OSCE COMPREHENSIVE PROCEDURAL & IPM & nilai lab normal

By : Yan Mardian, Prenali Dwisthi Sattwika, Pradini, Afrilia Intan, Nia Milastuti, Nastiti Hemas, Annisa Tridamayanti, Astari Anggara, M. Randy Givano, Gandhi Anandika, Rizky Admagusta
1

DAFTAR ISI
MATERI HALAMAN

IPM General Thorax Abdominal Exam Eye Exam ENT Exam Neurology Exam Leprae Exam Gynecology Exam Baby delivery ANC Gyn Exam Pap Smear Implant IUD Bedah Simple suturing Sirkumsisi Bedah tumor Emergency Neonatal Resuscitation Endotracheal tube i.v. line Kateter CPR Dressing and Bandaging EKG Advance Cardiac Life Support Others Breast exam Locomotor Genitourinary Post Stroke
2

3 4 5 9 11 16 18 21 23 27 28 30 33 36 38 43 47 48 53 56 57 58 63 68 71 72 74

PROSEDURAL  … bismillah..here we go.. IPM GENERAL : Thorax, abdomen, eye, ent, neuro, leprae
THORAX Punggung: pasien duduk Inspeksi: posisi duduk (sikap tubuh, contoh: tripod pada asma), penggunaan otot bantu pernapasan, UKK Palpasi: hangatkan tangan terlebih dahulu, palpasi nyeri tekan, palpasi pengembangan dada, fremitus taktil (ninety-nine atau satu dua tiga pake nada orang ambon)  fremitus taktil meningkat: konsolidasi paru. Perkusi: perkusi paru (normal: sonor, kalo ada konsolidasi: redup, kalo emphysema: hipersonor), perkusi pergerakan diafragma, caranya di linea midclavicularis dextra diperkusi dari atas ke bawah, sampe nemu batas sonor redup (batas paru-hepar), terus pasien disuruh tarik napas, diafragma turun, perkusi diterusin ke bawah, sampe nemu batas paru-hepar lagi. Penurunan normal 4-5 cm Auskultasi: suara paru (normal vesicular/ suara paru perifer) Dada: pasien berbaring Inspeksi: inspeksi ekspresi wajah pasien (misal nafas cuping hidung, sianosis), leher (retraksi supraklavikular), penggunaan otot bantu pernapasan, konfigurasi dada (misal dada tong pada COPD, pectus excavatum/cekung, pectus carinatum/cembung kayak burung merpati), pola pernapasan, UKK, iktus kordis Palpasi: mirip sama yang punggung + palpasi deviasi trachea + palpasi iktus cordis Perkusi: perkusi paru (dimulai dari atas klavicula sampai bawah zigzag) perkusi batas jantung: Batas jantung kiri: dari linea axillaris anterior perkusi sampe nemu sonor-timpani (paru-lambung, biasanya di SIC VIII), naek dua jari, dengan posisi jari tegak lurus terhadap costa, perkusi ke kanan sampe nemu redup (batas jantung relative, biasanya dua jari medial linea midclavicular kiri, SIC 5) pekak (batas jantung absolut) Batas jantung kanan: dari linea midclavicularis dextra, perkusi ke bawah sampai nemu batas sonorredup (paru-hepar), biasanya di SIC VI kanan, ukur dua jari ke atas, perkusi lagi dengan posisi jari tegak lurus terhadap iga,dari lateral ke medial, cari perubahan sonor ke redup (biasanya di linea sternalis kanan), dam nyari suara pekak (batas jantung absolute, biasanya di linea midstrenalis) Batas jantung atas: cari linea sternalis kiri. Dari titik teratas, lakukan perkusi sejajar iga kerah kaudal, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC II linea sternalis kiri Pinggang jantung: cari linea parasternalis kiri, perkusi di linea itu kearah kaudal, posisi jari sejajar iga, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC III. Kalo sampe di SIC II, berarti pinggang jantung menghilang, biasanya pada keadaan pembesaran atrium kiri 3

Lanjut ke palpasi lien. dan tentukan murmur tersebut ada saat diastolic atau sistolik (contoh: murmur sistolik di mitral  stenosis mitral. untuk mengidentifikasikan massa abdomen. yang mungkin menunjukkan pancreatitis Auskultasi: Pilih satu titik di abdomen. Tes Ascites: 4 . mobilitas. pada bronchitis terdengar crackels) Auskultasi klasik suara jantung: Di SIC II linea parasternalis kiri (s2 pulmonal) kanan (s2 aorta). Lakukan palpasi superficial untuk mengidentifikasi resistensi otot. rectus abdominis. di SIC V linea midclavicular sinistra (s1 mitral). nyeri tekan. akan terdengar ronki. tangan kanan di kuadran kanan atas. parallel dan lateral dari m. pada keadaan obstruksi saluran napas bawah misalnya asma. Palpasi: Hangatkan tangan dulu. lokasi. biasanya ga keraba. normalnya 8-12 cm.Auskultasi: Auskultasi suara paru (normal vesikuler. bentuk. normalnya semua timpani). diperkusi sebelum dan sesudah inspirasi normalnya timpani). bekas luka operasi. bentuk. perkusi lien (di ruang traube. Trus lakukan deep palpation. umumnya 10 cm. caranya letakkan tangan kiri pada antara SIC 10-SIC 12. atau lebih tinggi dari dada atau schapoid/menggembung). konsistensi. ukuran). dorong tangan kanan masuk ke dalam untuk meraba batas hati. specific sign: misalnya Cullen sign (blue discolorisation of periumbilical) dan grey turner sign (diskolorisasi pada area flank). ukuran. beri tekanan ke atas. lanjutin sampe nemu batas redup0 timpani. dan nyeri tekan. minta pasien utk inspirasi  normalnya ga keraba. stria (pada ibu hamil atau orang gemuk). pulsasi/peristaltic. Caranya letakkan tangan kanan sejajar m rectus abdominis dan tangan kiri menyangga dinding lateral abdomen costa 11-12 kanan. terdengar wheezing. letakkan tangan kanan diatas batas kosta dan tekan ke arah spleen. kemudian pasien disuruh inspirasi. di SIC 4/5 linea strenalis kiri (s1 trikuspid). simetris. warna kulit. normalnya 4-8 cm. ABDOMINAL EXAM Inspeksi: Kontur (kontur lebih rendah. pada keadaan udem pulmo atau eksudat di alveolus. selanjutnya lepas tangan saat pasien ekspirasi. Normalnya ga keraba. sejajar. tapi masih normal kalo batas terabanya 1-2 cm dari batas iga bawah. Perhatikan adanya murmur. yakni pada garis axilaris posterior SIC 11. Suara yang sama dengan suara arteri karotis  s1. dokter pindah ke sisi kiri pasien. dengarkan suara click and gurgles (normal 5-35x/menit). murmur diastolic di mitral  insuffisiensi mitral). umumnya 6 cm). Saat pasien ekspirasi. Perkusi: Perkusi 13 titik (liar gambarnya di buku. Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri pasien. dan adanya masa. dengarkan juga apakah ada bruits/murmur vascular. sedangkan untuk meriksa lobus kiri hepar. dilatasi vena (missal caput medusa karena hipertensi portal). perkusi dari umbilical ke atas sampe nemu perubahan suara. lalu tekan kuadran kanan atas untuk mencoba “menangkap” ginjal dengan kedua tangan. massa (lokasi. perkusi hepar (lobus kanan: perkusi dari linea midclavicular dextra sampe nemu batas sonor-redup/paru-hepar. Palpasi ginjal kanan dilakukan dengan meletakkan tangan kiri pada belakang diantara SIAS dengan angulus kosta. Selanjutnya lakukan palpasi hepar. minta pasien utk inspirasi.

visus: 1/300)  Kalau tetap nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  pakai cahaya (visus: 1/takhingga)  Untuk yang bisa baca snellen chart: Misal di visus 6/20 bisa baca 3 huruf dari 5 huruf  6/20 S2 Misal di visus 6/20 bisa baca 2 huruf dari 5 huruf Visus atasnya (misal 6/30) B2 3. minta pasien menaikkan kaki melawan tahanan. prosedur. Psoas sign  tangakn diletakkan diatas lutut pasien. Extraocular eye movement a. 4. Tandai daerah itu. Periksa akuitas visual (visual acquity) Kalau pakai kacamata. Rovsing sign  nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika dilakukan tekanan pada kuadran kiri bawah. Tes undulasi (fluid wave): minta pasien untuk meletakkan tangannya secara longitudinal pada tengah abdomen. kacamata dilepas. pakai visus jauh. b. liat jangan dipicingkan. izin/informed consent 2. snellen chart. pantulan cahaya (titik kuning) terlihat di pupil sedikit di nasal (slightly nasal to the center of pupil). tutup mata jangan ditekan. sisanya N III) N IV lihat inferomedial N VI lihat lateral c. Adanya kenaikan nyeri pada hypogastric menunjukkan kemungkinan iritasi musculus obturator. lutut fleksi 90 derajat. Tes konvergensi 5 . Lakukan rotasi internal-medial pada pinggang. Sampaikan tujuan. Kalau nggak ada diplopia. kalo udah perforasi. Tekan dengan ketat. nyeri pada saat dilepaskan  iritasi peritoneal 3. Sentil abdomen dengan tangan kanan. 5. periksa mata kanan & kiri gentian. Letakkan tangan kanan pada sisi kiri abdomen pasien. Bentuk huruf H Jarak duduk 1 lengan Waktu tangan di bawah. Dikatakan positif kalo suaranya berubah jadi timpani. dan terletak di titik Mc Burney 2. tangan kiri tetap pada posisinya dan rasakan gelombang cairan (fluid wave) Test Appendicitis: 1. Obturator sign  kaki pasien dinaikkan 90 derajat.  Huruf pertama nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  finger counting 1/60 bisa mundur sampai 5 meter (kalo cuma bisa dijarak 1 meter.1. continous. buka kelopak mata Berhenti sejenak saat di lateral dan upward gaze utk liat nystagmus  LR6(SO4)3 (Lateral rectus N VI. 2. Kemudian perkusi lagi pada titik tersebut. visus: 1/60)  Kalau tetap nggak bisa  pada jarak 1 meter pasien  hand movement 1/360 bisa mundur sampai 6 meter (kalo Cuma bisa dijarak 1 meter. dan tangan kiri diarah sebaliknya. Kenaikan nyeri abdomen kuadran kanan bawah  iritasi musculus psoas karena app 6. Superior Oblique N IV. Periksa reflex kornea (corneal light reflex). Tentukan lokasi dan sifat nyeri. nyerinya jadi localized. Shifting dullness: perkusi dari umbilicus ke lateral hingga ditemukan perubahan suara dari timpani ke redup. Minta pasien untuk berbaring miring. Cutaneoous hyperesthesia  cubit kulit perut  hyperesthesia  inflamasi saraf subkutan EYE EXAM 1. Rebound Tenderness.

Upper conjunctiva palpebra Mata lihat ke bawah. Tes konfrontasi 2 Bagi 4 kuadran (kanan kiri atas bawah). lagopthalmus (nggak bisa nutup: rusaknya N VII). miosis (pupil mengecil) 4. deformitas e. darken the room a. terus dokter gerakkan tangan secara horizontal (dari lateral ke medial). opticus  Hemianopsia bitemporal (lapang pandang temporal kedua mata hilang)  lesi chasma optica  Hemianopsia homonim dextra (lapang pandang temporal mata kanan dan lapang pandang nasal mata kiri hilang)  lesi traktus opticus sinistra  Hemianopsia homonim sinistra  lesi traktus opticus dextra  Lesi quadrantika Loop of Meyer (radiation optica bagian bawah) Hemianopsia quadrantika sinistra (pie on the sky)  lesi loop of Meyer dextra b. Conjunctiva bulbi  Warna. pakai senter harus dari bawah tapi jangan terlalu jauh  Kekeruhan  Bentuk 6 .  Anopsia  lesi N. udah membatu hordeolum: keluar discharge kalau dipencet c. normalnya bisa ngikutin sampai jaraknya 5-8 cm dari hidung. pasien disuruh fiksasi pandangannya ke hidung dokter . penipisan.Mata normal mengikuti gerakan objek dari pemeriksa mendekati hidung pasien. masa protruding. suruh ngitung jari dokter  untuk ngeliat lapang pandang 4 kuadran penglihatan 5. Kelopak mata: lesi kulit. nggak usah tutup mata. masa protruding. dokter tutup mata kanan). kelopak ditekuk ke atas. permukaan. lihat pakai senter  Warna. deformitas f. entropion: ke dalam)  tidak ada discharge  tidak ada deformitas kalazeon: obstruksi kelenjar. Tes konfrontasi 1 Jarak 1 lengan . pola vaskularisasi. permukaan. tutup satu mata (periksa mata kanan pasien  pasien tutup mata kiri. Trias melihat dekat: konvergensi (melihat kearah medial). akomodasi lensa. Lower conjunctiva palpebra Mata lihat ke atas. Bulu mata  tersusun teratur  persebaran kotinu  arah pertumbuhan (extropion: mukosa ke luar. Periksa segmen anterior Duduk sejangkauan tangan. Cornea Pakai penlight boleh langsung. deformitas d. simetris. ptosis (nggak bisa buka mata: rusaknya NIII) Alis (deformitas) Rima palpebra: simetris Arah garis palpebra b. pembengkakan  Sclera: warna. lihat pakai senter  Warna. tanda inflamasi. Visual eye field a.

reddish  Lihat cup & disc ratio C/D normalnya 3/10 Peningkatan tekanan intra ocular  serabut saraf pembentuk discus lebih sedikit  ratio meningkat  ¾. sesuaikan fokus 7. Anterior chamber Antara iris dengan kornea Disenterin dari samping  Dalam/dangkal  Clearness  Darah/pus Normal: iris terang dua2nya Ada sudut iridocorneal: semakin dangkal (iris kayak bulan sabit. Sampaikan hasil a. normal/orange. Iris/pupil  Warna + bentuk iris  Pupil simetris  Refleks pupil direct & indirect di-swing senternya di depan mata kanan & kiri i. Papil N II  Letak papil di arah nasal  Batas papil: tegas/kabur  Warna pucat/yellowish orange. lepas kacamata  Posisi pemeriksa boleh berdiri  Minta pasien lihat jauh  Adjust lensa opthalmoscope (-)  2 (-). 3/5 7 . Ukuran  Curve  Pola vascular  Deformitas g. ga semua bagian iris kena sorot sinar  pada glaucoma sudut tertutup akut) h. TIO  bandingin sama tonus lidah yang dijendolin ke pipi 6. Periksa segmen posterior  Jelaskan periksa opthalmoscope. (+)  sesuai (+) Dihitung = plus/minus pasien + plus/minus pasien  Pegang opthalmoscope dengan tangan sama  Lihat dari jarak 30 cm lalu mendekat Warna Yang kita gunakan  warna kuning Red free (hijau atau biru)  untuk lihat perdarahan Biru  untuk fluorescence Bentuk ½  untuk pupil yang kecil Garis2 kotak  ratio cup/disk Besar  biasa Yang 1 garis  lihat ketebalan  Jari telunjuk pada lensa panel. Lensa Senter arah depan bawah  kekeruhan j.

fiksasi jari di pipi pasien. Macula Tempatnya fovea centralis. Duduk face to face oblique. letaknya lebih ke arah temporal Periksa refleks foveal Pasien diminta melihat ke arah cahaya sebentar c. pakai garpu tala frekuensi 512 Hz a) Tes Rhine (prinsip: middle ear amplifies the sound) Diletakkan di proc. izin / informed consent 2. cuma ada sel pigmen & batang. Jelaskan tujuan. auricula  Mastoid  otitis media c. adakah lateralisasi? (prinsip: no masking sound that can be heard on normal ear in CHL) Lateralisasi ke arah sakit: CHL Lateralisasi ke arah sehat: SNHL Tengah-tengah: normal c) Tes Schwabach 8 . prosedur. Palpasi  cari nyeri  Tragus  otitis externa  Helix. Otoscope Auricular ditarik ke arah superoposterior. ruang semi gelap 3.Peningkatan takanan intra cranial  discusnya naik  ratio turun  3/11 b. Telinga a. mastoideus terus didengerin de deket telinga (+) AC > BC: normal/SNHL (-) AC < BC: CHL b) Tes Weber (masking effect) Diletakkan di glabella. telinga kiri arah jam 7  Bulging  vaskularisasi d. kuadran anteroinferior Telinga kanan arah jam 5. tangan buat megang otoscope sesuai dengan telinga (meriksa telinga kanan pake tangan kanan). Vaskularisasi Vena lebih besar & lebih gelap Arteri : vena = 2 : 3 ENT 1. Yang diliat:  Canalis auditoris externus  Perdarahan  Laserasi  Serumen prop  Tanda otomikosis  newspaper-like-appearance  Membran timpani  Intact/perforasi  Cone of light. Inspeksi telinga  UKK  Deformitas  Oedem  Discharge b. posisi memegang seperti memegang ballpoint. Tes pendengaran.

Di proc. Jari telunjuk untuk fiksasi. kalo nyeri. Tenggorokan a. Sebenernya ada test transiluminasi buat ngeliat sinusitis. kalo palpasi musti pake glove  ga disuruh di checklist 9 . Palpasi  Deformitas  Masa abnormal  Pencet 1 lobang idung terus minta pasien napas  apakah ada obstruksi? c. ditutup waktu udah dikeluarin. Buka mulut dengan spatula 1) Masukkan spatula (yang dimasukin ujung besarnya). Inspeksi  Deformitas  Deviasi septum  Perdarahan/hematom  Rhinorrhea b. Speculum Posisi tangan & hidung berlawanan. pemeriksa harus normal BC pasien > dokter: CHL  periksa sebaliknya BC pasien = dokter: N  periksa sebaliknya BC pasien < dokter: SNHL 4. ga usah deh yee. Speculum dibuka waktu udah di dalam rongga hidung. mastoideus.. tahan pakai spatula lidah Palatum molle & uvula terangkat  tonsilla palatina & dinding posterior faring  terlihat kalau ada eksudat 4) Ga usah palpasi lidah. Bibir  UKK b. Yang diliat:  Concha nasalis media & inferior  Meatus nasi inferior  Septum lurus/deviasi/perforasi  Mukosa merah  tidak ada epistaksis  tidak ada polip (biasanya warna pucat)  tidak ada lendir berbau atau berwarna d. palpasi hanya kalo ada indikasi kanker lidah. tangan yang nggak megang speculum fiksasi kepala di belakang. palpasi sinus frontalis & maxillaries. e.  5. dorong dinding lateral mulut  Membran buccal: warna & perdarahan  Gusi: warna & perdarahan  Gigi: karies  Rasio gigi gusi 2) Minta julurkan lidah  tes nervus XII 3) Minta pasien “aahh” (lidah ga dijulurin). Hidung + sinus paranasal Pakai & nyalakan lampu kepala a. lanjutin ketok untuk tau ada nyeri ketok sinus  curiga sinusitis. tapi karena ga ada di checklist buku.

bila. trapezius 10 . N VIII (vestibulocochlear)  Rhine. N III (occulomotor). Weber. N V2 (maxillaries). IV. kalau <25  disorder. Noting  menyebutkan 3 objek c. Mini mental status examination a. N XI Angkat bahu. VI (abduscen)  ocular eye movement N III  refleks pupil (cek parasimpatis) d. Cranial nerve exam Kalo cuma untuk screening: N II. Recalling suruh nyebutin 3 objek yang tadi disebutin e. IV (trochlear). dan. kopi. cengkeh. Orientasi 1) Person 2) Moment 3) Place Nanyanya harus sekaligus: Bapak datang sama siapa? Tadi makan apa? Sekarang lagi ditempat apa namanya? b. Schwabach g. N II (optic)  snellen chart c. N IX (glossopharungeus) dan X (vagus) Gag reflex Angkat palatum (bilang “aah”) Minta menelan h..NEURO EXAM 1. N V (trigeminus) mastikasi ketika mengunyah rasakan otot mulut tahan dagu trus suruh buka mulut sensoris wajah: sensasi di N V1 (opthalmicus). VI. missal tumor lobus frontalis & stroke 3. GCS  Glasgow Coma Scale  E (eye:4) V (verbal: 5) M (motor:6)  kalo pasien ga sadar 2. Bahasa/language 1) Pensil + arloji  ini apa? 2) Tanpa. VII. dll b. tetapi sebutin dengan intonasi yang datar 3) Ambil kertas. taruh lantai 4) Baca “pejamkan mata” dan lakukan 5) Tulis kalimat SPO 6) Salin gambar Skor maksimal 30. XII. III. dokter nahan m. N VII (facialis) Sensoris: 2/3 lidah untuk perasa Motoris  Tutup mata  Kernyitkan dahi UMN: bisa kernyutkan dahi (stroke) LMN: nggak bisa (Bell’s palsy)  Gembungkan pipi  Bersiul f. sampai 6x Kata dibalik: MESRA  A-R-S-E-M d. N I (olfactorius)  bau2an tembakau. Kalo mau lengkap: a. N V3 (mandibularis) e. atau. Atensi & kalkulasi 100-7-7-7-. lipat2.

Noleh kiri kanan. Neuromotoric exam a. maleolus medial lateral e. plantar fleksi Otot yang diperiksa (semua) = semua otot ( ada di buku neuro motoric ) 0 : tidak ada gerakan atau tonus 1 : ada tonus 2 : ada gerakan tapi tidak bisa melawan gravitasi 3 : bisa nahan gravitasi namun tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 : bisa menahan pemeriksa tapi lemah 5 : normal. posisi supinasi. biceps. dorsofleksi. pejam mata. Taktil Pakai brush. Suhu Pakai air panas 40 O C dan air dingin 20 O C d. medianus. Motor strength Otot yang diperiksa (screening) : M. scm N. dokter nahan di pipi. di olecranon. kalo salah satu tangan berputar pronasi sambil tangannya turun  pronator drift + Kalau pronator drift nya +  lesi UMN b. hitung sampe 10.i. bandingkan kanan-kiri c. Nyeri Pakai yang tajam atau tumpul. Sensoris examination a. bisa menahan pemeriksa c. lutut. ekstensi lutut. proc styloideus medial lateral. terasa atau tidak b. triceps. dipukul di otot juga keluar refleksnya (kan harusnya cuma pas dipukul di tendo aja keluar refleksnya) 5. deltoid. Getaran Pakai 256 Hz. m. Muscle tone Dinilai bagus atau tidak tonus ototnya Karakteristik lesi UMN:  Spastik  weakness  Reflex fisiologis hiper (liat keterangan dibawah)  Ada reflex patologis Karakteristik lesi LMN:  Flacid  weakness  atrofi otot  Refleks fisiologis hipo  Tidak ada reflex patologis Interpretasi: 0 tidak ada refleks 1 hipo 2 normal 3 hiper tapi masih normal 4 hiper patologis. epicondylus medial lateral. XII Motoris : julurin lidah UMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sakit LMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sehat 4. Movement 11 . Pronator drift  suruh ngangkat tangan.

ischiadicus  kaki diluruskan lalu diangkat. positif= dorsofleksi jempol. propiosepsi tetap. Patella  lutut dibiarkan menggantung. Pasien diminta berdiri. di pukul di tendo Achilles. mekar jari2nya g. mekar jari2nya (fanning) d. 2. Positif kalau kaki melangkah mau jatuh. Openheim jepit tibia susuri ke bawah ditarik . kaki yang lain ikut naik c. diketuk dialasi jempol (positif kalo supinasi) b. tapi dipukul di ototnya (snapping movement) d. Rossolimo pukul bantalan ibu jari. Tanda iritasi meningeal a. Chaddock  dari maleolus lateral ke arah kelingking positif = dorsofleksi jempol. positif = nyeri Periksa vertigo 1. Tromner  yang dipegang jari tengah. Lasegue  untuk memeriksa LBP & n. Kernig sign  lutut fleksi. mekar jari2nya e. Triceps  tangan kiri disangga tangan kiri pemeriksa. mekar jari2nya f. disuruh menyebutkan ke atas/ bawah/ kanan/ kiri 6. cari tendo m. positif = dorsofleksi jempol. lihat nystagmus dalam 20 menit 12 . kakinya rapat. kalau positif = lutut nekuk 2) kontralateral : 1 kaki diangkat difleksikan. Achillles  kakinya bersandar pada kursi. tutup mata. Refleks patologis a. Babinski  dari bagian lateral plantar sampai ke bawah jempol membentuk huruf J positif = dorsofleksi jempol. Hoffman  yang dipegang jari tengah. Gordon  jepit betis. lalu agak difleksikan. Refleks fisiologis a. positif= dorsofleksi jempol. Brudzinski 1) neck : 1 tangan ngangkat kepala. tangan pemeriksa nahan di plantar supaya terasa gerakan dorsofleksinya kalo positif 7. Schaeffer  jepit Achilles. normalnya bisa lurus. Brachioradialis  mirip kaya m. Tandem gait Jalan dalam 1 garis lurus. biceps. 1 tangan di dada. trus kaki coba dilurusin ke atas. di pukul di tendo quadriceps femoris e. Untuk BPPV Diagnosis: Dix hallpike  Kepala miring 45o  Terus tiduran dengan posisi kepala nggantung  Lihat ada nystagmus/pusing nggak. positif = menggenggam b. Jatuh ke arah lesi. dipukul di tendo triceps brachii c.Gerakin jari . Romberg  cek keseimbangan Matikan ocular dengan tutup mata. mekar jari2nya h. biceps brachii. cek vestibular. diketuk dari bawah. tarik dari belakang. Biceps  tangan kanan memegang tangan kanan. positif = menggenggam c. diketuk dari atas. tapi kalau ada tahanan dan sakit berarti abnormal (kernig +) b. positif = plantarfleksi --> beda sendiri 8.

Treatment: Epley maneuver  lanjutan dix hallpike      Terus noleh ke sisi satunya 90o Badannya putar ikuti arah kepala Bangun Leher fleksi 20o Setelah epley pakai cervical collar  untuk mencegah perpindahan canalith lagi Sermont maneuver  Tidur miring kanan 30 detik  Duduk tegak 30 detik  Tidur miring kiri 30 detik 13 .

Keluhan Utama : Bercak hipopigmentasi. Agravating –relieving : tidak ada v. Onset : masa inkubasi : 2 minggu. maluku e. Adakah mati rasa? iii. Treatment : c. jarum pentul b. Adakah keluhan di saluran nafas?  multibacilar 3. Review system : i. air dingin 20oC c.Cerebellar ataxic  finger to nose PEMERIKSAAN LEPRA 1. Kapas. anestesi. Pulpen d. mati rasa. Characteristic : seperti apa lesinya? iv. RPD : ngga terlalu ngaruh d. hoarseness. Siapkan alat a. Informed consent 4. RPS i. Location : bercaknya adanya dimana aja iii. Alkohol spray 14 . Perkenalan diri 2. apakah ada penebalan saraf? ii. penebalan saraf  Stadium: TT  BT  BB  BL  LL b. Air hangat 40o C .30 tahun ii. erythema nodusum leprosum  Lepra multibacilar : mukosa dan saraf  keluhan : nasal stuffness. Anamnesis a. RPK lingkungan : adakah anggota rumah/ lingkungan yang mengalami hal serupa? Papua.  Lepra paucibacilar : kulit dan neuro  keluhan : bercak hipopigmentasi.

punggung. Sensibilitas Bandingkan antara yang ada bercak dengan yang normal (bukan kanan-kiri) i. dan menginspeksi dada. ulnaris  tangan kanan dipegang dengan tangan kanan agak difleksikan. ada infiltrate di cuping telinga/ tidak?. tangan. perut. N. simetris atau tidak . dikatakan lagophtalmus kalau > 3mm ii. tibialis : sensoris 15 . ada pembesaran n.5. lalu di beri tahanan iv. Pemeriksaan fisik Pasien kalau laki-laki harus membuka baju dan hanya memakai celana pendek.N. atrofi kulit. atrofi tenar/ hipotenar iii.N.Sensorik: pakai pulpen di telapak tangan. N. 2 : bisa abduksi tapi ga bisa lawan tahanan . 1: tidak bisa abduksi iii. area gluteal. lagophtalmus. ada/ tidak nyeri c. angkat kaki. Inspeksi i. Cuci tangan 6. tangan ventral. peroneus komunis : motoris Dorsofleksi kaki. inspeksi plantar Lihat  ada ulkus. 5 lateral . tangan disilangkan untuk meraba di maleolus medialis d. N. nyeri. Areanya: jari manis setengah ke medial di telapak tangan. bercak. ada celah atau tidak. diberi tahanan ke dalam Nilai : 3: bisa melawan tahanan . lalu ditahan. 1. Fungsi Saraf (sensoris dan motorisnya) i. ii. Tangan  ada jari kiting atau tidak. medianus : . cahaya ruangan harus cukup a. N. Nyeri : jarum pentul Bandingkan perabaan tumpul atau tajam. hidung pelana . ulnaris . Perabaan/ taktil : dengan kapas Jelaskan ke ibunya kalau terasa suruh bilang terasa.Sensoris : telapak tangan 3.5 medial . Perabaan Saraf Yang dicari: Penebalan saraf . tibialis posterior  jongkok. inspeksi aspek dorsal leher telinga. N. langsung diraba pake tangan kiri . hipopigmentasi.Aurikularis magnus  pasien tengok kiri/ kanan diraba ada atau tidak penebalan saraf . N.Motoris : jempol ke arah hidung. facialis : motorik Periksa dengan memejamkan mata. jari2. aspek dorsal dari kaki. Suhu : dengan air panas/ dingin iii.Motoris : jari kelingking abduksi. Tubuh minta pasien untuk meluruskan tangan ke depan. Minta pasien untu memutar. Kepala : ada madarosis atau tidak. hipopigmentasi b.N. auricularis magnus (menyilangi SCM) ii. peroneus komunis  di lateral caput fibula . vi. radialis : motoris Dorsofleksi palmar ( kayak orang naik motor) lalu di tahan v.

Leopold Enganged kalau udah di station 0 atau hodge 3. Pakai masker.d. karena penularan lewat droplet c. jadi harus taat minum obat b. papsmear.I s. Fase laten Pembukaan 0-3 cm.d. I s. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. tab 1 Multibacillar : durasi treatment 12 bulan R/ Tab Rifampicin 600 mg No. IUD BABY DELIVERY Kala 1 1.d. Bimanual untuk mastiin  Ada tumor nggak di jalan lahir  Ada DKP atau nggak  Ada moulage nggak  Nentuin station 4. 1 bulan 1x minum) tiap 1 bulan balik lagi ke dokter. pas di spina ischiadica 16 .d. Kecepatan: 1 cm/jam Yang dicatat di partograf 1. obat minum d depan dokter R/ Clofazimin 50 mg No. Fase aktif Pembukaan 4-10. Periksa urin 2-4 jam 3. Vital sign Periksa tekanan darah + suhu tiap 4 jam Periksa HR tiap 0. XXX s..5 jam 2.d. Pengobatan ini memang lama. tab 1 R/ Clofazimin 300 mg No.Pasien harus mengekspos telapak kaki. ANC. I s. XXX s. Sebulan sekali datang control - GYN Baby del. Treatment . 7. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No.Paucibacillar : 6 bulan (obat Rifampicin diminum depan dokter. gyn exam.1. Edukasi a.1.1.d tab 1 8. implant. tapi pengobatan 6 bulan) R/ Tab Rifampicin 600 mg No. lalu dites dengan pulpen. XXX s. sekitar 8 jam 2.

Pasien ingin meneran c. Chlorin 0.Kala 2 1. Mohon kerja sama 3. Kateter nelaton/logam m. tangan bisa pegangan paha. ibu memasuki kala 2. Periksa perineum rigid/nggak. Menentukan waktu untuk meneran a. Bloody show 7. Oksitoksin 10 IU & syringe-nya k. DJJ tiap 5 menit selama 1 menit  asisten yang ngelakuin (inget: Laenec ga steril) 9. 1 dipegang buat nahan perineum e. dominasi fundus. Silakan lepas bawahan & celana dalam lalu tidur di meja litotomi. Gunting jaringan untuk tali pusar i. nyebabin effacement serviks. Bagian mukosa anus muncul f. ½ cocher (buat mecahin ketuban kalo belum pecah) f. satu kali 20-40 detik. Anamnesis singkat  GPA  Umur kehamilan  ANC teratur? Terakhir kapan?  Ada keluhan selama kehamilan?  Ada riwayat hipertensi. lakukan ketika kenceng2 10. needle. mengejan ke arah perut sekuat mungkin 8. Persiapan alat a. ambil napas dalam lewat hidung. Dari partograf RM. pakai sarung tangan 5. Jelaskan cara meneran Selama kenceng2. Meja ginekologi d. simetris b. Klem lurus h. dagu nempel di dada. jarak vagina & anus  episiotomy nggak? Kalau diepis. keluarkan lewat hidung. 3 linen steril  dipake abis pake gloves 1 di bawah buttock ibu. Berdiri depan vulva 6. Pakai apron b. Anus berdilatasi & membuka e. 1 di atas perut ibu. Cuci tangan. saya dokter yang akan membantu kelahiran ibu. benang untuk jahit epis n. Saya memerlukan kerja sama ibu agar proses kelahiran lancar.5% 4. Salam dan perkenalan Selamat sore. Lampu ginekologi  nyalakan c. Melahirkan kepala 17 . Fetoscope/stetoskop Laennec p. Ergometrin l. Needle holder. Kepala janin memperlebar outlet vagina 3-4 cm g. Sarung tangan o. Klem tali pusar j. Kontraksi 3-4 kali dalam 10 menit. DM (makrosomia atau disproporsi kepala panggul) 2. Gunting epis g. Wadah bengkok q. tutup mulut. Perineum menegang d.

14. lahirkan bahu posterior Delivery sisa badan Baringkan di atas perut ibu. 18 . 16. imunitas. Terus potong Klem 1 di bayi ganti klem disposable (klem tali pusat yang warna biru) Bayi letakkan pada dada ibu. Tunggu putar paksi luar Setelah putar paksi luar  maneuver biparetal.11. 13. Periksa kotiledon di pars maternal (20-30 kotiledon). 18. yang gerak jari2nya aja. Tangan kanan dilapisi linen. pegang kepala. IMD (inisiasi menyusui dini  utk bangun hubungan bayi dengan ibu.dll) Kasih tahu kondisi bayi & selamat ke ibu Tulis di rekam medis Kala 3 Manajemen Aktif 19. menahan perineum untuk menghindari laserasi perineum Tangan kiri tahan kepala bayi di atas supaya nggak defleksi berlebihan Begitu kepala keluar. Bersihkan kotiledon dengan kasa hidrofilik. Suntik oksitoksin ke vastus lateral kiri 20. Jempol tetep di fundus agak bawah. Tegangan/traksi tali pusar terkendali Cara periksa tali pusar udah lepas atau belum:  Kussner: tali pusar ditarik. lahirkan bahu anterior Ke atas. Pijat uterus dengan ujung jari kiri. kerasa ketukannya di tali pusat  Klein: pas ibu mengejan kalo tali pusatnya keluar. suntik ergometrin di vastus lateral kanan agar uterus involusi (jika perlu). tangan kanan megang plasenta. sampai pundak Delivery bahu Ke bawah. Periksa vasa di pars fetal. 15. diklem terus dipotong. Kalau ada. buang linen Periksa ada lilitan tali pusar atau nggak. kalau ada yang putus mungkin itu vasa untuk plasenta lain. dilandasi linen steril untuk ngelap badan kecuali telapak tangan. kalo masuk-keluar tali pusat  belum lepas  Strassman: diketuk fundus uteri ibunya  kalo belum lepas. kita tekan di simfisis pubis. Plasentanya ditarik ke bawah terus ke atas pake klem yang udah dipindahin ke introitus vagina Diputar pas udah mau keluar. 21. posisi kepala bayi lebih rendah Klem 1 4-5 cm dari bayi Klem 2 diurut 2-3 cm dari klem 1. 17. trus udah selese ngejan masuk lagi  belum lepas Ciri udah lepas:  perubahan bentuk & tinggi uterus (dari globuler jadi pear & naik)  tanda ahfeld (tali pusar memanjang)  ada semburan darah mendadak Tangan kiri tekan daerah fundus dorsokranial. di posterior introitus vagina. Massage fundus uteri Setelah plasenta keluar. 12. Bapaknya bisa bantu stimulasi puting susu. lap muka bayi. leher.

oblique Presentasi: chepalic (vertex. handukan atau pake alcohol. Cuci tangan: pake sabun. Minta ibu tiduran di atas meja periksa. brow). presentasi muka  dagu. Umur kehamilan (HPM terakhir) c. GPA b. terasa tidak nyaman tapi tidak berbahaya bagi ibu dan janin ibu. Obat yang pernah diminum selama kehamilan g. shoulder Attitude: conveks (melengkung). breech. Keluhan kehamilan (sakit punggung karena perut tambah besar. menghadap lateral Situs/Lie: longitudinal. dan hasil yang diharapkan Saya akan melakukan pemeriksaan pada janin ibu. edem/makin bengkak) e. Saya perlu meraba2. Minta ibu berkemih dahulu. breech precentation  sacrum Leopold baru bisa mulai 28 minggu 19 . 27. concaf Posisi: nentuin di kanan atau kiri Posisi yang sering  PUKI (punggung kiri) Denominator: Presentasi Vertex  UUK. Anamnesis a. transvers. tujuan. Ga pake glove. 25. Salam dan perkenalan 23. Jelaskan prosedur. baju bagian perut disingkapkan & tutup bagian tubuh bawah dengan selimut. Kalau udah deket2 HPL. ANC teratur? Kapan terakhir ANC? d. Informed consent 26.ANTENATAL CARE Jadwal rutin ANC 1-28 minggu 28-36 minggu 36-40 minggu >40 minggu 1 x/bulan 2 x/bulan 1 x/minggu >1 x/minggu Gestational age Embryonal age = 2 minggu setelah gestational age HPL dihitung dari HPM terakhir  tanggal +7. ada tanda2 seperti bloody show dll atau nggak? 24. hipertensi) f. Berdiri di kanan. tahun +1 Perkiraan lahir 40 minggu Prosedur: 22. bulan -3. minta ibu menekuk kaki. 28. Penyakit yang pernah dialami (DM. face. bilas.

bukan pulsasi ibu. Finger di segmen bawah rahim 36. Hitung: selama 25 detik. hard. 20 . 5 detik berhenti. elongated Limb: small. Lakukan deep pressure di pelvic inlet Di mana cephalic prominence? Presentasi vertex: cephalic prominence sejajar limb (small part) Presentasi wajah: cephalic prominence sejajar punggung (flat & elongated) 37. Berdiri di kanan pasien. normal 120-160 x/menit. Dengan monoaural fetoscope. Mengukur fundal height berapa jari dari proc.Leopold 1 29. 30. Bagian fetal di fundus bulat keras kepala bulat lunak buttock kosong posisi transversa Leopold 2 31. Fundal height pakai meteran  estimasi umur gestational & berat Hitung dari simfisis pubis ke fundus tapi yang centimeter-nya dibalik biar nggak bias. Sambil pegang arteri ibu untuk memastikan yang didengar FHR. soft. Pegang di bagian agak atas simfisis pubis dengan tangan kanan. Fetal Heart Rate FHR bisa didengar setelah 18 minggu. posisi ganti jadi menghadap kaki ibu 35. caranya 5 detik itung. 5 detik itung  jumlah terus kali 4 Nentuin posisi ndengerin FHR  Kalau presentasi bokong  di atas umbilicus Kiri/kanan tergantung posisi punggung fetus  Kalau presentasi kepala  di bawah umbilicus Presentasi cephalic wajah: di dada Presentasi cephalic vertex: di punggung 39. memastikan leopold 1 (bisa pula digoyangkan utk skrining udah masuk panggul apa belum) Leopold 4 34. 32. xyphoideus/umbilicus Taruh sisi lateral jari telunjuk kiri pada bagian atas fundus uteri untuk menentukan ketinggian. multiple Leopold 3 33. Sampai di fundus. telapak tangan kanan kita diletakkan pada perut lateral kiri ibu. Turunin tangan gantian kanan kiri Punggung: flat. Telapak tangan kiri kita diletakkan pada perut lateral kanan ibu. tekuk meteran & lihat cm-nya berapa. 5 detik berhenti. Divergen: enganged Convergen: unenganged 38. 5 detik itung.

Posisi bayi b. RPS 1) Status: menikah atau belum 2) Riwayat ginekologis: GPA 3) Riwayat menstruasi: siklus dan mens terakhir? 4) Pakai kontrasepsi d. pakai Gram ketemu clue cell Nanti di-bau-in dulu setelah lici kapas diusap ke vagina. Cuci tangan: sabun. RPD: sudah pernah? e. Identitas: nama.( tinggi fundus -12) x 155 gram 40. Keluhan lain DD discharge vagina  Cervicitis GO: keluar seperti nanah. Estimasi kelahiran f.leukosit PMN >30  Vaginosis bakterial Gadnerella vaginalis (Gram negatif)  rangsang kuman aerob di situ  pH jadi basa (>4. jenis kelamin. bau.9% ada yang motil  Kandidiasis Kental. vaginalis. Penjelasan ke ibu a. dilihat pakai KOH 10 % ada pseudohifa 21 . gatal. discharge berbusa & hijau.5). (tinggi fundus -11) x 155 gram Kalau belum enganged. leukosit PMN >30 Non GO: DGNI (-). ciri baunya amis kayak ikan. DGNI (+) seperti biji kopi di intraselular. & nyeri c. Estimasi berat janin e. Keluhan utama Cairan vagina: sejak kapan. umur b. DJJ normal/nggak c. bilas. kuantitas. Anamnesis ginekologis a. seperti susu basi. frekuensi. konsistensi). Greeting & perkenalan diri 2. Pengukuran umur kehamilan d. Catat di medical record Tambahan: <20 bulan 20-<37 bulan 37-42 bulan >42 bulan Umur gestational Fetal weight aborsi preterm aterm postterm GYN EXAM (kasus IMS) 1. dilihat pakai NaCl 0. RPK: ada yang punya keluhan sama? f.Tinggi fundus x 8 : 7 (dalam minggu) Kalau udah enganged. karakteristik (warna. terutama pada pagi hari. terus periksa pH pakai kertas lakmus  Trikomoniasis Oleh T. dan handuk 41. Kapan kontrol lagi 42.

Tujuan  sedikit tidak nyaman tetapi tidak membahayakan 5. Perineum di tepi meja periksa Pemeriksaan in speculo 8. perlu dilakukan pemeriksaan alat kelamin. minimal siapkan 2 ukuran b. masuk & berhenti Kasa 2: pelangi 3x. 13. Tampontang/klem pean. 15. 14. bentuk lingkaran. Mangkok isi NaCl 95% k. 1 yang berlubang di area vulva Melakukan kateterisasi (kalau belum berkemih). kalau bukan IMS Periksa IMS h. 0. Duk steril Toilet vulva luar d. . Memposisikan & menyalakan lampu 9. Speculum graves. Informed consent & alasan2 Dari hasil anamnesis. Mangkok isi betadine/antiseptic Toilet vulva dalam f.5% chlorine untuk desinfeksi tingkat tinggi m. masukkan 3-4 cm kemudian diputar Inspeksi vulva dan area sekitar  Mons pubis persebaran rambut  Labia majora lesi pigmentasi pembesaran glandula  Labia minora peradangan 22 10. 12. mengecek peralatan: a. Air hangat c. Silakan bila ingin BAK 6. Pakai apron. & berhenti Meletakkan duk steril : 1 di bawah pantat. untuk membersihkan e. 4 slide. Meminta pasien buka celana dalam. Sarung tangan l. 3 Lidi + kapas j. tidur pada posisi lithotomy 7.3. kegunaan:  Dinding vagina: a) Kandidiasis  KOH b) Vaginosis bakteri  Gram  Ostium uteri eksterna: Cervicitis  Gram  Fornix posterior Trichomoniasis  langsung di bawah mikroskop karena udah ada NaCl i. Basin Cuci tangan & menggunakan sarung tangan secara aseptik Duduk di depan area genital Membersihkan vulva Pakai peyan dengan arah meminta untuk permudah visualisasi Kasa 1: dari depan turun. masuk anus yang terakhir. Klem ovarium g. 4. dari kanan medial sampai paha medial. 11. Lisol.

Melubrikasi tangan 24. dasarnya bersih. jari lain fleksi 26. jempol menahan. tumor. telunjuk di atas. Vulva 23   . dilatasi atau tidak  Warna  Perdarahan  Inflamasi  Discharge  Tanda2 carcinoma  Tanda Chadwick: cervix kebiruan karena dilatasi vena saat hamil  Adakah benang IUD 20. nyeri  herpes genitalis 16. putar 90o: adakah fistula. kalau belum pernah coitus jangan speculum 17. ada massa vesikel. Unlock & remove speculum 22. Inspeksi a. Cerviks  Mencucu. nggah usah diputar. Jari ketiga menekan ke posterior vagina lalu masuk bersama telunjuk hingga posterior fornix 27. Kunci & bersihkan dinding vagina & cerviks (toilet vulva dalam) 19. tepi meninggi. Laporkan a. Tangan kanan di depan vulva & tangan kiri di regio suprapubis Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari tengah & telunjuk tangan kanan Ibu diminta tarik napas 25. dasarnya tidak bersih. Pisahkan labia major dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri Jempol & jari tengah ekstensi. terus buka pelan2  Dikunci setelah sampai portio 18. dirotasi 90%. Pilih speculum yang tepat & screw-nya. Masukkan ke larutan 0. jari tengah di bawah  Kalau udah masuk 2/3. 21. dilatasi. Berdiri. Dinding vagina  Licin  Perdarahan  Discharge  inflamasi  Tumor b. tidak nyeri  sifilis Ulcus bentuk tidak rapi. Beri lubrikan dan masukkan  Minta pasien tarik napas  Tangan kiri di atas mons pubis dengan jempol dan telunjuk membuka labia minora  Tangan kanan memegang speculo. Speculum tetap dipegang waktu periksa lidi kapas. nyeri  chancroid Multiple.5% chlorine Bimanual examination 23. atau tidak  OUE terlihat atau tidak. perdarahan pada dinding vagina bagian anterior posterior Kalau IMS. kalau ada diambil  Ada tidaknya OUE Palpasi  Cysta bartholini Ulcus batas tegas. Sedikit kendorin.Clitoris Introitus discharge.

tuba fallopi. Uterus  Posisi (ante/retro)  Ukuran  Mobile ( naik turun. ber-rugae  Tumor. & isi (padat/cair)  Bila berdenyut  hernia c. Meja & kursi periksa c. tapi kalau 3 kali berturut-turut negatif.ducreyi. cukup 3 tahun sekali >70 tahun jika dalam waktu 10 tahun terakhir. cuci tangan. Adnexa (ovarium. durasi 3 hari Trichomoniasis: metronidazol 2 gram dosis tunggal Vaginosis bakterial: metronidazol 500 mg selama 7 hari Cervicitis: GO: cefixime 400 mg single dose oral atau ceftriaxone 200mg IM Non GO: doxycicline 2 kali dosis 100 mg selama 7 hari atau tetracycline PAP SMEAR Dilakukan pada saat telah melakukan hubungan seksual <30 tahun 1 kali per tahun >30 tahun pertama-tama per tahun. rel kereta/ikan yang berderet) Herpes genitalis: acyclovir 5 x 200 mg selama 5-10 hari Kandidiasis: mikonazol 200 mg/hari suppositoria vaginal. berarti nggak usah dilanjutin. Linen berlubang f. tangan bersarung tangan kobok2 di basin chlorine Lepas sarung tangan. 3 kali berturut-turut pada pemeriksaan sebelumnya negatif. 30. Cerviks  Cysta  OUE  Konsistensi cerviks d. kanan kiri) e. 29. ligamentum)  periksa ke arah fornix lateral  kaku atau tidak Masukkan semua alat ke larutan chlorine 0. Endocervix brush/ayre spatula h. Speculum grave g.5% Sebelum dilepas. Parametrium f. Glove e. Lampu ginekologi d. Alat a. 31. Vagina  Dinding licin.4 juta IU Cancroid: azythromycin 1 gram oral dosis tunggal (H. meminta pasien bangun dari meja ginekologis Matikan lampu Menyampaikan hasil Treatment:        Sifilis: IM dosis tunggal benzadil penilicillin 2. b. konsistensi. 43.28. Pakai apron b. 2 labelled object glass Untuk pemeriksaan 24 .

In speculo exam. bisa ambil endocerviks dan ectoserviks 55. pakai duk berlubang Cek area genital. & kondisi abnormal lain 54. High risk bila <18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual. speculum bisa dikasih air hangat tapi jangan lubrikan Kalau ada cervicitis. bleeding. berhenti. Katakan telah selesai Post-action Management 60. Melepas underwear Minta pasien untuk berbaring dengan posisi litothomi Posisikan pasien & nyalakan lampu ginekologis Prosedur 50. Kapan follow-up: kalau udah ada hasilnya IMPLANT 25 . lepas gloves Cuci tangan dengan air mengalir Handuk 62. 47. Waktu ngeluarin. Larutan etanol 90% yang sudah diberi label Surat rujukan Jelaskan tujuan & prosedur Anamnesis singkat a. Surat rujukan ke PA 65. inspeksi area vulva perineum & meatus urethra Laporkan: lesi. obati dulu 53. Rendam tangan berlapis gloves di larutan chlorine 0. Fiksasi dengan dicelup alcohol 90% 58. Tanda2 cervicitis (kalau ada. 48. 45. Semua dismear endocervical brush  ratakan di slide dengan diputar spatula ayre  ratakan bagian eksoserviks di slide dengan diusap 2 kali di tempat yang berbeda 57. Urinasi & cuci perineum sebelum pemeriksaan b. baru pap smear) d. Duduk depan area genital Toilet vulva luar. Endocervical brush putar 360o Spatula ayre putar 180o. erosi. Dekontaminasi dalam larutan chlorine 0. masa fragil. & dinding vagina Laporkan discharge. Matikan lampu Counseling 63. Tidak melakukan sexual intercourse & irigasi vagina dalam 3 hari terakhir Sampaikan kalau sedikit nyeri Informed consent Minta pasien a. jangan menyentuh sekitar 56. drainasi.5%. jumlah pasangan >1 hari c. diskolorasi 52. Keluarkan spekulum 59. obati dulu 12 minggu. forniks.5% dan ke tempat sampah 61. 49. Tanyakan pertama kali hubungan seks b.44. a. Terlihat serviks. masa. Cuci tangan & pakai gloves 51. Finding & next action: nanti hasil PA bisa nunjukkan adanya gangguan pertumbuhan 64. 46.

Menyusui bayi <6 minggu? (implant boleh 6 minggu setelah child birth) h. Salam & perkenalan diri 2. IUD bisa untuk 5-10 tahun & implant bisa tahan 6 tahun. GPA? (implant nggak boleh kalau lagi hamil) d. Udah berhubungan seksual? Kapan terakhir berhubungan seksual? c. mata/kulit kuning? Masalah blood clot pada kaki dan paru? Kontraindikasi: suspected pregnancy.1. gangguan hormonal. acute liver disease. KB penjarangan: Short term (+) implant: tidak mengganggu hubungan seksual (-) implant: gangguan hormonal tapi tidak separah oral. Anamnesis a. infeksi hepar. icterus. anomaly in heart coronary vessel. tangannya yang non dominan di abduksi & ekspose bagian volar tangannya 6. headache kronis? Severe sirosis hepar. abnormal uterus bleeding. Kapan terakhir mens? Waktu yg tepat: during menstrual period hingga 5-7 setelah menstruasi e. efek samping jadi gemuk (-) kondom & diafragma: kurang manjur Long term (+) IUD: dominan progesteron  mempertebal mucuos. breast malignancy. Riwayat penyakit Breast cancer? Hipertensi. Udah menikah? b. tumor hepar. thromboembolic. harus rajin minum. prosedur Mekanisme kerja implant: menebalkan cervical mucous & mengganggu siklus menstruasi 4. nggak berefek hormonal (-) IUD: sensasi nggak nyaman saat coitus. Cuci tangan. Tujuan. estetika jelek (-) oral: murah. Informed consent 5. brain vascular disease. minta pasien berbaring. Nyalakan lampu ginekologis Alat:  Handuk  Glove  Cocher  Kasa  Mangkok isi betadin  Linen steril berlubang  Syringe  Lidocain 1% 3-5 ml tanpa efinefrin  Scalpel + pegangan  Trocar/inserter 26 . bisa peradangan panggul KB penghentian: tubectomy 3. Durasi KB? g. Vaginal bleeding? f.

Salam & perkenalan diri 2. ke mana utk lepas IUD 1. Identitas b. 8. & memar  Jangan angkat benda berat dulu  Jangan hubungan seks dalam 12 jam pertama  Coitus sebelum 3 bulan pakai kontrasepsi lain  Kontrol 5-7 hari atau lebih cepat kalau ada tanda2 infeksi  Kasih tau tipe implant. pasang bandages Rendam alat2 di basin berisi chlorine 0. 1 cc di kanan. Tujuan d. tanggal insersi.7. tahan dengan plunger ketika trocar ditarik sampai tanda 2 (deket jarum). 14. isi capsul dg implant. 13. kapan (bulan & tahun) lepas. 19.5% selama 10 menit Rendam & lepas gloves Cuci tangan & isi medical record Edukasi  Jaga tetap kering lukanya selama 4 hari  Lepas bandage setelah 2 hari  Mungkin akan nyeri. 15. makanya pasang pas akhir menstruasi  Sedang menderita STD  Vaginal bleeding 27 . Kontraindikasi  Hamil. Indikasi  Menunda kehamilan long term  Untuk ibu menyusui  Ibu yang nggak mau KB hormonal  Risiko STD rendah  Ibu yang berhasil dengan IUD sebelumnya e. 18. 45-60o Scalpel 2 mm tegak lurus Masukkan trocar (30o) & plunger ke subcutan dengan posisi Glaur tetap di atas hingga tanda 1 (deket kita). 10. Di trocar ada glaur (bagian datar yang tulisannya “10”) buat nandain bevel ada di atas Ada tanda 1 & 2  Pendorong/plunger  Implant  Klem mini Kalau mau. keluarkan plunger. Riwayat GPA c. aspirasi dulu. Lakukan hal yang sama utk tiap implant. 9. 1 cc di kiri Subcutan. Jarak tiap implant/silastik 15o Palpasi Remove linen Wiping dengan alcohol. bengkak. gambar pakai ballpoint. Anamnesis a. 17. 11. 12. lalu pasang linen berlubang Injeksi anestesi lokal Anestesi 1 cc di tengah. 16. arah kipas ke atas Cuci tangan & pakai sarung tangan Preparasi area dengan betadin 3x dari sentral ke perifer.

11. gunakan glove dengan metode open Toilet vulva luar In speculo sama seperti gyn exam untuk role out kontraindikasi Periksa bimanual untuk exclude peradangan Lepas sarung tangan. Klem ovari i. diidentifikasi dari discharge cerviks atau darah di sonde Arah kelengkungan sonde bergantung pada arah uterus Tanda biru sesuai kedalaman uterus menurut sonde 28 . 4.  Discharge purulent  Keganasan ginek f. Handuk b. 9. Speculum h. 5. samarkan perdarahan Informed consent Berkemih dahulu Siapkan alat a.3. jangan dimasukkan lebih dari 5 menit Pakai sarung tangan yang baru Lakukan preparasi vulva & struktur sekitar pakai peyan & kasa betadin Tutup dengan linen steril  tapi kalo tadi linennya ga dicabut. Kasa e. 12. Glove c. Duk berlubang g. 6. IUD set l.5% o. Lampu ginekologis Ibu diposisikan litotomi Minta ibu buka celana Nyalakan lampu ginek Cuci tangan pakai desinfektan. cervix lunak. 15. Riwayat menstruasi Hari2 terakhir karena exclude kehamilan. Basin berisi chlorin 0. Klem buaya n. 21. Gunting panjang untuk potong benang m. 17. 14. melingkar dari dalam keluar 3x dengan kasa + betadin atau dengan lisol supaya nggak bercak/mengganggu visualisasi Jepit tenaculum di bibir cervix di jam 11 & 1 atau 12 saja Sondekedalaman uterus. Peyan d. ga usah preparasi vulva sama masang linen lagi Pilih speculum Speculum dimasukkan ke uterus Bersihkan vagina dengan klem ovary. Povidone iodine f. 8. 16. 20. 18. 10. Tenaculum untuk fiksasi jam 1 & 11 k. sebelumnya kobok2 di basin chlorin Masukkan lengan IUD ke dalam inserternya tanpa glove sampai IUD nekuk. 13. 19. 7. Sonde uteri j. 23. 22.

tandai sesuai kedalaman uterus (dilihat dari discharge cerviks atau darah di sonde) 25. Indikasi. Cuci sarung tangan di basin chlorin. lepas sarung tangan 34. 2. Edukasi  Bisa dilepas & fertile lagi  Keluar bercak selama 3 hari pertama  Tidak hubungan seksual selama 3 hari pertama  pertinggi kemungkinan cervicitis  Perubahan silklus mens setelah 3 bulan pertama  Pakai kontrasepsi lain pada 3 bulan pertama  Kontrol saat haid berikutnya  Kontrol lagi bila benang teraba  Kontrol rutin tiap 1 tahun Efek samping:  Bleeding  Leucorrhea  Nyeri dan terasa saat hubungan seks BEDAH  Simple Suturing. Inserter juga dikeluarin sebagian sambil diputar2 supaya benangnya meluntir 28. Ibu dipersilahkan pakai celana lagi 36. Inserter dikeluarin 30. Kalau ada perdarahan. Masukkan dengan metode push plunger atau pull inserter 26. Tulis laporan di rekam medis 37. Plunger dikeluarin 27. Sirkumsisi. tetapi akan diberi obat anestesi dulu 29 . ras. Prosedur & risiko Nanti akan dijahit. Bedah Tumor SIMPLE SUTURING  Anamnesis/riwayat medis  Umur.24. Taruh sonde di samping inserter. Potong benang pakai gunting benang. di-dep dengan kasa pakai klem ovarium 33. jenis kelamin. agak nyeri. pekerjaan  Onset Perawatan luka tertutup < 8 jam Perawatan luka terbuka > 8 jam  Durasi  Rasa nyeri  Pernah suntik tetanus? 1. Matikan lampu 35. Sisipkan benang dengan klem buaya di fornix posterior 31. dari samping 29. Lepas tenaculum 32. apa yang akan dilakukan & mengapa Ini harus dijahit untuk mencegah infeksi & mempercepat penyembuhan.

google. Sabun 3. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Persiapan alat: Untuk hand washing 1.Risiko: ada bekas luka. Posisikan pasien 5. mask 6. alkohol. Pastikan air nyala 2. agak sedikit nyeri 3. Pakai baju bersih. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown                   Cocher Kasa steril Comb Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis NaCl Perhidrol H2O2 Needle holder Cutting needle 4/8 Benang non absorbable 3/0 Gunting benang Klem hemostatis Kassa softratul di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Informed consent 4. Sikat tangan steril. cap. Pembersih kuku 4. sekalian dibuka 30 .

Initial washing & liquid soap c. radial. Aspirasi. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis Bersihkan luka dengan NaCl. Pakai gaun raba dalam b. Injeksi dengan tangan kanan sudut 45o. Ambil & bagi handuk b. Keringkan tangan satu-satu c. Buang e. Pakai sarung tangan closed method Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai povidone iodine 3x dari sental ke perifer di sekeliling luka. Transfer sikat. Scrub a. Tutup kran dengan siku 11. dan sabun antiseptik cair c. Siapkan sikat steril. Raba kerah c. tangan kanan bersihkan luka pakai kasa yang dipegang pakai cocher. Tangan kiri bawa mangkok berisi NaCl. ulnar. dorsal. Handukan a. interdigiti. grojog. 11. Luka di-tul-tul dengan perhidrol untuk bunuh bakteri anaerob 31 7. Bilas d. pegang di tampat sama d. pembersih kuku. 9. Persiapan a. Bilas f. Terus tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). Bersihkan kuku f. Scrub. Tangan diangkat e. tangan Palmar. kuku c. . Sabun taruh di sikat b. kalau nggak ada darah.Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 8. Buang pembersih kuku 10. Pakai d. Buka kran dengan siku b. Membuka bungkus sikat steril 9. 10. Anestesi subcutan Ambil jaringan lemak dengan tangan kiri. Tuang NaCl. Buang handuk 13. suntikkan anestesi. Initial washing a. Pakai gown a. Tutup/ikat 14. Masuk ke ruang operasi 12. 8. Cek air b.

12. Bersihkan lagi pakai NaCl, grojog. 13. Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting 14. Tangan kiri pegang pinset chirurgis (pegang kulit) & pinset anatomis (jemput jarum) 15. Masukkan benang ke kulit dengan posisi tegak lurus, lengan abduksi, posisi pronasi 16. Jumlah jahitan 2p, dengan p adalah panjang luka. Jarak jahitan pertama dari ujung luka = 0.25 cm Jarak tiap jahitan = 0.5 cm 17. Kalau ada perdarahan  di-dep  diklem  dijahit banting 18. Pakai sofratul, terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester, bentuk bingkai 19. Edukasi pasien (daily plan, medicamentosa, specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa), lepas jahitan 1 minggu (selain muka) atau 4-5 hari (muka)  Kenali tanda2 infeksi (gatal, keluar pus)  Tidak boleh kotor, tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral)  <5 tahun sebelumnya pernah suntik ATS  nggak usah suntik lagi, >5 tahun sebelumnya belum suntik ATS  nggak usah suntik lagi R/ Tab. As. Mef. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Amox. 500 mg No XV S q8h

SIRKUMSISI 1. Salam, perkenalan. 2. Indikasi medis a. phymosis (preputium ga bisa ditarik ke proksimal) b. paraphymosis (preputium ga bisa dibalikin setelah ditarik) c. balanitis (radang pada glans penis) d. balanopostitis (radang pada glans dan preputium/kulit kulup) e. mencegah infeksi dan penyebarannya Indikasi non-medis: agama 3. Kontraindikasi a. hipospadia (arah pipis di bawah/bagian ventral) b. epispadia (arah pipis di atas/bagian dorsal) c. chordee (penis bengkok) d. webbed penis (ada jaringan yg menghubungkan skrotum dengan bagian dorsal penis) e. mikro penis (<2,5 SD) f. hemostasis abnormality (ada gangguan pendarahan) 4. Jelasin prosedur dan informed consent (ke anak dan orang tuanya). 5. Anaknya yg mau disirkumsisi disuruh pipis dulu. 32

6. Persiapan alat korentang untuk proteksi a. handuk b. gloves untuk disinfeksi a. cocher b. kassa steril c. mangkok berisi povidon iodine d. duk steril e. klem duk anestesi a. spet berisi lidocain 2% tanpa epinephrine (kalo epi bisa nekrosis) 2 ampul b. pinset cirurgis c. pinset anatomis untuk gunting preputium d. mosquito klem e. klem lurus 3 buah f. gunting jaringan jahit a. benang cat gut 3/0 b. benang cat gut 2/0 c. jarum 4/8 d. klem vasa e. sofratul f. kasa g. plester 7. Posisikan pasien supinasi, minta buka celananya. 8. Ganti baju bersih, lepaskan aksesoris di tangan. 9. Prosedur cuci tangan aspetik. 10. Keringkan, pasang gloves. 11. Lakukan prosedur antiseptik pada pasien. Dengan menggunakan cocher, kassa + povidon iodine  bersihkan mulai dari ujung penis sampai ke pangkal – suprapubik – medial paha. 12. Tutup dengan linen steril berlubang. 13. Anastesi (block). Menembus fascia Buck.  Spet berisi lidocaine diinjeksi di bagian proksimal penis. Masukkan 90 derajat di fascia Buck.  Aspirasi. Injeksi 1 cc.  Miring 30 derajat kanan. Aspirasi lagi. Injeksi 1-2 cc.  Miring 30 derajat kiri. Aspirasi. Injeksi 1-2 cc  Ciri udah masuk fascia Buck a. sensasi menembus kertas b. kalau diangkat ikut naik c. kalau diinjeksi ga ada indurasi 14. Tunggu 1-2 menit. Tes efek anastesi dengan dicubit preputiumnya. 33

15. Pisahkan preputium dari glans.  Tangan kiri menarik preputium, tangan kanan megang kassa + povidon iodine memisahkan preputium, atau  Klem teknik: menggunakan mosquito klem. 16. Bersihkan smegma. Preputium ditarik ke belakang, bersihkan smegma dengan kassa + povidon iodine. Bersihkan dari distal ke proksimal. 17. Tandain daerah insisi: pake pinset cirurgis, 2-4 mm proksimal dari sulcus coronaries, melingkar searah jarum jam (3-4 titik cukup). 18. Klem preputium di arah jam 11 – 1 - 6  ditarik ke distal  jahit di arah jam 12 (jahitan control) jahitan di klem mosquito, lengkungan mosquito menghadap ke atas (benang 3/0) 19. Jahit frenulum diarah jam 6  figure of eight, (benang 2/0) 20. Potong preputium searah garis marking, ke arah kanan-kiri, sampai frenulumnya terpapar, potong di sepanjang sulcus coronarius (sebenernya potong kulitnya baru mukosanya). 21. Rapihkan guntingannya, lakukan bleeding control. 22. Kalau ada bleeding di depth  kalau ga bisa  klem dg klem vasa  jahit 23. Lakukan additional hecting di 10-2-4-8, jahitan seperti jahitan control (benang 3/0) 24. Dicek apakah ada bleeding 25. Pasang sofkratul mengeliling  kassa sirkular (pake plester dikit aja)  lepas duk  gamma bandage (pake kassa lalu direkatkan ke kulit dengan plester) 26. Edukasi a. Jangan basah b. Kurangi aktifitas, kurangi makanan mengandung protein c. Ganti perbannya, control 2-3 hari setelahnya d. Antibiotik (amoxicillin 500 mg s.3.d.d.1) & antinyeri (Paracetamol 500mg s.p.r.n 3.d.d.1)

BEDAH TUMOR Sepertinya nggak pake anamnesis & Px, tapi gapapa-lah biar tau…  Anamnesis/riwayat medis  Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan  Durasi  Onset  Progresi (pembesaran yang cepat + nyeri  inflamasi; pembesaran progresif  malignansi)  Rasa nyeri  Pemeriksaan fisik/lokal  Inspeksi  Lokasi  Jumlah: single, multiple  Ukuran & bentuk: spherical, ovoid pyriform, irregular  Permukaan: lobulasi (lipoma), kasar & irregular (verucca)  Tepi: tajam, round, regular/iregular  Warna  Pulsasi yang tampak Lipoma: lokasi, single/multiple, massa berbentuk discoid, permukaan lobulasi, tepi reguler, warna seperti warna kulit, tidak tampak pulsasi.

34

benjolan diambil. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown            Cocher Kasa steril Comb Alkohol Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis Surgical blade ukuran 10 35 .  Indikasi: efek tekanan. diameter 1-10 mm. Informed consent 23. apa yang akan dilakukan & mengapa  Ada benjolan. & umumnya tidak nyeri. single/multiple. Indikasi. masa akan tampak lebih jelas. berbatas tegas. ada yang bentuk bunga kol. Verucca: lokasi. lalu dijahit. Pakai baju bersih 25.. & tepinya  Konsistensi: soft/lunak (lipoma)  Fluktuasi  Transluminasi  Adanya pulsasi  Mobilitas dari benjolan Lipoma: berlobus & semikistik. ukuran. berwarna merah atau coklat. tidak ada fluktuasi. 20. Posisikan pasien 24. batas tegas. permukaan. Palpasi  Temperatur/suhu  Rasa nyeri  Konfirmasi lokasi. Pada pencubitan kulit. kosmetik  Akan dilakukan pengangkatan tumor 21. Verucca: teraba kenyal pada kulit atau keras pada telapak tangan/kaki. Prosedur & risiko Akan dibuat irisan. mobile. agak sedikit nyeri 22. dan umumnya tidak nyeri. pak/bu. ini namanya lipoma/verucca. papula terkadang ada celah pada permukaannya. tidak tampak pulsasi. Risiko: ada bekas luka. bentuk.

Pembersih kuku 8. Initial washing & liquid soap i. Sikat tangan steril. dan sabun antiseptik cair f. Membuka bungkus sikat steril 16. alkohol. Geser meja pake kaki. Pastikan air nyala 6. pembersih kuku. Tangan diangkat k. Bilas j. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Pastikan taplak oke. Kalau ada bagian meja yang kebuka. Cek air e. Persiapan d. sekalian dibuka Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 15. Kalau taplaknya nempel sama benda lain. minta ganti taplak aja. biarin aja.         Scalpel/handle ukuran 3 atau 4 Tissue retraktor Gunting lengkung Klem mosquito Forsep jaringan (Allis) Needle holder Round & cutting needle Catgut 3/0 & benang nilon Gunting benang di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Sabun taruh di sikat 36 .. Persiapan alat: Untuk hand washing 5. Buka kran dengan siku h. Buang pembersih kuku 17. Bersihkan kuku l. Siapkan sikat steril. Scrub g. Initial washing g. Sabun 7.

Pakai gaun raba dalam f. Tangan kiri megang pegangan blade. sampai indurasi. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis 29. Terus povidone iodine 3x. terus yang bagian atas diputar)  lipoma only 30. Pakai gown e. Pakai h. Tekan dg kassa buat ngurangi darah habis insisi 8. Kalau ada perdarahan. ligasi (yang klemnya dibanting) 9. Pasang benang terserap/catgut pada jarum round 37 . scalpel nomer 3 atau 4 3. 15-30 derajat. Buang k. interdigiti. ulnar. 2 jari kiri fiksasi kulit 7. Anestesi infiltrasi Lipoma: irisan linier  anestesi intracutan. ke 4 arah Verucca: irisan 3:1  anestesi intracutan. Buang handuk 20. Tutup kran dengan siku 18. 15-30 derajat. kuku i. Handukan d. Tangan kanan insisi. muterin si elips 28. Bilas l. pake clamp/needle holder. megang kulit verucca pakai pinset chirurgis 5. Masuk ke ruang operasi 19. Pasang scalpel. Irisan kulit 1. Angkat tumor  Lipoma sampai kapsul diambil pake Allis 33. Raba kerah g. Aksis irisan sesuai garis kulit 31. ke 4 arah. dorsal. Masukin retraktor (pertama satu arah. Keringkan tangan satu-satu f. Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai alkohol 3x dari sental ke perifer. Pakai sarung tangan closed method 26.h. Pisau nomer 10. radial. pegang di tampat sama j. Transfer sikat. tangan Palmar. Pegang pisau seperti pegang pensil 4. Insisi linier sedikit lebih kecil dari diameter tumor (lipoma) atau 3:1 untuk hindari ear dog (verucca). Ikuti garis Langer 6. Diseksi (lipoma only)  Diseksi tumpul: klem mosquito  Diseksi tajam: gunting jaringan yang lengkung  Telusuri kapsul lipoma Klo veruca  diseksi tajam: pake blade 32. tunggu kering. tangan kanan megang clamp. 27. Scrub. 2. Ambil & bagi handuk e. tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). Tutup/ikat 21. sampai indurasi.

kalau masih  hemostatic clamp dibanting  ligasi dengan benang terserap 3/0 35. medicamentosa. Jahit subcutan  lipoma only. bentuk bingkai 38. 500 mg No XV S q8h Kesimpulan: Lipoma only -insisi linier -pakai tissue retractor -diseksi tumpul/tajam Verruca only -insisi 3 : 1 -under cutting 38 . Lepas tissue retractor. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Perdarahan di-deb pakai kassa yang dipegang pakai cocher. terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester. Amox. lepas jahitan 1 minggu  Kenali tanda2 infeksi (gatal. tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral) R/ Tab. keluar pus)  Tidak boleh kotor. Klo veruca kalo dalem baru jait subkutan. Edukasi pasien (daily plan. specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa). terus jahit pakai benang terserap dengan jarum round 36. Mef. Pakai sofratul.5 % & cuci tangan 39. Jahit cutan Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting Lipoma  dari ujung ke ujung Verruca  dari tengah Kalau ada dog ear. Spesimen masuk larutan fiksasi. As. under cutting palai scalpel/gunting  verucca only 37.34. lampirkan form pengiriman (lipoma only) Masukkan alat ke air chlorine 0.

Personal protection/general precaution Cuci tangan. Peralatan: radiant warmer/table warmer. 7. prolonged labour (>24 jam). Fetal: fetal distress.EMERGENCY Neores. dinyalain. IUGR 3. pakai glove. Persiapkan 1 lagi personel ahli 5. & hangat minimal 3 buah: 1 shoulder roll. CPR. Defib NEONATAL RESUSCITATION 1. dibantu dengan alat. anemia. Kateter. 1 untuk alas. infeksi b. Antepartum: diabetes. Informed consent 4. placenta previa. Intrapartum: PROM (>18 jam sebelum kala 2). hipertensi (pregnancy/kronis). 6. ET. 1 untuk nerima bayi 8. Suction devise 39 . Linen bersih. kering. Perkenalan diri 2. lembut. Peralatan a. EKG. chorioamnionitis c. prolonged kala 2 (>2 jam). Antisipasi faktor risiko a. iv line. DresBand.

Bag. 1  bayi cukup bulan 2) ET dengan diameter 2.1) bulb syringe 2) mechanical suction 3) suction catheter 5F. At term kah? 11. 3. 14 F Pilih yang nomor 12 F atau 14 F untuk mekonium b. 8F. & mask 1) Bag 2) Mask 3) Sumber oksigen 5 L/menit 100% c. tepuk telapak kaki) Reposisi 17. Peralatan intubasi 1) Laryngoscope dengan extra set baterai & lampu Blade Muller. Nyalakan oksigen 5 L/menit PROSEDUR Tanyakan 10. Bebas mekonium kah? 12.5. Jam g. Bernapas/menangis kah? 13. 0.5 mm BB <1000 kg atau usia <28 minggu 3 mm BB 1000-2000 kg atau usia 28-34 minggu 3. airway. Kalau hidung dulu di-suction  ada reflex nafas  cairan yang di mulut bayi nanti malah ikut kehisap. 00  bayi sangat kurang bulan Ukuran no. 12 F. Syringe insulin untuk injeksi epinephrine e. 4 mm 2. lurus Ukuran no. 16. Stetoskop 9.03 ml/kgBB epinephrine lewat vena umbilicalis f.5.01-0. & tonus otot baik  taruh di table warmer  routine care (warm. Tonus otot baik kah?  Bebas mekonium: Kalau umur gestasi. Beri O2 bila perlu 40 . 10F. 0  bayi kurang bulan Ukuran no. 3. keringkan)  asses warna Kalau ada yang tidak  initial step 14. napas. Hangatkan 15. Posisikan kepala bayi & buka airway Suction mulut dulu baru hidung.5 mm BB 2000-3000 kg atau usia 34-38 minggu 4 mm BB >3000 kg atau usia >38 minggu Rumus kedalaman pemasukan ET = BB anak dalam kg + 6 cm 3) Stylet d. Keringkan Stimulasi (gosok punggung sekalian ambil linen yang buat ngeringin. valve.

3 pegang mask. jadi cuma 20x ventilasi. Warna kulit 26. Insert laryngoscope c.. Bila tidak vigorous a. good muscle tone 22. Gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut b. Bila bayi vigorous  initial step  gunakan bulb syringe 12 F atau 14 F suction catheter utk mulut & hidung 24. selimuti bayi) Hasil evaluasi  Kalau ada yang jelek: 25. Respirasi/menangis? 19. katakan breath. Posisi 1) Kepala bayi slightly extended 2) Posisi peresusitasi pada posisi kepala bayi 3) Pegang mask dengan tangan kiri dan bag dengan tangan kanan 4) Rim mask mengcover dagu. Tepat waktu Evaluasi setelah 30 detik ventilasi 41 . mulut. Evaluasi: respirasi... Bila ada meconium pada cairan amnion. hitung dalam 6 detik terus dikaliin 10 20.. Kalau HR < 100x or apnea VTP a. Frekuensi. g. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. baru hidung Jari 1. tekanan. Test bag & mask d. jari 4 & 5 angkat dagu Tahan rim mask e. tetapi tidak mata Tutup dagu. Lakukan selama 30 detik. two.. Setelah initial care. two.. breath. Kalau warna cyanosis (only)  free flow O2 selama 30 detik Evaluation setelah 30 detik free flow O2 a. Respirasi b. Kalau vocal cord nggak kelihatan  gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut & pharynx posterior sehingga glottis dapat divisualisasi* d. 2. warna 23. HR > 100 bpm. dan irama PPV Laju 40-60 kali/menit.Evaluasi Dari awal sampai evaluasi: 30 detik 18. three. Apply suction saat ET ditarik f. kalau semua bagus  observational care (perawatan tali pusar. dan hidung. Pilih bag dan hubungkan dengan sumber oksigen yang mampu menghantarkan 90-100% c. Tekan bag f. Pilih device & instrumen b. Detak jantung. three. Lanjutkan ke initial step (suction mulut & hidung pake bub syringe) g. Kalau vocal cord udah kelihatan  insert ET yang dihubungkan dengan suction devise tertentu e. HR. Warna kulit  Ada mekonium: 21. bayi vigorous/tidak? Vigorous: strong respiration effort.

Tepat waktu Evaluation setelah 30 detik kompresi dada + VTP a. Persiapan alat a. Kalau lagi-lagi HR masih < 60x/menit  kasih epinephrine (bisa diulangi sampai 3x) terus lanjut chest compression + VTP Evaluation setelah 30 detik epinephrine + kompresi dada + VTP a. Respirasi b. selimutin) ENDOTRACHEAL INTUBATION Indikasi pemasangan ET:  Menjaga patensi jalan napas  Mengurangi risiko terjadinya aspirasi  Melakukan suction trachea  Melakukan pemberian oksigen konsentrasi tinggi  Melakukan administrasi obat tertentu  Memelihara pengembangan paru yang adekuat (volum tidal adekuat 10-15 ml/kgBB/menit  10-12 kali/menit) Kontraindikasi:  Trauma maxillofacial 1. perawatan tali pusar.5 detik kompresi dada & 0. Respirasi b. Warna kulit 28. mask d. Oksigen 10-12 L/menit konsentrasi 100% 42 . Gloves b. Tentukan lokasi & lakukan kompresi dada 1/3 lower part processus xiphoideus.5 detik ventilasi) Lakukan selama 30 detik. jadi cuma 15 siklus. Bag. Warna kulit 27.a. kedalaman 1/3 dinding anteroposterior c. One and two and three and breath. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Kalau udah oke (HR>100x/menit. valve. Ratio.. Respirasi b. e. pink)  post-resuscitation care (gradually diminish VTP. frekuensi Kompresi dada : ventilasi = 3 : 1 (90 kompresi dada & 30 ventilasi dalam 1 menit) 1 siklus 2 detik (1. breathing/crying. Cara melakukan prosedur Tekan dengan 2 jempol atau dengan jari telunjuk + jari tengah d. Posisi resusitator Yang ventilasi di kranial bayi. Warna kulit 29. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Spray alkohol c. yang chest compression menghadap bayi b. Bila setelah dievaluasi lagi: HR <60x/menit  chest compression + VTP a.

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. 9.

10. 11.

12.

13. 14. 15.

e. ET sesuai ukuran kelingking, biasanya adult male ukuran 8  sediain 3 ET : ukuran 7.5, 8, 8.5, adult female ukuran 7  6.5, 7, 7.5 cek balon & konektor, dikembangkan lalu dikempiskan lagi dikasih lubrikan water soluble, taruh di kanan pasien f. Spet 10 ml, dicoba ke ET g. Laryngoscope ukuran 3, satukan blade & handle, coba nyala atau nggak Machintos, bengkok  diletakin ujungnya di vallecula glossoepiglotica Muller, lurus  di bawah epiglottis  biasanya pada neonatus h. Stylet i. Suction j. Stetoskop k. Plester l. Oropharyngal airway Pakai glove Posisi di kranial pasien Periksa ada tidaknya cedera cervical Trias: penurunan kesadaran, multiple trauma, dan jejas di atas clavicula krepitasi di bagian leher belakang, otorrhea/rhinorrhea, jatuh lebih dari 2x ketinggian badan Triple maneuver, kalau ada cedera servikal pasang collar neck, jaw thrust Cross finger: jempol kiri menekan mandibula dari dalam, jari telunjuk menekan palatum durum Corpus alienum  finger swab Cairan  suction Pre-oksigenasi dengan bag-valve-mask 10-12 L/menit; 10-12 kali/menit  selama 2-3 menit atau hingga saturasi 95 % Jempol & jari telunjuk pegang mask Jari tengah, manis, & kelingking pegang mandibula Kalau ada refleks muntah  hentikan ventilasi, suction, dan segera pasang ET Reposisi kepala sniffing position (agak ekstensi) Pasang laryngoscope a. Pertahankan pembukaan mulut dari luar dengan tangan kanan b. Pegang laryngoscope dengan tangan kiri, masukkan dari sisi kanan tanpa menekan gigi c. Susuri sampai pangkal lidah dari sebelah kanan, digeser ke kiri d. Sampai ketemu epiglottis, masukin ke vallecula, sampai nemu vocal cord e. Masukkan ET hingga mencapai ukuran 20-22 Male 23 cm, perempuan 21 cm dari mulut, lihat garisnya ET ntar terletak antara pertengahan laryng sampai bifurcatio carina Lakukan nomer 10 dalam 15-30 detik atau tahan napas. Kalau tidak cukup, segera ulangi, oksigenasi terlebih dahulu Inflasi balon dengan syringe berisi udara 10-20 ml Overinflate  nekrosis Terlalu lemah  naik turun Amati pengembangan paru dengan bagging, minta asisten oksigenasi, terus kita auskultasi Apeks, basis  vesicular Epigastrium  nggak kedengaran, kalau ada suara berarti salah masuk Periksa kanan & kiri Fiksasi ET dengan plester mirip gamma di tulang2 keras, ke arah dekat ventilator berada Pasang OPA (mayo/goudel), jadi ET nggak kegigit kalau pasien tiba2 sadar Sambungkan ke ventilator untuk maintain volum tidal 10-15 ml/kgBB/menit

IV LINE 43

. 1. Indikasi, anatomi, prosedur teknik Indikasi:  Memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian  Mengganti cairan yang hilang, menghindari dehidrasi  Memasukkan obat (sebagian besar berupa antibiotik)  Memperbaiki atau mencegah terjadinya gangguan cairan dan elektrolit tubuh Karena langsung masuk aliran darah bisa nyebabin:  Masuknya organisme penyebab infeksi  Masuknya benda asing (udara  emboli)  Alat & cairan bisa bikin iritasi Kontraindikasi:  Lokasi yang lebih distal dari lokasi penyuntikan sebelumnya  Sklerosis/pengerasan vena  Infiltrate site atau phlebotic vessels  Memar, nyeri, infeksi  Percabangan vena  Lokasi katup vena  DVT, penyakit katup vena Tujuan utama resusitasi pada pasien kritis (kurang perfusi jaringan  metabolisme anaerob & asidosis laktat): mengembalikan perfusi jaringan/oksigenasi selular & mempertahankan fungsi organ tubuh melalui resusitasi cairan. 2. Informed consent  Prosedur & risiko  Permisi Selamat siang, Pak/Bu. Saya dokter jaga. Saya akan melakukan pemasangan infus di lengan ibu. Infus ini dipasang untuk mengganti cairan tubuh ibu yang hilang. Apakah ibu bersedia?  Posisikan pasien  Bebaskan lokasi penyuntikan, pilih, & periksa lokasi penyuntikan Cuci tangan 6 step pakai alkohol 3. Persiapan alat Antiseptik: agen untuk menghilangkan mikroflora di kulit  alkohol & yodium Disinfektan: agen untuk menghilangkan mikroflora di benda mati  Over the needle catheter  vasa superficialis (+) kanulasi vasa hanya dalam 1 langkah sederhana (-) ujung kateter cenderung mudah rusak, merusak endotel vaskular  phlebitis & trombosis Ukuran kateter (merknya abbocath): 16 abu2 muda bedah mayor & trauma 18 ijo transfusi darah, produk darah, & obat-obat kental 44

20 pink pasien dewasa 22 biru anak & orang tua 24 neonatus 26 abu2 tua  Jenis cairan: 1) Kristaloid Dapat menembus membran semipermeabel & berubah jadi kristal. 25% tetap di ruang interstisial, 75% ekstravasasi ke ruang interstitium. (+) murah & mudah diperoleh (-) bisa edema, volum harus ditambah supaya ekuivalen dgn koloid a. Cairan hipotonik: dekstrosa 5%, NS 0.5% b. Cairan isotonik RL: syok hemoragik, meminimalkan asidosis 0,9% saline: acute brain injury & syok hemoragik c. Cairan hipertonik, buat penelitian NS 3%, 6%, 7.5% 2) Koloid a. Koloid protein (+) dibutuhkan lebih sedikit (-) mahal, tidak memulihkan rongga interstisial, bisa anafilaksi  Albumin serum (5% & 25%)  Solusi gelatin (plasmagel, haemacell, gellifundol) b. Koloid nonprotein (+) mahal, tapi masih lebih murah daripada albumin (-) koagulopati, anafilkasi, gangguan fungsi ginjal berupa cedera tubular  Starches  Dekstran 40%, 70% 3) Darah Biasanya dalam bentuk paket RBC. Biar aman: 1-2 unit darah O-Rh negatif >1-2 unit: dihangatkan dulu 4) Komponen darah Whole blood, labile blood component, & bahan medik turunan dari plasma. D5W : glukosa RL : Na, Cl, laktase D5W/RL: glukosa, Na, Cl, laktase 0,9% NaCl, 6% HES, 5% albumin, 25% albumin: Na, Cl Peralatan:  Sarung tangan bersih  Cairan infus/plabot 500 ml  Infus set  Penyangga infus  Alas yang terbuat dari plastik  Bengkok 45

periksa spike & tabung. & tepuk ringan di atas vena. paling distal dari jantung  Vena lurus. dari samping vena masukkan kanula dg sudut 15-300  Tunggu flashback ke ruang flashback jarum  Posisikan alat. terus digantung  Cuci tangan  Pakai sarung tangan bersih a. minta pasien genggam & buka genggaman bergantian. Pungsi vena dengan benar  Buka tutup abbocath  Stabilkan vena dg meregangkan kulit. posisikan menghadap atas. Identifikasi lokasi vena + periksa lokasi penyuntikan  Tangan non dominan  Bagian distal. turunkan sudut kanula dg kulit Dorong kanula perlahan Dorong bagian nilon jarum sambil menarik bagian jarum stainless perlahan  flashback nampak di sepanjang shaft kanula 46 . tutup regulator  Buka outflow botol infus.  Tusuk lubang outflow dengan spike.  Gantung ke penyangga infus  Isi drip chamber sampai ½  Buka regulator. Botol di tangan kiri & lebih rendah dari spike. gunting  Wadah tempat benda tajam 4. Tourniquet  Kapas direndam alkohol  Pinset chirurgis  Jarum infus steril (abbocath)  Kassa dalam wadah steril  Plester. tusuk dg jarum IV bevel menghadap ke atas. Persiapan  Letakkan lembaran alas di bawah tangan pasien  Keluarkan perangkat infus dari wadah. lebih rendah dari jantung Urut ekstremitas dari distal ke proksimal. tunggu 30 detik. sepsis  Identifikasi vena. atur pemutar agar cairan infus mengisi pipa infus & tidak ada gelembung udara  Tutup regulator. bakteremia. jangan dipalpasi lagi b.  Pasang torniquet 10-20 cm dari vena yang akan disuntik  Bersihkan dengan alkohol arah melingkar keluar. Teknis a. tanpa/sedikit cabang  Superficial  Bukan di area fleksi  Tdk rapuh Sterilisasi: mencegah masuknya organisme  phlebitis.

Mampatkan vena yang dekat dg ujung kanula dg memberi tekanan langsung sebelum menarik keluar jarum bagian nilon  menghindari hilangnya darah  Pasang kanula pada botol infus  Lepas tourniquet  Biarkan cairan mengalir dg membuka regulator (digrojog) c. Adjust the fluid flow  Atur aliran cairan. Maintain aseptic procedure 5. kemerahan. Cari asisten 7. layu) Vox cholerica (suara parau) -1 umur 50-60 tahun -2 umur >60 tahun Rumus kebutuhan cairan = skor/15 x 10% x kgBB x 1 liter Skor <3 & syok (-)  oral Skor >3 & syok (+)  intravena 47 . Secure iv line  Tutup luka dg kassa dibentuk butterfly/Gama bandage d. bengkak sekitar infus Skor dehidrasi menurut Daldiyono 1 Kesadaran apatis Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Frekuensi nadi >120 x/menit Frekuensi napas >30 x/menit Ekstremitas dingin Rasa haus/muntah Turgor kulit menurun Washer woman’s hand 2 Kesadaran somnolen. stupor. Postprocedure management & edukasi  Jangan banyak gerak tangan yang diinfus  Jangan ditarik2  Jaga tetap kering & bersih  Ditaruh lebih tinggi  Bilang kalau mau abis & kalau ada hematom. maintenance: 20 tpm  Buang benda tajam ke dalam wadah  Lepas sarung tangan  Cuci tangan  Catat prosedur di rekam medis d. sayu. koma Tekanan darah sistolik <60 mmHg Sianosis Facies cholerica (pucat. Universal precaution 6.

Kami berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Prosedur ini memang tidak nyaman. kalo diperkusi redup)  Irigasi kandung kemih  Mengukur volume urin output  Mengambil sampel pemeriksaan urin  Memasukkan obat/kontras radiografi Kontraindikasi:  Perdarahan meatal  Hematoma perineal/saddle sign mungkin ruptur uretra  Floating prostat Komplikasi: UTI 2. hipotensi. 48 .5x 1. kami akan memasangkan selang ke dalam alat kelamin bapak. Indikasi. 2 jam pertama 0. Informed concent  Prosedur & risiko Pagi pak. prosedur Indikasi:  Men-drain retensi urin (pasien mau kencing tapi ga bisa. setelah 1 jam nggak ada perbaikan  10-20 cc/kgBB/jam koloid Maintenance Dewasa 50 cc/kgBB/24 jam Anak 10 kg I 100cc/kgBB/24 jam 10 kg II 50 cc/kgBB/24 jam 10 kg III 20 cc/kgBB/24 jam Tpm = jmlh cairan/(jam x drop factor) KATETER 1.5x Shock Apapun Shock (takikardi. anatomi relevan. karena bapak tidak bisa mengeluarkan urin. pakai kristaloid 3x.5 jam masukkan 1. oliguri)  20-30 cc/kgBB/jam kristaloid.5 jam masukkan 1. Lakukan kalau Hb <7 Makro dpm 20 dpm  3 Mikro dpm 60 dpm  1 Shock Hemorrhagic Hilang x ml. tapi demi kebaikan bapak.Anuria itu kalau <50 cc dalam 12 jam Transfusion 15 dpm  drop factor 4 Drip chamber terdiri dari 2 bilik dengan filter.

tiduran & pakai selimut. Prosedur persiapan  Korentang  Taplak hijau Steril yang ada bungkus  Sarung tangan  Foley kateter  Syringe tanpa jarum untuk lubrikan  Syringe berjarum untuk balloning  Syringe tanpa jarum untuk spulling  Urine bag Steril yang tidak ada bungkus  Duk berlubang  Handuk  Mangkok isi betadin  Mangkok isi aquades  Kasa steril  Peyan  Pinset anatomis Nonsteril  Plester  Gunting  Jel anestesi KY (lubrikan larut air) Nonsteril dekat pasien  kidney bowl 49 .  Permisi  Posisikan pasien 3.Kalau bapak bersedia. silakan lepas pakaian bagian bawah & celana dalam.

diameter 8-9 mm Uretra wanita panjang 4-8 cm.Kateter Foley (0. masukkan perlahan dg tekanan lembut sambil minta pasien ambil napas dalam untuk relaksasi otot sphincter. Waktu di urethra pars membranaceae. Kateter diganti setelah 2 minggu. pakai 16 F. Fungsi utama kandung kemih: storage & voiding Uretra pria panjang 17-25 cm. atur posisi penis paralel thd tubuh. Gel taruh di tangan antara jempol & jari. cuci tangan aseptik Pakai handuk Pakai sarung tangan steril Ambil peyan. Urin bag ditutup dg cara ditekan. Fiksasi kateter di paha bagian atas. terus tutup OUE pake tangan biar gel nggak keluar c. Pak N***: fiksasi penis Pak T******: nggak usah difiksasi Buang yang kotor2. Buka gloves. celupin ke betadin. Lepas duk steril. ada aliran urin. Catat volumenya. Kalau nggak urin keluar. Plester. ambil kassa. ditekan terus ditampung di bengkok. masukin air 10 ml spulling kelubang kateter tempat keluarnya urin Keruh  udah masuk ke vesica urinaria tapi bila jernih atau keluar di sekitar OUE  belum masuk. Preparasi aseptik Mencuci tangan dg sabun & air mengalir. Teknis a. pastikan nggak merucut. fiksasi urin bag ke meja. Kalau udah masuk. saya akan masukkan gel untuk melicinkan” Terus masukin gel. ulangi prosedur Pasang kassa yang ada betadin di ujung glans penis nutupin kateter juga. 50 . balon 5 ml tergantung ukuran. Tarik sedikit. Balloning pakai syringe isi air (5-10 ml). karena obstruksi atau kontraktilitas ↓ 4. ♀ pegang labium major Pembersihan vulva dari rima pudendi metode pelangi 3x Yang terakhir lewat rima pudendi sampai ke anus. Lubrikan dengan anestesi Isi syringe dengan anestesi lokal KY 10-15 ml ke uretra (♂) atau oleskan lubrikan pada kateter (♀) “Pak. urine bag keluar lewat lubang duk steril. kalo lebih besar bisa nyebabin spasme kandung kemih & kebocoran urin. diameter 8 mm Retensi urin karena: ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan urin. Kateter dileletin ke gel. Kalau ada urin. Masukkan kateter gently Pertama. terus disambung. Pompa balon kateter dg volum sesuai & pasang urine bag.33 mm = 1 French = 1 Charriere). buka plastik dalam kateter ♂ pegang penis arah tegak lurus tubuh pasien. lalu bersihkan Bersihkan 3x central (OUE) ke perifer sampe scrotum Tutup dengan duk b.

pake bahan serap (kalo cervical trauma) 21. Saya akan mencoba menolong pasien ini. FBAO (foreign body airways obstruction) yang visible & removable Ada cairan. bahu vertikal di atas dada pasien. Secure urethral catheter properly e. Pasien datang 51 . 24. Komunikasi & relationship 7. lepas sarung tangan. evaluasi setiap 1 menit. Nggak ada napas  rescue breathing 2x dalam 5 detik 23. letakkan tangan posisi terkunci di sternum pasien. C (-) Berlutut di kanan pasien. C (+) napas buatan 12 kali/menit  B (-). miringkan pasien (kalo ga cervical trauma).Cuci tangan. saya mahasiswa kedokteran. cek jangan lebih dari 10 menit Look  pergerakan dada Listen  suara napas pada mulut pasien Feel  hembusan napas di pipi penolong 22. Kedalaman 4-5 cm. Pastikan trauma cervical ada atau nggak Nggak  head tilt & chin lift Ada  jaw trust b. jangan ditarik. jatuhkan berat badan. gatal 6. 1 menit ada 3 siklus. lingkungan 18. manubrium 19. feel 25. sebelah adam’s apple  B (+). cuci tangan. Cek pulsasi di carotis. jangan banyak bergerak. Mohon berikan ruang agar pasien bisa benapas dengan lega. d. 17. korban. Telpon 118 20. biarkan recoil sempurna. Reasses Look. Breathing. lengan lurus. listen. Respon Verbal  shout Fisik  shake Pain  glabella. C (+) recovery position  B (-). 5. Prof behavior CPR 16. Maintain aseptic procedure Buang sampah. kecepatan 100 kali/menit. Airway a. Safety diri. frekuensi 30 : 2. Postposedure & education  Tirah baring. Berhenti kalau a. Perkenalkan diri Bapak/Ibu.  Urinary bag diganti kalau mau penuh  Kateter diganti setelah 2 minggu  Kenali tanda2 alergi terhadap silikon yang dipakai: nyeri.

Ambulance datang d. Telpon 118 lagi 27. mempercepat proses penyembuhan. kassa. Edukasi  Jaga kering & bersih  Jangan banyak gerak  Kassa diganti tiap 12 jam sekali. badan dibalikkan dalam 1 baris. 3. pinset chirurgis) 15 cm perut/dada 10 cm kepala/kaki 7. Jelaskan tujuan dressing & bandaging Dressing: nutup luka. kassa. 4.b. WPK. Aliri luka dengan NaCl. & bina hubungan baik dengan pasien 2. 2. Pilih bandage yang sesuai & siapin alat (mangkok. betadin. Environmental hazard c. perkenalan diri. Lakukan pemeriksaan Look daerah luka  luka terbuka. Salam. buka baju Pasien tiduran Colok dengan listrik Bersihkan semua elektroda dengan alkohol & area tubuh dgn gel Tempatkan elektroda sesuai posisi  Lead prekordial C4 merah SIC 5 linea midclavicula 52 . First aid Bersihkan area sekitar luka dengan betadin 6. move 10. feel. ambil corpus alienum dengan pinset chirurgis 7. Greeting & self introducing Lepas perhiasan. Recovery position Tangan kanan ke atas. Tutup softratul. infeksi Feel vaskularisasi  suhu.5 cm lengan 5 cm tangan 5. atau control 3 hari lagi  Kasih analgesik & antibiotik EKG Prosedur: 1. Bandaging 9. Dressing & Bandaging 1. denyut nadi inervasi  sensasi taktil Move ROM (range of motion) 4. tangan kiri ke pipi. plester 8. meringankan rasa sakit Bandaging: mensupport dressing & body part 3. Capek 26. 5. menyerap eksudat. 6. Terlalu kencang? Evaluasi look. kaki kiri ke kanan.

10. Irama a. 13. 9. tanggal. III. Usia d. sensitivitas 10 mm/mVolt Pilih menu komplit Perhatikan gelombang pada ekg Segera catat pada kertas ekg a. Regular  300/jumlah kotak besar jarak 2 gelombang QRS Kalau 2 R berjarak: ≤ 2 kotak besar supraventricular takikardi >2 – 3 kotak besar sinus takikardi 3 – 5 kotak besar normal > 5 kotak besar bradikardi b. 14. Frekuensi a. C1 kuning SIC 4 linea strenalis kanan C2 hijau SIC 4 linea strenalis kiri C3 coklat antara c2 & c4 C6 hitam SIC 5 linea midaxilla C5 ungu antara c4 & c6  Lead extremitas Merah tangan kanan Kuning tangan kiri Hijau kaki kiri Hitam kaki kanan Kabel dikoneksikan ke elektroda Periksa kertas untuk rekaman Tekan on. tidak semua P diikuti QRS. Supraventricular 1) Sinus Pacemaker NSA normal 60 . Identitas b. Hari.7. Irregular 6 kotak besar ada berapa siklus QRS x 50 2. 12. 11. aVF positif 2) Atrial Masih ada P wave. Gender c. 8. pilih menu Kecepatan 25 mm/second. QRS tetap sempit Otot atrium normal mampu menghantar impuls 60-75 a) Takikardi 150 – 250 (frekuensinya) b) Flutter 250 – 350 saw tooth pada lead II & III c) Fibrilasi > 350 no true P wave 53 .100 P diikuti QRS di semua sandapan dan kebalikannya Salah satu/lebih P wave di II. & waktu pengambilan Bersihkan badan pasien & alatnya dari gel Interpretasi: 1.

LAD (+) I.(-30) Lead II –  terletak antara -30 sampai -90  LAD a. Zona transisi Daerah di mana resultan R dan S = 0 (defleksi negative jadi positif) Normalnya di antara v3/v4. RAD (-) I.12 s atau > 3 kotak kecil karena depolarisasi lewat sel otot ventrikel 1) takikardi jarak QRS masih sama >40 2) fibrilasi fine and course. segmen PR pendek 2) Tengah P ketutup QRS 3) Bawah P inverted setelah QRS Pacemaker berkas his 20 – 40 b. Durasi 54 . avF – Lead II +  antara I dan aVL. aVL (+) aVF. Posisi Normal (-30) – (+110) <-30 LAD >+110 RAD Lead I +. III R pada lead III lebih tinggi dari aVF 4. III. prinsip: lihat rotation Menggeser ke arah v6  clock wise rotation Menggeser ke arah v1  counter clock wise 5. antara lead II & aVF. no true QRS complex 3. aVF + normal aVL +  antara lead I & II. III aVL paling tinggi lead II minimal R=S  lead II negatif b.3) Junctional Pacemaker NAV normal 40 – 60 P inverted pada lead II. 60 – 90 Lead I +. 0 – 60 aVL. Ventrikuler Otot atrium normal mampu menghantar impuls 30-45 Tidak ada P wave QRS lebar>0. aVL (-) aVF. aVF 1) Atas P sebelum QRS. 0 .

normalnya berbentuk piramid tidak simetris.a.12 Tidak ada gelombang delta 3) Irama junctional atas b. Interval qt Memendek hipercalcemia Memanjang hipocalcemia 6. hipertrofi atrium kiri Tinggi (peak P) P pulmonal. simetris)  hiperkalemia 2) Strain pattern T inverted tidak simetris 55 .12-0. RBBB. Kompleks QRS menunjukkan depolarisasi ventrikel memanjang pada LBBB. bagian depan lebih lebar dari belakang. lebar dan tinggi <2. Interval PR 0. sekecil apapun disebut Q patologis biasa terjadi pada old infarct d.22 s (3 – 5. defleksi positif pada lead II 1) Tenting (peaked T wave. v2 (>0.25 detik di v5. Gelombang T Repolarisasi ventrikel.5 kotak kecil) Memanjang > 0. v6 3) LBBB Telinga kelinci (slurred R) di v5. normalnya simetris. Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium. seperti tenda.5 mm atau <0. v2 Gelombang s diperlama 0. Q patologis > 1/3 R atau pada R< 5 kotak kecil. v6 S melebar di v1. Interval QRS.12 Ada gelombang delta 2) LGL Melewati berkas konduksi QRS < 0.10 second Lebar & bertakik (notch & broad) P mitral.22 s pada AV blok derajat I. Segmen ST menunjukkan repolarisasi ventrikel 1) Elevasi > 2mm di leads precordial >1 mm di lead ekstremitas minimal dua lead yang berdekatan  STEMI 2) Depresi strain pattern (+T inverted asimetris) v5-6  hipertrofi ventrikel kiri v1-2  hipertrofi ventrikel kanan ischemia: + T inverted simetris e. II Memendek < 0. irama ventricular c. Morfologi a. normal < 0. hipertrofi atrium kanan b.25 detik) c.12s Memanjang pada 1) Irama ventrikular 2) RBBB Gelombang rsR’ (seperti huruf M) di v1.12 s 1) WPW Tidak melewati berkas konduksi  QRS > 0.

v6 Kanan  RVH 1. tinggi < 50 % T wave Interpretasi dalam penyakit 1.f. III. Ventrikel kiri v5. R wave > S wave di v1 3. peak P: tinggi P wave ≥ 2. aVF inferior  curiga yang kanan Karena A. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. P notch & broad Durasi memanjang karena lewat otot b. aVL anterior extensive Lead II. v2 3. LAD 4. Kiri  LAH P mitral. II. lebih landai. Hipertrofi atrium a. AMI ST elevasi precordial v1 – v6 anterior v1 – v4 anteroseptal v3 – v5 anteroapical v4 – v6 anterolateral v1 – v6. RAD 4. aVF) Durasi tetap 2. Kanan  RAH P pulmonal. v6 Ventrikel kanan v1. v2 3) T inverted simetris  ischemia Gelombang U Gelombang repolarisasi ventrikel yang terlambat Seperti P.5 mm pada lead inferior (II. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 3. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. coronaria dextra juga ke sana  periksa v1’ 2’ 3’ Aritmia  baca yang utk defib aja 56 . S persisten di v5 & v6 2. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 2. I. Hipertrofi ventrikel Kiri  LVH 1.

AV Block a. Derajat 1 Setiap impuls atrial mengaktivasi ventrikel Interval PR memanjang b.4. tiba2 P wave tidak diikuti kompleks QRS 2) Mobitz type II Mirip derajat 3 Pemanjangan interval PR tidak progresif c. Derajat 3 Disosiasi AV Atrium 60-100 Ventrikel 30-45 Kompleks QRS lebar P wave & QRS complex frekuensi reguler 57 . Derajat 2 Tidak setiap impuls atrial melewati AV node P waves : QRS  >1 : 1 1) Mobitz type I/Wenckebach block Mirip derajat 1 Pemanjangan interval PR progresif.

ADVANCED CARDIAC LIFE SUPPORT Henti fungsi jantung secara mendadak dan tiba-tiba 58 .

Kalo dapet VT pulseless atau VF. Shout for help  telfon 118 5. b. 7. Look. carotis communis selama 10 detik. yaitu warna merah dan putih. 4. dan pain. Kalo obstruksi oleh cairan. pasien. Dicurigai trauma cervical jika: multipel trauma.. Clean airway: untuk benda asing yang visible dan removable pake crossed-finger dan finger swab. serta O2. seperti kain. jejas diatas clavicula. Response: Cek respon dengan verbal. persiapan shock 59 . dan lingkungan 3. krepitasi di leher. Nah untuk memudahkan ceklist. Pasang IV dan ET. fisik  diguncangkan (shake). listen. Kalau dari monitor ternyata iramanya shockable: 1. Pulse dan nafas ga ada  RJP (30:2) selama 2 menit kira-kira 3-5 siklus dengan kedalaman 4-5 cm dengan recoil sempurna. penanganan henti jantung dibagi dua yaitu: Shockable (VT pulseless dan VF). sternum. lunula kuku. Pastikan tidak ada tanda trauma cervical. Safety: safety untuk diri sendiri. Kalo VF gausah di cek pulsenya. Kalo nafas dengan laju normal  recovery position Kalo henti nafas atau terengah-engah  dikasih bantu nafas 2x selama 5 detik. Manuver open airway: jika tidak ada trauma cervical dengan head tilt chin lift.Gambaran EKG:     VT pulseless VF (Ventricular Fibrilation) PEA (Pulseless electrical activity) Asystole Ceklist ACLS: Pasien ditemukan tidak sadar di pinggir jalan 1. Jika ambulan sudah datang. Perkenalkan diri terlebih dahulu 2. VT yang shockable adalah VT yang pulseless. dan Non-Shockable (PEA dan asystole). Berdasarkan irama. dibahasnya per irama ya. Kalo dapet VT. Cek airway: a. and feel 6. Pada pasien henti jantung respon negatif. cek pulse dulu. lalu cek nadi setiap 2 menit. Leadnya ada 2. fisik. pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairannya atau pake benda-benda yang menyerap jika pasiennya ada trauma cervical. c. kalo ada trauma dengan jaw thrust.. Pulse ada tapi nafas ga ada berikan nafas mouth to mouth setiap 5-6 detik sekali. 9. d. pain  cek respon nyeri di glabella. segera siapkan monitor pada mesin defibrilator untuk cek irama. 2. Verbal  dipanggil namanya (shout). Jangan lupa telfon ambulan lagi 8. lalu cek kembali nafas dan pulse di a. dan penurunan kesadaran.

3. baru cek monitor. Nah yang diurutan ini yang tetap shockable dulu ya. Cek irama lagi. atau malah jadi non-shockable. 14. 9. Sambil nunggu tetap RJP 5 siklus.5 mg/kgbb (misal ambil aja 1 mg) – epinefrin – lidocaine 0. trus lanjut RJP 5 siklus 10. Langsung pasang ET dan IV. ada yang lepas atau ngga. Kalo ternyata masih terpasang dan semuanya beneran non-shockable. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya tetap shockable terus:  Urutan obat yang dimasukkin: epinefrin – amiodarone 300mg – epinefrin – amiodarone 150 mg – epinefrin – lidocaine 1-1. Kalau ET sudah terpasang siklus RJP sama breathing jadi jalan sendiri-sendiri seperti yang dijelaskan di shockable tadi. Tetap shockable. Obat yang dimasukkin  epinephrine 1 mg iv 12. Kalo dapet asistol. tetap shockable. 4. Kompresi jadi 200x dalam 2 menit. Berikan shock. Selama nunggu defibnya dicharge. lanjut urutan shockable. 2. RJP dihentikan sementara. 13. tetap lakukan RJP 5 siklus. RJP 5 siklus saja tanpa Shock. Masih non-shockable.5 mg/kgbb iv – epinefrin – kosong – epinefrin Epinefrin harus diseling Amiodarone hanya boleh dikasih 2x (jadi diulang Cuma 1x) Lidocaine dikasih 3x (diulang 2x) Kalau sampe 30 menit hasil tetap sama  stop tindakan dan didoakan saja     Nah kalo dari irama didapatkan non-shockable: 1. 11. dengan paddle satu pada sternum . Setelah kasih shock. dan yang lain pada ictus cordis. 4. Kalau ga tau spesifikasi mesin defibnya diset pada 200J saja. siklus kompresi dan breathing berubah. 8. Kalo PEA ga usah dicek leadnya. RJP 2 menit. Kasih shock. 3. 15. 7.. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya non-shockable:     Tidak perlu ngasih shock Pas siklus pertama langsung kasih obat dan pasang ET Urutan obatnya: epi – sulfas atropin 1 mg – epi – sulfas 1 mg – epi Sulfas atropin boleh dipakai 3x (diulangnya 2x) 60 . nafas dengan ambu bag setiap 6-8 detik sekali. dll). 5. pasang ET dan IV line untuk ngasih obat. RJP 2 menit lagi trus masukkin obatnya sulfas atropin 1 mg. dan 360 J jika monofasik. Kalo masih shockable kembali ke siklus awal (charge defib. Cek irama 5. Obat yang dimasukkin sekarang ganti jadi amiodarone 300 mg iv. Pada saat masang ET. Kemungkinan monitor bisa ada 3: iramanya jadi sinus. Charge defib pada 200 J jika bifasik. Langsung RJP 5 siklus. Kalo ET sudah terpasang. 6. Obat yang dimasukkin epinefrin 1 mg iv. kembali charge defib. cek lead dulu.

Pasang ET 2. abis cek lagi. maka ikut langkah non-shockable siklus pertama (RJP sajapasang ET dan IV-kasih epinefrin 1mg-cek irama) abis cek irama. 61 . Intinya sih setiap siklus itu epinefrin harus diseling. dari shockable trus jadi non-shockable. trus misal jadi non-shockable lagi karna tadi udah dikasih epinefrin sekarang ganti jadi sulfas lagi. Tambahan: 1. refleks pupil hilang c. Kasih shock b. dikonfirmasi dengan pupil midriasis total. shockable lagi. Tujuan tercapai: irama jadi sinus b. Maka siklusnya menjadi:    langkah shockable siklus pertama (RJP-shock-RJP 5 siklus-cek irama) karna jadi non-shockable. iramanya jadi non-shockable. Cek irama c. Kecapean: 30 menit dan sudah yakin betul semua tapi tetap no respon d. jangan lupa cek leadnya ada yang lepas atau ngga 10 menit tetap asistole/PEA  stop tindakan dan berdoa Trus kalo iramanya misalnya iramanya beruba-ubah shockable non-shockable gimana? nah contohnya pas cek irama. Tapi tetep inget ya masing2 obat boleh diulang berapa kali    Trus misal iramanya udah berubah jadi sinus:      tetap monitoring airway dan ventilasi kasih O2 monitoring kalo ada muntah monitor VS Tetap ACLS (RJP and breath sampe ada nadi dan nafas). Stop tindakan secara keseluruhan saat: a. jadi misal abis ngasih sulfas tapi jadi shockable ya yang dikasih epinefrin. Jadi yang dilakukan adalah RJP 2 menit sambil charge defib – shock – kasih obat amiodarone 300mg – RJP 2 menit – cek irama. Tujuan tidak tercapai: pasien mati. Stop kompresi saat: a. maka ikut langkah non-shockable yang ketiga. 10 menit irama tetap PEA dan asistole berturut-turut. yaitu kasih epinefrin. trus jdi nonshockable lagi. shockable lagi maka ikut langkah shockable siklus KETIGA (inget! epinefrin kan harus diseling).  Kalo dapet irama asistole.

bentuk. locomotor. Perkembangan benjolan c. Jelaskan prosedur & informed consent Posisikan pasien  duduk Cuci tangan dengan alcohol & pakai glove Ibu diminta buka baju sampai pinggang Inspeksi Minta pasien duduk  Minta pasien meletakkan kedua tangan di kedua sisi Laporkan a. Karakteristik: ukuran. Riwayat kanker. Ukuran & simetrisitas payudara Kanker lebih besar c. cairan. Riwayat FAM b. Peradangan/perlukaan sekitar payudara e. Hubungan dengan siklus mens Mens tambah nyeri  cysta Mens tambah kencang  fisiologis f.OTHERS  Breast. Sejak kapan b. Pemakaian kontrasepsi RPD a.genitourinary. & deviasi: kanker 62 . Status reproduksi (GPA) g. misal DCIS c. ulcus. Benjolan di tempat lain RPK Ibu pernah kena kanker payudara 1 sisi: sebelum menopause  risiko 3x. Kontur payudara: ada benjolan? Lekukan/dimpling? Pendataran/flattening? d. setelah  2x Ibu pernah kena kanker payudara 2 sisi: sebelum menopause  risiko 9x. ulcus Discharge. 8. 7. arah. Permukaan kulit: warna. Keluhan lain: nyeri. Salam. discharge. 5. perkenalan 2. retraksi d. Anamnesis RPS a. post stroke BREAST EXAM 1. setelah  4x 4. Riwayat laktasi h. Keluhan utama 3. 6. penebalan kulit & pori2 menonjol Warna merah: infeksi & karsinoma payudara yang terinflamasi Penebalan kulit & pori2 menonjol: karsinoma b.

& manis Palsasi dengan bentuk melingkar Spokes of wheel Mulai dari central. balik ke sentral lewat jalur yang sama. clavicula. tangan di belakang kepala & bahu disangga bantal Palpasi dengan bantalan jari telunjuk. Periksa putting Inspeksi: retraksi. tidak nyeri Kanker: arah putting brubah. tangan di sisi Kalau payudara besar. axilla kanan diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa Waktu tangan pasien adduksi rapat serong ke depan. Pelaporan Gambar payudara. terus ke arah jam 1. ada discharge  Lengan diminta di letakkan di belakang kepala  melihat lekukan/retraksi yang tidak terlihat supaya bagian bawah terexpose (pada yang payudaranya besar) Lengan bertumpu dipanggung supaya payudara mengkontraksikan M.Kemarahan pada puting FAM: benjolan. dimpling di payudara. ke arah jam 12. pori2 membesar. usia muda. payudara dibagi jadi 4 kuadran  Diameter  Batas: tegak/nggak  Mobile  Nyeri  Konsistensi 63  . gitu terus sampai semua terpalpasi Tekanan keras di sentral. Condong ke depan kalau perlu untuk payudara yang besar. tanya pasien mau periksa sendiri atau kita lakukan Cara 1  tekan putting dari atas & bawah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas glandula mamae Cara 2 “tunjuk” puting 11. Palpasi  Pemeriksaan limfonodi Tangan kanan pasien dipegang dengan tangan kanan. terus badannya digoyang 9. tengah. jarak satu jari Mulai lateral kranial terus ke medial Circular obat nyamuk 10. tangan pemeriksa periksa axilla  Palpasi payudara Pasien diminta tiduran Kalau payudaya kecil. & axilla. agak ringan di perifer Vertical grid Garis vertical dari clavivula ke lipatan inframama Dibagi 9 dari garis midstrenal ke linea axillaris posterior (hingga ujung ekor payudara). pectoralis  dimpling bisa lebih terlihat. fisura. sisik Untuk pemeriksaan discharge.

di depan cermin 7. Nontrauma: RPS. pendataran  catat dan lapor ke dokter Locomotor Exam 1. Heel strike b. RPD. Mid-stance c. Pengenalan kanker payudara  Insidensi tinggi  Stadium dini bisa diketahui dengan BSE (+) deteksi dini (-) keseringan (missal sebulan beberapa kali)  penurunan sensitivitas 3. Perhatikan bila ada perubahan 8. nyeri (kista). Berdarah c. Pemeriksaan khusus Masalah di Tangan  posisi pasien duduk. seberapa keras tekanan (sirkular. batas (tegas  FAM. kista)/tefiksasi (kanker) Breast Self Examination 1. perubahan pada papilla mamae. nggak  payudara). Bisa saat tiduran Disangga bantal Pakai 3 jari Pola memutar Rekomendasikan vertical grid 6. 3. Swing phase 6. Dilakukan 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Memberitahukan jari yang digunakan (bantalan jari 2. Deformitas 64 . saat mandi. RPK Pemeriksaan umum: Vital sign Pemeriksaan gait yang dilaporin: a. kista. kalau udah menopause  tanggal yang sama tiap bulan 4. 4. konsistensi. Toe off d. bentuk. Dimpling. 2. Pendahuluan & perkenalan diri pada pasien 2. ukuran. Luka terbuka b. Keras: kanker Elastis: kista Jumlah Nilai karakteristik: lokasi. sedang. sambil sabunan. Bisa saat berdiri. kaki  posisi tidur Look a. berat.3. tergantung area lemak) 5. ringan. tangan di belakang kepala. mobile (FAM.4). Greeting & introduction Tujuan pemeriksaan Anamnesis: Trauma: 5W + 1 H. 5.

d. Appearance: dari umbilicus sampai malleolus medial c. supinasi (lengan atas fiksasi di badan. Lutut Fleksi. ekstensi. Memperkenalkan diri 65 . betis putar ke dalam). inversi. Vaskularisasi: suhu. Gelang bahu Fleksi.7. palmarfleksi. melewati lutut b. dorsofleksi. WPK. Jari pakai goniometer khusus e. ekstensi c. adduksi. endorotasi (tengkurap. abduksi. Simetrisitas Feel a. eksorotasi (tengkurap. ekstensi (posisi supinasi) g. 11. radial deviasi. 8. endorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke depan & bawah) b. dorsofleksi. jempol RCTI oke) d. ekstensi (sambil tengkurap). pulsasi b. pronasi. tapi nggak bisa tahan tekanan 4 bisa nahan gravitasi. Siku Fleksi. adduksi. Inervasi: taktil c. Pergelangan Plantarfleksi. betis putar ke luar) f. True: dari SIAS sampai malleolus medial. eksorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke belakang). Wrist Ulnar deviasi. fleksi. Krepitasi Move Dengan goniometer a. 9. 10. sedikit bisa tahan tekanan 5 bisa nahan gravitasi & tekanan Circumference bandingkan atas (kanan-kiri) & bawah (kanan-kiri) luka Pertimbangkan penunjang  x-ray Penutup GENITOURINARY EXAMINATION 1. eversi Length  kalo masalah di kaki Bandingkan kanan-kiri a. Anatomical: dari trochanter mayor sampai malleolus lateral Muscle power test 0 tidak ada gerakan 1 ada tonus 2 tidak bisa menahan gravitasi 3 bisa nahan gravitasi. Gelang paha Abduksi.

hidrocele. epispadia. Diurut/milking Buka meatus urethra: phimosis/paraphimosis Glans  lihat meatus urethra. Hidrocele Testis disinarin dari bawah pakai senter. nyeri) Kandung kemih 7. Tumor f. hipoplasia. balloteman. Inspeksi penis a. 5. ada cysta? c. anak diminta buka celana Mencuci tangan pakai sarung tangan Jelaskan mau periksa CVA Palpasi suprasimfisis (massa. 3. d. Normalnya kiri lebih rendah Palpasi a. suprapubik. informed consent. Testis. Tanda2 inflamasi d. Funiculus spermaticus e. Daerah inguinal (barangkali belum turun). urethral discharge Specimen ambil pakai lidi + kapas yang dicelup di normal saline. ada corong kertas ditaruh di atas Hidrocele di tunica vaginalis Tumor kurang merah 66 . Urethral meaturs e. warna) c. hipospadia. dipalpasi kanan & kiri simetris. Angulus inguinalis externus 9. Oedem b. Simetris: hipoplasi. Glans penis.2. inflamasi. udah sunat? Palpasi penis a. atrofi? b. 6. UKK (masa. Persebaran rambut b. Scrotum Posisi pasien berdiri Inspeksi a. Vas deferens. 4. Batang d. Jelaskan indikasi Minta persetujuan pasien. b. Dilatasi vena c. atrofi e. c. Ke epididimis. kayak kawat Varicocele? d. tumor. ambilnya di fossa navicularis 8. & femoral diperiksa pakai lubrikan 10.

Saya dokter …. gitu katanya huhuhu jadi kita pelajari aja. sedangkan kalo perdarahan.Hidrocele lebih merah (+) berpendar 11. Hernia Masukkan jari telunjuk ke canalis inguinalis.. Oleh karena di check list dan yang kita pelajari kmaren Cuma check list 4 jadi inisial position yang dilakuin itu cukup yang supine aja o Supine position 67 . sedangkan mobilisasi merupakan salah satu bagian dari rehabilitasi Kapan program mobilisasi dimulai : Stroke iskemi sekitar 2 – 3 hari (sedini mungkin). Rehabilitasi dimulai sejak pasien dikonsulkan ke dokter. normal kayak biji kenari). tunggu perdarahannya selesai dulu baru dimulai (sekitar 2 minggu) Sedangkan program rehabilitasi dimulai sekitar 3 minggu pada stroke iskemi. spingter ani kontraksi). plantarfleksi dan inverse telapak kaki Kita mulai check list nya :  Selalu SALAM DAN PERKENALKAN DIRI “Selamat pagi pak. sebelum mulai diinget dulu kalo pada post stroke exam itu ada sisi N (normal) dan S (sakit) iya ga c? aku (titi: red) cuma ngarang kepanjangannya . tempatkan jari di sulvus prostat.. meriksa prostat (ukuran. walopun osce ga keluar tapi ada kemungkinan keluar pas kompre. tanda2nya :  Ekstrimitas atas (fleksi semua) Endotorsi lengan atas. Posisi pasien. eksorotasi paha. berbaring pada sisi N dan berbaring pada sisi S. meriksa reflex bubocavernosa (penis diangkat. fleksi pergelangan tangan dan pronasi serta adduksi jari  Ekstrimitas bawah (ekstensi semua) Retraksi panggul.. nah kebanyakan itu hemiplegic tipe dan pasien dalam kondisi spastic. minta pasien mengejan (valsava maneuver) Indirect kena ujung jari Direct kena samping jari Femoral annulus femoralis 12. fleksi siku. jari tengah aja. Perlu dipahami dulu kalo dalam penangan pasien post stroke ada yang namanya program rehabilitasi dan mobilisasi. Digital Rectal exam  untuk meriksa feses. Ada 3 macam inisial position : supine.. saya minta kerja samanya ya pak mengikuti instruksi dari saya”  minta pasien untuk rileks  Inisial position  antispastik Pada fase ini kita memposisikan pasien berlawanan dari posisi yang di atas itu dan kalo udah d posisikan begini latihan harus segera dimulai < 2 jam soalnya pasien merasa ga nyaman di posisiin begini. ekstensi ankle. say akan membantu bapak untuk latihan dan bergerak pagi ini. masukin pake lubrikan. nungging 13. Jelaskan hasil pemeriksaan POST STROKE REHABILITATION Aaa modul silat ini tidak di eksklusi sama sekali. ekstensi lutut. nanti kita akan melakukan beberapa gerakan latihan.

o Berikan petunjuka pada pasien “bapak sekarang kita akan latihan berguling ya pak. tangan satunya di pergelangan tsngan. jadi pelan2 dimulai dari bahu. nanti saya akan menekuk lutut bapak terlebih dahulu. Kita abduksiin jari. secara aktif dan pasif. jangan lupa menyangga sisi S dengan bantal Rolling ke sisi S Sebenernya ada dua cara. tangannya bertumpu pada meja disisi sampingnya. d bikin latiahn weight bearing to elbow caranya pasien di tarik – tarik sambil numpu di siku sebanyak 10x baru didudukin. pelan – pelan aja. Ekstrimitas bawah dimulai dengan mendorsofleksiin telapak kaki trus di eversi. ekstensi pergelangan tangan dan siku lalu di supinasiin. punggung baru pinggang.    Pada fase ini kita memposisikan pasien dalam keadaan antispastik. Biarkan pasien bertumpu pada bahu. Setelah itu kita kasih aba-aba : “bapak. eksorotasiin lengan. tapi dari sumbernya angkatan 2005 katanya waktu osce itu yang dipakai secara aktif dan segmental. Mimandahkan benda Pada tahap ini kita berdiri di sisi S pasien. kaki N pasien kaya diselipin gitu dari belakang ke bawah kaki S. nanti bapak saya minta berusaha duduk sendiri dengan menggeser kakinya ke bawah dan tangan yang sehat nanti akan saya bantu menariknya. bapak bertumpu dulu pada bahu. sebelum didudukin. Waktu pasien bertumpu disiku. Fungsinya untuk menstimulasi sisi S pasien menyanga berat tubuhnya. Meminta pasien mengambil benda dengan tangan N. kita tahan dulu sekitar 10 detik baru ditarik lagi trus di reposisi. dimulai dari ekstrimitas atas dan dari ekstrimitas yang kecil dan distal dulu. fleksi lutut dan panggul dan endorotasiin paha. Jaga hal ini dengan member sanggahan bantal di bawah bahu. sekarang kita akan latihan duduk ya pak. Lengan d angkat 90-100 drajat terhadap sumbu tubuh. Sangga juga menggunakan bantal d bawah panggul dan telapak kaki o Berbaring di sisi N Pertahankan posisi antispastik dengan menopangkan bantal di bawah sisi S. posisi kaki kaya meluk guling. kita mulai ya pak” o Fleksikan kaki N pasien o Minta pasien menggapai tangan S nya o Minta pasien berguling secara perlahan ke sisi S o Bantu dengan membantu memutar ekstrimitas bawah Duduk dan bertumpu pada siku Setelah pasien berbaring pada sisi S secara aktif. o Berbaring di sisi S Mirip dengan yang di atas hanya saja sekarang sisi S di bawah. Kalo instruktur ku dulu. siku dan pergelangan tangannya. Tujuannya supaya kaki N ini bisa membawa kaki S ketepi bed untuk duduk. Pelan-pelan saja y pak. siku baru pergelangan tangan” Setelah itu tangan kita tarik perlahan. trus tangan bapak yang sehat menggapai tangan yang sakit dan berguling ke sisi yang sakit ya pak. lalu di bawa ke sisi N trus dibalikin lagi ke saya” Jangan lupa untuk memegang sisi S nya itu biar ga jatuh Latihan o Keseimbangan duduk 68 . “bapak saya minta untuk mengambil pulpen ini dengan tangan N bapak ya. mulai dari bahu tus punggung dan pinggang.

JANGAN LUPA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PASIEN :D Selamat osce teman – teman semuaaaa !! Smoga kita diberikan gelombang yang terbaik … smangat !! 69 . yang S di atas N. Trus bapak gerakin tanggannya ke atas kepala trus turun ya pak. nanti bapak pertahankan posisi bapak supaya tidak terjatuh ya pak” o Lengan “bapak sekarang kita akan latihan tangan ya pak. Posisi tangan bebas  Baring lagi Setelah posisi istirahat. tangan yang lain jaga2 di belakang siku supaya ga jatuh. Diulang 10 kali” o Bahu “nah sekarang ke kanan sama ke kiri ya pak” o Bertumpu pada lengan “Pak nanti saya akan member tahanan pada bahu bapak.. Selesaiiiiiiii . sekarang bapak silakan tiduran lagi ya.. trus di baringin lagi : “ baik bapak. latihan hari ini sudah selesai. lalu kaki pasien dipelintir lagi.  Posisi istirahat “Pak sekarang kita berlatih posisi istirahat ya pak” Disini kita memposisikan kaki S pasien di atas kaki N nya..caranya seperti tadi saat mau duduk. Saya akan menggerak-gerakkan tubuuh bapak kedepan belakang dan ke samping. kakinya digerakin dan pelan-pelan aja pak” Ada yang bilang kita cuma menahan bagian belakang siku S pasie tapi ada juga yang bilang kita juga memegang tangan N pasien mirip kaya waktu duduk tadi.“Bapak. Nanti bapak silakan memegang tangannya yang S dengan tangan N nya trus jari-jarinya disilangain tapi jempol tangan S nya berdiri keluar. Kalo katanya buku 2005 kaya cewek kemayu itu. kita akan berlatih keseimbangan tubuh. trus bapak pertahanin ya supaya ga jatuh” Trus kita tekan2 gitu bahunya satu2.

DAFTAR ISI MATERI HALAMAN Belum ada 180 182 183 101 103 105 104 106 75 77 74 80 189 Fatigue Anemia Insomnia Gangguan Tidur (Cemas & Depresi) OCD Panik Red Eye Konjungtivitis Glaukoma Akut Keratitis Uveitis Retinopathy Fever Typhoid DHF Malaria Otitis Media Akut Headache TTH Migrain Cluster Headache Tumor HT Stroke .Hemoragik Meningitis 154 150 156 157 93 96 97 185 117 119 Cough TBC Pneumonia COPD Diarrhea Diare Chest Pain ACS GERD Sore Throat 70 .

OA 71 .Faringitis 130 169 87 89 91 82 84 86 190 187 122 122 163 107 110 115 114 180 Indigestion Gastritis Abdominal Pain (RLQ) Appendicitis PID KET Abdominal Pain (RUQ) Hepatitis Sirosis Hepar Kolesistitis Constipation IBS Konstipasi Pruritis Dermatitis Kontak Alergi Dizziness BPPV Meniere Weight Loss Diabetes Mellitus Dyspnea Asma CHF Sindrom Nefrotik Pneumothorax Insomnia Cemas Depresi Backache HNP UTI 144 140 160 Joint Pain RA . Gout .

IPM GENERAL. thypoid. retinopathy 72 . Awasi tekanan darah. kalo regular. pneumonia. Hindari stress. tiga ama empat. Treatment  apa obatnya. KU 2. Pekerjaan Anamnesis 1. Kepala/leher 3. perkusi. DHF. Red eye: conjunctivitis. Abdominal Pain. Tekanan Darah  pake bel. baru auskultoar. Relieving. Fatigue: anemia. jari ke dua. PID. terus bilang mau meriksa apa  cuci tangan Pemeriksaan fisik: Kesan Umum: tingkat kesadaran. auskultasi. TB/BB 2. RPK. cuci tangan Kasih tau dx klinis Rencana tindakan: Px penunjang. frekuensi. PID. RUQ: hepatitis. Yang dilaporkan: regular. dimana diukurnya (axilla. perkusi. glaucoma akut (sudut tertutup). Umur. sirosis hepar. keganasan 5. Profil pasien: Rokok. pola pernapasan abnormal. kondisi umum (lemes. RLQ: app. Malaria. Fever: with jaundice: hepatitis. Suhu  berapa suhunya. Parafrase Bilang ke pasien. lingkungan. RPD: Pernah sakit spt ini? Medikasi yg dikonsumsi. keratitis. Review system gejala yang belum di-explore 7. isi nadi 3. ditangan mana diukurnya. normal ce: thoracoabdominal. Enyahkan rokok. kolesistitis. RPS: Onset. gizi. travelling 5. Nadi  pertama pegang dua tangan. Teratur berolahraga Keluhan: 1. auskultasi 4. OMA infeksi lain 2. palpatoar dulu. Alergi 4. palpasi. pola pernapasan (normal co: abdomino-thorakal. HCC 3. Meningitis. KET. posisi duduk ato tidur 2. Thorax : inspeksi. meriksanya pake satu tangan aja. kolestitis. pucat. Aggravating. sebuah ringkasan. chyene stokes dkk) 4. Respiration rate  frekuensim regularitas. udah reda/belum 3. Durasi. lemah/kuat. semoga membantu 13 … OUTLINE SECARA UMUM: Identitas: Nama. dll) Vital sign: 1. ukuran manset. Tx medikamentosa dan non medikamentosa Edukasi secara umum: Seimbangkan gizi. Makan 6. Abdomen : inspeksi. Yang dilaporkan: berapa BPnya. Lokasi. Alamat. without jaundice UTI. Olahraga. palpasi 5. UTI 4. uveitis. rectal atau oral) Pemeriksaan badan: 1. Characteristics. Ekstremitas Bilang ke pasien pemeriksaan udah selesai. Riwayat sosial 8. sirosis. Abdominal Pain. psikologis.

Insomnia: anxiety. Sorethroat: pharyngitis. Pruritus: ikterus. tumor. Headache: TTH. Weight Loss: TB. Vomiting: diare. hipertensi. depresi 17. Stroke pendarahan. UTI. Joint pain: OA. anaphylactic 13. LBP non spesifik. meningitis 8. pneumothorax. keganasan. TB. sindrom nefrotik. IBS diare 19. meniere 11. peningkatan TIK. gout. Diare: diare. Indigestion: GERD. CHF. asma. UTI. pharyngitis viral. migraine. 18. meniere. stenosis spinalis. itu yang kami bahas ya ceman-cemaan. Dizziness: BPPV. 73 . Chest pain: ACS. ACS. RA. CHF. anorexia 12. DM. cikungunya. cluster. Dyspnea: asma. pneumonia lobus bawah 9. Backache: HNP. migraine. DKA 10. Konstipasi: thypoid. gastritis 7. Cough: pneumonia.6. DHF Keterangan : yang di bold. meningitis 16. IBS-konstipasi 15. alergi. sindrom nefrotik 20. thypoid. BPPV. tonsilitis 14.

2.5 c dan rektal lebih rendah 0.5 derajat celcius. nyeri otot dan sendi. cikungunya Pemeriksaan fisik : 1. Durasi : 24 jam d. perut sebah. sakit kepala. Faringitis bakterial. kadang memegang kepala. kronik (>2minggu) : Thypoid 1. kulonprogo. Pola makan  Review system : keluhan lain : nyeri kepala. 74 . e. Tanyakan pernah digigit nyamuk ga?  Lifestyle : a. vivax & ovale: (tertiana) demam tiap 48 jam malariae(quartana) demam tiap 4 hari Trias malaria : menggigil  panas tinggi berkeringat Trias ini mulai ketika eritrosit pecah. Lokasi : c. Kondisi umum : lemah. lesu. Olahraga: b. papua. DHF. Meningitis.4 c dan temperatur axila>37. jika parah dapat menyebabkan jaundic   Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Malaria. Fever 1. Malaria : KU : Demam Anamnesis :  RPS a. Karakteristik : falciparum  demam tidak menentu bisa demam 36 atau 48 jam. Akut (< 1minggu) : malaria.gelisah. Diet : c. DHF.    Relieving :pernah terinfeksi malaria belum?(untuk vivax) :- RPD RPK Riwayat perjalanan : pernah berpergian ke daerah endemis malaria seperti purworejo. menggigil.FEVER Definisi : ketika temperatur oral > 37. Agravating : aktivitas fisik f. Onset : < 1minggu b.

HR dan RR meningkat. ce 12-14). Apusan darah : Tebal  jenis dari parasit : a. sore saja. Terapi: Vivax : Cq3 + Pq14 (Chloroquin + Primaquin) Chloroquin : . co 45-55). falsiparum (ada cincin di tepi) Tipis  menentukan jumlah parasit. Rajin minum obatkarena parasit.  DBN 3. hari ke-3: 5mg/kgBB/hari sehari 2 tablet/ hari.a) 2.hari 1-2 : 10 mg/kgBB/ hari sehari 4 tablet/hari. RPD -. sakit kepala mual. Kalau penurunan kesadaran cerebral malaria balik ke dokter Shock. Primaquin : 15mg/ hari (1 tablet) Falciparum Edukasi: 1. Leher : palpasi limfonodi DBN Thorax depan: screening auskultasiDBN Jantung : auskultasi di ictus cordis. leukosit normal. Vivax(eritrosit membesar) b.2. kuning malariaberat  balik ke dokter 2. Typhoid Fever: Seorang pasien datang dengan keluhan demam.  hepatomegaly dpt terlihat jika kurus.perut sebah. splenomegaly Palpasi  nyeri kuadran kanan atas dan hepatomegaly. buang air ga lancar. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi  hepatomegaly. sejak 6 hari. Extermitas : palpasi  akral dingin Pemeriksaan penunjang CBC HB turun (normal co 13-16. Vital sign : demam. HCT turun (normal ce 40-50. : cq3 + pq1 (dosis dan pembagian s. sudah ke puskesmas tp ga membaik. memperburuk:aktivitas berat. KU : Demam. eosinofilia (normal 0-3). RPK -. Kepala : lihat konjungtiva  bisa anemia dan sklera ikterik (pada falsiparum). nafsu makan turun.d. gagal napas . BP normal. lemah Anamnesis :  RPS Onset : > 7 hari (kronis) 75 .

Lokasi Durasi

: :

Karakteristik : Step ladder pattern (pagi sampai siang suhu turun, sore suhu tinggi) Agravating : Saat aktivitas Relieving : Treatment : Paracetamol tapi ga sembuh     RPD RPK ::-

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: ga spesifik b. Diet : Suka jajan? Cuci tangan ga sebelumnya? Air yg diminum mateng ga? c. Pola makan : Ga teratur d. Lingkungan : Masalah sanitasi

Review system : nyeri kepala, nyeri otot & sendi, konstipasi, perut sebah.

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Thypoid, DHF, Malaria

Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah dan demam Vital sign : temperatur tinggi, bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1 derajat C tidak

diikuti peningkatan nadi 10x) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi  rose spot (bercak merah di perut), hepatomegali (kurus)  bisa muncul konstipasi (biasanya pada dewasa) atau  batas hepar membesar (hepatosplenomegali)  nyeri kuadran kanan atas, hepatomegali

diare(biasanya pada anak) Perkusi Palpasi

Kepala : Sklera ikterik (kalau udah parah) Lidah kotor, tengahnya pucat, tepi hiperemis, tremor Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: DBN. screening  auskultasi aja. Extermitas : DBN Pemeriksaan penunjang a. Kultur (gold standar)  ditemukan mokroorganisme bakteri penyebab (S. Typhi)

76

b. Widal test  S. Typhi positif jika titer O > 1/320 (semakin gede penyebut = semakin positif) c. CBC  pada infeksi bakteri: neutrofil akan meningkat., shift to the right kronis, shift to the left akut. Pada infeksi virus: limfositosis dan leukopenia. Infeksi parasit: eosinofilia. Pada typhoid : leukopenia (<4.000 sel/mm 2), (normal:150.000-400.000 sel/mm2). Terapi Ciprofloxacin 500 mg  dosis: 15 mg/kg BB/hari. R/ Tab. Cipro 500 mg No. X S. 2.d.d. Tab 1 p.c. Paracetamol 500mg R/ Tab. Paracetamol 500 mg No. X S. p.r.n. 3.d.d. Tab 1. p.c. limfositosis, trombositopenia

Edukasi Bed rest 2 minggu Makan yg lembut dan higienis Cuci tangan sebelum makan Minum air matang Hindari rokok

3. Dengue Hemorrhagic Fever KU : Demam Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : < 1 minggu (mis : 5 hari yang lalu) :: 2 – 7 hari

Karakteristik : demam tinggi lebih dari 39 , pola bifasik => hari 1 – 3 demam, 3 – 4 turun, 4 – 7 demam lagi Agravating : kurang minum Relieving : -

77

Gejala berdasarkan derajat : DHF derajat 1 : demam, artalgia,mialgia, torniquet + DHFderajat 2 : perdarahan spontan DHF derajat 3 : mulai muncul tanda syok DHF derajat 4 : tanda syok berat (nadi& blood pressure tdk terdeteksi)    

RPD RPK

:: ada orang di sekitar yangsakit serupa dan mondok di RS

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: b. Diet : c. Pola makan : -

Review system : nyeri kepala, nyeri retroorbital, artalgia, mialgia, petekia, efusi pleura (sesak), asites (perut menggendut), perdarahan (krn trombosit turun), epistaksis, muntah darah (krn perdarahan pada vena2 esofagus), perdarahan gusi, perdarahan lambung, melena (kalo perdarahan dari GIT atas), hepatomegali, haus, gelisah, tanda2 syok

Tx sebelumnya : daun sirih untuk mimisannya

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : DHF, Demam Dengue (beda dgn dhf : tanpa ada hemoragik ; tanpa

trombositopeni ; tanpa hemokonsentrasi), cikungunya (demam lebih singkat, ada torniquet + dan peteki tapi tidak ada manifestasi perdarahan lain, artalgia dan mialgia prominen) Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah, pusing, tidak enak badan Vital sign Rumple leed : demam >39, HR naik, RRnaik, tanda2 syok : positif bila ada > 20 peteki per inchi kuadrat

Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala :  peteki  dbn  hepatomegali, asites  hepatomegali, asites

konjungtiva anemis ; perdarahan gusi ; mimisan

Leher : palpasi limfonodi dbn Thorax :

78

trs 6.Efusi pleura -> ada konsolidasi maka dari itu fremitus taktil meningkat .p.n 3. trs 6. Tab 1 (derajat 1 dan 2 cukup parasetamol dan rawat jalan) Kalo trombosit di bawah 100rb harus mondok -> kasih infus kristaloid Kalo sudah ada tanda2 syok pake prinsip tx syok (derajat 3&4) Kristaloid 20 mL/kg BB dlm 1 jam -> improve maka kurangi dosis kristaloid jadi 10. leukopenia Liver function test : AST / SGOT naik (normalnya cewe < 23 cowo < 30) NS 1 test Radiologi (kalo curiga efusi pleura -> posisi LLD) Terapi R/ Tab Parasetamol 500 mg No.d.r. perkusi dari sonor jadi redup Jantung : auskultasi DBN Extermitas : palpasi  akral dingin .trs 3 mL/kg BB -> Kalo tidak improve di tes Hct nya Hct -> meningkat -> ganti kristaloid pake koloid (dextran 40) 10 mL/kg dlm 1 jam) Hct -> turun -> ganti kristaloid pake blood transfusion 10mL / kg / jam Kalo udah improve ganti lagi jadi kristaloid tapi kurangi dosis kristaloid jadi 10.d. Hct naik > 20 %.trs 3 mL/kg BB/ jam Edukasi Banyak minum Bed rest Manifestasi syok atau perdarahan-> segera ke dokter Cek trombosit tiap hari Kontrol ke dokterhari ke – 4 79 . adaruam makulopapular Pemeriksaan penunjang CBC trombositopenia. XV S.

Anamnesis :  RPS g. karakteristik lain tergantung dr fase2nya k. Perforasi => kalau membrane timpani udah [each. Tahap-tahap: 1. Treatment : RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya RPK : Lifestyle : a. Diet : c. keluhan demam sudah menghilang 5. demam b. OMK (SNHL. pendengaran berkurang. Olahraga: b. Otomycosis (gatal. Pemeriksaan fisik : 80 . Pola makan: c. durasi >8 minggu). Durasi : ≤ 8 minggu : nyeri di belakang telinga (retroauricular) : < 8 minggu Karakteristik : nyeri di retroauricular. Fase tubercatar => obstruksi dari tuba eustachii.    Relieving : - m. Fase supuratif => terjadi membrane bulging. Fase resolusi/ penyembuhan => normalnya membrane timpani akan tertutup kembali. keluar cairan (discharge). KU : telinga terasa penuh. nyeri. Fase presupurasi => tanda2 hiperemi muncul pada membran timpani 3. akibatnya tekanan dalam cavum timpani jd negative sehingga membran terdorong ke dalam 2. demam?keluar cairan dr telinga (discharge)? Sekret mukopurulen? d. Lokasi i. Review system : keluhan lain : ada penurunan pendengaran ga?(tipe CHL). kalu ga tertutup akan berlanjut jd Otitis Media Kronis (tulinya SNHL) a.4. Agravating : l. j. newspaper like-appearance di canalis acusticus eksternus) f. Parafrase ke pasien e. membrane terdorong keluar gara2 cairan yang terbentuk di cavum timpani 4. Sebutkan DD : Otitis eksterna diffuse (nyeri di tragus). Onset h. Otitis media akut Definisi: peradangan pada cavum timpani (telinga tengah) dalam kurun waktu ≤ 8 minggu.

Rinne (-).mastoideus Otoskop ditemukan membrane timpani yg abnormalitas tergantung dr fase2nya Tes pendengaran garputala 512 Hz.b. Antibiotik  amoxicycillin sistemik ato tetes telinga b.n Throat : mencari kemungkinan faringitis sbg underlying disease Kepala & leher : limfadenopathy (-) 8. Pemeriksaan fisik : Ear : Inspeksi Palpasi  nyeri di proc.n  ditemukan discharge (pd fase perforasi) 7. Kesan umum : demam. yg lain d. Decongestan  pseudoefedrin (jika perlu) 10. Vital sign : fever. Schwabach BC pasien > BC dokter CHL Nose : d. Edukasi  Minum obat teratur  Jangan membersihkan telinga sendiri (dg cotton bud) 81 . nyeri. telinga terasa penuh 6. Weber lateralisasi kea rah telinga yg sakit.b. Terapi a.5. Pemeriksaan penunjang 9. Analgesic  paracetamol c.

RUQ: Nyeri Kuadran Kanan Atas Hepatitis KU : Nyeri Kuadran kanan atas. Athralgia 82 . suntik. BAK seperti air teh. Olahraga:b. BAK air teh akibat direct bilirubin meningkat.Fase prodormal 2-3 minggu.Fase ikterik  1-4 minggu. BAB: pucat b. Diet : Hep Amakan tidak higienis c.ABDOMINAL PAIN. (hep B inkubasi 15-180 hari). Nafsu makan menurun e. perut terasa penuh. demam. Tiba2 tadi pagi mata kuning. BAB pucat. lemas. sebah. Pola makan : jajan sebarangan (hep A) d. Review system : keluhan lain : a. meriang.Sembuh 1% hep A jadi hepatitis fulminan HepB Langsung jadi kronik. mual. Hep b tanyakan pernah menerima transfusi darah. Agravating : Beraktifitas berat Relieving:      RPD : Tidak pernah sakit serupa (hep A). 30% jadi sirosis. A) inkubasi 15-50 hari (rata2 30 hari). cirinya influensa-like syndrome .  Pekerja medis atau bukan (B) Hep A Melewati fase akut yang terdiri dari: . BAK: air teh c. Lokasi Durasi : nyeri kuadran kanan atas : Karakteristik : Demam sejak seminggu yang lalu. hep a (fecal-oral transmission) Riwayat perjalanan : Treatment awal: obat warung tidak membaik Lifestyle : a. muncul ikterik. Aktifitas seksual (hep B) e. tindik (B) f. Mual muntah d. 5-10% jadi HCC. 23% sirosis jadi liver failure lalu jadi kematian. imunisasi hep b RPK : tanyakan orang tua dan istri apakah pernah mengalami hal yg sama? Hep b (vertical transmission & sexual transmission). (hep. Pernah mentato. . dan kuning Anamnesis :  RPS Onset : Onset demam1 minggu yang lalu.

5 RANGE NORMAL= SGOT/SGPT : 3 – 35 Iu/L c. Liver Function Test: SGOT/SGPT > 1. ALP : meningkat (norml 30 – 35 Iu/L) d. lemah Vital sign : febris. Cholecystitis Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sclera ikterik Leher : palpasi limfonodiga ada limfadenopati Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi  dbn Pemeriksaan penunjang a. GGT : meningkat 83 . takikardi. serologi: hep AIgM anti HAV Tes serologi hep B: b. RR naik  jika kurus terlihat hepatomegali  dbn  hepatomegali  hepatomegali : hep A. hep B.pusing.Parafrase ke pasien Sebutkan DD Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak tidak enak badan.

bilang ke pasien nanti sembuh sendiri . mata kuning Anamnesis :  RPS : 3 bulan ini : kuadaran kanan atas : 3 bulan Onset Lokasi Durasi Karakteristik : Perjalanan penyakit: pipis seperti teh Agravating : beraktivitas berat Relieving: RPD : 10 tahun yang lalu pernah bilang sakit kuning. antivirus (lamivudine. Dulu sering minum jamu-jamuan. jarum suntik. Terdapat penurunan nafsu makan 84 .d. dikatakan hepatitis B. Olahraga: b. Edukasi g. Hep A = curcumin Paracetamol HP Pro no XXVIII Sb.     RPK : Riwayat perjalanan :Treatment sebelumnya: obat warung Lifestyle : a.. Hep B: Pasangan. obat kuat. Hep A: Bed rest. lama h. Riwayat penyakit jantung (akibat gagal jantung kanan). berasa mbesesek/sebah. dikasih obat dan sembuh..Terapi e. dikasih tau penyebarannya gimana. Merokok  Review system a. adefovir) Sirosis Hepatis KU : Perut membesar.d tab I f. Hep B= imunomodulator (INF-a).Tidak ada kencing manis. makanan dijaga. Pola makan d. Diet : c.

Albumin <<.perut. Karna kuning. palpasi perkusi dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palmar eritem. hepatomegali dan ascites pada orang kurus Auskultasi Perkusi Palpasi  dbn  hepatomegali. hepatomegali (teraba bernodul). hepatitis B/C. ascites +  splenomegali.b. Kriteria Subandiri: Dikatakan + sirosis jika terdapat 5 dari 7:       Varises esofagus Hematemesis/Melena Caput medusa Ascites Splenomegali Spider naevi punggung  Palmar eritem (karena hormonal) eritem di sisi ulnar dan radial (akibat hormonal)  UKK pada dada. kanker Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat lemas. Ginekomastia e. dan d. clubbing finger. fluid wave utkperiksa ascites Kepala : sclera ikterik Leher : kuning Thorax depan: screening spider naevi. ginekomasti.splenomegali. CBC albumin dan globulin. dan tampak agak sesak nafas Vital sign : dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  spider naevi. caput medusa. Tanya BAK dan BAB! BAB pucat. tanya gatal-gatal atau tidak c. BAK air teh Parafrase ke pasien Sebutkan DD : sirosis. kulit kening. globulin >> 85 . kuku Muchcre/leukonychia (garis-garis putih horizontal yang dipisahkan oleh warna normal kuku akibat hipoalbuminemia) Pemeriksaan penunjang i.

j. ALT. marker HCC: AFP Terapi Bed Rest Roboransia Edukasi Istirahat cukup. Fat. sirosis hepatis. muntah. Serologi: Hbs Ag. gizi cukup. hepatitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : 86 .muscular guarding (defans muskular) Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Cholelitiasis. bisa menjalar ke kanan atas skapula (Boa’s sign). Diet : suka makan makanan berlemak c. Fertile     RPD : pernah cholelitiasis RPK : Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. ALP dan GGT naik. anti Hbc k.AST naik. LFT bilirubin direct. Forty. Olahraga : b. Durasi : ±60 menit Karakteristik : Agravating : makanan berlemak (memicu kontraksi kantung empedu) Relieving: Faktor risiko : 4F  Female. Pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. makan lunak Cholecysitis KU : Nyeri kuadran kanan atas abdomen Anamnesis :  RPS Onset : Lokasi : Epigastrium atau kuadran kanan atas.

kelihatan cairan peri cholecystic.Vital sign : temparatur maningkat (demam)     Murphy’s sign (ditekan di kuadran kanan atas. pasien akan berhenti tarik napas). tekan.bisa juga ditemukan ada batu. RLQ Apendisitis Akut KU : Nyeri kuadran kanan bawah abdomen Anamnesis :  RPS Onset Lokasi : akut : awalnya di periumbilikal.5 g/8 jam 3xsehari Rujuk spesialis bedah digestif diminta tarik nafas. Hindari makanan berlemak 2. Edukasi 1. setelah 4-6 jam migrasi ke kuadran kanan bawah abdomen Durasi : <24 jam (kalau>24 jam perforasi) 87 . Terapi Analgesik : Petidine (morfin) Antibiotik : cefuroxime 1. Hindari rokok ABDOMINAL PAIN. pasien Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sklera  ikterik Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang USG  ada penebalan dinding vesica fellea.

Agravating : batuk. Olahraga : b. pada perut bag bawah). Diet dan pola makan : kurang serat  Review system  keluhan lain : anoreksia.Karakteristik : walanya colicky pain. yg meningkatkan tekanan intra abdomen. pasien diminta mengangkat paha menahan tahanan)  nyeri di kanan bawah Obturator Sign : gerakkan kaki pasien ke dalam sehingga lutut keluar  nyeri di hipogastrik kanan (kuadran kanan atas). aktivitas berat. lemah : App akut. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  88 . : appendicial mass Rebound tenderness (nyeri tekan lepas) Rovsing’s Sign : sebelah kiri ditekan. kalo udah ke kanan bawah continuous pain (bisa ditunjuk). pas idiangkat sebelah kanan sakit) Psoas Sign : tangan dilatakkan di lutut kanan pasien. Vital sign : mungking suhu meningkat (demam) subfebril (37. PID (dispareuni. Relieving: Faktor risiko :     RPD RPK : penyakit cacing dan infeksi diGI yg menyebabkan hiperplasia limfoid. nyeri difus. intermittent (difus).5) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Superfisial Deep  dbn  dbn  dbn  : muskular guarding (peritonitis).5-38. ga migrasi. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat nyeri. :- Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. dull.

Diet dan pola makan : 89 . perforasi) o. Urinalisis  eksklud kehamilan Terapi Analgesik : paracetamol Metronidazol Edukasi 1. keputihan yg kadang-kadang baunya amis. di perut kanan bawah. Agravating : celana dalam ketat. aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya.netrofil > 95% kalo m.gangren. Makan makanan berserat (buah dan sayur) Pelvic Inflamatory Disease (PID) KU : Nyeri abdomen bawah Anamnesis :  RPS Onset : sejak 1 bulan Lokasi : perut bagian bawah (difus) Durasi : sudah 1 bulan Karakteristik : nyeri tumpul. untuk mencari stadium app.Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang l. USG appendix terlihat membesar n. pemakaian pembalut wanita. difus.     RPD : menstruasi ga teratur. (suppurative. RPK : DM pada ibu Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. CBC  Leukositosis. Olahraga : b. Appendicogram udah pasti app.

tab 1 p. 11. dispareuni (patognomonis).d.p. KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. Jangan melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu dekat 4. IUD Parafrase ke pasien Sebutkan DD : PID . Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi    Pemeriksaan Gyn : pake spekulum inspeksi. S. Tetrasiklin 100 mg No.c. XXVIII S. muntah. 2. Edukasi 1.n 3. Pemeriksaan penunjang Vaginal swab.c. kaku. tab 1 p. Jangan memakai panty liner 90 . Lepas IUD 3.d. Jangan melakukan irirgasi vagina 2.d. adneksa teraba.r. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As. USG.Mefenamat 500 mg No. Vital sign : mungkin demam Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Tenderness bimanual  ada nyeri goyang uteri. Review system  keluhan lain : mual. IX.d. Antibiotik : R/ Tab. Apendisitis. memegang perut bagian bawah. vaginal swab.

Agravating : aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. Diet dan pola makan :  Review system  keluhan lain : mual. Vital sign : mungkin demam  dbn  dbn  dbn  dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Pemeriksaan Gyn : pake spekulum Cadwig’ Sign (tampak kebiruanpada portio cervix uteri) bimanual  ukuran uterus teraba membesar Kepala : Leher : palpasi limfonodi 91 . difus. Olahraga : b. memegang perut bagian bawah. colicky. Apendisitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD : KET. Status menstruasi : telat datang bulan RPD RPK   : :Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. PID .Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) KU : Nyeri abdomen bawah kiri atau bawah tetapi unilateral Anamnesis : RPS Onset : akut Lokasi : perut bagian bawah kiri atau kanan tetapi unilateral Durasi : akut Karakteristik : nyeri tumpul.di perut bawah kanan/kiri.

r. Rujuk ke Sp.p.d.c. IX. tab 1 p.OG 92 .Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang: USG. S.Mefenamat 500 mg No.n 3. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As.d.

pneumonia. sel giant dengan atau tanpa nekrosis kaseosa. Ax : KU : Batuk purulent RPS : O:L:D : akut ≤ 3 minggu Kronis ≥ 8 minggu C : batuk purulen dan berdarah disertai keringat pada malam hari. RR.5). penurunan berat badan >10% dalam 6 minggu VS : subfebril (<38. CHF. keringat malam hari Px : Keadaan Umum : Lemas.BATUK DD : TB. ganti – ganti pasangan. asma TB Penyakit yang ditandai oleh adanya pembentukan granuloma spesifik yang terdiri atas tuberkel epiteloid. penurunan berat badan. kakexia. bronchitis akut. tinggal di daerah tidak bersih Review System : sariawan. HR dan BP normal Thorax : I : retraksi dinding dada (+/-) Pa : Fremitus taktil : menurun (oleh karena kaverna) meningkat pada apex (oleh karena infiltrat) Pe : Apex : Redup Kavitasi : hipersonor Efusi pleura : redup-pekak 93 . PPOK. penurunan nafsu makan dengan atau tanpa rasa nyeri dada terutama pada saat batuk A : peningkatan tekanan intraabdomen R:T : Sudah minum obat batuk tapi batuk ga sembuh-sembuh RPD : Batuk yang tidak sembuh – sembuh Riwayat vaksin BCG (-) Riwayat AIDS (+) RPK : Keluarga atau orang terdekat ada yang menderita TB/HIV/AIDS Lifestyle : Kurang gizi. subfebril. Pharyngitis.

limfositosis. anemia ringan (Hb>10). infiltrate dan konsolidasi (apex)  radiopaq.A : Ronki basah pada Apex Suara napas bronchial Ekspirasi diperpanjang Egofoni : suara napas tinggi Kepala dan Leher : Konjungtiva anemic Limfadenopathy Deviasi trachea Px penunjang : Sputum BTA : min. LED ↑ Tes tuberculin : indurasi > 10 mm Tx : Kategori 1 ▪ TB Paru Baru BTA (+) ▪ TB Paru BTA (-). pagi. Ro 2RHZ (+) sakit ringan  Ekstra Paru Ringan 4R3H3 Anak : 2 RHZ+4RH Mulai tahun 2008 pengobatan pasien tuberkulosis untuk pasien dewasa diberikan dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) : 1) Kategori 1 a) Pasien baru TB paru BTA positif b) Pasien TB baru BTA negatif foto toraks positif c) Pasien TB ekstra paru 94 . neutrofilia.2 dari 3 sputum sewaktu. limfadenopati hilus Darah rutin : leukositosis. sewaktu Foto Thorax AP dan L : bercak kavitasi (hiperlusen). Ro (+) sakit berat ▪ TB ekstra paru berat 2RHZE 4R3H3 Kategori 2  Penderita Kambuh  Gagal  Lalai 2RHZES/RHZE 5R3H3E3 Kategori 3  TB Paru Baru BTA (-).

XII S 3 kali 1 minggu Tab IV 2) Kategori 2 Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya : a) Pasien kambuh b) Pasien gagal c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat Tabel 3. jadi kalo mau disamain aja 1 minggu kontrol. XXVIII S 1. Dosis panduan OAT KDT Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Tahap Lanjutan seminggu 3 kali selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Nah ribet ya? Iya . trus resepnya jadi begini : R/ Tab 2KDT no..37 kg 38 .d Tab IV ………………………fase intensif untuk 1 minggu kontrol R/ Tab 2 KDT no XLVIII S 3 kali 1 minggu Tab IV …………… fase lanjutan untuk 1 bulan kontrol Tapi kalo takut pasiennya lupa2 gitu.54 kg 2 tab 4KDT + 500 mg S 3 tab 4KDT + 750 mg S Selama 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 95 Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab E 3 tab 2KDT + 3 tab E Berat Badan . jadi itu misalnya BB 60 : R/ Tab 4KDT no.Tabel 2. Dosis panduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30 .d.

d. protein dan vitamin Pneumonia Ax : KU : batuk RPS : O : akut L:D : < 3 minggu C : batuk pada pneumoni itu berdahak bisa ada darahnya (tapi jarang).r.70 kg ≥ 71 kg Simptomatik : 4 tab 4KDT + 1000 mg S 5 tab 4KDT + 1000 mg S 4 tab 4KDT 5 tab 3KDT 4 tab 2KDT + 4 tab E 5 tab 2KDT + 5 tab E R/ tab paracetamol 500 mg no. A : Kadang disertai sesak napas saat istirahat. kalo asma dan jantung kan pada saat aktivitas. X S p. Bromhexin Hcl 20mg/5ml 60 ml lag I S p. R: T : Udah minum obat batuk.r. reda trus muncul lagi RPD : penyakit ini akut.d 5 ml pc Edukasi :   Minum obat setiap hari sampai habis Kontrol tiap 1-2 minggu pada tahap intensif dan tiap bulan pada tahap lanjutan  periksa ulang BTA bulan ke 2.n 3. 5 dan 6    Minta bantuan keluarga atau pihak lain untuk mengingatkan pengobatan Hentikan rokok dan paparan polusi  pakai masker Nutrisi kaya kalori. imunodefisiensi RPK : Lingkungan : pneumonia bisa terjadi di orang yang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk. jadi riwayat pneumoni sebelumnya bisa aja (-) Riwayat Mondok di RS (+/-) Riwayat penggunaan ventilator (+/-) Riwayat DM. infeksi viral.55 . padat begitu deh pokoknya Lifestyle : merokok 96 .n Tab I pc R/ Syr. PPOK.

atopi (-) 97 . keterlambatan pengembangan paru Pe : Redup (konsolidasi) A : Suara bronchial. aktivitas.d. riwayat alergi. kalo udah berat bisa muncul waktu istirahat R : istirahat T : obat batuk hitam tapi ga ngaruh RPD : ada riwayat penyakit yang serupa trus ilang trus muncul lagi RPK : Lingkungan : padat pemukiman.d. penurunan nafsu makan Px : Keadaan umum : bisa terjadi penurunan berat badan. sesak napas terutama saat tiduran dan beraktivitas. ……………… selama 7 hari Edukasi: istirahat.Review System : demam (+/-). Ronki basah (+). minum air yang cukup PPOK Ax : RPS : O : kronik / kronik eksaserbasi akut L:D : > 3 bulan dalam 2 tahun terakhir C : batuk purulent disertai sesak napas A : rokok. tapi lingkungan benernya ga terlalu pengaruh juga sih Lifestyle : merokok sudah sejak lama Review System : pasien juga bisa mengeluhkan demam. pleural friction rub (+) egophoni Kepala dan Leher : dbn Abd : di auskultasi aja  dbn Ekstr : dbn Px Tambahan : Ro Thorax : infiltrate Kultur sputum Darah rutin : Leukositosis Tx : Mukolitik (jangan ekspektoran) PCT Antibiotic  penisilin G 6 juta IU/hari Amoksisilin 500 mg S 3. T ↑ Thorax : I : retraksi dinding dada saat bernapas Pa : fremitus taktil ↑ . pasien tampak lemah VS : RR ↑.

jarak kart. kalo PO2 rendah PCO2 tinggi. retraksi dinding dada Pa : fremitus taktil ↓.7 and 50% FEV1 <80% predicted III : parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. perpesaran ventrikel kanan (+/-) A : bronchial. posisi tripod.7 and FEV1 <30% predicted or FEV1 <50% predicted dengan gagal napas atau tanda gagal jantung kanan Menurunkan F. JVP ↑. pemanjangan ekspirasi.R dan vaksin influenza serta pemberian SABA Pemberian LABA Glukokortikoid saat eksaserbasi 98 . HR dan RR ↑ Thorax : I : bentuk dada sepeti tong. edema tungkai (pada kasus parah) Px tambahan : spirometri  toleransi terhadap bronkodilator FEV1 < 12 % FEV1/FVC < 70% CXR  hiperlusent (air trapping) AGD : pO2 dan PCO2  PO2 dan PCO2 normal dan tidak ada cyanosis tapi pasien sesak  pink puffer.7 and 30% FEV1 <50% predicted IV : sangat parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0.suprasternal saat eksp < 4cm.Px : Keadaan umum : pasien tampak lemah dan kurus. penggunaan otot bantu pernapasan. pasien tidak sesak tapi cyanotic  blue bloater Terapi : Derajat keparahan COPD I : ringan Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. pengembangan paru ↓ Pe : hipersonor. mengi saat ekspirasi Kepala dan Leher : konjungtiva anemi. pakai otot bantu pernapasan Abd : hepatomegali (pada kasus parah) Ekst : jari tabuh. tanda kor pulmo. nasal flare.7 dan FEV1 80% predicted II : sedang Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. krikoid dan inc. bibir cyanotic. tampak adanya kesulitan bernapas VS : T.

vitamin dan sayuran antioksidan.Longterm O2 therapy Penanganan serangan akut : SABA + antikolinergik + glukokortikoid (prednisolon 40 mg PO selama 14 hari) + O2 2-3 L/men Komplikasi : pink puffer  gagal napas. blue bloater  kor pulmonar Edukasi : makanan rendah garam dan protein. hentikan rokok 99 .

Keratitis (Glaukoma kadang2) A R T Other RPD Tanyakan pake contact lens ga. iritis. Ankylosis Spondylitis. Glaukoma akut (SKDI 3A). chlamydial) . Keratitis (SKDI 2). konjunctivitis RS2 ada keluhan lain? Konjunctivitis Iritis Glaukoma sudut tertutup Keratitis Onset gradual gradual 100 mendadak gradual . Keratitis Sudden onset : Glaukoma akut. foreign body L D C Tidak nyeri dan tidak photopobia .Mata Merah Konjunctivitis (SKDI 4). minus ? Cahaya terang makin nyeri  keratitis. glaucoma akut Photopobia  Iritis. runny nose  Konjunctivitis alergi Mata gatal  Iritis. Iritis (SKDI 3A) Ax RPS O Gradual onset : Konjunctivitis (viral. glaucoma akut Apabila diberikan anestesi mata (ex: proparacaine) nyeri berkurang  keratitis Riwayat relaps  Iritis. visus menurun  keratitis.Sarcoidosis. bakteri. iritis.dll)  Iritis Penggunaan obat steroid mata prolonged (biasany pd uveitis. pusing. alergi. ada discharge  konjunctivitis Nyeri. muntah  Glaukoma akut Mata berair. Glaukoma akut Memakai contact lens  Konjunctivitis kontak lens Alergi obat tetes mata  Konjunctivitis alergi Penyakit autoimun (Crohn disease. neuropathy)  Glaukoma sekunder RPK keluarga ada yang sakit serupa? Glaukoma biasanya menurun ke anaknya (6%) lingkungan ada yang kena? LS RS1 Nyeri kepala.

ada prbhn reflek kornea. disebabkan oleh beberapa kausa. positive fluorescence staining Conjunctival injection IOP Kornea Diffuse (dari perifer ke central) normal Jernih Siliar (dari central ke perifer) < Normal > Jernih Episklera Kadang2 siliar normal Berkabut / beruap (sperti melihat jendela beruap) Reflek pupil normal Konstriksi sedikit Reaksi pupil minimal ato (-) normal Bilateralitas sering Kadang-kadang Kadang-kadang Biasanya unilateral Konjunctivitis Konjunctivitis = inflamasi konjunctiva. biasanya karna penyebaran virus ISPA sangat mudah menular ke mata satunya klo salah satu terkena. dapat diklasifikasikan sbb : Konjunctivitis alergi  biasanya gatal dan penderita pny riwayat alergi. sering diikuti mual muntah Sedikit menurun Severe.Relaps - Sering kambuh Kadang ada riwayat sblmnya - Visus Nyeri normal Tidak ada. Konjunctiva bakteri  discharge lebih purulen karna yg menginfeksi biasanya bakteri pyogenik. ada sensasi benda asing Photopobia Discharge Pupil signifikan normal ++ konstriksi +/Semi dilatasi & fixed + None to mild Normal atau konstriksi Siliar (dari central ke perifer) N +++ Opacification. conjunctival injectionnya lebih difus (hmpir susah dibedakan dengan siliar). discharge purulen bkin belek jadi klo bangun tidur susah buka mata 101 . Konjunctivitis viral  discharge watery. dapat ditemukan folikel limfoid di tarsal. atau minor menurun Moderate-severe & gatal menurun cepat Very severe.

2. pada konjunctivitis bakteri tampak crust menempel di bulu mata. Terapi Tindakan : ----- Farmakoterapi Konjinctivitis bakteri Cloramphenicol 0.5% tetes mata (Erlamycetin) 3-4x sehari 2 tetes.. dalam Normal Jernih Normal Normal Normal Normal 4. tekanan darah. Jernih. BB/TB. Keadaan umum Keadaan umum. gizi.5% atau naphazoline 0. Ada discharge. kesadaran  mata merah. Merah. atau Gentamycin 0.05% 1 gtt q2h prn (ga bole lbh dari 5 dd) 102 . Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Ada crust/belek (konjunctivitis bakteri).. Pemeriksaan penunjang Swab bakteri kultur 5. respirasi  normal 3.1. discharge bisa mukopurulen ato purulen Tanda vital Suhu.dimulai dari limbus(perifer) ke arah central (konjunctival injection) Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO Segmen posterior Normal Jernih. terdapat folikel limfoid di tarsal. nadi.3% Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis viral Livostin 1gtt 4dd  antihistamin Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis alergi antazoline 0.

6. mual muntah.p. penglihatan kabur seerti melihat ‘halo’ di sekitar objek 1.d. Bumbum SIP 5566/2009 Alamat praktek/rumah Jalan Kesehatan no 53 Yogyakarta Yogyakarta. deficit visual. nyeri kepala ipsilateral.d. tapi kalo diberi obat sembuhnya lebih cepat. 7.n. 20/12/09 R/ Tube Erlamycetin No. Edukasi Istirahat Sebenarnya klo konjunctivitis dibiarin jg sembuh sendiri. Tanda vital Suhu.os.3. Prognosis dr. kesadaran  mata merah. respirasi 3. BB/TB.od Pro: Nama : Alda Umur : 17 tahun Glakukoma akut Keluhan umum : nyeri periorbital.1gtt.I S.r. I S.4. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Menyempit. Keadaan umum Keadaan umum. nadi.2 gtt.os.d. gizi.od R/ Tube Insto No. bagian perifer seperti berkabut hitam Normal 103 .d. tekanan darah. nyeri kepala hebat 2.

Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Normal Normal 104 . synechiae Jernih. gizi.5% 1 gtt bid di mata yg sakit Paracetamol utk mengurangi nyeri Antiemetic apabila muntah2. deficit visual. Edukasi Prognosis Baik asal Mx nya cepat Iritis Keluhan umum : nyeri. Pemeriksaan penunjang Bisa edema. dangkal Tidak reaktif dan dlm keadaan middilated Normal N+ (>21 mmHg apabila diukur dgn tonometer) Normal Normal Siliary injection 5. Tanda vital Suhu. 7. 6. Terapi Tindakan Farmakoterapi : Pasien disupinasikan supaya menurunkan IOP : Acetazolamide (Diamox) 500 mg iv. respirasi 3. photopobia. BB/TB. nadi. diikuti 500 mg PO Timolol ophthalmic 0.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. kesadaran 2. tekanan darah. penglihatan kabur 1. Keadaan umum Keadaan umum.

Keadaan umum Keadaan umum. trauma. 7.. Terapi Tindakan Farmakoterapi : : .. penurunan imunologis. Pemeriksaan penunjang Reaktif .Cyclopegic  memblok saraf sphincter pupil dan m. gizi. respirasi 3. tekanan darah. BB/TB.Steroid utk mngurangi inflamasi Prednisolone 1% 1 gtt q1-6h 6.5-2% 1gtt 3dd . Edukasi Prognosis Keratitis Anamnesis : riwayat kontak lens. nadi. kesadaran 2.ciliaris Cyclopentolate 0.tp ga spesifik buat uveitis Bisa mencetus glaucoma sekunder klo udah parah Normal Normal Siliary injection 5. bisa smpe hypophion Reflek pupil Lensa TIO 4. synechiae Aquous humor apabila disinari sperti flare Ditemukan WBC di kamera okuli ant. Pemeriksaan mata Visual acuity Visus turun 105 . Tanda vital Suhu. pupil sedikit miosis Bisa opasitas (katarak) bisa tidak.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Bisa edema. corneal disease 1.

Edukasi Prognosis Tambahan: Retinopathy diabetika atau hipertensi  ciri ada neurovaskularisasi rapuh  pecah  pendarahan  iskemia  cotton woll spot  bisa ablasio retina. posterior synechiae Normal Normal Normal 5. 106 . Terapi Tindakan Farmakoterapi Rujuk aja…soalnya level SKDI 2 : : 6.Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. Pemeriksaan penunjang Normal Normal Edema eyelid atas. 7. ada discharge mukopurulen kadang2 Normal Siliary injection Ada ulserasi.

Respirasi lain Inhaled foreign body Upper airway obstruction Pneumothorax Atelectasis 4. kecuali bila asmanya sudah parah 107 . Durasi : beberapa menit yang lalu. Severe respiratory infection: pneumoni. Onset o. Severe chronic anemia  tisssue anoxia  sesak napas 4. Anafilaktik akut 5.DYSPNEA Sensasi sulit untuk bernapas Kausa  Sudden onset dulu nggak pernah 1. Lokasi p. tentukan derajat aktivitas ketika sesak napas Asthma g. Cardiovascular = ACS 2.asthma. PPOK 3. CHF. tiap serangan biasanya hanya sebentar. beberapa lama 1. Psikologis: pasien cemas sesak napas + batuk kronik + sputum + rekuren + merokok  lung suffocation kalau asthma. Metabolic asidosis  hiperventilasi & kussmaul 6. Respiratory: PPOK . mitral regurgutaion 2. mitral stenosis. tanya durasinya udh berapa lama. Anamnesis :  RPS n. kronis dan berulang : sesak napas di dada : beberapa menit. Psikogenik disorder= anxiety (heieprventilasi)   Sudden onset dulu pernah Insidious onset. epiglotitis akut 3. KU : sesak napas h.

pakai otot bantu pernapasan. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi  penggunaan otot2 bantu pernapasan Retraksi dinding dada terutama supraclavicular. Olahraga : Diet : Pola makan : -  Review system  gatal/atopi pada kulit. atopi Riwayat perjalanan : hilang timbul Lingkungan : berdebu. faktor stres (misal mendekati ujian) s. memiliki hewan peliharaan. j. takikardi. obat-obatan. Vital sign : RR ↑. pekerjaan. musim semi. riwayat penggunaan obat-obatan asma spt kortikosteroid.      Treatment : penggunaan antihistamin/obat-obatan untuk alergi RPD : riwayat alergi. b.q. Agravating : terpapar alergen. batuk berdahak disertai sesak napas seperti diikat. makanan. alergi. oksigen. nebulizer dll RPK : keluarga ada riwayat sesak napas. infeksi. perubahan suhu (malam hari). tidak ada demam dan pilek i. Relieving: menghindari allergen. BP & T normal 14. asma. Kondisi umum : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. intercosta Asma berat  dada tong Penurunan pengembangan dada yang simetris Mengi dapat terdengar tanpa bantuan stetoskop Palpasi Perkusi Auskultasi  fremitus taktil ↓  hipersonor vesicular. ventilasi kurang baik Lifestyle : a. kelelahan. wheezing Kepala : Nasal flaring. debu. Parafrase ke pasien Pemeriksaan fisik : 12. antihistamin t. sesak napas seperti diikat. c. Karakteristik : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. SCM. mukosa bibir tampak pucat-cyanosis Leher : palpasi limfonodi dbn 108 . stress. musim. kesuliatan bernapas 13. sulit untuk berbicara r.

Mild intermittent SABA 3-4 x/hari Belum perlu controller b. Moderate persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi 109 . Skin prick test b.Terapi Serangan akut : oksigen 4-6l/men + Reliever (nebulasi) a. Spirometri dinamis FEV1 ≥12% (>200 ml) setelah administrasi bronchodilator Perbaikan (Perak Expiratory Flow) PEF ≥ 20% pre-bronchodilator 16. Pemeriksaan penunjang a. Mild persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi c.Abdomen: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : atopi (+/-) 15. IgE spesifik dan total c. CBC eosinofilia.

d.n 3. KU : sesak napas b. Anamnesis :  RPS 1) Onset 2) Lokasi 3) Durasi    : beberapa bulan yang lalu. Edukasi 1.d puff II 17. Severe persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi Satu/lebih dari teophylin sustained release atau leukotrien modofier controller  untuk asma persistent Anti inflamasi steroid Inhalasi  budesonide 200 mikrogram 2x / hari Oral  methyl prednisolone 4mg Long Acting Beta Agonist (LABA) Salmeterol 100 mikrogram inhalasi Formoterol 24 mikrogram inhalasi reliever  pada eksaserbasi asma akut  bronchodilator Short Acting Beta Agonist (SABA)  salbutamol 4mg oral / 200 mikrogram inhalasi R/ tubulinhaler salbutamol lag I S p.r. mengganggu aktivitas Sesak napas semakin memberat Tidur lebih nyaman dengan bantal tinggi Gagal jantung kiri: 110 .d. progresif dan kronis : dada : > 8 minggu 4) Karakteristik : Merasa mudah lelah. Hindari allergen CHF a.

  Sistolik: infarct ventrikel kiri. diberi obat. stenosis mitral Gagal jantung kanan:  lanjutan gagal jantung kiri. pucat. sesak napas terutama malam (pnd). belum ada perbaikan     RPD : hipertensi RPK : orang tua hipertensi Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. cor pulmolae 5) Agravating : aktivitas 6) Relieving: istirahat 7) Treatment : berobat ke dokter. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: o Inspeksi Ictus cordis kuat o Palpasi Ictus cordis berpindah bergeser ke atas  hipertrofi ventrikel kanan bergeser ke bawah  hipertrofi ventrikel kiri Fremitus meningkat  karena ada cairan Kulit dingin dan lembab (keringat) o Perkusi Cardiomegali 111 . Kondisi umum : lemah. hepatomegali c. b. dengan atau tanpa edema tungkai dan sesak napas saat berbaring 2. Parafrase ke pasien d. c. Pemeriksaan fisik : 1. hipertensi. Vital sign : nadi ↑. respirasi ↑ 3. berkeringat. efusi pleura. atau stenosis katup aorta  nggak bisa pompa saat sistolik) Diastol: insufisiensi aorta. regurgitasi mitral. tanda gagal jantung lain seperti palpitasi.  Olahraga : tidak suka Merokok Pola makan : tinggi lemak Review system  keluhan lain : edema tungkai.

intercostal JVP meningkat  terlihat saat pasien berbaring 45 derajat Leher : dbn Abdomen: o Inspeksi: lingkar perut meningkat karena ascites o Palpasi Fluid wave  ascites Hepatomegali (RHF) o Perkusi Hepar teraba Nyeri tekan kuadran kanan atas o Auskultasi Extermitas : bengkak. berkeringat Kriteria Framingham CHF bila memenuhi 2 major atau 1 mayor + 2 minor Kriteria major 1. pitting edema. ↑JVP 6. Edem paru akut 4. Tachicardia 2. RBB (+) 5. Dispnea d’effort 3. asites  pada gagal jantung kanan o Auskultasi Thrill Murmur RBB  karena peningkatan cairan di paru S3 gallop  seperti suara kuda S3 gallop gagal jantung kiri  apex S3 gallop gagal jantung kanan  ujung sternum Kepala : gerakan cuping hidung gerakan otot bantu pernafasan  retrakasi otot SCM. Cardiomegali 2.Hepatomegali. Edem ekstremitas 5. Ortopnea/PND 3. Efusi pleura 4. Refluks hepatojugular Kriteria minor 1. Hepatomegali 112 .

tab I p. Echocardiography Fraksi ejeksi <40% 5. Pemeriksaan penunjang a. Beta blocker  pada post MI 6. LAD 8. Terapi R/ Tab. R wave > S wave di v1 7.d. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 6. Batasi aktivitas fisik 113 . EKG Kiri  LVH 5. RAD 8.d.4. Furosemid 20 mg No XXX S 3. v6 Kanan  RVH 5.d. tab I p.d. R/ Tab. Aksigenasi 3. Captopril 12.5 mg No XXX S 3.c.c. S persisten di v5 & v6 6. v2 b. Edukasi 1. CXR Cardiomegali: Karena hipertrofi otot jantung Karena dilatasi akibat penumpukan darah c. Batasi asupan Na 2. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 7. Strain pattern st depressed & T inverted di v5.

Pneumothorax: OPEN PNEUMOTHORAX Pneumothorax terbuka terjadi akibat terbentuknya lubang di dinding dada yang diameternya lebih dari 2/3 trachea. kanan. sehingga akan menekan paru-paru. sehingga menimbulkan sucking chest sound. Assess: Listen (sucking chest sound). Sehingga setiap ada napas. Melalui lubang tersebut udara luar masuk ke rongga pleura. dan berurutan  daerah yang fraktur lepas dari kesatuan  jadi kuwalik-walik  pada saat inspirasi malah kesedot kedalam. namun pada saat ekspirasi. dicoblos di linea midclavicular SIC 2. pada saat ekspirasi jadi kedesak ke luar  gerakan paradoksal dinding dada. RR meningkat) Treatment: “digembosi”  pake jarum atau pisau. Pada saat ekspirasi. apalagi kalo begerak Tx: bagian yang keluar-masuk ditahan. Setiap kali inspirasi. nadi lemah  tekanan arteri menurun + syok ”Trias beck”  Tx: pungsi pericard. Tension nekan mediastinum  yang ngaruh cuma vena cava  kegencet  venous return menurun syok. udara dari paru juga akan berduyun-duyun ke lubang. JVP meningkat Tension  nekan paru-paru kontralateralnya juga  distress napas yang hebat (sesek. Look (gerakan napas tertinggal). Tx definitive: WSD Flail Chest Terjadi pada fraktur kosta yang segmental (2 tempat atau lebih). dan kiri) TENSION PNEUMOTHORAX Pneumothorax tension terjadi bila lesi dinding dada (pleura parietalis)/pleura visceralis bersifat ventil atau katup. 114 . udara akan masuk ke rongga pleura. dengan mitela atau miring ke bagian yang sakit plus painkiller Tamponade cordis Jantung kayak di tampon (ciri: suara jantung melemah)  venous return menurun  JVP meningkat  yang dipompa dikit  stroke volume menurun. multiple. tidak semua masuk lagi ke paru-paru. volume makin meningkat  tension. Akibat patah  nyeri. Feel (perkusi: hipersonor) Tx definitive:WSD (Water Seal Drainage)  “ditutup” lubangnya Tx emergency: tutup lubang di dada dengan menggunakan kain/plastic yang diplester di 3 sisi (atas. dan akhirnya akan paru akan kempis.

ascites ato ga? (SN ada ascites). Glomerulonefritis (cratinin clearance berkurang) o. 2 hari yang lalu jadi seluruh tubuh : 2 minggu x. kenaikan serum lipid trigliserid. KU : Bengkak-bengkak l. (<3 gr/ml). Anamnesis :  RPS u. Sebutkan DD : CHF. Lokasi w. nafsu makan berkurang. Onset v.Sindrom nefrotik Definisi: kumpulan gejala dimana terjadi proteinuria (>3. bibir). riwayat sakit pinggang dan kencing warna merah (ada glomerulonefritis sebelumnya). Parafrase ke pasien n.oedem anasarka (nonpitting) di jaringan yang longgar (kelopak mata.).manifesnya semakin parah z. BAK terganggu => frekuensi meningkat. Relieving aa. Kesan umum : gelisah.5 gr/hari). Agravating : kalo diet banyak protein (telur). berat badan bertambah tapi merasa lemes y. tidak nyeri dan tidak terasa panas kencingnya. tidur pake bantal. hipertensi Lifestyle : a. hipoalbuminemia. ). Olahraga: b. Karakteristik : saat bangun tidur mata terasa tebal semakin siang semakin berkurang bengkak di matanya tapi di kaki makin bengkak. BAK dan BAB terganggu ga (kl SN. Durasi : 2 minggu : pagi hari di wajah (kelopak mata. Diabetes Mellitus   RPK : riwayat kencing manis (DM). sesak napasnya paroksismal dyspneu. k. scrotum. dll. Pola makan:  Review system : keluhan lain : ada sesak napas ga? (untuk eksklusi CHF: kl ada. Treatment :  RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya. Diet : protein berlebih (telur) c. Pemeriksaan fisik : 18. sesak napas 115 . warna keruh). labium mayor. keluar dikit2. pitting udem (karena udemnya interstitial jd saat dipencet ga balik lg) m.

b.19. Bed rest.Furosemide untuk mengatasi udem Tab. creatinine clearance normal (untuk membedakan dengan GN) b. no fever. 20. Darah  ada dislipidemia.d.d tab I . Pemeriksaan penunjang a. Bed rest b.batas jantung normal (tidak ada cardiomegaly) Abdomen : ditemukan efusi pleura kl parah Inspeksi Auskultasi  ada ascites (perut membesar) d. diet rendah garam dan tinggi protein 2.5 gr/hari). Diberitahu efek samping obat bisa menyebabkan imunosupresan dan “moon face” 116 . Edukasi 1.8 – 1 gr/kg BB) c. Berdasar etiologi : . Furosemide 80 mg s.2.1.d tab I 23. . Diet rendah garam dan tinggi protein (0.d. Captopril 12.Terapi a.hipertensi ato DM  ACE inhibibor Tab.Vital sign : BP naik. Urinalisis (sampel urin berasal dari urin tampung 24 jam)  proteinuria (>3.Prednisone untuk mengatasi peradangan Prednisone 1 mg/kg BB/hari (BB sebelum udem) Sediaan yg ada 1 tablet = 5 mg. diminum pagi dan malam (pagi lebih banyak drpd malam) .n Perkusi  shifting dullness (tanda ascites) Palpasi  float wave (tanda ascites) Kepala : muka udem (terutama mata dan bibir) Ekstremitas : pitting udem serta ga ada nyeri 21. hipoalbumin <3 gr/mL 22.5 mg s. Pemeriksaan fisik : Thorax : .

nyeri dada b. diremas. Karakteristik : 1) 2) 3) 4) Nyeri khas. Relieving: Pada stable angina mereda dengan istirahat & nitroglycerin hh. DM    RPK : orang tua pernah mengidap penyakit jantung Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.CHEST PAIN: ACS Unstable NSTEMI STEMI obstruksi parsial obstruksi total. Sebutkan DD e. Faktor risiko : dislipidemia. Lokasi dd. mual. megang dada : ACS. seperti tertindih. c.  Olahraga : jarang berolahraga Merokok Pola makan : makan makanan berlemak Review system  keluhan lain : keringat dingin. Anamnesis :  RPS bb. burning. Durasi : akut. tidak bisa dihilangkan dengan istirahat atau pemberian nitroglyserin ff. gelisah. beberapa menit yang lalu : nyeri dada menjalar sampai lengan kiri & rahang kiri : > 20 menit ee. hipertensi  RPD : Belum pernah nyeri seperti ini Riwayat hipertensi. Agravating : aktivitas fisik gg. ada kolateral obstruksi total a. Onset cc. leher. Parafrase ke pasien d. Kondisi umum : cemas. Pemeriksaan fisik : 24. muntah c. atau dicengkeram Radiasi ke rahang. rokok. GERD 117 . KU : sesak napas. lengan kiri bisa sampai ke ulnar Timbul saat istirahat >20 menit. obesitas DM. berkeringat. b.

Terapi Berikan MONACO a. Morphin IV jika nyeri tidak berkurang dengan nitroglycerin b.. ST elevasi dan Q patologis (STEMI) ST elevasi kalau naik > 2mm di lead precordial atau naik > 1mm di lead extremitas pada minimal 2 lead berurutan Manifes Q patologis (>1/3 R’ atau kalau R < 5 kotak maka sekecil apapun disebut Q patologis) Depresi ST (NSTEMI) b.25. Clopidogrel f. unstable Lihat pambahasan EKG. Periksa cardiac enzyme CK-MB. Aspirin 160-325 mg e. pertahankan saturasi O2>90% c. Nitrogliserin SL d. Pertimbangkan reperfusi 118 . troponin I c. Oksigen 4L/mnt. Pemeriksaan penunjang a. 10 menit pertama  EKG 12 lead  bedakan STEMI.Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Kepala : dbn Leher : palpasi limfonodi dbn Abdomen: screening  dbn Extermitas : Inspeksi  Ektermitas pucat palpasi  Ekstermitas dingin dan berkeringat 27. Foto Thorax (liat ukuran jantung) 28.Vital sign : hipertensi. NSTEMI. takikardi  dbn  dbn dbn dbn 26.

n. Odinofagi (nyeri saat menelan makanan) juga bisa muncul bila sudah terjadi ulserasi esophagus berat.Onset : akut .kambuhan. . menggunakan obat . faktor hormonal (mis : 119    .obatan tertentu (antikolinergik. 1. theofilin. dll). Tab. saat serangan) Stable angina pectoris:   aspirin dimunum saat serangan & biasa nitroglycerin saat serangan 29.n.amati ada tidaknya faktor resiko → memiliki hiatus hernia. Aspirin tiap hari GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) Anamnesis   KU : Nyeri dada yang seperti terbakar RPS : .Edukasi 1.Fibrinolitik  door to needle 30 detik PCI kalau ada kontraindikasi fibrinolitik  door to ballon 90 detik R/ Tab. RPK : Profil pasien : .d.r.Location : epigastrium atau retrosternal bagian bawah .kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan). Nitrogliserin 0.Duration : beberapa menit . Aktivitas fisik aerobik 4. Management lipid 5.Treatment : RPD : GERD biasanya kambuh .Characteristics : nyeri seperti tebakar.Relieving : . p. sublingual (saat serangan) R/ Tab.r. IV (dikunyah.Aggravating : tidur setelah makan . kadang . Stop merokok 3. Keluhan nyeri ini umumnya timbul setelah makan. mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah. Turunkan berat badan 2. p. Aspirin 80 mg no XXVIII S.3 mg No VII S. opiat.d. beta adrenergic.

namun tidak untuk penyembuhan lesi.  Domperidone : 3 x 10 .Sukralfat : Alumunium Hidroksida + Sukrosa Oktasulfat .PPI : pada kasus yang berat  Lansoprazole : 2 x 30 mg  Pantoprazole : 2 x 40 mg  Rabeprazole : 2 x 10 mg  Esomeprazole : 2 x 40 mg Modifikasi gaya hidup : . Esofagografi dengan barium → pada pasien dengan hiatus hernia atau stenosis esophagus.Antasid : 4 x sehari .Prokinetik  Metoclopramide : 3 x 10 mg → harus dengan kombinasi bersama Antagonis reseptor H2 atau PPI. konsumsi alkohol . coklat .Hindari makan sebelum tidur 120  . soft drink. Tata Laksana :  Medikamentosa : Pilihan terapi medikamentosa yang dapat digunakan antara lain : . Review system Pemeriksaan Fisik :      Kondisi umum : tampak memegangi ulu hati Vital sign :dbn Kepala leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Pemeriksaan Penunjang :   Standar baku : endoskopi saluran cerna bagian atas → akan ditemukan mucosal break pada esophagus.Meninggikan kepala saat tidur . peningkatan progesterone karena kehamilan).Antagonis reseptor H2  Simetidin : 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg  Ranitidin : 4 x 150 mg  Famotidin : 2 x 20 mg  Nizatidin : 2 x 150 mg .  Cisapride : 3 x 10 .20 mg / hari → menurunkan gejala karena meningkatkan tonus sfingter dan mempercepat pengosongan lambung sehingga esophagus tidak lama terpapar asam .20 mg / hari → selain menurunkan gejala juga bisa sekaligus menyembuhkan lesi di esophagus. peppermint . .

kopi dan minuman bersoda karena dapat menstimulasi asam Hindari obat . etc) 121 . beta adrenergik.obatan yang menurunkan tonus sfingter esophagus (kolinergik. peppermint.- Berhenti merokok dan alkohol karena dapat menurunkan tonus sfingter esophagus Kurangi konsumsi lemak dan jumlah makanan yang dikonsumsi karena bisa menyebabkan distensi lambung Turunkan berat badan untuk menurunkan tekanan intra abdomen Hindari makan coklat.

seperti perabotan atau lukisan dinding. insufisiensi vertebrobasilar Cerebellum : degenerasi. Apakah anda merasa akan pingsan? Gejala demikian mungkin merupakan prasinkop 2. kehamilan usia muda. biasanya disertai mual. muntah.PUSING/DIZZINESS Sensasi tidak seimbang oleh adanya gangguan satu atau lebih organ yang menjaga keseimbangan. betul-betul nampak berputar atau anda merasa seperti sedang bergerak? Pertimbangkan vertigo 122 . Apakah objek dalam pandangan anda. antikonvulsan Penyakit lain : anemia. presinkop sensation Giddiness : sensasi tidak spesifik Atau mengklasifikasikannya menjadi dengan atau tanpa vertigo : Dengan vertigo :  Perifer o o  Sentral o o Tanpa vertigo :   Infeksi viral akut seperti pada gaster atau usus Hipotensi postural : biasanya terjadi pada wanita usia muda. pucat dan berkeringat    Unsteadiness : sensasi tidak seimbang atau perasaan akan jatuh Lightheadedness : faint (blur). kardiak (stenosis aorta dan pulmunal dll) Batang otak : infark. transquilliser. diabetic autonomic neuropathy. menierre. BPPV. neuronitis vestibular Tanyakan adanya perasaan berikut : 1. Pusing Vertigo Unsteadiness PseudoVertigo Lightheadedness Giddiness Oleh karena itu perlu dilakukan kategorisasi symptom menjadi salah satu kategori diatas :  Vertigo : sensasi berputar baik secara subjektif (pasien) atau objektif (sekitar). tumor Labyrinth : labyrinthitis. penggunaan obat antihipertensif    Hipoglikemik : disertai gejala berkeringat dan lapar Penggunaan obat-obat : antihipertensif. fistula N VIII : akustik neuroma.

Gejala ini kadang-kadang disebut sebagai pusing psikofisik. meniere disease (late) Beberapa detik – menit Beberapa menit – jam Berjam. 6. Terjadinya gejala pada posisi berdiri kemungkinan disebabkan oleh hipotensi postural. atau kelainan sentral pada batang otak. stroke. Apakah diikuti dengan sakit kepala  desak ruang oleh peningkatan TIK  neuroma akustika VERTIGO Klasifikasikan apakah disebabkan oleh obat. fistula perilimfatik Meniere. Diplopia merupakan tanda penyakit pada batang otak.jam BPPV. vertigo sentral atau perifer. Apakah yang mencetuskan gejala? Jika gerakan kepala menimbulkan gejala. Anamnesis KU : kepala terasa pusing dengan sensasi berputar RPS : Onset : Lokasi : Durasi : Duration of episode Sangat singkat Suggested diagnosis Vestibular neuronitis (late).murni. akustika. 3. Adakah gejala penyerta? Adanya tinitus dan ketulian merupakan tanda kelainan telinga dalam. fistula perilimfatik post trauma. fistula perilimfatik TIA. neuroma 123 . Apakah samar-samar kepala anda terasa ringan? Bisa menunjukkan berbagai masalah mulai dari hiperventilasi sampai nyeri kepala tipe tegang. Hari Neuronitis migraine Minggu Characteristic : Berputar psikogenik verstibular. yang bisa disebabkan oleh kelainan perifer pada telinga dalam atau nervus kranial VIII. migraine. 4. Mual dan muntah menunjukkan penyakit pada sistem vestibular atau batang otak. kemungkinan disebabkan oleh penyakit vestibular. 5. Diagnosis pasti jarang berhasil ditegakkan.

horizontal atau torsional. tidak hilang saat mata terfokus pada objek. aminoglikosidm antikonvulsan.g. Ménière’s disease. antihipertensi. multiple sclerosis Recent upper respiratory viral illness Stress Psychiatric or psychological causes. head trauma. kokain. advanced age. barbiturate. no consistent provoking factors) Acute vestibular neuronitis. hilang saat mata focus pada suatu objek. cerebellopontine angle tumor.. excessive straining. immunosuppressive medications.e. quinine Provoking factor Perubahan posisi kepala Suggested diagnosis Acute labyrinthitis. salisilat. diuretic. multiple sclerosis. hilang dalam hitungan minggu – bulan. perilymphatic fistula Spontaneous episodes (i. nitrogliseride. loud noises Relieving : Therapy : Keluhan Penyerta : Untuk membedakannya. hilang dalam beberapa hari’ tidak berubah arah saat 124 Vertigo Central Murni vertical. migraine Immunosuppression (e. BPPV. perhatikan tabel di bawah ini : Kenampakan Nystagmus Vertigo Perifer Kombinasi horizontal dan torsional. Perilymphatic fistula Herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis ..Aggravating : induksi obat seperti alcohol. antidepresan. cerebrovascular disease (stroke or TIA). migraine. stress) Changes in ear pressure.

acute middle ear disease (e. migraine Ménière’s disease.napas atas (+/-) Gangguan pendengaran (+/-) Riwayat pengobatan dengan obat-obatan toksik seperti aminoglikodisa. Headache Hearing loss cerebrovascular disease.focus kea rah lain Imbalance Ringan – sedang. Facial weakness Focal neurologic findings herpes zoster oticus) Acoustic neuroma.g. salisilat. vomite Hearing loss. perilymphatic 125 Parah Sering Jarang Lama ( 20 detik ) Bervariasi Jarang Sering Cepat ( 2 detik ) . sulit hingga tidak mampu berjalan. bahkan berdiri Nausea. multiple sclerosis (especially findings not explained by single neurologic lesion) Acoustic neuroma. Diving (+/-) Riwayat infeksi sal.. herpes zoster oticus Cerebellopontine angle tumor. furosemid RPK : vertigo (+/-) Riwayat Perjalanan : Lifestyle : (-) Review System : Symptom Aural fullness Ear or mastoid pain Suggested diagnosis Acoustic neuroma. otitis media. tinnitus Symptom neurologis lain Latensi nystagmus setelah maneuver RPD : Riwayat Trauma (+/-). Ménière’s disease Acoustic neuroma. masih mampu berjalan Parah.

transient ischemic attack or stroke Nystagmus Phonophobia. otosclerosis. kepala dan leher. caranya dengan :  Hennebert’ sign merupakan vertigo/nystagmus yang terjadi akibat penekanan pada tragus dan Meatus akustikus eksterna telinga yang mengalami defek. cerebellopontine angle tumor (usually severe) Peripheral or central vertigo Migraine Acute labyrinthitis. cendrung curiga ke sentral.fistula. yaitu pemeriksaan pada system saraf. 126 . T (N).  Kepala dan leher (ENT) Membran timpani : rupture (+/-) . presinkop. herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis (usually moderate). curiga hiptensi postural Ada tiga focus penting dalam pemeriksaan fisik pasien vertigo. vesikel (+/-) Fistula perilimfatika (+). Ménière’s disease DD : Vertigo. BP (N). Imbalance cholesteatoma.  System saraf Maneuver Dix Hallpike Test Maneuver Dix Hallpike yang positif diikuti anamnesis riwayat vertigo dan / atau nystagmus yang positif dapat digunakan untuk menegakkan hasil diagnosis yang positif untuk vertigo perifer et causa BPPV. RR (N). Kalau negative. acoustic neuroma. gidddiness Pemeriksaan fisik Kondisi umum : Pasien tampak agak lemas dan berkeringat. photophobia Tinnitus involving anterior inferior cerebellar artery. disequilibrium. acoustic neuroma. Bila BP rendah. dengan atau tanpa pucat VS : Pulse (N). serta system kardiovaskular.

Radiologis : Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk beberapa keadaan seperti:     Adanya symptom neurological. Untuk menyingkirkan kecurigaan infeksi bacterial atau neoplasma. kardiovaskuler Singkirkan dd. (2). gangguan fungsi otonom)  Penurunan tekanan darah sistolik hingga 20mmHg atau lebih atau kenaikan denyut lebih atau sama dengan 10x/menit. Ditemukan kondisi lain yang membutuhkan perujukan setelah pemeriksaan dilakukan (vertigo sentral. progressive unilateral hearing loss dan berbagai symptom vertigo sentral lainnya. tuli saraf (kerusakan n. apakah sentral atau perifer Pemeriksaan : Sistem saraf. Valsava mauver memberikan tanda adanya fistula melalui peningkatan tekanan pada tuba eustachii dan telinga dalam. Vertigo sentral Pertimbangkan tes laboratorium atau radiologis (bila diperlukan) Rujuk bila masih ragu atau menemukan hal yang memerlukan rujukan setelah diperiksa Terapi  Infeksi viral self-limited : obat simptomatik + cairan 127 . Pemeriksaan penunjang Lab : kadar elektrolit. Ada gangguan neurologis fokal. Rujukan Diagnosis penyebab masih belum jelas/meragukan. tentukan diagnosis Lakukan MRI bila : (1). Ada factor resiko penyakit kardiovaskular. CBC (complete blood count) dan pemeriksaan fungsi thyroid. disequilibrium atau pre-syncope Anamnesis : Tentukan penyebab vertigo.VIII)  System kardiovaskular Hipotensi orthostatic (dehidrasi. psikosis dl) Pasien datang dengan pusing Curiga Vertigo Ya Memakai obat – obatan yang dapat menginduksi vertigo Ya Tidak Hentikan pengobatan Tidak Periksa untuk leghtheadedness. Tes Audiometri : membantu diagnosis vertigo akibat penyakit Meniere. glukosa. factor resiko penyakit kardiovaskular. Kepala dan Leher. (3). Garpu tala : Tuli konduktif (kerusakan telinga tengah).

d. sensasi penhu akibat hidrops endolimph. terutama malam hari D : Transien bberapa detik C : Rekuren terkait perbahan posisi kepala terus selama berminggu – bulan lalau sembuh spontan A : perubahan posisi R : Sembuh secara spontan RPD : serangan yang sama (+) RPK : Lifestyle : bantal relaif tinggi.d Tab I   Psikiatrik : sedative. antikonvulsan BPPV : edukasi : menggerakkan kepala secara lebih perlahan atau dengan menggunakan collar neck untuk mencegah pergerakan spine yang berlebihan dan mendadak Tambahan : BPPV Ax : O : mendadak berkaitan dengan perubahan posisi kepala. terdapat periode freedom 128 . VI S 2. Simptomatik (vestibular sedative): R/ Tab prochlorperazine mg 5 no. tinnitus. MENIERRE DISEASE Ax : RPS : O : Mendadak dalam hitungan menit D : berjam-jam C : pusing disertai mual. pucat.X S 3. instabilitas dan SNHL.d Tab I    Neuronitis vestibular : simptomatik Hipotensif ortostatic/hipoglikemic state : penghitungan ulang dosis obat Meniere : diet rendah garam dan diuretic ringan R/ Tab Betahistin 8 mg no.d. stress tinggi Review system : Px : pemeriksaan fisik : dbn Manuver Dix Hallpike Tx : Manuver Epley.

A:R : spontaneous T:RPD : Gangguan pendengaran RPK : Lifestyle : Review system : rasa penuh di telinga. antihistamin(cinnarizine) Prophilaksis : diet rendah garam (1g/d). tinnitus.v. SNHL Tx : serangan akut  bed rest. ix. tinnitus. pada fase lanjut dapat diikuti kerusakan pada n. x  Tanda peningkatan TIK 129 . vi. diuretic NEUROMA AKUSTIKA Ax : RPS : O : perlahan-lahan D : berjam-jam C : diawali dengan gangguan pendengaran SNHL dan gangguan keseimbangan A : pagi hari saat terjadi peningkatan TIK R: T: RPD : RPK : Lifestyle : Review System :  Gangguan pendengaran.

dan gejala pada saluran respirasi bawah o C pneumoniae. misalnya Streptococcus pyogenes. namun pharyngitis yang disebabkan oleh bakteri. termasuk scarlatiniform rash. Komplikasi yang dapat timbul diantaranya adalah acute rheumatic fever. Komplikasi tersebut tidak jarang menyebabkan mortalitas bagi penderitanya. G. pharyngitis. dan biasanya terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi (pada negara dengan empat musim). Etiologi: Kausa penyakit pharyngitis dapat dibagi menjadi:  Bacterial pharyngitis o o Group A beta-hemolytic streptococci. komplikasi berupa glomerulonephritis akut dan demam rematik akut jarang terjadi sebagai komplikasi akibat agen ini. secara klinis mirip dengan M pneumoniae. terutama group A β-hemolyticus streptococci (GABHS). o M pneumoniae yang sering menyerang kalangan dewasa muda dan gejalanya berupa nyeri kepala. Pasien biasanya mengeluhkan batuk. sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter karena komplikasinya yang berat. rheumatic heart disease. acute glomerulonephritis dan toxic shock syndrome. Namun. Walaupun sebagian besar pharyngitis disebabkan oleh virus. o Arcanobacterium (Corynebacterium) haemolyticus yang sering terjadi pada orang dewasa muda dan sangat mirip dengan infeksi GABHS. and F streptococci yang secara klinis sulit dibedakan dari infeksi GABHS. yang dibahas pada diagnosis banding ini Group C.SORE THROAT Pharyngitis termasuk salah satu dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi salah satu top ten leading disease/morbiditas pada sebagian besar puskesmas di Indonesia. Berikut adalah ulasan singkat mengenai pharyngitis: Definisi: Infeksi atau iritasi pada pharynx atau tonsil Epidemiologi: Pharyngitis bacterial akibat Strepyococcus pyogenes biasanya menyerang anak yang berumur 4-7 tahun. Pharyngitis biasanya mendahului 130 .

infeksi paru-patu 1-3 minggu sebelumnya.
o

Neisseria gonorrhoeae adalah agen kausa yang jarang pada pharyngitis bakterial. Anamnesis yang baik dan teliti sangat perlu dilakukan karena infeksi ini terjadi biasanya karena kontak orogenital. Pharyngitis ini juga biasanya terkait dengan infeksi sistemik yang parah.

o

Corynebacterium diphtheriae yang memiliki tanda khas foul-smelling gray-white pharyngeal membrane sehingga menimbulkan obstruksi jalan napas.

Viral pharyngitis
o

Adenovirus: Patognomonis infeksi adenovirus adalah munculnya konjungtivitis yang terkait pharyngitis (pharyngoconjunctival fever). Adenovirus adalah etiologi utama pharyngitis pada anak berumur kurang dari tiga tahun.

o

Herpes simplex: tandanya adalah terbentuknya lesi vesikular (herpangina), biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.

o

Coxsackieviruses A and B: Infeksi ini mirip dengan infeksi herpes simplex. Jika vesikelnya bewarna keputihan dan berbentuk noduler, dikenal dengan lymphonodular pharyngitis. Coxsackievirus A16 dapat menyebabkan hand-foot-and-mouth disease, yakni munculnya ulkus oropharynx berukuran 4-8 mm dan vesikel di tangan dan kaki, dan biasanya juga muncul di bokong. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dalam aktu satu minggu.

o

Epstein-Barr virus (EBV): secara klinis dikenal sebagai infectious mononucleosis, yang sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Exudative pharyngitis lebih prominent. Karakteristik pembedanya adalah adenopathy retrocervical atau generalisata, serta hepatosplenomegaly.

o

CMV: Tanda klinis CMV mirip dengan of infectious mononucleosis. Namun pasien cenderung pada kelompok umur yang lebih tua, aktif secara seksual, serta derajat demam dan malaise lebih parah.

o

HIV-1: hal ini terkait dengan edema pharyngeal edema dan erythema, biasanya ulkus aphthous,dan jarang terdapat eksudat. Demam, myalgia, dan lymphadenopathy juga biasanya ditemukan.

Kausa lain pharyngitis, misalnya udara kering, allergy/postnasal drip, chemical injury, gastroesophageal reflux disease (GERD), merokok, neoplasia, dan akibat pemasangan intubasi endotracheal.

Patofisiologi dan patogenesis: Bakteri atau virus pathogen menginvasi mukosa pharynx, menyebabkan respon inflamasi local. Virusvirus yang lain, misalnya rhinovirus dan coronavirus, dapat mengakibatkan iritasi poada mukosa pharynx secara sekunder akibat sekresi nasal. Infeksi Streptococcal disertai dengan karakteristik

131

berupa invasi local dan pelepasan toksin ekstraselular dan protease. Fragmen protein M pada serotype tertentu GABHS diketahui sama dengan antigen myocardial sarcolemma, sehingga terkait dengan demam rematik akut dan kerusakan pada katup jantung (penyakit jantung rematik). Deposisi kompoleks antibody-antigen pada glomerulus ginjal pada akhirnya juga dapat menyebabkan glomerulonephritis akut.

Apa hal yang perlu diperhatikan dari ANAMNESIS pada diagnosis banding ini? Identitas pasien: Tanyakan nama, umur, alamat, dan pekerjaan pasien. Selain untuk membina hubungan yang baik dengan pasien, umur juga dapat digunakan sebagai skrining awal penentuan diagnosis banding. Contohnya: pharyngitis karena GABHS biasanya terjadi pada anak berumur 4-7 tahun. Sedangkan pharyngitis viral karena adenovirus biasanya menyerang anak-anak yang berumur kurang dari tiga tahun. Pharyngitis yang disebabkan oleh CMV biasanya menyerang orang-orang yang berumur dewasa.

Keluhan Utama: Nyeri menelan (nyeri tenggorok) dan demam tinggi

Riwayat Penyakit Sekarang:  Onset dan durasi: Hal ini penting untuk ditanyakan pada pasien. Sebab pada negara dengan empat musim, biasanya pharyngitis karena GABHS terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi. Onset yang tibatiba biasanya mendakan pharyngitis disebabkan oleh GABHS. Selain itu, durasi juga penting untuk membedakan penyakit akut atau kronis.  Karakteristik/pola: Tanyakan mengenai karakteristik dan pola demam. Pharyngitis karena bakteri biasanya memiliki ciri-ciri demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius). Pola demam ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis demam yang lain, misalnya step ladder pattern pada thypoid, demam yang bersifat paroksismal (kambuh-kambuhan) pada malaria, atau demam pola pelana pada Dengue Hemorrhagic Fever.  Faktor yang meringankan dan memperberat keluhan  Medikasi yang sudah diberikan/dikonsumsi.

132

Riwayat Penyakit Dahulu: Tanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau tidak. Tanyakan pula mengenai riwayat alergi obat, karena treatment farmakologis pada pharyngitis karena bakteri adalah dengan pemberian antibiotik, sehingga penting untuk diketahui riwayat alergi terhadap antibiotic tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga, Lingkungan dan Travelling: Hal ini penting untuk ditanyakan karena sifat dari pharyngitis yang merupakan salah satu communicable disease. Sehingga patut dicurigai adanya penularan dari keluarga, lingkungan sekitar atau riwayat berpergian ke daerah endemis. Apabila pasien tersebut pernah berkontak dengan orang yang didiagnosis dengan infeksi GABHS atau penderita penyakit jantung rematik, maka perlu dicurigai pasien tersebut terserang pharyngitis yang disebabkan oleh etiologi GABHS.

Profil Pasien: Tanyakan mengenai pola makan, dan pola olahraga pasien, karena hal tersebut berkaitan dengan status imun dari pasien

Review System: Penting untuk dieksplor mengenai review system untuk menegakkan diagnosis banding dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:.

Tanyakan apakah keluhan disertai batuk dan rhinorrhea (hidung meler). Pharyngitis karena GABHS tidak disertai dengan batuk dan rhinorrhea. Pharyngitis yang disertai dengan gejala demikian adalah faringitis yang disebabkan oleh etiologi virus.

Tanyakan apakah keluhan disertai dengan nyeri kepala, sebab nyeri kepala berkaitan dengan infeksi GABHS

Tanyakan juga apakah pasien mengalami mual dan muntah, sebab hal itu mendukung kearah diagnosis infeksi GABHS, walaupun pada faringitis tipe yang lain juga mungkin dijumpai gejala mual dan muntah.

Tanyakan apakan ada benjolan-benjolan di sekitar leher bagian depan atau belakang. Lymphadenopathy cervicalis anterior adalah patognomonis sign untuk untuk pharyngitis oleh GABHS. Sedangkan, adenopathy retrocervical merupakan tanda khas untuk pharyngitis oleh karena Epstein-Barr virus (EBV).

Tanyakan apakah ada masalah di genital, sebab hal tersebut berguna untuk mengetahui kemungkinan gonococcal pharyngitis.

133

and throat (HEENT): o o o o Conjunctivitis biasanya berkaitan dengan infeksi adenovirus. nose. adanya gejala konstitusinal (malaise) dan respirasi (batuk). sedangkan pada pasien yang memiliki skor 4. yang terdiri atas:     Fever Anterior cervical lymphadenopathy Tonsillar exudate Absence of cough Infeksi GABHS dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki skor 0-1. mungkin harus dicurigai sebagai pharyngitis karena GABHS. Rhinorrhea biasanya berkaitan dengan etiologi viral.  Head. tidak ada tanda spesifik respirasi yang terlokalisasi. demam. Tonsillopharyngeal/palatal petechiae dapat ditemukan pada infeksi GABHS dan infectious 134 . laju respirasi dan suhu/temperature.  Vital sign: Tekanan darah. kira-kira hanya separuh dari pasien yang memiliki gejala-gejala tersebut yang benar-benar terinfeksi oleh GABHS. yang biasa digunakan untuk mendiagnosis pharingitis akut bakterial karena GABHS.  Tanyakan juga mengenai kemungkinan influenza. Hydration status: Oral intake usually is compromised because of odynophagia. berdasarkan penelitian terbaru. Meski demikian. ears. biasanya tidak terdapat demam atau ada demam namun subfebril. Kriteria tersebut terdiri atas empat poin. yakni onset yang tiba-tiba. Scleral icterus dapat ditemukan pada infectious mononucleosis. Walaupun demikian. ada tidaknya demam hendaknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk membedakan etiologi virus atau bakteri. Tanyakan mengenai bercak-bercak dimukosa mulut (oral trush) dan myalgia. Demam febril (suhu > 38 derajat Celcius) biasanya mengindikasikan infeksi GABHS. therefore. Terdapat kriteria centor. eyes. various degrees of dehydration result. Pada pharyngitis viral. untuk menilai keadaan emergensi. denyut nadi. Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN FISIK pada diagnosis banding ini?  Patensi jalan napas harus selalu terlebih dahulu dinilai. sebab hal tersebut menandakan status immunocompromised pasien (misalnya karena penyakit HIV/AIDS).  Adanya kesulitan bernapas dan stridor dapat mengindikasikan kemungkinan epiglottitis akut.

A haemolyticus. Dengan demikian. C pneumoniae. infeksi mononucleosis terutama pada M pneumoniae.  Abdomen: Hepatosplenomegaly dapat ditemukan pada infeksi mononucleosis .  Lymphadenopathy: Nodus cervicalis anterior yang nyeri biasanya menandakan infeksi streptococcus. adenovirus.  Cardiovascular: Murmur jantung harus diperiksa untuk memonitor apakah ada penyakit jantung rematik sebagai komplikasi pharyngitis karena GABHS. pneumoniae or C pneumoniae. Sedangkan adenopathy generalisata biasanya berkaitan dengan infectious mononucleosis atau sindrom lymphoglandular akut pada infeksi HIV. Maculopapular rashes biasanya ditemukan pada infeksi viral atau infectious mononucleosis Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN PENUNJANG pada diagnosis banding ini? Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis pharyngitis akut etiologi GABHS adalah:  GABHS rapid antigen detection test 135 . eksudat tidak dapat dijadikan dasar pembeda kausa viral atau bakterial o Oropharyngeal vesicular lesions biasanya ditemukan pada coxsackievirus dan herpesvirus.  Kulit o o Sandpapery scarlatiniform rash dapat ditemukan pada infeksi GABHS. Vesikel konkomitan ditangan dan kaki biasanya berkaitan dengan infeksi coxsackievirus (handfoot-and-mouth disease). dan infeksi herpesvirus . o Eksudat tonsillopharyngeal dapat ditemukan pada infeksi streptococcal.  Pulmonary: Pharyngitis disertai infeksi saluran pernapasan bawah lebih konsisten ditemukan pada agen infeksi M. terutama bila gejala tersebut disertai dengan batuk nonproduktif.mononucleosis.

Anak-anak dengan hasil tes antigen negative sebaiknya dilakukan follow –up berupa kultur. karena insidensi infeksi GABHS jarang terjadi pada usia dewasa. karena sulitnya untuk melakukan follow-up hasil kultur. o Pasien dapat ditunda pengobatannya sampai 9 hari setelah onset demam untuk mencegah demam rematik akut. Jangan menaruh sampel eksudat pada medium liquid. Walaupun lebih murah dibandingkan dengan rapid antigen detection test. Pasien yang memiliki skor Centor 0-1 sebaiknya langsung diberi medikasi simptomatik tanpa dilakukan testing terlebih dahulu o Antigen pada test ini adalah specific. namun sensitivitasnya bervariasi. o Orang dewasa yang memiliki hasil test antigen yang negative tidak memerlukan follow-up berupa kultur. Bagaimana prinsip TATALAKSANA pasien dengan diagnosis banding ini?  Nilai dan amankan jalan napas. 136 .  Throat culture (kultur apusan tenggorokan) o Pemerikasaan ini merupakan gold standard untuk diagnosis infeksi GABHS (90-99% sensitive). Sehingga administrasi antibiotik dengan segera tidak krusial jika pasien dapat dengan mudah dihubungi untuk follow-up hasil kultur. kultur ini sebaiknya tidak digunakan pada unit gawat darurat. o Hanya pasien dengan yang secara klinis mendukung kecurigaan infeksi GABHS yang dilakukan tes ini. intubasi jika diperlukan.Rapid antigen detection test for group A beta-hemolytic streptococci. o Metode ini adalah metode yang dipilih untuk mendiagnosis infeksi GABHS pada fasilitas dimana sulit untuk dilakukan follow-up hasil kultur. o Prosedur untuk melakukan usap tenggorok adalah dengan mengambil sampel eksudat dari pharynx bagian posterior dan kedua tonsil dengan menggunakan lidi kapas. o Penggunaan “GABHS rapid antigen detection test” dapat menurunkan penggunaan antibiotic yang tidak perlu pada pasien anak-anak. bila tes dilakukan secara tepat.

Tujuan terapi dari pengobatan pharyngitis GABHS adalah untuk meredakan demam dan nyeri tenggorokan (simptomatik) dan untuk terapi antimikroba. Pemberian antibiotik ini efektif jika diberikan dalam waktu 9 hari setelah onset. Terapi antibiotik Berikut adalah pedoman pemilihan personal-drug (p-drug) antibiotik untuk eradikasi GABHS: 137 . Tes ini biasanya ttidak dilakukan pada pasien yang memilik skor Centor 0-1. mengingat semakin meningkatnya resistensi antibiotic o Lakukan rapid antigen detection test jika dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis suspek infeksi GABHS. jangan berikan antibiotik pada pasien sebelum hasil kultur atau rapid antigen detection test menunjukkan hasil yang positif. karena pharyngitis yang parah akan membatasi intake oral. epiglottitis. atau abses oropharyngeal. terapi anti mikroba dengan antibiotic lebih ditujukan untuk mencegah sekuel penyakit kearah demam rematik akut (acute rheumatic fever). dan biasanya gejalanya hilang dalam 3-4 hari.  Investigasi infeksi GABHS jika secara klinis disuspek. o Jika secara klinis meragukan.  Evaluasi status hidrasi. o Orang-orang yang berinteraksi dengan pasien positif GABHS harus diberi treatment antibiotik tanpa dilakukan tes terlebih dahulu jika mereka memiliki gejala yang terkait dengan infeksi GABHS. Evaluasi tanda-tanda toksisitas. sebaiknya pemberian antibiotik menunggu hasil rapid antigen test atau kultur.  Medikasi atau treatment farmakologis: Pada dasarnya pharyngitis GABHS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. Gunakan algoritma dibawah ini: o Secara umum. o Pasien yang memenuhi keempat kriteria Centor langsung memulai terapi antibiotic tanpa dilakukan tes antigen atau kultur sebelumnya.

maka biasanya digunakan amoxicillin dengan dosis: dewasa: 500 mg PO bid selama 10 hari.n maks 60mg/kgBB/hari  Treatment non farmakologis / advice untuk pasien: istirahat. 138 . karena ketersedian penicillin V di Indonesia terbatas.n maks 4gr/hari Anak 10mg/kgBB tiap 4-6 jam p. pediatric:50 mg/kg/d PO divided bid selama 10 hari. Selanjutnya dipilih obat dari golongan beta-lactam: Kesimpulan: Nama Obat Penicillin V Penicillin G Ampicillin Amoxicillin Efficacy ++ +++ + + Safety ± ± ± availability ± ± ± ± Cost +++ +++ +++ +++ Kesimpulan Personal-drug untuk antibiotik Penicillin V 250mg qid atau 500mg bid selama 10 hari.r.Kesimpulan: Grup Beta-lactam Macrolide Oral cephalosporin Efficacy +++ ++ ++ Safety ± + ± availability ± ± ± Cost +++ ± ± Maka dari itu dipilihlah golongan beta-lactam. makan yang cukup dan bergizi.r. anak: 250 mg bid/tid selama 10 hari Namun. Terapi symptomatis analgetik/antipiretik Berikut adalah pedoman pemilihan personal drug untuk analgetik/antipiretik: Kesimpulan Personal-drug untuk terapi antinyeri dan penurun panas Acetaminophen/Paracetamol PO Dewasa 500-100mg tiap 4-6 jam p.

chorea. cervical lymphadenitis. erythema marginatum.  Monitoring dan evaluasi: Jika dirasa perlu melakukan monitoring. peritonsillar abscess. periksa adanya kemungkinan komplikasi dari infeksi SGABH. mastoiditis. 139 . edema. o rheumatic heart diseases  merupakan manifestasi kronik dari ARF pada katup jantung. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang tepat pada saat episode pharyngitis. minum obat sesuai dosis. dan hipertensi. Manifestasinya antara lain hematuria. sinusitis. antara lain o komplikasi lokal: retropharyngeal abscess. polyarthritis. subcutaneous nodule. Administrasi antibiotik yang tepat setelah munculnya manifestasi pharyngitis dapat mencegah timbulnya komplikasi ini. o poststreptococcal glomerulonephritis  biasanya terjadi 1-3 minggu setelah episode pharyngitis.memakai masker selama gejala berlangsung. o acute rheumatoid fever  dapat terjadi 2-4 minggu setelah episode pharyngitis. Terapi profilaksis dengan benzathine penicilline pada ARF dapat mencegah timbulnya rheumatic heart diseases. Manifestasi mayor dari ARF:carditis. otitis media.

140 .varicella. Kalau pada dengue fever yang menjadi dengue hemorrhagic fever. Karakteristik : pada ISK tidak dijumpai adanya rash. Bisa hanya beberapa jam sampai berhari-hari. Kondisi urin yang berbau juga manjadi tanda pada ISK. rubella. Sedangkan pada meningitis dijumpai adanya kaku kuduk. terdapat adanya pendarahan seperti epistaksis. KU : demam mendadak.BACKACHE: INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) 1. Durasi : bervariasi tergantung dari letak infeksinya di saluran kemih sebelah mana. leptospirosis. ga berpola kayak di thypoid yang tinggi pada malam hari. Kalau lokasi infeksinya. Keluhan lain : ISK bagian bawah : disertai rasa nyeri atau terbakar pada saat kencing. kejang dan penurunan kesadaran sebagai tanda penyerta. d. dll. susah kencing. e. gusi berdarah.. Onset : akut b. RPD Adanya riwayat pemasangan kateter urin. Anamnesis RPS a. g. dengue fever. abses intrarenal dan perinephric c. cystitis (vesica urinaria) ISK atas → acute pyelonephritis. sering kencing. Di ISK juga tidak ditemui jaundice kayak di malaria atau hepatitis. serta nyeri perut bagian bawah. Terus demamnya itu biasanya polanya terus-terusan gitu. susah menahan kencing. prostatits. ISK bawah → urethritis (urethra). tanpa jaundice 2. muntah. dll. dibagi secara anatomis jadinya gini. Lokasi : demamnya seluruh tubuh.. ISK bagian atas : disertai mual. sedangkan pada penyakit lain seperti thypoid fever. Relieving : diminumin antipyretik turun kok demamnya. infeksi HSV. Aggrevating : kayaknya panas terus deh ya f. dan rasa sakit pada costovertebra.

RPK Adanya riwayat sexual intercourse terutama bila pasangannya menderita uretritis gonokokal atau chlamydial. Makanan-makanan yang sering bikin batu pada saluran kemih: sering kurang minum. Pemeriksaan fisik a. malformasi saluran kemih merupakan beberapa risk factors ISK.- Riwayat DM. terus yang banyak asam urat kayak gitu2. Keadaan umum : lemes soalya kan kadang pakai mual muntah. Sehingga kita harus wasapada juga jangan kecolongan DHFnya! Adanya orang lain di keluarga atau daerah sekitar yang mengalami hal serupa? → adanya kemungkinan dengue fever Habis travelling ke lingkungan endemik malaria ga? Life style Cara membilas regio perineal setelah buang air → kebiasaan membilas dari belakang (anus) ke depan (introitus vagina) meningkatkan risiko ISK. dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat hidup nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue fever. OMA. terus pasien tampak kesakitan (kan nyeri tuh perut bawahnya). kehamilan. Ternyata ada faktor genetik juga loh. imunosupresi. dll → waspadai kemungkinan meningitis. suka cuci tangan ga? Cari kecurigaan DM (salah satu risk factor ISK) 3. kondisi rumah tinggal seperti selokan. Kalo pasiennya rekuren terus ISKnya coba tanyain ada ortunya yang kayak gitu juga ga. batu pada saluran kemih. obstruksi saluran kemih. - Adanya infeksi pendahulu seperti pharyngitis. menopause. 141 . Tanyakan sering makan di luar ga? Gimana kebersihannya? → untuk exclude thypoid dan hepatitis A. Tanyakan kebersihan diri. Ada riwayat penyakit ginjal ga? Lingkungan Keadaan sanitasi. tempat menyimpan air.

Thorax f. Pyelonephritis akut : generalized muscle tenderness ketika angulus costovertebra dipalpasi dalam. e. Suhu tubuh tinggi. Untuk yang iSK atas suka nyeri di angulus costovertebra Ektremitas dan neuro Pemeriksaan Rumple Leed dilakukan bila ada kecurigaan dengue fever. Pemeriksaan Penunjang a. Bila didapatkan bakteri dalam urin <10 5 dan pyuria (misalnya WBC >20/mm3) maka hasilnya tetap signifikan terdapat infeksi. Cystitis : tenderness pada daerah suprapubic. c. 4. dan didapatkan >105/ml dari masing-masing spesimen. Vital sign : Tekanan darah. Pada pasien ISK asimptomatis. dll Auskultasi: Perkusi: lihat ada pembesaran hepar ga (hepatitis kan suka ada tu) Palpasi: abdominal tenderness. Pemeriksaan GCS dan tanda-tanda meningeal seperti Kernig’s sign. luka. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Uretritis : biasanya sulit dibedakan dengan cystitis. karena daerah suprapubic biasanya juga ada tenderness. harus dilakukan pemeriksaan bakteri menggunakan 2 spesimen urin aliran tengah. mari kita periksa abdomen Inspeksi: lihat ada pembesaran organ ga.b. Pada pasien ISK simptomatis. Kepala dan leher Mata : pastikan ga ada sklera ikterik Mulut : pastikan bukan thypoid yang ada lidah kotor itu. Bakteri Urin Pemeriksaan jumlah dan tipe bakteri dalam urin merupakan prosedur diagnosis yang penting.. d. Adanya bakteri pada 142 . Brudzinski’s sign perlu dilakukan bila ada kecurigaan meningitis. biasanya didapatkan bakteri dalam jumlah besar (>105/ml) pada urin aliran tengah. Leher : pembesaran limfonodi. Abdomen : Nah kalau DD udah menyempit ke arah-arah ISK gitu.

sering urinasi (jangan menahan urin). Alternatif: cefalexin 1gr/12 jam. Pyelonephritis akut : cefuroxime 1. yang tidak disirkumsisi. d. adanya strain yang resisten terhadap antibiotik harus dicurigai. 143 . g.o (selama 3 hari untuk wanita dan 7 hari untuk pria).v lalu secara oral selama 7 hari. Prostatitis: ciprofloxacin 500mg/12 jam p. Pengecualian untuk evaluasi urologik ini adalah pria muda dengan cystitis yang disebabkan aktivitas seksual. Setiap course treatmen harus diklasifikasikan apakah gagal atau sembuh. Darah → darah rutin. 5.5gr/8 jam i. e. calculi.aspirasi suprapubic atau didapatkan >102 bakteri/ml urin dari kateter mengindikasikan adanya bakteri. Rekurensi >2 minggu setelah terapi dihentikan biasanya menunjukkan adanya reinfeksi oleh strain baru atau strain sebelumnya. b. Pemeriksaan bakteri secara mikroskopis dapat dilakukan menggunakan pengecatan Gram. kultur darah bila keadaan sitemik buruk. dan pyelonephritis berulang. atau hematuria yang tidak sakit. Terapi dan edukasi a. Infeksi berulang juga harus dikkasifikasikan. apakah strain bakterinya sama atau berbeda dengan sebelumnya. h. Faktor predisposisi infeksi seperti obstruksi dan calculi harus diidentifikasi dan dikoreksi. c. d. Evaluasi urologik Penggunaan cystoscopy dan IV pyelography hanya digunakan dalam kasus-kasus tertentu seperti wanita dengan infeksi berulang.penggunaan instrumen. urea dan elektrolit. f. Sembuhnya gejala klinis tidak selalu mengindikasikan hilangnya koloni bakteri. c. yang paling umum digunakan adalah USG. Farmakoterapi Cystitis: Trimethoprim-Sulfamethoxazole 160/800mg/12 jam p. Wanita atau pria dengan infeksi akut disertai tanda dan gejala adanya obstruksi atau calculi harus segera diberikan evaluasi urologik. Kultur urin dan tes sensitivitas antimkrobial harus dilakukan kecuali pada wanita dengan cystitis akut akomplikata.o selama 4 minggu.o atau Trimethoprim 100mg/12 jam p. atau yang mengidap AIDS. riwayat infeksi saat anak0anak. e. Memperbanyak intake cairan. b. Pada pasien dengan infeksi berulang. riwayat hospitalisasi dalam waktu dekat. Urinalisis → terutama nitrit atau leukosit leukosit.

kalo udah degenerasi discus intervertebralisnya. i. Tanyakan juga ya habis ngapain pasiennya ko bisa LBP gini (misal petani panen telo. Jadi menurut European Guideline untuk MXx LBP ada pembagian onset LBP: Akut Sub akut Kronis Rekuren <6 minggu 6-12 minggu >12 minggu new episode setelah “symptomp-free periode” dalam waktu 6 bulan. Lokasi : di punggung bagian bawah tentu saja. bisa kejadian deh HNP). belakang paha. Karakteristik : nyerinya kan progresif kalau ga diobati. 144 . Onset : akut progresif.o atau doxycycline 100mg dua kali sehari p. HNP 6.o selama 7 hari. Pasien juga biasanya mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak bawah (misal jadi susah jalan.- Urethritis akut: pada infeksi chlamydial diberikan azithromycin 1gr single dose p.tapi biasanya berminggu2 yaa k. Nah kelemahan tersebut tergantung dari letak lesinya di setinggi vertebra berapa.. Durasi : bisa macem2. tapiii bukan eksaserbasi yang kronis. KU : low back pain 7. terus pas nyabut telonya kan pake mengejan tu. sampai ke betis dan ankle → sebabnya: iritasi n. Sering juga disertai sciatica (nyerinya menjalar ke pantat. Anamnesis RPS h. susah pakai celana sendiri).ischiadicus) j.

Berikut ini adalah red flags tersebut: Umur <20 tahun atau >50 tahun Onset akut pada org tua Nyeri konstan atau progresif Nyeri malem2 Tambah nyeri saat supine Kaku pagi hari 145 .20 l.paru →waspada keganasan dan metastasis! Cerita sejenak. harus dicurigai adanya kondisi patologis pada low back. Keluhan lain : Bisa jadi ada gangguan pada BAK dan BAB nya. stenosis spinalis. inflamasi.. Relieving : minum analgesik seperti NSAID. ketawa. Aggrevating : tambah sakit kalau ada peningkatan tekanan intraabdomen → batuk... Syarat dari LBP non spesifik ini adalah tidak ada red flags di bawah ini! Nah. tumor. cauda equina syndrome. Dengan kata lain kita harus periksa dengan teliti sebab si LBP ini apa. bersin. makanya kalau ada RED FLAGS di bawah ini. n. Sebenernya nih LBP itu kebanyakan NON SPESIFIK (95%) alias BUKAN disebabin karena kondisi patologis (seperti infeksi. ankylosing spondylitis. mengejan (makannya si pasien suka “takut” kalau BAB). osteoporosis. dll) gitchu. Tanya apakah ada penurunan BB? Riwayat keganasan di tempat lain esp.. m.

2. 4. Tumor 5. Inflamasi: RA. HIV? RPK Ada yang kayak gini ga? Lingkungan Pekerjaan apa?? Penting ditanyakan.- Demam. psikosomatis RPD riwayat keganasan di tempat tersebut? Riwayat keganasan di tempat lain (paru. abdomen)? Dulu pernah kayak gini ga? Riwayat trauma di situ? Diobati apa? Pemakaian obat2an imunosupresi. 3. Degeneratif: spondilosis. BB turun Riwayat malignansi Nyeri dada belakang Bilateral or alternating symptomp Gangguan neurologis Gangguan BAB BAK Claudicatio kaki (spinal stenosis) Sedang infeksi atau riwayat infeksi Imunosupresi Massa di abdomen Terus sebab-sebab LBP tu ada macem-macem ya: 1. HNP. osteoarthritis. sama kisah tentara itu). Metabolik: osteoporosis 6. Trauma : fraktur yang bikin kompresi di lumbal. soalnya paparan tekanan di backpain bisa bikin LBP (kayak kisah si petani mbedhol telo itu. ankylosing spondylitis. keringat malam. Life style Pola makan? Apakah kalsium cukup? (curiga osteoporosis) 146 . strain-sprain otot or ligamen.

Pemeriksaan fisik g.kayak Alm. 147 . Cara: lipat tungkai ke arah dalam (endorotasi) pada sendi panggul sambil adduksikan. vibrasi. Vital sign : Tekanan darah. e. propriosepsi. achilles Reflex patologis: babinski Tes spesifik LBP : a. Keadaan umum : kesakitan. i. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. lalu angkat → kalo pasien kesakitan berarti ada sciatica. Kalo pada HNP hasilnya negatif (-). suhu.. Tapi bisa naik HR & RR nya kalau dia cemas.. Kepala dan leher Mulut : adakah oral ulcer? (curiga HIV) Abdomen : screening penting apakah ada pembesaran organ! k. Palpasi: ada yg menonjol ga di vertebra? Nyeri ga? Apakah ada tanda-tanda inflamasi? Pemeriksaan neuromotor: power Neurosensori : suhu. tajam-tumpul. Tes kontra Patric: fungsi sam dengan di atas. Tes Nafzinger: kita teken v. Cara: maleolus externa pasien ditempelin ke lutut. tb ga? l. terus kita pegang ankle pasien sambil megang lututnya juga. c. h. bekas trauma. Lihat gait exam! Postur tubuh gimana. Tes Lasegue: pasien bobokan. Sehari-hari kalau kerja posenya gimana? 8. Reflex fisiologis: patella. j. sering metas ke vertebra. Tes valsava: pasien disuruh nahan napas terus mengejan → positif kalau ada nyeri radikular. Tes Patrick: ini untuk cari tahu apakah nyerinya disebabin karenya ada kelainan di sendi panggul. b. terus pasien disuruh ngejan → ntar timbul sciatica (berarti kemungkinan besar ada stenosis spinalis yang njepit sarafnya tuh).- Penurunan BB? (curiga keganasan or metas) Merokok? (curiga kanker paru. d. dll).jugularis interna pasien (kanan kiri). Chrisye). taktil. Thorax : screening ada keganasan ga. Neuro : Inspeksi : coba lihat di vertebranya gimana (deformitas ga. susah jalan.

9. Fisioterapi. Terapi dan edukasi Rujuk : harus bedah (ex laminectomy). 10. metilprednisolon Pakai korset dulu Ajari posisi yang bener untuk duduk. 148 . berdiri. Vitamin B. Diskografi. kerja. L. Pemeriksaan Penunjang Foto rontgen (AP. Bedrest post oprasi: 2-3 minggu. jalan. oblik) Elektroneuromiografi (ENMG) Mielografi.

Aggravating: alcohol 3. Kebanyakan pada wanita. Ptosis e.HEADACHE Headache Primer Definisi: sakit kepala yg terjadi bukan karena causa lainnya. fonofobia c. TTH : a. Cluster: a. cluster  retroorbital : sesuai onset Karakteristik : liat atas Agravating : migraine  noise/light. migraine  unilateral. muntah KU : nyeri kepala Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : sesuai dengan durasi : TTH  tengkuk/leher. kepala seperti diikat c. Kebanyakan pada laki2. Nyeri retroorbital h. Rhinorrhea f. durasi bervariasi 30 menit. Migraine: a.7 hari. d. durasi 4-72 jam b. Nyeri kepala tajam seperti ditusuk c. Terdiri atas 3 macam: 1. cluster  alcohol Relieving : istirahat 149 . tidak pernah mengalami nyeri kepala hilang selama sakit b. Disertai injeksi konjungtiva d. aggravating berupa aktivitas yg melibatkan pergerakan otot leher/stress 2. mual. nyeri langsung hebat tp durasi singkat (15 -180 menit) b. Lakrimasi unilateral g. Disertai dengan aura: fotofobia. Nyeri berdenyut.

Migraine  hindari faktor aggravating g. Cluster  paracetamol Edukasi e. fotofobia dan fonofobia (migraine). deficit neurologis. ada kelemahan anggota gerak/tidak  negative pada nyeri kepala primer. kadang ada nyeri tengkuk Anamnesis :  RPS 150 . Parafrase ke pasien Sebutkan DD : TTH. Olahraga: tergantung pasien b. migraine. Pola makan: Review system : ada trauma/tidak. amitriptilin. sumatriptan (5-H1 antagonis) d. Cluster  hindari alkohol HEADACHE SEKUNDER Hipertensi KU : sakit kepala.b. Migraine  cavergot (vasokonstriktor).Treatment : obat sakit kepala    RPD : dulu pernah merasa sakit yang sama RPK : yang punya riwayat keluarga dengan keluhan yang sama  migraine Lifestyle : a. TTH  bed rest f. c. Diet : c.n Pemeriksaan fisik : Px neurologis: Pemeriksaan penunjang CT scan: utk exclude nyeri kepala sekunder Terapi b. diazepam. cluster. nyeri kepala sekunder Pemeriksaan fisik : Kesan umum : tampak nyeri kepala Vital sign : d. TTH  paracetamol.

cemas. telinga berdengung. berkunang-kunang. Komplikasi lanjut dari hipertensi o Mata: penurunan visus karena retinopathy hypertension o Jantung: LVH. Pekerjaan? Stresful?  Review system : keluhan lain : a. Agravating : waktu tekanan darah naik lebih tinggi dari biasanya. DM Lifestyle : a. sulit tidur. TIA o Ginjal: CRF o PAD c. Penurunan kesadaran → stroke hemoragik Parafrase ke pasien Sebutkan DD : 151 . DM. parah sering terjadi saat pagi hari tapi terus membaik seiring berjalannya hari itu Karakteristik : rasa terikat kayak diikat pakai headband (kayak TTH) Apakah didahului “tanda2” sebelum sakit kepala (maksudnya aura)? → migrain. penyakit jantung. bisa localized di tengkuk : bervariasi. angina. penyakit ginjal dan hepar. Merokok ga? d. Riwayat trauma sebelum ini (mungkin ada pendarahan intrakranial)?   RPK : tanyakan orang tua apakah ada yang HT. pas siang hari. Demam → infeksi (waspada infeksi intrakranial) e. penyakit jantung. stroke.Onset Lokasi Durasi : sejak kapan? → biasanya HT udah sering gitu : di mana sakitnya? → bisa generalized. Kaku kuduk dan demam → meningitis f. depresi) Relieving: stressor hilang. MI. tanyakan sudah diobati apa  RPD : riwayat HT (tanyakan terkontrol atau tidak? Obatnya apa?). Pada hipertensi kadang disertai epistaksis. Diet : garam-garaman dan lemak tinggi ga? Alkohol > 1 ons/hari? c. stroke. Olahraga:b. picuan faktor psikologis (stress. b. HF o Otak: stroke. Mual muntah → mungkin ada peningkatan ICP (suspek pendarahan atau tumor) d.

RR.o HT primer (95%) atau sekunder (5%). obat2an. bruits pada auskultasi Kepala : periksa visus bila ada penurunan tajam penglihatan. hyperaldosteron. 2 posisi (duduk dan bobo). suhu biasanya normal Notes: pemeriksaan BP harus 2x (dengan jarak 5 menit). o TTH o Tumor otak o Migrain o Trauma o Infeksi o Stress psikosomatis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak kesakitan. 2 lengan Pemeriksaan fisik : Thorax : Inspeksi Palpasi  jika kurus terlihat hepatomegali  ictus cordis (bergeser ke atas pada LVH)  S3 dan S4 terdengar. pheocromocytoma. pegang kepala atau tengkuk Vital sign : BP naik. sleep apnea. stenosis a. periksa segmen posterior dengan ophtalmoscope (retinopathy hypertension: pendarahan bentuk flame. pembesaran tiroid Extermitas : edema 152 . penyakit tiroid. DM. Kalau sekunder (kausa: penyakit ginjal. bising Perkusi  kardiomegali Auskultasi Abdomen : ascites (pada SN). vasa kaku. abnormal aorta pulsation (palpasi epigastik). HR. exudat keras) Leher : pembesaran v. pembesaran ren. hypercorticol.jugularis interna. penyakit jantung) perlu pemeriksaan lebih lanjut.renalis.

elektrolit k. serum urea. j. lipid. infark CBC: glukosa. enzim jantung.Pemeriksaan penunjang h. kreatinin. EKG: LVH. Rontgen dada: kardiomegali i. CT kalau ada penurunan kesadaran suspek stroke Manajemen 153 . renal disease? l. Urinalisis: apakah ada DM.

tiduran RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? Infeksi? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: progresif Life style: penurunan BB Review system.Edukasi Tumor otak 1. Anamnesis : RPS a. KU : sakit kepala 2. Durasi: sakit kepala semakin memberat seiring berjalannya waktu d. Karakteristik: kadang disertai muntah (karena ICP meningkat) e. Aggrevating: waktu f. Onset: kronis bisa bertahun-tahun b. keluhan lain: 154 . Location: tergantung lokasi tumor c. Relieving: dikasih analgesik.

suhu normal d. HR turun. Monitor ICP 3. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 4. Vital sign : BP naik. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Tinggikan kepala 30-45 derajat Maintain osmolaritas serum Avoid hipotensi. Elektrolit 8. Protrombin time (PT) 4. Pemeriksaan penunjang 1. abses 2. Partial thromboplastin time (PTT) 5. Troponin 7. demam. Gangguan BAB dan BAK jangan lupa ditanyakan. suhu. vibrasi. Pemeriksaan fisik a. ataxia.cranialis Neuromotor: stabilitas. Kontrol nyeri (analgesik) agitasi (propofol). 3. Analisa Gas Darah 5. Bleeding time 10. kejang. BB/TB c. menggigil. hidrosefalus akut. Imaging → CT scan untuk exclude pendarahan. trauma. Kondisi umum: kesakitan. 155 . Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. sama paresis ekstremitas. Mual muntah. gang memori dll tergantung letak lesi). RR (iregular periksa pola napas untuk tahu letak lesi) → cushing’s triad. Darah rutin 6. motion. power Neurosensori: taktil. bisa juga dateng pas udah LOC b.Terus ada juga gangguan nervus cranialis (diplopia. tajam tumpul. Fungsi hepar 9. posture.

stres Review system. kalau parah: penurunan kesadaran 2.cranialis 156 . karena sakit banget biasanya langsung ke dokter atau RS b. RR juga. keluhan lain: Biasanya terus diikuti penurunan kesadaran kalau ICP meningkat terus. dan meningeal symptom sehingga harus bedakan dengan meningitis infeksi (ada demam pada yg infeksi) yaa. Relieving: kayaknya ga ada RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: dadakan Life style: rokok.- Maintain normocarbia (PaCO2 35-40 mmHg) Maintain euvolemia (normal saline atau albumin) Stroke hemoragik yang subarachnoid hemorrhage 1.. diet tinggi lemak dan garam. 3. disertai kaku kuduk e. Kadang pakai kejang juga. lack of exercise. Ada kaku kuduk. Karakteristik: sakit kepala terberat. Aggrevating: buruk terus-terusan f. Anamnesis : RPS a. Pemeriksaan fisik a. Terus ada juga gangguan nervus cranialis. HR.. Location: generalized c. Vital sign : BP biasanya tinggi. obese. Kondisi umum: sangat sangat super kesakitan. KU : sakit kepala banget. Durasi: sakit bgt terus d. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. suhu normal (untuk exclude meningitis) c. sama paresis ekstremitas. Onset: mendadak. fotofobia. muntah. bisa juga dateng pas udah LOC b.

parasit. Relieving: tiduran RPD 157 . motion. Protrombin time (PT) 3. vibrasi. tajam tumpul. Anamnesis : RPS a. Troponin 6. Onset: akut <48 jam (biasanya bakteri). Durasi: akut. dll). Location: generalized c. 30 mg kalau SBP 120-140. power Neurosensori: taktil. Darah rutin 5. Elektrolit 7.tapi kebanyakan sih akut kalo meningitis d. KU : sakit kepala. pertahankan <120 Meningitis 1. Imaging → CT scan 2. Karakteristik: sakit kepala. kaku kuduk. disertai demam 2. 4. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Jaga BP jangan tinggi2. mual muntah. sub akut. non infeksius) b. Partial thromboplastin time (PTT) 4. suhu. Aggrevating: f. kronis (fungal. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis Pemeriksaan spesifik: Kernig dan Brudzinski + mengindikasikan meningismus dari SAH ini.. kronis. Fungsi hepar 8. posture. fotofobia e.. nimodipine mg 60 setiap 4 jam kalau SBP>140..- Neuromotor: stabilitas. Pemeriksaan penunjang 1. Analisa Gas Darah 5. sub akut (viral. Bleeding time 9.

RR naik/N. sclera. motion. somnolent. penurunan kesadaran bisa terjadi. BB/TB g. f. Kepala: trauma Eyes: konjunctiva. lemah. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 158 . Pemeriksaan fisik e. coma Hallucination Cranial nerve palsy Hemiplegia. tajam tumpul. Kondisi umum: kesakitan. HR naik/N. keluhan lain: Abnormal skin color Mual muntah Kejang Penurunan kesadaran Delirium. vibrasi. hemiparesthesia Ataxia Dizziness. Vital sign : BP turun/N. posture. papiledema Leher: limfadenopati THT: infeksi awal i. vertigo 3. suhu meningkat h. suhu. Antikoagulan)? Infeksi sebelum ini? Riwayat opnam? Riwayat tindakan medis (sepsis)? Riwayat imunisasi? RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Riwayat perjalanan: progresif Life style: travelling? Review system. power Neurosensori: taktil. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N.Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet.cranialis Neuromotor: stabilitas.

Pemeriksaan penunjang a. protein. urinalisis e. Koagulasi d. Glukosa darah c. Terapi       Antibiotika intravena. pilih broad spectrum Setelah hasil kultur ada. Urea dan elektrolit plasma b. brudzinski 1-4 4.- Spesifik: kernig. berikan AB sesuai bakteri yang ditemukan Analgetika Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang Bila gelisah: berikan sedatif Bila ada udem otak: beri steroid 159 . kultur bakteri 5. sesegera mungkin (30 menit awal). wbc. CSF: glukosa.

kaku pada pagi hari < 30’. HT. PIP. suhu dingin (pagi hari). pangkal ibu jari kaki bagian dalam. DM. gangguan ginjal RA :riwayat penyakit autoimun OA : riwayat trauma (+/-) RPK : pada RA riwayat penyakit keluarga sangat penting. arthritis di sendi tangan.r nya bisa genetic juga 160 . degenerative. makanan tinggi purin. RA. arthritis pada 3 daerah dan simetris. soalnya kan dia autoimun. obesitas. alcohol. RF (+). perlu juga ditanyain karena f. perdarahan. perubahan radiologis OA :nyeri pada saat aktivitas. DIP D : GA : 1 tahun atau lebih tergantung penanganan RA : kronis bergantung penanganan OA :progresif. dehidrasi RA : aktivitas OA : aktivitas berat. tofi juga bisa muncul di telinga RA : pergelangan tangan.NYERI SENDI Dd : GA. nodul rheumatoid (+). metatarsofalang / metacarpofalang  simetris OA :sendi penyangga tubuh terutama lutut dan panggul. istirahat. pergelangan kaki. kronik (lama) C : GA : serangan sangat sering pada malam hari disertai pembentukan tofi. trauma. diurut-urut T : GA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi OA :OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RPD : GA : riwayat asam urat tinggi. trauma R : GA : obat antiinflamasi RA : obat antiinflamasi OA :konsumsi OAI atau obat antinyeri. keterbatasan gerak dan krepitasi A : GA : penggunaan diuretic. OA Ax : KU : Nyeri pada persendian RPS : O : GA : dewasa 30-50 th RA : dewasa 30-50 th OA : usia tua terutama di atas 50 tahun L : GA : metatarsofalang I (podagra). tapi kalo GA sama OA. bersifat intermiten dan ada fase interkritikal RA : min 4 dari 7 : kaku pagi hari > 1 jam.

kurangnya olah raga Review system : RA biasanya diikuti demam. bengkak terutama pada kapsul sendi. kalo OA dan GA (). namun terjadi gangguan berjalan akibat deformitas dan nyeri pada sendinya. poliartikuler RA : sendi teraba hangat dan bengkak Kepala dan leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Px tambahan : X-ray : GA : erosi diluar kapsul sendi dengan joint space masih utuh RA : penyempitan ruang sendi disertai erosi dan pembengkakan jar. pembengkakan sendi.Lingkungan : pekerjaan pasien perlu ditanya. sklerpsis subkondral Lab : Darah Rutin :↑ LED. leukositosis. pada GA ditemukan tofi dan juga dapat terjadi kerusakan ginjal  gangguan ekskresi asam urat Px : Keadaan umum : pasien secara umum tampak sehat (atau demam pada RA dan gout yang aktif). kaya kalo misalnya buruh pabrik gitu yang melakukan aktivitas fisik berulang-ulang  Faktor risiko OA Lifestyle : GA : makanan tinggi purin RA : OA :sedentary sehingga mengakibatkan obesitas. atau 1100mg pd diet tinggi purin Mikroskopik tofi  tampak ada Kristal asam urat 161 .lunak OA :penyempitan celah sendi. ekstrimitas hangat. pada RA : anemia. bird like face dll. VS : T ↑ pada RA Lokomotor exam : (untuk pemeriksaannya lihat bagian lokomotor exam) Temuan : OA : krepitasi. hangat. trombosit ↑ Leukosist sendi : pada OA peningkatan Leukosit sendi di bawah 2000/mm3 sedangkan pada RA > 2000/mm3. bisa atau tanpa rasa hangat pada sendi GA : tofi (+). eritem. RF < 1: 40 pada OA atau > 1: 40 pada RA Kadar asam urat serum > 7 mg% pada wanita atau > 8 mg% pada pria Kadar asam urat urin 24 jam sebanyak 800 mg/hari. osteofit.

d tab I DMARD  klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari.6 mg no VI S 1.d. koreksi postur.d.d. Ulang asampai asam urat < 6mg/dl Diet rendah purin RA : R/tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d.1.d. kurangi aktivitas sendi.berat OA :dukungan psikososial. jadi d itter 2x) R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV atau yang 25 mg 3x1 hari S 2. tetap d gerakkan namun kurangi akt.d tab I …………………………….d tab II (3 hari) R/ tab colchicines 0.d tab I R/ tab Colchicines 0.d tab I Edukasi : GA :kurangi makanan tinggi asam urat dan diuretic kuat (thiazide dan furosemid) RA : fisioterapi.Tx : GA : Serangan akut : (selama 2 minggu.6 mg no IV S.d tab I ( 4 hari) R/ Tab prednisone 20 mg no VII S 1.1. sulfalazine 500 mg/hari OA : R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d.2 mg/hari R/ tab Allopurinol 300 mg no VII s. turunkan BB 162 .d.d tab I Intercritical : Kolkisin 0.6-1.

ketoasidosis DM tipe 2 Sering asimptomatis. Nah kalo orang DM tipe 1. visual blurring. Disebabkan karena growth hormone kluar banyak banget padahal dia kerjanya berlawanan dengan insulin. dan lemak) dan reseptor insulin yang kayak pasangan key-lock. DM tipe 2: disebabin karena ada resistensi insulin ataupun adanya disfungsi dari si sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. infeksi. dia kekurangan key (si insulinnya).WEIGHT LOSS: DIABETES MELITUS Preface DM merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya atau menurunnya efek dari insulin endogen.o mmol/L) or Two-hour plasma glucose (2hPG) >200 mg/dl (11. Tapi biasanya datang pas udah ada komplikasi 163 . BB turun. otot. weight loss. DM gestational: teriagnosis pertama kali saat hamil. dia jumlahnya pas tapi karatan key-lock nya sehingga ga bisa kebuka deh pintunya (glukosa ga bisa di-up take gityuu). Penderitanya jadi insulin dependent. Kalau pada orang sehat. b. polydypsia. polyuria. Kalau DM tipe 2. DM banyak macamnya: a. d. sebelum hamil dia normal aja. Kriteria diagnosis dari DM (WHO) adalah : Munculnya simotomp-simptomp hiperglikemia (polyuria. Jadi di tubuh kita itu ada si insulin (berfungsi dalam up take glukosa ke dalam sel hepar. letargik) DAN random plasma glucose (gula darah sewaktu) >200 mg/dl (11. DM tipe 1: disebabin kekurangan insulin gara-gara ada destruksi sel-sel beta pankreas.1 mmol/L) Kalau kriteria menurut ADA. Anamnesis KU DM tipe 1 Salah satu dari : Polydipsia. genital thrush. Sebab lain: obat-obatan (kortikosteroid jangka panjang).5% Di sini yang dibahas yang DM tipe 1 dan 2 aja ya. 2010 : bisa salah satu kriteria di atas DAN HbA1c > 6. c. jumlah keduanya pas sama banyak.1 mmol/L) or Fasting plasma glucose (FPG)/ gula darah puasa (tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam) sebesar >126 mg/dl (7. p=pancreatic disease dll.

obat TB.Sisanya jadi gejala penyerta hehe (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. uti. infeksi. dewasa jarang karena biasanya udah keburu mati duluan sebelum jadi dewasa. obat (koakain). sepsis). metabolik synd. Biasanya obese. PAD. luka ga sembuh2. uti. ginjal. katarak. saraf tepi. sisanya jadi gejala penyerta hehe) Onset Lokasi Usia muda <30 tahun Usia lebih tua >30 tahun Macem-macem. obat (koakain). katarak. gangguan genitourinari. cvd. GE. terus ada metabolik syndrome (central obese. GE. hiperglikemi. infeksi. sepsis). Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. infark. glaukoma -Tanyakan komplikasi apa aja yang pernah muncul (dari mata. saraf.GIT: diare. Itu merupakan beberapa RF terjadinya resistensi insulin yang menimbulkan DM tipe 2. gastroparesis. hamil. Infeksi (pneumonia. bisa di mata.CVD) (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. neuropati. vasa. Infeksi (pneumonia. gangguan genitourinari. hamil. infeksi kronis baik 164 -Tadi udah banyak disebutin di KU. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P -GIT: diare. tanyakan riwayat tumbuh kembangnya! KMS nya gimana? Imunisasi gimana? Riwayat persalinan gmn? → eksklusi gangguan tumbuh kembang. otak)? Ada gangguan di situ ga (gimana penglihatannya. otak Durasi Kronis progresif Tergantung keparahan (lihat tabel pemeriksaan tambahan yaa) Karakteristik Biasanya genetis gitu. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Relieving Keluhan lain -Tadi udah banyak disebutin di KU. . glaukoma RPD -Dulu pernah kayak gini? Udah pernah dikasih apa? -Karena pasien mostly anak2. terus seringnya pada anak-anak. tp biasanya yang BB turun) mikrovaskular (retinopati. dislipidemia). Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P . jantung. jantung. hipertensi. Penampakannya tuh juga kurus-kurus. infark. gastroparesis. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Aggrevating Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. vasa. nefropati) atau makrovaskular (CAD. dll)? -Tanyakan RF dari resistensi insulin: obese.

RR usually in normal limit. tinggi. sindrom nefrotik). BBLR. hipotensi. polikistik ovari. tachypnea pola Kussmaul. cushing’s. tachypnea pola Kussmaul. acromegaly. Biasanya normal. edema periorbital. shortness breath. Tanda DKA: kussmaul. Apakah ada : Mata cowong. kistik fibrosis. walau bisa aja sih ga obese. dll. letargik) BB/TB Kepala Wasting Apakah ada : Mata cowong. Olahraga? Stress? Pemeriksaan KU Vital sign DM tipe 1 Lemah. Lihat apakah ada komplikasi pada jantung? Cardiovascular disease seperti CHF. HR variatif tergantung ada komplikasi makrovaskular ga. gagal ginjal. tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. Thorax Kelainan di jantung dan paru dilihat. kehamilan. (exclude dehidrasi. massa. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. Tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. letargik) DM tipe 2 Obese. (exclude dehidrasi.saat intrauteri ataupun postnatal. tenderness. . sindrom nefrotik). luka. Leher Lnn ada infeksi ga? Bisa saja si anaknya pake infeksi segala. Mual muntah. massa. kurus Biasanya normal. tenderness. hipotensi. lnn. luka. RPK Life style Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan. lnn. infeksi. mukosa kering. 165 Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. Olahraga? Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan (banyak kolesterol. Tanda DKA: kussmaul. edema periorbital. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. lemah BP bisa tinggi. Obese. shortness breath. ASI. Mual muntah. werner’s. infeksi. ASI. mukosa kering. Abdomen Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain.

joging. pengobatan yang harus dilakukan.tibialis. ulkus.6-6. Femoralis.1 mmol/L hyperglycemia DM Insulin untuk kontrol Insulin untuk survive 166 (200 mg/dL) . terus lebih cepat. dan cara pengobatan. ex.8-11. Peripheral artery disease: raba pulsasi a. interval (pelaan. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor). Panah 1: progresif Panah 2: bisa reversible ke stage sebelumnya FPG: fasting plasma glucose (minimal 8 jam) 2hPG: tes toleransi glukosa Treatmen dan edukasi Treatmen dan edukasi Tujuan: menjaga kadar glukosa mendekati normal serta mencegah hipoglikemi. a.30 menit. Olahraga harus yang continous (berkelanjutan. Bandingkan sama atau gak. endurance (melatih Tipe diabetes Normal glucose tolerance Pre-diabetes IFG atau IGT Ga butuh insulin Tipe 1 Tipe 2 Other Gestational Time (years) FPG <5. Inspeksi: ada luka.1 mmol/L (140-199 mg/dL) >7 mmol/L (126 mg/dl) >11. Harus jelaskan kepada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya. a.tibialis. a. terus 2 minggu males).Ekstremitas Inspeksi: ada luka. Modifikasi EXERCISE Lakukan olahraga minimal 5x/seminggu @min. a.dosalis pedis.9 mmol/L (100-125 mg/dl) 7. Bandingkan sama atau gak. terus cepet). a. Pemeriksaan Lab. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor) Peripheral artery disease: raba pulsasi a. bukan minggu ini rajin. komplikasi yang mungkin terjadi.brachialis.dosalis pedis. progressive (porsi latian bertambah). rhytmic (kontraksi-relaksasi bergantian.brachialis. Femoralis. renang).6 mmol/L (100 mg/dl) 2-h-PG <7. a.8mmol/L 5. memodifikasi gaya hidup. ulkus.

2. diinjeksikan secara subkutan. (3) Intermediate acting (4) Long-acting (5) Long-acting analogue (6) Pre-mixed insulin Rejimen insulin subkutan: (1) Rejimen BD : 2x1 premixed insulin untuk DM tipe 2 atau tipe 1 dengan life style reguler.25 gr/hari. Jenis makanan: fat <30%. insulin graline. insulin detemir. Tapi yang banyak dipakai tu si nsulin subkutan (100 U/mL). Jadwal makan: 6x sehari tapi porsi dikiitt2. 167 .5 – 25  30 calories/KgBW/day Underweight: <90% (Ideal BW) or BMI < 18. nah kalau semakin buruk dia bisa sampe butuh insulin.120% (Ideal BW) or BMI 25-30  20 calories/Kg BW/day Obese: >120 % (ideal BW) or BMI >30 20 - OBAT a. Jumlah makanan: jangan banyak-banyak porsinya sekali makan.5  40 calories/Kg BW/day Overweight: 110 . DM TIPE 2 pertama-tama kita modifikasi life style dulu. gula maks. KH<50-60%. Max HR: JANGAN LEBIH DARI 80%(220-usia) supaya tidak heart attack. tapi dia bisa progresi jadi butuh obat-obatan dulu. Modifikasi DIET 1. (lihat di daftar obat). protein 15-20%. b. Ideal body weight: NUTRITION and DIET Men (<160 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs ( >160 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Women (<150 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs (>150 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Normoweight: 90-110% (Ideal BW) or BMI 18. (2) Soluble insulin: injeksi 15-30 menit sebelum makan.ketahanan). 3. DM TIPE 1 butuh insulin terus tentunya. Macam-macam insulin Insulin subkutan. Na <6 gr/dl tapi kalau hipertensi <3 gr/dl. Ada 6 tipe: (1) Ultra-fast acting: injeksi saat mau makan atau tepat setelah makan.

Monitoring : 1.d. harus kasih insulin. Metformin mg 500 No. DM tipe 2 dimulai dengan R/ Tab. Untuk DM tipe 2. Tab I R/ Tab. XIV S. 2.1.d.d.(2) Rejimen QDS : sebelum makan (ultra-fast atau solubel )DAN sebelum tidur (intermediate acting atau long-acting analogue). 168 .5% atau <6. VII S. Tab I Kalau masih ga mempan lagi. Di awal-awal haru rajin bikin diary tentang kadar gulanya (finger stick). Setelah 8 minggu periksa HbA1c. (3) 1x1 sebelum tidur dengan insulin intermediet atau long-acting.2.d. Normalnya <7. XIV S.d.d. Untuk DM tipe 2.5 No. Obat-obatnya Umumnya.2. post AMI. Metformin mg 500 No. Glibenclamide mg 2. Tab I Metformin digunakan untuk yang BMI >25 Kalau BMI <25 R/ Tab.5% pada yang ada penyakit arteri ex.

INDIGESTION Dyspepsia/Ulkus Peptikum Skenario Seorang wanita. Functional Dyspepsia: dyspepsia yang tidak ditemukan penyakit yang mendasarinya sesudah dilakukan pemeriksaan. berusia 25 tahun datang ke Anda dengan keluhan nyeri perut dan sebah di perut bagian atas yang telah berlangsung 4 minggu. Dyspepsia terbagi menjadi 2 jenis: 1. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya epigastric tenderness.Dari anamnesis diketahui bahwa mbak Tina adalah seorang perokok dan juga mengonsumsi alkohol. serta feses bewarna hitam. seperti kolelitiasis. yang bukan nyeri. C-13 Urea Breath Test. berpusat di abdomen bagian atas. Nyeri tersebut akan hilang setelah mbak Gastricia makan. 2. Setelah melihat hasil pemeriksaan. ulkus peptikum. dan dapat dimasukkan sebagai variasi gejala termasuk early satiety. Riwayat penggunaan NSAID’s disangkal. pankreatitis. nausea dan/atau rasa penuh pada abdomen atas. Dokter Fau memutuskan untuk melakukan eradikasi agen penyebab penyakit dengan tiga macam obat sekaligus. Dokter Fau kemudian merencanakan pemeriksaan endoscopy. bloating. pylori Definisi Dyspepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang berulang atau kronis. dsb. Rasa tidak nyaman didefinisikan sebagai perasaan negatif yang bersifat subjektif. Organic Dyspepsia: dyspepsia yang didasari suatu penyakit yang diperkirakan menjadi sebab gejala tersebut. Fisiologi dan Patofisiologi: Fisiologi sekresi asam lambung oleh sel parietal: 169 . dan stool antigenic test. Diagnosis: Dyspepsia organik berupa ulkus duodenal akibat infeksi agen H. Akhir-akhir ini keluhan tersebut bahkan disertai muntah darah. meskipun dalam kuantitas dan frekuensi yang jarang. bernama mbak Gastricia.

Preepithel Mucus-bicarbonate layers: barier physicochemical  form a pH gradient ranging from 1-2 at the gastric luminal surface and reaching 6-7 along the epithelial cell surfaces. Diproduksi oleh sel epithel Surface active phospholipid Epithelial Cellular resistance: memproduksi mucus dan bikarbonat. dan beberapa growth factor b. maka sel epitel gaster yang mengelilingi tempat kerusakan tersebut akan bermigrasi ke tempat yang rusak tersebut  membutuhkan aliran darah yang baik. intracellular tight junction. dan adanya epithelial cell ionic transporter yang menjaga pH intracellular Restitution  jika barier preepithelial rusak.Patofisiologi: Faktor defensive: a. Growth Factor and Prostaglandin 170 .

bile salt b. bikarbonat. menurunkan produksi bikarbonat di proksimal duodenal. dan meningkakan resiko untuk infeksi mikrorganisme H. Faktor eksternal: NSAID  menghambat COX  sintesis prostaglandin dihambat  peningkatan sekresi HCl dan penurunan sekresi musin. altered gastric emptying. Subepithelial  blood flow Faktor aggressive a. menginduce pembentukan noxious mucosal free radical. Faktor internal: HCl  mengaktivasi pepsinogen menjadi pepsin dan merusak mukosa . kopi. pylori  bakteri gram negative tahan asam  dapat merusak lapisan mukosa dengan cara memproduksi urease  membentuk CO2 dan ammonia yang toxic terhadap mukosa. Konsumsi alkohol.Fungsi prostaglandin: Meregulasi produksi bikarbonat dan mucus Menghambat sekresi sel parietal Untuk memaintain mucosal blood flow dan epithelial cell restitution c. pylori H. cokelat. makanan berlemak  rangsangan sekresi asam lambung 171 . surface active phospholipid dan proliferasi sel epithel Merokok  menurunkan aliran darah mukosa.

. pylori dengan breath test atau stool antigen test. dan makanan yang berlemak. seperti alkohol. Diperlukan waktu washout 2 minggu setelah periode penggunaan PPI untuk melakukan tes infeksi H. seperti saran untuk makan makanan yang sehat. Selain itu. pylori. dan berhenti merokok. pylori. berikan juga saran untuk menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. dapat diberi saran sederhana. mengurangi berat badan.Treatment: Pada beberapa pasien. serta tes dan terapi untuk infeksi H. Serta pola makan yang teratur. serta meneruskan konsumsi antasida/alginate jika sudah mengkonsumsinya terlebih dulu. Terapi yang sebaiknya ditawarkan pada pasien yaitu terapi empiris full-dose PPI selama 1 bulan. kopi. cokelat. 5-6 kali makan dengan porsi kecil perrhari Terapi empiris untuk dyspepsia yaitu dengan terapi PPI (proton pump inhibitor) atau tes dan terapi untuk infeksi H. Guideline treatment untuk pelayanan medis dyspepsia adalah: 172 .

Keterangan: 173 .

treat H. Make an inventory of effective group according to criteria Beberapa grup obat yang rasional digunakan: 174 . Specify the therapeutic objective reduce acid production.Keterangan: Steps in choosing P-drug: 1. pylori (if any) 3. Define the diagnosis dyspepsia/peptic ulcer 2.

kopi. I a.d.d. R/ Cap Amoxicillin 500 mg no XVIII s. Omeprazole 20 mg no. I a.c. tab II. R/ Tab Guarposid no. tab. XIV s. lima sampai enam kali sehari) dan jenis makanan yang dikonsumsi.2. XIV s. a.Kesimpulan: TERAPI NON-MEDIS  Mengatur pola makan (makan porsi kecil. rokok.c. 2.d.c. memperbanyak sayur dan buah. cokelat. tab.2.d. dan makanan yang berlemak. seperti mengonsumsi alkohol.  Stop penggunaan NSAID (jika memungkinkan) TERAPI MEDIS Amoxicillin-Clarithromycin-omeprazole Write prescription: R/ Tab.  Menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia.d. 175 .d.

 Menanyakan apakah gejala terjadi didahului oleh kejadian luar biasa (misalnya : perceraian. Greeting. 2. pekerjaan. Keluhan lain yang ada dan detailnya (pola tidurnya bagaimana. Jenis coping dan cara menghadapi masalah. Prosedur Pemeriksaan : 1. Anamnesis Tanyakan identitas pasien . nama. jenis kelamin. Persilakan pasien duduk di kursi yang disediakan. umur. 176 . etc). etc). etc. tidak lulus ujian. durasi. Building interpersonal relationship : memperkenalkan diri. karena interpretasinya bisa beda ntar). status perkawinan. Pengobatan yang sudah diberikan.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) :  item keluhan utama secara detail (keparahan.INSOMNIA MENTAL MINOR Keluhan logis tapi tidak realistis : gangguan mental minor. agama. pendidikan. frekuensi. 3. progress. Keluhan tidak logis dan tidak realistis : gangguan mental mayor. Situasi yang membuat kondisi jadi lebih buruk atau baik. alamat.  Apabila pasien merupakan pasien dewasa (> 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. suku / bangsa. etc). 4.     RPD RPK : apakah ada keluarga yang sakit serupa? gejalanya mirip? bagaimana gejalanya? sekalian tanyakan juga .

Keluhkan fisik murni (FM) : bener-bener keluhan fisik saja. Kalo pas pilek meler gitu terus disertai bete. Tapi di modul psikosomatis dikatakan bahwa yang FM ini jarang banget! Biasanya pasti disertai mental emosional (ex. bukan diagnosis (ingat!). pilek. life style. perut saya ini kayak ada ularnya!”. dll. urticaria. Luka kecelakaan + kecanduan alkohol. Jadi dia tuh ada keluhan fisik dan mental yang SALING MEMPENGARUHI! psikosomatis : Somatoform Somatisasi → banyak kompalinnya dr ujung rambut sampe ujung kaki. keluarga utuh / cerai. Psychogenic pain disorder → nyeri terus. Ex. Keluhan fisik ganda (FG) : FM + keluhan emosional. b. Biasanya konversinya ke keluhan neurologis seperti paralisis. Neurodermatitis. Anamnesis system. Keluhan psikosomatis : psikosomatis tuh cuma istilah lho. tidak ada keluhan mental (ex. pola hubungan keluarga. Hypochondriasis → pokoknya dia merasa sakit! Ex. udah sampe shopping doctor gitu. ga konsen sama kuliah dll). tapi belum tentu berkaitan antar keduanya. sulung / bungsu. batuk kronis + kecemasan. Menurut ICD-10.  Lalu golongkan menjadi : a. Ex. c. stres. Ex. Conversion disorder → ada stressor mental tapi terus dikonversi jadi keluhan fisik. dia gak lulus SMA terus tiba-tiba lumpuh ga bisa gerak. Batuk. meninggalnya saat pasien usia berapa?). lingkungan.silsilah keluarga.    Eating disorders Sexual dysfunction Psychological or behavioral factors associated with disorders or diseases classified elswhere. jumlah saudara. apakah orang tua sudah meninggal (kalau sudah. Body dismorphic disorder → merasa gemuk banget padahal BMI nya undeweight. kebutaan. “ini saya mesti kanker ini dok. diare). kelompok yang termasuk 177 . apakah anak angkat / tiri.

Nb.RPD. life style. alkohol. 5. cemas.d. Pertanyaan aktif antara lain : 1. lingkungan → sama dengan dewasa  Golongkan apakah keluhan termasuk dalam FM. baik di keluarga. Apakah terjadi selama >3 bulan atau >1x / bulan 2. ME. kerja. ga tenang depresi : murung. PS. Ada tidaknya gangguan fungsi sosial . FG. ME. sex. perasaan). lemes  Lanjutkan ke pertanyaan aktif bila dari penggolongan keluhan didapatkan golongan FG. cemas : gelisah. dll). misalnya : banyak pikiran 3. PS.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) . Ada tidaknya pemakaian rokok. Ada tidaknya peristiwa pemicu keluhan. napza 6. Keluhan mental-emosional : emang cuma masalah kejiwaan (pikiran. apabila dari penggolongan ternyata yang ditemukan adalah FM (fisik murni) maka tidak ditanyakan lagi pertanyaan aktif dan diagnosis yang dibuat merupakan diagnosis gangguan fisik (untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema alur pemeriksaan mental minor di buku skill lab). RPK. sekolah. PS atau ME (sama dengan pada dewasa di atas).  Apabila pasien merupakan pasien anak dan remaja (< 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) pada anak atau pengantarnya : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. karena interpretasinya bisa beda ntar).  Tanyakan adanya keluhan mental-emosional dan status perkembangan anak → harus  Lanjutkan ke pertanyaan aktif nomor 3 (pertanyaan aktif yang dimaksud disini sama dengan yang ditanyakan pada dewasa) bila didapatkan golongan FG. maupun masyarakat. psikotik : ngomong sendiri. mudah tersinggung. telanjang depan umum. 178 . pekerjaan. dll 4. Ada ridaknya gejala mental emosional (sedih. Menurunnya semangat belajar.

etc). menganalisis diagnosis banding dan menyimpulkan diagnosis menurut PPDGJ. Rokok. curiga. pucat. Dari hasil anamnesis tersebut maka pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa bila ada : FG atau PS atau ME + >1 kriteria di bawah ini : >3 bulan atau >1x/bulan Ada faktor pemicu Penurunan semangat belajar. dll (males ngapa2in lah pokoke). pemeriksaan fisik diagnostik. tegang. pekerjaan. 7. 179 . gelisah. pemeriksaan neurologis. menilai bentuk isi dan progresi pikiran. 9. 10.5. kerja. etc yang relevan aja. misalnya. Pemeriksaan psikiatrik Nilai kesadaran penderita. merencanakan pemeriksaan lanjutan. DD dan Diagnosis Menerangkan dan menilai data anamnesis dan pemeriksaan. napza 6. psiko tes . menilai kesan penampilan penderita. menilai perhatian (mudah / sukar / dicantum). alkohol. nilai sikap dan tingkah laku pasien (apakah normal. 8. baik di keluarga. menilai keadaan jiwa (sedih. sekolah. Terapi dan tindak lanjut Mengusulkan rencana terapi dan rehabilitasi. maupun masyarakat. Pemeriksaan fisik : vital sign. sex. menilai hubungan jiwa (mudah atau sukar). mempertimbangkan perlu tidaknya konsultasi lanjutan. hiperaktif. Pemeriksaan khusus menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. etc). menilai roman muka (tegang. Gangguan fungsi ex. sosial . menilai citra diri. etc).

sibuk dengan pikiran dan perasaan bersalah gitu. Mahar perlu ditanyakan juga mengenai APA YANG DIRASAKAN sebelum bisa tidur atau saat kebangun tengah malam. Dia mikirin apa sih (GALI!).. gek-gek ngono?” (“duh jangan-jangan nek aku ga bisa bobo skarang. 180 . Kehidupan sehari-hari gimana? Kalau CEMAS ya terganggu : biasanya dia ga konsen gara2 khawatiran. Apakah ada pikiran “gek-gek ngene. dll. dll. besok telat osce. Apakah Anda idur di kesempatan lain? (misal bobok siang. Di tahap ini kita masih gali SIMPTOMP SUSAH TIDUR INI DULU. Kalau DEPRESI dia juga terganggu : biasanya karena dia mikirin masalahnya terus.GANGGUAN TIDUR KU : susah tidur RPS Sulit tidurnya gimana sih? Sulit masuk tidur (alias mau merem ko susah) → CEMAS Tengah malem suka kebangun. ada juga yang meleeek terus). Kalau emang udah mengkerucut ko kira-kira ini depresi. Aktivitas di siang hari gimana? (terganggu atau tidak. Kata dr. ga usah gali mengenai permasalahan dia dulu (mau dia putus kek. nangis. jadinya juga ganggu keseharian. terus susah bobo lagi → DEPRESI Sehingga setelah itu perlu kita tanyakan nih: mulai bisa bobo jam berapa? Terus bangunnya jam berapa → kita jadi tahu tuh lama dia bobo cukup apa gak (kan ada depresi yang tiduurr terus. atau pas di kelas jadi ketiduran terus). itu ntar aja galinya). harus identifikasi adakah KEINGINAN SUICIDE? Solusi yang telah dilakukan? Misal curhat sama temen. Bagaimana perasaan setelah itu? Kalo dia bilang lebih enakan→ jadikan terapi! Adakah KELUHAN LAIN? Lemes harus dibedakan apakah sebab fisik (dengan bobok langsung seger lagi) atau psikis (dengan bobok ga seger lagi).dll”) → mencemaskan sesuatu. maksud pertanyaan ini adalah kita bisa lihat apakah ada gangguan fungsi hidup dia). sesek. besok mau OSCE kek.

gemetar. ga konsen sama kerjaan. kringetan tangannya. gimana kalo pas di kantor kerjaannya? Hobinya apa? Masih interest ga melakukannya? Makan teratur ga? DD a. CEMAS Susah masuk tidur. nulis diary dll). kayak kehidupan sehari. minderan/ga pede.Sedih digali kenapa sedihnnya? Gimana sedihnya → sampe pengen nangis ga? Menurun pas apa? (curhat.hari terganggu ga? Misal. kagetan. ga konsen. Life style dan lingkungan Ga usah ditanya terlalu banyak2 kalau ga sesuai sama simptompnya. Sesek. Apa yang terbayang oleh pasien? (ingin bunuh diri lah?). sesek) tanyakan udah berapa lama? Pernafasan gimana? Mimpi buruk kah? Sakit di tempat lain ga? Sering pipis kah? Haid gimana? Jadi mudah tersinggung ga? Kagetan? Konsentrasi? Tangan kringeten? Yang memperberat dan memperingan? RPD Dulu pernah kayak gini gak? Terus diobati apa? Riwayat penyakit kronis? Soalnya penyakit kronis kan bisa sampe bikin depresi dan malah memperburuk sakit fisiknya. Kalu parah sampe bisa berpikir untuk suicede! b. DEPRESI Sering kebangun terus susah bobok lagi. seks. Kehidupan sehari-hari ga bergairah. Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. bad dream. Gangguan nafsu makan. sensi. Gangguan fungsi hidup. Pokoknya harus nyambung sama keluhanya! Tadi udah disebutin. debar-debar. Moodnya sediiiihh. RPK Kalau di rumah sama siapa bu? Mereka tau ga ibu kayak gini? Terus tanggapan mereka gimana? Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. ada fase seneng ga? Kapan kah itu (bisa untuk treatment)? Tegang (gelisah. negetif. Terapi dan edukasi 181 .

apa yang bapak lakukan? Adakah pikiran ttg hal lain yang berulang? (misal dia cuci tangan terus) apakah bapak enjoy dengan ritual tersebut? 182 . Sebenernya saat bapak mengunci itu.d.1. guilty. R/ Tab. pikiran mau mati. apa yang bapak lakukan? Kalau misalnya bapak menunda keinginan untuk ngecek pintu itu. I o. penurunan konsentrasi.- Kita bilang bahwa penyakit ini banyak terjadi tapi bisa disembuhkan kok. DIazepam mg 5 no.1. loss apetite. Imipramin mg 25 no. bapak udah TAHU belum kalau pintu udah dikunci? Kalau saat tidak yakin. gimana rasanya? Muncul kecemasan ga? Kalau udah ngecek gimana rasanya? Apakah pikiran ‘belum dikunci’ itu timbul berulang? Sebenrnya bapak sadar ga kalau pikiran itu sebenernya ga realistis? Sampai bikin jengkel? Selama ini gimana cara ngatasinya? Apakah menolong? Kalau merasa ga terselesaikan. I o.d Tab. tenang saja! (biar pasien ga tambah depresi atau cemas). gimana kerjaan di kantor bapak? (cari tahu gangguan terhadap fungsi hidup).d. XiV S. - Kalau DEPRESI Diberikan anidepressan kalau >2 minggu simptompnya disertai 4 atau lebih gejala ini: lelah.n - Kalau CEMAS Lakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bikin rileks R/ Tab. RPS Dengan bolak-balik kayak gitu. gangguan bobo.n OCD (penyakit obsesif kompulsif) KU : melakukan kegiatan berulang2 tanpa bisa menghentikan ex. XiV S. agitasi.d Tab. ngecek pintu terus udah dikunci belom.

nyeri dada. mual. tercekik. XXI S.d. pusing) Membaik saat apa? Memburuk saat apa? Terapi dan edukasi diam saat serangan. cepet ilang) Apa yang dirasakan saat itu? (taakuutt bgt gitu) Keluhan lain apa? (palipitasi.RPD RPK Di keluarga ada yang kaya gini juga ga? Gimana keluarga di rumah menanggapinya? Membantu ga? dulu pernah kaya gini ga? Gimana terapinya? Berkurang ga? Terapi dan edukasi Kalau dia ga parah.d Tab. 1 PANIK KU: 1 atau lebih gejala: nyeri dada. sampe ganggu macem2: R/ Tab. terapi perilaku saja. pusing. pikirkan bahwa ini akan segera berlalu! Kalau serangan sering atau berat 183 . nafas pendek RPS RPD RPK Di keluarga ada yang kayak gini? Ada yang sakit jantung? Gimana respon keluarga terhadap yang anda alami? Dulu pernah sakit jantung ga? Pernah diterapi apa? Dulu pernah kaya gini juga? Membaik ga? Saat apa munculnya? Berapa lama? (biasanya sih cepet dateng. Clomipramin mg 25 no. atur nafas. Parah. jangan fokus ke keluhan saat serangan. 3.

d Tab.Lorazepam mg 0.d.1.d.I o.1.I 184 . Imipramin mg 25 no VII S.n (alias malam hari) - Kalau serangan jarang dan terbatas R/ Tab.d Tab.5 no VII S.- R/ Tab.

Anamnesis :  RPS ii. Pemeriksaan fisik : 30. Onset : sejak 2 hari yang lalu jj. t. Pemeriksaan penunjang a. Akut : < 2 minggu. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  kemungkinan dpt terjadi borborigmi (peristaltik terlihat) Auskultasi  hiper peristaltik Perkusi  hipertimpani Palpasi  cubit perutturgor kulit Kepala : Leher : palpasi limfonodidbn Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi mungkin akral dingin 33. bisa ada darah.DIARE Diare Diare : BAB> 3x/hari dengan konsistensi fesesyang cair dan encer. Relieving: oo. Karakteristik : BAB 6-8 kali/hari. Agravating : aktifitas berat. Vital sign : mungkin demam 32. Durasi : 2 hari ll. masih mau minum ga? r. sakit perut. Olahraga : b. thypoid. Lokasi : kk. berlendir. Kondisi umum : sangat lemah.Persisten : 14 hari. Parafrase ke pasien s. Sebutkan DD : diare. Diet dan pola makan : makan yang tidak bersih  Review system  keluhan lain : demam. CBC count 185 . KU : mencret. BAK. diare q. Kolera air cucian beras Disentrilendir dan darah (shigella) Amoebiasislendir dan berbuih Giardiasisberlemak dan persisten>2 minggu mm. Treatment :tidak membaik dengan pengobatan  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan : kemaren makan sembarangan di tempat lain  Lifestyle : a. kurang minum nn. p. 31.

X. Makan dijaga higienitasnya 5. Edukasi 1.oralit 200 No.p.d Tab 1. S. Minum air putih banyak 2. X S. disentri R/ tab. tab 2 p.Berikan oralit  R/ sach. 4. 2.b. giardiasis R/ Tab. Metronidazole 500 mg No. Jika keadaan memburuk harap kembali 186 .c 4.Antibiotik : 1.p. Suruh jaga higienitas dengan cuci tangan 6. 3. Terapi .c.r. Metronidazole 250 mg no x s.d.d.p. Fecal exam : liat keadaan fisik ada darah/telur cacing/ 34.tab 1 p. 4. Oralit diminum segera setelah dibuat 3. Oralit diminum setelah BAB segera 4.d. amoebiasis  R/ Tab.3. Tetrasiklin 500mg no.XII S.d.tab 1.d.c 3. Ampicilin 500 mg no XXIV s.d. kolera R/ Tab.d.c 35.n campurkan dgn 200 ml air diminum segera setelah buang air besar .

v. Parafrase ke pasien w. skuama. Agravating : Saat pasien berjalan menggunakan sendal tersebut.DKI.Kondisi umum : gatal-gatal pada kaki 37. Lokasi : ke 2 punggung kaki rr. likenifikasi & fisur tidak jelas. papulovesikel. Onset : 3 hari qq. vesikel atau bula. Sebutkan DD : DKA. Lingkungan :-i  Review system : dapat diawali dengan bercak eritematosa. Anamnesis :  RPS pp. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. uu. u. Karakteristik : mengikuti alur dari sendal jepit tt. KU : gatal – gatal pada kedua punggung kaki. Pola makan : d. Pemeriksaan fisik :  Extermitas : terlihat UKK berupa bercak eritematosa dan dapat diawali dengan bercak eritematosa.PRURITUS Dermatitis Kontak Alergi Seorang pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada ke dua punggung kakinya setelah memakai sendal yang baru yang terjadi 3 hari yang lalu. dermatitis atopi x.  Kepala : Sklera DBN  Leher : palpasi limfonodiDBN  Thorax depan: DBN. likenifikasi & fisur tidak jelas. Diet : c. vesikel atau bula. Vital sign :normal 38. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. skuama. Relieving : istrhat dirumah  Treatment :  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan :  Lifestyle : a. papulovesikel. Pemeriksaan fisik : 36. semakin diperparah ketika pasien berjalan ke pasar dan membaik saat istirahat dirumah. Olahraga: ga spesifik b. Durasi : 3 hari ss. screening  auskultasi aja DBN Abdomen : Inspeksi  DBN Auskultasi  DBN Perkusi  DBN Palpasi  DBN 187 .

Mejauhkan alergen secepat mungkin b.39. Mencegah terjadinya ruam d. Treatment dapat dihentikan bila dermatitis kontak alergi pasien telah sembuh e. Membersihkan bagian yang teriritasi c.Patch test untuk test alergi .Pemeriksaan penunjang . hentikan treatment atau ganti obat lain f. Bila ada efek samping serius.Jika dibutuhkan dapat dilakukan pemeriksaan kultur jamur untuk meng’exclude ttg tinea 40. CTM: jangan dikonsumsi ketika mengendarai kendaraan bermotor 188 . Edukasi a. Terapi 41. daerah kulit yang diobati tidak boleh diperban atau ditutup g.

riwayat Ca pada eluarga.Konstipasi Konstipasi adalah pergerakan colon yang tidak frekuen (defekasi < 3x per minggu). kurang exercise.biasanya karna fungsional.Perdarahan (hematochezia). Akut membutuhkan tindakan emergency. ex : Ileus. Penyebab konstipasi antara lain sebagai berikut Conditions Associated with Constipation Structural ganglion blockers vinca alkaloids Muscle colon • neoplasm • stricture • volvulus anorectal • inflammation • prolapse • rectocele • fissure Systemic myotonic dystrophy dermatomyositis amyloidosis systemic sclerosis Neurologic electrolyte abnormalities thyroid disease diabetes mellitus panhypopituitarism Addison's disease pheochromocytoma uremia porphyria Medications central nervous system • Parkinson's disease • multiple sclerosis • ischemia • tumor • spinal cord lesions autonomic neuropathy sacral nerve damage (trauma. .penurunan berat badan. Sering pada orang tua. .muntah. Typhoid (SKDI 4). Ileus (SKDI 3B) Ax RPS O L D Onset cepat : Ileus (harus segera ditangani) Kronis > 3 bulan.. abnormalitas motilitas. Tapi hati2 kalo menemukan red flags seperti : . . Tidak memerlukan emergency. Ca colon yang mulai muncul manifes konstipasi 189 . tumor) enteric nervous system • Hirschsprung's disease • scleroderma • amyloidosis Functional analgesics anticholinergics antidepressants antipsychotics cation-containing agents anticonvulsants normal transit slow transit pelvic floor dyssynergia DD : Irritable Bowel Syndromes (SKDI 3A). missal IBS. kesulitan dalam BAB (mengejan > 25% bowel movement atau konsistensi feses keras. dan defek anatomis.terutama karena diet yang buruk..

Berkurang nyeri setelah defekasi .Onset berhubungan dengan perubahan konsistensi feses Gejala pendukung : . pada orang tua  curigai Ca colon Riwayat penggunaan narkotika. hormone progesterone dan estrogen tinggi  dapat nyebabin konstipasi Diet serat tinggi (buah2an.Abdominal bloating atau distensi subjektif Derajat keparahan IBS dapat dilihat di bawah ini : Derajat keparahan IBS Ringan Gejala klinis Persentase penderita Nyeri berterusan Gangguan Psikososial 70% 0 0 190 25% ++ + + 5% + +++ +++ Kaitan dengan gangguan fisiologi sal cerna +++ Sedang Berat . sayur. whole grains) dpt melunakkan feses RPK LS RS1 RS2 Konstipasi + hematochezia (BAB trdpt darah merah segar)  hati2 curiga Ca Colorectal ada keluhan lain? Irritable Bowel Syndromes (IBS-C) IBS adalah kumpulan gejala penyakit digesti fungsional yang diarakteristikkan dengan adanya nyeri perut dan perubahan motilitas usus. serta tidak ditemukan adanya pathology pada pasien (pemeriksaan fisik dalam batas normal) Ada criteria Roma III (2006) untuk diagnosis IBS adalah nyeri abdomen rekuren atau ketidaknyamanan at least 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir dan berubungan dengan 2 atau lebih gejala berikut ini : . suplemen besi dapat memperparah konstipasi. dan kadang ada rasa tidak lampias saat defekasi MInum obat narkotik.Perubahan pasase feses (straining dan atau urgency) . antidepresan. Hypothyroid dan hyperparatyroid  dpt mnyebabkan konstipasi Pada saat mendekati ovulasi. kesulitan dalam mengejan.Mucorrhea .Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB . anticonvulsant. antipsikosis.C A RPD R T Other Hati2 kalo Lebih dari 2 tahun. dan antidepresan  dapat menyebabkan konstipasi keluarga ada yang sakit serupa? Ada riwayat Ca ga? Defekasi < 3x seminggu. atau konsistensi fese keras dan kecil2.

191 . kadang diselingi atau berubah menjadi gejala diare atau bisa jg konstipasi terus tnpa ada gejala diare. 7. kesadaran  secara umum tampak sehat. Okasi nyeri paling sering biasanya di abdomen kuadran bawah . 6.k Pemeriksaan penunjang CBC Untuk screening DD anemia. BB/TB.Minum air putih yang cukup . Sering pada wanita D = > 3 bulan C = gejala2nya : .Jenis penanganan Dokter Keluarga/primer Spesialistik Sub spesialistik Ada 4 pola IBS  IBS-D (diare predominant). Keadaan umum Keadaan umum.Berhubungan dengan dyspepsia.Untuk sementara hindari kafein Prognosis Baik 2.a. 5. 4.k Thorax t.k Abdomen Kadang2 terdapat nyeri sigmoid Ektremitas t. respirasi  normal Pemeriksaan fisik Kepala & leher t. tekanan darah.a. Anamnesis O = at least 3 hari perbulan dalam 3 bulan terakhir. 4.Diet kaya serat . dyspareunia.Nasehatin pasien supaya jgn stress. 3.Adanya mucorrhea kadang2 ditemukan di feses . Inflamasi. Lakukan dan pikirkan hal lain untuk menghindari stress. sex disfunction A = pada saat stress R = defekasi dapat meringankan nyeri abdomennya T= Others = wanita lebih sering 3x terkena IBS dibanding pria. IBS-C (constipation predominant).Konstipasi. IBS-M (mixed diarrhea and constipation). . nadi. gizi. heartburn. dan IBS-A (alternating diarrhea and constipation).Perasaan bloating .Nyeri abdomen bersifat difus tanpa radiasi nyeri. . 1. kadang ada gangguan cemas Tanda vital Suhu.a. atau infeksi Hemoocult test Untuk mengeksklusi GI bleeding Terapi Farmakoterapi : Tegaserod 6 mg PO 2dd ac selama 4-6 minggu atau Lubiprostone 24 mcg PO 2dd dc Edukasi .

gejala yang timbul apabila typhoid tidak diberi tx / dibiarkan adalah sbg berikut : Week 1 Incubation Systemic Stepladder fever pattern or insidious onset fever Acute high fever Chills Rigors Anorexia Diaphoresis Neurologic Malaise Insomnia Confusion/delirium Psychosis Catatonia Frontal headache (usually mild) Pulmonary Mild cough Bronchitic cough Rales Pneumonia Cardiovascular Dicrotic pulse Rare Common Common Common Common Rare (lobar) Rare Common (basal) Almost all Almost all Very common Commond Very common Very rare Very rare Very common Common Typhoid state (common) Very commona Very rareb Almost allc Uncommon Almost all Very common Very common Recovery phase or death (15% of untreated cases) 10%-20% relapse. long-term neurologic sequelae (extremely rare).Typhoid Typhoid  infeksi enteric disebabkan S. 3%-4% chronic carriers.typhii Secara umum. gallbladder cancer (RR=167. carriers) Week 2 Week 3 Week 4 Post 192 .

tekanan darah.typhi) L= D = 7-14 hari . dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah itu. nyeri abdomen difus. Very common usually trace Rare Common Common Common Rare Rare Rare 1. 4. gizi. namun jarang. nadi.. malaise. respirasi  pada week 2 kadang2 ditemukan dicrotic pulse (double beat dengan nadi ke2nya lebih emah dari nadi pertama) Pemeriksaan fisik  bisa diliat lebih detail di table atas ya temuan klinis per weeknya. Biasanya pada minggu 2 manifes GI nya diare (pea soup) C = Classic presentation : demam. 3. Keadaan umum Keadaan umum. Pemeriksaan penunjang 193 . BB/TB. konstipasi. 2.Myocarditis Thrombophlebitis Gastrointestinal Constipation Diarrhea Bloating with tympany Diffuse mild abdominal pain Gastrointestinal hemorrhage intestinal perforation Hepatosplenomegaly Jaundice Urogenital Urinary retention Hematuria Renal pain Dermatologic Rose spots Rare Very rare Very common Rare Very common (84%) 30 Very common Common Common (pea soup) Very rare. 5. Anamnesis O = Muncul gejala konstipasi pada saat minggu pertama (hari 7-14 hari setelah terinfeksi S. kesadaran Tanda vital Suhu.

Banyak minum dan jaga keseimbangan ion dan elektrolit Prognosis Setelah diberi obat. Week 3  urine Most :  Leukopenia  Hb & platelet turun/normal  Hiponatremia.o 1x1 7-14 hari Chloramphenicol TIDAK DIANJURKAN karena resiko anemia aplastik dan relaps Edukasi . 7..6.0 gram p.. 194 . Tes widal TIDAK DIREKOMENDASIKAN karena spesifisitas & sensitivitas rendah Terapi Farmakoterapi : Dianjurkan fluoroquinolone (ciprofloxacin. gejala mulai berkurang stlh 2 hari. Week 1  kultur darah/bone marrow 2. 8. cephalosporin (ceftriaxone. cefixime) Ciprofloxacin 0.o 2x1 7-14 hari Ofloxacin 800 mg p. Week 2  stool 3. kemudian kondisi dapat membaik dalam 4-5 hari. jangan banyak beraktifitas dulu untuk sementara. Gold std : isolasi & kultur Salmonella typhi dari spesimen Spesimen : 1..Makan yang lunak2 dulu seperti bubur . ELISA IgG & IgM 3..5-1.o 1x1 7-14 hari Ceftriaxone 50-60 mg/kg im/iv 2x1 7-14 hari Cefixime 20 mg/kg p. Deteksi antigen O dan H 2.Istirahat yang cukup. hipokalemia  Transaminase naik Tes serologis. 1. . ofloxacin).

infark >0.5-3 Jenis Pemeriksaan Satuan juta/mm3 ribu/mm3 ribu/mcl g/dl % % % % % % mm/jam detik detik menit mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl IU/l IU/l IU/l IU/l g/dl Laki-laki 4. Ginjal:  Blood Urea Nitrogen (BUN) (pada gangguan ginjal. 1.06) IU/l μg/l <10 <0. CBC:       Normal Pada Wanita Laki-laki/wanita 4. Lipid:     4.4-1 4-6 25-35 0-8 0-15 60-70 20-45 3-7/Ivy <200 <150 >40 >50 <150 42 37 32 31 80-240 53-128 42-98 1. Hepar:  5.1 .NILAI NORMAL PEMERIKSAAN LAB No .8-5.6-6.2 RBC WBC Trombosit HB HCT HItung Jenis:  Neutrofil  Eosinofil  Basofil  Monosit  Limfosit LED PPT APTT Bleeding Time Kolesterol Total Trigliserid HDL LDL 2. Infeksi:     3. menurun) mg/dl 8-20 g/dl 195 3.01 6. SGPT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  SGOT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  LDH (dikatakan hepatitis apabila meningkat >5x)  ALP (dikatakan hepatitis apabila meningkat <3x)  GGT (dikatakan hepatitis apabila menurun) Cardiac:  CKMB (peningkatan >5% dikatakan ada kelainan)  Troponin I (iskemik >0.2-5.01.4 4-10 200-400 14-18 40-58 12-16 37-43 50-70 1-3 0.

Sindrom Nefrotik) Eritrosit ((+) pada GNA. dan infark ginjal) Leukosit ((+) pada pyelonefritis akut dan nefritis) Yeast Cast g/day (-) (-) (-) (-) Sekian teman-teman. kami mohon maaf yah. Urinalysis:  pH  Warna      mg/dl 0. 2011). ISK.35-7.5 Merah (pendarahan pada UTI/obat) 1.5# #Impaired Fasting Glucose= Kadar Gula Darah Puasa 110-126#  Gula Darah Puasa  Post Prandial 2 jam  Gula Darah Sewaktu  HBA1c 9.03 (-)   Berat Jenis Protein (>3 pada GNS. Post Prandial 2 jam >200. hehehe. kalau ada salah.5-0.Albumin (pada gangguan ginjal.. semoga osce kita sukses! (mardian et.9 mEq/l mmHg mmHg 7.3 0. 196 .003-1. al. Analisa Gas Darah:  pH  HCO3 PCO2  PO2 8..6-1. meningkat) 7. Diabetes Melitus: #Kriteria DM= Gula darah puasa >126. HBA1c >6. menurun)  Kreatinin darah (pada kelainan ginjal. GNK.45 24-28 35-45 75-100 mg/dl mg/dl mg/dl % <110 <140 <200 <6 6-6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful