OSCE COMPREHENSIVE PROCEDURAL & IPM & nilai lab normal

By : Yan Mardian, Prenali Dwisthi Sattwika, Pradini, Afrilia Intan, Nia Milastuti, Nastiti Hemas, Annisa Tridamayanti, Astari Anggara, M. Randy Givano, Gandhi Anandika, Rizky Admagusta
1

DAFTAR ISI
MATERI HALAMAN

IPM General Thorax Abdominal Exam Eye Exam ENT Exam Neurology Exam Leprae Exam Gynecology Exam Baby delivery ANC Gyn Exam Pap Smear Implant IUD Bedah Simple suturing Sirkumsisi Bedah tumor Emergency Neonatal Resuscitation Endotracheal tube i.v. line Kateter CPR Dressing and Bandaging EKG Advance Cardiac Life Support Others Breast exam Locomotor Genitourinary Post Stroke
2

3 4 5 9 11 16 18 21 23 27 28 30 33 36 38 43 47 48 53 56 57 58 63 68 71 72 74

PROSEDURAL  … bismillah..here we go.. IPM GENERAL : Thorax, abdomen, eye, ent, neuro, leprae
THORAX Punggung: pasien duduk Inspeksi: posisi duduk (sikap tubuh, contoh: tripod pada asma), penggunaan otot bantu pernapasan, UKK Palpasi: hangatkan tangan terlebih dahulu, palpasi nyeri tekan, palpasi pengembangan dada, fremitus taktil (ninety-nine atau satu dua tiga pake nada orang ambon)  fremitus taktil meningkat: konsolidasi paru. Perkusi: perkusi paru (normal: sonor, kalo ada konsolidasi: redup, kalo emphysema: hipersonor), perkusi pergerakan diafragma, caranya di linea midclavicularis dextra diperkusi dari atas ke bawah, sampe nemu batas sonor redup (batas paru-hepar), terus pasien disuruh tarik napas, diafragma turun, perkusi diterusin ke bawah, sampe nemu batas paru-hepar lagi. Penurunan normal 4-5 cm Auskultasi: suara paru (normal vesicular/ suara paru perifer) Dada: pasien berbaring Inspeksi: inspeksi ekspresi wajah pasien (misal nafas cuping hidung, sianosis), leher (retraksi supraklavikular), penggunaan otot bantu pernapasan, konfigurasi dada (misal dada tong pada COPD, pectus excavatum/cekung, pectus carinatum/cembung kayak burung merpati), pola pernapasan, UKK, iktus kordis Palpasi: mirip sama yang punggung + palpasi deviasi trachea + palpasi iktus cordis Perkusi: perkusi paru (dimulai dari atas klavicula sampai bawah zigzag) perkusi batas jantung: Batas jantung kiri: dari linea axillaris anterior perkusi sampe nemu sonor-timpani (paru-lambung, biasanya di SIC VIII), naek dua jari, dengan posisi jari tegak lurus terhadap costa, perkusi ke kanan sampe nemu redup (batas jantung relative, biasanya dua jari medial linea midclavicular kiri, SIC 5) pekak (batas jantung absolut) Batas jantung kanan: dari linea midclavicularis dextra, perkusi ke bawah sampai nemu batas sonorredup (paru-hepar), biasanya di SIC VI kanan, ukur dua jari ke atas, perkusi lagi dengan posisi jari tegak lurus terhadap iga,dari lateral ke medial, cari perubahan sonor ke redup (biasanya di linea sternalis kanan), dam nyari suara pekak (batas jantung absolute, biasanya di linea midstrenalis) Batas jantung atas: cari linea sternalis kiri. Dari titik teratas, lakukan perkusi sejajar iga kerah kaudal, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC II linea sternalis kiri Pinggang jantung: cari linea parasternalis kiri, perkusi di linea itu kearah kaudal, posisi jari sejajar iga, cari perubahan sonor ke redup, normalnya di SIC III. Kalo sampe di SIC II, berarti pinggang jantung menghilang, biasanya pada keadaan pembesaran atrium kiri 3

lanjutin sampe nemu batas redup0 timpani. ABDOMINAL EXAM Inspeksi: Kontur (kontur lebih rendah. Trus lakukan deep palpation. massa (lokasi. kemudian pasien disuruh inspirasi. Normalnya ga keraba. atau lebih tinggi dari dada atau schapoid/menggembung). parallel dan lateral dari m. dilatasi vena (missal caput medusa karena hipertensi portal). sejajar. minta pasien utk inspirasi  normalnya ga keraba. sedangkan untuk meriksa lobus kiri hepar. dan nyeri tekan. Tes Ascites: 4 . Saat pasien ekspirasi. yakni pada garis axilaris posterior SIC 11. perkusi hepar (lobus kanan: perkusi dari linea midclavicular dextra sampe nemu batas sonor-redup/paru-hepar. di SIC V linea midclavicular sinistra (s1 mitral). lokasi. terdengar wheezing.Auskultasi: Auskultasi suara paru (normal vesikuler. umumnya 6 cm). murmur diastolic di mitral  insuffisiensi mitral). rectus abdominis. biasanya ga keraba. diperkusi sebelum dan sesudah inspirasi normalnya timpani). Suara yang sama dengan suara arteri karotis  s1. stria (pada ibu hamil atau orang gemuk). perkusi dari umbilical ke atas sampe nemu perubahan suara. perkusi lien (di ruang traube. dorong tangan kanan masuk ke dalam untuk meraba batas hati. dan tentukan murmur tersebut ada saat diastolic atau sistolik (contoh: murmur sistolik di mitral  stenosis mitral. ukuran). bentuk. minta pasien utk inspirasi. konsistensi. pada bronchitis terdengar crackels) Auskultasi klasik suara jantung: Di SIC II linea parasternalis kiri (s2 pulmonal) kanan (s2 aorta). pulsasi/peristaltic. di SIC 4/5 linea strenalis kiri (s1 trikuspid). pada keadaan obstruksi saluran napas bawah misalnya asma. Palpasi: Hangatkan tangan dulu. simetris. pada keadaan udem pulmo atau eksudat di alveolus. Lakukan palpasi superficial untuk mengidentifikasi resistensi otot. mobilitas. normalnya 4-8 cm. specific sign: misalnya Cullen sign (blue discolorisation of periumbilical) dan grey turner sign (diskolorisasi pada area flank). lalu tekan kuadran kanan atas untuk mencoba “menangkap” ginjal dengan kedua tangan. tapi masih normal kalo batas terabanya 1-2 cm dari batas iga bawah. akan terdengar ronki. dengarkan suara click and gurgles (normal 5-35x/menit). bentuk. dan adanya masa. yang mungkin menunjukkan pancreatitis Auskultasi: Pilih satu titik di abdomen. dengarkan juga apakah ada bruits/murmur vascular. normalnya 8-12 cm. warna kulit. selanjutnya lepas tangan saat pasien ekspirasi. untuk mengidentifikasikan massa abdomen. normalnya semua timpani). Perhatikan adanya murmur. beri tekanan ke atas. Lakukan hal yang sama pada ginjal kiri pasien. Lanjut ke palpasi lien. bekas luka operasi. tangan kanan di kuadran kanan atas. ukuran. umumnya 10 cm. letakkan tangan kanan diatas batas kosta dan tekan ke arah spleen. Selanjutnya lakukan palpasi hepar. caranya letakkan tangan kiri pada antara SIC 10-SIC 12. Perkusi: Perkusi 13 titik (liar gambarnya di buku. Palpasi ginjal kanan dilakukan dengan meletakkan tangan kiri pada belakang diantara SIAS dengan angulus kosta. nyeri tekan. Caranya letakkan tangan kanan sejajar m rectus abdominis dan tangan kiri menyangga dinding lateral abdomen costa 11-12 kanan. dokter pindah ke sisi kiri pasien.

Psoas sign  tangakn diletakkan diatas lutut pasien. nyeri pada saat dilepaskan  iritasi peritoneal 3. Kemudian perkusi lagi pada titik tersebut. Shifting dullness: perkusi dari umbilicus ke lateral hingga ditemukan perubahan suara dari timpani ke redup. b. dan tangan kiri diarah sebaliknya. tangan kiri tetap pada posisinya dan rasakan gelombang cairan (fluid wave) Test Appendicitis: 1. kalo udah perforasi. buka kelopak mata Berhenti sejenak saat di lateral dan upward gaze utk liat nystagmus  LR6(SO4)3 (Lateral rectus N VI. visus: 1/300)  Kalau tetap nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  pakai cahaya (visus: 1/takhingga)  Untuk yang bisa baca snellen chart: Misal di visus 6/20 bisa baca 3 huruf dari 5 huruf  6/20 S2 Misal di visus 6/20 bisa baca 2 huruf dari 5 huruf Visus atasnya (misal 6/30) B2 3. Dikatakan positif kalo suaranya berubah jadi timpani. Tes undulasi (fluid wave): minta pasien untuk meletakkan tangannya secara longitudinal pada tengah abdomen. tutup mata jangan ditekan. dan terletak di titik Mc Burney 2. Obturator sign  kaki pasien dinaikkan 90 derajat. kacamata dilepas. 5. lutut fleksi 90 derajat. sisanya N III) N IV lihat inferomedial N VI lihat lateral c. periksa mata kanan & kiri gentian. 2. liat jangan dipicingkan. Rebound Tenderness. prosedur.  Huruf pertama nggak bisa  kita maju ke 1 meter pasien  finger counting 1/60 bisa mundur sampai 5 meter (kalo cuma bisa dijarak 1 meter. visus: 1/60)  Kalau tetap nggak bisa  pada jarak 1 meter pasien  hand movement 1/360 bisa mundur sampai 6 meter (kalo Cuma bisa dijarak 1 meter. Kalau nggak ada diplopia. izin/informed consent 2. continous. Tekan dengan ketat. Sentil abdomen dengan tangan kanan. Minta pasien untuk berbaring miring. pakai visus jauh. Extraocular eye movement a. Superior Oblique N IV. Periksa akuitas visual (visual acquity) Kalau pakai kacamata. Lakukan rotasi internal-medial pada pinggang. Tentukan lokasi dan sifat nyeri. Bentuk huruf H Jarak duduk 1 lengan Waktu tangan di bawah. Kenaikan nyeri abdomen kuadran kanan bawah  iritasi musculus psoas karena app 6. Periksa reflex kornea (corneal light reflex). minta pasien menaikkan kaki melawan tahanan. 4. snellen chart. Adanya kenaikan nyeri pada hypogastric menunjukkan kemungkinan iritasi musculus obturator. Sampaikan tujuan. Tes konvergensi 5 . pantulan cahaya (titik kuning) terlihat di pupil sedikit di nasal (slightly nasal to the center of pupil). nyerinya jadi localized. Cutaneoous hyperesthesia  cubit kulit perut  hyperesthesia  inflamasi saraf subkutan EYE EXAM 1. Letakkan tangan kanan pada sisi kiri abdomen pasien. Tandai daerah itu.1. Rovsing sign  nyeri yang dirasakan pada kuadran kanan bawah ketika dilakukan tekanan pada kuadran kiri bawah.

Kelopak mata: lesi kulit. Upper conjunctiva palpebra Mata lihat ke bawah. tutup satu mata (periksa mata kanan pasien  pasien tutup mata kiri. masa protruding. Visual eye field a. lagopthalmus (nggak bisa nutup: rusaknya N VII). miosis (pupil mengecil) 4. masa protruding. pola vaskularisasi. udah membatu hordeolum: keluar discharge kalau dipencet c. terus dokter gerakkan tangan secara horizontal (dari lateral ke medial). pembengkakan  Sclera: warna. dokter tutup mata kanan). permukaan. Tes konfrontasi 1 Jarak 1 lengan . penipisan. deformitas e. Tes konfrontasi 2 Bagi 4 kuadran (kanan kiri atas bawah). deformitas d. nggak usah tutup mata. Bulu mata  tersusun teratur  persebaran kotinu  arah pertumbuhan (extropion: mukosa ke luar. opticus  Hemianopsia bitemporal (lapang pandang temporal kedua mata hilang)  lesi chasma optica  Hemianopsia homonim dextra (lapang pandang temporal mata kanan dan lapang pandang nasal mata kiri hilang)  lesi traktus opticus sinistra  Hemianopsia homonim sinistra  lesi traktus opticus dextra  Lesi quadrantika Loop of Meyer (radiation optica bagian bawah) Hemianopsia quadrantika sinistra (pie on the sky)  lesi loop of Meyer dextra b. Conjunctiva bulbi  Warna. pasien disuruh fiksasi pandangannya ke hidung dokter . ptosis (nggak bisa buka mata: rusaknya NIII) Alis (deformitas) Rima palpebra: simetris Arah garis palpebra b. akomodasi lensa. suruh ngitung jari dokter  untuk ngeliat lapang pandang 4 kuadran penglihatan 5.Mata normal mengikuti gerakan objek dari pemeriksa mendekati hidung pasien. tanda inflamasi. deformitas f. simetris. lihat pakai senter  Warna. kelopak ditekuk ke atas. Lower conjunctiva palpebra Mata lihat ke atas. Trias melihat dekat: konvergensi (melihat kearah medial). darken the room a. Cornea Pakai penlight boleh langsung. Periksa segmen anterior Duduk sejangkauan tangan. permukaan. lihat pakai senter  Warna. normalnya bisa ngikutin sampai jaraknya 5-8 cm dari hidung.  Anopsia  lesi N. entropion: ke dalam)  tidak ada discharge  tidak ada deformitas kalazeon: obstruksi kelenjar. pakai senter harus dari bawah tapi jangan terlalu jauh  Kekeruhan  Bentuk 6 .

Sampaikan hasil a. Ukuran  Curve  Pola vascular  Deformitas g. 3/5 7 . Lensa Senter arah depan bawah  kekeruhan j. normal/orange. Papil N II  Letak papil di arah nasal  Batas papil: tegas/kabur  Warna pucat/yellowish orange. TIO  bandingin sama tonus lidah yang dijendolin ke pipi 6. Iris/pupil  Warna + bentuk iris  Pupil simetris  Refleks pupil direct & indirect di-swing senternya di depan mata kanan & kiri i. lepas kacamata  Posisi pemeriksa boleh berdiri  Minta pasien lihat jauh  Adjust lensa opthalmoscope (-)  2 (-). ga semua bagian iris kena sorot sinar  pada glaucoma sudut tertutup akut) h. Anterior chamber Antara iris dengan kornea Disenterin dari samping  Dalam/dangkal  Clearness  Darah/pus Normal: iris terang dua2nya Ada sudut iridocorneal: semakin dangkal (iris kayak bulan sabit. (+)  sesuai (+) Dihitung = plus/minus pasien + plus/minus pasien  Pegang opthalmoscope dengan tangan sama  Lihat dari jarak 30 cm lalu mendekat Warna Yang kita gunakan  warna kuning Red free (hijau atau biru)  untuk lihat perdarahan Biru  untuk fluorescence Bentuk ½  untuk pupil yang kecil Garis2 kotak  ratio cup/disk Besar  biasa Yang 1 garis  lihat ketebalan  Jari telunjuk pada lensa panel. reddish  Lihat cup & disc ratio C/D normalnya 3/10 Peningkatan tekanan intra ocular  serabut saraf pembentuk discus lebih sedikit  ratio meningkat  ¾. sesuaikan fokus 7. Periksa segmen posterior  Jelaskan periksa opthalmoscope.

Yang diliat:  Canalis auditoris externus  Perdarahan  Laserasi  Serumen prop  Tanda otomikosis  newspaper-like-appearance  Membran timpani  Intact/perforasi  Cone of light. Vaskularisasi Vena lebih besar & lebih gelap Arteri : vena = 2 : 3 ENT 1. auricula  Mastoid  otitis media c. izin / informed consent 2. telinga kiri arah jam 7  Bulging  vaskularisasi d. tangan buat megang otoscope sesuai dengan telinga (meriksa telinga kanan pake tangan kanan). fiksasi jari di pipi pasien. mastoideus terus didengerin de deket telinga (+) AC > BC: normal/SNHL (-) AC < BC: CHL b) Tes Weber (masking effect) Diletakkan di glabella. prosedur.Peningkatan takanan intra cranial  discusnya naik  ratio turun  3/11 b. posisi memegang seperti memegang ballpoint. cuma ada sel pigmen & batang. Macula Tempatnya fovea centralis. Tes pendengaran. Palpasi  cari nyeri  Tragus  otitis externa  Helix. Otoscope Auricular ditarik ke arah superoposterior. letaknya lebih ke arah temporal Periksa refleks foveal Pasien diminta melihat ke arah cahaya sebentar c. Inspeksi telinga  UKK  Deformitas  Oedem  Discharge b. Duduk face to face oblique. kuadran anteroinferior Telinga kanan arah jam 5. Jelaskan tujuan. pakai garpu tala frekuensi 512 Hz a) Tes Rhine (prinsip: middle ear amplifies the sound) Diletakkan di proc. Telinga a. adakah lateralisasi? (prinsip: no masking sound that can be heard on normal ear in CHL) Lateralisasi ke arah sakit: CHL Lateralisasi ke arah sehat: SNHL Tengah-tengah: normal c) Tes Schwabach 8 . ruang semi gelap 3.

Speculum dibuka waktu udah di dalam rongga hidung. tapi karena ga ada di checklist buku. Sebenernya ada test transiluminasi buat ngeliat sinusitis.  5. kalo nyeri. ditutup waktu udah dikeluarin. dorong dinding lateral mulut  Membran buccal: warna & perdarahan  Gusi: warna & perdarahan  Gigi: karies  Rasio gigi gusi 2) Minta julurkan lidah  tes nervus XII 3) Minta pasien “aahh” (lidah ga dijulurin). Jari telunjuk untuk fiksasi. Bibir  UKK b. tangan yang nggak megang speculum fiksasi kepala di belakang. Yang diliat:  Concha nasalis media & inferior  Meatus nasi inferior  Septum lurus/deviasi/perforasi  Mukosa merah  tidak ada epistaksis  tidak ada polip (biasanya warna pucat)  tidak ada lendir berbau atau berwarna d. Buka mulut dengan spatula 1) Masukkan spatula (yang dimasukin ujung besarnya). palpasi hanya kalo ada indikasi kanker lidah. Speculum Posisi tangan & hidung berlawanan. tahan pakai spatula lidah Palatum molle & uvula terangkat  tonsilla palatina & dinding posterior faring  terlihat kalau ada eksudat 4) Ga usah palpasi lidah. palpasi sinus frontalis & maxillaries. kalo palpasi musti pake glove  ga disuruh di checklist 9 . ga usah deh yee. e. Hidung + sinus paranasal Pakai & nyalakan lampu kepala a. lanjutin ketok untuk tau ada nyeri ketok sinus  curiga sinusitis. Palpasi  Deformitas  Masa abnormal  Pencet 1 lobang idung terus minta pasien napas  apakah ada obstruksi? c.Di proc. mastoideus.. Inspeksi  Deformitas  Deviasi septum  Perdarahan/hematom  Rhinorrhea b. pemeriksa harus normal BC pasien > dokter: CHL  periksa sebaliknya BC pasien = dokter: N  periksa sebaliknya BC pasien < dokter: SNHL 4. Tenggorokan a.

Kalo mau lengkap: a. N II (optic)  snellen chart c. VII. Atensi & kalkulasi 100-7-7-7-. N V (trigeminus) mastikasi ketika mengunyah rasakan otot mulut tahan dagu trus suruh buka mulut sensoris wajah: sensasi di N V1 (opthalmicus). tetapi sebutin dengan intonasi yang datar 3) Ambil kertas. Weber. kalau <25  disorder. N VII (facialis) Sensoris: 2/3 lidah untuk perasa Motoris  Tutup mata  Kernyitkan dahi UMN: bisa kernyutkan dahi (stroke) LMN: nggak bisa (Bell’s palsy)  Gembungkan pipi  Bersiul f. Mini mental status examination a. GCS  Glasgow Coma Scale  E (eye:4) V (verbal: 5) M (motor:6)  kalo pasien ga sadar 2. sampai 6x Kata dibalik: MESRA  A-R-S-E-M d. dll b. N IX (glossopharungeus) dan X (vagus) Gag reflex Angkat palatum (bilang “aah”) Minta menelan h. III. Orientasi 1) Person 2) Moment 3) Place Nanyanya harus sekaligus: Bapak datang sama siapa? Tadi makan apa? Sekarang lagi ditempat apa namanya? b. N V3 (mandibularis) e. atau. Schwabach g. dan. taruh lantai 4) Baca “pejamkan mata” dan lakukan 5) Tulis kalimat SPO 6) Salin gambar Skor maksimal 30. lipat2. bila. XII.NEURO EXAM 1. cengkeh. IV (trochlear). N VIII (vestibulocochlear)  Rhine. N III (occulomotor). VI. Bahasa/language 1) Pensil + arloji  ini apa? 2) Tanpa. N XI Angkat bahu. N I (olfactorius)  bau2an tembakau. dokter nahan m. Recalling suruh nyebutin 3 objek yang tadi disebutin e. kopi. Noting  menyebutkan 3 objek c. N V2 (maxillaries). VI (abduscen)  ocular eye movement N III  refleks pupil (cek parasimpatis) d.. missal tumor lobus frontalis & stroke 3. IV. Cranial nerve exam Kalo cuma untuk screening: N II. trapezius 10 .

pejam mata. Sensoris examination a. Noleh kiri kanan. Getaran Pakai 256 Hz. di olecranon. terasa atau tidak b. Pronator drift  suruh ngangkat tangan. scm N. deltoid. triceps. maleolus medial lateral e. Motor strength Otot yang diperiksa (screening) : M. lutut. plantar fleksi Otot yang diperiksa (semua) = semua otot ( ada di buku neuro motoric ) 0 : tidak ada gerakan atau tonus 1 : ada tonus 2 : ada gerakan tapi tidak bisa melawan gravitasi 3 : bisa nahan gravitasi namun tidak bisa menahan tahanan pemeriksa 4 : bisa menahan pemeriksa tapi lemah 5 : normal. m. Suhu Pakai air panas 40 O C dan air dingin 20 O C d. Nyeri Pakai yang tajam atau tumpul. bandingkan kanan-kiri c. epicondylus medial lateral. dipukul di otot juga keluar refleksnya (kan harusnya cuma pas dipukul di tendo aja keluar refleksnya) 5. ekstensi lutut. hitung sampe 10. Neuromotoric exam a. biceps. bisa menahan pemeriksa c. dokter nahan di pipi. Movement 11 . XII Motoris : julurin lidah UMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sakit LMN dalam mulut: deviasi lidah ke arah sehat dijulurin: deviasi lidah ke arah sehat 4. posisi supinasi. medianus. Taktil Pakai brush. Muscle tone Dinilai bagus atau tidak tonus ototnya Karakteristik lesi UMN:  Spastik  weakness  Reflex fisiologis hiper (liat keterangan dibawah)  Ada reflex patologis Karakteristik lesi LMN:  Flacid  weakness  atrofi otot  Refleks fisiologis hipo  Tidak ada reflex patologis Interpretasi: 0 tidak ada refleks 1 hipo 2 normal 3 hiper tapi masih normal 4 hiper patologis. kalo salah satu tangan berputar pronasi sambil tangannya turun  pronator drift + Kalau pronator drift nya +  lesi UMN b. dorsofleksi. proc styloideus medial lateral.i.

Patella  lutut dibiarkan menggantung. Lasegue  untuk memeriksa LBP & n. tarik dari belakang. biceps brachii. positif= dorsofleksi jempol. positif = menggenggam b. diketuk dari bawah. lalu agak difleksikan. Tandem gait Jalan dalam 1 garis lurus. kakinya rapat. Jatuh ke arah lesi. Positif kalau kaki melangkah mau jatuh. mekar jari2nya (fanning) d. Tromner  yang dipegang jari tengah. ischiadicus  kaki diluruskan lalu diangkat. cari tendo m. tapi kalau ada tahanan dan sakit berarti abnormal (kernig +) b. Schaeffer  jepit Achilles. diketuk dialasi jempol (positif kalo supinasi) b. lihat nystagmus dalam 20 menit 12 . positif = nyeri Periksa vertigo 1. Kernig sign  lutut fleksi. Chaddock  dari maleolus lateral ke arah kelingking positif = dorsofleksi jempol. positif = menggenggam c. Tanda iritasi meningeal a. Biceps  tangan kanan memegang tangan kanan. kaki yang lain ikut naik c. diketuk dari atas. Triceps  tangan kiri disangga tangan kiri pemeriksa. biceps. Refleks fisiologis a. Untuk BPPV Diagnosis: Dix hallpike  Kepala miring 45o  Terus tiduran dengan posisi kepala nggantung  Lihat ada nystagmus/pusing nggak. tangan pemeriksa nahan di plantar supaya terasa gerakan dorsofleksinya kalo positif 7. Hoffman  yang dipegang jari tengah. positif= dorsofleksi jempol. disuruh menyebutkan ke atas/ bawah/ kanan/ kiri 6. mekar jari2nya f. Achillles  kakinya bersandar pada kursi. Rossolimo pukul bantalan ibu jari. Brudzinski 1) neck : 1 tangan ngangkat kepala. Romberg  cek keseimbangan Matikan ocular dengan tutup mata. mekar jari2nya g. positif = plantarfleksi --> beda sendiri 8. Babinski  dari bagian lateral plantar sampai ke bawah jempol membentuk huruf J positif = dorsofleksi jempol. Gordon  jepit betis. mekar jari2nya e. trus kaki coba dilurusin ke atas.Gerakin jari . Refleks patologis a. dipukul di tendo triceps brachii c. cek vestibular. kalau positif = lutut nekuk 2) kontralateral : 1 kaki diangkat difleksikan. mekar jari2nya h. Pasien diminta berdiri. di pukul di tendo Achilles. di pukul di tendo quadriceps femoris e. positif = dorsofleksi jempol. Openheim jepit tibia susuri ke bawah ditarik . tapi dipukul di ototnya (snapping movement) d. normalnya bisa lurus. 2. 1 tangan di dada. tutup mata. propiosepsi tetap. Brachioradialis  mirip kaya m.

Treatment: Epley maneuver  lanjutan dix hallpike      Terus noleh ke sisi satunya 90o Badannya putar ikuti arah kepala Bangun Leher fleksi 20o Setelah epley pakai cervical collar  untuk mencegah perpindahan canalith lagi Sermont maneuver  Tidur miring kanan 30 detik  Duduk tegak 30 detik  Tidur miring kiri 30 detik 13 .

Keluhan Utama : Bercak hipopigmentasi.Cerebellar ataxic  finger to nose PEMERIKSAAN LEPRA 1. Alkohol spray 14 .  Lepra paucibacilar : kulit dan neuro  keluhan : bercak hipopigmentasi. RPD : ngga terlalu ngaruh d. maluku e. Review system : i. anestesi. Location : bercaknya adanya dimana aja iii. hoarseness. mati rasa. RPS i. Agravating –relieving : tidak ada v. Air hangat 40o C . Adakah keluhan di saluran nafas?  multibacilar 3. Anamnesis a. Treatment : c. penebalan saraf  Stadium: TT  BT  BB  BL  LL b.30 tahun ii. Pulpen d. jarum pentul b. Siapkan alat a. air dingin 20oC c. Informed consent 4. apakah ada penebalan saraf? ii. Kapas. Onset : masa inkubasi : 2 minggu. Perkenalan diri 2. erythema nodusum leprosum  Lepra multibacilar : mukosa dan saraf  keluhan : nasal stuffness. Characteristic : seperti apa lesinya? iv. RPK lingkungan : adakah anggota rumah/ lingkungan yang mengalami hal serupa? Papua. Adakah mati rasa? iii.

perut. hipopigmentasi.Aurikularis magnus  pasien tengok kiri/ kanan diraba ada atau tidak penebalan saraf . ii. ada infiltrate di cuping telinga/ tidak?. tangan disilangkan untuk meraba di maleolus medialis d. 2 : bisa abduksi tapi ga bisa lawan tahanan . lalu ditahan. radialis : motoris Dorsofleksi palmar ( kayak orang naik motor) lalu di tahan v.N. Perabaan/ taktil : dengan kapas Jelaskan ke ibunya kalau terasa suruh bilang terasa. langsung diraba pake tangan kiri .N. diberi tahanan ke dalam Nilai : 3: bisa melawan tahanan .Sensorik: pakai pulpen di telapak tangan. aspek dorsal dari kaki.Motoris : jari kelingking abduksi. medianus : . nyeri. atrofi kulit. ada pembesaran n. hidung pelana . facialis : motorik Periksa dengan memejamkan mata. 5 lateral . angkat kaki. Inspeksi i. ulnaris . 1: tidak bisa abduksi iii. peroneus komunis  di lateral caput fibula . simetris atau tidak . Suhu : dengan air panas/ dingin iii. punggung. inspeksi plantar Lihat  ada ulkus.Motoris : jempol ke arah hidung. tibialis : sensoris 15 . peroneus komunis : motoris Dorsofleksi kaki. Areanya: jari manis setengah ke medial di telapak tangan. N. vi. jari2. lalu di beri tahanan iv. N. Kepala : ada madarosis atau tidak. N. hipopigmentasi b. Sensibilitas Bandingkan antara yang ada bercak dengan yang normal (bukan kanan-kiri) i. Pemeriksaan fisik Pasien kalau laki-laki harus membuka baju dan hanya memakai celana pendek. inspeksi aspek dorsal leher telinga. lagophtalmus. Cuci tangan 6.N.5 medial . dan menginspeksi dada. Nyeri : jarum pentul Bandingkan perabaan tumpul atau tajam. N. tangan. Tubuh minta pasien untuk meluruskan tangan ke depan. ulnaris  tangan kanan dipegang dengan tangan kanan agak difleksikan.Sensoris : telapak tangan 3. atrofi tenar/ hipotenar iii. N. ada/ tidak nyeri c. cahaya ruangan harus cukup a.5. Tangan  ada jari kiting atau tidak. Minta pasien untu memutar. dikatakan lagophtalmus kalau > 3mm ii. ada celah atau tidak. tibialis posterior  jongkok. Perabaan Saraf Yang dicari: Penebalan saraf . 1. auricularis magnus (menyilangi SCM) ii. tangan ventral. bercak. N. area gluteal. Fungsi Saraf (sensoris dan motorisnya) i.

Vital sign Periksa tekanan darah + suhu tiap 4 jam Periksa HR tiap 0. karena penularan lewat droplet c. Leopold Enganged kalau udah di station 0 atau hodge 3.I s. Bimanual untuk mastiin  Ada tumor nggak di jalan lahir  Ada DKP atau nggak  Ada moulage nggak  Nentuin station 4.1. obat minum d depan dokter R/ Clofazimin 50 mg No. Pengobatan ini memang lama. gyn exam. XXX s. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. Sebulan sekali datang control - GYN Baby del.1. obat minum depan dokter R/ Tab Dapsone 100 mg No. lalu dites dengan pulpen. tapi pengobatan 6 bulan) R/ Tab Rifampicin 600 mg No. Periksa urin 2-4 jam 3.d tab 1 8. pas di spina ischiadica 16 . Fase aktif Pembukaan 4-10. 7.Paucibacillar : 6 bulan (obat Rifampicin diminum depan dokter.d. IUD BABY DELIVERY Kala 1 1. I s. XXX s. implant. tab 1 R/ Clofazimin 300 mg No.Pasien harus mengekspos telapak kaki. papsmear.5 jam 2. I s.1.d. Treatment . 1 bulan 1x minum) tiap 1 bulan balik lagi ke dokter.d.d. tab 1 Multibacillar : durasi treatment 12 bulan R/ Tab Rifampicin 600 mg No.d. ANC.. sekitar 8 jam 2. Kecepatan: 1 cm/jam Yang dicatat di partograf 1. XXX s. jadi harus taat minum obat b. Fase laten Pembukaan 0-3 cm. Pakai masker. Edukasi a.

½ cocher (buat mecahin ketuban kalo belum pecah) f. ambil napas dalam lewat hidung. jarak vagina & anus  episiotomy nggak? Kalau diepis. Meja ginekologi d. Jelaskan cara meneran Selama kenceng2. Persiapan alat a. dagu nempel di dada. simetris b. Anamnesis singkat  GPA  Umur kehamilan  ANC teratur? Terakhir kapan?  Ada keluhan selama kehamilan?  Ada riwayat hipertensi. Klem tali pusar j. benang untuk jahit epis n. Bagian mukosa anus muncul f. lakukan ketika kenceng2 10. Dari partograf RM. Wadah bengkok q. Melahirkan kepala 17 . Pasien ingin meneran c. 1 di atas perut ibu. ibu memasuki kala 2. Kepala janin memperlebar outlet vagina 3-4 cm g. pakai sarung tangan 5. Kontraksi 3-4 kali dalam 10 menit. DJJ tiap 5 menit selama 1 menit  asisten yang ngelakuin (inget: Laenec ga steril) 9. keluarkan lewat hidung. Bloody show 7. Mohon kerja sama 3. DM (makrosomia atau disproporsi kepala panggul) 2. Saya memerlukan kerja sama ibu agar proses kelahiran lancar. Salam dan perkenalan Selamat sore.Kala 2 1. Cuci tangan. Gunting epis g. saya dokter yang akan membantu kelahiran ibu. Lampu ginekologi  nyalakan c. Perineum menegang d. satu kali 20-40 detik. Menentukan waktu untuk meneran a. mengejan ke arah perut sekuat mungkin 8. dominasi fundus. Chlorin 0. Needle holder. tutup mulut. 3 linen steril  dipake abis pake gloves 1 di bawah buttock ibu. Periksa perineum rigid/nggak. nyebabin effacement serviks. Silakan lepas bawahan & celana dalam lalu tidur di meja litotomi. Sarung tangan o. Berdiri depan vulva 6. Ergometrin l. 1 dipegang buat nahan perineum e.5% 4. Pakai apron b. Kateter nelaton/logam m. Anus berdilatasi & membuka e. tangan bisa pegangan paha. needle. Fetoscope/stetoskop Laennec p. Klem lurus h. Oksitoksin 10 IU & syringe-nya k. Gunting jaringan untuk tali pusar i.

kita tekan di simfisis pubis. Tunggu putar paksi luar Setelah putar paksi luar  maneuver biparetal. Bapaknya bisa bantu stimulasi puting susu. menahan perineum untuk menghindari laserasi perineum Tangan kiri tahan kepala bayi di atas supaya nggak defleksi berlebihan Begitu kepala keluar. di posterior introitus vagina. sampai pundak Delivery bahu Ke bawah. diklem terus dipotong. Kalau ada. trus udah selese ngejan masuk lagi  belum lepas Ciri udah lepas:  perubahan bentuk & tinggi uterus (dari globuler jadi pear & naik)  tanda ahfeld (tali pusar memanjang)  ada semburan darah mendadak Tangan kiri tekan daerah fundus dorsokranial. lahirkan bahu posterior Delivery sisa badan Baringkan di atas perut ibu. kerasa ketukannya di tali pusat  Klein: pas ibu mengejan kalo tali pusatnya keluar. 12.11. 14. pegang kepala. Jempol tetep di fundus agak bawah. Periksa kotiledon di pars maternal (20-30 kotiledon). Periksa vasa di pars fetal. 16. 17. 13. lap muka bayi. leher. kalau ada yang putus mungkin itu vasa untuk plasenta lain. tangan kanan megang plasenta. dilandasi linen steril untuk ngelap badan kecuali telapak tangan. 18 . imunitas. Bersihkan kotiledon dengan kasa hidrofilik. 21. Massage fundus uteri Setelah plasenta keluar. IMD (inisiasi menyusui dini  utk bangun hubungan bayi dengan ibu. buang linen Periksa ada lilitan tali pusar atau nggak. yang gerak jari2nya aja. kalo masuk-keluar tali pusat  belum lepas  Strassman: diketuk fundus uteri ibunya  kalo belum lepas. posisi kepala bayi lebih rendah Klem 1 4-5 cm dari bayi Klem 2 diurut 2-3 cm dari klem 1. Tangan kanan dilapisi linen. lahirkan bahu anterior Ke atas. 15. suntik ergometrin di vastus lateral kanan agar uterus involusi (jika perlu). Tegangan/traksi tali pusar terkendali Cara periksa tali pusar udah lepas atau belum:  Kussner: tali pusar ditarik. Pijat uterus dengan ujung jari kiri.dll) Kasih tahu kondisi bayi & selamat ke ibu Tulis di rekam medis Kala 3 Manajemen Aktif 19. 18. Terus potong Klem 1 di bayi ganti klem disposable (klem tali pusat yang warna biru) Bayi letakkan pada dada ibu. Suntik oksitoksin ke vastus lateral kiri 20. Plasentanya ditarik ke bawah terus ke atas pake klem yang udah dipindahin ke introitus vagina Diputar pas udah mau keluar.

25. minta ibu menekuk kaki. face. Obat yang pernah diminum selama kehamilan g. menghadap lateral Situs/Lie: longitudinal. breech precentation  sacrum Leopold baru bisa mulai 28 minggu 19 . Informed consent 26. bilas. Keluhan kehamilan (sakit punggung karena perut tambah besar. breech. Penyakit yang pernah dialami (DM. tujuan. 27. ANC teratur? Kapan terakhir ANC? d. Cuci tangan: pake sabun. handukan atau pake alcohol. Saya perlu meraba2. oblique Presentasi: chepalic (vertex. edem/makin bengkak) e. hipertensi) f. ada tanda2 seperti bloody show dll atau nggak? 24. Minta ibu tiduran di atas meja periksa.ANTENATAL CARE Jadwal rutin ANC 1-28 minggu 28-36 minggu 36-40 minggu >40 minggu 1 x/bulan 2 x/bulan 1 x/minggu >1 x/minggu Gestational age Embryonal age = 2 minggu setelah gestational age HPL dihitung dari HPM terakhir  tanggal +7. Ga pake glove. concaf Posisi: nentuin di kanan atau kiri Posisi yang sering  PUKI (punggung kiri) Denominator: Presentasi Vertex  UUK. tahun +1 Perkiraan lahir 40 minggu Prosedur: 22. Anamnesis a. presentasi muka  dagu. baju bagian perut disingkapkan & tutup bagian tubuh bawah dengan selimut. Minta ibu berkemih dahulu. Kalau udah deket2 HPL. Berdiri di kanan. bulan -3. 28. shoulder Attitude: conveks (melengkung). transvers. GPA b. Jelaskan prosedur. brow). Salam dan perkenalan 23. Umur kehamilan (HPM terakhir) c. dan hasil yang diharapkan Saya akan melakukan pemeriksaan pada janin ibu. terasa tidak nyaman tapi tidak berbahaya bagi ibu dan janin ibu.

xyphoideus/umbilicus Taruh sisi lateral jari telunjuk kiri pada bagian atas fundus uteri untuk menentukan ketinggian. 30. Sampai di fundus. memastikan leopold 1 (bisa pula digoyangkan utk skrining udah masuk panggul apa belum) Leopold 4 34. hard. telapak tangan kanan kita diletakkan pada perut lateral kiri ibu. 5 detik berhenti. Bagian fetal di fundus bulat keras kepala bulat lunak buttock kosong posisi transversa Leopold 2 31. 5 detik itung  jumlah terus kali 4 Nentuin posisi ndengerin FHR  Kalau presentasi bokong  di atas umbilicus Kiri/kanan tergantung posisi punggung fetus  Kalau presentasi kepala  di bawah umbilicus Presentasi cephalic wajah: di dada Presentasi cephalic vertex: di punggung 39. 5 detik berhenti. normal 120-160 x/menit. Fundal height pakai meteran  estimasi umur gestational & berat Hitung dari simfisis pubis ke fundus tapi yang centimeter-nya dibalik biar nggak bias. Divergen: enganged Convergen: unenganged 38. Telapak tangan kiri kita diletakkan pada perut lateral kanan ibu. multiple Leopold 3 33. 20 . Lakukan deep pressure di pelvic inlet Di mana cephalic prominence? Presentasi vertex: cephalic prominence sejajar limb (small part) Presentasi wajah: cephalic prominence sejajar punggung (flat & elongated) 37. Mengukur fundal height berapa jari dari proc. Hitung: selama 25 detik. elongated Limb: small. Berdiri di kanan pasien. Sambil pegang arteri ibu untuk memastikan yang didengar FHR. soft. Pegang di bagian agak atas simfisis pubis dengan tangan kanan. caranya 5 detik itung. tekuk meteran & lihat cm-nya berapa. 5 detik itung. Dengan monoaural fetoscope. posisi ganti jadi menghadap kaki ibu 35.Leopold 1 29. Turunin tangan gantian kanan kiri Punggung: flat. Finger di segmen bawah rahim 36. Fetal Heart Rate FHR bisa didengar setelah 18 minggu. 32. bukan pulsasi ibu.

seperti susu basi. RPK: ada yang punya keluhan sama? f.( tinggi fundus -12) x 155 gram 40. ciri baunya amis kayak ikan. dan handuk 41. Kapan kontrol lagi 42. Cuci tangan: sabun. Anamnesis ginekologis a. discharge berbusa & hijau. Estimasi berat janin e. (tinggi fundus -11) x 155 gram Kalau belum enganged. Keluhan lain DD discharge vagina  Cervicitis GO: keluar seperti nanah. Estimasi kelahiran f. RPS 1) Status: menikah atau belum 2) Riwayat ginekologis: GPA 3) Riwayat menstruasi: siklus dan mens terakhir? 4) Pakai kontrasepsi d. frekuensi. DGNI (+) seperti biji kopi di intraselular.5). RPD: sudah pernah? e. dilihat pakai KOH 10 % ada pseudohifa 21 . DJJ normal/nggak c. gatal. Identitas: nama. bilas. konsistensi). vaginalis. Penjelasan ke ibu a. bau. dilihat pakai NaCl 0. Keluhan utama Cairan vagina: sejak kapan.leukosit PMN >30  Vaginosis bakterial Gadnerella vaginalis (Gram negatif)  rangsang kuman aerob di situ  pH jadi basa (>4. umur b. karakteristik (warna. Posisi bayi b.Tinggi fundus x 8 : 7 (dalam minggu) Kalau udah enganged. terutama pada pagi hari. jenis kelamin. leukosit PMN >30 Non GO: DGNI (-). pakai Gram ketemu clue cell Nanti di-bau-in dulu setelah lici kapas diusap ke vagina. terus periksa pH pakai kertas lakmus  Trikomoniasis Oleh T. Catat di medical record Tambahan: <20 bulan 20-<37 bulan 37-42 bulan >42 bulan Umur gestational Fetal weight aborsi preterm aterm postterm GYN EXAM (kasus IMS) 1. kuantitas. Pengukuran umur kehamilan d. & nyeri c.9% ada yang motil  Kandidiasis Kental. Greeting & perkenalan diri 2.

& berhenti Meletakkan duk steril : 1 di bawah pantat. tidur pada posisi lithotomy 7. Memposisikan & menyalakan lampu 9. masuk anus yang terakhir. untuk membersihkan e. Mangkok isi betadine/antiseptic Toilet vulva dalam f. Meminta pasien buka celana dalam. 1 yang berlubang di area vulva Melakukan kateterisasi (kalau belum berkemih). Mangkok isi NaCl 95% k. Speculum graves.5% chlorine untuk desinfeksi tingkat tinggi m. Tampontang/klem pean. Pakai apron. 4. 13. mengecek peralatan: a. kalau bukan IMS Periksa IMS h. 0. Air hangat c. 11. 15. 12. dari kanan medial sampai paha medial. . 14.3. 4 slide. Duk steril Toilet vulva luar d. Perineum di tepi meja periksa Pemeriksaan in speculo 8. kegunaan:  Dinding vagina: a) Kandidiasis  KOH b) Vaginosis bakteri  Gram  Ostium uteri eksterna: Cervicitis  Gram  Fornix posterior Trichomoniasis  langsung di bawah mikroskop karena udah ada NaCl i. 3 Lidi + kapas j. masuk & berhenti Kasa 2: pelangi 3x. Basin Cuci tangan & menggunakan sarung tangan secara aseptik Duduk di depan area genital Membersihkan vulva Pakai peyan dengan arah meminta untuk permudah visualisasi Kasa 1: dari depan turun. bentuk lingkaran. Tujuan  sedikit tidak nyaman tetapi tidak membahayakan 5. masukkan 3-4 cm kemudian diputar Inspeksi vulva dan area sekitar  Mons pubis persebaran rambut  Labia majora lesi pigmentasi pembesaran glandula  Labia minora peradangan 22 10. Silakan bila ingin BAK 6. minimal siapkan 2 ukuran b. Sarung tangan l. perlu dilakukan pemeriksaan alat kelamin. Informed consent & alasan2 Dari hasil anamnesis. Lisol. Klem ovarium g.

dilatasi. Speculum tetap dipegang waktu periksa lidi kapas.Clitoris Introitus discharge. nyeri  chancroid Multiple. atau tidak  OUE terlihat atau tidak. tepi meninggi. tidak nyeri  sifilis Ulcus bentuk tidak rapi. Pisahkan labia major dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri Jempol & jari tengah ekstensi. Melubrikasi tangan 24. Inspeksi a. Laporkan a. 21. Jari ketiga menekan ke posterior vagina lalu masuk bersama telunjuk hingga posterior fornix 27. Dinding vagina  Licin  Perdarahan  Discharge  inflamasi  Tumor b. Beri lubrikan dan masukkan  Minta pasien tarik napas  Tangan kiri di atas mons pubis dengan jempol dan telunjuk membuka labia minora  Tangan kanan memegang speculo. terus buka pelan2  Dikunci setelah sampai portio 18. Masukkan ke larutan 0. jempol menahan. Berdiri. dasarnya bersih.5% chlorine Bimanual examination 23. nggah usah diputar. putar 90o: adakah fistula. Vulva 23   . Tangan kanan di depan vulva & tangan kiri di regio suprapubis Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari tengah & telunjuk tangan kanan Ibu diminta tarik napas 25. Cerviks  Mencucu. dilatasi atau tidak  Warna  Perdarahan  Inflamasi  Discharge  Tanda2 carcinoma  Tanda Chadwick: cervix kebiruan karena dilatasi vena saat hamil  Adakah benang IUD 20. Kunci & bersihkan dinding vagina & cerviks (toilet vulva dalam) 19. dasarnya tidak bersih. dirotasi 90%. perdarahan pada dinding vagina bagian anterior posterior Kalau IMS. kalau belum pernah coitus jangan speculum 17. telunjuk di atas. kalau ada diambil  Ada tidaknya OUE Palpasi  Cysta bartholini Ulcus batas tegas. ada massa vesikel. jari lain fleksi 26. jari tengah di bawah  Kalau udah masuk 2/3. Unlock & remove speculum 22. Pilih speculum yang tepat & screw-nya. tumor. Sedikit kendorin. nyeri  herpes genitalis 16.

Cerviks  Cysta  OUE  Konsistensi cerviks d. konsistensi. cukup 3 tahun sekali >70 tahun jika dalam waktu 10 tahun terakhir. durasi 3 hari Trichomoniasis: metronidazol 2 gram dosis tunggal Vaginosis bakterial: metronidazol 500 mg selama 7 hari Cervicitis: GO: cefixime 400 mg single dose oral atau ceftriaxone 200mg IM Non GO: doxycicline 2 kali dosis 100 mg selama 7 hari atau tetracycline PAP SMEAR Dilakukan pada saat telah melakukan hubungan seksual <30 tahun 1 kali per tahun >30 tahun pertama-tama per tahun. 2 labelled object glass Untuk pemeriksaan 24 . Uterus  Posisi (ante/retro)  Ukuran  Mobile ( naik turun. tuba fallopi. Pakai apron b. Speculum grave g. Endocervix brush/ayre spatula h. b. Linen berlubang f. Meja & kursi periksa c. berarti nggak usah dilanjutin. ber-rugae  Tumor. Lampu ginekologi d. tangan bersarung tangan kobok2 di basin chlorine Lepas sarung tangan. 43. kanan kiri) e. ligamentum)  periksa ke arah fornix lateral  kaku atau tidak Masukkan semua alat ke larutan chlorine 0. Vagina  Dinding licin. & isi (padat/cair)  Bila berdenyut  hernia c. cuci tangan.28.ducreyi.4 juta IU Cancroid: azythromycin 1 gram oral dosis tunggal (H. 30. 3 kali berturut-turut pada pemeriksaan sebelumnya negatif. meminta pasien bangun dari meja ginekologis Matikan lampu Menyampaikan hasil Treatment:        Sifilis: IM dosis tunggal benzadil penilicillin 2. 31. Glove e. 29. tapi kalau 3 kali berturut-turut negatif. Adnexa (ovarium. rel kereta/ikan yang berderet) Herpes genitalis: acyclovir 5 x 200 mg selama 5-10 hari Kandidiasis: mikonazol 200 mg/hari suppositoria vaginal. Parametrium f.5% Sebelum dilepas. Alat a.

Rendam tangan berlapis gloves di larutan chlorine 0. Dekontaminasi dalam larutan chlorine 0. lepas gloves Cuci tangan dengan air mengalir Handuk 62. Kapan follow-up: kalau udah ada hasilnya IMPLANT 25 . jumlah pasangan >1 hari c. bleeding. Matikan lampu Counseling 63. & kondisi abnormal lain 54. Tanda2 cervicitis (kalau ada. masa. diskolorasi 52. Fiksasi dengan dicelup alcohol 90% 58. masa fragil. 46. Semua dismear endocervical brush  ratakan di slide dengan diputar spatula ayre  ratakan bagian eksoserviks di slide dengan diusap 2 kali di tempat yang berbeda 57. a. inspeksi area vulva perineum & meatus urethra Laporkan: lesi. 45. Finding & next action: nanti hasil PA bisa nunjukkan adanya gangguan pertumbuhan 64. Tidak melakukan sexual intercourse & irigasi vagina dalam 3 hari terakhir Sampaikan kalau sedikit nyeri Informed consent Minta pasien a. & dinding vagina Laporkan discharge. pakai duk berlubang Cek area genital. berhenti. Endocervical brush putar 360o Spatula ayre putar 180o. Surat rujukan ke PA 65. In speculo exam. Katakan telah selesai Post-action Management 60.5%. erosi. 48. Terlihat serviks. jangan menyentuh sekitar 56. drainasi. 49.5% dan ke tempat sampah 61. High risk bila <18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual. Larutan etanol 90% yang sudah diberi label Surat rujukan Jelaskan tujuan & prosedur Anamnesis singkat a. speculum bisa dikasih air hangat tapi jangan lubrikan Kalau ada cervicitis. obati dulu 12 minggu. Tanyakan pertama kali hubungan seks b. Duduk depan area genital Toilet vulva luar. Melepas underwear Minta pasien untuk berbaring dengan posisi litothomi Posisikan pasien & nyalakan lampu ginekologis Prosedur 50.44. 47. obati dulu 53. Cuci tangan & pakai gloves 51. Urinasi & cuci perineum sebelum pemeriksaan b. forniks. Keluarkan spekulum 59. Waktu ngeluarin. bisa ambil endocerviks dan ectoserviks 55. baru pap smear) d.

headache kronis? Severe sirosis hepar. estetika jelek (-) oral: murah. Cuci tangan. icterus. abnormal uterus bleeding. tumor hepar. Kapan terakhir mens? Waktu yg tepat: during menstrual period hingga 5-7 setelah menstruasi e. gangguan hormonal. Riwayat penyakit Breast cancer? Hipertensi. minta pasien berbaring. KB penjarangan: Short term (+) implant: tidak mengganggu hubungan seksual (-) implant: gangguan hormonal tapi tidak separah oral. Vaginal bleeding? f. thromboembolic. Durasi KB? g. Anamnesis a. efek samping jadi gemuk (-) kondom & diafragma: kurang manjur Long term (+) IUD: dominan progesteron  mempertebal mucuos. prosedur Mekanisme kerja implant: menebalkan cervical mucous & mengganggu siklus menstruasi 4. infeksi hepar. Nyalakan lampu ginekologis Alat:  Handuk  Glove  Cocher  Kasa  Mangkok isi betadin  Linen steril berlubang  Syringe  Lidocain 1% 3-5 ml tanpa efinefrin  Scalpel + pegangan  Trocar/inserter 26 . brain vascular disease. anomaly in heart coronary vessel.1. IUD bisa untuk 5-10 tahun & implant bisa tahan 6 tahun. Salam & perkenalan diri 2. bisa peradangan panggul KB penghentian: tubectomy 3. Udah menikah? b. nggak berefek hormonal (-) IUD: sensasi nggak nyaman saat coitus. Udah berhubungan seksual? Kapan terakhir berhubungan seksual? c. breast malignancy. acute liver disease. Menyusui bayi <6 minggu? (implant boleh 6 minggu setelah child birth) h. tangannya yang non dominan di abduksi & ekspose bagian volar tangannya 6. Tujuan. harus rajin minum. GPA? (implant nggak boleh kalau lagi hamil) d. Informed consent 5. mata/kulit kuning? Masalah blood clot pada kaki dan paru? Kontraindikasi: suspected pregnancy.

16. keluarkan plunger. tahan dengan plunger ketika trocar ditarik sampai tanda 2 (deket jarum). Tujuan d. arah kipas ke atas Cuci tangan & pakai sarung tangan Preparasi area dengan betadin 3x dari sentral ke perifer. & memar  Jangan angkat benda berat dulu  Jangan hubungan seks dalam 12 jam pertama  Coitus sebelum 3 bulan pakai kontrasepsi lain  Kontrol 5-7 hari atau lebih cepat kalau ada tanda2 infeksi  Kasih tau tipe implant.5% selama 10 menit Rendam & lepas gloves Cuci tangan & isi medical record Edukasi  Jaga tetap kering lukanya selama 4 hari  Lepas bandage setelah 2 hari  Mungkin akan nyeri. 11. 13.7. makanya pasang pas akhir menstruasi  Sedang menderita STD  Vaginal bleeding 27 . 1 cc di kanan. gambar pakai ballpoint. 15. Identitas b. Kontraindikasi  Hamil. bengkak. 19. 10. Lakukan hal yang sama utk tiap implant. 17. isi capsul dg implant. 14. 18. 8. lalu pasang linen berlubang Injeksi anestesi lokal Anestesi 1 cc di tengah. 12. Indikasi  Menunda kehamilan long term  Untuk ibu menyusui  Ibu yang nggak mau KB hormonal  Risiko STD rendah  Ibu yang berhasil dengan IUD sebelumnya e. kapan (bulan & tahun) lepas. 1 cc di kiri Subcutan. ke mana utk lepas IUD 1. tanggal insersi. Salam & perkenalan diri 2. Di trocar ada glaur (bagian datar yang tulisannya “10”) buat nandain bevel ada di atas Ada tanda 1 & 2  Pendorong/plunger  Implant  Klem mini Kalau mau. Riwayat GPA c. pasang bandages Rendam alat2 di basin berisi chlorine 0. Jarak tiap implant/silastik 15o Palpasi Remove linen Wiping dengan alcohol. Anamnesis a. 45-60o Scalpel 2 mm tegak lurus Masukkan trocar (30o) & plunger ke subcutan dengan posisi Glaur tetap di atas hingga tanda 1 (deket kita). aspirasi dulu. 9.

Basin berisi chlorin 0. Speculum h. 18. 10. 22. Povidone iodine f. 14.3. 21. ga usah preparasi vulva sama masang linen lagi Pilih speculum Speculum dimasukkan ke uterus Bersihkan vagina dengan klem ovary. 12. 23. 16.5% o. 9. 11. samarkan perdarahan Informed consent Berkemih dahulu Siapkan alat a. Peyan d. Handuk b. 19. Klem ovari i. jangan dimasukkan lebih dari 5 menit Pakai sarung tangan yang baru Lakukan preparasi vulva & struktur sekitar pakai peyan & kasa betadin Tutup dengan linen steril  tapi kalo tadi linennya ga dicabut. 13. Sonde uteri j. Tenaculum untuk fiksasi jam 1 & 11 k. sebelumnya kobok2 di basin chlorin Masukkan lengan IUD ke dalam inserternya tanpa glove sampai IUD nekuk. cervix lunak. 5. 6. Duk berlubang g. IUD set l. diidentifikasi dari discharge cerviks atau darah di sonde Arah kelengkungan sonde bergantung pada arah uterus Tanda biru sesuai kedalaman uterus menurut sonde 28 . Riwayat menstruasi Hari2 terakhir karena exclude kehamilan.  Discharge purulent  Keganasan ginek f. 4. 8. gunakan glove dengan metode open Toilet vulva luar In speculo sama seperti gyn exam untuk role out kontraindikasi Periksa bimanual untuk exclude peradangan Lepas sarung tangan. Lampu ginekologis Ibu diposisikan litotomi Minta ibu buka celana Nyalakan lampu ginek Cuci tangan pakai desinfektan. 7. 17. 15. Glove c. Kasa e. Gunting panjang untuk potong benang m. melingkar dari dalam keluar 3x dengan kasa + betadin atau dengan lisol supaya nggak bercak/mengganggu visualisasi Jepit tenaculum di bibir cervix di jam 11 & 1 atau 12 saja Sondekedalaman uterus. Klem buaya n. 20.

Taruh sonde di samping inserter. Kalau ada perdarahan. Indikasi. Tulis laporan di rekam medis 37. apa yang akan dilakukan & mengapa Ini harus dijahit untuk mencegah infeksi & mempercepat penyembuhan. Inserter juga dikeluarin sebagian sambil diputar2 supaya benangnya meluntir 28. Plunger dikeluarin 27. jenis kelamin. Sisipkan benang dengan klem buaya di fornix posterior 31. Edukasi  Bisa dilepas & fertile lagi  Keluar bercak selama 3 hari pertama  Tidak hubungan seksual selama 3 hari pertama  pertinggi kemungkinan cervicitis  Perubahan silklus mens setelah 3 bulan pertama  Pakai kontrasepsi lain pada 3 bulan pertama  Kontrol saat haid berikutnya  Kontrol lagi bila benang teraba  Kontrol rutin tiap 1 tahun Efek samping:  Bleeding  Leucorrhea  Nyeri dan terasa saat hubungan seks BEDAH  Simple Suturing. dari samping 29. di-dep dengan kasa pakai klem ovarium 33. tandai sesuai kedalaman uterus (dilihat dari discharge cerviks atau darah di sonde) 25. Matikan lampu 35. Masukkan dengan metode push plunger atau pull inserter 26. Bedah Tumor SIMPLE SUTURING  Anamnesis/riwayat medis  Umur. Ibu dipersilahkan pakai celana lagi 36. agak nyeri. Inserter dikeluarin 30. Lepas tenaculum 32. ras. tetapi akan diberi obat anestesi dulu 29 . 2. Cuci sarung tangan di basin chlorin. pekerjaan  Onset Perawatan luka tertutup < 8 jam Perawatan luka terbuka > 8 jam  Durasi  Rasa nyeri  Pernah suntik tetanus? 1.24. lepas sarung tangan 34. Sirkumsisi. Potong benang pakai gunting benang. Prosedur & risiko Nanti akan dijahit.

sekalian dibuka 30 . Sabun 3. agak sedikit nyeri 3.Risiko: ada bekas luka. google. Posisikan pasien 5. Sikat tangan steril. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown                   Cocher Kasa steril Comb Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis NaCl Perhidrol H2O2 Needle holder Cutting needle 4/8 Benang non absorbable 3/0 Gunting benang Klem hemostatis Kassa softratul di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Pastikan air nyala 2. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Persiapan alat: Untuk hand washing 1. cap. alkohol. Informed consent 4. Pakai baju bersih. mask 6. Pembersih kuku 4.

Tutup/ikat 14. Handukan a. tangan Palmar. Initial washing & liquid soap c. Transfer sikat. Anestesi subcutan Ambil jaringan lemak dengan tangan kiri.Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 8. Pakai d. Initial washing a. tangan kanan bersihkan luka pakai kasa yang dipegang pakai cocher. ulnar. Scrub. 11. kuku c. radial. Masuk ke ruang operasi 12. pegang di tampat sama d. Injeksi dengan tangan kanan sudut 45o. Pakai sarung tangan closed method Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai povidone iodine 3x dari sental ke perifer di sekeliling luka. Tutup kran dengan siku 11. Terus tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). Raba kerah c. grojog. dorsal. interdigiti. Membuka bungkus sikat steril 9. kalau nggak ada darah. 8. Pakai gaun raba dalam b. pembersih kuku. Cek air b. 10. dan sabun antiseptik cair c. Buka kran dengan siku b. Bilas f. Tuang NaCl. Buang e. Keringkan tangan satu-satu c. Luka di-tul-tul dengan perhidrol untuk bunuh bakteri anaerob 31 7. suntikkan anestesi. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis Bersihkan luka dengan NaCl. Pakai gown a. Aspirasi. Scrub a. Bilas d. Persiapan a. . Sabun taruh di sikat b. Tangan kiri bawa mangkok berisi NaCl. Buang pembersih kuku 10. Tangan diangkat e. Buang handuk 13. Ambil & bagi handuk b. Bersihkan kuku f. Siapkan sikat steril. 9.

12. Bersihkan lagi pakai NaCl, grojog. 13. Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting 14. Tangan kiri pegang pinset chirurgis (pegang kulit) & pinset anatomis (jemput jarum) 15. Masukkan benang ke kulit dengan posisi tegak lurus, lengan abduksi, posisi pronasi 16. Jumlah jahitan 2p, dengan p adalah panjang luka. Jarak jahitan pertama dari ujung luka = 0.25 cm Jarak tiap jahitan = 0.5 cm 17. Kalau ada perdarahan  di-dep  diklem  dijahit banting 18. Pakai sofratul, terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester, bentuk bingkai 19. Edukasi pasien (daily plan, medicamentosa, specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa), lepas jahitan 1 minggu (selain muka) atau 4-5 hari (muka)  Kenali tanda2 infeksi (gatal, keluar pus)  Tidak boleh kotor, tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral)  <5 tahun sebelumnya pernah suntik ATS  nggak usah suntik lagi, >5 tahun sebelumnya belum suntik ATS  nggak usah suntik lagi R/ Tab. As. Mef. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. Amox. 500 mg No XV S q8h

SIRKUMSISI 1. Salam, perkenalan. 2. Indikasi medis a. phymosis (preputium ga bisa ditarik ke proksimal) b. paraphymosis (preputium ga bisa dibalikin setelah ditarik) c. balanitis (radang pada glans penis) d. balanopostitis (radang pada glans dan preputium/kulit kulup) e. mencegah infeksi dan penyebarannya Indikasi non-medis: agama 3. Kontraindikasi a. hipospadia (arah pipis di bawah/bagian ventral) b. epispadia (arah pipis di atas/bagian dorsal) c. chordee (penis bengkok) d. webbed penis (ada jaringan yg menghubungkan skrotum dengan bagian dorsal penis) e. mikro penis (<2,5 SD) f. hemostasis abnormality (ada gangguan pendarahan) 4. Jelasin prosedur dan informed consent (ke anak dan orang tuanya). 5. Anaknya yg mau disirkumsisi disuruh pipis dulu. 32

6. Persiapan alat korentang untuk proteksi a. handuk b. gloves untuk disinfeksi a. cocher b. kassa steril c. mangkok berisi povidon iodine d. duk steril e. klem duk anestesi a. spet berisi lidocain 2% tanpa epinephrine (kalo epi bisa nekrosis) 2 ampul b. pinset cirurgis c. pinset anatomis untuk gunting preputium d. mosquito klem e. klem lurus 3 buah f. gunting jaringan jahit a. benang cat gut 3/0 b. benang cat gut 2/0 c. jarum 4/8 d. klem vasa e. sofratul f. kasa g. plester 7. Posisikan pasien supinasi, minta buka celananya. 8. Ganti baju bersih, lepaskan aksesoris di tangan. 9. Prosedur cuci tangan aspetik. 10. Keringkan, pasang gloves. 11. Lakukan prosedur antiseptik pada pasien. Dengan menggunakan cocher, kassa + povidon iodine  bersihkan mulai dari ujung penis sampai ke pangkal – suprapubik – medial paha. 12. Tutup dengan linen steril berlubang. 13. Anastesi (block). Menembus fascia Buck.  Spet berisi lidocaine diinjeksi di bagian proksimal penis. Masukkan 90 derajat di fascia Buck.  Aspirasi. Injeksi 1 cc.  Miring 30 derajat kanan. Aspirasi lagi. Injeksi 1-2 cc.  Miring 30 derajat kiri. Aspirasi. Injeksi 1-2 cc  Ciri udah masuk fascia Buck a. sensasi menembus kertas b. kalau diangkat ikut naik c. kalau diinjeksi ga ada indurasi 14. Tunggu 1-2 menit. Tes efek anastesi dengan dicubit preputiumnya. 33

15. Pisahkan preputium dari glans.  Tangan kiri menarik preputium, tangan kanan megang kassa + povidon iodine memisahkan preputium, atau  Klem teknik: menggunakan mosquito klem. 16. Bersihkan smegma. Preputium ditarik ke belakang, bersihkan smegma dengan kassa + povidon iodine. Bersihkan dari distal ke proksimal. 17. Tandain daerah insisi: pake pinset cirurgis, 2-4 mm proksimal dari sulcus coronaries, melingkar searah jarum jam (3-4 titik cukup). 18. Klem preputium di arah jam 11 – 1 - 6  ditarik ke distal  jahit di arah jam 12 (jahitan control) jahitan di klem mosquito, lengkungan mosquito menghadap ke atas (benang 3/0) 19. Jahit frenulum diarah jam 6  figure of eight, (benang 2/0) 20. Potong preputium searah garis marking, ke arah kanan-kiri, sampai frenulumnya terpapar, potong di sepanjang sulcus coronarius (sebenernya potong kulitnya baru mukosanya). 21. Rapihkan guntingannya, lakukan bleeding control. 22. Kalau ada bleeding di depth  kalau ga bisa  klem dg klem vasa  jahit 23. Lakukan additional hecting di 10-2-4-8, jahitan seperti jahitan control (benang 3/0) 24. Dicek apakah ada bleeding 25. Pasang sofkratul mengeliling  kassa sirkular (pake plester dikit aja)  lepas duk  gamma bandage (pake kassa lalu direkatkan ke kulit dengan plester) 26. Edukasi a. Jangan basah b. Kurangi aktifitas, kurangi makanan mengandung protein c. Ganti perbannya, control 2-3 hari setelahnya d. Antibiotik (amoxicillin 500 mg s.3.d.d.1) & antinyeri (Paracetamol 500mg s.p.r.n 3.d.d.1)

BEDAH TUMOR Sepertinya nggak pake anamnesis & Px, tapi gapapa-lah biar tau…  Anamnesis/riwayat medis  Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan  Durasi  Onset  Progresi (pembesaran yang cepat + nyeri  inflamasi; pembesaran progresif  malignansi)  Rasa nyeri  Pemeriksaan fisik/lokal  Inspeksi  Lokasi  Jumlah: single, multiple  Ukuran & bentuk: spherical, ovoid pyriform, irregular  Permukaan: lobulasi (lipoma), kasar & irregular (verucca)  Tepi: tajam, round, regular/iregular  Warna  Pulsasi yang tampak Lipoma: lokasi, single/multiple, massa berbentuk discoid, permukaan lobulasi, tepi reguler, warna seperti warna kulit, tidak tampak pulsasi.

34

ukuran. masa akan tampak lebih jelas. Verucca: lokasi. batas tegas. Informed consent 23.  Indikasi: efek tekanan. berbatas tegas. Risiko: ada bekas luka. tidak tampak pulsasi.. kosmetik  Akan dilakukan pengangkatan tumor 21. & tepinya  Konsistensi: soft/lunak (lipoma)  Fluktuasi  Transluminasi  Adanya pulsasi  Mobilitas dari benjolan Lipoma: berlobus & semikistik. bentuk. apa yang akan dilakukan & mengapa  Ada benjolan. pak/bu. Pakai baju bersih 25. dan umumnya tidak nyeri. Cek alat di meja steril  Korentang  Taplak hijau  Handuk  Sarung tangan steril  Gown            Cocher Kasa steril Comb Alkohol Povidone iodine Linen berlubang steril Klem duk Disposable syringe Lidocaine 1% 2 ml Pinset anatomis & chirurgis Surgical blade ukuran 10 35 . lalu dijahit. papula terkadang ada celah pada permukaannya. Indikasi. single/multiple. 20. diameter 1-10 mm. Palpasi  Temperatur/suhu  Rasa nyeri  Konfirmasi lokasi. Verucca: teraba kenyal pada kulit atau keras pada telapak tangan/kaki. agak sedikit nyeri 22. Prosedur & risiko Akan dibuat irisan. ini namanya lipoma/verucca. tidak ada fluktuasi. permukaan. berwarna merah atau coklat. & umumnya tidak nyeri. ada yang bentuk bunga kol. mobile. Posisikan pasien 24. Pada pencubitan kulit. benjolan diambil.

. Geser meja pake kaki. Sikat tangan steril. sekalian dibuka Proteksi diri  Topi  Masker  Goggles  Sepatu boots 15. Initial washing & liquid soap i. Persiapan d. Tangan diangkat k. Buka kran dengan siku h. Pembersih kuku 8. Persiapan alat: Untuk hand washing 5. benang Dekat pasien  Bengkok untuk kasa Pastikan taplak oke. Cek air e. dan sabun antiseptik cair f. Kalau taplaknya nempel sama benda lain. Siapkan sikat steril. Buang pembersih kuku 17. pembersih kuku. Bilas j. alkohol.         Scalpel/handle ukuran 3 atau 4 Tissue retraktor Gunting lengkung Klem mosquito Forsep jaringan (Allis) Needle holder Round & cutting needle Catgut 3/0 & benang nilon Gunting benang di meja non steril  Plester  Gunting plester  potong plester  Cadangan povidone iodine. Membuka bungkus sikat steril 16. Kalau ada bagian meja yang kebuka. minta ganti taplak aja. Scrub g. Pastikan air nyala 6. Sabun 7. Initial washing g. Bersihkan kuku l. biarin aja. Sabun taruh di sikat 36 .

sampai indurasi. interdigiti. Insisi linier sedikit lebih kecil dari diameter tumor (lipoma) atau 3:1 untuk hindari ear dog (verucca). tutup dengan duk berlubang (duk bisa di-klem). sampai indurasi. Kalau ada perdarahan. Scrub. Pakai h. Bilas l. tangan kanan megang clamp. Diseksi (lipoma only)  Diseksi tumpul: klem mosquito  Diseksi tajam: gunting jaringan yang lengkung  Telusuri kapsul lipoma Klo veruca  diseksi tajam: pake blade 32. Tutup/ikat 21. terus yang bagian atas diputar)  lipoma only 30. Tangan kanan insisi. 15-30 derajat. scalpel nomer 3 atau 4 3. Pegang pisau seperti pegang pensil 4. Ambil & bagi handuk e. Pakai sarung tangan closed method 26. Tekan dg kassa buat ngurangi darah habis insisi 8. Terus povidone iodine 3x. pake clamp/needle holder. Pakai gaun raba dalam f. megang kulit verucca pakai pinset chirurgis 5. Irisan kulit 1. Raba kerah g. Pakai gown e. Masuk ke ruang operasi 19. Pasang benang terserap/catgut pada jarum round 37 . Transfer sikat. Buang handuk 20. 2 jari kiri fiksasi kulit 7. Anestesi infiltrasi Lipoma: irisan linier  anestesi intracutan. Sterilkan lapangan operasi pakai cocher Pakai alkohol 3x dari sental ke perifer. Buang k. ke 4 arah. 27. muterin si elips 28. Handukan d. Ikuti garis Langer 6. radial. tangan Palmar. Angkat tumor  Lipoma sampai kapsul diambil pake Allis 33. dorsal. Cek anestesi lokal Pake pinset chirurgis 29. tunggu kering. Masukin retraktor (pertama satu arah.h. 15-30 derajat. Keringkan tangan satu-satu f. pegang di tampat sama j. kuku i. Pisau nomer 10. 2. Tangan kiri megang pegangan blade. ke 4 arah Verucca: irisan 3:1  anestesi intracutan. ligasi (yang klemnya dibanting) 9. ulnar. Tutup kran dengan siku 18. Aksis irisan sesuai garis kulit 31. Pasang scalpel.

lepas jahitan 1 minggu  Kenali tanda2 infeksi (gatal. 500 mg No XV S q8h Kesimpulan: Lipoma only -insisi linier -pakai tissue retractor -diseksi tumpul/tajam Verruca only -insisi 3 : 1 -under cutting 38 .34. Lepas tissue retractor. 500 mg No XV S q8h prn R/ Tab. medicamentosa. terus jahit pakai benang terserap dengan jarum round 36. bentuk bingkai 38. kalau masih  hemostatic clamp dibanting  ligasi dengan benang terserap 3/0 35. under cutting palai scalpel/gunting  verucca only 37. Perdarahan di-deb pakai kassa yang dipegang pakai cocher. Edukasi pasien (daily plan. As. specific plan)  Kontrol 3 hari (ganti kasa). keluar pus)  Tidak boleh kotor. terus kassa steril Lepas duk Lepas sarung tangan Pasang 4 plester. Jahit cutan Pasang benang tidak terserap/nilon pada jarum cutting Lipoma  dari ujung ke ujung Verruca  dari tengah Kalau ada dog ear. lampirkan form pengiriman (lipoma only) Masukkan alat ke air chlorine 0. Mef. Spesimen masuk larutan fiksasi. Amox. Pakai sofratul. Jahit subcutan  lipoma only. tidak boleh kena air  Obat analgesik (asam mefenamat & amox oral) R/ Tab. Klo veruca kalo dalem baru jait subkutan.5 % & cuci tangan 39.

placenta previa. 1 untuk alas. Personal protection/general precaution Cuci tangan. 1 untuk nerima bayi 8. Kateter. Peralatan: radiant warmer/table warmer. prolonged kala 2 (>2 jam). EKG. Persiapkan 1 lagi personel ahli 5. pakai glove. Linen bersih. & hangat minimal 3 buah: 1 shoulder roll. chorioamnionitis c. Peralatan a. 7. prolonged labour (>24 jam). DresBand. hipertensi (pregnancy/kronis). Antisipasi faktor risiko a. Informed consent 4. IUGR 3. anemia. dinyalain. kering. infeksi b. dibantu dengan alat. iv line. Fetal: fetal distress. Suction devise 39 . Antepartum: diabetes.EMERGENCY Neores. CPR. lembut. Intrapartum: PROM (>18 jam sebelum kala 2). 6. ET. Defib NEONATAL RESUSCITATION 1. Perkenalan diri 2.

& mask 1) Bag 2) Mask 3) Sumber oksigen 5 L/menit 100% c. Syringe insulin untuk injeksi epinephrine e. Bernapas/menangis kah? 13. napas.01-0. tepuk telapak kaki) Reposisi 17. 4 mm 2.1) bulb syringe 2) mechanical suction 3) suction catheter 5F. 0.03 ml/kgBB epinephrine lewat vena umbilicalis f. Nyalakan oksigen 5 L/menit PROSEDUR Tanyakan 10. Tonus otot baik kah?  Bebas mekonium: Kalau umur gestasi. Bebas mekonium kah? 12. Bag. 14 F Pilih yang nomor 12 F atau 14 F untuk mekonium b. Keringkan Stimulasi (gosok punggung sekalian ambil linen yang buat ngeringin. 00  bayi sangat kurang bulan Ukuran no.5 mm BB <1000 kg atau usia <28 minggu 3 mm BB 1000-2000 kg atau usia 28-34 minggu 3.5. 0  bayi kurang bulan Ukuran no. 12 F. lurus Ukuran no. 16. 8F.5 mm BB 2000-3000 kg atau usia 34-38 minggu 4 mm BB >3000 kg atau usia >38 minggu Rumus kedalaman pemasukan ET = BB anak dalam kg + 6 cm 3) Stylet d. 3. Posisikan kepala bayi & buka airway Suction mulut dulu baru hidung. Kalau hidung dulu di-suction  ada reflex nafas  cairan yang di mulut bayi nanti malah ikut kehisap. 1  bayi cukup bulan 2) ET dengan diameter 2.5. 3. valve. & tonus otot baik  taruh di table warmer  routine care (warm. airway. At term kah? 11. Hangatkan 15. keringkan)  asses warna Kalau ada yang tidak  initial step 14. 10F. Stetoskop 9. Jam g. Peralatan intubasi 1) Laryngoscope dengan extra set baterai & lampu Blade Muller. Beri O2 bila perlu 40 .

Bila tidak vigorous a. 2. Warna kulit 26.. Apply suction saat ET ditarik f. good muscle tone 22. Respirasi/menangis? 19. hitung dalam 6 detik terus dikaliin 10 20. three. HR > 100 bpm. two. two. dan hidung. Gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut b. Detak jantung. baru hidung Jari 1. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. 3 pegang mask. Kalau warna cyanosis (only)  free flow O2 selama 30 detik Evaluation setelah 30 detik free flow O2 a. Respirasi b. jari 4 & 5 angkat dagu Tahan rim mask e.Evaluasi Dari awal sampai evaluasi: 30 detik 18. breath. Test bag & mask d. Kalau vocal cord nggak kelihatan  gunakan suction catheter 12 F atau 14 F untuk bersihkan mulut & pharynx posterior sehingga glottis dapat divisualisasi* d.. mulut. Kalau HR < 100x or apnea VTP a. Evaluasi: respirasi. Lakukan selama 30 detik. Frekuensi. Kalau vocal cord udah kelihatan  insert ET yang dihubungkan dengan suction devise tertentu e. Bila bayi vigorous  initial step  gunakan bulb syringe 12 F atau 14 F suction catheter utk mulut & hidung 24.. Tepat waktu Evaluasi setelah 30 detik ventilasi 41 . Warna kulit  Ada mekonium: 21. g. dan irama PPV Laju 40-60 kali/menit. Tekan bag f. Lanjutkan ke initial step (suction mulut & hidung pake bub syringe) g. three. kalau semua bagus  observational care (perawatan tali pusar. warna 23. Bila ada meconium pada cairan amnion. Pilih device & instrumen b... Insert laryngoscope c. katakan breath. tekanan. jadi cuma 20x ventilasi. Pilih bag dan hubungkan dengan sumber oksigen yang mampu menghantarkan 90-100% c. HR. Posisi 1) Kepala bayi slightly extended 2) Posisi peresusitasi pada posisi kepala bayi 3) Pegang mask dengan tangan kiri dan bag dengan tangan kanan 4) Rim mask mengcover dagu. selimuti bayi) Hasil evaluasi  Kalau ada yang jelek: 25. Setelah initial care. bayi vigorous/tidak? Vigorous: strong respiration effort. tetapi tidak mata Tutup dagu..

One and two and three and breath. Tentukan lokasi & lakukan kompresi dada 1/3 lower part processus xiphoideus. breathing/crying. perawatan tali pusar. Tepat waktu Evaluation setelah 30 detik kompresi dada + VTP a. Spray alkohol c. mask d.5 detik kompresi dada & 0. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Warna kulit 27. pink)  post-resuscitation care (gradually diminish VTP. e. yang chest compression menghadap bayi b. kedalaman 1/3 dinding anteroposterior c. Kalau lagi-lagi HR masih < 60x/menit  kasih epinephrine (bisa diulangi sampai 3x) terus lanjut chest compression + VTP Evaluation setelah 30 detik epinephrine + kompresi dada + VTP a.5 detik ventilasi) Lakukan selama 30 detik. Cara melakukan prosedur Tekan dengan 2 jempol atau dengan jari telunjuk + jari tengah d. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Persiapan alat a. selimutin) ENDOTRACHEAL INTUBATION Indikasi pemasangan ET:  Menjaga patensi jalan napas  Mengurangi risiko terjadinya aspirasi  Melakukan suction trachea  Melakukan pemberian oksigen konsentrasi tinggi  Melakukan administrasi obat tertentu  Memelihara pengembangan paru yang adekuat (volum tidal adekuat 10-15 ml/kgBB/menit  10-12 kali/menit) Kontraindikasi:  Trauma maxillofacial 1. Oksigen 10-12 L/menit konsentrasi 100% 42 .. Warna kulit 29. HR: palpasi cord dan auskultasi dada selama 6 detik c. Kalau udah oke (HR>100x/menit. Respirasi b. valve. Ratio. Warna kulit 28. frekuensi Kompresi dada : ventilasi = 3 : 1 (90 kompresi dada & 30 ventilasi dalam 1 menit) 1 siklus 2 detik (1. Bila setelah dievaluasi lagi: HR <60x/menit  chest compression + VTP a. Respirasi b. Bag. Posisi resusitator Yang ventilasi di kranial bayi. Gloves b. jadi cuma 15 siklus.a. Respirasi b.

2. 3. 4.

5. 6.

7.

8. 9.

10. 11.

12.

13. 14. 15.

e. ET sesuai ukuran kelingking, biasanya adult male ukuran 8  sediain 3 ET : ukuran 7.5, 8, 8.5, adult female ukuran 7  6.5, 7, 7.5 cek balon & konektor, dikembangkan lalu dikempiskan lagi dikasih lubrikan water soluble, taruh di kanan pasien f. Spet 10 ml, dicoba ke ET g. Laryngoscope ukuran 3, satukan blade & handle, coba nyala atau nggak Machintos, bengkok  diletakin ujungnya di vallecula glossoepiglotica Muller, lurus  di bawah epiglottis  biasanya pada neonatus h. Stylet i. Suction j. Stetoskop k. Plester l. Oropharyngal airway Pakai glove Posisi di kranial pasien Periksa ada tidaknya cedera cervical Trias: penurunan kesadaran, multiple trauma, dan jejas di atas clavicula krepitasi di bagian leher belakang, otorrhea/rhinorrhea, jatuh lebih dari 2x ketinggian badan Triple maneuver, kalau ada cedera servikal pasang collar neck, jaw thrust Cross finger: jempol kiri menekan mandibula dari dalam, jari telunjuk menekan palatum durum Corpus alienum  finger swab Cairan  suction Pre-oksigenasi dengan bag-valve-mask 10-12 L/menit; 10-12 kali/menit  selama 2-3 menit atau hingga saturasi 95 % Jempol & jari telunjuk pegang mask Jari tengah, manis, & kelingking pegang mandibula Kalau ada refleks muntah  hentikan ventilasi, suction, dan segera pasang ET Reposisi kepala sniffing position (agak ekstensi) Pasang laryngoscope a. Pertahankan pembukaan mulut dari luar dengan tangan kanan b. Pegang laryngoscope dengan tangan kiri, masukkan dari sisi kanan tanpa menekan gigi c. Susuri sampai pangkal lidah dari sebelah kanan, digeser ke kiri d. Sampai ketemu epiglottis, masukin ke vallecula, sampai nemu vocal cord e. Masukkan ET hingga mencapai ukuran 20-22 Male 23 cm, perempuan 21 cm dari mulut, lihat garisnya ET ntar terletak antara pertengahan laryng sampai bifurcatio carina Lakukan nomer 10 dalam 15-30 detik atau tahan napas. Kalau tidak cukup, segera ulangi, oksigenasi terlebih dahulu Inflasi balon dengan syringe berisi udara 10-20 ml Overinflate  nekrosis Terlalu lemah  naik turun Amati pengembangan paru dengan bagging, minta asisten oksigenasi, terus kita auskultasi Apeks, basis  vesicular Epigastrium  nggak kedengaran, kalau ada suara berarti salah masuk Periksa kanan & kiri Fiksasi ET dengan plester mirip gamma di tulang2 keras, ke arah dekat ventilator berada Pasang OPA (mayo/goudel), jadi ET nggak kegigit kalau pasien tiba2 sadar Sambungkan ke ventilator untuk maintain volum tidal 10-15 ml/kgBB/menit

IV LINE 43

. 1. Indikasi, anatomi, prosedur teknik Indikasi:  Memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian  Mengganti cairan yang hilang, menghindari dehidrasi  Memasukkan obat (sebagian besar berupa antibiotik)  Memperbaiki atau mencegah terjadinya gangguan cairan dan elektrolit tubuh Karena langsung masuk aliran darah bisa nyebabin:  Masuknya organisme penyebab infeksi  Masuknya benda asing (udara  emboli)  Alat & cairan bisa bikin iritasi Kontraindikasi:  Lokasi yang lebih distal dari lokasi penyuntikan sebelumnya  Sklerosis/pengerasan vena  Infiltrate site atau phlebotic vessels  Memar, nyeri, infeksi  Percabangan vena  Lokasi katup vena  DVT, penyakit katup vena Tujuan utama resusitasi pada pasien kritis (kurang perfusi jaringan  metabolisme anaerob & asidosis laktat): mengembalikan perfusi jaringan/oksigenasi selular & mempertahankan fungsi organ tubuh melalui resusitasi cairan. 2. Informed consent  Prosedur & risiko  Permisi Selamat siang, Pak/Bu. Saya dokter jaga. Saya akan melakukan pemasangan infus di lengan ibu. Infus ini dipasang untuk mengganti cairan tubuh ibu yang hilang. Apakah ibu bersedia?  Posisikan pasien  Bebaskan lokasi penyuntikan, pilih, & periksa lokasi penyuntikan Cuci tangan 6 step pakai alkohol 3. Persiapan alat Antiseptik: agen untuk menghilangkan mikroflora di kulit  alkohol & yodium Disinfektan: agen untuk menghilangkan mikroflora di benda mati  Over the needle catheter  vasa superficialis (+) kanulasi vasa hanya dalam 1 langkah sederhana (-) ujung kateter cenderung mudah rusak, merusak endotel vaskular  phlebitis & trombosis Ukuran kateter (merknya abbocath): 16 abu2 muda bedah mayor & trauma 18 ijo transfusi darah, produk darah, & obat-obat kental 44

20 pink pasien dewasa 22 biru anak & orang tua 24 neonatus 26 abu2 tua  Jenis cairan: 1) Kristaloid Dapat menembus membran semipermeabel & berubah jadi kristal. 25% tetap di ruang interstisial, 75% ekstravasasi ke ruang interstitium. (+) murah & mudah diperoleh (-) bisa edema, volum harus ditambah supaya ekuivalen dgn koloid a. Cairan hipotonik: dekstrosa 5%, NS 0.5% b. Cairan isotonik RL: syok hemoragik, meminimalkan asidosis 0,9% saline: acute brain injury & syok hemoragik c. Cairan hipertonik, buat penelitian NS 3%, 6%, 7.5% 2) Koloid a. Koloid protein (+) dibutuhkan lebih sedikit (-) mahal, tidak memulihkan rongga interstisial, bisa anafilaksi  Albumin serum (5% & 25%)  Solusi gelatin (plasmagel, haemacell, gellifundol) b. Koloid nonprotein (+) mahal, tapi masih lebih murah daripada albumin (-) koagulopati, anafilkasi, gangguan fungsi ginjal berupa cedera tubular  Starches  Dekstran 40%, 70% 3) Darah Biasanya dalam bentuk paket RBC. Biar aman: 1-2 unit darah O-Rh negatif >1-2 unit: dihangatkan dulu 4) Komponen darah Whole blood, labile blood component, & bahan medik turunan dari plasma. D5W : glukosa RL : Na, Cl, laktase D5W/RL: glukosa, Na, Cl, laktase 0,9% NaCl, 6% HES, 5% albumin, 25% albumin: Na, Cl Peralatan:  Sarung tangan bersih  Cairan infus/plabot 500 ml  Infus set  Penyangga infus  Alas yang terbuat dari plastik  Bengkok 45

tanpa/sedikit cabang  Superficial  Bukan di area fleksi  Tdk rapuh Sterilisasi: mencegah masuknya organisme  phlebitis. & tepuk ringan di atas vena. tutup regulator  Buka outflow botol infus. Botol di tangan kiri & lebih rendah dari spike. terus digantung  Cuci tangan  Pakai sarung tangan bersih a. gunting  Wadah tempat benda tajam 4. Teknis a. turunkan sudut kanula dg kulit Dorong kanula perlahan Dorong bagian nilon jarum sambil menarik bagian jarum stainless perlahan  flashback nampak di sepanjang shaft kanula 46 . minta pasien genggam & buka genggaman bergantian.  Gantung ke penyangga infus  Isi drip chamber sampai ½  Buka regulator. Pungsi vena dengan benar  Buka tutup abbocath  Stabilkan vena dg meregangkan kulit. posisikan menghadap atas.  Tusuk lubang outflow dengan spike. tunggu 30 detik. Persiapan  Letakkan lembaran alas di bawah tangan pasien  Keluarkan perangkat infus dari wadah. periksa spike & tabung. lebih rendah dari jantung Urut ekstremitas dari distal ke proksimal. Tourniquet  Kapas direndam alkohol  Pinset chirurgis  Jarum infus steril (abbocath)  Kassa dalam wadah steril  Plester. Identifikasi lokasi vena + periksa lokasi penyuntikan  Tangan non dominan  Bagian distal. paling distal dari jantung  Vena lurus. tusuk dg jarum IV bevel menghadap ke atas. dari samping vena masukkan kanula dg sudut 15-300  Tunggu flashback ke ruang flashback jarum  Posisikan alat. bakteremia. jangan dipalpasi lagi b.  Pasang torniquet 10-20 cm dari vena yang akan disuntik  Bersihkan dengan alkohol arah melingkar keluar. atur pemutar agar cairan infus mengisi pipa infus & tidak ada gelembung udara  Tutup regulator. sepsis  Identifikasi vena.

sayu. Cari asisten 7. Maintain aseptic procedure 5. koma Tekanan darah sistolik <60 mmHg Sianosis Facies cholerica (pucat. layu) Vox cholerica (suara parau) -1 umur 50-60 tahun -2 umur >60 tahun Rumus kebutuhan cairan = skor/15 x 10% x kgBB x 1 liter Skor <3 & syok (-)  oral Skor >3 & syok (+)  intravena 47 . bengkak sekitar infus Skor dehidrasi menurut Daldiyono 1 Kesadaran apatis Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg Frekuensi nadi >120 x/menit Frekuensi napas >30 x/menit Ekstremitas dingin Rasa haus/muntah Turgor kulit menurun Washer woman’s hand 2 Kesadaran somnolen. Postprocedure management & edukasi  Jangan banyak gerak tangan yang diinfus  Jangan ditarik2  Jaga tetap kering & bersih  Ditaruh lebih tinggi  Bilang kalau mau abis & kalau ada hematom. maintenance: 20 tpm  Buang benda tajam ke dalam wadah  Lepas sarung tangan  Cuci tangan  Catat prosedur di rekam medis d. Universal precaution 6. stupor. Adjust the fluid flow  Atur aliran cairan.Mampatkan vena yang dekat dg ujung kanula dg memberi tekanan langsung sebelum menarik keluar jarum bagian nilon  menghindari hilangnya darah  Pasang kanula pada botol infus  Lepas tourniquet  Biarkan cairan mengalir dg membuka regulator (digrojog) c. Secure iv line  Tutup luka dg kassa dibentuk butterfly/Gama bandage d. kemerahan.

5x 1. anatomi relevan. 48 .5x Shock Apapun Shock (takikardi. Informed concent  Prosedur & risiko Pagi pak. Prosedur ini memang tidak nyaman. Kami berusaha melakukan semaksimal mungkin untuk mengurangi rasa tidak nyaman. karena bapak tidak bisa mengeluarkan urin.5 jam masukkan 1. tapi demi kebaikan bapak. hipotensi. prosedur Indikasi:  Men-drain retensi urin (pasien mau kencing tapi ga bisa. Lakukan kalau Hb <7 Makro dpm 20 dpm  3 Mikro dpm 60 dpm  1 Shock Hemorrhagic Hilang x ml. oliguri)  20-30 cc/kgBB/jam kristaloid.5 jam masukkan 1. kalo diperkusi redup)  Irigasi kandung kemih  Mengukur volume urin output  Mengambil sampel pemeriksaan urin  Memasukkan obat/kontras radiografi Kontraindikasi:  Perdarahan meatal  Hematoma perineal/saddle sign mungkin ruptur uretra  Floating prostat Komplikasi: UTI 2. Indikasi.Anuria itu kalau <50 cc dalam 12 jam Transfusion 15 dpm  drop factor 4 Drip chamber terdiri dari 2 bilik dengan filter. setelah 1 jam nggak ada perbaikan  10-20 cc/kgBB/jam koloid Maintenance Dewasa 50 cc/kgBB/24 jam Anak 10 kg I 100cc/kgBB/24 jam 10 kg II 50 cc/kgBB/24 jam 10 kg III 20 cc/kgBB/24 jam Tpm = jmlh cairan/(jam x drop factor) KATETER 1. pakai kristaloid 3x. kami akan memasangkan selang ke dalam alat kelamin bapak. 2 jam pertama 0.

Kalau bapak bersedia. tiduran & pakai selimut. Prosedur persiapan  Korentang  Taplak hijau Steril yang ada bungkus  Sarung tangan  Foley kateter  Syringe tanpa jarum untuk lubrikan  Syringe berjarum untuk balloning  Syringe tanpa jarum untuk spulling  Urine bag Steril yang tidak ada bungkus  Duk berlubang  Handuk  Mangkok isi betadin  Mangkok isi aquades  Kasa steril  Peyan  Pinset anatomis Nonsteril  Plester  Gunting  Jel anestesi KY (lubrikan larut air) Nonsteril dekat pasien  kidney bowl 49 .  Permisi  Posisikan pasien 3. silakan lepas pakaian bagian bawah & celana dalam.

Kateter Foley (0. pakai 16 F. terus disambung. buka plastik dalam kateter ♂ pegang penis arah tegak lurus tubuh pasien. atur posisi penis paralel thd tubuh. Balloning pakai syringe isi air (5-10 ml). Tarik sedikit. balon 5 ml tergantung ukuran. Catat volumenya. ulangi prosedur Pasang kassa yang ada betadin di ujung glans penis nutupin kateter juga. ditekan terus ditampung di bengkok. saya akan masukkan gel untuk melicinkan” Terus masukin gel.33 mm = 1 French = 1 Charriere). Fungsi utama kandung kemih: storage & voiding Uretra pria panjang 17-25 cm. Teknis a. cuci tangan aseptik Pakai handuk Pakai sarung tangan steril Ambil peyan. Kateter diganti setelah 2 minggu. 50 . terus tutup OUE pake tangan biar gel nggak keluar c. Urin bag ditutup dg cara ditekan. Buka gloves. Waktu di urethra pars membranaceae. pastikan nggak merucut. celupin ke betadin. Pompa balon kateter dg volum sesuai & pasang urine bag. Lepas duk steril. masukkan perlahan dg tekanan lembut sambil minta pasien ambil napas dalam untuk relaksasi otot sphincter. Kateter dileletin ke gel. Gel taruh di tangan antara jempol & jari. Kalau udah masuk. karena obstruksi atau kontraktilitas ↓ 4. ada aliran urin. ambil kassa. Fiksasi kateter di paha bagian atas. lalu bersihkan Bersihkan 3x central (OUE) ke perifer sampe scrotum Tutup dengan duk b. Kalau ada urin. diameter 8 mm Retensi urin karena: ketidakmampuan kandung kemih mengosongkan urin. urine bag keluar lewat lubang duk steril. Kalau nggak urin keluar. ♀ pegang labium major Pembersihan vulva dari rima pudendi metode pelangi 3x Yang terakhir lewat rima pudendi sampai ke anus. Preparasi aseptik Mencuci tangan dg sabun & air mengalir. Pak N***: fiksasi penis Pak T******: nggak usah difiksasi Buang yang kotor2. diameter 8-9 mm Uretra wanita panjang 4-8 cm. Plester. Masukkan kateter gently Pertama. masukin air 10 ml spulling kelubang kateter tempat keluarnya urin Keruh  udah masuk ke vesica urinaria tapi bila jernih atau keluar di sekitar OUE  belum masuk. kalo lebih besar bisa nyebabin spasme kandung kemih & kebocoran urin. fiksasi urin bag ke meja. Lubrikan dengan anestesi Isi syringe dengan anestesi lokal KY 10-15 ml ke uretra (♂) atau oleskan lubrikan pada kateter (♀) “Pak.

FBAO (foreign body airways obstruction) yang visible & removable Ada cairan. Telpon 118 20. Breathing. Saya akan mencoba menolong pasien ini. C (+) napas buatan 12 kali/menit  B (-). 17. evaluasi setiap 1 menit. gatal 6. Komunikasi & relationship 7. Safety diri. Airway a. Maintain aseptic procedure Buang sampah. saya mahasiswa kedokteran. letakkan tangan posisi terkunci di sternum pasien. C (-) Berlutut di kanan pasien. jangan ditarik. pake bahan serap (kalo cervical trauma) 21. Pasien datang 51 . d. biarkan recoil sempurna. lingkungan 18. Perkenalkan diri Bapak/Ibu. Cek pulsasi di carotis. listen. 24. Mohon berikan ruang agar pasien bisa benapas dengan lega. Pastikan trauma cervical ada atau nggak Nggak  head tilt & chin lift Ada  jaw trust b. Secure urethral catheter properly e. lepas sarung tangan. Reasses Look. manubrium 19. cek jangan lebih dari 10 menit Look  pergerakan dada Listen  suara napas pada mulut pasien Feel  hembusan napas di pipi penolong 22. frekuensi 30 : 2. 1 menit ada 3 siklus. lengan lurus. Berhenti kalau a. jangan banyak bergerak. Respon Verbal  shout Fisik  shake Pain  glabella. feel 25. kecepatan 100 kali/menit.Cuci tangan. 5. C (+) recovery position  B (-). cuci tangan. jatuhkan berat badan. sebelah adam’s apple  B (+). Nggak ada napas  rescue breathing 2x dalam 5 detik 23. korban. Prof behavior CPR 16. miringkan pasien (kalo ga cervical trauma). bahu vertikal di atas dada pasien.  Urinary bag diganti kalau mau penuh  Kateter diganti setelah 2 minggu  Kenali tanda2 alergi terhadap silikon yang dipakai: nyeri. Postposedure & education  Tirah baring. Kedalaman 4-5 cm.

denyut nadi inervasi  sensasi taktil Move ROM (range of motion) 4. Pilih bandage yang sesuai & siapin alat (mangkok. WPK. betadin. ambil corpus alienum dengan pinset chirurgis 7. 6. kassa. mempercepat proses penyembuhan. 5. 3. Lakukan pemeriksaan Look daerah luka  luka terbuka. 4. First aid Bersihkan area sekitar luka dengan betadin 6. move 10. menyerap eksudat. buka baju Pasien tiduran Colok dengan listrik Bersihkan semua elektroda dengan alkohol & area tubuh dgn gel Tempatkan elektroda sesuai posisi  Lead prekordial C4 merah SIC 5 linea midclavicula 52 . Greeting & self introducing Lepas perhiasan.b. Dressing & Bandaging 1. Environmental hazard c. Capek 26. meringankan rasa sakit Bandaging: mensupport dressing & body part 3. atau control 3 hari lagi  Kasih analgesik & antibiotik EKG Prosedur: 1. Bandaging 9. plester 8. & bina hubungan baik dengan pasien 2. Jelaskan tujuan dressing & bandaging Dressing: nutup luka. kassa. perkenalan diri. pinset chirurgis) 15 cm perut/dada 10 cm kepala/kaki 7. Tutup softratul. 2. infeksi Feel vaskularisasi  suhu. Recovery position Tangan kanan ke atas. badan dibalikkan dalam 1 baris.5 cm lengan 5 cm tangan 5. Edukasi  Jaga kering & bersih  Jangan banyak gerak  Kassa diganti tiap 12 jam sekali. feel. Salam. Telpon 118 lagi 27. Ambulance datang d. tangan kiri ke pipi. Terlalu kencang? Evaluasi look. Aliri luka dengan NaCl. kaki kiri ke kanan.

pilih menu Kecepatan 25 mm/second. 11. 14. Identitas b. sensitivitas 10 mm/mVolt Pilih menu komplit Perhatikan gelombang pada ekg Segera catat pada kertas ekg a.100 P diikuti QRS di semua sandapan dan kebalikannya Salah satu/lebih P wave di II. Usia d. Hari. tidak semua P diikuti QRS. 13. C1 kuning SIC 4 linea strenalis kanan C2 hijau SIC 4 linea strenalis kiri C3 coklat antara c2 & c4 C6 hitam SIC 5 linea midaxilla C5 ungu antara c4 & c6  Lead extremitas Merah tangan kanan Kuning tangan kiri Hijau kaki kiri Hitam kaki kanan Kabel dikoneksikan ke elektroda Periksa kertas untuk rekaman Tekan on. Irregular 6 kotak besar ada berapa siklus QRS x 50 2.7. QRS tetap sempit Otot atrium normal mampu menghantar impuls 60-75 a) Takikardi 150 – 250 (frekuensinya) b) Flutter 250 – 350 saw tooth pada lead II & III c) Fibrilasi > 350 no true P wave 53 . Frekuensi a. tanggal. 8. Gender c. 10. aVF positif 2) Atrial Masih ada P wave. Supraventricular 1) Sinus Pacemaker NSA normal 60 . Regular  300/jumlah kotak besar jarak 2 gelombang QRS Kalau 2 R berjarak: ≤ 2 kotak besar supraventricular takikardi >2 – 3 kotak besar sinus takikardi 3 – 5 kotak besar normal > 5 kotak besar bradikardi b. 9. 12. & waktu pengambilan Bersihkan badan pasien & alatnya dari gel Interpretasi: 1. III. Irama a.

LAD (+) I. III. aVF + normal aVL +  antara lead I & II. Ventrikuler Otot atrium normal mampu menghantar impuls 30-45 Tidak ada P wave QRS lebar>0. Durasi 54 . no true QRS complex 3. aVF 1) Atas P sebelum QRS. antara lead II & aVF.12 s atau > 3 kotak kecil karena depolarisasi lewat sel otot ventrikel 1) takikardi jarak QRS masih sama >40 2) fibrilasi fine and course.(-30) Lead II –  terletak antara -30 sampai -90  LAD a. aVL (+) aVF.3) Junctional Pacemaker NAV normal 40 – 60 P inverted pada lead II. III aVL paling tinggi lead II minimal R=S  lead II negatif b. RAD (-) I. 60 – 90 Lead I +. III R pada lead III lebih tinggi dari aVF 4. 0 – 60 aVL. Zona transisi Daerah di mana resultan R dan S = 0 (defleksi negative jadi positif) Normalnya di antara v3/v4. prinsip: lihat rotation Menggeser ke arah v6  clock wise rotation Menggeser ke arah v1  counter clock wise 5. avF – Lead II +  antara I dan aVL. Posisi Normal (-30) – (+110) <-30 LAD >+110 RAD Lead I +. aVL (-) aVF. segmen PR pendek 2) Tengah P ketutup QRS 3) Bawah P inverted setelah QRS Pacemaker berkas his 20 – 40 b. 0 .

v6 S melebar di v1. irama ventricular c. Interval qt Memendek hipercalcemia Memanjang hipocalcemia 6. defleksi positif pada lead II 1) Tenting (peaked T wave. RBBB. sekecil apapun disebut Q patologis biasa terjadi pada old infarct d. II Memendek < 0. v2 (>0. lebar dan tinggi <2. seperti tenda.12 s 1) WPW Tidak melewati berkas konduksi  QRS > 0.12s Memanjang pada 1) Irama ventrikular 2) RBBB Gelombang rsR’ (seperti huruf M) di v1. Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium. v2 Gelombang s diperlama 0. hipertrofi atrium kanan b. Interval QRS.22 s pada AV blok derajat I. Q patologis > 1/3 R atau pada R< 5 kotak kecil.a.5 kotak kecil) Memanjang > 0. Interval PR 0.12-0.10 second Lebar & bertakik (notch & broad) P mitral. v6 3) LBBB Telinga kelinci (slurred R) di v5. normalnya berbentuk piramid tidak simetris. Morfologi a. Kompleks QRS menunjukkan depolarisasi ventrikel memanjang pada LBBB.25 detik) c.5 mm atau <0.12 Ada gelombang delta 2) LGL Melewati berkas konduksi QRS < 0.12 Tidak ada gelombang delta 3) Irama junctional atas b. normalnya simetris. Gelombang T Repolarisasi ventrikel. simetris)  hiperkalemia 2) Strain pattern T inverted tidak simetris 55 .25 detik di v5. bagian depan lebih lebar dari belakang. normal < 0. hipertrofi atrium kiri Tinggi (peak P) P pulmonal.22 s (3 – 5. Segmen ST menunjukkan repolarisasi ventrikel 1) Elevasi > 2mm di leads precordial >1 mm di lead ekstremitas minimal dua lead yang berdekatan  STEMI 2) Depresi strain pattern (+T inverted asimetris) v5-6  hipertrofi ventrikel kiri v1-2  hipertrofi ventrikel kanan ischemia: + T inverted simetris e.

Kiri  LAH P mitral.5 mm pada lead inferior (II. v2 3) T inverted simetris  ischemia Gelombang U Gelombang repolarisasi ventrikel yang terlambat Seperti P. II. III. P notch & broad Durasi memanjang karena lewat otot b. Hipertrofi atrium a. Ventrikel kiri v5.f. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 2. v6 Kanan  RVH 1. R wave > S wave di v1 3. lebih landai. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 3. peak P: tinggi P wave ≥ 2. v2 3. S persisten di v5 & v6 2. coronaria dextra juga ke sana  periksa v1’ 2’ 3’ Aritmia  baca yang utk defib aja 56 . RAD 4. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. tinggi < 50 % T wave Interpretasi dalam penyakit 1. AMI ST elevasi precordial v1 – v6 anterior v1 – v4 anteroseptal v3 – v5 anteroapical v4 – v6 anterolateral v1 – v6. v6 Ventrikel kanan v1. aVF) Durasi tetap 2. Hipertrofi ventrikel Kiri  LVH 1. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. aVL anterior extensive Lead II. aVF inferior  curiga yang kanan Karena A. Kanan  RAH P pulmonal. I. LAD 4.

AV Block a. Derajat 2 Tidak setiap impuls atrial melewati AV node P waves : QRS  >1 : 1 1) Mobitz type I/Wenckebach block Mirip derajat 1 Pemanjangan interval PR progresif. tiba2 P wave tidak diikuti kompleks QRS 2) Mobitz type II Mirip derajat 3 Pemanjangan interval PR tidak progresif c.4. Derajat 1 Setiap impuls atrial mengaktivasi ventrikel Interval PR memanjang b. Derajat 3 Disosiasi AV Atrium 60-100 Ventrikel 30-45 Kompleks QRS lebar P wave & QRS complex frekuensi reguler 57 .

ADVANCED CARDIAC LIFE SUPPORT Henti fungsi jantung secara mendadak dan tiba-tiba 58 .

Gambaran EKG:     VT pulseless VF (Ventricular Fibrilation) PEA (Pulseless electrical activity) Asystole Ceklist ACLS: Pasien ditemukan tidak sadar di pinggir jalan 1. Look. lunula kuku. Verbal  dipanggil namanya (shout). VT yang shockable adalah VT yang pulseless. yaitu warna merah dan putih. Shout for help  telfon 118 5. cek pulse dulu. Pulse ada tapi nafas ga ada berikan nafas mouth to mouth setiap 5-6 detik sekali. pain  cek respon nyeri di glabella. Response: Cek respon dengan verbal. carotis communis selama 10 detik. lalu cek kembali nafas dan pulse di a. Kalo VF gausah di cek pulsenya. dibahasnya per irama ya. 4. sternum. Jika ambulan sudah datang. jejas diatas clavicula. Safety: safety untuk diri sendiri. Kalo dapet VT pulseless atau VF. Pastikan tidak ada tanda trauma cervical. and feel 6. Pada pasien henti jantung respon negatif. dan penurunan kesadaran. penanganan henti jantung dibagi dua yaitu: Shockable (VT pulseless dan VF). fisik  diguncangkan (shake). Dicurigai trauma cervical jika: multipel trauma. Nah untuk memudahkan ceklist. krepitasi di leher. Cek airway: a. Manuver open airway: jika tidak ada trauma cervical dengan head tilt chin lift. serta O2. Clean airway: untuk benda asing yang visible dan removable pake crossed-finger dan finger swab. c. Kalo obstruksi oleh cairan. Kalau dari monitor ternyata iramanya shockable: 1. Jangan lupa telfon ambulan lagi 8. 2. dan lingkungan 3. seperti kain. Leadnya ada 2. pasien dimiringkan untuk mengeluarkan cairannya atau pake benda-benda yang menyerap jika pasiennya ada trauma cervical. kalo ada trauma dengan jaw thrust. Kalo dapet VT. fisik. Pulse dan nafas ga ada  RJP (30:2) selama 2 menit kira-kira 3-5 siklus dengan kedalaman 4-5 cm dengan recoil sempurna. b. Perkenalkan diri terlebih dahulu 2. dan pain. persiapan shock 59 . pasien. dan Non-Shockable (PEA dan asystole). lalu cek nadi setiap 2 menit. segera siapkan monitor pada mesin defibrilator untuk cek irama.. listen. 7. Berdasarkan irama. 9. Pasang IV dan ET. Kalo nafas dengan laju normal  recovery position Kalo henti nafas atau terengah-engah  dikasih bantu nafas 2x selama 5 detik. d..

Kompresi jadi 200x dalam 2 menit. Cek irama 5. Nah yang diurutan ini yang tetap shockable dulu ya. dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya tetap shockable terus:  Urutan obat yang dimasukkin: epinefrin – amiodarone 300mg – epinefrin – amiodarone 150 mg – epinefrin – lidocaine 1-1. dll). dan yang lain pada ictus cordis. RJP 2 menit. baru cek monitor.5 mg/kgbb (misal ambil aja 1 mg) – epinefrin – lidocaine 0. dan 360 J jika monofasik. 9. RJP dihentikan sementara. Kalo masih shockable kembali ke siklus awal (charge defib. siklus kompresi dan breathing berubah. tetap lakukan RJP 5 siklus. 7..5 mg/kgbb iv – epinefrin – kosong – epinefrin Epinefrin harus diseling Amiodarone hanya boleh dikasih 2x (jadi diulang Cuma 1x) Lidocaine dikasih 3x (diulang 2x) Kalau sampe 30 menit hasil tetap sama  stop tindakan dan didoakan saja     Nah kalo dari irama didapatkan non-shockable: 1. pasang ET dan IV line untuk ngasih obat. trus lanjut RJP 5 siklus 10. RJP 2 menit lagi trus masukkin obatnya sulfas atropin 1 mg. Cek irama lagi. kembali charge defib. Kalau ga tau spesifikasi mesin defibnya diset pada 200J saja. tetap shockable. Kemungkinan monitor bisa ada 3: iramanya jadi sinus. Obat yang dimasukkin epinefrin 1 mg iv. Kasih shock. Kalau ET sudah terpasang siklus RJP sama breathing jadi jalan sendiri-sendiri seperti yang dijelaskan di shockable tadi. Kalo dapet asistol. Tetap shockable. Obat yang dimasukkin  epinephrine 1 mg iv 12. 4. 14. Obat yang dimasukkin sekarang ganti jadi amiodarone 300 mg iv. Setelah kasih shock. RJP 5 siklus saja tanpa Shock. cek lead dulu. Kalo PEA ga usah dicek leadnya. ada yang lepas atau ngga.3. Sambil nunggu tetap RJP 5 siklus. Kalo ternyata masih terpasang dan semuanya beneran non-shockable. lanjut urutan shockable. Masih non-shockable. nafas dengan ambu bag setiap 6-8 detik sekali. Langsung pasang ET dan IV. Pada saat masang ET. 4. 11. 2. Selama nunggu defibnya dicharge. Charge defib pada 200 J jika bifasik. Kalo ET sudah terpasang. dengan paddle satu pada sternum . dst dst Intinya yang harus diperhatikan kalo iramanya non-shockable:     Tidak perlu ngasih shock Pas siklus pertama langsung kasih obat dan pasang ET Urutan obatnya: epi – sulfas atropin 1 mg – epi – sulfas 1 mg – epi Sulfas atropin boleh dipakai 3x (diulangnya 2x) 60 . Langsung RJP 5 siklus. Berikan shock. atau malah jadi non-shockable. 5. 13. 6. 3. 8. 15.

jangan lupa cek leadnya ada yang lepas atau ngga 10 menit tetap asistole/PEA  stop tindakan dan berdoa Trus kalo iramanya misalnya iramanya beruba-ubah shockable non-shockable gimana? nah contohnya pas cek irama. Tambahan: 1. iramanya jadi non-shockable. 10 menit irama tetap PEA dan asistole berturut-turut. Cek irama c. Intinya sih setiap siklus itu epinefrin harus diseling. trus jdi nonshockable lagi.  Kalo dapet irama asistole. 61 . maka ikut langkah non-shockable siklus pertama (RJP sajapasang ET dan IV-kasih epinefrin 1mg-cek irama) abis cek irama. abis cek lagi. Jadi yang dilakukan adalah RJP 2 menit sambil charge defib – shock – kasih obat amiodarone 300mg – RJP 2 menit – cek irama. Pasang ET 2. Kasih shock b. shockable lagi maka ikut langkah shockable siklus KETIGA (inget! epinefrin kan harus diseling). Kecapean: 30 menit dan sudah yakin betul semua tapi tetap no respon d. refleks pupil hilang c. dari shockable trus jadi non-shockable. Stop kompresi saat: a. shockable lagi. dikonfirmasi dengan pupil midriasis total. Tapi tetep inget ya masing2 obat boleh diulang berapa kali    Trus misal iramanya udah berubah jadi sinus:      tetap monitoring airway dan ventilasi kasih O2 monitoring kalo ada muntah monitor VS Tetap ACLS (RJP and breath sampe ada nadi dan nafas). Maka siklusnya menjadi:    langkah shockable siklus pertama (RJP-shock-RJP 5 siklus-cek irama) karna jadi non-shockable. yaitu kasih epinefrin. Stop tindakan secara keseluruhan saat: a. Tujuan tidak tercapai: pasien mati. trus misal jadi non-shockable lagi karna tadi udah dikasih epinefrin sekarang ganti jadi sulfas lagi. Tujuan tercapai: irama jadi sinus b. maka ikut langkah non-shockable yang ketiga. jadi misal abis ngasih sulfas tapi jadi shockable ya yang dikasih epinefrin.

Keluhan utama 3. perkenalan 2. locomotor. cairan. penebalan kulit & pori2 menonjol Warna merah: infeksi & karsinoma payudara yang terinflamasi Penebalan kulit & pori2 menonjol: karsinoma b. Pemakaian kontrasepsi RPD a. 5. Status reproduksi (GPA) g. setelah  4x 4. bentuk. Riwayat kanker. Riwayat laktasi h. discharge. Jelaskan prosedur & informed consent Posisikan pasien  duduk Cuci tangan dengan alcohol & pakai glove Ibu diminta buka baju sampai pinggang Inspeksi Minta pasien duduk  Minta pasien meletakkan kedua tangan di kedua sisi Laporkan a. Salam. 6. Keluhan lain: nyeri.genitourinary. Kontur payudara: ada benjolan? Lekukan/dimpling? Pendataran/flattening? d.OTHERS  Breast. ulcus. setelah  2x Ibu pernah kena kanker payudara 2 sisi: sebelum menopause  risiko 9x. retraksi d. misal DCIS c. Permukaan kulit: warna. ulcus Discharge. Riwayat FAM b. Hubungan dengan siklus mens Mens tambah nyeri  cysta Mens tambah kencang  fisiologis f. 8. arah. Anamnesis RPS a. Sejak kapan b. Ukuran & simetrisitas payudara Kanker lebih besar c. Karakteristik: ukuran. Perkembangan benjolan c. Peradangan/perlukaan sekitar payudara e. Benjolan di tempat lain RPK Ibu pernah kena kanker payudara 1 sisi: sebelum menopause  risiko 3x. & deviasi: kanker 62 . 7. post stroke BREAST EXAM 1.

Periksa putting Inspeksi: retraksi. fisura. tangan di belakang kepala & bahu disangga bantal Palpasi dengan bantalan jari telunjuk. & axilla. pori2 membesar. terus badannya digoyang 9. & manis Palsasi dengan bentuk melingkar Spokes of wheel Mulai dari central. agak ringan di perifer Vertical grid Garis vertical dari clavivula ke lipatan inframama Dibagi 9 dari garis midstrenal ke linea axillaris posterior (hingga ujung ekor payudara). pectoralis  dimpling bisa lebih terlihat. payudara dibagi jadi 4 kuadran  Diameter  Batas: tegak/nggak  Mobile  Nyeri  Konsistensi 63  . sisik Untuk pemeriksaan discharge. tangan pemeriksa periksa axilla  Palpasi payudara Pasien diminta tiduran Kalau payudaya kecil. ada discharge  Lengan diminta di letakkan di belakang kepala  melihat lekukan/retraksi yang tidak terlihat supaya bagian bawah terexpose (pada yang payudaranya besar) Lengan bertumpu dipanggung supaya payudara mengkontraksikan M. Condong ke depan kalau perlu untuk payudara yang besar. axilla kanan diperiksa dengan tangan kiri pemeriksa Waktu tangan pasien adduksi rapat serong ke depan. usia muda. tangan di sisi Kalau payudara besar. balik ke sentral lewat jalur yang sama. terus ke arah jam 1. Pelaporan Gambar payudara. gitu terus sampai semua terpalpasi Tekanan keras di sentral. clavicula. Palpasi  Pemeriksaan limfonodi Tangan kanan pasien dipegang dengan tangan kanan. tengah.Kemarahan pada puting FAM: benjolan. ke arah jam 12. tidak nyeri Kanker: arah putting brubah. dimpling di payudara. jarak satu jari Mulai lateral kranial terus ke medial Circular obat nyamuk 10. tanya pasien mau periksa sendiri atau kita lakukan Cara 1  tekan putting dari atas & bawah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas glandula mamae Cara 2 “tunjuk” puting 11.

tangan di belakang kepala. kista. Heel strike b. Dilakukan 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir. Dimpling. Bisa saat tiduran Disangga bantal Pakai 3 jari Pola memutar Rekomendasikan vertical grid 6. ukuran. Pengenalan kanker payudara  Insidensi tinggi  Stadium dini bisa diketahui dengan BSE (+) deteksi dini (-) keseringan (missal sebulan beberapa kali)  penurunan sensitivitas 3. seberapa keras tekanan (sirkular. nggak  payudara). Mid-stance c. 5. Greeting & introduction Tujuan pemeriksaan Anamnesis: Trauma: 5W + 1 H. saat mandi. Berdarah c. nyeri (kista). Toe off d. kaki  posisi tidur Look a. Keras: kanker Elastis: kista Jumlah Nilai karakteristik: lokasi. 2. Swing phase 6. ringan. pendataran  catat dan lapor ke dokter Locomotor Exam 1. Pendahuluan & perkenalan diri pada pasien 2. Memberitahukan jari yang digunakan (bantalan jari 2. 3. batas (tegas  FAM. Nontrauma: RPS. Pemeriksaan khusus Masalah di Tangan  posisi pasien duduk. Perhatikan bila ada perubahan 8. berat. sambil sabunan. Luka terbuka b. mobile (FAM. kalau udah menopause  tanggal yang sama tiap bulan 4. kista)/tefiksasi (kanker) Breast Self Examination 1.4). RPK Pemeriksaan umum: Vital sign Pemeriksaan gait yang dilaporin: a. RPD. perubahan pada papilla mamae. 4. sedang. tergantung area lemak) 5. bentuk. Bisa saat berdiri. di depan cermin 7. konsistensi.3. Deformitas 64 .

eksorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke belakang). ekstensi (sambil tengkurap). inversi. Inervasi: taktil c. 9. radial deviasi. fleksi. endorotasi (lengan atas tegak lurus  putar lengan bawah ke depan & bawah) b. dorsofleksi. palmarfleksi. Wrist Ulnar deviasi. ekstensi c. eversi Length  kalo masalah di kaki Bandingkan kanan-kiri a. Appearance: dari umbilicus sampai malleolus medial c. Pergelangan Plantarfleksi. betis putar ke luar) f. Siku Fleksi. supinasi (lengan atas fiksasi di badan. True: dari SIAS sampai malleolus medial. adduksi. Krepitasi Move Dengan goniometer a. tapi nggak bisa tahan tekanan 4 bisa nahan gravitasi. Gelang paha Abduksi. adduksi. Memperkenalkan diri 65 . abduksi. betis putar ke dalam). Lutut Fleksi. d. Simetrisitas Feel a. Vaskularisasi: suhu. jempol RCTI oke) d. WPK. dorsofleksi. ekstensi. Anatomical: dari trochanter mayor sampai malleolus lateral Muscle power test 0 tidak ada gerakan 1 ada tonus 2 tidak bisa menahan gravitasi 3 bisa nahan gravitasi. sedikit bisa tahan tekanan 5 bisa nahan gravitasi & tekanan Circumference bandingkan atas (kanan-kiri) & bawah (kanan-kiri) luka Pertimbangkan penunjang  x-ray Penutup GENITOURINARY EXAMINATION 1. 11. pulsasi b. eksorotasi (tengkurap. Gelang bahu Fleksi. melewati lutut b. 8. pronasi. endorotasi (tengkurap. Jari pakai goniometer khusus e. ekstensi (posisi supinasi) g.7. 10.

inflamasi. c. Hidrocele Testis disinarin dari bawah pakai senter. Testis. hipospadia. d. Persebaran rambut b. Scrotum Posisi pasien berdiri Inspeksi a. Diurut/milking Buka meatus urethra: phimosis/paraphimosis Glans  lihat meatus urethra. & femoral diperiksa pakai lubrikan 10. Tanda2 inflamasi d. warna) c. 3. Simetris: hipoplasi. Jelaskan indikasi Minta persetujuan pasien. atrofi? b. 5. epispadia. ada cysta? c. kayak kawat Varicocele? d. Angulus inguinalis externus 9. tumor. 6. dipalpasi kanan & kiri simetris. Daerah inguinal (barangkali belum turun). Glans penis. Inspeksi penis a. Dilatasi vena c. hipoplasia. b. 4. nyeri) Kandung kemih 7. Urethral meaturs e. Funiculus spermaticus e. hidrocele. ambilnya di fossa navicularis 8.2. suprapubik. Oedem b. anak diminta buka celana Mencuci tangan pakai sarung tangan Jelaskan mau periksa CVA Palpasi suprasimfisis (massa. Vas deferens. UKK (masa. urethral discharge Specimen ambil pakai lidi + kapas yang dicelup di normal saline. ada corong kertas ditaruh di atas Hidrocele di tunica vaginalis Tumor kurang merah 66 . balloteman. Tumor f. informed consent. Normalnya kiri lebih rendah Palpasi a. atrofi e. Batang d. Ke epididimis. udah sunat? Palpasi penis a.

ekstensi ankle.Hidrocele lebih merah (+) berpendar 11. Perlu dipahami dulu kalo dalam penangan pasien post stroke ada yang namanya program rehabilitasi dan mobilisasi. Posisi pasien. Rehabilitasi dimulai sejak pasien dikonsulkan ke dokter. saya minta kerja samanya ya pak mengikuti instruksi dari saya”  minta pasien untuk rileks  Inisial position  antispastik Pada fase ini kita memposisikan pasien berlawanan dari posisi yang di atas itu dan kalo udah d posisikan begini latihan harus segera dimulai < 2 jam soalnya pasien merasa ga nyaman di posisiin begini. say akan membantu bapak untuk latihan dan bergerak pagi ini. spingter ani kontraksi).. masukin pake lubrikan... Jelaskan hasil pemeriksaan POST STROKE REHABILITATION Aaa modul silat ini tidak di eksklusi sama sekali. sebelum mulai diinget dulu kalo pada post stroke exam itu ada sisi N (normal) dan S (sakit) iya ga c? aku (titi: red) cuma ngarang kepanjangannya . Saya dokter …. fleksi siku. eksorotasi paha. plantarfleksi dan inverse telapak kaki Kita mulai check list nya :  Selalu SALAM DAN PERKENALKAN DIRI “Selamat pagi pak. jari tengah aja. meriksa prostat (ukuran.. gitu katanya huhuhu jadi kita pelajari aja. Digital Rectal exam  untuk meriksa feses. berbaring pada sisi N dan berbaring pada sisi S. nungging 13. minta pasien mengejan (valsava maneuver) Indirect kena ujung jari Direct kena samping jari Femoral annulus femoralis 12. normal kayak biji kenari). walopun osce ga keluar tapi ada kemungkinan keluar pas kompre. meriksa reflex bubocavernosa (penis diangkat. nah kebanyakan itu hemiplegic tipe dan pasien dalam kondisi spastic. fleksi pergelangan tangan dan pronasi serta adduksi jari  Ekstrimitas bawah (ekstensi semua) Retraksi panggul. ekstensi lutut. Hernia Masukkan jari telunjuk ke canalis inguinalis. Oleh karena di check list dan yang kita pelajari kmaren Cuma check list 4 jadi inisial position yang dilakuin itu cukup yang supine aja o Supine position 67 . sedangkan kalo perdarahan. tanda2nya :  Ekstrimitas atas (fleksi semua) Endotorsi lengan atas. nanti kita akan melakukan beberapa gerakan latihan. tempatkan jari di sulvus prostat. Ada 3 macam inisial position : supine. tunggu perdarahannya selesai dulu baru dimulai (sekitar 2 minggu) Sedangkan program rehabilitasi dimulai sekitar 3 minggu pada stroke iskemi. sedangkan mobilisasi merupakan salah satu bagian dari rehabilitasi Kapan program mobilisasi dimulai : Stroke iskemi sekitar 2 – 3 hari (sedini mungkin).

tangannya bertumpu pada meja disisi sampingnya. sebelum didudukin. tapi dari sumbernya angkatan 2005 katanya waktu osce itu yang dipakai secara aktif dan segmental. lalu di bawa ke sisi N trus dibalikin lagi ke saya” Jangan lupa untuk memegang sisi S nya itu biar ga jatuh Latihan o Keseimbangan duduk 68 . Lengan d angkat 90-100 drajat terhadap sumbu tubuh. Biarkan pasien bertumpu pada bahu. dimulai dari ekstrimitas atas dan dari ekstrimitas yang kecil dan distal dulu. nanti saya akan menekuk lutut bapak terlebih dahulu.    Pada fase ini kita memposisikan pasien dalam keadaan antispastik. tangan satunya di pergelangan tsngan. Meminta pasien mengambil benda dengan tangan N. kaki N pasien kaya diselipin gitu dari belakang ke bawah kaki S. Sangga juga menggunakan bantal d bawah panggul dan telapak kaki o Berbaring di sisi N Pertahankan posisi antispastik dengan menopangkan bantal di bawah sisi S. o Berbaring di sisi S Mirip dengan yang di atas hanya saja sekarang sisi S di bawah. d bikin latiahn weight bearing to elbow caranya pasien di tarik – tarik sambil numpu di siku sebanyak 10x baru didudukin. punggung baru pinggang. eksorotasiin lengan. Jaga hal ini dengan member sanggahan bantal di bawah bahu. “bapak saya minta untuk mengambil pulpen ini dengan tangan N bapak ya. kita tahan dulu sekitar 10 detik baru ditarik lagi trus di reposisi. trus tangan bapak yang sehat menggapai tangan yang sakit dan berguling ke sisi yang sakit ya pak. siku baru pergelangan tangan” Setelah itu tangan kita tarik perlahan. pelan – pelan aja. secara aktif dan pasif. jadi pelan2 dimulai dari bahu. Fungsinya untuk menstimulasi sisi S pasien menyanga berat tubuhnya. kita mulai ya pak” o Fleksikan kaki N pasien o Minta pasien menggapai tangan S nya o Minta pasien berguling secara perlahan ke sisi S o Bantu dengan membantu memutar ekstrimitas bawah Duduk dan bertumpu pada siku Setelah pasien berbaring pada sisi S secara aktif. ekstensi pergelangan tangan dan siku lalu di supinasiin. posisi kaki kaya meluk guling. Waktu pasien bertumpu disiku. Ekstrimitas bawah dimulai dengan mendorsofleksiin telapak kaki trus di eversi. nanti bapak saya minta berusaha duduk sendiri dengan menggeser kakinya ke bawah dan tangan yang sehat nanti akan saya bantu menariknya. fleksi lutut dan panggul dan endorotasiin paha. Pelan-pelan saja y pak. Setelah itu kita kasih aba-aba : “bapak. bapak bertumpu dulu pada bahu. sekarang kita akan latihan duduk ya pak. mulai dari bahu tus punggung dan pinggang. o Berikan petunjuka pada pasien “bapak sekarang kita akan latihan berguling ya pak. Mimandahkan benda Pada tahap ini kita berdiri di sisi S pasien. siku dan pergelangan tangannya. Tujuannya supaya kaki N ini bisa membawa kaki S ketepi bed untuk duduk. Kita abduksiin jari. Kalo instruktur ku dulu. jangan lupa menyangga sisi S dengan bantal Rolling ke sisi S Sebenernya ada dua cara.

Posisi tangan bebas  Baring lagi Setelah posisi istirahat. sekarang bapak silakan tiduran lagi ya. kakinya digerakin dan pelan-pelan aja pak” Ada yang bilang kita cuma menahan bagian belakang siku S pasie tapi ada juga yang bilang kita juga memegang tangan N pasien mirip kaya waktu duduk tadi. kita akan berlatih keseimbangan tubuh.. JANGAN LUPA UCAPKAN TERIMA KASIH KEPADA PASIEN :D Selamat osce teman – teman semuaaaa !! Smoga kita diberikan gelombang yang terbaik … smangat !! 69 . Nanti bapak silakan memegang tangannya yang S dengan tangan N nya trus jari-jarinya disilangain tapi jempol tangan S nya berdiri keluar. Kalo katanya buku 2005 kaya cewek kemayu itu.  Posisi istirahat “Pak sekarang kita berlatih posisi istirahat ya pak” Disini kita memposisikan kaki S pasien di atas kaki N nya.“Bapak. Selesaiiiiiiii . Trus bapak gerakin tanggannya ke atas kepala trus turun ya pak. trus di baringin lagi : “ baik bapak.. yang S di atas N. Saya akan menggerak-gerakkan tubuuh bapak kedepan belakang dan ke samping. trus bapak pertahanin ya supaya ga jatuh” Trus kita tekan2 gitu bahunya satu2. latihan hari ini sudah selesai.caranya seperti tadi saat mau duduk. Diulang 10 kali” o Bahu “nah sekarang ke kanan sama ke kiri ya pak” o Bertumpu pada lengan “Pak nanti saya akan member tahanan pada bahu bapak.. lalu kaki pasien dipelintir lagi. nanti bapak pertahankan posisi bapak supaya tidak terjatuh ya pak” o Lengan “bapak sekarang kita akan latihan tangan ya pak. tangan yang lain jaga2 di belakang siku supaya ga jatuh.

DAFTAR ISI MATERI HALAMAN Belum ada 180 182 183 101 103 105 104 106 75 77 74 80 189 Fatigue Anemia Insomnia Gangguan Tidur (Cemas & Depresi) OCD Panik Red Eye Konjungtivitis Glaukoma Akut Keratitis Uveitis Retinopathy Fever Typhoid DHF Malaria Otitis Media Akut Headache TTH Migrain Cluster Headache Tumor HT Stroke .Hemoragik Meningitis 154 150 156 157 93 96 97 185 117 119 Cough TBC Pneumonia COPD Diarrhea Diare Chest Pain ACS GERD Sore Throat 70 .

Faringitis 130 169 87 89 91 82 84 86 190 187 122 122 163 107 110 115 114 180 Indigestion Gastritis Abdominal Pain (RLQ) Appendicitis PID KET Abdominal Pain (RUQ) Hepatitis Sirosis Hepar Kolesistitis Constipation IBS Konstipasi Pruritis Dermatitis Kontak Alergi Dizziness BPPV Meniere Weight Loss Diabetes Mellitus Dyspnea Asma CHF Sindrom Nefrotik Pneumothorax Insomnia Cemas Depresi Backache HNP UTI 144 140 160 Joint Pain RA . Gout . OA 71 .

Alergi 4. keratitis. Awasi tekanan darah. thypoid. perkusi. Suhu  berapa suhunya. Tekanan Darah  pake bel. travelling 5. Tx medikamentosa dan non medikamentosa Edukasi secara umum: Seimbangkan gizi. jari ke dua. PID. sebuah ringkasan. isi nadi 3. Nadi  pertama pegang dua tangan. Durasi. retinopathy 72 . frekuensi. Enyahkan rokok. Abdominal Pain. HCC 3. Abdominal Pain. rectal atau oral) Pemeriksaan badan: 1. RUQ: hepatitis. sirosis hepar. pneumonia. normal ce: thoracoabdominal. Treatment  apa obatnya. pola pernapasan (normal co: abdomino-thorakal. Abdomen : inspeksi. Yang dilaporkan: berapa BPnya. Review system gejala yang belum di-explore 7. Respiration rate  frekuensim regularitas. kolestitis. RLQ: app. Pekerjaan Anamnesis 1. kondisi umum (lemes. uveitis. semoga membantu 13 … OUTLINE SECARA UMUM: Identitas: Nama.IPM GENERAL. Hindari stress. Makan 6. Fever: with jaundice: hepatitis. lemah/kuat. Kepala/leher 3. Aggravating. gizi. RPS: Onset. OMA infeksi lain 2. palpasi. ditangan mana diukurnya. Umur. Riwayat sosial 8. cuci tangan Kasih tau dx klinis Rencana tindakan: Px penunjang. Olahraga. chyene stokes dkk) 4. Relieving. auskultasi 4. ukuran manset. lingkungan. kalo regular. KET. Parafrase Bilang ke pasien. pola pernapasan abnormal. Characteristics. pucat. DHF. KU 2. TB/BB 2. Malaria. glaucoma akut (sudut tertutup). palpasi 5. Lokasi. meriksanya pake satu tangan aja. UTI 4. kolesistitis. Red eye: conjunctivitis. PID. dll) Vital sign: 1. keganasan 5. psikologis. Teratur berolahraga Keluhan: 1. terus bilang mau meriksa apa  cuci tangan Pemeriksaan fisik: Kesan Umum: tingkat kesadaran. RPK. Profil pasien: Rokok. Fatigue: anemia. RPD: Pernah sakit spt ini? Medikasi yg dikonsumsi. Yang dilaporkan: regular. Thorax : inspeksi. baru auskultoar. without jaundice UTI. udah reda/belum 3. dimana diukurnya (axilla. tiga ama empat. Ekstremitas Bilang ke pasien pemeriksaan udah selesai. sirosis. auskultasi. perkusi. palpatoar dulu. Meningitis. posisi duduk ato tidur 2. Alamat.

Backache: HNP. BPPV. peningkatan TIK. thypoid. Sorethroat: pharyngitis. IBS diare 19. IBS-konstipasi 15. anaphylactic 13. keganasan. 73 . Headache: TTH. Cough: pneumonia. DKA 10. tonsilitis 14. meningitis 16. depresi 17. stenosis spinalis. Chest pain: ACS. TB. pneumonia lobus bawah 9. alergi. cikungunya. meniere 11. DM. sindrom nefrotik 20. migraine. asma. meningitis 8. RA. gastritis 7. cluster. anorexia 12. Indigestion: GERD. Stroke pendarahan. Konstipasi: thypoid.6. CHF. Diare: diare. pneumothorax. migraine. Dizziness: BPPV. LBP non spesifik. itu yang kami bahas ya ceman-cemaan. tumor. gout. ACS. UTI. sindrom nefrotik. Insomnia: anxiety. Weight Loss: TB. CHF. Vomiting: diare. meniere. 18. Joint pain: OA. Dyspnea: asma. pharyngitis viral. Pruritus: ikterus. hipertensi. DHF Keterangan : yang di bold. UTI.

kronik (>2minggu) : Thypoid 1. Meningitis. e. Faringitis bakterial. DHF.5 c dan rektal lebih rendah 0. Diet : c. perut sebah. menggigil. Malaria : KU : Demam Anamnesis :  RPS a. vivax & ovale: (tertiana) demam tiap 48 jam malariae(quartana) demam tiap 4 hari Trias malaria : menggigil  panas tinggi berkeringat Trias ini mulai ketika eritrosit pecah. kadang memegang kepala. papua. nyeri otot dan sendi. Tanyakan pernah digigit nyamuk ga?  Lifestyle : a. sakit kepala. lesu. jika parah dapat menyebabkan jaundic   Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Malaria. Kondisi umum : lemah. Akut (< 1minggu) : malaria. Onset : < 1minggu b. cikungunya Pemeriksaan fisik : 1. Olahraga: b.    Relieving :pernah terinfeksi malaria belum?(untuk vivax) :- RPD RPK Riwayat perjalanan : pernah berpergian ke daerah endemis malaria seperti purworejo. Fever 1.4 c dan temperatur axila>37. Durasi : 24 jam d. Pola makan  Review system : keluhan lain : nyeri kepala.5 derajat celcius.gelisah. 74 .FEVER Definisi : ketika temperatur oral > 37. Lokasi : c. Karakteristik : falciparum  demam tidak menentu bisa demam 36 atau 48 jam. 2. DHF. kulonprogo. Agravating : aktivitas fisik f.

hari ke-3: 5mg/kgBB/hari sehari 2 tablet/ hari.hari 1-2 : 10 mg/kgBB/ hari sehari 4 tablet/hari. Apusan darah : Tebal  jenis dari parasit : a.  hepatomegaly dpt terlihat jika kurus. Primaquin : 15mg/ hari (1 tablet) Falciparum Edukasi: 1. KU : Demam. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi  hepatomegaly. falsiparum (ada cincin di tepi) Tipis  menentukan jumlah parasit. eosinofilia (normal 0-3). sudah ke puskesmas tp ga membaik.a) 2.perut sebah. Kalau penurunan kesadaran cerebral malaria balik ke dokter Shock. HR dan RR meningkat. : cq3 + pq1 (dosis dan pembagian s.  DBN 3. Kepala : lihat konjungtiva  bisa anemia dan sklera ikterik (pada falsiparum). sore saja. RPK -. splenomegaly Palpasi  nyeri kuadran kanan atas dan hepatomegaly. lemah Anamnesis :  RPS Onset : > 7 hari (kronis) 75 . buang air ga lancar. Vital sign : demam. gagal napas . BP normal. Leher : palpasi limfonodi DBN Thorax depan: screening auskultasiDBN Jantung : auskultasi di ictus cordis. RPD -. Extermitas : palpasi  akral dingin Pemeriksaan penunjang CBC HB turun (normal co 13-16. kuning malariaberat  balik ke dokter 2. sakit kepala mual.d. ce 12-14). Typhoid Fever: Seorang pasien datang dengan keluhan demam. Terapi: Vivax : Cq3 + Pq14 (Chloroquin + Primaquin) Chloroquin : .2. Vivax(eritrosit membesar) b. nafsu makan turun. memperburuk:aktivitas berat. Rajin minum obatkarena parasit. sejak 6 hari. leukosit normal. co 45-55). HCT turun (normal ce 40-50.

Lokasi Durasi

: :

Karakteristik : Step ladder pattern (pagi sampai siang suhu turun, sore suhu tinggi) Agravating : Saat aktivitas Relieving : Treatment : Paracetamol tapi ga sembuh     RPD RPK ::-

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: ga spesifik b. Diet : Suka jajan? Cuci tangan ga sebelumnya? Air yg diminum mateng ga? c. Pola makan : Ga teratur d. Lingkungan : Masalah sanitasi

Review system : nyeri kepala, nyeri otot & sendi, konstipasi, perut sebah.

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Thypoid, DHF, Malaria

Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah dan demam Vital sign : temperatur tinggi, bradikardi relatif (setiap peningkatan suhu 1 derajat C tidak

diikuti peningkatan nadi 10x) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi  rose spot (bercak merah di perut), hepatomegali (kurus)  bisa muncul konstipasi (biasanya pada dewasa) atau  batas hepar membesar (hepatosplenomegali)  nyeri kuadran kanan atas, hepatomegali

diare(biasanya pada anak) Perkusi Palpasi

Kepala : Sklera ikterik (kalau udah parah) Lidah kotor, tengahnya pucat, tepi hiperemis, tremor Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: DBN. screening  auskultasi aja. Extermitas : DBN Pemeriksaan penunjang a. Kultur (gold standar)  ditemukan mokroorganisme bakteri penyebab (S. Typhi)

76

b. Widal test  S. Typhi positif jika titer O > 1/320 (semakin gede penyebut = semakin positif) c. CBC  pada infeksi bakteri: neutrofil akan meningkat., shift to the right kronis, shift to the left akut. Pada infeksi virus: limfositosis dan leukopenia. Infeksi parasit: eosinofilia. Pada typhoid : leukopenia (<4.000 sel/mm 2), (normal:150.000-400.000 sel/mm2). Terapi Ciprofloxacin 500 mg  dosis: 15 mg/kg BB/hari. R/ Tab. Cipro 500 mg No. X S. 2.d.d. Tab 1 p.c. Paracetamol 500mg R/ Tab. Paracetamol 500 mg No. X S. p.r.n. 3.d.d. Tab 1. p.c. limfositosis, trombositopenia

Edukasi Bed rest 2 minggu Makan yg lembut dan higienis Cuci tangan sebelum makan Minum air matang Hindari rokok

3. Dengue Hemorrhagic Fever KU : Demam Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : < 1 minggu (mis : 5 hari yang lalu) :: 2 – 7 hari

Karakteristik : demam tinggi lebih dari 39 , pola bifasik => hari 1 – 3 demam, 3 – 4 turun, 4 – 7 demam lagi Agravating : kurang minum Relieving : -

77

Gejala berdasarkan derajat : DHF derajat 1 : demam, artalgia,mialgia, torniquet + DHFderajat 2 : perdarahan spontan DHF derajat 3 : mulai muncul tanda syok DHF derajat 4 : tanda syok berat (nadi& blood pressure tdk terdeteksi)    

RPD RPK

:: ada orang di sekitar yangsakit serupa dan mondok di RS

Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. Olahraga: b. Diet : c. Pola makan : -

Review system : nyeri kepala, nyeri retroorbital, artalgia, mialgia, petekia, efusi pleura (sesak), asites (perut menggendut), perdarahan (krn trombosit turun), epistaksis, muntah darah (krn perdarahan pada vena2 esofagus), perdarahan gusi, perdarahan lambung, melena (kalo perdarahan dari GIT atas), hepatomegali, haus, gelisah, tanda2 syok

Tx sebelumnya : daun sirih untuk mimisannya

Parafrase ke pasien Sebutkan DD : DHF, Demam Dengue (beda dgn dhf : tanpa ada hemoragik ; tanpa

trombositopeni ; tanpa hemokonsentrasi), cikungunya (demam lebih singkat, ada torniquet + dan peteki tapi tidak ada manifestasi perdarahan lain, artalgia dan mialgia prominen) Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : lemah, pusing, tidak enak badan Vital sign Rumple leed : demam >39, HR naik, RRnaik, tanda2 syok : positif bila ada > 20 peteki per inchi kuadrat

Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala :  peteki  dbn  hepatomegali, asites  hepatomegali, asites

konjungtiva anemis ; perdarahan gusi ; mimisan

Leher : palpasi limfonodi dbn Thorax :

78

Hct naik > 20 %. perkusi dari sonor jadi redup Jantung : auskultasi DBN Extermitas : palpasi  akral dingin .n 3. trs 6. leukopenia Liver function test : AST / SGOT naik (normalnya cewe < 23 cowo < 30) NS 1 test Radiologi (kalo curiga efusi pleura -> posisi LLD) Terapi R/ Tab Parasetamol 500 mg No.d. trs 6. adaruam makulopapular Pemeriksaan penunjang CBC trombositopenia.trs 3 mL/kg BB -> Kalo tidak improve di tes Hct nya Hct -> meningkat -> ganti kristaloid pake koloid (dextran 40) 10 mL/kg dlm 1 jam) Hct -> turun -> ganti kristaloid pake blood transfusion 10mL / kg / jam Kalo udah improve ganti lagi jadi kristaloid tapi kurangi dosis kristaloid jadi 10.trs 3 mL/kg BB/ jam Edukasi Banyak minum Bed rest Manifestasi syok atau perdarahan-> segera ke dokter Cek trombosit tiap hari Kontrol ke dokterhari ke – 4 79 .Efusi pleura -> ada konsolidasi maka dari itu fremitus taktil meningkat . Tab 1 (derajat 1 dan 2 cukup parasetamol dan rawat jalan) Kalo trombosit di bawah 100rb harus mondok -> kasih infus kristaloid Kalo sudah ada tanda2 syok pake prinsip tx syok (derajat 3&4) Kristaloid 20 mL/kg BB dlm 1 jam -> improve maka kurangi dosis kristaloid jadi 10.d.r.p. XV S.

j. karakteristik lain tergantung dr fase2nya k. Perforasi => kalau membrane timpani udah [each. keluhan demam sudah menghilang 5. Durasi : ≤ 8 minggu : nyeri di belakang telinga (retroauricular) : < 8 minggu Karakteristik : nyeri di retroauricular. demam?keluar cairan dr telinga (discharge)? Sekret mukopurulen? d. Fase resolusi/ penyembuhan => normalnya membrane timpani akan tertutup kembali. Fase tubercatar => obstruksi dari tuba eustachii.4. demam b. Fase presupurasi => tanda2 hiperemi muncul pada membran timpani 3. Diet : c. Olahraga: b. OMK (SNHL. Parafrase ke pasien e. akibatnya tekanan dalam cavum timpani jd negative sehingga membran terdorong ke dalam 2. Otomycosis (gatal. Agravating : l. Treatment : RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya RPK : Lifestyle : a. pendengaran berkurang. Otitis media akut Definisi: peradangan pada cavum timpani (telinga tengah) dalam kurun waktu ≤ 8 minggu. Pola makan: c.    Relieving : - m. KU : telinga terasa penuh. Lokasi i. durasi >8 minggu). newspaper like-appearance di canalis acusticus eksternus) f. Onset h. Pemeriksaan fisik : 80 . Review system : keluhan lain : ada penurunan pendengaran ga?(tipe CHL). Anamnesis :  RPS g. membrane terdorong keluar gara2 cairan yang terbentuk di cavum timpani 4. Tahap-tahap: 1. keluar cairan (discharge). kalu ga tertutup akan berlanjut jd Otitis Media Kronis (tulinya SNHL) a. nyeri. Sebutkan DD : Otitis eksterna diffuse (nyeri di tragus). Fase supuratif => terjadi membrane bulging.

telinga terasa penuh 6.b. Antibiotik  amoxicycillin sistemik ato tetes telinga b. Rinne (-). Analgesic  paracetamol c. Edukasi  Minum obat teratur  Jangan membersihkan telinga sendiri (dg cotton bud) 81 .n Throat : mencari kemungkinan faringitis sbg underlying disease Kepala & leher : limfadenopathy (-) 8. Terapi a. Decongestan  pseudoefedrin (jika perlu) 10.b.5. yg lain d. Pemeriksaan fisik : Ear : Inspeksi Palpasi  nyeri di proc. Vital sign : fever.n  ditemukan discharge (pd fase perforasi) 7.mastoideus Otoskop ditemukan membrane timpani yg abnormalitas tergantung dr fase2nya Tes pendengaran garputala 512 Hz. Pemeriksaan penunjang 9. Kesan umum : demam. Schwabach BC pasien > BC dokter CHL Nose : d. Weber lateralisasi kea rah telinga yg sakit. nyeri.

ABDOMINAL PAIN. mual. (hep B inkubasi 15-180 hari).Fase prodormal 2-3 minggu. (hep.Sembuh 1% hep A jadi hepatitis fulminan HepB Langsung jadi kronik. Pola makan : jajan sebarangan (hep A) d. Tiba2 tadi pagi mata kuning. perut terasa penuh. lemas. RUQ: Nyeri Kuadran Kanan Atas Hepatitis KU : Nyeri Kuadran kanan atas. BAK: air teh c. hep a (fecal-oral transmission) Riwayat perjalanan : Treatment awal: obat warung tidak membaik Lifestyle : a. suntik. Mual muntah d. 23% sirosis jadi liver failure lalu jadi kematian. Agravating : Beraktifitas berat Relieving:      RPD : Tidak pernah sakit serupa (hep A). BAB pucat.Fase ikterik  1-4 minggu. A) inkubasi 15-50 hari (rata2 30 hari). meriang. Pernah mentato. Hep b tanyakan pernah menerima transfusi darah.  Pekerja medis atau bukan (B) Hep A Melewati fase akut yang terdiri dari: . Athralgia 82 . Aktifitas seksual (hep B) e. Nafsu makan menurun e. BAK air teh akibat direct bilirubin meningkat. 30% jadi sirosis. muncul ikterik. Diet : Hep Amakan tidak higienis c. demam. BAK seperti air teh. dan kuning Anamnesis :  RPS Onset : Onset demam1 minggu yang lalu. . Lokasi Durasi : nyeri kuadran kanan atas : Karakteristik : Demam sejak seminggu yang lalu. sebah. Review system : keluhan lain : a. tindik (B) f. Olahraga:b. cirinya influensa-like syndrome . BAB: pucat b. imunisasi hep b RPK : tanyakan orang tua dan istri apakah pernah mengalami hal yg sama? Hep b (vertical transmission & sexual transmission). 5-10% jadi HCC.

hep B. GGT : meningkat 83 . serologi: hep AIgM anti HAV Tes serologi hep B: b.5 RANGE NORMAL= SGOT/SGPT : 3 – 35 Iu/L c.Parafrase ke pasien Sebutkan DD Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak tidak enak badan. RR naik  jika kurus terlihat hepatomegali  dbn  hepatomegali  hepatomegali : hep A. ALP : meningkat (norml 30 – 35 Iu/L) d. takikardi. lemah Vital sign : febris.pusing. Cholecystitis Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sclera ikterik Leher : palpasi limfonodiga ada limfadenopati Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi  dbn Pemeriksaan penunjang a. Liver Function Test: SGOT/SGPT > 1.

Terapi e. lama h. makanan dijaga.d tab I f. Riwayat penyakit jantung (akibat gagal jantung kanan)... Hep B: Pasangan.d. antivirus (lamivudine.Tidak ada kencing manis.     RPK : Riwayat perjalanan :Treatment sebelumnya: obat warung Lifestyle : a. dikatakan hepatitis B. Hep A = curcumin Paracetamol HP Pro no XXVIII Sb. bilang ke pasien nanti sembuh sendiri . jarum suntik. Hep A: Bed rest. Olahraga: b. Merokok  Review system a. Terdapat penurunan nafsu makan 84 . dikasih obat dan sembuh. Edukasi g. mata kuning Anamnesis :  RPS : 3 bulan ini : kuadaran kanan atas : 3 bulan Onset Lokasi Durasi Karakteristik : Perjalanan penyakit: pipis seperti teh Agravating : beraktivitas berat Relieving: RPD : 10 tahun yang lalu pernah bilang sakit kuning. Diet : c. dikasih tau penyebarannya gimana. Hep B= imunomodulator (INF-a). Dulu sering minum jamu-jamuan. berasa mbesesek/sebah. obat kuat. Pola makan d. adefovir) Sirosis Hepatis KU : Perut membesar.

caput medusa.splenomegali.b. globulin >> 85 . kuku Muchcre/leukonychia (garis-garis putih horizontal yang dipisahkan oleh warna normal kuku akibat hipoalbuminemia) Pemeriksaan penunjang i. clubbing finger. hepatomegali (teraba bernodul). kulit kening. palpasi perkusi dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palmar eritem. dan tampak agak sesak nafas Vital sign : dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  spider naevi. kanker Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat lemas.perut. Karna kuning. dan d. ascites +  splenomegali. Albumin <<. hepatomegali dan ascites pada orang kurus Auskultasi Perkusi Palpasi  dbn  hepatomegali. fluid wave utkperiksa ascites Kepala : sclera ikterik Leher : kuning Thorax depan: screening spider naevi. Tanya BAK dan BAB! BAB pucat. ginekomasti. Ginekomastia e. Kriteria Subandiri: Dikatakan + sirosis jika terdapat 5 dari 7:       Varises esofagus Hematemesis/Melena Caput medusa Ascites Splenomegali Spider naevi punggung  Palmar eritem (karena hormonal) eritem di sisi ulnar dan radial (akibat hormonal)  UKK pada dada. hepatitis B/C. CBC albumin dan globulin. BAK air teh Parafrase ke pasien Sebutkan DD : sirosis. tanya gatal-gatal atau tidak c.

Forty. Fat. sirosis hepatis. Olahraga : b. ALT. LFT bilirubin direct. ALP dan GGT naik. gizi cukup.j. makan lunak Cholecysitis KU : Nyeri kuadran kanan atas abdomen Anamnesis :  RPS Onset : Lokasi : Epigastrium atau kuadran kanan atas. Fertile     RPD : pernah cholelitiasis RPK : Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. hepatitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : 86 . anti Hbc k. Durasi : ±60 menit Karakteristik : Agravating : makanan berlemak (memicu kontraksi kantung empedu) Relieving: Faktor risiko : 4F  Female. bisa menjalar ke kanan atas skapula (Boa’s sign).muscular guarding (defans muskular) Parafrase ke pasien Sebutkan DD : Cholelitiasis.AST naik. Serologi: Hbs Ag. marker HCC: AFP Terapi Bed Rest Roboransia Edukasi Istirahat cukup. Diet : suka makan makanan berlemak c. muntah. Pola makan :  Review system  keluhan lain : mual.

5 g/8 jam 3xsehari Rujuk spesialis bedah digestif diminta tarik nafas.Vital sign : temparatur maningkat (demam)     Murphy’s sign (ditekan di kuadran kanan atas. setelah 4-6 jam migrasi ke kuadran kanan bawah abdomen Durasi : <24 jam (kalau>24 jam perforasi) 87 . pasien Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Kepala : sklera  ikterik Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang USG  ada penebalan dinding vesica fellea. kelihatan cairan peri cholecystic. Hindari rokok ABDOMINAL PAIN. RLQ Apendisitis Akut KU : Nyeri kuadran kanan bawah abdomen Anamnesis :  RPS Onset Lokasi : akut : awalnya di periumbilikal. Terapi Analgesik : Petidine (morfin) Antibiotik : cefuroxime 1. Edukasi 1.bisa juga ditemukan ada batu. tekan. Hindari makanan berlemak 2. pasien akan berhenti tarik napas).

aktivitas berat. : appendicial mass Rebound tenderness (nyeri tekan lepas) Rovsing’s Sign : sebelah kiri ditekan. Relieving: Faktor risiko :     RPD RPK : penyakit cacing dan infeksi diGI yg menyebabkan hiperplasia limfoid. ga migrasi. intermittent (difus).Karakteristik : walanya colicky pain. pas idiangkat sebelah kanan sakit) Psoas Sign : tangan dilatakkan di lutut kanan pasien.5-38. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat nyeri. yg meningkatkan tekanan intra abdomen. Diet dan pola makan : kurang serat  Review system  keluhan lain : anoreksia. :- Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. kalo udah ke kanan bawah continuous pain (bisa ditunjuk). Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  88 . pada perut bag bawah). pasien diminta mengangkat paha menahan tahanan)  nyeri di kanan bawah Obturator Sign : gerakkan kaki pasien ke dalam sehingga lutut keluar  nyeri di hipogastrik kanan (kuadran kanan atas). PID (dispareuni. lemah : App akut. Olahraga : b. dull. Vital sign : mungking suhu meningkat (demam) subfebril (37. nyeri difus. Agravating : batuk.5) Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Superfisial Deep  dbn  dbn  dbn  : muskular guarding (peritonitis).

RPK : DM pada ibu Riwayat perjalanan : Lifestyle : a.Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang l. Makan makanan berserat (buah dan sayur) Pelvic Inflamatory Disease (PID) KU : Nyeri abdomen bawah Anamnesis :  RPS Onset : sejak 1 bulan Lokasi : perut bagian bawah (difus) Durasi : sudah 1 bulan Karakteristik : nyeri tumpul. aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya. Agravating : celana dalam ketat. pemakaian pembalut wanita. untuk mencari stadium app. Appendicogram udah pasti app. keputihan yg kadang-kadang baunya amis. Urinalisis  eksklud kehamilan Terapi Analgesik : paracetamol Metronidazol Edukasi 1. difus.gangren. Diet dan pola makan : 89 .     RPD : menstruasi ga teratur.netrofil > 95% kalo m. Olahraga : b. perforasi) o. (suppurative. USG appendix terlihat membesar n. CBC  Leukositosis. di perut kanan bawah.

Vital sign : mungkin demam Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi   Tenderness bimanual  ada nyeri goyang uteri. Lepas IUD 3. IUD Parafrase ke pasien Sebutkan DD : PID . vaginal swab.c.d.p. 11. XXVIII S.d. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As. kaku. Jangan melakukan hubungan suami istri dalam jangka waktu dekat 4. USG. Jangan memakai panty liner 90 .d.n 3. tab 1 p. Jangan melakukan irirgasi vagina 2. Edukasi 1.r.tab 1 p.d. memegang perut bagian bawah. S. Review system  keluhan lain : mual. muntah. Kepala : Leher : palpasi limfonodi Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi    Pemeriksaan Gyn : pake spekulum inspeksi. Apendisitis. adneksa teraba. Tetrasiklin 100 mg No.Mefenamat 500 mg No. KET Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. Antibiotik : R/ Tab. dispareuni (patognomonis). 2. Pemeriksaan penunjang Vaginal swab.c. IX.

memegang perut bagian bawah. Vital sign : mungkin demam  dbn  dbn  dbn  dbn Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Pemeriksaan Gyn : pake spekulum Cadwig’ Sign (tampak kebiruanpada portio cervix uteri) bimanual  ukuran uterus teraba membesar Kepala : Leher : palpasi limfonodi 91 . Agravating : aktivitas berat Relieving: Status kehamilan : GPA-nya.Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) KU : Nyeri abdomen bawah kiri atau bawah tetapi unilateral Anamnesis : RPS Onset : akut Lokasi : perut bagian bawah kiri atau kanan tetapi unilateral Durasi : akut Karakteristik : nyeri tumpul. PID . Status menstruasi : telat datang bulan RPD RPK   : :Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. difus. Olahraga : b. colicky.di perut bawah kanan/kiri. Apendisitis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : sangat kesakitan. muntah Parafrase ke pasien Sebutkan DD : KET. Diet dan pola makan :  Review system  keluhan lain : mual.

tab 1 p. Rujuk ke Sp.d.OG 92 . S.Thorax depan: screening  Jantung : auskultasi Extermitas : palpasi  Pemeriksaan penunjang: USG. IX.c.r. Beta hCG Terapi Analgesik : asam mefenamat R/ Tab As.p.d.Mefenamat 500 mg No.n 3.

penurunan berat badan >10% dalam 6 minggu VS : subfebril (<38. kakexia. HR dan BP normal Thorax : I : retraksi dinding dada (+/-) Pa : Fremitus taktil : menurun (oleh karena kaverna) meningkat pada apex (oleh karena infiltrat) Pe : Apex : Redup Kavitasi : hipersonor Efusi pleura : redup-pekak 93 . subfebril. asma TB Penyakit yang ditandai oleh adanya pembentukan granuloma spesifik yang terdiri atas tuberkel epiteloid. tinggal di daerah tidak bersih Review System : sariawan.BATUK DD : TB. pneumonia. CHF. keringat malam hari Px : Keadaan Umum : Lemas. Ax : KU : Batuk purulent RPS : O:L:D : akut ≤ 3 minggu Kronis ≥ 8 minggu C : batuk purulen dan berdarah disertai keringat pada malam hari. Pharyngitis.5). bronchitis akut. ganti – ganti pasangan. RR. sel giant dengan atau tanpa nekrosis kaseosa. penurunan nafsu makan dengan atau tanpa rasa nyeri dada terutama pada saat batuk A : peningkatan tekanan intraabdomen R:T : Sudah minum obat batuk tapi batuk ga sembuh-sembuh RPD : Batuk yang tidak sembuh – sembuh Riwayat vaksin BCG (-) Riwayat AIDS (+) RPK : Keluarga atau orang terdekat ada yang menderita TB/HIV/AIDS Lifestyle : Kurang gizi. penurunan berat badan. PPOK.

Ro (+) sakit berat ▪ TB ekstra paru berat 2RHZE 4R3H3 Kategori 2  Penderita Kambuh  Gagal  Lalai 2RHZES/RHZE 5R3H3E3 Kategori 3  TB Paru Baru BTA (-).A : Ronki basah pada Apex Suara napas bronchial Ekspirasi diperpanjang Egofoni : suara napas tinggi Kepala dan Leher : Konjungtiva anemic Limfadenopathy Deviasi trachea Px penunjang : Sputum BTA : min. limfadenopati hilus Darah rutin : leukositosis. anemia ringan (Hb>10). infiltrate dan konsolidasi (apex)  radiopaq. Ro 2RHZ (+) sakit ringan  Ekstra Paru Ringan 4R3H3 Anak : 2 RHZ+4RH Mulai tahun 2008 pengobatan pasien tuberkulosis untuk pasien dewasa diberikan dalam bentuk Kombinasi Dosis Tetap (KDT) : 1) Kategori 1 a) Pasien baru TB paru BTA positif b) Pasien TB baru BTA negatif foto toraks positif c) Pasien TB ekstra paru 94 .2 dari 3 sputum sewaktu. LED ↑ Tes tuberculin : indurasi > 10 mm Tx : Kategori 1 ▪ TB Paru Baru BTA (+) ▪ TB Paru BTA (-). sewaktu Foto Thorax AP dan L : bercak kavitasi (hiperlusen). pagi. neutrofilia. limfositosis.

Tabel 2. jadi itu misalnya BB 60 : R/ Tab 4KDT no.d.54 kg 2 tab 4KDT + 500 mg S 3 tab 4KDT + 750 mg S Selama 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 95 Tahap Lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E (400) Selama 20 minggu 2 tab 2KDT + 2 tab E 3 tab 2KDT + 3 tab E Berat Badan . Dosis panduan OAT KDT Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 Tahap Intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S Selama 56 hari 30 .d Tab IV ………………………fase intensif untuk 1 minggu kontrol R/ Tab 2 KDT no XLVIII S 3 kali 1 minggu Tab IV …………… fase lanjutan untuk 1 bulan kontrol Tapi kalo takut pasiennya lupa2 gitu. Dosis panduan OAT KDT Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) Tahap Lanjutan seminggu 3 kali selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT 30 – 37 kg 38 – 54 kg 55 – 70 kg ≥ 71 kg 2 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT Nah ribet ya? Iya .. trus resepnya jadi begini : R/ Tab 2KDT no. XII S 3 kali 1 minggu Tab IV 2) Kategori 2 Panduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya : a) Pasien kambuh b) Pasien gagal c) Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat Tabel 3.37 kg 38 . XXVIII S 1. jadi kalo mau disamain aja 1 minggu kontrol.

imunodefisiensi RPK : Lingkungan : pneumonia bisa terjadi di orang yang tinggal di tempat dengan sanitasi buruk.55 .d. jadi riwayat pneumoni sebelumnya bisa aja (-) Riwayat Mondok di RS (+/-) Riwayat penggunaan ventilator (+/-) Riwayat DM. Bromhexin Hcl 20mg/5ml 60 ml lag I S p. protein dan vitamin Pneumonia Ax : KU : batuk RPS : O : akut L:D : < 3 minggu C : batuk pada pneumoni itu berdahak bisa ada darahnya (tapi jarang). A : Kadang disertai sesak napas saat istirahat.d 5 ml pc Edukasi :   Minum obat setiap hari sampai habis Kontrol tiap 1-2 minggu pada tahap intensif dan tiap bulan pada tahap lanjutan  periksa ulang BTA bulan ke 2.r.n Tab I pc R/ Syr. infeksi viral. 5 dan 6    Minta bantuan keluarga atau pihak lain untuk mengingatkan pengobatan Hentikan rokok dan paparan polusi  pakai masker Nutrisi kaya kalori. padat begitu deh pokoknya Lifestyle : merokok 96 . X S p. reda trus muncul lagi RPD : penyakit ini akut.70 kg ≥ 71 kg Simptomatik : 4 tab 4KDT + 1000 mg S 5 tab 4KDT + 1000 mg S 4 tab 4KDT 5 tab 3KDT 4 tab 2KDT + 4 tab E 5 tab 2KDT + 5 tab E R/ tab paracetamol 500 mg no. kalo asma dan jantung kan pada saat aktivitas.n 3. PPOK.r. R: T : Udah minum obat batuk.

d. aktivitas. atopi (-) 97 .Review System : demam (+/-). ……………… selama 7 hari Edukasi: istirahat. keterlambatan pengembangan paru Pe : Redup (konsolidasi) A : Suara bronchial. kalo udah berat bisa muncul waktu istirahat R : istirahat T : obat batuk hitam tapi ga ngaruh RPD : ada riwayat penyakit yang serupa trus ilang trus muncul lagi RPK : Lingkungan : padat pemukiman.d. sesak napas terutama saat tiduran dan beraktivitas. pasien tampak lemah VS : RR ↑. minum air yang cukup PPOK Ax : RPS : O : kronik / kronik eksaserbasi akut L:D : > 3 bulan dalam 2 tahun terakhir C : batuk purulent disertai sesak napas A : rokok. tapi lingkungan benernya ga terlalu pengaruh juga sih Lifestyle : merokok sudah sejak lama Review System : pasien juga bisa mengeluhkan demam. riwayat alergi. pleural friction rub (+) egophoni Kepala dan Leher : dbn Abd : di auskultasi aja  dbn Ekstr : dbn Px Tambahan : Ro Thorax : infiltrate Kultur sputum Darah rutin : Leukositosis Tx : Mukolitik (jangan ekspektoran) PCT Antibiotic  penisilin G 6 juta IU/hari Amoksisilin 500 mg S 3. Ronki basah (+). penurunan nafsu makan Px : Keadaan umum : bisa terjadi penurunan berat badan. T ↑ Thorax : I : retraksi dinding dada saat bernapas Pa : fremitus taktil ↑ .

7 and 30% FEV1 <50% predicted IV : sangat parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. bibir cyanotic. pakai otot bantu pernapasan Abd : hepatomegali (pada kasus parah) Ekst : jari tabuh. pengembangan paru ↓ Pe : hipersonor.Px : Keadaan umum : pasien tampak lemah dan kurus. JVP ↑. tampak adanya kesulitan bernapas VS : T. pemanjangan ekspirasi. pasien tidak sesak tapi cyanotic  blue bloater Terapi : Derajat keparahan COPD I : ringan Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. krikoid dan inc.7 and FEV1 <30% predicted or FEV1 <50% predicted dengan gagal napas atau tanda gagal jantung kanan Menurunkan F. posisi tripod. nasal flare. edema tungkai (pada kasus parah) Px tambahan : spirometri  toleransi terhadap bronkodilator FEV1 < 12 % FEV1/FVC < 70% CXR  hiperlusent (air trapping) AGD : pO2 dan PCO2  PO2 dan PCO2 normal dan tidak ada cyanosis tapi pasien sesak  pink puffer. perpesaran ventrikel kanan (+/-) A : bronchial.7 dan FEV1 80% predicted II : sedang Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. mengi saat ekspirasi Kepala dan Leher : konjungtiva anemi. kalo PO2 rendah PCO2 tinggi. tanda kor pulmo.7 and 50% FEV1 <80% predicted III : parah Dengan atau tanpa batuk kronik dan prosuksi sputum FEV1/FVC <0. jarak kart. retraksi dinding dada Pa : fremitus taktil ↓.suprasternal saat eksp < 4cm. HR dan RR ↑ Thorax : I : bentuk dada sepeti tong.R dan vaksin influenza serta pemberian SABA Pemberian LABA Glukokortikoid saat eksaserbasi 98 . penggunaan otot bantu pernapasan.

blue bloater  kor pulmonar Edukasi : makanan rendah garam dan protein. hentikan rokok 99 .Longterm O2 therapy Penanganan serangan akut : SABA + antikolinergik + glukokortikoid (prednisolon 40 mg PO selama 14 hari) + O2 2-3 L/men Komplikasi : pink puffer  gagal napas. vitamin dan sayuran antioksidan.

visus menurun  keratitis. minus ? Cahaya terang makin nyeri  keratitis. pusing. iritis. neuropathy)  Glaukoma sekunder RPK keluarga ada yang sakit serupa? Glaukoma biasanya menurun ke anaknya (6%) lingkungan ada yang kena? LS RS1 Nyeri kepala. Keratitis (Glaukoma kadang2) A R T Other RPD Tanyakan pake contact lens ga. bakteri. glaucoma akut Apabila diberikan anestesi mata (ex: proparacaine) nyeri berkurang  keratitis Riwayat relaps  Iritis. alergi. iritis. Keratitis (SKDI 2).Sarcoidosis. chlamydial) . muntah  Glaukoma akut Mata berair. ada discharge  konjunctivitis Nyeri. konjunctivitis RS2 ada keluhan lain? Konjunctivitis Iritis Glaukoma sudut tertutup Keratitis Onset gradual gradual 100 mendadak gradual . runny nose  Konjunctivitis alergi Mata gatal  Iritis. Glaukoma akut Memakai contact lens  Konjunctivitis kontak lens Alergi obat tetes mata  Konjunctivitis alergi Penyakit autoimun (Crohn disease.dll)  Iritis Penggunaan obat steroid mata prolonged (biasany pd uveitis. foreign body L D C Tidak nyeri dan tidak photopobia . Keratitis Sudden onset : Glaukoma akut. Ankylosis Spondylitis. glaucoma akut Photopobia  Iritis.Mata Merah Konjunctivitis (SKDI 4). Glaukoma akut (SKDI 3A). Iritis (SKDI 3A) Ax RPS O Gradual onset : Konjunctivitis (viral.

positive fluorescence staining Conjunctival injection IOP Kornea Diffuse (dari perifer ke central) normal Jernih Siliar (dari central ke perifer) < Normal > Jernih Episklera Kadang2 siliar normal Berkabut / beruap (sperti melihat jendela beruap) Reflek pupil normal Konstriksi sedikit Reaksi pupil minimal ato (-) normal Bilateralitas sering Kadang-kadang Kadang-kadang Biasanya unilateral Konjunctivitis Konjunctivitis = inflamasi konjunctiva. Konjunctivitis viral  discharge watery.Relaps - Sering kambuh Kadang ada riwayat sblmnya - Visus Nyeri normal Tidak ada. ada prbhn reflek kornea. dapat diklasifikasikan sbb : Konjunctivitis alergi  biasanya gatal dan penderita pny riwayat alergi. ada sensasi benda asing Photopobia Discharge Pupil signifikan normal ++ konstriksi +/Semi dilatasi & fixed + None to mild Normal atau konstriksi Siliar (dari central ke perifer) N +++ Opacification. biasanya karna penyebaran virus ISPA sangat mudah menular ke mata satunya klo salah satu terkena. disebabkan oleh beberapa kausa. discharge purulen bkin belek jadi klo bangun tidur susah buka mata 101 . conjunctival injectionnya lebih difus (hmpir susah dibedakan dengan siliar). Konjunctiva bakteri  discharge lebih purulen karna yg menginfeksi biasanya bakteri pyogenik. sering diikuti mual muntah Sedikit menurun Severe. dapat ditemukan folikel limfoid di tarsal. atau minor menurun Moderate-severe & gatal menurun cepat Very severe.

BB/TB.1.3% Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis viral Livostin 1gtt 4dd  antihistamin Artficial tears (ex:insto) 1 gtt sprn 4dd Konjunctivitis alergi antazoline 0. gizi. Pemeriksaan penunjang Swab bakteri kultur 5.. discharge bisa mukopurulen ato purulen Tanda vital Suhu. respirasi  normal 3. Terapi Tindakan : ----- Farmakoterapi Konjinctivitis bakteri Cloramphenicol 0. terdapat folikel limfoid di tarsal.. Ada discharge.05% 1 gtt q2h prn (ga bole lbh dari 5 dd) 102 . pada konjunctivitis bakteri tampak crust menempel di bulu mata.dimulai dari limbus(perifer) ke arah central (konjunctival injection) Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO Segmen posterior Normal Jernih. Keadaan umum Keadaan umum. 2. Merah. nadi. kesadaran  mata merah.5% atau naphazoline 0. atau Gentamycin 0. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Ada crust/belek (konjunctivitis bakteri). dalam Normal Jernih Normal Normal Normal Normal 4. Jernih.5% tetes mata (Erlamycetin) 3-4x sehari 2 tetes. tekanan darah.

Tanda vital Suhu.1gtt.n.r. nyeri kepala ipsilateral. kesadaran  mata merah. Bumbum SIP 5566/2009 Alamat praktek/rumah Jalan Kesehatan no 53 Yogyakarta Yogyakarta. BB/TB.os. penglihatan kabur seerti melihat ‘halo’ di sekitar objek 1.4. 7. 20/12/09 R/ Tube Erlamycetin No.od Pro: Nama : Alda Umur : 17 tahun Glakukoma akut Keluhan umum : nyeri periorbital.3. I S.d. gizi. nyeri kepala hebat 2. respirasi 3.I S.od R/ Tube Insto No.os.p.2 gtt. tapi kalo diberi obat sembuhnya lebih cepat.d. mual muntah. nadi.d. tekanan darah. bagian perifer seperti berkabut hitam Normal 103 .d. deficit visual. Prognosis dr.6. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Menyempit. Keadaan umum Keadaan umum. Edukasi Istirahat Sebenarnya klo konjunctivitis dibiarin jg sembuh sendiri.

BB/TB. diikuti 500 mg PO Timolol ophthalmic 0. 7. Edukasi Prognosis Baik asal Mx nya cepat Iritis Keluhan umum : nyeri. Tanda vital Suhu. kesadaran 2. photopobia. dangkal Tidak reaktif dan dlm keadaan middilated Normal N+ (>21 mmHg apabila diukur dgn tonometer) Normal Normal Siliary injection 5. respirasi 3.5% 1 gtt bid di mata yg sakit Paracetamol utk mengurangi nyeri Antiemetic apabila muntah2. gizi. Pemeriksaan penunjang Bisa edema. synechiae Jernih. Terapi Tindakan Farmakoterapi : Pasien disupinasikan supaya menurunkan IOP : Acetazolamide (Diamox) 500 mg iv.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. 6. Keadaan umum Keadaan umum. tekanan darah. deficit visual. penglihatan kabur 1. nadi. Pemeriksaan mata Visual acuity Visual eye Field Ocular movement Visus turun Normal Normal 104 .

Cyclopegic  memblok saraf sphincter pupil dan m. Tanda vital Suhu.Steroid utk mngurangi inflamasi Prednisolone 1% 1 gtt q1-6h 6. penurunan imunologis.Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Bisa edema. 7. Terapi Tindakan Farmakoterapi : : . bisa smpe hypophion Reflek pupil Lensa TIO 4. gizi. pupil sedikit miosis Bisa opasitas (katarak) bisa tidak. Edukasi Prognosis Keratitis Anamnesis : riwayat kontak lens. tekanan darah. Pemeriksaan penunjang Reaktif . BB/TB..tp ga spesifik buat uveitis Bisa mencetus glaucoma sekunder klo udah parah Normal Normal Siliary injection 5. Keadaan umum Keadaan umum.ciliaris Cyclopentolate 0..5-2% 1gtt 3dd . Pemeriksaan mata Visual acuity Visus turun 105 . synechiae Aquous humor apabila disinari sperti flare Ditemukan WBC di kamera okuli ant. trauma. kesadaran 2. nadi. respirasi 3. corneal disease 1.

Terapi Tindakan Farmakoterapi Rujuk aja…soalnya level SKDI 2 : : 6. ada discharge mukopurulen kadang2 Normal Siliary injection Ada ulserasi. posterior synechiae Normal Normal Normal 5.Visual eye Field Ocular movement Segmen anterior Kelopak mata Bulu mata Konjunctiva bulbi&palpebra Kornea Kamera Okuli Ant Reflek pupil Lensa TIO 4. Pemeriksaan penunjang Normal Normal Edema eyelid atas. 7. 106 . Edukasi Prognosis Tambahan: Retinopathy diabetika atau hipertensi  ciri ada neurovaskularisasi rapuh  pecah  pendarahan  iskemia  cotton woll spot  bisa ablasio retina.

Metabolic asidosis  hiperventilasi & kussmaul 6. Anafilaktik akut 5. kecuali bila asmanya sudah parah 107 . Durasi : beberapa menit yang lalu.asthma. Severe chronic anemia  tisssue anoxia  sesak napas 4. PPOK 3. Psikologis: pasien cemas sesak napas + batuk kronik + sputum + rekuren + merokok  lung suffocation kalau asthma. Onset o. tiap serangan biasanya hanya sebentar. Cardiovascular = ACS 2. Respiratory: PPOK . Severe respiratory infection: pneumoni. KU : sesak napas h. epiglotitis akut 3. mitral regurgutaion 2. Lokasi p. tanya durasinya udh berapa lama. Psikogenik disorder= anxiety (heieprventilasi)   Sudden onset dulu pernah Insidious onset.DYSPNEA Sensasi sulit untuk bernapas Kausa  Sudden onset dulu nggak pernah 1. tentukan derajat aktivitas ketika sesak napas Asthma g. kronis dan berulang : sesak napas di dada : beberapa menit. mitral stenosis. Anamnesis :  RPS n. CHF. Respirasi lain Inhaled foreign body Upper airway obstruction Pneumothorax Atelectasis 4. beberapa lama 1.

debu. kelelahan. faktor stres (misal mendekati ujian) s. b. musim. sulit untuk berbicara r. Karakteristik : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. nebulizer dll RPK : keluarga ada riwayat sesak napas. asma. pakai otot bantu pernapasan. atopi Riwayat perjalanan : hilang timbul Lingkungan : berdebu. perubahan suhu (malam hari). c. stress. batuk berdahak disertai sesak napas seperti diikat. sesak napas seperti diikat. alergi. Vital sign : RR ↑. Kondisi umum : triport position atau berbaring dengan kepala lebih tinggi dari badan. Agravating : terpapar alergen. makanan. pekerjaan. j. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi  penggunaan otot2 bantu pernapasan Retraksi dinding dada terutama supraclavicular.q. takikardi. obat-obatan. ventilasi kurang baik Lifestyle : a. mukosa bibir tampak pucat-cyanosis Leher : palpasi limfonodi dbn 108 . infeksi.      Treatment : penggunaan antihistamin/obat-obatan untuk alergi RPD : riwayat alergi. SCM. Parafrase ke pasien Pemeriksaan fisik : 12. Relieving: menghindari allergen. tidak ada demam dan pilek i. riwayat penggunaan obat-obatan asma spt kortikosteroid. BP & T normal 14. intercosta Asma berat  dada tong Penurunan pengembangan dada yang simetris Mengi dapat terdengar tanpa bantuan stetoskop Palpasi Perkusi Auskultasi  fremitus taktil ↓  hipersonor vesicular. wheezing Kepala : Nasal flaring. memiliki hewan peliharaan. antihistamin t. musim semi. kesuliatan bernapas 13. Olahraga : Diet : Pola makan : -  Review system  gatal/atopi pada kulit. oksigen.

Skin prick test b. Moderate persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi 109 . Pemeriksaan penunjang a. Spirometri dinamis FEV1 ≥12% (>200 ml) setelah administrasi bronchodilator Perbaikan (Perak Expiratory Flow) PEF ≥ 20% pre-bronchodilator 16. Mild persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi c.Abdomen: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : atopi (+/-) 15. Mild intermittent SABA 3-4 x/hari Belum perlu controller b.Terapi Serangan akut : oksigen 4-6l/men + Reliever (nebulasi) a. IgE spesifik dan total c. CBC eosinofilia.

r.d puff II 17. KU : sesak napas b.d. Hindari allergen CHF a. Anamnesis :  RPS 1) Onset 2) Lokasi 3) Durasi    : beberapa bulan yang lalu.n 3.d. progresif dan kronis : dada : > 8 minggu 4) Karakteristik : Merasa mudah lelah. mengganggu aktivitas Sesak napas semakin memberat Tidur lebih nyaman dengan bantal tinggi Gagal jantung kiri: 110 . Severe persistent SABA 3-4 x/hari Glucocorticoid inhalasi LABA inhalasi Satu/lebih dari teophylin sustained release atau leukotrien modofier controller  untuk asma persistent Anti inflamasi steroid Inhalasi  budesonide 200 mikrogram 2x / hari Oral  methyl prednisolone 4mg Long Acting Beta Agonist (LABA) Salmeterol 100 mikrogram inhalasi Formoterol 24 mikrogram inhalasi reliever  pada eksaserbasi asma akut  bronchodilator Short Acting Beta Agonist (SABA)  salbutamol 4mg oral / 200 mikrogram inhalasi R/ tubulinhaler salbutamol lag I S p. Edukasi 1.

stenosis mitral Gagal jantung kanan:  lanjutan gagal jantung kiri.  Sistolik: infarct ventrikel kiri. cor pulmolae 5) Agravating : aktivitas 6) Relieving: istirahat 7) Treatment : berobat ke dokter. Pemeriksaan fisik : Thorax depan: o Inspeksi Ictus cordis kuat o Palpasi Ictus cordis berpindah bergeser ke atas  hipertrofi ventrikel kanan bergeser ke bawah  hipertrofi ventrikel kiri Fremitus meningkat  karena ada cairan Kulit dingin dan lembab (keringat) o Perkusi Cardiomegali 111 . Vital sign : nadi ↑. tanda gagal jantung lain seperti palpitasi. belum ada perbaikan     RPD : hipertensi RPK : orang tua hipertensi Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. efusi pleura. Kondisi umum : lemah.  Olahraga : tidak suka Merokok Pola makan : tinggi lemak Review system  keluhan lain : edema tungkai. atau stenosis katup aorta  nggak bisa pompa saat sistolik) Diastol: insufisiensi aorta. c. b. hepatomegali c. berkeringat. Parafrase ke pasien d. hipertensi. dengan atau tanpa edema tungkai dan sesak napas saat berbaring 2. pucat. sesak napas terutama malam (pnd). regurgitasi mitral. respirasi ↑ 3. diberi obat. Pemeriksaan fisik : 1.

berkeringat Kriteria Framingham CHF bila memenuhi 2 major atau 1 mayor + 2 minor Kriteria major 1. Dispnea d’effort 3. Tachicardia 2. ↑JVP 6. Ortopnea/PND 3.Hepatomegali. RBB (+) 5. intercostal JVP meningkat  terlihat saat pasien berbaring 45 derajat Leher : dbn Abdomen: o Inspeksi: lingkar perut meningkat karena ascites o Palpasi Fluid wave  ascites Hepatomegali (RHF) o Perkusi Hepar teraba Nyeri tekan kuadran kanan atas o Auskultasi Extermitas : bengkak. Hepatomegali 112 . Edem paru akut 4. asites  pada gagal jantung kanan o Auskultasi Thrill Murmur RBB  karena peningkatan cairan di paru S3 gallop  seperti suara kuda S3 gallop gagal jantung kiri  apex S3 gallop gagal jantung kanan  ujung sternum Kepala : gerakan cuping hidung gerakan otot bantu pernafasan  retrakasi otot SCM. Edem ekstremitas 5. Cardiomegali 2. Efusi pleura 4. Refluks hepatojugular Kriteria minor 1. pitting edema.

Batasi asupan Na 2. Batasi aktivitas fisik 113 . S persisten di v5 & v6 6. LAD 8. tab I p.5 mg No XXX S 3. v6 Kanan  RVH 5. Edukasi 1. S wave di v1 + R wave di v5 atau v6 ≥ 35mm 7. Furosemid 20 mg No XXX S 3. Echocardiography Fraksi ejeksi <40% 5. EKG Kiri  LVH 5. tab I p. CXR Cardiomegali: Karena hipertrofi otot jantung Karena dilatasi akibat penumpukan darah c.d. Strain pattern st depressed & T inverted di v5. v2 b.d. Captopril 12.c.d. Pemeriksaan penunjang a. Aksigenasi 3.4. R wave > S wave di v1 7. Terapi R/ Tab.d. RAD 8.c. Strain pattern st depressed & T inverted di v1. R/ Tab. Beta blocker  pada post MI 6. R wave di v5 atau v6 ≥ 27 mm 6.

Tx definitive: WSD Flail Chest Terjadi pada fraktur kosta yang segmental (2 tempat atau lebih). pada saat ekspirasi jadi kedesak ke luar  gerakan paradoksal dinding dada. Akibat patah  nyeri. Sehingga setiap ada napas. JVP meningkat Tension  nekan paru-paru kontralateralnya juga  distress napas yang hebat (sesek. Assess: Listen (sucking chest sound). kanan. sehingga akan menekan paru-paru. dicoblos di linea midclavicular SIC 2.Pneumothorax: OPEN PNEUMOTHORAX Pneumothorax terbuka terjadi akibat terbentuknya lubang di dinding dada yang diameternya lebih dari 2/3 trachea. dan berurutan  daerah yang fraktur lepas dari kesatuan  jadi kuwalik-walik  pada saat inspirasi malah kesedot kedalam. apalagi kalo begerak Tx: bagian yang keluar-masuk ditahan. tidak semua masuk lagi ke paru-paru. udara akan masuk ke rongga pleura. Pada saat ekspirasi. dengan mitela atau miring ke bagian yang sakit plus painkiller Tamponade cordis Jantung kayak di tampon (ciri: suara jantung melemah)  venous return menurun  JVP meningkat  yang dipompa dikit  stroke volume menurun. Tension nekan mediastinum  yang ngaruh cuma vena cava  kegencet  venous return menurun syok. udara dari paru juga akan berduyun-duyun ke lubang. dan akhirnya akan paru akan kempis. Feel (perkusi: hipersonor) Tx definitive:WSD (Water Seal Drainage)  “ditutup” lubangnya Tx emergency: tutup lubang di dada dengan menggunakan kain/plastic yang diplester di 3 sisi (atas. nadi lemah  tekanan arteri menurun + syok ”Trias beck”  Tx: pungsi pericard. Look (gerakan napas tertinggal). sehingga menimbulkan sucking chest sound. RR meningkat) Treatment: “digembosi”  pake jarum atau pisau. multiple. Melalui lubang tersebut udara luar masuk ke rongga pleura. Setiap kali inspirasi. 114 . namun pada saat ekspirasi. dan kiri) TENSION PNEUMOTHORAX Pneumothorax tension terjadi bila lesi dinding dada (pleura parietalis)/pleura visceralis bersifat ventil atau katup. volume makin meningkat  tension.

hipoalbuminemia. labium mayor. sesak napas 115 . Parafrase ke pasien n. warna keruh).manifesnya semakin parah z. Pola makan:  Review system : keluhan lain : ada sesak napas ga? (untuk eksklusi CHF: kl ada. Treatment :  RPD : pernah faringitis bacterial (Streptococcus B-hemolyticus grup A) sebelumnya. ascites ato ga? (SN ada ascites). sesak napasnya paroksismal dyspneu. nafsu makan berkurang. Olahraga: b.). Diet : protein berlebih (telur) c. bibir). Relieving aa. BAK terganggu => frekuensi meningkat. hipertensi Lifestyle : a.5 gr/hari). Diabetes Mellitus   RPK : riwayat kencing manis (DM). ). Sebutkan DD : CHF. pitting udem (karena udemnya interstitial jd saat dipencet ga balik lg) m. tidak nyeri dan tidak terasa panas kencingnya. Durasi : 2 minggu : pagi hari di wajah (kelopak mata. Glomerulonefritis (cratinin clearance berkurang) o. 2 hari yang lalu jadi seluruh tubuh : 2 minggu x.oedem anasarka (nonpitting) di jaringan yang longgar (kelopak mata. scrotum. k. Karakteristik : saat bangun tidur mata terasa tebal semakin siang semakin berkurang bengkak di matanya tapi di kaki makin bengkak. kenaikan serum lipid trigliserid. Agravating : kalo diet banyak protein (telur). Pemeriksaan fisik : 18.Sindrom nefrotik Definisi: kumpulan gejala dimana terjadi proteinuria (>3. riwayat sakit pinggang dan kencing warna merah (ada glomerulonefritis sebelumnya). BAK dan BAB terganggu ga (kl SN. Anamnesis :  RPS u. Lokasi w. keluar dikit2. berat badan bertambah tapi merasa lemes y. Onset v. tidur pake bantal. dll. (<3 gr/ml). Kesan umum : gelisah. KU : Bengkak-bengkak l.

d tab I 23. diet rendah garam dan tinggi protein 2.Prednisone untuk mengatasi peradangan Prednisone 1 mg/kg BB/hari (BB sebelum udem) Sediaan yg ada 1 tablet = 5 mg. Urinalisis (sampel urin berasal dari urin tampung 24 jam)  proteinuria (>3.batas jantung normal (tidak ada cardiomegaly) Abdomen : ditemukan efusi pleura kl parah Inspeksi Auskultasi  ada ascites (perut membesar) d. Diberitahu efek samping obat bisa menyebabkan imunosupresan dan “moon face” 116 . no fever.5 gr/hari).d. Berdasar etiologi : . Captopril 12.5 mg s. diminum pagi dan malam (pagi lebih banyak drpd malam) . Bed rest b.19.d. creatinine clearance normal (untuk membedakan dengan GN) b. Bed rest.Terapi a.Furosemide untuk mengatasi udem Tab.2.8 – 1 gr/kg BB) c. Furosemide 80 mg s. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan fisik : Thorax : . 20.hipertensi ato DM  ACE inhibibor Tab. Edukasi 1.Vital sign : BP naik.b. Diet rendah garam dan tinggi protein (0. Darah  ada dislipidemia. . hipoalbumin <3 gr/mL 22.1.d tab I .n Perkusi  shifting dullness (tanda ascites) Palpasi  float wave (tanda ascites) Kepala : muka udem (terutama mata dan bibir) Ekstremitas : pitting udem serta ga ada nyeri 21.

lengan kiri bisa sampai ke ulnar Timbul saat istirahat >20 menit. Relieving: Pada stable angina mereda dengan istirahat & nitroglycerin hh. b. burning. nyeri dada b. diremas. Onset cc. tidak bisa dihilangkan dengan istirahat atau pemberian nitroglyserin ff. ada kolateral obstruksi total a. Karakteristik : 1) 2) 3) 4) Nyeri khas. megang dada : ACS. Kondisi umum : cemas. Agravating : aktivitas fisik gg. hipertensi  RPD : Belum pernah nyeri seperti ini Riwayat hipertensi. atau dicengkeram Radiasi ke rahang. KU : sesak napas. mual. obesitas DM. leher. Lokasi dd. c. rokok. Durasi : akut. Faktor risiko : dislipidemia.CHEST PAIN: ACS Unstable NSTEMI STEMI obstruksi parsial obstruksi total. Parafrase ke pasien d. DM    RPK : orang tua pernah mengidap penyakit jantung Riwayat perjalanan : Lifestyle : a. GERD 117 . muntah c. gelisah. Sebutkan DD e. Anamnesis :  RPS bb.  Olahraga : jarang berolahraga Merokok Pola makan : makan makanan berlemak Review system  keluhan lain : keringat dingin. seperti tertindih. berkeringat. beberapa menit yang lalu : nyeri dada menjalar sampai lengan kiri & rahang kiri : > 20 menit ee. Pemeriksaan fisik : 24.

Morphin IV jika nyeri tidak berkurang dengan nitroglycerin b. Periksa cardiac enzyme CK-MB. Nitrogliserin SL d.Pemeriksaan fisik : Thorax depan: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Kepala : dbn Leher : palpasi limfonodi dbn Abdomen: screening  dbn Extermitas : Inspeksi  Ektermitas pucat palpasi  Ekstermitas dingin dan berkeringat 27.Vital sign : hipertensi. Pertimbangkan reperfusi 118 .25. Foto Thorax (liat ukuran jantung) 28. 10 menit pertama  EKG 12 lead  bedakan STEMI. NSTEMI. takikardi  dbn  dbn dbn dbn 26.. Pemeriksaan penunjang a. pertahankan saturasi O2>90% c. ST elevasi dan Q patologis (STEMI) ST elevasi kalau naik > 2mm di lead precordial atau naik > 1mm di lead extremitas pada minimal 2 lead berurutan Manifes Q patologis (>1/3 R’ atau kalau R < 5 kotak maka sekecil apapun disebut Q patologis) Depresi ST (NSTEMI) b. Clopidogrel f. Aspirin 160-325 mg e. Oksigen 4L/mnt. unstable Lihat pambahasan EKG. troponin I c. Terapi Berikan MONACO a.

3 mg No VII S. p. Turunkan berat badan 2.n. faktor hormonal (mis : 119    . mual atau regurgitasi dan rasa pahit di lidah.Characteristics : nyeri seperti tebakar. . beta adrenergic. Odinofagi (nyeri saat menelan makanan) juga bisa muncul bila sudah terjadi ulserasi esophagus berat.n. kadang .Edukasi 1.Treatment : RPD : GERD biasanya kambuh . Management lipid 5. dll).d.obatan tertentu (antikolinergik. RPK : Profil pasien : . Aktivitas fisik aerobik 4. IV (dikunyah. Keluhan nyeri ini umumnya timbul setelah makan. theofilin. Nitrogliserin 0. Tab.Location : epigastrium atau retrosternal bagian bawah . 1.amati ada tidaknya faktor resiko → memiliki hiatus hernia.Duration : beberapa menit . saat serangan) Stable angina pectoris:   aspirin dimunum saat serangan & biasa nitroglycerin saat serangan 29.r.Onset : akut . Aspirin 80 mg no XXVIII S. p.kambuhan.Aggravating : tidur setelah makan .Fibrinolitik  door to needle 30 detik PCI kalau ada kontraindikasi fibrinolitik  door to ballon 90 detik R/ Tab. Aspirin tiap hari GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) Anamnesis   KU : Nyeri dada yang seperti terbakar RPS : .d. opiat.r. sublingual (saat serangan) R/ Tab.Relieving : . Stop merokok 3.kadang bercampur dengan gejala disfagia (sulit menelan). menggunakan obat .

. soft drink. peningkatan progesterone karena kehamilan).20 mg / hari → menurunkan gejala karena meningkatkan tonus sfingter dan mempercepat pengosongan lambung sehingga esophagus tidak lama terpapar asam .Hindari makan sebelum tidur 120  .Antagonis reseptor H2  Simetidin : 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg  Ranitidin : 4 x 150 mg  Famotidin : 2 x 20 mg  Nizatidin : 2 x 150 mg .Prokinetik  Metoclopramide : 3 x 10 mg → harus dengan kombinasi bersama Antagonis reseptor H2 atau PPI. Esofagografi dengan barium → pada pasien dengan hiatus hernia atau stenosis esophagus.  Domperidone : 3 x 10 .Antasid : 4 x sehari . coklat .Sukralfat : Alumunium Hidroksida + Sukrosa Oktasulfat . konsumsi alkohol . namun tidak untuk penyembuhan lesi. Tata Laksana :  Medikamentosa : Pilihan terapi medikamentosa yang dapat digunakan antara lain : .  Cisapride : 3 x 10 . Review system Pemeriksaan Fisik :      Kondisi umum : tampak memegangi ulu hati Vital sign :dbn Kepala leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Pemeriksaan Penunjang :   Standar baku : endoskopi saluran cerna bagian atas → akan ditemukan mucosal break pada esophagus.PPI : pada kasus yang berat  Lansoprazole : 2 x 30 mg  Pantoprazole : 2 x 40 mg  Rabeprazole : 2 x 10 mg  Esomeprazole : 2 x 40 mg Modifikasi gaya hidup : .20 mg / hari → selain menurunkan gejala juga bisa sekaligus menyembuhkan lesi di esophagus.Meninggikan kepala saat tidur . peppermint .

kopi dan minuman bersoda karena dapat menstimulasi asam Hindari obat .- Berhenti merokok dan alkohol karena dapat menurunkan tonus sfingter esophagus Kurangi konsumsi lemak dan jumlah makanan yang dikonsumsi karena bisa menyebabkan distensi lambung Turunkan berat badan untuk menurunkan tekanan intra abdomen Hindari makan coklat. peppermint.obatan yang menurunkan tonus sfingter esophagus (kolinergik. etc) 121 . beta adrenergik.

muntah. transquilliser. pucat dan berkeringat    Unsteadiness : sensasi tidak seimbang atau perasaan akan jatuh Lightheadedness : faint (blur). penggunaan obat antihipertensif    Hipoglikemik : disertai gejala berkeringat dan lapar Penggunaan obat-obat : antihipertensif. diabetic autonomic neuropathy. menierre. neuronitis vestibular Tanyakan adanya perasaan berikut : 1. kardiak (stenosis aorta dan pulmunal dll) Batang otak : infark.PUSING/DIZZINESS Sensasi tidak seimbang oleh adanya gangguan satu atau lebih organ yang menjaga keseimbangan. betul-betul nampak berputar atau anda merasa seperti sedang bergerak? Pertimbangkan vertigo 122 . fistula N VIII : akustik neuroma. Pusing Vertigo Unsteadiness PseudoVertigo Lightheadedness Giddiness Oleh karena itu perlu dilakukan kategorisasi symptom menjadi salah satu kategori diatas :  Vertigo : sensasi berputar baik secara subjektif (pasien) atau objektif (sekitar). tumor Labyrinth : labyrinthitis. biasanya disertai mual. antikonvulsan Penyakit lain : anemia. presinkop sensation Giddiness : sensasi tidak spesifik Atau mengklasifikasikannya menjadi dengan atau tanpa vertigo : Dengan vertigo :  Perifer o o  Sentral o o Tanpa vertigo :   Infeksi viral akut seperti pada gaster atau usus Hipotensi postural : biasanya terjadi pada wanita usia muda. kehamilan usia muda. seperti perabotan atau lukisan dinding. BPPV. Apakah objek dalam pandangan anda. Apakah anda merasa akan pingsan? Gejala demikian mungkin merupakan prasinkop 2. insufisiensi vertebrobasilar Cerebellum : degenerasi.

5. Apakah diikuti dengan sakit kepala  desak ruang oleh peningkatan TIK  neuroma akustika VERTIGO Klasifikasikan apakah disebabkan oleh obat. kemungkinan disebabkan oleh penyakit vestibular. Apakah samar-samar kepala anda terasa ringan? Bisa menunjukkan berbagai masalah mulai dari hiperventilasi sampai nyeri kepala tipe tegang. neuroma 123 . vertigo sentral atau perifer. Apakah yang mencetuskan gejala? Jika gerakan kepala menimbulkan gejala. Anamnesis KU : kepala terasa pusing dengan sensasi berputar RPS : Onset : Lokasi : Durasi : Duration of episode Sangat singkat Suggested diagnosis Vestibular neuronitis (late). atau kelainan sentral pada batang otak. Mual dan muntah menunjukkan penyakit pada sistem vestibular atau batang otak. 3. yang bisa disebabkan oleh kelainan perifer pada telinga dalam atau nervus kranial VIII. stroke.murni. 4. migraine. Hari Neuronitis migraine Minggu Characteristic : Berputar psikogenik verstibular. Diplopia merupakan tanda penyakit pada batang otak. akustika. Gejala ini kadang-kadang disebut sebagai pusing psikofisik. Adakah gejala penyerta? Adanya tinitus dan ketulian merupakan tanda kelainan telinga dalam. Diagnosis pasti jarang berhasil ditegakkan. fistula perilimfatik post trauma. fistula perilimfatik TIA. Terjadinya gejala pada posisi berdiri kemungkinan disebabkan oleh hipotensi postural. fistula perilimfatik Meniere.jam BPPV. meniere disease (late) Beberapa detik – menit Beberapa menit – jam Berjam. 6.

diuretic. barbiturate. multiple sclerosis. loud noises Relieving : Therapy : Keluhan Penyerta : Untuk membedakannya.Aggravating : induksi obat seperti alcohol. antihipertensi.. hilang dalam hitungan minggu – bulan. tidak hilang saat mata terfokus pada objek. BPPV.g. cerebellopontine angle tumor. migraine Immunosuppression (e. cerebrovascular disease (stroke or TIA). perilymphatic fistula Spontaneous episodes (i. hilang saat mata focus pada suatu objek. antidepresan. migraine. head trauma. quinine Provoking factor Perubahan posisi kepala Suggested diagnosis Acute labyrinthitis. hilang dalam beberapa hari’ tidak berubah arah saat 124 Vertigo Central Murni vertical. advanced age. immunosuppressive medications. salisilat. aminoglikosidm antikonvulsan. horizontal atau torsional.. excessive straining. no consistent provoking factors) Acute vestibular neuronitis. multiple sclerosis Recent upper respiratory viral illness Stress Psychiatric or psychological causes. Perilymphatic fistula Herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis . Ménière’s disease. kokain. perhatikan tabel di bawah ini : Kenampakan Nystagmus Vertigo Perifer Kombinasi horizontal dan torsional.e. stress) Changes in ear pressure. nitrogliseride.

tinnitus Symptom neurologis lain Latensi nystagmus setelah maneuver RPD : Riwayat Trauma (+/-). salisilat. Facial weakness Focal neurologic findings herpes zoster oticus) Acoustic neuroma. furosemid RPK : vertigo (+/-) Riwayat Perjalanan : Lifestyle : (-) Review System : Symptom Aural fullness Ear or mastoid pain Suggested diagnosis Acoustic neuroma. Ménière’s disease Acoustic neuroma. bahkan berdiri Nausea. multiple sclerosis (especially findings not explained by single neurologic lesion) Acoustic neuroma. perilymphatic 125 Parah Sering Jarang Lama ( 20 detik ) Bervariasi Jarang Sering Cepat ( 2 detik ) . otitis media.napas atas (+/-) Gangguan pendengaran (+/-) Riwayat pengobatan dengan obat-obatan toksik seperti aminoglikodisa.focus kea rah lain Imbalance Ringan – sedang. sulit hingga tidak mampu berjalan. vomite Hearing loss. Headache Hearing loss cerebrovascular disease. acute middle ear disease (e. masih mampu berjalan Parah. Diving (+/-) Riwayat infeksi sal.. migraine Ménière’s disease.g. herpes zoster oticus Cerebellopontine angle tumor.

T (N). cerebellopontine angle tumor (usually severe) Peripheral or central vertigo Migraine Acute labyrinthitis. gidddiness Pemeriksaan fisik Kondisi umum : Pasien tampak agak lemas dan berkeringat. herpes zoster oticus Acute vestibular neuronitis (usually moderate). presinkop. Ménière’s disease DD : Vertigo. disequilibrium. Kalau negative. BP (N). photophobia Tinnitus involving anterior inferior cerebellar artery. yaitu pemeriksaan pada system saraf. RR (N).  System saraf Maneuver Dix Hallpike Test Maneuver Dix Hallpike yang positif diikuti anamnesis riwayat vertigo dan / atau nystagmus yang positif dapat digunakan untuk menegakkan hasil diagnosis yang positif untuk vertigo perifer et causa BPPV. kepala dan leher. vesikel (+/-) Fistula perilimfatika (+). transient ischemic attack or stroke Nystagmus Phonophobia. caranya dengan :  Hennebert’ sign merupakan vertigo/nystagmus yang terjadi akibat penekanan pada tragus dan Meatus akustikus eksterna telinga yang mengalami defek. 126 . curiga hiptensi postural Ada tiga focus penting dalam pemeriksaan fisik pasien vertigo. Imbalance cholesteatoma. cendrung curiga ke sentral.fistula. acoustic neuroma. serta system kardiovaskular. dengan atau tanpa pucat VS : Pulse (N). Bila BP rendah. otosclerosis.  Kepala dan leher (ENT) Membran timpani : rupture (+/-) . acoustic neuroma.

tuli saraf (kerusakan n. kardiovaskuler Singkirkan dd. apakah sentral atau perifer Pemeriksaan : Sistem saraf. Valsava mauver memberikan tanda adanya fistula melalui peningkatan tekanan pada tuba eustachii dan telinga dalam. Kepala dan Leher. Radiologis : Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk beberapa keadaan seperti:     Adanya symptom neurological. (3). Tes Audiometri : membantu diagnosis vertigo akibat penyakit Meniere. Garpu tala : Tuli konduktif (kerusakan telinga tengah). psikosis dl) Pasien datang dengan pusing Curiga Vertigo Ya Memakai obat – obatan yang dapat menginduksi vertigo Ya Tidak Hentikan pengobatan Tidak Periksa untuk leghtheadedness. progressive unilateral hearing loss dan berbagai symptom vertigo sentral lainnya. Vertigo sentral Pertimbangkan tes laboratorium atau radiologis (bila diperlukan) Rujuk bila masih ragu atau menemukan hal yang memerlukan rujukan setelah diperiksa Terapi  Infeksi viral self-limited : obat simptomatik + cairan 127 . CBC (complete blood count) dan pemeriksaan fungsi thyroid. Rujukan Diagnosis penyebab masih belum jelas/meragukan. factor resiko penyakit kardiovaskular. Pemeriksaan penunjang Lab : kadar elektrolit. gangguan fungsi otonom)  Penurunan tekanan darah sistolik hingga 20mmHg atau lebih atau kenaikan denyut lebih atau sama dengan 10x/menit. (2).VIII)  System kardiovaskular Hipotensi orthostatic (dehidrasi. Ditemukan kondisi lain yang membutuhkan perujukan setelah pemeriksaan dilakukan (vertigo sentral. glukosa. disequilibrium atau pre-syncope Anamnesis : Tentukan penyebab vertigo. Ada gangguan neurologis fokal. tentukan diagnosis Lakukan MRI bila : (1). Ada factor resiko penyakit kardiovaskular. Untuk menyingkirkan kecurigaan infeksi bacterial atau neoplasma.

tinnitus. terutama malam hari D : Transien bberapa detik C : Rekuren terkait perbahan posisi kepala terus selama berminggu – bulan lalau sembuh spontan A : perubahan posisi R : Sembuh secara spontan RPD : serangan yang sama (+) RPK : Lifestyle : bantal relaif tinggi.X S 3. instabilitas dan SNHL. antikonvulsan BPPV : edukasi : menggerakkan kepala secara lebih perlahan atau dengan menggunakan collar neck untuk mencegah pergerakan spine yang berlebihan dan mendadak Tambahan : BPPV Ax : O : mendadak berkaitan dengan perubahan posisi kepala. stress tinggi Review system : Px : pemeriksaan fisik : dbn Manuver Dix Hallpike Tx : Manuver Epley.d. Simptomatik (vestibular sedative): R/ Tab prochlorperazine mg 5 no. terdapat periode freedom 128 . MENIERRE DISEASE Ax : RPS : O : Mendadak dalam hitungan menit D : berjam-jam C : pusing disertai mual. VI S 2.d Tab I   Psikiatrik : sedative. pucat.d Tab I    Neuronitis vestibular : simptomatik Hipotensif ortostatic/hipoglikemic state : penghitungan ulang dosis obat Meniere : diet rendah garam dan diuretic ringan R/ Tab Betahistin 8 mg no. sensasi penhu akibat hidrops endolimph.d.

SNHL Tx : serangan akut  bed rest. vi. x  Tanda peningkatan TIK 129 . diuretic NEUROMA AKUSTIKA Ax : RPS : O : perlahan-lahan D : berjam-jam C : diawali dengan gangguan pendengaran SNHL dan gangguan keseimbangan A : pagi hari saat terjadi peningkatan TIK R: T: RPD : RPK : Lifestyle : Review System :  Gangguan pendengaran. ix. tinnitus. pada fase lanjut dapat diikuti kerusakan pada n. tinnitus.v.A:R : spontaneous T:RPD : Gangguan pendengaran RPK : Lifestyle : Review system : rasa penuh di telinga. antihistamin(cinnarizine) Prophilaksis : diet rendah garam (1g/d).

secara klinis mirip dengan M pneumoniae. Pharyngitis biasanya mendahului 130 . Pasien biasanya mengeluhkan batuk. dan biasanya terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi (pada negara dengan empat musim). Komplikasi yang dapat timbul diantaranya adalah acute rheumatic fever. misalnya Streptococcus pyogenes. Etiologi: Kausa penyakit pharyngitis dapat dibagi menjadi:  Bacterial pharyngitis o o Group A beta-hemolytic streptococci. o M pneumoniae yang sering menyerang kalangan dewasa muda dan gejalanya berupa nyeri kepala. o Arcanobacterium (Corynebacterium) haemolyticus yang sering terjadi pada orang dewasa muda dan sangat mirip dengan infeksi GABHS. acute glomerulonephritis dan toxic shock syndrome. Berikut adalah ulasan singkat mengenai pharyngitis: Definisi: Infeksi atau iritasi pada pharynx atau tonsil Epidemiologi: Pharyngitis bacterial akibat Strepyococcus pyogenes biasanya menyerang anak yang berumur 4-7 tahun. yang dibahas pada diagnosis banding ini Group C. and F streptococci yang secara klinis sulit dibedakan dari infeksi GABHS. termasuk scarlatiniform rash.SORE THROAT Pharyngitis termasuk salah satu dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menjadi salah satu top ten leading disease/morbiditas pada sebagian besar puskesmas di Indonesia. G. rheumatic heart disease. namun pharyngitis yang disebabkan oleh bakteri. terutama group A β-hemolyticus streptococci (GABHS). dan gejala pada saluran respirasi bawah o C pneumoniae. komplikasi berupa glomerulonephritis akut dan demam rematik akut jarang terjadi sebagai komplikasi akibat agen ini. Komplikasi tersebut tidak jarang menyebabkan mortalitas bagi penderitanya. Namun. Walaupun sebagian besar pharyngitis disebabkan oleh virus. sangat penting untuk diketahui oleh seorang dokter karena komplikasinya yang berat. pharyngitis.

infeksi paru-patu 1-3 minggu sebelumnya.
o

Neisseria gonorrhoeae adalah agen kausa yang jarang pada pharyngitis bakterial. Anamnesis yang baik dan teliti sangat perlu dilakukan karena infeksi ini terjadi biasanya karena kontak orogenital. Pharyngitis ini juga biasanya terkait dengan infeksi sistemik yang parah.

o

Corynebacterium diphtheriae yang memiliki tanda khas foul-smelling gray-white pharyngeal membrane sehingga menimbulkan obstruksi jalan napas.

Viral pharyngitis
o

Adenovirus: Patognomonis infeksi adenovirus adalah munculnya konjungtivitis yang terkait pharyngitis (pharyngoconjunctival fever). Adenovirus adalah etiologi utama pharyngitis pada anak berumur kurang dari tiga tahun.

o

Herpes simplex: tandanya adalah terbentuknya lesi vesikular (herpangina), biasanya terjadi pada anak yang masih kecil.

o

Coxsackieviruses A and B: Infeksi ini mirip dengan infeksi herpes simplex. Jika vesikelnya bewarna keputihan dan berbentuk noduler, dikenal dengan lymphonodular pharyngitis. Coxsackievirus A16 dapat menyebabkan hand-foot-and-mouth disease, yakni munculnya ulkus oropharynx berukuran 4-8 mm dan vesikel di tangan dan kaki, dan biasanya juga muncul di bokong. Gejala ini biasanya sembuh sendiri dalam aktu satu minggu.

o

Epstein-Barr virus (EBV): secara klinis dikenal sebagai infectious mononucleosis, yang sulit dibedakan dari infeksi GABHS. Exudative pharyngitis lebih prominent. Karakteristik pembedanya adalah adenopathy retrocervical atau generalisata, serta hepatosplenomegaly.

o

CMV: Tanda klinis CMV mirip dengan of infectious mononucleosis. Namun pasien cenderung pada kelompok umur yang lebih tua, aktif secara seksual, serta derajat demam dan malaise lebih parah.

o

HIV-1: hal ini terkait dengan edema pharyngeal edema dan erythema, biasanya ulkus aphthous,dan jarang terdapat eksudat. Demam, myalgia, dan lymphadenopathy juga biasanya ditemukan.

Kausa lain pharyngitis, misalnya udara kering, allergy/postnasal drip, chemical injury, gastroesophageal reflux disease (GERD), merokok, neoplasia, dan akibat pemasangan intubasi endotracheal.

Patofisiologi dan patogenesis: Bakteri atau virus pathogen menginvasi mukosa pharynx, menyebabkan respon inflamasi local. Virusvirus yang lain, misalnya rhinovirus dan coronavirus, dapat mengakibatkan iritasi poada mukosa pharynx secara sekunder akibat sekresi nasal. Infeksi Streptococcal disertai dengan karakteristik

131

berupa invasi local dan pelepasan toksin ekstraselular dan protease. Fragmen protein M pada serotype tertentu GABHS diketahui sama dengan antigen myocardial sarcolemma, sehingga terkait dengan demam rematik akut dan kerusakan pada katup jantung (penyakit jantung rematik). Deposisi kompoleks antibody-antigen pada glomerulus ginjal pada akhirnya juga dapat menyebabkan glomerulonephritis akut.

Apa hal yang perlu diperhatikan dari ANAMNESIS pada diagnosis banding ini? Identitas pasien: Tanyakan nama, umur, alamat, dan pekerjaan pasien. Selain untuk membina hubungan yang baik dengan pasien, umur juga dapat digunakan sebagai skrining awal penentuan diagnosis banding. Contohnya: pharyngitis karena GABHS biasanya terjadi pada anak berumur 4-7 tahun. Sedangkan pharyngitis viral karena adenovirus biasanya menyerang anak-anak yang berumur kurang dari tiga tahun. Pharyngitis yang disebabkan oleh CMV biasanya menyerang orang-orang yang berumur dewasa.

Keluhan Utama: Nyeri menelan (nyeri tenggorok) dan demam tinggi

Riwayat Penyakit Sekarang:  Onset dan durasi: Hal ini penting untuk ditanyakan pada pasien. Sebab pada negara dengan empat musim, biasanya pharyngitis karena GABHS terjadi pada akhir musim dingin sampai musim semi. Onset yang tibatiba biasanya mendakan pharyngitis disebabkan oleh GABHS. Selain itu, durasi juga penting untuk membedakan penyakit akut atau kronis.  Karakteristik/pola: Tanyakan mengenai karakteristik dan pola demam. Pharyngitis karena bakteri biasanya memiliki ciri-ciri demam tinggi (lebih dari 38 derajat celcius). Pola demam ini juga bisa digunakan untuk menyingkirkan diagnosis demam yang lain, misalnya step ladder pattern pada thypoid, demam yang bersifat paroksismal (kambuh-kambuhan) pada malaria, atau demam pola pelana pada Dengue Hemorrhagic Fever.  Faktor yang meringankan dan memperberat keluhan  Medikasi yang sudah diberikan/dikonsumsi.

132

Riwayat Penyakit Dahulu: Tanyakan apakah sebelumnya pasien pernah menderita penyakit ini sebelumnya atau tidak. Tanyakan pula mengenai riwayat alergi obat, karena treatment farmakologis pada pharyngitis karena bakteri adalah dengan pemberian antibiotik, sehingga penting untuk diketahui riwayat alergi terhadap antibiotic tertentu.

Riwayat Penyakit Keluarga, Lingkungan dan Travelling: Hal ini penting untuk ditanyakan karena sifat dari pharyngitis yang merupakan salah satu communicable disease. Sehingga patut dicurigai adanya penularan dari keluarga, lingkungan sekitar atau riwayat berpergian ke daerah endemis. Apabila pasien tersebut pernah berkontak dengan orang yang didiagnosis dengan infeksi GABHS atau penderita penyakit jantung rematik, maka perlu dicurigai pasien tersebut terserang pharyngitis yang disebabkan oleh etiologi GABHS.

Profil Pasien: Tanyakan mengenai pola makan, dan pola olahraga pasien, karena hal tersebut berkaitan dengan status imun dari pasien

Review System: Penting untuk dieksplor mengenai review system untuk menegakkan diagnosis banding dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:.

Tanyakan apakah keluhan disertai batuk dan rhinorrhea (hidung meler). Pharyngitis karena GABHS tidak disertai dengan batuk dan rhinorrhea. Pharyngitis yang disertai dengan gejala demikian adalah faringitis yang disebabkan oleh etiologi virus.

Tanyakan apakah keluhan disertai dengan nyeri kepala, sebab nyeri kepala berkaitan dengan infeksi GABHS

Tanyakan juga apakah pasien mengalami mual dan muntah, sebab hal itu mendukung kearah diagnosis infeksi GABHS, walaupun pada faringitis tipe yang lain juga mungkin dijumpai gejala mual dan muntah.

Tanyakan apakan ada benjolan-benjolan di sekitar leher bagian depan atau belakang. Lymphadenopathy cervicalis anterior adalah patognomonis sign untuk untuk pharyngitis oleh GABHS. Sedangkan, adenopathy retrocervical merupakan tanda khas untuk pharyngitis oleh karena Epstein-Barr virus (EBV).

Tanyakan apakah ada masalah di genital, sebab hal tersebut berguna untuk mengetahui kemungkinan gonococcal pharyngitis.

133

 Tanyakan juga mengenai kemungkinan influenza. Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN FISIK pada diagnosis banding ini?  Patensi jalan napas harus selalu terlebih dahulu dinilai. yang biasa digunakan untuk mendiagnosis pharingitis akut bakterial karena GABHS. yang terdiri atas:     Fever Anterior cervical lymphadenopathy Tonsillar exudate Absence of cough Infeksi GABHS dapat disingkirkan pada pasien yang memiliki skor 0-1. various degrees of dehydration result.  Adanya kesulitan bernapas dan stridor dapat mengindikasikan kemungkinan epiglottitis akut. sebab hal tersebut menandakan status immunocompromised pasien (misalnya karena penyakit HIV/AIDS). tidak ada tanda spesifik respirasi yang terlokalisasi. mungkin harus dicurigai sebagai pharyngitis karena GABHS. Tonsillopharyngeal/palatal petechiae dapat ditemukan pada infeksi GABHS dan infectious 134 . Tanyakan mengenai bercak-bercak dimukosa mulut (oral trush) dan myalgia. biasanya tidak terdapat demam atau ada demam namun subfebril. and throat (HEENT): o o o o Conjunctivitis biasanya berkaitan dengan infeksi adenovirus. ada tidaknya demam hendaknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk membedakan etiologi virus atau bakteri. yakni onset yang tiba-tiba.  Head. adanya gejala konstitusinal (malaise) dan respirasi (batuk).  Vital sign: Tekanan darah. Pada pharyngitis viral. Rhinorrhea biasanya berkaitan dengan etiologi viral. Scleral icterus dapat ditemukan pada infectious mononucleosis. sedangkan pada pasien yang memiliki skor 4. Walaupun demikian. denyut nadi. Demam febril (suhu > 38 derajat Celcius) biasanya mengindikasikan infeksi GABHS. therefore. Meski demikian. eyes. ears. Hydration status: Oral intake usually is compromised because of odynophagia. untuk menilai keadaan emergensi. nose. berdasarkan penelitian terbaru. Terdapat kriteria centor. Kriteria tersebut terdiri atas empat poin. laju respirasi dan suhu/temperature. demam. kira-kira hanya separuh dari pasien yang memiliki gejala-gejala tersebut yang benar-benar terinfeksi oleh GABHS.

eksudat tidak dapat dijadikan dasar pembeda kausa viral atau bakterial o Oropharyngeal vesicular lesions biasanya ditemukan pada coxsackievirus dan herpesvirus. Vesikel konkomitan ditangan dan kaki biasanya berkaitan dengan infeksi coxsackievirus (handfoot-and-mouth disease). pneumoniae or C pneumoniae. Maculopapular rashes biasanya ditemukan pada infeksi viral atau infectious mononucleosis Apa hal yang perlu diperhatikan dari PEMERIKSAAN PENUNJANG pada diagnosis banding ini? Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada diagnosis pharyngitis akut etiologi GABHS adalah:  GABHS rapid antigen detection test 135 .  Abdomen: Hepatosplenomegaly dapat ditemukan pada infeksi mononucleosis .  Cardiovascular: Murmur jantung harus diperiksa untuk memonitor apakah ada penyakit jantung rematik sebagai komplikasi pharyngitis karena GABHS. Dengan demikian. infeksi mononucleosis terutama pada M pneumoniae. terutama bila gejala tersebut disertai dengan batuk nonproduktif.mononucleosis. adenovirus. dan infeksi herpesvirus .  Pulmonary: Pharyngitis disertai infeksi saluran pernapasan bawah lebih konsisten ditemukan pada agen infeksi M. Sedangkan adenopathy generalisata biasanya berkaitan dengan infectious mononucleosis atau sindrom lymphoglandular akut pada infeksi HIV. C pneumoniae.  Kulit o o Sandpapery scarlatiniform rash dapat ditemukan pada infeksi GABHS. o Eksudat tonsillopharyngeal dapat ditemukan pada infeksi streptococcal.  Lymphadenopathy: Nodus cervicalis anterior yang nyeri biasanya menandakan infeksi streptococcus. A haemolyticus.

o Pasien dapat ditunda pengobatannya sampai 9 hari setelah onset demam untuk mencegah demam rematik akut. kultur ini sebaiknya tidak digunakan pada unit gawat darurat. Jangan menaruh sampel eksudat pada medium liquid. 136 . Pasien yang memiliki skor Centor 0-1 sebaiknya langsung diberi medikasi simptomatik tanpa dilakukan testing terlebih dahulu o Antigen pada test ini adalah specific.Rapid antigen detection test for group A beta-hemolytic streptococci. Walaupun lebih murah dibandingkan dengan rapid antigen detection test. Sehingga administrasi antibiotik dengan segera tidak krusial jika pasien dapat dengan mudah dihubungi untuk follow-up hasil kultur. Anak-anak dengan hasil tes antigen negative sebaiknya dilakukan follow –up berupa kultur. Bagaimana prinsip TATALAKSANA pasien dengan diagnosis banding ini?  Nilai dan amankan jalan napas. namun sensitivitasnya bervariasi. o Metode ini adalah metode yang dipilih untuk mendiagnosis infeksi GABHS pada fasilitas dimana sulit untuk dilakukan follow-up hasil kultur. karena sulitnya untuk melakukan follow-up hasil kultur.  Throat culture (kultur apusan tenggorokan) o Pemerikasaan ini merupakan gold standard untuk diagnosis infeksi GABHS (90-99% sensitive). karena insidensi infeksi GABHS jarang terjadi pada usia dewasa. intubasi jika diperlukan. o Orang dewasa yang memiliki hasil test antigen yang negative tidak memerlukan follow-up berupa kultur. o Prosedur untuk melakukan usap tenggorok adalah dengan mengambil sampel eksudat dari pharynx bagian posterior dan kedua tonsil dengan menggunakan lidi kapas. o Penggunaan “GABHS rapid antigen detection test” dapat menurunkan penggunaan antibiotic yang tidak perlu pada pasien anak-anak. o Hanya pasien dengan yang secara klinis mendukung kecurigaan infeksi GABHS yang dilakukan tes ini. bila tes dilakukan secara tepat.

o Jika secara klinis meragukan. Pemberian antibiotik ini efektif jika diberikan dalam waktu 9 hari setelah onset. o Orang-orang yang berinteraksi dengan pasien positif GABHS harus diberi treatment antibiotik tanpa dilakukan tes terlebih dahulu jika mereka memiliki gejala yang terkait dengan infeksi GABHS. Terapi antibiotik Berikut adalah pedoman pemilihan personal-drug (p-drug) antibiotik untuk eradikasi GABHS: 137 .  Medikasi atau treatment farmakologis: Pada dasarnya pharyngitis GABHS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. Evaluasi tanda-tanda toksisitas.  Investigasi infeksi GABHS jika secara klinis disuspek. dan biasanya gejalanya hilang dalam 3-4 hari. o Pasien yang memenuhi keempat kriteria Centor langsung memulai terapi antibiotic tanpa dilakukan tes antigen atau kultur sebelumnya. Tes ini biasanya ttidak dilakukan pada pasien yang memilik skor Centor 0-1. karena pharyngitis yang parah akan membatasi intake oral.  Evaluasi status hidrasi. Gunakan algoritma dibawah ini: o Secara umum. terapi anti mikroba dengan antibiotic lebih ditujukan untuk mencegah sekuel penyakit kearah demam rematik akut (acute rheumatic fever). epiglottitis. sebaiknya pemberian antibiotik menunggu hasil rapid antigen test atau kultur. jangan berikan antibiotik pada pasien sebelum hasil kultur atau rapid antigen detection test menunjukkan hasil yang positif. atau abses oropharyngeal. Tujuan terapi dari pengobatan pharyngitis GABHS adalah untuk meredakan demam dan nyeri tenggorokan (simptomatik) dan untuk terapi antimikroba. mengingat semakin meningkatnya resistensi antibiotic o Lakukan rapid antigen detection test jika dari hasil anamnesis dan pemeriksaan klinis suspek infeksi GABHS.

n maks 60mg/kgBB/hari  Treatment non farmakologis / advice untuk pasien: istirahat.r. maka biasanya digunakan amoxicillin dengan dosis: dewasa: 500 mg PO bid selama 10 hari. karena ketersedian penicillin V di Indonesia terbatas.r. 138 .n maks 4gr/hari Anak 10mg/kgBB tiap 4-6 jam p.Kesimpulan: Grup Beta-lactam Macrolide Oral cephalosporin Efficacy +++ ++ ++ Safety ± + ± availability ± ± ± Cost +++ ± ± Maka dari itu dipilihlah golongan beta-lactam. makan yang cukup dan bergizi. Terapi symptomatis analgetik/antipiretik Berikut adalah pedoman pemilihan personal drug untuk analgetik/antipiretik: Kesimpulan Personal-drug untuk terapi antinyeri dan penurun panas Acetaminophen/Paracetamol PO Dewasa 500-100mg tiap 4-6 jam p. Selanjutnya dipilih obat dari golongan beta-lactam: Kesimpulan: Nama Obat Penicillin V Penicillin G Ampicillin Amoxicillin Efficacy ++ +++ + + Safety ± ± ± availability ± ± ± ± Cost +++ +++ +++ +++ Kesimpulan Personal-drug untuk antibiotik Penicillin V 250mg qid atau 500mg bid selama 10 hari. anak: 250 mg bid/tid selama 10 hari Namun. pediatric:50 mg/kg/d PO divided bid selama 10 hari.

erythema marginatum. otitis media. chorea. sinusitis. o acute rheumatoid fever  dapat terjadi 2-4 minggu setelah episode pharyngitis.  Monitoring dan evaluasi: Jika dirasa perlu melakukan monitoring. mastoiditis. cervical lymphadenitis. o rheumatic heart diseases  merupakan manifestasi kronik dari ARF pada katup jantung.memakai masker selama gejala berlangsung. Administrasi antibiotik yang tepat setelah munculnya manifestasi pharyngitis dapat mencegah timbulnya komplikasi ini. antara lain o komplikasi lokal: retropharyngeal abscess. Terapi profilaksis dengan benzathine penicilline pada ARF dapat mencegah timbulnya rheumatic heart diseases. peritonsillar abscess. Manifestasinya antara lain hematuria. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang tepat pada saat episode pharyngitis. dan hipertensi. Manifestasi mayor dari ARF:carditis. minum obat sesuai dosis. edema. periksa adanya kemungkinan komplikasi dari infeksi SGABH. subcutaneous nodule. 139 . o poststreptococcal glomerulonephritis  biasanya terjadi 1-3 minggu setelah episode pharyngitis. polyarthritis.

Onset : akut b. Kalau pada dengue fever yang menjadi dengue hemorrhagic fever. susah menahan kencing. Durasi : bervariasi tergantung dari letak infeksinya di saluran kemih sebelah mana. ISK bagian atas : disertai mual. ga berpola kayak di thypoid yang tinggi pada malam hari. Karakteristik : pada ISK tidak dijumpai adanya rash. Kondisi urin yang berbau juga manjadi tanda pada ISK. infeksi HSV. muntah. prostatits. dan rasa sakit pada costovertebra. terdapat adanya pendarahan seperti epistaksis. Anamnesis RPS a. Aggrevating : kayaknya panas terus deh ya f. Kalau lokasi infeksinya. Keluhan lain : ISK bagian bawah : disertai rasa nyeri atau terbakar pada saat kencing. dengue fever. dll. ISK bawah → urethritis (urethra). KU : demam mendadak. RPD Adanya riwayat pemasangan kateter urin. Terus demamnya itu biasanya polanya terus-terusan gitu. 140 .BACKACHE: INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) 1. sering kencing. susah kencing. serta nyeri perut bagian bawah. Sedangkan pada meningitis dijumpai adanya kaku kuduk. Di ISK juga tidak ditemui jaundice kayak di malaria atau hepatitis. gusi berdarah. e. g. abses intrarenal dan perinephric c.. tanpa jaundice 2. cystitis (vesica urinaria) ISK atas → acute pyelonephritis.. dll. sedangkan pada penyakit lain seperti thypoid fever. Lokasi : demamnya seluruh tubuh. dibagi secara anatomis jadinya gini. Bisa hanya beberapa jam sampai berhari-hari. kejang dan penurunan kesadaran sebagai tanda penyerta. d. Relieving : diminumin antipyretik turun kok demamnya. leptospirosis.varicella. rubella.

141 . tempat menyimpan air. batu pada saluran kemih. malformasi saluran kemih merupakan beberapa risk factors ISK. Tanyakan sering makan di luar ga? Gimana kebersihannya? → untuk exclude thypoid dan hepatitis A. terus pasien tampak kesakitan (kan nyeri tuh perut bawahnya). dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat hidup nyamuk Aedes aegypti yang menularkan dengue fever. OMA. Tanyakan kebersihan diri. - Adanya infeksi pendahulu seperti pharyngitis. Sehingga kita harus wasapada juga jangan kecolongan DHFnya! Adanya orang lain di keluarga atau daerah sekitar yang mengalami hal serupa? → adanya kemungkinan dengue fever Habis travelling ke lingkungan endemik malaria ga? Life style Cara membilas regio perineal setelah buang air → kebiasaan membilas dari belakang (anus) ke depan (introitus vagina) meningkatkan risiko ISK. suka cuci tangan ga? Cari kecurigaan DM (salah satu risk factor ISK) 3. kehamilan.- Riwayat DM. Makanan-makanan yang sering bikin batu pada saluran kemih: sering kurang minum. kondisi rumah tinggal seperti selokan. menopause. obstruksi saluran kemih. dll → waspadai kemungkinan meningitis. Ternyata ada faktor genetik juga loh. RPK Adanya riwayat sexual intercourse terutama bila pasangannya menderita uretritis gonokokal atau chlamydial. Keadaan umum : lemes soalya kan kadang pakai mual muntah. terus yang banyak asam urat kayak gitu2. Ada riwayat penyakit ginjal ga? Lingkungan Keadaan sanitasi. Pemeriksaan fisik a. Kalo pasiennya rekuren terus ISKnya coba tanyain ada ortunya yang kayak gitu juga ga. imunosupresi.

b. c. Abdomen : Nah kalau DD udah menyempit ke arah-arah ISK gitu. biasanya didapatkan bakteri dalam jumlah besar (>105/ml) pada urin aliran tengah. Thorax f. Vital sign : Tekanan darah. harus dilakukan pemeriksaan bakteri menggunakan 2 spesimen urin aliran tengah. Pada pasien ISK asimptomatis. mari kita periksa abdomen Inspeksi: lihat ada pembesaran organ ga. Bakteri Urin Pemeriksaan jumlah dan tipe bakteri dalam urin merupakan prosedur diagnosis yang penting. Brudzinski’s sign perlu dilakukan bila ada kecurigaan meningitis. 4. Untuk yang iSK atas suka nyeri di angulus costovertebra Ektremitas dan neuro Pemeriksaan Rumple Leed dilakukan bila ada kecurigaan dengue fever. Adanya bakteri pada 142 . frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. Bila didapatkan bakteri dalam urin <10 5 dan pyuria (misalnya WBC >20/mm3) maka hasilnya tetap signifikan terdapat infeksi. Leher : pembesaran limfonodi.. Pyelonephritis akut : generalized muscle tenderness ketika angulus costovertebra dipalpasi dalam. Suhu tubuh tinggi. dll Auskultasi: Perkusi: lihat ada pembesaran hepar ga (hepatitis kan suka ada tu) Palpasi: abdominal tenderness. dan didapatkan >105/ml dari masing-masing spesimen. Pemeriksaan GCS dan tanda-tanda meningeal seperti Kernig’s sign. karena daerah suprapubic biasanya juga ada tenderness. Cystitis : tenderness pada daerah suprapubic. Uretritis : biasanya sulit dibedakan dengan cystitis. Pemeriksaan Penunjang a. luka. Pada pasien ISK simptomatis. d. Kepala dan leher Mata : pastikan ga ada sklera ikterik Mulut : pastikan bukan thypoid yang ada lidah kotor itu. e.

o atau Trimethoprim 100mg/12 jam p. b. b. adanya strain yang resisten terhadap antibiotik harus dicurigai. riwayat hospitalisasi dalam waktu dekat. Prostatitis: ciprofloxacin 500mg/12 jam p. Faktor predisposisi infeksi seperti obstruksi dan calculi harus diidentifikasi dan dikoreksi. f. e. 5. atau hematuria yang tidak sakit. e. c. dan pyelonephritis berulang. riwayat infeksi saat anak0anak.5gr/8 jam i. Urinalisis → terutama nitrit atau leukosit leukosit. Setiap course treatmen harus diklasifikasikan apakah gagal atau sembuh. h. Darah → darah rutin. Farmakoterapi Cystitis: Trimethoprim-Sulfamethoxazole 160/800mg/12 jam p. d.o (selama 3 hari untuk wanita dan 7 hari untuk pria). atau yang mengidap AIDS. Sembuhnya gejala klinis tidak selalu mengindikasikan hilangnya koloni bakteri.penggunaan instrumen. calculi. g. d.v lalu secara oral selama 7 hari. yang tidak disirkumsisi. urea dan elektrolit. Terapi dan edukasi a. Alternatif: cefalexin 1gr/12 jam.o selama 4 minggu. Kultur urin dan tes sensitivitas antimkrobial harus dilakukan kecuali pada wanita dengan cystitis akut akomplikata. Wanita atau pria dengan infeksi akut disertai tanda dan gejala adanya obstruksi atau calculi harus segera diberikan evaluasi urologik.aspirasi suprapubic atau didapatkan >102 bakteri/ml urin dari kateter mengindikasikan adanya bakteri. kultur darah bila keadaan sitemik buruk. Pemeriksaan bakteri secara mikroskopis dapat dilakukan menggunakan pengecatan Gram. Evaluasi urologik Penggunaan cystoscopy dan IV pyelography hanya digunakan dalam kasus-kasus tertentu seperti wanita dengan infeksi berulang. apakah strain bakterinya sama atau berbeda dengan sebelumnya. Memperbanyak intake cairan. Pada pasien dengan infeksi berulang. sering urinasi (jangan menahan urin). c. Pengecualian untuk evaluasi urologik ini adalah pria muda dengan cystitis yang disebabkan aktivitas seksual. yang paling umum digunakan adalah USG. Pyelonephritis akut : cefuroxime 1. Infeksi berulang juga harus dikkasifikasikan. Rekurensi >2 minggu setelah terapi dihentikan biasanya menunjukkan adanya reinfeksi oleh strain baru atau strain sebelumnya. 143 .

Durasi : bisa macem2. susah pakai celana sendiri). Lokasi : di punggung bagian bawah tentu saja. 144 . HNP 6. Nah kelemahan tersebut tergantung dari letak lesinya di setinggi vertebra berapa. i. Karakteristik : nyerinya kan progresif kalau ga diobati.- Urethritis akut: pada infeksi chlamydial diberikan azithromycin 1gr single dose p. Tanyakan juga ya habis ngapain pasiennya ko bisa LBP gini (misal petani panen telo.o selama 7 hari. bisa kejadian deh HNP). Anamnesis RPS h.ischiadicus) j.o atau doxycycline 100mg dua kali sehari p. sampai ke betis dan ankle → sebabnya: iritasi n. tapiii bukan eksaserbasi yang kronis. KU : low back pain 7.tapi biasanya berminggu2 yaa k. terus pas nyabut telonya kan pake mengejan tu. kalo udah degenerasi discus intervertebralisnya. Onset : akut progresif. belakang paha. Jadi menurut European Guideline untuk MXx LBP ada pembagian onset LBP: Akut Sub akut Kronis Rekuren <6 minggu 6-12 minggu >12 minggu new episode setelah “symptomp-free periode” dalam waktu 6 bulan. Pasien juga biasanya mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak bawah (misal jadi susah jalan. Sering juga disertai sciatica (nyerinya menjalar ke pantat..

paru →waspada keganasan dan metastasis! Cerita sejenak. n...20 l. ketawa. dll) gitchu. Sebenernya nih LBP itu kebanyakan NON SPESIFIK (95%) alias BUKAN disebabin karena kondisi patologis (seperti infeksi. Relieving : minum analgesik seperti NSAID. bersin. Berikut ini adalah red flags tersebut: Umur <20 tahun atau >50 tahun Onset akut pada org tua Nyeri konstan atau progresif Nyeri malem2 Tambah nyeri saat supine Kaku pagi hari 145 . m. Tanya apakah ada penurunan BB? Riwayat keganasan di tempat lain esp. makanya kalau ada RED FLAGS di bawah ini. inflamasi... cauda equina syndrome. osteoporosis. tumor. Aggrevating : tambah sakit kalau ada peningkatan tekanan intraabdomen → batuk. ankylosing spondylitis. Syarat dari LBP non spesifik ini adalah tidak ada red flags di bawah ini! Nah. harus dicurigai adanya kondisi patologis pada low back. Dengan kata lain kita harus periksa dengan teliti sebab si LBP ini apa. stenosis spinalis. Keluhan lain : Bisa jadi ada gangguan pada BAK dan BAB nya. mengejan (makannya si pasien suka “takut” kalau BAB).

- Demam. 2. HIV? RPK Ada yang kayak gini ga? Lingkungan Pekerjaan apa?? Penting ditanyakan. abdomen)? Dulu pernah kayak gini ga? Riwayat trauma di situ? Diobati apa? Pemakaian obat2an imunosupresi. soalnya paparan tekanan di backpain bisa bikin LBP (kayak kisah si petani mbedhol telo itu. psikosomatis RPD riwayat keganasan di tempat tersebut? Riwayat keganasan di tempat lain (paru. Inflamasi: RA. Trauma : fraktur yang bikin kompresi di lumbal. keringat malam. HNP. 4. Life style Pola makan? Apakah kalsium cukup? (curiga osteoporosis) 146 . 3. Degeneratif: spondilosis. ankylosing spondylitis. strain-sprain otot or ligamen. sama kisah tentara itu). Metabolik: osteoporosis 6. Tumor 5. BB turun Riwayat malignansi Nyeri dada belakang Bilateral or alternating symptomp Gangguan neurologis Gangguan BAB BAK Claudicatio kaki (spinal stenosis) Sedang infeksi atau riwayat infeksi Imunosupresi Massa di abdomen Terus sebab-sebab LBP tu ada macem-macem ya: 1. osteoarthritis.

Kalo pada HNP hasilnya negatif (-). sering metas ke vertebra. bekas trauma. h. Cara: maleolus externa pasien ditempelin ke lutut. Vital sign : Tekanan darah. Sehari-hari kalau kerja posenya gimana? 8. dll). Tes Lasegue: pasien bobokan. terus pasien disuruh ngejan → ntar timbul sciatica (berarti kemungkinan besar ada stenosis spinalis yang njepit sarafnya tuh). suhu. tb ga? l. j. propriosepsi. Tapi bisa naik HR & RR nya kalau dia cemas. achilles Reflex patologis: babinski Tes spesifik LBP : a. Chrisye). Palpasi: ada yg menonjol ga di vertebra? Nyeri ga? Apakah ada tanda-tanda inflamasi? Pemeriksaan neuromotor: power Neurosensori : suhu. Pemeriksaan fisik g. lalu angkat → kalo pasien kesakitan berarti ada sciatica. 147 .kayak Alm. Keadaan umum : kesakitan. b. Tes valsava: pasien disuruh nahan napas terus mengejan → positif kalau ada nyeri radikular. Reflex fisiologis: patella. d. susah jalan.. Neuro : Inspeksi : coba lihat di vertebranya gimana (deformitas ga. Tes Patrick: ini untuk cari tahu apakah nyerinya disebabin karenya ada kelainan di sendi panggul.. frekuensi nadi dan respirasi bisa normal. terus kita pegang ankle pasien sambil megang lututnya juga. tajam-tumpul. Lihat gait exam! Postur tubuh gimana. vibrasi. e. Cara: lipat tungkai ke arah dalam (endorotasi) pada sendi panggul sambil adduksikan.jugularis interna pasien (kanan kiri). Kepala dan leher Mulut : adakah oral ulcer? (curiga HIV) Abdomen : screening penting apakah ada pembesaran organ! k. i. Tes kontra Patric: fungsi sam dengan di atas.- Penurunan BB? (curiga keganasan or metas) Merokok? (curiga kanker paru. Tes Nafzinger: kita teken v. Thorax : screening ada keganasan ga. c. taktil.

metilprednisolon Pakai korset dulu Ajari posisi yang bener untuk duduk. jalan. kerja. Terapi dan edukasi Rujuk : harus bedah (ex laminectomy). Bedrest post oprasi: 2-3 minggu. Pemeriksaan Penunjang Foto rontgen (AP. Fisioterapi. berdiri. 10. oblik) Elektroneuromiografi (ENMG) Mielografi. 148 . Diskografi. Vitamin B.9. L.

Nyeri berdenyut. kepala seperti diikat c. cluster  retroorbital : sesuai onset Karakteristik : liat atas Agravating : migraine  noise/light. Aggravating: alcohol 3. Kebanyakan pada laki2. Nyeri retroorbital h. Disertai dengan aura: fotofobia. muntah KU : nyeri kepala Anamnesis :  RPS Onset Lokasi Durasi : sesuai dengan durasi : TTH  tengkuk/leher. migraine  unilateral. mual. Ptosis e. nyeri langsung hebat tp durasi singkat (15 -180 menit) b. Terdiri atas 3 macam: 1.7 hari. Cluster: a. Migraine: a. tidak pernah mengalami nyeri kepala hilang selama sakit b. Nyeri kepala tajam seperti ditusuk c.HEADACHE Headache Primer Definisi: sakit kepala yg terjadi bukan karena causa lainnya. durasi 4-72 jam b. cluster  alcohol Relieving : istirahat 149 . fonofobia c. Rhinorrhea f. d. durasi bervariasi 30 menit. TTH : a. Disertai injeksi konjungtiva d. Kebanyakan pada wanita. Lakrimasi unilateral g. aggravating berupa aktivitas yg melibatkan pergerakan otot leher/stress 2.

Cluster  paracetamol Edukasi e. sumatriptan (5-H1 antagonis) d. Cluster  hindari alkohol HEADACHE SEKUNDER Hipertensi KU : sakit kepala. deficit neurologis. TTH  paracetamol. Migraine  hindari faktor aggravating g.n Pemeriksaan fisik : Px neurologis: Pemeriksaan penunjang CT scan: utk exclude nyeri kepala sekunder Terapi b. diazepam. Migraine  cavergot (vasokonstriktor). kadang ada nyeri tengkuk Anamnesis :  RPS 150 . Parafrase ke pasien Sebutkan DD : TTH. Diet : c.b.Treatment : obat sakit kepala    RPD : dulu pernah merasa sakit yang sama RPK : yang punya riwayat keluarga dengan keluhan yang sama  migraine Lifestyle : a. migraine. Olahraga: tergantung pasien b. cluster. amitriptilin. Pola makan: Review system : ada trauma/tidak. c. TTH  bed rest f. nyeri kepala sekunder Pemeriksaan fisik : Kesan umum : tampak nyeri kepala Vital sign : d. fotofobia dan fonofobia (migraine). ada kelemahan anggota gerak/tidak  negative pada nyeri kepala primer.

stroke. TIA o Ginjal: CRF o PAD c. stroke. Pada hipertensi kadang disertai epistaksis.Onset Lokasi Durasi : sejak kapan? → biasanya HT udah sering gitu : di mana sakitnya? → bisa generalized. depresi) Relieving: stressor hilang. Olahraga:b. parah sering terjadi saat pagi hari tapi terus membaik seiring berjalannya hari itu Karakteristik : rasa terikat kayak diikat pakai headband (kayak TTH) Apakah didahului “tanda2” sebelum sakit kepala (maksudnya aura)? → migrain. Kaku kuduk dan demam → meningitis f. telinga berdengung. sulit tidur. bisa localized di tengkuk : bervariasi. angina. penyakit jantung. cemas. berkunang-kunang. Agravating : waktu tekanan darah naik lebih tinggi dari biasanya. Komplikasi lanjut dari hipertensi o Mata: penurunan visus karena retinopathy hypertension o Jantung: LVH. tanyakan sudah diobati apa  RPD : riwayat HT (tanyakan terkontrol atau tidak? Obatnya apa?). Riwayat trauma sebelum ini (mungkin ada pendarahan intrakranial)?   RPK : tanyakan orang tua apakah ada yang HT. penyakit ginjal dan hepar. HF o Otak: stroke. Pekerjaan? Stresful?  Review system : keluhan lain : a. Mual muntah → mungkin ada peningkatan ICP (suspek pendarahan atau tumor) d. Merokok ga? d. DM Lifestyle : a. Penurunan kesadaran → stroke hemoragik Parafrase ke pasien Sebutkan DD : 151 . Demam → infeksi (waspada infeksi intrakranial) e. Diet : garam-garaman dan lemak tinggi ga? Alkohol > 1 ons/hari? c. pas siang hari. b. penyakit jantung. picuan faktor psikologis (stress. MI. DM.

HR. 2 lengan Pemeriksaan fisik : Thorax : Inspeksi Palpasi  jika kurus terlihat hepatomegali  ictus cordis (bergeser ke atas pada LVH)  S3 dan S4 terdengar. DM. abnormal aorta pulsation (palpasi epigastik). suhu biasanya normal Notes: pemeriksaan BP harus 2x (dengan jarak 5 menit). hyperaldosteron. sleep apnea. bruits pada auskultasi Kepala : periksa visus bila ada penurunan tajam penglihatan. bising Perkusi  kardiomegali Auskultasi Abdomen : ascites (pada SN). vasa kaku. pembesaran ren. RR. stenosis a. o TTH o Tumor otak o Migrain o Trauma o Infeksi o Stress psikosomatis Pemeriksaan fisik : Kondisi umum : tampak kesakitan. Kalau sekunder (kausa: penyakit ginjal. pegang kepala atau tengkuk Vital sign : BP naik. 2 posisi (duduk dan bobo). pheocromocytoma. periksa segmen posterior dengan ophtalmoscope (retinopathy hypertension: pendarahan bentuk flame. obat2an. pembesaran tiroid Extermitas : edema 152 .o HT primer (95%) atau sekunder (5%). penyakit jantung) perlu pemeriksaan lebih lanjut. hypercorticol. exudat keras) Leher : pembesaran v.jugularis interna.renalis. penyakit tiroid.

Urinalisis: apakah ada DM. lipid. Rontgen dada: kardiomegali i. CT kalau ada penurunan kesadaran suspek stroke Manajemen 153 .Pemeriksaan penunjang h. EKG: LVH. j. kreatinin. enzim jantung. renal disease? l. serum urea. infark CBC: glukosa. elektrolit k.

Edukasi Tumor otak 1. Anamnesis : RPS a. Onset: kronis bisa bertahun-tahun b. Aggrevating: waktu f. Durasi: sakit kepala semakin memberat seiring berjalannya waktu d. keluhan lain: 154 . KU : sakit kepala 2. Karakteristik: kadang disertai muntah (karena ICP meningkat) e. Location: tergantung lokasi tumor c. Relieving: dikasih analgesik. tiduran RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? Infeksi? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: progresif Life style: penurunan BB Review system.

Bleeding time 10. bisa juga dateng pas udah LOC b. Elektrolit 8. trauma. RR (iregular periksa pola napas untuk tahu letak lesi) → cushing’s triad. suhu. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 4.Terus ada juga gangguan nervus cranialis (diplopia. Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan fisik a. sama paresis ekstremitas.cranialis Neuromotor: stabilitas. Imaging → CT scan untuk exclude pendarahan. ataxia. Kontrol nyeri (analgesik) agitasi (propofol). Darah rutin 6. menggigil. Gangguan BAB dan BAK jangan lupa ditanyakan. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Tinggikan kepala 30-45 derajat Maintain osmolaritas serum Avoid hipotensi. Kondisi umum: kesakitan. Partial thromboplastin time (PTT) 5. posture. power Neurosensori: taktil. Mual muntah. Troponin 7. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. vibrasi. motion. Fungsi hepar 9. abses 2. Protrombin time (PT) 4. Analisa Gas Darah 5. Vital sign : BP naik. 155 . 3. hidrosefalus akut. kejang. Monitor ICP 3. suhu normal d. demam. HR turun. gang memori dll tergantung letak lesi). tajam tumpul. BB/TB c.

Kadang pakai kejang juga. sama paresis ekstremitas. Pemeriksaan fisik a. fotofobia. karena sakit banget biasanya langsung ke dokter atau RS b. obese. disertai kaku kuduk e. Terus ada juga gangguan nervus cranialis. Ada kaku kuduk. Aggrevating: buruk terus-terusan f.cranialis 156 . Anamnesis : RPS a. 3. lack of exercise. KU : sakit kepala banget. Vital sign : BP biasanya tinggi. bisa juga dateng pas udah LOC b. dan meningeal symptom sehingga harus bedakan dengan meningitis infeksi (ada demam pada yg infeksi) yaa. Kondisi umum: sangat sangat super kesakitan. suhu normal (untuk exclude meningitis) c. diet tinggi lemak dan garam. Karakteristik: sakit kepala terberat.- Maintain normocarbia (PaCO2 35-40 mmHg) Maintain euvolemia (normal saline atau albumin) Stroke hemoragik yang subarachnoid hemorrhage 1.. HR. Durasi: sakit bgt terus d. Location: generalized c. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Onset: mendadak. muntah. RR juga. stres Review system. Relieving: kayaknya ga ada RPD Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet/antikoagulan)? - RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? - Riwayat perjalanan: dadakan Life style: rokok. keluhan lain: Biasanya terus diikuti penurunan kesadaran kalau ICP meningkat terus.. kalau parah: penurunan kesadaran 2.

propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis Pemeriksaan spesifik: Kernig dan Brudzinski + mengindikasikan meningismus dari SAH ini. suhu. kronis.. nimodipine mg 60 setiap 4 jam kalau SBP>140. fotofobia e. KU : sakit kepala. kaku kuduk. non infeksius) b. vibrasi. Pemeriksaan penunjang 1. Aggrevating: f. Onset: akut <48 jam (biasanya bakteri). Bleeding time 9. Durasi: akut. dll). Location: generalized c. Terapi Manajemen ABC CT scan CITO! Jaga BP jangan tinggi2. mual muntah. Partial thromboplastin time (PTT) 4. parasit. disertai demam 2. Fungsi hepar 8..- Neuromotor: stabilitas. tajam tumpul. 4.. posture. Protrombin time (PT) 3. Analisa Gas Darah 5. Imaging → CT scan 2. sub akut. Elektrolit 7. Anamnesis : RPS a. 30 mg kalau SBP 120-140. Troponin 6. power Neurosensori: taktil. pertahankan <120 Meningitis 1. Karakteristik: sakit kepala. Relieving: tiduran RPD 157 .tapi kebanyakan sih akut kalo meningitis d. motion. sub akut (viral. kronis (fungal. Darah rutin 5.

papiledema Leher: limfadenopati THT: infeksi awal i. Kondisi umum: kesakitan. Pemeriksaan fisik (neuro) GCS N. Pemeriksaan fisik e. sclera. suhu. somnolent. posture. f.Pernah kayak gini sebelumnya? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Obat-obatan yg digunakan (antiplatelet. Antikoagulan)? Infeksi sebelum ini? Riwayat opnam? Riwayat tindakan medis (sepsis)? Riwayat imunisasi? RPK Di keluarga ada yg pernah kayak gini? Hipertensi? Penyakit kardiovaskular? Stroke? Trauma? Riwayat perjalanan: progresif Life style: travelling? Review system.cranialis Neuromotor: stabilitas. RR naik/N. Kepala: trauma Eyes: konjunctiva. hemiparesthesia Ataxia Dizziness. BB/TB g. lemah. propriosepsi Reflex fisiologis Reflex patologis 158 . motion. suhu meningkat h. tajam tumpul. keluhan lain: Abnormal skin color Mual muntah Kejang Penurunan kesadaran Delirium. coma Hallucination Cranial nerve palsy Hemiplegia. Vital sign : BP turun/N. vibrasi. penurunan kesadaran bisa terjadi. power Neurosensori: taktil. vertigo 3. HR naik/N.

sesegera mungkin (30 menit awal). pilih broad spectrum Setelah hasil kultur ada.- Spesifik: kernig. Urea dan elektrolit plasma b. Pemeriksaan penunjang a. wbc. urinalisis e. brudzinski 1-4 4. Koagulasi d. CSF: glukosa. kultur bakteri 5. Glukosa darah c. Terapi       Antibiotika intravena. protein. berikan AB sesuai bakteri yang ditemukan Analgetika Anticonvulsant: utk prevensi atau mengatasi kejang Bila gelisah: berikan sedatif Bila ada udem otak: beri steroid 159 .

alcohol. perdarahan. kronik (lama) C : GA : serangan sangat sering pada malam hari disertai pembentukan tofi. kaku pada pagi hari < 30’.r nya bisa genetic juga 160 . pergelangan kaki. degenerative. HT. arthritis di sendi tangan. obesitas. RF (+). tapi kalo GA sama OA. pangkal ibu jari kaki bagian dalam. soalnya kan dia autoimun. istirahat. arthritis pada 3 daerah dan simetris. makanan tinggi purin. RA. PIP. perlu juga ditanyain karena f. metatarsofalang / metacarpofalang  simetris OA :sendi penyangga tubuh terutama lutut dan panggul. tofi juga bisa muncul di telinga RA : pergelangan tangan. suhu dingin (pagi hari). diurut-urut T : GA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RA : OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi OA :OAI (kebanyakan OAINS)  hilang sebentar lalu muncul lagi RPD : GA : riwayat asam urat tinggi. nodul rheumatoid (+). bersifat intermiten dan ada fase interkritikal RA : min 4 dari 7 : kaku pagi hari > 1 jam. dehidrasi RA : aktivitas OA : aktivitas berat. DM. trauma. OA Ax : KU : Nyeri pada persendian RPS : O : GA : dewasa 30-50 th RA : dewasa 30-50 th OA : usia tua terutama di atas 50 tahun L : GA : metatarsofalang I (podagra). gangguan ginjal RA :riwayat penyakit autoimun OA : riwayat trauma (+/-) RPK : pada RA riwayat penyakit keluarga sangat penting. keterbatasan gerak dan krepitasi A : GA : penggunaan diuretic. perubahan radiologis OA :nyeri pada saat aktivitas. trauma R : GA : obat antiinflamasi RA : obat antiinflamasi OA :konsumsi OAI atau obat antinyeri.NYERI SENDI Dd : GA. DIP D : GA : 1 tahun atau lebih tergantung penanganan RA : kronis bergantung penanganan OA :progresif.

atau 1100mg pd diet tinggi purin Mikroskopik tofi  tampak ada Kristal asam urat 161 . pada RA : anemia. bisa atau tanpa rasa hangat pada sendi GA : tofi (+). kurangnya olah raga Review system : RA biasanya diikuti demam. RF < 1: 40 pada OA atau > 1: 40 pada RA Kadar asam urat serum > 7 mg% pada wanita atau > 8 mg% pada pria Kadar asam urat urin 24 jam sebanyak 800 mg/hari. pada GA ditemukan tofi dan juga dapat terjadi kerusakan ginjal  gangguan ekskresi asam urat Px : Keadaan umum : pasien secara umum tampak sehat (atau demam pada RA dan gout yang aktif). bengkak terutama pada kapsul sendi. VS : T ↑ pada RA Lokomotor exam : (untuk pemeriksaannya lihat bagian lokomotor exam) Temuan : OA : krepitasi. eritem. pembengkakan sendi. sklerpsis subkondral Lab : Darah Rutin :↑ LED. osteofit. bird like face dll. hangat.lunak OA :penyempitan celah sendi. trombosit ↑ Leukosist sendi : pada OA peningkatan Leukosit sendi di bawah 2000/mm3 sedangkan pada RA > 2000/mm3.Lingkungan : pekerjaan pasien perlu ditanya. namun terjadi gangguan berjalan akibat deformitas dan nyeri pada sendinya. kalo OA dan GA (). leukositosis. kaya kalo misalnya buruh pabrik gitu yang melakukan aktivitas fisik berulang-ulang  Faktor risiko OA Lifestyle : GA : makanan tinggi purin RA : OA :sedentary sehingga mengakibatkan obesitas. ekstrimitas hangat. poliartikuler RA : sendi teraba hangat dan bengkak Kepala dan leher : dbn Thorax : dbn Abdomen : dbn Px tambahan : X-ray : GA : erosi diluar kapsul sendi dengan joint space masih utuh RA : penyempitan ruang sendi disertai erosi dan pembengkakan jar.

berat OA :dukungan psikososial.d tab I DMARD  klorokuin fosfat 250 mg/hari atau hidroksiklorokuin 400 mg/hari.d.6 mg no VI S 1.1.2 mg/hari R/ tab Allopurinol 300 mg no VII s.1.6-1. kurangi aktivitas sendi. sulfalazine 500 mg/hari OA : R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d. tetap d gerakkan namun kurangi akt. koreksi postur.d tab I R/ tab Colchicines 0.Tx : GA : Serangan akut : (selama 2 minggu.d tab I ( 4 hari) R/ Tab prednisone 20 mg no VII S 1.d.6 mg no IV S. turunkan BB 162 .d tab I …………………………….d tab I Edukasi : GA :kurangi makanan tinggi asam urat dan diuretic kuat (thiazide dan furosemid) RA : fisioterapi.d tab II (3 hari) R/ tab colchicines 0.d.d. jadi d itter 2x) R/ Tab na-diklofenak 50 mg no XIV atau yang 25 mg 3x1 hari S 2. Ulang asampai asam urat < 6mg/dl Diet rendah purin RA : R/tab na-diklofenak 50 mg no XIV S 2.d.d tab I Intercritical : Kolkisin 0.d.

polyuria. BB turun. c. dia jumlahnya pas tapi karatan key-lock nya sehingga ga bisa kebuka deh pintunya (glukosa ga bisa di-up take gityuu). Tapi biasanya datang pas udah ada komplikasi 163 . polydypsia. dan lemak) dan reseptor insulin yang kayak pasangan key-lock. Anamnesis KU DM tipe 1 Salah satu dari : Polydipsia. weight loss. jumlah keduanya pas sama banyak.o mmol/L) or Two-hour plasma glucose (2hPG) >200 mg/dl (11. DM tipe 1: disebabin kekurangan insulin gara-gara ada destruksi sel-sel beta pankreas. visual blurring. ketoasidosis DM tipe 2 Sering asimptomatis. DM tipe 2: disebabin karena ada resistensi insulin ataupun adanya disfungsi dari si sel-sel beta pankreas untuk menghasilkan insulin. infeksi. sebelum hamil dia normal aja. Kriteria diagnosis dari DM (WHO) adalah : Munculnya simotomp-simptomp hiperglikemia (polyuria.WEIGHT LOSS: DIABETES MELITUS Preface DM merupakan penyakit yang disebabkan karena kurangnya atau menurunnya efek dari insulin endogen. Kalau DM tipe 2.5% Di sini yang dibahas yang DM tipe 1 dan 2 aja ya. Disebabkan karena growth hormone kluar banyak banget padahal dia kerjanya berlawanan dengan insulin. DM banyak macamnya: a. Nah kalo orang DM tipe 1. Jadi di tubuh kita itu ada si insulin (berfungsi dalam up take glukosa ke dalam sel hepar.1 mmol/L) Kalau kriteria menurut ADA. genital thrush. Kalau pada orang sehat. letargik) DAN random plasma glucose (gula darah sewaktu) >200 mg/dl (11.1 mmol/L) or Fasting plasma glucose (FPG)/ gula darah puasa (tidak ada intake kalori selama minimal 8 jam) sebesar >126 mg/dl (7. dia kekurangan key (si insulinnya). otot. Penderitanya jadi insulin dependent. DM gestational: teriagnosis pertama kali saat hamil. p=pancreatic disease dll. Sebab lain: obat-obatan (kortikosteroid jangka panjang). b. 2010 : bisa salah satu kriteria di atas DAN HbA1c > 6. d.

hamil. otak Durasi Kronis progresif Tergantung keparahan (lihat tabel pemeriksaan tambahan yaa) Karakteristik Biasanya genetis gitu. neuropati. Infeksi (pneumonia. metabolik synd. gangguan genitourinari. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Relieving Keluhan lain -Tadi udah banyak disebutin di KU. ginjal. dewasa jarang karena biasanya udah keburu mati duluan sebelum jadi dewasa. dislipidemia). luka ga sembuh2. GE. PAD. otak)? Ada gangguan di situ ga (gimana penglihatannya.Sisanya jadi gejala penyerta hehe (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. GE. hiperglikemi. nefropati) atau makrovaskular (CAD. glaukoma RPD -Dulu pernah kayak gini? Udah pernah dikasih apa? -Karena pasien mostly anak2. tp biasanya yang BB turun) mikrovaskular (retinopati. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P . vasa. . sepsis). cvd. sisanya jadi gejala penyerta hehe) Onset Lokasi Usia muda <30 tahun Usia lebih tua >30 tahun Macem-macem. gastroparesis. infark. saraf. infeksi. Biasanya obese. gangguan genitourinari. vasa. glaukoma -Tanyakan komplikasi apa aja yang pernah muncul (dari mata. infeksi kronis baik 164 -Tadi udah banyak disebutin di KU. uti. Gejala yang ga dominan menurut pasien ya masukin ke sini aja :P -GIT: diare. obat (koakain). dll)? -Tanyakan RF dari resistensi insulin: obese. saraf tepi. terus seringnya pada anak-anak. Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. katarak. infark. infeksi. insulin ga cukup → pemicu diabetes ketoasidosis Aggrevating Gejala-gejala memberat kalau gula darah naik. tanyakan riwayat tumbuh kembangnya! KMS nya gimana? Imunisasi gimana? Riwayat persalinan gmn? → eksklusi gangguan tumbuh kembang. jantung. katarak. sepsis). Itu merupakan beberapa RF terjadinya resistensi insulin yang menimbulkan DM tipe 2.GIT: diare. obat (koakain). jantung.CVD) (tergantung mana yang paling ganggu menurut pasien. bisa di mata. terus ada metabolik syndrome (central obese. Infeksi (pneumonia. uti. obat TB. Penampakannya tuh juga kurus-kurus. hipertensi. gastroparesis. hamil.

tenderness. (exclude dehidrasi. mukosa kering. massa. shortness breath. sindrom nefrotik). gagal ginjal. RPK Life style Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan. letargik) DM tipe 2 Obese. letargik) BB/TB Kepala Wasting Apakah ada : Mata cowong. sindrom nefrotik). edema periorbital. . Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. Biasanya normal. lemah BP bisa tinggi. Mual muntah. Leher Lnn ada infeksi ga? Bisa saja si anaknya pake infeksi segala. ASI. hipotensi.saat intrauteri ataupun postnatal. Olahraga? Stress? Pemeriksaan KU Vital sign DM tipe 1 Lemah. dll. Thorax Kelainan di jantung dan paru dilihat. mukosa kering. Periksa mata: terutama visus dan segmen posterior. Tanda DKA: kussmaul. RR usually in normal limit. Mual muntah. werner’s. acromegaly. Abdomen Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. infeksi. Tanda DKA: kussmaul. Tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. tenderness. kehamilan. tachypnea pola Kussmaul. tapi kalau udah komplikasi jadi DKA (diabetic ketoacidosis jadi tachycardi. hipotensi. lnn. Apakah ada : Mata cowong. Obese. cushing’s. lnn. kistik fibrosis. (exclude dehidrasi. walau bisa aja sih ga obese. Lihat apakah ada komplikasi pada jantung? Cardiovascular disease seperti CHF. massa. kurus Biasanya normal. 165 Lihat tanda-tanda ada DKA ga : abdominal pain. HR variatif tergantung ada komplikasi makrovaskular ga. infeksi. luka. shortness breath. edema periorbital. tinggi. polikistik ovari. tachypnea pola Kussmaul. BBLR. luka. Olahraga? Adakah keluarga yang seperti ini dulu? Pola makan (banyak kolesterol. ASI.

a. Olahraga harus yang continous (berkelanjutan. ulkus. terus lebih cepat. Modifikasi EXERCISE Lakukan olahraga minimal 5x/seminggu @min.8-11.9 mmol/L (100-125 mg/dl) 7. ulkus. renang).6 mmol/L (100 mg/dl) 2-h-PG <7. a.30 menit.brachialis. Panah 1: progresif Panah 2: bisa reversible ke stage sebelumnya FPG: fasting plasma glucose (minimal 8 jam) 2hPG: tes toleransi glukosa Treatmen dan edukasi Treatmen dan edukasi Tujuan: menjaga kadar glukosa mendekati normal serta mencegah hipoglikemi. a. Harus jelaskan kepada pasien mengenai patofisiologi penyakitnya. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor) Peripheral artery disease: raba pulsasi a. Femoralis. dan cara pengobatan. terus 2 minggu males). Bandingkan sama atau gak.1 mmol/L hyperglycemia DM Insulin untuk kontrol Insulin untuk survive 166 (200 mg/dL) . endurance (melatih Tipe diabetes Normal glucose tolerance Pre-diabetes IFG atau IGT Ga butuh insulin Tipe 1 Tipe 2 Other Gestational Time (years) FPG <5.tibialis. Peripheral artery disease: raba pulsasi a. progressive (porsi latian bertambah). terus cepet). bukan minggu ini rajin. joging.Ekstremitas Inspeksi: ada luka. bau ga Pemeriksaan neuro (sensor motor). Bandingkan sama atau gak.brachialis. interval (pelaan.8mmol/L 5. ex.1 mmol/L (140-199 mg/dL) >7 mmol/L (126 mg/dl) >11.dosalis pedis. a. Pemeriksaan Lab. Femoralis. a. rhytmic (kontraksi-relaksasi bergantian.dosalis pedis.6-6.tibialis. Inspeksi: ada luka. pengobatan yang harus dilakukan. komplikasi yang mungkin terjadi. a. memodifikasi gaya hidup.

b. KH<50-60%. Tapi yang banyak dipakai tu si nsulin subkutan (100 U/mL). DM TIPE 2 pertama-tama kita modifikasi life style dulu. Max HR: JANGAN LEBIH DARI 80%(220-usia) supaya tidak heart attack. Na <6 gr/dl tapi kalau hipertensi <3 gr/dl. insulin graline. (lihat di daftar obat).5 – 25  30 calories/KgBW/day Underweight: <90% (Ideal BW) or BMI < 18. Modifikasi DIET 1. DM TIPE 1 butuh insulin terus tentunya.120% (Ideal BW) or BMI 25-30  20 calories/Kg BW/day Obese: >120 % (ideal BW) or BMI >30 20 - OBAT a. insulin detemir.ketahanan). 3. Jadwal makan: 6x sehari tapi porsi dikiitt2. Jenis makanan: fat <30%. Macam-macam insulin Insulin subkutan. tapi dia bisa progresi jadi butuh obat-obatan dulu. gula maks. 2.5  40 calories/Kg BW/day Overweight: 110 . (3) Intermediate acting (4) Long-acting (5) Long-acting analogue (6) Pre-mixed insulin Rejimen insulin subkutan: (1) Rejimen BD : 2x1 premixed insulin untuk DM tipe 2 atau tipe 1 dengan life style reguler. 167 . Ideal body weight: NUTRITION and DIET Men (<160 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs ( >160 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Women (<150 cm)  Height in cm – 100 = …Kgs (>150 cm)  90% (Height in cm – 100)= …Kgs Normoweight: 90-110% (Ideal BW) or BMI 18. Jumlah makanan: jangan banyak-banyak porsinya sekali makan. Ada 6 tipe: (1) Ultra-fast acting: injeksi saat mau makan atau tepat setelah makan. (2) Soluble insulin: injeksi 15-30 menit sebelum makan.25 gr/hari. protein 15-20%. diinjeksikan secara subkutan. nah kalau semakin buruk dia bisa sampe butuh insulin.

5 No.d.2. Untuk DM tipe 2.d. DM tipe 2 dimulai dengan R/ Tab.d. Glibenclamide mg 2. 168 .5% atau <6. Obat-obatnya Umumnya.5% pada yang ada penyakit arteri ex. (3) 1x1 sebelum tidur dengan insulin intermediet atau long-acting. Metformin mg 500 No. Tab I Kalau masih ga mempan lagi.d. Monitoring : 1. Tab I R/ Tab.(2) Rejimen QDS : sebelum makan (ultra-fast atau solubel )DAN sebelum tidur (intermediate acting atau long-acting analogue). XIV S. post AMI. Setelah 8 minggu periksa HbA1c. Normalnya <7. VII S. Metformin mg 500 No.d. Di awal-awal haru rajin bikin diary tentang kadar gulanya (finger stick). 2. harus kasih insulin. Untuk DM tipe 2.d. XIV S.1.2. Tab I Metformin digunakan untuk yang BMI >25 Kalau BMI <25 R/ Tab.

Dokter Fau memutuskan untuk melakukan eradikasi agen penyebab penyakit dengan tiga macam obat sekaligus.INDIGESTION Dyspepsia/Ulkus Peptikum Skenario Seorang wanita. dan dapat dimasukkan sebagai variasi gejala termasuk early satiety. Setelah melihat hasil pemeriksaan. Functional Dyspepsia: dyspepsia yang tidak ditemukan penyakit yang mendasarinya sesudah dilakukan pemeriksaan. pankreatitis. Organic Dyspepsia: dyspepsia yang didasari suatu penyakit yang diperkirakan menjadi sebab gejala tersebut. dan stool antigenic test. pylori Definisi Dyspepsia didefinisikan sebagai rasa nyeri atau ketidaknyamanan yang berulang atau kronis. Dyspepsia terbagi menjadi 2 jenis: 1. ulkus peptikum. Nyeri tersebut akan hilang setelah mbak Gastricia makan. dsb. seperti kolelitiasis. yang bukan nyeri. nausea dan/atau rasa penuh pada abdomen atas. meskipun dalam kuantitas dan frekuensi yang jarang. 2. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya epigastric tenderness. berpusat di abdomen bagian atas. Diagnosis: Dyspepsia organik berupa ulkus duodenal akibat infeksi agen H.Dari anamnesis diketahui bahwa mbak Tina adalah seorang perokok dan juga mengonsumsi alkohol. Dokter Fau kemudian merencanakan pemeriksaan endoscopy. Akhir-akhir ini keluhan tersebut bahkan disertai muntah darah. Riwayat penggunaan NSAID’s disangkal. berusia 25 tahun datang ke Anda dengan keluhan nyeri perut dan sebah di perut bagian atas yang telah berlangsung 4 minggu. bloating. C-13 Urea Breath Test. Fisiologi dan Patofisiologi: Fisiologi sekresi asam lambung oleh sel parietal: 169 . Rasa tidak nyaman didefinisikan sebagai perasaan negatif yang bersifat subjektif. bernama mbak Gastricia. serta feses bewarna hitam.

dan adanya epithelial cell ionic transporter yang menjaga pH intracellular Restitution  jika barier preepithelial rusak. Preepithel Mucus-bicarbonate layers: barier physicochemical  form a pH gradient ranging from 1-2 at the gastric luminal surface and reaching 6-7 along the epithelial cell surfaces. maka sel epitel gaster yang mengelilingi tempat kerusakan tersebut akan bermigrasi ke tempat yang rusak tersebut  membutuhkan aliran darah yang baik. Growth Factor and Prostaglandin 170 . dan beberapa growth factor b.Patofisiologi: Faktor defensive: a. intracellular tight junction. Diproduksi oleh sel epithel Surface active phospholipid Epithelial Cellular resistance: memproduksi mucus dan bikarbonat.

Faktor internal: HCl  mengaktivasi pepsinogen menjadi pepsin dan merusak mukosa . altered gastric emptying. cokelat. Konsumsi alkohol. bile salt b. surface active phospholipid dan proliferasi sel epithel Merokok  menurunkan aliran darah mukosa. menginduce pembentukan noxious mucosal free radical. Faktor eksternal: NSAID  menghambat COX  sintesis prostaglandin dihambat  peningkatan sekresi HCl dan penurunan sekresi musin. makanan berlemak  rangsangan sekresi asam lambung 171 . kopi. pylori  bakteri gram negative tahan asam  dapat merusak lapisan mukosa dengan cara memproduksi urease  membentuk CO2 dan ammonia yang toxic terhadap mukosa. Subepithelial  blood flow Faktor aggressive a. menurunkan produksi bikarbonat di proksimal duodenal. pylori H. dan meningkakan resiko untuk infeksi mikrorganisme H. bikarbonat.Fungsi prostaglandin: Meregulasi produksi bikarbonat dan mucus Menghambat sekresi sel parietal Untuk memaintain mucosal blood flow dan epithelial cell restitution c.

mengurangi berat badan. Diperlukan waktu washout 2 minggu setelah periode penggunaan PPI untuk melakukan tes infeksi H. serta tes dan terapi untuk infeksi H. cokelat. dapat diberi saran sederhana. pylori. Terapi yang sebaiknya ditawarkan pada pasien yaitu terapi empiris full-dose PPI selama 1 bulan. Serta pola makan yang teratur. pylori dengan breath test atau stool antigen test. serta meneruskan konsumsi antasida/alginate jika sudah mengkonsumsinya terlebih dulu.. berikan juga saran untuk menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. seperti alkohol. Selain itu. dan makanan yang berlemak. seperti saran untuk makan makanan yang sehat. kopi. dan berhenti merokok. Guideline treatment untuk pelayanan medis dyspepsia adalah: 172 . pylori. 5-6 kali makan dengan porsi kecil perrhari Terapi empiris untuk dyspepsia yaitu dengan terapi PPI (proton pump inhibitor) atau tes dan terapi untuk infeksi H.Treatment: Pada beberapa pasien.

Keterangan: 173 .

treat H. pylori (if any) 3. Specify the therapeutic objective reduce acid production.Keterangan: Steps in choosing P-drug: 1. Define the diagnosis dyspepsia/peptic ulcer 2. Make an inventory of effective group according to criteria Beberapa grup obat yang rasional digunakan: 174 .

R/ Cap Amoxicillin 500 mg no XVIII s. R/ Tab Guarposid no. XIV s.d. a.d.  Menghindari hal-hal yang mungkin memperburuk dyspepsia. tab.  Stop penggunaan NSAID (jika memungkinkan) TERAPI MEDIS Amoxicillin-Clarithromycin-omeprazole Write prescription: R/ Tab. tab II. tab. XIV s. lima sampai enam kali sehari) dan jenis makanan yang dikonsumsi.c. I a.c. 2.d.Kesimpulan: TERAPI NON-MEDIS  Mengatur pola makan (makan porsi kecil. Omeprazole 20 mg no. I a. cokelat. memperbanyak sayur dan buah.d. seperti mengonsumsi alkohol.2. 175 .c. rokok.d. dan makanan yang berlemak. kopi.2.d.

Situasi yang membuat kondisi jadi lebih buruk atau baik. Keluhan tidak logis dan tidak realistis : gangguan mental mayor. pekerjaan.     RPD RPK : apakah ada keluarga yang sakit serupa? gejalanya mirip? bagaimana gejalanya? sekalian tanyakan juga . Anamnesis Tanyakan identitas pasien . frekuensi. etc).  Apabila pasien merupakan pasien dewasa (> 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. Persilakan pasien duduk di kursi yang disediakan. Pengobatan yang sudah diberikan. 2.INSOMNIA MENTAL MINOR Keluhan logis tapi tidak realistis : gangguan mental minor. Building interpersonal relationship : memperkenalkan diri. alamat. jenis kelamin. Jenis coping dan cara menghadapi masalah. Prosedur Pemeriksaan : 1.  Menanyakan apakah gejala terjadi didahului oleh kejadian luar biasa (misalnya : perceraian. etc). 3. etc. progress.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) :  item keluhan utama secara detail (keparahan. tidak lulus ujian. 176 . 4. Greeting. agama. etc). karena interpretasinya bisa beda ntar). suku / bangsa. umur. status perkawinan. Keluhan lain yang ada dan detailnya (pola tidurnya bagaimana. nama. durasi. pendidikan.

ga konsen sama kuliah dll). Neurodermatitis. Hypochondriasis → pokoknya dia merasa sakit! Ex. Batuk. “ini saya mesti kanker ini dok. apakah orang tua sudah meninggal (kalau sudah. Ex. tidak ada keluhan mental (ex. Ex. diare). Keluhkan fisik murni (FM) : bener-bener keluhan fisik saja. pola hubungan keluarga. Menurut ICD-10. Ex. lingkungan. stres. Tapi di modul psikosomatis dikatakan bahwa yang FM ini jarang banget! Biasanya pasti disertai mental emosional (ex. c. pilek. life style. dia gak lulus SMA terus tiba-tiba lumpuh ga bisa gerak.  Lalu golongkan menjadi : a. tapi belum tentu berkaitan antar keduanya. keluarga utuh / cerai. urticaria. Luka kecelakaan + kecanduan alkohol. Body dismorphic disorder → merasa gemuk banget padahal BMI nya undeweight. Jadi dia tuh ada keluhan fisik dan mental yang SALING MEMPENGARUHI! psikosomatis : Somatoform Somatisasi → banyak kompalinnya dr ujung rambut sampe ujung kaki. kebutaan. jumlah saudara. Anamnesis system. meninggalnya saat pasien usia berapa?). bukan diagnosis (ingat!). sulung / bungsu. b. batuk kronis + kecemasan. Kalo pas pilek meler gitu terus disertai bete. Keluhan fisik ganda (FG) : FM + keluhan emosional. kelompok yang termasuk 177 . Biasanya konversinya ke keluhan neurologis seperti paralisis. perut saya ini kayak ada ularnya!”. udah sampe shopping doctor gitu. Keluhan psikosomatis : psikosomatis tuh cuma istilah lho.    Eating disorders Sexual dysfunction Psychological or behavioral factors associated with disorders or diseases classified elswhere. apakah anak angkat / tiri.silsilah keluarga. Psychogenic pain disorder → nyeri terus. Conversion disorder → ada stressor mental tapi terus dikonversi jadi keluhan fisik. dll.

life style. kerja. PS. apabila dari penggolongan ternyata yang ditemukan adalah FM (fisik murni) maka tidak ditanyakan lagi pertanyaan aktif dan diagnosis yang dibuat merupakan diagnosis gangguan fisik (untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema alur pemeriksaan mental minor di buku skill lab). baik di keluarga. sekolah. perasaan). pekerjaan. Menurunnya semangat belajar. lingkungan → sama dengan dewasa  Golongkan apakah keluhan termasuk dalam FM. telanjang depan umum. mudah tersinggung. ga tenang depresi : murung. Keluhan mental-emosional : emang cuma masalah kejiwaan (pikiran. FG. maupun masyarakat. 178 . 5. misalnya : banyak pikiran 3. Pertanyaan aktif antara lain : 1. ME. dll). napza 6. lemes  Lanjutkan ke pertanyaan aktif bila dari penggolongan keluhan didapatkan golongan FG. karena interpretasinya bisa beda ntar). Ada ridaknya gejala mental emosional (sedih. ME. Ada tidaknya gangguan fungsi sosial .  Apabila pasien merupakan pasien anak dan remaja (< 18 tahun) maka lakukan anamnesis sebagai berikut :  Tanyakan keluhan utama (KU) pada anak atau pengantarnya : dituliskan apa adanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pasien (jadi jangan bikin bahasa sendiri. PS.  Tanyakan adanya keluhan mental-emosional dan status perkembangan anak → harus  Lanjutkan ke pertanyaan aktif nomor 3 (pertanyaan aktif yang dimaksud disini sama dengan yang ditanyakan pada dewasa) bila didapatkan golongan FG.d. cemas : gelisah. sex. PS atau ME (sama dengan pada dewasa di atas).RPD. Apakah terjadi selama >3 bulan atau >1x / bulan 2. RPK. Ada tidaknya pemakaian rokok. Nb. alkohol. Ada tidaknya peristiwa pemicu keluhan. psikotik : ngomong sendiri.  Lanjutkan dengan anamnesis seperti biasa : RPS (OLD CART) . dll 4. cemas.

Pemeriksaan fisik : vital sign. sekolah. curiga. menilai roman muka (tegang. menilai hubungan jiwa (mudah atau sukar). menilai citra diri. 179 . menilai kesan penampilan penderita. kerja. Pemeriksaan khusus menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. pemeriksaan neurologis. 7. maupun masyarakat. 8. menganalisis diagnosis banding dan menyimpulkan diagnosis menurut PPDGJ. misalnya. etc). nilai sikap dan tingkah laku pasien (apakah normal. psiko tes . Terapi dan tindak lanjut Mengusulkan rencana terapi dan rehabilitasi. Rokok. mempertimbangkan perlu tidaknya konsultasi lanjutan. tegang. napza 6. pucat. sex.5. gelisah. baik di keluarga. dll (males ngapa2in lah pokoke). menilai keadaan jiwa (sedih. menilai perhatian (mudah / sukar / dicantum). etc yang relevan aja. sosial . etc). etc). Pemeriksaan psikiatrik Nilai kesadaran penderita. pemeriksaan fisik diagnostik. pekerjaan. merencanakan pemeriksaan lanjutan. hiperaktif. DD dan Diagnosis Menerangkan dan menilai data anamnesis dan pemeriksaan. 9. alkohol. menilai bentuk isi dan progresi pikiran. 10. Gangguan fungsi ex. Dari hasil anamnesis tersebut maka pasien dikatakan mengalami gangguan jiwa bila ada : FG atau PS atau ME + >1 kriteria di bawah ini : >3 bulan atau >1x/bulan Ada faktor pemicu Penurunan semangat belajar.

GANGGUAN TIDUR KU : susah tidur RPS Sulit tidurnya gimana sih? Sulit masuk tidur (alias mau merem ko susah) → CEMAS Tengah malem suka kebangun. besok telat osce. ada juga yang meleeek terus).. maksud pertanyaan ini adalah kita bisa lihat apakah ada gangguan fungsi hidup dia). jadinya juga ganggu keseharian. Apakah ada pikiran “gek-gek ngene. harus identifikasi adakah KEINGINAN SUICIDE? Solusi yang telah dilakukan? Misal curhat sama temen. nangis. besok mau OSCE kek. Kalau emang udah mengkerucut ko kira-kira ini depresi. Kalau DEPRESI dia juga terganggu : biasanya karena dia mikirin masalahnya terus. Bagaimana perasaan setelah itu? Kalo dia bilang lebih enakan→ jadikan terapi! Adakah KELUHAN LAIN? Lemes harus dibedakan apakah sebab fisik (dengan bobok langsung seger lagi) atau psikis (dengan bobok ga seger lagi). Kehidupan sehari-hari gimana? Kalau CEMAS ya terganggu : biasanya dia ga konsen gara2 khawatiran. Mahar perlu ditanyakan juga mengenai APA YANG DIRASAKAN sebelum bisa tidur atau saat kebangun tengah malam. Aktivitas di siang hari gimana? (terganggu atau tidak. itu ntar aja galinya). atau pas di kelas jadi ketiduran terus). terus susah bobo lagi → DEPRESI Sehingga setelah itu perlu kita tanyakan nih: mulai bisa bobo jam berapa? Terus bangunnya jam berapa → kita jadi tahu tuh lama dia bobo cukup apa gak (kan ada depresi yang tiduurr terus. 180 . Apakah Anda idur di kesempatan lain? (misal bobok siang. dll. Di tahap ini kita masih gali SIMPTOMP SUSAH TIDUR INI DULU. dll.dll”) → mencemaskan sesuatu. gek-gek ngono?” (“duh jangan-jangan nek aku ga bisa bobo skarang. Kata dr. ga usah gali mengenai permasalahan dia dulu (mau dia putus kek. Dia mikirin apa sih (GALI!). sibuk dengan pikiran dan perasaan bersalah gitu. sesek.

nulis diary dll). ga konsen. kagetan. bad dream. DEPRESI Sering kebangun terus susah bobok lagi. Gangguan fungsi hidup. sensi. negetif. Gangguan nafsu makan. Apa yang terbayang oleh pasien? (ingin bunuh diri lah?). Kehidupan sehari-hari ga bergairah. seks. Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya. sesek) tanyakan udah berapa lama? Pernafasan gimana? Mimpi buruk kah? Sakit di tempat lain ga? Sering pipis kah? Haid gimana? Jadi mudah tersinggung ga? Kagetan? Konsentrasi? Tangan kringeten? Yang memperberat dan memperingan? RPD Dulu pernah kayak gini gak? Terus diobati apa? Riwayat penyakit kronis? Soalnya penyakit kronis kan bisa sampe bikin depresi dan malah memperburuk sakit fisiknya. Pokoknya harus nyambung sama keluhanya! Tadi udah disebutin.hari terganggu ga? Misal. minderan/ga pede. Sesek. ga konsen sama kerjaan. kringetan tangannya. debar-debar. gimana kalo pas di kantor kerjaannya? Hobinya apa? Masih interest ga melakukannya? Makan teratur ga? DD a. ada fase seneng ga? Kapan kah itu (bisa untuk treatment)? Tegang (gelisah. gemetar. Terapi dan edukasi 181 . kayak kehidupan sehari. Kalu parah sampe bisa berpikir untuk suicede! b. CEMAS Susah masuk tidur. Life style dan lingkungan Ga usah ditanya terlalu banyak2 kalau ga sesuai sama simptompnya. Moodnya sediiiihh. RPK Kalau di rumah sama siapa bu? Mereka tau ga ibu kayak gini? Terus tanggapan mereka gimana? Dari sini bisa mulai gali-gali deh itu sebabnya kenapa sama sekalian cari solusi yang bisa dia lakukan ke depanya.Sedih digali kenapa sedihnnya? Gimana sedihnya → sampe pengen nangis ga? Menurun pas apa? (curhat.

guilty. apa yang bapak lakukan? Adakah pikiran ttg hal lain yang berulang? (misal dia cuci tangan terus) apakah bapak enjoy dengan ritual tersebut? 182 . ngecek pintu terus udah dikunci belom.n - Kalau CEMAS Lakukan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang bikin rileks R/ Tab. gimana rasanya? Muncul kecemasan ga? Kalau udah ngecek gimana rasanya? Apakah pikiran ‘belum dikunci’ itu timbul berulang? Sebenrnya bapak sadar ga kalau pikiran itu sebenernya ga realistis? Sampai bikin jengkel? Selama ini gimana cara ngatasinya? Apakah menolong? Kalau merasa ga terselesaikan.d Tab. DIazepam mg 5 no. RPS Dengan bolak-balik kayak gitu.d Tab. gangguan bobo. loss apetite. XiV S. agitasi. Sebenernya saat bapak mengunci itu. apa yang bapak lakukan? Kalau misalnya bapak menunda keinginan untuk ngecek pintu itu. I o. XiV S. I o. gimana kerjaan di kantor bapak? (cari tahu gangguan terhadap fungsi hidup).1. tenang saja! (biar pasien ga tambah depresi atau cemas). R/ Tab. bapak udah TAHU belum kalau pintu udah dikunci? Kalau saat tidak yakin. pikiran mau mati. - Kalau DEPRESI Diberikan anidepressan kalau >2 minggu simptompnya disertai 4 atau lebih gejala ini: lelah.d. Imipramin mg 25 no.d.- Kita bilang bahwa penyakit ini banyak terjadi tapi bisa disembuhkan kok.n OCD (penyakit obsesif kompulsif) KU : melakukan kegiatan berulang2 tanpa bisa menghentikan ex.1. penurunan konsentrasi.

pusing) Membaik saat apa? Memburuk saat apa? Terapi dan edukasi diam saat serangan. tercekik. nyeri dada. sampe ganggu macem2: R/ Tab. 1 PANIK KU: 1 atau lebih gejala: nyeri dada. nafas pendek RPS RPD RPK Di keluarga ada yang kayak gini? Ada yang sakit jantung? Gimana respon keluarga terhadap yang anda alami? Dulu pernah sakit jantung ga? Pernah diterapi apa? Dulu pernah kaya gini juga? Membaik ga? Saat apa munculnya? Berapa lama? (biasanya sih cepet dateng.d. pusing. pikirkan bahwa ini akan segera berlalu! Kalau serangan sering atau berat 183 . terapi perilaku saja.d Tab. XXI S. Parah. cepet ilang) Apa yang dirasakan saat itu? (taakuutt bgt gitu) Keluhan lain apa? (palipitasi. atur nafas.RPD RPK Di keluarga ada yang kaya gini juga ga? Gimana keluarga di rumah menanggapinya? Membantu ga? dulu pernah kaya gini ga? Gimana terapinya? Berkurang ga? Terapi dan edukasi Kalau dia ga parah. Clomipramin mg 25 no. jangan fokus ke keluhan saat serangan. 3. mual.

Imipramin mg 25 no VII S.d.d.d Tab.d Tab.1.1.I 184 .5 no VII S.I o.Lorazepam mg 0.n (alias malam hari) - Kalau serangan jarang dan terbatas R/ Tab.- R/ Tab.

Pemeriksaan fisik : 30. BAK. CBC count 185 . Diet dan pola makan : makan yang tidak bersih  Review system  keluhan lain : demam. diare q. Agravating : aktifitas berat. Lokasi : kk. Relieving: oo. Sebutkan DD : diare. Anamnesis :  RPS ii. 31. Akut : < 2 minggu. Karakteristik : BAB 6-8 kali/hari. t. Parafrase ke pasien s. Kolera air cucian beras Disentrilendir dan darah (shigella) Amoebiasislendir dan berbuih Giardiasisberlemak dan persisten>2 minggu mm. bisa ada darah. sakit perut. Onset : sejak 2 hari yang lalu jj. kurang minum nn. Pemeriksaan penunjang a.DIARE Diare Diare : BAB> 3x/hari dengan konsistensi fesesyang cair dan encer. berlendir.Persisten : 14 hari. Pemeriksaan fisik : Abdomen : Inspeksi  kemungkinan dpt terjadi borborigmi (peristaltik terlihat) Auskultasi  hiper peristaltik Perkusi  hipertimpani Palpasi  cubit perutturgor kulit Kepala : Leher : palpasi limfonodidbn Thorax depan: screening  dbn Jantung : auskultasi dbn Extermitas : palpasi mungkin akral dingin 33. Treatment :tidak membaik dengan pengobatan  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan : kemaren makan sembarangan di tempat lain  Lifestyle : a. Vital sign : mungkin demam 32. masih mau minum ga? r. Olahraga : b. Durasi : 2 hari ll. thypoid. Kondisi umum : sangat lemah. KU : mencret. p.

amoebiasis  R/ Tab.d. Ampicilin 500 mg no XXIV s.tab 1 p. tab 2 p.Berikan oralit  R/ sach.Antibiotik : 1. 2.d.c.c 4.d.r. Metronidazole 500 mg No. Jika keadaan memburuk harap kembali 186 . Metronidazole 250 mg no x s. Minum air putih banyak 2. 4. Makan dijaga higienitasnya 5.n campurkan dgn 200 ml air diminum segera setelah buang air besar . Terapi .p. giardiasis R/ Tab. X S. Oralit diminum setelah BAB segera 4.d. Oralit diminum segera setelah dibuat 3.d.p.c 3. Suruh jaga higienitas dengan cuci tangan 6. Tetrasiklin 500mg no.c 35. Edukasi 1.XII S. S.p.d Tab 1. disentri R/ tab.3.tab 1.d.b. Fecal exam : liat keadaan fisik ada darah/telur cacing/ 34. 4. X. 3. kolera R/ Tab.oralit 200 No.d.

v. vesikel atau bula.PRURITUS Dermatitis Kontak Alergi Seorang pasien datang dengan keluhan gatal-gatal pada ke dua punggung kakinya setelah memakai sendal yang baru yang terjadi 3 hari yang lalu. Pemeriksaan fisik : 36. papulovesikel. Olahraga: ga spesifik b. Pemeriksaan fisik :  Extermitas : terlihat UKK berupa bercak eritematosa dan dapat diawali dengan bercak eritematosa. dermatitis atopi x. Anamnesis :  RPS pp. Lingkungan :-i  Review system : dapat diawali dengan bercak eritematosa. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. Pola makan : d. Lokasi : ke 2 punggung kaki rr. likenifikasi & fisur tidak jelas. Agravating : Saat pasien berjalan menggunakan sendal tersebut.DKI. Onset : 3 hari qq. Durasi : 3 hari ss. skuama. Karakteristik : mengikuti alur dari sendal jepit tt. Parafrase ke pasien w. screening  auskultasi aja DBN Abdomen : Inspeksi  DBN Auskultasi  DBN Perkusi  DBN Palpasi  DBN 187 .  Kepala : Sklera DBN  Leher : palpasi limfonodiDBN  Thorax depan: DBN. Jika pecah dapat terjadi erosi dan eksudasi kulit kering. semakin diperparah ketika pasien berjalan ke pasar dan membaik saat istirahat dirumah. Relieving : istrhat dirumah  Treatment :  RPD :  RPK :  Riwayat perjalanan :  Lifestyle : a. u. Sebutkan DD : DKA. uu. papulovesikel.Kondisi umum : gatal-gatal pada kaki 37. vesikel atau bula. Vital sign :normal 38. skuama. KU : gatal – gatal pada kedua punggung kaki. Diet : c. likenifikasi & fisur tidak jelas.

CTM: jangan dikonsumsi ketika mengendarai kendaraan bermotor 188 . daerah kulit yang diobati tidak boleh diperban atau ditutup g.Patch test untuk test alergi . Terapi 41.Pemeriksaan penunjang . Bila ada efek samping serius. Mejauhkan alergen secepat mungkin b. hentikan treatment atau ganti obat lain f. Edukasi a. Membersihkan bagian yang teriritasi c.Jika dibutuhkan dapat dilakukan pemeriksaan kultur jamur untuk meng’exclude ttg tinea 40. Mencegah terjadinya ruam d.39. Treatment dapat dihentikan bila dermatitis kontak alergi pasien telah sembuh e.

Akut membutuhkan tindakan emergency. Ca colon yang mulai muncul manifes konstipasi 189 . . Ileus (SKDI 3B) Ax RPS O L D Onset cepat : Ileus (harus segera ditangani) Kronis > 3 bulan.Perdarahan (hematochezia).penurunan berat badan. dan defek anatomis.terutama karena diet yang buruk. Penyebab konstipasi antara lain sebagai berikut Conditions Associated with Constipation Structural ganglion blockers vinca alkaloids Muscle colon • neoplasm • stricture • volvulus anorectal • inflammation • prolapse • rectocele • fissure Systemic myotonic dystrophy dermatomyositis amyloidosis systemic sclerosis Neurologic electrolyte abnormalities thyroid disease diabetes mellitus panhypopituitarism Addison's disease pheochromocytoma uremia porphyria Medications central nervous system • Parkinson's disease • multiple sclerosis • ischemia • tumor • spinal cord lesions autonomic neuropathy sacral nerve damage (trauma. missal IBS. ex : Ileus..Konstipasi Konstipasi adalah pergerakan colon yang tidak frekuen (defekasi < 3x per minggu). Sering pada orang tua. kurang exercise. Tidak memerlukan emergency. Tapi hati2 kalo menemukan red flags seperti : .riwayat Ca pada eluarga. . tumor) enteric nervous system • Hirschsprung's disease • scleroderma • amyloidosis Functional analgesics anticholinergics antidepressants antipsychotics cation-containing agents anticonvulsants normal transit slow transit pelvic floor dyssynergia DD : Irritable Bowel Syndromes (SKDI 3A)..biasanya karna fungsional. . abnormalitas motilitas.muntah. Typhoid (SKDI 4). kesulitan dalam BAB (mengejan > 25% bowel movement atau konsistensi feses keras.

Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB . serta tidak ditemukan adanya pathology pada pasien (pemeriksaan fisik dalam batas normal) Ada criteria Roma III (2006) untuk diagnosis IBS adalah nyeri abdomen rekuren atau ketidaknyamanan at least 3 hari per bulan selama 3 bulan terakhir dan berubungan dengan 2 atau lebih gejala berikut ini : . whole grains) dpt melunakkan feses RPK LS RS1 RS2 Konstipasi + hematochezia (BAB trdpt darah merah segar)  hati2 curiga Ca Colorectal ada keluhan lain? Irritable Bowel Syndromes (IBS-C) IBS adalah kumpulan gejala penyakit digesti fungsional yang diarakteristikkan dengan adanya nyeri perut dan perubahan motilitas usus.Abdominal bloating atau distensi subjektif Derajat keparahan IBS dapat dilihat di bawah ini : Derajat keparahan IBS Ringan Gejala klinis Persentase penderita Nyeri berterusan Gangguan Psikososial 70% 0 0 190 25% ++ + + 5% + +++ +++ Kaitan dengan gangguan fisiologi sal cerna +++ Sedang Berat . atau konsistensi fese keras dan kecil2.Berkurang nyeri setelah defekasi . hormone progesterone dan estrogen tinggi  dapat nyebabin konstipasi Diet serat tinggi (buah2an. pada orang tua  curigai Ca colon Riwayat penggunaan narkotika.C A RPD R T Other Hati2 kalo Lebih dari 2 tahun.Onset berhubungan dengan perubahan konsistensi feses Gejala pendukung : . suplemen besi dapat memperparah konstipasi.Mucorrhea . Hypothyroid dan hyperparatyroid  dpt mnyebabkan konstipasi Pada saat mendekati ovulasi. anticonvulsant. dan antidepresan  dapat menyebabkan konstipasi keluarga ada yang sakit serupa? Ada riwayat Ca ga? Defekasi < 3x seminggu. dan kadang ada rasa tidak lampias saat defekasi MInum obat narkotik. antipsikosis.Perubahan pasase feses (straining dan atau urgency) . kesulitan dalam mengejan. sayur. antidepresan.

Konstipasi. BB/TB. kadang diselingi atau berubah menjadi gejala diare atau bisa jg konstipasi terus tnpa ada gejala diare. gizi. dan IBS-A (alternating diarrhea and constipation).Jenis penanganan Dokter Keluarga/primer Spesialistik Sub spesialistik Ada 4 pola IBS  IBS-D (diare predominant). Keadaan umum Keadaan umum.k Thorax t. sex disfunction A = pada saat stress R = defekasi dapat meringankan nyeri abdomennya T= Others = wanita lebih sering 3x terkena IBS dibanding pria. kadang ada gangguan cemas Tanda vital Suhu.a. . 7. Okasi nyeri paling sering biasanya di abdomen kuadran bawah . Anamnesis O = at least 3 hari perbulan dalam 3 bulan terakhir. Inflamasi. atau infeksi Hemoocult test Untuk mengeksklusi GI bleeding Terapi Farmakoterapi : Tegaserod 6 mg PO 2dd ac selama 4-6 minggu atau Lubiprostone 24 mcg PO 2dd dc Edukasi . 5. Sering pada wanita D = > 3 bulan C = gejala2nya : . tekanan darah. .Minum air putih yang cukup .k Abdomen Kadang2 terdapat nyeri sigmoid Ektremitas t. heartburn.a. dyspareunia.Nyeri abdomen bersifat difus tanpa radiasi nyeri. IBS-M (mixed diarrhea and constipation).Perasaan bloating .Untuk sementara hindari kafein Prognosis Baik 2. 3. nadi.Diet kaya serat .k Pemeriksaan penunjang CBC Untuk screening DD anemia. 191 .Nasehatin pasien supaya jgn stress. respirasi  normal Pemeriksaan fisik Kepala & leher t. IBS-C (constipation predominant). kesadaran  secara umum tampak sehat. 1.Berhubungan dengan dyspepsia.a.Adanya mucorrhea kadang2 ditemukan di feses . 4. Lakukan dan pikirkan hal lain untuk menghindari stress. 6. 4.

gejala yang timbul apabila typhoid tidak diberi tx / dibiarkan adalah sbg berikut : Week 1 Incubation Systemic Stepladder fever pattern or insidious onset fever Acute high fever Chills Rigors Anorexia Diaphoresis Neurologic Malaise Insomnia Confusion/delirium Psychosis Catatonia Frontal headache (usually mild) Pulmonary Mild cough Bronchitic cough Rales Pneumonia Cardiovascular Dicrotic pulse Rare Common Common Common Common Rare (lobar) Rare Common (basal) Almost all Almost all Very common Commond Very common Very rare Very rare Very common Common Typhoid state (common) Very commona Very rareb Almost allc Uncommon Almost all Very common Very common Recovery phase or death (15% of untreated cases) 10%-20% relapse. long-term neurologic sequelae (extremely rare).typhii Secara umum. carriers) Week 2 Week 3 Week 4 Post 192 . gallbladder cancer (RR=167.Typhoid Typhoid  infeksi enteric disebabkan S. 3%-4% chronic carriers.

3. namun jarang. respirasi  pada week 2 kadang2 ditemukan dicrotic pulse (double beat dengan nadi ke2nya lebih emah dari nadi pertama) Pemeriksaan fisik  bisa diliat lebih detail di table atas ya temuan klinis per weeknya.typhi) L= D = 7-14 hari . malaise.Myocarditis Thrombophlebitis Gastrointestinal Constipation Diarrhea Bloating with tympany Diffuse mild abdominal pain Gastrointestinal hemorrhage intestinal perforation Hepatosplenomegaly Jaundice Urogenital Urinary retention Hematuria Renal pain Dermatologic Rose spots Rare Very rare Very common Rare Very common (84%) 30 Very common Common Common (pea soup) Very rare. tekanan darah. nyeri abdomen difus. Keadaan umum Keadaan umum. BB/TB. dapat berlanjut sampai 2 minggu setelah itu. nadi. 4. konstipasi. Anamnesis O = Muncul gejala konstipasi pada saat minggu pertama (hari 7-14 hari setelah terinfeksi S. 2.. kesadaran Tanda vital Suhu. gizi. 5. Biasanya pada minggu 2 manifes GI nya diare (pea soup) C = Classic presentation : demam. Pemeriksaan penunjang 193 . Very common usually trace Rare Common Common Common Rare Rare Rare 1.

.. cephalosporin (ceftriaxone. ELISA IgG & IgM 3.. Deteksi antigen O dan H 2. Week 2  stool 3. 7.o 2x1 7-14 hari Ofloxacin 800 mg p.o 1x1 7-14 hari Chloramphenicol TIDAK DIANJURKAN karena resiko anemia aplastik dan relaps Edukasi . 1. ofloxacin). Week 1  kultur darah/bone marrow 2. hipokalemia  Transaminase naik Tes serologis. gejala mulai berkurang stlh 2 hari. 194 .. kemudian kondisi dapat membaik dalam 4-5 hari.6. cefixime) Ciprofloxacin 0. jangan banyak beraktifitas dulu untuk sementara.Istirahat yang cukup.5-1.Banyak minum dan jaga keseimbangan ion dan elektrolit Prognosis Setelah diberi obat. Gold std : isolasi & kultur Salmonella typhi dari spesimen Spesimen : 1. Tes widal TIDAK DIREKOMENDASIKAN karena spesifisitas & sensitivitas rendah Terapi Farmakoterapi : Dianjurkan fluoroquinolone (ciprofloxacin.0 gram p.Makan yang lunak2 dulu seperti bubur . Week 3  urine Most :  Leukopenia  Hb & platelet turun/normal  Hiponatremia. .o 1x1 7-14 hari Ceftriaxone 50-60 mg/kg im/iv 2x1 7-14 hari Cefixime 20 mg/kg p. 8.

8-5.6-6. 1. Hepar:  5.01 6.4 4-10 200-400 14-18 40-58 12-16 37-43 50-70 1-3 0. Ginjal:  Blood Urea Nitrogen (BUN) (pada gangguan ginjal. CBC:       Normal Pada Wanita Laki-laki/wanita 4.4-1 4-6 25-35 0-8 0-15 60-70 20-45 3-7/Ivy <200 <150 >40 >50 <150 42 37 32 31 80-240 53-128 42-98 1.06) IU/l μg/l <10 <0. infark >0.5-3 Jenis Pemeriksaan Satuan juta/mm3 ribu/mm3 ribu/mcl g/dl % % % % % % mm/jam detik detik menit mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl IU/l IU/l IU/l IU/l g/dl Laki-laki 4.NILAI NORMAL PEMERIKSAAN LAB No . menurun) mg/dl 8-20 g/dl 195 3. Infeksi:     3.2 RBC WBC Trombosit HB HCT HItung Jenis:  Neutrofil  Eosinofil  Basofil  Monosit  Limfosit LED PPT APTT Bleeding Time Kolesterol Total Trigliserid HDL LDL 2. Lipid:     4.01.1 . SGPT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  SGOT (dikatakan hepatitis apabila meningkat >20x)  LDH (dikatakan hepatitis apabila meningkat >5x)  ALP (dikatakan hepatitis apabila meningkat <3x)  GGT (dikatakan hepatitis apabila menurun) Cardiac:  CKMB (peningkatan >5% dikatakan ada kelainan)  Troponin I (iskemik >0.2-5.

9 mEq/l mmHg mmHg 7. meningkat) 7. ISK. hehehe.35-7.003-1. kalau ada salah.6-1. dan infark ginjal) Leukosit ((+) pada pyelonefritis akut dan nefritis) Yeast Cast g/day (-) (-) (-) (-) Sekian teman-teman.. GNK.5# #Impaired Fasting Glucose= Kadar Gula Darah Puasa 110-126#  Gula Darah Puasa  Post Prandial 2 jam  Gula Darah Sewaktu  HBA1c 9. al. Analisa Gas Darah:  pH  HCO3 PCO2  PO2 8. 196 .. Post Prandial 2 jam >200.5 Merah (pendarahan pada UTI/obat) 1.Albumin (pada gangguan ginjal.3 0. menurun)  Kreatinin darah (pada kelainan ginjal. HBA1c >6.45 24-28 35-45 75-100 mg/dl mg/dl mg/dl % <110 <140 <200 <6 6-6. semoga osce kita sukses! (mardian et.5-0. 2011). Urinalysis:  pH  Warna      mg/dl 0. Diabetes Melitus: #Kriteria DM= Gula darah puasa >126. Sindrom Nefrotik) Eritrosit ((+) pada GNA. kami mohon maaf yah.03 (-)   Berat Jenis Protein (>3 pada GNS.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful