OSCE COMPREHENSIVE PROCEDURAL & IPM & nilai lab normal

By : Yan Mardian, Prenali Dwisthi Sattwika, Pradini, Afrilia Intan, Nia Milastuti, Nastiti Hemas, Annisa Tridamayanti, Astari Anggara, M. Randy Givano, Gandhi Anandika, Rizky Admagusta
1

DAFTAR ISI
MATERI HALAMAN

IPM General Thorax Abdominal Exam Eye Exam ENT Exam Neurology Exam Leprae Exam Gynecology Exam Baby delivery ANC Gyn Exam Pap Smear Implant IUD Bedah Simple suturing Sirkumsisi Bedah tumor Emergency Neonatal Resuscitation Endotracheal tube i.v. line Kateter CPR Dressing and Bandaging EKG Advance Cardiac Life Support Others Breast exam Locomotor Genitourinary Post Stroke
2

3 4 5 9 11 16 18 21 23 27 28 30 33 36 38 43 47 48 53 56 57 58 63 68 71 72 74

PROSEDURAL  … bismillah..here we go.. IPM GENERAL : Thorax, abdomen, eye, ent, neuro, leprae
THORAX Punggung: pasien duduk Inspeksi: posisi duduk (sikap tubuh, contoh: tripod pada asma), penggunaan otot bantu pernapasan, UKK Palpasi: hangatkan tangan terlebih dahulu, palpasi nyeri tekan, palpasi pengembangan dada, fremitus taktil (ninety-nine atau satu dua tiga pake nada orang ambon)  fremitus taktil meningkat: konsolidasi paru. Perkusi: perkusi paru (normal: sonor, kalo ada konsolidasi: redup, kalo emphysema: hipersonor), perkusi pergerakan diafragma, caranya di linea midclavicularis dextra diperkusi dari atas ke bawah, sampe nemu batas sonor redup (batas paru-hepar), terus pasien disuruh tarik napas, diafragma turun, perkusi diterusin ke bawah, sampe nemu batas paru-hepar lagi. Penurunan normal 4-5 cm Auskultasi: suara paru (normal vesicular/ suara paru perifer) Dada: pasien berbaring Inspeksi: inspeksi ekspresi wajah pasien (misal nafas cuping hidung, sianosis), leher (retraksi supraklavikular), penggunaan otot bantu pernapasan, konfigurasi dada (misal dada tong pada COPD, pectus excavatum/cekung, pectus carinatum/cembung kayak burung merpati), pola pernapasan, UKK, iktus kordis Palpasi: mirip sama yang punggung + palpasi deviasi trachea + palpasi iktus cordis Perkusi: perkusi paru (dimulai dari atas klavicula sampai bawah zigzag) perkusi batas jantung: Batas jantung kiri: dari linea axillaris anterior perkusi sampe nemu sonor-timpani (paru-lambung, biasanya di SIC VIII), naek dua jari, dengan posisi jari tegak lurus terhadap costa, perkusi ke kanan sampe nemu redup (batas jantung relative, biasanya dua jari medial linea midclavicular kiri, SIC 5) pekak (batas jantung absolut) Batas jantung kanan: dari linea midclavicularis dextra, perkusi ke bawah sampai nemu batas sonorredup (paru-hepar), biasanya di SIC VI kanan, ukur dua jari ke atas, perkusi lagi dengan posisi jari tegak lurus terhadap iga,dari lateral ke medial, cari perubahan sonor ke redup (biasanya di linea sternalis kanan), dam nyari suara pekak (batas jantung absolute, biasanya di linea midstrenalis) Batas jantung atas: cari linea sternalis kiri. Dari titik teratas, lakukan perkusi sejajar iga kerah kaudal, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC II linea sternalis kiri Pinggang jantung: cari linea parasternalis kiri, perkusi di linea itu kearah kaudal, posisi jari sejajar iga, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC III. Kalo sampe di SIC II, berarti pinggang jantung menghilang, biasanya pada keadaan pembesaran atrium kiri 3

Perhatikan adanya murmur. Suara yang sama dengan suara arteri karotis  s1. perkusi dari umbilical ke atas sampe nemu perubahan suara. lokasi.Auskultasi: Auskultasi suara paru (normal vesikuler. kemudian pasien disuruh inspirasi. perkusi lien (di ruang traube. ABDOMINAL EXAM Inspeksi: Kontur (kontur lebih rendah. dilatasi vena (missal caput medusa karena hipertensi portal). dan tentukan murmur tersebut ada saat diastolic atau sistolik (contoh: murmur sistolik di mitral  stenosis mitral. perkusi hepar (lobus kanan: perkusi dari linea midclavicular dextra sampe nemu batas sonor-redup/paru-hepar. dengarkan suara click and gurgles (normal 5-35x/menit). konsistensi. Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri pasien. umumnya 10 cm. bekas luka operasi. normalnya 8-12 cm. yang mungkin menunjukkan pancreatitis Auskultasi: Pilih satu titik di abdomen. Caranya letakkan tangan kanan sejajar m rectus abdominis dan tangan kiri menyangga dinding lateral abdomen costa 11-12 kanan. pada keadaan obstruksi saluran napas bawah misalnya asma. diperkusi sebelum dan sesudah inspirasi normalnya timpani). Perkusi: Perkusi 13 titik (liar gambarnya di buku. caranya letakkan tangan kiri pada antara SIC 10-SIC 12. sedangkan untuk meriksa lobus kiri hepar. Selanjutnya lakukan palpasi hepar. minta pasien utk inspirasi. lanjutin sampe nemu batas redup0 timpani. specific sign: misalnya Cullen sign (blue discolorisation of periumbilical) dan grey turner sign (diskolorisasi pada area flank). biasanya ga keraba. letakkan tangan kanan diatas batas kosta dan tekan ke arah spleen. di SIC V linea midclavicular sinistra (s1 mitral). pada bronchitis terdengar crackels) Auskultasi klasik suara jantung: Di SIC II linea parasternalis kiri (s2 pulmonal) kanan (s2 aorta). ukuran). sejajar. tapi masih normal kalo batas terabanya 1-2 cm dari batas iga bawah. Lakukan palpasi superficial untuk mengidentifikasi resistensi otot. dengarkan juga apakah ada bruits/murmur vascular. pulsasi/peristaltic. Saat pasien ekspirasi. di SIC 4/5 linea strenalis kiri (s1 trikuspid). tangan kanan di kuadran kanan atas. bentuk. normalnya semua timpani). minta pasien utk inspirasi  normalnya ga keraba. simetris. Trus lakukan deep palpation. warna kulit. Tes Ascites: 4 . parallel dan lateral dari m. rectus abdominis. atau lebih tinggi dari dada atau schapoid/menggembung). mobilitas. dokter pindah ke sisi kiri pasien. massa (lokasi. Normalnya ga keraba. dan nyeri tekan. Lanjut ke palpasi lien. Palpasi: Hangatkan tangan dulu. ukuran. akan terdengar ronki. lalu tekan kuadran kanan atas untuk mencoba “menangkap” ginjal dengan kedua tangan. murmur diastolic di mitral  insuffisiensi mitral). bentuk. untuk mengidentifikasikan massa abdomen. normalnya 4-8 cm. Palpasi ginjal kanan dilakukan dengan meletakkan tangan kiri pada belakang diantara SIAS dengan angulus kosta. umumnya 6 cm). dorong tangan kanan masuk ke dalam untuk meraba batas hati. dan adanya masa. yakni pada garis axilaris posterior SIC 11. stria (pada ibu hamil atau orang gemuk). terdengar wheezing. selanjutnya lepas tangan saat pasien ekspirasi. nyeri tekan. pada keadaan udem pulmo atau eksudat di alveolus. beri tekanan ke atas.

Tekan dengan ketat. nyerinya jadi localized. dan tangan kiri diarah sebaliknya. 2. sisanya N III) N IV lihat inferomedial N VI lihat lateral c. tutup mata jangan ditekan. periksa mata kanan & kiri gentian.1. Kenaikan nyeri abdomen kuadran kanan bawah  iritasi musculus psoas karena app 6. Periksa akuitas visual (visual acquity) Kalau pakai kacamata. Adanya kenaikan nyeri pada hypogastric menunjukkan kemungkinan iritasi musculus obturator. b. 4. kacamata dilepas. Shifting dullness: perkusi dari umbilicus ke lateral hingga ditemukan perubahan suara dari timpani ke redup. tangan kiri tetap pada posisinya dan rasakan gelombang cairan (fluid wave) Test Appendicitis: 1. Minta pasien untuk berbaring miring. Superior Oblique N IV. dan terletak di titik Mc Burney 2. continous. Periksa reflex kornea (corneal light reflex). nyeri pada saat dilepaskan  iritasi peritoneal 3. pakai visus jauh. 5.  Huruf pertama nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  finger counting 1/60 bisa mundur sampai 5 meter (kalo cuma bisa dijarak 1 meter. buka kelopak mata Berhenti sejenak saat di lateral dan upward gaze utk liat nystagmus  LR6(SO4)3 (Lateral rectus N VI. Rovsing sign  nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika dilakukan tekanan pada kuadran kiri bawah. minta pasien menaikkan kaki melawan tahanan. Sampaikan tujuan. kalo udah perforasi. izin/informed consent 2. Tes undulasi (fluid wave): minta pasien untuk meletakkan tangannya secara longitudinal pada tengah abdomen. Rebound Tenderness. Kemudian perkusi lagi pada titik tersebut. Kalau nggak ada diplopia. Lakukan rotasi internal-medial pada pinggang. prosedur. visus: 1/60)  Kalau tetap nggak bisa  pada jarak 1 meter pasien  hand movement 1/360 bisa mundur sampai 6 meter (kalo Cuma bisa dijarak 1 meter. Tes konvergensi 5 . visus: 1/300)  Kalau tetap nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  pakai cahaya (visus: 1/takhingga)  Untuk yang bisa baca snellen chart: Misal di visus 6/20 bisa baca 3 huruf dari 5 huruf  6/20 S2 Misal di visus 6/20 bisa baca 2 huruf dari 5 huruf Visus atasnya (misal 6/30) B2 3. Sentil abdomen dengan tangan kanan. snellen chart. liat jangan dipicingkan. lutut fleksi 90 derajat. Obturator sign  kaki pasien dinaikkan 90 derajat. Psoas sign  tangakn diletakkan diatas lutut pasien. Extraocular eye movement a. Cutaneoous hyperesthesia  cubit kulit perut  hyperesthesia  inflamasi saraf subkutan EYE EXAM 1. Letakkan tangan kanan pada sisi kiri abdomen pasien. Tentukan lokasi dan sifat nyeri. Bentuk huruf H Jarak duduk 1 lengan Waktu tangan di bawah. pantulan cahaya (titik kuning) terlihat di pupil sedikit di nasal (slightly nasal to the center of pupil). Tandai daerah itu. Dikatakan positif kalo suaranya berubah jadi timpani.

permukaan.Mata normal mengikuti gerakan objek dari pemeriksa mendekati hidung pasien. entropion: ke dalam)  tidak ada discharge  tidak ada deformitas kalazeon: obstruksi kelenjar. penipisan. tanda inflamasi. darken the room a. Cornea Pakai penlight boleh langsung. pakai senter harus dari bawah tapi jangan terlalu jauh  Kekeruhan  Bentuk 6 . Bulu mata  tersusun teratur  persebaran kotinu  arah pertumbuhan (extropion: mukosa ke luar. deformitas f. normalnya bisa ngikutin sampai jaraknya 5-8 cm dari hidung. simetris. lihat pakai senter  Warna. lihat pakai senter  Warna. deformitas d. Upper conjunctiva palpebra Mata lihat ke bawah. dokter tutup mata kanan). lagopthalmus (nggak bisa nutup: rusaknya N VII).  Anopsia  lesi N. Lower conjunctiva palpebra Mata lihat ke atas. miosis (pupil mengecil) 4. deformitas e. masa protruding. opticus  Hemianopsia bitemporal (lapang pandang temporal kedua mata hilang)  lesi chasma optica  Hemianopsia homonim dextra (lapang pandang temporal mata kanan dan lapang pandang nasal mata kiri hilang)  lesi traktus opticus sinistra  Hemianopsia homonim sinistra  lesi traktus opticus dextra  Lesi quadrantika Loop of Meyer (radiation optica bagian bawah) Hemianopsia quadrantika sinistra (pie on the sky)  lesi loop of Meyer dextra b. masa protruding. Periksa segmen anterior Duduk sejangkauan tangan. terus dokter gerakkan tangan secara horizontal (dari lateral ke medial). suruh ngitung jari dokter  untuk ngeliat lapang pandang 4 kuadran penglihatan 5. pola vaskularisasi. Kelopak mata: lesi kulit. kelopak ditekuk ke atas. Conjunctiva bulbi  Warna. udah membatu hordeolum: keluar discharge kalau dipencet c. permukaan. Tes konfrontasi 2 Bagi 4 kuadran (kanan kiri atas bawah). pasien disuruh fiksasi pandangannya ke hidung dokter . nggak usah tutup mata. ptosis (nggak bisa buka mata: rusaknya NIII) Alis (deformitas) Rima palpebra: simetris Arah garis palpebra b. Tes konfrontasi 1 Jarak 1 lengan . pembengkakan  Sclera: warna. Visual eye field a. akomodasi lensa. tutup satu mata (periksa mata kanan pasien  pasien tutup mata kiri. Trias melihat dekat: konvergensi (melihat kearah medial).

reddish  Lihat cup & disc ratio C/D normalnya 3/10 Peningkatan tekanan intra ocular  serabut saraf pembentuk discus lebih sedikit  ratio meningkat  ¾. Iris/pupil  Warna + bentuk iris  Pupil simetris  Refleks pupil direct & indirect di-swing senternya di depan mata kanan & kiri i. lepas kacamata  Posisi pemeriksa boleh berdiri  Minta pasien lihat jauh  Adjust lensa opthalmoscope (-)  2 (-). sesuaikan fokus 7. Lensa Senter arah depan bawah  kekeruhan j. Ukuran  Curve  Pola vascular  Deformitas g. Periksa segmen posterior  Jelaskan periksa opthalmoscope. normal/orange. (+)  sesuai (+) Dihitung = plus/minus pasien + plus/minus pasien  Pegang opthalmoscope dengan tangan sama  Lihat dari jarak 30 cm lalu mendekat Warna Yang kita gunakan  warna kuning Red free (hijau atau biru)  untuk lihat perdarahan Biru  untuk fluorescence Bentuk ½  untuk pupil yang kecil Garis2 kotak  ratio cup/disk Besar  biasa Yang 1 garis  lihat ketebalan  Jari telunjuk pada lensa panel. Papil N II  Letak papil di arah nasal  Batas papil: tegas/kabur  Warna pucat/yellowish orange. 3/5 7 . Anterior chamber Antara iris dengan kornea Disenterin dari samping  Dalam/dangkal  Clearness  Darah/pus Normal: iris terang dua2nya Ada sudut iridocorneal: semakin dangkal (iris kayak bulan sabit. ga semua bagian iris kena sorot sinar  pada glaucoma sudut tertutup akut) h. Sampaikan hasil a. TIO  bandingin sama tonus lidah yang dijendolin ke pipi 6.

adakah lateralisasi? (prinsip: no masking sound that can be heard on normal ear in CHL) Lateralisasi ke arah sakit: CHL Lateralisasi ke arah sehat: SNHL Tengah-tengah: normal c) Tes Schwabach 8 . letaknya lebih ke arah temporal Periksa refleks foveal Pasien diminta melihat ke arah cahaya sebentar c. Inspeksi telinga  UKK  Deformitas  Oedem  Discharge b. posisi memegang seperti memegang ballpoint. Jelaskan tujuan. Otoscope Auricular ditarik ke arah superoposterior. cuma ada sel pigmen & batang. kuadran anteroinferior Telinga kanan arah jam 5. ruang semi gelap 3. Macula Tempatnya fovea centralis. Palpasi  cari nyeri  Tragus  otitis externa  Helix. tangan buat megang otoscope sesuai dengan telinga (meriksa telinga kanan pake tangan kanan). auricula  Mastoid  otitis media c. fiksasi jari di pipi pasien. Yang diliat:  Canalis auditoris externus  Perdarahan  Laserasi  Serumen prop  Tanda otomikosis  newspaper-like-appearance  Membran timpani  Intact/perforasi  Cone of light. Tes pendengaran. prosedur. izin / informed consent 2. Duduk face to face oblique.Peningkatan takanan intra cranial  discusnya naik  ratio turun  3/11 b. mastoideus terus didengerin de deket telinga (+) AC > BC: normal/SNHL (-) AC < BC: CHL b) Tes Weber (masking effect) Diletakkan di glabella. pakai garpu tala frekuensi 512 Hz a) Tes Rhine (prinsip: middle ear amplifies the sound) Diletakkan di proc. Vaskularisasi Vena lebih besar & lebih gelap Arteri : vena = 2 : 3 ENT 1. Telinga a. telinga kiri arah jam 7  Bulging  vaskularisasi d.

dorong dinding lateral mulut  Membran buccal: warna & perdarahan  Gusi: warna & perdarahan  Gigi: karies  Rasio gigi gusi 2) Minta julurkan lidah  tes nervus XII 3) Minta pasien “aahh” (lidah ga dijulurin).Di proc. mastoideus. Bibir  UKK b. Inspeksi  Deformitas  Deviasi septum  Perdarahan/hematom  Rhinorrhea b. Speculum dibuka waktu udah di dalam rongga hidung. palpasi sinus frontalis & maxillaries..  5. kalo nyeri. Buka mulut dengan spatula 1) Masukkan spatula (yang dimasukin ujung besarnya). Palpasi  Deformitas  Masa abnormal  Pencet 1 lobang idung terus minta pasien napas  apakah ada obstruksi? c. tahan pakai spatula lidah Palatum molle & uvula terangkat  tonsilla palatina & dinding posterior faring  terlihat kalau ada eksudat 4) Ga usah palpasi lidah. palpasi hanya kalo ada indikasi kanker lidah. tapi karena ga ada di checklist buku. ditutup waktu udah dikeluarin. Hidung + sinus paranasal Pakai & nyalakan lampu kepala a. lanjutin ketok untuk tau ada nyeri ketok sinus  curiga sinusitis. pemeriksa harus normal BC pasien > dokter: CHL  periksa sebaliknya BC pasien = dokter: N  periksa sebaliknya BC pasien < dokter: SNHL 4. e. Jari telunjuk untuk fiksasi. Yang diliat:  Concha nasalis media & inferior  Meatus nasi inferior  Septum lurus/deviasi/perforasi  Mukosa merah  tidak ada epistaksis  tidak ada polip (biasanya warna pucat)  tidak ada lendir berbau atau berwarna d. Speculum Posisi tangan & hidung berlawanan. Sebenernya ada test transiluminasi buat ngeliat sinusitis. Tenggorokan a. tangan yang nggak megang speculum fiksasi kepala di belakang. ga usah deh yee. kalo palpasi musti pake glove  ga disuruh di checklist 9 .

kopi. kalau <25  disorder. atau. VI (abduscen)  ocular eye movement N III  refleks pupil (cek parasimpatis) d. dokter nahan m. Orientasi 1) Person 2) Moment 3) Place Nanyanya harus sekaligus: Bapak datang sama siapa? Tadi makan apa? Sekarang lagi ditempat apa namanya? b. XII. IV. III. sampai 6x Kata dibalik: MESRA  A-R-S-E-M d. N II (optic)  snellen chart c. VI. N V (trigeminus) mastikasi ketika mengunyah rasakan otot mulut tahan dagu trus suruh buka mulut sensoris wajah: sensasi di N V1 (opthalmicus). N I (olfactorius)  bau2an tembakau. Bahasa/language 1) Pensil + arloji  ini apa? 2) Tanpa. dll b. dan. N IX (glossopharungeus) dan X (vagus) Gag reflex Angkat palatum (bilang “aah”) Minta menelan h. cengkeh. Mini mental status examination a.. GCS  Glasgow Coma Scale  E (eye:4) V (verbal: 5) M (motor:6)  kalo pasien ga sadar 2. Schwabach g. N VIII (vestibulocochlear)  Rhine. Recalling suruh nyebutin 3 objek yang tadi disebutin e. lipat2. Atensi & kalkulasi 100-7-7-7-. IV (trochlear). N III (occulomotor). trapezius 10 . bila. N V2 (maxillaries). VII. Noting  menyebutkan 3 objek c. missal tumor lobus frontalis & stroke 3. N XI Angkat bahu. Cranial nerve exam Kalo cuma untuk screening: N II. tetapi sebutin dengan intonasi yang datar 3) Ambil kertas. Weber. N VII (facialis) Sensoris: 2/3 lidah untuk perasa Motoris  Tutup mata  Kernyitkan dahi UMN: bisa kernyutkan dahi (stroke) LMN: nggak bisa (Bell’s palsy)  Gembungkan pipi  Bersiul f. Kalo mau lengkap: a. taruh lantai 4) Baca “pejamkan mata” dan lakukan 5) Tulis kalimat SPO 6) Salin gambar Skor maksimal 30. N V3 (mandibularis) e.NEURO EXAM 1.

Pronator drift  suruh ngangkat tangan. Motor strength Otot yang diperiksa (screening) : M. m. di olecranon. Sensoris examination a. Taktil Pakai brush. deltoid. biceps. plantar fleksi Otot yang diperiksa (semua) = semua otot ( ada di buku neuro motoric ) 0 : tidak ada gerakan atau tonus 1 : ada tonus 2 : ada gerakan tapi tidak bisa melawan gravitasi 3 : bisa nahan gravitasi namun tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 : bisa menahan pemeriksa tapi lemah 5 : normal. triceps. hitung sampe 10. lutut. Muscle tone Dinilai bagus atau tidak tonus ototnya Karakteristik lesi UMN:  Spastik  weakness  Reflex fisiologis hiper (liat keterangan dibawah)  Ada reflex patologis Karakteristik lesi LMN:  Flacid  weakness  atrofi otot  Refleks fisiologis hipo  Tidak ada reflex patologis Interpretasi: 0 tidak ada refleks 1 hipo 2 normal 3 hiper tapi masih normal 4 hiper patologis. Movement 11 . bisa menahan pemeriksa c. terasa atau tidak b. XII Motoris : julurin lidah UMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sakit LMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sehat 4. kalo salah satu tangan berputar pronasi sambil tangannya turun  pronator drift + Kalau pronator drift nya +  lesi UMN b. maleolus medial lateral e. Neuromotoric exam a. dokter nahan di pipi. proc styloideus medial lateral. scm N. posisi supinasi. Getaran Pakai 256 Hz. dorsofleksi. medianus. Noleh kiri kanan. pejam mata. ekstensi lutut. dipukul di otot juga keluar refleksnya (kan harusnya cuma pas dipukul di tendo aja keluar refleksnya) 5. Suhu Pakai air panas 40 O C dan air dingin 20 O C d. Nyeri Pakai yang tajam atau tumpul. bandingkan kanan-kiri c.i. epicondylus medial lateral.

Tandem gait Jalan dalam 1 garis lurus. positif = dorsofleksi jempol. Triceps  tangan kiri disangga tangan kiri pemeriksa. Babinski  dari bagian lateral plantar sampai ke bawah jempol membentuk huruf J positif = dorsofleksi jempol. mekar jari2nya (fanning) d. Rossolimo pukul bantalan ibu jari. di pukul di tendo Achilles. diketuk dari bawah. kakinya rapat. Achillles  kakinya bersandar pada kursi. Schaeffer  jepit Achilles. ischiadicus  kaki diluruskan lalu diangkat. tarik dari belakang. disuruh menyebutkan ke atas/ bawah/ kanan/ kiri 6. Brachioradialis  mirip kaya m. lihat nystagmus dalam 20 menit 12 . Refleks fisiologis a. mekar jari2nya h. Patella  lutut dibiarkan menggantung. Openheim jepit tibia susuri ke bawah ditarik . positif = nyeri Periksa vertigo 1. Hoffman  yang dipegang jari tengah. lalu agak difleksikan. diketuk dialasi jempol (positif kalo supinasi) b. mekar jari2nya g. cek vestibular. tapi kalau ada tahanan dan sakit berarti abnormal (kernig +) b. positif = menggenggam b. tutup mata. Brudzinski 1) neck : 1 tangan ngangkat kepala.Gerakin jari . propiosepsi tetap. Refleks patologis a. Jatuh ke arah lesi. tangan pemeriksa nahan di plantar supaya terasa gerakan dorsofleksinya kalo positif 7. 1 tangan di dada. Tanda iritasi meningeal a. dipukul di tendo triceps brachii c. trus kaki coba dilurusin ke atas. cari tendo m. Positif kalau kaki melangkah mau jatuh. Gordon  jepit betis. diketuk dari atas. kaki yang lain ikut naik c. mekar jari2nya f. Chaddock  dari maleolus lateral ke arah kelingking positif = dorsofleksi jempol. 2. biceps. normalnya bisa lurus. Biceps  tangan kanan memegang tangan kanan. Romberg  cek keseimbangan Matikan ocular dengan tutup mata. biceps brachii. tapi dipukul di ototnya (snapping movement) d. Untuk BPPV Diagnosis: Dix hallpike  Kepala miring 45o  Terus tiduran dengan posisi kepala nggantung  Lihat ada nystagmus/pusing nggak. positif= dorsofleksi jempol. Tromner  yang dipegang jari tengah. kalau positif = lutut nekuk 2) kontralateral : 1 kaki diangkat difleksikan. mekar jari2nya e. positif = plantarfleksi --> beda sendiri 8. positif= dorsofleksi jempol. positif = menggenggam c. Pasien diminta berdiri. Kernig sign  lutut fleksi. di pukul di tendo quadriceps femoris e. Lasegue  untuk memeriksa LBP & n.

Treatment: Epley maneuver  lanjutan dix hallpike      Terus noleh ke sisi satunya 90o Badannya putar ikuti arah kepala Bangun Leher fleksi 20o Setelah epley pakai cervical collar  untuk mencegah perpindahan canalith lagi Sermont maneuver  Tidur miring kanan 30 detik  Duduk tegak 30 detik  Tidur miring kiri 30 detik 13 .

Onset : masa inkubasi : 2 minggu. penebalan saraf  Stadium: TT  BT  BB  BL  LL b. hoarseness. Review system : i. Location : bercaknya adanya dimana aja iii.Cerebellar ataxic  finger to nose PEMERIKSAAN LEPRA 1. erythema nodusum leprosum  Lepra multibacilar : mukosa dan saraf  keluhan : nasal stuffness. RPD : ngga terlalu ngaruh d. Perkenalan diri 2. Keluhan Utama : Bercak hipopigmentasi. jarum pentul b. Pulpen d. Informed consent 4. apakah ada penebalan saraf? ii. RPK lingkungan : adakah anggota rumah/ lingkungan yang mengalami hal serupa? Papua. RPS i. Alkohol spray 14 . Treatment : c. Agravating –relieving : tidak ada v. air dingin 20oC c. Adakah mati rasa? iii. Air hangat 40o C .30 tahun ii.  Lepra paucibacilar : kulit dan neuro  keluhan : bercak hipopigmentasi. Characteristic : seperti apa lesinya? iv. Siapkan alat a. Kapas. Anamnesis a. maluku e. anestesi. mati rasa. Adakah keluhan di saluran nafas?  multibacilar 3.

dikatakan lagophtalmus kalau > 3mm ii. hidung pelana . lagophtalmus. Areanya: jari manis setengah ke medial di telapak tangan. ada infiltrate di cuping telinga/ tidak?. medianus : . 2 : bisa abduksi tapi ga bisa lawan tahanan . Fungsi Saraf (sensoris dan motorisnya) i. vi. inspeksi aspek dorsal leher telinga. perut. N. Tubuh minta pasien untuk meluruskan tangan ke depan. Pemeriksaan fisik Pasien kalau laki-laki harus membuka baju dan hanya memakai celana pendek. tibialis posterior  jongkok. inspeksi plantar Lihat  ada ulkus. nyeri. langsung diraba pake tangan kiri . peroneus komunis : motoris Dorsofleksi kaki.5 medial . Cuci tangan 6. lalu ditahan. peroneus komunis  di lateral caput fibula . 1: tidak bisa abduksi iii. ada celah atau tidak. Perabaan/ taktil : dengan kapas Jelaskan ke ibunya kalau terasa suruh bilang terasa. lalu di beri tahanan iv.N. ulnaris . simetris atau tidak . cahaya ruangan harus cukup a. Perabaan Saraf Yang dicari: Penebalan saraf . facialis : motorik Periksa dengan memejamkan mata. Nyeri : jarum pentul Bandingkan perabaan tumpul atau tajam. auricularis magnus (menyilangi SCM) ii.N. hipopigmentasi b. tangan disilangkan untuk meraba di maleolus medialis d. Kepala : ada madarosis atau tidak. Inspeksi i. tangan ventral. Tangan  ada jari kiting atau tidak. ii. bercak. atrofi tenar/ hipotenar iii. punggung. tibialis : sensoris 15 . dan menginspeksi dada. Sensibilitas Bandingkan antara yang ada bercak dengan yang normal (bukan kanan-kiri) i.Sensoris : telapak tangan 3. N.5. Minta pasien untu memutar.Motoris : jempol ke arah hidung. atrofi kulit. radialis : motoris Dorsofleksi palmar ( kayak orang naik motor) lalu di tahan v. area gluteal. Suhu : dengan air panas/ dingin iii.Sensorik: pakai pulpen di telapak tangan. aspek dorsal dari kaki. N. ada pembesaran n. N. 1. ulnaris  tangan kanan dipegang dengan tangan kanan agak difleksikan. hipopigmentasi.N. N.Motoris : jari kelingking abduksi. N.Aurikularis magnus  pasien tengok kiri/ kanan diraba ada atau tidak penebalan saraf . ada/ tidak nyeri c. angkat kaki. 5 lateral . jari2. diberi tahanan ke dalam Nilai : 3: bisa melawan tahanan . tangan.

Periksa urin 2-4 jam 3. Fase laten Pembukaan 0-3 cm. I s.d. Leopold Enganged kalau udah di station 0 atau hodge 3. Treatment . papsmear. Vital sign Periksa tekanan darah + suhu tiap 4 jam Periksa HR tiap 0. XXX s. tab 1 Multibacillar : durasi treatment 12 bulan R/ Tab Rifampicin 600 mg No.I s. Bimanual untuk mastiin  Ada tumor nggak di jalan lahir  Ada DKP atau nggak  Ada moulage nggak  Nentuin station 4. tapi pengobatan 6 bulan) R/ Tab Rifampicin 600 mg No. 7. pas di spina ischiadica 16 .1.1.1. Sebulan sekali datang control - GYN Baby del.d. Kecepatan: 1 cm/jam Yang dicatat di partograf 1.d. Pengobatan ini memang lama. implant. Edukasi a. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No.d tab 1 8.Paucibacillar : 6 bulan (obat Rifampicin diminum depan dokter. sekitar 8 jam 2. karena penularan lewat droplet c.. tab 1 R/ Clofazimin 300 mg No. Pakai masker.Pasien harus mengekspos telapak kaki. IUD BABY DELIVERY Kala 1 1.d.5 jam 2. Fase aktif Pembukaan 4-10. lalu dites dengan pulpen. gyn exam. 1 bulan 1x minum) tiap 1 bulan balik lagi ke dokter. jadi harus taat minum obat b. ANC. XXX s. obat minum d depan dokter R/ Clofazimin 50 mg No.d. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. XXX s. I s.

simetris b. Bloody show 7. Fetoscope/stetoskop Laennec p. Silakan lepas bawahan & celana dalam lalu tidur di meja litotomi. Pasien ingin meneran c. Perineum menegang d. Menentukan waktu untuk meneran a. Meja ginekologi d. Melahirkan kepala 17 . ½ cocher (buat mecahin ketuban kalo belum pecah) f. needle.5% 4. Klem tali pusar j. mengejan ke arah perut sekuat mungkin 8. Jelaskan cara meneran Selama kenceng2. Mohon kerja sama 3. ibu memasuki kala 2. lakukan ketika kenceng2 10. Persiapan alat a. Klem lurus h. satu kali 20-40 detik. Kateter nelaton/logam m.Kala 2 1. 3 linen steril  dipake abis pake gloves 1 di bawah buttock ibu. Bagian mukosa anus muncul f. Needle holder. Anamnesis singkat  GPA  Umur kehamilan  ANC teratur? Terakhir kapan?  Ada keluhan selama kehamilan?  Ada riwayat hipertensi. Periksa perineum rigid/nggak. Berdiri depan vulva 6. Kepala janin memperlebar outlet vagina 3-4 cm g. nyebabin effacement serviks. Oksitoksin 10 IU & syringe-nya k. Chlorin 0. 1 dipegang buat nahan perineum e. benang untuk jahit epis n. Dari partograf RM. Saya memerlukan kerja sama ibu agar proses kelahiran lancar. Gunting jaringan untuk tali pusar i. Salam dan perkenalan Selamat sore. tutup mulut. Lampu ginekologi  nyalakan c. DJJ tiap 5 menit selama 1 menit  asisten yang ngelakuin (inget: Laenec ga steril) 9. jarak vagina & anus  episiotomy nggak? Kalau diepis. Ergometrin l. dagu nempel di dada. tangan bisa pegangan paha. saya dokter yang akan membantu kelahiran ibu. Wadah bengkok q. pakai sarung tangan 5. Cuci tangan. Pakai apron b. dominasi fundus. Anus berdilatasi & membuka e. keluarkan lewat hidung. 1 di atas perut ibu. Gunting epis g. ambil napas dalam lewat hidung. DM (makrosomia atau disproporsi kepala panggul) 2. Sarung tangan o. Kontraksi 3-4 kali dalam 10 menit.

dll) Kasih tahu kondisi bayi & selamat ke ibu Tulis di rekam medis Kala 3 Manajemen Aktif 19. leher. kalo masuk-keluar tali pusat  belum lepas  Strassman: diketuk fundus uteri ibunya  kalo belum lepas. Bersihkan kotiledon dengan kasa hidrofilik. 14. imunitas. Terus potong Klem 1 di bayi ganti klem disposable (klem tali pusat yang warna biru) Bayi letakkan pada dada ibu. Jempol tetep di fundus agak bawah. buang linen Periksa ada lilitan tali pusar atau nggak. sampai pundak Delivery bahu Ke bawah. lap muka bayi. 15.11. Tangan kanan dilapisi linen. 17. yang gerak jari2nya aja. tangan kanan megang plasenta. IMD (inisiasi menyusui dini  utk bangun hubungan bayi dengan ibu. 13. Plasentanya ditarik ke bawah terus ke atas pake klem yang udah dipindahin ke introitus vagina Diputar pas udah mau keluar. lahirkan bahu anterior Ke atas. Tegangan/traksi tali pusar terkendali Cara periksa tali pusar udah lepas atau belum:  Kussner: tali pusar ditarik. pegang kepala. 21. Periksa kotiledon di pars maternal (20-30 kotiledon). suntik ergometrin di vastus lateral kanan agar uterus involusi (jika perlu). menahan perineum untuk menghindari laserasi perineum Tangan kiri tahan kepala bayi di atas supaya nggak defleksi berlebihan Begitu kepala keluar. posisi kepala bayi lebih rendah Klem 1 4-5 cm dari bayi Klem 2 diurut 2-3 cm dari klem 1. 18 . kita tekan di simfisis pubis. Pijat uterus dengan ujung jari kiri. dilandasi linen steril untuk ngelap badan kecuali telapak tangan. trus udah selese ngejan masuk lagi  belum lepas Ciri udah lepas:  perubahan bentuk & tinggi uterus (dari globuler jadi pear & naik)  tanda ahfeld (tali pusar memanjang)  ada semburan darah mendadak Tangan kiri tekan daerah fundus dorsokranial. kalau ada yang putus mungkin itu vasa untuk plasenta lain. diklem terus dipotong. lahirkan bahu posterior Delivery sisa badan Baringkan di atas perut ibu. kerasa ketukannya di tali pusat  Klein: pas ibu mengejan kalo tali pusatnya keluar. Suntik oksitoksin ke vastus lateral kiri 20. Kalau ada. Bapaknya bisa bantu stimulasi puting susu. Massage fundus uteri Setelah plasenta keluar. Periksa vasa di pars fetal. di posterior introitus vagina. Tunggu putar paksi luar Setelah putar paksi luar  maneuver biparetal. 12. 16. 18.

Kalau udah deket2 HPL. edem/makin bengkak) e.ANTENATAL CARE Jadwal rutin ANC 1-28 minggu 28-36 minggu 36-40 minggu >40 minggu 1 x/bulan 2 x/bulan 1 x/minggu >1 x/minggu Gestational age Embryonal age = 2 minggu setelah gestational age HPL dihitung dari HPM terakhir  tanggal +7. transvers. face. Anamnesis a. Salam dan perkenalan 23. breech. tahun +1 Perkiraan lahir 40 minggu Prosedur: 22. baju bagian perut disingkapkan & tutup bagian tubuh bawah dengan selimut. Keluhan kehamilan (sakit punggung karena perut tambah besar. Saya perlu meraba2. minta ibu menekuk kaki. ANC teratur? Kapan terakhir ANC? d. Ga pake glove. Berdiri di kanan. 27. Cuci tangan: pake sabun. GPA b. Jelaskan prosedur. hipertensi) f. handukan atau pake alcohol. bilas. terasa tidak nyaman tapi tidak berbahaya bagi ibu dan janin ibu. Penyakit yang pernah dialami (DM. tujuan. presentasi muka  dagu. Umur kehamilan (HPM terakhir) c. 25. menghadap lateral Situs/Lie: longitudinal. bulan -3. Minta ibu tiduran di atas meja periksa. breech precentation  sacrum Leopold baru bisa mulai 28 minggu 19 . ada tanda2 seperti bloody show dll atau nggak? 24. Obat yang pernah diminum selama kehamilan g. brow). Informed consent 26. Minta ibu berkemih dahulu. 28. dan hasil yang diharapkan Saya akan melakukan pemeriksaan pada janin ibu. oblique Presentasi: chepalic (vertex. shoulder Attitude: conveks (melengkung). concaf Posisi: nentuin di kanan atau kiri Posisi yang sering  PUKI (punggung kiri) Denominator: Presentasi Vertex  UUK.

Fundal height pakai meteran  estimasi umur gestational & berat Hitung dari simfisis pubis ke fundus tapi yang centimeter-nya dibalik biar nggak bias. 32. 5 detik berhenti.Leopold 1 29. elongated Limb: small. Bagian fetal di fundus bulat keras kepala bulat lunak buttock kosong posisi transversa Leopold 2 31. 30. soft. 5 detik itung. posisi ganti jadi menghadap kaki ibu 35. Hitung: selama 25 detik. Lakukan deep pressure di pelvic inlet Di mana cephalic prominence? Presentasi vertex: cephalic prominence sejajar limb (small part) Presentasi wajah: cephalic prominence sejajar punggung (flat & elongated) 37. caranya 5 detik itung. tekuk meteran & lihat cm-nya berapa. Turunin tangan gantian kanan kiri Punggung: flat. Dengan monoaural fetoscope. Berdiri di kanan pasien. Sampai di fundus. 5 detik berhenti. 5 detik itung  jumlah terus kali 4 Nentuin posisi ndengerin FHR  Kalau presentasi bokong  di atas umbilicus Kiri/kanan tergantung posisi punggung fetus  Kalau presentasi kepala  di bawah umbilicus Presentasi cephalic wajah: di dada Presentasi cephalic vertex: di punggung 39. 20 . Mengukur fundal height berapa jari dari proc. memastikan leopold 1 (bisa pula digoyangkan utk skrining udah masuk panggul apa belum) Leopold 4 34. Finger di segmen bawah rahim 36. Sambil pegang arteri ibu untuk memastikan yang didengar FHR. Divergen: enganged Convergen: unenganged 38. xyphoideus/umbilicus Taruh sisi lateral jari telunjuk kiri pada bagian atas fundus uteri untuk menentukan ketinggian. normal 120-160 x/menit. multiple Leopold 3 33. hard. Pegang di bagian agak atas simfisis pubis dengan tangan kanan. Fetal Heart Rate FHR bisa didengar setelah 18 minggu. Telapak tangan kiri kita diletakkan pada perut lateral kanan ibu. telapak tangan kanan kita diletakkan pada perut lateral kiri ibu. bukan pulsasi ibu.

& nyeri c. discharge berbusa & hijau. pakai Gram ketemu clue cell Nanti di-bau-in dulu setelah lici kapas diusap ke vagina. terus periksa pH pakai kertas lakmus  Trikomoniasis Oleh T. Posisi bayi b.( tinggi fundus -12) x 155 gram 40. ciri baunya amis kayak ikan. Kapan kontrol lagi 42. dilihat pakai KOH 10 % ada pseudohifa 21 . DGNI (+) seperti biji kopi di intraselular. jenis kelamin. RPS 1) Status: menikah atau belum 2) Riwayat ginekologis: GPA 3) Riwayat menstruasi: siklus dan mens terakhir? 4) Pakai kontrasepsi d. dilihat pakai NaCl 0. Cuci tangan: sabun. Estimasi kelahiran f. umur b. kuantitas. Keluhan lain DD discharge vagina  Cervicitis GO: keluar seperti nanah.Tinggi fundus x 8 : 7 (dalam minggu) Kalau udah enganged. Keluhan utama Cairan vagina: sejak kapan. bilas. RPK: ada yang punya keluhan sama? f.leukosit PMN >30  Vaginosis bakterial Gadnerella vaginalis (Gram negatif)  rangsang kuman aerob di situ  pH jadi basa (>4. DJJ normal/nggak c. (tinggi fundus -11) x 155 gram Kalau belum enganged. Identitas: nama. Catat di medical record Tambahan: <20 bulan 20-<37 bulan 37-42 bulan >42 bulan Umur gestational Fetal weight aborsi preterm aterm postterm GYN EXAM (kasus IMS) 1. Anamnesis ginekologis a. vaginalis. leukosit PMN >30 Non GO: DGNI (-). Greeting & perkenalan diri 2. terutama pada pagi hari. konsistensi). karakteristik (warna. Estimasi berat janin e. dan handuk 41.5). bau. RPD: sudah pernah? e. frekuensi. Pengukuran umur kehamilan d. gatal. seperti susu basi. Penjelasan ke ibu a.9% ada yang motil  Kandidiasis Kental.

Perineum di tepi meja periksa Pemeriksaan in speculo 8. 12. bentuk lingkaran. Informed consent & alasan2 Dari hasil anamnesis. dari kanan medial sampai paha medial. kegunaan:  Dinding vagina: a) Kandidiasis  KOH b) Vaginosis bakteri  Gram  Ostium uteri eksterna: Cervicitis  Gram  Fornix posterior Trichomoniasis  langsung di bawah mikroskop karena udah ada NaCl i. tidur pada posisi lithotomy 7. Mangkok isi NaCl 95% k. kalau bukan IMS Periksa IMS h. 11. . Sarung tangan l. Pakai apron. masukkan 3-4 cm kemudian diputar Inspeksi vulva dan area sekitar  Mons pubis persebaran rambut  Labia majora lesi pigmentasi pembesaran glandula  Labia minora peradangan 22 10. perlu dilakukan pemeriksaan alat kelamin. 15. & berhenti Meletakkan duk steril : 1 di bawah pantat. 13. mengecek peralatan: a. Meminta pasien buka celana dalam. Speculum graves. Memposisikan & menyalakan lampu 9. 4. Tampontang/klem pean. 1 yang berlubang di area vulva Melakukan kateterisasi (kalau belum berkemih). Duk steril Toilet vulva luar d. Lisol. masuk anus yang terakhir. Mangkok isi betadine/antiseptic Toilet vulva dalam f. untuk membersihkan e. masuk & berhenti Kasa 2: pelangi 3x. minimal siapkan 2 ukuran b. 0. 14. Basin Cuci tangan & menggunakan sarung tangan secara aseptik Duduk di depan area genital Membersihkan vulva Pakai peyan dengan arah meminta untuk permudah visualisasi Kasa 1: dari depan turun. 3 Lidi + kapas j.5% chlorine untuk desinfeksi tingkat tinggi m. Air hangat c.3. Silakan bila ingin BAK 6. 4 slide. Klem ovarium g. Tujuan  sedikit tidak nyaman tetapi tidak membahayakan 5.

Dinding vagina  Licin  Perdarahan  Discharge  inflamasi  Tumor b. Cerviks  Mencucu. nyeri  chancroid Multiple. atau tidak  OUE terlihat atau tidak. Laporkan a. putar 90o: adakah fistula. Beri lubrikan dan masukkan  Minta pasien tarik napas  Tangan kiri di atas mons pubis dengan jempol dan telunjuk membuka labia minora  Tangan kanan memegang speculo. kalau belum pernah coitus jangan speculum 17. Pilih speculum yang tepat & screw-nya.5% chlorine Bimanual examination 23. dirotasi 90%. jari lain fleksi 26. Kunci & bersihkan dinding vagina & cerviks (toilet vulva dalam) 19. Berdiri. Unlock & remove speculum 22. Pisahkan labia major dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri Jempol & jari tengah ekstensi. Sedikit kendorin. terus buka pelan2  Dikunci setelah sampai portio 18. tumor.Clitoris Introitus discharge. telunjuk di atas. Melubrikasi tangan 24. dilatasi atau tidak  Warna  Perdarahan  Inflamasi  Discharge  Tanda2 carcinoma  Tanda Chadwick: cervix kebiruan karena dilatasi vena saat hamil  Adakah benang IUD 20. tidak nyeri  sifilis Ulcus bentuk tidak rapi. kalau ada diambil  Ada tidaknya OUE Palpasi  Cysta bartholini Ulcus batas tegas. nyeri  herpes genitalis 16. dasarnya bersih. tepi meninggi. Speculum tetap dipegang waktu periksa lidi kapas. Jari ketiga menekan ke posterior vagina lalu masuk bersama telunjuk hingga posterior fornix 27. 21. ada massa vesikel. jempol menahan. Vulva 23   . Inspeksi a. Tangan kanan di depan vulva & tangan kiri di regio suprapubis Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari tengah & telunjuk tangan kanan Ibu diminta tarik napas 25. dasarnya tidak bersih. perdarahan pada dinding vagina bagian anterior posterior Kalau IMS. dilatasi. Masukkan ke larutan 0. jari tengah di bawah  Kalau udah masuk 2/3. nggah usah diputar.

43. Speculum grave g. tangan bersarung tangan kobok2 di basin chlorine Lepas sarung tangan. 29. berarti nggak usah dilanjutin. konsistensi. Adnexa (ovarium. Alat a.4 juta IU Cancroid: azythromycin 1 gram oral dosis tunggal (H. Linen berlubang f. Vagina  Dinding licin. durasi 3 hari Trichomoniasis: metronidazol 2 gram dosis tunggal Vaginosis bakterial: metronidazol 500 mg selama 7 hari Cervicitis: GO: cefixime 400 mg single dose oral atau ceftriaxone 200mg IM Non GO: doxycicline 2 kali dosis 100 mg selama 7 hari atau tetracycline PAP SMEAR Dilakukan pada saat telah melakukan hubungan seksual <30 tahun 1 kali per tahun >30 tahun pertama-tama per tahun. b. 2 labelled object glass Untuk pemeriksaan 24 . Parametrium f. tapi kalau 3 kali berturut-turut negatif.5% Sebelum dilepas. Endocervix brush/ayre spatula h. rel kereta/ikan yang berderet) Herpes genitalis: acyclovir 5 x 200 mg selama 5-10 hari Kandidiasis: mikonazol 200 mg/hari suppositoria vaginal. meminta pasien bangun dari meja ginekologis Matikan lampu Menyampaikan hasil Treatment:        Sifilis: IM dosis tunggal benzadil penilicillin 2. cuci tangan.ducreyi. 31. 30. ligamentum)  periksa ke arah fornix lateral  kaku atau tidak Masukkan semua alat ke larutan chlorine 0. 3 kali berturut-turut pada pemeriksaan sebelumnya negatif. Lampu ginekologi d. Cerviks  Cysta  OUE  Konsistensi cerviks d.28. Meja & kursi periksa c. cukup 3 tahun sekali >70 tahun jika dalam waktu 10 tahun terakhir. Pakai apron b. & isi (padat/cair)  Bila berdenyut  hernia c. Glove e. Uterus  Posisi (ante/retro)  Ukuran  Mobile ( naik turun. tuba fallopi. ber-rugae  Tumor. kanan kiri) e.

Tanda2 cervicitis (kalau ada.44. Kapan follow-up: kalau udah ada hasilnya IMPLANT 25 . masa fragil.5%. Tanyakan pertama kali hubungan seks b. & kondisi abnormal lain 54. pakai duk berlubang Cek area genital. masa. Cuci tangan & pakai gloves 51. Waktu ngeluarin. bleeding. lepas gloves Cuci tangan dengan air mengalir Handuk 62.5% dan ke tempat sampah 61. Tidak melakukan sexual intercourse & irigasi vagina dalam 3 hari terakhir Sampaikan kalau sedikit nyeri Informed consent Minta pasien a. obati dulu 12 minggu. Finding & next action: nanti hasil PA bisa nunjukkan adanya gangguan pertumbuhan 64. jangan menyentuh sekitar 56. Endocervical brush putar 360o Spatula ayre putar 180o. Surat rujukan ke PA 65. forniks. Duduk depan area genital Toilet vulva luar. jumlah pasangan >1 hari c. Rendam tangan berlapis gloves di larutan chlorine 0. erosi. diskolorasi 52. In speculo exam. Matikan lampu Counseling 63. berhenti. drainasi. Fiksasi dengan dicelup alcohol 90% 58. Semua dismear endocervical brush  ratakan di slide dengan diputar spatula ayre  ratakan bagian eksoserviks di slide dengan diusap 2 kali di tempat yang berbeda 57. Urinasi & cuci perineum sebelum pemeriksaan b. bisa ambil endocerviks dan ectoserviks 55. 48. obati dulu 53. 47. Larutan etanol 90% yang sudah diberi label Surat rujukan Jelaskan tujuan & prosedur Anamnesis singkat a. inspeksi area vulva perineum & meatus urethra Laporkan: lesi. baru pap smear) d. Katakan telah selesai Post-action Management 60. & dinding vagina Laporkan discharge. 46. 45. a. High risk bila <18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual. Keluarkan spekulum 59. 49. Terlihat serviks. speculum bisa dikasih air hangat tapi jangan lubrikan Kalau ada cervicitis. Dekontaminasi dalam larutan chlorine 0. Melepas underwear Minta pasien untuk berbaring dengan posisi litothomi Posisikan pasien & nyalakan lampu ginekologis Prosedur 50.

harus rajin minum. prosedur Mekanisme kerja implant: menebalkan cervical mucous & mengganggu siklus menstruasi 4. brain vascular disease.1. tangannya yang non dominan di abduksi & ekspose bagian volar tangannya 6. Nyalakan lampu ginekologis Alat:  Handuk  Glove  Cocher  Kasa  Mangkok isi betadin  Linen steril berlubang  Syringe  Lidocain 1% 3-5 ml tanpa efinefrin  Scalpel + pegangan  Trocar/inserter 26 . infeksi hepar. Cuci tangan. abnormal uterus bleeding. thromboembolic. Vaginal bleeding? f. efek samping jadi gemuk (-) kondom & diafragma: kurang manjur Long term (+) IUD: dominan progesteron  mempertebal mucuos. headache kronis? Severe sirosis hepar. Udah berhubungan seksual? Kapan terakhir berhubungan seksual? c. icterus. Tujuan. minta pasien berbaring. GPA? (implant nggak boleh kalau lagi hamil) d. gangguan hormonal. Durasi KB? g. Anamnesis a. acute liver disease. Udah menikah? b. IUD bisa untuk 5-10 tahun & implant bisa tahan 6 tahun. KB penjarangan: Short term (+) implant: tidak mengganggu hubungan seksual (-) implant: gangguan hormonal tapi tidak separah oral. mata/kulit kuning? Masalah blood clot pada kaki dan paru? Kontraindikasi: suspected pregnancy. Informed consent 5. tumor hepar. bisa peradangan panggul KB penghentian: tubectomy 3. estetika jelek (-) oral: murah. Kapan terakhir mens? Waktu yg tepat: during menstrual period hingga 5-7 setelah menstruasi e. Menyusui bayi <6 minggu? (implant boleh 6 minggu setelah child birth) h. Salam & perkenalan diri 2. anomaly in heart coronary vessel. Riwayat penyakit Breast cancer? Hipertensi. nggak berefek hormonal (-) IUD: sensasi nggak nyaman saat coitus. breast malignancy.

18. 10. Anamnesis a. 12. tahan dengan plunger ketika trocar ditarik sampai tanda 2 (deket jarum). 1 cc di kiri Subcutan. aspirasi dulu. 11. & memar  Jangan angkat benda berat dulu  Jangan hubungan seks dalam 12 jam pertama  Coitus sebelum 3 bulan pakai kontrasepsi lain  Kontrol 5-7 hari atau lebih cepat kalau ada tanda2 infeksi  Kasih tau tipe implant. gambar pakai ballpoint. lalu pasang linen berlubang Injeksi anestesi lokal Anestesi 1 cc di tengah. bengkak.7. Kontraindikasi  Hamil. keluarkan plunger. 9. ke mana utk lepas IUD 1. Indikasi  Menunda kehamilan long term  Untuk ibu menyusui  Ibu yang nggak mau KB hormonal  Risiko STD rendah  Ibu yang berhasil dengan IUD sebelumnya e. Riwayat GPA c. 16.5% selama 10 menit Rendam & lepas gloves Cuci tangan & isi medical record Edukasi  Jaga tetap kering lukanya selama 4 hari  Lepas bandage setelah 2 hari  Mungkin akan nyeri. Salam & perkenalan diri 2. isi capsul dg implant. Jarak tiap implant/silastik 15o Palpasi Remove linen Wiping dengan alcohol. 14. pasang bandages Rendam alat2 di basin berisi chlorine 0. Tujuan d. Lakukan hal yang sama utk tiap implant. 1 cc di kanan. makanya pasang pas akhir menstruasi  Sedang menderita STD  Vaginal bleeding 27 . 19. 17. 15. tanggal insersi. Identitas b. Di trocar ada glaur (bagian datar yang tulisannya “10”) buat nandain bevel ada di atas Ada tanda 1 & 2  Pendorong/plunger  Implant  Klem mini Kalau mau. kapan (bulan & tahun) lepas. arah kipas ke atas Cuci tangan & pakai sarung tangan Preparasi area dengan betadin 3x dari sentral ke perifer. 13. 45-60o Scalpel 2 mm tegak lurus Masukkan trocar (30o) & plunger ke subcutan dengan posisi Glaur tetap di atas hingga tanda 1 (deket kita). 8.

Klem buaya n. 9. 13. Tenaculum untuk fiksasi jam 1 & 11 k. Peyan d. 11. 6. 20. diidentifikasi dari discharge cerviks atau darah di sonde Arah kelengkungan sonde bergantung pada arah uterus Tanda biru sesuai kedalaman uterus menurut sonde 28 . 22. gunakan glove dengan metode open Toilet vulva luar In speculo sama seperti gyn exam untuk role out kontraindikasi Periksa bimanual untuk exclude peradangan Lepas sarung tangan. 5. jangan dimasukkan lebih dari 5 menit Pakai sarung tangan yang baru Lakukan preparasi vulva & struktur sekitar pakai peyan & kasa betadin Tutup dengan linen steril  tapi kalo tadi linennya ga dicabut. 19. Gunting panjang untuk potong benang m. sebelumnya kobok2 di basin chlorin Masukkan lengan IUD ke dalam inserternya tanpa glove sampai IUD nekuk. Lampu ginekologis Ibu diposisikan litotomi Minta ibu buka celana Nyalakan lampu ginek Cuci tangan pakai desinfektan. Glove c.5% o. Duk berlubang g. 17. cervix lunak. IUD set l. Klem ovari i. Speculum h. 14. 16.  Discharge purulent  Keganasan ginek f. ga usah preparasi vulva sama masang linen lagi Pilih speculum Speculum dimasukkan ke uterus Bersihkan vagina dengan klem ovary. 15. samarkan perdarahan Informed consent Berkemih dahulu Siapkan alat a. 7. 21. 23. Handuk b. Povidone iodine f. Riwayat menstruasi Hari2 terakhir karena exclude kehamilan. Sonde uteri j. 12. 18. Basin berisi chlorin 0. 4. melingkar dari dalam keluar 3x dengan kasa + betadin atau dengan lisol supaya nggak bercak/mengganggu visualisasi Jepit tenaculum di bibir cervix di jam 11 & 1 atau 12 saja Sondekedalaman uterus. 8. Kasa e.3. 10.

Cuci sarung tangan di basin chlorin. Prosedur & risiko Nanti akan dijahit. ras. 2. di-dep dengan kasa pakai klem ovarium 33. tandai sesuai kedalaman uterus (dilihat dari discharge cerviks atau darah di sonde) 25. Bedah Tumor SIMPLE SUTURING  Anamnesis/riwayat medis  Umur. Ibu dipersilahkan pakai celana lagi 36. Plunger dikeluarin 27. tetapi akan diberi obat anestesi dulu 29 . Lepas tenaculum 32. agak nyeri. Sirkumsisi. Inserter dikeluarin 30. lepas sarung tangan 34. dari samping 29. Edukasi  Bisa dilepas & fertile lagi  Keluar bercak selama 3 hari pertama  Tidak hubungan seksual selama 3 hari pertama  pertinggi kemungkinan cervicitis  Perubahan silklus mens setelah 3 bulan pertama  Pakai kontrasepsi lain pada 3 bulan pertama  Kontrol saat haid berikutnya  Kontrol lagi bila benang teraba  Kontrol rutin tiap 1 tahun Efek samping:  Bleeding  Leucorrhea  Nyeri dan terasa saat hubungan seks BEDAH  Simple Suturing.24. Inserter juga dikeluarin sebagian sambil diputar2 supaya benangnya meluntir 28. Tulis laporan di rekam medis 37. Sisipkan benang dengan klem buaya di fornix posterior 31. Matikan lampu 35. Indikasi. apa yang akan dilakukan & mengapa Ini harus dijahit untuk mencegah infeksi & mempercepat penyembuhan. Masukkan dengan metode push plunger atau pull inserter 26. Taruh sonde di samping inserter. jenis kelamin. Potong benang pakai gunting benang. Kalau ada perdarahan. pekerjaan  Onset Perawatan luka tertutup < 8 jam Perawatan luka terbuka > 8 jam  Durasi  Rasa nyeri  Pernah suntik tetanus? 1.

benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Persiapan alat: Untuk hand washing 1. Pembersih kuku 4. agak sedikit nyeri 3. Sikat tangan steril. Sabun 3. Posisikan pasien 5. Pakai baju bersih.Risiko: ada bekas luka. Informed consent 4. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown                   Cocher Kasa steril Comb Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis NaCl Perhidrol H2O2 Needle holder Cutting needle 4/8 Benang non absorbable 3/0 Gunting benang Klem hemostatis Kassa softratul di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. google. alkohol. Pastikan air nyala 2. mask 6. cap. sekalian dibuka 30 .

Bilas f. grojog. Sabun taruh di sikat b. 10. Initial washing a. 8. Tutup kran dengan siku 11. Handukan a. Anestesi subcutan Ambil jaringan lemak dengan tangan kiri. Cek air b. tangan kanan bersihkan luka pakai kasa yang dipegang pakai cocher. ulnar. kalau nggak ada darah. Membuka bungkus sikat steril 9. Tangan kiri bawa mangkok berisi NaCl. Aspirasi. dan sabun antiseptik cair c. Pakai sarung tangan closed method Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai povidone iodine 3x dari sental ke perifer di sekeliling luka. Buang e. Scrub. Initial washing & liquid soap c. tangan Palmar. Pakai d. Persiapan a. Siapkan sikat steril. Scrub a. Terus tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). Buang handuk 13. Masuk ke ruang operasi 12. pembersih kuku.Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 8. Keringkan tangan satu-satu c. radial. Pakai gaun raba dalam b. Transfer sikat. Luka di-tul-tul dengan perhidrol untuk bunuh bakteri anaerob 31 7. Pakai gown a. Tutup/ikat 14. suntikkan anestesi. Tuang NaCl. Buang pembersih kuku 10. Ambil & bagi handuk b. Buka kran dengan siku b. dorsal. pegang di tampat sama d. Tangan diangkat e. Bilas d. 11. Raba kerah c. interdigiti. Bersihkan kuku f. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis Bersihkan luka dengan NaCl. Injeksi dengan tangan kanan sudut 45o. 9. kuku c. .

12. Bersihkan lagi pakai NaCl, grojog. 13. Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting 14. Tangan kiri pegang pinset chirurgis (pegang kulit) & pinset anatomis (jemput jarum) 15. Masukkan benang ke kulit dengan posisi tegak lurus, lengan abduksi, posisi pronasi 16. Jumlah jahitan 2p, dengan p adalah panjang luka. Jarak jahitan pertama dari ujung luka = 0.25 cm Jarak tiap jahitan = 0.5 cm 17. Kalau ada perdarahan  di-dep  diklem  dijahit banting 18. Pakai sofratul, terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester, bentuk bingkai 19. Edukasi pasien (daily plan, medicamentosa, specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa), lepas jahitan 1 minggu (selain muka) atau 4-5 hari (muka)  Kenali tanda2 infeksi (gatal, keluar pus)  Tidak boleh kotor, tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral)  <5 tahun sebelumnya pernah suntik ATS  nggak usah suntik lagi, >5 tahun sebelumnya belum suntik ATS  nggak usah suntik lagi R/ Tab. As. Mef. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Amox. 500 mg No XV S q8h

SIRKUMSISI 1. Salam, perkenalan. 2. Indikasi medis a. phymosis (preputium ga bisa ditarik ke proksimal) b. paraphymosis (preputium ga bisa dibalikin setelah ditarik) c. balanitis (radang pada glans penis) d. balanopostitis (radang pada glans dan preputium/kulit kulup) e. mencegah infeksi dan penyebarannya Indikasi non-medis: agama 3. Kontraindikasi a. hipospadia (arah pipis di bawah/bagian ventral) b. epispadia (arah pipis di atas/bagian dorsal) c. chordee (penis bengkok) d. webbed penis (ada jaringan yg menghubungkan skrotum dengan bagian dorsal penis) e. mikro penis (<2,5 SD) f. hemostasis abnormality (ada gangguan pendarahan) 4. Jelasin prosedur dan informed consent (ke anak dan orang tuanya). 5. Anaknya yg mau disirkumsisi disuruh pipis dulu. 32

6. Persiapan alat korentang untuk proteksi a. handuk b. gloves untuk disinfeksi a. cocher b. kassa steril c. mangkok berisi povidon iodine d. duk steril e. klem duk anestesi a. spet berisi lidocain 2% tanpa epinephrine (kalo epi bisa nekrosis) 2 ampul b. pinset cirurgis c. pinset anatomis untuk gunting preputium d. mosquito klem e. klem lurus 3 buah f. gunting jaringan jahit a. benang cat gut 3/0 b. benang cat gut 2/0 c. jarum 4/8 d. klem vasa e. sofratul f. kasa g. plester 7. Posisikan pasien supinasi, minta buka celananya. 8. Ganti baju bersih, lepaskan aksesoris di tangan. 9. Prosedur cuci tangan aspetik. 10. Keringkan, pasang gloves. 11. Lakukan prosedur antiseptik pada pasien. Dengan menggunakan cocher, kassa + povidon iodine  bersihkan mulai dari ujung penis sampai ke pangkal – suprapubik – medial paha. 12. Tutup dengan linen steril berlubang. 13. Anastesi (block). Menembus fascia Buck.  Spet berisi lidocaine diinjeksi di bagian proksimal penis. Masukkan 90 derajat di fascia Buck.  Aspirasi. Injeksi 1 cc.  Miring 30 derajat kanan. Aspirasi lagi. Injeksi 1-2 cc.  Miring 30 derajat kiri. Aspirasi. Injeksi 1-2 cc  Ciri udah masuk fascia Buck a. sensasi menembus kertas b. kalau diangkat ikut naik c. kalau diinjeksi ga ada indurasi 14. Tunggu 1-2 menit. Tes efek anastesi dengan dicubit preputiumnya. 33

15. Pisahkan preputium dari glans.  Tangan kiri menarik preputium, tangan kanan megang kassa + povidon iodine memisahkan preputium, atau  Klem teknik: menggunakan mosquito klem. 16. Bersihkan smegma. Preputium ditarik ke belakang, bersihkan smegma dengan kassa + povidon iodine. Bersihkan dari distal ke proksimal. 17. Tandain daerah insisi: pake pinset cirurgis, 2-4 mm proksimal dari sulcus coronaries, melingkar searah jarum jam (3-4 titik cukup). 18. Klem preputium di arah jam 11 – 1 - 6  ditarik ke distal  jahit di arah jam 12 (jahitan control) jahitan di klem mosquito, lengkungan mosquito menghadap ke atas (benang 3/0) 19. Jahit frenulum diarah jam 6  figure of eight, (benang 2/0) 20. Potong preputium searah garis marking, ke arah kanan-kiri, sampai frenulumnya terpapar, potong di sepanjang sulcus coronarius (sebenernya potong kulitnya baru mukosanya). 21. Rapihkan guntingannya, lakukan bleeding control. 22. Kalau ada bleeding di depth  kalau ga bisa  klem dg klem vasa  jahit 23. Lakukan additional hecting di 10-2-4-8, jahitan seperti jahitan control (benang 3/0) 24. Dicek apakah ada bleeding 25. Pasang sofkratul mengeliling  kassa sirkular (pake plester dikit aja)  lepas duk  gamma bandage (pake kassa lalu direkatkan ke kulit dengan plester) 26. Edukasi a. Jangan basah b. Kurangi aktifitas, kurangi makanan mengandung protein c. Ganti perbannya, control 2-3 hari setelahnya d. Antibiotik (amoxicillin 500 mg s.3.d.d.1) & antinyeri (Paracetamol 500mg s.p.r.n 3.d.d.1)

BEDAH TUMOR Sepertinya nggak pake anamnesis & Px, tapi gapapa-lah biar tau…  Anamnesis/riwayat medis  Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan  Durasi  Onset  Progresi (pembesaran yang cepat + nyeri  inflamasi; pembesaran progresif  malignansi)  Rasa nyeri  Pemeriksaan fisik/lokal  Inspeksi  Lokasi  Jumlah: single, multiple  Ukuran & bentuk: spherical, ovoid pyriform, irregular  Permukaan: lobulasi (lipoma), kasar & irregular (verucca)  Tepi: tajam, round, regular/iregular  Warna  Pulsasi yang tampak Lipoma: lokasi, single/multiple, massa berbentuk discoid, permukaan lobulasi, tepi reguler, warna seperti warna kulit, tidak tampak pulsasi.

34

 Indikasi: efek tekanan. 20. Pada pencubitan kulit. Verucca: teraba kenyal pada kulit atau keras pada telapak tangan/kaki. diameter 1-10 mm. pak/bu. tidak ada fluktuasi. Verucca: lokasi. tidak tampak pulsasi. mobile. Prosedur & risiko Akan dibuat irisan. agak sedikit nyeri 22. bentuk. ini namanya lipoma/verucca. ada yang bentuk bunga kol. Indikasi. Informed consent 23. & umumnya tidak nyeri. batas tegas. papula terkadang ada celah pada permukaannya. berwarna merah atau coklat. kosmetik  Akan dilakukan pengangkatan tumor 21. Pakai baju bersih 25. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown            Cocher Kasa steril Comb Alkohol Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis Surgical blade ukuran 10 35 . permukaan. apa yang akan dilakukan & mengapa  Ada benjolan.. lalu dijahit. Risiko: ada bekas luka. masa akan tampak lebih jelas. berbatas tegas. Palpasi  Temperatur/suhu  Rasa nyeri  Konfirmasi lokasi. benjolan diambil. dan umumnya tidak nyeri. ukuran. single/multiple. Posisikan pasien 24. & tepinya  Konsistensi: soft/lunak (lipoma)  Fluktuasi  Transluminasi  Adanya pulsasi  Mobilitas dari benjolan Lipoma: berlobus & semikistik.

         Scalpel/handle ukuran 3 atau 4 Tissue retraktor Gunting lengkung Klem mosquito Forsep jaringan (Allis) Needle holder Round & cutting needle Catgut 3/0 & benang nilon Gunting benang di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Geser meja pake kaki. Kalau ada bagian meja yang kebuka. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Pastikan taplak oke. Sabun taruh di sikat 36 . Sabun 7. alkohol. Persiapan alat: Untuk hand washing 5. Pastikan air nyala 6. Tangan diangkat k. Scrub g. Pembersih kuku 8. Persiapan d. Sikat tangan steril. Bilas j. Cek air e. biarin aja. Bersihkan kuku l. Initial washing g.. Buka kran dengan siku h. Siapkan sikat steril. minta ganti taplak aja. sekalian dibuka Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 15. Membuka bungkus sikat steril 16. Initial washing & liquid soap i. dan sabun antiseptik cair f. Kalau taplaknya nempel sama benda lain. pembersih kuku. Buang pembersih kuku 17.

tangan Palmar. Raba kerah g. kuku i. Diseksi (lipoma only)  Diseksi tumpul: klem mosquito  Diseksi tajam: gunting jaringan yang lengkung  Telusuri kapsul lipoma Klo veruca  diseksi tajam: pake blade 32. sampai indurasi. pegang di tampat sama j. 2. Pasang benang terserap/catgut pada jarum round 37 . Terus povidone iodine 3x. Tutup/ikat 21. tangan kanan megang clamp. muterin si elips 28. Handukan d. tunggu kering. Tutup kran dengan siku 18. ligasi (yang klemnya dibanting) 9. Aksis irisan sesuai garis kulit 31. Irisan kulit 1. Pasang scalpel. megang kulit verucca pakai pinset chirurgis 5. tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). terus yang bagian atas diputar)  lipoma only 30. Angkat tumor  Lipoma sampai kapsul diambil pake Allis 33. Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai alkohol 3x dari sental ke perifer. Pegang pisau seperti pegang pensil 4. Kalau ada perdarahan. pake clamp/needle holder. Anestesi infiltrasi Lipoma: irisan linier  anestesi intracutan. Buang k. Masuk ke ruang operasi 19. 15-30 derajat. Pakai gaun raba dalam f. Ambil & bagi handuk e. Pakai gown e. Buang handuk 20. Transfer sikat. Keringkan tangan satu-satu f. ke 4 arah.h. 2 jari kiri fiksasi kulit 7. Insisi linier sedikit lebih kecil dari diameter tumor (lipoma) atau 3:1 untuk hindari ear dog (verucca). Pakai h. Scrub. scalpel nomer 3 atau 4 3. dorsal. 15-30 derajat. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis 29. 27. Pisau nomer 10. Tangan kiri megang pegangan blade. Tekan dg kassa buat ngurangi darah habis insisi 8. ke 4 arah Verucca: irisan 3:1  anestesi intracutan. sampai indurasi. interdigiti. Masukin retraktor (pertama satu arah. Ikuti garis Langer 6. ulnar. Pakai sarung tangan closed method 26. Bilas l. Tangan kanan insisi. radial.

specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa). Amox. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Spesimen masuk larutan fiksasi. Pakai sofratul. lepas jahitan 1 minggu  Kenali tanda2 infeksi (gatal. tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral) R/ Tab. medicamentosa. As. lampirkan form pengiriman (lipoma only) Masukkan alat ke air chlorine 0. Perdarahan di-deb pakai kassa yang dipegang pakai cocher. Jahit subcutan  lipoma only.34. keluar pus)  Tidak boleh kotor. 500 mg No XV S q8h Kesimpulan: Lipoma only -insisi linier -pakai tissue retractor -diseksi tumpul/tajam Verruca only -insisi 3 : 1 -under cutting 38 .5 % & cuci tangan 39. terus jahit pakai benang terserap dengan jarum round 36. Klo veruca kalo dalem baru jait subkutan. Edukasi pasien (daily plan. Mef. Jahit cutan Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting Lipoma  dari ujung ke ujung Verruca  dari tengah Kalau ada dog ear. under cutting palai scalpel/gunting  verucca only 37. Lepas tissue retractor. terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester. bentuk bingkai 38. kalau masih  hemostatic clamp dibanting  ligasi dengan benang terserap 3/0 35.

lembut. Personal protection/general precaution Cuci tangan. anemia.EMERGENCY Neores. EKG. iv line. placenta previa. 6. Defib NEONATAL RESUSCITATION 1. Perkenalan diri 2. & hangat minimal 3 buah: 1 shoulder roll. Peralatan a. DresBand. 7. prolonged labour (>24 jam). dinyalain. Persiapkan 1 lagi personel ahli 5. kering. 1 untuk nerima bayi 8. dibantu dengan alat. IUGR 3. Kateter. infeksi b. Suction devise 39 . Intrapartum: PROM (>18 jam sebelum kala 2). pakai glove. CPR. Fetal: fetal distress. Antepartum: diabetes. hipertensi (pregnancy/kronis). ET. Antisipasi faktor risiko a. Peralatan: radiant warmer/table warmer. prolonged kala 2 (>2 jam). 1 untuk alas. Informed consent 4. Linen bersih. chorioamnionitis c.

10F. keringkan)  asses warna Kalau ada yang tidak  initial step 14. Kalau hidung dulu di-suction  ada reflex nafas  cairan yang di mulut bayi nanti malah ikut kehisap. 1  bayi cukup bulan 2) ET dengan diameter 2. tepuk telapak kaki) Reposisi 17. 0  bayi kurang bulan Ukuran no. Keringkan Stimulasi (gosok punggung sekalian ambil linen yang buat ngeringin. Posisikan kepala bayi & buka airway Suction mulut dulu baru hidung. Stetoskop 9.5. 4 mm 2. valve.1) bulb syringe 2) mechanical suction 3) suction catheter 5F. & tonus otot baik  taruh di table warmer  routine care (warm. Peralatan intubasi 1) Laryngoscope dengan extra set baterai & lampu Blade Muller.01-0.5. Bag. & mask 1) Bag 2) Mask 3) Sumber oksigen 5 L/menit 100% c. 3. Syringe insulin untuk injeksi epinephrine e. 8F. 14 F Pilih yang nomor 12 F atau 14 F untuk mekonium b. Beri O2 bila perlu 40 . 00  bayi sangat kurang bulan Ukuran no. 12 F. Hangatkan 15.5 mm BB <1000 kg atau usia <28 minggu 3 mm BB 1000-2000 kg atau usia 28-34 minggu 3. airway. At term kah? 11. lurus Ukuran no. Tonus otot baik kah?  Bebas mekonium: Kalau umur gestasi.03 ml/kgBB epinephrine lewat vena umbilicalis f. 16. 0. Bernapas/menangis kah? 13.5 mm BB 2000-3000 kg atau usia 34-38 minggu 4 mm BB >3000 kg atau usia >38 minggu Rumus kedalaman pemasukan ET = BB anak dalam kg + 6 cm 3) Stylet d. Jam g. Nyalakan oksigen 5 L/menit PROSEDUR Tanyakan 10. Bebas mekonium kah? 12. napas. 3.

Posisi 1) Kepala bayi slightly extended 2) Posisi peresusitasi pada posisi kepala bayi 3) Pegang mask dengan tangan kiri dan bag dengan tangan kanan 4) Rim mask mengcover dagu. Bila ada meconium pada cairan amnion. two. Respirasi/menangis? 19. HR > 100 bpm. breath.. bayi vigorous/tidak? Vigorous: strong respiration effort. jadi cuma 20x ventilasi. katakan breath. jari 4 & 5 angkat dagu Tahan rim mask e. three. Kalau warna cyanosis (only)  free flow O2 selama 30 detik Evaluation setelah 30 detik free flow O2 a. Apply suction saat ET ditarik f.Evaluasi Dari awal sampai evaluasi: 30 detik 18. kalau semua bagus  observational care (perawatan tali pusar.. Setelah initial care. Bila tidak vigorous a. Kalau vocal cord udah kelihatan  insert ET yang dihubungkan dengan suction devise tertentu e. two. Pilih bag dan hubungkan dengan sumber oksigen yang mampu menghantarkan 90-100% c. Lanjutkan ke initial step (suction mulut & hidung pake bub syringe) g. Tepat waktu Evaluasi setelah 30 detik ventilasi 41 . Gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut b. Detak jantung. Respirasi b. 2. Pilih device & instrumen b. mulut. HR. warna 23. Kalau HR < 100x or apnea VTP a. selimuti bayi) Hasil evaluasi  Kalau ada yang jelek: 25... tetapi tidak mata Tutup dagu. Insert laryngoscope c. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. dan hidung. Warna kulit 26.. tekanan. Tekan bag f. hitung dalam 6 detik terus dikaliin 10 20. baru hidung Jari 1. Kalau vocal cord nggak kelihatan  gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut & pharynx posterior sehingga glottis dapat divisualisasi* d. Lakukan selama 30 detik. Evaluasi: respirasi. Warna kulit  Ada mekonium: 21. dan irama PPV Laju 40-60 kali/menit. good muscle tone 22. g. Bila bayi vigorous  initial step  gunakan bulb syringe 12 F atau 14 F suction catheter utk mulut & hidung 24. Test bag & mask d. Frekuensi. three.. 3 pegang mask.

Gloves b. selimutin) ENDOTRACHEAL INTUBATION Indikasi pemasangan ET:  Menjaga patensi jalan napas  Mengurangi risiko terjadinya aspirasi  Melakukan suction trachea  Melakukan pemberian oksigen konsentrasi tinggi  Melakukan administrasi obat tertentu  Memelihara pengembangan paru yang adekuat (volum tidal adekuat 10-15 ml/kgBB/menit  10-12 kali/menit) Kontraindikasi:  Trauma maxillofacial 1. pink)  post-resuscitation care (gradually diminish VTP. Respirasi b. Respirasi b. frekuensi Kompresi dada : ventilasi = 3 : 1 (90 kompresi dada & 30 ventilasi dalam 1 menit) 1 siklus 2 detik (1. perawatan tali pusar. Respirasi b. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Spray alkohol c. kedalaman 1/3 dinding anteroposterior c.5 detik kompresi dada & 0.5 detik ventilasi) Lakukan selama 30 detik. mask d. Tentukan lokasi & lakukan kompresi dada 1/3 lower part processus xiphoideus. Tepat waktu Evaluation setelah 30 detik kompresi dada + VTP a. valve.. breathing/crying. Ratio. Posisi resusitator Yang ventilasi di kranial bayi. yang chest compression menghadap bayi b. Persiapan alat a. Warna kulit 27. One and two and three and breath. Bag. Kalau lagi-lagi HR masih < 60x/menit  kasih epinephrine (bisa diulangi sampai 3x) terus lanjut chest compression + VTP Evaluation setelah 30 detik epinephrine + kompresi dada + VTP a. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. jadi cuma 15 siklus. e. Warna kulit 28.a. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Bila setelah dievaluasi lagi: HR <60x/menit  chest compression + VTP a. Cara melakukan prosedur Tekan dengan 2 jempol atau dengan jari telunjuk + jari tengah d. Oksigen 10-12 L/menit konsentrasi 100% 42 . Warna kulit 29. Kalau udah oke (HR>100x/menit.

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. 9.

10. 11.

12.

13. 14. 15.

e. ET sesuai ukuran kelingking, biasanya adult male ukuran 8  sediain 3 ET : ukuran 7.5, 8, 8.5, adult female ukuran 7  6.5, 7, 7.5 cek balon & konektor, dikembangkan lalu dikempiskan lagi dikasih lubrikan water soluble, taruh di kanan pasien f. Spet 10 ml, dicoba ke ET g. Laryngoscope ukuran 3, satukan blade & handle, coba nyala atau nggak Machintos, bengkok  diletakin ujungnya di vallecula glossoepiglotica Muller, lurus  di bawah epiglottis  biasanya pada neonatus h. Stylet i. Suction j. Stetoskop k. Plester l. Oropharyngal airway Pakai glove Posisi di kranial pasien Periksa ada tidaknya cedera cervical Trias: penurunan kesadaran, multiple trauma, dan jejas di atas clavicula krepitasi di bagian leher belakang, otorrhea/rhinorrhea, jatuh lebih dari 2x ketinggian badan Triple maneuver, kalau ada cedera servikal pasang collar neck, jaw thrust Cross finger: jempol kiri menekan mandibula dari dalam, jari telunjuk menekan palatum durum Corpus alienum  finger swab Cairan  suction Pre-oksigenasi dengan bag-valve-mask 10-12 L/menit; 10-12 kali/menit  selama 2-3 menit atau hingga saturasi 95 % Jempol & jari telunjuk pegang mask Jari tengah, manis, & kelingking pegang mandibula Kalau ada refleks muntah  hentikan ventilasi, suction, dan segera pasang ET Reposisi kepala sniffing position (agak ekstensi) Pasang laryngoscope a. Pertahankan pembukaan mulut dari luar dengan tangan kanan b. Pegang laryngoscope dengan tangan kiri, masukkan dari sisi kanan tanpa menekan gigi c. Susuri sampai pangkal lidah dari sebelah kanan, digeser ke kiri d. Sampai ketemu epiglottis, masukin ke vallecula, sampai nemu vocal cord e. Masukkan ET hingga mencapai ukuran 20-22 Male 23 cm, perempuan 21 cm dari mulut, lihat garisnya ET ntar terletak antara pertengahan laryng sampai bifurcatio carina Lakukan nomer 10 dalam 15-30 detik atau tahan napas. Kalau tidak cukup, segera ulangi, oksigenasi terlebih dahulu Inflasi balon dengan syringe berisi udara 10-20 ml Overinflate  nekrosis Terlalu lemah  naik turun Amati pengembangan paru dengan bagging, minta asisten oksigenasi, terus kita auskultasi Apeks, basis  vesicular Epigastrium  nggak kedengaran, kalau ada suara berarti salah masuk Periksa kanan & kiri Fiksasi ET dengan plester mirip gamma di tulang2 keras, ke arah dekat ventilator berada Pasang OPA (mayo/goudel), jadi ET nggak kegigit kalau pasien tiba2 sadar Sambungkan ke ventilator untuk maintain volum tidal 10-15 ml/kgBB/menit

IV LINE 43

. 1. Indikasi, anatomi, prosedur teknik Indikasi:  Memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian  Mengganti cairan yang hilang, menghindari dehidrasi  Memasukkan obat (sebagian besar berupa antibiotik)  Memperbaiki atau mencegah terjadinya gangguan cairan dan elektrolit tubuh Karena langsung masuk aliran darah bisa nyebabin:  Masuknya organisme penyebab infeksi  Masuknya benda asing (udara  emboli)  Alat & cairan bisa bikin iritasi Kontraindikasi:  Lokasi yang lebih distal dari lokasi penyuntikan sebelumnya  Sklerosis/pengerasan vena  Infiltrate site atau phlebotic vessels  Memar, nyeri, infeksi  Percabangan vena  Lokasi katup vena  DVT, penyakit katup vena Tujuan utama resusitasi pada pasien kritis (kurang perfusi jaringan  metabolisme anaerob & asidosis laktat): mengembalikan perfusi jaringan/oksigenasi selular & mempertahankan fungsi organ tubuh melalui resusitasi cairan. 2. Informed consent  Prosedur & risiko  Permisi Selamat siang, Pak/Bu. Saya dokter jaga. Saya akan melakukan pemasangan infus di lengan ibu. Infus ini dipasang untuk mengganti cairan tubuh ibu yang hilang. Apakah ibu bersedia?  Posisikan pasien  Bebaskan lokasi penyuntikan, pilih, & periksa lokasi penyuntikan Cuci tangan 6 step pakai alkohol 3. Persiapan alat Antiseptik: agen untuk menghilangkan mikroflora di kulit  alkohol & yodium Disinfektan: agen untuk menghilangkan mikroflora di benda mati  Over the needle catheter  vasa superficialis (+) kanulasi vasa hanya dalam 1 langkah sederhana (-) ujung kateter cenderung mudah rusak, merusak endotel vaskular  phlebitis & trombosis Ukuran kateter (merknya abbocath): 16 abu2 muda bedah mayor & trauma 18 ijo transfusi darah, produk darah, & obat-obat kental 44

20 pink pasien dewasa 22 biru anak & orang tua 24 neonatus 26 abu2 tua  Jenis cairan: 1) Kristaloid Dapat menembus membran semipermeabel & berubah jadi kristal. 25% tetap di ruang interstisial, 75% ekstravasasi ke ruang interstitium. (+) murah & mudah diperoleh (-) bisa edema, volum harus ditambah supaya ekuivalen dgn koloid a. Cairan hipotonik: dekstrosa 5%, NS 0.5% b. Cairan isotonik RL: syok hemoragik, meminimalkan asidosis 0,9% saline: acute brain injury & syok hemoragik c. Cairan hipertonik, buat penelitian NS 3%, 6%, 7.5% 2) Koloid a. Koloid protein (+) dibutuhkan lebih sedikit (-) mahal, tidak memulihkan rongga interstisial, bisa anafilaksi  Albumin serum (5% & 25%)  Solusi gelatin (plasmagel, haemacell, gellifundol) b. Koloid nonprotein (+) mahal, tapi masih lebih murah daripada albumin (-) koagulopati, anafilkasi, gangguan fungsi ginjal berupa cedera tubular  Starches  Dekstran 40%, 70% 3) Darah Biasanya dalam bentuk paket RBC. Biar aman: 1-2 unit darah O-Rh negatif >1-2 unit: dihangatkan dulu 4) Komponen darah Whole blood, labile blood component, & bahan medik turunan dari plasma. D5W : glukosa RL : Na, Cl, laktase D5W/RL: glukosa, Na, Cl, laktase 0,9% NaCl, 6% HES, 5% albumin, 25% albumin: Na, Cl Peralatan:  Sarung tangan bersih  Cairan infus/plabot 500 ml  Infus set  Penyangga infus  Alas yang terbuat dari plastik  Bengkok 45

tunggu 30 detik. & tepuk ringan di atas vena.  Pasang torniquet 10-20 cm dari vena yang akan disuntik  Bersihkan dengan alkohol arah melingkar keluar. paling distal dari jantung  Vena lurus. tusuk dg jarum IV bevel menghadap ke atas. Persiapan  Letakkan lembaran alas di bawah tangan pasien  Keluarkan perangkat infus dari wadah. jangan dipalpasi lagi b. Tourniquet  Kapas direndam alkohol  Pinset chirurgis  Jarum infus steril (abbocath)  Kassa dalam wadah steril  Plester. bakteremia. terus digantung  Cuci tangan  Pakai sarung tangan bersih a. posisikan menghadap atas. atur pemutar agar cairan infus mengisi pipa infus & tidak ada gelembung udara  Tutup regulator. minta pasien genggam & buka genggaman bergantian. sepsis  Identifikasi vena.  Tusuk lubang outflow dengan spike.  Gantung ke penyangga infus  Isi drip chamber sampai ½  Buka regulator. lebih rendah dari jantung Urut ekstremitas dari distal ke proksimal. tutup regulator  Buka outflow botol infus. tanpa/sedikit cabang  Superficial  Bukan di area fleksi  Tdk rapuh Sterilisasi: mencegah masuknya organisme  phlebitis. Pungsi vena dengan benar  Buka tutup abbocath  Stabilkan vena dg meregangkan kulit. Botol di tangan kiri & lebih rendah dari spike. gunting  Wadah tempat benda tajam 4. Teknis a. dari samping vena masukkan kanula dg sudut 15-300  Tunggu flashback ke ruang flashback jarum  Posisikan alat. Identifikasi lokasi vena + periksa lokasi penyuntikan  Tangan non dominan  Bagian distal. periksa spike & tabung. turunkan sudut kanula dg kulit Dorong kanula perlahan Dorong bagian nilon jarum sambil menarik bagian jarum stainless perlahan  flashback nampak di sepanjang shaft kanula 46 .

maintenance: 20 tpm  Buang benda tajam ke dalam wadah  Lepas sarung tangan  Cuci tangan  Catat prosedur di rekam medis d. Secure iv line  Tutup luka dg kassa dibentuk butterfly/Gama bandage d. koma Tekanan darah sistolik <60 mmHg Sianosis Facies cholerica (pucat. sayu. stupor. Maintain aseptic procedure 5. Postprocedure management & edukasi  Jangan banyak gerak tangan yang diinfus  Jangan ditarik2  Jaga tetap kering & bersih  Ditaruh lebih tinggi  Bilang kalau mau abis & kalau ada hematom. layu) Vox cholerica (suara parau) -1 umur 50-60 tahun -2 umur >60 tahun Rumus kebutuhan cairan = skor/15 x 10% x kgBB x 1 liter Skor <3 & syok (-)  oral Skor >3 & syok (+)  intravena 47 .Mampatkan vena yang dekat dg ujung kanula dg memberi tekanan langsung sebelum menarik keluar jarum bagian nilon  menghindari hilangnya darah  Pasang kanula pada botol infus  Lepas tourniquet  Biarkan cairan mengalir dg membuka regulator (digrojog) c. Universal precaution 6. kemerahan. bengkak sekitar infus Skor dehidrasi menurut Daldiyono 1 Kesadaran apatis Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Frekuensi nadi >120 x/menit Frekuensi napas >30 x/menit Ekstremitas dingin Rasa haus/muntah Turgor kulit menurun Washer woman’s hand 2 Kesadaran somnolen. Cari asisten 7. Adjust the fluid flow  Atur aliran cairan.

Prosedur ini memang tidak nyaman. anatomi relevan.5x Shock Apapun Shock (takikardi. hipotensi. karena bapak tidak bisa mengeluarkan urin. Kami berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengurangi rasa tidak nyaman. setelah 1 jam nggak ada perbaikan  10-20 cc/kgBB/jam koloid Maintenance Dewasa 50 cc/kgBB/24 jam Anak 10 kg I 100cc/kgBB/24 jam 10 kg II 50 cc/kgBB/24 jam 10 kg III 20 cc/kgBB/24 jam Tpm = jmlh cairan/(jam x drop factor) KATETER 1. tapi demi kebaikan bapak. 2 jam pertama 0. prosedur Indikasi:  Men-drain retensi urin (pasien mau kencing tapi ga bisa. kalo diperkusi redup)  Irigasi kandung kemih  Mengukur volume urin output  Mengambil sampel pemeriksaan urin  Memasukkan obat/kontras radiografi Kontraindikasi:  Perdarahan meatal  Hematoma perineal/saddle sign mungkin ruptur uretra  Floating prostat Komplikasi: UTI 2.5 jam masukkan 1.Anuria itu kalau <50 cc dalam 12 jam Transfusion 15 dpm  drop factor 4 Drip chamber terdiri dari 2 bilik dengan filter. kami akan memasangkan selang ke dalam alat kelamin bapak. Informed concent  Prosedur & risiko Pagi pak. 48 .5 jam masukkan 1. oliguri)  20-30 cc/kgBB/jam kristaloid.5x 1. Indikasi. Lakukan kalau Hb <7 Makro dpm 20 dpm  3 Mikro dpm 60 dpm  1 Shock Hemorrhagic Hilang x ml. pakai kristaloid 3x.

 Permisi  Posisikan pasien 3. Prosedur persiapan  Korentang  Taplak hijau Steril yang ada bungkus  Sarung tangan  Foley kateter  Syringe tanpa jarum untuk lubrikan  Syringe berjarum untuk balloning  Syringe tanpa jarum untuk spulling  Urine bag Steril yang tidak ada bungkus  Duk berlubang  Handuk  Mangkok isi betadin  Mangkok isi aquades  Kasa steril  Peyan  Pinset anatomis Nonsteril  Plester  Gunting  Jel anestesi KY (lubrikan larut air) Nonsteril dekat pasien  kidney bowl 49 . tiduran & pakai selimut.Kalau bapak bersedia. silakan lepas pakaian bagian bawah & celana dalam.

pastikan nggak merucut. celupin ke betadin. Preparasi aseptik Mencuci tangan dg sabun & air mengalir. Kateter diganti setelah 2 minggu. cuci tangan aseptik Pakai handuk Pakai sarung tangan steril Ambil peyan. Masukkan kateter gently Pertama. Pompa balon kateter dg volum sesuai & pasang urine bag. Kalau nggak urin keluar. karena obstruksi atau kontraktilitas ↓ 4. ambil kassa. masukkan perlahan dg tekanan lembut sambil minta pasien ambil napas dalam untuk relaksasi otot sphincter.33 mm = 1 French = 1 Charriere). atur posisi penis paralel thd tubuh. balon 5 ml tergantung ukuran. lalu bersihkan Bersihkan 3x central (OUE) ke perifer sampe scrotum Tutup dengan duk b. Kateter dileletin ke gel. terus tutup OUE pake tangan biar gel nggak keluar c. ♀ pegang labium major Pembersihan vulva dari rima pudendi metode pelangi 3x Yang terakhir lewat rima pudendi sampai ke anus. ulangi prosedur Pasang kassa yang ada betadin di ujung glans penis nutupin kateter juga. saya akan masukkan gel untuk melicinkan” Terus masukin gel. Fiksasi kateter di paha bagian atas. masukin air 10 ml spulling kelubang kateter tempat keluarnya urin Keruh  udah masuk ke vesica urinaria tapi bila jernih atau keluar di sekitar OUE  belum masuk. Buka gloves. Lubrikan dengan anestesi Isi syringe dengan anestesi lokal KY 10-15 ml ke uretra (♂) atau oleskan lubrikan pada kateter (♀) “Pak. Waktu di urethra pars membranaceae. urine bag keluar lewat lubang duk steril. Lepas duk steril. ditekan terus ditampung di bengkok. Fungsi utama kandung kemih: storage & voiding Uretra pria panjang 17-25 cm. 50 . kalo lebih besar bisa nyebabin spasme kandung kemih & kebocoran urin. Kalau ada urin. buka plastik dalam kateter ♂ pegang penis arah tegak lurus tubuh pasien. Tarik sedikit. Teknis a. ada aliran urin. Urin bag ditutup dg cara ditekan. Kalau udah masuk. pakai 16 F. Balloning pakai syringe isi air (5-10 ml). terus disambung. Gel taruh di tangan antara jempol & jari. diameter 8-9 mm Uretra wanita panjang 4-8 cm. diameter 8 mm Retensi urin karena: ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan urin. fiksasi urin bag ke meja. Catat volumenya. Plester.Kateter Foley (0. Pak N***: fiksasi penis Pak T******: nggak usah difiksasi Buang yang kotor2.

d. Respon Verbal  shout Fisik  shake Pain  glabella.  Urinary bag diganti kalau mau penuh  Kateter diganti setelah 2 minggu  Kenali tanda2 alergi terhadap silikon yang dipakai: nyeri. Prof behavior CPR 16. feel 25. bahu vertikal di atas dada pasien. jangan ditarik. Reasses Look. C (+) recovery position  B (-). Berhenti kalau a. miringkan pasien (kalo ga cervical trauma). Kedalaman 4-5 cm. listen. Perkenalkan diri Bapak/Ibu. lengan lurus. Postposedure & education  Tirah baring.Cuci tangan. Pasien datang 51 . jatuhkan berat badan. Safety diri. FBAO (foreign body airways obstruction) yang visible & removable Ada cairan. evaluasi setiap 1 menit. kecepatan 100 kali/menit. Cek pulsasi di carotis. frekuensi 30 : 2. Nggak ada napas  rescue breathing 2x dalam 5 detik 23. lingkungan 18. jangan banyak bergerak. Airway a. lepas sarung tangan. Maintain aseptic procedure Buang sampah. Breathing. sebelah adam’s apple  B (+). manubrium 19. C (+) napas buatan 12 kali/menit  B (-). gatal 6. 17. Saya akan mencoba menolong pasien ini. 24. cuci tangan. cek jangan lebih dari 10 menit Look  pergerakan dada Listen  suara napas pada mulut pasien Feel  hembusan napas di pipi penolong 22. saya mahasiswa kedokteran. biarkan recoil sempurna. letakkan tangan posisi terkunci di sternum pasien. C (-) Berlutut di kanan pasien. Komunikasi & relationship 7. Telpon 118 20. korban. 1 menit ada 3 siklus. 5. Pastikan trauma cervical ada atau nggak Nggak  head tilt & chin lift Ada  jaw trust b. Mohon berikan ruang agar pasien bisa benapas dengan lega. Secure urethral catheter properly e. pake bahan serap (kalo cervical trauma) 21.

atau control 3 hari lagi  Kasih analgesik & antibiotik EKG Prosedur: 1. Capek 26. Jelaskan tujuan dressing & bandaging Dressing: nutup luka. menyerap eksudat. feel. perkenalan diri. badan dibalikkan dalam 1 baris. Bandaging 9. betadin. mempercepat proses penyembuhan. plester 8. Lakukan pemeriksaan Look daerah luka  luka terbuka. kassa. buka baju Pasien tiduran Colok dengan listrik Bersihkan semua elektroda dengan alkohol & area tubuh dgn gel Tempatkan elektroda sesuai posisi  Lead prekordial C4 merah SIC 5 linea midclavicula 52 .5 cm lengan 5 cm tangan 5.b. Aliri luka dengan NaCl. infeksi Feel vaskularisasi  suhu. Recovery position Tangan kanan ke atas. 6. 4. pinset chirurgis) 15 cm perut/dada 10 cm kepala/kaki 7. Terlalu kencang? Evaluasi look. Pilih bandage yang sesuai & siapin alat (mangkok. meringankan rasa sakit Bandaging: mensupport dressing & body part 3. Dressing & Bandaging 1. Greeting & self introducing Lepas perhiasan. 2. Ambulance datang d. 5. Edukasi  Jaga kering & bersih  Jangan banyak gerak  Kassa diganti tiap 12 jam sekali. First aid Bersihkan area sekitar luka dengan betadin 6. move 10. Telpon 118 lagi 27. Salam. kassa. & bina hubungan baik dengan pasien 2. ambil corpus alienum dengan pinset chirurgis 7. 3. tangan kiri ke pipi. WPK. Environmental hazard c. kaki kiri ke kanan. denyut nadi inervasi  sensasi taktil Move ROM (range of motion) 4. Tutup softratul.

9. Identitas b. Irama a. & waktu pengambilan Bersihkan badan pasien & alatnya dari gel Interpretasi: 1. QRS tetap sempit Otot atrium normal mampu menghantar impuls 60-75 a) Takikardi 150 – 250 (frekuensinya) b) Flutter 250 – 350 saw tooth pada lead II & III c) Fibrilasi > 350 no true P wave 53 . Supraventricular 1) Sinus Pacemaker NSA normal 60 . 13. 10. tidak semua P diikuti QRS. Usia d.100 P diikuti QRS di semua sandapan dan kebalikannya Salah satu/lebih P wave di II. tanggal. aVF positif 2) Atrial Masih ada P wave. sensitivitas 10 mm/mVolt Pilih menu komplit Perhatikan gelombang pada ekg Segera catat pada kertas ekg a. 14. 8. 11. Regular  300/jumlah kotak besar jarak 2 gelombang QRS Kalau 2 R berjarak: ≤ 2 kotak besar supraventricular takikardi >2 – 3 kotak besar sinus takikardi 3 – 5 kotak besar normal > 5 kotak besar bradikardi b.7. C1 kuning SIC 4 linea strenalis kanan C2 hijau SIC 4 linea strenalis kiri C3 coklat antara c2 & c4 C6 hitam SIC 5 linea midaxilla C5 ungu antara c4 & c6  Lead extremitas Merah tangan kanan Kuning tangan kiri Hijau kaki kiri Hitam kaki kanan Kabel dikoneksikan ke elektroda Periksa kertas untuk rekaman Tekan on. pilih menu Kecepatan 25 mm/second. Irregular 6 kotak besar ada berapa siklus QRS x 50 2. Hari. III. Gender c. Frekuensi a. 12.

60 – 90 Lead I +. Zona transisi Daerah di mana resultan R dan S = 0 (defleksi negative jadi positif) Normalnya di antara v3/v4. 0 – 60 aVL. 0 . III. aVF + normal aVL +  antara lead I & II. Durasi 54 . LAD (+) I. Posisi Normal (-30) – (+110) <-30 LAD >+110 RAD Lead I +. III aVL paling tinggi lead II minimal R=S  lead II negatif b. antara lead II & aVF. RAD (-) I. avF – Lead II +  antara I dan aVL. aVL (+) aVF. aVL (-) aVF.3) Junctional Pacemaker NAV normal 40 – 60 P inverted pada lead II. prinsip: lihat rotation Menggeser ke arah v6  clock wise rotation Menggeser ke arah v1  counter clock wise 5. no true QRS complex 3. aVF 1) Atas P sebelum QRS.12 s atau > 3 kotak kecil karena depolarisasi lewat sel otot ventrikel 1) takikardi jarak QRS masih sama >40 2) fibrilasi fine and course. segmen PR pendek 2) Tengah P ketutup QRS 3) Bawah P inverted setelah QRS Pacemaker berkas his 20 – 40 b.(-30) Lead II –  terletak antara -30 sampai -90  LAD a. III R pada lead III lebih tinggi dari aVF 4. Ventrikuler Otot atrium normal mampu menghantar impuls 30-45 Tidak ada P wave QRS lebar>0.

lebar dan tinggi <2. irama ventricular c.5 mm atau <0. sekecil apapun disebut Q patologis biasa terjadi pada old infarct d. Interval qt Memendek hipercalcemia Memanjang hipocalcemia 6. hipertrofi atrium kiri Tinggi (peak P) P pulmonal.12s Memanjang pada 1) Irama ventrikular 2) RBBB Gelombang rsR’ (seperti huruf M) di v1. normalnya simetris. hipertrofi atrium kanan b.12 s 1) WPW Tidak melewati berkas konduksi  QRS > 0. Segmen ST menunjukkan repolarisasi ventrikel 1) Elevasi > 2mm di leads precordial >1 mm di lead ekstremitas minimal dua lead yang berdekatan  STEMI 2) Depresi strain pattern (+T inverted asimetris) v5-6  hipertrofi ventrikel kiri v1-2  hipertrofi ventrikel kanan ischemia: + T inverted simetris e. Interval PR 0. Kompleks QRS menunjukkan depolarisasi ventrikel memanjang pada LBBB. v6 S melebar di v1.25 detik) c. II Memendek < 0. seperti tenda. Q patologis > 1/3 R atau pada R< 5 kotak kecil. Morfologi a. v2 (>0. bagian depan lebih lebar dari belakang.25 detik di v5.12 Tidak ada gelombang delta 3) Irama junctional atas b.10 second Lebar & bertakik (notch & broad) P mitral. defleksi positif pada lead II 1) Tenting (peaked T wave.22 s (3 – 5.22 s pada AV blok derajat I. RBBB.a. Interval QRS. v6 3) LBBB Telinga kelinci (slurred R) di v5.12 Ada gelombang delta 2) LGL Melewati berkas konduksi QRS < 0. normal < 0.5 kotak kecil) Memanjang > 0. simetris)  hiperkalemia 2) Strain pattern T inverted tidak simetris 55 .12-0. normalnya berbentuk piramid tidak simetris. v2 Gelombang s diperlama 0. Gelombang T Repolarisasi ventrikel. Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium.

aVL anterior extensive Lead II. Hipertrofi atrium a. II.5 mm pada lead inferior (II. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. R wave > S wave di v1 3. AMI ST elevasi precordial v1 – v6 anterior v1 – v4 anteroseptal v3 – v5 anteroapical v4 – v6 anterolateral v1 – v6. tinggi < 50 % T wave Interpretasi dalam penyakit 1.f. LAD 4. Ventrikel kiri v5. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 3. coronaria dextra juga ke sana  periksa v1’ 2’ 3’ Aritmia  baca yang utk defib aja 56 . lebih landai. Kiri  LAH P mitral. S persisten di v5 & v6 2. I. Kanan  RAH P pulmonal. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 2. v6 Ventrikel kanan v1. v2 3. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. v6 Kanan  RVH 1. aVF) Durasi tetap 2. RAD 4. peak P: tinggi P wave ≥ 2. III. v2 3) T inverted simetris  ischemia Gelombang U Gelombang repolarisasi ventrikel yang terlambat Seperti P. aVF inferior  curiga yang kanan Karena A. Hipertrofi ventrikel Kiri  LVH 1. P notch & broad Durasi memanjang karena lewat otot b.

tiba2 P wave tidak diikuti kompleks QRS 2) Mobitz type II Mirip derajat 3 Pemanjangan interval PR tidak progresif c. Derajat 3 Disosiasi AV Atrium 60-100 Ventrikel 30-45 Kompleks QRS lebar P wave & QRS complex frekuensi reguler 57 . Derajat 1 Setiap impuls atrial mengaktivasi ventrikel Interval PR memanjang b.4. AV Block a. Derajat 2 Tidak setiap impuls atrial melewati AV node P waves : QRS  >1 : 1 1) Mobitz type I/Wenckebach block Mirip derajat 1 Pemanjangan interval PR progresif.

ADVANCED CARDIAC LIFE SUPPORT Henti fungsi jantung secara mendadak dan tiba-tiba 58 .

4. lalu cek kembali nafas dan pulse di a. VT yang shockable adalah VT yang pulseless. Look. Pastikan tidak ada tanda trauma cervical. Verbal  dipanggil namanya (shout). carotis communis selama 10 detik. Shout for help  telfon 118 5. pasien. Kalo nafas dengan laju normal  recovery position Kalo henti nafas atau terengah-engah  dikasih bantu nafas 2x selama 5 detik. Kalo VF gausah di cek pulsenya. Kalau dari monitor ternyata iramanya shockable: 1. Kalo dapet VT pulseless atau VF. dan Non-Shockable (PEA dan asystole). Pada pasien henti jantung respon negatif. Jika ambulan sudah datang. jejas diatas clavicula. Safety: safety untuk diri sendiri. sternum. Leadnya ada 2. fisik. fisik  diguncangkan (shake). Response: Cek respon dengan verbal. seperti kain. lalu cek nadi setiap 2 menit. krepitasi di leher. dan penurunan kesadaran. lunula kuku.. pain  cek respon nyeri di glabella. dibahasnya per irama ya. b. serta O2. cek pulse dulu. Pasang IV dan ET. dan lingkungan 3. persiapan shock 59 . yaitu warna merah dan putih. Perkenalkan diri terlebih dahulu 2. and feel 6. listen. penanganan henti jantung dibagi dua yaitu: Shockable (VT pulseless dan VF). 7. Dicurigai trauma cervical jika: multipel trauma. Jangan lupa telfon ambulan lagi 8.. Cek airway: a. Kalo obstruksi oleh cairan. c. Pulse dan nafas ga ada  RJP (30:2) selama 2 menit kira-kira 3-5 siklus dengan kedalaman 4-5 cm dengan recoil sempurna. Nah untuk memudahkan ceklist.Gambaran EKG:     VT pulseless VF (Ventricular Fibrilation) PEA (Pulseless electrical activity) Asystole Ceklist ACLS: Pasien ditemukan tidak sadar di pinggir jalan 1. Clean airway: untuk benda asing yang visible dan removable pake crossed-finger dan finger swab. 9. Pulse ada tapi nafas ga ada berikan nafas mouth to mouth setiap 5-6 detik sekali. segera siapkan monitor pada mesin defibrilator untuk cek irama. d. Kalo dapet VT. pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairannya atau pake benda-benda yang menyerap jika pasiennya ada trauma cervical. 2. dan pain. Manuver open airway: jika tidak ada trauma cervical dengan head tilt chin lift. kalo ada trauma dengan jaw thrust. Berdasarkan irama.

Selama nunggu defibnya dicharge. Tetap shockable. Setelah kasih shock. dll). 5. Kalo masih shockable kembali ke siklus awal (charge defib. Cek irama 5. Obat yang dimasukkin  epinephrine 1 mg iv 12. Langsung pasang ET dan IV. Kalo ternyata masih terpasang dan semuanya beneran non-shockable. Cek irama lagi. atau malah jadi non-shockable. Berikan shock. Kompresi jadi 200x dalam 2 menit. cek lead dulu. Sambil nunggu tetap RJP 5 siklus. RJP dihentikan sementara. 11. 4. siklus kompresi dan breathing berubah. 8. 7. nafas dengan ambu bag setiap 6-8 detik sekali. baru cek monitor. 13. dan yang lain pada ictus cordis. Kalo ET sudah terpasang. Pada saat masang ET. 4. RJP 5 siklus saja tanpa Shock. lanjut urutan shockable. 2. Kalo PEA ga usah dicek leadnya. 6. tetap shockable. 9. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya tetap shockable terus:  Urutan obat yang dimasukkin: epinefrin – amiodarone 300mg – epinefrin – amiodarone 150 mg – epinefrin – lidocaine 1-1.5 mg/kgbb iv – epinefrin – kosong – epinefrin Epinefrin harus diseling Amiodarone hanya boleh dikasih 2x (jadi diulang Cuma 1x) Lidocaine dikasih 3x (diulang 2x) Kalau sampe 30 menit hasil tetap sama  stop tindakan dan didoakan saja     Nah kalo dari irama didapatkan non-shockable: 1. kembali charge defib. Obat yang dimasukkin epinefrin 1 mg iv. pasang ET dan IV line untuk ngasih obat. Obat yang dimasukkin sekarang ganti jadi amiodarone 300 mg iv. Kasih shock. Masih non-shockable.5 mg/kgbb (misal ambil aja 1 mg) – epinefrin – lidocaine 0. Nah yang diurutan ini yang tetap shockable dulu ya. Langsung RJP 5 siklus. dan 360 J jika monofasik.. trus lanjut RJP 5 siklus 10. 14. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya non-shockable:     Tidak perlu ngasih shock Pas siklus pertama langsung kasih obat dan pasang ET Urutan obatnya: epi – sulfas atropin 1 mg – epi – sulfas 1 mg – epi Sulfas atropin boleh dipakai 3x (diulangnya 2x) 60 . RJP 2 menit lagi trus masukkin obatnya sulfas atropin 1 mg. Kemungkinan monitor bisa ada 3: iramanya jadi sinus. Kalo dapet asistol. RJP 2 menit. Kalau ga tau spesifikasi mesin defibnya diset pada 200J saja. Charge defib pada 200 J jika bifasik. ada yang lepas atau ngga. Kalau ET sudah terpasang siklus RJP sama breathing jadi jalan sendiri-sendiri seperti yang dijelaskan di shockable tadi. 3.3. 15. dengan paddle satu pada sternum . tetap lakukan RJP 5 siklus.

Stop kompresi saat: a. abis cek lagi. jadi misal abis ngasih sulfas tapi jadi shockable ya yang dikasih epinefrin. Cek irama c. Stop tindakan secara keseluruhan saat: a. trus misal jadi non-shockable lagi karna tadi udah dikasih epinefrin sekarang ganti jadi sulfas lagi. Tujuan tercapai: irama jadi sinus b. maka ikut langkah non-shockable siklus pertama (RJP sajapasang ET dan IV-kasih epinefrin 1mg-cek irama) abis cek irama. Tujuan tidak tercapai: pasien mati. jangan lupa cek leadnya ada yang lepas atau ngga 10 menit tetap asistole/PEA  stop tindakan dan berdoa Trus kalo iramanya misalnya iramanya beruba-ubah shockable non-shockable gimana? nah contohnya pas cek irama. Jadi yang dilakukan adalah RJP 2 menit sambil charge defib – shock – kasih obat amiodarone 300mg – RJP 2 menit – cek irama. Kecapean: 30 menit dan sudah yakin betul semua tapi tetap no respon d. dari shockable trus jadi non-shockable. Kasih shock b. shockable lagi maka ikut langkah shockable siklus KETIGA (inget! epinefrin kan harus diseling). Intinya sih setiap siklus itu epinefrin harus diseling. trus jdi nonshockable lagi. maka ikut langkah non-shockable yang ketiga. Maka siklusnya menjadi:    langkah shockable siklus pertama (RJP-shock-RJP 5 siklus-cek irama) karna jadi non-shockable.  Kalo dapet irama asistole. refleks pupil hilang c. iramanya jadi non-shockable. 61 . dikonfirmasi dengan pupil midriasis total. yaitu kasih epinefrin. Tapi tetep inget ya masing2 obat boleh diulang berapa kali    Trus misal iramanya udah berubah jadi sinus:      tetap monitoring airway dan ventilasi kasih O2 monitoring kalo ada muntah monitor VS Tetap ACLS (RJP and breath sampe ada nadi dan nafas). shockable lagi. Pasang ET 2. Tambahan: 1. 10 menit irama tetap PEA dan asistole berturut-turut.

penebalan kulit & pori2 menonjol Warna merah: infeksi & karsinoma payudara yang terinflamasi Penebalan kulit & pori2 menonjol: karsinoma b. Riwayat FAM b. Keluhan lain: nyeri. perkenalan 2. Hubungan dengan siklus mens Mens tambah nyeri  cysta Mens tambah kencang  fisiologis f. post stroke BREAST EXAM 1. & deviasi: kanker 62 . Pemakaian kontrasepsi RPD a.genitourinary. 6. ulcus. Status reproduksi (GPA) g. setelah  4x 4. discharge. Permukaan kulit: warna. Riwayat laktasi h. cairan. 5. Jelaskan prosedur & informed consent Posisikan pasien  duduk Cuci tangan dengan alcohol & pakai glove Ibu diminta buka baju sampai pinggang Inspeksi Minta pasien duduk  Minta pasien meletakkan kedua tangan di kedua sisi Laporkan a. ulcus Discharge. Ukuran & simetrisitas payudara Kanker lebih besar c. misal DCIS c. setelah  2x Ibu pernah kena kanker payudara 2 sisi: sebelum menopause  risiko 9x. 7. Kontur payudara: ada benjolan? Lekukan/dimpling? Pendataran/flattening? d. Keluhan utama 3. Peradangan/perlukaan sekitar payudara e. Perkembangan benjolan c. bentuk. Sejak kapan b. Riwayat kanker. retraksi d. Anamnesis RPS a. Salam. locomotor. arah. Benjolan di tempat lain RPK Ibu pernah kena kanker payudara 1 sisi: sebelum menopause  risiko 3x. Karakteristik: ukuran. 8.OTHERS  Breast.

pectoralis  dimpling bisa lebih terlihat. tidak nyeri Kanker: arah putting brubah. jarak satu jari Mulai lateral kranial terus ke medial Circular obat nyamuk 10. axilla kanan diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa Waktu tangan pasien adduksi rapat serong ke depan. tanya pasien mau periksa sendiri atau kita lakukan Cara 1  tekan putting dari atas & bawah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas glandula mamae Cara 2 “tunjuk” puting 11. tangan pemeriksa periksa axilla  Palpasi payudara Pasien diminta tiduran Kalau payudaya kecil. ada discharge  Lengan diminta di letakkan di belakang kepala  melihat lekukan/retraksi yang tidak terlihat supaya bagian bawah terexpose (pada yang payudaranya besar) Lengan bertumpu dipanggung supaya payudara mengkontraksikan M. payudara dibagi jadi 4 kuadran  Diameter  Batas: tegak/nggak  Mobile  Nyeri  Konsistensi 63  . clavicula. ke arah jam 12. fisura. usia muda. tangan di sisi Kalau payudara besar. Condong ke depan kalau perlu untuk payudara yang besar. Pelaporan Gambar payudara. terus badannya digoyang 9. & axilla. pori2 membesar. dimpling di payudara. & manis Palsasi dengan bentuk melingkar Spokes of wheel Mulai dari central. tangan di belakang kepala & bahu disangga bantal Palpasi dengan bantalan jari telunjuk. balik ke sentral lewat jalur yang sama. tengah. agak ringan di perifer Vertical grid Garis vertical dari clavivula ke lipatan inframama Dibagi 9 dari garis midstrenal ke linea axillaris posterior (hingga ujung ekor payudara). Periksa putting Inspeksi: retraksi. sisik Untuk pemeriksaan discharge. terus ke arah jam 1. Palpasi  Pemeriksaan limfonodi Tangan kanan pasien dipegang dengan tangan kanan.Kemarahan pada puting FAM: benjolan. gitu terus sampai semua terpalpasi Tekanan keras di sentral.

ringan. sambil sabunan. pendataran  catat dan lapor ke dokter Locomotor Exam 1. saat mandi.4). Bisa saat berdiri. di depan cermin 7. sedang. 4. kista. RPD. Greeting & introduction Tujuan pemeriksaan Anamnesis: Trauma: 5W + 1 H.3. berat. Keras: kanker Elastis: kista Jumlah Nilai karakteristik: lokasi. seberapa keras tekanan (sirkular. tangan di belakang kepala. perubahan pada papilla mamae. Luka terbuka b. Pendahuluan & perkenalan diri pada pasien 2. RPK Pemeriksaan umum: Vital sign Pemeriksaan gait yang dilaporin: a. 2. Dimpling. Memberitahukan jari yang digunakan (bantalan jari 2. Pemeriksaan khusus Masalah di Tangan  posisi pasien duduk. Mid-stance c. Nontrauma: RPS. Deformitas 64 . Berdarah c. bentuk. konsistensi. Toe off d. kista)/tefiksasi (kanker) Breast Self Examination 1. ukuran. Swing phase 6. 5. Dilakukan 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Perhatikan bila ada perubahan 8. tergantung area lemak) 5. nyeri (kista). mobile (FAM. Pengenalan kanker payudara  Insidensi tinggi  Stadium dini bisa diketahui dengan BSE (+) deteksi dini (-) keseringan (missal sebulan beberapa kali)  penurunan sensitivitas 3. nggak  payudara). Bisa saat tiduran Disangga bantal Pakai 3 jari Pola memutar Rekomendasikan vertical grid 6. Heel strike b. batas (tegas  FAM. kalau udah menopause  tanggal yang sama tiap bulan 4. 3. kaki  posisi tidur Look a.

Anatomical: dari trochanter mayor sampai malleolus lateral Muscle power test 0 tidak ada gerakan 1 ada tonus 2 tidak bisa menahan gravitasi 3 bisa nahan gravitasi.7. 10. Wrist Ulnar deviasi. WPK. betis putar ke luar) f. 11. Krepitasi Move Dengan goniometer a. Simetrisitas Feel a. adduksi. 8. sedikit bisa tahan tekanan 5 bisa nahan gravitasi & tekanan Circumference bandingkan atas (kanan-kiri) & bawah (kanan-kiri) luka Pertimbangkan penunjang  x-ray Penutup GENITOURINARY EXAMINATION 1. Jari pakai goniometer khusus e. dorsofleksi. ekstensi (sambil tengkurap). endorotasi (tengkurap. eversi Length  kalo masalah di kaki Bandingkan kanan-kiri a. Appearance: dari umbilicus sampai malleolus medial c. 9. Inervasi: taktil c. pronasi. inversi. eksorotasi (tengkurap. supinasi (lengan atas fiksasi di badan. eksorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke belakang). Gelang paha Abduksi. fleksi. True: dari SIAS sampai malleolus medial. pulsasi b. dorsofleksi. palmarfleksi. Gelang bahu Fleksi. abduksi. d. Vaskularisasi: suhu. melewati lutut b. Lutut Fleksi. tapi nggak bisa tahan tekanan 4 bisa nahan gravitasi. Memperkenalkan diri 65 . radial deviasi. betis putar ke dalam). ekstensi. endorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke depan & bawah) b. jempol RCTI oke) d. ekstensi (posisi supinasi) g. Siku Fleksi. adduksi. Pergelangan Plantarfleksi. ekstensi c.

hipoplasia. Normalnya kiri lebih rendah Palpasi a. Funiculus spermaticus e. Inspeksi penis a. & femoral diperiksa pakai lubrikan 10. Ke epididimis. Diurut/milking Buka meatus urethra: phimosis/paraphimosis Glans  lihat meatus urethra. 3. atrofi? b. Glans penis. d. 6. warna) c. 5. informed consent. Hidrocele Testis disinarin dari bawah pakai senter. Tanda2 inflamasi d. Dilatasi vena c. balloteman. Urethral meaturs e. nyeri) Kandung kemih 7. kayak kawat Varicocele? d. urethral discharge Specimen ambil pakai lidi + kapas yang dicelup di normal saline. epispadia. hipospadia. Testis. UKK (masa. b. Batang d. Oedem b. Persebaran rambut b. Tumor f. inflamasi. Vas deferens. anak diminta buka celana Mencuci tangan pakai sarung tangan Jelaskan mau periksa CVA Palpasi suprasimfisis (massa. ambilnya di fossa navicularis 8.2. 4. Scrotum Posisi pasien berdiri Inspeksi a. suprapubik. hidrocele. udah sunat? Palpasi penis a. Angulus inguinalis externus 9. Daerah inguinal (barangkali belum turun). tumor. ada cysta? c. c. dipalpasi kanan & kiri simetris. Simetris: hipoplasi. ada corong kertas ditaruh di atas Hidrocele di tunica vaginalis Tumor kurang merah 66 . atrofi e. Jelaskan indikasi Minta persetujuan pasien.

fleksi pergelangan tangan dan pronasi serta adduksi jari  Ekstrimitas bawah (ekstensi semua) Retraksi panggul. Jelaskan hasil pemeriksaan POST STROKE REHABILITATION Aaa modul silat ini tidak di eksklusi sama sekali. sedangkan mobilisasi merupakan salah satu bagian dari rehabilitasi Kapan program mobilisasi dimulai : Stroke iskemi sekitar 2 – 3 hari (sedini mungkin). nah kebanyakan itu hemiplegic tipe dan pasien dalam kondisi spastic. sedangkan kalo perdarahan. Ada 3 macam inisial position : supine. plantarfleksi dan inverse telapak kaki Kita mulai check list nya :  Selalu SALAM DAN PERKENALKAN DIRI “Selamat pagi pak. Oleh karena di check list dan yang kita pelajari kmaren Cuma check list 4 jadi inisial position yang dilakuin itu cukup yang supine aja o Supine position 67 . Rehabilitasi dimulai sejak pasien dikonsulkan ke dokter. jari tengah aja. minta pasien mengejan (valsava maneuver) Indirect kena ujung jari Direct kena samping jari Femoral annulus femoralis 12... nungging 13. Saya dokter …. ekstensi lutut. sebelum mulai diinget dulu kalo pada post stroke exam itu ada sisi N (normal) dan S (sakit) iya ga c? aku (titi: red) cuma ngarang kepanjangannya .. meriksa reflex bubocavernosa (penis diangkat. nanti kita akan melakukan beberapa gerakan latihan. tanda2nya :  Ekstrimitas atas (fleksi semua) Endotorsi lengan atas. ekstensi ankle. normal kayak biji kenari).Hidrocele lebih merah (+) berpendar 11.. Perlu dipahami dulu kalo dalam penangan pasien post stroke ada yang namanya program rehabilitasi dan mobilisasi. saya minta kerja samanya ya pak mengikuti instruksi dari saya”  minta pasien untuk rileks  Inisial position  antispastik Pada fase ini kita memposisikan pasien berlawanan dari posisi yang di atas itu dan kalo udah d posisikan begini latihan harus segera dimulai < 2 jam soalnya pasien merasa ga nyaman di posisiin begini. meriksa prostat (ukuran. gitu katanya huhuhu jadi kita pelajari aja. Digital Rectal exam  untuk meriksa feses. eksorotasi paha. say akan membantu bapak untuk latihan dan bergerak pagi ini. Hernia Masukkan jari telunjuk ke canalis inguinalis. Posisi pasien. tempatkan jari di sulvus prostat. spingter ani kontraksi). walopun osce ga keluar tapi ada kemungkinan keluar pas kompre. masukin pake lubrikan. tunggu perdarahannya selesai dulu baru dimulai (sekitar 2 minggu) Sedangkan program rehabilitasi dimulai sekitar 3 minggu pada stroke iskemi. berbaring pada sisi N dan berbaring pada sisi S. fleksi siku.

Fungsinya untuk menstimulasi sisi S pasien menyanga berat tubuhnya. “bapak saya minta untuk mengambil pulpen ini dengan tangan N bapak ya. dimulai dari ekstrimitas atas dan dari ekstrimitas yang kecil dan distal dulu. Waktu pasien bertumpu disiku. sebelum didudukin. siku dan pergelangan tangannya. tangannya bertumpu pada meja disisi sampingnya. Lengan d angkat 90-100 drajat terhadap sumbu tubuh. Jaga hal ini dengan member sanggahan bantal di bawah bahu. Kita abduksiin jari. sekarang kita akan latihan duduk ya pak. siku baru pergelangan tangan” Setelah itu tangan kita tarik perlahan. tangan satunya di pergelangan tsngan. Sangga juga menggunakan bantal d bawah panggul dan telapak kaki o Berbaring di sisi N Pertahankan posisi antispastik dengan menopangkan bantal di bawah sisi S. ekstensi pergelangan tangan dan siku lalu di supinasiin. mulai dari bahu tus punggung dan pinggang. secara aktif dan pasif. jadi pelan2 dimulai dari bahu. Setelah itu kita kasih aba-aba : “bapak. eksorotasiin lengan. posisi kaki kaya meluk guling. jangan lupa menyangga sisi S dengan bantal Rolling ke sisi S Sebenernya ada dua cara. nanti bapak saya minta berusaha duduk sendiri dengan menggeser kakinya ke bawah dan tangan yang sehat nanti akan saya bantu menariknya. fleksi lutut dan panggul dan endorotasiin paha. d bikin latiahn weight bearing to elbow caranya pasien di tarik – tarik sambil numpu di siku sebanyak 10x baru didudukin. kita tahan dulu sekitar 10 detik baru ditarik lagi trus di reposisi. nanti saya akan menekuk lutut bapak terlebih dahulu. Meminta pasien mengambil benda dengan tangan N. Pelan-pelan saja y pak. Biarkan pasien bertumpu pada bahu. trus tangan bapak yang sehat menggapai tangan yang sakit dan berguling ke sisi yang sakit ya pak. lalu di bawa ke sisi N trus dibalikin lagi ke saya” Jangan lupa untuk memegang sisi S nya itu biar ga jatuh Latihan o Keseimbangan duduk 68 .    Pada fase ini kita memposisikan pasien dalam keadaan antispastik. o Berbaring di sisi S Mirip dengan yang di atas hanya saja sekarang sisi S di bawah. bapak bertumpu dulu pada bahu. punggung baru pinggang. Kalo instruktur ku dulu. Tujuannya supaya kaki N ini bisa membawa kaki S ketepi bed untuk duduk. Mimandahkan benda Pada tahap ini kita berdiri di sisi S pasien. o Berikan petunjuka pada pasien “bapak sekarang kita akan latihan berguling ya pak. pelan – pelan aja. Ekstrimitas bawah dimulai dengan mendorsofleksiin telapak kaki trus di eversi. tapi dari sumbernya angkatan 2005 katanya waktu osce itu yang dipakai secara aktif dan segmental. kita mulai ya pak” o Fleksikan kaki N pasien o Minta pasien menggapai tangan S nya o Minta pasien berguling secara perlahan ke sisi S o Bantu dengan membantu memutar ekstrimitas bawah Duduk dan bertumpu pada siku Setelah pasien berbaring pada sisi S secara aktif. kaki N pasien kaya diselipin gitu dari belakang ke bawah kaki S.

. Selesaiiiiiiii . nanti bapak pertahankan posisi bapak supaya tidak terjatuh ya pak” o Lengan “bapak sekarang kita akan latihan tangan ya pak. trus bapak pertahanin ya supaya ga jatuh” Trus kita tekan2 gitu bahunya satu2..“Bapak. Trus bapak gerakin tanggannya ke atas kepala trus turun ya pak.  Posisi istirahat “Pak sekarang kita berlatih posisi istirahat ya pak” Disini kita memposisikan kaki S pasien di atas kaki N nya. JANGAN LUPA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PASIEN :D Selamat osce teman – teman semuaaaa !! Smoga kita diberikan gelombang yang terbaik … smangat !! 69 . sekarang bapak silakan tiduran lagi ya. Saya akan menggerak-gerakkan tubuuh bapak kedepan belakang dan ke samping. kakinya digerakin dan pelan-pelan aja pak” Ada yang bilang kita cuma menahan bagian belakang siku S pasie tapi ada juga yang bilang kita juga memegang tangan N pasien mirip kaya waktu duduk tadi.caranya seperti tadi saat mau duduk. Diulang 10 kali” o Bahu “nah sekarang ke kanan sama ke kiri ya pak” o Bertumpu pada lengan “Pak nanti saya akan member tahanan pada bahu bapak. tangan yang lain jaga2 di belakang siku supaya ga jatuh. kita akan berlatih keseimbangan tubuh. Posisi tangan bebas  Baring lagi Setelah posisi istirahat. latihan hari ini sudah selesai. Nanti bapak silakan memegang tangannya yang S dengan tangan N nya trus jari-jarinya disilangain tapi jempol tangan S nya berdiri keluar. trus di baringin lagi : “ baik bapak.. Kalo katanya buku 2005 kaya cewek kemayu itu. lalu kaki pasien dipelintir lagi. yang S di atas N.

DAFTAR ISI MATERI HALAMAN Belum ada 180 182 183 101 103 105 104 106 75 77 74 80 189 Fatigue Anemia Insomnia Gangguan Tidur (Cemas & Depresi) OCD Panik Red Eye Konjungtivitis Glaukoma Akut Keratitis Uveitis Retinopathy Fever Typhoid DHF Malaria Otitis Media Akut Headache TTH Migrain Cluster Headache Tumor HT Stroke .Hemoragik Meningitis 154 150 156 157 93 96 97 185 117 119 Cough TBC Pneumonia COPD Diarrhea Diare Chest Pain ACS GERD Sore Throat 70 .

Gout .Faringitis 130 169 87 89 91 82 84 86 190 187 122 122 163 107 110 115 114 180 Indigestion Gastritis Abdominal Pain (RLQ) Appendicitis PID KET Abdominal Pain (RUQ) Hepatitis Sirosis Hepar Kolesistitis Constipation IBS Konstipasi Pruritis Dermatitis Kontak Alergi Dizziness BPPV Meniere Weight Loss Diabetes Mellitus Dyspnea Asma CHF Sindrom Nefrotik Pneumothorax Insomnia Cemas Depresi Backache HNP UTI 144 140 160 Joint Pain RA . OA 71 .

Fatigue: anemia. Treatment  apa obatnya. Abdominal Pain. isi nadi 3. kalo regular. Riwayat sosial 8. Awasi tekanan darah. Nadi  pertama pegang dua tangan. Teratur berolahraga Keluhan: 1. KET. Abdomen : inspeksi. Suhu  berapa suhunya. jari ke dua. terus bilang mau meriksa apa  cuci tangan Pemeriksaan fisik: Kesan Umum: tingkat kesadaran. ukuran manset. Profil pasien: Rokok. kolestitis. cuci tangan Kasih tau dx klinis Rencana tindakan: Px penunjang. pucat. PID. Thorax : inspeksi. keganasan 5. Malaria. Hindari stress. HCC 3. thypoid. meriksanya pake satu tangan aja. kondisi umum (lemes. travelling 5. Tekanan Darah  pake bel. ditangan mana diukurnya. palpatoar dulu. PID. RLQ: app. pola pernapasan abnormal. RPK. Relieving. frekuensi. Alamat. Umur. Enyahkan rokok. udah reda/belum 3.IPM GENERAL. Yang dilaporkan: regular. normal ce: thoracoabdominal. retinopathy 72 . rectal atau oral) Pemeriksaan badan: 1. Red eye: conjunctivitis. lingkungan. Alergi 4. glaucoma akut (sudut tertutup). lemah/kuat. baru auskultoar. Parafrase Bilang ke pasien. palpasi. posisi duduk ato tidur 2. Yang dilaporkan: berapa BPnya. RPD: Pernah sakit spt ini? Medikasi yg dikonsumsi. auskultasi 4. UTI 4. KU 2. psikologis. tiga ama empat. Review system gejala yang belum di-explore 7. Aggravating. pneumonia. Abdominal Pain. DHF. palpasi 5. Respiration rate  frekuensim regularitas. Lokasi. Pekerjaan Anamnesis 1. OMA infeksi lain 2. sirosis hepar. Meningitis. without jaundice UTI. perkusi. kolesistitis. sebuah ringkasan. Olahraga. dll) Vital sign: 1. Characteristics. TB/BB 2. RPS: Onset. keratitis. uveitis. Ekstremitas Bilang ke pasien pemeriksaan udah selesai. sirosis. dimana diukurnya (axilla. pola pernapasan (normal co: abdomino-thorakal. gizi. chyene stokes dkk) 4. perkusi. RUQ: hepatitis. Kepala/leher 3. Durasi. Fever: with jaundice: hepatitis. Makan 6. semoga membantu 13 … OUTLINE SECARA UMUM: Identitas: Nama. Tx medikamentosa dan non medikamentosa Edukasi secara umum: Seimbangkan gizi. auskultasi.

73 . Konstipasi: thypoid. gastritis 7. CHF. meningitis 8. UTI. Weight Loss: TB. thypoid. LBP non spesifik. Diare: diare. sindrom nefrotik. DKA 10. pneumothorax. Dyspnea: asma. depresi 17. cluster. pneumonia lobus bawah 9. UTI. alergi. IBS diare 19. peningkatan TIK. keganasan. itu yang kami bahas ya ceman-cemaan. Sorethroat: pharyngitis. DM. Pruritus: ikterus. pharyngitis viral. hipertensi. gout. Vomiting: diare. Insomnia: anxiety. Stroke pendarahan.6. tumor. migraine. BPPV. Chest pain: ACS. asma. meniere. Backache: HNP. Headache: TTH. RA. tonsilitis 14. TB. Dizziness: BPPV. ACS. Cough: pneumonia. anorexia 12. DHF Keterangan : yang di bold. cikungunya. stenosis spinalis. sindrom nefrotik 20. 18. meningitis 16. IBS-konstipasi 15. CHF. migraine. anaphylactic 13. Joint pain: OA. Indigestion: GERD. meniere 11.

Akut (< 1minggu) : malaria. Lokasi : c. Meningitis. e. Malaria : KU : Demam Anamnesis :  RPS a. kadang memegang kepala.    Relieving :pernah terinfeksi malaria belum?(untuk vivax) :- RPD RPK Riwayat perjalanan : pernah berpergian ke daerah endemis malaria seperti purworejo. Faringitis bakterial. Durasi : 24 jam d.5 derajat celcius. kronik (>2minggu) : Thypoid 1.FEVER Definisi : ketika temperatur oral > 37. DHF. 2. sakit kepala. Tanyakan pernah digigit nyamuk ga?  Lifestyle : a. Kondisi umum : lemah. Diet : c. cikungunya Pemeriksaan fisik : 1. menggigil.5 c dan rektal lebih rendah 0. DHF.4 c dan temperatur axila>37. Karakteristik : falciparum  demam tidak menentu bisa demam 36 atau 48 jam. nyeri otot dan sendi. Agravating : aktivitas fisik f.gelisah. jika parah dapat menyebabkan jaundic   Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Malaria. Fever 1. Olahraga: b. papua. 74 . Pola makan  Review system : keluhan lain : nyeri kepala. vivax & ovale: (tertiana) demam tiap 48 jam malariae(quartana) demam tiap 4 hari Trias malaria : menggigil  panas tinggi berkeringat Trias ini mulai ketika eritrosit pecah. perut sebah. Onset : < 1minggu b. kulonprogo. lesu.

 DBN 3. Apusan darah : Tebal  jenis dari parasit : a. kuning malariaberat  balik ke dokter 2. Kalau penurunan kesadaran cerebral malaria balik ke dokter Shock. lemah Anamnesis :  RPS Onset : > 7 hari (kronis) 75 . nafsu makan turun. Primaquin : 15mg/ hari (1 tablet) Falciparum Edukasi: 1. falsiparum (ada cincin di tepi) Tipis  menentukan jumlah parasit. splenomegaly Palpasi  nyeri kuadran kanan atas dan hepatomegaly. Vivax(eritrosit membesar) b. eosinofilia (normal 0-3). Leher : palpasi limfonodi DBN Thorax depan: screening auskultasiDBN Jantung : auskultasi di ictus cordis. ce 12-14). RPK -. leukosit normal. Extermitas : palpasi  akral dingin Pemeriksaan penunjang CBC HB turun (normal co 13-16. Terapi: Vivax : Cq3 + Pq14 (Chloroquin + Primaquin) Chloroquin : . Vital sign : demam. co 45-55). memperburuk:aktivitas berat.  hepatomegaly dpt terlihat jika kurus. Typhoid Fever: Seorang pasien datang dengan keluhan demam.perut sebah. sejak 6 hari. : cq3 + pq1 (dosis dan pembagian s. HR dan RR meningkat. gagal napas . HCT turun (normal ce 40-50. sudah ke puskesmas tp ga membaik. Rajin minum obatkarena parasit. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi  hepatomegaly. sore saja. KU : Demam. hari ke-3: 5mg/kgBB/hari sehari 2 tablet/ hari.a) 2. RPD -.hari 1-2 : 10 mg/kgBB/ hari sehari 4 tablet/hari. buang air ga lancar. sakit kepala mual.2.d. Kepala : lihat konjungtiva  bisa anemia dan sklera ikterik (pada falsiparum). BP normal.

Lokasi Durasi

: :

Karakteristik : Step ladder pattern (pagi sampai siang suhu turun, sore suhu tinggi) Agravating : Saat aktivitas Relieving : Treatment : Paracetamol tapi ga sembuh     RPD RPK ::-

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: ga spesifik b. Diet : Suka jajan? Cuci tangan ga sebelumnya? Air yg diminum mateng ga? c. Pola makan : Ga teratur d. Lingkungan : Masalah sanitasi

Review system : nyeri kepala, nyeri otot & sendi, konstipasi, perut sebah.

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Thypoid, DHF, Malaria

Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah dan demam Vital sign : temperatur tinggi, bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1 derajat C tidak

diikuti peningkatan nadi 10x) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi  rose spot (bercak merah di perut), hepatomegali (kurus)  bisa muncul konstipasi (biasanya pada dewasa) atau  batas hepar membesar (hepatosplenomegali)  nyeri kuadran kanan atas, hepatomegali

diare(biasanya pada anak) Perkusi Palpasi

Kepala : Sklera ikterik (kalau udah parah) Lidah kotor, tengahnya pucat, tepi hiperemis, tremor Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: DBN. screening  auskultasi aja. Extermitas : DBN Pemeriksaan penunjang a. Kultur (gold standar)  ditemukan mokroorganisme bakteri penyebab (S. Typhi)

76

b. Widal test  S. Typhi positif jika titer O > 1/320 (semakin gede penyebut = semakin positif) c. CBC  pada infeksi bakteri: neutrofil akan meningkat., shift to the right kronis, shift to the left akut. Pada infeksi virus: limfositosis dan leukopenia. Infeksi parasit: eosinofilia. Pada typhoid : leukopenia (<4.000 sel/mm 2), (normal:150.000-400.000 sel/mm2). Terapi Ciprofloxacin 500 mg  dosis: 15 mg/kg BB/hari. R/ Tab. Cipro 500 mg No. X S. 2.d.d. Tab 1 p.c. Paracetamol 500mg R/ Tab. Paracetamol 500 mg No. X S. p.r.n. 3.d.d. Tab 1. p.c. limfositosis, trombositopenia

Edukasi Bed rest 2 minggu Makan yg lembut dan higienis Cuci tangan sebelum makan Minum air matang Hindari rokok

3. Dengue Hemorrhagic Fever KU : Demam Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : < 1 minggu (mis : 5 hari yang lalu) :: 2 – 7 hari

Karakteristik : demam tinggi lebih dari 39 , pola bifasik => hari 1 – 3 demam, 3 – 4 turun, 4 – 7 demam lagi Agravating : kurang minum Relieving : -

77

Gejala berdasarkan derajat : DHF derajat 1 : demam, artalgia,mialgia, torniquet + DHFderajat 2 : perdarahan spontan DHF derajat 3 : mulai muncul tanda syok DHF derajat 4 : tanda syok berat (nadi& blood pressure tdk terdeteksi)    

RPD RPK

:: ada orang di sekitar yangsakit serupa dan mondok di RS

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: b. Diet : c. Pola makan : -

Review system : nyeri kepala, nyeri retroorbital, artalgia, mialgia, petekia, efusi pleura (sesak), asites (perut menggendut), perdarahan (krn trombosit turun), epistaksis, muntah darah (krn perdarahan pada vena2 esofagus), perdarahan gusi, perdarahan lambung, melena (kalo perdarahan dari GIT atas), hepatomegali, haus, gelisah, tanda2 syok

Tx sebelumnya : daun sirih untuk mimisannya

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : DHF, Demam Dengue (beda dgn dhf : tanpa ada hemoragik ; tanpa

trombositopeni ; tanpa hemokonsentrasi), cikungunya (demam lebih singkat, ada torniquet + dan peteki tapi tidak ada manifestasi perdarahan lain, artalgia dan mialgia prominen) Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah, pusing, tidak enak badan Vital sign Rumple leed : demam >39, HR naik, RRnaik, tanda2 syok : positif bila ada > 20 peteki per inchi kuadrat

Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala :  peteki  dbn  hepatomegali, asites  hepatomegali, asites

konjungtiva anemis ; perdarahan gusi ; mimisan

Leher : palpasi limfonodi dbn Thorax :

78

r. adaruam makulopapular Pemeriksaan penunjang CBC trombositopenia.n 3. leukopenia Liver function test : AST / SGOT naik (normalnya cewe < 23 cowo < 30) NS 1 test Radiologi (kalo curiga efusi pleura -> posisi LLD) Terapi R/ Tab Parasetamol 500 mg No.trs 3 mL/kg BB/ jam Edukasi Banyak minum Bed rest Manifestasi syok atau perdarahan-> segera ke dokter Cek trombosit tiap hari Kontrol ke dokterhari ke – 4 79 .d. trs 6. perkusi dari sonor jadi redup Jantung : auskultasi DBN Extermitas : palpasi  akral dingin . trs 6. Tab 1 (derajat 1 dan 2 cukup parasetamol dan rawat jalan) Kalo trombosit di bawah 100rb harus mondok -> kasih infus kristaloid Kalo sudah ada tanda2 syok pake prinsip tx syok (derajat 3&4) Kristaloid 20 mL/kg BB dlm 1 jam -> improve maka kurangi dosis kristaloid jadi 10.Efusi pleura -> ada konsolidasi maka dari itu fremitus taktil meningkat .p. XV S. Hct naik > 20 %.trs 3 mL/kg BB -> Kalo tidak improve di tes Hct nya Hct -> meningkat -> ganti kristaloid pake koloid (dextran 40) 10 mL/kg dlm 1 jam) Hct -> turun -> ganti kristaloid pake blood transfusion 10mL / kg / jam Kalo udah improve ganti lagi jadi kristaloid tapi kurangi dosis kristaloid jadi 10.d.

j. Sebutkan DD : Otitis eksterna diffuse (nyeri di tragus). Olahraga: b. Onset h. pendengaran berkurang. Treatment : RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya RPK : Lifestyle : a. keluar cairan (discharge). Fase tubercatar => obstruksi dari tuba eustachii. Agravating : l. kalu ga tertutup akan berlanjut jd Otitis Media Kronis (tulinya SNHL) a. akibatnya tekanan dalam cavum timpani jd negative sehingga membran terdorong ke dalam 2. Review system : keluhan lain : ada penurunan pendengaran ga?(tipe CHL). Otitis media akut Definisi: peradangan pada cavum timpani (telinga tengah) dalam kurun waktu ≤ 8 minggu. keluhan demam sudah menghilang 5. nyeri. demam?keluar cairan dr telinga (discharge)? Sekret mukopurulen? d. durasi >8 minggu). Parafrase ke pasien e. OMK (SNHL. Fase supuratif => terjadi membrane bulging. Pemeriksaan fisik : 80 . karakteristik lain tergantung dr fase2nya k. Lokasi i. Pola makan: c. Fase presupurasi => tanda2 hiperemi muncul pada membran timpani 3. KU : telinga terasa penuh. Anamnesis :  RPS g. newspaper like-appearance di canalis acusticus eksternus) f. demam b. Perforasi => kalau membrane timpani udah [each.4. Otomycosis (gatal. Tahap-tahap: 1.    Relieving : - m. membrane terdorong keluar gara2 cairan yang terbentuk di cavum timpani 4. Diet : c. Durasi : ≤ 8 minggu : nyeri di belakang telinga (retroauricular) : < 8 minggu Karakteristik : nyeri di retroauricular. Fase resolusi/ penyembuhan => normalnya membrane timpani akan tertutup kembali.

Rinne (-). Pemeriksaan fisik : Ear : Inspeksi Palpasi  nyeri di proc.5. Antibiotik  amoxicycillin sistemik ato tetes telinga b.b. Schwabach BC pasien > BC dokter CHL Nose : d.n Throat : mencari kemungkinan faringitis sbg underlying disease Kepala & leher : limfadenopathy (-) 8.n  ditemukan discharge (pd fase perforasi) 7. Decongestan  pseudoefedrin (jika perlu) 10. yg lain d. nyeri. Vital sign : fever. Weber lateralisasi kea rah telinga yg sakit. Terapi a. telinga terasa penuh 6. Pemeriksaan penunjang 9.mastoideus Otoskop ditemukan membrane timpani yg abnormalitas tergantung dr fase2nya Tes pendengaran garputala 512 Hz.b. Edukasi  Minum obat teratur  Jangan membersihkan telinga sendiri (dg cotton bud) 81 . Analgesic  paracetamol c. Kesan umum : demam.

Aktifitas seksual (hep B) e. Pola makan : jajan sebarangan (hep A) d.Fase prodormal 2-3 minggu. Agravating : Beraktifitas berat Relieving:      RPD : Tidak pernah sakit serupa (hep A). cirinya influensa-like syndrome . Mual muntah d. suntik. demam. imunisasi hep b RPK : tanyakan orang tua dan istri apakah pernah mengalami hal yg sama? Hep b (vertical transmission & sexual transmission). dan kuning Anamnesis :  RPS Onset : Onset demam1 minggu yang lalu. 30% jadi sirosis.ABDOMINAL PAIN. BAK: air teh c. Nafsu makan menurun e. Review system : keluhan lain : a. A) inkubasi 15-50 hari (rata2 30 hari). tindik (B) f. BAB pucat. 5-10% jadi HCC. sebah. Diet : Hep Amakan tidak higienis c.  Pekerja medis atau bukan (B) Hep A Melewati fase akut yang terdiri dari: . Lokasi Durasi : nyeri kuadran kanan atas : Karakteristik : Demam sejak seminggu yang lalu. Athralgia 82 . Hep b tanyakan pernah menerima transfusi darah. Olahraga:b. meriang. BAB: pucat b. RUQ: Nyeri Kuadran Kanan Atas Hepatitis KU : Nyeri Kuadran kanan atas. muncul ikterik. perut terasa penuh. (hep B inkubasi 15-180 hari). lemas.Fase ikterik  1-4 minggu. 23% sirosis jadi liver failure lalu jadi kematian. BAK seperti air teh. . (hep. hep a (fecal-oral transmission) Riwayat perjalanan : Treatment awal: obat warung tidak membaik Lifestyle : a. BAK air teh akibat direct bilirubin meningkat. Tiba2 tadi pagi mata kuning. mual.Sembuh 1% hep A jadi hepatitis fulminan HepB Langsung jadi kronik. Pernah mentato.

GGT : meningkat 83 . hep B.pusing.5 RANGE NORMAL= SGOT/SGPT : 3 – 35 Iu/L c. serologi: hep AIgM anti HAV Tes serologi hep B: b.Parafrase ke pasien Sebutkan DD Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak tidak enak badan. ALP : meningkat (norml 30 – 35 Iu/L) d. Liver Function Test: SGOT/SGPT > 1. lemah Vital sign : febris. RR naik  jika kurus terlihat hepatomegali  dbn  hepatomegali  hepatomegali : hep A. takikardi. Cholecystitis Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sclera ikterik Leher : palpasi limfonodiga ada limfadenopati Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi  dbn Pemeriksaan penunjang a.

Terapi e. Hep B: Pasangan. mata kuning Anamnesis :  RPS : 3 bulan ini : kuadaran kanan atas : 3 bulan Onset Lokasi Durasi Karakteristik : Perjalanan penyakit: pipis seperti teh Agravating : beraktivitas berat Relieving: RPD : 10 tahun yang lalu pernah bilang sakit kuning. Terdapat penurunan nafsu makan 84 . Edukasi g. jarum suntik. Hep B= imunomodulator (INF-a). Olahraga: b. Dulu sering minum jamu-jamuan.     RPK : Riwayat perjalanan :Treatment sebelumnya: obat warung Lifestyle : a. obat kuat.d.Tidak ada kencing manis. Diet : c. dikatakan hepatitis B. Hep A: Bed rest. antivirus (lamivudine. bilang ke pasien nanti sembuh sendiri . Merokok  Review system a. dikasih tau penyebarannya gimana. Pola makan d.d tab I f. Riwayat penyakit jantung (akibat gagal jantung kanan). berasa mbesesek/sebah. adefovir) Sirosis Hepatis KU : Perut membesar. dikasih obat dan sembuh. lama h.. Hep A = curcumin Paracetamol HP Pro no XXVIII Sb.. makanan dijaga.

dan d. CBC albumin dan globulin. kulit kening. hepatomegali (teraba bernodul). ginekomasti.b. Kriteria Subandiri: Dikatakan + sirosis jika terdapat 5 dari 7:       Varises esofagus Hematemesis/Melena Caput medusa Ascites Splenomegali Spider naevi punggung  Palmar eritem (karena hormonal) eritem di sisi ulnar dan radial (akibat hormonal)  UKK pada dada. Ginekomastia e. clubbing finger. Albumin <<. fluid wave utkperiksa ascites Kepala : sclera ikterik Leher : kuning Thorax depan: screening spider naevi. palpasi perkusi dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palmar eritem.splenomegali. kanker Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat lemas. globulin >> 85 . caput medusa. hepatomegali dan ascites pada orang kurus Auskultasi Perkusi Palpasi  dbn  hepatomegali. kuku Muchcre/leukonychia (garis-garis putih horizontal yang dipisahkan oleh warna normal kuku akibat hipoalbuminemia) Pemeriksaan penunjang i. hepatitis B/C. BAK air teh Parafrase ke pasien Sebutkan DD : sirosis.perut. Tanya BAK dan BAB! BAB pucat. ascites +  splenomegali. tanya gatal-gatal atau tidak c. Karna kuning. dan tampak agak sesak nafas Vital sign : dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  spider naevi.

muscular guarding (defans muskular) Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Cholelitiasis.AST naik. makan lunak Cholecysitis KU : Nyeri kuadran kanan atas abdomen Anamnesis :  RPS Onset : Lokasi : Epigastrium atau kuadran kanan atas. muntah. marker HCC: AFP Terapi Bed Rest Roboransia Edukasi Istirahat cukup. bisa menjalar ke kanan atas skapula (Boa’s sign). ALT. hepatitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : 86 . Fat. Pola makan :  Review system  keluhan lain : mual.j. Serologi: Hbs Ag. Fertile     RPD : pernah cholelitiasis RPK : Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. sirosis hepatis. Durasi : ±60 menit Karakteristik : Agravating : makanan berlemak (memicu kontraksi kantung empedu) Relieving: Faktor risiko : 4F  Female. gizi cukup. ALP dan GGT naik. Diet : suka makan makanan berlemak c. Forty. anti Hbc k. LFT bilirubin direct. Olahraga : b.

Terapi Analgesik : Petidine (morfin) Antibiotik : cefuroxime 1. kelihatan cairan peri cholecystic. Edukasi 1. setelah 4-6 jam migrasi ke kuadran kanan bawah abdomen Durasi : <24 jam (kalau>24 jam perforasi) 87 . Hindari makanan berlemak 2. pasien Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sklera  ikterik Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang USG  ada penebalan dinding vesica fellea.Vital sign : temparatur maningkat (demam)     Murphy’s sign (ditekan di kuadran kanan atas. RLQ Apendisitis Akut KU : Nyeri kuadran kanan bawah abdomen Anamnesis :  RPS Onset Lokasi : akut : awalnya di periumbilikal. pasien akan berhenti tarik napas).5 g/8 jam 3xsehari Rujuk spesialis bedah digestif diminta tarik nafas. Hindari rokok ABDOMINAL PAIN. tekan.bisa juga ditemukan ada batu.

Relieving: Faktor risiko :     RPD RPK : penyakit cacing dan infeksi diGI yg menyebabkan hiperplasia limfoid. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  88 . Vital sign : mungking suhu meningkat (demam) subfebril (37. aktivitas berat. Agravating : batuk. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat nyeri.Karakteristik : walanya colicky pain. :- Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. pas idiangkat sebelah kanan sakit) Psoas Sign : tangan dilatakkan di lutut kanan pasien. lemah : App akut. pasien diminta mengangkat paha menahan tahanan)  nyeri di kanan bawah Obturator Sign : gerakkan kaki pasien ke dalam sehingga lutut keluar  nyeri di hipogastrik kanan (kuadran kanan atas). kalo udah ke kanan bawah continuous pain (bisa ditunjuk).5-38. ga migrasi. Diet dan pola makan : kurang serat  Review system  keluhan lain : anoreksia. PID (dispareuni. intermittent (difus). Olahraga : b. : appendicial mass Rebound tenderness (nyeri tekan lepas) Rovsing’s Sign : sebelah kiri ditekan. nyeri difus. pada perut bag bawah). dull.5) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Superfisial Deep  dbn  dbn  dbn  : muskular guarding (peritonitis). yg meningkatkan tekanan intra abdomen.

difus. Diet dan pola makan : 89 . pemakaian pembalut wanita. Appendicogram udah pasti app. Olahraga : b. (suppurative.     RPD : menstruasi ga teratur.netrofil > 95% kalo m.Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang l. di perut kanan bawah. CBC  Leukositosis. perforasi) o. Agravating : celana dalam ketat. aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. RPK : DM pada ibu Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Urinalisis  eksklud kehamilan Terapi Analgesik : paracetamol Metronidazol Edukasi 1.gangren. Makan makanan berserat (buah dan sayur) Pelvic Inflamatory Disease (PID) KU : Nyeri abdomen bawah Anamnesis :  RPS Onset : sejak 1 bulan Lokasi : perut bagian bawah (difus) Durasi : sudah 1 bulan Karakteristik : nyeri tumpul. keputihan yg kadang-kadang baunya amis. untuk mencari stadium app. USG appendix terlihat membesar n.

USG.c. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As.c. Edukasi 1. Tetrasiklin 100 mg No. Jangan melakukan irirgasi vagina 2. 2. tab 1 p. S.p. kaku. Apendisitis. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi    Pemeriksaan Gyn : pake spekulum inspeksi.d.tab 1 p. Antibiotik : R/ Tab.Mefenamat 500 mg No. Jangan memakai panty liner 90 .n 3. IX. Lepas IUD 3. adneksa teraba. IUD Parafrase ke pasien Sebutkan DD : PID . Vital sign : mungkin demam Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Tenderness bimanual  ada nyeri goyang uteri. Pemeriksaan penunjang Vaginal swab.r. vaginal swab. dispareuni (patognomonis). 11. Jangan melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu dekat 4. memegang perut bagian bawah.d. KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan.d.d. Review system  keluhan lain : mual. XXVIII S. muntah.

Agravating : aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD : KET. colicky.di perut bawah kanan/kiri. Olahraga : b. Status menstruasi : telat datang bulan RPD RPK   : :Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Diet dan pola makan :  Review system  keluhan lain : mual.Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) KU : Nyeri abdomen bawah kiri atau bawah tetapi unilateral Anamnesis : RPS Onset : akut Lokasi : perut bagian bawah kiri atau kanan tetapi unilateral Durasi : akut Karakteristik : nyeri tumpul. memegang perut bagian bawah. PID . Apendisitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. Vital sign : mungkin demam  dbn  dbn  dbn  dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Pemeriksaan Gyn : pake spekulum Cadwig’ Sign (tampak kebiruanpada portio cervix uteri) bimanual  ukuran uterus teraba membesar Kepala : Leher : palpasi limfonodi 91 . difus.

OG 92 .p.d. tab 1 p.r. Rujuk ke Sp.n 3.Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang: USG. S.Mefenamat 500 mg No.c.d. IX. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As.

BATUK DD : TB. keringat malam hari Px : Keadaan Umum : Lemas. penurunan berat badan. RR. pneumonia. subfebril. sel giant dengan atau tanpa nekrosis kaseosa. Pharyngitis. ganti – ganti pasangan. bronchitis akut. penurunan nafsu makan dengan atau tanpa rasa nyeri dada terutama pada saat batuk A : peningkatan tekanan intraabdomen R:T : Sudah minum obat batuk tapi batuk ga sembuh-sembuh RPD : Batuk yang tidak sembuh – sembuh Riwayat vaksin BCG (-) Riwayat AIDS (+) RPK : Keluarga atau orang terdekat ada yang menderita TB/HIV/AIDS Lifestyle : Kurang gizi. PPOK. tinggal di daerah tidak bersih Review System : sariawan. kakexia.5). asma TB Penyakit yang ditandai oleh adanya pembentukan granuloma spesifik yang terdiri atas tuberkel epiteloid. CHF. penurunan berat badan >10% dalam 6 minggu VS : subfebril (<38. Ax : KU : Batuk purulent RPS : O:L:D : akut ≤ 3 minggu Kronis ≥ 8 minggu C : batuk purulen dan berdarah disertai keringat pada malam hari. HR dan BP normal Thorax : I : retraksi dinding dada (+/-) Pa : Fremitus taktil : menurun (oleh karena kaverna) meningkat pada apex (oleh karena infiltrat) Pe : Apex : Redup Kavitasi : hipersonor Efusi pleura : redup-pekak 93 .

limfositosis. anemia ringan (Hb>10). pagi. Ro (+) sakit berat ▪ TB ekstra paru berat 2RHZE 4R3H3 Kategori 2  Penderita Kambuh  Gagal  Lalai 2RHZES/RHZE 5R3H3E3 Kategori 3  TB Paru Baru BTA (-).2 dari 3 sputum sewaktu. limfadenopati hilus Darah rutin : leukositosis. infiltrate dan konsolidasi (apex)  radiopaq. LED ↑ Tes tuberculin : indurasi > 10 mm Tx : Kategori 1 ▪ TB Paru Baru BTA (+) ▪ TB Paru BTA (-). Ro 2RHZ (+) sakit ringan  Ekstra Paru Ringan 4R3H3 Anak : 2 RHZ+4RH Mulai tahun 2008 pengobatan pasien tuberkulosis untuk pasien dewasa diberikan dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) : 1) Kategori 1 a) Pasien baru TB paru BTA positif b) Pasien TB baru BTA negatif foto toraks positif c) Pasien TB ekstra paru 94 . neutrofilia. sewaktu Foto Thorax AP dan L : bercak kavitasi (hiperlusen).A : Ronki basah pada Apex Suara napas bronchial Ekspirasi diperpanjang Egofoni : suara napas tinggi Kepala dan Leher : Konjungtiva anemic Limfadenopathy Deviasi trachea Px penunjang : Sputum BTA : min.

Dosis panduan OAT KDT Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Tahap Lanjutan seminggu 3 kali selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Nah ribet ya? Iya . trus resepnya jadi begini : R/ Tab 2KDT no. jadi kalo mau disamain aja 1 minggu kontrol. XII S 3 kali 1 minggu Tab IV 2) Kategori 2 Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya : a) Pasien kambuh b) Pasien gagal c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat Tabel 3.37 kg 38 .. jadi itu misalnya BB 60 : R/ Tab 4KDT no. XXVIII S 1.d.d Tab IV ………………………fase intensif untuk 1 minggu kontrol R/ Tab 2 KDT no XLVIII S 3 kali 1 minggu Tab IV …………… fase lanjutan untuk 1 bulan kontrol Tapi kalo takut pasiennya lupa2 gitu.54 kg 2 tab 4KDT + 500 mg S 3 tab 4KDT + 750 mg S Selama 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 95 Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab E 3 tab 2KDT + 3 tab E Berat Badan . Dosis panduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30 .Tabel 2.

reda trus muncul lagi RPD : penyakit ini akut.n 3. infeksi viral.n Tab I pc R/ Syr. A : Kadang disertai sesak napas saat istirahat.r. kalo asma dan jantung kan pada saat aktivitas. Bromhexin Hcl 20mg/5ml 60 ml lag I S p. padat begitu deh pokoknya Lifestyle : merokok 96 .d 5 ml pc Edukasi :   Minum obat setiap hari sampai habis Kontrol tiap 1-2 minggu pada tahap intensif dan tiap bulan pada tahap lanjutan  periksa ulang BTA bulan ke 2. 5 dan 6    Minta bantuan keluarga atau pihak lain untuk mengingatkan pengobatan Hentikan rokok dan paparan polusi  pakai masker Nutrisi kaya kalori.55 . PPOK. R: T : Udah minum obat batuk. X S p.r. jadi riwayat pneumoni sebelumnya bisa aja (-) Riwayat Mondok di RS (+/-) Riwayat penggunaan ventilator (+/-) Riwayat DM.d.70 kg ≥ 71 kg Simptomatik : 4 tab 4KDT + 1000 mg S 5 tab 4KDT + 1000 mg S 4 tab 4KDT 5 tab 3KDT 4 tab 2KDT + 4 tab E 5 tab 2KDT + 5 tab E R/ tab paracetamol 500 mg no. imunodefisiensi RPK : Lingkungan : pneumonia bisa terjadi di orang yang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk. protein dan vitamin Pneumonia Ax : KU : batuk RPS : O : akut L:D : < 3 minggu C : batuk pada pneumoni itu berdahak bisa ada darahnya (tapi jarang).

d. pasien tampak lemah VS : RR ↑. penurunan nafsu makan Px : Keadaan umum : bisa terjadi penurunan berat badan. kalo udah berat bisa muncul waktu istirahat R : istirahat T : obat batuk hitam tapi ga ngaruh RPD : ada riwayat penyakit yang serupa trus ilang trus muncul lagi RPK : Lingkungan : padat pemukiman. keterlambatan pengembangan paru Pe : Redup (konsolidasi) A : Suara bronchial.d. pleural friction rub (+) egophoni Kepala dan Leher : dbn Abd : di auskultasi aja  dbn Ekstr : dbn Px Tambahan : Ro Thorax : infiltrate Kultur sputum Darah rutin : Leukositosis Tx : Mukolitik (jangan ekspektoran) PCT Antibiotic  penisilin G 6 juta IU/hari Amoksisilin 500 mg S 3. sesak napas terutama saat tiduran dan beraktivitas. T ↑ Thorax : I : retraksi dinding dada saat bernapas Pa : fremitus taktil ↑ . atopi (-) 97 . minum air yang cukup PPOK Ax : RPS : O : kronik / kronik eksaserbasi akut L:D : > 3 bulan dalam 2 tahun terakhir C : batuk purulent disertai sesak napas A : rokok. Ronki basah (+). riwayat alergi. tapi lingkungan benernya ga terlalu pengaruh juga sih Lifestyle : merokok sudah sejak lama Review System : pasien juga bisa mengeluhkan demam. ……………… selama 7 hari Edukasi: istirahat. aktivitas.Review System : demam (+/-).

suprasternal saat eksp < 4cm. tampak adanya kesulitan bernapas VS : T. krikoid dan inc. perpesaran ventrikel kanan (+/-) A : bronchial. jarak kart. pengembangan paru ↓ Pe : hipersonor.Px : Keadaan umum : pasien tampak lemah dan kurus. JVP ↑. kalo PO2 rendah PCO2 tinggi.7 dan FEV1 80% predicted II : sedang Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. HR dan RR ↑ Thorax : I : bentuk dada sepeti tong. retraksi dinding dada Pa : fremitus taktil ↓. penggunaan otot bantu pernapasan. bibir cyanotic.R dan vaksin influenza serta pemberian SABA Pemberian LABA Glukokortikoid saat eksaserbasi 98 . nasal flare. tanda kor pulmo. edema tungkai (pada kasus parah) Px tambahan : spirometri  toleransi terhadap bronkodilator FEV1 < 12 % FEV1/FVC < 70% CXR  hiperlusent (air trapping) AGD : pO2 dan PCO2  PO2 dan PCO2 normal dan tidak ada cyanosis tapi pasien sesak  pink puffer. posisi tripod. pemanjangan ekspirasi. pasien tidak sesak tapi cyanotic  blue bloater Terapi : Derajat keparahan COPD I : ringan Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.7 and 50% FEV1 <80% predicted III : parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.7 and 30% FEV1 <50% predicted IV : sangat parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.7 and FEV1 <30% predicted or FEV1 <50% predicted dengan gagal napas atau tanda gagal jantung kanan Menurunkan F. pakai otot bantu pernapasan Abd : hepatomegali (pada kasus parah) Ekst : jari tabuh. mengi saat ekspirasi Kepala dan Leher : konjungtiva anemi.

blue bloater  kor pulmonar Edukasi : makanan rendah garam dan protein.Longterm O2 therapy Penanganan serangan akut : SABA + antikolinergik + glukokortikoid (prednisolon 40 mg PO selama 14 hari) + O2 2-3 L/men Komplikasi : pink puffer  gagal napas. vitamin dan sayuran antioksidan. hentikan rokok 99 .

Keratitis (SKDI 2). chlamydial) . Glaukoma akut (SKDI 3A). neuropathy)  Glaukoma sekunder RPK keluarga ada yang sakit serupa? Glaukoma biasanya menurun ke anaknya (6%) lingkungan ada yang kena? LS RS1 Nyeri kepala. alergi. visus menurun  keratitis. muntah  Glaukoma akut Mata berair. ada discharge  konjunctivitis Nyeri. foreign body L D C Tidak nyeri dan tidak photopobia . pusing. runny nose  Konjunctivitis alergi Mata gatal  Iritis. konjunctivitis RS2 ada keluhan lain? Konjunctivitis Iritis Glaukoma sudut tertutup Keratitis Onset gradual gradual 100 mendadak gradual . bakteri. Iritis (SKDI 3A) Ax RPS O Gradual onset : Konjunctivitis (viral.Sarcoidosis. Glaukoma akut Memakai contact lens  Konjunctivitis kontak lens Alergi obat tetes mata  Konjunctivitis alergi Penyakit autoimun (Crohn disease.Mata Merah Konjunctivitis (SKDI 4). Keratitis Sudden onset : Glaukoma akut. iritis. glaucoma akut Photopobia  Iritis. minus ? Cahaya terang makin nyeri  keratitis.dll)  Iritis Penggunaan obat steroid mata prolonged (biasany pd uveitis. Ankylosis Spondylitis. glaucoma akut Apabila diberikan anestesi mata (ex: proparacaine) nyeri berkurang  keratitis Riwayat relaps  Iritis. iritis. Keratitis (Glaukoma kadang2) A R T Other RPD Tanyakan pake contact lens ga.

biasanya karna penyebaran virus ISPA sangat mudah menular ke mata satunya klo salah satu terkena. conjunctival injectionnya lebih difus (hmpir susah dibedakan dengan siliar). discharge purulen bkin belek jadi klo bangun tidur susah buka mata 101 . sering diikuti mual muntah Sedikit menurun Severe. ada sensasi benda asing Photopobia Discharge Pupil signifikan normal ++ konstriksi +/Semi dilatasi & fixed + None to mild Normal atau konstriksi Siliar (dari central ke perifer) N +++ Opacification. dapat diklasifikasikan sbb : Konjunctivitis alergi  biasanya gatal dan penderita pny riwayat alergi. atau minor menurun Moderate-severe & gatal menurun cepat Very severe. dapat ditemukan folikel limfoid di tarsal. positive fluorescence staining Conjunctival injection IOP Kornea Diffuse (dari perifer ke central) normal Jernih Siliar (dari central ke perifer) < Normal > Jernih Episklera Kadang2 siliar normal Berkabut / beruap (sperti melihat jendela beruap) Reflek pupil normal Konstriksi sedikit Reaksi pupil minimal ato (-) normal Bilateralitas sering Kadang-kadang Kadang-kadang Biasanya unilateral Konjunctivitis Konjunctivitis = inflamasi konjunctiva. Konjunctivitis viral  discharge watery. disebabkan oleh beberapa kausa.Relaps - Sering kambuh Kadang ada riwayat sblmnya - Visus Nyeri normal Tidak ada. ada prbhn reflek kornea. Konjunctiva bakteri  discharge lebih purulen karna yg menginfeksi biasanya bakteri pyogenik.

gizi. Merah. atau Gentamycin 0.. pada konjunctivitis bakteri tampak crust menempel di bulu mata.5% atau naphazoline 0. terdapat folikel limfoid di tarsal. dalam Normal Jernih Normal Normal Normal Normal 4. Ada discharge.1. Jernih. nadi.5% tetes mata (Erlamycetin) 3-4x sehari 2 tetes. kesadaran  mata merah. tekanan darah. Keadaan umum Keadaan umum. Pemeriksaan penunjang Swab bakteri kultur 5. discharge bisa mukopurulen ato purulen Tanda vital Suhu.dimulai dari limbus(perifer) ke arah central (konjunctival injection) Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO Segmen posterior Normal Jernih. Terapi Tindakan : ----- Farmakoterapi Konjinctivitis bakteri Cloramphenicol 0. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Ada crust/belek (konjunctivitis bakteri). BB/TB..3% Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis viral Livostin 1gtt 4dd  antihistamin Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis alergi antazoline 0. 2.05% 1 gtt q2h prn (ga bole lbh dari 5 dd) 102 . respirasi  normal 3.

3. mual muntah.r.p.4. Bumbum SIP 5566/2009 Alamat praktek/rumah Jalan Kesehatan no 53 Yogyakarta Yogyakarta. bagian perifer seperti berkabut hitam Normal 103 .d. Prognosis dr. nyeri kepala ipsilateral.os.od Pro: Nama : Alda Umur : 17 tahun Glakukoma akut Keluhan umum : nyeri periorbital.1gtt. nadi. I S. tekanan darah. Tanda vital Suhu.d. Keadaan umum Keadaan umum.os.od R/ Tube Insto No.6. gizi.d.d. kesadaran  mata merah. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Menyempit. tapi kalo diberi obat sembuhnya lebih cepat. BB/TB.2 gtt. 20/12/09 R/ Tube Erlamycetin No.I S. nyeri kepala hebat 2.n. 7. respirasi 3. penglihatan kabur seerti melihat ‘halo’ di sekitar objek 1. deficit visual. Edukasi Istirahat Sebenarnya klo konjunctivitis dibiarin jg sembuh sendiri.

BB/TB. diikuti 500 mg PO Timolol ophthalmic 0. tekanan darah. dangkal Tidak reaktif dan dlm keadaan middilated Normal N+ (>21 mmHg apabila diukur dgn tonometer) Normal Normal Siliary injection 5. Edukasi Prognosis Baik asal Mx nya cepat Iritis Keluhan umum : nyeri. respirasi 3. gizi. 7. synechiae Jernih. Pemeriksaan penunjang Bisa edema. Terapi Tindakan Farmakoterapi : Pasien disupinasikan supaya menurunkan IOP : Acetazolamide (Diamox) 500 mg iv.5% 1 gtt bid di mata yg sakit Paracetamol utk mengurangi nyeri Antiemetic apabila muntah2. nadi. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Normal Normal 104 . Keadaan umum Keadaan umum.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. deficit visual. photopobia. 6. Tanda vital Suhu. kesadaran 2. penglihatan kabur 1.

nadi. Tanda vital Suhu..5-2% 1gtt 3dd . tekanan darah..tp ga spesifik buat uveitis Bisa mencetus glaucoma sekunder klo udah parah Normal Normal Siliary injection 5.Steroid utk mngurangi inflamasi Prednisolone 1% 1 gtt q1-6h 6. BB/TB. Edukasi Prognosis Keratitis Anamnesis : riwayat kontak lens. corneal disease 1. gizi. Keadaan umum Keadaan umum. bisa smpe hypophion Reflek pupil Lensa TIO 4. Pemeriksaan penunjang Reaktif . pupil sedikit miosis Bisa opasitas (katarak) bisa tidak. synechiae Aquous humor apabila disinari sperti flare Ditemukan WBC di kamera okuli ant. 7. trauma. respirasi 3. kesadaran 2.Cyclopegic  memblok saraf sphincter pupil dan m. Pemeriksaan mata Visual acuity Visus turun 105 .Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Bisa edema.ciliaris Cyclopentolate 0. penurunan imunologis. Terapi Tindakan Farmakoterapi : : .

Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. ada discharge mukopurulen kadang2 Normal Siliary injection Ada ulserasi. Terapi Tindakan Farmakoterapi Rujuk aja…soalnya level SKDI 2 : : 6. 7. Edukasi Prognosis Tambahan: Retinopathy diabetika atau hipertensi  ciri ada neurovaskularisasi rapuh  pecah  pendarahan  iskemia  cotton woll spot  bisa ablasio retina. 106 . posterior synechiae Normal Normal Normal 5. Pemeriksaan penunjang Normal Normal Edema eyelid atas.

Anamnesis :  RPS n. Respirasi lain Inhaled foreign body Upper airway obstruction Pneumothorax Atelectasis 4. tanya durasinya udh berapa lama. Severe chronic anemia  tisssue anoxia  sesak napas 4. Onset o. Severe respiratory infection: pneumoni. kronis dan berulang : sesak napas di dada : beberapa menit. Psikogenik disorder= anxiety (heieprventilasi)   Sudden onset dulu pernah Insidious onset. tiap serangan biasanya hanya sebentar. Durasi : beberapa menit yang lalu.DYSPNEA Sensasi sulit untuk bernapas Kausa  Sudden onset dulu nggak pernah 1.asthma. Respiratory: PPOK . CHF. Psikologis: pasien cemas sesak napas + batuk kronik + sputum + rekuren + merokok  lung suffocation kalau asthma. mitral regurgutaion 2. Metabolic asidosis  hiperventilasi & kussmaul 6. Anafilaktik akut 5. KU : sesak napas h. tentukan derajat aktivitas ketika sesak napas Asthma g. Lokasi p. Cardiovascular = ACS 2. PPOK 3. kecuali bila asmanya sudah parah 107 . epiglotitis akut 3. beberapa lama 1. mitral stenosis.

musim semi. kesuliatan bernapas 13. nebulizer dll RPK : keluarga ada riwayat sesak napas. debu. c. Olahraga : Diet : Pola makan : -  Review system  gatal/atopi pada kulit. batuk berdahak disertai sesak napas seperti diikat. Kondisi umum : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. Vital sign : RR ↑. sulit untuk berbicara r. stress. perubahan suhu (malam hari).      Treatment : penggunaan antihistamin/obat-obatan untuk alergi RPD : riwayat alergi. makanan. j. mukosa bibir tampak pucat-cyanosis Leher : palpasi limfonodi dbn 108 . musim. wheezing Kepala : Nasal flaring. alergi. riwayat penggunaan obat-obatan asma spt kortikosteroid. Karakteristik : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. SCM. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi  penggunaan otot2 bantu pernapasan Retraksi dinding dada terutama supraclavicular. faktor stres (misal mendekati ujian) s. kelelahan.q. BP & T normal 14. asma. takikardi. intercosta Asma berat  dada tong Penurunan pengembangan dada yang simetris Mengi dapat terdengar tanpa bantuan stetoskop Palpasi Perkusi Auskultasi  fremitus taktil ↓  hipersonor vesicular. sesak napas seperti diikat. obat-obatan. memiliki hewan peliharaan. b. tidak ada demam dan pilek i. oksigen. pekerjaan. ventilasi kurang baik Lifestyle : a. pakai otot bantu pernapasan. antihistamin t. Relieving: menghindari allergen. atopi Riwayat perjalanan : hilang timbul Lingkungan : berdebu. Parafrase ke pasien Pemeriksaan fisik : 12. infeksi. Agravating : terpapar alergen.

Mild persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi c. Moderate persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi 109 . CBC eosinofilia. IgE spesifik dan total c. Spirometri dinamis FEV1 ≥12% (>200 ml) setelah administrasi bronchodilator Perbaikan (Perak Expiratory Flow) PEF ≥ 20% pre-bronchodilator 16. Mild intermittent SABA 3-4 x/hari Belum perlu controller b. Skin prick test b. Pemeriksaan penunjang a.Terapi Serangan akut : oksigen 4-6l/men + Reliever (nebulasi) a.Abdomen: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : atopi (+/-) 15.

n 3.r. Severe persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi Satu/lebih dari teophylin sustained release atau leukotrien modofier controller  untuk asma persistent Anti inflamasi steroid Inhalasi  budesonide 200 mikrogram 2x / hari Oral  methyl prednisolone 4mg Long Acting Beta Agonist (LABA) Salmeterol 100 mikrogram inhalasi Formoterol 24 mikrogram inhalasi reliever  pada eksaserbasi asma akut  bronchodilator Short Acting Beta Agonist (SABA)  salbutamol 4mg oral / 200 mikrogram inhalasi R/ tubulinhaler salbutamol lag I S p. Anamnesis :  RPS 1) Onset 2) Lokasi 3) Durasi    : beberapa bulan yang lalu. progresif dan kronis : dada : > 8 minggu 4) Karakteristik : Merasa mudah lelah. Edukasi 1. Hindari allergen CHF a. mengganggu aktivitas Sesak napas semakin memberat Tidur lebih nyaman dengan bantal tinggi Gagal jantung kiri: 110 .d. KU : sesak napas b.d puff II 17.d.

c. b. Parafrase ke pasien d. atau stenosis katup aorta  nggak bisa pompa saat sistolik) Diastol: insufisiensi aorta. tanda gagal jantung lain seperti palpitasi. Vital sign : nadi ↑. efusi pleura. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: o Inspeksi Ictus cordis kuat o Palpasi Ictus cordis berpindah bergeser ke atas  hipertrofi ventrikel kanan bergeser ke bawah  hipertrofi ventrikel kiri Fremitus meningkat  karena ada cairan Kulit dingin dan lembab (keringat) o Perkusi Cardiomegali 111 . regurgitasi mitral. hipertensi. Pemeriksaan fisik : 1.  Sistolik: infarct ventrikel kiri. berkeringat. pucat.  Olahraga : tidak suka Merokok Pola makan : tinggi lemak Review system  keluhan lain : edema tungkai. sesak napas terutama malam (pnd). respirasi ↑ 3. cor pulmolae 5) Agravating : aktivitas 6) Relieving: istirahat 7) Treatment : berobat ke dokter. dengan atau tanpa edema tungkai dan sesak napas saat berbaring 2. stenosis mitral Gagal jantung kanan:  lanjutan gagal jantung kiri. hepatomegali c. Kondisi umum : lemah. diberi obat. belum ada perbaikan     RPD : hipertensi RPK : orang tua hipertensi Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.

intercostal JVP meningkat  terlihat saat pasien berbaring 45 derajat Leher : dbn Abdomen: o Inspeksi: lingkar perut meningkat karena ascites o Palpasi Fluid wave  ascites Hepatomegali (RHF) o Perkusi Hepar teraba Nyeri tekan kuadran kanan atas o Auskultasi Extermitas : bengkak. asites  pada gagal jantung kanan o Auskultasi Thrill Murmur RBB  karena peningkatan cairan di paru S3 gallop  seperti suara kuda S3 gallop gagal jantung kiri  apex S3 gallop gagal jantung kanan  ujung sternum Kepala : gerakan cuping hidung gerakan otot bantu pernafasan  retrakasi otot SCM. Ortopnea/PND 3. Cardiomegali 2. berkeringat Kriteria Framingham CHF bila memenuhi 2 major atau 1 mayor + 2 minor Kriteria major 1. pitting edema. Efusi pleura 4. ↑JVP 6. Refluks hepatojugular Kriteria minor 1. Edem paru akut 4. Hepatomegali 112 . Tachicardia 2. Dispnea d’effort 3. RBB (+) 5. Edem ekstremitas 5.Hepatomegali.

tab I p.d. R wave > S wave di v1 7. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 6. tab I p.d. Batasi asupan Na 2.c. v6 Kanan  RVH 5. Batasi aktivitas fisik 113 . RAD 8. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. Captopril 12. Furosemid 20 mg No XXX S 3. S persisten di v5 & v6 6. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 7. R/ Tab.d. CXR Cardiomegali: Karena hipertrofi otot jantung Karena dilatasi akibat penumpukan darah c. Aksigenasi 3. Echocardiography Fraksi ejeksi <40% 5. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. LAD 8.c. v2 b. Terapi R/ Tab.d. Beta blocker  pada post MI 6. Edukasi 1.5 mg No XXX S 3. Pemeriksaan penunjang a.4. EKG Kiri  LVH 5.

sehingga menimbulkan sucking chest sound. dan kiri) TENSION PNEUMOTHORAX Pneumothorax tension terjadi bila lesi dinding dada (pleura parietalis)/pleura visceralis bersifat ventil atau katup. tidak semua masuk lagi ke paru-paru. kanan. Melalui lubang tersebut udara luar masuk ke rongga pleura. nadi lemah  tekanan arteri menurun + syok ”Trias beck”  Tx: pungsi pericard. 114 . Assess: Listen (sucking chest sound). Pada saat ekspirasi. multiple. Look (gerakan napas tertinggal). dan akhirnya akan paru akan kempis.Pneumothorax: OPEN PNEUMOTHORAX Pneumothorax terbuka terjadi akibat terbentuknya lubang di dinding dada yang diameternya lebih dari 2/3 trachea. volume makin meningkat  tension. Sehingga setiap ada napas. dicoblos di linea midclavicular SIC 2. Setiap kali inspirasi. RR meningkat) Treatment: “digembosi”  pake jarum atau pisau. dengan mitela atau miring ke bagian yang sakit plus painkiller Tamponade cordis Jantung kayak di tampon (ciri: suara jantung melemah)  venous return menurun  JVP meningkat  yang dipompa dikit  stroke volume menurun. sehingga akan menekan paru-paru. Tx definitive: WSD Flail Chest Terjadi pada fraktur kosta yang segmental (2 tempat atau lebih). udara akan masuk ke rongga pleura. udara dari paru juga akan berduyun-duyun ke lubang. namun pada saat ekspirasi. JVP meningkat Tension  nekan paru-paru kontralateralnya juga  distress napas yang hebat (sesek. Feel (perkusi: hipersonor) Tx definitive:WSD (Water Seal Drainage)  “ditutup” lubangnya Tx emergency: tutup lubang di dada dengan menggunakan kain/plastic yang diplester di 3 sisi (atas. pada saat ekspirasi jadi kedesak ke luar  gerakan paradoksal dinding dada. Tension nekan mediastinum  yang ngaruh cuma vena cava  kegencet  venous return menurun syok. dan berurutan  daerah yang fraktur lepas dari kesatuan  jadi kuwalik-walik  pada saat inspirasi malah kesedot kedalam. Akibat patah  nyeri. apalagi kalo begerak Tx: bagian yang keluar-masuk ditahan.

warna keruh). riwayat sakit pinggang dan kencing warna merah (ada glomerulonefritis sebelumnya). hipertensi Lifestyle : a. Diabetes Mellitus   RPK : riwayat kencing manis (DM). (<3 gr/ml). Onset v. Relieving aa. Parafrase ke pasien n. dll. Durasi : 2 minggu : pagi hari di wajah (kelopak mata. Diet : protein berlebih (telur) c. Karakteristik : saat bangun tidur mata terasa tebal semakin siang semakin berkurang bengkak di matanya tapi di kaki makin bengkak.oedem anasarka (nonpitting) di jaringan yang longgar (kelopak mata. tidak nyeri dan tidak terasa panas kencingnya. kenaikan serum lipid trigliserid.manifesnya semakin parah z. keluar dikit2. Lokasi w. Treatment :  RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya. Olahraga: b. Kesan umum : gelisah. scrotum.Sindrom nefrotik Definisi: kumpulan gejala dimana terjadi proteinuria (>3.5 gr/hari). labium mayor. k. KU : Bengkak-bengkak l. pitting udem (karena udemnya interstitial jd saat dipencet ga balik lg) m. sesak napasnya paroksismal dyspneu. bibir). Sebutkan DD : CHF. Pola makan:  Review system : keluhan lain : ada sesak napas ga? (untuk eksklusi CHF: kl ada. sesak napas 115 . ). Glomerulonefritis (cratinin clearance berkurang) o. hipoalbuminemia. 2 hari yang lalu jadi seluruh tubuh : 2 minggu x. berat badan bertambah tapi merasa lemes y. Agravating : kalo diet banyak protein (telur). BAK dan BAB terganggu ga (kl SN. Pemeriksaan fisik : 18. nafsu makan berkurang. BAK terganggu => frekuensi meningkat. ascites ato ga? (SN ada ascites). tidur pake bantal. Anamnesis :  RPS u.).

2. diet rendah garam dan tinggi protein 2.8 – 1 gr/kg BB) c. creatinine clearance normal (untuk membedakan dengan GN) b. no fever.d.batas jantung normal (tidak ada cardiomegaly) Abdomen : ditemukan efusi pleura kl parah Inspeksi Auskultasi  ada ascites (perut membesar) d. Captopril 12.5 gr/hari).Furosemide untuk mengatasi udem Tab. . Pemeriksaan fisik : Thorax : .Prednisone untuk mengatasi peradangan Prednisone 1 mg/kg BB/hari (BB sebelum udem) Sediaan yg ada 1 tablet = 5 mg. Bed rest b. hipoalbumin <3 gr/mL 22.d. Bed rest.1. Diet rendah garam dan tinggi protein (0.n Perkusi  shifting dullness (tanda ascites) Palpasi  float wave (tanda ascites) Kepala : muka udem (terutama mata dan bibir) Ekstremitas : pitting udem serta ga ada nyeri 21.19.d tab I .5 mg s. Darah  ada dislipidemia.b.hipertensi ato DM  ACE inhibibor Tab. Edukasi 1. Furosemide 80 mg s.d tab I 23.Terapi a.Vital sign : BP naik. Urinalisis (sampel urin berasal dari urin tampung 24 jam)  proteinuria (>3. Pemeriksaan penunjang a. Berdasar etiologi : . 20. Diberitahu efek samping obat bisa menyebabkan imunosupresan dan “moon face” 116 . diminum pagi dan malam (pagi lebih banyak drpd malam) .

Agravating : aktivitas fisik gg.CHEST PAIN: ACS Unstable NSTEMI STEMI obstruksi parsial obstruksi total. rokok. Onset cc. seperti tertindih. c. gelisah. Faktor risiko : dislipidemia. berkeringat. diremas. b. muntah c. ada kolateral obstruksi total a. Sebutkan DD e. Lokasi dd. GERD 117 . Anamnesis :  RPS bb. Pemeriksaan fisik : 24. Karakteristik : 1) 2) 3) 4) Nyeri khas. obesitas DM. tidak bisa dihilangkan dengan istirahat atau pemberian nitroglyserin ff. beberapa menit yang lalu : nyeri dada menjalar sampai lengan kiri & rahang kiri : > 20 menit ee. megang dada : ACS. leher. Relieving: Pada stable angina mereda dengan istirahat & nitroglycerin hh. nyeri dada b. atau dicengkeram Radiasi ke rahang. Kondisi umum : cemas. hipertensi  RPD : Belum pernah nyeri seperti ini Riwayat hipertensi.  Olahraga : jarang berolahraga Merokok Pola makan : makan makanan berlemak Review system  keluhan lain : keringat dingin. DM    RPK : orang tua pernah mengidap penyakit jantung Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. mual. Parafrase ke pasien d. burning. Durasi : akut. KU : sesak napas. lengan kiri bisa sampai ke ulnar Timbul saat istirahat >20 menit.

takikardi  dbn  dbn dbn dbn 26. troponin I c. 10 menit pertama  EKG 12 lead  bedakan STEMI. Periksa cardiac enzyme CK-MB. Aspirin 160-325 mg e. Oksigen 4L/mnt. Clopidogrel f. Pertimbangkan reperfusi 118 . pertahankan saturasi O2>90% c. Foto Thorax (liat ukuran jantung) 28. unstable Lihat pambahasan EKG. Morphin IV jika nyeri tidak berkurang dengan nitroglycerin b.25. Pemeriksaan penunjang a.Vital sign : hipertensi. Terapi Berikan MONACO a. Nitrogliserin SL d. NSTEMI.Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Kepala : dbn Leher : palpasi limfonodi dbn Abdomen: screening  dbn Extermitas : Inspeksi  Ektermitas pucat palpasi  Ekstermitas dingin dan berkeringat 27. ST elevasi dan Q patologis (STEMI) ST elevasi kalau naik > 2mm di lead precordial atau naik > 1mm di lead extremitas pada minimal 2 lead berurutan Manifes Q patologis (>1/3 R’ atau kalau R < 5 kotak maka sekecil apapun disebut Q patologis) Depresi ST (NSTEMI) b..

Nitrogliserin 0.Relieving : . 1. dll).d.d. Aktivitas fisik aerobik 4. sublingual (saat serangan) R/ Tab.r.kambuhan. theofilin. beta adrenergic.Onset : akut . . Aspirin tiap hari GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) Anamnesis   KU : Nyeri dada yang seperti terbakar RPS : . Keluhan nyeri ini umumnya timbul setelah makan. IV (dikunyah.3 mg No VII S.Fibrinolitik  door to needle 30 detik PCI kalau ada kontraindikasi fibrinolitik  door to ballon 90 detik R/ Tab. p. Management lipid 5.kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan).amati ada tidaknya faktor resiko → memiliki hiatus hernia.n.Edukasi 1. faktor hormonal (mis : 119    .r. Aspirin 80 mg no XXVIII S. Odinofagi (nyeri saat menelan makanan) juga bisa muncul bila sudah terjadi ulserasi esophagus berat. Stop merokok 3. Tab. Turunkan berat badan 2. menggunakan obat .Location : epigastrium atau retrosternal bagian bawah .Characteristics : nyeri seperti tebakar.Treatment : RPD : GERD biasanya kambuh .Aggravating : tidur setelah makan . opiat.Duration : beberapa menit . kadang . RPK : Profil pasien : .obatan tertentu (antikolinergik.n. mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah. p. saat serangan) Stable angina pectoris:   aspirin dimunum saat serangan & biasa nitroglycerin saat serangan 29.

peppermint . Review system Pemeriksaan Fisik :      Kondisi umum : tampak memegangi ulu hati Vital sign :dbn Kepala leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Pemeriksaan Penunjang :   Standar baku : endoskopi saluran cerna bagian atas → akan ditemukan mucosal break pada esophagus.20 mg / hari → menurunkan gejala karena meningkatkan tonus sfingter dan mempercepat pengosongan lambung sehingga esophagus tidak lama terpapar asam .Sukralfat : Alumunium Hidroksida + Sukrosa Oktasulfat .Antasid : 4 x sehari . Esofagografi dengan barium → pada pasien dengan hiatus hernia atau stenosis esophagus. konsumsi alkohol . peningkatan progesterone karena kehamilan).  Domperidone : 3 x 10 . coklat .Antagonis reseptor H2  Simetidin : 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg  Ranitidin : 4 x 150 mg  Famotidin : 2 x 20 mg  Nizatidin : 2 x 150 mg .Prokinetik  Metoclopramide : 3 x 10 mg → harus dengan kombinasi bersama Antagonis reseptor H2 atau PPI. .  Cisapride : 3 x 10 . namun tidak untuk penyembuhan lesi. soft drink.20 mg / hari → selain menurunkan gejala juga bisa sekaligus menyembuhkan lesi di esophagus. Tata Laksana :  Medikamentosa : Pilihan terapi medikamentosa yang dapat digunakan antara lain : .PPI : pada kasus yang berat  Lansoprazole : 2 x 30 mg  Pantoprazole : 2 x 40 mg  Rabeprazole : 2 x 10 mg  Esomeprazole : 2 x 40 mg Modifikasi gaya hidup : .Meninggikan kepala saat tidur .Hindari makan sebelum tidur 120  .

etc) 121 . beta adrenergik.- Berhenti merokok dan alkohol karena dapat menurunkan tonus sfingter esophagus Kurangi konsumsi lemak dan jumlah makanan yang dikonsumsi karena bisa menyebabkan distensi lambung Turunkan berat badan untuk menurunkan tekanan intra abdomen Hindari makan coklat.obatan yang menurunkan tonus sfingter esophagus (kolinergik. kopi dan minuman bersoda karena dapat menstimulasi asam Hindari obat . peppermint.

transquilliser. Pusing Vertigo Unsteadiness PseudoVertigo Lightheadedness Giddiness Oleh karena itu perlu dilakukan kategorisasi symptom menjadi salah satu kategori diatas :  Vertigo : sensasi berputar baik secara subjektif (pasien) atau objektif (sekitar). tumor Labyrinth : labyrinthitis. betul-betul nampak berputar atau anda merasa seperti sedang bergerak? Pertimbangkan vertigo 122 . pucat dan berkeringat    Unsteadiness : sensasi tidak seimbang atau perasaan akan jatuh Lightheadedness : faint (blur). BPPV. Apakah anda merasa akan pingsan? Gejala demikian mungkin merupakan prasinkop 2. biasanya disertai mual. insufisiensi vertebrobasilar Cerebellum : degenerasi. diabetic autonomic neuropathy. Apakah objek dalam pandangan anda. menierre. antikonvulsan Penyakit lain : anemia.PUSING/DIZZINESS Sensasi tidak seimbang oleh adanya gangguan satu atau lebih organ yang menjaga keseimbangan. fistula N VIII : akustik neuroma. seperti perabotan atau lukisan dinding. presinkop sensation Giddiness : sensasi tidak spesifik Atau mengklasifikasikannya menjadi dengan atau tanpa vertigo : Dengan vertigo :  Perifer o o  Sentral o o Tanpa vertigo :   Infeksi viral akut seperti pada gaster atau usus Hipotensi postural : biasanya terjadi pada wanita usia muda. neuronitis vestibular Tanyakan adanya perasaan berikut : 1. kehamilan usia muda. kardiak (stenosis aorta dan pulmunal dll) Batang otak : infark. muntah. penggunaan obat antihipertensif    Hipoglikemik : disertai gejala berkeringat dan lapar Penggunaan obat-obat : antihipertensif.

5. Diagnosis pasti jarang berhasil ditegakkan.jam BPPV. neuroma 123 .murni. akustika. vertigo sentral atau perifer. Diplopia merupakan tanda penyakit pada batang otak. stroke. Apakah diikuti dengan sakit kepala  desak ruang oleh peningkatan TIK  neuroma akustika VERTIGO Klasifikasikan apakah disebabkan oleh obat. Hari Neuronitis migraine Minggu Characteristic : Berputar psikogenik verstibular. Mual dan muntah menunjukkan penyakit pada sistem vestibular atau batang otak. atau kelainan sentral pada batang otak. 4. Adakah gejala penyerta? Adanya tinitus dan ketulian merupakan tanda kelainan telinga dalam. yang bisa disebabkan oleh kelainan perifer pada telinga dalam atau nervus kranial VIII. 6. Anamnesis KU : kepala terasa pusing dengan sensasi berputar RPS : Onset : Lokasi : Durasi : Duration of episode Sangat singkat Suggested diagnosis Vestibular neuronitis (late). Gejala ini kadang-kadang disebut sebagai pusing psikofisik. 3. meniere disease (late) Beberapa detik – menit Beberapa menit – jam Berjam. fistula perilimfatik TIA. kemungkinan disebabkan oleh penyakit vestibular. Apakah yang mencetuskan gejala? Jika gerakan kepala menimbulkan gejala. fistula perilimfatik post trauma. Apakah samar-samar kepala anda terasa ringan? Bisa menunjukkan berbagai masalah mulai dari hiperventilasi sampai nyeri kepala tipe tegang. migraine. fistula perilimfatik Meniere. Terjadinya gejala pada posisi berdiri kemungkinan disebabkan oleh hipotensi postural.

quinine Provoking factor Perubahan posisi kepala Suggested diagnosis Acute labyrinthitis. horizontal atau torsional. immunosuppressive medications. aminoglikosidm antikonvulsan. antihipertensi. cerebrovascular disease (stroke or TIA). stress) Changes in ear pressure. loud noises Relieving : Therapy : Keluhan Penyerta : Untuk membedakannya. hilang saat mata focus pada suatu objek.. kokain. nitrogliseride. Ménière’s disease. cerebellopontine angle tumor. BPPV. antidepresan. hilang dalam hitungan minggu – bulan. advanced age. multiple sclerosis. excessive straining. migraine Immunosuppression (e. Perilymphatic fistula Herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis . salisilat. migraine. head trauma. perilymphatic fistula Spontaneous episodes (i. perhatikan tabel di bawah ini : Kenampakan Nystagmus Vertigo Perifer Kombinasi horizontal dan torsional.Aggravating : induksi obat seperti alcohol.. no consistent provoking factors) Acute vestibular neuronitis. diuretic. barbiturate.g. tidak hilang saat mata terfokus pada objek.e. hilang dalam beberapa hari’ tidak berubah arah saat 124 Vertigo Central Murni vertical. multiple sclerosis Recent upper respiratory viral illness Stress Psychiatric or psychological causes.

Ménière’s disease Acoustic neuroma. bahkan berdiri Nausea. furosemid RPK : vertigo (+/-) Riwayat Perjalanan : Lifestyle : (-) Review System : Symptom Aural fullness Ear or mastoid pain Suggested diagnosis Acoustic neuroma. tinnitus Symptom neurologis lain Latensi nystagmus setelah maneuver RPD : Riwayat Trauma (+/-). migraine Ménière’s disease. perilymphatic 125 Parah Sering Jarang Lama ( 20 detik ) Bervariasi Jarang Sering Cepat ( 2 detik ) . herpes zoster oticus Cerebellopontine angle tumor. Facial weakness Focal neurologic findings herpes zoster oticus) Acoustic neuroma.. multiple sclerosis (especially findings not explained by single neurologic lesion) Acoustic neuroma. otitis media. salisilat. Diving (+/-) Riwayat infeksi sal. vomite Hearing loss. masih mampu berjalan Parah.napas atas (+/-) Gangguan pendengaran (+/-) Riwayat pengobatan dengan obat-obatan toksik seperti aminoglikodisa. sulit hingga tidak mampu berjalan.g. acute middle ear disease (e. Headache Hearing loss cerebrovascular disease.focus kea rah lain Imbalance Ringan – sedang.

Imbalance cholesteatoma. curiga hiptensi postural Ada tiga focus penting dalam pemeriksaan fisik pasien vertigo. T (N). dengan atau tanpa pucat VS : Pulse (N). cendrung curiga ke sentral. caranya dengan :  Hennebert’ sign merupakan vertigo/nystagmus yang terjadi akibat penekanan pada tragus dan Meatus akustikus eksterna telinga yang mengalami defek. serta system kardiovaskular. 126 .  Kepala dan leher (ENT) Membran timpani : rupture (+/-) . herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis (usually moderate). Bila BP rendah.fistula. photophobia Tinnitus involving anterior inferior cerebellar artery. Kalau negative. kepala dan leher. acoustic neuroma. acoustic neuroma.  System saraf Maneuver Dix Hallpike Test Maneuver Dix Hallpike yang positif diikuti anamnesis riwayat vertigo dan / atau nystagmus yang positif dapat digunakan untuk menegakkan hasil diagnosis yang positif untuk vertigo perifer et causa BPPV. transient ischemic attack or stroke Nystagmus Phonophobia. disequilibrium. vesikel (+/-) Fistula perilimfatika (+). RR (N). gidddiness Pemeriksaan fisik Kondisi umum : Pasien tampak agak lemas dan berkeringat. otosclerosis. Ménière’s disease DD : Vertigo. cerebellopontine angle tumor (usually severe) Peripheral or central vertigo Migraine Acute labyrinthitis. yaitu pemeriksaan pada system saraf. BP (N). presinkop.

tentukan diagnosis Lakukan MRI bila : (1). Ditemukan kondisi lain yang membutuhkan perujukan setelah pemeriksaan dilakukan (vertigo sentral. Garpu tala : Tuli konduktif (kerusakan telinga tengah). (3).VIII)  System kardiovaskular Hipotensi orthostatic (dehidrasi. tuli saraf (kerusakan n. Vertigo sentral Pertimbangkan tes laboratorium atau radiologis (bila diperlukan) Rujuk bila masih ragu atau menemukan hal yang memerlukan rujukan setelah diperiksa Terapi  Infeksi viral self-limited : obat simptomatik + cairan 127 . (2). Tes Audiometri : membantu diagnosis vertigo akibat penyakit Meniere. apakah sentral atau perifer Pemeriksaan : Sistem saraf. Pemeriksaan penunjang Lab : kadar elektrolit. Untuk menyingkirkan kecurigaan infeksi bacterial atau neoplasma. Radiologis : Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk beberapa keadaan seperti:     Adanya symptom neurological. Ada factor resiko penyakit kardiovaskular. Kepala dan Leher. gangguan fungsi otonom)  Penurunan tekanan darah sistolik hingga 20mmHg atau lebih atau kenaikan denyut lebih atau sama dengan 10x/menit. Ada gangguan neurologis fokal. Rujukan Diagnosis penyebab masih belum jelas/meragukan. progressive unilateral hearing loss dan berbagai symptom vertigo sentral lainnya. Valsava mauver memberikan tanda adanya fistula melalui peningkatan tekanan pada tuba eustachii dan telinga dalam. kardiovaskuler Singkirkan dd. factor resiko penyakit kardiovaskular. psikosis dl) Pasien datang dengan pusing Curiga Vertigo Ya Memakai obat – obatan yang dapat menginduksi vertigo Ya Tidak Hentikan pengobatan Tidak Periksa untuk leghtheadedness. glukosa. disequilibrium atau pre-syncope Anamnesis : Tentukan penyebab vertigo. CBC (complete blood count) dan pemeriksaan fungsi thyroid.

pucat. MENIERRE DISEASE Ax : RPS : O : Mendadak dalam hitungan menit D : berjam-jam C : pusing disertai mual.X S 3. Simptomatik (vestibular sedative): R/ Tab prochlorperazine mg 5 no. terutama malam hari D : Transien bberapa detik C : Rekuren terkait perbahan posisi kepala terus selama berminggu – bulan lalau sembuh spontan A : perubahan posisi R : Sembuh secara spontan RPD : serangan yang sama (+) RPK : Lifestyle : bantal relaif tinggi. tinnitus. terdapat periode freedom 128 .d. VI S 2.d.d Tab I   Psikiatrik : sedative. antikonvulsan BPPV : edukasi : menggerakkan kepala secara lebih perlahan atau dengan menggunakan collar neck untuk mencegah pergerakan spine yang berlebihan dan mendadak Tambahan : BPPV Ax : O : mendadak berkaitan dengan perubahan posisi kepala. stress tinggi Review system : Px : pemeriksaan fisik : dbn Manuver Dix Hallpike Tx : Manuver Epley.d Tab I    Neuronitis vestibular : simptomatik Hipotensif ortostatic/hipoglikemic state : penghitungan ulang dosis obat Meniere : diet rendah garam dan diuretic ringan R/ Tab Betahistin 8 mg no. instabilitas dan SNHL. sensasi penhu akibat hidrops endolimph.

diuretic NEUROMA AKUSTIKA Ax : RPS : O : perlahan-lahan D : berjam-jam C : diawali dengan gangguan pendengaran SNHL dan gangguan keseimbangan A : pagi hari saat terjadi peningkatan TIK R: T: RPD : RPK : Lifestyle : Review System :  Gangguan pendengaran. pada fase lanjut dapat diikuti kerusakan pada n. tinnitus. antihistamin(cinnarizine) Prophilaksis : diet rendah garam (1g/d). vi. tinnitus. ix. SNHL Tx : serangan akut  bed rest.v. x  Tanda peningkatan TIK 129 .A:R : spontaneous T:RPD : Gangguan pendengaran RPK : Lifestyle : Review system : rasa penuh di telinga.

terutama group A β-hemolyticus streptococci (GABHS). dan gejala pada saluran respirasi bawah o C pneumoniae. and F streptococci yang secara klinis sulit dibedakan dari infeksi GABHS.SORE THROAT Pharyngitis termasuk salah satu dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi salah satu top ten leading disease/morbiditas pada sebagian besar puskesmas di Indonesia. G. Komplikasi tersebut tidak jarang menyebabkan mortalitas bagi penderitanya. dan biasanya terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi (pada negara dengan empat musim). komplikasi berupa glomerulonephritis akut dan demam rematik akut jarang terjadi sebagai komplikasi akibat agen ini. misalnya Streptococcus pyogenes. Pasien biasanya mengeluhkan batuk. pharyngitis. Walaupun sebagian besar pharyngitis disebabkan oleh virus. sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter karena komplikasinya yang berat. Berikut adalah ulasan singkat mengenai pharyngitis: Definisi: Infeksi atau iritasi pada pharynx atau tonsil Epidemiologi: Pharyngitis bacterial akibat Strepyococcus pyogenes biasanya menyerang anak yang berumur 4-7 tahun. secara klinis mirip dengan M pneumoniae. termasuk scarlatiniform rash. o M pneumoniae yang sering menyerang kalangan dewasa muda dan gejalanya berupa nyeri kepala. namun pharyngitis yang disebabkan oleh bakteri. o Arcanobacterium (Corynebacterium) haemolyticus yang sering terjadi pada orang dewasa muda dan sangat mirip dengan infeksi GABHS. Namun. Etiologi: Kausa penyakit pharyngitis dapat dibagi menjadi:  Bacterial pharyngitis o o Group A beta-hemolytic streptococci. yang dibahas pada diagnosis banding ini Group C. acute glomerulonephritis dan toxic shock syndrome. Pharyngitis biasanya mendahului 130 . Komplikasi yang dapat timbul diantaranya adalah acute rheumatic fever. rheumatic heart disease.

infeksi paru-patu 1-3 minggu sebelumnya.
o

Neisseria gonorrhoeae adalah agen kausa yang jarang pada pharyngitis bakterial. Anamnesis yang baik dan teliti sangat perlu dilakukan karena infeksi ini terjadi biasanya karena kontak orogenital. Pharyngitis ini juga biasanya terkait dengan infeksi sistemik yang parah.

o

Corynebacterium diphtheriae yang memiliki tanda khas foul-smelling gray-white pharyngeal membrane sehingga menimbulkan obstruksi jalan napas.

Viral pharyngitis
o

Adenovirus: Patognomonis infeksi adenovirus adalah munculnya konjungtivitis yang terkait pharyngitis (pharyngoconjunctival fever). Adenovirus adalah etiologi utama pharyngitis pada anak berumur kurang dari tiga tahun.

o

Herpes simplex: tandanya adalah terbentuknya lesi vesikular (herpangina), biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.

o

Coxsackieviruses A and B: Infeksi ini mirip dengan infeksi herpes simplex. Jika vesikelnya bewarna keputihan dan berbentuk noduler, dikenal dengan lymphonodular pharyngitis. Coxsackievirus A16 dapat menyebabkan hand-foot-and-mouth disease, yakni munculnya ulkus oropharynx berukuran 4-8 mm dan vesikel di tangan dan kaki, dan biasanya juga muncul di bokong. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dalam aktu satu minggu.

o

Epstein-Barr virus (EBV): secara klinis dikenal sebagai infectious mononucleosis, yang sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Exudative pharyngitis lebih prominent. Karakteristik pembedanya adalah adenopathy retrocervical atau generalisata, serta hepatosplenomegaly.

o

CMV: Tanda klinis CMV mirip dengan of infectious mononucleosis. Namun pasien cenderung pada kelompok umur yang lebih tua, aktif secara seksual, serta derajat demam dan malaise lebih parah.

o

HIV-1: hal ini terkait dengan edema pharyngeal edema dan erythema, biasanya ulkus aphthous,dan jarang terdapat eksudat. Demam, myalgia, dan lymphadenopathy juga biasanya ditemukan.

Kausa lain pharyngitis, misalnya udara kering, allergy/postnasal drip, chemical injury, gastroesophageal reflux disease (GERD), merokok, neoplasia, dan akibat pemasangan intubasi endotracheal.

Patofisiologi dan patogenesis: Bakteri atau virus pathogen menginvasi mukosa pharynx, menyebabkan respon inflamasi local. Virusvirus yang lain, misalnya rhinovirus dan coronavirus, dapat mengakibatkan iritasi poada mukosa pharynx secara sekunder akibat sekresi nasal. Infeksi Streptococcal disertai dengan karakteristik

131

berupa invasi local dan pelepasan toksin ekstraselular dan protease. Fragmen protein M pada serotype tertentu GABHS diketahui sama dengan antigen myocardial sarcolemma, sehingga terkait dengan demam rematik akut dan kerusakan pada katup jantung (penyakit jantung rematik). Deposisi kompoleks antibody-antigen pada glomerulus ginjal pada akhirnya juga dapat menyebabkan glomerulonephritis akut.

Apa hal yang perlu diperhatikan dari ANAMNESIS pada diagnosis banding ini? Identitas pasien: Tanyakan nama, umur, alamat, dan pekerjaan pasien. Selain untuk membina hubungan yang baik dengan pasien, umur juga dapat digunakan sebagai skrining awal penentuan diagnosis banding. Contohnya: pharyngitis karena GABHS biasanya terjadi pada anak berumur 4-7 tahun. Sedangkan pharyngitis viral karena adenovirus biasanya menyerang anak-anak yang berumur kurang dari tiga tahun. Pharyngitis yang disebabkan oleh CMV biasanya menyerang orang-orang yang berumur dewasa.

Keluhan Utama: Nyeri menelan (nyeri tenggorok) dan demam tinggi

Riwayat Penyakit Sekarang:  Onset dan durasi: Hal ini penting untuk ditanyakan pada pasien. Sebab pada negara dengan empat musim, biasanya pharyngitis karena GABHS terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi. Onset yang tibatiba biasanya mendakan pharyngitis disebabkan oleh GABHS. Selain itu, durasi juga penting untuk membedakan penyakit akut atau kronis.  Karakteristik/pola: Tanyakan mengenai karakteristik dan pola demam. Pharyngitis karena bakteri biasanya memiliki ciri-ciri demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius). Pola demam ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis demam yang lain, misalnya step ladder pattern pada thypoid, demam yang bersifat paroksismal (kambuh-kambuhan) pada malaria, atau demam pola pelana pada Dengue Hemorrhagic Fever.  Faktor yang meringankan dan memperberat keluhan  Medikasi yang sudah diberikan/dikonsumsi.

132

Riwayat Penyakit Dahulu: Tanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau tidak. Tanyakan pula mengenai riwayat alergi obat, karena treatment farmakologis pada pharyngitis karena bakteri adalah dengan pemberian antibiotik, sehingga penting untuk diketahui riwayat alergi terhadap antibiotic tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga, Lingkungan dan Travelling: Hal ini penting untuk ditanyakan karena sifat dari pharyngitis yang merupakan salah satu communicable disease. Sehingga patut dicurigai adanya penularan dari keluarga, lingkungan sekitar atau riwayat berpergian ke daerah endemis. Apabila pasien tersebut pernah berkontak dengan orang yang didiagnosis dengan infeksi GABHS atau penderita penyakit jantung rematik, maka perlu dicurigai pasien tersebut terserang pharyngitis yang disebabkan oleh etiologi GABHS.

Profil Pasien: Tanyakan mengenai pola makan, dan pola olahraga pasien, karena hal tersebut berkaitan dengan status imun dari pasien

Review System: Penting untuk dieksplor mengenai review system untuk menegakkan diagnosis banding dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:.

Tanyakan apakah keluhan disertai batuk dan rhinorrhea (hidung meler). Pharyngitis karena GABHS tidak disertai dengan batuk dan rhinorrhea. Pharyngitis yang disertai dengan gejala demikian adalah faringitis yang disebabkan oleh etiologi virus.

Tanyakan apakah keluhan disertai dengan nyeri kepala, sebab nyeri kepala berkaitan dengan infeksi GABHS

Tanyakan juga apakah pasien mengalami mual dan muntah, sebab hal itu mendukung kearah diagnosis infeksi GABHS, walaupun pada faringitis tipe yang lain juga mungkin dijumpai gejala mual dan muntah.

Tanyakan apakan ada benjolan-benjolan di sekitar leher bagian depan atau belakang. Lymphadenopathy cervicalis anterior adalah patognomonis sign untuk untuk pharyngitis oleh GABHS. Sedangkan, adenopathy retrocervical merupakan tanda khas untuk pharyngitis oleh karena Epstein-Barr virus (EBV).

Tanyakan apakah ada masalah di genital, sebab hal tersebut berguna untuk mengetahui kemungkinan gonococcal pharyngitis.

133

Kriteria tersebut terdiri atas empat poin. eyes. Scleral icterus dapat ditemukan pada infectious mononucleosis. various degrees of dehydration result. berdasarkan penelitian terbaru. Tanyakan mengenai bercak-bercak dimukosa mulut (oral trush) dan myalgia. Hydration status: Oral intake usually is compromised because of odynophagia. demam. Meski demikian. Terdapat kriteria centor. untuk menilai keadaan emergensi. kira-kira hanya separuh dari pasien yang memiliki gejala-gejala tersebut yang benar-benar terinfeksi oleh GABHS. sedangkan pada pasien yang memiliki skor 4. ears. mungkin harus dicurigai sebagai pharyngitis karena GABHS. ada tidaknya demam hendaknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk membedakan etiologi virus atau bakteri. yakni onset yang tiba-tiba. and throat (HEENT): o o o o Conjunctivitis biasanya berkaitan dengan infeksi adenovirus. denyut nadi. biasanya tidak terdapat demam atau ada demam namun subfebril. therefore. Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN FISIK pada diagnosis banding ini?  Patensi jalan napas harus selalu terlebih dahulu dinilai. yang biasa digunakan untuk mendiagnosis pharingitis akut bakterial karena GABHS. sebab hal tersebut menandakan status immunocompromised pasien (misalnya karena penyakit HIV/AIDS). adanya gejala konstitusinal (malaise) dan respirasi (batuk).  Vital sign: Tekanan darah. Rhinorrhea biasanya berkaitan dengan etiologi viral. Tonsillopharyngeal/palatal petechiae dapat ditemukan pada infeksi GABHS dan infectious 134 . Pada pharyngitis viral.  Head. tidak ada tanda spesifik respirasi yang terlokalisasi. yang terdiri atas:     Fever Anterior cervical lymphadenopathy Tonsillar exudate Absence of cough Infeksi GABHS dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki skor 0-1. nose.  Adanya kesulitan bernapas dan stridor dapat mengindikasikan kemungkinan epiglottitis akut. laju respirasi dan suhu/temperature. Demam febril (suhu > 38 derajat Celcius) biasanya mengindikasikan infeksi GABHS. Walaupun demikian.  Tanyakan juga mengenai kemungkinan influenza.

terutama bila gejala tersebut disertai dengan batuk nonproduktif.  Pulmonary: Pharyngitis disertai infeksi saluran pernapasan bawah lebih konsisten ditemukan pada agen infeksi M. C pneumoniae.  Abdomen: Hepatosplenomegaly dapat ditemukan pada infeksi mononucleosis .  Kulit o o Sandpapery scarlatiniform rash dapat ditemukan pada infeksi GABHS. Dengan demikian. Maculopapular rashes biasanya ditemukan pada infeksi viral atau infectious mononucleosis Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN PENUNJANG pada diagnosis banding ini? Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis pharyngitis akut etiologi GABHS adalah:  GABHS rapid antigen detection test 135 . dan infeksi herpesvirus . o Eksudat tonsillopharyngeal dapat ditemukan pada infeksi streptococcal. A haemolyticus. Vesikel konkomitan ditangan dan kaki biasanya berkaitan dengan infeksi coxsackievirus (handfoot-and-mouth disease).mononucleosis.  Cardiovascular: Murmur jantung harus diperiksa untuk memonitor apakah ada penyakit jantung rematik sebagai komplikasi pharyngitis karena GABHS. infeksi mononucleosis terutama pada M pneumoniae. adenovirus.  Lymphadenopathy: Nodus cervicalis anterior yang nyeri biasanya menandakan infeksi streptococcus. eksudat tidak dapat dijadikan dasar pembeda kausa viral atau bakterial o Oropharyngeal vesicular lesions biasanya ditemukan pada coxsackievirus dan herpesvirus. Sedangkan adenopathy generalisata biasanya berkaitan dengan infectious mononucleosis atau sindrom lymphoglandular akut pada infeksi HIV. pneumoniae or C pneumoniae.

o Pasien dapat ditunda pengobatannya sampai 9 hari setelah onset demam untuk mencegah demam rematik akut. o Prosedur untuk melakukan usap tenggorok adalah dengan mengambil sampel eksudat dari pharynx bagian posterior dan kedua tonsil dengan menggunakan lidi kapas. intubasi jika diperlukan. karena insidensi infeksi GABHS jarang terjadi pada usia dewasa. Pasien yang memiliki skor Centor 0-1 sebaiknya langsung diberi medikasi simptomatik tanpa dilakukan testing terlebih dahulu o Antigen pada test ini adalah specific. Walaupun lebih murah dibandingkan dengan rapid antigen detection test. karena sulitnya untuk melakukan follow-up hasil kultur. o Orang dewasa yang memiliki hasil test antigen yang negative tidak memerlukan follow-up berupa kultur. o Penggunaan “GABHS rapid antigen detection test” dapat menurunkan penggunaan antibiotic yang tidak perlu pada pasien anak-anak. 136 . Sehingga administrasi antibiotik dengan segera tidak krusial jika pasien dapat dengan mudah dihubungi untuk follow-up hasil kultur. namun sensitivitasnya bervariasi.  Throat culture (kultur apusan tenggorokan) o Pemerikasaan ini merupakan gold standard untuk diagnosis infeksi GABHS (90-99% sensitive). Bagaimana prinsip TATALAKSANA pasien dengan diagnosis banding ini?  Nilai dan amankan jalan napas. Jangan menaruh sampel eksudat pada medium liquid. Anak-anak dengan hasil tes antigen negative sebaiknya dilakukan follow –up berupa kultur. o Hanya pasien dengan yang secara klinis mendukung kecurigaan infeksi GABHS yang dilakukan tes ini.Rapid antigen detection test for group A beta-hemolytic streptococci. kultur ini sebaiknya tidak digunakan pada unit gawat darurat. o Metode ini adalah metode yang dipilih untuk mendiagnosis infeksi GABHS pada fasilitas dimana sulit untuk dilakukan follow-up hasil kultur. bila tes dilakukan secara tepat.

o Pasien yang memenuhi keempat kriteria Centor langsung memulai terapi antibiotic tanpa dilakukan tes antigen atau kultur sebelumnya. dan biasanya gejalanya hilang dalam 3-4 hari. epiglottitis.  Investigasi infeksi GABHS jika secara klinis disuspek. o Jika secara klinis meragukan. Pemberian antibiotik ini efektif jika diberikan dalam waktu 9 hari setelah onset. jangan berikan antibiotik pada pasien sebelum hasil kultur atau rapid antigen detection test menunjukkan hasil yang positif. terapi anti mikroba dengan antibiotic lebih ditujukan untuk mencegah sekuel penyakit kearah demam rematik akut (acute rheumatic fever). karena pharyngitis yang parah akan membatasi intake oral. sebaiknya pemberian antibiotik menunggu hasil rapid antigen test atau kultur. o Orang-orang yang berinteraksi dengan pasien positif GABHS harus diberi treatment antibiotik tanpa dilakukan tes terlebih dahulu jika mereka memiliki gejala yang terkait dengan infeksi GABHS. Evaluasi tanda-tanda toksisitas. atau abses oropharyngeal. Terapi antibiotik Berikut adalah pedoman pemilihan personal-drug (p-drug) antibiotik untuk eradikasi GABHS: 137 . Tes ini biasanya ttidak dilakukan pada pasien yang memilik skor Centor 0-1. mengingat semakin meningkatnya resistensi antibiotic o Lakukan rapid antigen detection test jika dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis suspek infeksi GABHS. Gunakan algoritma dibawah ini: o Secara umum. Tujuan terapi dari pengobatan pharyngitis GABHS adalah untuk meredakan demam dan nyeri tenggorokan (simptomatik) dan untuk terapi antimikroba.  Medikasi atau treatment farmakologis: Pada dasarnya pharyngitis GABHS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri.  Evaluasi status hidrasi.

138 . anak: 250 mg bid/tid selama 10 hari Namun. maka biasanya digunakan amoxicillin dengan dosis: dewasa: 500 mg PO bid selama 10 hari. Terapi symptomatis analgetik/antipiretik Berikut adalah pedoman pemilihan personal drug untuk analgetik/antipiretik: Kesimpulan Personal-drug untuk terapi antinyeri dan penurun panas Acetaminophen/Paracetamol PO Dewasa 500-100mg tiap 4-6 jam p. pediatric:50 mg/kg/d PO divided bid selama 10 hari. karena ketersedian penicillin V di Indonesia terbatas. Selanjutnya dipilih obat dari golongan beta-lactam: Kesimpulan: Nama Obat Penicillin V Penicillin G Ampicillin Amoxicillin Efficacy ++ +++ + + Safety ± ± ± availability ± ± ± ± Cost +++ +++ +++ +++ Kesimpulan Personal-drug untuk antibiotik Penicillin V 250mg qid atau 500mg bid selama 10 hari.r.r.Kesimpulan: Grup Beta-lactam Macrolide Oral cephalosporin Efficacy +++ ++ ++ Safety ± + ± availability ± ± ± Cost +++ ± ± Maka dari itu dipilihlah golongan beta-lactam.n maks 60mg/kgBB/hari  Treatment non farmakologis / advice untuk pasien: istirahat. makan yang cukup dan bergizi.n maks 4gr/hari Anak 10mg/kgBB tiap 4-6 jam p.

subcutaneous nodule. antara lain o komplikasi lokal: retropharyngeal abscess. otitis media. dan hipertensi. 139 .  Monitoring dan evaluasi: Jika dirasa perlu melakukan monitoring. Manifestasinya antara lain hematuria. Terapi profilaksis dengan benzathine penicilline pada ARF dapat mencegah timbulnya rheumatic heart diseases. Administrasi antibiotik yang tepat setelah munculnya manifestasi pharyngitis dapat mencegah timbulnya komplikasi ini. o acute rheumatoid fever  dapat terjadi 2-4 minggu setelah episode pharyngitis. peritonsillar abscess. o rheumatic heart diseases  merupakan manifestasi kronik dari ARF pada katup jantung. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang tepat pada saat episode pharyngitis. erythema marginatum. Manifestasi mayor dari ARF:carditis. sinusitis. periksa adanya kemungkinan komplikasi dari infeksi SGABH. mastoiditis. o poststreptococcal glomerulonephritis  biasanya terjadi 1-3 minggu setelah episode pharyngitis. cervical lymphadenitis. edema.memakai masker selama gejala berlangsung. chorea. minum obat sesuai dosis. polyarthritis.

Durasi : bervariasi tergantung dari letak infeksinya di saluran kemih sebelah mana. Anamnesis RPS a. ISK bagian atas : disertai mual. terdapat adanya pendarahan seperti epistaksis. rubella. Karakteristik : pada ISK tidak dijumpai adanya rash. Onset : akut b. dll. infeksi HSV. KU : demam mendadak. serta nyeri perut bagian bawah. Relieving : diminumin antipyretik turun kok demamnya. Lokasi : demamnya seluruh tubuh. 140 . Sedangkan pada meningitis dijumpai adanya kaku kuduk. dengue fever. Bisa hanya beberapa jam sampai berhari-hari.. RPD Adanya riwayat pemasangan kateter urin. Kalau pada dengue fever yang menjadi dengue hemorrhagic fever. prostatits. dan rasa sakit pada costovertebra. e. Kalau lokasi infeksinya.BACKACHE: INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) 1. dibagi secara anatomis jadinya gini. muntah.. abses intrarenal dan perinephric c. Aggrevating : kayaknya panas terus deh ya f. ISK bawah → urethritis (urethra). susah kencing. tanpa jaundice 2. leptospirosis. Di ISK juga tidak ditemui jaundice kayak di malaria atau hepatitis. gusi berdarah. sering kencing. kejang dan penurunan kesadaran sebagai tanda penyerta. cystitis (vesica urinaria) ISK atas → acute pyelonephritis. d. Keluhan lain : ISK bagian bawah : disertai rasa nyeri atau terbakar pada saat kencing. sedangkan pada penyakit lain seperti thypoid fever.varicella. Terus demamnya itu biasanya polanya terus-terusan gitu. Kondisi urin yang berbau juga manjadi tanda pada ISK. ga berpola kayak di thypoid yang tinggi pada malam hari. dll. g. susah menahan kencing.

terus yang banyak asam urat kayak gitu2. menopause. 141 . imunosupresi. Kalo pasiennya rekuren terus ISKnya coba tanyain ada ortunya yang kayak gitu juga ga. dll → waspadai kemungkinan meningitis. Ternyata ada faktor genetik juga loh. kehamilan. RPK Adanya riwayat sexual intercourse terutama bila pasangannya menderita uretritis gonokokal atau chlamydial.- Riwayat DM. Makanan-makanan yang sering bikin batu pada saluran kemih: sering kurang minum. suka cuci tangan ga? Cari kecurigaan DM (salah satu risk factor ISK) 3. Sehingga kita harus wasapada juga jangan kecolongan DHFnya! Adanya orang lain di keluarga atau daerah sekitar yang mengalami hal serupa? → adanya kemungkinan dengue fever Habis travelling ke lingkungan endemik malaria ga? Life style Cara membilas regio perineal setelah buang air → kebiasaan membilas dari belakang (anus) ke depan (introitus vagina) meningkatkan risiko ISK. - Adanya infeksi pendahulu seperti pharyngitis. Tanyakan kebersihan diri. Keadaan umum : lemes soalya kan kadang pakai mual muntah. dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat hidup nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue fever. obstruksi saluran kemih. tempat menyimpan air. batu pada saluran kemih. Pemeriksaan fisik a. terus pasien tampak kesakitan (kan nyeri tuh perut bawahnya). OMA. malformasi saluran kemih merupakan beberapa risk factors ISK. kondisi rumah tinggal seperti selokan. Ada riwayat penyakit ginjal ga? Lingkungan Keadaan sanitasi. Tanyakan sering makan di luar ga? Gimana kebersihannya? → untuk exclude thypoid dan hepatitis A.

Uretritis : biasanya sulit dibedakan dengan cystitis. Pyelonephritis akut : generalized muscle tenderness ketika angulus costovertebra dipalpasi dalam. Cystitis : tenderness pada daerah suprapubic. Vital sign : Tekanan darah. harus dilakukan pemeriksaan bakteri menggunakan 2 spesimen urin aliran tengah. Abdomen : Nah kalau DD udah menyempit ke arah-arah ISK gitu. Bila didapatkan bakteri dalam urin <10 5 dan pyuria (misalnya WBC >20/mm3) maka hasilnya tetap signifikan terdapat infeksi. mari kita periksa abdomen Inspeksi: lihat ada pembesaran organ ga. Bakteri Urin Pemeriksaan jumlah dan tipe bakteri dalam urin merupakan prosedur diagnosis yang penting. 4. biasanya didapatkan bakteri dalam jumlah besar (>105/ml) pada urin aliran tengah. Thorax f. dll Auskultasi: Perkusi: lihat ada pembesaran hepar ga (hepatitis kan suka ada tu) Palpasi: abdominal tenderness. d. Pada pasien ISK asimptomatis. luka. e. Pemeriksaan GCS dan tanda-tanda meningeal seperti Kernig’s sign. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal.. karena daerah suprapubic biasanya juga ada tenderness.b. dan didapatkan >105/ml dari masing-masing spesimen. Adanya bakteri pada 142 . Suhu tubuh tinggi. Untuk yang iSK atas suka nyeri di angulus costovertebra Ektremitas dan neuro Pemeriksaan Rumple Leed dilakukan bila ada kecurigaan dengue fever. Pemeriksaan Penunjang a. Leher : pembesaran limfonodi. Brudzinski’s sign perlu dilakukan bila ada kecurigaan meningitis. c. Pada pasien ISK simptomatis. Kepala dan leher Mata : pastikan ga ada sklera ikterik Mulut : pastikan bukan thypoid yang ada lidah kotor itu.

kultur darah bila keadaan sitemik buruk. Sembuhnya gejala klinis tidak selalu mengindikasikan hilangnya koloni bakteri. Faktor predisposisi infeksi seperti obstruksi dan calculi harus diidentifikasi dan dikoreksi. Wanita atau pria dengan infeksi akut disertai tanda dan gejala adanya obstruksi atau calculi harus segera diberikan evaluasi urologik. c. urea dan elektrolit. Setiap course treatmen harus diklasifikasikan apakah gagal atau sembuh.o (selama 3 hari untuk wanita dan 7 hari untuk pria).o selama 4 minggu. riwayat infeksi saat anak0anak. apakah strain bakterinya sama atau berbeda dengan sebelumnya. Memperbanyak intake cairan. yang tidak disirkumsisi.5gr/8 jam i. Evaluasi urologik Penggunaan cystoscopy dan IV pyelography hanya digunakan dalam kasus-kasus tertentu seperti wanita dengan infeksi berulang. g. Pemeriksaan bakteri secara mikroskopis dapat dilakukan menggunakan pengecatan Gram. yang paling umum digunakan adalah USG. sering urinasi (jangan menahan urin).aspirasi suprapubic atau didapatkan >102 bakteri/ml urin dari kateter mengindikasikan adanya bakteri. Pada pasien dengan infeksi berulang. h. 5. Kultur urin dan tes sensitivitas antimkrobial harus dilakukan kecuali pada wanita dengan cystitis akut akomplikata. f. Darah → darah rutin. Alternatif: cefalexin 1gr/12 jam. calculi. Terapi dan edukasi a.v lalu secara oral selama 7 hari. 143 . e. atau yang mengidap AIDS. d. riwayat hospitalisasi dalam waktu dekat. d. dan pyelonephritis berulang.o atau Trimethoprim 100mg/12 jam p. Pyelonephritis akut : cefuroxime 1. c. Prostatitis: ciprofloxacin 500mg/12 jam p. Urinalisis → terutama nitrit atau leukosit leukosit. Infeksi berulang juga harus dikkasifikasikan. Rekurensi >2 minggu setelah terapi dihentikan biasanya menunjukkan adanya reinfeksi oleh strain baru atau strain sebelumnya.penggunaan instrumen. e. Farmakoterapi Cystitis: Trimethoprim-Sulfamethoxazole 160/800mg/12 jam p. b. Pengecualian untuk evaluasi urologik ini adalah pria muda dengan cystitis yang disebabkan aktivitas seksual. adanya strain yang resisten terhadap antibiotik harus dicurigai. atau hematuria yang tidak sakit. b.

KU : low back pain 7. belakang paha.o selama 7 hari. HNP 6. Anamnesis RPS h. Sering juga disertai sciatica (nyerinya menjalar ke pantat. Jadi menurut European Guideline untuk MXx LBP ada pembagian onset LBP: Akut Sub akut Kronis Rekuren <6 minggu 6-12 minggu >12 minggu new episode setelah “symptomp-free periode” dalam waktu 6 bulan. 144 . i. Durasi : bisa macem2. tapiii bukan eksaserbasi yang kronis.. kalo udah degenerasi discus intervertebralisnya. Lokasi : di punggung bagian bawah tentu saja. susah pakai celana sendiri).ischiadicus) j. bisa kejadian deh HNP). Pasien juga biasanya mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak bawah (misal jadi susah jalan. terus pas nyabut telonya kan pake mengejan tu. Onset : akut progresif.o atau doxycycline 100mg dua kali sehari p.- Urethritis akut: pada infeksi chlamydial diberikan azithromycin 1gr single dose p. Tanyakan juga ya habis ngapain pasiennya ko bisa LBP gini (misal petani panen telo. sampai ke betis dan ankle → sebabnya: iritasi n. Karakteristik : nyerinya kan progresif kalau ga diobati.tapi biasanya berminggu2 yaa k. Nah kelemahan tersebut tergantung dari letak lesinya di setinggi vertebra berapa.

Syarat dari LBP non spesifik ini adalah tidak ada red flags di bawah ini! Nah.paru →waspada keganasan dan metastasis! Cerita sejenak. inflamasi.. cauda equina syndrome. bersin. Sebenernya nih LBP itu kebanyakan NON SPESIFIK (95%) alias BUKAN disebabin karena kondisi patologis (seperti infeksi. osteoporosis. n. mengejan (makannya si pasien suka “takut” kalau BAB). Keluhan lain : Bisa jadi ada gangguan pada BAK dan BAB nya. tumor. Tanya apakah ada penurunan BB? Riwayat keganasan di tempat lain esp.. ketawa. dll) gitchu. makanya kalau ada RED FLAGS di bawah ini. stenosis spinalis. ankylosing spondylitis. Aggrevating : tambah sakit kalau ada peningkatan tekanan intraabdomen → batuk. Relieving : minum analgesik seperti NSAID. harus dicurigai adanya kondisi patologis pada low back. Berikut ini adalah red flags tersebut: Umur <20 tahun atau >50 tahun Onset akut pada org tua Nyeri konstan atau progresif Nyeri malem2 Tambah nyeri saat supine Kaku pagi hari 145 .. m. Dengan kata lain kita harus periksa dengan teliti sebab si LBP ini apa.20 l..

Inflamasi: RA. abdomen)? Dulu pernah kayak gini ga? Riwayat trauma di situ? Diobati apa? Pemakaian obat2an imunosupresi. osteoarthritis. Trauma : fraktur yang bikin kompresi di lumbal. ankylosing spondylitis. Metabolik: osteoporosis 6. strain-sprain otot or ligamen.- Demam. soalnya paparan tekanan di backpain bisa bikin LBP (kayak kisah si petani mbedhol telo itu. sama kisah tentara itu). Degeneratif: spondilosis. HIV? RPK Ada yang kayak gini ga? Lingkungan Pekerjaan apa?? Penting ditanyakan. 2. 4. keringat malam. BB turun Riwayat malignansi Nyeri dada belakang Bilateral or alternating symptomp Gangguan neurologis Gangguan BAB BAK Claudicatio kaki (spinal stenosis) Sedang infeksi atau riwayat infeksi Imunosupresi Massa di abdomen Terus sebab-sebab LBP tu ada macem-macem ya: 1. Life style Pola makan? Apakah kalsium cukup? (curiga osteoporosis) 146 . psikosomatis RPD riwayat keganasan di tempat tersebut? Riwayat keganasan di tempat lain (paru. Tumor 5. 3. HNP.

Thorax : screening ada keganasan ga. Chrisye). Sehari-hari kalau kerja posenya gimana? 8. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. sering metas ke vertebra.. tb ga? l. susah jalan. Tes Patrick: ini untuk cari tahu apakah nyerinya disebabin karenya ada kelainan di sendi panggul. terus pasien disuruh ngejan → ntar timbul sciatica (berarti kemungkinan besar ada stenosis spinalis yang njepit sarafnya tuh). Tes Lasegue: pasien bobokan. Cara: maleolus externa pasien ditempelin ke lutut.jugularis interna pasien (kanan kiri). h. Keadaan umum : kesakitan. Kepala dan leher Mulut : adakah oral ulcer? (curiga HIV) Abdomen : screening penting apakah ada pembesaran organ! k. b. Vital sign : Tekanan darah.. d. achilles Reflex patologis: babinski Tes spesifik LBP : a. tajam-tumpul. Lihat gait exam! Postur tubuh gimana. Tes kontra Patric: fungsi sam dengan di atas. propriosepsi. Palpasi: ada yg menonjol ga di vertebra? Nyeri ga? Apakah ada tanda-tanda inflamasi? Pemeriksaan neuromotor: power Neurosensori : suhu. lalu angkat → kalo pasien kesakitan berarti ada sciatica. c. Pemeriksaan fisik g. Cara: lipat tungkai ke arah dalam (endorotasi) pada sendi panggul sambil adduksikan. taktil.kayak Alm. 147 . Tes valsava: pasien disuruh nahan napas terus mengejan → positif kalau ada nyeri radikular. Neuro : Inspeksi : coba lihat di vertebranya gimana (deformitas ga. Reflex fisiologis: patella. Tapi bisa naik HR & RR nya kalau dia cemas.- Penurunan BB? (curiga keganasan or metas) Merokok? (curiga kanker paru. suhu. i. e. vibrasi. dll). Kalo pada HNP hasilnya negatif (-). bekas trauma. Tes Nafzinger: kita teken v. terus kita pegang ankle pasien sambil megang lututnya juga. j.

oblik) Elektroneuromiografi (ENMG) Mielografi. L. jalan. kerja. Bedrest post oprasi: 2-3 minggu. Vitamin B. berdiri.9. 10. Diskografi. 148 . Fisioterapi. Terapi dan edukasi Rujuk : harus bedah (ex laminectomy). Pemeriksaan Penunjang Foto rontgen (AP. metilprednisolon Pakai korset dulu Ajari posisi yang bener untuk duduk.

kepala seperti diikat c. nyeri langsung hebat tp durasi singkat (15 -180 menit) b. Lakrimasi unilateral g. Nyeri retroorbital h. Ptosis e. migraine  unilateral.HEADACHE Headache Primer Definisi: sakit kepala yg terjadi bukan karena causa lainnya. Nyeri berdenyut. durasi bervariasi 30 menit. d. aggravating berupa aktivitas yg melibatkan pergerakan otot leher/stress 2. Disertai injeksi konjungtiva d. TTH : a. cluster  alcohol Relieving : istirahat 149 . Migraine: a. mual. Kebanyakan pada wanita. fonofobia c. tidak pernah mengalami nyeri kepala hilang selama sakit b. Kebanyakan pada laki2. Rhinorrhea f. muntah KU : nyeri kepala Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : sesuai dengan durasi : TTH  tengkuk/leher. Cluster: a. cluster  retroorbital : sesuai onset Karakteristik : liat atas Agravating : migraine  noise/light. durasi 4-72 jam b.7 hari. Terdiri atas 3 macam: 1. Nyeri kepala tajam seperti ditusuk c. Disertai dengan aura: fotofobia. Aggravating: alcohol 3.

migraine. TTH  bed rest f. sumatriptan (5-H1 antagonis) d.Treatment : obat sakit kepala    RPD : dulu pernah merasa sakit yang sama RPK : yang punya riwayat keluarga dengan keluhan yang sama  migraine Lifestyle : a. diazepam. Cluster  paracetamol Edukasi e. Diet : c. Parafrase ke pasien Sebutkan DD : TTH. nyeri kepala sekunder Pemeriksaan fisik : Kesan umum : tampak nyeri kepala Vital sign : d.b. TTH  paracetamol. c.n Pemeriksaan fisik : Px neurologis: Pemeriksaan penunjang CT scan: utk exclude nyeri kepala sekunder Terapi b. Olahraga: tergantung pasien b. Cluster  hindari alkohol HEADACHE SEKUNDER Hipertensi KU : sakit kepala. deficit neurologis. Pola makan: Review system : ada trauma/tidak. cluster. Migraine  hindari faktor aggravating g. amitriptilin. fotofobia dan fonofobia (migraine). ada kelemahan anggota gerak/tidak  negative pada nyeri kepala primer. kadang ada nyeri tengkuk Anamnesis :  RPS 150 . Migraine  cavergot (vasokonstriktor).

MI. Pekerjaan? Stresful?  Review system : keluhan lain : a. Penurunan kesadaran → stroke hemoragik Parafrase ke pasien Sebutkan DD : 151 . TIA o Ginjal: CRF o PAD c. Kaku kuduk dan demam → meningitis f. penyakit ginjal dan hepar. telinga berdengung. sulit tidur. bisa localized di tengkuk : bervariasi.Onset Lokasi Durasi : sejak kapan? → biasanya HT udah sering gitu : di mana sakitnya? → bisa generalized. Demam → infeksi (waspada infeksi intrakranial) e. HF o Otak: stroke. Pada hipertensi kadang disertai epistaksis. penyakit jantung. stroke. b. Agravating : waktu tekanan darah naik lebih tinggi dari biasanya. pas siang hari. berkunang-kunang. tanyakan sudah diobati apa  RPD : riwayat HT (tanyakan terkontrol atau tidak? Obatnya apa?). parah sering terjadi saat pagi hari tapi terus membaik seiring berjalannya hari itu Karakteristik : rasa terikat kayak diikat pakai headband (kayak TTH) Apakah didahului “tanda2” sebelum sakit kepala (maksudnya aura)? → migrain. stroke. angina. Mual muntah → mungkin ada peningkatan ICP (suspek pendarahan atau tumor) d. DM Lifestyle : a. picuan faktor psikologis (stress. Diet : garam-garaman dan lemak tinggi ga? Alkohol > 1 ons/hari? c. Merokok ga? d. Olahraga:b. DM. Riwayat trauma sebelum ini (mungkin ada pendarahan intrakranial)?   RPK : tanyakan orang tua apakah ada yang HT. depresi) Relieving: stressor hilang. penyakit jantung. cemas. Komplikasi lanjut dari hipertensi o Mata: penurunan visus karena retinopathy hypertension o Jantung: LVH.

pembesaran ren.renalis. sleep apnea. Kalau sekunder (kausa: penyakit ginjal. hypercorticol. penyakit tiroid. bising Perkusi  kardiomegali Auskultasi Abdomen : ascites (pada SN). 2 lengan Pemeriksaan fisik : Thorax : Inspeksi Palpasi  jika kurus terlihat hepatomegali  ictus cordis (bergeser ke atas pada LVH)  S3 dan S4 terdengar. HR. 2 posisi (duduk dan bobo). hyperaldosteron. o TTH o Tumor otak o Migrain o Trauma o Infeksi o Stress psikosomatis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak kesakitan.o HT primer (95%) atau sekunder (5%). pheocromocytoma. vasa kaku. penyakit jantung) perlu pemeriksaan lebih lanjut. RR. suhu biasanya normal Notes: pemeriksaan BP harus 2x (dengan jarak 5 menit). pegang kepala atau tengkuk Vital sign : BP naik. pembesaran tiroid Extermitas : edema 152 . obat2an. periksa segmen posterior dengan ophtalmoscope (retinopathy hypertension: pendarahan bentuk flame. stenosis a.jugularis interna. abnormal aorta pulsation (palpasi epigastik). bruits pada auskultasi Kepala : periksa visus bila ada penurunan tajam penglihatan. DM. exudat keras) Leher : pembesaran v.

Pemeriksaan penunjang h. infark CBC: glukosa. serum urea. lipid. Urinalisis: apakah ada DM. enzim jantung. CT kalau ada penurunan kesadaran suspek stroke Manajemen 153 . renal disease? l. j. kreatinin. Rontgen dada: kardiomegali i. EKG: LVH. elektrolit k.

keluhan lain: 154 . Aggrevating: waktu f. tiduran RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? Infeksi? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: progresif Life style: penurunan BB Review system. Karakteristik: kadang disertai muntah (karena ICP meningkat) e. Location: tergantung lokasi tumor c. KU : sakit kepala 2. Onset: kronis bisa bertahun-tahun b.Edukasi Tumor otak 1. Durasi: sakit kepala semakin memberat seiring berjalannya waktu d. Relieving: dikasih analgesik. Anamnesis : RPS a.

BB/TB c. HR turun. menggigil. 3. tajam tumpul. hidrosefalus akut. Analisa Gas Darah 5. bisa juga dateng pas udah LOC b. Mual muntah. Elektrolit 8. Darah rutin 6. ataxia. Gangguan BAB dan BAK jangan lupa ditanyakan. Bleeding time 10. 155 . Pemeriksaan fisik a. motion. posture. vibrasi. suhu normal d. suhu. kejang. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Kontrol nyeri (analgesik) agitasi (propofol). Protrombin time (PT) 4. Kondisi umum: kesakitan. sama paresis ekstremitas. Imaging → CT scan untuk exclude pendarahan. trauma. Vital sign : BP naik. gang memori dll tergantung letak lesi). Troponin 7. RR (iregular periksa pola napas untuk tahu letak lesi) → cushing’s triad. Fungsi hepar 9. Partial thromboplastin time (PTT) 5.cranialis Neuromotor: stabilitas. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Tinggikan kepala 30-45 derajat Maintain osmolaritas serum Avoid hipotensi. Pemeriksaan penunjang 1. abses 2. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 4.Terus ada juga gangguan nervus cranialis (diplopia. demam. Monitor ICP 3. power Neurosensori: taktil.

Karakteristik: sakit kepala terberat. Durasi: sakit bgt terus d. suhu normal (untuk exclude meningitis) c. Kondisi umum: sangat sangat super kesakitan. disertai kaku kuduk e. Pemeriksaan fisik a. Onset: mendadak. keluhan lain: Biasanya terus diikuti penurunan kesadaran kalau ICP meningkat terus. karena sakit banget biasanya langsung ke dokter atau RS b. fotofobia. lack of exercise.. diet tinggi lemak dan garam. Aggrevating: buruk terus-terusan f. HR. KU : sakit kepala banget. 3. RR juga. Kadang pakai kejang juga. bisa juga dateng pas udah LOC b. muntah. obese. kalau parah: penurunan kesadaran 2.. Location: generalized c. Vital sign : BP biasanya tinggi. sama paresis ekstremitas.- Maintain normocarbia (PaCO2 35-40 mmHg) Maintain euvolemia (normal saline atau albumin) Stroke hemoragik yang subarachnoid hemorrhage 1. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N.cranialis 156 . dan meningeal symptom sehingga harus bedakan dengan meningitis infeksi (ada demam pada yg infeksi) yaa. Terus ada juga gangguan nervus cranialis. Ada kaku kuduk. Relieving: kayaknya ga ada RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: dadakan Life style: rokok. Anamnesis : RPS a. stres Review system.

fotofobia e. Imaging → CT scan 2. KU : sakit kepala. posture. Protrombin time (PT) 3. Fungsi hepar 8. suhu. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Jaga BP jangan tinggi2. Analisa Gas Darah 5. 4. Elektrolit 7. tajam tumpul.tapi kebanyakan sih akut kalo meningitis d. Onset: akut <48 jam (biasanya bakteri). Darah rutin 5. kaku kuduk. kronis.. sub akut (viral. Relieving: tiduran RPD 157 . Anamnesis : RPS a. sub akut. motion. Karakteristik: sakit kepala. disertai demam 2. Aggrevating: f. 30 mg kalau SBP 120-140. parasit. power Neurosensori: taktil.- Neuromotor: stabilitas. pertahankan <120 Meningitis 1. Location: generalized c. vibrasi.. dll). kronis (fungal. non infeksius) b. Bleeding time 9. Partial thromboplastin time (PTT) 4.. mual muntah. Durasi: akut. Pemeriksaan penunjang 1. nimodipine mg 60 setiap 4 jam kalau SBP>140. Troponin 6. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis Pemeriksaan spesifik: Kernig dan Brudzinski + mengindikasikan meningismus dari SAH ini.

Kepala: trauma Eyes: konjunctiva. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 158 . posture. somnolent. keluhan lain: Abnormal skin color Mual muntah Kejang Penurunan kesadaran Delirium. hemiparesthesia Ataxia Dizziness. tajam tumpul. vertigo 3. suhu. suhu meningkat h. vibrasi. Antikoagulan)? Infeksi sebelum ini? Riwayat opnam? Riwayat tindakan medis (sepsis)? Riwayat imunisasi? RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Riwayat perjalanan: progresif Life style: travelling? Review system.Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet. HR naik/N. penurunan kesadaran bisa terjadi. motion. Kondisi umum: kesakitan. RR naik/N. Vital sign : BP turun/N. power Neurosensori: taktil.cranialis Neuromotor: stabilitas. f. sclera. coma Hallucination Cranial nerve palsy Hemiplegia. BB/TB g. lemah. Pemeriksaan fisik e. papiledema Leher: limfadenopati THT: infeksi awal i.

urinalisis e.- Spesifik: kernig. pilih broad spectrum Setelah hasil kultur ada. Pemeriksaan penunjang a. Urea dan elektrolit plasma b. protein. wbc. kultur bakteri 5. Glukosa darah c. sesegera mungkin (30 menit awal). Terapi       Antibiotika intravena. brudzinski 1-4 4. berikan AB sesuai bakteri yang ditemukan Analgetika Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang Bila gelisah: berikan sedatif Bila ada udem otak: beri steroid 159 . Koagulasi d. CSF: glukosa.

bersifat intermiten dan ada fase interkritikal RA : min 4 dari 7 : kaku pagi hari > 1 jam. perlu juga ditanyain karena f. soalnya kan dia autoimun. arthritis pada 3 daerah dan simetris. DIP D : GA : 1 tahun atau lebih tergantung penanganan RA : kronis bergantung penanganan OA :progresif. perubahan radiologis OA :nyeri pada saat aktivitas. dehidrasi RA : aktivitas OA : aktivitas berat. suhu dingin (pagi hari). istirahat. kronik (lama) C : GA : serangan sangat sering pada malam hari disertai pembentukan tofi. diurut-urut T : GA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi OA :OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RPD : GA : riwayat asam urat tinggi. PIP. trauma R : GA : obat antiinflamasi RA : obat antiinflamasi OA :konsumsi OAI atau obat antinyeri. pergelangan kaki.NYERI SENDI Dd : GA. OA Ax : KU : Nyeri pada persendian RPS : O : GA : dewasa 30-50 th RA : dewasa 30-50 th OA : usia tua terutama di atas 50 tahun L : GA : metatarsofalang I (podagra). kaku pada pagi hari < 30’. tapi kalo GA sama OA. gangguan ginjal RA :riwayat penyakit autoimun OA : riwayat trauma (+/-) RPK : pada RA riwayat penyakit keluarga sangat penting. arthritis di sendi tangan. RF (+). degenerative. DM. pangkal ibu jari kaki bagian dalam. RA. HT. alcohol. makanan tinggi purin. nodul rheumatoid (+). obesitas. trauma.r nya bisa genetic juga 160 . metatarsofalang / metacarpofalang  simetris OA :sendi penyangga tubuh terutama lutut dan panggul. perdarahan. tofi juga bisa muncul di telinga RA : pergelangan tangan. keterbatasan gerak dan krepitasi A : GA : penggunaan diuretic.

bengkak terutama pada kapsul sendi. pembengkakan sendi. sklerpsis subkondral Lab : Darah Rutin :↑ LED. poliartikuler RA : sendi teraba hangat dan bengkak Kepala dan leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Px tambahan : X-ray : GA : erosi diluar kapsul sendi dengan joint space masih utuh RA : penyempitan ruang sendi disertai erosi dan pembengkakan jar. pada GA ditemukan tofi dan juga dapat terjadi kerusakan ginjal  gangguan ekskresi asam urat Px : Keadaan umum : pasien secara umum tampak sehat (atau demam pada RA dan gout yang aktif). bisa atau tanpa rasa hangat pada sendi GA : tofi (+).lunak OA :penyempitan celah sendi. hangat. VS : T ↑ pada RA Lokomotor exam : (untuk pemeriksaannya lihat bagian lokomotor exam) Temuan : OA : krepitasi. kaya kalo misalnya buruh pabrik gitu yang melakukan aktivitas fisik berulang-ulang  Faktor risiko OA Lifestyle : GA : makanan tinggi purin RA : OA :sedentary sehingga mengakibatkan obesitas. osteofit.Lingkungan : pekerjaan pasien perlu ditanya. kurangnya olah raga Review system : RA biasanya diikuti demam. kalo OA dan GA (). RF < 1: 40 pada OA atau > 1: 40 pada RA Kadar asam urat serum > 7 mg% pada wanita atau > 8 mg% pada pria Kadar asam urat urin 24 jam sebanyak 800 mg/hari. ekstrimitas hangat. eritem. namun terjadi gangguan berjalan akibat deformitas dan nyeri pada sendinya. trombosit ↑ Leukosist sendi : pada OA peningkatan Leukosit sendi di bawah 2000/mm3 sedangkan pada RA > 2000/mm3. leukositosis. bird like face dll. pada RA : anemia. atau 1100mg pd diet tinggi purin Mikroskopik tofi  tampak ada Kristal asam urat 161 .

berat OA :dukungan psikososial.Tx : GA : Serangan akut : (selama 2 minggu.d tab I R/ tab Colchicines 0.6 mg no VI S 1.d.d.6 mg no IV S.d tab I DMARD  klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari. koreksi postur.d.d tab II (3 hari) R/ tab colchicines 0. tetap d gerakkan namun kurangi akt. jadi d itter 2x) R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV atau yang 25 mg 3x1 hari S 2.d tab I …………………………….2 mg/hari R/ tab Allopurinol 300 mg no VII s. Ulang asampai asam urat < 6mg/dl Diet rendah purin RA : R/tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d.d tab I Edukasi : GA :kurangi makanan tinggi asam urat dan diuretic kuat (thiazide dan furosemid) RA : fisioterapi. sulfalazine 500 mg/hari OA : R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2. turunkan BB 162 .d tab I Intercritical : Kolkisin 0.6-1.d tab I ( 4 hari) R/ Tab prednisone 20 mg no VII S 1.d.1. kurangi aktivitas sendi.d.1.d.

1 mmol/L) or Fasting plasma glucose (FPG)/ gula darah puasa (tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam) sebesar >126 mg/dl (7. Penderitanya jadi insulin dependent. c. b.WEIGHT LOSS: DIABETES MELITUS Preface DM merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya atau menurunnya efek dari insulin endogen. DM gestational: teriagnosis pertama kali saat hamil.1 mmol/L) Kalau kriteria menurut ADA. Nah kalo orang DM tipe 1. weight loss. Anamnesis KU DM tipe 1 Salah satu dari : Polydipsia. Jadi di tubuh kita itu ada si insulin (berfungsi dalam up take glukosa ke dalam sel hepar. dia jumlahnya pas tapi karatan key-lock nya sehingga ga bisa kebuka deh pintunya (glukosa ga bisa di-up take gityuu). Kalau pada orang sehat. Sebab lain: obat-obatan (kortikosteroid jangka panjang). Kalau DM tipe 2. DM tipe 2: disebabin karena ada resistensi insulin ataupun adanya disfungsi dari si sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin.5% Di sini yang dibahas yang DM tipe 1 dan 2 aja ya. infeksi. DM banyak macamnya: a. dia kekurangan key (si insulinnya). d. Tapi biasanya datang pas udah ada komplikasi 163 . jumlah keduanya pas sama banyak. Disebabkan karena growth hormone kluar banyak banget padahal dia kerjanya berlawanan dengan insulin. dan lemak) dan reseptor insulin yang kayak pasangan key-lock. Kriteria diagnosis dari DM (WHO) adalah : Munculnya simotomp-simptomp hiperglikemia (polyuria. sebelum hamil dia normal aja. letargik) DAN random plasma glucose (gula darah sewaktu) >200 mg/dl (11. 2010 : bisa salah satu kriteria di atas DAN HbA1c > 6. visual blurring. p=pancreatic disease dll.o mmol/L) or Two-hour plasma glucose (2hPG) >200 mg/dl (11. otot. polyuria. polydypsia. BB turun. ketoasidosis DM tipe 2 Sering asimptomatis. DM tipe 1: disebabin kekurangan insulin gara-gara ada destruksi sel-sel beta pankreas. genital thrush.

saraf tepi. hamil. infark. infeksi kronis baik 164 -Tadi udah banyak disebutin di KU. nefropati) atau makrovaskular (CAD. bisa di mata. PAD. hipertensi. obat TB. otak)? Ada gangguan di situ ga (gimana penglihatannya. saraf. Infeksi (pneumonia. obat (koakain). katarak. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Relieving Keluhan lain -Tadi udah banyak disebutin di KU. hamil. metabolik synd. glaukoma -Tanyakan komplikasi apa aja yang pernah muncul (dari mata. Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. dislipidemia). terus seringnya pada anak-anak. Penampakannya tuh juga kurus-kurus. uti. ginjal. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P -GIT: diare. Biasanya obese. gastroparesis. gastroparesis. jantung. tanyakan riwayat tumbuh kembangnya! KMS nya gimana? Imunisasi gimana? Riwayat persalinan gmn? → eksklusi gangguan tumbuh kembang. glaukoma RPD -Dulu pernah kayak gini? Udah pernah dikasih apa? -Karena pasien mostly anak2. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Aggrevating Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. GE. .GIT: diare. vasa. gangguan genitourinari. terus ada metabolik syndrome (central obese. vasa. tp biasanya yang BB turun) mikrovaskular (retinopati. gangguan genitourinari. neuropati. obat (koakain).Sisanya jadi gejala penyerta hehe (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. sepsis). katarak. Infeksi (pneumonia. uti. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P . GE. cvd. hiperglikemi. otak Durasi Kronis progresif Tergantung keparahan (lihat tabel pemeriksaan tambahan yaa) Karakteristik Biasanya genetis gitu.CVD) (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. sisanya jadi gejala penyerta hehe) Onset Lokasi Usia muda <30 tahun Usia lebih tua >30 tahun Macem-macem. infeksi. infeksi. sepsis). dll)? -Tanyakan RF dari resistensi insulin: obese. luka ga sembuh2. infark. Itu merupakan beberapa RF terjadinya resistensi insulin yang menimbulkan DM tipe 2. jantung. dewasa jarang karena biasanya udah keburu mati duluan sebelum jadi dewasa.

lemah BP bisa tinggi. RR usually in normal limit. massa. mukosa kering. sindrom nefrotik). RPK Life style Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan. tachypnea pola Kussmaul. Apakah ada : Mata cowong. tenderness. Obese. werner’s. shortness breath. Abdomen Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. mukosa kering. tenderness. polikistik ovari.saat intrauteri ataupun postnatal. Lihat apakah ada komplikasi pada jantung? Cardiovascular disease seperti CHF. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. Mual muntah. gagal ginjal. kehamilan. letargik) BB/TB Kepala Wasting Apakah ada : Mata cowong. ASI. Olahraga? Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan (banyak kolesterol. shortness breath. luka. cushing’s. (exclude dehidrasi. luka. hipotensi. tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. walau bisa aja sih ga obese. hipotensi. massa. infeksi. Thorax Kelainan di jantung dan paru dilihat. Tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. kistik fibrosis. acromegaly. letargik) DM tipe 2 Obese. edema periorbital. infeksi. (exclude dehidrasi. Mual muntah. Tanda DKA: kussmaul. tachypnea pola Kussmaul. tinggi. Olahraga? Stress? Pemeriksaan KU Vital sign DM tipe 1 Lemah. Leher Lnn ada infeksi ga? Bisa saja si anaknya pake infeksi segala. edema periorbital. lnn. HR variatif tergantung ada komplikasi makrovaskular ga. Biasanya normal. ASI. 165 Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. lnn. Tanda DKA: kussmaul. BBLR. . kurus Biasanya normal. dll. sindrom nefrotik).

6 mmol/L (100 mg/dl) 2-h-PG <7. a. a. a. Bandingkan sama atau gak.1 mmol/L (140-199 mg/dL) >7 mmol/L (126 mg/dl) >11.8-11.8mmol/L 5. ulkus. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor). Olahraga harus yang continous (berkelanjutan.dosalis pedis.tibialis.1 mmol/L hyperglycemia DM Insulin untuk kontrol Insulin untuk survive 166 (200 mg/dL) . Pemeriksaan Lab. Inspeksi: ada luka. a.dosalis pedis. bukan minggu ini rajin.tibialis. joging. Femoralis. progressive (porsi latian bertambah). dan cara pengobatan. pengobatan yang harus dilakukan. Modifikasi EXERCISE Lakukan olahraga minimal 5x/seminggu @min. terus 2 minggu males). Harus jelaskan kepada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya. renang). memodifikasi gaya hidup. a. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor) Peripheral artery disease: raba pulsasi a.9 mmol/L (100-125 mg/dl) 7. a.30 menit. komplikasi yang mungkin terjadi. Bandingkan sama atau gak.Ekstremitas Inspeksi: ada luka. Femoralis. rhytmic (kontraksi-relaksasi bergantian. Peripheral artery disease: raba pulsasi a. endurance (melatih Tipe diabetes Normal glucose tolerance Pre-diabetes IFG atau IGT Ga butuh insulin Tipe 1 Tipe 2 Other Gestational Time (years) FPG <5.brachialis. terus lebih cepat.brachialis. terus cepet). ex. interval (pelaan.6-6. ulkus. Panah 1: progresif Panah 2: bisa reversible ke stage sebelumnya FPG: fasting plasma glucose (minimal 8 jam) 2hPG: tes toleransi glukosa Treatmen dan edukasi Treatmen dan edukasi Tujuan: menjaga kadar glukosa mendekati normal serta mencegah hipoglikemi.

insulin detemir. Na <6 gr/dl tapi kalau hipertensi <3 gr/dl. Tapi yang banyak dipakai tu si nsulin subkutan (100 U/mL).ketahanan). Ideal body weight: NUTRITION and DIET Men (<160 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs ( >160 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Women (<150 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs (>150 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Normoweight: 90-110% (Ideal BW) or BMI 18. (2) Soluble insulin: injeksi 15-30 menit sebelum makan. gula maks. Jumlah makanan: jangan banyak-banyak porsinya sekali makan.120% (Ideal BW) or BMI 25-30  20 calories/Kg BW/day Obese: >120 % (ideal BW) or BMI >30 20 - OBAT a. 3. (3) Intermediate acting (4) Long-acting (5) Long-acting analogue (6) Pre-mixed insulin Rejimen insulin subkutan: (1) Rejimen BD : 2x1 premixed insulin untuk DM tipe 2 atau tipe 1 dengan life style reguler. tapi dia bisa progresi jadi butuh obat-obatan dulu. DM TIPE 1 butuh insulin terus tentunya. b. KH<50-60%. nah kalau semakin buruk dia bisa sampe butuh insulin. DM TIPE 2 pertama-tama kita modifikasi life style dulu.5  40 calories/Kg BW/day Overweight: 110 . Modifikasi DIET 1.5 – 25  30 calories/KgBW/day Underweight: <90% (Ideal BW) or BMI < 18. Ada 6 tipe: (1) Ultra-fast acting: injeksi saat mau makan atau tepat setelah makan.25 gr/hari. Jenis makanan: fat <30%. (lihat di daftar obat). protein 15-20%. Max HR: JANGAN LEBIH DARI 80%(220-usia) supaya tidak heart attack. 167 . Jadwal makan: 6x sehari tapi porsi dikiitt2. insulin graline. diinjeksikan secara subkutan. 2. Macam-macam insulin Insulin subkutan.

Tab I Kalau masih ga mempan lagi. Setelah 8 minggu periksa HbA1c. Untuk DM tipe 2. Di awal-awal haru rajin bikin diary tentang kadar gulanya (finger stick).(2) Rejimen QDS : sebelum makan (ultra-fast atau solubel )DAN sebelum tidur (intermediate acting atau long-acting analogue). 168 . Tab I R/ Tab.5% pada yang ada penyakit arteri ex. Metformin mg 500 No.1.5 No. Normalnya <7. Tab I Metformin digunakan untuk yang BMI >25 Kalau BMI <25 R/ Tab. VII S. Monitoring : 1. DM tipe 2 dimulai dengan R/ Tab.2.d.d. (3) 1x1 sebelum tidur dengan insulin intermediet atau long-acting.5% atau <6. Glibenclamide mg 2.d. post AMI.d. Obat-obatnya Umumnya.d. Metformin mg 500 No. XIV S.2. Untuk DM tipe 2.d. harus kasih insulin. XIV S. 2.

Nyeri tersebut akan hilang setelah mbak Gastricia makan. bernama mbak Gastricia.Dari anamnesis diketahui bahwa mbak Tina adalah seorang perokok dan juga mengonsumsi alkohol. C-13 Urea Breath Test. berpusat di abdomen bagian atas. serta feses bewarna hitam. bloating. Dokter Fau kemudian merencanakan pemeriksaan endoscopy. meskipun dalam kuantitas dan frekuensi yang jarang. dan stool antigenic test. ulkus peptikum. Akhir-akhir ini keluhan tersebut bahkan disertai muntah darah. 2. Functional Dyspepsia: dyspepsia yang tidak ditemukan penyakit yang mendasarinya sesudah dilakukan pemeriksaan. pylori Definisi Dyspepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang berulang atau kronis. dsb. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya epigastric tenderness. nausea dan/atau rasa penuh pada abdomen atas. seperti kolelitiasis. berusia 25 tahun datang ke Anda dengan keluhan nyeri perut dan sebah di perut bagian atas yang telah berlangsung 4 minggu. Dyspepsia terbagi menjadi 2 jenis: 1. Setelah melihat hasil pemeriksaan. Dokter Fau memutuskan untuk melakukan eradikasi agen penyebab penyakit dengan tiga macam obat sekaligus. Diagnosis: Dyspepsia organik berupa ulkus duodenal akibat infeksi agen H. Fisiologi dan Patofisiologi: Fisiologi sekresi asam lambung oleh sel parietal: 169 . pankreatitis. Rasa tidak nyaman didefinisikan sebagai perasaan negatif yang bersifat subjektif. dan dapat dimasukkan sebagai variasi gejala termasuk early satiety.INDIGESTION Dyspepsia/Ulkus Peptikum Skenario Seorang wanita. yang bukan nyeri. Riwayat penggunaan NSAID’s disangkal. Organic Dyspepsia: dyspepsia yang didasari suatu penyakit yang diperkirakan menjadi sebab gejala tersebut.

Preepithel Mucus-bicarbonate layers: barier physicochemical  form a pH gradient ranging from 1-2 at the gastric luminal surface and reaching 6-7 along the epithelial cell surfaces. intracellular tight junction. dan adanya epithelial cell ionic transporter yang menjaga pH intracellular Restitution  jika barier preepithelial rusak. dan beberapa growth factor b. maka sel epitel gaster yang mengelilingi tempat kerusakan tersebut akan bermigrasi ke tempat yang rusak tersebut  membutuhkan aliran darah yang baik.Patofisiologi: Faktor defensive: a. Growth Factor and Prostaglandin 170 . Diproduksi oleh sel epithel Surface active phospholipid Epithelial Cellular resistance: memproduksi mucus dan bikarbonat.

bile salt b. pylori  bakteri gram negative tahan asam  dapat merusak lapisan mukosa dengan cara memproduksi urease  membentuk CO2 dan ammonia yang toxic terhadap mukosa. menginduce pembentukan noxious mucosal free radical. Faktor internal: HCl  mengaktivasi pepsinogen menjadi pepsin dan merusak mukosa . surface active phospholipid dan proliferasi sel epithel Merokok  menurunkan aliran darah mukosa. makanan berlemak  rangsangan sekresi asam lambung 171 . Subepithelial  blood flow Faktor aggressive a.Fungsi prostaglandin: Meregulasi produksi bikarbonat dan mucus Menghambat sekresi sel parietal Untuk memaintain mucosal blood flow dan epithelial cell restitution c. Faktor eksternal: NSAID  menghambat COX  sintesis prostaglandin dihambat  peningkatan sekresi HCl dan penurunan sekresi musin. pylori H. kopi. Konsumsi alkohol. dan meningkakan resiko untuk infeksi mikrorganisme H. bikarbonat. cokelat. altered gastric emptying. menurunkan produksi bikarbonat di proksimal duodenal.

Diperlukan waktu washout 2 minggu setelah periode penggunaan PPI untuk melakukan tes infeksi H. 5-6 kali makan dengan porsi kecil perrhari Terapi empiris untuk dyspepsia yaitu dengan terapi PPI (proton pump inhibitor) atau tes dan terapi untuk infeksi H. mengurangi berat badan. serta tes dan terapi untuk infeksi H. Serta pola makan yang teratur. dan berhenti merokok. seperti alkohol. Terapi yang sebaiknya ditawarkan pada pasien yaitu terapi empiris full-dose PPI selama 1 bulan. seperti saran untuk makan makanan yang sehat. berikan juga saran untuk menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia.. pylori. kopi. pylori dengan breath test atau stool antigen test. dan makanan yang berlemak. Guideline treatment untuk pelayanan medis dyspepsia adalah: 172 .Treatment: Pada beberapa pasien. cokelat. serta meneruskan konsumsi antasida/alginate jika sudah mengkonsumsinya terlebih dulu. dapat diberi saran sederhana. pylori. Selain itu.

Keterangan: 173 .

Specify the therapeutic objective reduce acid production. Define the diagnosis dyspepsia/peptic ulcer 2. Make an inventory of effective group according to criteria Beberapa grup obat yang rasional digunakan: 174 .Keterangan: Steps in choosing P-drug: 1. pylori (if any) 3. treat H.

d. seperti mengonsumsi alkohol.  Menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia.c.2. tab II.d. kopi. Omeprazole 20 mg no. I a. R/ Tab Guarposid no.d. lima sampai enam kali sehari) dan jenis makanan yang dikonsumsi. rokok.c.d.2. tab. I a.d.Kesimpulan: TERAPI NON-MEDIS  Mengatur pola makan (makan porsi kecil. memperbanyak sayur dan buah.  Stop penggunaan NSAID (jika memungkinkan) TERAPI MEDIS Amoxicillin-Clarithromycin-omeprazole Write prescription: R/ Tab. tab. a. XIV s.c. 2. XIV s. cokelat. dan makanan yang berlemak.d. 175 . R/ Cap Amoxicillin 500 mg no XVIII s.

Persilakan pasien duduk di kursi yang disediakan. agama. alamat. suku / bangsa. Keluhan lain yang ada dan detailnya (pola tidurnya bagaimana.  Apabila pasien merupakan pasien dewasa (> 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri.  Menanyakan apakah gejala terjadi didahului oleh kejadian luar biasa (misalnya : perceraian. 4. progress. 2. Prosedur Pemeriksaan : 1. umur. 3. etc).     RPD RPK : apakah ada keluarga yang sakit serupa? gejalanya mirip? bagaimana gejalanya? sekalian tanyakan juga . pekerjaan. tidak lulus ujian. durasi. Jenis coping dan cara menghadapi masalah. frekuensi. nama. Situasi yang membuat kondisi jadi lebih buruk atau baik. status perkawinan. Anamnesis Tanyakan identitas pasien . Pengobatan yang sudah diberikan.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) :  item keluhan utama secara detail (keparahan. Keluhan tidak logis dan tidak realistis : gangguan mental mayor.INSOMNIA MENTAL MINOR Keluhan logis tapi tidak realistis : gangguan mental minor. pendidikan. Greeting. etc). etc. jenis kelamin. etc). Building interpersonal relationship : memperkenalkan diri. 176 . karena interpretasinya bisa beda ntar).

Kalo pas pilek meler gitu terus disertai bete. tapi belum tentu berkaitan antar keduanya. Menurut ICD-10. Conversion disorder → ada stressor mental tapi terus dikonversi jadi keluhan fisik. Psychogenic pain disorder → nyeri terus. Body dismorphic disorder → merasa gemuk banget padahal BMI nya undeweight. Ex. Keluhan fisik ganda (FG) : FM + keluhan emosional. pola hubungan keluarga. Tapi di modul psikosomatis dikatakan bahwa yang FM ini jarang banget! Biasanya pasti disertai mental emosional (ex. jumlah saudara. apakah anak angkat / tiri. kelompok yang termasuk 177 . sulung / bungsu. diare). Batuk. b. ga konsen sama kuliah dll). Ex. Ex. Luka kecelakaan + kecanduan alkohol. dia gak lulus SMA terus tiba-tiba lumpuh ga bisa gerak. Biasanya konversinya ke keluhan neurologis seperti paralisis. Keluhan psikosomatis : psikosomatis tuh cuma istilah lho. Jadi dia tuh ada keluhan fisik dan mental yang SALING MEMPENGARUHI! psikosomatis : Somatoform Somatisasi → banyak kompalinnya dr ujung rambut sampe ujung kaki. Neurodermatitis. meninggalnya saat pasien usia berapa?). stres.    Eating disorders Sexual dysfunction Psychological or behavioral factors associated with disorders or diseases classified elswhere. life style. lingkungan. udah sampe shopping doctor gitu. urticaria. bukan diagnosis (ingat!). tidak ada keluhan mental (ex. apakah orang tua sudah meninggal (kalau sudah. kebutaan. Hypochondriasis → pokoknya dia merasa sakit! Ex. perut saya ini kayak ada ularnya!”. pilek.  Lalu golongkan menjadi : a. c. dll. Keluhkan fisik murni (FM) : bener-bener keluhan fisik saja. batuk kronis + kecemasan. Anamnesis system.silsilah keluarga. “ini saya mesti kanker ini dok. keluarga utuh / cerai.

178 . FG. ME. PS.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) . Apakah terjadi selama >3 bulan atau >1x / bulan 2. Ada tidaknya peristiwa pemicu keluhan. dll).d. alkohol. cemas : gelisah. telanjang depan umum. PS. Keluhan mental-emosional : emang cuma masalah kejiwaan (pikiran. Menurunnya semangat belajar. dll 4. psikotik : ngomong sendiri. misalnya : banyak pikiran 3. Ada tidaknya pemakaian rokok. ME. 5. life style. ga tenang depresi : murung. lemes  Lanjutkan ke pertanyaan aktif bila dari penggolongan keluhan didapatkan golongan FG. Pertanyaan aktif antara lain : 1. perasaan). mudah tersinggung. sekolah. lingkungan → sama dengan dewasa  Golongkan apakah keluhan termasuk dalam FM. kerja. napza 6.RPD.  Apabila pasien merupakan pasien anak dan remaja (< 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) pada anak atau pengantarnya : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. cemas. pekerjaan. Ada ridaknya gejala mental emosional (sedih.  Tanyakan adanya keluhan mental-emosional dan status perkembangan anak → harus  Lanjutkan ke pertanyaan aktif nomor 3 (pertanyaan aktif yang dimaksud disini sama dengan yang ditanyakan pada dewasa) bila didapatkan golongan FG. PS atau ME (sama dengan pada dewasa di atas). sex. maupun masyarakat. karena interpretasinya bisa beda ntar). RPK. Ada tidaknya gangguan fungsi sosial . apabila dari penggolongan ternyata yang ditemukan adalah FM (fisik murni) maka tidak ditanyakan lagi pertanyaan aktif dan diagnosis yang dibuat merupakan diagnosis gangguan fisik (untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema alur pemeriksaan mental minor di buku skill lab). Nb. baik di keluarga.

maupun masyarakat. misalnya. etc). Gangguan fungsi ex.5. tegang. menilai bentuk isi dan progresi pikiran. mempertimbangkan perlu tidaknya konsultasi lanjutan. gelisah. menilai keadaan jiwa (sedih. 179 . baik di keluarga. pekerjaan. 9. menilai hubungan jiwa (mudah atau sukar). menilai citra diri. sekolah. menilai kesan penampilan penderita. psiko tes . Pemeriksaan psikiatrik Nilai kesadaran penderita. Dari hasil anamnesis tersebut maka pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa bila ada : FG atau PS atau ME + >1 kriteria di bawah ini : >3 bulan atau >1x/bulan Ada faktor pemicu Penurunan semangat belajar. sosial . nilai sikap dan tingkah laku pasien (apakah normal. etc). curiga. menganalisis diagnosis banding dan menyimpulkan diagnosis menurut PPDGJ. 8. dll (males ngapa2in lah pokoke). 10. menilai roman muka (tegang. menilai perhatian (mudah / sukar / dicantum). 7. pucat. alkohol. pemeriksaan fisik diagnostik. pemeriksaan neurologis. etc yang relevan aja. napza 6. sex. Terapi dan tindak lanjut Mengusulkan rencana terapi dan rehabilitasi. Pemeriksaan khusus menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Rokok. kerja. merencanakan pemeriksaan lanjutan. etc). DD dan Diagnosis Menerangkan dan menilai data anamnesis dan pemeriksaan. hiperaktif. Pemeriksaan fisik : vital sign.

Apakah Anda idur di kesempatan lain? (misal bobok siang. terus susah bobo lagi → DEPRESI Sehingga setelah itu perlu kita tanyakan nih: mulai bisa bobo jam berapa? Terus bangunnya jam berapa → kita jadi tahu tuh lama dia bobo cukup apa gak (kan ada depresi yang tiduurr terus. Di tahap ini kita masih gali SIMPTOMP SUSAH TIDUR INI DULU. Kehidupan sehari-hari gimana? Kalau CEMAS ya terganggu : biasanya dia ga konsen gara2 khawatiran. sesek. atau pas di kelas jadi ketiduran terus). 180 . dll. besok mau OSCE kek. Bagaimana perasaan setelah itu? Kalo dia bilang lebih enakan→ jadikan terapi! Adakah KELUHAN LAIN? Lemes harus dibedakan apakah sebab fisik (dengan bobok langsung seger lagi) atau psikis (dengan bobok ga seger lagi). gek-gek ngono?” (“duh jangan-jangan nek aku ga bisa bobo skarang.. sibuk dengan pikiran dan perasaan bersalah gitu. Dia mikirin apa sih (GALI!). Aktivitas di siang hari gimana? (terganggu atau tidak. itu ntar aja galinya). Kalau emang udah mengkerucut ko kira-kira ini depresi. ga usah gali mengenai permasalahan dia dulu (mau dia putus kek.dll”) → mencemaskan sesuatu. jadinya juga ganggu keseharian. besok telat osce. ada juga yang meleeek terus). Kalau DEPRESI dia juga terganggu : biasanya karena dia mikirin masalahnya terus. Kata dr. nangis. dll. maksud pertanyaan ini adalah kita bisa lihat apakah ada gangguan fungsi hidup dia). Apakah ada pikiran “gek-gek ngene. Mahar perlu ditanyakan juga mengenai APA YANG DIRASAKAN sebelum bisa tidur atau saat kebangun tengah malam. harus identifikasi adakah KEINGINAN SUICIDE? Solusi yang telah dilakukan? Misal curhat sama temen.GANGGUAN TIDUR KU : susah tidur RPS Sulit tidurnya gimana sih? Sulit masuk tidur (alias mau merem ko susah) → CEMAS Tengah malem suka kebangun.

Gangguan nafsu makan. Pokoknya harus nyambung sama keluhanya! Tadi udah disebutin. bad dream. kayak kehidupan sehari. RPK Kalau di rumah sama siapa bu? Mereka tau ga ibu kayak gini? Terus tanggapan mereka gimana? Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. kagetan. gimana kalo pas di kantor kerjaannya? Hobinya apa? Masih interest ga melakukannya? Makan teratur ga? DD a. DEPRESI Sering kebangun terus susah bobok lagi. Gangguan fungsi hidup. Life style dan lingkungan Ga usah ditanya terlalu banyak2 kalau ga sesuai sama simptompnya. Kalu parah sampe bisa berpikir untuk suicede! b. ada fase seneng ga? Kapan kah itu (bisa untuk treatment)? Tegang (gelisah. debar-debar. kringetan tangannya. ga konsen sama kerjaan. minderan/ga pede. seks. Sesek. ga konsen. Apa yang terbayang oleh pasien? (ingin bunuh diri lah?). CEMAS Susah masuk tidur. nulis diary dll). negetif. Moodnya sediiiihh. Kehidupan sehari-hari ga bergairah.Sedih digali kenapa sedihnnya? Gimana sedihnya → sampe pengen nangis ga? Menurun pas apa? (curhat. sesek) tanyakan udah berapa lama? Pernafasan gimana? Mimpi buruk kah? Sakit di tempat lain ga? Sering pipis kah? Haid gimana? Jadi mudah tersinggung ga? Kagetan? Konsentrasi? Tangan kringeten? Yang memperberat dan memperingan? RPD Dulu pernah kayak gini gak? Terus diobati apa? Riwayat penyakit kronis? Soalnya penyakit kronis kan bisa sampe bikin depresi dan malah memperburuk sakit fisiknya. Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. sensi. Terapi dan edukasi 181 .hari terganggu ga? Misal. gemetar.

ngecek pintu terus udah dikunci belom. - Kalau DEPRESI Diberikan anidepressan kalau >2 minggu simptompnya disertai 4 atau lebih gejala ini: lelah.n OCD (penyakit obsesif kompulsif) KU : melakukan kegiatan berulang2 tanpa bisa menghentikan ex. I o. bapak udah TAHU belum kalau pintu udah dikunci? Kalau saat tidak yakin. R/ Tab.1. gimana kerjaan di kantor bapak? (cari tahu gangguan terhadap fungsi hidup). gimana rasanya? Muncul kecemasan ga? Kalau udah ngecek gimana rasanya? Apakah pikiran ‘belum dikunci’ itu timbul berulang? Sebenrnya bapak sadar ga kalau pikiran itu sebenernya ga realistis? Sampai bikin jengkel? Selama ini gimana cara ngatasinya? Apakah menolong? Kalau merasa ga terselesaikan. penurunan konsentrasi. Imipramin mg 25 no.1. RPS Dengan bolak-balik kayak gitu. XiV S. Sebenernya saat bapak mengunci itu. agitasi. gangguan bobo.d Tab. DIazepam mg 5 no. loss apetite.d.d. apa yang bapak lakukan? Kalau misalnya bapak menunda keinginan untuk ngecek pintu itu.- Kita bilang bahwa penyakit ini banyak terjadi tapi bisa disembuhkan kok. guilty. I o.n - Kalau CEMAS Lakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bikin rileks R/ Tab. apa yang bapak lakukan? Adakah pikiran ttg hal lain yang berulang? (misal dia cuci tangan terus) apakah bapak enjoy dengan ritual tersebut? 182 . tenang saja! (biar pasien ga tambah depresi atau cemas). pikiran mau mati. XiV S.d Tab.

pikirkan bahwa ini akan segera berlalu! Kalau serangan sering atau berat 183 . pusing. 3. terapi perilaku saja. atur nafas. pusing) Membaik saat apa? Memburuk saat apa? Terapi dan edukasi diam saat serangan. tercekik.d. nafas pendek RPS RPD RPK Di keluarga ada yang kayak gini? Ada yang sakit jantung? Gimana respon keluarga terhadap yang anda alami? Dulu pernah sakit jantung ga? Pernah diterapi apa? Dulu pernah kaya gini juga? Membaik ga? Saat apa munculnya? Berapa lama? (biasanya sih cepet dateng. 1 PANIK KU: 1 atau lebih gejala: nyeri dada.RPD RPK Di keluarga ada yang kaya gini juga ga? Gimana keluarga di rumah menanggapinya? Membantu ga? dulu pernah kaya gini ga? Gimana terapinya? Berkurang ga? Terapi dan edukasi Kalau dia ga parah. jangan fokus ke keluhan saat serangan. mual. XXI S. nyeri dada. Parah. cepet ilang) Apa yang dirasakan saat itu? (taakuutt bgt gitu) Keluhan lain apa? (palipitasi. Clomipramin mg 25 no.d Tab. sampe ganggu macem2: R/ Tab.

d. Imipramin mg 25 no VII S.5 no VII S.I o.d.- R/ Tab.I 184 .n (alias malam hari) - Kalau serangan jarang dan terbatas R/ Tab.Lorazepam mg 0.d Tab.1.d Tab.1.

Vital sign : mungkin demam 32. Treatment :tidak membaik dengan pengobatan  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan : kemaren makan sembarangan di tempat lain  Lifestyle : a. t. Karakteristik : BAB 6-8 kali/hari. Kondisi umum : sangat lemah. Pemeriksaan fisik : 30. CBC count 185 . kurang minum nn. thypoid. Pemeriksaan penunjang a. Lokasi : kk. Anamnesis :  RPS ii. Kolera air cucian beras Disentrilendir dan darah (shigella) Amoebiasislendir dan berbuih Giardiasisberlemak dan persisten>2 minggu mm. Agravating : aktifitas berat. Sebutkan DD : diare.DIARE Diare Diare : BAB> 3x/hari dengan konsistensi fesesyang cair dan encer. p. sakit perut. Diet dan pola makan : makan yang tidak bersih  Review system  keluhan lain : demam. masih mau minum ga? r. Relieving: oo. Parafrase ke pasien s. Onset : sejak 2 hari yang lalu jj. Olahraga : b. Durasi : 2 hari ll. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  kemungkinan dpt terjadi borborigmi (peristaltik terlihat) Auskultasi  hiper peristaltik Perkusi  hipertimpani Palpasi  cubit perutturgor kulit Kepala : Leher : palpasi limfonodidbn Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi mungkin akral dingin 33. KU : mencret. berlendir. Akut : < 2 minggu. BAK.Persisten : 14 hari. 31. diare q. bisa ada darah.

d. Edukasi 1. Jika keadaan memburuk harap kembali 186 . Fecal exam : liat keadaan fisik ada darah/telur cacing/ 34. amoebiasis  R/ Tab.d.tab 1.Antibiotik : 1.c 3.d. X S. Metronidazole 500 mg No. Ampicilin 500 mg no XXIV s. Terapi .oralit 200 No. X. Oralit diminum segera setelah dibuat 3.d Tab 1.d.n campurkan dgn 200 ml air diminum segera setelah buang air besar . Metronidazole 250 mg no x s. Minum air putih banyak 2. 4.r.Berikan oralit  R/ sach.c 35.3. Oralit diminum setelah BAB segera 4.p.c 4. Makan dijaga higienitasnya 5. giardiasis R/ Tab.d. kolera R/ Tab.b. 4. S. Suruh jaga higienitas dengan cuci tangan 6.d.XII S. 2.p.p. tab 2 p.tab 1 p. 3. disentri R/ tab. Tetrasiklin 500mg no.c.d.

Agravating : Saat pasien berjalan menggunakan sendal tersebut. Parafrase ke pasien w. skuama. Pemeriksaan fisik :  Extermitas : terlihat UKK berupa bercak eritematosa dan dapat diawali dengan bercak eritematosa. papulovesikel. papulovesikel. Olahraga: ga spesifik b. vesikel atau bula. u. likenifikasi & fisur tidak jelas. Onset : 3 hari qq. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering.Kondisi umum : gatal-gatal pada kaki 37. Anamnesis :  RPS pp. Relieving : istrhat dirumah  Treatment :  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan :  Lifestyle : a. Durasi : 3 hari ss. vesikel atau bula. Vital sign :normal 38.PRURITUS Dermatitis Kontak Alergi Seorang pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada ke dua punggung kakinya setelah memakai sendal yang baru yang terjadi 3 hari yang lalu. Karakteristik : mengikuti alur dari sendal jepit tt. Lokasi : ke 2 punggung kaki rr. likenifikasi & fisur tidak jelas. Pemeriksaan fisik : 36. semakin diperparah ketika pasien berjalan ke pasar dan membaik saat istirahat dirumah. skuama. KU : gatal – gatal pada kedua punggung kaki.DKI. screening  auskultasi aja DBN Abdomen : Inspeksi  DBN Auskultasi  DBN Perkusi  DBN Palpasi  DBN 187 . Sebutkan DD : DKA.  Kepala : Sklera DBN  Leher : palpasi limfonodiDBN  Thorax depan: DBN. v. dermatitis atopi x. Diet : c. uu. Lingkungan :-i  Review system : dapat diawali dengan bercak eritematosa. Pola makan : d. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering.

Terapi 41. Edukasi a.39.Jika dibutuhkan dapat dilakukan pemeriksaan kultur jamur untuk meng’exclude ttg tinea 40. Mejauhkan alergen secepat mungkin b. Bila ada efek samping serius. Treatment dapat dihentikan bila dermatitis kontak alergi pasien telah sembuh e.Patch test untuk test alergi . daerah kulit yang diobati tidak boleh diperban atau ditutup g. Mencegah terjadinya ruam d. CTM: jangan dikonsumsi ketika mengendarai kendaraan bermotor 188 . Membersihkan bagian yang teriritasi c.Pemeriksaan penunjang . hentikan treatment atau ganti obat lain f.

penurunan berat badan. tumor) enteric nervous system • Hirschsprung's disease • scleroderma • amyloidosis Functional analgesics anticholinergics antidepressants antipsychotics cation-containing agents anticonvulsants normal transit slow transit pelvic floor dyssynergia DD : Irritable Bowel Syndromes (SKDI 3A). ex : Ileus. . Akut membutuhkan tindakan emergency. kurang exercise.Konstipasi Konstipasi adalah pergerakan colon yang tidak frekuen (defekasi < 3x per minggu)..Perdarahan (hematochezia). .biasanya karna fungsional.. Typhoid (SKDI 4). missal IBS. dan defek anatomis.terutama karena diet yang buruk. kesulitan dalam BAB (mengejan > 25% bowel movement atau konsistensi feses keras. Sering pada orang tua. Tapi hati2 kalo menemukan red flags seperti : .riwayat Ca pada eluarga.muntah. Ileus (SKDI 3B) Ax RPS O L D Onset cepat : Ileus (harus segera ditangani) Kronis > 3 bulan. Penyebab konstipasi antara lain sebagai berikut Conditions Associated with Constipation Structural ganglion blockers vinca alkaloids Muscle colon • neoplasm • stricture • volvulus anorectal • inflammation • prolapse • rectocele • fissure Systemic myotonic dystrophy dermatomyositis amyloidosis systemic sclerosis Neurologic electrolyte abnormalities thyroid disease diabetes mellitus panhypopituitarism Addison's disease pheochromocytoma uremia porphyria Medications central nervous system • Parkinson's disease • multiple sclerosis • ischemia • tumor • spinal cord lesions autonomic neuropathy sacral nerve damage (trauma. Ca colon yang mulai muncul manifes konstipasi 189 . . Tidak memerlukan emergency. abnormalitas motilitas.

pada orang tua  curigai Ca colon Riwayat penggunaan narkotika. dan kadang ada rasa tidak lampias saat defekasi MInum obat narkotik. atau konsistensi fese keras dan kecil2.Abdominal bloating atau distensi subjektif Derajat keparahan IBS dapat dilihat di bawah ini : Derajat keparahan IBS Ringan Gejala klinis Persentase penderita Nyeri berterusan Gangguan Psikososial 70% 0 0 190 25% ++ + + 5% + +++ +++ Kaitan dengan gangguan fisiologi sal cerna +++ Sedang Berat . sayur. Hypothyroid dan hyperparatyroid  dpt mnyebabkan konstipasi Pada saat mendekati ovulasi. serta tidak ditemukan adanya pathology pada pasien (pemeriksaan fisik dalam batas normal) Ada criteria Roma III (2006) untuk diagnosis IBS adalah nyeri abdomen rekuren atau ketidaknyamanan at least 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir dan berubungan dengan 2 atau lebih gejala berikut ini : . antipsikosis.Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB . antidepresan. anticonvulsant. suplemen besi dapat memperparah konstipasi. kesulitan dalam mengejan.Mucorrhea .Berkurang nyeri setelah defekasi . whole grains) dpt melunakkan feses RPK LS RS1 RS2 Konstipasi + hematochezia (BAB trdpt darah merah segar)  hati2 curiga Ca Colorectal ada keluhan lain? Irritable Bowel Syndromes (IBS-C) IBS adalah kumpulan gejala penyakit digesti fungsional yang diarakteristikkan dengan adanya nyeri perut dan perubahan motilitas usus.Onset berhubungan dengan perubahan konsistensi feses Gejala pendukung : . dan antidepresan  dapat menyebabkan konstipasi keluarga ada yang sakit serupa? Ada riwayat Ca ga? Defekasi < 3x seminggu.C A RPD R T Other Hati2 kalo Lebih dari 2 tahun. hormone progesterone dan estrogen tinggi  dapat nyebabin konstipasi Diet serat tinggi (buah2an.Perubahan pasase feses (straining dan atau urgency) .

IBS-M (mixed diarrhea and constipation). Lakukan dan pikirkan hal lain untuk menghindari stress. gizi. nadi. heartburn. . BB/TB.Jenis penanganan Dokter Keluarga/primer Spesialistik Sub spesialistik Ada 4 pola IBS  IBS-D (diare predominant). . Okasi nyeri paling sering biasanya di abdomen kuadran bawah .a. IBS-C (constipation predominant). tekanan darah. 7. atau infeksi Hemoocult test Untuk mengeksklusi GI bleeding Terapi Farmakoterapi : Tegaserod 6 mg PO 2dd ac selama 4-6 minggu atau Lubiprostone 24 mcg PO 2dd dc Edukasi . Keadaan umum Keadaan umum.Diet kaya serat .k Pemeriksaan penunjang CBC Untuk screening DD anemia. Inflamasi.a. sex disfunction A = pada saat stress R = defekasi dapat meringankan nyeri abdomennya T= Others = wanita lebih sering 3x terkena IBS dibanding pria.Adanya mucorrhea kadang2 ditemukan di feses . respirasi  normal Pemeriksaan fisik Kepala & leher t. 3. 1. 6.Berhubungan dengan dyspepsia. kadang diselingi atau berubah menjadi gejala diare atau bisa jg konstipasi terus tnpa ada gejala diare. 4. dyspareunia.Nasehatin pasien supaya jgn stress.k Thorax t. 5. 4.a. kesadaran  secara umum tampak sehat. kadang ada gangguan cemas Tanda vital Suhu.Perasaan bloating .Konstipasi.Untuk sementara hindari kafein Prognosis Baik 2.Minum air putih yang cukup . Anamnesis O = at least 3 hari perbulan dalam 3 bulan terakhir. dan IBS-A (alternating diarrhea and constipation). 191 .Nyeri abdomen bersifat difus tanpa radiasi nyeri. Sering pada wanita D = > 3 bulan C = gejala2nya : .k Abdomen Kadang2 terdapat nyeri sigmoid Ektremitas t.

gallbladder cancer (RR=167.typhii Secara umum. gejala yang timbul apabila typhoid tidak diberi tx / dibiarkan adalah sbg berikut : Week 1 Incubation Systemic Stepladder fever pattern or insidious onset fever Acute high fever Chills Rigors Anorexia Diaphoresis Neurologic Malaise Insomnia Confusion/delirium Psychosis Catatonia Frontal headache (usually mild) Pulmonary Mild cough Bronchitic cough Rales Pneumonia Cardiovascular Dicrotic pulse Rare Common Common Common Common Rare (lobar) Rare Common (basal) Almost all Almost all Very common Commond Very common Very rare Very rare Very common Common Typhoid state (common) Very commona Very rareb Almost allc Uncommon Almost all Very common Very common Recovery phase or death (15% of untreated cases) 10%-20% relapse. long-term neurologic sequelae (extremely rare). 3%-4% chronic carriers.Typhoid Typhoid  infeksi enteric disebabkan S. carriers) Week 2 Week 3 Week 4 Post 192 .

kesadaran Tanda vital Suhu. 4. 5. nyeri abdomen difus. dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah itu.Myocarditis Thrombophlebitis Gastrointestinal Constipation Diarrhea Bloating with tympany Diffuse mild abdominal pain Gastrointestinal hemorrhage intestinal perforation Hepatosplenomegaly Jaundice Urogenital Urinary retention Hematuria Renal pain Dermatologic Rose spots Rare Very rare Very common Rare Very common (84%) 30 Very common Common Common (pea soup) Very rare. Keadaan umum Keadaan umum.typhi) L= D = 7-14 hari .. Anamnesis O = Muncul gejala konstipasi pada saat minggu pertama (hari 7-14 hari setelah terinfeksi S. Very common usually trace Rare Common Common Common Rare Rare Rare 1. BB/TB. 2. Pemeriksaan penunjang 193 . gizi. respirasi  pada week 2 kadang2 ditemukan dicrotic pulse (double beat dengan nadi ke2nya lebih emah dari nadi pertama) Pemeriksaan fisik  bisa diliat lebih detail di table atas ya temuan klinis per weeknya. Biasanya pada minggu 2 manifes GI nya diare (pea soup) C = Classic presentation : demam. nadi. malaise. konstipasi. namun jarang. 3. tekanan darah.

o 1x1 7-14 hari Ceftriaxone 50-60 mg/kg im/iv 2x1 7-14 hari Cefixime 20 mg/kg p. Deteksi antigen O dan H 2. 194 . 1. kemudian kondisi dapat membaik dalam 4-5 hari. hipokalemia  Transaminase naik Tes serologis. 8. Gold std : isolasi & kultur Salmonella typhi dari spesimen Spesimen : 1. cephalosporin (ceftriaxone... jangan banyak beraktifitas dulu untuk sementara.Makan yang lunak2 dulu seperti bubur . ELISA IgG & IgM 3. Week 3  urine Most :  Leukopenia  Hb & platelet turun/normal  Hiponatremia. ofloxacin).Istirahat yang cukup. Week 2  stool 3. 7..o 2x1 7-14 hari Ofloxacin 800 mg p. Tes widal TIDAK DIREKOMENDASIKAN karena spesifisitas & sensitivitas rendah Terapi Farmakoterapi : Dianjurkan fluoroquinolone (ciprofloxacin. . Week 1  kultur darah/bone marrow 2. gejala mulai berkurang stlh 2 hari.Banyak minum dan jaga keseimbangan ion dan elektrolit Prognosis Setelah diberi obat.o 1x1 7-14 hari Chloramphenicol TIDAK DIANJURKAN karena resiko anemia aplastik dan relaps Edukasi . cefixime) Ciprofloxacin 0..5-1.6.0 gram p.

4-1 4-6 25-35 0-8 0-15 60-70 20-45 3-7/Ivy <200 <150 >40 >50 <150 42 37 32 31 80-240 53-128 42-98 1. infark >0.06) IU/l μg/l <10 <0.1 .4 4-10 200-400 14-18 40-58 12-16 37-43 50-70 1-3 0. Infeksi:     3.01.6-6.2-5. SGPT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  SGOT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  LDH (dikatakan hepatitis apabila meningkat >5x)  ALP (dikatakan hepatitis apabila meningkat <3x)  GGT (dikatakan hepatitis apabila menurun) Cardiac:  CKMB (peningkatan >5% dikatakan ada kelainan)  Troponin I (iskemik >0. menurun) mg/dl 8-20 g/dl 195 3.8-5. CBC:       Normal Pada Wanita Laki-laki/wanita 4.01 6. Ginjal:  Blood Urea Nitrogen (BUN) (pada gangguan ginjal. 1.2 RBC WBC Trombosit HB HCT HItung Jenis:  Neutrofil  Eosinofil  Basofil  Monosit  Limfosit LED PPT APTT Bleeding Time Kolesterol Total Trigliserid HDL LDL 2. Hepar:  5. Lipid:     4.NILAI NORMAL PEMERIKSAAN LAB No .5-3 Jenis Pemeriksaan Satuan juta/mm3 ribu/mm3 ribu/mcl g/dl % % % % % % mm/jam detik detik menit mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl IU/l IU/l IU/l IU/l g/dl Laki-laki 4.

al. Analisa Gas Darah:  pH  HCO3 PCO2  PO2 8. HBA1c >6.03 (-)   Berat Jenis Protein (>3 pada GNS. menurun)  Kreatinin darah (pada kelainan ginjal.5# #Impaired Fasting Glucose= Kadar Gula Darah Puasa 110-126#  Gula Darah Puasa  Post Prandial 2 jam  Gula Darah Sewaktu  HBA1c 9.5 Merah (pendarahan pada UTI/obat) 1. Post Prandial 2 jam >200. Sindrom Nefrotik) Eritrosit ((+) pada GNA.6-1. Urinalysis:  pH  Warna      mg/dl 0. dan infark ginjal) Leukosit ((+) pada pyelonefritis akut dan nefritis) Yeast Cast g/day (-) (-) (-) (-) Sekian teman-teman. kalau ada salah. 196 .3 0.45 24-28 35-45 75-100 mg/dl mg/dl mg/dl % <110 <140 <200 <6 6-6.Albumin (pada gangguan ginjal. 2011).5-0.. Diabetes Melitus: #Kriteria DM= Gula darah puasa >126. GNK.35-7.9 mEq/l mmHg mmHg 7. meningkat) 7.. kami mohon maaf yah.003-1. ISK. semoga osce kita sukses! (mardian et. hehehe.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful