1 umur 50-60 tahun -2 umur >60 tahun Rumus kebutuhan cairan = skor/15 x 10% x kgBB x 1 liter Skor <3 & syok (-)  oral Skor >3 & syok (+)  intravena 47 . kemerahan. sayu.Mampatkan vena yang dekat dg ujung kanula dg memberi tekanan langsung sebelum menarik keluar jarum bagian nilon  menghindari hilangnya darah  Pasang kanula pada botol infus  Lepas tourniquet  Biarkan cairan mengalir dg membuka regulator (digrojog) c.

kami akan memasangkan selang ke dalam alat kelamin bapak. setelah 1 jam nggak ada perbaikan  10-20 cc/kgBB/jam koloid Maintenance Dewasa 50 cc/kgBB/24 jam Anak 10 kg I 100cc/kgBB/24 jam 10 kg II 50 cc/kgBB/24 jam 10 kg III 20 cc/kgBB/24 jam Tpm = jmlh cairan/(jam x drop factor) KATETER 1. Indikasi. 48 .Anuria itu kalau <50 cc dalam 12 jam Transfusion 15 dpm  drop factor 4 Drip chamber terdiri dari 2 bilik dengan filter. karena bapak tidak bisa mengeluarkan urin. Informed concent  Prosedur & risiko Pagi pak. prosedur Indikasi:  Men-drain retensi urin (pasien mau kencing tapi ga bisa. pakai kristaloid 3x. oliguri)  20-30 cc/kgBB/jam kristaloid.5 jam masukkan 1. hipotensi. anatomi relevan.5x 1. Kami berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Prosedur ini memang tidak nyaman. 2 jam pertama 0.5x Shock Apapun Shock (takikardi.5 jam masukkan 1. Lakukan kalau Hb <7 Makro dpm 20 dpm  3 Mikro dpm 60 dpm  1 Shock Hemorrhagic Hilang x ml. kalo diperkusi redup)  Irigasi kandung kemih  Mengukur volume urin output  Mengambil sampel pemeriksaan urin  Memasukkan obat/kontras radiografi Kontraindikasi:  Perdarahan meatal  Hematoma perineal/saddle sign mungkin ruptur uretra  Floating prostat Komplikasi: UTI 2. tapi demi kebaikan bapak.

 Permisi  Posisikan pasien 3. silakan lepas pakaian bagian bawah & celana dalam. tiduran & pakai selimut.Kalau bapak bersedia. Prosedur persiapan  Korentang  Taplak hijau Steril yang ada bungkus  Sarung tangan  Foley kateter  Syringe tanpa jarum untuk lubrikan  Syringe berjarum untuk balloning  Syringe tanpa jarum untuk spulling  Urine bag Steril yang tidak ada bungkus  Duk berlubang  Handuk  Mangkok isi betadin  Mangkok isi aquades  Kasa steril  Peyan  Pinset anatomis Nonsteril  Plester  Gunting  Jel anestesi KY (lubrikan larut air) Nonsteril dekat pasien  kidney bowl 49 .

saya akan masukkan gel untuk melicinkan” Terus masukin gel. ♀ pegang labium major Pembersihan vulva dari rima pudendi metode pelangi 3x Yang terakhir lewat rima pudendi sampai ke anus. Preparasi aseptik Mencuci tangan dg sabun & air mengalir. Buka gloves. Plester.Kateter Foley (0. terus tutup OUE pake tangan biar gel nggak keluar c. Urin bag ditutup dg cara ditekan. Catat volumenya. masukin air 10 ml spulling kelubang kateter tempat keluarnya urin Keruh  udah masuk ke vesica urinaria tapi bila jernih atau keluar di sekitar OUE  belum masuk.33 mm = 1 French = 1 Charriere). Balloning pakai syringe isi air (5-10 ml). Kalau nggak urin keluar. Fungsi utama kandung kemih: storage & voiding Uretra pria panjang 17-25 cm. buka plastik dalam kateter ♂ pegang penis arah tegak lurus tubuh pasien. Pak N***: fiksasi penis Pak T******: nggak usah difiksasi Buang yang kotor2. Gel taruh di tangan antara jempol & jari. lalu bersihkan Bersihkan 3x central (OUE) ke perifer sampe scrotum Tutup dengan duk b. Kateter diganti setelah 2 minggu. pastikan nggak merucut. karena obstruksi atau kontraktilitas ↓ 4. celupin ke betadin. atur posisi penis paralel thd tubuh. Teknis a. ditekan terus ditampung di bengkok. Kalau ada urin. diameter 8 mm Retensi urin karena: ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan urin. fiksasi urin bag ke meja. pakai 16 F. kalo lebih besar bisa nyebabin spasme kandung kemih & kebocoran urin. ada aliran urin. diameter 8-9 mm Uretra wanita panjang 4-8 cm. ambil kassa. Fiksasi kateter di paha bagian atas. cuci tangan aseptik Pakai handuk Pakai sarung tangan steril Ambil peyan. masukkan perlahan dg tekanan lembut sambil minta pasien ambil napas dalam untuk relaksasi otot sphincter. Masukkan kateter gently Pertama. Kateter dileletin ke gel. Lepas duk steril. Lubrikan dengan anestesi Isi syringe dengan anestesi lokal KY 10-15 ml ke uretra (♂) atau oleskan lubrikan pada kateter (♀) “Pak. ulangi prosedur Pasang kassa yang ada betadin di ujung glans penis nutupin kateter juga. Kalau udah masuk. Waktu di urethra pars membranaceae. urine bag keluar lewat lubang duk steril. Pompa balon kateter dg volum sesuai & pasang urine bag. terus disambung. 50 . balon 5 ml tergantung ukuran. Tarik sedikit.

Cuci tangan. Telpon 118 20. Secure urethral catheter properly e. Airway a. listen. feel 25. d. FBAO (foreign body airways obstruction) yang visible & removable Ada cairan. lepas sarung tangan. saya mahasiswa kedokteran. evaluasi setiap 1 menit. manubrium 19. 24. korban. C (+) napas buatan 12 kali/menit  B (-). Pastikan trauma cervical ada atau nggak Nggak  head tilt & chin lift Ada  jaw trust b. biarkan recoil sempurna. miringkan pasien (kalo ga cervical trauma). Saya akan mencoba menolong pasien ini. cuci tangan. Cek pulsasi di carotis. C (+) recovery position  B (-). Prof behavior CPR 16. sebelah adam’s apple  B (+). C (-) Berlutut di kanan pasien. 17. Respon Verbal  shout Fisik  shake Pain  glabella. Breathing. jangan banyak bergerak. 1 menit ada 3 siklus. lingkungan 18. frekuensi 30 : 2. jangan ditarik. Pasien datang 51 . Maintain aseptic procedure Buang sampah. pake bahan serap (kalo cervical trauma) 21. Postposedure & education  Tirah baring. Nggak ada napas  rescue breathing 2x dalam 5 detik 23. Safety diri. lengan lurus. jatuhkan berat badan. letakkan tangan posisi terkunci di sternum pasien. cek jangan lebih dari 10 menit Look  pergerakan dada Listen  suara napas pada mulut pasien Feel  hembusan napas di pipi penolong 22. Komunikasi & relationship 7. kecepatan 100 kali/menit. bahu vertikal di atas dada pasien. Kedalaman 4-5 cm. 5. gatal 6. Perkenalkan diri Bapak/Ibu.  Urinary bag diganti kalau mau penuh  Kateter diganti setelah 2 minggu  Kenali tanda2 alergi terhadap silikon yang dipakai: nyeri. Reasses Look. Mohon berikan ruang agar pasien bisa benapas dengan lega. Berhenti kalau a.

ambil corpus alienum dengan pinset chirurgis 7. menyerap eksudat. denyut nadi inervasi  sensasi taktil Move ROM (range of motion) 4. tangan kiri ke pipi. kassa. Ambulance datang d. Edukasi  Jaga kering & bersih  Jangan banyak gerak  Kassa diganti tiap 12 jam sekali. plester 8. Aliri luka dengan NaCl. kassa. Salam. Greeting & self introducing Lepas perhiasan. & bina hubungan baik dengan pasien 2. 3. Environmental hazard c. perkenalan diri. Telpon 118 lagi 27. move 10. infeksi Feel vaskularisasi  suhu. 6. Jelaskan tujuan dressing & bandaging Dressing: nutup luka. Terlalu kencang? Evaluasi look. Tutup softratul. atau control 3 hari lagi  Kasih analgesik & antibiotik EKG Prosedur: 1. 4. Lakukan pemeriksaan Look daerah luka  luka terbuka. Dressing & Bandaging 1. Capek 26. badan dibalikkan dalam 1 baris. 2. betadin. Recovery position Tangan kanan ke atas. 5. Pilih bandage yang sesuai & siapin alat (mangkok. mempercepat proses penyembuhan. pinset chirurgis) 15 cm perut/dada 10 cm kepala/kaki 7.b. First aid Bersihkan area sekitar luka dengan betadin 6. Bandaging 9. meringankan rasa sakit Bandaging: mensupport dressing & body part 3.5 cm lengan 5 cm tangan 5. kaki kiri ke kanan. buka baju Pasien tiduran Colok dengan listrik Bersihkan semua elektroda dengan alkohol & area tubuh dgn gel Tempatkan elektroda sesuai posisi  Lead prekordial C4 merah SIC 5 linea midclavicula 52 . feel. WPK.

8. Frekuensi a. Hari. tanggal. 11. QRS tetap sempit Otot atrium normal mampu menghantar impuls 60-75 a) Takikardi 150 – 250 (frekuensinya) b) Flutter 250 – 350 saw tooth pada lead II & III c) Fibrilasi > 350 no true P wave 53 . Identitas b. Gender c. Supraventricular 1) Sinus Pacemaker NSA normal 60 . Irama a. Usia d. Regular  300/jumlah kotak besar jarak 2 gelombang QRS Kalau 2 R berjarak: ≤ 2 kotak besar supraventricular takikardi >2 – 3 kotak besar sinus takikardi 3 – 5 kotak besar normal > 5 kotak besar bradikardi b. 12. 10. 14. & waktu pengambilan Bersihkan badan pasien & alatnya dari gel Interpretasi: 1. 13. sensitivitas 10 mm/mVolt Pilih menu komplit Perhatikan gelombang pada ekg Segera catat pada kertas ekg a. aVF positif 2) Atrial Masih ada P wave. 9. III.100 P diikuti QRS di semua sandapan dan kebalikannya Salah satu/lebih P wave di II. pilih menu Kecepatan 25 mm/second. Irregular 6 kotak besar ada berapa siklus QRS x 50 2. C1 kuning SIC 4 linea strenalis kanan C2 hijau SIC 4 linea strenalis kiri C3 coklat antara c2 & c4 C6 hitam SIC 5 linea midaxilla C5 ungu antara c4 & c6  Lead extremitas Merah tangan kanan Kuning tangan kiri Hijau kaki kiri Hitam kaki kanan Kabel dikoneksikan ke elektroda Periksa kertas untuk rekaman Tekan on.7. tidak semua P diikuti QRS.

aVL (-) aVF. 60 – 90 Lead I +.3) Junctional Pacemaker NAV normal 40 – 60 P inverted pada lead II. prinsip: lihat rotation Menggeser ke arah v6  clock wise rotation Menggeser ke arah v1  counter clock wise 5. segmen PR pendek 2) Tengah P ketutup QRS 3) Bawah P inverted setelah QRS Pacemaker berkas his 20 – 40 b. LAD (+) I. Posisi Normal (-30) – (+110) <-30 LAD >+110 RAD Lead I +. III R pada lead III lebih tinggi dari aVF 4. Ventrikuler Otot atrium normal mampu menghantar impuls 30-45 Tidak ada P wave QRS lebar>0. aVL (+) aVF. avF – Lead II +  antara I dan aVL. aVF 1) Atas P sebelum QRS. aVF + normal aVL +  antara lead I & II. III aVL paling tinggi lead II minimal R=S  lead II negatif b. III. 0 . Durasi 54 . no true QRS complex 3. antara lead II & aVF. 0 – 60 aVL. RAD (-) I.12 s atau > 3 kotak kecil karena depolarisasi lewat sel otot ventrikel 1) takikardi jarak QRS masih sama >40 2) fibrilasi fine and course. Zona transisi Daerah di mana resultan R dan S = 0 (defleksi negative jadi positif) Normalnya di antara v3/v4.(-30) Lead II –  terletak antara -30 sampai -90  LAD a.

normal < 0.10 second Lebar & bertakik (notch & broad) P mitral.12 s 1) WPW Tidak melewati berkas konduksi  QRS > 0. hipertrofi atrium kanan b. normalnya berbentuk piramid tidak simetris.12-0. sekecil apapun disebut Q patologis biasa terjadi pada old infarct d.12s Memanjang pada 1) Irama ventrikular 2) RBBB Gelombang rsR’ (seperti huruf M) di v1. Interval qt Memendek hipercalcemia Memanjang hipocalcemia 6.5 mm atau <0.12 Ada gelombang delta 2) LGL Melewati berkas konduksi QRS < 0.12 Tidak ada gelombang delta 3) Irama junctional atas b. Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium.5 kotak kecil) Memanjang > 0. lebar dan tinggi <2. II Memendek < 0. Interval QRS. Segmen ST menunjukkan repolarisasi ventrikel 1) Elevasi > 2mm di leads precordial >1 mm di lead ekstremitas minimal dua lead yang berdekatan  STEMI 2) Depresi strain pattern (+T inverted asimetris) v5-6  hipertrofi ventrikel kiri v1-2  hipertrofi ventrikel kanan ischemia: + T inverted simetris e. bagian depan lebih lebar dari belakang. RBBB.25 detik) c.25 detik di v5. Kompleks QRS menunjukkan depolarisasi ventrikel memanjang pada LBBB. Interval PR 0. defleksi positif pada lead II 1) Tenting (peaked T wave. v6 S melebar di v1. v6 3) LBBB Telinga kelinci (slurred R) di v5. v2 (>0. hipertrofi atrium kiri Tinggi (peak P) P pulmonal. simetris)  hiperkalemia 2) Strain pattern T inverted tidak simetris 55 . v2 Gelombang s diperlama 0. normalnya simetris. Gelombang T Repolarisasi ventrikel.22 s pada AV blok derajat I. seperti tenda.a.22 s (3 – 5. Morfologi a. Q patologis > 1/3 R atau pada R< 5 kotak kecil. irama ventricular c.

S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 3. lebih landai. P notch & broad Durasi memanjang karena lewat otot b. tinggi < 50 % T wave Interpretasi dalam penyakit 1. I. III. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. aVF) Durasi tetap 2. Kiri  LAH P mitral. aVF inferior  curiga yang kanan Karena A. Kanan  RAH P pulmonal. v6 Kanan  RVH 1. Strain pattern st depressed & T inverted di v5.f.5 mm pada lead inferior (II. S persisten di v5 & v6 2. RAD 4. aVL anterior extensive Lead II. Ventrikel kiri v5. II. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 2. v6 Ventrikel kanan v1. AMI ST elevasi precordial v1 – v6 anterior v1 – v4 anteroseptal v3 – v5 anteroapical v4 – v6 anterolateral v1 – v6. LAD 4. Hipertrofi ventrikel Kiri  LVH 1. coronaria dextra juga ke sana  periksa v1’ 2’ 3’ Aritmia  baca yang utk defib aja 56 . Hipertrofi atrium a. R wave > S wave di v1 3. v2 3. v2 3) T inverted simetris  ischemia Gelombang U Gelombang repolarisasi ventrikel yang terlambat Seperti P. peak P: tinggi P wave ≥ 2.

Derajat 1 Setiap impuls atrial mengaktivasi ventrikel Interval PR memanjang b. Derajat 2 Tidak setiap impuls atrial melewati AV node P waves : QRS  >1 : 1 1) Mobitz type I/Wenckebach block Mirip derajat 1 Pemanjangan interval PR progresif. AV Block a. tiba2 P wave tidak diikuti kompleks QRS 2) Mobitz type II Mirip derajat 3 Pemanjangan interval PR tidak progresif c. Derajat 3 Disosiasi AV Atrium 60-100 Ventrikel 30-45 Kompleks QRS lebar P wave & QRS complex frekuensi reguler 57 .4.

ADVANCED CARDIAC LIFE SUPPORT Henti fungsi jantung secara mendadak dan tiba-tiba 58 .

Response: Cek respon dengan verbal. fisik  diguncangkan (shake). 2.Gambaran EKG:     VT pulseless VF (Ventricular Fibrilation) PEA (Pulseless electrical activity) Asystole Ceklist ACLS: Pasien ditemukan tidak sadar di pinggir jalan 1. sternum. lunula kuku. Nah untuk memudahkan ceklist. penanganan henti jantung dibagi dua yaitu: Shockable (VT pulseless dan VF). Pada pasien henti jantung respon negatif. Kalo nafas dengan laju normal  recovery position Kalo henti nafas atau terengah-engah  dikasih bantu nafas 2x selama 5 detik. Pastikan tidak ada tanda trauma cervical. Pulse dan nafas ga ada  RJP (30:2) selama 2 menit kira-kira 3-5 siklus dengan kedalaman 4-5 cm dengan recoil sempurna. pain  cek respon nyeri di glabella. 4. Kalo obstruksi oleh cairan. dan penurunan kesadaran. c. Verbal  dipanggil namanya (shout). VT yang shockable adalah VT yang pulseless. carotis communis selama 10 detik. and feel 6. Kalo dapet VT. Jangan lupa telfon ambulan lagi 8. Clean airway: untuk benda asing yang visible dan removable pake crossed-finger dan finger swab.. Shout for help  telfon 118 5. Dicurigai trauma cervical jika: multipel trauma. fisik. seperti kain. pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairannya atau pake benda-benda yang menyerap jika pasiennya ada trauma cervical. cek pulse dulu. Pasang IV dan ET. Pulse ada tapi nafas ga ada berikan nafas mouth to mouth setiap 5-6 detik sekali. dibahasnya per irama ya. Manuver open airway: jika tidak ada trauma cervical dengan head tilt chin lift. listen. Jika ambulan sudah datang. Cek airway: a. Berdasarkan irama. Perkenalkan diri terlebih dahulu 2. dan lingkungan 3.. dan pain. lalu cek nadi setiap 2 menit. Kalo dapet VT pulseless atau VF. segera siapkan monitor pada mesin defibrilator untuk cek irama. d. jejas diatas clavicula. persiapan shock 59 . Leadnya ada 2. Look. b. Kalau dari monitor ternyata iramanya shockable: 1. 7. yaitu warna merah dan putih. dan Non-Shockable (PEA dan asystole). Safety: safety untuk diri sendiri. pasien. kalo ada trauma dengan jaw thrust. serta O2. 9. lalu cek kembali nafas dan pulse di a. Kalo VF gausah di cek pulsenya. krepitasi di leher.

Masih non-shockable. RJP 2 menit. Charge defib pada 200 J jika bifasik. lanjut urutan shockable. 15. 5. Kasih shock. Berikan shock. atau malah jadi non-shockable. Langsung pasang ET dan IV. baru cek monitor. Tetap shockable.. Cek irama 5. RJP 2 menit lagi trus masukkin obatnya sulfas atropin 1 mg. Kalau ga tau spesifikasi mesin defibnya diset pada 200J saja. RJP 5 siklus saja tanpa Shock. Kalo ternyata masih terpasang dan semuanya beneran non-shockable. cek lead dulu. dengan paddle satu pada sternum . 9. Pada saat masang ET. 7. trus lanjut RJP 5 siklus 10. tetap lakukan RJP 5 siklus. 3. Cek irama lagi. Kalo PEA ga usah dicek leadnya. tetap shockable.5 mg/kgbb (misal ambil aja 1 mg) – epinefrin – lidocaine 0. Obat yang dimasukkin  epinephrine 1 mg iv 12. 11. 2. 4. Selama nunggu defibnya dicharge.3. Sambil nunggu tetap RJP 5 siklus. 14. dan 360 J jika monofasik. ada yang lepas atau ngga. pasang ET dan IV line untuk ngasih obat. Kompresi jadi 200x dalam 2 menit. Obat yang dimasukkin sekarang ganti jadi amiodarone 300 mg iv. 8. Kalau ET sudah terpasang siklus RJP sama breathing jadi jalan sendiri-sendiri seperti yang dijelaskan di shockable tadi. dan yang lain pada ictus cordis. siklus kompresi dan breathing berubah. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya tetap shockable terus:  Urutan obat yang dimasukkin: epinefrin – amiodarone 300mg – epinefrin – amiodarone 150 mg – epinefrin – lidocaine 1-1. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya non-shockable:     Tidak perlu ngasih shock Pas siklus pertama langsung kasih obat dan pasang ET Urutan obatnya: epi – sulfas atropin 1 mg – epi – sulfas 1 mg – epi Sulfas atropin boleh dipakai 3x (diulangnya 2x) 60 . 13. RJP dihentikan sementara. Nah yang diurutan ini yang tetap shockable dulu ya. Kalo masih shockable kembali ke siklus awal (charge defib. dll). nafas dengan ambu bag setiap 6-8 detik sekali. 4. Setelah kasih shock. Obat yang dimasukkin epinefrin 1 mg iv. Kemungkinan monitor bisa ada 3: iramanya jadi sinus. Kalo ET sudah terpasang. Kalo dapet asistol. 6.5 mg/kgbb iv – epinefrin – kosong – epinefrin Epinefrin harus diseling Amiodarone hanya boleh dikasih 2x (jadi diulang Cuma 1x) Lidocaine dikasih 3x (diulang 2x) Kalau sampe 30 menit hasil tetap sama  stop tindakan dan didoakan saja     Nah kalo dari irama didapatkan non-shockable: 1. Langsung RJP 5 siklus. kembali charge defib.

jangan lupa cek leadnya ada yang lepas atau ngga 10 menit tetap asistole/PEA  stop tindakan dan berdoa Trus kalo iramanya misalnya iramanya beruba-ubah shockable non-shockable gimana? nah contohnya pas cek irama. shockable lagi. Tambahan: 1. Stop kompresi saat: a. yaitu kasih epinefrin. 10 menit irama tetap PEA dan asistole berturut-turut. Pasang ET 2. Jadi yang dilakukan adalah RJP 2 menit sambil charge defib – shock – kasih obat amiodarone 300mg – RJP 2 menit – cek irama. Kasih shock b. trus jdi nonshockable lagi. dari shockable trus jadi non-shockable. maka ikut langkah non-shockable yang ketiga. Stop tindakan secara keseluruhan saat: a. Cek irama c. Tujuan tidak tercapai: pasien mati. trus misal jadi non-shockable lagi karna tadi udah dikasih epinefrin sekarang ganti jadi sulfas lagi. Tujuan tercapai: irama jadi sinus b. Intinya sih setiap siklus itu epinefrin harus diseling.  Kalo dapet irama asistole. maka ikut langkah non-shockable siklus pertama (RJP sajapasang ET dan IV-kasih epinefrin 1mg-cek irama) abis cek irama. Maka siklusnya menjadi:    langkah shockable siklus pertama (RJP-shock-RJP 5 siklus-cek irama) karna jadi non-shockable. 61 . refleks pupil hilang c. jadi misal abis ngasih sulfas tapi jadi shockable ya yang dikasih epinefrin. dikonfirmasi dengan pupil midriasis total. Tapi tetep inget ya masing2 obat boleh diulang berapa kali    Trus misal iramanya udah berubah jadi sinus:      tetap monitoring airway dan ventilasi kasih O2 monitoring kalo ada muntah monitor VS Tetap ACLS (RJP and breath sampe ada nadi dan nafas). abis cek lagi. iramanya jadi non-shockable. shockable lagi maka ikut langkah shockable siklus KETIGA (inget! epinefrin kan harus diseling). Kecapean: 30 menit dan sudah yakin betul semua tapi tetap no respon d.

setelah  4x 4. Keluhan lain: nyeri. 5. Benjolan di tempat lain RPK Ibu pernah kena kanker payudara 1 sisi: sebelum menopause  risiko 3x. misal DCIS c. 7.OTHERS  Breast. Salam. Sejak kapan b. Perkembangan benjolan c. Karakteristik: ukuran. bentuk. Kontur payudara: ada benjolan? Lekukan/dimpling? Pendataran/flattening? d. Hubungan dengan siklus mens Mens tambah nyeri  cysta Mens tambah kencang  fisiologis f. & deviasi: kanker 62 . setelah  2x Ibu pernah kena kanker payudara 2 sisi: sebelum menopause  risiko 9x. penebalan kulit & pori2 menonjol Warna merah: infeksi & karsinoma payudara yang terinflamasi Penebalan kulit & pori2 menonjol: karsinoma b. post stroke BREAST EXAM 1. Ukuran & simetrisitas payudara Kanker lebih besar c. Anamnesis RPS a. Riwayat kanker. retraksi d. 8. arah. Pemakaian kontrasepsi RPD a. Riwayat laktasi h. locomotor. Peradangan/perlukaan sekitar payudara e. ulcus. cairan. ulcus Discharge. Keluhan utama 3. 6. Jelaskan prosedur & informed consent Posisikan pasien  duduk Cuci tangan dengan alcohol & pakai glove Ibu diminta buka baju sampai pinggang Inspeksi Minta pasien duduk  Minta pasien meletakkan kedua tangan di kedua sisi Laporkan a. Riwayat FAM b. discharge. Permukaan kulit: warna. perkenalan 2. Status reproduksi (GPA) g.genitourinary.

Kemarahan pada puting FAM: benjolan. dimpling di payudara. ada discharge  Lengan diminta di letakkan di belakang kepala  melihat lekukan/retraksi yang tidak terlihat supaya bagian bawah terexpose (pada yang payudaranya besar) Lengan bertumpu dipanggung supaya payudara mengkontraksikan M. usia muda. clavicula. sisik Untuk pemeriksaan discharge. fisura. tangan di belakang kepala & bahu disangga bantal Palpasi dengan bantalan jari telunjuk. pectoralis  dimpling bisa lebih terlihat. tangan di sisi Kalau payudara besar. Periksa putting Inspeksi: retraksi. payudara dibagi jadi 4 kuadran  Diameter  Batas: tegak/nggak  Mobile  Nyeri  Konsistensi 63  . tengah. ke arah jam 12. balik ke sentral lewat jalur yang sama. Condong ke depan kalau perlu untuk payudara yang besar. & manis Palsasi dengan bentuk melingkar Spokes of wheel Mulai dari central. agak ringan di perifer Vertical grid Garis vertical dari clavivula ke lipatan inframama Dibagi 9 dari garis midstrenal ke linea axillaris posterior (hingga ujung ekor payudara). terus badannya digoyang 9. tangan pemeriksa periksa axilla  Palpasi payudara Pasien diminta tiduran Kalau payudaya kecil. axilla kanan diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa Waktu tangan pasien adduksi rapat serong ke depan. Palpasi  Pemeriksaan limfonodi Tangan kanan pasien dipegang dengan tangan kanan. & axilla. jarak satu jari Mulai lateral kranial terus ke medial Circular obat nyamuk 10. tidak nyeri Kanker: arah putting brubah. gitu terus sampai semua terpalpasi Tekanan keras di sentral. tanya pasien mau periksa sendiri atau kita lakukan Cara 1  tekan putting dari atas & bawah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas glandula mamae Cara 2 “tunjuk” puting 11. pori2 membesar. Pelaporan Gambar payudara. terus ke arah jam 1.

Mid-stance c. Bisa saat berdiri. Perhatikan bila ada perubahan 8. mobile (FAM. kaki  posisi tidur Look a. Bisa saat tiduran Disangga bantal Pakai 3 jari Pola memutar Rekomendasikan vertical grid 6. perubahan pada papilla mamae. bentuk. kalau udah menopause  tanggal yang sama tiap bulan 4. sambil sabunan. kista. Pemeriksaan khusus Masalah di Tangan  posisi pasien duduk. nggak  payudara).3. kista)/tefiksasi (kanker) Breast Self Examination 1.4). Nontrauma: RPS. 3. Keras: kanker Elastis: kista Jumlah Nilai karakteristik: lokasi. Deformitas 64 . Swing phase 6. Heel strike b. berat. Memberitahukan jari yang digunakan (bantalan jari 2. nyeri (kista). di depan cermin 7. Greeting & introduction Tujuan pemeriksaan Anamnesis: Trauma: 5W + 1 H. Pendahuluan & perkenalan diri pada pasien 2. seberapa keras tekanan (sirkular. sedang. saat mandi. 5. Pengenalan kanker payudara  Insidensi tinggi  Stadium dini bisa diketahui dengan BSE (+) deteksi dini (-) keseringan (missal sebulan beberapa kali)  penurunan sensitivitas 3. batas (tegas  FAM. ukuran. 4. Dimpling. tergantung area lemak) 5. Berdarah c. RPD. tangan di belakang kepala. 2. ringan. konsistensi. RPK Pemeriksaan umum: Vital sign Pemeriksaan gait yang dilaporin: a. Toe off d. pendataran  catat dan lapor ke dokter Locomotor Exam 1. Dilakukan 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Luka terbuka b.

tapi nggak bisa tahan tekanan 4 bisa nahan gravitasi. Krepitasi Move Dengan goniometer a. Inervasi: taktil c. ekstensi. supinasi (lengan atas fiksasi di badan. Simetrisitas Feel a. Siku Fleksi. dorsofleksi. 10. melewati lutut b. fleksi. 9. Vaskularisasi: suhu. betis putar ke dalam). eversi Length  kalo masalah di kaki Bandingkan kanan-kiri a. Anatomical: dari trochanter mayor sampai malleolus lateral Muscle power test 0 tidak ada gerakan 1 ada tonus 2 tidak bisa menahan gravitasi 3 bisa nahan gravitasi. True: dari SIAS sampai malleolus medial. 11. endorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke depan & bawah) b. adduksi. dorsofleksi. jempol RCTI oke) d. Pergelangan Plantarfleksi. Lutut Fleksi. adduksi. betis putar ke luar) f. Jari pakai goniometer khusus e. radial deviasi. Appearance: dari umbilicus sampai malleolus medial c. eksorotasi (tengkurap. ekstensi (posisi supinasi) g. pronasi. Memperkenalkan diri 65 . eksorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke belakang). Gelang paha Abduksi. Gelang bahu Fleksi. WPK. 8. abduksi. ekstensi c. d. ekstensi (sambil tengkurap). palmarfleksi. sedikit bisa tahan tekanan 5 bisa nahan gravitasi & tekanan Circumference bandingkan atas (kanan-kiri) & bawah (kanan-kiri) luka Pertimbangkan penunjang  x-ray Penutup GENITOURINARY EXAMINATION 1. pulsasi b. Wrist Ulnar deviasi.7. endorotasi (tengkurap. inversi.

ada corong kertas ditaruh di atas Hidrocele di tunica vaginalis Tumor kurang merah 66 . ada cysta? c. anak diminta buka celana Mencuci tangan pakai sarung tangan Jelaskan mau periksa CVA Palpasi suprasimfisis (massa. c. kayak kawat Varicocele? d. hidrocele. Ke epididimis. udah sunat? Palpasi penis a. Tanda2 inflamasi d. nyeri) Kandung kemih 7. informed consent. Urethral meaturs e. Simetris: hipoplasi. Oedem b. Tumor f. Normalnya kiri lebih rendah Palpasi a. 3. Batang d. Jelaskan indikasi Minta persetujuan pasien. Dilatasi vena c. urethral discharge Specimen ambil pakai lidi + kapas yang dicelup di normal saline. Glans penis. hipospadia. 4. inflamasi. 6. 5. Angulus inguinalis externus 9. d. Inspeksi penis a. Scrotum Posisi pasien berdiri Inspeksi a. Daerah inguinal (barangkali belum turun). b. Funiculus spermaticus e. atrofi e. tumor.2. hipoplasia. & femoral diperiksa pakai lubrikan 10. Vas deferens. ambilnya di fossa navicularis 8. Persebaran rambut b. balloteman. suprapubik. Testis. UKK (masa. epispadia. Diurut/milking Buka meatus urethra: phimosis/paraphimosis Glans  lihat meatus urethra. Hidrocele Testis disinarin dari bawah pakai senter. atrofi? b. dipalpasi kanan & kiri simetris. warna) c.

sedangkan mobilisasi merupakan salah satu bagian dari rehabilitasi Kapan program mobilisasi dimulai : Stroke iskemi sekitar 2 – 3 hari (sedini mungkin). nah kebanyakan itu hemiplegic tipe dan pasien dalam kondisi spastic. Posisi pasien. minta pasien mengejan (valsava maneuver) Indirect kena ujung jari Direct kena samping jari Femoral annulus femoralis 12. gitu katanya huhuhu jadi kita pelajari aja. say akan membantu bapak untuk latihan dan bergerak pagi ini. Jelaskan hasil pemeriksaan POST STROKE REHABILITATION Aaa modul silat ini tidak di eksklusi sama sekali. Digital Rectal exam  untuk meriksa feses. fleksi siku. spingter ani kontraksi). tunggu perdarahannya selesai dulu baru dimulai (sekitar 2 minggu) Sedangkan program rehabilitasi dimulai sekitar 3 minggu pada stroke iskemi. Perlu dipahami dulu kalo dalam penangan pasien post stroke ada yang namanya program rehabilitasi dan mobilisasi.. eksorotasi paha. nungging 13. Hernia Masukkan jari telunjuk ke canalis inguinalis. sedangkan kalo perdarahan. walopun osce ga keluar tapi ada kemungkinan keluar pas kompre. fleksi pergelangan tangan dan pronasi serta adduksi jari  Ekstrimitas bawah (ekstensi semua) Retraksi panggul. Saya dokter ….Hidrocele lebih merah (+) berpendar 11.. tempatkan jari di sulvus prostat. plantarfleksi dan inverse telapak kaki Kita mulai check list nya :  Selalu SALAM DAN PERKENALKAN DIRI “Selamat pagi pak. Ada 3 macam inisial position : supine. Oleh karena di check list dan yang kita pelajari kmaren Cuma check list 4 jadi inisial position yang dilakuin itu cukup yang supine aja o Supine position 67 . Rehabilitasi dimulai sejak pasien dikonsulkan ke dokter. nanti kita akan melakukan beberapa gerakan latihan. normal kayak biji kenari). meriksa prostat (ukuran. meriksa reflex bubocavernosa (penis diangkat. masukin pake lubrikan. jari tengah aja.. berbaring pada sisi N dan berbaring pada sisi S.. ekstensi lutut. saya minta kerja samanya ya pak mengikuti instruksi dari saya”  minta pasien untuk rileks  Inisial position  antispastik Pada fase ini kita memposisikan pasien berlawanan dari posisi yang di atas itu dan kalo udah d posisikan begini latihan harus segera dimulai < 2 jam soalnya pasien merasa ga nyaman di posisiin begini. tanda2nya :  Ekstrimitas atas (fleksi semua) Endotorsi lengan atas. sebelum mulai diinget dulu kalo pada post stroke exam itu ada sisi N (normal) dan S (sakit) iya ga c? aku (titi: red) cuma ngarang kepanjangannya . ekstensi ankle.

Setelah itu kita kasih aba-aba : “bapak. ekstensi pergelangan tangan dan siku lalu di supinasiin. sekarang kita akan latihan duduk ya pak. dimulai dari ekstrimitas atas dan dari ekstrimitas yang kecil dan distal dulu. Biarkan pasien bertumpu pada bahu. o Berbaring di sisi S Mirip dengan yang di atas hanya saja sekarang sisi S di bawah. Lengan d angkat 90-100 drajat terhadap sumbu tubuh. lalu di bawa ke sisi N trus dibalikin lagi ke saya” Jangan lupa untuk memegang sisi S nya itu biar ga jatuh Latihan o Keseimbangan duduk 68 . o Berikan petunjuka pada pasien “bapak sekarang kita akan latihan berguling ya pak. kita tahan dulu sekitar 10 detik baru ditarik lagi trus di reposisi. bapak bertumpu dulu pada bahu. tapi dari sumbernya angkatan 2005 katanya waktu osce itu yang dipakai secara aktif dan segmental. punggung baru pinggang. Fungsinya untuk menstimulasi sisi S pasien menyanga berat tubuhnya. Waktu pasien bertumpu disiku. d bikin latiahn weight bearing to elbow caranya pasien di tarik – tarik sambil numpu di siku sebanyak 10x baru didudukin. fleksi lutut dan panggul dan endorotasiin paha. “bapak saya minta untuk mengambil pulpen ini dengan tangan N bapak ya. secara aktif dan pasif. siku dan pergelangan tangannya. jadi pelan2 dimulai dari bahu. sebelum didudukin. tangannya bertumpu pada meja disisi sampingnya. Kita abduksiin jari. siku baru pergelangan tangan” Setelah itu tangan kita tarik perlahan. nanti bapak saya minta berusaha duduk sendiri dengan menggeser kakinya ke bawah dan tangan yang sehat nanti akan saya bantu menariknya. mulai dari bahu tus punggung dan pinggang. Ekstrimitas bawah dimulai dengan mendorsofleksiin telapak kaki trus di eversi. Kalo instruktur ku dulu. Tujuannya supaya kaki N ini bisa membawa kaki S ketepi bed untuk duduk. Meminta pasien mengambil benda dengan tangan N.    Pada fase ini kita memposisikan pasien dalam keadaan antispastik. trus tangan bapak yang sehat menggapai tangan yang sakit dan berguling ke sisi yang sakit ya pak. kita mulai ya pak” o Fleksikan kaki N pasien o Minta pasien menggapai tangan S nya o Minta pasien berguling secara perlahan ke sisi S o Bantu dengan membantu memutar ekstrimitas bawah Duduk dan bertumpu pada siku Setelah pasien berbaring pada sisi S secara aktif. tangan satunya di pergelangan tsngan. Pelan-pelan saja y pak. Sangga juga menggunakan bantal d bawah panggul dan telapak kaki o Berbaring di sisi N Pertahankan posisi antispastik dengan menopangkan bantal di bawah sisi S. Jaga hal ini dengan member sanggahan bantal di bawah bahu. pelan – pelan aja. Mimandahkan benda Pada tahap ini kita berdiri di sisi S pasien. kaki N pasien kaya diselipin gitu dari belakang ke bawah kaki S. posisi kaki kaya meluk guling. nanti saya akan menekuk lutut bapak terlebih dahulu. jangan lupa menyangga sisi S dengan bantal Rolling ke sisi S Sebenernya ada dua cara. eksorotasiin lengan.

Diulang 10 kali” o Bahu “nah sekarang ke kanan sama ke kiri ya pak” o Bertumpu pada lengan “Pak nanti saya akan member tahanan pada bahu bapak.. Kalo katanya buku 2005 kaya cewek kemayu itu. Nanti bapak silakan memegang tangannya yang S dengan tangan N nya trus jari-jarinya disilangain tapi jempol tangan S nya berdiri keluar. sekarang bapak silakan tiduran lagi ya. kakinya digerakin dan pelan-pelan aja pak” Ada yang bilang kita cuma menahan bagian belakang siku S pasie tapi ada juga yang bilang kita juga memegang tangan N pasien mirip kaya waktu duduk tadi. yang S di atas N.caranya seperti tadi saat mau duduk. trus di baringin lagi : “ baik bapak.. kita akan berlatih keseimbangan tubuh. Posisi tangan bebas  Baring lagi Setelah posisi istirahat. latihan hari ini sudah selesai. Trus bapak gerakin tanggannya ke atas kepala trus turun ya pak. JANGAN LUPA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PASIEN :D Selamat osce teman – teman semuaaaa !! Smoga kita diberikan gelombang yang terbaik … smangat !! 69 .“Bapak. Saya akan menggerak-gerakkan tubuuh bapak kedepan belakang dan ke samping. trus bapak pertahanin ya supaya ga jatuh” Trus kita tekan2 gitu bahunya satu2. tangan yang lain jaga2 di belakang siku supaya ga jatuh.  Posisi istirahat “Pak sekarang kita berlatih posisi istirahat ya pak” Disini kita memposisikan kaki S pasien di atas kaki N nya. Selesaiiiiiiii .. lalu kaki pasien dipelintir lagi. nanti bapak pertahankan posisi bapak supaya tidak terjatuh ya pak” o Lengan “bapak sekarang kita akan latihan tangan ya pak.

Hemoragik Meningitis 154 150 156 157 93 96 97 185 117 119 Cough TBC Pneumonia COPD Diarrhea Diare Chest Pain ACS GERD Sore Throat 70 .DAFTAR ISI MATERI HALAMAN Belum ada 180 182 183 101 103 105 104 106 75 77 74 80 189 Fatigue Anemia Insomnia Gangguan Tidur (Cemas & Depresi) OCD Panik Red Eye Konjungtivitis Glaukoma Akut Keratitis Uveitis Retinopathy Fever Typhoid DHF Malaria Otitis Media Akut Headache TTH Migrain Cluster Headache Tumor HT Stroke .

Gout . OA 71 .Faringitis 130 169 87 89 91 82 84 86 190 187 122 122 163 107 110 115 114 180 Indigestion Gastritis Abdominal Pain (RLQ) Appendicitis PID KET Abdominal Pain (RUQ) Hepatitis Sirosis Hepar Kolesistitis Constipation IBS Konstipasi Pruritis Dermatitis Kontak Alergi Dizziness BPPV Meniere Weight Loss Diabetes Mellitus Dyspnea Asma CHF Sindrom Nefrotik Pneumothorax Insomnia Cemas Depresi Backache HNP UTI 144 140 160 Joint Pain RA .

Alergi 4. Enyahkan rokok. Durasi. dimana diukurnya (axilla. kondisi umum (lemes. dll) Vital sign: 1. Lokasi. kolesistitis. pneumonia. travelling 5. kolestitis. Malaria. jari ke dua. Teratur berolahraga Keluhan: 1. kalo regular. Alamat. pola pernapasan abnormal. KU 2. frekuensi. PID. Pekerjaan Anamnesis 1. terus bilang mau meriksa apa  cuci tangan Pemeriksaan fisik: Kesan Umum: tingkat kesadaran. keratitis. psikologis. semoga membantu 13 … OUTLINE SECARA UMUM: Identitas: Nama. sirosis. DHF. Olahraga. sebuah ringkasan. RUQ: hepatitis. perkusi. PID. Yang dilaporkan: regular. Relieving. palpatoar dulu. Aggravating. RLQ: app. Riwayat sosial 8. lingkungan. Thorax : inspeksi. Meningitis. auskultasi. palpasi. Kepala/leher 3. RPS: Onset. Yang dilaporkan: berapa BPnya. Characteristics. Parafrase Bilang ke pasien. UTI 4. ukuran manset. uveitis. OMA infeksi lain 2. Treatment  apa obatnya. TB/BB 2. Abdomen : inspeksi. Abdominal Pain. Hindari stress. without jaundice UTI. ditangan mana diukurnya. gizi. Umur. sirosis hepar. baru auskultoar. Tx medikamentosa dan non medikamentosa Edukasi secara umum: Seimbangkan gizi. Profil pasien: Rokok. meriksanya pake satu tangan aja. HCC 3. pola pernapasan (normal co: abdomino-thorakal. retinopathy 72 . udah reda/belum 3. glaucoma akut (sudut tertutup). Makan 6. Red eye: conjunctivitis. Suhu  berapa suhunya. RPD: Pernah sakit spt ini? Medikasi yg dikonsumsi. Awasi tekanan darah. lemah/kuat. pucat. Fatigue: anemia. Review system gejala yang belum di-explore 7. thypoid. rectal atau oral) Pemeriksaan badan: 1. Tekanan Darah  pake bel. KET. Fever: with jaundice: hepatitis. tiga ama empat. posisi duduk ato tidur 2. RPK. auskultasi 4.IPM GENERAL. isi nadi 3. Respiration rate  frekuensim regularitas. cuci tangan Kasih tau dx klinis Rencana tindakan: Px penunjang. palpasi 5. Ekstremitas Bilang ke pasien pemeriksaan udah selesai. Nadi  pertama pegang dua tangan. chyene stokes dkk) 4. perkusi. Abdominal Pain. normal ce: thoracoabdominal. keganasan 5.

ACS. 18. IBS-konstipasi 15. CHF. thypoid. gastritis 7. IBS diare 19. Backache: HNP. hipertensi. BPPV. sindrom nefrotik 20. migraine. DKA 10. meniere 11. Sorethroat: pharyngitis. Headache: TTH. Diare: diare. pharyngitis viral. asma. depresi 17. tumor. Konstipasi: thypoid. DHF Keterangan : yang di bold. Joint pain: OA. Dizziness: BPPV. Pruritus: ikterus. Vomiting: diare. tonsilitis 14. meniere. gout. DM. Weight Loss: TB. RA. sindrom nefrotik. Indigestion: GERD. cluster. itu yang kami bahas ya ceman-cemaan. alergi. Insomnia: anxiety. meningitis 16. CHF. Chest pain: ACS. pneumothorax. TB. pneumonia lobus bawah 9. Stroke pendarahan. Dyspnea: asma. meningitis 8. anaphylactic 13. anorexia 12. UTI. UTI. migraine. LBP non spesifik. 73 . stenosis spinalis. cikungunya. keganasan. peningkatan TIK.6. Cough: pneumonia.

menggigil. DHF. jika parah dapat menyebabkan jaundic   Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Malaria. 2. Onset : < 1minggu b. papua. perut sebah. DHF. e. Lokasi : c. kulonprogo.    Relieving :pernah terinfeksi malaria belum?(untuk vivax) :- RPD RPK Riwayat perjalanan : pernah berpergian ke daerah endemis malaria seperti purworejo. kronik (>2minggu) : Thypoid 1. sakit kepala. Meningitis. Agravating : aktivitas fisik f. Olahraga: b.4 c dan temperatur axila>37. Malaria : KU : Demam Anamnesis :  RPS a. Pola makan  Review system : keluhan lain : nyeri kepala.5 c dan rektal lebih rendah 0. kadang memegang kepala. Kondisi umum : lemah. Tanyakan pernah digigit nyamuk ga?  Lifestyle : a. Akut (< 1minggu) : malaria.5 derajat celcius. vivax & ovale: (tertiana) demam tiap 48 jam malariae(quartana) demam tiap 4 hari Trias malaria : menggigil  panas tinggi berkeringat Trias ini mulai ketika eritrosit pecah.FEVER Definisi : ketika temperatur oral > 37. Durasi : 24 jam d. lesu. Diet : c. nyeri otot dan sendi. cikungunya Pemeriksaan fisik : 1. Fever 1.gelisah. 74 . Faringitis bakterial. Karakteristik : falciparum  demam tidak menentu bisa demam 36 atau 48 jam.

sejak 6 hari. sakit kepala mual. sore saja. RPK -. splenomegaly Palpasi  nyeri kuadran kanan atas dan hepatomegaly. : cq3 + pq1 (dosis dan pembagian s. lemah Anamnesis :  RPS Onset : > 7 hari (kronis) 75 . ce 12-14). buang air ga lancar. Apusan darah : Tebal  jenis dari parasit : a. leukosit normal. Vivax(eritrosit membesar) b. hari ke-3: 5mg/kgBB/hari sehari 2 tablet/ hari. Typhoid Fever: Seorang pasien datang dengan keluhan demam.  hepatomegaly dpt terlihat jika kurus.a) 2. falsiparum (ada cincin di tepi) Tipis  menentukan jumlah parasit. Kalau penurunan kesadaran cerebral malaria balik ke dokter Shock. gagal napas . memperburuk:aktivitas berat. Rajin minum obatkarena parasit. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi  hepatomegaly. Leher : palpasi limfonodi DBN Thorax depan: screening auskultasiDBN Jantung : auskultasi di ictus cordis. BP normal. kuning malariaberat  balik ke dokter 2. eosinofilia (normal 0-3).perut sebah. Terapi: Vivax : Cq3 + Pq14 (Chloroquin + Primaquin) Chloroquin : . KU : Demam. Kepala : lihat konjungtiva  bisa anemia dan sklera ikterik (pada falsiparum). RPD -. Primaquin : 15mg/ hari (1 tablet) Falciparum Edukasi: 1. nafsu makan turun.d. HR dan RR meningkat.hari 1-2 : 10 mg/kgBB/ hari sehari 4 tablet/hari. sudah ke puskesmas tp ga membaik.2. Vital sign : demam. co 45-55).  DBN 3. Extermitas : palpasi  akral dingin Pemeriksaan penunjang CBC HB turun (normal co 13-16. HCT turun (normal ce 40-50.

Lokasi Durasi

: :

Karakteristik : Step ladder pattern (pagi sampai siang suhu turun, sore suhu tinggi) Agravating : Saat aktivitas Relieving : Treatment : Paracetamol tapi ga sembuh     RPD RPK ::-

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: ga spesifik b. Diet : Suka jajan? Cuci tangan ga sebelumnya? Air yg diminum mateng ga? c. Pola makan : Ga teratur d. Lingkungan : Masalah sanitasi

Review system : nyeri kepala, nyeri otot & sendi, konstipasi, perut sebah.

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Thypoid, DHF, Malaria

Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah dan demam Vital sign : temperatur tinggi, bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1 derajat C tidak

diikuti peningkatan nadi 10x) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi  rose spot (bercak merah di perut), hepatomegali (kurus)  bisa muncul konstipasi (biasanya pada dewasa) atau  batas hepar membesar (hepatosplenomegali)  nyeri kuadran kanan atas, hepatomegali

diare(biasanya pada anak) Perkusi Palpasi

Kepala : Sklera ikterik (kalau udah parah) Lidah kotor, tengahnya pucat, tepi hiperemis, tremor Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: DBN. screening  auskultasi aja. Extermitas : DBN Pemeriksaan penunjang a. Kultur (gold standar)  ditemukan mokroorganisme bakteri penyebab (S. Typhi)

76

b. Widal test  S. Typhi positif jika titer O > 1/320 (semakin gede penyebut = semakin positif) c. CBC  pada infeksi bakteri: neutrofil akan meningkat., shift to the right kronis, shift to the left akut. Pada infeksi virus: limfositosis dan leukopenia. Infeksi parasit: eosinofilia. Pada typhoid : leukopenia (<4.000 sel/mm 2), (normal:150.000-400.000 sel/mm2). Terapi Ciprofloxacin 500 mg  dosis: 15 mg/kg BB/hari. R/ Tab. Cipro 500 mg No. X S. 2.d.d. Tab 1 p.c. Paracetamol 500mg R/ Tab. Paracetamol 500 mg No. X S. p.r.n. 3.d.d. Tab 1. p.c. limfositosis, trombositopenia

Edukasi Bed rest 2 minggu Makan yg lembut dan higienis Cuci tangan sebelum makan Minum air matang Hindari rokok

3. Dengue Hemorrhagic Fever KU : Demam Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : < 1 minggu (mis : 5 hari yang lalu) :: 2 – 7 hari

Karakteristik : demam tinggi lebih dari 39 , pola bifasik => hari 1 – 3 demam, 3 – 4 turun, 4 – 7 demam lagi Agravating : kurang minum Relieving : -

77

Gejala berdasarkan derajat : DHF derajat 1 : demam, artalgia,mialgia, torniquet + DHFderajat 2 : perdarahan spontan DHF derajat 3 : mulai muncul tanda syok DHF derajat 4 : tanda syok berat (nadi& blood pressure tdk terdeteksi)    

RPD RPK

:: ada orang di sekitar yangsakit serupa dan mondok di RS

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: b. Diet : c. Pola makan : -

Review system : nyeri kepala, nyeri retroorbital, artalgia, mialgia, petekia, efusi pleura (sesak), asites (perut menggendut), perdarahan (krn trombosit turun), epistaksis, muntah darah (krn perdarahan pada vena2 esofagus), perdarahan gusi, perdarahan lambung, melena (kalo perdarahan dari GIT atas), hepatomegali, haus, gelisah, tanda2 syok

Tx sebelumnya : daun sirih untuk mimisannya

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : DHF, Demam Dengue (beda dgn dhf : tanpa ada hemoragik ; tanpa

trombositopeni ; tanpa hemokonsentrasi), cikungunya (demam lebih singkat, ada torniquet + dan peteki tapi tidak ada manifestasi perdarahan lain, artalgia dan mialgia prominen) Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah, pusing, tidak enak badan Vital sign Rumple leed : demam >39, HR naik, RRnaik, tanda2 syok : positif bila ada > 20 peteki per inchi kuadrat

Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala :  peteki  dbn  hepatomegali, asites  hepatomegali, asites

konjungtiva anemis ; perdarahan gusi ; mimisan

Leher : palpasi limfonodi dbn Thorax :

78

perkusi dari sonor jadi redup Jantung : auskultasi DBN Extermitas : palpasi  akral dingin .n 3. adaruam makulopapular Pemeriksaan penunjang CBC trombositopenia.d.trs 3 mL/kg BB/ jam Edukasi Banyak minum Bed rest Manifestasi syok atau perdarahan-> segera ke dokter Cek trombosit tiap hari Kontrol ke dokterhari ke – 4 79 .p.Efusi pleura -> ada konsolidasi maka dari itu fremitus taktil meningkat .r. leukopenia Liver function test : AST / SGOT naik (normalnya cewe < 23 cowo < 30) NS 1 test Radiologi (kalo curiga efusi pleura -> posisi LLD) Terapi R/ Tab Parasetamol 500 mg No. Hct naik > 20 %. XV S. trs 6.d. trs 6. Tab 1 (derajat 1 dan 2 cukup parasetamol dan rawat jalan) Kalo trombosit di bawah 100rb harus mondok -> kasih infus kristaloid Kalo sudah ada tanda2 syok pake prinsip tx syok (derajat 3&4) Kristaloid 20 mL/kg BB dlm 1 jam -> improve maka kurangi dosis kristaloid jadi 10.trs 3 mL/kg BB -> Kalo tidak improve di tes Hct nya Hct -> meningkat -> ganti kristaloid pake koloid (dextran 40) 10 mL/kg dlm 1 jam) Hct -> turun -> ganti kristaloid pake blood transfusion 10mL / kg / jam Kalo udah improve ganti lagi jadi kristaloid tapi kurangi dosis kristaloid jadi 10.

Fase tubercatar => obstruksi dari tuba eustachii. karakteristik lain tergantung dr fase2nya k. Otitis media akut Definisi: peradangan pada cavum timpani (telinga tengah) dalam kurun waktu ≤ 8 minggu. Durasi : ≤ 8 minggu : nyeri di belakang telinga (retroauricular) : < 8 minggu Karakteristik : nyeri di retroauricular. Onset h. Fase resolusi/ penyembuhan => normalnya membrane timpani akan tertutup kembali. j.4. Diet : c. Review system : keluhan lain : ada penurunan pendengaran ga?(tipe CHL). kalu ga tertutup akan berlanjut jd Otitis Media Kronis (tulinya SNHL) a. membrane terdorong keluar gara2 cairan yang terbentuk di cavum timpani 4. demam?keluar cairan dr telinga (discharge)? Sekret mukopurulen? d. Fase supuratif => terjadi membrane bulging. Agravating : l. Sebutkan DD : Otitis eksterna diffuse (nyeri di tragus). Pola makan: c. Pemeriksaan fisik : 80 . durasi >8 minggu). Olahraga: b. pendengaran berkurang. OMK (SNHL.    Relieving : - m. keluar cairan (discharge). keluhan demam sudah menghilang 5. Perforasi => kalau membrane timpani udah [each. Fase presupurasi => tanda2 hiperemi muncul pada membran timpani 3. newspaper like-appearance di canalis acusticus eksternus) f. Anamnesis :  RPS g. akibatnya tekanan dalam cavum timpani jd negative sehingga membran terdorong ke dalam 2. KU : telinga terasa penuh. Tahap-tahap: 1. Otomycosis (gatal. Treatment : RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya RPK : Lifestyle : a. Lokasi i. nyeri. demam b. Parafrase ke pasien e.

Vital sign : fever. Analgesic  paracetamol c.n Throat : mencari kemungkinan faringitis sbg underlying disease Kepala & leher : limfadenopathy (-) 8. Weber lateralisasi kea rah telinga yg sakit. yg lain d. Edukasi  Minum obat teratur  Jangan membersihkan telinga sendiri (dg cotton bud) 81 . Antibiotik  amoxicycillin sistemik ato tetes telinga b. Decongestan  pseudoefedrin (jika perlu) 10.b.5. telinga terasa penuh 6.mastoideus Otoskop ditemukan membrane timpani yg abnormalitas tergantung dr fase2nya Tes pendengaran garputala 512 Hz. Rinne (-). Schwabach BC pasien > BC dokter CHL Nose : d. Terapi a.n  ditemukan discharge (pd fase perforasi) 7. Pemeriksaan penunjang 9.b. Kesan umum : demam. nyeri. Pemeriksaan fisik : Ear : Inspeksi Palpasi  nyeri di proc.

Mual muntah d.Fase prodormal 2-3 minggu. A) inkubasi 15-50 hari (rata2 30 hari). Pola makan : jajan sebarangan (hep A) d. Tiba2 tadi pagi mata kuning. tindik (B) f. 5-10% jadi HCC.Sembuh 1% hep A jadi hepatitis fulminan HepB Langsung jadi kronik. meriang.  Pekerja medis atau bukan (B) Hep A Melewati fase akut yang terdiri dari: . (hep B inkubasi 15-180 hari). Olahraga:b. demam. RUQ: Nyeri Kuadran Kanan Atas Hepatitis KU : Nyeri Kuadran kanan atas. 23% sirosis jadi liver failure lalu jadi kematian. Agravating : Beraktifitas berat Relieving:      RPD : Tidak pernah sakit serupa (hep A). BAB: pucat b. Diet : Hep Amakan tidak higienis c. BAK seperti air teh. BAK: air teh c.Fase ikterik  1-4 minggu. imunisasi hep b RPK : tanyakan orang tua dan istri apakah pernah mengalami hal yg sama? Hep b (vertical transmission & sexual transmission). cirinya influensa-like syndrome . (hep. Aktifitas seksual (hep B) e. hep a (fecal-oral transmission) Riwayat perjalanan : Treatment awal: obat warung tidak membaik Lifestyle : a. perut terasa penuh. Review system : keluhan lain : a. BAB pucat. BAK air teh akibat direct bilirubin meningkat. Nafsu makan menurun e.ABDOMINAL PAIN. muncul ikterik. suntik. Hep b tanyakan pernah menerima transfusi darah. Athralgia 82 . Lokasi Durasi : nyeri kuadran kanan atas : Karakteristik : Demam sejak seminggu yang lalu. Pernah mentato. dan kuning Anamnesis :  RPS Onset : Onset demam1 minggu yang lalu. mual. 30% jadi sirosis. sebah. lemas. .

5 RANGE NORMAL= SGOT/SGPT : 3 – 35 Iu/L c. GGT : meningkat 83 . takikardi. Liver Function Test: SGOT/SGPT > 1.pusing. RR naik  jika kurus terlihat hepatomegali  dbn  hepatomegali  hepatomegali : hep A. Cholecystitis Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sclera ikterik Leher : palpasi limfonodiga ada limfadenopati Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi  dbn Pemeriksaan penunjang a. ALP : meningkat (norml 30 – 35 Iu/L) d.Parafrase ke pasien Sebutkan DD Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak tidak enak badan. hep B. serologi: hep AIgM anti HAV Tes serologi hep B: b. lemah Vital sign : febris.

    RPK : Riwayat perjalanan :Treatment sebelumnya: obat warung Lifestyle : a. makanan dijaga. antivirus (lamivudine. lama h. Terdapat penurunan nafsu makan 84 . Hep B: Pasangan. berasa mbesesek/sebah. Hep A = curcumin Paracetamol HP Pro no XXVIII Sb. dikasih obat dan sembuh.Terapi e. bilang ke pasien nanti sembuh sendiri . dikasih tau penyebarannya gimana. adefovir) Sirosis Hepatis KU : Perut membesar.Tidak ada kencing manis.d.d tab I f. jarum suntik. Merokok  Review system a. Riwayat penyakit jantung (akibat gagal jantung kanan). Hep B= imunomodulator (INF-a). mata kuning Anamnesis :  RPS : 3 bulan ini : kuadaran kanan atas : 3 bulan Onset Lokasi Durasi Karakteristik : Perjalanan penyakit: pipis seperti teh Agravating : beraktivitas berat Relieving: RPD : 10 tahun yang lalu pernah bilang sakit kuning. Olahraga: b. Hep A: Bed rest.. obat kuat. dikatakan hepatitis B. Pola makan d.. Diet : c. Dulu sering minum jamu-jamuan. Edukasi g.

globulin >> 85 . BAK air teh Parafrase ke pasien Sebutkan DD : sirosis. Tanya BAK dan BAB! BAB pucat. hepatomegali dan ascites pada orang kurus Auskultasi Perkusi Palpasi  dbn  hepatomegali.b. clubbing finger. hepatomegali (teraba bernodul).splenomegali. Kriteria Subandiri: Dikatakan + sirosis jika terdapat 5 dari 7:       Varises esofagus Hematemesis/Melena Caput medusa Ascites Splenomegali Spider naevi punggung  Palmar eritem (karena hormonal) eritem di sisi ulnar dan radial (akibat hormonal)  UKK pada dada. kulit kening. dan tampak agak sesak nafas Vital sign : dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  spider naevi. ginekomasti. Albumin <<. dan d. Karna kuning. CBC albumin dan globulin. tanya gatal-gatal atau tidak c. Ginekomastia e. palpasi perkusi dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palmar eritem. fluid wave utkperiksa ascites Kepala : sclera ikterik Leher : kuning Thorax depan: screening spider naevi. hepatitis B/C. caput medusa. kuku Muchcre/leukonychia (garis-garis putih horizontal yang dipisahkan oleh warna normal kuku akibat hipoalbuminemia) Pemeriksaan penunjang i.perut. ascites +  splenomegali. kanker Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat lemas.

Olahraga : b. Diet : suka makan makanan berlemak c. Pola makan :  Review system  keluhan lain : mual.AST naik. Fat. muntah.j. hepatitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : 86 . marker HCC: AFP Terapi Bed Rest Roboransia Edukasi Istirahat cukup. LFT bilirubin direct. Fertile     RPD : pernah cholelitiasis RPK : Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. ALP dan GGT naik. bisa menjalar ke kanan atas skapula (Boa’s sign). Serologi: Hbs Ag. Durasi : ±60 menit Karakteristik : Agravating : makanan berlemak (memicu kontraksi kantung empedu) Relieving: Faktor risiko : 4F  Female.muscular guarding (defans muskular) Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Cholelitiasis. ALT. makan lunak Cholecysitis KU : Nyeri kuadran kanan atas abdomen Anamnesis :  RPS Onset : Lokasi : Epigastrium atau kuadran kanan atas. Forty. anti Hbc k. sirosis hepatis. gizi cukup.

pasien akan berhenti tarik napas). tekan. RLQ Apendisitis Akut KU : Nyeri kuadran kanan bawah abdomen Anamnesis :  RPS Onset Lokasi : akut : awalnya di periumbilikal. Terapi Analgesik : Petidine (morfin) Antibiotik : cefuroxime 1.5 g/8 jam 3xsehari Rujuk spesialis bedah digestif diminta tarik nafas.Vital sign : temparatur maningkat (demam)     Murphy’s sign (ditekan di kuadran kanan atas. pasien Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sklera  ikterik Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang USG  ada penebalan dinding vesica fellea. Hindari rokok ABDOMINAL PAIN. setelah 4-6 jam migrasi ke kuadran kanan bawah abdomen Durasi : <24 jam (kalau>24 jam perforasi) 87 . Edukasi 1. Hindari makanan berlemak 2.bisa juga ditemukan ada batu. kelihatan cairan peri cholecystic.

Vital sign : mungking suhu meningkat (demam) subfebril (37. aktivitas berat. : appendicial mass Rebound tenderness (nyeri tekan lepas) Rovsing’s Sign : sebelah kiri ditekan. Relieving: Faktor risiko :     RPD RPK : penyakit cacing dan infeksi diGI yg menyebabkan hiperplasia limfoid.5) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Superfisial Deep  dbn  dbn  dbn  : muskular guarding (peritonitis). ga migrasi. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat nyeri. PID (dispareuni.5-38. pada perut bag bawah). Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  88 . intermittent (difus). yg meningkatkan tekanan intra abdomen. Olahraga : b. :- Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. pas idiangkat sebelah kanan sakit) Psoas Sign : tangan dilatakkan di lutut kanan pasien. Diet dan pola makan : kurang serat  Review system  keluhan lain : anoreksia. pasien diminta mengangkat paha menahan tahanan)  nyeri di kanan bawah Obturator Sign : gerakkan kaki pasien ke dalam sehingga lutut keluar  nyeri di hipogastrik kanan (kuadran kanan atas).Karakteristik : walanya colicky pain. kalo udah ke kanan bawah continuous pain (bisa ditunjuk). dull. Agravating : batuk. nyeri difus. lemah : App akut.

difus. aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya.     RPD : menstruasi ga teratur. keputihan yg kadang-kadang baunya amis. RPK : DM pada ibu Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. pemakaian pembalut wanita. Makan makanan berserat (buah dan sayur) Pelvic Inflamatory Disease (PID) KU : Nyeri abdomen bawah Anamnesis :  RPS Onset : sejak 1 bulan Lokasi : perut bagian bawah (difus) Durasi : sudah 1 bulan Karakteristik : nyeri tumpul. untuk mencari stadium app.gangren.netrofil > 95% kalo m. Diet dan pola makan : 89 .Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang l. perforasi) o. Urinalisis  eksklud kehamilan Terapi Analgesik : paracetamol Metronidazol Edukasi 1. Agravating : celana dalam ketat. (suppurative. CBC  Leukositosis. Appendicogram udah pasti app. Olahraga : b. USG appendix terlihat membesar n. di perut kanan bawah.

XXVIII S. KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. USG. S. 11. Jangan melakukan irirgasi vagina 2.d.d. 2.tab 1 p. Edukasi 1. Jangan memakai panty liner 90 . Antibiotik : R/ Tab. dispareuni (patognomonis). muntah. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi    Pemeriksaan Gyn : pake spekulum inspeksi. Tetrasiklin 100 mg No.d.c.d.n 3. Vital sign : mungkin demam Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Tenderness bimanual  ada nyeri goyang uteri. Jangan melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu dekat 4. tab 1 p. Lepas IUD 3. Review system  keluhan lain : mual.Mefenamat 500 mg No. IX. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As. vaginal swab. Pemeriksaan penunjang Vaginal swab.p.r. adneksa teraba. Apendisitis.c. IUD Parafrase ke pasien Sebutkan DD : PID . memegang perut bagian bawah. kaku.

Agravating : aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya.Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) KU : Nyeri abdomen bawah kiri atau bawah tetapi unilateral Anamnesis : RPS Onset : akut Lokasi : perut bagian bawah kiri atau kanan tetapi unilateral Durasi : akut Karakteristik : nyeri tumpul. colicky. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD : KET. memegang perut bagian bawah. Olahraga : b. Diet dan pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. Apendisitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. Status menstruasi : telat datang bulan RPD RPK   : :Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Vital sign : mungkin demam  dbn  dbn  dbn  dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Pemeriksaan Gyn : pake spekulum Cadwig’ Sign (tampak kebiruanpada portio cervix uteri) bimanual  ukuran uterus teraba membesar Kepala : Leher : palpasi limfonodi 91 .di perut bawah kanan/kiri. PID . difus.

Rujuk ke Sp.d.p.d.r.Mefenamat 500 mg No.OG 92 . IX. tab 1 p.Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang: USG. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As.n 3.c. S.

pneumonia. HR dan BP normal Thorax : I : retraksi dinding dada (+/-) Pa : Fremitus taktil : menurun (oleh karena kaverna) meningkat pada apex (oleh karena infiltrat) Pe : Apex : Redup Kavitasi : hipersonor Efusi pleura : redup-pekak 93 . Ax : KU : Batuk purulent RPS : O:L:D : akut ≤ 3 minggu Kronis ≥ 8 minggu C : batuk purulen dan berdarah disertai keringat pada malam hari. sel giant dengan atau tanpa nekrosis kaseosa.BATUK DD : TB. asma TB Penyakit yang ditandai oleh adanya pembentukan granuloma spesifik yang terdiri atas tuberkel epiteloid. penurunan berat badan >10% dalam 6 minggu VS : subfebril (<38. PPOK.5). bronchitis akut. penurunan nafsu makan dengan atau tanpa rasa nyeri dada terutama pada saat batuk A : peningkatan tekanan intraabdomen R:T : Sudah minum obat batuk tapi batuk ga sembuh-sembuh RPD : Batuk yang tidak sembuh – sembuh Riwayat vaksin BCG (-) Riwayat AIDS (+) RPK : Keluarga atau orang terdekat ada yang menderita TB/HIV/AIDS Lifestyle : Kurang gizi. kakexia. ganti – ganti pasangan. subfebril. tinggal di daerah tidak bersih Review System : sariawan. keringat malam hari Px : Keadaan Umum : Lemas. Pharyngitis. CHF. penurunan berat badan. RR.

anemia ringan (Hb>10). infiltrate dan konsolidasi (apex)  radiopaq. LED ↑ Tes tuberculin : indurasi > 10 mm Tx : Kategori 1 ▪ TB Paru Baru BTA (+) ▪ TB Paru BTA (-). limfadenopati hilus Darah rutin : leukositosis. Ro 2RHZ (+) sakit ringan  Ekstra Paru Ringan 4R3H3 Anak : 2 RHZ+4RH Mulai tahun 2008 pengobatan pasien tuberkulosis untuk pasien dewasa diberikan dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) : 1) Kategori 1 a) Pasien baru TB paru BTA positif b) Pasien TB baru BTA negatif foto toraks positif c) Pasien TB ekstra paru 94 . limfositosis. sewaktu Foto Thorax AP dan L : bercak kavitasi (hiperlusen). neutrofilia. pagi.2 dari 3 sputum sewaktu.A : Ronki basah pada Apex Suara napas bronchial Ekspirasi diperpanjang Egofoni : suara napas tinggi Kepala dan Leher : Konjungtiva anemic Limfadenopathy Deviasi trachea Px penunjang : Sputum BTA : min. Ro (+) sakit berat ▪ TB ekstra paru berat 2RHZE 4R3H3 Kategori 2  Penderita Kambuh  Gagal  Lalai 2RHZES/RHZE 5R3H3E3 Kategori 3  TB Paru Baru BTA (-).

trus resepnya jadi begini : R/ Tab 2KDT no.d Tab IV ………………………fase intensif untuk 1 minggu kontrol R/ Tab 2 KDT no XLVIII S 3 kali 1 minggu Tab IV …………… fase lanjutan untuk 1 bulan kontrol Tapi kalo takut pasiennya lupa2 gitu.54 kg 2 tab 4KDT + 500 mg S 3 tab 4KDT + 750 mg S Selama 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 95 Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab E 3 tab 2KDT + 3 tab E Berat Badan . Dosis panduan OAT KDT Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Tahap Lanjutan seminggu 3 kali selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Nah ribet ya? Iya .d. jadi itu misalnya BB 60 : R/ Tab 4KDT no.37 kg 38 .Tabel 2.. XII S 3 kali 1 minggu Tab IV 2) Kategori 2 Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya : a) Pasien kambuh b) Pasien gagal c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat Tabel 3. jadi kalo mau disamain aja 1 minggu kontrol. Dosis panduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30 . XXVIII S 1.

PPOK.d. 5 dan 6    Minta bantuan keluarga atau pihak lain untuk mengingatkan pengobatan Hentikan rokok dan paparan polusi  pakai masker Nutrisi kaya kalori. protein dan vitamin Pneumonia Ax : KU : batuk RPS : O : akut L:D : < 3 minggu C : batuk pada pneumoni itu berdahak bisa ada darahnya (tapi jarang). kalo asma dan jantung kan pada saat aktivitas. A : Kadang disertai sesak napas saat istirahat. infeksi viral. R: T : Udah minum obat batuk. imunodefisiensi RPK : Lingkungan : pneumonia bisa terjadi di orang yang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk.n 3.d 5 ml pc Edukasi :   Minum obat setiap hari sampai habis Kontrol tiap 1-2 minggu pada tahap intensif dan tiap bulan pada tahap lanjutan  periksa ulang BTA bulan ke 2.r. X S p. reda trus muncul lagi RPD : penyakit ini akut. jadi riwayat pneumoni sebelumnya bisa aja (-) Riwayat Mondok di RS (+/-) Riwayat penggunaan ventilator (+/-) Riwayat DM. Bromhexin Hcl 20mg/5ml 60 ml lag I S p.70 kg ≥ 71 kg Simptomatik : 4 tab 4KDT + 1000 mg S 5 tab 4KDT + 1000 mg S 4 tab 4KDT 5 tab 3KDT 4 tab 2KDT + 4 tab E 5 tab 2KDT + 5 tab E R/ tab paracetamol 500 mg no. padat begitu deh pokoknya Lifestyle : merokok 96 .55 .r.n Tab I pc R/ Syr.

……………… selama 7 hari Edukasi: istirahat. riwayat alergi. penurunan nafsu makan Px : Keadaan umum : bisa terjadi penurunan berat badan. tapi lingkungan benernya ga terlalu pengaruh juga sih Lifestyle : merokok sudah sejak lama Review System : pasien juga bisa mengeluhkan demam. Ronki basah (+). T ↑ Thorax : I : retraksi dinding dada saat bernapas Pa : fremitus taktil ↑ .Review System : demam (+/-). kalo udah berat bisa muncul waktu istirahat R : istirahat T : obat batuk hitam tapi ga ngaruh RPD : ada riwayat penyakit yang serupa trus ilang trus muncul lagi RPK : Lingkungan : padat pemukiman. aktivitas. minum air yang cukup PPOK Ax : RPS : O : kronik / kronik eksaserbasi akut L:D : > 3 bulan dalam 2 tahun terakhir C : batuk purulent disertai sesak napas A : rokok. keterlambatan pengembangan paru Pe : Redup (konsolidasi) A : Suara bronchial. atopi (-) 97 . sesak napas terutama saat tiduran dan beraktivitas.d. pleural friction rub (+) egophoni Kepala dan Leher : dbn Abd : di auskultasi aja  dbn Ekstr : dbn Px Tambahan : Ro Thorax : infiltrate Kultur sputum Darah rutin : Leukositosis Tx : Mukolitik (jangan ekspektoran) PCT Antibiotic  penisilin G 6 juta IU/hari Amoksisilin 500 mg S 3.d. pasien tampak lemah VS : RR ↑.

7 and 50% FEV1 <80% predicted III : parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. pengembangan paru ↓ Pe : hipersonor. pemanjangan ekspirasi. jarak kart. kalo PO2 rendah PCO2 tinggi. pasien tidak sesak tapi cyanotic  blue bloater Terapi : Derajat keparahan COPD I : ringan Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.suprasternal saat eksp < 4cm.7 dan FEV1 80% predicted II : sedang Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. krikoid dan inc.Px : Keadaan umum : pasien tampak lemah dan kurus. posisi tripod. JVP ↑. bibir cyanotic. mengi saat ekspirasi Kepala dan Leher : konjungtiva anemi. penggunaan otot bantu pernapasan. tampak adanya kesulitan bernapas VS : T. nasal flare.R dan vaksin influenza serta pemberian SABA Pemberian LABA Glukokortikoid saat eksaserbasi 98 . edema tungkai (pada kasus parah) Px tambahan : spirometri  toleransi terhadap bronkodilator FEV1 < 12 % FEV1/FVC < 70% CXR  hiperlusent (air trapping) AGD : pO2 dan PCO2  PO2 dan PCO2 normal dan tidak ada cyanosis tapi pasien sesak  pink puffer. retraksi dinding dada Pa : fremitus taktil ↓. pakai otot bantu pernapasan Abd : hepatomegali (pada kasus parah) Ekst : jari tabuh.7 and 30% FEV1 <50% predicted IV : sangat parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. perpesaran ventrikel kanan (+/-) A : bronchial.7 and FEV1 <30% predicted or FEV1 <50% predicted dengan gagal napas atau tanda gagal jantung kanan Menurunkan F. HR dan RR ↑ Thorax : I : bentuk dada sepeti tong. tanda kor pulmo.

blue bloater  kor pulmonar Edukasi : makanan rendah garam dan protein.Longterm O2 therapy Penanganan serangan akut : SABA + antikolinergik + glukokortikoid (prednisolon 40 mg PO selama 14 hari) + O2 2-3 L/men Komplikasi : pink puffer  gagal napas. hentikan rokok 99 . vitamin dan sayuran antioksidan.

dll)  Iritis Penggunaan obat steroid mata prolonged (biasany pd uveitis. neuropathy)  Glaukoma sekunder RPK keluarga ada yang sakit serupa? Glaukoma biasanya menurun ke anaknya (6%) lingkungan ada yang kena? LS RS1 Nyeri kepala. pusing. muntah  Glaukoma akut Mata berair. Glaukoma akut Memakai contact lens  Konjunctivitis kontak lens Alergi obat tetes mata  Konjunctivitis alergi Penyakit autoimun (Crohn disease. Glaukoma akut (SKDI 3A). foreign body L D C Tidak nyeri dan tidak photopobia . bakteri. minus ? Cahaya terang makin nyeri  keratitis. runny nose  Konjunctivitis alergi Mata gatal  Iritis. chlamydial) . Ankylosis Spondylitis. iritis. glaucoma akut Photopobia  Iritis.Mata Merah Konjunctivitis (SKDI 4). ada discharge  konjunctivitis Nyeri. konjunctivitis RS2 ada keluhan lain? Konjunctivitis Iritis Glaukoma sudut tertutup Keratitis Onset gradual gradual 100 mendadak gradual . Keratitis (SKDI 2). glaucoma akut Apabila diberikan anestesi mata (ex: proparacaine) nyeri berkurang  keratitis Riwayat relaps  Iritis. Iritis (SKDI 3A) Ax RPS O Gradual onset : Konjunctivitis (viral. Keratitis Sudden onset : Glaukoma akut. alergi.Sarcoidosis. visus menurun  keratitis. Keratitis (Glaukoma kadang2) A R T Other RPD Tanyakan pake contact lens ga. iritis.

Konjunctiva bakteri  discharge lebih purulen karna yg menginfeksi biasanya bakteri pyogenik. atau minor menurun Moderate-severe & gatal menurun cepat Very severe. positive fluorescence staining Conjunctival injection IOP Kornea Diffuse (dari perifer ke central) normal Jernih Siliar (dari central ke perifer) < Normal > Jernih Episklera Kadang2 siliar normal Berkabut / beruap (sperti melihat jendela beruap) Reflek pupil normal Konstriksi sedikit Reaksi pupil minimal ato (-) normal Bilateralitas sering Kadang-kadang Kadang-kadang Biasanya unilateral Konjunctivitis Konjunctivitis = inflamasi konjunctiva. biasanya karna penyebaran virus ISPA sangat mudah menular ke mata satunya klo salah satu terkena. sering diikuti mual muntah Sedikit menurun Severe. dapat diklasifikasikan sbb : Konjunctivitis alergi  biasanya gatal dan penderita pny riwayat alergi. ada sensasi benda asing Photopobia Discharge Pupil signifikan normal ++ konstriksi +/Semi dilatasi & fixed + None to mild Normal atau konstriksi Siliar (dari central ke perifer) N +++ Opacification. disebabkan oleh beberapa kausa. Konjunctivitis viral  discharge watery.Relaps - Sering kambuh Kadang ada riwayat sblmnya - Visus Nyeri normal Tidak ada. conjunctival injectionnya lebih difus (hmpir susah dibedakan dengan siliar). discharge purulen bkin belek jadi klo bangun tidur susah buka mata 101 . ada prbhn reflek kornea. dapat ditemukan folikel limfoid di tarsal.

discharge bisa mukopurulen ato purulen Tanda vital Suhu.05% 1 gtt q2h prn (ga bole lbh dari 5 dd) 102 . Pemeriksaan penunjang Swab bakteri kultur 5. Jernih. Terapi Tindakan : ----- Farmakoterapi Konjinctivitis bakteri Cloramphenicol 0. Ada discharge.. Keadaan umum Keadaan umum. tekanan darah. Merah. atau Gentamycin 0.5% tetes mata (Erlamycetin) 3-4x sehari 2 tetes. nadi. dalam Normal Jernih Normal Normal Normal Normal 4. BB/TB.5% atau naphazoline 0. kesadaran  mata merah. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Ada crust/belek (konjunctivitis bakteri).. respirasi  normal 3. terdapat folikel limfoid di tarsal. pada konjunctivitis bakteri tampak crust menempel di bulu mata. 2.dimulai dari limbus(perifer) ke arah central (konjunctival injection) Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO Segmen posterior Normal Jernih.1.3% Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis viral Livostin 1gtt 4dd  antihistamin Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis alergi antazoline 0. gizi.

Tanda vital Suhu. Bumbum SIP 5566/2009 Alamat praktek/rumah Jalan Kesehatan no 53 Yogyakarta Yogyakarta.os. nyeri kepala ipsilateral. 7. Prognosis dr. Edukasi Istirahat Sebenarnya klo konjunctivitis dibiarin jg sembuh sendiri.n.r.4.d. respirasi 3.d.2 gtt.1gtt.d. BB/TB. 20/12/09 R/ Tube Erlamycetin No. Keadaan umum Keadaan umum. mual muntah.d.3. nadi.I S.od R/ Tube Insto No. deficit visual. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Menyempit. gizi. kesadaran  mata merah.6. tekanan darah.od Pro: Nama : Alda Umur : 17 tahun Glakukoma akut Keluhan umum : nyeri periorbital. nyeri kepala hebat 2. bagian perifer seperti berkabut hitam Normal 103 .p. penglihatan kabur seerti melihat ‘halo’ di sekitar objek 1. tapi kalo diberi obat sembuhnya lebih cepat. I S.os.

7. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Normal Normal 104 . deficit visual.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. Keadaan umum Keadaan umum. dangkal Tidak reaktif dan dlm keadaan middilated Normal N+ (>21 mmHg apabila diukur dgn tonometer) Normal Normal Siliary injection 5. tekanan darah. photopobia. Pemeriksaan penunjang Bisa edema. Tanda vital Suhu. kesadaran 2. gizi. Edukasi Prognosis Baik asal Mx nya cepat Iritis Keluhan umum : nyeri. Terapi Tindakan Farmakoterapi : Pasien disupinasikan supaya menurunkan IOP : Acetazolamide (Diamox) 500 mg iv. synechiae Jernih. diikuti 500 mg PO Timolol ophthalmic 0. BB/TB. penglihatan kabur 1.5% 1 gtt bid di mata yg sakit Paracetamol utk mengurangi nyeri Antiemetic apabila muntah2. respirasi 3. 6. nadi.

Tanda vital Suhu.Steroid utk mngurangi inflamasi Prednisolone 1% 1 gtt q1-6h 6. corneal disease 1. kesadaran 2.ciliaris Cyclopentolate 0.5-2% 1gtt 3dd ... respirasi 3.tp ga spesifik buat uveitis Bisa mencetus glaucoma sekunder klo udah parah Normal Normal Siliary injection 5. pupil sedikit miosis Bisa opasitas (katarak) bisa tidak. BB/TB. bisa smpe hypophion Reflek pupil Lensa TIO 4.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Bisa edema. Pemeriksaan penunjang Reaktif . Terapi Tindakan Farmakoterapi : : . nadi. synechiae Aquous humor apabila disinari sperti flare Ditemukan WBC di kamera okuli ant. penurunan imunologis. trauma. 7. tekanan darah. Keadaan umum Keadaan umum. Edukasi Prognosis Keratitis Anamnesis : riwayat kontak lens. gizi.Cyclopegic  memblok saraf sphincter pupil dan m. Pemeriksaan mata Visual acuity Visus turun 105 .

Pemeriksaan penunjang Normal Normal Edema eyelid atas. posterior synechiae Normal Normal Normal 5. Edukasi Prognosis Tambahan: Retinopathy diabetika atau hipertensi  ciri ada neurovaskularisasi rapuh  pecah  pendarahan  iskemia  cotton woll spot  bisa ablasio retina.Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. ada discharge mukopurulen kadang2 Normal Siliary injection Ada ulserasi. 106 . Terapi Tindakan Farmakoterapi Rujuk aja…soalnya level SKDI 2 : : 6. 7.

Severe respiratory infection: pneumoni. Cardiovascular = ACS 2. KU : sesak napas h. Psikogenik disorder= anxiety (heieprventilasi)   Sudden onset dulu pernah Insidious onset. kecuali bila asmanya sudah parah 107 . kronis dan berulang : sesak napas di dada : beberapa menit.asthma. tiap serangan biasanya hanya sebentar. mitral stenosis. Metabolic asidosis  hiperventilasi & kussmaul 6. Durasi : beberapa menit yang lalu. Anamnesis :  RPS n. beberapa lama 1. Respiratory: PPOK . Respirasi lain Inhaled foreign body Upper airway obstruction Pneumothorax Atelectasis 4. Severe chronic anemia  tisssue anoxia  sesak napas 4. Anafilaktik akut 5. tentukan derajat aktivitas ketika sesak napas Asthma g. Psikologis: pasien cemas sesak napas + batuk kronik + sputum + rekuren + merokok  lung suffocation kalau asthma. epiglotitis akut 3. mitral regurgutaion 2. CHF. PPOK 3. Lokasi p.DYSPNEA Sensasi sulit untuk bernapas Kausa  Sudden onset dulu nggak pernah 1. tanya durasinya udh berapa lama. Onset o.

SCM. batuk berdahak disertai sesak napas seperti diikat. nebulizer dll RPK : keluarga ada riwayat sesak napas. obat-obatan. tidak ada demam dan pilek i. musim semi. atopi Riwayat perjalanan : hilang timbul Lingkungan : berdebu. Parafrase ke pasien Pemeriksaan fisik : 12. BP & T normal 14. takikardi. Vital sign : RR ↑. wheezing Kepala : Nasal flaring. oksigen. intercosta Asma berat  dada tong Penurunan pengembangan dada yang simetris Mengi dapat terdengar tanpa bantuan stetoskop Palpasi Perkusi Auskultasi  fremitus taktil ↓  hipersonor vesicular. sulit untuk berbicara r. Olahraga : Diet : Pola makan : -  Review system  gatal/atopi pada kulit. alergi. musim. ventilasi kurang baik Lifestyle : a. riwayat penggunaan obat-obatan asma spt kortikosteroid. Karakteristik : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. stress. Relieving: menghindari allergen. j. Agravating : terpapar alergen.q. antihistamin t. perubahan suhu (malam hari). kelelahan. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi  penggunaan otot2 bantu pernapasan Retraksi dinding dada terutama supraclavicular. sesak napas seperti diikat. kesuliatan bernapas 13. infeksi. debu. faktor stres (misal mendekati ujian) s. Kondisi umum : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. memiliki hewan peliharaan. asma. pekerjaan. makanan. b.      Treatment : penggunaan antihistamin/obat-obatan untuk alergi RPD : riwayat alergi. pakai otot bantu pernapasan. c. mukosa bibir tampak pucat-cyanosis Leher : palpasi limfonodi dbn 108 .

Mild intermittent SABA 3-4 x/hari Belum perlu controller b. Moderate persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi 109 . Skin prick test b. Spirometri dinamis FEV1 ≥12% (>200 ml) setelah administrasi bronchodilator Perbaikan (Perak Expiratory Flow) PEF ≥ 20% pre-bronchodilator 16. CBC eosinofilia. Pemeriksaan penunjang a.Abdomen: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : atopi (+/-) 15. Mild persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi c.Terapi Serangan akut : oksigen 4-6l/men + Reliever (nebulasi) a. IgE spesifik dan total c.

r. progresif dan kronis : dada : > 8 minggu 4) Karakteristik : Merasa mudah lelah. KU : sesak napas b. Edukasi 1.n 3. Hindari allergen CHF a.d.d puff II 17. mengganggu aktivitas Sesak napas semakin memberat Tidur lebih nyaman dengan bantal tinggi Gagal jantung kiri: 110 . Anamnesis :  RPS 1) Onset 2) Lokasi 3) Durasi    : beberapa bulan yang lalu. Severe persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi Satu/lebih dari teophylin sustained release atau leukotrien modofier controller  untuk asma persistent Anti inflamasi steroid Inhalasi  budesonide 200 mikrogram 2x / hari Oral  methyl prednisolone 4mg Long Acting Beta Agonist (LABA) Salmeterol 100 mikrogram inhalasi Formoterol 24 mikrogram inhalasi reliever  pada eksaserbasi asma akut  bronchodilator Short Acting Beta Agonist (SABA)  salbutamol 4mg oral / 200 mikrogram inhalasi R/ tubulinhaler salbutamol lag I S p.d.

belum ada perbaikan     RPD : hipertensi RPK : orang tua hipertensi Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Parafrase ke pasien d. regurgitasi mitral. respirasi ↑ 3. hepatomegali c. hipertensi. Kondisi umum : lemah. stenosis mitral Gagal jantung kanan:  lanjutan gagal jantung kiri. berkeringat. Vital sign : nadi ↑. pucat. sesak napas terutama malam (pnd). c. b.  Olahraga : tidak suka Merokok Pola makan : tinggi lemak Review system  keluhan lain : edema tungkai. atau stenosis katup aorta  nggak bisa pompa saat sistolik) Diastol: insufisiensi aorta. dengan atau tanpa edema tungkai dan sesak napas saat berbaring 2. cor pulmolae 5) Agravating : aktivitas 6) Relieving: istirahat 7) Treatment : berobat ke dokter. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: o Inspeksi Ictus cordis kuat o Palpasi Ictus cordis berpindah bergeser ke atas  hipertrofi ventrikel kanan bergeser ke bawah  hipertrofi ventrikel kiri Fremitus meningkat  karena ada cairan Kulit dingin dan lembab (keringat) o Perkusi Cardiomegali 111 . tanda gagal jantung lain seperti palpitasi. diberi obat. efusi pleura. Pemeriksaan fisik : 1.  Sistolik: infarct ventrikel kiri.

RBB (+) 5. ↑JVP 6. asites  pada gagal jantung kanan o Auskultasi Thrill Murmur RBB  karena peningkatan cairan di paru S3 gallop  seperti suara kuda S3 gallop gagal jantung kiri  apex S3 gallop gagal jantung kanan  ujung sternum Kepala : gerakan cuping hidung gerakan otot bantu pernafasan  retrakasi otot SCM. Hepatomegali 112 . berkeringat Kriteria Framingham CHF bila memenuhi 2 major atau 1 mayor + 2 minor Kriteria major 1. Tachicardia 2. pitting edema.Hepatomegali. Cardiomegali 2. Edem ekstremitas 5. Dispnea d’effort 3. Efusi pleura 4. Refluks hepatojugular Kriteria minor 1. Ortopnea/PND 3. intercostal JVP meningkat  terlihat saat pasien berbaring 45 derajat Leher : dbn Abdomen: o Inspeksi: lingkar perut meningkat karena ascites o Palpasi Fluid wave  ascites Hepatomegali (RHF) o Perkusi Hepar teraba Nyeri tekan kuadran kanan atas o Auskultasi Extermitas : bengkak. Edem paru akut 4.

d. R/ Tab. v6 Kanan  RVH 5.d. Terapi R/ Tab. tab I p. Beta blocker  pada post MI 6. Aksigenasi 3. LAD 8.c. Strain pattern st depressed & T inverted di v5.d. Batasi aktivitas fisik 113 .c.4. Echocardiography Fraksi ejeksi <40% 5. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 7.d. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 6. R wave > S wave di v1 7. S persisten di v5 & v6 6. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. Edukasi 1. Pemeriksaan penunjang a. tab I p. EKG Kiri  LVH 5. Batasi asupan Na 2. CXR Cardiomegali: Karena hipertrofi otot jantung Karena dilatasi akibat penumpukan darah c. RAD 8. v2 b. Captopril 12. Furosemid 20 mg No XXX S 3.5 mg No XXX S 3.

dicoblos di linea midclavicular SIC 2. udara akan masuk ke rongga pleura. kanan. Akibat patah  nyeri. Sehingga setiap ada napas. multiple. dan akhirnya akan paru akan kempis. 114 . volume makin meningkat  tension. JVP meningkat Tension  nekan paru-paru kontralateralnya juga  distress napas yang hebat (sesek. udara dari paru juga akan berduyun-duyun ke lubang. dan kiri) TENSION PNEUMOTHORAX Pneumothorax tension terjadi bila lesi dinding dada (pleura parietalis)/pleura visceralis bersifat ventil atau katup. Pada saat ekspirasi. Feel (perkusi: hipersonor) Tx definitive:WSD (Water Seal Drainage)  “ditutup” lubangnya Tx emergency: tutup lubang di dada dengan menggunakan kain/plastic yang diplester di 3 sisi (atas. pada saat ekspirasi jadi kedesak ke luar  gerakan paradoksal dinding dada. Look (gerakan napas tertinggal). RR meningkat) Treatment: “digembosi”  pake jarum atau pisau. apalagi kalo begerak Tx: bagian yang keluar-masuk ditahan. Tx definitive: WSD Flail Chest Terjadi pada fraktur kosta yang segmental (2 tempat atau lebih). dan berurutan  daerah yang fraktur lepas dari kesatuan  jadi kuwalik-walik  pada saat inspirasi malah kesedot kedalam.Pneumothorax: OPEN PNEUMOTHORAX Pneumothorax terbuka terjadi akibat terbentuknya lubang di dinding dada yang diameternya lebih dari 2/3 trachea. tidak semua masuk lagi ke paru-paru. sehingga akan menekan paru-paru. nadi lemah  tekanan arteri menurun + syok ”Trias beck”  Tx: pungsi pericard. namun pada saat ekspirasi. Tension nekan mediastinum  yang ngaruh cuma vena cava  kegencet  venous return menurun syok. sehingga menimbulkan sucking chest sound. Assess: Listen (sucking chest sound). dengan mitela atau miring ke bagian yang sakit plus painkiller Tamponade cordis Jantung kayak di tampon (ciri: suara jantung melemah)  venous return menurun  JVP meningkat  yang dipompa dikit  stroke volume menurun. Melalui lubang tersebut udara luar masuk ke rongga pleura. Setiap kali inspirasi.

). Durasi : 2 minggu : pagi hari di wajah (kelopak mata. Lokasi w. Pemeriksaan fisik : 18. Karakteristik : saat bangun tidur mata terasa tebal semakin siang semakin berkurang bengkak di matanya tapi di kaki makin bengkak.5 gr/hari). hipoalbuminemia. scrotum. Treatment :  RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya. Anamnesis :  RPS u. Onset v. Kesan umum : gelisah. bibir). tidur pake bantal. kenaikan serum lipid trigliserid. Pola makan:  Review system : keluhan lain : ada sesak napas ga? (untuk eksklusi CHF: kl ada. BAK dan BAB terganggu ga (kl SN. keluar dikit2. k. sesak napas 115 . dll. warna keruh).oedem anasarka (nonpitting) di jaringan yang longgar (kelopak mata.manifesnya semakin parah z. (<3 gr/ml). labium mayor. Sebutkan DD : CHF. Agravating : kalo diet banyak protein (telur). 2 hari yang lalu jadi seluruh tubuh : 2 minggu x. Parafrase ke pasien n. ascites ato ga? (SN ada ascites). Diet : protein berlebih (telur) c. sesak napasnya paroksismal dyspneu. riwayat sakit pinggang dan kencing warna merah (ada glomerulonefritis sebelumnya). tidak nyeri dan tidak terasa panas kencingnya. Relieving aa. berat badan bertambah tapi merasa lemes y.Sindrom nefrotik Definisi: kumpulan gejala dimana terjadi proteinuria (>3. BAK terganggu => frekuensi meningkat. Diabetes Mellitus   RPK : riwayat kencing manis (DM). hipertensi Lifestyle : a. Olahraga: b. pitting udem (karena udemnya interstitial jd saat dipencet ga balik lg) m. nafsu makan berkurang. Glomerulonefritis (cratinin clearance berkurang) o. ). KU : Bengkak-bengkak l.

no fever. Captopril 12.8 – 1 gr/kg BB) c. hipoalbumin <3 gr/mL 22.b. Furosemide 80 mg s.Prednisone untuk mengatasi peradangan Prednisone 1 mg/kg BB/hari (BB sebelum udem) Sediaan yg ada 1 tablet = 5 mg. Bed rest b.19. .n Perkusi  shifting dullness (tanda ascites) Palpasi  float wave (tanda ascites) Kepala : muka udem (terutama mata dan bibir) Ekstremitas : pitting udem serta ga ada nyeri 21.d tab I . Pemeriksaan penunjang a. Bed rest. Berdasar etiologi : .d tab I 23.d.Furosemide untuk mengatasi udem Tab.batas jantung normal (tidak ada cardiomegaly) Abdomen : ditemukan efusi pleura kl parah Inspeksi Auskultasi  ada ascites (perut membesar) d.hipertensi ato DM  ACE inhibibor Tab. creatinine clearance normal (untuk membedakan dengan GN) b. Pemeriksaan fisik : Thorax : . Diberitahu efek samping obat bisa menyebabkan imunosupresan dan “moon face” 116 .d.5 gr/hari).1. diminum pagi dan malam (pagi lebih banyak drpd malam) . diet rendah garam dan tinggi protein 2. 20.2. Urinalisis (sampel urin berasal dari urin tampung 24 jam)  proteinuria (>3. Diet rendah garam dan tinggi protein (0. Edukasi 1.Vital sign : BP naik.5 mg s. Darah  ada dislipidemia.Terapi a.

KU : sesak napas. beberapa menit yang lalu : nyeri dada menjalar sampai lengan kiri & rahang kiri : > 20 menit ee. Lokasi dd. obesitas DM. seperti tertindih. atau dicengkeram Radiasi ke rahang. Parafrase ke pasien d. Kondisi umum : cemas. gelisah. rokok. leher. muntah c. tidak bisa dihilangkan dengan istirahat atau pemberian nitroglyserin ff. ada kolateral obstruksi total a. berkeringat. diremas. Relieving: Pada stable angina mereda dengan istirahat & nitroglycerin hh. Sebutkan DD e. burning. Karakteristik : 1) 2) 3) 4) Nyeri khas. Durasi : akut. Onset cc. b. nyeri dada b. hipertensi  RPD : Belum pernah nyeri seperti ini Riwayat hipertensi. GERD 117 . Anamnesis :  RPS bb. lengan kiri bisa sampai ke ulnar Timbul saat istirahat >20 menit.  Olahraga : jarang berolahraga Merokok Pola makan : makan makanan berlemak Review system  keluhan lain : keringat dingin. mual. Agravating : aktivitas fisik gg.CHEST PAIN: ACS Unstable NSTEMI STEMI obstruksi parsial obstruksi total. Faktor risiko : dislipidemia. c. DM    RPK : orang tua pernah mengidap penyakit jantung Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. megang dada : ACS. Pemeriksaan fisik : 24.

Aspirin 160-325 mg e. 10 menit pertama  EKG 12 lead  bedakan STEMI. ST elevasi dan Q patologis (STEMI) ST elevasi kalau naik > 2mm di lead precordial atau naik > 1mm di lead extremitas pada minimal 2 lead berurutan Manifes Q patologis (>1/3 R’ atau kalau R < 5 kotak maka sekecil apapun disebut Q patologis) Depresi ST (NSTEMI) b. takikardi  dbn  dbn dbn dbn 26.. Foto Thorax (liat ukuran jantung) 28.Vital sign : hipertensi. Clopidogrel f. Nitrogliserin SL d. Terapi Berikan MONACO a. Morphin IV jika nyeri tidak berkurang dengan nitroglycerin b. Periksa cardiac enzyme CK-MB.Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Kepala : dbn Leher : palpasi limfonodi dbn Abdomen: screening  dbn Extermitas : Inspeksi  Ektermitas pucat palpasi  Ekstermitas dingin dan berkeringat 27. troponin I c. unstable Lihat pambahasan EKG. Oksigen 4L/mnt. Pertimbangkan reperfusi 118 . Pemeriksaan penunjang a.25. NSTEMI. pertahankan saturasi O2>90% c.

Location : epigastrium atau retrosternal bagian bawah . kadang . RPK : Profil pasien : . saat serangan) Stable angina pectoris:   aspirin dimunum saat serangan & biasa nitroglycerin saat serangan 29. Tab. beta adrenergic.kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan). Aspirin 80 mg no XXVIII S.r. Nitrogliserin 0.kambuhan.d. opiat.Aggravating : tidur setelah makan . p. menggunakan obat .Edukasi 1.Duration : beberapa menit . Stop merokok 3. dll).amati ada tidaknya faktor resiko → memiliki hiatus hernia.n.r.n. theofilin. .Treatment : RPD : GERD biasanya kambuh .obatan tertentu (antikolinergik. Turunkan berat badan 2. Aktivitas fisik aerobik 4. sublingual (saat serangan) R/ Tab.d. mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah. faktor hormonal (mis : 119    .Characteristics : nyeri seperti tebakar. Odinofagi (nyeri saat menelan makanan) juga bisa muncul bila sudah terjadi ulserasi esophagus berat.Onset : akut . p. Management lipid 5. IV (dikunyah.3 mg No VII S. Aspirin tiap hari GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) Anamnesis   KU : Nyeri dada yang seperti terbakar RPS : .Fibrinolitik  door to needle 30 detik PCI kalau ada kontraindikasi fibrinolitik  door to ballon 90 detik R/ Tab. 1. Keluhan nyeri ini umumnya timbul setelah makan.Relieving : .

Tata Laksana :  Medikamentosa : Pilihan terapi medikamentosa yang dapat digunakan antara lain : . konsumsi alkohol .  Domperidone : 3 x 10 .PPI : pada kasus yang berat  Lansoprazole : 2 x 30 mg  Pantoprazole : 2 x 40 mg  Rabeprazole : 2 x 10 mg  Esomeprazole : 2 x 40 mg Modifikasi gaya hidup : .Antagonis reseptor H2  Simetidin : 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg  Ranitidin : 4 x 150 mg  Famotidin : 2 x 20 mg  Nizatidin : 2 x 150 mg .Prokinetik  Metoclopramide : 3 x 10 mg → harus dengan kombinasi bersama Antagonis reseptor H2 atau PPI. Review system Pemeriksaan Fisik :      Kondisi umum : tampak memegangi ulu hati Vital sign :dbn Kepala leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Pemeriksaan Penunjang :   Standar baku : endoskopi saluran cerna bagian atas → akan ditemukan mucosal break pada esophagus.Meninggikan kepala saat tidur .20 mg / hari → menurunkan gejala karena meningkatkan tonus sfingter dan mempercepat pengosongan lambung sehingga esophagus tidak lama terpapar asam . .  Cisapride : 3 x 10 .20 mg / hari → selain menurunkan gejala juga bisa sekaligus menyembuhkan lesi di esophagus. peningkatan progesterone karena kehamilan). soft drink.Antasid : 4 x sehari . peppermint .Hindari makan sebelum tidur 120  . coklat . namun tidak untuk penyembuhan lesi.Sukralfat : Alumunium Hidroksida + Sukrosa Oktasulfat . Esofagografi dengan barium → pada pasien dengan hiatus hernia atau stenosis esophagus.

kopi dan minuman bersoda karena dapat menstimulasi asam Hindari obat . beta adrenergik.obatan yang menurunkan tonus sfingter esophagus (kolinergik.- Berhenti merokok dan alkohol karena dapat menurunkan tonus sfingter esophagus Kurangi konsumsi lemak dan jumlah makanan yang dikonsumsi karena bisa menyebabkan distensi lambung Turunkan berat badan untuk menurunkan tekanan intra abdomen Hindari makan coklat. etc) 121 . peppermint.

kehamilan usia muda. insufisiensi vertebrobasilar Cerebellum : degenerasi. antikonvulsan Penyakit lain : anemia. biasanya disertai mual.PUSING/DIZZINESS Sensasi tidak seimbang oleh adanya gangguan satu atau lebih organ yang menjaga keseimbangan. Pusing Vertigo Unsteadiness PseudoVertigo Lightheadedness Giddiness Oleh karena itu perlu dilakukan kategorisasi symptom menjadi salah satu kategori diatas :  Vertigo : sensasi berputar baik secara subjektif (pasien) atau objektif (sekitar). kardiak (stenosis aorta dan pulmunal dll) Batang otak : infark. betul-betul nampak berputar atau anda merasa seperti sedang bergerak? Pertimbangkan vertigo 122 . diabetic autonomic neuropathy. Apakah objek dalam pandangan anda. menierre. muntah. seperti perabotan atau lukisan dinding. BPPV. neuronitis vestibular Tanyakan adanya perasaan berikut : 1. pucat dan berkeringat    Unsteadiness : sensasi tidak seimbang atau perasaan akan jatuh Lightheadedness : faint (blur). Apakah anda merasa akan pingsan? Gejala demikian mungkin merupakan prasinkop 2. transquilliser. fistula N VIII : akustik neuroma. presinkop sensation Giddiness : sensasi tidak spesifik Atau mengklasifikasikannya menjadi dengan atau tanpa vertigo : Dengan vertigo :  Perifer o o  Sentral o o Tanpa vertigo :   Infeksi viral akut seperti pada gaster atau usus Hipotensi postural : biasanya terjadi pada wanita usia muda. penggunaan obat antihipertensif    Hipoglikemik : disertai gejala berkeringat dan lapar Penggunaan obat-obat : antihipertensif. tumor Labyrinth : labyrinthitis.

fistula perilimfatik Meniere. migraine. vertigo sentral atau perifer. akustika. 3. fistula perilimfatik post trauma. Apakah yang mencetuskan gejala? Jika gerakan kepala menimbulkan gejala. Apakah samar-samar kepala anda terasa ringan? Bisa menunjukkan berbagai masalah mulai dari hiperventilasi sampai nyeri kepala tipe tegang. Diplopia merupakan tanda penyakit pada batang otak. stroke. Gejala ini kadang-kadang disebut sebagai pusing psikofisik. Diagnosis pasti jarang berhasil ditegakkan. fistula perilimfatik TIA. neuroma 123 . Adakah gejala penyerta? Adanya tinitus dan ketulian merupakan tanda kelainan telinga dalam. Mual dan muntah menunjukkan penyakit pada sistem vestibular atau batang otak. meniere disease (late) Beberapa detik – menit Beberapa menit – jam Berjam. 4.murni. Anamnesis KU : kepala terasa pusing dengan sensasi berputar RPS : Onset : Lokasi : Durasi : Duration of episode Sangat singkat Suggested diagnosis Vestibular neuronitis (late). atau kelainan sentral pada batang otak. 6. Hari Neuronitis migraine Minggu Characteristic : Berputar psikogenik verstibular. Terjadinya gejala pada posisi berdiri kemungkinan disebabkan oleh hipotensi postural. Apakah diikuti dengan sakit kepala  desak ruang oleh peningkatan TIK  neuroma akustika VERTIGO Klasifikasikan apakah disebabkan oleh obat. 5. yang bisa disebabkan oleh kelainan perifer pada telinga dalam atau nervus kranial VIII.jam BPPV. kemungkinan disebabkan oleh penyakit vestibular.

antihipertensi. barbiturate. perhatikan tabel di bawah ini : Kenampakan Nystagmus Vertigo Perifer Kombinasi horizontal dan torsional.e. Perilymphatic fistula Herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis . antidepresan. nitrogliseride. excessive straining. loud noises Relieving : Therapy : Keluhan Penyerta : Untuk membedakannya. hilang saat mata focus pada suatu objek. horizontal atau torsional. multiple sclerosis Recent upper respiratory viral illness Stress Psychiatric or psychological causes. aminoglikosidm antikonvulsan. migraine Immunosuppression (e.g. immunosuppressive medications. stress) Changes in ear pressure.. Ménière’s disease.. cerebrovascular disease (stroke or TIA). head trauma. no consistent provoking factors) Acute vestibular neuronitis. salisilat. tidak hilang saat mata terfokus pada objek. cerebellopontine angle tumor. perilymphatic fistula Spontaneous episodes (i. advanced age. migraine. hilang dalam hitungan minggu – bulan. multiple sclerosis. diuretic. quinine Provoking factor Perubahan posisi kepala Suggested diagnosis Acute labyrinthitis. hilang dalam beberapa hari’ tidak berubah arah saat 124 Vertigo Central Murni vertical. kokain.Aggravating : induksi obat seperti alcohol. BPPV.

otitis media. masih mampu berjalan Parah. Ménière’s disease Acoustic neuroma.. migraine Ménière’s disease. bahkan berdiri Nausea. tinnitus Symptom neurologis lain Latensi nystagmus setelah maneuver RPD : Riwayat Trauma (+/-). multiple sclerosis (especially findings not explained by single neurologic lesion) Acoustic neuroma. acute middle ear disease (e. salisilat. Facial weakness Focal neurologic findings herpes zoster oticus) Acoustic neuroma. sulit hingga tidak mampu berjalan.focus kea rah lain Imbalance Ringan – sedang. Headache Hearing loss cerebrovascular disease. furosemid RPK : vertigo (+/-) Riwayat Perjalanan : Lifestyle : (-) Review System : Symptom Aural fullness Ear or mastoid pain Suggested diagnosis Acoustic neuroma.g. herpes zoster oticus Cerebellopontine angle tumor. vomite Hearing loss. Diving (+/-) Riwayat infeksi sal. perilymphatic 125 Parah Sering Jarang Lama ( 20 detik ) Bervariasi Jarang Sering Cepat ( 2 detik ) .napas atas (+/-) Gangguan pendengaran (+/-) Riwayat pengobatan dengan obat-obatan toksik seperti aminoglikodisa.

Kalau negative. otosclerosis. disequilibrium. Bila BP rendah. 126 . curiga hiptensi postural Ada tiga focus penting dalam pemeriksaan fisik pasien vertigo. acoustic neuroma. gidddiness Pemeriksaan fisik Kondisi umum : Pasien tampak agak lemas dan berkeringat. T (N). serta system kardiovaskular. vesikel (+/-) Fistula perilimfatika (+). Imbalance cholesteatoma. caranya dengan :  Hennebert’ sign merupakan vertigo/nystagmus yang terjadi akibat penekanan pada tragus dan Meatus akustikus eksterna telinga yang mengalami defek. dengan atau tanpa pucat VS : Pulse (N). kepala dan leher. BP (N). yaitu pemeriksaan pada system saraf. herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis (usually moderate). cendrung curiga ke sentral.fistula. transient ischemic attack or stroke Nystagmus Phonophobia. photophobia Tinnitus involving anterior inferior cerebellar artery. presinkop. Ménière’s disease DD : Vertigo. acoustic neuroma.  System saraf Maneuver Dix Hallpike Test Maneuver Dix Hallpike yang positif diikuti anamnesis riwayat vertigo dan / atau nystagmus yang positif dapat digunakan untuk menegakkan hasil diagnosis yang positif untuk vertigo perifer et causa BPPV.  Kepala dan leher (ENT) Membran timpani : rupture (+/-) . RR (N). cerebellopontine angle tumor (usually severe) Peripheral or central vertigo Migraine Acute labyrinthitis.

Pemeriksaan penunjang Lab : kadar elektrolit. Valsava mauver memberikan tanda adanya fistula melalui peningkatan tekanan pada tuba eustachii dan telinga dalam. Tes Audiometri : membantu diagnosis vertigo akibat penyakit Meniere. gangguan fungsi otonom)  Penurunan tekanan darah sistolik hingga 20mmHg atau lebih atau kenaikan denyut lebih atau sama dengan 10x/menit. Ditemukan kondisi lain yang membutuhkan perujukan setelah pemeriksaan dilakukan (vertigo sentral. factor resiko penyakit kardiovaskular. (3). psikosis dl) Pasien datang dengan pusing Curiga Vertigo Ya Memakai obat – obatan yang dapat menginduksi vertigo Ya Tidak Hentikan pengobatan Tidak Periksa untuk leghtheadedness. tentukan diagnosis Lakukan MRI bila : (1). Ada gangguan neurologis fokal. tuli saraf (kerusakan n. kardiovaskuler Singkirkan dd. Untuk menyingkirkan kecurigaan infeksi bacterial atau neoplasma. Radiologis : Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk beberapa keadaan seperti:     Adanya symptom neurological. Rujukan Diagnosis penyebab masih belum jelas/meragukan. Ada factor resiko penyakit kardiovaskular.VIII)  System kardiovaskular Hipotensi orthostatic (dehidrasi. apakah sentral atau perifer Pemeriksaan : Sistem saraf. disequilibrium atau pre-syncope Anamnesis : Tentukan penyebab vertigo. (2). glukosa. progressive unilateral hearing loss dan berbagai symptom vertigo sentral lainnya. Garpu tala : Tuli konduktif (kerusakan telinga tengah). Kepala dan Leher. CBC (complete blood count) dan pemeriksaan fungsi thyroid. Vertigo sentral Pertimbangkan tes laboratorium atau radiologis (bila diperlukan) Rujuk bila masih ragu atau menemukan hal yang memerlukan rujukan setelah diperiksa Terapi  Infeksi viral self-limited : obat simptomatik + cairan 127 .

stress tinggi Review system : Px : pemeriksaan fisik : dbn Manuver Dix Hallpike Tx : Manuver Epley. pucat. tinnitus. instabilitas dan SNHL.d. antikonvulsan BPPV : edukasi : menggerakkan kepala secara lebih perlahan atau dengan menggunakan collar neck untuk mencegah pergerakan spine yang berlebihan dan mendadak Tambahan : BPPV Ax : O : mendadak berkaitan dengan perubahan posisi kepala. VI S 2.d.X S 3. Simptomatik (vestibular sedative): R/ Tab prochlorperazine mg 5 no. terutama malam hari D : Transien bberapa detik C : Rekuren terkait perbahan posisi kepala terus selama berminggu – bulan lalau sembuh spontan A : perubahan posisi R : Sembuh secara spontan RPD : serangan yang sama (+) RPK : Lifestyle : bantal relaif tinggi.d Tab I   Psikiatrik : sedative. sensasi penhu akibat hidrops endolimph. terdapat periode freedom 128 . MENIERRE DISEASE Ax : RPS : O : Mendadak dalam hitungan menit D : berjam-jam C : pusing disertai mual.d Tab I    Neuronitis vestibular : simptomatik Hipotensif ortostatic/hipoglikemic state : penghitungan ulang dosis obat Meniere : diet rendah garam dan diuretic ringan R/ Tab Betahistin 8 mg no.

tinnitus. pada fase lanjut dapat diikuti kerusakan pada n. ix. tinnitus. antihistamin(cinnarizine) Prophilaksis : diet rendah garam (1g/d).A:R : spontaneous T:RPD : Gangguan pendengaran RPK : Lifestyle : Review system : rasa penuh di telinga. vi. diuretic NEUROMA AKUSTIKA Ax : RPS : O : perlahan-lahan D : berjam-jam C : diawali dengan gangguan pendengaran SNHL dan gangguan keseimbangan A : pagi hari saat terjadi peningkatan TIK R: T: RPD : RPK : Lifestyle : Review System :  Gangguan pendengaran. x  Tanda peningkatan TIK 129 . SNHL Tx : serangan akut  bed rest.v.

dan gejala pada saluran respirasi bawah o C pneumoniae. secara klinis mirip dengan M pneumoniae. Pasien biasanya mengeluhkan batuk. yang dibahas pada diagnosis banding ini Group C. namun pharyngitis yang disebabkan oleh bakteri. termasuk scarlatiniform rash. G. Etiologi: Kausa penyakit pharyngitis dapat dibagi menjadi:  Bacterial pharyngitis o o Group A beta-hemolytic streptococci. sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter karena komplikasinya yang berat. dan biasanya terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi (pada negara dengan empat musim). o Arcanobacterium (Corynebacterium) haemolyticus yang sering terjadi pada orang dewasa muda dan sangat mirip dengan infeksi GABHS. pharyngitis. Berikut adalah ulasan singkat mengenai pharyngitis: Definisi: Infeksi atau iritasi pada pharynx atau tonsil Epidemiologi: Pharyngitis bacterial akibat Strepyococcus pyogenes biasanya menyerang anak yang berumur 4-7 tahun. Pharyngitis biasanya mendahului 130 . Walaupun sebagian besar pharyngitis disebabkan oleh virus. and F streptococci yang secara klinis sulit dibedakan dari infeksi GABHS. komplikasi berupa glomerulonephritis akut dan demam rematik akut jarang terjadi sebagai komplikasi akibat agen ini. terutama group A β-hemolyticus streptococci (GABHS). Komplikasi yang dapat timbul diantaranya adalah acute rheumatic fever. acute glomerulonephritis dan toxic shock syndrome. misalnya Streptococcus pyogenes.SORE THROAT Pharyngitis termasuk salah satu dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi salah satu top ten leading disease/morbiditas pada sebagian besar puskesmas di Indonesia. Namun. o M pneumoniae yang sering menyerang kalangan dewasa muda dan gejalanya berupa nyeri kepala. Komplikasi tersebut tidak jarang menyebabkan mortalitas bagi penderitanya. rheumatic heart disease.

infeksi paru-patu 1-3 minggu sebelumnya.
o

Neisseria gonorrhoeae adalah agen kausa yang jarang pada pharyngitis bakterial. Anamnesis yang baik dan teliti sangat perlu dilakukan karena infeksi ini terjadi biasanya karena kontak orogenital. Pharyngitis ini juga biasanya terkait dengan infeksi sistemik yang parah.

o

Corynebacterium diphtheriae yang memiliki tanda khas foul-smelling gray-white pharyngeal membrane sehingga menimbulkan obstruksi jalan napas.

Viral pharyngitis
o

Adenovirus: Patognomonis infeksi adenovirus adalah munculnya konjungtivitis yang terkait pharyngitis (pharyngoconjunctival fever). Adenovirus adalah etiologi utama pharyngitis pada anak berumur kurang dari tiga tahun.

o

Herpes simplex: tandanya adalah terbentuknya lesi vesikular (herpangina), biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.

o

Coxsackieviruses A and B: Infeksi ini mirip dengan infeksi herpes simplex. Jika vesikelnya bewarna keputihan dan berbentuk noduler, dikenal dengan lymphonodular pharyngitis. Coxsackievirus A16 dapat menyebabkan hand-foot-and-mouth disease, yakni munculnya ulkus oropharynx berukuran 4-8 mm dan vesikel di tangan dan kaki, dan biasanya juga muncul di bokong. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dalam aktu satu minggu.

o

Epstein-Barr virus (EBV): secara klinis dikenal sebagai infectious mononucleosis, yang sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Exudative pharyngitis lebih prominent. Karakteristik pembedanya adalah adenopathy retrocervical atau generalisata, serta hepatosplenomegaly.

o

CMV: Tanda klinis CMV mirip dengan of infectious mononucleosis. Namun pasien cenderung pada kelompok umur yang lebih tua, aktif secara seksual, serta derajat demam dan malaise lebih parah.

o

HIV-1: hal ini terkait dengan edema pharyngeal edema dan erythema, biasanya ulkus aphthous,dan jarang terdapat eksudat. Demam, myalgia, dan lymphadenopathy juga biasanya ditemukan.

Kausa lain pharyngitis, misalnya udara kering, allergy/postnasal drip, chemical injury, gastroesophageal reflux disease (GERD), merokok, neoplasia, dan akibat pemasangan intubasi endotracheal.

Patofisiologi dan patogenesis: Bakteri atau virus pathogen menginvasi mukosa pharynx, menyebabkan respon inflamasi local. Virusvirus yang lain, misalnya rhinovirus dan coronavirus, dapat mengakibatkan iritasi poada mukosa pharynx secara sekunder akibat sekresi nasal. Infeksi Streptococcal disertai dengan karakteristik

131

berupa invasi local dan pelepasan toksin ekstraselular dan protease. Fragmen protein M pada serotype tertentu GABHS diketahui sama dengan antigen myocardial sarcolemma, sehingga terkait dengan demam rematik akut dan kerusakan pada katup jantung (penyakit jantung rematik). Deposisi kompoleks antibody-antigen pada glomerulus ginjal pada akhirnya juga dapat menyebabkan glomerulonephritis akut.

Apa hal yang perlu diperhatikan dari ANAMNESIS pada diagnosis banding ini? Identitas pasien: Tanyakan nama, umur, alamat, dan pekerjaan pasien. Selain untuk membina hubungan yang baik dengan pasien, umur juga dapat digunakan sebagai skrining awal penentuan diagnosis banding. Contohnya: pharyngitis karena GABHS biasanya terjadi pada anak berumur 4-7 tahun. Sedangkan pharyngitis viral karena adenovirus biasanya menyerang anak-anak yang berumur kurang dari tiga tahun. Pharyngitis yang disebabkan oleh CMV biasanya menyerang orang-orang yang berumur dewasa.

Keluhan Utama: Nyeri menelan (nyeri tenggorok) dan demam tinggi

Riwayat Penyakit Sekarang:  Onset dan durasi: Hal ini penting untuk ditanyakan pada pasien. Sebab pada negara dengan empat musim, biasanya pharyngitis karena GABHS terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi. Onset yang tibatiba biasanya mendakan pharyngitis disebabkan oleh GABHS. Selain itu, durasi juga penting untuk membedakan penyakit akut atau kronis.  Karakteristik/pola: Tanyakan mengenai karakteristik dan pola demam. Pharyngitis karena bakteri biasanya memiliki ciri-ciri demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius). Pola demam ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis demam yang lain, misalnya step ladder pattern pada thypoid, demam yang bersifat paroksismal (kambuh-kambuhan) pada malaria, atau demam pola pelana pada Dengue Hemorrhagic Fever.  Faktor yang meringankan dan memperberat keluhan  Medikasi yang sudah diberikan/dikonsumsi.

132

Riwayat Penyakit Dahulu: Tanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau tidak. Tanyakan pula mengenai riwayat alergi obat, karena treatment farmakologis pada pharyngitis karena bakteri adalah dengan pemberian antibiotik, sehingga penting untuk diketahui riwayat alergi terhadap antibiotic tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga, Lingkungan dan Travelling: Hal ini penting untuk ditanyakan karena sifat dari pharyngitis yang merupakan salah satu communicable disease. Sehingga patut dicurigai adanya penularan dari keluarga, lingkungan sekitar atau riwayat berpergian ke daerah endemis. Apabila pasien tersebut pernah berkontak dengan orang yang didiagnosis dengan infeksi GABHS atau penderita penyakit jantung rematik, maka perlu dicurigai pasien tersebut terserang pharyngitis yang disebabkan oleh etiologi GABHS.

Profil Pasien: Tanyakan mengenai pola makan, dan pola olahraga pasien, karena hal tersebut berkaitan dengan status imun dari pasien

Review System: Penting untuk dieksplor mengenai review system untuk menegakkan diagnosis banding dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:.

Tanyakan apakah keluhan disertai batuk dan rhinorrhea (hidung meler). Pharyngitis karena GABHS tidak disertai dengan batuk dan rhinorrhea. Pharyngitis yang disertai dengan gejala demikian adalah faringitis yang disebabkan oleh etiologi virus.

Tanyakan apakah keluhan disertai dengan nyeri kepala, sebab nyeri kepala berkaitan dengan infeksi GABHS

Tanyakan juga apakah pasien mengalami mual dan muntah, sebab hal itu mendukung kearah diagnosis infeksi GABHS, walaupun pada faringitis tipe yang lain juga mungkin dijumpai gejala mual dan muntah.

Tanyakan apakan ada benjolan-benjolan di sekitar leher bagian depan atau belakang. Lymphadenopathy cervicalis anterior adalah patognomonis sign untuk untuk pharyngitis oleh GABHS. Sedangkan, adenopathy retrocervical merupakan tanda khas untuk pharyngitis oleh karena Epstein-Barr virus (EBV).

Tanyakan apakah ada masalah di genital, sebab hal tersebut berguna untuk mengetahui kemungkinan gonococcal pharyngitis.

133

Scleral icterus dapat ditemukan pada infectious mononucleosis. ears. Tonsillopharyngeal/palatal petechiae dapat ditemukan pada infeksi GABHS dan infectious 134 .  Adanya kesulitan bernapas dan stridor dapat mengindikasikan kemungkinan epiglottitis akut. Tanyakan mengenai bercak-bercak dimukosa mulut (oral trush) dan myalgia. yang terdiri atas:     Fever Anterior cervical lymphadenopathy Tonsillar exudate Absence of cough Infeksi GABHS dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki skor 0-1. Terdapat kriteria centor. therefore. Kriteria tersebut terdiri atas empat poin. ada tidaknya demam hendaknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk membedakan etiologi virus atau bakteri. Rhinorrhea biasanya berkaitan dengan etiologi viral. eyes. tidak ada tanda spesifik respirasi yang terlokalisasi.  Head. nose. adanya gejala konstitusinal (malaise) dan respirasi (batuk). Walaupun demikian. mungkin harus dicurigai sebagai pharyngitis karena GABHS. yang biasa digunakan untuk mendiagnosis pharingitis akut bakterial karena GABHS. Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN FISIK pada diagnosis banding ini?  Patensi jalan napas harus selalu terlebih dahulu dinilai. Pada pharyngitis viral. Meski demikian. untuk menilai keadaan emergensi. sebab hal tersebut menandakan status immunocompromised pasien (misalnya karena penyakit HIV/AIDS).  Tanyakan juga mengenai kemungkinan influenza. kira-kira hanya separuh dari pasien yang memiliki gejala-gejala tersebut yang benar-benar terinfeksi oleh GABHS. denyut nadi. and throat (HEENT): o o o o Conjunctivitis biasanya berkaitan dengan infeksi adenovirus. laju respirasi dan suhu/temperature. Hydration status: Oral intake usually is compromised because of odynophagia. demam. yakni onset yang tiba-tiba. various degrees of dehydration result. sedangkan pada pasien yang memiliki skor 4. berdasarkan penelitian terbaru.  Vital sign: Tekanan darah. biasanya tidak terdapat demam atau ada demam namun subfebril. Demam febril (suhu > 38 derajat Celcius) biasanya mengindikasikan infeksi GABHS.

 Abdomen: Hepatosplenomegaly dapat ditemukan pada infeksi mononucleosis . adenovirus. o Eksudat tonsillopharyngeal dapat ditemukan pada infeksi streptococcal.mononucleosis.  Kulit o o Sandpapery scarlatiniform rash dapat ditemukan pada infeksi GABHS. dan infeksi herpesvirus . terutama bila gejala tersebut disertai dengan batuk nonproduktif. Sedangkan adenopathy generalisata biasanya berkaitan dengan infectious mononucleosis atau sindrom lymphoglandular akut pada infeksi HIV. pneumoniae or C pneumoniae.  Cardiovascular: Murmur jantung harus diperiksa untuk memonitor apakah ada penyakit jantung rematik sebagai komplikasi pharyngitis karena GABHS. Vesikel konkomitan ditangan dan kaki biasanya berkaitan dengan infeksi coxsackievirus (handfoot-and-mouth disease).  Lymphadenopathy: Nodus cervicalis anterior yang nyeri biasanya menandakan infeksi streptococcus.  Pulmonary: Pharyngitis disertai infeksi saluran pernapasan bawah lebih konsisten ditemukan pada agen infeksi M. infeksi mononucleosis terutama pada M pneumoniae. Maculopapular rashes biasanya ditemukan pada infeksi viral atau infectious mononucleosis Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN PENUNJANG pada diagnosis banding ini? Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis pharyngitis akut etiologi GABHS adalah:  GABHS rapid antigen detection test 135 . A haemolyticus. eksudat tidak dapat dijadikan dasar pembeda kausa viral atau bakterial o Oropharyngeal vesicular lesions biasanya ditemukan pada coxsackievirus dan herpesvirus. Dengan demikian. C pneumoniae.

Bagaimana prinsip TATALAKSANA pasien dengan diagnosis banding ini?  Nilai dan amankan jalan napas. o Penggunaan “GABHS rapid antigen detection test” dapat menurunkan penggunaan antibiotic yang tidak perlu pada pasien anak-anak. Anak-anak dengan hasil tes antigen negative sebaiknya dilakukan follow –up berupa kultur. o Prosedur untuk melakukan usap tenggorok adalah dengan mengambil sampel eksudat dari pharynx bagian posterior dan kedua tonsil dengan menggunakan lidi kapas. o Pasien dapat ditunda pengobatannya sampai 9 hari setelah onset demam untuk mencegah demam rematik akut.  Throat culture (kultur apusan tenggorokan) o Pemerikasaan ini merupakan gold standard untuk diagnosis infeksi GABHS (90-99% sensitive). Walaupun lebih murah dibandingkan dengan rapid antigen detection test. o Orang dewasa yang memiliki hasil test antigen yang negative tidak memerlukan follow-up berupa kultur. Jangan menaruh sampel eksudat pada medium liquid. o Metode ini adalah metode yang dipilih untuk mendiagnosis infeksi GABHS pada fasilitas dimana sulit untuk dilakukan follow-up hasil kultur. 136 . intubasi jika diperlukan.Rapid antigen detection test for group A beta-hemolytic streptococci. o Hanya pasien dengan yang secara klinis mendukung kecurigaan infeksi GABHS yang dilakukan tes ini. bila tes dilakukan secara tepat. namun sensitivitasnya bervariasi. karena insidensi infeksi GABHS jarang terjadi pada usia dewasa. Sehingga administrasi antibiotik dengan segera tidak krusial jika pasien dapat dengan mudah dihubungi untuk follow-up hasil kultur. Pasien yang memiliki skor Centor 0-1 sebaiknya langsung diberi medikasi simptomatik tanpa dilakukan testing terlebih dahulu o Antigen pada test ini adalah specific. kultur ini sebaiknya tidak digunakan pada unit gawat darurat. karena sulitnya untuk melakukan follow-up hasil kultur.

mengingat semakin meningkatnya resistensi antibiotic o Lakukan rapid antigen detection test jika dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis suspek infeksi GABHS. o Pasien yang memenuhi keempat kriteria Centor langsung memulai terapi antibiotic tanpa dilakukan tes antigen atau kultur sebelumnya. sebaiknya pemberian antibiotik menunggu hasil rapid antigen test atau kultur. dan biasanya gejalanya hilang dalam 3-4 hari. Pemberian antibiotik ini efektif jika diberikan dalam waktu 9 hari setelah onset. Tes ini biasanya ttidak dilakukan pada pasien yang memilik skor Centor 0-1. terapi anti mikroba dengan antibiotic lebih ditujukan untuk mencegah sekuel penyakit kearah demam rematik akut (acute rheumatic fever). jangan berikan antibiotik pada pasien sebelum hasil kultur atau rapid antigen detection test menunjukkan hasil yang positif. karena pharyngitis yang parah akan membatasi intake oral. Tujuan terapi dari pengobatan pharyngitis GABHS adalah untuk meredakan demam dan nyeri tenggorokan (simptomatik) dan untuk terapi antimikroba. Terapi antibiotik Berikut adalah pedoman pemilihan personal-drug (p-drug) antibiotik untuk eradikasi GABHS: 137 . atau abses oropharyngeal.  Evaluasi status hidrasi.  Medikasi atau treatment farmakologis: Pada dasarnya pharyngitis GABHS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. o Jika secara klinis meragukan. epiglottitis.  Investigasi infeksi GABHS jika secara klinis disuspek. o Orang-orang yang berinteraksi dengan pasien positif GABHS harus diberi treatment antibiotik tanpa dilakukan tes terlebih dahulu jika mereka memiliki gejala yang terkait dengan infeksi GABHS. Gunakan algoritma dibawah ini: o Secara umum. Evaluasi tanda-tanda toksisitas.

karena ketersedian penicillin V di Indonesia terbatas.r. Terapi symptomatis analgetik/antipiretik Berikut adalah pedoman pemilihan personal drug untuk analgetik/antipiretik: Kesimpulan Personal-drug untuk terapi antinyeri dan penurun panas Acetaminophen/Paracetamol PO Dewasa 500-100mg tiap 4-6 jam p. maka biasanya digunakan amoxicillin dengan dosis: dewasa: 500 mg PO bid selama 10 hari. 138 . makan yang cukup dan bergizi.n maks 4gr/hari Anak 10mg/kgBB tiap 4-6 jam p.n maks 60mg/kgBB/hari  Treatment non farmakologis / advice untuk pasien: istirahat. Selanjutnya dipilih obat dari golongan beta-lactam: Kesimpulan: Nama Obat Penicillin V Penicillin G Ampicillin Amoxicillin Efficacy ++ +++ + + Safety ± ± ± availability ± ± ± ± Cost +++ +++ +++ +++ Kesimpulan Personal-drug untuk antibiotik Penicillin V 250mg qid atau 500mg bid selama 10 hari.r. anak: 250 mg bid/tid selama 10 hari Namun. pediatric:50 mg/kg/d PO divided bid selama 10 hari.Kesimpulan: Grup Beta-lactam Macrolide Oral cephalosporin Efficacy +++ ++ ++ Safety ± + ± availability ± ± ± Cost +++ ± ± Maka dari itu dipilihlah golongan beta-lactam.

polyarthritis. antara lain o komplikasi lokal: retropharyngeal abscess.  Monitoring dan evaluasi: Jika dirasa perlu melakukan monitoring. Terapi profilaksis dengan benzathine penicilline pada ARF dapat mencegah timbulnya rheumatic heart diseases. o rheumatic heart diseases  merupakan manifestasi kronik dari ARF pada katup jantung. Manifestasi mayor dari ARF:carditis. o acute rheumatoid fever  dapat terjadi 2-4 minggu setelah episode pharyngitis. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang tepat pada saat episode pharyngitis. minum obat sesuai dosis. mastoiditis. dan hipertensi.memakai masker selama gejala berlangsung. cervical lymphadenitis. periksa adanya kemungkinan komplikasi dari infeksi SGABH. Administrasi antibiotik yang tepat setelah munculnya manifestasi pharyngitis dapat mencegah timbulnya komplikasi ini. edema. o poststreptococcal glomerulonephritis  biasanya terjadi 1-3 minggu setelah episode pharyngitis. erythema marginatum. Manifestasinya antara lain hematuria. subcutaneous nodule. chorea. peritonsillar abscess. 139 . sinusitis. otitis media.

sedangkan pada penyakit lain seperti thypoid fever. dengue fever. leptospirosis. abses intrarenal dan perinephric c. ga berpola kayak di thypoid yang tinggi pada malam hari. Di ISK juga tidak ditemui jaundice kayak di malaria atau hepatitis. susah menahan kencing. KU : demam mendadak. sering kencing. Keluhan lain : ISK bagian bawah : disertai rasa nyeri atau terbakar pada saat kencing.. prostatits. dll. Relieving : diminumin antipyretik turun kok demamnya. muntah. kejang dan penurunan kesadaran sebagai tanda penyerta. d. tanpa jaundice 2.. Bisa hanya beberapa jam sampai berhari-hari. dibagi secara anatomis jadinya gini. rubella. gusi berdarah. RPD Adanya riwayat pemasangan kateter urin. susah kencing. terdapat adanya pendarahan seperti epistaksis. Terus demamnya itu biasanya polanya terus-terusan gitu. dan rasa sakit pada costovertebra. Durasi : bervariasi tergantung dari letak infeksinya di saluran kemih sebelah mana. Sedangkan pada meningitis dijumpai adanya kaku kuduk. Anamnesis RPS a. ISK bawah → urethritis (urethra). infeksi HSV. Kalau lokasi infeksinya. Onset : akut b. Kalau pada dengue fever yang menjadi dengue hemorrhagic fever. Kondisi urin yang berbau juga manjadi tanda pada ISK.BACKACHE: INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) 1. cystitis (vesica urinaria) ISK atas → acute pyelonephritis. ISK bagian atas : disertai mual. Karakteristik : pada ISK tidak dijumpai adanya rash.varicella. Lokasi : demamnya seluruh tubuh. Aggrevating : kayaknya panas terus deh ya f. g. 140 . e. serta nyeri perut bagian bawah. dll.

Tanyakan sering makan di luar ga? Gimana kebersihannya? → untuk exclude thypoid dan hepatitis A. Ternyata ada faktor genetik juga loh. Makanan-makanan yang sering bikin batu pada saluran kemih: sering kurang minum. tempat menyimpan air. imunosupresi.- Riwayat DM. Sehingga kita harus wasapada juga jangan kecolongan DHFnya! Adanya orang lain di keluarga atau daerah sekitar yang mengalami hal serupa? → adanya kemungkinan dengue fever Habis travelling ke lingkungan endemik malaria ga? Life style Cara membilas regio perineal setelah buang air → kebiasaan membilas dari belakang (anus) ke depan (introitus vagina) meningkatkan risiko ISK. menopause. 141 . suka cuci tangan ga? Cari kecurigaan DM (salah satu risk factor ISK) 3. RPK Adanya riwayat sexual intercourse terutama bila pasangannya menderita uretritis gonokokal atau chlamydial. kehamilan. OMA. terus yang banyak asam urat kayak gitu2. Tanyakan kebersihan diri. Pemeriksaan fisik a. Ada riwayat penyakit ginjal ga? Lingkungan Keadaan sanitasi. obstruksi saluran kemih. kondisi rumah tinggal seperti selokan. terus pasien tampak kesakitan (kan nyeri tuh perut bawahnya). Keadaan umum : lemes soalya kan kadang pakai mual muntah. dll → waspadai kemungkinan meningitis. malformasi saluran kemih merupakan beberapa risk factors ISK. - Adanya infeksi pendahulu seperti pharyngitis. dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat hidup nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue fever. Kalo pasiennya rekuren terus ISKnya coba tanyain ada ortunya yang kayak gitu juga ga. batu pada saluran kemih.

c. Abdomen : Nah kalau DD udah menyempit ke arah-arah ISK gitu. Bila didapatkan bakteri dalam urin <10 5 dan pyuria (misalnya WBC >20/mm3) maka hasilnya tetap signifikan terdapat infeksi. Adanya bakteri pada 142 . karena daerah suprapubic biasanya juga ada tenderness. Cystitis : tenderness pada daerah suprapubic.. Kepala dan leher Mata : pastikan ga ada sklera ikterik Mulut : pastikan bukan thypoid yang ada lidah kotor itu. Pyelonephritis akut : generalized muscle tenderness ketika angulus costovertebra dipalpasi dalam. Leher : pembesaran limfonodi.b. Brudzinski’s sign perlu dilakukan bila ada kecurigaan meningitis. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Pada pasien ISK asimptomatis. Suhu tubuh tinggi. biasanya didapatkan bakteri dalam jumlah besar (>105/ml) pada urin aliran tengah. d. Thorax f. Pada pasien ISK simptomatis. harus dilakukan pemeriksaan bakteri menggunakan 2 spesimen urin aliran tengah. Pemeriksaan GCS dan tanda-tanda meningeal seperti Kernig’s sign. Bakteri Urin Pemeriksaan jumlah dan tipe bakteri dalam urin merupakan prosedur diagnosis yang penting. dll Auskultasi: Perkusi: lihat ada pembesaran hepar ga (hepatitis kan suka ada tu) Palpasi: abdominal tenderness. e. mari kita periksa abdomen Inspeksi: lihat ada pembesaran organ ga. Uretritis : biasanya sulit dibedakan dengan cystitis. 4. Vital sign : Tekanan darah. Untuk yang iSK atas suka nyeri di angulus costovertebra Ektremitas dan neuro Pemeriksaan Rumple Leed dilakukan bila ada kecurigaan dengue fever. luka. dan didapatkan >105/ml dari masing-masing spesimen. Pemeriksaan Penunjang a.

e.5gr/8 jam i. Infeksi berulang juga harus dikkasifikasikan. 5. d. h. Darah → darah rutin. 143 . c. Urinalisis → terutama nitrit atau leukosit leukosit. Kultur urin dan tes sensitivitas antimkrobial harus dilakukan kecuali pada wanita dengan cystitis akut akomplikata.aspirasi suprapubic atau didapatkan >102 bakteri/ml urin dari kateter mengindikasikan adanya bakteri. b. Setiap course treatmen harus diklasifikasikan apakah gagal atau sembuh. g. yang paling umum digunakan adalah USG. Evaluasi urologik Penggunaan cystoscopy dan IV pyelography hanya digunakan dalam kasus-kasus tertentu seperti wanita dengan infeksi berulang. Pada pasien dengan infeksi berulang.o selama 4 minggu.penggunaan instrumen. Rekurensi >2 minggu setelah terapi dihentikan biasanya menunjukkan adanya reinfeksi oleh strain baru atau strain sebelumnya. Faktor predisposisi infeksi seperti obstruksi dan calculi harus diidentifikasi dan dikoreksi.o (selama 3 hari untuk wanita dan 7 hari untuk pria). riwayat infeksi saat anak0anak.o atau Trimethoprim 100mg/12 jam p. riwayat hospitalisasi dalam waktu dekat. atau hematuria yang tidak sakit. Farmakoterapi Cystitis: Trimethoprim-Sulfamethoxazole 160/800mg/12 jam p. b. apakah strain bakterinya sama atau berbeda dengan sebelumnya. Sembuhnya gejala klinis tidak selalu mengindikasikan hilangnya koloni bakteri. Pemeriksaan bakteri secara mikroskopis dapat dilakukan menggunakan pengecatan Gram. Prostatitis: ciprofloxacin 500mg/12 jam p. Memperbanyak intake cairan. calculi. adanya strain yang resisten terhadap antibiotik harus dicurigai. d. f. c. Wanita atau pria dengan infeksi akut disertai tanda dan gejala adanya obstruksi atau calculi harus segera diberikan evaluasi urologik. kultur darah bila keadaan sitemik buruk. dan pyelonephritis berulang. yang tidak disirkumsisi. e. sering urinasi (jangan menahan urin). atau yang mengidap AIDS. Terapi dan edukasi a. Alternatif: cefalexin 1gr/12 jam. urea dan elektrolit.v lalu secara oral selama 7 hari. Pengecualian untuk evaluasi urologik ini adalah pria muda dengan cystitis yang disebabkan aktivitas seksual. Pyelonephritis akut : cefuroxime 1.

Jadi menurut European Guideline untuk MXx LBP ada pembagian onset LBP: Akut Sub akut Kronis Rekuren <6 minggu 6-12 minggu >12 minggu new episode setelah “symptomp-free periode” dalam waktu 6 bulan.o selama 7 hari. belakang paha. Durasi : bisa macem2. terus pas nyabut telonya kan pake mengejan tu.. Lokasi : di punggung bagian bawah tentu saja. bisa kejadian deh HNP).- Urethritis akut: pada infeksi chlamydial diberikan azithromycin 1gr single dose p. i. KU : low back pain 7.ischiadicus) j. HNP 6. sampai ke betis dan ankle → sebabnya: iritasi n.tapi biasanya berminggu2 yaa k. kalo udah degenerasi discus intervertebralisnya.o atau doxycycline 100mg dua kali sehari p. tapiii bukan eksaserbasi yang kronis. Nah kelemahan tersebut tergantung dari letak lesinya di setinggi vertebra berapa. Sering juga disertai sciatica (nyerinya menjalar ke pantat. Karakteristik : nyerinya kan progresif kalau ga diobati. Tanyakan juga ya habis ngapain pasiennya ko bisa LBP gini (misal petani panen telo. Anamnesis RPS h. Onset : akut progresif. Pasien juga biasanya mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak bawah (misal jadi susah jalan. susah pakai celana sendiri). 144 .

n. Syarat dari LBP non spesifik ini adalah tidak ada red flags di bawah ini! Nah. inflamasi. osteoporosis. Keluhan lain : Bisa jadi ada gangguan pada BAK dan BAB nya. bersin. tumor. harus dicurigai adanya kondisi patologis pada low back. ketawa. dll) gitchu. Berikut ini adalah red flags tersebut: Umur <20 tahun atau >50 tahun Onset akut pada org tua Nyeri konstan atau progresif Nyeri malem2 Tambah nyeri saat supine Kaku pagi hari 145 . Aggrevating : tambah sakit kalau ada peningkatan tekanan intraabdomen → batuk.paru →waspada keganasan dan metastasis! Cerita sejenak.. cauda equina syndrome. Dengan kata lain kita harus periksa dengan teliti sebab si LBP ini apa. Tanya apakah ada penurunan BB? Riwayat keganasan di tempat lain esp.... m. stenosis spinalis.20 l. ankylosing spondylitis. Sebenernya nih LBP itu kebanyakan NON SPESIFIK (95%) alias BUKAN disebabin karena kondisi patologis (seperti infeksi. Relieving : minum analgesik seperti NSAID. mengejan (makannya si pasien suka “takut” kalau BAB). makanya kalau ada RED FLAGS di bawah ini.

Metabolik: osteoporosis 6. sama kisah tentara itu). 4. 2. Degeneratif: spondilosis. osteoarthritis. HNP. Tumor 5. BB turun Riwayat malignansi Nyeri dada belakang Bilateral or alternating symptomp Gangguan neurologis Gangguan BAB BAK Claudicatio kaki (spinal stenosis) Sedang infeksi atau riwayat infeksi Imunosupresi Massa di abdomen Terus sebab-sebab LBP tu ada macem-macem ya: 1. strain-sprain otot or ligamen. Life style Pola makan? Apakah kalsium cukup? (curiga osteoporosis) 146 . keringat malam. HIV? RPK Ada yang kayak gini ga? Lingkungan Pekerjaan apa?? Penting ditanyakan. soalnya paparan tekanan di backpain bisa bikin LBP (kayak kisah si petani mbedhol telo itu. ankylosing spondylitis. Trauma : fraktur yang bikin kompresi di lumbal. Inflamasi: RA. 3. abdomen)? Dulu pernah kayak gini ga? Riwayat trauma di situ? Diobati apa? Pemakaian obat2an imunosupresi.- Demam. psikosomatis RPD riwayat keganasan di tempat tersebut? Riwayat keganasan di tempat lain (paru.

j. e. Tes Nafzinger: kita teken v. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Vital sign : Tekanan darah.kayak Alm. terus pasien disuruh ngejan → ntar timbul sciatica (berarti kemungkinan besar ada stenosis spinalis yang njepit sarafnya tuh). Tes Lasegue: pasien bobokan. Tes Patrick: ini untuk cari tahu apakah nyerinya disebabin karenya ada kelainan di sendi panggul. Neuro : Inspeksi : coba lihat di vertebranya gimana (deformitas ga. Tes valsava: pasien disuruh nahan napas terus mengejan → positif kalau ada nyeri radikular. taktil.- Penurunan BB? (curiga keganasan or metas) Merokok? (curiga kanker paru. c. Sehari-hari kalau kerja posenya gimana? 8.. Tes kontra Patric: fungsi sam dengan di atas. Thorax : screening ada keganasan ga. achilles Reflex patologis: babinski Tes spesifik LBP : a. suhu. Pemeriksaan fisik g. sering metas ke vertebra. Keadaan umum : kesakitan. Cara: lipat tungkai ke arah dalam (endorotasi) pada sendi panggul sambil adduksikan. Kepala dan leher Mulut : adakah oral ulcer? (curiga HIV) Abdomen : screening penting apakah ada pembesaran organ! k. b. Cara: maleolus externa pasien ditempelin ke lutut. vibrasi. Kalo pada HNP hasilnya negatif (-). tajam-tumpul. h. Palpasi: ada yg menonjol ga di vertebra? Nyeri ga? Apakah ada tanda-tanda inflamasi? Pemeriksaan neuromotor: power Neurosensori : suhu. susah jalan. propriosepsi. Reflex fisiologis: patella..jugularis interna pasien (kanan kiri). lalu angkat → kalo pasien kesakitan berarti ada sciatica. Chrisye). Lihat gait exam! Postur tubuh gimana. i. dll). 147 . Tapi bisa naik HR & RR nya kalau dia cemas. terus kita pegang ankle pasien sambil megang lututnya juga. bekas trauma. tb ga? l. d.

Pemeriksaan Penunjang Foto rontgen (AP. berdiri.9. kerja. Diskografi. Bedrest post oprasi: 2-3 minggu. Fisioterapi. 148 . 10. jalan. Vitamin B. metilprednisolon Pakai korset dulu Ajari posisi yang bener untuk duduk. Terapi dan edukasi Rujuk : harus bedah (ex laminectomy). oblik) Elektroneuromiografi (ENMG) Mielografi. L.

Kebanyakan pada laki2. aggravating berupa aktivitas yg melibatkan pergerakan otot leher/stress 2. migraine  unilateral. durasi bervariasi 30 menit. Nyeri retroorbital h. Migraine: a. Nyeri berdenyut. Cluster: a. Nyeri kepala tajam seperti ditusuk c. durasi 4-72 jam b. TTH : a. Kebanyakan pada wanita. tidak pernah mengalami nyeri kepala hilang selama sakit b. Terdiri atas 3 macam: 1. kepala seperti diikat c. d. Ptosis e. fonofobia c. Aggravating: alcohol 3. Disertai injeksi konjungtiva d. mual. Disertai dengan aura: fotofobia.7 hari. Rhinorrhea f. cluster  retroorbital : sesuai onset Karakteristik : liat atas Agravating : migraine  noise/light. cluster  alcohol Relieving : istirahat 149 .HEADACHE Headache Primer Definisi: sakit kepala yg terjadi bukan karena causa lainnya. muntah KU : nyeri kepala Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : sesuai dengan durasi : TTH  tengkuk/leher. Lakrimasi unilateral g. nyeri langsung hebat tp durasi singkat (15 -180 menit) b.

kadang ada nyeri tengkuk Anamnesis :  RPS 150 . nyeri kepala sekunder Pemeriksaan fisik : Kesan umum : tampak nyeri kepala Vital sign : d. sumatriptan (5-H1 antagonis) d. diazepam. Pola makan: Review system : ada trauma/tidak. Diet : c. deficit neurologis.n Pemeriksaan fisik : Px neurologis: Pemeriksaan penunjang CT scan: utk exclude nyeri kepala sekunder Terapi b. cluster. Cluster  paracetamol Edukasi e. Cluster  hindari alkohol HEADACHE SEKUNDER Hipertensi KU : sakit kepala. Parafrase ke pasien Sebutkan DD : TTH. TTH  paracetamol. Migraine  cavergot (vasokonstriktor).Treatment : obat sakit kepala    RPD : dulu pernah merasa sakit yang sama RPK : yang punya riwayat keluarga dengan keluhan yang sama  migraine Lifestyle : a. ada kelemahan anggota gerak/tidak  negative pada nyeri kepala primer. Olahraga: tergantung pasien b. migraine. TTH  bed rest f. amitriptilin. Migraine  hindari faktor aggravating g. c. fotofobia dan fonofobia (migraine).b.

Pekerjaan? Stresful?  Review system : keluhan lain : a. Agravating : waktu tekanan darah naik lebih tinggi dari biasanya. HF o Otak: stroke. penyakit jantung. Pada hipertensi kadang disertai epistaksis. bisa localized di tengkuk : bervariasi. berkunang-kunang. cemas. telinga berdengung. penyakit ginjal dan hepar. picuan faktor psikologis (stress. Merokok ga? d. TIA o Ginjal: CRF o PAD c. DM. parah sering terjadi saat pagi hari tapi terus membaik seiring berjalannya hari itu Karakteristik : rasa terikat kayak diikat pakai headband (kayak TTH) Apakah didahului “tanda2” sebelum sakit kepala (maksudnya aura)? → migrain. MI. tanyakan sudah diobati apa  RPD : riwayat HT (tanyakan terkontrol atau tidak? Obatnya apa?). depresi) Relieving: stressor hilang. Komplikasi lanjut dari hipertensi o Mata: penurunan visus karena retinopathy hypertension o Jantung: LVH. Olahraga:b. Kaku kuduk dan demam → meningitis f. Mual muntah → mungkin ada peningkatan ICP (suspek pendarahan atau tumor) d. DM Lifestyle : a. pas siang hari. Penurunan kesadaran → stroke hemoragik Parafrase ke pasien Sebutkan DD : 151 . Riwayat trauma sebelum ini (mungkin ada pendarahan intrakranial)?   RPK : tanyakan orang tua apakah ada yang HT. stroke. penyakit jantung. b.Onset Lokasi Durasi : sejak kapan? → biasanya HT udah sering gitu : di mana sakitnya? → bisa generalized. sulit tidur. angina. Demam → infeksi (waspada infeksi intrakranial) e. stroke. Diet : garam-garaman dan lemak tinggi ga? Alkohol > 1 ons/hari? c.

stenosis a. hypercorticol. bruits pada auskultasi Kepala : periksa visus bila ada penurunan tajam penglihatan. hyperaldosteron. periksa segmen posterior dengan ophtalmoscope (retinopathy hypertension: pendarahan bentuk flame. HR. suhu biasanya normal Notes: pemeriksaan BP harus 2x (dengan jarak 5 menit). bising Perkusi  kardiomegali Auskultasi Abdomen : ascites (pada SN). obat2an. abnormal aorta pulsation (palpasi epigastik). pembesaran ren. 2 lengan Pemeriksaan fisik : Thorax : Inspeksi Palpasi  jika kurus terlihat hepatomegali  ictus cordis (bergeser ke atas pada LVH)  S3 dan S4 terdengar. 2 posisi (duduk dan bobo). pegang kepala atau tengkuk Vital sign : BP naik. penyakit tiroid. pheocromocytoma.renalis.jugularis interna. penyakit jantung) perlu pemeriksaan lebih lanjut. pembesaran tiroid Extermitas : edema 152 . exudat keras) Leher : pembesaran v. DM. RR.o HT primer (95%) atau sekunder (5%). sleep apnea. o TTH o Tumor otak o Migrain o Trauma o Infeksi o Stress psikosomatis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak kesakitan. Kalau sekunder (kausa: penyakit ginjal. vasa kaku.

EKG: LVH. CT kalau ada penurunan kesadaran suspek stroke Manajemen 153 . infark CBC: glukosa. kreatinin. j. lipid. enzim jantung. Rontgen dada: kardiomegali i. elektrolit k. serum urea. Urinalisis: apakah ada DM. renal disease? l.Pemeriksaan penunjang h.

Relieving: dikasih analgesik. keluhan lain: 154 . Location: tergantung lokasi tumor c. Onset: kronis bisa bertahun-tahun b. Durasi: sakit kepala semakin memberat seiring berjalannya waktu d. tiduran RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? Infeksi? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: progresif Life style: penurunan BB Review system. Aggrevating: waktu f. Anamnesis : RPS a.Edukasi Tumor otak 1. KU : sakit kepala 2. Karakteristik: kadang disertai muntah (karena ICP meningkat) e.

Pemeriksaan penunjang 1. ataxia. bisa juga dateng pas udah LOC b. sama paresis ekstremitas. Protrombin time (PT) 4. Partial thromboplastin time (PTT) 5. demam. Darah rutin 6. power Neurosensori: taktil. hidrosefalus akut. Imaging → CT scan untuk exclude pendarahan. vibrasi. abses 2. BB/TB c. Vital sign : BP naik. Gangguan BAB dan BAK jangan lupa ditanyakan. HR turun. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Tinggikan kepala 30-45 derajat Maintain osmolaritas serum Avoid hipotensi.cranialis Neuromotor: stabilitas. Bleeding time 10. Pemeriksaan fisik a. suhu. Monitor ICP 3. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 4.Terus ada juga gangguan nervus cranialis (diplopia. tajam tumpul. suhu normal d. menggigil. Kontrol nyeri (analgesik) agitasi (propofol). Kondisi umum: kesakitan. Fungsi hepar 9. RR (iregular periksa pola napas untuk tahu letak lesi) → cushing’s triad. motion. Elektrolit 8. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Mual muntah. trauma. gang memori dll tergantung letak lesi). Analisa Gas Darah 5. kejang. 3. 155 . Troponin 7. posture.

. Relieving: kayaknya ga ada RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: dadakan Life style: rokok. Kadang pakai kejang juga. Durasi: sakit bgt terus d. Anamnesis : RPS a. Kondisi umum: sangat sangat super kesakitan. obese. karena sakit banget biasanya langsung ke dokter atau RS b. Pemeriksaan fisik a.- Maintain normocarbia (PaCO2 35-40 mmHg) Maintain euvolemia (normal saline atau albumin) Stroke hemoragik yang subarachnoid hemorrhage 1. suhu normal (untuk exclude meningitis) c. kalau parah: penurunan kesadaran 2. muntah.cranialis 156 . Karakteristik: sakit kepala terberat. bisa juga dateng pas udah LOC b. KU : sakit kepala banget. sama paresis ekstremitas. lack of exercise. HR. Vital sign : BP biasanya tinggi. Ada kaku kuduk. 3. diet tinggi lemak dan garam. Onset: mendadak.. disertai kaku kuduk e. dan meningeal symptom sehingga harus bedakan dengan meningitis infeksi (ada demam pada yg infeksi) yaa. Terus ada juga gangguan nervus cranialis. stres Review system. Aggrevating: buruk terus-terusan f. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. keluhan lain: Biasanya terus diikuti penurunan kesadaran kalau ICP meningkat terus. fotofobia. RR juga. Location: generalized c.

mual muntah. Location: generalized c. pertahankan <120 Meningitis 1. sub akut. Pemeriksaan penunjang 1. Onset: akut <48 jam (biasanya bakteri). Anamnesis : RPS a.. Protrombin time (PT) 3. Fungsi hepar 8. kronis. Karakteristik: sakit kepala. fotofobia e. tajam tumpul. Bleeding time 9. parasit. disertai demam 2. Durasi: akut. Imaging → CT scan 2. Darah rutin 5. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis Pemeriksaan spesifik: Kernig dan Brudzinski + mengindikasikan meningismus dari SAH ini. 4. vibrasi. Analisa Gas Darah 5. sub akut (viral. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Jaga BP jangan tinggi2. motion.. 30 mg kalau SBP 120-140. Aggrevating: f. Elektrolit 7. dll). power Neurosensori: taktil. Troponin 6. KU : sakit kepala.tapi kebanyakan sih akut kalo meningitis d. kaku kuduk. Relieving: tiduran RPD 157 . posture. non infeksius) b. Partial thromboplastin time (PTT) 4. suhu..- Neuromotor: stabilitas. nimodipine mg 60 setiap 4 jam kalau SBP>140. kronis (fungal.

motion. penurunan kesadaran bisa terjadi. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. posture. Kepala: trauma Eyes: konjunctiva. suhu meningkat h. tajam tumpul. suhu. sclera. vertigo 3. Kondisi umum: kesakitan. Antikoagulan)? Infeksi sebelum ini? Riwayat opnam? Riwayat tindakan medis (sepsis)? Riwayat imunisasi? RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Riwayat perjalanan: progresif Life style: travelling? Review system. lemah. BB/TB g. RR naik/N.Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet. f. coma Hallucination Cranial nerve palsy Hemiplegia. papiledema Leher: limfadenopati THT: infeksi awal i. somnolent. vibrasi. keluhan lain: Abnormal skin color Mual muntah Kejang Penurunan kesadaran Delirium. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 158 . power Neurosensori: taktil. hemiparesthesia Ataxia Dizziness. Pemeriksaan fisik e. HR naik/N.cranialis Neuromotor: stabilitas. Vital sign : BP turun/N.

Glukosa darah c. sesegera mungkin (30 menit awal). Terapi       Antibiotika intravena. wbc. kultur bakteri 5. protein. Koagulasi d. brudzinski 1-4 4. berikan AB sesuai bakteri yang ditemukan Analgetika Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang Bila gelisah: berikan sedatif Bila ada udem otak: beri steroid 159 . CSF: glukosa. pilih broad spectrum Setelah hasil kultur ada. Pemeriksaan penunjang a. Urea dan elektrolit plasma b.- Spesifik: kernig. urinalisis e.

r nya bisa genetic juga 160 . bersifat intermiten dan ada fase interkritikal RA : min 4 dari 7 : kaku pagi hari > 1 jam. trauma. OA Ax : KU : Nyeri pada persendian RPS : O : GA : dewasa 30-50 th RA : dewasa 30-50 th OA : usia tua terutama di atas 50 tahun L : GA : metatarsofalang I (podagra). perlu juga ditanyain karena f. pergelangan kaki. diurut-urut T : GA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi OA :OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RPD : GA : riwayat asam urat tinggi. perubahan radiologis OA :nyeri pada saat aktivitas. tofi juga bisa muncul di telinga RA : pergelangan tangan. PIP. soalnya kan dia autoimun. arthritis pada 3 daerah dan simetris. kaku pada pagi hari < 30’. makanan tinggi purin. arthritis di sendi tangan. DM. degenerative. gangguan ginjal RA :riwayat penyakit autoimun OA : riwayat trauma (+/-) RPK : pada RA riwayat penyakit keluarga sangat penting. HT. perdarahan.NYERI SENDI Dd : GA. nodul rheumatoid (+). trauma R : GA : obat antiinflamasi RA : obat antiinflamasi OA :konsumsi OAI atau obat antinyeri. istirahat. alcohol. kronik (lama) C : GA : serangan sangat sering pada malam hari disertai pembentukan tofi. metatarsofalang / metacarpofalang  simetris OA :sendi penyangga tubuh terutama lutut dan panggul. pangkal ibu jari kaki bagian dalam. RF (+). suhu dingin (pagi hari). tapi kalo GA sama OA. dehidrasi RA : aktivitas OA : aktivitas berat. RA. DIP D : GA : 1 tahun atau lebih tergantung penanganan RA : kronis bergantung penanganan OA :progresif. keterbatasan gerak dan krepitasi A : GA : penggunaan diuretic. obesitas.

pembengkakan sendi. atau 1100mg pd diet tinggi purin Mikroskopik tofi  tampak ada Kristal asam urat 161 . leukositosis. bird like face dll. bengkak terutama pada kapsul sendi. ekstrimitas hangat. osteofit. poliartikuler RA : sendi teraba hangat dan bengkak Kepala dan leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Px tambahan : X-ray : GA : erosi diluar kapsul sendi dengan joint space masih utuh RA : penyempitan ruang sendi disertai erosi dan pembengkakan jar.lunak OA :penyempitan celah sendi. namun terjadi gangguan berjalan akibat deformitas dan nyeri pada sendinya. RF < 1: 40 pada OA atau > 1: 40 pada RA Kadar asam urat serum > 7 mg% pada wanita atau > 8 mg% pada pria Kadar asam urat urin 24 jam sebanyak 800 mg/hari. kaya kalo misalnya buruh pabrik gitu yang melakukan aktivitas fisik berulang-ulang  Faktor risiko OA Lifestyle : GA : makanan tinggi purin RA : OA :sedentary sehingga mengakibatkan obesitas. eritem. trombosit ↑ Leukosist sendi : pada OA peningkatan Leukosit sendi di bawah 2000/mm3 sedangkan pada RA > 2000/mm3. kurangnya olah raga Review system : RA biasanya diikuti demam. sklerpsis subkondral Lab : Darah Rutin :↑ LED. kalo OA dan GA (). VS : T ↑ pada RA Lokomotor exam : (untuk pemeriksaannya lihat bagian lokomotor exam) Temuan : OA : krepitasi. pada GA ditemukan tofi dan juga dapat terjadi kerusakan ginjal  gangguan ekskresi asam urat Px : Keadaan umum : pasien secara umum tampak sehat (atau demam pada RA dan gout yang aktif).Lingkungan : pekerjaan pasien perlu ditanya. bisa atau tanpa rasa hangat pada sendi GA : tofi (+). hangat. pada RA : anemia.

sulfalazine 500 mg/hari OA : R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d tab I ……………………………. koreksi postur.d tab I R/ tab Colchicines 0.d.d.d. kurangi aktivitas sendi.6 mg no VI S 1.d.d.d tab II (3 hari) R/ tab colchicines 0. jadi d itter 2x) R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV atau yang 25 mg 3x1 hari S 2.1.d tab I Intercritical : Kolkisin 0.6 mg no IV S. Ulang asampai asam urat < 6mg/dl Diet rendah purin RA : R/tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.6-1.Tx : GA : Serangan akut : (selama 2 minggu. turunkan BB 162 .d.berat OA :dukungan psikososial.2 mg/hari R/ tab Allopurinol 300 mg no VII s.d tab I ( 4 hari) R/ Tab prednisone 20 mg no VII S 1.d tab I DMARD  klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari.1. tetap d gerakkan namun kurangi akt.d tab I Edukasi : GA :kurangi makanan tinggi asam urat dan diuretic kuat (thiazide dan furosemid) RA : fisioterapi.d.

Kriteria diagnosis dari DM (WHO) adalah : Munculnya simotomp-simptomp hiperglikemia (polyuria. BB turun.5% Di sini yang dibahas yang DM tipe 1 dan 2 aja ya. Sebab lain: obat-obatan (kortikosteroid jangka panjang). Tapi biasanya datang pas udah ada komplikasi 163 . polyuria. weight loss. Jadi di tubuh kita itu ada si insulin (berfungsi dalam up take glukosa ke dalam sel hepar. DM tipe 2: disebabin karena ada resistensi insulin ataupun adanya disfungsi dari si sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. d. infeksi. sebelum hamil dia normal aja.1 mmol/L) or Fasting plasma glucose (FPG)/ gula darah puasa (tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam) sebesar >126 mg/dl (7.1 mmol/L) Kalau kriteria menurut ADA. polydypsia. visual blurring. Disebabkan karena growth hormone kluar banyak banget padahal dia kerjanya berlawanan dengan insulin. genital thrush. p=pancreatic disease dll. Kalau DM tipe 2. 2010 : bisa salah satu kriteria di atas DAN HbA1c > 6. DM banyak macamnya: a. ketoasidosis DM tipe 2 Sering asimptomatis. otot. Anamnesis KU DM tipe 1 Salah satu dari : Polydipsia. jumlah keduanya pas sama banyak. DM gestational: teriagnosis pertama kali saat hamil. DM tipe 1: disebabin kekurangan insulin gara-gara ada destruksi sel-sel beta pankreas. dan lemak) dan reseptor insulin yang kayak pasangan key-lock.o mmol/L) or Two-hour plasma glucose (2hPG) >200 mg/dl (11. dia jumlahnya pas tapi karatan key-lock nya sehingga ga bisa kebuka deh pintunya (glukosa ga bisa di-up take gityuu). dia kekurangan key (si insulinnya). c. Penderitanya jadi insulin dependent. letargik) DAN random plasma glucose (gula darah sewaktu) >200 mg/dl (11.WEIGHT LOSS: DIABETES MELITUS Preface DM merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya atau menurunnya efek dari insulin endogen. b. Kalau pada orang sehat. Nah kalo orang DM tipe 1.

vasa. jantung. GE. glaukoma RPD -Dulu pernah kayak gini? Udah pernah dikasih apa? -Karena pasien mostly anak2. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Aggrevating Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. obat TB. uti. Biasanya obese. hamil. bisa di mata. Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. hipertensi. jantung. otak)? Ada gangguan di situ ga (gimana penglihatannya. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Relieving Keluhan lain -Tadi udah banyak disebutin di KU. tp biasanya yang BB turun) mikrovaskular (retinopati. terus seringnya pada anak-anak. infeksi. gastroparesis. katarak. katarak. nefropati) atau makrovaskular (CAD. metabolik synd. infeksi kronis baik 164 -Tadi udah banyak disebutin di KU. dewasa jarang karena biasanya udah keburu mati duluan sebelum jadi dewasa. tanyakan riwayat tumbuh kembangnya! KMS nya gimana? Imunisasi gimana? Riwayat persalinan gmn? → eksklusi gangguan tumbuh kembang. sepsis). Infeksi (pneumonia. dislipidemia). sepsis). infark. ginjal. infark.GIT: diare. gastroparesis. otak Durasi Kronis progresif Tergantung keparahan (lihat tabel pemeriksaan tambahan yaa) Karakteristik Biasanya genetis gitu. saraf. hamil. luka ga sembuh2. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P -GIT: diare. uti. dll)? -Tanyakan RF dari resistensi insulin: obese. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P . cvd. Penampakannya tuh juga kurus-kurus. Itu merupakan beberapa RF terjadinya resistensi insulin yang menimbulkan DM tipe 2. . hiperglikemi. obat (koakain). glaukoma -Tanyakan komplikasi apa aja yang pernah muncul (dari mata. gangguan genitourinari. sisanya jadi gejala penyerta hehe) Onset Lokasi Usia muda <30 tahun Usia lebih tua >30 tahun Macem-macem.Sisanya jadi gejala penyerta hehe (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. vasa. infeksi.CVD) (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. PAD. GE. saraf tepi. Infeksi (pneumonia. obat (koakain). neuropati. gangguan genitourinari. terus ada metabolik syndrome (central obese.

tachypnea pola Kussmaul. Mual muntah. infeksi. Lihat apakah ada komplikasi pada jantung? Cardiovascular disease seperti CHF. Thorax Kelainan di jantung dan paru dilihat. sindrom nefrotik). 165 Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. RPK Life style Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan. Tanda DKA: kussmaul. letargik) BB/TB Kepala Wasting Apakah ada : Mata cowong. tachypnea pola Kussmaul. shortness breath. Mual muntah. Abdomen Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. polikistik ovari. kistik fibrosis. sindrom nefrotik). lemah BP bisa tinggi. lnn. werner’s. dll. Leher Lnn ada infeksi ga? Bisa saja si anaknya pake infeksi segala. cushing’s. massa. shortness breath. ASI. Tanda DKA: kussmaul. tenderness. Olahraga? Stress? Pemeriksaan KU Vital sign DM tipe 1 Lemah. (exclude dehidrasi. ASI. mukosa kering. RR usually in normal limit. Apakah ada : Mata cowong. luka. Obese. (exclude dehidrasi. tenderness. hipotensi. kehamilan. . Tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. kurus Biasanya normal. letargik) DM tipe 2 Obese. infeksi. hipotensi. lnn. BBLR. tinggi. walau bisa aja sih ga obese. Biasanya normal. edema periorbital. mukosa kering. tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. edema periorbital. acromegaly.saat intrauteri ataupun postnatal. gagal ginjal. luka. massa. Olahraga? Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan (banyak kolesterol. HR variatif tergantung ada komplikasi makrovaskular ga.

tibialis. rhytmic (kontraksi-relaksasi bergantian.6 mmol/L (100 mg/dl) 2-h-PG <7. renang). Modifikasi EXERCISE Lakukan olahraga minimal 5x/seminggu @min. Harus jelaskan kepada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya. Inspeksi: ada luka. Bandingkan sama atau gak. a. a. interval (pelaan. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor) Peripheral artery disease: raba pulsasi a.dosalis pedis. komplikasi yang mungkin terjadi. terus 2 minggu males).1 mmol/L (140-199 mg/dL) >7 mmol/L (126 mg/dl) >11. Femoralis. bukan minggu ini rajin. Panah 1: progresif Panah 2: bisa reversible ke stage sebelumnya FPG: fasting plasma glucose (minimal 8 jam) 2hPG: tes toleransi glukosa Treatmen dan edukasi Treatmen dan edukasi Tujuan: menjaga kadar glukosa mendekati normal serta mencegah hipoglikemi.Ekstremitas Inspeksi: ada luka. progressive (porsi latian bertambah). a.brachialis.1 mmol/L hyperglycemia DM Insulin untuk kontrol Insulin untuk survive 166 (200 mg/dL) .9 mmol/L (100-125 mg/dl) 7. joging.tibialis. Olahraga harus yang continous (berkelanjutan. ex. ulkus. Bandingkan sama atau gak. Femoralis. dan cara pengobatan. Peripheral artery disease: raba pulsasi a.8mmol/L 5. pengobatan yang harus dilakukan. a. a. ulkus. a. terus lebih cepat.dosalis pedis.8-11.30 menit. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor).brachialis. terus cepet). endurance (melatih Tipe diabetes Normal glucose tolerance Pre-diabetes IFG atau IGT Ga butuh insulin Tipe 1 Tipe 2 Other Gestational Time (years) FPG <5. Pemeriksaan Lab.6-6. memodifikasi gaya hidup.

Max HR: JANGAN LEBIH DARI 80%(220-usia) supaya tidak heart attack. b. 3. protein 15-20%. (2) Soluble insulin: injeksi 15-30 menit sebelum makan.5 – 25  30 calories/KgBW/day Underweight: <90% (Ideal BW) or BMI < 18. 2.5  40 calories/Kg BW/day Overweight: 110 . KH<50-60%. insulin graline.ketahanan). 167 . Macam-macam insulin Insulin subkutan. Tapi yang banyak dipakai tu si nsulin subkutan (100 U/mL). DM TIPE 1 butuh insulin terus tentunya. Modifikasi DIET 1. gula maks. Jenis makanan: fat <30%. tapi dia bisa progresi jadi butuh obat-obatan dulu. Ideal body weight: NUTRITION and DIET Men (<160 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs ( >160 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Women (<150 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs (>150 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Normoweight: 90-110% (Ideal BW) or BMI 18. insulin detemir. DM TIPE 2 pertama-tama kita modifikasi life style dulu. (lihat di daftar obat).25 gr/hari. Ada 6 tipe: (1) Ultra-fast acting: injeksi saat mau makan atau tepat setelah makan. diinjeksikan secara subkutan.120% (Ideal BW) or BMI 25-30  20 calories/Kg BW/day Obese: >120 % (ideal BW) or BMI >30 20 - OBAT a. Na <6 gr/dl tapi kalau hipertensi <3 gr/dl. nah kalau semakin buruk dia bisa sampe butuh insulin. (3) Intermediate acting (4) Long-acting (5) Long-acting analogue (6) Pre-mixed insulin Rejimen insulin subkutan: (1) Rejimen BD : 2x1 premixed insulin untuk DM tipe 2 atau tipe 1 dengan life style reguler. Jadwal makan: 6x sehari tapi porsi dikiitt2. Jumlah makanan: jangan banyak-banyak porsinya sekali makan.

Glibenclamide mg 2. (3) 1x1 sebelum tidur dengan insulin intermediet atau long-acting. Tab I R/ Tab.1. Metformin mg 500 No.d. 2. Metformin mg 500 No.2. VII S. Setelah 8 minggu periksa HbA1c. Normalnya <7.5% pada yang ada penyakit arteri ex. post AMI.d.d. Monitoring : 1. Obat-obatnya Umumnya. XIV S. Untuk DM tipe 2. harus kasih insulin.5% atau <6.d. 168 .d. DM tipe 2 dimulai dengan R/ Tab. Tab I Kalau masih ga mempan lagi.(2) Rejimen QDS : sebelum makan (ultra-fast atau solubel )DAN sebelum tidur (intermediate acting atau long-acting analogue). XIV S.2. Di awal-awal haru rajin bikin diary tentang kadar gulanya (finger stick). Untuk DM tipe 2. Tab I Metformin digunakan untuk yang BMI >25 Kalau BMI <25 R/ Tab.d.5 No.

C-13 Urea Breath Test. Diagnosis: Dyspepsia organik berupa ulkus duodenal akibat infeksi agen H. berpusat di abdomen bagian atas. 2. pankreatitis. Dyspepsia terbagi menjadi 2 jenis: 1. yang bukan nyeri. bloating. dan stool antigenic test. nausea dan/atau rasa penuh pada abdomen atas. Nyeri tersebut akan hilang setelah mbak Gastricia makan.INDIGESTION Dyspepsia/Ulkus Peptikum Skenario Seorang wanita. Organic Dyspepsia: dyspepsia yang didasari suatu penyakit yang diperkirakan menjadi sebab gejala tersebut. Dokter Fau kemudian merencanakan pemeriksaan endoscopy. pylori Definisi Dyspepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang berulang atau kronis. dsb. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya epigastric tenderness. Functional Dyspepsia: dyspepsia yang tidak ditemukan penyakit yang mendasarinya sesudah dilakukan pemeriksaan. seperti kolelitiasis. meskipun dalam kuantitas dan frekuensi yang jarang. Setelah melihat hasil pemeriksaan. ulkus peptikum. bernama mbak Gastricia. Fisiologi dan Patofisiologi: Fisiologi sekresi asam lambung oleh sel parietal: 169 . berusia 25 tahun datang ke Anda dengan keluhan nyeri perut dan sebah di perut bagian atas yang telah berlangsung 4 minggu. Rasa tidak nyaman didefinisikan sebagai perasaan negatif yang bersifat subjektif. Dokter Fau memutuskan untuk melakukan eradikasi agen penyebab penyakit dengan tiga macam obat sekaligus. serta feses bewarna hitam.Dari anamnesis diketahui bahwa mbak Tina adalah seorang perokok dan juga mengonsumsi alkohol. Akhir-akhir ini keluhan tersebut bahkan disertai muntah darah. dan dapat dimasukkan sebagai variasi gejala termasuk early satiety. Riwayat penggunaan NSAID’s disangkal.

dan adanya epithelial cell ionic transporter yang menjaga pH intracellular Restitution  jika barier preepithelial rusak. dan beberapa growth factor b. maka sel epitel gaster yang mengelilingi tempat kerusakan tersebut akan bermigrasi ke tempat yang rusak tersebut  membutuhkan aliran darah yang baik. intracellular tight junction.Patofisiologi: Faktor defensive: a. Growth Factor and Prostaglandin 170 . Diproduksi oleh sel epithel Surface active phospholipid Epithelial Cellular resistance: memproduksi mucus dan bikarbonat. Preepithel Mucus-bicarbonate layers: barier physicochemical  form a pH gradient ranging from 1-2 at the gastric luminal surface and reaching 6-7 along the epithelial cell surfaces.

bikarbonat. bile salt b. menurunkan produksi bikarbonat di proksimal duodenal. pylori  bakteri gram negative tahan asam  dapat merusak lapisan mukosa dengan cara memproduksi urease  membentuk CO2 dan ammonia yang toxic terhadap mukosa. makanan berlemak  rangsangan sekresi asam lambung 171 . kopi. Konsumsi alkohol. dan meningkakan resiko untuk infeksi mikrorganisme H.Fungsi prostaglandin: Meregulasi produksi bikarbonat dan mucus Menghambat sekresi sel parietal Untuk memaintain mucosal blood flow dan epithelial cell restitution c. pylori H. menginduce pembentukan noxious mucosal free radical. Subepithelial  blood flow Faktor aggressive a. Faktor internal: HCl  mengaktivasi pepsinogen menjadi pepsin dan merusak mukosa . Faktor eksternal: NSAID  menghambat COX  sintesis prostaglandin dihambat  peningkatan sekresi HCl dan penurunan sekresi musin. surface active phospholipid dan proliferasi sel epithel Merokok  menurunkan aliran darah mukosa. altered gastric emptying. cokelat.

pylori. serta meneruskan konsumsi antasida/alginate jika sudah mengkonsumsinya terlebih dulu. seperti saran untuk makan makanan yang sehat. pylori. dapat diberi saran sederhana. 5-6 kali makan dengan porsi kecil perrhari Terapi empiris untuk dyspepsia yaitu dengan terapi PPI (proton pump inhibitor) atau tes dan terapi untuk infeksi H.. mengurangi berat badan. berikan juga saran untuk menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. Guideline treatment untuk pelayanan medis dyspepsia adalah: 172 . cokelat. seperti alkohol. Terapi yang sebaiknya ditawarkan pada pasien yaitu terapi empiris full-dose PPI selama 1 bulan. dan makanan yang berlemak. dan berhenti merokok.Treatment: Pada beberapa pasien. kopi. Diperlukan waktu washout 2 minggu setelah periode penggunaan PPI untuk melakukan tes infeksi H. Serta pola makan yang teratur. serta tes dan terapi untuk infeksi H. pylori dengan breath test atau stool antigen test. Selain itu.

Keterangan: 173 .

pylori (if any) 3. Specify the therapeutic objective reduce acid production. Make an inventory of effective group according to criteria Beberapa grup obat yang rasional digunakan: 174 . treat H. Define the diagnosis dyspepsia/peptic ulcer 2.Keterangan: Steps in choosing P-drug: 1.

lima sampai enam kali sehari) dan jenis makanan yang dikonsumsi.c. tab.  Menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia.d.Kesimpulan: TERAPI NON-MEDIS  Mengatur pola makan (makan porsi kecil. 2. kopi. a. R/ Cap Amoxicillin 500 mg no XVIII s.2.2. dan makanan yang berlemak.c. I a.  Stop penggunaan NSAID (jika memungkinkan) TERAPI MEDIS Amoxicillin-Clarithromycin-omeprazole Write prescription: R/ Tab. seperti mengonsumsi alkohol. XIV s.d. 175 .d.d. memperbanyak sayur dan buah.d.d. cokelat. R/ Tab Guarposid no. Omeprazole 20 mg no.c. tab II. XIV s. I a. rokok. tab.

status perkawinan. durasi. 3.INSOMNIA MENTAL MINOR Keluhan logis tapi tidak realistis : gangguan mental minor. pendidikan. 176 . progress. agama. karena interpretasinya bisa beda ntar). Greeting.  Menanyakan apakah gejala terjadi didahului oleh kejadian luar biasa (misalnya : perceraian. etc). etc). frekuensi. Keluhan lain yang ada dan detailnya (pola tidurnya bagaimana. Keluhan tidak logis dan tidak realistis : gangguan mental mayor.     RPD RPK : apakah ada keluarga yang sakit serupa? gejalanya mirip? bagaimana gejalanya? sekalian tanyakan juga . alamat. 2. Building interpersonal relationship : memperkenalkan diri. Situasi yang membuat kondisi jadi lebih buruk atau baik. pekerjaan. 4. Prosedur Pemeriksaan : 1. Anamnesis Tanyakan identitas pasien . Persilakan pasien duduk di kursi yang disediakan.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) :  item keluhan utama secara detail (keparahan.  Apabila pasien merupakan pasien dewasa (> 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. tidak lulus ujian. umur. etc. Jenis coping dan cara menghadapi masalah. Pengobatan yang sudah diberikan. nama. etc). suku / bangsa. jenis kelamin.

kebutaan. urticaria. b. Keluhan fisik ganda (FG) : FM + keluhan emosional. “ini saya mesti kanker ini dok. Batuk. Menurut ICD-10. Luka kecelakaan + kecanduan alkohol. bukan diagnosis (ingat!). apakah orang tua sudah meninggal (kalau sudah. batuk kronis + kecemasan. Biasanya konversinya ke keluhan neurologis seperti paralisis. c.silsilah keluarga. Anamnesis system. meninggalnya saat pasien usia berapa?). life style. Jadi dia tuh ada keluhan fisik dan mental yang SALING MEMPENGARUHI! psikosomatis : Somatoform Somatisasi → banyak kompalinnya dr ujung rambut sampe ujung kaki. pola hubungan keluarga. Keluhan psikosomatis : psikosomatis tuh cuma istilah lho. Tapi di modul psikosomatis dikatakan bahwa yang FM ini jarang banget! Biasanya pasti disertai mental emosional (ex. tapi belum tentu berkaitan antar keduanya. Kalo pas pilek meler gitu terus disertai bete.  Lalu golongkan menjadi : a. pilek. keluarga utuh / cerai. dll. apakah anak angkat / tiri. Psychogenic pain disorder → nyeri terus. perut saya ini kayak ada ularnya!”. Ex. diare). tidak ada keluhan mental (ex. lingkungan. udah sampe shopping doctor gitu. Ex.    Eating disorders Sexual dysfunction Psychological or behavioral factors associated with disorders or diseases classified elswhere. Keluhkan fisik murni (FM) : bener-bener keluhan fisik saja. Body dismorphic disorder → merasa gemuk banget padahal BMI nya undeweight. stres. dia gak lulus SMA terus tiba-tiba lumpuh ga bisa gerak. ga konsen sama kuliah dll). sulung / bungsu. Neurodermatitis. Hypochondriasis → pokoknya dia merasa sakit! Ex. Conversion disorder → ada stressor mental tapi terus dikonversi jadi keluhan fisik. kelompok yang termasuk 177 . jumlah saudara. Ex.

5. 178 .  Tanyakan adanya keluhan mental-emosional dan status perkembangan anak → harus  Lanjutkan ke pertanyaan aktif nomor 3 (pertanyaan aktif yang dimaksud disini sama dengan yang ditanyakan pada dewasa) bila didapatkan golongan FG. Menurunnya semangat belajar. PS. Pertanyaan aktif antara lain : 1. apabila dari penggolongan ternyata yang ditemukan adalah FM (fisik murni) maka tidak ditanyakan lagi pertanyaan aktif dan diagnosis yang dibuat merupakan diagnosis gangguan fisik (untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema alur pemeriksaan mental minor di buku skill lab). lemes  Lanjutkan ke pertanyaan aktif bila dari penggolongan keluhan didapatkan golongan FG. telanjang depan umum. baik di keluarga. PS atau ME (sama dengan pada dewasa di atas). ME. ME. PS. maupun masyarakat. napza 6. ga tenang depresi : murung. FG. sekolah. lingkungan → sama dengan dewasa  Golongkan apakah keluhan termasuk dalam FM. RPK. dll). mudah tersinggung. life style. cemas. Apakah terjadi selama >3 bulan atau >1x / bulan 2. karena interpretasinya bisa beda ntar). pekerjaan. Ada tidaknya pemakaian rokok. sex. kerja. Keluhan mental-emosional : emang cuma masalah kejiwaan (pikiran. Ada tidaknya peristiwa pemicu keluhan. perasaan). cemas : gelisah.  Apabila pasien merupakan pasien anak dan remaja (< 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) pada anak atau pengantarnya : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. alkohol. misalnya : banyak pikiran 3. dll 4. psikotik : ngomong sendiri. Ada ridaknya gejala mental emosional (sedih. Nb.RPD. Ada tidaknya gangguan fungsi sosial .d.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) .

etc). curiga. menilai keadaan jiwa (sedih. menilai perhatian (mudah / sukar / dicantum). nilai sikap dan tingkah laku pasien (apakah normal. psiko tes . menilai kesan penampilan penderita. dll (males ngapa2in lah pokoke). gelisah. Pemeriksaan fisik : vital sign. Rokok. baik di keluarga. hiperaktif. merencanakan pemeriksaan lanjutan. Terapi dan tindak lanjut Mengusulkan rencana terapi dan rehabilitasi. kerja. menilai roman muka (tegang. pemeriksaan neurologis. alkohol. pemeriksaan fisik diagnostik. Pemeriksaan khusus menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. 8. 10. napza 6. menilai citra diri. sex. etc). menilai bentuk isi dan progresi pikiran. menilai hubungan jiwa (mudah atau sukar). mempertimbangkan perlu tidaknya konsultasi lanjutan. tegang. 9. menganalisis diagnosis banding dan menyimpulkan diagnosis menurut PPDGJ. pekerjaan. Pemeriksaan psikiatrik Nilai kesadaran penderita. misalnya. Gangguan fungsi ex. Dari hasil anamnesis tersebut maka pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa bila ada : FG atau PS atau ME + >1 kriteria di bawah ini : >3 bulan atau >1x/bulan Ada faktor pemicu Penurunan semangat belajar.5. sosial . pucat. etc). 179 . sekolah. DD dan Diagnosis Menerangkan dan menilai data anamnesis dan pemeriksaan. etc yang relevan aja. maupun masyarakat. 7.

dll. itu ntar aja galinya). nangis. harus identifikasi adakah KEINGINAN SUICIDE? Solusi yang telah dilakukan? Misal curhat sama temen. maksud pertanyaan ini adalah kita bisa lihat apakah ada gangguan fungsi hidup dia). Kata dr. atau pas di kelas jadi ketiduran terus).. dll. sesek. 180 . Kalau DEPRESI dia juga terganggu : biasanya karena dia mikirin masalahnya terus. Di tahap ini kita masih gali SIMPTOMP SUSAH TIDUR INI DULU. Dia mikirin apa sih (GALI!).dll”) → mencemaskan sesuatu. ga usah gali mengenai permasalahan dia dulu (mau dia putus kek. terus susah bobo lagi → DEPRESI Sehingga setelah itu perlu kita tanyakan nih: mulai bisa bobo jam berapa? Terus bangunnya jam berapa → kita jadi tahu tuh lama dia bobo cukup apa gak (kan ada depresi yang tiduurr terus. Kehidupan sehari-hari gimana? Kalau CEMAS ya terganggu : biasanya dia ga konsen gara2 khawatiran. sibuk dengan pikiran dan perasaan bersalah gitu. Bagaimana perasaan setelah itu? Kalo dia bilang lebih enakan→ jadikan terapi! Adakah KELUHAN LAIN? Lemes harus dibedakan apakah sebab fisik (dengan bobok langsung seger lagi) atau psikis (dengan bobok ga seger lagi).GANGGUAN TIDUR KU : susah tidur RPS Sulit tidurnya gimana sih? Sulit masuk tidur (alias mau merem ko susah) → CEMAS Tengah malem suka kebangun. jadinya juga ganggu keseharian. ada juga yang meleeek terus). Apakah ada pikiran “gek-gek ngene. besok telat osce. Mahar perlu ditanyakan juga mengenai APA YANG DIRASAKAN sebelum bisa tidur atau saat kebangun tengah malam. Apakah Anda idur di kesempatan lain? (misal bobok siang. besok mau OSCE kek. Aktivitas di siang hari gimana? (terganggu atau tidak. gek-gek ngono?” (“duh jangan-jangan nek aku ga bisa bobo skarang. Kalau emang udah mengkerucut ko kira-kira ini depresi.

DEPRESI Sering kebangun terus susah bobok lagi. ada fase seneng ga? Kapan kah itu (bisa untuk treatment)? Tegang (gelisah. debar-debar. Gangguan nafsu makan. Gangguan fungsi hidup. minderan/ga pede. Life style dan lingkungan Ga usah ditanya terlalu banyak2 kalau ga sesuai sama simptompnya. RPK Kalau di rumah sama siapa bu? Mereka tau ga ibu kayak gini? Terus tanggapan mereka gimana? Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. kayak kehidupan sehari. kringetan tangannya. gemetar. Sesek. Moodnya sediiiihh. Terapi dan edukasi 181 . kagetan. gimana kalo pas di kantor kerjaannya? Hobinya apa? Masih interest ga melakukannya? Makan teratur ga? DD a. Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. Pokoknya harus nyambung sama keluhanya! Tadi udah disebutin. sensi. nulis diary dll). Kalu parah sampe bisa berpikir untuk suicede! b. ga konsen sama kerjaan. ga konsen. sesek) tanyakan udah berapa lama? Pernafasan gimana? Mimpi buruk kah? Sakit di tempat lain ga? Sering pipis kah? Haid gimana? Jadi mudah tersinggung ga? Kagetan? Konsentrasi? Tangan kringeten? Yang memperberat dan memperingan? RPD Dulu pernah kayak gini gak? Terus diobati apa? Riwayat penyakit kronis? Soalnya penyakit kronis kan bisa sampe bikin depresi dan malah memperburuk sakit fisiknya. bad dream.hari terganggu ga? Misal. CEMAS Susah masuk tidur. negetif. seks. Kehidupan sehari-hari ga bergairah.Sedih digali kenapa sedihnnya? Gimana sedihnya → sampe pengen nangis ga? Menurun pas apa? (curhat. Apa yang terbayang oleh pasien? (ingin bunuh diri lah?).

RPS Dengan bolak-balik kayak gitu. bapak udah TAHU belum kalau pintu udah dikunci? Kalau saat tidak yakin. gimana rasanya? Muncul kecemasan ga? Kalau udah ngecek gimana rasanya? Apakah pikiran ‘belum dikunci’ itu timbul berulang? Sebenrnya bapak sadar ga kalau pikiran itu sebenernya ga realistis? Sampai bikin jengkel? Selama ini gimana cara ngatasinya? Apakah menolong? Kalau merasa ga terselesaikan.d.1. Imipramin mg 25 no. Sebenernya saat bapak mengunci itu. gimana kerjaan di kantor bapak? (cari tahu gangguan terhadap fungsi hidup).n OCD (penyakit obsesif kompulsif) KU : melakukan kegiatan berulang2 tanpa bisa menghentikan ex. - Kalau DEPRESI Diberikan anidepressan kalau >2 minggu simptompnya disertai 4 atau lebih gejala ini: lelah. guilty.d Tab. gangguan bobo. I o. apa yang bapak lakukan? Adakah pikiran ttg hal lain yang berulang? (misal dia cuci tangan terus) apakah bapak enjoy dengan ritual tersebut? 182 . XiV S.d. XiV S.d Tab. ngecek pintu terus udah dikunci belom. apa yang bapak lakukan? Kalau misalnya bapak menunda keinginan untuk ngecek pintu itu. DIazepam mg 5 no. loss apetite. agitasi. pikiran mau mati. tenang saja! (biar pasien ga tambah depresi atau cemas). penurunan konsentrasi.n - Kalau CEMAS Lakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bikin rileks R/ Tab. I o.1.- Kita bilang bahwa penyakit ini banyak terjadi tapi bisa disembuhkan kok. R/ Tab.

mual. XXI S. atur nafas. Parah. nyeri dada. sampe ganggu macem2: R/ Tab. terapi perilaku saja. cepet ilang) Apa yang dirasakan saat itu? (taakuutt bgt gitu) Keluhan lain apa? (palipitasi.d Tab. tercekik. 1 PANIK KU: 1 atau lebih gejala: nyeri dada. 3. pusing. pusing) Membaik saat apa? Memburuk saat apa? Terapi dan edukasi diam saat serangan.d. jangan fokus ke keluhan saat serangan. pikirkan bahwa ini akan segera berlalu! Kalau serangan sering atau berat 183 .RPD RPK Di keluarga ada yang kaya gini juga ga? Gimana keluarga di rumah menanggapinya? Membantu ga? dulu pernah kaya gini ga? Gimana terapinya? Berkurang ga? Terapi dan edukasi Kalau dia ga parah. nafas pendek RPS RPD RPK Di keluarga ada yang kayak gini? Ada yang sakit jantung? Gimana respon keluarga terhadap yang anda alami? Dulu pernah sakit jantung ga? Pernah diterapi apa? Dulu pernah kaya gini juga? Membaik ga? Saat apa munculnya? Berapa lama? (biasanya sih cepet dateng. Clomipramin mg 25 no.

I 184 .5 no VII S.1.n (alias malam hari) - Kalau serangan jarang dan terbatas R/ Tab.1.d.- R/ Tab.Lorazepam mg 0. Imipramin mg 25 no VII S.d Tab.d Tab.I o.d.

Olahraga : b.Persisten : 14 hari. Pemeriksaan penunjang a. sakit perut. KU : mencret. BAK. Anamnesis :  RPS ii. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  kemungkinan dpt terjadi borborigmi (peristaltik terlihat) Auskultasi  hiper peristaltik Perkusi  hipertimpani Palpasi  cubit perutturgor kulit Kepala : Leher : palpasi limfonodidbn Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi mungkin akral dingin 33. Relieving: oo. Parafrase ke pasien s. thypoid. Lokasi : kk. Treatment :tidak membaik dengan pengobatan  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan : kemaren makan sembarangan di tempat lain  Lifestyle : a. Vital sign : mungkin demam 32. Durasi : 2 hari ll. Kondisi umum : sangat lemah.DIARE Diare Diare : BAB> 3x/hari dengan konsistensi fesesyang cair dan encer. Pemeriksaan fisik : 30. Kolera air cucian beras Disentrilendir dan darah (shigella) Amoebiasislendir dan berbuih Giardiasisberlemak dan persisten>2 minggu mm. Onset : sejak 2 hari yang lalu jj. Agravating : aktifitas berat. Sebutkan DD : diare. Akut : < 2 minggu. Karakteristik : BAB 6-8 kali/hari. t. CBC count 185 . bisa ada darah. 31. diare q. p. kurang minum nn. Diet dan pola makan : makan yang tidak bersih  Review system  keluhan lain : demam. berlendir. masih mau minum ga? r.

d. Edukasi 1. tab 2 p.oralit 200 No.d. Terapi . Makan dijaga higienitasnya 5.c. giardiasis R/ Tab. Fecal exam : liat keadaan fisik ada darah/telur cacing/ 34. Ampicilin 500 mg no XXIV s. 2. 4.d Tab 1. Oralit diminum segera setelah dibuat 3.p. Metronidazole 250 mg no x s.Berikan oralit  R/ sach.b.d.d.c 35. X S. 3. Minum air putih banyak 2. Jika keadaan memburuk harap kembali 186 . 4.d. Oralit diminum setelah BAB segera 4.p.Antibiotik : 1. X.c 4.tab 1.d.tab 1 p.XII S.d.n campurkan dgn 200 ml air diminum segera setelah buang air besar . amoebiasis  R/ Tab. S.p.r. Metronidazole 500 mg No.c 3. Suruh jaga higienitas dengan cuci tangan 6. Tetrasiklin 500mg no.3. disentri R/ tab. kolera R/ Tab.

Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. Olahraga: ga spesifik b. Relieving : istrhat dirumah  Treatment :  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan :  Lifestyle : a.DKI.Kondisi umum : gatal-gatal pada kaki 37. vesikel atau bula. papulovesikel. Agravating : Saat pasien berjalan menggunakan sendal tersebut. Parafrase ke pasien w. Lokasi : ke 2 punggung kaki rr. Onset : 3 hari qq. Vital sign :normal 38. Karakteristik : mengikuti alur dari sendal jepit tt. Sebutkan DD : DKA. Pemeriksaan fisik : 36. Durasi : 3 hari ss. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. uu. papulovesikel. dermatitis atopi x. skuama. Pemeriksaan fisik :  Extermitas : terlihat UKK berupa bercak eritematosa dan dapat diawali dengan bercak eritematosa. KU : gatal – gatal pada kedua punggung kaki. skuama. Lingkungan :-i  Review system : dapat diawali dengan bercak eritematosa. screening  auskultasi aja DBN Abdomen : Inspeksi  DBN Auskultasi  DBN Perkusi  DBN Palpasi  DBN 187 . Pola makan : d. v.PRURITUS Dermatitis Kontak Alergi Seorang pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada ke dua punggung kakinya setelah memakai sendal yang baru yang terjadi 3 hari yang lalu. vesikel atau bula. likenifikasi & fisur tidak jelas. Anamnesis :  RPS pp.  Kepala : Sklera DBN  Leher : palpasi limfonodiDBN  Thorax depan: DBN. u. Diet : c. semakin diperparah ketika pasien berjalan ke pasar dan membaik saat istirahat dirumah. likenifikasi & fisur tidak jelas.

Terapi 41.Patch test untuk test alergi . CTM: jangan dikonsumsi ketika mengendarai kendaraan bermotor 188 .39. Mencegah terjadinya ruam d. Mejauhkan alergen secepat mungkin b. Treatment dapat dihentikan bila dermatitis kontak alergi pasien telah sembuh e. Membersihkan bagian yang teriritasi c. hentikan treatment atau ganti obat lain f. Bila ada efek samping serius. Edukasi a. daerah kulit yang diobati tidak boleh diperban atau ditutup g.Pemeriksaan penunjang .Jika dibutuhkan dapat dilakukan pemeriksaan kultur jamur untuk meng’exclude ttg tinea 40.

.. kurang exercise.terutama karena diet yang buruk. ..Perdarahan (hematochezia). Penyebab konstipasi antara lain sebagai berikut Conditions Associated with Constipation Structural ganglion blockers vinca alkaloids Muscle colon • neoplasm • stricture • volvulus anorectal • inflammation • prolapse • rectocele • fissure Systemic myotonic dystrophy dermatomyositis amyloidosis systemic sclerosis Neurologic electrolyte abnormalities thyroid disease diabetes mellitus panhypopituitarism Addison's disease pheochromocytoma uremia porphyria Medications central nervous system • Parkinson's disease • multiple sclerosis • ischemia • tumor • spinal cord lesions autonomic neuropathy sacral nerve damage (trauma. . ex : Ileus.muntah.penurunan berat badan.biasanya karna fungsional. Ileus (SKDI 3B) Ax RPS O L D Onset cepat : Ileus (harus segera ditangani) Kronis > 3 bulan. Typhoid (SKDI 4). Tidak memerlukan emergency. Akut membutuhkan tindakan emergency. Ca colon yang mulai muncul manifes konstipasi 189 . Tapi hati2 kalo menemukan red flags seperti : . kesulitan dalam BAB (mengejan > 25% bowel movement atau konsistensi feses keras. abnormalitas motilitas. missal IBS. Sering pada orang tua.Konstipasi Konstipasi adalah pergerakan colon yang tidak frekuen (defekasi < 3x per minggu). dan defek anatomis.riwayat Ca pada eluarga. tumor) enteric nervous system • Hirschsprung's disease • scleroderma • amyloidosis Functional analgesics anticholinergics antidepressants antipsychotics cation-containing agents anticonvulsants normal transit slow transit pelvic floor dyssynergia DD : Irritable Bowel Syndromes (SKDI 3A).

anticonvulsant. antipsikosis. Hypothyroid dan hyperparatyroid  dpt mnyebabkan konstipasi Pada saat mendekati ovulasi. dan antidepresan  dapat menyebabkan konstipasi keluarga ada yang sakit serupa? Ada riwayat Ca ga? Defekasi < 3x seminggu.Berkurang nyeri setelah defekasi . dan kadang ada rasa tidak lampias saat defekasi MInum obat narkotik. hormone progesterone dan estrogen tinggi  dapat nyebabin konstipasi Diet serat tinggi (buah2an. suplemen besi dapat memperparah konstipasi.Abdominal bloating atau distensi subjektif Derajat keparahan IBS dapat dilihat di bawah ini : Derajat keparahan IBS Ringan Gejala klinis Persentase penderita Nyeri berterusan Gangguan Psikososial 70% 0 0 190 25% ++ + + 5% + +++ +++ Kaitan dengan gangguan fisiologi sal cerna +++ Sedang Berat . kesulitan dalam mengejan. whole grains) dpt melunakkan feses RPK LS RS1 RS2 Konstipasi + hematochezia (BAB trdpt darah merah segar)  hati2 curiga Ca Colorectal ada keluhan lain? Irritable Bowel Syndromes (IBS-C) IBS adalah kumpulan gejala penyakit digesti fungsional yang diarakteristikkan dengan adanya nyeri perut dan perubahan motilitas usus.Perubahan pasase feses (straining dan atau urgency) . sayur.Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB .Mucorrhea .Onset berhubungan dengan perubahan konsistensi feses Gejala pendukung : . antidepresan. pada orang tua  curigai Ca colon Riwayat penggunaan narkotika. serta tidak ditemukan adanya pathology pada pasien (pemeriksaan fisik dalam batas normal) Ada criteria Roma III (2006) untuk diagnosis IBS adalah nyeri abdomen rekuren atau ketidaknyamanan at least 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir dan berubungan dengan 2 atau lebih gejala berikut ini : . atau konsistensi fese keras dan kecil2.C A RPD R T Other Hati2 kalo Lebih dari 2 tahun.

k Pemeriksaan penunjang CBC Untuk screening DD anemia. .Nyeri abdomen bersifat difus tanpa radiasi nyeri. Inflamasi. heartburn. . Anamnesis O = at least 3 hari perbulan dalam 3 bulan terakhir. Sering pada wanita D = > 3 bulan C = gejala2nya : .a. Okasi nyeri paling sering biasanya di abdomen kuadran bawah . 4. 1.Konstipasi. Lakukan dan pikirkan hal lain untuk menghindari stress.Berhubungan dengan dyspepsia. 4. gizi. nadi. 5.Nasehatin pasien supaya jgn stress.k Thorax t.a. sex disfunction A = pada saat stress R = defekasi dapat meringankan nyeri abdomennya T= Others = wanita lebih sering 3x terkena IBS dibanding pria. kesadaran  secara umum tampak sehat. dyspareunia. 3.Untuk sementara hindari kafein Prognosis Baik 2.Perasaan bloating . BB/TB.Diet kaya serat .Minum air putih yang cukup . dan IBS-A (alternating diarrhea and constipation). 7. 6. IBS-C (constipation predominant).Jenis penanganan Dokter Keluarga/primer Spesialistik Sub spesialistik Ada 4 pola IBS  IBS-D (diare predominant).Adanya mucorrhea kadang2 ditemukan di feses . 191 . IBS-M (mixed diarrhea and constipation).a. kadang ada gangguan cemas Tanda vital Suhu. Keadaan umum Keadaan umum.k Abdomen Kadang2 terdapat nyeri sigmoid Ektremitas t. tekanan darah. kadang diselingi atau berubah menjadi gejala diare atau bisa jg konstipasi terus tnpa ada gejala diare. atau infeksi Hemoocult test Untuk mengeksklusi GI bleeding Terapi Farmakoterapi : Tegaserod 6 mg PO 2dd ac selama 4-6 minggu atau Lubiprostone 24 mcg PO 2dd dc Edukasi . respirasi  normal Pemeriksaan fisik Kepala & leher t.

Typhoid Typhoid  infeksi enteric disebabkan S. carriers) Week 2 Week 3 Week 4 Post 192 . 3%-4% chronic carriers.typhii Secara umum. gallbladder cancer (RR=167. long-term neurologic sequelae (extremely rare). gejala yang timbul apabila typhoid tidak diberi tx / dibiarkan adalah sbg berikut : Week 1 Incubation Systemic Stepladder fever pattern or insidious onset fever Acute high fever Chills Rigors Anorexia Diaphoresis Neurologic Malaise Insomnia Confusion/delirium Psychosis Catatonia Frontal headache (usually mild) Pulmonary Mild cough Bronchitic cough Rales Pneumonia Cardiovascular Dicrotic pulse Rare Common Common Common Common Rare (lobar) Rare Common (basal) Almost all Almost all Very common Commond Very common Very rare Very rare Very common Common Typhoid state (common) Very commona Very rareb Almost allc Uncommon Almost all Very common Very common Recovery phase or death (15% of untreated cases) 10%-20% relapse.

nyeri abdomen difus. BB/TB. Anamnesis O = Muncul gejala konstipasi pada saat minggu pertama (hari 7-14 hari setelah terinfeksi S. 5. gizi. malaise. dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah itu. nadi. 2.Myocarditis Thrombophlebitis Gastrointestinal Constipation Diarrhea Bloating with tympany Diffuse mild abdominal pain Gastrointestinal hemorrhage intestinal perforation Hepatosplenomegaly Jaundice Urogenital Urinary retention Hematuria Renal pain Dermatologic Rose spots Rare Very rare Very common Rare Very common (84%) 30 Very common Common Common (pea soup) Very rare. Pemeriksaan penunjang 193 . Very common usually trace Rare Common Common Common Rare Rare Rare 1. namun jarang.typhi) L= D = 7-14 hari . 3.. Keadaan umum Keadaan umum. kesadaran Tanda vital Suhu. Biasanya pada minggu 2 manifes GI nya diare (pea soup) C = Classic presentation : demam. 4. respirasi  pada week 2 kadang2 ditemukan dicrotic pulse (double beat dengan nadi ke2nya lebih emah dari nadi pertama) Pemeriksaan fisik  bisa diliat lebih detail di table atas ya temuan klinis per weeknya. tekanan darah. konstipasi.

o 1x1 7-14 hari Ceftriaxone 50-60 mg/kg im/iv 2x1 7-14 hari Cefixime 20 mg/kg p..Banyak minum dan jaga keseimbangan ion dan elektrolit Prognosis Setelah diberi obat. jangan banyak beraktifitas dulu untuk sementara. 8. Gold std : isolasi & kultur Salmonella typhi dari spesimen Spesimen : 1. 7. Tes widal TIDAK DIREKOMENDASIKAN karena spesifisitas & sensitivitas rendah Terapi Farmakoterapi : Dianjurkan fluoroquinolone (ciprofloxacin. 194 .Istirahat yang cukup. ofloxacin).Makan yang lunak2 dulu seperti bubur . kemudian kondisi dapat membaik dalam 4-5 hari... cephalosporin (ceftriaxone. cefixime) Ciprofloxacin 0.0 gram p.o 1x1 7-14 hari Chloramphenicol TIDAK DIANJURKAN karena resiko anemia aplastik dan relaps Edukasi .5-1. Week 1  kultur darah/bone marrow 2. hipokalemia  Transaminase naik Tes serologis. Week 2  stool 3. Week 3  urine Most :  Leukopenia  Hb & platelet turun/normal  Hiponatremia..o 2x1 7-14 hari Ofloxacin 800 mg p. ELISA IgG & IgM 3. Deteksi antigen O dan H 2. .6. 1. gejala mulai berkurang stlh 2 hari.

Hepar:  5.01 6.1 .2-5.5-3 Jenis Pemeriksaan Satuan juta/mm3 ribu/mm3 ribu/mcl g/dl % % % % % % mm/jam detik detik menit mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl IU/l IU/l IU/l IU/l g/dl Laki-laki 4.06) IU/l μg/l <10 <0. Ginjal:  Blood Urea Nitrogen (BUN) (pada gangguan ginjal.2 RBC WBC Trombosit HB HCT HItung Jenis:  Neutrofil  Eosinofil  Basofil  Monosit  Limfosit LED PPT APTT Bleeding Time Kolesterol Total Trigliserid HDL LDL 2. 1. Infeksi:     3.8-5.01. CBC:       Normal Pada Wanita Laki-laki/wanita 4. menurun) mg/dl 8-20 g/dl 195 3.NILAI NORMAL PEMERIKSAAN LAB No .4-1 4-6 25-35 0-8 0-15 60-70 20-45 3-7/Ivy <200 <150 >40 >50 <150 42 37 32 31 80-240 53-128 42-98 1. Lipid:     4.6-6.4 4-10 200-400 14-18 40-58 12-16 37-43 50-70 1-3 0. infark >0. SGPT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  SGOT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  LDH (dikatakan hepatitis apabila meningkat >5x)  ALP (dikatakan hepatitis apabila meningkat <3x)  GGT (dikatakan hepatitis apabila menurun) Cardiac:  CKMB (peningkatan >5% dikatakan ada kelainan)  Troponin I (iskemik >0.

HBA1c >6.003-1. Analisa Gas Darah:  pH  HCO3 PCO2  PO2 8. kami mohon maaf yah.6-1. Post Prandial 2 jam >200. kalau ada salah.45 24-28 35-45 75-100 mg/dl mg/dl mg/dl % <110 <140 <200 <6 6-6. Diabetes Melitus: #Kriteria DM= Gula darah puasa >126. 2011). Urinalysis:  pH  Warna      mg/dl 0. GNK.5# #Impaired Fasting Glucose= Kadar Gula Darah Puasa 110-126#  Gula Darah Puasa  Post Prandial 2 jam  Gula Darah Sewaktu  HBA1c 9. menurun)  Kreatinin darah (pada kelainan ginjal.Albumin (pada gangguan ginjal. Sindrom Nefrotik) Eritrosit ((+) pada GNA. meningkat) 7.9 mEq/l mmHg mmHg 7.5 Merah (pendarahan pada UTI/obat) 1.5-0.03 (-)   Berat Jenis Protein (>3 pada GNS.. ISK. 196 . semoga osce kita sukses! (mardian et.35-7.3 0.. dan infark ginjal) Leukosit ((+) pada pyelonefritis akut dan nefritis) Yeast Cast g/day (-) (-) (-) (-) Sekian teman-teman. al. hehehe.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful